Anda di halaman 1dari 672

1

Kolektor E-Book

BATARA Dewi Kelabang Hitam


2
Kolektor E-Book

BATARA Dewi Kelabang Hitam


3

DEWI KELABANG HITAM

JILID I - XXVII

*
* *

Hasil Karya :
BATARA

Pelukis : Soebagio
Antonius S.

Sumber Cersil :
Awie Dermawan

Pengepul File :
Yons

*
* *
Kolektor E-Book

Penerbit & Percetakan


CV “ G E M A ”
Mertokusuman 761 Rt. 43 Rk. III
Tilpun No. 5801
SOLO – 57122

BATARA Dewi Kelabang Hitam


4

JILID I

PAGI yang cerah. Hari itu dewa surya menyinarkan kehangatannya yang
lembut. Semalam turun hujan, bumi yang kering diberi kesegaran dan pagi itu
burung-burung berkicau riang. Ada kegembiraan di pagi itu, ada semangat dan
keriangan. Embun yang menetes bagai mutiara di pucuk-pucuk daun tampak
gemerlap, indah berkilauan dan berseri-seri. Lembah Duka, yang biasanya hening dan
sepi mendadak terasa hidup. Kicau burung jalak atau kutilang di pagi yang segar itu
menghidupkan suasana. Nikmat benar rasanya berada di tempat seperti itu, damai dan
bahagia dan orang rasanya betah berjam-jam untuk mendengarkan kicau burung di
tepi sungai yang jernih, yang gemercik airnya mendendangkan riak beralun seakan
dewa-dewi bercanda. Atau melihat sepasang kupu-kupu yang lagi berkejaran,
bercumbu dan saling tangkap untuk akhirnya melepas getar-getar asmara, terbang
lagi dan hinggap di pucuk-pucuk bunga, mengisap sari kembang dan kemudian
melanjutkan terbang sambil bergulau. Hidup seperti ini rasanya seperti hidup di alam
lain saja, alam yang tak mengenal duka dan melulu suka adanya, babagia dan riang.
Dan ketika pagi itu seekor rusa menguak mengejutkan burung-burung maka seorang
pemuda berkelebat dari dalam sebuah gua takjub dan memandang semua keindahan
itu, burung yang berkicau dan riak air di tengah sungai, kupu-kupu yang berkejaran
dan alam yang begitu mempesona, butir-butir embun di pucuk daun. Dan ketika dia
mendecak kagum dan ikut berseri oleh semua gerak di luar ini mendadak sebuah
komunikasi terjalin dan menyentuh hatinnya. Komunikasi aneh yang rasanya tidak
asing, baru tapi seolah sudah dikenal lama. Sebuah hubungan luar dalam antara
seorang manusia dengan alam dan isinya, bumi dengan burung serta tetes-tetes
embun itu. Betapa indahnya! Tapi sementara ia terpesona dan menyatu dalam semua
itu mendadak sebuah suara mengejutkannya dari lamunan sukmawi.
“Bun Hwi, kau baru keluar?”
“Ah,” pemuda ini membalik. “Kau ibu? Kau membuat aku terkejut?”
“Kenapa?”
“Lihat, aku sedang tenggelam dalam keceriaan pagi ini, ibu. Kicau burung dan
riak air di tengah sunyi itu. Tidakkah kau merasakannya?”
“Hm, ibu sudah berkali-kali merasakannya. anakku. Ibu sudah kerap menyatu
dan tenggelam seperti itu. Kaulah yang rupanya baru pertama ini merasakannya.”
“Benar, aku takjub, ibu. Aku kagum! Tetes embun dan riak air itu tampak begitu
Kolektor E-Book

hidup. Mereka itu seolah bersuara dan menyanyi. Bukan main! Mahluk-mahluk ini
pun mampu berkomunikasi dengan caranya sendiri!”
“Hm, apa yang kau sebut mahluk itu?”
“Mereka itu, ibu. Semua yang ada di sini. Tetes embun dan riak air itu. Burung
dan hewan-hewan lainnya yang tampak begitu hidup. Mereka itu seakan bernyawa
semua, mereka tidak mati dan hidup!”
“Hm, burung dan hewan-hewan lainnya itu benar bernyawa, Bun Hwi. Tapi
masakah air kau sebut bernyawa juga? Masakah mereka itu mahluk hidup?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


5

“Ah, kau tak melihatnya, ibu? Kau tak merasakan itu? Aku melihat mereka ini
hidup, mereka ini segar dan tiada ubahnya kita. Mereka itu pun tiada berbeda dengan
yang lain, saling berkomunikasi dan menyebut keberadaan mereka. Aduh, indah
sekali. Aku merasakan getar-getar itu. Aku merasakan nyanyian mereka dan suara
mereka yang merdu!” Bun Hwi, pemuda itu mendecak berkali-kali, bengong dan
tampak begitu takjub akan pesona alam ini, akan gemericik air dan tetes embun di
pucuk-pucuk daun. Akan semuanya itu yang tampak begitu hidup dan mempesona.
Bukan main semuanya ini, hebat dan merupakan karya agung dari Sang Maha
Agung. Dan ketika pemuda itu terbelalak dan menyatu dalam keindahan luar biasa ini
maka wanita itu, seorang wanita lembut dengan sikap dan gerak yang penuh keibuan
sudah menyentuh pundak pemuda ini.
“Puteraku, bengong apa yang menyelimuti hatimu ini? Perasaan apa yang
membuatmu begitu terpesona?”
“Ah, aku terpesona oleh semua keindahan ini, ibu. Akan karya agung dari Sang
Maha Agung. Aku bengong dan takjub akan hasil ciptaannya ini. Aku terheran-heran,
aku kagum. Mereka itu.... ah, bukan main. Mereka itu cantik dan mempesona.
Mereka itu hidup dan mengagumkan. Aku tak tahu apa ini selain keindahan yang luar
biasa!”
Wanita itu, sang ibu, tersenyum. “Kau ingin menikmatinya sepanjang hari?
Baiklah, tapi sarapan dulu. Hui-lopek telah menyiapkan roti bakar dan teh panas
untuk kita. Tiga minggu kau asyik membaca buku.”
“Benar,” seorang laki-laki tua muncul, tertawa. “Aku telah menyiapkannya
untukmu, kongcu. Dan juga arak penghangat dari istana, khusus arak Kang lam!”
Bun Hwi terpecah perhatiannya. Sekarang dua orang mengganggu, tadi ibunya
dan sekarang Hui-lopek ini, datang dengan makanan di penampan dan Bun Hwi
tersenyum, mendongkol tapi menerima. Dan ketika kakek itu menggelar chigu
(semacam tikar) dan meletakkan semuanya itu sambil mempersilahkan duduk maka
ibunya sudah menarik lengannya dan mengajak duduk.
“Ayolah, kita ngobrol sambil menikmati pemandangan. Aku tak menggangggu.
Enak bukan roti bakar ini? Dan kau ke mari juga, lopek. Temani kami dan ikut
sarapan pagi!”
“Eh! Aku, hujin? Waduh, sorry. Hamba tak berani dan biar di sini saja, di
pinggir. He-he........!” kakek itu tersipu, berlutut dan sudah duduk di tepian, tak berani
Kolektor E-Book

dia mendekati majikannya itu. Tapi sang wanita yang tersenyum dan bangkit berdiri
menarik kakek itu akhirnya menyuruh Hui-lopek duduk bersama mereka.
“Kami ingin sarapan bersama. Kau duduk di sini atau kami tak mau menikmati
roti bakarmu!”
“Ah. baik.... maaf...!” dan Hui-lopek yang meringis namun terpaksa duduk
akhirnya menuangkan teh panas untuk pemuda itu dan ibunya, ha-ha-he-he tapi dua
majikannya tak menolak. Hui-lopek memang pelayan mereka, sudah beberapa bulan
ini mengabdi dan sang wanita sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri,
meskipun kakek itu tetap memasang jarak dan tahu diri. Dan ketika roti bakar
diberikan pula dan Bun Hwi beserta ibunya menikmati sarapan sederhana maka Hui-
lopek tertawa bertanya, “Bagaimana, lumayan, kongcu? Kurang menteganya?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


6

“Ah, tidak. Cukup lopek. Roti bakarmu enak dan gurih, hanya selainya
kebanyakan!”
“He-he, ibumu suka begitu, kongcu. Kurang selai katanya kurang nikmat. Aku
terpaksa membiasakan diri dengan kesukaan ibumu.”
“Tak apalah, ibu memang suka manisan, lopek. Dan barangkali tambah lagi
tehku ini, lezat benar!”
Hui-lopek tersenyum, girang dan sudah menambah teh di cangkir pemuda itu.
Pujian sederhana ini membuat kakek itu nikmat, jarang ada majikan yang memuji
bawahannya! Dan ketika pagi itu kakek ini menemani sarapan dan duduk di tempat
terbuka menikmati roti bakar dan minum teh panas rasanya tampak begitu nikmat
maka wanita yang duduk di sebelah kanan Bun Hwi membuka percakapan.
“Anakku, tiga minggu ini nyaris kau tak keluar. Sedemikian besarkah rasa
tertarikmu pada kitab tebal itu?”
“Ah, aku membacanya berulang-ulang, ibu. Dan pesan Brahmadewa itu
mengesankan sekali, aku kagum!”
“Hm dan kau sekarang mengerti tentang rumah tangga, bukan? Betapa rumah
tangga bukanlah sesuatu yang mudah dibangun dan indah seperti yang dikhayalkan
sebelumnya?”
“Ya, dan aku mendapat banyak pelajaran dari Kisah Empat Pendekar itu, ibu.
Termasuk kupasan cinta yang dibicarakan wanita sakti Mira Dewi.”
“Tentang yang Sintesis dan Sejati?”
“Benar, aku kagum. Wanita itu pun pandai dan suaminya pun hebat. Sungguh
beruntung dan bahagia mereka itu!”
“Tidak seperti ibumu,” wanita ini tiba-tiba mendesah. “Dan juga wanita-wanita
lain yang telah membina rumah tangganya tetapi gagal.”
“Ah, kau sebenarnya tak gagal, ibu. Ayahanda kaisar amat mencintaimu dan
menyayangimu begitu tulus!”
“Benar, tapi bagaimana pun aku merasa gagal, Bun Hwi. Kehidupan di istana
terlalu banyak saingan dan lawan. Betapapun menjadi selir cukup berat resikonya
karena di benci atau tak disenangi selir-selir lain, apalagi kalau sri baginda terlampau
Kolektor E-Book

mencintai aku.”
“Hm...” Bun Hwi mengangguk-angguk. “Itu masalah lain, ibu. Betapapun
ayahanda kaisar amat mencintaimu dan dapat memberimu kebahagiaan. Sayang
kedudukanmu memang tidak seperti ibu-ibu rumah tangga lain. Kau hidup di istana
dan bersaing dengan wanita-wanita lain ingin menarik perhatian ayahanda kaisar.”
“Itulah. Aku jadi tak dapat memiliki suamiku seorang, Bun Hwi. Aku harus
menghadapi yang lain karena kedudukan ayahmu sebagai kaisar mengharuskan dia
berselir di samping masih adanya permaisuri!”
“Sudahlah. betapapun ayahanda masih mencintaimu ibu. Kau patut bersyukur
dan menerima ini dengan kebahagiaan. Sebaiknya tak perlu kita bicarakan itu dan

BATARA Dewi Kelabang Hitam


7

cari pembicaraan lain. Aku besok akan pergi, aku hendak melihat suasana luar setelah
beberapa waktu kutinggalkan. Aku ingin menemui Hu-taijin, ada sesuatu yang ingin
kutanyakan.”
“Hm,” wanita itu tiba-tiba mengerutkan kening. “Apa itu, Bun Hwi? Kau mau
ke mana? Kau tampaknya tidak sekedar ke tempat menteri itu. Kau mau
meninggalkan ibumu lagi setelah kau beberapa waktu berkumpul?”
“Maaf, aku ingin melepas rindu pada menteri ini, ibu. Juga ingin berbincang-
bincang masalah lain. Di samping....”.
“Mencari dua gadis cantik itu?”
Bun Hwi mengangguk. “Benar, aku ingin mencari Kiok Lan dan Mei Hong, ibu.
Aku ingin memutuskan sikapku kepada siapakah sebenarnya aku sangat mencinta!”
“Kukira Mei Hong lebih cocok,” sang ibu berseru. “Gadis itu lembut dan halus,
anakku. Tapi semuanya tentu tergantung kau. Sekarang tentunya kau jauh lebih
mengerti, urusan cinta harus hati-hati agar tak kecewa belakangan!”
“Kalau Kiok Lan?”
“Gadis ini keras, aku khawatir kau tak bahagia dan gampang cekcok. Tapi, ah....
sudahlah. Ibu hanya memandangnya sepintas, Bun Hwi. Kaulah yang lebih tahu dan
biar kau pula yang memutuskan. Bisa jadi yang ibu lihat keliru dan apa yang terjadi
malah sebaliknya. Kau sendiri, bagaimana pendapatmu?”
“Aku bingung. Dua-duanya sama menarik dan masing-masing pernah memberi
budi pula kepadaku.”
“Kalau begitu pilih saja kedua-duanya.” Hui-lopek nimbrung, tertawa. “Kalau
aku tak apa lelaki beristeri dua, kongcu. Lagi pula bukankah kau seorang pangeran?”
“Ah,” Bun Hwi semburat. “Mereka tak mungkin mau, lopek. Lagi pula mereka
itu saling bermusuhan. Pusing kepalaku nanti menghadapi dua isteri yang berbeda
watak!”
“Ha-ha, kalau begitu bagaimana kalau tidak memilih kedua-duanya? Cari saja
yang lain, kongcu tentu dapat dan tak perlu pusing!”
“Hush, jangan sembrono, Hui Pa. Orang jatuh cinta tak bisa diperintah begitu,
Bun Hwi tak dapat mencari yang lain kalau hatinya masih melekat pada gadis itu.”
Kolektor E-Book

“Maaf, aku hanya main-main, hujin. Kalau begitu biar kubuat teh lagi untuk
kalian,” kakek itu bangkit tertawa dan meninggalkan majikannya karena pembicaraan
mulai bersifat pribadi. Dia mencampuri dan sudah ditegur. Guyonannya di lirik halus.
Dan ketika kakek itu pergi dan Bun Hwi merenung maka ibunya bertanya kembali.
“Bagaimana, kau belum dapat menentukan sikap?”
“Belum aku akan mengadakan penjajagan dulu, ibu. Aku ingin mengetrapkan
resep Brahmadewa dalam urusan ini.”
“Kejujuran dan komunikasi?”
“Ya.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


8

“Baik, berhati-hatilah. Jaga agar semuanya itu tidak menyinggung perasaan


mereka dan kau dapat menentukan pilihanmu dengan tepat.”
“Terima kasih, aku akan selalu ingat nasihatmu, ibu. Dan kau sendiri, tidak
kesepian kutinggal sementara bukan?”
“Ibu sudah terbiasa menyendiri,” wanita itu tersenyum. “Tak apa kau pergi asal
kembali dan selalu ingat ibumu ini.”
“Ah, tentu, ibu. Mana mungkin aku melupakanmu? Kau ibuku, kau segala-
galanya bagiku di samping yang lain!” Bun Hwi merebahkan kepalanya, disambut
usapan halus dan wanita ini tersenyum lebar. Apa yang dikata anaknya ini
membahagiakan hati, menyejukkan jiwanya dan segera mereka terbuai perasaan
masing-masing. Bun Hwi memang belum lama bermanja-manja seperti itu. Ibunya
itu baru saja ditemukan, bertahun-tahun mereka berpisah, nyaris masing-masing tak
bertemu lagi. Dan ketika sang ibu mengusap muka anaknya dan ia tertawa tiba-tiba
pemuda ini menggeliat bangkit. “Ibu, kau tentu tak keberatan wajahmu pulih, bukan?
Aku akan mencari obat, siapa tahu kulitmu yang hangus ini bisa hilang!”
“Hm....” sang ibu menarik napas panjang. “Untuk apa semuanya itu, anakku?
Ibu sudah tua, tak suka meskipun ingin.”
“Ah, jangan begitu, ibu. Aku ingin melihat dirimu seperti yang dikabarkan
orang. Aku ingin tahu seberapa hebat kecantikanmu itu yang dulu membuat ayahanda
kaisar tergila-gila!”
“Kau gila?” wanita itu tertawa. “Ibumu sekarang berbeda dengan ibumu
duapuluh tahun yang lalu, Bun Hwi. Aku sekarang sudah tua!”
“Tapi ibu baru empatpuluhan....!”
“Hm, tigapuluh sembilan....”
“Nah, apalagi sekian. Tidakkah kau masih muda, ibu? Kau belum tua dan
tubuhmu pun masih bagus. Kau masih kencang dan menggairahkan!”
“Heh-heh!” sang ibu terkekeh. “Apa yang kau bicarakan ini, anak nakal? Kau
menaksir ibumu sendiri? Hush, aku sudah peot dan kempong. Aku sudah tua. Jangan
macam-macam kalau tak ingin kujewer!”
“Ha-ha, aku bicara sungguh, ibu.” Bun Hwi terbahak juga. “Aku tidak menaksir
tapi ayahandalah yang bilang begitu. Bukankah sebelum ke istana ayah bilang bahwa
Kolektor E-Book

ibu masih menarik? Tubuhmu masih kencang dan menggairahkan, kau masih dapat
bermesraan dengan ayah dan pasti bahagia!”
Ibunya terkekeh geli. Mendadak mereka tertawa bersama dengan perasaan lepas,
sang ibu merasa anaknya ini memuji dan bicara sungguh-sungguh. Tentu saja dia
merasa bangga. Tapi teringat wajahnya yang hitam tiba-tiba Wi Hong, selir kaisar
yang mengasingkan diri ini menunduk, terisak, tawanya tiba-tiba berhenti.
“Bun Hwi, mana mungkin muka ibumu disembuhkan? Obat apa yang dapat
menyembuhkannya? Aku tak mengharap, anakku. Ibu sudah cukup puas dan biarlah
tetap begini. Jelek-jelek, kau tetap mencintai ibumu, bukan?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


9

“Tentu,” Bun Hwi tiba-tiba terharu, memegang lengan ibunya ini. “Jelek atau
tidak jelek kau tetap ibuku, bunda. Bukankah dari rahimmu aku dilahirkan? Aku tak
akan melupakanmu, tapi aku ingin mencari obat untuk pemulih wajahmu ini. Itulah
sebabnya aku ingin berbincang-bincang dengan Hu-taijin dan bertanya barangkali ada
obat yang dapat memulihkan wajahmu yang hitam ini. Aku akan berusaha!”
“Tapi, Bun Hwi. Untuk apa bagiku yang sudah tua dan peot ini? Aku bukan
gadis remaja lagi. Aku sudah sudah nenek-nenek, sebentar lagi tentu sudah
menimang cucu!”
“Ah,” Bun Hwi tersipu. “Itu masih lama, ibu. Dan kau tidak peot atau kempong.
Coba tanya setiap orang, peot dan kempong apakah yang ada di dirimu ini? Tidak,
kau masih segar dan bagus. Tubuhmu masih indah dan ayahanda sendiri memujimu.
Aku ingin berbakti dan mencarikan obat untukmu. Aku ingin melihat ibuku yang
cantik jelita seperti dulu!”
“Hm.....” wanita ini tersenyum, bersinar-sinar. “Kau mau bersusah payah lagi
untuk ibumu? Bukankah sudah cukup kau menemukan Mustika Batu Bintang dan
menyembuhkan ibumu? Tidak, jangan, anakku. Aku tak mau kau menghadapi bahaya
setelah semuanya itu. Ngeri aku membayangkan dirimu berkelahi dengan Pek-hui-
coa, ular raksasa itu!”
“Tapi itu sudah lewat, ibu. Pek-hui-coa kubunuh dan Mustika Batu Bintang
kudapat. Aku bahagia dapat melakukan itu untukmu, ibuku!”
“Ya, tapi semuanya itu penuh bahaya, anakku. Ibu tak ingin kau menghadapi
bahaya lagi dan celaka. Lebih baik biarkan ibu begini dan kau tak perlu bersusah
payah.”
Bun Hwi bangkit berdiri, tertawa. “Ibu, omongan apa ini? Kalau aku dapat
memulihkan wajahmu kenapa harus mundur? Tidak, aku akan bertanya-tanya dulu,
ibu. Dan belum tentu obat untuk itu harus kuhadapi dengan bahaya. Mungkin dapat
kucari dan kubeli. Aku akan menemui tabib-tabib dan bertanya pada mereka. Aku
sungguh-sungguh, aku ingin menolongmu. Tak perlu khawatir!”
“Baiklah.” sang ibu tersenyum, bahagia. “Aku bangga melahirkanmu, anakku.
Boleh kau cari dan sesukamulah kalau kau bersikeras. Tapi kalau umpamanya tak
dapat tak usah kau ngotot. Dengar nasihat ibu ini?”
“Tentu, dan terima kasih, ibu. Kau dapat mengerti keinginanku dan semoga obat
itu kudapat!” Bun Hwi memeluk ibunya, mencium dan tertawa dan segera pemuda itu
Kolektor E-Book

berkemas. Agaknya dia lupa bahwa baru besoklah dia pergi. Tapi ketika sang ibu
tersenyum dan mengerutkan kening mendadak Hui-lopek muncul disusul derap
beberapa kuda.
“Hujin, utusan istana tiba. Hu-taijin datang.....!”
“Oh, mana mereka?” dua orang itu membalik, mendengar ringkik kuda dan
belasan orang memasuki Lembah Duka. Seorang laki-laki gagah berdiri di atas
kudanya paling depan, menyuruh yang lain-lain berhenti dan dia pun meloncat turun.
Sebuah kereta indah mengiring di belakangnya. Dan ketika semua orang berhenti dan
Bun Hwi serta ibunya menyambut ternyata itulah Menteri Hu Kang yang datang
diutus kaisar.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


10

“Sian-li (Dewi), sri baginda mengharap kehadiranmu di istana. Kami membawa


kereta dan kau diharap datang!” lalu menjura di depan wanita ini laki-laki gagah itu
berseru kembali, kini ke arah Bun Hwi. ”Dan kau, apa kabar, pangeran? Baik-baik
saja?”
“Ah,” Bun Hwi meloncat, menyambut laki-laki ini. “Kau membuat aku terkejut,
taijin? Kenapa harus datang sendiri dan tidak suruhan pengawal saja? Mana itu
puterimu? Mana Hu Lan?”
Laki-laki ini, menteri Hu, tersenyum. “Puteriku nakal, pangeran. Hu Lan tak ikut
karena berburu di hutan.”
“Ha, dan kau menjemput ibu?”
“Ya, ayahanda kaisar memanggil. Katanya rindu!”
“Nah, apa aku bilang, ibu?” Bun Hwi tertawa berseri. “Bukankah ayahanda
kaisar tetap tertarik dan menginginkan dirimu? Lihat, Hu-taijin menjemput dan kau
harus ke sana. Ayo, cepat pergi dan temui ayahanda kaisar!”
Wi Hong, selir ini tersipu-sipu. “Hush, apa ini Bun Hwi? Kau membuat malu
ibumu di depan banyak orang. Kupukul kau nanti, ayo suruh Hu-taijin masuk dan kita
bicara di dalam!”
“Ah, terima kasih,” menteri itu tertawa. “Aku buru-buru, Sian-li. Masih ada
tugas bagiku yang harus kuselesaikan. Pengawalku akan membawamu ke sana dan
aku harus pergi.”
“Ada urusan apa? Eh, nanti dulu, paman Hu. Ayo masuk dan bicara sebentar di
dalam. Kebetulan aku juga ingin bertanya sesuatu!” Bun Hwi terkejut,
mempersilahkan tamunya dan Hu-taijin tersenyum. Pengawal berkuda mendapat
isyarat dan mereka itu pun maju mendekat. Kereta dibersihkan dan kusir pun turun.
Kereta indah ini akan membawa Wi Hong ke istana, selir itu dipanggil sri baginda.
Dan ketika menteri Hu menyuruh pengawal menunggu dan Wi Hong bergegas ke
dalam maka Bun Hwi sudah mengajak tamunya masuk, bukan di sebuah ruang indah
melainkan di sebuah guha yang dingin namun tenang, juga bersih.
“Paman, mari duduk!” panggilan itu terasa akrab. “Ayo ceritakan padaku apa
tugasmu itu dan kenapa buru-buru!”
Hu Kang, menteri gagah perkasa ini menarik napas dalam. “Sedikit kekacauan
di perbatasan, pangeran. Bahwa kudengar kabar ada beberapa panglima
Kolektor E-Book

memberontak.”
“Memberontak? Siapa mereka?”
“Hamba kurang jelas, tapi disebut-sebut namanya Sun-ciangkun.”
“Siapa itu Sun-ciangkun?”
“Panglima muda yang mendapat kepercayaan menjaga tapal batas. Katanya dia
bersama seribu pasukannya memberontak.”
“Hm, dan kau mau turun tangan, taijin?”
“Ayahandamu yang memerintahkan. Aku menurut dan memang ini tugasku.”
BATARA Dewi Kelabang Hitam
11

Bun Hwi mengangguk-angguk. Hu Kang adalah menteri pertahanan, jadi di


pundak menteri itulah terletak tanggung jawab keamanan. Kerajaan tak boleh
diserang musuh dan Wi Hong, ibunya muncul. Wanita ini, telah berganti pakaian,
bersih dan harum serta Hu-taijin pun kagum. Wanita ini masih menggairahkan,
tubuhnya masih tampak indah dan kencang. Selir itu tentu selalu menjaga kondisinya.
Dan ketika percakapan berhenti dan wanita ini masuk maka Hu-taijin memuji.
“Sian-li, kau benar-benar masih menarik. Tak heran kalau sri baginda demikian
sayang kepadamu!”
“Ah, siapa sayang kepada mukaku yang hitam ini, taijin? Aku sendiri
sebenarnya merasa beruntung bahwa sri baginda tidak melupakan aku. Sudahlah,
siapa memberontak dan apa yang kalian bicarakan tadi?”
Bun Hwi bangkit berdiri. “Ibu, kau sudah di nanti kereta. Sebaiknya pergi dan
biar paman Hu di sini.”
“Eh, kau mengusir ibumu?”
“Tidak, semata agar kau tak terlambat, ibu. Nanti ayahanda marah dan gusar
kepada paman Hu ini. Dikiranya ayal-ayalan!” Bun Hwi tertawa lebar. “Bukankah
begitu, paman?”
“Benar, kau diharap secepatnya ke sana, Sian-li. Sri baginda menanti dan tak
sabar menunggumu. Pangeran benar, silahkan ke kereta dan pergilah!”
“Ah, kalian laki-laki selamanya begitu. Baiklah, aku pergi dan jaga diri kalian
baik-baik.” Wi Hong keluar, sudah disambut pengawal yang lain dan Hu-taijin pun
mengantar. Menteri itu tidak sampai ke istana karena sebentar lagi akan ke utara,
menyelidiki masalah pemberontakan itu. Dan ketika Wi Hong memasuki keretanya
dan pengawal membungkuk memberi hormat maka tirai dibuka dan wanita ini
melambaikan tangan.
“Bun Hwi hati-hati. Ibu pergi dulu.”
“Baik, dan sampai jumpa, ibu. Aku juga akan pergi setelah ini.”
Kereta diputar. Kuda meringkik dan pengawal kembali memberi hormat, lalu
begitu mereka naik ke punggung kuda masing-masing maka pengawal kepala
membedal dan keluar dari mulut lembah.
“Taijin, pangeran, kami pergi!”
Kolektor E-Book

Bun Hwi mengangguk. Hu Kang melambaikan tangan dan Wi Hong menutup


tirai. Kereta berderak dan kudapun melangkahkan kakinya. Dan ketika mereka keluar
dari mulut Lembah Duka, Bun Hwi tersenyum maka diapun mengajak tamunya
masuk, sejenak terganggu mengantar ibunya tadi.
“Sampai di mana tadi, taijin? Apa yang kita bicarakan?”
“Sun-ciangkun itu. Ayahandamu menyuruhku menyelidik dan menjinakkan
seribu pasukan yang dikata memberontak.”
“Benar, lalu bagaimana, taijin? Kau mau kesana?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


12

“Ya, hari ini juga. Aku akan menyelidik dan memastikan kebenaran berita itu.
dan kau sendiri, apa yang kau perlukan dariku, pangeran?”
“Oh, hampir aku lupa!” Bun Hwi menepuk dahinya. “Begini, paman! Adakah
obat yang dapat memulihkan wajah ibuku itu? Adakah ramuan yang dapat
menghilangkan hangus di kulit wajah ibuku itu?”
“Hm, inikah?” menteri Hu mengerutkan kening. “Aku tahu, pangeran. Tapi
Yok-to barangkali dapat memberi tahu.”
“Tabib istana itu?”
“Ya.”
“Hm,” Bun Hwi mengangguk-angguk. “Ingat aku paman. Kalau begitu akan
kutemui dia!”
“Baik, dan pangeran tak ada lagi yang hendak disampaikan?”
Bun Hwi menggeleng. “Kukira tidak, cukup itu tadi. Dan paman mau pergi?”
“Ya, aku harus ke utara, pangeran. Biar kita berpisah dan sampai jumpa lagi!”
menteri itu berdiri, tersenyum dan memberi hormat lalu menepuk-nepuk Bun Hwi.
Dia dan pemuda itu sudah akrab, bahkan ketika Bun Hwi masih remaja tanggung,
banyak mengalami suka-duka bersama menteri ini dan Bun Hwi mengangguk. Dan
ketika pemuda itu mengucap terima kasih dan mengantar tamunya keluar mendadak
Bun Hwi mendesah. “Ah, nanti dulu, paman. Aku ingin titip pesan!”
“Apa, pangeran?”
“Kalau dalam perjalananmu nanti bertemu dua sahabatku itu tolong beri tahu
mereka bahwa aku mencarinya. Bahwa sahabatku itu, Kiok Lan dan Mei Hong, ingin
kutemui untuk sesuatu urusan penting.”
“Ah, murid Thian-san Giok-li dan Hwa-i Sin-kai itu?”
“Ya, mereka, paman. Tolong kau beri tahu mereka dan suruh mereka
menunggu.”
“Baik, akan kusampaikan,” dan menteri Hu yang kembali tersenyum dan
membungkuk tiba-tiba berkelebat, lenyap dan sudah meninggalkan pemuda itu di
mana Bun Hwi termangu-mangu. Senyum dan sinar mata menteri itu terasa tertawa
padanya, Bun Hwi semburat dan segera Hui-lopek muncul. Dan ketika Hu-taijin
Kolektor E-Book

pergi dan majikannya bengong di tempat tiba-tiba kakek ini berseru.


“Kongcu, apa yang kau tunggu? Hu-taijin telah pergi, ayo sadar dan ingatlah!”
Bun Hwi terkejut, membalikkan tubuh.
“Kau mau pergi juga, bukan?”
“Ya.”
“Perlu kusiapkan buntalanmu?”
“Tidak, aku ke istana sebentar, lopek. Aku akan menemui Yok-to dan bicara
sesuatu, kau tunggulah di sini!” Bun Hwi yang melompat keluar guha tiba-tiba
BATARA Dewi Kelabang Hitam
13

lenyap, berkelebat dan sudah turun di bawah lembah. Hui-lopek tertegun dan
mendelong. Dia mulai melihat kelihaian majikannya ini. Tapi ketika dia menyeringai
dan membersihkan meja yang kotor maka dua jam kemudian Bun Hwi kembali dan
murung.
“Aku gagal.” Bun Hwi seolah berkata pada diri sendiri. “Ibu akan di istana
seminggu lamanya, lopek. Kau jaga baik-baik tempat ini dan siapkan buntalanku.”
“Lho, tadi kau tak mau, kongcu. Kenapa sekarang mendadak begini?” Baiklah,
tunggu. Aku akan menyiapkannya dan perlahan sebentar!” kekek itu berlari ke dalam,
mengambil beberapa stel pakaian Bun Hwi yang baru dan baik, melipatnya dan
tergesa-gesa membungkus. Dan ketika di sana Bun Hwi juga menyiapkan sepatunya
dan bersungut-sungut akan sesuatu yang tak jelas maka kakek ini keluar dan sebuah
buntalan telah berada di tangannya. “Nah, sudah kusiapkan, kongcu. Kau mau
berangkat sekarang?”
“Ya, dan beri tahu pada ibu aku pergi ke utara, lopek. Barangkali sebulan. Ibu
seminggu lagi datang.”
“Baik, kusampaikan, kongcu. Dan berhati-hatilah. Kau tidak makan dulu?”
“Bukankah sudah sarapan? Memangnya kau mau menjejali aku dengan
makanan? Sudahlah, kau jaga baik-baik tempat ini, lopek. Aku pergi dan terima
kasih....!” Bun Hwi lenyap lagi, buntalan sudah disambar dan Hui-lopek melongo.
Gerak yang dilakukan pemuda itu juga cepat bukan main. Tahu-tahu menghilang dan
sudah meluncur di bawah lembah sana. Dan ketika pemuda itu lenyap dan Bun Hwi
tampak tergesa-gesa maka pelayan ini membalik dan sudah memasuki guha.

*
* *

“Hei, kenapa melotot? Aku minta bubur ayam, cepat!”


Bentakan itu terdengar di sebuah kedai kecil. Pagi itu matahari baru naik sedikit,
belum tigapuluh derajat, jadi masih pagi dan bumi pun masih hangat. Seorang gadis
dengan rambut dikelabang dua membentak seorang pelayan. Pelayan tadi melongo,
gadis itu marah-marah dan tentu saja dia terkejut. Dan ketika pemilik kedai
mengerutkan kening tapi tersenyum ramah buru-buru pelayan itu datang kepadanya
membawa penampan.
Kolektor E-Book

“Bubur ayam, twako. Cepat!”


Pemilik kedai mengambil mangkok. Dengan cepat diisinya bubur ayam itu,
mengepul dan panas-panas. Lalu menyerahkannya kepada sang pelayan pemilik
kedai ini berbisik. “Hati-hati, dia gadis kang-ouw, A-sam. Jangan memandang saja
dan turuti permintaannya.”
“Baik,” dan si pelayan yang cepat menuju meja dan meletakkan bubur ayam itu
sudah membungkuk, menerima pertanyaan.
“Ada minuman apa?”
“Arak, lihiap. Kau mau arak?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


14

“Hm, tak ada minuman dingin?”


“Ada..... ada. Kolang-kaling dan es batu!”
“Baik, berikan itu. Dan tukar sumpit ini, minta yang lebih kecil tapi panjang!”
Sang pelayan mengangguk. Pemilik kedai rupanya memberikan sumpit terlalu
besar, sumpit yang biasa dipakai laki-laki dan kini gadis itu minta tukar, cepat dia
berlari dan mengambil apa yang diminta. Dan ketika tak lama kemudian dia
memberikan pula minuman dingin seperti yang diminta maka tiga ekor kuda berderap
dan berhenti di luar kedai itu.
“Kita berhenti di sini, tangsel perut dulu.”
Percakapan di luar disusul dengan masuknya tiga orang. Mereka laki-laki garang
dengan kumis melintang, yang seorang memiliki luka di pipi dan memimpin,
langsung mereka mencari tempat duduk dan menyeringai melihat seorang gadis
cantik ada di situ, sengaja mencari kursi di depan gadis ini dan berhadapan. Dan
ketika pelayan datang meminta apa yang hendak mereka makan maka si pemimpin
ini menuding.
“Seperti nona itu, bubur ayam!”
“Dan minuman kalian?”
“Juga seperti dia, es bolang-baling!”
“Ha-ha, es kolang-kaling, twako. Bukan bolang-baling!” temannya, yang duduk
bersebelahan terbahak. Suaranya lantang dan kasar, mereka bertiga tiba-tiba sama
tertawa dan pelayan pun tersenyum, senyum kecut. Dia melihat nona yang sedang
makan bubur itu melirik, lirikannya tajam dan tidak senang. Pandangan berkilat jelas
menunjukkan orang mulai marah, pelayan ini kebat-kebit. Tapi karena orang telah
memesan hidangannya dan cepat dia masuk menyiapkan apa yang diminta maka tiga
orang itu bercakap-cakap dan memandang gadis yang sedang menikmati bubur
ayamnya ini, bersikap kurang ajar.
“Cek-twako, adakah pipit yang lebih cantik dari pipit yang ada di ruangan ini?
Bagaimana pendapatmu?”
“Ha-ha, aku ingin berkenalan, Kee Gwan. Tak ada burung lain yang lebih cantik
daripada burung yang ada di ruangan ini.”
Kolektor E-Book

“Kau berani berkenalan?”


“Kenapa tidak? Tunggu sebentar, aku menangsel perut dulu dan kita bertiga
boleh berkenalan. Bagaimana, Jit Kiu?”
“Setuju, aku juga ingin berkenalan, twako. Tapi hati-hati, tampaknya dia galak!”
“Ha-ha, galak atau tidak tak mungkin kita tak dapat menundukkannya, Jit Kiu.
Kita tiga laki-laki gagah tak mungkin kalah dengan seekor pipit yang halus!”
Tiga laki-laki itu terbahak bersama. Mereka memandang dan ganti-berganti
menyeringai pada gadis berkelabang itu, kagum pada wajah cantik itu namun tak
dapat mengendalikan mulut. Mereka tak tahu betapa pipi yang kemerahan itu tiba-
tiba terbakar, sinar berkilat mulai memancar dari mata yang berapi itu. Dan ketika
BATARA Dewi Kelabang Hitam
15

pelayan datang membawa tiga mangkok bubur dan meletakkannya di depan meja tiga
orang itu maka gadis ini, yang rupanya tak dapat menahan diri namun muak dengan
segala percakapan tadi bangkit berdiri, meninggalkan sisa makanannya yang masih
separoh, memanggil si pelayan.
“Hitung makananku, tempat ini tiba-tiba menjadi kotor. Ada tiga kecoa busuk
mengganggu tempat dudukku!”
Sang pelayan terkejut. Cepat dia mendekat dan mencari tiga kecoa yang
dimaksud gadis itu, tak ada. Tempat duduk itu bersih-bersih saja dan tak ada binatang
pengotor, heran dia. Tapi ketika gadis itu membentak dan menyuruh dia menghitung
makanannya maka pelayan ini gugup berjingkat-jingkat.
“Baik, baik.... enam puluh sen, lihiap. Tidak kurang tidak lebih!”
“Nih! gadis itu menancapkan setail uang perak, amblas di permukaan meja.
“Kembaliannya untukmu!” dan membalik melenggang keluar dia mendengus dan
pergi, tak menghiraukan tiga laki-laki di depannya yang terbelalak dengan muka
merah. Tentu saja mereka itu tahu siapa yang dimaksud kecoa busuk, bukan lain
mereka bertiga. Tapi ketika Kee Gwan, orang di sebelah kanan bangkit berdiri dan
mau membentak sekonyong-konyong si pemimpin, yang pipinya luka itu menahan.
“Duduklah, dia hanya berjalan kaki. Kita berkuda, tentu dapat mengejar. Nanti
di luar dusun saja kita menemui dia. Kita makan dulu!”
Laki-laki itu menggeram. Dia rupanya terhina oleh makian si gadis berkelabang,
duduk lagi dan tak membantah. Gadis itu memang berjalan kaki dan menuju ke timur,
sang pemimpin sudah mengajaknya makan dan buru-buru. Tiga orang itu segera
melahap bubur ayamnya. Dan ketika semuanya disapu bersih dalam waktu sekejap
maka tiga laki-laki ini melempar setail perak dan meloncat pergi.
“Hei, kurang twako. Pembayaran kalian kurang!”
Si pelayan berteriak, memburu tapi sebuah tendangan mengenai pahanya. Dia
menjerit dan terjungkal roboh. Dan ketika Jit Kiu, orang ketiga. mencabut golok dan
mengacungkannya menakut-nakuti maka pelayan ini menggigil dan pemilik kedai
pun pucat, menyuruh pelayannya minggir dan tiga laki-laki itu tertawa. Mereka
berkelebat dan telah menaiki punggung kuda masing-masing. Dan begitu mereka
membentak dan membedal tali kuda maka binatang tunggangan itu meringkik dan
nggeblas, lari melonjak.
Kolektor E-Book

“Herr....!”
Tiga laki-laki itu melesat. Mereka ke timur, sekejap kemudian melihat gadis
berkelabang itu berjalan di depan. Pinggulnya naik turun, kuda dikeprak dan bagai
orang-orang kelaparan mereka itu memburu lawan. Dan ketika sebentar kemudian
mereka telah berhasil menyusul dan kekang ditarik maka mereka memutar kuda dan
sudah menghadang menghalang perjalanan si gadis berkelabang.
“Ha-ha, nanti dulu, nona. Siapakah tiga kecoa busuk yang kau maksudkan di
kedai tadi? Bukankah tempat dudukmu tak ada apa-apanya dan bersih saja?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


16

“Hm, siapa kalian?” gadis itu bertanya, matanya berkilat-kilat, tak menjawab
pertanyaan orang. Dan ketika tiga laki-laki itu meloncat turun dan berdiri di depannya
maka si pemimpin, yang luka pipinya itu menyeringai, tertawa.
“Kami Tiga Harimau Sakti, aku Cek Kwan. Ini temanku Kee Gwan dan Jit Kiu.”
“Sekarang kenapa menghentikan perjalanan orang? Minta mampus?”
“Ha-ha, galak benar! Eh, kawan-kawan, bagaimana tanggapan kalian mendengar
kata-katanya ini?”
Kee Gwan dan Jit Kiu terbahak. “Sombong, twako. Gadis ini sombong dan
kurang ajar!”
“Dan perlu kita tangkap, dia telah berani menghina kita!”
“Benar, mari kita tanya,” dan Cek Kwan yang kembali menghadapi lawan dan
bertolak pinggang lalu memelintir kumisnya. “Nona, kau telah mendengar sendiri
jawaban dua temanku. Mereka menganggapmu sombong, kau telah menghina kami.
Nah, jawab dulu siapa kecoa busuk yang kau maksud di kedai tadi dan katakan siapa
kau!”
“Aku tak perlu kalian kenal. Tapi kecoa busuk yang kumaksud adalah kalian!”
“Keparat, berani kau menghina kami?”
“Kenapa tidak? Bukankah kalian yang ceriwis mengganggu aku? Minggirlah,
dan pergi kalau tak ingin mampus!”
“Sret!” Kee Gwan mencabut golok, tak dapat menahan diri. “Kau liar dan
kurang ajar, gadis sombong. Coba buktikan kata-katamu kalau bisa!” laki-laki itu
menerjang, golok diayun dan coba menakut-nakuti muka lawannya. Gadis ini tak
mengelak dan golok terus meluncur. Kee Gwan berseru kaget dan menahan
goloknya. Dan ketika golok berhenti sesenti saja dan gadis itu diam tak mengelak dia
malah heran dan terkejut sendiri.
“Hei, kau tak pernah dibacok orang? Kau tak tahu tajamnya golokku ini?”
“Kenapa? Boleh kulihat? Coba kemarikan!” dan belum laki-laki itu menarik
atau menggerakkan goloknya tahu-tahu dua jari gadis itu menotok, begitu cepat dan
pergelangan lawan pun di buatnya lumpuh. Kee Gwan berteriak kaget dan terhuyung.
Dan ketika dia terbelalak dan bengong oleh gerakan luar biasa cepat itu tahu-tahu
Kolektor E-Book

goloknya sudah di rampas dan...... ditekuk.


“Krek!” golok patah. Kee Gwan dan dua temannya menjublak melihat ini. Dan
begitu mereka tertegun maka gadis ini mengayun tangannya dan..... sisa kutungan
golok itu pun menyambar Kee Gwan menancap di pundak laki-laki ini.
“Aduh......!” Kee Gwan menjerit, langsung terjungkal roboh. Dan ketika dua
temannya terkejut dan sadar tahu-tahu gadis itu mendorong mereka dan melanjutkan
perjalanannya.
“Minggir...... bres-bress!” tiga laki-laki itu bergulingan. Mereka berteriak
tertahan dan si nona pun melenggang. Bukit pinggulnya yang menari-nari membuat

BATARA Dewi Kelabang Hitam


17

lawan bengong. Tapi begitu sadar dan Cek Kwan, si pemimpin membentak marah
tiba-tiba dia meloncat dan meraung, menodongkan golok di depan lawan.

“Berhenti, atau kau kubunuh!”


Gadis itu tersenyum dingin. “Kalian tidak kapok?”
Cek Kwan tergetar. Dia melihat kilatan berbahaya dari gadis ini, sinar mata yang
aneh dan tekukan bibir yang mengejek. Tiba-tiba dia mundur dan gentar. Perbawa
Kolektor E-Book

dari gadis ini menciutkan nyalinya dan dia pun pucat. Hampir laki-laki ini
menurunkan goloknya. Tapi Jit Kiu yang rupanya marah dan tak tahu diri meloncat
maju.
“Twako, gadis ini semakin kurang ajar. Dia dapat mematahkan golok, tapi kita
bertiga. Masa takut kepadanya? Serang, jangan gentar dan mari kubantu........ wut!”
laki-laki itu mengayunkan goloknya, sudah mencabut senjatanya itu dan menyerang
leher. Sekali bacok dia mau membuat leher itu terluka, temannya terkejut. Tapi gadis
ini yang mendengus dingin dan menggerakkan lengan tahu-tahu memapak dan
melengking.
“Krak-bluk!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


18

Suara itu disusul jeritan tinggi. Jit Kiu, laki-laki yang menyerang ini tiba-tiba
terbanting, goloknya mencelat dan dia pun terkapar, berkelojotan dan akhirnya tewas
dengan mata mendelik. Dua tusukan jari melukai lambungnya, bukan main kagetnya
Cek Kwan dan Kee Gwan, dua laki-laki di sebelahnya kaget terbelalak memandang
kejadian itu. Sekali gebrak saja teman mereka roboh langsung binasa! Dan ketika
mereka tertegun dan bengong memandang kejadian itu maka gadis yang ganas ini
melirik mereka dengan kerling maut.
“Kalian minta menyusul arwahnya?”
Cek Kwan dan Kee Gwan menggigil. Tiba-tiba mereka gentar, juga marah. Tapi
Cek Kwan yang penasaran dan meraung tiba-tiba menubruk, ingin menuntut balas.
“Kau gadis siluman, pembunuh...! dan Cek Kwan yang mengayun golok sambil
menendang tiba-tiba menyuruh temannya maju, Kee Gwan ragu-ragu tapi akhirnya
mengangguk. Luka di pundaknya itu membuat dia marah, menyambar golok
temannya dan sudah menerjang. Dan ketika gadis itu berkelit dan Cek Kwan
membentak lagi maka dua orang itu mengeroyok gadis ini dan sudah membacok atau
membabat.
Tapi gadis itu tertawa dingin. Dia berlompatan dua kali, lalu begitu Cek Kwan
membacok dari kanan tiba-tiba dia menangkis. “Krak........!” golok patah, Cek Kwan
terkejut dan mau mundur. Tapi ketika dua jari bergerak dari depan menuju
lambungnya tiba-tiba sinar putih berkeredep dan terdengar jeritan ngeri laki-laki ini.
“Augh...!”
Cek Kwan terbanting roboh. Sama seperti temannya laki-laki ini pun terluka
lambungnya, dua bekas tusukan jari menembus perutnya itu. Cek Kwan meraung dan
menggelepar, tak lama kemudian tak bergerak-gerak. Tewas! Dan ketika Kee Gwan,
teman satunya terlempar bergulingan mendapat tendangan samping maka laki-laki ini
menggigil melompat bangun dan langsung menjatuhkan diri berlutut.
“Lihiap, ampun..... am..... ampun!”
“Hm, aku mengampuni kau, kecoa busuk. Kalau tidak masa kau masih dapat
bernapas? Aku teringat kemurahanmu tadi, golok yang tidak kau teruskan. Kalau
tidak tentu kau pun mampus dan jangan harap dapat bicara lagi!” gadis itu
menjengek, memang benar karena Kee Gwan inilah yng tadi menahan goloknya,
menyerang pertama kali tapi tertegun kenapa gadis itu diam saja. Kini sikapnya itu
menyelamatkan dirinya dan buru-buru laki-laki ini mengucap terima kasih. Dan
Kolektor E-Book

ketika gadis itu mendengus dan memutar tubuh tiba-tiba dia pun meloncat dan
menaiki seekor kuda yang tadi ditunggangi tiga laki-laki ini.
“Hyehh!” tanpa banyak cakap dia menghentak, kuda ditendang dan binatang
berkaki empat itupun melonjak. Dan ketika Kee Gwan melenggong dan terbelalak ke
depan maka lawan pun lenyap di kejauhan dan laki-laki ini menangis, teringat mayat
dua temannya.
“Cek Kwan, Jit Kiu, kita ketemu batunya. Sungguh sial nasib kalian. Tenanglah,
kita memang apes dan celaka!” laki-laki itu mengurus mayat dua temannya, ngeri dan
gentar melihat luka di lambung itu. Tusukan jari si gadis cantik seakan pisau belati
saja, tajam dan memutuskan usus di dalam. Bukan main. Dan ketika dengan
menangis dia mengubur mayat dua temannya dan kehilangan sekor kuda maka gadis

BATARA Dewi Kelabang Hitam


19

berkelabang itu yang jauh mencongklang di depan sudah menghilang dan melarikan
kudanya ke timur.
Siapakah dia? Kee Gwan tak mengenal. Untuk wilayah itu barangkali tak ada
orang mengenal siapa gadis cantik ini. Dia bukan lain Kiok Lan, tokoh kita yang
sudah lama tak kita temui. Gadis inilah yang akan dicari Bun Hwi, di samping Mei
Hong, gadis satunya lagi. Dan karena lama tak kita jumpai gadis ini biarlah kita
ringkas sejenak siapa sebenarnya gadis yang ganas ini.
Kiok Lan adalah murid mendiang Thian-san Giok-li, seorang pendeta wanita
yang tewas di tangan Ang-sai Mo-ong dan Tung-hai Lo-mo, dua datuk sesat yang
juga tewas pada beberapa waktu yang lalu (baca : Sengketa Cupu Naga). Dan karena
gadis ini ditinggal mati subonya dan tak ada kerabat yang dapat diikuti maka dia
merantau sendirian dan beberapa bulan ini bersikap dingin, mudah marah, gampang
menjatuhkan tangan kejam dan sudah kita lihat keganasannya terhadap tiga laki-laki
di atas. Gadis ini mengalami kekecewaan besar, patah hati. Karena Bun Hwi, pemuda
yang dicintainya itu tak mengejar dirinya.
Dalam “Cupu Naga” diceritakan betapa tiga muda-mudi itu, Bun Hwi dan Kiok
Lan serta Mei Hong, bertengkar dan saling bermusuhan. Dua gadis ini
memperebutkan Bun Hwi, sama-sama mencinta Bun Hwi. Tapi Bun Hwi sendiri
yang bingung dan tak dapat menentukan sikapnya menghadapi dua gadis cantik itu
ternyata bersikap kurang tegas. Pemuda ini tak tahu kepada siapakah sebenarnya dia
mencintai. Dulu, baik Kiok Lan maupun Mei Hong sama-sama disukanya. Tak aneh
karena dua gadis itulah yang bergaul dan sering membantu Bun Hwi ketika dia di
kejar-kejar orang kang-ouw, diperebutkan dan mau dibunuh kerena dia berhasil
mendapatkan Cupu Naga, sebuah cupu berisi sebuah ilmu silat tinggi warisan Pek In
Sian-su, tokoh dewa yang hidup ratusan tahun yang lalu. Dan karena Bun Hwi tak
menjatuhkan pilihannya pada seorang di antara mereka dan Kiok Lan maupun Mei
Hong menganggap pemuda itu mencintai yang lain, terbukti mereka tak dikejar maka
Kiok Lan menyangka Bun Hwi mengejar Mei Hong sementara Mei Hong sendiri
mengira Bun Hwi mengejar Kiok Lan. Tak tahu bahwa Bun Hwi meneruskan
perjalanannya ke kota raja, meninggalkan kedua-duanya dan tak mencari kedua-
duanya pula. Tentu saja Kiok Lan mengira Bun Hwi mengejar Mei Hong sementara
Mei Hong juga mengira Bun Hwi mendapatkan Kiok Lan, dua-duanya menyangka
salah. Dan ketika minggu demi minggu Kiok Lan merantau tanpa tujuan dan gadis ini
berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain maka sering dia menangis teringat
nasibnya yang tak beruntung itu.
Kolektor E-Book

Pertama subonya tewas, dia kehilangan orang paling dekat, juga satu-satunya.
Lalu Bun Hwi dan cintanya. Ini yang amat berat. Kematian subonya dapat ditekan
secepat mungkin, dilupakan. Tapi Bun Hwi, yang untuk pertama kali di cinta dan
pernah menciumnya mana bisa begitu mudah dilupakan? Ah, dia tak sanggup.
Melupakan pemuda itu sama dengan menggerogoti jantungnya, sakit dan pedih. Ada
semacam luka menganga di situ, dia tak dapat menyembuhkan itu dan hanya Bun
Hwilah obatnya. Luka asmara atau patah hati memang selamanya berat bagi yang
muda, apalagi seperti Kiok Lan itu, yang untuk pertama kali mengenal artinya cinta
dan untuk pertama kalinya pula merasa gagal. Cinta tiba-tiba saja seperti biang
penyakit, pahitnya melebihi empedu. Ingin dia menjerit dan berteriak-teriak. Dan
ketika Kiok Lan menangis dan sering mencucurkan air mata di perjalanan maka luka
yang dirasakan mengiris-iris ini membuat Kiok Lan mudah beringas dan ganas.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


20

Pada dasarnya gadis ini memang keras. Dulu sewaktu Thian-san Giok-li masih
hidup Kiok Lan dikenal sebagai gadis yang keras dan pemberani. Apalagi setelah
tokoh wanita itu tewas. Gadis in semakin keras dan telengas, maklum, dia hidup
seorang diri dan segala gangguan di jalan harus diatasinya sendiri. Tak ada
pendamping tak ada pembela. Kiok Lan, gampang tersinggung dan marah. Ditambah
hubungannya yang gagal bersama Bun Hwi membuat gadis ini seakan harimau betina
yang baru melahirkan anakya. Maka tak aneh kalau tiga laki-laki tadi yang
mengganggunya kontan dihajar keras. Cek Kwan dan Jit Kiu dibunuh, Kiok Lan
bersikap dingin dan ketus. Dan ketika hari itu dia melanjutkan perjalanannya dengan
kuda rampasan maka gadis ini kembali termangu-mangu dan melamun di atas
kudanya.
Apa yany dipikir? Gangguan laki-laki? Bukan, Kiok Lan tak takut akan ini. Dia
memiliki kepandaian tinggi, ilmunya lebih dari cukup kalau hanya menghadapi itu.
Tidak, dia tidak takuti itu melainkan terkenang pada Bun Hwi. Dulu mereka pernah
berkuda bersama, bahkan berboncengan bersama, satu kuda untuk dua orang. Ah,
nikmatnya itu. Bun Hwi di belakang dan ia di depan. Dan terbayang betapa dia
pernah menampar pemuda itu dan segala suka-duka perjalanan tiba-tiba Kiok Lan
menarik napas dan... menangis.
Entah untuk berapa kali dia menangis. Berbulan-bulan ini Kiok Lan tak pernah
gembira, ada saja yang membuat dia terkenang pemuda itu. Melihat pemuda lain
misalnya, pemuda sebaya Bun Hwi. Atau seperti sekarang ini, menunggang kuda dan
teringat pemuda itu, kenangan lama. Atau melihat sungai, dan derasnya arus yang
mengalir. Hm, bukankah pernah dia berenang bersama pemuda itu dalam
memperoleh Cupu Naga? Dan karena kenangan demi kenangan selalu membuat Kiok
Lan teriris-iris maka tiba-tiba gadis ini mengguguk dan mengepal tinju.
“Bun Hwi... kau kejam........!”
Bibir itupun pucat. Kiok Lan tiba-tiba bersedih dan menghentikan kudanya di
tepi hutan yang rindang. Dan ketika dia meloncat dan duduk menutupi muka maka
gadis ini menangis berjam-jam sementara kudanya merumput tak tahu apa yang
dipikir majikannya.
Sakit tentang cinta memang berat, siapa tak mengakui ini? Maka ketika siang itu
Kiok Lan merenung dan membiarkan air matanya berderai maka lagi-lagi lamunan
merobek-robek ingatannya akan masa lalu. Sebenarnya, kalau ada pendamping
barangkali gadis ini tak akan seberat itu tekanan batinnya. Kalau saja ada sahabat
atau teman mungkin Kiok Lan dapat dihibur. Tapi, siapa teman atau sahabat gadis
Kolektor E-Book

ini? Setelah gurunya tewas Bun Hwi itulah satu-satunya teman barunya, sekaligus
kekasih, orang yang dia cinta. Tapi setelah Bun Hwi membiarkannya pergi dan
justeru tak perduli tiba-tiba hidup ini serasa kering dan tidak menyenangkan. Kiok
Lan merasa hidup tak ada gunanya, orang mati barangkali lebih bahagia, terbebas
dari urusan dunia dan memang kadang muncul juga keinginan itu. Mati! Tapi setelah
dipikir bahwa dia sebagai gadis berkepandaian tinggi dan malu rasanya harus mati
bunuh diri mendadak dia berontak dan menolak.
Tidak, dia tak akan melakukan itu. Kalau toh dia harus mati maka kematiannya
haruslah gagah bukan mati begitu konyol, bunuh diri. Ah, bagaimana kata orang
kalau melihat dia, murid mendiang Thian-san Giok-li yang gagah dan lihai mati
bunuh diri? Bukankah memalukan? Maka Kiok Lan tak akan melakukan ini. Tapi

BATARA Dewi Kelabang Hitam


21

kalau tidak, dengan terus hidup begitu dengan perasaan digerogoti sakit hati sampai
kapan dia tahan? Kiok Lan bingung, dan karena bingung maka dia pun menangis.
Air mata, betapapun memang dapat menolong. Kedukaan yang menghimpit
dapat terasa longgar bila air mata dikeluarkan. Itulah senjata yang amat baik, setidak-
tidaknya saat itu. Tapi setelah air mata mengering Kiok Lan bangkit berdiri dan
menghampiri kudanya lagi.
“Kiok Lan...!”
Seruan ini tiba-tiba membuat gadis itu tersentak. Bagai petir di belakang
telinganya sekonyong-konyong dia membalik, tertegun dan seakan tak percaya
melihat siapa di situ. Seorang pemuda muncul, begitu saja. Dia tak tahu dan langkah
kakinya tak terdengar, mungkin karena dia lengah pada kedukaan diri sendiri, ketika
tenggelam dalam tangisnya tadi. Tapi begitu dia sadar dan melihat siapa yang
memanggil ini mendadak Kiok Lan meloncat dan sudah menubruk.
“Bun Hwi.... oh, Bun Hwi...!” Kiok Lan mengguguk, air mata yang sudah
mengering tiba-tiba berderai lagi. Aneh bin ajaib dia melupakan segala kedukaannya.
Bun Hwi, pemuda yang dicintainya itu muncul. Begitu saja, seperti iblis! Dan Kiok
Lan yang girang serta gembira luar biasa tiba-tiba sudah menubruk dan memeluk
pemuda ini, memeluk kencang-kencang. “Bun Hwi, ah, kau....... bagaimana datang
secara demikian mengejutkan? Apa yang kau cari? Kau mencari diriku?”
“Benar,” Bun Hwi, pemuda ini memeluk, balas mengusap. “Aku mencarimu,
Kiok Lan. Dan baru hari ini kau kutemukan. Hm, kau kurusan sedikit, wajahmu
pucat. Kau tidak menghiraukan tubuhmu? Kau tak perduli makan minum?”
“Ooh......!” Kiok Lan tersedu-sedu. “Aku teringat kau, Bun Hwi. Aku tak dapat
melupakan dirimu. Kau kejam. Kau membiarkan aku merana........!”
“Hm,” Bun Hwi mendorong gadis itu, bersinar-sinar. “Apa yang telah kau
lakukan di belakang, Kiok Lan? Kau membunuh orang?”
“Kau tahu?”
“Ya, aku dari kedai itu. Kebetulan mendengar seorang gadis dikejar tiga laki-
laki kasar dan aku datang. Kau telah membunuh dua di antara mereka dan aku
terlambat.”
“Memangnya kenapa? Kau mau membela tiga jahanam itu?”
Kolektor E-Book

“Apa yang terjadi? Coba ceritakan.”


Kiok Lan mendadak melepaskan dirinya, mata memandang sekeliling. “Kau
datang sendiri?” pertanyaan ini diucapkan dengan menggigil. “Mana Mei Hong?”
Bun Hwi tiba-tiba tersenyum pahit. “Aku tak bersamanya, Kiok Lan. Aku
memang datang sendiri. Sengaja mencari dirimu!”
“Benar?”
“Perlukah aku bohong?”
“Ooh...!” Kiok Lan terisak, menubruk lagi. “Kalau begitu jangan kau pergi. Bun
Hwi. Aku tersiksa. Aku tak dapat hidup tanpa kau!” gadis itu menangis lagi, air mata
BATARA Dewi Kelabang Hitam
22

jatuh berderai dan Bun Hwi hampir menunduk, menengadahkan muka itu dan
mencium. Berpelukan dan bersayang-sayang begini mendadak membangkitkan
semacam kehangatan di dalam tubuhnya, nafsu berahi timbul dan ingin dia mencium.
Entah kenapa tiba-tiba saja dia ingin mencium wajah yang penuh air mata ini, wajah
yang pucat dan menggigil. Wajah yang tampak begitu ketakutan kalau dia tinggal.
Dan ketika Bun Hwi mengangkat wajah itu namun sadar akan apa akibatnya nanti
tiba-tiba pemuda ini teringat Cinta Sintetis yang dibeberkan pendekar sakti Sheru
Deva itu.
“Cinta Sintetis berhubungan dengan badan. Cinta ini erat hubungannya dengan
Aku. Kalau ingin memberi kasih sayang dan mabok dalam cinta yang ini maka
manusia akan lupa diri, tenggelam. Kesadaran akan melayang dan hanyutlah orang
akan kenikmatan badani. Kalau tak ada Cinta Sejati di tubuh sebaiknya jangan
mengumbar cinta berahi karena akibatnya akan panjang!”
Bun Hwi menahan diri. Benar, dia tak boleh gegabah. Dia belum tahu adakah
cinta sejati di hatinya terhadap gadis ini, tak boleh dia mabok dalam cinta sintetis dan
betapapun dia harus mengendalikan perasaannya. Kiok Lan memang cantik, ingin dia
mencium dan melumat bibir yang gemetar itu, yang kini tiba-tiba menjadi merah dan
segar. Bibir itu seolah memang minta dicumbu! Bun Hwi memejamkan mata dan
mendorong. Dan ketika dia berhasil mengendalikan perasaannya dan membuka
kembali matanya maka Bun Hwi berkata, agak tergetar, “Kiok Lan, coba ceritakan
padaku apa yang dilakukan tiga laki-laki itu. Kenapa kau membunuh mereka dan
bersikap begitu telengas.”
“Hm,” Kiok Lan bersinar-sinar. “Mereka kurang ajar, Bun Hwi. Mereka
menggangguku dan menghalang jalan!”
“Untuk itu kau perlu membunuh mereka?”
“Jadi bagaimana maumu? Menerima mereka dan bersahabat dengan tiga laki-
laki tengik itu? Mandah dipermainkan dan dikurangajari?”
“Tidak, tentu tidak begitu, Kiok Lan. Tapi cukup kau menghajar mereka dan tak
usah menurunkan tangan kejam!”
“Aku lagi sakit, Bun Hwi. Perasaanku lagi tertekan. Mereka sebenarnya sudah
kutinggalkan tapi mengejar, aku sudah bersabar tapi mereka tak tahu diri!”
Bun Hwi mengerutkan kening.
Kolektor E-Book

“Sakit apa?”
“Sakit hati, kaulah pembuatnya!”
Bun Hwi tiba-tiba terdiam, menarik napas.
“Bun Hwi, kau datang untuk membawaku bersama?” tiba-tiba pertanyaan itu
menyadarkan Bun Hwi. “Kau mau mengajak aku seperti dulu?”
“Hm,” Bun Hwi menarik lengan gadis ini. “Mari duduk, Kiok Lan. Kita
bercakap-cakap.”
Kiok Lan berdebar, takut-takut. “Apa yang hendak dibicarakan? Menyenangkan
atau tidak?” gadis itu duduk, membiarkan lengannya dipegang Bun Hwi dan Kiok

BATARA Dewi Kelabang Hitam


23

Lan pun tiba-tiba terisak. Tanpa diminta dia merebahkan kepalanya di dada pemuda
itu, perasaan rindu dan kangen tak dapat ditahan. Dan ketika Bun Hwi tertegun dan
mengusap rambutnya maka Kiok Lan menangis. “Bun Hwi, jangan kau tinggalkan
aku. Kalau kau mencintai aku biarlah kita bersama dan tetap selalu berdua!”
“Inilah,” Bun Hwi mulai berdebar, nyaris mencium lagi. “Aku hendak
membicarakan hubungan kita berdua, Kiok Lan, Aku mencari karena memang ingin
melihat kecocokan di antara kita. Aku menjajagi adanya komunikasi. Ingin melihat
apakah kita dapat berhubungan dalam arti seluas-luasnya dan tidak ada celah!”
“Celah apa? Komunikasi apa?” Kiok Lan tak mengerti. “Bicaramu aneh, Bun
Hwi. Aku bingung dan tak paham!” gadis itu terbelalak, diam-diam kecewa karena
sebenarnya dia telah memberikan bibirnya tadi, Bun Hwi tak mencium dan dia
penasaran. Biasanya. Bun Hwi suka mencium, heran bahwa pemuda ini agak lain
daripada biasa dan bicaranya tampak lebih dewasa. Kiok Lan merasa Bun Hwi yang
ini agak lain dari Bun Hwi yang dulu. Sikap dan kata-katanya penuh kehati-hatian,
terbelalak dia. Dan ketika Bun Hwi tersenyum dan mendorong agar dia duduk dengan
enak maka pemuda ini mulai bicara.
“Kiok Lan, sesungguhnya aku tak tahu kepada siapakah sebenarnya aku
mencintai. Terus terang terhadap kalian berdua aku sama-sama suka. Baik kau
maupun Mei Hong tak ada bedanya bagiku. Kalian sama-sama mempesona, aku tak
dapat menentukan hatiku dan jujur saja bahwa agaknya terhadap kalian berdua pun
aku sama-sama cinta! Aku......”
“Huh, kau mata keranjang, Bun Hwi. Tak mungkin aku dapat menerima kata-
katamu ini!” Kiok Lan memotong, bibir cemberut dan dia pun tiba-tiba marah. Bun
Hwi dianggapnya mempermainkannya, mau enaknya sendiri dan tentu saja dia tak
senang. Pemuda ini dikira mencintanya seorang, tak tahunya malah bicara begitu rupa
dan tentu saja dia panas. Mana mungkin membiarkan kekasih membagi cinta? Maka
belum Bun Hwi melanjutkan kata-katanya dia sudah bangkit berdiri. “Bun Hwi, kalau
mencinta aku bilang saja mencinta. Tapi kalau kau mencinta Mei Hong bilang juga
terus terang. Jangan plin-plan begini!”
“Ah, tenanglah. Sabar! Bun Hwi mengerutkan kening, menarik lagi tangan gadis
itu. “Kau duduklah, Kiok Lan. Mari bicara dan dengarkan dulu!”
“Aku tak mau dengar kalau bicaramu macam itu. Kau mempermainkan aku dan
membuat bingung!”
Kolektor E-Book

“Tenanglah,” Bun Hwi menekan pundak gadis ini, merasa komunikasi tak bisa
bolak-balik. “Kau jangan memotong dulu percakapanku, Kiok Lan. Dengar dan
perhatikan dulu sebelum memprotes!”
“Aku tak mau dengar yang macam tadi. Aku tak suka kau jatuh cinta kepada
kami berdua!”
“Baiklah, mari duduk dan bicara lagi,” Bun Hwi terkejut, merasa buntu dan
susah. Memang susah kalau belum apa-apa sudah dipotong begini. Kiok Lan tak mau
mengerti perasaannya dan terpaksa Bun Hwi mengangguk. Dan ketika gadis itu
menjadi tenang dan memandangnya bersinar-sinar. Bun Hwi sudah berdehem. “Hm,
sampai di mana tadi”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


24

Kiok Lan cemberut. “Pernyataan cintamu yang ngawur, kau bilang baik aku
maupun Mei Hong sama-sama kau cinta!”
“Ya, ya, dengarlah,” Bun Hwi sekarang hati-hati, was-was. “Aku sesungguhnya
tidak bohong kalau mengatakan aku suka kepada kau dan Mei Hong, Kiok Lan. Dan
bahwa tentang cinta...”
“Kau mau mengatakan bahwa tentang cinta kau pun mencintai aku dan Mei
Hong? Bahwa ini yang membuatmu bingung dan karena itu kau mau mengajak aku
mencari Mei Hong dan bersayang-sayang dengan gadis itu? Hm...!” Kiok Lan
mendengus. “Aku tak dapat menerima ini, Bun Hwi. Dan sekali lagi kutegaskan kau
tak dapat melakukan itu karena aku tak dapat menerimanya!”
“Sabar dulu.” Bun Hwi berkeringat. “Kenapa nerocos saja? Dengarlah apa yang
akan kukatakan ini, Kiok Lan. Aku hendak mengatakan bahwa masalah ini akan
kujajagi dengan hati-hati. Bahwa kau maupun Mei Hong akan sama-sama kutemani
enam bulan untuk mendapatkan kepastian yang positip!”
“Menemani? Apa maksudmu?”
“Maksudku begini. Karena sekarang kau yang kudapatkan dulu maka aku
hendak menemanimu selama enam bulan untuk melihat kecocokan atau
ketidakcocokan di antara kita. Bahwa setelah ini aku akan meninggalkanmu dan ganti
menemani Mei Hong selama enam bulan pula. Siapa di antara kalian yang banyak
kecocokannya denganku maka dialah yang kupilih.”
“Hm, memangnya kami betina yang harus dicocok-cocokkan seperti ayam mau
dipejantani. Kau menganggap apa diriku ini, Bun Hwi? Kau hendak merendahkan
wanita dan cari enaknya sendiri?”
Bun Hwi tertegun.
“Aku tak sudi!” Kiok Lan menyambung. “Kalau kau mau menemani Mei Hong
silahkan kau temani dia, Bun Hwi. Tapi kalau kau mau menemani aku tak boleh kau
mencari Mei Hong!”
Gagallah komunikasi pertama. Bun Hwi sebenarnya hendak bersikap jujur dan
terus terang kepada gadis ini, bahwa dia ingin menunjukkan masalah rumah tangga
bukanlah masalah gampang. Kisah Empat Pendekar itu sudah lebih dari cukup
baginya bermawas diri. Tapi karena Kiok Lan tak membaca kisah itu dia tentu saja
tak mengerti apa yang dia maksud maka Bun Hwi tiba-tiba mati kutu dan merasa
Kolektor E-Book

bingung, kalah sebelum bertarung. Susah rasanya memberi tahu gadis ini apa yang
dia maui. Mungkin Kiok Lan berpikir alangkah enaknya dia, sebagai laki-laki habis
berkencan dengan yang sini lalu lari ke yang lain, kencan dengan yang sana. Kiok
Lan barangkali menganggap bisa terjadi apa-apa kalau dia menemani Mei Hong.
Maklum, lelaki dan perempuan kalau jalan bersama mana mungkin tak ada apa-
apanya? Maka bingung dan kehabisan akal oleh semua potongan Kiok Lan tiba-tiba
Bun Hwi malah mendelong dan tidak bicara apa-apa lagi.
“He, bagaimana?”
Bun Hwi terkejut. “Apanya yang bagaimana?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


25

“Bagaimana tentang tadi, Bun Hwi. Kalau kau mau menemani Mei Hong
sebaiknya tak usah kau mencari aku. Tapi kalau kau mau menemani aku maka
kutegaskan jangan mencari siluman betina itu!”
“Kau benci benar kepada Mei Hong, salah apa dia kepadamu?” Bun Hwi
menegur.
“Perlukah kujelaskan?” Kiok Lan melotot. “Kau tahu sendiri, Bun Hwi. Tak
usah kujawab!”
“Baiklah, baiklah...” Bun Hwi mengalah. “Mari kita sambung lagi percakapan
tadi, Kiok Lan. Aku ingin menemanimu dan melihat kecocokan di antara kita. Kau
mau, bukan?”
“Tentu, tapi tak usah kau menemani Mei Hong!”
“Hm, ini...” Bun Hwi mengerutkan kening. “Tak adil, Kiok Lan. Aku sudah
bertekad untuk mengetahui hubungan kita bertiga dan menentukan cintaku!”
“Kalau begitu kau melanggar laranganku. Kau boleh temani Mei Hong dan tak
usah menemuiku!” Kiok Lan melompat bangun, marah dan sudah memutar tubuh dan
meninggalkan Bun Hwi. Begitu saja membuat Bun Hwi terkejut. Dan ketika gadis itu
meloncat jauh dan terisak memaki Bun Hwi maka Bun Hwi meleggong dan bangkit
berdiri.
“Kiok Lan....!”
Gadis itu tak perduli. Kiok Lan rupanya marah dan tak dapat dibujuk, Bun Hwi
mau mengejar tapi tiba-tiba merandek. Sekonyong-konyong pemuda ini menggigit
bibir, kecewa dia. Dan ketika dia memanggil lagi namun Kiok Lan bahkan
mengerahkan ginkang mempercepat larinya tiba-tiba Bun Hwi mendesis mengepal
tinju.
Bun Hwi tak mengejar. Dia pikir percuma saja kalau gadis itu tak dapat diajak
bicara baik-baik. Komunikasi pertama kandas di tengah jalan, padahal dia sudah
berusaha mengarahkan kejujuran dan keterbukaan. Dia sudah mencoba untuk
bersikap terus terang tapi gadis itu tak mau mengerti. Bun Hwi marah dan akhirnya
pun mendongkol. Maka ketika gadis itu lenyap dan kembali perjumpaan mereka yang
singkat gagal. Bun Hwi lalu menggeram memaki diri sendiri juga memaki gadis itu.
Tak mau menggerakkan kaki meskipun sebenarnya dia ingin mengejar Kiok Lan lagi.
Pencariannya yang begitu sukar tiba-tiba patah begitu mudah. Ah, betapa kecewanya.
Kolektor E-Book

Dan ketika Kiok Lan lenyap di kejauhan sana dan Bun Hwi masih mendengar
tangisnya maka Bun Hwi memutar tubuh dan... pergi ke arah lain.

*
* *

Hwa-i Kai-pang, pusat perkumpulan pengemis baju kembang adalah partai


pengemis yang di pimpin oleh seorang wanita. Selama berdirinya baru pertama itulah
perkumpulan pengemis ini tak dipimpin laki-laki, karena mendiang Hwa-i Sin-kai,
pengemis yang mengetuai perkumpulan itu memang hanya mempunyai seorang

BATARA Dewi Kelabang Hitam


26

murid wanita yang kini memimpin perkumpulan pengemis itu. Dan ketua ini bukan
lain Mei Hong adanya.
Sekelumit tentang Mei Hong barangkali dapat diceritakan di sini. Mei Hong
adalah anak angkat Can-kauwsu, guru silat Can yang tewas dibunuh Wong-taijin,
walikota Wong yang dulu memerintah Lauw-yang. Dan Wong-taijin inipun tewas
dibunuh Bun Hwi, tanpa kesengajaan (baca : Sengketa Cupu Naga). Dan karena Bun
Hwi akhirnya dikejar-kejar pengawal walikota itu dan Mei Hong membantu anak
laki-laki ini maka perkenalan di antara mereka terjalin erat dan di Lauw-yang inilah
Bun Hwi pertama kali kenal dengan Mei Hong.
Mei Hong memang gadis yang lembut. Anak perempuan itu sering membela
Bun Hwi, sama seperti Kiok Lan yang juga sering menyelamatkan Bun Hwi, ketika
mereka masih kanak-kanak. Tapi ketika mereka tumbuh dewasa dan lima tahun
masing-masing pihak tak berjumpa satu sama lain karena Bun Hwi maupun Kiok Lan
serta Mei Hong mempelajari warisan ilmu silat di Cupu Naga maka ketiganya lama
tak bertemu lagi dan akhirnya bertemu setelah masing-masing sama dewasa. Baik
Kiok Lan maupun Mei Hong sama-sama lihainya. Mereka berdua mendapat warisan
dua jurus ilmu sakti dari tutup Cupu Naga, yang ketika itu terpisah dan Mei Hong
serta Kiok Lan mendapat masing-masing sebuah. Kiok Lan mendapat dua jurus sakti
yang disebut “Sing Sien” sedang Mei Hong mendapat dua jurus lain yang disebut
“Siu Sien”.
Mei Hong, meskipun memiliki dua jurus sakti ini tak diketahui kepandaiannya
oleh murid-murid Hwa-i Kai-pang. Dalam arti, murid-murid Hwa-i Kai-pang hanya
mengetehui kepandaian Mei Hong yang diperoleh dari gurunya, mendiang Hwa-i
Sin-kai, ilmu silat tongkat yang disebut Hui-liong sin-tung-hoat (Silat Tongkat Naga
Sakti Terbang), karena memang itulah kepandaian khusus Hwa-i Sin-kai sebelum
almarhum. Dan murid-murid Hwa-i Kai-pang pun mempelajari ilmu silat ini. Jadi
masalah Mei Hong memiliki dua jurus sakti yang diperoleh dari Cupu Naga itu tak
ada murid-murid Hwa-i Kai-pang yang tahu. Jangankan murid-murid Hwa-i Kai-
pang, mendiang Hwa-i Sin-kai sendiri tak tahu kalau murid perempuannya ini
memiliki dua jurus sakti, baru tahu setelah ajalnya tiba, ketika dalam pertempuran
seru Mei Hong menghadapi putera Hong Beng Lama yang tangguh, yang dapat
“hidup” setelah mati, ilmu silat berbau ilmu hitam yang di sebut Merekat Tulang
Menyambung Nyawa, sebuah ilmu dahsyat yang dimiliki Lama Tibet itu di mana
Hong Lam, putera Lama itu bertanding melawan Mei Hong. Dan karena ilmunya
yang aneh inilah Mei Hong dan gurunya akhirnya tertangkap dan ditawan Lama sakti
itu beserta puteranya. Semuanya sudah dikisahkan dalam Sengketa Cupu Naga.
Kolektor E-Book

Dan kini, setelah gurunya wafat dan Mei Hong memimpin perkumpulan Hwa-i
Kai-pang maka ada sedikit perobahan yang dialami perkumpulan pengemis ini,
terutama dalam jumlah anggotanya. Karena beberapa waktu yang lalu, hampir
setahun, Hwa-i Kai-pang diobrak-abrik oleh mendiang Tung-hai Lo-mo dan Bhong
Kiat, murid Ang-sai Mo-ong yang telah tewas. Di mana waktu itu Hwa-i Sin-kai telah
binasa sementara Mei Hong didatangi Kiok Lan, bertempur dan Tung-hai Lo-mo pun
datang. Hwa-i Kai-pang kehilangan tokoh-tokohnya dan Mei Hong serta Kiok Lan
akhirnya tertangkap. Dua gadis yang bertempur hebat itu sama-sama roboh, musuh
menawan mereka dan Hwa-i Kai-pang hancur. Mei Hong susah payah
mengumpulkan sisa-sisa anggautanya yang berceceran, pertempurannya dengan Kiok
Lan itu bukan lain karena masalah Bun Hwi, masing-masing berebut pemuda itu.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


27

Untung akhirnya mereka selamat dan Tung-hai Lo-mo tewas, tinggal Bhong Kiat
yang diampuni Bun Hwi dan berhasil melarikan diri. Kini Mei Hong memimpin
perkumpulannya dengan jumlah anggauta yang sedikit, tak sampai seratus orang. Dan
karena Mei Hong coba mengatur dan mengorganisasi perkumpulannya sedikit demi
sedikit maka kemajuan kaum pengemis itu berjalan lambat karena semuanya
dikerjakan gadis itu sendirian.
Mei Hong, sebagaimana peraturan partai di haruskan mengenakan baju tambal-
tambalan. Hal itu telah dilakukan sejak dia diangkat murid oleh mendiang Hwa-i Sin-
kai, enam tujuh tahun yang lalu. Ketika dia diselamatkan gurunya itu dari kejaran
pengawal Wong-taijin, bersama Bun Hwi. Sebenarnya Bun Hwi juga mau diangkat
murid oleh kakek pengemis itu, dan pemuda inilah yang justeru hendak diwarisi
kedudukan ketua. Tapi karena Bun Hwi menolak dan Hwi-i Sin-kai kecewa maka
Mei Hong itulah penggantinya dan kini gadis itu duduk sebagai ketua di perkumpulan
pengemis ini.
Mei Hong memimpin partainya ogah-ogahan. Ada dua hal yang membuat
perkumpulan pengemis itu maju dengan lambat. Pertama karena Mei Hong sendiri
sebenarnya kurang senang menjadi ketua pengemis. Dia diharuskan berpakaian
tambalan, hal itu kalau tidak terpaksa tentu ogah dia lakukan. Lalu hal kedua adalah
karena selama ini pikirannya tak dapat lupa dari bayangan Bun Hwi. Pengalaman
serta pergaulannya dengan Bun Hwi cilik berkesan amat dalam, ketika mereka masih
sama kanak-kanak. Betapa Bun Hwi anak laki-laki yang menarik hatinya serta betapa
dia melihat Bun Hwi berkali-kali dipukuli orang. Perkenalannya dengan Bun Hwi
sebenarnya lucu. Waktu itu Bun Hwi datang di Lauw-yang, menjadi pelayan cilik di
restoran “Kim-hi”. Dan karena dia memiliki rumah tak jauh dari restoran itu dan
sering membeli makanan di restoran ini maka perkenalannya dengan Bun Hwi
dimulai dari sering Bun Hwi memberi lebih dalam setiap pembeliannya di luar
pengetahuan pemilik rumah makan. Itulah asal mula mereka berkenalan. Mei Hong
selalu tersenyum bila teringat yang ini, masa kanak-kanak mereka yang penuh cerita
dan tawa.Tapi setelah mereka sama-sama tumbuh dewasa dan betapa mereka
berpisah karena satu dan lain sibuk oleh urusannya sendiri maka rasa suka di hati Mei
Hong berobah menjadi rasa cinta setelah mereka bertemu sama besar.
Bun Hwi sekarang gagah, begitu Mei Hong melihat, juga tampan. Mei Hong
seketika jatuh hati dan terkesan oleh Bun Hwi yang gagah dan tampan ini. Dan
karena Bun Hwi juga diketahuinya sebagai seorang pangeran dari kaisar sekarang
lewat selirnya bernama Wi Hong maka tak ayal Mei Hong melangit cintanya dan tak
dapat melupakan pemuda itu. Memang, siapa dapat melupakan pujaan hatinya kalau
Kolektor E-Book

hati dan jiwa sudah serasa dikuasai api asmara? Siapa dapat melepaskan diri? Apalagi
kalau pemuda yang dicinta itu macam Bun Hwi, gagah dan tampan serta
berkedudukan sebagai seorang pangeran. Ah, setiap gadis pun rasanya mau bertekuk
lutut dan menyambut pemuda itu!
Mei Hong termangu-mangu. Pagi itu dia melepaskan diri dari pekerjaan, ada
wakilnya yang meneruskan pekerjaan itu. Seminggu ini dia sering menghela napas.
Pembantu-pembantunya tahu bahwa Mei Hong sedang masygul, sang ketua sedang
ingin menyendiri dan tentu saja tak ada murid Hwa-i Kai-pang yang berani
mengganggu. Mereka semua tunduk dan hormat kepada Mei Hong. Dan ketika Mei
Hong duduk ditepian empang di mana berhari-hari ini dia suka melihat-lihat ikan
berkejar-kejaran di kolam mendadak Bun Hwi yang dibayang-bayangkan itu muncul

BATARA Dewi Kelabang Hitam


28

di permukaan air, tersenyum dan memandang kepadanya lewat air yang beriak. Mei
Hong terkejut dan hampir terpekik. Air itu dipandangnya terbelalak tapi Bun Hwi
betul-betul ada di situ, Mei Hong menggerakkan tangan dan air pun di pukul.
Bayangan itu lenyap tapi muncul lagi setelah riak air tenang. Dan ketika Mei Hong
tertegun dan hampir berseru kaget tahu-tahu sebuah sapaan lembut terdengar di
telinganya dan pundak pun disentuh orang.
“Mei Hong......!”
Mei Hong sekarang mencelat. Tiba-tiba dia berteriak kaget dan langsung
berjungkir balik, tangan menampar dan kakipun menendang. Mei Hong hampir tak
percaya pada pendengarannya sendiri. Tapi ketika terdengar suara “plak-plak” dua
kali pukulannya ditangkis dan seorang pemuda menangkap tangannya tahu-tahu Mei
Hong menjublak dan bengong terisak ditahan.
“Bun Hwi...!”
Jeritan itu mirip keluhan panjang. Mei Hong telah melihat Bun Hwi benar-benar
ada di situ, tadi telah ada di belakangnya dan melongok, wajahnya muncul di
permukaan air dan wajah itulah yang dilihat Mei Hong. Gadis ini mengira main-main
tapi Bun Hwi sungguh-sungguh ada di situ, pemuda ini mencekal lengannya,
meremas lembut. Dan ketika Mei Hong sadar dan Bun Hwi melempar senyum
padanya mendadak si gadis ini menubruk dan mengguguk.
“Bun Hwi... oh, Bun Hwi...!” Mei Hong tak dapat menahan diri, langsung
menangis dan menyebut pemuda itu, sama seperti Kiok Lan. Dan ketika Bun Hwi
memeluk dan mengusap rambutnya penuh sayang tiba-tiba Mei Hong tersedu
mencengkeram punggung pemuda ini, mengeluh dan sudah roboh dalam pelukan
pemuda yang dikenangnya ini. Mei Hong hampir tak percaya bahwa Bun Hwi
muncul di situ, datang kepadanya. Tapi ketika Bun Hwi membelai dan mendorong
pundaknya tiba-tiba Mei Hong teringat sesuatu dan menjauhkan diri, memandang
sekeliling.
“Mana Kiok Lan? Kau sendiri?”
“Hm,” Bun Hwi mendesah, bibir ditarik getir. “Aku datang sendiri, Mei Hong.
Tak ada Kiok Lan di sini karena aku mencarimu.”
“Jadi kau tak bersama gadis itu?”
“Tidak.”
Kolektor E-Book

“Tidak mengejarnya ketika dulu dia meninggalkanmu?”


“Tidak, Mei Hong, tidak. Aku tak mengejarnya dan juga tak mengejar dirimu
karena aku bingung. Tapi aku telah bertemu dengannya, berpisah dan aku kecewa
karena tak ada pengertian baik di antara kita. Kini aku datang kepadamu ingin
bercakap-cakap dan memutuskan siapa yang kupilih!”

JILID II

BATARA Dewi Kelabang Hitam


29

“HM!” pipi itu tiba-tiba memerah. “Untuk apa diputuskan, Bun Hwi? Bukankah
gampang sebagai lelaki kau tinggal memilih dan mengambil? Mau bicara apa lagi?”
“Mari duduk,” Bun Hwi menggenggam lengan itu dengan lembut. “Mari kita
bicara dan dengarkan apa yang aku ingini.”
Mei Hong berdebar, mengangguk dan sudah duduk di dekat pemuda itu. Mei
Hong tak mau menjauh dan Bun Hwi pun juga agak merapat. Dilihat dari kejauhan
mereka ini sepintas sedang berkasih-kasihan, tak ubahnya dua muda-mudi yang lagi
di mabok asmara. Bun Hwi tersenyum dan Mei Hong pun tersenyum. Tapi ketika
Bun Hwi menarik napas, dan Mei Hong mulai dag-dig-dug melihat pemuda itu mulai
membuka persoalan.
“Mei Hong. aku ke sini karena ingin mengadakan penjajagan. Maksudku,
mencari titik kesamaan atau ketidaksamaan di antara kita. Kau mengerti?”
“Belum.”
“Maksudku berkomunikasi, itulah. Itu yang aku inginkan dan kini ingin
mendengar pendapatmu.”
“Tentang apa?”
“Tentang hubungan kita, kau aku dan Kiok Lan.”
Mulut yang tadi tersenyum itu tiba-tiba di tarik. “Bun Hwi, masalah, ini agaknya
kau sendirilah yang memutuskan, kenapa bicara dengan aku?”
“Memang, aku yang memutuskan, Mei Hong. Tapi sebelum keputusan itu
kuambil, maka aku harus mengadakan penjajagan dulu dan menerima data-data
secara lengkap. Baru setelah itu keputusan dapat kubuat.”
“Aku belum jelas, coba terangkan dulu. Dan, eh.... ibumu tak apa-apa, bukan?
Kau telah berkumpul dengan ibumu?”
“Ya, ibu tak apa-apa, Mei Hong. Terima kasih atas perhatianmu,” Bun Hwi
mengangguk. “Dan justeru atas saran ibulah aku ke sini dan menemuimu, di samping
Kiok Lan.”
“Kau telah bertemu dengannya?”
“Ya, tapi berpisah lagi. Maksudku gagal.”
Kolektor E-Book

“Hm, aku jadi ingin tahu.” Mei Hong mengerutkan kening. “Coba terangkan
padaku apa yang kau maksudkan, Bun Hwi. Dan mudah-mudahan aku dapat
mengerti.”
“Kuharap begitu,” Bun Hwi menarik napas, mulai bercerita. Menerangkan
bahwa dia ingin menemani Mei Hong beberapa bulan di samping menemani Kiok
Lan beberapa bulan juga untuk melihat persamaan atau ketidaksamaan mereka.
Bahwa dia ingin mereka sama-sama jujur dan terbuka satu sama lain. Bahwa dia,
ingin mengetahui kepada siapakah dia dapat berkomunikasi dengan baik, Kiok Lan
ataukah Mei Hong. Dan ketika Bun Hwi menceritakan bahwa semuanya itu diambil
karena dia sudah membaca dan melihat Kisah Empat Pendekar yang sebagian besar

BATARA Dewi Kelabang Hitam


30

kandas membina hidup berumah tangga, tiba-tiba Mei Hong tersenyum lebar
terkekeh geli.
Bun Hwi, agaknya kau terpengaruh dongeng! Untuk apa semuanya ini?
Bukankah kau sudah tahu watakku dan watak Kiok Lan? Tanpa menemani sekian
bulan pun kau sudah mengetahui watak kami masing-masing. Agaknya alasannya
hanya kedok saja bagi sebuah alasan lain!”
“Alasan apa?” Bun Hwi terkejut. “Aku tak menyembunyikan alasan lain, Mei
Hong. Tapi benar-benar ingin mengadakan penjajagan semata!”
“Siapa tahu akal cerdikmu? Aku tak tahu misalnya bahwa kau memang ingin
berdekat-dekatan dengan wanita cantik. Bahwa penjajagan yang kau maksud itu
barangkali sebuah tipu muslihat belaka dari alasan ini, yakni kau ingin bersenang-
senang dulu dengan aku atau Kiok Lan sebelum menjatuhkan pilihan dengan bulat!”
“Tidak!” Bun Hwi menggeleng, tegas. “Aku tak berniat untuk berdekat-dekatan
begitu, Mei Hong. Kalau itu kupunyai barangkali di istana aku dapat meminta pada
ayahanda kaisar dan tentu diberi. Aku semata ingin mengetahui ini, kecocokan di
antara kita dan siapa yang lebih tepat di antara kalian. Aku ingin mentrapkan
kejujuran dan komunikasi seperti yang disebut-sebut oleh Brahmadewa itu!”
“Siapa Brahmadewa?” Mei Hong mengerutkan kening. “Siapa orang yang kau
bicarakan ini?”
“Orangnya tak ada, Mei Hong. Tapi inti wejangannya membekas dalam di
hatiku. Dia orang hebat, kakek sakti dalam cerita Empat Pendekar itu. Dialah yang
menekankan arti kejujuran dan komunikasi ini!”
“Hm!” Mei Hong bersinar-sinar. “Kau aneh, datang-datang bicara begini rupa
dan minta pendapatku. Baiklah, aku coba mengerti tapi kuharap kau pun juga mau
mengerti. Ada keberatan dan tidak keberatan bagiku, ini menyangkut kehormatan.”
“Kehormatan? Kehormatan apa?”
“Begini, bagaimana kalau keinginanmu kuterima?”
“Kau mau kutemani?”
“Anggaplah begitu.”
“Eh, kenapa begitu, Mei Hong? Kau tampaknya tak sepenuh hati!”
Kolektor E-Book

“Bun Hwi, jawab saja pertanyaanku bagaimana kalau keinginanmu kuterima.


