Anda di halaman 1dari 18

1

KISTA OVARIUM

Definisi
Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun besar, kistik
maupun solid, jinak maupun ganas (Wiknjosastro, 2011).
Kista adalah kantong berisi cairan yang dapat tumbuh dimana saja dengan
jenis yang bermacam-macam. Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan
yang terjadi pada indung telur atau ovarium (Laudermilk, 2009)
Kista ovarium memiliki permukaan rata dan halus. Biasanya bertangkai,
seringkali bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis dan cairan dalam
kista jernih dan berwarna kuning (Wiknjosastro, 2011)

Anatomi dan Fisiologi Genitalia Wanita


Organ reproduksi wanita diklasifikasikan menjadi eksternal dan internal.
Organ reproduksi eksterna atau pudenda, yang sering disebut sebagai vulva
mencakup semua organ yang dapat dilihat dari luar, yaitu yang dimulai dari mons
pubis, labia mayora dan labia minora, klitoris, himen, vestibulum, meatus uretra
dan berbagai kelenjar serta pembuluh darah3.
a. Mons Pubis
Mons pubis atau monsveneris adalah bagian yang menonjol berisi lemak
yang terletak di permukaan anterior simfisis pubis. Setelah pubertas, kulit
monsveneris tertutup oleh rambut ikal yang membentuk pola distribusi tertentu
yaitu pada wanita berbentuk segitiga. Mons veneris berfungsi sebagai bantal pada
waktu melakukan hubungan seks3.
b. Labia Mayora
Labia mayora berupa dua buah lipatan bulatan jaringan lemak lanjutan mons
pubis ke arah bawah yang ditutupi kulit dan belakang banyak mengandung pleksus
vena. Panjang labia mayora 7 – 8 cm dan agak meruncing pada ujung bawah. Secara
embriologis, labia mayora homolog dengan skrotum pada pria. Labia mayora
berfungsi sebagai pelindung karena kedua bibir ini menutupi lubang vagina
sementara bantalan lemaknya bekerja sebagai bantal3.
c. Labia Minora
2

Labia minora atau nimfe adalah lipatan jaringan tipis dan bila terbuka terihat
lembab dan kemerahan, menyerupai selaput mukosa. Pada labia minora banyak
terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung saraf3.
d. Klitoris
Klitoris merupakan organ erektil yang homolog dengan penis dan terletak
dekat ujung superior vulva. Panjang klitoris jarang melebihi 2 cm, bahkan dalam
keadaan ereksi sekalipun (Verkauf dkk.1992) dan posisinya sangat terlipat karena
tarikan labia minora2.
e. Vestibulum
Vestibulum adalah daerah berbentuk buah almond yang dibatasi labia
minora sebelah lateral dan memanjang dari klitoris sampai fouschettx, berasal dari
sinus urogenital. Terdapat 6 lubang yaitu Orificium uretra eksternum, introitus
vagina, ductus glandula Bartholini kanan dan kiri dan duktus skene kanan dan kiri,
antara fouschettx dan liang vagina disebut fosa navikularis2.
f. Ostium Uretra
g. Lubang atau meatus uretra
Terletak pada garis tengah vestibulum,1 sampai 1,5 cm di bawah arkus
pubis dan dekat bagian atas liang vagina. Meatus uretra terletak di dua pertiga
bagian bawah uretra terletak tepat di atas dinding anterior vagina2.
h. Ostium vagina dan Himen
Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan
tipis bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan. Himen atau selaput
dara adalah lapisan tipis yang menutupi sebagian besar dari liang senggama, di
tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat keluar. Lubang himen
biasanya berbentuk bulan sabit atau sirkular, namun kadang kala berupa banyak
lubang kecil (kribiformis), bercelah (septata) atau berumbai tidak beraturan
(fimbriata). Bentuk serta konsistensi himen sangat bervariasi terutama terdiri atas
jaringan ikat elastin dan kolagen. Himen imperforata, suatu lesi yang jarang, yang
merupakan keadaan ketika liang vagina tertutup sama sekali dan mengakibatkan
retensi cairan menstruasi2.
i. Vagina
3

