Anda di halaman 1dari 9

PENDALAMAN MATERI FIKIH

MODUL 4

ARIYAH, JUAL BELI, KHIYAR, RIBA

Penyusun:
Muh. Shabir Umar

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA


JAKARTA
2019
2

KEGIATAN BELAJAR 4: RIBA


Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan
Memahami dan menguasai hukum agama tentang riba dan mengidentifikasi praktik
riba dalam kehidupan masyarakat.
Subcapaian Pembelajaran Mata Kegiatan
1. Menjelaskan pengertian, hukum, dan dasar hukum riba
2. Membedakan macam-macam riba
3. Menganalisis implikasi riba
4. Menemukan hikmah pengharaman riba dan upaya penanggulangannya
Pokok-Pokok Materi
1. Pengertian, hukum, dan dasar hukum riba
2. Macam-macam riba
3. Implikasi riba
4. Hikmah pengharaman riba dan upaya penanggulangannya

URAIAN MATERI

A. Pengertian, Hukum, dan Dasar Hukum Riba


1. Pengertian Riba
Riba merupakan jenis transaksi lawas yang telah ada sejak lama. Buktinya
adalah terdapatnya larangan riba pada kitab suci ajaran Nabi Musa a.s., yang hidup
pada 1500 tahun sebelum masehi. Setelah lebih dari 3500 tahun, transaksi tersebut
telah berkembang sehingga mereka yang tidak memahami arti riba turut melakukan-
nya, baik disadari maupun tidak.
Selain itu, beberapa ulama menyebutkan bahwa riba adalah termasuk perbuatan
yang zalim atau menzalimi orang lain karena mengambil harta orang lain tanpa ada
pertukaran yang seimbang. Oleh karena riba adalah transaksi yang seharusnya diting-
galkan dan tidak dilakukan, maka diperlukan ilmu untuk tidak terjebak dalam transaksi
ribawi.
Riba menurut bahasa merupakan isim masdar dari rabaa, yarbuu, berarti tam-
bahan, kelebihan atau bertambah, dan tumbuh. Pemakaian makna ini dalam al-Qur'an
dapat dilihat pada surah al-Hajj ayat 5.
ٍ ِ‫ت ِمن ُك ِل َزْو ٍج ََب‬
-٥- ‫يج‬ ْ َ‫ت َوأَنبَ ت‬
ْ َ‫ت َوَرب‬ َ ‫فَِإذَا أ‬
ْ ‫َنزلْنَا َعلَْي َها الْ َماء ْاهتَ َّز‬
Kemudian apabila telah Kami Turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi
itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tetumbuhan)
yang indah. QS al-Hajj/22: 5.
Kata rabat dalam ayat ini bermakna “menumbuhkan” yang merupakan makna
kebahasaan dari kata itu sendiri.
Dalam istilah syara’, riba menurut ulama Hanbali berarti tambahan pada barang-
barang tertentu. Sedangkan dalam mazhab Hanafi, riba diartikan sebagai tambahan
3