Bukankah kau mengajak aku berkomunikasi?”
“Ya.”
“Nah. jawablah itu. Bagaimana kalau keinginanmu kuterima.”
“Tentu saja aku senang. Aku merasa kita mulai dapat berkomunikasi, ada
pengertian!”
“Dan setelah itu kau meninggalkan aku untuk selama enam bulan pula
menemani Kiok Lan?”
“Ya, begitu maksudku.”
BATARA Dewi Kelabang Hitam
31

“Hm, inilah yang kumaksud dengan kehormatan itu,” Mei Hong mulai
bersungguh-sungguh. “Bagaimana kata orang akan diriku, Bun Hwi? Bukankah
setelah enam bulan kita ubyang-ubyung orang lalu menilai negatif padaku? Kau enak
saja pergi meninggalkan aku, tapi aku di sini bisa dinilai tak baik oleh orang lain dan
kehormatanku tercemar!”
“Eh,” Bun Hwi terkejut. “Kita tidak melakukan apa-apa, Mei Hong. Kita selalu
menjaga diri dan bersikap yang baik!”
“Itu katamu, barangkali juga kataku. Tapi orang lain tak menilai sama dengan
apa yang kita pikir, Bun Hwi. Dan pihak wanita selalu dirugikan dalam masalah-
masalah begini ketimbang pria. Aku dapat menangkap maksudmu, tapi tolong pula
pikir keadaanku bila kau meninggalkan aku, apalagi kalau kau pergi itu untuk
bergandeng dengan perempuan lain!”
“Ah,” Bun Hwi semakin terkejut. “Kau jangan berpikir begitu negatif, Mei
Hong. Aku tidak menggandeng perempuan seperti apa yang kau bayangkan!”
“Bun Hwi, kau agaknya masih tak mengerti juga. Apa yang kukatakan tadi
adalah kata orang. Aku menganggap diriku orang lain, semisal orang lain. Dan karena
kita sudah ke mana-mana bersama dan orang otomatis menganggap aku adalah
kekasihmu maka tak dapat kau bertindak begitu saja dengan dalih ingin menjajagi
komunikasi dengan meninggalkan aku untuk bergaul dengan wanita lain, Kiok Lan
umpamanya. Kau paham, kan?”
Bun Hwi tertegun.
“Sekarang coba dibalik, agar sama-sama, agar adil,” gadis itu melanjutkan.
“Bagaimana misalnya jika aku ubyang-ubyung dengan pemuda lain selama enam
bulan dan setelah itu ganti bersamamu selama enan bulan pula?”
Bun Hwi tersentak.
“Coba, kau jawab, Bun Hwi?” gadis itu bersemangat. “Bagaimana perasaanmu
jika hal itu kulakukan dan apa kata hatimu kalau aku melakukan itu!”
“Wah!” Bun Hwi akhirnya memerah. “Aku tak dapat menjawab ini, Mei Hong.
Tapi kukira dirimu akan dicap sebagai wanita tak baik alias wanita petualang!”
“Itulah tidak adilnya masyarakat. Kalau laki-laki bergaul dengan banyak wanita
maka mereka menganggap biasa, tapi kalau wanita bergaul dengan banyak laki-laki
maka mereka akan mencap wanita begini sebagai wanita murahan, penjaja cinta. Lalu
Kolektor E-Book

di mana keadilannya, Bun Hwi? Di mana letak pengertianmu terhadap wanita?”


Bun Hwi melenggong. Tanya jawab dengan Mei Hong ini mendadak membuat
dia terkejut, kaget tapi juga, gembira karena mereka mulai bertimbal balik. Ada tanda
tanda Mei Hong dapat mengerti keinginannya tapi juga minta dimengerti
keinginannya. Jadi, ada keadilan di situ, kesamaan, keseimbangan. Dan bahwa Mei
Hong bertanya pendapatnya bagaimana kalau ganti gadis itu bergaul dengan pemuda
lain sementara dia bergaul dengan Kiok Lan, tiba-tiba Bun Hwi seakan disengat
kalajengking dan tidak dapat menjawab.
“Bun Hwi, tadi kau menekankan arti kejujuran di dalam komunikasi. Nah, aku
mulai mengikuti kehendakmu, masuk dalam kata-katamu. Sekarang bagaimana kata-

BATARA Dewi Kelabang Hitam


32

katamu setelah apa yang kukatakan tadi? Dapatkah kau menangkap apa yang
kumaksud?”
“Aku mulai menangkap. Pada dasarnya kau tidak setuju.”
“Tidak, setuju atau tidak setuju justeru tergantung dari dirimu, bukan dariku.
Karena kalau kau juga merelakan aku bergaul dan mencari komunikasi lain dengan
pemuda lain maka tentunya tak ada alasan bagiku untuk tidak menyetujui maksudmu
untuk mencari Kiok Lan, bergaul dengan Kiok Lan.”
“Matik!” Bun Hwi membatin. Gadis ini dapat mengelak sekaligus menyerang
agar kedudukan satu sama. Bun Hwi tentu saja bingung kalau Mei Hong mengajukan
pertanyaan begitu, memperbolehkan gadis itu ubyang-ubyung dengan pemuda lain
sementara dia ubyang-ubyung dengan Kiok Lan, masing-masing sama berdalih
sedang mencari kecocokan komunikasi. Bukan main. Dan karena tentu saja hatinya
panas kalau membayangkan Mei Hong ubyang-ubyung dengan pemuda lain, tiba-tiba
saja Bun Hwi mendesis mengepal tinju, mau menolak tapi diri sendiri pun harus adil.
Dia minta pendapat Mei Hong sementara Mei Hong kini juga meminta pendapatnya.
Bukan main gadis ini, hebat. Tidak sama dengan Kiok Lan yang belum apa-apa sudah
mau memutus percakapan tentang itu dan meninggalkannya, Mei Hong tidak. Gadis
ini mau mendengarkan dan kini malah mengajukan pendapat. Apa yang dia ingini
sekarang di “kick” balik oleh Mei Hong. Bun Hwi tak bisa bergerak! Dan ketika Bun
Hwi merasa agak gugup serta bingung bagaimana dia menjawab pertanyaan gadis itu
maka Mei Hong sudah tersenyum memandangnya, manis bukan main.
“Bun Hwi, bagaimana pendapatmu? Kau melenggong saja!”
“Ah, ah,” Bun Hwi tertawa kecut, “Aku jadi bingung, Mei Hong. Aku tak dapat
menjawab dan sukar rasanya memberi jawaban!”
“Begitu juga aku. Aku tak dapat menjawab bagaimana membalas pertanyaanmu
tadi. Bolehkah kau menemani Kiok Lan setelah menemaniku di sini.”
“Kalau umpamanya aku setuju?”
“Setuju bagaimana?”
“Memperbolehkan kau bergaul dengan pemuda lain?”
Mei Hong tampak terkejut, mengerutkan kening. “Tentu saja aku juga
memperbolehkan kau bergaul dengan Kiok Lan,” suara ini rendah, lirih dan hampir
tak terdengar dan tiba-tiba Bun Hwi melihat dua titik air mata di pelupuk gadis itu.
Kolektor E-Book

Mei Hong tampaknya menahan perasaan “sakit” ketika Bun Hwi mengajukan
jawabannya tadi. Maklum, betapapun tak ada kerelaan yang tulus di hatinya. Siapa
mau membiarkan kekasih bergaul dengan perempuan lain sementara diri sendiri
mencintai setengah mati?” Maka begitu Bun Hwi menjawab pertanyaan dengan
sebuah permisalan maka Mei Hong merasa permisalan itu seolah sudah terjadi
sungguh-sungguh dan dia pun menekan kekecewaan kuat-kuat. Tak boleh dia marah
atau menunjukkan kekecewaan saat itu, Bun Hwi sedang mengajaknya berkonsultasi,
itulah istilah kerennya. Dan ketika Bun Hwi tertegun dan sebuah keputusan mulai
didapat tiba-tiba pemuda ini bangkit berdiri dan... mencium kening si gadis, haru dan
penuh sayang.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


33

“Mei Hong, agaknya sebuah keputusan mulai kudapat. Baiklah, aku akan
mengambil langkahku yang tegas dan duabelas bulan lagi aku akan memberi tahu
siapa di antara kalian yang kupilih!”
Mei Hong menangis. Tiba-tiba dia tak dapat mengendalikan diri, memeluk dan
membenamkan diri di tubuh Bun Hwi, mengguguk namun menahan-nahan sekuat
hati. Jawaban ini baginya masih setengah-setengah. Tiba-tiba saja dia menjadi cemas
dan khawatir. Kegelisahan tak dapat di sembunyikannya lagi. Dan ketika Bun Hwi
mencium keningnya dan Mei Hong tersedu tiba-tiba gadis itu berguncang dan sudah
terbata-bata.
“Bun Hwi, kau tetap ingin melanjutkan keinginanmu itu? Kau mau menemani
Kiok Lan?”
“Ya, tapi aku ingin menemanimu dulu, Mei Hong. Kita sudah bertemu dan biar
kutemani kau.”
“Tidak,” Mei Hong tiba-tiba mendorong, menjauhkan diri. “Kau boleh temani
Kiok Lan dulu, Bun Hwi. Aku..... aku di sini tak apa-apa!”
“Eh, kau tak senang akan kata-kataku tadi?”
“Tidak.”
“Kalau begitu kau juga akan mencari pemuda lain untuk pengganti diriku?”
Mei Hong tiba-tiba menghela napas, terisak. “Bun Hwi, dapatkah hal itu
kulakukan? Dapatkah aku melakukannya?”
“Maksudmu?”
Mei Hong menggigit bibir, membalik. “Tak perlu kau tanya, Bun Hwi, Kau tahu
perasaanku kepadamu!” tangis itu tiba-tiba meledak kembali, Bun Hwi terkejut dan
melompat, memutar gadis itu. Dan ketika Mei Hong mengguguk dan Bun Hwi
tertegun tiba-tiba dia sadar bahwa bagaimana pun tindak-tanduk seorang wanita tak
sebebas seperti apa yang dilakukan pria. Bahwa Mei Hong tadi menantangnya tapi
sebenarnya hati sendiri tak sanggup melakukannya. Mei Hong terlampau
mencintainya, tak mungkin gadis itu mau mencari pemuda lain biar pun dia mencari
Kiok Lan. Cinta gadis ini terlalu besar. Benar kata-kata Mei Hong tadi. Dia, laki-laki
memang lebih gampang bergerak, tanpa khawatir celaan atau rasanan, laki-laki
tampaknya lebih enak daripada wanita. Dan menyadari bahwa Mei Hong tak
mungkin dapat melaksanakan “ancamannya” tadi dan betapapun dialah yang dicinta
Kolektor E-Book

gadis itu lahir batin tiba-tiba perasaan Bun Hwi bergolak dan seakan magnit bertemu
besi. Bun Hwi tak dapat mengendalikan dirinya lagi, mengangkat dagu itu dan
langsung mencium mulut Mei Hong.
“Mei Hong, maafkan aku. Aku mengerti perasaanmu. Biarlah ini sebagai
kenangan di antara kita!”
“Ooh....!” Mei Hong menggeliat mengguguk. “Kau aneh, Bun Hwi... kau
aneh...!”
Bun Hwi melumat bibir itu. Tanpa disadari lagi dia sudah memberikan ciuman
itu kepada Mei Hong, ciuman mesra. Padahal dulu terhadap Kiok Lan saja dia tak
menyambut bibir yang sudah dipersiapkan untuknya. Entah kenapa terhadap Mei
BATARA Dewi Kelabang Hitam
34

Hong ini Bun Hwi tak dapat mengendalikan perasaannya. Seluruh sayang dan
cintanya bergolak, Bun Hwi memeluk dan sudah mencium bibir itu, hangat dan
penuh rasa kasih. Dan ketika Mei Hong tersedak dan menerima ciumannya dengan
mata terpejam tiba-tiba Bun Hwi mengendorkan pelukannya dan menggigil.

“Mei Hong, kau cantik.....!”


Mei Hong bercucuran air mata. “Apa yang kau lakukan ini?”
Kolektor E-Book

“Entah, aku tak dapat mengendalikan diriku, Mei Hong. Tiba-tiba aku ingin
menumpahkan cinta dan sayang ini.”
“Oh, kau..... kau akan melakukannya kepada Kiok Lan pula, Bun Hwi?”
“Tidak!” Bun Hwi terkejut. “Aku mulai dapat menentukan diriku, Mei Hong.
Aku mulai tahu siapa yang lebih cocok di antara kalian berdua!”
Mata itu berbinar-binar, masih basah air mata, menggigil, “Bun Hwi, aku.... hm,
aku bersumpah tak mau dijamah laki-laki lain kecuali dirimu. Kalau kau menentukan
pilihanmu kepada Kiok Lan aku tak akan menikah seumur hidup. Aku akan menjadi
nikouw!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


35

“Hush, jangan bicara begitu, Mei Hong. Tunda dulu maksud niatmu itu. Aku
sekarang mulai mantap!”
“Dan kau tak mengakui itu sekarang?”
“Biar kurahasiakan dulu, Mei Hong. Tapi aku janji pasti mengatakannya
kepadamu.”
“Kapan?”
“Secepatnya kuharap. Tapi, sudahlah...” Bun Hwi terengah, masih mabok oleh
ciuman yang dia berikan tadi, memeluk dan memandang penuh mesra gadis ini. “Kau
mau menunggunya bukan Mei Hong? Kau kira-kira dapat menangkapkan, siapa yang
kupilih?”
“Aku tak berani berbesar hati, tapi ciumanmu memberi tahu, nakal!”
“Maaf, aku tak dapat menahan diriku, Mei Hong. Tapi nikmat, kan? Kau
rasakan getar kasihku tadi?”
“Mmmm......” Mei Hong memerah pipinya. “Kau nakal, Bun Hwi..... kau
nakal...!” hanya itu kata-katanya, Bun Hwi tersenyum dan meraih gadis itu,
mendekapnya erat. Dan ketika Mei Hong gemetar memejamkan mata karena malu
tiba-tiba Bun Hwi berbisik.
“Mei Hong, kau tahu isi hatiku, kan?”
Mei Hong mengangguk.
“Kau mau bersabar dan menungguku sejenak?”
“Hal itu sudah kulakukan, lama sebelumnya........!”
“Benar, dan sekarang aku akan pergi, Mei Hong. Kuturuti permintaanmu untuk
menemui Kiok Lan dulu.”
Mata itu tiba-tiba terbuka. “Bun Hwi... suara ini bergetar lirih. “Dapatkah
kupercaya kau akan bersikap jujur kepadaku? Bagaimana kalau kau...... kalau kau...”
“Apa, Mei Hong? Kau, takut aku terpengaruh Kiok Lan dan melakukan seperti
apa yang baru kulakukan padamu?”
“Benar.”
Kolektor E-Book

“Hm, tak gampang aku melakukannya, Mei Hong. Aku sudah. kapok, aku jera!”
“Tapi kau baru. saja melakukannya, kepadaku!”
“Itu lain, Mei Hong. Ada sebuah perasaan lain yang istimewa untukmu!”
“Sungguh?”
“Perlukah aku bohong?”
“Lelaki biasanya tukang rayu, lain di mulut lain di hati!”
“Tapi wanita suka dirayu, lain di muka tapi lain pula yang di belakang!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


36

“Eh, apa maksudmu?” Mei Hong melepaskan diri, melihat Bun Hwi tersenyum
dan akhirnya tertawa lebar. Percakapan sejenak ini membuat Bun Hwi ingin
menggoda. Dan ketika gadis itu terbelalak dan Bun Hwi geli melihat pakaian Mei
Hong yang tambal-tambalan mendadak pemuda ini menuding.
“Lihat pakaianmu, bukankah yang di luar tak sama dengan yang di dalam? Di
luar kau mengenakan baju tambalan, Mei Hong. Tapi di dalam hati sebenarnya kau
ingin mengenakan pakaian bagus. Begitu pula yang tadi itu, mulut cemberut kalau
dicium tapi sebenarnya hati berkata kurang, minta lagi!”
“Eh, kurang ajar kau. Tak mungkin!” dan Mei Hong yang tertawa mencubit
pemuda itu tiba-tiba merobah keadaan menjadi gembira dan hangat, nyaris
melupakan persoalan semula dan Bun Hwi mengaduh. Tentu saja dia pura-pura
mengaduh dan Mei Hong melepas cubitannya. Dan ketika dua pasang mata itu
kembali beradu dan Bun Hwi mulai merasa bahwa inilah pilihannya maka dia
menunduk dan.... mau mencium lagi.
“Stop!” Mei Hong mengelak, tersenyum. “Tak ada waktu, Bun Hwi. Kau yang
keenakan aku yang dirugikan. Sudahlah, jangan ulangi dulu sebelum kau
memberitahukan kepadaku siapa yang kau pilih!”
“Hm,” Bun Hwi gemas, penasaran. “Masa tak boleh tambah, Mei Hong.
Bukankah lain di bibir lain di hati? dia merajuk, mau mendekati tapi Mei Hong
memalangkan lengannya. Gadis itu berdiri, tegak dan bersinar-sinar, memandang
Bun Hwi, pipinya mangar-mangar, napas pun agak berkejaran. Tapi Bun Hwi yang
didorong dan dicegah mengulang ciumannya sudah mendapat sikap sungguh-
sungguh dari gadis ini.
“Bun Hwi, apa pun akan kuberikan bila telah memutuskan hatimu. Sekarang kau
masih berahasia, biarlah kita simpan dulu ini dan jumpailah Kiok Lan. Aku akan
menunggu beritamu meskipun sebenarnya aku khawatir kalau sampai tejadi apa-apa
antara dirimu dengan Kiok Lan. Baiklah, aku percaya padamu, Bun Hwi. Tapi satu
kuminta jangan rusak kepercayaanku ini dengan perbuatanmu yang tidak
bertanggung jawab!”
“Kau tak cemburu aku menemani Kiok Lan?”
“Tak ada cinta tanpa cemburu, Bun Hwi. Tapi aku coba bersikap dewasa. Aku
percaya padamu dan biarlah kau pergi. Aku mencoba mengerti kehendakmu, aku pun
tak ingin menyiksamu dengan kebimbangan yang berlarut-larut. Pergilah, temui gadis
Kolektor E-Book

itu dan aku menunggu disini.”


“Bukan main, Bun Hwi kagum. Kalau Kiok Lan justeru tak mau dia mendekati
Mei Hong adalah sebaliknya. Mei Hong menyuruh dia mendekati Kiok Lan. Gadis
ini istimewa benar, mulailah Bun Hwi melihat pengertian besar yang ditunjukkan
gadis ini. Bahwa Mei Hong tak egois dan ingin memahami apa yang dia inginkan.
Ah, gadis begini tepat sekali menjadi isterinya barangkali mereka bisa menjadi
bahagia! Dan ketika Bun Hwi kagum dan heran serta bersinar-sinar memandang
gadis itu tiba-tiba Mei Hong tersenyum menyembunyikan getirnya perasaan melihat
Bun Hwi mau menemui Kiok Lan.
“Apalagi yang kau tunggu? Bukankah kau mau pergi?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


37

“Hm.....!” Bun Hwi tak habis heran, juga takjub. “Kau luar biasa, Mei Hong.
Kau sekarang tampak dewasa benar dan matang!”
“Ih, pujian apa ini? Supaya, mendapat ciuman lagi?”
“Ha-ha!” Bun Hwi tertawa bergelak. “Kau lucu, Mei Hong. Kau menarik. Kalau
tak ingat aku harus bersabar dulu tentu sudah kutubruk dirimu ini. Ah, kau
menggemaskan. Kau membangkitkan seleraku! Baiklah, aku akan memegang
kepercayaanmu, Mei Hong. Pengertian di antara kita rupanya sudah jalan dan mudah-
mudahan dapat berkembang lebih baik lagi. Aku pergi, jaga dirimu baik-baik dan
sampai jumpa!”
“Begini saja caramu berpisahan?”
“Eh, apa yang kau ingini? Bukankah aku tak boleh....”
“Tidak, bukan itu,” Mei Hong menukas, lagi-lagi mukanya merah. “Aku tak
menginginkan itu, Bun Hwi. Tapi yang lain yang membuat sikapmu hari ini lain
dengan yang dulu-dulu.”
“Apa itu?”
“Hm,” Mei Hong berseri-seri. “Apakah yang membuatmu menjadi begini, Bun
Hwi? Bukankah pengaruh kitab bacaan itu? Bukankah kau katanya telah membaca
Kisah Empat Pendekar itu?”
“Ya,” Bun Hwi tertegun. “Lalu maumu?”
“Aku ikut tertarik untuk mengetahui buku itu, Bun Hwi. Aku ingin membaca
dan kalau boleh kupinjam!”
Bun Hwi terbelalak. “Meminjam? Tentu, boleh-boleh saja. Mei Hong. Tapi ini
berarti aku harus ke Lembah Duka, mengambilnya!”
“Aku dapat ke sana, kau dapat memberiku surat, dan buku itu akan kuambil dari
ibumu.”
“Tidak, tak perlu, Mei Hong. Kau tunggu di sini dan biar itu kuambil untukmu!”
“Tapi kau akan segera pergi....”
“Hm, memangnya tak dapat ditunda kalau kekasih yang meminta?”
“Bun Hwi.....!”
Kolektor E-Book

“Ah, tidak.” Bun Hwi tertawa. “Aku akan mengambilnya untukmu, Mei Hong.
Dan kau boleh baca itu sementara aku nanti menemui Kiok Lan. Benar, kau perlu
tahu itu dan biar hubungan di antara kita lebih baik. Tunggulah....!” dan Bun Hwi
yang telah memutar tubuhnya tiba-tiba berkelebat dan terbang ke Lembah Duka, dua
hari kemudian datang lagi dan sudah membawa buku tebal itu, menyerahkannya
kepada Mei Hong dan Mei Hong terbelalak. Tumpukan buku di tangan Bun Hwi ini
bukan main banyaknya, Mei Hong terheran-heran. Tapi menerima dan mengucap
terima kasih akhirnya, sebuah perasaan hangat menyelinap di hati gadis itu.
“Bun Hwi, terima kasih. Kau benar-benar baik.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


38

“Dan maaf, aku akan memulai penyelidikanku, Mei Hong. Kau bacalah itu dan
tunggu aku enam bulan lagi.”
Mei Hong mengangguk, bersinar-sinar dan memandang pemuda yang dicintanya
itu. Bun Hwi memegang lengannya dan meremas, lembut. Dan ketika Bun Hwi
mengecup keningnya dan untuk ini Mei Hong membiarkan tiba-tiba Bun Hwi
berkelebat dan pergi meninggalkannya, memberi lambaian dan Mei Hong berdebar.
Dia telah mengijinkan, pemuda itu untuk berduaan dengan Kiok Lan, saingannya.
Bukan main gadis ini. Hal begini jarang terjadi. Dan ketika Bun Hwi lenyap di
kejauhan sana dan Mei Hong termangu maka tak lama kemudian gadis itu pun
memasuki markasnya dan duduk menutup pintu kamar seorang diri.

*
* *

Kiu-tang, daerah perbatasan di sebelah utara tembok besar bagian barat akhir-
akhir ini dinyatakan tak aman, Sun-ciangkun, panglima yang mengepalai daerah itu
dinyatakan memberontak. Bersama pasukannya yang berjumlah seribu orang
panglima ini membangkang, tidak mau tunduk lagi kepada kaisar dan ingin
mendirikan semacam angkatan perang di situ. Dan karena Kiu-tang memang jauh
dari kota raja dan perjalanan ke tempat itu melalui gunung dan lembah maka apa
yang dilakukan panglima ini berhasil dan seribu pasukan anak buah panglima ini
mengikut.
Sebenarnya tak ada alasan jelas kenapa panglima itu membelot. Istana sendiri
merasa heran akan tingkah laku panglima Sun ini. Maklum, segala kebutuhannya di
kota raja tercukupi dan belum pernah panglima ini dikecewakan kaisar. Maka begitu
panglima itu menyatakan memberontak dan kaisar beserta pembantu-pembantunya
yang dekat merasa kaget dan gusar oleh sepak terjang panglima ini maka Hu-taijin,
Hu Kang, menteri pertahanan yang berkepandaian tinggi itu diutus.
Dan memang tak ada orang tahu kenapa panglima ini tiba-tiba membangkang,
kecuali beberapa gelintir saja dari orang-orang yang dekat dengan panglima itu, yang
tahu kejadiannya sebulan yang lalu. Di mana waktu itu datang dua orang pemuda ke
tempat panglima ini, masuk dan bertemu dan keesokan harinya tahu-tahu panglima
itu menyatakan tak tunduk lagi kepada istana. Pasukannya tertegun namun tak dapat
berbuat apa-apa. Sumpah mereka terhadap atasan membuat para perajurit ini patuh.
Sun-ciangkun memberi tahu bahwa kaisar mulai berobah, bahwa kaisar dihasut
Kolektor E-Book

menteri dorna di mana menteri itu memburuk-burukkan panglima ini, mendepaknya


dan mengusir dia jauh dari kota raja, terbukti dari penempatannya di perbatasan itu.
Kedudukan yang memang setengah diasingkan. Dan ketika Sun-ciangkun berkata
pula bahwa Kao Cung, putera mahkota dikelilingi pula oleh menteri-menteri penjilat
yang siap meruntuhkan kerajaan maka seribu pasukan di bawah pimpinan panglima
itu disuntik api kebencian yang sebenarnya bersifat pribadi.
Ada sebuah hal penting yang merobah tindak-tanduk panglima itu. Dan hal ini
bukan lain dengan datangnya dua pemuda itu, yang di dalam melakukan penekanan
dan paksaan kepada Sun-ciangkun ini. Dan karena panglima itu kalah posisi dan
kedudukannya dijepit sedemikian rupa maka panglima ini membalik dan akhirnya
melawan kaisar.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


39

Apa yang terjadi? Siapa dua pemuda itu? Mari kita lihat.
Sebulan yang lalu, ketika panglima itu duduk beristirahat di markasnya setelah
melakukan inspeksi maka dua tamu minta bertemu dengannya. Mereka dua orang
pemuda tampan, dan beberapa pembantu panglima itu mengenal, bukan lain Bhong
Kiat dan Hong Lam adanya, murid mendiang Ang-sai Mo-ong dia putera Hong Beng
Lama yang sakti. Bhong Kiat dan Hong Lam datang karena memang ada keperluan,
pengawal yang menerima pemuda-pemuda itu segera menyambut hormat, juga kebat-
kebit. Maklum, Hong Lam ini adalah pemuda sakti yang tidak bisa mati. Pemuda ini
dapat hidup setelah mati. Ilmunya Merekat Tulang Menyambung Nyawa itu betul-
betul hebat sekali, ngeri orang melihatnya. Maka ketika pagi itu bersama Bhong Kiat
pemuda ini menyatakan ingin bertemu dengan Sun-ciangkun maka pengawal buru-
buru melapor dan Sun-ciangkun terkejut.
Dulu, Hong Lam ini pernah membantu istana. Bersama ayahnya Hong Beng
Lama yang sakti, ayah dan anak ini merupakan manusia-manusia paling ditakuti di
kota raja. Maklum, ilmunya yang dahsyat itu membuat semua orang gentar. Hong
Beng Lama dulu pernah membantu istana tapi sayang lalu hendak membunuh kaisar,
kedoknya terbuka karena diam-diam dia hendak membunuh-bunuhi orang-orang
penting, Hu-taijin misalnya, yang nyaris tewas di tangan Lama yang sakti ini. Maka
ketika mendengar dirinya dicari putera Lama sakti itu dan Sun-ciangkun terang tak
dapat bersembunyi maka ditemuilah dua tamunya itu.
Di sinilah terjadi pembicaraan yang merobah sepak terjang panglima itu. Hong
Lam dan temannya ternyata menyuruh panglima itu memberontak, agar seribu
pasukan yang dipimpin panglima itu berbalik haluan. Tentu saja Sun-ciangkun
terkejut dan mula-mula menolak, tak ada alasan kuat untuk melakukan hal itu. Tapi
ketika Hong Lam mengancam keluarga panglima ini yang terdiri isteri dan anak-
anaknya maka Sun-ciangkun tak berkutik dan pucat.
“Aku menghendaki kau menghasut pasukanmu, ciangkun. Istana sudah tak
memperdulikan kalian dan pasukanmu ditelantarkan. Katakan pada mereka bahwa
kaisar sekarang sudah lalim!” begitu mula-mula Hong Lam berkata, ketika mereka
duduk di ruang dalam. Dan Sun-ciangkun yang terbelalak dan kaget serta marah
mendengarnya tiba-tiba bangkit berdiri dengan muka merah.
“Hong-kongcu, kenapa kau bicara begitu? Pasukanku selama ini tak pernah
ditelantarkan, mereka tak mungkin percaya dan akan bertanya!”
“Baik, tapi bukti-bukti akan menyusul, ciangkun. Aku dapat membuat mereka
Kolektor E-Book

percaya dan tak akan bertanya.”


“Apa yang akan kau lakukan?”
“Mencegat pengiriman perbekalan, merampas itu dan membunuh mereka hingga
perbekalan untuk pasukanmu tak ada.”
“Ah!” panglima ini terkejut. “Kau tak berperikemanusiaan, kongcu. Kau keji!”
“Hm, tak perlu memaki, ciangkun. Aku datang untuk mengajakmu bekerja
sama. Aku dapat melakukan hal lain kalau ini tak kau setujui, membunuhmu
misalnya, menggantikan dirimu dengan seorang pembantumu yang terpercaya. Atau

BATARA Dewi Kelabang Hitam


40

menyerang pasukanmu dengan orang-orang yang sudah kupersiapkan atau....


membawa dan menyiksa keluargamu!”
“Tidak!” panglima ini pucat. “Kau culas, kongcu. Kau jahat. Kau... ah, baiklah.
Aku menerima tapi beri waktu padaku untuk berpikir!”
“Berpikir apalagi? Kau tinggal menjawab ya atau tidak.”
“Tidak... tidak, aku ingin waktu, kongcu. Betapapun aku perlu berpikir.
Membohongi seribu orang dengan waktu yang begitu singkat tentu mustahil. Aku
harus mengatur jarak, aku harus membuat rencana.”
“Baiklah, berapa hari kau minta?”
“Seminggu, kongcu. Atau sepuluh hari!”
“Hm,” Hong Lam melirik temannya. “Bagaimana, Bhong Kiat. Kita turuti
permintaan panglima ini?”
Bhong Kiat tertawa. “Sun-ciangkun terlalu berlebihan, Hong Lam. Waktu
sepuluh hari atau seminggu terlalu lama. Kukira dua tiga hari saja cukup!”
“Benar, tiga hari cukup, Bhong Kiat. Aku juga berpikir begitu. Baiklah,” dan
menghadapi panglima ini lagi lagi Hong Lam memutuskan. “Tiga hari cukup bagimu,
Sun-ciangkun. Tak perlu terlalu lama dan macam-macam. Kami tak mau di tawar dan
kuberi kau waktu segitu.”
“Tapi......”
“Tak ada tapi, kau tinggal mengangguk atau menggeleng!”
“Baiklah... Baiklah...” panglima ini menggigil. “Aku setuju, kongcu. Aku
menurut dua tiga hari untukku!” lalu ketika dua pemuda itu pergi dan Sun-ciangkun
memanggil pembantunya segera panglima ini menceritakan apa yang terjadi dan
memberi tahu itu pada empat pembantunya. Dia tak dapat bekerja tanpa pembantu-
pembantu dekatnya ini. Dan begitu empat pembantunya tahu dengan mendadak
mereka marah dan menggebrak meja.
“Jahanam Hong-kongcu itu. Memangnya siapa dia hingga berani menekan kita?
Tidak, aku tak setuju, ciangkun, Lebih baik kita tangkap dan tolak ajakan itu. Kita
bunuh dia!”
“Benar, aku tak setuju, ciangkun. Kita tunggu dia tiga hari dan setelah itu kita
Kolektor E-Book

sergap!”
“Hm...!” Sun-ciangkun memperingatkan. “Kalian jangan bertindak bodoh,
kapten Kwee. Bukankah semua tahu bahwa Hong-kongcu itu tak dapat dibunuh?
Siapa di antara kita yang tidak tahu ilmunya Merekat Tulang Menyambung Nyawa
itu? Dan sekali kita melawan tentu celaka bagiannya. Tidak, aku tidak mengharap ini,
aku tak menginginkan kalian terbunuh!”
“Lalu apa yang kita lakukan?”
“Inilah yang ingin kurundingkan. Apa kira-kira yang bisa kalian lakukan untuk
melawan pemuda itu?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


41

“Bagaimana kalau kita lapor ke kota raja?”


“Mungkinkah itu?”
“Tentu mungkin. Aku dapat melakukan itu, ciangkun. Aku dapat pergi diam-
diam atau ditemani seorang di antara kita!”
Sun-ciangkun berpikir serius. Dia memandang pembantunya ini, kapten Kwee,
seorang kapten yang masih muda tapi berani, gagah dan biasanya dapat diandalkan
untuk ke sana ke mari. Melakukan pekerjaan berbahaya umpamanya. Dan ketika dia
mengangguk namun memandang tiga pembantunya yang lain panglima ini bertanya,
“Bagaimana pendapat kalian? Setujukah dengan apa yang diusulkan Kwee-ciangbu
(kapten Kwee) ini?”
“Aku setuju,” pembantunya yang lain, mayor Peng mengangguk. “Aku dapat
menerimanya, ciangkun. Dan kalau perlu aku dapat menyertainya pula ke kota raja.”
“Baiklah, kalian laporkan ini pada Hu-taijin. Katakan apa yang terjadi dan boleh
kalian berangkat.”
“Siap!” dua orang itu berdiri, membungkuk dan hari itu juga mereka
menyelinap. Dengan dua ekor kuda mereka diam-diam keluar dari tempat itu, menuju
ke timur. Sun-ciangkun dan yang lain berdebar menyalami dua perwira ini, Tapi
ketika empat jam kemudian Kwee-ciangbu dan temannya berangkat ke kota raja
mendadak sore itu, di saat panglima ini duduk tak enak berdiripun tak tenang tahu-
tahu seorang di antara mereka kembali membawa mayat temannya yang mandi darah,
Kwee-ciangbu tewas!
“Ciangkun, kami gagal. Dua pemuda itu mencegat perjalanan kami. Aku... aku...
augh!” mayor Peng mengeluh, terjungkal dari atas kudanya dan diapun luka-luka.
Sun-ciangkun kaget dan dua pembantunya yang lain pucat. Dan ketika mereka
menolong dan mayor ini menceritakan dengan tersendat-sendat maka Sun-ciangkun
terkesiap dan sebuah surat diberikan mayor itu untuknya. Isinya berupa ancaman dua
pemuda itu bahwa mereka telah mengetahui rencana ini, bahwa kapten Kwee
dibunuh karena dialah si pencetus ide. Kapten inilah yang mengajak Sun-ciangkun
melapor sepak terjang mereka. Kini dua pemuda itu menghukum Kwee-ciangbu dan
Sun-ciangkun pun tertegun. Dan ketika mayor Peng tergagap dan menuding-nuding
tak keruan tiba-tiba mayor Pang pun roboh dia tewas tak lama kemudian, sebuah
senjata rahasia menancap di punggung, amgi (senjata gelap) yang mengandung
racun!
Kolektor E-Book

“Ah, bagaimana sekarang?” panglima itu pucat. “Kita gagal, Tiong Ho. Aku tak
menghendaki korban lagi!”
Tiong Ho, bawahan panglima ini menjura. Bersama temannya yang masih hidup
tiba-tiba mereka bungkam. Kematian Kwee-ciangbu dan mayor Pang sudah cukup
merupakan bukti bahwa memang dua pemuda itu memang tak boleh di buat main-
main. Rupanya mereka berada di ujung jalan dan mencegat siapapun. Dan ketika
panglima itu tak dapat berbuat apa-apa dan dua pembantunya yang masih hidup juga
tak mampu bertindak lebih jauh, maka malam harinya seorang anak panglima ini
hilang dan keesokannya isterinyapun lenyap tak diketahui.
“Ah, ini perbuatan dua pemuda itu. Kita diancam!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


42

Sun-ciangbun gemetar. Kalau dia belum mengenal kelihaian putera Hong Beng
Lama itu barangkali dia akan melawan. Mungkin dia akan mengerahkan segenap
pasukannya membunuh pemuda itu. Tapi karena dia tahu betul kelihaian pemuda ini
dan tiga hari kemudian pemuda itu datang lagi dengan anak isterinya maka Hong
Lam menyeringai menegur dingin.
“Sudah kau dapat keputusannya, ciangkun? Atau belum? Aku mengantar anak
isterimu, mereka kelelahan. Barangkali kau dapat menghibur atau bahkan
mencelakannya kalau salah bicara!”
“Iblis!” Panglima ini nyaris menyerang. Dia terbelalak melihat anak isterinya
itu, melihat pula sinar mata Hong Lam yang memang keji. Pemuda itu tak akan main-
main dengannya kalau dia menolak, panglima ini menggigil dan terpaksa menyerah.
Dan ketika anak isterinya diserahkan dan Hong Lam serta temannya tersenyum lebar
maka panglima ini mengangguk.
“Aku menerima, kongcu. Dan sekarang katakan apa yang harus kulakukan untuk
memenuhi semua permintaanmu.
“Bagus, gampang saja. Katakan pada pasukanmu bahwa mulai hari ini kalian tak
tunduk lagi kepada kaisar. Aku akan menyergap pengawal pembawa perbekalan dan
membunuh mereka. Biarkan pasukanmu kelaparan dan seminggu kemudian aku
datang menolong kalian, memberi ransum!”
Sun-ciangkun tak dapat membantah. Dia laksanakan perintah ini, pasukannya
ribut dan banyak di antara mereka tak percaya. Sun-ciangkun mengatakan bahwa
mereka ditelantarkan, bahwa istana sekarang tak menghiraukan mereka yang jauh
dari kota raja. Dan ketika benar saja kiriman perbekalan tak dikirim lagi untuk
mereka dan seminggu pasukan panglima ini kelaparan maka “dewa penolong” datang
berupa Hong Lam dan beberapa ratus pasukan Tibet yang entah didapat dari mana,
pasukan yang nampak liar namun garang-garang, datang dengan berlusin-lusin pedati
yang memuat bahan makanan.
“Ciangkun, aku menolong pasukanmu. Kudengar kalian tak dihiraukan istana,
kelaparan. Kami pasukan Tibet terketuk hatinya untuk membantu. Terimalah!”
Seribu orang itu tertegun. Mereka tak menyangka tipu muslihat itu, tentu saja
gembira dan menyambut pasukan Hong Lam dengan penuh persaudaraan. Sekejap
dan bagai semut mengerumuni gula pasukan Sun-ciangkun ini menerima bahan
makanan itu, menurunkannya dan bersorak mengucap terima kasih. Apa yang
Kolektor E-Book

dilakukan Hong Lam ini tepat sekali. Mereka nyaris mengamuk dan memaki-maki
istana. Hong Lam tersenyum dan pasukan Tibet pun berbaur dengan pasukan Sun-
ciangkun itu. Taktik Hong Lam berhasil. Dan ketika minggu demi minggu pemuda
ini selalu mencegat pasukan perbekalan deri kota raja dan membunuhi mereka untuk
akhirnya membantu pasukan panglima Sun maka pemuda itu disanjung tinggi dan
mendapat kehormatan dari pasukan panglima itu.
“Hong-kongcu sungguh pemurah. Hidup Hong-kongcu, selamat dan sukses
selalu menyertainya....”
Pekik dan pujian macam ini berulang ratusan kali. Pasukan Sun-ciangkun
memang amat berterima kasih kepada pemuda itu. Mereka seakan diberi hidup baru
dan disambung nyawanya dari mati kelaparan, tak aneh kalau pemuda itu malah

BATARA Dewi Kelabang Hitam


43

mendapat penghormatan berlebihan dari pasukan Sun-ciangkun. Dan ketika Hong


Lam mengajak agar pasukan itu bergabung dengan pasukannya yang terdiri dari lima
ratus orang maka semuanya menyambut kecuali Sun-ciangkun dan dua pembantunya
tentu saja.
“Kita harus memperkuat diri. Sekarang ayo kita bergabung.”
“Apa yang hendak kongcu lakukan lagi?”
“Ha-ha, menyerang kota raja, ciangkun. Kita sekarang harus membuat
kekacauan di tapal batas!”
Sun-ciangkun terkejut. “Menyerang kota raja?”
“Ya, tapi sebelumnya buat dulu keributan di tapal batas, ciangkun. Lalu
perlahan-lahan tetapi pasti kita masuk ke dalam dan kian ke dalam!”
Hong Lam lalu menceritakan rencananya. Pemuda ini membuat strategi jangka
panjang, bahwa sasaran utama adalah kota raja, pusat pemerintahan. Tapi karena kota
raja terlampau kuat dan juga jauh dari tempat itu maka hal pertama yang hendak
dilakukan adalah mengacau di tapal batas dan menyerang pasukan-pasukan lain yang
agak ke timur yang dipimpin panglima teman-teman panglima Sun, maklum, tapal
batas Tiongkok memang panjang dan dibagi-bagi. Sebelah barat sendiri dipimpin
oleh Sun-ciangkun ini, agak ke timur dipimpin panglima lain dan ke timur lagi oleh
panglima yang lain lagi, begitu seterusnya. Ada sepuluh panglima yang
mengomandani wilayah tapal batas ini, Sun-ciangkun yang paling ujung. Dan ketika
Hong Lam menyusun siasatnya dan satu demi satu mulai membuka rencananya pada
panglima itu maka Sun-ciangkun terbelalak karena pemuda ini bercita-cita untuk
menjadi orang nomor satu di Tiongkok, menjadi kepala negara, kaisar!
“Aku harus menghimpun pasukan lebih banyak. Satu demi satu kita tundukkan
panglima-panglima di tapal batas dan menyuruh mereka bergabung. Kalau mereka
menolak kita bunuh, kalau mereka menerima kita ampuni dan beri kedudukan yang
pantas. Siapa panglima di sebelah tapal batas wilayahmu, ciangkun?”
“Panglima Cong.”
“Bagus, berapa jumlah pasukannya?”
“Seribu pula, sama dengan yang di sini.”
“Aha, kalau begitu mudah. Gabungan pasukan kita sudah berjumlah seribu lima
Kolektor E-Book

ratus orang. Berarti kita lebih kuat. Berikan surat perintah pada panglima itu agar dia
bergabung dan membantu kita!”
Sun-ciangkun menggigil. Bagai boneka tak bernyawa saja dia membuat surat
untuk rekannya itu, menyuruh Cong-ciangkun (panglima Cong) menyerah dan
tunduk, bahwa dia akan di serang kalau tak mau. Surat yang tentu saja membuat
panglima itu terbeliak dan Cong-ciangkun gusar. Panglima yang memimpin di
sebelah tapal batas wilayah timur itu mencak-mencak, Sun-ciangkun dimaki dan
mendapat sumpah serapah. Kegegeran mulai mengamuk di sini, terang panglima itu
menolak dan menyuruh balik utusan, bahkan memberi surat balasan agar Sun-
ciangkun rekannya itu tidak gila-gilaan. Dengan berang dan tidak tahu duduk
persoalannya panglima ini mencaci habis-habisan temannya itu, Dan ketika ancaman

BATARA Dewi Kelabang Hitam


44

tak di gubris dan Cong-ciangkun malah menantang maka seperti yang sudah diatur
pasukan panglima itu diserbu dan digempur, Hong Lam dan Bhong Kiat membabati
pasukan panglima itu dibantu pasukannya. Tentu saja Cong-ciangkun terbelalak dan
kaget, baru panglima ini tahu bahwa ada campur tangan di balik semuanya itu,
campur tangan pemuda asing, Hong Lam si pemuda Tibet dan tentu saja dia tahu
kelihaian pemuda itu, mengenal siapa pemuda ini. Putera Hong Beng Lama yang
sakti. Dan ketika pemuda itu muncul dan tak ada seorang pun yang dapat menandingi
pemuda itu maka seperti yang sudah diduga pasukan Cong-ciangkun dikalahkan dan
ditawan. Cong-ciangkun sendiri ditangkap, dibujuk tapi tak mau tunduk. Dan karena
Hong Lam tak mau banyak bicara lagi dan terhadap orang-orang macam begini dia
bersikap telengas dan kejam maka panglima itu dibunuh dan mayatnya dilempar ke
sungai, kepalanya dipenggal dan digantung di sebuah tempat terbuka.
“Nah, siapa tak tunduk padaku akan mengalami nasib sama seperti panglima
Cong ini. Siapa di antara kalian yang mau melawan lagi?”
Anak buah panglima itu gentar. Tiga ratus di antara mereka tewas, dua ratus
yang lain luka-luka. Ini berarti satu banding tiga dengan pihak musuh, tentu saja
mereka tak berkutik dan menyerah. Hong Lam menerima dan mengampuni mereka.
Sisa pasukan musuh digabung dengan pasukannya, Sun-ciangkun tetap memimpin
tapi sesungguhnya pemuda Tibet itulah yang mengatur di balik layar. Apa yang
dikeluarkan Sun-ciangkun sesungguhnya perintah dari Hong Lam ini. Dan karena
serbuan pertama itu berhasil dan Cong-ciangkun dibunuh maka Hong Lam
melanjutkan ekspedisinya lebih ke timur lagi.
“Siapa berikutnya?”
“Sen-ciangkun.”
“Nah, utus orang ke sana dan suruh dia takluk.”
Sun-ciangkun mengangguk. Sama seperti yang sudah dilakukannya terhadap
Cong-ciangkun dia pun menyuruh rekannya itu menyerah, Sen-ciangkun atau
panglima Sen diminta bergabung untuk menyerang kota raja. Satu demi satu
panglima-panglima di tapal batas itu akan dibabat, Sen-ciangkun melawan dan
kembali digempur. Dan ketika panglima itu dibunuh pula dan sisa pasukannya
digabung dengan pasukan Hong Lam maka tak pelak lagi pasukan pemuda ini
menjadi besar dan kian besar, terus maju dan membuat kekacauan-kekacauan di tapal
batas. Membuat panglima-penglima lain pucat gentar. Nama pemuda itu mulai
didengar dan tentu saja mereka kaget. Hong Lam memang bukan pemuda
Kolektor E-Book

sembarangan. Dan ketika sebentar kemudian Hong Lam sudah menundukkan lima
panglima di wilayah perbatasan ini dan pasukannya sudah menjadi lima ribu orang
maka kedudukan pemuda itu menjadi kuat dan dua panglima musuh menyerah,
Liauw-ciangkun dan Hien-ciangkun.
“Kita terus maju, labrak musuh di depan. Siapa di sana?”
“Yee-ciangkun, kongcu. Yee Ming.”
“Baik, suruh dia menyerah atau kita gempur!”
Sun-ciangkun lagi-lagi mengangguk. Dia melihat pemuda ini benar-benar
berbahaya, lima panglima sudah ditundukkan dan tiga di antaranya dibunuh. Semua

BATARA Dewi Kelabang Hitam


45

dipenggal dan kepalanya di pancung di lapangan terbuka. Kekejaman pemuda itu


membuat mengkirik semua orang, kini Yee Ming atau Yee-ciangkun menjadi sasaran
berikut. Tapi ketika panglima itu menolak dan Hong Lam menyerbu ternyata Hu-
taijin muncul dan pasukan pemuda ini ketemu batunya.
Hari itu lima ribu orang menyerbu wilayah perbatasan Yee-ciangkun. Hong Lam
dan Bhong Kiat kebetulan tak ikut, mereka berada di barisan belakang bersenang-
senang, minum arak, juga mempermainkan wanita karena dalam peperangan itu
mereka merampas, anak isteri perwira musuh. Hong Lam merasa cukup karena
pasukannya yang besar tentu dapat menundukkan musuh yang lebih kecil. Tapi
ketika pasukannya, kembali dan sore itu mereka babak-belur dengan keringat
bercucuran maka pemuda ini mendapat laporan mengejutkan.
“Yee-ciangkun dibantu orang kuat. Kami gagal, semua pasukan terpaksa, ditarik
mundur dan tak dapat maju.”
Hong Lam mencelat. “Siapa orang kuat itu? Kalian tak dapat maju?”
“Maaf, kami telah berusaha, kongcu. Tapi orang ini betul-betul lihai dan tidak
kami sangka. Kami kalah.”
“Goblok! Kalian tak becus. Siapa orang itu?”
“Hu-taijin, Menteri Hu Kang!”
“Apa?” Hong Lam terkesiap. “Hu-taijin? Menteri pertahanan itu?”
“Ya, dialah, kongcu. Kami dipukul mundur dan kongcu ditantang!”
Hong Lam tiba-tiba tertegun. Dia tak menyangka menteri itu datang di medan
perang, seorang menteri sakti yang kepandaiannya setingkat dengan ayahnya. Hong
Lam terkejut dan segera mendengar laporan berikutnya. Betapa menteri itu
mengobrak-abrik mereka dan seratus lawan satu pun menteri itu tetap tangguh. Hong
Lam percaya ini karena dia tahu kepandaian menteri itu, memang hebat dan sakti.
Dan ketika Sun-ciangkun menyelesaikan laporannya dan gemetar menggigil di
depannya panglima ini tampak pucat.
“Kongcu, tak ada di antara kita yang dapat menandingi Hu-taijin. Kaulah satu-
satunya orang yang dicari? Hu-taijin menghendaki besok bertemu denganmu.”
“Hm! siapa bilang aku ada di sini?”
Kolektor E-Book

“Semua orang tahu, kongcu. Hu-taijin telah menyelidik dan kini menyuruhmu
keluar.”
“Keparat, kalian bodoh!” dan Hong Lam yang termangu mendengar itu lalu
memandang temannya. “Bhong Kiat, bagaimana pendapatmu? Apa yang harus kita
lakukan?”
“Tentu saja menghadapi menteri itu, Hong Lam. Besok kita keluar dan keroyok
dia!”
“Tapi dia lihai, kita barangkali tak akan menang.....”
“Kalau begitu panggil ayahmu, suruh menghadapi menteri ini.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


46

“Hm, ayah dalam kurungan Hong Sin-supek, Bhong Kiat. Mana bisa
memanggilnya? Aku bingung, ini persoalan serius!” Hong Lam termenung, teringat
ayahnya yang dipenjara Hong Sin Lama dan terbelalak memikirkan persoalan itu. Ini
benar-benar tak di duga, munculnya menteri itu bagi Hong Lam terlalu cepat. Sebab,
menurut perhitungannya Hu-taijin akan muncul setelah sepuluh panglima di tapal
batas dirobohkan, pasukannya ditawan dan digabung dengan pasukan mereka.
Kedudukannya sudah amat kuat saat itu tak tahunya menteri ini datang ketika dia
baru mengalihkan separoh dari jumlah panglima di perbatasan. Dan ketika Hong Lam
termenung dan melepas perempuan cantik yang tadi diremas-remasnya maka Bhong
Kiat menyeringai dan mendesis.
“Bagaimana, Hong Lam. Apa yang mau kau lakukan?”
“Tentu saja menyerang, tapi menteri sialan itu muncul!”
“Lalu apa tindakan kita? Kalau ayahmu tak dapat dipanggil sebaiknya malam ini
kita rundingkan baik-baik. Jangan sampai usaha yang sudah setengah jalan ini
kandas.”
“Tentu, biarkan aku berpikir, Bhong Kiat. Suruh orang-orang tolol ini
menyingkir!” Hong Lam mengebut, gemas pada Sun-ciangkun dan kawan-kawannya
itu dan Sun-ciangkun mundur. Malam itu Hong Lam tepekur, dia teringat ayahnya,
maju mundur dan ragu-ragu melihat hadirnya Hu-taijin. Menteri ini hebat, dia harus
hati-hati. Sayang ayahnya dihukum, juga buta. Supeknya Hong Sin Lama itulah yang
menangkap ayahnya (baca : Sengketa Cupu Naga). Hong Lam bingung, juga geram.
Dan ketika malam itu dia berpikir sendirian dan belum tahu apa yang mau diperbuat
maka di tempat lain, di belakang markas terjadi kasak-kusuk tiga panglima tinggi
yang sebenarnya gentar menghadapi Hong Lam.
“Ini kesempatan bagus, Hu-taijin dapat menolong kita. Bagaimana pendapatmu,
Sun-ciangkun?”
“Hm, aku ragu-ragu, rekan Tiauw. Pemuda itu hebat dan kita harus berhati-hati.
Bagaimana kiranya pendapat rekan Hien?”
“Aku bingung, tapi selekasnya kita harus melepaskan diri dari cengkeraman
pemuda iblis itu.
“Benar, dan bagaimana kiranya? Akal apa yang akan kita lakukan?”
“Bagaimana kalau kita kirim utusan. Kita undang Hu-taijin diam-diam ke sini,
Kolektor E-Book

kita bekuk pemuda itu dan hindarkan pertumpahan darah!” Tiauw-ciangkun,


panglima Tiauw yang tinggi besar berbisik. Mereka bertiga saling berbincang-
bincang membicarakan Hong Lam, tentu saja dengan amat hati-hati dan Sun-
ciangkun memasang pembantu-pembantu yang terpercaya untuk menjaga sekitar
tempat itu. Mereka merasa aman dan kini saling bertukar pikiran. Betapapun tak enak
bagi mereka rencana pemberontakan itu. Hu-taijin harus diberi tahu agar kedudukan
mereka dimengerti, kini Tiauw-ciangkun mengajukan usul untuk mengirim seseorang
ke tempat menteri Hu Kang, kalau perlu membawa menteri itu masuk, agaknya
mereka dapat melakukan ini karena sebagian besar pasukan adalah pasukan mereka
bertiga, pasukan Hong Lam sendiri kecil karena tak lebih dari limaratus jumlahnya.
Mereka kasak-kusuk dan berbisik-bisik, rencana itu ingin mereka matangkan karena
kedatangan Hu-taijin dapat membawa bahaya bagi mereka, itu alamat tak baik.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


47

Mereka harus secepatnya memberi tahu apa yang terjadi bahwa sebenarnya mereka
ditekan. Pemuda Tibet itu jahat. Dan ketika Tiauw-ciangkun menyodorkan
pendapatnya dan Sun-ciangkun serta Hien-ciangkun saling pandang maka dua
panglima ini mengangguk.
“Tampaknya itu jalan paling baik. Tapi siapa yang akan diutus? Siapa yang akan
pergi?”
“Barangkali Tiong Ho mau,” Sun-ciangkun menoleh pada pembantunya,
meminta pendapat.
“Bagaimana pendapatmu, Tiong Ho?”
“Ah,” laki-laki ini pucat, teringat kematian kapten Kwee. “Tak adakah yang lain
saja, ciangkun? Aku takut, dulu rekan Kwee dan Peng gagal!”
“Hm, benar. Lalu bagaimana ini?”
“Kalau begitu biar Jing Cat yang pergi. Pembantuku itu tentu mau!” Tiauw-
ciangkun akhirnya menoleh ke seorang pembantunya yang dipercaya yang menjaga
di pintu masuk, menggapai. “Kau mau melakukan tugas mulia ini, Jing Cat?
Menemui Hu-taijin dan membawanya masuk ke sini?”
“Hamba sanggup,” pengawal itu bersinar-sinar. ”Tapi bagaimana keluar dari
tempat ini ciangkun? Di luar yang berjaga adalah pasukan pemuda Tibet itu. Aku
tentu ketahuan!”
“Hm, susah!” Tiauw-ciangkun geram, teringat pasukan Tibet, yang berjaga-jaga,
yang seolah melindungi tapi sebenarnya mengurung mereka, di luar pasukan yang
ada. “Ini memang repot, Sun-ciangkun. Lalu bagaimana?”
“Dibutuhkan keberanian dan kenekatan.” Hien-ciangkun tiba-tiba bangkit
berdiri, tinjunya terkepal. “Kalau Jing Cat tak dapat melakukan itu. Biar aku yang
coba-coba!”
“Ah.” panglima Sun dan panglima Tiauw kaget. “Itu berbahaya, Hien-ciangkun.
Kau sewaktu-waktu dapat dicari dan harus ada di tempat. Kalau kau tak ada dan
pemuda itu curiga tentu kita semua bakal celaka!”
“Lalu bagaimana? Apakah kita diam saja?”
“Ya, bagaimana?” Sun-ciangkun akhirnya saling pandang dengan Tiauw-
Kolektor E-Book

ciangkun. “Apakah kita diam saja? Tidak, kita harus melakukan sesuatu. Hien-
ciangkun. Tapi jangan kau yang pergi. Kita semua bisa dibunuh dan terlalu
berbahaya. Sebaiknya! ah... ingat aku. A-him saja yang pergi, si tukang rumput itu, si
pemberi makan kuda. Dia lebih bebas bergerak dan tak mungkin dicurigai!” dan Sun-
ciangkun yang bertepuk tangan memandang rekan-rekannya lalu tertawa dan
membuat dua temannya tertegun, teringat dan tiba-tiba tersenyum. Mereka ingat anak
muda itu. A-him, si pemberi makan kuda, satu dari sekian banyak si pencari rumput
yang ada di tempat itu. Dan ketika Tiauw-ciangkun mengangguk dan Hien-ciangkun
juga setuju maka A-him dipanggil dan malam itu juga disuruh mengantar surat. Tiga
panglima ini membuat surat rahasia yang ditandatangani bersama, mereka
menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan A-him menerima. Tukang rumput itu
memang bebas berkeliaran karena tugasnya, tak ada pasukan Tibet yang curiga. Dan

BATARA Dewi Kelabang Hitam


48

begitu pemuda itu menerima dan pergi melaksanakan tugasnya maka di pihak lain
Hong Lam sudah menemukan sesuatu untuk menghadapi menteri Hu Kang.

*
* *

Kita tinggalkan sejenak kekacauan di tapal batas ini, kita tengok Kiok Lan. Saat
itu, seperti kita ketahui Kiok Lan meninggalkan Bun Hwi dengan marah. Gadis ini
tak mau Bun Hwi menemui Mei Hong. Kalau Bun Hwi mencintainya pemuda itu
harus ikut kehendaknya, berdua dengannya. Jadi tak perlu segala macam menemui
Mei Hong, mengajak gadis itu selama enam bulan hanya alasan komunikasi. Bah,
sebal dia mendengar keinginan Bun Hwi itu. Komunikasi apa? Macam-macam saja.
Bun Hwi beralasan itu hanya agar dapat berduaan dengan gadis cantik, sengit gadis
itu. Dan karena dia marah dan gusar mendengar keinginan Bun Hwi maka Kiok Lan
meninggalkan pemuda itu dan untuk kedua kalinya menguji Bun Hwi, apakah
pemuda itu mengejarnya, atau tidak. Tentu saja di dalam hati dia mengharap Bun
Hwi mengejar, betapapun ia tak sanggup berlama-lama menjauhi Bun Hwi, pemuda
itu betul-betul di cintanya. Tapi ketika Bun Hwi tak mengejar dan pemuda itu tega
membiarkannya pergi mendadak Kiok Lan meluap kemarahannya dan melampiaskan
itu dengan tangis disepanjang jalan.
Bun Hwi memang pemuda tak ada pengertian. Berkali-kali dia merasa disakiti
hatinya. Dan ketika hari itu dia ke barat dan menoleh tak nampak bayangan Bun Hwi
akhirnya Kiok Lan menangis dan tiba-tiba dihadang sekawanan perampok, belasan
orang jumlahnya, ketika ia melewati hutan.
“Hei, berhenti!” Kiok Lan terkejut. “Siapa kau dan kenapa berjalan sambil
menangis? Wah, cantik. Ha-ha, kau berhentilah, nona. Hapus air matamu itu dan
jangan sedih di tempat ini. Barangkali kau baru kematian orang tua, atau kekasihmu
barangkali baru menghilang. Ha-ha, tak apa, nona. Ada Hek-houw di sini. Aku akan
melindungi dan memberimu kehidupan enak. Siapa kau dan mau ke mana?”
Kiok Lan sudah ditanya seorang laki-laki yang nerocos bicara, maju dan
tertawa-tawa dengan baju bagian atasnya dibuka, tegap dan sombong. Tujuh belas
orang tahu-tahu sudah mengepung gadis ini. Hek-houw, pemimpinnya sudah maju
bertanya, tangannya langsung bergerak dan meraih pundak Kiok Lan. Kontan gadis
ini mendelik dan marah. Dan begitu orang mendekat dan mau menjamah lebih jauh
tiba-tiba Kiok Lan membentak dan menggerakkan dua jarinya, menusuk pundak laki-
Kolektor E-Book

laki itu.
“Enyahlah...... cus!”
Hek-houw berteriak. Daging pundaknya tertusuk, langsung mengepul dan
terbakar. Laki-laki itu kaget dan menjerit. Dan ketika dia bergulingan melompat
bangun dan teman-temannya yang lain terbelalak berseru keras maka Hek-houw sang
pemimpin itu beringas dan mencabut golok, mendesis menahan sakit dan melihat
pundaknya yang tertusuk tembus.
“Jahanam. kiranya kau siluman wanita. Heh, gadis keparat. Kau telah
menyerang Hek-houw dan hukumannya mati. Menyerahlah atau kau kucincang
sebelum mampus!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


49

Kiok Lan mendengus, bersinar-sinar . “Kalian mencari penyakit!” katanya tanpa


menghiraukan pertanyaan. “Siapa yang mau maju?”
Belasan perampok itu gempar. Selamanya baru kali ini mereka menghadapi
korban yang malah mengancam, pimpinan mereka tak digubris dan mata yang
bersinar-sinar itu memandangi mereka, dingin dan menusuk dan beberapa di
antaranya gentar. Mata yang bening tapi berapi-api itu memancarkan cahaya
membunuh, bergidik mereka. Tapi karena jumlah mereka banyak dan Hek-houw juga
mengacungkan goloknya maka mereka marah dan membentak.
“Hek-twako, gadis ini perlu dihajar. Jangan dibunuh sebelum dipermainkan!”
“Ya, kita permainkan dia beramai-ramai twako. Baru setelah itu dibunuh!”
“Dan ambil gelangnya itu. Wah, dia mengenakan gelang berharga!”
Kiok Lan bersikap dingin. Teriakan ramai di antara orang-orang itu tak
dibalasnya, dia hanya menatap mereka satu persatu, sinar matanya cukup membuat
orang mengkirik, bola mata itu seperti api. Dan ketika Hek-houw menggeram dan
menyuruh anak buahnya mencabut senjata sekonyong-konyong perampok ini
menerjang dan mengayun goloknya.
“Mampus kau!”
Kiok Lan tidak mengelak. Sekarang kemarahannya kian meledak, laki-laki ini
berani menyerangnya. Maka begitu golok diayun dan langsung menebas lehernya
tiba-tiba Kiok Lan mengeluarkan jengekan dan mengangkat lengannya.
“Krak......!” golok itu patah ditangkis, langsung menjadi dua potong dan Hek-
houw kaget. Laki-laki ini tertegun dan bengong. Dia seakan tak percaya bahwa
tangan yang begitu halus dan lunak mampu menangkis goloknya, senjata tajam yang
mampu membacok apa saja seperti perkedel. Terkejut dia. Tapi begitu dia bengong
dan menjublak di tempat sekonyong-konyong Kiok Lan melangkah satu tindak dan
dengan kecepatan yang luar biasa ganti tangannya diayun dan menabas leher laki-laki
kepala rampok ini.
“Aughh.....!”
Jeritan ngeri terdengar di situ. Kepala rampok itu tahu-tahu roboh, kepalanya
putus dan darah menyemprot bagai pancuran. Kaget dan gemparlah anak buahnya
yang lain. Dan ketika mereka tersentak dan mundur dengan muka pucat tahu-tahu
Kiok Lan berkelebat dan... satu demi satu mendapat tamparan maut yang diiringi
Kolektor E-Book

pekik dan terjungkalnya tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi.


“Plak-plak-plakk!”
Bagai laron diserbu api enambelas perampok itu roboh bergelimpangan. Mereka
tumpang tindih tak keruan. Ada yang menangkis tapi senjata pun mencelat, tamparan
gadis itu tetap mengenai dirinya dan mereka pun terbanting. Dan ketika pekik
terakhir hilang dari tempat itu dan Kiok Lan berdiri di tengah-tengah maka tujuh
belas mayat bergelimpangan tak keruan di seputar dirinya.
“Ganas, keji....!” sebuah suara lembut tiba-tiba terdengar, seorang wanita
muncul dan Kiok Lan menoleh. Seorang nikouw tahu-tahu ada di situ, Kiok Lan
tertegun. Dan ketika nikouw itu memejamkan mata dan menyebut nama Buddha
BATARA Dewi Kelabang Hitam
50

maka nikouw ini ngeri memandang Kiok Lan yang tampak begitu ganas. “Omitohud,
siapa kau, nona? Kenapa membunuh-bunuhi mereka ini tanpa ampun sama sekali?
Tak adakah welas asih di hatimu?”
“Hm, kau siapa, suthai? Ada apa mencampuri ini?”
“Omitohud, pinni (aku) Lian Ing Nikouw, pengelana yang kebetulan lewat di
sini. Kau siapakah, nona? Dapatkah memberi tahu namamu pada pinni?”
“Aku Kiok Lan, diganggu kawanan perampok ini dan menghabisi mereka.
Mereka kurang ajar, pantas dibunuh dan kalau perlu semua laki-laki busuk pun
dibasmi!”
“Omitohud, kau telengas. Api kebercian dan dendam tak sehat merasuk dirimu!”
lalu membungkuk menghela napas nikouw ini berkata, “Nona, iblis menguasai
hatimu. Tekan itu dan sadarlah. Pinni melihat kau akan semakin menggila dan
tersesat. Marilah ikut pinni dan kusembuhkan jiwamu yang sedang sakit.”
“Apa, aku sakit jiwa? Kau mengatakan aku gila?”
“Hm, orang yang melakukan sesuatu dengan tak normal lagi berarti sakit jiwa,
nona. Kau kehilangan kontrol diri dan kejernihan batin. Marilah, ikut pinni dan
kusembuhkan jiwamu.”
“Keparat!” Kiok Lan naik darah lagi. “Kau memaki orang seenak perutmu
sendiri, nikouw busuk. Kalau begitu kau pun mampuslah.... siut!” Kiok Lan bergerak,
tangan menampar dan pukulan maut pun menuju kepala nikouw itu. Kiok Lan
gampang marah dan tersinggung di saat seperti ini, kekecewaannya terhadap Bun
Hwi adalah sumber dari semuanya itu. Tapi Lian Ing Nikouw yang mendesah mundur
satu tindak tiba-tiba sudah menghindar dan tamparan pun luput, mengenai angin
kosong dan Kiok Lan terkejut, menyerang lagi tapi nikouw ini pun berkelit. Cara
berkelitnya begitu mudah hingga Kiok Lan terbelalak. Orang berkelit sementara
mulut tersenyum. Dan karena pukulannya lagi-lagi luput dan senyum itu bagi Kiok
Lan dianggap senyum mengejek maka Kiok Lan tiba-tiba membentak dan menerjang
maju.
“Nikouw jahanam, kau kiranya berkepandaian juga. Baiklah, coba kelit yang ini
dan lihat apakah kau mampus!” dan Kiok Lan yang berkelebat cepat menusuk dengan
jurus “Sing” yang didapat dari Cupu Naga tiba-tiba membuat nikouw itu terkejut
karena sebuah jurus ini sudah bergerak begitu cepatnya membentuk delapan belas
serangan yang bertubi-tubi dan amat gencar mengurung dirinya, menusuk dan
Kolektor E-Book

mengait seakan jari Kiok Lan adalah jari seekor elang sakti. Kagetlah nikouw ini,
terang tak dapat dia mengelit atau menghindar lagi. Maka begitu delapan belas
serangan sudah menyergapnya begitu gencar dan seluruh jalan keluar sudah ditutup
jurus sakti ini maka nikouw itu memekik dan.... menangkis.
“Ilmu sakti warisan Pek In Sian-su. Aih..... plak-plak!” Kiok Lan terkejut,
tertolak dan sudah terhuyung sementara lawan tergetar berseru tertahan di sana.
Nikouw itu pucat, dia berhasil membuyarkan serangan lawan dengan tangkisannya
tadi, ujung jubahnya meledak dan Kiok Lan tertegun. Dan ketika gadis itu terhuyung
sementara nikouw itu juga tergetar maka nikouw ini terbelalak memandangnya, muka
berobah dan tampak terheran-heran, “Aih, kau memiliki ilmu silat Pek In Sian-su,
nona? Siapa kau sebenarnya? Dari mana kau dapatkan jurus Sing itu?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


51

Kiok Lan melenggong. “Kau tahu?”


“Tentu saja, itu jurus Sing yang sakti, nona. Dan kau pun tentu memiliki
lanjutannya, jurus Sien! Bukankah begitu?”
Kiok Lan terkejut. “Benar, kalau begitu...”
“Kalau begitu kau pewaris Pek In Sian-su. Kalau begitu kau tak boleh bersikap
telengas. Hayo, tunjukkan pada pinni semua ilmu silat yang kau dapat dari kakek
dewa itu!” dan Lian Ing Nikouw yang tiba-tiba bergerak dan sudah menyerang Kiok
Lan mendadak cemas mukanya dan tampas gelisah, kembali membuat Kiok Lan
terkejut karena nikouw itu melancarkan pukulannya yang aneh, ujung lengan baju
yang digulung, panjang dan keras mirip sebatang tongkat, atau toya pendek. Dan
ketika ujung baju yang sudah berobah keras ini mengeluarkan suara mencuit dan
Kiok Lan terkesiap maka gadis itu menangkis dan menggerakkan jarinya lagi.
“Plak!”
Kiok Lan lagi-lagi terpental. Untuk kedua kalinya ia merasa kalah beradu tenaga
dengan nikouw ini. Lian Ing Nikouw memiliki sinkang yang membuat lengannya
panas, Kiok Lan terbelalak tapi mulai marah. Dan ketika nikouw itu berkelebat
kembali dan menyerang serta menyuruh dia mengeluarkan ilmu silatnya dari Pek In
Sian-Su maka Kiok Lan melengking dan mengeluarkan jurus-jurus saktinya itu, Sing
dan Sien karena hanya itulah yang diwarisinya. Dua buah jurus di mana masing-
masing jurus memiliki delapanbelas gerakan, setiap gerakan merupakan serangan
maut karena jari-jari Kiok Lan mencicit dan mengeluarkan sinar putih. Jari-jari ini
mengandung tenaga sinkang hebat sekali, biasanya orang lain tak mungkin sanggup
menghadapi, hanya orang-orang tertentu sajalah yang mampu menghadapi itu,
menteri Hu Kang umpamanya atau Hong Beng Lama. Dan ketika Kiok Lan
menangkis dan gerakan demi gerakan mulai keluarkan untuk menghadapi serta
membalas serangan-serangan nikouw itu maka tangkisan demi tangkisan
menggetarkan tempat itu sementara Kiok Lan berkali-kali terhuyung dan terdorong.
“Aih, benar. Ini Sing dan Sien. Ayo keluarkan yang lain lagi yang kau punya!”
Kiok Lan merah padam. Nikouw itu tahu semua jurus-jurusnya, mana gerakan
dari jurus Sien dan mana pula gerakan dari jurus Sing. Dengan mudah dan tepat dia
mematahkan serangan gadis itu, mendesak dan menekan dan baru pertama kali ini
Kiok Lan menghadapi lawan begitu lihai setelah Hong Beng Lama, setelah dia
mewarisi jurus dari Cupu Naga, jurus-jurus yang mengandung gerakan-gerakan luar
Kolektor E-Book

biasa tapi yang selalu dapat dipatahkan nikouw itu. Dan ketika nikouw itu terus
bertanya mana jurus-jurus lainnya dan menyebut nama-nama jurus yang tidak
diketahui Kiok Lan akhirnya gadis ini melengking berseru marah, keringat sudah
bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
“Nikouw bau, aku tak tahu lagi apa yang kau maksud. Tapi kalau ingin
kepandaianku yang lain baiklah, lihat ini.... sing!” dan Kiok Lan yang mencabut
pedang membuang jurus-jurus yang sudah dikenal dengan jurus-jurus ilmu pedang
lalu mengeluarkan kepandaian lamanya dari mendiang gurunya Thian-san Giok-li,
ilmu pedang yang dinamakan Hong-lui-kiam-sut (Ilmu Pedang Angin Ribut),
membentak dan menyerang nikouw itu dengan tusukan dan tikaman, juga babatan
dan bacokan. Pedangnya bergulung-gulung bagai angin ribut, nikouw itu terbelalak

BATARA Dewi Kelabang Hitam


52

dan berseru heran. Dan ketika Kiok Lan mengganti ilmu silatnya dengan pedang yang
berkelebatan naik turun mendadak nikouw ini tersenyum dan tertawa lembut.
“Aih, ini Hong-lui-kiam sut. Kiranya kau murid mendiang Thian-san Giok-li....
cring plak!” nikouw itu menangkis, jarinya bergerak dan kukunya menyentil pedang.
Dengan lebih mudah lagi dia menghadapi ilmu pedang ini. Kiok Lan mati kutu dan
terbelalak. Dan ketika nikouw itu tertawa dan menangkap serta menjepit pedangnya
tiba-tiba lawan berseru keras menggetarkan dua jari.
“Lepas!”
Kiok Lan tak tahan. Arus tenaga panas tiba-tiba menjalar dari pedangnya ke
lengan begitu panas hingga Kiok Lan merasa terbakar. Tentu saja dia kaget. Dan
ketika dia mengeluh dan tangan pun mengendor mencekal pedang tiba-tiba nikouw
itu menarik dan..... pedang pun lepas dari tangannya, dibuang.
“Ooh!” Kiok Lan tiba-tiba mengguguk, menubruk nikouw itu. “Kau bunuhlah
aku, nikouw siluman. Atau kita mengadu jiwa!” Kiok Lan menjerit, marah dan putus
asa tapi nikouw itu menjetikkan jarinya. Sebuah totokan mendahului gerakan gadis
ini, Kiok Lan tertahan dan segera roboh. Dan ketika Kiok Lan terbelalak dan
menangis tersedu-sedu maka nikouw itu menepuk pundaknya berseru lembut.
“Anak baik, kenapa kau begini telengas? Ilmu silatmu bagus, kepandaianmu
cukup. Tapi tak boleh kau berwatak ganas dengan begitu mudah membunuh-bunuhi
orang. Ayo bangun dan ikut pinni, kau kiranya hanya memiliki dua jurus saja dari
Pek In Sian-su!” dan Lian Ing Nikouw yang membebaskan totokan dengan usapan
lembut di bawah ketiak lalu memapah bangun gadis itu, memeluk dan Kiok Lan
segera tahu bahwa seorang sakti ada di depannya. Dia tak mungkin melawan nikouw
ini. Dan ketika nikouw itu memeluknya lemah lembut dan berkata begitu halus tiba-
tiba semua kekesalan Kiok Lan tertumpah di sini dan ia pun mengguguk di pelukan
nikouw itu.
“Suthai, kau siapakah sebenarnya? Bagaimana tahu semua ilmu silatku? Aku.....
aku sedang menderita, suthai... aku sedang mengalami tekanan batin. Aku
kecewa......!”
“Hm, pinni telah melihat itu. Kau sebenarnya berwatak baik, tapi keras. Dan
kekerasanmu ini yang merobah dirimu seperti ini begitu sebuah tekanan datang. Ayo
kita kubur dulu mayat-mayat itu. Bantu pinni....” nikouw itu melepas pelukan,
menekan ubun-ubun Kiok Lan dengan satu pijitan lembut. Kiok Lan merasa sesuatu
Kolektor E-Book

yang nikmat dan segar menembus jalan darah di kepalanya, nikouw itu tersenyum
dan sudah menghampiri mayat-mayat ini. Dan ketika tangannya bergerak dan pedang
di tangan menusuk dan mencongkel maka nikouw ini sudah membuat lubang dan
siap mengubur tujuh belas mayat itu.
“Ah, biar kulakukan,” Kiok Lan baru-buru meminta pedang itu, pedangnya yang
dirampas nikouw ini, tersedak dan cepat membantu dan tak lama kemudian sebuah
lubang sudah selesai di depan mereka. Lian Ing Nikouw menghela napas dan sering
menunjukkan kengerian batin. Mayat perampok-perampok ini ada yang tak keruan,
beberapa di antaranya ada yang tidak berkepala lagi. Dan ketika nikouw itu
berkemak-kemik dan satu demi satu memasukkan mayat-mayat itu ke lubang yang
mereka buat maka Kiok Lan sudah menyelesaikan pekerjaannya membantu nikouw
ini, menutup lubang dan sebuah gundukan besar membukit di situ.
BATARA Dewi Kelabang Hitam
53

“Omitohud, semoga Buddha menerangi jalan mereka,” nikouw itu menutup


doanya, menghela napas dan kini mengajak Kiok Lan duduk. Apa yang mereka
lakukan itu dikerjakan tanpa banyak suara. Kiok Lan gemetar dan menangis. Dan
ketika mereka duduk berhadapan dan nikouw itu memegang lengannya segera gadis
ini ditanya, “Anak baik, kau dapat menceritakan tekanan batinmu kepada pinni?”
Kiok Lan ragu.
“Katakan, kalau kau rasa itu dapat mengurangi keteganganmu. Tapi kalau kau
tak suka pinni juga tak ingin memaksa.”
“Tidak...” Kiok Lan akhirnya menggigit bibir. “Aku percaya padamu, suthai.
Tapi..... tapi..... ah, siapa dapat menolong aku? Hidupku sudah hancur, harapanku
musnah....!”
“Hm, tak ada hidup yang hancur atau harapan yang musnah, anak baik. Asal itu
benar dan tak melanggar hukum Alam maka semua pun dapat diperoleh. Katakan, apa
yang membuatmu begini berduka dan kenapa kau begitu kejam.”
“Aku ingin mengetahui dulu siapa suthai ini. Bagaimana kau dapat mengetahui
ilmu silatku dan memiliki kepandaian begitu tinggi.”
“Ah, aku Lian Ing Nikouw, anak baik. Sudah kuberitahukan tadi.”
“Benar, tapi aku hanya mengenal namamu, suthai. Bukan siapa sebenarnya
pribadimu yang lain!”
“Baiklah, pinni pengelana jalanan. Pinni adalah murid dari guru pinni yang
menjadi sahabat Pek In Sian-su.”
“Suthai sahabat Pek In Sian-su?”
“Guru pinni, nona....”
“Ah, panggil aku Kiok Lan, suthai. Namaku Kiok Lan!”
“Baiklah,” nikouw itu tersenyum. “Pinni bukan sahabat kakek dewa itu, anak
baik, melainkan guru pinnilah yang menjadi sahabat Pek In Sian-su.”
“Tapi suthai mengetahui ilmu silat kakek itu. Suthai rupanya juga mahir jurus-
jurus Sing dan Sien!”
“Kau salah, pinni tidak mempelajari ilmu silat itu, pinni bukan murid Pek In
Kolektor E-Book

Sian-su. Kalau pinni mengetahui gerak atau teori ilmu silat ini maka itu benar. Pinni
tahu kerena guru pinnilah yang memberitahunya, dan guru pinni tahu karena memang
sahabat kakek dewa itu. Nah, kau paham? Dan kau sendiri, dari mana mendapatkan
dua jurus sakti itu? Dan kenapa hanya dua jurus ini saja? Mana yang lain-lain? Ilmu
silat tendangan umpamanya, jurus-jurus kaki yang amat berbahaya dan tak kalah
dengan jurus-jurus tangan yang kau punyai itu!”

JILID III

BATARA Dewi Kelabang Hitam


54

KIOK LAN terbelalak. “Jurus-jurus tendangan?” dia teringat Mei Hong, “Hm,
aku tak mempunyai itu, suthai. Yang kupunyai hanya ini dan ilmu pedang warisan
suboku.”
“Benar, kau mainkan Hong-lui-kiam-sut. Berarti kau murid Thian-san Giok-li.
Kudengar gurumu sudah meninggal, dibunuh Ang-sai Mo-ong dan Tung-hai Lo-mo.
Benarkah?”
“Benar.”
“Dan kau menjadi begitu ganas karena kematian gurumu?”
“Tidak,” Kiok Lan terisak. “Ang-sai Mo-ong dan Tung-hai Lo-mo yang
membunuh guruku sudah tewas, suthai. Aku kecewa dan sakit hati bukan karena ini.
“Aku.... aku....”
“Kau patah hati?”
Kiok Lan tertegun.
“Hm, agaknya ini, anak baik. Dan orang muda memang paling peka menghadapi
yang satu itu. Kau pasti patah hati, gagal mencinta seorang pemuda.”
“Dari mana suthai tahu?”
“Bukankah sinar matamu yang memberi tahu itu? Ada luka dalam di hatimu.
Kalau bukan kematian gurumu yang membuatmu kejam tentu tentang yang satu ini.
Kegagalan cinta kasih memang dapat membuat orang menjadi kejam, baik pria
ataupun wanita!”
“Benar.....” Kiok Lan mengaku, akhirnya tak dapat menyembunyikan diri juga.
“Aku sakit hati disakiti laki-laki, suthai. Aku kecewa dan patah hati karena ini.”
“Nah, apa pinni bilang? Tentu itu. Tidak aneh? Kesedihan orang muda gampang
ditebak. Kalau bukan urusan pacar apalagi? Eh, bisakah kau ceritakan pada pinni
siapa pemuda itu, anak baik? Dan bagaimana asal mulanya?”
“Dia bernama Bun Hwi, seorang pangeran........!”
“Ah, pemuda yang akhir-akhir ini banyak diributkan orang itu? Yang katanya
mendapat Cupu Naga?”
“Benar, dialah itu. Dan ilmu silatku tadi juga atas pemberiannya.”
Kolektor E-Book

“Bagaimana ini? nikouw itu mengerutkan kening. “Cupu Naga tidak menyimpan
dua jurus itu saja, Kiok Lan. Ada banyak jurus yang tersimpan dan semuanya hebat!”
“Aku hanya mendapat tutupnya....”
“Oh!” nikouw ini mengerti, mengangguk-angguk. “Begitukah? Lalu bagaimana
selanjutnya?”
“Aku mencintai pemuda ini, tapi dia bercabang!” Kiok Lan gemas. “Dia
menyatakan cintanya padaku, suthai. Tapi di samping itu katanya juga mencinta Mei
Hong!”
“Mei Hong? Siapa ini?”
BATARA Dewi Kelabang Hitam
55

“Dia murid Hwa-i Sin-kai.”


“Hm, teruskan....”
“Dan karena ini aku lalu melabraknya!”
“Siapa?”
“Si Mei Hong itu, gadis tak tahu malu itu!”
“Hm, hmm... lalu bagaimana? Gadis ini juga mencintai Bun Hwi?”
“Benar, aku merasa tersaing, suthai. Aku merasa disakiti. Bun Hwi itu laki-laki
mata keranjang, yang sini dia bilang suka sedang yang sana dia bilang cinta!”
“Begitulah laki-laki.” nikouw ini tersenyum. “Dan kau tak dapat menerima ini,
Kiok Lan?”
”Tentu saja. Mana mungkin aku menerimanya. suthai? Belum kawin saja dia itu
sudah bercabang hatinya, mendua. Apalagi kalau sudah menikah. Jangan-jangan
wanita lain pun diincar dan aku disakiti setiap hari!”
“Baik, maumu bagaimana?”
“Aku menghendaki dia mencintai aku seorang.”
“Tapi dia seorang pangeran, kan?”
Kiok Lan tertegun.
“Dan seorang pangeran berhak berbuat begitu, Kiok Lan. Sistim masyarakat kita
sudah membudayakan hal begitu. Kaisar atau pangeran memang dapat beristeri dua,
atau lebih. Dan kau agaknya tak mungkin menghendaki pemuda itu menjadi milikmu
seorang.”
“Kalau begitu tak sudi aku menikah. Tak mau aku dimadu dan biar kubunuh
pangeran jahanam itu!”
“Tapi dia mendapat Cupu Naga. Dan pinni dengar dia memiliki kekebalan aneh,
tubuhnya tak dapat dibacok. Bagaimana kau membunuhnya? Tidak, ini pikiran sesat,
Kiok Lan. Kalau kau mau dengar nasihat pinni memang sebaiknya kau tak menikah.
Kau terlampau keras, kau akan lebih bahagia jika menjadi nikouw.”
Kiok Lan terkejut.
Kolektor E-Book

“Anak baik,” nikouw itu melanjutkan. “Bukankah kau katakan sendiri tak sudi
menikah daripada dimadu? Nah, kau cocok hidup seperti pinni, anak baik. Melajang
dan hidup untuk Tuhan!”
“Tapi.....”
“Tapi apa? Bukankah tak baik memusuhi seseorang dan diracun dendam? Pinni
juga pernah mengalami itu, Kiok Lan. Dan kini pinni merasa bahagia setelah menjadi
nikouw. Urusan laki perempuan memang repot, sebaiknya kau ikuti jejak pinni dan
menjadi nikouw.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


56

Kiok Lan tiba-tiba menangis. “Suthai, haruskah aku menggundul rambutku?


