Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

TONSILITIS AKUT

Pembimbing :

dr. Taufik R. Sudjanadiwirja, Sp.A, D.FM

Disusun Oleh :

Juliatika

201820401011120

SMF ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT BHAYANGKARA KEDIRI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

FAKULTAS KEDOKTERAN

2019

1
BAB I
PENDAHULUAN

Tonsilitis adalah suatu proses inflamasi atau peradangan pada tonsil yang disebabkan
oleh virus ataupun bakteri. Tonsilitis akut adalah radang akut pada tonsil akibat infeksi
kuman terutama Streptokokus hemolitikus (50%) atau virus. Jenis Streptokokus meliputi
Streptokokus β hemolitikus, Streptokokus viridans dan Streptokokus piogenes. Bakteri
penyebab tonsilitis akut lainnya meliputi Stafilokokus Sp., Pneumokokus, dan Hemofilus
influenzae. Hemofilus influenzae menyebabkan tonsilitis akut supuratif.
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin
Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga
mulut yaitu tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil
pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring atau Gerlach’s tonsil).
Berdasarkan pengertian di atas kesimpulan dari penulis adalah tonsilitis merupakan suatu
peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri ataupun virus, prosesnya bisa akut atau
kronis. Tonsilitis akut paling sering terjadi pada anak-anak, terutama berusia > 4 tahun dan 10
tahun. Penyebarannya melalui droplet infection, yaitu alat makan dan makanan.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI DAN FISIOLOGI TONSIL

Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi oleh epitel respiratori. Cincin Waldeyer
merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di faring yang terdiri dari tonsil
palatina, tonsil faringeal (adenoid), tonsil lingual, dan tonsil tuba Eustachius.2

A. Tonsil Palatina1,2
Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil
pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar
posterior (otot palatofaringeus). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-
masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak
selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa
supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring. Dibatasi oleh:
 Lateral – muskulus konstriktor faring superior

 Anterior – muskulus palatoglosus

 Posterior – muskulus palatofaringeus

 Superior – palatum mole

 Inferior – tonsil lingual


Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi invaginasi
atau kripti tonsila. Banyak limfanodulus terletak di bawah jaringan ikat dan tersebar

3
sepanjang kriptus. Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat retikular dan jaringan
limfatik difus. Limfonoduli merupakan bagian penting mekanisme pertahanan tubuh yang
tersebar di seluruh tubuh sepanjang jalur pembuluh limfatik. Noduli sering saling menyatu
dan umumnya memperlihatkan pusat germinal

Fosa Tonsil1,2
Fosa tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah otot palatoglosus,
batas posterior adalah otot palatofaringeus dan batas lateral atau dinding luarnya adalah otot
konstriktor faring superior. Berlawanan dengan dinding otot yang tipis ini, pada bagian luar
dinding faring terdapat nervus ke IX yaitu nervus glosofaringeal.

Pendarahan1,2,3
Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang arteri
karotis eksterna, yaitu 1) arteri maksilaris eksterna
(arteri fasialis) dengan cabangnya arteri tonsilaris dan
arteri palatina asenden; 2) arteri maksilaris interna
dengan cabangnya arteri palatina desenden; 3) arteri
lingualis dengan cabangnya arteri lingualis dorsal; 4)
arteri faringeal asenden. Kutub bawah tonsil bagian
anterior diperdarahi oleh arteri lingualis dorsal dan
bagian posterior oleh arteri palatina asenden, diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh
arteri tonsilaris. Kutub atas tonsil diperdarahi oleh arteri faringeal asenden dan arteri palatina
desenden. Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari
faring. Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil, vena lidah dan pleksus
faringeal

Aliran getah bening1,2


Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah bening servikal profunda
(deep jugular node) bagian superior di bawah muskulus sternokleidomastoideus, selanjutnya
ke kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus torasikus. Tonsil hanya mempunyai pembuluh
getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada

Persarafan1,2

4
Tonsil bagian bawah mendapat sensasi dari cabang serabut saraf ke IX (nervus
glosofaringeal) dan juga dari cabang desenden lesser palatine nerves.

