Anda di halaman 1dari 9

SANGADI TIBERIAS KECAMATAN POIGAR

KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

PERATURAN DESA TIBERIAS


NOMOR TAHUN 2019

TENTANG
KEAMANAN DAN KETERTIBAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SANGADI TIBERIAS,

Menimbang : a. bahwa dalam menjalankan aktifitas dan kehidupan


masyarakat Tiberias dibutuhan ketertiban dan
keamanan;
b. bahwa untuk menjamin kepastian hukum, ketertiban dan
keamanan perlu di atur dalam Peraturan Desa;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu menetapkan
Peraturan Desa tentang Ketertiban dan Keamanan;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang
Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulaesi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor
74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 1882);
2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor
82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5234 );
3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor
7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5495);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 224, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana
telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2015 tentang
Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun
2015 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5539);
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 111 Tahun 2014
tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 2091);

Dengan Kesepakatan Bersama


BADAN PERMUSYAWARATAN DESA TIBERIAS
dan
SANGADI TIBERIAS

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DESA TIBERIAS TENTANG KEAMANAN DAN


KETERTIBAN

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1

Dalam Peraturan Desa ini yang dimaksud dengan:

1. Desa adalah desa Tiberias yang selanjutnya disebut Desa, adalah


kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang
berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan,
kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat,
hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati
dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
3. Pemerintah Desa adalah Sangadi Tiberias dibantu perangkat Desa
sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.
4. Badan Permusyawaratan Desa yang selanjutnya disebut BPD adalah
lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya
merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan keterwakilan wilayah
dan ditetapkan secara demokratis.
5. Musyawarah Desa adalah musyawarah antara Badan Permusyawaratan
Desa, Pemerintah Desa, dan unsur masyarakat yang diselenggarakan
oleh Badan Permusyawaratan Desa untuk menyepakati hal yang bersifat
strategis.
6. Keamanan adalah kata dasar ”aman” artinya ”bebas, tentram”.
Keamanan berarti keadaan yang tidak kacau bebas dari kegaduhan.
Sedangkan Ketertiban adalah kata dasar ”tertib” artinya ”teratur”.

BAB II
PRILAKU MENGGANGGU KETERTIBAN DALAM DESA

Pasal 2

Setiap orang/group yang membuat keributan di jalan ataupun dalam


rumah dengan cara berteriak-teriak baik dalam keadaan sadar maupun
kurang /tidak sadar akan dikenakkan sanksi Rp 250.000 (dua ratus
lima puluh ribu rupiah)/orang.
Pasal 3
Bagi pemilik kendaraan roda dua yang memasang kenal pot resing dan
sengaja mondar-mandir dalam perkampungan sehingga terjadi gangguan
keamanan akan dikenakkan sanksi Rp 250.000 (dua ratus lima puluh
ribu rupiah).
Pasal 4

Apabila seseorang dalam keadaan sadar dan atau tidak sadar karena
emosi sehingga melontarkan caci-maki, menebar fitnah (mencemarkan
nama baik) kepada seseorang, atau rumpun keluarga maupun golongan
tertentu dan atau terhadap siapapun akan dikenakkan sanksi Rp
250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)

Pasal 5

Apabila ada seseorang melakukan provokator bersift langsung atau


melalui media sosial atas suatu permasalahan atau peristiwa/kejadian
dalam desa maupun dari luar desa akan dikenakkan sanksi menurut
tingkatan sebab akibat, yakni; antara Rp 100.000 (seratus ribu rupiah)
sampai Rp 250.000 dan apabila sampai pada terjadinya gangguan
kamtibmas (tindakan yang membabibuta) akan dikenakkan sanksi Rp
500.000 (lima ratus ribu rupiah).

Pasal 6

Setiap keluarga/Rumah Tangga yang bertengkar dan mengakibatkan


terjadinya gangguan Kamtibmas (permasalahan antartetangga
disekitarnya selanjutnya melaporkan kepada pemerintah), maka akan
dikenakkan sanksi Rp 250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Pasal 7

Adapun sanksi sebagaimana maksud pasal (2), (3), (4), (5) dan pasal (6)
diatas, dimasukkan dalam Buku Kas Desa

BAB III

TATA TERTIB MENGIKUTI ACARA HAJATAN

Pasal 8

Pada setiap acara perkawinan atau hajatan apapun dan pada malamnya
dilanjutkan dengan acara diskotik, tembang kenangan, masamper serta
hiburan lainnya, maka bagi siapapun yang akan masuk arena hiburan
dimaksud harus berpakaian rapi. Laki-laki maupun perempuan
menggunakan celana/rok panjang (tidak boleh hanya memakai singlet
dan celana pendek).

