Anda di halaman 1dari 53

RANCANGAN AKTUALISASI DAN HABITUASI NILAI-NILAI DASAR, PERAN

DAN KEDUDUKAN APARATUR SIPIL NEGARA (ASN)

OPTIMALISASI PENGISIAN LEMBAR INFORMED CONSENT DI IGD RSUD


DR.SOERATNO GEMOLONG

Disusun oleh :

Nama : drg Ita Arafatis Syarifah

NIP : 19880724 201903

Golongan/Angkatan : III/ LXXXVIII

No. Presensi : 25

Jabatan : Dokter Gigi Ahli Pertama

Unit Kerja : Rumah Sakit Umum Daerah Dr.


Soeratno Gemolong

Mentor : dr. Agus Trijono , M.Kes.

PELATIHAN DASAR CPNS GOLONGAN III

ANGKATAN LXXXVIII BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH

1
HALAMAN PERSETUJUAN

RANCANGAN AKTUALISASI DAN HABITUASI NILAI-NILAI DASAR, PERAN


DAN KEDUDUKAN APARATUR SIPIL NEGARA (ASN)

Judul : Optimalisasi Pengisian lembar informed consent di IGD


RSUD Dr.Soeratno Gemolong

Disusun oleh

Nama : drg Ita Arafatis Syarifah

NIP : 19880724 201903 2 013

Dinyatakan disetujui untuk diseminarkan pada :

Hari, Tanggal : Selasa, 16 Juli 2019

Tempat : D’Madinah Residence Syariah, Laweyan, Solo

Surakarta, 16 Juli 2019

Mengetahui,

Coach, Mentor,

Sodikin, S.S, M.Si. dr. Agus Trijono, M.Kes


Widyaiswara Ahli Muda Pembina
NIP. 19680324190831002 NIP. 197008022005011011

2
HALAMAN PENGESAHAN

RANCANGAN AKTUALISASI DAN HABITUASI NILAI-NILAI DASAR, PERAN


DAN KEDUDUKAN APARATUR SIPIL NEGARA (ASN)

Judul : Optimalisasi Pengisian lembar informed consent di IGD


RSUD Dr.Soeratno Gemolong

Nama : drg Ita Arafatis Syarifah

NIP : 19880724 201903 2 013

Unit Kerja :Rumah Sakit Umum Daerah Dr.Soeratno Gemolong

Telah diseminarkan

Di :

Hari, Tanggal :

Peserta Pelatihan Dasar

Drg Ita Arafatis Syarifah

NIP.19880724 201903 2 003

Mengetahui,

Coach, Mentor,

Sodikin, S.S, M.Si. dr. Agus Trijono, M.Kes


Widyaiswara Ahli Muda Pembina
NIP. 19680324190831002 NIP. 197008022005011011

3
PRAKATA

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah


atas segala berkat, rahmat, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
“Optimalisasi Pengisian lembar informed consent di IGD RSUD Dr.Soeratno
Gemolong” dengan baik. Rancangan kegiatan aktualisasi dan habituasi nilai-nilai
dasar Aparatur Sipil Negara atau selanjutnya disebut ASN ini bertujuan untuk
meningkatkan kualitas ASN di RSUD Dr. Soeratno Gemolong dengan sikap perilaku
ASN dan nilai dasar ASN yang terdiri dari: Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi (ANEKA).
Penulis menyadari bahwa rancangan ini dapat terwujud karena bantuan dan
dorongan dari benyak pihak. Penulis dengan rendah hati mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Kepala BPSDMD Jawa Tengah beserta jajarannya yang telah memfasilitasi
penyelenggaraan Pelatihan Dasar CPNS Golongan III.
2. Pemerintah Kabupaten Sragen

3. Sodikin, S.S, M.Si., selaku coach atas semua inspirasi, dorongan, masukan dan
bimbingannya dalam penyusunan rancangan aktualisasi ini.

4. dr. Agus Trijono, M.Kes., selaku mentor atas semua arahan, motivasi, dukungan,
masukan dan bimbingan selama perancangan program aktualisasi.

5. Keluarga besar RSUD Dr. Soeratno Gemolong Kabupaten Sragen atas dukungan
dan kerjasamanya.

6. Seluruh Widyaiswara yang telah membimbing dalam perkuliahan dan memberikan


pengarahan terkait materi ANEKA untuk dapat diinternalisasikan dan
diaktualisasikan di instansi.

7. Seluruh Panitia, dan Binsuh yang telah membantu dan memfasilitasi kegiatan
Pelatihan Dasar

8. Keluarga besar peserta Latsar Golongan III Angkatan LXXXVIII tahun 2019.

4
Penulis sadar bahwa rancangan aktualisasi ini belum sempurna. Penulis
berharap adanya masukan yang membangun dari berbagai pihak guna membuat
rancangan laporan ini menjadi lebih baik. Sehingga, rancangan aktualisasi ini dapat
dijadikan dasar dalam pelaksanaan dan pelaporan aktualisasi dan habituasi nilai-
nilai dasar ASN, serta memberikan manfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Semarang,Agustus 2019

5
DAFTAR ISI

Halaman Persetujuan....................................................................................i
Halaman Pengesahan..................................................................................ii
Kata Pengantar............................................................................................iii
Daftar Isi.......................................................................................................v
Daftar Tabel.................................................................................................vi
Daftar Gambar............................................................................................vii

BAB I Pendahuluan......................................................................................8
A. Latar Belakang...................................................................................8
B. Identifikasi Isu.....................................................................................9
C. Dampak Jika Isu Tidak Terselesaikan..............................................15
D. Rumusan Masalah...........................................................................16
E. Tujuan...............................................................................................16
F. Manfaat............................................................................................16
BAB II Landasan Teori...............................................................................18
A. Sikap Perilaku Bela Negara.............................................................18
1. Wawasan Kebangsaan.................................................................19
2. Isu Kontemporer............................................................................21
B. Nilai Dasar CPNS.............................................................................21
1. AKUTABILITAS..............................................................................22
2. NASIONALISME...........................................................................23
3. ETIKA PUBLIK..............................................................................23
4. KOMITMEN MUTU........................................................................24
5. ANTI KORUPSI.............................................................................25
C. Kedudukan dan Peran CPNS dalam NKRI......................................26
1. Manajemen ASN...........................................................................26
2. Pelayanan Publik...........................................................................27
3. Whole Of Government..................................................................29
BAB III Tugas Unit Kerja dan Tugas Peserta.............................................31
A. Profil Unit Kerja................................................................................31
1. Dasar hukum pembentukan Rumah Sakit....................................32
2. Visi, Misi, Motto dan Tujuan Pelayanan Rumah Sakit..................32
3. Struktur Organisasi Rumah Sakit..................................................34

6
4. Deskripsi Sumber Daya Manusia, Sarana Prasarana dan Sumber Daya lain
36
B. Tugas Jabatan Peserta Diklat..........................................................39
C. Role Mode........................................................................................40
BAB IV Rancangan Kegiatan Aktualisasi...................................................42
A. Daftar Rancangan Kegiatan Aktualisasi dan Keterkaitan dengan Nilai ANEKA
.........................................................................................................42
B. Rancangan Aktualisasi 30 Hari........................................................48
C. Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala..................................49
BAB V Penutup..........................................................................................50
A. Kesimpulan.......................................................................................50
B. Saran................................................................................................50
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................52
DAFTAR RIWAYAT HIDUP........................................................................53

7
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut TAP MPR nomor II tahun 1998 Aparatur Negara adalah
keseluruhan lembaga dan pejabat Negara serta pemerintahan Negara yang
meliputi aparatur kenegaraan dan pemerintahan sebagai abdi Negara dan abdi
masyarakat, bertugas dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan Negara dan
pembangunan serta senantiasa mengabdi dan setia kepada kepentingan, nilai-
nilai dan cita-cita perjuangan bangsa dan Negara berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945. Aparatur Negara sebagai penyelenggara
pemerintahan diberikan tanggung jawab untuk merumuskan langkah-langkah
strategis dan upaya-upaya kreatif guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat
secara adil, demokratis dan bermartabat.
Dalam rangka pelaksanaan cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan negara
sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 perlunya dibangun karakter Pegawai Negeri Sipil
(PNS) yang memiliki integritas, profesional, netral dan bebas dari intervensi
politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta mampu
menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan mampu menjalankan
peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa sesuai dengan
peran dan fungsi PNS. Menurut Undang-Undang Nomor 5 tahun 2014 tentang
Aparatur Sipil Negara (ASN) dijelaskan bahwa ASN adalah profesi bagi Pegawai
Negeri Sipil dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja yang bekerja pada
instansi pemerintah. ASN dituntut untuk memahami nilai-nilai dasar yang menjadi
landasan dalam menjalankan profesinya. Nilai-nilai dasar tersebut antara lain
akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, dan anti korupsi. Kelima
dasar tersebut memiliki peranan penting demi menghasilkan pegawai ASN yang
profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih
dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme sesuai dengan harapan dari
pemerintah.