Imunologi Tonsil1,2
Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit. Limfosit B membentuk
kira-kira 50-60% dari limfosit tonsilar. Sedangkan limfosit T pada tonsil adalah 40% dan 3%
lagi adalah sel plasma yang matang. Limfosit B berproliferasi di pusat germinal.
Immunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgD), komponen komplemen, interferon, lisozim dan
sitokin berakumulasi di jaringan tonsilar. Sel limfoid yang immunoreaktif pada tonsil
dijumpai pada 4 area yaitu epitel sel retikular, area ekstrafolikular, mantle zone pada folikel
limfoid dan pusat germinal pada folikel ilmfoid.
Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi
limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu 1) menangkap dan
mengumpulkan bahan asing dengan efektif; 2) sebagai organ utama produksi antibodi dan
sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.

B. Tonsil Faringeal (Adenoid)1


Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang
sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti
suatu segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau kantong diantaranya. Lobus ini
tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah, dikenal sebagai bursa
faringeus. Adenoid tidak mempunyai kriptus. Adenoid terletak di dinding belakang
nasofaring. Jaringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan
posterior, walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius. Ukuran
adenoid bervariasi pada masing-masing anak. Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran
maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian akan mengalami regresi.

C. Tonsil Lingual1,2
Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum
glosoepiglotika. Di garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekum pada
apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papilla sirkumvalata

5
TONSILITIS AKUT

A. DEFINISI
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang
merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Penyebaran infeksi
melalui udara (air bone droplets), tangan dan ciuman. Dapat
terjadi pada semua umur, terutama pada anak. Tonsilitis akut
adalah peradangan pada tonsil yang masih bersifat ringan.1

 Tonsilitis viral
Gejala tonsilitis viral lebih menyerupai commond cold yang disertai rasa nyeri tenggorok.
Virus Epstein Barr adalah penyebab paling sering. Hemofilus influenzae merupakan
penyebab tonsilitis akut supuratif. Jika terjadi infeksi virus coxschakie, maka pada
pemeriksaan rongga mulut akan tampak luka-luka kecil pada palatum dan tonsil yang
sangat nyeri dirasakan klien.
 Tonsilitis bakterial
Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A Streptokokus, β hemolitikus yang
dikenal sebagai strep throat, pneumokokus, Streptokokus viridan, Streptokokus piogenes.
Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang
berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus. Bentuk tonsilitis
akut dengan detritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis. Bila bercak-bercak detritus ini
menjadi satu, membentuk alur-alur maka akan terjadi tonsilitis lakunaris.
B. ETIOLOGI
Penyebab tonsilitis bermacam – macam, diantaranya adalah yang tersebut dibawah ini
yaitu :1,2
 Streptokokus beta hemolitikus
 Streptokokus viridans
 Streptokokus piogenes
 Virus influenza
Infeksi ini menular melalui kontak dari sekret hidung dan ludah ( droplet infections )

C. Patologi Tonsilitis Akut

Tonsil dibungkus oleh suatu kapsul yang sebagian besar berada pada fosa tonsil yang
terfiksasi oleh jaringan ikat longgar. Tonsil terdiri dari banyak jaringan limfoid yang disebut

6
folikel. Setiap folikel memiliki kanal (saluran) yang ujungnya bermuara pada permukaan
tonsil. Muara tersebut tampak oleh kita berupa lubang yang disebut kripta. Saat folikel
mengalami peradangan, tonsil akan membengkak dan membentuk eksudat yang akan
mengalir dalam saluran (kanal) lalu keluar dan mengisi kripta yang terlihat sebagai kotoran
putih atau bercak kuning. Kotoran ini disebut detritus. Detritus sendiri terdiri atas kumpulan
leukosit polimorfonuklear, bakteri yang mati dan epitel tonsil yang terlepas. Tonsilitis akut
dengan detritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis. Tonsilitis akut dengan detritus yang
menyatu lalu membentuk kanal-kanal disebut tonsilitis lakunaris.

