Anda di halaman 1dari 208

Kolektor E-Book adalah sebuah wadah nirlaba bagi para

pecinta Ebook untuk belajar, berdiskusi, berbagi


pengetahuan dan pengalaman.

Ebook ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk


melestarikan buku-buku yang sudah sulit didapatkan di
pasaran dari kepunahan, dengan cara mengalih mediakan
dalam bentuk digital.

Proses pemilihan buku yang dijadikan objek alih media


diklasifikasikan berdasarkan kriteria kelangkaan, usia,
maupun kondisi fisik.

Sumber pustaka dan ketersediaan buku diperoleh dari


kontribusi para donatur dalam bentuk image/citra objek
buku yang bersangkutan, yang selanjutnya dikonversikan
kedalam bentuk teks dan dikompilasi dalam format digital
sesuai kebutuhan.

Tidak ada upaya untuk meraih keuntungan finansial dari


buku-buku yang dialih mediakan dalam bentuk digital ini.

Salam pustaka!

Team Kolektor E-Book


PENDEKAR
DARAH
PAJAJARAN
Seri Pendekar Majapahit

Karya : KUSDIO KARTODIWIRJO


Gambar : DR. OYI SOEDOMO
Penerbit : SINTA - RISKAN

Pustaka Koleksi : pak Gunawan AJ


Image Source : Awie Dermawan
Kontributor : Yons

Peb 2019, Kolektor - Ebook


PENGABDIAN

Kulihat matahari

Bersinar cerlang berseri


Serasa indah dunia maya
Dalam Cipta Hyang Maha Agung

Hati tergerak ………………….. ingin kecimpung


Dalam dunia budaya nan agung
Namun …………………. Aku tahu …………………..
Diri berbisik ………………………….. tak mampu

Ooh, Tuhan beri hamba harapan


Sewaktu hasyrat patah di jalan
Hilang musna terbawa awan

Dongeng ini kupersembahkan


Untuk mengenang Pahlawan2 Bangsa
Hasyratku …………………….. pengabdian. ----

JOGJAKARTA
Jilid 1

BAGIAN I
— Aaaaiiii!!! ……. Curang kau!!? Akan kutampar mukamu dan kucabuti kumismu, jika tidak mau
menurut gerakan bantinganku …….—
Anak dara kecil berseru nyaring dan membentak bentak dengan logat dan gaya tingkah lakunya
kekanak kanakan.
Sebentar2 ia ketawa nyaring hingga giginya yang putih kecil kecil seeempak laksana mutiara,
nampak jelas. Tetapi secepat itu pula wajahnya berubah cemberut yang menunjukkan kemarahan, serta
membanting-banting kakinya ditanah.
Ia sedang bergumul dengan seekor harimau kumbang yang cukup besar. Badan harimau itu
sepanjang kira-kira dua langkah dengan bulunya yang halus mengkilat berwarna hitam mulus. Harimau
kumbang itu mengaum-aum pendek dengan memperlihatkan taringnya yang panjang-panjang dan tajam
serta menakutkan. Tetapi anak dara kecil itu sedikitpun tak memperlihatkan rasa takut. Ia
memperlakukan harimau itu, tak ubahnya seperti dengan boneka mainannya saja. Telapak tangannya
yang kecil berkelebat secepat kilat, menampar kemuka harimau yang sedang mengaum dan tepat
mengenai telapuk matanya. klungkin tamparan itu drasakan sakit, mungkin juga tidak, hal itu sukar
untuk diperkirakan. Tetapi yang jelas harimau kumbang mengaum sekali lagi dan menundukkan
kepalanya, seakan-akan ia mengerti, bahwa gerakannya yang baru saja dilakukan itu salah dan
mengakibatkan marahnya si dara kecil.
Dara kecil tersenyum puas. menunjukkan kegirangan hatinya dengan disertai rasa kasih
sayangnya yang iba. Tangan kanannya merangkul leher harimau kumbang, sedangkan jarinya tangan kiri
yang kecil runcing2 membelai bulu halus yang hitam mengkilat dari kepala si harimau, seakan - akan
menyesal akan apa yang baru saja dilakukan. Sang harimau menurut jinak, dan duduk berjongkok
dengan kedua kakinya belakang ditarik serta ditekuk rata menempel ketanah.
Ekornya hitam, sepanjang badannya melingkar dan bergerak - gerak dengan matanya
dpejamkan, seakan-akan merasakan halusnya berlainan tangan dari dara kecil tadi.
Dara kecil itu berusia kira-kira tujuh tahun. Rambutnya hitam panjang berombak digelung dan
diikat erat-erat de-ngan seutas pita sutra warna merah.
Raut mukanya bulat telor dengan sepasang pipinya yang lesung pipit dan kemerah-merahan.
Matanya redup dengan kerlingan yang memancarkan sifat kenakalan anak-anak, serta dihiasi dengan
sepasang alisnya yang tipis melengkung. Mulutnya kecil dengan bibir tipis mungil. Sepasang daun
telinganya dihiasi dengan anting-anting bermata mutiara. Tubuhnya langsing dan warna kulitnya kuning
bersih dilengan kanan terdapat tahi lalat, sebuah tanda sejak ia dilahirkan, berwarna merah kehitam-
hitaman, berbentuk bundar sebesar ibu jari. Tanda itu nampak jelas sekali, karena lengannya yang halus
dan bersih itu telanjang tidak tertutup kain.
Ia hanya memakai baju kutang tak berlengan, berwarna kuning keemasan dari kain sutra, serta
berkain sarung berwarna hitam yang dihiasi dengan lukisan kembang2 tersulam dari benang sutra
berwarna kuning keemasan pula. Ikat pinggangnya selebar telapak tangan ….. berwarna merah dari kain
tenunan yang lazim dinamakan setagen atau angkin.
Sungguhpun belum dewasa, namun wajahnya jelas menampakkan kecantikan yang
menggairahkan.
Dikala itu, siang tengah hari. Matahari berada diketinggian diatas kepala, dan memancarkan
sinar dengan teriknya. Langit biru membentang, mengatapi bumi, dengan dihiasi oleh awan awan tipis,
yang bergantungan dan berpencaran, merupakan bentuk lukisan yang beraneka macam dan berobah
robah.
Dahan dahan pohon dengan daun daunnya disekitar tempat itu melambai-lambai terkena tiupan
angin yang tidak mengenal berhenti. Dan daun-daun kering yang tidak lagi berpegangan pada rantingnya
jatuh berterbangan ditanah.
Tempat itu adalah sebuah dataran luas dengan pohon pohon hutan yang pindang dan
berserakan tumbuh liar di lereng Gunung Tangkuban Perahu.
Sekelilingnya merupakan jurang - jurang yang curam, serta menghadapkan kesebuah mulut gua
yang cukup lebar. Dengan berlatar belakang tebing cadas yang terjal menjulang tinggi.
Disebelah timur nampak puncak bukit Tunggul yang berdiri megah, dengan lereng - lerengnya
yang berpadu dengan lereng Gunung Tangkuban Perahu, laksana dua raksasa yang sedang berjabatan
tangan.
Pandangan kesebelah selatan adalah lembah rendah, dengan sawah–sawahnya yang subur serta
desa-desa yang terpencar jauh satu dengan yang lainnya. Sungai Citarum nampak pula berliku-liku
mengitari lembah tadi dan menambah indahnya pandangan.
Setelah itu pandangan dibatasi dengan terbenturnya pada dataran dataran lereng pcgunungan
yang membujur ke arah barat sejauh mata memandang. Sungguh suatu keindahan alam yang sukar
untuk dilukiskan dengan sempurna. Demikianlah kemurahan Dewata Yang Maha Agung pada umatNya.
Namun semuanya itu kiranya tidak mempengaruhi si dara kecil yang sedang asyik bermain main
dengan harimau kumbangnya.
Lagi pula panas teriknya matahari seakan akan tidak dirasakan.

— Mari kita mulai mengulang lagi permainan yang tadi, kumbang !!!, kata si dara kecil dengan
diiringi senyuman, sambil melepaskan rangkulan tangannya dan menepuk nepuk kepala harimau, untuk
kemudian berdiri ditengah lapangan. Si harimau seperti telah mengerti apa yang dikehendaki oleh dara
kecil. Dengan pelan dan malas ia menjauhi si dara, dan berhenti dalam jarak kira kira ampat langkah
darinya.
Dengan bermalasan menggeliatkan dan membalikkan badannya, menghadap pada dara kecil.
Badannya ditarik kebelakang sedikit dan ……. secepat kilat harimau kumbang meloncat menerkam
kearah dara kecil. Dengan gerakan tak kalah tangkasnya si dara kecil menyusup dibawah harimau yang
meloncat kearahnya, sambil mengulurkan tangannya untuk menangkap kaki depan hariman yang kanan.
Dengan tangkas ia membalikkan badannya dan menarik serta melemparkan sang harimau kedepannya.
Harimau kumbang jatuh berguling, tetapi secepat kilat berdiri diatas empat kakinya kembali,
serta membalikkan badannya dan mengulangi terkaman seperti tadi.
Dara kecil mengulangi gerakannya lagi, menyambut terkaman harimau dengan menyusupi
dibawahnya serta menangkap salah satu kaki depannya dan membantingnya kedepan lagi. Gerakan
demikian diulangi hingga berkali-kali dengan suatu gerakan yang semakin lama semakin cepat.
Itulah yang disebut gerakan membanting dengan meminjam tenaga lawan, atau dalam bentuk
jurus "mendayung mengikuti arus".
Tiba-tiba teedengar suara tepuk tangan tiga kali dengan diiringi suara panggilan nyaring dari
jauh "Indah Kumala ' !!! Memang demikianlah nama dara itu. Kelengkapannya ialah Indah Kumala
Wardhani.
Demi mendengar suara panggilan itu. Kumala Wardhani segera memalingkan kepalanya kearah
suara tadi dengan menyahut nyaring: "Saya disini, Eyang"!!!!.
Berkata demikian ia berlari menuju kearah suara yang ternyata datangnya dari mulut gua tadi,
dengan diikuti oleh si harimau kumbang.
Seorang laki-laki yang telah lanjut usianya, dengan berjubah warna kuning keemasan berdiri
diambang pintu gua, Menyambut datangnya anak dara kecil yang dipanggilnya tadi. Rambutnya yang
telah memutih seperti kapas diikat kebelakang merupakan sanggul kecil, dan diatas kepalanya melingkar
sebuah sisir dari tanduk. Wajahnya yang telah berkeriput bercahaya penuh wibawa. Sepasang matanya
bersinar tajam. Namun dibalik keangkeran wajahnya, tersembunyi budi perasaan yang lemah lembut
serta kasih sayang terhadap sesama ummat. Ia terkenal dengan nama gelarnya Ajengan Cahaya Buana.
Ia seorang petapa shakti yang sering muncul di tengah-tengah rakyat yang sedang tertimpa kemalangan
dan penderitaan.
Kesaktiannya mentakjubkan, sehingga datang dan perginya tidak pernah dapat diketahui orang.
Para penjahat jeri demi mendengar namanya.
Kehadirannya Ajengan Cahaya Buana ini tak pernah dapat diduga-duga sebelumnya. Pernah
sekali terjadi, seorang penjahat yang sedang merampok sebuah desa dengan anak buahnya, berniat
melawan Ajengan Cahaya Buana yang pada waktu itu tiba-tiba muncul menghalang halangi
perbuatannya, tetapi dengan tidak diketahui sebab musababnya, penjahat tadi roboh terguling dan
kemudian untuk selamanya mengalami cidera menjadi lumpuh kedua kakinya tanpa terluka. Penjahat
itu terkenal dengan gelarnya Oraybeureum yang ganas dan shakti.
Kejadian itu menjadi buah tutur orang dari mulut ke mulut dan tersebar luas diseluruh pelosok
daerah Pasundan.
Tidak sedikit pula rakyat desa yang sangat miskin, tiba tiba menerima pemberian rejeki berupa
uang, beras ataupun pakaian, dengan tidak diketahui, orangnya yang memberi pertolongan itu. Hanya
suara mengaumnya seekor harimau dari arah kejauhanlah yang menjadi suatu tanda bahwa Ajengan
Cahaya Buana berada disekitar tempat itu.
Rakyat yang mendapat pertolongannya hanya dapat mengucapkan rasa terima kasih seorang
diri, tak ubahnya seperti orang yang sedang berdoa saja. Mereka beranggapan bahwa petapa shakti itu
dapat menghilang. Tidak ada orang yang mengetahui dengan pasti tentang petapa sakti itu.
Maka karenanya banyaklah dongengan dongengan rakyat yang aneh-aneh serta bermacam-
macam corak dan sifatnya timbul dikalangan rakyat desa daerah Pasundan.
— Cucuku manis, bukankah Eyangmu telah ber-ulang2 mengatakan bahwa waktu siang tengah
hari demikian, tidak baik untuk berlatih. Dengan lemah lembut serta penuh rasa kasih sayang Cahaya
Buana memperingatkan cucunya Indah Kumala Wardhani.
Tetapi belum habis kata-kata Cahaya Buana, Kumala Wardhani telah menyahut dengan nada
suara lantang penuh rasa manja. — Tetapi apa yang harus saya kerjakan, Eyang? Pergi sedikit jauh saja
sudah dilarang, apakah saya hanya diharuskan berbaring saja didalam kamar yang gelap itu?
Mendengar bantahan cucunya itu, sedikitpun Ajengan Cahaya Buana tidak mejadi marah, tetapi
bahkan memandangnya dengan penuh rasa kasih sayang.
— Bukan demikian maksudku, cucuku manis. Dengarkanlah baik-baik, waktu siang hari begini
adalah kurang baik untuk berlatih. Bukankah sebaiknya kau membantu mamangmu didapur dahulu.
Baru nanti setelah mata hari condong kebarat, kau dapat mengulang lagi Iatihan itu dibawah penga-
wasanku. — Cahaya Buana menjelaskan dengan pelan.
— Baiklah Eyang, tetapi nanti setelah kita selesai makan, janganlah Eyang membohongi Kumala,
— dara kecil itu berkata sambil lari masuk kedalam gua dan diikuti oleh si kumbang. Cahaya Buana
mengikuti larinya cucunya dengan pa-dangan mata yang penuh rasa kasih sayang serta menghela nafas
panjang.
— Ach….. mirip benar ia dengan mendiang ibunya. — Cahaya Buana berkata dalam hati. — Dan
seandainya kakaknya berada disini, tentunya ta tidak akan merasa sangat kesepian seperti sekarang ini. -
Merenungkan demikian itu, kini hatinya merasa semakin tersayat sayat sedih. Kejadian enam tahun
yang lalu, sewaktu kemalangan menimpa keluarga anaknya, terbayang kembali dengan jelasnya.
Penstiwa yang menyedihkan serta penuh dengan penyesalan. Raut wajahnya yang tadi bersih bersinar,
kini berubah cepat menjadi suram penuh rasa duka.
Waktu itu Kum tla Wardhani masih berusia satu tahun... Anak menantunya adalah seorang
priyagung tamtama dari Kerajaan Pajajaran bernama Darmaku umah, berpangkat Bupati tamtama dan
merangkap menjadi kepala daerah Sukabumi, sebuah daerah yang terdekat dengan kota Raja Pajajaran.
Ia gugur sebagai pahlawan dimedan pertempuran, sewaktu mengiringkan Sri Baginda Maharaja Baduga
dalam perang Bubat dengan meninggalkan dua putra putri.
Ya …… waktu itu. bunga-bunga harum berguguran sebagai pahlawan Kerajaan Pajajaran
……sebagai ksatrya yang menjunjung tinggi sumpah tamtamanya, berbakti kepada keagungan Kerajaan
Pajajaran. Berita mengenai malapetaka yang tidak terlupakan itu datangnya dengan tiba-tiba. Dan saat
itulah Pajajaran dilanda banjir air mata. Namun kiranya kemalangan yang menimpa keluarga
Tumenggung Bupati tamtama Darmakusumah tidak hanya berhenti sampai sekian saja. Didalam suasana
yang berkabung, ada pula orang-orang
— Baiklah Eyang, tetapi nanti setelah kita selesai makan,
janganlah Eyang membohongi Kumala, — dara kecil itu
berkata sambil lari masuk kedalam gua dan diikuti oleh si
kumbang.

yang segera memancing didalam air keruh, ialah mencari keuntungan dengan meninggalkan silat-sifat
kemanusiaannya, yah …… bahkan berbuat sebagai pengchianat yang berachlak sangat rendah…..
Mereka itu adalah para perampok yang berpakaian sebagai tamtama Kerajaan Majapahit, dan
merampok dirumah rumah para priyagung yang keluarganya sedang dalam keadaan berkabung.
Gedung Kebanjaran Agung Sukabumi, sewaktu dalam keadaan berkabung dirampoknya, bahkan
putri Ajengan Cahaya Buana gusti ayu Bupati Darmakusumah dibunuhnya pula.
Kedatangan Cahaya Buana kerumah putrinya yang selalu dengan harimau kumbang piaraannya
ternyata telah terlambat. Terlambatnya kedatangannya itulah, yang ia sangat sesalkan... Bahkan dalam
pengejaran, hanya berhasil memusnakan dua orang perampok diantara duapuluhan orang itu. Bukan
hanya harta benda saja yang dibawa lari oleh para perampok, akan tetapi juga cucu putranya tersayang
Yoga Kumala, yang waktu itu baru berusia dua setengah tahun, dibawanya lari puta. Padahal cucu
putranya itu diharapkan kelak dapat mewarisi akan kesaktiannya.
Dengan hati yang tersayat-sayat sedih ia membawa jenazah putrinya serta cucu putrinya Indah
Kumala Wardhani dengan diikuti oleh mang Jajang pengasuh cucunya, kembali ketempat pertapaannya
dilereng Gunung Tangkuban Perahu. Disanalah dekat mulut gua itu, jenazah putrinya dimakamkan
dengan ditandai dengan sebuah batu nisan terpahat diatasnya.
Mang Jajang sebagai pengasuh yang setia, turut pula merasakan kesedihan yang tak terhingga
yang baru dialami oleh tuannya.
Dalam ia bermuram itu, wajahnya kelihatan kian berkeriput, dengan air mata yang berlinang-
linang menggenang dalam pelupuk matanya.
Namun sebagai seorang petapa shakti, dengan cepat ia dapat menguasai dirinya dan
menenangkan perasaannya kembali.
Disamping menggembleng cucu putrinya dalarn ilmu kerphanian dan kejasmanian, ia masih
selalu berusaha untuk menemukan jejak cucu putranya Yoga Kumala kembali.

Manusia wajib dan harus selalu berichtiar, namun ketentuannya ada ditangan Dewata Yang
Maha Agung.
Demikian pula pedoman hidup Ajengan Cahaya Buana. Dengan pelan dan langkah berat ia
memasuki gua, untuk mengikuti jejak cucunya.
Dalam lorong gua yang dilalui itu, tidak demikian gelap, dikarenakan adanya jalan yang
menembus kearah timur dengan mulutnya yang lebar, sehingga cukup untuk menam-pung sinar
pancaran matahari yang jatuh pada tebing-tebing cadas yang terjal itu.
Akan tetapi mulut gua tembusan itu tidak mungkin dapat dimasuki orang dari luar, karena
menghadap kearah jurang yang sangat curam, dengan tebing-tebingnya yang dihiasi dengan batu-batu
cadas yang licin keras serta terjal menjulang.
Diantara dua mulut gua itu, terdapat jalan simpangan yang membujur kearah utara, selebar satu
setengah langkah dengan tingginya kurang dari setinggi orang berdiri. Jalan simpangan itu merupakan
lorong yang gelap. Dengan demikian, maka orang yang hendak memasuki terpaksa harus
membungkukkan badannya dan harus jalan seorang demi seorang.
Selang kira-kira seratus langkah, jalan itu kemudian menurun kebawah dan sampailah pada
sebuah ruangan yang luas dan terang remang-remang. Terangnya ruangan ini dikarenakan pantulan
cahaya dari dinding2 batu putih yang mengelilinginya, serta pantulan cahaya dari batu2 air yang
menjorok tidak menentu bentuknya dan tidak teratur dari atas dan merupakan bentuk runcing2 ber-
gantungan.
Lantai dari ruangan itupun kelihatan putih licin serta bersih, tidak ubahnya seperti lantai dari
marmer alam. Disudut ruangan terdapat meja dari batu putih pula dengan kitab2 yang tersusun rapih
diatasnya, serta sebuah pelita minyak, sedangkan disebelahnya adalah tempat untuk Cahaya Buana
bersemadhi. Dikedua sudut yang bertentangan lainnya adalah tempat untuk Cahaya Buana dan cucu
putrinya beristirahat.
Dari ruangan yang cukup lebar itu, masih ada sebuah lorong lagi yang menanjak dan sampai
pada ruangan yang luasnya lebih kecil dari ruangan yang pertama. Tetapi ruangan inipun dinding-
dinding dan lantainya merupakan batu putih yang dapat memantulkan cahaya. Sebuah lorong jalan yang
cukup lebar menembus dan menghubungkan ruangan itu dengan mulut goa lainnya yang menghadap
keselatan. Ruangan itu merupakan tempat istirahat mang Jajang serta tempat untuk memasak.
Sedangkan tempat si kumbang adalah disebelah dalam mu!ut gua yang pertama.
Kiranya Kumala Wardhani telah mendahului sampai diruangan belakang dimana Mang Jajang
sedang sibuk menyiapkan masakannya.
— Mang Jadiang !! — Suaranya terdengar nyaring — Indah diperintah Eyang untuk
membantumu.
— Mamangmu telah hampir selesai, neng! ! jawab Mang Jajang, sambil meletakkan pinggan
berisi masakan sayur, serta memalingkan pandangannya kearah Kumala Wardhani. — Tunggu saja
sebentar, nanti neneng dapat membantu mengatur menutup meja?!
— Mang Jajang adalah seorang lelaki yang telah lanjut usianya, sekitar enam puluhan.
Rambutnya putih dengan kulit mukanya telah berkeriput pula serta giginyapun telah ompong semua. la
adalah pengasuh yang sangat setia sejak ayah Kumala Wardhani masih kecil.
Karena selalu mengabdi sebagai pengasuh dilingkungan para bangsawan, maka selalu Mang
Jajang bersikap menghormat yang berlebih-lebihan dan tidak pernah meninggalkan istiadat sopan-
santun sebagaimana lazimnya seorang abdi terhadap majikannya. Tak heranlah apabila ia selalu
memakai istilah „mengatur menutup meja", walaupun yang dimaksudkan adalah mengatur makanan
diatas lantai batu yang berada diruangan itu.
Sedang mereka berdua sibuk menyiapkan hidangan, Ajengan Cahaya Buana tiba-tiba telah
berada pula didalam ruangan itu.
— Mang Jajang ……. — katanya pelan.
— Harap kau dapat selalu bersabar hati mengasuh cucuku!!—
— Saya mohon restunya juragan Sepuh saja, semoga saya dapat mengasuhnya hingga neng
Kumala Wardhani mendapatkan kebahagiaan, serta dapat segera bertemu kembali dengan saudara
akangnya Aden Yoga Kumala, — jawab Mang Jajang.
--- Yaaaahhh ….. bantulah aku dengan berdoa siang malam kepada Dewata Yang Maha Agung,
mohon belas kasihanNya, agar cucuku Yoga Kumala lekas kembali dengan selamat. Ajengan Cahaya
Buana menambahkan.
Berkata demikian Cahaya Buana kembali menghela nafas panjang, dengan wajahnya berobah
muram kembali, menunjukkan kesedihan yang tak terhingga.
Sesungguhnya Cahaya Buana mempunyai maksud akan mewariskan kesaktiannya kepada cucu
putranya yang tunggal itu, akan tetapi karena tidak kunjung datang, maka ia kini memulai sedikit demi-
sedikit melatih cucu putrinya dengan ilmu tata bela diri yang telah diciptakan khusus untuk kaum putri,
agar kelak tidak meninggalkan sifat-sifat kewanitaannya. Baik mengelak ataupun menyerang, gerakan
jurusnya adalah berlainan bentuknya dengan seorang prija. Demikian pula macam senjata yang
dipergunakan.
Gerakan jurus - jurusnya sepintas lalu kelihatan lemah gemulai, tetapi mengandung unsur2
serangan yang cukup berbahaya bagi lawan yang dihadapinya.
Ternyata Indah Kumala Wardhani memiliki bakat dan kecerdasan yang dapat dibanggakan untuk
menguasai pelajaran-pelajaran yang diterimanya dari kakeknya. Dalam usia dua belas tahun, Indah
Kumala Wardhani telah dapat menangkis senjata tajam lawan dengan angkinnya, serta dapat pula
menyerang lawannya dengan lemparan tusuk kondenya yang sangat berbahaya itu. Dalam tata bela diri
bertangan kosong ia dapat membanting lawannya bagaimanapun beratnya, tanpa mengeluarkan tenaga
banyak, serta pukulan tamparannya yang cukup dahsyat dan sukar untuk dielakkan.
Oleh Cahaya Buana ia khusus dibuatkan tiga buah tusuk konde dari perak yang khusus dapat
dipergunakan sebagai senjata, dan sehelai angkin berwarna merah sepanjang dua depa, terbuat dari
bahan benang sutra alam yang ditenun selebar satu jengkal. Kiranya Cahaya Buana dapat berkenan
dihatinya, melihat kepandaian cucu putrinya. Apalagi Mang Jajang, rasa kagum yang tidak terhingga
timbul pula dihati Jajang inang pengasuhnya demi melihat ketangkasan dara asuhannya.
Kecantikan wajahnyapun kini nampak bertambah menggairahkan.
Kini Indah Kumala Wardhani dapat dengan mudahnya menuruni jurang-jurang yang curam serta
menaiki tebing2 yang terjal tanpa bantuan si kumbang harimau yang setia itu.
Ia dapat pula berlari cepat, seperti berkelebatnya bayangan, dan berloncatan dengan lincahnya,
bagaikan kupu-kupu berkejar-kejaran.
Sebagai putri Parahiyangan ia mahir pula memainkan kecapi dengan lagu-lagu asli Sunda yang
mengalun menggetarkan perasaan yang mendengarnya. Bahkan meliwati suara petikan kecapi itu, Indah
Kumala Wardhani dapat pula mencurahkan isi kalbunya dengan melalui lagu dan nada, melengking
mengalun menyayat-nyayat hati pendengarnya.
Diwaktu malam yang sunyi, sering pula ia memainkan kecapinya.
Suara petikan kecapinya mengumandang terdengar sayup sayup dari kejauhan, dengan lagu-
lagunya yang sedih memilukan, menyayat-nyayat hati orang-orang desa yang tinggal di sekitar lereng
bunung Tangkuban Perahu.
Banyak diantara mereka yang beranggapan, bahwa suara petikan kecapi itu adalah berasal dari
putri siluman yang sedang berkuda dipuncak Gunung Tangkuban Perahu..
— Eyang, ijinkanlah Kumala untuk turun Gunung guna mencari akang Yoga Kumala, satu satunya
saudara kandung Kumala.
Nada suaranya yang merengek rengek ini, kini hampir tiap hari didengar oleh Cahaya Buana,
tetapi selalu dijawabnya pula dengan kata kata lemah lembut untuk menghibur hati cucu putrinya,
bahwa ia sendiri yang akan mencarinya hingga ketemu. Rengekan cucunya bertambah hari bukan
semakin mereda, akan tetapi malah lebih santer dan menjadi isak tangis yang memilukan hati.
Sewaktu tengah malam dikala Indah Kumala Wardhani dengan jari jarinya yang halus dan mungil
meruncing memainkan kecapinya dengan petikan pada tali tali kawatnya dan mengeluarkan nada suara
nyaring meraju untuk kemudian berubah menjadi irama yang menyayat nyayat dan memilukan
menggema dikesunyian, jauh menyusupi lereng lereng Gunung Tangkuban Perahu, Ajengan Cahaya
Buana tergerak hatinya untuk bersamadhi, dan mematek ajiannya „pameling", demi mendengar alunan
suara kecapi cucu putrinya yang tercinta.
Ia duduk bersila disudut dengan kedua belah tangannya bersilang didadanya laksana patung.
Angan angannya mengembara mengikuti alunan suara petikan kecapi cucunya. Menjelajah dikejauhan
.....
Kemudian angan angan yang merana ditarik kembali dan kini terpusat didalam rasanya sejati.
Suara petikan kecapi terdengar sayup sayup, untuk kemudian dengan lambat laun lenyap dari
pendengarannya sama sekali.
Daya panca inderanya telah tertutup semua ……
Cipta, rasa dan karsanya telah dilebur menjadi satu dalam rasa sejatinya, dan merupakan suana
pribadinya sendiri dalam titik puncak kesadaran …..
Sinar terang kini menyelubungi diri pribadinya dan rnenciptakan daya tangkap yang sangat
tajam untuk menerima gelombang gelombang getaran yang datang karena pengaruh daya tariknya rasa
sejati, dari segenap penyuru mata angin.
Ternyata gelombang gelombang getaran yang datang dari arah barat, utara dan selatan maupun
dari barat laut dan barat daya, terbentur mengalun dan memantul kembali, karena terdesak oleh
kekuatan gelombang gelombang getaran yang datang dari arah timur. Getaran getaran gelornbang ini
ditangkap dan dihimpun dalam suana pribadinya sendiri.
Dan tahulah ia kini dengan pasti, bahwa cucu putranya yang tunggal yang telah bertahun tahun
dicarinya masih hidup dan saat ini berada jauh diarah timur. Namun dimana nya yang pasti ia tidak
dapat mengetahuinya. Segera ia mengakhiri samadhinya dan berkehendak pergi mendatangi sumber
gelombang gelombang yang kini berbalik menjadi daya tarik laksana besi sembrani yang sangat kuat …..
--- Cucuku manis, tak usah kau selalu bersedili hati. Eyangmu bermaksud pergi pada tengah
malam ini bersama si kumbang, untuk mencari kakak kandungmu.— Ia berkata dengan pelan dan duduk
mendekati cucu putrinya yang sedang asyik tenggelam dalarn permainan kecapinya. Demi mendengar
kata kata kakeknya, Indah Kumala Wardhani menghentikan gerakan jari jarinya yang sedang menari-nari
diatas tali kawat kecapinya, serta membetulkan letak duduknya menghadap kakeknya.
— Pesanku, selama Eyangmu belum pulang, janganlah sekali kali meninagalkan tempat
pertapaan ini..–
— Izinkanlah Indah mengikuti perjalanan Eyang, agar dapat membantu apabila Eyang menemui
kesukaran dalam perjalanan — Indah Kumala menyahut dengan nada menghadap.
— Oh, ooohhh, jangan …. cucuku manis !!! Jika kau ikut, berarti akan menghambat
perjalananku. Kelak apabila kau sudah agak besar, tentu akan menyertai kemana aku pergi. Maka
tinggallah sekarang baik-baik dipertapaan dengan mamangmu Jajang. Ulangilah dengan tekun semua
pelajaran pelajaran yang telah kuberikan padamu !!! — Ajengan Cahaya Buana berkata seraja
menghibur cucunya dengan suara penuh kasih sayang.
-- Tetapi Eyang, bukankah Kumala sekarang sudah besar? — Kumala memotong bicara.
— Memang cucuku Kumala sekarang sudah besar, dan bukan seperti kanak-kanak lagi, akan
tetapi belum cukup dewasa, untuk mengatasi rintangan2 yang diujumpai dalam perjalanan. Ketahuilah,
cucuku manis, bahwa kini banyak orang2 yang sedang lupa akan kesuciannya. Maka rajin - rajinlah
rnengulangi semua pelajaran yang telah kau terima. Kelak jika Eyangmu telah kembali, akan kutambah
lebih banyak lagi, agar kau kelak dapat mengatasi segala rintangan apapun yang kau hadapi dalam
menuju tercapainya cita-citamu. — Berkata demikian Ajengan Cahaya Buana rnenggeser duduknya
untuk lebih dekat lagi, sambil membelai rambut cucu putrinya dengan mesra.
— Berapa lama Eyang harus pergi? — tanya Kumala.
— Eyang akan pergi dalam waktu tidak begitu lama. Dan semoga berhasil menemukan kakakmu
Yoga Kumala. Dengan si kumbang disampingku, Eyangmu tidak kuatir akan terlantar dijalan . —
sambung kakeknya.
— Tetapi jangan Eyang meninggalkan Kumala terlalu lama !!— Indah Kumala Wardhani
menyahta : Jika kali ini Eyang tidak berhasil menemukan akang Yoga Kumala; ijinkanlah Kumala untuk
mencari sendiri.— Demi mendengar kata2 cucu putrinya, Cahaya Buana merasa seperti disayat-sayat
hatinya.
- Baiklah .... cucu manis! — Katanya sambil tersenyum dan mencium keningnya — Aku akan
berangkat sekarang, dan pergiku tidak akan lebih dari seratus hari. Taatilah semua pesan pesan2ku. Dan
jika aku pulang kembali tanpa membawa hasil, tentu kelak kau kuijinkan turun gunung bersamaku untuk
mencari kakakmu Yoga Kumala. -
Setelah Ajengan Cahaya Buana berpamit pada cucu puterinya dan Mang Jajang pengasuhnya, ia
segeera berangkat meninggalkan gua pertapaannya dan diikuti oleh si kumbang, harimau piaraannya
yang setia …..Tujuannya ialah mengikuti getaran gelombang daya tarik yang datang dari arah timur.
Kumala Wardhani dan Mang Jajang mengantarkan sampai didepan mulut gua sasaat kemudian
Cahaya Buana beserta si kumbang telah melesat hilang ditelan oleh gelapnya malam.
Selang beberapa hari Cahaya Buana, telah tiba di lereng Gunung Cerme, dekat pesanggrahan di
Linggarjati dimana pertempuran antara lndra Sambada bersama Tumenggung Cakrawirya melawan
Kertanatakusumah dan kawan-kawannya sedang berlangsung dengan sengitnya. Dan ditempat itulah
getaran gelornbang daya tarik dirasakan semakin kuat. Suatu tanda bahwa kini ia tidak seberapa
jauhnya dengan arah yang dituju. Tetapi sifat-sifat kependetaannya yang tidak menghendaki adanya
pertumpahan darah, memaksa ia berhenti sejenak untuk mencari tahu, sebab musababnya dari
pertempuran itu.
Pandangannya terbentur pada pancaran cahaya dari wajah Indra Sambada yang menunjukan
sifat budi luhur serta kebersihan hatinya. Setelah dengan jelas mengetahui tentang duduk persoalannya
dan ingat kembali ,akan ramalan pujangga kuno mendiang gurunya, maka dengan aji sakti
"panggendamannya" ia menghentikan pertempuran yang sedang berlangsung dengan serunya, serta
sekedar memberikan wejangannya singkat untuk menginsyafkan kembali para perwira tamtama dari
Pajajaran demi terwujudnya persatuan dan perdamaian di Nuswantara.
Akan tetapi selagi ia memberikan wejangan, terasa olehnya bahwa sumber daya tarik yang tadi
dapat dipastikan berada disekitar tempat itu, tiba tiba lenyap tidak dapat lagi oleh rasa pribadinya.
Ternyata turut campurnya dalam urusan itu, memaksakan beralihnya pemusatan tenaga bathin, hingga
hilanglah jalinan daya tangkap yang hampir menemukan sumber daya tarik yang dicarinya. (Baca seri
Pendekar Majapahit).
Maka cepatlah ia meninggalkan tempat pesanggrahan itu untuk mencari tempat yang sunyi
ditengah hutan guna mematek aji pamelingnya kembali.
Baru sebulan kemudian ja dapat menemukan kembali arah sumber gelombang getaran yang
dicari-carinya. Tetapi masih saja jauh berada dari dirinya, diarah timur. Dan dengan demikianlah Cahaya
Buana sampai di Kota Raja Kerajaan Majapahit. Betapa terkejut dan herannya setelah ternyata sumber
gelombang getaran daya tarik itu dirasakan berada dalam Istana Senopaten, kediaman Senopati Muda
Manggala Tamtama Pengawal Raja Indra Sambada.
Pada hari tengah malam, Cahaya Buana bersama harimau kumbangnya memasuki gedung
Senopaten dan melihat Sujud sedang berbaring ditempat tidurnya. Akan tetapi belum juga ia dapat
melihat dengan pasti tanda-tanda yang memastikan, bahwa anak yang sedang tidur gelisah itu adalah
cucu putranya. Tiba2 para tamtama pengawal yang sedang berjaga meronda berteriak-teriak ramai dan
menjadi gaduh demi melihat berkelebatnya si kumbang.
Ajengan Cahaya Buana segera meninggalkan Istana Senopati menggagalkan maksudnya, dan
melesat seperti bayangan menghilang dikegelapan malam diikuti oleh si kumbang.
Ia tidak mau mengacaukan suasana, sebelum persoalan yang pelik itu diketahui dengan jelas.
Akan tetapi diluar pengetahu.mja, pengaruh aji sakti pameling itu ternyata membuat Sujud selaiu
gelisah dan risau.
Rasa ingin tahu akan asal usulnya bangkit menggelora dalam lubuk sanubarinya. baca „Indra Sambada
Pendekar Majapahit”)
Kini Ajengan Cahaya Buana bermaksud akan menemui langsung Sang Senapati Muda Indra
Sambada, untuk menanyakan asal usul dari pada anak tanggung yang berada digedung Senapaten itu.
Tetapi pada saat itu ternyata Indra Sambada sedang bepergian ke Wonogiri dengan dikawal oleh Lurah
Tamtama Jaka Wulung dan Jaka Rimang.
Keadaan yang demikian memaksa Cahaya Buana tinggal sementara diluar Kota Raja untuk
menantikan dengan bersabar hati hingga lndra Sambada kembali di Senapaten.
Tetapi setelah Cahaya Buana dapat bertemu dengan Indra Sambada, ternyata Sujud telah pergi
meninggalkan gedung Senapaten tanpa pamit dan tidak diketahui arah tujuannya.
Namun kini semakin jelas bagi Cahaya Buana, bahwa adik angkat Sang Senapati Indra Samhada
yang bernama Sujud besar kemungkinannya adalah cucu putranya Yoga Kumala.
Karena kesanggupan Indra Sambada untuk mencari Sujud hingga ketemu, dan akan
menyerahkan sendiri ke Gunung Tangkuban Perahu, maka Ajengan Cahaya Buana segera minta diri
untuk kembali ketempat pertapaannya.
Kepada Indra Sambada dijelaskan pula, bahwa cucu putranya mempunyai tanda tahi lalat yang
sama dengan cucu putrinya, yang berada di lengan kiri.
Pertemuannya yang singkat dengan Cahaya Buana itu, bagi Indra Sambada sangat berkesan dan
penuh arti.
Ia berhasrat besar untuk membalas kunjungannya Cahaya Buana ke tempat pertapaannya
dilereng Gunung Tangkuban Perahu, dengan menyerahkan cucu putranya Sujud atau Yoga Kumala,
sebagai balas budi akan jasa Ajengan Cahaya Buana sewaktu menyelamatkan jiwanya.
Dan lebih daripada itu, ia berhasrat pula untuk dapat mencicipi sedikit akan ilmu kesaktiannya.

