Anda di halaman 1dari 6

Nama : Shalma Meilani (4315160393)

Kelas A Pendidikan Geografi 2016


UAS Geografi Perkotaan
1. Mega City Growth and the Future menurut Fu Chen Lo
 Kota Tradisonal : Kota tradisional adalah perkembangan kota ketika berada di bawah
kekuasaan penguasa-penguasa lokal, seperti bupati dan raja, sebelum kedatangan
bangsa penjajah. Pada tataran budaya ditandai dengan penggunaan teknologi yang
masih sederhana, ilmu pengetahuan yang terbatas, serta sistem produksi yang masih
didominasi oleh tenaga manusia dan hewan. Contohnya Kota Solo.
Sumber :http://coret-coret27.blogspot.com/2016/01/sejarah-perkotaan.html?m=1
 Kota Jaringan Dunia : kota jaringan dunia adalah kota yang mempunyai kekuatan dari
segi sosial, ekonomi, budaya maupun ketahanan yang jaringannya mendunia atau
seluruh dunia. Contohnya Kota Beijing
 Kota Dominan Dunia : Kota Dominan Dunia adalah kota yang memiliki kemampuan
mendominasi kota lainnya bahkan negara lainnya dari berbagai sektor. Contohnya
Kota Tokyo

2. Kehidupan masyarakat kota sangat dinamis disebabkan oleh:


 Pemukiman penduduk. Pada daerah perkotaan biasanya masyarakat penduduknya
beragama dan bersifat dinamis. Maka dari itu terbentuk pemukiman – pemukiman
penduduk seperti kompleks perumahan elit, pemukiman kelas menengah atau
pemukiman kumuh.
 Gejala mobilitas penduduk. Pada daerah perkotaaan masalah kependudukan selalu
terjadi perubahan karena kota merupakan daerah yang menjadi daya tarik para
pendatang. Kota lebih dinamis dari desa, dalam artian kegiatan ekonomi di kota lebih
banyak dan lebih banyak perubahan dalam bentuk teknologi baru dan perubahan
sosial dan budaya di kota daripada di desa. jumlah penduduk masyarakat kota lebih
besar daripada di desa. Hal ini karena urbanisasi yang sangat tinggi. Pendatang
biasanya pencari pekerjaan atau pelajar / mahasiswa. Maka di daerah perkotaan
banyak sekali orang yang berpendidikan tinggi dan lapangan kerja.
 Kehidupan masyarakat kota yang dinamis, individualis, biasanya membuat
pemerintah mengembangkan transportasi. Misalnya dengan menambah armada
transportasi umum seperti TransJakarta atau Commuter Line. Pengembangn
transportasi juga terus meningkat dengan dibangunnya proyek MRT dan LRT.
 Penataan ruang berkelanjutan juga selalu dikembangkan seiring berjalannya
kehidupan masyarakat kota yang dinamis. Selain itu, pengembangan kawasan hutan
kota juga terus ditingkatkan sebagai sarana bermain, bersantai bahkan olahraga untuk
masyarakat kota.

3. Jenis mata pencaharian yang digunakan yang dipergunakan sebagai indikator dalam
mengenal karakteristik kota menurut Gillen P.B
 Profesional, seseorang yang menawarkan jasa atau layanan sesuai dengan protokol
dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya dan menerima gaji sebagai upah atas
jasanya contohnya Dosen, Guru dan Dokter.
 Semi – profesional, contohnya Arsitek, Pengacara.
 Propietors, seseorang yang menjalankan aktivitas usaha baik usaha jual-beli, maupun
usaha produksi yang mempunyai tujuan utama untuk memperoleh keuntungan dan
menanggung resiko yang mungkin saja akan terjadi dalam aktivitas usahanya
contohnya Pemilik atau Pengusaha
 Clerical, seseorang yang menawarkan jasanya untuk mengajarkan agama dengan upah
seikhlasnya , contohnya Ulama
 Skilled Workwers, tenaga kerja yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu dengan
melalui pengalaman kerja, contohnya Ahli Mesin, Seniman
 Semi – skilled workwers, tenaga kerja yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu
tapi tidak spefisik, contohnya Tukang Bangunan
 Domestic service, seseorang yang bekerja menjadi pemandu dalam ruang lingkup
lokal, contohnya Pemandu Wisata
 Public Service, seseorang yang bekerja untuk pelayanan publik, contohnya Telek
Bank, Represionis,
 Unskilled Labour, seseorang yang bekerja yang tidak mempunyai keahlian sama
sekali, contohnya satpam, buruh lepas, buruh pabrik