Haruskah aku melupakan pemuda yang tak dapat kulupakan itu? Aku tak dapat
melakukannya, suthai. Aku terlalu mencinta pemuda itu dan tak dapat berpisah!”
“Kalau begitu kau harus menyadari keadaan. Kau harus mengetahui bahwa
kedudukan wanita memang lebih lemah dibanding laki-laki. Wanita selamanya
begitu, tak mungkin kau merobah kehendak kalau laki-laki punya mau.”
“Lalu apakah aku harus mengalah? Apakah aku diam saja?”
“Inilah, hatimu keras, anak baik. Kau tak dapat menerima sesuatu yang tidak
cocok dengan keinginanmu. Sekali kau menetapkan putih maka itu haruslah putih,
atau kalau itu kau bilang hitam maka itu pun harus hitam. Ah, pinni mendapat firasat
jelek. Kau tak dapat bahagia dengan pemuda itu.”
Kiok Lan tiba-tiba pucat. “Suthai, kau meramal begitu mengerikan untuk
nasibku? Kau bahkan membuatku semakin menderita? Oh, tidak. Jangan, suthai.....
jangan. Aku tak mau, aku ingin bahagia!” dan Kiok Lan yang menangis serta tersedu
memeluk nikouw itu lalu mengguguk dan ngeri mendengar ramalan nikouw ini.
Entah kenapa dia begitu percaya dan perbawa kuat memancar dari omongan nikouw
ini. Lian Ing Nikouw seorang sakti, tak mungkin kata-katanya bohong. Dan ketika
nikouw itu mengelus rambutnya dan Kiok Lan mengguguk tiba-tiba gadis ini bangkit
berdiri mengepal tinjunya, berteriak. Kubunuh Mei Hong itu, biar kubunuh dia....!”
dan Kiok Lan yang melompat dan mau terbang meninggalkan tempat itu mendadak
disambar dan ditarik lembut.
“Anak baik, duduklah!”
Suara itu berpengaruh besar. Lian Ing Nikouw sendiri sudah memijit kepala
Kiok Lan, lembut dan halus. Getaran tenaga dingin memadamkan rasa panas di
kepala. Kiok Lan terkejut dan menghentikan tangisnya. Dan ketika nikouw itu
tersenyum dan memandang ke depan tiba-tiba nikouw ini menuding.
“Kau mau ke sana? Di sana ada kelenteng, Kiok Lan. Mari sembahyang dan
pinni temani!” Lian Ing Nikouw menarik, Kiok Lan menurut dan tiba-tiba disendal.
Begitu bergerak tahu-tahu secara mengejutkan nikouw ini telah meloncat sejauh
sepuluh tombak, bukan main. Dan ketika Kiok Lan tertegun dan mengikuti temannya
tiba-tiba dia telah diajak “terbang” dan tak lama kemudian sudah tiba di depan sebuah
kelenteng tua, kelenteng kosong yang tak berpenghuni.
“Nah, di sini lebih baik daripada di sana. Di sini tak ada kuburan menemani,
Kolektor E-Book

mari masuk dan sembahyang!” nikouw itu berkelebat, membersihkan altar yang
berdebu dan sebentar kemudian sudah memasang lilin, tiga buah banyaknya. Dan
ketika Kiok Lan mendelong dan bingung harus berdoa apa nikouw itu sudah memberi
petunjuk.
“Mari kita tanya Kwan Im Pouwsat. Tiga lilin ini adalah gambaran kau dan Bun
Hwi serta Mei Hong itu. Siapa yang tertiup angin dan padam dialah tandanya tak
beejodoh dengan pemuda itu!.
Kiok Lan tiba-tiba tak enak, berdebar. “Aku harus berdoa bagaimana?”
“Kau ikuti kata-kata pinni, Kiok Lan. Mari berlutut dan dengarkan!” Lian Ing
Nikouw menyalakan lilin, memasangnya berjajar dan tak lama kemudian nikouw itu
BATARA Dewi Kelabang Hitam
57

sudah berkomat-kamit, Kiok Lan menggigil di sebelah dan ngeri oleh doa nikouw ini.
Suaranya bergetar dan mengaung bagai lebah. Dan ketika nikouw itu menyuruh dia
mengikuti dan Kiok Lan menirukan doanya mendadak tak lama kemudian lilin yang
ada di depan Kiok Lan padam.
“Ah!” Kiok Lan terkesiap, pias mukanya. “Lilin ini padam, suthai. Padam...!”
Lian Ing Nikouw membuka mata. Mereka sudah selesai berdoa, tepat sekali
ketika lilin itu padam. Nikouw ini tertegun dan mendesah, tidak kelihatan begitu
kaget. Dan ketika dia mengangguk dan getir memandang Kiok Lan nikouw ini
menjawab, “Ya, padam, Kiok Lan. Padam. Artinya jawabannya sudah didapat dan
kau tak berjodoh dengan pemuda itu.”
“Ooh...!” Kiok Lan menangis. “Kenapa begini, suthai? Kenapa begini...?”
“Begini atau begitu tak jadi soal, anak baik. Yang jelas doa kita telah dijawab
dan kita harus tahu itu.”
“Tapi aku tak dapat melupakan pemuda itu, aku mencintainya...!”
“Sudahlah, sekarang kita keluar, Kiok Lan. Ada seseorang kudengar
langkahnya!” Kiok Lan terkejut, menghentikan tangisnya dan ditarik keluar. Dia tak
mendengar apa-apa tapi nikouw itu berkata ada orang, berarti benar karena nikouw
itu memang lihai, dia kalah tajam. Dan ketika mereka keluar dan berkelebat di depan
pintu maka benar saja di halaman kelenteng masuklah seorang pemuda yang sudah
dikenal.
“Bun Hwi...!”
Lian Ing Nikouw terkejut. Kiok Lan sudah tak dapat menahan seruannya itu,
pemuda di depan terkejut dan menoleh. Dua pasang mata segera beradu dan Bun Hwi
pun memanggil nama Kiok Lan, melejit dan sudah tiba di depan gadis ini. Dan begitu
Bun Hwi berseri dan girang menemukan gadis ini maka Bun Hwi memegang
lengannya dan tertawa.
“Eh, kau di sini, Kiok Lan? Bikin apa? Ah, kebetulan sekali, aku mencarimu.
Aku mendengar gerakan di sini dan datang! Eh, siapa nikouw ini Kiok Lan? Kau
sudah punya teman?”
Kiok Lan tersedu. Tiba-tiba dia tak dapat menahan diri dan sudah menubruk
pemuda itu, Bun Hwi dipeluknya ketat dan Kiok Lan tidak menjawab pertanyaan itu.
Jawaban doa tadi bahwa dia tak berjodoh dengan Bun Hwi membuat perasaannya
Kolektor E-Book

sakit, hati serasa ditusuk dan nyeri bukan main. Kini pemuda itu datang dan
menyatakan mencari dirinya, berarti Bun Hwi ada perhatian dan tentu saja
perasaannya menggelegak. Kecewa dan girang tapi juga takut. Maka begitu Bun Hwi
datang dan memegang lengannya tiba-tiba Kiok Lan menangis dan sudah merintih
meremas-remas punggung pemuda ini.
“Bun Hwi, oh, jangan tinggalkan aku. Aku takut.... aku ngeri...!”
“Hm, aku memang mencarimu, Kiok Lan. Aku telah bertemu Mei Hong dan
disuruh mencarimu. Siapa nikouw ini? Bagaimana kau ada di sini?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


58

“Mei Hong?” Kiok Lan tiba-tiba merenggut lepas pelukannya, melotot. “Kau
selalu menyebut-nyebut nama ini setiap bertemu aku? Kau selalu menyakiti hatiku?
Oh, kau kejam, Bun Hwi. Kau tak tahu perasaan wanita. Kau keparat!”
“Hm.” Lan Ing Nikouw tiba-tiba maju selangkah. “Inikah pemuda yang kau
sebut-sebut kepada pinni, Kiok Lan? Diakah Bun Hwi?”
“Benar.” Kiok Lan marah-marah. “Dialah Bun Hwi, suthai. Lihat betapa berkali-
kali dia menyebut nama Mei Hong di depanku. Aku benci gadis siluman itu, aku
benci kepadanya!”
Bun Hwi terkejut. “Siapakah locianpwe?”
“Pinni Lian Ing Nikouw,” nikouw itu tersenyum lembut, matanya bersinar-sinar
memandang Bun Hwi. “Dan pinni telah mendengar cerita Kiok Lan, anak muda.
Maaf pinni tak bermaksud mencampuri,” lalu memandang Kiok Lan nikouw ini
bertanya, “Kiok Lan, bagaimana sekarang? Apa keputusanmu? Maukah kau ikut
pinni dan melepas persoalan ini?”
Kiok Lan bingung.
“Urusan cinta harus dihadapi dengan rasionil, anak baik, jangan emosionil. Pinni
telah memberimu nasihat panjang lebar, sekarang terserah kau keputusan apa yang
hendak kau ambil. Pinni tak mendesak, kalau kau ingin ikut pinni maka ikutlah
sekarang. Tapi kaltu kau menolak pinni juga tak akan berbuat apa-apa, hanya pinni
akan segera pergi.”
“Hm,” Bun Hwi campur bicara. “Apa hubunganmu dengan suthai ini, Kiok Lan?
Kenapa bicara begitu aneh?”
“Dia..... dia guruku,” Kiok Lan tiba-tiba melirik nikouw itu, mendapat senyum
lebar. “Kami baru bertemu, Bun Hwi. Tapi, aku merasa cocok dan suka.”
“Kalau begitu kau akan ikut dengannya?”
“Apa maksudmu?” Lian Ing Nikouw tiba-tiba bertanya. “Kau mau apa, anak
muda? Apa keperluanmu dengan Kiok Lan?”
“Aku mau mengajaknya untuk, eh... melihat-lihat kecocokan di antara kita.
Berjalan-jalan...”
“Itu saja?”
Kolektor E-Book

“Tidak, dia bicara tentang komunikasi, suthai. Katanya dia mau melihat apakah
di antara kita ada komunikasi. Aku tak mengerti maksudnya ini, aku sebal!”
Lian Ing Nikouw tertegun. Jawaban melengking yang diserukan Kiok Lan ini
tiba-tiba membuat dia terkejut. Sebagai orang tua berpengalaman tentu saja dia tahu
arti kata-kata itu, betapa dalam dan luas maknanya. Orang muda yang belum
mengerti tentu tak menangkap sarinya, maklum, belum merasakan betapa pentingnya
arti kata-kata itu. Nanti kalau sudah “ketanggor” baru ketemu batunya. Sadar di
belakang bahkan mungkin sadar setelah terlambat. Dan Lian Ing Nikouw yang tentu
saja berbeda cara menangkapnya dibanding Kiok Lan tiba-tiba sudah menghadapi
Bun Hwi lagi.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


59

“Anak muda, coba jelaskan apa maksudmu itu. Apa yang kau maksud dengan
komunikasi.”
“Hm....” Bun Hwi ragu-ragu. “Bolehkah kujelaskan, Kiok Lan? Apakah aku
harus berterus terang kepada orang lain?”
“Pinni sudah dianggap gurunya, anak muda. Pinni bukan orang lain bagi Kiok
Lan.”
“Benar.” Kiok Lan mengangguk. “Lian Ing suthai seperti orang tuaku sendiri,
Bun Hwi. Kau ceritakan saja seperti apa yang hendak kau ceritakan padaku.”
“Baiklah,” Bun Hwi bersinar-sinar. “Aku hendak menjelaskan masalah ini,
suthai. Bahwa sebenarnya, hm... aku bingung menentukan pilihanku. Kami bertiga,
maksudku Mei Hong dan Kiok Lan ini....”
“Ya, ya, pinni telah mengerti. Mei Hong kau cinta sementara Kiok Lan ini pun
kau suka?”
“Lihat,” Kiok Lan memotong. “Betapa mata keranjangnya, suthai. Masakah
orang mencinta bisa dua sekaligus? Aku tak percaya, itu bohong!”
“Diamlah,” Lian Ing Nikouw menegur, melihat muka Bun Hwi yang merah.
“Kau jangan memnotong dulu, Kiok Lan. Dengar dan lihat saja keterangan pemuda
ini. Pinni lihat dia mencoba bersikap jujur!”
Bun Hwi mendapat angin. “Benar, aku mencoba bersikap jujur dalam masalah
ini, suthai. Tapi Kiok Lan tak mau mengerti. Sering dia memutus pembicaraan
sebelum aku selesai, aku merasa dipersulit.”
“Cih, siapa yang dipersulit? Kaulah yang menyulitkan aku, Bun Hwi, bukan aku
yang menyulitkan kau!”
“Sabar, jangan memotong. Diamlah!” Lian Ing Nikouw menegur, melihat
perbedaan, dua anak muda itu. “Kau jangan ngotot dulu, Kiok Lan. Kalau baru begini
saja sudah sering cekcok lalu bagaimana kalau sudah berumah tangga nanti?
Bukankah pinni bilang kau harus diam? Anak muda ini akan bicara, tunggu giliranmu
kalau juga ingin bicara.”
Terpaksa, Kiok Lan menggigit bibir. Dia mendongkol tapi mulai dapat
menerima itu, diam-diam memaki Mei Hong sebagai si bibit penyakit. Gadis siluman
itulah yang membuat Bun Hwi bercabang, padahal dialah yang lebih dulu berkenalan
Kolektor E-Book

dengan pemuda ini. Mei Hong belakangan, tapi maunya duluan. Keparat! Dan ketika
Bun Hwi menelan ludah dan kecut memandang nikouw ini Bun Hwi lalu mulai
bercerita apa sesungguhnya yang dia kehendaki. Bahwa terhadap Mei Hong maupun
Kiok Lan dia sama-sama suka, masing-masing pernah memberi budi kepadanya dan
tentu saja tak ingin dia menyakiti mereka, baik Kiok Lan maupun Mei Hong. Dan
ketika dia mulai bercerita bahwa dia dipaksa untuk memilih seorang saja di antara
mereka dan tentu saja ini menyulitkan dirinya karena berarti seorang yang lain akan
sakit hati maka dengan hati-hati namun jelas dia menyatakan keinginannya untuk
melihat kepada siapakah dia lebih cocok, artinya, dia harus mengenal mereka lebih
dekat dan melihat kepada siapakah dia lebih dimengerti, Mei Hong ataukah Kiok
Lan. Dan karena urusan itu dirasa membutuhkan waktu dan Mei Hong atau pun Kiok

BATARA Dewi Kelabang Hitam


60

Lan ingin diajaknya bergaul selama beberapa bulan untuk menetapkan hatinya maka
sampai di sini Bun Hwi berhenti sebentar.
“Aku telah menawarkan itu kepada Kiok Lan. Kami ingin bersama-sama selama
kurang lebih enam bulan. Kiok Lan menerima tapi dengan catatan aku tak boleh
mendekati Mei Hong dan melakukan hal yang sama.”
“Tentu saja, aku tak sudi kau berpindah dari satu wanita ke wanita lain, Bun
Hwi. Betapa enaknya engkau, betapa senangnya engkau!”
“Ah,” Bun Hwi menangkis. “Aku tak melakukan apa-apa terhadap kalian, Kiok
Lan. Senang apa? Enak apa?”
“Hm, hmm.... begitu ya? Kau lupa waktu memeluk-meluk Mei Hong? Kau lupa
waktu menciumnya?”
Bun Hwi terkejut. “Kiok Lan, waktu itu kalian sama-sama terluka. Aku
melakukan itu karena kasih dan sayangku kepada kalian!”
“Bagus, satu laki-laki menikmati dua wanita. Apakah ini pantas? Apakah ini
tidak memanaskan hatiku?”
“Stop!” Lian Ing Nikouw merah mukanya. “Urusan itu urusan pribadi kalian,
anak-anak. Pinni tak mau dengar. Pinni berpendapat asal kalian tidak melangkah
terlalu jauh maka itu pun wajar. Maklum, muda sama, muda!”
“Ah, kau mengijinkan pemuda ini memeluk-meluk Mei Hong, suthai? Kau
membolehkan mencium segala?”
“Kiok Lan!” Bun Hwi akhirnya membentak, malu sekali. “Aku melakukan itu
juga kepadamu, kenapa kau menyudutkan Mei Hong melulu? Sudah kubilang aku
sama-sama sayang kepada kalian, Kiok Lan. Dan aku sama-sama mencinta. Inilah
sekarang buktinya. Dan aku sesungguhnya tak dapat memilih siapa yang harus
kuambil!”
“Hm, hmm... !” Lian Ing Nikonw jadi jengah. “Kalian jangan ributkan itu di
depanku, anak-anak. Pinni seorang pendeta, pinni malu mendengar itu! Sudahlah,
jangan bertengkar dan biarkan pemuda ini melanjutkan ceritanya.”
Kiok Lan merah padam. Nyaris ia menangis oleh bentakan Bun Hwi tadi,
pemuda ini di rasa kasar. Kebenciannya kepada Mei Hong semakin bertambah dan
meluap. Jahanam gadis itu, kalau ada di situ tentu sudah diterjangnya. Dan ketika
Kolektor E-Book

Bun Hwi melanjutkan ceritanya dengan muka yang tak kalah merahnya maka
pemuda ini berkata bahwa dia ingin meneruskan maksudnya, begaul dalam batas-
batas yang wajar bersama Kiok Lan maupun Mei Hong. Dulu Kiok Lan sudah
dijumpainya tapi menolak. Dan ketika dia tiba pada pertemuannya dengan Mei Hong
dan menyatakan bahwa Mei Hong mengijinkan dia bergaul dengan Kiok Lan maka
Lian Ing Nikouw batuk-batuk.
“Gadis itu memperbolehkan kau bersama Kiok Lan?”
“Justeru dia yang meminta aku ke sini, suthai. Tadinya aku mau mengajak dia
lebih dulu tapi Mei Hong menolak.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


61

“Hm...” nikouw ini mengangguk-angguk, mulai melihat perbedaan dasar itu.


Perbedaan antara Kiok Lan dan Mei Hong. Mei Hong tampaknya lebih memiliki
pengertian daripada Kiok Lan ini, gadis yang keras sekali. Dan ketika dia tersenyum
dan kagum menyaksikan kejujuran Bun Hwi nikouw ini lalu menoleh kepada Kiok
Lan. “Nah, sekarang terserah kau, Kiok Lan. Bun Hwi ingin mengenalmu lebih
dalam selama enam bulan itu. Sekarang kumengerti maksudnya, dia mengadakan
penjajagan. Betul kata-katanya itu, kalian memang harus dapat berkomunikasi
dengan baik. Kalau belum apa-apa sudah sering cekcok begini maka pinni melihat tak
baiknya komunikasi di antara kalian. Sekarang terserah kau, maukah diajak atau ikut
pinni.”
“Aku mau diajak, tapi Bun Hwi tak boleh ke dia.”
“Nah, lihat itu,” Bun Hwi marah. “Kiok Lan ini mau menangnya, suthai. Dia tak
adil dan lebih mengerti Mei Hong. Aku kecewa oleh sikapnya yang keras ini.”
“Ya-ya, memang Mei Hong lebih baik. Mei Hong lebih mengerti. Kenapa tidak
ke sana saja kau, Bun Hwi? Kenapa mencari aku dan membujuk? Aku tak sudi kau
mendekati gadis itu, habis perkara. Kalau kau memang lebih mencinta Mei Hong
pergilah dan tinggalkan aku!” Kiok Lan tiba-tiba menangis, naik darah dan gusar
sekali melihat Bun Hwi lebih memuji Mei Hong. Kata-kata itu seakan minyak
disiramkan ke api. Dan begitu dia membentak dan marah memandang Bun Hwi tiba-
tiba Kiok Lan memutar tubuhnya dan melompat pergi.
“Kiok Lan.....!”
Dua orang itu terkejut. Bun Hwi dan Lian Ing Nikouw memanggil, Kiok Lan tak
menggubris dan mengguguk di sana, meneruskan larinya dan malah mengerahkan
ginkang, terbang dan meninggalkan dua orang itu tanpa banyak cakap lagi.
Kekecewaan dan kemarahan Kiok Lan menjadi berkobar setelah Bun Hwi
menyatakan dia tak semengerti Mei Hong, bukan main tajamnya kata-kata itu. Kiok
Lan merasa Bun Hwi terlalu menjunjung tinggi saingannya, bukan main panasnya.
Tapi Bun Hwi yang berkelebat dan mengejar tiba-tiba menangkap pundak gadis ini.
“Kiok Lan, tunggu...!”
Kiok Lan tertangkap. Bun Hwi tahu-tahu menahan larinya, Kiok Lan membalik
dan melengking. Dan begitu Bun Hwi bicara dan dia menggerakkan tangan tahu-tahu
tangannya menampar dan mulut pun berseru, “Lepas, jangan ganggu aku.... plak-
plak!” dan Bun Hwi yang terpelanting dengan pipi bengap tiba-tiba mengeluh dan
Kolektor E-Book

memanggil lagi, melompat bangun dan melihat Kiok Lan sudah meneruskan larinya.
Bun Hwi penasaran dan mengejar. Dan ketika dia melayang dan turun di depan gadis
itu sekonyong-konyong Kiok Lan menerjang dan mengamuk.
“Bun Hwi, kau tak perlu mengejar aku. Pergilah atau kau kubunuh... sing!” dan
pedang yang sudah dicabut dan digerakkan gadis itu menusuk dan membacok tiba-
tiba sudah menyambar dan bergerak ke sana-sini, cepat dan penuh kemarahan dan
Bun Hwi mengelak. Pemuda ini marah dan terbelalak, coba membujuk tetapi gagal.
Dan ketika dia lambat berkelit dan baju pundaknya robek tertikam maka Lian Ing
Nikouw sudah berkelebat di situ berseru menahan.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


62

“Kiok Lan, tahan. Dengarkan omongan pinni....... plak!” dan pedang yang
terlepas dari tangan Kiok Lan dikebut nikouw itu tiba-tiba membuat Kiok Lan
tersedu menutupi mukanya.
“Suthai, kau bunuhlah aku, Bununlah...!”
“Hm, sabar. Tenang...!” nikouw ini memeluk, menepuk-nepuk pundak gadis itu.
“Kalau kau tak suka didekati Bun Hwi biarlah kau mengikuti pinni, anak baik. Jangan
mengumbar kemarahan begini dan sadarlah. Padamkan dulu api kemarahanmu itu,
pandanglah pinni!” Kiok Lan didorong, diangkat wajahnya dan Lian Ing Nikouw
menyuruh gadis itu memandangnya. Kiok Lan mengguguk dan menangis. Dan ketika
dia tak kuat dan meronta melepaskan diri maka Bun Hwi ganti menyentuh
pundaknya.
“Kiok Lan, kenapa begini jadinya? Aku tak bermaksud menyakitimu, Kiok Lan.
Betapapun kaulah yarg menyelamatkan aku pertama kalinya. Tanpa kau di dusun Ki-
leng tentu aku sudah tewas di tangan pengawal Bhong-loya. Aku ingin mengajakmu
bicara baik-baik, aku tak bermaksud melukai dirimu.....”
“Oh, kalau begitu jangan kau dekati siluman betina itu, Bun Hwi. Aku benci
kepadanya, aku tak mau kau dekat dengannya.”
“Kau dan dia sama-sama sahabatku, Kiok Lan. Mana mungkin melakukan itu?
Mei Hong pun berkali-kali menyelamatkan jiwaku, aku berhutang budi pada kalian
berdua. Aku tak dapat meninggalkannya pula.”
“Kalau begitu kau lebih memberatkan gadis itu?”
“Hm,” Bun Hwi marik napas berat. “Tak ada yang lebih kuberatkan di antara
kalian, Kiok Lan. Kalian sama-sama kusayang, sukar bagiku untuk menjelaskan
padamu bahwa sayang dan sukak u tak berat sebelah. Bahwa aku sama-sama,
mencintai kalian dan hubungan baiklah yang ingin kubina. Aku tak mencintai Mei
Hong lebih dari perasaanku kepadamu.”
“Tapi kau memuji-muji Mei Hong, kau mengatakan aku tak semengerti dia!”
“Itu kenyataannya, Kiok Lan. Kau terlalu keras dan mau menangnya sendiri
saja.”
“Baiklah, aku memang tak suka kau berpindah-pindah dari satu wanita ke lain
wanita, Bun Hwi. Kalau ini pun kau anggap aku mau menangnya sendiri saja maka
aku juga dapat berkata bahwa kau pun tak dapat mengerti perasaanku. Kau pun mau
Kolektor E-Book

menangnya sendiri saja, kau tak mengerti perasaan wanita. Aku tak sudi kau
melakukan itu dan lebih baik kita berpisah!”
“Kiok Lan...!”
Kiok Lan menangis. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya dia merasa sakit oleh
perlakuan Bun Hwi itu. Bun Hwi menganggap dia tak semengerti Mei Hong padahal
pemuda itu pun juga tak dapat mengerti perasaannya. Kiok Lan membalik dan
meloncat pergi, tangisnya mengiringi. Dan begitu gadis ini berkelebat dan pergi
meninggalkan Bun Hwi maka Kiok Lan lenyap di kejauhan sana sementara Bun Hwi
memanggil lagi.
“Kiok Lan....!”
BATARA Dewi Kelabang Hitam
63

Gadis itu tak menggubris. Bun Hwi mau mengejar tapi sebuah seruan lembut
mencegahnya, Lian Ing Nikouw telah menghadang dan batuk-batuk. Nikouw ini
semakin melihat jelas perbedaan watak itu. Dan ketika Bun Hwi tertegun dan
mengerutkan kening memandang nikouw ini maka Lian Ing Nikouw berkata.
“Kau tak ada kecocokan dengan gadis itu, Bun-kongcu. Sebaiknya biarkan dia
dan jangan dikejar. Pinni melihat kalian harus berpisah.”
“Tapi dia mendendam, aku ingin menerangkan ini agar dia tak sakit hati....”
“Menerangkan apalagi? Kau hanya bisa melunakkan hatinya kalau kau tak
mendekati Mei Hong, kongcu. Atau kau bersikeras dengan sikapmu dan Kiok Lan
pun bersikeras dengan sikapnya.”
“Suthai.” Bun Hwi menggigil. “Salahkah sikapku itu? Tidak benarkah sikapku
itu?”
“Hm, salah atau tidak tergantung dari sudut pandangnya, Bun-kongcu. Kalau
pertanyaan ini kau ajukan kepada Kiok Lan tentu dianggap salah. Tapi pinni dapat
mengerti maksud hatimu, kau benar, tapi caramu yang salah.”
“Benar tetapi salah? Bagaimana ini?”
“Begini, kongcu. Umumnya wanita harus tidak boleh dijujuri seratus persen.
Maksudmu baik, kejujuranmu kuhargai. Tapi kalau dalam masalah begini kau
membawa kejujuranmu itu maka ada wanita-wanita yang tak dapat menerimanya, dan
diantaranya adalah Kiok Lan.”
“Aku tak mengerti,” Bun Hwi bingung. “Aku jadi heran karena kejujuran yang
hendak kutrapkan itu diangap salah!”
“Kejujuran itu sendiri tak salah, kongcu.” Lian Ing Nikouw tersenyum. “Tapi
caramu mengetrapkan kejujuran itulah yang di sini kurang tepat. Kau seharusnya tak
perlu begitu jujur dengan Kiok Lan, kau tak usah memberi tahu pada dia bahwa
setelah bergaul dengan dia sekian bulan lalu kau hendak bergaul dengan Mei Hong
selama sekian bulan juga. Ini yang tidak dapat diterima, yang kukatakan salah itu.
Karena, mana mungkin wanita mau menerimanya?”
“Ah, Mei Hong mau, suthai. Dan Mei Hong justeru menyuruhku berbuat seperti
ini!” Bun Hwi protes, memotong.
“Benar, dan itulah keberuntunganmu, kongcu. Dan sesungguhnya kuberitahukan
Kolektor E-Book

padamu bahwa wanita atau gadis seperti Mei Hong itu jarang didapat! Kau harus
bersyukur, kau harus merasa berterima kasih karena gadis seperi Mei Hong itu
ternyata memiliki pengertian demikian besar. Tapi ketahuilah, sebagian besar wanita
tak seperti Mei Hong karena mereka tentu cemburu dan tak memperbolehkan
kekasihnya untuk mendekati wanita lain meskipun itu demi alasan ini atau itu.
Wanita hanya ingin memiliki kekasihnya untuk dirinya seorang, bukan orang lain. Ini
pun harus kau mengerti!”
Bun Hwi tertegun.
“Dan cara mengetrapkan kejujuran inilah yang kunilai keliru, Bun-kongcu.
Karena cara seperti yang kau lakukan itu tak dapat diterima oleh sebagian besar

BATARA Dewi Kelabang Hitam


64

wanita. Pinni juga wanita, dan pinni juga pernah muda. Karena itu cara yang kau
trapkan ini kuanggap tidak tepat dan kejajuranmu adalah kejujuran yang kaku!”
“Kaku?”
“Ya, kaku, kongcu. Tidak luwes!”
“Jadi bagaimana seharusnya? Aku harus bersikap bohong?” Bun Hwi penasaran.
“Tidak, bukan begitu, kongcu. Melainkan seharusnya kau diam saja dan tidak
perlu memberitahukan maksudmu itu. Bahwa secara diam-diam kau dekati Kiok Lan
dan setelah itu secara diam-diam pula kau dekati Mei Hong. Maksudmu itu tak usah
diberitahukan pada mereka, karena begitu kau beritahukan maka mereka tentu
menolak dan maksudmu akan kandas di tengah jalan, seperti sekarang ini!”
“Ooh...!” Bun Hwi mendusin, kagum dan kaget. “Kau benar, suthai.... kau
benar...., aku sekarang sadar dan dapat menangkap kekeliruanku!”
“Ya, tapi sekarang terlambat, kongcu. Kau tak dapat memperbaiki kejujuranmu
yang sudah terlanjur itu. Kiok Lan tak dapat menerima. Kau tinggal memenuhi
keinginannya atau sama sekali meninggalkan gadis itu!”
Bun Hwi termangu-mangu, bingung. “Menurutmu bagaimana, suthai?” tanyanya
meminta pendapat, menyesal. “Aku jadi memaki kebodohanku sendiri yang tidak
dapat bersikap luwes dalam mengetrapkan kejujuran.”
“Itulah pelajaran bagimu,” nikouw ini tersenyum. “Menurut pinni tinggalkan
Kiok Lan, kongcu. Pinni telah mendapat jawaban dalam doa bahwa gadis itu tak
cocok untukmu.”
“Suthai berdoa?”
“Ya, baru saja, kongcu, bersama gadis itu. Dan pinni serta Kiok Lan telah
mendapat jawaban bahwa kalian tak berjodoh. Lilin di dalam masih menyala.”
Bun Hwi terbelalak, melompat ke dalam, melihat lilin di atas altar dan sebuah di
antaranya padam. Lian Ing Nikouw meagikuti dan nikouw itu menghela napas, segera
memberi tahu bahwa baru saja mereka meminta jawaban pada Kwan Im Pouwsat,
bahwa lilin di depan Kiok Lan padam dan itu berarti Bun Hwi tak berjodoh dengan
gadis itu. Kiok Lan terpukul dan Bun Hwi kebetulan datang. Dan ketika Bun Hwi
tertegun mendengar keterangan itu dan menjublak memandang nikouw ini maka Lian
Ing Nikouw mengebutkan lengannya.
Kolektor E-Book

“Nah, karena itu percuma mengejar gadis itu, kongcu. Sebaiknya kau lupakan
dia dan pergilah, jodohmu adalah Mei Hong dan berbahagialah dengannya.”
Bun Hwi berdebar, tak keruan. “Dan suthai sendiri, ke mana mau pergi?”
“Pinni bebas ke mana melangkah, kongcu. Tapi pinni barangkali akan
mengawasi Kiok Lan.
“Baiklah, kalau begitu terima kasih, suthai. Apa yang kau katakan ini akan
kurenungkan baik-baik dan semoga kata-katamu benar. Aku tak jadi mengejar Kiok
Lan, biarlah kukembali mencari Mei Hong dan terima kasih atas semua nasihatmu.”
Bun Hwi memberi hormat, siap melompat pergi tapi Lian Ing Nikouw tiba-tiba

BATARA Dewi Kelabang Hitam


65

menahan, berseru perlahan. Dan ketika Bun Hwi tertegun dan nikouw itu tersenyum
maka nikouw ini berkata.
“Kongcu, apa yang kukatakan tadi jangan sampai kau sesatkan. Harap kau
mangerti dan tetap memegang kejujuranmu itu.”
“Menyesatkan apa? Bagaimana?”
“Tentang kejujuran itu, kongcu. Bahwa kau harus tetap jujur tapi kejujuranmu
itu harus luwes. Jangan kaku tapi jangan pula membuang kejujuran itu!”
“Ah, ya. Aku mengerti.” Bun Hwi tersenyum. “Aku tak akan mempergunakan
ketidakjujuran dalam setiap langkahku, suthai. Tapi aku juga akan mempergunakan
kejujuranku dalam tindak tanduk yang luwes. Aku paham, aku mengerti. Terima
kasih!” dan Bun Hwi yang meloncat pergi tak dihalang nikouw itu lalu melesat dan
lenyap di luar kelenteng, disusul tak lama kemudian oleh Lian Ing Nikouw yang
menuju ke utara, mengejar Kiok Lan. Dan begitu dua orang itu meninggalkan
kelenteng maka kelenteng tua itu pun sunyi dan sepi seperti semula.

*
* *

Menjelang tengah malam. Saat itu Hong Lam mondar-mandir, belum didapat
olehnya langkah yang tepat untuk menghadapi menteri Hu Kang. Malam itu dia
bingung mencari akal, sudah bercakap-cakap dengan beberapa pembantunya
termasuk Bhong Kiat namun belum juga diperolehnya tindakan yang tepat untuk
menghadapi menteri itu. Dan ketika dia melipat tangan di belakang punggung dan
mondar-mandir dengan kepala tunduk tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat
memasuki kamarnya.
“Hong Lam, kau memikir apa?”
Hong Lam terkejut. Cepat dia memutar tubuh dan memandang, jari berkerotok
dan siap mengibas. Dia tersentak karena seseorang datang tanpa diketahuinya, ini
berbahaya. Tapi begitu dia melihat siapa yang datang tiba-tiba tertegun dan
bengonglah Hong Lam.
“Eh, kau?” serunya pendek. “Mau apa datang ke sini? Mana temanmu si
pangeran yang sombong itu?”
Kolektor E-Book

“Hm, aku datang tanpa dia, Hong Lam. Aku ke sini karena mendengar
peperangan yang kau cetuskan.”
Hong Lam mendekat, mata tetap waspada bersinar-sinar. “Lalu apa
maksudmu?”
“Aku mau menghadapi lawan-lawanmu. Aku ingin membantumu.”
“Ha-ha, begitu mudah kau bicara, nona? Kau mau membantu aku? Ha, tak perlu
menipu, gadis siluman. Kau adalah temannya Bun Hwi dan tentu datang sebagai
mata-mata....... wut!” Hong Lam tiba-tiba bergerak, jari menyambar dan tentu saja dia
tidak percaya kepada gadis ini, pendatang gelap yang bukan lain Kiok Lan adanya.
Kiok Lan telah meninggalkan Bun Hwi dan beberapa hari dalam perjalanannya ini ia

BATARA Dewi Kelabang Hitam


66

mendengar berita pemberontakan itu, tertarik dan menuju ke sini dan segera
mendengar nama Hong Lam, putera Hong Beng Lama yang sakti itu. Dan ketika dia
melihat pula menteri Hu Kang di pihak sana dan betapa Hong Lam siap berperang
dengan menteri itu mendadak Kiok Lan timbul keinginannya untuk membantu Hong
Lam, memusuhi menteri itu karena Hu-taijin adalah sahabat Bun Hwi. Sekarang apa
yang berbau Bun Hwi akan dimusuhinya, wajib dimusuhi dan karena itu Kiok Lan
lalu mempercepat larinya. Dalam perjalanan menuju ke utara ini dia semakin
mendekati barisan besar itu. Dan ketika malam itu dia menyelinap mudah ke tempat
pemuda ini dan kebetulan Hong Lam mondar-mandir di kamarnya tiba-tiba Kiok Lan
muncul dan kini diserang.
“Plak!” Kiok Lan menangkis, membentak dan dua-duanya tergetar. Hong Lam
terdorong sementara Kiok Lan juga terhuyuug. Dan ketika pemuda itu terkejut dan
mau memberi aba-aba pada pasukan tiba-tiba Kiok Lan memaki.
“Bocah she Hong, tungau. Kalau aku ingin memusuhimu tak mungkin aku
berani datang seorang diri ke tempatmu. Tahan!” dan sementara lawan tertegun dan
dapat mempercayai kata-katanya gadis itu menyambung, “Nah, sekarang dengarkan
kata-kataku. Aku datang memang untuk membantumu, aku benci menteri Hu Kang
itu. Kau perlu tenaga untuk menghadapinya, bukan?”
“Ya,” Hong Lam menyeringai. “Tapi bagaimana aku dapat percaya padamu,
nona? Bukankah kau murid. Thian-san Giok-li dan sahabat Bun Hwi?”
“Jangan sebut-sebut nama itu. Bun Hwi dan semua temannya adalah musuhku!”
“Ah,” Hong Lam terbelalak. “Apa yang terjadi?”
“Hm, begini caramu menyambut tamu? Aku tak mau bicara sambil berdiri,
Hong Lam. Kalau kau tak suka aku datang ke sini tentu saja aku segera pergi!”
“Ah-ah, nanti dulu,” Hong Lam terkejut melihat Kiok Lan mau memutar tubuh,
tertawa. “Tunggu dulu, nona. Jangan pergi. Aku siap mendengarkan kata-katamu dan
dapat percaya. Nah, mari duduk, silahkan pilih sendiri. Kau mau minum apa? Arak
atau kopi atau teh panas?”
“Aku tak mau minum. Aku datang bukan untuk mendapat jamuan.”
“Tapi kau minta aku menyambut.”
“Ya, itu sudah cukup, Hong Lam. Tapi tak perlu berlebihan karena aku belum
tahu apakah kau dapat menjadi sahabatku atau tidak! Kau duduklah, kita bicara dan
Kolektor E-Book

tak perlu memanggil teman-temanmu ke mari!”


“Hebat!” Hong Lam tertawa bergelak. “Kau bersikap seolah kaulah tuan rumah,
nona. Ha-ha, baru kali ini aku bertemu tamu begini aneh dan sinting. Baiklah, aku
duduk dan kita bicara!” Hong Lam menarik kursinya, duduk dan kagum dan berseri-
seri memandang gadis itu. Dulu bersama Mei Hong pernah dia tergila-gila kepada
gadis ini, kini gadis itu datang dan Hong Lam merasa mendapat suguhan
mengasyikkan. Wajah cantik itu tak bosannya dipandang. Dan ketika Hong Lam
melotot dan bernafsu memandang lawannya maka Kiok Lan menghardik.
“Matamu tahan sedikit. Jangan seperti orang rakus!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


67

“Ah,” Hong Lam terkejut, menyeringai lebar. “Kau cantik, nona. Kenapa aku
tak boleh memandang? Aku kagum dan terus terang suka padamu, aku ingin menjadi
sahabatmu, tentu saja!”
“Jangan pecingas-pecingis, Hong Lam. Aku tak suka. Kalau kau mau kurang
ajar jangan harap aku membantumu. Kita boleh menjadi sahabat, tapi lebih dari itu
jangan dulu!”
“Baiklah, aku mengerti, nona. Aku akan menahan diriku. Nah, katakan apa yang
mau kau bicarakan dan kenapa datang ke sini.”
“Aku mau membantumu....”
“Ya-ya, itu aku sudah tahu,” Hong Lam memotong. “Tapi ceritakan bagaimaria
kau mau memusuhi menteri Hu Kang, nona. Ini yang aku tidak mengerti dan merasa
aneh.”
“Aku benci menteri itu, dia sahabat Bun Hwi!”
“Hm, lalu?”
“Ya itu tadi, aku hendak memusuhi dan membunuh setiap yang dekat dengan
Bun Hwi!”
“Kenapa begitu? Bukankah kau sahabat Bun Hwi?”
“Bun Hwi pangeran sombong, Hong Lam. Dia.... dia tak mau kudekati setelah
mengetahui dirinya.”
“Maksudmu?”
“Dia hanya mau bergaul dengan orang-orang yang sederajat dengannya. Orang-
orang biasa macam aku tak diperdulikannya, padahal akulah yang dulu
menyelamatkan nyawanya dari tangan Bhong-loya!” Kiok Lan berbohong, tentu saja
tak mungkin bicara terus terang bahwa dia merasa gagal dengan Bun Hwi. Bahwa
Bun Hwi rupanya memberatkan Mei Hong daripada dirinya. Dan ketika dia
mengatakan itu dengan mata berapi-api dan Hong Lam mengangguk-angguk maka
pemuda ini menyeringai aneh dengan muka berseri-seri.
“Ah, begitukah? Tahulah aku, Bun Hwi memang sombong, nona. Sedari dulu
aku juga tak suka padanya. Tapi jangan khawatir, aku akan di pihakmu dan kelak kita
bekuk pangeran sombong itu. Aku percaya, kita sekarang sahabat dan....” pintu
Kolektor E-Book

dibuka, sesosok bayangan melompat masuk.


“Hong Lam, siapa dia?” Bhong Kiat berkelebat, melihat dua muda-mudi itu.
Dan begitu ia mengenal Kiok Lan tiba-tiba pemuda ini berseru kaget, “Eh, murid
Thian-san Giok-li, Kiok Lan....!” dan Bhong Kiat yang terkejut serta melompat
mundur tiba-tiba terbelalak dan kaget memandang gadis itu, lawannya sejak kecil!
Tapi Hong Lam yang tertawa dan bangkit berdiri buru-buru menyambar lengan
temannya itu, karena Bhong Kiat siap mencabut senjata.
“Bhong Kiat, tahan. Dia memang benar murid Thian-san Giok-li itu. Tapi dia
bukan musuh, dia sahabat. Ha-ha, tenang dan tekan debaran jantungmu, Bhong Kiat.
Nona Kiok datang dengan maksud baik-baik untuk membantu kita. Duduklah... !”
Hong Lam yang menarik temannya untuk duduk di sampingnya lalu menjura kepada

BATARA Dewi Kelabang Hitam


68

Kiok Lan. “Nona, maaf . Kedatanganmu yang tiba-tiba memang mengejutkan kami
semua. Bhong Kiat belum tahu, harap kalian tak bermusuhan dan mari kita lanjutkan
pembicaraan.” dan menekan jari Bhong Kiat sedikit kuat Hong Lam berbisik, “Bhong
Kiat, dia datang membenci Bun Hwi. Dan karena menteri Hu Kang adalah sahabat
Bun Hwi maka dia datang untuk membantu kita.”
“Hm....” Bhong Kiat mengusap keringatnya, masih ragu. “Kita tak boleh
percaya begitu saja, Hong Lam. Gadis ini berbahaya dan selamanya memusuhi kita!”
“Tenanglah, ia datang seorang diri, Bhong Kiat. Aku mempercayai kata-katanya
dan tak perlu khawatir....”
“Baiklah,” dan Bhong Kiat yang duduk dengan berdebar di samping Hong Lam
lalu memandang Kiok Lan dan diam-diam menekan kemarahannya teringat gurunya,
mendiang Ang-sai Mo-ong yang dibunuh gadis itu, ditekan dan sudah mengangguk
serta bersinar-sinar menghadapi tamu Hong Lam yang luar biasa ini. Kiok Lan datang
seorang diri, bukan main beraninya. Dan ketika Kiok Lan memandang Bhong Kiat
dengan senyum mengejek gadis itu menjengek.
“Bhong Kiat, tak usah khawatir. Betul kata-kata temanmu itu, aku datang
seorang diri.”
“Ha-ha, kau rupanya mendengar bisikan kami, nona. Sudahlah, tak perlu
mendongkol dan teruskan pembicaraan tadi.”
“Aku sudah bicara, aku ingin membantu kalian. Kalau kalian menerima tentu
saja aku menganggap kalian sebagai sahabat. Dan tentang sikapku sudah kusebutkan
tadi, aku hendak memusuhi dan membunuh orang-orang yang menjadi sahabat Bun
Hwi.”
“Kenapa?” Bhong Kiat bertanya.
“Sebab yang remeh, Bhong Kiat,” Hong Lam tertawa, mendahului. “Nona Kiok
ini disakiti hatinya karena Bun Hwi sekarang sombong. Dia tak mau bergaul seperti
dulu, Bun Hwi hanya mau bergaul dengan orang-orang yang sederajat karena dia
adalah pangeran. Itu alasannya.”
“Ah, begitukah?” Bhong Kiat ragu. “Seingatku Bun Hwi mau bergaul dengan
siapa saja, Hong Lam. Dulu di dusun Ki-leng saja teman-temannya adalah buruh-
buruh tani yang menjadi bawahan ayahku!”
“Ah, itu dulu, Bhong Kiat. Manusia selalu cenderung berobah, bukan? Sekarang
Kolektor E-Book

setelah bertemu sri baginda kaisar dan diaku pangeran maka Bun Hwi berobah. Dia
memang somboag, gadis ini disakiti hatinya dan memang wajar. Kita harus berpihak
padanya dan memusuhi pemuda itu.”
“Lalu?”
“Kita sahabat, biarkan nona Kiok menghadapi menteri Hu Kang dan besok kita
serbu barisan menteri itu!”
“Hm,” Kiok Lan tak sabar. “Aku pribadi ingin menggempurnya sekarang, Hong
Lam Bagaimana kalau malam-malam begini kita serang?”
“Ah, kau baru datang, nona. Kau perlu istirahat.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


69

“Aku tak butuh istirahat, aku ingin menyerang dan membunuh menteri itu!”
“Ha-ha!” Hong Lam saling pandarg dengan temannya. “Bagaimana
pendapatmu, Bhong Kiat? Sudah siapkah pasukan kita?”
Bhong Kiat tertegun. Tadi dia mendengar laporan pengawal akan
menyelinapnya bayangan tak dikenal ke tempat Hong Lam, betapapun gerak-gerik
Kiok Lan tak dapat lolos di bawah pengawalan ketat pasukan besar itu. Dia dikejar
tapi pengawal tak dapat mencegahnya, gadis ini memang bukan lawannya pengawal.
Dan ketika beberapa pengawal melaporkan pada Bhong Kiat dan pemuda itu mau
memberitahu Hong Lam ternyata bayangan yang dilihat pengawal itu adalah Kiok
Lan adanya dan gadis itu telah bercakap-cakap dengan Hong Lam, tertegun dan
terkejut mendengar pertanyaan itu. Sekilat pikiran tiba-tiba merasuk. Benar juga,
kalau pasukan mereka menyerbu di tengah malam dan maksud baik Kiok Lan dapat
diuji dalam serangan ini maka mereka tak perlu ragu dan dapat mempercayai gadis
itu, hilang kecurigaan dan gadis ini perlu dibuktikan iktikad baiknya. Betapapun dia
masih sangsi. Maka begitu Hong Lam bertanya dan isyarat mata pemuda itu memberi
tanda tiba-tiba Bhong Kiat tersenyum dan mengangguk, tertawa.
“Aku kira setuju saja, Hong Lam. Tapi bagaimana dengan pasukan sendiri?
Siapkah mereka?”
“Ah, kenapa bertanya?” Kiok Lan menukas. “Pasukan dapat diperintah, Hong
Lam. Kalau kau pimpinan di sini dapat saja kau membangunkan mereka dan
bertempur. Ini kesempatan baik, kukira tak perlu berpikir panjang!”
“Wah, betul, nona. Tapi di sana ada menteri Hu Kang!”
“Aku yang menghadapi, serahkan dia padaku!”
“Ha-ha, kau sanggup?”
“Srat!” Kiok Lan mencabut pedang, bangkit dengan gagah. “Aku tak takut setan
atau iblis, Hong Lam. Biar sepuluh menteri Hu Kang pun aku sanggup menghadapi!”
Hong Lam tertawa bergelak. Kegagahan dan keberanian gadis ini segera
memikat hatinya, Hong Lam memberi tanda dan cepat Bhong Kiat mengerti. Dan
ketika malam itu juga Sun-ciangkun dan lain-lain dipanggil maka tertegun dan
kagetlah panglima ini mendengar rencana Hong Lam. Bahwa mereka menyerbu
sekarang dan seorang pendekar wanita berada di pihak merka, Sun-ciangkun terkejut
karena segera dia mengenal Kiok Lan, meskipun tak langsung karena dulu ketika
Kolektor E-Book

Kiok Lan dan Mei Hong menghadapi Hong Beng Lama di istana cukup hanyak orang
melihat gadis ini. Sun-ciangkun tiba-tiba merasa gagal dengan utusannya, percuma
lagi A-him menghubungi menteri Hu Kang itu. Dan ketika malam itu juga pasukan
dibangunkan dan bergerak ke depan maka pada kentongan ketiga, tiga jam sebelum
matahari terbit di ufuk timur pasukan Hong Lam menyerbu, pasukan Yee-ciangkun
yang dibantu Hu-taijin.
Gegerlah pagi itu. Serangan mendadak yang dilakukan Hong Lam ini
mengejutkan lawan. Yee-ciangkun tersentak dan dibangunkan dari tidurnya.
Panglima ini bergegas dan sudah melihat pertempuran dan api di mana-mana. Lawan
bersorak dan menyerbu, lima ribu orang mengepung seribu pasukan yang dipimpan
panglima ini. Hiruk-pikuk suasananya, kacau keadaannya dan Hong Lam serta Bhong

BATARA Dewi Kelabang Hitam


70

Kiat mengobrak-abrik pasukan musuh di sebelah kiri dan kanan, mengapit dan
membakar semangat pasukannya untuk membabat siapa saja. Dan ketika dua pemuda
itu menerjang dan merobohkan lawan sambil tertawa-tawa maka di tengah, menyerbu
dengan gagah dan penuh keberanian muncullah seorang gadis yang membacok dan
menabas lawan dengan pedangnya yang sudah bermandi darah.
“Ayo serbu, bunuh mereka!”
Seruan ini mendapat sambutan ramai dari pasukan Hong Lam. Itulah Kiok Lan
yang mengamuk tanpa ampun lagi, menerjang dan merobohkan lawan yang
dijumpainya. Tentu saja tak ada yang dapat melawan dan pasukan yang diserbu
kalang-kabut. Untuk pertama kalinya Kiok Lan berperang melampiaskan dendam,
seluruh sakit hati dan kekecewaannya ditumpahkan di sini. Dan ketika dia mengamuk
dan terus maju membuka jalan darah tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan
berhenti di depannya.
“Hm, kaukah, nona?” bayangan itu terkejut, menghadang dan pasukan Yee-
ciangkun tiba-tiba bersorak. Seorang laki-laki gagah dengan kumis tipis namun
berwibawa telah berdiri di depan Kiok Lan, menangkis dan membuat pedang gadis
itu terpental ketika menyapu sepuluh pasukan lawan yang ada di depan. Kiok Lan
terkejut dan segera memandang. Dan ketika di tengah-tengah sorakan musuh dan api
yang membakar sana-sini maka Kiok Lan mengenal siapa lawannya itu.
“Hu-taijin...!”
“Ya, aku. Bagaimana kau membantu pemberontak, nona? Mana putera Hong
Beng Lama yang mengacau itu?” Hu Kang menteri yang gagah ini mengerutkan
kening. Dia sungguh tidak mengira bahwa Kiok Lan tiba-tiba ada di situ, menyerang
dan membantu musuh karena kedatangan gadis ini belum didengar beritanya. Hu-
taijin memang tak tahu karena Kiok Lan memang baru tiba, membantu dan
menyerang dan justetu dialah yang menyarankan serangan mendadik itu. Dua
pasukan di sekitar dua orang ini berhenti dan masing-masing menonton. Hu-taijin
merah mukanya dan marah. Tentu saja menteri ini marah karena tanpa sebab yang
jelas tahu-tahu Kiok Lan menyerbu di situ, membunuh-bunuhi pasukannya dan kini
tegak menantang didepannya. Dan ketika itu menteri itu menegur dan Kiok Lan
terkejut tiba-tiba gadis ini sudah menerjang dan tidak banyak bicara lagi.
“Menteri Hu Kang, tak perlu kita bicara. Ayo sambut dan terimalah
pedangku........ sing!” Kiok Lan menusuk, tubuh melompat dan pedang pun menuju
tenggorokan menteri itu. Dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa gadis ini
Kolektor E-Book

melakukan jurus yang disebut Bintang Meluncur Menubruk Bumi, serangannya kuat
dan cepat. Tapi lawan yang tentu saja naik darah dan tidak dijawab tiba-tiba
menampar.
“Plak!”
Kiok Lan melengking. Untuk kedua kalinya dia tertolak, pedang terpental tapi ia
sudah menyerbu lagi. Cepat dan kuat ia melakukan tusukkan dan tikaman, pedang
berkelebat menyilaukan mata menyambar menteri Hu Kang, dikelit dan sudah
mengejar lagi dengan bacokan dan babatan. Dan ketika menteri itu harus berlompatan
dan serangan demi serangan dikelit atau ditangkis maka Kiok Lan tiba-tiba berseru
keras menggerakkan tangan kirinya dengan kepretan-kepretan dua jurus sakti Sing
dan Sien.
BATARA Dewi Kelabang Hitam
71

“Aih, ini peninggalan Cupu Naga. Hebat! Ganas.......!” Hu-taijin terkejut, segera
membentak dan melihat perobahan serangan-serangan itu. Tentu saja dia mengenal
ini karena Hu Kang atau Hu-taijin ini adalah sute dari mendiang Pek-mauw Sinjin,
cepat berkelebat dan menghindari serangan-serangan berbahaya itu, jari Kiok Lan
mencicit dan sinar-sinar putih menyambar bagai pisau-pisau panjang yang
menghujani tubuh lawannya itu. Hu-taijin menangkis tapi lengannya tergetar, lawan
terdorong tapi sudah menyerang lagi, cepat dan bertubi-tubi hingga menteri ini
Kolektor E-Book

kewalahan. Dan ketika pedang di tangan Kiok Lan juga bergerak menyerang dan
mengelilingi tubuh lawannya ini maka Hu-taijin tak dapat mengelak saja dan harus
membalas, berseru keras dan meloncat tinggi menghindar semua serangan-serangan
di bawah. Menteri ini terbelalak melihat jurus-jurus Sing dan Sien itu, dia sudah
pucat membayangkan Kiok Lan mengeluarkan jurus-jurus berikut, warisan ilmu sakti
dari peninggalan Cupu Naga. Tapi melihat gadis itu hanya mengeluarkan jurus-jurus
itu saja dan mengulang serta meneruskan serangannya dengan delapan belas gerakan
dalam setiap jurusnya tiba-tiba menteri ini lega dan meluncur turun dengan kibasan
lengan di kiri kanan tubuhnya.
“Plak-dess!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


72

Kali ini Kiok Lan terguncang. Tamparan atau kibasan lengan dari menteri Hu
Kang itu membuat dia mengeluh, secara cerdik dan lihai menteri ini menangkis
serangannya dari atas, tidak secara langsung, jadi menindih dan menekan
pukulannya. Dan ketika Kiok Lan terhuyung dan marah menyerang lagi maka Hu-
taijin mulai hapal dan tertegun menegurnya.
“Nona, kau seperti siluman kesetanan. Mana Bun Hwi dan kenapa membantu
pemberontak? Siapa yang mempengaruhimu?”
“Keparat, tak usah bertanya-tanya, Hu-taijin. Bun Hwi tak ada di dekatku dan
aku tak peduli padanya.”
“Tapi kau sahabatnya, kau...... wut-plak!” Hu-taijin menghentikan kata-katanya,
menangkis dan melempar kepala ke belakang ketika Kiok Lan mencicit menusuk
lehernya, hampir dia terlambat dan menteri ini marah. Dia bersabar dan coba
mengorek keterangan tapi gadis itu malah mengganas. Dan ketika Kiok Lan memekik
dan kembali menusuk serta dibantu cicitan jari-jari saktinya maka menteri ini tak
dapat bercakap-cakap lagi dan harus waspada, menghindar dan membalas dan segera
dua pasukan yang bertempur menghentikan serangannya, menonton dan berkumpul
dan tak lama kemudian Kiok Lan menambah kecepatannya. Dengan penasaran dan
gusar ia menyerang bertubi-tubi tubuh menteri itu. Dan ketika Kiok Lan melengking
dan mengerahkan ginkang berkelebat lenyap menusuk dan menampar maka lawan
pun tiba-tiba berseru keras dan lenyap pula mengimbangi kecepatannya.
“Plak-plakk!”
Kiok Lan dan Hu-taijin sudah saling serang dan tangkis. Tubuh keduanya sudah
hilang dalam bentuk bayangan, masing-masing membentak dan melepas pukulan atau
tendangan, juga ketukan. Hu-taijin kini mengeluarkan ilmunya yang berhawa dingin,
Soat-kong-jiu (Pukulan Sinar Salju). Tepat dan cepat dia menangkis jari-jari mencicit
yang dipunyai Kiok Lan, jari-jari yang mengeluarkan hawa panas dan kini mulai
bertemu dengan pukulan-pukulan dingin yang dipunyai menteri ini. Dan ketika Hu
Kang mengerahkan tenaganya dan sedikit tetapi pasti ia dapat mendesak atau
menekan jari-jari panas yang dimiliki Kiok Lan maka beberapa jurus kemudian Kiok
Lan menggigit bibir dan nyaris memaki-maki menteri itu yang selalu mementalkan
serangannya, bahkan pedangnya mulai bengkok dan patah bertemu tubuh Hu-taijin
yang kebal, atos dan kuat karena menteri ini mengerahkan sinkangnya menolak
tusukan atau bacokan senjata tajam itu. Kiok Lan mendesis karena Hu-taijin
membuat dia terdorong. Dalam beberapa kali adu sinkang ternyata dia kalah kuat.
Menteri itu betul-betul lihai dan dia masih kalah beberapa tingkat dibanding
Kolektor E-Book

lawannya ini. Kiok Lan berteriak dan kembali menyerang. Tapi ketika pedangnya
malah patah lagi dan satu pukulan dari menteri itu mengenai pundaknya dan Kiok
Lan terpelanting maka gadis ini menjerit dan menjadi kalap.
“Hu-taijin kubunuh kau. Atau kau boleh membunuhku....!” dan Kiok Lan yang
kini menyerang mengandalkan dua jurus saktinya lalu menggerak-gerakkan jari dan
mengepret atau menusuk tapi lawan menangkis secara cerdik, kembali Kiok Lan
terhuyung sementara lawan kian kuat menekan. Menteri Hu Kang siap merobohkan
gadis ini dalam beberapa menit lagi, tinggal menanti kesempatan dan berhati-hati
terhadap jari-jari lawan yang mencicit-cicit dalam jurus-jurus sakti itu. Betapapun
dua jurus sakti ini memang hebat dan Hu-taijin berkali-kali keserempet. Tapi karena
dia mampu menjaga dirinya dengan baik dan kini Kiok Lan terpelanting atau

BATARA Dewi Kelabang Hitam


73

terhuyung setiap bertemu sinkang dengannya maka dua jurus sakti itu tak banyak
berguna lagi menghadapi menteri yang kosen ini, lain halnya kalau Kiok Lan
memiliki sinkang setingkat dengan menteri itu, atau dia memiliki jurus-jurus lain
selain Sing dan Sien. Kiok Lan lemah dalam hal ini dan menteri Hu Kang tahu itu.
Dan ketika Kiok Lan selalu terhuyung dan setiap pukulannya juga selalu meleset
dikelit menteri itu maka satu dorongan kembali mengenai pundak kanan Kiok Lan.
“Dess!”
Kiok Lan terpelanting bergulingan. Untuk kesekian kalinya dia merjerit memaki
lawan, Hu-taijin berkelebat dan siap menotoknya. Kiok Lan menjauh dan melompat
bangun. Dan ketika ia menyerang lagi namun gagal dan lawan malah menampar
dengan pukulan jarak jauh tiba-tiba Kiok Lan mengeluh ketika ia harus terguling-
guling lagi, jatuh dan menteri Hu Kang berkelebat. Sekaranglah saatnya menteri itu
akan melumpuhkan Kiok Lan. Tapi persis menteri itu membentak mengayun
lengannya sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat dan Hong Lam muncul.
“Hu-taijin, mampuslah!”
Pasukan menjadi ribut. Hong Lam tadi mendorong pasukan lawan, mereka
tersibak dan jatuh tunggang-langgang. Beberapa di antaranya bahkan terlempar untuk
akhirnya terbanting remuk. Pemuda ini membentak pasukannya agar menyerang
pasukan lawan, meloncat dan menubruk menteri Hu yang akan merobohkan Kiok
Lan. Dan begitu dia membentak menerjang menteri itu maka Hu-taijin terkejut dan
cepat membalik, menangkis serangan ini meninggalkan Kiok Lan.
“Bless!”
Hong Lam mencelat tiga tombak. Soat-kong-jiu yang dilepas menteri itu dahsyat
sekali. Hu-taijin mengerahkan sinkangnya karena tahu lawan yang kuat membokong.
Pukulan dingin itu membuat Hong Lam menjerit dan langsung beku, tubuh dan
pakaiannya tak ada yang lemas. Tapi begitu Hong Lam menggereng dan menggoyang
tubuhnya seperti anjing kena air tiba-tiba pukulan dingin yang membuat tubuhnya
beku itu mencair dan dia pun dapat bergerak kembali, memekik dan menerjang lagi
dan Kiok Lan di sana juga melompat bangun. Gadis ini menampar seorang pengawal
dan merampas tombaknya, Hong Lam berteriak agar dia, membantu. Dan ketika
Hong Lam menyerang tapi Hu-taijin lagi-lagi menangkis maka Kiok Lan melejit dan
menusuk ulu hati menteri itu dengan tombak rampasan.
“Krekk...!” tombak patah, Kiok Lan terkejut dan Hu-taijin membalik. Satu
Kolektor E-Book

tendangan membuat Kiok Lan terpelanting, roboh bergulingan dan berteriak kaget.
Tapi Hong Lam yang sudah menyerang dan tidak membiarkan menteri itu mengejar
Kiok Lan cepat membentak dan melepas pukulan pendek, siku menyodok dan Hu-
taijin terdorong. Dalam gebrak-gebrak cepat itu Hu-taijin ternyata berhas didekati,
disodok tapi menteri itu tidak apa-apa. Hong Lam malah merasa sikunya nyeri, dia
tadi serasa menyodok baja. Dan ketika menteri itu terbelalak dan marah
memandangnya maka Kiok Lan sudah mencabut jarum emasnya dan menerjang
memaki menteri itu, disusul Hong Lam yang berkelebat melepas pukulan kedua.
Hampir berbareng mereka menyerang Hu-taijin dari kiri kanan. Tapi Hu-taijin yang
marah mengembangkan lengan ke samping kiri dan kanan tiba-tiba menangkis dan
menolak keduanya.
“Plak-dess!”
BATARA Dewi Kelabang Hitam
74

Dua-duanya terpental. Kiok Lan dan Hong Lam menjadi marah, pasukan yang
menonton sudah saling serang lagi dan keadaan merjadi kacau. Kiok Lan yang
terlempar di daerah musuh mendapat tusukan dan bacokan golok, menangkis dan
merampas golok itu. Lalu begitu ia melompat bangun dan menggerakkan senjatanya
maka si pemilik golok berteriak ngeri dan terjungkal mandi darah, ditinggalkan dan
Kiok Lan sudah menerjang menteri itu, mengeroyok. Ganti berganti mereka
menyerang dari kiri atau kanan, atau muka dan belakang. Dan Hu-taijin yang geram
membentak gusar lalu melayani keduanya dan cepat serta kuat menteri itu menolak
serangan-serangan mereka. Golok dan jarum di tangan Kiok Lan hampir menghadapi
menteri yang kebal itu, tak lama kemudian golok di tangan Kiok Lan malah patah,
tinggal jarum emasnya yang diwarisi dari mendiang subonya itu. Kiok Lan berhati-
hati dan selalu menyelamatkan senjatanya bila bertemu langsung dengan pukulan
lawan, mengelak dan menyerang lagi dan menteri ini semakin marah. Hong Lam di
sebelahnya juga melakukan pukulan-pukulan sinkang. Dan ketika dua anak muda itu
berkelebatan menyambar-nyambar dan menteri Hu melengking tinggi tiba-tiba
menteri itu melepas pukulan lain dengan tangan kirinya, mendorong dan mengebut
sementara pukulan Soat-kong-jiu di tangan kanan tetap berjalan, menangkis dan
menolak serangan lawan dengan sinkang terus ditambah. Hawa dingin membuat Kiok
Lan kini menggigil, jari-jari menteri itu berkerotok seperti es menggempur semua
pukulan-pukulannya, juga pukulan-pukulan Hong Lam. Dan ketika tangan kiri
menteri itu bergerak dan sebuah pukulan lain menyambar mereka mendadak Kiok
Lan terkejut ketika hawa panas dan dingin berganti-ganti menyerang dari tangan
menteri itu.
“Pek-in-ciang (Pukulan Mega)....!” Hong Lam berseru kaget. Kiok Lan
terbelalak karena dari tangan kiri menteri itu kini mengebul kumpalan tenaga mirip
mega, tebal dan mendorong mereka hingga sesak napas. Kiok Lan tersentak karena
sekarang dia diserang gumpalan pukulan aneh itu sekaligus hawa dingin yang
meluncur dari tangan lawan yang lain, Soat-kong-jiu. Kiranya menteri Hu Kang
mengeluarkan dua ilmunya sekaligus, Pek-in-ciang dan Soat-kong-jiu. Dan ketika
Kiok Lan lambat berkelit karena tubuh menjadi kaku diserang hawa dingin maka
pukulan mega itu menyambar mukanya dan Hong Lam berseru kaget.
“Awas.... !”
Kiok Lan terbelalak. Ia tak dapat mengelak, sudah tak keburu. Maka melempar
kepala ke belakang gadis ini coba menghindar tapi tetap terlempar, mengeluh dan
terbanting di sana dan Kiok Lan tak dapat segera bangun. Tubuhnya seakan beku dan
kini menerima pukulan mega itu, kedinginan. Bagian leher ke bawah serasa di
Kolektor E-Book

rendam es tapi mukanya serasa dimasukkan bongkahan api. Kiok Lan merintih. Dan
sementara dia pucat tergeletak di tanah tiba-tiba seorang perajurit menusukkan
tombaknya ke dada gadis ini.
“Keparat!”
Bentakan itu disusul berkelebatnya bayangan seseorang. Kiok Lan terkejut
diserang musuh, tombak menyambar dan dia tak dapat mengelak. Saat itu tubuhnya
masih kaku dan ia sedang memulihkan jalan darahnya. Untunglah Bhong Kiat,
bayangan itu, datang menolong. Pemuda ini berkelebat dan langsung menangkis
tusukan tombak itu, tangan melayang dan tombak pun patah. Dan ketika Bhong Kiat
menendang dan perajurit itu menjerit maka perajurit ini terbanting dan tidak
bernyawa lagi ketika ambruk di tanah.
BATARA Dewi Kelabang Hitam
75

“Terima kasih........!” Kiok Lan dapat melompat bangun, berkeringat


memandang Bhong Kiat tapi Bhong Kiat sudah membantu Hong Lam. Ditinggal
Kiok Lan putera Hong Beng Lama ini menjadi terdesak hebat, Soat-kong-jiu dan
Pek-in-ciang yang dilancarkan berganti-ganti oleh Hu-taijin itu membuat pemuda ini
kewalahan. Dua kali dia terhantam tapi dua kali dia bangun lagi, pemuda ini mulai
membaca mantera dan Hu-taijin melihat uap kehitaman muncul di ubun-ubun
pemuda ini. Menteri Hu terkejut karena itutah ilmu iblis Merekat Tulang
Menyambung Nyawa, tulang yang retak bakal tersambung lagi dan nyawa yang putus
bisa dihidupkan kembali, ilmu setan yang hanya dimiliki satu-satunya oleh Hong
Beng Lama. Kini puteranya itu mempergunakan ilmu itu untuk menghadapinya. Dan
ketika pemuda itu tertawa aneh dan Hu-taijin membentak maka satu pukulan kuat
menghantam leher pemuda itu.
“Dess!”
Hong Lam terbanting mengeluh roboh. Kali ini Hu-taijin melakukan pukulan
berat, pemuda itu tak dapat bangun dan hidung serta mulutnya mengeluarkan darah.
Napas Hong Lam berhenti keluar masuk dan pemuda itu diam tak bergerak. Pukulan
tadi gampang diduka menewaskan Hong Lam, setidak-tidaknya melukai berat
pemuda itu. Tapi begitu uap hitam di atas kepala pemuda ini berputar-putar dan
masuk kembali ke dalam kepala mendadak Hong Lam bergerak dan.... hidup lagi.
“Keparat!” menteri Hu Kang gusar. “Kau anak iblis, bocah she Hong. Aku akan
mencari kelemahanmu dan membuatmu tak dapat hidup lagi!” dan menteri ini yang
marah serta menyerang lagi lalu menotok dan menghentikan jalan darah Hong Lam
di dada kiri, Hong Lam roboh lagi namun bangkit lagi, tak lama kemudian. Totokan
atau serangan itu tadi ternyata tak dapat membuat pemuda ini tewas, Hong Lam telah
dilindungi ilmunya yang aneh itu. Dan ketika Hu-taijin semakin marah dan
mengganti-ganti sasarannya ke tubuh Hong Lam yang lain untuk mencari kelemahan
pemuda ini maka Bhong Kiat muncul dan menyerang menteri itu, disampok dan
Bhong Kiat terpental tapi maju lagi. Dua pemuda ini sekarang mengepung menteri itu
tapi Hu-taijin dapat mengatasi. Serangan-serangan Bhong Kiat semua di tolak,
bahkan tiga kali pemuda itu terbanting kesakitan dihantam balik pukulan menteri ini.
Bhong Kiat tidak seperti Hong Lam, murid mendiang Ang-sai Mo-ong ini harus lebih
berhati-hati dibanding temannya. Dan ketika dua pemuda itu mengeroyok dan Hu-
taijin naik darah akhirnya Kiok Lan datang lagi menerjang menteri itu, pertempuran
di luar tetap berjalan ramai sementara Hu Kang sibuk mencari kelemahan Hong Lam,
pemuda inilah yang dirasa paling sukar ditundukkan dan amat menjengkelkan. Tapi
ketika Hu-taijin menghadapi tiga muda-mudi itu dan berkali-kali dia mementalkan
Kolektor E-Book

serangan Kiok Lan atau Bhong Kiat mendadak sebuah angin bertiup dan seruan berat
terdengar menegur Hong Lam.
“Hong Lam, kau tak menuruti nasihat pinceng (aku)? Kau masih mau membuat
onar di sekitar sini? Omitohud, pinceng akan memberitahukan pada Hu-taijin pusat
kelemahanmu, Hong Lam. Kau hentikan seranganmu atau pinceng akan turun
tangan!” seorang kakek tiba-tiba muncul, berdiri dan sudah berada di belakang Hong
Lam dengan cara mengejutkan. Dia adalah seorang Lama tinggi kurus dengan jubah
kuning, Hong Lam kaget melihat kehadiran Lama ini. Dan ketika dia tertegun dan
dua temannya masih menyerang menteri Hu Kang maka seorang nikouw pun muncul
menegur Kiok Lan.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


76

“Aih, kau juga tersesat sedemikian jauh, Kiok Lan? Hentikan seranganmu dan
lihatlah pinni.... wut!” sebatang tongkat menahan jarum emas di tangan Kiok Lan.
Itulah Lian Ing Nikouw yang sudah memalangkan senjatanya. Jarum menancap dan
Kiok Lan pun berseru kaget, senjatanya tersedot di batang tongkat. Dan ketika dia
berteriak dan gentar melibat kedatangan nikouw ini mendadak sebuah tendangan Hu-
taijin mengenai pinggangnya, dia terlempar dan Kiok Lan terbanting. Dan ketika
Kiok Lan melompat bangun dan mau menyerang lagi mendadak bayangan Lian Ing
Nikouw berkelebat dan nikouw itu mengetuk pundaknya. Kiok Lan lemas dan tiba-
tiba roboh. Tanpa sadar Kiok Lan telah ditotok nikouw sakti itu, Lian Ing Nikouw
menegur dirinya dan meminta maaf pada Hu-taijin, yang saat itu kembali melepas
satu tendangan keras ke tubuh Bhong Kiat, pemuda ini terpelanting dan terguling-
guling. Dan ketika Bhong Kiat terkejut karena dua temannya tiba-tiba berhenti
menyerang dan Kiok Lan disambar nikouw tak dikenal itu tiba-tiba nikouw ini telah
melesat dan membawa pergi gadis itu, disusul kemudian oleh gerakan Hong Lam
yang gentar melihat supeknya, Hong Sin Lama, muncul di situ. Itulah Lama sakti
yang menjadi suheng (kakak seperguruan) ayahnya sendiri. Hong Lam berkelebat dan
memaki supeknya itu, sang supek berkomat-kamit tapi tidak mengejar, tinggal Hu-
taijin yang tertegun melihat semuanya ini, berhenti dan melotot pada Bhong Kiat
yang terkesiap. Pemuda ini cepat meloncat dan menyelinap di balik ribuan pasukan
yang sedang bertempur. Hu-taijin membentak namun disambut beberapa senjata
rahasia yang ditangkis runtuh. Menteri Hu hendak menangkap Bhong Kiat namun
gagal, pemuda itu dengan cerdik dan licik telah menyelinap di balik ramainya
pertempuran, menghilang dan sebentar kemudian menteri ini membentak agar
pasukan berhenti berperang. Hong Lam dan Bhong Kiat telah kabur dari situ.
Kibasan dan dorongan menteri ini membuat lawan tak keruan. Dan ketika
pertempuran berhenti dan Hu-taijin kembali ke tempat semula ternyata Hong Sin
Lama yang tadi dilihatnya sudah tak ada lagi di situ, pagi pun tiba dan matahari
menerangi bumi dari sebelah timur. Sinarnya yang keemasan menyapu lembut sosok-
sosok tubuh yang bergelimpangan, itulah korban pertempuran beberapa jam ini, Hu-
taijin tertegun. Dan sementara menteri ini mengusap keringatnya dengan muka merah
maka Yee-ciangkun muncul diiringi Sun-ciangkun dan Tiauw-ciangkun serta Hien-
ciangkun.
“Maaf,” Yee-ciangkun memberi hormat. “Inilah rekan-rekan yang
memberontak, taijin. Mereka menyerah dan ingin menghadap dirimu.”
“Ampun....!” Sun-ciangkun sudah menjatuhkan diri berlutut. “Kami berulang-
ulang ingin menemuimu, taijin. Tak berhasil dan berkali-kali gagal karena kami tak
berdaya di bawah ancaman Hong-kongcu itu. Semalam kami mengirim utusan,
Kolektor E-Book

apakah taijin menemuinya dan membaca surat kami? Kami datang untuk
menyerahkan diri, kalau kami dianggap berdosa kami siap menerima hukuman mati!”
“Hm,” tiga panglima itu tegang. “Aku telah menerima utusanmu, Sun-ciangkun.
A-him si tukang rumput, bukan? Aku telah membaca surat kalian, dan dapat
mengerti. Tapi aku tak mengerti bagaimana kalian menyerang pagi-pagi buta dan
datang bersama gadis siluman itu!”
“Maaf,” Tiauw-ciangkun kini maju bicara, “Kami sebenarnya juga tak mengerti
bagaimana semuanya itu terjadi, taijin. Tapi tengah malam tadi gadis itu datang dan
meminta Hong-kongcu melakukan serangan mendadak.”
“Tengah malam tadi?”
BATARA Dewi Kelabang Hitam
77

“Ya, tengah malam tadi, taijin. Di saat baru dua jam kami mengirim utusan
kepadamu!”
“Jadi gadis itu baru berkumpul dengan pemuda-pemuda keparat itu?”
“Begitulah menurut yang kami ketahui, dan kami sendiri juga terkejut melihat
kedatangannya yang tiba-tiba.”
“Hm,” menteri ini mengangguk-angguk. “Aku akan menyelidiki ini lebih lanjut,
Tiauw-ciangkun. Tapi kalian harus menghadap sri baginda. Betapa pun kalian harus
mempertanggungjawabkan ini di istana, kalian harus melapor sendiri kepada sri
baginda.”
Tiauw-ciangkun dan dua temannya girang. Perintah ini sama dengan ampunan
dari menteri itu. Mereka lega dan gembira karena A-him keburu menyampaikan surat
mereka kepada menteri ini, kalau tidak mungkin mereka tak akan dipercaya dan
dihukum. Kedudukan mereka yang sulit membuat tiga panglima itu bingung. Tapi
begitu Hu-taijin memerintahkan mereka ke istana dan tidak memberi hukuman di situ
maka Tiauw-ciangkun dan dua temannya menjadi girang karena ini pertanda baik
bagi mereka, mereka tak dikenakan hukuman kecuali sanksi administratip tentunya,
itu mereka maklum. Dan ketika pagi itu tiga panglima ini mengatur pasukannya dan
bersama Yee-ciangkun mereka mengurus yang luka atau tewas ternyata lima ratus
pasukan Tibet yang di bawa Hong Lam kabur, sudah menyelamatkan diri dan mereka
cepat menghilang begitu mendengar pemuda itu lari. Hong Sin Lama muncul dan
tentu saja tak ada pasukan Tibet yang tidak mengenal kesaktian Lama itu. Dan ketika
semua dicacah dan ternyata enam ratus lebih yang luka-luka dan tewas, maka hari itu
Hu-taijin menyuruh Yee-ciangkun mengawasi pasukannya.
“Biar semua pasukan di sini dulu. Aku akan mencari jejak dua pemuda itu.
Kalau mereka tak kelihatan di sekitar sini dan keadaan aman aku akan kembali dan
membawa kalian ke tempat Sun-ciangkun yang kosong.”
“Baiklah,” Yee-ciangkun menjawab, mengangguk dan Hu-taijin sudah
meninggalkan pasukannya. Dengan ilmunya yang luar biasa menteri ini mencari jejak
Hong Lam dan Bhong Kiat, siapa tahu pemuda-pemuda itu masih ada di sekitar situ,
beberapa hari dia berkeliling tapi pemuda-pemuda yang dicari tak ada. Dan ketika dia
kembali dan merasa aman dan memerintahkan sisa pasukannya ke barat dan
menduduki pos-pos semula di tapal batas maka hari itu menteri ini meninggalkan
pembantunya kembali ke kota raja. Sun-ciangkun dan dua rekannya sudah
mendahului dan Hu-taijin memerintahkan penjagaan beranting, artinya kalau ada
Kolektor E-Book

kejadian seperti itu lagi diharap Yee-ciangkun melapor ke tapal batas sebelahnya, dan
panglima di tapal batas sebelah akan melapor pada yang sebelahnya lagi, begitu
sampai ke kota raja, tak perlu langsung pada menteri ini karena halangan mungkin
lebih besar, Hong Lam atau pengacau yang lain dapat mencegat di tengah jalan,
seperti apa yang telah dialami Sun-ciangkun itu. Dan ketika hari itu menteri ini dapat
memadamkan pemberontakan dan kembali ke kota raja maka untuk beberapa waktu
wilayah sebelah barat ini menjadi aman dan tapal batas tak mendapat gangguan.

*
* *

BATARA Dewi Kelabang Hitam


78

“Mana Mei Hong?”


Begitu Bun Hwi bertanya pada seorang anggauta Hwa-i Kai-pang. Hari itu dia
telah memutuskan menemui gadis ini. Maksudnya kepada Kiok Lan gagal dan Bun
Hwi merasa nasihat Lian Ing Nikouw baik, sekarang pergi ke tempat Mei Hong
namun tak menemukan gadis itu. Bun Hwi penasaran dan berkeliling. Tapi ketika
seluruh tempat dirasa gagal dan heran tak menemukan gadis itu maka Bun Hwi
bertanya pada seorang anggauta Hwa-i Kai-pang yang tentu saja terkejut melihat
kedatangan Bun Hwi yang tiba-tiba, berkelebat dan tahu-tahu berada di depannya
seperti iblis.
“Ah, siapa kongcu?” pengemis itu malah bertanya, tak mengenal Bun Hwi
karena memang jarang pemuda itu bergaul dengan orang-orang Hwa-i Kai-pang. Bun
Hwi terlalu akrab dengan Mei Hong dan tidak memperdulikan para anggauta.
Pemuda biasanya memang begitu, kalau sudah ketemu pemudi yang lain-lain tak
dihiraukan. Dan ketika Bun Hwi menjadi tak sabar dan balas ditanya pemuda ini
menjadi gemas.
“Aku Bun Hwi, sahabat pangcumu (ketua) itu.”
“Oh, Bun-ongya (pangeran Bun)?” pengemis itu terkejut. “Ah, pangcu tak ada,
ongya. Pergi!” pengemis itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, pucat dan kaget
karena seorang pangeran datang kepadanya. Tapi Bun Hwi yang terkejut mendengar
jawaban itu tiba-tiba menarik bangun pengemis ini.
“Apa, pergi? Pergi ke mana?”
“Hamba tak tahu, ongya. Pangcu tidak memberi tahu....?
“Kalau begitu siapa yang tahu? Siapa wakil ketua?”

JILID IV

“CIE-TWAKO (kakak Cie), ongya. Barangkali dia dapat....”


“Hm, siapa ini, Bian-kai (pengemis Bian)?” sesosok bayangan tiba-tiba
berkelebat, seorang pengemis datang menegur. “Ada apa mencari wakil ketua?”
“Ah, Cie-twako! Ini, twako, Bun ongya datang. Mau mencari pangcu...!” dan
Bian-kai yang cepat melepaskan diri dari Bun Hwi dan menghadapi pengemis
Kolektor E-Book

temannya sudah buru-buru memberi penjelasan, “Twako, Bun-ongya mencari


pangcu. Aku tak tahu dan kebetulan kau datang. Silahkan bicara!”
Pengemis itu, seorang pengemis berusia empatpuluhan memandang Bun Hwi.
”Kongcu siapa?”
“Dia pangeran Bun...!” Bian-kai menjawab. “Katanya dia sahabat pangcu, Cie-
twako. Aku tak tahu tapi kau barangkali sudah mengenalnya!”
“Hm...!” pengemis ini bersinar-sinar, juga tak mengenal Bun Hwi. “Kau Bun-
ongya yang pernah disebut-sebut pangcu? Apa buktinya?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


79

Bun Hwi tak sabar. “Aku memang Bun Hwi, Cie-kat. Kau boleh percaya boleh
tidak. Aku tak mengerti bukti apa yang kau maksud.”
“Kau dapat menunjukkan apa saja yang kira-kira dapat membuat aku percaya.”
“Misalnya?”
“Ini!” pengemis itu tiba-tiba menyerang. “Kau terimalah tongkatku, kongcu.
Coba kulihat kekebalanmu yang pernah kudengar!”
Bun Hwi terkejut. Dia mau mengelak tapi tak jadi, kata-kata itu membuat dia
tertegun dan menerima pukulan tongkat. Dan ketika tongkat mental bertemu
tubuhnya dan dia tidak apa-apa mendadak pengemis itu berseru lagi menghantam dua
tiga kali, membal dan Bun Hwi tetap tak apa-apa. Pemuda ini memang kebal,
kekebalan alamiah dari darah Cheng-kak-coa (Ular Tanduk Hijau) yang pernah
diminum. Cie-kai si pengemis bertongkat membelalakkan mata dan kagum. Tapi
ketika dia berseru lagi dan menghantam tongkat sekuatnya tiba-tiba Bun Hwi
kepalanya dan tongkat menyambar mengejutkan Bun Hwi.
“Krakk!” tongkat kini patah, Bun Hwi mau mengelak tapi lagi-lagi tak jadi
karena teringat omongan pengemis itu. Dia sebenarnya marah dan mau menghajar
pengemis ini. Tapi ketika Cie-kai berseru kaget dan percaya melihat tongkatnya patah
mendadak pengemis ini menjatuhkan diri berlutut dan girang.
“Kongcu, kau kiranya betul-betul pangeran Bun. Maafkan aku. Sekarang aku
percaya dan inilah surat dari pangcu!” Cie-kai mengeluarkan sepucuk surat,
menyerahkannya kepada Bun Hwi dan Bun Hwi menerima. Kemarahannya lenyap
begitu mendengar ini. Dan begitu dia membuka dan membaca surat ini ternyata Mei
Hong memberi tahu padanya agar tak usah dulu mencarinya selama enam sampai
duabelas bulan.
“Aku ingin melihat sesuatu. Kau pergilah sesukamu dan jangan cari aku.
Tentukan pilihanmu dan semoga kau cocok dengan Kiok Lan.”
Begitu isi surat itu, Bun Hwi tertegun dan mengerutkan kening. Dia tak tahu apa
yang maksud “sesuatu” itu oleh Mei Hong. Tapi melihat gadis itu menyuruhnya
menunggu enam sampai duabelas bulan tiba-tiba Bun Hwi kecewa.
“Ah ke mana dia?” Bun Hwi melipat surat, memandang si pengemis. “Apakah
kau tahu?”
“Maaf, aku tak tahu, ongya. Tapi pangcu berpesan agar kau tak mencarinya.”
Kolektor E-Book

“Ya, dikatakannya dalam surat ini. Tapi...... hm, baiklah. Percuma kalian
kutanya, tentu tak tahu juga. Baiklah, aku pergi.....!” dan Bun Hwi yang berkelebat
kecewa meninggalkan pengemis itu lalu keluar dari wilayah Hwa-i Kai-pang dan
termenung serta bingung dalam perjalanan. Tak mengerti apa yang mau dilakukan
Mei Hong dan kenapa cepat benar gadis itu meninggalkan perkumpulannya. Bun Hwi
ke timur dan akhirnya ke utara. Dan ketika dia membelok dan tiba di persimpangan
jalan mendadak Hu-taijin muncul dan dia bertemu dengan menteri itu, yang baru
pulang dari perbatasan dan akan ke kota raja.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


80

“Ah, kau, paman Hu? Bagaimana kabar?” Bun Hwi terkejut, girang tapi
menghampiri dan menteri itu sudah berkelebat pula di depannya. Dan ketika Hu-
taijin tersenyum dan menepuk-nepuk pundaknya maka menteri ini berkata.
“Aku berhasil, pangeran. Tapi sesuatu yang tak terduga terjadi!”
“Apa itu? Kau berhasil memadamkan pemberontakan?”
“Ya, dan sahabatmu itu ada di sana, pangeran. Kiok Lan!”
“Hm, ada apa dengan dia?” Bun Hwi berdebar, memandang tak enak. “Apakah
maksudmu dia ikut memberontak?”
“Aku tak jelas. Tapi dia membantu pemberontak. Aku heran bahwa dia bergaul
dengan Hong-kongcu dan murid mendiang Ang-sai Mo-ong itu!”
“Hong-kongcu? Maksudmu Hong Lam?”
“Ya, dia itu, pangeran, putera Hong Beng Lama yang sakti. Pemuda ini menjadi
dalangnya dan dialah yang menyuruh Sun-ciangkun dan beberapa panglima lain
memberontak.” Hu-taijin lalu menceritakan peristiwa itu, mulai dari awal sampai
akhir dan Bun Hwi terbelalak. Dia teringat putera Hong Beng Lama yang lihai itu,
yang dapat hidup setelah mati, yang memiliki ilmu hitam Merekat Tulang
Menyambung Nyawa. Dan ketika Hu-taijin menceritakan Kiok Lan pula yang
menyerang di pagi buta maka Bun Hwi tertegun bertanya.
“Lalu bagaimana? Di mana dia?”
“Seorang nikouw merobohkannya, pangeran. Aku tak kenal tapi nikouw itu
membawanya.”
“Nikouw setengah baya?”
“Aku kurang jelas, tapi rupanya begitu.”
“Hm, tentu Lian Ing Nikouw. Benar, tentu nikouw itu!” dan Bun Hwi yang
termangu dengan mulut getir lalu memandang menteri ini. “Paman sekarang mau ke
mana? Apakah ada urusan lain?”
“Tidak, aku mau ke kota raja, pangeran, menghadap ayahmu sri baginda.”
“Melaporkan semuanya itu?”
“Ya, dan kau, mau ke mana, pangeran?”
Kolektor E-Book

“Aku mencari Mei Hong, tetapi gagal.”


“Bukankah dia di Hwa-i Kai-pang?”
“Aku telah ke sana, paman, tapi gadis itu tak ada. Katanya pergi, entah ke
mana.”
“Hm, omong-omong aku jadi teringat Cupu Naga,” menteri itu mendadak
mengalihkan percakapan. “Kau telah ke Bukit Pedang pangeran?”
“Untuk apa?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


81

“Eh, bukankah kau belum mempelajari seluruh warisan Pak In Sian-su?