8
Pembentukan PNS yang mampu melaksanakan tugas dan perannya
sebagai pelayan masyarakat secara profesional yang memiliki nilai-nilai dasar
profesi PNS dilaksanakan melalui jalur pendidikan dan pelatihan dasar. Pelatihan
dasar CPNS telah mengalami inovasi dalam penyelenggaraannya yang
memungkinkan peserta mampu menginternalisasikan nilai-nilai dasar dan mampu
mengaktualisasikan nilai-nilai dasar tersebut pada unit kerja masing-masing.
Aktualisasi kelima nilai dasar profesi PNS disesuaikan dengan tugas pokok dan
fungsi masing-masing serta visi dan misi unit kerja.
Dokter gigi merupakan profesi ASN yang dalam melaksanakan tugasnya
juga membutuhkan para aparatur yang memiliki nilai-nilai dasar (ANEKA) guna
mencapai tujuan pelaksanaan praktik kedokteran gigi sebagaimana tertulis dalam
Permenkes RI No. 1419/MENKES/PER/X/2005 tentang tentang izin dan
penyelenggaraan praktek dokter dan dokter gigi.
Berdasarkan data Riskesdas 2018, terdapat sebanyak 57,6% masalah
penyakit gigi mulut. Salah satunya karies gigi. Angka karies pada pasien anak
yang datang ke RSUD dr Soeratno Gemolong tergolong tinggi. Karies terjadi pada
gigi susu dan permanen. Sayangnya, kesadaran orang tua masih rendah untuk
mencegah terjadinya karies. Bahkan kadang orang tua tidak mengetahui bahwa
gigi yang terkena karies merupakan gigi permanen yang sudah tidak ada gigi
penggantinya lagi.
Masa anak-anak merupakan masa pergantian gigi sulung ke permanen.
Masa ini, selain menentukan letak gigi permanen untuk erupsi juga merupakan
masa yang paling penting untuk mencegah karies gigi pada gigi permanen.
Berdasarkan observasi dan konsultasi, maka didapatkan identifikasi isu
sebagai berikut: (1) kurang optimalnya upaya preventif karies gigi pada pasien
anak umur <12th, (2) kurang optimalnya penggunaan kartu rekam medik
kedokteran gigi di RSUD dr Soeratno Gemolong, (3) kurang optimalnya prosedur
strerilisasi terhadap pencegahan penyakit menular di poli gigi RSUD dr Soeratno,
(4) Kurang optimalnya pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada calon pengantin
dan ibu hamil di RSUD dr Soeratno Gemolong (5) kurangnya inovasi pelayanan di
poli gigi RSUD dr Soeratno GemolongI untuk mengurangi rasa cemas pasien.
Dengan kegiatan aktualisasi yang mengedepankan nilai-nilai dasar ASN
yakni ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme , Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti
Korupsi) di diharapkan nilai-nilai dasar ASN dapat terinternalisasi dalam tindakan

9
dan pekerjaan sehari-hari, mampu memberi pengaruh pada lingkungan sehingga
tercapai nilai-nilai, visi, dan misi dimana penulis bekerja.
Dalam laporan aktualisasi ini, isu yang muncul dan telah diidentifikasikan
dengan metode APKL dan USG sehingga terpilih isu-isu yang paling penting dan
strategis serta menjadi prioritas utama untuk diselesaikan. Selanjutnya isu yang
menjadi prioritas dipecahkan dengan gagasan-gagasan yang tertuang dan
terlaksana dalam kegiatan aktualisasi dan habituasi selama 30 hari kerja di RSUD
dr Soeratno Gemolong dengan menerapkan nilai-nilai dasar ASN.

1.2 Identifikasi Isu Dan Rumusan Masalah

Dalam melaksanakan tugas sebagai Dokter Gigi di RSUD dr Soeratno


Gemolong, ditemukan beberapa isu yang berkaitan dengan nilai-nilai Pelayanan
Publik, Manajemen ASN dan Whole of Government (WoG). Identifikasi Isu dilakukan
melalui analisis isu dengan menggunakan alat bantu penetapan kriteria kualitas isu
yang bertujuan untuk menetapkan kualitas isu dan menentukan prioritas isu yang
perlu diangkat dan diselesaikan melalui gagasan kegiatan-kegiatan yang akan
dilakukan.
Analisis isu dilakukan dengan menggunakan alat bantu APKL (Aktual,
Problematik, Kelayakan, Kekhalayakan), yakni alat bantu yang untuk menganalisis
ketepatan dan kualitas isu dengan memperhatikan tingkat aktual, problematik,
kekhalayan, dan kelayakan dari isu-isu yang ditemukan. Aktual artinya benar- benar
terjadi dan sedang hangat dibicarakan masyarakat. Problematik artinya isu yang
memiliki masalah yang kompleks sehingga perlu segera dicarikan solusinya.
Kekhalayakan artinya isu menyangkut hajat hidup orang banyak. Kelayakan artinya
isu yang masuk akal dan realistis serta relevan untuk dimunculkan inisiatif
pemecahan masalahnya.
Analisis APKL dilakukan dengan memberikan nilai positif atau negatif pada
masing-masing kriteria aktual, problematik, kelayakan, dan kekhalayan. Jika isu
yang ditemukan memenuhi kriteria maka diberi nilai positif, sebaliknya jika tidak
memenuhi kriteria diberi nilai negatif. Jika semua kriteria memiliki nilai positif, maka
isu dinyatakan memenuhi persyaratan dan berkualitas. Jika tidak, maka isu
dinyatakan tidak memenuhi persyaratan dan kurang berkualitas.
Dari hasil analisis APKL didapatkan isu yang dinyatakan memenuhi kriteria,
yang kemudian isu-isu tersebut dianalisis lebih lanjut dengan menggunakan analisis

10
USG. Analisis USG merupakan alat analisis yang dilakukan untuk menentukan
prioritas isu melalui tingkat kegawatan, keseriusan, dan tingkat pertumbuhan suatu
isu atau masalah. Urgency artinya seberapa mendesak suatu isu harus dibahas,
dianalisis dan ditindaklanjuti. Seriousness artinya seberapa serius suatu isu harus
dibahas dikaitkan dengan akibat yang ditimbulkan. Growth artinya seberapa besar
kemungkinan memburuknya isu tersebut jika tidak ditangani segera.
Analisis USG dilakukan dengan memberikan nilai dengan rentang antara 1
sampai 5 dengan ketentuan nilai 1 berarti sangat kecil, nilai 2 berarti kecil, nilai 3
berarti sedang, nilai 4 berarti besar, dan nilai 5 berarti sangat besar. Isu dengan total
skor tertinggi merupakan isu prioritas yang akan ditetapkan untuk diselesaikan
dengan kegiatan-kegiatan yang diusulkan. Selanjutnya berdasarkan prinsip-prinsip
kedudukan dan Peran Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia, dapat di identifikasi isu-isu sebagai berikut:

Tabel 1.1 Identifikasi Isu

No Identifik asi Sumber isu Kondisi saat Kondisi yang


ini diharapkan
1. Kurang Manajemen Lebih dari 50% Mencegah dan
optimalnya ASN, pasien anak mengurangi angka
upaya preventif Pelayanan mengalami karies pada rentang
pelayanan Publik, karies umur masa geligi
kesehatan gigi Whole of pertumbuhan
dan mulut pada Governmen
anak di RSUD t
dr Soeratno
Gemolong
2. Kurang Manajemen Odontogram Penggunaan kartu
optimalnya ASN, hanya dalam rekam medik
penggunaan Pelayanan bentuk stempel kedokteran gigi
kartu rekam Publik, sehingga memberikan
medik Whole of pengisian sulit gambaran detail
kedokteran gigi Governmen dilakukan. keadaan gigi mulut
di RSUD dr t seseorang dan
Soeratno riwayat penyakit
Gemolong yang dimiliki pasien
kurang Manajemen SOP sterilisasi Alat dan instrumen
optimalnya ASN, alat dan bahan yang berpotensi
3.
prosedur Pelayanan bisa terkontaminasi
strerilisasi Publik dioptimalkan penyakit menular
terhadap dengan diberi penutup
pencegahan menggunakan
penyakit penutup/pouch

11
menular di poli
gigi RSUD dr
Soeratno
Gemolong

4 Kurangnya Pelayanan Pasien hanya Adanya kesadaran


pasien untuk
kesadaran publik datang ke drg
memeriksakan gigi
pasien untuk saat penyakit tiap enam bulan
sekali
melakukan sudah parah
pemeriksaan
gigi di RSUD dr
Soeratno
Gemolong
5 Kurangnya Manajemen Sebagian besar Menggunakan alat
inovasi ASN, pasien anak gigi yang bisa
pelayanan di pelayanan merasa takut mengeluarkan
poli gigi RSUD publik ketika dilakukan musik di poli gigi
dr Soeratno perawatan gigi sebagai cara untuk
GemolongI mulut menekan rasa takut
untuk
mengurangi
rasa cemas
pasien

Dari identifikasi isu diatas, kemudian dilakukan penetapan isu. Penetapan isu
dilakukan melalui analisis isu dengan menggunakan alat bantu penetapan kriteria
kualitas isu. Analisis isu ini bertujuan untuk menetapkan kualitas isu dan
menentukan prioritas isu yang perlu diangkat untuk diselesaikan melalui gagasan
kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan Analisis isu dilakukan dengan menggunakan
alat bantu APKL (Aktual, Problematik, Khalayak, Layak) dan USG ( Urgency,
Seriousness, dan Growth).
A. APKL (Aktual, problematik, Khalayak dan Kelayakan)
APKL memiliki empat kriteria yaitu aktual, problematik, kekhayalakan dan
kelayakan.
1. AKTUAL artinya benar-benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan di
kalangan masyarakat.
2. PROBLEMATIK artinya isu yang memiliki dimensi masalah yang kompleks,
sehingga perlu dicarikan solusinya.
3. KHALAYAK artinya isu yang menyangkut hajat hidup orang banyak

12
4. LAYAK artinya isu yang masuk akal, logis, realistis, serta relevan untuk
dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya
Tabel 1.2 Analisis APKL

No Identifikasi isu Kriteria Keterangan


A P K L
1. Kurang optimalnya + + + + Memenuhi syarat
upaya preventif
pelayanan
kesehatan gigi dan
mulut pada anak di
RSUD dr Soeratno
Gemolong
2. Belum optimalnya + + + + Memenuhi syarat
penggunaan kartu
rekam medik
kedokteran gigi di
RSUD dr Soeratno
Gemolong
3. Kurang optimalnya + + + + Memenuhi syarat
prosedur strerilisasi
terhadap
pencegahan
penyakit menular di
poli gigi RSUD dr
Soeratno Gemolong
4 Kurangnya + + - - Tidak Memenuhi
kesadaran pasien syarat
untuk melakukan
pemeriksaan gigi di
RSUD dr Soeratno
Gemolong
5 + - - + Tidak Memenuhi
Kurangnya inovasi syarat
pelayanan di poli
gigi RSUD dr
Soeratno
GemolongI untuk
mengurangi rasa
cemas pasien
Keterangan : A = Aktual; P = Problematik; K = Khalayak; L = Layak; +
(memenuhi kriteria), - (tidak memenuhi kriteria)

Kurang optimalnya upaya preventif pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada
anak di RSUD dr Soeratno Gemolong sudah memenuhi syarat dalam analisis
APKL sebagai sebuah isu. Isu tersebut aktual karena sedang benar-benar terjadi.

13
Isu ini juga memiliki dimensi masalah yang komplek, mencakup hajat hidup orang
banyak dan juga layak logis untuk dicari penyelesaiannya.