4. Suatu daerah dapat dikatakan perkotaan apalagi mempunyai sarana ekonomi misalnya
lapangan pekerjaan yang beragama dan biasanya non agraris, adanya tempat gedung
pemerintahan yaitu tempat pejabat untuk mengelola suatu daerah, adanya tempat
untuk olahraga atau santai seperti alun alun, adanya sarana rekreasi atau tempat
bermain seperti taman kota atau tempat hiburan, adanya sarana olahraga yang
dilengkapi fasilitas seperti Gedung Olahraga (GOR) futsal dan berbagai cabang
olahraga lainnya, dan adanya komplek perumahan penduduk baik yang kelas atas
maupun kelas menengah bahkan ada pemukiman kumuh.Suatu daerah pun bisa
dikatakan perkotaan jika masyakaratnya beraneka ragam misalnya ada banyak suku
seperti sunda, jawa, minang dan sebagainya. Masyarakat kota pun biasanya bersifat
individualistik dan tidak terlalu ketat dalam norma agama.
Masyarakat perkotaan pun biasanya sangat terbuka pada dunia luar atau globalisasi
maka sudah pasti terjadi modernisasi dalam hal budaya maupun teknologi. Daerah
perkotaan yang biasanya mudah aksesibilitas nya untuk didatangi orang dari luar
negeri biasanya akan banyak mempunyai dampak misalnya perubahan gaya hidup
yang mengikuti budaya negara lain, konsumerisme, memakai teknologi dari luar
negeri mulai dari handphone sampai pada kebutuhan sehari-hari.

5. Pertumbuhan dan urbanisasi di kota – kota besar semakin bertambah di wilayah


negara berkembang karena pembangunannya tidak merata di seluruh negeri.
Pembangunan yang dimaksud adalah infrastruktur, ekonomi dan pendidikan. Daerah
perkotaan dan pedesaan sangat berbeda dari segi pembangunaannya, menyebabkan
tingginya angka urbanisasi. Orang desa pada umumnya melakukan urbanisasi untuk
memperbaiki taraf hidupnya dengan mencari lapangan kerja di kota.

6. Perkembangan spasial sentrifugal akan mempengaruhi daerah pinggiran kota yang


berkaitan dengan peri kehidupan sosial, ekonomi, budaya, lingkungan biotik dan
abiotik. Perkembangan spasial sentrifugal adalah proses bertambahnya ruang
perkotaan yang berjalan ke arah luar dari daerah perkotaan yang sudah dibangun dan
memgambil tempat di daerah pinggiran kota . Hal ini menyebabkan perubahan fisik
maupun sosial daerah pinggiran kota tersebut. Dalam hal sosial maka masyarakat
pinggiran kota akan mengalami perubahan sifat seperti yang ada di perkotaan
misalnya sifat kekerabatan yang awalnya erat akan berubah menjadi individual,
ekonomi masyarakat juga akan mengalami perubahan yang awalnya agraris menjadi
non agraris, budaya pun akan mengalami perubahan yaitu akan mengikuti budaya
luar, lingkungan biotik maupun abiotik pun akan mengalami perubahan misalnya
pada awalnya pesawahan berubah menjadi daerah industri seperti yang terjadi di
Karawang.

7. Keberadaan ruang terbuka hijau sangat penting dalam rangka menciptakan kota
nyaman dan menyenangkan. Ruang terbuka hijau sangat penting untuk daerah
perkotaan yang minim sekali pepohonan. Ruang terbuka hijau sangat bermanfaat
sekali bagi lingkungan maupun masyarakat kota sendiri. Ruang terbuka hijau sangat
dibutuhkan masyarakat kota yang sudah jenuh dengan lingkungannya misal untuk
jalan jalan atau sekedar bersantai harus selalu ke mall atau tempat hiburan yang tidak
bernuasa alam. Oleh karena itu dengan adanya ruang terbuka hijau yang ditanami
pepohonan sangat membuat nyaman dan menyenangkan dan tentunya sangat diminati
masyarakat kota. Contoh ruang terbuka hijau adalah taman kota, Taman Suropati.

