Anda di halaman 1dari 30

PENATALAKSANAAN ASFIKSIA

BAYI BARU LAHIR


No. Dokumen : 069
No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit :
Halaman : 6 Halaman
Tanda Tangan Kepala PUSKESMAS
Puskesmas
dr. Penie Ariestia W.A
Rancamanyar
19820319 201001 2 018

1. Pengertian Suatu intervensi tindakan yang dilakukan untuk membantu bayi


baru lahir yang tidak bernafas spontan dan teratur
2. Tujuan Suatu intervensi tindakan yang dilakukan untuk membantu bayi
baru lahir yang tidak bernafas spontan dan teratur
3. Kebijakan
4. Referensi 1. Direktorat Kesga, Dirjen Kesmas, Kemenkes RI, 2018, Modul
Pelatihan Bagi Pelatih ( TOT) Penanganan Kegawatdaruratan
Maternal dan Neonatal Bagi Dokter Umum, Bidan dan
Perawat, Kemenkes RI, Jakarta.
2. Kementrian Kesehatan RI, WHO (2013), Buku Saku Pelayanan
Kesehatan Ibu Di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Untuk Tenaga Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI,Jakarta.
5. Langkah- A. Persiapan Resusitasi
langkah 1. Informed Consent dan komunikasi
2. Menyusun tim
3. Pengenalan faktor risiko ibu dan bayi baru lahir
4. Menyiapkan alat dan memastikan berfungsi
5. Mengetahui indikasi melakukan resusitasi (langkah awal).
B. Resusitasi Pada Bayi Baru Lahir
6. Penilaian awal ( bernafas, menangis, tonus otot) jika salah
satu jawaban tidak maka bayi perlu tindakan resusitasi
7. Melakukan langkah awal
a. Memastikan bayi tetap hangat (meletakkan bayi baru
lahir di bawah penghangat dengan pemancar panas) dan
melakukan pemasangan plastik dan topi bayi sebagai
metode kehangatan.
b. Atur posisi dan bersihkan jalan lahir
c. Membersihkan jalan napas
d. Mengeringkan, mengganti kain basah
e. Melakukan stimulasi
f. Reposisi kepala 9 (memposisikan kembali)
8. Melakukan evaluasi (usaha nafas, laju denyut jantung dan
tonus otot)
9. Membuat keputusan untuk langkah selanjutnya
10. Mengetahui indikasi melakuakn Ventilasi Tekanan Positif
a. Jika bayi baru lahir tidak bernafas/ megap megap atau
laju denyut jantung < 100x/menit maka lakukan VTP dan
Pasang sensor pulseoxymetri di tangan kanan (saturasi
oksigen).
b. Jika bayi baru lahir bernafas spontan dan denyut jantung
> 100 x/menit tetapi ada distress respirasi (takipnea,
tarikan dinding dada, merintih) maka lakukan
pemasangan CPAP dan pasang pulse oxymeter
ditangan kanan.
11. Melakukan ventilisasi Tekanan Positif dengan Balon
sungkup + katup PEEP
12. Menentukan ukuuran sungkup yang sesuai
13. Memastikan jalan nafas terbuka
14. Melekatkan sungkup yang benar
15. Melakukan VTP
16. Melakukan koreksi jika dada tidak mengembang
17. Melakukan VTP dengan frekuensi 20 – 30 x per 30 detik
18. Melakukan evaluasi setelah VTP selama 30 detik
19. Setelah VTP 30 detik, evaluasi usaha napas, denyut jantung
dan saturasi oksigen.
20. Membuat keputusan untuk melakukan langkah berikutnya.
a. Bila nafas spontan denyut jantung > 100 x/menit dan
tidak ada tanda – tanda doistres respirasi, lakukan
perawatan pasca resusitasi
b. Bila nafas spontan dan denyut jantung > 100 x/menit dan
ada tanda- tanda distress respirasi, berikan CPAP
c. Bila belum ada nafas spontan, denyut jantung < 60 x/
menit lanjutkan VTP
d. Bila bayi belum bernafas dan denyut jantung < 60 kali /
menit lakukan VTP dan kompresi dada
e. Jika sudah kompeten lanjutkan ke VTP berkelanjutan
dengan t- piece resuscitator, jika tidak kompeten dalam
melakukan kompresi dada maupun VTP dengan t- piece
lakukan rujukan dengan tetap melakukan VTP sampai
ketempat rujukan.
21. Melakukan persiapan alat untuk melakukan VTP lanjutan
dengan t- piece dengan mengatur tekanan positif akhir
respirasi ( end-expiratory pressure / PEEP yang akan
diberikan 5-8 cm H2O) umumnya dimulai dengan 7, hingga
manometer menunjukkan PEEP yang diinginkan.
22. Melakukan sungkup dengan ukuran yang sesuai pada wajah
bayi.
23. Melakukan pengamatan saturasi oksigen pada pulse
oxymetri
24. Melakukan evaluasi saturasi oksigen
a. Jika setelah pemberian PEEP, saturasi oksigen masih
belum naik, maka pemberian FiO2 dinaikan bertahap.
b. Pada bayi cukup bulan pemberian oksigen dimulai dari
konsentrasi 21% dan pada bayi kurang bulan pemberian
oksigen dimulai dari konsentrasi 30%, kemudian bisa
dinaikkan bertahap sesuai dengan tabel yang telah
ditentukan.
c. Pikirkan pemasangan LMA bila VTP dengan t- piece
resuscitator tidak efektif
25. Petugas mampu mengetahui indikasi dilakukannya
pemasangan Laryngeal Mask Airway (LMA)
26. Melakukan persiapan alat