Pasal 9

Seseorang /Group baik dari dalam maupun dari luar desa yang ingin
mengikuti acara hajatan keluarga tertentu harus tertib, teratur, sopan
dan berwibawa.

Pasal 10

Terhadap mereka yang tidak mengindahkan dan sengaja mengabaikan


ketentuan sebagaimana maksud pasal (7) dan pasal (8) diatas, maka
dari pihak petugas kemanan akan mencegat untuk tidak boleh masuk
mengikuti acara bahkan jika pengabaian ini berpotensi terjadinya
gangguan kamtibmas, pemerintah desa segera menghentikan/menutup
acara dimaksud.

BAB III

PEMILIKAN HEWAN DAN TANGGUNG JAWABNYA

Pasal 10

Setiap keluarga yang memiliki hewan seperti : sapi, babi, kambing


harus dipelihara secara bertanggung jawab, diikat atau dikandang yang
teratur baik hewan anakan sampai yang sudah besar. Lokasi
pemeliharaan (kandang) hewan tersebut harus jauh (kurang lebih 100
meter) dari kompleks perumahan penduduk

Pasal 11

(1) Hewan (Sapi, Babi dan Kambing) yang sengaja dilepas, Pemerintah
dapat memberi waktu 3 (tiga) hari kepada pemiliknya untuk
menangkapnya. Dan jika waktu yang diberikan tidak diindahkan maka
petugas keamanan desa akan bertindak untuk mengamankannya pada
tempat tertentu.
(2) Mengenai hewan yang tertangkap oleh pihak keamanan, bagi pemilik
hewan tersebut dapat menghubungi pemerintah desa untuk
mengambilnya dengan memberikan uang tebusan biaya penangkapan.
(3) Besaran sanksi / tebusan penangkapan hewan sebagaimana ayat (3)
diatas, uraiannya sebagai berikut :
- Tebusan untuk hewan sapi usia 10 bulan ketas Rp 100.000
/ekor/hari. Usia 7 sampai 9 bulan Rp 75.000/ekor/hari.
- Tebusan untuk heman babi dan kambing usia 4 bulan keatas Rp.
50.000)/ekor/hari, usia 1 sampai 3 bulan Rp 25.000/ekor/hari
(4) Hewan : Sapi, Babi atau Kambing yang terlepas dari kandang atau
ikatannya lalu masuk area pekarangan/perkebunan orang lain dan
merusak tanaman, maka pemilik yang menjadi korban tidak harus
mencidrai/melukai hewan tersebut tetapi segera melapor kepada
pemerintah Desa (Kepala Dusun) untuk mengetahui pemilik hewan
tersebut sekaligus melakukan peninjauan lokasi dilanjutkan dengan
musyawarah secara kekeluargaan.
(5) Apabila pemilik kebun/tanaman secara emosional melakukan
tindakan terhadap hewan sebagaimana ayat (4) diatas yang
mengakibatkan hewan tersebut mengalami cidera (luka), maka pihak
pelaku harus memberikan biaya perawatan dengan berdasarkan
musyawarah kedua belah pihak.
(6) Musyawarah sebagai akibat tindakan sebagaimana maksud ayat (5)
diatas dilakukan secara kekeluargaan disaksikan oleh pemerintah desa
(Kepala Dusun)

Pasal 12

Pemilik hewan yang tidak mau bermusyawarah dengan pihak korban


mengenai kerusakan tanaman, maka pihak korban dengan
sepengetahuan Kepala Dusun segera mengusut persoalan kepada
Sangadi untuk gelar perkara selanjutnya.

Pasal 13

1. Besaran biaya ganti rugi tanaman yang rusak dengan ketentuan :


a. tanaman tahunan yang rusak sebagaimana pasal 12 diatas dan
masih memungkinkan dapat hidup, biaya ganti rugi sebesar Rp
50.000 sampai Rp 250.000.
b. Jika tanaman tahunan yang rusak dan kemudian langsung mati,
biaya ganti rugi tergantung keadaan usia tanaman tersebut
(antara Rp 100.000 sampai 500.000).

Pasal 14

Biaya tebusan penangkapan hewan sebagaimana maksud ayat (4) diatas


sasarannya dimasukkan dalam Buku Kas Desa.