Vagina atau liang kemaluan merupakan suatu tabung yang dilapisi membran
dari jenis epitelium bergaris khusus, dialiri banyak pembuluh darah dan serabut
saraf. Panjang vagina dari vestibulum sampai uterus adalah 7, 5 cm. Bagian ini
merupakan penghubung antara introitus vagina dan uterus. Pada puncak vagina
menonjol leher rahim yang disebut porsio. Bentuk vagina sebelah dalam berlipat –
lipat disebut rugae. Vagina mempunyai banyak fungsi yaitu sebagai saluran luar
dari uterus yang dilalui sekret uterus dan aliran menstruasi, sebagai organ kopulasi
wanita dan sebagai jalan lahir2.
j. Perineum
Perineum terletak diantara vulva dan anus, panjang perineum kurang lebih
4 cm. Jaringan utama yang menopang perineum adalah diafragma pelvis dan
urogenital.
Organ genitalia interna adalah suatu alat reproduksi yang berada di dalam
tidak dapat dilihat kecuali dengan jalan pembedahan. Organ genitalia interna terdiri
dari uterus, serviks uteri, korpus uteri, ovarium2.

Gambar 1. Genetalia eksterna


4

Gambar 2. Genetalia Interna


a. Uterus
Uterus atau rahim merupakan organ muskular yang sebagian tertutup oleh
peritoneum atau serosa. Rongga uterus dilapisi endomentrium. Uterus wanita yang
tidak hamil terletak pada rongga panggul antara kandung kemih di anterior dan
rektum di posterior. Bentuk uterus menyerupai buah pir, uterus terapung di dalam
pelvis dengan jaringan dan ligamentum. Panjang uterus kurang lebih 7,5 cm, lebar
5 cm, tebal 2,5 cm dan berat uterus 50 gram. Fungsi uterus adalah untuk menahan
ovum yang telah dibuahi selama perkembangan. Uterus terdiri dari1 :
1) Fundus uteri
Merupakan bagian uterus proksimal, disitu kedua tuba fallopi berinserasi ke uterus.
Di dalam klinik penting diketahui sampai dimana fundus uteri berada, oleh karena
tuanya kehamilan dapat diperkirakan dengan perabaan fundus uteri1.
2) Korpus uteri
Korpus uteri merupakan bagian uterus yang terbesar pada kehamilan. Dinding
korpus uteri terdiri lapisan serosa, muskular dan mukosa. Rongga yang terdapat
dalam korpus uteri disebut kavum uteri atau rongga rahim. Korpus uteri berfungsi
sebagai tempat janin berkembang1.
5

3) Serviks uteri
Serviks merupakan bagian uterus dengan fungsi khusus yang terletak di bawah
ismus. Serviks terutama terdiri dari atas jaringan kolagen, ditambah jaringan elastin
serta pembuluh darah, namun masih memiliki serabut otot polos. Kelenjar ini
berfungsi mengeluarkan sekret yang kental dan lengket dari kanalis servikalis. Jika
saluran kelenjar serviks tersumbat dapat berbentuk kista, retensi berdiameter
beberapa milimeter yang disebut sebagai folikel nabothian.
Secara histologik uterus terdiri dari :
1) Miometrium(lapisan otot polos)
Tersusun sedemikian rupa sehingga dapat mendorong isinya keluar pada waktu
persalinan. Sesudah plasenta lahir akan mengalami pengecilan sampai keukuran
normal sebelumnya.
2) Endometrium(epitel,kelenjar,jaringan dan pembuluh darah)
Endometrium merupakan lapisan dalam uterus yang mempunyai arti penting dalam
siklus haid. Pada masa kehamilan endometrium akan menebal, pembuluh darah
akan bertambah banyak, hal ini diperlukan untuk memberikan makan pada janin.
3) Lapisan serosa(peritoneum viseral)
Lapisan serosa terdiri dari ligamentum yang menguatkan uterus, yaitu :
a. Ligamentum kardinale sinistra dan dekstra, mencegah supaya uterus tidak turun.
b. Ligamentum sakrouterium sinistra dan dekstra, menahan uterus supaya tidak
banyak bergerak.
c. Ligamentum rotondum sinistra dan dekstra, menahan uterus agar dalam keadaan
antefleksi.
d. Ligamentum infundibulo pelvikum, ligamen yang menahan tuba falopii1.
b. Ovarium
Ovarium atau indung telur merupakan organ yang berbentukbuah almond,.
Ukuran ovarium cukup bervariasi, selama masa reproduksi panjang ovarium 2,5 cm
sampai 5 cm, lebar 1,5 sampai 3 cm dan tebal 0,6 sampai 1,5 cm. Berat dari ovarium
adalah 5 sampai 6 gram, ovarium terletak di bagian atas rongga panggul dan
bersandar pada lekukan dangkal dinding lateral pelvis diantara pembuluh darah
iliaka eksterna dan interna yang divergen.
6