tanpa imbalan dalam transaksi harta dengan harta. Selanjutnya menurut definisi yang
lain, riba adalah tambahan pada harta yang disyaratkan dalam transaksi dari dua pelaku
akad dalam tukar menukar antara harta dengan harta. Muhammad al-Syirbini
mengemukakan bahwa riba adalah suatu transaksi yang pada saat berlangsungnya akad
tidak diketahui kesamaannya (transaksi penganti) menurut ukuran syariat.
Riba dipraktikkan sudah dimulai semenjak bangsa Yahudi sampai masa
Jahiliyah sebelum Islam dan awal-awal masa keislaman. Padahal semua agama sama-
wi mengharamkan riba karena tidak ada kemaslahatan sedikitpun dalam kehidupan
bermasyarakat. Bahkan menurut Mawardi, riba tidak pernah dibolehkan dalam syariat
apa pun.
2. Hukum dan Dasar Hukum Riba
Riba hukumnya haram berdasar pada al-Qur'an, sunah, dan ijma’ umat Islam.
Allah swt. berfirman:
ِ ‫َخ ِذ ِهم‬ ِ ِ ِ ِ ِ ِ‫ات أ ُِحلَّت ََلم وب‬ ٍ ‫فَبِظُلْ ٍم ِمن الَّ ِذين هادواْ حَّرمنَا علَي ِهم طَيِب‬
‫الرََب َوقَ ْد‬ ُ ْ ‫ َوأ‬. ً‫صده ْم َعن َسب ِيل الل َكثريا‬ َ َ ُْ ْ َ ْ َْ ْ َ ُ َ َ َ
. ً‫ين ِمنْ ُه ْم َع َذاَبً أَلِيما‬ ِ ِ ِ ِ ِ ‫ُُنُواْ عنْه وأَ ْكلِ ِهم أَمو َال الن‬
َ ‫َّاس َبلْبَاط ِل َوأ َْعتَ ْد ََن للْ َكاف ِر‬ َْ ْ َ ُ َ
Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka
(memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka,
dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebab-
kan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang
daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil.
Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa
yang pedih. (QS al-Nisaa’/4: 160-161).
Pada ayat lain, Allah swt. berfirman:
ُ ُ ‫ك ِبَ َُّنُْم قَالُواْ إََِّا الْبَ ْي‬ ِ ِ ‫الرَب الَ ي ُقومو َن إِالَّ َكما ي ُقوم الَّ ِذي ي تخبَّطُه الشَّيطَا ُن ِمن الْم‬ ِ َّ
َ ‫س ذَل‬ َ َ ْ ُ َ ََ ُ َ َ ُ َ َِ ‫ين ََيْ ُكلُو َن‬ َ ‫الذ‬
-٢٧٥- ‫الرََب‬ ِ ‫َح َّل اللُ الْبَ ْي َ ُ َو َحَّرَم‬ ِ ‫ِمثْل‬
َ ‫الرََب َوأ‬ ُ
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.
Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpen-
dapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS al-Baqarah/2: 275).
Pada ayat lain, Allah swt. berfirman:
ٍ ‫ فَِإن ََّّل تَ ْفعلُواْ فَأْ َذنُواْ ِِبَر‬-٢٧٨- ‫ني‬
‫ب‬ ْ َ ْ
ِِ
َ ‫الرََب إِن ُكنتُم ُّم ْؤمن‬ِ ‫ين َآمنُواْ ات َُّقواْ اللَ َو َذ ُرواْ َما بَِقي ِم َن‬ ِ َّ
َ ‫ََي أَيُّ َها الذ‬
َ
-٢٧٩- ‫وس أ َْم َوالِ ُك ْم الَ تَظْلِ ُمو َن َوالَ تُظْلَ ُمو َن‬ ِ ِِ ِ ِ
ُ ‫م َن الل َوَر ُسوله َوإن تُْب تُ ْم فَلَ ُك ْم ُرُؤ‬
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa
riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika
kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa
Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari
pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan
tidak (pula) dianiaya. (QS al- Baqarah/2: 278-279)
Selain al-Qur'an, Hadis juga menlaranga riba di antaranya:
4

‫ لعن رسول هللا صلى هللا عليه و سلم آكل الرَب ومؤكله قال قلت وكاتبه وشاهديه‬:‫عن عبد هللا قال‬
Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwa Rasulullah saw. melaknat pemakan riba’, yang
memberi makan, kedua orang saksinya dan pencatatnya.(HR Muslim)
َ َ ِ‫وَب أَيْ ََ ُرَها أَ ْن يَْنك‬ ِ « -‫صلى هللا عليه وسلم‬- ِ‫الل‬
ً ‫الرََب َسْب ُعو َن ُح‬ َّ ‫ول‬
ُ ‫ال َر ُس‬ َ َ‫َع ْن أَِِب ُهَريْ َرَة ق‬
َ َ‫ال ق‬
.» ُ‫الر ُج ُل أ َُّمه‬
َّ
Dari Abdullah bin Masud r.a. dari Nabi saw. bersabda,"Riba itu terdiri dari 73
pintu. Pintu yang paling ringan seperti seorang laki-laki menikahi ibunya sendiri.
(HR. Ibnu Majah dan Al-hakim)
ِ َِّ ‫ول‬
ُ‫ « د ْرَه ُم ِرَبً ََيْ ُكلُه‬-‫صلى هللا عليه وسلم‬- ‫الل‬ َّ ‫َع ْن َعْب ِد‬
ُ ‫اللِ بْ ِن َحْنظَلَ َة َغ َِ ِيل الْ َمالَئِ َك ِة قَ َال قَ َال َر ُس‬
ِ ٍ ِ ِ َ ‫الرجل وهو ي علَم أ‬
َ ‫َش ُّد م ْن ستَّة َوثَالَث‬
» ‫ني َزنْيَ ًة‬ ُ ْ َ َ ُ َ ُ ُ َّ
Dari Abdullah bin Hanzhalah Ghasilul malaikah berkata bahwa Rasulullah saw.
bersabda, "Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan sadar,
jauh lebih dahsyat daripada 36 wanita pezina. (HR. Ahmad)
Riba adalah bagian dari 7 dosa besar yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw.
sebagaimana hadis berikut ini:
‫ قالوا َي‬. ) ‫ عن النيب صلى هللا عليه و سلم قال (اجتنبوا الَب ُ املوبقات‬:‫عن أيب هريرة رضي هللا عنه‬
‫رسول هللا وما هن ؟ قال ( الشرك َبهلل والَحر وقتل النفس اليت حرم هللا إال َبحلق وأكل الرَب وأكل‬
) ‫مال اليتيم والتويل يوم الزحف وقذف احملصنات املؤمنات الغافالت‬
Dari Abi Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Jauhilah oleh
kalian tujuh hal yang mencelakakan". Para sahabat bertanya,"Apa saja ya
Rasulallah?". "Syirik kepada Allah, sihir, membunuh nyawa yang diharamkan
Allah kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari
peperangan, dan menuduh zina. (HR. Muttafaq Alaihi)

