Anda di halaman 1dari 45

Laporan Kasus

BAYI DENGAN IBU HIV

Nama : Nita Widjaya


Nim : 1102013212

Pembimbing :
dr. Afaf Susilowati, Sp. A
Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
RSUD Koja, Jakarta
Periode 6 Agustus 2018 – 13 Oktober 2018
(UNIVERSITAS YARSI)
Jl. Letjen. Suprapto, RT. 10 / RW. 5, Senen, Cemp. Putih, Kota Jakarta Pusat

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN YARSI

Hari/Tanggal Ujian / Presentasi Kasus:


RUMAH SAKIT : RSUD KOJA

Nama : Nita Widjaya Tanda Tangan


Nim : 112013212
Dr. Pembimbing/Penguji: dr. Afaf Susilowati , Sp. A ………………

IDENTITAS PASIEN

Nama lengkap : By. Ny H Jenis kelamin : Perempuan


Tempat / tanggal lahir : Jakarta / 07/08/ 2018 Umur: 1 hari
Suku bangsa: Jawa Agama : Islam
Pendidikan : - Alamat : Komp Dewa Kembar,
Cilincing.
Hubungan dengan orang tua: Anak kandung

ORANG TUA
Ayah
Nama lengkap : Tn E Agama : Islam
Tanggal lahir (umur) : 39 tahun Pendidikan : SMA
Suku Bangsa : Jawa Pekerjaan : Buruh Pabrik
Alamat : Komp Dewa Kembar,
Cilincing.
Ibu
Nama lengkap : Ny H Agama : Islam
Tanggal lahir (umur) : 34 tahun Pendidikan : SMA
Suku Bangsa : Jawa Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Komp Dewa Kembar,
Cilincing.

2
A. ANAMNESIS
Diambil dari : Alloanamnesis dari ibu
Tanggal: 8 Agustus 2018 Jam: 10.30

Keluhan utama:
Bayi baru lahir dengan ibu HIV (+)

Keluhan tambahan:
-

Riwayat Penyakit Sekarang:


Bayi baru lahir secara sectio caesaria atas indikasi ibu P4A2 dengan HIV (+)
dan usia gestasi 37 minggu pada tanggal 7 Agustus 2018 pada pukul 10.29 dengan
jenis kelamin perempuan pada saat lahir bayi segera menangis kuat dengan gerakan
aktif dan tidak ada biru. APGAR score 8/9. Ketuban ibu jernih. BBL = 2900 gr PBL
= 46 cm.
Ibu pasien dating ke RSUD Koja pada tanggal 6 Agustus 2018. Pasien
direncanakan untuk lahir secara sectio caesaria karena HIV (+). Pasien belum
merasakan mules-mules dan gerakan janin masih dirasakan. Keluhan sakit kepala,
pandangan kabur, muntah, nyeri ulu hati, dan kejang tidak ada. Keluhan keluar air
ketuban dari jalan lahir tidak ada. Ibu pasien tidak memiliki riwayat tekanan darah
tinggi sebelum kehamilan.
Selama kehamilan ibu pasien rutin memeriksakan kehamilannya ke dokter
spesialis kandungan di RSUD Koja setiap bulannya. Ibu telah terinfeksi HIV pada
3 tahun yang lalu, saat ini ibu pasien hamil anak ke 5. Ibu dalam pengobatan HIV
sejak 2,5 tahun yang lalu.
Ibu pasien menikah ketika usia 21 tahun, merupakan pernikahan yang
pertama. Menurut pengakuan ibu pasien menyangkal mempunyai pasangan lebih
dari satu, memakai narkoba, menggunakan jarum secara bersamaan dan transfuse
darah.

pa
3
Penyakit Dahulu ( Tahun, diisi bila ya ( + ), bila tidak ( - ) )

(-) Sepis (-) Meningoencephalitis (-) Kejang demam


(-) Tuberkulosis (-) Pneumoni (-) Alergi lainnya
(-) Asma (-) Alergi Rhinitis (-) Gastritis
(-) Diare akut (-) Diare Kronis (-) Amoebiasis
(-) Disentri (-) Kolera (-) Difteri
(-) Tifus Abdominalis (-) DHF (-) Polio
(-) Cacar air (-) Campak (-) Peny. Jantung Bawaan
(-) Batuk rejan (-) Tetanus (-) ISK
(-) Demam Rematik Akut (-) Penyakit Jantung Rematik (-) Kecelakaan
(-) Glomerulonephritis (-) Sindroma Nefrotik (-) Operasi

Riwayat Keluarga

Penyakit Ya Tidak Hubungan

Alergi √ -
Asma √ -
Tuberkulosis √ -
Hipertensi √ -
Diabetes √ -
Kejang Demam √ -

Epilepsy √ -

HIV √

4
Silsilah Keluarga (Family’s Tree)

TN. S Ny. A TN. Y Ny. N


68 th 63 th 70 th 64 th

TN. E Ny. T Tn. A Ny. R Ny.H


39 th 25 th 37 th 35 th 34

An. A An. B An. R By


9 th 3 tahun Ny H
8 th
1 hari

Keterangan :

: laki – laki : tinggal serumah

: perempuan : pasien

: perempuan HIV (+)

Riwayat Sosial Personal (Socio-personal history)


Ibu Pasien memiliki riwayat sosial personal yang baik. Ibu pasien telah terinfeksi HIV
sejak akhir 2014 saat pemeriksaan kehamilan anak 5. Dari hasil screening pasien
dinyatakan terinfeksi virus HIV. Pada saat persalinan anak ke 5 pada awalnya di
rencanakan secara Sectio Caesaria namun karena pasien sudah mengalami
pembukaan hamoir lengkap sehingga kelahiran anak ke 5 secara spontan. Anak ke 5
pasien laki-laki dengan berat lahir 2700 gr, ibu pasien tidak meberikan ASI kepada
anak ke 5nya.