BAB IV

HAK KEPEMILIKAN DAN KEWAJIBAN MEMBAYAR PAJAK

Pasal 15

Setiap warga negara/anggota masyarakat/keluarga berhak hidup aman,


tertib dan bekerja memanfaatkan waktu dengan baik untuk
mendapatkan segala kebutuhan (harta/kepemilikan), tetapi juga
berkewajiban untuk taat membayar pajak kepada negara.

Pasal 16

Harta/kekayaan sebagaimana maksud ayat (1) diatas berupa


harta/kekayaan yang tidak bergerak/bergerak, seperti; Pekarangan,
Rumah, lahan pertanian/perkebunan, Kendaraan bermotor dan lain-
lain.

Pasal 17

(1) Untuk mendapatkan perlindungan hukum serta jaminan keamanan


atas kepemilikan, maka setiap masyarakat/keluarga wajib
mendaftarkan semua kepemilikan baik berupa harta bawaan (warisan)
maun bersifat jual beli dan atau tukar-menukar, selanjutnya akan
dilaporkan kepada pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow dalam
rangka penetapan sebagai objek pajak (PBB/Pajak Kendaraan
bermotor).
(2) Harta/kepemilikan setiap masyarakat/keluarga yang sudah memiliki
SPPT atas objek pajak tertentu agar dapat dibayar setiap tahun
sebelum jatuh tempo, dan apabila terjadi penundaan pembayaran
maka akan dijadikan tunggakan dan wajib membayar pada tahun
berikutnya.
(3) Cara pembayaran pajak bisa secara langsung di kantor desa melalui
Sekretaris Desa dan atau pada saat petugas (Kepala Dusun)
melakukan penagihan di rumah wajib pajak.

Pasal 18

Sebagai ketentuan atas ketidak – patuhan dalam hal


melaporkan/mendaftarkan kepada pemerintah desa tentang kepemilikan
baik bersifat hibah, jual beli dan tukar menukar, maka jika pada satu
saat kepemilikan tersebut mengalami gangguan keamanannya
konsekuensinya diluar tanggung jawab pemerintah desa.

Pasal 19

(1) Setiap objek pajak terhutang yang tidak terbayarkan selama dua
tahun, berturut maka objek pajak tersebut tetap menjadi tunggakan.
(2) Tunggakan pajak akibat kelalaian atau sengaja tidak menghiraukan
atau karena objek pajak tersebut bermasalah, maka oleh pemerintah
akan menyampaikan : surat peringatan pertama dan memberikan
waktu 14 hari untuk membayarnya tetapi jika tidak diperhatikan akan
diberikan surat teguran keras. Pemberian surat peringatan sebulan
setelah jatuh tempo kewajiban waktu membayar pajak.
(3) Apabila peringataan pertama dan kedua tidak diindahkan, maka
pemilik objek pajak akan diundang oleh sangadi untuk memintakan
pertanggungjawaban.
(4) Permintaan pertanggungjawaban sebagaimana ayat (3) diatas tidak
juga dibuktikan dengan pembayaran/pelunasan tunggakan pajak
dimaksud, maka Sangadi langsung melakukan penghapusan semua
objek pajak dari pemilik tersebut.

Pasal 20

Tagihan pajak dilakukan oleh setiap Kepala Dusun dengan cara


melakukan perkunjungan kepada setiap penanggung pajak, dan untuk
penagihan/penuntasan tunggakan /pajak terhutang dapat saja
dilakukan penarikan pada saat pelayanan terhadap keperluan keluarga
(permintaan surat keterangan kelengkapan berkas untuk pengurusan
sesuatu, juga pada waktu melakukan hajatan suka, termasuk pada
kegiatan duka sekalipun).

BAB V

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM DAN NORMA AGAMA

Pasal 21

Setiap orang (anggota masyarakat) wajib menjunjung tinggi nilai-nilai


kemanusiaan dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang
bertentangan dengan hukum, adat istiadat serta kaidah/norma agama.

Pasal 22

(1) Mencuri adalah perbuatan melanggar hukum dan norma agama.