Belum digunakannya kartu rekam medik kedokteran gigi di RSUD dr Soeratno


Gemolong juga sudah memenuhi syarat APKL. Isu sedang terjadi (aktual),
mempunyai dimensi masalah yang komplek karena memerlukan koordinasi dan
perencanaan (problematik), mencakup hajat hidup orang banyak (khalayak), serta
layak untuk dicarikan solusinya (Layak).

Isu tentang kurang optimalnya prosedur strerilisasi terhadap pencegahan


penyakit menular di poli gigi RSUD dr Soeratno Gemolong juga mememuhi
syarat karena isu ini sedang terjadi (aktual), memiliki dimensi masalah yang cukup
(problematik), mencakup hajat hidup orang banyak (khalayak), serta layak dicari
solusinya.

B. USG (Urgency, Seriousness, dan Growth)

Analisis USG (Urgency, Seriousness, dan Growth) mempertimbangkan tingkat


kepentingan, keseriusan dan perkembangan setiap variabel dengan rentang skor 1-
5.
Hasil analisis APKL kemudian dilakukan penapisan prioritas isu dengan
metode Urgency, Seriousness, dan Growth (USG). Analisis USG
mempertimbangkan tingkat kepentingan, keseriusan, serta perkembangan.
Masing-masing isu diberikan skor 1-5 sesuai dengan skala likert. Dimana skor 1
berarti isu tersebut TIDAK urgent, serius, dan berkembang, skor 2 berarti
KURANG, skor 3 berarti cukup, skor 4 berarti isu tersebut urgent, serius dan
berkembang, serta skor 5 berarti SANGAT USG.

1. URGENCY (urgensi), yaitu dilihat dari tersedianya waktu, mendesak atau


tidak masalah tersebut diselesaikan.
2. SERIOUSNESS (keseriusan), yaitu melihat dampak masalah tersebut
terhadap produktivitas kerja, pengaruh terhadap keberhasilan,
membahayakan sistem atau tidak, dan sebagainya.
3. GROWTH (berkembangnya masalah), yaitu apakah masalah tersebut
berkembang sedemikian rupa sehingga sulit dicegah
14
Table 1.3 Analisis USG

No Identifikasi Isu U S G Total Peringka


t
1. Kurang optimalnya upaya 5 5 5 15 1
preventif pelayanan kesehatan
gigi dan mulut pada anak di
RSUD dr Soeratno Gemolong
2. Belum digunakannya kartu 4 4 5 13 2
rekam medik kedokteran gigi di
RSUD dr Soeratno Gemolong
3. kurang optimalnya prosedur 5 3 3 11 3
strerilisasi terhadap
pencegahan penyakit menular
di RSUD dr Soeratno
Gemolong
Keterangan: U = Urgency; S = Seriousness; G = Growth

Dari tabel 1.3 di atas ditemukan bahwa kurang optimalnya upaya preventif
pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada anak di RSUD dr Soeratno Gemolong
mempunyai skor urgency, seriousness, dan growth yang tinggi. Isu ini mempunyai
kebutuhan yang mendesak untuk segera diselesaikan. Dampak keseriusan juga
tinggi karena dapat mengancam keadaan generasi penerus bangsa. Dan laju
pertumbuhannya akan meningkat dan melebar jika tidak segera diselesaikan.

Dari hasil analisis isu di atas ditetapkan isu yang dipilih dan akan
ditindaklanjuti dengan gagasan rencana kegiatan adalah isu tentang Kurang
optimalnya pelayanan kesehatan gigi dan mulut padaanak di RSUD dr Soeratno
Gemolong

1.3 Dampak Jika Isu Tidak Diselesaikan

No Sumber Isu Identifikasi isu Dampak


1. Pelayanan Kurang optimalnya Kesadaran orang tua dan
publik upaya preventif anak yang rendah untuk
pelayanan kesehatan menjaga kesehatan gilut
gigi dan mulut pada anak sehingga angka karies
di RSUD dr Soeratno makin tinggi
Gemolong
2. Manajemen Kurang optimalnya Riwayat penyakit pasien
ASN penggunaan kartu rekam dan keadaan rongga mulut
medik kedokteran gigi di pasien tidak diketahui
RSUD dr Soeratno secara detail

15
Gemolong
Pelayanan kurang optimalnya Rawan terjadi penularan
publik prosedur strerilisasi penyakit melalui alat gigi
3.
terhadap pencegahan
penyakit menular di poli
gigi RSUD dr Soeratno
Gemolong

1.4 Rumusan Masalah


Berdasarkan penjabaran identifikasi isu dan penetapan isu di atas, rumusan masalah
dalam rancangan aktualisasi ini adalah kurang optimalnya upaya preventif pelayanan
kesehatan gigi dan mulut pada anak di RSUD dr Soeratno Gemolong

1.5 Tujuan Kegiatan

Tujuan dari kegiatan dalam rancangan aktualisasi ini adalah untuk


mengoptimalkan upaya preventif dalam pelayanan kesehatan gigi dan mulut
pada anak. Rancangan aktualisasi nilai-nilai dasar ini merupakan cara untuk
internalisasi dan aktualisasi nilai-nilai dasar PNS sehingga mampu melaksanakan
tugas dan fungsinya secara professional, akuntabel, sinergis, transparan dan
inovatif sebagai pelaksanan kebijakan publik, pelayan publik, dan agen perekat
dan pemersatu bangsa.

1.6 Manfaat Kegiatan


Kegiatan ini akan memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Manfaat untuk peserta prajab
a. Dapat menerapkan nilai-nilai ASN (ANEKA) pada saat melakukan tugas di
RSUD dr Soeratno Gemolong
b. Mendapatkan ilmu bahwa ASN adalah abdi negara dan bertugas selalu
melayani masyarakat
c. Dapat merubah pola pikir sehingga menjadi individu yang profesional,
berkomitmen, beretika, dan berintegritas
2. Manfaat untuk unit kerja
a. Terwujudnya visi, misi dan nilai organisasi RSUD dr Soeratno Gemolong
b. Membantu mengoptimalkan upaya preventif pelayanan kesehatan gigi
mulut pada pasien anak sehingga diharapkan angka karies menurun.

3. Manfaat bagi masyarakat/pasien

16
Masyarakat khususnya anak dan keluarga anak mendapatkan pelayanan
preventif (pencegahan) secara optimal untuk menjaga kesehatan gigi mulut.
Selain itu diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga
pasien mengenai cara menjaga kesehatan gigi mulut.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Sikap Perilaku Bela Negara

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat 3, menyebutkan bahwa “Setiap


warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”. Seorang
Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan bagian dari warga masyarakat yang memiliki
hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara lain untuk melakukan bela negara.
Bela negara merupakan upaya baik dalam pertahanan dalam menghadapi ancaman,
serangan dan agresi dari pihak-pihak yang dapat mengancam keberadaan negara, maupun
usaha dilakukan dalam rangka berperan aktif untuk memajukan bangsa dan negara. Sikap
dan perilaku warga negara dalam membela negara harus dijiwai oleh kecintaan kepada

17
Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang dasar
1945.
Kewajiban membela negara oleh semua warga negara Indonesia dimulai dengan
sebuah sikap kesiapsiagaan dalam membela negara. Kesiapsiagaan bela negara
merupakan aktualisasi nilai-nilai bela negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara sesuai peran dan profesi warga negara, demi menjaga kedaulatan negara,
keutuhan wilayah dan keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman. Dalam
kesiapsiagaan bela negara, kondisi warga negara secara fisik memiliki kondisi kesehatan,
keterampilan dan jasmani yang prima serta secara kondisi psikis yang memiliki
kecerdasan intelektual, dan spiritual yang baik, senantiasa memelihara jiwa dan raganya,
memiliki sifat-sifat disiplin, ulet, kerja keras, dan tahan uji, serta didukung dengan sikap
mental dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaan kepada NKRI yang
berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945.
Pembekalan nilai dasar seorang ASN dalam pembelaan negara adalah dengan
persiapan berupa:
1. Kegiatan olah raga dan kesehatan fisik
2. Kesiapsiagaan dan kecerdasan mental
3. Kegiatan baris-berbaris, apel, dan tata upacara
4. Keprotokolan
5. Fungsi-fungsi Intelijen dan Badan Pengumpul Keterangan
6. Kegiatan ketangkasan dan permainan.
Dengan modal insani ASN yang unggu dan yang telah diberikan tambahan perbekalan
tersebut di atas, diharapkan seorang ASN akan lebih siap dalam menunjukkan sikap dan
perilaku membela negara NKRI.

1. Wawasan Kebangsaan

Wawasan Kebangsaan terdiri dari dua suku kata yaitu “Wawasan” dan
“Kebangsaan”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) dinyatakan bahwa
secara etimologis istilah “wawasan” berarti: (1) hasil mewawas, tinjauan, pandangan
dan dapat juga berarti (2) konsepsi cara pandang. Wawasan Kebangsaan sangat
identik dengan Wawasan Nusantara yaitu cara pandang bangsa Indonesia dalam
mencapai tujuan nasional yang mencakup perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai
kesatuan politik, sosial budaya, ekonomi dan pertahanan keamanan. Kata

18
“Kebangsaan” berasal dari kata “bangsa” yang berarti kelompok masyarakat yang
bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan
sendiri. Sedangkan “kebangsaan” mengandung arti (1) ciri-ciri yang menandai
golongan bangsa, (2) perihal bangsa; mengenai (yang bertalian dengan) bangsa, (3)
kesadaran diri sebagai warga dari suatu negara.

Dengan demikian wawasan kebangsaan dapat diartikan sebagai konsepsi cara


pandang yang dilandasi akan kesadaran diri sebagai warga dari suatu negara akan diri
dan lingkungannya di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Prof. Muladi,
Gubernur Lemhannas RI, meyampaikan bahwa wawasan kebangsaan adalah cara
pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya, mengutamakan kesatuan
dan persatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara. Kesatuan atau integrasi nasional bersifat kultural dan tidak hanya
bernuansa struktural mengandung satu kesatuan ideologi, kesatuan politik, kesatuan
sosial budaya, kesatuan ekonomi, dan kesatuan pertahanan dan keamanan.