5
Riwayat Kehamilan
Perawatan antenatal : Cukup
Penyakit kehamilan : Tidak ada

KEHAMILAN TEMPAT PENOLONG CARA CARA BB JENIS USIA KEADAAN RIWAYAT


KE KEHAMILAN PERSALINAN LAHIR KELAMIN IMUNISASI

I ABORTUS

II Puskesmas Bidan Aterm Spontan 3000 Laki-laki 9 th Hidup Lengkap

III ABORTUS

IV Puskesmas Bidan Aterm Spontan 2850 Perempuan 8 th Hidup Lengkap

V RSUD Dokter Aterm Spontan 2700 Laki-laki 3 th Hidup Tidak


Koja lengkap

VI RSUD Dokter Aterm SC 2900 Perempuan 1 Hidup


Koja hari

Riwayat Kelahiran (Birth History)


Tempat Lahir : ( ) Di bidan () Rumah bersalin (√ ) RS Bersalin
() Puskesmas
Ditolong oleh : (√ ) Dokter () Bidan ( )Dukun
( ) Lain-lain
Cara Persalinan : ( ) Spontan (√) SC
Masa Gestasi : () Kurang bulan (√) Cukup bulan ( )Lebih bulan
Berat Badan Lahir : 2.900 gram
Panjang badan lahir : 46 cm
Lingkar kepala : 34 cm
Lingkar dada : 31 cm
Lingkar perut : 28 cm
Lingkar lengan : 9 cm
Menangis : Langsung menangis 6
Warna kulit : Merah muda
Nilai APGAR : 8/9
Kelainan bawaan : Tidak ada

Riwayat Perkembangan
Pertumbuhan gigi pertama : - bulan
Psikomotor :
Tengkurap : - bulan
Duduk : - bulan
Berdiri : - bulan
Berbicara : - bulan
Membaca : - tahun
Menulis : - tahun
Gangguan perkembangan mental/emosi : belum dapat disimpulkan

Riwayat Imunisasi
Imunisasi Bulan Tahun
Lahir 1 2 4 6 9 15 6
Hepatitis B
Polio
BCG
DPT
Campak  
MMR 

PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal: 8 Agustus 2018 Jam: 10.30

PEMERIKSAAN UMUM
Keadaan umum : Tampak aktif
Kesadaran : Compos mentis
Keterangan lain : Tidak ada

7
Tanda-tanda vital:
Suhu tubuh : 36,7°C
Frekuensi napas : 42x/menit
Frekuensi nadi : 140x/menit
Tekanan darah :-

Antropometrik:
Berat badan : 2900 gr
Panjang badan lahir : 46 cm
Lingkar kepala : 34 cm
Lingkar dada : 31 cm
Lingkar perut : 28 cm
Lingkar lengan : 9 cm

PEMERIKSAAN SISTEMATIS

Pemeriksaan Sistematis

Trauma lahir : tidak ada

Kelainan kongenital : tidak ada

Caput succadaneum : tidak ada

Sefal hematom : tidak ada

SSP :

Demam : tidak ada

Refleks Moro : positif

Kejang : tidak ada

Refleks hisap/telan : positif

Respirasi :

Sesak : negatif
8
Ekspiratory grunting : negatif

Sianosis : negatif

Pernapasan cuping hidung : -/-

Retraksi : negatif

Kardiovaskular :

Bunyi jantung I/II : murni/regular

Bunyi tambahan : murmur (-) gallop (-)

CRT : 4 detik

Hematologi :

Pucat : tidak ada

Perdarahan : tidak ada

Hepar dan lien : tidak teraba

BAB : normal

Metabolisme :

Edema : tidak ada

Ikterus : tidak ada

Lain-lain :

Ballard Score : Score 35-> 38 minggu NCB (Neonatus Cukup Bulan)

Lubchenko score : SMK (Sesuai Masa Kehamilan)

APGAR Score : 8 -> Tidak ada asfiksia

9 -> Tidak ada asfiksia

Fenton Curve : BB = 10 < z < 90 percentile (Sesuai masa


9
kehamilan)

Lingkar kepala = 10 < z < 90 percentile (Sesuai masa

kehamilan)

Panjang badan = 10 < z < 90 (Sesuai masa kehamilan)

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Hematologi Tanggal : 8 Agustus 2018


Darah Rutin
Haemoglobin : 16,8 g/dL
Jumlah Leukosit : 18,93 10^3/ μL
Hematokrit : 47,2 %
Jumlah Trombosit : 361 10^3 μL
Ratio : 0,03

RINGKASAN (RESUME)
Telah diperiksa pasien bayi perempuan usia 1 hari. Bayi baru lahir secara
sectio caesaria atas indikasi ibu dengan HIV (+) dan usia gestasi 37 minggu pada
tanggal 7 agustus 2018 saat lahir bayi segera menangis kuat dengan gerakan aktif
dan tidak ada biru. APGAR score 8/9. Ketuban ibu jernih. BBL = 2900 gr PBL = 46
cm.
Selama kehamilan ibu pasien rutin memeriksakan kehamilannya ke dokter
spesialis kandungan di RSUD Koja setiap bulannya. Ibu telah terinfeksi HIV pada
3 tahun yang lalu, saat ini ibu pasien hamil anak ke 5. Ibu dalam pengobatan HIV
sejak 2,5 tahun yang lalu.

DIAGNOSIS KERJA :
1. Bayi Cukup Bulan, Sesuai Masa Kehamilan, dengan Ibu HIV (+)
Dasar diagnosis : Berdasarkan Ballard Score didapatkan Score 35-> 38 minggu
NCB (Neonatus Cukup Bulan) dan Lubchenko score didapatkan hasil SMK
(Sesuai Masa Kehamilan) Berdasarkan anamnesis dengan ibu pasien
didapatkan Ibu terinfeksi HIV (+) sejak 3 tahun SMRS. Ibu telah menjalani
pengobatan HIV sejak 2,5 tahun yang lalu.
10
PENATALAKSANAAN :
Non-medika mentosa
- Edukasi pasien terutama ibu tentang penyakit yang diderita
- Tidak memberikan ASI kepada bayi

Medika mentosa
- Cairan 60 cc x 2,9 kg = 174 cc (ASI/SF 8 x 22 cc)
- ARV Zidovudine 2X15 mg

Rencana Pemeriksaan Lanjutan


- Pemeriksaan laboratorium darah tepi lengkap (Hb, leukosit, trombosit, hitung
jenis leukosit)

Prognosis
Ad vitam : Dubia ad Bonam
Ad fungtionam : Dubia ad Bonam
Ad sanationam : Dubia ad Bonam

11
PENDAHULUAN

Sebagian besar bayi baru lahir yang terlahir dari ibu yang bermasalah dalam
arti menderita suatu penyakit, tidak menunjukkan gejala sakit pada saat dilahirkan
atau beberapa waktu setelah lahir. Bukan berarti bayi baru lahir tersebut aman dari
gangguan akibat dari penyakit yang diderita ibu. Hal tersebut dapat menimbulkan
akibat yang merugikan bagi bayi baru lahir (BBL), dan dapat meningkatkan
morbiditas dan mortalitas bayi. Ibu bermasalah disini diartikan sebagai ibu yang
menderita sakit, sebelum, selama hamil, atau pada saat menghadapi proses
persalinan.1,2,
Dari State of the World’s Newborn, Save The Children 2001, terdapat angka
lebih dari 7 juta bayi meninggal setiap tahun antara lahir hingga umur 12 bulan,
hampir dua pertiga bayi yang meninggal, terjadi pada bulan pertama; dari yang
meninggal tersebut, dua pertiga meninggal pada umur satu minggu, dan dua pertiga
diantaranya meninggal pada dua puluh empat jam pertama kehidupannya. Disini
sangat jelas bahwa masalah kesehatan neonatal tidak dapat dilepaskan dari masalah
kesehatan perinatal dimana proses kehamilan, dan persalinan memegang faktor
yang amat penting. 1,2
Upaya pemerintah untuk menurunkan angka kematian bayi, telah banyak
dilakukan, diantaranya adalah asuhan persalinan normal, Safe Mother Hood,
pelayanan obstetri neonatal esensial dasar dan komprehensif, awal sehat untuk
hidup sehat, manajemen terpadu balita sakit, dan manajemen bayi muda sakit karena
kelainan BBL sangat erat hubungannya dengan saat berada di dalam kandungan,
maka komunikasi yang erat diantara dokter anak, dokter obstetri dan dokter anestesi
serta bidan setempat sangatlah penting karena bermacam penyakit yang dapat
diderita ibu selama periode tersebut. Dalam makalah ini akan di bahas manajemen
BBL dari ibu yang mengalami penyakit HIV yang tampaknya jumlah penderita
semakin meningkat.1

