Anda di halaman 1dari 253

Kolektor E-book https://www.facebook.

com/groups/Kolektorebook/

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 0
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

DARA PENDEKAR
BIJAKSANA

Jilid ke I

Penyadur
O.P.A.

Penerbit :
U.P. INDRA BHAKTI
JAKARTA

Book source : Aditya Indra Jaya


Photographer : Awie Dermawan
Distributing & filing : Yon Setiyono

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 1
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

DARA PENDEKAR BIJAKSANA

JILID I

I.
ANGIN bertiup santar, salju beterbangan, di jalan raya propinsi
Ho-lam distrik Thang-im yang menuju keselatan sedang berjalan
sebuah kereta berkerudung tenda hitam yang ditarik oleh seekor
kuda. Kereta tersebut berjalan perlahan-lahan menempuh perjalanan
yang sukar dan melawan angin serta salju yang amat dingin itu. dari
dalam kerudung tenda itu, lapat-lapat terdengar suara orang sakit
yang sedang batuk-batuk serta suara helaan nafas dari seorang
wanita.
Pada saat itu, muncullah tiba-tiba dari dalam rimba yang
terdapat di sebelah kanan sebuah bukit yang tidak jauh dari jalan
raya tersebut, dan dua sosok bayangan manusia yang berlari-larian
seperti terbang ternyata mereka itu menuju jalan raya yang sudah
penuh salju itu.
Kedua-duanya pada mempunyai kepandaian lari pesat yang luar
biasa, orang yang terdepan berbadan kecil dan langsing, berbaju
pendek dan celana panjang yang berwarna hijau seluruhnya, sedang
rambutnya dikepang menjadi dua. Sepasang kakinya memakai
cepatu yang berujung sangat runcing. Meskipun sederhana sekali
cara berpakaiannya tatapi tidak menutupi kecantikan wajahnya yang
wajar itu sebab kecantikannya itu adalah pemberian yang Maha
Kuasa bukan dibuat-buat. Bila orang melihatnya agak lama akan
orang ketahui bahwa ia sedang menyimpan perasaan duka. Hal itu
dapat dilihat dari sela-sela alisnya.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 2
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Di belakangnya ada berlari seorang laki-laki tua yang berusia


kira-kira enam puluh tahun lebih. Jenggotnya yang sudah putih
seluruhnya tumbuh melewati dadanya, badannya tegap tetapi pada
raut mukanya yang agak tirus panjang kelihatan tegas garis-garis
yang menandakan usia tuanya.
Kedua manusia itu telah menunjukkan kepandaian lari cepat
mereka di atas jalan raya yang sudah penuh sanyu yang tebal dan
putih meletak itu. dari jauh, mereka itu terlihat bukan seperti berlari
lagi, lebih tepat kalau mereka dikatakan bahwa mereka sedang
beterbangan seperti dua ekor burung elang yang lagi terbang turun
naik. Sekejap saja keduanya sudah bertenti tidak jauh di belakang
kereta bertenda hitam itu.
Si orang tua sambil menunjuk itu kereta bertenda hitam yang
sedang berjalan, dengan suaranya yang agak serak berkata kepada
anak dara yang bertubuh kecil langsing itu.
“Sian Cian, orang yang duduk di dalam kereta itu adalah tuan
penolongku Chie Chiatsu. Dahulu dia pernah menolong diriku dari
bahaya maut, kali ini ia telah difitnah orang jahat, sehingga
kehilangan pangkatnya serta dijebloskan ke dalam penyara.
Sebetulnya aku ingin mengajak engkau dan aku membongkar
rumah penyara untuk menolongnya, tapi siapa tahu orang yang baik
itu selamanya terhindar dari hukuman mati. Kasihan Chie Ciatsu
yang selama hidupnya berkelakuan sangat jujur dan bersih, tetapi
akhirnya pulang ke kampungnya dengan kehilangan pangkatnya.
Semoga engkau kali ini dapat memenuhi keinginanku agar tidaklah
sia-sia jerih payahku merawat dirimu hingga dewasa. Chie Kongcu
(putera Chie Ciatsu) masih muda usianya, orangnya tampan dan
terpelajar tinggi, tidak nanti mengecewakan engkau!”

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 3
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Dara itu setelah mendengar penuturan si orang tua tersebut


parasnya segera berobah merah. Sambil mengembeng air mata ia
menjawab:
“Yaya, aku mengerti maksudmu, tapi aku Cuma mengharap
agar aku berada saja disampingmu selama hidupku, bisa melayani
engkau, selain itu tidak ada lagi keinginanku yang lain!”
Si kakek tua itu tidak menunggu habis ucapan anak dara
tersebut, sudah tertawa lebar sambil berkata.
“Cian-jie, ucapanmu ini aku sudah mengerti, Cuma usia
yayamu sudah lanjut, entah tinggal berapa lama lagi masih bisa
bercakap-cakap dengan kau. Selama empat puluh tahun ini, meski
aku bisa mengangkat nama di kalangan Kang-ouw tetapi tahukah
engkau bagaimana kematian ayah dan ibumu? Permusuhan dan
balas membalas dalam rimba persilatan boleh dikatakan tidak ada
habis-habisnya. Selama hidupku entah sudah berapa banyak jiwa
penjahat dan orang-orang dari kalangan rimba hijau yang melayang
jiwanya dibawah pedangku, tetapi aku sendiri juga harus
mengorbankan jiwa anak dan menantuku sendiri. Lima belas tahun
yang lalu, kalau bukan Chie Inyin (tuan penolong) yang menolong
jiwaku, aku bukan saja tidak bisa menuntut balas sakit hati ayah
bundamu, bahkan jiwaku sendiri juga sudah siang-siang pulang ke
akherat. Maka itu, kalau aku menyuruh kau berbuat demikian
adalah untuk membalas budi. Selain dari pada itu juga karena aku
tidak ingin dirimu yang putih bersih ini bercampur dengan segala
orang jahat di sunia Kang ouw, Sian Cian, mengertikah ucapanku
ini!”
Mendengar itu, Sian Cian si anak dara itu pun mengangkat
mukanya, memandang wajah si kakek, lalu dengan suara pilu ia
menyahut.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 4
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Aku faham maksud baikmu Yaya, aku bersedia menuruti


kehendak Yaya ….. harap Yaya suka menjaga diri baik-baik.”
Sesuda berketa demikian, diputarnya tubuhnya tiba-tiba, lalu
dengan kecepatan seperti kilat dikejarnya kereta yang bertenda
hitam itu.
Di tengah-tengah salju yang putih Cuma tinggal seorang kakek
yang berbadan tegap dan berjenggot panjang dan putih. Ia
memandang itu bayangan hijau diantara keputihan salju. Lama-
kelamaan hilanglah dari pandangan matanya, tanpa terasa kakek itu
telah mengangkat tangannya, lalu dengan lengan bayunya ia
menyusut air matanya yang mengalir bercucuran ……
Teidak lama kemudian setelah kepergian Sian Cian, dari
jalanan sebelah Utara telah lari mendatangi tiga ekor kuda. Di atas
kuda-kuda itu ada tiga orang-laki-laki yang tegap dengan dandanan
serba ringkas. Ketiganya memakai baju tebal berwarna hitam,
kepala mereka dibungkus dengan kain tebal berwarna hijua. Di atas
pelana kuda mereka dicantelkan tiga buah senjata yang berlainan
jenis.
Mereka melarikan kuda laksana terbang, hingga salju
beterbangan di udara, sebentar saja sudah mendaki bukit.
Setiba di atas bukit, kuda mereka berjalan sedikit pelahan,
sedang orang itu sambil mengibas-ngibaskan salju yang menempel
pada badan mereka. Seorang diantara mereka mulai membuka
suara, katanya :
“Kereta yang tertutup hitam yang semalam telah kita lihat itu
memuat Chie Ciatsu, bekas pembesar negeri yang toako kita telah
perintahkan untuk mengejar lalu membunuhnya tanpa ampun.
Katanya orang tua itu telah dua kali menjabat jabatan tinggi, dan
tatkala ia masih memegang jabatannya, karena tindakannya yang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 5
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

tegas, diluar Ie Pak, entah berapa banyak kawan dari rimba hijau
yang sudah binasa di tangannya. Anak muridnya Toako dan
gundiknya yang tersayang, juga dihukum mati tatkala orang tua itu
menjabat kedudukannya di Liauw-tang. Kala itu kebetulan toako
berada di daerah Kang-lam hingga tidak mengetahui hal ini, setelah
kembali, buru-buru mengetahuinya, tetapi orang tua itu juga sudah
dipindah ke kota raja. Dengan sangat murka, toako pergi ke kota
raja, hendak menuntut balas terhadap itu orang tua, siapa kira
karena orang tua itu berani mengusik-usik perkara raja muda Han-lu
akhirnya, akhirnya telah mendapat dosa sebagai orang yang berani
menghina nama baik raja muda sehingga dijatuhi hukuman mati.
Toako yang melihat keadaan demikian, ia pikir sudah saja, siapa
tahu ternyata orang tua itu masih panjang umurnya karena masih
ada orang yang mau menolongnya, hingga ia terhindar dari
hukuman mati. Ia hanya dipecat dari jabatannya. Toako yang
mendapat kabar itu telah dua kali pergi ke kota raja, tetapi orang tua
itu telah berlalu dengan membawa kelurganya, sebab itu ia
menyuruh kita bertiga pergi mengejar dan mengambil jiwanya. Biar
bagaimanapun, jangan sampai kita pulang dengan tangan hampa!”
Seseorang segera memotong, “Aku kata dalam hal ini toako
agak membesar-besarkan, Cuma satu bekas pembesar negeri yang
lemah daya, sukup kita kirim satu atau dua orang kita saja yang
sedikit cerdik untuk mengurus, bukankah sudah beres? Perlu apa
mesti perintahkan kita bertiga yang harus turun tangan sendiri untuk
mengurus perkara yang sepele ini?”
Laki-laki yang seorang lagi yang berbadan pendek sedikit turut
bicara, “Pang Lo-ji, ucapanmu ini ada sedikit keliru. Toako dua kali
ke kota raja, bukankah karena hendak membunuh mati musuhnya
dengan tangan sendiri? Sekarang ia telah serahkan urusan ini
kepada kita bertiga? Lagi pula orang tua bekas pembesar negeri itu

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 6
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

sudah dua kali menjabat kedudukan tinggi, mustahil kita tidak


dapatkan hasil apa-apa dari dirinya!”
Laki-laki yang mula-mula membuka mulut tadi agaknya sudah
tidak sabaran, ia lantas berkata pula, “Kereta di depan itu sudah
tidak kelihatan bayangannya lagi. Jalanan ini agak banyak bukit,
dalam beberapa puluh paal ini tidak ada penduduknya, hingga
merupakan tempat yang paling baik bagi kita turun tangan. Mari
kita lekas kejar, setelah kita berhasil melaksanakan tugas kita, kita
lekas pulang ke Thong-im, tidak perlu kita merecoki hal-hal yang
bukan-bukan di sini!”
Tiga orang itu lantas melanjutkan perjalanan mereka, tidak
beberapa lama kemudian, mereka sudah melihat kereta bertutup
hitam itu sedang berhenti dan beristirahat, disamping kerena lapat-
lapat kelihatan bergeraknya bayangan orang. Pemandangan serupa
ini, sungguh di luar dugaan mereka, sehingga mereka menahan
kudanya untuk mengawasi dari jauh.
Tidak lama kemudian kereta itu kelihatan melanjutkan
perjalanannya.
Tiga penjahat itu saling memberi tanda, segera keprak kudanya
dengan cepat mengejar ke arah kereta tersebut. Karena kuda lebih
cepat dari kereta hingga sebentar saja mereka telah berada di
belakang kereta itu.
Saat itu timbullah nafsu membunuh dalam hati tiga kawanan
penjahat itu hingga mereka segera pada menghunus senjata masing-
masing serta menerjang kereta itu dari kanan dan kiri.
Siapa nyanya, baru saja ketiga penjahat itu bergerak, tiba-tiba
di belakang mereka terdengar suara orang tertawa dingin. Suara itu
dibarengi dengan tiga buah benda berkeredepan yang menyambar
ke arah mereka. Tiga penjahat itu hanya merasakan kesemutuan di

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 7
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

bagian jalan darah Hong Hu Hiat‟ di pundak belakang masing-


masing lalu ketiga-tiganya jatuh terjungkal dari kuda mereka.
Kereta tersebut seolah-olah tidak tahu apa yang telah terjadi hingga
melanjutkan perjalanannya dengan tenang.
Tiga penjahat itu setelah mendusin, baru mengetahui bahwa
dirinya pada rebah terlentang di atas salju, seolah-olah baru
mendusin dari mimpinya, mereka lantas mengerti telah bertemu
dengan orang yang berkepandaian tinggi. Jalan darah mereka telah
tertotok oleh semacam senjata rahasia yang sangat lihay, beruntung
orang itu tidak menginginkan jiwa mereka, hanya menotoknya di
tempat yang sangat tepat, sehingga mereka bisa mendusin sendiri
dalam tempo dua jam tanpa memerlukan pertolongan. Namun
demikian, mereka telah tidur dua jam lamanya di atas salju. Waktu
itupun sudah cukup membuat mereka hampir mati kedinginan.
Adapun tiga orang penjahat itu adalah anak buah seorang
kepala berandal yang namanya sangat disegani di jalanan lima
daerah propinsi Utara. Kepala berandal itu bernama Tong Cin Wie,
sedangkan gelarnya Sin Chiu Tui Hun. Tiga penjahat itu karena
mengandalkan nama pemimpin mereka yang sangat disegani serta
kepandaian ilmu silat mereka maka selalulah mereka berbuat
sewengna-wenang di daerah Utara sungai Kuning. Kejahatan
mereka sudah bertumpuk-tumpuk, entah sudah berapa banyak jiwa
manusia yang tidak berdosa sudah melayang di tangan mereka.
Penjahat itu yang usianya agak tua dari antara mereka bertiga
bernama Kim Mo Houw Cu Tiauw Ching, yang pendek bernama
The Thong, gelarnya macan kaki pendek, satu lagi bernama Pang
Jie Hoan, gelarnya macan muka hijau. Didalam kalangan Kangouw
mereka mendapat gelar tiga macan dari Ie-pak.
Kali ini karena mendapat perintah dari pemimpin mereka Tong
Cin Wie, tapi waktu mengejar dan hendak membinasakan jiwa Chie

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 8
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ciatsu sekeluarga, tidak nyana telah mengalami nasib sial, di sini


mereka bertemu dengan orang yang berkepandaian tinggi sehingga
mengalami kekalahan yang begitu hebat.
Berbicara tentang diri Sin Chiu Hun Tong Cin Wie, kepala
berandal ini pada masa itu merupakan tokoh yang sangat menonyol
di kalangan Kangouw, orang Cuma tahu bahwa kepala berandal itu
ada mempunyai kepandaian silat yang luar biasa, senjata rahasianya
yang berupa jarum Tui Hun Ciam merupakan senjata yang sangat
ampuh dan menjagoi kalangan Kagouw.
Sifat kepala berandal ini aneh dan kejam, diluarnya manis
tetapi dalam hatinya buas seperti binatang. Setiap kali bertemu
dengan musuh-musuhnya, belum pernah memberi kesempatan
hidup kepada musuh-musuhnya.
Baru tujuh atau delapan tahun ini ia muncul di kalangan rimba
hijau di lima propinsi Utara, tapi kepandaian ilmu silatnya yang luar
biasa dan senjata rahasia Tui Hun Ciamnya yang sangat ampuh
tiada taranya itu telah menundukkan semua jago dalam kalangan
rimba hijau di daerah Utara, hingga menduduki kursi kepala
berandal di daerah lima propinsi Utara.
Dua tahun kemudian ia telah membuka perkampungan di tepi
sungai Eng Teng Ho yang mempunyai pemandangan alam yang
sangat indah permai, seolah-olah seorang hartawan besar, tapi
kiranya ia cuma seorang kepala berandal, perkampungan ini dibuat
markas besar untuk memimpin gerakan-gerakan kejahatannya.
Tong Cin Wie masih mempunyai satu ciri, ialah gemar main
perempuan, namun ia tidak gampang-gampang jatuh hati terhadap
wanita. Wanita-wanita yang ditaksir olehnya tidak peduli isteri atau
gundik-gundik para pejabat tinggi atau raja muda, puteri-puteri
bangsawn atau hartawan, ia pasti berusaha terus sampai bisa
berhasil. Ia memanam bibit permusuhan dengan Chie Tayjin ialah

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 9
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

karena salah satu gundik karena salah satu gundik dari penjahat
besar tapi ternyata yang paling disayang olehnya beserta salah
seorang muridnya dalam suatu kejahatan di daerah Lauw-tang telah
tertangkap. Kala itu Chie Tayjin itu adalah satu-satunya pejabat
negeri yang berani bertindak tegas terhadap kejahatan, maka
seketika itu lantas menyatuhkan hukuman mati kepada penjahat
tersebut.
Tong Cin Wie yang masih terus merasa penasaran terhadap
Chie Ciatsu, terus berusaha untuk menuntut balas dendamnya, dan
ketika ia mendengar Chie Ciatsu sedang pulang ke kampungnya,
iapun segera perintahkan tiga anak buahnya untuk mengejar dan
membinasakan bekas pembesar negeri tersebut.
Siapa nyana bahwa Tuhan masih melindungi jiwa pembesar
negeri yang jujur dan berhati mulia itu sehingga muncullah seorang
pendekar budiman Kang It Peng yang bergelar Gin Sie Siu atau
kakek jenggot perak yang pernah ditolong oleh bekas pembesar
negeri itu. secara diam-diam telah melindungi di sepanjang jalan.
Akhirnya membuat tiga macan itu pulang dengan tangan hampa.
Tiga macan dari Ie-pak itu lantas melaporkan segala
pengalamannya kepada pemimpinnya. Ketika Tong Cin Wie
mendengar laporan anak buahnya, parasnya berobah seketika, lama
ia berpikir, kemudian barulah ia berkata sambil tertawa dingin.
“Bagus, ternyata masih ada orang yang berani main gila
terhadap aku si orang she Tong, rasanya aku mesti turun tangan
sendiri, aku ingin melihat bagaimana macam orang itu yang pandai
menggunakan senjata rahasia untuk menyerang jalan darah orang.
Kalian bertiga, sekarang juga harus berangkat ke Kang-lam lagi,
kalian harus pasang mata dan kuping dengan betul, dimana tempat
kediaman bekas pembesar anjing she Chie itu. beberapa hari
kemudian aku akan menyusul kalian!”

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 10
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Setelah rnendapat tugas baru itu ketiga macan itupun segera


berangkat lagi ke Kang-lam pada hari itu juga tanpa berani
beristirahat sedikitpun.
Kini Tong Cin Wie lantas mulai mengatur siasatnya, ia tahu
bahwa orang yang mahir menggunakan senjata rahasia untuk
menotok jalan darah lawannya orang itu tentu tinggi sekali
kepandaiannya, begitu pula ilmu tenaga dalamnya, orang tersebut
bisa permainkan tiga anak buahnya, sudah tentu bukan orang
sembarangan.
Ia lantas mengutus anak buahnya memberitahukan kepada Hoe
Cee Thian Ong Hwan Kong Hong dan Chit Seng Sin Pian Oey Cing
Tan untuk menyuruh rnereka segera berangkat ke Selatan malam itu
juga dengan membawa beberapa orang yang berkepandaian agak
tinggi, untuk memberi bantuan kepada si tiga macan itu.
Disamping itu juga diutusnya orangnya untuk memberitahukan
kepada beberapa penjahat yang namanya sudah terkenal di daerah
Utara, supaya membawa anak buah masing-masing dan segera
berangkat ke Selatan. Kemudian ia sendiri berangkat menuju
kegereja Cing In Sie di Tay-ku, untuk mengundang kawan karibnya
yang menjadi paderi di kelenteng tersebut Kim Hong Sian-su.
Kita sekarang balik kepada Chie Ciatsu. Bekas pembesar negeri
ini bernama Chie Kong Hiap, ia berasal dari keluarga terpelajar,
sejak mudanya sudah terkenal karena kepandaian ilmu suratnya. Ia
sudah pernah menjabat jabatan Ti-hu dan kemudian Ciatsu
sebetulnya ia tidak perlu sudi gawe turut mengusil-usil perkara raja
muda Han-lu yang masih pernah adik dari hongtee masa itu tapi
Raja muda itu telah berlaku tidak senonoh terhadap wanita rakjat
biasa hingga Ciatsu itu telah bertindak dan hasilnya ialah yang
difitnah oleh raja muda ceriwis itu hingga hampir saja ia mendapat
hukuman mati.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 11
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Chie Kong Hiap tidak sajangi pangkatnya, tapi ia kasihani anak


dan isterinya yang tidak berdosa apa-apa tapi harus turut memikul
dosanya sendiri, oleh karena itu jatuh sakitlah ia dirumah pen-jara,
sehingga ia dikeluarkan dari penyara pada waktu itu sakit-nya
belum sembuh benar.
Karena ia tidak mau berdiam lama-lama di kota-raja, maka
meski badannya masih sakit maka diajak anak isterinya untuk
pulang juga kekampung Siang Khe Chun di propinsi An Hwie yaitu
kampung halamannya sendiri.
Meski badan Chie Kong Hiap sakit, tapi hatinya merasa gem-
bira, ia sangat gembira bisa meninggalkan penghidupannya yang
sibuk dikalangan pembesar negeri, tapi ia tak tahu bahwa ia baru
terlepas dari cengkeraman maut di kalangan pemerintahan, kini
kembali menghadapi ancaman pembunuhan dari kawanan penjahat?
Kalau bukan pendekar budiman Kang It Peng yang melindunginya,
niseaja ia dan isterinya sudah terbinasa ditangannya tiga macan dart
Ic-pak itu.
Tatkala kereta bertenda hitam tadi berjalan diatas sebuah
jalanan yang sepi di daerah Thong Im, tiba-tiba terdengar suara
tangisan dan ratapan seorang wanita yang memilukan hati. Nyonya
Chie tergerak hatinya oleh suara tangisan itu lalu memerintahkan
kusir menghentikan keretanya, lalu membuka tirai kereta untuk
melihat keluar, maka terlihatlah olehnya diatas jalan yang penuh
salju, tidak jauh dari depan kereta, ada duduk seorang wanita muda
berbaju hijau. Suara tangisan itu ternyata keluar dari mulut wanita
itu.
Tanpa menanyakan apa sebabnya maka nyonya Chie segera
perintahkan anak laki-lakiya turun dart kereta memberi pertolongan
pada wanita tersebut. Chie Kongcu tidak berani berbuat ajal, ia

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 12
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

segera turun dari kereta dan buru-buru menghampiri wanita itu, lalu
menyapa :
“Nona, disini hawanya sangat dingin, ibu suruh nona naik ke
atas kereta untuk menghindarkan hawa dingin, kalau nona ada
kesasar jalan, aku nanti bisa minta kepada ibu agar supaya bisa
suruh kusir kereta antarkan pulang kerumah nona. Sekarang silah-
kan nona naik ke-kereta ……!”
Chie Kongcu ada seorang terpelajar, biasanya jarang keluar
pintu sendirian, maka pembicaraannya sedikit banyak masih rada
malu-malu.
Wanita muda itu lantas berdiri dan menyahut : “Terimah kasih
atas kebaikan Kongcu". Lalu memberi hormat kepadanya.
Chie Kongcu agak gelagapan, ia menampak wajah ayu agung
dari si nona, matanya tidak berani memandang lama-lama. Maka
dalam seketika itu buru-buru mengajak si nona naik ke kereta
menemui ibunya.
Nyonya Chie adalah seorang perempuan budiman serta welas
asih, maka buru-burulah ia membersihkan salju yang menempel di-
badan nona itu, kemudian memberikan pakaian tebalnya, sudah itu
lalu menutupi tirainya dan melanjutkan perjalanannya.
Nyonya Chie menanyakan diri nona tersebut yang lalu
diceritakan riwajatnya yang sudah dikarang terlebih dahulu. Ia
mengaku dirinya she Kang dan namanya Sian Jie. Ia bersama
ayahnya hendak mencari familinya, tapi tidak ketemu dan ayahnya
mati ditengah perjalanan kemudian ia dijual kepada seorang
hartawan, tapi kemudian ia melarikan diri.
Kini ia sudah tidak mempunyai kediaman lagi, maka
dimintanya supaya nyonya ini suka menerimanya sebagai budak
atau apa saja. Kata-katanya itu sudah tentu terdapat banyak

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 13
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

kesalahan, tapi karena ia pandai mengatur pembicaraan hingga


nyonya Chie itu percaya saja. Juga karena ia telah ter-tarik kepada
paras yang cantik dan kecerdikan nona itu hingga ia terima baik
permintaan nona itu.
Meski Chie Kong Hiap merasa sangsi terhadap diri nona itu
tapi karena kemauan isterinya maka ia tidak berani membantah.
Saat itu Chie Kongcu Chie Sie Kiat girang sekali. Ia belum pernah
melihat seorang wanita yang parasnya begitu cantik laksana
bidadari, meski nona itu hanya mengenakan pakaian yang sangat
sederhana.
Kereta itu dijalankan setiap hari tanpa mengaso barulah
berhenti dipenyeberangan sungai kuning. Ketika itu Chie Kong
Hiap mulai sembuh. Pindahlah mereka keperahu layar supaya dapat
melanjutkan perjalanan ke Selatan. Setelah tiba diseberang Selatan
sungai kuning mereka pindah lagi ke kereta dan meneruskan
perjalanan melalui Kay-hong, Tan-liu dan kemudian tiba di kota
Hway-yang.
Malam itu mereka lantas menginap di satu rumah penginapan.
Belum lama mereka tiba dirumah penginapan itu telah datang tiga
lelaki yang menunggang tiga ekor kuda. Laki-laki tersebut juga
menginap dirumah penginapan tersebut.
Chie Ciatsu bersama keluarganya menempati tiga buah kamar
di-sebelah Barat sedang ketiga laki-laki tadi menempati dua buah
kamar cliseberangnya.
Tatkala malam tiba, tiga laki-laki tersebut selalu pasang mata
dan kadang-kadang melongok kekamar Chie Kong Hiap. Semua
gerak gerik itu telah diketahui oleh Sian Jie, tapi ia pura-pura tidak
melihat, setelah membantu nyonya Chie memasak obat untuk Chie
Kong Hiap barulah ia masuk kekamarnya sendiri.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 14
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Kira-kira jam satu tengah malam, suami isteri Chie Kong Hiap
itupun pulaslah. Cuma kamar Chie Sie Kiat yang masih memancar-
kan sinar lampu sebab ia belum tidur. Sian Jie dengan perlahan
turun dari pembaringannya lalu menuang secawan teh wangi dan
kemudian dengan mengindap-indap berjalan menuju ke kamar Chie
Sie Kiat. Tadinya ia mengira sang Kongcu itu masih membaca
buku. siapa tahu tatkala ia mendorong pintu kamar, ia menyaksikan
Chie Kongcu sedang duduk menunjang janggut sambil mengawasi
lampu diatas meja, agaknya sedang melamun.
Sian Jie adalah seorang anak cerdik, selama beberapa hari ini,
ia telah dapat melihat bahwa sang Kongcu itu telah menaruh
perhatian terhadap dirinya.
Ia berjalan mendekati, lalu berkata dengan suara perlahan,
“Siao-ya, sudah larut malam, seharusnya mengaso saja!”
Kata-kata itu telah mengejutkan Chie Sie Kiat yang sedang
melamun, iapun mengangkat muka, sekilas terlintas wajahnya Sian
Jie yang cantik dan menggiurkan. Ia cuma bisa membuka mata
lebar-lebar ia tak tabu cara bagaimana harus menjawab.
Sian Jie letakkan cawan teh diatas media seraja berkata “Siao-
ya, silahkan minum teh!”
Sehabis berkata lantas memutar tubuhnya dan berjalan keluar.
Chie Sie Kiat mendadak membuka mulutnya, ia berkata :
“Sian Kow ……..”
Kata-kata selanjutnya belum sampai keluar dari multitnya,
tiba-tiba melihat Sian Jie membalikkan tubuh, tangan kanannya
mengayun, seperti ada benda yang menyerupai benang perak
meluncur dari tangannya, torus menerjang jendela. Kemudian
disusul dengan suara jeritan “Aduh !”, lalu sunyi kembali.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 15
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Chie Kongcu tidak dapat melihat togas semua kejadian itu.


tatkala mendengar suara jeritan itu, kagetnya bukan main, sehingga
badannya gemetaran.
Sian Jie sambil menyender kepintu, berkata sambil bersenyum :
“Siao-ya, tidurlah baik-baik, jangan bikin kaget Lo-ya dan dan
Hu-jin!”
Kemudian ia menutup pintu lalu meninggalkan kamar itu dan
Chie Kongcu yang masih duduk bingung memikirkan semua
kejadian yang baru saja terjadi itu.
Esok harinya, Chie Ciatsu melanjutkan perjalanannya, Chie
Kongcu masih memikiri kejadian semalam, tapi Sian Jie masih tetap
seperti biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Baru kira-kira dua puluh paal kereta Chie Ciatsu meninggalkan
kota Hway-yang bertemulah sebidang tanah dataran yang amat luas.
Pada saat itu, dibelakang kereta Chie Ciatsu itu ada delapan ekor
kuda sedang berlari membuntuti, tidak lama kemudian, dari alas
kereta bisa menampak delapan ekor kuda itu. Ternyata ada delapan
penunggangnya yang terdiri dari orang-orang tun, muda. Mereka itu
ada yang kurus ada pula yang gemuk dan setiap orang pada
menyoren senjata.
Orang-orang yang berada dalam kereta itu Sian Jie sajalah yang
mengerti bahwa orang-orang itu sedang mengejar mereka. Nona
cilik itu lantas berobah parasnya, mulutnya yang kecil mungil
agaknya tersungging senyuman dingin, alisnya berdiri. dalam
hatinya berkata, “Hari ini kalau aku tidak memberi sedikit pelajaran
kepada kalian tentu kalian tidak akan tahu diri, tentu kalian tidak
tahu lihaynya Kong Tong Li Hiap Kang Sian Cian".
Selagi ia berpikir itu kedelapan ekor kuda itu sudah melalui
kereta tersebut. Sian Jie diam-diam pasang mata, tangannya

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 16
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

menggenggam senjata rahasia duri ikan terbang yang kecil halus.


Seorang diantara ke delapan penunggang kuda itu, yang berusia
kira-kira empat puluh tahun (agaknya sebagai pernimpin
rombongan itu) mengempit perut kuda dengan kedua pahanya,
hingga kudanya membedal melewati yang lain-lainnya. Orang itu
membawa golok Kui Thauw To. Wajahnya seperti tembaga dan
romannya kelihatan bengis, ia bedal tali kudanya, tempat duduknya
agak dimiringkan kekanan.
Sian Jie hampir saja tidak bisa kendalikan amarahnya, ia ingin
turun dari keretanya untuk memberi hajaran pada laki-laki yang
jumawa itu, tapi tatkala ia menoleh dan menampak Chie Ciatsu
bertiga sedang mengawasi tingkah lakunya sendiri, terpaksa ia
mengawasi mereka sambil bersenyum.
Saat itu dari luar kereta terdengar suara orang tertawa dingin,
kemudian disusul dengan suara orang berkata “Aku tidak
menampak orang berarti dalam kereta ini Pang Lo-jie bisa terkena
serangan menggelap, sehingga buta matanya sebelah bukankah ini
suatu peristiwa yang sangat mengherankan?"
Terdengar pula satu suara yang berkata : “Pang Jie Hoan
terkena serangan senjata gelap, sehingga sekarang masih belum tahu
betul siapa penyerangnya; menurut keterangannya bahwa gerak
tangan orang itu gesit sekali, lagipula senjata rahasianya tidak
mengeluarkan suara, hingga ia bisa rubuh".
Pada saat itu, kuda kawanan penjahat itu sudah mengitari kereta
dan menerjang bagian depannya, tiba-tiba terdengar suara orang
berkata :
“Haan Toa-ko Thee Lotee, kalian tidak perlu merecokin itu
lagi, aku pernah menyaksikan dengan mata kepada sendiri, senjata
rahasia yang mengenai diri Pang Jie Hoan itu adalah duri ikan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 17
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

terbang yang namanya sangat terkenal didaerah Kang-lam, aku lihat


urusan ini agaknya sedikit sulit".
Orang yang mula-mula berbicara itu berkata lagi, “Orang
namakan kamu tiga macan dari Ie-pak, nama itu saja sudah cukup
menakutkan orang. Aku tidak percaya bahwa dalam kereta ini ada
orang yang pandai menggunakan senjata rahasia duri ikan terbang.
Dasar Pang Jie Hoan yang sedang sidI, atau boleh jadi bertemu
musuh lamanya, sehingga mengalami kekalahan ….. "
Ketika pembicaraannya sampai disini, tiba-tiba ia menarik
tinggi nada suaranya :
“Aku heran sikap toako kita, ia agaknya meniup-niup urusan
ini, sehingga perlu musti turun tangan sendiri, aku tadinya mengira
ia sedang berhadapan dengan orang yang mempunyai tiga kepala
dan enam lengan tapi kiranya cuma satu orang tua yang tidak ada
gunanya. Aku heran, toa-ko biasanya suka bertindak cepat, tapi
sekarang kemana kegesitannya itu? Dalam hal ini ia nampaknya
sangat hati-hati sekali, kalau hal ini diluaran, seorang gagah dirimba
hijau yang sudah menjagoi di lima propinsi Utara, ternyata begitu
takut bertindak menghadapi seorang tua yang tidak ada gunanya,
bukankah akan membuat tertawaan orang? Kalau bukan karena toa-
ko memesan berulang-ulang, hari ini aku sudah lantas turun tangan,
untuk mengubrak-abrik itu orang dalam kereta, benar-benar aku
tidak percaya mereka mempunyai pengaruh gaib".
Penjahat-penjahat itu bicara sambil mengeprak kuda lalu maju
melewati kereta itu. Mereka tidak sangka bahwa semua
pembicaraannya sudah masuk ketelinga Sian Jie. Nona cilik ini
meski baru berusia delapan belas tahun, tapi ia sudah dididik dan
dilatih baik oleh dua jago silat yang kenamaan, dengan sebilah
pedang lemas yang terbikin dari besi Burma tulen dan sekantong
senjata rahasia berbentuk duri ikan terbang yang terbikin dari baja.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 18
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ia sudah menjelajah dan malang melintang di tujuh propinsi daerah


Kang-lam, nama Kong-tong Lie-hiap Kang Sian Cian, telah
menggetarkan rimba hijau didaerah Kang-lam.
Tatkala ia mendengar pembicaraan kawanan penjahat tadi,
mengertilah ia bahwa keluarga Chie Ciatsu serta dirinya sendiri
sedang dikuntit oleh kawanan penjahat yang berjumlah besar dan
mungkin akan menyusul berangsur-angsur; dari pembicaraan tadi ia
juga tahu bahwa kawanan penjahat itu sedang menanti kedatangan
pemimpin mereka, maka itu ia tidak berani turun tangan
sembarangan.
Hal ini membuat ia merasa lega. Meski ia tidak takut terhadap
mereka, tapi karena ia hanya seorang sudah tentu ia akan keripuhan.
Karena mengetahui kawanan penjahat itu tidak berani turun tangan,
maka ia juga tetap berlaga pilon sambil menanti kedatangan Ya-
yanya.
Senjata rahasianya yang sudah digenggam ditangan,
dimasukkannya lagi kedalam kantongnya. Tapi segala perobahan
sikap ini sudah menarik perhatian Chie Kong Hiap. Chie Kong Hiap
meski tidak mempunyai pengalaman didunia Kang-ouw seperti Sian
Jie, tapi terhadap gerak-gerik kawanan penjahat itu juga
menyebabkan ia merasa curiga. Ia juga mendengar lapat-lapat
pembicaraan mereka, meski tidak bisa dengar jelas persoalan yang
mereka bicarakan, tapi sedikit banyak sudah dapat menduga bahwa
mereka tidak bermaksud baik terhadap dirinya.
Berbareng dengan itu, ia juga sudah dapat lihat bahwa Sian Jie
ini bukan anak perempuan sembarangan meski nampaknya lemah
lembut, tapi dari sepasang matanya yang bersinar tajam, dapat
dipastikan bahwa anak perempuan ini berasal dari kalangan orang-
orang gagah.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 19
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Mereka pun melanjutkan perjalanannya sampai beberapa hari


lamanya, pada suatu hari mereka telah memasuki propinsi An-hwie.
Setelah melalui jalan dataran yang luas dan panjang, tibalah mereka
didaerah rimba pada waktu tengah hari.
Tiba-tiba dari dalam rimba terdengar suara siulan nyaring dan
panjang. Mendengar suara itu berobahlah wajah Sian Jie. Ia tidak
perduli kedoknya akan terbuka dihadapan Chie Ciatsu hingga
dengan cepat ia bertindak yaitu ia menyuruh kusir menghentikan
kereta. Kemudian menolehlah ia kepada Chie Ciatsu lalu berkata,
“Lo-ya, Hujin, didalam rimba ini mungkin ada kawanan orang
jahat, Lo-ya sekalian berdiam saja didalam kereta, jangan bergerak
sembarangan, tunggu budakmu akan melakukan pemeriksaan dulu
sebentar".
Tidak menunggu jawaban dari Chie Ciatsu lagi, iapun me-
lompat turun dari kereta lalu dengan cepat lari kedalam rimba. Baru
saja tiba didalam rimba, ia segera dapat melihat kedelapan penjahat
itu berada didalam rimba tersebut, Sian Jie lalu berkata sambil
tertawa dingin :
“Kahan ini semua berlaku seperti setan gentajangan, selalu
menguntit kereta nona-mu apa hasrat kamu yang sebenarnya?"
Penjahat yang berwajah seperti tembaga itu tiba-tiba tertawa
terbahak-bahak kemudian berkata :
“Seorang nona cilik yang galak sekali, aku si orang she Hoan
beberapa tahun berkelana di dunia Kang-ouw, belum pernah ketemu
dengan seorang perempuan yang begini galak. Kau mau bertanya
maksud kedatangan kita? Tapi aku ingin ketahui lebih dahuIu nona
cilik ini siapa dan ada hubungan apa dengan itu si orang she Chie
yang berida didalam kereta! Mengapa kau mengikuti mereka duduk
dalam kereta itu?”

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 20
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Apakah kau sendiri yang melukai sahabat kita si macan muka


hijau di rumah penginapan Hway Yang ?"
Ia majukan itu serentetan pertanyaan sambil menatap wajah si
nona, begitu pula tujuh penjahat yang lainnya.
“Kau bertanya tenting ini? Aku dengan orang she Chie itu ada
mempunyai hubungan majikan dengan bujang, tegasnya, aku adalah
budak keluarga Chie sudah tentu aku harus bantu mereka. Hal ini
tidak ada urusan bagi kalian semua. Tentang itu orang yang
menamakan dirinya si macan muka hijau, ia terluka memang
seharusnya. siapa suruh ia tengah malam buta mengintip kamar
orang? Jawabanku sudah habis, kalian ada maksud apa? Sebaik-nya
kalian jelaskan padaku. Perlu aku beritahukan padamu, meski nona-
mu ada seorang diri saja, tapi sedikitpun tidak akan merasa jeri
untuk menghadapi orang-orang semacam kalian ini!"
Mendengar perkataan jumawa dari si nona maka seorang
diantara penjahat itu lantas berkata dengan amat gusar,
“Budak hina yang sangat katak, kau benar-benar tidak
memandang mata orang lain. Aku tidak percaya dengan usiamu
yang begini muda bisa mengeluarkan ucapan begini sombong.
Baiklah, kawan kita si Pang telah teriuka ditanganmu, sekarang
tidak usah banyak bicara, utang uang bajar uang, utang jiwa bajar
jiwa, aku Kim Mo Houw hendak menagih hutang padamu".
Orang itu berusia tiga puluh tahun lebih, wajahnya bengis, di
tangannya memegang sebilah golok besar dan berat. Dengan itu
golok ia lantas mulai melakukan serangan terhadap diri si nona.
Sian Jie berkelit sambil berkata mengejek, “Dengan badanmu
yang seperti kerbau ini juga berani turun tangan terhadap nona-
mu?" Sebentar saja ia sudah bersda dibelakang Kim Mo Houw, dua

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 21
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

jari tangan kanannya lalu menotok jalan darah Hong Hu Hiat


dibelakang pundak si macan bulu emas itu.
Begitu turun tangan, Sian Jie sudah mengarah jalan darah
orang, hingga para kawanan penjahat yang menyaksikan pada
terkejut.
Difihak Kim Mo Houw yang gagal dalam serangannya, karena
tidak menampak bayangan Sian Jie hatinya kagetnya bukan main.
Tiba-tiba dibelakang gegernya merasa desiran angin lalu ia buru-
buru lompat kedepan sejauh delapan kaki, tapi si nona seolah-olah
membayangi dirinya, sambil membentak : “Kau hendak lari kemana
?" Jari tangan nona itu segera menotok belakang geger Kim Mo
Houw.
Mata si macan bulu emas itu lantas gelap seketika, darah
sekujur badannya dirasakan pangs, kemudian sempojongan sampai
tindak, baru bisa berdiri lagi. Meski ia tidak jatuh, tapi wajahnya
sudah pucat pasi. Kalau Sian Jie berlaku ganas, jiwa salah satu dari
si macan bulu emas ini sudah melayang siang-siang. Sian Jie tidak
map memberi hati kepada kawanan penjahat itu, setelah berhasil
merubuhkan Kim Mo Houw, lalu memutar tubuhnya dan berkata
kepada kawanan penjahat tersebut.
“Dengan mengandal kepandaian kalian yang tidak berarti ini
juga berani main gila terhadap nona-mu? Kalau kalian mengerti
selatan, sebaiknya lekas berlalu dari sini Kalau tidak dengar nasehat
nona-mu, nanti nona-mu bisa bikin kalian mampus di rimba ini!”
Ucapan Sian Jie ini telah membikin Hwie Cee Thian Ong Hoan
Kong Hong gusar sekali. Dengan marah ia membentak.
“Budak hina yang sangat ganas, kau telah mendesak kita
demikian rupa, aku si orang she Hoan juga ingin menguji

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 22
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

kepandaianmu.” Kemudian ia menoleh dan berkata kepada kawan-


kawannya,
“Budak hina ini biarlah kalian serahkan kepada aku dan saudara
The yang melayani, kalian boleh turun tangan bereskan itu orang
she Chie bersama keluarganya, agar tog-ko tidak perlu turun tangan
sendiri".
Mendengar perintah orang she Moan itu, empat diantaranya
segera memisahkan diri hendak lari menghampiri kereta Chie
Ciatsu.
Berbareng dengan itu, Hoan Cee Thian Ong juga segera
keluarkan senjatanya menyerang Sian Jie.
Ketika Sian Jie mendengar kawanan penjahat itu hendak
menyerang kereta Chie Ciatsu niatnya ia merintangi tapi selagi ia
hendak merintangi itu empat penjahat yang lari keluar rimba, tiba-
tiba senjata Hoan Kong Hong sudah berada didepat dadanya.
Dengan cara rebahkan diri, ia dapat hindarkan serangan si
orang she Hoan itu. Dengan cepat ia bangun berdiri lagi, dari
pinggangnya ia keluarkan senjata pedang lemasnya yang istimewa,
pedang ini meski lebarnya tidak ada dua jari tangan, tapi tajamnya
luar biasa, kalau tidak dipakai, bisa digunakan sebagai ban
pinggang.
Sambil memegang pedang maka Sian Jie pun mengeluarkan
ilmu silat 'Pat Po Hui Khongnya' atau delapan langkah memutar
diudara, melesat laksana angin keluar rimba. Karena gusamya, Sian
Jie lalu berlaku ganas terhadap kawanan penjahat itu ia membabat
dengan pedangnya, sebentar saja sudah meminta korban, seorang
penjahat yang lari terbelakang, segera tertabat kutung kepalanya dan
menggelinding sejauh kira-kira tujuh kaki. Kemudian ia susul

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 23
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

dengan tiga buah senjata rahasianya yang masing-masing mengenai


tiga penjahat lainnya.
Ketiga penjahat yang terkena serangan senjata rahasia itu
memperdengarkan jeritan ngeri sudah itu pada jatuh bergulingan
ditanah.
Hwie Cee Thian Ong juga keluarkan kepandaiannya
melepaskan pisau terbang, dengan kedua tangannya ia melontarkan
dua buah pisau terbang mengarah belakang geger Sian Jie.
Sian Jie merasa sambaran angin, buru-buru ia geserkan
tubuhnya, tapi tidak urung lengan kanannya kena keserempet,
hingga mengucurkan darah segar.
Sian Jie gusar, dengan cepat ia putar tubuhnya, lalu menerjang
Hoan Kong Hong.
Serangan itu ada begitu cepat dengan kaget Hoan Kong Hong
berkelit kesamping, satu tangannya menghunus golok Kui Thauw
To-nya untuk melawan.
Saat itu dari delapan kawanan penjahat itu ada empat yang
terluka, satu binasa, sisanya tiga orang lantas mengepung si nona.
Sian Jie seperti banteng terluka, ia mengamuk dengan pedang
istimewanya, sehingga ketika penjahat itu terdesak mundur terus
sampai berputar-putaran.
Ketika penjahat itu sekarang telah mengerti bahwa Sian Jie
benar-benar lihay, karena merasa tidak ungkulan melawan hingga
timbul pikiran masing-masing hendak kabur. Hwie Cee Thian Ong
dan Thee Thong berhasil melarikan diri tapi yang satunya lagi
karena sedikit terlambat, telah terbinasa diujung pedangnya Sian
Jie.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 24
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Dalam pertempuran it, Sian Jie telah merebut kemenangan


dengan mudah, meski lengannya terluka, tapi difihak kawanan
penjahat, empat terluka, dua binasa dan dua melarikan diri.
Setelah musuh-musuh sudah kabur, Sian Jie pun mengeluarkan
obat lukanya, untuk mengobati luka dilengannya dan kemudian
meninggalkan rimba tersebut dan kembali ke keretanya.
Kedatangannya telah disambut dengan girang oleh Chie Ciatsu,
nyonya Chie dan Chie Sie Kiat. Terutama nyonya Chie, ia lalu
pimpin Sian Jie duduk didampingnya, dengan suara lemah lembut ia
berkata “Nona, kau terlalu cape".
Sian Jie menjawab sambil bersenyum : “Hujin, apakah barusan
kalian melihat aku bertempur?"
Chie Ciatsu berkata sambil angguk-anggukkan kepala :
“Nona Sian, kita merasa banyak terima kasih padamu. Tatkala
akti pertama kali melihat kau, aku berasa bahwa kau ini bukan
orang sembarangan, cuma saja saat itu aku tidak kira bahwa kau
ternyata mempunyai kepandaian ihnu silat demikian tinggi ; aku si
orang she Chie ada mempunyai kebijaksanaan apa, sehingga
mendapat bantuan demikian rupa dari nona?”
“Lo-ya. kau jangan mengucap demikian, ini adalah kewajiban
dan tugasku sebagai budak".
Nyonya Chie buru-buru memotong.
“Nona Sian, kau selanjutnya jangan bahasakan kita Lo-ya dan
Hu-jin lagi, kau adalah penolong' kita keluarga Chie, jika kau sudi,
aku yang tidak mempunyai anak perempuan, hitung2 kupandang
nona sebagai ….. " belum habis pembicaraan nyonya Chie, sudah
dipotong oleh Chie Ciatsu :

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 25
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Sudah, sudah, kau tak usah katakan lagi, nona Sian adalah satu
pendekar wanita, satu jago betina, ada penolong besar keluarga
Chie, apakah maksudmu ini tidak takut akan merendahkan derajat
orang?"
Setelah mendengar ucapan Ciatsu, nyonya Chie tidak berani
membuka mulut lagi, tapi Sian Jie yang cerdik lantas tidak mau sia-
siakan itu kesempatan baik, ia segera berkata kepada nyonya Chie :
“Hujin, aku sejak kanak-kanak sudah tidak mempunyai ibu,
sekarang Hujin begitu baik terhadapku, sekalipun Hujin suruh aku
binasa juga rela, jika kalian tidak pandang rendah diriku, terimalah
diriku yang hina ini!"
Bukan main girang hati nyonya Chie, Sian Jie lantas berlutut
dihadapan kedua orang tua itu, setelah memberi hormat manggut-
manggut kepala tiga kali, lalu memanggil Chie. Ciatsu ayah dan
kepada nyonya Chie ia panggil ibu, akhirnya ketika memandang
Chie Kongcu, dua pasang mata saling beradu, Sie Kiat merasa agak
likat, tapi Sian Jie sendiri juga lantas merah wajahnya, akhirnya ia
cuma mampu keluarkan perkataan “Koko", lalu menubruk dirinya
nyonya Chie.
Nyonya Chie lantas tertawa, begitu pula Chie Ciatsu sedang Sie
Kiat memandang dengan mata terbuka lebar, entah apa yang sedang
dipikirkan, tapi tiba-tiba ia berseru :
“Darah ! Adik Sian, kau telah terluka !"
Nyonya Chie terperanjat lalu buru-buru bertanya kepada Sian
Jie : “Sian Jie, dimana lukamu? Lekas unjukan kepada ibumu !:
Perlahan-lahan Sian Jie mengangkat mukanya, lalu menyahut :
“Ibu, luka sedikit yang tidak berarti dilengan kananku, anakmu
sudah obati sendiri, tentu sebentar akan sembuh sendiri".

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 26
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ia berkata sambil melirik Chie Sie Kiat, hingga ia dapat melihat


si kongcu ini sedang mengawasi lengannya yang terluka dengan
terlongong-longong.
Semua ini telah terjadi dalam waktu yang sangat singkat diatas
kereta yang ditarik oleh kuda yang masih melanjutkan perja-
lanannya ke Selatan. Diwaktu magrip tiba, mereka sudah
melakukan perjalanan sejauh empat puluh paal lebih.
Kusir kereta kenal betul jalanan itu dan ia tahu didepan tidak
ada kota maka berkatalah ia kepada Chie Ciatsu bahwa malani ini
harus bermalam di Kim Kee Kip, Chie Ciatsu tidak memban-tah
omongan kusir itu.
Meski Kim Kee Kip adalah sebuah kota kecil, tapi keadaannya
sangat ramai, disitu ternyata terdapat banyak rumah makan dan
rumah penginapan.
Malam itu Chie Ciatsu mengadakan perjamuan untuk
keluarganya sendiri terutama untuk menyamu Sian Jie yang sudah
berhasil mengusir kawanan penjahat.
Dalam perjamuan itu Chie Ciatsu kembali bertanya asal usul
dirinya Sian Jie dan kembali lagi Sian Jie mengarang cerita tentang
dirinya. Ia katakan bahwa ayahnya ada seorang guru silat yang
terkenal, tatkala ia masih kecil, sang ayah telah dibunuh mati oleh
musuhnya, selanjutnya ia ditolong dan dirawat oleh seorang
pendekar budiman, serta diberikan pelajaran ilmu silat yang cukup
sempurna.
Pendekar tersebut dulu pernah menerima budi Chie Ciatsu.
baru-baru ini telah mendapat kabar bahwa Chie Ciatsu telah
terpitnah dan dijebloskan dalam penyara, pendekar itu sebetulnya
hendak merampas penyara untuk memberi pertolongan, tapi tak jadi
sebab telah diketahui bahwa Chie Ciatsu sudah dikeluarkan dari

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 27
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

penyara dan hendak melakukan perjalanan pulang kekampung. Tapi


ada beberapa kawanan penjahat yang sahabatnya dulu pernah
dihukum mati oleh Chie Ciatsu hendak menuntut balas, maka
pendekar tersebut lantas mengutusnya untuk memberi pertolongan
dan melindungi keselamatannya, ia tidak nyana kalau akan dipungut
anak oleh Chie Ciatsu, hingga selanjutnya akan merupakan keluarga
sendiri. Penuturan ini meski karangan belaka dari Sian Jie sendiri
akan tetapi sebagiannya berisi peristiwa yang pernah terjadi.
Chie Ciatsu sejak tadi mencari-cari dalam ingatan siapa itu
orang yang pernah ia tolong, tapi ia tidak ingat hingga bertanya
kepada Sian Jie nama pendekar itu, tapi Sian Jie cuma menjawab
bahwa pendekar tersebut nanti akan datang berkunjung untuk
menemui Chie Ciatsu sendiri, malahan ia peringatkan ke-pada Chie
Ciatsu bahwa selanjutnya masih akan terjadi lagi pertempuran
sengit dengan kawanan penjahat, tapi ia minta agar supaya ayah
angkat itu tetap berlaku tenang.
Perjamuan itu berjalan dalam suasana gembira, mereka saling
mengobrol sampai jauh malam, hanya Chie Kongcu saja yang
paling sedikit berbicara karena ia lagi kelebu dalam alam pikirannya
sendiri. Ia sedang memikirkan diri saudara angkat ini, yang ternyata
adalah seorang jago betina yang berkepandaian sangat tinggi,
karena dirinya sendiri tidak mengerti ilmu silat, apakah adik angkat
ini bisa cinta dirinya?
Dalam ngelamunnya iin, tanpa dirasa sudah minum arak terlalu
banyak, hingga akhirnya menjadi mabok.
Nyonya Chie agaknya sudah bisa menebak apa yang sedang
dipikirkan oleh anaknya, maka ia sengaja suruh Sian Jie bimbing
Sin Kiat kekamar.
Sian Jie masuk kekamarnya sendiri yang berhadapan dengan
kamar Chie Kongcu. Ia sendiri juga tidak bisa tidur pulas, karena

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 28
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

memikirkan sikap Sie Kiat terhadap dirinya. la tidak menyangka


bahssa selama dalam perjalanan ini telah tumbuh suatu perasaan
yang begitu dalam, sebagai satu wanita yang adatnya keras dan
pernah malang melintang didunia Kang-ouw, tidak nyana hatinya
telah rubuh terhadap satu anak sekolah yang tidak bertenaga.
Sian Jie terus ngelamun sendirian. Tiba-tiba dari luar jendela
terdengar suara orang berkata :
“Kau si budak ini, sudah begini malam masih belum tidur,
hanya ngelamun saja sendirian, bagaimana ada tetamu yang sudah
lama datang kau tidak menyapa? Apa benar kau man suruh kita
kedinginan diluar?"
Sian Jie terkejut oleh tegoran dari luar itu.

– ooOoo –

II.

Selagi hendak keluar dari kamarnya, kedua laki-laki sudah


datatig menghampiri padanya dengan muka berseri-seri.
Yang berjalan didepan ada orang laki-laki usia tiga puluh tahun
lebih, ia mengenakan dandanan ringkas yang terbuat dari kain
kapas, diatas bibirnya ada tumbuh kumis pendek, lagaknya mirip
dengan seorang tuan tuan tanah didesa, ia itu adalah pendekar yang
namanya sangat terkenal di daerah Tionggoan, Pat Kwa Ciang Cin
Tiong Liong.
Di belakangnya berdiri seorang laki-laki yang berusia kira-kira
sua puluh enam tahun, mengenakan pakaian malam berwarna hitam,

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 29
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

dibelakang gegernya ada dua batang senjata yang berupa Poan Pit.
Ia juga satu jago di daerah Kang-lam. Namanya Ong Bun Ping
sedang gelarnya Hwie Thian Giok Houw.
Kedua orang itu masih ada hubungan seperguruan dengan Sian
Jie, Cin Tiong Liong itu adalah anak murid tidak langsung dari
Kang It Peng, sedang Ong Bun Ping adalah murid Chio Bien Giam
Lo Sun Tay Beng, dan Sian Jie pernah berguru dua tahun lamanya
kepada Sun Tay Beng, senjata pedangnya yang lstimewa itu malah
ada pemberian sang guru she Sun ini, maka Sian Jie barns
bahasakan siok-siok atau paman kepada Cin Tiong Liong, dan
berbahasakan suheng terhadap Ong Bun Peng.
Kedatangan kedua orang itu sangat menggirangkan Sian Jie,
buru-buru persilahkan dua tetamunya itu duduk.
“Begini malam kau masih belum tidur, apa yang kau pikirin ?"
tanya Cin Tiong Liong.
Sian Jie terkejut, tapi karena ia adalah seorang yang cerdik
hingga bisalah ia berlaku tenang agar perasaan hatinya tetap
bersembunyi.
“Titji hari ini kau telah bertempur dengan kawanan penjahat
dari Kang-pak, karena itu kau duduk saja dan pikirkan cara
bagaimana supaya bisa melindungi jiwa Chie Ciatsu sekeluarga.
Cin Siok-siok dan Ong Peng Suheng benar-benar kedatanganmu
sangat kebetulan, sudikah kau memberi bantuan kepada Titlie?"
jawabnya Sian Jie, yang lantas menuturkan jalannya pertempuran
dengan kawanan penjahat.
“Hal ini aku sudah mendapat keterangan jelas dari Suhu,
kedatangan kita malam ini justeru karena urusan ini. Menurut
keterangan Suhu, Sin Chiu Tui Hun telah mendatangkan beberapa
penjahat tua yang sudah lama mengasingkan diri. Beberapa orang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 30
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

yang ia undang itu dulu adalah orang-orang yang sangat terkenal


namanya dikalangan rimba hijau. Aku tidak sangka bahwa urusan
sekecil ini telah menerbitkan persengketaan begitu besar dikalangan
rimba persilatan ; orang-orang itu kabarnya sedang melakukan
perjalanan ke Selatan. Sin Chiu Tui Hun sendiri sudah sampai di
kota Ceng Yang Koan, mungkin dalam beberapa hari ini akan tiba
disini.
Suhu bersama Sun Lo Cianpwee karena masih pergi minta
bantuan seseorang, maka aku dan Ong Siao-hiap disuruh datang
duluan memberi bantuan padamu. Besok pagi kalian boleh
meneruskan perjalanan. Untuk sementara kita tidak unjukan muka
dulu, hanya melindungi kalian secara diam-diam", berkata Chin
Tiong Liong.
“Tong Cin Wie benar-benar keterlaluan, ia telah malang
melintang didaerah lima propinsi di Utara, banyak kejahatan yang
sudah di-lakukannya, sekarang masih hendak coba mengacau
didaerah Tionggoan, aku pasti hendak menemui itu orang sendiri,
aku kepingin lihat bagaimana kelihayannya yang bergelar Sin Chiu
Tui Hun dengan Tui Hun Ciam-nya", berkata Sian Jie.
“Sian Sumoy seolah-olah dikurniai Tuhan, pedang Gin Hong
Kiam dan senjata rahasia duri ikan terbang, merupakan senjata yang
paling dahsjat dikalangan Kang-ouw, dua-duanya berada
ditanganmu, pada saatnya pasti akan ada pertunjukan ramai, Siao-
heng nanti akan menyaksikan dengan mata sendiri. Aku duga Sin
Chiu Tui Hun tentu akan jatuh ditanganmu". Ong Bun Beng turut
bicara. Mendengar itu merahlah wajah Sian Jie, hingga
menjawablah ia sambil tertawa :
“Suheng, kau tak usah terlalu memuji aku, saat itu kalau aku
kalah, apa kau kira akan peluk tangan terus?"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 31
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Sian Sumoy, kalau kau benar-benar tidak berdaya, apalagi


aku, tentunya akan antarkan jiwa dengan curna2. Bukankah kau
senga-ja hendak menyusahkan aku ?" jawab Ong Bun Peng.
Jawaban ini memang sebenarnya, karena kepandaian Sian Jie
masih jauh lebih tinggi dari padanya, Sian Jie begitu dilahirkan
didunia sudah dipale demikian rupa oleh ayah bundanya, dan begitu
mengerti urusan sudah mulai dilatih ilmu silat. Oleh karena dalam
usia tiga tahun ayah bundanya mati dibunuh oleh musuhnya. Kang
It Peng yang masih pernah kakek dengannya lantas rawat dan didik
padanya sehingga dewasa.
Sang Kakek ini telah turunkan semua kepandaiannya kepada
cucu perempuannya ini, dalam usia yang masih muda sekali, ia
diajak berkelana di dunia Kang-ouw untuk menambah
pengalamannya. Setengah tahun kemudian ia telah bertemu dengan
Sun Tay Beng sahabat karibnya, pendekar aneh ini melihat bakat
Sian Jie yang luar bias, telah diberi pelajaran ilmu silat
simpanannya, yaitu menggunakan senjata rahasia duri ikan terbang
yang ia belum pernah turunkan kepada siapapun juga. dan pedang
lemes Gin Hong Kiam juga diberikan kepadanya.
Dari Kang It Peng, Sian Jie sudah mendapat didikan dasar yang
berupa ilmu tenaga dalam, ilmu pedang, ilmu totokan dan ilmu lari
pesat; dan dari Sun Tay Beng ia dapatkan pelajaran ilmu Khie
Kang, Biau Ciang dan senjata rahasia duri ikan terbang yang pernah
menggemparkan dunia Kang-ouw.
Dengan bekal kepandaiannya dari dua jago tua kenamaan ini,
tidak heran kalau Sian Jie begitu muncul dikalangan Kang-ouw
lantas malang melintang di daerah Kang-lam tapi belum pernah
menemui tandingan, hingga nama gelar Kong Tong Lie Hiap Kang
Sian Cian, merupakan situ ancaman bagi kawanan rimba hijau.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 32
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Cian Tiong Liong dan Ong Bun Peng setelah menjelaskan


rencananya, lantas pamitan.
Setelah mengantarkan kedua tamunya legalah hati Sian Jie,
dengan adanya mereka yang melindungi secara diam-diam dengan
sendirinya tidak akan kewalahan menghadapi musuh-musuhnya.
Saat itu sudah hampir jam tiga malam, dikamarnya Chie Sie Kiat
sudah padam lampunya, kiranya Kongcu itu sudah tidur nyenyak,
maka ia juga lantas naik pembaringan untuk tidur.
Tapi Chie Sie Kiat sebetulnya masih belum tidur, pembicaraan
antara Sian Jie dan kedua tetamunya, telah didengarnya semua. dia
agak gelisah dan cemburu, ia bulak balik dipembaringan,
semalaman tidak bisa tidur.
Diatas kereta, Chie Sie Kiat seolah-olah kehilangan
semangatnya, kedua matanya merah, sikapnya lesu. Chie Ciatsu
swami isteri mengerti keadaan anaknya, tapi apa yang mereka bisa
berbuat? Sian Jie bukan perempuan sembarangan, lagi pula
inerupakan tuan penolong besar bagi keluarga Chie, dan untuk
selanjutnya malah masih akan mengandalkan tenaganya untuk
melindungi keselamatannya.
Mereka tidak tahu bahwa Sian Jie sendiri juga terserang
penyakit rindu! Ia juga menyaksikan keadaan Sie Kiat dan faham
apa yang dikandung dalam hati anak muda. Inginlah ia memberi
hiburan, tapi apa hendak dikata sebab ia seorang perempuan muda,
biar bagaimanapun haruslah ia menjaga kehor-matannya.
Tapi pada akhirnya ia tidak mumps kendalikan perasaannya,
dengan suara perlahan dan lemah lembut akhirnya ia pun bertanya
,“Sie Kiat-ko, kau kenapa? Apakah tadi malam karena minum arak
terlalu banyak hingga masuk angin? Aku mempunyai obat mujarab,
minumlah sedikit !”