B. Macam-macam Riba
Al-Hanafi mengatakan bahwa riba itu terbagi menjadi dua, yaitu riba al-fadhl
dan riba al-nasa'. Sedangkan Imam al-Syafi'i membaginya menjadi tiga, yaitu: riba al-
fadhl, riba al-nasa', dan riba al-yadd. Al-Mutawally menambahkan jenis keempat,
yaitu riba al-Qardh. Semua jenis riba ini diharamkan secara ijma' berdasarkan nash al-
Qur'an dan hadis Nabi.
1. Riba Fadl
Riba fadhl adalah riba yang terjadi dalam masalah barter atau tukar menukar
benda. Namun, bukan dua jenis benda yang berbeda, melainkan satu jenis barang
dengan kadar atau takaran yang berbeda. Jenis barang yang dipertukarkan itu hanya
tertentu saja, tidak semua jenis barang. Barang jenis tertentu itu kemudian sering
disebut dengan "barang ribawi". Harta yang dapat mengandung riba sebagaimana
disebutkan dalam hadis nabawi hanya terbatas pada emas, perak, gandung, terigu,
kurma, dan garam saja. Rasulullah saw. bersabda:
5

‫ قال رسول هللا صلى هللا عليه و سلم ( الذهب َبلذهب والفضة َبلفضة‬:‫عن عبادة بن الصامت قال‬
‫والرب َبلرب والشعري َبلشعري والتمر َبلتمر واملل َ َبملل َ مثال مبثل سواء بَواء يدا بيد فإذا اختلفت هذه‬
)‫األصناف فبيعوا كيف شئتم إذا كان يدا بيد‬
Dari Ubadah bin Shamait berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: Emas
dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, terigu dengan
terigu, korma dengan korma, garam dengan garam harus sama beratnya dan
tunai. Jika jenisnya berbeda maka juallah sekehendakmu tetapi harus tunai” (HR
Muslim).
Di luar keenam jenis barang itu tentu boleh terjadi penukaran barang sejenis
dengan kadar dan kualitas yang berbeda. Apalagi bila barang itu berlainan jenisnya
tentu lebih boleh lagi. Contoh, barter emas dengan emas hukumnya haram bila kadar
dan ukurannya berbeda. Misalnya, emas 10 gram 24 karat tidak boleh ditukar langsung
dengan emas 20 gram 23 karat, kecuali setelah dikonversikan terlebih dahulu masing-
masing benda itu.
2. Riba Nasi’ah
Riba nasi’ah disebut juga riba jahiliyah karena macam-macam riba dan contoh-
nya ini dipraktikkan oleh masyarkat Arab pada masa jahiliyah, yaitu masa sebelum
kenabian Muhammad saw. Nasi'ah bersal dari kata nasa' yang artinya penangguhan
sebab riba ini terjadi karena adanya penangguhan pembayaran. Inilah riba yang
umumnya kita kenal di masa sekarang ini. Dimana seseorang memberi hutang berupa
uang kepada pihak lain, dengan ketentuan bahwa hutang uang itu harus diganti bukan
hanya pokoknya, tetapi juga dengan tambahan prosentase bunganya. Riba dalam
nasi'ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang
diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.
Contoh: Ahmad ingin membangun rumah. Untuk itu, dia pinjam uang kepada
bank sebesar 144 juta dengan bunga 13 % pertahun. Sistem peminjaman seperti ini,
yaitu harus dengan syarat harus dikembalikan plus bunganya, maka transaksi ini
adalah transaksi ribawi yang diharamkan dalam syariat Islam.
3. Riba Yad
Riba yad adalah termasuk jenis riba jual beli, baik barang ribawi maupun non
ribawi. Arti riba yad adalah riba yang terjadi pada transaksi yang tidak menegaskan
harga pembayaran apabila transaksi dilakukan dengan penyerahan langsung (tunai)
atau penyerahan tunda.
Contoh riba yad atau riba al-yadi adalah transaksi pembelian motor yang oleh
penjual ditawarkan dengan harga transaksi kontan Rp. 10 juta dan transaksi kredit
sebesar Rp. 15 juta. Seorang pembeli kendaraan tersebut, namun sampai kedua pihak
berpisah, belum ada kesepakatan harga yang akan dibayarkan.
Perbedaan nilai transaksi kontan dan kredit, tanpa ada kesepakatan harga inilah
yang disebut sebagai riba yad. Namun, jika kedua belah pihak sepakat memilih satu
harga sebelum berpisah. Maka transaksi tersebut tidak riba.
6