Detritus dapat melebar dan membentuk membran semu (pseudomembran) yang


menutupi tonsil. Adanya pseudomembran ini menjadi alasan utama tonsilitis akut didiagnosa
banding dengan angina Plaut Vincent, angina agranulositosis, tonsilitis difteri, dan scarlet
fever.

D. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala tonsilitis akut adalah :
 faring hiperemis
 nyeri tenggorok
 edema faring
 nyeri telan
 pembesaran tonsil
 sulit menelan
 tonsil hiperemia
 demam
 mulut berbau
 mual, anoreksia
 otalgia ( sakit di telinga )
 kelenjar limfa leher membengkak
 malaise
selain gejala dan tanda diatas adapun tanda lainnya rasa nyeri pada sendi-sendi, tidak
nafsu makan dan nyeri pada telinga. Rasa nyeri di telinga ini karena nyeri alih melalui n
Glosofaringeus. Seringkali disertai adenopati servikalis disertai nyeri tekan. Pada
pemeriksaan tampak tonsil membengkak, hiperemis dan terdapat detritus berbentuk folikel
(tonsilitis folikularis), lakuna (tonsilitis lakunaris), atau tertutup oleh membrane semu.
Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan (Boies, 1997).

E. PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan pada tonsil akan didapati tonsil hipertrofi, tetapi kadang-kadang atrofi,
hiperemi dan odema yang tidak jelas. Didapatkan detritus atau detritus baru tampak jika
tonsil ditekan dengan spatula lidah. Kelenjar leher dapat membesar tetapi tidak terdapat nyeri
tekan.1,2
Ukuran tonsil pada tonsilitis kronik dapat membesar (hipertrofi) atau atrofi.

7
Pembesaran tonsil dapat dinyatakan dalam
ukuran T1 – T4. Cody& Thane (1993) membagi
pembesaran tonsil dalam ukuran berikut :
T1 = batas medial tonsil melewati pilar
anterior sampai ¼ jarak pilar anterior uvula
T2 = batas medial tonsil melewati ¼ jarak pilar anterior-uvula sampai ½ jarak pilar
anterior-uvula
T3 = batas medial tonsil melewati ½ jarak pilar anterior-uvula sampai ¾ jarak pilar
anterior-uvula
T4 = batas medial tonsil melewati ¾ jarak pilar anterior-uvula atau lebih.

F. DIAGNOSIS

Penderita tonsilitis akut awalnya mengeluh rasa kering di tenggorok. Kemudian


berubah menjadi rasa nyeri di tenggorok dan rasa nyeri saat menelan. Makin lama rasa nyeri
ini semakin bertambah nyeri sehingga anak menjadi tidak mau makan. Nyeri hebat ini dapat
menyebar sebagai referred pain ke sendi-sendi dan telinga. Nyeri pada telinga (otalgia)
tersebut tersebar melalui nervus glossofaringeus (IX).
Keluhan lainnya berupa demam yang suhunya dapat sangat tinggi sampai
menimbulkan kejang pada bayi dan anak-anak. Rasa nyeri kepala, badan lesu dan nafsu
makan berkurang sering menyertai pasien tonsilitis akut. Suara pasien terdengar seperti orang
yang mulutnya penuh terisi makanan panas. Keadaan ini disebut plummy voice. Mulut
berbau busuk (foetor ex ore) dan ludah menumpuk dalam kavum oris akibat nyeri telan yang
hebat (ptialismus). Pemeriksaan tonsilitis akut ditemukan tonsil yang udem, hiperemis dan
terdapat detritus yang memenuhi permukaan tonsil baik berbentuk folikel, lakuna, atau
pseudomembran. Ismus fausium tampak menyempit. Palatum mole, arkus anterior dan arkus
posterior juga tampak udem dan hiperemis. Kelenjar submandibula yang terletak di belakang
angulus mandibula terlihat membesar dan ada nyeri tekan.
Adapun tahapan menuju diagnosis tonsilitis kronis adalah sebagai berikut:

8
Anamnesa

Anamnesa ini merupakan hal yang sangat penting karena hampir 50%
diagnosa dapat ditegakkan dari anamnesa saja. Penderita sering datang dengan keluhan
rasa sakit pada tenggorok yang terus menerus, sakit waktu menelan, rasa mengganjal di
tenggorok, nafas bau, malaise, sakit pada sendi, kadang-kadang ada demam
dan nyeri pada leher.

