Anda di halaman 1dari 56

MAKALAH KEPERAWATAN KRITIS 2

ASUHAN KEPERAWATAN MULTIPLE VEHICLE ACCIDENT DAN


AMBULANCE SERVICE

Fasilitator : Harmayetty, S.Kp., M.Kes.


Disusun oleh:
Kelompok 2 / kelas A-2

Ayu Septia Malinda (131511133004)


Riris Medawati (131511133005)
Unza Noor R. (131511133020)
Fenny Eka Juniarti (131511133036)
Nensi Nur Asipah (131511133055)
Alex Susanto (131511133095)
Regina Dwi F. (131511133130)
Dewi Ayu K. (131511133134)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas Rahmat dan
Nikmat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Multiple Vehicle Accident Dan Ambulance Service” ini dengan
lancar dan tepat pada waktunya
Hasil laporan ini disusun khusus untuk memenuhi tugas Keperawatan Kritis
2. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima
kasih kepada:
1. Ibu Harmayetty, S.Kp., M.Kes. selaku Fasilitator Kelompok 2 Keperawatan
Kritis 2.
2. Semua pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan makalah ini yang
tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
Kami menyadari sebagai manusia kami banyak kekurangan. Oleh karena itu
dengan kerendahan hati, kami mohon pembaca berkenan memberikan kritik dan
saran demi penyempurnaan pembuatan makalah berikutnya. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi kelompok kami.

Surabaya, Februari 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman judul ............................................................................................ i


Kata Pengantar ........................................................................................... ii
Daftar Isi ..................................................................................................... iii
BAB 1 : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 1
1.3 Tujuan .......................................................................................... 2
1.4 Manfaat ........................................................................................ 2
BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Multiple Vehicle Accident
2.1.1 Definisi ............................................................................. 3
2.1.2 Penyebab ......................................................................... 4
2.1.3 Keselamatan Berkendara (Safety riding) ........................ 6
2.2 Pertolongan Pertama saat Terjadi Multiple Vehicle Acident
2.2.1 Pertolongan Pertama ........................................................ 8
2.3 118 “Star of Life”
2.3.1 Arti Lambang 118 “Star of Life” ..................................... 13
2.3.2 Sejarah 118 di Rumah Sakit ............................................. 15
2.4 Ambulance Service
2.4.1 Definisi .............................................................................. 16
2.4.2 Urutan Prioritas Pengguna Jalan ..................................... 17
2.4.3 Jenis Sirine ...................................................................... 18
2.4.4 Jenis Ambulance .............................................................. 18
2.4.5 Standar Petugas Kesehatan di Ambulance ....................... 28
2.4.6 Standar Ambulance .......................................................... 29
2.4.7 Persyaratan Umum Ambulance ........................................ 30
2.4.8 Tujuan ............................................................................... 31
2.4.9 Kecepatan Ambulance ...................................................... 32
2.4.10 Pemeriksaan Ambulance ................................................... 32
2.4.11 Pengoprasian Ambulance .................................................. 33

iii
2.4.12 Langkah Sebelum Transpor Pasien ................................... 34
2.4.13 Transpor Pasien Kritis ....................................................... 35
BAB 3 : ASUHAN KEPERAWATAN ...................................................... 39
BAB 4 : PENUTUP
4.1 Kesimpulan .................................................................................. 49
4.2 Saran ............................................................................................ 49
Daftar Pustaka ............................................................................................ 50

iv
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Pasal 1 angka 24 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ), kecelakaan lalu lintas adalah suatu
peristiwa di Jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan
kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan
korban manusia dan/atau kerugian harta benda.
Berdasarkan data WHO, kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab
ke-2 terbesar di dunia yang mengakibatkan banyak korban meninggal dunia.
dalam setiap 1 jam terdapat empat orang meninggal dunia akbat kecelakaan
lalu lintas. Kasus kecelakaan lalu lintas termasuk dalam sepuluh kasus
dengan kematian tertinggi di indonesia (WHO,2014). Sebanyak 72% kasus
kecelakaan lalu lintas tersebut terjadi di Indonesia. Penyeab kecelakaan
terbanyak yaitu diakibatkan oleh pengguna jalan sebanyak 93,52 %.
Kecelakaan lalu lintas dapat berakibat fatal terhadap manusia seperti cedera
ringan, cedera parah bahkan sampai kematian.
Selain itu faktor yang tidak boleh ditinggalkan yaitu penanganan dan
pengangkutan korban kecelakaan ke rumah sakit terdekat untuk diberikan
perawatan lebih lanjut. Tindakan darurat harus dilakukan dari tempat
kejadian sebagai langkah awal dikenal dengan BLS, dan ALS oleh tenaga
yang terlatih dan professional. Adapun tujuan layanan ambulance adalah
memberikan pertolongan awal serta memindahkan penderita gawat
darurat dengan aman tanpa memperberat keadaan penderita ke sarana
kesehatan/rumah sakit yang memadai Sehingga pelayanan ambulance yang
baik juga akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup korban
kecelakaan lalu lintas.
Saat ini terjadi kecenderungan keadaan gawat darurat di Jalanan
(KLL), rumah tangga dan di tempat kerja, maka penolong tercepat yang bisa
memberikan pertolongan adalah mereka yang terdekat dengan korban,
bukan hanya petugas kesehatan. Namun masyarakat cenderung tidak tahu
apa yang harus mereka lakukan sehingga kebnyakan dari mereka hanya

1
menonton. Sebagaimana survei yang dilakukan di India 74% orang tidak
menolong korban kecelakaan.
Melihat permasalahan tersebut diperlukan upaya untuk membahas
mengenai kecelakaan lalu lintas dan bagaiman cara penanganan yang tepat
agar mahasiswa keperawatan mampu melakukan penanganan dasar ketika
terjadi kecelakaaan dan mengetahui mengenai layanan ambulance dengan
baik.
1.2 Rumusan Masalah
1) Bagaimanakah konsep Multiple Vehicle Accident?
2) Bagaimana Pertolongan Pertama saat Terjadi Multiple Accident?
3) Bagaimana konsep 118 “Star of Life”?
4) Bagaimanakah konsep konsep Ambulance Service?
5) Bgaimana Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Multiple
Accident?
1.3 Tujuan
Menjelaskan konsep konsep dan Asuhan Keperawatan pada klien
dengan Multiple Vehicle Accident dan konsep Ambulance Service

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KONSEP MULTIPLE VEHICLE ACCIDENT


2.1.1 Definisi
Kecelakaan lalu lintas adalah kejadian pada lalu lintas jalan yang
sedikitnya melibatkan satu kendaraan yang menyebabkan cedera atau
kerusakan atau kerugian pada pemiliknya (korban) (WHO, 1984).
Kecelakaan adalah serangkaian peristiwa dari kejadian-kejadian
yang tidak terduga sebelumnya, dan selalu mengakibatkan kerusakan pada
benda, luka, atau kematian. Kecelakaan lalu lintas dibagi menjadi dua yaitu
a motor vehicle traffic accident dan non motor vehicle traffic accident. A
motor vehicle traffic accident adalah setiap kecelakaan kendaraan bermotor
di jalan raya. Non motor vehicle traffic accident adalah setiap kecelakaan
yang terjadi di jalan raya, yang melibatkan pemakai jalan untuk transportasi
atau untuk mengadakan perjalanan dengan kendaraan yang bukan kendaraan
bermotor (Idries AM, 1997).
Menurut Pasal 1 angka 24 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ), kecelakaan lalu lintas adalah suatu
peristiwa di Jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan
kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan
korban manusia dan/atau kerugian harta benda.
Berdasarkan Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan Tahun 1993 Bab XI :
1. Pasal 93 Ayat (1): kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di
jalan yang tidak di sangka-sangka dan tidak disengaja melibatkan
kendaraan dengan atau pemakai jalan lainnya yang mengakibatkan
korban manusia atau kerugian harta benda.
2. Pasal 93 ayat (2): korban kecelakaan lalu lintas sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), dapat berupa korban mati, koban luka berat
dan korban luka ringan (Idries AM, 1997).

3
2.1.2 Penyebab
Ada empat faktor utama yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu
lintas, antara lain:
1. Faktor manusia
Faktor manusia merupakan faktor yang paling dominan dalam
kecelakaan. Hampir semua kejadian kecelakaan didahului dengan
pelanggaran rambu-rambu lalu lintas. Pelanggaran dapat terjadi karena
sengaja melanggar, ketidaktahuan terhadap arti aturan yang berlaku
ataupun tidak melihat ketentuan yang diberlakukan atau pura-pura tidak
tahu.
2. Faktor kendaraan
Faktor kendaraan yang paling sering terjadi adalah ban pecah, rem tidak
berfungsi sebagaimana seharusnya, kelelahan logam yang
menggakibatkan bagian kendaraan patah, peralatan yang sudah aus tidak
diganti, dan berbagai penyebab lain. Keseluruhan faktor kendaraan
sangat terkait dengan teknologi yang digunakan, perawatan yang
dilakukan terhadap kendaraan. Untuk mengurangi faktor kendaraan
perawatan dan perbaikan kendaraan diperlukan, di samping itu adanya
kewajiban untuk melakukan pengujian kendaraan bermotor secara
teratur.
3. Faktor jalan
Faktor jalan terkait dengan perencanaan jalan, geometrik jalan, pagar
pengaman di daerah pegunungan, ada tidaknya median jalan, jarak
pandang dan kondisi permukaan jalan. Jalan yang bagus, rata lebih sering
terjadi kecelakaan lalu lintas dibandingkan jalan yang rusak dan
berlubang.
4. Faktor cuaca
Hujan mempengaruhi kerja kendaraan seperti jarak pengereman menjadi
lebih jauh, jalan menjadi lebih licin, jarang pandang juga terpenagaruh
karena penghapus kaca tidak bisa bekerja secara sempurna atau lebatnya
hujan mengakibatkan jarak pandang menjadi lebih pendek. Asap dan