Wawasan kebangsaan menentukan cara bangsa mendayagunakan kondisi


geografis negara, sejarah, sosio-budaya, ekonomi dan politik serta pertahanan
keamanan dalam mencapai cita-cita dan menjamin kepentingan nasional. Wawasan
kebangsaan menentukan bangsa menempatkan diri dalam tata berhubungan dengan
sesama bangsa dan dalam pergaulan dengan bangsa lain di dunia internasional.
Wawasan kebangsaan mengandung komitmen dan semangat persatuan untuk
menjamin keberadaan dan peningkatan kualitas kehidupan bangsa dan menghendaki
pengetahuan yang memadai tentang tantangan masa kini dan masa mendatang serta
berbagai potensi bangsa.

Wawasan kebangsaan dapat juga diartikan sebagai sudut pandang/cara


memandang yang mengandung kemampuan seseorang atau kelompok orang untuk
memahami keberadaan jati diri sebagai suatu bangsa dalam memandang dirinya dan
bertingkah laku sesuai falsafah hidup bangsa dalam lingkungan internal dan
lingkungan eksternal. Dalam kerangka NKRI, wawasan kebangsaan berarti
bagaimana cara kita sebagai bangsa Indonesia di dalam memandang diri dan
lingkungannya dalam mencapai tujuan nasional yang mencakup perwujudan
Kepulauan Nusantara sebagai kesatuan politik, sosial budaya, ekonomi dan
pertahanan keamanan, dengan berpedoman pada falsafah Pancasila dan UUD 1945

19
atau dengan kata lain bagaimana kita memahami Wawasan Nusantara sebagai satu
kesatuan POLEKSOSBUD dan HANKAM.

2. Isu Kontemporer

Isu kontemporer adalah sesuatu hal yang modern, yang eksis dan yang terjadi
dan masih berlangsung sampai sekarang, atau segala hal yang berkaitan dengan saat
ini. Perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat adalah sesuatu hal yang pasti
terjadi.

Dalam konsep bela negara, seorang PNS diharapkan mampu


mengindentifikasi isu-isu modern yang baru terjadi di sekelilingnya, melakukan
analisis serta menyelesaikan isu-isu tersebut secara bijak dalam tujuan untuk bela
negara. Mempertahankan keutuhan bangsa dan negara dari ancaman-ancaman
pemecah persatuan yang berasal dari isu kontemporer tersebut

Usaha protektif dan penanggulangan isu yang berkembang dilakukan agar


tidak terpengaruh secara negatif oleh isu tersebut. Penanaman nilai-nilai pancasila dan
UUD 1945 merupakan salah satu upaya awal penanggulanan isu kontemporer.
Seorang PNS juga diharapkan memiliki kemampuan dalam memahami isu dengan
cara peduli, memetakan hubungan kausalitas yang terjadi, serta melakukan analisis
panapisan isu-isu tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan upaya penyelesaian isu
dengan meningkatkan kemampuan dalam mencari alternatif-alternatif solusi serta
memilih dengan bijak alternatif tersebut.

2.2 Nilai Dasar CPNS

Nilai merupakan segala sesuatu yang dianggap baik, layak, pantas dan penting dalam
kehidupan seseorang. Nilai dasar bagi seorang CPNS dapat berupa seperangkat prinsip
yang menjadi dasar dalam bertindak, bersikap, serta mengambil keputusan selama dia
menjalani profesi dan tugasnya sebagai ASN. Adapun nilai-nilai dasar yang diberikan
kepada seorang ASN adalah Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu,
serta Anti Korupsi yang kemudian disingkat menjadi ANEKA.

20
1. AKUNTABILITAS

Nilai dasar akuntabilitas mempunyai pengertian bahwa ASN harus


bertanggung jawab atas terselesainya tugas yang diberikan. Nilai akuntabilitas adalah
kewajiban pertanggungjawaban yang harus dicapai. Semua amanah dan tugas yang
diberikan kepada seorang ASN harus diselesaikan sebagai bentuk
pertanggungjawaban ASN tersebut. Nilai aktualitas mempunyai beberapa dimensi
sebagai bentuk penjabaran dari nilai tersebut, yaitu:
a. KEPEMIMPINAN. Nilai akuntabel tercipta dari atas ke bawah dimana peranan
pimpinan adalah seseorang yang bertanggung jawab dalam memberikan intruksi
yang jelas.
b. TRANSPARANSI. Dimensi transparansi dari nilai akuntabilitas adalah
keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang dilakukan oleh individu,
kelompok, maupun institusi.
c. INTEGRITAS. Adalah tidak tergoyahnya konsistensi dan keteguhan dalam
menjunjung tugas dan kewajiban.
d. TANGGUNGJAWAB. Tanggung jawab merupakan kesadaran manusia akan
tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
e. KEADILAN. Keadilan merupakan kondisi kebenaran ideal secara moral
mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda maupun orang.
f. KEPERCAYAAN. Rasa keadilan membawa pada sebuah kepercayaan.
Kepercayaan ini akan melahirkan akuntabilitas.
g. KESEIMBANGAN. Pencapaian akuntabilitas dalam lingkungan kerja, diperlukan
adanya keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan, serta harapan dan
kapasitas. Selain itu, adanya harapan dalam mewujudkan kinerja yang baik juga
harus disertai dengan keseimbangan kapasitas sumber daya dan keahlian (skill)
yang dimiliki.
h. KEJELASAN. Fokus utama untuk kejelasan adalah mengetahui kewenangan,
peran dan tanggungjawab, misi organisasi, kinerja yang diharapkan organisasi,
dan sistem pelaporan kinerja baik individu maupun organisasi.
i. KONSISTENSI. Dimensi konsistensi dalam nilai akuntabilitas berarti ASN harus
berusaha untuk tetap menjunjung nilai ini sama mulai sejak awal sampai akhir.

21
2. NASIONALISME

Nasionalisme adalah paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri;
sifat nasional; kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual
bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas,
kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan (Kamus Besar Bahasa
Indonesia).
Nasionalisme merupakan sikap yang meninggikan bangsanya sendiri dan pandangan
tentang rasa cinta terhadap bangsa dan negara. Dengan nasionalisme yang kuat, maka setiap
PNS memiliki orientasi berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa, dan negara.
Nasionalisme merupakan pandangan atau paham kecintaan manusia Indonesia terhadap
bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila. PNS dapat mempelajari
bagaimana aktualisasi sila demi sila dalam Pancasila agar memiliki karakter yang kuat
dengan nasionalisme dan wawasan kebangsaannya.
Ada lima indikator dari nilai-nilai dasar nasionalisme yang harus diperhatikan, yaitu :
a. Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa
1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan
Yang Maha Esa.
2) Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai
dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.
3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk
agama dengan penganut kepercayaan yang berbedabeda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai
dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
kepada orang lain

b. Sila Kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradap

22
1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
2) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia,
tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan
sosial, warna kulit dan sebagainya.
3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa
lain.

c. Sila Ketiga : Persatuan Indonesia


1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan
bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila
diperlukan.
3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi,
dan keadilan sosial.
6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

d. Sila Keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan/perwakilan
1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai
kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan
bersama.

23
4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil
musyawarah.
6) Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil
keputusan musyawarah.
7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan
pribadi dan golongan.
8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang
luhur.
9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada
Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran
dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk
melaksanakan pemusyawaratan.

e. Sila Kelima : Keadilan sosial bagi seluruh Indonesia


1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana
kekeluargaan dan kegotongroyongan.
2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4) Menghormati hak orang lain.
5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap
orang lain.
7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya
hidup mewah.
8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan
kepentingan umum.
9) Suka bekerja keras.
10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan
kesejahteraan bersama.
11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan
berkeadilan sosial.

24
3. ETIKA PUBLIK

Etika adalah refleksi atas baik-buruk, benar-salah yang harus dilakukan atau
bagaimana melakukan yang baik atau benar, sedangkan moral mengacu pada
kewajiban untuk melakukan yang baik atau apa yang seharusnya dilakukan. Dalam
kaitannya dengan pelayanan publik, etika publik adalah refleksi tentang
standar/norma yang menentukan baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan
keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung
jawab pelayanan publik.
Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang
ASN, yakni sebagai berikut:
a. memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Pancasila;
b. setia dalam mempertahankan UUD 1945;
c. menjalankan tugas secara profesional dan tidak memihak;
d. membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian;
e. menciptakan lingkungan kerja yang nondiskriminatif;
f. memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur;
g. mempertanggung jawabkan tindakan dan kinerja publik;
h. memiliki kemampuan menjalankan kebijakan pemerintah;
i. memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat, akurat,
berdaya guna, berhasil guna, dan santun;
j. mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi;
k. menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerja sama;
l. mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai;
m. mendorong kesetaraan dalam pekerjaan
n. meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai perangkat
sistem karir.

4. KOMITMEN MUTU

Komitmen mutu adalah pelaksanaan pelayanan publik dengan berorientasi


pada kualitas hasil. Beberapa contoh nilai dari komitmen mutu antara lain:
a. Efektif, yaitu berhasil guna dapat mencapai hasil sesuai dengan target;

25
b. Efisien, yaitu berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan mencapai hasil tanpa
menimbulkan pemborosan;
c. Inovasi, yaitu penemuan sesuatu yang baru atau mengandung kebaruan;
d. Berorientasi mutu, yaitu ukuran baik buruk yang di persepsi individu terhadap
produk atau jasa.

5. ANTI KORUPSI

Nilai seorang PNS yang anti korupsi berarti bahwa tindakan atau gerakan yang
dilakukan untuk memberantas segala tingkah laku atau tindakan yang melawan
norma–norma dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi, merugikan negara atau
masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Tindak pidana korupsi yang
terdiri dari kerugian keuangan negara, suap-menyuap, pemerasan, perbuatan curang,
penggelapan dalam jabatan, benturan kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi.
Indikator yang ada pada nilai dasar anti korupsi meliputi:
a. Mandiri yang dapat membentuk karakter yang kuat pada diri seseorang sehingga
menjadi tidak bergantung terlalu banyak pada orang lain. Pribadi yang mandiri
tidak akan menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab
demi mencapai keuntungan sesaat;
b. Kerja keras merupakan hal yang penting dalam rangka tercapainya target dari
suatu pekerjaan. Jika target dapat tercapai, peluang untuk korupsi secara materiil
maupun non materiil (waktu) menjadi lebih kecil;
c. Berani untuk mengatakan atau melaporkan pada atasan atau pihak yang
berwenang jika mengetahui ada pegawai yang melakukan kesalahan;
d. Disiplin berkegiatan dalam aturan bekerja sesuai dengan undang-undung yang
mengatur;
e. Peduli yang berarti ikut merasakan dan menolong apa yang dirasakan orang lain;
f. Jujur yaitu berkata dan bertindak sesuai dengan kebenaran (dharma);
g. Tanggung jawab yaitu berani dalam menanggung resiko atas apa yang kita
kerjakan dalam bentuk apapun;
h. Sederhana yang dapat diartikan menerima dengan tulus dan iklas terhadap apa
yang telah ada dan diberikan oleh Tuhan kepada kita;
i. Adil yaitu memandang kebenaran sebagai tindakan dalam perkataan maupun
perbuatan saat memutuskan peristiwa yang terjadi.

