Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Dalam kehidupan sekarang ini memang sudah tidak rahasia lagi kalau
semakin memudar saja bentuk pemahaman etika sehingga sangat sulit untuk
ditemukan watak kesusilaan yang sesuai dengan sebagaimana mestinya. Tidak
terkecuali dikalangan intelektual dan kaum elit politik bangsa Indonesia tercinta ini.
Kehidupan berpolitik, ekonomi, dan hukum serta hankam (Pertahanan Keamanan)
merupakan beberapa ranah kerja etika. Masih banyak penyimpangan yang dilakukan
para elit politik dalam berbagai pengambilan keputusan yang seharusnya menjunjung
tinggi nilai-nilai Etika dan keadilan bagi seluruh warga negara. Sebagai contoh
Indonesia, Keadilan yang seharusnya mengacu pada Pancasila dan UUD 1945 yang
mencita-citakan rakyat yang adil dan makmur sebagaimana mana termuat dalam
Pembukaan UUD 1945 alinea 1 dan 2 hilanglah sudah ditelan kepentingan politik
pribadi.
Etika yang termasuk dalam kelompok filsafat pada hakikatnya merupakan
suatu nilai sehingga merupakan suatu sumber dari segala penjabaran norma baik
norma hukum, norma moral, maupun norma kenegaraan lainnya. Dalam Filsafat
terkandung didalamnya suatu pemikiran-pemikiran yang bersifat kritis, mendasar,
rasional, sistematis dan komprehensif (menyeluruh) dan sistem pemikiran ini
merupakan suatu nilai. Oleh karena itu suatu pemikiran filsafat tidak secara langsung
menyajikan norma-norma yang merupakan pedoman dalam tindakan atau suatu aspek
praksis melainkan suatu nilai-nilai yang bersifat mendasar. Sebagai suatu nilai, etika
merupakan dasar-dasar yang bersifat fundamental dan universal bagi manusia baik
dalam hidup bermasyarakat, berbangasa dan bernegara.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu etika kampanye ?
2. Bagaimana prinsip dasar etika kampanye ?
3. Bagaimana penerapan etika kampanye di Indonesia ?
4. Apa manfaat etika kampanye dalam pelaksanaan system kamapanye
politik di Indonesia ?

1.3 TUJUAN PENULISAN


1. Mampu menjelaskan dan mendeskripsikan pengertian etika kampanye.
2. Mampu menjelaskan prinsip dasar etika kampanye.
3. Mampu menjelaskan penerapan etika kampanye yang ada di Indonesia.
4. Mampu menjelaskan manfaat etika kampanye dalam pelaksanaan system
kampanye politik di Indonesia.

2
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 ETIKA
Bertens dan Keban, menggambarkan konsep etika dengan beberapa arti salah
satu diantaranya dan biasa dikatakan orang adalah kebiasaan, adat, atau akhlak dan
watak.
Burhanudin, etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai
dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku
manusia baik secara pribadi maupun sebagai kelompok.
Poedjawijatna, mengatakan bahwa etika merupakan cabang dari filsafat. Etika
mencari kebenaran dan sebagai filsafat ia mencari kebenaran yang sedalam-
dalamnya. Sebagai tugas tertentu bagi etika, ia mencari ukuran baik-buruknya bagi
tingkah laku manusia. Etika hendak mencari, tindakan manusia manakah yang tidak
baik atau tidak buruk.
Magnis Suseno, mengatakan bahwa etika adalah sebuah ilmu dan bukan
sebuah ajaran, yang memberi kita norma tentang bagaimana kita harus hidup adalah
moralitas.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan
(1988), disebut (1) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak
dan kewajiban moral, (2) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak,
dan (3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh golongan atau masyarakat.
Baratawijaya mengatakan bahwa etika adalah ilmu tentang asas asas akhlak
dan moral yang dibagi dalam ruang lingkup umum dan khusus.

3
2.2 KAMPANYE
Kampanye adalah sebuah tindakan dan usaha yang bertujuan untuk
mendapatkan pencapaian dukungan,usaha kampanye bisa dilakukan oleh perorangan
atau sekelompok orang yang terorganisir untuk melakuakan pencapaian suatu proses
pengambilan keputusan didalam suatu kelompok,kampanye biasa juga dilakukan
guna memengaruhi,penghambatan,pembelokan pencapaian.

2.3 ETIKA KAMPANYE


Setelah penjelasan kedua poin di atas, maka tibalah pada intisari penting, yaitu
etika kampanye. Secara substantif pengertian etika kampanye tidak dapat dipisahkan
dengan subjek sebagai pelaku etika, yakni manusia. Oleh karena itu etika kampanye
berkaitan erat dengan bidang pembahasan moral. Hal ini berdasarkan kenyataan
bahwa pengertian “moral” senantiasa menunjuk kepada manusia sebagai subjek etika.
Dapat disimpulkan bahwa dalam hubungannya dengan masyarakat bangsa maupun
negara, etika kampanye tetap meletakkan dasar fundamental manusia sebagai
manusia. Dasar ini lebih meneguhkan akar etika kampanye bahwa kebaikan
senantiasa didasarkan kepada hakikat manusia sebagai makhluk beradab dan
berbudaya.