4
kabut juga bisa mengganggu jarak pandang, terutama di daerah
pegunungan (WHO, 2007).
Trauma pada pengendara sepeda motor atau sepeda juga khas.
Sekitar 60-70% korban menderita cedera pada daerah tibia karena tinggi
bemper mobil sama dengan tungkai bawah. Selain itu, korban akan
terlempar ke jalan atau ke atas dan kepala membentur bingkai atas kaca
mobil sehingga terjadi hiperekstensi kepala dengan cedera otak dan cedera
tulang leher. Kemungkinan terjadinya cedera perut pada pengemudi motor
akibat usus terjepit di antara setang setir dan tulang belakang, namun pada
pemeriksaan fisik akan hanya ditemukan jejas pada kulit perut (Wim de
Jong, 2005).
Beberapa hal yang dapat menyebabkan kecelakaan ialah:
1. Mabuk dan gangguan saat menyetir
2. Melanggar peraturan lalu lintas
3. Distraksi akibat pemakaian telepon genggam
4. Mengirim pesan (short message) saat berkendara
5. Tertidur saat berkendara
6. Kualitas dan kondisi jalan yang buruk
7. Cuaca
Secara umum ada tiga faktor utama penyebab kecelakaan; Faktor
Pengemudi (Road User), Faktor Kendaraan (Vehicle), Faktor Lingkungan
Jalan (Road Environment). Kecelakaan yang terjadi pada umumnya tidak
hanya disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan hasil interaksi antar
faktor lain. Hal-hal yang tercakup dalam faktor-faktor tersebut antar lain:
a. Faktor Pengemudi: kondisi fisik (mabuk, lelah, sakit, dsb), kemampuan
mengemudi, penyebrang atau pejalan kaki yang lengah, dll.
b. Faktor Kendaraan: kondisi mesin, rem, lampu, ban, muatan, dll.
c. Faktor Lingkungan Jalan: desain jalan (median, gradien, alinyemen, jenis
permukaan, dsb), kontrol lalu lintas (marka, rambu, lampu lalu lintas),
dll.
d. Faktor Cuaca ; hujan, kabut, asap, salju, dll.

5
Pada dasarnya faktor-faktor tersebut berkaitan atau saling
menunjang bagi terjadinya kecelakaan. Namun, dengan diketahuinya faktor
penyebab kecelakaan yang utama dapat ditentukan langkah-langkah
penanggulangan untuk menurunkan jumlah kecelakaan. Berdasarkan
penelitian yang pernah ada faktor penyebab kecelakaan dapat
dikomposisikan dalam gambar berikut :

Sumber: Direktorat Jenderal Perhubungan Darat – Dept.Perhubungan (2013)


2.1.3 Keselamatan Berkendara (Safety riding)
Safety riding adalah perilaku mengemudi yang aman yang bisa
membantu untuk menghindari terjadinya kecelakaan lalu lintas. Safety
riding merupakan dasar pelatihan berkendara lebih lanjut yang lebih
memperhatikan keselamatan bagi pengemudi dan penumpang. Safety
riding didesain untuk meningkatkan awareness (kesadaran) pengendara
terhadap segala kemungkinan yang terjadi selama berkendara
(Ariwibowo, 2013:4).
Safety riding merupakan suatu program untuk menekan angka
kecelakaan lalu lintas dengan memberikan pemahaman pada masyarakat
bahwa berlalu lintas merupakan kegiatan yang menyangkut banyak aspek
sehingga harus memperhatikan faktor keamanan dan keselamatan diri
pribadi serta orang lain. Prioritas sasaran program safety riding antara

6
lain melengkapi kendaraan dengan spion, lampu sein dan lampu rem
(kelengkapan kendaraan), menggunakan helm standar dan
memastikannya berbunyi klik (kelengkapan keselamatan), menyalakan
lampu pada siang hari untuk kendaraan roda dua, menggunakan lajur kiri
bagi Mobil Penumpang Umum (MPU) dan kendaraan roda dua
(Puspitasari, 2013:193)
Dijelaskan dalam buku petunjuk tata cara bersepeda motor di
Indonesia yang dikeluarkan oleh Ditjen Perhubungan Darat (2009)
perilaku keselamatan berkendara atau safety riding, meliputi pengendara
kendaraan bermotor yang diwajibkan memiliki SIM, mematuhi hukum
yang telah ditentukan Undang-undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan, persiapan berkendara dan perlengkapan yang
tepat untuk keselamatan pengendara, serta mampu mengendalikan
kecepatan dan keseimbangan dalam mengendarai kendaraan bermotor.
Keselamatan berkendara mengacu kepada perilaku berkendara
yang secara ideal harus memiliki tingkat keamanan yang cukup baik bagi
diri sendiri maupun bagi orang lain, agar terhindar dari kecelakaan lalu
lintas (UU RI No. 22 Tahun 2009). Diperlukan sebuah sistem yang lebih
menyeluruh sehingga pengendara kendaraan bermotor benar-benar sadar
dan paham akan pentingnya menjaga dan membudayakan keselamatan di
jalan raya.
Konsep safety riding kemudian dikembangkan menjadi defensive
driving, merupakan pengembangan lebih lanjut dari safety riding yang
sudah ada dimana terdapat 4 (empat) kunci utama prinsip defensive
driving tersebut, yaitu:
1. Kewaspadaan (Alertness), merupakan faktor utama yang menjamin
pengendara untuk selalu siaga dan waspada. Ini adalah sistem
perlindungan pertama jika menghadapi pengendara lain yang berlaku
tidak aman di jalan raya. Pengendara tidak akan mudah terpengaruh
untuk mengikuti tindak tidak aman di jalan raya karena ia sadar
sepenuhnya akan bahaya.

7
2. Kesadaran (Awareness), adalah penguasaan diri dalam berkendara.
Pengendara yang mempunyai kesadaran penuh dan memiliki prosedur
berkendara dengan baik, benar dan aman akan selalu terdorong untuk
tertib pada peraturan yang ada. Selain itu, pengendara yang mempunyai
kesadaran penuh dalam berkendara tidak akan bersikap membahayakan.
3. Sikap dan mental (Attitude), merupakan faktor dominan yang sangat
menentukan keselamatan di jalan raya. Seseorang yang dapat
mengendalikan sikap di jalan raya berarti dapat mengendalikan
emosinya. Dengan pengendalian emosi di jalan raya, maka akan muncul
sikap untuk memperhatikan kepentingan orang lain selain kepentingan
dirinya. Sikap emosional yang memicu arrogan driving dapat
dihindarkan (Mahawati, 2013:436).
Dengan demikian, ketika kita mengendarai kendaraan, maka
haruslah tercipta suatu landasan pemikiran yang mementingkan dan
sangat mengutamakan keselamatan, baik bagi diri sendiri maupun bagi
orang lain. Walaupun terasa sangat sulit untuk menumbuhkannya, namun
pemikiran yang mengutamakan keselamatan tersebut haruslah merupakan
kesadaran dari diri sendiri yang terbentuk dan dibangun untuk
melaksanakan segala aktivitas yang mendasar pada safety riding. Bila
dasar pemikiran safety riding (safety minded) telah masing-masing
dimiliki, maka dengan mudah setiap hal yang berkaitan dengan safety
riding dapat kita terapkan dimulai dari diri sendiri dan memulainya dari
hal-hal kecil (Ariwibowo, 2013:4).
2.2 Pertolongan Pertama saat Terjadi Multiple Vehicle Accident
Saat ini terjadi kecenderungan peningkatan kasus gawat darurat yang terjadi
di Jalanan (KLL), rumah tangga dan di tempat kerja. Jika terjadi keadaan
gawat darurat di Jalanan (KLL), rumah tangga dan di tempat kerja maka
penolong tercepat yang bisa memberikan pertolongan adalah mereka yang
terdekat dengan korban, bukan hanya petugas kesehatan. Jadi jelas bahwa
untuk meminimalkan angka kematian dan kecatatan akibat
kegawatdaruratan medik maka response time harus dipersingkat. Untuk
mencapai target response time kurang dari 10 menit maka Departemen

8
Kesehatan pada tingkat kabupaten / kota telah mengembangkan Public
Safety Center ( PSC ) sebagai ujung tombak safe community dan Sistem
Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) yang merupakan sarana
publik yang menjadi perpaduan dari unsur ambulans gawat darurat 118 ,
kepolisian 110 , dan pemadam kebakaran 113.
Dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)
masyarakat awam sebaiknya dapat melakukan:
1) Mengaktifkan sistem pertolongan (call for help)

Minta tolong/Telepon layanan darurat di 119/118

Gb. Sistem penyelenggaraan SPGDT


2) Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) dengan Bantuan Hidup
Dasar. Cegah kematian dan kecatatan: Airway-breathing-circulation
control dan bebat bidai.

a) Pastikan diri sendiri terlebih dahulu aman, kemudian pastikan


korban dalam keadaan aman (Lihat dan sterilkan area agar tak ada
korban tambahan).
b) Nilai respon pasien apakah pasien benar-benar tidak sadar atau
hanya tidur saja. Mengecek kesadarannya dengan cara memanggil-
manggil nama pasien, menepuk atau menggoyang bahu pasien,
misalnya “Pak-pak bangun !” atau “Bapak baik-baik saja?” Jika

9
masih belum sadar atau bangun juga bisa diberi rangsang nyeri
seperti menekan pangkal kuku jari.

c) Lakukan cek nafas dan nadi pada korban (pastikan juga jalan nafas
korban tetap terbuka, ajak bicara/ lihat respon korban). Jika tidak
ada nafas berikan nafas buatan, jika tidak ada nadi lakukan
resusitasi.

d) Jaga suhu tubuh korban, hubungi keluarga/rekan terdekat


e) Cari titik luka/cedera yang terjadi pada korban
f) Bebat korban dengan kain jika mengalami perdarahan/patah tulang
g) Petugas tiba dilokasi kejadian dan melakukan penanganan awal
dengan peralatan medis lalu membawa korban ke rumah sakit
terdekat untuk penanganan lanjutan.
3) Bila perlu, melakukan evakuasi dan transportasi dengan benar