BAGIAN II
Dikala itu, waktu telah larut malam, mendekati terang tanah pagi-pagi buta. Bintang-bintang
masih bertaburan menghiasi langit biru yang membentang mengatapi bumi, berkedip-kedip
memancarkan cahaya gemerlapan, membuat terang remang-remang. Awan tipis berpencaran jauh
diangkasa dengan bentuknya sendiri-sendiri dan berobah-robah, menambah indahnya hiasan Iangit
yang membentang cerah.
Berkokoknya ayam telah terdengar pula sahut sahutan dari kandangnya masing-masing
dikejauhan.
Dijalan-jalan besar yang silang menyilang di Kota Rajapun masih sunyi.
Pintu-pintu rumah yang berderetan dipinggir jalan masih tertutup rapat-rapat. Angin sepoi-sepoi
basa, meniup pelan, dan hawa dingin terasa masuk menusuk tulang-tulang badan.
Dengan langkahnya yang berat dan tidak menentu, seorang anak laki2 tanggung berusia 14
tahun menyelajahi jalan jalan besar di Kota Raja, tanpa menghiraukan sepinya suasana serta hawa
dingin yang menusuk sampai pada tulang2nya. Angan-angannya merana jauh tak menentu, hingga
hampir saja ia terbentur pada sebuah pohon besar iang berada dipinggir jalan yang dilaluinya. Namun ia
berjalan Iurus keutara dengan sebentar-sebentar menengok kebelakang. Gedung Senopaten makin lama
makin jauh ditinggalkan.
Ia memakai baju warna merah jambu terbuat dari kain sutra, dengan kancing - kancingnya
terbuat dari emas murni, serta bercelana warna biru laut. Masih pula ia mengenakan sarung hijau
dengan ber kembang2 tersulam dari benang sutra warna kuning keemasan. Timang ikat pinggangnya
terbuat dari emas murni berukirkan burung garuda.

Dikedua belah pergelangan tangannya melingkar sepasang gelang mas, dan sebuah kantong
kulit halus selebar satu jengkal tergantung dipinggang sebelah kiri. Dengan berpakaian demikian Sujud
menyerupai seorang putra bangsawan yang memegang jabatan tinggi di Kota Raja. Namun rambutnya
yang gondrong, kelihatan kusut tak terurus. Wajahnya yang tampan berbentuk bulat telor dengan
sepasang alisnya yang tebal, nampak lesu tidak bersinar. Tetap ia masih saja berjalan ….. Ternyata diluar
kota lalu lintas telah mulai menunjukkan kesibukannya. Suara percakapan yang diiringi gelak tawa riang
dari para pedagang2 desa yang berjalan menuju ke Kota Raja berduyun2, membuat suasana menjadi
ramai.
Mungkin karena pakaian yang dikenakan demikian mewah dan menyolok itu, maka para
pedagang2 yang berjalan berpapasan selalu membuang waktu sesaat untuk mengamat-amati dengan
cermat kearah Sujud. Ada pula diantara mereka yang mem bungkuk2kan badannya, sewaktu
berpapasan. Jelas bahwa pakaian yang dikenakan itu menarik perhatian bagi yang melihat.
Mereka berbisik-bisik, mempercakapkan tentang Sujud dengan pendapat dan tafsiran masing2.
Kini sang surya telah mulai mengintai dari kejauhan disebelah timur. Cahaya warna merah lembajung
membiasi alam semesta, Bintang fajarpun telah lenyap tersapu oleh pancaran cahaya lembayung yang
membara itu. Tanda fajar telah mulai menyingsing. Dengan lambat, sedikit demi sedikit sang surya
menampakkan seluruh tubuhnya ….. Dan cahaya merah lembajungpun pelan-pelan menjadi cahaya
terang benderang ….. Hari kini telah berganti dengan pagi ..—Burung-burung berlintasan diangkasa dari
segenap penjuru, sambil bersiul-siul dengan nada dan iramanya sendiri-sendiri, menambah indahnya
suasana alam diwaktu pagi itu.
Para petani telah berangkat pula menuju kesawahnya masing-masing dengan membawa alat-
alat pertanian mereka, seperti badik, cangkul dll., untuk mengolah tanahnya.
Sujud masih saja terus berjalan, menyusuri tanggul Bengawan kehulu. la masih ingat, bahwa
dengan menyusuri kali Bengawan itu, ia dapat tiba di Ngawi sebuah desa kecil yang dahulu ia pernah
tinggal dengan orang tua angkatnya, Kyai Tunggul. la masih ingat pula kepada Martiman dan Martinem,
dua kanak-kanak yang telah kehilangan ayahnya.
Kini tujuannya akan berkunjung kedesa Trinil, dimana kedua anak-anak itu bertempat tinggal
bersama ibunya.
Setelah menemukan tujuannya yang pasti, kini kegelisahan dan kerisauan dalam hatinya
menjadi berkurang. Dan perlahan-lahan ia menjadi sadar kembali akan apa yang telah diperbuatnya. Ia
ketawa geli sendiri, setelah memperhatikan pakaian yang demikian mewah yang dikenakan itu.
Tidak heranlah apabila tiap-tiap orang yang berpapasan selalu memperhatikan padanya.
Ia berhenti dan duduk sejenak dibawah pohon dipinggir tanggul untuk membuka bajunya serta
melipatnya untuk kemudian disimpan dalam kantong kulitnya. Demikian pula sepasang gelang dan
timang ikat pinggangnya dimasukkan kedalam kantong itu. Kini ia hanya tinggal mengenakan celana dan
berkain sarung saja, sedangkan badannya dibiarkan telanjang begitu saja. Tanda tailalat sebesar ibu jari
warna merah kehitaman, nampak jelas di lengan kirinya.
Pada malam harinya ia mengaso digardu tempat orang meronda, dan pagi-pagi buta ia
berangkat melanjutkan perjalanannya kembali.
Panas teriknya sang surya yang memancar dari ketinggian diatas kepalanya membuat ia sangat
letih dan peluhnya dirasa kan telah membasahi badannya. Perutnya terasa sangat lapar, namun ia tidak
perlu kuatir, karena uang yang dibekalnya cukup banyak untuk membeli makanan dalam perjalanan. la
menoleh kekanan kiri mencari warung perdesan disekitarnya. Tiba-tiba dilihatnya banyak orang yang
sedang berkerumun, berjongkok mengitari lapangan dipinggir sebuah desa yang berada dibawah
tanggul sebelah selatan. Suara sorak sorai yang riuh ramai terdengar dari kejauhan. Setelah ia
mendekati, ternyata orang-orang itu sedang asyik mengadu ayam jantan dengan bertaruh uang. Orang
otang yang berjualan makananpun banyak pula berada disekitar lapangan itu.
Sujud segera duduk ditempat orang yang jualan gulai kambing, dan makan nasi gulai dengan
lahapnya. Setelah membayar makanan yang telah dipesannya, ia bangkit dan berjalan mendekati
tempat orang-orang yang sedang mengadu ayam. Ia bermaksud ingin melihat dari dekat sebentar sambil
mengaso. Ia turut pula duduk berjongkok, mengikuti para botoh yang sedang mengadu untung.
Gelak tawa dan sorak sorai orang-orang yang mempunyai harapan untuk menang dalam
bertaruh, bercampur dengan cacian dan gumaman orang-orang yang merasa tipis akan kemenangannya,
untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat.
Bahkan diantara mereka para botoh telah ada yang menghitung hitung kerugian yang akan
dideritanya.
— Ayo, siapa berani lawan taruhan!!!. Sepuluh duabelas. — Teriak seorang yang bertubuh
pendek hitam dengan mukanya kasar penuh jerawat.
— Sepuluh tiga belas!!!. — Jawab seorang didepannya dengan suara lantang. — Dan saya
pegang atas, siapa berani?
— ia melanjutkan bicaranya untuk menantang taruhan pada orang-orang disekitarnya.
Seorang tampan dan berpakaian rapih menyahut dengan suara tak kalah lantangnya. — Jika ada
yang berani mengapit, berapa saja pasti akan kulayani. — Suaranya sangat berpengaruh, ternyata orang-
orang banyak segan menghadapi tantangannya, sungguhpun jika ada yang berani mengapit tidak akan
menderita kekalahan.
— Biar hancur aku akan tetap bertaruh pada ayamku sendiri! Ayo........ siapa berani mengapit?
— Ia mengulang tantangannya, dengan muka yang merah padam, menekan rasa marah karena telah
menderita kekalahan tidak sedikit jumlahnya.
Ternyata pertarungan ayam jantan yang sedang berlangsung itu kelihatan berat sepihak, tidak
seimbang.
Ayam jantan yang berulas wiring gading kuning keemas-emasan telah kehabisan tenaga, dan
hanya menunduk menerima patokan dan pukulan taji yang bertubi-tubi dari ayam jantan yang berulas
warna hitam kemerah ketnerahan, yang lazimnya disebut wido, sebagai lawannya. Akan tetapi ayam
yang berulas wiring gading itu ternyata memang mempunyai daya tahan yang sangat kuat. Ia tetap tidak
mau lari meninggalkan gelanggang, walaupun sudah tak dapat lagi membalas serangan lawanya. Kepala
dan sayapnya telah berlumuran darah. Sebentar-sebentar kepalanya menyelinap dibawah sayap lawan,
untuk menghindari patokan yang bertubi-tubi. Lima enam orang kini sedang berkumpul untuk
merundingkan tentang rantangan bertaruh yang baru saja diucapkan oleh orang yang tampan itu.
— Kang Wongso, berapa masih sisa uangmu seluruhnya? — seorang diantara yang berkumpul
dan bertubuh pendek tam bertanya.
— Duapuluh uang perak, — jawabnya, sambiI mengawasi jalannya pertarungan yang masih
bertangsung.
— Bari …… Berapa uangmu semua? — tanya orang yang bertubuh pendek hitam itu pula.
— Ada, kalau hanya lima puluhan uang perak saja. — Jawab Bari sambil menunjukkan uang
perak yang segera dari kantongnya serta ditunjukkan seraya bertanya Dan kau sendiri, berapa kau mau
bertaruh. Jo?
— Orang hitam yang penuh dengan jerawat dimukanya itu terkenal dengan namanya Arjo
Gepeng. la seorang saudagar hasil bumi di Bojonegoro yang terkenal kaya.
— Sekali ini aku akan menebus kekalahanku, kata Arjo Gepeng dengan nada mantap, seakan-
akan ia pasti akan menang.
— Uangku semua akan kutaruhkan untuk melawan tantangan Den Demang Jlagran. Biar ia
hancur betul-betul, seperti apa yang dikehendaki sendiri, — katanya melanjutkan. — Siapa lagi mau ikut
menumpang pada taruhanku?—
Setelah ia menghitung-hitung semua milik uangnya dan uang orang-orang yang ikut bertaruh
dipihaknya, ia segera menongolkan kepalanya, serta berseru lantang, —Den Demang ….. Tantanganmu
aku terima.
Lima puluh uang mas dan aku pegang atas!!!—
— Jadi!!! — Jawab orang tampan tadi dengan suara lantang dan sombong. Dialah yang dipanggil
dengan sebutan Den Demang. Memang sesungguhnya ia adalah Demang dari desa Jlagran, dan lazimnya
orang - orang menamakan dirinya Den Demang Jlagran. Ia adalah orang yang berpengaruh dan terkenal
pemberani yang selalu gemar membuat keributan.
Bahkan tidak sedikit, orang yang mengetahui bahwa Den Demang Jlagran adalah orang yang mempunyai
pengaruh dikalangan para penjahat. Iapun terkenal pula mempunyai ilmu kekebaIan.
— Awas !! ! Jangan mengingkari !!! Mana uangmu !!! — Bentaknya sombong.
Tetapi Arjo Gepeng kiranya bukan orang yang baru saja terjun digelanggang adu ayam. Dengan
cepat ia menyahut sambil ketawa mengejek.
— Ha, ha, ha …… seharusnya malah aku yang bertanya, mana uangrnu !!?—
Mendengar suara Aijo Gepeng yang diiringi pula dengan tawa mengejek itu, Demang Jlagran
kelihatan merah padam mukanya. Serta menjawab dengan mata melotot: — Bangsat Gepeng !!!. Ni
Uangku !!! — Berkata demikian sambil melemparkan uangnya segenggam, berupa uang perakan dan
beberapa uang emas kearah Arjo Gepeng. Tetapi terang bahwa uang yang dilemparkan itu tidak akan
lebih nilainya dari sepuluh uang emas.
— Awas !!. Siapa berani mengambil akan kuhancurkan kepalanya!!— ia melanjutkan
gertakannya.
Uang jatuh bergemerincingan ditanah dan menggelinding tersebar dtbawah para penonton.
Diantaranya ada pula yang berada didekat Sujud berjongkok. Akan tetapi tidak seorangpun yang berani
memungutnya. Mereka pada umumnya jeri menghadapi marahnya Den Dernang Jlagran.
Suasana menjadi tambah gaduh, dan perhatian para penonton kini terpecah menjadi dua.
Sebagian masih tetap berpusat pada pertarungan ayam yang masih berlangsung, dan sebagian lagi
terpusat pada Demang Jlagran yang sedang melampiaskan kemarahannya dengan kata - kata yang kasar
dan lantang.
Tiba - tiba para penonton serentak bersorak ramai dan masing - masing mengeluarkan seruan
penuh rasa girang, karena mendengar berkeyoknya ayam jantan berulas wiring gading, terkena pukulan
taji dikepalanya oleh lawannya dengan tepat, dan segera lari menghindari ayam lawannya wido. Suatu
tanda bahwa ayam wido telah memenangkan pertarungan itu.
Tetapi belum pula para penonton mengakhiri sorak sorainya, tiba-tiba Demang Jlagran meloncat
ketengah-tengah lapangan, dan menendang ayam wido yang sedang berkokok karena kemenangannya.
Dengan tendangan kaki kanan yang tepat, ayam wido itu terkapar berkelejotan, untuk kemudian tidak
bernafas. Kini keadaan menjadi semakin kacau balau.
--- Hai, Demang Jlagran !!. — seru Arjo Gepeng sambil maju menghadapi Demang Jlagran. —
Jangan mentang mentang kau seorang Demang, dapat berbuat semena-mena, menurut kehendak
nafsumu sendiri!!
--- Berani menendang ayamnya, tentu aku berani pula menghadapi pemiliknya Ayo!! Siapa saja
yang merasa tidak puas, boleh maju serentak, uutuk menerima pembagian tinjuku!!!—
Demang Jlagran menentang orang orang yang hadir, dengan pandangan mata yang berapi api
sambil menuding nudingkan telunyuknya kearah Arjo Gepeng dan kawan kawannya.
Lima enam orang segera maju serentak dan menyerang Dernang Jlagran dengan pukulan dan
tendangan yang dahsyat. Tetapi Demang Jlagran telah siap menghadapi pengeroyokan dari orang orang
yang dipimpin oleh Arjo Gepeng. Dengan tangkasnya ia meloncat selangkah kesamping kanan untuk
menghindari serangan lawannya sambil mengirim pukulan dengan telapak tangan kirinya ketengkuk
salah seorang lawan pengeroyoknya.
Seorang yang terkena pukulan segera jatuh tertelungkup dan tak sadarkan diri. Melihat keadaan
demikian, Arjo Gepeng segera menerjang maju dengan gerakan jurus tendangan berangkai kearah
lambung kiri. Dan kembali lagi Demang Jlagran menunjukkan ketangkasannya yang mentakjubkan. Ia
tidak meloncat menghindari, tetapi malah menyambut tendangan lawan dengan pukulan siku tangannya
yang ecgera disusul dengan serangan tebangan telapak tangannya kearah pinggang Arjo Gepeng.
Benar benar gerakan tangkisan Demang Jlagran ini merupakan jurus pengunci serangan lawan
yang dahsyat. Tidak ayal Arjo Gepeng jatuh terlentang ditanah, dan bergulingan menghindari datangnya
serangan rangkaiannya. Keributan ternyata meluas. karena para botoh yang karah sebagian besar tidak
mau juga membayar taruhannya mengikuti jejak Demang Jlagran. Dengan demikian maka perkelahian
seru segera terjadi dalam kalangan. Sebagian lagi masih juga ada yang hanya bertarung Iidah, dengan
lontaran kata kata makian yang kasar. Sujud masih juga berdiri dengan mulut ternganga demi melihat
keributan2 yang sedang berlangsung, dengan tangannya memegang erat erat pada kantong kulitnya
yang tergantung dipinggangnya. Orang orang yang tidak mau terlibat dalam perkelahian itu segera
meninggalkan lapangan, dan orang orang yang berjualan, segera mengumpulkan dagangannya untuk
dibawa menyingkir menjauhi tempat keributan, takut keterjang oleh orang orang yang sedang berkelahi.
Jeritan orang orang yang terluka susul menyusul bercampur aduk dengran suara cacian dan sumpahan,
serta seruan panggilan tertuju pada orang orang yang melarikan barang ataupun uang yang bukan
miliknya.
Empat orang pengikut Arjo Gepeng serentak menerjang Demang Jlagran dengan bersenjata
tajam ditangannya masing masing. Dua orang bersenjatakan golok panjang, seorang bersenjatakan
parang arit, sedangkan yang seorang lagi bersenjatakan keris. Serangan serentak yang berlawanan
arahny, keleher, dada dan Iambung, merupakan serangan maut yang sangat berbahaya bagi Demang
Jlagran. Namun lawannya adalah Demang Jlagran bekas murid Tambakraga yang telah mempunyai
pengalaman luas. la berseru nyaring sambil melesat meloncat surut kebelakansg satu langkah
menghindari semua serangan, dan seraya menghunus kerisnya, serta kembali meloncat menerjang
kedepan dalam jurusnya „serangan tusukan berperisai”.
Tangan kirinya merupakan gerakan sampokan sebagai perisai, sedangkan keris terhunus
ditangan kanannya meluncur secepat kilat dan bersarang pada lambung kiri lawan yang terlambat
mengelak. Jerit ngeri terdengar.
Daah menyembur dari Iambung kiri karena kena tusukan keris Demang Jlagran. Seorang
pengeroiok tadi terkulai ditanah dan tak bernapas lagi. Demi melihat salah seorang kawannya mati
terkena tusukan keg is Demang Jlagran, mereka segera meloncat surut kebelakang dua langkah, untuk
kemudian .Menjauhi lawannya karena merasa jeri.
— Ayo …… siapa yang akan menuntut bela, ini Demang Jlagran ! !
Berkata demikian Demang Jlagran sambil menginjak dengan kaki kirinya ketubuh orang yang
telah menjadi mayat tadi, dengan mata yang bernyala nyala. Orang-orang lari tunggang langgang
meninggalkan lapangan. Takut akan mengamuknya Demang Jlagran yang telah terkenal kebal dan
bersifat kejam. Demikian pula Sujud tidak ketinggalan pula.
Melihat kejadian yang ngeri itu, ia tak tahan, dan menutup matanya dengan kedua tangannya,
sambil membalikkan badannya akan meninggalkan tempat keributan itu. Tetapi tiba ttba Demang
Jlagran dengan tangkas meloncat dan menghadangnya, serta merebut kantong kulit yang tergantung
pada pinggangnya dengan tangan kiri, sambal membentak lantang ! Hai, serahkan kantongmu yang
bagus itu, akan kuperiksa isinya !
Dengan tak menjawab Sujud memukul pergelangan tangan kiri Demang Jlagran sambil meloncat
kesamping kanan, untuk mempertahankan kantong miliknya yang erat erat tergantung pada ikat
pinggangnya.
Demang Jlagran terkejut. Dilepaskanlah pegangan tangan kirinya pada kantong kulit, sambil
berseru --- Bangsat …. Anak bedebah….. Berani kau menentang, heh ….. Berkata demikian Demang
Jlagran menerjang kearah Sujud sambil melancarkan serangan tinju kearah pelipisnya.
Cepat Sujud menundukkan kepalanya untuk menghindari serangan tinju yang hampir bersarang
pada pelipisnya, sambil berusaha untuk lari menjauhi orang yang sedang kalap. Akan tetapi belun juga ia
dapat melangkahkan kakinya untuk rnenghindar, kaki Demang jlagran telah menerjang dengan gerakan
jurus berpusing menutup langkah lawan.
Sambil berjongkok diatas kaki kiri, kaki kanannya berputar menyerampang kaki Sujud yang akan
melangkah lari. Tak ayal lagi. Sujud segera jatuh tersungkur, dan kepalanya terbentur pada batu ditanah.
Kiranya serangan itu tidak hanya berbenti sampai disitu. Pergelangan tangan Sujud yang masih dalam
keadaan jatuh tersungkur, cepat dicengkerami dengan tangan kiri. Ujung keris ditangan kanannya
ditempelkan kepunggung Sujud, sambil membentak, — Tidak peduli kau anak setan jika kau berani
bergerak, kerisku akan menembus sampai kedadamu !!! — Ayo serahkan kantong kulitmu!! !—
Dalam keadaan yang demikian, Sujud diam tak berani bergerak. Namun ia tetap berkeras kepala
tidak mau menyerahkan kantong kulitnya dan tidak mau menjawab bentakan-Demang Jlagran. Akan
tetapi sebelum Demang Jlagran dapat merebut kantong kulit Sujud, tiba-tiba seorang bermuka bengis
serta bercambang bawuk yang lengannya kutung sebelah, menyerang dengan sebuah tendangan yang
tepat mengenai tangan kanan Demang Jlagran yang sedang memegang keris.
Serangan tendangan itu sangat keras dan datangnya secepat kilat dalam gerak bentuk jurus
„jlontrotan" atau tendangan dari jarak jauh yang dilancarkan sambil meloncat, Keris lepas dari
genggaman dan terpental jatuh ditanah dalam diarak tiga langkah, dari pemiliknya. Menanggapi
serangan yang tiba tiba itu, Demang Jlagran berseru terkejut. Ia meloncat surut kebelakang sambil
melepaskan tangan Sujud yang tadi dipegangnya. Ternyata orang bertangan satu itu sangat tangkas
gerakannya. Serangan tinjunya menyusul menerjang kepala Demang Jlagran yang sedang surut
kebelakang dan belum sampai berpijak ditanah. Terkena pukulan tinju dikepalanya, Demang Jlagran
meerasa pusing dan pandangannya berkunang-kunang, untuk kemudian terguling ditanah.
Sujud yang sedang jatuh tertelungkup, setelah merasa tangannya terlepas dari pegangan
Demang Jlagran, cepat bergerak untuk bangkit, tetapi sebelum dapat berdiri tegak, tengkuknya telah
terpukul oleh orang yang bertangan satu, dengan pukulan tebangan telapak tangan. Tanah yang
dipijaknya dan orang orang yang berada disekelilingnya dirasakan berputaran... pandangannya kabur
dan berkunang kunang ........
Dengan tidak terasa ia jatuh terkulai kembali dan tidak sadarkan diri. Orang-orangnya semula
mengira bahwa penyerang Demang Jlagran yang bertangan satu itu adalah orang tuanya daripada anak
tanggung ataupun pengasuhnya. Tetapi dugaannya meleset. Mereka hanya berdiri ternganga, tidak tahu
apa kehendak orang bertangan satu. Sebelum orang orang dapat berbuat sesuatu, dan Demang
Jlagranpun belum bangkit kembali, orang bertangan satu telah rnenyambar badan Sujud dan
menaruhnya dipundak kiri, untuk kemudian melesat berlari sambil menggendong Sujud, meninggalkan
lapangan.
Pada saat orang bertangan satu tadi melesat melarikan diri, Demang Jlagran telah bangkit
kembali dan lari mengejar, sambll berseru kepada kawan2nya : — Kejar dan tangkap si tangan buntung.
Empat orang segera mengikuti lari serentak, ikut mengejar larinya orang, yang bertangan satu yang
membawa sujud dalam pondongannya. Akan tetapi berat badan Sujud diatas pundaknya, seakan-akan
tidak mempengaruhi kecepatan larinya yang bagaikan berkelebatnya bayangan. Waktu yang hanya
sejenak, kiranya telah cukup bagi orang yang bertangan satu itu, untuk membuat jarak antara dengan
para pengejar cukup jauh. Sehiggga tidak mungkin para pengejar dapat menangkapnya.
Waktu itu …… senja baru saja berlalu ….. dan hari mulai gelap samar-samar ……………Awan yang
menggantung diangkasa kian lama, semakin tebal, dan sinar cahaya berkedipnya bintang bintang, kini
tidak mampu menembus awan gelap yang demikian tebalnya. Gelap samar-samar kini berubah menjadi
gelap gulita, hingga sukar untuk membeda-bedakan bentuk benda2 yang hampir sama besarnya.
Menganggap bahwa dirinya telah aman dari kejaran orang-orangnya Demang Jlagran, maka larinyapun
dikurangi kecepatannya. Jarak antara dirinya dengan para pengejar semakin jauh tertinggal di belakang.
Dengan sangat kasarnya, orang bertangan satu itu membanting Sujud ditanah diatas pematang
ditengah-tengah tegalan. Serta duduk melangkah dipunggungnya Sujud yang belum sadarkan diri.
Ia melepaskan cambuk yang panjangnya kira kira satu setengah depa dari pinggangnya, untuk
mengikat erat kedua belah tangannya Sujud dengan ujung cambuk itu. Ia mengerjakan ikatan yang
demikian erat itu hanya dengan sebelah-tangannya yang dibantu dengan gigitan mulutnya. Akan tetapi
demikian cepat dan cermat, tidak ubahnya seperti orang biasa mengerjakan dengan kedua belah
tangannya. Setelah yakin bahwa ikatan itu cukup kuat, maka baru ia bangkit dari duduknya dengan
memegang gagang cambuknya erat - erat, sambil menengok kekanan kekiri, seakan-akan kuatir akan
diketahui orang, ataupun kuatir akan datangnya pengejar. Ternyata kegelapan malam itu banyak
membantunya, karena para pengejar telah kehilangan jejak buruannya.
Sebentar sebentar terdengar guruh guntur menggelegar diangkasa dengan diselingi suaranya
kilat yang menyambar susul menyusul.
Hujan mulai turun dengan derasnya. Laksana air bah yang tumpah dari langit. Karena derasnya
air hujan, Sujud tersentak sadar kembali dan dengan susah payah karena tangannya terbelenggu ia
bangkit berdiri. Seluruh badannya basah kuyup. Juga orang yang bertangan satu.
Melihat Sujud sadarkan diri, ia ketawa puas dan lari menuju ketepi desa sambil menyeret Sujud
dengan menarik pada cambuknya.
Dalam keadaan terpaksa dan tidak berdaya sama sekali Sujud lari sempoyongan mengikuti.
Rintihan karena merasakan sakit seluruh tubuhnya tidak tertahankan. Dalam kegelapan dan hujan yang
tak kunjung berhenti itu, Sujud jatuh bangun sambil berlari terus. Orang yang bertangan sebelah itu
ternyata tidak mempunyai belas kasihan sedikitpun. Sujud diseretnya terus sambil berlari. Dengan nafas
yang tersengal-sengal dan badannya basah kuyup serta berlepotan tanah, Sujud akhirnya jatuh
terperosok dibawah pohon yang berada dipinggir sebuah desa, dimana orang bertangan satu itu telah
berdiri didepannya dengan masih memegang erat pada gagang cambuknya yang ditariknya lebih dekat
lagi dan kemudian membiarkan Sujud tersungkur ditanah. Hujan masih saja turun semakin deras. Kilat
sebentar - sebentar kelihatan dan kedengaran menggelegar dengan cahayanya yang berkilauan, disusul
dengan suara guntur yang gemuruh mengumandang diangkasa.
Orang bertangan satu kini mendekati Sujud dengan berjongkok, sambil mengusap mukanya
yang basah kuyup oleh air hujan dengan siku tangannya, yang hanya sebelah. Diperlakukan demikian,
Sujud menunjukkan silat yang kepala. Tak mau ia menangis merengek rengek. la percaya bahwa
tangisnya tidak akan mengurangi siksaannya.
— Pak Buntung!!. Mengapa aku kau belenggu dan kau seret terus?? — tanyanya, dengan masih
tengkurap ditanah.
— Kurang ajar!!,— desisnya: — Berani kau memanggilku dengan Pak Buntung!! — Ha, ha, ha
....... !! Dasar anak bandel !! Sekali lagi kau memanggil demikian, aku sobek mulutmu yang lancang itu!!