4. Riba Qard
Riba qard adalah riba karena adanya persyaratan kelebihan pengembalian
pinjaman yang dilakukan di awal akad atau perjanjian hutang-piutang. Pada saat jatuh
tempo hutang, pemberi hutang (muqridh) menerima pengembalian sebesar pokok
ditambah kelebihan yang dipersyaratkan dari penerima hutang (muqtharidh). Misal-
nya, seseorang meminjam uang sebesar Rp. 5 juta kepada orang lain, kemudian yang
bersangkutan meminjamkan uang dengan syarat bunga 20% selama 6 bulan. Saat
pembayaran, peminjam maupun pemberi pinjaman telah makan riba sebesar Rp 1 juta.

C. Riba dan Implikasinya


1. Implikasi Riba dalam Kehidupan Ekonomi
Islam memang sangat melarang riba dalam seluruh praktek kehidupan perekono-
mian karena memiliki dampak yang signifikan. Di antara dampak yang nampak dalam
kehidupan ekonomi adalah:
a. Ketidakadilan distribusi pendapatan dan kekayaan. Prinsip riba yang memberikan
hasil tetap pada satu pihak (pemodal) dan hasil tak tetap pada pihak lawan
(pengusaha);
b. Potensi ekploitasi terhadap pihak yang lemah dan keuntungan lebih berpihak pada
orang-orang kaya. Sistem riba memiliki kecenderungan terjadinya akumulasi
modal pada pihak bermodal tinggi;
c. Alokasi sumber daya ekonomi tidak efisien. Prinsip dan sistem bunga membawa
kecenderungan alokasi dana tidak di dasarkan atas prospek profitabilitas usaha
melainkan lebih pada dasar kemampuan pengembalian pinjaman (kolektibilitas)
dan nilai jaminan (kolateral);
d. Terhambatnya investasi
2. Implikasi Riba dalam Kehidupan Masyarakat
Selain implikasi terhadap ekonomi, riba juga membawa dampak yang tidak
sedikit dalam kehidupan bermasyarakat, di antaranya:
a. Riba dapat menimbulkan permusuhan antara pribadi dan mengurangi semangat
kerja sama/saling menolong dengan sesama manusia. Dengan mengenakan tambah-
an kepada peminjam akan menimbulkan perasaan bahwa peminjam tidak tahu
kesulitan dan tidak mau tahu kesulitan orang lain;
b. Riba dapat menimbulkan permusuhan antara pribadi dan mengurangi semangat
kerja sama/saling menolong dengan sesama manusia. Dengan mengenakan tambah-
an kepada peminjam akan menimbulkan perasaan bahwa peminjam tidak tahu
kesulitan dan tidak mau tahu kesulitan orang lain;
c. Riba merupakan salah satu bentuk penjajahan. Kreditur yang meminjamkan
modal dengan menuntut pembayaran lebih kepada peminjam dengan nilai yang
telah disepakati bersama. Menjadikan kreditur mempunyai ligetimasi untuk
melakukan tindakan-tindakan yang tidak baik untuk menuntut kesepakatan
tersebut. Karena dalam kesepakatan kreditur telah memperhitugkan keuntungan
yang diperoleh dari kelebihan bunga yang akan diperoleh, dan itu sebenarnya hanya
berupa pengharapan dan belum terwujud;
7

d. Yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin. Bagi orang yang mendapat-
kan pendapatan lebih akan banyak mempunyai kesempatan untuk menaikkan
pendapatannya dengan membungakan pinjaman pada orang lain. Sedangkan bagi
yang mempunyai pendapatan kecil, tidak hanya kesulitan dalam membayar cicilan
utang tetapi harus memikirkan bunga yang akan dibayarkan;
e. Riba pada kenyataannya adalah pencurian, karena uang tidak melahirkan uang.
Uang tidak memiliki fungsi selain sebagai alat tukar yang mempunyai sifat stabil
karena nilai uang dan barang sama atau intrinsik. Bila uang dipotong uang tidak
bernilai lagi, bahkan nilainya tidak lebih dari kertas biasa. Oleh karena itu, uang
tidak bisa dijadikan komoditas;
f. Tingkat bunga tinggi menurunkan minat untuk berinvestasi. Investor akan memper-
hitungkan besarnya harga peminjam atau bunga bank. Investor tidak mau menang-
gung biaya produksi yang tinggi yang diakibatkan biaya bunga dengan mengurangi
produksinya. Bila hal ini terjadi maka akan mengurangi kesempatan kerja dan
pendapatan sehingga akan menghambat pertumbuhan ekonomi.

D. Hikmah Pengharaman Riba dan Upaya Penanggulangannya


1. Hikmah Pengharaman Riba
Riba telah jelas dan tegas dilarang dalam Islam. Pelarangan riba dalam al-
Qur’an tidak diturunkan sekaligus melainkan secara bertahap, sejalan dengan kesiapan
masyarakat pada masa itu, seperti pelarangan minuman keras. Adapun tahap-tahap
pelarangan riba dalam al-Qur'an dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Tahap pertama, disebutkan bahwa riba akan menjauhkan kekayaan dari keberkahan
Allah, sedangkan shodaqoh akan meningkatkan keberkahan berlipat ganda (QS al-
Rum/: 39);
b. Tahap kedua, pada awal periode Madinah, praktik riba dikutuk dengan keras,
sejalan dengan larangan pada kitab-kitab terdahulu. Riba dipersamakan dengan
mereka yang mengambil kekayaan orang lain secara tidak benar dan mengancam
kedua belah pihak dengan siksa Allah yang pedih (QS al-Nisa’/4: 160-161);
c. Tahap ketiga, pelarangan riba dengan dikaitkan pada suatu tambahan yang berlipat
ganda (QS Ali Imran/3: 130). Ayat ini turun setelah perang Uhud yaitu tahun ke-3
Hijriyah. Menurut Antonio (2001: 49), istilah berlipat ganda harus dipahami
sebagai sifat bukan syarat sehingga pengertiannya adalah yang diharamkan bukan
hanya yang berlipat ganda saja sementara yang sedikit, maka tidak haram,
melainkan sifat riba yang berlaku umum pada waktu itu adalah berlipat ganda;
d. Tahap keempat, merupakan tahap terakhir di mana Allah dengan tegas dan jelas
mengharamkan riba, menegaskan perbedaan yang jelas antara jual beli dan riba dan
menuntut kaum Muslimin agar menghapuskan seluruh hutang- pihutang yang
mengandung riba (QS al-Baqarah/2: 278-279);
Menurut Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi, jika Islam memperketat urusan riba dan
memperkeras keharamannya, sesungguhnya ia bermaksud memelihara kemaslahatan
manusia baik mengenai akhlak, hubungan sosial, maupun ekonominya. Dari
pernyataan tersebut sangat jelas bahwa yang diinginkan Islam adalah kebaikan, usaha
8

