Anda di halaman 1dari 41

BAB I

STATUS PASIEN
1.1. IDENTITAS
Nama : Tn. A
Tanggal Lahir : 19 Agustus 1992
Umur : 26 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Hindu
Suku : Bali
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Pendidikan : Sarjana
Alamat : Br. Batas Kaja Desa Sibang Gede Badung

1.2. ANAMNESIS
Alloanamnesis dengan ibu kandung pasien pada tanggal 16 Mei 2019

Keluhan Utama:
Kulit seluruh tubuh menghitam dan terkelupas.

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien datang ke IGD RSD Mangusada pada tanggal 8 Mei 2019 dengan keluhan
kulit seluruh tubuh menghitam dan terkelupas sejak 2 hari SMRS. Awalnya timbul bintik-
bintik merah berisi cairan pada bibir. Kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Ukuran bintik-
bintik awalnya seperti titik kemudian membesar dengan cepat. Tidak disertai rasa gatal, nyeri,
dan rasa terbakar. Selain timbul gelembung-gelembung di kulit, pasien juga mengeluh kedua
mata merah dan sulit untuk membuka kedua mata karena terdapat kotoran yang mengering.
Sebelumnya pasien mengalami demam selama 5 hari SMRS. Demam dirasakan terus
menerus hingga menggigil. Pasien sudah berobat ke dokter klinik dan diberikan obat
Paracetamol dan Gentamisin tetes mata, namun setelah 2 hari tidak sembuh dan mulai
muncul bercak-bercak merah yang tidak meninggi dan tidak gatal pasien berobat kembali ke
Puskesmas dan diberikan obat Cefadroxil, Acyclovir, Paracetamol, dan Na-sulfasetamida 5%
tetes mata. Pasien menyangkal pernah mengalami kejang, nyeri kepala, maupun batuk pilek
saat demam.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Pasien tidak pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya. Riwayat trauma pada
mata disangkal.

Riwayat Pengobatan:
Pasien minum obat Paracetamol sebelumnya. Setelah muncul gejala kulit dan demam
terus menerus pasien dibawa ke Puskesmas dan mendapatkan obat Cefadroxil, Acyclovir,
Paracetamol, dan Na-sulfasetamida 5% tetes mata.
Pasien memiliki riwayat operasi amandel saat usia 18 tahun di RSUP Sanglah.

Riwayat Penyakit Sistemik/Lainnya:


Riwayat hipertensi, jantung, asma, diabetes mellitus disangkal.

Riwayat Alergi:
Pasien alergi obat golongan penisilin saat operasi amandel usia 18 tahun, saat itu
timbul bercak-bercak kemerahan pada seluruh tubuh. Riwayat alergi makanan atau minuman
disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Ibu dan kakak kandung pasien memiliki riwayat alergi obat golongan penisilin.

Riwayat Sosial Ekonomi:


Pasien tinggal bersama orangtuanya dalam satu rumah. Pasien belum menikah dan
aktif bekerja di RS Bali Mandara sebagai pegawai administrasi.

1.3. PEMERIKSAAN FISIK


FISIK UMUM
Keadaan Umum : Sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital : Tekanan Darah : 128/70 mmHg
Nadi : 110 x/menit
Nafas : 25 x/menit
Suhu : 39, 50C

STATUS OPTHALMOLOGIS
OD PEMERIKSAAN OS
>2/60 Visus (bedside) >2/60
Tidak dilakukan TIO Tidak dilakukan
Krusta (+) Palpebra Krusta (+)
Sekret (+) Sekret (+)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Hiperemis (+) Konjungtiva Hiperemis (+)
Sekret (+) Sekret (+)
Injeksi konjungtiva (+) Injeksi konjungtiva (+)
Edema (-) Edema (-)
Folikel (-) Folikel (-)
Papil (-) Papil (-)
Sikatriks (-) Sikatriks (-)
Injeksi siliar (-) Injeksi siliar (-)
Perdarahan (-) Perdarahan (-)
Pterigium (-) Pterigium (-)
Jernih Kornea Jernih
Permukaan rata Permukaan rata
Sikatriks (-) Sikatriks (-)
Ulkus (-) Ulkus (-)
Dalam COA Dalam
Warna coklat Iris Warna coklat
Bulat Pupil Bulat
Letak sentral Letak sentral
Refleks pupil langsung dan tak Refleks pupil langsung dan tak
langsung :+/+ langsung : +/+
Jernih Lensa Jernih
Sulit dinilai Gerakan bola mata Sulit dinilai
Sulit dinilai Funduskopi Sulit dinilai
Sulit dinilai Tes Konfrontasi Sulit dinilai

Status lokalis kulit:


Terdapat area epidermolysis pada hampir seluruh permukaan tubuh, Nikolsky Sign
(+) pada permukaan kulit wajah, leher, dada, punggung dan ekstremitas.

1.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG


X-Foto Thorax AP 08-05-2019
Kesan: Aspect bronchitis, jantung dalam batas normal
Usulan Penunjang: Pemeriksaan pewarnaan gram sekret

1.5. DIAGNOSA BANDING


- Blefarokonjungtivitis okuli dekstra sinistra ec Steven Johnson Syndrome
- Blefaritis ulseratif okuli dekstra sinistra ec Steven Johnson Syndrome
- Konjungtivitis okuli dekstra sinistra
- Simblefaron okuli dekstra sinistra ec Steven Johnson Syndrome
1.6. DIAGNOSA KERJA
Blefarokonjungtivitis okuli dekstra sinistra ec Steven Johnson Syndrome (SJS)

1.7. TERAPI
- IVFD NS 18 tpm
- Cendo Lyteers eye drop 1 tetes ODS tiap 8 jam
- Gentamicin eye drop 1 tetes ODS tiap 8 jam
- Dipenhidramin 10mg/12jam IV
- Desoxymetasone zalf tiap 12 jam
- Deksametasone 5mg/8jam IV
- Bersihkan kelopak mata
- Kompres air hangat seluruh tubuh

1.8. PROGNOSIS
Ad Vitam : Dubia ad Bonam
Ad Fungsionam : Dubia ad Bonam
Ad Sanationam : Dubia ad Bonam

1.9. FOLLOW UP

Tangga Keluhan Diagnosis Terapi


l
9/5/19 S: kulit kemerahan (+), mata Blefarokonjungtiviti  C. Lyteers eye
merah (+) s ODS ec SJS drop 6x1 ODS
O:  Gentamicin eo
KU: sedang 3xODS
Kes: compos mentis
TD: 128/76 mmHg
RR: 25x/menit
Nadi: 125x/menit
T: 39,0 oC
Status opthalmologis:
Palpebra: Sekret (+), krusta
(+) hiperemi (+) ODS
Konjungtiva: Injeksi
konjungtiva (+) ODS
Kornea: Jernih ODS
10/5/19 S: kulit kemerahan (+), mata Blefarokonjungtiviti  C. Lyteers eye
merah (+) s ODS ec SJS drop 6x1 ODS
O:  Gentamicin eo
KU: sedang 3xODS
Kes: compos mentis
TD: 120/76 mmHg
RR: 26x/menit
Nadi: 110x/menit
T: 37,0 oC
Status opthalmologis:
Palpebra: Sekret (+), krusta
(+) hiperemi (+) ODS
Konjungtiva: Injeksi
konjungtiva (+) ODS
Kornea: Jernih ODS
13/5/19 S: kulit kemerahan (+),mata Blefarokonjungtiviti  C. Lyteers eye
lengket dan sulit dibuka (+) s ODS ec SJS drop 6x1 ODS
O:  P-pred eye drop
KU: sedang 6x1 ODS
Kes: compos mentis  Minta keluarga
TD: 144/78 mmHg untuk membeli
RR: 27x/menit bandage contact
Nadi: 115x/menit lens
T: 37,0 oC
Status opthalmologis:
Palpebra: Sekret (+), hiperemi
(+) ODS
Konjungtiva: Injeksi
konjungtiva (+) ODS, sde
Kornea: Jernih ODS
Kesan: pneumonia dekstra
14/5/19 S: kulit kemerahan (+), Blefarokonjungtiviti  C. Lyteers eye
kotoran mata (+) s ODS ec SJS drop 6x1 ODS
O:  P-pred eye drop
KU: sedang 6x1 ODS
Kes: compos mentis  Release membran
TD: 134/80 mmHg  Bandage contact
RR: 23x/menit lens
Nadi: 110x/menit
T: 37,0 oC
Status opthalmologis:
Palpebra: Sekret (+), hiperemi
(+), membrane ODS
Konjungtiva: Injeksi
konjungtiva (+), BCL ODS
Kornea: Jernih ODS
Hasil laboratorium:
Ureum: 83 mg/dL
Creatinine: 0.9 mg/dL
Na: 140 mmol/L
K: 4.7 mmol/L
Cl: 114 mmol/L
16/5/19 S: kulit kemerahan (+), Blefarokonjungtiviti  C. Lyteers eye
kotoran mata (+) s ODS ec SJS drop 6x1 ODS
O:  P-pred eye drop
KU: sedang 6x1 ODS
Kes: compos mentis  Release membran
TD: 143/72 mmHg  Bandage contact
RR: 23x/menit lens
Nadi: 115x/menit
T: 37,2 oC
Status opthalmologis:
Palpebra: Sekret (+), hiperemi
(+), krusta (+) ODS
Konjungtiva: Injeksi
konjungtiva (+), BCL ODS
Kornea: Jernih ODS
Hasil Laboratorium:
Na : 133 mmol/L
K : 5.3 mmol/L
Cl : 104 mmol/L
17/5/19 S: kulit kemerahan (+), Blefarokonjungtiviti  C. Lyteers eye
kotoran mata (+) s ODS ec SJS drop 6x1 ODS
O:  P-pred eye drop
KU: sedang 6x1 ODS
Kes: compos mentis  Release membran
TD: 170/72 mmHg  Bandage contact
RR: 25x/menit lens
Nadi: 110x/menit
T: 37,0 oC
Status opthalmologis:
Palpebra: Sekret (+), krusta
(+) ODS
Konjungtiva: Injeksi
konjungtiva (+), BCL ODS
Kornea: Jernih ODS
Hasil Laboratorium:
GDS: 207 mg/dL
Na : 133 mmol/L
K : 5.3 mmol/L
Cl : 104 mmol/L
pH : 7.44
pCO2 : 48 mmHg
pO2 : 103 mmHg
HCO3 : 32 mmol/L
CO2 total : 32 mmol/L
Mikrobiologi :
Specimen: sputum, sputum
Isolate 1: klebsiella
pneumonia ss.pneumoniae
Pewarnaan gram:
Specimen: sputum, selang
suction
Leukosit: 2+
Epitel: 1+
Bakteri batang gram (-): 1+
Bakteri coccus gram (+): 1+
18/5/19 S: kulit kemerahan (+), Blefarokonjungtiviti  C. Lyteers eye
kotoran mata (+) s ODS ec SJS drop 6x1 ODS
O:  P-pred eye drop
KU: sedang 6x1 ODS
Kes: compos mentis  Release membran
TD: 150/84 mmHg  Bandage contact
RR: 25x/menit lens
Nadi: 104x/menit
T: 36,0 oC
Status opthalmologis:
Palpebra: Sekret (+), krusta
(+) ODS
Konjungtiva: Injeksi
konjungtiva (+), BCL ODS
Kornea: Jernih ODS
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Palpebra

Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta mengeluarkan
sekresi kelenjarnya yang membentuk tear film di depan kornea serta menyebarkan tear film
yang telah diproduksi ke konjungtiva dan kornea. Palpebra merupakan alat penutup mata
yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan pengeringan
mata, karena kelopak mata juga berfungsi untuk menyebarkan tear film ke konjungtiva dan
kornea.1,2

Gambar 1 : Anatomi kelopak mata 3


Kelopak mempunyai lapisan kulit yang tipis pada bagian depan sedang di bagian
belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal.1
Pada kelopak terdapat bagian-bagian:
1. Satu lapisan permukaan kulit. Tipis dan halus, dihubungkan oleh jaringan ikat yang
halus dengan otot yang ada dibawahnya, sehingga kulit dengan mudah dapat
digerakkan dari dasarnya. Dengan demikian, maka edema dan perdarahan mudah
terkumpul disini, sehingga menimbulkan pembengkakan palpebra.1
2. Kelenjar seperti kelenjar sebasea, kelenjar moll atau kelenjar keringat, kelenjar zeis
pada pangkal rambut, dan kelenjar meibom pada tarsus dan bermuara pada tepi
kelopak mata.1
3. Otot seperti:1,2
a. M. Orbicularis oculi yang berjalan melingkar di dalam kelopak atas dan bawah,
dan terletak di bawah kulit kelopak. M. Orbicularis berfungsi menutup bola mata
yang dipersarafi N. facialis.
b. M. Rioland. Merupakan otot orbicularis oculi yang ada di tepi margo palpebra.
Bersamaan dengan M. Orbicularis oculi berfungsi untuk menutup mata.
c. M. Levator palpebrae berjalan kearah kelopak mata atas, berorigo pada annulus
foramen orbita dan berinsersi pada lempeng tarsus atas dengan sebagian
menembus M. Orbicularis Oculi menuju kulit kelopak bagian tengah. Bagian
kulit yang tempat insersi M. Levator palpebrae terlihat sebagai sulcus palpebra.
Otot ini dipersarafi oleh n. III, yang berfungsi mengangkat kelopak mata atau
membuka mata. Kerusakan pada saraf ini atau perubahan - perubahan pada usia
tua menyebabkan jatuhnya kelopak mata (ptosis).
d. M. Mulleri, terletak di bawah tendon dari M. Levator palpebrae. Inervasinya
oleh saraf simpatis, fungsi M. Levator palbebrae dan M. Mulleri adalah untuk
mengangkat kelopak mata.
4. Di dalam kelopak terdapat tarsus yang merupakan jaringan ikat dengan kelenjar di
dalamnya atau kelenjar Meibom yang bermuara pada margo palpebra.
5. Septum orbita yang merupakan jaringan fibrosus berasal dari rima orbita merupakan
pembatas isi orbita dengan kelopak depan.
6. Tarsus ditahan oleh septum orbita yang melekat pada rima orbita pada seluruh
lingkaran permukaan orbita. Tarsus terdiri atas jaringan ikat yang merupaka jaringan
penyokong kelopak dengan kelenjar Meibom (40 buah dikelopak atas dan 20 buah di
kelopak bawah).
7. Pembuluh darah yang memperdarainya adalah a. palpebrae.
8. Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal n.V, sedangkan
kelopak bawah oleh cabang ke II saraf ke V.
Konjungtiva tarsal yang terletak dibelakang kelopak hanya dapat dilihat dengan
melakukan eversi kelopak. Konjungtiva tarsal melalui forniks menutupi bulbus okuli.
Konjungtiva merupakan membrane mukosa yang mempunyai sel goblet yang menghasilkan
musin.4,5

2.2. Histologi dan Fisiologi Palpebra

Bola mata terletak di dalam tulang orbita dan terbuka ke sebelah anterior, ditutup oleh
kelopak mata bagian atas dan bawah, jika keduanya merapat bertemu pada fissura palpebra.
Palpebra menutup permukaan anterior kornea dan melipat pada bagian tepinya yang
kemudian melapisi permukaan dalam palpebra. Lipatan di superior dan inferior disebut fornix
konjungtiva. Ketika kelopak mata menutup terbentuk sakus konjungtiva, merupakan ruang
sebelah anterior mata dan terisi sedikit cairan.6
Tiap kelopak mata terdiri atas lempeng jaringan ikat dan otot skelet di tengah sebagai
penyokong, disebelah luar dilapisi oleh kulit dan disebelah dalam dilapisi oleh membran
mukosa (konjungtiva palpebra). Kulit disini tipis mempunyai rambut halus, kelenjar keringat,
kelenjar sebasea dan dermis yang mengadung banyak serat elastin yang halus. Dermis sedikit
menebal di tepi kelopak mata dan mengandung tiga atau empat deretan rambut-rambut yang
kaku disebut bulu mata, folikelnya terdapat sampai dermis. Bulu mata mengalami pergantian
setiap 100 – 150 hari. Terdapat kelenjar sebasea kecil berhubungan dengan bulu mata,
sedangkan M. Arektor pili tidak ada.7
Di bawah kulit terdapat lapisan otot skelet M. Orbicularis oculi (bagian terbesar) dan
lebih ke dalam lagi terdapat lapisan jaringan ikat (fasia palpebra) yang merupakan lanjutan
tendo M. Levator paplebrae. Juga terdapat lapisan otot polos yang tipis di tepi atas palpebra
superior yaitu M. Tarsalis superior Müller, melekat pada tepi tarsus. Di belakang folikel bulu
mata terdapat M. Siliaris Riolani (muskular skelet).7
Sebelah belakang lapisan otot terdapat lapisan fibrosa yang tipis di bagian perifer
disebut septum orbital dan lempeng tarsus. Tarsus merupakan lempeng jaringan ikat yang
padat melengkung mengikuti bentuk bola mata, berbentuk seperti huruf D yang bagian
horizontalnya sesuai dengan tepi palpebra. Tarsus pada palpebra superior lebarnya 10 -12
mm, sedangkan tarsus pada palpebra inferior lebarnya 5 mm. Pada kedua tarsus ini terbenam
sebaris kelenjar sebasea yang sangat besar yaitu kelenjar tarsalis Meibom. Permukaan
posterior tarsus menjadi satu dengan konjungtiva palpebra. Bentuk palpebra dipertahankan
oleh tarsus ini.6
Epitel konjungtiva berlapis silindris dengan sel – sel goblet, ketebalannya bervariasi
tergantung pada letaknya. Konjungtiva bulbi di tepi kornea, epitelnya menjadi berlapis
gepeng identik dengan epitel kornea. Pada fornix konjungtiva epitelnya lebih tebal.6
Gambar 2 : Histologi palpebra2
M. Orbicularis oculi jalannya melingkar, mendapat persarafan dari N. VII dan
berfungsi untuk menutup kelopak mata. M. Levator palpebra dipersarafi oleh N. III melekat
pada tarsus dan kulit, berfungsi untuk mengangkat palpebra superior. M. Tarsalis superior
Müller dipersarafi oleh saraf simpatis.6
Ada 3 jenis kelenjar pada palpebra, yaitu Kelenjar Meibom adalah kelenjar sebasea
yang panjang dalam lempeng tarsus. Kelenjar ini tidak berhubungan dengan folikel rambut.
Pada palpebra superior ada sekitar 25 dan pada palpebra inferior ada sekitar 20, tampak
sebagai garis vertikal warna kuning di sebelah dalam konjungtiva palpebra. Saluran keluar
kelenjar Meibom bermuara ke tepi palpebra, merupakan satu deretan pada peralihan antara
kulit dan konjungtiva. Ke dalam saluran utama ini bermuara beberapa saluran yang pendek
dari alveoli kelenjar sebasea. Kelenjar Meibom menghasilkan sebum yang membentuk apisan
berminyak pada permukaan air mata, berfungsi untuk mencegah penguapan air mata.6
Kelenjar Moll merupakan kelenjar apokrin tak bercabang, terletak di antara dan di
belakang folikel – folikel bulu mata. Pars terminalis kelenjar Moll tidak berkelok-kelok dan
saluran keluarnya bermuara ke folikel rambut. Fungsi kelenjar ini tidak diketahui.6
Kelenjar Zeiss lebih kecil, merupakan modifikasi kelenjar sebasea dan berhubungan
dengan folikel rambut mata.7