Ovarium melekat pada ligamentum latum melalui mesovarium. Ligamentum utero-


ovarika memanjang dari bagian lateral dan posterior uterus, tepat di bawah insersi
tuba, ke uterus atau kutub bawah ovarium. Ovarium ditutupi oleh peritoneum dan
terdiri dari otot serta jaringan ikat yang merupakan sambungan dari uterus.
Ligamentum infundibulopelvikum atau ligamentum suspensorium ovarii
memanjang dari bagian atas kutub tuba ke dinding pelvis yang dilewati pembuluh
ovarika dan saraf3.
Ovarium terdiri dari dua bagian, korteks dan medulla. Korteks, atau lapisan
luar, dalam lapisan ini terdapat ovum dan folikel de Graaf. Korteks ovarium
berbentuk kumparan yang diantaranya tersebar folikel primodial dan folikel de
Graaf dalam berbagai tahap perkembangan. Bagian paling terluar dari korteks, yang
kusam dan keputih-putihan, dikenal sebagai tunika albugenia, pada permukaannya
terdapat epitel kuboid yaitu epitel germinal Waldeyer. Medulla, atau bagian tengah
dari ovarium, terdiri dari jaringan ikat longgar yang merupakan kelanjutan dari
mesovarium. Terdapat sejumlah besar arteri dan vena dalam medulla dan sejumlah
kecil serat otot polos yang berkesinambungan dengan yang berasal dari ligamentum
suspensorium3.
Dua fungsi ovarium ialah menyelenggarakan ovulasi dan memproduksi
hormon yaitu hormon seks steroid (estrogen, progesteron, dan androgen) yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan fungsi wanita normal. Hormon
estrogen bertanggung jawab atas pertumbuhan pola rambut aksila serta pubik dan
berperan dalam mempertahankan kalsium dalam tulang. Progesteron dipengaruhi
oleh estrogen sehingga dapat menimbulkan retensi cairan dalam jaringan, juga
dapat menyebabkan penumpukkan lemak3.
c. Tuba fallopii
7

Tuba fallopii atau saluran ovum yang memiliki panjang yang bervariasi dari
8 sampai 14 cm dengan diameter 3 sampai 8 mm, bagian terlebar dari ampula antara
5 sampai 8 mm dan ditutupi oleh peritoneum dan lumennya dilapisi oleh
membranmukosa. Saluran ovum berjalan dari lateral kiri dan kanan. Tuba fallopii

berfungsi untuk menghantarkan ovum dari ovarium ke uterus dan untuk perjalanan
ovum yang telah dibuahi. Tuba fallopii terdiri dari :
1) Pars Interstisiallis,bagian yang terdapat di dinding uterus.
2) Pars Ismika atau ismus merupakan bagian dari medial yang sempit seluruhnya.
3) Pars. Ampularis, bagian yang terbentuk saluran leher tempat konsepsi agak lebar.
4) Infindibulum, bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen dan mempunyai
umbai yang disebut fimbria yang berfungsi untuk menangkap telur dan
menyalurkan telur kembali ke tuba3.
8