Orang bertangan satu menjawab dengan kasar dan ketawa mengejek
— Habis, aku harus panggil apa?, — Sujud membantah, dengan tidak menghiraukan sakit akatt
pukulan.
--- Panggillah aku dengan Tuan Saputra . . . yaaahhh . ..Gusti Durga Saputra tahu!!l!?, jawab
orang bertangan satu dengan kasarnya.
— Bukankah kau anak dari Buputi Wirahadinata yang bernama Sujud?
Yang sekarang menjadi adik angkat Senopati Indra?, ia melanjutkan bertanya.
--- Memang aku Sujud adik angkat kakang Senopati Indra, …… tetapi mengapa kau
membelenggu aku?, Sujud menjawab sambil bertanya.
— Cukup!!! Diam!!!! Jawabnya singkat.
Tahukah bahwa yang membuat lenganku yang sebelah kutung adaIah kakakmu bersama
Bapakmu dengan gerombolannya?. Nahhh ….. jika kau sudah tahu, sekarang aku akan membalas
dendam pada Bapakmu terlebih dahulu. Dengan kau ditanganku, tentu semua perintahku akan diturut.
Mengerti !!!!.
Durga Saputra menjelaskan dengan diiringi ketawa mengejek, karena merasa bahwa ia tentu
akan berhasil membalas dendam pada Wirahadinata dan Indra Sambada.
----Haaa,.... haaaa, dan setelah Bapakmu dan kakakmu kucincang, baru nanti jatuh giliranmu
sendiri. Atau, kau tak usah aku bunuh tetapi kukutungi kedua kelah lenganmu, saja ! !
— Sungguh kata-kata itu cukup untuk membuat bulu tengkuk Sujud berdiri, tetapi ia tidak mau
memperlihatkan takutnya.
Dengan beraninya ia berkata lantang: ---- Kau akan membunuh kakang Indra? Orang seperti kau
yang berlengan satu tidak mungkin dapat mengalahkan kakang Indra.
— Kurang ajar desisnya. — Berani kau manggilku dengan Pak Buntung ! ! ? — Ha,
ha, ha, ha ! Dasar anak mbandel ! ! Sekali lagi kau mem inggil demikian, aku sobek
mulutmu yang lancang itu

Kau sendiri yang akan mati dengan kepala hancur berantakan, terkena pukulannya, sebelum kau dapat
menyentuh bajunya!!! ----
Apa ???? Plak plak!!!! — Tamparan tangan Durga Saputra bersarang dipipi Sujud dua kali. Dan
dirasakan cukup pedih.
— Tutup mulutmu !!!! bentaknya kasar — Sebentar setelah hujan berhenti kau akan kuseret
lagi, sampai setengah mampus!!!!! Tahu???
— Orang yang bertangan satu itu memang benar bernama Saputra adanya. Nama lengkapnya
Durga Saputra.
Ia adalah adik kandung dari Durgawangsa yang pernah menjadi Patih gadungan bergelar
Lingganata di Kabupaten Indramayu, dan telah mati terpenggal kepalanya oleh Tumenggung tamtama
Cakrawirya dalam pertempuran di Kabanyaran Agung Indramayu. Dimana ia sendiri mendapat cidera
patah hancur tulang tangan kanannya, karena dahsyatnya remasan cengkeraman Indra Sambada:
Akhirnya terpaksa dikutungi sewaktu ia dirawat dalam penjara Kota Raja sebagai nara pidana.
Wajahnya dahulu tampan. Setelah lengannya kutung sebelah, cambang bawuknya dibiarkan
tumbuh melebat yang tak terawat itu. Mukanya berubah menjadi bengis dan kasar mengandung rasa
dendam. Ia tahu bahwa yang memimpin pasukan tamtama Kerajaan waktu itu adalah Indra Sambada
yang sekarang menjabat Senapati Muda di Kota Raja. Dan ia tahu pula bahwa gerakan pembersihan itu
dilakukan atas petunjuk dari Bupati Wirahadinata, yang sekarang telah diangkat kembali menjadi Bupati
di Indramayu. (Baca: Seri Pendeka• Majapahit") —
Akan tetapi untuk membalas dendam kesumat yang terpendam dalam hatinya secara langsung
menghadapi Indra Sambada dan Wirahadinata tidak akan mampu dan merasa takut. Maka demi melihat
Sujud dalam perjalanan di desa Sumberrejo adalah suatu kesempatan baginya yang baik untuk
melaksanakan maksudnya, dengan menggunakan Sujud sebagai perisai.
Ia belum lama berselang telah dibebaskan dari penjara di Kota Raja, dengan mendapat ampunan
setelah lengan kanannya dikutungi. Karena pandainya merengek-rengek mohon ampun dengan janji-
janji yang muluk2, bahwa ia tidak akan melakukan kejahatan lagi. Maka ia segera dibebaskan dari
hukumannya. Tetapi kiranya sifat2 sebagai penjahat telah melekat pada kulit dagingnya. Semua janjinya
hanya diucapkan demi untuk mencari jalan selamat, agar kembali dapat melakukan kejahatan.
Mendengar kata-kata ancaman dari Durga Saputra itu, Sujud sepatah katapun tidak mau
menjawab. Rasa takutnya lenyap sama sekali, karena tertutup oleh rasa benci yang meluap-luap. Giginya
terkatub rapat menahan kemarahan. Ingin ia rasanya dapat melawannya, akan tetapi dengan tangannya
yang terbelenggu ia tak dapat berdaya sama sekali.
Awan gelap yang tebal itu kian menipis. Bintang2 mulai menampakkan sinar cahayanya yang
masih pudar. Gumuruhnya suara guntur diangkasa masih juga terdengar walaupun jarang. Dan derasnya
hujanpun kini telah mereda.
Dengan gagang cambuknya yang masih selalu digenggamnya, Durga Saputra bangkit berdiri,
memandang ke langit yang semakin terang itu.
— Ayoo!!! Lekas lari!!! — bentaknya kasar sambil menarik pada cambuknya. — Ikuti aku!
Sebelum fajar kita harus sudah sampai diseberang kali Bengawan!—
Karena tarikan sendalan tali belenggunya, Sujud bangkit berdiri dan lari sempoyongan lagi
mengikuti langkah Durga Saputra. MIelewati tanah tegalan yang becek, menuju ke tanggul tebing kali
Bengawan yang tidak seberapa jauh dari tempat itu. Malang baginya, kakinya tersandung pematang
tegalan hingga jatuh terguling ditanah yang becek itu. Durga Saputra terpaksa berhenti sejenak,
menunggu sampai Sujud bangkit kembali. — Ayo lari! Jika malas berlari, akan kuseret badanmu!
Gumannya sambil berlari serta menarik cambuk tali belenggu Sujud. Terpaksa Sujud mengikuti lari
pontang-panting.
Langit mulai cerah. Bintang-bintang kembali memancarkan cahaya yang berkeredipan, membuat
alam menjadi terang samar-samar. Hujan telah berhenti sama sekali.
Setelah mereka sampai diatas tanggul tebing kali Bengawan Durga Saputra menghentikan larinya.
Mereka mulai berjalan biasa menyusuri tanggul kehulu.
Kiranya hujan lebat yang baru saja berlalu, membuat kali Bengawan menjadi banjir. Airnya
meluap hampir setinggi tanggul dan mengalir dengan derasnya. Suara derasnya arus, terdengar
gemuruh tak kunjung padam.
Kini Durga Saputra berjalan dengan pelan diikuti oleh Sujud yang masih terbelenggu, seakan-
akan yang sedang dicari. Akan tetapi ternyata yang dicarinya tidak kelihatan ada ……. ialah ….. perahu
sampan ataupun perahu rakit !!!
Perahu-perahu sampan yang tertamhat ditepian, kiranya banyak yang hanyut terbawa oleh
derasnya air. Sedangkan diantaranya banyak pula yang telah dibawa oleh pemiliknya keatas daratan
dihalaman masing2. Belum juga mereka menemukan perahu untuk menyeberang, dua orang berkelebat
mendatang didepannya Durga Saputra.
--- ini orangnya !— seru seorang diantaranya, sambil mengacungkan golok panjangnya yang
mengkilat tajam, diikuti oleh seorang temannya yang bersenyata klewang.
Durga Saputra terkejut sesaat, demi melihat dua orang yang menghadang dirinya.
— Hai Mandra dan Dasim! Apa yang kalian kehendaki? Durga Saputra menegur dengan nada
lunak, menutupi rasa gelisahnya.
— Jangan berlagak tolol! — Serahkan kelinci gemuk itu padaku! Kau boleh berlalu dari sinii ! —
Bentak Dasim yang bersenjatakan klewang.
Dua orang itu adalah bekas anak buahnya. Mereka merasa selalu tertipu olehnya dalam hal bagi
hasil, sewaktu masih mengerjakan perampokan dan pemerasan. Mereka juga mengalami nasib yang
sama sabagai nara pidana di Kota Raja. Waktu dibebaskanpun bersamaan pula. Tetapi karena sifat-silat
kepalsuan Darga Saputra yang selalu tidak adil dalam membagi hasil kejahatan mereka bersama,
menimbulkan rasa dendam yang telah lama dikandungnya. Sejak sebelum turun hujan kedua orang itu
telah mengejar Durga Saputra, dengan maksud akan merampas Sujud tawanannya. Sebagai bekas anak
buah, mereka berdua tahu bahwa Sujud dapat dipergunakan untuk meminta uang tebusan yang tidak
sedikit jumlahnya pada Wirahadinata ataupun pada Indra Sambada. Dengan tak mau lagi tertipu untuk
kesekian kalinya, mereka berdua berhasrat besar untuk merampas Sujud, dan mengerjakan niat
jahatnya tanpa Durga Saputra.
— Jika yang kalian maksud adalah uang tebusan tawananku ini, haraplah kau berdua sabar
sernentara. Nanti setelah aku dapat membalas dendam pada orang tuanya, kakaknya, dan terserahlah
kepadamu !!!
— Ach ….. kita berdua sudah kenyang akan tipu muslihatmu yang licik dari mulutmu yang manis
itu. Serahkan anak itu, dan habis perkara !!! —
Jawab Mandra dengan tegas. — Daripada Saputra mengkhianati kita lagi, lebih baik kita selesaikan disini
!!! Mandra melanjutkan bicaranya tertuju pada Dasim temannya.
Berkata demikian Mandra langsung menyerang membabat leher Saputra dengan goloknya
panjang. Menyambut serangan yang tiba tiba dari lawannya Itu. Durga Saputra terpaksa melepaskan
pegangan gagang cambuk yang ujungnya masih tetap membelenggu tangan Sujud.
Dengan tangkas ia meloncat selangkah kesamping kanan dan mencabut golok pendek yang
terselip dipinggang kanannya. Dengan bersenjatakan golok pendek itu ia menyerang kembali lawannya
dengan serangan tusukan kilat kearah dada lawan. Akan tetapi cepat ditariknya kembali karena
tangkisan senjata lawan dan dirobahnya menjadi tendangan berangkat pada lambung Mandra. Itulah
yang dinamakan jurus pancingan atau serangan tipu tusukan. Kiranya jurus pancingannya berhasil baik.
Lambung Mandra menjadi terbuka, karena tangkisan pada senjata yang menuju dadanya.
Tumit kaki kanan Saputra dengan kerasnya tepat mengenai lambung Mandra. Mandra jatuh
ditanah sambil bergulingan menghindari serangan rangkaian lawan. Tetapi Dasim demi melihat
temannya berguling ditanah, segera menerjang maju dengan klewangnya menusuk kearah punggung
dan kemudian berubah menjadi gerakan babatan kearah kaki lawan yang sedang meloncat surut
kebelakang menghindari tusukkannya, dalam gerakan bentuk jurus sabetan mengunci langkah.
Rangkaian serangan itu merupakan satu rentetan gerakan yang cepat sekali, akan tetapi kiranya
Saputra telah mengetahui akan serangan susulan yang dlilancarkan itu. Dengan lincahnya ia meloncat
tinggi sambil menggerakkan golok pendeknya untuk menyrrang lawan dengan jurus tusukan berperisai
kearah muka lawan.
Dasim terpaksa meloncat surut kebelakang satu langkah.
Sambil berseru terkejut, menghindari serangan yang berbahaya itu.
Dalam saat yang sama, Sujud dengan masih terbelenggu tangannya, demi mengetahui bahwa
pertempuran tiga orang itu memperebutkan dirinya dengan maksud kejahatan mereka masing-masing
…..melesat lari dan meloncat terjun mencebur dikali Bengawan yang ecdang banjir dengan arusnya yang
sangat deras itu ….. byuuuurrr!!!!......
Ketiga orang yang sedang bertempur sengit, masing-masing meloncat surut kebelakang, karena
mendengar terceburnya Sujud dikali Bengawan.
Dengan serentak mereka bertiga menahan senjatanya masing-masing, serta melayangkan
pandangannya kearah air kali Bengawan yang sedang deras mengalir. Namun dalam kegelapan malam
samar-samar, yang mereka lihat tidak lebih daripada air kotor bercampur tanah mengalir dengan
derasnya.
Dan suara gemuruh arus terdengar terus tak ada henti-hentinya .
Dengan kemarahan yang meluap-Iuap serta penuh penyesalan Durga Saputra berseru keras
sambil menunjuk dengan golok pendeknya ke arah Mandra dan Dasim.
— Sialan ! Kedatangan kalian berdualah yang membuat hilangnya mangsaku yang sangat
berharga. Dan kini kalian berdualah yang harus bertanggung jawab, — berkata Saputra menerjang maju
kearah Mandra dan Dasim dengan senjata golok pendeknya menusuk kearah perut lawan.
Dasim meloncat selangkah kesamping kanan dan bertepatan dengan meloncatnya Dasim,
Mandra datang menangkis dengan sabetan golok panjangnya.
Dua senjata beradu dengan kerasnya, hingga mengeluarkan percikan api, yang jelas nampak
dikegelapan malam.
Kedua-duanya segera meloncat surut kebelakang satu langkah, dengan merasakan pedih
ditelapak tangan masing-masing demi mempertahankan senjata, untuk jangan sampai terlepas dari
genggamannya.
— Karena keras kepalamu tak mau menyerahkan pada kami berdua, maka anak itu menjadi
nekad dan bunuh diri!! — Seru Dasim sewaktu meloncat menghindari serangan Durga Saputra.
Pertempuran tiga orang itu masih terus berlangsung dengan serunya.
Durga Saputra yang hanya bertangan satu ternyata dapat melayani dua orang lawannya yang
bersenyata, dengan seimbang dan tidak terdesak, Ditangan kiri yang hanya sebelah itu, golok pendeknya
menyambar nyambar merupakan serangan tusukan yang bertubi tubi, untuk kemudian berobah dengan
cepatnya menjadi serangan tebangan, yang diselingi tendangan berangkai yang tidak kalah
berbahayanya.... Sinar tajamnya klewang dan golok panjang lawan berkelebatan, merupakan sinar putih
yang bergulung gulung menyelubungi ketiga tubuh manusia yang sedang bertempur dengan sengitnya.
Seluruh kepandaian dalam tata kelahi ditumpahkan. Masing masing ingin cepat menghabisi riwayat
lawannya. Kiranya mereka telah jauh tersesat, dan lupa bahwa hidup dan matinya semua ummat telah
ada yang mengaturnya sendiri.
Beum juga mereka dapat saling merobohkan, seorang berkelebat mendatang laksana bayangan
dikegelapan malam yang samar samar itu, dan sesaat kemudian diikuti oleh empat orang yang berlari
lari dibelakangnya.
— Ini dia si buntung ! ! !, teriaknya sambil langsung terjun dengan keris terhunus dalam
pertempuran yang sedang berlangsung dengan sengitnya itu. Orang yang baru datang dan langsung
melibatkan dtri dalam pertempuran adalah Demang Jlagran berserta anak buahnya.
Tanpa kata sepakat Mandra dan Dasim demi melihat datangnya serangan yang tiba tiba dari seorang
yang tak dikenal kearah Saputra, segera berseru terkejut sambil menarik kembali gerak serangan
tusukan dan babatan mereka yang hampir tepat pada sasarannya, untuk serentak menangkis dengan
senjata mereka masing masing, memapaki datangnya tusukan keris yang meluncur seperti kilat. Sedang
Saputra sendiri pada saat yang sama, mengelak dengan gerakan jurus surut bersimpuk menghadang
langkah ialah meloncat surut kebelakang dengan jatuh berduduk serong kanan, kaki bersilang, sambil
mengulurkan tangan kirinya yang memegang golok pendek dalam gaya menusuk lawan, sedangkan
kepalanya menundukkan sangat rendah serempak rata dengan punggungnya. Empat senjata serempak
bertemu ujungnya, dengan mengeluarkan percikan api yang memijar.
Bersamaan dengan beradunya empat ujung senjata yang berlainan bentuknya itu, Mandra
berseru nyaring — Tahan semua senjata ! !
Berseru demikian sambil melompat surut kebelakang satu langkah yang segera diikuti pula oleh
ketiga orang lainnya.
Sementara itu, empat orang anak buah Demang Jlagran telah pula berdiri serempak dengan
masing masing senjata ditangan, dibelakang pemimpinnya.
— Siapa kau ! ! ! Berani mencampuri urusan orang lain ! ! ! Mandra bertanya dengan nada
bentakan.
--- Aku bukan berurusan dengan kau ! !. Jawab Demang Jlagran sambil menunjuk dengan
kerisnya kearah Durga Saputra. — Maka kuharap kalian berdua jangan mengganggu urusanku ! ! !
— Tetapi caramu bertindak tidak tahu adat. Dan sepantasnya orang seperti kau itu diberi
hajaran supaya mengenal adat ! ! !. Dasim turut bicara, dan tanpa menunggu jawaban ia telah mulai
menyerang dengan tusukan klewangnya kearah dada Demang Jlagran.
Sebagai seorang yang cepat naik darah, Demang Jlagran mendengar kata kata yang diucapkan
oleh Dasim dirasakan sebagai penghinaan, maka pada saat yang sama Demang Jlagran telah menerjang
dengan kerisnya.
Kedua duanya berseru terkejut, dan menarik serangan masing masing kembali, untuk kemudian
meloncat kesamping serong kanan. Empat orang anak buah Demang Jlagran segera turut serentak
menerjang maju menyerang dengan senjata mereka kearah Dasim dan Mandra.
Melihat terjadinya pertempuran antara Mandra, Dasim dengan Demang Jlagran berserta anak
buahnya, Darga Saputra merasa untung terhindar dari maut. Dalam hatinya ia merasa geli juga akan
kebodohan lawan2nya itu.
— Mandra, Dasim ! ! ! serunya : Jika kau berdua tidak dapat merobohkan gerombolan orang
desa itu, bagaimana kau berdua akan dapat menyelesaikan urusan denganku ! ! !. Durga Saputra sengaja
membakar kemarahan Mandra dan Dasim, agar mereka lebih bersemangat dengan mengurangi jumlah
lawan. Dengan demikian ia takut mengambil dua segi keuntungan.
Pertama, ia hanya tinggal menghadapi lawan sepihak yang akan menang dalam pertarungan itu.
Kedua, lawan ylang tinggal sepihak yang akan dihadapinya tentu telah berkurang tenaganya.
Satu satunya kemungkinan yang ia sangat kuatirkan, ialah kalau mereka berobah pendirian
menjadi bersatu dan menempuhnya bersama.
Maka untuk menutup kemungkinan, ia sengaja membakar semangat kedua belah fihak yang
sedang bertempur dengan serunya, dengan pengharapan agar pertempuran berkobar terus.
Akan tetapi pengharapan itu segera lenyap dari angan angannya, karera Dasim kiranya cepat
menginsyafi kekeliruannya, sehingga ia dengan tiba tiba melompat surut kebelakang dua tindak sambil
berseru pada Mandra : — Mandra !!! Tahan senjata !!!. Kita berebut tulang tanpa isi !!!
Kiranya kata kata seruan itu membuat Demang Jlagran sadar pula akan kekeliruannya dalam
tindakan yang telah dilakukan.
Cepat ia mengikuti gerakan Dasim dengan melompat surut dua langkah kebelakang sambil
berseru — Betul !!! Tangkap dahulu saja si Buntung rame rame !!!. Baru kita selesaikan urusan kita ! ! !
Durga Saputra demi mendengar seruan kedua orang tadi, kepalanya dirasakan seperti disambar
petir. Ia melesat dan lari kearah barat mengikuti membujurnya tanggul tebing kali Bengawan dengan
pesatnya, dan kemudian membelok kearah selatan memasuki hutan Padangan yang lebat i tu.
Mandra, Dasim dan Demang Jlagran dengan empat orang anak buahnya serentak lari
mengejar.Ternyata dalam lomba lari Durga Saputra memang setingkat lebih tinggi dari pada mereka.
Jarak antaranya kian lama semakin jauh. Untuk kemudian lenyap sama sekali dari pandangan para
pengejar, tertelan oleh kegelapan malam.
Semua orang itu kiranya telah tidak lagi memperdulikan akan nasib Sujud yang diperkirakan
telah mati hanyut terbawa oleh arus air yang dahsyat mengalir dari kali Bengawan.
Setelah diperhitungkan bahwa ia sebagai tawanan Durga Saputra ataupun tawanan Mandra dan
Dasim, bagi Sujud adalah merupakan nasib yang sama bentuknya. maka ia mengambil jalan yang nekat
sekali terjun kali Bengawan yang sedang banjir itu. Hampir sepuluh tahun lamanya, ia tinggal di desa
Ngawi yang letaknya dipinggir kali Bengawan bersama orang tua angkatnya Kjai Tunggul.
Sejak kecil ia memang gemar pula main di Bengawan, Baginya berenang dikali Bengawan sama
halnya seperti lari didaratan. Ia tak perlu kuatir dengan kedua belah tangannya terbelenggu, karena
berenang tanpa menggunakan tangannyapun ia telah mahir. Hanya arus air yang mengalir dengan
derasnya itu yang agaknya membuat sedikit menyulitkan untuk menyeberangi memotong langsung. Ia
terpaksa harus mengikuti arus terlebih dahulu beberapa saat untuk menyeberangi dengan perlahan
berenang dengan menggerakkan kedua belah kakinya menepi .. . Dengan demikian akhirnya sampai pula
ia diseberang kali Bengawan.
Dengan susah payah ia merangkak naik ketanggul karena Iangannya masih terbelenggu, sambil
melihat-lihat kekiri kanan, takut jika masih ada yang mengejarnya. Setelah mengaso sebentar diatas
tanggul, terasalah badannya menggigil kedinginan basah kuyup. Namun ia masih bersyukur kepa-

da Dewata Yang Maha Agung, bahwa dirinya nyaris dalam bahaya dan kantong kulitnya masih tetap
tergantung dipinggangnya. Dengan terhuyung - huyung ia berjalan melintasi sawah yang tak luas itu
menuju kedesa Dawung yang berada didepannya.
Dengan sedikit membohong pada peronda desa, bahwa rumah orang tuanya dirampok dan ia
sendiri dibelenggu karena melawan dan kemudian diceburkan kekali Bengawan. Setelah belenggu
tangannya dilepaskan oleh peronda2 desa serta diberi sekedar makanan untuk menghilangkan laparnya,
untuknya dibuatkan pula perapian untuk memanaskan badan, yang dirasakan sangat dingin.
Setelah mengucapkan terima kasih, dan minta diri atas pertolongan yang telah diberikan oleh
para peronda, maka pada esok harinya Sujud melanjutkan perjalanannya mengembara, melalui jalan2
desa dan sawah2 menuju keutara.
Ia kini membatalkan niatnya untuk pergi kedesa Trinil, karena takut berjumpa kembali dengan
Durga Saputra dan orang2 pengejar lainnya.
Pakaiannya yang indah kini berubah menjadi kumal dan berwarna coklat penuh lumpur. Hanya
perhiasan dan bekal uangnya yang masih tetap utuh didalam kantong kulitnya.
Setelah sampai dipasar desa Kasiman, Sujud singgah sehentar untuk mengisi perutnya, serta
membeli makanan sekedar bekal dalam perjalanan.
Kuatir jika malam nanti sulit mendapatkan warung. Ia tidak lupa membeli pisau pendek pula,
karena mungkin nanti diperjalanan ada pula gunanya, pikirnya. Dari desa Kasiman ia lurus menuju
kebarat. Kini tujuannya ialah Indramayu, dimana orang tua angkatnya menjabat Bupati didaerah itu. Ia
masih ingat, bahwa Ietaknya Kebanjaran Agung Indramayu adalah di sebelah barat.
Pada malam harinya ia telah sampai didesa Jepan, sebuah desa kecil dipinggir kali Lusi. Kali itu
walaupun agak curam tebingnya, akan tetapi ternyata hanya merupakan kali kecil saja. Airnya jernih
seputih cermin karena dekat dengan mata air.
Hatinya bimbang. Setelah pada pagi harinya ternyata merupakan desa yang terujung sendiri.
Sebelah baratnya merupakan hutan belukar yang tidak dapat diketahui batasnya.
Demikian pula setelah ia mencoba menyeberangi kali Lusi. Untuk mengambil jalan memutar
kearah selatan, ia takut berjumpa dengan Saputra ataupun Mandra. Dasim serta orang2 lain yang
mengejarnya.
Sifat keras kepala dan keberanian yang dimiliki, membawa ia melangkah memasuki hutan
belukar yang lebat itu, setelah ia menyeberangi kali Lusi hutan itu oleh orang desa sekitarnya dinamakan
hutan Blora. Terkenal sebagai hutan keramat dan angker. Tiap2 hari pasaran orang2 banyak yang
meletakkan sesaji berupa makanan dan buah2an dipinggir hutan yang dianggapnya keramat, diatas
tebing kali Lusi yang airnya mengalir melintasi hutan.
Kenyataan menunjukkan bahwa sesaji yang beraneka macam itu, setelah sore harinya
diletakkan dipinggir hutan, pada pagi harinya habis tidak berbekas, dan hanya ancak2nya saja yang
ditinggalkan. Dan umumnya mereka percaya bahwa sesajinya telah diterima dengan baik oleh siluman2
penghuni hutan itu. Dengan demikian mereka percaya, bahwa tanam2annya akan menjadi subur, serta
tidak akan diganggu oleh hama ataupun mengalami kerusakan akibat kemurkaan para siluman penghuni
hutan.
Pancaran tariknya matahari pada pagi yang cerah itu tertahan oleh lebatnya dan rindangnya
pohon2 liar yang tumbuh dalam hutan, dan kesejukan hawanya membuat Sujud tidak demikian lelah
berjalan. Ia berjalan terus seorang diri sambil memperhatikan burung2 yang sedang bernyanyi dengan
nada yang indah didalam rindangnya pohon2 liar yang dilaluinya.
Tanpa dirasa ia telah menjelajah masuk jauh dihutan Blora yang tidak diketahui ujungnya.
Namun semakin jauh ia memasuki hutan, semakin banyak pohon buah2an yang dijumpai, seperti durian
jambu, pisang hutan atau dinamakan pisang gendruwo dan lain2 yang sedang lebat berbuah.
Suara ayam hutan terdengar sahut2an dari kanan kirinya. Dan sering pula ia dikejutkan oleh
suara desisnya ular berada di pohon2. Telah lebih dari setengah hari ia berjaan, tetapi belum juga
nampak batasnya, bahkan kini ia mengetahui lagi arah keempat penjuru mata angin.
Kemana ia berjalan, masih saja ia merasa tetap berjalan ditengah hutan yang lebat itu. Ia
memetik buah jambu serta dimakannya, sekedar untuk menghilangkan rasa hausnya, sambil duduk
dibawah pohon jambu untuk mengaso, melepaskan lelah. Diingat2nya kembali jalan2 yang baru saja
dilaluinya, tetapi juga tidak dapat menemukannya.
Bekal makanan yang berada dikantong kulitnya dikeluarkan, dan kini ia mulai makan. Tetapi
karena kegelisahan yang menyelimuti dirinya, maka nafsu makanpun tidak demikian ada.
Gelisah, karena tidak tahu jalan mana yang harus ditempuhnya, agar ia segera dapat keluar dari
hutan itu sebelum petang hari.
Hembusan angin siang perlahan-lahan, membuat ia merasa mengantuk. Ia berbaring terlentang
dibawah pohon, dengan menikmati silirnya angin yang berhembus meniup perlahan. Sambil
mendengarkan suara burung2 yang hinggap dipohon2 rindang disekitarnya.

