Anda di halaman 1dari 8

Nama : Diah Ayuk Tri Sutaji

Jurusan/fakultas : Pendidikan Guru Sekolah Dasar/Fakultas Keguruan dan Ilmu


Pendidikan

PENTINGNYA IMPLEMENTASI GERAKAN SHOLAT BERJAMAAH DI ERA


MODERN

Perubahan zaman berevolusi dengan cepat, dari zaman masyarakat primitif hingga
masyarakat modern, dari zaman masyarakat sosialis, demokratis, hingga individualis.
Berbagai hiruk pikuk problematika negarapun silih berganti seiring dengan
perkembangan pengetahuan dan teknologi. Masalah muncul dari tatanan pemerintahan
paling atas hingga paling bawah. Berbagai macam masalah yang berkaitan dengan
persatuan dan kesatuan umat, kedamaian dan kesetaraan nampaknya masih hangat
diperbincangkan. Apalagi pada suasana politik yang saat ini tengah memanas tentunya
banyak menimbulkan konflik baik antar individu maupun golongan.

Orang-orang di zaman modern seperti sekarang ini memiliki pola pikir yang telah
tercemari oleh lifestyle Barat, terutama dalam hal pergaulan. Keharmonisan semakin
renggang karena sifat individualistik mulai merasuk dalam setiap pribadinya. Ditambah
lagi munculnya gadget yang menambah sikap apatis dari para generasi milenial saat ini.
Banyak konflik sosial yang terjadi di negeri tercinta kita ini. Memang bangsa Indonesia
adalah bangsa yang heterogen dengan kemajemukannya, namun justru tidak sedikit
konflik yang terjadi adalah umat seagama. Bahkan hanya karena masalah sepele konflik
muncul dengan mudahnya.

Berbagai kompleks masalah ini tentu telah ada upaya dari pemerintah selaku
pemimpin negara dalam menanganinya. Namun lagi-lagi upaya tersebut terhambat karena
minimnya dukungan warga baik secara moriil maupun materiil dalam mendukung
terlaksananya upaya tersebut. Masyarakat saat ini mulai terkikis kepercayaannya pada
pemimpinnya. Padahal sebagian besar rakyat Indonesia adalah umat islam dan tentunya
paham betul akan ketaatan pada pemimpinnya seperti yang tercantum dalam firman Allah
QS. An-Nisa ayat 59 :

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri
di antara kamu”.

Selama pemimpinnya menyeru pada kebajikan tentunya hal ini wajib diikuti.

Tumpuan terbesar majunya negara ini adalah pada pundak setiap pemuda. Pemuda
yang memiliki daya pikir yang luas, kreatif, inovatif dan kritis sangat diharapkan mampu
membantu menyelesaikan dinamika permasalahan yang ada. Namun saat ini, rasa simpati
dan empati mulai memudar dan sedikit yang memiliki rasa kepedulian terhadap sesama.
yang dikehendaki adalah memperturutkan hawa nafsu dan kesenangan sendiri tanpa
memikirkan nasib orang lain. Misalnya saja ketika ada korban bencana alam, hanya
minoritas pemuda yang mau terjun untuk melakukan penggalangan dana atau menjadi
relawan, sisanya hanya duduk manis dengan dunia mereka sendiri.

Degradasi moral juga merebak dimana-mana. Tentu ini menambah keraguan akan
harapan yang terlanjur disandangkan pada para pemuda sebagai generasi penerus bangsa.
Sikap sopan santun, menghormati orang tua sudah jarang ditemukan di zaman seperti ini.
Sikap sosial nampaknya mulai tidak dikenal dan tergantikan oleh sikap acuh tak acuh.

Berbagai masalah muncul sejatinya penyebabnya hanya satu. Umat islam telah
meninggalkan pedomannya, yaitu Alqur’an dan As-sunnah. Di dalam Alqur’an mengatur
segala aspek kehidupan baik itu bidang ekonomi, politik, sosial budaya, dan lain
sebagainya. Namun pedoman itu hanya tinggal pajangan usang seakan tak berarti. Hal
inilah yang menyebabkan keterpurukan umat saat ini. Alhasil kehidupan tidak berjalan
dengan baik dan ketidakseimbangan yang ada. Jikalau satu saja ayat Alquran diamalkan,
maka permasalahan-permasalahan yang ada akan berkurang dan mulai terurai benang
kusutnya.