Pemeriksaan Fisik

Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut, permukaan tonsil
tidak rata, kriptus melebar dan beberapa kripti terisi oleh detritus. Sebagian kripta
mengalami stenosis, tepi eksudat (purulent) dapat diperlihatkan dari kripta-kripta
tersebut. Gambaran klinis yang lain yang sering adalah dari tonsil yang kecil, biasanya
membuat lekukan, tepinya hiperemis dan sejumlah kecil sekret purulen yang tipis terlihat
pada kripta.
Pemeriksaan Penunjang
Dapat dilakukan kultur dan uji resistensi (sensitifitas) kuman dari sediaanapus tonsil.
Biakan swab sering menghasilkan beberapa macam kuman dengan derajat keganasan
yang rendah, seperti Streptococcus haemolitikus, Streptokokus viridans, Stafilokokus,
atau Pneumokokus.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosa tonsilitis akut
adalah pemeriksaan laboratorium meliputi :6
 Leukosit : terjadi peningkatan
 Hemoglobin : terjadi penurunan
 Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensitifitas obat
H. KOMPLIKASI
Meskipun jarang, tonsilitis akut dapat menimbulkan komplikasi lokal yaitu abses peritonsil,
abses parafaring dan otitis media akut. Komplikasi lain yang bersifat sistemik dapat timbul terutama
oleh kuman Streptokokus beta hemolitikus berupa sepsis dan infeksinya dapat tersebar ke organ lain
seperti bronkus (bronkitis), ginjal (nefritis akut & glomerulonefritis akut), jantung (miokarditis &
endokarditis), sendi (artritis) dan vaskuler (plebitis).
Komplikasi yang dapat muncul bila tonsilitis akut tidak tertangani dengan baik adalah :3
1. tonsilitis kronis
2. otitis media

I. PENATALAKSANAAN

9
- Tonsilitis viral: istirahat, minum cukup, analgetika dan antivirus diberikan bila gejala
berat.1
- Tonsilitis bakterial: antibiotika spektrum luas penisilin, eritromisin; antipiretik dan
obat kumur yang mengandung desinfektan.1

BAB III
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : An. N

Umur : 4 tahun

Jenis Kelamin : laki – laki

Berat badan : 14 kg

Tinggi badan : 100 cm

Alamat : Kras, Kediri

Tgl Periksa : 18 Juli 2019

10
Tanggal Masuk RS : 18 Juli 2019

A. ANAMNESIS

Diambil secara : alloanamnesis

Pada tanggal : 18 juli 2019, Jam : 14.10 WIB

Keluhan Utama: sakit tenggorokan

Riwayat Penyakit Sekarang

Ibu pasien mengatakan pasien mengeluh sakit tenggorokan sejak 1 minggu yang lalu
nyeri telan bila dibuat makan dan minum, ibu pasien mengatakan ditenggorokan anaknya
ada bintik putih di sebelah kanan dan mulut bau, suara serak dan bindeng, batuk kering,
pilek hidung tersumbat cairan susah keluar, kemudian demam tinggi sejak 4 hari hingga
saat ini, ada nyeri perut, tidak ada mual muntah, tidak ada pusing, tidak ada nyeri telinga.
makan minum menurun, BAB dan BAK normal.
Riwayat Penyakit Dahulu Dan Pengobatan
- Sebelumnya pasien belum pernah mengalami hal yang sama.
- Ibu pasien banya mengobati menurun panas (parasetamol)
- Riwayat kejang disangkal
- Riwayat asma disangkal
- Riwayat alergi obat, makanan, debu/ udara dingin disangkal
- Riwayat dirawat di RS (disangkal)