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 33
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Dengan segera dikeluarkan sebutir pil warna putih bikinan


Kong It Peng sendiri yang terdiri dari rempah-rempah yang didapat
dari perbagai tanah pegunungan. Kasiat obat itu besar sekali, Sian
Jie sendiri cuma mempunyai lima butir, hanya diminum jika
memerlukan sekali.
Sian Jie rnemberi obat pilnya sembari geserkan tubuhnya
mendekati Sie Kiat, dengan tangannya ia merabah jidat anak muda
itu. Sian Jie agak terperanjat, karena jidat Sie Kiat panas sekali
waktu dirabanya maka ia pun menoleh lalu berkata kepada nyonya
Chie.
“Ibu. engko Sie Kiat demam badannya, panas".
Nyonya Chie segera mendekati anaknya, setelah merabah
jidatnya, lalu bertanya :
“Kau kenapa ?"
“Ibu, anak tidak apa-apa kalau beristirahat sebentar tentu bisa
baik sendiri", jawab Sie Kiat sambil tertawa getir.
“Sakit ayahmu baru saja sembuh, sekarang kau sakit lagi ini
benar-benar …. " kata ibunya, sebelum ibu itu sempat melanjutkan
ucapannya, Sian Jie sudah nyeletuk “lbu jangan susah hati, obatku
ini ada obat yang sangat mujarab bila memakan obat ini tanggung
akan sembuh penyakitnya.
Nyonya Chie menyaksikan pil kecil yang berwarna putih itu,
hatinya masih berasa sangsi, tapi lantaran ia pandang tinggi sekali
diri Sian Jie, maka akhirnya ia percaya bahwa obat itu tentu bukan
sembarangan obat. Maka berkatalah ia kepada anaknya,
“Sie Kiat, lekas makan obat adikmu, jangan sampai membikin
susah hati adikmu".

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 34
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Chie Sie Kiat buru-buru menyambuti obat dari tangan Sian Jie,
tapi tangan Sian Jie bergerak lebih gesit, tahu-tahu pil itu sudah
berada dimulut Sie Kiat. la merasa bau harum menusuk hidung dan
terus masuk kedalain perut. Semangatnya bangun seketika itu juga
sedang badannya merasa segar kembali.
Kereta berjalan terus, melalui jalan-jalan datar, pegunungan,
rimba dan kota, kereta itu hanya mengaso kalau malam tiba. Kira-
kira empat atau lima hari lagi sudah sampai ditelaga siao-ouw.
Selama beberapa hari itu, baik dirumah penginapan maupun
didalam kereta karena pikiran Sie Kiat terganggu, terhadap Sian Jie
ia agak menjauhi, ia tidak berani bertanya Sian Jie. ia hanya
sesalkan dirinya sendiri. Ia berobah menjadi pendiam, ia tidak mau
perdulikan segala hal, nyonya Chie diam! juga pernah menanyakan
sebabnya, tapi cuma dijawab dengan tertawa getir.
Rumah Chie Ciatsu terletak di desa Siang Kee Chun ditepi
telaga Siao-ouw, tempat itu mempunyai pemandangan alam yang
indah permai, penduduknya sangat sederhana. Menurut kebiasaan
pada masa itu kepulangan Ciatsu sudah tentu diharengi dengan
tetabuhan tambur dan gembreng fang riuh serta di-iring dengan
tandu yang dipikul oleh delapan orang, tapi lain sekali keadaannya
dengan Chie Ciatsu ini, yang hanya dengan sebuah kereta sewaan,
beberapa potong peti pakaian dan orangnya juga cuma empat
gelintir. Meski demikian, tapi masih banyak penduduk
menyambutnya dengan meriah.
Tatkala memasuki perkampungan tersebut, Sian Jie diam-diam
sudah memperhatikan keadaan sekitar kampung tersebut. Kampung
ini ternyata tidak terhitung besamya, tapi juga tidak kecil, pen-
duduknya kira-kira terdiri dari seratus keluarga lebih didepan
menghadapi telaga Siao-ouw disampingnya ada sungai kecil,
rumahnya Chie Ciatsu terletak diujung timur kampung, didepannya

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 35
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

ada lapangan bias, dihiasi tanaman pohon Yangliu sedang


dibelakang rumah mengalir sebatang sungai.
Karena rumahnya besar dan keluarganya sedikit, maka masih
terdapat banyak kamar kosong. Nyonya Chie menyediakan kamar
sepesial untuk tempat tinggal Sian Jie serta dicarikan dua pelayan
untuknya. Penduduk kampung tersebut beberapa hari berulang-
ulang mengadakan kunjungan penghormatan kepada Chie Kong
Hiap, hingga membuat repot bekas pembesar negeri itu.
Selama beberapa hari berdiam dirumahnya, Chie Kongcu tetap
dalam keadaan masgul, setiap hari sembunyikan diri dikamar buku-
nya. Sekiranya bukan itu obat mujarab dari Sian Jie, mungkin saat
itu ia sudah jatuh sakit.
Nyonya Chie yang diam-diam memperhatikan gerak-gerik
anaknya, menampak sang anak lesu dan tidak suka makan, tapi
tidak ada tanda-tanda dihinggapi penyakit, diam-diam iapun merasa
heran.
Sian Jie setiap malam seliwatnya jam dua, sudah tentu
mengadakan pemeriksaan diluar rumah, diwaktu siang baru ada
tempo mengaso.
Pada suatu malam, ketika habis menyalankan tugasnya, ia me-
nampak lampu kamar buku Sie Kiat masih menyala, hingga hatinya
tergerak. ia coba mengintip, ia dapat lihat Sie Kiat masih duduk
diatas kursi sambil berkerudung selimut, matanya terbuka lebar
memandang lampu, malah tertampak tegas sedang mengalirkan air
mata.
Melihat it Sian Jie merasa pilu dan maulah ia mengetuk pints
tapi tiba-tiba dengar suara Sie Kiat berkata sendirian, “Sian Moy-
moy, kau adalah seorang pendekar wanita, sudah tentu hendak
mencari pasangan pendekar pula. Aku adalah seorang anak sekolah

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 36
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

yang lemah, aku tidak pantas menyintai kau. Tapi rupamu membuat
aku selalu rinds. Ah begini rupa …..”
Sian Jie terperanjat, tanpa ragu-ragu lagi, lantas mendorong
daun pintu, terus melompat masuk dan sebentar kemudian sudah
berdiri didepan Sic Kiat.
Chie Kongcu yang sedang dihinggapi sakit rindu ketika
mendengar bunyi pinto terbuka dan kemudian disusul berkelebatnya
satu bayangan orang dan sebentar kemudian melihat didepannya
berdiri seorang gadis berbaju merah yang sangat ringkas, ternyata
adalah itu nona yang setiap hari dan malam merampas pikirannya.
Pada saat itu, dikedua pipi Sian Jie sudah basah dengan air
mata, sepasang matanya yang jernih tidak menampak lagi sinar
yang tajam, tapi memancarkan sinar ayu dan welas asih. Ditambah
lagi dengan air matanya yang mengalir telah menyebabkan dirinya
sangat menggiurkan dan menarik, Sian Jie memanggil dengan suara
perlahan, “Sie Kiat-ko, telah larut malam mengapa belum juga
tidur?"
Saat itu Sie Kiat penuh dengan perasaan yaitu girang dan sedih,
ia tidak dapat berbuat lain dari pada hanya mengawasi nona itu
dengan matanya yang sayup. Semua kata-kata yang hendak
dikeluarkan dari mulutnya seolah-olah terkandas ditenggorokan. ia
mengulurkan tangannya menggenggam tangan Sian Jie, entah dari
mama datang kekuatannya hingga tiba-tiba ia dapat menarik tangan
Sian Jie. Yang ditarik itu tidak melawan sedikitpun. ia menurut saja
dan mudah ditarik, hingga dua anak muda itu telah duduk
berdampingan. Jantung mereka waktu itu berdebar-debar seolah-
olah hendak melompat keluar karena dipalu rasa asmara dan malu.
"Selama beberapa hari ini apa yang kau lamunkan? Bukankah
dengan begini kau akan merusak kesehatanmu sendiri?" tanya Sian
Jie sambil bersenyum.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 37
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Benar-benar Chie Sic Kiat tidak menyangka bahwa nona gagah


itu bisa berobah demikian lemah-lembut. Karena girangnya, lupalah
ia menjawab pertanyaan Sian Jie karena kedua tangannya telah
memeluk diri si nona dengan kencang. Ia memeluk sambil
merapatkan pipinya kepipi gadis itu. Biarpun begitu mulutnya tetap
membisu saja.
Lama sekali mereka dalam keadaan begitu tapi achimja Sian Jie
ingat pula kewajibannya lalu bangkit. Setelah memesan. agar Sie
Kist lekas tidur, iapun meninggalkan kamar itu dengan perasaan
puas. Ia keluar dengan perasaan bahagia sebab telah dipeluk oleh
orang yang kena dihatinya.
Sejak malam itu, heran bin ajaib Sie Kiat seolah-olah makan
obat manjur, lesunya lenyap seketika. Nyonya Chie yang melihat
perobahan anaknya itu memsa girang. Apalagi ketika ia melihat
hubungan anaknya dan gadis itu makin lama makin erat dan mesra.
Tapi ia tidak tahu bahwa pada saat itu kawanan penyahst dari Utara
sudah mengikuti jejak Chie Ciatsu sampai disitu, hingga desa Siang
Kee Chun yang kecil sunyi itu terancam bahaya besar.
Malam itu keadaan sangat gelap, rembulan tersembunyi di balik
awan, seperti biasanya Sian Jie melakukan kewajibannya meronda
disegala pelosok. Sepulangnya dari meronda, ia selalu mampir di-
kamar Chie Sie Kiat agar mereka tenggelam dalam madu asmara
dan menebalkan rasa cinta mereka masing-masing.
Chie Kongcu yang sudah lama menunggu menyambutnya
dengan rasa girang, ngomong-ngomonglah mereka dengan rasa
bahagia dan sebentar-sebentar bibir mereka beradu dengan
mesranya tanpa lupa saling merangkul dengan eratnya.
Selagi mereka asjik soling menumpahkan rasa kasih itu tiba-
tiba Sian Jie mendengar bunyi perlahan diatas 'genteng rumah.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 38
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Bunyi itu meski sangat perlahan, tapi bagi telinga Sian Jie,
sudah cukup nyata, maka iapun buru-buru bangkit lalu dengan cepat
ia padamkan lampu yang terletak diatas meja. Dengan suara per-
lahan ia berpesan kepada Sic Kiat “Kiat-ko, hati-hatilah!"
Sehabis memberi pesan, ia pun melompat keluar dari jendela. Ia
tidak turun di pekarangan, selanjutnya terbang melayang keatas
genteng dilain seberang, begitu tiba diatas genteng rumah, ia
menampak disana ada berdiri seorang yang berpakaian baju jalan
malam, ternyata ada suhengnya sendiri Ong Bun Peng.

Ong Bun Peng juga sudah melihat Sian- Jie. Buru-buru iapun
lari menghampiri, lalu berkata secara berbisik kepada sumoynya.
“Ma'am ini kawanan penjahat sudah mulai bergerak, jumlah
orang yang datang nampaknya tidak sedikit, tapi entah melakukan
pengintaian atau hendak turun tangan, aku tak tahu. Cin Siok-siok
sudah turun tangan secara rahasia atas kawanan penjahat yang
berada diluar kampung, tapi kalau tidak perlu sekali tidak maulah
aku bentrok terang-terangan agar supaya mereka jangan mengetahui
asal usul kita. Berita yang aku terima kemaren bersama Cin Siok-
siok, beberapa penjahat dari golongan tua masih belum sampai,
tidak nyana malam ini mereka hendak bergerak …!”
Selagi hendak melanjutkan pembicaraannya, Sian Jie yang
matanya tajam sudah dapat melihat dua bayangan orang sedang lari
menuju kekamar Chie Ciatsu.
Sian Jie lantas berseru dengan perlahan “Sudah datang selesai
berseru iapun melompat melesat menyusul bayangan dua orang
tersebut.
Dua bayangan itu setiba digedungnya Chie Kong Hiap, lalu
pencarkan diri, berjalan menuju kekamar Chie Kong Hiap.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 39
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Malam itu dalam kamar Chie Kong Hiap sudah gelap, dua
orang itu lantas masuk kepekarangan ketiga, Sian Jie dari tempat
gelap telah mendapat lihat bentuk air muka kedua penjahat itu, yang
usianya kira-kira tiga puluh tahun lebih, mengenakan pakaian jalan
malam yang berwarna hitam seluruhnya, yang satu bersenjatakan
golok, satunya lagi bersenjatakan tongkat yang diperlengkapi
gaetan.
Kedua penjahat itu benar-benar besar nyalinya, setelah mereka
masing-masing memberi tanda, lalu masuk kedalam. Penjahat yang
bersenjata golok itu selagi hendak menerobos pintu kamar, tiba-tiba
dari tempat gelap terdengar suara orang tertawa dingin, yang
dibarengi dengan kata-katanya,
“Bangsat yang bernyali besar, malam-malam buta berani mati
hingga datang mengganggu rumah penduduk, bukankah baiknya
kau me-ninggalkan kepalamu!"
Suara itu dibarengi pula oleh meluncurnya sebuah benda
berkeredepan, yang terus menyerang dada penjahat tersebut.
Penjahat itu terkejut, pada saat itu sebatang piauw sudah datang
menyerang. Penjahat tersebut ternyata berkepandaian cukup tinggi,
dengan jalan rebahkan dirinya, ia mengelakan serangan piauw
tersebut, tapi betapapun gesitnya, tidak urung senjata rahasia itu
menyambar ikat kepalanya.
Bukan main gusamya penjahat itu setelah mendengarkan suara
tertawanya, lalu ia berkata :
“Tidak nyana satu bekas pembesar negeri yang sudah
dilepaskan dari jabatannya, masih ada kalian orang-orang semacam
budak yang meelndungi. Kalau kau mempunyai nyali, keluarlah,
supaya Pang Jie Thayya-mu bisa belajar kenal dengan
cecongormu".

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 40
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Dari tempat gelap kembali terdengar suara orang tersebut ,


“Kalian kawanan penjahat ini benar-benar tidak mempunyai
mata, dengan terus terang aku beritahukan kepadamu, aku bukan
semacam orang dari golongan yang suka mengabdi kepada
pemerintah lain bangsa, Chie Ciatsu tidak mempunyai hubungan
apa-apa lagi dengan aku cuma aku tidak bisa melihat tingkah
lakumu yang merendahkan derajat orang-orang didunia Kang-ouw.
Lagipula tempat Siao-ouw juga tidak akan mengijinkan kalian
berbuat sesukanya. Kalau kalian mengenal selatan, lekas enyah dari
sini! Jika masih mernbandel, jangan menyesal kalau aku nanti turun
tangan kejam, untuk kirim jiwamu kedunia lain!”
Penjahat yang bersenjatakan tongkat itu tiba-tiba nyeletuk,
“Sahabat, mendengar suaramu ini, terang ada kepala dari desa
Siao-ouw ini. Kalau benar demikian halnya, semua masih merupa-
kan sesama sehaluan, bolehkah kau unjukan muka, supaya kita
saling mengenal. Tidak salah, kita ada orang-orang dari golongan
Utara, malam ini datang kemari, tidak bermaksud menduduki
tempat kediaman sahabat. Kita dengan itu orang she Chie ada
mempunyai ganyelan sakit hati, lantaran ia, maka kita melakukan
perjalanan begitu jauh dengan menempuh segala bahaya dan
kesukaran. Kita sesama orang dari rimba persilatan, tidak merasa
tidak berguna bersahabat dan menjual jiwa kepada bekas pembesar
anjing ……”
Ucapan selanjutnya belum sempat dilanjutkan, orang ditempat
gelap itu tiba-tiba perdengarkan suaranya tertawa dingin, lain
berkata,
“Kau tak usah pura-pura berlaku baik terhadap aku. pendek.
kata, daerahku Siao-ouw ini tidak mengijinkan kalian bangsa
beginian berbuat sesuka hatimu. Jangan kata hendak melakukan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 41
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

pembunuhan, sekalipun hendak ganggu tanamanku saja, aku juga


tidak membiarkan kalian pulang dalam keadaan utuh!"
Kata-kata orang itu telah membikin gusar kedua penjahat
tersebut maka satu diantaranya yang bersenjatakan tongkat itu
membentak dengan suara keras,
“Sahabat, kau sungguh terkebur, kalau benar kau tidak mau
kenal persahabatan, beritahukanlah namamu supaya kita bisa tahu
sahabat dari Siao-ouw ini berapa terkenalnya dikalangan Kang-ouw.
Kalau tidak, unjukanlah dirimu, supaya kita bisa menyaksikan
bagaimana macam orang yang menjadi kepala di Siao-ouw ini.
Sangkamu kau bisa bikin takut kami dengan gertakanmu itu?
Singkamu kami tidak berani datang kemari".
Penjahat tersebut berbicara sambil memperhatikan arah dari
many datangnya suara orang tadi, ia hendak melakukan serangan
tiba-tiba setelah mendapat kepastian tempat orang tersebut
bersembunyi.
Pikiran ini memang bagus, tapi orang tadi tidak memberi
jawaban, seperti juga sudah berlalu dari tempat sembunyinya. Kali
ini kedua penjahat itu benar-benar sudah murka, penjahat yang
bersenjatakan tongkat gaetan itu lantas menggeram hebat, terus
menerjang kearah suara tadi, tapi tempat itu ternyata sudah tidak
ada orangnya.
Bukan main gusamya kedua penjahat tadi hingga orang yang
bersenjatakan tongkat tadi setelah mengetahui bahwa musuhnya
sudah tidak karuan parannya, lain berkata kepada kawannya,
“Saudara Pang, kita menerjang kedalam, kalau bisa turun
tangan. kita bereskan jiwa itu orang she Chie malam ini juga. Ini
ada kesempatan baik bagi kita berdua saudara untuk unjukan gigi,

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 42
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

supaya sahabat-sahabat dari lima propinsi Utara juga mengetahui


kepandaian kita Liauw-pak Siang Tiauw".
Penjahat yang bersenjatakan golok itu setelah menjawab lalu
menghunus goloknya. Sementara itu tangan kanannya mengambil
bumbung api, lalu taxi kedepan pintu kamar suami isteri Chie
Ciatsu. Penjahat itu ternyata bernyali besar, in sudah menduga pasti
bahwa suami isteri Chie itu adalah orang-orang lemah yang tidak
bertenaga, tapi ia telah lupa bahwa orang yang tersembunyi dan
yang menyerang dengan senjata rahasia tadi hampir saja
menewaskan jiwanya.
Ia menyalakan bumbung apinya, hingga menampak tegas
bahwa pintu kamar itu telah tertutup rapat, ia lalu angkat tangan
kanan-nya hendak mendobrak pintu kamar tersebut, tiba-tiba dari
samping kirinya terdengar suara orang membentak.
“Penjahat kurang ajar, apa kau sudah bosan hidup?"
Selanjutnya terdengar suara jeritannya orang yang maha hebat,
golok dan bumbung api penjahat itu terlepas dari tangannya lalu
jatuh ketanah sedang orangnya bergulingan sambil menyerit-jerit.
Penjahat yang bersenjatakan tongkat itu ketika menampak
kawannya yang bernama Pang Oen tanpa sebab telah melemparkan
senjatanya dan bergulingan ditanah, bukan main kagetnya. Dengan
cepat iapun melayang turun dari atas genteng, sambil membimbing
bangun iapun bertanya,
“Hengtee, kau kenapa ?"
Pang Oen cuma bisa menjawab sambil kertak gigi, “Aku kena
serangan senjata rahasia".
Kawannya yang bernama Sie Kok Tiong dan bergelar Kim Cie
Peng itu, seketika itu lantas merasakan seperti disambar petir.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 43
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

karena senjata rahasia apa saja kecuali jarum Bwee Hoa Ciam atau
Too Kut Ting (paku yang menembus ketulang) sudah tentu ada
suara anginnya.
Ia memeriksa seketika lamanya, tapi tidak menemui dimana
tempat yang terluka lalu bertanya pula dengan suara perlahan,
“Kau terluka dibagian apa? Lekas beritahukan padaku!"
“Belakang pundak bagian kanan dan kiri." jawab Pang Oen.
Kim Cie Ping buru-buru memeriksa dibagian yang disebutkan.
benar saja disitu ada tanda darah membeku, tapi tidak kelihatan
lukanya. Mengertilah ia sudah bahwa malam itu ia telah bertemu
dengan orang pandai. Tapi Kim Cie Ping adalah seorang sombong
dan keras kepala, biasanya suka berbuat sewenang-wenang didaerah
Lia'uw-pak dan Liauw-tang. Belum pernah ada orang yang berani
mengganggunya maka itu dengan segera berkatalah ia dengan suara
nyaring.
“Kawanan tikus dari mana yang berani melakukan serangan
menggelap dengan menggunakan senjata jarum Bwee Hoa Ciam
untuk menyerang orang yang sedang tidak bersiaga? Kalau engkau
mempunyai kepandaian lekas unjukan mukamu dan marilah kita
bertanding dengan Sie Toa-ya-mu secara terang-terangan. Tanpa
perdulikan kawannya yang terluka iapun meloncat ke-tengah
ruangan untuk menanti musuhnya.
Tapi sebagai jawabannya, kembali terdengar suara orang
tertawa dingin kemudian disusul dengan kata-kata:
“Penjahat yang tidak tahu diri, kawan sendiri terkena serangan
senjata apa masih belum mengetahui namun masih berani mati
menantang berkelahi, kalau aku mau, sebentar saja bisa mengambil
jiwamu. Kuberitahukan terus terang padamu, kawanmu yang tidak
ada gunanya itu telah terkena senjata rahasia yang dinamakan duri

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 44
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

ikan terbang, lekas bawa pulang dan keluarkan benda itu, kalau
tidak, senjata rahasia yang terbikin dari baja itu segera menyusup
kedalam anggota badannya lebih mendalam, sehingga lengan
sebelah kanan akan menjadi rusak. Orang masih baik hati tidak mau
ambil jiwanya, kalau kau masih tetap membandel. nanti aku bikin
engkau tidak berdaya juga didalam rumah ini!"
Kim Cie Ping yang mendengar nama duri ikan terbang, benar-
benar semangatnya ikut terbang, kegalakannya lantas lenyap
seketika. Meski ia belum pernah datang ke Kang-lam, tapi ia sudah
pernah dengar tentang nama Sun Tay Beng dengan senjata istimewa
duri ikan terbangnya, yang merupakan senjata yang paling disegani
oleh orang-orang dari rimba hijau, ia tidak nyana bahwa malam ini
telah bertemu dengan orang yang ditakuti itu, tidak heran kalau
seketika itu lantas kuncuplah hatinya, tanpa ajal lagi, ia lantas
pondong kawannya dan berlalu dari rumah itu.
Tatkala dua penjahat tadi bikin ribut-ribut didepan pintu kamar,
suami isteri Chie Ciatsu sebetulnya sudah mendusin, tapi mereka
anggap ada nona Sian Jie yang melindungi, maka dengan tenang
mereka mendengarkan saja apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mereka merasa heran, mengapa orang yang berbicara dengan
penjahat itu suaranya seperti orang laki-laki, sedangkan mereka tahu
bahwa orang-orang dalam rumahnya, kecuali Sian Jie, tidak ada
satu yang mengerti ilmu silat, kalau begitu siapa gerangan laki-laki
itu? Dan mengapa tidak kedengaran suara Sian Jie ? Mungkinkah
itu sahahat Sian Jie yang diminta datang untuk memberi bantuan?
Chie' Ciatsu terus memikir, akhirnya ia sengaja batuk-batuk,
dari luar jendela lalu terdengar suara Sian Jie.
“Apa disitu ayah? Mengapa masih belum tidur ?"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 45
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Sian Jie, apakah kawanan penjahat sudah kabur?" si ayah balik


bertanya.
“Dua orang penjahat itu sudah kabur semuanya, harap ayah dan
ibu tidur dengan tenang,”
Chie Ciatsu cuma rnenghela napas, tidak berkata apa-apa.
Esok harinya, suami isteri Chie Ciatsu telah datang sendiri ke-
kamar Sian Jie, hingga membuat sinona keripuhan menyambut.
Nyonya Chie lain menarik tangan Sian Jie sembari berkata,
“Anakku yang baik, kau ada bintang penolong dari keluarga
Chie, barusan ayahmu ada berkata kepadaku, biar bagaimana tinggi
kepandaian ilmu silatmu, tapi toch cuma seorang diri, perlukah
kiranya memberitahukan kepada pembesar negeri setempat, supaya
kirim orang untuk memberi bantuan. Semua pembesar negeri di
tempat ini, sebagian benar pernah menjadi murid ayahmu, meski
sekarang ayahmu sudah tidak memangku jabatan, tapi sedikit
banyak masih mempunyai pengaruh terhadap mereka. Anakku yang
baik. bagaimana pikiranmu dalam menghadapi soal ini?”
“Ibu dan ayah tadi malam sudah mendengar sendiri, tidak usah
anak membohongi lagi, memang benar ada banyak kawanan pen-
jahat dari rimba hijau yang datang kemari hendak turun tangan
terhadap ayah untuk menuntut balas sakit hati mereka. Tapi
pendekar aneh yang pernah menerima budi ayah dan yang anakmu
pernah sebut beberapa hari berselang, juga sudah minta bantuan
banyak kawannya yang berkepandaian tinggi, dengan diam-diam
mereka telah melindungi ayah, kalau sudah tiba waktunya, ia
bersama kawan-kawannya akan keluar terang-terangan membasmi
kawanan penjahat itu. Suara orang laki-laki yang semalam ayah
telah dengar itu adalah salah seorang diantara orang-orang pandai
yang diminta bantuan oleh pendekar aneh itu. Sebetulnya memang
tidak halangan untuk minta bantuan orang-orang dari kalangan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 46
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

pemerintah, tapi orang-orang yang kali ini datang menuntut balas


dendam terhadap ayah, semuanya adalah kawanan penjahat besar
yang namanya sudah terkenal dikalangan Kang-ouw. Kepandaian
ilmu silat tidak boleh dipandang ringan, kalau hanya lima puluh
orang tentara negeri saja tidak berdaya menghadapi mereka.
Lagipula apabila terjadi kematian dikalangan tentara negeri itu,
mungkin akan berbuntut panjang. Menurut pendapat anakmu, kita
tidak perlu membawa-bawa pembesar negeri, entah bagaimana
pikiran ibu dan ayah?" jawab Sian Jie.
“Perkataanmu ini memang ada benarnya. Pengawalku dulu
ketika aku masih memangku jabatan pembesar negeri, juga tidak
berdaya menghadapi kawanan dari rimba hijau itu. Hanya itu orang-
orang pandai yang kau katakan hendak mernberi bantuan, bolehkah
undang mereka berdiam dirumah ini, agar kita bisa melakukan
kewajiban sebagai tuan rumah?" tanya Chie Ciatsu.
“Hal ini ayah dan ibu boleh legakan hati, mereka pada dewasa
ini sedang melakukan tugasnya yaitu mengintai gerak-gerik
kawanan penjahat itu kalau sudah tiba waktunya, mereka akan
berkunjung sendiri tanpa diundang", jawab Sian Jie.
Mendengar keterangan Sian Jie itu suami isteri Chie Ciatsu
mulai lega hatinya, setelah berbicara lagi sebentar, kedua suami
isteri itu lantas kembali ke kamarnya sendiri. Bagi Sian Jie sendiri,
diam-diam juga merasa gelisah. Menurut keterangan Ong
suhengnya tadi malam, kawanan penjahat rupa-rupa nya sudah
banyak yang datang tapi Ya-yanya belum ada kabar berita dari Ya-
ya-nya.
Difihaknya sendiri itu waktu cuma ada tiga orang, jika kawanan
penjahat bertindak dengan serentak, untuk melayani bertempur
masih bisa. Tapi sembari melindungi keluarga Chie yang berjumlah
tiga orang, rasanya agak sukar.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 47
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

– ooOoo –

Baik kita tinggalkan dulu Sian Jie yang sedang berada dalam
kegelisahan, sekarang kita tuturkan tentang diri Kim Cie Ping Sie
Kok Tiong yang menggendong tubuh Pang Oen sembari lari
mengiprit. Beruntung diperjalanan mereka tidak dapat rintangan
apa-apa.
Mereka berdiam dalam salah sebuah kampung nelayan yang
terletak kira-kira sepuluh paal dari Siang Khe Chun. Tempat itu
disebut Ie Chiu Wan, satu kampung kecil yang letaknya dipantai
danau Siao-ouw, penduduknya cuma beberapa puluh jiwa, tapi
disitu ada berdiam seorang yang kaya raya.
Dahulu orang itu juga adalah satu penjahat besar. Namanya Oh
Cu Kui, karena telah berhasil dapat merampok sejumlah harta besar,
lalu menetap ditempat yang sunyi itu untuk mencuci tangan. Ia
mendirikan sebuah gedung besar, membeli beberapa buah perahu
serta menggunakan tenaga beberapa orang nelayan miskin hingga
hanyak juga penghasilannya setiap bulan.
Ia pernah angkat Oey Cing Tan sehagai saudara maka kali ini
kawanan penjahat dari Utara yang mengejar Chie Ciatsu ketika
mengetahui bahwa bekas pembesar negeri itu berdiam di Siang Khe
Chun, Oey Cing Tan pun mencari Oh Cu Kui untuk meminjam
gedungnya untuk tinggal sementara waktu, hingga perkampungan
nelayan yang kecil itu, kini telah merupakan markas besar kawanan
penjahat dari lima propinsi di Utara.
Sin Chiu Tui Hun Tong Cin Wie yang sudah bertekad bulat
hendak mewujudkan maksudnya untuk menantut balas hingga
kecuali mengerahkan seluruh anak buahnya juga ia telah pergi

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 48
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

sendiri ke Ie-pak mengundang beberapa bekas kawanan berandal


yang sudah mengasingkan diri. Ia hendak menggunakan
kesempatan ini untuk tancap pengaruhnya di daerah Tionggoan dan
Kang-lam, maka itu ia datang agak terlambat, dan menyerahkan
tugas pengin-taian kepada Hoan Kong Hong dan Oey Cing Tan.
Hoan Kong Hong yang hendak mencegat ditengah perjalanan,
tidak tahunya malah kena dihajar kucar-kacir oleh Kong Tong
Liehiap Kang Sian Cian, sehingga dua kawannya binasa dan empat
lagi terluka. sedang mata Pang Jie Hoan telah diserang oleh senjata
rahasia ketika berada dirumah penginapan Ceng Yang Koan.
Kekalahan ini telah membikin kuncup nyali kawanan penjahat-
penjahat itu hingga mereka tidak berani bergerak sembarangan lagi.
Tatkala rombongan kedua yang dipimpin oleh Oey Cing Tan-
tiba bersatulah mereka lalu meneduh digedung Oh Cu Kui.
Hoan Kong Hong membicarakan tentang budak perempuan
Chie Ciatsu yang cantik luar biasa, tapi juga tinggi sekali ilmu
silatnya. hingga fihaknya sendiri yang mengerahkan tenaga
beberapa orang hampir saja semuanya rubuh ditangannya.
Siapa nyana bahwa penuturan itu telah menimbulkan kegusaran
Liauw-tang Siang Tiauw dan Yan-san Jie Kui (Sepasang burung
dari Liauw-tang dan dua setan dari Yan San), masing-masing
julukannya empat penjahat yang datang bersama Oey Cing Tan.
Mereka telah menertawai Hoan Kong Hong dan kawan-
kawannya sebagai manusia yang tidak berguna, sehingga
menghadapi satu budak perempuan saja sudah tidak mampu. Hoan
Kong Hong sebetulnya hendak memberi tahukan dua rupa senjata
istimewa yang digunakan oleh Sian Jie, supaya dipelajari bersama-
sama, tapi dengan adanya perbuatan empat orang tadi, ia lantas
urungkan maksudnya.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 49
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Oey Cing Tan kuatir akan timbul percidraan, maka lantas buru-
buru nasehati Liauw-tang Siang Tiauw dan Yan-san Jie Kui, namun
ia sendiri juga merasa kurang puas. Ia masih bersangsi, bagaimana
seorang budak cilik yang namanya belum dikenal mempunyai
kepandaian begitu tinggi?
Diam-diam ia juga berunding dengan empat penjahat tadi.
kemudian ambil keputusan bahwa esok malam sama-sama
mengunjungi Siang Khee Chun untuk menemui itu budak cilik yang
katanya berpa.ras amat cantik.
Yan-san Jie Kui yang gemar paras cantik ketika mendengar
keluarga Chie mempunyai budak yang berparas cantik, tergeraklah
hatinya. Ia ingin menangkap hidup-hidup budak tersebut.
Esok malamnya, setelah kentongan berbunyi dua kali, Oey
Cing Tan bersama Liauw-Sang Siang Tiauw Sie Kok Tiong dan
Pang Oen. Yan-san Jie Kui Thio Kiu dan Co Pat rnengenakan
pakaian ringkas peranti berjalan molom lalu berangkat menuju ke
Siang Khee Chun.
Belum sampai mereka memasuki kampung, sudah dipergoki
oleh Pat Kwa-ciang Cin Tiong Liong dan Hwie Thian Giok Houw
Ong Bun Ping yang mengintai di luar kampung. Cin Tiong Liong
menyuruh Ong Bun Ping kabarkan kepada Sian Jie, dan ia sendiri
hendak menghadapi lima orang tersebut.
Siapa kira bahwa lima penjahat itu setiba didepan kampung,
lantas memencarkan diri menjadi dua rombongan. Liauw-tang
Siang Tiauw masuk dari sebelah kiri, Oey Cing Tan bersama Yin-
san Jie Kui masuk dari sebelah kanan.
Dengan demikian, hingga Cin. Tiong Liong terpaksa merobah
rencananya, setelah bersangsi sejenak, ia lalu mengambil putusan
hendak mencegat rombongannya Oey Cing Tan. karena dua

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 50
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

penjahat itu meski bisa masuk kedalam karnpung, disana toch sudah
ada Sian Jie dan Ong Bun Ping, sudah cukup buat melayani mereka.
Cin Tiong Liong segera sembunyikan dirinya diatas pohon di
pinggir jalan dan tak lama kemudian kelihatan tiga orang tersebut.
Oey Cing Tan meski seorang penjahat besar yang sangat di-
segani di daerah Utara, namun ia tidak gemar paras elok. Ia tahu
bahwa Yan-san Jie Kui juga merupakan setan penggemar paras
elok, karena kuatir kedua setan ini nanti merusak kehormatan
wanita baik-baik, maka ia sendiri tidak pergi bersama Liauw-tang
Siang Tiauw, sebaliknya ia hendak mengawani sambil mengawasi
dua orang tersebut.
Tatkala mereka tiba dibawah pohon besar, tiba-tiba mereka
diserang dengan batu yang dinamakan Hwie Hong Ciok dengan
kekuatan yang luar biasa dahsyatnya, tiga orang itu buru-buru
mendekam, meski terlolos dari serangan, tapi tidak urung sudah
dibikin kaget setengah mati. Diam-diam merasa heran. bagaimana
seorang bekas pembesar negeri yang tidak bertenaga bisa mendapat
bantuan dari orang Kang-ouw yang mempunyai kepandaian ilmu
silat demikian tinggi? Nampaknya penuturan Hoan Kong Hong
memang benar.
Selagi berpikir, tiba-tiba terdengar suara tertawa nyaring dan
panjang, kemudian disusul dengan suara bentakan “Hai bangsa
kurcaci segala berani juga beriaku kurang ajar di Kampung Siao-
ouw? Kalau kalian tahu selatan baiklah lekas-lekas enyah dari sini!
Tunggu sampai pemimpin kalian datang barulah kita boleh adu
tenaga dengan secara terang-terangan. Kalau kalian mengira diri
sendiri ada gagah dan memikirkan hendak berbuat sesuka hatimu
tentu malam ini ……… ”
Belum habis perkataan orang yang sembunyi itu, Yan-san Jie
Kui sudah tidak bisa menahan amarahnya, maka lantas keluarkan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 51
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

bentakan berbareng, kemudian lompat menerjang keatas pohon


besar tersebut.
Dalam alam pikirannya, sekalipun serangannya ini tidak
berhasil, tapi setidak-tidaknya bisa memaksa orang tersebut unjukan
muka, dan kalau orang tersebut menampakan diri, maka mereka
lantas bisa melepaskan senjata rahasia masing-masing untuk
melakukan serangan serentak.
Siapa nyana begitu tiba diatas pohon, ternyata tidak menampak
satu bayangan juga. Kedua setan itu terperanjat, kemudian terdengar
pula suara tawa orang tadi sembari berkata,
“Dengan kepandaianmu seperti ini, juga hendak jual tingkah
didepan tuanmu, benar-benar orang yang tidak kenal malu !"
Kedua setan itu bertambah murka, Thio Kiu lantas hunus
senjatanya yang berupa sepasang gaetan, bersama-sama Oey Cing
Tan dan Co Pat lantas mengubrak-abrik pohon tersebut, tapi tidak
bisa menemui orang tadi.
Selagi mereka bertiga uring-uringan sendiri, tiba-tiba dibawah
pohon yang tidak jauh dari pohon besar itu terdengar suara orang
ketawa dingin sembari berkata,
“Tiga manusia yang sudah buta, kamu tidak periksa dulu diatas
pohon ada orangnya atau tidak, apa perlunya mengubrak-abrik
pohon yang tidak berdosa?"
Tiga orang itu menoleh berbareng lalu terlihat oleh mereka
dibawah pohon yang kira-kira tiga paal jauhnya ada berdiri seorang
laki-laki.
Thio Kiu yang sudah kalap benar-benar, sambil memaki kalang
ka-butan, lantas melayang turun menerjang orang tersebut.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 52
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Co Pat dan Oey Cing Tan juga lantas pada turun untuk
memberi bantuan kepada kawannya.
Gerakan tiga orang itu dilakukan secara tidak diduga-duga serta
cepat sekali. Siapa kira orang itu tidak turun tangan balas
menyerang, sebaliknya lantas memutar tubuhnya dan kabur kearah
telaga.
Oey Cing Tan dan Yan-san Jie Kui yang sudah murka benar-
benar, lantas lari mengejar. Orang itu seolah-olah hendak menggoda
tiga penjahat itu. Ia lari seenaknya saja tidak menunjukkan bahwa ia
seorang lari sung-guh-sungguh tapi biar bagaimana pun ketiga
penjahat itu tidak dapat menyandak. sekalipun mereka itu memaki
kalang kabut, tapi orang itu tetap tidak mau ladeni.

– ooOoo –

III

Sebentar saja mereka sudah lari sejauh tiga paal, dibawah


penerangan rembulan remang-remang. Tidak jauh didepan mereka
sudah ke-lihatan terbentang air danau yang sangat Inas, hingga
mereka taint sudah berada ditepi danau Siao-ouw.
Ke tiga penjahat itu sangat girang, pikirnya orang itu tentu
sudah berada dijalan buntu, maka mereka lantas memberi isjarat,
ke-mudian lari berpencaran, untuk mengurung.
Thio Kiu mulai pentang bacotnya :
“Sahabat, kau hendak lari kemana lagi?"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 53
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Iapun segera mempercepat larinya sambil mengeluarkan ilmu


lompat 'capung berterbangan diatas air', sekejap saja sudah berada
dibelakang itu orang, kemudian ia lantas sodorkan sepasang
gaetannya, dengan gerakan mengacir hendak memotong pinggang
orang itu.
Senjata itu sudah dekat sekali pada sasarannya tapi orang
tersebut dengan tanpa menoleh, tiba-tiba kaki kirinya terpeleset,
seluruh badannya rubuh kenyuknyuk.
Nampaknya ia seperti terjatuh karena didesak oleh senjata Thin
Kin tapi sebetulnya perbuatannya ini adalah serupa tipu silat yang
amat sukar dipelajari. Nama ilmu silat itu ialah 'Tiara Lik Ciang
San' atau memusatkan tenaganya untuk menunjang gunung.
Thio Kiu ketika menampak orang itu jatuh, girangnya bukan
main, lalu ayun sepasang gaetannya sembari membentak,
“Sahabat, rebahlah kau disini Tapi kedua kaki orang tadi lantas
menyejak tanah, dadanya masih terpisah beberapa chun dengan
tanah. dengan secara mendadak lantas membalikan tubuhnya
sembari berkata,
“Belum tentu!”
Tahu-tahu orang itu sudah melesat jauh, untuk menghindarkan
serangannya Thio Kiu.
Thio Kiu yang sudah merasa gemas sekali, serangannya itu
dilakukan dengan menggunakan tenaga sepenuhnya. Ia bertekad
hendak membinasakan orang itu ditepi telaga Siao-ouw itu tapi
siapa kira benar-benar telah terjadi hal yang diluar dugaannya,
hingga tidak keburu menarik kembali serangannya, dan akhirnya ia
sendiri Ong jatuh tengkurap.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 54
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Selagi ia hendak bangun, tidak nyana orang tadi sudah


bertindak sangat gesit, ia sudah putar balik tubuhnya, dan dengan
kakinya ia menendang pantat Thio Kiu, hingga sebentar kemudian
tubuh Thio Kiu sudah melayang ditengah udara, kemudian
nyelonong nyemplung kedalam telaga!
Pada saat itu Oey Cing Tan dan Co Pat tiba hingga dapat
kesempatan menyaksikan kawannya dalam tempo sekejapan saja
sudah dibikin terjungkal kedalam telaga. Bukan main kaget dan
murka mereka itu.
Oey Cing Tan lantas membabat dengan senjata pecutnya yang
lamas. Co Pat menyerang dengan goloknya yang besar. Tapi orang
itu cuma ganda dengan tertawa, kemudian dengan tangan kosong
melajain dua ruin senjata itu.
Oey Cing Tan bertempur sambil memperhatikan roman musuh
yang lihay itu. ternyata ada satu laki-laki yang usianya baru kira-
kira tiga puluh lima tahun. berdandan pakaian jalan malam serba
hitam ringkas diatas bibirnya ada tutnbuh kumis pendek, dibelakan
gegernya ada menggemblok senjata yang dinamakan 'Siang Hong
Seng Sic Poan' yang jarang tertampak. Tapi orang itu tidak matt
menggunakan senjatanya ia hanya menggunakan kedua tangannya
untuk melakukan perlawanan. Dengan tenang ia menghadapi dua
musuh yang bersenjata pecut dan golok itu tapi ia masih bisa
mendesak kedua lawannya.
Saat itu Thio Kiu sudah merajap keluar dari dalam air, seluruh
badannya basah kuyup, senjata ditangan kirinya sudah tenggelam di
dasar telaga hingga cuma ketinggalan sebelah. tanpa perdulikan
badannya yang basah dan senjatanya yang cuma tinggal satu, ia pan
segera turut mengeroyok orang itu.
Orang itu yang dikeroyok tiga musuh, agaknya sudah mulai
gusar, mengeluarkan siulan nyaring, lalu keduarkan ilmu silatnya

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 55
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

„Pat-Kwa Liong Houw Ciang Hoat' yang sangat terkenal di


kalangan Kang-ouw, hingga sebentar saja keadaan sudah lantas
berobah.
Ketika pertempuran itu telah berjalan kira-kira sepuluh jurus,
orang itu lantas memukul rubuh Co Pat, kemudian lompat keluar
dari kalangan dan berkata kepada Oey Cing Tan bertiga.
“Malam ini aku cuma memberi sedikit hajaran saja kepada
kalian, kalau kalian masih tetap tidak insyaf dan mau rnembantu
kejahatan, nanti jika terjatuh kedalam tanganku lagi, aku tak mau
memberi ampun dengan gampang-gampang lagi. Mau dengar atau
tidak, terserah kalian sendiri".
Sehabis berkata, lantas menghilang ditempat gelap. Orang yang
mempermainkan tiga penjahat tadi adalah Pat Kwa Ciang Cin
Tiong.
Ia sebetulnya cuma hendak memberi ingat kepada mereka
secara sembunyi, agar supaya mereka suka mundur sendiri, ia tidak
suka bentrok terang-terangan agar supaya wajahnya jangan dikenal
oleh mereka apamau si kedua setan itu ada keliwat jahat. mereka
terus mendesak, sehingga terpaksa mengeluarkan ilmu silat Pat
Kwa Ciangnya dan setelah pukul mundur lawannya dan setelah
meninggalkan ancaman iapun berlalu.
Tiga penjahat itu kecuali Oey Cing Tan. dua yang lainnya
sudah mendapat hajaran yang lumajan juga. Setelah kejadian itu,
mereka baru tahu bahwa keluarga Chie itu betul-betul mempunyai
banyak orang berkepandaian tinggi yang diam-diam melindunginya.
Hanya mereka tidak mengerti dari mana si orang she Chie itu dapat
mengundang pelindungnya itu?
Kasihan si setan dari gunung Yan-san dan Chit Seng Sian Pian
yang biasanya suka malang melintang didaerah Utara, malam itu

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 56
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

telah dipermainkan orang demikian rupa, sehingga musnah sama


sekali kegaakannya, dengan perasaan masgul mereka terpaksa pu-
lang ke Ie Chiu Wan.
Ketika Co Pat tiba di gedung Oh Cu Kui dilihatnya Liauw-tang
Siang-tiauw sudah ada, sebab sudah pulang duluan. Kim Cie Ping
Sie Kok Tiong dengan pisau kecil ditangannya sedang melakukan
pembedahan badan Pang Oen untuk mengeluarkan senjata rahasia
duri ikan terbang, sedang Hoan Kong Hong dan lain-lainnya pada
mengitari untuk menyaksikan.
Oey Cing Tan bertiga agaknya merasa malu menemui kawan-
kawannya, tapi apa boleh buat, dengan tebalkan muka mereka
terpaksa masuk keruangan untuk menemui kawan-kawannya.
Kawanan penjahat itu ketika menampak Thio Kiu basah kujup
dan muka Co Pat matang biru segera mengerti, bahwa kedua orang
itu telah mengalami kekalahan.
Saat itu tiba-tiba terdengar Pang Oen menyerit karena
kesakitan, keringat dan darah membasahi seluruh pakaiannya. Maka
dari badan Pang Oen telah dikeluarkan sebilah senjata berupa
jarum. Setelah memberikan obat pada lukanya, senjata itu lantas
diletakkan diatas meja. Sambil meng-geleng-gelengkan kepala Kim
Cie Ping pun berkata,
“Sungguh satu benda yang amat lihay!"
Para penjahat pada memeriksa senjata rahasia yang panjang-
nya tidak cukup dua thjun itu, ujungnya gepeng meruncing,
seluruhnya terbikin dari baja tales, hingga mengeluarkan sinar
bergemerlapan, dibagian belakangnya ada dua lembar baja tipis
yang mirip dengan ekor ikan, senjata rahasia serupa itu memang
agak aneh bentuknya. Diantara kawanan penjahat itu tidak
seorangpun yang pemah melihat senjata semacam itu.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 57
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Pada saat itu Hoan Kong Hong mergeluarkan dari sakunya


sebuah jarum yang dikeluarkan dari mata Pang Lo-jie. Sambil
angguk-anggukkan kepala Hoan Kong Hong pun berkata,
“Sungguh-sungguh jahat perbuatan gadis hina itu. Mata kiri
Pang Lo-jie juga menjadi korban senjata ini. Budak hina itu benar-
benar lihay, untuk selanjutnya kita harus berhati-hati bila
menghadapinya!”
Kemudian ia lantas menuturkan pengalamannya ketika ia
bersama kawan-kawannya bertempur dengan itu nona didalam
rimba. Tiba-tiba Oh Cu Kui berseru,
“Dengan penuturanmu ini sekarang aku telah ingat. Itu
perempuan muda yang kalian jumpai, pasti ada itu pendekar wanita
yang mempunyai nama dan julukan Kong Tong Lie-hiap Kong Sian
Cian nama budak cilik itu baru terkenal dalam dua tahun ini saja,
tapi orang-orang dari rimba hijau di daerah Kang-lam sudah dibikin
gelisah oleh tindakannya, tanah dimana ia injak, sahabat-sahabat
yang makan nasi hitam pada menyingkir semuanya. Kabarnya
budak itu beradat tinggi, ia tidak pandang mata sama sekali orang-
orang yang bekerja kepada pemerintah Boan, tapi apa sebabnya? Ini
benar-benar suatu soal yang sangat aneh!"
Setelah diri Sian Jie diterangkan Oh Cu Kui lantas minta
kawan-kawannya yang mendapat luka itu pada mengaso untuk
merawat diri. Kemudian ia perintahkan orang-orangnya untuk
menyediakan hidangan diruangan tengah, sedangkan ia dan kawan-
kawannya bersama-sama merundingkan rencana untuk menghadapi
Kong Tong Lie-hiap.
Ramai masing-masing mengeluarkan pendapat, tapi tidak
menghasilkan suatu keputusan yang kongkrit.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 58
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Oey Cing Tan yang menyaksikan keadaan demikian, lantas


berkata sambil mengelah napas.
“Menurut pengalaman kita malam ini, kita dapat mengambil
kesimpulan, keluarga Chie itu kecuali itu Kong Tong Lie-hiap yang
kalian perbincangkan, masih ada lagi banyak orang gagah yang
tinggi ilmu silatnya, yang memberi perlindungan. Bukannya aku
hendak pandang rendah fihak kita sendiri. Meskipun kita semua
yang berada disini, sekalipun turun tangan semuanya, mungkin kita
berdaya menghadapi mereka. Toa-ko kita sudah memerintahkan
supaya kita menguntit perjalanan mereka dan perhatikan betul
tempat kediaman itu keluarga Chie, setidak-tidaknya tugas ini toch
kita sudah lakukan dengan baik, untuk selanjutiija ter-paksa kita
menunggu kedatangan toa-ko kita.
Belum habis ucapan Oey Cing Tan itu tiba-tiba terdengar dari
luar rumah suara tertawa nyaring, hingga kawanan penjahat itu pada
terkejut. Selagi mereka hendak bangun untuk keluar menyaksikan,
tiba-tiba mereka melihat api diruangan itu bergojang-gojang,
kemudian dari luar pintu ada melayang masuk seorang laksana
burung terbang, gerakan orang itu gesit sekali, sekejap saja sudah
berada ditengah ruangan.
Orang itu sudah berusia lima puluh tahun lebih, mengenakan
pakaian kain sutra panjang berwarna abut, badannya sedang, alisnya
gompiok, hidungnya bengkung, matanya mendelong, mulutnya
lebar, bibirnya gepeng, kumis dan jenggotnya sudah berwarna dua,
kulit mukanya hitam kemerah-merahan, belakangnya menggendong
satu buntelan, kepalanya memakai topi hitam. Dandanannya yang
tidak karuan macam ini, merupakan satu paduan yang menyolok
dengan wajahnya yang aneh, Hoan Kong Hong yang menyaksikan
keadaan orang yang baru datang itu, tiba-tiba teringat kepada
seorang lalu buru-buru ia maju menghampiri, sambil unjuk hormat
dan menyapa,
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 59
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Tuan yang terhormat benarkah tuan ini adalah itu Lo-


cianpwce yang nama besamya Teng Hong dan gelarnya Coe Im
Cu?"
Orang tua itu menjawab sambil tertawa girang :
“Aku si tua bangka sudah dua puluh tahun lamanya
mengundurkan diri dari kalangan Kang-ouw, tidak nyana masih ada
orang yang ingat namaku".
Jawaban ini telah membikin kaget semua orang yang ada disitu.
Tentang diri Coe Im Cu (bayangan ular) Teng Hong ini, tiga puluh
tahun yang lalu namanya sangat terkenal dikalangan rimba hijau, ia
adalah penjahat besar yang selalu bekerja sendirian, orangnya
kejam, ganas dan telengas, selama malang melintang di jalanan
Kang-pak, entah berapa banyak piauw-tauw terkenal dan pejabat-
pejabat kepolisian yang binasa ditangannya, kemudian ia telah
dikeroyok oleh piauw-tauw dari semua piauw-kiok di lima propinsi
utara, sehingga terluka hingga melarikan diri, dan selanjutnya tidak
berani muncul lagi dikalangan Kang-ouw, malahan pernah
dikabarkan sudah meninggal dunia. hingga mereka tidak nyanya
kalau orang aneh tersebut malam itu telah muncul secara tiba-tiba.
Para penjahat itu terhadap orang aneh ini curna pernah
mendengar namanya, tapi belum pernah melihat orangnya, tentang
tingkatan. sudah tentu orang aneh itu tergolong tingkatan lebih atas.
maka orang itu lantas memberi hormat yang selajaknya sebagai
golongan muda, kemudian mereka minta supaya orang tua itu
duduk ditempat paling atas.
Hoan Kong Hong berkata pula sambil tertawa,
“Lo Cian-pwee kali ini kunjungi kami hingga membuat boon-
pwee sekalian mengenal lebih dekat tentang diri dan pribadi Lo
Cian-pwee.”

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 60
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Teng Hong tertawa terbahak-bahak dan menjawab, “Aku si


orang tua setelah mengasingkan diri, sebetulnya sudah tidak ingin
berkecimpungan lagi dikalangan Kang-ouw, tapi kali ini oleh
karena merasa berat buat menolak permintaan Thay Sie Sian-so,
pertama untuk memberi bantuan pada Tong Cin Wie, kedua karena
itu orang-orang. yang mengzinggap dirinya dari golongan baik,
belakangan ini terlalu congkak yang benar-benar membuat aku
tidak sabar lagi. Kali ini aku terjun lagi dikalangan Kang-ouw,
hendak membawa ilmu silatku yang kulatih selama. dua puluh
tahun, sebagai bekal dalam pertandingan menghadapi mereka.
sekedar untuk melindungi kepentingan sahabat-sahabat dari
golongan rimba hijau, lagi-pula jangan kita membiarkan orang-
orang itu mentengkelok, seolah-olah dimatanya tidak ada orang
yang lebih pandai darinya!”
Kata-katanya itu diucapkan dengan sikapnya yang sangat
jumawa.
Pada saat itu, Oh Cu Kui sudah perintahkan orangnya supaya
menyediakan lagi hidangan yang baru, untuk menyamu tetamu-nya
itu.
Dalam perjarnuan, Oey Cing Tan membicarakan kegagalannya
semalam, Teng Hong berkata sambil tertawa dingin,
“Lohu barusan sudah dapat dengar sebagian, sebetulnya aku
hendak menunggu kedatangan Thay Sie Sian-su dan pemimpin
kalian. baru turun tangan, tapi dengan adanya ini lou kepingin
menernui lebih dulu itu beberapa orang yang melindungi rumah
keluarga Chie, sebetulnya mereka itu orang-orang macam apa.
Baru saja berhenti mengucap, tiba-tiba dibelakang jendela
terdengar orang tertawa dingin, lalu disusul dengan kata-katanya,

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 61
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Kau si tua bangka yang tidak tahu malu. sungguh takabur


pembicaraanmu, jangan kau kira bahwa orang yang melindungi
keluarga Chie itu dari tingkatan muda saja, tapi dengan cuma
mengandal kepandaian ini belum tentu kau mampu menghadapi
mereka. Nanti kalau kau terjungkal ditangannya bocah itu. kemana
kau hendak menaruhkan mukamu?”
Suara dibelakang jendela itu belum berhenti, Teng Hong sudah
berdiri dengan tiba-tiba, tangannya mengayun, tiga benda melesat
keluar dari tangannya terus melayang kearah jendela, kemudian ia
putar tubuhnya hendak mengejar.
Siapa nyana sehelum badannya bergerak, kembali terdengar
suara orang tadi sambil tertawa dingin,
“Kau tak usah tergesa-gesa, kau masih belum ada itu
kepandaian untuk melawan aku, kalau sudah tiba saatnya, sudah
tentu ada orang lain yang akan membereskan dirimu. Tiga butir coh
baja yang kau buat senjata piauw ini, mungkin ada merupakan
kepandaianmu yang kau agulkan, aku juga merasa mual membawa
benda yang tidak ada gunanya ini, maka sebaiknya aku kembalikan
padamu, sekarang aku akan berlalu.”
Begitu berhenti suaranya, dari luar jendela lalu melesat masuk
tiga buah senjata piauw yang mengarah kedua mata dan dada Teng
Hong, serangan itu amat keras dan cepat sekali.
Tang Hong berkelit, senjata itu meliwati kepalanya dan terus
menancap dalam sekali didinding tembok ruangan tersebut.
Tang Hong setelah mengelakan serangan tersehut. lantas
melompat melesat kepelataran belakang, tapi orang itu ternyata
sudah tak kelihatan bayangannya, hingga Teng Hong memaki-maki
kalang kabut sendirian.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 62
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Hari kedua diwaktu tengah hari. kampung Ie Chie Wan telah


kedatangan tiga tetamu yang menunggang kuda, dua diantaranya
adalah yang usianya kira-kira tiga puluh tahun keatas, satu lagi ada
seorang wanita muda yang usianya kira-kira dua puluh tahun.
Wanita itu parasnya cantik lagi genit. Kedua laki-laki itu
agaknya adalah pengiring wanita muda tersebut, tapi juga mirip
sahabat baiknya, bagaimana sebetulnya perhubungan mereka, sukar
diketahui oleh orang luar. Yang tertampak nyata ialah Wanita muda
itu agaknya memptinyai kawibawaan untuk menguusai kedua laki-
laki tersebut.
Mereka betiga sete1ah memasuki perkampungan, terus menuju
kegedung Oh Cu Kui.
Tiga penunggang kuda itu haru saja mendekati gedung Oh Cu
Kui. siang-siang sudah ada penjaga pintu yang pergi melaporkan
kepada Oh Cu Kui, hingga tidak lama kemudian pintunya telah
terbuka lebar-lebar, dan Oh Cu Kui sudah keluar menyambut
sendiri dengan muka berseri-seri.
Setelah mengetahui siapa mereka itu yang baru datang, Oh Cu
Kui buru-buru angkat tangan memberi hormat, lalu berkata sambil
tertawa,
“Angin apa yang membawa Pek Hoa Nio Cu dan Kim Ling
Sian Gie datang kemari? Sampai Oh Cu Kui kelalaian menyambut,
mari lekas masuk kedalam, biarlah aku nanti menyediakan arak
untuk menebus dosaku".
Wanita muda itu angguk-anggukkan kepalanya, sembari
tertawa ia berkata :
“Astaga, kau Oh Toa-ya benar-benar terlalu merendahkan diri,
kita sungguh tidak sanggup menerima".