**

BAGIAN III
ANGAN ANGAN-nya merasa tidak menentu.
Ia ingat kembali akan kasih sayang Senapati Manggala Muda Indra Sambada, yang selalu
memperlakukan padanya sebagai adik kandungnya sendiri.
Gedung Senapaten serta halamannya yang megah itu terbayang kembali dalam angan-
angannya. Juga Jaka Wulung dan Jaka Rimang yang selalu bersenyum dan melatihnya dalam tata bela
diri dibawah asuhan kakaknya Indra Sambada kini membayang kembali dalam alam lamunannya. Dan
semua itu membuatnya rindu ingin pulang kembaii ke Senapaten di kota Raja. Ia menyesal akan
kepergiannya yang tanpa pamit itu.
Kini lamunannya beralih kepada kasih sayang orang tua angkatnya Bupati Wirahadinata atau
Kyai Tunggul, dan terutama pada Ibu angkatnya. Sejak kecil ia di timang2 dan dibelainya dengan mesra.
Sifat lemah Iembut seorang Ibu dengan penuh rasa kasih sayang padanya, seakan-akan melintas dalam
khajalannya …….. dan kini …… ia sebatang kara terlunta mengembara. Terasalah olehnya, bahwa ia
sendiri tidak tahu siapakah ia, sebenarnya. Mungkinkah, ada orang yang senasib dengan dia? Tak tahu
akan asal usulnya sendiri ? …..
Apakah ia sendiri yang memang ditakdirkan demikian?
Jika ia sedih, pada siapakah ia harus mencurahkannya? Dan apabila ia senang, kepada siapakah ia harus
memamerkan…..? Demi mengingat-ingat itu semua, air matanya berlinang-linang meleleh membasahi
pipinya tidak terasa ….. dadanya terasa sesak dan isak tangisnya tak dapat ditahan.
Siksaan jasmani yang belum lama dialami, dapat diatasi dengan ketabahan hatinya, namun
siksaan bathin yang demikian ini, rasa2-nya tidak mampu ia memikulnya.
Benar-benar dalam arti kata hidup sebatang kara ….. Tidak berayah, tidak beribu, bahkan
mengenal wajahnyapun belum . .... tidak bersaudara dan ….. tidak tahu dimana ia dahulu dilahirkannya
….. .
Ya! Tak ubahnya sebagaimana ia sekarang seorang diri ditengah tengah hutan belanrara, dan tidak
mengenal arah yang harus dituju. Memikirkan itu semua, hatinya terasa sedih bagaikan disayat-sayat
sembilu. Haruskah ia menerima begitu saja nasib yang malang itu?
Ataukah ia harus berikhtiar, berdaya-upaya dengan segala kemampuan yang ada padanya,
untuk mencari dimana tempat tiuggal orang tuanya yang sejati, jika masih hidup, dan dimana makamnya
jika telah meninggal?
Akan tetapi jika ia harus mencari, dimanakah ia harus mencarinya dalam dunia yang
membentang luas ini, dan pada siapakah ia harus bertanya? Sampai pada pertanyaan2 inilah, ia selalu
menghadapi jalan buntu. Pertanyaan yang ia sendiri tidak dapat mendapatkan jawabannya ….. Dan
hanya air matanyalah yang selalu setia menemani dalam saat menanggung dukanya …..
— Ketahuilah, bahwa Dewata Yang Maha Agung dan Maha Pengasih dan Penyayang pada
umatNya, akan selalu menyertai apabila kita selalu mengabdi padaNya. Dalam kegelapan, dimana kau
tak dapat meraba dengan tanganmu, maka kau tidak perlu berkecil hati dan putus asa. Serahkanlah
sepenuhnya kepada Dewata Yang Maha Agung. Dan mohonlah penerang padaNya. Percayalah, bahwa Ia
akan selalu memberi, apa yang selalu kau mohon dari padaNya.
Maka setiap saat, setiap kau bernafas, sebutlah selalu dalam bathinmu akan kebesaranNya. —
Ajaran - ajaran yang termuat dalam kitab Niti yang diajarkan oleh kakak angkatnya Indra Sambada, kini
tibabtiba mengiang kembali ditelinganya. Kata demi kata terkumpul tersusun merupakan barisan2
kalimat, yang dapat diingat kembali keseluruhannya.
Semakin lama semakin jelas, dan ia kini seperti orang yang tersentak bangun dari tidurnya. Perlahan
lahan ia bangkit dan duduk bersila ditanah. Kepalanya menunduk. Matanya dipejamkan. Dan ia mulai
bersamadhi, mengikuti ajaran kakak angkatnya….

Baru saja ia selesai dari semadhinya, tiba tiba terdengar suara tawa nyaring dari atas kepalanya.
Ia terkejut sesaat dan mendongak keatas mencari dengan pandangannya ketempat arah datangnya
suara.
Seorang kakek-kakek gundul dengan hanya memakai cawat dari kulit ular sanca, duduk diatas
dahan yang tinggi dari pohon jambu dengan ketawa ter-kekeh2. Kumis dan jenggotnya yang tumbuh
jarang itu telah berwarna putih semua dan sangat panjang. Tawa yang terkekeh kekeh itu diiringi
dengan gerakan goyangan kakinya yang seirama dengan tingkah lakunya yang sinting. Dan disisinya
duduk seekor kera, menirukan semua gerakan yang dilakukan oleh kakek gundul.
— Hai, kakek gundul ! Tolonglah tunjukkan jalan yang terdekat untuk keluar dari hutan ini ! —
Sujud berseru.
Akan tetapi kakek2 itu malah memperpanjang tawanya yang ter-kekeh2, seakan-akan tidak
memperdulikan pertanyaan yang ditujukan padanya.
-- Kakek gundul !. Turunlah kemari sebentar !.— Sujud mengulang seruannya.
— Hai!. .Anak gtlal. Disini tidak ada orang yang bernama kakek gundul! Jika kau perlu denganku
naiklah kemari !— Jawab kakek2 itu sambil tertawa terkekeh dengan nada mengejek dan acuh tak acuh.
— Siapakah namamu? Jika kau tidak mau kupanggil dengan kakek gundul.... ---
--- Anak gila.— Naiklah kemari dahulu, baru nanti kita bicara! !—
— Kakek gundul, aku tidak gila dan janganlah kau panggil aku dengan anak gila lagi. Namaku
Sujud.—
Ketawa kakek2 itu semakin terdengar nyaring. Ha... Ha... haaa
— Sekali lagi kau panggil aku dengan kakek gundul kepalamu akan kugunduli dengan pisau
dapurmu itu, tahu! —
Tetapi anehnya, wajah kakek2 itu sedikttpun tidak menunjukkan kemarahan, walaupun kata-
katanya disertai ancaman. Dan ketawanya masih mengiringi kata katanya. — Panggillah aku kakek
Dadung Ngawuk. Dan Iekaslah kau naik! ---
Kakek Dadung Ngawuk! Aku enggan untuk memanjat demikian tinggi. Sebaiknya kakek saja yang
turun atau tolong tunjukkan kearah mana aku harus berjalan untuk cepat keluar dari hutan ini! ---
--- Ha … haaa... haaa Aku butuh teman, maka tak mungkin kau dapat pergi dari sini. Biarlah
berteman dengan anak gila tak mengapa. —
Mendengar kata cemoohan iang tidak henti-hentinya itu, Sujud merasa sangat mendongkol.
— Kakek Dadung Ngawuk! Jangan main2 dengan ketawamu yang memuakkan itu, lekaslah
tunjukkan arah jalan keluar hutan ini ! Aku akan segera berlalu
!— Tetapi kakek2 itu masih juga tetap tertawa terkekeh-kekeh. Kiranya ia sama sekali tidak
merasa tersinggung dikatakan gila oleh Sujud. --- Benar-benar kakek2 yang kujumpai ini orang gila —
pikirnya--
--- Baikl Terlebih dahulu kau harus dapat menerobos keluar dari kepungan pasukanku yang
terdiri empat puluh prajurit. Jika kau tidak dapat lolos dari kepungan itu, kau harus tetap menemani aku
disini. — Berkata demikian, Dadung Ngawuk meloncat kedahan yang berada dibawahnya, dan gerakan
itu disusul oleh kera yang berada disisinya. Ternyata kakek Dadung Ngawuk ini dapat berloncatan
dengan tangkas, menyerupai gerakan kera yang menyertainya.
Dengan pandangan matanya, Sujud mengikuti gerakan kakek2 serta kera itu dengan mulut
ternganga karena rasa kagum dan heran.
Pertama, heran akan ketangkasan kakek2 itu dapat memanjat dan berloncatan diatas dahan2 tak
ubahnya seperti seekor kera. Dan kedua, menilik kata2nya tadi ia memerlukan teman. Jadi jelas bahwa ia
seorang diri. Tetapi mengapa justru berkata bahwa pasukannya yang berjumlah empat puluh prajurit
akan mengepungnya. Sedangkan ia sendiri tidak melihat adanya tanda2 orang orang disekitarnya.
Tiba-tiba tanpa diketahui, kakek2 itu telah memegang cambuk yang panjangnya lebih dari dua
depa, yang terbuat dari kulit ular sanca. Sesaat kemudian suara lecutan cambuk terdengar mengampar
tiga kali berturut-turut tar tar …. tarr…. taaarrr …… dengan diiringi tawanya yang nyaring …..
Tak lama kemudian, disekeliling Sujud telah bermunculan kera-kera jenis beruk dengan bersuara
cecowetan mengurung Sujud yang masih berdiri dengan mulut ternganga. Pengalamannya yang pahit,
membuat ia berfikir untuk tidak mau menyerah sebelum mengadakan perlawanan dalam batas
kemampuannya. Cepat ia berdiri tegak, siap-siaga untuk menghadapi serangan yang datang kearahnya.
Dengan tak terduga duga, kera yang duduk disamping kakek2 itu telah meluncur kearahnya dengan
kecepatan yang menajubkan. Sebelum Sujud dapat bergerak untuk menyambutnya, kera tadi telah
dapat merebut pisau yang terselip dipinggangnya, serta membawanya keatas dahan dengan memanjat
pohon. Kemudian disambut oleh kakek2 itu, dengan ketawa yang terkekeh-kekeh. Kiranya kera itu hanya
bermaksud untuk merampas pisaunya, dan tidak bermaksud menyerangnya. Demikian pula kera2 yang
mengurungnya. Satupun tidak ada yang memulai menyerang.
Mereka hanya mengurung Sujud dalam lingkaran, dengan memperdengarkan suara cecowetan yang
riuh sambil memperlihatkan gigi2nya yang kecil2 serempak. Serta diiringi dengan menggaruk-garuk
badannya masing2. Kini Sujud baru mengetahui bahwa yang dimaksud oleh Dadung Ngawuk dengan
pasukan prajuritnya itu, adalah kera2 yang sekarang sedang mengurungnya. Jumlah kera2 yang
mengurung itu, memang seperti apa yang telah dikatakan oleh Dadung Ngawuk ialah empat puluh.
— Sujud, anak gila! Sekarang pasukanku telah siap, dan kau boleh coba menerobos keluar dari
kepungannya. Jika berhasil kau lolos, akan kuantarkan sampai ditepi hutan! Atau kau menyerah saja,
tidak usah membuang-buang tenaga yang sia2, untuk menemani aku disini! --
Lebih baik aku mati karena melawan, dari pada menyerah dan akhirnya menerima siksaan,
sebagaimana pernah menimpa diriku — pikir Sujud.
Dengan kebulatan tekad yang tak mengenal takut, Sujud mulai menerjang kedepan, serta
menyerang dengan tinjunya kearah kera yang menghadang didepannya. Akan tetapi dengan tangkasnya,
kera yang diserang itu meloncat kesamping untuk menghindari serangan pukulan. Dalam waktu yang
sama ketika Sujud mulai bergerak, tiga ekor kera yang berada didekatnya meloncat kearah kepalanya
dari belakang, menjambak rambutnya gondrong dengap sekuat tenaga. Sujud terpaksa menarik kembali
pukulan tinjunya yang ternyata mengenai tempat kosong. Untuk tidak jatuh terlentang Sujud segera
membalikkan badannya sambil menyerang dengan telapak tangan kiri kearah salah satu kera yang
menyambaknya. Dan kemudian disusul dengan tendangan kaki mengikuti meloncatnya kera yang
menghindari serangannya.
Akan tetapi sewaktu ia melontarkan serangan tendangannya, tiga ekor kera lagi menarik
kakinya, dimana ia sedang berdiri diatas satu kaki. Tak ayal lagi, Sujud jatuh terguling ditanah. Dengan
cepat ia berdiri kembali, untuk siap menghadapi serangan-serangan yang mendatang sebagai serangan
berangkai.
Namun ternyata kera2 itu tidak hendak menyerangnya, melainkan hanya mengurung saja,
menunggu dan menjaga jangan sampai Sujud dapat lolos dari kepungan mereka.
Melihat Sujud jatuh bergulingan, ketawa yang terkekeh-kekeh memuakkan terdengar kembali dari
Dadung Ngawuk, seakan-akan melihat permainan yang lucu sekali. Cepat Sujud bangkit kembali dan
menerjang kelain penjuru. Dua ekor kera yang menghadangnya diserang dengan tendangan berangkai
dan satu diantaranya jatuh terpental.
Walaupun sampai dua langkah kera itu terpental karena tendangan, dengan mudah ia bangun
kembali diatas keempat kakinya, sambil menyeringai beringas dengan mendesis desis dan meloncat lagi
kearah Sujud. Sedangkan kera-kera dibelakang Sujud serentak berlompatan dan masing-masing ada
yang memegang pinggang, lengan kaki dan ada pula yang menarik narik celananya.
Dengan demikian Sujud menjadi sibuk karenanya. Untuk mencegah jangan sampai jatuh
terlentang karena tarikan - tarikan kera-kera itu, Sujud dengan ketangkasannya membalikkan badan dan
tinjunya bergerak me-nyambar2 ke-arah kera - kera yang mengerumuninya. Akan tetapi kera kera itu
cepat berloncatan menjauhi untuk menghindari datangnya serangan, serta kembali ditempat masing
masing seperti semula sewaktu mereka mengurung Sujud.
Tetapi kiranya kera-kera itu tidak ada yang bermaksud melukainya, dan hal ini diketahui pula
oleh Sujud. Mereka hanya menghadang, menarik-narik ataupun mendorongnya untuk mencegah jangan
sampai Sujud lolos dari kepungan mereka. Jika semula Sujud selalu menerjang dengan serangan tinju
dan tendangan, setelah memgetahui bahwa lawan-lawannya tidak berkehendak melukainya, iapun
segera merobah cara menerjangnya.
Ia meloncat kearah utara sebagai gerak tipuan, untuk kemudian meloncat kembali kearah timur
dengan gerakkan yang lebih cepat. Namun kiranya kera-kera itu telah mengetahui terlebih dahulu akan
maksudnya. Mereka dengan rapihnya berloncatan mendahului menghadang, sewaktu Sujud meloncat
merobah arah. Berulang kali ia mencoba gerakannya itu dengan cara selalu menukar arah, tetapi kera-
kura itupun selalu dapat mendahului gerakarmja dan dengan demikian ia masih tetap terkurung rapat,
ditengah lingkaran kera-kera. Badan dan mukanya telah basah bermandikan peluh, namun ia tetap
masih terus berloncatan kian kemari untuk melepaskan diri dari kepungan prajurit2nya Dadung Ngawuk.
Tetapi semua usahanya itu tak pernah berhasil- Kadang-kadang ia melompat, melambung tinggi dengan
diiringi suara bentakan yang nyaring untuk menakut-nakuti kera-kera yang menghadangnya, akan tetapi
sebelum ia sempat berpijak diatas tanah kembali kaki-nya telah ditangkap oleh tiga/empat ekor kera
dan ditariknya, sehingga ia kembali jatuh bergulingan ditanah. Demi melihat jatuhnya Sujud bergulingan
ditanah, ketawa yang terkekeh-kekeh memuakkan dari mulut Dadung Ngawuk terdengar semakin
bertambah keras. Demikian pula kera beruk yang besar disisi kakek itu turut pula berdiri diatas dahan
sambil berjingkrak-jingkrak dengan menyeringai gembira, hingga dahan dimana mereka berdua berpijak
menjadi tergetar keras sekali, sampai daun-daunnya jatuh bertebaran.
Makin lama, Sujud merasa makin lelah kehabisan tenaga. Gerakannya menjadi sangat lambat.
Tetapi sebagai anak yang bersifat keras hati tidak mau ia menyerah.
Dengan sisa tenaga yang masih ada, ia mengamuk dan menerjang dengan serangan tinju dan
tendangan2nya yang dahsjat kembali. Karena dengan cara yang lunak tidak pernah berhasil, kini ia
menjadi mata gelap.
Empat ekor kera terpental jatuh bergulingan terkena tendangan dan tinjunya. Demi melihat
2
teman nya jatuh bergulingan, kera yang lainnya menjadi lebih ganas. Lebih dari lima belas ekor kera
menerjang serentak dari arah belakang, samping dan depan, Sujud semakin marah dan bertambah mata
gelap. Dengan secara membabi buta ia melancarkan serangan yang lebih dahsyat terhadap kera2 yang
mendekatinya.
Tarikan, bahkan gigitan dipundak, lengan, betis tidak dirasakan lagi.
Untuk merobohkan kera2 yang demikian banyak jumlahnya adalah diluar kemampuannya.
Akhirnya Sujud sendiri yang jatuh terguling dan tak sadarkan diri.
Cambuk ditangan kakek Dadung Ngawuk berkelebat mengampar diudara dengan mengeluarkan
suara seperti petir, dan kera2 yang mengerumuni segera berloncatan menjauhi Sujud. Seakan-akan
mendengar aba2 untuk cepat meninggalkan tempat itu.
Kakek Dadung Ngawuk turun dan mendekati Sujud dengan diikuti kera piaraannya yang setia.
2
Luka Sujud bekas kena gigitan segera diobati dengan olesan ludahnya. Dan kemudian ia memijat
badannya Sujud dengan jari2 tangannya yang mengandung kekuatan tenaga dalam.
Pelahan-lahan Sujud sadar kembali dan membuka matanya
— Kau diamlah dan jangan bergerak dahulu, anak gila.... — Dadung Ngawuk berkata pelan
dengan masih tetap memijit2 keseluruh tubuhnya.
Mendengar seruan kakek Dadung Ngawuk yang lemah lembut, serta merasa diperlakukan
demikian baiknya, Sujud terpaksa diam menyerah. Ia tengkurab ditanah mengikuti perintahnya. Jari
tangan Dadung Ngawuk kini memijit2 kepala bagian beakang dan bergerak terus kebawah menuruti
punggungnya sampai dijari2 kakinya. Untuk kemudian kembali lagi keatas sampai dikepalanya. Demikian
itu, dilakukan sampai berulang kali sambil disertai tiupan pelan dari mulutnya kearah tubuh yang sedang
dipijitnya. Rasa hangat menjalar diseluruh tubuh. Ternyata kesaktian Dadung Ngawuk telah membuka
semua jalinan saraf yang lemah serta pembuluh2 darahnya sampai diujung jari kakinya. Kakek2 itu
berkata pelan pada dirinya sendiri sambil bersenyum —anak gila tapi baik dan berbakat.... Hih hihikk …..
ada tai lalatnya besar dilengannya... — Jari2 tangannya tetap masih bergerak dilengan Sujud untuk
mengurutnya.
Setelah selesai mengurut seluruh tubuhnya, Sujud kembali disuruh berbaring terlentang.
Kembali diurutnya dari tulang rusuk sampai perutnya, dengan disertai tiupan seperti semula. Sesaat
kemudian dirasakan oleh Sujud, bahwa isi perutnya terasa melilit-lilit, dan rasa muak ingin muntah tidak
dapat ditahan lagi. Semua kotoran isi perutnya keluar dari mulut dan hidungnya, dengan mengeluarkan
bau amis yang memuakkan.
Badannya terasa lemas tak berdaya, Sujud segera diangkat dan dipindahkan ketempat yang
bersih oleh Dadung Ngawuk disebelahnya.
— Jamang... Lekas petikan buah kemboja merah yang hanya tinggal seuntai itu …—
Kera yang selalu mengikuti kakek Dadung Ngawuk, setelah mendengar namanya dipanggil, cepat
meloncat pergi melakukan perintahnya. Seakan-akan tahu apa yang dikehendaki oleh kakek2
majikannya. Tak lama kemudian kembali dengan membawa seuntai buah-buahan hijau, menyerupai
buah pinang. Dengan kuku2nya yang panjang, buah kemboja merah itu dipecahnya untuk kemudian
diambil isinya yang berwarna putih susu, serta bulat2 seperti buah kelengkeng. Kesemuanya satu demi
satu buah kamboja itu oleh Dadung Ngawuk dimasukkan kemulut Sujud. Dan tanpa dirasakan lagi buah
itu terus ditelannya.
— Berusahalah untuk tidur. Dan jangan mengejangkan anggauta badanmu. — perintah kakek
kepada Sujud, yang segera ditaatinya.
— Jamang ! — Cepat ambilkan sisa makananku ! — Kera jenis beruk yang dinamakan Jamang
segera berloncatan pergi, untuk kemudian memanjat sebuah pohon besar yang tak jauh dari tempat itu.
Dengan membawa tempurung yang berisikan daging ular dan buah manggis, Jamang segera
menyerahkan pada kakek Dadung Ngawuk. Tempurung disambutnya dengan masih berjongkok didekat
Sujud. Wajah Sujud yang tadinya kelihatan pucat pasi, berangsur-angsur menjadi merah.

Seluruh tubuhnya dirasakan panas membara. Hingga ia tak sadarkan diri kembali. Namun kakek-kakek
itu bersenyum puas memperlihatkan kegirangan hatinya.
Mulutnya segera ditempelkan kemulut Sujud dan ditiupnya pelan mengiringi hembusan
napasnya. Setelah merasakan basah kuyup oech keringat dibadannya, segera melepaskan tempelan
multunya dan kembali duduk bersila didekat Sujud yang masih berbaring sambil mengatur
pernafasannya yang dirasakan ter-sengal2 kehabisan tenaga.
Suhu badan yang panas membara dirasakan oleh Sujud berangsur-angsur turun dan kembali
wajar. Bersamaan dengan sadarnya Sujud, kakek Dadung Ngawukpun telah pulih kembali tenaganya.
Sedangkan si Jamang, kera yang berada disisinya, turut pula memperlihatkan kegirangannya dengan
bergerak lucu.
Waktu itu telah senja. Hari mulai gelap remang – remang. Tanpa ada yang memerintah empat
puluh ekor kera berloncatan mendatangi dengan masing-masing membawa dahan kering. Tak lama
kemudian kakek Dadung Ngawuk dengan batu percikannya segera membuat api unggun ditengah-
tengah hutan itti. Sesungguhnya Sujud sejak tadi telah merasa tenaganya pulih kembali, namun tanpa
disuruh kakek gila itu, ia tak berani bangkit. Ia tetap saja berbaring terlentang ditanah. Sebagai anak
angkat Kyai Tunggul ia tahu pula, bahwa kakek2 itu memijit dengan mengeluarkan tenaga saktinya, demi
untuk tambahnya kekuatan baginya.
Tetapi ia hanya pernah melihat Bapak angkatnya berbuat demikian, dan belum pernah
mengalami sendiri.
Buah yang telah ditelannya tadi, belum pernah sekalipun ia melihatnya. Bertahun - tahun ia
mengikuti ayah angkatnya sebagai pembantu tabib, tetapi belum pernah ayah angkatnya menggunakan
ataupun menyimpannya buah seperti apa yang telah ditelannya. Bahkan menceritakan saja belum
pernah. Seingat dia baru kali ini ia melihat pohon kemboja merah berbuah.
— Anak gila yang baik ! Marilah kita makan bersama. Dan jangan bermalas malasan tidur saja!

— Kakek Dadung Ngawuk! Aku tak mau lagi kau panggil deagan anak gila! Sujud menyawab
sambil bangkit daa duduk disebelah kakek2 itu.
— Bagus, bagus ,,,,,, nanti kita lanjutkan lagi perdebatan ini, tetapi sekarang kita makan dahulu.
Perutmu tentu tudah merasa lapar! —
Daging ular yang gemuk itu dipanggangnya diatas api, serta dipotong-potongnya, dan segera
mereka berdua memakannya dengan lahapnya.
Semua kera yang berada disekelilingnya tidak ketinggalan turut pula makan buah2an yang telah
dibekalnya masing2. Tidak jauh dari tempat perapian, dimana pohon kemboja berada, ternyata ada
sebuah sendang yang airnya sangat jernih. Untuk cuci tangan, mandi dan sebagainya, mereka cukup
menggunakan buangan air yang mengalir, yang kemudian bertemu dengan kali Lusi. Hanya untuk
minum, mereka mengambil langsung dari sendang. Dan didekat sendang itulah kakek Dadung Ngawuk
membuat gubuk kecil, sekedar untuk berteduh di waktu hujan. Pada hari2 cerah ia selalu berada
dipepohoan ber-main2 dengan keranya. Tidurpun ia selalu dialam terbuka.
Pada hari esoknya Sujud merasa segar serta ringan sekali badannya. Dengan mudah ia dapat
turut memanjat pohon yang sangat tinggi serta dapat pula berloncatan didahan dahan, mengikuti
gerakan kakek Dadung Ngawuk bersama si Jamang. Ia mulai tertarik akan keindahan alam ditengah
hutan itu, dan maksud untuk cepat2 meninggalkan hutan telah terlupakan pula. Mereke dudu pada
sebatang dahan yang tinggi sambil asyik bercakap cakap.
— Anak gila! Aku selalu memanggilmu dengan anak gila bukan tak beralasan! — Kakek Dadung
Ngawuk mulai bicara. — Pertama kau seorang diri masuk hutan tanpa tujuan, kedua, memiliki celana
dan sarung yang walaupun telah kumal itu cukup menunjukkan bahwa kau adalah keluarga yang Raja
ataupun bangsawan di kota Raja. Ketiga, melihat gerakanmu dalam menerjang kera-keraku kemaren,
jelas babwa gerakan yang kau lakukan adalah terdiri dari jurus2 dari seorang tamtama Kerajaan dan yang
terachir, kau mengaku bernama Sujud. Itu tak cocok dengan pribadimu. Nama Sujud harusnya hanya
dimiliki oleh Rakyat biasa ataupun seorang anak pendeta (Brahmana), sedangkan tulang2 dan darahmu
menurut pengetahuanku setelah aku raba kemaren, kau adalah keturunan orang bangsawan ataupun
orang kaya. Dan mungkin orang tuamu memberikan nama Sujud kepadamu. Nah, coba sekarang kau
bantah keteranganku ini dengan kejujuranmu — Berkata demikian Dadung Ngawuk sambil memandang
kearah muka Sujud dengan amat tajamnya.
— Ach ….. tetapi itu semua bukan alasan untuk menuduhku sebagai anak gila. Aku tak mau
membantah keteranganmu bukan karena membenarkan, tetapi aku sendiri tidak tahu siapa aku ini
sesungguhnya — Sujud berkata dengan sega!a kejujurannya.
Mendengar jawaban Sujud, kakek Dadung Ngawuk mengerutkan keningnya dengan wajah yang
bersungut-sungut, seakan-akan ada persoalan sulit yang sedang di pikirkan.
— Aneh,aneh ….. Benar2 anak gila... — gumamnya.
Karena kakek Dadung Ngawuk Sujud terpaksa menceritakan riwayatnya seadiri menurut apa
yang diketahui dan dialaminya.
Ia menceritakan sejak mengikuti orang tua angkatnya dan kemudian menjadi adik angkat dari
Senapati Muda Indra Sambada dikota Raja. Tak pula lupa ia ceritakan pengalaman yang baru saja
dialami, sewaktu mendapat siksaan dari Durga Saputra.
Setelah mendengar cerita riwayat Sujud dengan singkat tanpa diketahui sebabnya, kakek
Dadung Ngawuk menangis tersedu-sedu seperti anak kecil, sambil mengayun2kan kakinya
— Kakek Dadung Ngawuk! Mengapa kau menangis?.—
Apakah kau sudah menjadi gila? — Sujud bertanya sambil bersenda gurau untuk menghibur. Sambil
mengusap air mata yang mengalir dipipinya kakek Dadung Ngawuk tiba tiba tertawa terkekeh-kekeh,
sehingga batang dahan dimana mereka duduk, tergetar keras.-
— Kau tidak gila, anak baik ! — Mungkin …. . aku yang gila .
--- Sudahlah, kakek ! Kita tak perlu lagi mempersoalkan tentang kata gila. Coba kau ceritakan
tentang khasiat buah kemboja merah yang kemarin kau paksakan padaku !—