2.3. Definisi Blefaritis

Infeksi kelopak atau blefaritis adalah radang yang sering terjadi pada kelopak mata
(palpebra) baik itu letaknya tepat di kelopak ataupun pada tepi kelopak. Blefaritis dapat
disebabkan oleh infeksi ataupun alergi yang biasanya berjalan kronis atau menahun. Blefaritis
alergi dapat terjadi akibat debu, asap, bahan kimia iritatif, dan bahkan bahan kosmetik,
sedangkan Blefaritis infeksi bisa disebabkan oleh kuman streptococcus alfa atau beta,
pneumococcus, pseudomonas, demodex folliculorum dan staphylococcus (melalui demodex
folliculorum sebagai vektor).1
Gambar 3 : Radang pada kelopak mata (blefaritis)8

2.4. Epidemiologi Blefaritis

Blefaritis adalah gangguan mata yang umum di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.
Hubungan yang tepat antara blefaritis dan kematian tidak diketahui, tetapi penyakit dengan
angka kematian yang dikenal, seperti lupus eritematosus sistemik, mungkin terdapat blefaritis
sebagai bagian dari gejala yang ditemukan. Morbiditas termasuk kehilangan fungsi visual,
kesejahteraan, dan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari. Proses
penyakit dapat mengakibatkan kerusakan pada pelupuk mata dengan trichiasis, entropion
notching, dan ectropion. Kerusakan kornea dapat mengakibatkan peradangan, jaringan parut,
hilangnya kehalusan permukaan, dan kehilangan kejelasan penglihatan. Jika peradangan yang
parah berkembang, perforasi kornea dapat terjadi. Tidak ada studi yang diketahui
menunjukkan perbedaan ras dalam kejadian blefaritis. Rosacea mungkin lebih umum di orang
berkulit putih, meskipun temuan ini mungkin hanya karena lebih mudah dan sering
didiagnosis pada ras ini.8
Blefaritis biasanya dilaporkan sekitar 5% dari keseluruhan penyakit mata yang ada pada
rumah sakit (sekitar 2-5% penyakit blefaritis ini dilaporkan sebagai penyakit penyerta pada
penyakit mata). Blefaritis lebih sering muncul pada usia tua tapi dapat terjadi pada semua
umur.9
Belum ditemukan penelitian yang dirancang untuk mengetahui perbedaan dalam
insiden dan klinis blefaritis antara jenis kelamin. Blefaritis seboroik lebih sering terjadi pada
kelompok usia yang lebih tua dengan usia rata-rata adalah 50 tahun.8 Akan tetapi apabila
dibandingkan dengan bentuk lain, blefaritis staphylococcal ditemukan pada usia lebih muda
(42 tahun) dan sebagian besar adalah wanita (80%).8

2.5. Etiologi Blefaritis


Blefaritis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, alergi, kondisi lingkungan,
atau mungkin terkait dengan penyakit sistemik:1
a. Blefaritis inflamasi terjadi akibat peningkatan sel radang kulit di sekitar kelopak. Infeksi
biasanya disebabkan oleh kuman Blefaritis infeksi bisa disebabkan oleh kuman
streptococcus alfa atau beta, pneumococcus, pseudomonas, demodex folliculorum dan
staphylococcus (melalui demodex folliculorum sebagai vektor).
b. Blefaritis alergi dapat terjadi akibat debu, asap, bahan kimia iritatif, dan bahkan bahan
kosmetik, atau dengan banyak obat, baik mata atau sistemik. Pada banyak orang juga
dapat disebabkan oleh karena paparan hewan seperti anjing atau kucing.
c. Bentuk ulseratif (blefaritis menular) sering ditandai dengan adanya sekret kuning atau
kehijauan.
d. Blefaritis dapat disebabkan oleh kondisi medis sistemik atau kanker kulit dari berbagai
jenis.
Blefaritis anterior biasanya disebabkan oleh bakteri (stafilokokus blefaritis) atau
ketombe pada kulit kepala dan alis (blefaritis seboroik). Hal ini juga dapat terjadi karena
kombinasi faktor, atau mungkin akibat alergi atau kutu dari bulu mata. Blefaritis posterior
dapat disebabkan oleh produksi minyak tidak teratur oleh kelenjar pada kelopak mata
(meibomian blefaritis) yang menciptakan lingkungan yang menguntungkan untuk
pertumbuhan bakteri. Hal ini juga dapat berkembang sebagai akibat dari kondisi kulit lainnya
seperti jerawat rosacea dan ketombe kulit kepala.8
Blefaritis melibatkan tepi kelopak mata, di mana bulu mata tumbuh dan pintu dari
kelenjar minyak kecil dekat pangkal bulu mata berada. Mungkin ada keterlibatan tepi luar
dari tepi kelopak mata yang berdekatan dengan kulit atau dan tepi bagian dalam kelopak
mata yang bersentuhan dengan bola mata. Perubahan pada kulit kelopak mata atau
permukaan mata itu sendiri biasanya bisa menjadi penyebab sekunder yang mendasari
terjadinya kelainan pada kelopak mata.
Penyebab kebanyakan kasus blefaritis adalah kerusakan kelenjar minyak di kelopak.
Ada sekitar 40 kelenjar ini di setiap kelopak mata atas dan bawah. Ketika kelenjar minyak
memproduksi terlalu banyak, terlalu sedikit, atau salah jenis minyak, tepi kelopak mata dapat
menjadi meradang, iritasi, dan gatal.9

2.6. Patofisiologi Blefaritis

Patofisiologi blefaritis biasanya terjadi kolonisasi bakteri pada mata karena adanya
pembentukan minyak berlebihan di dalam kelenjar di dekat kelopak mata yang merupakan
lingkungan yang disukai oleh bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di kulit. Hal ini
mengakibatkan invasi mikrobakteri secara langsung pada jaringan di sekitar kelopak mata,
mengakibatkan kerusakan sistem imun atau terjadi kerusakan yang disebabkan oleh produksi
toksin bakteri, sisa buangan dan enzim. Kolonisasi dari tepi kelopak mata dapat diperberat
dengan adanya dermatitis seboroik dan kelainan fungsi kelenjar meibom.10
Blefaritis anterior mempengaruhi daerah sekitar dasar dari bulu mata dan mungkin
disebabkan infeksi stafilokokus atau seboroik. Yang pertama dianggap hasil dari respon
mediasi sel abnormal pada komponen dinding sel S. Aureus yang mungkin juga bertanggung
jawab untuk mata merah dan infiltrat kornea perifer yang ditemukan pada beberapa pasien.
Blefaritis seboroik sering dikaitkan dengan dermatitis seboroik umum yang mungkin
melibatkan kulit kepala, lipatan nasolabial, belakang telinga, dan sternum. Karena hubungan
erat antara kelopak dan permukaan okular, blefaritis kronis dapat menyebabkan perubahan
inflamasi dan mekanik sekunder di konjungtiva dan kornea. Sedangkan blefaritis posterior
disebabkan oleh disfungsi kelenjar meibomian dan perubahan sekresi kelenjar meibomian.
Lipase bakteri dapat mengakibatkan pembentukan asam lemak bebas. Hal ini meningkatkan
titik leleh dari meibum yang menghambat ekspresi dari kelenjar, sehingga berkontribusi
terhadap iritasi permukaan mata dan mungkin memungkinkan pertumbuhan S. Aureus.
Hilangnya fosfolipid dari tear film yang bertindak sebagai surfaktan mengakibatkan
meningkatnya penguapan air mata dan osmolaritas, juga ketidakstabilan tear film.10
Tiga mekanisme patofisiologi blefaritis anterior yang telah diusulkan:10
a. Infeksi bakteri langsung
b. Respons melawan toksin bakteri
c. Delayed hypersensitivity reaction terhadap antigen bakteri
Patofisiologi blefaritis posterior melibatkan perubahan struktural dan disfungsi sekresi
dari kelenjar meibomian. Kelenjar Meibom mengeluarkan meibum, lapisan lipid eksternal
dari tear film, yang bertanggung jawab untuk mengurangi penguapan tear film dan mencegah
kontaminasi. Pada perubahan struktural contoh kegagalan kelenjar di blepharitis posterior
telah ditunjukkan dengan meibography, selain itu, kelenjar epitel dari hewan model penyakit
kelenjar meibomian menunjukkan hiperkeratinisasi yang dapat menghalangi kelenjar atau
menyebabkan deskuamasi sel epitel ke dalam lumen, duktus kelenjar sehingga menyebabkan
konstriksi kelenjar. Hiperkeratinisasi dapat mengubah diferensiasi sel asinar dan karenanya
mengganggu fungsi kelenjar. Disfungsi sekretorik contohnya dalam blepharitis posterior,
terjadi perubahan komposisi meibum di mana perubahan rasio asam lemak bebas untuk ester
kolesterol telah terbukti. Hasil sekresi yang berubah ini bisa memiliki titik leleh yang lebih
tinggi dari pada yang tampak di kelopak mata sehingga menyebabkan menutupnya muara
kelenjar.10