Faktor Resiko
Ada beberapa faktor pemicu yang dapat mungkin terjadi, yaitu (Wiknjosastro,
2009) :
a. Faktor internal
1) Faktor genetik
Dimana didalam tubuh manusia terdapat gen pemicu kanker
yang disebut gen protoonkogen. Protoonkogen tersebut dapat terjadi
akibat dari makanan yang bersifat karsinogen, polusi, dan paparan
radiasi.
2) Gangguan hormon
Individu yang mengalami kelebihan hormone estrogen atau
progesterone akan memicu terjadinya penyakit kista.

b. Faktor eksternal
1) Sering stress
Stres salah satu faktor pemicu risiko penyakit kista, karena
apabila stress, kebanyakan mengalihkan ke hal-hal yang tidak sehat,
seperti : merokok, seks bebas, minum alcohol, dll.
2) Kurang olahraga
Jarang olahraga maka kadar lemak akan tersimpan di dalam
tubuh dan akan menumpuk di sel-sel jaringan tubuh sehingga
peredaran darah dapat terhambat oleh jaringan lemak yang tidak
dapat berfungsi dengan baik.
3) Merokok dan konsumsi alkohol
Merokok dan mengkonsumsi alcohol merupakan gaya hidup
tidak sehat. Gaya hidup yang tidak sehat dengan merokok dan
mengkonsumsi alcohol akan menyebabkan kesehatan tubuh
terganggu, terjadinya kanker, peredaran darah tersumbat,
kemandulan, cacat janin, dll.
4) Mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak
9

Hal ini menyebabkan terhambatnya saluran pencernaan di


dalam peredaran darah atau sel-sel darah tubuh manusia yang dapat
mengakibatkan sistem kerja tidak dapat berfungsi dengan baik
sehingga menjadi obesitas.

Patofisiologi
Ovulasi terjadi akibat interaksi antara hipotalamus, hipofisis, ovarium, dan
endometrium. Perkembangan dan pematangan folikel ovarium terjadi akibat
rangsangan dari kelenjar hipofisis. Rangsangan yang terus menerus datang dan
ditangkap panca indra dapat diteruskan ke hipofisis anterior melalui aliran portal
hipothalamohipofisial. Setelah sampai di hipofisis anterior, GnRH akan mengikat
sel genadotropin dan merangsang pengeluaran FSH (Follicle Stimulating Hormone)
dan LH (LutheinizingHormone), dimana FSH dan LH menghasilkan hormon
estrogen dan progesteron (Nurarif, 2013).
Ovarium dapat berfungsi menghasilkan estrogen dan progesteron yang
normal. Hal tersebut tergantung pada sejumlah hormon dan kegagalan
pembentukan salah satu hormon dapat mempengaruhi fungsi ovarium. Ovarium
tidak akan berfungsi dengan secara normal jika tubuh wanita tidak menghasilkan
hormon hipofisis dalam jumlah yang tepat. Fungsi ovarium yang abnormal dapat
menyebabkan penimbunan folikel yang terbentuk secara tidak sempurna di dalam
ovarium. Folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel
telur. Dimana, kegagalan tersebut terbentuk secara tidak sempurna di dalam
ovarium dan hal tersebut dapat mengakibatkan terbentuknya kista di dalam
ovarium.
10