10
Teknik melepas helm untuk dugaan cedera tulang leher

11
Cara mengeluarkan korban yang terperangkap di mobil

12
2.3 118 “Star of Life”
2.3.1 Arti Lambang 118 “Star of Life”

Gb. 118 “Star of Life


Lambang dari ambulance 118 adalah “Star of Life”. Star of life
memiliki 6 pilar dan arti-artinya. Simbol in diracang dan diatur oleh
Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional (NHTSA AS)
dibawah yurdisdiksi. The Star of Life didesain oleh Leo R. Schwartz kepala
bagian EMS pada National Highway Traffic Safety Administration
(NHTSA)
Lambang dari 6 simbol adalah menggambarkan 6 poin fungsi dari
emergency medical services:
1. Detetection : Pertama poin yaitu ditempat kejadian, biasanya
warga yang tidak tahu mengenai kesehatan akan mengamati tempat

13
kejadian, memahami masalah, mengidentifiksi bahaya bagi mereka
sendiri serta mengambil tindakan yang tepat untuk memastikan
keselamatan mereka.
2. Reporting : Pelaporan untuk bantuan kesehatan
3. Response : Pernyelamat pertama memberikan pertolonangan
pertama dan perawatan
4. On Scene Care : Personel EMS (Emergency Medical Services)
memberikan perawatan dan pertolongan di tempat kejadian
5. Care in Transit : Personel EMS melanjutkan memindahkan pasien
ke rumah sakit
6. Trans o Definitive Care : Perawatan khusus yang disediakan RS
NHTSA sampai saat ini selalu memonitor penggunaan lambang ini
di Amerika Serikat. Izin penggunaan lambang ini diberikan pada:
1. Pengidentifikasian pada peralatan medis, perlengkapan penunjang
dan kendaran (ambulan/non - ambulan)
2. Menunjukkan lokasi untuk pusat pelayanan kegawatdaruratan
3. Digunakan sebagai tanda yang dipakai seseorang yang sudah
mengikuti pelatihan dari EMS.
4. Digunakan pada peralatan EMS seperti badges, plakat, buklet dst.
5. Digunakan pada buku, manual, laporan atau materi cetak lain yang
berhubungan dengan EMS.
6. Simbol Star of Life dimugkinkan dipakai oleh tenaga adminitrasi,
pengawas, penasehat atau staf yang lain pada suatu organisasi
EMS. Jika dipakai sebagai badge di bahu maka lambang Star of
Life berwarna biru dan berlatar belakang putih
Di Indonesia sendiri lambang ini mulai populer setelah Indonesia
menggunakan sistem penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT) yang
sedikit mengadopsi dari EMS, sekarang sudah lazim kita lihat di ambulan di
jalan-jalan.

14
2.3.2 Sejarah 118 di Rumah Sakit
Di Indonesia pelayanan ambulance 118 termasuk AGD 118 atau
Ambulance Gawat Darurat (yayasan) yang didirikan oleh Ikatan Ahli Bedah
Indonesia (IKABI) pada tahun 1969 di Kongres IKABI di Bandung.
Sejak didirikan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia
(IKABI) pada tahun 1973, Ambulans Gawat Darurat 118 (AGD 118)
memiliki salah satu misi untuk menurunkan angka kematian dengan
memberikan layanan pra rumah sakit gawat darurat sehari – hari, korban
massal dan bencana. Dengan prinsip YO YO 24-48 Hours, yang berarti “
You Are On Your Own for 24-48 hours”, Anda harus berdiri sendiri ketika
di timpa bencana. Tanpa bantuan dari pihak luar selama 24- 48 jam. Salah
satu cara untuk mewujudkan hal ini adalah dengan membuat suatu Sistem
Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dengan kata kunci “
terpadu” (yang artinya menggunakan sumber daya yang dimiliki, tidak
tergantung dengan bantuan pihak lain) dan Sistem Safe Community yang
berarti dimanapun dan kapanpun anda berada merasa aman.
Yayasan AGD 118 ini bermitra dengan bagian Unit Gawat Darurat
(UGD) dan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) di
beberapa rumah sakit ternama di daerah jakarta, surabaya, makassar,
cirebon, sumatera selatan, bali dll.
Pelayanan Pra Rumah Sakit Ambulans Gawat Darurat 118 24 jam
meliputi:
1. Evakuasi medis antar Rumah Sakit
2. Transportasi medis untuk konsultasi pasien
3. Evakuasi medis dari rumah ke rumah sakit atau sebaliknya
4. Telpon Resusitasi
5. Pengawalan medis untuk acara formal dan non formal, seperti:
a. Pernikahan
b. Konser musik
c. Family gathering
d. Touring event
e. Olahraga, dan lain-lain

15
6. Pelayanan Home Care yang meliputi:
a. Home Stay yaitu pelayanan medis yang melakukan perawatan
layanan di rumah atau tempat tinggal dengan cara stay atau
menginap di rumah pasien tersebut.
b.Home Visit yaitu pelayanan medis yang melakukan tugas
perawatan melalui panggilan dalam melakukan tindakan
perawatan.
2.4 AMBULANCE SERVICE
2.4.1 Definisi
Ambulans adalah kendaraan yang dirancang khusus untuk
mengangkut orang sakit atau terluka untuk mendapatkan fasilitas medis.
Istilah “Ambulans” digunakan untuk menerangkan kendaraan yang
digunakan untuk membawa peralatan medis kepada pasien di luar rumah
sakit atau memindahkan pasien ke rumah sakit lain untuk perawatan lebih
lanjut. Pelayanan ambulance adalah bagian dari manajemen
penatalaksanaan penderita gawar darurat yang memerlukan keseragaman
organisasi dan pedoman yang baik, sehingga mortalitas dan morbiditas
dapat ditekan serendah mungkin
Kamus Webster mendefinsikan Ambulan sebagai sebuah Organisasi
yang melakukan pertolongan pertama, dalam hal ini adalah berupa
kendaraan yang dilengkapi dengan alat pertologan pertama dan digunakan
untuk mengangkut orang-orang yang terluka, kecelakaan atau sakit.
Hospital 0 and M Services Report No 8 (1964) telah mendefinisikan
ambulan sebagai; transportasi yang mencakup semua ambulans, sitting case
cars, layanan mobil rumah sakit, kereta api maupun semua akomodasi yang
disediakan oleh otoritas kesehatan setempat (Goel, 2012). Pelayanan
Ambulan merupakan pelayanan transportasi pasien rujukan dengan kondisi
tertentu antar Fasilitas Kesehatan disertai dengan upaya atau kegiatan
menjaga kestabilan kondisi pasien untuk kepentingan keselamatan pasien
(Peraturan Menteri Kesehatan No. 71 Tahun 2013 Pasal 29). Dari definisi
di atas dapat disimpulkan bahwa ambulance service merupakan pelayanan

16
akomodasi yang disediakan oleh rumah sakit atau otoritas pelayanan
kesehatan untuk melakukan pertolongan pertama atau rujukan kepada klien.
2.4.2 Urutan Prioritas Pengguna Jalan
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009
Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
Pengguna Jalan yang memperoleh hak utama untuk di dahulukan adalah
sesuai dengan urutan berikut:
a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas
b. Ambulans yang mengangkut orang sakit
c. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada Kecelakaan Lalu
Lintas
d. Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia
e. Kendaraan pimpinan dan pejabat Negara asing serta lembaga
internasional yang menjadi tamu Negara
f. Iring-iringan pengantar jenazah
g. Konvoi dan atau kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut
pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia

Gb. Urutan Prioritas Pengguna Jalan

17
2.4.3 Jenis Sirine
Jenis Sirine: MenurutUndang-UndangRepublik Indonesia Nomor 22 Tahun
2009 Pasal 59 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
1) Lampu isyarat terdiri atas warna:
a. Merah
b. Biru
c. Kuning
2) Penggunaan lampu isyarat dan sirine:
a. Lampu isyarat warna biru dan sirine digunakan untuk kendaraan
bermotor petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia
b. Lampu isyarat warna merah dan sirine digunakan untuk kendaraan
bermotor tahanan, pengawalan Tentara Nasional Indonesia,
pemadam kebakaran, ambulans, palangmerah, rescue, dan jenazah
c. Lampu isyarat warna kuning tanpa sirine digunakan untuk
kendaraan bermotor patrol jalan tol, pengawasan sarana dan
prasarana lalu lintas dan angkutan jalan, perawatan, dan
pembersihan umum, menderek kendaraan, dan angkutan barang
khusus
2.4.4 Jenis Ambulance
Jenis ambulan (Menurut Pedoman Teknis Ambulan Kementerian Kesehatan
RI, 2014) dibagi menjadi 3 jenis yaitu:
1. Ambulan darat
a. Ambulan transport
Tujuan Penggunaan :
Pengangkutan penderita yang tidak memerlukan perawatan khusus/
tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa dan diperkirakan tidak
akan timbul kegawatan selama dalam perjalanan.
Persyaratan Kendaraan :
a) Teknis
1) Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak
2) Warna kendaraan : putih (DKI warna hijau lapis)

18
3) Tanda pengenal kendaraan : di depan - gawat darurat/
emergency, disamping kanan dan kiritertulis : ambulans dan
logo : bintang enam biru dan ular tongkat.
4) Ruang penderita mudah dicapai dari tempat pengemudi
5) Tempat duduk bagi petugas dan keluarga di ruangan penderita
6) Dilengkapi sabuk pengaman untuk petugas dan penderita
7) Ruangan penderita cukup luas untuk sekurang-kurangnya satu
tandu
8) Ruangan penderita berhubungan langsung dengan tempat
pengemudi
9) Gantungan infus terletak sekurangnya 90 sm di atas tempat
penderita
10) Stop kontak khusus 12 V DC di ruang penderita
11) Lampu ruangan secukupnya/bukan neon, dan lampu sorot yang
dapat digerakan
12) Lemari obat dan peralatan
13) Penyimpan air bersih 20 liter, wastafel dan penampungan air
limbah
14) Sirine dua nada
15) Lampu rotator warna merah dan biru, di tengah atas kendaraan
16) Radio komunikasi dan atau radio genggam di ruang kemudi
17) Tersedia peta wilayah
18) Buku petunjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia
19) Tanda pengenal ambulans transportasi dari bahan pemantul
sinar
20) Kendaraan mudah dibersihkan, lantai landai dan batas dinding
dengan lantai tidak menyudut
21) Dapat membawa inkubator transport
22) Persyaratan lain sesuai peraturan perundangan yang berlaku
b) Medis
1) Tabung oksigen dengan peralatannya
2) Alat penghisap cairan/lendir 12 Volt DC