Kegiatan/perbuatan yang tergolong kasus pencurian dan pengambilan
hak kepemilikan orang lain, seperti : a mengambil / memungut buah
kelapa, durian, manga lansa, sayuran dan lain-lain tanpa
izin/sepengetahuan pihak pemilik akan diproses dalam sidang
Lembaga Adat Desa dan wajib membayar sanksi,

(2) Jika seseorang atau sekelompok tertangkap melakukan pencurian


sebagaimana maksud ayat (1) diatas dan didukung adanya bukti yang
faktual/aktual akan dikenakkan sanksi Rp 250.000 (dua ratus lima
puluh ribu rupiah) dan harus mengembalikan barang curian kepada
pemilik. (pemberian sanksi dimasukan dalam Buku Kas Desa).
(3) Jika barang curian sebagaimana maksud ayat (2) diatas sudah tidak
ada maka pihak pelaku tersebut harus mengembalikan dalam bentuk
uang sesuai nilai harga barang hasil curian.

(4) Tidak diizinkan membeli buah kelapa dilokasi kebun maupun


dirumah.

(5) Apabila ada yang sengaja mengabaikan ketentuan sebagaimana ayat


(4) diatas, maka tindakan pemerintah melakukan penyitaan sekaligus
membongkar tempat pengolahan kelapa tersebut dan pihak pemilik
tidak berhak menuntut ganti rugi.

(6) Tidak diizinkan memanfaatkan pohon enau (seho) secara


sembarangan untuk pengolahan bahan alcohol (cap tikus), kecuali ada
musyawarah baik dengan pemiliknya.
(7) Apabila ada yang secara sengaja mengabaikan ketentuan sebagaimana
ayat (6) diatas, maka dari pihak pemilik berhak melaporkan kepada
pemerintah sebagai bentu pencurian hak kepemilikan.

(8) Tidak diizinkan melakukan perjudian, seperti : Togel, Main Kartu dan
Sabung ayam.

(9)Jika ada sekelompok orang tertangkap melakukan kegiatan perjudian


sebagaiman maksud pasal (8) diatas, baik pelaku maupun pemilik
rumah sebagai TKP, maka proses penyelesaiannya dilimpahkan
kepihak kepolisian.

Pasal 23

(1) Perbuatan amoral adalah sangat bertentangan dengan hukum dan


kaidah/norma agama.

(2) Jika seseorang laki-laki maupun perempuan yang sudah berumah


tangga dengan cara sengaja melakukan amoral mengganggu rumah
tangga (suami atau istri orang lain) akan dikenakkan sanksi Rp
2.500.000 (dua juta lima ratus ribu rupiah) dan diadakan pembinaan
untuk tidak mengulangi kedua kali. Tetapi jika ternyata masih
melakukan perbuatan yang sama, sanksinya dua kali lipat menjadi Rp
5.000.000 (lima juta rupiah)

(3) Apabila pelaku terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
yang masih pacaran, maka kewajiban orang tua pihak perempuan
segera melaporkan kepada Lembaga Adat Desa untuk musyawarah
menuju pernikahan. Tetapi jika pihak laki-laki menolak perbuatannya
(tidak mau untuk menikah), maka kepadanya akan dikenakkan sanksi
Rp 15.000.000 (sebelas juta lima ratus ribu rupiah).

(4)Jika perbuatan amoral dilakukan dengan cara paksa/kekerasan oleh


seorang dan atau kelompok orang laki-laki terhadap seorang
perempuan, maka perbuatan tersebut termasuk “tindakan
pemerkosaan”, akan dikenakkan sanksi Rp 5.000.000 (lima juta
rupiah /orang), selanjutnya diproses ke pihak kepolisian.

(5) Bagi setiap pasangan suami istri yang hidup dalam status “Kumpul
Kebo” harus segera menyelesaikan permasalahan yang
menghambat proses pernikahan dan jika ternyata sengaja dan atau
tidak mau untuk menikah akan dikenakkan sanksi sebesar
Rp.2.000.000 (dua juta rupiah) dan diberikan kesempatan selama 3
(tiga) bulan untuk penyelesaiannya bersama pemerintah desa.

(6) Pemberian sanksi sebagaimana tersebut pada ayat (2), (3), (4), (5),
akan dimasukkan dalam Buku Kas Desa.

BAB V

KEAMANAN LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL

Pasal 24

(1) Untuk menjamin keamanan atas hak kepemilikan (berupa tanah


pakarangan), maka setiap pekarangan keluarga baik yang sudah
memiliki bangunan rumah tempat tinggal maupun pekarangan yang
masih kosong harus memiliki dokumen bukti kepemilikan yang sah
dan dapat dipertanggungjawabkan.
(2) Pohon jarak/pelindung bahkan tanaman tahunan sekalipun yang
tertanam pada batas pekarangan dan sudah sangat mengancam
kehidupan baik pribadi keluarga maupun tetangga harus ditebang.