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 63
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ia lantas turun dari kudanya. Apa yang menggelikan adalah


sikapnya itu dua laki-laki dibelakangnya, mereka saling berebut
menyambut les kudanya Pek Hoa Nio Cu, Oh Cu Kui juga ikut-
ikutan, hingga tiga orang itu lantas saling berebutan tali kuda.
Wanita muda itu agak herpikir sejenak, mungkin karena meng-
anggap Oh Cu Kui adalah tuan rumah hingga lantas serahkan les
kudanya kepada Oh Cu Kui.
Dari dalam rumah saat itu ada keluar tiga laki-laki tegap, yang
masing-masing lantas menyambut kuda ketiga tetamu itu.
Oh Cu Kui lalu ajak tiga tetamunya masuk ruangan rumahnya.
Didalam ruangan itu telah berkumpul para penjahat, di tengah-
tengah mereka ada duduk Coa Im Cu Teng Hong.
Pek Hoa Nio Cu yang pertama memasuki ruangan, begitu
melangkah pintu, matanya yang tajam lantas menyapu kawanan
penjahat itu. Oh Cu Kui lantas perkenalkan Pek Hoa Nio Cu dan
Kim Ling Siang Gie kepada kawanan penjahat tersebut.
Kim Ling Siang Gie, nama sebenarnya jalah Lim Houw dan
Thian Liong ; keduanya adalah penjahat yang suka melakukan
kejahatannya sendirian, karena sifatnya yang hampir bersamaan,
keduanya lantas angkat saudara, dikalangan rimba hijau daerah
Kang-lam, dua orang itu agak terkenal namanya, dengan Oh Cu Kui
juga merupakan sahabat karib. Lim Houw menjagoi dikalangan
rimba hijau dengan senjata pecut emasnya dan piauw beracunnya,
sedang Thian Liong menggunakan senjata sepasang gembolan dan
peluru yang bisa meledak.
Dua orang itu satu sama lain sebetulnya tidak saling mengenal,
tujuh tahun yang lalu sama-sama berusaha merampas harta seorang
saudagar berupa permata di daerah Kim Ling, sehingga timbul
bentrokan hebat. Mereka bertempur setengah malaman, akhirnya

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 64
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Lim Houw berhasil bisa menghantam Thian Liong dengan


pecutnya, namun ia sendiri juga luka lengan kirinya karena senjata
peluru Thian Liong. Setelah dua-duanya terluka maka timbul rasa
kagum mereka masing-masing, hingga seketika itu lantas angkat
saudara, selanjutnya kedua penjahat itu lalu bekerja sama, tidak
melakukan kejahatannya sendirian lagi.
Untuk memperingati peristiwa didaerah Kim Ling itu, telah me-
namai dirinya sebagai Kim Ling Siang Koay. Tapi julukan Siang
Koay ini agaknya tidak enak dalam pendengaran, maka sahabat-
sahabat- nya jika bertemu mereka pada bahasakan mereka Kim Ling
Siang Gie.
Setelah mereka bekerja berduaan, ternyata lebih lancar, dalam
tempo tidak lama mereka sudah bisa membeli tanah dan mendirikan
gedung yang mentereng.
Tapi kadang-kadang juga masih melakukan pekerjaan yang
tanpa modal itu.
Nama Siang Koay ini dikalangan rimba hijau daerah Kang-lam
makin lama makin terkenal, ini berarti banyak korban yang jatuh
ditangan mereka; Kala itu Kong-tong Lie-hiap Kang Sian Cian baru
mulai unjuk gigi didaerah Kang-lam. Siang Koay yang nama-nya
paling menonjol, sudah tentu menjadi sasaran Kong-tong Lie-hiap
yang ternama, kemudian diketahui segala perbuatan dan
kejahatannya, maka lantas disatroni kediamannya, setelah terjadi
pertempuran seru maka Siang Koay mengalami kekalahan hingga
melarikan diri.
Kang Sian Cian yang tidak berhasil membinasakan jiwa Siang
Koay, telah timpahkan amarahnya kepada gedungnya, sehingga
dibakar habis, untuk selanjutnya Siang Koay kembali menjadi
penjahat yang tidak mempunyai kediaman tetap.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 65
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Dalam peperangan itu, Siang Koay dengan tidak sengaja telah


bertemu dengan Pek Hoa Nio Cu Pek Hiang Lui.
Pek Hoa Nio Cu ada seorang wanita yang centil genit, tentang
kepandaian ilmu silatnya Siang Koay berdua masih harus tunduk
padanya. Bukan cuma itu saja, wanita muda ini mempunyai daya
penarik luar biasa, hingga bisa permainkan dua saudara angkat itu
sedemikian rupa, sehingga mereka benar-benar mati kutunya,
bahkan bersedia mengorbankan segala apa untuk membela itu
wanita.
Setelah Pek Hoa Nio Cu menundukkan Siang Koay,
selanjutnya mereka bertiga lantas bersiar kemana-mana, setiap hari
bersenda gurau, bercumbu-cumbuan, senang si memang senang,
tapi kesenangan semacam ini ada mengandung dua bahaya,
pertama, Siang Koay sama-sama mengetahui bahwa perempuan
seperti Pek Hoa Nio Cu ini, sudah tentu tidak mengerti apa artinya
cinta yang sebenarnya, setiap waktu kalau ia sudah bosan, ia bisa
sepak mereka dan mencari ganti yang lain.
Kedua, dua saudara angkat itu sama-sama 'mendekati' satu
wanita, lama kelamaan, mungkin bisa timbul iri hati dan
cemburuan, karena masing-masing hendak mendapatnya untuk
dirinya sendiri, hingga ada kemungkinan dua saudara itu bisa
bermusuhan lagi. Tapi Pck Hoa Nio Cu tidak perdulikan itu semua,
bagi dia, setiap laki-laki yang binasa karena berebutan dirinya,
sudah bukan merupakan apa-apa, ia hanya berbuat menuruti kese-
nangan hatinya.
Pada hari itu mereka bertiga telah tiba di daerah An-hwie, tiba-
tiba teringatlah mereka sahabat karib Oh Cu Kui, maka Pek Hoa
Nio Cu lantas ajak Siang Koay ke desa Ie Chiu Wan.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 66
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Siapa nyana bahwa kedatangan wanita cantik ini, akhirnya telah


membawa malapetaka bagi kawanan penjahat dari lima propinsi
Utara ……..
Pek Hon Nio Cu setelah diperkenalkan oleh tuan rumah, baru
tahu bahwa orang-orang itu semua adalah sahabat-sahabat dari
rimba hijau di daerah Utara, orang tua yang duduk dibagian atas itu
ternyata adalah Coa Im Cu Teng Hong yang namanya sudah
terkenal sejak dua puluh tahun berselang.
Pek Hoa Nio Cu setelah 'obral' senyumnya dan lirikannya
kepada kawan-kawan rimba hijau dari propinsi Utara itu iapun
duduk didepan Teng Hong, hingga kedua machluk yang berlainan
kelamin itu lantas merupakan suatu kontras yang sangat menyolok.
Setelah orang-orang sudah mulai makan dan minum. Teng
Hong pun mengangkat bicara, katanya :
“Sin Chiu Tui Hun dan Thay Sie Sian-su mungkin masih
membutuhkan waktu beberapa hari lagi baru bisa tiba, lohu malam
ini ingin mendatangi sendiri kampung Siang Khee Chun, untuk
menyaksikan sendiri siapa sebetulnya itu orang yang melindungi
keluarga Chie, sekalian hendak menemui Kong-tong Lie-hiap.
diantara para saudara siapa yang suka turut lohu melakukan
penyelidikan ini?”
Penjahat-penjahat yang kepandaiannya agak berarti seperti
Hoan Kong Hong, Oey Cing Tan, Liauw-tang Siang Tiauw, Yan-
san Jie Kui dan Ie-pak Sam Houw, semuanya sudah dibikin
terjungkal oleh Kong-tong Lie-hiap, sudah tentu tidak berani ajukan
diri lagi, apalagi yang lainnya? Teng Hong ulangi lagi sompai tiga
kali pertanyaannya itu tapi kawanan penjahat itu tidak ada
seorangpun yang berani membuka mulut.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 67
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Teng Hong amat mendongkol, matanya yang aneh menyapu


kawanan herandal dari Utara itu, sambil perdengarkan suara tertawa
dinginnya, ia sudah akan buka mulutnya mendamprat orang-orang
tersebut, tiba-tiba ia melihat Pek Hoa Nio Cu berbangkit, sambil
bersenyum manis ia berkata,
“Boanpwee ingin turut Lo-cianpwee pergi, entah boleh atau
tidak?"
Belum sempat si bayangan ular Teng Hong memberikan
jawabannya, lantas ada banyak orang yang menyatakan turut pergi.
Pertama-tama adalah Kim Ling Siang Koay Lim Houw dan Thian
Liong yang berkata :
“Kita berdua saudara, hendak turut Lo-cianpwee, bagaimana ?"
Thio Kiu dan Co Pat yang paling gemar paras elok, tatkala
mendengar Pek Hoa Nio Cu menyatakan burin Teng Hong, lantas
tidak ingat rasa sakitnya lagi, buru-buru pada menyatakan turut
pergi, begitu pula Oey Cing Tan dan Hoan Kong Hong, rupanya
tidak mau ketinggalan karena sicantik itu saja.
Teng Hong yang menyaksikan keadaan yang menyemukan itu,
hatinia semakin mendongkol, maka lantas berkata sambil tertawa
dingin,
“Saudara-saudara benarkah ada sahabat-sahabat baik yang tidak
takut mati? Ini benar-benar memberi muka terang bagi aku si orang
tua yang sudah tidak ada guna ini.
Cuma saja, kepergianku malam ini hanya hendak menyerapi saja,
hingga tidak memerlukan banyak orang. Aku dengan saudara-
saudara yang baru dikenal malam ini, bagaimana kepandaian
saudara-saudara? Aku masih belum jelas, hingga sangat tidak enak
untuk menetapkan siapa sebetulnya yang harus ikut. Sekarang
begini saja.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 68
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Siapa yang mau ikut, setiap orang harus menyainbuti seranganku


tiga jurus.
Tapi ini bukan berarti aku hendak turun tangan terhadap saudara-
saudara. hanya hendak mencoba kekuatan para saudara saja,
kemudian akan menetapkan pilihanku.
Cuma saja masih ada satu pengecualian, ialah kepada nona Pek ini,
ia adalah orang pertama yang menyatakan hendak turut. sudah tentu
aku tidak perlu mencoba padanya. Apakah saudara-saudara setuju
maksudku ini?"
Oey Cing Tan dan Hoan Kong Hong sudah tahu keganasan si
orang she Teng ini, meski dimulutnya mengatakan hendak mencoba
kekuatan orang. tapi sebetulnya karena merasa mendongkol. hingga
ada kemungkinan turun tangan benar-benar. Dua orang itu melihat
gelagat tidak baik, lantas mundur teratur, tindakannya itu lantas
disusul oleh Yan-san Jie Kui, hanya tinggal Kim Ling Siang Koay
yang tetap hendak ikut. Ini disebabkan karena dua orang itu belum
lama muncul didunia Kang-ouw, hingga belum pernah mendengar
nama Coa Im Cu itu. Selain itu. mereka berdua merupakan sahabat
karib Pek Hoa Nio Cu, sudah tentu tidak mau membiarkan Pek Hoa
Nio Cu pergi berduaan bersama Teng Hong.
Ketika Teng Hong melihat Siang Koay bersedia menyambuti
serangannya dan memaksa juga hendak ikut, sembari tertawa
dingin, ia lantas lompat keruangan luar, dan berkata sambil tertawa
getir :
“Jiewie kalau benar ingin mencoba, silahkan keluar!"
Oh Cu Kui yang menjadi kenalan lama kedua orang itu, tidak
tega mereka terluka ditangan si orang tua aneh itu, maka buru-buru
memberi tanda kepada Siang Koay, supaya mereka jangan sampai
turun tangan. Tapi Lim Houw dan Thian Liong yang sudah ke-

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 69
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

palang tanggung, dibawah mata orang banyak, sudah tentu tidak


mau mundur begitu saja, maka pura-pura tidak lihat sikap tuan
rumah itu. Dengan tindakan lebar meninggalkan ruangan tersebut.
Pek Hoa Nio Cu merupakan orang yang paling dulu mengikuti
mereka keluar dari ruangan tengah, ia masih tetap dengan sikap
yang berseri-seri, seolah-olah tidak ada apa-apa. Tindakannya itu
segera diikuti oleh para berandal lainnya.
Sekarang beberapa puluh pasang mata telah ditujukan kepada
Coa Im Cu, si bayangan ular itu, hendak menyaksikan dengan cara
bagaimana menghadapi Siang Koay.
Dalam pekarangan yang luas itu Teng Hong berdiri ditengah-
tengahnya ketika melihat kedatangan Siang Koay, sambil tertawa
dingin iapun bertanya :
“Jie-wic hendak maju berbareng atau bergiliran?” Kim Ling
Siang Koay menampak sikap Teng Hong yang sangat jumawa,
seolah-olah tidak pandang mata diri mereka, seketika itu lantas
timbul amarahnya, maka lantas menjawab berbareng,
“Kalau Lo-cianpwee tidak keberatan, kita berdua saudara
hendak maju berbareng".
Teng Hong lalu berkata sambil tertawa, “Jie-wie awas!"
Mulutnya belum ditutup tapi badannya sudah melesat. Tangan
kirinya menyambret Lim Houw sedang tangan kanannya menotok
jalan darah 'Sian Kie Hiat' pada dirinya Thian Liong. Serangan-nya
itu bukan saja cepat tapi juga ganas sekali.
Kim Ling Siang Koay menampak Teng Hong memajukan
serangan begitu cepat laksana kilat merupakan sate cara yang belum
pernah mereka saksikan, dalam hati lantas merasa kaget.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 70
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Lim Houw egoskan diri untuk merighindarkan serangan, kaki


kanannya diangkat menendang perut Teng Hong.
Thian Liong sebaliknya menyambuti serangan Teng Hong
dengan tangan kanannya, tangan kirinya menyerang lengan
lawannya.
Mereka tidak tahu bahwa Coa Im Cu yang sudah mengasingkan
dirt selama dua puluh tahun itu kali ini terjun lagi kedalam kalangan
Kang-ouw, ternyata lebih lihay dari pada sebelum mengasingkan
diri. Tatkala menampak kedua orang itu balas menyerang berbareng
maka serangannya tadi tidak diteruskan, tapi segera ia keluarkan
ilmu silatnya 'Coa Heng Ciang' yang luar biasa, melejit dari bawah
serangan kedua orang tersebut.
Gerakannya ini benar-benar diluar dugaan Siang Koay.
Menurut kebiasaan, Teng Hong tentunya harus hindarkan atau
memecahkan serangan kedua orang itu lebih dahulu, baru balas
menyerang. Mereka tidak tahu bahwa keistimewaan ilmu silat si
orang tua itu adalah Coa Heng Ciang Hoat dan sembilan puluh
enam jurus Coa Heng Pian Hoat (ilmu serangan dengan pecut).
Kedua rupa ilmu silat itu mengutamakan serangan yang
dilakukan selagi musuhnya itu lalai atau lengah, Teng Hong yang
sudah melatih dua puluh tahun lamanya, sudah tentu bisa
menggunakan secara mahir sekali.
Siang Koay selagi masih berkesiap, Teng Hong sudah
menyerang sambil memutar tubuhnya, Lim Houw tertendang
dengan kakinya lalu jatuh terpental sejauh kira-kira delapan kaki
Thian Liong terkena serangan telapakan tangannya, hingga
wajahnya matang biru. dengan sempojongan mundur beberapa
puluh tindak, setelah menyemburkan darah segar, orangnya lantas
rubuh ditanah.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 71
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Coa Im Cu tertawa terbahak-bahak, sambil pimpin bangun


Siang Koay ia berkata,
“Lohu tidak keburu menarik kembali seranganku, hingga
melukai jie-wie. harap suka maafkan".
Sesudah ia berkata demikian dikeluarkannya dari dalam
sakunya dua butir pil merah lalu menyuruh Siang Koay minum.
Oh Cu Kui lantas menyuruh orang-orangnya membimbing
Siang Koay ke kamar untuk beristirahat.
Siang Koay meski dalam hati sangat mendongkol, tapi karma
kepandaiannya sendiri tictak sebanding dengan lawannya, terpaksa
menerima itu kekalahan.
Coa Im Cu belum sampai dua jurus sudah menyatuhkan Kim
Ling Siang Koay, membuat terperanjat kawanan penjahat lain-nya,
hanya Pek Hoa Nio Cu yang agak lain pikirannya, ia menyaksikan
Teng Hong melukai dua kawannya, bukan saja tidak berduka,
sebaliknya malah merasa girang. la pun segera mengambil suatu
keputusau dalam hati hendak menggunakan kecantikannya untuk
memikat hati orang tua itu, supaya mau mengajarinya ilmu silat
yang lihay.
Mari sekarang kita kembali kepada si bajangan ular Teng
Hong. Orang itu setelah melukai Kim Ling Siang Koay, dengan
gayanya jang sangat jumawa berjalan masuk keruangan tengah lagi,
kedatangannya itu sudah tentu disambut secara hangat oleh
kawanan penjahat.
Oh Cu Kui kembali memerintahkan orangnya untuk
menyediakan hidangan dan minuman.
Pek Hon Nio Cu benar-benar telah unjukan keahliannya
memikat hati lelaki, dengan lagaknya yang bisa membuat kebat-

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 72
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

kebit hati setiap lelaki, terus meloloh Teng Hong dengan araknya.
Perjamuan makan itu berjalan kira-kira satu jam barulah bubar.
Saat itu kira-kira sudah lewat jam satu tengah malam. Tang
Hong masih memakai pakaiannya yang panjang, dengan mengajak
Pek Hoa Nio Cu yang berdandan ringkas, terus menuju ke kampung
Siang Khee Chun.
Tong Hong sengaja unjukan kepandaiannya lari pesat, seolah-
olah anak panah terlepas dari busurnya, sekejap saja sudah lari tiga
empat paal jauhnya. Tapi Pek Hon Nio Cu juga tidak mau unjukan
kelernahannya, ia tetap mengikuti dibelakang Teng Hong.
Sembari lari Coa Im Cu diam-diam perhatikan gerakan Pek
Hoa Nio Cu ketika menampak perempuan muda itu ternyata mampu
mengikutinya secara diam-diam ia merasa kagum juga
kepandaiannya.
Selagi hendak percepat larinya, tiba-tiba terdengar suara
tertawa cekikikan, kemudian disusul oleh kata-kata Pek Hoa Nio Cu
yang seolah-olah mengandung hesi semberani,
“Astaga, Tang Lo-cianpwee. ini benar-benar akan membikin
aku mati kecapean. kita mengaso dulu sebentar, nanti jalan lagi !”
Suaranya penuh daya penarik hingga Coa Im Cu bukan saja
percepat larinya, malah tanpa diminta, lantas menghampiri Pek Hoa
Nio Cu.
Diwaktu malam yang cuma disinari oleh sinar bintang dilangit.
samara menampak tubuh Pek Hon Nio Cu dengan pnkaion malam
yang sepan ketat dan sangat menggiurkan, hingga membuat hati
Tang Hong berdebaran.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 73
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Pek Hoa Nio Cu sambil bersenyum dan menunjuk dengan


jarinya kedada Teng Hong. berkata dengan suaranya yang sangat
aleman,
“Aku tidak nyana bahwa hatimu sangat jahat. sekeluarnya eng-
kau dari Ie Chiu Wan lantas engkau lari terbirit-birit, bukankah
engkau sengaja membuat aku mati kelelahan.”
Teng Hong meski sudah tergoncang hatinya, tapi biar
bagaimana ia ada seorang rimba hijau yang sudah kenamaan,
dipikat secara demikian oleh Pek Hon Nio Cu tapi masih bisa
pertahankan sambil bersenyum ia menjawab,
“Ilmu lari pesat nona Pek benar-benar sangat mengagumkan,
ternyata bisa mengimbangi kepandaian lohu ……”
Belum habis kata-katanya si bayangan nine itu Pek Hon Nio Cu
segera menarik tangan kanan Teng Hong lain sambil tertawa ia
berkata,
“Kau cuma tahu omong saja, coba raba dadaku. hatiku
berguncang keras rasanya sudah hampir melompat keluar. Kalau
aku tidak memanggil kau, barangkali kau masih tidak mau berhenti,
seandainya berjalan lagi sebentar, aku pasti akin rubuh pingsan!”
Ia malah sengaja 'tersengal-sengal, nada suaranya itu seolah-
olah arak beracun yang membuat orang mabuk daratan.
Teng Hong sebetulnya masih hendak berusaha untuk
pertahankan dirinya, tapi karena ia diperlakukan demikian rupa,
runtuhlah hati-nya itu berandal besar yang ternama dipropinsi Utara,
ia telah kehilangan budi pekertinya, pikirannya sudah butek,
matanya sudah gelap hingga dengan tiba-tiba in pentang kedua
tangannya memeluk tubuh Pek Hoa Nio Cu ……

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 74
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Pek Hoa Nio Cu bukan wanita sembarangan, kalau mau dikata


ia benar-benar menyintai Teng Hong. ini sungguh-sungguh satu
lelucon besar. Wajah itu orang tua, jangan kata kaum wanita, yang
hampir rata-rata takut mendekatinya, sekalipun orang juga merasa
jemu. Bagaimana ia bisa cinta padanya? Tapi Pek Hoa Nio Cu
bukanlah Pek Hoa Nio Cu, kalau ia tidak bisa melakukan hal-hal
yang mustahil dimata orang banyak. Oleh karena in kepingin
mempelajari kepandaian ilmu silat Teng Hong, ia tidak perduli
bagaimana jelek wajahnya Teng Hong, tetapi hendak menempel
padanya.
Ia membiarkan dirinya dipeluk dan pipinya dicium oleh si tua
bangka yang buruk itu. Sembari merem melek in menyaksikan
tingkah lake orang tua yang sudah seperti kalap itu. Perbuatannya
ini membuat Teng Hong semakin berkobar hawa napsunya.
Dengan sangat napsu tangan kirinya menyambar baju wanita
itu. Pek Hoa Nio Cu inengerti sekarang telah tiba saatnya, dengan
cepat tangan kanannya bergerak, menekan jalan darah
dipergelangan tangan kiri Teng Hong, hingga membuat orang tua
itu sangat terperanjat, dan urungkan maksudnya.
Pek Hoa Nio Cu menggunakan kesempatan itu lantas melesat
mundur sampai sembilan kaki jauhnya, sambil menuding si orang
tua lain berkata,
“Nampaknya kau adalah seorang tua baik-baik, bagaimana bisa
berlaku tidak senonoh?"
Teng Hong yang sudah dibikin hilap oleh sikap wanita genit itu
secepat kilat ia mengejar, sambil mengawasi dan tertawa meringis
ia berkata,

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 75
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Kau budak benar-benar sangat menawan hati, aku Teng Hong


harus menyerah didepanmu, asal kau mau terima permintaanku, aku
Teng Hong tidak nanti mengecewakan kau. Bagaimana?"
Pek Hoa Nio Cu mundur setindak lalu ia menjawab sambil
tertawa,
“Aku tidak percaya ucapanmu, bagaimana kalau seandainya
kau menipuku? Kepandaianmu lebih tinggi daripadaku, sudah tentu
aku tidak mampu melawan kau, kalau kau benar-benar menyintai
aku, lebih dulu kau harus ajarkan aku ilmu silat yang kau pakai
untuk merubuhkan Kim Ling Siang Koay, dan selanjutnya aku akan
ikuti kau kemana saja kau pergi, supaya kau puas betul-betul!”
Ucapannya ia ini sangat berani, tapi juga lihay, hingga
membuat Teng Hong kemekmek, tapi dalam hati diam-diam
berpikir kiranya ia hendak belajar ilmu silatku!
Baru saja Teng Hong berpikir demikian. Pek Hoa Nio Cu sudah
mendesak dengan kata-katanya,
“Bagaimana? Aku tahu engkau tak bisa menyintai aku dengan
sungguh-sungguh, sekarang kau merasa sulit, betul tidak?”
Didesak secara demikian, mana Teng Hong masih mempunyai
kesempatan untuk berpikir lagi? Sikap si nona manis yang berada di
depan matanya ini sudah cukup menggoncangkan jantung hatinya
maka tanpa pikir lantas menjawab :
“Ilmu silatku Coa Heng Ciang Hoat dan ilmu pecutku yang
terdiri dari sembilan puluh enam jurus ini, meski aku tidak berani
mengatakan ada ilmu silat yang menjagoi di dunia rimba persilatan
dan tidak ada tandingannya dikolong tapi orang yang mampu
menyambuti seranganku sampai sepuluh jurus, tidak banyak
jumlahnya. Tentang ucapanmu, kalau benar-benar kau bisa

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 76
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

membuktikan, tidak nanti aku akan sayangi kepandaianku, sudah


pasti aku akan turunkan padamu!”
“Sekarang waktunya masih pagi untuk pergi ke Siang Khee
Chun, kau boleh ajarkan dulu beberapa jurus ilmu silat Coa Heng
Ciang Hoot-mu. Bila kita telah kembali dari Siang Khee Chun, lalu
……..”
Perkataan selanjutnya ia tidak mampu keluarkan dari mulutnya
lagi sebab ia telah tempelkan kepalanya diwajahnya Teng Hong.
Pek Hoa Nio Cu benar-benar lihay, hanya beberapa patah
perkataan saja sudah bisa bikin tunduk dan jatuh benar-benar satu
jago yang sudah kenamaan dipropinsi Utara, dan benar saja sudah
mau menurunkan kepandaian ilmu silat Coa Heng Ciang Hoat ke-
padanya. Dalam waktu setengah jam, Teng Hong sudah
menurunkan sepuluh jurus kepandaian ilmu tersebut, yang sudah
diingat betul-betul oleh Pek Hoa Nio Cu.
Saat itu sudah hampir jam tiga pagi, Coa Im Cu masih ingot
tugasnya akan menyerapi Siang Khee Chun, maka lantas hentikan
pelajarannya, dengan tertawa ia berkata :
“Kau sangat pintar serta suka belajar, tidak usah setengah
bulan, kau sudah akan dapat pelajari seluruhnya itu sembilan puluh
enam jurus Coa Heng Ciang Hoat dan Coa Heng Pian Hoat, asal
kau rajin mempelajari, tiga bulan kemudian kau sudah bisa gunakan
untuk merubuhkan musuhmu. Sekarang sudah hampir pagi, kita
masih perlu ke Siang Khee Chun, besok aku ajari lagi".
Pek Hoa Nio Cu juga mengerti tidak boleh terlalu keburu
napsu, maka lantas menjawab sambil tertawa,
“Benar-benar kita sudah waktunya harus pergi, sudah lama aku
mendengar nama Kong-tong Lie-hiap, malam ini kebetulan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 77
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

mendapat kesempatan untuk menyaksikan wajahnya, bagaimana


sebetulnya sih?”
“Mungkin tidak akan lebih cantik daripada kau", kata Teng
Flung sambil tertawa.
“Nama Kong-tong Lie-hiap terkenal di daerah Kang-lam,
parasnya cantik, tinggi pula kepandaian ilmu silatnya, bagaimana
kau boleh bandingkan aku dengan dia? Cuma saja kau jangan
sampai melihat yang baru lantas melupakan yang lama, kalian orang
laki-laki sukar dipercaya", kata Pek Hoa Nio Cu sambil bersenyum.
“Malam ini kalau benar aku bertemu dengan itu budak hina
yang menyebutkan dirinya Kong-tong Lie-hiap, aku akan
membinasakannya lebih lulu", kata Teng Hong sambil tertawa
bergelak-gelak.
Dua orang itu sebentar saja sudah tiba diluar desa Siang Khee
Chun. Teng Hong pernah mendengar dari Oh Cu Kui, bahwa
gedung Chie Ciatsu terletak diujung sebelah Timur, maka lantas
berkata dengan suara perlahan.
“Ito sebuah gedung besar disebelah Timur, mungkin kepunyaan
keluarga Chie, marl kita masuk kesana dengan berpencaran dari kiri
dan kanan ……..!”
Belum berhenti ucapannya itu tiba-tiba kedengaran dari atas
pohon yang tidak jauh dari belakang mereka suara orang berkata
sambil tertawa dingin :
“Kalian kawanan manusia yang tidak tahu malu, beberapa kali
datang beberapa kali terpukul mundur tapi toch masih terus
membandal, aku sudah katakan, tunggu saja sampai toako-mu
datang, kilo nanti mencari tempat yang baik untuk mengadu
kekuatan ; bagaimana kalian masih bersembunyian seperti lakunya

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 78
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

pencuri? Apa kalian masih mimpi bisa melakukan serangan


menggelap?”
Bukan main gusar Teng Hong, tapi penjahat besar yang
namanya sangat terkenal di daerah Utara pada dua puluh tahun
berselang itu biar bagaimana masih pertahankan nama dan
kedudukannya. Ia me-rasa tidak enak turun tangan keji dengan tiba-
tiba atau menggunakan senjata rahasia menyerang secara
menggelap, hanya menjawab dengan suara dingin :
“Kau siapa? Sungguh terkebur ucapanmu, kau berani
mencampuri urusan ini, tentunya ada sahabat yang mempunyai
kedudukan dan nama baik. silahkan keluar aku Teng Hong ingin
coba dulu kepandaianmu. Sahabat. kalau kau mampu menyambuti
seranganku sampai sepuluh jurus, aku Coa Im Cu akan takluk
dibawah kakimu!”
Orang diatas pohon itu menjawab sambil tertawa terbahak-
bahak; “Aku kira siapa, ternyata ada kau si iblis tua. Tidak salah,
pada dua puluh tahun berselang kau memang mendapat sedikit
nama di daerah Utara. aku juga sudah pernah mendengar orang
mengatakan demikian, cuma saja disini bukan sarangmu yang bisa
digunakan untuk kau berbuat sesukamu. Kau jangan membikin
putus jalanmu sendiri dulu, mari kita main-main dulu beberapa
jurus, belum tentu siapa yang akan rubuh lebih dulu".
Berbareng dengan itu telah melayang duo orang dari atas
pohon, yang berdiri disebelah kiri usianya kira-kira tiga puluh lima
tahun, berdandan pakaian malam yang sangat ringkas, diatas
bibirnya ada tumbuh sedikit kumis pendek. wajahnya bulat, sepintas
lain seperti wajahnya tuan tanah didesa. Cuma ketika Tang Hong
menampak senjata 'Siang Hong Seng Ste Pit' yang bentuknya aneh,
sudah lantas ia ketahui bahwa orang didepannya itu bukan orang
sembarangan.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 79
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Orang yang disebelah kanan juga berdandan pakaian malam


serba hitam, wajahnya putih bersih, alisnya keren, badannya tegap,
senjatanya yang menggemblok digegernya juga ada senjata Poan
Koan Pit yang chusus untuk menotok jalan darah.
Dengan munculnya kedua orang laki-laki itu, sepasang mata
Pak Hen Nio Tat yang menatap, tidak berulih kearah lain. Ia yang
sifatnya centil, menampak laki-laki tampan didepan matanya, sudah
lantas main mata dan obral senyumannya. Tapi laki-laki itu orang-
orang tolol yang tidak kenal paras cantik, hanya melihat sekilas,
lantas tidak perdulikan padanya lagi.
Teng Hong setelah mengamat-amati kedua laki-laki itu, lantas
berkata sambil tertawa mengejek.
“Maafkan lohu yang sudah lamer. Aku lihat senjata jie-wic
yang ada dibelakang geger kalian berdua, semuanya merupakan
senjata untuk menotok jalan darah, sudah tentu kamu ini adalah ahli
menotok. Mohon tanya siapa gurumu dan dari golongan mana,
untuk menghindarkan agar aku si orang she Teng tidak kesalahan
melukai sahabat sendiri.”
“Kau tak usah ragu-ragu, kalau kau mempunyi kepandaian kau
boleh keluarkan semuanya, kau tidak akan berdosa terhadap kawan.
Jangan kata kami berdua tidak berpartai, juga tidak ada
hubungannya dengan kau. Kalau kau menanyakan nama kami
tidaklah kami berkeberatan. Aku bernama Cin Tiong Liong dan dia
bernama Ong Bun Ping. Kau lihat diantara kau siapa yang kau
anggap gampang dirubuhkan, bolehlah kau pilih saja menurut
kesukaanmu sebab kami akan mengikuti kehendakmu'', kata
seorang diantara itu yang ternyata ada Cin Tiong Liong.
Ucapan Cin Tiong Liong ini. benar-benar membuat meledak
amarahnya Teng Hong, dengan suara bengis ia membentak.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 80
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Dua anak kemaren sore, ternyata berani berlaku jumawa


demikian rupa! Coba sambuti dulu seranganku ini!”
Ucapannya dibarengi dengan serangan telapakan tangan. Cin
Tiong Liong berkelit, mundur tujuh kaki, lalu berkata sambil
tertawa.
“Perlu apa kau tergesa-gesa? jangan kata cuma satu jurus,
malam ini aku hendak belajar kenal dengan kepandaianmu yang kau
agulkan itu. Cuma saja disini terlalu dekat dengan kampung, kalau
mau bertempur benar-benar, mari kita mencari tempat diluar
kampung, kita boleh bertempur sepuasnya, bagaimana?”
Teng Hong menahan amarahnya, dengan suara dingin ia
berkata :
“Bagus, malam ini kalau belum mendapat keputusan kita tidak
boleh berhenti di jalan!”
Begitu sehabis berkata, ia lantas kerahkan ilmu lari pesatnya
lalu dengan cepat ia berlari keluar kampung.
Cin Tiong Liong. Ong Bun Ping dan Pek Hoa Nio Cu bertiga
lantas menyusul, ke empat orang itu semuanya merupakan orang-
orang golongan kelas satu, maka sebentar saja sudah melalui lima
paal, disatu tempat dataran yang leas Coa Im Cu lantas hentikan
gerakannya, sambil menoleh ia membentak.
Cin Tiong Liong menampak tempat itu ada sepi dan luas, lantas
menjawab sambil tertawa terbahak-bahak :
“Diwaktu malam yang amat sunyi begini angin dingin
menghembus seolah-olah glinting menembus kulit, kita mengadu
kekuatan disini, sebagai usaha untuk melenyapkan hawa dingin!”
Kata-kata yang diucapkan seenaknya saja. membikin Coa Im
Cu Semakin murka, lalu membentak.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 81
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Bocah bermulut tajam, mari sambuti seranganku!”


Dengan cepat melakukan serangannya dengan menggunakan
tipu silat 'Thay San Ap Ting'. Cin Tiong Liong mendongak untuk
elakan serangan tersebut, kemudian berkata sambil tertawa :
“Perlu apa kau tergesa-gesa? Malam ini toch kita tidak akan
berhenti sebelum mendapat keputusan; Hanya aku masih ada sedikit
perkataan, malam ini jika aku jatuh dibawah tanganmu, bukan saja
aku akan cuci tangan tidak mau lagi mencampuri urusan keluarga
Chie, tapi si orang she Cin juga bersedia menerima hukuman apa
yang kau ingin jatuhkan. Dan bagaimana kalau kau yang kalah?
Kau sebutkan dulu janjimu, lalu kita mulai bertempur, dengan
tangan kosong atau dengan senjata, juga silahkan kau yang
memilih, sekarang aku menunggu ja-wabanmu sudah itu kita boleh
mulai".
Sehabis berkata Cin Tiong Liong berdiri tegak sambil
mengawasi Teng Hong, dengan tenang menantikan jawabannya.
Ilmu silat Coa Heng Ciang Hoat dan Coa Heng Pian Host Teng
Hong, telah dilatih dua puluh tahun selama mengasingkan diri. Ia
ingin menggunakan kedua rupa ilmu silatnya yang istimewa itu
untuk mengangkat namanya lagi dikalangan Kang-ouw, kali ini
untuk memenuhi undangan sahabat karibnya Tong Cin Wie, Thay
Sie Sian-su, menuju ke Selatan untuk membantu Tong Cin Wie, ia
sendiri juga kepingin menggunakan kesempatan itu untuk membuat
nama di daerah Kang-lam, tapi kini setelah mendengar perkataan
dan tantangan Cin Tiong Liong yang seolah-olah sudah mempunyai
pegangan untuk menangkan padanya, Si bayangan ular yang sudah
terkenal namanya itu untuk seketika lamanya tetap berdiri terpaku
mengawasi Cin Tiong Liong.
Cin Tiong Liong yang menjadi muridnya tidak langsung 'dari
Kang It Peng, sebagian besar kepandaian ihnu silatnya terdapat dari

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 82
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

pelajaran si jago tua kenamaan itu. Sejak beberapa tahun lamanya ia


mengikuti Kang It Peng berkelana didunia Kang-ouw, hingga
mempunyai pengalaman sangat luas. Tapi nama Cin Tiong Liong
terkenal di daerah Tionggoan, juga baru pada 10 tahun kemarin ini
saja, oleh karena Coa Im Cu sudah lama mengundurkan diri dari
dunia Kang-ouw, sebaliknya Cin Tiong Liong yang sudah lama
mendengar nama orang tua itu, maka begitu mendengar disebut
nama Coa Im Cu Teng Hong, ia lantas kenali padanya, dan Coa Im
Cu belum pernah dengar nama Cin Tiong Liong!
Melihat usianya belum mencapai empat puluh tahun,
bagaimana berani mengeluarkan ucapan yang begitu terkebur?
Maka amarahnya lantas berkobar, setelah tertawa terbahak-bahak
lantas membentak
“Aku orang she Teng sudah menjelajah diseluruh Kang-lam
dan Kang-pak, belum pernah bertemu dengan orang yang begini
sombong seperti kau ini, lohu malam ini kalau sampai jatuh di
tanganmu, selanjutnya akan cuci tangan, tidak nanti berani muncul
lagi dikalangan Kang-ouw!”
“Bagus! Baik kita atur begitu saja, tapi aku harap kau tidak
akan pungkir janjimu sendiri!” kata Cin Tiong Liong sambil
tertawa.
Mendengar ucapan itu, Teng Hong lantas menggeram hebat,
dan menyerang dengan ilmu silat Coa Heng Ciang Hoatnya.
Cin Tiong Liong tersenyum, sambil miringkan tubuhnya untuk
mengelakan serangan Teng Hong, kedua tangannya memukul balik
keatas, dengan demikian telah mengelakkan dua serangan Teng
Hong yang berbahaya.
Teng Hong menyaksikan cara Cin Tiong Liong menangkis
serangannya yang begitu gesit dan bagus sekali, dan dengan mudah

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 83
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

memusnahkan serangannya, lantas mengerti telah menemui lawan


keras. Ia menoleh dan menampak Pek Hoa Nio Cu berdiri di tempat
kira-kira satu tumbak jauhnya, sedang menyaksikan dengan penuh
perhatian, hingga membuat Teng Hong panas mukanya. Buru-buru
mengerahkan seluruh kekuatannya, melancarkan sembilan puluh
enam jurus ilmu silatnya Coa Heng Ciang Hoat.
Ilmu silat itu benar-benar lihay. Serangan Teng Hong sejurus
demi sejurus dilancarkan dan nampaknya semakin lama semakin
gencar dan semakin hebat tekanannya, sambaran anginnya saja
telah° mencapai jarak satu tumbak lebih.
Cin Tiong Liong diserang dengan cepat secara demikian,
hampir saja keripuhan, hingga dalam hatinya berpikir Coa Im Cu
benar-benar bukan nama kosong, nampaknya malam ini kalau tidak
keluarkan seluruh kepandaianku untuk melayani padanya, mungkin
benar-benar akan terluka ditangannya.
Dengan segera ia percepat serangannya, juga lantas
Mengeluarkan ilmu silat Pat Kwa Liong Houw Ciang Hoatnya yang
membuat ia mendapat nama baik dikalangan Kang-ouw, dengan
demikian, hingga pertempuran itu merupakan pertempuran cepat
lawan cepat.
Dua orang itu setelah bergebrak sepuluh jurus lebih, masing-
masing telah mengerti bahwa kekuatan kedua fihak ada berimbang,
untuk sementara belum bisa dipastikan siapa yang akan merebut
kemenangan, dan rasanya masih memerlui tempo yang panjang
serta kekuatan tenaga dalamnya.
Kedua-duanya sama-sama ahli dalam pertempuran tangan
kosong, hingga pertempuran itu benar-benar merupakan suatu
pertempuran yang hebat karena cepatnya, hanya kelihatan dua
bayangan hitam yang _berkelebatan diwaktu malam yang gelap itu.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 84
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Pek Hoa Nio Cu dan Ong Bun Ping yang menonton disamping,
masing-masing pada merasa kuatir sebab keduanya sudah
bertempur hampir tiga ratus jurus tapi masih belum tampak siapa
yang lebih unggul.
Teng Hong sudah mulai gelisah, dengan tiba-tiba ia berlaku
nekat melancarkan serangannya yang berbahaya, tangan kiri
rnenggunakan tipu pukulan 'Thian San 'Yan Lok' sedang tangan
kanannya meng-gunakan tipu pukulan 'Toa Coan Im Yang', sambil
menggeram hebat. Ia melancarkan serangannya berhareng, laksana
gunung guntur dan ombak menyapu, diberikuti dengan angin
kekuatan tenaga dalamnya yang hebat kearah lawannya.
Cin Tiong Liong karena lantaran tidak keburu mengelakan
serangan tersebut, hingga ia cuma bisa mengerahkan tenaga
dalamnya. kedua telapakan tangannya mendorong keatas dan tatkala
dua pasang tangan itu berbenturan, kedengaranlah bunyi hebat.
Dalam hal mengadu kekuatan ini tidak mengandalkan
kecerdikan, hanya mengandalkan dalam ceteknya tenaga dalam
mereka masing-masing.
Cin Tiong Liong tidak dapat menguasai dirinya sendiri, telah
mundur heberapa tindak, ia merasakan tergoncang hatinya dan
semangatnya, pcluh mengucur didahinya.
Coa Im Cu Teng Hong mental sampai badannya terbang
melayang dan jatuh ditempat sejauh kira-kira enam kaki, ia
merasakan gelap matanya, kepalanya puyeng, napasnya sesak,
darahnya bergolak hebat, meski kedua-duanya terluka hebat dalam
tubuhnya. tapi siapapun tidak ada yang mau mengaku kalah, satu
sama lain masih mengharap di detik-detik terakhir ini bisa
pertahankan kekuatan-nya untuk memukul rubuh lawannya.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 85
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Cin Tiong Liong setelah berdiam sejenak untuk menenangkan


pikirannya, segera menerjang lawannya lagi, jari tangan kanannya
dengan menggunakan tipu serangan 'Yu Liong Than Cauw'
menotok jalan darah 'Tan Thian Hiat' pada anggotaadan lawannya.
Teng Hong tidak menduga Cin Tiong Liong masih mampu
melancarkan serangannya demikian cepat dan gesit. hingga
terkesiap. Tepat pada saat itu, serangannya Cin Tiong Liong sudah
sampai depan dadanya. Teng Hong dalam keripuhannya sudah tidak
keburo mengelakan serangan tersebut, terpaksa tangan kanannya
batik menyerang jalan darah 'Thay Yang Hiat' Cin Tiong Liong, su-
paja hancur bersama-sama.
Cin Tiong Liong menampak Teng Hong berlaku nekat, terpaksa
maju setindak kekiri, untuk menyelamatkan dirinya lebih dulu.
Cuma oleh karena gerakannya ini, sehingga serangannya agak
miring, hingga cuma mengenakan pundak kiri Teng Hong.
Sekalipun demikian, Teng Hong masih merasa kesetnutan
pundaknya, hiugga musnah tenaganya. Dengan demikian maka
Teng Hong sudah terhitung kalah, tapi itu kepala begal yang
kejahatannya sudah terkenal itu masih tidak mau mengaku kalah,
sambil berjungkir balik mundur satu tumbak lebih. sambil kertek
gigi ia berkata.
“Orang she Cin, dengan perbuatanmu menyerang orang selagi
tidak siap sedia, apa itu ada perbuatannya satu enghiong? Didalam
waktu setengah bulan ini Teng Toa-ya akan melakukan
pertandingan sampai ada salah satu yang menggelatak ditanah
dengan kau!”
Sehabis berkata lantas menarik tangannya Pek Hoa Nio Cu,
dengan cepat meninggalkan itu kampung. Ong Bun Ping
menyaksikan Teng Hong sudah terluka ditangan Cin Tiong Liong
tapi masih tidak man mengaku kalah, lantas gusar, dengan suara

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 86
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

bengis ia berseru “Manusia yang tidak boleh dipercaya, kau masih


hendak mabur Ia lantas mengejar sambil menghunus senjata 'Poan
Koan Pie-nya, tapi perbuatannya itu segera dicegah oleh Cin Tiong
Liong.
Ong Bun Ping menampak wajahnya Cin Tiong Liong pucat
pasi, berdiri sempojongan. kagetnya bukan main, maka lantas
tinggalkan musuhnya. buru menghampiri Cin Tiong Liong sambil
membimbing lain menanya :
“Berat lukamu?"
Cin Tiong Liong mengangguk, tapi tidak menjawab, hanya dari
dalam sakunya mengeluarkan dua butir pil merah, lantas ditelan dan
duduk untuk beristirahat.
Ong Bun Ping berdiri disampingnya, mengawasi dengan hati
gelisah. Kira-kira satu jam. disebelah Timur sudah kelihatan sinar
terang, Cin Tiong Liong buru-buru berbangkit serta berkata :
Iblis tua itu benar-benar lihay!"
Ong Bun Ping melihat wajah Cin Tiong Liong sudah kelihatan
segar, baru merasa berlega hati, lalu bertanya :
“Cin Siok-siok, apa tidak halangan?"
Cin Tiong Liong yang sudah pulih tenaganya, sikapnya juga
pulih seperti biasanya sambil tertawa iapun menjawab :
“Tidak apa-apa, mungkin dia terluka lebih parah. Cuma
selanjut-nya kau harus hati-hati terhadapnya aku lihat itu wanita
genit yang datang bersama-sama iblis tua itu ketika mengawasi kau
sepasang matanya terus memandang tidak berkedip, agaknya
mengandung arti, selanjutnya kalau ia bertemu kau sendirian
janganlah mau gampang-gampang lepaskan begitu saja".

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 87
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ong Bun Ping tidak nyana Cin Tiong Liong yang baru baik dari
lukanya, lantas membicarakan urusan wanita itu, seketika itu lantas
merah wajahnya, sambil gelengkan kepala ia menjawab,
“Cin Siok-siok, bagaimana kau bisa memikirkan sampai
disitu?"
Cin Tiong Liong tertawa bergelak-gelak, kemudian menjawab:
“Tentang pertempuran mati-matian yang barusan kulakukan
dengan Coa Im Cu, sekali-kali jangan kau sampaikan kepada Sian
Cian".
“Tentang ini kau boleh tidak usah kuatir, adat Kang-Sumoy
bukannya aku tidak tahu, ia benar-benar seperti seekor kuda binal
….!”
Bicara sampai disitu tiba-tiba berhenti, wajahnya yang tampan
segera diliputi oleh perasaan murung.
Cin Tiong Liong diam-diam mengelah napas, ia mengerti
bahwa anak muda ini sangat menyintai Sian Cian, namun cintanya
itu nampaknya tidak dibalas sebagaimana mustinya oleh sinona
yang sifatnya binal nakal, namun hatinya putih bersih.
Ong Bun Ping kalau bertemu dengan sumoynya sering dibikin
tidak berdaya oleh karena mengerti kepandaiannya sendiri tidak
sebanding dengan sumoynya, sudah tentu tidak berani menyatakan
isi hatinya. Oleh karena itu ia cuma simpan perasaannya didalam
hati. Cin Tiong Liong kelihatan bodoh diluar padahal ia cerdik luar
biasa, ia berkumpul dengan Ong Bun Ping baru setengah bulan,
sudah lantas mengetahui rahasia hati Ong Bun Ping, karena ia tahu
bahwa Kang It Peng bermaksud hendak jo-dokan Sian Cian kepada
Chie Sie Kiat, maka sering membicarakan tentang kebinalan Kong
Sian Cian. Maksudnya supaya Ong Bun Ping perlahan-lahan
jauhkan dirinya dari si nona.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 88
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Cin Tiong Liong kuatir Ong Bun Ping tidak dengan disengaja
nanti memberi tahukan tentang peristiwa dan lukanya dalam
pertempuran dengan Teng Hong kepada Sian Cian, karena orang-
orang terpenting dari fihak lawan masih belum tiba semuanya.
Setelah pengalaman malam itu, kedua fihak diam-diam merasa
kaget. Cin Tiong Liong sejak berkelana di dunia Kang-ouw,
sepuluh tahun lebih tidak menemui yang berarti, siapa nyana
pertempurannya dengan Coa Im Cu tadi, hampir-hampir mengalami
kekalahan. Ia baru ketahui bahwa kawanan penjahat dari Utara, kali
ini datang ke Selatan, ternyata terdapat banyak orang-orang
berkepandaian tinggi.
Sementara itu, Teng Hong yang kabur bersama Pek Hoa Nio
Cu, tatkala mengetahui musuhnya tidak mengejar lagi barulah
menghentikan kakinya lalu berjalan dengan pelahan-lahan. Baru
saja berjalan beberapa pultih tindak, tiba-tiba Teng Hong rubuh,
matanya tertutup rapat, wajahnya beringisan, pundaknya gemetar,
agaknya sedang menahan penderitaan yang sangat hebat.
Saat itu timbul dalam hati Pek Hoa Nio Cu pertentangan hebat,
ia menampak wajahnya Teng Hong yang cuma tiga bagian saja
mirip dengan manusia, rasanya sangat menyemukan, tapi berilmu
silat Coa Heng Ciang Hoat, yang bukan sembarangan. Berpikir
sampai disitu, iapun berjongkok disisi Teng Hong sembari bertanya.
“Lo Cian-pwee, apa lukamu parah?"
Ia bertanya sembari mengurut-urut dada Teng Hong dengan
tangannya yang putih halus. Teng Hong membuka matanya,
menampak Pek Hoa Nio Cu berjongkok disisinya dan tangannya
mengurut-urut dadanya, semangatnya lantas bangun lagi.
Dipaksanya menahan rasa sakitnya, sambil tertawa getir ia
menjawab :

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 89
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Tidak apa, meskipun lukaku tidak ringan, tapi aku masih


mampu mengobati sendiri, hanya dalam tempo tiga jam ini, aku
tidak bisa bergerak barang setindak, sekarang terpaksa aku minta
kau menunggui aku selama tiga jam dan selama aku berobat ini,
tidak perduli akan terjadi apa pun kiranya janganlah kau
mengganggu aku".
Pek Hoa Nio Cu mengangguk, Teng Hong menelan dua butir
pil merah, ia paksakan diri untuk duduk bersila, lantas menutup
kedua matanya.
Dua jam kemudian, cuaca sudah mulai terang, beruntung ke-
adaan disekitar tempat itu sunyi sekali, hingga tidak ada orang lalu
disitu. Ketika Pek Hoa Nio Cu melihat keadaan Teng Hong yang
dari atas kepalauja ada mengepul asap, maka diketahuinya bahwa
luka dalamnya sudah mulai sembuh, buru-buru ia menghunus
pedangnya, berlagak melakukan penjagaan sambil celingukan
mengawasi keadaannya sekitar tempat itu.
Teng Hong diam-diam membuka matanya dan ketika tampak
olehnya sikap Pek Hoa Nio Cu itu, hatinya merasa girang,
kemudian pejamkan lagi matanya, untuk melanjutkan usahanya
menyembuhkan lukanya. Sebentar kemudian lantas membuka
matanya dan berkata sambil tertawa.
“Nona Pek, aku membuat kau capek saja, mari kita sekarang
kembali ke Ie Chiu Wan''.
Pek Hoa Nio Cu pura-pura kaget, sambil menoleh ia pun
bertanya :
“Lukamu sudah sembuh ? Kau benar-benar membikin orang
kuatir seja"
Teng Hong merasa girang, sambil menepok pundaknya iapun
berkata :

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 90
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Sebagian besar sudah sembuh betul, dua kali lagi melakukan


semedhi akan sembuh seluruhnya. Kali ini beruntung ada kau,
hingga menjaga aku dengan hati-hati, aku Teng Hong selama
hidupku tidak akan melupakan kebaikanmu".
Pek Hoa Nio Cu sambil tertawa manis menjawab :
“Bagaimana kau bisa berkata begitu? Untuk selanjutnya dalam
segala hal aku masih hendak mengandalkan kepada kau, urusan
begini kecil kau terlalu merendahkan diri begitu rupa.”
Jawaban ini menambahkan kegirangan hati Teng Hong di-
waktu mereka melanjutkan perjalanan itu. Tidak lama kemudian
tibalah mereka di Ie Chiu Wan.
Para penjahat agaknya sangat perhatikan tentang keselamatan
mereka berdua, maka tatkala menampak mereka kembali, semua
lan-tas datang menyambut. terutama Oh Cu Kui yang lantas
bertanya :
“Tang Lo Cian-pwee, mengapa pergi begitu lama? Apakah
telah bertempur dengan Kong-tong Lie-hiap Budak hina itu benar-
benar lihay, cuma aku duga, ia tentunya tidak nanti mampu
menandingi kau.”
Teng Hong tidak menyawab, dengan tergesa-gesa masuk ke
ruangan. sikapnya ini membuat Oh Cu Kui sangat heran. Ia
mencoba meminta keterangan kepada Pek Hoa Nio Cu, tapi yang
ditanya hanya bersenyum sambil gelengkan kepalanya, ia tidak
menjawab tapi terus mengikuti Teng Hong masuk kedalam.
Para penjahat yang menyaksikan sikap Teng Hong segera
mengerti si bayangan ular itu tentunya mengalami kekalahan. Tang
Hong setelah kembali kegedung lantas keram dirinya di-dalam
kamar. untuk merawat diri, kecuali Pek Hoa Nio Cu dan dua bujang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 91
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

wanita yang mengurus makan dan pakaiannya,. selama tujuh hari,


belum pernah menemui siapa juga.
Pek Hoa Nio Cu dengan telaten menjaga Teng Hong, tapi diluar
tahu Teng Hong. ia masih suka bersenda-gurau dengan para
penjahat yang lain. Semua penjahat ia perlakukan sama manisnya,
sikap dan kelakuannya ini telah membikin goncang setiap hati para
penjahat. Kecuali Oey Cing Tan dan Hoan Kong Hong, mereka
pada saling bersaing untuk mendapatkan hati wanita genit itu.
Selama beberapa hari itu, luka Thian Liong dan Lim Houw juga
mulai sembuh dan ketika menyaksikan sikap Pek Hoa Nio Cu yang
seolah-olah hendak permainkan hati setiap 1aki-laki maka timbullah
rasa kurang senang. Dua saudara angkat itu diam-diam lantas
berunding, lalu mengambil keputusan hendak minta Pek Hoa Nio
Cu membuka kartu.
Pada suatu malam, mereka berdua masuk dikamar Pek Hoa Nio
Cu.
Pek Hoa Nio Cu yang sedang duduk berhias, sudah mengerti
maksud kedatangan kedua saudara angkat itu. Pek Hoa Nio Cu
benar-benar luar biasa, ia masih tetap tenang. dengan perlahan ia
bangkit, sambil mengawasi kedua saudara itu lalu bertanya
“Apakah luka kalian berdua sudah sembuh? Dalam beberapa
hari ini aku sangat repot, hingga tidak mempunyai kesempatan
menengok kalian, sebetulnya aku merasa tidak enak terhadap
kalian.”
Thian Liong dan Lim Houw merasakan seolah-olah diguyur
dengan air dingin, meski mereka tahu bahwa wanita ini genit pandai
menanam tebu dibibir, tapi tidak nyana kalau bisa lantas berobah
dingin demikian rupa. namun begitu mereka tidak bisa berbuat apa-

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 92
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

apa. Setelah membisu sekian lamanya, Thian Liong baru bisa


menyahut.
“Nona Pek, terima kasih atas perhatian nona terhadap kita
berdua saudara, sudah tentu kita merasa sangat beruntung, cuma
kita anggap bahwa tempat ini bukan tempat untuk kita tinggal
selamanya. Sebaiknya kita cepat-cepat meninggalkan tempat ini dan
mencari tempat yang lebih tenang dan indah pemandangan alamnya
supaya kita tinggal disana untuk selama-lamanya ……!”
Belum habis ucapan Titian Liong itu, Pek Hoa Nio Cu sudah
tertawa cekikikan dan memotong pembicaraannya :
“Apa? Kalian ingin pergi? Itu terserah pada kalian sendiri, aku
tidak bermaksud hendak menahan kalian disini untuk mengawani
aku. lagipula aku toch tidak menikah dengan kalian, kita cuma
ketemu dijalanan. kalau kalian bermaksud tinggal bersama-sama
aku untuk selama-lamanya. mulai saat ini, lekas kalian buang jauh-
jauh maksud yang demikian itu, karena hal itu sama sekali tidak
mungkin. Sekarang hari sudah malam, aku sudah terlalu lelah, tidak
ada waktu untuk mengobrol dengan kalian. Kalau besuk pagi mau
berangkat, aku tidak bisa turut mengantar, maafkan saja.”
Sehabis diucapkan perkataannya yang ketus itu iapun memutar
tubuhnya menuju kepembaringan.
Kim Ling Siang Koay itu meski merupakan penjahat besar
yang tidak kenal kasihan, juga merasakan sikap wanita itu sangat
terlalu dinginnya, beberapa hari berselang, mereka masih rukun
manis, tapi kini telah berbalik demikian dinginnya. Thian Liong dan
Lim Houw seketika itu lantas tercenggang, seperti jago yang kena
jalu lawannya, mereka berdiri lesu sambil mengawasi tingkah laku
wanita genit itu.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 93
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Pek Hoa Nio Cu duduk dipinggir pembaringan, sambil


mengawasi Kim Ling Siang Koay lalu berkata.
“Apa perlunya kalian berdiri bingung disitu? bukankah lebih
baik lekas pergi tidur! Bukankah besok kalian hendak berangkat
pagi-pagi?”
Lim Houw sudah tidak dapat menahan sabarnya lagi, sambil
tertawa dingin ia berkata.
“Nona Pek, satu orang tidak boleh berbuat keterlaluan,
sedikitnya toch harus memikirkan keadaan lain orang, tidak perduli
bagaimana, nona Pek toch ada datang bersama-sama kita ke Ie Chiu
Wan ini, sedikit banyak toch harus memberi sedikit muka kepada
kita, selama beberapa hari ini, perbuatanmu sebetulnya sangat
keterlaluan ……..”
Belum habis ucapannya Lim Houw, Pek Hoa Nio Cu sudah
tertawa geli, wajahnya juga lantas berobah, sambil menuding ia
berkata dengan suara gusar.
“Orang she Lim, hati-hati sedikit kalau bicara, Pek Hiang Lui
sedikitpun tidak pandang mata kepada kalian Kim Ling Siang
Koay”.
Dengan cepat ia berbangkit dan mengambil pedang yang
digantung diatas tembok. Kim Ling Siang Koay yang menyaksikan
sikap Pek Hoa Nio Cu ini, juga lantas naik darah. Thian Liong
sambil berkata sambil menuding :
“Perempuan jalang, kalau ingin turun tangan mari kita keluar
dari sini, malam ini kita harus mendapat kepastian".
Sehabis berkata, bersama-sama Lim Houw lantas keluar dari
kamar, Pek Hoa Nio Cu mengikuti dibelakangnya sambil tertawa
dingin. Sebentar saja, mereka bertiga sudah tiba ditanah tegalan.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 94
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Kim Ling Siang Koay hentikan tindakannya, matanya


memandang Pek Hoa Nio Cu, agaknya masih ingin menasehati
padanya, tapi Pek Hoa Nio Cu sudah mendahului berkata.
“Kalau kalian benar-benar hendak bertempur, keluarkan senjata
kalian dan majulah berbareng !"
Dengan cepat ia lantas menyerang dengan pedang kearah Thins
Liong.
Thian Liong menampak Pek Hoa Nio Cu menyerang secara
mendadak, bukan kepalang gusamya, setelah mengelakan
serangannya, lantas menghunus senjata musing-masing lalu balas
menyerang dengan kedua tangannya.
Pek Hoa Nio Cu tertawa, pedangnya dipakai untuk menyambuti
serangan Thian Liong, kemudian tangannya menekan, ujung pedang
mengarah dada.
Thian Liong didesak demikian rupa, terpaksa lompat mundur,
Pek Hoa Nio Cu berkata sambil menarik serangannya.
“Orang she Thian, dengan sendirian kau bukan tandinganku,
sebaiknya kalian maju berduaan!"
Kata-katanya itu dibarengi dengan serangan membabat
pinggang. Thian Liong menangkis dengan senjatanya, senjata
ditangan kirinya menyerang dengan tipu silat 'Thay San Ap Ting'.