19
3) Peralatan medis PPGD (tensimeter dengan manset anak-
dewasa, dll)
4) Obat-obatan sederhana, cairan infus secukupnya
c) Petugas
1) 1 (satu) supir dengan kemampuan BHD (bantuan hidup dasar)
dan berkomunikasi
2) 1 (satu) perawat dengan kemampuan PPGD
d) Tata tertib
1) Sewaktu menuju tempat penderita boleh menghidupkan sirine
dan rotator
2) Selama mengangkut penderita hanya menggunakan lampu
rotator .
3) Mematuhi semua peraturan lalu lintas
4) Kecepatan kendaraan maksimum 40 km di jalan biasa, 80 km
di jalan bebas hambatan.
5) Petugas membuat/ mengisi laporan selama perjalanan yang
disebut dengan lembar catatanpenderita yang mencakup
identitas, waktu dan keadaan penderita setiap 15 menit.
6) Petugas memakai seragam awak ambulans dengan identitas
yang jelas.

20
Gambar: Ambulan Transport (Pedoman Teknis Ambulan Kementerian
Kesehatan RI, 2014)
b. Ambulan gawat darurat/medical emergency
Tujuan Penggunaan :
1) Pertolongan Penderita Gawat Darurat Pra Rumah Sakit
2) Pengangkutan penderita dawat darurat yang sudah distabilkan
dari lokasi kejadian ke tempat tindakan definitif atau ke
Rumah Sakit
3) Sebagai kendaraan transport rujukan.
Persyaratan Kendaraan :
a) Teknis
1) Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak
2) Warna kendaraan : kuning muda
3) Tanda pengenal kendaraan : di depan - gawat darurat/
emergency, disamping kanan dan kiri
4) tertulis : Ambulans dan logo : Star of Life, bintang enam biru
dan ular tongkat.
5) Menggunakan pengatur udara AC dengan pengendali di ruang
pengemudi.
6) Pintu belakang dapat dibuka ke arah atas.
7) Ruang penderita tidak dipisahkan dari ruang pengemudi
8) Tempat duduk petugas di ruang penderita dapat diatur/ dilipat
9) Dilengkapi sabuk pengaman bagi pengemudi dan pasien
10) Ruang penderita cukup luas untuk sekurangnya dua tandu.
Tandu dapat dilipat.

21
11) Ruang penderita cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri
tegak untuk melakukan tindakan
12) Gantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 sm di atas
tempat penderita
13) Stop kontak khusus 12 V DC di ruang penderita
14) Lampu ruangan secukupnya/ bukan neon dan lampu sorot yang
dapat digerakan
15) Meja yang dapat dilipat
16) Lemari obat dan peralatan
17) Tersedia peta wilayah dan detailnya
18) Penyimpan air bersih 20 liter, wastafel dan penampungan air
limbah
19) Sirine dua nada
20) Lampu rotator warna merah dan biru
21) Radio komunikasi dan telepon genggam di ruang kemudi
22) Buku petunjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia
23) Peralatan rescue
24) Lemari obat dan peralatan
25) Tanda pengenal dari bahan pemantul sinar
26) Peta wilayah setempat – Jabotabek
27) Persyaratan lain menurut perundangan yang berlaku
28) Lemari es/ freezer, atau kotak pendingin.
b) Medis
1) Tabung oksigen dengan peralatan bagi 2 orang
2) Peralatan medis PPGD
3) Alat resusitasi manual/automatic lengkap bagi dewasa dan
anak/ bayi
4) Suction pump manual dan listrik 12 V DC
5) Peralatan monitor jantung dan nafas
6) Alat monitor dan diagnostik
7) Peralatan defibrilator untuk anak dan dewasa
8) Minor surgery set

22
9) Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya
10) Entonok
11) Kantung mayat
12) Sarung tangan disposable
13) Sepatu boot
c) Petugas
1) 1 (satu) pengemudi berkemampuan PPGD dan berkomunikasi
2) 1 (satu) perawat berkemampuan PPGD
3) 1 (satu) dokter berkemampuan PPGD atau ATLS/ACLS
d) Tata tertib
1) Saat menuju ke tempat penderita boleh menghidupkan sirine
dan lampu rotator. Selama mengangkut penderita hanya lampu
rotator yang dihidupkan
2) Mematuhi peraturan lalu lintas yang berlaku
3) Kecepatan kendaraan kurang dari 40 km di jalan biasa, 80 km
di jalan bebas hambatan.
4) Petugas membuat/ mengisi laporan selama perjalanan yang
disebut dengan lembar catatan penderita yang mencakup
identitas, waktu dan keadaan penderita setiap 15 menit.
5) Petugas memakai seragam ambulans dengan identitas yang
jelas.

23
Gambar: Ambulan Transport (Pedoman Teknis Ambulan Kementerian
Kesehatan RI, 2014)
c. Ambulance Rumah Sakit Lapangan
Tujuan Penggunaan :
1) Merupakan gabungan beberapa ambulans gawat darurat dan
ambulans pelayanan medik bergerak.
2) Sehari-hari berfungsi sebagai ambulans gawat darurat
Persyaratan Kendaraan :
a) Teknis
1) Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak
2) Warna kendaraan : kuning muda
3) Tanda pengenal kendaraan : di depan - gawat darurat/
emergency, disamping kanan dan kiri atastanda : Ambulans
dan logo : Star of Life, bintang enam biru dan ular tongkat.
4) Kendaraan menggunakan pengatur udara AC dengan
pengendali di ruang pengemudi.
5) Pintu belakang dapat dibuka ke arah atas.
6) Ruang penderita tidak dipisahkan dari ruang pengemudi
7) Tempat duduk petugas di ruang penderita dapat diatur/ dilipat
8) Dilengkapi sabuk pengaman bagi pengemudi dan pasien
9) Ruang penderita cukup luas untuk sekurangnya dua tandu.
Tandu dapat dilipat.
10) Ruang penderita cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri
tegak untuk melakukan tindakan

24
11) Gantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 sm di atas
tempat penderita
12) Stop kontak khusus 12 V DC di ruang penderita
13) Lampu ruangan secukupnya, bukan neon dan lampu sorot yang
dapat digerakan
14) Meja yang dapat dilipat
15) Lemari obat dan peralatan
16) Penyimpan air bersih 20 liter, wastafel dan penampungan air
limbah
17) Sirine dua nada
18) Lampu rotator warna merah dan biru terletak di atap sepertiga
depan.
19) Radio komunikasi dan telepon genggam di ruang kemudi
20) Buku petunjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia
21) Peralatan rescue
22) Lemari obat dan peralatan
23) Tanda pengenal dari bahan pemantul sinar
24) Peta wilayah setempat – Jabotabek dan detailnya
25) Persyaratan lain menurut perundangan yang berlaku
26) Lemari es/ freezer, atau kotak pendingin.
b) Medis
1) Tabung oksigen dengan peralatan bagi 2 orang
2) Peralatan medis PPGD
3) Alat resusitasi manual/automatic lengkap bagi dewasa dan
anak/ bayi
4) Suction pump manual dan listrik 12 V DC
5) Peralatan monitor jantung dan nafas
6) Alat monitor dan diagnostik
7) Peralatan defibrilator untuk anak dan dewasa
8) Minor surgery set
9) Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya
10) Entonok

25
11) Kantung mayat
12) Sarung tangan disposable
13) Sepatu boot
c) Petugas
1) 1 (satu) pengemudi berkemampuan PPGD dan berkomunikasi
2) 1 (satu) perawat berkemampuan PPGD BTLS/BCLS
3) 1 (satu) dokter berkemampuan PPGD atau ATLS/ACLS
d) Tata tertib
1) Saat menuju ke tempat penderita boleh menghidupkan sirine
dan lampu rotator
2) Selama mengangkut penderita hanya lampu rotator yang
dihidupkan
3) Mematuhi peraturan lalu lintas yang berlaku
4) Kecepatan kendaraan kurang dari 40 km di jalan biasa, 80 km
di jalan bebas hambatan.
5) Petugas membuat/ mengisi laporan selama perjalanan yang
disebut dengan lembar catatan penderita yang mencakup
identitas, waktu dan keadaan penderita setiap 15 menit.
6) Petugas memakai seragam ambulans dengan identitas yang
jelas.
d. Kereta jenazah/ambulan jenazah
Tujuan Penggunaan :
Merupakan kendaraan yang digunakan khusus untuk mengangkut
jenazah
Persyaratan Kendaraan :
a) Teknis
1) Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak
2) Warna kendaraan : hitam, di kanan-kiri bertulis : Kereta
Jenazah
3) Dilengkapi sabuk pengaman bagi penumpang
4) Radio komunikasi dan telepon genggam di ruang kemudi