Increased leutinizing hormone

Hyper stimulation of ovaries

Increased estrogen Hormonal imbalances Increased HCG

Abnormal proliferation of follicle

Menstrual Follicles fail to ovulate and fail to


undergo
irregularities
atresia and continue to grow

Cyst grow in size up to 15 cm in


Dull, unilateral lower diameter Increase abdominal girth
quadrant pain

Increase pelvic pressure


Hemorrhage & acute Rupture of the cyst

pain

Infection

Fatigue & sense Urinary frequency,


of
constipation &
Sepsis heaviness in the painful
pelvis

DEATH

Manifestasi Klinis
Kebanyakan wanita yang memiliki kista ovarium tidak memiliki
11

gejala. Namun kadang – kadang kista dapat menyebabkan beberapa


masalah seperti :
1. Nyeri selama hubungan seksual
2. Massa di perut bagian bawah dan biasanya bagian – bagian organ tubuh
lainnya sudah terkena.
3. Nyeri hebat saat menstruasi dan gangguan siklus menstruasi
4. Wanita post monopouse : nyeri pada daerah pelvik, disuria, konstipasi atau
diare, obstruksi usus dan asietas (Wiknjosastro, 2009).

Klasifikasi
A. Kista Fungsional
1. Kista folikel
Kista ini berasal dari folikel de graaf yang tidak sampai berovulasi, namun
terus tumbuh menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang setelah
bertumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang lazim,
melainkan membesar menjadi kista. Biasanya dapat didapati beberapa kista dengan
diameter kista 1-1,5 cm. Kista yang berdiri sendiri sebesar jeruk nipis. Cairan di
dalam kista jernih dan mengandung estrogen. Kista jenis ini mengganggu siklus
menstruasi. Kista folikel ini lambat laun mengecil dan menghilang dengan
sendirinya.
Kista folikel biasanya tidak bergejala dan dapat menghilang dalam waktu <
60 hari. Jika muncul gejala, biasanya menyebabkan interval antar menstruasi yang
sangat pendek atau panjang. Pemeriksaan untuk kista < 4 cm adalah pemeriksaan
ultrasonografi awal, dan pemeriksaan ulang dalam waktu 4-8 minggu. Sedangkan
pada kista > 4 cm atau kista menetap dapat diberikan pemberian kontrasepsi oral
selama 4-8 minggu yang akan menyebabkan kista menghilang sendiri
2. Kista korpus luteum
Normalnya, korpus luteum lambat laun mengecil dan menjadi korpus
albikans, kadang-kadang korpus luteum mempertahankan diri (persisten).
Perdarahan yang sering terjadi di dalamnya menyebabkan terjadinya kista, berisi
cairan yang berwarna merah coklat karena darah tua. Keluhan yang biasa dirasakan
dari kista tersebut yaitu rasa sakit yang berat di rongga panggul terjadi selama 14-
12

60 hari setelah periode menstruasi terakhir. Frekuensi kista luteum lebih jarang
daripada kista folikel. Kista luteum dibagi menjadi kista granulosa dan kista teka.
Kista granulosa
Kista granulosa merupakan pembesaran non neoplastik ovarium. Setelah
ovulasi dinding sel granulosa tidak mengalami luteinisasi. Pada tahap terbentuknya
vaskularisasi baru, darah terkumpul di tengah rongga membentuk korpus
hemoragikum. Reabsorbsi darah di ruangan ini menyebabkan terbentuknya kista
korpus luteum. Kista lutein yang persisten dapat menimbulkan nyeri lokal, tegang
dinding perut yang juga disertai amenorea atau menstruasi terlambat yang
menyerupai gambaran kehamilan ektopik . kista lutein juga dapat menimbulkan
torsi ovarium sehingga membutuhkan tindakan pembedahan segera untuk
menyelamatkan penderita.
Kista teka
Kista jenis ini tidak pernah mencapai ukuran yang besar. Kista biasanya
bilateral dan bisa menjadi sebesar tinju. Biasanya terjadi pada mola hidatidosa,
koriokarsinoma, dan kadang-kadang tanpa adanya kelainan tertentu, ovarium dapat
membesar menjadi kistik..
Pada pemeriksaan mikroskopik terlihat luteinisasi sel-sel teka. Sel-sel
granulosa dapat pula menunjukkan luteinisasi, akan tetapi seringkali sel-sel
menghilang karena atresia. Timbulnya kista ini adalah pengaruh hormon
koriogonadotropin yang berlebihan dan dengan hilangnya mola atau
koriokarsinoma, ovarium mengecil spontan.
B. Teratoma (kista dermoid)
Kista dermoid merupakan tumor terbanyak yang berasal dari sel
germinativum (10% dari total tumor ovarium). Tumor ini tersusun dari beberapa
jaringan, tetapi ektodermal merupakan komponen utama, yang kemudian diikuti
degnan mesodermal dan ektodermal. Semakin lengkap unsur penyusun, akan
semakin solid konsistensi tumor ini.
Kista dermoid jarang mencapai ukuran besar, tetapi kadang-kadang
bercampur dengan kistadenoma ovarii musinosum sehingga diameternyaakan
semakin besar. Unsur penyusun terdiri dari sel-sel yang telah matur. Dalam ukuran
kecil kista demroid tidak menimbulkan keluhan apa pun dan penemuan tumor pada
13