(Bersambung ke Jilid 2)

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 95
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

DARA PENDEKAR BIDJAKSANA

JILID II

Pek Hoa Nio Cu tertawa dingin, ia berkelit untuk


menghindarkan serangan Thian Liong, lalu melancarkan
serangannya yang sangat hebat.
Jangan kira Pek Hoa Nio Cu ada satu wanita centil genit, tapi
ilmu silatnya tinggi sekali, maka sepuluh jurus kemudian, Thian
Liong sudah terdesak berulang-ulang hingga keripuhan benar-benar.
Saat itu Lim Houw yang menonton dipinggiran merasakan
gelagat kurang baik, jika membiarkan Thian Liong berkelahi
sendirian, mungkin tidak bisa bertahan sampai sepuluh jurus lagi
akan binasa ditangan Pek Hoa Nio Cu. Maka iapun menghunus

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 96
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

senjata pecutnya yang lemas, setelah menyingkirkan serangan


pedang Pek Hoa Nio Cu, membentaklah ia.
“Kau perempuan cabul benar-benar melebihi ular beracun
jahatnya, kalau dibiarkan kau hidup didunia, entah berapa banyak
orang lelaki nanti yang akan binasa ditanganmu. Malam ini Lim
toa-ya-mu hendak membinasakan kau untuk melindungi itu laki-
laki yang tidak berdosa.”
Pek Hoa Nio Cu menjawab sambil tertawa, “Dengan
kepandaianmu yang tidak berarti ini, apa kalian kira nonamu merasa
keder dengan gertakanmu ini? Kau jangan omong sombong dulu,
sekalipun kalian berdua maju berbareng, barang-kali masih belum
tentu mampu menandingi nonamu!”
Lim Houw menyahut sambil tertawa aneh, “Perempuan cabul,
anggapanmu dirimu masih gadis tidak malu menjadi tertawaan
orang ……..!”
Belum habis ucapannya itu Pek Hoa Nio Cu sudah berseru dan
menyerang.
Kim Ling Siang Koay yang saat itu sudah marah benar-benar,
sudah tentu tidak pandang lagi dirinya adalah bekas kecintaannya si
Pek Hoa Nio Cu, pecut lemas dan gembolan perak, maju berbareng
menyerang Pek Hoa Nio Cu.
Pek Hoa Nio Cu menampak mereka berlaku nekad, lalu
mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk melayani mereka yang
sudah benar-benar kalap itu.
Selagi bertempur dengan sengitnya ke tiga orang itu tiba-tiba
terdengar suara orang tertawa dingin, kemudian disusul dengan
suara orang berkata.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 97
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Kim Ling Siang Koay, yang tak tahu malu masa dua orang
laki-laki mengerubuti seorang wanita. Apa kata orang dan
selanjutnya apa masih ada mukamu untuk menemui sahabat-
sahabatmu dikalangan Kang-ouw?!”
Suara itu diucapkan dengan keras hingga meski Siang Koay
sedang bertempur sengit, tapi ia bisa mendengar dengan jelas,
jangan kira cuma beberapa patah kata saja, tapi ternyata ada lebih
hebat daripada serangan Coa hn Cu.
Lim Houw lantas saja menyerang hebat untuk mendesak
mundur Pek Hoa Nio Cu lalu kemudian melompat keluar dari
kalangan dan membentak kepada itu orang yang barusan berkata.
“Siapa yang memaki orang tapi tidak berani unjukan
cecongornya? Kalau berani lekas unjukan diri! Lim Toa-ya-mu
akan menghajar mampus dulu padamu!"
Pada saat itu dari tempat gelap lantas lompat keluar dua orang,
mereka ternyata Yan-san Jie Kui. Sambil menuding dengan senjata
gaetannya, Thio Kui berkata.
“Kahan masih berani menyebut diri sebagai orang gagah
dikalangan Kang-ouw, mengapa mengerubuti seorang wanita?
Semua muka orang laki-laki akan dibikin noda habis-habisan oleh
kalian. Thio Toa-ya-mu paling tidak bisa lihat perbuatan yang tak
tabu malu semacam ini, hari ini sengaja hendak memberi sedikit
pelajaran pada kalian!"
Tanpa menunggu jawaban Lim Houw, lantas menyerang
dengan senjatanya. Tatkala Thio Kui melakukan serangan terhadap
Lim Houw, Co Pat juga lantas turun tangan menyerang Thian Liong
sambil berkata.
“Nona Pek, silahkan kau mengaso dulu, biarlah kita berdua
yang menghadapi mereka".

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 98
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Pek Hoa Nio Cu tertawa besar, lantas lompat mundur,


kemudian berdiri untuk menonton pertempuran yang cukup ramai
itu.
Yan-san Jie Kui dan Kim Ling Siang Koay, tanpa sebab telah
bertempur sampai dua puluh jurus lebih, kekuatan mereka masing-
masing ternyata ada berimbang, untuk sementara belum kelihatan
siapa yang lebih unggul.
Thio Kui dan Co Pat diam-diam inerasa gelisah kalau mau kata
mereka berdua tidak bisa melihat cara Kim Ling Siang Koay
mengerubuti satu wanita, ini hanya omong kosong belaka, Yan-san
Jie Kui ada orang yang gemar pipi licin, apa mau sikap Pek Hoa
Nio Cu ini terhadap mereka berdua juga rada-rada, memikat hati,
hingga Yan-san Jie Kui menganggap ada kesempatan untuk
mendekatinya. Maka malam itu sengaja masuk kekamar Pek Hoa
Nio Cu, siapa kira baru tiba dikamar, kebetulan Pek Hoa Nio Cu
sedang bertempur dengan Kim Ling Siang Koay diluar tegalan.
Yan-san Jie Kui tadinya menanti setelah Pek Hoa Nio Cu
terdesak baru keluar memberi bantuan, tidak nyana kalau wanita ini
tidak nampak keteter, malahan maju menyerang berulang-ulang,
hingga dua orang lawannya itu terterdesak.
Yan-san Jie Kui yang menyaksikan itu, lalu menarik napas.
mereka tidak akan mengira bahwa wanita yang centil itu berilmu
silat lebih tinggi dari pada kedua lawannya. Setelah mereka
berunding sebentar, lalu ambil putusan untuk menyerbu sambil
memaki perbuatan Kim Ling Siang Koay.
Mereka sungguh tidak nyana bahwa maksud yang hendak
unjuk muka manis terhadap Pek Hoa Nio Cu, akhirnya telah
mendapat perlawanan begitu hebat dari Kim Ling Siang Koay
Mereka berkelahi sambari melirik kearah Pek Hoa Nio Cu, tapi

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 99
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

wanita itu cuma menonton sambil tersenyum, agaknya tidak ambil


perhatian terhadap kedua pihak.
Thio Kui menggeram hebat, lalu kerahkan seluruh tenaganya
untuk melakukan serangannya, hingga Lim Houw terus terdesak
mundur dan akhirnya menjadi marah benar-benar, dengan suara
bengis ia membentak.
“Orang she Thio, hari ini kalau bukan aku yang mati maka
kebalikannya, Lim Toa-ya-mu akan ada jiwa dengan engkau!”
Benar saja, Lim Houw dengan secara nekad, menyerang tanpa
menghiraukan jiwanya sendiri, hingga Thio Kui terpaksa mundur
berulang-ulang.
Kalau berbicara tentang kekuatan, Thio Kui masih menang
setingkat dari pada Lim Houw, tapi karena Lim Houw sedang kalap,
lagi pula sudah nekat hendak mengadu jiwa, maka kadang-kadang
tidak perdulikan senjata musuhnya, sebaliknya dengan pecut emas-
nya ia menyerang dibagian yang berbahaya pada badan musuhnya,
Thio Kui yang tidak ingin mengadu jiwa, akhirnya menjadi ter-
desak.
Selagi pertempuran berjalan dengan sengitnya, tiba-tiba dari
selatan kelihatan beberapa bayangan orang mendekati tempat itu.
Tidak lama kemudian bayangan orang tersebut sudah tiba di medan
pertempuran, orang yang lari paling depan segera berseru.
“Siewie harap lekas berhenti, semua ada sahabat-sahabat
sendiri, kalau ada apa-apa kita bisa rundingkan secara baik-baik,
bagaimana bisa bertempur mati-matian?"
Orang tersebut ternyata ada Oey Cing Tan sedang dibelakang-
nya Hoan Kong Hong dan Oh Cu Kui.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 100
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Kedatangan ketiga orang itu menyebabkan Jie Kui dan Siang


Koay merasa tidak enak kalau melanjutkan pertempuran, maks
mereka lantas berhenti bertempur seketika itu juga.
Oey Cing Tan berjalan mendekati mereka seraja berkata,
“Siewie ada mempunyai ganyelan apa? Bagaimana bisa bertempur
di tempat ini?"
Tatkala ia menoleh dan menampak Pek Hoa Nio Cu berdiri
disamping sambil tersenyum, dalam hati sudah mengerti, setelah
menggerendeng sendiri sejenak, lalu menegor Yan-san Jie Kui.
“Kim Ling Siang Gie ada sahabat kita yang datang hendak
memberi bantuan tenaga, sekalipun ada urusan apa yang tidak enak
terhadap kalian, kalian berdua saudara seharusnya juga sabar
sedikit, aku dan saudara Hoan telah menerima titah dari Toa-ko
supaya datang lebih dulu ke Siao-ouw, ini karena ada makstud Toa-
ko. Aku si orang she Oey tidak berani anggap diri sendiri sebagai
pemimpin rombongan, cuma saja jika ada apa-apa kita harus
rundingkan secara baik, jangan sampai kita kehilaugan muka
didaerah Kang-lam.”
Ucapan Oey Cing Tan ini seolah-olah pedang tajam yang
menusuk dada mereka, hingga Yan-san Jie Kui yang mendengarkan
lantas menjadi gusar. Maka Thio Kiu pun menjawab sambil tertawa
dingin.
“Ucapan saudara Oey ini, benar" Sias-tee tidak mengerti, Kim
Ling Siang Koay sebagai laki-laki, barusan telah mengepung nona
Pek, perbuatan semacam itu, kalau saudara Oey menyaksikan
sendiri, barangkali juga tidak tinggal diam. Kita orang-orang Kang-
ouw, tidak perduli dari Utara atau Selatan. Yang paling diutamakan
jalah aturan, kalau menurut kata saudara tentu yang bersalah ada
difihak kami berdua. Lagipula kita berclua saudara juga kemari

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 101
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

bukan untuk keperluan pribadi sendiri, tapi karena undangan


saudara-saudara.”
Mendengar jawaban itu merahlah Oey Cing Tan, lalu berkata,
“Kalau menurut katamu ini, tentunya kalian anggap aku Oey Cing
Tan ada sudi gawe; Memang diantara golongan putih dan golongan
hitam juga ada perbedaan antara yang baik dengan yang jahat,
golongan apa harus mengutamakan peraturannya apa yang mereka
sendiri anggap benar. Juga tidak salah, kita orang-orang tukang
membunuh, merampok dan membegal barang orang, tapi terhadap
kawan sendiri seharusnya harus saling mengindahkan diri masing-
masing. Sementara itu, tentang aku yang mengundang saudara-
saudara datano kemari. ini adalah perintahnya Toa-ko, kalau kalian
ada pikiran apa-apa, tunggu saja setelah Toa-ko datang sendiri,
kalian boleh ajukan sendiri kepadanya. Cuma saja aku kira kalian
barangkai tidak ada itu nyali. Kita tidak perlu bicara banyak-
banyak, penyakit kalian Yan-san Jie Kui, bagi sahabat dari Utara,
semua sudah mengetahui dengan jelas. Hari ini hitung-hitung aku si
orang she Oey yang memehuat perhitungan, kalau kalian tidak
senang, boleh sebutkan saja apa yang kalian kehendaki. Oey Cing
Tan berani berbuat, sudah tentu berani tanggung jawab."
Ucapannya Oey Cing Tan ini, tidak beda seperti mendesak Jie
Kui kesatu pojok, biar bagaimana tebal muka dan setan dari Yan-
san itu, juga tidak gampang-gampang akan menelan begitu saja.
Tapi tatkala menampak Hoan Kong Hong yang berdiri
disamping Oey Cing Tan juga unjukan sikap gusar, jika hendak
berbuat nekat, rasanya sukar terlolos dari tangan mereka, oleh
karena Thio Kiu mengerti dirinya sendiri bukan tandingan Oey
Cing Tan, apa lagi disana masih ada Hoan Kong Hong dan Kim
Ling Siang Koay, mau tidak mau merasa jeri juga.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 102
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Selagi Thio Kiu merasa serba salah, Pek Hoa Nio Cu


menghampiri Oey Cing Tan dan berkata sambil tertawa manis.
“Semua ada sahabat sendiri, bagaimana berlaku begitu
sungguh-sungguh, mereka berempat tangannya sudah sangat
kegatelan hingga satu sama lain mengadakan perjanjian untuk
melakukan pertandingan di tempat ini, mereka minta aku sebagai
wasit, untuk memberi keputusan siapa yang lebih unggul dalam
pertempuran ini, mereka tak akan bertempur sampai mati".
Karena mengetahui gelagat tidak baik dan kuatir dirinya sendiri
akan terlibat, maka ia telah tebalkan muka untuk mengucapkan
perkataan itu. Ucapan Pek Hoa Nio Ci ini telah memberi
kesempatan kepada Thio Kiu untuk mundurkan diri secara teratur,
tapi sebelum Thio Kiu membuka mulut, sudah didahului oleh Co
Pat. Katanya,
“Ucapan nona Pek memang benar, kita berdua dengan Kim
Ling Siang Koay hendak mencoba-coba mengadu kekuatan disini
sebab semua adalah kawan sendiri, bagaimana bisa turun tangan
sungguh-sungguh? Kami berdua dan kau saudara Oey toch sudah
bersahabat bukan cuma setahun dua tahun saja, omong-onong
secara main-main memang benar, mana bisa sungguh-sungguh?"
Thio Kiu juga lantas menggunakan itu kesempatan untuk
ucapkan kata-kata merendah terhadap Oey Cing Tan.
Dengan demikian Oey Cing Tan terpaksa menjawab sambil
tertawa, “Kalau benar demikian halnya, sebaliknya horus disesalkan
diriku sendiri yang berlaku kurang ajar.”
Ia memandang Kim Ling Siang Koay, maksudnya ialah supaya
mereka majukan pendapatnya.
Setelah peristiwa diatas, Oey Cing Tan lebih hati-hati terhadap
Pek Hoa Nio Cu dan secara diam-diam mereka berunding dengan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 103
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Hoan Kong Hong, agar bisa menyingkirkan wanita genit itu dari Ie
Chiu Wan.
Siapa nyana Pek Hoa Nio Cu sendiri juga perhatikan diri Oey
Cing Tan dan Hoan Kong Hong, ia melihat dua orang itu sangat
dingin sekali sikapnya terhadap dirinya sendiri, malah menimbulkan
rasa sukanya terhadap dua orang itu. Ini adalah salah sama sekali,
karena wanita genit semacam Pek Hoa Nio Cu, bukan saja genit.
tapi juga suka mau menang saja, didalam hatinya selalu
menganggap didalam dunia ini tidak ada lelaki yang tidak mampu
ditundukkan olehnya.
Tentang maksud Oey Cing Tan dan Hoan Kong Hong yang
hendak menyingkirkan Pek Hoa Nio Cu dari le Chiu Wan, siang-
siang sudah ada orang yang memberitahukannya dengan cara
sendiri untuk menghadapi mereka.
Ia tahu bahwa Coa Im Cu adalah seorang yang paling ditakuti
oleh orang` yang ada disitu, Oey Cing Tan dan Hoan Kong Hong
meski adalah orang-orang Tong Cin Wie yang paling diandalkan,
tapi juga tidak berani mengganggu diri Coa Im Cu dan Pek Hoa Nio
Cu mengetahui ini hingga ia lantas menggunakan kecantikan dan
kegenitannya, menempel Coa Im Cu, cuma karena luka orang tua
itu belum sembuh betul, setiap hari harus bersemedhi empat jam
lamanya, dalam waktu empat puluh sembilan hari tidak boleh
berdekatan dengan wanita.
Denaan adanya perlindungan dari Coa Im Cu Teng Hong, maka
Oey Cing Tan dan Hoan Kong Hong juga tidak berani melanjutkan
rencana mereka itu.
Dilain pihak, Pek Hoa Nio Cu selalu mencari kesempatan untuk
merubuhkan itu dua laki-laki yang berhati baja.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 104
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Kesempatan yang dinanti-nantikan itu telah tiba. Pada suatu


malam, ketika Oey Cing Tan berada dalam keadaan setengah
mabuk, kembalinya didalam kamarnya sendiri, lantas disamperi
oleh Pek Hoa Nio Cu dengan dandanannya yang sangat menawan
hati, ia berpura-pura mengantarkan teh wangi, setelah beromong-
omong, akhirnya Oey Cing Tan telah rubuh dibawah rajuan wanita
itu. Selanjutnya, sikap Oey Cing Tan terhadap Pek Hoa Nio Cu
lantas berobah sama sekali, ia semakin tergila-gila terhadap wanita
genit itu.
Pek Hoa Nio Cu sebetulnya masih hendak menggunakan
kecantikannya untuk merubuhkan hati Hoan Kong Hong, siapa kira
sebelum mendapat kesempatan, Sin Chiu Tui Hun Tong Cin Wie
sudah datang bersama kawan-kawan karibnya yang ia undang.
Tatkala Lauw Kiat orang yang membawa warta tentang
kedatangan Tong Cin Wie itu tiba di Ie Chiu Wan, telah disambut
dengan gembira oleh para penjahat, cuma Yan-san Jie Kui yang
hatinya merasa kebat-kebit, mereka kuatir kalau Oey Cing Tan
mengadukan perbuatan mereka kepada pemimpinnya karena Tong
Cin Wie orangnya snsah diduga tindakannya, kalau ia murka,
mungkin bisa turun tangan sendiri mengambil jiwanya Jie-kui.
Tapi mereka tidak tahu kalau Oey Cing Tan sendiri juga
mempunyai serupa penyakit didalam hatinya, ia juga kuatir
perbuatannya dengan Pek Hoa Nio Cu disampaikan kepada Tong
Cin Wie, meski dia adalah orang kepercayaan Tong Cin Wie, tapi
Coa Im Cu adalah orang yang diundang oleh Tong Cin Wie, sudah
tentu Tong Cin Wie akan berfihak kepada Coa Im Cu.
Bagi Pek Hoa Nio Cu, lain pula pikirannya, ia sudah lama men-
dengar nama kepala berandal dari lima propinsi Utara ini, hingga
kepingin sekali dapat menyaksikan wajahnya, bagaimana
sebetulnya orang yang namanya sangat terkenal itu.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 105
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Pemimpin kawanan berandal dari Utara itu. adalah seorang


yang usianya empat puluhan, badannya sedang, wajahnya putih,
diatas bibirnya ada tumbuh kumis pendek, badannya mengenakan
baju panjang, tatkala ia tiba di Ie Chiu Wan, telah disambut oleh
para kawanan penjahat dengan sangat hormatnya.
Tong Cin Wie meski sebagai pemimpin kawanan berandal yang
sangat berpengaruh, namun sikapnya tidak kasar seperti kawanan
berandal yang lainnya. Kalau dilihat dari dandanannya dan caranya
ia berjalan, malah orang akan mengira dia adalah orang sekolahan.
Tong Cin Wie setelah memberi hormat kepada orang-orang
yang datang untuk memberi bantuan tenaga, lalu memberi hormat
kepada Oh Cu Kui yang bertindak selaku tuan rumah.
Dibelakang Tong Cin Wie, disebelah kanan terdapat paderi
berkepala gundul, disebelah kirinya berdiri seorang kakek-kakek
yang usianya kira-kira sudah enam puluh tahun lebih, dibarisan
belakang sekali ada bermacam-macam orang yang berlainan
bentuknya, ada yang gemuk ada yang pendek kate ada yang kurus
dan ada yang jangkung. Mereka itu berjumlah kira-kira dua puluh
lima orang lebih.
Oh Cu Kui setelah mengajak Tong Cin Wie masuk keruangan
tamu. lantas menyuruh orang bawahannya menyediakan perjamuan
besar.
Dalam perjamuan itu Tong Cin Wie berkata sambil tertawa,
“Oleh karena urusanku si orang she Tong seorang, telah membawa-
bawa dirinya begini banyak kawan-kawan.”
Ia mengawasi semua orang yang hadir disitu dengan sepasang
matanya yang bersinar tajam.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 106
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Oh Cu Kui dalam hati merasa kagum, pikirnya, “pantas ia


menjadi pemimpin dari kawanan berandal di Utara, matanya saja
sndah begitu berpengaruh, apalagi perbuatannya.
Dengan suara sangat merendah ia berkata, “Tuan-tuan telah
sudi mengunjungi pondokku yang sangat kotor ini, bukan saja
membikin terang mukaku, tapi juga merupakan suatu peristiwa
yang paling besar dikampung ini, silahkan tuan-tuan dahar dan
minum arak yang tidak berarti ini, sekedar untuk menyambut
kedatangan tuan-tuan!"
Tong Cin Wie mengangguk-anggukkan kepalanya, dengan
tindakan lebar berjalan mentulju kemeja perjamuan. Paderi kepala
gundul berbadan gemuk itu, tangannya ada menggenggam tongkat
ja ngberatnya kira-kira lima puluh kati lebih.
Disehelah kirinya ada seorang kakek-kakek yang berbadan
kering, dibawah janggutnya ada tumbuh jenggotnya yang cuma
sekepal, tapi sudah putilt warnanya. Diluarnya kelihatannya sangat
jelek. tapi sikapnya sangat sombong.
Tong Cin Wie dan itu paderi kepala gundul, selalu harus
memhalas hormat kepada orang-orang yang menyambut padanya,
hanya itu kakek-kakek yang seolah-olah tidak melihat, ia berjalan
dengan caranya sendiri.
Tong Cin Wie memimpin kawan-kawannya duduk dimeja
perjamuan, agaknya ia sangat menghormat sekali kakek-kakek itu.
Tatkala Oh Cu Kui menyilahkan Tong Cin Wie duduk dikursi
pertama, Tong Cin Wie tidak berani menerima dan menyilahkan
orang tua itu duduk dikursi tersebut, tapi orang tua itu gelengkan
kepalanya, tangan kanannya mengelus jenggotnya, dan bersenyum,
ternyata ia menolak untuk menduduki kursi pertama itu.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 107
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tong Cin Wie mengangguk kepada paderi gemuk itu, tapi


sikepala gundul itu juga menolak, dengan demikian, hingga Tong
Cin Wie terpaksa menduduki kursi pertama. Kakek-kakek itu dan
paderi gemuk duduk dikanan kirinya.
Meja itu cuma diduduki oleh tiga orang, yang lainnya lamas
satu persatu mulai duduk ditempat masing-masing.

– ooOoo –

IV.

Oh Ci Kui sebagai tuan rumah itupun angsurkan cawan araknya


sambil berkata: “Aku Oh Cu Kui cuma satu Bu-beng Siau-cut dari
rimba persilatan, tidak nyana mendapat kehormatan dari Tong
Twako yang telah sudi singgah dikediamanku, sungguh ini
merupakan satu kehormatan yang besar bagi aku, arak ini bukan
merupakan suatu penyambutan, cuma adalah satu tanda dari
hormatku."
Setelah berkata demikian Oh Cu Kui tenggak araknya sampai
kering.
Tong Cin Wie bersenyum dan sambil minum araknya iapirn
berkata: “Aku Tong Cin Wie yang cuma mendapat nama kosong,
karena ditunjang oleh para kawan dari lima provinsi Utara, baru
menduduki jabatan sebagai kepala, sebetulnya diantara saudara-
saudara yang ada disini banyak yang berkepandaian tinggi …….. !"
ia menoleh mengawasi si kakek tua lalu berkata pula: “Seperti Thio
Pak Tao Lo-cian-pwee ini, pada tigapuluh tahun yang lalu namanya
sudah menggetarkan Kang-lam dan Kang-pak. senjatanya yang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 108
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

merupakan bandringan Liu-seng-tui, pernah menempur kuil Siauw-


lim-sie punya lima Ngo-lo, berbicara tentang kepandaian ilmu silat,
aku Tong Cin Wie sedikitpun tidak menempil kepandaiannya
dengan Thio Lo-cian-pwee ini."
Meski Tong Cin Wie demikian mengumpak si kakek tua. tarsi
si kakek tua itu tetap tidak menunjukkan perubahan apa-apa pada
mukanya.
Tong Cin Wie setelah memperkenalkan diri si kakek tua itu.
kemhali menoleh dan mengawasi si Hweeshio gemuk yang duduk
disebelah kanannya seraja berkata: “Seperti Thay-si Sian-su ini,
saudara- tentunya sudah pernah mendengar namanya, tentang
kepandaiannya. juga jauh diatasku, tapi sifat Thio Lo-cian-pwee dan
Thay-si Sian-su tidak suka mencampuri segala urusan remeh
didunia Kang-ouw: yang seorang senang berpelesiran di rimba-
rimba dan di gunung-gunung dan yang seorang lagi menyekap
dirinya dalam kuil. Sebetulnya ia sudah tidak man lagi mengurus
segala urusar tetek-bengek, tapi kali ini ternyata telah menerima
undanganku. Dengan menyampingkan kebiasaannya diberikannya
bantuan kepadaku maka disini aku memberi hormat kepada kedua
Lo-cian-pwee dengan secawan arak." Disodorkan araknya kepada
kedua tokoh persilatan tersebut sesudah ia berkata demikian.
Thay-si Sian-su meletakkan cawannya lalu berkata kepada Coa
Im Cu Teng Hong sambil tertawa: “Ternyata kau sudah mendahului
aku kesini."
Teng Hong merasa mukanya panas lalu menjawab seraja
tertawa, “Setelah aku menerima suratmu yang mengajak aku ke
Selatan maka keesokan harinya aku lantas yang berangkat, karena
itu aku tiba dahulu disini."
Tong Cin Wie sebelumnya sudah mendengar dari Thay-si Sian-
su, bahwa ia sudah mengajak Teng Hong untuk memberi bantuan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 109
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

tenaga hingga ketika mendengar pembicaraan kedua orang itu maka


mengertilah ia bahwa orang tersebut adalah Teng Hong. Maka
iapun herkata sambil tertawa:
“Tentu tuan ini adalah saudara Teng Hong, sudah lama aku
mendengar Lo-sian-su mengatakan tentang nama besarmu. hanya
menyesal sekali aku tidak mendapat kesempatan sekali untuk
menemui. Kali ini karena aku Tong Cin Wie mempunyai sedikit
urusan soal permusuhan pribadi saja sampai membuat saudara Teng
melakukan perjalanan begitu jauh, Siauw-tee merasa malu sendiri."
Sehabis berkata demikian lalu iapun menyoja untuk memberi
hormat.
Sifat Teng Hong sebetulnya ada sangat sombong, siapa saja ia
tidak pandang mata. cuma hari ini keadaan ada lain. Perubahan ini
bukan karena merasa jeri terhadap Tong Cin Wie dan kuatir Thay-si
Sian-su akan sesalkan silatnya yang jumawa dan tidak kenal aturan
itu, tapi karena takut pada si kakek tua Thio Pak Tao.
Sebelum nama Teng Hong terkenal maka kakek ini sudah lama
terkenal didunia Kang-ouw. Orang-orang didunia Kang-ouw
menyebutnya Cian Pi Sin Mo atau Iblis yang bertangan seribu dan
ketika nama Teng Hong terkenal di daerah Utara maka pada saat itu
pula Cian Pi Sin Mo telah hilang jejaknya. ada orang kata-kan
bahwa ia menyembunyikan diri diatas gunung. Ada pula yang
mengatakan bahwa ia sudah binasa.
Apa sebab Cian Pi Sin Mo lenyap dari dunia Kang-ouw tidak
ada orang yang ketahui hanya Tong Cin Wie dan Thay-si Sian-su.
Ia lenyap tapi setelah berumur sembilan puluh tahun yaitu sesudah
tiga puluh tahun menghilang tapi tiba-tiba kembali lagi.
Ucapan Tong Cin Wie menyunyung tinggi diri si Tua itu tadi
memang adalah hal yang sebenar-benarnya. Senjata Liu-seng-tui-
nya Thio Pak Tao didalam kuil Siauw-lim-sie. pernah digunakan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 110
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

untuk melawan Siauw-lim Ngo-Lo. Ini adalah suatu kejadian besar


yang pernah menggetarkan dunia rimba persilatan pada tiga puluh
tahun berselang, akhirnya meski Cian Pi Sin Mo jatuh ditangannya
kepala kuil Siauw-lim-sie pada kala itu, namun dalam dua hari satu
malam ia telah bertempur seru dengan kelima tokoh dari kuil
Siauw-lim-sie itu.
Dirinya yang sudah bertempur sekian lama kemudian
bertempur lagi dengan kepala kuil Siauw-lim-sie itu meskipun ia
kalah tapi namanya lantas terkenal didaerah Kang-lam dan Kang-
pak. Bagi orang-orang rimba persilatan waktu itu semuanya
mengenal kakek tua ini.
Ketika Thio Pak Tao bertempur melawan kepala kuil Siauw-
lim-sie Sam Ho Siang, dahulu pundak kirinya telah dilukai dengan
ilmu silat Kim Kong Ci dari Sam Ho Siangjin dan tentang lukanya
ita cuma ia dan Sam Ho Siangjin saja yang tahu. Semua Lo-cian-
pwee dari Siauw-lim-sie serta murid-murid Siauw-lim-sie yang
menonton pertempuran tersebut, tidak seorangpun yang
mengetahui.
Karena mendapat luka. Thio Pak Tao segera meninggalkan kuil
Siauw-lim-sie lalu lari keluar perbatasan mengasingkan diri diatas
bukit Mo Thian Nia untuk memperdalatn ilmu silatnya lagi.
Selama itu tiga tahun lamanya ia bersemadi menghadap tembok
untuk menyernbuhkan lukanya dan ternyata membawa hasil.
Tentang diri Tong Cin Wie sebetulnya dia itu adalah anak
seorang petani pemelihara kuda didaerah Lian-ling. Oleh karena
timbul permusuhan dengan seorang she Ciu yang juga
mengusahakan pertanian dan pemeliharaan hewan maka timbullah
pertempuran hebat. Dalam pertempuran keluarga Tong dikalahkan,
ayah bundanya binasa dan harta bendanya dirampas oleh keluarga
Ciu. Hanya Tong Cin Wie sendiri yang dapat meloloskan diri.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 111
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Padaa kala itu umurnya baru 15-16 tahun hingga ia tidak tahu
kemana ia harus tumpangkan dirinya.
Waktu ituada beberapa anggota familinya, tapi karena mereka
takut pengaruh keluarga Ciu maka tidak ada seorangpun dari
mereka yang berani menerimanya. Satu bulan lamanya Tong Cin
Wie hidup terlunta-lunta, tapi selagi ia dalam keadaan kelaparan
dan kedinginan. ia telah ditemukan oleh seorang aneh yang
berlengan satu, yang akhirnya memungutnya sebagai murid.
Orang aneh berlengan satu itu sebetulnya adalah seorang. gagah
yang hersifat aneh. Namanya Tay Kouw orang itu sifatnya aneh dan
berhati kejam hingga banyak sekali musuhnya. Ketika ia bertempur
dengan musuh-musuhnya, lengan kanannya telah dilukai dengan
senjata rahasia yang beracun, hingga ia kehilangan lengan kanan.
Kehilangan tangannya ini menyebabkan adatnya bertambah
aneh dan kejam. Orang itu ketika telah kehilangan lengan tahulah ia
hahwa dalam masa yang pendek itu mampulah ia mencari musuh-
musuhnya untuk menuntut balas.
Karena itu ia lantas sembunyikan diri didaerah pegunungan.
Disana selainnya merawat lukanya maka dipelajarinya juga rive
ilmu obat'an yang beracun dan. senjata yang beracun. Akhirnya
sekali ia dapat menciptakan semacam senjata rahasia yang berupa
jarum, yang dinamainya Tui-hun-ciam.
Ketika luka-nya sembuh iapun segera mencari musuh-
musuhnya. Satu persatu musuh-musuhnya itu dibinasakan dengan
senjata rahasia Tui-hun-ciam-nya itu. Siapa saja yang kena senjata
rahasianya itu dalam dua belas jam pasti binasa. Hanya obat
pemunah racun yang dibikin oleh Teng Tay Kouw sendirilah yang
bisa menghilangkan racun itu.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 112
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Selama tiga hari ia tidak makan tidaklah ia mengeluh atau


menangis, karena Tay Kouw mengetahui ketabahannya maka
hatinya tergerak untuk mengambilnya sebagai murid. Ia diberi
pelajaran selama sepuluh tahun, kemudian Tong Cin Wie menjadi
seorang yang berilmu silat yang tinggi sekali.
Tong Cin Wie yang beradat kejam setelah mendapat didikan
dari Teng Tay Kouw seorang kejam sudah tentu sifatnya bertambah
kejam. Setelah pelajarannya tamat pertama-tama yang bisa
selesaikan adalah permusuhan dengan keluarga Ciu. Dengan senjata
turnbak Leng-coa-chio-nya dan sekantong jarum Tui-hun-ciain-nya
menyerbulah ia malam-malam keluarga Ciu. Semua orang dalam
keluarga Ciu dihabiskan dan semua rumah mereka habis dibakar.
Perusahaan-perusahaan yang diusahakan oleh keluarga Ciu dalam
tempo hanya satu malam telah dibikin rata dengan bumi.
Tong Cin Wie setelah menuntut balas, lantas mengernbara di
dunia Kang-ouw, dengan mengandalkan kepandaiannya yang tinggi
dan senjata rahasianya yang ampuh itu. Selama beberapa tahun
belum pernah ditemuinya tandingan hingga hatinya besar sekali.
Dianggapnya dalam Kwang-wa yang daerahnya luas tapi sedikit
penduduk itu ia tidak bisa berbuat banyak, maka lantas timbal
nikirannya untuk masuk kedaerah Tiong-goan.
Sebelum berangkat hendak diberitahukan maksudnya itu
kepada suhunya tapi ketika ia tiba digubuk suhunya ternyata tak ada
lagi. Gubuk itu kosong melompong.
Tong Cin Wie mencari di mana-mana, tapi tidak ditemui jejak
suhunya itu maka terpaksa berangkatlah ia tanpa memberitahukan
kepada suhunya. Walaupun baru dua tahun ia berada ditempatnya
yang baru itu tapi namanya telah dikenal. Ketika ia disana tujuh
tahun berhasillah ia menundukkan sebagian besar orang-orang dari

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 113
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

rimba hijau di lima provinsi Utara, hingga ia diangkat menjadi


Twako.
Tong Cin Wie setelah menduduki kursi Twako. sifatnya yang
gemar paras elok menonjollah hingga wanita-wanita yang ia merasa
cantik walau bagaimana pun berdayalah ia sampai bisa
memperolehnya. Oleh karena itu dalam gedungnya yang besar dan
mewah di pantai sungai Eng,-teng. terdapat banyak wanita-wanita
cantik sebagai simpanannya.
Pada suatn hari yaitu ketika sudah tiga hari menjadi Twako, ia
telah kedatangan dua orang yang berparas aneh. Orang-orang itu
ternyata adalah suhunya sendiri (Teng Tay Kouw) dan seorang tua
yang berbadan pendek yaitu Cian Pi Sin Mo Thio Pak Tao. Teng
Tay Kouw dan Cian Pi Sin Mo ketika bertemu Tong Cin Wie,
belum pernah membuka mulut tapi setelah menghabiskan empat
poci arak barulah Teng Tay Kouw goyangkan tangan kirinya untuk
memberi tanda, supaya pelayan-pelayan perempuan masuk
kedalam, kemudian ia menunjuk si kakek tua itu lain berkata kepada
Tong Cin Wie: “Ini adalah Thio Supekmu lekas kau memberi
hormat."
Kala itu Tong Cin Wie meski sudah menjadi Twako golongan
rimba hijau di lima provinsi daerah Utara, tapi setelah mendengar
ucapan suhunya segera bangkit meninggalkan korsinya lalu berlutut
dihadapan Cian Pi Sin Mo itu namun Thio Pak Tao seperti tidak
melihat ia terus minum araknya saja, seolah-olah tidak melihat ada
orang ditempat itu.
Tong Cin Wie merasa kurang senang dalam hatinya, tapi ia
tidak berani berbuat ape. Terpaksa ia menahan kesabaran lain
berkata dengan suara perlahan:
Disini Tong Cin Wie memberi hormat kepada Thio Supek."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 114
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Thio Pak Tao dengan mendadak letakkan cawannya, lantas


berkata sambil tertawa bergelak':
“Anak baik yang boleh diajar, bangunlah!"
Tong Cin Wie berbangkit lalu Teng Tay Kouw berkata kepada
Cian Pi Sin Mo: “Muridku ini ternyata lebih unggul dari aku, cuma
saja pohon yang tinggi gampang mendatangkan angin, selanjutnya
mau tolong jaga-jaga, aku sendiri tahu bahwa jiwaku mungkin tidak
tahan satu bulan lagi."
Ci anPi Sin Mo menjawab sambil tertawa: “Kau boleh mati
dengan mata meram! Dengan memandang persahabatan kita dan
pertandingan yang kita lakukan satu hari satu malam lamanya di
atas bukit Mo Thian Nia, aku terima haik permintaanmu ini.
Tang Tay Kouw tertawa bergelak-gelak, lalu bangkit sambil
mendorong mejanya dan berkata kepada Cian Pi Sin Mo:
“Kau Cian Pi Sin Mo ucapanmu itu sangat berharga, Teng Tay
Kouw seumur hidup telah membunuh banyak jiwa, apa artinya
kematian, Cin Wie, aku larang kau menuntut balas."
Tong Cin Wie terkejut, selagi hendak bertanya, tapi sudah
didahului oleh Thio Pak Tao, katanya:
“Kecuali aku Thio Pak Tao seorang, barangkali tidak ada
seorang pun yang bisa menuntut balas untuk kau."
Teng Tay Knew tertawa besar, sambil gerakken lengannya,
sekejap saja ia sudah berada diluar, tapi masih sempat menjawab
kepada Thio Pak Tao:
“Aku toch tidak minta kau untuk menuntut balas, sekarang aku
hendak pergi, aku hendak mencari suatu tempat yang sepi, yang
jarang didatangi oleh manusia, disana eku akan mati dengan tenang
……”

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 115
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Belum habis ucapan itu orangnya sudah hilang dari pandangan.


Tong Cin Wie memburu, tapi suhunya sudah tak kelihatan lagi.
Matanya hasah tapi muhitnya berseru: “Suhu ….. , Suhu ….. !”
Baru saja hilang suaranya, terdengar suara orang berkata di
belakangnya : “Perlu apa kau panggil? Ia sudah terkena serangan
ilmu silat yang maha tinggi, semua isi dalam badannya sudah
terluka parah, dalam tempo tujuh hari luka itu segera menghehat
dalam tubuh-nya, sekalipun tabib terpandai seperti Hoa-to hidup
kembali juga tidak akan berdaya menolongnya."
Ketika Tong Cin Wie menoleh, dilihatnya wajah Cian Pi Sin
Mo masih tetap dingin. sekalipun sahabat karibnya sudah dekat
menemui ajalnya, tapi sedikitpun tidak menunjukkan rasa duka.
Baru sadia Tong Cin Wie hendak menyawab, sudah didahului oleh
Thio Pak Tao:
“Meski Suhumu tidak memberitahukan orang yang melukai
diri-nya. tapi dalam hatiku dapat menebak. Musuhnya ini hebat
hingga kau tidak akan mampu membalas dendam sebab itu tunggu
sanpai kuselesai menyelidikinya. Bila telah mendapat penjelasan
tentang urusan ini barulah kita bicarakannya!”
Selesai kakek itu berkata demikian maka mengbilanglab ia tan-
pa pamit.
Sejak Tong Cin Wie turun gunung ia belum pernah menemui
tandingan. Karena itu didalam hati kecilnya dianggapnya
kepandaian silatnya tak ada yang bisa menandinginya selain dari
Suhunya, tapi setelah ia melihat ilmu lari pesat dan meringankan
tubuh Thio Pak Tao yang lebih tinggi setingkat daripada suhunya,
barulah ia mengetahui bahwa kepandaiannya belum seberapa.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 116
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Waktu Cian Pi San Mo pergi beberapa lama lantas tidak


terdengar kabar beritanya lagi, dan Tong Cin Wie sendiri juga mulai
melupakan urusan tersebut.
Pada kala itu nama Tong Cin Wie sudah semakin kesohor
hingga hatinya semakin besar dan timbal keinginannya untuk
melebarkan. pengaruhnya kedaerah Kang-lam. Kebetulan pada saat
itu berpapasanlah ia dengan Ie Pak Sam Houw atau Tiga Macan dari
le Pak, yang baru saja lari pulang karena terluka oleh senjata
rahasia. Setelah mengetahui itu, Tong Cin Wie lantas menjadi
gusar, dan memerintahkan kepada orang-orangnya bergerak ke
selatan, sedangkan ia sendiri lalu berangkat ke kuil Ceng In Si
untuk mengundcmg Thay-si Sian-su.
Sepulangnya dari Ceng In Si bersama Thay-si Sian-su. Tiba-
tiba ia telah kedatangan Cian Pi Sin Mo Thio Pak Tao.
Ketika Tong Cin Wie melihat kedatangan orang tua itu, dalam
hati merasa girang tapi juga ada sedikit jeri. Ia girang karena
kedatangan orang berilmu tinggi itu tepat pada saatnya, hingga tidak
usah kuatirkan lawannya didaerah Kang-lam. Jeri karena sifat orang
tua yang aneh dan sukar dilayani, karena itu ketika ia bertemu
dengan Thio Pak Tao, ia cuma berkata sambil angkat tangannya
“Kedatangan Lo-cian-pwee tepat benar pada saatnya, hingga
bisa memberi bantuan sedikit tenaga bagi Boan-pwee ……..”
Bicara sampai disini, mendadak berhentilah ia sambil tertawa
sebab ia menanti reaksi Cian Pi Sin Mo.
Thio Pak Tao berkata sambil tertawa: “Aku dengan gurumu
pada sepuluh tahun berselang telah mengikat tali persahabatan
setelah melakukan pertandingan diatas bukit Mo Thian Nia, di
dalam dunia ini aku cuma mempunyai seorang sahabat yaitu dia
sendiri. Sahabatnyapun hanya seorang yaitu aku. Ia telah terkena

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 117
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

serangan hebat, sehingga binasa maka itu sudah tentu aku hendak
menuntut balas. Dalam tiga tahun ini aku telah melakukan
perjalanan keseluruh tempat dan hasilnya ialah telah kuketahui
orang yang melukainya. Walaupun demikian aku belum berani
pastikan jika aku belum bertemu dengan musuhnya itu. Adapun
kedatanganku kali ini, memang sengaja mencari kau, dan ada
hubungannya dengan penuntutan balas untuk Suhumu …….. !”
Mendengar kata orang itu Tong Cin Wie terkejut hingga buru-
burulah ia memimpin orang tua itu keruangan dalam lalu dijamunya
dengan sernestinya.
Cian Pi Sin Mo yang sudah banyak minum arak. Tiba-tiba
berkata kepada Tong Cin Wie:
“Kalian masih berada didalam kegelapan, sehingga
mengundang banyak orang-orang keselatan, sebetninya semua
gerak-gerik kalian sudah diawasi oleh lain orang ……..” Ucapan
ini telah mengejutkan semua orang lalu bertanyalah Tong Cin Wie:
“Siapa sebenarnya orang yang mempunyai ilmu silat demikian
tinggi itu?”
Cian Pi Sin Mo menjawab sambil tertawa besar: “Orang itu
mungkin adalah orang yang melukai Suhumu tempo hari, walaupun
begitu sekarang aku belum bisa pastikan. Apakah pernah engkau
mendengar orang yang bernama Kang It Peng?"
Tong 'Uri Wie berpikir beberapa lama, lantas geleng kepada. Ia
tidak tahu karena ketika ia sedang menjagoi dirimba hijau didaerah
Utara, Kang It Peng sedang berada diatas gunung bersama cucu
perempuannya, karena ia sedang mendidik cucunya itu utuk
mengasingkan diri sebab musuh-musuhnya telah membinasakan
anak dan mantunya. Penjahat-penjahat tidak pernah mendengar
nama Kang It Peng. Begitu pun Tong Cin Wie yang tidak pernah

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 118
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

mendengar namanya hanya penjahat golongan tua itupun tidak


banyak mengetahuinya.
Tiba-tiba Thay-si Sian-su berkata, “Yang Lo-cian-pwee
sebutkan tadi itu bukankah Kong It Peng yang bergelar Gin Si Siu
atau si Kakek Jenggot Perak, yang namanya terkenal didaerah
Kang-lam dan Kang-pak pada duapuluh tahun berselang?"
Cian Pi Sin Mo menjawab sambil tertawa, “Ya itulah
orangnya. Sebelum aku mengasingkan diri, aku berniat menempur
dia. tapi selalu tidak mendapat kesempatan, siapa nyana sesudah
tiga puluh tahun ia masih hidup, nampaknya keinginanku ini
akhirnya akan terkabul juga."
– ooOoo –

V.

Ketika mereka tiba dikota Ceng Jana Koan mereka disambut


oleh orangnya Tong Cin Wie yang diutus oleh Oey Ceng Tan
menunggu ditempat tersebut, untuk melanjutkan perjalanan ke Ie
Ciu Wan.
Tentang kedatangan di Ie Ciu Wan, sudah dijelaskan dibagian
alas. Tong Cin Wie setelah menanyakan Oey Cnog Tan tentang
usahanya menguntit jejak Chie Ciat-su, diam-diam merasa terkejut
juga.
Meski ia belum pernah mendengar tentang Kang It Peng. tapi ia
sudah ketahui siapa itu Sun Tay Beng yang bergelar Chio Bin Giant
Lo atau Raja Acherat yang berwajah berseri. Orang itu adalah satu
tokoh rimba persilatan didaerah Kang-lam yang paling sukar

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 119
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

dilayani. Senjata rahasianya yang bernama duri ikan terbang lebih


hebat dan sudah menjagoi didunia Kang-ouw.
Kalau mengingat Chie Kong Hiap cuma seorang bekas pegawai
negeri yang dilepaskan dari jabatan tapi bagaimana sampai bisa
mendapat perlindungan dari orang-orang gagah semacam mereka?
yang lebih mengherankan ialah itu orang yang menggunakan
senjata rahasia duri ikan terbang untuk melukai orang-orang
bawahannya adalah seorang wanita bukan Sun Tay Beng.
Meskipun ia menyebut dirinya budak yang keluarga Chie, tapi
tidak dapat dipercayai sepenuhnya. Anak dara itu tentu mem punyai
hubungan erat sekali dengan Sun Tay Beng, karena di dalam rimba
persilatan didaerah Kang-lam dan Kang-pak, yang mampu
menggunakan senjata rahasia serupa itu cuma Sun Tay Beng.
Anak dara itu sudah pasti murid atau anak Sun Tay Beng.
Kang-tang Lie-hiap baru kira-kira tiga tahun muncul didunia Kang-
ouw, tapi sudah membuat namanya besar dan membikin kucar-kacir
dunia rimba hijau. Kecuali Sun Tay Beng maka sudah tidak ada
orang yang mampu mendidik murid yang begitu gagah.
Kedatangan Tong Cin Wie sudah tentu dengan persiapan yang
lengkap, tapi ternyata sudah kebentur dengan lawan yang keras, hal
ini benar-benar diluar dugaannya.
Bagi Kong-tong Lie-hiap sendiri sebetulnya ia tidak perlu takut,
yang dikuatirkan jalah kalau Sun Tay Beng sendiri muncul.
Tong, Cin Wie berpikir sejenak, lalu memandang Cian Pi Sin
Mo dengan maksud ingin mendapat sedikit keterangan dari orang
tua itu tapi orang tua itu, tetap membungkam seolah-olah tidak mau
ambil perduli semua hal.
Tatkala Oey Ceng Tan melaporkan semua kejadian yang ia
alami. kebanyakan penjahat itu terheran-heran, sampai-sampai

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 120
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Thay-si Sian-su sendiri juga gelengkan kepala dan pelototkan


matanya. Hanya Cian Pi Sin Mo, yang tetap pejamkan matanya,
seolah-olah sedang tidur nyenyak.
Tong Cin Wie mengetahui sifat orang tua itu yaitu kalau ia
tidak suka berbicara, sekalipun ditanya juga sia-sia saja, maka
terpaksa berkatalah ia sambil tertawa getir:
“Ternyata difihak sana ada orang yang menggunakan senjata
rahasia duri ikan terbang, sudah tentu tidak boleh dipandang ringan,
malam ini kita harus siapkan beberapa orang untuk meninjau ke
Siang Ke Cun."
Ia berbicara sampai disitu saja, ia sengaja tidak melanjutkan.
Sambil bersenyum iapun menatap wajah Teng Hong. Ia tidak tahu
bahwa Tong Hong sedang menderita luka dalam ketika bertempur
melawan Cin Tiong Liong sampai saat itu dan luka itu belum
sembuh. Waktu ia mengawasi Teng Hong dilihat-nya Teng Hong
seolah-olah berlaga tuli dan bisu hingga seketika itu lantas naik
darahnya. Pada saat itu, Thay-si Sian-su telah mengetahui gelagat
tidak baik, maka buru-buru menyelak sambil tertawa:
“Di fihak sana kalau benar bukan orang sembarangan, kita juga
tidak boleh bertindak secara gegabah, aku lihat sebaiknya aku yang
pergi sendiri, aku sudah pernah bertemu dengan Sun Tay Beng. Aku
ingin tahu apakah betul dia disana atau tidak?"
Meskipun Tong Cin Wie tidak puas melihat sikap Tong Hong
yang begitu jumawa pun merasa tidak enak untuk membuka mulut
kasar.
Melihat sikap Thay-si Sian-su itu iapun merubah sikap lalu
menjawab dengan tertawa:

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 121
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Kalau Sian-su ingin pergi sendiri maka hal ini adalah


kebetulan sekali, hanya urusan sekecil itu tidak perlu Sian-su turun
tangan sendiri, Sianw-tee sebetulnya merasa tidak enak."
Sambil tertawa Thay-si Sian-su pun berkata:
“Kita sudah lama bersahabat. apakah masih perlu saling
merendah?"
Sehabis berkata iapun berbangkit lalu minum araknya sampai
kering. Kemudian tertawalah ia bergelak-gelak, hingga suasana
yang genting reda kemhali. Walaupun begitu dalam hati Tong Cin
Wie, sudah terbit maksud untuk menyingkirkan Teng Hong.
Oh Cu Kui sebagai tuan rumah, ternyata pandai melayani
tamunya telah disediakan kamar-kamar untuk para tamunya.
Tong Cin Wie sendiri mendiami sebuah kamar besar dekat
taman bunga dan Oh Cu Kui telah ketahui sifatnya telah
menyediakan dua pelayan wanita cantik untuk melayani Twako dari
rimba hijau daerah Utara itu. Murid kepala Tong Cin Wie yang ben
nama Lauw Kiat, berdiam disamping kamarnya, supaya bisa men-
jalankan titahnya sewaktu-waktu.
Thio Pak Tao dan Thay-si Sian-su, juga mendiami lain kamar
dalam taman tersebut, yang tidak jauh terpisah dari kamar Tong Cin
Wie.
Tengah malam, mendadak angin Utara bertiup sangat hebatnya,
salju juga mulai turun, hingga diatas tanah salju itu mencapai tiga
cun tebalnya.
Tatkala hujan salju berhenti rembulan mulai kelihatan muncul
ditanah terbentang suatu pemandangan alam yang indah. Saat itu
Tong Cin Wie berdiri didepan pintu sambil mengawasi
pemandangan yang indah itu.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 122
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Selagi Tong Cin Wie kesengsam dalam alum pikirannya, tiba-


tiba angin menderu, hingga orang she Tong itu terkejut, buru-
burulah ia kerahkan tenaga dalamnya, tangan kanannya diayun
hendak menyerang orang yang baru datang tapi orang itu
mengeluarkan kemahirannya dapat menahan dirinya yang sedang
berlari demikian kencang. Orang itu berhenti dihadapan Tong Cin
Wie lalu sambil tertawa berkatalah “Apa? Sampai aku pun kau tidak
mengenali lagi."
Tatkala orang tersebut berhenti, barulah Tong Cin Wie
mengenalnya. Orang itu adalah Thay-si Sian-su hingga buru-buru ia
menjawab:
“Kedatangan Thaysu terlalu mendadak, hingga hampir saja aku
keterlepasan tangan."
Sesudah berkata demikian menyuralah ia dan memberi hormat,
sebagai tanda pernyataan maaf.
Thay-si Sian-su berkata sambil tertawa bergelak-gelak, “Aku
hanya main-main saja, sekarang sudah lewat tengah malam, aku
harus berangkat ke Siang Ke Cun, sebelum jam tiga mungkin aku
sudah dapat kembali."
Sehabis ia berkata demikian dan tanpa menunggu jawaban
Tong Cin Wie iapun dengan cepat berlalu. Hanya dua tiga lompatan
ia sudah lenyap dari pandangan.
Tong Cin Wie kagum menyaksikun kegesitan Thay-si Sian-su
itu sebab meskipun badannya gemuk, tapi bisa lari laksana terbang.
Diam-diam Tong Cin Wie merasa girang sebab kepandaian ilmu
silat Thay-si Sian-su yang dilihatnya itu sudah pasti dapat
diandalkan. Hatinya tak takut lagi kepada Sun Tay Ben, Pikirannya
lagi walaupun Kang It Peng yang pernah disebut oleh Cian Pi Sin
Mo itu datang akan dilayani oleh Cian Pi Sin Mo.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 123
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Walaupun sudah jam tiga malam tapi Thay-si Sian-su belum


juga kembali, hingga Tong Cin Wie mulai merasa kuatir. Selagi ia
berpikir dengan gelisah, tiba-tiba terlihat olehnya dari jendela
bayangan orang yang lenyap dengan cepat. Tadinya ia mengira ada
Thay-si Sian-sulah yang kembali hingga berkatalah ia sambil
tertawa:
“Sian-su sudah pulang mengapa menjauhi aku? Bagaimana
keadaan di Siang Ke Cun? Apakah Chio Bin Giam Lo juga berada
disana?"
Ia bertanya berulang-ulang tapi tidak mendapat jawaban. hinga
timbullah curiga dalam hatinya. Tapi dasamya kejam hingga meski
merasa gelagat tidag baik, tapi masih berlagak tidak melihat.
Secara diam-diam iapun mengambil senjata rahasianya lalu
dengan cepat melompat melesatlah ia keluar dari jendela. Tapi baru
saja kakinya menginyak tanah, tiba-tiba ia mendengar jeritan ngeri.
Dengan segera Tong Cin Wie mengenali suara itu adalah suara
Lauw Kiat muridnya yang menjerit itu. Ketika ia menoleh
dilihatnya badan Lauw Kiat sudah tergelincir dari atas genteng.
Tong Cin Wie menggeram cepat-cepat menghampiri Lau Kiat.
Toako rimba hijau dari daerah Utara ini benar. lihay karena
walaupun terpisah satu tumbak dari Lauw Kiat tapi hisa bergerak
cepat untuk menyambut badan Lauw Kiat yang tergelincir dari atas
genteng.
Tatkala ia menampak pundak kiri Lauw Kiat mengucurkan
darah segera diketahuinya bahwa muridnya itu terkena serangan
senjata gelap hingga timbul gusamya. Tatkala itu Lauw Kiat
berkata: “Suhu ada orang diatas genteng ……..”
Tong Cin Wie meletakkan tubuh Latin Kiat diatas salju ia
sendiri lantas lompat keatas genteng.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 124
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tong Cin memeriksa keadaan disekitarnya tapi tidak


menampak satu bayangan manusiapun. Karena mendongkolnya in
lantas membentak sambil tertawa dingin:
“Siapa itu yang melakukan perbuatan pengecut? Jika tak berani
mengunjukan diri apakah itu adalah perbuatan seorang eng- hiong?
Sahabat, keluarlah aku Tong Cin Wie ini ingin mencoba beberapa
jurus ……!”
Belum habis suaranya tiba-tiba dari tempat gelap muncul
seorang, yang berbadan langsing. Muka orang itu ditutup dengan
sutra hitam dan berdandan dalam pakaian malam yang serba
ringkas, nampaknya dia itu adalah seorang wanita.
Tong Cin Wie menegur dengan suara gusar:
“Kau siapa?"
Orang itu tertawa dingin, lantas menyahut dengan suara yang
merdu:
“Kiranya kau inilah yang menjadi Twako kawanan bandit dari
lima provinsi daerah Utara. Kau tidak mengetahui dan bertanya
diriku. Sudah cukup perbuatan-perbuatan jahatmu didaerah Utara
tapi mengapa masih mau datang mengaduk didaerah ini? Apa
sangkamu engkau bisa berbuat sewenang-wenang di Kang-lam ini
seperti didaerah Utara?"
Tong Cin Wie sangat gusar, ketika mendengar ucapan pedas si
gadis itu. Dasar ia seorang sombong hingga timbul kemarahannya.
Maka tertawa bergelak-gelaklah ia lalu menjawab:
“Sombong benar ucapanmu, sebutkan dulu namamu. supaya
aku bisa tahu siapa sebenarnya engkau?"
Nona yang berkedok hitam itupun menyahut sambil tertawa
dingin:

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 125
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Aku sudah katakan kau tak usah bertanya, kenapa kau tetap
ntembandel?"
Tiba-tiba Tong Cin Wie ingat sesuatu, maka lantas berkata
sambil tertawa:
“Bukankah kau ini Kong-tong Lie-Hiap? Aku tahu engkau
sebab engkau telah melukai muridku ini dengan duri ikan
terbangmu. Jangan kata kau yang masih bocah, sekalipun Sun Tay
Beng sendiri juga aku tidak pandang mata. Baiklah kita bertempur
karena aku ingin kenal senjatamu itu yang telah menggetarkai.
dunia Kang-ouw."
Sehabis ia berkata demikian melompatlah in menyamber nona
yang berkedok itu.
Nona berkedok itu memang benar adalah Kong-tong Lie-hiap
Kang Sian Cian, hingga tatkala Tong Cin Wie memimpin orang-
orangnya tiba dikota Ceng Jung Koan, hal itu sudah diketahui oleh
Cin Tiong Liong. Menampak roman orang-orang tersebut tahulah in
bahwa orang-orang bukan sembarangan, Cin Tang Liong diam-
diam merasa terkejut juga. Dan tatkala Tong Cin Wie herangkat ke
Ie Ciu Wan Cin Tiong Liong juga kembali ke Siang Ke Cun on
memberitahukan kepada Kang-tang Lie-hiap. supaya ia berjaga-
jaga. Meskipun ia tahu bahwa Kong-tong Lie-hiap ini bersi fat
tinggi Kati dikuatirkan ia akan menyatroni sendiri ke Ie Ciu Wan,
maka ia telah sengaja mengatakan bahwa kawanan bandit itu datang
dengan kawan-kawannya yang berjumlah besar, dan berpesan
supaya Kang Sian Cian jangan hertindak sembrono, sebaiknya
menanti kedatangan kedua Lo-cian-pwee.
Cin Tiong Liong sebenarnya mengharap supaya Kang Sin Cian
memperkuat penjagaannya dirumah keluarga Chie, sambil me- .
rung.gu kedatangan Kong It Peng dan Sun Tay Beng, baru turun
tangan terhadap musuhnya.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 126
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Siapa nyana perkataan Cin Tiong Liong, telah mendapat buah


yang sebaliknya karena Kang Sian Cian yang sudah tinggi
kepandaiannya, sejak turun gunung belum pernah menemui
tandingan hingga dengan demikian timbullah kesombongattnya. Ia
berpikir kepala penjahat itu sudah tiba, dalam dua tiga hari sudah
tentu akan menyerbu Siang Ke Cun, sedang berita Yayanya dan
Suhunya belum ada maka lebih baik jangan membiarkan kawanan
dit itu menyerbu, yang paling baik ialah turun tangan menggempur
lebih dahulu.
Nona cilik ini setelah berpikir demikian, dengan menyimpang
dari kebiasaannya iapun terima baik pesan- Cin Tiong Liong. Cin
Tiong Liong Calm betul sifat Kang Sian Cian yang jujur dan
berterus terang, apa yang sudah disanggupi tidak nanti akan
dirubah.
Kang Sian Cian diam-diam merasa geli dihati, setelah ia
menganta, ban Cin Tiong Liong meninggalkan kamarnya, malahan
ia berpesan supaya Ong Bun Ping disuruh lekas datang untuk
membantunya menjaga rumah keluarga Chie.
Tatkala Cin Tiong Liong memberitahukan hal Kang Sian Cian
kepada Ong Bun Ping, yang tersebut belakangan merasa bersangsi,
karena ia tahu betul sifat nona cilik itu, pasti ia akan mencari Tong
Cin Wie sendiri.
Karena kedua orang itu kuatir kalau-kalau Tong Cin Wie setiap
saat menyerbu Siang Ke Cun, maka baru saja malam tiba,
merekapun segera datang ke Siang Ke Cun untuk melakukan
penjagaan. Tapi baru saja tiba didekat rumah keluarga Chie, Kang
Sian Cian sudah menyambut mereka dengan dandanan yang serba
ringkas.
Nona itu lantas bertanya sambil tertawa: “Begini pagi kalian
sudah sampai."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 127
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Cin Thiong Liong menyahut sambil tertawa:


“Bukankah kau sendiri yang berpesan supaya kami datang lehih
siang? Kenapa sekarang kau balik bertanya? Kau ini nona cilik
benar-benar susah dilayani."
“Bagaimana aku berani sesalkan Cin Sioksiok dari Ong Suko,
aku cuma kata kalian datang dengan menempuh angin besar dan
hawa dingin, hatiku merasa berterima kasih sekali."
Diwaktu tengah malam tatkala rembulan sudah nampakkan diri,
Cin Tiong Liong dan Ong Bun Ping pun keluar dari karnar. Lantas
berkata kepada Kang Sian Cian:
“Kami akan melakukan pemeriksaan diluar kampung, kart
baik" jaga disini sebab penjahat sudah pada berkumpul dan kalau
mereka menyerbu maka keadaannya akan berbeda dengan beberapa
hari yang lain. Kita terdiri dari sedikit orang sudah tentu sukar
dibagi. Aku dengan Ong Siauw-tee akan keluar sebentar, malam ini
jika benar-benar akan hertempur dengan kawanan penjahat. walau
bagaimana pun jangan meninggalkan rumah keluarga Chie, supaja
tidak kena jebakan tipu muslihat musuh dan paling baik kita harus
beritahu suami-isteri Chie Ciat-su bahwa jika ada terjadi apa-apa
hendaknya mereka jangan gugup atau ketakatan."
Kang Sian Cian terima baik pembicaraan itu sedang Cin Tiong
Liong dan Ong Bun Ping segera berlalu. Sepeninggal dua orang itu
maka Kang Sian Cian pun segera menuju kekamar Sie Kiat. Baru
saja ia sampai didepan pinto sudah disambut oleh Sie Kiat dengan
perasaan girang.
Anak muda itu lantas menyambar tangan si nona sambil
memanggil-manggil, tapi si nona tidak menjawab, hingga Sie Kiat
merasa heran. lalu bertanya:

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 128
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Adik Sian kenapa engkau tidak perdulikan aku lagi, apakah


kau merasa gusar?"
Kang Sian Cian melihat sikap yang demikian mengharukan
maka ia lantas menjawab seraya menggelengkan kepala:
“Engkau ini selalu memikiri hal yang bukan-bukan, engkau
tidak pernah berbuat salah kenapa aku harus marah?" Selesai
berkata demikian iapun duduk disamping Sie Kiat.
Ketika Sie Kiat menampak sikap Sian Cian yang agak berlainan
dari biasa kembali bertanya:
“Adik Sian malam ini agaknya kau mempunyai banyak urusan,
bolehkah kau beritahukan kepadaku?"
Kang Sian Cian sebetulnya ingin memberitahukan maksudnya
yaitu ia hendak menemui Tong Cin Wie. tapi ia kuatir akan dicegah
oleh Sie Kiat, hingga sambil bersenyurn berkatalah ia:
“Malam ini dikuatirkan penjahat akan datang menyatroni
hendaknya engkau lekas tidur."
Sie Kiat meski tidak ingin berlalu, tapi ia tidak berani
membantah pesan nonanya itu, hingga ia lantas masuk kekarnarnya
dengan perasaan dan sikap ogah-ogahan.
Setelair Sie Kiat masuk kekamarnya. Sian Cian pun naik keatas
genteng. Ketika ia menampak Cin Tiong Liong dan Ong Bun Ping
sedang melakukan penjagaan diluar rumah keluarga Chie, maka ia
pun mengambil jalan lain, sambil memakai tutup muka hitam terus
lari menuju ke Ie Ciu Wan.
Ketika Kang Sian Cian tiba di Ie Ciu Wan hari baru jam dua
malam. Karena ilmu meringankan tubuhnya yang baik, maka
gerakannya itu tidak menimbulkan bunyi. cuma karena ia tidak tahu

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 129
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

dimana letak kamar Tong Cin Wie, hingga ia mencari ubek-ubekan


sekian lama tapi masih juga belum menemukannya.
Akhirnya tibalah ia ditaman bunga. Disana ia melihat dalam
sebuah kamar ada sinar lampu maka pergilah ia ketempat tersebut,
dengan demikian ia telah menemui kamar Tong Cin Wie.
Kang Sian Cian belum pernah bertemu Tong Cin Wie, hingga
ia tidak ketahui bahwa orang yang mendiami kamar tersebut adalah
dia.
Kang Sian Cian bertindak hati-hati sekali, dengan cara
bergelantungan iapun melongok kedalam kamar. Ia menampak
seorang pertengahan umur, sedang duduk dan membaca buku
dibawah penerangan lampu, orang itu berpakaian panjang, mukanya
sedikit putih, matanya bersinar dan jidatnya sedikit menonyol.
Begitu ia melihat sudah bisa diketahuinya bahwa orang itu tinggi
sekali ilmu dalamnya, sekian lama ia mengawasi tapi masih belum
kenal siapa orang itu.
Tong Cin Wie yang lama menanti kedatangan Thay-si Sian-su,
dalam hati merasa gelisah. Karena itu iapun bangkit membuka
jendela. Perbuatannya itu mengejutkan Kang Sian Cian, hingga ia
segera meloncat keatas genteng tapi bayangannya telah tampak
diatas salju. Ketika ia mengetahui bahwa bayangan disalju itu,
burulah ia mendekam, tapi agak terlambat sebab sudah dilihat oleh
Tong Cin Wie.
Tong Cin Wie lantas bertindak hendak membinasakan musuh-
nya, tapi saat itu muridnya telah diserang oleh Kang Sian Cian.
Sebetulnya Lauw Kiat sudah tidur dikamarnya tapi tatkala
mendengar suara Tong Cin Wie iapun bangun lalu melompat keluar
melalui jendela diwaktu itu Kang Sian Cian segera menyerang
dengan senjata rahasia duri ikan terbang.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 130
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Lauw Kiat yang tidak menduga sama sekali, sudah tentu tidak
dapat mengelakan. Ketika ia merasa lengan kirinya sakit lantas
terjungkal dari atas genteng. Beruntung Tong Cin Wie mengetahui
pada saatnya lalu dengan sangat tepat dan dengan kecepatan seperti
kilat iapun menyambuti tubuh Lauw Kiat.
Tong Cin Wie dalam murkanya lantas menyerang Kang Sian
Cian.
Kong Sian Cian merasa serangan penjahat tersebut sangat hebat
hingga tidak berani menyambuti. Buru-buru ia menyingkir untuk
mengelakkan serangan tersebut.
Tong Cin Wie menyaksikan gerakan Kang Sian Cian demikian
gesit, diam-diam merasa terkejut juga. Kemudian iapun inenyerang
lagi tapi Kang Sian Cian kembali berkelit sambil meng-hunus
pedang untuk membabat tangan musuhnya itu.
Tong Cin Wie perdengarkan tertawa dingin, sambil memutar
tubuhnya. Ia mengelakkan serangan-serangan Kang Sian Cian lalu
kemudian menyerang bahagian kirinya si nona itu. Serangan itu
dilaku-kannya secara luar biasa dan cepat sekali sehingga nona itu
terkejut dan hampir saja ia terkena serangan. Maka buru-buru ia
meiesat kedepan dan pedangnya dipakai untuk menyamber secara
memutar balik.
Tong Cin Wie tidak menduga sama sekali bahwa Lang Sian
Cian dalam keadaan yang berbahaya tapi masih mampu melakukan
serangan pembalasan, malahan serangannya itu demikian cepat
hingga hanya sekejapan saja, ujung pedang sudah mengancam dada
Tong Cin Wie lalu dalam keadaan tergesa-gesa iapun terpaksa
mendekkan tubuhnya, hingga serangan itu lewat diatas kepalanya.
Walaupun begitu Tong Cin Wie mengucurkan keringat dingin juga.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 131
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Dalam penyerangan itu maka mulailah satu sama lain tidak


berani memandang ringan musuhnya lagi. Bagi Kang Sian Cian
sendiri below tahu bahwa serangannya tadi itu hampir saja
menamatkan riwajatnya Tong Cin Wie. Sejak ia turun gunung,
belum pernah menemui tandingan yang setimpal. Serangan Tong
Cin Wie tadi pun hampir saja mencelakakan diri Sian Cian hingga
dalam malu dan gusamya segera balas menyerang secara hebat dan
ganas. Tidak heran serangannya yang tadi itu hampir saja mene-
waskan jiwa si orang she Tong.
Tong Cin Wie karena terkejutnya tidak bisa mengetahui pedang
yang digunakan oleh Kang Sian Cian tadi, buru-buru ia kerahkan
seluruh kepandaiannya untuk melakukan perlawanan.
Ilmu pedang Kang Sian Cian yang ia mendapat dari Kang It
Peng ditambah lagi dengan pelajaran Sun Tay Beng, sudah tentu
bukan ilmu pedang senibarangan. Dengan pedangnya yang lemas
dan istimewa itu membuat dirinya seperti macan yang tumbuh
sayap.
Sekalipun Tong Cin Wie mempunyai kepandaian ilmu silat
yang tinggi sekali tapi harus merasa kewalahan ketika menghadapi
serangan ilmu pedangnya. Ujung pedangnya selalu ditujukan
kepada jalan darah yang berbahaya sehingga membuat Tong Cin
Wie amat terkejut hingga terpaksa ia mengeluarkan ilmu silat Kin-
na-ciu-hoatnya yang terdiri dari tiga puluh enam jurus.
Pertempuran mereka ketika sudah beberapa puluh jurus tiba-
tiba tampak bayangan orang berlari diatas genteng rumah menuju ke
dalam taman dan kawanan penjahat yang mendengar suara
pertempuran juga lantas pada memburu ketempat tersebut.
Kang Sian Cian ketika melihat sekitarnya telah penuh orang
yang masing-masing membawa senjata. Walaupun begitu mereka
tidak berani membantu Tong Cin Wie, nampaknya mereka hanya

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 132
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

menjaga supaya ia nona tidak dapat loloskan diri. Ilmu silat dan
ilmu pedang Kang Sian Cian meskipun telah tinggi tapi ia belum
cukup berpengalaman dan tatkala ia menampak dirinya dikurung
batinya lantas tergerak, pikirnya.
“Aku sedang bertempur disini tapi kalau mereka pencarkan
tenaga mereka untuk menyerbu ke Siang Ke Cun, niscaja jiwa
keluarga Chie akan terancam bahaya besar, meskipun Cin Siok-siok
dan Ong Suheng ada tapi aku kewalahan sebab terdiri dari dua
orang saja, maka kalau pertarungan ini dilanjutkan terus, bagaimana
kalau ada kejadian apa-apa atas diri keluarga Chie?"
Berpikir sampai disitu, terutama kalau memikirkan keselamatan
diri Sin Kiat maka gelisahlah ia. Sebenarnya ia ingin bertempur
dengan Tong Cin Wie, tapi karena pikiran tersebut, ia lantas
berpikir hendak kembali saja ke Siang Ke Cun….!
Karena pikirannya bercabang maka serangan Kong Sian Cian
mulai kendor, hingga Tong Cin Wie mendapat kesempatan untuk
melakukan serangan pembalasan. Dengan demikian Kang Sian Cian
terdesak mundur. Ia coba-coba memperbaiki kedudukannya, tapi
ternyata sudah terlambat.
Karena ia tahu bahwa sudah tidak ada lain jalan selain angkat
kaki maka pada satu kesempatan ia coba-coba melompat keatas
untuk kabur, tapi ia dicegat oleh tiga penjahat.
Melihat itu Kang Sian Cian amat gusar hingga diputar
pedangnya. Senjata ketiga penjahat itu, waktu itu juga terpapas
kutung semuanya. Ia tidak mau berhenti sampai disitu saja tapi
diayun pedangnya. Saat itu pinggang salah seorang dari penjahat itu
putuslah. Hal itu menyebabkan timbul kegaduhan. Disaat mereka
lagi gaduh Kang Sian Cian segera kabur.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 133
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tong Cin Wie yang menyaksikan Kang Sian Cian dalarn tempo
sekejapan telah merubuhkan orangnya secara mudah sekali. dalam
hatinya timbul rasa gusar hingga seketika itu juga ia lantas
keluarkan kepandaian lari pesatnya untuk mengejar.
Kang Sian Cian yang mengetahui dirinya dikejar, hatinya diam-
diam mengeluh: “Kalau aku sendiri terus lari kembali ke Siang Ke
Cun, tentu mereka akan mengejar kesana pula."
Karena ia lagi bingung maka gerakan kakinya agak lambat,
hingga Tong Cin Win cepat berada dekat dibelakangnya. Dalam
kebingungan Kang Sian Cian lantas mengeluarkan tiga batang duri
ikan terbangnya untuk menyerang Tong Cin Wie.
Ketika Tong Cin Wie melihat tangan si nona bergerak iapun
segera mengetahui bahwa anak dara itu akan menggunakan sen-
senjata rahasia.
Tadinya ia masih anggap ringan kepada si nona tapi kini in
harus berhati-hati sebab senjata rahasia nona itu tab bersuara dan
salah sebuahnya telah kena pundaknya walaupun ia telah robohkan
diri. Duri ikan terbang yang lain meluncur terus dengan pesat
mengenai pengikut Tong Cin Wie. Terdengarlah suara jeritan salah
seorang bawahannya waktu itu juga roboh.
Dengan demikian menyebabkan Tong Cin Wie dan orang-
orangnya lantas urungkan pengejaran lalu kembali ke Ie Ciu Wan.
Kang Sian Cian merasa lega ketika melihat rumah keluarga
Chie tak apa-apa. Walaupun begitu hatinya agak kurang enak,
waktu ia melihat Tiong Liong dais Ong Bun Ping menyambutnya
serentak iapun segera memanggil Cin Tiong Liong.
“Cin Siok-siok."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 134
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Kau bocah cilik ini, semakin besar semakin nakal,” Cin Siok
Cin Tiong Liong berkata sambil tertawa, “Siokmu telah kau tipu
mentah-mentah!"
Kong Sian Cian berkata sambil bersenyum aleman:
“Aku pergi ke Ie Ciu Wan untuk menyerepi keadaan penya-Lat
itu. think nyana tank kepergok oleh mereka, setelah bertempur
setengah harian baru bisa meloloskan diri."
Cin Tiong Liong ketika melihat sikapnya merasa puas dalam
hati sebab ia mengetahui bahwa keponakannya itu tidak mengalami
kekalahan.
Ong Bun Ping tahu ilmu silat dan ilmu pedang Sumoynya jauh
lebih tinggi dari dirinya, cuma ia belum mengetahui sampai dimana
tinggi kepandaian sang adik seperguruan itu. On Bun Ping telah
lima belas tahun berguru kepada Sun Tay Beng, senjatanya
sepasang Poan-koan-pit sudahlah ia melatihnya sampai mahir
sekali, orang-orang-orang yang lebih tua tingkatannya dikalangan
Kang-ouw jika menyebut halnya Ong Bun Ping, tidak seorangpun
yang tidak memberi pujian. Banyak diantara mereka yang ingin
menjodokan anak perempuannya kepada anak muda itu tapi selalu
ditolaknya dengan halus. Sun Tay Beng juga adalah seorang yang
beradat polos dan sembarangan. Dalam hal ini sama sekali ia tidak
mau ambil pusing, kalau orang mencarinya dan menyuruhnya
menunjukan kewibawaan supaya Ong Bun Ping menerima lamaran
itu tapi jawabannya yang disertai goyang-goyang tangan selalu
diperdengarkan.
“Aka cuma memberi pelajaran ilmu silat kepada muridku, tidak
mengajari dalam soal perkawinan. Kalian orang-orang tua ini selalu
suka mengurusi urusan anak muda. kalau kalian ingin ambil
menantu padanya, suruh sajalah anak perempuanmu berlutut di-
hadapannya…. !”

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 135
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Karena urusan perkawinan Ong Bun Ping ini saja entab sudah
banyak kawannya Sun Tay Beng yang merasa tidak senang dan
tersinggung karena sikapnya orang yang aneh itu. Seorang
diantaranya yang mempunyai huhungan erat dengannya pernah
meminta Sun Tay Beng menjadi perantara perkawinan antara
puterinya dan Ong Bun Ping, kawannya itu merasa jakin bahwa
permintaannya itu tak ditolak oleh Sun Tay Beng tapi siapa nyana
Sun Tay Beng tetap dengan sikapnya, sehingga kedua sobat itu
hampir saja bentrokan hebat. Kawannya itu karena murkahnya telah
memutuskan hubungannya dengan Sun Tay Beng. hal ini dibagian
belakang kita akan tuturkan lagi.
Meskipun Ong Bun Ping gagah dan tampan, tapi tidak gemar
kepada paras cantik, sekalipun barjak wanita cantik yang tela jatali
hati kepadanya, tapi hatinya tidak tergerak sedikitpun. Hanya
terhadap Kang Sian Cian, yang berkumpul hampir seiap hari dan
malam telah tertarik benar-benar. Waktu itu Kang Sian Ci, baru
berusia lima belas tahun hingga belumlah ia mengerti benar soal
cinta. Apa mau Ong Bun Ping sendiri sifatnya agak tinggi hati,
hingga meskipun ia telah menyinta begitu dalam kepada sang
Sumoy, tapi tidaklah ia mau menyatakan perasaannya itu. Dan Kang
Sian Cian yang agak bersifat binal dan masih kekanak-kanakan, dua
tahun lamanya selalu berguru kepada Sun Tay Bang, setiap kali
belajar silat dengan Ong Ban Ping, selalu si anak muda yang
menjadi pecundang.
Ketika Sun Tay Beng melihat bakat Kang Sian Cian yang luar
biasa itu lagi pula telah mendapat didikan ilmu pedang asli dari
Kang It Peng sahabat karibnya hatinya sangat girang. Maulah ia
jadikan nona itu sehagai satu mustika didalam rimba persilatan,
supaya kawan-kawannya didunia Kang-ouw dapat menyaksikan
kepandaian dan kelihayan murid-murid didikannya.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 136
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tapi tenaga dalam, ilmu pedang dan ilmu meringankan tubuh


dari Kang It Peng, sudah menjagoi didaerah Kang-lam dan Kang-
pak, merupakan soal sulit padanya untuk memberi didikan kepada
nona yang berbakat itu. Setelah Sun Tay Beng mempelajari dalam-
dalam kepandaian ilmu silat yang dipunyai oleh Kang Sian Cian
maka iapun mengambil keputusan untuk menurunkan
kepandaiannya dalam menggunakan senjata rahasianya yang
tunggal, yang ia namai „Duri Ikan Terbang‟ kepada Kang Sian Cian.
Begitu pula pedang lemasnya yang istimewa yang rnembuat
namanya terkenal didunia Kang-ouw telah diberikan kepada nona
itu.
Hanya dalam waktu dua tahun. Kang Siang Cian sudah dapat
melatih senjatanya yang bermutu itu sampai begitu mahir, sampai-
sampai tiga rupa serangan Sun Tay Beng yang paling lihay juga
dipelajarinya dengan baik.
Sun Tay Beng yang menyaksikan kecerdasan muridnya itu
diam-diam juga merasa girang, pada suatu hari ia Kang Sian Cian
lalu berkata kepadanya:
“Senjata duri terbang, ini adalah senjata rahasia yang paling
berbisa didalam dunia Kang-ouw. Kann orang yang mempelajari-
nya itu menyalah-gunakan pelajarannya, akan menerbitkan bencana
yang hebat. Sekarang kepandaian ini aku sudah turunkan kepamu,
tapi kuharap kau jangan sembarangan turunkan kepada lain orang.
Aka cuma memperbolehkan kau menurunkan kepada seorang saja,
agar supaya tidak menerbitkan bencana yang besar. Muridku
banyak tapi hanya kepada engkau kuberikan pelajaran ini."
Pada waktu Kang Sian Cian berraah dengan gurunya, umurnya
sudah tujuh belas tahun yaitu masa mengerti soal asmara, hingga
kalau pada saat itu Ong Bun Ping berani mengutarakan isi hatinya
mungkin Kang Sian Cian akan mernerimanya, namun Ong Bun

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 137
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ping tidak berbuat demikian, ini disebabkan sifatnya yang tinggi


hati dan merasa dirinya sendiri tidak menempil kepandaian si nona,
hingga rasa cintanya yang begitu besar terpaksa ia pendam didalam
hati saja. Tidaklah ditunjukannya pada mukanya dan sikapnya.
Meski Kang Sian Cian merasa Suhengnya adalah seorang yang
baik, tapi karena menampak sikapnya terhadap dirinya sendiri yang
seolah-olah terbatas dengan persababatan antara Suheng dan
Sumoy, dan tidak menunjukkan tanda rasa cintanya, bagi ia sebagai
seorang wanita sudah tentu tidak berani membuka mulut lebih
dahulu untuk menyatakan perasaannya. Setelah ia meninggalkan
Sun Tay Beng yaitu selama dua tahun lamanya melakukan
perbuatan mulia didaerah Kang-lam, sehingga namanya terkenal
sampai mendapat julukan Kang-tang Lie-hiap, tapi toch tidak
melupakan diri Ong Bun Ping.
Siapa nyana ketika ia bertemu Chie Sie Kiat hatinia teiah di-
rubuhkan oleh pemuda yang lemah-lembut itu. Hal ini sudah tentu
tidak diketahui oleh Ong Bun Ping. Dua tahun kemudian setelah
Ong Bun Ping bertemu pula dengan Sumoynya dan ketika ia
menampak sang Surnoy itu ternyata bertambah cantik dun menarik
maka rasa cintanya yang ia pendam sekian lama telah berkobar
pula, tapi ia tetap merasa rendah diri, apalagi nama Kang Sian Cian
sudah began terkenal. Hal ini membuat ia tidak berani buka mulut.
Saat itu ketika ia menampak Kang Sian Cian pulang dari Ie Cin
Wan ia lantas bertanya:
“Sumoy, kepala penjahat dari Utara sudah berada di le Ciu Wan
kenapa engkau berani seorang diri menempuh bahaya? Ilmu silat
Tong Cin Wie tinggi sekali dan sifatnya juga kejam dan gangs."
Ia ucapkan kata-kata itu demikian rupa. seolah-olah hendak
menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap dirinya si nona.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 138
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ketika Kang Sian Cian menyaksikan sikap sang Suliengnya itu


ia agak terperanjat, karena selama dua tahun ia bergaul dengan
Suhen.gnya itu, belum pernah sang Suhengnya menunjukkan sikap
yang demikian terbuka padanya, setelah herpikir sejenak, barulah
menjawab, sambil bersenyum:
“Sin Ciu Tui Hun Tong Cin Wie yang kau maksudkan? Tidak
ada apaapanya yang luar biasa. aku telah bertempur dengan dia
sampai berpuluh jurus tapi belum mendapat keputusan, oleh karena
aku selalu memikirkan keadaan disini, maka aku lantas menerjang
kepungan, akhirnya ada dua penjahat yang terkena senjata
rahasiaku, hingga mereka mengalami sedikit kekalutan."

– ooOoo –

VI.

Dan sekarang kita balik lagi kepada Thay-si Sian-su yang


meninggalkan Ie Ciu Wan untuk pergi menyerepi keadaan Siang Ke
Cun. Dalam tempo tidak lama ia sudah berada diluar kampung
Siang Ke Cun, Thay-si Sian-su berhenti sejenak lalu mulai
memeriksa keadaan tempat itu, selagi hendak masuk kekampung
tapi tiba-tiba dari atas sebatang pohon besar ia mendengar orang
berbicara dengan suara dingin:
“Ilmu lari pesatmu ternyata boleh juga, mengapa sekarang baru
sampai?"
Thay-si Sian-su terperanjat, ia mendongak keatas pohon itu tapi
tidak terdapat orang yang berkata itu, hingga hati-nya bersangsi.
Dengan ketakutan melihat benda yang berada sejarak tiga turnbak,
tapi ia tidak melihat sesuatu sedang pohon itu hanya dua tumbak

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 139
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

jauh darinya dan daun pohon itu sudah ron-tok. Ia heran hal ini
sebab suara itu datang dari pohon itu.
Thay-si Sian-su mengawasi beberapa lama tapi tetap masih
tidak dapat melihat apa-apa. Setelah berpikir sejenak lalu iapun
membentak dengan suara bengis:
“Kau manusia atau setan, lekas tunjukkan dirimu, supaya Hud-
yamu bisa lihat."
Baru saja habis kata-katanya telah terdengar pula suara orang
tadi:
“Kau si kepala gundul yang buta matamu, kau tidak sesalkan
dirimu sendiri yang tidak mempunyai mata, sehingga tidak dapat
lihat orang, sebaliknya mencurigai orang sebagai setan, apakah
semua orang yang berkepandaian tinggi dari Utara, tidak berguna
seperti kau ini? Kalau begitu sebaiknya kau lekas pulang saja
kesarangmu, supaya tidak membikin malu orang didaerah ini."
Selesai ia berkata demikian tampaklah seorang melayang
kebawah, lambat-lambat orang itu menghampiri Thay-si Sian-su.
Thay-si Sian-su mengawasi dengan seksama, ternyata orang
tersebut adalah seorang tua yang berumur kira-kira lima puluh tahun
lebih. Ia mengenakan pakaian panjang berwarna, tangannya
membawa tongkat yang berwarna hitam jengat, tubuhnya pendek,
dibawah janggutnya ada segumpal jenggot yang sudah berwarna
dua, wajahnya kelihatan keren, tapi tersungging sedikit senyuman.
Setelah Thay-si Sian-su mengawasi orang tersebut lalu berkata
dengan suara gusar. “Kau siapa? Apa kau ini Chio Bin Giam Lo?"
Orang tua itu tidak memperdulikan pertanyaannya tapi sambil
tertawa bergelak-gelak berkatalab ia:

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 140
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Kau seorang beribadat, kenapa lekas naik darah? Kalau aku


sebagai Budha, niscaja siang-siang sudah kudepak engkau keluar
dari pintu kuil."
Ketika Thay-si Sian-su menampak sikap orang itu yang
jumawa, serta tidak mau melayani pertanyaannya maka gusamya
pun tambah memuncak lalu kembali membentak dengan suara
sengit:
“Kau jangan berlagak gila dihadapanku, sekalipun kau tidak
mau memberitahukan namamu, aku juga tahu hahwa kau adalah
Chio Bin Giam Lo……!”
Belum habis kata-katanya Thay-si Sian-su, orang tua itu
delikkan matanya sambil tertawa dingin:
“Bagainiana, kau ingin bertanding dengan aku?"
Ketika Thay-si Sian-su melihat sorot mata yang mengeluarkan
sinar tajam itu ia pun mengetahui bahwa ilmu tenaga-dalam orang
tua itu sudah mencapai puncak kesempurnaan, hingga diam-diam
berpikirlah bahwa Chio Bin Giam Lo ini benar-benar bukan cuma
nama kosong saja. Walaupun begitu ia anggap dirinya masih
mempunyai kekuatan untuk menghadapi orang itu maka lantas
berkatalah ia dengan sombongnya:
“Aku sudah lama mendengar bahwa tidak pernah menemui
tandingan waktu kau malang-melintang didaerah Kang-lam selama
sepuluh tahun. Malam ini Lolap mendapat kesempatan untuk
membuka mata, sudah tentu bersedia melayani kehendakinu."
Orang tua itu memang adalah Sun Tay Beng yang bergelar
Chio Bin Giam Lo, maka iapun berkata pula sambil tertawa:
“Kalian orang. yang menjadi Hweeshio, setelah binasa akan ke
Nirvana disebelah Barat, hal ini aku Giam Lo tidak mau tahu, cama

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 141
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

saja kau sekarang sudah memasuki lagi kedunia, itu berarti masuk
jaring sendiri, aku Giam Lo sudah tentu akan menangkap jiwamu.
Aku akan masukkan kau kedalam Neraka sebagai orang-orang jahat
yang lain dan kalau Hudya mencari aku, terpaksa aku akan ajak ia
bikin perhitungan dihadapannya Giok Hiong Thay Tee."
Sehabis berkata demikian ia kembali tertawa besar. Kedua
kakinya menjejak tanah lalu melompat „keatas setinggi dua tumbak.
Ditengah udara ia pentang kedua lengannya dan tatkala ia turun
kembali ia sudah berada ditempat yang jau dari pendeta itu. Ketika
itu ia berseru:
“Hei Hweeshio lekas sedikit, kalau kau lambat, nanti pintu
akherat akan tertutup." Thay-si Sian-su sangat gusar hingga sambil
tertawa dingin ia berkata:
“Sun Tay Beng, kau jangan sombong dulu, aku akan lihat
senjata duri ikan terbanginu yang menggetarkan Kang-lam itu.
Sebetulnya apa lihaynya?"
Sehabis berkata ia juga lantas melompat melesat menerjang
kearah Sun Tay Beng. Sun Tay Beng tertawa kembali bergelak dan
berkata:
“Bagus! Hweeshio, malam ini kita adu lari dahulu."
Sehabis itu ia lantas gerakkan kakinya, dan tubuhnya melesat
laksana anak panah yang terlepas dari busurnya. Thay-si Sian-su
tidak mau mengalah mentah-mentah. Ia segera gerakkan kakinya
untuk mengejar lawannya, hingga dua orang yang namanya sudah
terkenal didunia Kang-ouw itu saling kejar-kejaran diatas salju pada
waktu malam yang gelap itu.
Sun Tay Beng bermaksud hendak berkenalan dengan Thay-si
Sian-su merasa hampir meledak perutnya saking menahan gusar,
tapi apa mau dikata sebab Sun Tay Beng lebih gesit daripadanya.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 142
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Meskipun Hweeshio itu telah mengeluarkan seluruh kepandaian


tapi tidak dapat menyandak.
Pertandingan adu lari itu sebentar saja sudah melalui beberapa
puluh Li, hingga Thay-si Sian-su jadi kalap lalu membentak dan
mengeluarkan kepandaiannya yang terakhir. Badannya yang gemuk
melompat beruntun tiga kali, ketika telah berada dibelakang Chio
Bin Clam Lo maka iapun sodorkan tangannya menyambret pundak
kanan lawannya itu.
Sun Tay Beng cuma sedikit menggerakkan pundaknya lantas
jambretan si Hweeshio itu kena tempat kosong. Oleh karena ia tidak
berhasil maka kemarahannya makin bertambah. Iapun melesatlah
lagi dan menyerang gegernya Sun Tay Beng dengan senjata
rahasianya yang berupa mutiara.
Thay-si Sian-su yang sudah dibikin kalap itu telah bertekad
bulat hendak membinasakan lawannya yang jail itu hingga serangan
dengan tangan dan senjata rahasianya itu dilasncarkan dengan
beruntun dahulu barulah ia membentak dengan suara bengis:
“Orang she Sun, kau sambuti Hudyamu punya Soa-bun-chit-
bong-cu …… !"
Ilmu tenaga-dalam Tay-si Sian-su sudah tinggi sekali hingga
kekuatan dari serangan tersebut amat hebat, meski tenaga dalam
Chio Bin Giam Lo sudah sempurna tapi ia tidak berani menyambut
serangan Hweeshio 'tersebut. Maka buru-burulah ia rebahkan diri
dan menggelinding sejauh lima kaki, hingga tiga butir mutiara itu
lewat melesat melewati bajunya, serangan tangan Hweeshio itupun
mengenai tanah saja hingga salju pecah berarakan.
Sun Tay Beng mulai gusar karena diserang begitu maka setelah
mengelakan serangan Thay-si Sian-su itu iapun segera melakukan
serangan pembalasan tanpa menunggu badannya lompat berdiri.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 143
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Kakinya merabu menyerang lawannya dengan gesit sekali.


Ketika Thay-si Sian-su menappak Sun Tay Beng melakukan
serangannya dengan gesit diam-diam terperanjat, dengan jalan
melompat ke atas ia menghindarkan serangan dari kaki Sun Tay
Beng dan kemudian menenddang jalan darah Thian-leng-hiat dan
Kie-bin-hiat Sun Tay Beng.
Serangan Thay-si Sian-su ini dinamai Siang Liong Cut Tong
atau sepasang naga keluar dari gua. Serangan ini merupakan
serangannya yang istimewa.
Sun Tay Beng buru-buru memutar tubuhnya, ia berputaran
diatas salju untuk mengelakan tendangan Thay-si Sian-su, diam-
diam ia merasa terperanjat juga tapi walau begitu mulutnya masih
bisa berseru:
“Hweeshio, seranganmu kurang sedikit saja."
Sehabis berkata demikian iapun melesat keatas lain mengayun
tangan kirinya untuk menyerang geger belakang si Hweeshio itu.
Tangan kanannya eembabat bagian hawah lawannya.
Serangan yang berbareng ini dilakukannya dengan cepat sangat
tapi Thay-si Sian-su juga bukanlah orang sembarangan hingga ia
masih bisa berkelit.
Sun Tay Beng lantas berkata sambil tertawa:
“Aku tidak nyana bahwa kau si kepala gundul ini mempunyai
kepandaian jang berarti juga."
Berbareng dengan omongannya itu iapun lonyorkan kedua
tangannya, dengan tipu “Ja-ma-hun-cong" atau Kuda Liar membela
suri balik menotok jalan darah kedua dengan Thay-si Sian-su.
Gerakan ini dilakukan secara bagus sekali hingga Thay-su
Sian-su menarik kembali serangannya. Kedua orang itu bertempur

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 144
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

beberapa jurus hingga masing-masing mengerti sampai dimana


kekuatan lawannya. Walaupun Thay-si Sian-su membentak keras
sambil pentang kedua tangannya untuk menyerang tapi Chio Bin
Giam Lo tetap dengan lagaknya yang jenaka, namun dalam hatinya
ia tidak berani pandang ringan lagi si kepala gundul itu.
Sesudah bertempur beberapa jurus lagi Chio Bin Giam Lo
lantas melompat mundur lalu berkata sambil menuding pada Thay
si Sian-su:
“Hweeshio, bertempur secara ini, rasanya kurang menarik,
sebaiknya malam ini kita bertempur tigaratus jurus diatas air telaga,
selagi airnya membeku! Bagaimana pikiranmu?"
Thay-si Sian-su pun segera menyawab dengan gusar:
“Sekalipun digunung golok atau dirimba pedang aku akan
melayani engkau juga."
Sun Tay Beng tertawa besar, lantas memutar tubuhnya lalu lari
menuju telaga. Ia diikuti segera oleh Thay-si Sian-su.
Kedua orang itu sama-sama mahir dalam ilmu lari pesat hingga
sebentar saja mereka sudah berada ditepi telaga.
Tatkala mereka mengawasi air telaga, benar saja telah beku dan
tebalnya semacam lapisan es.
Sun Tay Beng lantas melompat melesat keatas telaga, lalu
menggapai Thay-si Sian-su. Chio Bin Giam Lo sebenarnya suka
menggoda dengati mulut-nya, tapi sekarang ia tidak berani
membuka mulut, karena waktu itu ia mengambang diatas air. Kalau
ia tidak mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sudah cukup
sempurna maka ia tidak mampu berdiri diatas es itu. Ilmu ini
mengandalk,an kekuatan tenaga-dalam dan pernapasan. Meski ilmu

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 145
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sun Tay Beng sudah men-capai kesempurnaan, tapi tidak berani


membuka mulut atau menarik napas diwaktu itu.
Ketika itu Thay-si Sian-su sudah gusar sekali hingga melesat-
lab ia, sebentar saja ia telah berada didepan Chio Bin Giam Lo.
Bila bertempur diatas lapisan es yang tipis itu orang tidak boleh
berlaku gegabah sedikitpun. Sun Tay Beng mengerti bahwa bila ia
menyambuti serangan Thay-si Sian-su secara kekerasan maka ia
akan menghancurkan lapisan es tersebut. Dalam pertempuran itu
orang tidak boleh menggunakan kemahiran dan kecerdikan karena
itu ia lantas meloncat sambil kerahkan tenaga-dalamnya diam-diam
untuk membikin hancur bagian bawah dari lapisan es.
Karena serangan Thay-si Sian-su tadi tidak mendapat sasaran
maka kakinya lantas menginjak lapisan es yang sudah dihancurkan
oleh Chio Bin Giant Lo. Maka dikerahkan tenaga dalamnya sambil
menggunakan ilmu It Hok Cong Thian" atau “Seekor Burung
bangau melesat keudara" lalu naik keatas tapi siapa nyana Sun Tay
Beng setelah mengelakan serangan, badannya yang ditengah udara
lantas memutar balik, dan dengan kedua tangannya iapun
menyerang Thay-si Sian-su.
Gerakan Sun Tay Beng ini benar-benar diluar dugaan Thay-si
Sian-su hingga tatkala ia merasakan serangan angin berada diatas
kepala-nya maka tanpa pikir panjang lagi, ia lantas menyambuti
dengan kekuatan tenaga sepenuhnya. Waktu itu lapisan bawah dari
es yang diinyaknya memang sudah hancur dengan sendirinya tidak
sanggup lagi menyanggah dirinya yang begitu berat, apalagi ketika
itu Sun Tay Beni lagi menyerang dengan hebat, tidak ajal lagi diri
Hwee-shio gemuk itu lantas ambles kebawah.
Thay-si Sian-su lama sekali berdiam didaerah Utara hingga
sama sekali tidak pandai berenang. Ketika ia mengetahui bahwa
badannya akan tenggelam maka hatinya lantas gelisah apalagi

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 146
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

ketika air mulai masuk kedalam mulutnya. Dengan susah-pajah


barulah ia bisa merajap keluar dari runtuhan salju itu tapi waktu itu
Sun Tay Beng sudah melompat ketepi telaga. Disana ia tertawa
besar lalu meninggalkannya dalam keadaan basah kuyup.
Thay-si Sian-su yang dipermainkan demikian rupa hanya bisa
memaki-maki dengan mulutnya saja. Karena keadaannya basah-
kuyup sudah tentu tidak bisa meneruskan perjalanannya ke Siang
Ke Cun. Terpaksa ia kembali ke Ie Ciu Wan secara diam-diam agar
tidak dilihat orang.
Tatkala ia tiba di le Ciu Wan baru saja Kang-tang Lie-hiap
meninggalkan tempat itu sedang penjahat-penjahat lagi melakukan
pemeriksaan diseluruh pelosok.
Karena Thay-si Sian-su takut orang mendahului keadaannya
yang begitu mengenaskan itu terpaksa bersembunyilah ia ditempat
gelap dan setelah para penjahat, pada bubaran baru masuklah ia
kekamarnya dengan diam-diam. Saat itu sudah lewat jam empat
pagi ia merasa tidak enak untuk monemui Tong Cin Wie, maka
iapun segera tidur dipembaringannya.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Tong Cin Wie memasuki
kamar Thay-si Sian-su dan tatkala menampak pakaian Thay-si Sian-
su yang basah tergantung diatas tembok maka diam-diam merasa
terkejut dalam hati. Waktu itu mengertilah ia bahwa si Hweeshio itu
tadi malam telah mengalami kekalahan. Ketika ia menoleh
kepemba-ringan kebetulan waktu itu Thay-si Sian-su sedang turun
dari pem-baringan. Maka sambil mengawasi Tong Cin Wie si
Hweeshio itu pun berkata:
“Tadi malam aku pergi menyerepi Siang Ke Cun tapi ditengah
perjalanan telah berpapasan dengan Chio Bin Giam Lo Sun Tay
Beng. Kami bertempur beberapa puluh jurus lamanya. Ia sudah
menggunakan akal licin memancing aku keatas telaga yang airnya

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 147
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

lagi membeku. Dengan akal muslihatnya ia telah membikin aku


tenggelam kedalam air …..!
Tong Cin Wie kerutkan alisnya lalu berkata:
“Apakah Sun Tay Beng juga sudah datang?"
Thay-si Sian-su menjawab sambil anggukkan kepala:
“Tadi malam meskipun aku terjebak dengan akalnya yang
busuk, sehingga kecebur diair telaga, tapi aku sudah bertempur
beherapa puluh jurus dengannya ternyata Chio Bin Giam Lo itu
tidak segagah seperti apa yang disiarkan oleb orang diluaran, aku
jakin bahwa aku masih mempunyai cukup kepandaian untuk
melayani kepadanya sampai limaratus jurus. Sekarang sudah
kejadian begini rupa hendaknya kita tidak boleh ayal-ayalan lagi.
mungkin mereka masih minta bantuan orang lain pula maka itu kita
harus menggunakan seat ini yaitu selagi bala-bantuan mereka belum
tiba semuanya. Malam ini kita harus segera bergerak untuk
menyerbu mereka."
Tong Cin Wie mengangguk-angguk, diwajahnya menunjukkan
tertawanya yang kejam, lalu berkata:
“Ciu Wan tadi malam telah dibikin onar oleh satu bocah cilik,
duri ikan terbang telah melukai dua orang muridku jadi malam ini
kalau kita tidak unjuk gigi kepada mereka maka mereka akan
anggap bahwa rimba persilatan di Utara tidak ada orang yang
pandai. Ucapan Thay-si Sian-su tadi benar-benar cocok dengan
pikiranku jadi malam ini kita harus bergerak dengan serentak."
Sehabis ia berkata demikian iapun menjura dan meninggalkan
kamar Thay-si Sian-su lalu kemudian memanggil orang-orangnya,
supaya berkumpul diruangan tengah.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 148
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tidak lama kemudian berkumpullah kawanan penjahat dari


Utara itu, dalam ruangan besar, dengan wajah keren Tong Cin Wie
bersama-sama Thay-si Sian-su dan Cian Pi Sin Mo masuk ke
ruangan besar dan dengan matanya yang tajam, Tong Cin Wie
mengawasi orang-orangnya, lalu kemudian duduk diatas kursinya.
Setelah tertawa dingin, Tong Cin Wie lamas berkata sambil
mengawasi Teng Hong.
“Duapuluh tahun berselang Teng-heng sudah terkenal didaerah
Kang-pak. Aku si orang she Tong sebetulnya masih terhitung ting-
katan muda, hingga tidak pastas rasanya kalau memerintahkan
Teng-heng akan tetapi karena Teng-heng sudah datang kesini untuk
memberi bantuan tenaga, maka rasanya kurang tepat kalau aku
masih merasa sungkan lagi. Dan pihak sana tadi malam telah
mengacau disarang kita maka tidak boleh tidak haruslah kita unjuk
gigi kepada mereka. Aku mendengar kata Thay-si Sian-su bahwa
kepandaian" ilmu silat Coa-heng-ciang-hoat dan pian-boat Teng-
heng, digolongan rimba persilatan daerah Utara merupakan ilmu
silat yang istimewa. Malam ini aku ingin Teng-heng keluarkan
sedikit tenaga yaitu membawa serta beherapa kawan untuk
menyerang gedung keluarga Chie dari sebelah kiri. Adapun orang-
orang yang datang kesini. semuanya adalah sahabat karibku, maka
Teng-heng boleh pilih dari mereka menurut kesukaan hatinya."
Tanpa menantikan jawaban Teng Hong, Tong Cin Wie lantas
suruh Oey Ceng Tan dan Ho Kong Hong memilih delapan orang
pandai untuk menyerang gedung keluarga Chie dari sebelah kanan,
dan ia Tong Cin Wie sendiri bersama Thay-si Sian-su, Kim-ling
Siang-koay dan Pek-hoa Nio-cu akan menyerang dari hagian
tengah.
Menurut Tong Cin Wie karena Siang-koay dan Pek-hoa Nio-cu
bukan orang-orang dari Utara. maka dengan mengajak mereka itu

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 149
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

berjalan sama-sama berarti telah menghormati tamunya, tapi


sebetulnya Tong Cin Wie ada mempunyai lain maksud.
Bagi Pek-hoa Nio-cu sudah tentu tidak merupakan soal, karena
setelah ia melihat Tong Cin Wie segera hatinya melupakan diri
Teng Hong. Apamau setelah ia mendengarkan ucapan merendah
dari Tong Cin Wie ia lantas menoleh dan membawa si Teng Hong
sambil bersenyum, mungkin perbuatannya ini tidak disengaja, tapi
siapa kira tertawanya itu telah menimbulkan panas hati Teng Hong
hingga bangkit lalu menjura kepada Tong Cin Wie kemudian
berkata dengan suara dingin:
“Aku mengucap terima kasih bahwa Toako telah memandang
diriku si orang she Teng, cuma saja aku si orang she Teng selama
beberapa puluh tahun berkelana didunia Kang-ouw selalu bergerak
seorang diri saja. Aku telah diajak oleh Thay-si Sian-su, sudah tentu
bersedia untuk memberikan bantuan tenaga kepada Twako tapi
kuminta agar Twako suka menjelaskan urusannya, aku si orang she
Teng akan tetap berpegang dengan kebiasaanku pergi dengan
seorang diri saja. Perkara membawa kawan kurasa perlu jadi tak
usah saja."
Wajah Tong Cin Wie berubah seketika tapi sambil tertawa
dingin lantas berkata: “Kalau demikian hainya, tentu Teng-heng
merasa tidak senang atas perintahku tadi."
Teng Hong menjawab sambil tertawa besar: “Urusan ada
urusan Twako sendiri, aku Teng Hong hanya memandang atas nama
sahabat untuk memberi bantuan kepadamu. Kalau kau katakan
demikian, aku si orang she Teng terpaksa lepas tangan saja."
Setelah berkata demikian iapun segera meninggalkan tempat
duduknya lalu berjalan leluar. Tong Cin Wie menoleh dan
mengawasi Thay-si Sian-su sejenak waktu itu terkilas maksud yang
keji diwajahnya. Maka dengan suara bengis iapun membentak:

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 150
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Orang she Teng berhentilah kau disitu dan tunggu aku!"


Berbareng dengan bentakkan itu melompatlah empat penjahat
lain mencegat Teng Hong. Teng Hong tertawa bergelak lain
berkata:
“Hai anak. kemarin sore, kepandaiamu begitu saja, sangkamu
dapat merintangi Teng Loyamu?"
Sehabis berkata demikian iapun menyerang dengan cepat,
hingga kedua orang diantara empat penghalang tadi sudah dibikin
rubuh dan dua yang lain lagi ketika Teng Hong turun tangan lantas
mereka keluarkan senjata untuk menyerang Teng Hong, tapi dengan
gesit ia melayani kedua penyerang itu dan sebentar saja mereka
rubuh ketanah lalu mati.
Melihat keempat orang itu rubuh lain mati maka Thay-si Sian-
su lantas membentak:
“Teng Hong! Kau sudah gila?"
Iapun mendorong meja lain melesat keluar untuk menghadang
Teng Hong.
Dengan wajah dingin berkatalah Teng Hong kepada Thay-si
Sian-su:
“Kalau bukan ajakanmu si Hweeshio tua aku tak turun gunung
untuk memberi bantuan tenaga, tidak nanti aku si orang she Teng
terhina demikian rupa. Bagaimana, apa kah juga hendak merintangi
aku?"
Thay-si Sian-su juga berubah wajahnya, lain berkata:
“Mengapa kau tidak mengenal sedikit aturan juga? Kalau ada
apa-apa kita toch bisa rundingkan, mengapa meski turun tangan
melukai orang? Dia adalah Twako yang diangkat oleh sahabat-
sahabat dari rimba hijau di daerah Utara, jadi perbuatanmu ini
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 151
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

menyebabkan malu. Kemana ia harus simpan mukanya setelah


engkau menunjuk sikap yang begitu?"
Teng Hong yang sudah menjadi kalap. kembali mendengar
Ucapan Thay-si Sian-su yang membela Tong Cin Wie, tidak api
yang disiram minyak maka dengan suara bengis ia menjawab:
“Tong Cin Wie cuma seorang dari tingkatan muda dari dunia
rimba persilatan, ketika namaku sudah terkenal didaerah Kang-pak
ia masih merupakan satu bocah ……..!”
Beium habis kata-katanya itu kegusaran Thay-si Sian-su
timbullah. sambil tertawa dingin ia berkata:
“Teng Hong kau jangan gila. kalau Tong Cin Wie tidak
Pandang muka Lolap, siang-siang ia sudah membinasakan engkau
dengan jarum Tui-hun-ciamnya. Sangkamu jurus Coa-heng,-ciang-
hoat-mu yang sembilan puluh enam jurus dan Co-heng-pian-hoatmu
bisa meloloskan engkau dari ruangan ini?"
Teng Hong mendelik mengawasi Thay-si Sian-su, hingga
mukanya yang jelek itu kelihatan bertambah jelek lagi. Waktu itu
Thay-si Sian-su mengerti kawannya itu sudah kalap benar-benar
hingga sudah berjaga-jaga takut ia menyerang dengan tiba-tiba.
Saat itu semua kawanan bandit sudah pada berdiri, asal saja
Tong Cin Wie keluarkan perintah maka mereka akan segera
melakukan serangan serentak terhadap Teng Hong, tapi Tong Cin
Wie hanya mengawasi belakang Teng Hong sambil tertawa dingin.
Cian Pi Sin Mo Thin Pak Tao, masih tetap menyender
dikursinya sambil pejamkan matanya. Terhadap suasana yang gawat
ini, seolah-olah ia tidak ambil perhatian sama sekali.
Dengan mendadak Teng Hong menyerang dengan kedua
tangannya kearah Thay-si Sian-su. Serangan mama dilakukan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 152
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

secara mendadak dan dibarengi dengan tenaga yang hebat.


Sekalipun Thay-si Sian-su sudah tinggi kepandaiatinya, tapi tidak
berani menyambuti serangan tersebut. Ia hanya berkelit kesamping
untuk mengelak serangan Teng Hong, kesempatan telah dipakai
oleh Teng Hong untuk melompat keluar.
Pada saat yang kritis itu, tiba-tiba terdengar suara Tong Cin
Wie yang dibarengi dengan tertawa dingin:
.,Rebah!"
Ucapan itu dibarengi dengan gerakan tangan kanannya dais saat
itu sebuah benda halus melesat dari tangannya. Berbareng dengan
itu lantas terdengar suara menggeramnya Teng Hong, kemudian
jatuh ngusruklah ia ditanah.
Tong Cin Wie benci sekali kepada Teng Hong yang jumawa.
Tatkala jarum Tui-hun-ciam itu menyerang dan mengenai jalan
darah. Teng Hong cuma merasakan jalan darah Hong-his-hiat dan
Kie-kut-hiatnya kesemutan, kekuatan tenaganya lantas lenyap
seketika, maka orangnya lantas rubuh, ia segera mengerti sudah
terkena serangan senjata beracun Tong Cin Wie, tatkala ia
menengok dan melihat Tong Cin Wie menghampiri, tiba-tiba
ingatlah ia senjata rahasia. Tui-hun-ciam itu maka dalam hati lantas
bercekat, hingga kesombongannya lenyap sama sekali. Sambil
pejamkan matanya ia terns rebah.
Tong Cin Wie segera mendekati Teng Hong sambil tertawa
dingin iapun berkata:
“Teng-heng tidak berniat membantu Siauw-tee, sudah tentu
Siauw-tee tidak akan memaksa, karena memandang mukanya Thay-
si Toheng, silahkan Teng-heng ambil jalan sendiri."
Ia berkata demikian sambil berjongkok untuk mencabut jarum
yang menancap pada kedua jalan darah ditubuh Teng Hong.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 153
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Jarum itu cuma lebih besar sedikit dari jarum biasa, karena
direndam dalam racun hingga warnanya biru berkilauan.
Setelah Tong Cin Wie menyimpan kembali jarumnya, lalu dari
sakunya mengeluarkan dua butir obat pil yang ia serahkan kepada
Teng Hong seraja berkata:
“Lekas kau telan dua pil pemunah racun sebab kalau terlambat
sedikit lagi maka racunnya akan masuk kedalam ulu hati dan
jantungmu dan kalau sudah demikian sukar tertolong lagi."
Teng Hong menyambuti obat tersebut, lalu ditelannya dan
kemudian dengan perlahan iapun bangkit dan ketika ia melihat
kekiri dan kekanan ternyata semua mata ditujukan kepadanya,
terutama Pek-hoa Nio-cu yang memandang padanya seolah
mengandung penuh perhatian dan belas kasihan.
Perempuan itu bukannya memperhatikan jiwa si orang she
Teng itu, akan tetapi memikirkan pelajaran ilmu Coa-heng-ciang-
hoat dan Coa-heng-pian-hoat yang masih belum selesai, kalau Teng
Hong berlalu sudah tentu tidak ada orang yang akan mengajarkan-
nya lagi. Akan tetapi karena perbuatannya itu yaitu melihat
semacam itu telah mengakibatkan Teng Hong mati.
Perbuatan Tong Cin Wie yang mengeluarkan jarumnya dari
tubuh Teng Hong serta memberi obat pemunah padanya, sebetulnya
bukan atas kemauannya sendiri tetapi untuk menjaga perhubungan
baik dengan Thay-si Sian-su, lagi pula dibawah mata orang banyak
seharusnya ia tidak boleh berbuat keterlaluan begitu juga supaya
tidak mengecewakan hati orang-orang yang berada disitu.
Setelah Teng Hong menelan obat ia melihat kawanan penjahat
pada mengawasi dirinya, waktu itu timbullah perasaan yang main
dan gusar hingga dengan perlahan ia memutar balik dirinya secara

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 154
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

diam-diam ia kerahkan seluruh tenaganya lalu dengan cepat


menyerang Tong Cin Wie dengan kedua tangannya.
Gerakan yang secara mendadak ini telah dilakukan diluar
dugaan semua orang, hingga membuat para penjahat pada
terperanjat. Sampaipun Thay-si Sian-su sendiri juga menjerit karena
terkejut sebab ia tahu benar kekuatan si orang she Teng itu dan ia
tahu serangan yang tiba-tiba itu akan melukai dirinya Tong Cin
Wie.
Tong Cin Wie siang-siang sudah berjaga, karena ia adalah
seotang yang licin hingga dalam segala hal ia selalu menjaga-jaga
serangan gelap dari pihak lawannya. Tatkala in melihat Teng Hong
melakukan serangan secara tiba-tiba dan justeru itu yang ia
inginkan, maka iapun berseru:
“Kau cari mampus?" Ia bertanya begitu seraya memutar
tubuhnya untuk menghindarkan serangan Teng Hong. Selain itu ia
lantas ayun tangan kanannya lalu menyerang batok kepala Teng
Hong.
Teng Hong yang belum sembuh dari lukanya itu sudah tentu
gerakannya agak tidak leluasa tambahan lagi Tong Cin Wie yang
sudah siap sedia, maka tatkala serangan Teng Hong belum
mengenai sasarannya sudah didahului oleh serangan Tong Cin Wie.
Semua ini telah terjadi dalam waktu sekejap mata, hingga Teng
Hong tidak keburu berkelit. Maka batok kepalanya waktu itu
remuklah, tubuhnya rubuh untuk tidak bangun lagi. Otaknya hancur
dan berdarah.
Thay-si Sian-su tidak menyesal sedikit juga ketika ia
menampak Teng Hong binasa ditangan Tong Cin Wie. Ia hanya
menarik napas sambil menggelengkan kepala lalu kembali
keruangan tengah.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 155
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tong Cin Wie berlagak minta maaf atas perbuatannya kepada


Thay-si Sian-su sudah itu duduklah kembali diatas korsinya.
Berhubung Teng Hong telah mati maka Tong Cin Wie lantas
perintahkan Hoan Kong Hong Ceng Tan menggantikan kedudukan
Teng Hong yang bertugas melakukan serangan dari sajap kanan dan
kiri.

– ooOoo –

VII.