12
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI
Penyebab AIDS (Acquired Immunodefiency Syndrome) adalah HIV
(Human Immunodefiency Virus), virus RNA berantai tunggal dari keluarga
retrovirus yang menghasilkan reverse transciptase yang memungkinkan RNA
virus untuk bertindak sebgai template untuk transkipsi DNA dan berintegrasi ke
dalam genom inang. HIV-1 menyebabkan 99% dari semua kasus pada manusia.
HIV-2 yang kurag virulen, menyebabkan 1% sampai 9% dari berbagai kasus di
bagian Afrika dan sangat lanhka di Amerika Serikat.3
Infeksi HIV merupakan proses yang progresif, yang terus menerus
dengan perode laten klinis yang bervariasi sebelum berkembang menjadi
kondisi AIDS. 3

II. ETIOLOGI
Sebagian besar infeksi HIV pada anak (90%) didapatkan dari transmisi
vertical yaitu dari ibu ke bayi yang dikandungnya (mother-to-child
transmission/MTCT). Proses transmisi dapat terjadi pada saat kehamilan (5-
10%), proses persalinan (10-20%) dan sesudah kelahiran melalui ASI (5-20%).
Angka transmisi ini akan menurun sampai kuranag 2% bila pasangan ibu dan
anak menjalani program pencegahan/prevention of mother-to-child
transmission (PMTCT) sejak kehamilan dengan penggunaan obat
antiretroviraluntuk ibu sampai dengan penanganan setelah kelahiran.4

III. EPIDEMIOLOGI
Pada tahun 2007, diseluruh dunia, sekitar 35 juta orang telah terinfeksi
HIV, termasuk 2,5 juta diantaranya anak-anak. Lebih dari 25 jutatelah
meninggal karena AIDS, dengan 80% kejadian di Afrika. Sekitar 2,5 juta orang
diseluruh dunia tertular HIV pada tahun 2007. Didaerah Afrika dan Asia dengan
laju kejadian infeksi 40% sebagaian besar akibat penularan heteroseksual.
Terdapat lehbih dari 900.000 orang yang telah didiagnosis AIDS di Amerika
Serikat termasuk 9300 anak kurang dari 13 tahun. Pada tahun 2006, sekitar
435.000 orang yang hidup dengan HIV/AIDS termasuk sekitar 6000 anak-anak
mengalami infeksi perinatal. Penularan vertical meyumbang lebih dari 90%13
dari semua kasus AIDS pada anak-anak di Amerika Serikat. Saat ini di
perkirakan terjadi sekitar 100 sampai 200 bayi yang lahir dengan infeksi HIV
setiap tahun di Amerika Serikat. Efekvitas profilaksis perinatal telah
mengurangijumlah kasus AIDS anak baru di Amerika Serikat dan negara-
negara maju. Sebagian besar kasus anak sekarang terjadi pada remaja yang
terlibat dalam kegiatan seksual yang tidak aman.4
Menurut data epidemiologi di Indonesia pada tahun 2015 jumlah orang
dengan HIV sebanyak 613.435, sedangkan data kematian pada HIV berjumlah
36.936. Prevalensi penggunaaan HIV paling banyak yaitu pengunaan narkoba
dengan jarum suntik prevalensinya sebesar 28,8%.5

14
IV. PATOFISOLOGI

15
V. DIAGNOSIS
Anamnesis
Ibu atau ayah memiliki risiko untuk terinfeksi HIV dan sudah dilakukan
skrining HIV, minimal serologis.
Bayi dan anak memerlukan tes HIV bila:
1. Anak sakit (jenis penyakit yang berhubungan dengan HIV seperti TB berat
atau mendapat OAT berulang, malnutrisi, atau pneumonia berulang dan
diare kronis atau berulang)
2. Bayi yang lahir dari ibu terinfeksi HIV dan sudah mendapatkan perlakuan
pencegahan penularan dari ibu ke anak
3. Untuk mengetahui status bayi/anak kandung dari ibu yang didiagnosis
terinfeksi HIV (pada umur berapa saja)
4. Untuk mengetahui status seorang anak setelah salah satu saudara
kandungnya didiagnosis HIV; atau salah satu atau kedua orangtua
meninggal oleh sebab yang tidak diketahui tetapi masih mungkin karena
HIV
5. Terpajan atau potensial terkena infeksi HIV melalui jarum suntik yang
terkontaminasi, menerima transfusi berulang dan sebab lain
6. Anak yang mengalami kekerasan seksual
Untuk melakukan tes HIV pada anak diperlukan ijin dari orangtua/wali yang
memiliki hak hukum atas anak tersebut (contoh nenek/kakek/orangtua asuh,
bila orangtua kandung meninggal atau tidak ada).6

16
Prinsip diagnosis infeksi HIV pada bayi dan anak
A. Uji Virologis
1. Uji virologis digunakan untuk menegakkan diagnosis klinik (biasanya
setelah umur 6 minggu), dan harus memiliki sensitivitas minimal 98% dan
spesifisitas 98% dengan cara yang sama seperti uji serologis.
2. Uji virologis direkomendasikan untuk mendiagnosis anak berumur < 18
bulan.
3. Uji virologis yang dianjurkan: HIV DNA kualitatif menggunakan darah
plasma EDTA atau Dried Blood Spot (DBS), bila tidak tersedia HIV DNA
dapat digunakan HIV RNA kuantitatif (viral load, VL) mengunakan plasma
EDTA.
4. Bayi yang diketahui terpajan HIV sejak lahir dianjurkan untuk diperiksa
dengan uji virologis pada umur 4 – 6 minggu atau waktu tercepat yang
mampu laksana sesudahnya.
5. Pada kasus bayi dengan pemeriksaan virologis pertama hasilnya positif
maka terapi ARV harus segera dimulai; pada saat yang sama dilakukan
pengambilan sampel darah kedua untuk pemeriksaan uji virologis kedua.
6. Hasil pemeriksaan virologis harus segera diberikan pada tempat pelayanan,
maksimal 4 minggu sejak sampel darah diambil. Hasil positif harus segera
diikuti dengan inisiasi ARV.6