26
2.3 Kedudukan dan Peran CPNS dalam NKRI

Melalui UU Nomor 5 Tahun 2014, seorang Aparatur Sipil Negara telah bertekad
untuk menjadi semakin professional dalam mewujudkan birokrasi yang professional dan
menghadapi tantangan-tantangan global. Undang-undang ini merupakan dasar dalam
manajemen aparatur sipil negara yang bertujuan untuk membangun aparat sipil negara
yang memiliki integritas, profesional dan netral serta bebas dari intervensi politik, juga
bebas dari praktek KKN, serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik yang
berkualitas bagi masyarakat.

1. Manajemen ASN

Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN


yang professional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik,
bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Penekanan peran ini adalah kepada
pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan selalu tersedia sumber daya
ASNyang unggul selaras dengan perkembangan jaman. Adapun asas-asas manajemen
ASN, antara lain:
a. Kepastian hukum;
b. Profesionalitas;
c. Proporsionalitas;
d. Keterpaduan;
e. Delegasi;
f. Netralitas;
g. Akuntabilitas;
h. Efektif dan efisien;
i. Keterbukaan;
j. Non diskriminatif;
k. Persatuan;
l. Kesetaraan;
m. Keadilan;
n. Kesejahteraan.

27
2. Pelayanan Publik

Peran Pelayanan Publik adalah segala bentuk pelayanan umum yang


dilaksanakan oleh instansi Pemerintah di pusat, daerah, serta di lingkungan
BUMN/BUMD dalam bentuk barang atau jasa baik dalam pemenuhan kebutuhan
masyarakat.
Adapun prinsip pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan pelayanan
prima adalah:
a. Partisipatif
Dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang dibutuhkan masyarakat
pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam merencanakan, melaksanakan,
dan mengevaluasi hasilnya.
b. Transparan
Dalam penyelenggaraan pelayanan publik, pemerintah sebagai penyelenggara
pelayanan publik harus menyediakan akses bagi warga negara untuk mengetahui
segala hal yang terkait dengan pelayanan publik yang diselenggarakan tersebut.

c. Responsif
Dalam penyelenggaraan pelayanan publik pemerintah wajib mendengar dan
memenuhi tuntutan kebutuhan warga negaranya terkait dengan bentuk dan jenis
pelayanan publik yang mereka butuhkan, mekanisme penyelenggaraan layanan,
jam pelayanan, prosedur, dan biaya penyelenggaraan pelayanan.

d. Tidak Diskriminatif
Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah tidak boleh dibedakan
antara satu warga negara dengan warga negara yang lain atas dasar perbedaan
identitas warga negara.

e. Mudah dan Murah


Penyelenggaraan pelayanan publik dimana masyarakat harus memenuhi berbagai
persyaratan dan membayar fee untuk memperoleh layanan yang mereka butuhkan
harus diterapkan prinsip mudah dan murah. Hal ini perlu ditekankan karena
pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah tidak dimaksudkan untuk
mencari keuntungan melainkan untuk memenuhi mandat konstitusi.

f. Efektif dan Efisien

28
Penyelenggaraan pelayan publik harus mampu mewujudkan tujuan-tujuan yang
hendak dicapainya dan cara mewujudkan tujuan tersebut dilakukan dengan
prosedur yang sederhana, tenaga kerja yang sedikit, dan biaya yang murah.

g. Aksesibel
Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah harus dapat dijangkau
oleh warga negara yang membutuhkan dalam arti fisik dan dapat dijangkau dalam
arti non-fisik yang terkait dengan biaya dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh
masyarakat untuk mendapatkan layanan tersebut.
h. Akuntabel
Semua bentuk penyelenggaraan pelayanan publik harus dapat
dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada masyarakat. Pertanggungjawaban
di sini tidak hanya secara formal kepada atasan akan tetapi yang lebih penting
harus dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada masyarakat luas melalui
media publik.
i. Berkeadilan
Penyelenggaraan pelayanan publik harus dapat dijadikan sebagai alat melindungi
kelompok rentan dan mampu menghadirkan rasa keadilan bagi kelompok lemah
ketika berhadapan dengan kelompok yang kuat.

3. Whole Of Government

Dalam peran dan kedudukan Whole of government (WoG) pendekatan


penyelenggaraan pemerintahan diupayakan disatukan dalam upaya-upaya kolaboratif
pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas
guna mencapai tujuan-tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan
pelayanan publik.
Pendekatan WoG dapat dilihat dan dibedakan berdasarkan perbedaan kategori
hubungan antara kelembagaan yang terlibat sebagai berikut:
a. Koordinasi, yang tipe hubungannya dapat dibagi lagi menjadi:
i. Penyertaan, yaitu pengembangan strategi dengan mempertimbangkan
dampak;
ii. Dialog atau pertukaran informasi;
iii. Joint planning, yaitu perencanaan bersama untuk kerjasama sementara.

29
b. Integrasi, yang tipe hubungannya dapat dibagi lagi menjadi:
i. Joint working, atau kolaborasi sementara;
ii. Joint ventrure, yaitu perencanaan jangka panjang, kerjasama pada
pekerjaan besar yang menjadi urusan utama salah satu peserta kerjasama;
iii. Satelit, yaitu entitas yang terpisah, dimiliki bersama, dibentuk sebagai
mekanisme integratif.
c. Kedekatan dan pelibatan, yang tipe hubungannya dapat dibagi lagi menjadi:
i. Aliansi strategis, yaitu perencanaan jangka panjang, kerjasama pada isu
besar yang menjadi urusan utama salah satu peserta kerjasama;
ii. Union, berupa unifikasi resmi, identitas masing-masing masih nampak;
merger, yaitu penggabungan ke dalam struktur baru.

2.4 upaya Preventif Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut


Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 skor DMFT
mencapai rata-rata 5,26 dengan Performance treatment index (PTI) yang
menunjukkan tingkat perawatan gigi yang mengalami karies gigi pada kelompok
umur 12-18 tahun terlihat sangat rendah yaitu hanya mencapai sekitar 4-5%
sedangkan secara keseluruhan kasus yang memerlukan penumpatan dan atau
pencabutan pada usia ini sebesar 72,4%-82,5%.
Sedangkan dari data Risksesdas 2007 memperlihatkan komponen D (decay atau
lubang) 1,4-1,7; komponen M (Missing atau hilang karena karies) 3,2-3,8; dan
komponen F (Filling atauTumpatan) 0,2-0,1. Ini berarti bahwa gigi karies yang
seharusnya ditumpat jauh lebih kecil yaitu rata-rata 0,2 gigi di kota dan rata-rata 0,1
gigi dipedesaan. Sebaliknya, gigi yang mengalami karies rata-rata 3,2 dan 3,8 gigi
untuk kota dan desa, dan bila dibiarkan tanpa
adanya perawatan akan berdampak pada terjadinya infeksi pulpa dan infeksi
dentoalveolar yang menyebabkan gigi kehilangan gigi dalam keadaan gangrene
radiks yang masih tertinggal di dalam mulut maupun yang sudah di ekstraksi yaitu
rat-rata 3,2-3,8 gigi. Skor rata-rata komponen D (Decay) yang belum dirawat adalah
1,4 dan 1,7 untuk kota dan desa, serta berpotensi untuk menjadi komponen M atau
Missing. Ini berarti effective demand
sangat rendah (6,9%) dan kesejangan antara need (kebutuhan) dan demand ini terjadi
pada semua golongan umur. Sangat tingginya komponen M menandakan terlambat
penanganan.

30
Dari uraian diatas menunjukkan bahwa sebagian besar kasus karies gigi belum
perawatan dan dapat diasumsikan adanya kesenjangan antara kebutuhan masyarakat
dengan perawatan yang berhasil diperoleh. Hal ini dapat disimpulkan bahwa upaya
pelayanan kesehatan gigi di Indonesia belum efektif dalam menanggulangi masalah
kesehatan gigi dan mulut di Indonesia.(Rini Zaura, 2009)
Selama ini upaya kesehatan gigi dikenal sebagai upaya yang mahal namun
efektivitasnya dalam menurunkan masalah kesehatan gigi di masyarakat masih
diragukan. Berbeda dengan upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut yang murah
dan relative mudah.

Preventif dentistry adalah sebagai keseluruhan tindakan pelayanan


kedokterangigi yang di dalam tindakan pelayanan tersebut melibatkan peran
perorangan maupunkomunitas dalam upaya untuk meningkatkan status kesehatan gigi
dan mulut. Adapun program preventif yang cocok untuk Indonesia adalah

1. Melakukan pendataan kadar fluor di seluruh Indonesia kemudian melakukan


ujicoba water fluridasi pada beberapa wilayah dengan kadar dibawah standar
2. Program pasta gigi berfluoride untuk daerah-daerah pedalaman yang masih
menggunakan bahan-bahan alam untuk menyikat gigi, jika dianggap pasta gigi
bertentangan dengan keyakinan dapat menggunakan siwak yang juga mengandung
fluoride atau bahan alam lain yang mengandung fluorie
3. Milk fluoridation di sekolah-sekolah seperti yang dilakukan oleh Negara
Thailand
4. Aplikasi topical fluor oleh dokter gigi pada kasus dengan indikasi tertentu
5. Menjalankan program konseling dan kontrol diet terutama makanan yang
mengandung gula, pemakaian tembakau dan jenis2 makanan lain yang merusak
kesehatan mulut baik serta penerapan pola makan yang sehat dan seimbang terutama
makanan- makanan yang baik untuk kesehatan mulut lewat puskesmas, Rumah Sakit
maupun lewat sekolah dengan UKGS.
6. Program kesehatan gigi dan mulut harus berintegrasi dengan program-program lain
di puskesmas misalnya program KIA dan gizi. Dengan demikian aspek kesehatan gigi
dan mulut dapat dengan lebih mudah diterima oleh masyarakat karena menyangkut
aspek kesehatan yang lain. Misalnya program preventif BBLR pada ibu hamil dengan
pemeriksaan rutin kesehatan jaringan periodontal di buku KIA.
8. Kegiatan-kegiatan Pelatihan dan pemberdayaan masyarakat untuk ikut serta
melakukan tindakan preventif seperti training camp untuk para ibu-ibu kader tentang
cara membuat daftar makanan dan pola makan yang benar untuk bayi, balita dan

31
anak-anak yang bukan hanya memperbaiki tumbuh kembang dan mencegah
malnutrisi namun juga menurunkan resiko karies dari pola makan yang salah.