Satu ayat Alquran yang mampu menjawab permasalahan diatas adalah QS. AL-
Baqarah ayat 43 : “Dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan rukuklah bersama orang-
orang yang rukuk”. Perintah rukuk bersama orang-orang yang rukuk berarti juga perintah
untuk melakukan shalat secara bersama-sama (berjamaah).
Sesuai sabda Rasulullah SAW dalam hadist :
“Apabila berkumpul tiga orang di suatu desa atau lokasi, kemudian di sana tidak
dilaksanakan shalat jama’ah, berarti setan telah menguasai mereka. Maka hendaklah
kamu berjama’ah, karena sesungguhnya srigala hanya akan memangsa domba yang
terpisah dari kelompoknya”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i)

Perintah dalam ayat Alquran dan Hadist tersebut adalah untuk menghidupkan kembali
sholat berjamaah dalam lingkungan masyarakat, dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa harus sholat berjamaah? Shalat berjama’ah diharapkan mampu
memberikan pendidikan sosial yang terarah dan menjadi pengendali diri manusia.
Keakuan seorang muslim harus lebur secara konseptual bersama “aku” lainnya dan
menjadi kami, sehingga komunitas muslim menjelma sebagaimana yang digambarkan
Nabi Mumammad SAW, bagaikan satu jasad yang seluruh anggota ikut merasakan derita
apabila salah satu organnya sakit. Bahkan lebih luas lagi, kesadaran kebersamaan tersebut
bukan hanya mencakup sesama muslim tetapi mencakup umat manusia secara
keseluruhan.
Mengingat masyarakat sekarang mulai enggan melaksanakan sholat berjamaah dan
memilih untuk sholat sendiri di rumah, padahal manusia harus sadar bahwa esensi sholat
berjamaah memiliki makna yang luas dan berimplikasi dalam kehidupan sosial.
Kesadaran ini didasarkan atas prinsip bahwa pada hakikatnya seluruh manusia adalah satu
kesatuan, sehingga menghasilkan solidaritas kemanusiaan yang tinggi dan kepekaan
sosial yang dalam. Tidak merasakan apapun kecuali derita umat manusia, dan tidak akan
berupaya kecuali mewujudkan kesejahteraan manusia.
Dalam pelaksanakan shalat berjama’ah, terkandung pendidikan berorganisasi. Di
sana ada keteraturan, kerapian, dan kedisiplinan. Ada pula yang berkedudukan sebagai
imam (pemimpin) dan makmum (yang dipimpin) yang berarti adanya tuntunan untuk
patuh pada pimpinan dan diharapkan masing-masing sadar dengan posisinya serta tahu
tugas yang diembannya. Jadi, shalat berjamaah mengajarkan kepada kita bagaimana
berorganisasi yang baik, yang intinya adalah patuh pada pimpinan dan taat aturan.
Dengan demikian umat islam akan menjadi satu komunitas yang solid, kuat, dan disegani.
Hidup itu ada 2 hal yang harus dijaga, yaitu habluminallah dan habluminannas.
Sholat berjamaah sekaligus mengaplikasikan kedua-duanya yaitu hubungan vertikal
dengan Allah melalui sholat yang dilakukannya, serta hubungan horizontal antar manusia
melalui sholat yang dilakukan secara berjamaah. Hubungan yang harmonis akan terjalin
ketika masyarakat terbiasa melakukan sholat berjamaah. Dari sinilah muncul interaksi
dan timbullah rasa persaudaraan atas dasar keimanan. Kebersamaan yang terbangun akan
memunculkan sikap perhatian dan peduli sehingga terciptalah masyarakat yang saling
tolong menolong dan bahu membahu.
Nilai-nilai dalam sholat berjamaah mengajarkan kesetaraan. Orang yang menjadi
makmum masbuq harus berada di barisan shaf belakang tanpa memandang jabatan atau
gelar yang disandangnya. Islam tidak memuliakan orang yang memiliki jabatan tinggi,
melainkan orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. Jadi, baik kaya atau miskin,
ganteng/cantik atau jelek, tidak ada diskriminasi dalam hal ini. Itu artinya, semua orang
setara di mata Allah, yang membedakan hanya amal baiknya. Hal ini mengajarkan untuk