27. Kempiskan cuff dan jaga agar tidak terlipat
28. Mengolesi bagian belakang dan samping LMA dengan air
liur bayi
29. Peganglah LMA seperti memegang pensil dengan bagian
sungkup menghadap ke depan
30. Masukan LMA menyusuri bagian tengah langit – langit
mulut.
31. Dorong sungkup dengan jari telunjuk menyusuri langit- angit
mulut kearah faring sampai terasa ada tahanan.
32. Pegang pipa LMA agar tidak berubah posisi dengan tangan
kiri, jari telunjuk kanan ditarik dari mulut bayi
33. Kembangkan cuff dengan memasukkan 4ml udara dengan
spuit, pada waktu tersebut tampak LMA sedikit terdorong
keluar.
34. Hubungkan dengan alat resusitasi ventilasi.
35. Peserta mengetahui indikasi dilakukannya kompresi dada
36. Kompresi dada dilakukan terkoordinasi dengan VTP satu
orang melakukan kompresi dada dan satu orang melakukan
VTP
37. Posisi penolong dalam melkaukan kompresi dada
menghadap kepala dengan kedua tangannya dalam posisi
yang benar
38. Tempat melakukan kompresi dada di sepertiga distal
sternum tepat di kausal linea internamilaria dengan
kedalaman penekanan sepertiga diameter anteroposterior
rongga dada.
39. Bisa menggunakan dua tekhnik yaitu tekhnik ibu jari dengan
menggunakan ujung jbu jari, jari jari yang lain melingkari
dada, dan tekhnik dua jari dengan menggunakan ujung dua
jari (jari tengah dan telunjuk ) sedangkan tangan yang
satunya menopang di punggung bayi.
40. Rasio kompresi dada 3:1 dengan total 90 kali kompresi dan
30 nafas setiap menitnya
41. Konsentrasi oksigen dinaikan 100 %, perhatikan efektifitas
ventilasi
42. Melakukan kompresi dada dan VTP selama 1 menit dan
menjaga konsistensi
43. Melakukan evaluasi (laju denyut jantung , usaha napas )
setiap 60 detik
44. Petugas mampu memutuskan dan melakukan :
a. Menghentikan VTP – kompresi dada Jika laju denyut
jantung > 100x/menit bayi bernafas spontan.
b. Menghentikan kompresi dada dan melanjutkan VTP jika
laju denyut jantung > 60 x/menit dan bayi belum bernafas
spontan
c. Opsi hanya perlu diketahui ; memberikan larutan
adrenalin 1:10.000 dengan dosis 0,1 0,3mL/KgBB
melalui vena umbilikal, emlanjuktan kompresi dada dan
VTP jika laju denyut jantung < 60 x/menit dan bayi belum
bernafas spontan:
1) Melakukan pemasangan kateter vena umbilical
2) Mengidentifikasi kebutuhan pemberian volume
3) Melakukan stabilisasi pada bayi baru lahir pasca
resusitasi
4) Melakukan transportasi pada bayi baru lahir pasca
resusitasi
45. Mengetahui indikasi dilakukannya kateterisasi umbilical
46. Petugas melakukan kateterisasi umbilical
a. Persiapan alat
b. Cuci tangan dengan antiseptic
c. Memakai sarung tangan steril
d. si lebih dahulu kateter ukuran 3.5F atau 5 F yang telah
disambung dengan semprit dan stopcock dengan garam
fisiologis.
e. Pasang sebuah keran 3 arah (3 way stopper) steril dan
semprit kateter 5FG dan isi dengan saline normal, lalu
tutup keran.
f. Bersihkan umbilicus dan kulit sekelilingnya dengan
larutan antiseptic, lalu ikat longgar dengan benang
mengelilingi dasar umbilicus.
g. Potong umbilicus 1-2 cm dari batas kulit dan Wharton
jelly dengan pisau steril. Tentukan vena umbilicus (
pembuluh darah yang menganga lebar) dan arteri
umbilicus ( dua pembuluh darah berdinding tebal)
h. Pegang umbilicus ( yang dekat dengan pembuluh vena
dengan forsep steril)
i. Tekanan ringan bila ada perdarahan, bersihkan dan
asepsis kembali.
j. Pegang bagian dekat ujung kateter dengan forceps steril
dan masukkan kateter ke dalam vena ( kateter harus
dapat menembus dengan mudah tanpa ada tahanan)
sedalam 4-6 cm . Alur vena akan menuju kearah jantung.
Tarik darah sehingga mengalir dengan mudah ketika
membuka threeway stopcock kearah semprit dan
menghisap secara perlahan.
k. Periksa kateter tidak menekuk dan darah tidak mengalir
balik dengan mudah, bila ada sumbatan tarik pelan-
pelan umbilicus, tarik kebelakang sebagian kateter dan
masukan kembali.
l. Kaji jangan sampai ada udara di selang infuse dan tutup
ujung set, masukkan obat- obatan atau cairan fisiologis
sesuai indikasi.
m. Bila sudah didapatkan perbaikan denyut jantung, kateter
segera dilepas.
n. Asepsis kembali area pemasangan kateter umbilical.
47. Mengidentifikasi kebutuhan pemberian volume
48. Melakukan stabilisasi pada bayi baru kahir pasca resusitasi
Melakukan transportasi pada bayi baru lahir pasca resusitasi
6. Unit Terkait
7. Rekaman Tanggal mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Historis diberlakukan
Perubahan
MANUAL PLASENTA