Pangeran, sekarang dua pemuda jahat itu muncul kembali. Aku telah mencari jejak
mereka tetapi gagal. Aku yakin Hong-kongcu dan Bhong Kiat itu akan membuat
kembali keributan, bagaimana kalau kau memperdalam ilmumu dulu dan melupakan
urusan gadis itu?”
Bun Hwi mengerutkan kening. “Aku enggan.....”
“Ah, kau lihat Hong-kongcu telah mengacau perbatasan , pangeran. Kau adalah
putera sri baginda, kau harus ikut memikirkan keselamatan rakyatmu. Kepandaian
putera Hong Beng Lama itu hebat sekali, ilmunya Merekat Tulang Menyambung
Nyawa hanya Hong Sin Lama saja yang tahu kelemahannya. Bagaimana kalau kau
mempelajari warisan di Bukit Pedang itu dan memperdalam kepandaianmu?”
“Aku mau mencari Mei Hong....”
“Tapi gadls itu pergi!”
“Ya, dan ini yang tak kusenangi, paman. Aku penasaran dan ingin mencari!”
“Bagaimana kalau kau serahkan kepadaku?”
“Paman mau mencarinya?”
“Demi kau, pangeran. Semua pembantuku dapat kukerahkan kalau kau minta.”
“Hm,...” Bun Hwi ragu. “Tapi gadis itu tak mau menemuiku selama enam
sampai duabelas bulan....”
“Kenapa?”
“Entahlah, lihat ini.” Bun Hwi mengeluarkan surat yang diterimanya dari Mei
Hong. “Kau baca sendiri, paman. Dan aku penasaran.”
“Hm....!” menteri itu membelalakkan mata, mengangguk-angguk. “Memang
aneh, pangeran. Tapi ini merupakan kesempatan bagimu. Justeru kau harus ke Bukit
Pedang dan mencari peninggalan kakek dewa Pek In Sian-su itu!”
“Aku malas...”
“Tidak, jangan begitu, pangeran. Kau harus ke sana dan ingatlah akan ancaman
putera Hong Beng Lama itu pada negara!”
“Tapi kau ada di sini.”
Kolektor E-Book

“Ah, mana mungkin seorang diri aku menghadapinya? Pemuda itu licik,
pangeran. Dan dapat mengumpulkan orang-orang lain dan mengacau. Dan aku
seorang jelas kewalahan kalau pemuda itu membuat ribut. Belum lagi kalau ayahnya
yang sakti muncul. Tidak, aku butuh bantuanmu, pangeran. Betapapun negara
membutuhkan orang-orang lihai untuk menghadapi orang-orang macam Hong Beng
Lama dan puteranya itu. Ingatlah kejadian beberapa waktu yang lalu ketika aku
dibokong Lama sakti itu!”
“Tapi Hong Beng Lama telah buta, Hong Sin Lama menangkapnya.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


82

“Itu dulu, pangeran. Siapa tahu, Lama ini akan melarikan diri dibantu
puteranya? Meskipun buta kesaktian Lama itu tetap luar biasa, kau jangan
menyepelekan!”
“Baiklah,” Bun Hwi tiba-tiba bangkit semangatnya. “Aku akan ke Bukit Pedang
sementara kau mencari Mei Hong, paman. Katakan padanya bahwa ia harus menepati
janjinya kepadaku. Enam atau duabelas bulan lagi aku turun.”
“Kau mau ke sana?” menteri Hu girang. “Kalau begitu bagus. pangeran. Semoga
kau berhasil tetapi hati-hatilah. Bukit itu terjal dan curam, aku barangkali dapat
memberikan sedikit petunjuk ini kepadamu.” Hu-taijin mengeluarkan secarik peta
dari kulit kambing, memberikannya kepada Bun Hwi dan Bun Hwi menerima.
Menteri itu berkata bahwa Bun Hwi dapat mencari sendiri dimana peninggalan kakek
dewa itu, peta ini di buat untuk mereka yang memerlukan. Dan ketika Bun Hwi
tertegun dan mengerutkan kening mendadak pemuda ini bertanya, bersinar-sinar.
“Paman, sebenarnya kau dapat memiliki ilmu-ilmu itu. Kenapa tidak
mengerjakannya dan mengambilnya sendiri?”
“Aku sudah tua, pangeran. Aku tak begitu berambisi untuk mempelajari ilmu-
ilmu silat baru.”
“Tapi kau dapat memberikan pada puterimu, Hu Lan misalnya.”
“Ah, Pek In Sian-su adalah majikan mendiang suhengku, pangeran. Jadi
dihitung-hitung aku pun bukan murid kakek dewa itu, tak berhak. Kenapa harus
mengangkangi milik orang lain? Tidak, kau lebih pantas, pangeran. Dan kau pun
pemilik Cupu Naga!”
“Hm......!” Bun Hwi kagum. “Kalau begitu kau hebat, paman. “Watakmu mulia
dan bersih sekali. Terima kasih, mudah-mudahan aku dapat menemukannya dan
segera berangkat!”
Hu Kang tertawa. Menteri ini memang tak temaha (tamak) atau rakus akan
benda-benda luar biasa. Dia sendiri sudah merasa memiliki kepandaian cukup dan
kedudukan tinggi. Sebagai menteri pertahanan dia merasa hidupnya sudah tercukupi,
tak ada yang kurang. Maka ketika Bun Hwi memujinya dan dia tertawa menteri ini
lalu berkelebat meninggalkan junjungannya.
“Pangeran, tak perlu kau memujiku. Kaulah yang berwatak mulia dan baik. Kau
lebih hebat daripada aku yang berani menolak kedudukan putera mahkota. Ha-ha,
Kolektor E-Book

sudahlah, pangeran. Kita berpisah dan sampai jumpa ......!” menteri itu lenyap, Bun
Hwi mendelong tapi akhirnya dia tersenyum. Teringatlah dia akan sepak terjang
menteri ini, akan kerendahan hatinya tapi berilmu tinggi. Menteri itu setingkat
dengan Hong Beng Lama, atau mungkin seusap kalah dibanding Hong Beng Lama
karena Lama itu memiliki ilmunya yang luar biasa, yang tak dapat dibunuh kecuali
oleh Hong Sin Lama sang suheng, Lama lain dari Tibet yang amat sakti. Dan ketika
menteri itu meninggalkannya dan Bun Hwi menarik napas akhirnya Bun Hwi
membelokkan langkahnya lagi dan kali ini menuju selatan, menyusur dan keluar
masuk hutan menuju kesebuah tempat, Bukit Pedang. Dan ketika empat hari
kemudian dia tiba ditempat itu dan tegak di bawah Bukit Pedang maka di sini Bun
Hwi termenung dan teringat peristiwa-peristiwa lalu.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


83

Bukit Pedang adalah bukit yang terjal. Bukit ini tinggi lurus dan sepenuhnya
terdiri dari batu karang. Dilihat dari kejauhan merupakan bukit yang ramping dan
aneh. Ujungnya yang menjulang tinggi dan tajam memang seperti pedang. Di situlah
dulu Bun Hwi terakhir kalinya dikejar-kejar musuh, ditolong Wen Tao tapi sayang
laki-laki gagah itu tewas. Mereka terjungkal di bawah jurang ketika jembatan
gantung di babat musuh, putus dan dia bersama laki-laki gagah itu terpelanting. Ngeri
Bun Hwi teringat ini. Kedalaman jurang di bawah sana bukan main dalamnya. Wan
Tao patah-patah tulangnya dan hancur di sana, di dasar jurang yang sukar diukur
tingginya Dan karena dia sendiri tak dapat mengalami patah tulang dan selamat
meskipun terantuk dan terbanting-banting di dalam Bun Hwi tetap hidup dan kini
terkenang semua kejadian itu, seolah baru kemarin saja dan Bun Hwi menarik napas.
Apa yang terbayang beberapa tahun yang lalu itu memang mengerikan, sungguh
mengerikan. Dan ketika Bun Hwi membuang napas dan mulai berjalan menaiki bukit
itu maka Bun Hwi menuju jurang di mana jembatan gantung dulu berada.
Ternyata tempat ini masih sama. Sisa jembatan gantung yang putus masih
merana di dinding jurang sebelah sana, terkatung dan beberapa talinya untuk tempat
berpijak sudah rantas. Bun Hwi tepekur di sini. Hebat tempat ini. Kalau bukan orang-
orang berkepandaian tinggi tak mungkin dapat memanjat ke atas. Tebing itu nyaris
lurus dan terjal, semua penjuru merupakan dinding-dinding karang yang rata. Kalau
tak memiliki sinkang untuk melekat dan menempel tentu orang tak dapat naik. Dan
ketika Bun Hwi mendongak dan melihat puncak bukit yang runcing pemuda ini lalu
mengambil peta pemberian Hu-taijin, mengamati dan melihat bahwa dia harus ke
puncak Bukit Pedang itu, mencari sebuah batu besar dan memindahkan posisinya.
Katanya di situ ada lubang, dia harus memasuki lubang itu yang akan membawanya
ke sebuah terowongan bawah tanah. Melihat petanya cukup rumit berliku-liku, Bun
Hwi tak tahu akhirnya ke mana dia dibawa. Tapi karena dia percaya pada menteri itu
dan bersiap menggosok telapaknya tiba-tiba Bun Hwi mendekati dinding karang
dan.... merayap ke atas.
Hebat pemuda ini. Seperti cecak saja dia mulai menuju puncak, ketinggian
kurang lebih seratus tombak, jadi kurang lebih sepuluh kali pohon kelapa, bukan
main. Tapi karena Bun Hwi mengerahkan sinkangnya dan dengan hati-hati namun
tangkas dia membuat telapaknya lekat pada dinding karang akhirnya dengan ringan
namun cepat Bun Hwi naik ke atas, metayap setapak demi setapak melakukan
petualangan itu. Baru pertama Bun Hwi mendaki ke puncaknya. Orang di bawah
tentu akan menganggap pemuda ini tak waras, tebing itu lurus dan tinggi, puncaknya
seakan menjulang ke langit. Bun Hwi terus merayap dan naik ke atas. Dan ketika
sejam kemudisn Bun Hwi melekat dan merayap bagai cecak akhirnya puncak Bukit
Kolektor E-Book

Pedang terlampaui. Bun Hwi menggerakkan tubuhnya berjungkir balik, segera tiba di
atas, berseri-seri. Kini dialah yang paling tingggi di tempat itu, daerah di bawah dapat
dilihat jelas dan Bun Hwi kagum akan pemandangan di bawah. Hebat pemandangan
itu. Dalam jarak ratusan lie dia dapat melihat dusun dan kota, jauh di sana. Dan
ketika Bun Hwi mendecak dan memperhatikan puncak itu maka benar saja dilihatnya
sebuah batu besar berdiri kokoh di dataran sempit.
“Hebat, puncak ini benar-benar tak sembarang dapat didaki!” Bun Hwi memuji,
kaki bergerak dan dia pun menghampiri batu besar itu. Dengan gembira dia
mendorong batu ini, mencoba-coba kekuatannya. Tapi begitu dia memegang
permukaan batu dan dorongannya tak membuat batu bergeming mendadak sebuah
desisan terdengar dari bawah batu dan seekor ular terbang menyerang.
BATARA Dewi Kelabang Hitam
84

“Plak!” Bun Hwi menangkis, langsung menangkap dan leher ular dipencet. Bun
Hwi tertawa melihat seekor ular sebesar lengannya datang menyerang, inilah
makanan baginya. Maka begitu jarinya menekuk dan ular dibanting maka binatang
itu pun mati dengan kepala hancur.
“Lumayan untuk santapan,” Bun Hwi tersenyum, memanggang bangkai ular itu
di terik matahari dan dia pun teringat batu besar itu. Tadi dia melepaskan
perhatiannya pada batu ini karena serangan ular, sekarang mengerahkan tenaganya
Kolektor E-Book

dan mendorong. Setengah bagian tenaganya dikerahkan tapi batu tak bergeming. Bun
Hwi terkejut. Dan ketika dengan penasaran dia menambah kekuatannya dan batu
semakin kuat tiba-tiba batu bergerak tapi belasan ekor ular muncul dari bawah batu.
“Ssh-sshh.....!”
Bun Hwi terkejut. Di bawah batu yang bergeser sedikit tampak belasan ular
besar kecil, mereka itu tadi rupanya tidur dan kini ke bangun, langsung mengangkat
kepala dan mau menyerang. Tapi begitu Bun Hwi meniupkan hawa sinkangnya ke
ular besar kecil itu mendadak ular-ular itu mendesis dan.... lari berserabutan di dalam
lubang di bawah batu itu.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


85

“Ha-ha, kalian penakut!” Bun Hwi geli, mendorong batu dan kini lubang lebih
besir menganga di situ. Dengan tambahan sedikit tenaga lagi Bun Hwi menggeser
batu ini. Dan ketika sebuah lubang sebesar tubuh orang, tampak di situ dan Bun Hwi
lupa menahan dorongannya mendadak batu itu terpeleset dan jatuh berdebam ke
bawah.
“Heii...!”
Suara hiruk-pikuk menggelegar di situ. Bun Hwi lupa bahwa tempat itu sempit
tanahnya, batu menggelinding dan terus meluncur ke jurang. Suaranya mengetarkan
seluruh Bukit Pedang, maklum, batu itu beratnya paling tidak lima ribu kati. Dan
ketika Bun Hwi terbelalak dan kaget melihat batu menumbuk dan menghantam
dinding jurang akhirnya diakhiri sebuah ledakan keras batu ribuan kati itu lenyap di
bawah dan hilang di balik kepulan debu yang menghalang pandangan mata.
“Ah, aku sembrono. Bagaimana kalau ada orang di bawah?” Bun Hwi tertegun,
sadar dan mengusap keringatnya tapi lega tak ada orang di bawah. Kalau ada orang di
sana tentu tanpa sengaja dia telah membunuh orang itu. Bun Hwi lupa akan ini. Dan
ketika dia teringat kembali pada lubang di bawah batu tadi dan melongok ke bawah
maka Bun Hwi tak melihat apa-apa karena gelap sepenuhnya.
“Hm, aku tak tahu di dalam. Bagaimana memasukinya?” Bun Hwi ragu, tidak
takut tapi bingung bagaimana harus memasuki tempat yang gelap itu. Tak ada
secercah pun cahaya di dalam. Tapi Bun Hwi yang mengambil ranting kering dan
memercikkan api dari dua batu yang digecrek akhirnya tak kehilangan akal dan sudah
mendapat sebuah “obor” istimewa, hati-hati dan perlahan dia memasuki lubang itu.
Ranting yang terbakar menerangi keadaan di dalam, bau amis menyambut dan
puluhan ular mendesis-desis di bawah. Mereka kiranya belum lari jauh dan
berkumpul di situ. Pukulan Bun Hwi tadi membuat mereka takut dan mendekam, kini
Bun Hwi memasuki tempat itu dan sebuah terowongan panjang menurun ke bawah
menuntun pemuda ini, Bun Hwi mengibas dan ular-ular pun menyingkir. Mereka
mendesis dan lari lagi, terus ke bawah dan semakin ke bawah. Dan ketika Bun Hwi
mengikuti dan dia mulai melihat anak tangga di bawah terowongan bawah tanah
maka Bun Hwi mulai terkejut dan kagum karena tempat itu panjang sekali, gelap dan
untung dia membawa obor yang aneh. Dia telah menyiapkan ranting-ranting lain
begitu ranting pertama harus diganti. Ular di bawah terus menggeleser turun dan kini
bersicepat melarikan diri, api di tangan Bun Hwi itu membuat mereka semakin
ketakutan dan kalut. Dan ketika Bun Hwi menuruni anak tangga ini dan tempat demi
tempat dilalui disusul udara yang dingin maka Bun Hwi mulai melihat guha-guha
Kolektor E-Book

bawah tanah yang berbentuk aneh-aneh.


Ada guha berbentuk kepala orang, ada lagi yang bentuknya seperti binatang atau
harimau. Melihat bentuknya jelas pernah ditangani manusia. Dan ketika jalanan yang
curam dilalui Bun Hwi dan beberapa kali dia mendapat serangan ular namun dengan
mudah dihalau ke kiri kanan maka dua jam kemudian, setelah melakukan perjalanan
jauh dan panjang Bun Hwi tiba di sebuah tempat buntu yang tak dapat dilalui.
“Sial, kenapa buntu?” Bun Hwi tertegun, saat itu berada di tempat yang rendah
dan kepala merunduk. Dia tak tahu berada di mana saat itu, tapi menurut
perkiraannya dia berada di perut bumi sedalam tiga ratus meter. Api di tangannya
mulai meredup-redup mau padam, berarti zat asam tak banyak di situ. Bun Hwi juga
mulai merasa napasnya sesak. Dan ketika ia harus mengambil petanya dan meneliti

BATARA Dewi Kelabang Hitam


86

tiba-tiba Bun Hwi mendelong karena saat itu dia disebutkan berada di Ruang Ungu,
ruang terakhir dari lorong panjang yang telah dilalui.
“Cari dan angkat tepi dinding bagian bawah. Kau akan berada di Ruang Hijau,”
begitu peta memberi petunjuk. Bun Hwi tak mengerti tapi mulai menduga bahwa
dinding atau tembok di depannya itu rupanya merupakan sebuah pintu, cepat
berjongkok meraba-raba ke bawah. Dan ketika benar saja dia merasa sebuah tepian
tembok yang lurus rata tiba-tiba Bun Hwi mengerahkan tenaganya dan mengangkat.
“Kriittt...!”
Bun Hwi terkejut. Suara berkeriyet disusul gemuruh batu mendadak membuat
tempat itu seakan digetarkah ribuan gajah. Batu atau tembok batu itu terangkat. Bun
Hwi harus mengerahkan segenap tenaganya untuk mengangkat naik tembok batu ini,
yang kiranya merupakan pintu raksasa dengan berat ribuan kati, perlahan dan hati-
hati Bun Hwi mengangkat dan menahan tembok batu itu, batu-batu kecil dan tanah
diatas berguguran. Bun Hwi memejamkan mata dan batuk-batuk, pintu melorot
sedikit dan mengerahkan tenaganya kembali. Dan ketika dengan pasti dia
mengangkat lagi dan suara bergemuruh juga semakin keras tiba-tiba pintu raksasa itu
terlonjak ke atas dan Bun Hwi melihat sebuah ruangan menganga di depan. Ruang
yang redup hijau dengan sebutir mutiara tergantung di langit-langit!
“Ah, mentakjubkan....! Bun Hwi terpesona tembok atau pintu batu itu telah
terganjal otomatis di atas. Bun Hwi berdiri di sini dan ternganga. Dia melihat sebuah
ruangan yang bersih dan hangat, mutiara di langit guha itu menerangi remang-remang
dan menyejukkan. Dan Bun Hwi mendelong dan masuk melangkahkan kakinya maka
di tembok terdapat tulisan menyambut pendatang, berkata bahwa dia berada di Ruang
Hijau dan lukisan orang membawa pedang tampak di situ, posisinya indah dengan
satu kaki di angkat di atas kaki yang lain. Ada kalimat kecil-kecil tertulis di bawah
lukisan itui, Bun Hwi mendekat dan melihat itulah salah satu gerak dari jurus Pek-
liong Kiam-sut (Silat Pedang Naga Putih). Dan ketika Bun Hwi melongo teringat
ilmu silat yang sama dalam buku Kisah Empat Pendekar maka pemuda ini menjadi
tertegun melihat lukisan-lukisan lain yang ada di dinding dan hampir tak kelihatan
karena tertutup debu yang entah berapa tahun menempel di dinding, tipis-tipis,
“Ah, inikah pelajaran silat pedang?” Bun Hwi tertarik, memperhatikan satu per
satu dan kini mulai menyelidiki dinding di Ruang Hijau itu, menggosoknya dan
melihat bahwa ternyata hampir semua permukaan dinding itu dilukisi orang
membawa pedang, terkejut dan segera sadar bahwa itu ternyata pelajaran silat tanpa
buku. Hebat! Dan ketika Bun Hwi meneliti dan hampir lupa pada diri sendiri
Kolektor E-Book

mendadak seekor kelelawar mencibit dan terbang dari sebuah lubang nyaris
menyambar mukanya.
“Heii......!” Bun Hwi mengelak, terkejut dan seketika, ingat akan tempat itu. Di
dalam peta ditunjukkan bahwa ada beberapa ruang di samping dua ruang yang sudah
ditemuinya itu. Dan ketika Bun Hwi melihat lubang dari mana kelelawar tadi datang
mendadak terdengar bunyi mencicit lain dan beberapa ekor kelelawar terbang lagi
keluar dari lubang itu.
“Ah, di sana masih ada, ruangan....!” Bun Hwi sadar, membuka lagi petanya dan
untuk sejenak menghentikan pengamatannya pada gambar-gambar di dinding. Cepat
dan berdegupan dia mencari-cari petunjuk di peta. Dan ketika dia menemukan bahwa

BATARA Dewi Kelabang Hitam


87

di balik mutiara terdapat alat kecil yang harus diputar maka Bun Hwi melayang dan
dan mendekati mutiara itu, menempel di langit-langit guha dan segera meraba. Benar
saja, di balik mutiara yang dipegangnya itu terdapat semacam benjolan kecil, tak
akan tampak karena tertutup badan mutiara itu, apalagi sinar mutiara cukup
menyilaukan mata jika didekati. Dan ketika Bun Hwi memutar alat ini dan menanti
beberapa saat tiba-tiba langit-langit guha bergerak dan suara gemuruh lagi-lagi
terdengar.
“Krekk!”
Suara itu mengakhiri gemuruh di atas, Bun Hwi tanpa sadar telah berpindah
posisi, tubuhnya kini berada di sebelah kanan, langit-langit terbuka dan sebuah
ruangan lain menganga di atasnya, ruangan berwarna kuning dan juga redup. Bun
Hwi terbelalak dan mendengarkan suara-suara kelelawar beterbangan di segala
penjuru dan rupanya keluar dari tempat itu, ramai cicitannya karena binatang itu
tampak terkejut, Bun Hwi telah mengagetkan mereka. Dan ketika Bun Hwi tak
mendengarkan apa-apa lagi dan berjungkir balik ke atas maka tampaklah apa yang
ada di sini. Bun Hwi mendecah, kagum.
“Hebat, ini pun ruang yang luar biasa. Aih, itu gambar-gambar orang menotok!”
Bun Hwi terbelalak, melihat gambar totokan-totokan di dinding dalam lukisan merah
hitam. Bun Hwi sudah mendekat dan memperhatikan ini, warna merah adalah jalan-
jalan darah yang dilukis menurut urutannya, dari kepala sampai ke kaki. Dan ketika
Bun Hwi melenggong dan melihat gambar-gambar lain pula dalam bentuk lukisan
seorang wanita maka di situ terpampang huruf-huruf besar berbunyi “I-kiong-hoan-
hiat” dan “Pi-ki-hu-hiat”.
“Wah, ini peninggalan Sheru Deva dan Mira Dewi!” Bun Hwi jadi terkesima,
teringat tokoh sakti dalam Kisah Empat Pendekar itu, suami isteri dari Thian-tok
(India) yang dulu menjadi pengawal istana, hidup dalam jamannya kaisar Yang Ti
dalam dinasti Sui, jadi sudah beberapa ratus tahun yang lalu. Dan ketika Bun Hwi
melenggong dan membaca serta mengamati gambar-gambar itu ternyata semuanya
itu adalah pelajaran ilmu menotok yang dimiliki pria dan wanita, masing-masing
benar peninggalan suami isteri sakti dalam jamannya kaisar Yang Ti itu, yang
bergambar wanita adalah ilmu totok yang di sebut I-kiong-hoan-hiat (Ilmu
Memindahkan Jalan Darah) dan khusus untuk dipelajari wanita sedang yang
bergambar laki-laki adalah Pi-ki-hu-hiat (Tutup Hawa Lindungi Jalan Darah) yang
khusus diperuntukkan laki-laki. Jadi, dua ilmu totok sekaligus ada di ruang itu. Dan
karena Bun Hwi adalah laki-laki dan tentu saja dia tertarik akan pelajaran untuk laki-
Kolektor E-Book

laki maka Bun Hwi memperhatikan gambar-gambar Pi-ki-hu-hiat itu dan tidak sadar
akan dirinya kembali, satu demi satu mulai mempelajari dan mengamati ilmu totokan
itu, tak ingat yang lain kecuali gambar-gambar menotok itu. Dan ketika satu saat dia
terantuk sesuatu dan seekor tikus diinjak dengan kaget tiba-tiba Bun Hwi terkejut dan
sadar akan dirinya kembali.
“Ciittt....!”
Bun Hwi mengangkat kakinya. Seekor tikus entah dari mana terjepit olehnya,
menggigit dan kini lari memasuki lubang di sudut ruangan, Bun Hwi tersentak dan
terbelalak memandang lubang itu. Lagi-lagi dia terlampau asyik memperhatikan
pelajaran silat, lupa bahwa di situ masih ada beberapa ruangan dan tempat atau
pertapaan Pek In Sian-su harus dicari. Selama ini dia baru menemukan Ruang Hijau

BATARA Dewi Kelabang Hitam


88

dan Ruang Kuning yang berisi pelajaran silat pedang dan ilmu menotok. Maka ketika
Bun Hwi membuka petanya kembali dan dengan penuh semangat serta kegembiraan
besar dia mulai menyelidiki dan mencari ruang-ruang lain akhirnya ditemukannya
Ruang Merah dan Ruang Biru, dua buah ruangan yang berisi pelajaran silat tangan
kosong dan sihir. Ruang Merah berisi lukisan dari ilmu silat Sin-tiauw-kun atau Sin-
eng-kun (Silat Rajawali Dan Garuda), juga Cap-thouw-kun (Silat Sepuluh Kepalan).
Itulah benar-benar warisan Sheru Deva dan Mira Dewi. Dan ketika Bun Hwi tiba di
Ruang Biru di mana ruangan ini lebih besar dan terisi gambar-gambar aneh seperti
asap maka di situ Bun Hwi menemukan pelajaran sihir yang disebut Lo-hun Hoat-sut
(Sihir Pengacau Semangat) dan Sin-im Hoat-lek (Ilmu Gaib Suara Sakti). Hebat.
Bun Hwi mematung. Dia terkejut tapi gembira bukan main menemukan warisan
ilmu-ilmu luar biasa itu. Itulah ilmu-ilmu peninggalan suami isteri sakti dari
jamannya dinasti Sui. Bun Hwi bersinar-sinar dan kagum, tiba-tiba menjatuhkan diri
berlutut dan mencium lantai tujuh kali. Dia menyatakan terima kasih dan syukur pada
warisan yang ditemukannya ini, tak terasa begitu terharu hingga mencucurkan air
mata. Dan ketika Bun Hwi berseru bahwa dia merasa amat berterima kasih pada
semua penemuan ini mendadak lututnya yang menyentuh lantai dirasa tergigit
sesuatu, pedih dan panas dan Bun Hwi terkejut melihat seekor kalajengking
menyengatnya. Binatang yang memangkat ekornya ke atas itu besar sekali, sepuluh
kali lebih besar dibanding ukuran biasanya. Bun Hwi terkesiap. Dan ketika dia
terbelalak dan marah menangkap binatang itu mendadak binatang ini melejit dan
pandai menghindar.
“Uph.....!” Bun Hwi luput, melebarkan matanya dan kembali menangkap.
Lututnya terasa pedih dan gatal, juga panas. Binatang itu kini membalik dan
menyerang. Dan ketika Bun Hwi penasaran dan heran serta mendongkol maka dari
ekor binatang itu menyemprot suatu cairan hitam yang tepat mengenai hidung.
“Aduh, keparat...!” Bun Hwi menyumpah bersin dan segera mencium bau busuk
yang membuat dia muntah-muntah. Bau dari cairan hitam itu luar biasa busuknya,
jauh lebih busuk daripada kentut! Dan ketika Bun Hwi geram dan coba menangkap
binatang itu lagi tiba-tiba binatang ini melejit dan menyengat lengannya kembali,
cepat dan gesit mengeluarkan bisanya (racun) tapi Bun Hwi kebal. Darah Ular
Tanduk Hijau yang dulu pernah diminumnya tak membuat dia pingsan, kalajengking
raksasa itu tampaknya terkejut dan heran juga. Matanya yang kecil bulat melotot pada
Bun Hwi, melejit dan menyengat lagi pada beberapa bagian tubuh Bun Hwi namun
gagal. Bun Hwi memang kebal pada racun dan juga bacokan senjata tajam.
Kalajengking itu tiba-tiba gentar. Dan ketika Bun Hwi menubruknya dan balas mau
Kolektor E-Book

menangkap tiba-tiba binatang ini mengeluarkan suara aneh dan.... terbirit-birit


melarikan diri.
“Hei, jangan lari. Kau binatarg licik!” Bun Hwi menyergap, jarinya bergerak
dan secepat kilat dia melakukan gerak dari belakang ke muka, cepat dan tepat karena
Bun Hwi langsung menyambar ekor binatang kala itu, dari berkali-kali tubrukannya
tadi Bun Hwi tahu bahwa ekor inilah yang termasuk bagian paling lemah tapi
sekaligus juga paling berbahaya, maklum, di bagian itulah terdapat racun yang
biasanya melumpuhkan korban. Dan ketika binatang itu kalah cepat dan Bun Hwi
berhasil menangkap maka binatang ini terkejut dan tiba-tiba mengeluarkan suara
merintih mirip bayi menangis.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


89

“Ha-ha, kau tertangkap!” Bun Hwi tertawa, girang dan juga gemas. “Sekarang
kau tak berkutik, Kala Hitam. Apa yang mau kau lakukan kepadaku?”
Binatang itu menggeliat. Sekali lagi dia mengeluarkan rintihan mirip bayi
menangis itu, Bun Hwi mau menggencet kepalanya tapi tak jadi, kasihan dan melihat
mata binatang itu berkedip-kedip. Mendadak Bun Hwi lemah hatinya dan
mengendorkan jepitan. Dan ketika dia melihat kala itu tak melakukan perlawanan
tiba-tiba Bun Hwi yang merasa iba dan tertawa melepas binatang ini.
“Awas, sekali menyerang tentu kau kubunuh. Ayo, pergilah!”
Aneh sekali, binatang ini tak mau menyingkir. Dia mengedipkan matanya dua
tiga kali, seolah mau bicara. Bun Hwi menjadi heran dan tak mengerti. Dan ketika dia
mengusir namun binatang itu tak mau pergi tiba-tiba binatang ini nembalik dan........
merayap jinak di pergelangan Bun Hwi.
“Wah, kau menyerah?” Bun Hwi merasa geli, mengajak bercakap-cakap. “Kau
ingin bersahabat dan tidak menyerangku lagi? Baiklah, kau boleh menjadi sahabatku,
Kala Hitam. Dan mari ikut denganku!” Bun Hwi malah mengusap kalajengking itu,
mengelusnya dan binatang ini mengeliat. Dia rupanya tahu Bun Hwi tidak marah, tak
jadi membunuhnya dan dia dibiarkan bebas. Dan ketika Bun Hwi tertawa dan
tersenyum memandang binatang ini maka kala itu tiba-tiba turun menuju dinding dan
mengorek-ngorek sesuatu.
“Eh, apa yang kau lakukan?” Bun Hwi tak mengerti, mengikuti dan melihat
kalajengking itu membuat sebuah lubang. Pasir dan lumpur kering digigitnya dan
dibuangnya ke bawah. Bun Hwi mengerutkan kening dan masih tidak mengerti. Tapi
ketika lubang semakin besar dan Bun Hwi terbelalak melihat cahaya muncul di
lubang itu mendadak kalajengking itu melompat ke sana dan Bun Hwi melihat
sebuah ruangan lain di depan mata, ruang yang agak gelap dan samar-samar tampak
sesosok tubuh berdiri tegak!
“Hantu.......!” Bun Hwi kaget, mencelat kebelakang dan menumbuk dinding
sebelah Ruangan Biru yang bergetar oleh pekikannya itu memantulkan suara balik.
Bun Hwi terkejut dan tersirap. Tapi ketika dia melompat bangun dan kala raksasa itu
muncul lagi maka Bun Hwi melihat binatang ini menggigit sepotong kertas yang
entah didapat dari mana, menghampiri dan memberikan itu pada Bun Hwi. Pemuda
ini tertegun dan berdetak memandang lubang, tak menghiraukan sobekan kertas itu.
Maklum, Bun Hwi sedang kaget karena matanya tadi menumbuk sesosok tubuh tak
bergerak. Tubuh itu jelas seorang manusia tapi hidup atau tidak Bun Hwi tak tahu,
Kolektor E-Book

kini dia bersiap dan sewaktu-waktu akan melancarkan serangan. Tapi ketika Kala
Hitam itu merintih lagi dan merayap naik ke pundak Bun Hwi maka Bun Hwi
menjadi tergelitik dan sadar, menenangkan degupan jantungnya dan menunggu. Di
lubang atau ruang sana tak ada apa-apa, tak ada suara kecuali hembusan angin lirih.
Bun Hwi mencium bau harum yang semerbak, kepalanya tiba-tiba menjadi ringan
dan nikmat. Dan ketika dia yakin bahwa sosok tubuh di dalam itu rupanya bukan
orang hidup maka Bun Hwi dan melongok dan mengintai, berdebar dan melihat
bahwa tubuh yang dilihatnya itu memang tak bergerak, mengenakan baju putih dan
wajahnya begitu agung, kedua mata tertutup dan dia tegak di tengah ruangan,
lengannya bersedakep dan sebuah buku terletak di bawah kakinya, buku berwarna
kuning yang tampaknya sudah lama sekali, tua namun masih utuh. Dan karena Bun
Hwi mengetahui bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti yang sudah meninggal

BATARA Dewi Kelabang Hitam


90

dunia maka Bun Hwi terkejut dan bingung, bingung karena tak dapat memasuki
ruangan itu, tak ada pintu atau jendela. Satu-satunya “jendela” adalah lubang kecil
yang dibuat Kala Hitam itu, sahabatnya. Lubang yang kini menjadi tempat
pengintaian dan Bun Hwi tertegun. Dan ketika Kala Hitam itu kembali mengeluarkan
suara mirip rintihan dan merayap ke telinga Bun Hwi tiba-tiba binatang itu membuat
gerak berputar di atas kepala.
“Eh, apa maksudmu? Apa maumu?” Bun Hwi geli, menangkap dan menurunkan
binatang itu dari atas kepalanya namun binatang ini naik lagi, berputar-putar dan
menggerak-gerakkan tubuh tiga kali seolah memberi isyarat. Bun Hwi heran dan
coba mengikuti.Tapi ketika ia tak mengerti juga dan binatang itu tampaknya gelisah
tiba-tiba kertas yang digigitnya jatuh di baju Bun Hwi.
“Apa ini?” Bun Hwi nnengambil, melihat dan tertegun karena itulah sobekan
kertas berisi perintah. Di situ tertulis bahwa yang ingin masuk haruslah memberi
hormat di depan lubang. Tentu yang dimaksudkan di situ adalah masuk ke ruang
dingin itu, pendatang harus memberi hormat dan mencium dinding, tujuh kali tepat di
bawah lubang itu. Dan karena Bun Hwi tak mengerti namun selamanya hormat
kepada yang tua maka pemuda ini menurut dan hormat di bawah lubang, mencium
dindingnya dan sebanyak tujuh kali dia membersihkan dinding itu tanpa sengaja.
Kalajengking di pundaknya mengeluarkan suara aneh seperti orang girang. Dan
persis Bun Hwi menyelesaikan perintah itu tiba-tiba di dinding, tepat di bawah
lubang itu timbul huruf-huruf berkilat yang bersih digosok hidungnya tadi :
Yang ingin masuk diberi dua cara. Pertama melubangi dan
menjebol tembok sedang yang kedua adalah duduk diam di sudut
ruangan. Mengatur napas dan menghangati lekukan bantal batu
akan menolong cara kedua.
Pek In Sian-su
Bun Hwi terkejut. Pek in Sian-su? Jadi jenasah di dalam itu adalah jasad kakek
dewa itu? Bun Hwi tiba-tiba merasa tegang. Sekarang dia tahu bahwa tersembunyi di
tempat begini sukar ternyata Pek In Sian-su meninggalkan dunia dengan caranya
yang aneh. Bertapa dan jelas mengasingkan diri dari dunia luar. Ruangan demi
ruangan yang dilaluinya tadi memberitahukan bahwa semuanya itu kiranya sudah
diatur kakek dewa ini. Pek In Sian-su ternyata ada di dalam, jenasahnya ada di sana.
Dan karena Bun Hwi gugup dan girang bercampur aduk maka tiba-tiba pemudi ini
mencari lekukan batu yang dimaksud, ketemu dan batu itu ternyata benar ada di sudut
ruangan, tipis dan nyaris rata dengan permukaan lantai. Bun Hwi tak memilih cara
Kolektor E-Book

pertama karena dianggapnya cara itu hanya merusak lingkungan, tak sampai hati dia.
Maka begitu dia duduk dan menempati lekukan batu itu segera Bun Hwi mengatur
napas dan menghangati lekukan batu itu, tentu saja diam-diam heran bagaimana
dengan cara begitu saja ia dapat masuk ke dalam. Hanya duduk dan diam! Tapi
karena dia percaya dan kini dengan berdebar dia mengerahkan tenaganya dan
mengatur napas maka beberapa menit kemudian, ketika lekukan batu menjadi hangat
oleh pengaruh sinkang mendadak terdengar suara berkeretek dan batu itu bergerak!
Bun Hwi hampir tak percaya. Dia terbelalak dan dag-dig-dug, beberapa menit
lagi batu itu bergerak dan berkeretek, begitu setiap selang lima menit. Dan ketika
batu menjadi panas karena Bun Hwi menjadi tegang dan pengerahan sinkangnya

BATARA Dewi Kelabang Hitam


91

menjadi kuat mendadak diiringi suara bergemuruh batu yang diduduki itu bergeser
dan.... nyeplos ke bawah.
“Heii......!” Bun Hwi terkejut, kontan terbanting dan bangun kaget. Tapi begiru
dia bangun dan melompat berdiri tahu-tahu dia sudah berada di sebuah lubang kecil
macam sumur di mana lubang ini tembus ke ruang tersembunyi itu, jadi semacam
lorong di bawah ruangan. Bun Hwi tertegun dan menjublak. Dan ketika dia tersentak
dan mendelong dengan mata terbuka lebar tiba-tiba di tempat jenasah itu terdengar
letupan kecil dan jenasah yang berdiri itu sekonyong-konyong runtuh dan lenyap
dalam sebuah lubang yang menutup kembali, begitu cepat. Bun Hwi terkejut dan
meloncat, ingin tahu apa yang terjadi, berkelebat dan sudah memasuki ruangan
remang-reman g ini, yang tadi dalam Ruangan Biru hanya tampak sebagian dari
lubang pengintai itu. Dan begitu ia tiba di sini dan berdiri bengong tahu-tahu
terdengar suara “ser-ser” dan puluhan batang anak panah menyambar dinding dari
mana lubang itu dibuat, disusul ledakan dan gemuruh suara yang lain. Bun Hwi tak
tahu apa yang terjadi karena langit-langit ruangan seakan runtuh, debu dan batu besar
kecil berhamburan di situ. Dan ketika beberapa saat kemudian tempat itu tenang
kembali dan Bun Hwi mendelong maka dilihatnya bekas lubang yang dilihatnya tadi
sudah terkubur dan tertimbun runtuhan guha yang begitu banyak.
Bun Hwi terkesima. Dia masih tak mengerti semuanya ini, apa sesungguhnya
yang terjadi. Tapi ketika kalajengking itu berloncatan dan menari-nari mengitari kitab
tebal akhirnya Bun Hwi sadar dan cepat menghampiri tempat itu, berlutut dan berseru
memohon pertolongan arwah kakek dewa itu. Dia melihat tempat di mana jenasah
tadi berdiri sudah terganti lubang yang tertutup rapat, kitab tebal ini ada di depannya,
sejengkal saja. Jadi dengan alat-alat rahasia kakek dewa itu telah “mengubur”
jasadnya sendiri, bukan main. Bun Hwi bergidik. Dan ketika dia mencium dan
berlutut mengambil kitab maka Bun Hwi tertegun membaca kalimat pertama, bahwa
siapa yang menjebol tembok akan menerima hukuman. Cara pertama tadi ternyata
merupakan jebakan, sekaligus ujian karena orang yang akan memasuki ruangan itu
dengan cara seperti itu berarti orang kasar, tak tahu aturan. Sekali dia menjebol
tembok dan memasuki ruangan dengan paksa maka hukumanlah yang akan diterima.
Panah-panah beracun akan menyerangnya dan tembok akan runtuh. Orang yang akan
duduk di lekukan batu dan sabar menuruti perintah akan diartikan sehagai orang yang
baik, tidak kurang ajar dan pantas memasuki ruang jenasah. Kiranya Pek In Sian-su
telah mengatur semuanya itu dengan seksama, Bun Hwi mengeluarkan keringat
dingin dan ngeri. Untung tidak menjebol tembok! Dan ketika kitab itu dibukanya
lembar demi lembar maka Pek In Sian-su, pewaris kitab ini telah membeberkan ilmu-
ilmu silatnya yang hebat di situ. Petunjuk atau pelengkap bagi gambar-gambar di
Kolektor E-Book

ruang-ruang yang lain. Bun Hwi girang bukan main karena kitab ini merupakan
penuntun yang jelas, tiada ubahnya kakek dewa itu sendiri. Dan ketika Bun Hwi
menemukan segudang ilmu-ilmu luar biasa seperti Lui-kong-cat (Penolak Guntur)
dan Hwee-liong Sin-kang (Sinkang Naga Api) serta Tiat-po-san (Ilmu Kebal Baju
Besi) maka Bun Hwi mengeluarkan air mata saking girang dan gembiranya.
“Sian-su, puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Arwahmu agaknya telah
menuntunku ke mari dan memiliki semuanya. Terima kasih, Sian-su. Hormat dan puji
seagung-agungnya bagimu......!” Bun Hwi mengeluarkan air mata, haru dan girang
karena dia telah menemukan ilmu yang hebatnya tak kepalang tanggung. Itulah
benar-benar warisan Sheru Deva dan Mira Dewi, juga Brahmadewa karena Lui-kong-
cat disebut-sebut. Ilmu itu adalah milik kakek sakti ini, yang konon kepandaiannya
BATARA Dewi Kelabang Hitam
92

tak kalah dengan Sheru Deva, tokoh hebat dari Thian-tok itu. Bun Hwi mengetahui
semua ini dari bacaan Kisah Empat Penddekar. Dan ketika pemuda itu berulang-
ulang mengucap terima kasih dan berlutut serta menciumi lantai maka hari itu Bun
Hwi belajar dan langsung mewarasi semua peninggalan Pek In Sian-su ini, tokoh
yang masih gelap baginya, siapakah sebenarnya kakek dewa itu. Kecuali hanya
diketahutinya sebagai keturunan atau orang yang berhubungan dekat dengan suami
isteri sakti itu, tokoh legendaris dalam jamannya kaisar Yang Ti. Dan ketika hari itu
Bun Hwi mulai mempelajari dan mewarisi isi kitab maka Kala Hitam, kalajengking
raksasa yang menemani Bun Hwi itu mondar-mandir dan tak pernah jauh dari
pemuda ini, berputar dan sering merayap serta bermain-main di pundak Bun Hwi,
dibiarkan dan Bun Hwi bahkan menjadi akrab, tak lama kemudian mulai mengerti
bahasa isyarat binatang itu, komunikasi tanpa suara pun terjadilah. Dan ketika
minggu demi minggu Bun Hwi melahap isi kitab di tempat sunyi itu maka dua bulan
kemudian dengan kecerdasan dan kepandaian yang sudah dipunyainya Bun Hwi
berhasil menguasai Pek-liong Kiam-sut, silat pedang yang ada di Ruang Hijau itu.
Dilanjutkan kemudian dengan ilmu menotok Pi-ki-hu-hiat, untuk I-kiong-hoan-hiat
tak dipelajari karena ilmu menotok itu khusus wanita, dia jadi teringat pada Mei
Hong, ah..... rindunya tiba-tiba bergejolak. Tapi karena Bun Hwi sadar akan tugasnya
dan hari demi hari diteruskan mempelajari warisan secara urut maka dua bulan
kemudiana Pi-ki-hu-hiat pun sudah “masuk” di tubuhnya.
Bun Hwi memang hebat. Kecerdasan dan keenceran otaknya mampu melakukan
semuanya itu, apalagi jelek-jelek dia sudah memiliki empat jurus sakti Wi Tik Tong
Thian, yang didapatnya dari Cupu Naga. Dan ketika dua bulan lagi jadi tepat enam
bulan dia sudah beralih ke Ruang Merah dan mempelajari ilmu silat berikut maka tiba
di sini Bun Hwi sedikit bingung.
Di situ ada tiga ilmu silat. Sin-tiauw-kun, Sin-eng-kun dan Cap-thouw-kun. Tak
mungkin dalam dua bulan saja dia mampu melahap tiga ilmu silat itu sekaligus,
betapapun cerdas dan encernya otaknya. Dan karena dia harus memilih dan mau tak
mau salah satu harus dipelajarinya dulu maka Bun Hwi mengambil Sin-tiauw-kun
dan melatih ilmu silat ini. Ilmu ini asli milik Sheru Deva karena untuk yang Sin-eng-
kun (Silat Garuda) adalah ciptaan Mira Dewi, isterinya. Baik Sin-tiauw-kun (Silat
Rajawali) maupun Sin-eng-kun sebenarnya hampir mirip. Bahkan Sin-eng-kun
cenderung berdasar Sin-tiauw-kun, maklum, wanita sakti Mira Dewi itu memang
isteri sekaligus sumoi (adik seperguruan wanita) dari Sheru Deva, laki-laki yang
menjadi suheng (kakak seperguruan) sekaligus suami. Jadi Bun Hwi memilih Sin-
tiauw-kun karena ini dirasa cocok baginya. Sin-eng-kun atau Silat Garuda itu lebih
dispesialisasikan bagi kaum wanita. Mei Hong rupanya lebih cocok melatih Silat
Kolektor E-Book

Garuda daripada Silat Rajawali....... ah, pikiran lagi-lagi tertuju pada Mei Hong. Dan
karena Bun Hwi di Ruang Merah ini memilih untuk mempelajari Sin-tiauw-kun
daripada yang lain maka genap bulan keenam dia selesai mewarisi tiga macam ilmu
silat, dilanjutkan Cap-thouw-kun dua bulan lagi hingga selesai pada bulan ke delapan.
Bulan demi bulan dilalui Bun Hwi tanpa terasa. Dia tak ingat kiri kanan dan
sekeliling, makan atau minum mudah didapat, ada sumber air tak jauh dari situ, juga
ular-ular yang banyak merupakan santapanya sehari-hari. Dan ketika Sin-eng-kun
ditinggalkan dan Bun Hwi memasuki Ruang Biru yang berisi pelajaran sihir Lo-hun
Hoat-sut dan Sin-im Hoat-lek maka di sini Bun Hwi merasa dikejar waktu.
Dia sendiri secara kebetulan mengetahui lewatnya hari-hari dari cahaya yang
menyelinap dibalik ruang jenasah. Bun Hwi menamakannya itu Ruang Samadhi,
BATARA Dewi Kelabang Hitam
93

karena dengan bersamadhi Pek In Sian-su wafat di situ. Dan sinar matahari yang
entah dari mana menerobos masuk dan memberi tahu padanya akan gelap dan terang
lalu membuat pemuda ini mengadakan catatan, hari demi hari dilewati dengan garis-
garis di dinding, di situ Bun Hwi dapat menghitung dan mengira-ngira waktunya.
Maka ketika delapan bulan lewat dan dia baru mendapatkan empat ilmu silat padahal
yang lain-lain masih banyak dan rupanya tak keburu dikejar maka Bun Hwi
mempelajari Lo-hun Hoat-sut dan Sin-im Hoat-lek untuk penggenap satu tahunnya.
Tapi celaka, Lo-hun Hoat-sut dan Sin-im Hoat-lek yang bersifat ilmu gaib tak
sama caranya dengan ilmu silat. Dua ilmu sihir itu lebih menuntut ketrampilan
batiniah, samadhi dan memusatkan pikiran dan untuk dua macam ilmu ini Bun Hwi
tak dapat menghabiskannya dalam waktu empat bulan. Lo-hun Hoat-sut dipelajari
dulu, sukar dan rumit serta Bun Hwi harus berhati-hati. Dua bulan baru dia
mengetahui teorinya, jadi waktu yang dihabiskannya sudah sepuluh bulan, tinggal
dua bulan lagi genap setahun dan dia harus keluar. Terpaksa Bun Hwi mengejar
ketinggalan ini dengan berlatih keras. Dia mulai senang dan tertarik pada ilmu sihir
ini. Suaranya memiliki getaran kuat dan amat berpengaruh, lain dengan suaranya dulu
yang nyaring namun biasa. Bun Hwi merasakan kegembiraan dalam melatih Lo-hun
Hoat-sut ini. Dan ketika dua bulan kemudian baru dia berhasil menguasai ilmu sihir
itu dan tentu saja waktunya habis untuk keluar dari tempat itu maka Bun Hwi
menyesal dan meninggalkan Sin-im Hoat-lek yang tak keburu dipelajari, juga Hwee-
liong Sin-kang dan Tiat-po-san serta Lui-kong-cat.
“Sian-su, maafkan aku. Aku telah berjanji untuk menemui seseorang, waktuku
habis. Biarlah kutinggalkan sementara ilmu-ilmu yang lain dan kelak aku kembali
lagi.” Bun Hwi berlutut, memberi hormat dan mencim tempat di mana jasad kakek
dewa itu terkubur. Bun Hwi girang tapi juga bingung meninggalkan tempat itu.
Girang karena dia akan ke dunia luar lagi tapi bingung karena pelajarannya belum
selesai. Terlalu banyak ilmu-ilmu yang ada di situ dan amat menarik. Kalau tak ingat
perjanjiannya dengan Mei Hong atau Hu-taijin tentu ingin dia lebih lama di situ
menghabiskan semua ilmu-ilmu itu dan mempelajarinya sampai tuntas. Bun Hwi
merasa sayang namun apa boleh buat. Dan ketika hari itu dia meletakkan kitab dan
meninggalkan ilmu-ilmu yang lain untuk pamit pada arwah gurunya maka Bun Hwi
siap keluar lagi dengan membawa bekal yang sudah dipelajari.
Bun Hwi mencium lagi tempat itu. Dia memberi hormat dan menyatakan terima
kasih, membalik dan teringat cahaya yang menyelinap di balik ruangan. Selama ini
dia ingin mengetahui tapi ditahan-tahan, kini saatnyalah dia menyelidiki itu. Bun Hwi
ingin mengetahui sebelum keluar lewat jalan lama, yakni jalan yang akan menembus
Kolektor E-Book

di puncak bukit itu, lubang di bawah batu yang sudah dibuang. Dan ketika Bun Hwi
memperhatikan dan mencari asal cahaya ini mendadak Bun Hwi terbengong ketika
mengetahui bahwa di balik Ruang Samadhi, terhalang dinding dan entah apalagi
terdapat sebuah ruang lain di sana, terbukti dari desau angin yang mendengung, jadi
itu jelas sebuah guha atau ruangan kosong yang entah apa namanya. Bun Hwi
mencukil sepotong batu dan melebarkan celahnya. Benar saja, cahaya itu lebih terang
den lebar, Bun Hwi mengorek dan akhirnya menusuk. Dan karena Bun Hwi sekarang
sudah memiliki ilmu totok dan jari-jarinya sekuat besi tiba-tiba saja dalam beberapa
tusukan atau korekan dia membuat lubang dan..... Bun Hwi ternganga.
“Itu Mutiara Pengharum Sukma......!” Bun Hwi tertegun, merangkak dan keluar
dari lubang yang dibuat. Kini dia tiba di sebuah guha di sana banyak ular mendesis-

BATARA Dewi Kelabang Hitam


94

desis, kaget dan mengangkat kepalanya siap menyerang. Bun Hwi melihat sebutir
mutiara tertempel di langit-langit guha ini, mutiara yang di kenal sebagai mutiara
ajaib yang mampu membuat tubuh segar terus-menerus. Itulah mutiara hebat yang
dulu ditemukannya di ruang ini, mutiara “berbahaya” karena dapat membuat orang
gampang berbirahi! Bun Hwi terkejut. Dan karena dia tahu bahwa di ujung guha pasti
mulut jurang di mana dia dulu pernah jatuh dan merangkak ke atas maka Bun Hwi
meyakinkan dugaannya itu dan meloncat, tak perduli serangan beberapa ekor ular
yang ratusan jumlahnya. Ular-ular itu beranak-pinak karena di rangsang birahi terus-
menerus oleh Mutiara Pengharum Sukma itu, Bun Hwi mengibas mereka dan mereka
pun terpelanting, Bun Hwi cepat membuktikan dugaannya dan berkelebat. Dan ketika
dia tiba di ujung guha dan benar saja sebuah jurang ada di depannya tiba-tiba Bun
Hwi tertawa bergelak dan merasa lucu.
“Ha-ha, ini kalau begitu rumahku yang dulu. Aih, selamat bertemu, jurang
sialan. Kiranya kau pun ada di sini dan aku datang!” Bun Hwi mendongak, melihat ke
atas dan tertawa melihat mulut jurang yang jauh. Di situlah dulu dia merayap dan
naik, tiba di atas dan bertemu Hu Lan, puteri Hu-taijin, menteri Hu Kang itu. Dan
karena Bun Hwi sudah mendapatkan jalan keluar dan tidak perlu lagi melewati atau
balik ke jalan yang lama akhirnya Bun Hwi berjungkir balik dan.... menempel di
dinding jurang, mengerahkan sinkangnya dan merayap naik. Bibir jurang di atas ada
ratusan tombak, Bun Hwi tak mempersoalkannya dan justeru terbahak. Ini berarti
mengulang pekerjaan lama, beberapa tahun yang silam dia pun melekat dan merayap
di dinding jurang ini, naik dan menuju ke atas dengan amat cepat. Bun Hwi tak
menyadari perobahannya yang luar biasa, gerak tangan dan kakinya yang lincah,
memanjat dan terus merayap bagai seekor cecak. Begitu ringan dan enteng sehingga
seolah dia tak berbobot saja. Bun Hwi tak menyadari kemajuannya setelah setahun
mempelajari ilmu-ilmu dari Pek In Sian-su. Maklumlah, dia belum terbuka matanya
dan tak tahu betapa jurang yang ratusan tombak itu hanya dirayapinya dalam waktu
sepuluh menit saja, padahal dulu hampir satu jam dan itu pun sudah luar biasa. Bun
Hwi meninggalkan Kala Hitam sahabatnya di ruang terakhir, tak menghiraukan ular
besar kecil yang beranak-pinak pula di guha tadi, juga tak mengambil Mutiara
Pengharum Sukma di langit-langit guha. Dan ketika Bun Hwi tiba di atas dan
berjungkir balik melewati bibir jurang maka Bun Hwi tertawa gembira melihat dunia
luar lagi, setelah duabelas bulan terkurung di bawah.
“Ha-ha, selamat pagi, matahari elok. Kita jumpa dan bertemu lagi!” Bun Hwi
menggerak-gerakkan tubuh, melemaskan otot dan girang mendapat kebebasan.
Sekaranglah dia melihat dunia indah beserta isinya. Dan ketika Bun Hwi berloncat-
loncatan dan menurunkan pandangan melihat ke bawah tiba-tiba pemuda ini
Kolektor E-Book

berkelebat dan.... hilang dari situ lenyap dan sudah berada di bawah dalam kecepatan
luar biasa. Bagai iblis saja pemuda ini telah meluncur di bawah, terbang dan lenyap
meninggalkan Bukit Pedang, yang begitu tinggi. Gerak dan langkah kakinya itu
seolah bukan manusia saja. Dan ketika Bun Hwi hanya tampak merupakan titik kecil
di kejauhan sana dan gema suaranya meninggalkan Bukit Pedang maka Bun Hwi tak
ada lagi di situ karena sudah jauh meninggalkan tempat ini.

*
* *

BATARA Dewi Kelabang Hitam


95

Beberapa bulan yang lalu. Sepasang pemuda memasuki kota raja, duduk dan
mengitari sebuah meja di sebuah restoran. Mereka memesan makanan dan minuman,
pakaian mereka yang penuh debu menunjukkan bahwa mereka datang dari jauh,
meminta pembersih dan mencuci tangan mereka, juga muka. Kini mereka duduk
berhadapan dan pelayan datang, membawa makanan dan minuman yang dipesan.
Dan ketika pelayan meletakkan itu semua di atas meja dan dua pemuda ini saling
pandang tiba-tiba seorang di antaranya bertanya di manakah rumah Hu-taijin.
“Ah, menteri Hu Kang, kongcu? Ya-ya, tahu. Di sebelah istana di depan alun-
alun. Koagcu dapat ke sana dan cari saja patung seekor singa di depan rumah. Itulah
rumah Hu-taijin!”
“Hm, dengan siapa saja dia tinggal?”
“Maksud kongcu isteri dan anak-anaknya? Tak ada, kongcu, hanya seorang saja
bernama Hu Lan. Dialah puteri Hu-taijin dan tentu saja dengan beberapa pengawal
atau pembantunya.”
“Baiklah, terima kasih,”
Percakapan terhenti. Pemuda yang bertanya mengeluarkan sekeping perak,
menyisipkannya pada sang pelayan dan pelayan girang. Itu adalah tip yang cukup
besar baginya, pemuda-pemuda itu rupanya royal dan anak orang kaya. Dan ketika
dia mengangguk-angguk dan tertawa mengucap terima kasih maka dua pemuda ini
ditinggal dan mereka segera bercakap-cakap sendiri.
“Bagaimana, Khing-te (adik Khing), kita masuk secara terang-terangan atau
gelap?”
“Ah, kita boleh sembunyi dulu, Siu-ko (kakak Siu). Kabarnya menteri itu lihai
dan pandai. Aku ingin tak usah terang-terangan.”
“Ya, aku juga berpikir begitu. Nanti kita menyelinap dan cari dia, syukur kalau
puterinya ada.”
“Mau apa?” pemuda satunya mengerutkan kening. “Bukankah kita tak ada perlu
dengannya?”
“Hm,” pemuda yang ditanya besinar-sinar. “Sekarang kita tidak tahu
keperluannya, Khing-te. Tapi siapa tahu belakangan nanti diperlukan. Gadis itu kita
selidiki dan kalau perlu kita tangkap!”
Kolektor E-Book

“Sebagai sandera?”
“Betul.”
“Kalau begitu bagus, kita makan dulu setelah itu berangkat.”
“Ya, dan...” percakapan terhenti lagi, hampir berbareng dua pemuda itu menoleh
dan seorang gadis cantik masuk ke restoran itu, lenggangnya manis dan segera tamu-
tamu lain ikut memandang. Langkah yang memikat dan pinggul yang menari-nari
membuat mata mendecak kagum, dua pemuda ini saling lirik. Tapi begitu gadis itu
balas memandang yang menatap dirinya dan para tamu mengenal siapa dia mendadak
semua orang menunduk dan pura-pura melanjutkan makan mereka, sang pelayan
tergopoh-gopoh menghampiri dan sikap hormat berlebihan ditunjukkan pelayan ini.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


96

Dua pemuda itu mengeluarkan senyum mengejek, menunggu dan mengira gadis itu
akan duduk dan makan. Tapi ketika gadis itu berhenti dan terdengar percakapan
bahwa kedatangannya untuk memesan makanan agar diantar ke rumahnya maka
pelayan itu mengangguk-angguk dan berulang kali mengucap “baik”.
“Baik..... baik, nona. Kami akan mengantar. Berapa masakan yang dipesan?
Untuk berapa orang?”
“Siapkan apa saja yang kalian punya. A-chung. Dan buat makanan untuk sekitar
duapuluh orang.”
“Ayahmu punya kerja?”
“Kau berani tanya urusan orang?”
“Ah, tidak.... eh, maaf.... maaf, nona. Aku salah, aku lancang. Baiklah, akan
kami siapkan pesananmu dan datang!” pelayan itu ketakutan, kakinya sudah ditarik
dan kelakuannya seperti anjing melipat buntut. Orang yang melihat tentu tahu bahwa
gadis ini bukan gadis sembarangan. Benar, ia mendengus dan sekali lagi mengatakan
pesanannya, pelayan mengangguk lagi dan menyatakan mengerti. Dan ketika gadis
itu memutar tubuh dan keluar dari restoran maka pelayan mengikuti dan akhirnya
tergopoh ke dalam memberi tahu majikan.
“Siapa dia?” pemuda pertama bertanya, kebetulan di saat pelayan lewat. Gerak
dan kesibukannya yang tiba-tiba muncul membuat pemuda ini tertarik, tentu saja
ingin tahu. Dan begitu pelayan itu sadar dan kaget tiba-tiba pelayan ini berhenti
sejenak, membungkuk.
“Ah, itulah Hu-siocia, kongcu. Dialah Hu Lan!”
“Hu Lan? Puteri Hu-taijin itu!”
“Benar, dialah, kongcu. Itulah puteri menteri Hu Kang. Ah, maafkan aku. Aku
sibuk, harap kongcu teruskan makan dan silahkan panggil aku lagi kalau butuh
sesuatu!” pelayan itu menyeringai, pergi dan tergesa-gesa menyiapkan pesanan gadis
itu. Kiranya itulah Hu Lan, puteri menteri Hu Kang. Dan ketika pelayan itu pergi dan
dua pemuda ini tampak tertegun maka mereka tiba-tiba saling memberi isyarat.
“Mari kejar, ini kesempatan baik!” bisik yang pertama.
“Ya, dan kita tinggalkan restoran ini, Sui-ko. Untung makanku sudah habis dan
kenyang!”
Kolektor E-Book

Dua pemuda itu bergerak. Mereka mendadak tampak terburu juga, tiba-tiba
mendorong meja dan berkelebat. Cepat bagai iblis tahu-tahu mereka sudah
menghilang, pelayan membalik dan terkejut. Dia mendengar kesiur angin di
belakangnya. Dan ketika dua tamunya itu lenyap dan pelayan ini mendelong maka
dia berteriak pada majikannya karena dua pemuda tadi lupa memberi atau membayar
rekening.
“Hei...... wah, mereka lolos! Makanan belum di bayar!”
“Siapa, A-chung? Ada apa?”
“Mereka, loya (tuan). Dua pemuda itu!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


97

“Ah, kejar. Cari mereka!” namun dua pemuda itu yang sudah menghilang dari
restoran ini tak dapat dicari dan lenyap entah ke mana, sang pelayan kelabakan dan
majikannya marah-marah. Rumah makan itu merasa tertipu. Dan karena tadi A-chung
mendapat persenan dan kebetulan majikannya tahu maka sang majikan memerintah
pelayannya agar menyerahkan persenan itu, ditolak tapi sang majikan mengancam
pecat. A-chung tersentak karena begitu mudahnya sang majikan main PHK. Dan
karena dia kalah posisi dan bagaimana pun juragan biasanya berkuasa akhirnya
sambil mengumpat dan memaki-maki pelayan ini menyerahkan tip yang tidak jadi
dinikmatinya itu, melotot gusar seharian penuh. Orang yang dicari tak ada. Dan
sementara rumah makan itu ribut-ribut maka dua pemuda yang dimaksud, yang
melihat logat bicaranya agak kaku dan dari jauh ini sudah mengejar Hu Lan yang
meninggalkan rumah makan.
Hu Lan saat itu tak tahu. Dia sudah memesan makanan dan pulang, melenggang
dan berjalan cepat seorang diri. Dan ketika dia tiba di persimpangan jalan di mana ia
mau membelok mendadak dua pemuda muncul menghadangnya.
“Nona, maaf, tunggu dulu.....!” dua pemuda berkelebat, berdiri dan sudah
menghalangi langkahnya hingga Hu Lan terkejut. Gadis ini terbelalak, tentu saja
marah dan siap memaki. Tapi melihat seorang di antaranya buru-buru menjura dan
bersikap hormat maka dia menahan diri dan membentak.
“Kalian siapa? Mau apa?”
“Maaf, apakah kau Hu Lan, nona? Puteri Hu-taijin?”
“Hm, sudah tahu kenapa tanya? Minggir, kalian jangan kurang ajar!” Hu Lan
membentak, lengan mengibas dan mendorong pemuda itu. Tapi ketika pemuda itu
tersenyum dan mengelak dengan gerakan mudah, tahu-tahu pemuda satunya sudah
melangkah dan memalangkan lengan.
“Nona, kami dua bersaudara ingin bicara baik-baik denganmu. Maaf, adakah
ayahmu dirumah? Bisakah kau mengantar kami dan berjalan sama-sama?”
“Memangnya kalian siapa?” Hu Lan gusar. Dan kau kira aku gadis macam apa
yang boleh berjalan dengan pemuda tak dikenal? Manusia buruk, minggir. Atau
kalian terpaksa kuhajar dan mampus!” Hu Lan mau bergerak lagi, mendelik dan siap
menyerang tapi pemuda pertama buru-buru mengulapkan lengan. Dengan sabar dia
meredamkan kemarahan gadis ini, dan ketika Hu Lan terbelalak menahan marahnya
pemuda itu memperkenalkan diri.
Kolektor E-Book

“Aku Hong Siu, she Tan. Ini adikku, Giam Khing. Kami dari negeri Magada
ingin mencari ayahmu dan bicara tentang sesuatu.”
Hu Lan terkejut. ”Negeri Magada? Bukankah itu sebelah Nepal? Negeri kecil?”
“Benar, kami dari negeri kecil, nona. Negeri kami tak terkenal, tapi nenek
moyang kami adalah orang-orang yang terkenal. Kami keturunan dari Sheru Deva
dan Mira Dewi, sepasang suami isteri yang dulu menjadi pengawal paling diandalkan
oleh kaisar Yang Ti!”
Hu Lan tertegun. Terus terang dia tak mengenal nama-nama Sheru Deva dan
Mira Dewi itui, itu cerita lama, ratusan tahun yang lalu, tak tahu dia. Tapi mendengar
nama kaisar Yang Ti disebut-sebut tentu saja dia tahu karena itulah kaisar Tiongkok
BATARA Dewi Kelabang Hitam
98

yang hidup dalam dinasti Sui. Hu Lan mengerutkan kening. “Aku tak kenal nenek-
moyangmu, aku juga tak kenal kalian. Kalau kalian orang baik-baik harap datang ke
rumah dan jangan menghadang seperti perampok. Sekarang katakan apa mau kalian
dan kenapa mencegat!”
“Kami mau mengambil peta....?”
“Peta?”
“Ya, ayahmu mendapat peta dari nenek moyang kami, nona. Kami khawatir dia
menyalahgunakan peta ini dan mewarisi peninggalan nenek moyang kami.”
“Keparat, memangnya ayahku seorang tamak yang rakus akan harta benda orang
lain? Eh, jaga mulutmu baik-baik, orang she Tan. Kami keluarga Hu bukanlah
manusia-mannsia tamak harta yang akan merampas harta orang lain!”
“Hm,” pemuda yang satu tertawa dingin. Untuk harta benda mungkin ayahmu
tak tamak, nona! Tapi untuk peninggalan ilmu silat siapa yang tahu? Peta itu
menunjukkan peninggalan ilmu silat nenek moyang kami, kami akan memintanya dan
menyuruh dia menyerahkan. Kalau tidak kami akan menankapmu dan menjadikannya
sandera!”
“Keparat.....!” Hu Lan yang tak mampu lagi mengendalikan diri tiba-tiba
membentak dan menerjang maju, menghantam dan lutut satunya ditekuk menyodok
pemuda pertama, jari-jari bergerak ke pemuda kedua yang menghina ayahnya itu. Dia
marah sekali mendengar kata-kata ini. Tapi begitu dia bergerak dan menyerang serta
menendang tiba-tiba pemuda pertama menyingkir dan menyuruh adiknya melayani,
tamparan Hu Lan disambut dan pemuda kedua itu tertawa. Suara tangkisan
menggetarkan tempat itu. Dan ketika Hu Lan, terkejut dan terdorong maka pemuda
ini, Giam Khing, terbahak mengejek.
“Ha-ha, cobalah, nona manis. Aku akan melayanimu dan melihat apakah ilmu
silatmu benar dari nenek moyang kami atau bukan.”
“Wutt!” Hu Lan meloncat lagi, menerjang dan memaki dan kembali pemuda itu
menangkis. Kali si pemuda memasang kuda-kuda. Dan begitu terdengar suara “plak”
yang nyaring maka Hu Lan lagi-lagi terpental dan terdorong, marah dan membentak
dan pemuda itu menyuruh dia mengeluarkan semua kepandaiannya. Hu Lan gusar
bukan kepalang. Dan ketika lawan mengejek dan ia tak kuat tiba-tiba Hu Lan telah
melengking dan bergerak mainkan Soat-kong-jiu (Pukulan Sinar Salju), bertubi-tubi
dan cepat ia melancarkan serangan-serangannya itu, lengannya mengeluarkan cahaya
Kolektor E-Book

berkeredep dan hawa dingin pun teruar di situ, lawan mengerutkan kening dan
menghentikan tawanya, berkelit dan mulai berhati-hati melompat sana-sini,
menangkis dan terbelalak mengeluarkan pujian. Hu Lan penasaran karena Soat-kong-
jiunya itu tak mampu mendesak, pemuda ini menangkis dan dia selalu tergetar.
Tenaga sinkangnya kalah dibanding lawan, Hu Lan melotot. Dan ketika tangkisan
demi tangkisan selalu membuat ia terpental dan berkali-kali terhuyung maka pemuda
itu mengeluarkan suara kecewa karena apa yang dimaksud tak mengenai sasaran.
“Siu-ko, gadis ini ternyata mengeluarkan ilmu lain. Apakah benar tak punya
atau sengaja menyembunyikan?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


99

“Entahlah, robohkah dia, Khing-te. Coba paksa dan desak agar dia
mengeluarkan semua ilmunya.”
“Baik, tapi kalau tetap begini?”
“Tak mungkin dia akan mengeluarkan silat-silat lainya, Khing-te. Hu-taijin
terkenal memiliki kepandaian tinggi dan puterinya tentu mewarisi.”
“Ha-ha, kau betul. Kalau begitu biar kudesak dia, Siu-ko, dan juga
kurobohkan..... haittt!” Giam Khing yang merobah gerakan serta menangkis tiba-tiba
berkelebat dan balas menyerang, mengembangkan jarinya dan semacam ilmu
cengkeraman dikeluarkan. Angin bersiur dan Hu Lan terkejut. Dan ketika dia
terdorong dan coba menangkis mendadak kelima jari lawan mencakar dan lengannya
tergurat.
“Brett!”
Hu Lan terpekik. Untuk pertama kalinya ia melihat lawan membalas, tertawa
dan merangsek dan kembali serangan mirip cengkeraman itu menyetang. Jari-jari si
pemuda bergerak cepat dan menuju dirinya, mencengkeram dan kemudian mematuk
dan kembali Hu Lan menangkis namun terhuyung. Ia benar-benar kalah kuat,
sinkangnya kalah tinggi. Dan ketika lawan terbahak dan menubruk serta
mencengkeramnya terpaksa Hu Lan mengelak dan mundur-mundur menjauhi, tak
berani menangkis karena ia selalu tergetar, lengannya mulai ngilu dan sakit. Hu Lan
marah dan melengking bingung. Dan ketika ia terpaksa berlompatan dan inisiatip
serangan mulai dipegang lawan tiba-tiba Hu Lan membentak dan mencabut
pedangnya, pedang yang ia sembunyikan di balik pinggang.
“Ha-ha, bagus, ini lebih ramai!”
Hu Lan melotot. Giam Khing yang tertawa bergelak dan justeru gembira
membuat Hu Lan panas, dia manggerakkan lengan dan kini pedangnya menangkis.
Tapi ketika jari-jari si pemuda menyambut dan pedang berdentang keras tiba-tiba Hu
Lan terkesiap dan kaget juga.
“Keparat, kau rupanya hebat!” Hu Lan terbelalak, melihat lawan menangkis
dengan jari telanjang dan pedangnya mental. Giam Khing ternyata begitu hebat
hingga sinkangnya mampu membuat jari-jari sekeras baja, menangkis dan membuat
pedangnya tertolak hingga Hu Lan semakin gusar, juga gentar. Dan ketika lawan
meloncat dan kembali melancarkan satu serangan cepat dengan jari yang bergerak-
gerak seperti kuku rajawali itu akhirnya Hu Lan kelabakan dan menangkis tapi selalu
Kolektor E-Book

mundur, terdorong dan pucat karena dengan pedang pun ia merasa tak berdaya.
Pemuda lawannya itu betul-betul hebat. Dia harus menyelamatkan diri. Dan karena
lawan dirasa terlalu tangguh dan berkali-kali ia menangkis tapi justeru terdesak
akhirnya Hu Lan terisak dan....... melarikan diri.
“Kalian keparat, aku akan melaporkan ini pada ayah!” Hu Lan melontar
pedangnya, menimpuk dan memutar tubuh meloncat pergi. Lawannya terkejut dan
menangkap, pedang yang ditimpukkan itu disambut jari-jari yang sekuat elang,
dicengkeram tapi Hu Lan melompat pergi. Dan ketika gadis itu berteriak dan
mengancam penuh kecewa maka lawannya terkejut sementara pemuda satunya juga
berseru kaget.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


100

“Hei, jangan melarikan diri....!”


Hu Lan dikejar. Gadis ini telah menyelinap dan melompati sebuah tembok,
hilang dan mengerahkan ilmu lari cepatnya, pulang ke rumah. Dia tentu saja tak mau
membiarkan dirinya ditangkap, dua pemuda di belakang berteriak dan mengejar. Tapi
karena Hu Lan lebih tahu daerah di situ dan hapal jalan-jalan mana yang dapat
menyesatkan lawan maka gadis ini telah meninggalkan lawannya dan tiba di rumah,
menangis dan langsung menubruk ayahnya. Hu-taijin saat itu ada di sana, malam
nanti mereka akan menjamu beberapa tamu penting dalam hubungan kenegaraan,
satu di antaranya bahkan pangeran mahkota, Kao Cong. Itulah sebabnya Hu Lan di
suruh memesan makanan untuk jamuan nanti. Maka begitu puterinya tersedu-sedu
dan menangis menubruk dirinya menteri ini segera tertegun bertanya.
“Ada apa? Eh, apa-apaan ini?”
“Aku dikejar penjahat. Dua pemuda jahat menggangguku, yah. Pedangku
dirampas dan mereka mau menangkapku!”
“Mereka siapa? Di mana?”
“Aku tak tahu, hanya mereka mengatakan berasal dari negeri Magada!”
“Magada?” Hu-taijin tersentak. “Negeri di sebelah Nepal itu?”
“Ya, begitu kata mereka, yah. Dan mereka telah membuat malu aku. Katanya
mau mencari dirimu, bicara soal peta...!”
Menteri ini mendadak mundur. Dorongannya yang kuat tiba-tiba membuat
puterinya terhuyung Hu Lan terkejut dan menghentikan tangisnya. Dan ketika
ayahnya terbelalak dan kelihatan berobah maka menteri itu bertanya, menggigil, “Hu
Lan apa saja kata mereka itu? Peta apa yang dimaksud?”
“Aku tak jelas, ayah. Tapi katanya peta tentang peninggalan ilmu silat.”
“Hm, lalu apalagi? Mereka tak menyebut siapa mereka itu? Dari perguruan atau
keturunan mana?”
“Ya-ya, aku ingat!” Hu Lan tiba-tiba mengepal tinju. “Mereka menyebut-nyebut
kaisar Yang Ti, ayah. Katanya nenek moyang mereka itu pengawal paling tangguh
dari kaisar ini. Namanya hm...... kalau tidak salah Sheru Deva dan Mira Dewi!”
“Thian Yang Maha Agung....!” sang menteri mendadak memegangi kepalanya,
Kolektor E-Book

tersentak. “Mereka menyebut-nyebut nama Lan-ji? Dan mereka mau datang?”


“Ya, begitu katanya, yah. Ada apakah? Kenapa kau tiba-tiba berobah begini?”
“Hm....!” menteri ini tergetar. “Kalau begitu kekacauan akan terjadi, Hu Lan.
Biarlah kita masuk dan bicara di dalam!” menteri Hu Kang menekan puterinya,
mencengkeram dan membawa puterinya lebih ke dalam lagi. Dan ketika di dalam
menteri itu bercerita tentang sesuatu dan Hu Lan terbelalak lebar maka gadis ini
berseru kaget dan berulang-ulang ah-ah-oh-oh seperti orang tertegun.
“Nah, kau sudah tahu? Sekarang hati-hatilah, peta itu tak ada di tanganku karena
sudah kuberikan pada Bun Hwi. Aku akan coba menemui mereka dan bicara jujur.”
“Kalau mereka tak mau percaya?”
BATARA Dewi Kelabang Hitam
101

“Aku akan menerangkannya, Hu Lan. Coba menjelaskan pada mereka akan apa
yang sesungguhnya terjadi. Aku perlu tahu mereka itu keturunan ke berapa!”
“Hm.....!” Hu Lan manggut-manggut. “Kalau begitu mereka terlambat, yah. Kau
tak perlu khawatir atau merasa salah.”
“Benar, aku pribadi tak merasa salah, Lan-ji. Tapi mereka atau orang lain bisa
menerimanya lain.”
“Dan mereka pasti datang.”
“Ya, di saat kita akan menerima tamu.”
“Jadi bagaimana baiknya?”
“Tenang sajalah, anakku. Biar mereka datang dan aku akan menghadapinya.
Coba panggil ke mari Gwat Tek Ciauw.”
Hu Lan mengangguk. Pembicaraan dengan ayahnya tadi membuat dia mengerti,
kini dia tahu apa yang dimaksud dan cepat keluar, mencari pembantu ayahnya itu dan
Tek Ciauw, seorang pengawal terpercaya mereka datang. Itulah pengganti Wen Tao
dan Wen Ti yang tewas, pembantu menteri ini yang menjaga keselamatan rumah. Hu-
taijin memanggil dan segera menyuruh pembantunya itu memperketat penjagaan.
Menteri Hu Kang minta agar pengawalan di situ ditambah, malam nanti akan ada
urusan penting, juga tamu-tamu penting. Dan ketika siang itu menteri Hu Kang
menyiapkan sesuatu dan tak ada terjadi suatu yang mengkhawatirkan maka dua
pemuda dimaksud, Hong Siu dan Giam Khing kelabakan mencari Hu Lan.
Mereka ini tadi mengejar dan mengepung tapi karena mereka tak mengenal
daerah dan Hu Lan lolos maka mereka bertemu di ujung jalan dan Giam Khing
memaki-maki.
“Kurang ajar, siluman betina itu tak tertangkap. Kita kehilangan dia!”
“Sudahlah, kita mengetahui rumahnya, Khing-te. Mari ke alun-alun dan selidiki
dia, kita cari rumah berpatung singa.”
“Dan terus mencari ayahnya?”
“Tentu saja, tapi bukankah tak perlu terang-terangan? Kita sembanyi dulu,
Khing-te. Menyelinap ke sana dan cari tahu tentang menteri itu.”
“Baik, ayo kita mulai!” dan dua pemuda itu yang berkelebat menghilang dari
Kolektor E-Book

tempat itu lalu mencari rumah Hu-taijin yang berpatung batu singa.

─O─

Malam yang mencekam. Malam itu gedung menteri Hu terang-benderang,


beberapa pengawal mondar-mandir dan di belakang serta di samping rumah tampak
gerakan-gerakan ringan dari pengawal yang berjaga. Mereka tampak memasang
kewaspadaan tinggi, Hu-taijin sendiri malam itu menjamu tamunya di ruang dalam,
tidak kurang dari dua puluh orang, semuanya merupakan tokoh-tokoh penting yang
membicarakan tentang keamanan negara. Setelah pemberontakan Sun-ciangkun yang
gagal dengan didalangi Hong Lam maka malam itu kaisar minta agar ada

BATARA Dewi Kelabang Hitam


102

pembicaraan khusus mencegah pemberontakan, atau rencana pemberontakan yang


mungkin ada. Hu-taijin harus mengumpulkan informasi dari sana sini dan karena itu
mengadakan pertemuan dengan sesama rekan menteri lainnya, tentu saja yang terkait
dan ada hubungan dengan masalah keamanan negara. Hu Lan tak nampak dan
menteri itu bercakap-cakap sendiri dengan para tamunya. Dan ketika pembicaraan
hampir selesai dan selama ini tak ada apa-apa mendadak seorang pemuda muncul
bagai iblis.

JILID V

“HU-TAIJIN, maafkan aku. Aku ingin bicara sebentar....!”


Hu-taijin dan para tamu terkejut. Mereka menoleh dan mendengar suara ribut-
ribut di luar. Tek Ciauw masuk dan tergopoh memaki pemuda itu, menyerang dan
kiranya pemuda ini masuk dengan cara menerobos. Entah bagaimana pengawal di
luar tak sanggup menahan dan kini pemuda itu lolos, sudah ada di ruangan dalam dan
mengejutkan Hu-taijin. Dan ketika Tek Ciauw membentak dan menusukkan
tombaknya dengan marah maka pemuda itu dimaki dengan penuh kegusaran.
“Bocah siluman, kau tak tahu adat. Mampuslah dan jangan mencari penyakit.....
wutt!” tombak di tangan pembantu Hu-taijin itu menyambar, kuat dan cepat namun si
pemuda mengelak. Dengan senyum tenang dan tidak merobah posisi kakinya dia
menggerakkan pinggang, meliuk dan memutar dan tombak pun menyerang angin
kosong. Dan ketika Tek Ciauw membentak lagi dan marah menyerang gusar tiba-tiba
pemuda itu berseru dan mengangkat kakinya, menendang tombak.
“Pengawal busuk, pergilah. Aku tak ada urusan denganmu... plak!” tombak
terpental, langsung terlepas dari tangan laki-laki itu dan Tek Ciauw terkejut. Dia
berseru keras mengambil tombaknya, mau menyerang lagi. Tapi belum dia
menyentuh tombaknya itu dan suara ribut-ribut di luar semakin ramai tiba-tiba kaki
pemuda itu berputar dan.... satu tendangan pun mengenai pinggul laki-laki ini.
“Dess!” Tek Ciauw menjerit, terlempar dan tersungkur jatuh dan terguling-
guling gagal menyambar tombak, kebetulan di dekat Hu-taijin dan menteri itu
berkelebat. Cepat dan sebat dia mengangkat bangun pembantunya ini. Dan ketika
puluhan pengawal masuk dan para tamu menjadi geger maka Hu-taijin mengangkat
lengannya tinggi-tinggi dan membentak.
Kolektor E-Book

“Berhenti!”
Pengawal pun berhenti. Mereka tak jadi menyerang dan pemuda itu pun
dikepung. Si pemuda tersenyum mengejek dan tenang-tenang saja, sikapnya penuh
kepercayaan diri dan Hu-taijin teringat cerita puterinya. Hu Lan tiba-tiba muncul dan
berkelebat di samping ayahnya. Dan ketika dua ayah dan anak itu berdiri
berdampingan dan Hu Lan terkejut segera gadis ini menudingkan telunjuknya.
“Benar, dialah si keparat itu. Ini, yah, yang namanya Giam Khing!”
“Hm,” Hu-taijin melangkah maju, matanya bersinar-sinar. “Kau ada maksud apa
mengacau di tempat ini, anak muda? Siapa kau dan memiliki tujuan apa?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


103

“Aku Giam Khing,” pemuda itu tersenyum mengejek. “Puterimu sudah memberi
tahu dan tentu telah menceritakan tentang aku. Bukankah tak perlu bertanya lagi,
taijin? Dan kau menteri Hu Kang yang kucari-cari?”
“Benar, aku Hu Kang. Ada apa mau mencari aku?”
“Aku ingin mengambil peta. Kau mencuri peta keluargaku!”
“Keparat...!” Hu Lan melengking, tiba-tiba berkelebat. “Kau kurang ajar, orang
she Giam. Jaga mulutmu dan mampuslah!” gadis itu menerjang, tak kuat dan marah
dan kini berani menyerang karena ayahnya ada di situ. Tamu yang lain bangkit
berdiri dan ribut. Dan ketika pemuda itu mengelak dan menangkis maka Hu Lan lagi-
lagi terpental.
“Plak!”
Kolektor E-Book

Hu Lan menjerit, marah dan menerjang lagi dan segera gadis itu memaki-maki.
Dia marah dan penasaran karena kini lawan berani menghinanya di depan orang
banyak, menampar dan berkelebat tapi lagi-lagi lawan menangkis. Pukulan Soat-
kong-jiu yang dilancarkan bertemu tangkisan lawan yang kuat, Hu Lan terhuyung
namun menyerang lagi. Dan ketika dia menubruk dan pukulan serta tamparan

BATARA Dewi Kelabang Hitam


104

bertubi-tubi menyerang lawannya namun dengan mudah lawannya itu mengelak atau
menangkis akhirnya si pemuda membalas dan satu tepukan mengenai pundak gadis
itu, Hu Lan terjengkang dan ayahnya terkejut. Tepukan tadi menggetarkan ruangan
itu dan Hu Lan berteriak, sakit dan marah tapi juga gentar. Tapi sebelum Hu Lan
menyerang lagi dan melompat bangun tiba-tiba Hu-taijin telah menolong anak
perempuannya itu dan berkelebat.
“Lan-ji, tunggu. Jangan menyerang!” kemudian menghadapi pemuda itu dengan
muka merah menteri ini berkata. “Anak muda, apa yang kau tuduhkan adalah fitnah.
Sekarang aku sedang menghadapi tamu-tamuku, bisakah besok kau datang dan kita
bicara lagi?”
“Hm, kau mau mengatur siasat dan melarikan diri? Ha-ha, tidak bisa, taijin.
Malam ini aku sengaja datang untuk membuka kedok kejahatanmu. Aku ingin tamu-
tamumu mendengar dan melihat siapa menteri Hu Kang ini. Kau mencuri benda milik
keluargaku, tidak mengembalikannya dan sekarang malah mau mengusir aku. Akal
apa ini dan kenapa aku harus pergi? Tidak, aku mau pergi kalau peta peninggalan
nenek moyangku itu kau kembalikan, taijin. Atau aku akan menelanjangimu dan
membuatmu malu di depan teman-temanmu yang terhormat!”
“Anak muda,” Hu-taijin mengeretakkan gigi. “Aku tidak akan takut atau malu
dengan semua ancamanmu tadi. Urusan ini panjang, aku tak dapat bicara singkat.
Kalau kau menuduh aku mencuri sesuatu maka itu tidak benar. Aku memang
mendapatkan sebuah peta, tapi peta itu tak ada di sini!”
“Hm, di mana? Kau akal-akalan menyembunyikan di lain tempat?”
“Jaga mulutmu!” menteri ini membentak. “Aku bukan orang yang suka
menyembunyikan sesuatu, anak muda. Kuharap pergi dulu dan besok kita bertemu
lagi. Aku sedang sibuk, di sini pun ada yang mulia pangeran mahkota!”
“Aha, bagus, kalau begitu kebetulan?” pemuda ini malah menantang. “Aku tak
mau pergi sebelum mendapatkan peta keluargaku, taijin. Dan aku boleh pula meminta
pendapat yang mulia pangeran mahkota! Mana dia?”
Kao Cung, sang pangeran mahkota muncul. “Aku di sini, anak muda. Ada
urusan apa kau deagan paman Hu? Dia benar, kau dapat dianggap pengacau. Harap
kau tahu diri dan pergi!”
“Ah, mana bisa, pangeran? Hu-taijin mencuri peta wasiat dari keluargaku, kalau
aku pergi tentu dia bersembunyi. Tidak, aku justeru mau minta pendapatmu
Kolektor E-Book

bagaimana kelakuan menterimu ini. Sudah mengaku tapi tak mau memberi!”
“Hm......!” pangeran mahkota mengerutkan kening, merasa lancang
mencampuri. “Aku tak mau memberi penilaian atas pertanyaanmu, anak muda. Hu-
taijin adalah pembantu ayahku dan selama ini sepak terjangnya baik. Aku lebih
percaya dia daripada kau, bocah liar! Sebaiknya kau pergi atau kami akan
menangkapmu!”
“Hm, begini pula keinginanmu, taijin?” pemuda itu mengejek pada menteri Hu
Kang. “Kau mau lolos dan menyelamatkan diri?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


105

“Ayah,” Hu Lan tak dapat mengekang diri. “Kau tangkap saja pemuda ini dan
sumpal mulutnya. Dia akan semakin kurang ajar dan sombong, lebih baik di bekuk
dan di bunuh!”
“Benar,” pemuda itu tertawa. “Dan kau akan menghadapi sanak keluargaku
yang lain, taijin. Kau boleh dan bisa saja membunuh tapi saudara-saudaraku yang lain
akan datang!”
Hu-taijin terkejut. Dia tiba-tiba teringat cerita puterinya bahwa sebenarnya ada
dua pemuda yang mengganggu puterinya, padahal yang datang ini baru seorang, jadi
ada seorang lagi yang lain dan tentu pemuda yang lain itu bersembunyi, entah di
mana. Terkejut dan sadarlah menteri ini akan ancaman itu. Tapi karena dia tidak
merasa bersalah dan marah mendengar ancaman itu tiba-tiba menteri ini mendorong
puterinya mengerotokkan jari-jari, melangkah maju.
“Bocah she Giam, kata-kata puteriku benar. Kau semakin sombong dan tak tahu
aturan. Kalau kau tak mau datang besok dan minta diselesaikan sekarang maka
majulah, aku siap merobohkanmu!”
“Ha-ha, mengandalkan jumlah banyak?”
“Tak perlu, aku cukup seorang diri dan kita lihat berapa jurus kau roboh.”
“Sombong! Kau tak mungkin dapat merobohkan aku, Hu-taijin. Kalau begitu
mari kita lihat, aku juga ingin melihat dan merasakan kepandaianmu.... wutt!” dan si
pemuda yang menerjang dengan cengkeraman ke depan tiba-tiba membentak dan
marah menyerang menteri itu. Geraknya sama dengan yang dilakukannya terhadap
Hu Lan, semacam ilmu cengkeraman rajawali. Kelima jari membentuk cakar dan
cepat serta kuat jari-jari itu menerkam. Tapi Hu-taijin yang tentu saja sudah bersiap
dan tak mau kalah tiba-tiba menangkis.
“Dukk!”
Ruangan itu tergetar. Pemuda ini berteriak kaget ketika terpental, hebat menteri
itu, sekarang dia beradu dengan lawan yang tangguh dan cengkeramannya gagal, Hu-
taijin memang bukan Hu Lan, menteri ini telah mengerahkan sinkangnya dan
mendengar kelihaian pemuda itu, jadi tentu saja sudah bersiap dan mengerahkan
tenaganya dua perlima bagian, coba-coba sekaligus menguji kekuatan lawan. Dan
ketika lawan terpental dan berteriak kaget maka menteri ini mendengus dan
tersenyum mengejek.
Kolektor E-Book

“Bocah, ilmumu masih rendah!”