26
5) Lampu ruangan secukupnya, dan lampu sorot yang dapat
digerakan
6) Sirine satu atau dua nada
7) Lampu rotator warna merah dan biru
8) Dapat mengangkut sekurangnya satu peti jenazah, dan ada
sabuk pengaman peti jenazah.
9) Ruang jenazah terpisah dari ruang kemudi.
10) Tempat duduk/ duduk lipat bagi sekurang-kurangnya 4
(empat) orang di samping jenazah.
11) Penyimpan air bersih 20 liter, wastafel dan penampungan air
limbah
12) Tanda pengenal kereta jenazah dari bahan pemantul sinar
13) Gantungan karangan bunga di depan, samping kiri dan kanan.
14) Persyaratan lain menurut perundangan yang berlaku
b) Petugas
1) 1 (satu) pengemudi yang dapat berkomunikasi
2) 1 (satu) pengawal jenazah atau lebih
c) Tata tertib
1) Sirine hanya digunakan saat bergerak dalam iringan jenazah
dan mematuhi peraturan lalu lintas tentang konvoi
2) Bila tidak dalam iringan hanya boleh menghidupkan rotator.
3) Mematuhi peraturan lalu lintas yang berlaku
4) Kecepatan kendaraan kurang dari 40 km di jalan biasa, 80 km
di jalan bebas hambatan.
2. Ambulan air
Ambulan air dapat berupa kapal dan kapal laut. Kapal (boat) dapat
dipakai sebagai ambulan untuk pelayanan antar pulau, atau daerah
dengan banyak kanal, jenis ambulan ini termasuk ambulan transport.
Untuk pelayanan kegawatdaruratan akan sulit dilakukan diboat karena
factor ombak.
Kapal laut adalah ambulan yang biasanya digunakan oleh militer untuk
jarak jauh, biasanya digunakan dalam keadaan perang. Pelayanan

27
kegawatdaruratan dapat dilakukan disinib ahkan untuk kasus tertentu
dapat digunakan sebagai rumah sakit.
Ketentuan umum ambulan air sama dengan ambulan darat:
- Memiliki ruangan khusus
- Dapat mengangkut korban dalam jumlah banyak
- Memiliki peralatan medic, minimal untuk bantuan hidup dasar
- Memiliki alat penyelamat standar
- Memiliki SDM yang dapat memberikan pelayanan medic selama
perjalanan
3. Ambulan udara
Ambulan udara dapat berupa helicopter maupun pesawat terbang.
Ambulan udar adapat berfungsi sebagai ambulans transport maupun
ambulan gawat darurat tergantung pelayanan yang dilakukan dan
peralatan yang tersedia.
Hal khusus penggunaan helicopter:
a) Tersedia heliped
b) Bila baling-baling masih berputar, dilarang membawa korban dariarah
belakang pesawat. Korban harus dibawa dari bagian depan dan tunggu
tanda persetujuandari pilot
c) Selalu diharuskan menundukkan kepala pada saat mendekati
helicopter
d) Gunakan pelindung telinga untuk mengurangi kebisingan bagi korban
2.4.5 Standar Petugas Kesehatan di Ambulance
1) Tenaga medis (dokter umum yang sudah tersertifikasi pelatihan
gawat darurat dan/atau berpengalaman dalam menangani pasien
dengan kondisi kritis);
2) Tenaga keperawatan dengan sertifikasi pelayanan gawat darurat
dan/atau berpengalaman dalam menangani pasien kritis;
3) Tenaga kesehatan dengan kualifikasi tertentu (misal ahli anestesi)
penting dalam melakukan transfer pasien;

28
2.4.6 Standar Ambulance
EXTERIOR & INTERIOR
1. LED Flash Light Bar Oval, 12 VDC, 18 Watt, lifetime 10.000 hrs
2. Multi Sound Sirene System, 12 VDC, 100 Watt
3. Logo & lettering standard, reflektif sticker
4. Kaca film 60% & 80% (Std)
5. Modifikasi lantai, plywood dilapis vinyl, hospital grade
6. Paramedic Seat (Jok dokter)
7. Attendant Seats (Jok pengantar/paramedic) model box dengan ruang
untuk menyimpan peralatan
8. Lemari peralatan medis, plywood di polyurethan dengan lapis acrylic
danpengaman stainless steel lengkap dengan wastafel
9. Sumber listrik DC 3 outlet
10. Gantungan Infus, stainless steel 2 ampul dilengkapi dengan
straps/pengikat botol infus
11. Lampu periksa pasien, model geser (sliding)
12. Lampu Sorot kabin belakang
13. Pelindung Bumper belakang dari benturan Stretcher, berupa plat atau
hambalan dari stainless steel
14. Pemadam kebakaran, kap. 1 kg lengkap dengan bracket
15. Landasan/Base Stretcher dengan ruang tempat scoop stretcher, dilapis
vinyl hospital grade dan dilengkapi dengan reel,stopper serta pengunci
Stretcher yang terbuat dari Stainless Steel
PERALATAN MEDIK
1. Automatic Ambulance Stretcher, Roll In Cot dengan spesifikasi :
Material : Aluminium
Length, high-level : 190 cm
Width / Height, min /max level : 57 cm / 85 cm / 20 cm
Weight : 26 kg
Max. Load : 160 kg
Castor : : 4 pcs, with 2 pcs with Brake
Accessories : 3 pcs metal buckle safety belts, 1 pc mattress, 1 pc I.V Pole

29
2. Fixed Central Oxygen Delivery System :
2 pcs Oxygen Cylinder, kap. 1 m3
1 set Alarm Indicator Oxygen
2 pcs Regulator Oxygen standart, 1 set kran On / Off, 2 pcs elbow
HP Tubing with clamp, 1 pc Oxygen Wall Outlet,
1 set Flowmeter & Humidifier (Standard)
1 pc Nasal Cannula & Face Mask Cannula
3. Portable Oxygen Therapy :
1 pc Oxygen Cylinder, kap. 1 m3
1 pc Regulator Oxygen complete with Flowmeter & Humidifier
1 pc Nasal Cannula & Face Mask Cannula
1 set Oxygen Trolley
4. Scoop Stretcher, Aluminium structure complete with 3 pcs safety belt
metal buckle
5. Neck Collar (S,M,L)
6. Long Spinal Board, Plywood with acrylic finishing
7. Emergency Kit (Softcase)
Consist of : Diagnostic set, Airway & Breathing set, Manual Hand
Suction & Bandage set
8. Wall Anaeroid Sphygmomanometer (Hanging Blood Pressure)
9. Transport Incubator, Manual Temperature Control Adjustable
PERALATAN PETUGAS/PARAMEDIK
1. PPE : Google, Handscund, Masker, Rain Clouth for Adult
2. Rescue Tools : KED & Spalk 3 sizes
3. Kantong Jenazah, nylon material (2 set)
Alat Komunikasi, VHF Frequensi with 128 channel, channel space
12,5/20/25 kHz, battery lithium
2.4.7 Persyaratan Umum Ambulance
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 882 Tahun 2009,
Persyaratan Umum Ambulan:
1) Kendaraan roda empat/lebih dengan suspense lunak

30
Jenis mobil yang digunakan dapat berupa jenis 4x2 maupun jenis 4x4
dengan pilihan single cabin agar dapat mudah di modifikasi
2) Warna kendaraan putih atau kuning muda dengan pengenal khusus
yang memantulkan cahaya
3) Tulisan AMBULANS terbalik yang memantulkan cahaya hanya pada
bagian depan
4) Sedangkan disamping belakang kiri dan kanan terdiri dari: logo rumah
sakit dan nama rumah sakit serta lambang emergency internasional
(untuk ambulans gawat darurat)
5) Palang berwarna hijau di pintu kanan dan kiri
6) Tulisan sponsor hanya boleh diletakkan di samping belakang kiri dan
kanan dengan ukuran maksimal 10x50 cm
7) Pintu belakang tidak menggangu keluar masuknya stretcher
8) Lampu rotator warna biru terletak di tengah depan atap kendaraan
9) Dinding dan lantai kendaraan tidak membentuk sudut dengan lantai
landau
10) Ruang dalam kendaraan cukup luas untuk bekerja dan infuse dapat
menetes dengan baik
11) Tempat duduk bagi petugas/pendamping di ruang penderita dapat
dibuka/dilipat
12) Ruang penderita mempunyai akses dengan tempat pengemudi
13) Gantungan infus 2 buah terletak sekurang-kurangnya 90 cm diatas
tempat penderita
14) Tempat disaster kit pada ambulan gawat darurat
15) Terdapat peta setempat di setiap jenis ambulan darat
2.4.8 Tujuan
Layanan ambulan merupakan penghubung rumah sakit dengan
masyarakat. Pelayananan ambulance adalah bagian dari manajemen
penatalaksanaan gawat darurat. Tindakan darurat harus dilakukan dari
tempat kejadian sebagai langkah awal dikenal dengan BLS, dan ALS oleh
tenaga yang terlatih dan professional. Adapun tujuan layanan ambulance
adalah memberikan pertolongan awal serta memindahkan penderita gawat

31
darurat dengan aman tanpa memperberat keadaan penderita ke sarana
kesehatan/rumah sakit yang memadai (Pedoman Pelayanan Gawat Darurat
Depkes RI 1995:9)
Tujuan penggunaan ambulans adalah
1. Pertolongan penderita gawat darurat pra-rumah sakit
2. Pengangkatan penderita gawat darurat yang sudah distabilkan dari
lokasi kejadian ke tempat tindakan definitif atau ke rumah sakit
3. Sebagai kendaraan transport rujukan
2.4.9 Kecepatan Ambulance
Berdasarkan hasil penelitian “Parameter Teknis Cardio-Pulmonary
Resuscitation (CPR) dengan Travelling Time 20,40, dan 60 Km/Jam”
(Apriyanto Yogo, dkk) didapatkan :
1. Pada kecepatan ambulans 20 km/jam menunjukkan TV dan titik
tumpu kompresi dari 7 tim responden masing-masing 100% efektif,
sedangkan terhadap ritme kompresi dan ke dalaman kompresi
masingmasing sebanyak 57% efektif.
2. Pada kecepatan ambulans 40 km/jam masing-masing 86% efektif
dan ritme kompresi dan ke dalaman kompresi masing-masing 57%
efektif.
3. Pada kecepatan ambulans 60 km/jam hanya parameter titik tumpu
kompresi yang menunjukkan mayoritas efektif (57%), sedangkan
86% parameter teknis ke dalaman kompresi tidak efektif
2.4.10 Pemeriksaan Ambulance
a. Cek kilometer awal sebelum kendaraan ambulan dipakai
b. Pada awal shift, cek bahan bakar (bensin/solar), oli, air accu, air radiator,
air wiper, lampu mobil, sirine, pengeras suara, tekanan udara pada ban ,
AC, klakson, rem
c. Jumlah oksigen yang tersisaa dalam tabung
d. Peralatan perawatan pasien
e. Tandu dan semua peralatan berada pada tempatnya. Lakukan sapuan
dengan menggunaan kain basah dan detergen secara menyeluruh di
seluruh permukaan tandu.