No. Dokumen : 070


No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit :
Halaman : 4 Halaman
Tanda Tangan Kepala PUSKESMAS
Puskesmas
dr. Penie Ariestia W.A
Rancamanyar
19820319 201001 2 018

1. Pengertian Suatu tindakan intervensi kepada ibu bersalin, segera setelah 30


menit bayi lahir namun tidak disertai lahirnya plasenta dengan cara
melepaskan plasenta dari tempat implantasinya dan
mengeluarkannya dari kavum uteri secara manual.
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penanganan Retensio Plasenta
3. Kebijakan
4. Referensi 1. Direktorat Kesga, Dirjen Kesmas, Kemenkes RI, 2018, Modul
Pelatihan Bagi Pelatih ( TOT) Penanganan Kegawatdaruratan
Maternal dan Neonatal Bagi Dokter Umum, Bidan dan
Perawat, Kemenkes RI, Jakarta.
2. Kementrian Kesehatan RI, WHO (2013), Buku Saku Pelayanan
Kesehatan Ibu Di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Untuk Tenaga Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI,Jakarta.
3. Saifuddin Abdul Bari, dkk(2010) , Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
5. Langkah- A. Penerimaan Pasien dan Persetujuan Tindakan Medis
langkah 1. Menyapa pasien, keluarga serta memperkenalkan diri setiap
pertama kali berinteraksi dengan pasien dan keluarga
2. Memberikan informed consent pada ibu dan keluarga
3. Mencuci tangan dengan alkohol rub sebelum menyentuh
pasien
Tindakan ini harus dilakukan oleh petugas yang kompeten yang
bekerja dalam tim. Tindakan manual plasenta dapat dilakukan
oleh orang pertama atau orang kedua.
B. Persiapan Klien
1. Cairan dan selang infus sudah terpasang. Perut bawah dan
paha sudah dibersihkan
2. Uji fungsi kelengkapan peralatan
3. Menyiapkan kain alas bokong dan penutup perut bawah
4. Medikamentosa:
a. Analgetik ( Petidin 1-2mg/kgBB / Ketamine HCL
0,5mg/kgBB /Tramadol 1-2mg/kgBB ( harus dilakukan
oleh petugas kesehatan yang kompeten di fasilitas
dengan supervisi oleh dari dokter.)
b. Sedativa (Diazerpam 10mg)
c. Uterotonika (Oksitosin, Ergometrin,Prostaglandin)
d. Bethadine
e. Oksigen dan regulator
C. Persiapan Penolong
1. Celemek, masker, kacamata pelindung, sepatu bot
2. Sarung tangan panjang DTT/ steril
3. Intrumen ;
a. Klem : 2 buah
b. Spuit 5 cc dan jarum no 23 : 4 buah
c. Wadah plasenta : 1 buah
d. Kateter dan penampung air kemih : 1 buah
e. Hecting set : 1 set
f. Larutan klorin 0,5%
D. Tindakan Pertolongan Perdarahan Pasca Salin Karena
Retensio Plasenta
1. Mencuci tangan hingga siku dengan air dan sabun
kemudian keringkan
2. Ibu dalam posisi litotomi pada tempat tidur ginekologi
3. Memberikan sedative dan analgetik melalui karet infus (
dilakukan petugas kesehatan sesuai kompetensi)
4. Memakai sarung tangan steril hingga mencapai siku
5. Mengosongkan kandung kemih menggunakan kateter
6. Jepit tali pusat dengan klem, tegangkan tali pusat dengan
tangan kiri sejajar lantai
7. Tangan kanan dimasukkan secara obstetrik kedalam
kavum uteri dengan mengikuti tali pusat hingga menyentuh
serviks
8. Setelah tangan mencpai pembukaan servik, meminta
asisten untuk memegang klem, kemudia tangan penolong
yang lain menahan fundus uteri.
9. Sambil menahan fundus uteri, memasukkan tangan dalam
kavum uteri sehingga mencapai tempat implantasi plasenta
10. Membuka tangan obstetrik menjadi seperti memberi salam
( ibu jari merapat kepangkal jari telunjuk)
11. Tentukan tepi plasenta kemudian lepaskan secara tumpul
dengan sisi ulnar tangan kanan kemudian dilepaskan
sedikit demi sedikit sampai terlepas seluruhnya.
12. Apabila plasenta sudah lepas, gunakan tangan kiri untuk
menari tali pusat guna mengeluarkan plasenta secara
perlahan sementara tangan kanan masih didalam kavum
uteri, untuk memastikan tidak ada sisa plasenta. Lahirkan
plsenta dengan menahan korpus uteri pada suprasimfisis.
13. Letakkan plasenta pada tempat yang tersedia
14. Perhatikan kontraksi uterus dan kemungkinan perdarahan
15. Memeriksa kelengkapan plasenta
16. Dekontaminasi alat bekas pakai kedalam larutan klorin
0,5% dan membuka sarung tangan didalam larutan klorin
0,5%, kenakan sarung tangan DTT kembali.
17. Membersihkan dan merapikan ibu
18. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan
dengan handuk kering dan bersih sekali pakai
E. Perawatan Pasca Tindakan
1. Berikan antibiotika profilaksis dosis tunggal :
a. Ampisilin 2 gram dan metronidazole 500mg IV
b. Atau sefazolin 1 gram dan metronidazole 500mg IV
2. Memantau tanda- tanda vital, kontraksi uterus dan
perdarahan pervaginam :
a. Setiap 15 menit pada jam pertama
b. Setiap 30 menit pada jam kedua
3. Buat laporan tindakan dan catat kondisi pasien pada catatan
medik
4. Buat intruksi pengobatan lanjutan dan hal hal penting yang
memerlukan pemantauan ketat.
5. Beritahu pada pasien dan keluarga bahwa tindakan telah
selesai dan pasien masih memerlukan perawatan
F. Persiapan Rujukan
1. Surat rujukan
2. Transportasi
3. Pertahankan cairan infus sesuai dengan kondisi pasien
4. Lanjutkan pemberian uteretonika selama perjalanan
5. Menghubungi faskes rujukan melalui telepon/ SMS
Petugas kesehatan mendampingi rujukan
6. Unit Terkait
7. Rekaman Tanggal mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Historis diberlakukan
Perubahan
PEMASANGAN KONDOM KATETER

No. Dokumen : 071


No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit :
Halaman : 2 Halaman
Tanda Tangan Kepala PUSKESMAS
Puskesmas
dr. Penie Ariestia W.A
Rancamanyar
19820319 201001 2 018