Fungsi ruang terbuka di kota :


 Sarana olahraga misalnya jogging
 Sebagai tempat resapan air
 Sebagai penambah oksigen
 Sebagai penurun suhu kota yang panas
 Peredam kebisingan dari kendaraaan
 Sebagai tempat bermain untuk anak-anak
 Sebagai sarana pendidikan alam
 Sebagai wisata yang dapat memguntungkan

8. Bentuk Urabisasi fisiko-spasial ada 3 macam yaitu :


 Perpindahan penduduk dari desa ke kota
Perpindahan masyarakat desa ke perkotaan dengan tujuan untuk memperbaiki taraf
hidupnya misalnya dengan mencari lapangan kerja baru yang pastinya non agraris.
 Perubahan status pemerintahan\
Dengan adanya urbanisasi yang tinggi maka daerah perkotaan akan berjalan ke
pinggiran kota. Hal ini menyebabkan daerah disekeliling perkotaan mengalami
pertumbuhan ekonomi dan pemekaran wilayah atau membuat wilayah atau kota baru.
Contohnya Kota Tangerang Selatan, Jabodetabek.
 Perembetan kenampakan fisik ke arah ke luar (urban spraw)
Urbanisasi menyebabkan tingkat kepadatan penduduk di daerah perkotaan. Oleh
karena itu biasanya pembangunan perkotaan berjalan ke luar atau ke pinggiran kota.
Maka pinggiran kota pun kenampakan fisiknya tidak jauh beda dengan perkotaan.
9. 9 klasifikasi kota atas dasar fungsinya menurut Hudson F S.
 Kota Pertambangan dan penggalian bahan-bahan alami lainnya, yaitu kota yang
memiliki sumber daya tambang seperti kota Pontianak.
 Kota Industri yaitu kota yang perekonomiannya bergantung besar pada sektor
industri yaitu seperti Kota Sukabumi.
 Kota-kota sebagai pusat pengangkutan. kota-kota jenis ini dapat dibedakan menjadi
kota-kota yang melayani pengangkutan umum dan kota pengangkutan khusus .
Contohnya adalah Kota Batam
 Kota-kota sebagai perdagangan. Kota jenis ini dibedakan menjadi 4 macam, yaitu
:kota pemasaran hasil-hasil pertanian, kota pusat perbankan dan uang, kota
perdagangan yang bervariasi, kota-kota pelabuhan besar yang berfungsi sebagai
kota perdagangan. Contohnya Kota Jakarta
 Kota-kota pusat administrasi misalnya Kota Bandung yang merupakan ibukota dari
Provinsi Jawa Barat.
 Kota-kota yang mempunyai arti strategis. Contohnya kota Jakarta Timur
 Kota-kota Budaya misalnya kota pendidikan yaitu Surabaya
 Kota-kota pusat kesehatan dan rekreasi, yaitu kota yang perekonomiannya
bergantung besar pada sektor pariwisata yaitu Kota Denpasar.
 Kota – kota pemukiman seperti Kota Bekasi

Sumber : https://umiemuliya.wordpress.com/2012/12/03/klasifikasi-kota-atas-
dasar-karakteristik-fungsinya/

10 . Kesesuaian Lahan di Perkotaan (Kelompok 7)

Penggunaan lahan sering disalahartikan dengan fasilitas, sebagai contoh tata guna
lahan perdagangan atau komersial sering disamakan dengan fasilitas pasar atau
pertokoan, padahal kedua istilah ini berbeda. Seperti sudah dijelaskan di atas,
penggunaan lahan mengarah pada bentang tanah yang ditetapkan memiliki fungsi
tertentu. Secara fisik sudah tentu berupa ruang yang dibatasi oleh batas kepemilikan atau
pengelolaan lahan. Sementara itu, fasilitas adalah unit pelayanan yang memiliki fungsi
tertentu dan biasanya secara fisik berupa bangunan. Dengan demikian, sebentang lahan
dengan peruntukan kegiatan jasa (guna lahan jasa), di atasnya dapat dibangun beberapa
fasilitas antara lain kantor, sekolah, puskesmas dan lain sebagainya.