BAB III
PROFIL UNIT KERJA DAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI PESERTA

3.1 PROFIL RUMAH SAKIT


 Nama Rumah Sakit : Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soeratno
Gemolong Kabupaten Sragen
 Alamat Rumah Sakit : Jl. Dr. Soetomo No. 792 Gemolong,
Sragen 57274
 Telepon : 0271 – 6811839/6812494 Fax : 0271-
6811439
 Email : rsudgemolong@yahoo.com
 Jumlah Tempat Tidur : 156 TT
 Kelas Rumah Sakit :C
 Penetapan RS : Kepmenkes No : HK.03.05/I/1889/II
Tanggal 15 Juli 2011
 Kode Rumah Sakit : 3314089
 Pemilik : Pemerintah Kabupaten Sragen

32
 Luas Area : 11.525,87 M2
 Luas Bangunan : 5.535,20 M2
 Nama Direktur : dr. Agus Trijono, M.Kes
 Tahun Berdiri : 2010
 Ijin Pendirian : Keputusan Bupati Sragen No
445/109.1/002/2010 Tanggal 09 Juni 2010
 Ijin Penyelenggaraan : Keputusan Bupati Sragen Nomor :
445/1984/29/2011 Tanggal 08 September 2011
 Sertifikat Akreditasi : Komisi Akreditasi Rumah Sakit ( 5
Pelayanan ) Nomor : KARS-SERT / 457 / III / 2012 Tanggal : 6 Maret
2012
 Status Akreditasi : Lulus Tingkat Dasar

Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soeratno Gemolong Kabupaten Sragen Jawa
Tengah menempati lahan seluas 11.525.87 M2 dengan luas bangunan 4.544.2
M2 dan didirikan pada tahun 2010 dengan ijin prinsip pendirian RSUD Gemolong
Nomor 445/109.1/002/2010 tanggal 9 Juni 2010 dan ijin penyelenggaraan RSUD
Gemolong Nomor 445/001/29/2010 tanggal 26 Juni 2010 serta Peraturan Bupati
Sragen Nomor 15 tahun 2010 tentang penetapan RSUD Gemolong Kabupaten
Sragen.
Pada awalnya RSUD dr. Soeratno Gemolong adalah Puskesmas
Gemolong I dengan perawatan yang dikembangkan. Pada tahun 2005
Puskesmas Gemolong 1 dengan perawatan mulai dirintis dengan
mengembangkan pelayanan spesialis Obsgyn, Penyakit Dalam, Bedah dan Anak,
dengan Dokter Spesialis yang diperbantukan dari RSUD Sragen, atas dasar
Keputusan Bupati nomor 17 tahun 2004 tentang tarif pelayanan spesialis dan
akupuntur di Puskesmas Kabupaten sragen tanggal 10 Mei 2004. Baru kemudian
pada tahun 2007 dan tahun 2008 diikuti pengembangan pembangunan Gedung
rawat inap dan rawat jalan, Penambahan Sumber Daya Manusia terutama Dokter
Spesialis Obsgyn dan Spesialis Penyakit Dalam, serta pengadaan beberapa
sarana prasarana, alat kesehatan seperti alat Rongent , USG dan lain-lain.
Dengan berbagai pengembangan dan kemajuan yang terjadi di
Puskesmas Gemolong 1 selama ini memacu manajemen dan semua jajaran
karyawan untuk bisa segera menjadi RSUD Gemolong,sehingga pada
pertengahan tahun 2010 Puskesmas Gemolong 1 mengalami pengembangan
menjadi RSUD Gemolong Kabupaten Sragen Rumah Sakit Kelas D. Pada awal
tahun 2011 , rencana dilakukan penetapan kelas dari Kementrian Kesehatan

33
Republik Indonesia, sedangkan fungsi Puskesmas Gemolong I dilaksanakan oleh
Puskesmas Gemolong yang dulu disebut Puskesmas Gemolong 2.

Rumah Sakit Umum Daerah Gemolong Kabupaten Sragen Propinsi


Jawa Tengah ditetapkan sebagai Rumah Sakit Umum Kelas D dengan Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor : HK.03.05/I/1889/2011 tanggal 15 Juli 2011.
Selanjutnya Rumah Sakit Umum Daerah Gemolong terus menerus berupaya
meningkatkan mutu dan pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat serta
kesejahteraan pegawai. Pada pertengahan tahun 2012 ada penambahan Dokter
Spesialis Bedah, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dan Dokter Spesialis Anak dan
tahun 2013 ada penambahan Dokter Spesialis Paru, Spesialis Anestesi, dan
Spesialis Patologi Anatomi. Sekarang di tahun 2019, ada penambahan Dokter
Spesialis Jiwa, Dokter Spesialis THT, dan dokter Spesialis Saraf.

VISI
Visi rumah sakit adalah Menjadi Rumah Sakit pilihan di wilayah Gemolong
dan sekitarnya

MISI
Misi rumah sakit adalah Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu,
mudah, cepat, tepat dan akurat.

MOTTO
“Melayani Dengan Hati”

BUDAYA KERJA
S : Semangat untuk meningkatkan mutu pelayanan
M : Melayani dengan hati
A: Antusias dalam bekerja
R: Ramah Melayani
T: Terpercaya

FILOSOFI
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soeratno Gemolong merupakan Rumah Sakit
Umum Daerah berorientasi sosial dengan tetap memberikan pelayanan
kesehatan paripurna yang berkualitas, dan memuaskan kepada
Pasien/Pelanggan serta meningkatkan kesejahteraan seluruh pegawai.

Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soeratno Gemolong mempunyai banyak jenis
pelayanan :
1. Rawat Darurat ( IGD ) 24 Jam
2. Poliklinik Umum

34
3. Poliklinik Gigi
4. Poliklinik Spesialis Penyakit Dalam
5. Poliklinik Spesialis Kebidanan & Penyakit Kandungan (Obsgyn)
6. Poliklinik Spesialis Anak
7. Poliklinik Spesialis Bedah
8. Poliklinik Fisioterapi
9. Poliklinik Penyakit Paru
10. Poliklinik Spesialis THT
11. Poliklinik Spesialis Jiwa
12. Poliklinik Spesialis Saraf
13. Laboratorium Patoligi Anatomi
14. Laboratorium
15. Radiologi
16. Apotik
17. Rawat inap
18. Operasi
19. Konsultasi gizi
20. Konsultasi TBC/Pojok DOT Asi
21. Imunisasi Bayi/Calon Pengantin
22. Kir/tes Kesehatan

PENGUNJUNG /PASIEN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. SOERATNO


GEMOLONG
• Masyarakat Umum
• BPJS Kesehatan
• Jamkesda & Saraswati
• Peserta Asuransi Bumiputera muda 1967
Pelayanan Rawat Inap yang diselenggarakan didukung dengan sarana
gedung yang representative dengan lingkungan alam yang kondusif membantu
proses penyembuhan. Jumlah tempat tidur yang dimiliki RSUD dr. Soeratno
Gemolong Kabupaten Sragen 109 tempat tidur sesuai dengan standar Rumah
Sakit Kelas D. Perincian jumlah tempat tidur menurut kelas perawatan dapat
disebutkan sebagai berikut :
Tabel 3.1 Perincian Jumlah Tempat Tidur Menurut Kelas Perawatan

Bangsal Kelas Kapasitas Bed Fasilitas


Rawat Vip 1 kamar-1 bed AC, lemari pakaian, kamar
4 TT
Inap mandi dalam, kursi, ekstra bed
Kelas 1 1 kamar- 2 bed AC, lemari pakaian, kamar
4 TT
mandi dalam, kursi, ekstra bed
KELAS 2 1 kamar-4 bed Kipas angin, lemari pakaian,
13 TT
kamar mandi dalam
KELAS 3 1 kamar-6 bed Kipas angin, lemari pakaian,
80 TT
kamar mandi dalam

35
isolasi 2 TT 1 kamar-1 bed Kipas angin, lemari pakaian,
kamar mandi dalam
HCU 6 TT 1 kamar-2 bed AC, Pasien Monitor, Infuse pump,
syringe pump, bed HCU, Oksige n

SUMBER DAYA MANUSIA

Jumlah karyawan RSUD dr. Soeratno Gemolong yang ada saat ini
sejumlah 144 orang terdiri dari 92 orang Pegawai Negeri Sipil ( PNS ), 52 orang
Pegawai Non PNS.

SARANA PELAYANAN

Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soeratno Gemolong telah berupaya untuk
melengkapi diri dengan berbagai peralatan medis, yang sesuai dengan
perkermbangan ilmu Pengetahuan dan Teknologi kedokteran. Semua upaya
tersebut diarahkan pada peningkatan kualitas dan kemampuan pelayanan.
Modernisasi peralatan mencakup pada kinerja pelayanan rawat inap, rawat jalan
dan penunjang ( laboratorium, radiology ).