2.7. Klasifikasi dan Gambaran Klinis Blefaritis

Berdasarkan letaknya, blefaritis dibagi menjadi:

a. Blefaritis Anterior: blefaritis yang terjadi di kelopak mata bagian luar, tempat
dimana bulu mata tertanam. Blefaritis anterior biasanya disebabkanoleh infeksi
bakteri (stafilokokus blefaritis) atau ketombe di kepala danalis mata (blefaritis
sebore). Walaupun jarang, dapat juga disebabkan karena alergi.2

Gambar 4 : Blefaritis Anterior 11


b. Blefaritis Posterior: blefaritis yang terjadi di kelopak mata bagian dalam, bagian
yang kontak langsung dengan bola mata. Blefaritis posterior dapat disebabkan karena
produksi minyak oleh kelenjar di kelopak mata yang berlebihan (blefaritis meibom)
yang akan mengakibatkan terbentuknya lingkungan yang diperlukan bakteri untuk
bertumbuh. Selain itu, dapat pula terjadi karena kelainan kulit yang lain seperti
jerawat atau ketombe.2

Gambar 5 : Blefaritis Posterior11


Klasifikasi berdasarkan penyebabnya :
A. Blefaritis bakterial
Infeksi bakteri pada kelopak dapat ringan sampai dengan berat. Diduga
sebagian besar infeksi kulit superfisial kelopak diakibatkan streptococcus. Bentuk
infeksi kelopak dikenal sebagai folikulitis, impetigo, dermatitis eksematoid.
Pengobatan pada infeksi ringan ialah dengan memberikan antibiotik lokal dan
kompres basah dengan asam borat. Pada blefaritis sering diperlukan pemakaian
kompres hangat. Infeksi yang berat perlu diberikan antibiotik sistemik.1
a. Blefaritis superfisial
Bila infeksi kelopak superfisial disebabkan oleh staphylococcus maka pengobatan
yang terbaik adalah dengan salep antibiotik seperti sulfasetamid dan sulfisoksazol. Sebelum
pemberian antibiotik krusta diangkat dengan kapas basah. Bila terjadi blefaritis menahun
maka dilakukan penekanan manual kelenjar Meibom untuk mengeluarkan nanah dari kelenjar
Meibom (Meibormianitis), yang biasanya menyertainya.1
Blefaritis stafilokokal ditandai dengan adanya sisik, krusta dan eritema pada tepi
kelopak mata dan collarette formation pada dasar bulu mata. Infeksi kronis dapat disertai
dengan eksasebasi akut yang mengarah pada terjadinya blefaritis ulseratif. Dapat juga terjadi
hilangnya bulu mata, keterlibatan kornea termasuk erosi epitelial, neovaskularisai dan infiltrat
pada tepi kelopak.1
b. Blefaritis Sebore
Blefaritis sebore merupakan peradangan menahun yang sukar penanganannya.
Biasanya terjadi pada laki-laki usia lanjut (50 tahun), dengan keluhan mata kotor, panas dan
rasa kelilipan.1
Gejalanya adalah sekret yang keluar dari kelenjar meibom, air mata berbusa pada
kantus lateral, hiperemia dan hipertropi papil pada konjungtiva. Pada kelopak dapat terbentuk
kalazion, hordeolum, madarosis, poliosis dan jaringan keropeng.1
Pasien dengan blefaritis sebore mempunyai sisik berminyak pada kelopak mata depan,
dan sering di antara mereka juga menderita dermatitis seboroik pada alis dan kulit
kepalanya.11 The American Academy of Dermatology mencatat bahwa penyebab kondisi ini
belum dipahami dengan baik. Tapi dermatitis sebore terkadang muncul pada orang dengan
sistem kekebalan yang lemah. Jamur atau ragi jenis tertentu yang memakan minyak (lipid) di
kulit juga dapat menyebabkan dermatitis seboroik, dengan blefaritis menyertainya.12
Gambar 6 : Blefaritis sebore11
Pengobatannya adalah dengan memperbaiki kebersihan dan membersihkan kelopak
dari kotoran. Dilakukan pembersihan dengan kapas lidi hangat. Dapat dilakukan pembersihan
dengan nitras argenti 1%. Salep sulfonamid berguna pada aksi keratolitiknya.1
Kompres hangat selama 5-10 menit. Kelenjar Meibom ditekan dan dibersihkan
dengan shampo bayi.3 Pada blefaritis sebore diberikan antibiotik lokal dan sistemik seperti
tetrasiklin oral 4 kali 250 mg. Penyulit yang dapat timbul berupa flikten, keratitis marginal,
tukak kornea, vaskularisasi, hordeolum dan madarosis.1

c. Blefaritis Skuamosa
Blefaritis skuamosa adalah blefaritis disertai terdapatnya skuama atau krusta pada
pangkal bulu mata yang bila dikupas tidak mengakibatkan terjadinya luka kulit. Merupakan
peradangan tepi kelopak terutama yang mengenai kulit didaerah akar bulu mata dan sering
terdapat pada orang yang berambut minyak. Blefaritis ini berjalan bersama dermatitis
seboroik.3
Penyebab blefaritis skuamosa adalah kelainan metabolik ataupun oleh jamur.
Pasien dengan blefaritis skuamosa akan merasa panas dan gatal. Terdapat sisik
berwarna halus–halus dan penebalan margo palpebra disertai dengan madarosis. Sisik ini
mudah dikupas dari dasarnya tanpa mengakibatkan perdarahan.3

Gambar 7 : Squamous Blepharitis5


Pengobatannya ialah dengan membersihkan tepi kelopak dengan shampoo bayi, salep
mata, dan steroid setempat disertai dengan memperbaiki metabolisme pasien.1
Penyulit yang dapat terjadi antara lain: keratitis, konjungtivitis.1
d. Blefaritis Ulseratif
Merupakan peradangan tepi kelopak atau blefaritis dengan tukak akibat infeksi
staphylococcus. Pada blefaritis ulseratif terdapat keropeng berwarna kekunung-kuningan
yang bila diangkat akan terlihat ulkus yang kecil dan mengeluarkan darah di sekitar bulu
mata. Pada blefaritis ulseratif skuama yang terbentuk bersifat kering dan keras, yang bila
diangkat akan luka dengan disertai perdarahan. Penyakit bersifat sangat infeksius. Ulserasi
berjalan lebih lanjut dan lebih dalam dan merusak folikel rambut sehingga mengakibatkan
rontok (madarosis).1

Gambar 8 : Ulcerative Blepharitis5


Pengobatan dengan antibiotik dan higiene yang baik. Pengobatan pada blefaritis
ulseratif dapat dengan sulfasetamid, gentamisin atau basitrasin. Biasanya disebabkan
stafilokok maka diberi obat staphylococcus. Apabila ulseratif luas pengobatan harus ditambah
antibiotik sistemik dan diberi roboransia.1
Penyulit adalah madarosis akibat ulserasi berjalan lanjut yang merusak folikel rambut,
trikiasis, keratitis superfisial, keratitis pungtata, hordeolum dan kalazion. Bila ulkus kelopak
ini sembuh maka akan terjadi tarikan jaringan parut yang juga dapat berakibat trikiasis.1
e. Blefaritis Angularis
Blefaritis angularis merupakan infeksi pada tepi kelopak disudut kelopak mata atau
kantus. Blefaritis angularis yang mengenai sudut kelopak mata (kantus eksternus dan
internus) sehingga dapat mengakibatkan gangguan padafungsi punctum lakrimal. Blefaritis
angularis disebabkan oleh Staphylococcus aureus atau Moraxella lacunata.1,11
Seringkali gejala yang muncul adalah kemerahan pada salah satu tepi kelopak
mata, bersisik, maserasi dan kulit pecah-pecah di kantus lateral dan medial, juga dapat terjadi
konjungtivitis folikuler dan papil. Biasanya kelainan ini bersifat rekuren.3

Gambar 9 : Blefaritis angularis11


Blefaritis angularis diobati dengan sulfa (kloramfenikol, eritromisin), tetrasiklin dan
sengsulfat. Penyulit terjadi pada punctum lakrimal bagian medial sudutmata yang akan
menyumbat duktus lakrimal.1,9
f. Meibomianitis
Merupakan infeksi pada kelenjar Meibom yang akan mengakibatkan tanda
peradangan lokal pada kelenjar tersebut.1

Gambar 10 : Meibomianitis11
Meibomianitis menahun perlu pengobatan kompres hangat, penekanan dan
pengeluaran nanah dari dalam berulang kali disertai antibiotik lokal.1,2
g. Hordeolum
Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata. Biasanya
disebabkan oleh infeksi staphylococcus pada kelenjar sebasea kelopak. Biasanya dapat
sembuh sendiri atau hanya dengan pemberian kompres hangat.1
Dikenal bentuk hordeolum internum dan eksternum. Hordeolum eksternum
merupakan infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll. Hordeolum internum merupakan infeksi
kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus. Hordeolum merupakan suatu abses di
kelenjar tersebut.1
Gejalanya berupa kelopak yang bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah,
dan nyeri bila ditekan.1
Hordeolum eksternum akan menunjukkan penonjolan terutama ke daerah kulit
kelopak dan nanah dapat keluar dari pangkal rambut atau bulu mata. Hordeolum internum
memberikan penonjolan terutama ke daerah konjungtiva tarsal. Hordeolum internum
biasanya berukuran lebih besar dibanding hordeolum eksternum.1