B. Uji Serologis
1. Uji serologis yang digunakan harus memenuhi sensitivitas minimal 99%
dan spesifisitas minimal 98% dengan pengawasan kualitas prosedur dan
standardisasi kondisi laboratorium dengan strategi seperti pada pemeriksaan
serologis dewasa. Umur <18 bulan – digunakan sebagai uji untuk
menentukan ada tidaknya pajanan HIV Umur >18 bulan – digunakan
sebagai uji diagnostik konfirmasi
2. Anak umur < 18 bulan terpajan HIV yang tampak sehat dan belum
dilakukan uji virologis, dianjurkan untuk dilakukan uji serologis pada umur
9 bulan. Bila hasil uji tersebut positif harus segera diikuti dengan
pemeriksaan uji virologis untuk mengidentifikasi kasus yang memerlukan
terapi ARV. Jika uji serologis positif dan uji virologis belum tersedia, perlu
17
dilakukan pemantauan klinis ketat dan uji serologis ulang pada usia 18
bulan.
3. Anak umur < 18 bulan dengan gejala dan tanda diduga disebabkan oleh
infeksi HIV harus menjalani uji serologis dan jika positif diikuti dengan uji
virologis.
4. Pada anak umur< 18 bulan yang sakit dan diduga disebabkan oleh infeksi
HIV tetapi uji virologis tidak dapat dilakukan, diagnosis ditegakkan
menggunakan diagnosis presumtif.
5. Pada anak umur < 18 bulan yang masih mendapat ASI, prosedur diagnostik
dilakukan tanpa perlu menghentikan pemberian ASI.
6. Anak yang berumur > 18 bulan menjalani tes HIV sebagaimana yang
dilakukan pada orang dewasa.
Agar pelaksana di lapangan tidak ragu, berikut ini skenario klinis dalam
memilihperangkat diagnosis yang tepat.6

18
Mulai kehamilan trimester ketiga, antibodi maternal ditransfer secara
pasif kepada janin, termasuk antibodi terhadap HIV, yang dapat terdeteksi
sampai umur anak 18 bulan. ii,iii Oleh karena itu pada anak berumur < 18 bulan
yang dilakukan uji antibodi HIV dan menunjukkan hasil reaktif, tidak serta
merta berarti anak tersebut terinfeksi HIV. 7
Untuk memastikan diagnosis HIV pada anak dengan usia < 18 bulan,
dibutuhkan uji virologi HIV yang dapat memeriksa virus atau komponennya.
Anak dengan hasil uji virologi HIV positif pada usia berapapun, artinya terkena
infeksi HIV. 7
ASI dapat mengandung virus HIV bebas atau sel yang terinfeksi HIV.
Konsekuensi dari mendapat ASI adalah adanya risiko terpajan HIV, sehingga

19
penetapan infeksi HIV baru dapat dilaksanakan bila pemeriksaan dilakukan
ATAU diulang setelah ASI dihentikan > 6 minggu.7

20
Bagan diagnosis HIV pada bayi dan anak < 18 bulan pajanan HIV tidak diketahui

21
Diagnosis presumtif HIV pada anak< 18 bulan
Bila ada anak berumur < 18 bulan dan dipikirkan terinfeksi HIV, tetapi
perangkat laboratorium untuk PCR HIV tidak tersedia, tenaga kesehatan diharapkan
mampu menegakkan diagnosis dengan cara diagnosis presumtif.
Catatan:
1. Menurut definisi Integrated Management of Childhood Illness (IMCI):
a. Oral thrush adalah lapisan putih kekuningan di atas mukosa yang normal atau
kemerahan (pseudomembran), atau bercak merah di lidah, langit-langit mulut
atau tepi mulut, disertai rasa nyeri. Tidak bereaksi dengan pengobatan
antifungal topikal.
b. Pneumonia adalah batuk atau sesak napas pada anak dengan gambaran chest
indrawing, stridor atau tanda bahaya seperti letargik atau penurunan kesadaran,
tidak dapat minum atau menyusu, muntah, dan adanya kejang selama episode
sakit sekarang. Membaik dengan pengobatan antibiotik.
c. Sepsis adalah demam atau hipotermia pada bayi muda dengan tanda yang berat
seperti bernapas cepat, chest indrawing, ubun-ubun besar membonjol, letargi,
gerakan berkurang, tidak mau minum atau menyusu, kejang, dan lain-lain.
2. Pemeriksaan uji HIV cepat (rapid test) dengan hasil reaktif harus dilanjutkan dengan
tes serologi yang lain. Bila hasil pemeriksaan tes serologi lanjutan tetap reaktif, pasien
harus segera mendapat obat ARV.

Diagnosis HIV pada anak > 18 bulan


Diagnosis pada anak > 18 bulan memakai cara yang sama dengan uji HIV pada
orang dewasa. Perhatian khusus untuk anak yang masih mendapat ASI pada saat tes
dilakukan, uji HIV baru dapat diinterpretasi dengan baik bila ASI sudah dihentikan
selama > 6 minggu. Pada umur > 18 bulan ASI bukan lagi sumber nutrisi utama. Oleh
karena itu cukup aman bila ibu diminta untuk menghentikan ASI sebelum dilakukan
diagnosis HIV.

22
VI. Tatalaksana
Terkait dengan bagaimana pencegahan transmisi HIV dari ibu beresiko
ke anak yang dilahirkan telah diatur dalam program WHO yang bernama
Prevention of Mother-to-Child Transmission of HIV (PMTCT). PMTCT
bertujuan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi juga mengurangi
dampak epidemi HIV terhadap ibu dan bayi.
Adapun intervensi PMTCT tersebut memiliki 4 konsep dasar :
1. Mengurangi jumlah ibu hamil dengan HIV positif
2. Menurunkan viral load serendah-rendahnya
3. Meminimalkan paparan janin/bayi terhadap darah dan cairan tubuh ibu HIV
positif
4. Mengoptimalkan kesehatan dari ibu dengan HIV positif.