umumnya hanya melalui pemeriksaan ginekologik rutin. Rasa penuh dan berat di
dalam perut hanya dirasakan apabila ukuran tumor cukup besar. Komplikasi berupa
torsi, ruptur, perdarahan dan transformasi ganas.
C. Cystadenoma
1. Kistadenoma ovarii musinosum
Kemungkinan berasal dari suatu teratoma diamana di dalam
pertumbuhannya satu elemen mengalahkan elemen lain. Tumor ini biasanya
berukuran besar, unilateral, permukaan licin, multilocular atau unilocular dengan
isi materi yang cair atau kental berlendir. Kistadenoma ovarii musinosum
cenderung berada di tempat dan secara lokal menginvasi jaringan sekitarnya seperti
saluran cerna, dinding abdomen dan kandung kemih. Metastasis ke tempat yang
jauh jarang terjadi. Kadang-kadang disertai dengan deposit musin intraabdomen
yang disebut dengan pseudomyxoma peritonei. 1,2
2. Kistadenoma ovarii serosum
Berasal dari epitel permukaan ovarium, dinding luarnya dapat menyerupai
kista musinosum. Dinding dalam kista sangat licin, sehingga pada kista yang kecil
sukar dibedakan dengan kista folikel biasa, sebagian besar kasus ukuran kista
mencapai 10 cm atau bahkan lebih besar. Biasanya asimptomatik, gejala yang
timbul yaitu akibat efek masa pada adnexa, ataupun torsio pada kista. 15%
Kistadenoma ovarii serosum terjadi bilateral. 1,2,3
D. Endometrioma (Kista endometrium)
Kista ini merupakan endometriosis yang berlokasi di ovarium, berwarna coklat
dan sering terjadi perlengketan dengan organ-organ lain. Kista endometrium dapat
berukuran > 3 cm dan multilokus.

Penegakan Diagnosis
Banyak tumor ovarium tidak menunjukan gejala dan tanda, terutama tumor
ovarium yang kecil, sebagian tanda dan gejala akibat dari pertumbuhan, aktivitas
endokrin atau komplikasi tumor-tumor tersebut (Prawiroharjo, 1999). Pertumbuhan
tumor ovarium dapat memberi gejala karena besarnya, terdapat perubahan
hormonal atau penyakit yang terjadi, tumor jinak ovarium yang diameternya kecil
14