32
f. Periksa sambungan radio komunikasi untuk mempermudah alur
komunikasi
g. Cek secara berkala oli, filter, ban accu dan busi
h. Pada awal dan akhir shift bagian luar ambulan harus dibersihkan, hal ini
untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada body mobil sehingga
tidak mengganggu tanda-tanda pasif ambulan (lambing, tulisan, gambar
dll) yang terpampang pada badan ambulan.
i. Untuk control infeksi, bagian dalam ambulan harus dijaga kebersihannya
j. Semua permukaan harus dibersihkan secara menyeluruh seminggu sekali
termasuk dalam lemari.
k. Bagian dalam dibersihkan sesuai yang diperlukan di antara masa
pngangkutan pasien.
l. Ganti sarung bantal setiap pengangkutan.
2.4.11 Pengoperasian Ambulance
Berikut adalah beberapa hal yang mencakup peraturan pengoperasian
ambulan:
1. Pengemudi ambulan harus memiliki lisensi mengemudi yang sah dan
harus menyelesaikan program pelatihannya
2. Hak-hak khusus memperbolehkan pengemudi ambulan untuk tidak
mematuhi peraturan ketika ambulan digunakan untuk respon
emergency atau untuk transportasi pasien darurat. Ketika ambulan
tidak dalam respon emergency, maka peraturan yang berlaku bagi
setiap pengemudi kendaraan non-darurat, juga berlaku untuk
ambulan.
3. Walaupun memiliki hak istimewa dalam kendaraan darurat, hal
tersebut tidak menjadikan pengemudi ambulan kebal terhadap
peraturan terutama jika mengemudikan ambulan dengan ceroboh
atau tidak memperdulikan keselamatan orang lain.
4. Hak istimewa selama situasi darurat hanya berlaku jika pengemudi
menggunakan alat-alat peringatan (warning devices) dengan tata cara
yang diatur oleh peraturan.

33
5. Sebagian besar undang-undang memperbolehkan pengumudi
kendaraan emergensi untuk;
a. Memarkir kendaraannya dimanpun, selama tidak merusak hak
milik atau membahayakan nyawa orang lain.
b. Melewati lampu merah dan tanda berhenti. Beberapa Negara
mengharuskan pengemudi ambulan untuk berhenti terlebih dahulu
saat lampu merah, lalu melintas dengan hati-hati. Negara lain
hanya menginstruksikan pengemudi untuk memperlambat
lajukendaraan dan melintas dengan hati-hati.
c. Melewati batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan selama
tidak membahayan nyawa dan hak milik orang lain.
d. Mendahului kendaraan lain di daerah larangan mendahului
setelah member sinyal yang tepat, memastikan jalurnya aman, dan
menghindari hal-hal yang membahayakan nyawa dan harta benda.
e. Mengabaikan peraturan yang mengatur arah jalur dan aturan
berbelok kea rah tertentu, setelah member sinyal dan peringatan
yang tepat.
2.4.12 Langkah sebelum transportasi pasien
Transportasi Pasien adalah sarana yang digunakan untuk
mengangkut penderita/korban dari lokasi bencana ke sarana kesehatan yang
memadai dengan aman tanpa memperberat keadaan penderita ke sarana
kesehatan yang memadai.Pada setiap alat transportasi minimal terdiri dari 2
orang para medik dan 1 pengemudi (bila memungkinkan ada 1 orang
dokter). Prosedur untuk transport pasien antaralain yaitu :
1. Lakukan pemeriksaan menyeluruh.
Pastikan bahwa pasien yang sadar bisa bernafas tanpa kesulitan
setelah diletakkan di atas usungan. Jika pasien tidak sadar maka
dapat menggunakan alat bantu nafas.
2. Amankan posisi tandu di dalam ambulans.
Pastikan selalu bahwa pasien dalam posisi aman selama perjalanan
ke rumah sakit.
3. Posisikan dan amankan pasien.

34
Selama pemindahan ke ambulans, pasien harus diamankan dengan
kuat ke usungan.
4. Pastikan pasien terikat dengan baik dengan tandu. Tali ikat
keamanan digunakan ketika pasien siap untuk dipindahkan ke
ambulans, sesuaikan kekencangan tali pengikat sehingga dapat
menahan pasien dengan aman.
5. Persiapkan jika timbul komplikasi pernafasan dan jantung.
Jika kondisi pasien cenderung berkembang ke arah henti jantung,
letakkan spinal board pendek atau papan RJP di bawah matras
sebelum ambulans dijalankan.
6. Melonggarkan pakaian yang ketat.
7. Periksa perbannya.
8. Periksa bidainya.
9. Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien
10. Naikkan barang-barang pribadi.
11. Tenangkan pasien.
2.4.13 Transportasi Pasien Kritis
Menurut Senapathi, Tjokorda dkk. (2015) transportasi pasien kritis
memiliki risiko yang sangat tinggi sehingga diperlukan komunikasi yang
baik pada perencanaan dan tenaga kesehatan yang sesuai. Sebelum
diberangkatkan pasien harus distabilisasi terleih dahulu. Alasan untuk
melakukan transport pada pasien adalah untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan tambahan, diagnostik atau terapeutik yang lebih canggih yang
tidak tersedia. Pasien dalam keadaan kritis memiliki sedikit atau tidak
memiliki cadangan fisiologis di dalam tubuhnya. Memindahkan pasien
dapat menimbulkan masalah tersendiri serta dapat menimbulkan suatu
perubahan fisiologis yang merugikan dan dapat mengancam keselamatan
pasien saat transportasi. Sehingga pada saat melakukan transport pasien
kritis harus dilakukan dengan persiapan yang matang dan perhatian yang
seksama dan detail pada hal-hal yang harus diperhatikan. Pedoman yang
sudah tersedia dan prinsip-prinsip utama dalam melakukan transport pasien
kritis meliputi 5P:

35
1. Planning (Perencanaan)
2. Personnel (jumlah yang cukup disertai dengan kemampuan yang
sudah terstandarisir dalam evakuasi pasien kritis).
3. Properties (alat yang dipakai dalam transportasi).
4. Procedures (alat yang dipakai mengukur kestabilan kedaan pasien
sebelum dan saat diberangkatkan).
5. Passage (pilihan rute dan tekhnik transport).
Menurut Senapathi, Tjokorda dkk. (2015) transport pasien
dalam keadaan kritis dibagi menjadi dua yaitu intramural (didalam
lingkungan rumah sakit) dan ekstramural dibagi menjadi dua yaitu
ekstramural primer (prehospital) transport pasien dari tempat
kecelakaan menuju ke rumah sakit tujuan; ekstramural sekunder
(interhospital) transport pasien antar rumah sakit atau international
transport. Dalam melakukan transportasi pasien perlu memperhatikan
hal-hal berikut ini:
1. Perencanaan
Komunikasi dan koordinasi yang baik diantara team evakuasi dan
ambulans serta staf yang berada di rumah sakit adalah sangat penting.
Komunikasi yang kurang dan penyebaran detail informasi yang
terbatas menyebabkan staf spesialis mengalami kesulitan dalam
mengendalikan keadaan kritis dari pasien secara adekuat. Saluran
telepon dan faksimil yang baik akan mempermudah personel team
evakuasi memperoleh advis dalam melakukan resusitasi serta evakuasi
pasien di tempat kejadian.
Perencanaan dan persiapan meliputi:
a) Menentukan jenis transportasi (mobil, perahu, pesawat terbang)
b) Menentukan tenaga kesehatan dan persediaan yang mendampingi
pasien
c) Menentukan peralatan dan persediaan obat yang diperlukan selama
perjalanan baik kebutuhan rutin maupun darurat.
d) Menentukan kemungkinan penyulit
e) Menentukan pemantauan pasien selama transportasi

36
2. Personel
Setiap anggota team harus dapat melakukan diagnostik dan resusitasi.
Anggota team yang direkomendasikan merupakan anggota yang
memiliki sertifikat ATLS. Kemampuan setiap anggota untuk
melakukan prosedur tindakan, komunikasi yang tepat dan benar akan
berefek pada outcome pasien. Mabuk perjalanan (motion sickness),
obstruksi tuba eustasius atau masalah sakit lainnya akan berefek pada
pasien dan staf. Personel yang memiliki masalah mabuk perjalanan
tidak boleh diikutsertakan.
3. Komunikasi
Pendekatan yang sistematik harus dilakukan untuk memastikan
kecepatan dan ketepatan respon dari team apabila terdapat kasus pasien
kritis yang harus segera dirujuk. Pengiriman team transport ketempa
yang memerlukan pertolongan, merujuk pasien ketempat pelayanan
medis yang lebih tinggi sebelumnya sudah harus melalui mekanisme
pertimbangan medis klinis dari staf medis setempat. Team transport
medis harus sudah berkomunikasi sebelumnya dengan rumah sakit
tujuan, khususnya apabila ada suatu perubahan kondisi pasien saat
perjalanan, prakiraan waktu tiba, manajemen pascatransport,
pertimbangan jarak tempat rujukan atau pengalihan rujukan pasien ke
pusat rujukan lain yang disesuaikan dengan sinyal dan jaringan
penyedia layanan.
4. Alat-alat
Alat-alat resusitasi harus sudah lengkap dan siap pakai saat prosedur
evakuasi dan transportasi dilaksanakan. Kemasan medis (medical
pack) beratnya tidak lebih dari 40 kg. Stretcher untuk pasien dalam
ambulans sudah tersedia. Alat-alat perlindungan diri yang cukup untuk
staf, misalya sarung tangan steril dan gaun sekali pakai, alat proteksi
mata, tempat untuk alat-alat tajam dan peralatan injeksi. Tabung
oksigen yang siap pakai, suction pump, alat monitor jantung, napas dan
tanda-tanda vital, peralatan resusitasi manual atau otomatis lengkap,
obat-obatan gawat darurat dan cairan infus, alat-alat bidai termasuk

37
neck collar, long/short spine board, serta radio komunikasi atau alat
komunikasi lainnya.