Kita balik lagi kepada Pek-hoa Nio-cu. setelah ia kembali


kekamarnya dipikirinya semua perbuatannya dan apa yang
dialaminya selama berada di Ie Ciu Wan ini dan dari diri Kim Ling
Siang-khoay, lalu kepada Jan San Ji-kui dan kemudian kepada Teng
Hong dan Oey Ceng Tan.
Yang paling dikasihaninya adalah Teng Hong, ia curna
berdekat-dekatan, sedikitpun belum pernah menerima apa-apa dari
dirinya tapi sudah mati secara mengenaskan ditangan Tong Cin
Wie. Tentang ilmu silat Coa-heng-ciang-hoat dan Pian-hoat yang
diajarkan kepadanya, sebetulnya terbit dari hati yang sejujurnya,
mengingat sampai disini, tanpa terasa ia telah menghela napas.
Ia telah mengerti maksud Tong Cin Wie membunuh Teng Hong
itu. Bila dilihat dari luar ialah disebabkan karena sikap Teng Hong
yang jumawa dan tidak mendengar perintah, tapi sebab-sebab yang
sebenarnya ialah karena dirinya.
Pek Hoa Nio-cu sebagai seorang yang banyak pengalaman
dalam asmara, berhati kejam dan cerdik, kekejaman dan
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 156
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

kecerdikan-nya tidak kalah dari Tong Cin Wie. Terhadap Teng


Hong bukan saja ia tidak cinta, malahan merasa jemu. Tong Cin
Wie membinasakan Teng Hong sudah tentu tidak menimbulkan rasa
kasihannya.
a hanya merasa bergidik terhadap perbuatan Tong Cin Wie
yang kejam. Twako dari golongan rimba hijau di Utara itu, benar-
benar lain daripada yang lain jadi dikemudian apabila ia membuat
perhubungan dengan Toako itu sudah tentu akan merupakan seekor
burung yang terkurung di-dalam sangkar yang hanya manda
dijadikan barang permainan si orang she Tong itu. Mengingat
sampai disini maka rupa-rupa pikiran telah timbul didalam hatinya,
hingga ia memandang bayangannya didalam kaca itu dengan
perasaan mendelu
Orang didalam kaca itu memang cantik, akan tetapi wajahnya
muram dan hatinya risau. Ia meraba-raba parasnya sendiri, hingga
didalam kaca itu tambah satu bayangan tangan yang putih meletak.
Satu perasaan yang belum pernah ada telah timbul didalam
hatinya Pek Hoa Nio-cu secara mendadak pada waktu itu dan
karena ia tak dapat menguasai dirinya sandiri maka air matanya
keluar dari kelopak matanya.
Berkatalah ia seorang diri, “Ah. Pek Hiang Lui …… Pek Hang
Lui …... perhuatanmu yaitu mempermainkan orang selama
beberapa tahun entah berapa banyak orang-orang gagah yang kau
buat mainan dan jatuh dihawah kakimu, tapi yang kau cintai benar-
benar ada berapa? Dan siapa itu yang benar-benar yang menyintai
kau? Apakah paras yang elok yang diberikan kepadarnu oleh Tuhan
kau jadikan mainan demikian mudah?"
Tiba-tiba ia insjaf dari segala perbuatannya. Perbuatan-
perbuatan yang tidak pastas dirnasa yang lampau, pada saat itu
segala perbuatannya yang telah lalu terbayang lagi didalam

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 157
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

ingatannya, mengingat akan semua ini tanpa dapat menguasai


dirinya lagi terus iapun menangis tersedu-sedu.
Tiba-tiba terdengar dari belakang suara orang yang taruh penuh
perhatian kepada dirinya, katanya: “Nona Pek apa yang kau lagi
tangisi? Apakah karena Toako membinasakan diri Teng Hong
hingga melukai hatimu?"
Pek Hoa Nio-cu menoleh dengan perlahan sambil mengangkat
kepalanya dan dilihatnya orang itu adalah Oey Ceng Tan. Dalam
hatinya lantas timbul suatu perasaan benci yang tidak terhingga,
maka dijawabnya dengan suara hambar:
“Hatiku tidak enak, sebab itu lekaslah kau keluar, jangan
mengganggu aku lagi disini!"
Oey Ceng Tan terkejut, lama ia membungkam. Melihat sikap
Pek-hoa Nio-cu yang sangat berlainan dengan biasanya itu, hatinya
merasa bercekat maka ia pun keluar dengan segera dari kamar itu.
Setelah Oey Ceng Tan berlalu kembali lagi ia merasakan
kekosongan didalam hatinya, ia berdiri melongo sejenak dan tiba-
tiba terbayang diotaknya bayangannya seorang pemuda yang tegap,
gagah dan tampan.
Sejak ia bertemu dengan Ong Bun Ping maka selalu terbayang
wajah anak muda itu diotaknya dan setelah ia menginsjafi segala
perbuatannya yang keliru dimasa yang silam maka sifat baik yang
tersembunyi didalam sanubarinya mulai memainkan peranan diatas
dirinya.
Ia merasa segala perlmatannya yang sudah lain, tidak ada sate
yang paint dipuji. Sejak perasaan itu telah timbul maka hati
cabulnya seketika itu juga telah tersapu bersih dan bayangan Ong
Bun Ping yang tegap tampan telah bersarang didalam hatinya

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 158
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

hingga menimbulkan rasa cintanya yang sebenarnya beim pernah


ia- rasakan dimasa yang lampau.
Tiba-tiba ia memutar tubuhnya lalu dengan tergesa-gesa ia
membereskan pakaiannya, sudah itu mengambil pedangnya dan
dengan diam-diam berlaln dari Ie Ciu Wan terus kabur ke Siang Ke
Cun.
Karena jarak antara Siang Ke Cun dan Ie Ciu Wan cuma
beberapa puluh lie, maka tidak sampai setengah jam ia sudah tiba di
Siang Ke Cun karena ia kabur dengan ihnu lari pesatnya yang sudah
sempurna.
Tiba disana ia langsung kekamar Chie-clat-su. Tiba didepan
pintu, berdirilah, ia disana agak lama. Ia tidak berani mengetok
pintu. Entah berapa lama ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba pintu
hitam itu terbuka dan seorang tua yang agaknya seperti pelayan
rumah tangga menegur padanya:
“Nona cari siapa?"
Pek-hoa Nio-cu sebenarnya ingin mencari Ong Bun Ping, untuk
Memberitahukan padanya tentang keputusan Tong Cin Wie yang
hendak melakukan serangan besar-besaran ke Siang Ke Cun pada
malam itu supaya dipihak Ong Bun Ping bisa siap sedia.
Kini setelah ditegur oleh si pelayan tua itu ia telah menjadi
kemekmek,. lama sekali baru bisa menjawab:
“Aku hendak ketemu dengan Chie Tayjin."
Pelayan tua itu mengawasi diri Pek-hoa Nio-cu, lantas berkata
sambil meng-anggulekan kepalanya:
“Silahkan Nona tunggu dikamar tetamu, nanti aka beritahukan
kepada tuan rurnah."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 159
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Pelayan tua ini merasakan keadaan yang berlainan sejak ma-


jikannya pulang. Usianya yang sudah tua kadang-kadang diwaktu
malam tidak bisa tidur nyenyak sebab melihat Nona Sian yang
setiap malam meronda disekitar rumah dan diatas genteng. Sudah
beberapa kali ia pernah melihat dan meskipun merasa heran didalam
hati, tapi ia tidak berani bertanya.
Tadi pagi keluarga Chie ini didatangi lagi beberapa orang
tetamu yang pada membawa golok dan pedang, sikap sang majikan
demikian menghormati dan ramah tamah kepada tetamu itu dan
rupanya tamu-tamu itu bukan orang sembarangan sebab itu tatkala
Pek-hoa Nio-cu datang, dilihatnya saja dengan sorot mata yang
mengandung heran tapi dalam hatinya tidak timbul perasaan
terkejut.
Tidak beberapa lama pelayan tua itu kembali lagi hersama
seorang pemuda tegap. Tatkala Pek-hoa Nio-cu melihat pemuda itu
hatinya seolah-olah melompat keluar, pemuda itu ternyata adalah
Ong Bun Ping.
Ketika Ong Bun Ping melihat Pek-hoa Nio-cu agak terkejut lalu
dengan perasaan heran ia bertanya:
“Perlu apa saudari datang kemari? Apakah ingin melakukan
seragan secara terang-terangan?"
Pek-hoa Nio-cu menjawab sambil gelengkan kepalanya: “Aku
hendak beritahukan hal yang penting kepada kalian. Kiranya engkau
jangan perlakukan aku begitu galak, bolehkah?"
Ong Bun Ping ketika menampak sikap dan pembicaraan Pek-
hoa Nio-cu yang sungguh-sungguh tidak seperti keadaannya waktu
pertama kali ia bertemu, yaitu matanya mengerling, maka separuh
dari rasa mendongkolnya lenyap lalu kembali ia bertanya:
“Ada urusan apa? Katakanlah, aku akan mendengarkan."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 160
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Pek-hoa Nio-cu ketika melihat sikap Ong Bun Ping yang dingin
maka hatinya merasa pilu hingga mengeluarkan air mata. Sambil
sesenggukkan iapun menjawab:
“Untuk memberitahukan urusan ini kepadamu, aku telah
menempuh bahaya dan tidak memperhitungkan jiwaku sendiri, aku
telah keluar secara sembunyi dari Ie Ciu Wan tapi mengapa kau
perlakukan aku begini sampai secawan teh pun tidak kau suguhkan,
apalagi perkataan yang agak merendah."
Ong Bun Ping seketika itu juga lantas kemekmek, lama barulah
ia bisa menjawab:
“Kau katakan dulu, sebetulnya urusan apa itu dan kalau benar-
benar penting, dan ada hubungannya dengan kami, sudah tentu aku
si orang she Ong akan sambut kedatanganmu ini secara hormat.
Kedudukanku dengan nona berlawanan, sudah tentu sedikit banyak
terpengaruli oleh rasa permusuhan, paling baik, hendaknya nona
jelaskan maksud kedatangan nona ini supaya aku tidak keterlepasan
omong ……”
Pek-hoa Nio-cu lantas memotong. “Ucapanmu memang benar
tapi kami tidak akan bermusuhan pula dengan engkau tapi
sebaliknya yaitu mau membantu pihakmu, dan kau ini akan
pandang ,aku sebagai lawan atau kawan?"
Ong Bun Ping berpikir sejenak lalu menjawab:
“Kalau benar-benar kau membantu pihak kami, sudah tentu aku
akan perlakukan nona sebagai kawan."
Pek-hoa Nio-cu berkata lagi sambil tersenyum:
“Jangan memakai segala istilah “kami" karena aku hanya
bertanya kepada engkau."
Ong Bun Ping berkata dengan sungguh-sungguh:

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 161
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Didalam dunia rimba persilatan sebetulnya tidak terlalu


pandang tinggi tentang segala adat istiadat duniawi, tentang
pergaulan lelaki dan perempuan juga tidak dibatasi oleh segala
peraturan-peraturan yang keras, apa yang kita utamakan ialah
kepercayaan dan kejahatan, kalau nona benar-benar membantu
pihak kami sudah tentu aku Ong Bun Ping akan perlakukan nona
seperti kawan."
Ia berkata demikian sambil menatap wajah Pek-hoa Nio-cu
dengan tajam.
Pek-hoa Nio-cu merasakan pandangan pemuda she Ong itu
amat tajam, entah apa sebabnya ia tidak berani balas memandang
wajah Ong Bun Ping. Baru-buru ia pejamkan kedua matanya.
Mung-kin karena ia memikirkan segala perbuatannya yang
cabul dirnasa yang lampau, hingga dirinya yang sudah kotor itu
tidak ada harga untuk menjadi kawan pemuda yang cakap itu.
Pek-hoa Nio-cu membuka mata sambil menghela napas
perlahan sudah itu ia berkata:
“Tong Cin Wie sudah mengambil keputusan agar malam ini
menyapu bersih Siang Ke Cun dengan orang-orangnya yang banyak
itu.”
Ong Bun Ping terkejut lain bertanya: “Benarkah omonganmu
ini?"
Pek-hoa Nio-cu menjawab sambil tertawa getir:
“Dengan menempuh bahaya secara sembunyi aku telah lari
kemari untuk menyampaikan kabar ini, perlu apa harus kubohongi
engkau?"
Ketika Ong Bun Ping menampak sikap dan kata-katanya, telah
menduga bahwa berita yang dibawa oleh nona ini adalah benar

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 162
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

adanya maka dengan sorot mata yang penuh rasa terima kasih si
pemuda memandang Pek-hoa Nio-cu sekilas, lalu menyahut:
“Atas berita mengejutkan yang nona sampaikan aku Ong Ban
Ping merasa sangat berterima kasih, silahkan nona masuk sebentar
untuk minum teh ……!”
Belum habis kata-katanya Ong Bun Ping itu Pek-hoa Nio-cu
sudah tersenyum, suatu senyuman yang mengandung entah rasa
getir atau rasa manis, ia tersenyum sambari memotong ucapan Ong
Bun Ping, katanya:
“Terima kasih, aku masih perlu segera kembali untuk keadaan,
mungkin mereka telah menduga aku datang kemari, karena
ketiadaanku disana. Dan bila mereka ketahui aku disini otomatis
rencana mereka itu akan berubah ……”
Sampai saat itu didalam hati wanita itu telah timbul dua rupa
perasaan yang saling bertentangan, satu adalah rasa cinta yang
wajar sebagai manusia dan satu lagi adalah rasa benci yang terjadi
oleh karena keadaan, ia cinta kepada pemuda yang berdiri didepan
itu adalah satu perasaan yang dulu belum pernah dialaminya.
Waktu itu ia benci segala perbuatannya sendiri yang sudah lain
itu hingga ia merasa dirinya tidak ada itu harga untuk berdampingan
dengan pemuda yang dikasihinya itu.
Dua perasaan yang sating bertentangan itu, membuat ia merasa.
duka dan rendah diri, meski sepatah kata saja yang merendah dari
Ong Bun Ping namun ditelinganya seolah-olah sangat tajam seperti
menusuk keulu hati, maka ia tidak mau berdiam lebih lama,
berbareng dengau itu ia juga bersedia hendak korbankan segala
tenaganya untuk membuat Ong Bun Ping.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 163
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Pek-hoa Nio-cu ketika nampak Ong Bun Ping sangat pemaluan,


hingga ia tidak banyak mengucapkan kata-kata yang manis ia hanya
bisa mengelah napas dan berkata:
“Kalian juga harus bersiap sedia, sekarang aku hendak pergi."
Meskipun mulutnya berkata hendak pergi. namun sepasang
kakinya masih belum mau bergerak, matanya masih tetap
memandang wajah si pemuda agaknya ia hendak membuka mulut
lagi tapi selalu tidak bisa dikeluarkan perkataan yang diinginkan
karena itu ia hanya memandang, sehingga air matanya bercucuran.
Sambil kertak gigi ia lantas menuitar tubuh untuk berlalu.
Waktu Pek-hoa Nio-cu berlalu berdirilah Ong Bun Ping
ditempat itu beberapa lamanya. Sebetulnya pada waktu pertarna kali
ia bertemu dengan Pek-hoa Nio-cu dan melihat lagak yang genit
hatinya agak jemu, tapi malam ini keadaannya sangat berlainan.
Perubahan ini ia tak tahu karena apa, sampai bayangan Pek-hoa
Nio-cu lenyap dari pemandangannya barulah ia ingat bahwa berita
harus segera diberitahukan kepada Suhunya. Maka ia lantas pergi
keruangan dalam, disitu sudah ada duduk Cio Bin Giam Lo Sun Tay
Beng, Chie Ciat-su, Cin Tiong Liong dan Kang Sian Cian.
Begitu Ong Bun Ping muncul maka bertanyalah Sun Tay Beng:
“Siapa itu yang diluar?"
Ong Bun Ping segera memberitahu maksud kedatangan Pek-
hoa Nio-cu itu, Sun Tay Beng merasa keadaan gawat ketika
mendengar berita itu. Maka dikerutkan alisnya lalu berkata:
“Tidak perdnii berita yang dibawa orang tali benar atati
bohong, sebaiknya kita harus bersiap sedia, sekarang ini tenaga kita
masih belum cukup, sebab lawas berjumlah banyak orang tapi kita
sedikit, sudah tentu sukar untuk melawan keras dengan keras. Kita

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 164
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

harus lawan dengan akal, sambil menanti bala-bantuan yang


dirninta oleh Yayanya Sian-ji, lalu kita gempur sekaligus, supaya
kita bisa bikin beres soal ini jangan sampai meninggalkan ekor
untuk kernudian hari."
Sun Tay Beng berpikir pula sejenak lalu menyambung lagi
perkataannya:
“Meskipun jumlah kawanan penjahat itu tidak sedikit. tapi
cuma beberapa gelintir saja yang ditakuti, yang paling jahat adalah
si Tua Bangka Cian-pi-sin-mo, kalau Yayanya Sian-ji tidak datang,
barangkali tidak ada seorangpun yang benar-benar mampu
melayaninya. Menurut keadaan pada dewasa ini, yang paling baik
bagi kita adalah menyingkirkan rasa kekuatiran kita baru kita bisa
menghadapi musuh dengan perasaan lega."
Cin Tiong Liong mengerti maksud Sun Tay Beng, yaitu
menghendaki supaya keluarga Chie Ciat-su menyingkir untuk
sementara, agar tidak usah memikirkan cara melindunginya, tapi
soalnya sekarang ialah kemana keluarga Chie itu harus
diungsikannya? Di rumah berbahaya, keluar demikian pula, oleh
karena sekarang ini dipihak sendiri hanya ada empat orang, tenaga
kurang, sudah tentu tidak dapat membagi pula tenaganya untuk
bertugas melindungi mereka.
Orang she Cin berpikir demikian, Kang Sian Cian demikian
juga, Ong Bun Ping juga memikirkan soal itu, hingga sesaat itu
tidak seorang pun yang mampu memecahkan soal yang sulit itu.
Keadaan dalam ruangan itu pada saat itu sunyi senyap.
Tiba-tiba Chie Ciat-su memecahkan kesunyian itu. Ia berkata
dengan suara nyaring: “Tuan-tuan tidak usah capaikan hati untuk
keselamatan kita serumah tangga. Mati hidup seseorang, sudah ada
garisnya sendiri-sendiri, kita orang yang seolah-olah baru keluar

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 165
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

dari bahaya, terhadap hal ini sama sekali tidak pernah kita
pikirkan."
Kira-kiranya Ciat-su itu seolah-olah pedang yang tajam
menusuk hati Sun Tay Beng dan kawan-kawannya, karena mereka
seliagai orang-orang yang sudah ternama dirimba persilatan, masa
tidak mampu melindungi jiwa keluarga Chie.
Sun Tay Beng lantas angkat kepala dan tertawa bergelak-gelak,
kemudian ia berkata:
“Sun Tay Beng hampir seumur hidup berkelana didunia Kang-
ouw juga sudah mengalami banyak kejadian hebat, aku tidak
percaya dengan hanya kekuatan Tong Cin Wie saja, bisa
menyulitkan aku. Sian-jie, kan masih mempunyai berapa duri „ikan
terbang'? Kalau tidak cukup, suruhlah Ong Suhengmu membuatnya
segera. Sekarang juga harus dikerjakan dan harus selesaikan
sebelum menyelang jam dua pagi. Orang kita cuma sedikit mungkin
terpaksa kita cuma menggunakan duri „ikan terbang‟ ini untuk
melayani segala kurcaci dari Utara."
Ong Bun Ping terkejut ketika mendengar perkataan sang Suhu-
nya itu tapi ia mengerti hahwa Suhunya itu telah gusar karena
mendengar ucapan Chie Ciat-su tadi, hingga tanpa menghiraukan
perbuatan yang melanggar pantangan membunuh dan hendak
menggunakan senjata rahasia 'duri ikan terbang'nya yang telah
menggetarkan dunia Kang-ouw untuk menyambut musuh-
musuhnya.
Ia telah mendengar bahwa gurunya mempunyai semacam ilmu
serangan senjata rahasia yang paling lihay yang bernama 'Boan-
thian-hoa-ie' atau Hujan Kembang dari atas Langit dan ia
mendengar Suhunya bisa menggunakan banyak senjata rahasia yang
dilancarkan sekaligus, hingga orang sukar sekali untuk menjaganya.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 166
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ong Bug Ping sudah lama mengikuti gurunya tapi ia baru


mendengar lihaynya ilmu serangan itu. Ia belum pernah
menyaksikan dengan matanya tapi kini setelah mendengar ucapan
Suhunya itu ia lantas tabu bahwa Suhunya hendak menggunakan
senjatanya yang istimewa itu untuk menghadapi musuh-musuhnya,
diam-diam ia menghela napas. Wahtupun begitu ia merasa girang
juga karena dapat menyaksikan kepandaian istimewa dari Suhunya.
Dalam hati ia me-mikir demikian, tapi matanya ditujukan kewajah
Kang Sian Cian.
Kang Sian Cian juga mengerti maksud Sun Tay Beng yang
hendak menggunakan senjata rahasia istimewa untuk menghadapi
musuh-musuhnya hingga lantas berkata seraja ia bersenyum:
“Yang heracun tidak banyak, tapi yang tidak beracun masih ada
sekantong, kira-kira seratus batang lebih."
Sun Tay Beng berkata sambil gelengkan kepala: “Tidak cukup,
lekas keluarkan sebatang dan serahkan kepada Ong Suhengniu agar
ia membuat yang baru."
Kang Sian Cian segera mengambil sebatang 'duri ikan terbang'
sebagai contoh lalu diserahkannya kepada Ong Bun Ping.
Belem lama Ong Bun Ping berlalu, pelayan tea Chie Lok telah
mengantar seorang tua bersama seorang wanita muda yang herusia
kira-kira dua puluh tiga tahun yang berparas cantik.
Tamu itu adalah sahabat karib Sun Tay Beng, yang menjadi
guru silat di Bu Kong San yang hernama Koo Hong dan yang
mempunyai julukan Siang-ciang-tin-kang-see, atau sepasang tangan
mengamankan daerah Kang-see. Dan itu wanita muda adalah puteri-
nya sendiri yang bernama Koo Jie Lan.
Karena Koo Hong kawan lama Sun Tay Beng maka ia telah
mengajak puterinya yang cuma satu-satunya itu untuk datang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 167
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

memberi selamat hari ulang tahun Sun lay Beng yang ke Enam
Puluh tapi tidak nyana kedatangan Koo Jie Lan ini telah bertemu
dengan Ong Bun Ping yang kemudian membuat riwajat hidupnya.
Hal ini akan dilihat dalam lanjutannya cerita ini.
Kala itu Kan. Sian Cian baru saja berguru kepada Sun Tay
Beng, didalam hati Ong Bun Ping cuma Sumoy kecil itu yang ada
hingga meski Koo Jie Lan berlaku baik padanya tapi ia tidak ambil
perhatian sikapnya tetap dingin terhadap Koo Jie Lan.
Koo Hong sebetulnya cuma ingin tinggal berapa hari saja di
rumah Sun Hong Beng tapi tidak nyana Jie Lan menggerecoki
ayahnya dan minta sang ayah tinggal lebih lama disitu. Koo Hong
yang telah lanjut usianya itu dan mati oleh isterinya selagi masih
muda dengan sendirinya ia seralu mernanyakan anaknya yang
seorang saja itu.
Tidak pernah ia menolak permintaan anaknya itu untuk tinggal
disitu beberapa lama lagi. Jie Lan berdiam dirumah Sun Tay Beng
hampir satu bulan lamanya, tapi sikap Ong Bun Ping tetap dingin,
karena sikap yang dingin ini Koo Jie Lan telah pulang dengan
perasaan duka.
Si nona yang sudah tergila-gila kepada Ong Bun Ping ketika
tiba dirumah, pikirannya kusut, parasnya layu dan tidak lama
kemudian lantas jatuh sakit.
Sakitnya Jie Lan telah mengejutkan ayahnya hingga ia
menanya berulang-ulang barulah Jie Lan mengatakan sebab-
sebabnya. Ia hanya mengatakan bahwa Ong Bun Ping tidak suka
bermain dengannya.
Sang ayah yang mendengar keterangan itu, betapapun dogolnya
segera mengerti maksud anaknya lalu segera berkata sambil ter-
tawa :

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 168
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Ini bukan urusan besar hendaknya engkau menjaga diri baik-


baik aku akan rnencari Suhu untuk berunding. Suhunya tak akan
menolak dan kemauan Suhunya ia tak berani bantah.
Jie Lan meski mengerti bahwa cara ini agak kurang namun
tidak ada lain jalan baginya yang lebih baik, maka terpaksa ia tidak
menjawab.
Bagi anak perempuan, tidak menjawab itu berarti setuju, Koo
Hong yang sangat cinta pada puterinya, tiga hari kemudian lantas
meninggalkan rumah pergi mencari Sun Tay Beng. Ketika Koo
Hong tiba dirumah Sun Tay Beng, dengan terus terang menyatakan
maksud kedatangannya, ia mau supaya Sun Tay Beng tunjukkan
kewibawaan kepada Ong Bun Ping supaya Ong Bun Ping menerima
baik perkawinannya dengan Jie Lan tapi tidak nyana si orang she
Bun itu menjawab:
“Guru cuma mengajarkan ilmu silat kepada muridnya,
bagaimana aku bisa memikirkan soul jodoh? Kau Si Tua Bangka
perlu apa mesti merecoki soal anak, mungkin dalam hal ini mereka
lebih pandai daripada kita."
Maksud Koo Hong ingin supaya Sun Tay Beng suka
memandang persahabatan mereka yang sudah berjalan berpuluh-
puluh tahun lamanya itu dalam pikirannya, kalau ia buka mulut
sudah tentu mendapat persetujuan Sun Tay Beng, lagi pula Jie Lan
juga cukup cantik parasnya tapi tidak nyana sama sekali kalau Sun
Tay Beng tidak mau mengurus persoalan itu.
Dalam murka ia lantas menggebrak meja. Memaki-maki Sun
Tay Beng tidak memandang mata pada sahabat karibnya. Si orang
she Sun cuma tertawa sambil geleng kepada, hingga membuat Koo
Hong bertambah murka, ia pecahkan semua perabot rumah tangga
Sun Tay Beng, dan selanjutnya persahabatan mereka putus.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 169
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Setelah Koo Hong kembali kerumahnya japan menasehati


anak-nya, katanya:
“Ong Bun Ping tidak bermaksud terhadap dirimu, perlu apa kau
pikirkan dia saja? Dalam dunia ini toh masih banyak pemuda yang
cakap, dengan mengandal nama dan pengaruhku serta parasmu yang
seperti bunga botan, pasti jodoh itu akan datang dengan sendirinya.”
Meski Koo Hong banyak beri nasehat sampai mulutnya
berbusa, tapi sedikitpun tidak masuk ditelinga Jie Lan. Ini
disebabkan diri Ong Bun Ping sudah berakar sangat dalam didalam
hatinya. Tapi karena ia tidak ingin ayahnya terlalu berduka, maka
dengan terpaksa ia menjawab sambil bersenyum:
“Ia telah menolak begitu getas, sudah tentu anakmu tidak akan
memikirkan dirinya lagi, cuma saja seumur hidupku ini aku tidak
ingin menikah, aku ingin melayani ayah untuk selamanya."
Koo Hong terperanjat lalu bertanya:
“Sudals begini lanjut. berapa tahun lagi aku bisa hidup? Dan
hagaimana kalau aku mati?"
Sambil tertawa getir Jie Lan menjawab:
“Kalau ayah meninggal dunia, aku akan menjadi Nikou.”
Koo Hong menghela napas, tidak berkata apa-apa lagi. Ia tahu
benar adat anaknya, tidak guna memberi nasehat banyak-banyak,
tapi setelah kejadian itu, sifatnya Jie Lan beruhah banyak, satu nona
muda yang lincah resit, telah berubah menjadi seorang yang
pendian dan tidak suka bicara, sekalipun ditanya oleh ayahnya
sendiri jawabannya juga pendek sekali.
Koo Hong melihat anaknya makin hari makin kurus, hatinya
merasa hancur tapi apa mau dikata sebab pada saat itu ia sendiri
juga mendapat sakit.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 170
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Jie Lan melihat ayahnya telah jatuh sakit karena memikiri


dirinya, diam-diam juga merasa sedih maka dengan demikian iapun
tumpahkan seluruh temponya untuk belajar silat, hingga seluruh
kepandaian ayahnya ia dapat pelajari dengan mahir sekali.
Pada suatu hari, Koo Hong kembali menanyakan soal dirinya,
tapi Jie Lan hanya menjawab dengan suara hambar:
“Kalau ayah menghendaki anakmu hidup terus, terserah kepada
ayah sendiri untuk memilihkan jodo untuk anakmu!"
Ucapan ini telah membikin Koo Hong terkejut, hingga
selanjutnya ia tidak berani mengungkat-ungkat lagi soal perjodoan
anaknya, dengan demikian hingga si nona itu telah lewatkan masa
mudanya selama dua puluh tiga tahun dengan sia-sia.
Setengah bulan berselang tiba-tiba si kakek jenggot perak Kang
It Peng mengunjungi Bu Kong San, ia mengundang Koo Hong ayah
dan anaknya turun gunung untuk memberi bantuan tenaga padanya,
Koo Hong dan Kang It Peng juga merupakan dua sahabat karib,
apalagi Kang It Peng adalah seorang Kang-ouw yang sudah
terkenal, maka begitu mendengar ajakan untuk memberi bantuan
padanya anaknya merasa tidak enak bila menolak ajakan tersebut,
sehingga ia menanyai Kang It Peng siapa-siapa jago tua yang telah
diundang.
Tatkala Kang It Peng memberitaturkan bahwa drantara mereka
yang diundang itu terdapat nama Sun Tay Beng, Koo Hong lantas
beruhah pucat wajahnya dan lama tak dapat membuka mulut.
Kang It Peng merasa heran, lalu menanyakan sebab-sebabnya,
maka Koo Hong tidak sembunyikan isi hatinya. Ia segera
menceritakan semua hal ichwal sehingga terjadi bentrokan dengan
sahabat lamanya itu. Kang It Peng sehabis mendengar lain berkata
sambil tertawa:

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 171
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Sifat Sun Tay Beng memang suka main-main, ucapan kita


tidak boleh anggsp benar-benar. Nanti setelah kita selesaikan
persoalan keluarga Chie, aku nanti akan turun Langan untuk
membantu kalian membereskan soal ini. Ong Bun Ping itu anak
paling dengar kata-kataku. meski aku tidak berani mengatakan
seratus persen berhasil, tapi ada harapan akan berhasil.”
Koo Hong herkata sambil menghela napas:
“Jika demikian hendaknya, soal bantu tenaga ini aku tidak bisa
ambil putusan sendiri. Aku harus rundingkan dulu dengan anakku
agar kutahu, bagaimana pendapat anakku. Dengan terus terang saja,
Lan-jie setelah di tinggal mati oleh ibunya, telah kumanja
sedemikian rupa sehingga sifatnya susah dirubah."
Kang It Peng berkata sambil tertawa, “Aku akan berangkat
lebih dahulu, kau tanyakan pikiran anak-mu lebih dahulu, kalau
setuju harap supaya lekas berangkat."
Sehabis berkata orang tua itu lalu pamitan. Sepeninggal Kang It
Peng, Koo Hong lantas menghampiri karnar anaknya. Tatkala itu
Jie Lan sedang menyulam. Koo Hong lalu memberitahukan maksud
kedatangan Kang It Peng yang mengajak ke Siang Ke Cun untuk
memberi bantuan tenaga padanya, ia katakan juga bahwa Sun Tay
Beng dan Ong Bun Ping akan berada disana selama itu ia
menanyakan apakah si anak bersedia untuk pergi atau tidak.
Sungguh diluar dugaan Koo Hong, Jie Lan ternyata meneritna
baik undangan tersebut dengan tanpa ragu-ragu, maka ayah dan
anak itu lantas berangkat hari itu juga menuju ke Siang Ke Cun, dan
kedatangan mereka di Siang Ke Cun itu tepat pada wak tunya yaitu
ketika Tong Cin Wie akan melakukan penyerangan pada malam itu.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 172
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tatkala Sun Tay Beng menampak bahwa tetamu yang datang


itu adalah Koo Hong dan anaknya, maka iapun berdiri lalu
menyambut. Sambil tertawa iapun berkata:
“Aku tahu kalau aku yang mengundang tentu kau tidak mau
datang, maka lebih baik aku tidak mencari penyakit sendiri."
Koo Hong mend jawab sambil tertawa hambar:
“Sun Tay-hiap terlalu merendahkan diri, kita ayah dan anak
adalah orang-orang kasar, bagaimana kau bisa pandang kita, Bu
Kong San adalah sebuah dusun kecil, sudah tentu tidak pantas untuk
kau kunjungi."
Sun Tay Beng berkata sambil gelengkan kepala, “Tidak nyana
urusan sekecil itu kau masih tetap ingat sampai behetapa tahun
lamanya, aku Sun Tay Beng benar-benar merasa kagum."
Bicara sampai disitu ia lantas menoleh dan berkata kepada Koo
Jie Lan sambil tertawa, “Bagaimana? Apa kau juga tidak mau
mengenali empe Sunmu lagi?"
Pertanyaan ini telah membuat Koo Jie Lan merasa tidak enak,
make buru-buru ia memberi hormat sambil berkata:
“Lan-jie memberi hormat kepada Sun Supe."
Sun Tay Beng tertawa bergelak., ia menoleh lagi pada Koo
Hong dan mengawasi sejenak lalu berkata:
“Orang sudah tua semacam kau masih begitu keras kepala,
apakah tidak malu dengan anakmu sendiri?"
Paras Koo Hong berubah merah, sebaliknya Koo Jie Lan cuma
sambut perkataan sang Supe itu dengan bersenyum getir. Disaat itu,
Sun Tay Beng bars melihat bahwa Koo Jie Lan sedang murung,
hingga hatinya bercekat, lalu ia menarik Koo Hong dan
mengajaknya keluar, diluar ia bertanya:
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 173
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Apakah Jie Lan sudah menikah?" Koo Hong diperlakukan


demikian hangat oleh Sun Tay Beng hingga sekalipun dalam hati
merasa mendongkol tapi ia tidak berani mengutarakannya. Ketika
mendapat pertanyaan dari Sun Tay Beng itu. kembali ia ingat nasib
anaknya dan ia sendiri, maka lantas menjawab seraja tertawa dingin.
“Kau masih berlaga baik hati, kematian Jie Lan ada hubung-apa
dengan kau orang she Sun?"
Sun Tay Beng menjawab dengan sungguh-sungguh:
“Orang-orang dari golongan muda ada mempunyai pikiran
sendiri, mereka dapat berbuat menurut kehendaknya sendiri, dalam
hal ini sebetulnya tidak perlu kita turut campur tangan. Memang
urusan didalam dunia ini sebagian besar tidak mencocoki keinginan
kita, tentang kesulitan anakmu dan penderitaan yang dideritanya
selama itu, meski aku tidak merasakan, tapi apakah kau tahu nasib
apa yang telah dialanda oleh muridmu? Aku sendiri sebagai
gurunya juga merasa tidak pantas untuk menanyakan urusan pribadi
muridnya sendiri, apalagi terhadap anakmu, kalau kau masih ingat
dan menaruh dendam soal ini untuk selamanya, itu terserah
kepadamu sendiri."
Koo Hong ketika mendengar perkataan si orang she Sun itu ia
merasa terkejut, lalu bertanya: “Kau berkata setengah harian, tapi
aku belum mengerti apakah maksudmu, berkatalah terus terang!"
Sun Tay Beng pun menjawab seraya tertawa: “Urusan ini
dikemudian hari kau tentu akan mengerti sendiri, aku sekarang
hanya mau bertanya kepada engkau. apakah Jie Lan sudah menikah
atau belum?"
Koo Hong geleng kepala sambil menghela napas. Sun Tay
Beng kembali berkata: “Kau jangan menghela napas dulu, malam
ini kawanan, penjahat dari Utara segera akan turun tangan dan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 174
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

sangat tepat kedatangan kalian berdua. Kang It Peng dengan


tergesa-gesa telah mengundang kita, tapi ia sendiri entah ber-
sembunyi dimana.''
Setelah berkata demikian iapun mengajak Koo Hong untuk
kembali keruangan dalam. Dilain pihak Kang Sian Cian sudah
menarik tagan Koo Jie Lan, kedua anak dara ini nampaknya
mempunyai hubungan erat sekali.
Sun Tay Beng perkenalkan Koo Hong kepada Chie Ciat-su dan
Cin Tiong Liong dan tidak lama kemudian lantas Chie Ciat-su
orang-orangnya menyediakan barang-barang hidangan untuk tamu-
tamunya.
Karena Koo Hong telah datang maka mereka mengambil
keputusan bahwa keluarga Chie tidak perlu diungsikan tapi
memutuskan agar Kang Sian Cian dan Koo Jie Lan melindungi
mereka. Cin Tiong Liong dan Ong Bun Ping ditugaskan untuk
memberi bantuan kepada mereka, Sun Tay Beng dan Koo Hong
ditugaskan menyambut kedatangan kawanan penjahat, tapi tidak
perlu bertempur mati-matian.
Selama empat tahun belakangan ini Koo Jie Lan belum pernah
melupakan Ong Bun Ping, maka setelah tiba dirumah keluarga Chie
ia selalu memperhatikan diri anak muda itu, tapi sehingga saat itu ia
belum melihat diri anak muda itu. ia merasa tidak enak untuk
menanyakannya, Kang Sian Cianlah yang memberitahukan
kepadanya bahwa Ong Bun Ping pada saat itu sedang membuat
senjata rahasia duri ikan terbang.
Kira-kira jam satu tengah malam, Ong Bun Ping telah muncul
dengan membawa banyak duri ikan terbang yang dibuatnya dan
pada saat itu diruangan besar rumah keluarga Chie telah dipasang
dua buah lilin besar yang memberi penerangan terang benderang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 175
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Kang Sian Cian, Cin Tiong Liong dan lain-lainnya sudah pada
siap sedia dengan senjata masing-masing dan Sun Tay Beng meski
masih berpakaian panjangnya, tapi tangannya memegang satu
tongkat besi yang berkepala naga.
Tatkala Ong Bun Ping melihat Koo Hong juga berada di situ,
lalu menghampiri memberi hormat dan berkata, “Koo Siok ada
baik?
Koo Hong hanya perdengarkan suara jawaban dihidung, tidak
menjawab pertanyaannya, hingga membuat Ong Bun Ping merasa
tidak enak, tatkala ia melihat kesekitarnya dan nampak Koo Jie Lan
juga ada bersama Kang Sian Cian, Ong Bun Ping agaknya masih
belum insjaf kalau dirinya sedang dibuat pikiran oleh si anak dara,
saat itu lantas angkat tangan dan berkata:
“Lan Sumoy baik?"
Koo Jie Lan membalas hormat, sambil bersenyum getir iapun
menjawab:
“Terima kasih, apakah Ong Suheng juga apa baik?"
Jawaban dan bersenyumnya itu seolah-olah ada mengandung
rasa cinta dan benci, hingga Ong Bun Ping bercekat, ia hanya balas
dengan senyuman dan kemudian menyerahkan senjata-senjata yang
ia bikin itu kepada Sun Tay Beng.
Sun Tay Beng menyambuti senjata tersebut seraja berkata:
“Jumlahnya kawanan penjahat ada hanyak, kalau malam ini
betul-betul hendak menyerang, sudah tentu dengan tekad yang bulat
supaya usaha mereka itu berhasi!, pihak kita yang sedikit, orang
tidak baik bertempur mati-matian dengan mereka, kalau saudara ada
mempunyai kepandaian istimewa, keluarkan saja jangan ragu-
ragu!"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 176
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ucapan ini sebetulnya mengandung maksud supaya kawan-


kawannya boleh mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk
melakukan pembunhan berapa hanyak yang mereka dapat lakukan.
Setelah mengucapkan perkataan tersebut. Sun Tay Beng lantas
tarik tangan Koo Hong lalu ajak dia herlalu seraja berkata:
“Jalan! Mari kita yang nyambut mereka lebih dahulu."
Keduanya segera melompat keluar ruangan rumah. Cin Tiong
Liong perintahkan orangnya supaya padamkan Jilin dan kemudian
berpesan kepada Kang Sian Cian supaya memberitahukan kepada
orang-orang keluarga Chie agar jangan bergerak semharangan.
Setelah selesai mengatur lalu ia bersama-sama Ong Bun Ping
melakukan penjagaan.
Kang Sian Cian memhawa pedang dan kantong piauwnya,
sedang Koo Jie Lan juga siap dengan sepasang pedangnya, kedna
nona itu setelah melakukan pemeriksaan diatas genteng sebentar
lantas hersembunyi ditempat yang gelap.
Kala itu adalah akhir musim dingin hingga baik sekali bagi
orang-orang jahat melikukan kejahatannya.
Ketika lewat jam dua malam, para penjahat dari Ie Cin Wan
mulai bergerak. Tong Cin Wie diapit oleh Thay-si Sian-su dan
Tian-pi-sin-mo berjalan lebih dahulu, sedang Oey Ceng Tan dan
loan Kong Hong serta sepuluh pembantunya dibagi menjadi dua
romboongan nutuk melakukan penyerangan dari sebelah kin dan
kanan Pek-hoa Nio-cu, Yan-san-ji-kui dan Kim Ling Siang-kho,
merupakan orang-orang yang terpilih dan mereka ini berada dalam
rumbongan Oey Ceng Tan dan Hoan Kong Hung.
Tong Cin Wie, Thay-si Sian-su dan Cian Pi Sin Mo dapat
berlari dengan kepesatan yang luar biasa, hingga dengan sekejap
saja sudah berada diluar Siang Ke Cun.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 177
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Pada saat itu terdengar suara dingin dan tiba dari tempat gelap
melompatlah dua bayangan orang menghadang perja!anan ketiga
orang tersebut.
Thay-si Sian-su melihat bahwa orang-orang membawa tongkat
yang berkepala naga dan berpakaian panjang. Mereka itu adalah
Sun Tay Beng sendiri. Dan orang yang disebelah kanannya adalah
seorang tua yang berjenggot panjang, badannya tinggi besar. Di
belakang gegernya ada, menggemblok sebilah golok besar, tapi ia
tidak mengenal siapa orang tua itu.
Ketika Thay-si Sian-su menampak Sun Tay Beng rnaka
ingatlah ia hinaan yang ia terima pada malam kemarin sehingga saat
itu darahnya naik. Selagi ia hendak turun tangan Tong Cin Wie
sudah rnengangkat tangan memberi hormat kepada dua orang
tersebut seraja berkata:
“Kiranya Jie-wie adalah orang-orang terkenal didaerah Kang-
lam ini karena Tong Cin Wie baru kali ini mengunjungi tempat ini,
hingga tidak kenal siapa Jie-wie. Numpang tanya bagaimana
sebutan Jie-wie."
Sehabis berkata demikian itupun mengawasi Sun Tay Beng
dengan mata yang tajam. Sun Tay Beng tertawa bergelak-gelak lalu
menyahut:
“Tong Toako terlalu merendahkan diri, kau tidak kenal aku,
tapi aku kenal kau adalah Sin-ciu-tui-hun Tong Cin Wie. Kau yang
sudah baik-baik berada di Utara dengan kedudukan yang tinggi, seta
sudah menjadi pernimpin kalangan rimba hijau., mungkin bagi
orang-orang dunia Kang-ouw semua tahu tentang ini. Kenapa Tong
Toako tidak mau senang-senang, berdiam di Utara tapi pada malam
yang begini dingin, kau telah kelujuran kemari. Apa sebetulnya
maksudmu kesini? Tempat ini rasanya bukan tempat dibawah
kekuasaanmu!"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 178
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tong Cin Wie tertawa dingin lalu menjawab:


“Kalau mendengar dari omonganmu, ternyata kau alalah
seorang jumawa, bukankah kau ini Chio-bin-giam-lo Sun Tay
Beng?"
Sun Tay Beng menjawab dengan suara dingin lagi:
“Kau toch sudah tahu, mengapa tadi berlaga bertanya pula?"
Tong Cin Wie mengamat-amati Sun Tay Beng sejenak, lalu
berkata kepada Koo Hong sambil menyoja: “Saudara ini berjalan
bersama' dengan Sun Tay-hiap, tentu dia ini seorang yang terkenal
pula dikalangan Kang-ouw, aku Tong Cin Wie ingin belajar kenal."
Koo Hong menjawab dengan suara dingin:
“Dalam rimba persilatan didaerah Kang-lam, memang benar
ada banyak orang yang terkenal, tapi aku Koo Hong belum
mendapat itu kehormatan sebagai orang yang terkenal, kau orang
she Tong dengan membawa kawan-kawan rimba dari Utara, menuju
keselatan dengan jumlah yang banyak, sudah tentu tidak pandang
mata kepada kawan-kawan kita yang berada didaerah Kang-lam.
Sobat, kalau mau belajar kenal maka kita juga harus melayani walau
akan bagaimana sekalipun."
Tong Cin Wie menoleh lalu mengawasi Thay-si Sian-su dan
Orang tua aneh itu masih tetap memejamkan matanya setelah tidak
mendengar pembicaraan mereka.
Rupanya Thay-si Sian-su belum mendengar tentang dirinya
Koo Hong hingga ia hanya berdiri dengan tidak berkata apa-apa.
Ketika Tong Cin Wie melihat kedua ora itu tidak berkata apa-
apa maka ia tertawa bergelak-gelak seraya berkata:
“Tuan mungkin adalah seorang yang mempunyai kepandaian
tulen, tapi tidak luau tunjukkan diri, hingga jarang muncul di dunia
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 179
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Kang-ouw, nama Koo Hong ini belum pernah kudengar dari mulut
orang. Tapi kau telah berada bersama Chio-bin-giam-lo, maka
sudah tentu kau ini bukan orang dari golongan sembarangan, aku
hanya kuminta jangan sesalkan pengetahuanku yang cetek ini.
Cuma aku Tong Cin Wie, ada beberapa patah kata-kata yang perlu
kujelaskan dahulu yaitu aku sekali-kali tidak mempunyai maksud
untuk melanggar kehormatan kawan-kawan didaerah Kang-lam.
Maksud kedatanganku ke Siang Ke Cun ini, semata' hanya untuk
membereskan soal dendam pribadi. Chie Kong Hiap dahulu pernah
menjabat pangkat tinggi, selalu bersikap bermusuhan dengan
kawan-kawan rimba hijau, entah berapa banyak jiwa kawan-kawan
kita yang terbinasa ditangannya, asal aku bisa menyingkirkannya
bersama seluruh keluarganya maka aku Tong Cin Wie akan segera
pulang ke Utara bersama orang-orangku."
Belum sempat Koo Hong menjawab sudah didahului oleh Sun
Tay Beng.
“Enak benar kata-katamu ini, kenyataannya tidak demikian
mudah, kalau kau Tong Cin Wie tidak bermaksud hendak jual lagak
di daerah Kang-lam, mengapa tidak menurut peraturan didunia
Kang-onw yaitu terlebih dahulu harus mengunjungi kawan-kawan
rimba persilatan didaerah Kang-lam? Ini adalah suatu tanda hahwa
kau tidak memandang mata kepada kami. Mungkin kau mengira
kawan-kawan dari rimba persilatan di daerah Kang-lam, tidak ada
yang berani mengganggu dirimu.”
Ketika Tong Cin Wie mendengar Sun Tay Beng menimpakan
segala kesalahan diatas pundaknya iapun perdengarkan suara dingin
dan berkata:
“Satu yang mengaku diri sebagai seorang pendekar budiman,
telah ajukan diri sebagai pelindung seorang bekas pegawai negeri,

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 180
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

hal ini apa bedanya dengan itu orang-orang yang menampakkan


dirinya kepada lain bangsa?"
Sun Tay Beng berkata dengan suara bengis:
“Kita orang-orang Kang-now yang selalu berbicara dengan
pedangnya, menyingkirkan kejahatan itu berarti melakukan
kebajikan, ada beberapa orang yang mengambil kepandaian ilmu
silatnya untuk melakukan perbuatan dan sewenang-wenang,
memeras, membegal, merampok dan lain-lain perbuatan kawanan
berandal, bangsa kurcaci dari rimba persilatan ini bila mati satu
maka itu berarti satu kejahatan telah berkurang. Kalau mati semua
berarti semua kejahatan hilang. Kau Tong Toako, dengan Chie Ciat-
su ada mempunyai dendaman sakit hati apa, hanya kau sendiri yang
mengerti, kau putar balik duduk berdirinya perkata sangkaanmu itu
berguna?"
Perkataan Sun Tay Beng ini membuat Tong Cin Wie marah
seketika, maka iapun segera berkata dengan suara gusar:
“Sun Tay Beng, kau jangan terlalu terkebur karena maksud
baik maka itu aku nasehati kau. Sangkamu aku si orang she Tong
takut ke-padamu?"
Baru saja habis ucapannya itu Thay-si Sian-su sudah melompat
maju dan berkata:
“Dengan seorang jumawa seperti orang ini, apa perlunya masih
bicara menurut aturan!"
Sian-su itu berkata sambil gerakkan tongkatnya, dengan suatu
gerakan mendadak tongkatnya itu inenyerang Chio-bin-giam-lo.
Hweeshio tua ini masih ingat hinaan yang diperoleh tadi malam
hingga dipakainya tenaga dalam yang penuh untuk menyerang.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 181
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Chio-bin-giam-lo telah menyambut serangan tersebut dengan


tongkatnya, setelah itu ujung tongkatnya yang berkepala naga telab
meluncur menotok dada Thay-si Sian-su.
Sian-su menangkis serangan si orang she Sun tapi siapa tahu
Sun Tay Beng lantas rubah serangannya. Karena perubahan tersebut
amat cepat hingga Thay-si Sian-su terpaksa mundur dua langkah.
Baru bergebrak Thay-si Sian-su sudah dipaksa mundur dua langkah
hingga bukan main murkanya. Setelah menggereng hebat,
tongkatnya menyerang lagi dengan hebat. Saar ito curna terdengar
hunyi deru dua tongkat tang berputaran dan bayangan yang
berseliweran hebat.
Pertempuran itu telah berjalan empat puluh jurus tapi
nampaknya keduanya sama-sama kuat hingga sukar dibayangkan
siapa yang Iebih kuat dan siapa yang lemah.
Pada saat itu kawanan penjahat sudah tiba semuanya disitu
mereka telah menyaksikan pertempuran tersebut dan berdiri
berbaris dibelakang Tong Cin Wie.
Tong Cin Wie menyaksikan kekuatan Thay-si Sian-su
berimbang dengan Sun Tay Beng, nampaknya sebeuim ratasan
jurus pertempuran itu tidak akan berubah hingga dalam hatinya
merasa sedikit gelisah, kemudian ia menoleh lain memerintahkan
oran-orangnya supaja menerjang.
Koo Hong yang sudah siap ketika menampak kawanan penjahat
bergerak, ia lantas membentak hebat dan golok ditangannya
diputarnya untuk menyerang kawanan penjahat tersebut. Jago tua
tinggi sekali ihmu silatnya apalagi sedang berada dalam keadaan
gusar, maka setelah goloknya dikerjakan, sebentar saja kawanan
penjahat kocar-kacir.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 182
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ketika Tong Cin Wie menampak Koo Hong sangat gesit


gerakannya lantas turun tangan sendiri. Dengan senjata tumbaknya
ia menikam dada si jago tua itu tapi Koo Hong dengan cepat
berkelit dan kemudian babas menyerang dengan goloknya, dengan
demikian dua orang itu telah bertempur dengan seru.
Tong Cin Wie sambil bertempur ia serukan kepada oran-
orangnya:
“Kalian lekas menerjang, binasakan dahulu jiwa keluarga
Chie!"
Setelah kawanan penjahat itu mendengar perintah tersebut
tanpa ayal lagi mereka terus menerjang ke Siang Ke Cun.
Ketika Chio Bin Gian Lo dan Koo Hong melihat perbuatan
kawanan penjahat tersebut mereka pun merasa mendongkol dan
gelisah tapi karena Thay-si Sian-su dan Tong Cin Wie merupakan
lawan-lawan mereka seimbang, hingga mereka tidak dapat
kesempatan untuk menghalangi majunya kawanan penjahat tersebat.

– ooOoo –

VIII.

Kita balik lagi kepada Oey Ceng Tan dan Hoan Kong Hong
yang memimpin oran-orangnya menyerang Siang Ke Cun. Baru
saja mereka tiba dimuka perkampungan Siang Ke Cun tiba-tiba dari
tempat gelap lantas menyamber sinar putih menuju dada Oey Ceng
Tan dengan kecepatan seperti kilat.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 183
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sebentar kemudian dimulut perkampungan tersebut, telah


muncul dua orang berpakaian ringkas yang merintangi perjalanan
mereka.
Oey Ceng Tan mengawasi seorang lelaki yang berdiri disebelah
kanan, ternyata orang itu hanya dengan dua tangan kosong
menjatuhkan Yan-san Ji-kui. Orang itu adalah Cin Tiong Liong,
seorang lagi adalah seorang muds yang membawa sepasang senjata
Poan-koan-pit dan sikapnya amat gagah.
Oey Ceng Tan dan Hoan Kong Hong perintahkan orang-
orangnya melakukan serangan dengan kekerasan tapi Cin Tiong
Liong sambil membentak hebat ia segera mencabut sepasang
senjatanya yang berupa sepasang pit lalu bersama Ong Bun Ping
melancarkan serangan hebat, untuk merintangi majunya kawanan
penjahat itu.
Akan tetapi karena jumlah kawanan penjahat itu banyak maka
meski pun Cin Tiong Liong dan Ong Bun Ping berdaya sekuat
tenaga tapi tidak mampu membendung majunya orang-orang
tersebut, hingga Oey Ceng Tan dan Hoan Kong Hong beserta
beberapa orang lagi telah berhasil menerjang kekampung Siang Ke
Cun.
Baru saja kawanan penjahat itu bisa mendekati keluarga Chie,
tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring, kemudian disusul
dengan berkelebatnya bayangan putih. Muncullah dari tempat gelap
Kang Sian Cian.
Nona itu dengan pedang lemasnya ditangan kirinya dan senjata
duri ikan terbangnya ditangan kanannya, berdiri sambil
menghadangkawanan penjahat iapun membentak:
“Siapa.diantara kalian yang berani maju lagi setindak kiranya
jangan menyesal kilau aku terpaksa berbuat kejam. Aku akan suruh

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 184
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

dia rasakan dulu betapa lihaynya senjata-senjata duri „ikan terbang‟


ini baru boleh maju."
Kata-kata Kang Sian Cian ini, ternyata besar sekali
pengaruhnya, karena pada seketika itu juga beberapa puluh
kawanan penjahat itu terus dibikin jinak atau tidak berani maju
setindakpun.
Oleh karena kawanan penjahat tersebut sebagian besar sudah
pernah melihat betapa gagahnya nona itu yaitu ketika bertempur de-
ngan pemimpinnya. Oey Ceng Tan mengerti bahwa nona itu bukan
tandingannyn, maka diam-diam perintahkan kawannya, supaya
menerjang dari berbagai penyuru.
Ketika Kang Sian Cian menampak perbuatan penjahat itu maka
karena gusamya ia pun menyerang dengan senjata rahasianya,
sehingga sebentar saja terdengar disana-sini jeritan dan beberapa
orang telah jatuh karena menjadi korban duri ikan terbangnya.
Kemudian ia menyusul dengan serangan pedangnya, beberapa
penjahat coba-coba merintangi majunya si nona, tapi mereka tidak
tahu bahwa pedang nona itu tajam luar biasa hingga setelah senjata
mereka itu beradu, sebentar saja senjata mereka ter-papas kutung.
Setelah Kang Sian Cian berhasil memapas kutung senjata
lawannya iapun meneruskan serangarmja hingga penjahat-penjahat
yang hendak merintanginya itu lantas pada rubuh karena terbabat
pinggangnya.
Baru saja Kang Sian Cian berhasil membinasakan lawannya
tiba-tiba pecut Oey Ceng Tan sudah menuju kepalanya. Sambil re-
bahkan diri untuk berkelit maka Langan kanan nona itu lantas
bergerak untuk melakukan serangan pembalasan. Kini Oey Ceng
Tan yang didesak sehingga mundur tujuh atau delapan kaki
jauhnya.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 185
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tapi pada saat itu senjata kawanan penjahat telah meluncur


menyerang kearah Kang Sian Cian.
Meski nona itu sudah dikurung, tapi ia tetap tenang hinga tidak
kalut gerakannya. Setelah ia menyampok semua senjata yang
menyerangnya maka ia kembali melakukan serangan dengan hebat.
Kali ini para penjahat bertempur dengan hati-hati sekali, mereka
berusaha agar senjata mereka tidak beradu dengan pedang si nona.
Kawanan penjahat itu tanpa menghiraukan tata-tertib dunia
Kang ouw, mereka telah mengepung seorang gadis, maka meski
kepandaian Sian Cian tinggi tapi oleh karena jumlah lawan banyak
maka tidak mudah baginya untuk lolos dari kepungan tersebut.
Oey Ceng Tan dan lima kawanan penjahat telah mengurung
rapat diri anak dara ini, empat penjahat lainnya lantas meloloskan
diri dan menerjang masuk kerumahnya keluarga Chie.
Ketika mereka itu memasuki pekarangan rumah mereka
menampak gedung tersebut gelap sekali hingga mereka tidak
mengetahui tempat Chie Ciat-su. Maka mereka memilih jalan yang
paling pendek yaitu mereka melakukan serangan dengan api.
Tempat yang pertama-tama dimakan api adalah kamar tidur
Chie Kong-cu. Saat itu ia belum tidur hingga ketika ia melihat terbit
kebakaran dikarnarnya maka ia segera melompat turun lalu keluar
dari kamarnya.
Empat kawanan penjahat yang sedang berusaha hendak
mendobrak pintu kamar ketika menampak Chie Sie Kist muncul
segera bertanya:
“Kau pernah apa dengan keluarga Chie?"
Chie Sie Kiat sebetulnya sedang ketakutan, tapi setelah
dibentak oleh kawanan penjahat lantas berbalik menjadi tenang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 186
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

kembali dan tatkala ia mengangkat kepala dan menampak api


sedang berkobar hebat serta lapat-lapat terdengar suara beradunya
senjata, ia lantas berpikir:
“Mungkin nona Sian kini sedang bertempur hebat hingga tidak
ada kesempatan menolong diriku, dalam keada-an begini mungkin
aku tidak terhindar dari kematian. Kalau benar aku toch mesti mati,
biarlah aku mati secara laki-laki supaya dikemudian hari adik Sian
tidak Pandang rendah diriku." Mengingat sampai disini maka nyali
pemuda itu lantas menjadi besar, hingga seketika itu juaa ia
menjawab sambil ter-tawa besar:
“Aku adalah Tuan muda dari keluarga Chie, kalian hendak
herbuat apa atas diriku? Kalau kalian mau bunuh, bunuhlah dengan
segera, meski aku tidak mengerti ilmu silat, tapi aku tidak takut
mati."
Ketika ke empat penjahat itu mendengar ucapan Chie Kong-cu
yang gagah itu, seorang diantara mereka yang berdiri di sebelah
kanan lantas melornpat maju seraja menenteng goloknya. Ia
mengangkat golok untuk memotong tapi baru saja hendak
membacok, tiba-tiba ia mendengar orang berteriak “tahan".
Orang itu tarik lagi serangannya. Ketika ia melihat
dibelakangnya seorang tua yang berusia lima puluh tahun lebih
telah menghampirinya dengan tindakan perlahan sedang dibelakang
orang tua itu berjalan seorang wanita cantik.

– ooOoo –

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 187
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

DARA PENDEKAR BIDJAKSANA

JILID III

Pada saat itu api sedang berkobar-kobar, kamar yang didiami


oleh Chie Sie Kiat, sebagian benar sudah hangus. Orang tua itu
mengawasi empat penjahat tersebut, kemudian melihat sikap Chie
Sie Kiat, hatinya merasa pilu, ia lantas menghadapi empat penjahat,
seraja menyoja lalu berkata:
“Aku adalah Chie Kong Hiap, dimasa yang lampau memang
benar aku pernah berdosa terhadap beberapa kawan dari rimba
hijau, cuma kala itu aku hanya menjalankan tugas, dengan tuan-tuan
tidak ada mempunyai hubungan permusuhan secara pribadi. Kalau
toch tuan-tuan mau menuntut balas, dengan membunuh aku Chie
Kong Hiap seorang rasanya sudah cukup, aku mohon supaya tuan-
tuan lepaskan jiwa anakku ini, karena pada masa itu ia cuma
merupakan kanak-kanak yang belum mengerti apa-apa."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 188
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Empat penjahat itu yang memang sedang mencari Chie Ciat-su


ketika menampak bekas pejabat tinggi itu telah serahkan dirinya,
maka setelah tertawa girang lantas berkata:
“Baik orang tuanya maupun anaknya semuanya harus dibunuh,
seluruh rumah tangga ini akan dibasmi habis, tidak boleh ada
satupun yang ketinggalan."
Sehabis berkata, empat penjahat itu turun tangan berbareng
menerjang Chie Kong Hiap. Pada saat yang berbahaya itu, tiba-tiba
terdengar suara bentakan nyaring, diantara terangnya sinar api telah
berkelehat beberapa sinar perak, hingga tiga diantara empat pen-
jahat tersebut telah rubuh terkena serangan senjata rahasia. Yang
seorang lagi tatkala mendengar suara jeritan ketiga kawannya lantas
kesima, tapi sebelum ia sadar benar, badannya sudah dibikin kutung
menjadi dua potong.
Koo Jie Lan dan Kang Sian Cian telah muncul dengan
berbareng didepan mereka itu. Kang Sian Cian menampak sikap
Chie Sie Kiat, hatinya merasa cemas, dengan tidak menghiraukan
beradanya disitu Chie Ciat-su suami-isteri dan Koo Jie Lan, segera
melompat maju kedepan Chie Sie Kiat lalu menarik tangannya
pemuda itu, kemudian melompat kedepan suami-isteri Chie Ciat-su
seraja berkata kepada Koo Jie Lan:
“Enci Koo harap lindungi mereka …..!” Belum habis
ucapannya itu Oey Ceng Tan hersama kawan-kawannya telah
datang memburu, hingga Kang Sian Cian tidak keburu
mengucapkan kata-kata selanjutnya. Ia lantas melepaskan tangan
Chie Kong-cu lalu buruburu menyambuti kedatangan musuh itu.
Koo Jie Lan dengan sepasang pedangnya, dipakai untuk
menyampok senjata rahasia yang dilancarkan oleh kawanan
penjahat, kemudian berkata dengan suara perlahan kepada tiga
orang tersebut:

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 189
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Sam-wie silahkan mundur dulu keruangan belakang, nanti


Siauw-lie yang melindungi."
Chie Ciat-su juga tidak sungkan-sungkan lagi, bersama-sama
anak isterinya lalu mundur keruangan belakang.
Pada saat itu pula para penjahat lainnya juga sudah datang
memburu, Kong Sian Cian dalam murkanya, segera mengeluarkan
ilmu serangan Boan-thian hoa-ie, hingga sebentar kemudian. dari
berbagai penjuru telah beterbangan senjata rahasia duri ikan
terbang. Ketika itu enam penjahat rubuh kena serangan jarum-jarum
itu.
Oey Ceng Tan yang membawa sepuluh orang lebih, sebagian
besar telah terluka atau binasa, sekarang hanya tinggal empat orang
yang masih utuh.
Kang Sian Cian yang berhasil dengan serangannya lantas putar
pedangnya untuk menyerang Oey Ceng Tan dan tiga kawannya
meski tahu anak dara itu amat lihay tapi jika ia saat itu harus
melarikan diri lalu bertemu dengan Tong Cin Wie juga tidak akan
bisa tinggal hidup, dalam keadaan terpaksa ia cuma bisa melawan
dengan sekuat tenaga.
Kang Sian Cian yang bertempur dengan empat kawanan
penjahat dalam sekejap mata saja sudah berhisil membinasakan dua
orang diantaranya, hingga sekarang tinggal Oey Ceng Tan dan
seorang yang bersenjata dua gembolan. Mereka itu ternyata bukan
tandingan Kong Sian Cian.