2.4 ETIKA DALAM BERKAMPANYE


Dalam kontek kampanye maka sangat diperlukan etika baik peraturan yang
mengatur yang bersumber dari UU maupun etikan budaya/kearifan local. Etika adalah
hal yang sulit di jelaskan dengan cara yang pasti. Dalam konteks umum, etika (ethics)
adalah kode prinsip dan nilai moral yang membangun perilaku seseorang atau sebuah
kelompok yang berhubungan dengan benar dan salah.

Dilema etis ( ethical dilemma) muncul dalam situasi yang menyangkut benar
atau salah ketika nilai-nilai menjadi pertentangan.Individu yang harus membuat
pilihan etis dalam sebuah organisasi disebut agen moral. Berikut ini adalah dilema

4
yang mungkin akan di hadapi manajer dalam sebuah perusahaan. Pendekatan
individualisme (individualism approach) mengatakan bahwa suatu tindakan dianggap
pantas ketika tindakan tersebut mengusung kepentingan terbaik jangka panjang
seorang individu.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2009


Tentang Tata Cara Bagi Pejabat Negara Dalam Melaksanakan Kampanye Pemilihan
Umum dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah dan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, Pejabat Negara mempunyai hak
politik untuk ikut serta dalam kampanye pemilihan umum sepanjang berstatus
sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat, calon anggota Dewan Perwakilan
Daerah, calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, calon Presiden, calon
Wakil Presiden, anggota Tim Kampanye, atau sebagai anggota Pelaksana Kampanye.

Bahwa untuk menciptakan keseimbangan antara hak politik Pejabat Negara


dalam berkampanye dan kewajiban memelihara keberlangsungan tugas
penyelenggaraan negara dan pemerintahan daerah, perlu mengatur pelaksanaan
kampanye pemilihan umum bagi Pejabat Negara; c. bahwa berdasarkan pertimbangan
sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, serta sesuai ketentuan Pasal 39 ayat
(3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara
Bagi Pejabat Negara Dalam Melaksanakan Kampanye Pemilihan.

Tujuan dibuatnya PP ini sesuai dengan Pasal 19 Ayat (1) Untuk menjaga
etika penyelenggaraan pemerintahan, maka Gubernur atau Wakil Gubernur, Bupati
atau Wakil Bupati, Walikota atau Wakil Walikota akan dicalonkan oleh partai politik
atau gabungan partai politik sebagai calon Presiden atau calon Wakil Presiden harus
meminta izin terlebih dahulu atas pencalonannya kepada Presiden.

5
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan materi diatas dapat disimpulkan bahwa etika kampanye
tidak dapat dipisahkan dengan subjek sebagai pelaku etika yaitu manusia. Fungsi
etika politik dalam masyarakat terbatas pada penyediaan alat-alat teoritis untuk
mempertanyakan serta menjelaskan legitimasi politik secara bertanggung jawab.
Manfaat etika kampanye bagi pelaksanaan system politik di Indonesia antara lain,
Pertama, etika diperlukan dalam hubungannya dengan relasi antara politik dan
kekuasaan. Karena kekuasaan cenderung disalahgunakan maka etika sebagai prinsip
normatif/etika normatif (bukan metaetika) sangat diperlukan. Etika di sini ada sebagai
sebuah keharusan ontologis. Dengan memahami etika politik, para pejabat tidak akan
menyalahgunakan kekuasaannya. Kedua, etika kampanye bertujuan untuk
memberdayakan mekanisme kontrol masyarakat terhadap pengambilan kebijakan
para pejabat agar tidak menyalahi etika. Masyarakat sebagai yang memiliki negara
tidak bisa melepaskan diri dalam mengurus negara. Ketiga, para pejabat dapat
bertanggung jawab atas berbagai keputusan yang dibuatnya baik selama ia
menduduki posisi tertentu maupun setelah meninggalkan jabatannya.
Bisa dikatakan, tujuan utama etika kampanye adalah mengarahkan
kehidupan politik yang lebih baik, baik bersama dan untuk orang lain, dalam rangka
membangun institusi-institusi politik yang adil. Etika kampanye membantu untuk
menganalisa korelasi antara tindakan individual, tindakan kolektif, dan struktur-
struktur politik yang ada. Penekanan adanya korelasi ini menghindarkan pemahaman
etika kampanye yang diredusir menjadi hanya sekadar etika individual perilaku
individu dalam bernegara.

6
3.2 SARAN
Alangkah baiknya kita sebagai warga Negara Indonesia menjadikan Pancasila
sebagai salah satu acuan dalam memahami makna yang terletak pada nilai-nilai dari
masing-masing sila sebagai satu kesatuan yang tak untuk memahami dan mendalami
nilai nilai Pancasila dalam etika kampanye berpolitik itu semua terkandung dalam
kelima sila Pancasila. Dan juga menjadikannya sebagai salah satu filter dalam
melakukan suatu perbuatan

7
DAFTAR PUSTAKA

Suseno, Magnis Franz, 1990, Etika Dasar. Yogyakarta: Kanisius


Syafie Kencana Inu, dkk. 1999. Ilmu Administrasi Publik. Jakarta : Reneka Cipta
Pasolong Harbani, 2007. Teori Administrasi Publik. Bandung : Alfabeta
Budiardjo Miriam, 2007. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta : Gramedia
http://sarifudin-blogku.blogspot.co.id/2014/06/etika-kampanye-dalam-berpolitik.html
http://juniarwibisana.blogspot.co.id/2015/05/contoh-makalah-etika-politik_22.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Kampanye