1. Pengertian Suatu tindakan yang dilakukan kepada ibu berslain untuk


menghentikan perdarahan segera setelah plasenta lahir akibat
tidak adanya kontraksi uterus setelah 15 detik dilakukan masase.
2. Tujuan Sebagai acuam dalam penanganan atonia uteri
3. Kebijakan
4. Referensi 1. Kementrian Kesehatan RI, WHO (2013), Buku Saku Pelayanan
Kesehatan Ibu Di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Untuk Tenaga Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI,Jakarta.
2. Saifuddin Abdul Bari, dkk(2010) , Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
5. Langkah- A. Persiapan alat dan obat
langkah 1. Kateter Folley No.24
2. Kondom
3. Larutan NaCL 0,9%
4. Selang infus atau spuit 50 ml
B. Pelaksanaan
1. Baringkan ibu dalam posisi litotomi
2. Cuci tangan.
3. Gunakan sarung tangan steril
4. Masukkan kateter kedalam kondom
5. Ikat dengan tali dekat degan mulut kondom.
6. Pertahankan buli dalam keadaan kosong dengan kateter
Folley.
7. Maukkan kondom yang sudah terikat dengan kateter ke
dalam rongga uterus
8. Biarkan ujung dalam kateter didalam kondom
9. Ujung luar kateter dihubungkan dengan set infus
10. Kondom dikembangkan dengan 250 – 500 ml larutan NaCl
0,9%
11. Observasi perdarahan. Jika berkurang, hentikan
pengembangan kondom lebih lanjut.
12. Ujung luar kondom dilipat dan diikat dengan tali
13. Kontraksi uterus dipertahankan dengan drip oksitosin sampai
setidaknya 6 jam setelah prosedur
14. Pertahankan posisi kondom dengan kasa gulung yang
dimasukkan didalam vagina atau kembangkan kondom
lainnya didalam vagina
15. Kondom kateter dipertahankan selama 24 jam dan setelah itu
dikempiskan bertahan (10-15 menit) dan dikeluarkan
16. Berikan antibiotika profilaksis dosis tunggal :
 Ampisilin 2g IV dan metronidazol 500 mg IV
 Atau sefazolin 1g IV dan metronidazol 500mg IV
17. Jika ada tanda infeksi berikan antibiotika kombinasi sampai
pasien bebas demam selama 48 jam :
 Ampisillin 2g IV tiap 6 jam
 Dan gentamisin 5mg/kgBB IV setiap 24 jam
 Dan metronidazol 500mg IV setiap 8 jam
Catatan :
 Perhatikan kondisi pasien selama tindakan dan
pascasalin
 Pastikan posisi balon kondom tetap didalam kavum uteri
 Komplikasi yang dapat terjadi adalah infeksi

6. Unit
Terkait
7. Rekaman Tanggal mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Historis diberlakukan
Perubahan
PENANGANAN KETUBAN PECAH
DINI

No. Dokumen : 073


No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit :
Halaman : 2 Halaman
Tanda Tangan Kepala PUSKESMAS
Puskesmas
dr. Penie Ariestia W.A
Rancamanyar
19820319 201001 2 018

1. Pengertian Suatu tindakan intervensi kepada ibu hamil atau bersalin dimana
terjadinya ketuban pecah sebelum usia kehamilan aterm atau
pecahnya ketuban tanpa disertai adanya tanda- tanda persalinan
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penanganan ketuban pecah dini
3. Kebijakan
4. Referensi 1. Direktorat Kesga, Dirjen Kesmas,Kemenkes RI, 2018, Modul
Pelatihan Bagi Pelatih (TOT) Penanganan Kegawatdaruratan
Maternal dan Neonatal Bagi Dokter Umum, Bidan dan Perawat,
Kemenkes RI,Jakarta
2. Saifuddin Abdul Bari, dkk (2010), Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
3. Varney,H,2007 , Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4, EGC,
Jakarta.
5. Langkah- A. Persiapan alat dan obat
langkah 1. Sarung tangan steril
2. Spekulum cocor bebek
3. Kertas lakmus
4. Antibiotik
5. Tensimeter dan stetoskop
6. Nier belken
B. Persiapan Klien
1. Jelaskan pada klien prosedur dan tujuan tindakan
2. Kosongkan kandung kemih
3. Posisi klien litotomi/ dorsal recumbent
C. Pelaksanaan
1. Mencuci tangan dan keringkan
2. Gunakan sarung tangan steril
3. Inspeksi keberadaan tanda- tanda keluarnya cairan di
genetalia eksterna
4. Pasang spekulum secara perlahan dan lihat adanya
genangan cairan amnion di forniks vagina
5. Jika tidak terlihat adanya genangan cairan minta klien
mengejan ( perasat Valsalva) yaitu dengan cara memberikan
tekanan pada fundus secara perlahan lahan dan naikkan
bagian presentasi pada abdomen untuk memungkinkan
cairan melewati bagian presentasi sehingga dapat
mengamati keluarnya cairan.
6. Gunakan kertas lakmus ( Nitrazin Test) dengan cara
mengusapkan ke cairan ketuban dan amati reaksinya yaitu
dari merah menjadi biru
7. Observasi adanya tanda- tanda infeksi bila suhu > 380C,
apabila ada tanda infeksi berikan antibiotik
8. Observasi kemjuan persalinan apabila pecahnya ketuban
disertai adanya tanda- tanda persalinan pada klien dengan
umur kehamilan > 37 minggu.
9. Tidak melakukan pemeriksaan dalam pada klien ketuban
pecah dini dengan umur kehamilan < 37 minggu.
10. Siapkan rujukan apabila :
a. Pecahnya ketuban tidak disertai adanya tanda- tanda
persalinan
b. Pecahnya ketuban < 37 minggu umur kehamilan
c. Pecahnya ketuban lebih dari 12 jam dan tidak disertai
kemajuan persalinan.
6. Unit
Terkait
7. Rekaman Tanggal mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Historis diberlakukan
Perubahan
PENANGANAN PERSALINAN
SUNGSANG

No. Dokumen : 076


No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit :
Halaman : 4 Halaman
Tanda Tangan Kepala PUSKESMAS
Puskesmas
dr. Penie Ariestia W.A
Rancamanyar
19820319 201001 2 018