Dampak buruk dari penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah apabila :
1. Terdeteksi dini
2. Terkendali (ibu melakukan perilaku hidup sehat, ibu mendapatkan ARV
profilaksis secara teratur, ibu melakukan ANC secara teratur, petugas
kesehatan menerapkan pencegahan infeksi sesuai kewaspadaan standar)
3. Pemilihan rute persalinan yang aman (seksio sesaria)
4. Pemberian PASI (susu formula) yang memenuhi persyaratan
5. Pemantauan ketat tumbuh-kembang bayi dan balita dari ibu dengan HIV
positif, dan
6. Adanya dukungan yang tulus dan perhatian yang berkesinambungan kepada
ibu, bayi, dan keluarganya.
Dari paparan PMTCT diatas, cara kelahiran yang direkomendasikan
untuk meminimalkan paparan janin dan bayi terhadap cairan tubuh ibu adalah
seksio sesaria (SC) berencana sebelum saat persalinan tiba. Pada saat persalinan
pervaginam, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir. Bayi mungkin juga
terinfeksi karena menelan darah atau lendir jalan lahir tersebut (secara tidak
sengaja pada saat resusitasi).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa SC akan menurunkan resiko
penularan HIV dari ibu ke bayi sebesar 50-66%. Apabila SC tidak bisa
dilaksanakan, maka dianjurkan untuk tidak melakukan tindakan invasif yang
memungkinkan perlukaan pada bayi (forceps, vacuum ekstraksi) dan23
perlukaan pada ibu (episiotomi). 8, 9, 10 Pasien lahir secara pervaginam sehingga
kemungkinan terinfeksi HIV saat persalinan sangat dimungkinkan.
Di Amerika dan Kanada, dimana susu formula bayi aman dan tersedia,
seorang yang ibu terinfeksi harus disarankan untuk tidak menyusui bahkan jika
dia menerima ART (terapi anti Retrovirus). Menghindari secara total untuk
menyusui (dan susu sumbangan) oleh perempuan yang terinfeksi HIV tetap
menjadi satu-satunya mekanisme dimana pencegahan penularan HIV melalui
ASI dapat dipastikan. 5,15,16
Salah satu rekomendasi Konsesus Genewa pada Oktober 2006 adalah
“Ibu terinfeksi HIV dianjurkan menyusui eksklusif selama 3 bulan atau lebih
pendek kecuali jika pengganti ASI memenuhi AFASS sebelumnya, Bila
pengganti ASI mencapai AFASS, dianjurkan untuk tidak memberikan ASI”
yang mana hal ini menjadi Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dan
ibu ke bayi.
AFASS merupakan kepanjangan dari:
A : ACCEPTABLE : mudah diterima
F : FEASIBLE : mudah dilakukan
A : AFFORDABLE : terjangkau
S : SUSTAINABLE : berkelanjutan
S : SAFE : aman penggunaannya

Mudah diterima berarti, tidak ada hambatan sosial budaya bagi ibu
untuk memberikan susu formula pada bayinya. Mudah dilakukan Ibu dan
keluarga, mereka mempunyai cukup waktu, pengetahuan, dan ketrampilan yang
memadai untuk menyiapkan dan memberikan susu formula kepada bayi.
Harganya terjangkau Ibu dan keluarga sehingga mereka mampu membeli susu
formula. Susu formula harus diberikan setiap hari dan malam selama usia bayi
dan diberikan dalam bentuk segar, serta suplai dan distribusi susu formula
dijamin keberadaannya artinya keberadaan susu formula tersebut berkelanjutan.
Juga tidak kalah penting Susu formula harus disimpan secara benar, higienis
dan kadar nutrisi cukup, disuapkan dengan tangan dan peralatan bersih, serta
tidak berdampak peningkatan penggunaan susu formula pada masyarakat
(SPILL OVER) yang berarti Save atau Aman. 9,10,11
24
Ibu dengan HIV positif dihadapkan pada dua pilihan sulit, menyusui
dengan belum mengerti tehnik menyusuinya sehingga ternjadi MTCT (mother-
to-child transmission), tidak menyusui dan tidak AFASS sehingga bayi menjadi
kurang gizi, diare, atau pneumonia. Konseling pemberian makan bayi pada ibu
HIV dapat membantu ibu HIV menentukan pilihan yang terbaik untuk bayinya.
10,11

Tabel 2. Faktor Risiko Potensial untuk Transmisi HIV-1 melalui ASI


Kategori Faktor risiko
Durasi menyusui Durasi yang lebih lama
Karakteristik Ibu Umur muda
Paritas tinggi
CD4+ yang rendah
Viral load darah perifer yang tinggi
Abnormalitas payudara
(abses payudara, mastitis, nipple
Karakteristik bayi lesions)
Karakteristik ASI Candidiasis oral
/human milk Viral load yang tinggi
Konsentrasi substansi antiviral yang
rendah (contoh: lactoferin, lysozyme,
SLPI, epidermal growth factor)
Konsentrasi limfosit T spesifik-virus
sitotoksik
Sekkresi IgA yang rendah
ASI eksklusif IgM yang rendah
Mixed breastfeeding

Dikarenakan penularan HIV-1 melalui proses menyusui selalu terjadi,


dan karena menghindari proses menyusui adalah sulit dilakukan dalam banyak
situasi tertentu, maka penting untuk mengidentifikasi faktor risiko guna
merancang rencana intervensi untuk mencegah transmisi sesuai dengan faktor
risiko. 9,10

25
Seperti penelitian Yani dkk, infeksi respiratorik, PCP maupun TB,
merupakan penyebab kesakitan dan kematian terbanyak anak dengan HIV yang
diikuti oleh oral thrush, diare, dan gagal tumbuh. Empat dari 5 pasien PCP
bersamaan dengan diare. Prinsip pengobatan pada HIV/AIDS adalah terapi
etiologi dengan ARV, mengendalikan infeksi opurtinistik, mengatasi status
defisiensi imun, serta pemberian vaksinasi. 6,8,10

Penetapan kriteria klinis


Segera setelah diagnosis infeksi HIV ditegakkan, dilakukan penilaian
stadium klinis. Penilaian stadium ditetapkan menurut kondisi klinis paling berat
yang pernah dialami, dibandingkan dengan tabel.
Stadium klinis infeksi HIV

26
27
Penetapan kelas imunodefisiensi
Kelas imunodefisiensi ditetapkan berdasarkan hasil pemeriksaan CD4, terutama nilai
persentase pada anak umur < 5 tahun.

Keterangan:
• CD4 adalah parameter terbaik untuk mengukur imunodefisiensi.
• Digunakan bersamaan dengan penilaian klinis. CD4 dapat menjadi petunjuk dini
progresivitas penyakit karena nilai CD4 menurun lebih dahulu dibandingkan kondisi
klinis.
• Pemantauan CD4 dapat digunakan untuk memulai pemberian ARV atau penggantian
obat.
• Makin muda umur, makin tinggi nilai CD4. Untuk anak < 5 tahun digunakan
persentase CD4. Bila ≥ 5 tahun, nilai CD4 absolut dapat digunakan.
• Ambang batas kadar CD4 untuk imunodefisiensi berat pada anak > 1 tahun sesuai
dengan risiko mortalitas dalam 12 bulan (5%). Pada anak < 1 tahun atau bahkan < 6
bulan, nilai CD4 tidak dapat memprediksi mortalitas, karena risiko kematian dapat
terjadi bahkan pada nilai CD4 yang tinggi.