KERJASAMA

Pada saat ini Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soeratno Gemolong Kabupaten
Sragen telah menjalin kerjasama dengan beberapa instansi lain baik negeri
maupun swasta dalam hal pemberian pelayanan kesehatan maupun pendidikan,
yaitu :
1. BPJS Kesehatan Cabang Utama Surakarta
2. PMI Kabupaten Sragen
3. PMI Kota Solo
4. Poltekkes
5. STIKES
6. AKPER
7. AKBID
8. APIKES

36
3.2 TUGAS JABATAN PESERTA DIKLAT
Di unit tempat bekerja, peserta diklat bekerja sebagai PNS dengan jabatan
Dokter Gigi Ahli Pertama , jabatan dokter ahli pertama mempunyai tugas, yaitu:
1. Melaksanakan pelayanan medik gigi dan mulut umum rawat jalan
sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk penanganan pasien rawat
jalan
2. Melaksanakan pelayanan medik gigi dan mulut spesialistik rawat jalan
sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk penanganan pasien
rawat jalan
3. Melaksanakan tindakan gawat darurat gigi dan mulut sesuai dengan
standar prosedur yang berlaku untuk mencegah kondisi yang semakin memburuk
atau kerusakan permanen
4. Menganalisa data dan hasil pemeriksaan pasien sesuai dengan
pedoman kerja untuk menyusun catatan medis pasien
5. Mengumpulkan data dalam rangka penyelidikan epidemologi gigi dan
mulut
6. Melakukan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat
sesuai ketentuan yang berlaku untuk peningkatan kualitas kesehatan gigi dan
mulut

37
7. Melaporkan hasil pelaksanaan tugas sesuai dengan prosedur yang
berlaku sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban
8. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan pimpinan baik
tertulis maupun lisan
9. Melakukan visit pada pasien rawat inap jika diperlukan
10. Melakukan perawatan bersama (raber) dengan dokter spesialis jika
ada pasien yang mempunyai penyakit penyerta saat melakukan perawatan gigi

3.3 Role Model


dr. Agus Trijon, M.Kes yang penulis jadikan sebagai role model, beliau
sekarang bekerja sebagai direktur di rumah sakit RSUD dr Soeratno Gemolong,
Sragen. Penulis banyak mengambil pelajaran berharga dari beliau. Sebagai
seorang PNS, beliau adalah orang yang taat dan beriman kepada Tuhan YME
serta rajin beribadah sebagai wujud sila pertama pancasila. Beliau merupakan
seorang pimpinan yang selalu baik, murah senyum, dan tak ragu membantu
ketika bawahan membutuhkan petunjuk. Beliau selalu menaati peraturan yang
berlaku, bersikap jujur, dan netral dalam urusan politik

38
BAB IV
RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI

A. Daftar Rancangan Kegiatan Aktualisasi dan Keterkaitan dengan Nilai


ANEKA

RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI

Judul : Kurang optimalnya upaya preventif pelayanan


kesehatan gigi dan mulut pada anak di RSUD dr
Soeratno Gemolong
Identifikasi Isu : 1. Kurang optimalnya upaya preventif pelayanan
kesehatan gigi dan mulut pada anak di RSUD dr
Soeratno Gemolong
2. Kurang optimalnya penggunaan kartu rekam
medik kedokteran gigi di RSUD dr Soeratno
Gemolong
3. kurang optimalnya prosedur strerilisasi terhadap
pencegahan penyakit menular di poli gigi RSUD
dr Soeratno Gemolong
4. Kurangnya kesadaran pasien untuk melakukan
pemeriksaan gigi di RSUD dr Soeratno
Gemolong
5. Kurangnya inovasi pelayanan di poli gigi RSUD
dr Soeratno Gemolong untuk mengurangi rasa
cemas pasien
Isu yang Diangkat : Kurang optimalnya upaya preventif pelayanan
kesehatan gigi dan mulut pada anak di RSUD dr
Soeratno Gemolong

39
Gagasan pemecahan isu:
1. Membuat SOP pemberian tooth mousse pada pasien anak
2. Membuat brosur penyakit gigi dan mulut dan cara
pencegahannya (Inovasi)
3. Membuat poster cara menjaga kesehatan gigi dan mulut
(inovasi)
4. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada pasien dan
pengantar pasien
5. Melakukan pelayanan pemberian tooth mousse pada gigi
pasien dengan umur kurang dari 12th

40
Tabel 3.1 Rancangan Kegiatan Aktualisasi
No Kegiatan Tahapan Hasil Kegiatan Keterkaitan Substansi Kontribusi Terhadap Penguatan
Kegiatan Mata Pelatihan Visi Misi Organisasi Nilai
Organisasi
1 Membuat SOP Konsultasi pada Mendapat saran ETIKA PUBLIK (sopan) Pembuatan SOP Pembuatan
pemberian tooth direktur RS dan masukan dari -dengan cara preventif kesehatan SOP
mousse untuk direktur RS berkonsultasi dengan gigi mulut sesuai misi merupakan
penyusunan bahasa yang sopan rumah sakit yaitu aplikasi dari
SOP pemberian Memberikan budaya kerja
tooth mousse NASIONALISME (sila pelayanan yang rumah sakit
pada pasien ke-3) BERMUTU, mudah, yaitu
anak Saya menggunakan cepat dan akurat. semangat
bahasa Indonesia untuk
dengan baik dan benar Program ini juga meningkatkan
saat konsultasi dengandiharapkan membuat mutu
direktur pasien menjadikan pelayanan.
RSUD dr Soeratno
AKUNTANBILITAS Gemolong menjadi
(JELAS) rumah sakit pilihan
Saya menjelaskan pada karena menjalankan
direktur RS mengenai program yang masih
pemberian tooth jarang dilakukan di
mousse pada anak faskes lain.

41
Menghimpun Draft SOP 1. KOMITMEN MUTU
referensi draft pemberian tooth (EFEKTIF,EFISIEN,
SOP pemberian mousse INOVASI)
tooth mousse Saya menghimpun
referensi dengan penuh
keefektifitas, dan
keefisiensi
2. ANTI KORUPSI
(KERJA KERAS)
Saya bekerja keras
menghimpun referensi
draf SOP
Meminta SOP pelayanan 1.NASIONALISME
persetujuan disetujui (sila ke 4 PANCASILA)
draft SOP pada Meminta persetujuan
atau bermusyawarah
direktur rumah
dengan kepala rumah
sakit sakit
Mencetak SOP Tersedia SOP 1.AKUNTABILITAS
pemberian tooth untuk pelayanan (tanggungjawab), penulis
mousse mencetak SOP dengan
penuh tanggungjawab
2. ANTIKORUPSI
(AMANAH)
Penulis menetak SOP
dengan amanah

 Pembuatan kartu Pembuatan


Menghimpun Draft kartu kartu Menghimpun referansi

42
referensi draft penilaian draft dilakukan dengan penilaian kesehatan kartu penilaian
kartu penilaian kesehatan sepenuh hati yang ini sesuai dengan kesehatan
kesehatan merupakan nilai misi puskesmas menunjukkan
Bukti kegiatan: KOMITMEN MUTU Memberikan nilai
• Draft kartu pelayanan yang INFORMATIF,
penilaian BERMUTU, merata yang bertujuan
kesehatan dan terjangkau baik memberikan
pelayanan pasien umum, gigi, informasi yang
• Foto/ Video dan jiwa dibutuhkan
Meminta Kartu penilaian NASIONALISME Dan juga ada
persetujuan disetujui kepala ditunjukkan kesesuaian dengan
draft kartu puskesmas Musyawarah dengan visi puskesmas yaitu
penilaian Bukti kegiatan: Kepala Puskesmas terwujudnya
kesehatan pada • Kartu kendali masyarakat ampel
kepala mentor yang SEHAT dan
puskesmas • kartu penilaian mandiri
kesehatan yang
disetujui
• Foto/Video
Mencetak kartu Tersedia kartu Kartu penilaian
penilaian penilaian kesehatan dibuat untuk
kesehatan kesehatan memudahkan pasien,
untuk disahkan Bukti kegiatan: disini terlihat kepedulian
kepala • kartu penilaian yang merupakan bagian
puskesmas kesehatan yang dari ANTI KORUPSI
sudah disahkan
• Kartu kendali
mentor

43
• Foto/ Video
3 Membuat brosur Konsultasi Mendapat saran Penulis berkonsultasi Dalam pembuatan Pembuatan
penyakit gigi dengan kepala dan masukan dari pada kepala puskesmas brosur ini, penulis Brosur
dan mulut dan puskesmas kepala puskesmas menunjukkan harus menunjukkan
cara Bukti kegiatan: NASIONALISME yg MENGEMBANGKAN nilai
pencegahannya • Foto/ Video diwujudkan dalam SUMBER DAYA INFORMATIF,
(Inovasi) • Kartu kendali bentuk musyawarah SECARA yang bertujuan
mentor PROFESIONAL memberikan
Menghimpun Draft brosur Penulis bekerja keras sehingga sesuai informasi yang
referensi draft untuk mengumpulkan dengan misi dibutuhkan
brosur Bukti kegiatan: referensi, sehingga puskesmas
• Draft brosur dapat dimasukkan dalam Dan juga ada
• Foto/ Video ANTI KORUPSI kesesuaian dengan
Meminta Draft brosur Meminta persetujuan visi puskesmas yaitu
persetujuan disetujui kepala atasan merupakan suatu terwujudnya
draft brosur puskesmas bentuk respect, yang masyarakat ampel
pada kepala Bukti kegiatan: merupakan bagian dari yang SEHAT dan
puskesmas • Kartu kendali ETIKA PUBLIK
mandiri
mentor
• draft brosur yang
disetujui kepala
puskesmas
• Foto/Video
Mencetak Tersedia brosur brosur dibuat agar
brosur untuk untuk diberikan informasi didalamnya
disahkan kepala pada pasien dapat dilaksanakan oleh
puskesmas Bukti kegiatan: pasien, penulis percaya
• brosur yang pasien dapat melakukan