1. Pengertian Suatu intervensi tindakan dengan menggunakan berbagai manuver


dalam penanganann persalinan dengan presentasi bokong (
sungsang)
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penatalaksanaan persalinan sungsang
3. Kebijakan
4. Referensi 1. Cunningham,F.,Gary, F.,Gant Norman,. J.,Lenevo
Kenneth,C.,Gilstrap III Larry, C.,Hauth John, D.,et al.2006,
Obstetri Williams, Edisi ke-21 Vol 2, Penerbit Buku Kedokteran
EGC,Jakarta
2. Saifuddin Abdul Bari,dkk (2010), Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
3. Varney,H,2007, Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4, EGC,
Jakarta
5. Langkah- A. Persiapan Alat
langkah 1. Partus Set : 2 klem/ kocher , gunting tali pusat, benangtali
pusat , ½ kocher, 1 ½ pasang sarung tangan DTT, Kateter
nelaton, Gunting episiotomi, kassa secukupnya.
2. Kapas DTT dalam tempatnya
3. Spuit 3 ml,
4. 1 ampul oksitosin
5. De Lee
6. Leannec
7. Alat Tenun : Kain bersih 2 , handuk 2, pakaian ibu dan
pakaian bayi, perlak, waslap serta pembalut
8. Perlengkapan perlindungan diri : masker, kaca mata, alas
kaki tertutup, celemek plastik
9. Tensimeter
10. Larutan Klorin 0,5% dan air DTT dalam tempatnya.
B. Persiapan Klien
1. Informasikan pada ibu apa yang akan dilakukan dan
diberikan dukungan emosional agar ibu percaya diri
2. Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir,
keringkan dengan handuk yang bersih
3. Pakai sarung tangan DTT atau steril
4. Membersihkan daerah vulva dengan cairan antiseptik
5. Jika diperlukan, kateterisasi kandung kemih
6. Lakukan episiotomi sesuai dengan kebutuhan saat bokong
membuka vulva dan perineum sudah tipis.
MELAHIRKAN BOKONG DAN KAKI ( Spontan Bracht)
1. Pimpin ibu meneran bersamaan dengan adanya his
2. Biarkan bokong lahir sampai skapula lahir dan kelihatan di
vagina
3. Pegang bokong dengan hati – hati, kedua ibu jari berada
sejajar dengan sumbu panjang paha janin, jari lain
memegang panggul. Jangan lakukan penarikan dan ikuti
proses keluarnya janin.
4. Bila terdapat hambatan pada tahap lahir setinggi scapula,
bahu atau kepala, longgarkan tali pusat setelah lahirnya
perut dan sebagian dada serta raba denyutan.
5. Lakukan hiperlodosis janin pada saat angulus scapula
inferior tampak dibawah simfisis , punggung janin dekatkan
ke arah perut ibu tanpa tarikan dan lahirkan seluruh badan
bayi
6. Letakkan bayi diatas perut ibu, lakukan penilaian sepintas
sambil mengeringkan bayi, potong tali pusat dan IMD-kan.
Apabila terjadi hambatan pengeluaran saat tubuh janin
mencapai daerah skapula inferior, segera lakukan
pertolongan dengan cara Manual Aid
A. Klasik ( apabila dengan Bracht bahu dan tangan tidak bisa
lahir)
1. Segera setelah bokong lahir, pegang bokong dan lahirkan
kaki
2. Tali pusat dilonggarkan dan raba denyutan
3. Pegang kedua kaki pada pergelangannya dengan
menggunakan satu tangan dan tarik seluruh badan bayi
kearah atas, hadapkan abdomen bayi ke arah paha ibu
bagian dalam.
4. Masukan dua jari kedalam vagina menyusuri lengan
posterior sampai meraba siku, tekan kearah dada,
keluarkan lengan bayi seolah olah mengusap dadanya.
5. Tarik bayi kearah bawah dengan tetap memegang kedua
kaki pada pergelangannya untuk melahirkan bahu anterior.
B. Muller ( apabila dengan Bracht bahu tidak bisa lahir)
1. Segera setelah bokong lahir , pegang bokong dan lahirkan
kaki.
2. Tali pusat dilonggarkan dan raba denyutan.
3. Pegang badan bayi dengan meletakkan kedua ibu jari pada
bokong bayi dan jari lain dipangkal paha
4. Tarik badan bayi kebawah untuk melahirkan bahu depan
dan tarik ke atas untuk melahirkan bahu belakang
C. Lovset ( apabila dengan Bracht bahu dan tangan tidak bisa
lahir karena terjungkit)
1. Setelah bokong dan kaki bayi lahir , pegang pinggul bayi
dengan kedua tangan
2. Putar bayi 1800 ke arah abdomen bayi sambil tarik
kebawah dengan sehingga lengan posterior berada di
bawah simpisis ( depan)
3. Bantu melahirkan lengan dengan memasukkan 2 jari pada
lengan atas serta menarik secara perlahan tangan
kebawah melalui dada ( seolah- olah tangan bayi
mengusap dadanya) sehingga siku dalam keadaan fleksi
dan lengan depan lahir
4. Putar kembali 1800 ke arah yang berlawanan ke kiri / kanan
sambil ditarik secara perlahan sehingga lengan belakang
menjadi lengan depan dan lahir di depan.
D. Mauriceau ( melahirkan kepala)
1. Masukkan tangan kiri penolong ke dalam vagina
2. Letakkan badan bayi diatas tangan kiri penolong sehingga
badan bayi seolah olah menunggang kuda
3. Letakkan jari telunjuk dan jari manis kiri pada maxilla bayi,
dan jari tangan didalam mulut bayi
4. Tangan kanan memegang/ mencengkeram tengkuk bahu
bayi dan jari tengah mendorong oksipital sehingga kepala
menjadi fleksi
5. Dengan koordinasi tangan kiri dan kanan secara hati hati
tariklah kepala sesuai dengan jalan lahir
6. Minta asisten menekan atas tulang pubis ibu, sewaktu
melahirkan kepala
7. Angkat badan bayi ( posisi menunggang kuda) keatas
untuk melahirkan mulut hidung dan seluruh kepala
Manajemen Kala III dan IV
1. Cek janin kedua bila tidak ada beritahu ibu akan disuntik
oksitosin
2. Berikan oksitopsin secara 10iu IM
3. Lakukan PTT setelah ada tanda pelepasan plasetna dan
lahirkan plasenta dengan posisi tangan kiri memegang
secara dorso cranial diatas simfisi
4. Masase fundus dan cek kelengkapan plasenta
5. Periksa laserasi jalan lahir dan lakukan penjahitan
6. Lakukan pemeriksaan dan pengawasan kala IV
7. Dekontaminasi alat
8. Cuci tangan
9. Lakukan pendokumentasian