Gambar 11 : Hordeolum Eksternum5

Gambar 12 : Hordeolum Internum5

Adanya pseudoptosis atau ptosis terjadi akibat bertambah beratnya kelopak sehingga
sukar diangkat. Pada pasien dengan hordeolum kelenjar preurikel biasanya turut membesar.1
Untuk mempercepat peradangan kelenjar dapat diberikan kompres hangat, 3 kali
sehari selama 10 menit sampai nanah keluar.1
Pengangkatan pencabutan bulu mata dapat memberikan jalan untuk drainase nanah.
Diberi antibiotik lokal terutama bila berbakat rekuren atau terjadinya pembesaran kelenjar
preaurikel. Antibiotik sistemik yang diberikan eritromisin 250 mg atau diklosasilin 125 – 250
mg 4 kali sehari, dapat juga diberikan tetrasiklin. Bila terdapat infeksi stafilokokus ditubuh
lain maka sebaiknya diobati juga bersama–sama.1
Pada nanah dari kantung nanah yang tidak dapat keluar dilakukan insisi hordeolum.
Pada hordeolum internum dan eksternum kadang-kadang perlu dilakukan insisi pada daerah
abses dengan fluktuasi terbesar. Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi
topikal dengan pantocaine eye drop 0,5 %. Dilakukan anastesia filtrasi dengan procaine atau
lidocaine di daerah hordeolum dan dilakukan insisi. Insis pada hordeolum eksternum dibuat
sejajar margo palpebra sedangkan pada hordeolum internum dibuat insisi pada daerah
fluktuasi pus, tegak lurus pada margo palpebra. Setelah dilakukan insisi dilakukan
ekskokleasi atau kuretase seluruh isi jaringan meradang di dalam kantungnya dan kemudian
diberi salep antibiotik.3Penyulit hordeolum dapat berupa selulitis palpebra yang merupakan
radang jaringan ikat jarang palpebra di depan septum orbita dan abses palpebra.1
Diagnosis banding hordeolum adalah selulitis preseptal, konjungtivitis adenovirus,
dan granuloma pyogenik.1
h. Kalazion
Kalazion merupakan peradangan granulomatosa kelenjar Meibom yang tersumbat.
Pada kalazion terjadi penyumbatan kelenjar Meibom dengan infeksi ringan yang
mengakibatkan peradangan kronis kelenjar tersebut.1
Kalazion akan memberikan gejala adanya benjolan pada kelopak, tidak hiperemis,
tidak ada nyeri tekan, dan adanya pseudoptosis. Kelenjar preurikel tidak membesar. Kadang-
kadang mengakibatkan perubahan bentuk bola mata akibat tekanannya sehingga terjadi
kelainan refraksi pada mata tersebut. Kadang-kadang kalazion sembuh atau hilang dengan
sendirinya akibat diabsorpsi.1

Gambar 13 : Kalazion8
Pengobatan pada Kalazion adalah dengan memberikan kompres hangat, antibiotik
lokal dan sistemik. Untuk mengurangkan gejala dilakukan ekskokleasi isi abses dari
dalamnya atau dilakukan ekstirpasi kalazion tersebut. Insisi dilakukan seperti pada
hordeolum internum yaitu pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus pada margo palpebra.1
Ekskokleasi kalazion terlebih dahulu mata ditetes dengan anestesi topikal pantocaine
0,5%. Obat anastesia infiltratif disuntikkan dibawah kulit di depan kalazion. Kalazion dijepit
dengan klem kalazion dan kemudian klem dibalik sehingga konjuntiva tarsal dan kalazion
terlihat. Dilakukan insisi tegak lurus margo palpebra dan kemudian isi kalazion dikuret
sampai bersih. Klem kalazion dilepas dan diberikan salep mata. Pada abses palpebra
pengobatan dilakukan dengan insisi dan pemasangan drain kalau perlu diberikaan antibiotik
lokal dan sistemik. Analgetika dan sedatif diberikan bila sangat diperlukan untuk rasa sakit.1
Bila terjadi kalazion yang berulang beberapa kali sebaiknya dilakukan pemeriksaan
histopatologik untuk menghindarkan kesalahan diagnosis dengan kemungkinan adanya suatu
kegnasan.1
B. Blefaritis virus
a. Herpes zoster
Virus herpes zoster dapat memberikan infeksi pada ganglion gaseri saraf trigeminus.
Biasanya akan mengenai orang usia lanjut. Bila yang terkena ganglion cabang oftalmik maka
akan terlihat gejala-gejala herpes zoster pada mata dan kelopak mata atas.1
Gejala tidak akan melampaui garis median kepala dengan tanda-tanda yang terlihat
pada mata adalah rasa sakit pada daerah yang terkena dan badan berasa demam. Pada kelopak
mata terlihat vesikel dan infiltrat pada kornea bila mata terkena. Lesi vesikel pada cabang
oftalmik saraf trigeminus superfisial merupakan gejala yang khusus pada infeksi herpes
zoster mata.1

Gambar 14 : Herpes Zoster Ophthalmica112


Pengobatan hanya asimtomatik; steroid superfisial untuk mengurangi gejala radang
dan analgesik untuk mengurangi rasa sakit. Pemberian steroid dosis tinggi akan
mengurangkan gejala yang berat.1
Penyulit yang mungkin terjadi adalah uveitis, parese otot perggerak mata, glaukoma
dan neuritis optik.1
b. Herpes simplek
Vesikel kecil dikelilingi eritema yang dapat disertai dengan keadaan yang sama pada
bibir merupakan tanda herpes simpleks kelopak. Dikenal bentuk blefaritis simpleks yang
merupakan radang tepi kelopak ringan dengan terbentuknya krusta kuning basah pada tepi
bulu mata, yang mengakibatkan kedua kelopak lengket.1

Gambar 15 : Herpes Zoster Ophthalmica11


Tidak terdapat pengobatan spesifik pada penyakit ini. Bila terdapat infeksi
sekunder dapat diberikan antibiotik sitemik atau topikal. Pemberian kortikosteroid
merupakan kontraindikasi karena dapat mengakibatkan menularnya herpes pada
kornea. Asiclovir dan IDU dapat diberikan terutama pada infeksi dini.1
c. Vaksinia
Pada infeksi vaksinia akan terdapat kelainan pada kelopak berupa pustula
dengan indentasi pada bagian sentral. Tidak terdapat pengobatan spesifik untuk
kelainan ini.1

Gambar 16 : Ocular Vaccinia Infection in Laboratory Worker, Philadelphia12


d. Moluskum kontagiosum
Moluskum kontagiosum pda kelopak akan terlihat sebagai benjolan dengan
penggaungan ditengah yang biasanya terletak di tepi kelopak. Dapat ditemukan
kelainan berupa konjungtivitis yang bentuknya seperti konjungtivitis inklusi klamidia
atau trakoma. Pengobatan moluskum tidak ada yang spesifik atau dilakukan ekstirpasi
benjolan, antibiotic local diberikan untuk mencegah infeksi sekunder.1
Gambar 18 : Moluskum kontagiosum12

C. Blefaritis jamur
a. Infeksi Superfisial
Biasanya diobati dengan griseofulvin terutama efektif untuk epidermomikosis,
diberikan 0.5-1 gram sehari dengan dosis tunggal atau dibagi rata diteruskam 1-2 minggu.
Kandida dengan nistatin topikal 100.000 unit per gram.1
b. Infeksi Jamur Profundus
Pengobatan menggunakan obat sistemik. Actinomyces dan Nocardia efektif
menggunakan sulfonamid, penicillin atau antibiotik spektrum luas. Spesies lain bisa
digunakan Amfoterisin B dimulai dengan 0.05-0.1mg/kgBB iv lambat 6-8 jam
dilarutkan dekstrose 5% dalam air.1
D. Phitiriasis Palpebrarum
Phthirus pubis sebenarnya hidup di rambut pubis. Seseorang yang terinfeksi kutu
dapat kedaerah lain yang berambut seperti axila, dada atau bulu mata. Pitiriasis
palpebarum merupakan kutu dari bulu mata yang biasanya menjangkiti anak-anak yang
hidup ditempat yang memiliki higinitas yang buruk.9

Gambar 19 : Phitiriasis palpebrarum11


Gejala meliputi iritasi kronis dan gatal pada kelopak mata. Ditandai oleh kutu yang
menempel kebulu mata dengan cakarnya. Telur dan kulitnya yang kosong muncul
seperti bentuk oval, coklat, keputihan seperti mutiara dan melekat pada dasar cilia.
Kunjungtivitis tidak lazim ditemukan.
Kutu diangkat beserta bulu mata secara mekanik dengan menggunakan pinset, lalu
diberikan topikal yellow mercuric oxide 1% atau petroleum jelly pada bulu mata dan
kelopak mata dua kali sehari selama 10 hari. Menghilangkan kutu pada pasien, keluarga,
baju dan tempat tidur penting untuk menghindari kekambuhan.9