- Haa .... haahaaa .... haaaaa, haaaaa ... ! . Anak cerdik ! Kau ternyata lebih pandai dari pada
Bapakmu angkat si Tunggul dukun bayi, yang hanya tahu rempah2.—
— Apa ? Bapak Tunggul pernah menjadi tabib yang termasyur di Kota Raja. Jangan kau
menghinanya! (Baca "Indra Sambada Pendekar Majapahit")
— Haa . ... haaaa . ... haaaaaa . .. ! Kau marah, bapakmu kunamakan dukun bayi ! Bagus . .. .
haaaa . . .. bagus ….. benar2 kau ini anak gila yang baik. —
Kini kakek Dadung Ngawuk mulai bercerita dengan penuh semangat.
- Dengarkan baik2 !! Buah kemboja merah itu dinamakan buah, - Daru Seketi - artinya dalam
jumlah seketi pohon kemboja merah belum tentu ada satu yang dapat berbuah. Dan apabila pohon itu
berbuah sebanyak2 nya hanya tiga untai, serta musimnya sewindu sekali. Jika buah itu dipergunakan
untuk pengobatan dinamakan dalam kitab usadha buah "tulak tujuh", artinya pemunah daya guna2. Aku
sendiri yang telah tua dan hampir masuk kubur, baru kali ini dapat menemukan. Khasiatnya ialah, jika
orang itu kuat menahan suhu panasnya badan akibat dari makan buah itu, maka akan menjadi kebal
untuk menerima serangan guna2, ataupun serangan daya kesaktian lainnya. Dan juga kebal akan segala
macam racun yang merangsang melalui pencernakan. Akan tetapi jika tidak kuat akan panas badan
sewatu memakannya akan mati seperti orang hangus terbakar. Dan orang harus memakannya buah
tulak tuju itu habis seuntai semua.
Ternyata setelah aku buka jalinan syaraf2mu dan pembuluh darahmu semua, serta kukosongkan
isi perutmu, kau telah berhasil melampaui saat yang berbahaya itu. Maka dengan demikian berarti
memang cocok untukmu. —
Demi mendengar tutur kata kakek Dadung Ngawuk itu Sujud merasakan tenggorokannya seperti
terkunci. Tak mampu ia mengucapkan terima kasih, akan pemberian yang tak ternilai itu. Ia menyesal,
karena semula ia mengira bahwa kakek Dadung Ngawuk bermaksud jahat padanya, padahal …..
kenyataannya kini ia malah berhutang budi yang tak mungkin dapat membalasnya.
Waktu itu siang tengah hari. Matahari telah berada diatas kepala, dengan menyinarkan panas
yang membara, memandangi seluruh alam terbuka.
Namun dipohon yang rindang itu, mereka tidak merasakan teriknya sinar matahari. Angin yang
selalu meniup disiang hari itu membuatnya mereka tetap segar tak berkeringat.
Tiba2 pohon2 disekitarnya bergoyang gemuruh. Suara cecowetan terdengar semakin mendekat.
Pasukan kera Dadung Ngawuk datang berkumpul dengan membawa bermacam2 buah-buahan,
sebagaimana biasa pada tiap2 siang tengah hari, untuk makan bersama-sama.
Dadung Ngawukpun segera turun, dengan diikuti oleh Jamang dan Sujud. Dengan rapinya kera2
itu duduk berjongkok mengelilingi mereka, setelah meletakkan buah-buahan yang dibawanya masing2
tadi dihadapan kakek Dadung Ngawuk. Setelah Dadung Ngawuk mengambil yang dipilihnya secukup
untuk keperluan mereka bertiga, maka sisanya segera dibagikan kepada semua kera2 anak buahnya oleh
si Jamang.
Dan apabila ada salah satu diantaranya yang merampas karena tak sabar menunggu, oleh si
Jamang diberi tamparan dan gigitan. Kiranya satupun dtantara mereka tidak ada yang berani melawan si
Jamang. Kera2 itu semuanya adalah jenis beruk, memang kera jenis beruk itu rata2 memiliki daya
pengertian yang hampir menyerupai manusia. Mereka dapat dengan mudah menghafal gerakan yang
dipelajari dengan isyarat isyarat tertentu. Hasil ketekunannya kakek Dadung Ngawuk dalam mengasuh
mereka yang telah bertahun-tahun lamanya menunjukkan hasil yang memuaskan dimana kera2 itu selalu
menunjukkan ketaatannya dan kesetiaan mereka padanya.
— Anak gila! Nasibku serupa dengan nasibmu! — Dadung Ngawuk mulai lagi dengan bicaranya
untuk memecah kesunyian, setelah mereka selesai makan. Dan matanya nampak basah karena
mengembeng air mata.
— Hanya ….aku telah menemukan tempat batu nisan dimana orang tuaku dikuburnya,
sedangkan kau sama sekali belum menemukan jejaknya.
— Yaaah …… kunasehatkan agar kau jangan putus asa untuk mencari orang tuamu, dan aku akan
memberikan bantuan sesuai dengan kemampuanku yang ada. — Kakek Dadung Ngawuk menghela nalas
panjang, dan berhenti sejenak untuk mengusap air matanya yang kini mulai meleleh dipipinya yang
keriput itu. — Tetapi ….. kau harus masih menambah kepandaianmu untuk bekal dalam perjalanan guna
tercapainya tujuanmu. Ketahuilah, bahwa orang2 terkutuk seperti Durga Saputra dan lain2nya yang
masih banyak lagi untuk disebutkan satu persatu itu, kini berkeliaran dimana-mana. Kekebalan
menanggulangi daya guna2 ataupun daya shakti, yang kini telah kau miliki tidak ada artinya jika tidak
dilengkapi dengan ketangkasan serta kesaktian lain sebagai pukulan balasan terhadap lawan. Untuk itu,
dalam waktu yang singkat ini aku akan mengajarmu, sekedar penambah bekal dalam
pengembaraanmu.—
Dengan penuh perhatian Sujud mendengarkan nasehat serta petunjuk2 dari kakek Dadung
Ngawuk. Ia sangat kagum akan ketinggian budi yang dimilikinya. Tidak mengira bahwa kakek yang dalam
penglihatannya sebagai orang gila itu, tiba2 dapat berobah menjadi seorang penasehat dengan penuh
perasa sebagaimana lajaknya seorang guru. Suara tawa yang biasanya selalu mengiringi dengan nada
yang terkekeh - kekeh seperti orang sinting, kini lenyap dan menunjukkan wajah yang bersungut-sungut
dengan keningnya berkerut.
Sejak saat itu Sujud tiap pagi hari, sebelum fajar menyingsing mendapat latihan ilmu kanuragan,
ialah ilmu ketangkasan serta pukulan shakti dari kakek Dadung Ngawuk.
Waktu berjalan, dengan tidak terasa. Tahu tahu Sujud telah menjadi murid kakek gila. Dengan
bekal kecerdikannya dan ketekunan yang dimiliki maka dengan mudah Sujud dapat menguasai gerakan
langkah "wuru shakti" dengan sempurna. Wuru shakti ialah gerakan mengelak dari serangan lawan
dengan langkah2 seperti gerakan orang yang sedang mabok. Gerakan mana dapat juga digunakan
sebagai langkah2 menyerang musuh.
Jari2 tangannya dapat ditegangkan menjadi sekeras baja. Dengan jari2 itu ia dapat menusuk
tembus benda2 yang keras seperti kayu dan sebagainya.
Kepadanya juga diberikan pelajaran2 mengenai sendi2 kelemahan tubuh manusia mengikuti
dasar jalinan saraf2 pokok, serta nadi2 pembuluh darah, atau disebutnya juga “ilmu pengapesan".
Namun semua rangkaian jurus2nya adalah merupakan gerak "wuru shakti", ialah ciri asli dari pada ilmu
tata bela diri ciptaan kakek Dadung Ngawuk, dimana gerakannya adalah menyerupai seorang gila.
Dan si Jamang adalah kawan setianya dalam berlatih tiap harinya.
Kini Sujud dapat dengan mudah menerobos kepungan kera2 yang ampat puluh jumlahnya.
Dengan serangan tendangan serta totokan jari2nya yang tepat mengenai jalinan syaraf yang
dikehendaki, kera2 teman berlatihnya jatuh bergelimpangan tak berdaya, tanpa mendapat luka yang
membahayakan. Gerakan wuru shakti dengan langkah2nya yang ajaib dapat menghindari serangan2
dahsyat yang bertubi-tubi dan sukar untuk diduga sebelumnya.
Setelah dianggap cukup memiliki kepandaian sebagai bekal dalam perjalanan mencari orang
tuanya, oleh kakek Dadung Ngawuk, Sujud diperkenankan meninggalkan hutan Blora.
— Dengan bekal kepandaianmu itu, yang sangat sederhana serta kekebalan yang kau miliki,
tidak perlu lagi kau kuatir akan berjumpa dengan Durga Saputra atau sebangsanya. Hanya pesanku,
setelah kau berhasil menemui orang tuamu, aku sangat mengharapkan kehadiranmu kembali untuk
menjengukku sebentar. Sebelum aku meninggalkan dunia yang amat kotor ini, aku masih ingin bertemu
dengan kau sekali lagi.
— Mendengar kata2 pesan kakek Dadung Ngawuk sewaktu ia diantar sampai ditepi hutan
dirasakan berat untuk berlalu dari tempat itu.
Tenggorokannya terasa sangat sukar untuk mengeluarkan kata2 seperti tersumbat tak kuasa
untuk melahirkan isi hatinya. Hanya air matanyalah yang meleleh perlahan-lahan dikedua belah pipinya.
Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya sambil berlutut dengan takzimnya. Dalam hati Sujud
bersumpah, bahwa ia tentu akan memenuhi pesan kakek Dadung Ngawuk. Akan tetapi sebelum ia
bangkit dari berlutut, kakek Dadung Ngawuk telah lenyap dari depan hidungnya. Sujud memandang
dengan heran akan kesaktian kakek Dadung Ngawuk. Kemana perginya sampai ia tak mengetahui,
bayangannyapun tak nampak. Dengan langkah yang bimbang serta dipaksakan Sujud berjalan memasuki
kota Wirosari yang tak demikian jauh letaknya dari tepi hutan sebelah barat.
Kesibukan dalam kota pada sore itu, ternyata masih nampak ramai. Namun tidak seorangpun
kini memperhatikannya sewaktu mereka berpapasan.
Mereka diliputi oleh kesibukannya masing2. Dengan pakaiannya yang telah compang-camping
serta kuMal. Sujud berjalan mengikuti orang2 yang sedang berbelanja disepanjang jalan tengah kata. Ia
membeli pakaian sederhana warna kelabu untuk dikenakan sebagai ganti dari pada baju dan celananya
yang telah compang-camping itu Setelah berganti pakaian ditempat yang sepi, ia kembali lagi memasuki
kota untuk mencari warung makan serta tempat untuk bermalam.
Esok paginya sewaktu Sujud meninggalkan rumah penginapan, tiba2 terdengar jeritan anak kecil
dari seberang jalan dimana ia sedang berdiri. Seekor kuda yang tak dapat dikendalikan oleh
penunggangnya menerjang dua anak kecil yang sedang enak berjalan bergandengan, hingga satu
diantaranya terpental dan jatuh bergulingan ditanah.
Yang menjerit itu adalah anak perempuan yang umurnya kira2 enam tahun sedangkan yang
jatuh bergulingan itu adalah anak lelaki yang usianya sekitar delapan tahunan. Mudah diterka, bahwa
mereka adalah kakak beradik dari keluarga miskin. Dengan cepat Sujud lari dan menyambar anak kecil
yang menjerit serta dipondongnya mendekati anak laki2 yang masih terlentang ditanah ditepi jalan.
Akan tetapi sewaktu ia berjongkok sambil memondong anak perempuan kecil itu, kuda yang
binal itu telah menerjang kembali kearahnya.
Sungguhpun dia dapat mengeIak, tetapi anak yang terlentang itu tentu tak mungkin dapat
terhindar dari injakan kaki kuda. Orang2 perempuan yang sedang berlalu serentak menjerit demi melihat
kejadian yang mendebarkan jantung itu. Akan tetapi, dengan tanpa diketahui oleh orang-orang yang
sedang melihatnya dengan penuh kecetuasan, kuda dan penunggangnya jatuh terguling kesamping.
Kedua kaki kuda tegang berkelejotan, sedangkan penunggarunya terpental jatuh bergulingan ditengah
jalan. Tanpa menghiraukan kejadian atas penunggang dan kudanya, Sujud membangkitkan anak lelaki
yang masih terlentang ditanah itu, segera diseretnya lebih menepi lagi. Kiranya anak lelaki itu hanya
terluka ringan karena kebentur batu2 dijalan, hanya ia tak sadarkan diri karena kagetnya.
Penunggang kuda yang jatuh bergulingan segera bangkit berdiri dan melangkah mendekati
kudanya yang masih menggelimpang ditanah dengan kakinya berkelejotan.
Penunggang kuda yang jatuh itu adalah seorang pemuda yang usianya tak lebih dari duapuluh
tahun, dengan pakaiannya yang serba indah.
Wajahnya tampan, namun tingkah lakunya kelihatan kasar dan sombong Dengan muka merah
padam karena malu dilihat orang banyak, sambil mengibaskan tangannya untuk menghilangkan debu
yang melekat dipakaiannya, ia memeriksa kudanya yang masih terlentang
— Hai jembel kecil!.!, Kau apakan kudaku tadi? bentaknya tertuju pada Sujud.
Tak tahu!!. Mungkin terpelanting karena tarikan lis yang kau lakukan sendiri!! — Jawab Sujud
dengan tanpa menoleh.
Sambil berjalan dengan memondong anak perempuan kecil serta menggandeng anak lelaki yang
telah siuman kembali.
— Hai ! ! !. Berhenti dulu ! ! ! Berkata demikian pemuda itu mengulang kembali memeriksa
kudanya.
Mendengar pemuda itu membentak bentak, orang2 yang mengerumuni segera berlalu untuk
menjauhi.
Sujud segera berhenti sejenak dan mengawasi kearah pemuda yang masih menggumam tak
menentu. Pengalamannya yang penuh kepahitan pada tahun yang lalu dapat untuk peringatan. Kini ia
tak mau melayani marahnya si pemuda. Ia tetap berlagak tolol, seakan akan tak tahu sama sekali akan
sebab musababnya terpelantingnya kuda dengan penunggangnya. Sedangkan sebenarnya, sewaktu
kuda menerjang kearahnya dengan cepat ia menotok nadi pembuluh darah serta urat2 penggerak kaki
depan kuda, dengan kedua jari tangan kirinya. Akan tetapi karena hal itu dilakukan dengan kecepatan
yang luar biasa, maka sukarlah diikuti oleh orang orang yang tidak mempunyai pengertian. Kiranya
totokan jarinya itu ter-
Akan tetapi, dengan tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang melihatnya
dengan penuh kecemasan, kuda dan penunggangnya jatuh terguling
kesamping.

lampau keras, hingga nadi pembuluh darah sebelah kanan pecah karenanya. Dengan demikian maka tak
mungkin dapat dipulihkan kembali.
Mendengar jawaban Sujud serta melihat gerak geriknya yang tolol itu si pemuda menjadi
percaya.
— Sudahlah ! ! Lekas pergi ! ! Kusuruh mengganti kerugianku, juga kau tak akan mampu! ! ! Ia
membentak dan menggumam : — Masih untung kepalamu tak pecah terinjak oleh kudaku.
Cepat Sujud meninggalkan pemuda itu, dengan lagak ketakutan. Pergi menuju kepasar kota dan
segera memasuki sebuah warung makan. Kedua anak tadi disuruhnya makan sepuas puasnya. Alangkah
girangnya, setelah Sujud mengetahui bahwa kedua anak itu adalah Martiman dan Martinem.
Mereka saling berpelukan penuh rasa haru ……..
Tidak menduga bahwa akan berjumpa dikota Wirosari Dengan tangis terisak-isak Martiman
menceritakan, bahwa ibunya telah meninggal setengah tahun yang lalu. Dan kini mereka berdua kakak
beradik terlunta lunta sebagai anak yatim piatu dan menjadi pengemis. Tidak terasa pula pipi Sujud
basah pula oleh air mata yang meleleh karena penuh rasa haru demi mendengar cerita yang dialami
oleh Martiman dan Martinem berdua.
— Sudahlah, Man!! Tak usah kau selalu bersedih hati. Ikut saja kau berdua dengan aku. Akupun
hidup sebatang kara didunia ini ……. Kita senasib dan sependeritaan …… Nem, kau jangan rewel
diperjalanan nanti ya …… Jika nanti kau lelah akulah yang akan memondongmufl— Sujud berkata lemah
lembut untuk menghibur Martinem.
Kiranya tawaran itu sangat menggirangkan hati kedua anak tadi. Oleh Sujud mereka berdua
segera diberikan pakaian untuk ganti, karena pakaian yang mereka kenakan telah kumal cumal.
Setelah cukup kebutuhan yang diperlukan, mereka bertiga segera meningalkan pasar kota untuk
melanjutkan perjalanannya menuju kearah barat. Akan tetapi setelah mereka diperbatasan luar kota,
tiba-tiba Sujud mendengar derap langkah kaki kuda dari arah kejauhan.

Setelah makan buah daru seketi, Sujud memiliki perasaan yang sangat tajam. Denyut jantungnya
dirasakan sangat berdebar debar dan rasa cemas akan datangnya bahaya cepat meliputi dirinya.
--- Cepatlah, kau jalan lebih dahulu berdua Martinem. Man! Dan tunggulah didesa depan itu
sampai aku datang menyusulmu. Biarlah aku menghadang mereka yang tengah mendatang berkuda itu -
--
--- Tapi untuk apa, kau menghadang mereka, kang Sujud —
Sudahlah!! Jangan menabuang buang waktu!! Aku kuatir mereka akan datang mengganggu
kita!!—
Dengan tak mengulangi pertanyaannya. Martiman segera mentaati perintah Sujud. Ia
memondong Martinem sambil berlari lari kecil dengan rasa ketakutan. Sementara itu Sujud berjalan
biasa, akan tetapi dengan penuh kewaspadaan. Dan memang benar dugaan Sujud.
Tiga orang berkuda memacu kudanya masing masing. seakan akan berebut mendahului sampai
ditempat tujuan. Ternyata seorang diantaranya adalah pemuda yang tadi jatuh bergulingan dijalan.
— Hai, anak jembel! Berhenti zebentar! — serunya, setelah mereka dekat berada
.dibelakangnya Suljud segera berhenti ditepi jalan, sambil menengok kearah datangnya suara. Tiga
orang serentak turun dari kudanya dan mendekati Sujud yang berdiri dengan berlagak tolol.
— Inikah Den Mas Daksa, anaknya? — tanya satu diantaranya kepada si pemuda tadi.
— Ya, betul jawabnya singkat.
--- Tetapi cobalah akan kutanya ----kata seorang yang lain.
Sujud masih saja berdiri dengan lagak yang tolol mengawasi ketiga orang pendatang dengan
ternganga. Den Mas Daksa, demikian nama pemuda itu, adalah putra Panewu Wirosari yang sangat
terpandang dan disegani oleh para penduduk kota itu. Setelah tadi a tak dapat memotong kudanya
bangkitt, ia pulang ke Banjar Kapanewon dan bersama-sama dengan pengawal praja serta juru penegar
(perawat kuda) ia kembali ketempat dimana kudanya menggelimpang ditepi jalan. Setelah juru penegar
memeriksanya dengan teliti, kaki kuda sebelah depan ternyata lumpuh, karena terluka didalam.
Dengan susah payah juru penegar mengurut2 tulang kakinya, akan tetapi sia-sia belaka, karena
ternyata tulang2nya tak menderita apa2. Hanya pahanya sebeiah dalam semakin membengkak. Dengan
demikian teranglah, bahwa lukanya kuda itu bukan karena jatuh terpelanting, ataupun akibat jatuh
terkilir. Akan tetapi akibat serangan pukulan yang tak diketahui, bagaimana caranya. Namun jelas,
bahwa penyerang tadi tentu memiliki kepandaian. Timbullah kini kecurigaan akan kemungkinan adanya
serangan gelap.
Den Mas Daksa menduga, bahwa tentu ada orang lain yang menyerang, sewaktu Sujud
menyelamatkan anak kecil itu. Dan orang lain itu tentu kawan atau orang tuanya Sujud yang menyaru
sebagai penonton yang tadi banyak mengerumuninya. Maka dengan dikawal oleh dua orang
punggawanya Den Mas Daksa mencari Sujud untuk mendapatkan keterangan tentang orang yang berani
menyerang kudanya secara gelap.
— Anak jembel!. Siapa namamu? — tanya seorang dengan kasar. Orang itu tinggi besar dan
hitam warna kulitnya mukanya nampak bengis.
— Saya … Sujud !— jawabnya singkat sambil masih melongo, memperlihatkan ketololannya.
Sementara itu Den Mas Daksa mengawasi Sujud dengan penuh selidik dan sebentar-bentar saling
pandang dengan seorang punggawa disebelahnya yang tubuhnya pendek kokoh!!
— Sujud! — Dimana rumahmu ?—
Menghadapi pertanyaan ini, Sujud agak sukar juga untuk memberikan jawabannya. la terdiam
untuk memikir jawaban apa yang harus diberikan, agar mereka segera puas. Akan tetapi belum juga ia
sempat menjawab, orang yang bertanya telah membentaknya dengan kasar karena tak sabar: — Jawab
ccpat dimana rumahmu !?
— Dari Jepan — Nama desa itulah yang masih ia ingat, sebelum ia memasuki hutan Blora, maka
disebutnyalah sebagai jawaban, agar memuaskan mereka. Akan tetapi dengan jawaban itu malah
semakin menyulitkan baginya. Bertiga mereka saling berpandangan dengan sikap yang mencurigakan.
--- Apa ? ….. Dari Jepan, katamu tadi? Mana mungkin! Jepan itu sangat jauh dari sini, dan untuk
jalan memotong harus melalui hutan belukar yang sangat berbahaya. Ayo! Jangan bohong, jawab
dengan sebenarnyal. Kurangket jika kau membohong!----
Benar ! Memang saya dari desa Jepan!
--- Dengan siapa kau datang ke Wirosari?—
Kini kecurigaan ketiga orang itu terhadap Sujud semakin bertambah. Jika ia betul2 dari Jepan,
tentu tidak akan berjalan sendirian pikir mereka.
— Bohong bentaknya: — Ayo Iekas, tunjukkan siapa namamu?! Ataupun orang tuamu yang
datang bersamamu ke Wirosari. !—
— Aku tidak dusta ! Datangku kemari seorang diri !—
— Jika tidak mau mengaku, akan kuseret kembali kekota. Berkata demikian orang tinggi besar
itu sambil melangkah maju setindak dan mengulurkan tangannya untuk menangkap pergelangan tangan
Sujud yang sedang berdiri ter-longong2. Akan tetapi Sujud sekarang bukan Sujud pada setahun yang lalu.
Dengan pengalamannya yang penuh kepahitan, ia tak mau lagi dipermainkan orang. Ia ter-huyung2
kesamping kiri dengan membungkukkan badannya, sambil jari2nya memegang dan menotok kearah
ketiak kanan lawan yang terbuka.
Gerakan itu amat cepat dilakukannya, dan orang hanya melihat ia terhuyung-huyung seperti langkah
orang mabok yang tidak menentu. Dan akibatnya hebat sekali. Orang tinggi besar itu dengan tiba-tiba
ber-jingkrak2 sambil mengaduh kesakitan, karena tangannya kanan dirasakan lumpuh tak dapat
digerakkan lagi. Melihat kejadian yang aneh ini, Den Mas Daksa dan seorang pcngawal lainnya ternganga
heran dan saling pandang. Mereka belum percaya, bahwa temannya mendapat serangan dari seorang
anak tanggung yang kini berada dihadapannya.
Dilihatnya kanan kiri dan sekitarnya, barangkali ada orang lain yang turut campur tangan,
membantu Sujud dengan serangan rahasia secara sambitan ataupun cara Iainnya. Setelah nyata, bahwa
tidak ada orang lain yang bersembunyi, maka teranglah bahwa anak tanggung ini yang sedang
dihadapinya bukan merupakan anak biasa.

Mereka berdua segera serentak bersama-sama menyerang Sujud dengan pukulan dan
tendangan silih berganti. Namun kembali Sujud dengan gerakan langkahnya wuru shakti dapat dengan
mudah menghindari serangan, sehingga mereka selalu memukul tempat kosong. Seperti layaknya
seorang sedang mabok minuman, Sujud melangkah maju ter-huyung2 untuk kemudian meloncat
kesamping ataupun jatuh berjongkok seperti kera dengan kedua tangannya mengibas menangkis
serangan susulan yang mendatang.
Sifat keberanian yang dimiliki membuat ia ingin menguji dan membuktikan sendiri akan
kehebatan gerakan jurus2 wurusakti yang baru saja dipelajari dari kakek Dadung Ngawuk. Ia sengaja tak
mau menyerang lawan terlebih dahulu, sebelum mempermainkan lawan2nya yang ternyata hanya
mengandalkan ketangkasannya dan kekuatan tenaga yang wajar saja.
Sebagai seorang yang usianya masih muda, Den Mas Daksa mudah naik darah. Dengan penuh
nafsu ingin cepat meringkus lawannya, ia mambabi buta menyerang dengan pukulan2 dan tendangan-
tendangan kilat yang ber-tubi2, akan tetapi tidak pernah menyentuh sasarannya.
Semula mengira bahwa serangan2 yang selalu jatuh di-tempat kosong itu hanya suatu kebetulan
saja. Akan tetapi setelah mereka berdua berulang kali menyerang serentak dengan jurus2nya yang
mereka anggap sebagai jurus simpanan juga tak mampu merobohkan. Segeralah ia sadar, bahwa
lawannya anak tanggung ini memang memiliki kepandaian yang tidak dapat dipandang ringan. Hanya
saja karena mereka belum pernah mendapat balasan serangan, maka masih tetap mengira, bahwa
lawannya hanya pandai mengelak.
— Jika tak mau menyerah kubelenggu, akan kurobek perutmu nanti dengan golok ini ! — seru
Den Mas Daksa sambil menghunus goloknya dan Iangsung menyerang. Gerakannya cepat laksana kilat
menyambar. la meloncat kedepan satu langkah dengan membungkukkan badannya, sedang tangan
kanannya yang memegang golok menyerang kearah perut bujud dengan gerakan tusukan melintang dari
kiri kekanan.
Menghadapi serangan yang sangat ganas dan cepat itu, Sujud masih juga sempat ketawa seperti
orang setengah gila. Kiranya sifat2 kakek Dadung Ngawuk yang sinting itu kini dimiliki pula olehnya.
Sewaktu goloknya menyambar kurang setengah jengkal dari perutnya, ia menjatuhkan diri
kebelakang dengan ujung kakinya menendang siku lengan kanan Den Mas Daksa, dan dirangkaikan
dengan gerak berjumpalitan surut kebelakang. Itulah gerak langkah wuru shakti dengan jurusnya
„mabok berguling merampas senjata" yang sukar diduga sebelumnya.
Den Mas Daksa berseru terkejut dan dirasakan tulang tangannya seperti patah dan lumpuh
seketika. Goloknya terlepas dari genggaman dan terpental melambung tinggi, untuk kemudian jatuh
ditanah dalam jarak kurang dari sepuluh langkah. Sebenarnya siku-siku lengannya tadi bukan patah
tulang, akan tetapi hanya terkena syaraf penggeraknya saja, sehingga dirasakan amat sakit, tak ubahnya
seperti patah tulang.
Sebagai seorang yang cepat naik darah, Den Mas Daksa tak mau menyerah demikian saja.
Serangan yang gagal ditengah tengah masih juga dilanjutkan dengan rangkaian tendangan kaki silih
berganti, dan bersamaan dengan itu, seorang punggawa pembantunya telah pula menghunus
klewangnya serta membantu menerjang Sujud dengan serangan bacokan yang dahsyat. Namun kembali
lagi Sujud menghindari serangan dengan gerakan bergulingan kesamping kanan dengan cepat bangun
berjongkok serta meloncat seperti kera meloncati kepala dua orang lawannya untuk kemudian jatuh
berdiri dibelakang para penyerangnya didepan kuda yang sedang berdiri dengan meringkik-ringkik.
Sungguh suatu gerakan yang mentakjubkan bagi para penyerangnya. Mereka tak menduga, bahwa
lawannya seorang anak tanggung memiliki kesaktian yang demiksan tinggi.
— Anak siluman jahanam! — bentak punggawa yang bertubuh pendek dengan klewangnya
ditangan. — Rasakan babatan klewangku! Kepalamu akan menggelinding terpisah dari gembungmu!—
— Ha ha . . ha . haaaa! Menyembelih ayampun kau tak becus, apalagi akan memenggal leherku.
Ini . . . kalau mau memenggal? — Sujud ketawa terkekeh-kekeh mengejek lawannya sambil mengulurkan
lehernya yang pendek itu.