Pemuda itu metotot. Dalam gebrak pertama ini dia merasakan kelihaian menteri
itu, tentu saja penasaran. Maka mendengar menteri itu mengejeknya dan dia
menerjang lagi maka cengkeraman dan patukan menyambar tubuh si menteri Hu
Kang.
“Duk-dukk!
Lawan lagi-lagi terpental. Giam Khing, pemuda itu, berseru kaget. Untuk kedua
kali dia merasa kalah. Tenaga sakti menteri itu betul-betul hebat dan dia marah. Dan
karena pemuda ini bukannya takut melainkan nekat dan maju lagi maka tiba-tiba dia
membentak dan berkelebat serta mencengkeram dan mematuk lagi, menendang dan

BATARA Dewi Kelabang Hitam


106

menampar dan tiba-tiba tubuhnya pun lenyap. Bagai bayangan rajawali dia sudah
melakukan serangan bertubi-tubi ke arah menteri itu, serangannya ganas dan
berbahaya. Tapi karena menteri Hu Kang telah mengetahui kepandaiannya dan enak
saja menangkis atau berlompatan maka pemuda itu selalu mengeluh dan memaki
setiap terdorong mundur, kejadiannya hampir mirip kalau dia menghadapi Hu Lan,
sekarang berbalik dan pemuda ini menjadi pucat. Dan ketika dia menerjang dan
mengamuk tapi tetap saja menteri Hu Kang dapat melayaninya dengan baik maka
pemuda itu tiba-tiba melakukan gerak menotok yang mengeluarkan suara mencicit.
“It-yang-ci....!”
Menteri Hu Kang terbelalak. Dia tentu saja mengenal ilmu menotok itu,
pengalamannya banyak dan luas. Lawan tertawa mengejek dan mendesak, menteri ini
mundur-mundur dan dikira takut. Dan ketika sebuah totokan mengenai tubuh menteri
itu tapi Hu-taijin sudah mengerahkan sinkangnya menolak maka totokan mental dan
si pemuda terkejut.
“Tuk!”
Hu-taijin tak apa-apa. Dia memang dapat melindungi diri dengan kekebalan
sinkangnya, tadi mundur-mundur karena memperhatikan ilmu menotok lawan. Heran
dan kaget karena ilmu menotok itu kabarnya tak terdengar lagi, sudah lama
menghilang. Dulu dimiliki oleh seorang tokoh muda hebat bernama Giam Hok. Dan
ketika lawan terkejut dan kembali menyerang tiba-tiba menteri ini membentak dan
menangkis kuat.
“Berhenti! Kau ada hubungan apa dengan Giam Hok?”
Giam Khing terhuyung. Tadi dia menyeringai ditangkis menteri itu, kini terkejut
dan terbelalak memandang menteri ini. Hu-taijin menyebut-nyebut nama Giam Hok.
Dan ketika dia menahan sakit namun menyeringai mengejek Giam Khing menjawab,
“Dia leluhur keluargaku, taijin. Dialah kakek dari kakek buyutku yang telah
meninggal.”
“Kalau begitu kau generasi ke berapa?”
“Aku generasi ke enam!”
Hu-taijin tergetar. Dan sementara dia berkerut memandang pemuda itu
mendadak sesosok bayangan berkelebat dan muncul.
“Hu-taijin, aku pun datang menyertai saudaraku. Perkenalkan, aku Tan Hong
Kolektor E-Book

Siu....!” seorang pemuda lain telah berdiri di samping Giam Khing, tegak dan gagah
dan kedatangan pemuda itu pun seperti iblis. Dia berhasil melampaui semua
pengawal dan kini berhadapan dengan menteri itu. Dan ketika Hu-taijin tertegun dan
mengerutkan kening semakin dalam maka Hong Siu, pemuda ini menjura, sikapnya
sedikit lebih hormat.
“Taijin, maafkan kalau adikku dianggap membuat onar. Kami datang
sebenarnya bukan untuk mengacau, melainkan mengambil dan meminta peta secara
baik-baik darimu.”
“Hm....!” menteri ini mengurut jenggotnya yang pendek, mata bersinar-sinar.
“Kau ada hubungan pula dengan pemuda ini, anak muda? Kau bernama Hong Siu?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


107

“Benar, kakek dari kakek buyutku adalah Tan Gi Siong, taijin. Aku
keturunannya dan sama dengan adikku Giam Khing ini.”
“Giam Khing telah kulihat ilmu silatnya, dapatkah kau membuktikan bahwa kau
pun betul keturunan pendekar she Tan itu?”
“Maksudmu?”
“Awas...!” Hu-taijin yang tidak menjawab melainkan menyerang tiba-tiba sudah
membentak dan meluruskan lengan kirinya menghantam pemuda itu, mengerahkan
Soat-kong-jiu dan Hong Siu terkejut, dia mengelak namun angin pukulan masih
menyambar. Menteri Hu Kang memang hebat. Dan ketika menteri itu masih
menyerang dan membalik serta mengibaskan lengannya lagi tiba-tiba Hong Siu tak
dapat berkelit dan terpaksa menangkis, jatuh terjengkang dan segera menteri itu
berseru keras. Cepat dan bertubi-tubi Hu-taijin telah mengurung pemuda ini dengan
pukulan Soat-kong-jiunya. Dan ketika Hong Siu tak dapat mengelak dan kembali
menangkis tapi terbanting akhirnya pemuda itu tunggang-langgang. diserang pukulan
dingin.
“Siu-ko, keluarkan Ilmu Tembok. Hu-taijin ingin membuktikan itu!”
Hong Siu tersentak. Dia sesungguhnya tak mengerti maksud serangan itu,
mengira Hu-taijin mabok dan edan-edanan. Dia marah dan mau membalas. Tapi
begitu adiknya memberi tahu dan dia sadar tiba-tiba Hong Siu melengking tinggi
dan.... lenyap berputaran seperti gasing bergulung-gulung, melindungi diri dari semua
pukulan-pukulan itu dan terdesak tapi selamat dalam pusingan tubuhnya. Hong Siu
telah mengeluarkan ilmunya yang aneh di mana serangan lawan tak dapat menembus
dirinya. Semua bagian dari kepala sampai ke kaki sudah terlindung oleh putaran
tubuh yang amat cepat ini. Dan ketika Hu-taijin terbelalak dan heran mengeluarkan
seruan aneh tiba-tiba menteri ini berhenti menyerang dan Hong Siu pun otomatis
menghentikan gerakan tubuhnya.
“Ilmu Tembok... benar, Ilmu Tembok!” menteri itu tertegun, termangu dan kini
percaya bahwa pemuda ini memang keturunan Tan Gi Siong, pendekar luar biasa
yang menjadi suheng (kakak seperguruan) nomor tiga dari Giam Hok, pemuda lihai
yang juga luar biasa ilmu silatnya, tokoh-tokoh yang hidup dua-tiga ratus tahun yang
lalu dan pernah membuat gempar kota raja. Dan ketika Hong Siu mengusap
keringatnya dan menteri Hu menjublak mengerot gigi maka pemuda itu menghadapi
lawan dengan muka merah.
Kolektor E-Book

“Nah, itukah bukti yang ingin kau lihat, taijin? Aku telah membuktikan bahwa
aku adalah benar keturunan pendekar Tan, kalau kau tak percaya maka aku dapat
memperlihatkan ilmu-ilmu yang lain dan boleh kita bertempur!”
“Tidak, aku percaya. Sekarang apa maumu?”
“Kami menuntut peta itu, taijin. Minta dengan hormat agar kau menyerahkannya
kepada kami, pewaris sah!”
“Tapi peta itu tak ada padaku.”
“Hm!” Hong Siu tiba-tiba marah. “Kau mau mengelak dan menyangkal, taijin?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


108

“Benar,” Giam Khing juga melangkah maju. “Tadi menteri ini mengaku, Siu-ko.
Tapi entah kenapa tiba-tiba hilang tak ada!”
“Aku tak bohong,” menteri itu menjadi bingung. “Sebaiknya besok saja kalian
kembali, anak muda. Tak dapat kujelaskan hal ini di depan orang lain. Sebaiknya
kalian pergi dan besok kita bertemu lagi.”
“Aku tak percaya!” Giam Khing tiba-tiba membentak. “Tentu dia mau
menyembunyikan diri, Siu-ko. Atau mencari akal bagaimana dapat menyelamatkan
itu!”
“Anak muda,” Hu-taijin menjadi marah. “Di sini ada yang mulia pangeran
mahkota, dialah junjunganku setelan sri baginda sendiri. Kalau kalian tak percaya
boleh aku bersumpah di depannya bahwa apa yang kalian cari betul-betul tak ada!”
“Hm, aku tak percaya sumpahmu,” Hong Siu mendadak mengejek. “Aku tinggal
memintanya sekarang dan pergi atau kami tak mau sudah, taijin. Kau tinggal memilih
yang mana kau suka.”
“Keparat, kalian keras kepala. Kalau begitu aku akan menghadapi kalian, bocah-
bocah liar!” dan Hu-taijin yang gusar menghadapi dua anak muda itu lalu
menggerakkan lengan dua kali menyuruh pangeran mahkota dan lain-lain yang ada di
dekat situ minggir, tahu percuma saja melayani dua pemuda yang bersikeras ini.
Mereka tak percaya padanya. Maka begitu dia bersiap dan menyuruh dua pemuda itu
maju tiba-tiba Hong Siu dan adiknya saling pandang, marah.
“Bagaimana, Siu-ko? Kau atau aku duluan?”
“Biar aku yang maju, kau berjaga melihat kecurangan yang lain!”
“Hm,” menteri Hu menggapai. “Tak perlu satu-satu anak muda. Kalian maju
berbareng dan tak perlu sungkan aku mampu menghadapi kalian dan merobohkan
kalian!”
“Sombong!” Giam Khing naik darah. “Dia sendiri yang meminta begitu, Siu-ko.
Ayo serang dan robohkan dia....!” pemuda itu bergerak, mendahului saudaranya dan
sebuah pukulan menyambar muka Hu-taijin. Cepat dan kuat kembali ia menyerang.
Tapi karena Hu-taijin mengetahui kepandaian pemuda ini dan menangkis maka Giam
Khing terpekik ketika terpental.
“Dukk!”
Kolektor E-Book

Pemuda mencelat. Untuk kesekian kalinya lagi Giam Khing merasakan


kelihaian menteri ini, membentak dan maju lagi dan kini Hong Siu berkelebat.
Pemuda itu juga marah melihat adiknya terpental. Dan ketika pemuda itu menyerang
dan Giam Khing juga berseru keras maka dua pemuda ini sudah bergerak dan
mengeroyok menteri itu.
“Duk-dukk!”
Giam Khing dan Hong Siu terkejut. Mereka ditangkis dan terdorong, ternyata
meskipun dikeroyok dua menteri ini masih hebat dan mampu membuat mereka
terhuyung. Pembagian tenaganya mantap dan sama kuat, baik lengan kiri atau lengan
kanan sama ampuhnya. Dan ketika dua pemuda itu membentak dan marah menerjang
lagi maka Hong Siu dan Giam Khing sudah berkelebatan menyerang menteri ini,
BATARA Dewi Kelabang Hitam
109

mematuk dan mencengkeram dan Giam Khing melepas totokan-totokan pula, It-
yang-ci, ilmu totok yang hebat itu. Tapi karena Hu-taijin mulai mengenal ilmu silat
mereka dan dengan sinkangnya yang tinggi menteri ini mampu membuat tubuhnya
kebal maka patukan atau cengkeraman yang dilakukan dua pemuda itu tak mampu
melukai dan hanya baju atau pakaian menteri itu yang robek diserang, berputar dan
berlompatan dan tak lama kemudian Giam Khing maupun kakaknya melengking
tinggi. Mereka itu penasaran dan juga kagum, tiba-tiba mengerahkan ginkang dan
lenyap berkelebatan. Hu-taijin mengimbangi dan segera menteri itu pun lenyap
melayani lawan. Dan ketika dua pemuda itu menyerang dan memukul tapi lawan
dapat menolak semua pukulan mereka maka Giam Khing dan kakaknya gusar, juga
terkejut.
“Dia hanya mempergunakan Soat-kong-jiu, tak mengeluarkan ilmu-ilmu lain!”
“Ya, dan menteri ini lihai, Khing-te. Agaknya kita harus mencabut senjata!”
Hong Siu mendahului adiknya. Pemuda yang lebih lembut ini mencabut pedang,
bergerak dan menerjang dan segera senjata di tangannya itu mendesing menusuk
lawan. Hu-taijin menyampok dan pedang terpental. Dan ketika Hong Siu berteriak
marah dan maju lagi dengan pedang di tangan maka Giam Khing pun juga mencabut
senjatanya dan pedang bergagang hitam sudah berada di tangan pemuda ini, menikam
dan membacok dan segera menteri Hu Kang dikerubut, lebih seru dan tentu saja
berbahaya dibanding tadi. Dan ketika Hong Siu berseru agar mereka mengeluarkan
segenap kepandaiannya dan pedang serta tangan kiri bergerak bertubi-tubi maka Hu-
taijin dibuat sibuk dan menangkis serta membalas.
“Plak-plakk!”
Pedang kembali tergetar. Dua pemuda itu berseru penasaran karena tetap saja
mereka tak mampu mendesak. Lawan benar-benar lihai dan tangguh. Hu-taijin
bersikap tenang namun hati-hati, pengerahan sinkang ditambah dan kedua lengan pun
tiba-tiba mengeluarkan sinar berkeredap, itulah Soat-kong-jiu yang semakin hebat.
Dan ketika menteri ini berteriak perlahan dan tangannya mulai memasuki gulungan
pedang maka pukulan menteri ini menyambar dan mendorong bayangan pedang,
menolak dan saat itu melepas pukulan miring. Dari atas ke bawah menteri ini
membalas Giam Khing, pemuda itu kebetulan ada di dekatnya dan menggigil.
Pukulan Soat-kong-jiu yang dilancarkan menteri Hu ternyata berpengaruh, Giam
Khing mulai kedinginan. Dan persis pemuda itu mengelak namun lawan memburu
maka pundak terkena dan Giam Khing menjerit.
Kolektor E-Book

“Dess!”
Giam Khing untuk pertama kali merasakan pukulan langsung. Soat-kong-jiu
(Pukulan Salju) yang dikerahkan menteri ini membuat bagian yang terkena beku.
Giam Khing merasa pundaknya seolah menjadi es dan tak dapat digerakkan, tentu
saja dia tercekat. Dan ketika dia terhuyung dan menteri itu maju lagi maka sebuah
tamparan lain mengenai bahunya yang satu, menbuat pemuda ini mengeluh dan
terpelanting. Lawan mau mendesak tapi Hong Siu membantu, pemuda ini marah dan
menusuk dari samping, membentak. Dan ketika Hu-taijin menangkis dan sekaligus
mencengkeram tiba-tiba pedang tertangkap dan Hong Siu tersentak.
“Lepas!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


110

Hong Siu tak mau. Dia berkutat dan coba menyelamatkan pedang dengan
tendangan dari bawah, diterima dan Hong Siu terpekik ketika merasa perut Hu-taijin
demikian keras. Menteri itu mengerahkan sinkangnya dan Hong Siu malah terdorong,
kakinya sakit, pedang tiba-tiba menjadi begitu dingin dan Hong Siu tak tahan.
Serangan Soat-kong-jiu yang menjalar di tubuh pedang membuat pemuda ini
menggigil. Dan ketika Hu-taijin tertawa dan mendorong serta melepaskan pedang
tiba-tiba Hong Siu terjengkang dan jatuh bergulingan.
“Ha-ha, kau nekat, anak muda. Sekarang terimalah dan tahan pukulanku.....!”
menteri itu berkelebat, mengejar dan menepuk dan kali ini Hong Siu tak dapat
mengelak. Tamparan atau tepukan menteri itu mengenai punggungnya, Hong Siu
mengeluh dan mencelat tiga meter, tanpa dapat dicegah lagi pedangnya pun terlepas
dan jatuh di lantai ruangan. Dan ketika Hu-taijin tertawa dan menyusuli dengan
sebuah totokan tapi Giam Khing membentak dan ganti menolong saudaranya maka
Hu-taijin terpaksa membalik dan menangkis pemuda itu.
“Plak!” Giam Khing terpelanting, mendesis dan mengeluh namun di sana
kakaknya sudah melompat bangun. Dua anak muda itu marah dan menerjang lagi.
Dan ketika Hong Siu menubruk dan sudah menyambar pedangnya lagi maka Hu-
taijin kembali dikeroyok dan mendapat bentakan-bentakan dua anak muda itu,
ditusuk tapi menyampok dan pedang lagi-lagi terpental. Menteri ini memang hebat.
Dan ketika Hong Siu dan adiknya melengking penuh penasaran maka mereka sudah
menyerang dan menjaga diri dengan hati-hati.
Namun Hu-taijin tetaplah Hu-taijin. Menteri ini telah mengenal kepandaian
masing-masing, dengan Soat-kong-jiu dua pemuda itu masih nekat dan berani
menyerangnya. Giam Khing melepas totokan-totokan dan Hong Siu sang kakak juga
tak mau kalah, tangan kiri bergerak dan berkali-kali pukulan atau cengkeraman
dilakukan pemuda itu. Kalau bukan menteri ini tentu sudah kelabakan dibuatnya.
Namun karena Hu-taijin adalah menteri kosen dan dia gemas melihat kebandelan dua
anak muda itu akhirnya menteri ini mengerahkan Pek-in-ciang (Tangan Mega).
“Anak-anak, sekarang kalian harus roboh!” menteri itu merobah gerakan, tangan
kiri menampar dan pukulan panas kali ini menderu. Giam Khing menangkis tapi
pedangnya mencelat, kaget pemuda itu. Dan ketika lawan tertawa dan maju lagi
dengan pukulan tangan kirinya itu tiba-tiba pemuda itu terjengkang karena angin
pukulan itu membuat dia sesak napas dan seluruh tubuhnya lemas tak dapat
digerakkan.
“Hei....!”
Kolektor E-Book

Terlambat, Hu-taijin telah berkelebat disamping pemuda ini, menotok dan Giam
Khing tiba-tiba roboh. Dia tak dapat menahan pukulan Pek-in-ciang itu, kaget karena
dari Soat-kong-jiu yang berhawa dingin tiba-tiba menteri itu merobah pukulannya
dengan Pek-in-ciang yang berhawa panas. Tubuh Giam Khing kalah cepat
beradaptasi, tentu saja tersentak ketika tubuh tiba-tiba lemas. Hawa pukulan itu telah
membuat dia terguling. Dan ketika totokan Hu-taijin tak dapat dihindari dan pedang
pun terlepas dari tangannya maka Giam Khing terjungkal dan tidak berdaya lagi.
“Bluk!”
Pemuda itu diam tak bergerak. Dia melotot, marah tapi Hu-taijin telah
menghadapi kakaknya. Sama dengan pemuda ini menteri itu pun melepas Pek-in-
BATARA Dewi Kelabang Hitam
111

ciang, Soat-kong-jiu dirobah menjadi pukulan panas yang mengejutkan Hong Siu,
pemuda itu pun kalah cepat bereaksi. Dan ketika pedang ditangkis dan senjata di
tangan pemuda itu mencelat, tak kuat menahan pukulan panas maka Hu-taijin
berkelebat pula menotok pemuda ini, dikelit dan Hong Siu berteriak kaget. Dia di
kejar dan akhirnya melempar tubuh bergulingan. Dalam saat yang gugup begitu dia
lupa mempergunakan Ilmu Temboknya, Hu-taijin tertawa. Dan karena menteri ini
telah menang di atas angin dan tentu saja mudah baginya mengejar dan merangsek
pemuda itu akhirnya di saat Hong Siu coba menyelamatkan diri dengan bergulingan
sebuah totokan mengenai pinggangnya.
“Tuk!” pemuda ini pun mengeluh roboh. Hong Siu tak berdaya lagi menghadapi
menteri yang lihai itu, Hu-taijin telah menyelesaikan pertempuran dan kini sambil
mengusap keringatnya menteri itu tertawa. Dua anak muda mengagumkan hatinya.
Kalau bukan karena pengalaman dan kepandaiannya yang tinggi tak mungkin dia
menghadapi anak-anak muda ini. Maka begitu lawan dibuat roboh dan Giam Khing
serta kakaknya tertegun memandang menteri itu maka Hu-taijin berkata.
“Nah, apa sekarang yang dapat kalian lakukan, anak-anak? Kalau aku
bermaksud kejam tentu kalian kubunuh, tapi hal itu tak kulakukan. Aku tak
menyimpan niat jelek kepada kalian. Lihatlah, kalian kubebaskan......!” dan Hu-taijin
yang menggerakkan tangannya dua kali menotok anak-anak muda itu akhirnya
membuat Giam Khing dan Hong Siu melompat bangun, pucat dan saling pandang
karena mereka telah dikalahkan telak. Menteri itu benar, mereka dibebaskan. Padahal
kalau mau tentu lawan dapat membunuh mereka dan mereka tak berdaya. Dan karena
mereka sudah pecundang dan Hu-taijin membebaskan mereka akhirnya Hong Siu
menahan malu berkata gemetar.
“Taijin, kau telah membuktikan keunggulan kepada kami. Kami kalah, kau
memang lihai. Tapi urusan peta tetap tak dapat kami habiskan dan saudara-saudara
kami yang lain yang akan datang. Terserah kau mau menangkap kami atau
bagaimana!”
“Hm, kalian tak mau mengerti,” menteri itu tak puas. “Aku telah bicara jujur
dengan kalian, anak-anak muda. Tapi kalau kalian nekat dan ingin kembali tentu saja
aku akan menghadapi. Sekali lagi kupersilahkan kalian besok datang ke sini, kita
bicara setelah tamu-tamuku pergi. Atau kalian pulang dan kembali ke Magada!”
“Kami memang akan kembali,” Hong Siu menjawab. “Kami telah gagal di sini,
taijin. Dan kami melaporkan ini pada saudara-saudara dan orang tua kami!”
Kolektor E-Book

“Silahkan,” Hu-taijin tergetar, matanya berkilat marah. “Aku siap menerima


siapa saja, anak muda. Dan kalau orang tua kalian ada itu lebih baik lagi. Pergi dan
laporkan itu kepada mereka!”
“Baik!” dan Hong Siu yang mengangguk dengan marah dan memutar tubuhnya
tiba-tiba berkelebat menyambar sang adik, tak mau lagi berlama-lama di situ karena
terlalu kuat. Dan begitu mereka pergi dan Hu-taijin tampak mengerutkan keningnya
maka malam itu menteri ini meminta maaf pada tamu-tamunya. Sedikit gangguan itu
membuat pertemuan agak terganggu. Untunglah, pembicaraan hampir selesai. Dan
karena dua pemuda itu dibebasksn kembali dan Hu-taijin tak mau membicarakan ini
akhirnya menteri itu melanjutkan sisa pembicaraan dan Kao Cung serta menteri-
menteri lain diam-diam saling pandang. Betapapun peristiwa itu membuat mereka

BATARA Dewi Kelabang Hitam


112

heran, juga ingin tahu. Maklum, mereka tak tahu peta yang dimaksud. Tapi karena
Hu-taijin adalah menteri yang disegani dan tentu saja mereka tak berani bertanya
maka malam itu pertemuan dilanjutkan kembali dan akhirnya selesai. Kao Cung dan
lain-lain pulang kembali ke tempat masing-masing. Dan begitu suasana kembali
tenang dan aman maka keesokan harinya menteri ini pergi menemui seseorang, entah
ke mana dan hanya puterinya itulah yang tahu. Kerut di tengah kening menteri itu
menandakan kecemasannya, meskipun hampir tak nampak dan pandai
disembunyikan. Dan ketika semuanya berjalan seperti biasa dan dua pemuda itu tak
kembali ke gedung menteri ini maka Hu Lan diam-diam diutus ayahnya mencari Bun
Hwi, tak ketemu karena Bun Hwi mengurung diri di tempat rahasia. Pemuda itu tak
tahu apa yang terjadi di luar. Hu Lan coba menunggu dan menanti di luar. Tapi
karena Bun Hwi baru keluar setelah dua belas bulan dan Hu Lan tentu saja tak sabar
dan tak tahu di mana tepatnya Bun Hwi berada maka gadis ini akhirnya kembali dan
menemui sang ayah, disambut helaan napas dan menteri Hu Kang pun menyesal. Peta
yang diberikan kepada Bun Hwi itu hanya sebuah, jadi dia pun tak tahu di mana Bun
Hwi bersembunyi, kecuali diketahuinya pemuda itu di Bukit Pedang. Itu saja. Dan
karena persoalan lain banyak dihadapinya pula selain persoalan dua pemuda itu
akhirnya Hu-taijin melupakan ini dan tenggelam dalam kesibukan negara.

*
* *

“Hm, mana Mei Hong?” begitu Bun Hwi bertanya ketika tiba di Hwa-i Kai-
pang. Hari itu dia ingin melepas rindunya, kebetulan Hwa-i Kai-pang berada di jalan
yang sama menuju ke kota raja, jadi sekalian mampir dan ingin mencari Mei Hong.
Tapi begitu dia menepuk dan si pengemis terkejut tiba-tiba pengemis yang djumpai
ini mengeluh.
“Ah, Bun-ongya kiranya!” pengemis itu, Bian-kai, menjawab terbata. “Pangcu
belum kembali, ongya. Dan kami anak buah menjadi bingung!”
“Belum kembali?” Bun Hwi tertegun. “Kau tak main-main, siauw-kai (pengemis
cilik)? Bukankah dulu dia janji akan datang?”
“Entahlah, aku tak tahu. Tapi, ah.... lepaskan cengkeramanmu, ongya. Sakit!”
pengemis itu meringis. “Jari-jarimu seperti baja!”
Bun Hwi melepaskan cengkeramannya, sadar. Lalu melihat pengemis itu
meringis menahan sakit cepat-cepat Bun Hwi bertanya di mana Cie-kai, itu pengemis
Kolektor E-Book

yang menjadi wakil pimpinan di situ, ditunjukkan dan kebetulan pengemis itu datang.
Cie-kai melihat gerakan Bun Hwi, juga seruan anak buahnya. Dan begitu dia melinat
siapa yang datang tiba-tiba pengemis ini membungkuk dalam-dalam.
“Ongya, selamat bertemu. Kau barangkali dapat membantu kami. Pangcu kami
tak pernah pulang!”
“Hm,” Bun Hwi merasa didahului. “Ke mana dia, Cie-kai? Dan apa sebenarnya
yang dia cari?”
“Aku tak tahu, ongya. Tapi Hu-taijin beberapa waktu yang lalu ke mari. Kau
dicari-carinya!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


113

“Hu-taijin? Ada apa? Kebetulan, aku juga ke sana!”


“Itulah, kau dinantinya, ongya. Katanya ada sesuatu yang penting yang ingin
disampaikan kepadamu!”
“Apa itu?”
“Kami tak tahu, tapi katanya penting!”
“Hm, dan pangcumu juga tak diketahui ke mana perginya?”
“Begitu, ongya, dan kami cemas. Kami akan menyebar para angauta untuk
mencarinya.” Cie-kai menceritakan kejadian itu, sejak Bun Hwi datang dan kini
muncul lagi. Mei Hong entah ke mana dan selama ini tak pernah gadis itu menengok
partainya. Cie-kai tak tenang dan khawatir. Dan karena Bun Hwi merasa
keperluannya di situ gagal dan pengemis itu mengulangi lagi pesan menteri Hu agar
ke sana tiba-tiba Bun Hwi mengangguk dan mengucap terima kasih, lenyap
berkelebat dan pagi itu juga dia langsung terbang ke kota raja. Hu-taijin tentu ada
perlu benar-benar dengannya. Dan ketika tiba di sana dan kebetulan menteri itu ada
maka pembesar ini girang sekali dan menyambut Bun Hwi.
“Aih, kau sudah datang, pangeran? Kau telah memperoleh semua warisan itu?
Mari duduk, kita ke dalam. Hebat benar sinar matamu sekarang, tenaga saktimu
rupanya maju pesat dan gerak tubuhmu nyaris tak kudengar!” menteri Hu memuji,
menarik Bun Hwi ke dalam dan segera Bun Hwi ditanya macam-macam, terutama
tentang pelajarannya di Bukit Pedang. Menteri itu belum menyinggung-nyinggung
urusannya sendiri. Dan ketika Bun Hwi menceritakan bahwa belum semua pelajaran
diwarisinya total maka pemuda ini mengerutkan kening menjawab.
“Aku tak sempat mempelajari semua warisan itu, paman. Aku kehabisan waktu
karena teringat padamu dan juga Mei Hong.”
“Ah, Hwa-i Kai-pangcu (ketua Hwa-i Kai-pang) itu?”
“Ya, aku telah ke sana, paman. Dan kebetulan mendapat berita bahwa kau
menyuruhku ke mari. Aku datang dan ingin tahu.”
“Benar, aku ke sana beberapa waktu yang lalu. Tapi gadis itu tak ada. Kau
bertemu dengannya?”
“Belum, gadis itu belum kembali, paman. Para anggauta Hwa-i Kai-pang cemas
dan bingung memikirkannya. Tapi biarlah, aku ingin tahu apa kepentinganmu dan
Kolektor E-Book

kenapa kau tergesa menyuruhku ke mari.”


“Kau sudah bertemu ibumu?”
“Belum.”
“Hm, sebuah peristiwa baru terjadi, pangeran. Ini persoalan penting dan serius!”
“Tentang apa?”
“Tentang peta yang kau bawa itu.”
“Peta?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


114

“Ya, pewarisnya sah datang, pangeran. Keturunan atau anak-anak murid


keturunan kakek dewa Pek In Sian-su itu datang!”
“Keturunan Pek In Sian-su?” Bun Hwi terkejut. “Bagaimana ini, paman? Siapa
yang kau maksud itu?”
“Anak-anak murid atau keturunan Sheru Deva dan Mira Dewi, pangeran. Kau
tentu telah mendengar nama ini atau setidak-tidaknya membaca tentang mereka itu!”
Bun Hwi tersengat. “Sheru Deva dan Mira Dewi? Pencipta ilmu-ilmu hebat Pek-
liong Kiam-sut dan lain-lain itu?”
“Benar, mereka, pangeren. Dan aku baru saja bentrok dengan dua keturunan
mereka, pemuda-pemuda lihai dari Magada!”
Bun Hwi tertegun. Dia segera meminta menteri itu menceritakan apa
sebenarnya, bagaimana terjadi dan kenapa keturunan Sheru Deva dan Mira Dewi itu
muncul. Dan ketika menteri ini menceritakan bahwa Hong Siu dan Giam Khing, dua
keturunan langsung dari Giam Hok dan Gi Siong datang ke situ meminta peta yang
sudah di berikannya pada Bun Hwi maka Bun Hwi mendelong dan terkejut.
“Mereka lihai, pangeran. Puteriku bukan tandingannya. Si Giam Khing itu
memiliki totokan It-yang-ci sementara kakaknya, Hong Siu, memiliki Ilmu Tembok!”
“Tapi mereka dapat kau kalahkan?”
“Semata karena aku menang pengalaman, menang matang.”
“Hm, lalu bagaimana maksudmu, paman? Apa yang hendak kau minta dariku?
Apakah aku harus menyerahkan peta kepada mereka?”
“Ini yang ingin kubicarakan, pangeran. Bagaimana sebaiknya dan apa menurut
pendapatmu?”
“Aku tak tahu....” Bun Hwi termangu. “Aku juga tak tahu apakah mereka benar
keturunan orang-orang gagah itu, paman. Atau hanya mengaku-aku untuk
mendapatkan warisan.”
“Tidak, aku percaya mereka. Mereka betul-betul keturunan Giam Hok dan Gi
Siong itu, anak-anak murid Sheru Deva!”
“Lalu bagaimana?”
Kolektor E-Book

“Begini, pangeran. Tahukah kau siapa sebenarnya kakek dewa Pek In Sian-su
itu?”
“Aku tak tahu,” Bun Hwi teringat. “Dan aku juga menduga-duga siapa kira-kira
kakek dewa yang sakti itu.”
“Menurut pendapatmu kira-kira siapa? Apakah kau tidak menemukan
jenasahnya?”
“Ada, dan aku nyaris celaka di ruang rahasia itu, paman. Tapi terus terang aku
masih gelap oleh siapakah sebenarnya kakek itu.”
“Coba kau ceritakan pengalamanmu,” menteri itu meminta. “Barangkali aku
dapat menemukan petunjuk di sini.”
BATARA Dewi Kelabang Hitam
115

Bun Hwi lalu menceritakan. Dia bukan menceritakan ilmu-ilmu yang diperoleh
melainkan pengalamannya ketika di guha bawah tanah, ruangan demi ruangan dan
akhirnya tempat atau Ruang Semadhi itu, di mana kakek dewa itu mengubur diri.
Bahwa nyaris dia celaka di tempat ini kalau tidak bersikap baik, tak mau menjebol
tembok dan justeru itu yang menyelamatkannya. Dan ketika dia mengakhiri ceritanya
bahwa jenasah yang dilihat akhirnya amblong atau mengubur sendiri di lubang yang
rupanya sudah disiapkan maka Hu-taijin tertegun mengerutkan kening.
“Tak ada petunjuk siapa kira-kira jenasah itu?”
“Tentu Pek In Sian-su adanya, paman. Siapa lagi?”
“Bukan, bukan itu. Aku percaya bahwa itu tentu jenasah Pek In Sian-su adanya,
tapi maksudku, tak adakah peninggalan kitab yang menceritakan siapakah kiranya
kakek dewa ini? Sheru Deva sendiri atau salah seorang muridnya?”
“Ada, paman, sebuah kitab. Tapi bukan kitab seperti yang kau maksudkan
melainkan kitab pelajaran silat Hwee-liong Sin-kang dan Lui-kong-cat serta lain-
lainnya itu, petunjuk penjelas bagi gambar-gambar yang ada di dinding guha.”
“Ah, begitukah? Kalau begitu kita tak tahu, siapa sebenarnya kakek ini menjadi
gelap!”
“Ya, aku juga merasa begitu. Tapi kembali pada persoalan anak-anak muda tadi
lalu bagaimana, paman? Apakah aku harus mengembalikan peta?”
“Ini aku juga bingung. Tapi kau sekerang pewaris sah kakek dewa itu pangeran.
Kau telah mewarisi ilmu-ilmunya dan kau berhak menolak. Mereka tak boleh
memaksa dan kau di pihak yang lebih benar!”
“Hm, aku jadi repot. Coba ceritakan padaku bagaimana asal mula peta itu ada di
tanganmu, paman. Coba kudengar dan biar nanti kuputuskan. Kalau perlu tak apa aku
mengembalikan peta itu, toh mereka keturuna langsung, pewaris langsung!”
“Tapi kukhawatirkan masalah ini menjadi panjang, pangeran. Aku khawatir
mereka melibatkan politik dan ada hubungan dengan angkatan perang!”
“Aagkatan perang? Bagaimana ini?”
“Ya, lihat dari mana mereka berasal, pangeran. Mereka dari Magada dan
kudengar akhir-akhir ini negeri kecil itu berambisi untuk meluaskan daerah. Beberapa
wilayah akhir-akhir ini dicaplok, negeri itu seakan harimau cilik yang siap
Kolektor E-Book

berkembang dewasa. Rajanya, Urugata, konon ingin menjadi besar!”


Bun Hwi mengerutkan kening. “Adakah persahabatan antara kita dengan
mereka?”
“Tidak!”
“Lalu apa hubungannya dengan angkatan perang?”
“Begini, aku khawatir Magada menciptakan tokoh-tokoh sakti, pangeran.
Umpamanya dua anak muda tadi. Semisal mereka mendapatkan warisan nenek
moyangnya, mempelajari ilmu-ilmu yang ada di Bukit Pedang itu, bukankah mereka
akan menjadi tak terlawan dan bisa menyerang kita? Aku khawatir ada

BATARA Dewi Kelabang Hitam


116

kecenderungan ke sini, pangeran, dan aku ingin minta bantuanmu agar menyelidik ke
Magada!”
Bun Hwi terkejut. “Menyelidik? Menjadi agen rahasia?”
“Ya, semacam itulah, seorang spion. Kau belum dikenal dan tentu mudah atau
bebas bergerak.”
“Hm.....!” Bun Hwi jadi bingung, teringat urusannya akan Mei Hong. “Aku ada
urusan pribadi, paman. Berat rasanya menerima ini.”
“Tapi ini urusan negara, pangeran. Bukankah jauh lebih besar dan lebih penting?
Kalau saja aku dapat meninggalkan kedudukanku dan pergi dengan bebas tentu tugas
itu sudah kulaksanakan!”
“Tak adakah orang lain yang dapat mengerjakan ini, umpamanya?”
“Siapa di istana ini yang memiliki kepandaian yang dapat diandalkan? Tahukah
kau?” menteri Hu balik bertanya, menjadikan Bun Hwi terbungkam dan memang tak
ada. Satu-satunya yang lihai dan dapat diandalkan adalah menteri itu saja, itu pun tak
mungkin dapat menghadapi semua persoalan karena betapapun tenaga menteri ini
tentunya terbatas. Dan Bun Hwi yang tak dapat menjawab dan teringat pertanyaannya
tadi tiba-tiba mengangguk, menindas keinginannya sendiri untuk mencari Mei Hong.
“Baiklah, dapat kuterima ini, paman. Tapi bagaimana dengan pertanyaanku tadi?
Bagaimana asal-usul peta itu hinga berada di tanganmu?”
“Aku mendapatkannya dari mendiang suhengku.”
“Pek-mauw Sian-jin (Kakek Rambut Putih)?”
“Ya, dia, pangeran. Dialah yang memberikan peta itu kepadaku. Sedang dari
mana dia sendiri mendapatkan itu aku kurang jelas.”
“Hm,” Bun Hwi tiba-tiba teringat jenasah Pek-mauw Sian-jin di bawah jurang,
jenasah yang kini diingatnya belum dikubur! “Apakah paman menerimanya sudah
lama?”
“Sudah, pangeran, dua puluh tahun yang lalu ketika kau belum lahir!”
”Dan paman selama ini tak ke Bukit Pedang?”
Menteri itu menarik napas. “Pangeran, suhengku sendiri mendiang Pek-mauw
Kolektor E-Book

Sian-jin adalah pelayan dari kakek dewa Pek In Sian-su itu. Sedang aku sendiri
dengan suhengku itu tak ada hubungan langsung sebagai guru dan murid dengan
kakek dewa itu, hal ini sudah kuberitahukan. Jadi untuk apa aku mewarisi ilmu-
ilmunya? Aku tak ditunjuk suhengku untuk mewarisi silat itu, pangeran. Begitu juga
Pek In Sian-su tak menunjuk suhengku untuk mewarisi ilmu di Bukit Pedang.
Suhengku hanya menyerahkan peta itu kepadaku dengan pesan singkat, yakni bila
aku mendapatkan seseorang yang cocok dan berwatak mulia maka peta itu boleh
diberikan dan biarlah orang itu yang mewarisi peninggalan majikannya. Dan orang
itu sudah kupilih, kau!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


117

Bun Hwi terharu. “Paman, kalau begini berarti kau membuang budi besar
kepadaku. Sungguh aku tak tahu harus berkata apa kecuali terima kasih. Jadi peta itu
kau dapat dari mendiang suhengmu?”
“Benar, dan dulu suheng pernah memberi tahu tentang keturunan atau anak-anak
murid Sheru Deva dan isterinya itu, pangeran. Menyuruh aku menyerahkan kalau
mereka ada, datang. Tapi karena sudah dua puluh tahun mereka tak ada kabar
beritanya dan waktu itu pun aku sibuk di sini maka tak ada waktuku pula untuk ke
sana menyelidiki dan akhirnya peta itu kuberikan padamu, apalagi kau telah memiliki
Cupu Naga!”
Bun Hwi mengangguk-angguk.
“Dan sekarang kau pewaris resmi kakek dewa itu,” Hu-taijin melanjutkan. “Kau
berhak menolak atau mengenyampingkan mereka, pangeran. Biar pun mereka itu
adalah keturunan langsung dari Sheru Deva atau Mira Dewi!”
“Benar,” Bun Hwi mengangguk. “Tapi enak rasanya bersikap begini, paman.
Betapapua aku akan melihat bagaimana mereka itu. Kalau baik, tidak jahat, rela aku
menyerahkan peta. Tapi kalau tidak, mereka itu buruk, tentu aku akan
mempertahankannya dan tak akan memberikan.”
“Terserah kau,” Ha-taijin sependapat. “Dan untuk itu semua kau dapat ke
Magada, pangeran. Sekalian selidiki benarkah berita yang kudengar tentang raja
Urugata itu.”
“Baiklah, aku akan ke sana.” Bun Hwi bangkit berdiri. “Tapi tolong cari tahu
tentang Mei Hong, paman. Terus terang aku jadi khawatir dan tidak enak. Jangan-
jangan ada apa-apa dengannya. Kau mau membantu?”
“Tentu, aku akan menyuruh Hu Lan, pangeran. Tak perlu khawatir dan
percayalah.”
“Terima kasih,” dan Bun Hwi yang teringat sesuatu dan tiba-tiba mengeluarkan
peta mendadak berkata. “Paman, sementara ini biarlah peta kutitipkan dulu padamu.
Terimalah dan biarkan aku tenang dalam bepergian.”
Menteri Hu terkejut. “Kau mau mengembalikannya?”
“Bukan begitu, hanya sekedar titip, paman. Atau....”
“Tidak, jangan!” menteri itu buru-buru menolak, “Aku telah berkata pada dua
Kolektor E-Book

anak muda itu bahwa peta tak ada di tanganku, pangeran. Kalau kini kau serahkan
dan kebetulan mereka tahu tentu aku jadi repot, disangka bohong! Sebaiknya kau
simpan saja dan jangan sulitkan aku!”
Bun Hwi tertegun, Dia melihat kesungguhan dan kebenaran omongan itu, tak
jadi memberi dan menteri ini jelas menolak. Terpaksa, Bun Hwi memasukkanna
kembali dan meringis. Dan karena memaksa tak bakal diterima dan Bun Hwi pura-
pura mengerti maka pemuda itu menyimpan petanya kembali dan pergi, mengucap
terima kasih dan Hu-taijin menyuruhnya ke Magada. Menteri itu gembira dan tenang.
Bun Hwi adalah andalan yang dapat dipercaya. Tapi begitu pemuda ini berkelebat
dan disangka lenyap dari rumahnya maka secara lihai dan cerdik Bun Hwi menemui

BATARA Dewi Kelabang Hitam


118

Hu Lan, yang segera dicarinya dan ada di belakang, menyerahkan peta itu pada gadis
ini.
“Apa? Kau gila? Ayah sendiri sudah menolaknya, Bun.... eh, pangeran. Masa
sekarang kau mau menyerahkannya kepadaku?”
“Sst, jangan berisik, Hu Lan. Dan jangan panggil aku dengan sebutan yang
membuatku cangguug itu. Kau sebut saja aku Bun Hwi, seperti dulu, atau Bun-ko
(kakak Bun). Kau tentu mau menolongku, bukan?”
“Tentu, tapi jangan ini, pa.... eh, Bun-ko. Aku tak berani dan terus terang takut
dimarahi ayuh!”
“Kau bodoh. Kau tak perlu memberi tahu ini pada ayahmu. Apakah kau
menghendaki peta hilang di tengah jalan?”
“Apa maksudmu?”
“Begini, Hu Lan. Ayahmu meminta tolong padaku untuk pergi ke negeri
Magada, dan ini merupakan perjalanan jauh. Aku khawatir peta hilang di tengah
jalan, atau hilang karena satu dan lain sebab, maklum, perjalanan demikian jauh tentu
bukannya tanpa bahaya. Maka daripada menanggung semuanya itu dan berjaga-jaga
peta ingin kutitipkan padamu dan jangan beri tahu ayahmu. Mengerti?”
Hu Lan tertegun.
“Atau kau ingin peta ini hilang dan jatuh di tangan otang jahat?”
“Tentu saja tidak.”
“Nah, karena itu tolong aku, adik manis. Jangan biarkan aku membawa resiko
dan biarlah aku berjalan tenang dalam melaksanakan tugasku!”
Hu Lan tak dapat menolak. Alasan Bun Hwi tepat, pemuda itu akan melakukan
perjalanan jauh. Dan karena Bun Hwi dapat membujuk dan Hu Lan menerima maka
di luar pengetahuan Hu Kang, puteri menteri itu menyimpan peta dan menerimanya
barang titipan.
“Eh, satu lagi,” Bun Hwi menyambung, tersenyum. “Kau boleh pula ke Bukit
Pedang, Hu Lan. Lihat dan pelajari satu dua ilmu silat di sana. Jangan takut dan
jangan sungkan agar pemuda-pemuda macam Giam Khing atau Hong Siu itu tak
merendahkanmu lagi.”
Kolektor E-Book

Hu Lan merah mukanya. “Aku tak berani, Bun-ko. Agaknya terlalu lancang dan
tak enak bagiku.”
Jawaban ini menunjukkan kejujuran seperti Hu-taijin, Bun Hwi kagum. Tapi
karena dia pewaris Pek In Sian-su dan sesungguhnya keberhasilannya itu pun berkat
bantuan menteri Hu, maka Bun Hwi membujuk dengan mengatakan bahwa Hu Lan
tak perlu takut, gadis itu diijinkan untuk menikmati pula ilmu-ilmu kepandaian di
Bukit Pedang. Dari sini pun dapat kita lihat bahwa Bun Hwi memang pemuda luar
biasa, berhati mulia dan tak tamak, ingat akan budi orang dan kini coba membalas
kebaikan budi Hu-taijin kepada puterinya, Hu Lan mula-mula menolak dan ragu. Tapi
ketika Bun Hwi mengingatkan kekalahannya dari Giam Khing dan Hong Siu dan
berkali-kali membuat gadis itu merah mukanya akhirnya Hu Lan menjawab.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


119

“Baiklah, gampang, Bun-ko. Banyak terima kasih atas ijinmu. Aku jadi merasa
berhutang budi, biarlah kulihat bagaimana nanti dan kalau aku cocok tentu aku akan
ke sana.”
“Ah, hutang budi apa? Ayahmulah yang menberi banyak budi kepadaku, Hu
Lan. Kalau tidak atas budi ayahmu tak mungkin aku menjadi pewaris Sian-su.
Sudahlah, kapan-kapan boleh kau ke sana dan tingkatkan kepandaianmu. Warisan di
sana hebat, pelajari itu agar tak dihina lagi oleh pemuda-pemuda seperti Giam Khing
atau Hong Siu itu!”
Hu Lan terbakar. Berkali-kali Bun Hwi menyebut nama ini, panas dia. Dan
ketika Bun Hwi pergi dan dia mengangguk maka tak ada yang tahu bahwa peta telah
diserahkan oleh Bun Hwi kepada Hu Lan. Bun Hwi sudah meninggalkan tempat itu
dan mulai perjalanannya yang jauh ke Magada, tentu saja di dalam perjalanan Bun
Hwi mencari berita pula tentang Mei Hong. Dan karena Hu-taijin menyuruh
puterinya mencari Mei Hong pula dan kesempatan ini dipergunakan Hu Lan untuk
“beranjangsana” ke Bukit Pedang maka sesuatu yang di luar dugaan terjadi yang
sama sekali di luar perhitungan Hu Lan mau pun Bun Hwi!

*
* *

“Suthai, kau bunuh saja aku, biar aku mampus!” Kiok Lan tersedu-sedu ketika
malam itu dibawa Lian Ing Nikouw. Peperangan malam itu berakhir dengan
kekalahan Hong Lam dan pasukannya, Kiok Lan lebih dulu disimbar nikouw ini. Dan
ketika pagi itu nikouw ini menurunkan gadis itu dan Kiok Lan putus asa maka Kiok
Lan mengguguk minta dibunuh.
“Siancai, kau mata gelap. Sudah berulang-ulang pinni katakan padamu bahwa
pinni sayang kau, Kiok Lan. Kenapa bicara begini dan minta dibunuh? Ah, pinni
datang dengan kasih sayang, pinni ingin agar kau sadar dan tidak melakukan
perbuatan-perbuatan sesat lagi.”
“Aku benci si Bun Hwi itu, aku ingin memusuhi dia dan teman-temannya!”
“Hm, kebecian hanya meracuni hati, anak baik. Kenapa tidak dengarkan nasihat
pinni? Hu-taijin dan Bun Hwi itu bukan orang sembarangan, kau tak dapat
mengalahkannya dan tak akan menang.”
Kolektor E-Book

“Dan suthai membantu mereka, suthai selalu menyalahkan aku dan membela
mereka!”
“Hm, siapa bilang? Yang pinni bantu adalah kebenaran, Kiok Lan, dan yang
pinni lawan adalah ketidakbenaran. Pinni tidak memandang orangnya, siapa salah dia
harus ditentang dan siapa benar dia harus dibela. Bangunlah, pagi ini pinni ingin
mengajakmu berdoa...” nikouw itu menepuk halus pundak Kiok Lan, mengusap
rambutnya dan segera menarik bangun. Dan ketika Kiok Lan menangis namun mau
bangun berdiri maka nikouw itu memandang puncak gunung di depan mata. “Kau
lihat gunung Liu-san itu? Nah, di sana ada teman pinni, Kiok Lan. Kita ke sana dan
tenangkan diri sejenak.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


120

Kiok Lan termangu. Air mata masih mengalir, tapi ketika nikouw itu
mengajaknya pergi dan Lian Ing Nikouw menyambar lengannya mau saja gadis ini
diajak pergi, ke gunung Liu-san itu dan di sini Kiok Lan tergerak. Hawa pegunungan
yang segar dan pohon-pohon cemara yang tinggi menyambut mereka, suasananya
sejuk, hati yang marah tiba-tiba reda dan Lian Ing Nikouw sudah mengajak masuk ke
sebuah kelenteng sederhana. Di situ tinggal Hwat Sien Nikouw, ketua kelenteng,
sahabat Lian Ing Nikouw dan segera mereka berdua disambut ramah. Terjadi
percakapan sebentar di antara dua orang nikouw ini. Dan ketika Hwat Sien Nikouw
mengangguk-angguk dan tersenyum memandang Kiok Lan tiba-tiba nikouw ini
menyiapkan sebungkus lilin dan mempersilahkan mereka sembahyang.
“Silahkan.... silahkan, pinni justeru merasa senang dan biar segala kekalutan hati
dapat dipadamkan...!”
Lian Ing Nikouw membawa Kiok Lan ke altar. Di sini lagi-lagi nikouw itu
berlutut, mengajak Kiok Lan sembahyang. Dan ketika perlahan namun tenang
nikouw itu mulai berdoa dan Kiok Lan mengikut tanpa sengaja maka malam harinya
nikouw ini mengajari gadis itu samadhi membersinkan paru-paru, tinggal dan
menginap di situ dan segera beberapa nikouw lain menjadi teman Kiok Lan. Gadis ini
menurut saja dan beberapa jam kemudian ia merasa terhibur. Betapapun, Lian Ing
Nikouw menaruh perhatian besar padanya. Dan ketika Hwat Sien Nikouw juga
menunjukkan kasihnya yang besar dan nikouw-nikouw lain yang lebih muda tampak
akrab dan ramah kepada gadis ini maka beberapa hari kemudian, dipenuhi perhatian
dan kasih yang sungguh-sungguh Kiok Lan menjadi kerasan.
“Pinni sudah bilang kepada Hwat Sien suthai untuk tinggal selama pinni suka.
Kalau kau mau boleh juga tinggal di sini dan berlatih beberapa ilmu silat pinni.
Kerasankah kau, Kiok Lan?”
Kiok Lan mengangguk. “Ya....” jawabnya lirih.
“Dan kau mau mempelajari kepandaian pinni?”
“Suthai mau mengangkat aku sebagai murid?”
“Tidak begitu, anak baik, mungkin kau tak suka. Pinni hanya ingin mengajarimu
beberapa tambahan ilmu silat lagi dan juga doa. Kau harus mulai sembahyang dan
sering mendekatkan diri kepada Tuhan!”
“Hm....!” Kiok Lan agak sinis, acuh. “Untuk ilmu silat aku mau, suthai, tapi
untuk sembahyang barangkali ogah.”
Kolektor E-Book

“Jangan begitu, manusia hidup perlu mendekatkan diri dengan Yang Memberi
Hidup, Kiok Lan. Tuhan dan segala ciptaanNya ini harus membuka mata manusia.”
“Terserahlah.....” Kiok Lan masih acuh. “Aku cukup kerasan di sini, suthai. Tapi
kalau sewaktu-waktu aku ingin pergi tolong jangan dicegah.”
“Baiklah, terserah kau,” Lan Ing Nikouw yang tersenyum memaklumi isi hati
gadis itu lalu mulai memberi pelajaran silat, tentu saja yang lebih tinggi dari yang
dipunyai Kiok Lan dengan yang didapat dari mendiang gurunya Thian-san Giok-li
itu, beberapa tambahan ilmu silat yang lebih beraneka ragam. Di sini Kiok Lan
tampak bersungguh-sungguh dan menaruh perhatian besar. Sekilas gadis itu
tampaknya dapat melupakan Bun Hwi dan lain-lain, Lian Ing Nikouw girang. Tapi
BATARA Dewi Kelabang Hitam
121

ketika setahun kemudtan gadis itu mendapat pelajaran silat dan tentu saja kepandaian
gadis ini lebih tinggi dibanding setahun yang lalu tiba-tiba saja suatu pagi Kiok Lan
menghilang!
“Aku ingin pergi,” begitu gadis itu meninggalkan surat. “Harap suthai tidak
mencari dan ingat janji suthai sendiri untuk tidak mencegah. Banyak terima kasih atas
kepandaian yang suthai berikan dan mudah-mudahan kita dapat jumpa tagi dalam
suasana yang lebih baik.”
Begitulah isi surat itu. Kiok Lan tidak memberi tahu ke mana dia pergi, dan Lian
Ing Nikouw yang terkejut serta tertegun melihat lenyapnya gadis itu tiba-tiba
merangkapkan tangan. “Siancai, pinni agaknya gagal. Berulang-ulang mengarahkan
tapi keadaan rupanya menghendaki lain. Baiklah, pinni tak akan mencegahmu, Kiok
Lan. Tapi harap berhati-hatilah akan segala sepak terjangmu sendiri.”
Nikouw itu tak dapat berbuat apa-apa. Kiok Lan telah meninggalkannya, nikouw
ini sedih. Tapi karena gadis itu pergi atas kemauan sendiri dan jelas tak mau lagi
bersamanya maka ia pun menekan perasaan dan tidak mencari, merasa cukup segala
usahanya mengarahkan gadis itu dan tinggal gadis itu sendiri yang memperbaiki.
Nikouw ini berharap Kiok Lan berkurang keganasannya dan tidak mudah membenci
orang yang tak disukai, hal itu tak cocok bagi nikouw ini. Dan ketika nikouw itu
menarik napas dan termenung ditinggal Kiok Lan maka Kiok Lan sendiri sudah jauh
meninggalkan tempat itu.
Ke mana? Kiok Lan mula-mula tak menetapkan arah. Malam itu dia pergi,
minggat. Betapapun bayangan Bun Hwi tak dapat dilupakannya dan Kiok Lan
menangis. Cinta sudah terlanjur dalam mencengkeram gadis ini, susah
menghapusnya. Dan ketika pagi menjelang tiba dan dia menuju ke selatan maka gadis
ini berlari cepat sambil merenungkan tujuan, ke mana kira-kira dia akan pergi dan
apa pula yang akan dibuat. Sehari itu Kiok Lan belum menemukan jawabannya dan
hanya menurutkan kaki ke mana langkahnya bergerak, tiga hari kemudian tiba di
sebuah bukit karang yang mencuat tinggi. Kiok Lan tertarik, berhenti di sini dan
menghapus peluhnya. Dia tak tahu bahwa hari itu dia tiba di Bukit Pedang, melepas
lelah dan memandang puncak bukit yang lurus ke atas, dari kejauhan terlihat pipih
dan Kiok Lan tiba-tiba tersentak. Ada sebuah bayangan di sana, di tengah-tengah
bukit yang terjal itu, naik dan merayap dan segera ia mengenal itulah bayangan
seorang wanita. Kiok Lan berkelebat dan tiba-tiba curiga, rasa lelah di buang dan
segera dia meluncur. Cepat namun hati-hati ia mendekati bayangan ini, yang sudah
setengah bagian di pinggang bukit dan tak lama kemudian tentu sampai di puncak.
Kolektor E-Book

Kiok Lan sudah mendekati dan membelalakkan matanya. Dan ketika dia cukup dekat
dan dilihatnya siapa bayangan itu mendadak gadis ini tertegun dan mata pun berkilat.
“Hu Lan, puteri Hu-taijin....!”
Kiok Lan berkeredep. Nafsu membunuh tiba-tiba muncul, pandangan pun
menjadi beringas dan Kiok Lan melesat. Hati-hati dan ringan dia menyusul gadis ini,
Hu Lan adanya, memang betul puteri Hu-taijin itu. Dan Kiok Lan berjungkir balik
dan memutar arah memapak itu dari depan tiba-tiba Kiok Lan menampakkan diri dan
bergeru mengejek, “Bocah siluman, apa yang kau cari di sini? Mana Bun Hwi?”
Hu Lan, gadis itu, kaget bukan main. Hari itu dia tiba di Bukit Pedang untuk
memenuhi ke hendak Bun Hwi, kebetulan disuruh ayahnya mencari Mei Hong dan

BATARA Dewi Kelabang Hitam


122

perjalanan itu sekalian diarahkannya ke Bukit Pedang. Peta yang dititipkan Bun Hwi
dibawa, dia bermaksud melihat keadaan dulu dan nanti dapat dipikir langkah
selanjutnya, pokoknya dia tahu dulu tempat itu dan mengerti di mana pelajaran ilmu
disimpan. Maka begitu Kiok Lan muncul dan gadis ini tersentak kaget tentu saja Hu
Lan berteriak terkejut dan nyaris dia terpeleset dari tempat yang tinggi menuju ke
bawah.
“Heii...!” Hu Lan berjungkir balik, mencengkeram tonjolan batu dan gadis itu
mengayun tubuh. Sekali dia melayang dia sudah kembali di tempat semula, Kiok Lan
di depannya dengan mata mengejek. Dan ketika Kiok Lan tertawa dingin dan melihat
peta yang ada di tangan gadis itu tiba-tiba gadis ini menjengek melangkah maju.
“Kau mau mencari harta karun? Kau menyembunyikan apa?”
Hu Lan terkesiap, cepat melipat peta dan memasukkannya ke saku dalam. Dan
ketika Kiok Lan melangkah maju dan mau menyambar peta itu, Hu Lan sudah
mundur menjauhi dengan bentakan nyaring, “Kiok Lan, kau mau apa? Ada a pa ke
sini?”
“Hm, kau seharusnya menjawab pertanyaanku, bukan malah sebaliknya. Peta
apa yang kau bawa itu dan mencari apa kau di sini? Bocah siluman, coba kulihat
barangmu itu dan serahkan baik-baik. Kalau tidak aku akan melemparmu dari sini
dan kau mampus di bawah!”
“Keparat!” Hu Lan tiba-tiba marah. “Kau tak tahu aturan, Kiok Lan. Aku tak
membawa apa-apa dan jangan kau mengganggu diriku!”
“Tak apa-apa? Mana mungkin? Kau serius menaiki bukit terjal ini, bocah
siluman. Aku tak percaya dan biar kugeledah kau..... wutt!” Kiok Lan berkelebat,
tiba-tiba menyerang dan tangan kiriya menampar. Hebat dan cepat Kiok Lan
mengeluarkan sebuah jurus dari dua ilmu saktinya Sing dan Sien, Hu Lan menangkis
tapi terpekik, gadis itu terpental dan terpelanting. Dan ketika Kiok Lan tertawa
mengejek dan mengejar lagi dengan satu kepretan jari maka Hu Lan menjerit dan
bahu pun kena.
“Plak!”
Gadis ini terguling-guling. Kiok Lan berseru agar dia menyerah, Hu Lan melotot
dan tentu saja memaki. Dan ketika Kiok Lan berkelebat dan kembali menyerang
maka Hu Lan melempar tubuh ke kiri dan menangkis dari samping.
Kolektor E-Book

“Dukk!”
Hu Lan tetap tergetar. Kiok Lan sekarang sudah mendapat tambahan ilmu-ilmu
dari Lian Ing Nikouw, juga memiliki dua jurus sakti Sing dan Sien, sinkangnya kuat
dan kepandaiannya pun bertambah. Dan ketika Hu Lan mengeluh dan kembali
terdorong maka Kiok Lan tertawa-tawa menyerang lawannya itu, dielak dan ditangkis
Hu Lan pucat. Dia selalu terpental setiap beradu tenaga, cemaslah gadis ini. Dan
ketika Kiok Lan melakukan tusukan dan kelima jarinya bergerak mercicit-cicit maka
Hu Lan terdesak dan tak dapat membalas.
“Hik-hik, kau akan roboh, bocah siluman. Dan aku akan membunuhmu!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


123

“Singg...!” Hu Lan mencabut pedang, membentak dan mengamuk dan segera


coba membendung serangan lawan. Dengan senjata di tangan gadis ini coba menahan
rangsekan lawan. Tapi ketika Kiok Lan berani menangkis dan pedang pun terpental
maka Hu Lan kaget setengah mati berteriak ngeri.
“Kiok Lan, kau iblis betina berhati keji...!”
“Hi-hi, kau tak perlu banyak mulut, siluman betina. Kau keluarkan petamu itu
atau mampus!”
“Tidak, aku.......... ah!” Hu Lan yang sibuk mengelak dan menangkis sana-sini
akhirnya terpelanting ketika satu tamparan mengenai pundaknya bergulingan dan
nyaris pedang di tangan lepas. Gadis ini menggigil dan merintih. Dan ketika dia
menyadari bahwa lawan terlalu kuat dan Kiok Lan sekarang lihai bukan main
akhirnya Hu Lan melepas tiga senjata gelapnya dan melarikan diri, meloncat turun
dan berjungkir baliki dari bukit terjal yang tak menguntungkannya itu. Kiok Lan
tertawa dan menangkis. Dan ketika senjata-senjata gelap itu runtuh dan Kiok Lan
mengejek bagaimana lawannya itu sekarang mahir dengan segala macam amgi
(senjata gelap) maka Kiok Lan sendiri mengeluarkan jarum-jarum halus dan
menyambit.
“Nih, kau rasakan punyaku, siluman betina. Coba cicipi mana yang lebih enak....
wut-wutt!” tiga jarum menyambar, Hu Lan baru turun dan pedang diputar cepat
menangkis. Dua yang pertama berhasil disampok tapi yang terakhir lolos, menancap
di pundaknya dan gadis ini mengaduh. Dan ketika Kiok Lan menyusul dan berjungkir
balik ke bawah maka puteri Hu-taijin itu dikejar dan diserang lagi.
“Hi-hik, sekarang kau boleh berteriak, bocah siluman. Tak ada yang
menolongmu dan mayatmu akan kukirim ke kota raja.... wut-plak!” satu tamparan
kembali mengenai Hu Lan, kali ini mengenai pelipis dan Hu Lan menjerit. Dia
melompat bangun dan melontarkan pedangnya, dengan penuh kemarahan tapi juga
ketakutan gadis ini menimpuk. Tapi ketika Kiok Lan mengibas dan pedang patah
menjadi dua maka Hu Lan menutupi mukanya dan menangis, melarikan diri lagi,
berjungkir balik lebih ke bawah.
“Kiok Lan, kau keji. Aku akan melapor ini pada Bun Hwi!”
“Hm, Bun Hwi, ya? Kau tergila-gila padanya? Boleh, tapi sayang nyawamu
berangkat duluan, bocah siluman. Dan kini aku benar-benar akan membunuhmu....!”
Kiok Lan berkelebat, turun dan berjungkir balik pula dan Hu Lan gemetar. Kiok Lan
Kolektor E-Book

tak melepasnya dan kemanapun dia pergi ke situ pula Kiok Lan mengejar. Lompat-
melompat di antara mereka terjadi. Hu Lan bahkan terjun begitu saja ketika jarak ke
tanah tinggal beberapa tombak, masih cukup tinggi namun gadis ini nekat. Dan ketika
dia terjengkang dan jatuh bergulingan di bawah namun gadis itu melompat bangun
dan melarikan diri dengan muka penuh keringat maka Kiok Lan ternyata menempel
dan tetap mengikuti.
“Kau tak dapat lolos, aku akan membunuhmu!”
Hu Lan ngeri. Sekarang dia tak bersenjata, dengan pedang di tangan pun dia
tetap bukan tandingan lawannya. Kiok Lan benar-benar lihai dan Hu Lan mengeluh.
Dan ketika kejar-mengejar terjadi di antara mereka dan Kiok Lan membentak
melayang di atas kepala gadis ini maka Hu Lan putus asa menghantam ke depan.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


124

“Kiok Lan, kau mampuslah.... dukk!” Kiok Lan membalik, ditengah udara ia
menangkis dan Hu Lan mencelat. Puteri Hu-taijin itu memang bukan tandingan gadis
ini. Dan ketika Kiok Lan tertawa dan berkelebat serta melepas satu totokan miring
tiba-tiba Hu Lan tak dapat berkelit dan roboh terjerembab.
“Bluk!”
Hu Lan kini roboh tak berdaya. Kiok Lan menjengek dan menendang, gadis itu
mengeluh dan terlempar tiga tombak, jatuh dan terbanting tak dapat bergerak lagi.
Dan ketika Hu Lan pucat memaki lawan maka Kiok Lan sudah berdiri di depannya
bertolak pinggang.
“Kau tak menyerah?”
“Bunuhlah aku! Aku tak takut, Kiok Lan. Kau boleh bunuh aku!”
“Tentu, tapi aku ingin tahu dulu peta apa yang ada di tanganmu itu, bocah
siluman, dan setelah itu kau terbang ke neraka!”
“Oh, tidak...... jangan!” namun Kiok Lan yang mengulurkan lengan merogoh
saku baju tiba-tiba sudah mencabut dan menampar lawan, Hu Lan merintih dan pecah
bibirnya. Gadis itu melihat Kiok Lan mengamati peta, tertegun dan tiba-tiba tertawa.
Dan ketika Kiok Lan mendongak dan terkekeh dengan mata bersinar-sinar mendadak
dia berseru.
“Aha, kiranya simpanan ilmu silat, ya? Peninggalan Pek In Sian-su? Hi-hik,
terima kasih, Hu Lan. Aku tak jadi membunuhmu karena kau melepas budi. Baiklah,
kulempar kau ke jurang dan mati hidupmu biar ditentukan harimau..... des!” dan Kiok
Lan yang menggerakkan kaki tertawa gembira tiba-tiba membuat Hu Lan menjerit
dan terlempar ke sebuah jurang, lenyap dan pekiknya terdengar di sana namun Kiok
Lan tidak perduli. Dia tak menduga bahwa yang dibawa puteri Hu-taijin tadi adalah
peta tentang penyimpanan ilmu silat, tentu saja Kiok Lan girang luar biasa. Dan
begitu dia menendang lawan ke dalam jurang dan terkekeh memutar tububnya tiba-
tiba Kiok Lan berkelebat dan telah menaiki Bukit Pedang, merayap dan tak lama
kemudian berlompatan dari satu tonjolan ke tonjolan lain. Dengan ginkangnya yang
tinggi. Kiok Lan mendaki bukit terjal itu. Dan ketika sejam kemudian dia tiba di atas
dan menemukan lubang di mana dulu Bun Hwi membuang batu besar penutupnya
maka gadis ini terkekeh-kekeh seperti orang gila.
“Heh-heh, ini keberuntunganku, Bun Hwi. Awas kau nanti....!” Kiok Lan
memasuki lubang, mengikuti petunjuk peta dan tak lama kemudian dia pun
Kolektor E-Book

menemukan ruang-ruang bawah tanah itu, Ruang Hijau dan Kuning, juga Ruang
Merah dan Biru. Dan ketika Ruang Samadhi juga dimasuki dan Kiok Lan terkejut
serta girang tiba-tiba gadis ini tertawa sendirian bagai orang tidak waras, melihat
peninggalan ilmu silat di situ dan tentu saja lahap bagai orang kelaparan. Tanpa
sengaja dia menuju ke pusat ilmu paling tinggi. Dia melihat bekas-bekas Bun Hwi di
situ, juga tulisannya, Dan ketika sehari dua hari kemudian dia menemukan bahwa
inilah puncak dari segala puncak kepandaian akhirnya Kiok Lan menutup lubang di
atas tadi, menggempur tanah dan bebatuan di sana sehingga tempat itu tertutup. Kiok
Lan telah menemukan jalan keluar yang di buat Bun Hwi, yakni jalan yang tembus ke
tengah jurang amat dalam itu, tempat di mana ratusan ular beranak-pinak. Sungguh
bukan main kegirangan Kiok Lan. Dan karena jalan di atas sudah ditutup dan satu-
satunya jalan tinggallah lubang atau guha di tengah jurang itu di mana dia dapat
BATARA Dewi Kelabang Hitam
125

melihat orang keluar atau masuk maka tak lama kemudian gadis ini mulai
mempelajari ilmu-ilmu silat di situ, tersenyum dan cepat bagai orang rakus dia
menirukan semua gerakan, mulai dari pelajaran di Ruang Hijau sampai di Ruang
Biru, jadi semua warisan manusia dewa Pek In Sian-su itu dinikmatinya. Tentu saja
Kiok Lan hebat bukan main. Dan ketika setahun dua tahun dia mengurung diri
mempelajari semua ilmu-ilmu silat di situ maka dunia kang-ouw terancam datangnya
seorang “rasaksi” yang bakal membuat heboh!

*
* *

Magada. Mari kita tengok negeri kecil ini. Sebagaimana diketahui, pada saat itu
yang memerintah negeri ini adalah raja Urugata. Raja ini masih muda, belum empat
puluh tahun umurnya. Tapi karena dia raja yang banyak bergerak dan memiliki
kecerdasan tinggi maka raja ini berhasil disegani rakyatnya dan merupakan raja yang
berani dan garang. Apalagi wakilnya, semacam patih, juga cerdik dan pandai. Raja
ini bersama pembantunya merupakan tokoh yang berpengaruh. Siapa tak kenal
Yonaga, pembantu atau “patih” raja Urugata? Dialah yang banyak berperan serta
memajukan Magada, dan karena Yonaga, yang berarti “naga dari keluarga Yo” itu
adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan hebat maka Magada cukup mendapat
tempat bagi negeri-negeri kecil di sekeliling Magada.
Yonaga inilah yang banyak dimalui lawan, tak ada yang berani mengusik
Magada dan selama ini rakyat aman dan tenteram. Yonaga atau pembantu paling
utama dari raja Urugata itu adalah seorang sakti dengan kepandaian tinggi. Dia
sebenarnya adalah keturunan Yo Siok Kun, tokoh nomor dua dari empat murid Sheru
Deva dan Mira Dewi (baca saja : Kisah Empat Pendekar). Dan karena Yonaga ini
memiliki kepandaian paling tinggi dan luar biasa maka musuh tak berani main-main
atau membuat onar di Magada.
Tapi benarkah Yonaga ini adalah tokoh paling sakti di Magada? Sebenarnya
tidak. Ada tokoh lain yang sebenarnya tak kalah hebat dengan tokoh ini, bahkan
mungkin melebihinya sedikit. Tapi karena tokoh yang satu itu tak menonjolkan diri di
Magada dan selama ini juga tak pernah muncul secara menyolok maka Yonaga
menjadi orang paling dikenal di situ, setelah rajanya, Urugata. Dan terhadap tokoh
yang satu ini justeru Yonaga menaruh segan.
Siapa dia? Namanya Handewa, tokoh sederhana yang kini hidup di sebuah
Kolektor E-Book

pegunungan di selatan Magada. Handewa inilah yang sebenarnya merupakan tokoh


“tua” di Magada, menurut urut-urutannya. Karena Handewa, tokoh itu, adalah
keturunan langsung dari Han Bun Hong, putera Han Bouw yang menjadi murid tertua
Sheru Deva itu. Sudah berdarah campuran karena ayahnya beristerikan wanita
Magada, setengah India dan Nepal, gagah dan kini berusia limapuluhan tahun. Dan di
samping tokoh ini, masih tardapat tokoh lain lagi yang bernama Yo Shu Kie,
keturunan Yo Kie dengan Hanisha, puteri Han Bouw atau adik perempuan dari Bun
Hong. Dan karena di Magada terdapat orang-orang sakti macam Yonaga atau
Handewa itu maka negeri ini hidup tenang dan damai.
Urugata, raja Magada itu sengaja mengumpulkan pembantu-pembantunya dari
keluarga-keluarga gagah ini. Yonaga diambil sebagai pembantu paling utama, sedang
Yo Shu Kie, adik misan dari Handewa dijadikan Menteri Penasihat. Handewa sediri
BATARA Dewi Kelabang Hitam
126

sebenarnya diincar raja Urugata itu, disediakan kedudukan tinggi namun yang
bersangkutan menolak secara halus. Handewa tak suka pangkat. Dan karena didesak
berkali-kali tetap saja tokoh ini tak mau maka terpaksa tokoh ini berkata terus terang.
“Maaf bukan hamba tak suka, sri baginda. Melainkan semata hamba sekeluarga
ingin hidup tenang di pegunungan. Hamba tak suka di kota, keramaian kota. Kalau sri
baginda hanya ingin ketenteraman dan ketenangan negeri maka saudara hamba
Yonaga sudah lebih dari cukup dan adik Yo Shu Kie pun akan semakin memperteguh
ini. Biarlah hamba di luar tapi tentu saja hamba juga melindungi paduka dan negeri
Magada dengan cara hamba sendiri. Betapapun hamba adalah rakyat Magada dan
hamba tentu setia kepada negara!”
Begitulah, dengan begini raja tak dapat mendesak lagi. Sebenarnya raja
penasaran, ingin agar semua keturunan dari tokoh-tokoh luar biasa itu berada di
istananya, hidup dan terlindung di bawah tangan-tangan kokoh keluarga sakti itu.
Tapi karena Handewa menolak dan tokoh itu telah menyebut saudara-saudaranya
yang lain yang ada di istana dan raja tak berani memaksa maka Urugata terpaksa puas
dan menghibur diri.
Sebenarnya, kenapakah raja ini mendesak dan berkali-kali menyatakan
keinginannya pada Handewa? Benarkah semata agar terlindung dan terjaga oleh
seluruh keluarga perkasa itu? Tidak sepenuhnya begini. Raja sebenanya mengejar
karena khawatir kalau satu atau bebeapa dari keluarga sakti itu tak ikut dengannya
maka mungkin akan “ikut” orang lain, melindungi orang lain, beberapa raja di sekitar
Magada umpamanya. Jadi karena inilah raja Urugata hendak “memonopoli” semua
orang-orang gagah itu. Tapi karena Handewa menolak dan raja menyatakan
kekhawatirannya pada Yonaga, pembantunya paling dekat itu maka Yonaga
tersenyum.

JILID VI

“TAK mungkin, hamba mengenal baik watak kanda Handewa, sri baginda. Dia
setia pada negara dan junjungannya. Tak percaya hamba kalau dia sampai terbujuk
atau bekerja pada orang lain. Kanda Handewa boleh dipercaya dan paduka tak usah
khawatir!”
Begitulah, alasan sang raja diketahui. Sedang Handewa sendiri, benarkah semata
ingin tenang dan hidup tenteram di pegunungan? Sebenarnya juga sebuah dalih saja.
Kolektor E-Book

Tokoh atau orang gagah ini ada tak menyukai beberapa watak rajanya, di antaranya
gejala akhir-akhir ini, yakni raja ingin meluaskan daerah dan mengganggu wilayah
lain, berdalih melindungi rakyat di luar Magada tapi sebenarnya meluaskan wilayah
dengan mengusir suku nomad (bangsa perantau) untuk memperbesar wilayah negeri
sendiri!
“Itu tak benar, sri baginda mulai serakah,” demikian tokoh itu suatu hari berkata
pada isterinya, seorang wanita cantik yang masih menarik. “Kalau ingin melindungi
rakyat kenapa harus mengganggu suku lain? Bukankah pengusiran terhadap kaum
nomad itu berarti menyengsarakan orang lain dan mempersempit ruang hidup
mereka? Ah, adik Yonaga harus diberi tahu, isteriku. Biar besok aku ke sana dan
menyatakan ketidaksenanganku.”
BATARA Dewi Kelabang Hitam
127

Benar saja, tokoh ini lalu menemui adiknya, adik seperguruan. Tapi apa jawab
adiknya?
“Ah, kau keliru, kanda. Kami atau sri baginda tak bermaksud mempersempit
ruang hidup atau gerak orang lain. Kaum nomad itu sebenarnya sudah diperingati,
mereka suka mengganggu perbatasan, mendirikan kemah dan berburu di sana. Dan
kami yang justeru merasa terganggu dan ingin memperingati mereka lalu menyuruh
masuk dan bergabung sebagai rakyat Magada. Tapi apa jawab mereka? Sombong
sekali, kanda. Mereka bilang negeri kecil kita tak dapat menghidupi mereka,
wilayahnya terlalu sempit dan mereka bisa mati kelaparan kalau menjadi rakyat
Magada! Coba, apa ini bukan sebuah hinaan?”
“Hm, lalu?”
“Lalu kami usir, kanda, tentu saja terpaksa mempergunakan kekerasan. Kalau
mereka itu tahu diri dan mau bicara baik-baik tentu kami tak akan menggebahnya dan
mereka boleh bebas berkeliaran. Tapi mereka kurang ajar, terpaksa dikerasi dan
perbatasan tak boleh diinjak mereka!”
“Tapi kalian meluaskan wilayah, menjalankan hukum rimba!”
“Ah, jangan begitu, kanda. Wilayah selebar sepuluh kilometer itu adalah
wilayah padang rumput, tak bertuan. Kami justeru mempergunakannya untuk
kesejahteraan rakyat Magada! Coba, tidakkah kanda lihat bahwa ratusan peternak kita
mencari makannya di sana? Menggembala dan hidup dengan tenang? Kalau kami tak
melindungi atau menjaga tentu mereka diserang atau diserbu suku-suku nomad itu,
kanda. Tapi karena kami ingin menghidupi dan menyejahterakan rakyat maka kami
berjaga di sana dan wilayah kosong itu kami pergunakan. Itu bukan milik kaum
nomad, itu wilayah kosong dan siapa pun berhak memakai asal demi kepentingan
orang banyak!”
Di sini tokoh ini kalah. Dia memang kurang pandai bicara, Yonaga adalah
seorang pandai sekaligus “negarawan” besar, meskipun hidup di negeri kecil. Dan
ketika alasan itu dapat diterima dan perluasan wilayah memang mengenai tempat
kosong yang tidak bertuan maka Handewa pulang meskipun ganjalan tidak puas
mengganggu hatinya. Dia memang dapat menerima, tapi karena suku nomad terpaksa
menyingkir dan itu berarti suku pengembara itu harus berjuang lebih keras di tempat
lain maka semacam perasaan tidak tega hinggap di hati pendekar ini. Tahu Han
Bouw? Seperti itulah tokoh atau keturunan dari murid tertua Sheru Deva itu, lembut
dan lemah hati.
Kolektor E-Book

Dan bagaimana dengan Yonaga sendiri? Tenangkah perasaannya setelah


“ditegur” saudara tuanya? Tidak. Yonaga diam-diam khawatir. Betapapun dia merasa
tak enak akan teguran kakaknya itu, karena, pengusiran terhadap suku nomad itu
sesungguhnya berasal dari dia dan rajanya!
“Kita harus menjadi bangsa yang kuat, juga besar. Bagaimana kalau sri baginda
meluaskan wilayah dengan menggempur suku-suku di sekitar perbatasan?” begitu
mula-mula Yonaga memancing percakapan, memang akhir-akhir ini timbul semacam
“ide” untuk mengembangkan bangsanya, ingin Magada menjadi negara yang besar
dan kuat, seperti Tiongkok umpamanya, negara tetangga yang besar dan banyak
penduduknya itu. Dan raja Urugata yang terbelalak mendengar itu tiba-tiba tertawa.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


128

“Bagaimana keinginanmu bisa sama dengan keinginanku, Yonaga? Apa kau


bilang? Coba sebutkan lagi.”
“Hamba ingin Magada menjadi negara yang besar dan kuat, sri baginda, juga
luas wilayahnya dengan menggempur suku-suku lain. Kalau paduka setuju barangkali
dapat kita kerjakan ini dengan rencana yang matang.”
“Ha-ha. cocok! Aku pribadi ingin mencetuskan ide ini, Yonaga, tapi ragu dan
khawatir kalau banyak yang tak setuju. Kau umpamanya, atau saudara-saudaramu
yang lain yang barangkali menolak!”
“Ah, tidak. Hamba ingin Magada lebih maju lagi, sri baginda. Dan kalau ada
yang tak setuju tentun ya kita beri tahu alasan kita hingga mereka dapat menerima.”
“Kau ada akal? Bagaimana kira-kira?”
“Hamba pribadi belum menemukan rencana yang matang, sri baginda, baru
sekedar gagasan kalau paduka setuju. Kalau tidak tentu saja hamba mencabut
gagasan hamba ini dan tidak hamba teruskanl”
“Ah, tidak. Aku setuju!” raja Urugata buru-buru tertawa, mengangkat
lengannya. “Aka setuju kalau demi negara dan bangsa kita, Yonaga. Coba kita
lanjutkan bagaimana maumu.”
“Hm, kini bukan sekedar mau hamba, sri baginda, melainkan maunya paduka
juga!”
“Ya-ya, kau benar!” sang raja terbahak...” ini maunya kita berdua, Yonaga.
Coba bicarakan bagaimana baiknya dan apa kira-kira yang harus kita lakukanl”
“Hamba pikir suku nomad di dekat perbatasan itu harus diusir, wilayahnya kita
rampas dan masukkan ke wilayah kita.”
“Tidak berbahaya?”
“Tidak, sri baginda. Paduka tak perlu takut!”
“Ah, bukan itu, menteriku. Maksudku apakah tidak ada yang protes kalau kita
melakukan ini!”
“Siapa yang protes? Kita berkuasa, paduka. Dan tak ada seorang pun di negeri
ini yang berani protes!”
Kolektor E-Book

“Hm, kau lupa. Saudaramu Handewa amat jujur tapi tegas, Yonaga. Aku
khawatir dia dengar ini dan menyatakan protes!”
“Kanda Handewa?”
“Ya.”
“Hm!” dan Yonaga yang tiba-tiba tertegun dan diam mendadak mengerutkan
keningnya. Benar, kakaknya tertua itu bisa tak senang. Handewa terkenal sebagai
saudara tua yang ingin bersikap adil, jujur. Tak suka mengganggu dan diganggu.
Kalau dia mendengar tentang ini dan datang menegur tentu harus disiapkan
“segudang” siasat untuk menangkis. Bagaimana akal? Yonaga tiba-tiba tersenyum.
Dalam waktu relatip cepat dia telah menemukan jawabannya, berbisik-bisik pada raja

BATARA Dewi Kelabang Hitam


129

dan Urugata pun terbeliak, kaget tapi akhirnya girang, bertepuk tangan. Dan ketika
Yonaga selesai bicara dan raja setuju maka raja terbahak menepuk pundak
menterinya.
“Bagus, cocok, menteriku. Lakukan itu dan kerjakanlah. Kalau suku nomad mau
bergabung dengan kita maka ada alasan kita untuk mengusir. Benar, mereka harus
dipojokkan dan buat supaya melawan!”
Kasak-kusuk selesai. Pembicaraan tingkat tinggi rampung, tak ada yang tahu apa
yang dibicarakan itu tapi keesokan harinya Yonaga, menteri yang sekaligus menjadi
panglima Magada itu memerintahkan “pembersihan”. Suku-suku pengembara di luar
perbatasan dipaksa masuk, masuk sebagai rakyat Magada. Dan karena perintah ini
turun dengan tegas dan bawahan yang menerima juga melaksanakannya dengan tegas
maka ada kesan keras dan mau menangnya sendiri saja dari aparat yang
melaksanakan. Kaum nomad dibentak dan ditakut-takuti, jumlah mereka cukup
banyak, terdiri dari lelaki perempuan dan anak-anak, hampir tujuh ratus jumlahnya.
Tentu saja mereka menolak. Suku pengembara yang biasa hidup merdeka ini tak mau
menjadi suku yang di ikat, tak mau masuk sebagai rakyat Magada. Dan ketika ribut-
ribut terjadi dan pasukan dari Magada bertangan besi akhirnya yang melawan
ditangkap dan dihajar. Perempuan dan anak-anak menjerit, ketakutan. Pemimpin
mereka, Saguli, dibunuh! Bawahan Yonaga ini benar-benar keras dan tidak kenal
ampun. Dan ketika mereka hendak menyerang dan kepanikan terjadi antara suku
pengembara itu akhirnya kaum nomad ini melarikan diri dan kocar-kacir, tempat
mereka diduduki dan akhirnya begitulah, dikuasai dan Magada pun memperlebar
sayap. Dan karena semuanya itu berjalan cepat dan Handewa tentu saja tidak tahu
maka apa yang terjadi itu tak banyak teruar dan negeri kecil ini pun melebar sepuluh
kilometer di luar perbatasan.
Yonaga tersenyum puas. Dia telah menyuruh anak buahnya mengajak dulu suku
pengembara itu bergabung, satu perhitungan yang sudah diduga pasti ditolak. Kaum
pengembara itu adalah kaum yang biasa hidup bebas merdeka, tak mungkin
menerima dan tentu melawan. Dan ketika perhitungannya benar dan dia
memerintahkan agar mengusir saja kaum nomad itu kalau tak mau menjadi rakyat
Magada maka apa yang dikehendaki tercapai, Magada menjadi luas sedikit dan rakyat
pun diberi tempat yang lebih lega. Ratusan peternak dan petani mulai ditempatkan di
situ, tentu saja tidak cuma-cuma. Mereka dikenakan pajak. Jadi penghasilan raja dan
istana juga bertambah. Dan ketika semuanya berjalan mulus dan sesuai rencana maka
“ide” mulai dikembangkan dan ingin lebih diperbesar!
Kolektor E-Book

“Rakyat kita akan semakin terus bertambah, bagaimana kalau kita menundukkan
negeri-negeri lain yang berlebihan wilayahnya, sri baginda? Negeri Songa
umpamanya, atau Ili!”
“Hm!” raja terkejut. “Kau tak takut, Yonaga? Bagaimana saudara-saudaramu?”
“Dapat diatasi, sri baginda. Dan tentu saja semuanya ini harus dilakukan dengan
akal.”
“Bagaimana maksudmu?”
“Kita buka dengan persahabatan. Kita ajak mereka berteman dan setelah itu kita
ajak meraka mengakui kebesaran kita.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


130

“Mengakui? Ha-ha, memaksa maksudmu?”


“Kurang lebih begitu, baginda. Tapi secara diplomatis kita katakan mengakui,
lebih enak didengar dan tidak kasar.”
Raja tertawa bergelak. Apa yang diomongkan menterinya ini cocok dengan
keinginannya, pas sekali. Dia pun memang ingin Magada menjadi negara yang besar,
berpengaruh. Tak puas rasanya hidup sehari-hari dengan rakyat yang itu-itu saja.
Negerinya harus diperluas, rakyatpun ditambah. Dan ketika hari itu menterinya
mengajak meluaskan wilayah dan kali ini tetangga mereka, negeti Songa atau Ili
diincar maka raja terbahak gembira dan setuju. Pengakuan atas suatu negara lain oleh
negeri yang lebih kecil berarti pemasukan “income” pada saat itu, negeri yang
mengakui akan mengirim upeti setiap tahun. Jadi Magada akan semakin kaya dan
kuat. Dengan lain kata, Songa dan Ili akan menjadi negeri taklukan bagi Magada.
Diharap saja mereka takluk tanpa kekerasan. Kewibawaan dan pengaruh Magada
rasanya lebih dari cukup untuk “menggertak” dua negara tetangga itu, Yonaga cukup
ditakuti dan di segani. Dan ketika raja setuju dan kembali kasak kusuk dibicarakan
tanpa ada yang tahu maka tak lama kemudian raja mengutus menteri ini ke Songa dan
Ili berdalih mengikat persahabatan coba mempengaruhi dua tetangga itu. Banar saja
mereka gugup dan kaget melihat kedatangan Yonaga. Sang menteri bersikap ramah
dan lembut, mula-mula halus. Tapi ketika persahabatan mulai berjalan baik dan
perlahan tetapi pasti menteri ini mengadakan tekanan-tekanan terselubung maka
tanpa disadari atau dinyana mendadak hubungan mulai menguntungkan menteri itu,
menguntungkan Magada. Tukar-menukar di antara mereka berjalan tak imbang,
“impor-expor” membuat Magada surplus sementara Ili dan Songa minus! Dan ketika
mereka sadar tapi terlambat maka kesempatan ini dipergunakan menteri itu untuk
menjatuhkan mental lawan, meminta Songa dan Ili mengakui kebesaran Magada dan
tentu saja setiap tahun mengirim upeti. Magada yang berhasil menguasai ekonomi
kedua negara sahabat itu benar-benar sebagai raja-diraja, ditolak tentu akan segera
menjatuhkan sangsi ekonomi. Ini pukulan bagi dua negeri kecil itu, pukulan berat,
tentu saja Songa dan Ili tak berani. Dan ketika Yonaga tersenyum dan menang tanpa
perang maka Magada menjadikan tetangga itu sebagai ”negara satelit”!
“Hebat, ha-ha, hebat sekali. Taktik dan akalmu luar biasa sekali, Yonaga. Baru
kali ini Magada menundukkan musuh tanpa kekerasan. Uwah, benar-benar hebat.....!”
Kekaguman dan pujian jatuh pada menteri ini. Yonaga tersenyum-senyum.
Memang begitu, sebuah negara kalau sudah dijatuhkan dulu ekonominya tentu
menyerah. Tak ada orang atau negara yang dapat hidup tanpa kekuatan ekonomi.
Kolektor E-Book

Kini tinggal Magada mengatur atau menyetel dari jarak jauh agar dua negeri itu tetap
di bawah kekuasaan, tak boleh mereka dibiarkan mendapat angin dan bangkit. Ini
dapat membahayakan negeri penguasa. Dan ketika kian lama cengkeraman Magada
kian kuat terhadap dua taklukannya maka Songa dan Ili benar-benar dibuat tak
berkutik, geram di belakang tapi tak dapat berbuat apa-apa. Kini mereka tahu atas
siasat siapa semuanya itu terjadi, kagum dan marah terhadap menteri sekaligus
panglima Magada itu. Yonaga memang cerdik. Dan ketika berjalan dari bulan ke
bulan maka Yonaga sendiri, bersama rajanya, siap-siap mengerjakan yang lain dan
mulai mengincar Tiongkok!
“Kau gila?” Urugata mula-mula terkejut. Di sana ada menteri Hu dan lain-lain,
Yonaga. Dan kabarnya negeri itu menyimpan banyak orang-orang pandai, jangan
disamakan dengan Songa dan Ili!”
BATARA Dewi Kelabang Hitam
131

“Ah, itu semua dapat diatur, sri baginda,” Yonaga, sebagaimana biasa
tersenyum. “Hamba dapat mengatur itu dan yakin berhasil. Kaisar hanya memiliki
menteri Hu Kang itu saja, yang lain-lain kabarnya penjilat dan bangsa cecungguk.
Kalau menteri ini dapat dibereskan dan kita terus maju tentu semuanya mudah.
Hanya orang-orang kang-ouw (persilatan) itu yang tak gampang diatur, mereka
kabarnya cukup berbahaya dan biar hamba selidiki dulu!”
Sang raja tertegun. Yonaga lalu menceritakan bahwa Tiongkok hanya bertumpu
pada Hu-taijin menteri Hu Kang itu. Bahwa pejabat-pejabat yang lain tak memiliki
kelihaian seperti menteri itu dan hanya menteri inilah yang patut di perhatikan. Rata-
rata pembantu kaisar hanya penjilat dan kaum rendahan, tak perlu ditakuti. Tapi
ketika Yonaga menceritakan tentang orang-orang kang-ouwnya di mana Tiong-goan
terkenal banyak menyembunyikan orang-orang pandainya maka menteri ini tidak
mengedipkan mata.
“Yang susah ialah orang-orang liar itu. Mereka dapat bersatu dan menghadapi
kita. Maka kalau kita mampu merangkul mereka dan bersahabat dengan mereka tentu
kaisar gampaug dijatuhkan dan kita berkuasa.”
“Lalu bagaimana?”
“Hamba telah mengirim orang-orang hamba, sri baginda. Tapi rencana ini tak
bisa dikerjakan cepat-cepat. Kita harus hati-hati.”
“Bagaimana kalau bersiasat seperti terhadap Songa dan Ili itu?”
“Mempergunakan senjata ekonomi?”
“Ya.”
“Ah, bisa saja, sri baginda. Tapi menteri Hu Kang itu kabarnya pandai. Dia
segera waspada begitu kita membuat ketidakseimbangan. Tentu repot, dia akan curiga
karena menteri ini terkenal banyak pengalaman dan salah-salah memutuskan
hubungan dagang!”
“Tapi kita belum mencoba!” sang raja penasaran, bersinar-sinar, membayangkan
dapat menguasai negara besar itu dan menjadi kaisar, teringat keberhasilan
menterinya terhadap dua tetangga mereka, Songa dan Ili. “Barangkali dicoba saja
dulu, menteriku. Kalau perlu kau memulai perlawatan ke sana dan lihat keadaan
secara langsung!”
“Sabar,” Yonaga tersenyum hati-hati. “Sasaran kita kali ini bukan kelas teri, sri
Kolektor E-Book

baginda. Melainkan kelas raksasa yang membuat kita harus hati-hati. Biar hamba
rundingkan ini dengan saudara-saudara hamba yang lain.”
Begitulah, Yonaga mulai berhasil membuat rajanya berdegup kencang. Apa
yang direncanakan memang hebat, siap mencaplok negara besar, bukan main, ini
benar-benar pekerjaan raksasa. Dan Yonaga membicarakan itu dengan dua
saudaranya yang lain, Yo Shu Kie dan Tan Hong Lok, ayah Hong Siu, ternyata yang
menyambut baik hanya Tan Hong Lok itu.
“Aku tak ingin ditegur kanda Handewa, baiknya niat itu diurungkan saja dan
jangan mencari perkara,” begitu Yo Shu Kie menolak, mengejutkan Yonaga. Tapi
Hong Lok yang sependapat dengan kakaknya, Yonaga, ternyata bersikap sebaliknya.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


132

“Tidak, aku setuju, kanda. Suheng Yonaga benar. Ini demi kebesaran dan
keagungan kita. Kalau Magada dapat menjadi besar dan kuat tentu dunia mengangkat
kita. Magada yang kecil harus menjadi negara yang besar. Keberhasilan kita terhadap
Songa dan Ili perlu dicobakan terhadap bangsa Han itu, Tiongkok harus kita
taklukkan!”
Yonaga, sebagaimana biasa tersenyum saja. Dia tidak buru-buru mengerutkan
kening mendengar tolakan adiknya paling dekat. Maklum, Yo Shu Kie ini memang
hampir mirip dengan kakaknya tertua, Handewa. Tapi karena dia mempunyai adik
lain lagi yang menjsdi Menteri Urusan Pangan bernama Giam Lun, ayah Giam
Khing, Yonaga tidak putus asa.
“Ini kehendak sri baginda,” katanya bohong. Kalau adik Yo Shu Kie tak setuju
tentu boleh-boleh saja. Aku ingin menghubungi adik Giam Lun.”
Giam Lun, ayah Giam Khing dihubungi. Ternyata tidak seperti Yo Shu Kie
justeru ayah Giam Khing melonjak girang. Apa yang direncanakan disambut baik.
Dan karena Yo Shu Kie menghadapi tiga lawan satu akhirnya Menteri Penasihat ini
menarik napas tak mau ikut campur.
“Aku pasip. Kalau sri baginda menghendaki begitu terserah kalian aku tak mau
campur tangan.” Yo Shu Kie keluar ruangan.
“Bagaimana pendapatmu?” Yonaga menanya adiknya di sebelah kiri, Giam Lun.
“Apakah kita mesti memberitahu kanda Handewa?”
“Ah, tak usah. Kie-heng (kakak Kie) tentu bakal memberi tahu kanda Handewa,
suheng. Tapi karena ini rencana sri baginda kita sebagai bawahan hanya tinggal
menurut dan melaksanakan perintah!”
“Bagus, cocok! Aku setuju pendapatmu, Lun-te (adik Lun). Dan kuharap kita
bertiga kelak dapat menghadapi bersama ketidaksenangan kanda Handewa. Paling-
paling Kie-te (adik Kie) yang berdiri di pihak sana, dua lawan tiga!”
“Hm, dua lawan tiga bukan untuk bermusuhan, suheng.” Hong Lok, ayah Hong
Siu mengingatkan. “Kita semata bekerja demi keinginan sri baginda dan tidak
memecah keluarga sendiri!”
“Tentu.... tentu...!” Yonaga tertawa lebar. “Aku juga bukan maksudkan
permusuhan pribadi, Lok-te (adik Lok). Hanya menyatakan bahwa pihak kita ada tiga
sementara Yo Shu Kie dan kanda Handewa hanya dua. Kalau kita mengambil suara
Kolektor E-Book

maka kita lebih banyak, itu saja maksudku!”