(3) Apabila pohon/tanaman sebagaimana tersebut pada ayat (2) diatas


tidak dan atau sengaja diabaikan, maka apabila tanaman tersebut
tumbang yang mengakibatkan kerugian (adanya korman nyawa
manusia), resikonya menjadi tanggung jawab dari pemilik tanaman
tersebut.

(4) Pohon / tanaman tahunan yang harus ditebang (musnakan) karena


dianggap dapat mengancam rumah tempat tinggal penduduk tidak
harus memintakan ganti rugi dari pihak tetangga dan atau dari pihak
mananpun.

BAB V

PERILAKU MELANGGAR KESEPAKATAN /PERJANJIAN

Pasal 24
Kesepakatan adalah kesatuan bahasa, pikiran dan perasaan yang
terjadi secara terencana, terorganisir dan teryakini antara dua pihak.
Sedangkan Perjanjian adalah wujud kesadaran dan pengakuan dari
seseorang terhadap orang lain yang harus dipenuhi.

Pasal 25

Kesepakatan melakukan Transaksi Jual Beli

(1) Dalam hal melakukan transaksi jual beli, tukar –


menukar,pensewahan dan atau pinjam- meminjam
barang/uang dan benda/barang berharga lainnya seharusnya
diketahui oleh Pemerintah Desa / sangadi, minimal Kepala Dusun.

(2) Transaksi Jual beli tanah (pekarangan/ladang terutama yang


bersifat “Harta warisan”, hendaknya pihak pemilik/penjual
terdahulu harus menghubungi kepada kakak beradik, saudara
sepupu dan jika keduanya tidak bersedia (dibuktikan dengan surat
keterangan ketidak –siapannya) lalu kemudian boleh menghubungi
pihak lain yang berkehendak. Pemerintah berkewajiban melakukan
proses pengadministrasian sebagaimana tertuang dalam peraturan
yang berkaitan.

(3) Apabila maksud yang terkandung dalam pasal (2) diatas diabaikan
lalu kemudian terjadi gugatan pihak keluarga, maka dengan
sendirinya transaksi jual beli yang sudah dilakukan dapat
dibatalkan.
(4) Kegiatan transaksi tukar-menukar/pensewahan barang tergantung
musyawarah kedua belah pihak, terutama pensewahan berupa
lahan pertanian/tanaman tahunan (kelapa dll.) harus
sepengetahuan pemerintah desa/ Sangadi.

(5) Jika maksud yang terkandung dalam ayat (5) pada hal-hal yang
terdapat pengecualian sengaja diabaikan, maka jika kemudian hari
mengalami perubahan/kekeliruan adalah diluar tanggung jawab
pemerintah desa.
Pasal 26

Transaksi dalam hal Pinjam-meminjam Uang


(1) Kegiatan transaksi pinjam-meminjam uang adalah wajar. Tetapi
tidak berbentuk Rentenir. Kecuali dalam keadaan terpaksa
karena kebutuhan yang sangat mendasar sehingga pihak peminjam
punya iktiar memberikan jasah pinjaman, maka haruslah dibuat
dalam bentuk pernyataan diatas meterai dengan diketahui
pemerintah desa (minimal Kepala Dusun)).

(2) Iktiar memberikan jasah atas pinjaman sebagaimana maksud


bagian akhir ayat (7) diatas harus jelas mengenai besaran jasah dan
batasan waktu pengembaliannya.

Pasal 27

Tahapan Penyelesaian sengketa/perselisihan

Dalam hal terjadinya Perselisihan/Sengketa akibat menyalahi ketentuan


sebagaimana tersebut pada Bap V Pasal 28 Pasal 29 ayat (1), (2), (3), (4) dan
(5), dan pasal 30 ayat (1) dan (2) diatas, wajib diselesaikan berdasarkan azas
musyawarah kekeluargaan.

BAB VI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 28

Peraturan Desa ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan


Desa ini dengan penempatannya dalam Lembaran Desa.

Ditetapkan di Tiberias
pada tanggal 2019
SANGADI TIBERIAS,

DAN FERDY GAMPU

Diundangkan di Tiberias
pada tanggal 2019
SEKRETARIS DESA TIBERIAS,

RAIMON MIKAEL ELIAS

LEMBARAN DESA TIBERIAS TAHUN 2019 NOMOR