saling menghargai dan bersikap rendah hati serta tidak menyombongkan apa yang
dimilikinya.
Sholat berjamaah mengajarkan pada kita tentang rasa perdamaian. Terlihat dalam
sholat yang dilakukan secara khusuk dan tenang, atau dalam sholat biasa disebut
tuma’ninah. Wujud taat pada imam (pemimpin) dilakukan makmum (yang dipimpin)
tanpa adanya protes dan dengan tenang mengikuti gerakan imam, dan lebih indahnya lagi
dilakukan secara kompak bersama-sama. Tentu ini bisa dijadikan pelajaran dalam
memaknai kepemimpinan yang sebenarnya. Alangkah indahnya jika masyarakat mampu
secara totalitas mendukung setiap i’tikad baik dari seorang pemimpin dalam membawa
negaranya ke arah yang lebih baik dan lebih maju.
Ketika imam melakukan kesalahan entah karena lupa gerakan atau bacaan, maka bagi
makmum laki-laki mengucapkan subhanallah dan makmum perempuan menepuk tangan.
Secara realita, dapat berarti ketika pemimpin melakukan kesalahan, hendaknya
masyarakat memberi kritik dan saran kepada pemimpin yang melakukan suatu kesalahan
dengan sikap yang penuh kelembutan dan sopan santun. Terlebih lagi mampu
memberikan solusi, sehingga setiap kritikan tidak hanya berakhir dengan hujatan
melainkan jalan keluar yang mampu membawa pada perbaikan-perbaikan.
Lantas bagaimana masyarakat mampu mewujudkan kecintaan terhadap gerakan
sholat berjamaah ini?
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap sholat
berjamaah. Yang pertama adalah menumbuhkan dalam diri sendiri dorongan dan
motivasi yang kuat untuk melaksanakan sholat berjamaah. Dorongan dan motivasi ini
tidak muncul dengan sendirinya. Setiap individu harus memahami betul esensi dari sholat
berjamaah dan juga manfaatnya. Sehingga motivasi itu jelas dan bisa menjadikan
stimulus yang membangkitkan semangat untuk terus melaksanakan sholat secara
berjamaah. Dorongan dan motivasi ini bisa didapat dari membaca buku atau artikel,
melihat tayangan-tayangan di televisi atau youtube, mendengarkan ceramah dan lain
sebagainya. Harus muncul kesadaran dalam diri sendiri untuk mau belajar sebagai kiat
atau upaya untuk meningkatkan ketaqwaan dengan cara meningkatkan intensifitas dalam
beribadah. Segala yang dilakukan diniatkan untuk mengamalkan Alquran dan As-sunnah
dan mendapatkan ridho Allah SWT.
Peran pendidikan sangat besar dalam implementasi gerakan sholat berjamaah.
Pendidikan harus menanamkan nilai-nilai religius agar anak memahami dengan jelas
substansi dari agama yang dianutnya. Pendidikan yang dimaksud bisa pendidikan formal
seperti di sekolah atau non-formal seperti di lingkungan keluarga. Ilmu pengetahuan
agama islam harus diajarkan pada anak-anak. orangtua atau guru juga harus memberi
contoh sholat berjamaah di masjid agar sang anak mengikutinya. Selain itu, orangtua atau
guru tidak boleh lelah dalam menasehati dan mengingatkan kepada anak untuk
melaksanakan sholat berjamaah.
selanjutnya adalah peran tokoh masyarakat yang sangat penting dalam menyiarkan
gerakan sholat berjamaah. Karena tokoh masyarakat adalah sosok yang mampu memberi
teladan serta mudah diikuti tutur katanya. Maka sudah barang tentu masyakrat lebih
mudah patuh dan mau melaksanakannya. Syiar ini dapat dilakukan melalui ceramah-
ceramah rutin yang dilakukan atau melalui interaksi sehari-hari.
Kiat selanjutnya adalah dengan menghidupkan organisasi di dalam desa, seperti
karang taruna, dan lain sebagainya. Organisasi ini perlu merencanakan program-program
islami di masyarakat sebagai upaya mewujudkan masyarakat cinta sholat berjamaah
terutama di masjid dan bertujuan untuk memakmurkan masjid.
Langkah selanjutnya adalah sumbangsih dari pemimpin. Sebaik-baiknya ajakan