38
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Tinjauan Kasus


Tn. A usia 45 tahun masuk UGD dengan keluhan tertabrak mobil sewaktu
menyebrang jalan. Pada saat ditemukan di jalan pasien tidak sadarkan diri,
mengalami perdarahan pada pelipis kiri, ada sobek ± 5cm, darah yang keluar
banyak. Pada tibia kanan memar dan ada krepitasi, dada kanan ada jejas,
gerakan dada kanan tertinggal. TD ditempat kejadian 110/60 mmHg, nadi 100
x/menit, RR 24x/menit, pasien gelisah.
Pertanyaan :
1. Bagaimana cara mengevakuasi pasien dari tempat kejadian menggunakan
ambulance service ?
2. Asuhan Keperawatan Kasus
3.2 Evakuasi Pasien dari Tempat Kejadian Menggunakan Ambulance
Service
A. Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) oleh Masyarakat Awam
Diketahui :
a. Korban tidak sadarkan diri
b. Perdarahan pada pelipis kiri, sobek ± 5cm, darah yang keluar banyak
c. Tibia kanan memar dan terdapat krepitasi
d. Dada kanan terdapat jejas, dan gerakan dadanya tertinggal
Algoritma dasar PPGD :
a. Ada pasien tidak sadar
b. Pastikan kondisi tempat pertolongan aman bagi pasien dan penolong
c. Beritahukan kepada lingkungan kalau anda akan bersaha menolong
d. Cek kesadaran pasien (AVPU)
A : korban sadar penuh
V : panggil-panggil korban dengan berbicara keras di tekinga
P : rangsang nyeri dengan menekan bagian putih dari kuku korban
U : korban tidak merespon atau berekasi setelah diberi rangsangan

39
Tahapan Pertolongan Pertama Gawat untuk Kasus Diatas :
1. Pastikan penolong dan korban berada pada lokasi dan kondisi yang
tidak berbahaya. Perhatikan bahwa pertolongan pertama tidak bisa
dilakukan selama diri penolong sendiri beresiko menjadi korban
kecelakaan atau kejadian susulan.
2. Cek respon korban!
Pada kasus diatas diketahui korban tidak sadarkan diri (unresponsive),
maka hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan memeriksa
apakah korban bernapas atau tidak sambil CALL FOR HELP.
3. Telepon ambulans (119) agar korban segera cepat diberi pertolongan.
Jika ada 2 orang atau lebih penolong, minta tolong orang lain untuk
menelepon. Saat menelepon ambulance sebutkan identitas kita, lokasi
tempat kejadian dimana korban berada, jenis kecelakaan yang dialami
korban (kecelakaan lalu lintasm kecelakaan kerja atau kriminalitas),
keadaan korban (sadar atau pingsan, luka yang dialami korban) dan
jumlah korban.
4. Jika korban tidak bernafas maka bebaskan jalan nafas korban (Metode
ABC)
a. Airway
Bebaskan jalan nafas korban yang terhalang dengan
mengupayakan pertolongan dengan menempatkan tangan di
bawah dagu korban dan angkat dagu ke depan (chinlift) untuk
membuka jalan nafas korban. Kemudian tempatkan tangan di dahi
korban dan dorong ke belakang (head tilt) jika manuver dagu tidak
membantu.
b. Breathing
Pastikan bahwa korban benar-benar masih bernapas. Periksa
pernapasannya dengan cara melihat naik turunnya dada,
dengarkan dan rasakan suara naas korban. Pada kasus diatas
korban tidak sadar namun masih tetap bernapas,maka posisikan
tubuh korban miring mantap untuk mencegah terjadinya aspirasi
dan memberikan posisi yang stabil terhadap korban.

40
c. Circulation
Perhatikan apakah denyut nadi korban ada, pada kasus diatas nadi
korban adalah 100x/menit. Terdapat pula perdarahan pada pelipis
kiri korban.
d. Compression (Kompresi dada)
Pada kasus diatas tidak perlu dilakukan kompresi dada karena
denyut nadi korban masih ada.
5. Perhatikan adanya cedera atau trauma
a. Perdarahan pada pelipis kiri
Ambil kasa dan tekan untuk menghentikan perdarahan pada
pelipis kiri korban. Jika ada kotoran pada luka, cukup dibersikan
dengan diusap dan jangan dicuci.
b. Terdapat memar dan krepitasi pada tibia kanan
6. Pertahankan posisi miring mantap pada korban, dan monitor selalu
kondisi pasien dengan metode Look, Listen and Feel sampai bantuan
medis datang, karena kondisi korban sewaktu-waktu dapat memburuk
secara tiba-tiba.
3.3 Pengkajian
1. Anamnesa
a. Identitas Klien
Nama : Tn A
Usia : 45 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Surabaya
No. RM : 131511133XXX
b. Keluhan Utama
Klien ditemukan tidak sadarkan diri usai tertabrak mobil sewaktu
menyebrang jalan.
c. Riwayat Penyakit Sekarang

41
Tn. A mengalami kecelakaan lalu lintas sewaktu menyebrang di jalan
saat akan menuju ke kantor tempat ia bekerja. Tn. A saat itu tertabrak
mobil dan saat ditemukan di jalan pasien sudah tidak sadarkan diri. Tn
A mengalami perdarahan pada pelipis kiri, ada sobek ± 5cm dan darah
yang keluar banyak. Pada tibia kanan klien mengalami memar dan ada
tanda krepitasi, dada kanan ada jejas, gerakan dada kanannya juga
tertinggal. Tn A diberikan pertolongan pertama oleh masyarakat di
sekitar tempat kejadian sampai bantuan medis ambulance datang dan
membawa Tn A ke Rumah Sakit.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien tidak memiliki riwayat penyakit terdahulu.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga klien tidak memiliki riwayat penyakit yang sama.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Primary Survey
1) Airway
Look : pergerakan dada sebelah kanan klien tertinggal, terdapat
adanya penggunaan alat bantu nafas.
Listen : klien bernafas 24x/menit
Feel : hembusan nafas klien terasa lemah
2) Breathing
RR : 24x/menit
3) Circulation
RR : 24x/menit, TD : 110/60 mmHg, Nadi : 100x/menit, akral
dingin, CRT 3 detik.
4) Disability
a) Alert : Klien mengalami penurunan kesadaran, total
skor GCS klien 3.
E1 : tidak ada respon
M1 : tidak ada respon
V1 : tidak ada respon
b) Verbal : Klien tidak merespon ketika dipanggil

42
c) Pain : Klien tidak merespon ketika diberi
rangsangan nyeri
d) Unresponsive : Klien tidak ada respon sama sekali
5) Exposure of Extermitas
Perdarahan dan sobek pada pelipis kiri. Tibia kanan memar dan ada
krepitasi, dada kanan ada jejas.
b. Secondary Survey
A : Klien tidak memiliki riwayat alergi
M : Klien tidak mengkonsumsi obat-obatan
P : Klien tidak ada riwayat penyakit sebelumnya
L : Sebelum kejadian, pasien sempat sarapan nasi pecel
E : Klien sedang dalam perjalanan berangkat kerja, ketika
menyebrang klien tertabrak mobil.
c. Pemeriksaan Revoew of System (ROS)
1) B1 (Breathing) : RR 24x/menit, gerakan dada tertinggal,
terdapat jejas pada dada kanan, adanya penggunaan otot bantu
pernafasan.
2) B2 (Blood) : TD 110/60 mmHg, RR 24X/menit, Nadi
100 x/menit, CRT 3 detik.
3) B3 (Brain) : GCS 1-1-1, Penuruan kesadaran, gelisah
4) B4 ( Bladder) : tidak ada masalah
5) B5 (Bowel) : tidak ada masalah
6) B6 (Bone) : Perdarahan pada pelipis kiri dan adanya
memar dan krepitasi pada kaki tibia kanan.
3. Pemeriksaan Laboratorium
a. BGA : pH 7,10 , BE -1, PaCO2 52 mmHg, PaO2 50 mmHg, HCO3
22.
b. Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb 10, leukosit 7000, albumin 4, Cr
Serum 3, BUN 45, Trombosit 100.000.