Riwayat Penyakit Keluarga

- Tidak ada mengalami hal yang sama

Riwayat Sosial : Suka makan jajanan di luar (ciki-ciki,gorengan)


Riwayat Pengobatan

- Dibawa ke dokter umum, diberikan obat penurun panas dan puyer untuk batuk (obat tidak

dibawa)

Riwayat ANC

- ANC rutin di bidan, riwayat tekanan darah tinggi saat hamil (-), riwayat sakit saat hamil (-),

konsumsi obat-obatan selama hamil (-)

Riwayat Persalinan

- Anak ke 2 Aterm/ Lk/ Spt/ Bidan/ 3000 gr/47 cm

11
Riwayat Imunisasi
BCG : usia 1 bulan
Polio : saat lahir, usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 2 tahun
Hepatitis B : saat lahir, usia 1 bulan, 6 bulan
DPT : saat usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan
Campak : saat usia 9 bulan
MMR : saat usia 1 tahun 3 bulan

Riwayat Tumbuh Kembang


Angkat kepala : 3 bulan
Tengkurap : 3 bulan
Duduk sendiri : 5 bulan
Merangkak : 6 bulan
Jalan : 11 bulan
Bicara kata : 9 bulan
Riwayat Gizi
 ASI hingga usia 6 bulan dan susu formula sejak usia hingga saat ini
 Suka mengkonsumsi nasi, lauk pauk, roti, buah. susah mengkonsumsi sayur-sayuran.
B. PEMERIKSAAN FISIK
PEMERIKSAAN AWAL DI IGD (18 Juli 2019, Jam 14.10)
Keadaan umum : Sedang
Kesadaran : Compos mentis GCS : E 4,V5,M6
Nadi : 120x/menit
Suhu : 39,4˚C
Pernapasan : 24x/menit
Berat badan : 14 kg

Kepala dan leher

anemis (-), ikterik (-), cyanosis (-), dypsneu (-)

Mulut

tonsil hiperemi (+), faring hiperemi (+), detritus (+)

Thorax

Pulmo : ronkhi (-/-), wheezing (-/-) , vesikuler (+/+)

Cor : S1 S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Abdomen : soefl, flat

Hepar/Lien : tidak teraba

Bising usus : (+) normal

12
Ekstremitas

Akral hangat kering merah, CRT < 2 detik

Riwayat terapi di IGD

- Inf. RL extra 150 cc  inf. D5 ½NS 1200 cc/24 jam


- Inj Santagesik 150 mg
- Inj. Ranitidine 2x 15 mg
A. PEMERIKSAAN SAAT DI RUANGAN (18 Juli 2019 Jam 14.35)
Status Generalis
- Keadaan umum : cukup
- Kesadaran : composmentis, GCS 456
- BB/TB : 14 kg/ 100 cm
- Tanda-tanda vital :
o TD : tidak dilakukan
o Nadi : 100x/ menit, reguler
o RR : 20 x/ menit
o Suhu : 36.6°C
Kepala : Bulat, simetris, rambut hitam, lurus, tidak mudah dicabut
Mata : konjungtiva anemis tidak ada, sklera tidak ikterik,
lagoftalmus tidak ada,
Telinga : Megalobus tidak ada. Gangguan pendengaran tidak ada.
Hidung : Mukosa hidung tidak hiperemis, sekret ada.
Mulut : lidah kotor (+) tonsil hiperemi (+) tonsil membesar (+)
Tenggorokan : Faring hiperemis (+)
Leher : Tidak ada pembesaran KGB
Tidak ada nyeri tekan submandibula
Thorax
Pulmo:
Inspeksi : pergerakan dada simetris, retraksi dinding dada (-)
Palpasi : fremitus taktil (+)
Perkusi : sonor (+/+)
Auskultasi : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Cor:
Inspeksi : ictus kordis tidak tampak
Palpasi : ictus kordis tidak teraba, tidak kuat angkat
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : S1S2 tunggal, reguler, gallop (-), murmur (-)
Abdomen
Inspeksi : flat, distensi abdomen (-)
Palpasi : soefl, nyeri tekan (-)
Perkusi : timpani, shifting dullness (-), turgor kulit normal
Auskultasi : bising usus (+) normal