Dihina demikian, punggawa yang bersenjatakan klewang itu kelihatan lebih marah lagi. Mukanya
menjadi merah padam sampai diujung telinganya, dan matanya membelalak liar menahan rasa
dendamnya yang tak terhingga. Ia meloncat selangkah, sambil mengayunkan klewangnya dalam gerakan
bacokan yang disertai pengerahan tenaga penuh, karena kemarahan yang telah mencapai pada
puncaknya. Namun Sujud masih saja berdiri dengan ketawa terkekeh-kekeh dan kepalanya
mengangguk-angguk mengejek lawannya. Klewang berkelebat diatas kepalanya, seakan-akan tak ada
kemungkinan lagi untuk menghindari serangan yang kejam dan dahsyat itu. Tetapi dengan tidak
diketahui bagaimana caranya, Sujud telah berada dibalik kuda yang berdiri tadi. Bacokan klewang
mengenai tempat kosong, cepat dirobahnya mendiadi gerakan tebangan yang ternyata tepat mengenai
kedua kaki kuda belakang yang berdiri dihadapannya.
Tak ayal lagi kuda meringkik keras dan jatuh terkapar ditanah dengan kedua kaki belakangnya
buntung terkena sabetan klewang. Sedangkan kuda lainnya berjingkrakan lari meninggalkan tempat itu.
Punggawa itu segera meloncat surut kebelakang sambil berseru terkejut.
Ternyata pada waktu klewang tadi hampir jatuh tepat diatas kepala, Sujud menyelinap dan
menerobos dibawah perut kuda yang berdiri dibelakangnya, dengan demikian susulan rangkaian
serangan punggawa yang tak dapat ditarik kembali, tepat mengenai kuda yang menjadi penghalang
antara dia dan Sujud.
– Haaaa …. ha . haaaa … . ha ….. ha! Apa kataku? Kalian hanya bisa memotong kaki kudamu
sendiri yang tak berdosa! — Sujud berseru mengejek sambil ketawa nyaring.
Dipermainkan demikian punggawa itu menjadi lebih beringas dan kini ia menerjang dengan
klewangnya secara membabi buta. Sementara itu Den Mas Daksa telah lari mengejar kudanya yang
meninggalkan tuannya. Akhirnya dapat juga kuda itu dipegang, dan segera meloncat diatas pelana,
untuk kemudian meninggalkan teman2nya dengan tidak menghiraukan lagi. Tangannya masih juga
dirasakan sakit dan kaku tak dapat digerakkan.
— Sebentar aku akan kembali ! ! !. Teriaknya, sambil memacu kudanya. Dengan kecerdasan
otaknya Sujud segera dapat menangkap makudnya, bahwa Den Mas Daksa tentu kembali dengan
membawa bala bantuan. Dengan langkah2 ajaibnya seperti orang yang mabok, Sujud menyelinap kian
kemari diantara sinar klewang yang berkelebatan ber-gulung2 mengurung tubuhnya, Karena
menganggap telah cukup mempermainkan lawannya, serta yakin akan kehebatan gerakan ilmu wuru
sakti yang dipelajarinya kini Sujud bermaksud segera ingin mengakhiri pertarungan dengan cepat.
Sambil menyelinap dan menerobos dibawah ketiak lawan, jari jari Sujud yang telah ditegangkan
bergerak cepat menotok lambung lawan tepat bawah tulang rusuk. Tak ayal lagi punggawa itu roboh
terguling ditanah dengan jeritan tertahan. Nafasnya terasa sesak dan kemudian tak sadarkan diri.
Melihat temannya jatuh pingsan terguling ditanah, sipunggawa yang tinggi besar segera lari sambil
memegang lengan kanannya sendiri yang dirasakan masih sakit dan lumpuh.
Demikian pula Sujud, dengan tak menyia nyiakan waktu lagi segera melesat pergi, meninggalkan
tempat itu menuju kedesa dimana Martinem dan Martiman telah menunggu lama dengan penuh rasa
cemas.
Karena kuatir akan tersusul oleh datangnya Den Mas Daksa berserta kawan kawannya yang
belum diketahui jumlahnya, Sujud mempercepat jalannya dengan memondong Martinem dan diikuti
oleh Martiman menusupi jalan jalan desa dan sawah sawah menuju kearah barat.
Dugaan Sujud memang benar adanya. Tak lama kemudian Den Mas Daksa telah datang kembali
dengan membawa duabelas orang punggawa berkuda.
Mereka memasuki desa desa disekitarnya dimana pertempuran tadi terjadi untuk menangkap
Sujud. Ternyata Sujud tak dapat diketemukan. Untuk melampiaskan kemarahannya orang2 desa yang tak
mau membantu mencarinya dipukuli dengan cambuk dan ditendangi beramai ramai.
Setelah berjalan jauh dan merasa yakin sudah terhindar dari para pengejar. Sujud menurunkan
Martinem dari pondongannya, kemudian diajaknya berjalan sendiri sambil digandeng tangannya.
— Kang Sujud ! ! ! Mengapa tadi kakang lama sekali Dan bajumu kumal penuh debu ? — Apakah
kakang tadi disiksa oleh mereka ? — Martinem bertanya memecah kesunyian.
— Och, ……. mana mungkin mereka berani menyiksaku ? Jawab Sujud sambil membusungkan
dadanya. — Aku sampai lama menyusulmu sebab tadi aku harus menyaksikan mereka memotong kaki
kudanya sendiri ! !
— Dipotong sendiri, bagaimana kang ? Dan lagi mengapa bajumu sampai kotor sekali ?
— Dipotong sendiri ….. yah …. dipotong sendiri dengan klewangnya. Mungkin mereka butuh
daging kuda. Tadi saya mencoba minta dagingnya sedikit saja, ternyata mereka sangat pelit.
— Lalu kakang diapakan oleh mereka ?
— Yaah, …. mereka mau memukulku, tapi aku dengan cepat lari sambil memungut batu dan
segera kulempar kearahnya yang kebetulan tepat mengenai kepalanya seorang diantara mereka hingga
benyol. Lalu mereka lari semua, takut kalau akan kulempar batu lagi ! !
— Kau pandai membual kang ! !. Aku agak tak percaya dengan ceritamu itu ! !
— Tak percaya ya sudah ! ! Habis aku harus menjawab bagaimana ?
— Betul kok, kang Martiman ! ! Kang Sujud memang pandai sekali melempar. — Martinem
memotong bicara dengan logat kekanak kanakan yang sangat lucu. Kini mereka bertiga berjalan sambil
bersenda gurau dengan riangnya. Sebentar sebentar mereka tertawa terpingkal-pingkal karena masing2
senang bergurau dan melucu dengan sifat ke-kanak2annya.
Martinem dan Martiman merasakan betapa senangnya mereka ini mengikuti Sujud yang
membekal uang banyak. Mereka tak perlu lagi kuatir kelaparan dalam pengembaraannya, sebagaimana
telah dialaminya sewaktu mereka belum berjumpa dengan Sujud. Makanan apapun yang diinginkan
pasti akan dibelikan oleh Sujud, untuk dinikmati bersama-sama. Hanya permimaan untuk memakai
pakaian yang indah oleh Sujud selalu ditolak dengan kata-kata lemah lembut serta janji2, bahwa kelak
kalau telah sampai di Indramayu akan dibelikannya. Hal ini memang disengaja, karena mengingat
pengalamannya sendiri, sewaktu ia minggat dari Senapaten dulu. Bukankah dengan pakaian yang bagus
itu hanya akan menarik perhatian orang banyak? Serta akibatnya akan menimbulkan banyak kesulitan.
Lagi pula masih berapa lama untuk menempuh perjalanan sampai di Indramayu, ia sendiri juga tidak
dapat mengetahuinya.
Dengan mengaku, bahwa mereka bertiga adalah saudara sekandung yang hendak mengunjungi
pamannya yang kini tinggal jauh dari desa yang dilaluinya, banyak orang2 pedesan yang menaruh rasa
belas kasihan. Dan dengan demikian mereka tak sukar untuk mencari tempat menginap diwaktu malam
harinya. Disamping mendapat tempat untuk mengaso dan menginap, tidak jarang pula mereka
mendapatkan pemberian sajian berupa makanan dari para orang2 yang memberikan tempat bermalam.
Tiap kali ada kesempatan yang baik, ialah pada waktu sepi tak ter-lihat orang, Sujud selalu mengulang
melatih diri semua pelajaran2 yang pernah diterima dari kakek Dadung Ngawuk. la melakukan latihan2
itu biasanya pada waktu fajar atau senja ditengah2 tegalan ataupun dataran kosong yang dilalui dalam
perjalanannya. Karena geraknya selalu aneh dan sukar diikuti maka Martiman dan Martinem hanya
duduk menunggu didekatnya dengan mulut ternganga saja.
Mereka berdua tidak mengerti gerakan apa yang sedang dilakukan oleh Sujud. Seringkali
Martiman mengajukan pertanyaan mengenai perhuatan yang dilakukan oleh Sujud, akan tetapi selalu
dijawab oleh Sujud dengan bergurau saja. Dan akhirnya Martiman menjadi bosan sendirinya untuk
mengajukan pertanyaan2 yang sering kali ditanyakan, yang jawabannya tidak memuaskan hatinya
Martiman. yang diketahui oleh kedua arak itu hanya gerakan2 jari2nya yang mampu memecahkan batu
dengan totokannya. Hal ini sungguh membuat mereka berdua heran dan bangga. Sewaktu tengah
berjalanpun, Sujud seringkali dengan tiba2 meloncat tinggi meraih dahan pohon yang dijumpai dalam
perjalanan, dan kemudian bergantungan seperti kera didahan pohon itu. Sedangkan Martiman dan
adiknya hanya dapat ikut bergembira sambil bertepuk-tepuk tangan memuji akan ketangkasannya yang
mengagumkan itu.

*
**

B A G I A N: IV,
SETELAH mereka berjalan selama empat bulan, sambil menikmati keindahan alam yang
dijumpainya, kini mereka bertiga berjalan mengitari Gunung Slamet melalui selatan, dan tibalah didesa2
Kranggan, Bumiayu, dan Prupuk untuk kemudian menyeberangi kali Pemali menuju kekota Banjararja.
Sungguhpun waktu telah lewat senja, mereka tiba dikota Banjararja akan tetapi sinar lampu2
minyak penerang kota ternyata cukup terang menerangi hingga menambah semaraknya keindahan kuta
yang ramai itu.
Pada waktu itu memang baru ada keramaian dikota. Dialun-alun kebanjaran nampak jelas
adanya bangunan sebuah panggung yang luas yang biasa dipergunakan untuk pameran suatu
pertunjukan keramaian.
Panggung yang luasnya dalam bentuk segi panjang selebar sepuluh langkah dan panjangnya tak
kurang dari dua-puluh langkah itu, dibuat dengan papan kayu jati yang tebalnya kira-kira setengah
jengkal dengan tiang- tiangnya yang rapat serta kokoh kuat setinggi manusia berdiri.
Panggung itu merupakan panggung terbuka tak beratap, dan disekelilingnya dihias dengan janur
kuning serta diselang seling dengan pita2 sutra beraneka warna.
Serakit gamelan dengan para pemukulnya nampak pula berada diatas panggung, disudut
samping sebelah belakang.
Bangku-bangku panjang dengan meja-mejanya berderet-deret teratur rapih didepan panggung,
dan telah penuh pula dengan para tamu undangan.
Hanya dua baris bangku terdepanlah yang kelihatan masih kosong dan tak ada yang berani
menempatinya.
Jauh dibelakang para tamu undangan dengan batasnya kawat yang terpancang, dimana rakyat
yang menonton telah berjejal-jejal berdiri, dengan saling berebut untuk dapat berada didepan. Demikian
pula keadaan disekitarnya, samping kanan dan kiri panggung itu.
Didalam alun-alun yang luas itu, banyak pula warung-warung darurat yang berjualan makanan
serta ada pula yang menyediakan tempat-tempat untuk bermalam bagi para pengunjung dari jauh,
dengan penarikan biaya yang sangat rendah. Disamping warung-warung makan itu, masih banyak lagi
para pedagang kecil yang berjualan ditempat terbuka, seperti pakaian beraneka warna macam, mainan
kanak-kanak, buah-buahan dan lain-lainnya.Dan mereka menawarkan dagangannya dengan caranya
masing-masing, berebut untuk menarik perhatian para pengunyung yang berjejal-jejal itu, hingga
menambah riuhnya suasana.
Sambil menggandeng tangan Martinem yang tak henti-hentinya menanyakan semua yang
dilihatnya, dengan diikuti oleh Martiman disampingnya, Sujud berjalan ditengah-tengah orang yang
berjejal-jejal itu, untuk mencari sebuah warung dan tempat bermalam. Mengingat bekalnya yang kian
menipis, maka Sujud menuju kewarung yang sederhana disudut alun-alun yang tempatnya agak sepi.
Kebetulan warung itu menyediakan banyak tikar pula, untuk disewakan pada para pengunjung
yang ingin bermalam diwarungnya, dengan harga yang sangat rendah.
Pun pemilik warung itu ternyata seorang perempuan yang telah lanjut usianya dan sangat
peramah. Atas pesan Sujud, pemilik warung itu setelah menghidangkan makan bagi mereka bertiga,
segera menggelar tiga tikar di suatu ruangan yang bersih, serta mempersilahkan dengan ramahnya
untuk berkemas dan mengaso, sementara ia masih sibuk melayani tamu-tamtt yang lain.
Dari bibi pemilik warung yang ramah itu, Sujud mendapat keterangan bahwa keramaian yang
tengan berlangsung adalah perayaan pesta pernikahan dari anak putrinya Panewu Arjasuralaga yang
bernama Rara Tanjungsari. Adapun mempelai lelakinya berasal dari Kuningan, seorang pemuda
terpandang putra sulung dari Kyai Singa Yudha, guru shakti dalam ilmu kanuragan yang telah terkenal
Perguruannya dinamakan "BASKARA MIJIL" (Matahari terbit) dengan lambang kebesarannya
berlukiskan gambar matahari terbit dengan garis-garis sinarnya memenuhi separo lingkaran.
Sungguhpun perguruan Baskara Mijil itu belum lama didirikan, namun murid-muridnya telah cukup
banyak, dan pengaruh-nya telah tersebar luas.
Kiranya Panewu Arjasuralaga girang sekali mempunyai menantu yang tanpa dan memiliki ilmu
krida yudha yang dianggapnya cukup mengagumkan itu, sehingga untuk merayakan hari perkawinannya
diadakan keramaian lima hari lima malam, juga akan diadakan lomba olah kanuragan untuk
memperebutkan gelar kejuaraan daerah Banjararja dengan hadiah-hadiahnya yang berharga, berupa
sejumlah uang emas dan pakaian, serta pemenangnya akan diangkat menjadi lurah narapraja, pengawal
pribadi Penewu Arjasuralaga.
Hal ini tidak mengherankan, karena sebelum ia menjabat sebagai Penewu Narapraja di
Banjararja, ia sendiri adalah seorang tamtama di kota Raja. Dan kiranya oleh kanuragan masih selalu
merupakan kegemarannya. Semenjak Penewu Arjasuralaga menjabat sebagai kepala narapraja di
Kebanjaran Banyararja, baru kali inilah diadakan keramaian yang semeriah itu.
Keramaian itu telah berlangsung satu hari semalam, dengan mendapat perhatian yang sangat
besar dari para tamu undangan maupun rakyat biasa yang menyaksikannya.
Dan keramaian pada malam ini adalah malam yang kedua dengan acara pertunjukkan senitari
dari daerah Kuningan berupa tari kelana topeng, dan dilanjutkau dengan wayang golek siang harinya.
Kita mengaso dulu sebentar, Nem!. Besok pagi saja, kalau sudah hilang lelah kita, kau tentu akan
kuantar melihatnya! -- Sujud menjawab dengan suara lemah untuk menghibur.
— Sekarang saja, kang Sujud. Besok tentu sudah bubar Martinem mendesak dengan merengek-
rengek.
— Nem, kau jangan rewel saja! Keramaian itu masih akan berlangsung sampai ampat hari Iagi,
jadi tak usah kuatir untuk tidak kebagian melihat! ….. Sudahlah…. lebih baik sekarang mengaso dulu! —
Dengan tak sabar Martiman memotong pembicaraan, demi menegur adiknya.

Jilid 2

BAGIAN I
DITEGUR KAKAKNYA secara demikian, Martinem malah semakin menangis terisak-isak, sambil bicara
dengan kata-katanya yang terputus-putus.
— Aku . . . tak mau tidur ….. Aku pergi ….. sendirian . . . Biar tak diantar . . . . aku ... berani …..
— Jangan menangis, Nem!. Turutilah nasehat kakakmu. Besok kita bersama-sama pergi nonton
wayang golek, dan untukmu akan kubelikan mainan katak-katakan yang bisa berbunyi nyaring itu …..
atau payung kecil biar kalau kau berjalan tidak kepanasan. — Sujud menghiburnya serta bangkit
berjongkok sambil membelai rambut Martinem.
Akan tetapi semua kata-katanya itu seakan-akan tak didengarnya sama sekali, dan Martinem
masih saja terus menangis ter-isak isak, sambil bicara —Tidak …… aku mau pergi ….. sekarang …..
sendirian …..---
Martiman telah tak sabar lagi mendengar rengekan adiknya itu. Sambil bangkit berdiri, ia
membentak2 kasar. — Memang dasar anak bandel! Sekali tidak, tetap tidak! Tahu! Jika kau tetap bandel
akan kujewer telingamu. —
Isak tangisnya Martinem bukannya mereda, akan tetapi bahkan bertambah keras, hingga bibi
pemilik warung itu menjenguknya sebentar sambil menghibur dengan lemah lembut. Namun Martinem
tetap menangis juga.
— Sudahlah. Nem! Jangan menangis! Asalkan kau berjanji akan melihat sebentar, akan
kuantarkan sekarang. — Tiba.-tiba Sujud berkata menyanggupi. Kiranya ia sangat kasihan demi melihat
Martinem menangis tersedu sedan itu Seketika itu juga setelah mendengar kesanggupan Sujud
tangisnya berhenti. Sambil mengusapi air mata yang membasahi muka dengan lengannya, Martinem
bangkit untuk membetulkan pakaiannya, sementara Sujud mengikat kantong kulitnya dengan ikat
pinggangnya erat-erat dipinggangnya.
— Man, kau mau ikut atau tidak?. Jika sekiranya lelah, tinggal saja disini. Aku akan mengantar
adikmu sebentar, biar tak rewel lagi! ---
--- Ach ….. aku ikut pergi kang Sujud. Tak enak untuk tinggal sendirian. —
Dan sebentar kemudian mereka bertiga telah berada ditengah tengah orang yang berjejal jejal
mendekati panggung, dimana akan diadakan pertunjukkan keramaian.
Dengan Martinem dipundaknya serta Martiman disisinya sambil memegang erat2 pada ikat
pinggangnya, Sujud mendesak orang2 yang sedang berjejal jejal itu, untuk lebih mendekat didepan
panggung. Bentakan dan makian orang2 yang terinjak oleh kakinya, tidak dihiraukan sama sekali.
Ia merasa lega dan bersenyum puas setelah berhasil berdiri didepan sendiri, hingga menempel
pada kawat yang terpentang sebagai batas antara tamu2 undangan yang duduk berderet2 didepannya.
Suara gamelan bertalu-talu memekakkan telinga, namun pertunjukkan tari2an memang belum dimulai.
Sedangkan orang ber-jejal2 padat berdesak, suaranya gemerunggung seperti lebah disarangnya.
Martiman dan Martinem tak henti2nya bersenyum kagum melihat keindahan pakaian para tamu
undangan yang ber-aneka warna dan serba mewah itu, seakan2 para tamu undangan itu saling berebut
perhatian akan pakaian yang dikenakan. Ada yang berbaju sutra warna merah dengan kancing2nya
mutiara, dan ada yang berbaju sutra biru dengan kelat bahu bertatahkan ular naga terbuat dari emas
murni, dan ada pula yang memakai sisir mas clengan bermata batu berlian diatas kepalanya seperti
mahkota.
Sedangkan para tamu undangan wanita kesemuanya memakai perhiasan yang serba
bermatakan berlian. Hidangan makanan untuk para tamu2 undangan mengalir terus tak ada putusnya,
membuat kepinginnya rakyat yang berjejal2 berdiri melihatnya. Melihat pesta semacam itu, Sujud
teringat kembali akan masa kehidupannya sendiri, sewaktu mengikuti Senapati Indra Sambada. Tiap2
ada perayaan, ia tentu diperkenankan ikut serta, dan selalu mendapat penghormatan yang istimewa
pula. Betapa tidak! Indra Sambada yang mengaku sebagai kakak angkatnya adalah seorang Senapati
Manggala Pengawal Raja, yang disegani dan disanjung2 oleh segenap priyagung di Kota Raja. ( baca Seri
Pendekar Majapahit )
Tetapi kini Sujud dianggapnya sebagai anak jelata, yang tak dikenal oleh orang2 yang berpesta
pora itu. Seorangpun tak ada yang menegur ataupun memperhatikannya. Dan ini semua adalah
kesalahannya sendiri yang telah disengaja. Ia memperhatikan wajah2 para tamu undangan satu demi
satu yang dapat dilihatnya, barangkali saja ada yang pernah dikenalnya. Akan tetapi kiranya sia2 belaka.
Para tamu2 yang berada jauh dari padanya sukar untuk diteliti satu persatu.
Tiba2 suara gamelan bertalu lebih keras dan nyaring. Dan para penyambut tamu undangan
berdiri tegak berjajar didepan panggung dengan pakaian seragam sebagai punggawa narapraja. Seorang
tinggi besar dengan jenggotnya yang lebat, berjubah merah dengan gambar sulaman matahari terbit
didadanya berwarna kuning keemasan dan diiringkan oleh empat puluh pemuda berbaju sutra hijau
dengan tanda gambar yang sama didadanya masing2, telah datang dari arah gedung Kebanjaran menuju
kederetan bangku2 terdepan yang masih kosong itu, yang memang di sediakan untuknya.
Itulah orang gagah yang terkenal shakti, Kyai Singayudha, pemimpin dan pendiri perguruan ilmu
kanuragan "BASKARA MIJIL", diiringkan oleh para murid2nya yang masing2 bersenjatakan klewang,
tergantung dipinggangnya. Ia berjalan melangkahkan kakinya dengan tenang seakan-akan mengikuti
irama suara gamelan sambil mengangguk - anggukkan kepalanya dengan diiringi senyuman kearah para
tamu yang serentak berdiri menyambut kedatangannya.
Panewu Arjasuralaga dalam pakaian kebesarannya sebagai Narapraja beserta isterinya berkenan
menyambutnya sendiri atas kedatangannya tamu ayah menantunya yang ia banggakan itu. Dengan serta
merta Panewu Arjaswalaga suami isteri mempersilahkan Kyai Singayudha duduk ditempat terdepan
yang telah disediakan, dekat berjajar dengannya.
Sementara para tamu telah duduk kembali ditempat masing2. Para murid Baskara Mijil masing2
mengambil tempat duduk dibaris kedua, berjajar dibelakang Kyai Singayudha. Suara tepukan tangan tiga
kali terdengar nyaring, dan kini gamelan berhenti seketika.
Seorang pengacara dengan memamerkan ketangkasannya melayang dengan satu loncatan naik
dipanggung. Orangnya masih muda dan tegap perkasa. Ia mengenakan pakaian kebesaran lengkap
sebagai Lurah Tamtama Kerajaan. Ia adalah adik kandung dari Panewu Arjasuralaga, yang menjabat
lurah tamtama di Kerajaan di Kota Raja. Ialah yang dibanggakan selalu oleh kakaknya dengan
pengharapan agar kelak dapat menggantikan kedudukannya sebagai Panewu Kepala Daerah Kebanjaran
Banjararja. Kini ia diserahi tugas sebagai pengacara untuk mewakilinya menyambut para tamu2 yang di
undang. Perhatian para tamu dan orang2 yang menyaksikan keramaian itu kini tertuju kepada Lurah
Tamtama Arjarempaka si pengacara.
Dengan senyuman yang dibuat - buatnya sambil mengangguk2kan kepalanya kepada para tamu,
ia berbicara lantang dalam kata bahasanya yang lancar.
Dengan singkat dan jelas ia sebagai wakil tuan rumah, menyampaikan terima kasihnya akan
kehadiran para tamu yang akan menyaksikan pertunjukan kesenian pada malam ini. Dan berulang kali ia
mengucapkan kata2 sanjungannya, penuh rasa kebanggaan demi mengangkat nama kebesaran Kyai
Singayudha, sebagai tamu kehormatannya.
Ia tak lupa pula mengutarakan, bahwa pertunjukan yang diselenggarakan pada malam ini adalah
sumbangan dari perguruan Baskara Mijil.
Tepuk tangan para hadirin segera terdengar gegap gempita, setelah pengacara selesai berbicara
dan melayang turun dari panggung. Suara gamelanpun segera terdengar ber-talu2 kembali.
Martinem yang duduk dipundak kiri Sujud turut pula bertepuk tangan sambil berseru
kegirangan, tanpa menghiraukan teguran Martiman yang selalu melarangnya, karena takut mengganggu
orang2 sekitarnya. Tak lama kemudian, muncul seorang gadis remaja yang cantik jelita dalam pakaian
wayang yang indah, duduk bersila diatas panggung, dan menyembah, setelah mana mengenakan topeng
yang berwajah priya yang telah berada dipangkuannya. Dengan diiringi suara gamelan, ia menari-nari
dengan gerak geriknya tarian seorang priya. Gerakannya tangkas dan gagah. Tarian yang
menggambarkan kegagahan seorang perwira yang sedang mengenakan pakaian tamtamanya untuk siap
maju kemedan laga ……
Suara gamelan seirama dengan lantangnya kendang, namun tepat mengikuti gerakan tariannya
yang gagah dan mempersonakan. Tangan kirinya bertolak pinggang sambil menggerak2kan sampur
dengan jari2nya yang halus dan runcing, sedangkan tangan kanannya mengepal dengan ibu jari
menunjuk kearah mulutnya sambil melagak lagak, mengikuti suara tawa bergelak-gelak dari ki Dalang,
yang diiringi dengan suara gamelan serta kendang, seirama dengan gayanya penari.
Sambil memukul gamelan, para penabuh bersorak sorak mengikuti irama gending, menambah
meriahnya suasana. Dengan langkahnya yang bergaya, kini penari kelana topeng berjalan berputaran
diatas panggung. Para tamu asyik terpaku melihat gerakannya. Sungguh merupakan tarian yang indah
dan mengesankan. Suatu seni tari daerah yang bernilai tinggi.
Sebentar - bentar para tamu bertepuk tangan, memuji akan keindahan tariannya. Dan tak henti-
hentinya para tamu dan pengunjung lainnya menyatakan kekagumannya akan kelincahan dan
kegagahannya si penari, yang bukan lain adalah seorang gadis remaja yang cantik jelita tadi.
Dengan gayanya yang lemah gemulai, kini si penari duduk bersila kembali dan membuka
topengnya, untuk kemudian menyembah kepada para tamu sambil menundukkan kepalanya suatu
tanda bahwa tarian topeng yang dipentaskan telah berakhir, dan gamelanpun mengikuti berhenti
bertalu.
Kembali suara tepuk tangan tendengar gegap gempita, memekakkan telinga susul menyusul tak
henti-hentinya. Martinem tak ketinggalan turut pula bersorak. Ternyata tarian daerah yang
disumbangkan oleh perguruan Baskara Mijil dapat memikat hati para tamu2 pengunjung, dan
menambah keharuman nama perguruan yang telah terkenal itu.
Menyusul kini „tari topeng perang" ciptaan Kyai Singayudha sendiri. Suara gamelan dengan
2
gending nya, yang berirama pelan, dengan diiringi tiupan suling yang bernada tinggi mengalun
melengking, menyayat nyayat hati pendengarnya. Seorang dara lain, berpakaian wayang seperti seorang
ksatria dengan mengenakan keris dipinggangnya, berjalan dengan penuh gaya lemah gemulai mengikuti
irama gamelan. Selang lima langkah, dengan gaya tariannya yang indah, ia mulai mengenakan
topengnya yang melukiskan wajah seorang ksatria yang memiliki budi pekerti yang halus serta luhur.
Tarian itu menggambarkan sewaktu Sang Arjuna sedang berduka dan berkelana ditengah hutan. Tak
lama kemudian, irama gamelan berobah menjadi lebih cepat bertalu, dan suara kendang terdengar
lantang kembali. Disusul munculnya seekor harimau gembong dengan loacatan yang tangkas, dan jatuh
berdiri diatas empat kakinya didepan Sang Arjuna. Gerakan loncatannya sangat indah dengan tak
meninggalkan irama gamelan dan kendang yang berbunyi mengumandang.
Kiranya kulit harimau itu hanya terbuat dari bahan kain yang tebal dan dilukis dengan cat, tak
ubahnya seperti harimau sungguh-sungguh. Kepalanya terbuat dari bahan kardus dengan kumis-
kumisnya dari ijuk yang dicat putih, mengkilat, seakan-akan merupakan harimau yang ganas siap untuk
menerkam mangsanya. la diperankan oleh seorang priya yang berada didalamnya. Kepalanya
menggeleng2 mengikuti suara auma dalang dan diiringi oleh suara tepukan kendang dan gamelan.
Para penonton diam tak berkedip, sambil membuka telinganya lebar-lebar mendengarkan ki
dalang yang sedang bercerita dengan masih diiringi oleh suara gamelan yang mengalun pelan ….
Tiba-tiba gamelan bertalu2 dengan irama yang ramai, dan suara tepukan kending terdengar
Iantang serta cepat. Harimau meloncat kedepan dengan gaya terkaman, melintasi diatas kepala Sang
Arjuna, yang dengan tangkasnya mengelak, menundukkan badannya dalam gerak tarian yang sangat
indah mengikuti suara irama gamelan. Harimau jatuh bergulingan dibelakang Sang Arjuna, dan suara
kendang pun mengikuti laksana genderang bertalu. Semua berseru kagum akan ketangkasan dan
indahnya tarian perang ini. Jelas bahwa orang yang memegang peranan sebagai harimau, memiliki ilmu
kanuragan yang cukup mentakjubkan.
Sang Arjuna kini menghunus kerisnya dan menari-nari dengan gajanya yang indah sambil
menggenggam keris terhunus ditangan kanannya. Sementara itu harimau menggerak2kan kakinya
sambil menggeliat, mengikuti suara gamelan. Kini pertarungan menjadi lebih seru lagi, namun tetap
dalam gaya tarian yang diiringi suara gamelan dengan irama2 yang sesuai dengan selera gaya tariannya.
Tari pertarungan itu berachir dengan kemenangan dipihak Sang Arjuna, sedangkan harimau yang
tertusuk oleh keris pusaka Sang Arjuna, mati seketika dan menjelma menjadi Batara Kamajaya.
Tepuk tangan dan sorak sorai para penonton, terdengar lebih riuh lagi, setelah tari topeng itu
berachir. Kiranya tarian yang demikian indah, tak pernah disaksikan sebelumnya oleh para penonton.
Dan memang baru kali inilah tari perang topeng ciptaan Kyai ingayuha dipentaskan.
Tari topeng telah berakhir, dan acara dilanjutkan dengan pertunjukan wayang golek yang akan
berlangsung hingga esok siang hari. Wayang golek adalah pertunjukan yang digemari oleh segenap
lapisan rakyat didaerah ilu. Sementara wayang2nya diatur dan alat-alatnya dipersiapkan, gamelan masih
tetap terus mengumandang bertalu talu.
Diantara para tamu banyak pula yang mengundurkan diri untuk beristirahat karena masih ingin
menyaksikan kerarnaian2 pada malam2 berikutnya.
— Nem, ayo kita pulang kepenginapan!! Aku telah lelah dan mengantuk. — Sujud berkata, pada
Martinem.
— Sebentar lagi, kang Sujud ! ! Aku belum ngantuk. Jawab Martinem dengan masih duduk
dipundak Sujud.
— Ayo, ….. kita tinggalkan Martinem disini sendiri, kang Sujud ! ! Biar ia puas melihat wayang
golek sendirian sampai, esok siang !!! Martiman memotong bicara dengan nada marah.
-- Man, kau jangan selalu memarahi adikmu. Ajo, Nem kita pulang dulu, besok pagi kita nonton
lagi. Sambil membeli mainan yang kujanjikan tadi, Sujud berkata lembut.
— Tapi, besok pagi kita pergi lagi melihat lho, kang ! Jangan bohong ! ! !. Martinem menjawab,
manja.
— Yaaa . . . Besok pagi kita pasti nonton lagi ! !. Ayo . . .kita pulang sekarang dan jangan rewel
lagi …… —
Mereka bertiga berjalan bergandengan menuju kewarung tempat mereka bermalam. Waktu itu
belum lewat tengah malam, namun mereka bertiga telah merasa lelah dan mengantuk, karena siang tadi
habis menempuh perjalanan jauh baginya.