sering di temukan secara kebetulan dan tidak memberikan gejala klinik yang berarti
(Manuaba, 1998).
Gejala akibat tumor ovarium dapat di jabarkan sebagai berikut :
1. Gejala akibat pertumbuhan.
Dapat menimbulkan rasa berat di abdomen bagian bawah, sehingga
mengakibatkan penekanan kandung kemih yang dapat menimbulkan gejala
gangguan miksi, selain itu tekanan tumor dapat mengakibatkan obstipasi, edeme
pada tungkai. Pada tumor yang besar dapat terjadi tidak nafsu makan dan rasa sesak.
2. Gejala akibat pertumbuhan hormonal.
Ovarium merupakan sumber hormon utama wanita, sehingga bila menjadi
tumor menimbulkan gangguan terhadap siklus menstruasi yang dapat berupa
amenore dan hipermenore.
3. Gejala akibat komplikasi yang terjadi pada tumor.
a. Perdarahan intra tumor.
Perdarahan yang mendadak dalam jumlah yang banyak akan terjadi ditensi
cepat dari kista yang dapat menimbulkan nyeri perut mendadak.
b. Putaran tungkai.
Tumor yang bertungkai sering terjadi putaran tungkai, apabila putaran
terjadi secara perlahan tidak menimbulkan nyeri, tetapi jika putaran terjadi
secara mendadak dapat menimbulkan nyeri pada abdomen.
c. Terjadi infeksi pada tumor.
Interaksi dapat terjadi jika tumor dekat dengan sumber kuman patogen
seperti appendiksitis.
d. Robekan dinding kista.
Terjadi robekan di sebakan karena teori tungkai kista yang akan berkibat isi
kista tumpah ke dalam ruangan abdomen.
e. Perubahan keganasan.
Keganasan kista di jumpai pada usia sebelum menarchea dan di atas usia 45
tahun (Manuaba, 1998).
15

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan penunjang yang dapat di lakukan pada pasien dengan


kista ovarium adalah :
a. Laparaskopi.
Pemeriksaan ini dapat berguna untuk mengetahui apakah sumber tumor berasal
dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan sifat-sifat tumor itu.
b. Ultrasonografi.
Dengan pemeriksaan ini dapat di tentukan letak dan batas tumor, apakah tumor
berasal dari uterus, ovarium atau kandung kemih, apakah tumor kistik atau solid
dan dapat di bedakan pula antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang
tidak.

Komplikasi
1. Perdarahan
Perdarahan dalam kista biasanya terjadi sedakit-sedikit, sehingga
berangsur-angsur menyebabkan pebesaran kista dan menimbulkan gejala klinik
yang minimal. Akan tetapi bila perdarahan terjadi dalam jumlah banyak, akan
terjadi distensi cepat dari kista yang menimbulkan nyeri perut mendadak.

2. Torsio Tangkai
Putaran atau torsio tangkai dapat terjadi pada tumor bertangkai dengan
diameter 5 cm. Putaran tangkai menyebabkan gangguan sirkulasi, adanya putaran
tangkai menimbulkan tarikan melalui ligamentum infundibulopelvikum terhadap
peritonium perietale dan ini menimbulkan rasa sakit. Karena vena lebih mudah
tertekan, teerjadilah pembendungan darah dalam tumor dengan akibat pembesaran
tumor dan terjadi perdarahan didalamnya. Jika putaran tangkai berjalan terus akan
terjadi nekrosis hemoragik dalam tumor, jika tidak diambil akan terjadi robekan dan
perdarahan intraabdominal.
3. Infeksi
Infeksi terjadi jika di dekat kista ada kuman patogen, seperti appendisitis,
atau salpingitis.
16

4. Robek dinding kista


Terjadi pada torsi tangkai, tetapi dapat pula sebagai akibat trauma, seperti
jatuh, atau pukulan di perut. Bila terjadi robekan disertai hemoragi maka akan
terjadi perdarahan dan menimbulkan nyeri yang berlangsung terus-menerus.
Robekan dinding pada kistadenoma musinosum dapat mengakibatkan implantasi
sel-sel kista dimana sel tersebut mengeluarkan cairan musin yang mengisi rongga
perut yang menyebabkan perlengketan dalam rongga perut. Keadaan ini dikenal
dengan nama pseudomiksoma peritonei.
5. Perubahan keganasan dapat terjadi pada beberapa kista seperti kistadenoma
ovarii serosum, kistadenoma ovarii musinosum, oleh sebab itu, setelah diangkat
perlu pemeriksaan yang seksama terhadap kemungkinan perubahan keganasan.
Adanya asites dalam hal ini mencurigakan, adanya anak sebar (metastasis)
memperkuat diagnosis keganasan.
Penatalaksanaan
a. Tatalaksana Umum
- Pasien dengan kecurigaan tumor adneksa harus dirujuk ke rumah sakit.