6. Unit
Terkait
7. Rekaman Tanggal mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Historis diberlakukan
Perubahan
PENATALAKSANAAN SYOK

No. Dokumen : 007


No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit :
Halaman : 3 Halaman
Tanda Tangan Kepala PUSKESMAS
Puskesmas
dr. Penie Ariestia W.A
Rancamanyar
19820319 201001 2 018

1. Pengertian Penatalaksanaan pada suatu kondisi di mana terjadi kegagalan


pada sistem surkulasi untuk mempertahankan perfusi yang
adekuat ke organ- organ vital
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penatalaksanaan syok
3. Kebijakan
4. Referensi 1. DIRJEN Direktorat Kesehatan Keluarga, 2018, Modul Pelatihan
Penanganan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal Bagi
Dokter Umum, Bidan dan Perawat, Kemenkes RI, Jakarta.
2. Kementrian Kesehatan RI, WHO (2013) , Buku Saku Pelayanan
Kesehatan Ibu Di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan
Untuk Tenaga Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI, Jakarta.
5. Langkah- A. Tatalaksana Umum Penanganan Syok
langkah 1. Carilah bantuan tenaga kesehatan lain.
2. Pastikan jalan napas bebas dan berikan oksigen.
3. Miringkan ibu ke kiri
4. Hangatkan ibu
5. Pasang infuse intravena ( 2 jalur bila mungkin) dengan
menggunakan jarum terbesar ( no.16 atau 18 atau ukuran
terbesar yang tersedia)
6. Berikan cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat)
sebanyak 1 liter dengan cepat (15- 20 menit)
7. Pasang kateter urin ( Kateter Folley) untuk memantau
jumlah urin yang keluar.
8. Lanjutkan pemberian cairan sampai 2 liter dalam 1 jam
pertama, atau hingga 3 liter dalam 2-3 jam ( pantau kondisi
ibu dan tanda vital)
Waspadai kemungkinan syok dan kardiogenik !
Pada syok kardiogenik, pemberian cairan berlebihan akan
memperburuk kondisi pasien ( ditandai dengan ibu tampak
makin sesak dan frekuensi nadi yang makin cepat dibanding
kondisi awal syok)
9. Cari penyebab syok dengan anamnesis dan pemeriksaan
fisik yang lebih lengkap secara simultan, kemudian beri
tatalaksana yang tepat sesuai penyebab.
10. Pantau tanda vital dan kondisi ibu setiap 15 menit.
11. Bila ibu sesak dan pipi membengkak, turunkan kecepatan
infus menjadi 0,5 ml/ menit ( 8- 10 tetes/ menit), pantau
keseimbangan cairan.
12. Tanda- tanda bahwa kondisi ibu sudah stabil atau ada
perbaikan adalah sebagai berikut :
a. Tekanan darah sistolik > 100 mmHg
b. Denyut nadi < 90 x/menit
c. Status mental membaik ( gelisah berkurang)
d. Produksi urin > 30 ml/jam,
13. Setelah kehilangan cairan dikoreksi ( frekuensi nadi< 100
kali/ menit dan tekanan darah sistolik > 100 mmHg)
pemberian infus dipertahankan dengan kecepatan 500mL
tiap 3-4 jam ( 40-50 tetes / menit)
14. Pertimbangkan merujuk ibu ke rumah sakit atau fasilitas
kesehatan yang lebih lengkap.
B. Tatalaksana Khusus
1. SYOK HEMORAGIK
a. Jika perdarahan hebat dicurigai sebagai penyebab syok,
cari tahu dan atasi sumber perdarahan.
b. Perdarahan sebelum usia kehamilan 22 minggu.
c. Perdarahan setelah usia kehamilan 22 minggu dan saat
persalinan.
d. Perdarahan setelah persalinan. Untuk transfusi dibutuhkan
jika Hb < 7 g/dl atau secara klinis ditemukan keadaan
anemia berat
2. SYOK SEPTIK
a. Ambil sample darah, urin, dan pus/ nanah untuk kultur
mikroba lalu mulai terapi antibiotika sambil menunggu hasil
kultur. Berikan kombinasi antibiotika kepada ibu dan
lanjutkan sampai ibu tidak demam selama 48 jam.
b. Ampisilin 2gIV setiap 6 jam, DITAMBAH
c. Gentamisin 5mg/kgBB IV setiap 24 jam, DITAMBAH
d. Metronidazol 500mgIV setiap 8 jam
3. SYOK ANAFILAKTIK
a. Hentikan kontak dengan alergen yang dicurigai
b. Koreksi hipotensi dengan resusitasi cairan yang agresif dan
berikan epinefrin / adrenalin 1:1000 ( 1mg/ml) dengan dosis
0,2-0,5 ml/IM atau subkutan.
c. Berikan terapi suportif dengan antihistamin ( difenhidramin
25-50 mg IM atau IV), penghambat reseptor H2 (Ranitidin
1mg/kgBB IV)
d. Dan kortikosteroid (metilprednisolon 1-2 mg/kgBB/hari,
diberikan tiap 6 jam).
6. Unit
Terkait
7. Rekaman Tanggal mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Historis diberlakukan
Perubahan
PENATALAKSANAAN PERDARAHAN
KEHAMILAN DAN SYOK

No. Dokumen : 074


No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit :
Halaman : 3 Halaman
Tanda Tangan Kepala PUSKESMAS
Puskesmas
dr. Penie Ariestia W.A
Rancamanyar
19820319 201001 2 018