“Baik,” dan mereka yang segera berunding dan mencari kata sepakat akhirnya
setuju untuk pergi ke Tiong-goan, menyelidik.
“Sri baginda menghendaki aku, tapi aku tak ingin buru-buru dikenal. Bagaimana
kalau kalian atau seorang di antara kalian?”
“Tidak, aku mempunyai pikiran lain, suheng. Kita atur saja dua anak kita ke
kota raja!” Giam Lun menyatakan pendapat. “Kudengar bahwa peta peninggalan
leluhur kita dibawa menteri Hu Kang!”
“Ah!” Yonaga terbelalak, pembicaraan tiba-tiba beralih ke hal lain. “Kau yakin,
Lun-te? Kau tidak salah?”
BATARA Dewi Kelabang Hitam
133

“Aku yakin, kanda. Dan aku merasa pasti. Karena itu kirim saja dua anak-anak
kita mendatangi menteri itu. Kalau dia mengaku dan menyatakan memegang maka
kita mempunyai alasan untuk berhadapan dengan menteri ini dan justeru permusuhan
dapat dikobarkan kalau dia melawan!”
“Hm, sri baginda tak menghendaki perang Lun-te. Ingat jumlah mereka yang
lebih banyak dibanding kita!”
“Benar, tapi kita dapat mendatangi secara pribadi menteri ini, suheng. Kalau dia
menolak dan mempersulit kita tentu kaisar dapat diminta keadilannya untuk
menghukum menterinya itu!”
Yonaga girang. Ini berita baru, Hu Kang ternyata menyimpan peta warisan
keluarga mereka. Sangguh tak disangka. Dan ketika hari itu mereka berunding dan
sepakat mengirim Hong Siu dan Giam Khing, yang telah kita kenal di muka, maka
dua pemuda itu ke kota raja manemui Hu-taijin. Dan kita tahu selanjutnya, Hong Siu
dan Giam Khing gagal. Dua pemuda itu akhirnya kembali ke Magada dan melapor
semuanya. Dan ketika Yonaga mendengar kelihaian menteri itu dan siap melabrak ke
sana maka peristiwa baru terjadi di Magada.

*
* *

Sore itu, di ibu kota Magada, Hindi, seorang gadis melenggang santai. Dia
berpakaian tambal-tambalan, cantik namun sederhana dengan tongkat di tangan. Kaki
bergerak dan tongkatpun mencokel-cokel, bebatuan dan kerikil kecil berhamburan di
muka kakinya. Aneh gadis ini, sejak siang tak pernah ia berhenti dan berkeliling saja
mengitari ibu kota kerajaan itu, tak makan tak minun. Tapi ketika matahari akan
tenggelam dan rupanya capai juga ia melenggang mendadak gadis ini berhenti dan
seolah tidak disengaja duduk di luar tembok istana.
“Hei, jangan di situ....!”
Seorang pengawal melihat, membentak dan mengusir namun gadis berpakaian
tambalan itu tersenyum. Ia menoleh tapi tak menggubris, dan ketika si pengawal
kembali membentak dan kini melangkah mendekati tiba-tiba gadis itu berdiri,
mengusap mukanya yang penuh debu dan justeru menanti pengawal itu dekat.
“Ada air? Aku haus...!” pertanyaan itu membuat si pengawal tertegun, kini
Kolektor E-Book

melihat seorang gadis asing yang jelas bukan bangsa sendiri, seorang wanita atau
gadis Han yang berkulit kuning bersih, pakaiannya kotor dan wajah sedikit kehitaman
kena panas. Dia tertegun. Dan ketika tongkat itu bergerak dan kembali sebuah
pertanyaan merdu memasuki telinganya akhirnya pengawal ini menyeringai dan
mengamati penuh perhatian.
“Kau siapa? Dari mana? “
“Aku perantau, li-kai (pengemis perempuan)......”
“Hm, aku tahu kau pengemis, tapi wajahmu terlalu cantik untuk pengemis! Hm,
kau mau apa, gadis aneh? Kenapa berhenti di sini? Daerah ini wilayah istana, tak

BATARA Dewi Kelabang Hitam


134

boleh didekati orang dan kau pergilah. Kalau teman-temanku tahu tentu kau
mendapat kesulitan dan bisa ditangkap!”
“Aku tak bersalah, kenapa ditangkap?”
“Kau mendekati istana, ini kesalahanmu!”
“Hm, kalau begitu aku harus pergi?”
“Ya.”
“Baiklah, tapi beri minum dulu, aku haus!”
Si pengawal melengak. Dia melihat mulut yang kering dan bibir yang berkecap-
kecap, gadis itu memang benar-benar kelihatan haus. Dan karena tak curiga dan
mengangguk tersenyum lebar tiba-tiba dia membalik dan masuk ke gardu jaga,
mengambil air minum yang ditaruh di poci besar, persediaan untuknya. Tapi ketika
dia kembali dan mau memberikan itu mendadak gadis yang dilihatnya lenyap entah
ke mana.
“Eh!” pengawal terbelalak. “Ke mana dia?” lalu mencari dan menoleh di sekitar
akhirnya pengawal ini mengumpat dan memaki-maki, tak menemukan gadis yang
dimaksud dan di gardu yang lain pengawal di dalam ribut-ribut. Mereka, terdiri dari
tiga orang, melihat seorang gadis pengemis duduk di sudut, melenggut nikmat dan
tampaknya tidur-tidur ayam. Didekati tapi tiba-tiba lenyap. Dan ketika tiga pengawal
ini juga mencari sambil berkaok-kaok maka di pintu gerbang ke tiga, hampir di
pendopo istana gadis itu ternyata sudah ada di situ, berhadapan dengan tujuh
pengawal yang terbelalak kaget.
“Siapa kau?” bentakan ini sudah disusul dengan todongan tombak. Gadis
pengemis itu tahu-tahu muncul begitu saja, tak diketahui dari mana dan kini mereka
mengepung, yang dikepung senyam-senyum saja dan mereka tertegun. Dan ketika
seorang di antaranya menggetarkan tombak dan bertanya dengan suara keras maka
gadis itu menjawab lembut.
“Aku pengelana miskin, ingin bertemu paduka Yonaga.”
“Untuk apa? Ada keperluan apa?”
“Melamar pekerjaan....”
“Heh!” pengawal bertombak terkejut. “Jangan kau main-main, gadis aneh. Tak
Kolektor E-Book

ada pekerjaan di sini dan tak bisa kau bertemu Yo-taijin (menteri Yo)!” dan
mendekatkan mata tombak menakut-nakuti gadis itu pengawal ini membentak,
“Sekarang pergilah, atau kami akan menangkapmu!”
Gadis itu, yang tetap tenang tiba-tiba tertawa. “Kalian demikian galak?”
katanya. “Apakah Yo-taijin mendidik kalian untuk bersikap kasar kepada rakyat
kecil? Eh, pengawal-pengawal rendahan, aku tak mau pergi kalau kalian tak
membawaku kepada Yo-taijin!” dan mendorong tombak yang didekatkan ke
lambungnya tiba-tiba gadis ini menekuk dan...... krek, mata tombak patah.
“Heii....!” si pengawal terkesiap, mundur dengan kaget. “Kau berani melawan?
Kau akan....” kata-katanya terhenti, gadis itu menggerakkan jari dan sebuah totokan
tanpa suara tepat mengenai jalan darah di bawah leher, pengawal ini mengeluh dan

BATARA Dewi Kelabang Hitam


135

terguling. Dan ketika kawan-kawannya melihat tombak terlepas dan pengawal itu
roboh akhirnya seruan kaget dan panik terdengar di sana-sini.
“Siluman....!”
“Dia iblis!”
Tapi ketika mereka mendengar kekeh dan tawa yang merdu tahu-tahu gadis ini
berkelebat lenyap dan hilang dari tengah-tengah mereka.
“Hantu, dia peri...,!”
Keadaan menjadi lebih ribut. Tujuh pengawal ini tak tahu apa yang terjadi, siapa
dan ke mana pula gadis itu pergi. Tapi sementara mereka menolong teman mereka
yang tertotok dan mau melapor ke dalam ternyata di dalam, di pendopo istana itu
terdengar suara dentang senjata dan suara perkelahian, disusul jerit dan pekik kaget
serta terlemparnya beberapa tubuh yang terbanting keluar, mereka semua menjerit
menyatakan ada siluman. Tombak dan pedang patah-patah dan saat itu munculah Yo
Shu Kie, sang Menteri Penasihat. Dan ketika menteri itu berkelebat tapi siluman yang
dicari sudah masuk ke dalam dak entah ke mana lagi maka istana tiba-tiba menjadi
geger dan gaduh.
“Seseorang masuk ke dalam, seorang pengemis perempuan!”
“Bukan, seorang siluman, taijin, Hamba dilempar dan tahu-tahu roboh!”
“Siapa dia?”
“Iblis! Dia.... heii!” suara gaduh terdengar di dapur istana, jauh di belakang. Di
sana para pelayan dan koki lari berserabutan, masing-masing berteriak mencari
selamat sendiri-sendiri. Yo Shu Kie tentu marah. Dan ketika suara itu semakin ramai
dan piring serta gelas terdengar di banting dan pecah tak keruan akhirnya menteri ini
sudah melesat dan menuju ke tempat itu, melihat seorang gadis tertawa-tawa
menyambari makanan dan buah-buahan, melahap dan menelan begitu saja seperti
orang kelaparan. Gadis itu adalah pengemis jembel yang lusuh pakaiannya, itulah
gadis yang dilihat para pengawal. Dan ketika menteri itu berkelebat masuk dan
seorang lain lagi menyambar dari pintu samping maka seorang gadis gagah telah
berdiri di situ membentak gadis pengemis ini, di samping Yo Shu Kie.
“Gadis siluman, kaü siapa berani mengacau di tempat ini? Mau apa kau
membuat onar? Turun, kubunuh kau nanti!”
Kolektor E-Book

Gadis itu, si gadis pengemis tertawa-tawa di belandar istana. Dapur istana ini
cukup tinggi, dia nongkrong di sana dengan sebuah paha angsa. Tapi ketika Yo Shu
Kie dan seorang gadis cantik membentaknya di situ tiba-tiba gadis melayang turun
dan.... hinggap di depan dua orang itu dengan gerakan ringan, mulutnya berlepotan
minyak, melihat banyak pengawal sudah mengurung.
“Heh-heh, aku mencari menteri Yo. Tahukah kau di mana dia dan dapatkah
mempertemukan aku dengannya?”
“Aku menteri Yo,” Yo Shu Kie, sang Menteri Penasihat maju dengan mata
bersinar-sinar. Ada apa kau mencari aku dan membuat ribut di sini?”
“Kau menteri Yonaga?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


136

“Bukan, aku Yo Shu Kie. Yonaga adalah suhengku!”


“Ah, kalau begitu tak usah. Aku mencari Yonaga!” dan gadis pengemis itu yang
tertawa mengejek dan mencelat naik tahu-tahu sudah duduk lagi di belandar,
ongkang-ongkang kaki dan tak menghiraukan Menteri Penasihat itu, gadis di
sebelahnya marah dan mau bergerak, melayang naik dan menyerang gadis pengemis
itu. Tapi belum dia membentak tahu-tahu Menteri Penasihat ini telah berkelebat
dan.... hinggap di belandar itu pula, jari menyambar.
“Gadis aneh, kau rupanya keras kepala. Baiklah, turun dan mari kita bicara di
bawah...... siuit!” sang menteri sudah menyerang, dua jarinya bergerak dan langsung
menotok pundak. Gadis berpakaian pengemis mengelak tapi jari sang menteri tetap
mengejar juga, terkejutlah dia. Dan ketika jari tinggal seinci lagi dan Yo Shu Kie
yakin totokannya akan mengena mendadak gadis itu tertawa dan melempar tulang
angsa yang sudah habis digerogoti dagingnya.
“Jangan terburu-buru. Nih, terimalah..... plak!” dan tulang angsa yang hancur
bertemu totokan menteri itu tiba-tiba berhamburan dan menyambar wajah si menteri
sendiri, sebagian menyerpih dan menyambar si gadis pengemis. Tulang-tulang kecil
yang hancur beterbangan itu bukan main tajamnya, terpaksa menteri ini mengebut
dan menyampok. Tapi ketika dia menggeram dan menghalau serpihan tulang-tulang
itu mendadak lawan berjungkir balik dan menendang pahanya.
“Dess!” menteri ini terpelanting, jatuh kebawah tapi dengan gerakan
mengagumkan dia berjungkir balik, lawan yang menendang langsung di sambar. Si
gadis pengemis berseru kaget karena pergelangan kakinya tertangkap, saat itu dia
mau melayang naik, sang menteri justeru melayang turun. Dan karena mereka
bertemu di tengah udara dan mau tidak mau gadis ini terseret jatuh akhirnya dengan
bentakan nyaring ia menggerakkan kaki satunya menghajar muka menteri itu, sambil
berjungkir balik, terpaksa sang menteri melepas cengkeramannya dan masing-masing
meluncur ke bawah. Dan ketika dengan gerakan indah mereka sama-sama hinggap di
lantai, dapur dan Yo Shu Kie memuji kelihaian lawan maka dua orang itu sudah
berhadapan kembali dengan mata bersinar-sinar.
“Aih, hebat. Kau gadis Han yang lihai?”
“Han!” gadis itu agak berkeringat. “Dan kau pun pandai, Yo-taijin, tapi bukan
kau yang kucari!” lalu memandang menteri ini dengan senyum aneh gadis itu
menyambung. “Yo-taijin, aku ingin bertemu dengan menteri Yonaga. Kalau kalian
tidak menganggapku pengacau sebaiknya temukan aku dengan dia agar tak usah
Kolektor E-Book

ribut-ribut.”
“Enaknya!” gadis di sebelah tiba-tiba melengking. “Kau telah membuat onar dan
ribut, gadis siluman. Mana bisa tidak dianggap pengacau? Kalau kau ingin bertemu
paman Yonaga sebaiknya kau hadapi aku dulu dan setelah itu bicara lagi!”
“Kau siapa?” si gadis pengemis bertanya.
“Aku Yo Siu Lan!”
“Puteri Yo-taijin ini?”
“Benar, dia ayahku, gadis siluman. Karena itu pertanggungjawabkan dulu
perbuatanmu di sini. Ayah, biar kuhadapi dia, lihat dan berdirilah di pinggir......
BATARA Dewi Kelabang Hitam
137

wutt!” dan Siu Lan yang melejit menggerakkan tangannya tahu-tahu menampar dan
melakukan serangan ke kepala, tidak ditangkis tapi si gadis pengemis mengelak,
dikejar dan Siu Lan sudah menggerakkan kakinya pula. Dan ketika tujuh delapan
serangan bertubi-tubi menghantam gadis pengemis ini dan gadis itu berlompatan
menghindar terpaksa dia menggerakkan lengan kirinya dan untuk pertama kali suatu
benturan tenaga terjadi.
“Dukk!”
Siu Lan terpental. Puteri Yo Shu Kie ini terpekik, kaget dia marah serta
menerjang lagi. Kini dia mengelilingi lawan dan lenyap dengan serangannya yang
cepat. Tapi ketika lawan kembali menangkis dan suara “dak-duk” membuat Siu Lan
terdorong akhirnya gadis ini tertawa dan berseru.
“Awas, sekarang aku membalas, adik cantik. Hati-hati dan perhatikan kakiku.....
wut-wutt!” tongkat di tangan bergerak, menangkis dan menghalau dan kali ini Siu
Lan mengeluh. Dia terhuyung dan terdesak. Dan ketika tongkat diputar dan si gadis
pengemis melengking tinggi sekonyong-konyong kakinya bergerak silih berganti dan
berputaran cepat di antara bayang-bayang tongkat.
“Plak-dess!” Yo Siu Lan terpelanting, menjerit dan terlempar dan dalam
gebrakan begitu cepat tahu-tahu ia robog. Gadis ini melompat bangun tapi lawan
mengejar sambil tertawa, dua buah kaki turun naik dengan cepat, Siu Lan mau
mengelak tapi terkena juga, gadis ini terpelanting dan kembali roboh. Dan ketika ia
mengeluh dan lawan mau menyudahi pertempuran tiba-tiba Yo-taijin berkelebat ke
depan membentak garang.
“Berhenti.... dukk!” sepasang lengan menteri itu bertemu kaki si gadis
pengemis, ruangan tergetar dan gadis pengemis itu terdorong, menteri ini juga
tergetar. Dan ketika Yo-taijin terkejut melihat kehebatan kaki lawan maka Sin Lan,
gadis cantik ini telah ditolongnya bangun.
“Kau tak apa-apa?”
“Tidak.”
“Minggirlah, gadis ini bukan lawanmul” dan Yo-taijin yang bersinar
memandang si gadis aneh lalu menyuruh pengawal mundur, melihat mereka mau
bergerak dan menyerang. Dan ketika dia memandang gadis itu dan Siu Lan gemetar
serta pucat maka menteri ini bertanya, keren, “Nona, kau siapa? Apa maksudmu
sebenarnya mencari suhengku? Dia tak ada di sini, kebetulan keluar.”
Kolektor E-Book

“Hm, aku Mei Hong.... Can Mei Hong.”


“Mei Hong? Dan kau, hmm.... berpakaian tambal-tambalan. Aku jadi teringat
pada Hwa-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang), ada hubungan apa
kau dengan partai pengemis itu? Apa hubunganmu dengan Hwa-i Sin-kai (Pengemis
Sakti Baju Kembang)?”
“Aku muridnya, kebetulan menjadi anggauta Hwa-i Kai-pang pula.”
“Aha, begitukah? Lalu apa maksudmu ke mari?”
“Mencari pekerjaan.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


138

“Hm, kau main-main,” Yo-taijin menyelidik tajam, belum mendengar kematian


Hwa-i Sin-kai yang tewas, maklum Magada negeri kecil yang jauh dari kota raja.
“Kau tak jujur menjawab pertanyaan, nona. Aku tak puas dengan jawabanmu dan
ingin kepastian yang sungguh-sungguh.”
“Aku tidak bohong,” Mei Hong tertawa, ternyata gadis yang dicari-cari Bun
Hwi adanya. “Aku serius, Yo-taijin. Kalau kau percaya baik, tidak percaya juga tidak
apa.”
“Mana bisa aku percaya? Lalu pekerjaan apa pula yang kau cari?”
“Aku ingin menjadi kepala pengawal, Yo-taijin. Boleh di mana saja asal di
istana!”
Menteri Penasihat ini tiba-tiba curiga. Selama ini Magada belum mengadakan
hubungan “diplomatik” dengan Tiongkok, mereka masih belum saling kenal-
mengenal. Tapi melihat kelihaian gadis itu tiba-tiba menteri ini tertarik.
“Hm, untuk mencari pekerjaan tak perlu suhengku direpoti. Aku pun bisa, aku
juga berwenang. Tapi tahukah kau apa syarat ingin menjadi kepala pengawal?”
“Katanya harus bisa merobohkan keluarga Yonaga, apa betul?”
Menteri ini tersenyum. “Kau dengar dari mana?”
“Nama Yonaga cukup terkenal, taijin. Katanya dia pun lihai. Nah, aku coba-
coba datang dan terus terang ingin menantangnya!”
“Ha-ha!” menteri ini tertawa, melihat keterbukaan lawan. “Kau jujur, nona, tapi
juga sombong! Mampukah kau sebagai murid seorang ketua pengemis menghadapi
dan merobohkan keluarga Yo? bagaimana kalau kau kalah?”
“Kalah menang soal biasa, taijin. Tapi kalau belum bertanding tak ingin rasanya
aku pulang dan meninggalkan negeri ini!”
“Bagus, kalau begitu kau boleh berhadapan dengan aku. Aku pun keluarga
Yonaga, mari main-main dan silakan menyerang. Kulihat kau mempunyai
keistimewaan dalam mempergunakan kakimu!”
Mei Hong ditantang, sang menteri sudah mengembangkan kedua lengannya dan
bunyi berkerotok tiba-tiba timbul. Kaki menteri itu direnggangkan dan Mei Hong
melihat lawan bersiap. Dan ketika Siu Lan, puteri Yo-taijin itu mendekati ayahnya
Kolektor E-Book

dan berbisik-bisik maka menteri ini tersenyum mengulapkan lengan.


“Jangan khawatir, dia tak dapat merobohkan aku!” begitu Mei Hong mendengar
kata-kata sang menteri ini, rupanya berupa jawaban untuk puterinya. Siu Lan
mengangguk dan tersenyum, lega. Mei Hong mengerutkan kening dan mendongkol.
Dan ketika menteri Yo memandangnya dan menyuruh dia menyerang maka Mei
Hong menggerakkan tongkat.
“Taijin,” katanya sombong. “Aku tak biasa menyerang duluan. Kalau kau mau
silahkan kau saja menyerang dan biar kuberi kesempatan tiga jurus padamu.”
“Ha-ha, bukan kau yang harus mengalah, nona, melainkan aku. Akulah yang
akan mengalah tiga jurus kepadamu. Kau seranglah, aku berada di rumahku sendiri!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


139

“Tapi aku harus menghormatimu, kau tuan rumah!”


“Itulah, justeru kau yang harus menyerangku dulu, nona. Sebagai tamu dan
penantang yang baik mestinya kau menyerang dan maju dulu. Silahkan, tak perlu
sungkan!”
“Begitukah? Baik....!” dan Mei Hong yang menggerakkan tongkat siap
menyerang tiba-tiba menahan lagi. “Eh, kau keluarkan senjatamu!”
“Tidak, aku akan mengeluarkan kalau dibutuhkan, nona. Sebelum kau mendesak
aku senjata tak mungkin dicabut. Ayo, mulailah, jangan takut!”
Mei Hong melengking. Ejekan pada kalimat terakhir tadi membuat mukanya
merah, dia telah mengenal tenaga menteri ini dan berkelebat. Dan ketika lawan
menyuruh dia maju dan menteri itu tertawa tiba-tiba Mei Hong telah menggerakkan
tongkat memukul menteri itu, mempergunakan sebunah jurus dari ilmu tongkatnya
Hui-liong-sin-tung-hoat (Silat Tongkat Sakti Naga Terbang), tangan meliuk dan
tongkat pun tiba-tiba menyambar. Dan ketika menteri itu mengelak dan tongkat
dibalik tahu-tahu senjata tangan Mei Hong ini menghantam leher menteri itu dari
samping dengan gerakan luar biasa.
“Plak!” sang menteri menangkis, tongkat terpental dan Mei Hong terkejut.
Sinkang menteri itu membuat telapaknya pedas, dia membentak dan menerjang lagi.
Dan ketika lawan tersenyum dan Mei Hong melengking tiba-tiba gadis ini telah
berkelebatan dengan tongkat menyambar-nyambar, naik turun bagai naga dan Yo-
taijin berlompatan. Ringan namun cepat menteri itu menghindari tongkat yang
mengejar tubuhnya, mula-mula mengelak dan sesekali menangkis. Tapi ketika
tongkat bergerak kian cepat dan menteri ini mengeluarkan seruan memuji akhirnya
sang menteri lebih banyak menangkis daripada mengelak.
“Plak-plak!”
Untuk kedua kali Mei Hong tergetar. Lawan tertawa dan kembali membuat
tongkatnya mental. Menteri ini mengejek dan Mei Hong panas. Dan ketika lawan
menangkis dan satu sambaran tongkat kembali menghantam menteri itu tiba-tiba Mei
Hong lenyap menyambar-nyambar mengeluarkan selutuh kepandaian tongkatnya, di
elak dan ditangkis dan segera menteri itu didesak. Yo-taijin terkejut ke dua tongkat
yang mental bertemu tangkisannya selalu membalik lagi bagai naga menukik, kian
lama sambaran tongkat kian berbahaya juga. Dan ketika menteri itu merasa lawan
menambah sinkangnya pula hingga tongkat hanya tergetar dan tidak terpental lagi
Kolektor E-Book

maka menteri ini kaget dan berseru memuji.


“Hebat, silat tongkat yang hebat. Luar biasa...!”
Mei Hong tertawa. Sekarang dia dapat mendesak sang menteri. Yo-taijin
kewalahan dan berkali-kali mundur. Tapi ketika dia mendesak dan tongkat
mengurung tubuh sang menteri dari segala penjuru mendadak menteri ini
mengibaskan lengannya ke kiri kanan dan jadilah dua batang lengannya sebagai dua
batang pedang yang mengeluarkan suara mendengung!
“Awas, ini ilmu silat keluargaku, nona. Hati-hati... sing-plakk!” tangan menteri
itu menyampok, tongkat terbacok ujungnya dan Mei Hong kaget. Tangan menteri itu
tiba-tiba seolah pedang pusaka yang bukan main tajamnya, tongkatnya buntung, Mei

BATARA Dewi Kelabang Hitam


140

Hong terpekik dan menyerang lagi, ditangkis dan kembali sebagian ujung tongkatnya
terbabat. Bukan main! Dan ketika sang menteri tertawa dan desakan Mei Hong
otomatis kendor akhirnya Mei Hong pucat melihat cahaya berkeredepan menyambar-
nyambar dari sepasang lengan menteri itu.
“Pek-liong Kiam-ciang (Tangan Pedang Naga Putih).....!”
“Ha-ha, sebenarnya bukan Pek-liong Kiam-ciang, nona, tetapi Pek-liong Kiam-
sut (Silat Pedang Naga Putih)!” Yo-taijin menjawab, seruannya membuat Mei Hong
menggigil dan tiba-tiba gadis ini berseru keras. Dan ketika Yo-taijin merangsek maju
dan berani menyambut tongkat yang tentu bakal terbacok lagi mendadak gadis ini
mengangkat kakinya dan dengan gerakan lurus ke atas dia menyambut tangan pedang
lawannya.
“Dess!”
Yo-taijin kali ini tersentak. Dia melihat gerakan aneh dari kaki gadis itu, Mei
Hong menggerakkan kaki satunya lagi dan kembali tangan pedang Yo-taijin diterima,
Mei Hong tak apa-apa sementara menteri itu sendiri tergetar. Kagetlah menteri ini.
Dan ketika Mei Hong tertawa dan sang menteri tertegun tiba-tiba Mei Hong
membuang tongkatnya dan.... ganti-berganti mencuatkan sepasang kakinya yang naik
turun menyambar tubuh menteri itu.
“Des-dess!”
Yo-taijin kian terdorong. Sekarang dia berseru kaget melihat kehebatan
lawannya ini. Dengan kaki yang mencuat-cuat gadis itu seolah mendapat tambahan
tenaga mujijat, Yo-taijin terbelalak dan mengeluarkan suara aneh. Dan ketika
sepasang tangan pedangnya selalu mental bertemu sepasang kaki lawannya itu yang
tiada henti bergerak naik turun akhirnya menteri ini terdesak dan kembali mundur-
mundur, tak mengenal ilmu apa yang dipergunakan gadis itu!
“Hebat, aneh sekali. Luar biasa...!”
Menteri ini berseru berulang-ulang. Dia memang tak mengenal ilmu yang
dipergunakan Mei Hong itu, tak tahu bahwa Mei Hong mempergunakan dua jurus
sakti warisan Cupu Naga, dua jurus yang bernama Siu Sien, berbeda dengan Kiok
Lan yang memiliki Sing Sien, jadi Mei Hong mahir mempergunakan kaki sementara
Kiok Lan mempergunakan tangan. Kini menyambar dan mencuat-cuat tak dapat
diduga sepasang kaki Mei Hong berganti-ganti menyambar atas dan bawah, bahkan
juga tengah. Semua gerakannya ini terlampau cepat dan dua kali menteri Yo
Kolektor E-Book

tertendang menteri itu terhuyung dan Siu Lan, puterinya mulai pucat. Gadis ini
melihat ayahnya terdesak. Dan ketika Yo-taijin kelabakan dan bingung menghadapi
dua kaki yang bergerak tiada henti tiba-tiba Siu Lan berseru agar ayahnya mencabut
pedang.
“Yah, cabut pedangmu. Gabungkan dengan Sin-tiauw-kun (Silat Rajawali)!”
Sang menteri mengangguk. Pada saat itu dagunya nyaris tersambar sebuah
tendangan tinggi, untung menteri ini melempar kepalanya dan kaki lawan pun lewat
dengan cepat, kini sang menteri membentak dan sebatang pedang berkelebat di
tangannya, pedang berwarna hijau dan memancarkan hawa dingin. Dan ketika Mei

BATARA Dewi Kelabang Hitam


141

Hong menyerang lagi dan menteri ini menggerakkan tangan kirinya tiba-tiba dengan
seruan pendek Yo-taijin menampar sekaligus menangkap kaki Mei Hoag.
“Plak!”
Mei Hong terkejut. Ia saat itu mengeluarkan jurus yang disebut Kaki Menopang
Langit, kaki menuju hidung lawan tapi Yo-taijin menangkis. Sebenarnya dia hendak
melanjutkan dengan tendangan samping ke telinga, jadi siap mencecar gencar dengan
sikap yang indah, tubuh hanya di topang kaki yang lain. Tapi ketika Yo-taijin tidak
sekedar menangkis dan menteri itu bahkan mencengkeram kakinya tiba-tiba dalam
gebrak begitu cepat pergelangan kakinya tertangkap, diputar dan Yo-taijin
menggerakkan pedangnya di tangan kanan menusuk pahanya. Pedang itu pun
mendesing dan tak kalah bahaya dengan cengkeraman di kaki. Dan karena Mei Hong
setengah tak berkutik dan lawan mengunci gerakannya terpaksa Mei Hong
membentak dan.... melenting setengah putaran dengan kaki yang lain menghantam
pelipis menteri itu.
“Plak-dess!”
Yo-taijin berseru memuji. Dia terpaksa melepas cengkeramannya, kaki yang
diputar meronta kuat dan dia tertarik, mendapat tendangan dari kaki yang lain
otomatis tusukan pedangnya pun kacau. Jadilah menteri ini terputar oleh sentakan
Mei Hong. Dan ketika ia melepas cengkeramannya dan Mei Hong melenting
menghantam dengan kakinya terpaksa menteri ini membalik dan menggerakkan siku
kanan, menangkis dan terdorong tapi lawan berjungkir balik mematahkan daya
tangkisannya. Siku kanan tadi tidak sembarangan bergerak melainkan menyodok
jalan darah di telapak kaki Mei Hong, gadis itu terkejut dan cepat-cepat menjauhkan
diri, ia merasa “gringgingen”, marahlah Mei Hong. Dan ketika lawan mengusap
keringat dan terbelalak memandangnya tiba-tiba Mei Hong berkelebat lagi dan
menyerang, mempergunakan dua kakinya itu tapi sang menteri kini menghadapinya
dengan pedang dan cengkeraman Mei Hong melengking dan menggerakkan kakinya
naik turun, coba mendesak tapi kali ini ditahan. Rupanya dalam beberapa jurus tadi
Yo-taijin mulai mengenal gaya serangan Mei Hong, melihat bahwa setelah tiga puluh
enam gerakan gadis ini selalu mengulang serangannya pada sikap pertama, itu-itu
saja dan karena itu Mei Hong seolah kehabisan bahan, gadis ini tak tahu melanjutkan
apa lagi dan karena itu sekarang mudah dikenal, tertawalah menteri ini. Maka ketika
Mei Hong menyerangnya gencar dengan tendangan bertubi-tubi tapi sang menteri
sudah mulai hapal ke mana gadis itu menyerang akhirnya menteri ini dapat
menghindar dan pedang serta cengkeramannya pun membalas, kini gebrak terakhir
Kolektor E-Book

tadi coba diulang, dia hendak menangkap dan mencengkeram kaki gadis itu. Dan
karena Mei Hong terbuka kelemahannya dan menteri yang lihai itu ternyata awas
benar hingga mengetahui bahwa Mei Hong hanya memiliki dua jurus ilmu sakti saja
akhirnya menteri ini tertawa bergelak mengejek lawannya itu.
“Ha-ha, kau hanya memiliki ilmu tendangan yang ini-ini saja, nona. Memang
hebat dan lihai kalau dapat diteruskan tapi agaknya kepandaianmu setengah matang.
Ha-ha, tahu aku. Sekarang kelemahanmu sudah kulihat dan hati-hatilah, aku akan
merobohkanmu dalam beberapa jurus lagi!”
Mei Hong pucat. Sekarang dia mengakui kelihaian menteri ini, matanya yang
awas dan otaknya yang cerdas. Kiranya tadi secara diam-diam menteri ini mengingat
semua serangannya. Dan karena ia memang hanya memiliki dua jurus itu-itu saja dan

BATARA Dewi Kelabang Hitam


142

harus mengulang kalau gerakan atau sikap terakhir habis maka Mei Hong mengeluh
ketika gaya serangannya dikenali, dielak dan kini menteri itu selalu coba menangkap
kakinya. Sekali terpegang tentu dia mati kutu, memang itulah kuncinya. Inilah
kelemahan Mei Hong. Dia hanya mempergunakan kaki sementara tangan tidak
bekerja, kebalikan dengan Kiok Lan yang mahir mempergunakan tangan tapi kakinya
tidak bekerja. Ilmu yang diwarisi masing-masing gadis itu memang setengah bagian,
baru lengkap dan tak terkalahkan kalau masing-masing bersatu. Orang paling hebat
pun barangkali tak sanggup mengalahkan dua gadis itu bila mereka maju bersama.
Dan karena kelemahan Mei Hong terletak pada tangannya karena hanya kaki saja
yang bergerak menyerang karena jurus Siu Sien memang hanya mengajarkan begitu
akhirnya Mei Hong tersentak ketika sang menteri mulai menotok atau mencengkeram
kakinya, pedang bergerak ke arah pundak dan justeru ke daerah yang “tidak hidup”
itu, sang menteri mendesak. Mei Hong kacau dan akhirnya memaki. Dan ketika satu
tendangannya mengenai angin dan Yo-taijin membabat pundaknya tiba-tiba bajunya
robek dan untuk pertama kali Mei Hong mengeluh.
“Brett!”
Menteri Yo tertawa. Dia maju lagi menyerang lawan, Mei Hong menggerakkan
kaki tapi sang menteri siap menangkap, terpaksa Mei Hong menarik dan mengganti
serangan lain, tak boleh kakinya disentuh tangan menteri itu. Dan karena hal ini jelas
tidak menguntungkan Mei Hong dan gadis itu terdesak akhirnya kembali satu
tikaman pedang mengenai pangkal lengannya.
“Crat!”
Mei Hong terluka. Lukanya kecil, tapi ini cukup menciutkan nyali. Yo-taijin
mengenal kelemahannya dan pedang terus menyambar bagian atas. Bagian bawah,
kaki, selalu dihadang menteri itu dengan cengkeraman atau totokan. Gentarlah Mei
Hong. Dan karena itu bisa merugikan diri sendiri dan Mei Hong merasa dia akan
roboh menghadapi menteri yang lihai ini tiba-tiba menteri itu mengeluarkan bentakan
keras sebelum Mei Hong berpikir untuk melarikan diri.
“Nona, sekarang kau menyerah. Awas......!” sang menteri bergerak cepat,
pedang dimasukkan dan tiba-tiba kedua tangannya meledak nyaring. Sebuah cahaya
berkelebat bagai api, menyambar Mei Hong. Mei Hong terkejut karena sinar berhawa
panas menyambar mukany, tak ada waktu mengelak. Dan karena dia harus
menangkis dan kaki kanannya diangkat untuk menyambut pukulan itu tiba-tiba Mei
Hong menjerit dan roboh terguling-guling.
Kolektor E-Book

“Aduh.... ces!” Mei Hong serasa dibakar, celananya hangus dan seketika
berlubang. Gadis ini menjerit karena ia betul-betul kesakitan, tentu saja harus
menjauhkan diri dan bergulingan menjauhi menteri itu. Yo-taijin mengeluarkan
pukulan berapi. Tapi ketika ia melompat bangun dan menggigil mengeluarkan
keringat dingin tahu-tahu sang menteri sudah ada di sampingnya menotok pundak,
tertawa.
“Nona, robohlah..... bluk!” dan Mei Hong yang roboh kembali ditotok menteri
itu akhirnya mengeluh dan tidak dapat melawan lagi, ditangkap dan sang menteri
mengusap keringatnya didahi. Pertempuran tadi cukup melelahkan dan Mei Hong
dipuji. Kalau gadis itu tidak setengah matang kepandaiannya tentu tak dapat dia
merobohkan gadis Han ini. Yo-taijin memanggil puterinya mendekat, menyuruh Siu

BATARA Dewi Kelabang Hitam


143

Lan membawa Mei Hong ke gedungnya. Dan ketika istana tenang kembali dan
pengawal disuruh pergi maka Mei Hong menjadi tawanan dan menteri Yo ingin
mengorek beberapa keterangan dari mulut gadis ini, sambil menunggu kedatangan
Yonaga, suhengnya, yang kebetulan keluar.

─O─

“Nah, sekarang sebut keperluanmu yang sebenarnya datang di Magada, nona.


Apa maksudmu ke mari dan kenapa kau membuat onar.”
“Aku sudah bilang ingin menjadi kepala pengawal. Aku datang untuk
menantang menteri Yonaga!”
“Aku tidak percaya,” begitu menteri Yo tersenyum. “Pasti ada yang lain dan
untuk itu kau datang.”
“Hm, maksudmu?”
“Kau utusan Hu-taijin, menteri Hu Kang!”
“Eh!” Mei Hong terbelalak. “Untuk apa? Kenapa kau menduga begitu?”
Yo-taijin tiba-tiba menyelidik tajam. “Nona, kau adalah gadis Han. Antara
bangsa Han dengan bangsa kami belum ada hubungan. Aku menduga kau datang
untuk menyelidik di sini atas suruhan menteri itu, dengan lain kata, kau menjadi
mata-mata!”
“Hi-hik!” Mei Hong tiba-tiba tertawa. “Aku geli mendengar kata-katamu, taijin.
Mata-mata? Aku seorang anggauta pengemis menjadi mata-mata? Lalu apa perlunya?
Aku memang mengenal menteri Hu Kang, taijin. Tapi aku datang bukan atas
suruhannya melainkan benar-benar atas kehendakku pribadi yang ingin datang ke
sim!”
“Bohong, kau dusta,” menteri ini tetap curiga. “Aku tak percaya kata-katamu,
nona. Kau mencurigakan dan terus terang aku tak akan melepasmu kalau tidak
mengaku!”
Kiranya, menteri ini sebagai seorang pejabat merasa khawatir kalau
keselundupan “spion”. Maklum, Yo-taijin adalah pembantu dekat raja dan tentu saja
dia harus menjaga keselamatan negara. Mei Hong tak menduga dan tentu saja tak
mengerti semuanya itu. Sebenarnya dia datang karena dua hal. Satu, ingin menjauhi
Kolektor E-Book

Bun Hwi agar pemuda itu bebas menentukan pilihan jodohnya dan dua, dia tertarik
mendengar tentang negeri kecil ini, berkumpulnya tokoh-tokoh dalam Kitah Empat
Pendekar. Mei Hong telah membaca kitab yang diberikan Bun Hwi dan karena itu ia
tertarik, ingin bertemu dan mengenal langsung keturunan dari tokoh-tokoh dalam
Kitab Empat Pendekar itu, tak dinyana kedatangannya justeru dicurigai sebagai mata-
mata. Mei Hong terkejut, tapi juga tiba-tiba geli. Dan ketika sang menteri
memandang tajam dan Siu Lan saat itu masuk ke dalam kamar tiba-tiba gadis ini
berseru.
“Taijin, dugaanmu tak masuk akal. Bangsa Han dengan negeri ini tak memiliki
permusuhan, lalu apa gunanya menteri Hu mengutus aku untuk menyelidik di sini?
Aku datang karena atas kemauanku sendiri, taijin. Kau boleh percaya atau tidak. Tapi
BATARA Dewi Kelabang Hitam
144

terus terang kutambahkan bahwa aku ingin melihat secara langsung keturunan dari
empat orang-orang gagah itu!”
“Maksudmu?”
“Aku mendengar cerita tentang pendekar-pendekar sakti Yo Siok Kun dan Han
Bouw, juga dua adiknya. Aku datang untuk melihat keturunannya sekaligus menjajal
ilmu mereka! Bukankah pukulan yang kau pergunakan tadi adalah Hwee-liong Sin-
kang?”
“Eh!” Yo-taijin terkejut. “Kau tahu?”
“Hi-hik, aku tahu karena aku telah membaca kisah keluarga kalian, taijin.
Karena itu aku datang dan ingin melihat secara langsung!”
Menteri ini tertegun. “Nona,” katanya sedikit ditahan, “kau aneh dan luar biasa.
Kalau begitu dari mana kau membacanya?”
“Dari sebuah kitab tebal!”
“Bersampul kulit kambing warna hitam?”
“Ya,” Mei Hong melengak. “Kau tahu, taijin?”
“Tentu saja,” menteri itu tiba-tiba terkejut. “Itu warisan keluarga kami, nona.
Sebuah pusaka yang hilang bersama peta peninggalan ilmu silat! Hm, mana kitab itu
sekarang dan di mana kau sembunyikan?”
Mei Hong tercekat. Tiba-tiba dia melihat roman muka menteri ini merah,
matanya bersinar-sinar dan menteri itu tampak marah. Tapi karena Mei Hong tak
membawa kitab itu dan dia meminjamnya dari Bun Hwi maka Mei Hong menjawab
datar, “Aku tak menyimpan kitab itu, taijin. Yang memiliki adalah temanku, aku
hanya meminjam.”
“Siapa?”
Mei Hong meragu. “Seorang pangeran,” jawabnya tak terus terang. “Dialah
yang menyimpan itu dan aku juga heran kenapa kitab yang bersifat pribadi keluarga
itu ada di tangannya.”
“Hm, kau harus memberi tahu kami siapa pangeran ini, nona. Namanya!”
“Dia.... dia pangeran Tang,” Mei Hong melindungi Bun Hwi, tak mau menyebut
Kolektor E-Book

terus terang. “Ada apakah kau ingin tahu benar, taijin? Apakah kau hendak
merampasnya?”
Yo-taijin mengangguk. “Tentu saja, itu kitab nenek moyang kami, nona. Masa
harus jatuh di tangan orang lain? Apakah kau telah membacanya habis? Dan apa yang
kau ketahui tentang kami?”
“Aku membacanya sebagian saja, tidak habis. Dan aku kagum pada dua
pendekar utama Yo Siok Kun dan Han Bouw. Eh, ada apa kau menanya semuanya
ini, taijin? Bukankah kau dapat membunuhku kalau suka? Aku tak perlu ditanya
macam-macam karena aku tak takut meskipun kau menawanku! Nah, jangan
kompres aku dengan pertanyaan lain lagi dan bebaskan aku atau kau mengurungku
selama kau suka!” Mei Hong tak mau bicara lagi, betapapun mulai merasa bahwa
BATARA Dewi Kelabang Hitam
145

Yo-taijin mau mengoreknya dalam beberapa keterangan, merasa cukup dan tak perlu
menteri itu menanya lagi. Mei Hong bersikap angkuh dan Yo-taijin terbelalak. Dan
ketika gadis itu tak mau bicara lagi dan menteri ini mengerutkan kening maka
puterinya, Siu Lan, maju dengan marah.
“Yah, gadis ini tak bicara jujur. Dia menyembunyikan sebagian ceritanya. Lebih
baik panggil dan tunggu paman Yonaga dan biar diputuskan di situ!”
“Benar,” menteri ini mengangguk-angguk. “Aku juga tak puas atas jawabannya,
Siu Lan. Kita harus menyelidiki dan membuktikan omongannya itu. Sekarang malah
terungkap bahwa kitab pribadi peninggalan nenek moyang kita pernah ada di tangan
gadis ini. Itu harus diambil dan kita miliki. Biarlah kau jaga dia dan aku akan bicara
dengan pamanmu yang lain.”
Siu Lan mengangguk. Ayahnya keluar, kini gadis itu tinggal berdua bersama
Mei Hong. Dan ketika mereka bertemu pandang dan Mei Hong tersenyum tiba-tiba
gadis ini berkata, “Siu Lan, kau cantik. Kalau kau memiliki Hwee-liong Sin-kang
atau kepandaian setingkat ayahmu tentu kau tak dapat kukalahkan. Hm, berapa orang
saudarsamu di sini?”
Siu Lan mendengus. “Kau tawanan, gadis siluman. Yang berhak bertanya adalah
aku, bukan kau. Kalau kau mau merayu atau menipu aku agar lolos maka jangan
harap. Huh, ayah terlalu lunak kepadamu. Kalau aku tentu sudah kubunuh dan habis
perkara!”
“Kenapa tidak kau lakukan?” Mei Hong tersenyum. “Kau dapat melakukan itu
kalau kau suka, Siu Lan. Dan jangan kira aku akan lolos dari sini. Meskipun bebas
aku masih tak mau meninggalkan Magada dan ingin meneruskan niatku!”
Siu Lan terbelalak. “Niat apa?”
“Menjadi kepala pengawal!”
“Huh!” dan Siu Lan yang kagum tapi juga mendongkol, akhirnya melempar
kerling sinis. “Gadis siluman, jangan harap kau diterima. Kalau ayah melapor ini
pada paman Yonaga dan kau diketahui tentu kau dibunuh. Sudahlah, jangan congkak
atau sombong!”
Malam itu Mei Hong dibiarkan sendiri. Hari-hari lewat seperti biasa, Mei Hong
tak tahu apa yang terjadi di luar. Tapi ketika suatu malam dia merenung sendiri di
kamar mendadak seorang pemuda muncul.
Kolektor E-Book

“Sst, jangan berisik. Aku mau menolongmu keluar.”


Mei Hong terkejut, “Kau siapa?”
“Jangan banyak bertanya, nona. Ayo ikuti aku!”
Mei Hong bangkit berdiri. Pemuda itu telah membuka pintu kamar dan tampak
tergesa-gesa, Mei Hong mengangguk dan tertarik. Dan ketika si pemuda menyambar
lengannya dan mengajaknya melompat akhirnya Mei Hong lolos dibawa keluar,
melihat keadaan sekitar rumah itu sunyi dan beberapa pengawal menggeletak di sana
sini. Mereka rupanya tertotok dan pemuda itu tidak banyak bicara. Dan ketika mereka
melompati tembok tinggi dan dengan ringan pemuda itu melayang lewat maka Mei
Hong mengikuti dan tak lama kemudian bebas, benar-benar bebas dan pemuda itu
BATARA Dewi Kelabang Hitam
146

mengajaknya berlari cepat ke timur. Di situ mereka mendekati hutan dan masuk. Dan
ketika pemuda itu berhenti mengusap keringatnya dengan muka gemetar maka dia
berkata.
“Selamat... kau selamat!”
“Hm....” Mei Hong kini memperhatikan pemuda itu, seorang pemuda tampan
dengan mata yang aneh, suka mengedip. “Kau siapa, sobat? Kenapa melarikan aku?
Musuh keluarga Yo itukah?”
“Ah, aku Giam Khing, nona. Kau gadis bernama Mei Hong, bukan? Aku orang
she Giam, datang karena ingin menyelamatkanmu dan melepasmu dari tawanan!”
Mei Hong terbelalak. “Giam Khing?”
“Ya, kau belum mendengar namaku, bukan! Nah, aku simpati melihat
keberanianmu, nona, dan terus terang aku jatuh cinta!”
“Apa?” Mei Hong tiba-tiba semburat merah. “Cinta? Kau bicara tentang cinta?”
“Ya-ya, aku merasa jatuh cinta kepadamu, nona. Aku telah mendengar sepak
terjangmu dan kagum. Kau lebih hebat dan cantik daripada Siu Lan!” lalu, tidak
melepaskan pegangannya pemuda ini menggigil, bertanya memandang Mei Hong.
“Kau menerima cintaku, nona? Kau tahu membalas budiku, bukan?”
“Kau ada hubungan apa dengan Giam-taijin atau Giam Lun?” Mei Hong
bertanya, tidak menggubris, bahkan membelalakkan matanya kian lebar. “Apakah
kau anaknya?”
“Ya!” Giam Khing mengangguk, girang. “Kau ternyata tahu, nona. Kalau begitu
kita sudah saling kenal!”
Namun, Mei Hong yang tiba-tiba bersikap dingin mendadak mengejek. “Giam
Khing, kiranya kau pun keponakan Yo Shu Kie. Kalau begitu tentu perbuatanmu ini
pura-pura dan omong kosoag. Aku ingin kembali dan tak mau bebas!”
“Eh?!” Giam Khing terkejut. “Kau mau kembali, nona? Kau mau menyia-
nyiakan hasil pertolonganku ini?”
“Hm,” Mei Hong mendengus, melihat sinar mata si pemuda yang berminyak.
“Aku tak perduli itu, Giam Khing. Pokoknya aku ingin kembali dan sesungguhnya
aku tak ingin meninggailkan negeri ini!” dan Mei Hong yang melompat dan
Kolektor E-Book

meninggalkan pemuda itu tiba-tiba memutar tubuhnya dan benar saja kembali ke
kota.
“Hei, tunggu...!” Giam Khing marah. “Kau gila, nona. Kau tidak waras!” namun
Mei Hong yang tidak perduli dan meneruskan larinya tiba-tiba mengerahkan ginkang
dan mempergunakan ilmu lari cepatnya, dikejar dan Giam Khing memanggil
berulang-ulang. Pemuda ini mendongkol dan kian marah. Dan ketika Mei Hong
betul-betul tidak menggubris dan dia khawatir tiba-tiba Giam Khing menimpuk
sebuah senjata rahasia dan berseru keras.
“Plak!” Mei Hong menangkis, seketika berhenti dan berapi-api memandang
pemuda itu Giam Khing terbelalak dan otomatis berhenti pula. Dan ketika anak muda
itu saling pandang dan Mei Hong gusar maka Mei Hong membentak. “Giam Khing,

BATARA Dewi Kelabang Hitam


147

apa maumu menghalang lariku? Apa perdulimu kalau aku kembali? Kau mau coba-
coba? Mengajak berkelahi?”
“Ha-ha!” Giam Khing terbahak, marah tapi juga tertarik. “Kau sombong, Mei
Hong. Ditolong tapi malah bikin susah! Ha, aku melarangmu kembali. Kalau kau
nekat tentu saja aku akan merobohkanmu dan biar kulihat sampai dimana
kelihaianmu yang kudengar itu.”
“Wuutt....!” Mei Hong yang marah dan melengking tinggi tiba-tiba membentak,
maju berkelebat dan dua tangannya sudah memegang potongan kayu. Tadi dalam
perjalanan ia menyambar sebatang dahan dan mematahkannya, tongkatnya sudah tak
ada ketika dia bertempur melawan Yo-taijin itu. Dan begitu Mei Hong membentak
dan mengayun senjatanya ini maka tongkat sederhana di tangan gadis itu menyambar
dan bergerak ke bahu pemuda itu.
“Plik!” Giam Khing menangkis, terdorong tapi tertawa dan Mei Hong sudah
menerjang lagi. Dalam tangkisan tadi ia merasakan tenaga yang cukup kuat dari
lawannya, Mei Hong tak takut dan menggerakkan tongkatnya lagi. Din ketika Giam
Khing mengelak dan terpaksa berlompatan menghindari serangan itu maka pemuda
ini memuji dengan muka berseri-seri.
“Bagus, hebat. Indah, Mei Hong, tapi kau tak dapat mengalahkan aku.... wut-
plak!” dan Giam Khing yang kembali menangkis dan mementalkan tongkat lawan
akhirnya berseru keras mainkan Silat Rajawali yang mirip dipunyai Yo-taijin, ilmu
silat Sin-tiauw-kun dan segera Mei Hong mengenal permainan itu. Dia mendengus
dan mempercepat serangan tongkatnya, mainkan Hu-liong-sin-tung-hoat dan Giam
Khing mengelak ke sana ke mari. Beberapa jurus mereka bertempur belum juga Mei
Hong dapat mengalahkan lawannya. Dan ketika Mei Hoag penasaran dan marah
memekik nyaring akhirnya Giam Khing mematahkan sepotong dahan dan berkata.
“Nah, aku juga mempunyai silat tongkat, Mei Hong. Coba lihat dan kita adu......
kraakk!” tongkat di tangan Mei Hong tiba-tiba ditangkis tongkat di tangan Giam
Khing, patah dan Giam Khing tertawa ketika melihat keterkejutan Mei Hong. Gadis
itu berseru kaget karena lawan tiba-tiba menjadi lihai, secara cerdik dan licin Giam
Khing menumpangi tongkatnya hingga menang posisi, dia tertekan dan tongkat pun
patah. Dan ketika Mei Hong terbelalak dan marah berkelit mundnr mendadak Giam
Khing megal-megol dan sudah menyerangnya dengan silat tongkat yang aneh.
“Ha-ha, lihat ini, nona. Mana yang lebih lihai antara silat tongkatmu dan
tongkatku!”
Kolektor E-Book

Mei Hong terkesiap. Giam Khing sebentar saja mendesaknya, dia mundur-
mundur dan bingung. Silat tongkat yang dimainkan lawannya itu luar biasa, kadang
menyerang tapi juga kadang memukul diri sendiri. Dua kali Giam Khing
menghantam kepalanya dengan tongkat di tangannya itu tapi tongkat tiba-tiba mental
ke depan, menyambar dirinya dan sudah menotok dahinya. Sedikit Mei Hong
terlambat tentu dia terpukul dan terpelanting. Gila. Dan ketika Giam Khing juga
menari-nari dan tongkat bergerak membingungkan dengan memukul-mukul tanah
pula akhirnya Mei Hong teringat silat warisan Giam Hok yane luar biasa, yang
diketahuinya dari kitab Empat Pendekar itu.
“Koat-tung-jing-liong-sin-tung-hoat (Silat Seribu Naga Tongkat Gila).....!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


148

“Eh?” pemuda itu terbelalak. “Kau tahu, nona?”


“Tentu, itu warisan kakek buyutmu pertama, Giam Khing. Si bejat Giam Hok!”
“Ah!” dan Giam Khing yang tersentak dan marah mendengar itu tiba-tiba
berkelebat dan membentak, “Mei Hong, nama leluhurku tak boleh kau maki.... wut-
siuuttt...!” dan tongkat yang menyambar dan nyaris menghantam Mei Hong tiba-tiba
dikelit dan lewat di sisi tubuhnya, Mei Hong membalas tapi pemuda itu meliuk. Dan
ketika Mei Hong didesak dan bertubi-tubi mendapat serangan membingungkan
akhirnya tongkat yang tinggal sepotong di tangannya hancur bertemu tongkat lawan,
ketika menangkis.
“Krekk!”
Mei Hong membuang sisa senjatanya itu. Giam Khing tertawa bergelak
menyerang lagi, Mei Hong pucat dan merunduk. Tongkat di tangan lawan lewat di
atas kepalanya tapi tiba-tiba menukik. Dengan gerak luar biasa dan lihai Giam Khing
melakukan jurus aneh, dan karena Mei Hong menunduk dan tidak menduga serangan
itu maka punggungnya terhajar.
“Bukk!”
Mei Hong terpelanting. Untuk pertama kalinya dia dihajar tongkat, dia yang
memiliki tongkat lihai masih kalah dibanding pemuda ini. Koat-tung-jing-liong-sin-
tung-hoat masih lebih lihai dibanding silat tongkatnya sendiri, Hui-liong-sin-tung-
hoat. Dan ketika Mei Hong terguling-guling dan satu dua menerima hajaran tongkat
akhirnya Mei Hong diketawai pemuda itu yang terbahak-bahak geli.
“Ha-ha, kau roboh, Mei Hong. Kau kalah!”
Mei Hong menggigit bibir. Dia dijepit dan dikelilingi tongkat, diri sendiri sudah
tidak bersenjata tapi Mei Hong tak menyerah. Lawan hendak merobohkannya dan dia
akan bertahan sekuat tenaga, Dan ketika lawan mengejek dan mengira dia tak
mempunyai andalan lagi tiba-tiba gadis ini membentak mengeluarkan dua jurus
saktinya, tendangan Siu Sien.
“Giam Khing, jangan sombong. Aku masih belum roboh... dess!” dan tongkat
yang terpental bertemu kaki Mei Hong tiba-tiba disusul gerakan kaki lain yang
mencuat menyambar dagu pemuda itu, cepat dan mengejutkan dan Giam Khing
berseru kaget. Dia harus melempar kepala agar dagu tidak tercium tendangan, tapi
Mei Hong yang mengejar dan ganti-berganti menggerakkan kaki satunya akhirnya
Kolektor E-Book

mencium juga tubuh pemuda itu.


“Ded-dess!”
Giam Khing berteriak.. Tongkatnya lepas dari tangan, apa yang dilakukan Mei
Hong ini merupakan perobahan tiba-tiba dan Giam Khing tak menyangka. Dia
terpental dan terguling-guling. Dan ketika pemuda itu berseru keras dan bengong
melompat bangun tahu-tahu sebuah sambaran kaki mengenai bahunya lagi ketika Mei
Hong berkelebat.
“Dess!”
Kali ini Giam Khing terputar. Dia menjerit dan terjengkang, dua kaki Mei Hong
yang mencuat naik turun sungguh luar biasa, Giam Khing belum mengenal dua jurus
BATARA Dewi Kelabang Hitam
149

sakti Siu Sien itu. Tapi ketika Mei Hong mengejar dan hendak menghajar lawannya
tiba-tiba dua sosok bayangan berkelebat dan membentak.
“Tahan.....!”
Yo-taijin telah berdiri di situ. Sang menteri bersama puterinya muncul, Siu Lan
tampak bersinar-sinar memandang Giam Khing. Dan sementara Mei Hong
menghentikan serangannya dan Giam Khing melompat bangun maka menteri itu
menatap keduanya dengan mata tajam.
“Siapa yang melepaskan gadis ini?”
“Ah, dia lolos, paman. Kukejar dan sampai di sini. Aku.... aku....”
“Jangan bohong!” Siu Lan membentak. “Kau melepaskan gadis ini, Giam
Khing. Kau dusta dan kurang ajar. Kau berani mengganggu di rumahku.... haiittt!”
dan Siu Lan yang mau menerjang melengking tinggi tiba-tiba ditahan ayahnya yang
berseru nyaring.
“Siu Lan, tunggu!” dan Yo-taijin yang menyambar puterinya meredakan
kemarahan lalu menatap pemuda itu. “Giam Khing, ayahmu memanggil. Silahkan
pulang dan biar kuurus gadis ini!”
“Baik,” dan Giam Khing yang ngeloyor pergi sambil menyeringai tiba-tiba
meninggalkan Mei Hong berkelebat lenyap.
“Nah,” menteri Yo menghadapi gadis itu. “Suhengku Yonaga telah kembali,
nona. Mari menghadap dan jangan coba-coba lari. Kami telah memutuskan sesuatu
untukmu!”
Mei Hong berdebar. “Menteri Yonaga ada?”
“Ya, dia menunggu. Kuharap kau tidak melarikan diri dan tetap baik-baik.”
“Hm,” Mei Hong tertawa. “Aku tak ada niatan keluar dari negeri ini, taijin.
Kalau kalian mengusir justeru aku akan lebih lama tinggal. Baiklah, mari temukan
aku dengan suhengmu dan biar kulihat orangnya!”
Yo-taijin memberi tanda. Siu Lan disuruh berjalan duluan, Mei Hong di tengah.
Dan ketika menteri itu di belakang dan hati-hati namun waspada menteri itu
mengawal Mei Hong akhirnya mereka bertiga meninggalkan hutan dan menuju kota
raja, di tengah jalan ditanya apa yang terjadi namun Mei Hong tertawa acuh. Dia tak
Kolektor E-Book

memberi tahu Giam Khing yang membebaskan dirinya, Mei Hong menganggap Yo-
taijin tahu. Dan ketika gadis itu tak menjawab dan Mei Hong mengenal lagi seorang
keturunan empat pendekar itu maka Yo-taijin mendoagkol dan akhirnya tiba di Istana
di mana malam itu dia langsung membawa Mei Hong ke gedung suhengnya, menteri
Yonaga, mempertemukan gadis ini dengan Menteri Pertahanan dan segera Mei Hong
tertegun. Yonaga ternyata laki-laki yang ramah, senyum dan wajah yang bersinar-
sinar dari menteri itu seolah tak menunjukkan kegarangannya. Heran Mei Hong. Tapi
ketika dia dicoba menteri itu dan roboh dalam beberapa jurus maka Mei Hong kaget
bukan main.
“Ha-ha, lumayan. Ilmu silatnya baik, sayang setengah matang!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


150

Begitu Mei Hong mendapat pujian. Dia melihat menteri ini bicara perlahan
dengan Yo Shu Kie, keduanya memandangnya dan Yo Shu Kie mengangguk-angguk.
Dan ketika malam itu Mei Hong ditanya apa keperluannya dan benarkah dia ingin
menjadi kepala pengawal maka aneh bin ajaib Mei Hong diterima!
“Boleh, kau menjadi saja pembantuku. Tak apa, hari ini juga kuangkat kau
sebagai kepala pengawal dan lindungi keamanan di sini.”
“Ah,” Mei Hong mengerutkan kening. “Aku ingin di istana, taijin, Maksudku
melindungi sri baginda!”
“Hm, yang dekat dengan raja hanya aku dan saudara-saudaraku, nona.
Kepandaianmu belum cukup untuk melakukan itu. Kau tinggal di gedungku atau
tidak sama sekali!”
Mei Hong mendesah. Dia melihat sikap yang tegas di balik semua keramahan
dan keceriaan menteri ini. Yonaga agak lain dengan Yo Shu Kie, menteri itu tak mau
dibantah dan sekali bicara berarti sebuah keputusan, tak dapat Mei Hong menawar
lagi. Dan karena tujuannya tercapai dan meskipun kecewa dia juga menyadari
kedudukannya akhirnya sejak hari itu Mei Hong berada di tempat menteri ini, mulai
akrab dan bergaul pula dengan yang lain-lain, termasuk Siu Lan. Gadis puteri Yo Shu
Kie itu mulai baik. Dan karena mereka sama-sama muda dan Mei Hong hanya tua
setahun dibanding Siu Lan maka kehidupan baru mulai dijalani Mei Hong di negeri
kecil itu, tak merasa diam-diam segala gerak-geriknya diawasi beberapa mata yang
tajam. Mata dari menteri Yonaga dan Yo Shu Kie, juga Giam Lun dan Hong Lok,
yang merasa aneh dan curiga kepada Mei Hong yang dianggap seorang gadis asing.
Tapi karena Mei Hong tak menunjukkan sikap mencurigakan dan sesungguhnya
gadis itu memang hanya ingin menjauhi Bun Hwi tiba-tiba tak terasa Mei Hong
malah kerasan dan senang tinggal di Magada, apalagi setelah berkenalan deagan
tokoh utama yang disegani Yonaga, yakni pendekar sakti Handewa.
“Kau boleh sering main-main ke sini. Han Li dan Hangga suka padamu.”
Mei Hong girang. Han Li, puteri Handewa memang cocok dengannya,
tampaknya lebih cocok daripada Siu Lan. Gadis itu cantik dan tinggi langsing, Mei
Hong kagum. Dan ketika Hangga, putera Handewa atau kakak dari Han Li sering
turut bicara dan mereka cepat akrab satu sama lain maka tiba-tiba Mei Hong kian
kerasan dan betah tinggal di negeri kecil itu, sering mengadu kepandaian dan Mei
Hong terkejut. Dia kalah dibading Han Li, apalagi Hangga, pemuda tampan yang
hampir mewarisi semua kepandaian ayahnya itu, termasuk Hwee-liong Sin-kang. Mei
Kolektor E-Book

Hong terbelalak dan mengakui keunggulan putera-puteri Handewa itu, yang konon
katanya masih seusap di atas menteri Yonaga. Dan ketika hari demi hari dilewatkan
di situ dan Mei Hong merasa cocok dengan suasana yang akrab dari keluarga utama
ini mendadak semuanya guncang dikejutkan oleh hadirnya Hong Beng Lama!

JILID VII

HARI itu, ketika Mei Hong bebas tugas dia dipanggil Yonaga. Menteri ini agak
berkerut, tidak seperti biasa Mei Hong dipanggil buru-buru. Dan ketika Mei Hong

BATARA Dewi Kelabang Hitam


151

menghadap dan bertanya ada apa menteri itu memanggilnya maka Mei Hong
mendapat tugas yang mengejutkan.
“Besok dua orang tamu akan datang. Sambut mereka di perbatasan dan antar ke
sini.”
“Siapa, taijin?”
“Sementara tak perlu tahu. Tapi mereka membawa pasukan, kurang lebih
limaratus orang. Nah, jaga pasukan itu dan suruh pemimpinnya ke sini. Mereka akan
kutemui, yang jelas seorang diantaranya adalah tokoh besar di mana kau harus
menghormat cukup. Bawa mereke dan atur agar senang.”
“Baik,” dan Mei Hong yang agak heran dengan tugas yang tidak biasa ini lalu
menemui Han Li, membicarakannya.
“Siapa mereka?”
“Entahlah. Aku tak tahu, Han Li, pamanmu tak memberi tahu.”
“Kalau begitu begaimana jika aku ikut?”
“Tentu aaja boleh, tapi apakah pamanmu mengijinkan?”
“Hm, kalau tak mengijinkan biar aku secara diam-diam, Mei Hong. Kau boleh
jemput mereka itu dan aku melihat dari jauh.”
“Apa ini?' Hangga tiba-tiba berkelebat. “Kalian kasak-kusuk tentang apa?”
“Ih!” Han Li terkejut. “Mei Hong memberi tahu akan datangnya tamu penting,
koko. Aku mau ikut tapi Mei Hong ragu.”
“Siapa?”
“Itulah yang tak kami ketahui, paman Yonaga tak memberi tahu.”
“Aneh, tak biasanya paman begitu!” Hangga menjadi heran. “Apakah
perintahnya serius?”
“Ya, pamanmu serius, Hangga. Dan katanya tamu itu juga membawa limaratus
orang pasukan!”
“He, apakah mau perang?” Hangga terbelalak. “Lalu bagaimana?”
Kolektor E-Book

“Aku akan menjemput mereka, Hangga. Dan adikmu mau ikut!”


“Kalau begitu setuju, aku juga turut!”
“Kau?”
“Ya, apakah tak boleh?”
“Tapi......”
“Ha-ha, paman Yonaga tentu tak mengijinkan, Mei Hong. Melihat sifatnya ini
saja jelas tamu itu membawa rahasia. Ayo, besok kuikuti dan aku jadi tertarik melihat
keanehan paman ini!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


152

Mei Hong terkejut. Hangga malah mau ikut bersama adiknya pula, padahal Han
Li seorang saja belum tentu mendapat perkenan. Dalam urusan-urusan resmi memang
biasanya menteri Yonaga tak mengikutsertakan kemenakannya itu, mungkin karena
segan pada kakaknya, pendekar sakti Handewa. Dan ketika hari itu Hangga malah
tertarik dan juga mau turut akhirnya apa boleh buat Mei Hong tak dapat menolak dan
justeru merasa kebetulan, meskipun agak berdebar takut kena marah menteri Yo.
“Aku tak mengajak, maksudku hanya memberi tahu saja. Kalau ada apa-apa
harap kalian tanggung sendiri dan jelaskan pada Yo-taijin!” begitu Mei Hong
memberi tahu, disambut anggukan dan dua kakak beradik itu tertawa. Mei Hong
segera pergi dan bersiap-siap. Dan ketika keesokannya dia menyambut dan bersama
beberapa pengawal dia menanti di batas kota mendadak jantung Mei Hong seakan
copot melihat seorang kakek tinggi besar yang buta kedua matanya berjalan beriring
dengan seorang pemuda yang sudah dikenal, yakni Hong Lam.
“Hong Beng Lama......!”
Gadis ini tertegun. Dia tak menyangka sama sekali bahwa tamu yang disambut
itu adalab tokoh Tibet yang luar biasa ini, Hong Beng Lama yang amat sakti. Dan
ketika dua orang itu melengak dan Hong Beng Lama tiba-tiba berhenti mendadak
kakek tinggi besar yang bergerak-gerak kedua kelopaknya itu menahan langkah,
pelupuknya mengerikan karena tanpa biji.
“Siapa itu? Bagaimana mengenal aku?”
Hong Lam, pemuda sebelah ayahnya tertegun, Dia juga tak menyangka akan
bertemu Mei Hong di situ. Maklum, ini adalah negeri Magada dan Mei Hong bukan
rakyat di situ. Tapi Hong Lam yang tiba-tiba tertawa dan melepaskan ayahnya
mendadak berkelebat ke depan.
“Hei, kau ini? Bukankah kau Mei Hong?”
Hong Beng Lama, yang tiba-tiba teringat gadis itu mendadak menggeram. Lama
sakti yang ingat semuanya di kota raja sekonyong-konyong bergerak, entah kapan
kakinya mencelat tapi tahu-tahu dengan tepat dan cepat dia mencengkeram gadis itu.
Limaratus pasukan yang dibawa berhenti di belakang, itulah pasukan Hong Lam yang
dulu mengacau di perbatasan, dihalau Hu-taijin dan melarikan diri. Kini dengan amat
luar biasa dan hampir tak dapat diikuti pandang mata, mendadak Lama sakti itu telah
menangkap Mei Hong. Dan ketika Mei Hong tertegun dan kaget dicengkeram Lama
itu maka Hong Beng Lama membentak.
Kolektor E-Book

“Ada apa kau di sini? Mau apa?”


Mei Hong meronta. Ia tentu saja tak mau dicengkeram Lama ini, menendang
dan ganti membentak. Tapi Hong Beng Lama yang rupanya curiga dan tak mau
melepaskan tiba-tiba sudah memelintir lengan gadis itu, membuat Mei Hong
kesakitan.
“Augh, kau jahanam, Hong Beng Lama. Lepaskan...... plak-dess!” Hong Beng
Lama akhirnya, melepaskan juga, hanya tergetar tapi tak terdorong dan justeru Mei
Hong yang terjengkang dua tindak. Gadis ini memang bukan lawan pendeta sakti itu.
Dan ketika Hong Beng Lama menggeram dan kembali pelupuk mata yang kosong itu

BATARA Dewi Kelabang Hitam


153

bergerak-gerak membuka dan menutup maka, Mei Hong berseru agar pengawal
Magada mengepung.
“Awas, tahan dia.......!” lalu menghadapi si Lama sakti dengan marah Mei Hong
bertanya, tinggi dan penuh emosi, “Hong Beng Lama, apakah kau yang dinanti Yo-
taijin? Beginikah sikap seorang tamu terhadap tuan rumah?”
“Hm, kau siapa? Kau bukan orang Magada, bocah. Kau gadis Han yang tak ada
sangkut-pautnya dengan ini. Kenapa kau muncul dan berani datang?”
“Aku utusan Yo-taijin, Hong Beng Lama. Kau harus tahu aturan dan jangan
kurang ajar!”
Hong Beng Lama mengerutkan kening, tertegun juga. “Kau utusan Yo-taijin?”
“Ya.”
“Hm, Hong Lam, coba minta dia menunjukkan surat penyambutan!” Lama itu
tak percaya, minta pada puteranya agar meminta tanda bukti. Mei Hong tak
membawa ini dan marah. Dan ketika Hong Lam melangkah maju dan tertawa
menyeringai maka dengan lantang Mei Hong berseru.
“Aku tak membawa surat apa pun, Kalau ingin bukti maka pangawal-pengawal
Magada ini adalah bukti! Nah, kau boleh tanya mereka, Hong Lam. Atau kalian
kuusir dan Yo-taijin kulapori!”
Hong Lam memandang pengawal-pengawal itu, tetap tersenyum. “Benarkah
kalian mengantar nona ini menyambut kami?”
“Ya, kongcu.”
“Apakah kalian diperintah Yo-taijin?”
“Tidak,” seorang pengawal menggeleng. “Nona ini adalah atasan kami, kongcu.
Dia bekerja dan menjadi pembantu Yo-taijin. Kami hanya mendengar bahwa kalian
akan disambut dan nona ini melakukan tugasnya.”
“Aneh.” Hong Lam tertawa kecil. “Bagaimana kami dapat percaya bahwa kalian
bukan sekongkol gadis ini? Dia gadis Han, pengawal. Dan dia bukan penduduk
Magada! Apakah kalian tak membohongi kami”
“Hong Lam!” Mei Hong membentak. “Kau percaya atau tidak bahwa kami
diutus Yo-taijin dapatlah kubuktikan kalau nanti sudah kuantar. Tanya sendiri pada
Kolektor E-Book

Yo-taijin dan jangan menghina kami di sini. Kalau kalian tak percaya dan ingin
membuati ribut sebaiknya pulang dan enyah saja!”
“Ha-ha!” Hong Lam tertawa bergelak. “Bagaimana, ayah? Apakah gadis ini kita
percaya atau tidak?”
“Hm, dia mencurigakan, Hong Lam. Coba tangkap dan bekuk saja!”
“Baik,“ dan Hong Lam yang menghentikan ketawanya dan mendadak berkelebat
ke depan tahu-tahu menotok dan menyerang Mei Hong, disambut pekik dan
kemarahan dan segera Mei Hong mengelak. Lawan masih menyerangnya lagi dan
mengejar. Dan karena Mei Hong gusar dan tamu dianggap kurang ajar akhirnya Mei
Hong menangkis dan menggerakkan kakinya.
BATARA Dewi Kelabang Hitam
154

“Dess!”
Hong Lam mencelat. Tendangan Siu Sien yang dilancarkan Mei Hong memang
amat mengejutkan, kaki berputar dan tahu-tahu dagu pun di sambar, Hong Lam
melempar tubuh bergulingan dan dia kaget namun gembira. Dan ketika pemuda itu
melompat bangun dan Mei Hong di sana melengking tinggi mendadak Mei Hong
sudah berkelebat dan ganti menerjang pemuda itu.
“Hong Lam, kau yang akan kutangkap!”
Hong Lam terbahak. Ayahnya mengerutkan kening dan terkejut melihat angin
tendangan Mei Hong. Bukti puteranya harus melempar tubuh bergulingan karena
nyaris mendapat tendangan kaki membuat Lama ini tersentak. Dan ketika bertubi-tubi
dan cepat Mei Hong melancarkan serangannya dan Hong Lam dipaksa berlompatan
dan berkelit akhirnya Lama itu menggeram menyuruh puteranya melawan.
“Hadapi dengan Ang-tok-ciang (Pukulan Racun Merah), Hong Lam. Jangan
mengelak dan lari-lari saja!”
Hong Lam mengangguk. Sekarang dia menghentikan ketawanya, melihat lawan
semakin galak dan dua kali dia mendapat tendangan lagi, pemuda ini terpelanting.
Dan ketika Mei Hong menendang lagi dan Hong Lam melompat bangun maka Ang-
tok-ciang menyambut dan menangkis.
“Plak!”
Hong Lam masih terputar. Dia terhuyung dan hampir tersungkur, Hong Lam
terkejut dan berteriak. Teriakannya ini membuat sang ayah tak sabar. Dan ketika
pemuda itu menangkis lagi namun jurus-jurus Siu Sien selalu mendesak dan
membuatnya kewalahan tiba-tiba Lama ini berkelebat dan melempar puteranya ke
belakang, langsung menghadapi sendiri gadis yang hebat itu.
“Mundur.... des-plakk!” dan Mei Hong yang dikebut serta bertemu jubah Hong
Beng Lama tiba-tiba terpekik dan terbanting bergulingan, kalah kuat sinkangnya dan
Lama ini sudah mengejar dengan pukulan-pukulan jarak jauhnya. Dengan telinga
yang tajam meskipun mata buta Lama ini ternyata mampu menyerang Mei Hong
dengan baik. Empat kali ujung jubahnya meledak dan nyaris melempar Mei Hong.
Sayang sekali Mei Hong tak memiliki tenaga sakti sekuat Lama tinggi besar itu. Dan
ketika Mei Hong pucat dan menangkis tapi selalu terpental oleh kekuatan lawan
akhirnya Hong Beng Lama menangkap dirinya dan berhasil menyambar tengkuk.
Kolektor E-Book

“Sekarang kau roboh...!”


Mei Hong kaget sekali. Dia dibanting dan remuk punggungnya nanti, gadis ini
menjerit dan terkesiap. Tapi ketika Mei Hong terancam bahaya dan gadis itu
terancam maut mendadak dua bayangan berkelebat dan membentak Hong Beng
Lama.
“Tamu kurang ajar, jangan bunuh kawanku!”
Orang tak tahu apa yang terjadi. Hong Beng Lama dibentur tenaga luar biasa,
terdorong dan berseru kaget dan Hangga, putera Handewa telah berdiri di situ. Tadi
pemuda ini menghantam dan menolak bantingan Hong Beng Lama sementara
adiknya, Han Li, menerima tubuh Mei Hong yang dibanting dengan kakinya. Sekali

BATARA Dewi Kelabang Hitam


155

ungkit dan lontar Han Li membuat Mei Hong selamat dari bantingan maut itu. Dan
ketika dua kakak beradik ini telah berhadapan dengan Hong Beng Lama dan Lama itu
terkejut serta berseru tertahan maka para pengawal, perajurit-perajurit Magada tiba-
tiba menjatuhkan diri berlutut dan menyebut nama dua muda-mudi itu.
“Han kongcu......!”
“Han siocia......!”
Hong Beng Lama tertegun. Dengan kedua matanya yang buta tentu saja dia tak
dapat melihat dua muda-mudi ini. Tapi Hong Lam yang terkesima tapi segera sadar
tiba-tiba berseru, teringat tokoh-tokoh penting yang ada di negeri Magada itu.
“Putera-puteri Handewa-locianpwe......!” lalu, melompat mendekati ayahnya
pemuda ini memberi isyarat, “Ayah, kemenakan Yo-taijin datang. Mereka dua orang
muda gagah putera-puteri Handewa!”
“Hm!” Lama itu berseri-seri. “Kalian kiranya? Aih, apa artinya semua ini, anak
muda? Mana pamanmu Yo-taijin?”
“Paman Yo ada di istana!” Hangga yang agak marah berkata dingin. “Kau
sebagai tamu tak tahu hormat, Hong Beng Lama. Mei Hong adalah utusan paman Yo
dan dia betul suruhan resmi!”
Hong Beng Lama tertegun.
“Dan sekali kau berani membunuhnya maka kami tak mau sudah, Hong Beng
Lama. Kau akan kuanggap musuh dan tidak dapat pergi begitu saja!” Han Li, yang
juga marah dan terbelalak memandang Lama itu membentak. Hong Beng Lama
akhirnya berkerut-kerut, bingung tapi tiba-tiba tertawa parau. Yakinlah sekarang
Lama ini bahwa Mei Hong betul-betul utusan Yo-taijin, hal yang dianggap aneh. Tapi
karena bukti sudah cukup dan dia harus menyatakan maaf maka Lama tinggi besar ini
membungkuk dalam-dalam, di hadapan Hangga kakak beradik.
“Maaf, kalau begitu pinceng mohon maaf, Han-kongcu. Biarlah pinceng
menyatakan penyesalan dan tak perlu peristiwa itu diingat-ingat.”
“Tak bisa!” Han Li membentak. “Mei Hong sahabat kami, Hong Beng Lama.
Kau harus minta maaf padanya dan jangan hanya pada kami saja!”
Lama ini terkejut. “Dia hanya utusan.....”
Kolektor E-Book

“Tapi utusan resmi, Hong Beng Lama. Apa yang dikata adikku benar dan kau
harus minta maaf padanya!” Hangga, sang kakak memotong, membenarkan dan
Hong Beng Lama tentu saja mendelik. Kalau Lama ini tidak buta barangkali biji
matanya akan melotot lebar, muka Lama itu tiba-tiba merah kehitaman. Ini
menyinggung perasaannya. Terlalu! Tapi ketika Lama itu menggeram dan Mei Hong
bersiap-siap mendadak terdengar suara dari jauh yaug dikeluarkan oleh menteri
Yonaga.
“Mei Hong, cepat sambut dan bawa tamu ke mari.....!”
Mei Hong terkejut. Hong Beng Lama mendengus, Hangga dan adiknya terkejut.
Perintah paman mereka tentu saja tak boleh dilakukan ayal-ayalan, Mei Hong cepat
mengedip dan memberi isyarat dua kakak beradik itu agar tidak melanjutkan

BATARA Dewi Kelabang Hitam


156

persoalan. Dan ketika Hangga menerima dan Hong Lam maju tak senang putera
Hong Beng Lama ini mengancam.
“Nah, kalian dengar, Han-kongcu. Yo-taijin telah mengetahui kedatangan kami
dan sebaiknya tak perlu menunda. Kami berdua terus terang keberatan meminta maaf
pada gadis ini karena itu merendahkan kami. Terserah kalian mau mengantar atau
kami pergi!”
Terpaksa, karena ini adalah tamu penting dan Yo-taijin pun menyuruh sambut
dengan resmi akhirnya Mei Hong berkelebat menbawa dua tamunya itu, berseru pada
dua kakak beradik itu. “Hangga, Han Li, tak perlu penasaran. Biar sudahi persoalan
ini dan kita antar mereka ke istana!”
Hangga dan adiknya mengangguk. Mereka mengikuti dan akhirnya Hong Beng
Lama pun bergerak. Lama sakti itu menggeram dan berkali-kali mengerotkan Kalau
tak ada di Magada tentu dia akan membunuh Mei Hong, barangkali juga akan
menghadapi dua kakak beradik itu karena sebagai tokoh besar dia merasa terhina.
Dan ketika pagi itu Mei Hong mengantarnya ke tempat Yo-taijin dan di situ menteri
Yonaga menyambut maka tak lama kemudian dua orang ini bicara sejenak, Yo-taijin
tampak mengangguk-angguk dan menteri itu merah mukanya. Dia menegur Mei
Hong. Mei Hong balas melapor apa yang terjadi. Bahwa dia tak dipercaya dan Hong
Lam justeru menyerangnya, atas suruhan sang ayah. Dan ketika menteri itu terkejut
dan tampak tertegun maka gadis ini akhirnya disuruh keluar.
“Baiklah, pergilah. Di antara kalian rupanya terjadi salah pengertian. Maaf, mari
masuk sahabat Hong Beng Lama. Urusan kecil sebaiknya dikalahkan urusan besar!”
dan, membawa tamunya masuk dan menyuruh Mei Hong pergi akhirnya Mei Hong
tak tahu apa yang dibicarakan dua orang itu, tetap mendapat “kawalan” Hangga dan
adiknya dan menteri Yo tampaknya bingung, mau marah tapi Hangga selalu
memandangnya. Kemenakannya itu tampak erat sekali membela Mei Hong, siap
sewaktu-waktu mendebat dan mungkin berbantah. Dan karena hari itu tamu penting
datang di tempatnya dan menteri ini menahan diri maka Hangga dan adiknya pun
akhirnya disuruh menyingkir.
“Kalian temani Mei Hong, biar nanti kita bertemu lagi.”
Hangga tersenyum. Dia dapat melihat kebingungan sang paman, juga
kemarahannya yang jelas dikendalikan. Pemuda ini lega meskipun siap mendapat
makian di belakang hari. Dia telah mengganggu Hong Beng Lama. Dan ketika
Hangga bersama adiknya pergi dari tempat itu menemani Mei Hong yang langsung
Kolektor E-Book

ke rumah mereka maka di gedung menteri Yo terjadi percakapan rahasia yang tidak
diketahui orang banyak.
Apa yang dipercakapkan? Rundingan penting, tentu saja. Hong Beng Lama
mengadakan persekutuan dengan negeri Magada, lewat menteri sakti Yonaga. Bahwa
mereka bersiap-siap menyerang Tiongkok dan Hong Beng Lama ingin membalas
semua sakit hatinya pada bangsa Han itu, dibantu Yonaga atas persetujuan raja
Urugata, raja yang berambisi untuk meluaskan wilayah negaranya. Dan ketika
persetujun sudah mencapai titik-titik temu di mana masing-masing sepakat
menetapkan apa yang akan dilakukan maka Hong Beng Lama bicara tentang Mei
Hong, sebagai penutup.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


157

“Gadis itu tak selayaknya di sini, taijin. Pinceng tak ingin hubungan kita
terganggu gara-gara dia.”
“Ya, dan dia teman Bun Hwi, taijin, Bahkan kekasihnya!” Hong Lam
menyambung.
“Hm, baiklah,” Yo-taijin mengangguk. “Urusan ini dapat kuselesaikan, Hong
Beng Lama. Besok dia akan kuberhentikan dan kusuruh pergi.”
Begitulah, ketika pembicaraan selesai dan Hong Beng Lama berseri maka
menteri Yonaga ini memanggil Mei Hong, yang tentu saja berdebar.
“Kau telah membuat malu aku. Kau takku pakai lagi, Mei Hong. Harap pergi
dan tinggalkan negeri ini baik-baik.”
“Taijin mengusir?” Mei Hong terkejut.
“Ya, Hong Beng Lama marah atas sikapmu, Mei Hong. Aku tak mau hubungan
kami terganggu dan harap pergi baik-baik.”
“Kalau begitu taijin memecat!” Mei Hong marah. “Kau tak adil, taijin. Kau telah
kuberi tahu bahwa Hong Beng Lama itulah yang tak tahu aturan. Aku menyambutnya
baik-baik tapi dia dan puteranya menyerang!”
“Hm, aku tak mau berdebat lagi denganmu, Mei Hong. Pokoknya hari ini kau
berhenti dan tinggalkan Magada!”
“Aku tak mau......!” Mei Hong menghentikan seruan, kaget dan tersentak
melihat menteri Yonaga berkelebat dan dua jarinya tahu-tahu telah menjepit lehernya.
Marah dan bersungguh-sungguh menteri itu siap membunuhnya, Mei Hong terkejut
dan mau melawan. Tapi belum dia bergerak tiba-tiba dua sahabatnya muncul, Han Li
dan Hangga.
“Paman, lepaskan Mei Hong!”
Yonaga terkejut. Dua muda-mudi itu telah berdiri di depannya siap membela
Mei Hong, lagi-lagi menteri ini tersentak. Dan ketika terpaksa ia mengerutkan kening
dan marah memandang dua muda-mudi itu menteri ini merasa mendapat kesempatan
untuk melepas semua kemendongkolan yang belum dilampiaskan.
“Hangga, dan kau Han Li, kalian tak tahu aturan mengganggu paman sendiri.
Apakah yang kalian lakukan ini? Pantaskah kalian kurang ajar di sini?”
Kolektor E-Book

“Maaf,” Hangga menjawab. “Kami tak bermaksud apa-apa kalau kau tak
mengganggu Mei Hong, paman. Kalau Mei Hong sudah kau lepaskan dan
diberhentikan dari pekerjaannya tentu saja kami tak berani mencampuri. Hanya
jangan dia dibunuh!”
“Hm, siapa membunuh kalau gadis ini tak keras kepala? Gadis ini tak tahu diri,
Hangga. Kalau tidak karena kalian tentu dia tak kurang ajar. Lihat, dia berani
membantah dan mau melawan!”
Han Li melangkah maju. “Mei Hong, kau harus tunduk pada pamanku. Kalau
tenagamu tak dibutuhkan tentunya kau harus pergi. Marilah, kami masih sahabatmu
dan kita pulang.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


158

“Tidak!” sang menteri membentak. “Gadis ini harus pergi dari Magada, Han Li.
Atau dia kutangkap dan kulempar!”
“Hm, dia tak melakukan kesalahan apa-apa, paman. Kenapa kau demikian keras
dan kejam? Kalau Mei Hong bersalah boleh saja dia dihukum begitu, tapi dia tak
melakukan apa-apa!” Han Li menghadapi pamannya, menentang dan sang menteri
pun mendelik. Kemarahannya jadi berkobar. Tapi sebelum dia menghardik atau
mengancam anak-anak muda ini mendadak Yo Shu Kie, sang adik muncul.
“Maaf, apa ribut-ribut ini? Kenapa paman kalian berang?” menteri penasihat ini
datang, menegur halus dan segera Yonaga tertegun. Terpaksa dia bicara apa adanya,
Mei Hong diusir pergi namun gadis itu tak mau. Dan karena Yo Shu Kie ini adalah
sama-sama pembesar Magada dan Mei Hong memang dapat dianggap orang asing
maka menteri itu pun mengangguk, membenarkan. Tapi Hangga dan adiknya yang
tentu saja menentang justeru berseru keras.
“Dia sahabat kami, paman. Kalau tak boleh tinggal di istana ini biarlah kami
yang menampung, Mei Hong akan berada di luar istana, bahkan di luar kota raja!”
“Tapi itu juga wilayah Magada! Apalah kalian tak tahu bahwa tempat tinggal
kalian pun di Magada?” Yonaga, sang menteri gusar. Menghendaki agar Mei Hong
diusir dan di manapun gadis itu tak boleh tinggal, selama masih dalam wilayah
Magada. Dan ketika dua orang itu berdebat dan saling membantah maka Yo Shu Kie
mengambil jalan tengah.
“Suheng, sebaiknya kita menanya kanda Handewa. Biarlah memandang muka
kakak tertua kita itu kita mengalah kepada anak-anak ini. Besok kita ke sana dan kau
dapat menyampaikan keberanganmu ini.”
“Hm,” Yonaga geram, sadar juga. “Baiklah, kulaporkan kelancanganmu ini pada
ayah kalian, Hangga. Besok aku ke sana dan tunggu apa jawab ayahmu!”
Hari itu Hangga menang. Mei Hong kebat-kebit dan tak enak juga, tiba-tiba dia
merasa menjadi sumber pertikaian paman dan keponakan, tak enaklah dia. Dan ketika
hari itu dia meletakkan jabatannya dan mau pergi saja dari negeri itu mendadak Han
Li mencekal lengannya.
“Kau gila? Kami telah mati-matian menahanmu, Mei Hong. Jangan pergi dan
biar tinggal di rumah kami saja!”
“Tapi paman kalian marah......”
Kolektor E-Book

“Ah, perduli amat, Mei Hong. Pokoknya kau tak bersalah dan ikut kami!”
“Bagaimana kata ayah kalian nanti?”
“Kami dapat menjelaskan, Mei Hong. Dan, ayah tentu membela kami!”
Mei Hong ragu.
“Mei Hong,” Hangga tiba-tiba berkata lembut. “Apakah kau tak percaya kepada
kami dan bimbang? Aku dan adikku tak bohong. Ayah pasti membela dan
membenarkan kami. Kau tak bersalah, Lama itulah yang membuat sial dan celaka.
Kalau tak datang dia tentu kau baik-baik saja. Sudahlah, jangan siakan pembelaan
kami dan ikut kami. Kami siap membelamu karena kami tahu kau benar.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


159

“Kalian baik,” Mei Hong terisak. “Terima kasih, Hangga. Kalau begitu baiklah,
aku ke tempat kalian.”
Mei Hong akhirnya mengikuti kakak beradik ini. Sekarang dia tinggai di lembah
itu, tak tahu betapa Hangga dan Han Li girang. Ada saling isyarat di antara kakak
beradik itu. Dan ketika sehari dua hari kemudian tak ada apa-apa di situ dan Yonaga
tak datang menemui Handewa maka Mei Hong heran di samping gembira.
“Apakah pamanmu tak datang?”
“Hm, paman hanya menggertak saja, Mei Hong. Sekarang kau lihat bahwa kau
aman dan tak apa-apa di sini.”
“Benarkah?”
“Lihat saja, Mei Hong. Boleh kau tunggu sampai sebulan!”
Benar saja, menteri Yo tak nampak di situ. Selama sebulan ini Mei Hong tak
diusik-usik, gadis itu girang dan tentu saja berterima kasih. Dan ketika dua bulan
kemudian lewat dan Yonaga tak mengganggu atau mengancamnya maka Mei Hong
percaya dan tertawa, tak lama kemudian malah dipanggil pendekar sakti Handewa.
Ayah Hangga itu bermaksud memberinya tambahan ilmu silat, hampir tak percaya
gadis ini. Dan ketika dia tertegun dan menjublak bengong maka Han Li, yang tiba-
tiba muncul dan terkekeh berseru.
“Eh, kenapa mendelong saja, Mei Hong? Tidakkah kau senang dan berterima
kasih? Ayo, ini kesempatan bagus. Kau boleh belajar dan berlatih bersama kami!”
Mei Hong tiba-tiba gugup. Dia menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar
sakti itu, mengucap terima kasih. Suaranya gemetar dan serak, hampir tak percaya
dia. Tapi ketika Handewa tertawa dan menepuk pundaknya maka pendekar ini
berkata.
“Sudahlah, hari ini kau boleh mempelajari bebepa macam ilmu kami, Mei Hong.
Tak perlu sungkan atau takut. Kami semua senang padamu, besok boleh mulai
berlatih dan kau menjadi muridku, meskipun tidak resmi!”
Mei Hong girang luar biasa. Dengan begini tentu saja dia bertambah
pengalaman, beberapa ilmu silat keluarga itu mulai dipelajari. Dan ketika hari-hari
berikut dilewatkan Mei Hong dengan suka cita dan gangguan dari Yonaga atau lain
tak ada maka Mei Hong ge gembira bersama Han Li dan kakaknya, tak tahu diam-
diam di sana menteri Yo gusar. Menteri ini tentu saja telah datang di tempat
Kolektor E-Book

kakaknya, Handewa, malam hari dan Mei Hong tentu saja tak tahu. Kepandaian
menteri itu amat tinggi, datang dan perginya seperti siluman. Tapi ketika malam itu
dia datang namun mendapat sambutan di luar dugaan maka menteri ini kecewa dan
marah.
“Gadis itu tak bersalah. Kau boleh tak memakai tenaganya lagi, Yo-sute, tapi
tentu saja tak perlu bersikap kejam dengan mengusirnya dari Magada!” begitu
Handewa sang kakak menegur. Belum apa-apa sudah berpihak pada Mei Hong dan
Yonaga penasaran. Menteri itu memberi tahu bahwa Mei Hong adalah gadis asing,
tak selayaknya orang asing tinggal di situ. Tapi balasan sang kakak yang justeru
membuat menteri ini tertegun tiba-tiba menjadikan Yonaga tak bisa bicara.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


160

“Hm, orang asing belum berarti musuh, sute. Seperti juga kau berhubungan
dengan Hong Beng Lama yang baru datang itu. Kenapa dengan Hong Beng Lama
kau bisa bersahabat sementara dengan gadis ini tidak? Bukankah mereka sama-sama
orang asing? Dan bagiku gadis ini jauh lebih baik, sute. Hong Beng Lama adalah
hwesio murtad dari Tibet, kau bermain-main api dengan menerima hwesio itu!”
Yonaga menahan marah. Dia justeru ditegur dan dinasihati, geram namun tak
mau berdebat karena Handewa ini adalah kakaknya yang harus dihormati. Handewa
itu orang tertua di atasnya. Dan ketika malam itu dia pulang dengan membawa
kemendongkolan dan sebelum pulang dia bertanya kenapa kakaknya itu demikian
membela Mei Hong maka jawaban perdek diterima menteri ini sebelum pergi, bahwa
Mei Hong adalah calon menantu yang dipilih!
“Dia calon menantuku, Hangga mencintainya dan mungkin tak lama dia
kuambil sebagai murid tak resmi!”
Menteri ini terkejut, Yonaga terhenyak, tapi karena jawaban sudah diterima dan
dia tertegun maka malam itu dia pulang dengan segala macam perasaan. Marah dan
mendongkol serta geram dan gusar. Sungguh tak disangka kalau gadis Han itu akan
diambil mantu, ketidaksenangannya kepada Mei Hong tiba-tiba memuncak. Dan
ketika malam itu dia pulang dan Mei Hong tak tahu apa yang dibicarakan menteri ini
maka hari-hari berikut Yonaga memang tak mengganggu lagi gadis itu, bukan takut
menghadapi kakaknya melainkan semata menjaga hubungan mereka selama ini. Dia
tak mau hubungan kekeluargaan yang sudah dirintis lama rusak, hanya gara-gara
seorang gadis asing. Dan karena Mei Hong merasa aman dan tenang tinggal bersama
pendekar ini maka urusan di luar tak diketahui Mei Hong lagi, dan hiduplah Mei
Hong di tengah-tengah keluarga itu.