E. Alergi Kelopak
a. Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak penyebabnya adalah bahan yang berkontak pada kelopak, maka
dengan berjalannya waktu gejala akan berkurang.1
Pengobatan dengan melakukan pembersihan kelopak dari bahan penyebab, cuci
dengan larutan garam fisiologik, beri salep mengandung steroid sampai gejala berkurang.1

Gambar 20 : Dermatitis Kontak pada palpebra13


b. Blefaritis Urtikaria
Urtikaria pada kelopak terjadi akibat masuknya obat atau makanan pada pasien yang
rentan.1
Untuk mengurangi keluhan umum diberikan steroid topical ataupun sistemik, dan
dicegah pemakaian steroid lama. Obat antihistamin dapat mengurangi gejala alergi.1

2.8. Diagnosis Blefaritis

Blefaritis dapat didiagnosis melalui pemeriksaan mata yang komprehensif. Pengujian,


dengan penekanan khusus pada evaluasi kelopak mata dan permukaan depan bola mata,
termasuk:11
- Riwayat pasien untuk menentukan apakah gejala yang dialami pasien dan adanya masalah
kesehatan umum yang mungkin berkontribusi terhadap masalah mata.
- Pemeriksaan mata luar, termasuk struktur kelopak mata, tekstur kulit dan penampilan
bulu mata.
- Evaluasi tepi kelopak mata, dasar bulu mata dan pembukaan kelenjar meibomian
menggunakan cahaya terang dan pembesaran.
- Evaluasi kuantitas dan kualitas air mata untuk setiap kelainan.
Gambar 21 : Algoritma untuk mendiagnosis pasien dengan kelopak mata merah12

Kondisi yang berkaitan dengan blefaritis kronis:9,12


1. Ketidakstabilan tear film ditemukan pada 30-50% pasien, mungkin sebagai akibat dari
ketidakseimbangan antara komponen cair dan lipid dari tear film memungkinkan
peningkatan penguapan. Waktu pemecahan tear film biasanya berkurang.
2. Chalazion, yang mungkin multipel dan berulang, umumnya terjadi terutama pada pasien
dengan blefaritis posterior.
3. Penyakit membran epitel basal dan erosi epitel berulang dapat diperburuk oleh blepharitis
posterior.
4. Kulit: A. Jerawat rosacea sering dikaitkan dengan disfungsi kelenjar meibomian.
B. dermatitis seboroik terdapat pada>90% dari pasien dengan blefaritis seboroik.
C. Pengobatan acne vulgaris dengan isotretinoin dikaitkan dengan perkembangan
blepharitis pada sekitar 25% dari pasien; hal itu mereda ketika pengobatan
dihentikan.
5. Keratitis bakteri dikaitkan dengan penyakit sekunder permukaan okular untuk blefaritis
kronis.
6. Atopik keratokonjungtivitis sering dikaitkan dengan blefaritis stafilokokus. Pengobatan
blefaritis sering membantu gejala konjungtivitis alergi dan sebaliknya.
7. Intoleransi lensa kontak. Pemakaian jangka panjang lensa kontak berhubungan dengan
penyakit tepi pelupuk mata posterior. Penghambatan gerakan tutup dan ekspresi normal
dari minyak meibomian bisa menjadi penyebabnya. Ada juga mungkin terkait
konjungtivitis giant papil membuat pemakaian lensa tidak nyaman. Blefaritis juga
merupakan faktor risiko untuk keratitis bakteriterkait lensa kontak.
Table 1 : Summary of characteristics of chronic blefaritis11

Feature Anterior blefaritis Posterior


blefaritis
Staphylococcal Seborrhoeic

Lashes Deposit Hard Soft

Loss ++ +

Distorted or ++ +
trichiasis

Lid margin Ulceration +

Notching + ++

Cyst Hordeolum ++

Meibomian ++

Conjunctiva Phlyctenule +

Tear film Foaming ++

Dry eye + + ++

Cornea Punctate erosions + + ++

Vascularization + + ++

Infiltrates + + ++

Associated Atopic Seborrhoeic Acne rosacea


disease dermatitis dermatitis

Diagnosis Banding12

Table 2 : Summary of characteristics of chronic blefaritis12


Condition Signs and symptoms Treatment
Conditions typically presenting bilaterally
Angioedema Often, but not always Often self-limited; avoid inciting agents
bilateral Emergency medical attention is required in
Abrupt onset over patients with upper airway obstruction;
minutes to hours; may administer 0.3 mg of intramuscular epinephrine
follow an exposure Mild cases may benefit from oral
Scaling usually absent antihistamines and/or glucocorticoids:
Diphenhydramine hydrochloride
(Benadryl), 25 to 50 mg three or four
times daily (dosage for children: 4 to 6
mg per kg per day, in three or four
divided doses)
Loratadine (Claritin), 10 mg daily (dosage
for children two to five years of age: 5
mg daily)
Prednisone, 0.5 to 1.0 mg per kg per day,
then taper after three or four days

Atopic Fine scaling usually Oral antihistamines (see above)Topical


dermatitis present corticosteroids:
Less edema than with Desonide (Tridesilon) 0.05%
contact dermatitis Alclometasone dipropionate (Aclovate)
Other signs of atopic 0.05% twice daily for five to 10 days
dermatitis may be Second-line treatments:
present Tacrolimus (Protopic) 0.1% ointment twice
Family or personal daily
history of allergic Pimecrolimus (Elidel) 1% cream twice
rhinitis or atopic daily
dermatitis
Blepharitis Yellow scaling at Local measures: eyelid massage, warm
eyelid margins compresses, and gentle scrubbing twice daily
Patients may have with a cotton swab and 1:1 solution of dilute
pruritus or burning baby shampoo or commercially available eyelid
Less edema than with cleanser
cellulitis or contact For staphylococcal infections, bacitracin or
dermatitis; edema erythromycin ointment to eyelid margins at
more prominent at bedtime or one to two weeks
eyelid margin For meibomian gland dysfunction, may add
tetracycline, 250 mg four times daily, or
doxycycline (Vibramycin), 100 mg three times
daily, then taper after four weeks

Contact Onset follows Avoid inciting agents


dermatitis exposure For allergic dermatitis, desonide 0.05% or
Pruritus in allergic alclometasone dipropionate 0.05% cream or
contact dermatitis; ointment twice daily for five to 10 days
burning or stinging in For irritant dermatitis, cool compresses and a
irritant contact petroleum-based emollient applied at bedtime
dermatitis
Minimal scaling
Edema may be
profound

Rosacea Telangiectasias often Local measures as for blepharitis


present Systemic tetracyclines:
Onset over weeks to Tetracycline, 250 mg four times daily
months Doxycycline, 100 mg three times daily
Eyelid changes often Topical metronidazole 0.75% cream
accompany flushing, (Metrocream) or gel (Metrogel) twice daily
papules, and pustules Azelaic acid gel (Finacea) twice daily
of the nose, cheek,
forehead, and chin

Systemic Onset over weeks to Maximize treatment of the underlying disorder


processes months
Other cutaneous and
systemic findings
present

Conditions typically presenting unilaterally


Cellulitis* Often presents with Suggested oral regimen for patients with
severe edema, deep preseptal cellulitis only†:
violaceous color, and Amoxicillin/clavulanate (Augmentin), 875
pain mg twice daily or 500 mg three times
Onset over hours to daily (dosage for children older than
daysHistory of three months: 40 mg per kg three times
preceding trauma or daily; dosage for children younger than
bite three months: 30 mg per kg every 12
hours)
Suggested intravenous regimens:
Ampicillin/sulbactam (Unasyn), 1.5 to 3 g
every six hours (dosage for children:
300 mg per kg daily, divided every six
hours)
Ceftriaxone (Rocephin), 1 to 2 g daily or
divided every 12 hours (dosage for
children: 50 to 75 mg per kg daily,
divided every 12 hours)
Parenteral antibiotics are often given for seven
days in orbital cellulitis; transition to oral
antibiotics if clinical improvement is noted after
one week, to complete a total treatment course
of 21 days

Herpes Vesicles often present Often self-limited; use supportive measures


simplex Pain or burning may such as compresses
be present Topical bacitracin may help prevent secondary
Onset over hours to infection
days Recurrent cases can be treated with long-term
suppressive therapy:
Acyclovir (Zovirax), 400 mg twice daily
Valacyclovir (Valtrex), 500 mg to 1,000 mg
daily
Famciclovir (Famvir), 250 mg twice daily
Herpes zoster Older adults Cool compresses
ophthalmicus Vesicles often present Acyclovir, 800 mg five times daily for seven to
Pain or burning 10 days; valacyclovir, 1 g three times daily for
Onset over hours to seven days; or famciclovir, 500 mg three times
days daily for seven days
Early initiation of tricyclic antidepressants
(desipramine [Norpramin], 25 to 75 mg at
bedtime) may inhibit postherpetic neuralgia
Patients may require additional treatment for
complications such as keratitis and glaucoma

Tumors Older adultsInsidious Depending on tumor type, Mohs micrographic


onset surgery or wide local excision
Typically painless
nodule
*— Alternative empiric regimens may be necessary in patients with community-acquired
methicillin-resistant Staphylococcus aureus cellulitis. See reference 42 for suggested
therapies.
†— The presence of proptosis, decreased visual acuity, pain with eye movement, and
limitation of extraocular movements distinguish orbital cellulitis from preseptal cellulitis.
2.9. Penatalaksanaan Blefaritis