43
3.4 Analisa Data

No. Data Etiologi Masalah


Keperawatan
1. DS:- Perdarahan banyak Pola nafas tidak
DO: RR 24x/menit, , gerakan ↓ efektif
dada tertinggal, terdapat jejas, CO menurun

adanya penggunaan otot bantu
Suplai darah dan O2 ke otak
pernafasan
menurun
BGA : pH 7,10 , BE -1, PaCO2

52 mmHg, PaO2 50 mmHg,
Kerusakan sel otak
HCO3 22. ↓
Depresi pusat pernapasan di
batang otak

Pola nafas tidak efektif
2. DS:- Multiple fraktur, Pendarahan Hipovolemi
DO: Darah banyak keluar dari pada kaki kanan tibia.
pelipis kiri sobek ± 5cm, tibia ↓
kanan memar, Trauma jaringan disekitar
Pemeriksaan darah lengkap ↓

dihasilkan, Hb 10. Kerusakan vaskuler (arteri

TD: 110/60, RR: 24 x/mnt, Nadi femoralis)

100 x/mnt, CRT 3 detik. ↓


Perdarahan banyak

Volume cairan dalam tubuh
menurun

Hipovolemi
3. DS:- Perdarahan banyak Risiko perfusi
DO: klien terlihat adanya ↓ serebral tidak
penurunan kesadaran, GCS CO menurun efektif

44
E1V1M1. ↓
TD: 110/60, RR: 24 x/mnt, Nadi Suplai darah dan O2 ke otak
100 x/mnt, CRT 3 detik. menurun

Gangguan metabolisme

Produksi asam laktat meningkat

Edema serebral

Risiko perfusi serebral tidak
efektif

3.5 Diagnosa Keperawatan


1. Pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas d.d penggunaan otot
bantu pernafasan
2. Hipovolemia b.d kehilangan cairan aktif d.d tekanan darah menurun
3. Risiko perfusi serebral tidak efektif d.d cedera kepala
3.6 Implementasi Keperawatan

No. Masalah Keperawatan Intervensi


1. Pola nafas tidak efektif Manajemen Jalan Nafas
1. Monitor pola nafas
2. Monitor bunyi nafas
3. Pertahankan kepatenan jalan nafas
4. Posisikan semi-fowler
5. Berikan oksigen

Pemantauan Respirasi
1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya
nafas
2. Monitor adanya sumbatan jalan nafas
3. Auskultasi bunyi nafas
4. Monitor saturasi oksigen

45
5. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru

2. Hipovolemia Manajemen Hipovolemia


1. Periksa tanda dan gelaja hipovolemia
2. Monitor intake dan output cairan
3. Hitung kebutuhan cairan
4. Kolaborasi pemberian cairan IV
Pemantauan Cairan
1. Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
2. Monitor frekuensi nafas
3. Monitor tekanan darah
4. Identifikasi tanda-tanda hipovolemia
5. Monitor hasil pemeriksaan serum
3. Risiko perfusi serebral Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial
tidak efektif 1. Monitor tanda/gejala TIK
2. Atur ventilator agar PaCO2 optimal
3. Berikan posisi semi fowler
4. Monitor intake dan output cairan
5. Monitor status pernafasan
Pemantauan Tekanan Intrakranial
1. Identifikasi penyebab tekanan TIK
2. Monitor peningkatan TD
3. Monitor frekuensi jantung
4. Monitor penurunan tingkat kesadaran
5. Pertahankan posisi kepala dan leher netral

3.7 Implementasi
No. Tanggal dan Implementasi Evaluasi TTD
Pukul
1. 6 Maret 2019 1. Memonitor pola nafas S: -
10.00 2. Memonitor bunyi nafas O:
3. Mempertahankan - RR : 22x/menit
kepatenan jalan nafas - TD : 100/70 mmHg
4. Memposisikan semi- - T : 36,5-37,5 C

46
fowler - N : 100x/menit
5. Memberikan oksigen A: Masalah belum teratasi
6. Memonitor frekuensi, P: Lanjutkan Intervensi
irama, kedalaman, dan 1,2,3,6,7,9
upaya nafas
7. Memonitor adanya
sumbatan jalan nafas
8. Mengauskultasi bunyi
nafas
9. Memonitor saturasi
oksigen
2. 6 Maret 2019 1. Memperiksa tanda dan gelaja S: -
10.35 hipovolemia O:
2. Memonitor intake dan output - Turgor kulit normal
cairan
- Intake output seimbang
3. Menghitung kebutuhan
A: Masalah teratasi
cairan
P: Hentikan Intervensi
4. Mengkolaborasi pemberian
cairan IV
5. Memonitor frekuensi dan
kekuatan nadi
6. Memonitor frekuensi nafas
7. Memonitor tekanan darah
8. Mengidentifikasi tanda-
tanda hipovolemia
9. Memonitor hasil
pemeriksaan serum
3. 6 Maret 2019 1. Memonitor tanda/gejala TIK S: -
10.55 2. Mengatur ventilator agar O:
PaCO2 optimal - Kesadaran pasien mulai
3. Memberikan posisi semi
meningkat GCS 3-4-5
fowler
- TD 100/60 mmHg
4. Memonitor intake dan output
A: Masalah belum teratasi
cairan

47
5. Memonitor status pernafasan P: Lanjutkan Intervensi
6. Mengidentifikasi penyebab 1,5,7,910
tekanan TIK
7. Memonitor peningkatan TD
8. Memonitor frekuensi jantung
9. Memonitor penurunan
tingkat kesadaran
10. Mempertahankan posisi
kepala dan leher netral

48
BAB 4
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Kecelakaan adalah serangkaian peristiwa dari kejadian-kejadian
yang tidak terduga sebelumnya, dan selalu mengakibatkan kerusakan pada
benda, luka, atau kematian. Secara umum ada tiga faktor utama penyebab
kecelakaan; Faktor Pengemudi (Road User), Faktor Kendaraan (Vehicle),
Faktor Lingkungan Jalan (Road Environment). Kecelakaan yang terjadi
pada umumnya tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan
hasil interaksi antar faktor lain. Tindakan kedaruratan yang dapat dilakukan
ketika terjadi kecelakaan yaitu melakukan pengecekan ABC (Airway,
Breathing, Circulation). Selain melakukan ABC hal penting lainnya yaitu
mengevakuasi korban ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan tindakan
lebih lanjut.
1.2 Saran
Dengan mempelajari materi ini mahasiswa keperawatan yang
nantinya menjadi seorang perawat professional agar dapat lebih terampil
ketika menemukan pasien yang mengalami kecelakaan dan dapat
melakukan pertolongan segera. Mahasiswa dapat melakukan tindakan-
tindakan emergency untuk melakukan pertolongan segera kepada pasien
yang mengalami kecelakaan lalu lintas.

49
DAFTAR PUSTAKA

Ambulance.nsw.gov.au. (2016). Patient Transport Service - New South Wales


Ambulance. [online] Available at: http://www.ambulance.nsw.gov.au/about-
us/Patient-Transport-Service.html [Accessed 26 Feb. 2019].
Amiruddin, Kamal. 2012. 2010. Penanganan Korban Akibat Kecelakaan Lalu
Lintas. Diunduh di
https://www.academia.edu/10777367/P3K_PADA_KORBAN_KECELAK
AAN_LALULINTAS_KLL_ pada 06 Maret 2019 pukul 9.37
Ariwibowo, Raditya, 2013, Hubungan antara Umur, Tingkat Pendidikan,
Pengetahuan, Sikap Terhadap Praktik Safety Riding Awareness pada
Pengendara Ojek Sepeda Motor Di Kecamatan Banyumanik, Jurnal
Kesehatan Masyarakat Volume 2 No.1
CoBaTrICE Collaboration. 2006. CoBaTrICE Competencies. European Society of
Intensive Care Medicine (ESICM)
Commission on Accreditation of Ambulance Services. 2016. Ground Vehicle
Standard for Ambulances v.1. CAAS
Definitions.uslegal.com. (2016). Air Ambulance Law & Legal Definition. [online]
Available at: http://definitions.uslegal.com/a/air-ambulance%20/ [Accessed
26 Feb. 2019].
Ditjen Perhubungan Darat, 2009, Buku Petunjuk Tata Cara Bersepeda Motor Di
Indonesia, Departemen Perhubungan Republik Indonesia, Jakarta
Federation Specification for the Star of Life Ambulance. 2002. General Service
Aministration
Haryotedjo, Tri, 2012, Perilaku Peletakan Helm pada Sepeda Motor, Jurnal Seni
Rupa dan Desain Volume 3 No.1 September-Desember
Idries, A. M. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi I. Jakarta: Binarupa
Aksara
Kemenkes Republik Indonesia. 2009. Undang-undang No.28 tentang Pedoman
Penanganan Evakuasi Medik.
Kementrian Perhubungan RI Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Direktorat
Keselamatan Transportasi Darat. 2013. Petunjuk Teknis Pemilihan Awak

50
Kendaraan Umum Teladan Tingkat Nasional 2013 diunduh di
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&
cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjKk4v38OnLAhWDCI4KHa1ADaIQFggc
MAA&url=http%3A%2F%2Fhubdat.dephub.go.id%2Fspesialkonten%2Fdo
kumen-publikasi%2Fumum%2F1458-petunjuk-teknis-pemilihan-awak
kendaraan-umum-teladan-tingkat-nasional-tahun
2013%2Fdownload&usg=AFQjCNE87D531lZylQulaHIqwb0u2fMekw&si
g2=AcAONiJFu9RhFGAz954k3A
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Teknis Ambulan. Direktorat Jendral
Bina Upaya Kesehatan
Mahawati, Eni, dan Jaka Prasetya, 2013, Analisis Penggunaan Handphone Saat
Berkendara Terhadap Potensial Kecelakaan Lalu Lintas pada Remaja Di
Semarang, Jurnal Semantik 2013
Puspitasari, Ayu Dwi dan Lucia Yovita Hendrati, 2013, Hubungan antara Faktor
Pengemudi dan Faktor Lingkungan dengan Kepatuhan Mengendarai
Sepeda Motor, Jurnal Berkala Epidemiologi Volume 1 No. 2 September
Senapathi, Tjokorda dkk.2015. Medical Evacuation (Medivac). (online),
http://fk.unud.ac.id/wp-content/uploads/2015/10/Medical-Evacuation-
2015.pdf. Diakses tanggal 25 Februari 2019 pukul 17.30 WIB
Smith, Fang Gao. 2010. Core Tropics in Critical Care Medicine. Cambridge
University Press
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan
Vincent, Jean L. et al. 2011. Textbook of Critical Care Sixth Edition.
Philadelphia: Elsevier Saunders
WHO, 1984, Road traffic accidents in developing countries: report of a WHO
meeting, World Health Organization (WHO), Geneva, Switzerland.
WHO, 2007.World Report on Road Traffic Injury Prevention.Peden et al, World
Health Organization, Geneva, Switzerland
https://en.wikipedia.org/wiki/Star_of_Life#/media/File:Star_of_life_parts.svg
https://www.kaskus.co.id/thread/51c8f2057b1243b967000009/yayasan-ambulans-
gawat-darurat-118-jakarta/
https://ambulans118.org/

51
52