– ooOoo –

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 190
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Mari kita balik pula kepada Chie-bin-giam-lo yang sedang


bertemptr hebat dengan Thay-si Sian-su, senjata mereka sama-sama
merupakan senjata berat, kekuatan mereka juga berimbang, dilain
pihak Tong Cin Wie yang melayani Koo Hong, juga merupakan
tandingan yang berimbang, meskipun Tong Cin Wie melakukan
serangan dengan segala kepandaiannya, tapi Koo Hong yang juga
merupakan tandingannya yang berimbang dan merupakan seorang
tinggi kepandaiannya dikalangan rimba persilatan tidak nanti dapat
ditelan mentah-mentah oleh Toako dari rimba hijau daerah Utara
itu.
Empat orang itu kembali bertempur sampai limapuluh jurus
lebih tapi belum juga menampak siapa yang akan menang dan siapa
yang kalah.
Cian-pi-sin-mo yang menonton dengan sikapnya yang dingin,
telah mendapat kenyataan bahwa Sun Tay Beng semakin lama
semakin gagah, tongkatnya yang berkepala naga, telah dimainkan
makin lama makin gesit, dan Thay-si Sian-su perlahan-lahan cuma
mampu membela diri saja tidak mampu balas menyerang.
Dipihak Tong Cin Wie meski tombaknya dimainkan bogus
sekali, tapi golok Koo Hong masih tetap gesit, nampaknya
sekalipun orang tua itu nanti bisa dikalahkan, tapi sedikitpun masih
harus memakan tempo ratusan jurus lerbih.
Sebaliknya bagi Thay-si Sian-su dan Sun Tay Beng, oleh
karena dua-dua sama-sama melawan dengan kekerasan, sama-sama
menggunakan tenaga penuh, jika sama-sama diantaranya kehabisan
tenaga sudah tentu lantas rubuh. Dalam keadaan demikian, sekarang
si orang tua kukuay ini mau tidak mau barus turun tangan, tapi
orang tua ini pandang diri sendiri terlalu tinggi hingga ia tidak mau
turun tangan seecara tiba-tiba.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 191
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Dengan tindakan perlahan ia menghampiri medan pertempuran,


pertama-tama ia perdengarkan tertawa dingin kemudian berkata:
“Kalan semua berhenti!"
Meskipun suara itu tidak keras, tapi Thay-si Sian-su bisa
mendengar dengan jelas, Tong Cin Wie juga lantas mengerti bahwa
Cian-pi-sin-mo akan turun tangan sendiri, maka ia lantas melompat
dari kalangan, dengan demikian pertempman itu lantas berhenti.
Si kakek aneh sambil mengawasi keatas lalu dengan perlahan
menghampiri Sun Tay Beng, dengan suara dingin bertanya:
“Apakah kau ini Sun Tay Beng yang sudah terkenal didaerah
Kang-lam?"
Pertanyaannya itu diucapkan dengan sikapnya yang jumawa
dan dingin laksana es.
Sun Tay Beng yang beradat tinggi, sudah tentu merasa jemu
dengan sikap orang tua itu, maka ia lamas menjawab dengan ter-
tawa dingin pula:
“Mendengar perkataanmu ini, tentunya kau adalah itu orang
yang bernama Thio Pak Tao dengan julukanmu Cian-pi-sin-mo,
bukan? Memang benar aku adalah Sun Tay Beng dan kau ini mau
apa dari aku?"
Thio Pak Tao tertawa bergelak-gelak, lalu menjawab:
“Memang benar aku situa bangka adalah Cian-pi-sin-mo,
apakah kau Sun Tay Beng sudah yakin bgtsar bahwa kekuatanmu
dapat menandingi Siauw-lim Ngo-lo dari bukit Siong-son?" Ia
berhenti sejenak lalu teruskan lagi perkataannya: “Adalah soal yang
telah terjadi pada beberapa puluh tahun berselang, aku juga merasa
segan untuk menyebut-nyebutnya lagi, kabarnya kau ada bersahabat

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 192
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

baik dengan Kang It Peng yang namanya terkenal sejak duapuluh


tahun yang lalu didaerah Kang-lam dan Kang-pak, benarkah itu?"
Sun Tay Beng tadi dengar suara tertawanya saja, sudah tahu
bahwa tenaga dalam orang tua itu sangat sempurna. la juga tahu
bahwa orang tua itu bukan tandingannya tapi sebagai seorang kuat
yang belum pernah menemui tandingan yang setimpal, tidak mau
menyerah mentah-mentah, maka setelah mengertak gigi hatinya
berpikir:
“Hari ini, aku Chio-bin-giam-lo kalau benar harus melakukan
tugasku diakherat, walau bagaimana aku juga harus melayani Cian-
pi-sin-mo."
Setelah mengambil keputusan hendak mengadu jiwa dengan
lawannya, ia lantas menjawab dengan suara dingin:
“Tidak salah, Kang It Peng adalah sahabat karibku, kau
menghendaki apa maka aku bersedia melayani."
Thin Pak Tao lantas membentak:
“Itu orang yang menggunakan serangan tangan berat ialah ilmu
silat Siauw-thian-seng untuk melukai Teng Tay Kouw apakah dia
itu bukan Kang It Peng?"
Sun Tay Beng lantas menjawab dengan suara bengis:
“Jangankan aku tidak tahu, sekalipun aku tahu juga aku tidak
mau memberikan padamu, kau mau apa?"
Thio Pak Tao berkata dengan suara gusar:
“Dengan kepandaianmu cuma itu saja, berani sekali berlaku
jumawa terhadapku?"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 193
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sehabis bertanya begitu sepasang matanya yang seperti tikus


memandang Sun Tay Beng dengan tajam, kemudian ulur tangan
kirinya menyambret diri Chio-bin-giam lo.
Gerakan itu nampaknya seenaknya saja, tapi sebetulnya sangat
hebat. Sun Tay Beng merasakan benar betapa hebat kekuatan yang
tergenggam dalam lima jari orang tua itu, maka ia tidak berani
berlaku ayal, dengan senjata tongkatnya ia menyampok tangan Thio
Pak Tao.
Thio Pak Tao tertawa dingin lalu tangan kirinya tiba-tiba
memutar balik menjambret tongkat Sun Tay Beng. Gerakan itu
dilakukan-nya dengan cepat sekali. Jangan kata Sun Tay Beng
sedang Tong Cin Wie, Thay-si Sian-su dan Koo Hong yang
menyaksikan juga tidak dapat rnengetahui cara bagaimana orang tua
itu merebut sen-jata Sun Tay Beng.
Thio Pak Tao setela berhasil menjambret tongkat Sun Tay Beng
maka sambil menekan ia bertanya pula:
“Lekas jawab yang melukai Teng Tay Kouw itu sebetulnya
Kang It Peng atau bukan?"
Tapi Sun Tay. Beng tetap tidak menjawab, ia menggunakan
kesempatan selagi Cian-pi-sin-mo lengah yaitu sedang berkata
dengan-nya, untuk kerahkan seluruh kekuatan tenaganya. Dengan
sekali gentakan ia telah melepaskan dini dari cekalan Thio Pak Tao.
Setelah Chio-bin-giam-lo membebaskan dirinya dari cekalan
Thio Pak Tao kembali menyerang dengan hebat.
Karena menampak Sun Tay Beng tidak menjawab pertanyaan-
nya tapi sebaliknya melakukan serangan kepadanya, bukan main
gusamya Thio Pak Tao. Setelah ia egoskan serangan Sun Tay Beng
lalu balas menyerang dengan sepasang tangannya, karena serangan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 194
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

yang hebat itu Sun Tay Beng terpaksa harus mundur sampai
delapan kaki jauhnya.
Si kakek itu setelah melancarkan serangannya itu lalu berhenti
lagi dan bertanya pula sambil tertawa:
“Sebelum Teng Tay Kouw meninggal dunia, aku sudah berjanji
kepadanya untuk menuntut balas, kalau kau masih tidak mau
berbicara terus terang kiranya jangan sesalkan kalau aku nanti akan
membinasakan kau lebih dahulu."
Sun Tay Beng yang berulang-ulang kedesak dalam hati merasa
mendongkol kali inilah yang pertama ia menemui lawan yang kuat
sejak ia muncul didunia Kang-ouw. Karena gusamya ia ingin
melakukan serangan nekat tapi selagi hendak menyerang, tiba-tiba
ter-dengar suara orang berkata:
“Hei iblis tua si orang she Thio, kau jangan terlalu jumawa,
kalau dibandingkan dengan Teng Tay Kouw toch tidak beda berapa
banyak, bukankah kau tadi sudah keluarkan omongan besok hendak
mencari aku untuk bertanding? Aku Kang It Peng mungkin karena
ditakdirkan untuk memenuhi hasratmu hingga sekarang aku masih
belum mati. Cara bagaimana Teng Tay Kouw dilukai memang aku
pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tapi bukan aku
yang melukai. Engkau hendak menuntut balas? Nah kini kami
semua sudah kesini."
Sehabis ucapannya itu ia lantas muncul. Dalam mendesirnya
angin telah muncul dua orang tua didepan mata Thio Pak Tao.
Orang yang berada didepan itu adalah seorang tua yang berjenggot
putih dan berbadan tegap, pada wajahnya yang tirus terdapat
beberapa garis kisut. Diwaktu malam yang sedingin itu ia hanya
mengenakan baju panjang yang terbikin dari kain kasar, orang tua
itu berdiri sambil bersenyum. Orang tua yang berdiri dibelakangnya
lagi berdandan seperti seorang tosu, dibelakangnya ada

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 195
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

menggemblok sebilah pedang mustika, mukanya lebar dan keren


alisnya, hingga membuat orang yang memandang lantas timbal rasa
hormatnya.
Cian-pi-sin-mo mengamat-amati kedua orang yang baru datang
itu. lantas mengenali bahwa orang yang berada paling depan adalah
orang yang pada duapuluh tahun berselang namanya pernah
menggetarkan Kang-lam dan Kang-pak yang bernama Kang It
Peng. Karena itu sambil tertawa dingin iapun berkata:
“Tuan ini tentunya ada Kang Lo Kiam-kek. Tapi siapa ito yang
berdiri dibelakangmu? Maafkan aku Thio Pak Tao karena tidak
mengenalinya!"
Orang tua yang berjenggot panjang itu lalu menyalmt seraja
tertawa:
“Bukankah kau hendak menuntut bales untuk Tong Tay Kouw?
Pinto adalah itu orang yang melukai Teng Tay Kouw, kalau kau
mampu mengalahkan aku, dengan cara apa saja kau boleh
perlakukan diriku, terserah kepadamu sendiri. Kita toch tidak ingin
bersahabat, perlu apa harus meninggalkan nama untuk kau?!"
Dengan gusar Thio Pak Tao berkata:
“Kau mampu melukai Teng Tay Kouw sudah tentu bukan
orang sembarangan. Dengan kata-katamu ini apakah kau anggap
aku si orang she Thio tidak ada harganya untuk menanyakan
namamu?"
Orang tua itu menjawab sambil tertawa:
“Thin Lo-eng-hiong pada tiga puluh tahun berselang pernah
bikin ribut dikuil Siauw-lim-sie dibukit Siong-san, dengan seorang
diri kau menempur Siauw-lim-sie Ngo-lo, hingga namamu tersiar
dikolong langit, bagaimana tidak ada harga untuk menanyakan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 196
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

nama Pinto? Cuma saja Pin-to anggap kita turun tangan segebrakan
saja sudah habis perlu apa harus menyebut-nyebut tentang nama."
Kang It Peng lantas menyelak: “Percuma kau Cian-pi-sin-mo
yang sudah hidup sampai begini tua sekalipun kau belum pernah
melihat Ci Yang To-tiang, apakah kau pun belom pernah
mendengar namanya?"
Keterangan Kang It Peng ini menyebabkan semua orang yang
berada disekitar itu telah pada terperanjat, karena nama Ci Yang
Tojin ini sudah terkenal diseluruh jagat, ia sebagai Ciang bu-jin dari
partai Bu-tong-pay, sebenarnya tidak gampang-gampang la me-
ninggalkan bukitnya tapi entah bagaimana Kang It Peng sudah
dapat mengundangnya.
Cian-pi-sin-mo mengawasi Ci Yang Totiang dengan tajam,
kemudian berkata:
“Oh, kiranya Cian-bun-jin dari Bu-tong-pay kini nampakkan
diri, aku Thin Pak Tao sungguh beruntung, sebelum aku
meninggalkan dunia yang fana ini, telah mendapat kesempatan
untuk bertemu dengan seorang yang berilmu tinggi dan terkenal
diseluruh jagat."
Ci Yang Tojin berkata: “Teng Tay Kouw ada mempunyai
hubungan dalam dengan partay kita, untuk mentaati Ciang-bun-jin
kita yang terdahulu, Pinto tidak boleh tidak horus mencarinya,
dalam hal ini sedikitpun tidak terselip permusuhan pribadi, Lo-eng-
hiong telah sesumbar hendak menuntut balas untuknya, maka Pinto
tidak boleh tidak terpaksa datang menemui Lo-eng-hiong."
Thio Pak Tao bertanya dengan suara keras: “Teng Tay Kouw
dengan kalian Bu-tong-pay ada mempunyai hubungan apa? Coba
kau terangkan. Aku Thio Pak Tao yang sudah hidup sampai begini
tua belum pernah dengar soal ini. Kau Ci Yang Totiang adalah

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 197
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ciang Bun Jin dari Bu-tong-pay, tidak boleh kau berkata


sembarangan, apalagi menista orang."
Ci Yang Totiang berubah wajahnya, tetapi segera tampak
tenang kembali, lain dengan senyum iapun menjawab:
“Sebenarnya hal ini mengenai urusan dalam partay kita Bu-
tong-pay, tidak sebarusnya aku memberitahukan kepada orang lain,
tapi sekarang kau bertanya dan terpaksa Pinto memberi penjelasan."
Bicara sampai disitu, wajahnya tiba-tiba berubah keren, lalu berkata
pula: “Kau tahu Teng Tay Kouw adalah murid murtad dari partay
kita, kalau Pinto melukai Teng Tay Kouw, itu adalah karena
mentaati pesan Ciang-bun-jin kita yang terdahulu, yang maksudnya
untuk membersihkan partay kita. Pinto tidak tahu urusan ini ada
hubungan apa dengan kau Thio Lo-eng-hiong, yang selalu sesumbar
untuk menuntut balas untuknya?"
Cian-pi-sin-mo berkata: “Soal ini? Susah kukatakan, sebelum
Teng Tay Kouw menarik napasnya yang penghabisan, aku sudah
berjanji padanya untuk menuntut balas, tidak perduli dia adalah
murid dari golongan mana, aku hanya tahu siapa yang membunuh
mati Teng Tay Kouw, aku harus membunuh mati pembunuhnya."
Ci Yang Totiang kerutkan alisnya dan menjawab: “Kalau
begitu apa kau sudah anggap pasti dapat menuntut balas?"
Cian-pi-sin-mo melancarkan serangannya keudara mengarah Ci
Yang Totiang seraja berkata: “Kau coba saja! Aku mampu me-
nuntut balas apa tidak?" Selagi Ci Yang Totiang hendak menangkis,
tapi sudah didahului oeh Kang It Peng, sambil mengelakkan
serangan Thio Pak Tao iapun berkata sambil tertawa:
“Perlu apa kau tergesa-gesa? Cepat atau lambat toch kita akan
membikin perhitungan, anal kau mempunyai kepandaian, aku
bersama Ci Yang Totiang bersedia menggantikan jiwa si orang she

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 198
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Teng itu. Seorang telah mendapat ganti dua jiwa, itu tidak terhitung
rugi. Cuma saja malam ini cuaca ada buruk, lebih baik kita tetapkan
suatu hari dan suatu tempat yang sunyi supaya kita bertanding
secara tenang untuk mein bereskan segala dendam kesumat."
Thio Pak Tao delikan matanya lalu berkata “Itu yang paling
baik! Kau sebutkan saja tempat dan harinya."
“Kira-kira sepuluh lie dari sini," jawab Kang It Peng, “Di situ
ada terdapat sebuah tepi telaga yang sepi, yang dinamakan orang
Ho-louw-wan, tiga hari kemudian kita nanti mengadakan
pertandingan mati hidup ditempat itu, kau pikir bagaimana?" sahut
Cian-pi-sin-mo.
“Baik,” sahut Cian-pi-sin-mo. “Demikian kita telah tetapkan."
Kemudian ia menoleh dan berkata kepada Tong Cin Wie:
“Orang yang membunuh Suhumu sudah datang sendiri, tiga hari
kemudian kalian boleh membuat perhitungan dengannya."
Tong Cin Wie menampak sikap Thio Pak Tao yang dengan
lancang menerima janji, meskipun dalam hati merasa tidak senang
tapi tidak berani utarakan, ia cuma meng-angguk-anggukkan kepala
sebagai jawaban.
Kang It Peng menoleh lalu berkata kepada Sun Tay Beng dan
Koo Hong: “Jie-wie sudah terlalu capai, mari kita pulang."
Thay-si Sian-su ketika menampak empat orang itu sudah
berlalu maka ia berkata kepada Thio Pak Tao: “Thio Locian-pwee
telah menerima baik janji mereka untuk mengadakan pertemuan di
Ho-louw-wan, tapi orang-orangnya Tong-heng sudah pada masuk
ke Siang Ke Cun ini bagaimana baiknya?"
Sebelum Cian-pi-sin-mo menjawab Tong Cin Wie sudah
mendahului seraja tertawa getir : “Sudah cukup lama mereka pergi,

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 199
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

kalau mereka berhasil dalam usahanya seharusnya sudah


membereskan urusannya, kalau dirubuhkan oleh lawannya
seharusnya sudah lari pulang."
Cian-pi-sin-mo ketika mendengar kata Tong Cin Wie yang
seperti kurang puas atas penerimaan baik janji Kang It Peng untuk
mengadakan pertempuran di Ho-lousy-wan, maka ia lantas tertawa
dan kemudian berkata:
“Gin-si-siu Kang It Peng namanya sudah terkenal sejak dua-
puluh tahun berselang sudah tentu dia itu bukan orang
sambarangan, dan Ci Yang Tojin adalah seorang Ciang-bun-jin dari
patray Bu-tong-pay, sudah pasti mempunyai kepandaian silat tinggi.
Aku yakin dapat melayani satu diantara mereka berdua itu, tapi jika
mereka berdua turun tangan berbareng, aku tidak sanggup melawan.
Aku janjikan tiga hari kemudian untuk bertemu di Ho-louw-wan
sebenarnya ada mengandung lain maksud, aku hendak
menggunakan kesempatan selama tiga hari ini untuk mengupdang
seseorang supaya memberikan bantuan. Aku dengan Suhumu tidak
banyak mempunyai sahabat yang karib, orang yang aku akan
undang itu bukan saja dikenal betul dengan aku, tapi juga kenal baik
dengan Suhumu."
“Siapa orang itu?" tanya Tong Cin Wie. “Orang itu,
empatpuluh tahun berselang," jawah Thio Pak Tao. “Sudah
mengasingkan diri dipegunungan, selama beberapa puluh tahun ini
belum pernah menunjukkan muka didunia Kang-ouw. hidupku aku
cuma mengalasni kekalahan dua kali, yang pertama aku kalah
ditangan It Kwan Sian-jin, Ciang-bun-jin dari kuil Siauw-lim-sie di
Siong-san, kedua kalinya aku kalah ditangan orang itu. Meski
Suhumu juga pernah bertanding dengan aku situ hari satu malam
lamanya, tapi kalau pertandingan itu diteruskan ia pasti kalah.
Orang yang aku maksudkan kepandaiannya lebih tinggi dari aku itu
sudah tentu lebih kuat daripada Suhumu. Dula aku kira Suhumu
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 200
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

mati ditangan Kang It Peng, tapi tidak nyana bahwa ia terluka


ditangan Ci Yang Totiang. Cuma saja orang itu sifatnya ada lebih
kukuay daripadaku sendiri, maka dapat atau tidaknya aku
mengundang dia masih sukar diduga. Kalian sekarang boleh pulang
dulu ke Ie Ciu Wan untuk menanti aku, aku hendak coba. berusaha
mengundangnya."
Sehabis ia mengucapkhan kata-katanya itu tanpa menantikan
jawaban Tong Cin Wie lagi iapun segera bertindak lalu lenyap dari
pandangan.
Thio Pak Tao sejak menerima undangan Tong Cin Wie, jarang
sekali ia membuka mulut, wajahnya yang demikian dingin,
membuat orang yang melihat menimbulkan kesan yang tidak baik
tapi malam ini ia telah berbicara banyak sekali, ini adalah suatu
kenyataan bahwa Thio Pak Tao menganggap persoalan ini sangat
gawat.
Tong Cin Wie dan Thay-si Sian-su saling berpandangan lalu
dalam hati masing-masing timbal suatu perasaan yang aneh, mereka
tidak nyana bahwa menuntut balas terhadap bekas pegawai negeri
telah menimbulkan persengketaan yang berekor hebat, sekarang
sudah keterlanjur, sudah tentu mereka tidak dapat mundur lagi.

– ooOoo –

IX.

Tatkala menampak di Siang Ke Cun sedang berkobar api, Tong


Cin Wie selagi hendak menghampiri dan menarik mundur orang-
orangnya tiba-tiba dari jauh telah kelihatan beberapa bayangan
orang yang lari mendatangi.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 201
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Oey Ceng Tan dan Hoan Kong Hong yang dalam keadaan luka
membawa kawan-kawannya pulang kembali. Sebetulnya bagi
mereka juga tidak mudah dapat meloloskan diri, tapi saat itu Kang
Sian Cian sedan repot menolong api hing-ga tidak sempat mengejar
mereka.
Cin Tiong Liong dan Ong Bun Ping, tatkala menampak kawan-
an penjahat menerjang masuk, dalam hati juga sangat cemas, maka
lantas putar senjatanya dan menyerang secara hebat, hingga
beberapa kawanan penjahat telah terluka atau binasa ditangan
mereka.
Begitulah. keadaan Yan-san Ji Kui, Kim-ling Siang-khoay serta
Pek-hoa Nio-cu sudah tidak mendapat kesempatan untuk masuk
kegedungnya Chie Ciat-su. Terutama Pek-hoa Nio-cu yang sudah
tertarik oleh diri Ong Bun Ping, tatkala ia menampak kawanan
penjahat mengurung Cin Tiong Liong dan Ong Bun Ping, yang
sudah kena dihatinya maka ia segera mengangkat senjatanya lalu
memburu kepiliak Ong Bun Ping. Nampaknya ia hendak
menyerang Ong Bun Ping tapi sebenarnya memberi bantuan tenaga
sebab bacokannya diarahkan ke-temannya sendiri.
Siang-ling dan Yan-san Ji-kui yang melihat perbuatannya Peek-
hoa Nio-cu tersebut, meski tahu yang Pek-hoa Nio-cu berbuat
hianat terhadap pihaknya tapi tidak berani membuka mulut.
Demikianlah, kalau orang-orang yang dipimpin oleh Oey Ceng
Tan hampir habis seluruhnya, maka orang-orang yang berada
dibawah pimpinan Hoan Kong Hong juga sudah tinggal sedikit.
Setelah kawanan penjahat itu menyingkir dari Siang Ke Cun, Cin
Tiong Liong dan Ow Bun Ping lantas menampak kedatangan Kang
It Peng, Sun Tay Beng, Koo Hong dan seorang Tosu yang mereka
tidak kenal maka mereka memburu menemui mereka dan memberi
hormat.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 202
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Kang It Peng sambil menunjuk sang Imam (Ci Yang To-tiang)


lalu berkata kepada mereka:
“Kalian lekas memberi hormat, dia adalah Ci Yang To-tiang,
Ciang bun-jin dari Bu-tong-pay yang namanya terkenal diseluruh
jagat."
Ong Bun Ping dan Cin Tiong Liong lantas pada memberi hor-
mat, kemudian bersama mereka kembali kegedung keluarga Chie.
Pada saat itu api yang menyala sudah dipadamkan oleh Kang Sian
Cian dan Koo Jie Lan. Tatkala Si Cian menampak kedatangan
Yayanya, buru-buru ia memberi hormat, begitu juga Koo Jie Lan,
kemudian Kang It Peng memimpin bangun dua anak dara itu lalu
perkenalkan kepada Ci Yang To-tiang.
Kang Sian Cian ajak mereka memasuki ruangan tetamu,
kemudian mengundang Chie Ciat-su untuk menemui Yayanya.
Sambil menyoja berkatalah Kang It Peng kepada Chie Ciat-su:
“Apakah Tay-jin masih ingat bahwa pada tigapuluh tahun
berselang pernah menolong seorang yang bernama Kang It Peng?"
Chie Ciat-su berpikir lama, tapi tidak bisa ingat lagi. Kemudian
Kang It Peng tertawa bergelak-gelak.
“Itu ada kejadian pada tigapuluh tahun berselang …….. ”
katanya Kang It Peng.
– ooOoo –

Ternyata pada tigapuluh tahun berselang, Chie Kong Hiap baru


saja menjabat pangkat sebagai bupati dikota Hong-thay, pada suatu
hari dikota terstbut telah terjadi perkara pembunuhan, polisi telah
menangkap seorang tua yang sedang sakit keras, mereka
menyatakan bahwa orang itu ada pembunuhnya Chie Kong Hiap.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 203
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Karena usia orang tua itu kira-kira limapuluh tahun, jenggotnya


putih, wajahnya simpathik, tidak mirip dengan seorang yang
melakukan pembunuhan. Orang itu adalah Kang It Peng. Cuma saja
saat itu ia sedang sakit keras, segala pertanyaan ia tidak dapat
menjawab, hingga timbul rasa kasihan didalam hati si bupati itu
lantas berpesan kepada orang-orang bawahannya agar mengobati
penyakitnya baru diperiksa.
Chie Kong Hiap ini tegas menjalankan undang-undangnya,
sesuatu perbuatan yang dianggapnya kurang jelas tentu ia selidiki
sendiri sampai keakar-akarnya.
Kang It Peng yang berada didalam tahanan kota Hong-thay,
oleh Chie Kong Hiap telah dicarikan tabib yang pandai untuk meng-
obati penyakitnya, berkat kepandaian ilmu silat yang dipunyai oleh
Kang It Peng, maka tidak lama setelah ia berobat iapun sembuh-lah.
Setengah bulan Chie Kong Hiap menanti saja dan setelah
melihat Kang It Peng sembuh sama sekali baru dilakukan pemerik-
saan atas dirinya.
Dalam pemeriksaan itu Chie Kong Hiap telah mendapat
kenyataan bahwa Kang It Peng bukan pembunuhnya. Menurut
laporan yang telah diterima, ada mengatakan bahwa Kang It Peng
tiap malam tiada berada dikamarnya, pelayan rumahnya
mengatakan ada berapa malam pulang diwaktu malam mengambil
jalan dari atas rumah. Pada saat itu Kang It Peng sedang berada di
Hong-thay untuk mencari musuhnya, tidak nyana ia telah difitnah
oleh musuh-nya yaitu selagi ia tidak berada dikamar musuhnya itu
telah mengasihkan racun dicangkirnya. Kang It Peng yang tidak
menduga samasekali lantas minum saja teh dalam cangkir yang
ditaruh-kan racun itu, untung ia berkepandaian sangat tinggi, maka
tatkala mengetahui dirinya terkena racun, lantas duduk bersemadi
untuk menghilangkan racun. Ia pikir hendak menggunakan tenaga

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 204
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

dalamnya supaya dapat memaksa racun keluar. Oleh karena cepat


mengetahui lagi pula ilmu tenaga dalam Kang It Peng sudah sangat
sempurna, maka setelah bersemadi tidak lama racun itu dapat
dipaksa keluar.
Siapa nyana baru saja selesai usahanya, sang musuh itu datang
dengan mendadak. dengan kecepatan seperti kilat musuh itu telah
menyerang Kang It Peng lalu kemudian melarikan diri.
Kang It Peng kala itu habit menyelesaikan semadinya, sehingga
tidak berdaya menghadapi musuhnya. Serangan itu telah mengenai
dengan telak, sehingga seketika itu juga si orang she Kong
menyemburkan darah segar karena lukanya tapi kemudian ia
ditangkap oleh polisi yang mengira ia sebagai penjahat yang
melakukkan perampokan dan pembunuhan.
Untung Chie Kong Hiap bertindak bijaksana, setelah melihat ia
berada dalam keadaan sakit lantas diobati sehingga sembuh dan
kemudian setelah mengetahui duduknya perkara yang sebenarnya
lantas ia dibebaskan.
Semua kejadian tersebut diatas Chie Kong Hiap sudah lupa,
tapi Kang It Peng selalu mengingat budi itu, sick karena sebagai
orang rimba persilatan yang selalu mengutamakan kebajikan apa
lagi Kang It Peng yang berkepandaian sangat tinggi dan jarang
menemui tandingan juga belum pernah menemui bantuan orang
lain. Ia ingat betul budi Chie Ciat-su itu, tetapi selalu tidak
mendapat kesempatan untuk membalas. Kali ini Chie Ciat-su telah
terfitnah hingga hampir saja hilang jiwanya dan tatkala ia
mengetahui Chie Ciat-su dilepaskan dari jabatannya dan
dipulangkan kekampungnya maka ia lantas menyurnh cucunya
mengikuti Chie Ciat-su dan melindunginya dari ancaman musuh-
musuhnya.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 205
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Setelah Chie Kong Hiap mendengar penjelasan Kang It Peng


lalu menjura dengan dalam dan berkata samba menarik napas:
“Tigapuluh tahun yang lampau, apa yang aku lakukan hanya
sekedar untuk memenuhi kebajikan sehagai manusia, aku tidak
nyana bahwa Lo-eng-hiong masih tetap ingat didalam hati, hingga
hari ini tigapuluh tahun kemudian setelah terjadi hal tersebut, Lo-
enghiong telah korbankan waktu dan tenaga serta tanpa
menghiraukan keselamatan diri sendiri telah menolong diri kami
sekeruaraga, hal ini membuat aku Chie Kong Hiap sekeluarga
mengucapkan banyak-banyak terima kasih."
“Kalau bukan karena pertolongan Tay-jin pada tigapulun tahun
berselang," sahut Kang It Peng, “Mungkin Kang It Peng sudah
menjadi setan gentajangan yang mengandung penasaran dan aku
bisa hidup selama tigapuluh tahun itu adalah pemberean Tay-jin,
maka untuk sekedar memberi bantuan ini ada suatu hal yang
seharusnya, tapi kini ternyata karena kedatanganku sedikit
terlambat membikin gedungmu telah terbakar sebagian. Hal ini
telah membikin hatiku merasa tidak enak."
Kedua orang itu lalu saling merendah. Chie Keng Hiap lalu
memerintahkan orangnya untuk menyediakan kamar-kamar untuk
tamu-tamunya.

– ooOoo –

Kita tinggalkan dulu tentang Kang It Peng dan Ci Tang To-


tiang yang menginap di rumah keluarga Chie dan kita balik pula
kepada Tong Cin Wie serta Thay-si Sian-su yang menampak Oey
Ceng Tan dan kawan-kawannya telah kembali dalam keadaan luka-
luka.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 206
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tatkala kedua orang itu memeriksa orang-orang bawahannya


dan kedapatan separuh lebih yang luka dan binasa hingga terpaksa
kembali ke Ie Ciu Wan dengan hati murung. Dalam pertempuran itu
bukan saja membuat hati kawanan penjahat pada kuncup, Tong Cin
Wie sendiri juga merasa kehilangan kepercayaannya pada dirinya
dan musnah harapannya untuk menjagoi didaerah Kanlam. Ia tidak
menyangka bahwa kedatangannya dengan sepenuh tenaga yang ada
dari lima povrinsi Utara dalam segebrakan saja, telah mengalami
kekalahan begitu hebat. Nampaknya kedatangannya ke Selatan
untuk menuntut balas itu barangkali akan menemui kegagalan.
Kang It Peng dan Ci Yang To-tiang, setelah menginap satn
malam dirumah keluarga Chie, esok paginya pagi-pagi sekali, Kang
It Peng sudah panggil Sian Jie datang kekamarnya, untuk
menanyakan bagaimana pikirannya terhadap Chie Sie Kiat.
Meski Kang Sian Cian seorang gadis yang gagah luar biasa,
tapi tatkala ditanyai tentang urusan dirinya, tidak urang merasa
jengah dan malu, tapi karena ditanya berulang-ulang oleh Yayanya,
terpaksa ia menjawab dengan tundukan kepala:
“Ia orangnya baik ……..” Cuma begitu saja jawabannya, ia tak
dapat melanjutkan pula.
Kang It Peng elus-elus rambut kepalanya lalu berkata sambil
tertawa, “Kalau benar ia adalah seorang baik, tentunya kau terima
baik perjodoan ini."
Si nona cuma menjawab dengan menganggukkan kepalanya
saja.
Kang It Peng herkata pula:
“Tiga hari kemudian, kita akan mengadakan pertempuran mati-
matian dengan Tong Cin Wie dan kawan-kawannya, pertempuran
itu akan dilakukan di Ho-lo-wan, aku akan suruh Suhumu dan Koo

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 207
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Supemu untuk membicarakan secara resmi dengan keluarga Chie,


aku sendiri akan menantikan setelah kalian telah selesai
melangsungkan perkawinan barulah meninggalkan tempat ini."
Kang Sian Cian menanya, seraya angkat kepalanya:
“Yaya, mengapa kau tidak tinggal disini saja?"
Si Yaya menjawab sambil tertawa: “Apa kau kira Yayainu
dapat mengikuti kau seumur hidupmu? Kalau kau nanti sudah
berumah tangga hatiku nanti tidak ada apa-apanya lagi yang dibuat
pikiran. Maka aku hendak mencari suatu tempat yang sunyi dan
indah permai pemandangannya, untuk melewatkan hari tuaku
dengan tenang."
“Kalau begitu," kata si nona, “Yaya selanjutnya akan tidak
perdulikan cucunya lagi?"
“Urus sih sudah tentu mau urus," sahut si kakek, “Cuma saja
bagaimana aku bisa mengurus banyak hal? Kau yang selamanya
belajar ilmu silat dan ilmu pedang, sehingga adatmu sudah mirip
seperti kuda liar, dikemudian hari setelah kau menjadi menantu
orang, kau harus baik-baik menghormati mertuamu. Untuk
selaajutnya, setiap tahun sekali aku akan menyambangi kalian."
Mendengar ucapan Yayanya itu, Sian Cian bersenyum. Kalau
dipihak Kang It Peng sudah memanggil Sian Cian kekamarnya
untuk membicarakan perjodoannya make dikamar lain Chio-bin-
giam-lo juga sudah panggil Ong Bun Ping agar bicarakan akan
soalnya.
Begitu menampak si pemuda, lantas pertama-tama Sun Tay
Beng mengajukan pertanyaannya demikian:
“Aku beri pelajaran silat kepada murid seperti kau ini, tidak
nyana telah membawa kekesalan dan kerewelan yang tidak sedikit.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 208
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sekarang aku hendak tanya kau, bagaimana anggapanmu tentang


diri nona Koo?"
“Koo Sumoy," jawab Bun Ping, “Orangnya baik dan ilmu
silatnyapun tinggi, Tee-cu sangat hargai sekali dirinya."
“Kalau orangnya baik dan ilmu silatnya tinggi,” kata Sang
Suhu, “Apakah kau suka padanya?"
Si pemuda berpikir sambil tundukkan kepala dan kemudian ia
menjawab: “Tee-cu hanya hargai dan junjung tinggi sifat dan ilinu
silatnya Koo Sumoy, hal yang lain belumlah dipikirkan."
“Jawaban yang enak sekali didengarnya," kata sang Suhu seraja
anggukkan kepalanya, “Kau telah elakan persoalan yang berat dan
menjawab yang ringan. Sebetulnya aku tidak seharusnya
mencampuri segala urusan semacam ini, tapi sekarang nampaknya
tidak boleh tidak aku harus turut campur tangan. Sekali lagi aku
tanya padamu, apakah dalam hatimu menyukai Kang Sumoymu?"
Ong Bun Ping bungkam dan tundukkan kepalanya. Sun Tay
Beng berubah wajahnya lalu bertanya pula dengan suara keren:
“Katakanlah! Kau tidak boleh menipu aku."
Si pemuda itu ketika nampak sikap dan wajah Suhunya telah
herubah demikian bengis, terpaksa anggulekan kepala dan berkata:
“Tee-cu yang agak lain; bergaul dengan Kang Sumoy, maka
terhadapnya agaknya lebih rapat."
“Kau tahu apa tidak," kata Sun Tay Beng, “Kang Sunioymu
sudah dijodokan dengan Chie Kong-cu dan Yayanya!"
Ong Bun Ping gelengkan kepala seraja berkata: “Tee-cu tidak
mengetahui urusan ini."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 209
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Tahu atau tidak," kata pula Sun Tay Beng, “Bukan merupakan
soal, sekarang aku cuma mau tahu, maukah engkau menikah dengan
nona Koo?”
“Tee-cu seumur hidup ini tidak akan berpikiran lagi untuk
berumah tangga," sahut Ong Bun Ping dengan suara getir.
“Kalau begitu," kata Sun Tay Beng, “Aku akan perintahkan kau
menikah dengan nona Koo, hendaknya engkau setuju karena ini
untuk kebaikan kita bersama."
“Perintah Suhu, sudah tentu Tee-cu tidak lierani
membangkang!" jawab Ong Bun Ping sambil tundukkan kepala dan
cucurkan air mata.
Chio-bin-giam-lo menghela napas. “Dalam urusan ini,"
kemudian katanya, “Sebetulnya aku tidak sudi ikut campur, kalian
orang-orang dari golongan muda ada mempunyai pikiran sendiri
dan pilihan sendiri, cuma saja karena Kang Sumoymu sudah
mendapat jodoh, dan Koo Jie Lan orangnya juga tidak dibawah Sian
Cian, apalagi ia ada begitu menyintai dalam sekali terhadap kau.
Kalau kau sudah terima baik perjodoan ini, hatimu tidak boleh
bercabang lagi ……..!”
Bicara sampai disini, kebetulan Kang It Peng juga masuk
kekamar. Ong Bun Ping pesut air matanya, lantas berlutut
dihadapannya si jago tua itu tapi ia dikasih bangun seraja berkata:
“Adatnya Sian-jie ada sangat binal, nona Koo ada banyak lebih
baik daripadanya. Baiklah aku ingin menjadi perantara untuk
merangkapkan perjodoan kalian berdua."
Kang It Peng berkata demikian dengan mengnghela napas,
kemudian menceritakan bagaimana Koo Jie Lan telah memikiri si
anak muda serta sudah bertekad bulat tidak akan menikah dengan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 210
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

orang lain. Didesak demikian rupa hingga Ong Bun Ping tidak
berdaya lagi, sehingga terpaksa berkata seraya tersenyum:
“Budi kecintaan dari Loo-cian-pwee Boan-pwee merasa
berteritria kasih, urusan Boan-pwee biarlah Boan-pwee serahkan
kepada Loo-cian-pwee bersama Suhu yang mengambil keputusan,
Boan-pwee akan menurut saja."
Berbareng ia menyura pada Kang It Peng dan Sun Tay Beng
lalu segera mengundurkan diri.
Setelah Ong Bun Ping berlalu. Kang It Peng pun berkata pada
Sun Tay Beng dengan geleng-geleng kepalanya:
“Aku benar-benar tidak habis mengerti, mengapa Bun Ping bisa
jatuh cinta kepada Sian-jie yang sifatnya berandalan? Dengan terus
terang saja baik adatnya maupun romannya sebetulnya Koo Jie Lan
masih lebih baik daripada Sian-jie."
“Karena. urusan ini," sahut Sun Tay Beng sambil tersenyum,
“Koo Hong telah timbul salah mengerti dengan aku sampai empat
atau lima tahun lamanya, dalam urusan ini sebenarnya kita tidak
bisa memaksa, tadi Bun Ping meski terima baik pernikahan ini, tapi
agaknya ia tidak begitu senang. Kalau kita paksa mereka menikah,
akibatnya susah diduga."
Sehabis berkata Sun Tay Beng menghela napas panjang.
“Menurut pemandanganku," kata Kang It Peng, “Soal ini
agaknya tidak begitu hebat seperti apa yang kau pikirkan. Ong Bun
Ping dengan Koo Jie Lan ada merupakan perjodoan yang setimpal,
anak-anak muda yang agak sedikit lama bergaul dengan sendirinya
pasti timbul rasa sukanya."
“Kita tidak usah bicarakan ini lagi," sahut Sun Tay Beng seraja
gelengkan kepalanya. “Kita harus mempelajari soal perjanjian kita

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 211
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

dengan Tong Cin Wie yang dalam tempo tiga hari lagi akan
mengadakan pertempuran di Ho-lo-wan. Benar-benar aku tidak
mengerti, mengapa kau harus ulur tempo sampai tiga hari, apa
maksud kau yang sebenarnya?"
“Tahukah kau?" tanya Kang It Peng, “bahwa Cian-pi-sin-mo Thio
Pak Tao ada mempunyai seorang sahabat karib yang bernama Goei
Liong dan julukannya, Sam-ciu-kim-kong atau 'malaikat tiga
tangan', orang ini kalau mau dibandingkan dengan Cian-pi-sin-mo
masih jauh sekali lebih lihay, Ci Yang To-tiang dengan
kedudukannya yang tinggi sebagai satu pemimpin partay besar,
telah sudi meninggalkan Bu-tong-san untuk beri bantuan tenaga
pada kita dengan maksud ialah It Hok To-tiang pada empatpuluh
tahun berselang pernah bertanding dengan Goei Liong, yang
akhirnya It Hok To-tiang telah kalah karena serangan Goei Liong
yang dinamai 'Ngo-tok-sin-koan' dan belum sampai tiga bulan It
Hok kembali diatas gunung ia telah binasa.
Sebelum ia mangkat ia telah menurunkan kepandaian ilmu silat dari
partai Bu-tong-pay yang paling tinggi yang dinamakan Bu-kek,khi-
kang kepada Ci Yang To-tiang, serta meninggalkan pesan, bahwa
Ci Yang To-bang harus melaksanakan dua persoalan besar.
Kesatu ialah mencari dan membinasakan murid yang murtad
dari partay Bu-tong yaitu Teng Tay Kouw, kedua jalah membunuh
Sam-ciu-kim-kong Goei Liong. Tatkala Goei Liong bertempur
dengan It Hok To-tiang, meski ia bisa melukai It Hok To-bang
dengan 'Ngo-tok-sin-koan'nya, tapi ia sendiri, juga terkena
serangannya sang lawan yang bernama „Bian-ciang‟.
Serangan itu meski tidak membahayakan jiwanya tapi sebenarnya
hebat, tunggu setelah lukanya sembuh sudah tentu ia akan
menggunakan 'Ngo-tok-sin-koan'nya untuk membasmi habis murid'

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 212
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Bu-tong-pay. It Hok To-tiang setelah meninggalkan pesannya telah


menarik napasnya yang penghabisan.
Ci Yang To-bang setelah memanaku jabatan sebagai Ciang-bun-jin
(pemimpin) dari golongan Bu-tong-pay, lantas mulai melatih
dirinya dengan rajin dalam ilmu silat Bu-kek-khi-kang. Goei Liong
sendiri pada saat itu juga lenyap dari kalangan Kang-ouw, ia telah
bersemadi untuk merawat lukanya dan melatih lagi ilmu 'Ngo-tok-
sin-koan'nya, duapuluh tahun lamanya ia berbuat demikian akhirnya
lukanya sembuh. Benar saja ia lantas mencari It Hok To-tiang ke
Bu-tong-san, dengan ilmunya ia telah melukai Suheng Ci Yang To-
tiang dan empat murid Bu-tong-pay. Pada kala itu, Ci Yang To-
tiang masih belum selesai melatih ilmunya Bu-kek-Ichi-kang,
karena menganggap tidak ada gunanya untuk melawan dengan ilmu
silat yang baru dilatih itu, maka terpaksa bersama-sama empat
murid Bu-tong-pay dari golongan tua untuk menghadapi Goei
Liong.
Selagi kedua pihak bertempur dengan hebat, kebetulan itu waktu
aku sedang berkunjung ke Bu-tong-san, dan kemudian aku memberi
hantuan sedikit tenaga kepada pihaknya Ci Yang To-tiang, hingga
Goei Liong terluka lagi dan lantas kabur.
Selanjutnya Ci Yang To-tiang lebih rajin melatih ilmu silat Bu-kek-
khi-kangnya tiga puluh tahun lamanya belum pernah alpa-kan
barang satu hari, hingga ilmu itu akhirnya dapat dikuasai olehnya
sampai mahir benar.
Selama itu telah terjadi rupa-rupa hal, cuma saja tidak menerbitkan
bencana apa-apa. Aku memang sengaja menyanjikan waktu tiga
hari dengan mereka, karena aku menduga tentu akan menggunakan
waktu tiga hari itu untuk pergi mengundang Goei Liong, supaya
segala permusuhan selama berpuluh-puluh tahun itu dapat
dibereskan sekaligus dalam pertempuran di Ho-lo-wan itu. Kalau

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 213
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

tidak, sekalipun kita bisa menyingkirkan Cian-pi-sin-mo dan Tong


Cin Wie serta kambrat-kambratnya, tapi dengan meninggalkan Goei
Liong, juga merupakan bencana dikemudian hari."
Sun Tay Beng mengangguk-anggukkan kepala, kemudian
berkata:
“Tentang diri Sam-ciu-kim-kong itu, aku juga pernah
mendengar orang katakan bahwa ia agaknya jarang muncul didunia
Kang-ouw."
“Si Iblis tua itu," kata Kang It Peng, “Terlalu pandang tinggi
dirinya sendiri, ia jarang sekali bergerak dikalangan Kang-ouw,
sudah tentu tidak banyak orang yang mengetahui tentang dirinya.
Selama beberapa puluh tahun itu untuk merawat lukanya tambah
jarang ia keluar pintu. sebetulnya tempat tinggalnya diatas gunung
Pak-sia-san yang tidak jauh letaknya dari sini."
“Kalau begitu," sahut Sun Tay Beng, “Pertempuran di Ho-lo-
wan itu nanti akan merupakan pertempuran yang ramai."
“Itu adalah satu pertempuran yang maha hebat," menetapkan
Kang It Peng, yang mungkin akan diakhiri dengan keadaan yang
mengerikan, Ngo-tok-sin-koan Goei Liong, boleh dikata ada
merupakan satu kepandaian istimewa dalam rimha persilatan dan
Bu-kek-khi-kang Ci Jung To-tiang juga ada satu kepandaian ilmu
tenaga dalam yang sangat tinggi, tapi ia akan mampu atau tidak
untuk menahan serangan Ngo-tok-sin-koan hal itu masih sukar
untuk diramalkan."
“Pek-po-sian-koan dan Pek-kong-ciang," kata Sun Tay Beng,
“Dua rupa ilmu serangan itu sama-sama merupakan ilmu silat
tenaga dalam, ini aku mengerti, tapi mengapa diatas istilah dengan
tangan harus ditambah dengan lima racun (ngotok), apakah Goei

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 214
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Liong itu telah mengumpulkan hewan lima jenis racun itu kedalam
dirinia sendiri?"
Kang It Peng berkata: “Apa yang dinamakan Ngo-tok-sin-koan
itu bila kita tinjau dari namanya saja sudah bisa mengerti bahwa
serangannya itu diharengi dengan lima jenis racun yang sangat
berbahaya untuk jiwa sang lawan. Tapi bagaimana caranya melatih
dan lima jenis racun itu terdiri dari racun apa, aku sendiri juga tidak
mengetahui dengan jelas ……..!”
Bicara sampai disini, dari luar kamar telah terdengar suara Ci
Yang To-tiang tertawa, kemudian berkata:
“Ngo-tok-sin-koan kepunyaan Goei Liong, kalau kena diri
orang sudah tidak ada obatnya lagi, obat pil Kang-heng yang
dinamai Siau-hoan-tan meski-pun dapat memusnahkan segala
racun, tapi barangkali tidak berdaya untuk memusnahkan lima jenis
racun Goei Liong itu. Jie-wie kalau ada kegembiraan mari kita
bicarakan Ngo-tok-sin-koan kepunyaan Goei Liong itu."
Meski Sun Tay Beng biasanya suka bersenda-gurau dengan
orang-orang didunia Kang-ouw, tapi terhadap pemimpin besar dari
partai Bu-tong yang namanya sudah terkenal itu ia hormati sekali,
beda dari biasanya maka setelah menampak Ci Yang To-tiang
masuk dikamar-nya, ia lantas bangkit untuk menyilahkan Ci Yang
To-tiang duduk, kemudian berkata sambil menyura,
“Kalau To-heng sudi, Sun Tay Beng akan mendengar dengan
hormat."
Ci Yang To-tiang membalas hormat dan setelah ambil tempat
duduk iapun herkata:
“Kang-heng adalah satu Kiam-hiap yang kenamaan di jaman
ini, hingga orang-orang digolongan rimba persilatan pada
menjunjung tinggi, maka menurut pendengaran yang sangat luas

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 215
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

terhadap segala ilmu silat dan racun atau senjata rahasia beserta
caranya untuk memusnahkan tentunya sangat paham, ilmu pedang
Tui-hong-kiam yang diciptakan oleh Kang-heng, lebih-lebih telah
merupakan satu ilmu pedang yang istimewa ……..”
Kang It Peng goyang-goyang tangannya sambil tersenyum ia
memotong pembicaraan Ci Yang To-bang:
“Sudah …….., sudah …….. kalian orang dari golongan Bu-
tong-pay siapa yang tidak kenal kalau bukan orang yang mahir ilmu
pedang, ilmu ciptaanku yang tidak berarti ini, bagaimana bisa
dibandingkan dengan ilmu pedang kalian? Apalagi tentang Ngo-
tok-sin-koan kepunyaan Goei Liong aku sendiripun tidak
mengetahui dengan jelas."
“Suhu telah terluka dibawah serangan Ngo-tok-sin-koan," kata
Ci Yang To-bang itu, “Aku telah menggunakan rupa-rupa daya
untuk mencari keterangan, dan ternyata usahaku itu tidak tersia2,
akhirnya aku telah dapat dengar bagaimana caranya ia telah melatih
ilmu silatnya."
Sun Tay Beng lantas bertanya: “Apa bedanya Ngo-tok-sin-koan
dan Pek-po-sin-koan?"
“Pek-po-sin-koan," menerangkan Ci Yang To-tiang. “Telah
menggunakan ilmu tenaga dalam, dengan kekuatan angin untuk
merubuhkan musuhnya, dengan Pek-kong-ciang sama-sama
merupakan ilmu silat tenaga dalam yang sangat tinggi, Ngo-tok-sin-
koan mirip dengan lawannya, bedanya jalah Pek-po-sin-koan dapat
melukai lawannya dengan mengandal kekuatan tenaga dalam yang
asli, tapi Ngo-tok-sin-koan disamping tenaga dalam pun ditambah
dengan hawa racun."
“Kalau begitu." kata Sun Tay Beng, “No-tok-sin-koannya Goei
Liong juga termasuk ilmu silat tenaga dalam. Tapi dengan cara

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 216
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

bagaimana lima jenis jarum itu bisa dilatih dan dimasukkan


kedalam tenaga?"
“Ia cuma menggunakan sebelah tangan kanan," menerangkan
Ci Yang To-tiang, “Setelah direndam dalam air yang dicampuri
lima jenis racun dan kemudian dilatih dengan caranya yang tertentu,
hawa racun itu bisa keluar menurut anginnya serangan."
“Ngo-tok-sin-koannya Goei Liong," menyelak Kang It Peng,
yang sedari tadi tinggal diam saja, “Sebenarnya terdiri dari lima
jenis racun binatang apa?"
“Lima racun itu," kata Ci Yang To-tiang, jalah: solar, kelabang,
kawa-kawa (laba-laba) kalajengking dan kadal, cuma saja solar
harus solar yang sangat beracun, dan keempat binatang lainnya
harus kudu dicari yang sudah berumur 100 tahun lebih. Lima racun
itu dikumpulkan dan dimasukkan kedalam guci, lalu ditanam
dibawah tanah dan biarkan mereka saling bunuh sendiri. Setelah
kira-kira satu tahun kemudian, guci itu lantas diangkat dan
dimasukkan air di-ngin, lalu dimasak supaya air racun itu mendidih.
Orang yang melatih harus merendam tangan kanan atau tangan kiri
kedalam air racun itu setiap hari, supaya hawa racun itu masuk
kedalam tangan, lalu menggunakan tenaga dalam untuk
menyampurkan racun itu hingga terciptalah itu ilmu silat yang
dinamai 'Ngo-tok-sin-koan'. Cuma saja diwaktu melatih ilmu ini,
ilmu tenaga dalamnya orang itu sendiri harus sudah sempurna betul-
betul supaya racun itu tidak dapat menyerang dirinya, karena kalau
tidak racun itu akan merupakan bencana bagi dirinya sendiri."
Sun Tay Beng goyang-goyang kepala dan menghela napas.
“Melatih silat dengan cara demikian," katanya, “tidak perduli
bagaimana kesudahannya, walau bagaimana merupakan satu
siksaan bagi dirinya sendiri."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 217
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Ilmu silat semacam itu," kata Kang It Peng, “Kecuali orang-


orang yang sifatnya ganas dan sangat kejam tapi bagi orang yang
mempunyai sedikit perikemanusiaan saja, sudah tentu tidak sudi
melatih itu. Dalam pertempuran kita di Ho-lo-wan nanti, kita harus
perhatikan betul-betul ilmu Ngo-tok-sin-koan ini."
“Ngo-tok-sin-koan kepunyaan Goei Liong," kata Ci Yang To-
tiang bersenyum, meskipun sangat ganas, tapi asal kita bisa
menjaga dan terus waspada jangan sampai terkena serangan
anginnya, tidak akan menjadikan bahaya apa-apa. Dalam
pertempuran di Ho-lo-wan nanti, sebaiknya kita bertempur satu
lawan satu, aku sendiri yang nanti akan menghadapi Cian-pi-sin-
mo, kalau kita bisa menyingkirkan kedua iblis tua itu maka yang
lainnya kita tidak perlu takuti lagi. Apa yang kita harus takuti jalah
Goei Liong nanti kalau sudah marah benar-benar mungkin menjadi
kalap dan melukai orang sebanyak-banyaknya, angin dari serangan
tangannya bisa mencapai jarak seratus langkah, siapa yang terkena
tidak ada obat-nya. Dalam hal ini harap Jie-wie berpesan kepada
semua kawan kita. Paling baik kita harus menyingkir sejarak seratus
langkah lebih daripadanya."
Tiga orang itu setelah memperbincangkan soal Goei Liong
lantas pada bubaran.

– ooOoo –

X.

Mari kita sekarang kembali kepada diri Ong Bun Ping, yang
telah menerima baik perjodoannya dengan Koo Jie Lan. karena
terdesak oleh perintah Suhunya, perjodoannya itu sudah diterima
baik namun dalam hatinya merasa sangat cemas. Ia sedih karena
mendengar kabar tentang diri orang yang ia cintai sudah menjadi
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 218
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

kepunyaan orang lain dan rasa cinta yang telah berakar dalam,
akhirnya telah merupakan impian kosong. Walaupun Ong Bun Ping
adalah seorang yang tinggi hati dan keras kepala tidak urung ia
tidak tahan menekan penderitaan dalam hatinya, saat itu air matanya
telah mengembeng, setelah menyingkir dari kamar Suhu-nya, lantas
menyembunyikan din dikamarnya sendiri.
Dengan tiba-tiba satu suara yang merdu telah memanggil
padanya:
“Ong Suko kau lagi memikirkan apa?"
Si pemuda menoleh dan ia nampak orang yang memanggilnya
itu adalah Kong-tong Lie-hiap Kang Sian Cian. Karena rasa pilu
didalam hatinya, maka air matanya mengalir tanpa dapat ditahan,
namun ia masih pura-pura seperti tidak ada kejadian apa-apa dan
menjawab:
“Aku sedang memikiri pertempuran kita dengan musuh yang
terjadi tadi malam ……”
Jawaban itu diucapkan dengan secara terpaksa, karena kalau
benar ia memikirkan soal pertempuran tidak mungkin mengucur-
ban air mata.
Si nona yang sudah berusia dua puluh tahun, sudah bukan
merupakan gadis cilik lagi yang tidak mengerti soal cinta seperti
keadaannya pada empat atan lima tahun berselang. Sejak malam itu
tatkala ia pulang sehabisnya menyerepi keadaan Ie Ciu Wan ia telah
dapatkan gelagat yang lain dari Ong Bun Ping, ia mengerti bahwa
Ong Suhengnya ini ternyata diam-diam telah menaruh cinta kepada
diri-nya, kini menampak sikap sang Suheng yang demikian rupa,
dalam hati lantas mengerti. Dengan sejujurnya saja Kang Sian Cian
terhadap dirinya Ong Bun Ping juga menaruh simpathi, cuma saja
Ong Bun Ping saat itu tidak berani mengutarakan isi hatinya

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 219
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

terhadap sinona, sehingga kesempatan yang baik bagi si pemuda


mendapatkan diri si nona telah diberi lewat dengan begitu saja.
Sekarang keadaannya sudah lain, dalam hati Kang Sian Cian sudah
bersarang didiri Chie Sie Kiat, malahan sudah menerima baik
permintaan Yayanya sendiri untuk kawin dengan pemuda itu,
kesempatan telah lewat, maka soal yang sudah lalu kini seperti
awan buyar tertiup angin.
Kang Sian Cian kesima sekian lamanya, dalam hati juga merasa
pilu ia merasakan Ong Suhengnya ini agak berlainan dengan dulu,
kalau dulu ia merupakan satu anak muda yang beradat tinggi dan
berhati dingin, tapi sekarang telah demikian lemah dan keadaannya
sangat mengenaskan. Ia maju menghampiri lalu kembali memanggil
“Ong Suko ……..”
Sebenarnya ia ingin menghibur dengan beberapa patah kata,
tapi baru saja ia mengucapkan 'Ong Suko', kata-katanya yang mau
dikeluarkan itu telah kandas ditenggorokannya. Perlahan. Ong Bun
Ping pun bangkit lalu berkata sambil bersenyum “Kau sudah
ditetapkan perjodohanmu dengan Chie Kong-cu ……..”
Si nona mengangguk.
“Itu bagus," kata Ong Bun Ping, “Chie Kong-cu tinggi ilmu
suratnya, orangnya juga sopan-santun dan tampan, aku barus
memberi selamat kepada Sumoy."
Kang Sian Cian cuma menyahut : “Dia sangat menyintai
diriku."
Ong Bun Ping melompat dari tempat tidurnya lalu dengan
wajah agak berubah ia berkata: “Ia dan Kang Sumoy merupakan
pasangan yang setimpal. Semoga kalian bisa hidup rukun sampai
hari tua."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 220
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Hati Kang Sian Cian bercekat, lama baru ia menjawab sambil


tertawa: “Enci Koo toch masih baik terhadapmu."
Ong Bun Ping mengangguk dan berkata: “Aku tahu."
“Tapi kau masih begitu dingin terhadap dia," kata si nona lagi
sambil menghela napas.
Ong Bun Ping bersenyum getir lalu dengan perlahan ia keluar
dari kamarnya. Kang Sian Cian tahu betul apa yang dipikiri oleh
anak muda itu pada saat itu, karena ia anggap tidak ada gunanya
untuk memberi nasehat dengan mengingat hubungannya dengan
anak muda itu pada masa yang lalu juga ia mearsa sedih lalu dengan
suara terharu ia menanya:
“Setelah pertempuran di Ho-lo-wan nanti selesai, apa kau
hendak turut pulang dengan Suhu?"
“Jika dalam pertempuran yang hebat ini," kata Ong Bun Ping
sambil gelengkan kepala, “Aku masih belum binasa ditangan
musuh, apa akan berdiam disini sementara waktu sampai upacara
pernikahanmu dengan Chie Kong-cu dan setelah selesai barulah aku
akan pergi, dan untuk selanjutnya apa yang akan terjadi didalam
dunia ini, semuanya tidak akan ada hubungannya dengan aku."
Mendengar jawaban itu Kang Sian Cian ferkejut lalu bertanya:
“Kalau begitu kau hendak berbuat apa?"
“Didalam dunia masih ada banyak tempat yang indah-indah!”
jawab Ong Bun Ping, “Aku bermaksud hendak merantau dan
menyelajah diseluruh dunia."
Si nona terharu dan melelehkan air mata. Maka berkatalah ia:
“Apa maksud kau berbuat begitu?"
Ong Bun Ping mengawasi si nona dengan tajam lalu tiba-tiba ia
pejamkan matanya, sudah itu berkatalah ia:

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 221
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

“Karena sebetulnya aku sudah lama menaruh hati padamu, tapi


selama itu aku tidak berani mengutarakan isi hatiku, dalam segala
hal aku merasa tidak sepadan dengan kau, maka aku merasa diriku
sendiri bukan merupakan pasanganmu, sekarang kau sudah
mendapat jodo yang setimpal, sudah seharusnya aku mencari
jalanku sendiri. Suhu telah memaksakan menerima baik pernikahan
dengan nona Koo, yah karena perintah Suhu tidak dapat dibantah,
maka aku terpaksa menerima. Tapi jika benar-benar akan terjadi
demikian, itu beranti mencelakakan diri nona Koo, karena itu
setelah aku berpikir bulak-balik, hanya ada satu jalan yang aka rasa
baik dijalankan, tapi jalan ini ternyata akhirnya buntu, terpaksa aku
harus membunuh diri untuk membalas budi Suhu. Sian Cian
Sumoy, semua ini kau jangan beritahukan kepada orang lain dulu.
Kalau kau tidak menurut, itu berarti kau telah mendesak aku untuk
membunuh diri."
Kang Sian Cian ketika mendengar omongan pemuda itu merasa
seluruh badannya menggigil dan hatinya cemas, hingga air matanya
mengucur deras. Sambil menggenggam tangannya Ong Bun Ping ia
pun berkata:
“Mengapa siang-siang kau tidak mengutarakan padaku semua
ini? Sekarang kau bicarakan semuanya tapi sudah terlambat."
“Diwaktu yang lalu aku tidak berani mengutarakan itu," kata
Bun Ping sambil gojang kepala. “Kalau kau tidak mengutarakan isi
hatirnu, bagaimana aku bisa tahu?" kata si nona, “Tapi sekarang
sudah terlambat, kalau kau benar-benar menyintai aku, seharusnya
kau terima baik permintaanku, aku mu kau menurut perintah
Suhurnu yaitu menerima baik pernikahan dengan nona Koo. Ia
begitu dalarn menyintai engkau jadi kau tidak boleh sia-siakan dia.
Dalam dua hari ini aku berkumpul dengan dia dan dia telah
menceritakan segala rahasia hatinya."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 222
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ong Bun Ping berpikir agak lama, baru ia menjawab: “Aku


akan menerima baik permintaanmu."
“Tapi kau tidak boleh membohongi aku," kata si nona sambil
bersenyum. Kemudian si nona lepaskan genggaman Ong Bun Ping
lalu ting-galkan si pemuda itu.
Tiga hari telah berlalu dengan cepat, kini sudah tiba saatnya
untuk menepati janji untuk mengadakan pertempuran di Ho-lo-wan,
Kang It Peng, Ci Yang To-tiang, Sun Tay Beng, Kang Sian Cian
dan lain-lainnya, pagi-pagi sudah berada di Ho-lo-wan. Ho-lo-wan
ada merupakan satu teluk didaerah didekat telaga Siau-ouw, oleh
karena bentuknya mirip dengan Ho-louw, pintu ma-suk sempit,
dalamnya ada luas, maka disebut Ho-lo-wan.
Belum lama mereka disana telah muncul rombongan Tong Cin
Wie. Kawanan berandal dari Utara ini berjumlah banyak orang, jauh
lebih banyak dari rombongan Kang It Peng.
Orang-orang dari dua pihak lantas pada berdiri berbaris saling
berhadapan, Kang It Peng menampak disisi Cian-pi-sin-mo berdiri
seorang tua yang wajah-nya sangat jelek dan kepalanya botak,
badannya kurus kering seolahg cuma tinggal tulang dibungkus kulit.
Ci Yang To-bang berkata kepada Sun Tay Beng dengan suara
perlahan sekali: “Orang tua itu adalah Sam-ciu-kim-kong Goei
Liong."
Chio-bin-giam-lo sekali lagi memperhatikan orang tua itu,
sekarang ia menampak jelas bahwa lengan baju tangan kanan si
kakek itu jauh lebih panjang, sehingga seluruh tangan kanan-nya
tertutup oleh lengan bayunya. Tangan kirinya memegang sebatang
tongkat besi yang diujrmg atasnya merupakan kepalan orang, lima
jari tangannya seolah-olah hendak mencengkeram orang.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 223
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Koo Hong dan Sun Tay Bang merupakan orang-orang Kang-


ouw yang ulung, segala jenis senjata tajam kebanyakannya pernah
mereka melihat. Tapi senjata Sam-ciu-kim-kong ini, terutama yang
merupakan jari tangan entah apa gunanya.
Koo Hong berkata dengan suara perlahan kepada kawannya:
“Senjata orang Loa itu sangat aneh, itu ujung tongkat yang
merupakan lima jari, tidak tahu bagaimana caranya ia
menggunakannya?"
Kang It Peng berkata: “Senjata yang aneh itu bernama Kui-ciu-
thi-koay atau tongkat besi bertangan setan dan itu benda yang
merupakan lima jari diujung tongkat semuanya sudah direndam
racun. kalau orang menyebutnya Sam-ciu-kim-kong maka
maksudnya ialah senjata yang aneh itu."
Pada saat itu Tong Cin Wie telah menghampiri Kang It Peng
lalu berkata sambil menyura:
“Sekarang kita tidak perlu banyak bicara lagi, kita cuma bisa
menggunakan kaki tangan, tenaga dan ilmu silat untuk
mendapatkan keputusannya. Sekarang aku hendak tanya kepada
Kong Tay-hiap, dengan cara bagaimana kita melaku-kan
pertandingan ini?"
Kang It Peng menghitung orang pihaknya sendiri, ternyata
cuma berjumlah 'tujuh' orang, maka lantas menjawab sambil
membalas hormat si orang she Tons:
“Kita tidak perlu terges-gesa, sebaiknya kita melakukan tiga
kali pertdingan untuk menetapkan siapa yang lebih unggul, bagai-
mana pikiranmu?"
“Bagus," jawab Tong Cin Wie. “Baiklah kita lakukan seperti
apa yang Kang Tay-hiap kehendaki."