Indikasi terapi ARV menggunakan kombinasi kriteria klinis dan imunologis


Anak berumur < 5 tahun bila terdiagnosis infeksi HIV maka terindikasi untuk mendapat
pengobatan ARV sesegera mungkin.

28
a. Tatalaksana terhadap Infeksi Oportunistik yang terdeteksi harus didahulukan
b. Meskipun tidak menjadi dasar untuk pemberian ARV, bila memungkinkan dilakukan
pemeriksaan CD4 untuk memantau hasil pengobatan

Catatan:
• Risiko kematian tertinggi terjadi pada anak dengan stadium klinis 3 atau 4, sehingga
harus segera dimulai terapi ARV.
• Anak usia < 12 bulan dan terutama < 6 bulan memiliki risiko paling tinggi untuk
menjadi progresif atau mati pada nilai CD4 normal.
• Nilai CD4 dapat berfluktuasi menurut individu dan penyakit yang dideritanya. Bila
mungkin harus ada 2 nilai CD4 di bawah ambang batas sebelum ARV dimulai.
• Bila belum ada indikasi untuk ARV lakukan evaluasi klinis dan nilai CD4 setiap 3-6
bulan sekali, atau lebih sering pada anak dan bayi yang lebih muda.
V.4. Pemberian ARV pada bayi dan anak < 18 bulan dengan diagnosis presumtif
Bayi umur < 18 bulan yang didiagnosis terinfeksi HIV dengan cara presumtif harus
SEGERA mendapat terapi ARV.
Segera setelah diagnosis konfirmasi dapat dilakukan (mendapat kesempatan
pemeriksaan PCR DNA sebelum umur 18 bulan atau menunggu sampai umur 18 bulan
untuk dilakukan pemeriksaan antibodi HIV ulang); maka dilakukan penilaian ulang
apakah pasien PASTI terdiagnosis HIV atau tidak. Bila hasilnya negatif maka
pemberian ARV dihentikan.

29
Pemantauan anak terinfeksi hiv yang belum mendapat arv (umur > 5 tahun)
Pemantauan dilakukan secara teratur untuk:
• Memantau tumbuh kembang dan memberi layanan rutin lainnya (termasuk imunisasi)
• Mendeteksi dini kasus yang memerlukan ARV.
• Menangani penyakit terkait HIV atau sakit lain yang bersamaan.
• Memastikan kepatuhan berobat pasien, khususnya profilaksis kotrimoksazol.
• Memantau hasil pengobatan dan efek samping.
• Konseling.

30
1
Termasuk anamnesis, pemeriksaan fisik dan penilaian tumbuh kembang.
2
Lihat petunjuk pemberian profilaksis kotrimoksazol.
3
SGPT pada awal adalah pemantauan minimal untuk kerusakan hati. Bila nilai SGPT
> 5 kali nilai normal, maka perlu dilakukan pemeriksaan fungsi hati yang lengkap, dan
juga hepatitis B serta hepatitis C.
4
Pada remaja putri berikan konseling mengenai pencegahan kehamilan dan penyakit
menular seksual (PMS). Konseling juga meliputi pencegahan transmisi HIV kepada
orang lain, dan risiko transmisi HIV kepada bayi.
5
Lakukan penilaian pajanan TB (lampiran B dan G).
6
Bila memungkinkan lakukan pengamatan PCR RNA HIV setiap 6 bulan karena hasil
pemeriksaan menunjukkan > 50.000 kopi RNA/ml menjadi indikasi untuk pemberian
ARV meskipun CD4 masih baik.

1. Paduan lini pertama yang direkomendasikan adalah 2 Nucleoside reverse


transcriptase inhibitor (NRTI) + 1 Non-nucleoside reverse transcriptase
inhibitor (NNRTI)
Berdasarkan ketersediaan obat, terdapat 3 kombinasi panduan ARV ( pilihan warna
berbeda)

Langkah 1: Gunakan 3TC sebagai NRTI pertama


Langkah 2: Pilih 1 NRTI untuk dikombinasi dengan 3TCa :

31
a 3TC dapat digunakan bersama dengan 3 obat di atas karena memiliki catatan efikasi,
keamanan dan tolerabilitas yang baik. Namun mudah timbul resistensi bila tidak patuh
minum ARV.
bZidovudin (AZT) merupakan pilihan utama untuk lini 1. Namun bila Hb anak < 7,5
g/dl maka dipertimbangkan pemberian Stavudin(d4T) sebagai lini 1.
c Dengan adanya risiko efek simpang pada penggunaan d4T jangka panjang, maka
dipertimbangkan mengubah d4T ke AZT (bila Hb anak > 8 gr/dl)setelah pemakaian
6 – 12 bulan. Bila terdapat efek anemia berulang maka dapat kembali ke d4T
dTenofovir saat ini belum digunakan sebagai lini pertama karena ketersediannya belum
dipastikan, sedangkan umur termuda yang diperbolehkan menggunakan obat ini
adalah 2 tahun dan anak yang lebih muda tidak dapat menggunakannya. Selain itu
perlu dipertimbangkan efek samping osteoporosis pada tulang anak yang sedang
bertumbuh karena diharapkan penggunaan ARV tidak mengganggu pertumbuhan
tinggi badannya.

32
a Anak yang terpajan oleh Nevirapin (NVP) dosis tunggal sewaktu dalam program
pencegahan penularan ibu ke anak (PPIA) mempunyai risiko tinggi untuk resistensi
NNRTI oleh karena itu dianjurkan menggunakan golongan PI sebagai lini satu. Akan
tetapi bila tidak tersedia, paduan kombinasi 2 NRTI + 1 NNRTI dapat dipilih dengan
pemantauan utama munculnya resistensi.

bNNRTI dapat menurunkan kadar obat kontrasepsi yang mengandung estrogen.


Kondom harus selalu digunakan untuk mencegah penularan HIV tanpa melihat
serostatus HIV. Remaja putri dalam masa reproduktif yang mendapat EFV harus
menghindari kehamilan

33
Pada pemberian pengobatan dengan antiretroviral sebagai indikator pemakaian/
kemajuan sering dipakai perhitungan jumlah CD4 serta menghitung beban viral (viral
load).