keras, kemandirian, dan tolong menolong. Bukan sebaliknya menindas, dan mengeks-
ploitasi sesama saudaranya.
Para ulama Islam menyebutkan beberapa alasan rasional mengenai hikmah
diharamkannya riba. Penjelasan ini kemudian diperkuat oleh kajian-kajian kontem-
porer. Imam al-Razi, misalnya, di dalam tafsirnya menjelaskan sebagai berikut:
a. Alasan dari Aspek Ekonomi
Bahwa riba adalah mengambil harta orang lain tanpa imbalan, karena orang yang
menjual satu dirham dengan dua dirham berarti dia mendapatkan tambahan satu
dirham tanpa ada imbalan apa-apa. Sedang harta seseorang merupakan standard
hidupnya yang memiliki kehormatan besar, sebagaimana disebutkan dalam hadis:
“Kehormatan harta seseorang seperti kehormatan darahnya.” Oleh karena itu,
mengambil harta orang lain tanpa imbalan sudah pasti haram;
b. Alasan dari Aspek Sosial
Bahwa bergantung kepada riba akan menghalangi orang dari melakukan usaha,
karena apabila pemilik uang sudah dapat menambah hartanya dengan melakukan
transaksi riba, baik tambahan itu dilakukan secara kontan maupun berjangka, maka
dia akan meremehkan persoalan mencari peghidupan, sehingga nyaris dia tidak mau
menanggung risiko berusaha, berdagang, dan pekerjaan-pekarjaan yang berat. Hal
ini akan mengakibatkan terputusnya kemanfaatan bagi masyarakat. Sudah
dimaklumi bahwa kemaslahatan dunia tidak akan dapat diwujudkan kecuali dengan
adanya perdagangan, keterampilan, perusahaan, dan pembangunan;
c. Alasan Aspek Akhlak
Bahwa riba akan menyebabkan terputusnya kebaikan antar-masyarakat dalam
bidang pinjam meminjam. Karena apabila riba diharamkan maka hati akan merasa
rela meminjamkan uang satu dirham dan kembalinya juga satu dirham. Sedangkan
jika riba dihalalkan, maka kebutuhan orang yang terdesak akan mendorongnya
untuk mendapatkan uang satu dirham dengan pengembalian dua dirham. Hal
demikian ini sudah barang tentu akan menyebabkan terputusnya perasaan belas
kasihan, kebaikan, dan kebajikan;
d. Alasan Teologi
Pada umumnya orang yang memberikan pinjaman adalah orang kaya, sedang yang
meminjam adalah orang miskin. Pendapat yang memperbolehkan riba berarti
memberikan jalan bagi orang kaya untuk memungut tambahan harta dari orang
miskin yang lemah. Padahal tindakan yang demikian itu tidak diperbolehkan
menurut asas kasih sayang Yang Maha Penyayang.
Ini semua dapat diartikan bahwa di dalam riba terdapat unsur pemerasan
terhadap orang yang lemah untuk kepentingan orang yang kuat. Akibatnya yang kaya
bertambah kaya dan yang miskin bertambah miskin. Hal ini akan mengarah kepada
tindakan membesarkan satu kelas masyarakat atas pembiayaan kelas lain yang pada
gilirannya akan menciptakan kedengkian dan sakit hati, akan menyulut api permusuh-
an antara sebagian masyarakat terhadap sebagian yang lain, bahkan dapat menimbul-
kan pemberontakan.
9

2. Upaya Penanggulangan Riba


Islam selalu memberikan jalan yang terbaik dalam setiap permasalahan yang
menjerat umatnya. Dalam hal ini, ekonomi Islam menawarkan sistem bagi hasil (profit
and loss sharing) ketika pemilik modal (surplus spending unit) bekerja sama dengan
pengusaha (deficit spending unit) untuk melakukan kegiatan usaha. Apabila kegiatan
usaha menghasilkan, keuntungan dibagi bersama dan apabila kegiatan usaha
menderita kerugian, kerugian juga ditanggung bersama. Sistem bagi hasil ini dapat
berbentuk mudharabah atau musyarakah dengan berbagai variasinya. Dalam mudhara-
bah terdapat kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak (shahibul mal) menye-
diakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya sebagai mudharib (pengelola).
Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan
dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugi-
an itu bukan akibat kelalaian mudharib. Namun, seandainya kerugian itu diakibatkan
karena kelalaian mudharib, maka mudharib juga harus bertanggung jawab atas
kerugian tersebut.
Alternatif lain adalah dengan menggunakan cara musyarakah. Sektor riil meru-
pakan sektor yang paling penting disorot dalam ekonomi Islam karena berkaitan
langsung dengan peningkatan output dan akhirnya kesejahteraan masyarakat. Segala
komponen dalam perekonomian diarahkan untuk mendorong sektor riil ini, baik dalam
memotivasi pelaku bisnis maupun dalam hal pembiayaannya. Jadi, dalam hal ini pada
intinya Islam memberikan solusi agar tidak terjebak dalam praktik riba, maka perlu
ada cara agar bisa keluar dari jeratan riba, yakni dengan cara bagi hasil (mudharabah)
atau kerjasaama (musyarakah) agar tidak ada lagi praktik-praktik eksploitasi yang
bersifat tidak manusiawi.