Sebuah penanganan yang sistematis dan jangka panjang dalam menjaga kebersihan
kelopak mata adalah dasar dari pengobatan blefaritis. Dokter harus memastikan bahwa pasien
mengerti bahwa penanganan blefaritis adalah sebuah proses, yang harus dilakukan untuk
jangka waktu yang lama.8
Banyak sistem mengenai kebersihan kelopak mata, dan semua ini termasuk variasi
dari 3 langkah penting 8,9
1. Aplikasi panas untuk menghangatkan sekresi kelenjar kelopak mata dan untuk memicu
evakuasi dan pembersihan dari bagian sekretorik sangat penting. Pasien umumnya
diarahkan untuk menggunakan kompres hangat basah dan menerapkannya pada kelopak
berulang kali. Air hangat di handuk, kain kassa direndam, atau dimasak dengan
microwave, kain yang telah direndam dapat digunakan. Pasien harus diinstruksikan untuk
menghindari penggunaan panas yang berlebihan.8
2. Tepi kelopak mata dicuci secara mekanis untuk menghilangkan bahan yang menempel,
seperti ketombe, dan sisik, juga untuk membersihkan lubang kelenjar. Hal ini dapat
dilakukan dengan handuk hangat atau dengan kain kasa. Air biasa sering digunakan,
meskipun beberapa dokter lebih suka bahwa beberapa tetes shampo bayi dicampur dalam
satu tutup botol penuh air hangat untuk membentuk larutan pembersih. Harus diperhatikan
untuk menggosok-gosok lembut atau scrubbing dari tepi kelopak mata itu sendiri, bukan
kulit kelopak atau permukaan konjungtiva bulbi. Menggosok kuat tidak diperlukan dan
mungkin berbahaya.8
3. Salep antibiotik pada tepi kelopak mata setelah direndam dan digosok. Umum digunakan
adalah salep eritromisin atau sulfacetamide. Salep antibiotik kortikosteroid kombinasi
dapat digunakan, meskipun penggunaannya kurang tepat untuk pengelolaan jangka
panjang.8
Situasi klinis tertentu mungkin memerlukan pengobatan tambahan. Kasus refrakter
blefaritis sering respons dengan penggunaan antibiotik oral. Satu atau dua bulan penggunaan
tetrasiklin sering membantu dalam mengurangi gejala pada pasien dengan penyakit yang
lebih parah. Tetrasiklin diyakini tidak hanya untuk mengurangi kolonisasi bakteri tetapi juga
untuk mengubah metabolisme dan mengurangi disfungsi kelenjar. Penggunaan metronidazol
sedang dipelajari.8
Disfungsi tear film dapat mendorong penggunaan solusi air mata buatan, salep air
mata, dan penutupan pungtum. Kondisi yang terkait, seperti herpes simplex, varicella-zoster,
atau penyakit kulit staphilokokal, bisa memerlukan terapi antimikroba spesifik berdasarkan
kultur. Penyakit seboroik sering ditingkatkan dengan penggunaan shampoo dengan selenium,
meskipun penggunaannya di sekitar mata tidak dianjurkan. Dermatitis alergi dapat merespon
terapi kortikosteroid topikal.8
Konjungtivitis dan keratitis dapat menjadi komplikasi blefaritis dan memerlukan
pengobatan tambahan selain terapi tepi kelopak mata. Campuran antibiotik-kortikosteroid
dapat mengurangi peradangan dan gejala konjungtivitis. Infiltrat kornea juga dapat diobati
dengan antibiotik-kortikosteroid tetes. Ulkus tepi kelopak yang kecil dapat diobati secara
empiris, tetapi ulkus yang lebih besar, parasentral, atau atipikal harus dikerok dan spesimen
dikirim untuk diagnostik dan untuk kultur dan pengujian sensitivitas.8
Serangan berulang dari peradangan dan jaringan parut dari blefaritis dapat
memngakibatkan penyakit kelopak mata posisional. Trichiasis dan notching kelopak dapat
mengakibatkan gejala keratitis berat. Trichiasis diobati dengan pencukuran bulu, perusakan
folikel melalui arus listrik, laser, atau krioterapi, atau dengan eksisi bedah. Entropion atau
ectropion dapat mengembangkan dan mempersulit situasi klinis dan mungkin memerlukan
rujukan ke ahli bedah oculoplastics.Perawatan bedah untuk blefaritis diperlukan hanya untuk
komplikasi seperti pembentukan kalazion, trichiasis, ektropion, entropion, atau penyakit
kornea.8
Untuk blefaritis anterior, antibiotik natrium asam fusidic topikal, bacitracin atau
kloramfenikol digunakan untuk mengobati folikulitis akut tetapi terbatas dalam kasus-kasus
lama. Setelah kelopak dibersihkan salep harus digosok ke tepi kelopak anterior dengan cotton
bud atau jari yang bersih. Oral azitromisin (500 mg setiap hari selama tiga hari) dapat
membantu untuk mengontrol penyakit blefaritis ulseratif.9
Pada blefaritis posterior, tetrasiklin sistemik merupakan andalan pengobatan tetapi
tidak boleh digunakan pada anak di bawah usia 12 tahun atau pada wanita hamil atau
menyusui karena disimpan dalam tulang dan gigi tumbuh, dan dapat menyebabkan noda pada
gigi dan hipoplasia gigi (eritromisin adalah alternatif). Alasan untuk penggunaan tetrasiklin
adalah kemampuan mereka untuk memblokir produksi lipase stafilokokal jauh di bawah
konsentrasi penghambatan minimum antibakteri. Tetrasiklin terutama diindikasikan pada
pasien dengan phlyctenulosis berulang dan keratitis tepi, meskipun berulang pengobatan
mungkin diperlukan. Contohnya: Oxytetracycline 250 mg b.d. selama 6-12 minggu,
Doksisiklin 100 mg b.d. selama satu minggu dan kemudian setiap hari selama 6-12 minggu,
Minocycline 100 mg sehari selama 6-12 minggu; (pigmentasi kulit dapat berkembang setelah
penggunaan jangka panjang). Erythromicin 250 mg perhari atau b.d digunakan untuk anak-
anak.9

2.10. Komplikasi Blefaritis

Komplikasi yang berat karena blefaritis jarang terjadi. Komplikasi yang paling
sering terjadi pada pasien yang menggunakan lensa kontak. Mungkin sebaiknya disarankan
untuk sementara waktu menggunakan alat bantu lain seperti kaca mata sampai gejala
blefaritis benar-benar sudah hilang.12

1. Mata merah : blefaritis dapat menyebabkan serangan berulang mata merah


(konjungtivitis).
2. Keratokonjungtivissica adalah kondisi dimana mata pasien tidak bisa memproduksi
air matayang cukup, atau air mata menguap terlalu cepat. Ini bisa menyebabkan mata
kekurangan air dan menjadi meradang. Syndrome mata kering dapat terjadi karena
dipengaruhi gejala blefaritis, dermatitis seboroik, dan dermatitis rosea, namun dapat
juga disebabkan karena kualitas air mata yang kurang baik
3. Ulserasi kornea: iritasi yang terus menerus dari kelopak mata yang meradang atau
salah arah bulu mata dapat menyebabkan goresan (ulkus) di kornea.
Blefaritis tidak mempengaruhi penglihatan pada umumnya, meskipun defisiensi tear
film kadang dapat mengaburkan penglihatan, menyebabkan berbagai derajatpenglihatan
berfluktuasi sepanjang hari.12

2.11. Prognosis Blefaritis


Kebersihan yang baik (pembersihan secara teratur daerah mata) dapat mengontrol
tanda-tanda dan gejala blefaritis dan mencegah komplikasi. Perawatan kelopak mata yang
baik biasanya cukup untuk pengobatan. Harus cukup nyaman untuk menghindari
kekambuhan, karena blefaritis sering merupakan kondisi kronis. Jika blefaritis berhubungan
dengan penyebab yang mendasari seperti ketombe atau rosacea, mengobati kondisi-kondisi
tersebut dapat mengurangi blefaritis. Pada pasien yang memiliki beberapa episode blefaritis,
kondisi ini jarang sembuh sepenuhnya. Bahkan dengan pengobatan yang berhasil,
kekambuhan dapat terjadi.12

2.12. ANATOMI & FISIOLOGI KONJUNGTIVA


Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus
permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior
sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak
(persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea limbus.13
Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Musin
bersifat membasahi bola mata terutama kornea. Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :
 Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari
tarsus.
 Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya.
 Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat peralihan
konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.
Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan
jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.14
Gambar 22. Anatomi Konjungtiva13
Secara histologis, konjungtiva terdiri atas lapisan :
 Lapisan epitel konjungtiva, terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder
bertingkat, superficial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas
karankula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari
sel-sel epitel skuamosa.
 Sel-sel epitel supercial, mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi
mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan
air mata secara merata diseluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat
daripada sel-sel superficial dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen.
 Stroma konjungtiva, dibagi menjadi :
 Lapisan adenoid (superficial)
Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan dibeberapa tempat dapat
mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum.
Lapisan adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3
bulan. Hal ini menjelaskan mengapa konjungtivitis inklusi pada neonatus
bersifat papiler bukan folikuler dan mengapa kemudian menjadi folikuler.
 Lapisan fibrosa (profundus)
Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada
lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran reksi papiler pada radang
konjungitiva. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.
Kelenjar air mata asesori (kelenjar Krause dan wolfring), yang struktur dan fungsinya
mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar krause berada di
forniks atas, dan sedikit ada di forniks bawah. Kelenjar wolfring terletak ditepi atas tarsus
atas.13