Gambar 4. Dosis Obat Anti Retrovirus

Lini ke 2 pemberian HIV

• Mengubah ke paduan lini kedua BUKAN keadaan gawat darurat


• Alasan utama kegagalan pengobatan adalah kepatuhan yang kurang.
34
• Sebelum pindah paduan obat, perbaiki kepatuhan
• Penetapan paduan lini dua dilakukan dengan konsultasi pada dokter TERLATIH di
RS rujukan
• Perlu pemantapan mekanisme suportif (pengasuh, dokter, PMO) kembali sebelum
penggantian obat, evaluasi sesudah 6 bulan perbaikan
• Penting untuk memastikan bahwa anak mendapat profilaksis infeksi oportunistik yang
tepat
• Paduan yang gagal dapat tetap diberikan sampai anak siap untuk paduan lini kedua
Catatan:
• Resistensi silang dalam kelas ARV yang sama terjadi pada mereka yang mengalami
kegagalan terapi (berdasarkan penilaian klinis atau CD4). Resistensi terjadi karena
HIV terus berproliferasi meskipun dalam pengobatan ART. Jika kegagalan terapi
terjadi dengan pemakaian NNRTI atau 3TC, hampir pasti terjadi resistensi terhadap
seluruh NNRTI dan 3TC. Memilih meneruskan NNRTI pada kondisi ini tidak ada
gunanya, tetapi meneruskan pemberian 3TC mungkin dapat menurunkan ketahanan
virus HIV.
• AZT dan d4T hampir selalu bereaksi silang dan mempunyai pola resistensi yang
sama, sehingga tidak dianjurkan mengganti satu dengan yang lainnya.
• Prinsip pemilihan paduan lini kedua:
o Pilih kelas obat ARV sebanyak mungkin.
o Bila kelas yang sama akan dipilih, pilih obat yang sama sekali belum dipilih
sebelumnya.
• Tujuan pemberian paduan lini kedua adalah untuk mencapai respons klinis dan
imunologis (CD4), tetapi responsnya tidak sebaik pada paduan lini pertama karena
sudah terjadi resistensi silang di antara obat ARV.
• Sebelum pindah ke paduan lini kedua, kepatuhan berobat harus benar-benar dinilai.
• Anak yang dengan paduan lini kedua pun gagal, terapi penyelamatan yang efektif
masih sulit dilakukan. Konsultasi dengan panel ahli diperlukan.
• Untuk paduan berbasis ritonavir-boosted PI, pemeriksaan lipid (trigliserida dan
kolesterol, jika mungkin LDL dan HDL) dilakukan setiap 6-12 bulan.

35
Pemantauan setelah mendapat terapi ARV

1Pasien anak yang diberi ARV dengan cepat bertambah berat dan tingginya sesuai
dengan pertumbuhan, karenanya penghitungan dosis harus dilakukan setiap kontrol.
Dosis yang terlalu rendah akan berpotensi menimbulkan resistensi.
2Obat yang diminum bersamaan harus dievaluasi setiap kali kunjungan; seperti apakah
kotrimoksazol diminum (pada anak yang terindikasi) atau ada obat lain yang potensial
berinteraksi dengan ARV (lampiran D).
3Kepatuhan minum obat ditanyakan dengan cara menanyakan dosis yang terlewat dan
waktu anak minum obat. Yang ideal adalah menghitung sisa tablet atau puyer.
4Pemantauan kadar hemoglobin (Hb) dan leukosit harus dilakukan bila anak menerima
AZT pada bulan 1 dan ke 3.
5
Pemeriksaan kimia darah lengkap meliputi enzim-enzim hati, fungsi ginjal, glukosa,
profil lipid, amilase, lipase dan elektrolit serum. Pemantauan bergantung pada gejala
dan obat ART yang dipilih. Pada remaja putri dengan CD4> 250 sel/mm3
36
pemantauan fungsi hati dalam 3 bulan pertama ART dipertimbangkan bila memakai.
NVP. Juga pada kasus anak dengan koinfeksi hepatitis B dan C atau penyakit hati
lainnya.

6Tes kehamilan harus dimintakan pada remaja putri yang akan mendapat EFV dengan
konseling yang tepat pada keluarga.
7Pemantauan CD4 dianjurkan dilakukan pada saat awal diagnosis dan setiap 6 bulan
sesudahnya. Bila pemeriksaan CD4 tidak tersedia, gunakan parameter klinis untuk
pemantauan.
8Saat ini pemeriksaan VL belum menjadi syarat untuk memulai ARV ataupun
pemantauan. Tetapi VL dapat digunakan untuk mendiagnosis HIV, memastikan
kegagalan klinis dan imunologis sebelum mengganti ke lini dua.
Pengamatan 6 bulan pertama pada kasus dalam terapi ARV merupakan masa
penting. Diharapkan terjadi perbaikan klinis dan imunologis tetapi juga harus
diwaspadai kemungkinan toksisitas obat dan/atau Immune Reconstitution Syndrome
(IRIS). Beberapa anak gagal mencapai perbaikan dan bahkan menunjukkan tanda
deteriorasi klinis.
Komplikasi yang terjadi pada minggu-minggu pertama umumnya lebih banyak
ditemukan pada anak defisiensi imun berat. Meskipun demikian tidak selalu berarti
respons yang buruk, karena untuk mengontrol replikasi HIV dan terjadinya perbaikan
sistim imun memerlukan waktu. Juga diperlukan waktu untuk membalik proses
katabolisme akibat infeksi HIV yang sudah terjadi selama ini, terutama pada anak
dengan “wasting”.
Selain itu ada anak yang menunjukkan eksaserbasi infeksi subklinis yang
selama ini sudah ada seperti contohnya TB, sehingga tampak seperti ada deteriorasi
klinis. Hal ini bukan karena kegagalan terapi tetapi karena keberhasilan
mengembalikan fungsi sistim imun (immune reconstitution).
Oleh karena itu penting untuk mengamati hasil terapi lebih lama sebelum
menilai efektivitas paduan pengobatan yang dipilih dan mempertimbangkan terjadinya
IRIS. Pada waktu penting ini yang perlu dilakukan adalah mendukung kepatuhan
berobat dan bukan mengganti obat.

37
Tatalaksana bila terjadi reaksi toksisitas

1. Tentukan beratnya toksisitas

2. Evaluasi obat yang diminum bersamaan, dan tentukan apakah toksisitas terjadi
karena (satu atau lebih) ARV atau karena obat lainnya

3. Pertimbangkan proses penyakit lain (seperti hepatitis virus pada anak yang timbul
ikterus pada ART)

4. Tata laksana efek simpang bergantung pada beratnya reaksi. Secara umum adalah:

• Derajat 4 : Reaksi yang mengancam jiwa (lampiran E): segera hentikan semua obat
ARV, beri terapi suportif dan simtomatis; berikan lagi ARV dengan paduan yang
sudah dimodifikasi (contoh: substitusi 1 ARV untuk obat yang menyebabkan
toksisitas) setelah pasien stabil

• Derajat 3 : Reaksi berat: ganti obat yang dimaksud tanpa menghentikan pemberian
ARV secara keseluruhan

• Derajat 2 : Reaksi sedang: beberapa reaksi (lipodistrofi dan neuropati perifer)


memerlukan penggantian obat. Untuk reaksi lain, pertimbangkan untuk tetap
melanjutkan paduan yang sekarang sedapatnya; jika tidak ada perubahan dengan
terapi simtomatik, pertimbangkan untuk mengganti 1 jenis obat ARV

• Derajat 1 : Reaksi ringan: memang mengganggu tetapi tidak memerlukan


penggantian terapi.

