Anda di halaman 1dari 2

Apa itu Dwi-Kewarganegaraan ?

Dwi-Kewarganegaraan, atau bisa disebut juga Kewarganegaraan Ganda (bipatride),


merupakan kondisi dimana seseorang memiliki status kewarganegaraan yang sah secara hukum
di dua negara atau lebih. Hal ini dapat terjadi karena setiap negara memiliki syarat dan kriteria
yang berbeda-beda dalam menetapkan kewarganegaraan.

Beberapa persyaratan umum bagi seseorang untuk mendapatkan kewarganegaraan di suatu


negara :

Memiliki sedikitnya satu orang tua yang merupakan warga negara di negara tersebut (Ius
Sanguinis)
Orang tersebut lahir di wilayah teritori negara tersebut (Ius Soli)
Orang tersebut menikahi seseorang yang berstatus sebagai warga negara di wilayah negara
bersangkutan (Matrimoni)
Orang tersebut diadopsi dari negara lain ketika masih di bawah umur dan sedikitnya satu orang
tua asuhnya adalah warga negara di negara bersangkutan.
Orang tersebut mengalami naturalisasi
Orang tersebut telah melakukan investasi uang dalam jumlah yang besar
Contoh bagaimana seseorang dapat memiliki status Kewarganegaraan Ganda, seorang
keturunan bangsa X (Ius Sanguinis) lahir di negara Y (Ius Soli). Karena ia merupakan keturunan
dari negara X, maka ia dianggap sebagai warga dari negara X, tetapi ia juga dianggap sebagai
warga negara Y, karena ia lahir di negara Y, situasi inilah yang disebut dengan Dwi-
Kewarganegaraan.

Saat ini, Indonesia menerapkan sistem Kewarganegaraan Ganda Terbatas, dimana seseorang
dapat memiliki kewarganegaraan ganda sampai menginjak umur 18 tahun. Ketika ia telah
berumur 18, ia harus melepas salah satu status kewarganegaraan.

Kewarganegaraan ganda dalam Undang-Undang Indonesia.

Hal mengenai kewarganegaraan telah diatur pada UU No. 12 tahun 2006, dimana disebutkan
bahwa bagi anak yang dilahirkan pada dan setelah 1 Agustus 2006 dari pasangan WNI atau salah
satu orang tuanya adalah WNI maka dapat mengajukan kewarganegaraan ganda terbatas dengan
ketentuan sebagai berikut:

Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari Ayah Warga Negara Indonesia (WNI) dan Ibu
Warga Negara Asing (WNA);
Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari Ayah Warga Negara Asing (WNA) dan Ibu Warga
Negara Indonesia (WNI);
Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari Ibu Warga Negara Asing (WNA) yang diakui
oleh Ayah Warga Negara Indonesia (WNI) dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak berusia 18
(delapanbelas) tahun atau belum kawin;
Anak yang lahir di luar wilayah Republik Indonesia dari Ayah dan Ibu Warga Negara Indonesia
(WNI), yang karena ketentuan dari Negara tempat anak dilahirkan memberikan kewarganegaraan
kepada anak tersebut;
Anak Warga Negara Indonesia (WNI) yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia 18
(delapan belas) tahun dan belum kawin, diakui secara sah oleh Ayah Warga Negara Asing
(WNA);
Anak Warga Negara Indonesia (WNI) yang belum berusia 5 (lima) tahun, diangkat secara sah
sebagai anak oleh Warga Negara Asing (WNA) berdasarkan Penetapan Pengadilan.
Positif Negatifnya Dwi-Kewarganegaraan.

Menerapkan Kewargakenagaraan Ganda memiliki beberapa dampak positif dan negatif.

Beberapa contoh dampak positif dari status Kewarganegaraan Ganda :

Jika Indonesia memiliki seorang tenaga ahli yang sedang berada di luar negeri, Indonesia dapat
sewaktu-waktu memanggil orang tersebut untuk memenuhi kewajibannya sebagai warga negara,
mengabdi kepada Indonesia.
Warga negara yang sedang mencari pekerjaan dapat dengan mudah mencari pekerjaan diluar
negeri tanpa terkendala masalah imigrasi.
Membuat warga negara lebih bebas berbisnis dengan negara lain.
Kewarganegaraan ganda bisa melindungi anak dari pasangan yang berbeda kewarganegaraan,
karena dengan demikian orang tua mereka tidak bisa dideportasi akibat masalah hukum.
Selain dampak positif, Kewarganegaraan Ganda juga memiliki dampak negatif, diantarannya
seperti :

Sulit untuk mengangkap pelaku kriminal yang kabur ke negara keduanya


Dapat dicurigai sebagai pengkhianat jika kedua negara tersebut sedang melakukan perang satu
sama lain.
Memudahkan warga negara lain untuk mendapatkan status kewarganegaraan Indonesia,
membuat terancamnya keamanan dan kedaulatan negara
Masing-masing orang memliki sifat-sifat yang berbeda, tidak sedikit orang yang akan melihat
dan memanfaatkan celah suatu hal untuk kepentingan dirinya sendiri. Selain memiliki dampak
positif, Dwi-Kewarganegaraan juga memiliki dampak negatif, jika negara Indonesia ingin
menerapkan sistem kewarganegaraan ganda penuh, maka Indonesia harus siap dengan dampak-
dampak yang akan muncul, termasuk dampak-dampak negatifnya.