44
sudah disahkan hal tersebut, merupakan
• Kartu kendali perwujudan dari
mentor AKUNTABILITAS
• Foto/ Video
4 Membuat poster Konsultasi Mendapat saran Penulis menunjukkan Poster digunakan Pembuatan
cara menjaga dengan kepala dan masukan dari NASIONALISMEnya agar pasien lebih poster
kesehatan gigi puskesmas kepala puskesmas dengan cara mudah menangkap penyuluhan
dan mulut Bukti kegiatan: berkonsultasi dengan informasi sehingga menunjukkan
(inovasi) • Foto/ Video atasan dengan cara dapat menjaga nilai
• Kartu kendali yang santun, yang kesehatannya secara INFORMATIF,
mentor merupakan aplikasi dari mandiri, sesuai misi yang bertujuan
kemanusiaan yang adil puskesmas nomor 3, memberikan
dan beradab yaitu MENDORONG informasi yang
Menghimpun Draft poster Mencari referensi KEMANDIRIAN dibutuhkan
referensi draft penyuluhan dengan sebaik-baiknya HIDUP SEHAT
poster sehingga berorientasi SEBAGAI UPAYA
penyuluhan Bukti kegiatan: pada mutu merupakan PENCEGAHAN DAN
• Draft poster nilai KOMITMEN MUTU PENGENDALIAN
penyuluhan PENYAKIT
• Foto/ Video Dan juga ada
Meminta Draft poster Meminta persetujuan kesesuaian dengan
persetujuan penyuluhan atau kejelasan visi puskesmas yaitu
draft poster disetujui kepala merupakan bentuk nyata terwujudnya
penyuluhan puskesmas dari AKUNTABILITAS masyarakat ampel
pada kepala Bukti kegiatan: yang SEHAT dan
puskesmas • Kartu kendali MANDIRI
mentor
• draft poster

45
penyuluhan yang
disetujui kepala
puskesmas
• Foto/Video
Mencetak Tersedia poster Poster penyuluhan
poster penyuluhan untuk dibuat untuk menolong
penyuluhan diberikan pada pasien memahami
untuk disahkan pasien informasi, merupakan
kepala Bukti kegiatan: suatu kebajikan yang
puskesmas • poster menjadi bagian dari
penyuluhan yang ETIKA PUBLIK
sudah disahkan
• Kartu kendali
mentor
• Foto/ Video
5 Penyuluhan Berkoordinasi Poli lain Umum, Koordinasi dengan Penyuluhan Penyuluhan
kesehatan gigi dengan poli KIA, dan sejawat merupakan dilakukan agar dilakukan
dan mulut pada Umum, KIA, Fisioterapi dapat bentuk kebersamaan pasien lebih mudah dengan bahasa
pasien dan Fisioterapi merujuk pasien yang merupakan bagian menangkap informasi yang SANTUN,
pengantar calon pengantin dari ETIKA PUBLIK sehingga dapat sebagaimana
pasien dan Ibu hamil ke menjaga nilai
poli gigi kesehatannya secara puskesmas
Bukti kegiatan: mandiri, sesuai misi nomor 3
 Foto/ Video puskesmas nomor 3,
yaitu MENDORONG
Melaksanakan Pasien memahami Penyuluhan dilakukan
KEMANDIRIAN
penyuluhan pentingnya berdasarkan kepedulian
HIDUP SEHAT
menggunakan menjaga pada masyarakat yang
SEBAGAI UPAYA
poster kesehatan gigi dan merupakan perwujudan

46
penyuluhan dan mulut serta cara ANTI KORUPSI PENCEGAHAN DAN
pengisian kartu pencegahan PENGENDALIAN
penilaian penyakitnya PENYAKIT
kesehatan Dan juga ada
Bukti kegiatan: kesesuaian dengan
Foto/ Video visi puskesmas yaitu
Pembagian Pasien dapat Pembagian brosur terwujudnya
brosur penyakit melakukan menunjukkan masyarakat ampel
gigi dan mulut tindakan transparansi, yang yang SEHAT dan
menunjukkan nilai
dan cara pencegahan MANDIRI
AKUNTABILITAS
pencegahannya penyakit gigi dan
mulut secara
mandiri

Bukti kegiatan:
Foto/ Video

6 Melakukan Mempersilahka Pasien duduk di Penulis menunjukkan Pelayanan kuratif ini Pemeriksaan
pelayanan n pasien duduk dental unit dan NASIONALISME dilakukan agar dilakukan
aplikasi tooth di dental unit siap menerima dengan mempersilahkan tercapai misi dengan
mousse pada tindakan pasien dengan adil puskesmas TERTIB, yaitu
gigi pasien tanpa membeda- Memberikan melayani
dengan umur Bukti kegiatan: bedakan status sosialnya pelayanan yang pelanggan
kurang dari 12th Foto/ Video merupakan perwujudan BERMUTU, merata sesuai standar
sila ke 5 pancasila dan terjangkau baik sebagaimana
Melakukan Calon pengantin Tindakan dilakukan pasien umum, gigi, nilai
tindakan sesuai dan ibu hamil sesuai aturan, dan jiwa puskesmas
SOP mendapat menunjukkan integritas

47
perawatan yang tinggi, sesuai Dan juga ada nomor 4
dengan nilai kesesuaian dengan
Bukti kegiatan: AKUNTABILITAS visi puskesmas yaitu
Foto/ Video terwujudnya
masyarakat ampel
Mempersilahka Pasien pulang Penulis mengingatkan yang SEHAT dan
n pasien pulang setelah dilakukan pasien untuk datang MANDIRI
dan tindakan secara rutin
menunjukkan bahwa
mengingatkan
pemeriksaan harus
untuk datang Bukti kegiatan: berkelanjutan, yang
periksa secara Foto/ Video mencerminkan
rutin KOMITMEN MUTU

48
B. Rancangan Aktualisasi 30 Hari
Kegiatan aktualisasi akan dilaksanakan di Puskesmas Ampel II
Kabupaten Boyolali mulai tanggal 12 Mei 2019 - 16 Juni 2019.

Tabel 3.2 Jadwal Rancangan Aktualisasi 30 hari

No Kegiatan Minggu / Bulan ke Portofolio


Mei Juni
3 4 5 1 2 3
1 Membuat Konsultasi • Foto/ Video
SOP pada kepala  Kartu kendali mentor
pelayanan puskesmas
kesehatan untuk
gigi dan penyusunan
mulut pada SOP
calon Menghimpu •Draft SOP pelayanan
pengantin n referensi • Foto/ Video
dan ibu draft SOP
hamil Meminta • Kartu kendali mentor
persetujuan • SOP yang disetujui
draft SOP Foto/Video
Mencetak • SOP pelayanan yang
SOP sudah disahkan
• Kartu kendali mentor
• Foto/ Video
2 Membuat Konsultasi • Foto/ Video
kartu dengan • Kartu kendali mentor
penilaian kepala
kesehatan puskesmas
untuk
penyusunan
kartu
penilaian
kesehatan
Menghimpu . Draft kartu penilaian
n referensi kesehatan
draft kartu • Foto/ Video
penilaian
kesehatan
Meminta • Kartu kendali mentor
persetujuan • kartu penilaian yang
draft kartu disetujui
penilaian . Foto/Video
kesehatan

49
pada kepala
puskesmas
Mencetak • kartu penilaian yang
kartu sudah disahkan
penilaian • Kartu kendali mentor
kesehatan • Foto/ Video
untuk
disahkan
kepala
puskesmas
3 Membuat Konsultasi • Foto/ Video
brosur dengan • Kartu kendali mentor
penyakit kepala
gigi dan puskesmas
mulut dan Menghimpu . Draft brosur
cara n referensi • Foto/ Video
pencegaha draft brosur
nnya Meminta • Kartu kendali mentor
persetujuan • draft brosur yang
draft brosur disetujui
pada kepala . Foto/Video
puskesmas
Mencetak • brosur yang sudah
brosur untuk disahkan
disahkan • Kartu kendali mentor
kepala • Foto/ Video
puskesmas
4 Membuat Konsultasi • Foto/ Video
poster cara dengan • Kartu kendali mentor
menjaga kepala
kesehatan puskesmas
gigi dan Menghimpu . Draft poster
mulut n referensi • Foto/ Video
draft poster
Meminta • poster yang sudah
persetujuan disahkan
draft poster • Kartu kendali mentor
pada kepala • Foto/ Video
puskesmas
Mencetak • poster yang sudah
poster untuk disahkan
disahkan • Kartu kendali mentor
kepala • Foto/ Video
puskesmas
5 Penyuluha Berkoordina Foto/ Video

50
n si dengan
kesehatan poli Umum,
gigi dan KIA,
mulut pada Fisioterapi
calon Melaksanak Foto/ Video
pengantin an
dan ibu penyuluhan
hamil menggunak
an poster
penyuluhan
dan
pengisian
kartu
penilaian
kesehatan
Pembagian Foto/ Video
brosur
penyakit gigi
dan mulut
dan cara
pencegahan
nya
6 Melakukan Mempersilah Foto/ video
pelayanan kan pasien
kuratif gigi duduk di
dan mulut dental unit
pada calon Melakukan Foto/ video
pengantin tindakan
dan ibu sesuai SOP
hamil Mempersilah Foto/ video
kan pasien
pulang dan
mengingatka
n untuk
datang
periksa
secara rutin
Keterangan:
: Rencana dilakukan kegiatan

51
C. Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala
Dalam pelaksanaan aktualisasi dan habituasi ANEKA, terdapat kemungkinan
kendala yang menghambat rancangan kegiatan ini. Antisipasi dan strategi
menghadapi kendala tertuang dalam tabel 4.3

Tabel 3.3 Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala


No Kegiatan Kendala Antisipasi menghadapi
kendala
1 Membuat SOP pelayanan Sulit bertemu Berkomunikasi dengan
kesehatan gigi dan mulut dan kepala puskesmas melalui
pada calon pengantin dan berkoordinasi media elektronik agar bisa
ibu hamil dengan kepala menemukan waktu yang
puskesmas tepat untuk bertemu
dalam
penyusunan
SOP
2 Membuat kartu penilaian Sulit bertemu Berkomunikasi dengan
kesehatan dan kepala puskesmas melalui
berkoordinasi media elektronik
dengan kepala
puskesmas
dalam
membuat
kartu penilaian
kesehatan
3 Membuat brosur penyakit Desain dan  Mencari bantuan
gigi dan mulut dan cara biaya designer
pencegahannya  Menggunakan dana
individu terlebih
dahulu
4 Membuat poster cara Desain dan  Mencari bantuan
menjaga kesehatan gigi biaya designer
dan mulut  Menggunakan dana
individu terlebih
dahulu
5 Penyuluhan kesehatan Jumlah pasien Berkoordinasi dengan bidan
gigi dan mulut pada calon calon ibu desa
pengantin dan ibu hamil hamil sedikit
6 Melakukan pelayanan Jumlah pasien Berkoordinasi dengan bidan
kuratif gigi dan mulut pada calon ibu desa
calon pengantin dan ibu hamil sedikit
hamil

52
53