*
**

— Man, kau serta adikmu tentunya capai sekali malam ini, Sujud berjongkok diatas tikar sambil
bicara dengan Martiman yang sedang rebah berbaring. Sedangkan Martinem sudah tidur pulas
disebelahnya. — Maka kau tinggal saja disini mengaso, sambil menunggu adikmu … ---
Apakah kang Sujud mau nonton lagi sekarang ? Tanya Martiman demi mendengar perkataan
Sujud.
— Yah, betul!! Aku akan pergi nonton sebentar. Aku kira pertunjukan malam ini kurang menarik
untuk dilihat oleh anak2 kecil. Maka sebaiknya kau tinggal disini sambil mengaso saja. Tak lama lagi
akupun tentu sudah kembali. Hati2lah jaga adikmu. Jika nanti ia terbangun jangan hendaknya kau
bentak2. Dan ini kantongku supaya kau rawat baik2 jangan sampai hilang. Atau sebaiknya kuikatkan
dipinggangmu. Kau tahu sendiri, bahwa dalam kantong ini berisi barang2 berharga dan uang untuk bekal
kita dalam perjalanan. — Berkata demikian Sujud melepaskan tali ikat pinggangnya dimana kantong kulit
itu tergantung, yang segera disambut oleh Martiman setelah ia bangkit berjongkok didepannya.
— Akupun dapat mengikatkan sendiri, kang Sujud! — Dan dengan rapihnya Martiman mengikat
kantong kulit itu dipinggangnya sendiri dengan tali ikat pinggang Sujud.
— Tapi, betul ya kang, jangan lama2 pergimu ….—
— Tak usah kau kuatir. — Jawabnya. — Dan nanti kalau adikmu terbangun dan minta makanan,
belikan saja diwarung, apa yang dikehendakinya dengan uang yang ada dikantong itu.
Tanpa menunggu jawaban. Sujud bangkit berdiri serta meninggalkan Martiman dan Martinem,
untuk menuju ke panggung pertunjukan yang dekat letaknya dengan tempat mereka bermalam.
Namun masih juga terdengar suara Martiman lapat2, Kang Sujud, jangan lama2 pergi.
Sebagai anak pemuda tanggung, pertunjukan malam ini memang sangat menarik bagi Sujud.
Sejak hari kemarin ia sebenarnya telah menanti2 saat dimulainya pertunjukan olah kanuragan, walaupun
semasa ia tinggal di Senapaten Kota Raja sering melihatnya. Kiranya bukan ia saja yang gemar akan
pertunjukan semacam itu. Ternyata orang2 telah berjejal berdesakan untuk dapat melihat dengan jelas.
— Wah terlambat datangku — pikir Sujud. Setapak demi setapak ia mendesak maju, hingga
achirnya ia dapat berdiri didepan seperti waktu kemarin. Kini ia tidak lagi memperhatikan tamu2
undangan yang duduk berderet2 didepannya. Pandangan dan perhatiannya langsung ditujukan
kepanggung, dimana empat orang pemuda dengan pakaiannya serba hijau terbuat dari sutra, dengan
masing2 memakai tanda lambang kebesaran perguruan "Baskara Mijil" didada kirinya, sedang bertarung
memamerkan ketangkasannya dengan diiringi oleh suara gamelan. Gerakan jurus2 pukulan, tendangan
dan tangkisannya sedemikian indah, hingga lebih banyak menyerupai tarian daripada olah krida yudha.
Ya, memang ini adalah gerakan jurus kembang2 ciptaan perguruan Baskara Mijil yang dititik beratkan
pada keindahan gerakan yang disesuaikan dengan irama gamelan.
Keempat pemuda murid Kyai Singayudha yang sedang berada diatas panggung itu, silih berganti
menyerang dan mengelak dengan gaya gerakannya yang ,kadang2 sangat lambat, dan tiba2 berobah
menjadi lebih cepat, namun semua gerakannya tak meninggalkan irama suara gamelan. Tendangan kaki
dan gerakan sampokannya selalu diiringi dengan tepukan kendang dan bunyinya gong. Bila dua orang
melontarkan serangan, maka dua orang lainnya menghadapi dengan tangkisan ataupun mengelak
dengan gerakan yang penuh bergaya. Tiba2 suara tepukan kendang terdengar lantang dan cepat.
Dan bersamaan dengan irama gamelan yang lebih cepat itu, dua bilah klewang meluncur kearah
mereka yang sedang bersilat. Dengan tangkas dan penuh gaya, meluncurnya klewang disambut dengan
tangkapan tangan kanan masing2 dari dua pemuda yang sedang bersilat itu, dan tepat tertangkap pada
gagangnya. Tepuk tangan dan sorak sorai pujian dari para penonton terdengar riuh ramai. Dan dua
pemuda itupun segera bersenyum menyambut pujian yang tertuju padanya, Ternyata dua bilah klewang
itu dilemparkan oleh dua orang temannya yang duduk dideretan terdepan, atas perintah gurunya. Kini
pertunjukan pertarungan dengan jurus kembang2 masih terus berlangsung, dengan dua orang
bersenjatakan klewang menghadapi dua orang bertangan kosong. Tak lama kemudian dua klewang
serentak dapat terampas oleh yang bertangan kosong dan kini bergantian yang bersenjatakan klewang.
Suara gamelan bertalu talu dan tepukan kendangpun terdengar cepat dan nyaring, mengiringi gerakan2
jurus2 serangan klewang yang bertubi-tubi dengan cepatnya. Serangan klewang yang berobah-robah
gerakannya, merupakan sinar putih yang bergulung-gulung menyelubungi tubuh lawan yang
dihadapinya. Tusukan, sabetan dan babatan klewang yang cepat itu, diikuti oleh lawannya dengan
gerakan yang indah dan tangkas untuk menghindari serangan. Dan kembali lagi kedua belah klewang
dengan cepatnya berpindah ditangan lawan yang tadinya bertangan kosong. Dan orang2 yang
menyaksikan bersorak sorai memuji ketangkasannya.
Tetapi, tiba2 terdengar suara nyaring dengan nada ejekan: — Permainan anak kecil.—
Semua orang berpaling kearalt datangnya suara, dan suasana seketika menjadi, sepi dan tegang.
Sementara itu terdengar tepukan tangan tiga kali dan suara gamelanpun segera berhenti. Seorang
pemuda lalu yang memakai pakaian seragam sebagai murid Kyai Singayudha meloncat naik keatas
panggung. Sedangkan empat orang pemuda yang sedang bersilat tadi segera menghentikan gerakannya
dan berdiri berjajar dibelakangnya Dengan senyum yang dibuat-buat pemuda tadi …… menganggukan
kepalanya kepada para penonton setelah mana ia bicara dengan nada yang tajam sekali — Tuan2 yang
terhormat. Sekiranya ada yang kurang puas akan hidangan pertunjukan kami ini, sudilah naik ke atas
panggung untuk memberikan petunjuk2 yang sangat bagi perguruan Basskara Mijil. Dengan senang hati,
kami bersedia menerima petunjuk2 Tian yang akan menambah pengalaman kami untuk mana kami
ucapkan banyak terima kasih. —
Ucapan seorang pemuda, murid Baskara Mijil yang sangat sopan itu, jelas merupakan tantangan
bagi orang yang baru saja berseru menghina pertunjukan tadi. Dan semua penonton menunggu dengan
hati yang berdebar - debar akan munculnya seorang yang dimaksud.
Tiba2 sebatang golok panjang meluncur laksana sambaran kilat, dan tertancap hampir
seluruhnya diatas panggung, tepat didepannya seorang pemuda yang berbicara tadi.
Hanya gagang dan sebagian dari mata golok itu yang kelihatan masih bergetar. Dan sesaat
kemudian disusul berkelebatnya bayangan yang melayang naik keatas panggung dengan satu loncatan
yang cukup mengagumkan.
Orang itu masih muda dan berusia 25 tahun, sebaya dengan pemuda pamong murid perguruan
Baskara Mijil yang kini berada dihadapannya.
Ia mengenakan pakaian serba hitam dari bahan tenunan rakyat biasa, dengan kain sarung warna
merah yang dilipatkan dan dipinggangnya sebelah kiri tergantung sarung tempat golok panjang yang
ternyata telah kosong. Sepasang alisnya tebal dan bertemu pangkai. Sinar pandangan matanya tajam
berkilat. Rambutnya gondrong tanpa ikat kepala dan raut mukanya persegi dengan warna kulitnya yang
kehitam-hitaman. Urat urat dilehernya yang pendek itu kelihatan menonjol. Bentuk tubuhnya kokoh
kekar dengan tingginya yang sedang. la berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang sambil menunjuk
kearah pemuda yang dihadapannya dengan jari telunjuk tangan kanan.
Lain halnya dengan seorang pemucla yang berada dihadapannya. la bertubuh langsing tetapi
padat berisi. urat-uratnya kelihatan melingkar2 dikedua lengannya. Wajahnya memancarkan sinar
ketenangan dengan warna kulitnya yang kekuning2an serta bersih. Rambutnya hitam terurai sampai
dipundaknya dan tersisir rapih. Ikat kepalanya seutas sutra warna merah selebar dua jari, diikat erat2
diatas tengkuknya.
Sedang para penonton masih berdebar-debar rnenyaksikan adegan yang tegang itu, sipemuda
muridnya Kyai Singayudha cepat membungkukkan badannya serta mencabut golok panjang yang
tertancap dihadapannya hanya dengan menggunakan japitan ibu jari dengan telunjuknya tangan
kanannya, untuk kemudian diangsurkan kepada pemuda yang sedang berdiri dihadapannya dengan
bertolak pinggang, yang ternyata adalah pemilik dari golok panjang itu.
Melihat cara mencabut golok yang tertancap hampir seluruhnya dipapan kaju jati yang sekeras
itu, hanya dengan mengunakan jepitan ibu jari dengan telunjuknya saja sudah dapat diterka bahwa
pemuda pamong murid Kyai Singayudha terang memiliki tenaga dalam yang tidak dapat dipandang
ringan.
Dan para penonton kembali dibuat ternganga lebar olehnya. Lebih-lebih bagi mereka yang tidak
mengerti mengenai ilmu kanuragan. Tanpa berkedip Sujud mencurahkan perhatiannya kearah adegan
yang tegang itu. Rasanya ingin ia melihat lebih dekat lagi, agar dapat mengikuti dengan jelas.
— Tuankah, yang mewakili suara gelap tadi?. Ingin kami mengetahui lebih dahulu nama dan
gelar Tuan, sebelum memberikan petunjuk2 yang berharga bagi kami. Murid Kyai Singayudha berkata
memecah kesunyian dengan suara lantang yang diiringi dengan senyuman mengejek.
— Apa ?! Aku tidak mewakili siapapun!— Hadirku dipanggung ini tidak ada sangkut pautnya
dengan suara gelap tadi. Aku hanya semata-mata melayani tantanganmu yang sombong itu, yang baru
saja kau ucapkan.
Dan aku adalah seorang rakyat biasa yang tak mempunyai gelar• Namaku Talang Pati. - Jawab
pemuda lawannya dengan tak kalah lantangnya.
Mendengar kata jawaban yang tegas dari Talang Pati itu, Braja Semanclang tersentak heran,
hingga ia melangkah surut kebelakang satu tindak. Dugaan bahwa Talang Pati adalah orang yang
mengeluarkan suara gelap yang berisi kata2 hinaan ataupun mewakili orang yang menghinanya ternyata
tidak benar.
Kini Braja Semandang, demikianlah nama pemuda pamong murid dari Baskara Mijil itu, dan
memang semua dari perguruan Baskara Mijil memakai nama awalan Braja, tindakannya penuh
keraguan.
Ia memalingkan kepalanya sesaat kepada Singayudha gurunya yang duduk dideretan terdepan,
untuk minta pertimbangan. Singayudha menyibakkan lengan jubahnya, sebagai isyarat jawaban, dan
tahulah bahwa maksud gurunya terserah akan kebijaksanaan Braja Semandang sendiri.
— Saudara Talang Pati! Jangan hendaknya salah terka!? Tantanganku hanya aku tujukan kepada
orang yang menghina perguruan kami dimuka umum. Kami tidak bermaksud untuk bermusuhan dengan
siapapun juga tanpa alasan.
— Tetapi, bukankah ucapanmu yang penuh kesombongan tadi, sengaja untuk menghina semua.
penonton? Apakah kau kira, bahwa semua orang jeri mendengar nama Baskara Mijil?! Ketahuilah,
bahwa sekalipun gurumu yang naik dipanggung, aku tidak akan gentar menghadapinya. —
Kata2 ini tajam bukan kepalang. Mukanya yang kekuning kuningan mendadak sontak berobah
menjadi merah padam, hingga ujung daun telinga Braja Semnandang serta matanya kelihatan merah
menyala tak mampu menerima penghinaan yang menyinggung nama kebesaran gurunya. Badannya
terasa menggigil bergetar menahan kemarahan yang meluap-luap. Jari-jari kedua belah tangannya
meremas remas.
Dengan suara parau dan gopoh ia bicara dengan nada bentakan. — Keparat Talang Pati! Tak
usah kau menyinggung nama guruku! Aku Braja Semandang sanggup untuk menghajar mulutmu yang
lancang! — Kata-kata itu diiringi dengan gerakan secepat kilat menghunus klewang dipinggangnya, dan
langsung menyerang lawan dengan suatu loacatan kedepan dalam jurus tusukan maut. Tangan kirinya
dengan jari-jarinya terbuka dengan diangkat keatas agak kebelakang mengikuti gerakan sebagai
imbangan badan, dengan kakinya terbentang lebar. Para penonton banyak menjerit ngeri demi melihat
serangan yang ganas serta tiba-tiba itu. Dan diantaranya banyak pula yang cepat-cepat berlalu
meninggalkan alun-alun, karena takut akan meluaskan keributan.
Sujud semakin tertarik akan pertarungan yang sungguh2, yang kini tengah berlangsung. Tanpa
disadarinya ia telah menerobos, batas tali kawat yang terpentang, dan berdiri lebih dekat. Sementara itu
orang-orang tak berjejal jejal seperti semula.
Sewaktu orang-orang menjerit, hampir saja Sujud turut pula berteriak, karena melihat Talang
Pati yang diserang dengan tiba-tiba itu masih saja bertolak pinggang dengan tangan kirinya, dan belum
siap siaga untuk bertempur. – Bukankah ini serangan yang curang? — pikirnya. Akan tetapi
kecemasannya segera lenyap, setelah melihat Talang Pati terhindar dari serangan maut dengan
gerakannya yang sangat mengagumkan.
Uklewang yang hampir mengenai dadanya, disambut dengan bacokan golok, sambil melangkah
surut serong kesamping kiri dan muncratlah percikan api karena dua senjata beradu keras. Kedua
duanya, masing- masing terkejut dan meloncat surut kebelakang satu langkah. Masing masing saling
kagum akan ketangkasan dan kekuatan tenaga lawannya. Kembali kini rnereka saling serang menyerang
dengan gerakan yang cepat dan sukar untuk diduga arah tujuannya. Tebangan, tusukan, bacokkan silih
berganti dengan perubahan-perubahan yang amat cepat. Kedua - duanya menunjukkan ketangkasan
yang seimbang.
Gerakan klewang dan golok panjang demikian cepatnya, hingga sepintas lalu merupakan sinar
putih yang ber gulung2 dan sambar menyambar menyelubungi kedua tubuh mereka yang sedang
bertempur.
Sedang mereka berternpur dengan serunya. tiba tiba terdengar suara orang berseru sambil
diiringi dengan tawa yang bergelak gelak. — Haa. haa ….. haa …..! Bagus, bagus! Permainan anak kecil
meningkat menjadi permainan bocah! Ha... haa hahaa —
Semua yang hadlir terkecuali yang sedang bertempur, memalingkan kepala kearah suara.
Mereka ingin mengetahui gerangan siapakah yang berani berbuat demikian tak senonoh, dengan
mengeluarkan kata-kata hinaan tanpa menghiraukan kemungkinan adanya orang-orang sakti lainnya
yang hadir ditempat pertunjukkan itu.
Bersamaan waktunya, dikala orang-orang sedang mencari dengan pandangan matanya masing2
kearah orang yang bersuara tadi ……
Singayudha telah melesat laksana bayangan keatas panggung, dan langsung jatuh berdiri di-
2
tengah dua orang pemuda yang sedang bertempur dengan serunya.
Singayudha dapat memisah mereka yang sedang bertempur hanya dengan angin sambaran
loncatannya saja, hingga kedua-duanya yang sedang bertempur masing-masing hampir jatuh terlentang,
jelas menunjukkan bahwa Kyai Singayudha memiliki ilmu kanuragan yang sangat sakti. Dan demikian,
dua orang pemuda seketika terpaksa berhenti bertempur.
— Hai, Tua bangka Tadah Waja! Silahkan naik kepanggung, jika maksudmu hendak membalas
dendam karena tidak puas dengan kejadian satu tahun yang lalu.
– Singayudha berdiri tegak diatas panggung dengan berseru nyaring, sambil jari telunjuknya
menunjuk kearah orang yang sedang berdiri bersandar pada tiang dimana tali kawat terikat, tepat
dibelakang Sujud. Suaranya bergema berwibawa.
Seorang yang telah lanjut usianya berkerudung kain panjang berkembang sebagai baju atasnya,
sambil masih bersandar pada tiang climana tali kawat terpancang, ketawa terbahak-bahak seraya
berkata. — Haa. haaa …..haaa …….! Kau kira aku wayang orang yang sedang ditanggap, hingga mau naik
kepanggung, menemanimu?! Tak sudi aku menjadi singa tontonan! —
Kata-kata yang sederhana ini, merupakan sindiran penuh penghinaan yang amat tajam bagi
Singayudha.
Lebih tajam dari pada mata tajamnya klewang sendiri yang tergantung dibalik jubahnya.
Tadah Waja bertubuh kurus. Rambutnya panjang terurai dan telah memutih. Matanya cekung
dan hidungnya bengkok menyerupai patuk burung hantu.
Mulutnya lebar dengan bibirnya yang tebal. Mukanya kasar penuh dengan jerawat, serta
memancarkan sifat kebengisan. Kuku jari2 tangannya hitam dan panjang meruncing, mengandung racun
yang sangat berbahaya. Ia berdiri bersandar sambil memegang tongkat besi sepanjang sedepa dan
sebesar ibu jari kaki.
Ia dulu adalah seperguruan dengan Tambakraga sewaktu menuntut ilmu hiam. Ialah suatu ilmu
kesaktian kanuragan yang khusus untuk tujuan kejahatan.
Pada satu tahun yang laln, sewaktu Tadah Waja sedang merampok didaerah Tegal dekat pantai
utara beserta lima orang anak buahnya. Kebetulan Singayudha berada pula didaerah itu dengan
diiringkan oleh empat puluh muridnya. Akhirnya pertempuran sengit terjadi. Lima orang murid
Singayudha roboh terluka. Akan tetapi karena jumlah murid Singayudha jauh lebih besar dari pada
rampok, maka akhirnya Tadah Waja terpaksa lari meninggalkan gelanggang dengan menderita luka
dipundaknya, terkena sebatang anak panah yang dilepaskan oleh para murid per-guruan Baskara Mijil.
Disamping itu, seorang anak buah Tadah Waja terpaksa ditinggalkan karena mati tertusuk klewang
didadanya.
Dengan demikian perbuatan kejahatan dapat digagalkan sama sekali oleh Singayudha berserta
murid-muridnya. Dan semenjak itu nama Singayudha dengan perguruannya Baskara Mijil bertambah
luas pengaruhnya.
Dengan diliputi rasa dendam kesumat, semula Tadah Waja pergi kehutan Wonogiri, dengan
maksud akan minta bantuan pada saudara seperguruannya Tambakraga yang sakti itu. Akan tetapi
kenyataannya Tambakraga telah membubarkan sarang rampoknya dan kini telah pula menjadi seorang
petapa di Gunung Lawu, karena menginsyafi akan kesesatannya dalam jalan hidupnya yang telah
ditempuknya. (Baca Seri Pendekar Majapahit).
Setelah mengetahui,bahwa Singayudha akan mengantar anaknya yang menjadi mempelai lelaki
ke Banjararja dengan hanya diiringkan oleh empat puluh orang muridnya, Tadah Waja sengaja
bermaksud hendak membalas dendam ditempat keramaian itu. Ia datang di Banjararja dengan
membawa anak buahnya yang dua kali lipat jumlahnya. Anak buahnya adalah terdiri dari pada para
penjahat yang telah tunduk dibawah perintahnya. Dan diantaranya terdapat pula Durga Saputra sebagai
anggauta baru, akan tetapi karena kesaktiannya ia menjadi salah satu anak buah yang terpercaja.
Demi mencapai tujuannya, Tadah Waja tak segan2 menggunakan siasat yang licik dan ganas.
Sebagian anak buahnya tersebar diantara para perion-ton jan; berjejal-jejai dialun abin itu.
Sedangkan sebagian lagi berada disekitar gedung Kebanjaran Kapanewon, dengan tujuan merampok
habis seluruh isi Kapanewon, serta membakar gedungnya. Dan ini semua tinggal menunggu isyarat aba2
dari Tadah Waja yang kini sedang sengaja memancing keributan. Ia yakin, bahwa siasatnya yang telah
diperhitungkan dengan masak2 tentu akan berhasil. Disamping tercapainya tujuan yang utama yaitu
menghancurkan nama perguruan Baskara Mijil serta membunun Sgayudha, juga para anak buahnya
akan gembira karena mendapat hasil harta rampokan.
`Sebagai seorang sakti, Singayudha cepat dapat menekan perasaannya yang meluap-luap karena hinaan
yang langsung menyinggung namanya.
Tanpa menghiraukan kata2 Tadah Waja, ia berseru dengan suara yang mengandung daya
kesaktiannya: — Tadah Waja.! Dahulu aku masih berlaku lapang, dan memberikan kesempatan untuk
hidup paciamu, seharusnya kau ber-terima kasih padaku dan menginsyafi akan kesesatanmu dalam
menempuh jalan hidupmu. Tak kuduga, bahwa hari ini kau sengaja datang mengantarkan jiwamu! —
Suaranya rnenggetar memekakkan telinga dengan penuh wibawa membuat para muridnya sendiri
menggigil ketakutan. Demikian pula para penonton yang tak memiliki kepandaian.
Ha … haaaa … haaaa …! Singa barangan yang pandai membual! Bukan aku, tetapi kaulah hari ini
yang akan kehilangan kepalamu! Terimalah ini.. sebagai ganti jiwaku!—
Menjawab demikian Tadah Waja tiba2 melemparkan Sujud yang sedang berdiri ternganga
didepannya, kearah Singayudha.
Sujud yang tak mengira, bahwa dirinya yang akan di jadikan bulan- bulanan tak sempat
mengelak sama sekali. Sewaktu baju dipunggungnia dicengkeram oleh Tadah Waja dan kemudian
dilemparkan. Kini ia tinggal menerima nasib kelanjutannya, namun sebagai murid Dadung Ngawuk masih
juga ia dapat berjungkir balik diudara, untuk ber-jaga-jaga menghadapi serangan dari penerima
tubuhnya.
Demi melihat berjungkir baliknya tubuh seorang anak tanggung kearahnya, Singayudha berseru
terkejut sambil mengelak satu tindak kesamping. Sebagai seorang guru kanuragan yang telah memiliki
nama yang harum, ia tak mau menyerang orang yang ia sendiri belum tahu siapa adanya. Tangan
kanannya diangsurkan kedepan untuk menangkap tubuh Sujud yang meluncur bagaikan bola kearahnya.
Akan tetapi belum juga tangannya menyentuh tubuh Sujud, tiba2 salah seorang tamu undangan
yang rnengenakan pakaian kebesaran sebagai Bupati Narapraja, melesat bagaikan berkelebatnya
bayangan dan menyambar tubuh Sujud serta menghilang dibalik orang2 penonton yang sedang riuh
berebut diujung untuk meninggalkan tempat yang mulai gaduh itu.
— Hai.... berhenti! — Durga Saputra berseru sambil lari mengejar- — Bapak Tadah Waja! Yang
lari itu adalah Wirahadinata Indramayu. —
Bersamaan waktunya Singayudha telah meloncat turun dan langsung menyerang Tadah Waja
dengan sambaran angin pukulannya.
Mendapat serangan yang tiba2 itu, Tadah Waja mendadak mengeluarkan suara seruannya yang
tinggi melengking, untuk kemudian meloncat surut kebelakang dua langkah, dan lari melesat
meninggalkan gelanggang dengan berseru: — Kejarlah aku, jika kau ingin kehilangan kepalamu. —
Ia sengaja meninggalkan gelanggang untuk memancing agar Singayudha lari mengejarnya.
Tanpa berfikir panjang Singayudha melesat lari mengejar dengan diikuti oleh sebagian anak buahnya.
Dan bersamaan waktunya dengan melesatnya Singayudha, nyala api telah menjilat2 gedung Kebanjaran
Kepanewon dari segenap penjuru.

*
**

B A G I A N II
SUARA JERITAN tangis orang2 perempuan dan anak anak bercampur dengan suara para rampok yang
sedang merampok serta menjarah rayah harta yang ada di Kabanjaran. Para Punggawa Narapraja
dengan dibantu oleh sebagian para murid perguruan Baskara Mijil yang masih tinggaI di Kabanjaran
Kapanewon segera menerjang para rampok. Suasana menjadi semakin gaduh. Panewu Arjasuralaga dan
adiknya Lurah Tamtama Arjarempakapun turut pula mengamuk dengan klewangnya. Pertempuran seru
berkobar dalam beberapa kalangan.
Disusul kini awan hitam yang tebal bergulung - gulung naik diketinggian, dan nyala api yang
makin besar menjilat jilat membumbung tinggi diangkasa, hingga langit diatasnya menjadi merah
membara.
Tempat pesta keramaian, kini menjadi medan pertempuran Para tamu undangan yang memiliki
keberanian dan erat hubungannya dengan Panewu Arjasuralaga segera turut membantu membasmi
para rampok, sedangkan mereka yang merasa takut akan terlibat cialam pertempuran yang dahsyat
segera lari berlalu meninggalkan Banjararja.
Dikegelapan malam yang samar-samar, ditebing kali Cilosari, seorang bertubuh kurus dan telah
lanjut usianya dalam pakaian kebesaran sebagai Bupati Narapraja menghentikan langkah larinya sambil
menurunkan seorang anak tanggung yang mendekati dewasa dari pundaknya. Dengan serta merta
diliputi oleh rasa haru yang tak terhingga, ia merangkul dengan kedua tangannya erat2 keleher Sujud,
serta menciumi keningnya sambil bicara: -Anakku! ……Telah lama aku mencarimu ...juga Gusti Indra
kakakmu . . . berduka hati, mencari kau sampai dimana mana …… —
— Bapak !— Hanya kata2 itulah yang dapat keluar dari mulutnya Sujud, dan air matanya
meleleh, membasahi kedua pipinya. Dengan kata2 yang terputus-putus ia melanjutkan bicaranya : —Ibu
….. bagaimana …… dan kangmas Indra ….. apakah tidak marah? Aku menyesal …..! —
Ternyata tamu yang berpakaian kebesaran sebagai Narapraja yang menyambar tubuh Sujud
sewaktu dilemparkan oleh Tadah Waja tadi, memang Bupati Wirahadinata adanya. Ia adalah orang tua
angkat dari Sujud yang mengasuhnya sejak Sujud berusia dua setengah tahun. Pun nama Sujud adalah
pemberiannya, dengan harapan agar anak itu kelak memiliki budi luhur yang selalu bersujud kepada
Dewata Yang Maha Agung.
Ia menemukan anak itu, sewaktu ia lolos dari Kebanjaran Agung Indramayu karena seluruh
bekas daerah Kerajaan Pajajaran terdesak oleh Majapahit, ditengah tengalt hutan dekat Sumedang
dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Anak yang baru berumur dua setengalt tahun itu telanjang
bulat dan merangkak - rangkak sendirian dengan tubuhnya yang kurus kering. Kemudian oleh Bupati
Wirahadinata beserta istrinya anak itu diasuhnya, tak ubahnya seperti anak kandung sendiri dengan
cinta kasih yang ikhlas.
Dan oleh Bupati Wirahadinata anak itu diberi nama SUJUD.
Dalam pengembaraan, hingga Bupati Wirahadinata dengan istrinya menetap di Ngawi ditepi kali
Bengawan dengan menyamar sebagai dukun dan mengganti namanya dengan Kyai Tunggul, Sujud selalu
ada disampingnya.
Kemudian atas jasa Kyai Tunggul atau Bupati Wirahadinata dalam turut serta membantu
Senapati Indra Sambada menenteramkan suasana dibelakang Kerajaan Pajajaran, ia diangkat kembali
sebagai Bupati Narapraja majapahit dan memerintah kembali daerahnya Kebanjaran Agung Indramayu
(Baca SERI PLNDEKAR „MAJAPAHIT").
Dan mulai sejak itu atas permintaan Senapati Indra Sambada yang telah menganggap Sujud
sebagai adik angkatnya Sujud diserahkan kepada Senopati Indra Sambada dan tinggal menetap di.
Senapaten di Kota Raja.
Telah tiga kali Senapati Indra Sambada pada waktu akhir2 ini mengunjungi Kebanjaran Agung
Indramayu, dan menceriterakan hal ikhwal yang menyangkut diri Sujud.
Untuk mencari jejak Sujud, para tamtama nara sandi Kerajaanpun dikerahkan pula.
Bupati Wirahadinata dalam usaha turut mencarinya, merasa hampir putus asa. Tidak diduga
sama sekali, bahwa sewaktu ia datang memenuhi undangan perayaan perkawinan di Banjararja, dapat
bertemu dengan anak angkatnya yang selalu dirindukan.
Belum juga mereka berdua puas akan masing2 menuangkan rasa dendam rindunya, tiba2 Durga
Saputra berkelebat mengejar sambil berseru.
— Wirahadinata ! ! !. Pengemis gadungan ! ! ! Menyerahlah untuk kutebas lehermu, sebagai
ganti lenganku sebelah ini ! ! ! Dengan golok panjang yang kedua belah sisinya bermata tajam, Durga
Saputra langsung dengan gerakan jurus tusukan berangkai, ialah meloncat sambil menusuk kearah dada
Wirahadinata dengan kedua kakinya terpentang lebar, merupakan kuda2 yang kokoh dan dilanjutkan
dengan perobahan gerak tebangan dari kanan ke-kiri dan sebaliknya kearah lambung lawan, dengan
menggeser kaki kebelakang kedepan hingga menjadi rapat, serta tumit kaki depannya diangkat sedikit.
Menghadapi serangan yang demikian dahsyat dan secara tiba2 ini. Wirahadnata terkesiap sesaat
sambil meloncat surut kebelakang satu langkah dan jatuh berjumpalitan kesamping kiri unruk
menghindar dari serangan rangkaiannya. Secepat kilat ia bangkit kembali dengan pedang terhunus
ditangan kanannya, sed, nzkan tatigan kirinya min-dorong Sujud kesamping belakang.
— Bangsat bedebah ! !. Kaulah Durga Saputra perampok di indramayu dulu ? ! ! ! Dengan
tanganmu yang hanya tinggal sebelah itu kau juga belum insyaf akan kesesatanmu ! ! !. Sebaiknya
kutebas sekalian, tanganmu yang tinggal sebelah itu !!!. Berkata demikian, Wirahadinata maju
menyerang dengan pedangnya dalam gerakan jurusnya tebangan dari balik perisai.
Pedangnya berputaran cepat, hingga sinar putih yang bergulung - gulung merupakan lingkaran
bentuk payung, laksana perisai baja, dan disusul dengan satu loncatan sambil merobah gerakan putaran
pedang menjadi serangan bacokan dari atas kebawah serta dilanjutkan dalam gaya tebangan dari kiri
kekanan menyapu paha lawan. Benar2 merupakan serangan pedang yang sukar untuk di-
Wirahadinata terkesiap sesaat sambil meloncat surut kebelakang
satu langkah dan jatuh berjumpalitan kesamping kiri untuk
menghindar dari serangan rangkaian.