*
* *

“Hei, kau mau apa?”


Pemuda di sudut rumah makan itu menyeringai. Dia mendapat bentakan ketika
berdiri di pintu, celana komprangnya dengan ikat pinggang aneh membuat dia seperti
pemuda nyentrik, cengar-cengir dan didatangi pemilik rumah makan. Sejak tadi
pemilik rumah makan mengamati namun si pemuda hanya longak-longok saja. Dan
ketika dua jam pemuda itu tak pergi juga dan sikapnya mencurigakan maka pemilik
ini menghampiri dan menghardik.
Kolektor E-Book

“Aku mau makan,” pemuda itu menjawab sambil tertawa. “Bolehkah masuk dan
kutukar dengan tenaga?”
“Apa maksudmu?”
“Aku tak punya uang, lapar dan ingin makan lalu bekerja.”
“Hm, siapa kau? Dari mana?”
“Aku orang miskin, kebetulan sampai di sini dan ingin makan, tak punya uang.”
“Siapa namamu?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


161

“A-hwi.”
“Kalau begitu cuci piring itu dulu, kau boleh menjadi pelayan kalau mau!”
Pemuda itu tertawa. Dengan cepat ia mengucap terima kasih menyelinap,
gerakannya gesit dan tahu-tahu sudah menyambar piring dan mangkok-mangkok
kotor. Dengan cekatan dan ringan ia mencuci semuanya itu. Dan ketika semuanya
selesai dan pemilik rumah makan tampak terkejut pemuda ini pun sudah menghadap
meminta imbalannya.
“Selesai, loya (majikan). Aku minta nasi!”
Pemilik rumah makan tertegun. Dia melihat kerja yang luar biasa cepat dari
pemuda ini, tak sampai dua menit, begitu tangkas dan cekatan. Tapi sadar dan tertawa
bergelak tiba-tiba pemilik rumah makan ini menuding, berseru kagum. “Ambil
sendiri, A-hwi. Kau boleh ke dapur dan makan sekenyangmu!”
“Baik, terima kasih, loya,” dan si pemuda yang sudah lenyap ke dapur
mengambil makanan lalu duduk dan tertawa girang, lahap dan cepat pula mengambil
ini itu, tak sampai dua menit pun selesai. Dan ketika si pemilik bengong karena
apakah makanan itu dikunyah atau ditelan saja maka A-hwi, pemuda ini, menepuk
dan mengibas-ngibas pakaiannya. Gerak-geriknya menunjukkan bahwa ia sudah
biasa menjadi pelayan!
“Eh, A-hwi, kat biasa bekerja di rumah makan?”
Pemuda itu tertawa. “Benar, loya.”
“Dan kau mau bekerja seterusnya di sini?”
“Loya tak keberatan?”
“Ha-ha, mendapat pelayan setangkas dan secekatan dirimu sungguh
keberuntungan, A-hwi. Kalau kau suka kau boleh bekerja di sini, seterusnya!”
“Tapi aku tak punya tempat tinggal.......”
“Kau pun boleh tidur di sini, tak apa!” sang pemilik memotong.
“Hm,” pemuda itu bersinar-sinar, mengangguk. “Kalau kau tak keberatan tentu
saja aku berterima kasih, loya. Hanya kadang-kadang aku mungkin menengok
keluarga di kampung.”
Kolektor E-Book

“Tak apa, tentu saja boleh. Aku mengerti!” dan A-hwi yang hari itu juga bekerja
di rumah makan ini lalu membantu dan hidup sebagai pelayan. Kejadian ini terjadi di
pinggiran ibu kota Magada, tak lama kemudian A-hwi menjadi kesayangan
majikannya karena kerjanya memang luar biasa. Pemuda ini tak kenal lelah,
pekerjaan untuk dua tiga orang acapkali dirangkapnya sekaligus. Sang pemilik
terheran-heran, kagum. Dan karena A-hwi juga pemuda tampan di mana
kehadirannya mulai menarik perhatian banyak tamu, terutama wanita maka dua
minggu kemudian dia mulai diincar dan dijadikan bahan pembicaraan gadis-gadis
Magada.
“Heran, pemuda setampan itu menjadi pelayan. Apakah Eng-loya itu buta?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


162

“Benar, dan dia gesit serta gagah, Kiu Lok. Agaknya tak pantas segagah dan
setampan itu menjadi pelayan!”
“Ya, dan senyumnya pun ceria. A-hwi itu murah tawa dan ramah, juga pandai
memasak. Masakannya hebat!”
“Hm, bagaimana kalau menjadi pembantu ayahku saja?”
“Hi-hik, kau naksir, Lie Cu? Kau jatuh hati?”
“Hush, kau pun jatuh cinta, Yu Lin. Kau dan Kiu Lok sama-sama!”
Beberapa gadis itu terkekeh. Mereka adalah puteri bangsawan atau pembesar
Magada, hari itu membicarakan A-hwi karena beberapa waktu yang lalu kebetulan
mereka makan di rumah makan itu, dilayani A-hwi dan sebagai dara-dara ayu mereka
tertarik. Kegagahan dan ketampanan pelayan muda itu memikat mereka. A-hwi
ternyata juga meracik menu-menu masakan di restoran itu. Masakannya hebat, lezat
sekali, agaknya tak kalah dengan istana. Mengherankan. A-hwi tampaknya serba
bisa! Dan ketika beberapa di antaranya mulai naksir dan jatuh hati maka suatu pagi
Lie-taijin (pembesar Lie) meminta pada Eng-loya agar pemuda itu bekerja di
gedungnya.
“Masakannya enak, isteri dan puteriku minta agar A-hwi masak di gedungku!”
“Ah,” Eng-loya terkejut. “A-hwi satu-satunya pembantuku yang baik, taijin.
Mana mungkin pindah ke rumahmu? Dia memang pintar memasak, aku juga kagum
dan perlu tenaganya.”
“Aku akan mengganti kerugianmu, loya. Berapa saja kubayar dia asal A-hwi
boleh pindah ke tempatku!”
Sang majikan bingung. Memang A-hwi ini membikin kejutan. Selain pelayan
ternyata ia koki yang baik, hal itu tak diduga. Dan ketika Lie-taijin mengeluarkan
uangnya dan gerincingnya emas dan perak mengganggu pemilik rumah makan ini
tiba-tiba Kiu-wangwe, hartawan Kiu muncul, juga untuk maksud yang sama!
“A-hwi membuat lidah semua keluargaku tergila-gila. Masakannya luar biasa,
pemuda itu seperti koki istana saja. Biar dia turut aku dan aku bayar semua
kerugianmu!”
“Ah, mana bisa, wangwe?” Eng-loya kebingungan, terkejut. “Lie-taijin ini pun
minta agar A-hwi juga ke sana, tapi aku barangkali keberatan!”
Kolektor E-Book

“Hm, begitukah, taijin?” hartawan itu memandang Lie-taijin.


“Ya, dan aku lebih dulu, wangwe. Sepatutnya A-hwi ikut aku dan kau
mengalah!”
“Ha-ha, kalau begitu begini saja, taijin. Kita bagi dua anak itu dan masing-
masing sama mendapatkan!”
“Apa maksudmu? Kau mau membelah anak itu?”
“Tidak, tapi sehari di tempatmu dan sehari di tempatku, taijin. Isteri dan anakku
juga tergila-gila masakan bocah ini dan ingin agar dia melayani kami sekeluarga!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


163

“Tapi aku belum megijinkan,” Eng-loya buru-buru memotong. “Aku bisa rugi
kalau anak itu kalian bawa, wangwe. Rumah makanku mulai terkenal dan laris
setelah A-hwi ada di sini, dia barangkali bekas koki istana!”
“Hm, aku mengganti semua kerugianmu, loya, Apakah ini tidak cukup?”
gemerincing uang sepundi-pundi penuh membuat pemilik restoran itu terbelalak.
“Dan Kiu-wangwe barangkali juga akan menambah sejumlah yang sama. Aku setuju
enak itu untuk kita berdua dan kau tak perlu kecewa!”
“Benar,” Kiu-wangwe juga mengeluarkan sepundi-pundi uangnya. “Aku
menambahi ini sebagai ganti rugimu, loya. Atau barangkali Lie-taijin akan menutup
rumah makanmu dan kau bakal kehilangan segala-galanya!” hartawan itu tertawa,
setengah berkelekar tapi tentu saja menyembunyikan ancaman. Eng-loya tertegun.
Dan ketika dua orang besar itu memandangnya dan apa boleh buat terpaksa ia
mengangguk maka pemilik rumah makan ini memanggil A-hwi.
“Kau sekarang ikut mereka. Kiu-wangwe den Lie-taijin menghendaki dirimu.”
A-hwi terkejut, melihat pundi-pundi uang itu. “Loya menyerahkan aku pada
mereka?”
“Ya, terpaksa, A-hwi. Maaf.”
“Dan menerima uang itu?”
“Hm,” pemilik ini kemerah-merahan. “Mereka memberiku sebagai ganti rugi
dirimu, A-hwi. Aku kehilangan kau tapi mendapat penukar.”
“Kalau begitu kau menjual aku,” A-hwi tiba-tiba kaku. Kalian menghina aku,
wangwe. Aku manusia hidup yang tidak diperjualbelikan!”
“Ah, jangan begitu!” sang majikan pucat, tiba-tiba menarik lengan pemuda ini,
berbisik, “A-hwi, mereka orang-orang kaya di sini. Jangan membuat kacau. Kalau
kau merasa tersinggung biarlah sepundi-pundi itu dan yang sepundi-pundi lagi
untukku.”
“Hm, hmm.....!” A-hwi bersinar-sinar, tiba-tiba tertawa. “Baiklah, kalau begitu
aku ikut mereka, loya. Tapi terus terang aku tak mau terikat. Kalau aku tak kerasan
dan mereka bersikap kasar tentu saja aku pergi dan meninggalkan mereka.”
“Jangan,” Kiu-wangwe membujuk. “Anak isteriku terpikat masakanmu, A-hwi.
Puteriku Kiu Lok memuji dirimu setinggi langit!”
Kolektor E-Book

A-hwi terbelalak.
“Dan Lie Cu puteriku juga kagum akan masakanmu, A-hwi. Kau datanglah dan
hiduplah senang di tempatku!”
A-hwi tersenyum lebar. Setelah dua orang ini menyebut-nyebut nama dua gadis
itu tiba-tiba dia teringat akan Kiu Lok dan Lie Cu, dua gadis cantik yang pernah
dilayaninya. Mereka itu ramah dan pernah memberinya persen cukup besar,
mengangguklah pemuda ini. Dan karena Eng-loya juga membagi sepundi-pundi uang
itu untuknya akhirnya pemuda ini berkata, “Baiklah, aku ikut kalian, taijin. Tapi
sewaktu-waktu kalian harus memberi ijin padaku kalau aku ingin pulang kampung.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


164

“Ah, tentu. Mari, A-hwi, kau boleh tinggal di rumahku dulu!” Lie-taijin
gembira, menyambar pemuda itu dan buru-buru pergi. Tapi Kiu-wangwe yang
menarik dan menahan ternyata berseru.
“Hei, sebentar. Apakah pemuda ini selamanya di tempatmu, taijin? Bukankah
aku juga berhak?”
“Ha-ha, bukankah kau bilang kita berganti-ganti? Dia sehari di tempatku dan
sehari di tempatmu, wangwe. Sekarang di tempatku dulu dan besok di tempatmu!”
Kiu-wangwe terbelalak. Dia tak dapat membantah, Lie-taijin telah membawa
pergi pemuda itu, menyeretnya. A-hwi sendiri tersenyum-senyum dan mau. Dan
ketika di sana Eng-loya menyeringai dan memandang sepundi-pundi uang sebagai
pengganti A-hwi maka hari itu A-hwi melayani dua orang ini berganti-ganti. Sehari
di tempat Lie-taijin dan sehari kemudian di tempat Kiu-wangwe. Tentu saja
kesempatan berkenalan dengan puteri dua orang majikannya terbuka lebar, Kiu Lok
dan Lie Cu kegirangan. Masing-masing memang sudah terpikat oleh pemuda yang
gagah ini, yang sayangnya menjadi pelayan. Tapi karena cinta itu buta dan dua gadis
ini berebut A-hwi maka bujuk-membujuk terjadi di sana.
“Kau di sini saja, tak usah ke rumah Kiu Lok. Kalau kau mau aku akan
menyuruh ayah menambah gajimu!” begitu Lie Cu berkata, sinar matanya mesra dan
A-hwi dag-dig-dug. Dia tertawa dan menolak. Dan ketika dia di rumah Kiu Lok dan
gadis itu pun tak mau kalah maka bujukan di sini pun tak kalah seru.
“Tidak, kau di sini saja, A-hwi. Kalau perlu seluruh rumah ini menjadi
milikmu!”
“Ah,” A-hwi terkejut. “Apa maksudmu, siocia (nona)?”
“Hush, sudah kubilang kau boleh panggil namaku begitu saja, A-hwi. Aku anak
tunggal, apa pun yang kuminta pasti dikabulkan keluargaku. Aku, hmm..... aku suka
padamu. Kau tak usah tinggal di rumah Lie Cu dan biar tetap di sini saja!”
“Aku bingung,” A-hwi tertawa gugup. “ Bagiku kalian baik-baik semua, non....
eh, Kiu Lok. Tapi terus terang aku tak berani.”
“Kenapa? Apakah Lie Cu itu mengancammu? Hm, beritahukan padaku, A-hwi.
Aku akan membantumu dan sanggup membebaskan dirimu dari cengkeramannya!”
“Eh-eh, tidak, bukan begitu. Aku tak diancam atau dipaksa! Hanya, ah.... aku tak
dapat meninggalkan yang satu menerima yang lain, Kiu Lok. Keluarga Lie-taijin pun
Kolektor E-Book

baik padaku dan menganggapku seperti kerabat sendiri. Aku....”


“Jangan bodoh! Itu muslihat Lie Cu, A-hwi. Kau sedang diperdayai dan dibujuk.
Lie Cu itu gadis tak tahu malu, kau akan diseretnya dan di jebaknya hingga kelak
celaka!”
“Hm....!” A-hwi terkejut. “Apa maksudmu ini, Kiu Lok?”
“Dia.... dia mencintamu, A-hwi. Tapi keluarganya tak akan setuju dan kau akan
diusir. Beda kalau kau di sini, aku anak tunggal dan... dan ayah ibuku tentu tak
menolak...!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


165

A-hwi berdebar tak keruan, mukanya tiba-tiba merah. “Kiu Lok, apa
maksudmu?”
“Hm...!” gadis itu tiba-tiba menggigit bibir, menyambar dan mencengkeram
lengan pemuda ini, gemas. “Kau tak tahu, A-hwi? Atau kau pura-pura tak tahu? Aku
pun sama seperti Lie Cu. Aku, ah.... sudahlah. Aku ingin mengangkat derajatmu dan
minta pada ayah ibuku agar kau tidak hidup sebagai pelayan!”
“Maksudmu?”
“Bodoh! Kau bebal, A-hwi. Aku, ah... aku sama seperti Lie Cu!”
“Ya, sama yang bagaimana? Bagaimana ini?”
Kiu Lok tiba-tiba menangis. Dia tiba-tiba melepaskan tangannya pada lengan
pemuda itu, tentu saja berat kalau harus blak-blakan bahwa dia mencintai pemuda itu.
A-hwi harusnya mengerti sendiri dan tidak mendesak. Dan ketika A-hwi bertanya
dan minta ketegasan mendadak Kiu Lok tak tahan dan memutar tubuhnya, lari.
“A-hwi, kau bodoh. Otakmu tak seimbang dengan kegagahan dan
ketampananmu itu!”
A-hwi mendelong. Hari itu dia dibuat tak keruan, Kui Lok tak keluar dari
kamarnya tapi sering mengintai dari jendela, berkali-kali mau bicara tapi tak jadi,
gadis itu selalu menangis. Dan ketika keesokannya dia tiba di rumah Lie-taijin dan
Lie Cu menyambut maka di sini ganti pemuda itu mendapat pernyataan cinta.
“A-hwi, bagaimana keputusanmu? Maukah kau meninggalkan rumah Kiu Lok
dan menetap saja di sini?”
“Hm, bagaimana, ya?” pemuda itu garuk-garuk kepala. “Aku bingung, Lie Cu.
Aku tak dapat mengambil keputusan.”
“Bodoh! Kau lebih enak di sini, A-hwi. Aku sudah bicara pada ayah agar kau
diangkat sebagai pegawai, membantu ayah di istana!”
“Hm!” A-hwi terbelalak. “Di istana?”
“Ya, di istana, A-hwi. Tapi tentu saja kau harus tinggal dan ikut di sini. Kau
harus melepas ikatanmu pada Kiu-wangwe. Kau tidak sekedar memasak tapi akan
dididik menjadi juru tulis, calon pegawai negeri! Eh, kau bisa baca tulis, kan?”
“Ya.”
Kolektor E-Book

“Nah, apalagi? Aku akan mengangkat derajatmu, A-hwi. Setelah itu, hm.... kita
akan setingkat dan sederajat. Kita menikah!”
“Heh?!” A-hwi terbelalak, melonjak. “Menikah, Lie Cu? Menjadi suami isteri?”
“Ya, aku... hm, aku suka padamu, A-hwi. Tak usah aku malu-malu bahwa aku
senang menjadi pendampingmu, menjadi, eh... isterimu. Ayah ibuku setuju tapi tentu
saja asal kau dinaikkan derajatnya dulu!”
A-hwi melenggong. Si gadis tiba-tiba sudah membuka “kartu”, Lie Cu
memegang lengannya dan meremas lembut. Agaknya hubungan di antara mereka
yang kian akrab dan intim tak membuat gadis itu malu-malu lagi. Lie Cu telah

BATARA Dewi Kelabang Hitam


166

menyatakan cintanya. Aneh, dunia sudah dibuat jungkir balik. Bukan lelaki yang
menyatakan cintanya dulu tetapi wanita, gadis ini, puteri seorang pembesar! Dan
ketika A-hwi bengong dan terlongong-longong tiba-tiba gadis itu memencet
tangannya membuat kaget.
“Hei! Apa yang kau pikit? Kenapa seperti orang bodoh?”
“Eh, tidak. Ini, eh... bagaimana ini?” A-hwi bingung. “Aku seperti mimpi, Lie
Cu. Masakah semuanya ini sungguh-sungguh? Kiu Lok di sana juga membujukku,
katanya.....”
“Apa katanya?” Lie Cu memotong, mendadak marah. “Gadis itu bilang apa, A-
hwi? Menjelek-jelekkan aku, bukan?”
“Hm, tidak. Tapi ah, sudahlah, aku tak dapat menerima keduanya, Lie Cu. Aku
di sini hanya pelayan dan tak akan mengimpikan rembulan. Aku harus tahu diri!” dan
A-hwi yang pergi dan buru-buru ngeloyor lalu membuat si gadis tertegun. Lie Cu
tampak terpukul dan merah, gadis ini kecewa. Dan ketika A-hwi ke dapur
melanjutkan pekerjaannya di sana maka gadis itu berlari ke kamarnya dan...
menangis.
“Kiu Lok, kau gadis tak tahu malu. Kau pasti mempengaruhi dan menjelek-
jelekkan aku!” dan gusar serta kecewa oleh jawaban A-hwi mendadak gadis ini
melompat bangun dan menghambur menuju ke rumah Kiu Lok. Di sana gadis ini
memaki-maki dan terjadi perang mulut, Kiu Lok tentu saja kaget dan marah. Dan
ketika keduanya saling tuding dan tak mau mengalah tiba-tiba mereka sudah saling
terkam dan menjambak rambut masing-masing!
“Kiu Lok, kau siluman betina. Kau mempengaruhi A-hwi dan menjelek-
jelekkan aku!”
“Tidak, justeru kau yang tak tahu malu, Lie Cu. Kau membujuk dan tak habis-
habisnya berusaha merebut A-hwi. Dia milikku, kau tak berhak dan harus mundur!”
dan dua gadis itu yang saling maki dan jambak akhirnya sama-sama menangis dan
melotot. Mereka berada di belakang rumah dan sepi. Tak ada yang tahu perkelahian
itu. Tapi ketika semuanya berlangsung sengit dan masing-masing tak mau mengalah
mendadak A-hwi, pemuda yang dijadikan rebutan itu muncul, begitu saja seperti
iblis!
“Eh, berhenti. Jangan berkelahi!” pemuda itu meloncat, langsung melerai dan
dua gadis itu didorong mundur. Mereka tadi lekat seperti lintah, lengan A-hwi bahkan
Kolektor E-Book

tergigit, dalam keadaan lupa diri keduanya tak mau dipisah dan ngotot. Tapi ketika
A-hwi melerai dan pemuda itu berdiri di tengah maka pemuda ini membujuk karena
tahu persoalannya, muka sedikit kemerah-merahan karena malu, memisah dua gadis
ini.
“Tak baik, jangan kalian bertengkar, Lie Cu. Betapapun kalian adalah sahabat,
ingat....” pemuda itu menahan keduanya. “Kalau kalian bertengkar lagi dan masing-
masing ayah kalian tahu tentu aku dimintai pertanggungjawaban. Pemuda yang
tampan dan gagah banyak, di Magada ini ada ribuan. Kenapa berebut dan berkelahi?
Masak-memasak aku dapat mengajari ilmunya pada kalian, Lie Cu. Sekarang
berdamailah dan jangan bermusuhan!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


167

“Tidak, kami bermusuhan bukan masalah masak-memasak, A-hwi, melainkan


merebut dirimu, cintamu!”
“Benar, kau sekarang harus menentukan sikapmu, A-hwi. Mengikuti aku atau
siluman betina ini!”
“Kaulah yang siluman! Kau tak tahu malu, Kiu Lok. Kau merebut dan
membujuk A-hwi!” Lie Cu gusar.
“Sudahlah, sudah....!” A-hwi bingung. “Aku tak mau membicarakan yang satu
itu, Kiu Lok. Kalian semua baik dan majikanku!”
“Tidak, aku tak menganggap dirimu sebagai pelayan, A-hwi. Kau adalah
sahabat sekaligus orang yang kuharap menerima cintaku!”
“Benar, dan aku pun bukan majikanmu, A-hwi. Aku adalah calon isterimu dan
yang akan mengangkat derajatmu!’
“Tidak, tidak..... kalian semua jangan bicara tentang itu. Aku tak berani merima
siapa pun dari kalian. Aku orang rendah, aku harus tahu diri. Kalau kalian mendesak
dan tetap bicara yang ini biarlah aku pergi dan tidak di tempat siapa pun!”
“A-hwi...!” dua gadis itu berseru, hampir berbareng. A-hwi terlihat merah
padam dan marah. Rupanya dalam kebingungannya tadi pemuda ini menjadi marah
dan malu, dua gads itu tak segan-segan lagi memaksanya. Dan ketika duanya berseru
tertahan dan Kiu Lok mendadak terisak tiba-tiba Lie Cu pun manangis dan A-hwi
sadar kembali.
“Maaf,” pemuda itu berkata. “Kalian sekarang pulanglah, Lie Cu. Aku tak mau
kalian bermusuhan hanya gara-gara aku. Kembalilah, aku juga harus pergi.”
Dua gadis itu saling pandang. Lie Cu dan Kiu Lok tiba-tiba melotot, mereka
menganggap yang lain sebagai biang penyakit dan Lie Cu tiba-tiba memutar
tubuhnya. Dan ketika gadis itu berlari dan pulang ke rumahnya maka Kiu Lok pun
mengguguk dan berlari memasuki kamarnya pula.
“Hi-hik, hebat. Kau kiranya pelayan yang di bicarakan orang banyak itu!”
A-hwi terkejut. Sesosok bayangan berkelebat, seorang gadis terkekeh dan tiba-
tiba telah berdiri di depannya. Dan ketika A-hwi tertegun dan terkejut memandang
gadis itu mendadak berkelebat pula sebuah bayangan lain dan seruan merdu.
Kolektor E-Book

“Benar, kiranya ini pemuda yang dibicarakan orang banyak itu, Siu Lan. Tak
tahunya memang hebat dan telah membuat dua gadis saling jatuh cinta!”
A-hwi memutar tubuh. Di situ telah berdiri seorang gadis lain yang cantik jelita,
tinggi semampai dan gadis pertama tertawa. Mereka rupanya teman, terbukti telah
saling mengenal. Dan ketika pemuda itu bengong dan berdiri tertegun maka Siu Lan,
gadis pertama berseru.
“Enci Han Li, pemuda ini memang luar biasa. Bagaimana kalau kita buktikan
kepandaiannya?”
“Hm, aku datang karena memang ingin mencoba, Siu Lan. Ayo kita paksa dan
tanya dia!” dan, sementara A-hwi bengong tiba-tiba gadis ke dua yang cantik jelita

BATARA Dewi Kelabang Hitam


168

meloncat ke depan, menaksir dan berseri-seri. “Kau yang bekerja di tempa Lie-taijin
dan Kiu-wangwe? Kau yang dikabarkan pandai memasak itu?”
“Eh, ya.... eh, tidak! Eh, siapa nona berdua ini? Dari mana?”
“Hi-hik, aku Yo Siu Lan, A-hwi. Dia itu enciku Han Li. Aku puteri Yo Shu Kie,
Yo-taijin. Kami mendengar masakanmu yang hebat dan kini mau bukti!” Siu Lan,
gadis pertama itu meloncat maju pula, berseru dan sudah mendahului temannya dan
A-hwi terkejut. Kiranya dua gadis ini adalah puteri seorang menteri, tentu saja
kedudukannya jauh di atas Lie Cu maupun Kiu Lok. Dan ketika dia mundur dan
terbelalak belum tahu apa yang dimaksudkan gadis-gadis ini maka Han Li
mengangguk berkata tertawa, manis sekali.
“Ya, aku Han Li, A-hwi. Kebetulan saja aku mencicipi masakanmu dari Siu
Lan, adikku.”
“Dan aku mencicipinya karena mendapat dari Lie-taijin. Ayah memuji
masakanmu, kau setingkat koki istana dan masakanmu hebat!”
“Hm, eh... ya, ini....” A-hwi menelan ludah. “Kalian berdua mau apakah? Ada
apa datang ke sini?”
“Aku mengantar adikku, A-hwi. Kau diminta pamanku ke sana.”
“Benar, ayah pun mengagumi masakanmu A-hwi. Dia minta agar kau bekerja di
tempatnya dan mambuat masakan lezat!”
A-hwi terkejut. “Yo-taijin memintaku?”
“Ya, kenapa? Kau bangga? Hi-hik, jangan sombong, A-hwi. Sebelum kau ke
sana tentu saja harus bertanding dulu dengan kami!”
“Dan kami datang untuk menguji masakanmu, A-hwi. Kalau kau menang tentu
saja kau lulus.”
A-hwi terkesiap. Tadinya dia kaget mendengar kata-kata “tanding”, mengira dua
gadis itu akan mengajaknya berkelahi dan tentu saja, ia mengelos. Tapi ketika mereka
menerangkan bahwa yang di maksud adalah adu masakan enak tiba-tiba dia tertawa
bergelak dan girang serta lega. “Ha-ha, kalian aneh, nona. Kalau bukan kalian tentu
aku tak mau. Masakanku biasa-biasa saja, mungkin hanya karena lidah yang berbeda
maka masakanku banyak dipuji orang. Baiklah, ujian bagaimana yang kalian
kehendaki? Aku harus melakukan apa?”
Kolektor E-Book

“Kau harus memasak beberapa macam masakan, A-hwi, di depan kami. Dan
kalau kau dapat menandingi masakan kami maka kau dianggap menang. Ayah yang
akan menjadi wasit!”
“Heh, Yo-taijin sendiri? Berarti aku harus..........”
“Ya, kau harus ke sana, A-hwi. Kami sudah menyiapkan segalanya dan tadi
kami mencarimu di tempat Lie-taijin tapi kau tak ada!” Han Li yang kagum tapi juga
memandang tajam memotong. Dia agak merasa aneh bahwa setampan dan segagah
A-hwi bisa menjadi pelayan, koki. Betapapun dia agak heran dan tak percaya. Tapi
ketika pemuda itu mengangguk dan A-hwi tampak girang maka pemuda ini
mengiyakan.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


169

“Baik, aku ke sana, nona. Tapi aku tentu harus memberi tahu Lie-taijin dulu.”
“Tak perlu, kami sudah memberitahunya!” Siu Lan memotong. “Ayah sudah
meminta kau datang, A-hwi. Sekarang ayo ke rumah dan tunjukkan kemahiranmu di
dapur!”
A-hwi terkejut Siu Lan tiba-tiba menyambar punggungnya, tertawa dan
berkelebat. Dan ketika A-hwi berseru kaget dan tak dapat meronta mendadak gadis
itu telah “terbang” dan menenteng pemuda ini seperti orang mencengkeram kelinci.
“Hei, lepaskan. Nanti jatuh, nona, heii...!”
Siu Lan tak menghiraukan. Di sebelahnya telah tertawa pula Han Li, yang
berkelebat dan menyertai adiknya. Dan ketika beberapa menit kemudian Siu Lan
sudah memasuki sebuah gedung besar dan di sini gadis itu melepaskan A-hwi, maka
A-hwi mengusap keringat dan pucat mengebut-ngebutkan pakaiannya, disambut
seorang laki-laki gagah yang usianya empatpuluhan tahun. A-hwi gemetar.
“Ayah, ini pemuda itu. Coba lihat dan perhatikan!”
“Ha-ha, ini bocah itu, Lan-ji? Kau membawanya seperti induk kucing membawa
anaknya?”
“Ya, lihat, yah. Dia ketakutan!”
A-hwi sudah menjatuhkan diri berlutut. Sekarang dia cepat-cepat menunduk,
pandang mata Yo-taijin menyambar bagai elang, tajam. bersinar-sinar. Dan ketika
menteri itu tertawa dan Siu Lan juga geli maka Han Li, gadis jelita itu berseru,
merdu.
“Paman, pemuda ini tadi jadi rebutan puteri Lie-taijin dan Kiu-wangwe. Kami
mendapatkannya dibelakang rumah tapi tampaknya dia pemuda baik-baik, terbukti
tak mau mempermainkan mereka padahal biasanya pemuda pasti akan congkak dan
sombong kalau jadi rebutan gadis!”
“Hm, maksudmu dia dicintai dua gadis cantik berbareng?”
“Ya, paman. Dan mereka malah sudah berkelahi. Tapi pemuda ini memisah,
kami mendengar kata-katanya yang baik dan dia rupanya pemuda yang dapat
dipercaya!”
“Baiklah, biar kulihat. He, kau bocah, tengadahkan kepalamu!” Yo-taijin
Kolektor E-Book

berseru. “Coba kulihat dan kuperhatikan dirimu!”


A-hwi gemetar. Dia membenturkan dahi dahulu sebelum mengangkat mukanya,
dan ketika ia menengadahkan muka dan dua pasang mata beradu tiba-tiba Yo-taijin
seolah terkejut melihat kilauan mata yang tajam serta menggetarkan dari pemuda ini.
“Kau bisa silat?”
Pertanyaan itu mengejutkan. A-hwi menggeleng dan cepat menunduk, sadar
bahwa dia berhadapan dengan seorang tokoh. Tokoh yang amat lihai dan berbahaya.
Dia harus berhati-hati. Dan ketika menteri itu tersenyum dan menepuk pundaknya
sekonyong-konyong sebuah pukulan berat menindih bahunya.
“Bangunlah!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


170

A-hwi bereaksi cepat. Dia menolak dan hampir melawan pukulan berat itu. Tapi
ketika sadar dan mendengar sang menteri bersuara aneh dan pukulan itu menekannya
kuat mendadak dia meloloskan semua tenaga dan....... terbanting bergulingan.
“Aduh, kenapa ini, taijin? Kenapa aku dipukul?”
Sang menteri tertegun. Tadi dia merasa semacam tenaga yang kuat mau
menahannya, pemuda itu melawan dan ada tanda-tanda menolak. Tentu saja dia
terkejut, curiga. Tapi ketika pemuda bergulingan dan tampak pucat maka menteri ini
menjadi bingung dan berkelebat.
“Ayo bangun.....!” tangannya kembali bergerak, memukul pundak itu dan A-hwi
sekarang tidak mengerahkan tenaga apa-apa. Dia mandah dan tentu saja untuk ini dia
harus menerima resiko, tubuhnya bakal terbanting dan mungkin tulang pundaknya
patah. Sang menteri mencoba dan ia sadar, nyaris menimbulkan kecurigaan. Dan
ketika benar saja pukulan berat menimpa pundaknya itu dan dia mengaduh maka A-
hwi mencelat terlempar dan menumbuk dinding.
“Bress!”
A-hwi mengaduh-aduh. Sekarang ia benar-benar kesakitan dan Yo-taijin
tertegun. Anak muda itu benar-benar menderita di sana, menggeliat dan meringkuk
melipat pundak tanda kesakitan hebat, Tapi ketika sang menteri tertawa dan
berkelebat menghampiri maka dua jarinya menotok membebaskan rasa sakit.
“Maaf, aku mengujimu, A-hwi. Sekarang tak apa-apa dan bangunlah...!”
Benar saja, A-hwi hilang rasa sakitnya. Pemuda ini dapat berdiri dan meringis,
dia menjatuhkan diri berlutut dan menggigil. Muka yang ketakutan dan sikap yang
gentar semakin membuat Yo-taijin geli, tertawa lebar. Namun menyuruh anak muda
itu bangun menteri ini berkata, “A-hwi, aku sudah mendengar tentang kepandaianmu
memasak dari Lie-taijin. Sekarang aku ingin membuktikannya dan kebetulan istana
memerlukan tambahan koki. Kau mau bekerja dan membantu di sini?”
“Maaf,” pemuda itu kebingungan, gugup. “Hamba sudah bekerja di tempat Lie-
taijin dan Kiu-wangwe, taijin. Apakah begitu saja hamba meninggalkan mereka
untuk bekerja di sini? Hamba tak dapat memutuskan, dua majikan hamba harus diberi
tahu dulu.”
“Ha-ha, mereka sudah kuberi tahu, A-hwi, dan tentu tak menolak. Lagi pula,
bukankah kau bebas dan tidak terikat kontrak? Aku kagum akan masakanmu, A-hwi.
Kolektor E-Book

Terus terang ingin tahu secara langsung apakah benar itu masakanmu sendiri atau
orang lain. Ayo, tunjukkan kepandaianmu dan perlihatkan di dapur!”
A-hwi tertegun.
“Kenapa mendelong?” Siu Lan tertawa. “Ayah memintamu, A-hwi. Ayo ke
dapur dan coba perlihatkan masakanmu yang hebat itu!”
A-hwi terkejut. Siu Lan menyambar lengannya dan sudah membawanya ke
belakang. Di ruang yang bersih dan penuh perabot masak dia berhenti, Yo-taijin
sudah ada di situ dan Han Li si gadis jelita pun menunggu. A-hwi tiba-tiba gugup.
Dan ketika tiga orang itu menyuruhnya menunjukkan kepandaian memasak dan Siu

BATARA Dewi Kelabang Hitam


171

Lan menuding sana-sini memberi tahu tempat bumbu atau kecap dan lain-lain maka
gadis ini menutup.
“Nah, mulailah. Kau boleh memasak apa yang kau suka dan daging serta ikan
segar ada di sini semua, juga tepung!”
“Dapatkah kuminta sesuatu?” A-hwi merah padam.
“Apa yang kau, minta?”
“Kalian semua menunggu di luar, nona. Aku gugup diawasi begini, macam
pesakitan!”
“Ha-ha!” Yo-taijin tertawa bergelak. “Kau tak usah gugup, A-hwi. Kami sengaja
menonton untuk melihat kepandaianmu. Anggap saja kami tamumu yang hendak
memesan masakan!”
“Benar, kau tak usah malu. Kami menonton dan memang ingin melihat
kepandaianmu. Ayolah, coba dan mulai!” Han Li, yang juga tersenyum dan geli oleh
kegugupan A-hwi, berseru. Siu Lan terkekeh dan menyambar alat penggoreng, juga
menyalakan kompor. Dan ketika semuanya itu siap dan mau tak mau A-hwi harus
bekerja maka pemuda ini bergerak dan mengambil ini itu.
“Baiklah, aku mulai, nona. Coba kubuat sop naga!”
A-hwi bekerja. Dengan cekatan dan lemas ia menyambar brambang dan
bawang, minyak dan lain-lain lagi yang tersedia di situ. Tangkas dan cepat ia meracik
semuanya itu. Dan ketika daging diiris dan tak lama kemudian sudah masuk
penggorengan maka bau sedap menyengat hidung dan perut Siu Lan tiba-tiba
berkeruyuk!
“Ha-ha, kau kalah, Siu Lan. Perutmu sudah mengakui dan lapar!” Yo-taijin
tertawa bergelak, kagum dan terbelalak karena apa yang dimasak A-hwi benar-benar
luar biasa. Bumbu yang dia berikan pas dan tepat, gerak jari yang begitu lincah dan
menyambar ini itu jelas menunjukkan pemuda ini sudah biasa memasak, apa yang
dilakukan jelas tak asing. Dan ketika tak lama kemudian bau masakan semakin teruar
dan Han Li juga berkeruyuk akhirnya perut Yo-taijin pun ikut bicara dan berkeruyuk.
“Ha-ha, luar biasa. Kami bertiga tiba-tiba merasa lapar!”
Siu Lan dan Han Li kagum. Memang mereka harus mengakui ini, sop naga yang
dibuat A-hwi tersedia cepat dan akhirnya matang, masuklah brambang goreng
Kolektor E-Book

sebagai aroma pelezat. Dan ketika semuanya selesai dan tak sampai lima menit
sebuah hidangan telah terhidang di depan mereka maka A-hwi berseri-seri
menyambar telur dan garam.
“Sekarang mata naga!” ketanya tertawa. “Ini bukan mata sapi, nona. Tapi mata
naga masak kecap!” A-hwi menyambar penggorengan, membalik dan sudah
melempar-lemparkan telur ke alat penggorengan itu. Cepat dan luar biasa pula ia
telah membuat lima mata naga yang matang dan cantik. Kecap yang dituangkan
menghias mata naga seakan dilukis. Bukan main, ini tidak sekedar memasak tapi juga
menunjukkan ilmu seni yang tinggi. Yo-taijin kagum melihat lima mata naga yang
seakan hidup di atas piring, menyala dan menantang selera. Dan ketika berturut-turut
A-hwi mendemontrasikan kepandaiannya masak ini itu yang semua dinamakan

BATARA Dewi Kelabang Hitam


172

“naga” maka Yo-taijin tertawa bergelak memuji kepandaian pemuda ini, sudah
menyambar dan tak sabar mencicipi semuanya itu.
“Hebat, aih, hebat. Kau benar-benar koki jempolan, A-hwi. Kau layak di istana
dan menghidangkan masakan istimewa!”
A-hwi tersenyum. Siu Lan dan Han Li juga bergerak, lidah mereka sudah
berkecap melihat semua masakan A-hwi. Baru di atas kompor saja perut mereka
sudah berbunyi, bukan main. Dan ketika satu demi satu mereka mencicipi hidangan
pemuda ini dan harus mengakui bahwa apa yang dibuat pemuda itu memang luar
biasa akhirnya Siu Lan memuji penuh kagum. “Hebat, masakanmu memang luar
biasa, A-hwi. Kalau begitu setiap hari kau harus tinggal di istana!”
“Ya, dan sekali-kali kau juga harus menghidangkan untukku, A-hwi. Kakakku
Hangga dan sahabatku Mei Hong pasti gembira!”
“Mei Hong?” A-hwi terkejut, tiba-tiba tersentak. “Siapa ini, nona? Sahabatmu?”
“Ya, kenapakah? Kau kenal? Hi-hik, dia pun bangsa Han, A-hwi. Barangkali
perlu kupertemukan dia denganmu. Tapi awas, dia sudah menjadi calon ipar enci Han
Li. Jangan main-main!” dan Siu Lan yang mendahului serta bergurau menggoda
pemuda itu tiba-tiba membuat A-hwi batuk-batuk dan tersedak karena Siu Lan
tertawa-tawa, geli dan tak tahu betapa jantung pemuda itu tiba-tiba berdetak cepat.
Hampir pemuda ini mencelat tinggi. Tapi karena Yo-taijin ada di situ dan menteri ini
tampak mengawasinya maka A-hwi tertawa dan buru-buru mengangkat wajan,
menyembunyikan kekagetannya dan hari itu dia selesai diuji, untung tak seorang pun
memperhatikan lebih lanjut dan semua menganggap Siu Lan main-main saja,
Memang, mana mungkin pelayan muda ini menjatuhkan Mei Hong? Dia hanya
pelayan, Mei Hong adalah sahabat sekaligus calon mantu pendekar sakti Handewa,
semua keluarga Yo tahu. Dan ketika hari itu A-hwi diminta bekerja dan aneh serta
cepat nama A-hwi masuk ke istana maka hari-hari berikut A-hwi bergaul dengan dua
gadis ini dan melupakan Lie Cu serta Kiu Lok, tak lama kemudian raja Urugata pun
ingin mengenal pemuda ini, bertemu dan kagum serta melihat dan membuktikan
sendiri kepandaian pemuda itu. Koki kepala di istana pun memujinya. Dan karena
masakan A-hwi memang jempolan dan pemuda itu langsung diangkat sebagai koki
muda, satu jabatan di bawah koki kepala maka A-hwi pun tinggal di istana dan tidak
di gedung Lie-taijin atau pun Kiu-wangwe!
“Sekarang kau resmi membuat masakan-masakan untuk sri baginda, bersama
Akok. Baik-baiklah bekerja di sini dan hiduplah senang!”
Kolektor E-Book

A-hwi berseri-seri. Dia girang bukan main dan menyatakan terima kasih,
berulang-ulang menyatakan kegembiraannya dan Akok, koki kepala menjadi
sahabatnya. A-hwi tetap merendah dan berkata bahwa dia akan tetap belajar di bawah
pimpinan koki kepala itu, padahal sebenarnya pemuda ini tak kalah dengan koki
kepala. Dan ketika beberapa minggu kemudian pemuda ini menjadi akrab dengan
semua orang dan tak satu pun mencurigai pemuda itu maka sebulan kemudian,
hampir setiap minggu tampaklah sebuah bayangan berkelebat dari dapur istana,
menuju ke barat dan di perbatasan bertemu dengan seseorang, berbisik-bisik sejenak
lalu menghilang lagi. Kejadian ini berulang-ulang dan hampir setiap minggu terjadi,
tak seorang pun mengetahui. Dan ketika semuanya berlangsung seperti biasa dan
Magada secara diam-diam melatih pasukannya untuk berperang maka di selatan, dt

BATARA Dewi Kelabang Hitam


173

Tiong-goan juga terjadi kesibukan di mana angkatan perangnya juga siap bergerak,
sesuai petunjuk dan informasi dari bayangan yang berkelebat dari dapur istana itu,
yang bercakap-cakap dengan bayangan lain di perbatasan. Dan ketika semuanya
terjadi secara rahasia dan Hong Beng Lama juga sering muncul dan pergi menemui
Yo-taijin maka sepasang mata selalu mengintai dan mengawasi gerak-geriknya. Mata
siapakah gerangan? Bukan lain A-hwi. Siapakah A-hwi ini? Tentu mudah kita kenal,
bukan lain adalah Bun Hwi, pangeran yang diutus menteri Hu Kang untuk menjadi
“spion” di Magada!

*
* *

Hari itu di kota raja. Menteri Hu Kang cemas. Hu Lan, puterinya, membawa
berita bahwa tak lama lagi Hong Beng Lama akan muncul di perbatasan menggempur
pasukannya. Lama ini telah bersiap dengan seribu pasukan besar, padahal dulu hanya
limaratus saja. Dan ketika menteri itu bertanya dari mana Lama itu mendapatkan
tambahan pasukan maka Hu Lan, puterinya mengepal tinju.
“Dari Yo-taijin, ayah. Menteri Yonaga itu. Kabarnya ini masih akan ditambah
lagi kalau kurang!”
“Hm, dan pasukan di perbatasan ada sepuluh ribu orang. Mungkinkah mereka
tak dapat menahan seribu pasukan saja?”
“Menghadapi pasukan saja tentu dapat, ayah. Tapi Hong Beng Lama yang
berbahaya itu akan maju sendiri. Tak ada orang lain di sini yang dapat
menghadapinya kecuali dirimu!”
“Kapan dia akan muncul?”
“Belum jelas, yah. Tapi dikabarkan antara tiga sampai tujuh hari lagi.”
“Hm, kalau begitu kita harus bersiap-siap. Aku harus ke perbatasan!” dan Hu-
taijin yang berkemas dan bergegas ke istana lalu melapor pada kaisar akan apa yang
didengar. Bahwa Hong Beng Lama akan menyerang dan Lama sakti itu terang-
terangan akan menebus kegagalan puteranya dulu. Kaisar marah dan mengutuk. Dan
ketika menteri itu berkata bahwa dia akan ke perbatasan sendiri dan menghadapi
Lama itu, kaisar memberi restu.
“Baik, doaku bersamamu, taijin. Tahan dan cegah Lama itu menggempur
Kolektor E-Book

pasukan kita. Tapi bagaimana dengan anakku Bun Hwi?”


“Pangeran sudah menyusup ke sana, sri baginda. Tetap membantu kita dari
dalam.”
“Hm, seharusnya dia dipanggil. Kuatkah kira-kira kau menghadapi Lama itu
seorang diri? Ingat, Lama itu memiliki ilmu hitam, menteriku. Dia tak dapat mati dan
dibunuh!”
“Hamba tahu. Tapi hamba akan mencoba, sri baginda. Kalau tak berhasil tentu
hamba akan minta tolong Hong Sin Lama.”
“Baiklah, pergilah, menteriku. Cegah dan hadapi Hong Beng Lama itu!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


174

Hu-taijin mengundurkan diri. Hari itu kaisar telah memberinya restu, ini
dukungan moral yang baik. Betapapun menteri itu besar hati dan mantap. Dia akan
menghadapi Hong Beng Lama, betapapun saktinya Lama itu. Dan ketika hari itu dia
bersiap-siap dan Hu Lan, puterinya turut maka menteri ini mendesah menghela napas.
“Sebaiknya kau di sini, jangan turut.”
“Tidak, aku tak mau di sini, yah. Kalau kau ke perbatasan aku pun turut,
betapapun aku dapat membantumu untuk hal-hal yang kecil.”
Terpaksa, menteri ini mengangguk, Dia tahu bahwa percuma saja dia mencegah
puterinya ini. Kalau toh Hu Lan ditinggal tentu puterinya itu akan menyusul, jauh
lebih berbahaya kalau seorang diri. Dan karena menolak juga tak mungkin ditaati dan
lebih baik membawa puterinya ini sekalian maka Hu-taijin berangkat dan membawa
puterinya itu.
“Kau harus taat perintah ayahmu, tak boleh ke mana-mana.”
“Pernahkah aku membantah?” puterinya tertawa kecil. “Aku selamanya penurut,
yah, tak pernah membuatmu kecewa atau gusar.”
“Hm, ya-ya, tapi sekarang bukan waktunya bercanda. Hayo, bawa kudamu dan
kita berangkat!”
Hari itu menteri Hu Kang ke perbatasan. Perjalanan dilakukan agak tergesa,
maklum, waktu agak mendesak dan dia harus berjaga-jaga, Dan ketika dua hari
kemudian menteri ini tiba di perbatasan dan di sana disambut oleh beberapa panglima
pembantunya maka menteri ini lega bahwa Hong Beng Lama belum muncul.
“Ini baru tanda-tanda saja. Sebaiknya semua bersiap dan panggil aku kalau
Lama itu muncul.”
“Baik,” dan beberapa panglima yang mengangguk serta kembali mengatur
pasukan lalu berjaga dan agak was-was mendengar disebutnya Lama itu. Mereka
teringat seorang Lama tinggi besar yang sakti, yang tak dapat dibunuh atau mati,
memiliki ilmu Merekat Tulang Menyambung Nyawa, sebuah ilmu yang berbau
hitam, tentu saja was-was. Dan ketika semua disiapkan dan empat hari kemudian
semua berjaga-jaga tegang mendadak di ujung perbatasan terdengar gelegar dan
ledakan.
“Apa itu?”
Kolektor E-Book

“Tak tahu, ciangkun. Belum ada laporan.”


“Coba lihat, cepat!”
“Baik,” dan pengawal yang berlari menyambar kudanya akhirnya membalap dan
menuju ke asal suara, mendengar hiruk-pikuk dan teriakan di depan, memacu dan
akhirnya tiba di sana untuk melihat seorang gadis tertawa-tawa menghajar pasukan
yang jumlahnya ada seratus orang. Gadis itu menggerak-gerakkan rambutnya dan
terdengarlah suara ledakan atau lecutan itu, nyaring dan mengherankan karena semua
pasukan tunggang-langgang dihajar gadis ini. Dan ketika dia dekat dan melihat gadis
itu tiba-tiba pengawal itu pucat karena mengenal itulah gadis yang dulu mengamuk
dan datang bersama Hong Lam.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


175

“Kiok Lan.....!”
Pengawal ini menghentikan kudanya. Seketika dia pucat dan menggigil, cepat
memutar kudanya kembali dan mau kabur, maksudnya begitu. Melarikan diri sebelum
dihajar. Tapi baru dia membalik dan memutar kudanya sekonyong-konyong sebuah
bayangan berkelebat dan terdengar tawa dingin di belakang tengkuknya.
“Heh, kau mau ke mana? Robohlah, aku mencari Bun Hwi.... plak!” dan si
pengawal yang terlempar dan menjerit kaget sudah bergulingan dan mengaduh tak
keruan, mendapat bentakan lagi dan dua gumpal rambut menjeletar, kali ini persis di
telinganya. Dan ketika pengawal itu berteriak dan roboh maka Kiok Lan, gadis ini,
telah berdiri dengan mata bersinar-sinar.
“Siapa pun tak boleh pergi dari sini. Hayo, ikat tubuh kalian dan merangkak!”
Seratus orang yang merintih-rintih itu ketakutan. Tadi mereka didatangi gadis
ini dan ditanya tentang Bun Hwi, dijawab tak tahu dan gadis itu marah-marah.
Mereka dihajar, melawan tapi malah tak keruan, jatuh bangun dan tunggang-
langgang, beberapa di antaranya bahkan pingsan. Dan ketika Kiok Lan berdiri tegak
dan gadis itu menyuruh mereka mengikat tubuh sendiri akhirnya seratus orang ini
menjadi tawanan dan merangkak di depan gadis itu.
“Nah, sekarang kita menemui pemimpin kalian. Siapa panglima yang menjaga di
sini?”
“Hu-taijin,” seorang pengawal menjawab gemetar. “Hu-taijin, nona. Dia ada di
sini...”
“Hu-taijin?” gadis itu terkejut, tiba-tiba terkekeh. Bagus, bawa aku kepadanya,
pengawal. Biar kuhadapi dia dan sekalian kutanya tentang Bun Hwi. Hayo,
berangkat...!” gadis ttu mengelebatkan rambutnya, yang dikelabang, membent ak dan
menyuruh seratus pengawal itu merangkak maju. Mereka tak boleh berdiri, semua
tangan di belakang dan jadilah mereka ini seperti domba atau anjing yang digiring
penggembala, Kiok Lan meledak-ledakkan rambutnya itu. Dan ketika seratus
pengawal mengikuti kehendaknya dan merangkak dengan susah payah mendadak
berkelebat dua bayangan disusul derap kaki kuda dari depan.
“Orang she Kiok, kau sungguh keji!” bayangan di sebelah kiri, yang membentak
dan tak tahan oleh pemandangan itu tiba-tiba menghantam, langsung menerjang
begitu tiba lebih dulu. Dia mengenal Kiok Lan karena bayangan ini bukan lain Hu
Lan adanya, puteri Hu-taijin. Tentu saja marah melihat pasukan ayahnya
Kolektor E-Book

diperlakukan begitu, merangkak dan beringsut sementara Kiok Lan menjeletar-


jeletarkan rambutnya. Dan begitu dia melepaskan pukulan dan membentak marah
maka Hu-taijin, ayahnya, juga sudah berkelebat menyusul dan menggeram marah
melihat perbuatan Kiok Lan ini.
“Plakk!” Kiok Lan menangkis, menggerakkan rambutnya dan Hu Lan
terpelanting. Gadis itu menjerit kaget dan bergulingan melompat bangun. Tangannya
tiba-tiba lecet dan luka, sabetan rambut lawan mengiris seolah pisau, bukan main
kagetnya gadis ini. Dan ketika Hu Lan melompat bangun dan langsung mencabut
pedangnya tiba-tiba gadis ini menerjang lagi dan membentak gusar, dielak dan
ditangkis dan segera Kiok Lan menggerakkan rambutnya itu. Hebat dan luar biasa
gadis ini menangkis serangan pedang pula dengan rambut itu, meledak dan pedang

BATARA Dewi Kelabang Hitam


176

pun terpental. Kiok Lan terkekeh-kekeh sementara Hu Lan di sana semakin marah
bukan main. Dan ketika Hu Lan maju lagi dan menusuk serta membacok namun
semua serangannya selalu ditangkis rambut maka Kiok Lan berseru mengakhiri.
“Sekarang robohlah.... sing plakk!” dan pedang yang mencelat dari tangan Hu
Lan ditampar rambut tiba-tiba sudah disusul sebuah totokan dan Hu Lan pun roboh,
mengeluh dan tidak berdaya lagi setelah Kiok Lan membalas dalam satu jurus saja.
Derap kuda di depan kini sudah berhenti dan itu adalah panglima-panglima yang
membantu Hu-taijin, semuanya terbelalak dan terkejut melihat kehebatan Kiok Lan
ini. Dengan rambut dan kelitan ringan gadis itu mampu merobohkan Hu Lan,
segebrak saja. Dan ketika semua mendelong dan lupa turun dari kudanya maka Hu-
taijin bergerak dan menolong puterinya.

JILID VIII

“KIOK LAN, kau sekarang bertambah liar. Tak tahu aturan! Ada apakah kau
membuat onar dan mengacau? Kau ingin kuhajar lagi dan kubunuh?”
“Hi-hik, jangan sombong!” Kiok Lan terkekeh, tak kelihatan takut atau gentar.
“Aku sekarang tak mungkin kau hajar, taijin. Aku datang bukan untuk membuat onar
melainkan mencari Bun Hwi!”
“Dia tak ada di sini, kau tahu. Kalau ada tentu muncul dan sudah menghadapi
dirimu. Hm, kau sekarang congkak, gadis siluman. Meskipun Bun Hwi tak ada tapi
aku akan mewakilinya. Kau datang atas suruhan siapakah?” menteri itu teringat Hong
Beng Lama, melirik hati-hati ke sana ke mari namun tak melihat apa-apa. HaI ini
bukan berarti mengurangi kewaspadaannya. Dan ketika menteri itu bertanya dan para
panglima kini meloncat turun dari kudanya maka Kiok Lan bersinar-sinar maju ke
depan, menghadapi menteri ini.
“Hu-taijin, aku datang atas suruhan diriku sendiri. Kenapakah? Kau takut? Aku
datang untuk mencari Bun Hwi, kalau dia tak ada kaupun boleh juga. Dulu kau
mempunyai hutang kepadaku, kini bayar hutang itu dan baru setelah itu ku pergi!”
“Keparat!” menteri ini mendesis. “Kau semakin liar dan tak tahu aturan, Kiok
Lan. Kalau begitu daripada banyak cakap biar kutangkap kau.......... wutt!” menteri
ini berkelebat, tangan bergerak dan ia pun mencengkeram gadis itu. Cepat dan luar
biasa menteri ini hendak menangkap Kiok Lan. Tapi begitu Kiok Lan tertawa dan
Kolektor E-Book

menggerakkan rambutnya tiba-tiba gadis itu sudah mengelak dan menangkis.


“Plakk!”
Hu-taijin terdorong. Hampir tak percaya menteri itu berseru kaget terhuyung
tiga tindak, melihat tangkisan Kiok Lan begitu kuatnya hingga dia terdorong, bukan
main. Menteri ini terkejut dan membentak lagi, menyerang namun rambut lagi-lagi
menangkis. Dan ketika untuk kedua kali rambut menjeletar nyaring dan menteri ini
surut beberapa langkah akhirnya Hu-taijin tertegun dan membelalakkan matanya
lebar-lebar, mendengar Kiok Lan tertawa.
“Taijin, jangan mengira aku masih seperti Kiok Lan yang dulu. Aku sekarang
bukanlah gadis yang dulu kau robohkan!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


177

“Benar, kau mencuri ilmu di Bukit Pedang! Kau, ah....... kau ......” dan Hu-taijin
yang tersentak dan teringat sesuatu tiba-tiba menjublak dan mendengar puterinya
berseru.
“Yah, Kiok Lan inilah yang merampas petaku. Dia begini hebat karena tentu
telah mempelajari warisan di Bukit Pedang. Dia pencuri!”
“Hm....!” menteri ini pucat dan merah berganti-ganti. “Kau telah selesai
mempelajari semua warisan Pek In Sian-su, Kiok Lan? Kau yang benar merampas
dan menyerang puteriku?”
“Hi-hik, waktu itu kebetulan saja aku bertemu, taijin. Tak ada maksud
merampas atau mengambil peta. Puterimu inilah yang mencurigakan, dia merangkak
dan tolah-toleh di Bukit Pedang. Dan ketika kudekati dan kutanya dia justeru tak
bersikap baik-baik. Sebagai hukumannya maka peta itu kuambil dan isinya kumiliki.”
“Keparat!” menteri ini menggigil, terguncang. “Kalau begitu kau tak tahu malu,
Kiok Lan. Kau mencuri dan merampas apa yang bukan menjadi hakmu. Kau gadis
liar tak tahu adat!” dan Hu-taijin yang marah menerjang maju tiba-tiba membentak
dan menyerang lagi, teringat puterinya yang dulu hampir dibunuh Kiok Lan. Waktu
itu Hu Lan selamat dan luka-luka, susah payah keluar dari jurang dan pulang,
melapor apa yang terjadi dan sang menteri pucat. Ini berita hebat baginya, menyusul
ke Bukit Pedang tapi Kiok Lan telah meruntuhkan mulut terowongan yang menjadi
jalan masuk, dia tak dapat mengejar dan tertegun di situ. Tak tahu apakah Kiok Lan
mati ataukah hidup di dalam guha, semuanya menjadi samar. Dan karena urusan
kenegaraan membuat menteri ini sibuk dan pekerjaannya sehari-hari selalu
menumpuk dan menyita waktunya maka Hu-taijin tak memikirkan lagi gadis itu di
guha bawah tanah, menganggap Kiok Lan terkubur di sana dan mudah-mudahan
gadis itu benar tewas. Hu-taijin ngeri disuruh membayangkan warisan Pek In Sian-su
jatuh di tangan gadis ini. Maka, ketika hari itu setelah sekian lama dia melupakan
gadis ini dan mendadak Kiok Lan datang tiba-tiba menteri ini terguncang dan
maklum apa yang terjadi, tahu dari benturan tadi bahwa Kiok Lan sudah menjadi
hebat bukan main, dua kali dia menyerang dan dua kali pula ia terdorong. Tanda
lawan telah mewarisi peninggalan Pek In Sian-su. Tapi karena menteri ini bukanlah
seorang penakut dan dia adalah seorang tokoh yang berwatak gagah menteri ini
menyerang lagi dan bahkan ingin membunuh Kiok Lan, tidak lagi menangkap
melainkan membunuh. Dia khawatir melihat kehadiran gadis ini, Kiok Lan
dikenalnya sebagai gadis yang telengas. Tapi ketika Kiok Lan berkelit dan kembali
menangkis maka lengan gadis itu bertemu dengan lengannya.
Kolektor E-Book

“Dukk!”
Menteri ini terbelalak. Kiok Lan terkekeh dan meledakkan rambutnya, sang
menteri gusar dan menyerang lagi. Kiok Lan berkelit dan kali ini meloncat tinggi.
Dan ketika Hu-taijin mengejar dan melepas dua pukulan bertubi-tubi maka Kiok Lan
mendemonstrasikan kepandaiannya dan menangkis lagi.
“Duk-dukk!”
Sang menteri tergetar. Untuk keempat kalinya berturut-turut Kiok Lan
menangkis dan berani menerima pukulan menteri itu, Hu Kang terkejut dan berseru
keras. Dan karena selama ini Kiok Lan belum membalas dan hanya memamerkan
tenaganya itu maka Hu-taijin tiba-tiba lenyap dan mulai melancarkan pukulan-
BATARA Dewi Kelabang Hitam
178

pukulan Soat-kong-jiu (Pukulan Salju), membentak dan berkelebatan dan segera


Kiok Lan dihujani serangan bertubi-tubi. Cepat dan ganas menteri ini menyerang
Kiok Lan, Soat-kong-jiu silih berganti menyambar dari kedua lengan menteri itu. Hu-
taijin tak main-main lagi dan ingin segera merobohkan gadis itu. Tapi ketika Kiok
Lan berlompatan dan sambil terkekeh gadis ini melayani lawan maka semua pukulan
menteri itu buyar berantakan dan mulai terpental ketika bertemu rambut yang
bergerak-gerak dari kepala Kiok Lan, nyaring dan meledak-ledak.
“Hi-hik, kau tak perlu galak-galak kepadaku, taijin. Aku sekarang bukan gadis
yang gampang kau robohkan!”
Menteri Hu mengeretakkan gigi. Apa yang dikata Kiok Lan benar, Kiok Lan
sekarang bukan Kiok Lan yang dulu. Tapi karena dia belum selesai dan beberapa
ilmu pukulannya yang lain masih dipunyai dan belum dikeluarkan maka menteri ini
tak menjawab dan terus melancarkan serangan-serangannya, kian lama kian dingin
dan baju Kiok Lan pun mulai beku. Para panglima yang mengelilingi tempat itu
menjauh, gigi mereka gemeretuk dan mrreka pun mau tak mau menjadi kagum
terhadap lawan Hu-taijin itu. Kiok Lan seakan tak terpengaruh, gadis ini masih dapat
tertawa-tawa dan mengejek lawan. Dan ketika satu saat menteri Hu Kang membentak
keras dan melancarkan Soat-kong-jiu tiba-tiba tangan kiri menteri itu bergerak dan
menotok pundak lawan. “Tuk!”
Totokan menteri ini tergelincir. Kiok Lan terkekeh ketika ditotok tadi, sengaja
tak menghindar dan sang menteri tertegun, menyerang lagi dan menotok leher namun
lagi-lagi totokannya itu luput. Jalan darah di leher Kiok Lan tiba-tiba selicin belut,
jarinya terpeleset dan gagallah totokan itu. Dan ketika Kiok Lan tertawa dan geli
memandang lawannya maka menteri ini teringat sebuah ilmu dan berseru.
“I-kiong-hoan-hiat (Ilmu Membalik Jalan Darah).....”
“Hi-hik, kau tahu, taijin? Bagus, memang benar. Inilah I-kiong-hoan-hiat!” Kiok
Lan berseru, menjawab seruan menteri itu dan segera menteri Hu Kang melotot.
Sekarang menteri ini yakin bahwa seluruh peninggalan Pek In Sian-su telah dilalap
gadis ini, bukan main marahnya menteri itu. Dan ketika dia melengking dan merasa
gagal dengan totokah akhirnya Hu-taijin mengeluarkan ilmu lainnya dan sinar putih
berkelebat menyilaukan mata.
“Wutt....!”
Itulah Pek-in-ciang (Pukulan Tangan Mega). Dengan tangan kiri menteri ini
Kolektor E-Book

mendorongkan angin pukulannya, tangan kanan masih tetap melancarkan Soat-kong-


jiu dan Kiok Lan terbelalak. Tapi tertawa dan menjajal pukulan ini pun Kiok Lan
ternyata menangkis dan menerima.
“Dess!” dan menteri Hu Kang pun kecewa. Sama seperti Soat-kong-jiu
pukulannya tadi tak membawa hasil banyak. Kiok Lan terlalu tangguh untuk dihujani
serangan apa pun. Gadis itu telah memiliki kemajuan pesat dan sinkang atau tenaga
saktinya melonjak hebat. Naga-naganya, hanya Bun Hwi yang agaknya dapat
menghadapi gadis itu. Maka kecewa dan marah melihat semuanya ini tiba-tiba Hu-
taijin melengking dan mengerahkan ginkangnya, berkelebatan dan Kiok Lan pun
disuruhnya membalas. Gadis itu tertawa dan mengejek, mengelak dan menangkis
lagi. Dan ketika lawan berseru marah dan minta agar dibalas tiba-tiba Kiok Lan
mengangguk dan menampar.
BATARA Dewi Kelabang Hitam
179

“Baiklah, awas, taijin. Coba terima pukulanku ini dan hati-hati..... dess!” sang
menteri menyambut, Kiok Lan melepas pukulan cepat ke kepala menteri itu dan Hu-
taijin mengerahkan Jing-kin-kang (Tenaga Seribu Kati). Biasanya dengan Jing-kin-
kang begini gunung pun tak mampu menggeser kuda-kudanya. Tapi ketika menteri
itu terdorong dan mencelat dari tempatnya maka menteri ini kaget dan mengeluh,
diserang lagi dan menangkis lagi tapi dia terpental. Jing-kin-kang, tenaga yang
dibanggakan itu ternyata tak dapat, menahan gadis ini, bukan main kagetnya menteri
itu. Dan ketika Kiok Lan membalas dan satu demi satu pukulan atau tamparan gadis
itu menghujani menteri ini akhirnya Hu-taijin terdesak dan terhuyung!
“Hi-hik, bagaimana, taijin? Kau masih berniat meneruskan pertandingan?”
Menteri pucat. Sebagai orang gagah tentu saja dia harus bersikap jujur
menghadapi kenyataan ini, harus mengaku kalah tapi lebih baik mati baginya
daripada menyatakan itu. Menteri Hu Kang terpukul dan minta agar pertandingan
dilanjutkan, biarlah dia roboh kalau memang harus roboh. Dan ketika Kiok Lan
terbelalak dan heran tapi juga marah oleh kekerasan menteri ini akhirnya Kiok Lan
membentak mengeluarkan ilmu yang tak disangka-sangka, pukulan api yang
membuat menteri itu kaget.
“Baiklah, kalau begitu robohlah, taijin. Ini hajaran dariku dan permintaanmu
kupenuhi......... blarr!” sang menteri terbelalak, disambar pukulan api dan menangkis
tapi terpelanting dengan pakaian terbakar. Menteri itu memekik dan bergulingan
menyelamatkan diri, tangan mengebut-ngebut berusaha memadamkan api, gagal dan
pukulan itu pun menyambar lagi. Dan ketika menteri ini mengeluh dan tak dapat
mengelak maka pundaknya terpukul dan ia pun roboh tak sadarkan diri.
“Des!”
Hu Lan menjerit. Puteri Hu-taijin ini melihat ayahnya terkapar, berkelebat dan
menolong ayahnya sementara di sana para panglima terbelalak. Mereka tertegun tapi
juga kaget, sejenak bengong. Tapi begitu Hu Lan memadamkan api di tubuh ayahnya
dan membalik beringgas tiba-tiba gadis ini melengking memberi aba-aba. “Serang,
bunuh dia....!” dan Hu Lan sendiri yang melompat dan menerjang marah tiba-tiba
mengambil pedangnya dan menyerang kalap, disusul bentakan dan majunya para
panglima, juga perajurit yang ada di situ. Dan ketika Kiok Lan dikeroyok dan
sebentar saja menghadapi puluhan lawan yang mengerubut dari segala penjuru maka,
gadis ini berkelebatan mendorong dan menampar.
“Pergilah, robohlah......!”
Kolektor E-Book

Hanya itu yang diserukan. Tombak dan golok juga pedang menghujani dari
mana-mana, tertolak dan terpental dan bahkan patah-patah. Para pengeroyok menjerit
ketika gadis itu menampar. Dan ketika Kiok Lan berkelebatan dan membagi pukulan
atau tendangan akhirnya semua terpelanting dan roboh tak keruan.
“Des-des-plak!”
Hu Lan sendiri terlempar. Untuk kedua kali gadis ini merasa kehebatan Kiok
Lan, pucat namun bangun lagi dan menyerang. Hu Lan marah selain terhina. Dan
ketika pengawal dan panglima juga bangkit lagi namun roboh ditendang gadis itu
akhirnya Kiok Lan menerima tusukan pedang Hu Lan.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


180

“Cep!”
Hu Lan terbelalak. Kali ini pedangnya menancap, mengira menusuk dada tapi
ternyata lolos ke ketiak, Kiok Lan mengempitnya dan tertawa. Dan ketika tujuh
pengawal dan empat panglima juga membacokan golok atau tombak namun semua
patah-patah bertemu tubuh Kiok Lan maka gadis ini berseru mematahkan pedang Hu
Lan.
“Sekarang kau ikut aku...... pletak!” dan pedang yang patah menjadi dua dan
dibuang gadis itu tiba-tiba dilanjutkan dengan totokan dan Hu Lan pun roboh,
mengeluh dan disambar dan segera Kiok Lan memutar tubuhnya. Lalu begitu dia
berseru keras meloncat Kiok Lan sudah berjungkir balik dan melewati para
pengeroyoknya yang masih mengepung. “Beri tahu Hu-taijin bahwa puterinya
kubawa. Kalau dia ingin puterinya kembali boleh cari aku!” Kiok Lan lenyap,
mengeluarkan kata-katanya yang singkat dan para panglima serta pengawal berteriak.
Mereka kaget oleh perbuatan gadis itu. Tapi ketika Kiok Lan menghilang dan mereka
mengejar namun sia-sia maka semua menjadi geger dan ribut, teringat Hu-taijin dan
segera menyadarkan menteri itu. Hu Kang hanya terpukul sedikit, tidak terluka berat
namun sesak napasnya. Dan ketika menteri itu sadar dan tertegun melihat para
pembantunya mengelilingi maka seorang panglima menjatuhkan diri berlutut.
“Maaf, Hu-siocia dibawa. Kami tak dapat menghalangi dan gadis siluman itu
lenyap!”
Hu Kang terhuyung. “Puteriku diculik?”
“Ya, dan kami tak dapat menghalangi, taijin. Kami semua bodoh dan tak pantas
menjadi pembantumu!”
“Ah, kalian tak salah. Gadis itu terlalu lihai. Sudahlah, ke mana dia pergi? Dan
kenapa dia tak membunuhku?” menteri ini menggigit bibir, menahan kemarahan dan
guncangan hatinya dan segera dia mengangkat bangun pembantunya itu. Semua
merasa terpukul dan takut menghadapi kemarahannya, menteri ini bijak dan tentu
saja tak menumpahkan kemarahan di situ. Dan ketika pembantunya lega dan
menuding maka mereka menjawab bahwa Kiok Lan ke utara.
“Gadia siluman itu ke sana, entah ke mana kami tak tahu.”
“Hm, baiklah, kita kembali. Aku dapat memikirkannya nanti dan sekarang kita
bersiap-siap menghadapi Hong Beng Lama,” Hu-taijin letih, khawatir tapi agak lega
bahwa Kiok Lan tak membunuh puterinya. Kalau puterinya itu dibunuh tentu Kiok
Kolektor E-Book

Lan tak perlu menculik, entah apa maksud gadis itu. Dan ketika menteri ini mengajak
kembali semua pembantunya dan hari itu tak ada apa-apa maka hari-hari berikut
dilewati menteri ini dengan perasaan tegang. Dia menjadi bingung untuk mencari
puterinya ataukah harus menunggu Hong Beng Lama di situ, akhirnya menetapkan
bahwa Hong Beng Lama lebih penting daripada puterinya. Sebagai pejabat negara
tentu saja urusan negara lebih diberatkan menteri itu daripada urusan pribadi,
betapapun sayangnya dan cintanya kepada anak. Dan ketika beberapa hari kemudian
semua bersiap dan menteri Hu masih terguncang oleh kedatangan Kiok Lan maka
benar saja menjelang hari ke tujuh Hong Beng Lama muncul.

─O─

BATARA Dewi Kelabang Hitam


181

Malam yang gelap. Hari itu menteri Hu Kang mendapat firasat tak enak. Sehari
ini hatinya berdebar tak keruan, beberapa pengawal ditanya tapi menjawab bahwa
perbatasan aman-aman saja. Tak tampak gerakan atau sesuatu yang mencurigakan,
semua tenang dan aman, meskipun tentu saja menyimpan ketegangan. Dan ketika
malam tiba dan setiap saat pengawal diminta melaporkan keadaan tiba-tiba
menjelang tengah malam terdengar teriakan dan ribut-ribut di luar, disusul gemuruh
dan suara seperti datangnya ribuan gajah.
“Hong Beng Lama muncul, pasukan musuh menyerang...!”
“Awas, musuh melempar api....!
Gegerlah tempat itu. Dari segala penjuru tiba-tiba muncul bayangan gelap
seolah dari kubur, menyelinap dan menyerang tanpa suara. Mereka itu bergerak
macam hantu-hantu yang berkeliaran, mula-mula tak berisik dan langkah mereka
bagai kucing-kucing pemburu, menyergap dan merobohkan pengawal yang berjaga.
Tapi ketika gerakan mereka terlihat dan pasukan Hu-taijin berteriak memperingatkan
temannya maka semua berlompatan dan menyambar senjata masing-masing,
membentak dan menyambut dan tiba-tiba puluhan batang panah menyergap pasukan
Hu-taijin ini. Pekik dan kesakitan terdengar di situ, tubuh-tubuh mulai roboh
bergelimpangan dan menyerbulah pasukan siluman yang bergerak tanpa suara ini,
sekarang tertawa dan memekikkan kata-kata lantang, api pun menyambar dan
membakar kemah kemah darurat. Tembok sekeliling diloncati dan masuklah seribu
pasukan musuh yang kini bersorak ramai, mereka tak perlu menyembunyikan diri
lagi setelah gerakan mereka diketahui. Dan ketika semua menyerbu dan pintu
gerbang didobrak maka terdengarlah suaria tawa menyeramkan yang disusul
masuknya seorang Lama tinggi besar diiringi seorang pemuda.
“Ha-ha, mana Hu-taijin? Hayoh, ke mari, menteri Hu Kang. Ini lawanmu dan
kubanting kau... dar-dar!” Lama tinggi besar itu meledakkan kedua tangannya,
melepas pukulan dahsyat dan sepuluh orang terbanting roboh tak dapat bangkit lagi.
Dari tangannya itu keluar semacam sinar merah yang amat ganas, juga panas. Dan
ketika Lama itu tertawa dan terhuyung maju maka pemuda di sampingnya yang
tersenyum dan tertawa lebar juga menampar dan mendorong-dorongkan kedua
tangannya.
“Ha-ha, betul, ayah. Hu-taijin itu harus ditantang dan dihadapi. Bunuh dia....
des-desss!” pemuda ini pun merobohkan musuh-musuh di depan, melempar dan
mendorong mereka dan sebentar saja tigapuluh perajurit bergelimpangan tak
Kolektor E-Book

bernyawa. Mereka disambar Ang-tok-ciang (Pukulan Racun Merah), apa yang


menyambar dari si Lama tinggi besar tentu saja lebih hebat dari yang meluncur dari
tangan pemuda ini, pasukan yang mengiring dan bersorak di belakang mereka sudah
menyerbu dan berteriak penuh semangat, gegerlah tempat itu karena dua orang ini
terlampau hebat. Lama tinggi besar itu bukan lain Hong Beng Lama adanya, Lama
sakti dari Tibet. Dan ketika puteranya, Hong Lam juga memukul-mukulkan dan
melepas Ang-tok-ciangnya maka pasukan Hu-taijin panik dan jatuh bangun,
tunggang-langgang.
“Panggil Hu-taijin! Panggil pemimpin kita......!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


182

Keadaan menjadi geger. Gempa serangan yang dilancarkan Hong Beng Lama
ini jauh lebih, menggetarkan daripada serbuan pasukan musuh yang meloncati
tembok dan membakar kemah-kemah, sepak terjang Lama ini memang lebih
menakutkan ketimbang yang lain. Dan ketika para panglima keluar menyambut dan
menghadapi serangan Hong Beng Lama maka limaratus pasukan dikerahkan di sini
dan khusus menyambut Lama tinggi besar itu, Hu-taijin belum muncul.
“Hadapi dia, tahan....!”
Panglima dan pengawal mengepung ketat. Tiga panglima maju tapi terbanting
remuk, mereka memang bukan tandingan Lama itu. Dan ketika yang lain menyuruh
menyerang dari jauh dan tombak serta panah diluncurkan berhamburan maka Hong
Beng Lama tertawa dan menggeram menangkisi semuanya ini, tentu saja tak ada
yang tembus karena Lama itu memang sakti.
“Mana Hu Kang? Mana menteri kalian? Pengecutkah dia?”
Para panglima marah. Hong Lam yang ada di samping ayahnya selalu menempel
di sebelahnya, pemuda ini memberi petunjuk-petunjuk dan sang ayah bergerak maju
mundur. Seperti diketahui Lama ini adalah buta, dia harus dituntun dan dijaga kalau
tak ingin terperosok. Betapapun saktinya Lama ini tetap tak dapat melihat, dia harus
dikawal dan puteranyalah yang mengawal. Dan ketika secara perlahan tetapi pasti
Lama ini meroboh-robohkan musuh di depan dan menangkis serta meruntuhkan
panah atau tombak maka Hong Lam mergerutkan kening tak melihat adanya Hu-
taijin.
“Mana dia? Mana menteri keparat itu?”
“Entahlah, dia belum muncul, ayah. Mungkin sebentar lagi.”
“Dan berapa orang yang menghadang kita?”
“Kurang lebih limaratus, yah. Tapi agaknya bertambah lagi...... siut-plak!” Hong
Lam menampar sebuah panah, runtuh dan menghentikan kata-katanya karena dari kiri
dan kanan menyambar lagi hujan panah dan golok. Mereka diserang dari jauh. Dan
ketika dia bersama ayahnya menangkis serta meruntuhkan semua senjata yang
menyerang mendadak dari depan menyambar panah-panah api, ditangkis tapi
berkobir di tempat itu dan Hong Lam memadamkan. Satu dua memang dapat. Tapi
kalau puluhan bahkan ratusan mana mungkin? Maka ketika panah-panah api itu
berhamburan dan satu dua mengenai mereka akhirnya jubah Hong Beng Lama
terbakar dan Hong Lam pun ikut memaki-maki.
Kolektor E-Book

“Keparat! Jahanam mereka itu, biar ayah di sini dulu.... !” Hong Lam terpaksa
meninggalkan ayahnya, melihat bahwa di depan bersiap sebelas panah api yang
hendak diluncukkan lagi, mereka telah memasangnya di ujung panah dan akan
dibidikkan. Tapi begitu Hong Lam berkelebat dan mengibas mereka tiba-tiba sebelas
pemanah ini roboh dan menjerit, tewas dihantam Ang-tok-ciang.
“Des-des-dess!”
Mereka itu tak ada yang hidup. Hong Lam berkelebat lagi dan menyapu
pemanah-pemanah lain, itulah siasat Gan-ciankun (panglima Gan) yang menjadi
pembantu Hu-taijin. Saat itu bersama pasukannya panglima ini membendung sepak
terjang Hong Beng Lama. Dan karena Lama itu tak dapat dicegah dan satu-satunya
BATARA Dewi Kelabang Hitam
183

jalan rupanya ialah menghadang dengan panah api maka itu pun dilakukan panglima
ini dan Hong Beng Lama mengumpat-umpat kebakaran jubahnya, tertawa dan tak
tahu bahwa Hong Lam mencari dirinya. Pemuda ini mendengar teriakan atau aba-aba
lawannya, Gan-ciangkun tertawa-tawa dan geli melihat kemarahan Hong Beng Lama
di sana. Lama itu bisa telanjang bulat kalau pakaiannya habis terbakar. Ini
menggelikan. Tapi ketika dia terbahak-bahak dan menyuruh anak buahnya
menghujani panah api mendadak terdengar jeritan dan duapuluh pasukannya
terlempar disambar pukulan dahsyat.
“Siapa berkaok-kaok?. Siapa itu yang memberi aba-aba?”
Gan-ciangkun terkejut. Baru dilihatnya sekarang putera Hong Beng Lama itu,
Hong Lam meloncat dan mengibas lagi belasan anak buahnya, semuanya terlempar
dan robob tewas. Kekejaman pemuda ini memang semua orang sudah tahu. Dan
ketika Gan-ciangkun terbelalak dan tentu saja terkejut maka pemuda itu sudah berada
di dekatnya dan melempar lagi lima anak buahnya.
“Kau yang berkaok-kaok?”
Gan-ciangkun terkesiap. Hong Lam sudah begitu dekat dengannya, tak mungkin
dia melarikan diri atau mundur. Pakaiannya sebagai panglima membedakannya dari
yang lain ketika Hong Lam melompat dan melepas Ang-tok-ciangnya maka panglima
ini berteriak menangkis dengan tombaknya .
“Krakk!”
Tombak patah. Gan-ciangkun terlempar dan Hong Lam mendengus, berkelebat
dan mengejar panglima itu lagi. Sekarang dia tahu bahwa panglima inilah yang
merepotkan ayahnya, dia harus membunuh. Dan ketika, dia melompat dan mengayun
lagi tangannya dengan satu tamparan maut maka panglima itu melempar tubuh
bergulingan tapi menjerit, keserempet dan dikejar lagi dan panglima ini
membentak,agar anak buahnya maju. Celaka sekali pengawal sudah panik melihat
Hong Lam, mereka tiba-tiba mundur dan memutar tubuh, menjauhkan diri. Gan-
ciangkun terpaksa sendirian dan lolos dari dua tiga pukulan, terguling-guling dan
kaget serta terkesiap. Tapi karena Hong Lam terus memburu pemuda ini meloncat
serta mengayun tangannya maka panglima itu pun tak dapat menghindar lagi ketika
sebuah pukulan mengenai kepalanya.
“Krakk!”
Kali ini panglima itu roboh terbanting. Bukan lagi tombak atau golok yang patah
Kolektor E-Book

melainkan kepala panglima itu yang pecah, panglima ini tak bergerak lagi dan Hong
Lam membalik. Musuh menjadi ribut namun dua panglima baru muncul, bergerak
dan memberi aba-aba agar mengepung pemuda itu, menyerang. Tewasnya Gan-
ciangkun sudah membuat rekan-rekannya menjadi marah dan pucat, mereka tahu
kelihaian pemuda ini tapi tentu saja tak boleh takut. Betapapun mereka harus
melawan dan membalas. Dan ketika ratusan perajurit menghujani serangan dan
panah-panah api tiba-tiba Hong Lam tak dapat keluar dan mengamuk di situ,
mandapai arus serangan yang susul-menyusul dan roboh satu maju sepuluh, roboh
sepuluh maju duapuluh. Dan karena semuanya ini mengharuskan Hong Lam
membuka jalan darah dan tentu saja bekerja ekstra keras akhirnya di sana Hong Beng
Lama kehilangan puteranya dan harus bekerja sendiri.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


184

“Hayo, mana Hu-taijin. Mana menteri keparat itu!”


