Anda di halaman 1dari 2

Seringkali kita membuat keputusan dari sudut pandang pemikiran manusia dewasa,

sehingga lalai memperhatikan keinginan dan kebutuhan siswa untuk menentukan


pilihannya. Ada 6 point utama pertimbangan mendikbud terkait penerapan sistem zonasi
PPDB 2019 yakni pertama, zonasi tidak hanya untuk PPDB melainkan mulai dari kurikulum,
sebaran guru, sebaran peserta didik, kemudian kualitas sarana prasarana.

Kedua, redistribusi tenaga guru untuk mengatasi ketidakmerataan sebaran guru di sekolah.
Ketiga, kesetaraan dan keadilan berdasarkan prinsip dasar bahwa semua anak memiliki
hak yang sama. Keempat, mengubah pola pikir masyarakat terkait sekolah
unggulan/favorit. Kelima, Prestasi siswa bukan prestasi sekolah. Prestasi itu tidak diukur
dari asal sekolah, tetapi masing-masing individu anak yang akan menentukan prestasi dan
masa depannya. Keenam, Pendidikan karakter dinilai akan mudah berhasil jika
menerapkan sistem zonasi karena orang tua dan masyarakat setempat ikut terlibat dalam
pendidikan karakter.

Dari sejumlah point di atas, merupakan tinjauan dari sudut pandang manusia dewasa. jika
ditinjau dari sudut pandang siswa.

Pertama, hilangnya kesempatan menentukan pilihan. Hal ini bertolak belakang dengan
pendidikan karakter itu sendiri dimana siswa dituntut untuk mandiri termasuk mandiri dalam
memutuskan sekolah pilihannya. Ketahuilah bahwa hasil belajar dan prestasi belajar siswa
erat kaitannya dengan motivasi diri siswa.

Kedua, Hilangnya kesempatan untuk berkompetisi. Benar bahwa pemerintah wajib memberi
layanan publik tanpa ada diskriminasi, ekslusif dan sebagainya. Namun untuk
menumbuhkan jiwa kompetitif harus dimulai dari usia dini agar siswa terbiasa mengambil
keputusan yang tepat. Bukan memaksa siswa dalam keterpaksaan pilihan. Pemerintah
wajib menyediakan fasilitas pendidikan yang setara dan berkeadilan untuk semua jenjang
pendidikan agar siswa memiliki banyak pilihan menentukan kelanjutan pendidikannya.
Setara bukan berarti sama rata, adil bukan juga berada ditengah atau berkebutuhan sama
melainkan berdasarkan minat dan bakat siswa serta peluang pengembangan dan potensi
diri siswa. Olehnya itu biarkan siswa menentukan pilihan untuk menumbuhkan jiwa
kempetitifnya sebagai bagian dari proses belajar sebelum berada dikehidupan nyata yang
penuh persaingan dan tekanan.

Ketiga, Hilangnya kesempatan siswa membangun jaringan dan silaturahmi. Selain sebagai
institusi pendidikan juga tempat untuk memperluas jaringan komunikasi, jaringan
pertemanan dan jaringan-jaringan lainnya. Membangun hubungan silaturahmi tanpa
batasan wilayah, suku, etnis, ras dan agama merupakan tindakan pembiasaan yang
dilakukan disetiap sekolah. Sistem zonasi berakibat timbulnya sekat-sekat dimasyarakat,
lunturnya kehidupan sosial karena tidak adanya lembaga yang mampu mempererat
hubungan masyarakat sosial seperti yang dilakukan oleh sekolah. Zonasi memang baik
untuk pemeratan namun disisi lain hubungan kekerabatan juga akan luntur oleh kurangnya
moment yang mempersatukan masyarakat terutama anak usia sekolah.

Keempat, Menumbuhkan nilai “pendidikan identitas”. Kita sering mendengar “politik


identitas” yang dinilai merugikan proses demokrasi, namun disisi lain kita menciptakan
“pendidikan identitas”. Bukan karakter yang akan tumbuh melainkan keakuan dan ego
kewilayahan yang terjadi dimasyarakat sosial. Penciptaan pendidikan identitas ini justru
terjadi sejak usia dini. Jangan sampai suatu saat nanti timbul sekat-sekat dimasyarakat
yang bersumber dari dunia pendidikan sebab faktor kualitas dan kuantitas sekolah tidak
semata-mata dari kompetensi siswa melainkan semua aspek kehidupan. Dengan sistem
zonasi, kedepan sekolah negeri akan memiliki status sesuai dengan status masyarakat di
zona masing-masing. Ada sekolah negeri yang dinilai ekslusif karena berada diwilayah
masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi menengah keatas, ada sekolah yang
terbelakang karena berada diwilayah ekonomi kebawah, ada sekolah etnis, suku, ras dan
agama karena wilayahnya didominasi oleh etnis, ras, suku dan agama tertentu.

Kelima, Sekolah adalah kerentanan. resiko bersumber dari kerentanan maka dengan
demikian masalah-masalah yang timbul di masyarakat akan berimplikasi pada sekolah
yang pada gilirannya memicu konflik antar sekolah sebab sekolah berwujud identitas.