13
Ekstremitas
Akral hangat kering merah, CRT < 2 detik
STATUS LOKALIS
Telinga
Kanan Kiri
Bentuk Daun Telinga Normal Normal
Deformitas (-) Deformitas (-)
Kelainan Congenital Tidak ada Tidak ada
Radang, Tumor Tidak ada Tidak ada
Nyeri Tekan Tragus Tidak ada Tidak ada
Penarikan Daun Telinga Tidak ada Tidak ada
Kelainan pre-, infra-, Tidak ada Tidak ada
retroaurikuler
Regio Mastoid Tidak ada kelaianan Tidak ada kelaianan
Liang Telinga CAE lapang, serumen CAE lapang, serumen
tidak ada tidak ada
Membran Timpani MT intak, hiperemis (-), MT intak, hiperemis (-),
edema (-) edema (-)
- Hidung dan Sinus Paranasal
 Bentuk : Normal, tidak ada deformitas
 Tanda peradangan : Hiperemis (-), Panas (-), Nyeri (-), Bengkak (-)
 Vestibulum : Hiperemis -/-, sekret -/-
 Cavum nasi : Lapang +/+, edema -/-, hiperemis -/-
 Konka : Eutrofi/eutrofi
 Meatus nasi medius : Sekret +/+
 Septum nasi : Deviasi -/-
 Pasase udara : Hambatan -/-
 Daerah sinus frontalis : Nyeri tekan (-)

- Tenggorok

Pharynx

 Dinding pharynx : hiperemis (+), granular (-)


 Arkus pharynx : simetris, hiperemis (+), edema (+)
 Tonsil :
- T3/T3
- Membesar +/+
- hiperemis +/+
- permukaan mukosa tidak rata/ granular +/-
- Kripta melebar +/-
- Detritus +/- (detritus jelas seperti folikel)
- Perlengketan -/-
 Uvula : letak di tengah, hiperemis (-)
 Gigi : gigi geligi tidak lengkap,caries (+)

14
 Lain-lain : radang ginggiva (-),post nasal drip (-)
 Swab tenggorokan : detritus ikut angkat swab spatel tidak ada darah

PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Darah Lengkap (18 juli 2019)
- Eritrosit : 4,92/mm2
- Hb : 13,2 g/dl
- Hematokrit : 40,3 %
- Trombosit : 191.000/mm2
- Leukosit : 10.300/mm2
- Limfosit : 48,1% (20-40%)
- Eosinofil : 0,3% (1-3%)
- Basofil : 4,6% (0-1%)
- LED : 11 mm/jam

DIAGNOSIS
Tonsillitis akut ec bacteri

PLANNING DIAGNOSIS
- DL
PLANNING TERAPI
- IVFD D5 ½ NS 1400 cc/ 24 jam
- Inj. Santagesik 3x 150 mg
- Inj. Ranitidin 2x15 mg
- Cefotaxim 3x500 mg
PO
- Triamcort /cetirizine 2x1
- Sanbekid 2x ¾ cth
- Nistin 3x20 tts
PLANNING MONITORING
- TTV
- Tonsil
- Keluhan pasien
PLANNING EDUKASI

- Menjelaskan kepada keluarga mengenai penyakit yang diderita pasien, prognosis, rencana