Ayah dan anak yang terpisah sama-sama menggegerkan lawan. Hong Beng
Lama juga mengamuk dan melempar-lempar musuh yang mendekat. Lengannya yang
ampuh dan pukulannya yang luar biasa dahsyat membuat semua orang ngeri. Kini
Lama itu menggerakkan lengannya seperti kitiran, angin pukulan kuat menyambar
dan menolak runtuh hujan senjata yang diarahkan kepadanya dalam jarak lima meter.
Sekarang tak ada lagi panah api yang mampu mendekati dirinya, Lama ini telah
mengeluarkan kesaktiannya dan maju terus. Tapi karena dia buta dan geraknya amat
lambat maka musuh mendapat kesempatan untuk menjauhkan diri bila Lama itu
datang mendekat, dua tiga kali Lama ini terperosok dan jatuh di tempat legok,
pengawal dapat menyerang tapi semuanya disapu runtuh. Dan ketika pengawal ribut-
ribut dan gentar menghadapi Lama ini maka muncullah Hu-taijin yang melayang dari
tengah-tengah pasukannya.
“Hong Beng Lama, aku di sini. Tak perlu berteriak-teriak!”
“Ha-ha, kau Hu-taijin?”
“Benar.”
“Bagus, kalau begitu mari mendekat, menteri keparat. Kubunuh kau dan
kupukul mampus... wutt!” ujung jubah Hong Beng Lama bergerak, mengebut dan
meluncurlah sinar merah itu. Hu-taijin menangkis dan terdengar ledakan yang
membuat bumi terguncang. Dan ketika Hong Beng Lama, terdorong dan lawannya
juga terhuyupg maka Lama itu tertawa bergelak dan maju lagi.
“Ayo.... ayo, orang she Hu. Mari kita main-main dan lanjutkan persoalan dulu!”
Lama ini menyerang lagi, menghantam dan melepas Ang-tok-ciang tapi Hu-taijin
meloncat tinggi. Dari atas menteri ini berjungkir balik, mengelak dan balas melepas
pukulan Soat-kong-jiu. Dan ketika pukulan itu meledak di atas kepala lawannya dan
Hong Beng Lama terbanting maka Lama itu roboh tapi bangkit lagi.
“Ha-ha, kau tak dapat membunuh aku, menteri keparat. Pinceng akan hidup lagi
setiap dibunuh!”
Hu-taijin terbelalak. Memang untuk ini dia paling bingung, tadi kepala Lama itu
pecah di hantam pukulannya tapi kembali hidup, kini berdiri dan terhuyung-huyung
menyerang dirinya, Hong Beng Lama memang dahsyat karena kesaktiannya yang
luar biasa, ilmunya Merekat Tulang Menyambung Nyawa itu. Dan ketika Lama itu
tertawa-tawa dan balas menyerangnya dengan Ang-tok-ciang maka menteri ini
Kolektor E-Book

menangkis dan berkelebat, segera berputar-putar dan pukulan demi pukulan


menghujani lawanaya itu, bertanding dan Hong Beng Lama pun mengelak atau
menerima. Kadang-kadang ia tak dapat menghindar karena kecepatan gerak menteri
itu, roboh dan terbanting tapi hidup lagi. Inilah kehebatan Lama itu. Dan ketika
pertandingan berjalan seru dan Hu-taijin berkali-kali terbelalak karena tak dapat
dibunuh maka Lama itu tertawa bergelak mengeluarkan suaranya yang gemuruh.
“Hu-taijin, sekarang kau mampus....!”
Sinar hitam berkelebat. Hu-taijin terkejut karena kini buan Ang-tok-ciang yang
bersinar merah yang menyambar melainkan sinar hitam, sebuah pukulan lain yang
entah apa. Menteri ini membentak dan tentu saja tidak takut, menangkis dan

BATARA Dewi Kelabang Hitam


185

mengerahkan Soat-kong-jiunya. Tapi ketika dia terbanting dan rohoh terguling-guling


maka menteri ini kaget bukam main dan berseru tertahan.
“Hek-hoat-sut (Pukulan Sihir Hitam)...!”
Kiranya Hu Kang atau menteri Hu ini mengenal. Dia tadi menangkis tapi
getaran suara gemuruh lawannya membarergi pukulan itu, terbawa dan masuk dan
sekaligus dia diserang dua pukulan, satu sinar hitam itu sedang yang lain adalah
khikang atau getaran sakti yang keluar lewat ketawa Hong Beng Lama. Pukulan ini
adalah jenis pukulan sihir atau hoat-sut, berbau hitam dan tadi dadanya tiba-tiba
tergetar, jantung seakan rontok dan cepat dia mengerahkan tenaga, melindungi
jantungnya itu. Tapi karena dia harus membagi tenaga dan Soat-kong-jiu jadi
setengah hati maka menteri ini terlempar dan roboh terguling-guling, untung lawan
tak mengejar cepat karena buta. Hong Beng Lama bergerak lagi dan menyerang
secara lambat, mengayun pukulannya itu lagi dan tawa gemuruhnya pun tetap
dilancarkan. Beberapa pengawal yang ada di dekat situ roboh terpelanting, tiga di
antaranya muntah darah. Dan ketika Hu-taijin mengelak dan menyadari betapa
berbahayanya pengaruh getaran suara tawa itu tiba-tiba menteri ini melengking dan
berteriak, mengerahkan kesaktiannya pula.
“Minggir, semua menjauh dari tempat ini...!”
Hong Beng Lama tertawa menyeramkan. Lengking lawannya menandingi
getaran suaranya, perajurit atau anak buah menteri ini segera menyingkir. Hu-taijin
berkelebat dan menyambar. Dan ketika Soat-kong-jiu diterima Hek-hoat-sut tapi
menteri itu tetap terdorong akhirnya menteri ini pucat dan mengeluh.
“Hong Beng Lama, kau betul-betul hebat!”
“Ha-ha!” Lama itu gembira. “Pinceng selamanya hebat, menteri busuk. Kalau
dulu kau tak dibantu Heng Sin Lama tentu pinceng sudah membunuhmu!”
“Jangan sombong, betapapun aku tidak takut!” dan Hu-taijin yang menerjang
lagi dan melepas pukulannya akhirnya menghantam dan ditangkis, terdorong dan
maju lagi dan kali ini Hu Kang melepas Pek-in-ciangnya pula, di samping Soat-kong-
jiu. Dan ketika bertubi-tubi dia menghujani lawan namun Hong Beng Lama benar-
benar sakti akhirnya Hek-hoat-sut kembali menghantam menteri itu dan Hu-taijin
terguling.
“Dess!”
Kolektor E-Book

Menteri ini pucat dan marah. Dia bergulingan menjauhkan diri dan melompat
bangun, didekati dan menerima Hek-hoat-sut dan mengeluh, terlempar dan sesak dan
Hong Beng Lama tertawa-tawa. Ada semacam tenaga tambahan pada pukulan
lawannya itu, getaran suara yang harus selalu ditolak dan mengurangi tenaganya
sendiri. Rupanya selama dua tahun dalam persembunyiannya itu Hong Beng Lama
telah memperkuat sinkang, bahkan juga khikang (ilmu suara). Dan karena dia tidak
memiliki tandingan Merekat Tulang Menyambung Nyawa di mana setiap kali lawan
terbanting tentu hidup lagi maka menteri ini kewalahan dan terdesak, mundur-
mundur dan bingung serta mencari akal. Otak bekerja dan berkali-kali dia lengah
terlempar, lawannya itu memang hebat dan sakti. Kalau tak memiliki Merekat Tulang
Menyambung Nyawa tentu dia setingkat di atas lawan, kini berbalik dan dia
kewalahan menghadapi ilmu yang selalu membuat Lama itu hidup kembali. Dan

BATARA Dewi Kelabang Hitam


186

ketika pukulan demi pukulan dilancarkan Lama itu dan Hu-taijin tinggal menangkis
atau mundur-mundur maka malampun mulai sirna dan matahari pagi semburat di
ufuk timur, pasukan kedua pihak sama berjatuhan roboh tapi pasukan Hu-taijin
menang jumlah. Lawan yang tersisa mulai berlindung di balik Hong Beng Lama,
sekarang tampak bahwa dua kelompok besar masih bertanding seru di situ, yang lain
agak jauh dan itulah kelompok Hong Lam. Pasukan Tibet yang tinggal separoh dan
kalah jumlah berlindung di balik dua pimpinan ini. Dan ketika di sana Hu-taijin
bermandi keringat dan Hong Beng Lama juga menggeram-geram karena tak dapat
merobohkan lawan akhirnya Hu-taijin bersuit nyaring dan berlompatan ke kiri.
“Hong Beng Lama, kaupun tak dapat membunuh aku. Matamu buta!”
Hong Beng Lama membentak. Memang benar bahwa hampir lima jam ini
pertandingan di antara mereka berjalan tak berkesudahan. Lawan tak dapat
membunuhnya karena ia memiliki Perekat Tulang Menyambung Nyawa sedang ia tak
dapat membunuh lawan karena Hu-taijin berlompatan ke sana ke mari, menghindar
dan ia tak dapat mengejar karena matanya buta. Ini satu halangan bagi Lama Tibet
itu. Dan ketika dia merasa bahwa malam terganti pagi dan hangatnya sinar matahari
memanaskan tubuh maka Lama ini gusar memaki lawan.
“Kau pengecut, Hu-taijin. Kau selalu lari dan menghindar!”
“Ha-ha, itu kebodohanmu, Lama. Kenapa tak mengejar dan menangkap aku?
Hayo, pukul dan serang aku lagi. Kau boleh cari dan dapatkan aku kalau bisa!”
Hong Beng Lama mengumpat. Suara teriakan dan kesakitan masih terdengar di
sana-sini, dia tak tahu pasukannya sudah berkurang, pasukan lawan menang banyak
namun tak banyak berbuat apa-apa setelah pasukan Tibet bersembunyi dan
berlindung di balik punggungnya, juga punggung Hong Lam. Dia mencari puteranya
dan mendapat kenyataan bahwa puteranya jauh di sana, masih terkepung. Betapapun
hebatnya Hong Lam akhirnya kewalahan juga diserang dan dikeroyok susul-
menyusul. Memang itu satu-satunya cara untuk merepotkan pemuda ini. Hong Lam
akhirnya lelah dan pucat, tenaganya diperas semalam suntuk dan mencaci tak keruan,
melihat ayahnya bertempur dengan Hu-taijin tapi dia tak dapat datang mendekat.
Pasukan Hu-taijin itu memagar betis dirinya, roboh sepuluh maju seratus. Dan ketika
pemuda itu kebingungan gelisah mengumpat caci maka ayahnya di sana terbawa dan
termakan ejekan lawannya, tak tahu bahwa diam-diam Hu-taijin membawanya ke
tempat rendah. Di situ dengan gerak tangannya menteri ini memberi isyarat,
pasukannya mengerti dan membuka sebuah lubang, menutupinya dan menimbunnya
dengan daun-daun. Itulah jebakan yang sudah disiapkan menteri ini, jauh sebelum
Kolektor E-Book

membayangkan dirinya terdesak, sebuah lubang sumur dalam yang sudah


direncanakan Hu-taijin untuk menghadapi lawannya. Dan ketika lawan mengikuti
dan terbawa sambil menggeram-geram maka di sini Hu-taijin berhenti dan tertawa.
“Hong Beng Lama,” serunya. “Sekarang aku tak akan lari-lari lagi. Cobalah, dan
aku akan merobohkanmu di sini!”
“Hargh!” Lama itu mendelik. “Siapa percaya omonganmu, menteri Hu Kang?
Coba terima dan tangkis ini. Hayo....!” dan Hong Beng Lama yang menubruk serta
menerkam lawan yang berada dekat tiba-tiba melompat dan tak mau kehilangan lagi,
tak tahu Hu-taijin menjebaknya sedemikian rupa hingga mereka sudah di pinggir
sumur dalam. Hu-taijin tertawa dan menangkis, kali ini dia mengerahkan seluruh

BATARA Dewi Kelabang Hitam


187

tenaganya dan membungkuk, kedua tangan disatukan dan menyambutlah menteri itu
akan pukulan lawan. Hek-hoat-sut menderu dan bentakan menggelegar keluar dari
mulut Lama itu, Hu Kang menangkis dan terdengar benturan dahsyat. Dan ketika
menteri itu mengeluh dan terdorong ke belakang maka kakinya mencuat dan ... tubuh
Hong Beng Lama pun ditendangnya tinggi-tinggi dan di lemparnya ke sumur jebakan
itu.
“Bress!”
Apa yang terjadi ini memang tidak disangka Hong Beng Lama. Tadi Lama itu
terkejut ketika menerima tendangan, selangkangannya terangkat dan kalau bukan
Lama ini tentu anggauta rahasianya hancur. Tubuh naik keatas dan terlemparlah dia
melalui kepala lawannya itu. Hu-taijin mengeluh karena melakukan pekerjaan ini
bukanlah mudah baginya, dia tadi menangkis Hek-hoat-sut dan tertekan, dia
terbungkuk tapi langsung merebahkan diri dan menggerakkan kakinya itu. Dan ketika
Hong Beng Lama terlempar dan masuk ke sumur jebakan maka terdengar suara kaget
dan teriakan Lama itu, pekik atau kemarahan tak diduga.
“Auughh......!”
Teriakan atau kemarahan Lama ini membuat bumi tergetar. Beberapa perajurit
terpelanting oleh teriakan atau pekik kaget Lama itu, semua menoleh dan
pertempuran tiba-tiba berhenti. Hong Lam melihat dan terkejut oleh kejadian yang
menimpa ayahnya, melihat ayahnya terjebak disebuah sumur dan geraman atau
makian ayahnya itu terdengar sampai ke atas. Hu-taijin tiba-tiba bergerak dan
menutupi sumur, batu dan apa saja di lemparkan ke lubang itu dan jadilah Lama ini
terkubur hidup-hidup. Segalanya memang sudah disiapkan di situ. Dan karena sumur
itu dalam dan Hong Beng Lama tak dapat keluar maka Hong Lam melengking
meloncat ke depan, menerjang dan mengibas musuh-musuh yang sedang bengong,
memaki Hu-taijin.
“Keparat, kau jahanam busuk, Hu-taijin. Lepaskan ayahku!”
Hu-taijin tertawa. Dia cepat menyambut dan menerima pukulan pemuda itu,
menyuruh pasukan menyiapkan jaring. Dan ketika Hong Lam terpental karena kalah
tenaga maka menteri itu berseru, “Hong Lam, kau pun akan kuringkus. Lihat
persipan-persiapan yang telah kami buat..... cring!” dan lima jala yang dilempar serta
di terima Hu-taijin tiba-tiba bergerak dan menangkup Hong Lam, dielak dan Hong
Lam memaki-maki bergulingan menjauh, menyelamatkan diri dan tiba-tiba
pasukannya diterjang pasukan Hu-taijin. Terkuburnya Hong Beng Lama membuat
Kolektor E-Book

pasukan Hu-taijin bersorak, mereka bangkit semangatnya dan menang mental,


pasukan lawan justeru sebaliknya dan kecut. Dan ketika di sana Hong Lam terlempar
oleh pukulan menteri Hu dan pemuda itu di kejar-kejar jaring maka pasukan Tibet
panik dan menjadi kacau.
“Mundur, kita mundur.....!”
Akhirnya Hong Lam berteriak. Dia marah melihat Hu-taijin mau menjaringnya
seperti harimau, melihat menteri itu menunjuk sebuah lubang lain dan dia siap
dilempar ke situ pula. Berarti menteri ini akan menguburnya hidup-hidup seperti
ayahnya, setelah dia terjaring. Dan karena Hong Lam gugup tapi juga marah dan
bingung oleh persiapan lawan yang akan merobohkannya maka pemuda ini
menyuruh pasukannya mundur dan diapun bergulingan menjauh melempar musuh-
BATARA Dewi Kelabang Hitam
188

musuh yang dekat, tak berani lagi mendekati menteri itu dan Hong Lam mengumpat
caci. Dia memang tak sekuat ayahnya. Dan ketika pemuda itu melompat bangun dan
melarikan diri sambil menyuruh pasukannya mundur akhirnya pasukan Tibet berbalik
langkah mengikuti jejak pemuda itu, melihat Hong Lam terbirit-birit dan menjauhi
menteri Hu Kang. Menteri itu mengejar namun Hong Lam melepas serjata-senjata
rahasianya, ditangkis dan ini membuat gerakan Hu-taijin terganggu. Hanya menteri
inilah yang berani mengejar pemuda itu, para pembantunya apalagi pasukan tentu
saja tak berani. Dan karena menteri itu mulai diserang pasukan Hong Lam yang
melindungi pemuda itu dari jauh maka akhirnya Hong Lam menghilang dan lenyap
meninggalkan dirinya, disusul pasukan Tibet dan mereka itu bersembunyi di gunung
atau hutan-hutan. Matahari semakin naik dan habislah musuh yang menyerang. Dan
ketika Hu-taijin berhenti dan kembali ke pasukannya maka di sana, di lubang yang
mengubur hidup-hidup Hong Beng Lama tampak pasukannya merubung dan
berkumpul. Gembira tapi juga was-was kalau Lama itu hidup lagi, naik dan mungkin
keluar dari sumur dalam itu, yang kini sudah tertimbun dan ditutupi batu-batu besar.
Tapi ketika beberapa jam kemudian tak ada gerakan dan sumur atau lubang jebakan
itu tak menunjukkan tanda-tanda manusia hidup maka Hu-taijin meminta pasukannya
bubar dan kembali ke tempatnya masing-masing, yakin Lama itu akan tewas.
“Tak perlu ditunggu, Lama ini pasti mati. Ayo kita pulang dan kembali ke
tempat semula.”
Begitulah, pasukan Hu-taijin mengangguk. Mereka telah menang, meskipun
dengan perlawanan berat. Korban yang jatuh di pihak mereka dua kali dibandingkan
dengan pasukan lawan. Satu perjuangan yang memang menegangkan. Dan ketika hari
itu menteri menarik pasukannya dan berjaga seperti semula maka untuk beberapa hari
tak ada gangguan dari mana pun, menunggu namun aman dan menteri ini lega. Dia
menganggap Hong Lam tak berani lagi datang, pemuda itu jerih dan untuk sebulan
menteri ini tetap waspada. Dan ketika keadaan dirasa betul-betul aman dan musuh tak
ada lagi, maka menteri ini akhirnya ke kota raja dan melapor, menghadap sri baginda
dan menyatakan tewasnya Hong Beng Lama. Masalah Hong Lam baginya kecil
karena dia sudah memberi beberapa petunjuk kalau pemuda itu datang, yakni
mengeroyok dan menangkap pemuda itu dengan jaring. Dikerubut ratusan atau ribuan
orang tak mungkin pemuda itu menang, betapapun hebatnya. Dan karena para
pembantunya sudah tahu apa yang harus dilakukan kalau pemuda itu tertangkap
karena mereka harus menjebloskan pemuda itu seperti ayahnya maka Hu-taijin
tenang dan kembali ke kota raja, melapor dan bermaksud mencari puterinya. Kini Hu
Lan harus ditemukan dan ada kesempatan baginya untuk cuti sebentar, dia akan minta
ijin dan mencari Kiok Lan pula. Menteri ini pun sudah menyiapkan gagasan untuk
Kolektor E-Book

menangkap gadis siluman itu, kalau perlu dengan cara seperti yang telah
dilakukannya terhadap Hong Beng Lama, Tapi begitu menteri ini pergi dan pulang ke
koa raja maka kejadian mengejutkan dan tidak disangka-sangka melanda pasukannya
itu.

*
* *

Hari itu, menelan kekalahan dan kemarahan besar Hong Lam langsung ke
Magada. Memang inilah satu-satunya tempat mencari perlindungan, sekaligus
bantuan. Pasukannya yang kocar-kacir disuruh menyelamatkan diri sendiri-sendiri,
BATARA Dewi Kelabang Hitam
189

Hong Lam mengurus keperluannya dan datang ke Magada. Dan ketika di sama ia
bertemu menteri Yo dan langsung menceritakan kekalahannya maka Yonaga, sang
menteri ini terkejut.
“Ayahmu tewas? Atau tertangkap?”
“Tidak, ayah tak mati, taijin. Tapi terjebak!”
“Terjebak bagaimana? Apa maksudnya?”
“Ayah terjebak lubang sumur, taijin. Menteri keparat itu berbuat licik dan
curang. Ia mempergunakan kecurangannya itu mengandalkan kebutaan ayah!”
“Hm, dan kau, ke mana waktu itu?”
“Aku meninggalkan ayah, taijin, bertempur di lain tempat.”
“Kenapa kau tinggalkan ayahmu? Bukankah kau tahu bahwa dia harus kau
jaga?”
“Inilah keteledoranku!” Hong Lam berapi-api. “Aku tak menyangka ayah
dijebak, taijin. Menteri she Hu itu menjebak ayah mirip menjebak binatang buas.
Keparat, aku harus membunuh menteri itu dan membalas kekalahan ini!”
“Tapi kau pulang, kau ke mari.....”
“Hm,” Hong Lam tertegun, tiba-tiba ingat. “Kau benar, taijin. Aku pulang
karena terpaksa.”
“Bagaimana ini? Bukankah kau tak perlu takut menghadapi menteri itu?
Ayahmu menurunkan ilmunya Perekat Tulang Penyambung Nyawa, Hong-kongcu.
Seharusnya kau menolong ayahmu itu dan tidak datang seorang diri!”
“Hu-taijin mau menjebak aku pula. Menteri itu mempersiapkan jaring dan mau
menangkap!”
“Heh? Bagaimana?”
“Hu-taijin memang tak dapat membunuh aku, taijin. Tapi kalau aku terjaring
dan tertangkap lalu dijebloskan ke lubang yang dalam tentu aku terkubur hidup-hidup
pula. Inilah yang kumaksud!”
Yonaga tertegun. Akhirnya dia mengerti apa yang dikatakan Hong Lam ini,
semula Hong Lam malu mengakui tapi kini terpaksa berterus terang. Apa boleh buat
Kolektor E-Book

dia harus terang-terangan kepada menteri Yonaga ini, inilah rekan atau teman
seperjuangannya. Dan ketika Hong Lam menceritakan bahwa menteri Hu Kang akan
menjaringnya dan dengan jaring itu dia akan ditangkap dan dijebloskan ke lubang
jebakan maka Yonaga terkejut mengerutkan kening, melihat bahwa Hu Kang atau
menteri Hu itu cerdik, pandai mengatur siasat dan menghadapi lawan. Dia sendiri
mungkin belum menemukan cara atau siasat itu, cerita ini justeru membuka
kesadarannya akan kelemahan Hong Beng Lama, tiba-tiba menteri itu tersenyum dan
mengangguk, hampir tertawa. Dan ketika dengan berseri-seri menteri itu justeru
menyambut kekalahan Hong Lam maka Hong Lam terbelalak dan tentu saja tak
senang.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


190

“Maaf, kenapa taijin gembira? Apakah hendak memperolok-olok kami yang


kalah perang?”
“Ah,” menteri ini terkejut, sadar. “Kau salah paham, kongcu. Aku berseri-seri
dan gembira bukan mengejek kekalahanmu melainkan mendapat cara bagus.
Sekarang kutemukan cara yang jitu untuk menghadapi menteri Hu Kang. Benar, kau
dan ayahmu tergesa-gesa, kalian terlalu menganggap remeh menteri Hu dengan
mengagulkan kepandaian Merekat Tulang Menyambung Nyawa. Bagaimana
sekarang pendapat kongcu?”
“Aku ingin bantuanmu, taijin, tentu saja membebaskan ayah dan membawanya
keluar dari lubang jebakan itu!”
“Ayahmu telah terkubur, bukankah....”
“Tidak, ayah tak mungkin mati. taijin. Dia akan hidup dan bangkit lagi kalau
diambil!”
Yonaga terkejut. “Begitu?”
“Ya,” Hong Lam bangga, tiba-tiba tertawa, besar kepala. “Kami tak dapat
dibunuh meskipun dikubur hidup-hidup, taijin. Dan ayah tetap selamat meskipun
ditanam. Ha-ha, menteri itu terlalu sombong kalau menganggap ayah binasa!”
Yonaga tertegun. Untuk ini dia membelalakkan mata, kaget dan kagum tapi juga
tak percaya. Hong Lam dapat menangkap ketidakpercayaannya itu dan tersenyum
lebar. Dan ketika pemuda itu berkata bahw hal itu dapat dibuktikan dan boleh
ayahnya digali dari lubang kubur maka menteri sakti ini bergidik dan mengkirik juga,
diam-diam waspada.
“Apakah ilmu itu sedemikian hebatnya? Benarkah ayahmu dapat bertahan
sekian lama? Ingat, ini sudah sehari, kongcu, mungkin ayahmu tak hidup lagi dan
percuma digali!”
“Tidak, selama kena tanah ayah tak akan mati, taijin, paling-paling pingsan.
Kami tak akan mati selama bersentuhan dengan bumi!”
Sang menteri tercengang. Tiba-tiba dia seakan mendapat kartu As dari omongan
Hong Lam ini, Hong Lam tampak terkejut setelah terlanjur. Dalam kebanggaannya
tadi pemuda ini kelepasan bicara, sedetik saja tapi cukup membuahkan penyesalan.
Tapi Yonaga yang buru-buru tertawa dan bertepuk tangan tiba-tiba bicara seolah
tidak mengerti apa kelanjutannya dari omongan lawannya, kagum. “Aih, kalau begitu
Kolektor E-Book

kalian ini dapat hidup sepanjang jaman, kongcu. Hebat sekali ayahmu itu. Dengan
begini kalian berdua dapat ratusan tahun umurnya. Ha-ha, tak ada manusia yang
hidup tidak di atas bumi!” dan Hong Lam yang tersenyum dan menyeringai sambil
mengangguk akhirnya menjawab lega.
“Ya, tapi kalau bosan kami dapat melepas itu, taijin. Tentu saja kami tak suka
untuk terus di atas bumi. Ayah kadang-kadang ingin mengenal dan hidup di alam
lain!”
“Ha-ha, kalian memang aneh. Sudahlah, sekarang apa rencana dan kehendakmu,
kongcu? Bagaimana menolong ayahmu itu?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


191

“Aku minta taijin menggempur menteri itu, biarkan aku barsama beberapa
pembantuku menggali kuburan ayah!”
“Kongcu mau membuka lubang itu dan bebas dari gangguan menteri Hu Kang?”
“Ya, dan kau yang dapat menghadapinya, taijin. Sekaranglah waktunya kau
membantuku dan kita bekerja sama.”
“Hm,” menteri ini mengurut jenggot pendeknya, tersenyum. “Aku tentu
membantu dan menolong ayahmu, kongcu. Tapi tidak dengan cara terburu-buru
begini. Sekarang kau lihat ketergesaan ayahmu mendapat pil pahit, sebaiknya kau
bersabar dulu dan biar kurundingkan ini dengan saudara-saudaraku.”
“Berapa lama?”
“Tentu tak berbulan-bulan, kongcu. Segera aku bicara dan segera diambil
keputusan!”
“Baiklah, aku menunggu, taijin, dan cepat selesaikan!”
Yonaga mengangguk. Hari itu menteri ini menemui adiknya, Giam Lun dan
Hong Lok, dua pejabat istana yang juga memiliki kedudukan tinggi. Di situ menteri
ini menceritakan kegagalan Hong Beng Lama, bahkan terkuburnya Lama itu atas
kecerdikan dan kelihaian Hu Kang. Dan ketika dua adiknya terkejut dan
membelalakkan mata maka Hong Lok, ayah Hong Siu itu berseru.
“Hebat, menteri itu memang tak boleh direndahkan. Buah pikirannya cemerlang
dan Hong Beng Lama yang tangguh dapat juga dibinasakan!”
“Tidak, tidak dibinasakan, sute, melainkan hanya dikubur hidup-hidup saja.
Maksudku, puteranya itu berkata bahwa ayahnya tak mungkin tewas. Lama itu hanya
pingsan!”
“Tidak tewas?” Hong Lok tercengang. “Hanya pingsan?”
“Ya, begitu menurut puteranya, sute. Karena itu menarik sekali kalau Lama ini
masih hidup.”
“Ilmu setan!” Hong-taijin terbelalak. “Lama ini benar-benar siluman, suheng.
Kalau begitu ilmunya Merekat Tulang Menyambung Nyawa itu benar-benar luar
biasa!”
“Ya, dan kita akan membuktikan ini, sute. Sekarang Hong-kongcu minta agar
Kolektor E-Book

kita menggempur Hu-taijin dan dia akan membuka kuburan ayahnya.”


“Dan itu perang terbuka,” Giam Lun tiba-tiba menyergap. “Berarti Magada dan
bangsa Han resmi bermusuhan. Apakah ini tak sebaiknya diperhitungkan baik-baik,
suheng? Bukankah kita masih ingin bersembunyi-sembunyi?”
“Itulah,” sang menteri mengangguk. “Karena itu aku datang kepada kalian, sute.
Ingin membicarakan ini dan mengambil keputusan bagaimana baiknya. Aku juga
agak tak enak kalau terlihat langsung.”
“Bagaimana kalau menunggu menteri itu pergi?”
“Maksudmu?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


192

“Biarkan kita tak usah berhadapan dengan Hu-taijin itu, suheng. Kita tunggu dia
meninggalkan perbatasan dan setelah itu baru kita masuk.”
“Hm, Hong-kongcu tak akan sabar. Ini mungkin membutuhkan waktu lama.”
“Lalu bagaimana lagi? Kalau kita ingin terang-terangan tentu saja kita dapat
datang dan menyerang. Tapi kita mencoba tak menyolok, bukankah repot?”
“Benar,” Hong Lok tiba-tiba menyambut gagasan adiknya, Giam Lun. “Aku
setuju dengan pikiran sute, suheng. Kita tunggu saja menteri itu pergi dan baru
menyerbu kalau dia tak ada. Dengan begini kita tak menyolok dan masalah Hong-
kongcu tak usah diperhatikan. Dia yang meminta tolong, dan dia pula yang harus
menurut kita, bukan kita yang menurut dia. Bukankah kegagalannya ini adalah karena
tidak digubrisnya nasihat kita pula? Kita yang mengatur sesuatunya, suheng. Bocah
itu harus menurut atau biarkan dia menolong ayahnya sendiri!”
“Hm,” Yonaga mengangguk-angguk. “Ini baik, sute. Juga sekalian menguji ilmu
Merekat Tulang Menyambung Nyawa itu. Aku ingin membuktikan!”
“Maksudmu?”
“Jelas, pemuda itu menyombongkan ilmunya, sute. Katanya ayahnya tak akan
mati biarpun terkubur sehari. Jangankan sehari, sebulan pun katanya juga tak apa,
paling-paling pingsan. Karena itu biar kita perpanjang dan lihat benarkah
omongannya itu!”
“Bagus,” sang adik berseri. “Dan ini akan membuat Hu-taijin lengah, suheng.
Dengan tidak adanya gangguan lagi pasti menteri itu pergi. Ha-ha, cocok. Aku
setuju!”
Dan ketika tiga bersaudara itu sepakat dan setuju membiarkan Hu-taijin lengah
maka Yonaga sang menteri itu menemui Hong Lam, berkata bahwa mereka harus
bersabar sebulan lamanya. Magada tak memiliki alasan langsung untuk bermusuhan
dengan Hu-taijin, mereka tak boleh menyolok. Dan ketika Hong Lam terbelalak dan
kecewa mendengar ini maka menteri itu menutup.
“Sri baginda Urugata mengharuskan kami berhati-hati, kongcu. Tak boleh gagal
begitu bergerak. Karena itu mohon pengertianmu dan bersabar sampai sebulan.”
“Apakah taijin takut?”
Yonaga terkejut. “Takut?” mukanya tiba-tiba merah. “Kami tak takut terhadap
Kolektor E-Book

siapa pun, kongcu. Hanya kami tak mau sembrono dan gagal, seperti ayahmu itu.
Apakah kongcu mau bekerja sendiri dan tidak bersabar menunggu kami?”
Hong Lam terpojok. Kalau sudah begini menteri itu bilang tentu dia tak dapat
berbuat apa-apa lagi. Magada inilah yang diharap. Menteri Yonaga dan saudara-
saudaranya adalah tokoh-tokoh hebat yang dapat diandalkan. Hong Lam tak puas tapi
terpaksa tunduk pada keinginan menteri itu, dengan alasan sekali bergerak harus
mereka menang. Dan karena tak ada jalan lain untuk menolak dan memaksa akhirnya
Hong Lam menurut meskipun tentu saja tidak puas, tak tahu bahwa sang menteri
memang sengaja menguji ayahnya itu, ingin melihat apakah sebulan terkubur masih
juga Lama itu hidup. Ini ilmu luar biasa. Dan ketika dia mengangguk dan sang
menteri tersenyum maka Hong Lam tak dapat berbuat apa-apa dan menunggu. Hari

BATARA Dewi Kelabang Hitam


193

demi hari dilewatkan dan di sana Hu-taijin lega, menteri Hu Kang memang tak
mendapat serangan lagi setelah Hong Lam harus tunduk pada menteri Yonaga. Tak
adanya gangguan dan rasa aman membuat Hu Kang lenyap kekhawatirannya. Dan
ketika sebulan kemudian Hong Lam menunggu janji Yo-taijin dan kebetulan hari itu
menteri ini mendapat kabar akan kembalinya Hu Kang ke kota raja maka menteri ini
bergerak dan menemui Hong Lam.
“Sekarang saatnya tiba, kongcu boleh menolong ayahmu dan berangkat!”
Hong Lam gembira. “Begitukah? Baik, taijin, mari berangkat!”
“Maaf, aku tak ikut, kongcu. Kau cukup dengan dua saudaraku saja, Hong Lok
dan Giam-taijin!”
“Ah, kenapa? Bukankah......”
“Aku harus menjaga di sini, kongcu. Dan lagi Hu-taijin tak ada di sana. Menteri
itu telah pulang, kau bersama dua saudaraku sudah lebih dari cukup uutuk mengambil
ayahmu!”
“Tapi.....”
“Kau mau cepat, bukan? Kenapa harus banyak bertanya? Pergi dan bawa sisa
pasukanmu, kongcu. Adikku akan membantu dan kau pasti berhasil!”
Hong Lam tertegun. Dia melihat Yo-taijin sudah meninggalkannya, tak mau
bicara dan dua bayangan berkelebat. Itulah menteri Tan dan Giam, Hong Lok atau
Tan-taijin, sute atau adik-adik seperguruan dari menteri Yo. Dan ketika semua sudah
siap dan Hong Lam tak dapat berpikir panjang akhirnya pemuda ini mengangguk dan
menyambut dua pejabat tinggi itu, berunding sebentar dan ayah Hong Siu serta Giam
King itu mengatur rencana. Mereka telah diberi tahu suheng mereka bahwa semuanya
harus dilakukan dengan cepat, juga matang. Dan karena Hu Kang atau Hu-taijin
kebetulan kembali ke kota raja dan itu kesempatan bagus bagi mereka akhirnya Hong
Lam berangkat dan membawa sisa pasukannya, sama sekali tak ditambah dengan
pasukan dua menteri itu dan Hong Lam heran. Ayah Honng Siu maupun Giam Khing
menjawab bahwa mereka berdua sudah lebih dari cukup, Hong Lam terkejut. Tapi
ketika dia tertegun dan dua menteri itu berkelebat pergi maka di perbatasan barulah
Hong Lam tahu dan mengerti.
“Kami akan melumpuhkan tujuh panglima di sini. Mereka kami tangkap dan
robohkan. Kongcu dapat menggali kubur dan lawan akan kehilangan pemimpin.”
Kolektor E-Book

“Ah, kami menyerbu sendiri?”


“Pokok sasaran adalah menyelamatkan ayahmu, kongcu. Yo-suheng
mengatakan kepada kami bahwa pasukanmu hanya berjaga-jaga saja, tidak
menyerang. Kalau musuh menyerbu dan kau gagal apa boleh buat kita semua
membuka jalan darah.”
.”Dan kami kerjakan pekerjaan kami, kongcu. Silahkan kau mengerjakan
pekerjaanmu dan mulailah!” Giam-taijin, ayah Giam Khing menutup. Ternyata
mereka ini akan menyelinap ke dalam, dua tokoh itu telah mengetahui nama
pembantu-pembantu Hu-taijin dan akan bergerak di sana. Hong Lam masih
kebingungan tapi mengangguk. Betapapun dia tahu kesaktian dua orang itu, tokoh-

BATARA Dewi Kelabang Hitam


194

tokoh Magada. Dan ketika Tan-taijin dan Giam-taijin berkelebat lenyap dan
memasuki kemah musuh maka Hong Lam bergerak dan juga melaksanakan tugasnya,
membuka kuburan ayahnya dan mendengar ribut-ribut di sana, sejenak dua menteri
itu kembali lagi, begitu cepat. Di tangan mereka tampak tujuh panglima
bergelantungan bagai boneka-boneka tak berarti. Hong Lam terkejut tapi kuburan
ayahnya hampir terbuka, dalam waktu yang tak kalah cepat pemuda ini membuang
batu-batu yarg menimbun. Tempat itu sekarang tak dijaga lagi karena Hu-taijin dan
semua orang menganggap Hong Beng Lama tewas. Dan ketika Tan Hong Lok dan
Giam-taijin tiba di tempat itu tepat bersamaan dengan terbukanya kubur atau lubang
sumur yang dulu menimbuni Hong Beng Lama maka Hong Lam telah melayang
turun dan sekejap kemudian telah membawa naik tubuh ayahnya yang masih hidup,
terbukti denyut jantung itu tidak berhenti!
“Ayah masih pingsan, tapi hidup. Lihat tubuhnya tak menyerupai jenasah dan
sehat!”
Hong Lok dan Giam-taijin tertegun. Mereka melihat Hong Beng Lama benar
hidup di tangan Hong Lam, tubuhnya kotor tapi tidak rusak. Jangankan rusak, lecet
atau luka sedikit saja tak ada. Dan ketika tujuh panglima di tangan dua tokoh Magada
itu juga terbelalak dan heran oleh kejadian tak masuk akal ini, maka Hong Lam sudah
meniup ubun-ubun ayahnya dan berbisik.
“Yah, bangunlah. Ini puteramu, Hong Lam!”
Aneh bin ajaib. Hong Beng Lama tiba-tiba membuka mata, mengeluarkan suara
mirip dengkur atau geram. Biji mata yang kosong itu coba dibuka tapi tak dapat,
membeliak dan akhirnya membentuk lubang hitam. Dan ketika Hong Lam menekan
punggung ayahnya dan menepuk keras tiba-tiba Hong Beng Lama melompat bangun
dan menggereng.
“Hargh, mana Hu-taijin?”
“Tak ada,” Hong Lam memegang lengan ayahnya, menyambar. “Yang ada sini
ialah Tan-taijin dan Giam-taijin ayah. Tokoh-tokoh Magada yang menolong kita. Kau
selamat dan mereka melihat hebatnya ilmu kita Merekat Tulang Menyambung
Nyawa!”
“Ha-ha!” Lama itu tiba-tiba tertawa bergelak. “Dan siapa yang berdatangan itu,
Hong Lam? Apa ribut-ribut itu?”
“Ah,” Hong Lam menoleh. “Pasukan musuh ayah. Anak buah atau pasukan Hu-
Kolektor E-Book

taijin!”
“Kalau begitu kuhancurkan mereka, kubunuh!” dan Hong Beng Lama yang
berkelebat dan tertawa bergelak tiba-tiba membuat pasukan Hu-taijin terpekik dan
berhenti, otomatis terbelalak karena mereka seolah melihat hantu Lama tinggi besar
itu. Hong Beng Lama membentak dan sudah menggerakkan tangannya ke depan dan
kiri kanan, angin menyapu dan robohlah tigapuluh pasukan yang ada di situ. Dan
ketika Lama ini mengeluarkan lengking aneh dan menyambar muka belakang tiba-
tiba pasukan menjadi geger dan roboh berpelantingan.
“Awas, hantu Hong Beng Lama. Minggir......!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


195

Tan-taijin dan sutenya bengong. Mereka melihat Lama tinggi besar itu dan
mengebut, tawanya menyeramkan dan seratus orang tiba-tiba menjerit dan tumpang-
tindih. Mereka di sapu dan rontok seakan menghadapi badai. Apa yang disangka
hantu Hong Beng Lama ternyata membuat pasukan Hu-taijin gentar dan kaget,
mereka itu terlempar dan mencelat menerima pukulan jarak jauh. Dan ketika semua
orang menjadi gempar dan panik maka sisa pasukan Hong Lam muncul dan
menyerbu.
“Ha-ha, kita basmi mereka, ayah. Kita bunuh dan habisi mereka!” Hong Lam
mendadak berkelebat, ikut membantu dan merobohkan musuh-musuh yang ada di
dekat situ. Tak lama kemudian membabait pasukan Hu-taijin ini seperti orang
membabat rumput saja. Geger dan ributlah pasukan itu. Dan ketika ada di antaranya
yang melihat tertangkapnya tujuh panglima di tangan Hong Lok dan Giam-taijin tiba-
tiba pasukan Hu-taijin jatuh mentalnya dan kalut.
“Aih, Ngo-ciangkun (panglima Ngo) tertangkap....!”
“Benar, dan itu juga Lai-ciangkun (panglima Lai) ....!”
Panik dan ributlah semua orang. Mula-mula mereka sudah dibuat terguncang
oleh hidupnya Hong Beng Lama, satu peristiwa yang tak masuk akal. Maklum, Lama
ini telah terkubur sebulan lamanya tapi hidup lagi, tak apa-apa dan kini mengamuk
melempar-lempar mereka. Dan ketika pasukan Tibet menyerbu dan Hong Lam juga
membantu ayahnya maka puncak dari semua itu ditambah dengan tertangkapnya
tujuh panglima yang memimpin mereka, wakil atau pembantu Hu-taijin yang
dipercayakan di situ, tertawan dan tak dapat berbuat apa-apa di tangan dua laki-laki
gagah yang tak mereka kenal. Hong Lok dan sutenya memang tokoh-tokoh Magada
yang belum di kenal orang-orang ini, mereka merupakan muka-muka baru. Dan
ketika Hong Beng Lama tertawa bergelak dan mengangkat serta membanting mereka
dengan pukulannya yang dahsyat akhirnya pasukan ini rontok dan hancur nyalinya.
“Selamatkan diri, menyingkir....!”
Geger dan gemparlah semua orang. Pasukan Hu-taijin kalang-kabut, memutar
tubuh dan akhirnya melarikan diri. Ribuan orang yang di situ tiba-tiba panik, sepak
terjang dan serangan Hong Beng Lama ini memang di luar dugaan, mereka tak
mungkin menang. Dan ketika semuanya membalik dan melarikan diri maka Hong
Beng Lama tertawa menyeramkan dan mengeluarkan suaranya yang dahsyat.
“Siapa melarikan diri akan kubunuh. Hayo kalian menyerah dan majadi
Kolektor E-Book

pasukanku...!”
Orang-orang ini ketakutan. Seruan Hong Beng Lama tentu saja tak digubris,
mereka gentar dan jerih terhadap Lama sakti itu. Tapi ketika Hong Beng Lama
berseru pada puteranya agar pasukan mereka melebar dan menghadang jalan lari
pasukan itu akhirnya pasukan Hu-taijin ini malah terkepung. Lucu dan mengejutkan
bahwa lawan yang berjumlah sepersepuluh dlibanding mereka dapat menghalau
ribuan pasukan Hu-taijin ini. Itu dapat terjadi karena hancurnya nyali pasukan ini.
Berdirinya Hong Beng Lama dan Hong Lam besar sekali pengaruhnya, mereka
membuat pasukan itu gentar. Dan ketika pasukan Tibet dapat menghalau dan
mengusir kembali lawan mereka ke dalam kepungan maka Hong Lam membentak
menyuruh pasukan itu menakluk, menyerah dan membuang senjata dan hanya
sebagian kecil saja yang dapat meloloskan diri. Mereka sudah tak berkutik dan
BATARA Dewi Kelabang Hitam
196

kemenangan mental ini membuat pasukan Tibet garang. Di sana Hong Lok dan
sutenya terbelalak memandang, mereka mau tak mau menjadi kagum juga. Dan
ketika ribuan orang itu menyerah dan jatuh ke tangan Hong Beng Lama maka Lama
ini langsung menjadi pemimpinnya, mengambil alih kekuasaan, dan pasukan Tibet
mempreteli perlengkapan pasukan musuh itu. Hari itu juga Hong Lam dan ayahnya
mencapai kememengan. Dan ketika mereka membekuk dan menaklukkan pasukan ini
maka perbatasan dikuasai Lama itu dan Hong Lam sebagai wakil ayahnya.
“Siapa berontak dia akan dibunuh. Siapa menurut dia akan selamat. Nah, kalian
menjadi pasukanku dan kita gempur kota raja!”
Ribuan orang itu tak berkutik. Hong Beng Lama terlalu sakti, apa yang terjadi
ini juga di luar dugaan. Dan karena mereka sudah dipukul hancur dan pasukan Tibet
mengawasi mereka“Hm,” Lama itu mengebutkan jubah, mukanya pun merah.
“Pinceng tak mau bersikap kasihan terhadap musuh, taijin. Kalau kalian lemah hati
dan menegur pinceng justeru pinceng akan melapor ini pada kakak kalian, Yo-taijin.
Tak layak kiranya kita mengampuni musuh!”
“Tapi itu tawanan kami, Lama. Kau lancang dan tidak menghargai kami!”
Hong Lam terkejut. Ribut-ribut ini mendadak jadi meruncing, dia melihat
ketidaksenangan dua tokoh Magada itu. Dan karena mereka sahabat seperjuangan dan
Hong Lam merasa ayahnya keterlaluan juga tiba-tiba pemuda int meloncat ke depan
menengahi, berseru, “Ayah, apa yang dikata Tan-taijin betul. Sebaiknya kau minta
maaf dan selesailah urusan ini. Kita tak perlu cekcok karena urusan di depan masih
banyak!” dan cepat menjura di depan dua tokoh itu Hong Lam memberi tahu, “Taijin,
ayah baru saja keluar dari kubur. Harap kalian maklum kalau tindak-tanduknya agak
tak terkontrol.”
“Ha-ha!” Hong Beng Lama sadar, cepat menangkap maksud puteranya. “Kau
benar, Hong Lam. Dan biarlah ayahmu meminta maaf pada mereka!” dan
membungkuk di depan dua orang itu sebagai pernyataan masfnya Lama ini berkata,
“Tan-taijin, dan kau Giam-taijin, apa yang dikata puteraku memang tidak salah. Hu
Kang itu membuat kemarahanku menggelegak, siapa yang dekat dengannya pasti
kubenci. Biarlah pinceng minta maaf atas kelancangan tadi dan urusan ini selesai!”
Giam-taijin berpandangan dengan kakaknya. Hong Lok atau ayah Hong Siu
mengerutkan kening, ketidaksenangannya tentu saja tak dapat di lumerkan dalam
waktu sekejap. Tapi karena orang telah meminta maaf dan Hong Beng Lama
bersungguh-sungguh akhirnya menteri ini mengangguk dan berkata, “Baiklah, urusan
Kolektor E-Book

ini selesai, Hong Beng Lama. Tapi jangan diulangi untuk urusan berikut.”
“Pinceng tahu,” Lama itu mengebutkan jubah. “Tapi di mana menteri she Hu
itu? Dan mana suheng kalian?”
“Suheng di Magada, Lama. Dan Hu-taijin pulang ke kota raja.”
“Hm, kalau ada di sini kubunuh dia. Menteri itu licik dan curang!”
“Sudahlah, dua taijin ini telah membantu kita, ayah. Kita patut berterima kasih
dan tidak lupa mengucapkan itu.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


197

“Ah, benar,” Hong Beng Lama lagi-lagi berseru. “Pinceng berterima kasih atas
bantuan kalian, Tan-taijin. Tapi kenapa baru sekarang muncul? Berapa lama pinceng
dikubur?”
“Sebulan, ayah, dan maafkan anakmu yang tak dapat segera menolong. Waktu
itu Hu-taijin menjaringku pula dan mau melempar aku ke lubang jebakan.”
“Weh, menteri itu mau berbuat curang juga?”
“Ya.”
Dan ketika Hong Lam menceritakan kisahnya dan betapa dia harus menyingkir
dari menteri itu akhirnya Hong Beng Lama mengeratakkan gigi dan memaki. Hari itu
kemarahannya bertambah dan kebenciannya terhadap Hu Kang memuncak. Tapi
karena lawan tak ada di depannya dan musuh tak perlu diumpat caci akhirnya Hong
Lam meminta ayahnya untuk melakukan apa terhadap pasukan tawanan itu.
“Biarkan di sini. Beberapa hari lagi kita menggempur kota raja dan menyerang!”
“Baiklah, bagaimana pendapat Tan-taijin?”
“Hm, suhengku belum memberi petunjuk lebih lanjut, kongcu. Kalau kalian
ingin menyerang tentu saja boleh, tapi sebaiknya tunggu nasihat suhengku.”
“Bagaimana, yah?” Hong Lam menoleh. “Apakah kita ke Magada dulu?”
Lama ini berpikir-pikir. “Sebenarnya aku tak sabar, Hong Lam. Tapi kalau Tan-
taijin mengajak pulang tentu saja pinceng menurut. Hanya, siapa menjaga di sini?”
“Aku mempunyai pembantu,” Hong Lok tiba-tiba berkata. “Puteraku Hong Siu
atau keponakanku Giam Khing dapat menjaga, Lama. Kalau kau setuju tentu masalah
ini tak perlu dipusingkan.”
“Hm, begitukah? Baiklah, pinceng setuju.” dan Hong Beng Lama yang hari itu
ke Magada diiring puteranya akhirnya memberikan kepercayaan kepada rekannya,
pasukan tawanan dikuasai Tan-taijin dan tak lama kemudian dua pemuda gagah
muncul, itulah Hong Siu dan Giam Khing, putera dari Tan-taijin dan Giam Lun,
tokoh-tokoh muda dari Magada. Dan ketika hari itu Hong Beng Lama merampas
kemenangan dan ke Magada untuk berunding dengan menteri Yonaga maka langkah-
langkah berikut diambil di pusat pemerintahan itu dan Yonaga pun tercengang serta
kaget melihat hidupnya kembali Lama tinggi besar ini, yang sebulan sudah terkubur!
Kolektor E-Book

*
* *

“Mei Hong, kau sudah dengar serangan Hong Beng Lama?”


“Hm, kapan?”
“Dua hari yang lalu, Mei Hong. Dan pasukan Hu-taijin dikalahkan. Sekarang
Lama itu di istana berunding dengan pamanku menteri Yonaga!”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


198

Mei Hong terkejut. Hari itu Han Li menemuinya tergesa-gesa, gadis ini tampak
panik dan gelisah. Dan ketika mereka berdua duduk dan Han Li berkeringat maka
Mei Hong justeru merasa heran dan mengerutkan kening.
“Han Li,” katanya, “kenapa kau ini? Bukankah tak ada urusannya denganmu?
Mestinya, menurut patut akulah yang cemas dan gelisah. Yang diserang Lama itu
adalah bangsaku, bukan bangsamu!”
“Benar, tapi Magada terlibat, Mei Hong. Dan ini yang tak kusuka. Ayah dan
kakakku Hangga juga tak menyukai sepak terjang paman Yonaga!” dan Han Li yang
lalu menceritakan ketidaksenangan ayahnya lalu berdiri. “Nah, bagaimana kami
senang? Yang diajak bergaul adalah Lama Tibet itu, Mei Hong. Padahal semua tahu
bahwa Hong Beng Lama adalah Lama murtad dan jahat. Kalau saja ayahku
memegang jabatan di istana tentu dengan segala pengaruh dan kekuasaannya ayah
dapat mengendalikan paman Yonaga itu!”
“Hm, duduklah, tak perlu panik. Coba ceritakan padaku bagaimana semuanya
itu dan bagaimana pula dangan Hu-taijin.”
“Hu-taijin tak ada, menteri itu sedang pulang.”
“Pulang?”
“Ya, sebulan yang lalu serangan Hong Beng Lama sebenarnya dapat dipatahkan,
Mei Hong. Menteri itu dapat menangkap Hong Beng Lama dan menguburnya hidup-
hidup!”
Mei Hong tertarik. “Menangkap Hong Beng Lama? Menguburnya hidup-
hidup?”
“Ya, begitu menurut yang kudengar, Mei Hong. Tapi sebulan setelah dikubur
ternyata Lama itu hidup lagi dan mengamuk setelah diselamatkan puteranya.”
“Ah, coba ceritakan. Bagaimana itu!” Mei Hong beringsut, tergetar dan kaget
dan segera Han Li menceritakan apa yang didengar. Berada di tempat sunyi memang
membuat Mei Hong tak tahu apa-apa, dia memang sudah tidak di pusat pemerintahan
lagi, Yonaga mengusirnya, gara-gara Hong Beng Lama dulu. Dan ketika cerita demi
cerita didengar gadis itu dan Mei Hong terbelalak tiba-tiba gadis ini bangkit berdiri
mengepal tinju.
“Keparat, Hong Beng Lama terkutuk!”
Kolektor E-Book

“Ya, dan aku khawatir pamanku bertindak semakin jauh, Mei Hong. Sebaiknya
beri tahu a. yah dan minta pertimbangannya apa yang harus dilakukan!”
Mei Hong mengangguk. Setelah dia mendengar bahwa semua pasukan
perbatasan ditundukkan Lama itu dan Hong Beng Lanna siap menggempur kota raja
tiba-tiba kemarahan dan semangat Mei Hong bangkit, pagi itu juga bersama Han Li
dia menghadap pendekar Handewa, yang ternyata duduk tenang menunggu mereka.
Dan ketika cerita ganti diceritakan pada pendekar itu tiba-tiba pendekar ini menunduk
lesu dan berkata.
“Aku sudah tahu, tapi kesalahan tak bisa mutlak ditimpakan pada pamanmu.
Raja Urugata di atas segala-galanya ini, Han Li, dan pamanmu hanya sebagai
pelaksana dan pendorong!”
BATARA Dewi Kelabang Hitam
199

“Maksud ayah?” Han Li terbelalak.


“Sri baginda mempunyai ambisi, Han Li. Bahwa ingin membuat Magada
menjadi negara besar dan terkenal. Dan kalau pamanmu dianggap salah maka dia tak
akan dapat berbuat apa-apa kalau,tidak disetujui istana.”
“Jadi ayah hendak berkata bahwa semuanya berasal dari raja?”
“Tidak sepenuhnya begitu, Han Li, karena pamanmu juga mendorong. Tapi
karena sri baginda menyetujui dan hampir semua sepak terjang pamanmu direstui raja
maka yang harus disadarkan adalah sri baginda, bukan pamanmu karena pamanmu
adalah orang nomor dua.”
“Kalau begitu ayah harus menyadarkan sri baginda, mencegah semuanya itu!”
“Dapatkah?” sang ayah tersenyum pahit. “Ini masalah ide atau kebijakan politik,
Han Li. Magada ingin dibuat terkenal dan besar.”
“Tapi pertumpahan darah bisa terjadi. Perang akan mencelakakan rakyat dan
orang-orang kecil!”
“Benar, tapi tanpa begitu sebuah perobahan tak akan terjadi, Han Li. Perang dan
segalanya sudah menjadi bagian hidup manusia.”
“Ayah membiarkan saja?”
“Hm, duduklah,” sang ayah tenang-tenang saja, tak beringsut. “Kau belum
mengerti sebuah kebijaksanaan yang diambil pemerintah, Han Li. Bahwa manusia
selalu terbentur untuk mengadakan perobahan dan dirobah. Kau tak mengerti usiamu
yang terlalu muda menjadikan kau belum matang. Kalau kau ingin tahu dan masuk
dalam persoalan itu maka sebaiknya kau ke istana dan lihat serta ikuti semuanya ini.
Cari saudaramu Yo Kang, dia baru kembali dari perantauan. Kalau dia setuju dengan
sepak terjang ayahnya coba kau lihat inti dari semua kejadian ini, sebaiknya bawa
kakakmu Hangga pula.”
Han Li tertegun. “Apa maksud ayah? Ayah hendak mewakilkan urusan ini
kepada kami?”
“Bukan mewakilkan, Han Li, melainkan memberimu pelajaran. Coba ikuti dan
lihat semuanya itu, tapi hati-hati terhadap empat orang. Pertama adalah Hong Beng
Lama, kedua adalah puteranya dan ketiga serta keempat adalah pamanmu Giam Lun
dan puteranya, Giam Khing.”
Kolektor E-Book

JILID IX

“GIAM KHING?” Mei Hong tiba-tiba teringat pemuda yang kurang ajar itu.
“Ada apa dengan pemuda itu, locianpwe?”
“Tak apa-apa, Mei Hong,” pendekar itu tersenyum kecut. “Tapi kau sebagai
wanita tentu harus berhati-hati menghadapinya.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


200

Mei Hong tertegun. Kilatan mata si pendekar itu seolah memberi tahu padanya
sebuah pesan, pesan yang ditujukan pula kepada Han Li, sahabatnya. Dan ketika Han
Li mengangguk dan mengerti nasihat ayahnya lalu gadis ini berdiri dan berkata.
“Baiklah, kami akan ke istana, ayah. Dan kakak Hangga juga kuajak!”
“Ya, tapi hati-hati, istana sekarang penuh orang-orang lihai.”
Han Li mengiyakan. Setelah Hong Beng Lama ada di situ tentu saja istana
bertambah orang lihai, meskipun yang lain juga cukup diperhitungkan dan perlu
kewaspadaan. Hong Lam umpamanya. Dan ketika gadis itu berkelebat dan
meninggalkan ayahnya maka Hangga, kakak Han Li tiba-tiba muncul di depan,
begitu saja, seperti iblis!
“Eih!” Han Li sampai kaget. “Apa-apaan kau ini, Hang-ko? Bikin kaget orang
saja, sial!”
“Ha-ha,” pemuda itu tertawa. “Aku mendengar percakapan kalian di dalam, Han
Li, dan menunggu di sini. Bukankah ayah menyuruhmu mengajak aku?”
“Bener, tapi kau muncul seperti siluman saja, Hang-ko. Kau bikin kaget dan
terkejut!”
“Itu karena kewaspadaanmu kurang. Kau terlalu mencurahkan pikiran pada
persoalan Hong Beng Lama. Kalau tidak tentu melihat kedatanganku dan tak perlu
kaget.”
“Sudahlah, kau selamanya pandai berdebat. Nih, enci Mei Hong, kau ingin
mengawalnya, bukan? Hi-hik, kau datang bukan untuk mendengarkan percakapanku,
Hang-ko, tapi semata kangen pada Mei Hong!”
Hangga terkejut. Sang adik dibentak dan Han Li pun terkekeh, ditampar tapi
cepat berlindung di balik Mei Hong. Dengan begini sang kakak langsung berhadapan
dengan sahabatnya itu, Hangga tertegun dan tentu saja menyeringai. Dan ketika
dengan gugup dan muka merah pemuda ini memaki adiknya maka Mei Hong tertawa
jengah mencubit Han Li, tak kalah merah pula.
“Han Li, kau selalu suka menggoda. Awas, kutendang kau!”
“Hi-hik, siapa menggoda, Mei Hong? Kakakku inilah yang memang selalu
bertanya tentang dirimu, coba buktikan apakah betul, tanya dia!”
Kolektor E-Book

Mei Hong dan Hangga sama-sama semburat. Mendadak Mei Hong berdetak
keras ketika melihat kilatan mesra di mata pemuda itu, Hangga tersenyum dan dia
pun malu. Dan ketika Han Li tertawa dan mereka dikocok tiba-tiba Mei Hong
teringat Bun Hwi dan mengeluh, tiba-tiba marah. ”Han Li, jangan menggodaku terus-
terusan. Kita sedang serius menghadapi Hong Beng Lama, atau aku tak ikut dan biar
kau pergi sendiri!”
“Eh,” Han Li tak menggoda lagi. “Jangan marah, Mei Hong. Kau selamanya
tahu aku suka main-main. Nah, kita bicara serius, apa yang mau kita lakukan dan
mari diatur.”
Mei Hong mengangguk, hilang marahnya. “Baik, memng begitu. Tapi apa
rencanamu dulu?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


201

“Hm, bagaimana rencana Hang-ko?” Han Li menoleh, menanya kakaknya. “Kau


laki-laki di sini, Hang-ko, kau saja yang mengatur dan menentukan pilihan.”
“Baiklah, aku sebenarnya kurang jelas. Tapi karena tujuan kita adalah ke istana
maka sebaiknya kita ke sana dulu dan di sana baru ditetapkan. Tadi ayah menyebut-
nyebut Yo Kang, bagaimana kalau nanti kita temui saudara kita ini?”
“Siapa Yo Kang?” Mei Hong tiba-tiba bertanya. “Kenapa belum pernah
kudengar nama ini?”
“Dia putera paman Yonaga, Mei Hong. Tinggi kepandaiannya dan baru saja
pulang dari perantauan, mungkin dipanggil ayahnya untuk urusan ini.”
“Hm, jadi Yo-taijin mempunyai putera?”
“Ya, Yo Kang itu satu-satunya, putera tunggal.”
“Dan dia lihai?”
“Seusap di bawah kakakku, Mei Hong, tapi seusap di atas tingkatku sendiri!”
“Oh, kalau begitu benar-benar lihai!” Mei Hong tertegun. “Baiklah, bagaimana,
Hangga. Kami menyerahkan semuanya kepadamu dan biar kau yang mengatur.”
“Eh, aku tiba-tiba teringat A-hwi!” Han Li mendadak bicara. “Bagaimana kalau
kita ke dapur istana dulu, Hang-ko? Perutku lapar dan tiba-tiba kangen pada
masakannya!”
“Hm, siapa lagi ini?” Mei Hong bertanya.
“Koki baru, muda dan jempolan!” Han Li tertawa, memuji. “Aku lupa
memperkenalkannya padamu, Mei Hong, dan baru sekarang kuingat. Eh, benar.
Sebaiknya kita ke sana dulu dan mencicipi masakannya!”
“Tidak,” Hangga tiba-tiba menolak. “Kita menghadapi urusan penting, Han Li.
Kenapa urusan perut didahulukan dan melupakan urusan utama? Kita hendak
menyelidiki dan mengamati gerak-gerik paman kita, juga Hong Beng Lama.
Sebaiknya kita ke sana dulu dan tidak ke mana-mana!”
Han Li cemberut. “Baiklah, sesukamu,” katanya. “Aku dan Mei Hong menurut,
Hang-ko. Ayo kita mulai dan berangkat!” Han Li memutar tubuh, tiba-tiba berkelebat
dan sudah meninggalkan kakaknya. Tanpa banyak bicara lagi gadis itu menuju ke ibu
kota kerajaan, Hangga terkejut tapi menyusul. Dan ketika Mei Hong juga berkelebat
Kolektor E-Book

dan mengejar temannya maka bertiga mereka berlari cepat dan seakan berlomba.
“Hei, jangan cepat-cepat, aku belum sehebat kalian.....!”
Han Li memperlambat larinya. Mei Hong berteriak dan memang tertinggal,
gadis itu tertawa dan lenyaplah sisa kemarahannya kepada sang kakak. Dan ketika
Hangga tertawa dan berendeng pula maka tiga muda-mudi ini akhirnya berlari
bersama, tak lama kemudian tiba di pusat pemerintahan dan Hangga mengajak
melompati tembok istana yang tinggi, pekerjaan yang tidak sukar bagi mereka. Dan
ketika semuanya ada di dalam dan di sini Hangga mau ke tempat pamannya
mendadak Mei Hong merandek dan berseru.
“Tunggu dulu tahan......!”
BATARA Dewi Kelabang Hitam
202

“Ada apa?” Hangga berhenti, heran. “Kau mau apa, Mei Hong? Ada sesuatu?”
“Ya, aku usul, Hangga. Bagaimana kalau kita berpencar?”
“Berpencar?”
“Ya, kita masing-masing berpencar, Hangga. Menyelidik dan mencari informasi
sendiri!”
“Hm.....!” pemuda itu tertegun. ”Bagaimana. Han Li, sependapatkah kau?”
Han Li juga tertegun. “Kukira boleh, Hang-ko, toh kita tak mungkin mendapat
bahaya di sini. Semua orang tahu kita. Usul Mei Hong kuterima, boleh kita berpencar
dan biarkan kami berdua sendiri sementara kau duluan.”
“Begitukah? Baiklah!” dan Hangga yang berkelebat menghilang setelah
memberi tahu untuk bertemu di satu tempat akhirnya tidak menolak dan memesan
dua temannya berhati-hati, terutama Mei Hong. Maklum, Mei Hong adalah gadis
asing dan paman mereka Yonaga menaruh rasa kurang senang pada gadis itu, gara-
gara pembelaan ayah mereka dulu. Dan ketika Han Li tersenyum dan tertawa
memandang Mei Hong maka gadis ini mengajak temannya berangkat.
“Tidak,” Mei Hong berkata mengejutkan. “Kita juga berpencar, Han Li. Kau ke
kanan dan biar aku ke kiri!”
“En!” Han Li terbelalak. “Kau tak mau bersama-sama, Mei Hong?”
“Berdua kurasa kurang leluasa, Han Li, biar kita berpencar dan kita sama-sama
menyelidik.”
“Kalau begitu sialan, kukira bersamamu!” dan Han Li yang tertegun tapi
akhirnya tertawa berkata mengangguk, “Baiklah kita berpencar, Mei Hong. Dan ingat
kata kakakku tadi bahwa kita harus sudah di tempat yang ditentukan pada waktunya.”
“Tentu, pergilah, jangan khawatir!” dan Mei Hong yang tersenyum serta
mendorong temannya akhirnya melihat temannya pergi, Han Li berkelebat dan
lenyap ke kanan, Mei Hong sejenak berlari dan tak seorang pun menduga apa yang
dipikir gadis ini. Tadi Mei Hong mendengar nama A-hwi, curiga tapi sayang Hangga
tak mau melanjutkan omongan itu. Kini dia memutuskan untuk ke dapur istana
mencari tahu koki muda ini, yang entah mengapa membuat perasaannya tergetar dan
curiga. Dan ketika temannya lenyap dan Hangga pun sudah tak ada di situ maka Mei
Hong memutar tubuhnya dan berkelabat ke kiri, ke dapur istana.
Kolektor E-Book

Laparkah dia? Tentu saja tidak. Mei Hong bukan tertarik masakan koki muda
itu, melainkan semata ingin melihat siapa koki ini, pemuda yang dikata jempolan dan
juga bangsa Han seperti dia. Nama yang membuat Mei Hong teringat pada Bun Hwi,
maklum, koki itu pun bernama akhiran sama, jadi kecurigaannya muncul. Dan ketika
Mei Hong berkelabat dan sudah melayang di kompleks istana, maka dengan mudah
dan ringan ia sudah di atas dapur istana yang sudah dikenal.
Tak sukar bagi Mei Hong melayang turun. Tapi baru dia bergerak dan mau
memasuki dapur itu mendadak tiga pelayan bergegas masuk, disusul suara-suara
menggerundel.
“Eh, mana A-hwi? Kenapa sering keluar dan tidak masuk kerja?”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


203

“Benar, pemuda ini makin sering mbolos, Kok-twako. Bagaimana kalau dia
dilaporkan Yo-taijin?”
“Hm, nanti dulu. Coba kucari dan temukan dia. Seminggu ini masuknya tak
tetap, dia makan gaji buta!”
Tiga orang itu memanggil-manggil, mencari dan berkeliling dan Mei Hong yang
ada di atas genteng mengintai. Yang gemuk, yang dipanggil Akok tampaknya marah.
Mei Hong mengenal ini sebagai koki kepala yang mengurus dapur istana, geli dan
heran dia melihat laki-laki itu memanggil namun tak mendapat jawaban, perutnya
yang gemuk berguncang-guncang. Dan ketika mereka tak mendapat yang dicari dan
tiga orang itu mengomel panjang pendek akhirnya mereka berhenti dan bekerja di
dapur.
“Sialan, bocah itu perlu dipecat. Dia tak minta ijin dan sering keluar!”
“Tapi dia kesayangan sri baginda, twako. A-hwi pandai memasak dan semua
orang pun memuji!”
“Ya, tapi kalau dia sering keluar dan mbolos begini dia patut dihukum, A-siong.
Kita sekarang kerepotan menghadapi pesanan Yo-taijin. “Malam nanti kita harus
menyiapkan pesta besar untuk menyambut Lama itu!”
“Dan Yo-taijin mungkin kecewa, A-hwi tak ada!”
“Hm, ke mana saja anak itu? Apakah dia ikut perang di perbatasan?”
Mei Hong menghentikan pendengarannya. Di luar dia melihat sesosok bayangan
berkelebat, cepat bukan main dan tahu-tahu menghilang. Kaget gadis ini. Dan ketika
dia tertegun dan terkejut tahu-tahu di bawah, di dapur itu masuk seseorang sambil
tertawa-tawa, entah dari mana dia datang.
“Kok-twako, maaf. Aku terlambat.....!”
Mei Hong terguncang. Seorang pemuda muncul dengan pakaian lucu, pakaian
pelayan tapi pinggangnya dibelit sabuk sumbu kompor, kocak dan masuk ke tempat
itu sambil menyalam si gemuk, Akok, koki kepala. Dan ketika pemuda itu masuk dan
dua temannya menoleh maka si gemuk Akok menegur dengan muka masam.
“A-hwi, kau sekarang suka mbolos, seminggu ini baru dua kali masuk. Ke mana
saja kau keluyuran? Mencari pacar?”
Kolektor E-Book

“Ha-ha, pacar aku tak punya, twako. Tapi berita baik aku membawa. Nih, dari
Yo-siocia. Katanya rempah penyedap untuk menyambut Hong Beng Lama.
Bukankah nanti ada pesta?” A-hwi, pemuda itu mengeluarkan sekantung bumbu-
bumbu, memberikannya pada koki kepala dan segera laki-laki gemuk itu tertegun.
Ada daun-daunan dan akar-akaran di situ, semacam bumbu atau rempah yng amat
harum. Dia tak mengenal. Tapi A-hwi yang berkata sambil menerangkan sudah
menunjuk, “Ini daun Kuntilani, twako, dan itu akar Lidah Naga. Semuanya dari. Yo-
sio cia untuk menyambut pesta nanti. Kita bikin sop Naga Terbang!”
“Hm, ini dari Yo-siocia?”
“Ya, Yo Siu Lan.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


204

“Dan kau bilang apa tadi? Masak apa?”


“Sop Naga Terbang, twako. Malam nanti Yo-siocia minta agar kita semua
menyiapkan masakan khusus itu.”
“Tapi aku tak mengerti ini, macam masakan itu belum pernah kudengar!”
“Ha-ha, aku yang tahu, twako. Aku yang membuat. Biar kalian meramu yang
lain dan sop Naga Terbang ini serahkan padaku!” A-hwi sudah mengambil ini-itu,
panci dan lain-lain dan segera dia bekerja. Tangkas dan cekatan ia mengupas akar
dan memotong daun-daun itu, ruangan tiba-tiba menjadi harum dan Akok serta dua
temannya mendadak menguap, A-hwi sering mengebut-ngebutkan dua macam
rempah itu ke hidung mereka. Dan ketika A-hwi tertawa dan tiga temannya tampak
loyo tiba-tiba. A-hwi menepuk pundak mereka itu. ”Kalau mengantuk tidurlah, biar
aku bekerja!”
Aneh sekali. Akok dan temannya mengangguk, terhuyung dan sudah mendekati
meja. Dan ketika mereka meletakkan kepala dan menguap di situ mendadak
ketiganya tidur dan mendengkur di situ!
Mei Hong yang mengintai di atas tertegun. Sejak tadi dia sudah bengong
menyaksikan pelayan muda ini, tanpa terasa mulutnya mengeluarkan seruan lirih,
menyebut nama Bun Hwi. Benar, pemuda itu memang Bun Hwi yang dikenalnya.
Dan ketika Bun Hwi mengerjai tiga temannya di dalam dan rupanya membius Akok
dan dua temannya itu mendadak Bun Hwi, pemuda yang menyamar ini membentak,
tangan menyambit daun ke atas genteng.
“Yang bersembunyi di atas harap turun....!”
Mei Hong terkejut. Daun yang disambitkan Bun Hwi ini menembus genteng,
amblas dan hampir mengenai hidungnya. Bukan main kagetnya gadis ini. Tapi sadar
bahwa Bun Hwi rupanya sudah mengetahui keberadaannya dan Mei Hong mengelak
serta menangkis daun itu maka gadis ini pun melayang turun dan terisak.
“Bun Hwi ...!”
Bun Hwi, yang menyamar sebagai pelayan itu terkejut. Dari atas genteng
melayang turun seorang gadis, berkelebat dan sudah berdiri di depannya. Dan ketika
mereka berdua berhadapan dan Bun Hwi terbelalak maka pemuda ini berseru dan
langsung menubruk.
“Mei Hong......!”
Kolektor E-Book

Entah siapa yang memeluk lebih dulu sukar dikatakan. Mei Hong sendiri
nyatanya menyambut dan menggerakkan lengan. Pertemuan tak disangka-sangka di
negeri asing membuat kegembiraan hati meledak, Mei Hong menubruk dan
membalas cengkeraman kekasihnya itu. Dan ketika Bun Hwi bengong namun sadar
tertawa bergelak tiba-tiba pemuda ini menciumi kekasihnya dengan air mata menitik.
“Aih, ha-ha.... kau, Mei Hong? Ada apa di sini? Kau yang mengintai? Aduh,
setengah mati aku mencarimu, Mei Hong. Tak disangka tak dinyana kalau kau di
Magada!” Bun Hwi memeluk ketat, tertawa dan menciumi kekasihnya itu dan segera
mereka tenggelam dalam kebahagiaan. Mei Hong sendiri tak menyangka bakal
bertemu pemuda itu di situ. Tapi begitu Bun Hwi menghapus air matanya dan

BATARA Dewi Kelabang Hitam


205

masing-masing sama tersenyum lebar maka Mei Hong menarik diri menegur pemuda
itu.
“Bun Hwi, kau bikin apa di sini? Jadi kau koki bernama A-hwi itu?”
“Hm, dan kau sendiri, bikin apa di sini, Mei Hong? Kau berkeliaran di negeri
orang?”
“Ih, kenapa menanya sebelum menjawab? Kau jawab dulu pertanyaanku, Bun
Hwi. Baru setelah itu kujawab pertanyaanmu!”
“Baiklah, aku menjadi mata-mata di sini, membantu menteri Hu Kang. Dan kau,
bikin apa, Mei Hong? Bagaimana ada di sini pula?”
“Berapa lama kau di sini?” Mei Hong tak menghiraukan pertanyaan. “Sudah
berapa bulan menjadi koki?”
“Eh, kenapa memberondong? Aku baru dua bulan, Mei Hong. Tapi kelabakan
dan bingung!”
“Hm, kalau begitu aku lebih dulu.....”
“Kau sudah lama di sini?”
“Ya, setidak-tidaknya lebih lama darimu.”
“Berapa lama?”
“Dua tahun jalan!”
“Hah, jadi kalau begitu......”
“Ya, kau sudah menerima suratku, bukan? Bagaimana Hwa-i Kai-pang?” Mei
Hong kembali memotong, cepat. “Aku sengaja meninggalkanmu, Bun Hwi. Agar....
agar kau mencari Kiok Lan!”
Tiba-tiba Mei Hong menangis. Bicara tentang ini mendadak membuat
perasaannya pedih, Bun Hwi terkejut tapi cepat menangkap gadis itu, memeluk. Dan
ketika Mei Hong mengguguk dan tersedu-sedu Bun Hwi mencengkeram pundaknya.
“Mei Hong, ini istana, tempat orang. Jangan menangis di sini!”
Mei Hong terkejut, sadar.
Kolektor E-Book

“Kau mau membantuku, bukan? Nah, racik dan satukan bumbu-bumbu itu, Mei
Hong. Aku malam nanti mau membius Hong Beng Lama dan puteranya. Mari, orang-
orang ini terkena bius daun Kuntilani dan akar Lidah Naga. Aku hendak menculik
dan melempar Lama sialan itu!”
Mei Hong tergagap. “Kau mau melakukan apa? Kau man mengacau di pesta
Yo-taijin?”
“Ya, malam nanti Hong Beng Lama dijamu, Mei Hong. Lama menawan
pasukan Hu-taijin dan siap menyerang kota raja. Yo-taijin itu licik tapi cerdik. Aku
kehilangan perantara dan sebaiknya kau membantu aku!” Bun Hwi mengambil ini-
itu, bergegas dan sibuk mengatur alat masak dan tak lama kemudian dia sudah
merendam daun Kuntilani dan akar Lidah Naga di air mendidih. Uap dari tumbuh-
BATARA Dewi Kelabang Hitam
206

tumbuhan ini merangsang bau yang lebih harum lagi, Mei Hong mendadak pusing,
terhuyung. Dan ketika gadis itu menguap dan mengantuk pula tiba-tiba Bun Hwi
teringat dan cepat mengeluarkan sebutir obat. “Telan ini, jangan roboh!”
Mei Hong mengangguk. Bun Hwi sendiri tak apa-apa, maklum, pemuda itu
kebal terhadap semua jenis racun. Tubuhnya telah memiliki penawar dan tak ada
racun baik cairan maupun asap dapat merobohkan pemuda itu. Dan ketika Bun Hwi
menyiapkan ini-itu dan sibuk di panci yang besar pemuda ini segera menyelinginya
dengan cerita, bahwa dia akan menculik dan melempar Hong Beng Lama, bahwa
Lama itu terlalu berbahaya dibiarkan bersama Yo-taijin. Ada persekongkolan
diantara mereka dan untuk ini Mei Hong mengangguk, sebagian ceritanya sudah
diketahui. Dan ketika Mei Hong berkata bahwa dialah yang menyambut Lama itu
memasuki negeri Magada maka Bun Hwi tertegun.
“Kau yang menyambut?”
“Ya, atas suruhan Yonaga.”
“Heh, kau membantu menteri itu?”
“Aku bekas pembantunya, Bun Hwi. Dulu aku ke sini dan menjadi pengawal!”
Mei Hong ganti menceritakan kisahnya, didengar dan Bun Hwi geleng-geleng kepala.
Dalam kerja cepat diselingi cerita macam-macam tak terasa waktu pun lewat. Bun
Hwi telah menyiapkan segalanya dan air rendaman daun Kuntilani dan akar Lidah
Naga telah siap. Inilah yang akan menjadi kuah dari sop Naga Terbang, masakan
yang akan membuat penikmatnya betul-betul dibuat “terbang”, tak sadarkan diri alias
pingsan. Dan ketika setengah jam kemudian lewat dan Bun Hwi teringat tiga
temannya di situ tiba-tiba pemuda ini berkata agar Mei Hong meninggalkan tempat
itu.
“Sekarang kau keluar, aku akan menyadarkan mereka.”
“Untuk apa? Aku juga dikenal orang-orang istana, Bua Hwi. Tak apa kalau
mereka melihat aku!”
“Tidak, ini bisa menimbulkan kecurigaan, Mei Hong. Sebaiknya kau pergi
atau..... kau kulempar!” Bun Hwi menggerakkan tangan, tiba-tiba mendorong dan
Mei Hong terpekik melihat tubuhnya terlempar ke atas genteng, menerobos jalan
masuk tadi dan Bua Hwi sudah tertawa menyuruh gadis itu menunggu di situ. Mei
Hong memaki namun Bun Hwi tak perduli. Dan ketika Mei Hong menggerutu dan
melihat Bun Hwi menyadarkan tiga temannya maka Akok dan pembantunya
Kolektor E-Book

geragapan melihat mereka tertidur.


“Heh, apa ini? Kenapa tidur?”
“Tak tahulah, mungkin semalam kau begadang, twako. Tapi lihatlah, semuanya
sudah kuatur!” Bun Hwi tertawa, memperlihatkan semua masakannya dan koki
gemuk itu tertegun. Apa yang seharusnya dikerjakan ternyata sudah diselesaikan Bun
Hwi, tentu saja sisa kemarahannya kepada pemuda ini lenyap. Bun Hwi memang
suka menolong meskipun akhir-akhir ini menjengkelkannya karena suka membolos.
Dan ketika pemuda itu tersenyum dan Akok berseri-seri maka koki ini berterima
kasih dan Bun Hwi berkata bahwa dia ingin pergi sebentar.

BATARA Dewi Kelabang Hitam


207

“Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Sekarang ijinkan aku keluar dan pergi
sebentar.”
“Heh, ke mana lagi? Mencari Kiu-siocia?”
“Ha-ha, aku sudah tak mengenal gadis itu, twako. Ayo jangan meledek dan
biarkan aku pergi!”
“Hei... !” koki ini menggapai, melihat Bun Hwi melompat pergi. “Aku teringat
sesuatu, A-hwi, tunggu sebentar!”
“Ada apa?” pemuda itu berhenti, melihat orang tertawa-tawa.
“Ada salam,” koki itu berkata. “Lie Cu titip salam untukmu, A-hwi. Katanya
sekali-kali kau harus datang ke rumahnya!”
“Ah...!” dan Bun Hwi yang menggerutu dengan muka merah akhirnya memaki
dan meninggalkan koki gemuk itu, mendengar tawa di belakang tapi dengus di atas
genteng. Bun Hwi terkejut karena gurauan si koki gemuk ini bisa membuat Mei Hong
marah, tentu dia bakal ditanya. Dan ketika benar saja dia meninggalkan dapur istana
dan meloncat serta mengajak gadis itu meninggalkan istana maka jauh di luar sana
Mei Hong berhenti, tak mau diajak lari lagi.
“Cukup, di sini saja!” gadis itu berkacak pinggang. “Apa semua kata-kata si
gemuk itu, Bun Hwi? Kau pacaran dan mengganggu gadis-gadis cantik di Magada?”
“Eh-eh, nanti dulu!” Bun Hwi membalik, berhenti. “Jangan kau salah paham,
Mei Hong. Akok itu hanya main-main dan menggoda!”
“Tidak!” gadis itu membentak. “Aku tahu dan mengenal Lie Cu, Bun Hwi. Dia
adalah puteri Lie-taijin dan tinggal di sebelah barat istana!”
“Matik aku!” Bun Hwi membatin, menyeringai, terpaksa mengaku bahwa dia
memang mengenal gadis yang disebut-sebut itu, Apa yang tak dapat disembunyikan
terpaksa dikeluarkan, dia lalu bercerita bahwa di tempat Lie-taijin itulah mula-mula
dia dapat berhubungan dengan istana, pembesar ini adalah pembantu Yo-taijin. Dan
karena Mei Hong sudah tahu dan ternyata mengenal pula Lie-taijin itu karena dia
lebih lama tinggal di situ daripada dirinya akhirnya Bun Hwi menutup bahwa
kekasihnya tak perlu curiga. “Aku benar mengenal puteri Lie-taijin ini, tapi tak ada
hubungan istimewa di antara kami. Dulu aku menyamar sebagai koki di rumahnya,
tapi karena sudah bekerja di istana dan tidak lagi bertemu maka kata-kata Akok
hanyalah godaan dan tidak sungguh-sungguh. Kau tak perlu memasukkannya di
Kolektor E-Book

hati.”
“Hm, dan Kiu-siocia?” Mei Hong masih bertanya, mengejar. “Siapa gadis ini,
Bun Hwi? mau berterus terang atau menyembunyikannya kepadaku?”
“Wah!” Bun Hwi menggaruk kepalanya. “Kenapa mendesak aku, Mei Hong.
Gadis itu tak kukenal, Akok hanya main-main!”
“Sungguh?”
“Tentu saja sungguh, aku tak bohong!” dan Bun Hwi yang tertawa serta
memeluk kekasihnya lalu berkata, terpaksa berbohong agar pembicaraan tak berlarut-
larut, “Mei Hong, sekarang aku perlu bantuanmu. Hu Lan lenyap, hubunganku

BATARA Dewi Kelabang Hitam


208

dengan Hu-taijin putus. Tolong gantikan dia dan cari tahu kenapa dia tak datang
lagi.”
“Hu Lan?”
“Ya, puteri Hu-taijin itu, Mei Hong. Dia menjadi penghubungku selama ini,
Tapi aneh, beberapa minggu ini tak muncul lagi dan aku kebingungan melapor berita
pada Hu-taijin!”
Mei Hong mengerutkan kening. Tentu saja dia dan Bun Hwi tak tahu akan
peristiwa di tempat itu, bahwa Kiok Lan datang, dan akhirnya menculik Hu Lan,
membawa pergi gadis itu setelah merobobkan Hu-taijin. Bun Hwi tak tahu bahwa
Kiok Lan sekarang lihai bukan main, bahwa gadis itu telah mempelajari ilmu di Bukit
Pedang dan tentu Bun Hwi terkejut setengah mati kalau mengetahui ini. Dan karena
semuanya itu tak di ketahui lagi dan Bun Hwi cemas serta kebingungan kenapa Hu
Lan tak muncul akhir-akhir ini maka Mei Hong mendengarkan itu dengan kening
berkerut.
“Bagaimana?” Bun Hwi bertanya lagi. “Kau mau membantuku, Mei Hong?”
“Hm,” gadis ini mengangguk. “Membantumu tentu saja mau, Bun Hwi. Tapi
apa yang harus kulakukan? Dan, hm...., bagaimana dengan urusan kita sendiri?”
“Mei Hong,” Bun Hwi tiba-tiba mencekal lengan gadis itu. “Urusan sendiri telah
tak ada persoalan. Maksudku aku tak mencari Kiok Lan karena aku telah menetapkan
dirimu. Kau yang kupilih dan kau tak boleh meninggalkan aku lagi. Tapi karena kita
menghadapi persoalan lebih penting dan biarlah untuk sejenak kita lupakan urusan
sendiri maka tolong aku untuk menyelesaikan persoalan ini.”
Mei Hong tergetar, berkedip.
“Kau tak percaya?” Bun Hwi merapat. “Aku telah menetapkan keputusanku,
Mei Hong. Bahwa aku mencintaimu dan ingia kau menjadi isteriku!”
“Ah,” Mei Hong tiba-tiba terisak, teringat Hangga. “Aku belum dapat
menetapkan hatiku, Bun Hwi. Terus terang..... terus terang.... gadis itu berhenti,
mendadak menangis. “Aku akhir-akhir ini bingung!”
“Bingung apa?” Bun Hwi terkejut. “Tentang apa?”
“Sudahlah,” Mei Hong tiba-tiba memandang aneh. “Kau benar-benar
mencintaku, Bun Hwi? Kau ingin aku bahagia?”
Kolektor E-Book

“Tentu saja! Mana mungkin aku akan membuatmu sengsara, Mei Hong? Kau
aneh dan kekanak-kanakan, lucu!” dan Bun Hwi yang mau mencium tapi dielak gadis
itu mendadak didorong pundaknya dan mendengar pertanyaan mengejutkan.
“Bun Hwi, bagaimana kalau aku bahagia dengan orang lain?”
“Apa?” pemuda ini seolah tersengat listrik tegangan tinggi. “Apa kau bilang,
Mei Hong? Kau mencinta dan dicinta orang lain?”
Mei Hong tiba-tiba tersenyum luar biasa, mengangguk. “Bun Hwi, terus terang
saja kuberi tahu di sini bahwa seseorang mencintaku. Aku ingin bicara jujur. Aku

BATARA Dewi Kelabang Hitam


209

telah berkenalan dengan seorang pemuda dan dia adalah pemuda hebat. Aku
mengaguminya dan merasa suka, tapi...”
“Jagad Dewa Batara....!” Bun Hwi tiba-tiba terhuyung, memotong, memegangi
kepalanya. ”Jadi kau tak menerima cintaku, Mei Hong? Kau sengaja menjauh karena
mendapatkan pemuda lain.”
“Nanti dulu,” gadis itu terkejut. “Aku belum bicara selengkapnya, Bun Hwi.
Kau dengar dan lihatlah baik-baik.”
“Baik, kau ceritakanlah. Aku mengharap kejujuran dan keterbukaan di antara
kita!” Bun Hwi tiba-tiba teringat kitab yang dibaca, petunjuk atau nasihat dari
Brahmadewa si kakek sakti, menahan guncangannya. Dan ketika dengan sekuat
tenaga dia menekan perasaannya yang bergolak dan baru kali itu tiba-tiba dia merasa
cemburu dan terpukul akhirnya Bun Hwi duduk dan terengah di rumput, menggigil.
“Mei Hong, sungguh tak kusangka sedemikian banyak perobahan di antara kita.
Baiklah, coba kau ceritakan siapa pemuda itu dan kenapa sedemikian lama kau
meninggalkan aku!”
Mei Hong tergetar, bimbang. “Kau dapat menahannya?”
“Aku laki-laki, Mei Hong. Kukira aku tahan dan tak apa-apa!”
“Tapi suaramu lain, kau menggigil!”
“Hm, aku sedang menenangkan guncangan hatiku, Mei Hong. Tapi kau
bicaralah dan terus mulai!”
“Baiklah, kau dengarkan baik-baik,” dan Mei Hong yang lalu menceritakan
kisahnya sampai di Magada lalu menceritakan semua termasuk hubungannya dengan
pendekar Handewa sekeluarga, bahwa di negeri itu pendekar ini adalah tokoh yang
paling dihormati Urugata dan Yonaga, tentu saja juga semua rakyat karena Handewa
adalah kakak tertua menteri Yo, didengarkan dan Bun Hwi berkerut-kerut. Nama
Handewa hanya selintas saja didengar, maklum, jarang dia memperhatikan pendekar
ini. Tapi begitu Mei Hong selesai bicara dan menyebut tentang keinginan pendekar
itu yang melihat cinta puteranya maka Bun Hwi bangkit berdiri dengan muka merah.
“Baik, jadi beginikah semunnya? Dan kau berkali-kali ditolong pendekar itu,
Mei Hong? Kau tertarik dan suka pada pemuda ini?”
“Masalah suka memang suka, Bun Hwi. Tapi lebih dari itu aku sendiri belum
tahu. Terus terang Hangga adalah pemuda yang baik, Han Li adiknya juga baik
Kolektor E-Book

dan.....”
“Ya ya, aku mengenal gadis itu. Han Li memang baik dan cantik. Tapi aku
belum mengenal kakaknya!”
“Hm, Han Li juga menceritakan dirimu, Bun Hwi. Dan karena ceritanya itu aku
lalu tertarik dan menuju dapur istana.”
“Apa katanya? Apa saja dia bilang?”
“Kau hendak diperkenalkan kepadaku, tapi kakaknya menolak. Kami bertiga
datang bersama untuk menyelidiki Hong Beng Lama itu.”

BATARA Dewi Kelabang Hitam


210

“Menyelidiki Hong Beng Lama?” Bun Hwi tertegun.


“Ya, meskipun sama-sama saudara tapi Handewa-locianpwe tak menyukai
sepak terjang adiknya, Bun Hwi. Aku dan Han Li serta Hangga disuruh menyelidik
dan mengawasi gerak-gerik menteri Yonaga!”
“Hm, baiklah kita tak bicara ini. Sekarang kembali saja pada persoalan kita
berdua. Bagaimana tanggapanmu tentang Hangga, Mei Hong? Apakah pemuda itu
sudah menyatakan cintanya dan kau terima?”
“Belum......”
“Tapi kau serumah!” Bun Hwi cemburu, meninggi suaranya. “Masa belum?”
“Hm,” Mei Hong merah mukanya. “Kau boleh percaya boleh tidak, Bun Hwi.
Tapi aku bicara sebenarnya. Lagi pula, memangnya kenapa kalau aku menerima cinta
pemuda itu? Ingat, kita sama bebas, Bun Hwi. Kau dan aku belum terikat secara
resmi!”
“Mei Hong........!” Bun Hwi terbelalak, terkejut. “Apa katamu ini? Kau, ah.....
kau mau meninggalkan aku?”
“Hm,” Mei Hong tiba-tiba tersenyum mengejek. “Baru sekali ini mendengar aku
dicinta orang kau sudah cemburu, Bun Hwi, marah. Bagaimana aku yang berkali-kali
harus khawatir dan cemas kalau kau dicinta gadis lain? Terus terang, aku khawatir
menjadi isterimu. Bun Hwi. Bukan kebahagiaan yang kudapat melainkan
kesengsaraan. Kau seo