5. Tekankan pentingnya tetap meminum obat meskipun ada toksisitas pada reaksi
ringan dan sedang
6. Jika diperlukan hentikan pemberian ART apabila adaancaman reaksi yang
mengancam jiwa. Semua ART harus dihentikan sampai pasien stabil

38
Waktu terjadinya toksisitas pada penggunaan ARV

39
a. Anemia berat adalah Hb < 7,5 g/dl dan neutropenia berat dengan hitung neutrofil <
500/mm3. Singkirkan kemungkinan malaria pada daerah endemis.
b. Batasannya adalah intoleransi saluran cerna refrakter dan berat yang dapat
menghalangi minum obat ARV (mual dan muntah persisten).
c. ABC dipilih pada kondisi ini, tetapi bila ABC tidak tersedia boleh digunakan AZT.
d. Substitusi d4T umumnya tidak akan menghilangkan lipoatrofi. Pada anak ABC atau
AZT dapat dianggap sebagai alternatif.
e. Pankreatitis yang dikaitkan dengan 3TC/emtricitabine(FTC) dilaporkan pada orang
dewasa, namun sangat jarang pada anak.

40
Profilaksis Kotrimoksazol (Ctx) Untuk Pneumonia Pnemocystis Jiroveci

41
Penghentian terapi profilaksis
Profilaksis kotrimoksasol dapat dihentikan bila:
1. Untuk bayi dan anak yang terpajan HIV saja dan tidak terinfeksi (dibuktikan dengan
pemeriksaan laboratorium, baik PCR 2 kali atau antibodi pada usia sesuai),
profilaksis dapat dihentikan sesudah status ditetapkan (sesingkatnya umur 6 bulan
atau sampai umur 1 tahun)
2. Untuk anak yang terinfeksi HIV:
a. Umur < 1 tahun profilaksis diberikan hingga umur 5 tahun atau diteruskan
seumur hidup tanpa penghentian
b. Umur 1 sampai 5 tahun profilaksis diberikan seumur hidup.
c. Umur > 5 tahun bila dimulai pada stadium berapa saja dan CD4< 350 sel, maka
dapat diteruskan seumur hidup atau dihentikan bila CD4>350 sel/ml setelah
minurm ARV 6 bulan. Bila dimulai pada stadium 3 dan 4 maka profilaksis
dihentikan jika CD4 > 200 sel/ml.

42
Pemberian vaksin
Pemberian vaksinasi pada pasien tidak dilakukan sejak lahir. Terdapat
penelitian yang menunjukkan bahwa anak yang terkena infeksi HIV, masih
mempunyai kemampuan immunitas terhadap vaksinasi yang baik sampai
berumur 1-2 tahun. Kemampuan ini menurun setelah berusia di atas 2 tahun,
bahkan ada yang mengatakan menghilang pada umur 4 tahun. Karenanya
vaksinasi rutin sesuai dengan “Program Pengembangan Imunisasi” yang ada di
Indonesia dapat tetap diberikan, dengan pertimbangan yang lebih terhadap
pemberian vaksin hidup, terutama BCG dan Polio. 3,8
Sesuai rekomendasi WHO dan CDC, sebelum pasien diijinkan KRS
sebaiknya dilakukan :
1. Pemeriksaan laboratorium darah tepi lengkap (Hb, leukosit, trombosit,
hitung jenis leukosit)
2. Imunisasi rutin kecuali BCG, bila terdapat tanda klinis defisiensi imun
berat tidak diberikan vaksin polio hidup. 6,16

Pengendalian infeksi opurtinistik pada pasien dilakukan dengan terapi


cefotaxime dan cotrimoxazole tab, serta nebulisasi dengan PZ + Bisolvon®
untuk infeksi respiratorik, diare diterapi dengan L-Bio® dan rehidrasi cairan,
candidiasis oral dengan nistatin oral drop. Saran untuk tetap melanjutkan ARV
juga telah dilakukan. Setelah dirawat selama 6 hari kondisi klinis pasien
membaik. Tidak ada keluhan mencret, batuk, dan sesak, panas badan mulai
turun, sariwan berkurang, dan foto rontgen thorax kontrol menunjukkan
perbaikan. Saat diijinkan KRS, evaluasi hasil pemeriksaan laboraturium juga
menunjukkan perbaikan.

43
DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI. 2006. Situasi HIV/AIDS di Indonesia Tahun 1986-2006. Jakarta :


Pusat Data dan Informasi Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
2. Yani F.F, Arwin A.P, Supriyatno B, Setyanto D.B, Kurniati N, Kaswandani N.
2006. Penyakit Respiratorik pada Anak dengan HIV. Sari Pediatri. 8(3) : 188-
194.
3. Nelson, Behrman, Kliegman, et all. 2011. Ilmu Kesehatan Anak Nelson edisi
15 vol 1. Jakarta : EGC.
4. Pudjiadi AH, Hegar B, Hardyastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED,
penyunting. 2019. Pedoman pelayanan medis Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI). Edisi ke I. Jakarta: Badan Penerbit IDAI
5. Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Kajian Epidemiologi HIV Indonesia
tahun 2016. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
6. IDAI. 2014. Pedoman Penerapan Terapi HIV Pada Anak. Jakarta: Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia.
7. World Health Organization. 2014. Supplement To The 2013 Consolidated
Guidelines On The Use Of Antiretroviral Drugs For Treating And Preventing
HIV Infection. Recommendations for a public health approach. Geneva.
8. Newell, ML. 2001. Prevention of mother-to-child transmission of HIV:
challenges for the current decade. Bulletin of World Health Organization.
79(12) : 1138-1144.
9. Newell, ML. 2004. HIV Transmission through Breastfeeding : a Review of
Available Evidence. World Health Organization
10. Spensley et al. 2009. Preventing Mother-to-Child Transmission of HIV in
Resource-Limited Settings: The Elizabeth Glaser Pediatric AIDS Foundation
Experience. Am J Pub Health. 99(4) : 631-137.
11. Spensley et al. 2009. Preventing Mother-to-Child Transmission of HIV in
Resource-Limited Settings: The Elizabeth Glaser Pediatric AIDS Foundation
Experience. Am J Pub Health. 99(4) : 631-137.
44
12. Bauman, L.J., Silver, E.J., Draimin, B.H and Hudis J. 2007. Children of Mothers
With HIV/AIDS: Unmet Needs for Mental Health Services. Pediatrics. 120 :
e1141-47.

45