terapi dan pencegahannya

FOLLOW UP

Tgl Subjective Objective Assesment Planning

15
19 Demam (-), batuk Keadaan umum: baik Tonsillitis akut - IVFD D5 ½ NS
Kesadaran: CM
(+), pilek (+), 1400 cc/ 24
TTV:
suara bindeng (+), - Nadi:
jam
nyeri telan (+), 110x/ menit - Inj. Santagesik
nyeri perut (-) - RR:
3x 150 mg
BAB (+), BAK (+) 22x/ menit - Inj. Ranitidin
- Suhu:
tidak ada keluhan 2x15 mg
Nafsu makan 36,4
- Cefotaxim
Kepala/Leher:
suadah agak mau
a-/i-/c-/d-, faring 3x500 mg
makan dan - Cetirizin 2x1
hiperemi (+), - Sanbekid
minum, pasien
geographic tongue
tidak rewel 2x3/4cth
(-), tonsil T3 /T3,
lidah kotor (+) tonsil
hiperemi (+), tonsil
membesar (+),
detritus jelas seperti
folikel,
Thorax: ronkhi (-/-),
wheezing -/-
Abdomen: supel,
bising usus (+)
normal, nyeri tekan
(-), turgor kulit
normal
Ekstremitas: akral
hangat (+), CRT <2
detik
- DL
- Eritrosit:
4,92/mm2
- Hb : 13,2 g/dl
- Trombosit :
191.000/mm2
- PCV : 40,3%
20 Demam (-), batuk Keadaan umum: Tonsillitis - IVFD D5 ½ NS
(jarang), pilek cukup 1400 cc/ 24

16
(sudah Kesadaran: CM folikularis akut jam
TTV: - Triamcort 2x1
mengurang), suara - Sanbekid 2x3/4
- Nadi:
sedikit tidak - Cefadroxil 3x1
100x/ menit
bindeng, nyeri - RR:
telan (-) BAB (+), 20x/ menit
- Suhu:
BAK (+) tidak ada
36,5
keluhan
- Kepal
Nafsu makan
a/Leher:
sudah mau makan
a-/i-/c-/d-,
dan minum, pasien
- faring
tidak rewel
hiperemi (-),
tonsil T2/T2
lidah kotor (+)
tonsil hiperemi
(-) tonsil
membesar (-),
swab
tenggorokan
detritus ikut
angkat spatel
tidak ada darah,
detritus pecah
Thorax: ronkhi (-/-),
wheezing (-/-)
Abdomen: supel,
bising usus (+)
normal, nyeri tekan
(-), turgor kulit
normal
Ekstremitas: akral
hangat (+), CRT <2
detik

21 Demam (-), batuk Keadaan umum: Tonsillitis - IVFD D5 ½ NS


(-), pilek (-), suara cukup 1400 cc/ 24

17
bindeng (-), nyeri Kesadaran: CM folikularis akut jam
TTV: - Triamcort 2x1
telan (-) BAB (+), - Sanbekid 2x3/4
- Nadi:
BAK (+) tidak ada - Cefadroxil 3x1
100x/ menit
keluhan - RR:
Nafsu makan dan
20x/ menit
minum baik pasien - Suhu:
tidak rewel 36,3
Kepala/Leher:
a-/i-/c-/d-, faring
hiperemi (-), tonsil
T1/T1 lidah kotor (-)
tonsil hiperemi (-),
tonsil membesar (-),
detritus (-)

Thorax: ronkhi (-/-),


wheezing (-/-)
Abdomen: Supel,
Bising usus (+),
normal, nyeri tekan
(-), turgor kulit
normal
Ekstremitas: akral
hangat (+), CRT <2
detik

22 Demam (-), batuk Keadaan umum: Tonsillitis - KRS


Obat pulang
(-), pilek (-), suara cukup - Triamcort 2x1
folikularis akut
Kesadaran: CM - Sanbekid 2x3/4
bindeng (-), nyeri
TTV: - Nistin 3x20 tts
telan (-) BAB (+), - Nadi:
BAK (+) tidak ada 100x/ menit
- RR:
keluhan
Nafsu makan dan 20x/ menit
- Suhu:
minum baik pasien
36,4
tidak rewel
Kepala/Leher:
a-/i-/c-/d-, faring

18
hiperemi (-), tonsil
T1/T1 lidah kotor (-)
tonsil hiperemi (-),
tonsil membesar (-),
detritus (-)
Thorax: ronkhi (-/-),
wheezing (-/-)
Abdomen: Supel,
Bising usus (+),
normal, nyeri tekan
(-), turgor kulit
normal
Ekstremitas: akral
hangat (+), CRT <2
detik