b. Tatalaksana Khusus
- Dalam kehamilan, neoplasma ovarium yang berukuran lebih besar dari telur angsa
harus dikeluarkan.
- Bila tumor diketahui ganas atau disertai gejala akut, pasien harus dirujuk segera
untuk pengangkatan tumor (tanpa menghiraukan usia kehamilan).
- Bila tumor menghalangi jalan lahir, lakukan seksio sesarea sekaligus
pengangkatan tumor.
- Bila tumor yang tidak ganas diketahui pada usia kehamilan muda, pengangkatan
tumor sebaiknya ditunda sampai kehamilan usia 16 minggu. Pengangkatan
sebaiknya dilakukan di usia kehamilan antara 16-20 minggu. Bila pengangkatan
terpaksa dilakukan sebelum 16 minggu, setelah dilakukan pengangkatan, berikan
suntikan progestin sampai usia kehamilan melewati 16 minggu.
- Bila tumor diketahui pada usia kehamilan tua dan tidak menyebabkan penyulit
obstetri atau tidak mencurigakan akan mengganas, maka kehamilan dapat
dibiarkan sampai berlangsung partus spontan.
17

Kista ovarium dapat terpuntir:


Biasanya terjadi pada trimester pertama kehamilan
Berupa masa nyeri tekan pada abdomen bawah
Sering asimptomatik

Tatalaksana :
a. Tatalaksana Umum
- Segera rujuk ibu ke rumah sakit.
b. Tatalaksana Khusus
- Pada kista ovarium terpuntir disertai nyeri perut dilakukan laparotomi.
- Pada kista ovarium asimptomatik:
* Bila kista berukuran > 10 cm, dilakukan laparatomi pada trimester kedua
kehamilan.
* Bila kista berukuran < 5 cm, tidak perlu dioperasi.
* Bila kista berukuran 5 – 10 cm, lakukan observasi: jika menetap atau membesar,
lakukan laparotomi pada trimester kedua kehamilan.
* Jika dicurigai keganasan, pasien dirujuk ke rumah sakit yang lebih 17lengkap.
Prognosis
Prognosis kista ovarium jinak sangat baik. Pada umumnya kista ovarium
menghilang dengan sendirinya. Secara keseluruhan, 70%-80% kista folikuler
menghilang secara spontan. Angka kekambuhan kista sederhana pada perempuan
usia muda adalah 40%, sedangkan angka kekambuhan kista kompleks adalah 7.6%
setelah laparoskopi dan 0% setelah laparotomi. Pada perempuan pascamenopause,
69.4% kista sederhana dapat hilang dengan sendirinya.
18

Daftar Pustaka

ACOG, The american college of obstetrician and gynecologist, 2017, women's


health care physcians, ovarian cyst
Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD.
Obstetri Williams Edisi ke-21 Vol. 2. Jakarta : ECG; 2004. p. 934, 1035-7.
2.
Ginting M. Klasifikasi kista ovarium. Semarang: Unimus; 2010.
Medscape Reference , Ovarium Anatomy, Available at
http://emedicine.medscape.com/article/1949171-overview#aw2aab6b3,
Last Update October 3, 2013. Accessed on April 23, 2014.
Rosai J. Rosai and Ackerman’s Surgical Pathology: Mucinous Tumors.
Mosby. Philadelphia. 2004. Volume 2. Page 1664-1667.
Schorge et al. William’s Gynecology [Digital E-Book] Gynecologic Oncology
Section. Ovarian Tumors and Cancer. McGraw-Hills..2008
Smith Derek, Weerakkody Yuranga et al, availabel at:
https://radiopaedia.org/articles/ovarian-serous-cystadenoma
Wiknjosastro H. Buku Ilmu Kandungan Edisi 2., editor: Saifuddin A.B,dkk.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.1999: 13-14