atau dakwah dari ustadz/ah atau ulama, masih lebih mudah dilakukan oleh orang yang
memiliki wewenang seperti pemimpin. Karena pemimpin memiliki wewenang membuat
peraturan dan bersifat memaksa. Pendakwah hanya mampu berdakwah secara lisan dan
berharap hidayah datang serta hanya bersenjata dengan doa, berbeda dengan pemimpin
yang bersifat mengikat dan tegas. Maka hal ini adalah kesempatan yang bagus untuk
memberi penegasan kepada masyarakat akan pentingnya sholat berjamaah bagi
keberlangsungan negara dan untuk mencapai kedamaian dan ketentraman masyarakat.
Instansi pendidikan perlu terlibat dalam implementasi gerakan sholat berjamaah,
karena lingkungan berperan sangat baik dalam mendidik melalui pembiasaan-pembiasaan
yang akan membudaya. Instansi pendidikan merupakan solusi ideal dalam implementasi
gerakan sholat berjamaah karena instansi memiliki peraturan yang mengikat
mahasiswanya. Tanpa adanya peraturan yang bersifat memaksa, perubahan akan sulit
diwujudkan. Kehidupan kampus adalah tempatnya para pemuda sebagai agent of change
juga penegak agama Allah. Tegaknya syariat islam bisa dilihat dari seberapa besar
pemudanya yang terikat dengan masjid. Untungnya, di Indonesia ini memiliki kampus-
kampus yang berlabel ‘islam’ seperti Universitas Islam Agung (Unissula) Semarang yang
memiliki wewenang melegalkan syariat islam. Gerakan sholat berjamaah merupakan
salah satu pembiasaan yang betul-betul dipantau oleh segenap civitas akademik.
Beberapa aturan juga diterapkan untuk menunjang proses pelaksanaannya, seperti
menutup pintu gerbang kampus saat adzan dikumandangkan hingga sholat selesai,
perkuliahan dihentikan di waktu-waktu sholat, dan dibentuknya tim yang berperan
mengajak seluruh warga kampus untuk melaksanakan sholat berjama’ah di masjid yang
biasa disebut Motivator BudAI. Pembiasaan-pembiasaan yang bersifat mengikat tentunya
akan lebih mudah membudaya dibandingkan dengan mengandalkan kesadaran. Dengan
lingkungan yang semacam itu, maka bukan suatu hal yang mustahil masjid Abu Bakar
Assegaf – Masjid di Unissula – selalu penuh saat sholat berjamaah berlangsung, baik itu
shaf putra di lantai satu atau shaf putri di lantai dua. Harapannya instansi-instansi
pendidikan terutama kampus-kampus lain bisa meniru budaya-budaya tersebut sebagai
ikhtiar dalam menegakkan sholat secara berjamaah.
Berbagai problem yang tiap hari datang silih berganti merupakan buah dari ulah
manusia. Manusia yang meninggalkan pedoman hidup yang mampu memberikan
petunjuk menuju jalan yang lurus, yaitu Alquran dan As-sunnah. Jika saja manusia
mampu mengamalkan satu ayat saja, maka permasalahan yang rumit dapat berkurang.
Permasalahan umat yang kini terjadi adalah ketidakteraturan dalam sistem kepemimpinan
ini baik dari faktor pemimpinnya atau yang dipimpin. Masyarakat perlu merenungi
kembali QS. Al-Baqarah ayat 43 yang berkaitan tentang perintah sholat berjamaah untuk
mewujudkan kehidupan yang lebih teratur. Berbagai dampak positif dari implementasi
ayat ini adalah munculnya jiwa sosial, kepekaan sosial, keteraturan dalam kepemimpinan,
kedamaian, solidaritas, kebersamaan, kesetaraan, ketaatan pada pemimpin, dan lain
sebagainya. Upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap
gerakan sholat berjamaah adalah dari dalam diri sendiri yaitu menumbuhkan dorongan
dan motivasi, serta dari luar yaitu melalui pendidikan agama islam, peran tokoh
masyarakat, kegiatan-kegiatan organisasi desa yang islami, peran pemimpin dalam
membuat peraturan sedemikian rupa demi kemakmuran masjid,
DAFTAR PUSTAKA
Shidiq, G., dkk.________. BUDAI (Budaya Akademik Islami). Semarang: SA
Press.