1. Pengertian Suatu tindakan intervensi untuk mempertahankan perfusi yang


adekuat ke organ organ vital sehingga jantung dan pembuluh
darah dapat mensuplai oksigen untuk mencukupi kebutuhan
jaringan
2. Tujuan Sebagai acuan dari penatalakasanaan perdarahan kehamilan dan
syok
3. Kebijakan
4. Referensi 1. Direktorat Kesga, Dirjen Kesmes,Kemenkes RI, 2018,Modul
Pelatihan Bagi Pelatih (TOT) Penanganan Kegawatdaruratan
Maternal dan Neonatal BagI Dokter Umum, Bidan dan Perawat,
Kemenkes RI, Jakarta
2. Kementrian Kesehatan RI , WHO (2013) Buku Saku Pelayanan
Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar Dan Rujukan
Untuk Tenaga Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI, Jakarta
5. Langkah- A. Persiapan/ Pengelolaan segera.
langkah 1. Call for help
2. Mencuci tangan dengan alcohol rub sebelum menyentuh
pasien
3. Petugas dengan keterampilan tinggi ( orang pertama)
mengambil alih situasi, melakukan quick check dan
menenangkan keluarga.
4. Orang kedua segera mendekatkan troli emergency ke dekat
pasien dan bersama orang dengan pertama melakukan
langkah- langkah awal dan mempersiapkan resusitasi
neonatus
5. Tugaskan orang ketiga untuk membantu menyediakan
peralatan yang masih dibutuhkan atau memobilisasi tenaga
lain ( laboratorium, dokter jaga, dan lain lain) dibawah
koordinasi orang pertama.
B. Langkah- langkah Pertolongan
1. Bebaskan jalan nafas dan berikan oksigen 6-8 liter per menit
dengan sungkup
2. Posisikan kaki lebih tinggi 300 dari kepala
3. Hangatkan ibu
4. Pasang infuse intravena ( 2 jalur bila mungkin) memakai
jarum terbesar ( o 16 atau 18 atau ukuran terbesar yang
tersedia)
5. Beri cairan kristaloid (NaCL 0,9% atau Ringer Laktat)
sebanyak 1L dengan cepat ( 15- 20 menit)
6. Pasang Kateter Urine (Folley Catheter)
7. Kemudian segera lakukan estimasi jumlah perdarahan untuk
mencukupi kebutuhan cairan
8. Mencari penyebab syok
C. Pengawasan kondisi ibu
1. Pantau TTV dan kondisi ibu tiap 15 menit
2. Pantau keseimbangan cairan
3. Minta orang kedua atau orang ketiga selalu mencatatkan
kondisi yang dipantau ke daftar pemantauan dalam catatan
rekam medis
D. Menilai Keberhasilan Tatalaksana Syok
1. Tekanan darah sistolik > 100 mmHg
2. Denyut nadi < 90 x/menit
3. Status mental membaik ( gelisah berkurang)
4. Produksi urin > 30 ml / jam
5. Setelah berhasil mengkoreksi cairan, pertahankan infuse
pada kecepatan 500 ml per 3-4 jam (40-50 tetes/ menit)
6. Rujuk ibu ke RS yang lebih lengkap
E. Persiapan dan Proses Rujukan
1. Surat rujukan
2. Transportasi
3. Pertahankan cairan infus dan bantuan napas yang
diperlukan sesuai dengan kondisi pasien
4. Menghubungi faskes rujukan melalui telepon/SMS
Petugas kesehatan mendampingi rujukan.
6. Unit
Terkait
7. Rekaman Tanggal mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Historis diberlakukan
Perubahan
PENATALAKSANAAN SESAK
NAFAS

No. Dokumen : 072


No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit :
Halaman : 2 Halaman
Tanda Tangan Kepala PUSKESMAS
Puskesmas
dr. Penie Ariestia W.A
Rancamanyar
19820319 201001 2 018

1. Pengertian Suatu tindakan intervensi kegawatdaruratan kebidanan, untuk


penanggulangan segera pada keadaan sukar bernafas yang
mengancam jiwa.
2. Tujuan Sebagai acuan penatalaksanaan sesak nafas pada
kegawatdaruratan kebidanan.
3. Kebijakan
4. Referensi 1. Direktorat Kesga, Dirjen Kesmas, Kemenkes RI , 2018, Modul
Pelatihan Bagi Pelatih (TOT) Penanganan Kegawatdaruratan
Maternal dan Neonatal Bagi Dokter Umum, Bidan dan
Perawat, Kemenkes RI,Jakarta.
2. Kementrian Kesehatan RI,WHO (2013), Buku Saku Pelayanan
Kesehatan Ibu Di Fasilitas Kesehatan Dasar Dan Rujukan
Untuk Tenaga Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI,Jakarta
5. Langkah- A. Persiapan dan Pengelolaan Segera
langkah 1. Teriak minta tolong (mencari bantuan tenaga kesehatan
lain)
2. Mencuci tangan dengan alkohol rub sebelum menyentuh
pasien.
3. Petugas dengan keterampilan tertinggi ( orang pertama)
mengambil alih situasi, melakukan quick check dan
menenangkan keluarga
4. Orang kedua segera mendekat kantroli emergency kedekat
pasien dan bersama dengan orang pertama melakukan
langkah- langkah awal
5. Tugas orang ketiga membantu menyediakan peralatan yang
masih dibutuhkan atau memobilisasi tenaga lain (
laboratorium, dokter jaga, dan lain- lain) dibawah koordinasi
orang pertama.
B. Langkah- langkah Pertolongan
1. Buka jalan nafas dan bersihkan dari benda asing
2. Posisikan ibu duduk
3. Berikan oksigen dengan kanul nasal atau sungkup
4. Evaluasi tanda vital dan bunyi nafas
5. Jika terdengar bunyi mengik ( wheezing) dan expirasi
memanjang : tangani sebagai asma akut
a. Berikan bronkodilator (terbutalin sulfat 0.25 mg subkutan
tiap 15 menit dalam 3 dosis)
b. Berikan dexametason 10 mg
6. Jika tidak terdengar mengik, tetapi terdapat ronkhi basah
halus dan bunyi jantung gelap; tangani sebagai edema paru
a. Berikan purosemide 40 mg IV
b. Batasi cairan
c. Pasang kateter urine menetap
7. Jika tidak satupun diatas ditemukan segera lakukan rujukan.
6. Unit
Terkait
7. Rekaman Tanggal mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Historis diberlakukan
Perubahan
DISTOSIA BAHU