Koestoer (2001: 5), mendefinisikan bahwa kota adalah merupakan hasil kreasi
manusia. Kondisi fisik kota mencerminkan hasil olahan budaya penghuni kota yang
bersangkutan. Selanjutnya dia mengatakan bahwa peralihan ruang ditandai dengan
berubahnya area persawahan (non builit-up area) menjadi kawasan permukiman,
perdagangan, jasa, pusat pengembangan pendidikan dan fasilitas perkotaan lainnya
(built-up area).

Charles Colby (1933) dalam (Yunus, 2000: 177), pertama kali mencetuskan ide
tentang kekuatan-kekuatan dinamis yang mempengaruhi pola penggunaan lahan kota.
Dikatakan bahwa, di dalam kota terdapat kekuatan-kekuatan yang dinamis yang
mempengaruhi pola penggunaan lahan kota, oleh karena itu pola penggunaan lahan kota
menjadi dinamis dan mengalami perubahan-perubahan. Penambahan dan pengurangan
bangunan-bangunan, pengubahan bangunan-bangunan, penambahan dan pengurangan
fungsi-fungsi, perubahan jumlah penduduk, perubahan struktur penduduk, perubahan
tuntutan masyarakat, perubahan nilai-nilai kehidupan dan aspek-aspek kehidupan
(politik, sosial, ekonomi, budaya , teknologi, psikologi, religius dan fisikal) dari waktu ke
waktu telah menjadikan kota menjadi bersifat dinamis dalam artian selalu berubah dari
waktu ke waktu, dan demikian pula pola penggunaan lahannya.

Nilai dan Harga Tanah

Harga adalah sejumlah uang yang dibayarkan dalam sebuah transaksi untuk
mendapatkan hak milik dari suatu benda. Nilai adalah apa yang “sepatutnya dibayar”
oleh seorang pembeli atau diterima oleh penjual dalam sebuah transaksi, dan harga
adalah apa yang akhirnya disetujui.

Nilai Pasar (Standar Penilaian Indonesia 2007) didefinisikan sebagai estimasi


sejumlah uang pada tanggal penilaian, yang dapat diperoleh diperoleh dari transaksi
transaksi jual-beli atau hasil penukaran suatu lahan, antara pembeli yang berminat
membeli dengan penjual yang berminat menjual, dalam suatu transaksi bebas ikatan,
yang pemasarannya dilakukan secara layak, di mana kedua pihak masing-masing
bertindak atas dasar pemahaman yang dimilikinya, kehati-hatian dan tanpa paksaan (SPI
1 3.0.3.1)

Harga tanah adalah penilaian atas nilai tanah yang diukur berdasarkan harga
nominal dalam satuan uang untuk satu satuan luas tertentu tertentu pada pasaran pasaran
lahan (Djoko Sujarto,1985:18). Harga tanah yang tidak terkendali tersebut terjadi karena
tidak adanya RTRW lengkap dengan rinciannya di kota-kota di Indonesia, membuat
masalah tanah menjadi faktor ketidakpastian paling besar dan membuat harga tanah
semakin diserahkan kepada "mekanisme ekonomi pasar“.
Peningkatan Nilai Tanah ada 3 tahap (Dunkerley) :

 Tahap pertama, keadaan tanah yang masih berupa tanah desa.


 Tahap kedua, tanah desa yang telah atau baru dirubah fungsinya fungsinya menjadi
menjadi bagian dari wilayah wilayah perkotaan perkotaan dengan sarana dan
prasarana perkotaan yang belum lengkap.
 Tahap terakhir, tanah perkotaan yang penggunaannya sudah lebih kompleks dengan
sarana yang lebih lengkap dan pola penggunaan dengan nilai ekonomis yang tinggi.