2.13. Definisi Konjungtivitis

Konjungtivitis adalah peradangan konjungtiva yang ditandai oleh dilatasi


vaskular, infiltrasi selular dan eksudasi, atau Radang pada selaput lendir yang
menutupi belakang kelopak dan bola mata.1

Konjungtivitis di bedakan menjadi akut dan kronis yang disebabkan oleh


mikro-organisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia.2

Gambar 23. Konjungtivitis


1,2
2.14. Klasifikasi Konjungtivitis
a. Konjungtivitis Bakteri

Terutama disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae,


Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis. Konjungtivitis bakteri sangat
menular, menyebar melalui kontak langsung dengan pasien dan sekresinya atau
dengan objek yang terkontaminasi.
b. Konjungtivitis Viral

Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus ( yang paling
sering adalah keratokonjungtivitis epidermika ) atau dari penyakit virus sistemik
seperti mumps dan mononukleosis. Biasanya disertai dengan pembentukan folikel
sehingga disebut juga konjungtivitis folikularis. Mata yang lain biasanya tertular
dalam 24-48 jam.
c. Konjungtivitis Alergi
Konjungtivitis alergi biasanya timbul pada musim semi dan panas, dan
disebabkan oleh pajanan dengan alergen misalnya polen (serbuk sari). Pasien akan
mengeluh rasa tidak enak dan iritasi yang berlebihan. Terbentuk papilla yang dapat
dikonjungtiva, dan kornea bias terlibat. Konjungtivitis alergi dapat terjadi bersama
dengan reaksi alergi yang lain. Misalnya astma dan “hay fever”.
d. Konjungtivitis Gonore

Konjungtivitis hiper akut dengan sekret purulen yang disebabkan oleh


Neisseria gonorrhea. Sedangkan infeksi gonokokus pada mata pada neonatus (bayi
baru lahir) disebabkan oleh infeksi tidak langsung selama keluar melewati jalan
lahir pada ibu yang menderita gonore, konjungtivitis yang berat disebut oftalmia
neonatorum.
e. Trachoma

Trachoma merupakan konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan


Chlamydia trachomatis. Masa inkubasi dari trachoma adalah 7 hari ( 5 – 14 hari ).
Trachoma dapat mengenai segala umur terutama dewasa muda dan anak-anak,
yang akut atau sub akut. Cara penularannya melalui kontak langsung dengan sekret
atau alat-alat pribadi.

2.15. Manifestasi Klinis Konjungtivitis

Tanda­tanda konjungtivitis, yakni:1,15

 Konjungtiva berwarna merah (hiperemi) dan membengkak.

 produksi air mata berlebihan (epifora).

 kelopak   mata   bagian   atas   nampak   menggelantung   (pseudoptosis)   seolah   akan

menutup   akibat   pembengkakan   konjungtiva   dan   peradangan   sel­sel   konjungtiva

bagian atas.

 pembesaran   pembuluh   darah   di   konjungtiva   dan   sekitarnya   sebagai   reaksi

nonspesifik peradangan.

 pembengkakan kelenjar (folikel) di konjungtiva dan sekitarnya.
 terbentuknya membran oleh proses koagulasi fibrin (komponen protein).

 dijumpai sekret dengan berbagai bentuk (kental hingga bernanah).

Konjungtiva yang mengalami  iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan

kotoran.   Konjungtivitis   karena   bakteri   mengeluarkan   kotoran   yang   kental   dan

berwarna putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang

jernih. Kelopak mata bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis

karena alergi. Gejala lainnya adalah:15

 mata berair

 mata terasa nyeri

 mata terasa gatal

 pandangan kabur

 peka terhadap cahaya

 terbentuk keropeng pada kelopak mata ketika bangun pada pagi hari.

2.16. Patofisiologi Konjungtivitis


Mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), bahan alergen, iritasi menyebabkan
kelopak mata terinfeksi sehingga kelopak mata tidak dapat menutup dan membuka
sempurna, karena mata menjadi kering sehingga terjadi iritasi menyebabkan
konjungtivitis. Pelebaran pembuluh darah disebabkan karena adanya peradangan
ditandai dengan konjungtiva dan sclera yang merah, edema, rasa nyeri, dan adanya
secret mukopurulent.Akibat jangka panjang dari konjungtivitis yang dapat bersifat
kronis yaitu mikroorganisme, bahan allergen, dan iritatif menginfeksi kelenjar air
mata sehingga fungsi sekresi juga terganggu menyebabkan hipersekresi. Pada
konjungtivitis ditemukan lakrimasi, apabila pengeluaran cairan berlebihan akan
meningkatkan tekanan intra okuler yang lama kelamaan menyebabkan saluran air
mata atau kanal schlemm tersumbat. Aliran air mata yang terganggu akan
menyebabkan iskemia syaraf optik dan terjadi ulkus kornea yang dapat menyebabkan
kebutaan. Kelainan lapang pandang yang disebabkan kurangnya aliran air mata
sehingga pandangan menjadi kabur dan rasa pusing.1,2,15

2.17. Penatalaksanaan Konjungtivitis


Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari
bagaimana cara menghindari kontraminasi mata yang sehat atau mata orang lain.
Perawat dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang
sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci tangan setelah setiap kali
memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru
yang terpisah untuk membersihkan mata yang sakit. Asuhan khusus harus dilakukan
oleh personal asuhan kesehatan guna mengindari penyebaran konjungtivitis antar
pasien.1
Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis
karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau
antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena jamur
sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan
untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati
dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid
(misalnya dexametazone 0,1 %). Penanganannya dimulai dengan edukasi pasien
untuk memperbaiki higiene kelopak mata. Pembersihan kelopak 2 sampai 3 kali
sehari dengan artifisial tears dan salep dapat menyegarkan dan mengurangi gejala
pada kasus ringan.2,15
Pada kasus yang lebih berat dibutuhkan steroid topikal atau kombinasi
antibiotik-steroid. Sikloplegik hanya dibutuhkan apabila dicurigai adanya iritis. Pada
banyak kasus Prednisolon asetat (Pred forte), satu tetes, QID cukup efektif, tanpa
adanya kontraindikasi.2
Apabila etiologinya dicurigai reaksi Staphylococcus atau acne rosasea,
diberikan Tetracycline oral 250 mg atau erythromycin 250 mg QID PO, bersama
dengan pemberian salep antibiotik topikal seperti bacitracin atau erythromycin
sebelum tidur. Metronidazole topikal (Metrogel) diberikan pada kulit TID juga efektif.
Karena tetracycline dapat merusak gigi pada anak-anak, sehingga kontraindikasi
untuk usia di bawah 10 tahun. Pada kasus ini, diganti dengan doxycycline 100 mg
TID atau erythromycin 250 mg QID PO. Terapi dilanjutkan 2 sampai 4 minggu. Pada
kasus yang dicurigai, pemeriksaan X-ray dada untuk menyingkirkan tuberkulosis.2,15

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. 5th ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2014.
2. James, Bruce. Lecture Notes On Opthalmology. 9 th ed. Blackwell publishing, Australia:
2013; page 52-4.
3. Popham, Jerry MD. Eyelid Anatomy. In Cosmetic Facial and Eye Plastic Surgery.
Available at : http://www.drpopham.com/347-Anatomy. Accessed Mei 28, 2019.
4. Vaughan D. General Ophthalmology. Widya Medika. Jakarta: 2003; page 78-80.
5. Junqueira LC, Carneiro J. Histologi Dasar: Teks dan Atlas. 10th ed. Jakarta: EGC; 2004.
6. Weinstock, Frank J., MD. Eyelid Inflammation “Blepharitis” Available at :
http://www.emedicinehealth.com/eyelid_inflammation_blepharitis/.htm. Accessed Mei
28, 2019.
7. Lowery, R Scott, MD et all, Adult Blepharitis Updated: April 26, 2013. Available at :
http://emedicine.medscape.com/article/1211763-overview#a0104. Accessed Mei 28,
2019
8. Allen, JH et all. Patophosiology Blepharitis. In Best Practice British Medicine Journal.
Last updated: July 26, 2013.
9. Kanski JJ. Blepharitis. In: Clinical Ophthalmology. 7th ed. Butterworth Heinemann.
Philadelphia; 2011: page 34-38.
10. Feder, Robert S, MD, chair et all. Blepharitis Limited Revision In Preferred Practice
Pattern. American Academy Ophthalmology: 2011.
11. Hadrill, Marilyn., Blepharitis Page updated September 21, 2013. Available at :
http://emedicine.medscape.com/article. Accessed Mei 28, 2019.
12. Papier, Art, MD; David J. Tuttle, MD; and Tara J. Mahar, MD. Differential Diagnosis of
the Swollen Red Eyelid in the American Academy of Family Physicians.2007; page
1815-24.
13. Khurana, A. K., 2000. Diseases of The Conjunctiva in Comprehensive Ophtalmology 4th
edition. Kuala Lumpur: New Age; 74-76
14. Vaughan, D. G., Taylor, A., et al. Conjunctiva in Vaughan & Asbury’s General
Ophtalmology 17th edition. New York: Lange Medical Books/McGraw-Hill; 111-112.
15. PERDAMI,. Ilmu Penyakit Mata Untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran.
Jakarta. 2002.