No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit :
Halaman : 2 Halaman
Tanda Tangan Kepala PUSKESMAS
Puskesmas
dr. Penie Ariestia W.A
Rancamanyar
19820319 201001 2 018

1. Pengertian Suatu intervensi tindakan yang dilakukan saat bahu janin tidak
dapat dilahirkan setelah kepala janin lahir.
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penatalaksanaan distosia bahu
3. Kebijakan
4. Referensi 1. Kementrian Kesehatan RI, WHO ( 2013) , Buku Saku
Pelayanan Kesehatan Ibu Di Fasilitas Kesehatan Dasar Dan
Rujukan Untuk Tenaga Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI,
Jakarta.
2. Saifuddin Abdul Bari , dkk (2010), Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
5. Langkah- A. Persiapan alat
langkah 1. Gunting episiotomi
2. Apron plastik
3. Masker
4. Kacamata pelindung
5. Sarung tangan DTT/ Steril
6. Alas kaki / sepatu boot karet
B. Persiapan Klien
1. Informasikan pada klien apa yang akan dilakukan
2. Berikan dukungan emosional agar ibu percaya diri
C. Langkah- langkah
1. Minta bantuan tenaga kesehatan lain, untuk menolong
persalinan dan resusitasi neonatus, bila diperlukan.
Bersiaplah juga unyuk kemungkinan perdarahan pascasalin
atau robekan perineum setelah tatalaksana
2. Lakukan manuver Mc.Robert . Dalam posisi ibu berbaring
telentang, mintalah ia untuk menekuk kedua tungkainya
dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin kearah
dadanya.
3. Mintalah bantuan 2 orang asisten untuk menekan fleksi
kedua lutut ibu kearah dada. Mintalah salah seorang
aasisten untuk melakukan tekanan secara simultan ke arah
lateral bawah pada daerah suprasimfisis untuk membantu
persalinan bahu.
4. Dengan memakai sarung tangan yang telah disinfeksi
tingkat tinggi, lakukan penarikan yang mantap dan terus
menerus ke arah aksial ( searah tulang punggung janin)
pada kepala janin untuk menggerakan bahu depan di
bawah simfisis pubis.
Jika bahu masih belum dapat dilahirkan :
5. Buatlah episiotomi untuk memberi ruangan yang cukup
untuk memudahkan manuver internal
6. Pakailah sarung tangan yang telah desinfeksi tingkat tinggi,
masukan tangan ke dalam vagina pada sisi punggung bayi.
7. Lakukan penekanan di sisi posterior pada bahu posterior
untuk mengaduksikan bahu dan mengecilkan diameter
bahu
8. Rotasikan bahu ke diameter oblik untuk membebaskan
distosia bahu
9. Jika diperlukan, lakukan juga penekanan pada sisi posterior
bahu anterior dan rotasikan bahu ke diameter oblik.
Jika bahu masih belum dapat dilahirkan setelah dilakukan
tindakan di atas:
10. Masukkan tangan kedalam vagina
11. Raih humerus dari lengan posterior, kemudian sembari
menjaga lengan tetap fleksi pada siku, pindah ke lengan ke
arah dada. Raih pergelangan tangan bayi dan tarik lurus
kearah vagina. Manuver ini akan memberikan ruangan
untuk bahu anterior agar dapat melewati bawah simfisis
pubis
12. Jika semua tindakan diatas tetap tidak dapat melahirkan
bahu, terdapat manuver- manuver lain yang dapat
dilakukan, misalnya kleidotomi , simfisiotomi, metode sling
atau manuver Zavanelli. Namun manuver- manuver ini
hanya boleh dikerjakan oleh tenaga terlatih
6. Unit
Terkait
7. Rekaman Tanggal mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
Historis diberlakukan
Perubahan
DETEKSI DINI HEPATITIS PADA IBU
HAMIL
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit :
Halaman : 02

Tanda Tangan Kepala PUSKESMAS


Puskesmas
dr. Penie Ariestia W.A
Rancamanyar
19820319 201001 2 018

1. Pengertian a. Deteksi dini Hepatitis B pada ibu hamil adalah langkah awal
pencegahan penularan Hepatitis B secara vertikal, yaitu
penularan dari ibu kepada anak pada proses persalinan
b. Deteksi ini diikuti oleh semua ibu hamil yang berkunjung ke
Fasilitas kesehatan
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam pelaksanaan
kegiatan deteksi dini Hepatitis pada ibu hamil
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Rancamanyar No.440/741/SK/Kepala
Puskesmas/2016 Tentang penyelenggaraan Program dan
Pelayanan
4. Referensi Permenkes 52 Tahun 2017
5. Petugas Dokter, Bidan dan Petugas Laboratorium
6. Prosedur a. Petugas menerima ibu hamil
b. Petugas menejelaskan kepada ibu hamil tentang penyakit
Hepatitis B dan program deteksi Hepatitis B pada ibu hamil
c. Petugas melakukan rencana sesuai dengan kuesioner deteksi
dini Hepatitis B
d. Petugas memberikan surat pengantar pemeriksaan ke
laboratorium
e. Ibu hamil melakukan pemeriksaan darah untuk deteksi dini
Hepatitis B
f. Ibu hamil menyerahkan hasil dari laboratorium kepada
petugas KIA. Petugas menjelaskan hasil pemeriksaan kepada
ibu hamil dan melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan
laboratorium
1. HbSAg Negatif
ANC rutin sesuai jadwal
2. HbSAg Positif
g. Petugas melakukan KIE kepada ibu hamil
Petugas akan merujuk ibu hamil ke Rumah Sakit untuk
mendapatkan penanganan lebih lanjut
Petugas memberikan penjelasan bahwa bayinya mendapat
HBIg gratis
ANC sesuai jadwal
3. Unit 1. Posyandu
Terkait 2. Puskesmas
3. Bidan