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 224
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sehabis berkata iapun balik kebarisannya sendiri, nampaknya ia


sedang berunding dengan Cian-pi-sin-mo dengan suara perlahan.
Sebentar kemudian Thay-si Sian-su melompat keluar dari
barisannya sambil menenteng senjata tongkatnya. Sun Tay Beng
berkata kepada Kang It Peng:
“Si Hweeshio kepada gundul ini dengan aku ada merupakan
musuh bujutan, biarlah aku yang menghadapinya."
“Baiklah,” jawab Kang It Peng sambil mengangguk, “Tapi kau
hams hati" terhadap Ngo-tok Goei Liong. Jangan berada didalam
jarak seratus langkah."
Sun Tay Bang tertawa lalu dengan dua kali lompatan ia sudah
memapaki Thay-si Sian-su. Sambil melintangkan senjatanya ia
berkata kepada Thay-si Sian-su dengan tertawa dingin:
“Hari ini sebelum belum mendapat keputusan kita jangan
berhenti bertempur, kalau bukan kau si Hweeshio yang naik
keakherat, tentu aku si Giam-lo yang akan menjabat pangkatku
disana."
Thay-si Sian-su tidak menjawab apa-apa tapi ia membabat
dengan tongkatnya. Sun Tay Bang membentak keras lalu
mengangkat senjatanya untuk menangkis serangan si Hweeshio itu.
Dalam pertempuran itu masing-masing telah mengeluarkan tenaga
dan kepandaian sepenuhnya, maka tatkala kedua senjata itu beradu
dan mengeluarkan suara dahsjat, masing-masing lantas terpental
mundur tiga tindak.
Pertempuran secara dernikian didalam rimba persilatan, boleh
dikata jarang tertampak. Karena pertempuran semacam itu
sedikitpun tidak boleh menggunakan kelincahan badan, maka
pertempuran secara mengadu tenaga itu kecuali menimbulkan suara
hebat dari beradunya kedua senjata bagi orang kedua pihak yang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 225
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

menyaksikan itu juga pada kuatir, terutama dipihak Sun Tay Beng.
Empat jurus telah berlalu wajah Sun Tay Beng dan lawan-nya pada
berubah karena pertempuran itu. Masing-masing telah
menggunakan tenaga sepenuhnya. Sun Tay Beng Sambil atur
pernapasannya telah berpikir:
“Tidak disangka tenaga dalam si kepala gundul ini demikian
tinggi."
Tapi ia tidak tahu bahwa ketika Thay-si Sian-su menyambuti
tiga kali serangannya telah tergoncang hebat dalam dada kalau ia
berani menyambuti sekali lagi serangan si orang she Sun seketika
itu tentu ia akan binasa. Sayjang. Sun Tay Beng setelah menyerang
hebat tiga kali, ia juga sudah kehabisan tenaga, ini berarti bahwa
kekuatan kedua pihak selisih tidak banyak. Sejenak telah berlalu
dalam keadaan sunyi, kedua orang itu berdiri berhadapan soling
memandang tapi satupun tidak turun tangan lagi. Tapi orang-orang
yang menonton dari kedua pihak, semua tahu bahwa ini ada
merupakan satu kesunyian yang akan menghadapi suatu keputusan,
karena kedua musuh itu masing-masing sedang mengatur jalan
pernapasan untuk memulihkan tenaga supaya bisa melanjutkan
pertempuran yang hebat ini.
Benar saja tidak lama kemudian, senjata Sun Tay Beng sudah
kelihatgn bergerak lagi untuk menyerang Thay-si Sian-su. Kali ini
si Hweeshio tidak berani menyambuti serangan sang lawan, ia
hanya berkelit untuk mengelakan serangan kemudian membabat
bagian hawah lawannya.
Kali ini keduanya telah merubah cara berkelahi, masinga telah
melakukan serangan serba cepat dan gesit, hingga kedua senjata itu
seolah-olah dua naga yang sedang berebutan mustika di udara.
Bagi Ong Bun Ping, Koo Hong, Kang Sian Cian dan Koo Jie
Lan sendiri, juga baru kali ini menyaksikan pertempuran yang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 226
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

demikian hebat, hingga musing-masing pada menyaksikan jalan


pertem-puran yang penuh perhatian. Sebentar kemudian, tiba-tiba
terdengar suara bentakan hebat dari Sun Tay. Beng dan badannya
melompat keatas, lalu dengan menggunakan tipu serangan
'membelah gunung Hoa-san' yang dibarengi dengan tenaga
sepenuhnya senjatanyapun menyerang lawannya.
Thay-si Sian-su mengetahui bahwa serangan itu hebat sekali
maka tidak berani menyambuti senjatanya, ia lompat untuk
mengelakkan serangan tersebut dan senjatanya berbalik menyerang
lawannya. Tidak disangka serangan membelah gunung Hoa-san dari
Chio-bin-giam-lo itu nampaknya hebat sekali, tapi sebenarnya ada
suatu serangan pura-pura, maka berbareng dengan berkelitnya
Thay-si Sian-su maka Sun Tay Beng telah merubah serangannya.
Senjata ditangan kanannya dipakai untuk menjaga dirinya, dan
badannya yang terapung diudara lantas meluncur turun dengan
cepat disamping Thay-si Sian-su. Dengan kecepatan laksana kilat ia
melakukan serangan dengan tangan kirinya. Sebentar kemudian
cuma terdengar suara menggeramnya Thays-i Sian-su, karena kena
serangan hebat dibelakang gegernya. Badannya yang gemuk itu
lantas tampak sempoyongan kedepan kira-kira delapan langkah,
meskipun orangnya tidak rubuh, tapi mulutnya sudah
menyemburkan darah segar.
Ketika Sun Tay Beng hendak kembali kebarisannya tiba-tiba
terdengar Kang It Peng berseru: “Lekas menyingkir!"
Chio-bin-giam-lo buru-buru menengok dan terlihat olehnya
satu bayangan orang yang berkelebat menyamber laksana burung.
Sun Tay Beng lalu memapaki dengan senjatanya. Siapa tahu,
senjata itu seolah-olah disedot oleh tenaga gaib yang sangat kuat,
kemudian disusul dengan suara tertawa yang aneh. Ia waktu itu
merasa kekuatan hebat telah menindih dirinya. Sun Tay Beng kalau
mau menghindarkan serangan tersebut, mau tidak mau tentu akan
Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya
Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 227
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

lepaskan senjatanya, karena kalau dia tidak berbuat demikian, sudah


tentu ia akan terkena serangan musuhnya. Dalam saat yang keritis
ini, Chio-bin-giam-lo terpaksa lepaskan senjata dan buru-buru
melompat mundur kira-kira satu tumbak jauhnya barulah ia bisa
berdiri dengan tegak. Tapi musuh itu terus membuntuti, dalam
murkanya Sub Tay Beng lantas membalik menyerang dengan
menggunakan tenaga sepenuhnya.
Tapi baru saja serangan itu dikeluarkan, tiba-tiba pergelangan
tangannya dirasakan kesemutan dan tangannya sudah dicekal oleh
musuhnya, sehingga tenaganya sesaat itu rasanya sebagai telah
lenyap samasekali. Asal orang itu menekan lebih kuat lagi jiwanya
si orang she Sun tentu terancam. Sun Tay Beng tidak mengira telah
terhina demikian rupa, selagi ia hendak ambil tindakan hebat untuk
balas menyerang atau adu jiwa tiba-tiba didepan matanya ada
berkelebat sinar pedang, kemudian tangannya terlepas dari cekalan
musuhnya dan tenaganya itu dirasakannya pulih kembali. Tatkala ia
melihat dengan tegas, ia telah menyaksikan Kang It Peng telah
berdiri berhadapan de-ngan Cian-pi-sin-mo.
Ternyata Sun Tay Beng tadi ketika berhasil merubuhkan Thay-
si Sian-su, telah menimbulkan amarah Cian-pi-sin-mo. Orang tua
itu tanpa berkata apa-apa lalu melayang cepat untuk menyamber
tangan Sun Tay Beng, tapi selagi si iblis tua itu hendak mematahkan
pergelangan tangan Chio-bin-giam-lo, Kang It Peng sudah tiba
untuk memberikan pertolongannya, dengan demikian Sun Tay Beng
terhmdar dari bencana yang hebat.
Setelah Cian-pi-sin-ino mundur barulah cliketahuinya bahwa
orang yang menyerang dirinya itu adalah Kang It Peng, maka ia lan-
tas berkata sambil tertawa dingin:
“Bagus, marilah kita berdua melanjutkan pertempuran ini! Hari
ini kalau tidak ada keputusan siapa yang menang dan siapa yang

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 228
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

kalah kita tidak boleh berhenti." Orang tua itu berkata sambil
mengerahkan tenaganya. Kang It Peng sebagai orang Kang-ouw
ulung sudah tentu mengerti, kalau lawannya itu sedang
mengumpulkan tenaga jadi kalau ia menyerang dengan mendadak
maka serangan itu akan hebat sekali.
Oleh karena itu secara diam-diam pula iapun mengerahkan
tenaganya. Walaupun begitu ia masih bisa berkata seraja tertawa:
“Bukankah kau sudah lama hendak bertanding dengan aku? Untuk
hal ini sudah tentu aku mau memberikan kesempatan kepadamu
agar kau memuaskan keinginanmu."
Cian-pi-sin-mo perdengarkan suara tertawanya yang aneh.
Dengan tindakan perlahan iapun menghampiri Kang It Peng. Kedua
tangannya diputar tak henti-henti dan kemudian membentak hebat
lalu terus menyerang Kang It Peng.
Kang It Peng juga herseru hebat sambil memutar pedang di
tangannya, pedang itu diputar untuk melindungi dirinya, hingga
serangan tenaga yang dilancarkan oleh Cian-pi-sin-rno tadi dibikin
punah dengan pedangnya.
Cian-pi-sin-mo segera merasakan gelagat kurang baik, karena
temiga dalamnya yang dilatih beberapa puluh tahun lamanya
ternyata telah dipunahkan dengan mudah sekali oleh kekuatan
tenaga Kang It Peng yang disalurkan melalui pedang. Diarn-diam
iapun merasa terkejut dalam hati.
Belum lagi hilang rasa terkejutnya itu tiba-tiba ia mendengar
seruan Kang It Peng, seruan itu berbareng dengan ujung pedang
yang meluncur keatas kepalanya.
Orang tua aneh itu sekarang baru mengetahui bahwa jago
pedang yang namanya menggetarkan daerah Kang-lam dan Kang-

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 229
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

pak ini benar-benar adalah satu jago yang bukan sembarangan


karena itu ia tidak berani lagi memandang ring. kepadanya.
Menghadapi serangan Kang It Peng tadi, ia cuma bisa melorn-
pat kesamping untuk mengelakan serangan orang she Kang itu.
Kang It Peng tersenyum lalu pedangnya diputar laksana titiran
untuk memainkan ilmu pedang Tui-hong-kiam-hoat ini adalah cip-
taannya sendiri. Keistimewaan ilmu pedang ini adalah karena
seluruhnya merupakan serangan terus-menerus, hingga tidak
memberi-kan ketika kepada lawannya untuk membalas menyerang.
Sejak Kang It Peng mendapatkan ilmu pedang ini tenaga dalamnya
yang sempurna. Tidak heran kalau sukar baginya untuk mendapat
tandingan.
Cian-pi-sin-mo yang didesak oleh serangan Kang It Peng, saat
itu telah merasa ripuh benar-benar, ia terus terdesak, sedikitpun
tidak mempunyai kesempatan untuk membalas. Ilmu pedang yang
luar biasa ini sampai-sampai Ci Yang To-tiang sendiri yang menjadi
ketua dari satu partay besar yaitu parlay Bu-tong-pay yang sudah
terkenal dengan ilmu pedangnya. Maka secara diam-diam
dikaguminya terutama Kang Sian Cian yang juga sudah
mempelajari ilmu pedang itu dari Yayanya, tapi belum pernah ia
menyaksikan Yayanya melawan musuhnya dengan ilmu pedang
tersebut. Kali ini ia telah mendapat kesempatan untuk
menyempurnakan ilmu pedang tersebut sebab itu memperhatikan
dengan penuh perhatian.
Cian-pi-sin-mo dan Kang It Peng setelah melakukan
pertempuran lebih dari seratus jurus barulah si Iblis Tua itu didesak.
Walaupun begitu ia belum man mengaku kalah karma selama ini ia
menganggap dirinya lebih ulung dari semua orang.
Waktu ia terdesak terus-menerus itu barulah timbul
kecemasannya. Dalam kecemasan itu maulah ia mengadu jiwa

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 230
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

hingga ia segera menge. luarkan seluruh kepandaiannya dengan


pengharapan sekalipun tidak berhasil merubuhkan musuhnya tapi
sedikitnya bisa mati bersama.
Ia melakukan serangan setelah dengan nekat mengelakan
serangan pedang Kang It Peng. Badannya mumbul keatas lalu
kelima jari-nya dipentang laksana gaetan menyambret kepada Kang
It Peng, tapi ia telah menangkis dengan senjatanya. Waktu itu Cian-
pi-sin-mo lantas jumpalitan ditengah udara lalu tangan kanannya
menyampok serangan pedang Kang It Peng, sedang tangan kirinya
dipakai menyambret kepala sang lawan. Serangan semacam ini
benar-benar diluar dugaan Kang It Peng, hingga diam-diam jago tua
ini merata terkejut. Buru-buru ia berkelit, tapi gerakannya itu sedikit
terlambat, sehingga bungkusan kepalanya kena kejambret.
Perbuatan ini telah membikin murka Kang It Peng, maka dia
angkat pedangnya itu lalu melakukan serangan membabat. Cian-pi-
sin-mo yang sudah berhasil dalam serangannya segera
memperdengarkan suara tawa yang aneh lalu kemudian dengan ikat
kepala Kang It Peng yang berada ditangan kirinya ia putar hendak
menyambuti serangan si orang she Kang. tapi ikat kepala itu
kemudian telah terpapas menjadi dua potong.
Menggunalcan kesempatan beradunya dua bends tersebut,
Cian-pi-sin-mo telah melayang turun dihelakang Kang It Peng lalu
ke-mudian mengulur tangan kanannya dan diletakkannya dipundak,
“Kang It Peng. Maka mulutnyapun berseru: “Kang It Peng, lekas
lepaskan pedangmu!"
Si jago tua menjawab dengan tenang: “Tidak mungkin."
Badannya tidak mengelakan tangan Cian-pi-sin-mo yang
diulurkan tadi, tapi, ia hanya sambil miringkan pedang lalu
membabat dengan keras dan hati-hati.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 231
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Si Iblis Tua itu sangat gusar ketika dibabat demikian. Iapun


mengumpulkan tenaga ditangan kanannya untuk memukul, sebenar-
nya waktu itu ia ingin menghancurkan tulang pundak Kang It Peng,
tapi ketika begitu ia keluarkan tenaga, ia lantas merasa pundak
Kang It Peng sangat licin, hingga tangannya itu tak mampu
menyekal. Ia segera ketahui gelagat kurang baik lalu merubalt
serangannya yaitu kali ini ia mendorong dengan dibarengi tenaga
dalamnya. Usahanya ini berhasil sebab badan Kang It Peng telah
terpental melesat tiga kaki jauhnya.
Walaupun demikian pedang Kang It Peng pada saat itu sudah
menyamber. Cian-pi-sin-mo hendak mundur dengan cara jumpalitan
tapi baru saja bergerak ujung pedang Kang It Peng sudah berada
didepan matanya.
Dalam terkejutnya ia menyarnpok pedang itu dengan
tangannya, tapi bukan pedang yang tersampok sebaliknya
tangannya sendiri yang terhabat kutung hingga darah segar
mengucur deras ketanah.
Saat itu Kang It Peng segera memperdengarkan seruannya yang
hebat sambil membabat. Begitu pedangnya berkelebat begitu pula
kepala si Cian-pi-sin-mo terlepas dari badan lalu bergulinga sebagai
bola sejauh sembilan kaki.
Hebat dan menakjuhkan sekali kejadian itu. Kasihan benar
Cian-pi-sin-mo Thio Pak Tao itu, beberapa puluh tahun sudah ia
malang melintang dirimba persilatan dan belum mendapat
tandingan tapi dalam usia yang hampir satu abad telah binasa
diujung pedang Kang It Peng secara mengenaskan sekali.
Setelah Kang It Peng membinasakan Cian-pi-sin-mo, terdengar
suara ribut dalam rombongan kawanan berandal, tapi waktu itu
Sam-ciu-kim-kong Goei Liong sambil menenteng senjatanya yang
istimewa bertindak keluar dengan perlahan.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 232
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Pada wajahnya yang dingin itu terlukis hati yang gusar. Ia


mengawasi majat kawannya yang hinasa sejenak lantas herkata
dengan tertawa dingin:
“Ilmu pedang Kang Tay-hiap benar. hebat. Kematian Thio Pak
Tao tidak mengecewakan. Bagaimana kalau sekarang aku menerima
pelajaran beberapa jurus dari engkau?"
Kang It Peng melintangkan pedangnya lalu menjawab: “Nama
Sam-ciu-kim-kong Goei Liong sudah menggetarkan rimba
persilatan tapi Kang It Peng dalam usia yang begini tua masa masih
sayang kepada jiwanya? Juga aku ini ingin menerima pelajaranmu
wahai Ngo-tok-sin-koan."
Goei Liong kembali memperdengarkan suara dingin sambil
menyerang dengan senjata tongkatnya yang aneh.
Kang It Peng dengan pedangnya hendak memapas lengan kiri
Goei Liong, tapi Goei Liong yang turun tangan dengan cepat masih
dapat merubah serangannya itu dengan cepat pula. Sekarang
tongkatnya itu telah membabat kaki Kang It Peng hingga ia terpaksa
harus melompat keatas untuk mengelakan serangan tersebut tapi
waktu itu diputarnya pedangnya untuk balas menyerang. Dengan
demikian kedua orang itu telah melakukan pertempuran yang hebat
sekali. Pertempuran ini lebih hebat dari yang sudah-sudah, Kang It
Peng agak dirugikan karena harus waspada menjaga Ngo-tok-sin-
koan kepunyaan Goei Liong, hingga perhatiannya pecah tidak
sedikit. Ia tidak mampu memusatkan pikirannya kearah serangan
pedangnya, sekalipun demikian pertempuran itu diama telah melalui
lebih dari seratus jurus.
Seragi pertempuran berjalan dengan sengitnya, tiba-tiba Goei
Liong melompat mundur satu tumbak lehih, kemudian
mengerahkan tenaga dalamnya dan mengulur tangannya yang hitam

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 233
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

jengat lalu melan-carkan serangannya keudara, tapi sebenarnya


serangan itu ditujukan kearah sang lawan.
Kang It Peng yang selalu waspada, lantas lompat mundur,
dengan demikian terhindarlah ia dari hahaja maut. Goei Liong yang
tidak berhasil dalam serangannya yang pertama, kembali ia
melancarkan serangan yang kedua kali, tapi Ci Yang To-tiang yang
sejak tadi mengawasi jalan pertempuran telah dengan cepat
melompat keluar dan menyambuti serangan Goei Liong. Tatkala itu
Kang It Peng cepat-cepat menyingkirkan dirinya, orang tua itu
kebutkan kedua lengan bayunya untuk mengeluarkan ilmu Bu-kek-
khi-kang yang telah dilatihnya selama tiga puluh tahun.
Angin dari Ngo-tok-sin-koan yang dilepaskan Goei Liong
ketika ditabrak angin Bu-kek-khi-kang yang dilepaskan Ci Yang
To-tiang segera kembali dan terdampar dengan tiba.. Kini senjata
Goei Liong yang ampuh itu telah menjadi bomerang hingga
mencelakakan dirinya sendiri.
Tadinya Goei Liong merasa geli tatkala ia melihat tindakan Ci
Yang To-tiang yaitu memapaki Ngo-tok-sin-koannya. Ia merasa
geli karena ia menyangka Ci Yang To-tiang hendak mencari
mampus, namun ia belum merasa puas hingga ia gerakkan tongue
kanannya lagi untuk melancarkan serangan yang kedua kalinya.
Tapi apa jadi serangannya yang kedua kali itu baru saja dilancarkan
maka racunnya dari serangan yang pertama telah terdampar balik
menyerang dirinya sendiri. Ia lantas mengerti gelagat tidak baik tapi
hawa panas sudah masuk kedalam dirinya. Ia sudah tak sempat lagi
mencegah hingga racun itu masuk terus kedalam paru-parunya.
Ci Yang To-tiang saat itu sudah melompat kesamping Goei
Liong sambil mencabut pedangnya untuk membabat badan Goei
Liong. Sam-ciu-kim-kong ketika mengetahui dirinya sudah tidak
ada harapan hidup lagi sebab ilmu silatnya yang ampuh yang ia

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 234
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

telah latih seumur hidup telah raencelakakan dirinya sendiri. Tatkala


ia melihat Ci Yang To-tiang mencabut pedangnya timbullah
maksud untuk berbuat kejahatan yang terakhir.
Pada seat itu beberapa kawanan penjahat memburu hendak
membantunya sebab ia sudah berguling (ia berguling dengan
sengaja) tapi tiba-tiba ia tertawa lalu berkata: “Baiklah kuajak
beberapa kawan agar bersama …….. " Sebelum omongannya habis
tangannya telah diayunkan melepaskan racun Ngo-tok-sin-koannya
menuju kawan-kawannya yang hendak membantunya itu. Perbuatan
Sam-ciu-kirn-kong yang diluar dugaan semua orang, sedang Ci
Yang To-tiang sendiri merasa heran maka terpaksa ia harus
menolong dirinya sendiri sambil melompat menyingkir. Akan tetapi
saat itu ia mendengar beberapa jeritan ngeri sebab empat atau lima
orang yang memburu kearah Goei Liong telah rubuh dengan
beruntun. Ci Yang To-tiang gusar hingga membentak: “Iblis Tua,
kau begitu ganas, benar-benar kau tidak mempunyai sifat manusia."
Ia mem-bentak sambil memutar bajunya untuk melindungi dirinya
dan menusuk Sam-ciu-kim-kong Goei Liong dengan pedangnya.
Goei Liong masih ingin menggunakan tenaganya yang terakhir
lalu iapun melemparkan senjata yang berada ditangan kirinya, sudah
itu ia melompat keatas dan kemudian menepuk kepalanya sendiri.
Selagi Ci Yang To-tiang mengelakan senjata yang
dilancarkannya itu ia sudah rubuh ditanah dengan yang telah pecah
hancur dan remuk. Goei Liong mati dimedan pertempuran secara
mengenaskan.
Ci Yang To-tiang lantas menghampiri Kang It Peng lalu ben
kata: “Sam-ciu-kim-kong sudah membunuh diri, Pinto sudah tidak
perlu lagi berada disini jadi Pinto ingin pulang lebih dulu."
Sehabis berkata tertampak bayangannya berkelebat dan
sebentar saja telah hilang dari pandangan.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 235
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Kawanan penjahat dari utara semuanya pada merasa heran atas


tindakan Goei Liong tadi hingga mereka pada berdiri dengan
kesima. Tatkala Ci Jang To-tiang sudah berlalu mereka baru sadar
kembali. Lebih hebat yang keadaan Tong Cin Wie. Saat itu ia
berdiri sebagai patung lalu mengeluarkan air mata sambil
mengawasi mayat Cian-pi-sin-mo dan Sam-ciu-kim-kong. Tiga
orang yang diandaikan tenaganya, kini dua telah binasa dan satu
telah terluka berat, sekalipun dia adalah seorang kejam dan ganas
tapi saat itu ia merasa murung juga. Tatkala itu iapun berseru
dengan tiba. katanya:
“Marilah kita menerjang keluar!" sesudah berkata begitu iapun
memutar senjata tombaknya lebih dulu untuk meinbuka jalan.
Kang It Peng tabu bahwa bila membiarkan Tong Cin Wie lolos
maka sudah tentu akan meninggalkan bencana hebat bagi keluarga
Chie. Karena itu pada saat ia melihat Tong Cin Wie hendak kabur
iapun segera berseru kepada Sun Tay Beng dan Koo Hong: “Pegat
mereka! Pegat saja, jangan terlalu melukai orang tangkap saja Tong
Cin Wie!" Mendengar ucapan itu, maka Kang Sian Cian, Ong Bun
Peng, Cin Tiong Li-Ong dan Koo Jie Lan berempat segera
mengejar.
Kang Sian Cian yang paling cepat, sekejap saja ia sudah dapat
menyandak mereka, sambil nienghunus pedangnya iapun
membentak: “Orang she Tong, apakah kau masih mengimpi buat
lari?"
Tong Cin Wie yang memikirkan supaya bisa lekas meloloskan
diri tidak menjawab apa-apa hanya menyerang Kang Sian Cian
dengan tumbaknya tapi nona Kang Sian Cian ini menyambuti
dengan pedangnya. Tong Cin Wie tidak ingin bertempur mati-
matian, ia cuma ingin mendesak mundur Kang Sian Cian supaya ia
bisa kabur. Benar saja baru ia berhasil mendesak mundur nona itu

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 236
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

telah menampak Kang It Peng, Sun Tay Beng dan lain-lain sudah
pada mencegat dijalanan yang penting hingga ia tak dapat keluar
dari teluk itu. Melihat keadaan demikian, si orang she Tong itu
segera mengerti bahwa ia tidak mungkin lobos dari Ho-lo-wan.
Karena sudah tidak ada jalan keluar, sekarang dalam hatinya
timbul sifat kejamnya, ia ingin menggunakan senjatanya yang
paling ampuh, ialah jarum Tui-hun-ciamnya untuk menghadapi
lawannya, tatkala menampak Kang Sian Cian sedang berkelit mun-
dur ia sudah keluarkan tiga jarum beracunnya lalu dengan cepat
menyerang kearah nona itu.
Meski Ong Bun Ping tahu bahwa Kang Sumoynya ini sudah
ada yang punya, tapi cintanya terhadap nona itu masih melengket
hingga tatkala menampak Tong Cin Wie menyerang dengan jarum-
nya yang berhahaja itu maka dalam gugupnya telah melupakan
Supe dan Suhunya lantas berseru: “Kong Sumoy lekas menyingkir,
ada jarum Tui-hun-ciam!"
Siapan nyana bahwa seruan Ong Bun Ping tadi telah membikin
pilu hatinya Koo Jie Lan.
Kang Sian Cian sendiri tatkala mendengar seruan itu lantas
buru-buru rebahkan dirinya. Ia berbuat begitu sebab dari tadi ia
sudah siap sedia.
Setelah si nona mengelakan serangan Tong Cin Wie iapun
segera balas menyerang dengan tiga senjata 'duri ikan terbang'nya.
Tapi Tong Cin Wie yang mengetahui betul betapa lihaynya sen-
jata duri ikan terbang si nona itu hingga sejak tadi ia
diperhatikannya saja gerakan Kong Sian Cian. Tatkala ia
mengetahui hahwa serangannya sendiri tidak berhasil ia segera
tumpahkan seluruh perhatiannya untuk menjaga serangan balasan
dari nona itu. Dan benar saja sehabis Kang Sian Cian elakan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 237
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

serangannya lantas balik menyerang. Tong Cin Wie segera putar


tumbaknya untuk menjaga diri. Dua senjata rahasia nona itu
tersampok dan satu lagi lewat tanpa mendapat sasaran.
Si orang she Tong setelah mengelakan serangan Kang Sian
Cian in mulai timbang. kekuatannya sendiri, ia tahu meski dipihak .
lawannya sudah tidak ada Ci Yang To-tiang, tapi Sun Tay Beng dan
Koo Hong semua, merupakan lawan berat, terutama Kang It Peng
sedang dipihaknya meski berjumlah lebih banyak tapi tidak ada satu
yang mampu menandingi si orang tua itu. Maka setelah ia berpikir
sejenak lantas timbul pikirannya yang jahat, iapun serukan kawan-
kawannya supaya jangan bergerak dan kemudian ia bee-kata kepada
Kang Sian Cian katanya:
“Nama Kang-tang Lie-hiap sudah terkenal diseluruh dunia,
orang-orang rimba hijau didaerah Kang-lam siapa yang tidak
kuncup hatinya kalau mendengar nama itu, apakah kau berani
bertempur sendirian dengan aku? Senjata tumbakku ini akan
menandingi pedangmu yang lemas, dan senjata duri ikan terbangmu
akan berhadapan dengan jarum Tui-hun-ciamku, senjata-senjata kita
ini boleh digunakan sesukanya, kalau aku terluka dipedangmu titau
duri ikan terbangmu maka aku, Tong Cin Wie segera bunuh diri di
hadapanmu, tapi kalau kau yang rubuh atau terluka oleh senjataku,
bagaimana?"
Kang Sian Cian bukan tidak mengerti maksud orang she Tong
itu tapi oleh karena ia beradat tinggi dan sejak mengembara belam
pernah menerniti tandingan, maka tanpa pikir' lagi ia lantas
menjawab:
“Kalau aku kalah ditanganmu, aku segera lepaskan kalian dari
Ho-lo-wan ini dan membiarkan kalian pulang he Utara."
“Kau ada satu bocah," kata Tong Cin Wie samba tertawa
dingin, “apa ucapanmu ini boleh dipercayai?"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 238
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Kang Sian Cian gusar, lalu ia menoleh kepada Yayanya dan


berkata: “Yaya aku telah berjanji dengan Tong Cin Wie untuk
bertempur sendirian dengan menggunakan segala rupa senjata yang
ada, kalau aku yang kalah, bolehlah menepapti perjanjianku itu
ialah melepaskan mereka pulang ke Utara?"
Ia ucapkan itu perkataan sambil memandang kepada Yayanya
agaknya ia memohon supaya Yayanya tidak berkeberatan.
Kang It Peng adalah seorang jago kenamaan yang namanya
terkenal dirimba persilatan, meski ia mengerti bahwa cucunya ini
telah terjebak oleh akal muslihat Tong Cin Wie, tapi dihadapan Koo
Hong,. Sun Tay Beng dan semua penjahat dari Utara itu tak maulah
ia menolak permintaan cucunya. Tapi kalau ia terima baik, ia masih
bersangsi apakah Sian-jie mampu menandingi Tong Cin Wie, maka
seat itu in belum dapat menjawab. Pada ketika itu tiba-tiba Ong Bun
Ping maju kemuka dais berkata: “Sumoy, kali ini biarlah Suhengmu
yang melawan dia."
Kang Sian cian menjawab dengan cemas: “Mana bo1eh, orang
itu toch sudah menantang dan menunjuk diriku."
Koo Hong juga tampak maju, dan berkata: “Malam itu aku dan
dia belum dapat keputusan, sebab itu hari ini kebetulan aku
mendapat kesempatan maka sebaliknya aku saja yang melanjutkan
pertempuran, kalian berdua jangan berebut, biarlah aku si orang tua
ini yang' menyambuti ia."
Sun Tay Beng tahu kekuatan Koo Hong ada berimbang dengan
Tong Cin Wie, tapi tentu tidak berdaya menghadapi jarum orang
she Tong yang sangat ampuh itu. Apalagi Ong Bun Ping itu berarti
ia mau mengantarkan jiwanya sendiri, dan Kang Sian Cian yang
ilmu pedangnya meski dididik sendiri oleh Kang It Peng tapi tenaga
dalamnya masih kalah jauh dari lawannya, maka paling baik ia
sendiri yang turun tangan sebab senjata duri ikan terbang dapat

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 239
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

menandingi senjata jarum orang she Tong itu. Selagi ia hendak


membuka mulue tiba-tiba ia melihat Kang It Peng goyang' kepala
dan berkata: “Kalian tak usah berebut kalau benar Tong Cin Wie
menunjuk diri Sian-jie biarlah ia sendiri yang menghadapinya.
Dengan cara demikian maka kalau Tong Cin Wie kalah ia juga akan
mati dengan mata meram."
Sun Tay Beng masih hendak mencegah, tapi Kang It Peng tidak
memberikan kesempatannya untuk bicara. Kang It Peng
memberikan jawabannya itu sesudah ia berpikir semasak-masaknya.
Ia percaya benar meskipun tenaga dalam Sian-jie masih kalah jauh
daripada Tong Cin Wie tapi ilmu pedang Fui-hong-kiam-hoatnya
tidak mampu ditandingi oleh Cin Wie dan juga jarum Tong Cin
Win juga masih belum tentu dapat membinasakan jiwa Sian Cian.
Kang Sian Cian ketika mendengar keputusan Yayanya iapun
segera berkata kepada Tong Cin Wie: “Bagus, bagus, Yaya dan
Suhuku semua sudah terima baik, kalau kau bisa menangkan aku
kau boleh segera pulang ke Utara."
Tong Cin Wie tatkala mendengar ucapan nona itu lantas
gerakkan tumbaknya untuk membuka serangan, tapi nona itu kali
ini sudah siap sedia. Sudah tentu ia tidak mau memberi Tong Cin
Wie merebut kesempatan untuk menyerang terus-menerus maka
dengan pedangnya ia mulai balas menyerang.
Kang Sian Cian sekalipun sudah mempunyai pengalaman
heberapa tahun tapi kalau mau dibanding dengan Tong Cin Wie
sudah tentu masik ada bedanya, meski ia bertekad hendak merebut
kedudukan menyerang tapi ia masih terlambat setindak oleh
gerakan lawannya itu. Maka dalam pertempuran yang berjalan
selama tiga puluh jurus itu si nona terus terkurung dalam lingkaran
tumbak Tong Cin Wie.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 240
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tapi ketika telah lewat enam puluh jurus, Tong Cin Wie telah
menunjukan satu kesalahan yang akhirnya digunakan oleh Kang
Sian Cian dengan sebaik-baiknya hingga ia dapat melakukan
serangan balasan dengan hebat. Pedangnya telah mendesak Tong
Cin Wie yang berada dibawah angin. Kawanan penjahat dari Utara
bermula ketika menampak pemimpinnya berada diatas angin, dalam
hati sudah mulai girang. tapi kemudian ketika keadaan berubah dan
Tong Cin Wie terbalik dikurung oleh senjata lawannya, hati mereka
mulai kuatir. Hal ini bisa jadi karena tadi Kang Sian Cian telah
menyaksikan bagaimana cara Yayanya menggunakan Tui-hong-
kiam-hoatnya untuk membinasakan lawannya, hingga beberapa
bagiannya yang penting sekarang telah dipahami seluruhnya.
Serangannya yang telah dilakukan itu semakin lama semakin
lancar dan setiap serangannya merupakan serangan yang
mematikan, hingga akhirnya Tong Cin Wie telah terdesak dan ia
cuma biasa berputaran seperti gangsing. Apa mau dikata kiranya
serangan nona itu telah ditujukan kesetiap jalan darahnya yang
penting, maka sekalipun ia hendak mengeluarkan senjata rahasianya
juga sudah tidak mendapat kesempatan lagi.
Gerakan nona itu telah mengagumkan Sun Tay Beng, Koo
Hong, Yayanya sendiri dan musuh-musuh yang lain.
Sebentar kemudian tiba-tiba terdengar teriak Kang Sian Cian:
“Lepaskan senjatamu!"
Teriaknya ini disusul oleh jawaban Tong Cin Wie:
“Belum tentu."
Ke-dua-duanya pada saat itu lantas berpencar, tatkala semua
mata pada mengawasi telah dapat kenyataan bahwa lengan
kanannya Tong Cin Wie telah terluka dan mengeluarkan darah dan
Kang Sian Cian sendiri wajahnya pucat dan keringatnya mengucur.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 241
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tong Cin Wie robek bayunya untuk membungkus lukanya,


sedang Kang Sian Cian berdiri mengatur pernapasannya.
Kang It Peng melirik Kang Sian Cian dan setelah mendapat
kenyataan bahwa cucunya itu setelah mengatur pernapasan sejenak
wajahnya merah kembali. Hal itu menyebabkan ia mengetahui
bahwa luka cucunya tidak berat, hingga hatinya merasa lega. Tong
Cin Wie setelah membungkus lukanya lantas berkata sambil tertawa
dingin:
“Satu pedang ditukar dengan satu tangan blum bisa dapat
keputusan, bagaimana kalau kita bertempur 300 jurus lagi?"
“Apa herannya 300 jurus,” jawab si nona seraja melintang-kan
pedangnya, “Kita akan bertempur terus sampai salah satu dari kita
mati."
“Begitu yang paling baik," sahut Tong Cin Wie.
Kedua orang itu lantas bertempur lagi. Tong Cin Wie yang
terdesak mundur lagi tiba-tiba mendapat kesempatan segera
melompat mundur dua tumbak.
Si nona segera mengetahui bahwa lawannya itu akan
menggunakan senjata jarumnya yang ampuh, maka iapun tidak
mengejar dengan pedangnya tapi sebaliknya ia merogoh tiga senjata
duri ikan terbangnya untuk menyerang Tong Cin Wie. Serangan itu
dilakukan berbareng dengan serangan Tong Cin Wie. Karena dua
rupa senjata rahasia itu merupakan senjata yang halus maka sedikit-
pun tidak mengeluarkan Kum. tapi bagi siapa yang lengah sedikit
saja akan terluka oleh senjata-senjata itu.
Kang Sian Cian setelah melakukan serangannya lantas
melompat kekanan, berbareng dengan itu ia mengeluarkan lagi lima
batang dari kantongnya, maka tatkala jarum Tong Cin Wie
menyamber ia sudah menyingkir ditempat yang aman.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 242
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tong Cin Wie lalu menyampok serangan si nona yang pertama


tapi mendadak disambar lagi oleh serangan yang kedua. Sudah tentu
tidak mudah baginya untuk mengelakan serangan tersebut maka
buru-burulah ia merebahkan diri ketanah. Kernudian ia melompat
bangun lagi dan mengeluarkan serangan yang paling lihay.
Kang Sian Cian yang sendirinya juga ada satu ahli dalam
senjata rahasia, ia mengerti walau bagaimana tidak bisa mangelakan
serangan orang she Tong tersebut, karena kalau ia berkelit, Tong
Cin Wie segera menyusul dengan serangannya yang lebih hebat dan
dengan cara yang beruntun-runtun. Kalau hal itu terjadi maka
berarti ia sudah tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk
membalas menyerang. Cara yang paling baik baginya jalah merebut
kedudukan menyerang, oleh karena itu maka iapun tidak
menyelakakan dirinya sebaliknya malah maju sambil mernutar
pedangnya untuk menyampok senjata rahasia musuhnya. Setelah
menyampok jatuh beberapa batang jarum orang she Tong itu ia
lantas maju lagi, hal mana itu sangat berbahaya karena jika
terlambat sedikit gerakannya maka senjata Tong Cin Wie akan
bersarang dibadannya.
Tong Cin Wie yang menyaksikan cara nona itu diam-diam juga
merasa terkejut, ia segera melesat keatas dan dari atas ia melon-
carkan serangan dengan tiga bilah jarum, tapi saranan itu dapat
dielakkan oleh Kang Sian Cian hingga mengenakan tempat kosong.
Dalam sengitnya Tong Cin Wie lantas lemparkan senjata
tumbaknya, dengan kedua tangannya ia melakukan serangan
bergantian, hingga jarum itu menyamber seperti air hujan. Si nona
terpaksa putar terus pedangnya untuk memusnakan sernua
seorangan Tong Cin Wie.
Menampak itu Tong Cin Wie merasa gentar sendiri. Selagi ia
dalam keadaan bingung si nona telah melakukan serangan

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 243
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

pembalasan. Nona itu telah menggunakan serangan yang paling


lihay seperti hujan turun dari langit. Tong Cin Wie yang agak
kesima, telah terkena dua batang senjata duri ikan terbang' hingga ia
merasakan kesemutan dibagian badan yang kena tadi. Karena ia
tahu bahwa senjata nona itu juga beracun, maka diam hatinya
mengeluh. Pada waktu itu iapun rubuhlah.
Kang Sian Cian ketika menampak Tong Cin Wie jatuli iapun
segera memburu sambil tenteng pedangnya tapi siapa nyana Tong
Cin Wie masih mengganggam dua batang jarum beracun. Ketika ia
menampak si nona memburu datang kedua tangannya lantas
melakukan serangan berbareng.
Kang Sian Cian terpaksa rebahkan dirinya. Beruntung pada
waktu Tong Cin Wie menyerang itu badannya telah luka hingga
serangannya tidak dapat mengenakan dengan jitu. Ong Bun Ping
yang menonton disamping, telah mengira si nona itu terkena
serangan jarum hingga ia lompat dan mendekati lalu dengan suara
perlahan ia bertanya: “Kau bagaimana?"
Si pemuda ketika menampak Kang Sian Cian tidak terluka.
baru-lah hatinya merasa lega tapi tiba-tiba mendengar suara Kang It
Peng:
“Ping-Cljie lekas menyingkir!"
Ternyata Tong Cin Wie tatkala menampak Ong Bun Ping
berjongkok dekat Sian Cian ia telah mengunakan sisa tenaganya
untuk mengeluarkan senjata rahasianya, ia hendak menyerang diri
Ong Bun Ping tapi dalam keadaan yang sangat kritis itu tiba-tiba
dari rombongan kalangan penjahat melesat seorang wanita muda
yang berpakaian hitam sambil mementang pedang. Dengan cepat
wanita itu menyamber kesamping ' Tong Cin Wie. Pada saat itu
Tong Cin Wie baru saja hendak angkat tangan untuk melempar
jarumnya tapi sebelum jarum itu melesat dari tangannya wanita

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 244
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

berbaju hitam itu telah mengayun pedangnya, hingga tangan Tong


Cin Wie tertabas kutung.
Tong Cin Wie bergulingan ditanah dan tatkala ia menampak
orang yang menabas tangannya itu adalah Pek-hoa Nio-cu sendiri
maka iapun berkata sambil tertawa getir: Budak hina, bagus betul
perbuatanmu ……..!”
Dengan senjata yang ada ditangan kirinya itu segera diserang-
nya Pek-hoa Nio-cu. Oleh karena Pek-hoa Nio-cu sangat dekat
sudah tentu tidak dapat mengelakkan, ia cuma merasa sakit dan
kesemutan dibagian mukanya. Lima batang jarum Tong Cin Wie
telah bersarang dihagian mukanya. Wanita itu ternyata juga keras
kepala, meskipun sudah terkena serangan ia masih dapat
pertahankan dirinya. Dengan tidak mengeluarkan kata apa-apa
lantas ayun pula tangan kanannya dan sebentar kemudian badan
Tong Cin Wie telah terkutung menjadi dua potong.
Pek-hoa Nio-cu sendiri telah bunuh Tong Cin Wie. Kawanan
berandal menyaksikan perbuatan Pek-hoa Nio-cu lantas pada maju
hendak menyerang, tapi Kang Sian Cian dan Ong Bun Ping sudah
memburu, hingga kawanan penjahat itu urungkan maksudnya.
Pada saat itu Kang It Peng, Sun Tay Beng. Koo Hong, Koo Jie
Lan dan Cin Tiong Liong juga sudah pada memburu lalu pada
mengitari diri Pek-hoa Nio-cu, mereka telah dapat kenyataan bahwa
luka Pek-hoa Nio-cu sudah mulai matang biru. Kang It Peng lamas
keluarkan obat pilnya, ia suruh Ong Bun Ping berikan. Pek-hon
Nio-cu makan pil ajaib itu, perlahan-lahan ia membuka matanya,
sambil mengawasi wajahnya Ong Bun Ping dengan paras berse-
nyum iapun berkata:
“Apa kau masih membenci aku?"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 245
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Ong Bun Ping yang sedang berjongkok telah mengangkat


badan bagian atasnya Pek-hoa Nio-cu diletakkannya diatas pahanya
lalu rnenyawab:
“Aku selamanya tidak membenci kau ……!”
Pek-hoa Nio-cu kembali bersenyum tangan kanannya per
lahana menggenggam tangan Ong Bun Ping dan dengan suara
lemah ia berkata:
“Aku hendak pergi, racun jarum Tong Cin Wie sekarang sudah
mulai bekerja. dalam tempo duabelas jam aku akan binasa dan
hancur seluruh badanku, aku tidak tahan siksaan itu."
Ong Bun Ping memegang erat-erat tangannya lalu berkata
dengan suara terharu: “Kau sudah makan obat Kang Lo-cian-pwee,
mungkin masih bisa tertolong."
Pek-hoa Nio-tau gelengkan kepala, katanya: “Tidak ada
gunanya, lukaku terlalu parah, sekalipun ada obat ajaib, juga tidak
mam-pu menahan serangan racun jarum itu."
la berbicara sambil kertak gigi, agaknya ia sedang menahan
rasa sakitnya yang hebat itu Ong Bun Ping sangat pilu menyaksikan
keadaan serupa itu, dua tetes air mata telah mengetel jatuh dibadan
Pek-hoa Nio-cu.
Pek-hoa Nio-cu kembali rnembuka matanya dan kemudian
berkata seraja bersenyum:
“Ka,, jangan menangis sebab aku girang sekali bila aku bisa
binasa didalam pelukanmu."
Sehabis berkata dengan cepat iapun lepaskan tangannya Bun
Ping, lalu mengeluarkan satu pisau belati yang tajam, terus
ditusukkan kepada dadanya sendiri, Bun Ping hendak mencegah

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 246
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

tapi sudah terlainbat, ujung belati sudah menancap pada dada


wanita yang bernasib malang itu.
Koo Jie Lan dan Kang Sian Cian yang menampak keadaan
demikian, mungkin karena mereka ada sama-sama wanita, saat itu
tidak rnampu menahan rasa sedih, hingga pada mengucurkan air
mata. Kang It Peng sendiri juga turut menghela napas sambil ge-
lengkan kepala. Bun Ping pondong tubuhnya Pek-hoa Nio-cu dan
mencarikan tempat yang baik untuk tempat mengaso wanita yang
bernasib celaka itu.
Tatkala itu semua kawanan berandal disuruh oleh Kang It Peng
kembali kedaerah mereka masing-masing.
Bun Ping setelah menguburkan Pek-hoa Nio-cu, saat itu ia telah
melihat cuaca baru lewat tengah hari, keinatian Pek-hoa Nio-cu ini,
telah menimbulkan rupa-rupa pikiran di otaknya, terhadap dunia
yang banyak penggodaan ini telah menambahkan ruwet pikirannya.
Ia telah berpikir begitu asyiknya, sambil menggendong tangan ia
memandang kearah yang jauh sekali, melihat pemandangan alam
didepan matanya itu agaknya ada apa-apa dalam pikirannya, maka
dengan tidak terasa ia telah berkata seorang diri:
“Benar, aku barns meninggalkan tempat yang banyak
penggodanya ini ……..!”
Tiba-tiba terdengar dibelakangnya suara Kang Sian Cian yang
lemah-lembut, katanya: “Ong Suko, kau sedang memikirkan apa?
Mari kita pulang."
Bun Ping menoleh dan melihat Ken Jie Lan dan Kang Sian
Cian berdiri berendeng, maka iapun menjawab sambil tertawa
hambar:
“Ya, kita harus pulang …………!”

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 247
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Pada malamnya, Chie Kong Hiap telah mengadakan pesta


untuk menjamu beberapa pendekar yang menolong jiwanya. Setelah
pesta itu bubaran, Bun Ping pulang kekamarnya dengan hati ruwet.
Ia memandang senjata Poan-koan-pit dan senjata pisaunya dengan
mata guram. Ia telah ingat kembali, bagaimana ia telah berguru dan
bagaimana ia telah bersama-sama belajar silat dengan Kang Sian
Cian, tapi sekarang, ya, sang Sumoy itu sudah ada yang punya, apa
yang sudah lalu kini hanya merupakan suatu kenang-kenangan yang
sangat menyedihkan.
Selagi ia melamun itu dari luar tiba-tiba terdengar suara yang
nyaring: “Ong Suko, apakah kau masih belum tidur?"
Bun Ping tersadar dari lamunannya. ia nampak Kang Sian Cian
berdiri didepan pintu, sekarang ia nampak si nona itu sudah tukar
pakaian sebagai wanita yang asli, hingga bertambah kecantikannya,
Bun Ping rnenghampirinya dengan tindakan perlahan lalu berkata:
“Hari sudah malam, kau ……..!”
Tapi sebelum si pemuda habiskan bicaranya telah dipotong
oleh Kang Sian Cian katanya:
“Aku sedang memikirkan satu soal hing-ga tidak bisa tidur,
maka aku sekarang datang kepadamu hendak berunding."
“Soal apa?" tanya Bun Ping, “Kau jelaskan saja."
“Yaya sudah bicarakan dengan resmi tentang urusan
pernikahanku, mungkin dalam tempo setengah bulan ini aku sudah
…….. “
Si nona tak dapat melanjutkan pembicaraannya, kedua pipinya
lantas berubah merah.
“Dalam setengah bulan ini," sahut Bun Ping, “Kau sudah akan
menikah dengan Chie Kong-cu, bukan?"

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 248
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sian Cian mengangguk. “Oleh sebab itu,” kata Sian Cian, “Aku
sedang memikirkan urusanmu dengan Enci Lan."
“Tentang urusan kita," sahut Bun Ping, “kau tidak usah pikir-
kan."
“Tentang urusan yang sudah lalu," kata Sian Cian, “Aku harap
kau jangan memikirkan lagi. Dalam urusan ini kau tidak bisa
salahkan aku, karena pada masa itu aku masih terlalu muda, aku
cuma tahu bahwa kau seorang baik terhadap aku. Hal yang lain-nya
aku tidak mengerti."
“Sudah tentu tidak bisa kusalahkan kau," sahut si pemuda, ,aku
sudah memilih jalankn sendiri. Hari sudah malam, kau harus
mengaso."
Sehabis berkata lalu memutar badan dan masuk kekamarnya.
Sian Cian terperanjat, ia menyambret tangannya Ong Bun Ping dan
bertanya dengan suara cemas: “Ong Suko, kau memben-ci aku?"
Bun Ping menoleh, ia lepaskan tangannaj dan menjawab: “Aku
tidak benci kau, malahan aku hendak menanti kau orang selesai
dengan upacara pernikahan barulah aku berlalu."
“Dan, bagaimana dengan Enci Lan?" tanya Sian Cian.
Bun Ping memandang sejenak si nona, baru menjawab: “Aku
melepaskan kulitku yang busuk, kembalikan wajahku yang agung,
dua benda sebenarnya merupakan satu, mengapa harus dibagi antara
Im dan Yang? Ia sudah tentu ada punya jalannya sendiri-sendiri!”
Setelah berkata demikian ia terus lari ke kamarnya.
Sian Cian berdiri seperti terpaku, selagi hendak memburu, tiba-
tiba dengar suara orang menghela napas dibelakangnya. Tatkala ia
menoleh, orang itu ternyata ada Yayanya sendiri.
Sian Cian berkata dengan suara perlahan: “Yaya ……..”

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 249
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Kang It Peng menghela napas, lalu menyahut: “Pulanglah, ke


kamarmu untuk mengaso."
Kang It Peng, Sun Tay Beng dan Koo Hong untuk sementara
berdiam dirumah keluarga Chie, sambil menantikan upacara
perkawinan Kang Sian Cian. Bun Ping juga tapi ia selalu bersedih
walaupun repot mengatur ini dan itu. Oleh karena Kang It Peng
sendiri tidak mempunyai tempat yang tetap dan Kang Sian Cian
sendiri sudah tidak berajah ibu, maka semua urusannya diserahkan
kepada keluarga Chie.
Tatkala hari pernikahan Sian Cian dan Sie Kiat tiba, gedung
keluarga Chie tampqk ramai dengan tamu-tamunya, tapi Kang It
Peng, Sun Tay Beng dan Koo Hong tidak tampakkan diri diantara
para tamu lainnya, mereka hanya berunding didalam suatu kamar
tentang Ong Bun Ping dan Koo Jie Lan.
Esok harinya pagi-pagi sekali Tiong Liong sudah berlari-lari
kekamar-nya Kang It Peng. Kala itu Sun Tay Beng dan Koo Hong
sedang berbicara dengan Kang It Peng, menampak sikap Tiong
Liong yang aneh itu, telah menduga ada apa-apa yang penting,
maka segera menanya: “Ada urusan apa?"
Tiong Liong bersangsi sejenak lalu menjawab: “Ong Sutee
telah pergi ……!”
Wajah Tay Beng pucat seketika lantas berkata: “Ia berani
menipu aku!" segera memburu keluar.
Koo Hong, Tiong Liong dan Kang It Peng juga turut keluar,
mereka telah tiba ditepi telaga, dan menampak diatas sebuah perahu
kecil ada duduk satu pendeta dengan jubah abu-abu, disamping
pendita itu ada sepasang senjata Poan-koan-pit dan sekantong
senjata rahasia. Pendita itu ternyata adalah Ong Bun Ping sendiri.

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 250
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Sun Tay Beng menampak keadaan muridnya yang berubah


demikian rupa, seketika itu juga ia berdiri melongo tapi kemudian ia
bertanya: “Apa artinya ini?"
Bun Ping membuka matanya, dari atas perahunya ia menyura
kepada Sun Tay Beng dan berkata: Teecu telah sepuluh tahun
lamanya berguru kepada Suhu, menyesal sekali tidak bisa
membalas, tentang perjodoan tidak bisa dipaksa, kalan Suhu tidak
mau memaafkan muridmu ini silahkan Suhu ambil tindakan."
Sehabis berkata lalu melompat ketepi telaga dan berlutut
dihadapannya Sun Tay Beng.
Sang Suhu ayun tangan kanannya, selagi hendak memukul
telah dicegah oleh Koo Hong. Sambil menghela napas orang tua itu
berkata: “Urusan ini kau tidak bisa sesalkan dia ……..!”
Ucapan Koo Hong belum habis, Koo Jie Lan sudah memburu
bersama Kang Sian Cian. Ternyata Kang Sian Cian sehabis bangun
tidur, selagi hendak memberi selamat pagi kepada Yayanya, telah
mendengar kabar dari bujang bahwa Kang It Peng, Sun Tay Beng
dan lain.nya telah meninggalkan kamar, Sian Cian bercekat, ia tidak
perdulikan kedudukannya waktu itu sebagai penganten baru, ia
lantas menghampiri Jie Lan dan mengajaknya menyusul ketepi
telaga. Koo Jie Lan ketika menampak dandanannya Ong Bun Ping,
hatinya merasa hancur luluh, dalam keadaan cemas, ia juga tidak
perdulikan ayah dan Sian Cian yang berada disitu, ia menghampiri
Bun Ping dengan suara terharu lain berkata: “Ong Suheng, apa
maksudmu ini?"
Sehabis berkata make dengan as' ia menghunus pedangnya dan
sebentar saja rambutnya yang panjang telah dipotong, kemudian ia
lemparkan pedangnya kedalam telaga, lalu berlutut dihadapan Sun
Tay Beng dan berkata: “Sun Pepe, ampunilah dia!”

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 251
Kolektor E-book https://www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Tay Beng menghela napas lalu menarik kembali tangannya dan


berkata: “Pergilah kau, hitung-hitung aku tidak pernah menerima
kau sebagai murid."
Bun Ping berbangkit lain memberi hormat kepada Koo Jie Lan
dan berkata: “Dalam lautan kesedihan tidak ada tepinya, kalau kau
menoleh disanalah kau akan melihat tepinya. Harap Sumoy baik'
membawa diri."
Koo Jie Lan membalas hormat, sambil tertawa ia menjawab:
“Mudah-mudahan kau lekas menemui kesempurnaanmu."
Bun Ping cuma tertawa getir, lalu melompat naik keperahunya
dan berlalu. Koo Jie Lan menoleh dan berkata kepada ayahnya:
“Ayah, kita juga barus pulang." Koo Hong cuma menjawab 'baik,
nak'.
Tay Beng menggerendeng sendiri, ia menoleh dan melirik
kepada Kang Sian Cian, ia telah nampak nona itu mernandang
perahu kecil itu berlalu sambil mengucurkan air mata

TAMAT

https://www.facebook.com/niputuyunita.anjaswari?epa=SEARCH_BOX

Sumber Pustaka : Aditya Indra Jaya


Sean/foto image : Awie Dermawan
Distribusi & arsip : Yon Setiyono 252