BAB IV
PEMBAHASAN

Dari anamnesis didapatkan :

- Sakit tenggorokan 1 minggu - Mulut Bau

- Nyeri Telan - Batuk

- Demam - Pilek

Dari pemeriksaan fisik ditemukan :

Pada pemeriksaan tenggorok didapatkan:

19
- tonsil dengan ukuran T3B/T3B
- tonsil membesar +/+
- tonsil hiperemis +/-
- permukaan mukosa tidak rata/ granular +/-
- Kripta melebar +/-
- Detritus +/- (bentuk jelas seperti folikel)

C. DIAGNOSIS BANDING
- Tonsilitis hipertrofi akut
- Tonsilofaringitis akut
- Difteri

D. DIAGNOSIS KERJA

Tonsilitis folikularis akut

Dasar diagnosis:

Diagnosis kerja tonsilitis folikularis akut diambil berdasarkan anamnesis dan


pemeriksaan fisik yang didapatkan pada an N.

E. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


 Pemeriksaan darah lab.
 Pemeriksaan laboratorium berupa kultur dan uji resistensi kuman dari sediaan apusan
tonsil untuk mengetahui kuman penyebab.

F. PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa :
1. Edukasi pasien mengenai penyakit yang diderita
2. Jangan minum air es, makan berminyak dan bersantan,pedas, ciki-ciki
3. Banyak istirahat
Medikamentosa:
- IVFD D5 ½ NS 1400 cc/ 24 jam
- Inj. Santagesik 3x 150 mg
- Inj. Ranitidin 2x15 mg
- Cefotaxim 3x500
- Cetirizin 2x1
- Sanbekid 2x3/4cth

Kriteria pulang:

 Perbaikan klinis yang jelas: tidak demam, tidak sakit tenggorokan, evaluasi detritus tidak

ada. Nafsu makan minum membaik

 Hasil laboratorium dalam batas normal

G. PROGNOSIS

20
Ad Vitam : ad bonam
Ad Fungsionam : ad bonam

21
BAB V

KESIMPULAN

An. N, laki- laki, usia 4 tahun, BB 14 kg, datang ke IGD Rs bhayangkara Kediri

diantar dibunya dengan keluhan sakit tenggorokan dan panas tinggi, sakit tenggorokan

dirasakan sejak 1 minggu nyeri telan, panas tinggi dirasakan sejak 4 hari. Ibu pasien

mengatakan di tenggorokan anaknya bintik putih di sebelah kanan dan bau mulut, pasien juga

mengeluh batuk kering, suara bindeng, pilek dan hidung tersumbat.

Pada pemeriksaan fisik pasien ini adanya pembesaran tonsil kanan dan kiri dengan

T3/T3, tonsil tampak hiperemis, adanya detritus batas jelas seperti folikel di seblah kanan.

Dari hasil pemeriksaan penunjang pemeriksaan pada pemeriksaan darah lengkap, tidak di

dapatkan kelainan.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi.E.A,et all. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
Leher. 6th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. pg:212-25.
2. Adams.G.L, Boies.L.R, Higler. P.A. Boies Buku Ajar Penyakit THT. 6th ed. Penyakit-
penyakit Nasofaring dan Orofaring. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1997.
pg: 330-44.
3. Caparas.M.B, Lim.M.G. Basic Otolaryngology. Publication of comittee of the college
of Medicine: University of the Philippines. 1998. pg: 149-59.

4. Robertson, J.S. 2004. Journal of Tonsilitis. Available at: http://www.emedicine.com.


Accessed on: April 2012.

5. Ramsey, D.D. 2003.. Tonsilitis. Available at: http://www.illionisuniv.com. Accesed on:


April 2012

6. Lee, K.J. MD. Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery. 2003. McGraw-Hill.

7. Jackson C. Disease of the nose, throat and ear. 2 nd ed. Philadelphia: WB Sunders Co.
1959. pg: 239-59.

23