duga arah sasarannya. Dan ini adalah suatu jurus dari gerakan pedang tamtama asli. Akan tetapi Durga
Saputra bukan anak kecil yang baru saja belajar ilmu kanura-gan. Ia meloncat kesamping kiri dua tindak
sambil mengangsurkan tangan kirinya yang memegang golok panjang guna menangkis datangnya
susulan tebangan yang mendatang.
Dengan badannya merendah mengikuti gerakan kakinya yang telah ditekukkan. Dengan
demikian ia menjadi setengah berjongkok, dan terhindarlah dari serangan2 yang dahsyat itu.
Kiranya Durga Saputra memang masih setingkat berada dibawah Wirahadinata dalam ilmu tata
bela diri, hingga sebentar kemudian ia menjadi sibuk berloncatan menghindari serangan yang bertubi
tubi dari Wirahadinata. Sebenarnya ia sendiri sebelumnya telah merasa jeri untuk menghadapi
Wirahadinata yang terkenal sakti itu, akan tetapi karena dibelakangnya diikuti oleh Tadah Waja, ia
memaksakan dirinya untuk mengejar lawan. Dengan mengandalkan Tadah Waja yang sakti serta
kawan2nya yang banyak jumlahnya, maksud untuk membalas dendam tentu akan berhasil - pikirnya,
Sewaktu Durga Saputra dalam keadaan sangat terdesak serta terancam jiwanya, tiba2 bayangan
berkelebat menghadang didepan Wirahadinata.
Tadah Waja dengan tongkat besinya telah melintang memapaki tebangan klewang. Dua senjata
beradu, hingga mengeluarkan percikan api. Kedua-duanya masing-masing meloncat surut kebelakang
hingga tiga langkah sambil berseru terkejut : ……..Heehhh .—
Ternyata telapak tangan masing2 dirasakan pedih, hingga hampir2 mereka saling melepaskan
senjatanya. Belum juga mereka sempat saling menyerang Singayudha telah meloncat menerjang Tadah
Waja dengan serangan tendangan berangkai. Angin sambaran tendangan yang berdesingan membuat
terkesiapnya lawan.
Dengan tangkas Tadah waja berpusingan surut ke-samping sambil mengayunkan tongkat
besinya dengan tangan kanan, sedangkan jari-jari tangan kirinya mengembang tegang dalam gerak
cengkeram pergelangan, siap untuk mencengkeram kaki lawan dengan kaki2nya yang beracun.
Sementara itu Wirahadinata yang telah siap akan menyerang Tadah Waja terpaksa
menggagalkan gerakannya, karena melihat Sujud berjumpalitan menghindari serangan Durga Saputra
yang nampaknya kelihatan telah mulai kalap. Namun belum juga ia dapat melangkah untuk membantu
anaknya, empat orang anak buah Tadah Waja telah mengurung dan menyerangnya dengan senjatanya
masing2. Kini pertempuran menjadi tiga, empat kalangan dan berlangsung dengan sengitnya.
Sujud bertangan kosong melawan Durga Saputra yang bersenjatakan golok panjang. Sedangkan
Wirahadinata dengan pedangnya menghadapi empat orang anak buahnya Tadah Waja yang
bersenjatakan dua klewang, satu golok dan satu kampak.
Sedangkan Tadah Waja sendiri dengan tongkat besinya melawan Singayudha dan Braja
Semandang bersenjatakan klewang keluanya.
Masih ada juga satu kalangan lagi yang sedang bertempur dengan sengitnya, antara lima orang
murid Baskara Mijil melawan delapan orang anak buah Tadah Waja dengan bersenjatakan klewang dan
ber-macam2 senjata tajam lainnya.
Sedangkan Talang Pati hanya menonton, berdiri dibalik pohon dekat tempat pertempuran
dimana Sujud sedang sibuk menghindari serangan golok panjangnya Durga Saputra yang bertubi-tubi
tanpa mengenal belas kasihan dengan langkah gerakanuja "WURU SAKTI"
Dengan langkah2nya yang aneh dan kelihatan sangat lambat, Sujut terhuyung-huyung kedepan
seakan-akan jatuh terjengkang, untuk kemudian melompat kesamping sambil menjulurkan tangan
kanannya yang jari nya telah ditegangkan kearah tubuh lawan yang sedang gencar melancarkan
serangan dengan golok panjangnya. Dengan demikian, disamping ia terhindar dari bacokan dan sabetan
golok panjang, Durga Saputrapun terpaksa membatalkan serangan rangkaiannya untuk melindungi
tubuhnya dari totokan jari-jari Sujud yang sukar diduga arah datangnya.
Kadang2 Sujud mengelak babatan golok panjang lawan yang semakin buas itu hanya dengan
menjatuhkan diri bergulingan ditanah untuk kemudian duduk berjongkok menunggu datangnya
serangan susulan. Akan tetapi semua serangan Durga Saputra yang ganas dan bertubi-tubi itu ternyata
selalu jatuh ditempat yang kosong belaka.
Berulang kali Wirahadinata sambil masih bertempur, berseru cemas demi melihat gerakan Sujud
yang dalam penglihatannya hampir2 menjadi korban keganasan itu. Setiap gerakan untuk berusaha
mendekati anaknya selalu di rintangi oleh para pengeroyoknya dengan serangan2 serentak yang bertubi-
tubi. Akan tetapi Wirahadinata adalah Kyai Tunggul yang memiliki kesaktian serta pengalaman yang luas.
Dengan mudahnya ia dapat menghindari semua serangan dari para pengeroyoknya. Medan
pertempurannya dikuasai kembali.
Sekali pedang tamtamanya berkelebat, para pengeroyok segera sibuk menghindar sambil
berlompatan menjauhkan diri dari serangan2 susulan yang tak dapat diduga sebelumnya. Semula
Wirahadinata sama sekali tidak bermaksud kejam kepada para pengeroyoknya, dan setiap kesempatan
yang terluang hanya dipergunakan untuk memperhatikan anaknya Sujud yang sedang menghadapi
serangan2 maut dari Durga Saputra. Akan tetapi rasa cemasnya kini semakin bertambah, setelah melihat
cara Sujud menghindari serangan tusukan maut hanya dengan berjongkok serta ketawa terkekeh2. Ia
mengira bahwa anaknya karena rasa takutnya menghadapi lawan yang tangguh, hingga tergoncang
syarafnya dan menjadi gila.
Tanpa mengenal belas kasihan lagi, Wirahadinata tiba2 melancarkan serangan dengan jurus
shakti simpanannya yang olehnya sendiri dinamakan "sabetan pelebur baja". Ditengah2 para
pengeroyoknya, Wirahadinata berdiri tegak dengan sepasang matanya terbuka lebar dengan pandangan
liar. Wajahnya berubah merah, tubuhnya gemetar. Mulutnya berkali-kali terbuka dan terkatub kembali
tanpa mengeluarkan suara. Hembusan nafasnya mengandung daya sakti yang telah ter-pusat.
Tangan kanannya yang menggenggam pedang tamtamanya diangkat setinggi pundaknya, dan
tangan kirinya bergerak perlahan dengan jari2nya terbuka seperti cakar harimau yang siap menerkam
mangsanya ……
Seruan tinggi melengking terdengar ….. dan tiba2 ….. ia meloncat menerjang dua orang
pengeroyoknya yang berada didepannya dengan kedua tangannya bergerak semua, dalam bentuk
gerakan yang bertentangan.
Tangan kirinya menyengkeram kedepan dari atas kebawah serong kanan, sedangkan tangan
kanannya yang menggenggam pedang membuat gerakan sabetan dari kanan ke-kiri serong kebawah …...
Suatu jurus dalam satu gerakan yang berlawanan dengan disertai daya kesaktiannya …..
Tak ajal lagi …… jeritan ngeri dua kali susul-menyusul segera terdengar, dengan diiringi
robohnya dua tubuh manusia yang bermandikan darah. Seorang telah putus lehernya. dengan kepala
terpisah dari gembungnya. sedang seorang lagi lambungnya terbabat sampai dipusat perutnya ….. Dan
dengan pedang yang masih berlepotan darah, Wirahadinata berpusingan menyambut datangnya
serangan dari dua orang pengeroyoknya yang berada dibebelakangnya. Demi melihat dua orang
temannya roboh tak bernyawa lagi, dua orang pengerojok yang sedang menyerang segera menarik
kembali gerakannya, serta serentak meloncat surut kebelakang dua langkah, dan kemudian lari
dikegelapan, tunggang langgang.
Cepat seperti kilat Wirahadinata melompat kesamping untuk membantu anaknya, akan tetapi ia
segera berdiri terpaku penuh rasa heran sesaat, sewaktu melihat Durga Saputra jatuh roboh tak berdaya
tanpa terluka dengan golok panjangnya terlempar jauh, Namun rasa cemas bercampur dendam masih
juga meliputi dirinya ….. Kuatir akan bangkitnya kembali Durga Saputra yang mengganggu anaknya.
Pedang tamtamanya berkelebat lagi ….. dan ,,,,, crattt . .
Kepala Durga Saputra terbelah kena bacokan pedang tamtama Wirahadinata, tanpa
mengeluarkan suara sedikitpun. Darah segar bercampur otaknya muncrat, hingga membuat bajunya
sendiri berlepotan darah. Sujud meloncat merangkul leher Wirahadinata sambil berseru. — Bapak. —
Ia ingin mencegah kekejaman ayah angkatnya, akan tetapi …. gerakannya telah terlambat …..
Bersamaan dengan robohnya Durga Saputra, Singayudha yang dibantu Braja Semandang yang
sedang bertempur meIawan Tadah Waja, tiba-tiba meloncat dua langkah sambil berseru — Semandang!
Biarkan aku sendiri yang melayani kepala rampok ini! Lekas lari ke Kebanjaran, untuk membantu
adi2mu!—
Sadarlah ia kini, bahwa larinya mengejar Tadah Waja berarti terkail oleh tipu muslihatnya. Ia
melihat adanya awan hitam yang tebal bergulung-gulung membumbung tinggi yang disusul dengan
nyala api besar menjilat jilat naik diangkasa diarah atas Kebanjaran Kapanewon.
Untuk lari menolong orang tua menantunya, baginya tak mungkin, karena ia sedang
menghadapi musuh yang sakti dan ganas. Satu-satunya jalan baginya ialah memerintahkan pamong
muridnya kembali ke Kebanjaran Kapanewon agar dapat membantu Panewu Arjasuralaga.
— Keparat Tadah Waja! Sambutlah klewangku! — Bentak Smgayudha samhil menerjang maju
dengan klewang ditangan kanan. Gerakannya tangkas dan cepat, seperti kilat. Klewang ditangannya
berkelebatan laksana gulungan sinar putih yang menyambar - nyambar, dalam gerakan tusukan,
babatan, dan tangkisan susul-menyusul dengan perobahan - perobahan yang sukar dilihat dengan mata.
Angin sambaran, sabetan klewangnya mengeluarkan suara berdesingan, hingga membuat daun-
daun pepohonan yang berada didekatnya jatuh beterbaran. Namun lawannya adalah Tadah Waja,
kepala rampok sakti yang berpengalaman luas. Tongkat besi ditangannya berputaran menyerupai
lingkaran baja, dengan mengeluarkan angin sambaran laksana badai yang tak kalah hebatnya.
Tangan kirinya dengan jari-jarinya terbuka dan ditegangkan bergerak - gerak menyambar kearah
lawan seperti cakar garuda.
Kedua-duanya, masing-masing saling mengerahkan tenaga saktinya. Dua senjata yang dahsjat
beradu ….. dan percikan api nampak berpijar …… Kedua-duanya berseru terkejut sambil terhuyung-
huyung kebelakang dua langkah dengan masing-masing hampir jatuh terlentang.
Wirahadinata melompat hendak membantu Singayudha yang sedang terhuyung - huyung dan
hampir jatuh itu, tetapi ….. tiba-ttba lebih dari sepuluh orang anak buah Tadah Waja muncul
berloncatan dari segenap penjuru disekitarnya dan langsung menyerangnya.
Sementara itu pertempuran-pertempuran dilain kalangan masih berlangsung dengan serunya.
Suara beradunya senjata terdengar gemerincing dengan diiringi jeritan - jeritan ngeri susul menyusul,
dari orang-orang yang terkena senjata roboh bergelimpangan. Darahpun berceceran dimana mana.
Demi melihat ayah angkamja dikurung oleh sepuluh orang lebih yang bersenjatakan klewang,
tombak, kampak, golok dan sebagainya, Sujud melompat memasuki kalangan dengan gerakan
‘Wurushaktinya yang ajaib. Jari-jari tangannya tegang terbuka dan menyambar - nyambar dengan
langkah2nya yang aneh serta membingungkan lawannya. Dalam waktu yang singkat tiga empat orang
lawannya telah roboh terguling ditanah tanpa berdaya, terkena serangan totokan jari-jarinya. Senjata
senjata mereka terpental berterbangan lepas dari genggaman, untuk kemudian jatuh ditanah.
Wirahadinatapun tak mau memberikan ketika pada lawannya. Tiap kali pedang tamtamanya
berkelebat tentu ada seorang lawan yang roboh mandi darah. Sambil bertempur gerakan anak
angkatnya tak lepas pula dari perhatiannya. Tahulah kini ia, bahwa anak angkatnya telah memiliki pula
ilmu kanuragan yang tak dapat dikatakan rendah, sebagaimana ia semula menduga sebelumnya. Akan
tetapi, dari manakah ia mendapatkan kepandaian yang aneh itu? Tak mungkin kakak angkatnya Gusti
Senapati Indra Sambada mengajarnya demikian ….. Gerakannya menyerupai seorang yang sedang
mabok minuman keras, dan masih pula diiringi dengan suara tawa yang terkekeh seperti orang setengah
gila. Akan tetapi suasana waktu itu tidak memungkinkan ia bertanya pada anaknya.
Sedang ia mengagumi anaknya, dengan masih sibuk bertempur, tiba-tiba mendengar suara
seruan lantang dari Tadah Waja yang ditujukan padanya.
— Hai ….. dukun palsu! Jangan kau berlaku sebagai pengecut, merobohkan anak buahku
dengan semena - mena! Tunggulah pembalasan serangan tongkat bajaku! —
Berseru demikian Tadah Waja sambil melancarkan serangan dahsyat dengan tongkat besinya
kearah tubuh Singayudha. Pukulan dau sabetan tongkat besi menyambar kearah kepala dan pinggang
Singayudha dengan perobahan gerakan yang amat cepat, hingga mengeluarkan angin samberan yang
berdesing desing. Serangan yang dahsyat itu masih pula disusul dengan cengkeraman kuku jari2nya,
hingga Singayudha menjadi sibuk karenanya. Klewangnya menari nari ditangan kanannya mengikuti
gerakan tongkat besi lawan dengan tak kalah cepatnya.
Sewaktu Tadah Waja berteriak, pemusatan perhatiannya menjadi berkurang, dan inilah
merupakan kesempatan bagus yang tepat bagi lawannya. Tanpa membaang kesempatan yang demikian
baiknya Singayudha dengan klewang ditangan kanan meloncat kedepan selangkah dalam gerakan gaya
tusukan, yang disusul dengan serangan tendangan berangkai kearah larnbung lawan. Seruan tertahan
terdengar nyaring, disusul loncatan kesamping sambil berjumpalitan menghindari serangan balasan.
Akan tetapi bukannya Tadah Waja yang jatuh berjumpalitan melainkan Singayudha sendiri. Ternyata
nama Tadah Waja bukan kosong belaka. Ia sengaja menipu lawan, dengan seakan2 tak memperhatikan
serangan lawan.
Akan tetapi justru sepenuh perhatiannya tepusat pada gerakan lawan yang sedang dihadap .
Tusukan klewang Singayudha yang hampir menembus dadanya dihindari dengan menggeser kaki
depannya selangkah serong kebelakang sambil memiringkan tubuhnya mengikuti gerakan kaki. Tongkat
besi ditangan kanan memapaki datangnya serangan dengan gerakan sodokan, sedang tangan kirinya
memukul dengan telapak tangannya kearah kaki lawan yang sedang melontarkan tendangan berangkai.

Inilah jurus tipuan mematahkan langkah. Kecepatan Singayudha membuang dirinya kesamping dan
berjumpalitan, ternyata dapat menggagalkan rangkaian serangan balasan dari Tadah Waja. Dengan
menahan rasa sakit ditulang kakinya, Singayudha cepat berdiri lagi menyambut serangan susulan lawan
yang bertubi-tubi dan berbahaja. Perobahan gerakan tongkat besi Tadah Waja cepat laksana kilat yang
menyambar-nyambar tubuhnya, namun ketangkasan Singayudha masih juga dapat mengimbangi
gerakan lawan. la berloncatan menyelinap dibalik sinar tongkat besi yang bergulung-gulung
menyelubungi tubuhnya, klewang ditangan kanannya masih perlu mengikuti menari-nari dengan
tusukan dan sabetan yang cukup membuat bulu tengkuk lawan berdiri. Akan tetapi semakin lama,
gerakan Singayudha semakin lambat. Rasa sakit ditulang kakinya mengganggu ketangkasan gerakannya.
Perobahan gerakan lawan ini tak lepas dari perhatian Tadah Waja.
— Haa hahaaaaaaa ...... !!!! Kiranya Singa barangan masih juga dapat menari diatas tiga kakinya
!!!. Tadah Waja berseru mengejek sambil menyerang mendesak Singayudha. Sebagai guru ilmu
kanuragan dan pendiri perguruan Baskara Mijil yang luas pengaruhnya, tak mungkin Singayudha mau
menyerah secara demikian. Apalagi lawannya adalah seorang perampok …….
Dalam keadaan terdesak, Singayudha mengerahkan seluruh tenaganya, untuk melesat tinggi
kesamping sejauh empat langkah dan cepat memperbaiki kedudukannya. Ia berdiri tegak diatas
kuda2nya yang ringan. Kaki kanan berdiri sedikit roboh kedepan dengan tumit terangkat, sedangkan kaki
kirinya berada setengah langkah didepan kaki kanan dengan lututnya ditekuk sedikit, membentuk kuda2
ringan. Tangan kirinya terbuka, dengan lengan terangkat keatas sejajar pundaknya, Siku2nya ditekukkan
hingga ibu jari tangannya berada disamping telinga kirinya.
Tubuhnya dimiringkan sedikit dengan dada membusung mengikuti gerakan kakinya. Ujung mata
klewang ditangan kanan, lurus menunjuk kearah dada lawan yang berada dihadapannya, dengan
pergelangan telapak tangan berada diatas. Suatu gerakan bersenjatakan klewang yang gagah dan indah
dalam pandangan.
Sewaktu Tadah Waja menerjang kuda kudanya dengan sabetan tongkat besinya, kaki
Singayudha digeser dan merobah menjadi sebuah tendangan, yang disusul dengan tusukan klewangnya
untuk kemudian dirobah menjadi bacokan kilat dari atas kebawah.
Perobahan itu merupakan satu rangkaian gerakan yang amat cepat dalam bentuk jurus
sambutan serangan berangkai. Sambil berseru nyaring Tadah Nkaja terkesiap, melompat tinggi
berpusingan, dan membuang diri kearah samping kanan.
Namun masih juga tangan dan kaki kirinya tergores oleh ujung klewang Singayudha, sejengkal
panjangnya. Darah merah segar mengucur dari luka dipahanya.
Sambutan serangan Singayudha ternyata memerlukan pengerahan tenaga keseluruhannya,
hingga kaki kirinya yang terluka kini dirasakan bertambah sakit, dan ia tak dapat lagi menggerakkan
kakinya dengan leluasa. Akan tetapi, melihat hasil serangannya dapat melukai lengan serta pahanya
Tadah Waja, semangat tempurnya bangkit kembali. Dengan sebelah kakinya yang pincang ia
melanjutkan serangannya kearah lawan dengan klewangnya bertubi-tubi. Cepat Tadah Waja
membalikkan badannya, menyambut datangnya serangan, dengan tanpa menghiraukan, luka
dilengannya.
Tongkat besinya berputaran, membentuk perisai baja, sedangkan kakinya bergerak silih berganti
melancarkan tendangan-tendangan yang dahsyat.
Kembali kini Singayudha dalam keadaan yang terdesak. Hampir hampir pinggangnya patah
terkena sabetan tongkat besi yang menyambar-nyambar dengan ganasnya, sewaktu ia terhujung2
kebelakang menghindari tendangan lawan. Untung, bahwa ia masih sempat menjatuhkan diri untuk
berjumpalitan ditanah menghindari serangan lawan yang semakin ganas.
Tetapi serangan Tadah Waja bukan hanya berhenti sampai sekian saja. Sewaktu Singayudha
berjumpalitan menghindari serangannya, ia melompat mendahului gerakan Singayudha yang sedang
akan bangkit untuk duduk berjongkok. Kaki kirinya berdiri lurus, sedangkan kaki kanannya dengan lutut
ditekukkan terangkat keatas setinggi pangkal pahanya. Tongkat besi ditangan kanan diangkat tinggi2,
siap untuk mengemplang kepala Singayudha. Dan tangan kirinya dengan jari2nya yang tegang
mengembang siap untuk menerkam leher lawan. Tangan kanannya diayun …. tangan kirinya bergerak
menuju sasaran ……dan Singayudha memejamkan matanya menyamhut datangnya maut …….
ddaaaarrrr !!!!
— Suara beradunya dua benda keras terdengar … . dan Tadah Waja terpelanting kebelakang,
untuk kemudian berjumpalitpn menjauhkan diri. Tongkat besi yang diayunkan oleh Tadah Waja sewaktu
hampir jatuh di batok kepala Singayudha, tiba2 beradu dengan sebuah lengan berperisai besi baja.
Perisai baja itu besarnya hanya setapak tangan dan panjangnya dari siku2 hingga pergelangan tangan.
Dengan perisainya itu mendapat gelar "Sitangan besi". Namun orang itu turut pula terhuyung huyung
hingga tiga langkah kebelakang. Dapat dibayangkan bagaimana hebatnya pengerahan tenaga masing2
yang dilontarkan.
— Haa ….. haaaaaa ….. Ternyata banyak kemajuanmu selama tujuh tahun ! !. Orang bertangan
besi berseru nyaring.
Ia memiliki tubuh tinggi besar dengan urat2nya melingkar lingkar dikedua belah tangannya.
Dadanya yang telanjang tanpa baju nampak bidang dan berbulu lebat. Masih pula dihias dengan
gambaran seekor ular sanca yang sedang membelit badannya. Gambar itu dilukisnya dengan tusukan2
ujung golok yang runcing dan tajam dan kemudian diberi warna, sehingga tak mungkin dapat dihapus. Ia
hanya mengenakan celana hitam berseret merah sampai dibawah lututnya.
Dipinggang kirinya tergantung sebilah golok panjang. Rambutnya sudah dua warna, akan tetapi
tebal dan panjang diikat diatas kepala menyerupai gelung dengan pita hitarn. Mukanya bercambang
bauk dan terdapat banyak goresan bekas luka2 terkena senjata tajam. Dialah yang terkenal dengan nama
mBah Duwung "sitangan besi" dari Rongkop, gurunya Talang Pati.
— Duwung bangkotan ! ! ! Apa maksudmu kau turut campur urusankn ? ! Bukankah janji kita
masih tiga tahun lagi ? ? ! ! ! Tadah Waja menyahut dengan suara bentakan dan dengan sinar
pandangan liar sambil berjongkok dengan tongkat besinya yang disilangkan didepan dada.
— Maaffkan aku, jika tindakanku mengganggu urusanmu ! ! ! Akan tetapi justru mengingat janji
kita tinggal tiga tahun lagi itu, maka sengaja aku memperingatkan dirimu !!!. Jika kau terlalu banyak
mempunyai musuh, tentu tak akan mungkin kau dapat memenuhi janjimu lagi. Dan janganlah
hendaknya, pertemuan kita tertunda lagi dengan alasan2mu yang kau buat2 !!! Nah selamat tinggal,
sampar ketemu lagi tiga tahun yang akan datang. Dadung Ngawuk pun telah menantimu pula dengan
jemu !!!!.
Talang Pati! Mari kita pergi! Tak perlu kita campur tangan urusan orang lain! Belum juga
2
kata nya berachir, ia telah melesat bagaikan bayangan dikegelapan malam, yang disusul dengan
melesatnya Talang Pati muridnya, sambil berseru memanggil: —Mbah Duwung! — Sementara itu
Singayudha telah bangkit pula berdiri, sedangkan Tadah Waja masih menggumam sendirian.
Pada tujuh tahun yang lalu, tiga orang shakti, Mbah Duwung, Dadung Ngawuk dan Tadah Waja
pernah saling berternpur segitiga sampai dua dua malam lamanya, dengan berakhir tidak ada yang kalah
ataupun yang menang. Waktu itu pertempuran berlangsung dilereng gunung Slamet. Ketiga tiganya
roboh tak berdaya karena kehabisan tenaga, dan atas mufakat bersama mereka akan melanjutkan
pertempurannya pada tiga tahun lagi. Akan tetapi, ternyata Tadah Waja setelah tiga tahun berlalu,
minta agar pertempuran segitiga itu ditunda lima tahun lamanya. Dan atas mufakat mereka bertiga
waktunya ditangguhkan menjadi tujuh tahun. Dalam tujuh tahun itu mereka masing2 akan meyakinkan
ilmunya sendiri2 untuk bekal dalam pertempuran yang akan datang. Mbah Duwung dengan tangan
besinya dan golok panjangnya, Tadah Waja dengan kuku2nya yang beracun dengan tongkat besinya,
sedangkan Dadung Ngawuk dengan totokan jari2nya dan cambuk ularnya. Tempat bertanding mengadu
yang hanya kurang tiga tahun itupun telah ditentukan digunung Botak, sebelah utara hutan Blora. Per-
tempuran mengadu jiwa dalam segitiga, karena masing2 saling mempertahankan kebenarannya.
Masing2 saling tuduh-menuduh pernah membunuh anggauta keluarganya. Urusan yang menurut
mereka tak dapat diselesaikan dengan kata-kata ……
Sedang Tadah Waja akan menerjang kembali kearah Singayudha yang tengah berdiri terpincang2
mendadak terdengar suara ringkikan dan derap kaki kuda, yang riuh mendatang dan langsung
mengurung tempat pertempuran yang masih saja berlangsung dengan sengitnya.
Seorang kepala pasukan yang tak lain adalah Lurah Tamtama Jaka Rimang berseru memerintah:
— Kurung rapat dan tangkap semua perampok! —
— Kakang Rimang! Sujud meloncat diatas kepala pengeroyoknya sambil berseru dan
menyambut datangnya Jaka Rimang yang memimpin pasukan 500 orang berkuda. Melihat gelagat yang
tak menguntungkan itu, Tadah Waja melesat bagaikan bayangan lari dikegelapan malam meninggalkan
gelanggang pertempuran. Kiranya peringatan Mbah Duwung tadi sangat beralasan. Para rampok yang
tak dapat melarikan diri, segera membuang senjata dan menyerah, setelah melihat tamtama berkuda
demikian banyaknya dan telah mengurungnya rapat2.
— Adi Sujud! - Lurah Tamtama Jaka Rimang meloncat turun dari kudanya dan langsung
mendekap pinggang Sujud, sambil bertanya: —Kau tidak terluka??
— Tidak. Untung kakang Rimang segera datang dengan pasukan tamtama ……. Dimana kakang
Wulung? — Dan apakah kamas Indra juga berada disini?
— Sudahlah lekas naik kudaku, nanti kita bicarakan panjang lebar. —
Jaka Rimang mengangkat tubuh Sujud dan dinaikkan diatas pelana, sedang ia sendiri melompat
duduk dibelakangnya.
— Nanti dulu, kakang Rimang!, Bapak ada disini! Itu dia. —
Berkata dernikian Sujud menunjuk Wirahadinata yang sedang berjalan mendatang, dan Jaka
Rimang melompat turun kembali menyambut kedatangannya, dengan membungkukkan badannya.
— Maafkan Gusti. Kedatangan kami disini memang diperintahkan oleh Gustiku Senapati Indra
Sambada untuk mencari dan menjemput Gusti Wirahadinata. Dan kini Gustiku Senapati Indra menunggu
di Kebanjaran Agung Indramayu. Sama sekali kami tak mengira bahwa Gustiku berada disini pula. —
— Kebetulan sekali, kau cepat2 datang. Jika tidak, apa yang akan terjadi? Wirahadinata
menjawab.
— Mendapat restu Gustiku! - Jaka Rimang merendahkan dirinya — Silahkan Gustiku menaiki
kuda ini saja. — Berkata demikian Jaka Rimang menepuk kuda disebelahnya. Segera penunggang kuda
itu turun dan menyerahkan pada Bupati Wirahadinata. Sekejap kemudian Wirahadinata telah duduk
diatas pelana kuda berjajar dengan kudanya Jaka Rimang.
— Harap Gustiku sabar sebentar, menunggu kakang Jaka Wulung dan Panewu Arjasuralaga yang
sedang mengejar rampok2 yang lari itu. —
— Bukankah sebaiknya kita rnenyusul kakang Wulung dan membantunya? —
Sujud memotong pembicaraan dengan tak sabar.
— Ach …… jangan! Tadi kakang Wulung telah berpesan supaya aku menunggu disini, dan
mengatur pasukan yang ditinggalkan ini. — Jawab Jaka Rimang.
Sementara itu dengan tangkas para tarntama telah membelenggu para anak buah Tadah Waja
yang menyerah. Tak lama kemudian tampak tiga orang berkuda didalam kegelapan malam yang remang
- remang itu, mendatang dengan pesatnya. Derap kaki kuda yang riuh terdengar semakin jelas. Mereka
adalah Lurah Tamtama Jaka Wulung, Lurah Tamtama Arjarempaka dan Panewu Arjasuralaga dengan
duapuluh orang tamtama berkuda dibelakangnya. Pasukan tamtarna yang ditempat itu segera menyisih
untuk memberi jalan bagi para pendatang.
— Kakang Wulung. — Sujud berseru demi melihat Jaka Wulung datang. (Penjelasan — Jaka
Wulung dan Jaka Rirnang adalah saudara sekandung murid Kyai Pandan Gede dan Kyai Wiku Sepuh
dilereng Gunung Sumbing, yang kemudian menjadi sepasang pembantu pribadi Senapati Indra Sarnbada
dengan pangkat Lurah Tamtama. Baca Seri "Pendekar Majapahit" ).
Tiba2 dalarn jarak kira2 duapuluh langkah sebelum sarnpai ditempat Sujud, mereka masing2
dengan serentak menarik tali pengekang lis kudanya, hingga kuda mereka masing2 tersentak berdiri
dengan me-ringkik2 nyaring. Panewu Arjasuralaga dengan tangkasnya melompat turun dari kudanya
dengan diikuti oleh dua orang lainnya dan berjongkok mendekati seorang yang sedang terkulai ditanah
dengan me-rintih2. Tubuh Singayudha yang tinggi besar itu segera di pondong diatas pundaknya, untuk
kemudian dibawa dimana Jaka Rimang menunggu.
Wirahadinata, Jaka Rimang dan Sujud juga segera melompat turun kembali dan menyambut
kedatangan mereka. Setelah Singayudha diperiksa dengan teliti oleh Wirahadinata, ternyata luka dikaki
kirinya mengandung racun, karena kena goresan kuku Tadah Waja.
Akan tetapi Wirahadinata adalah Kyai Tunggul dukun shakti yang telah tak asing lagi namanya.
Dengan dibantu oleh Sujud anaknya, Wirahadinata segera mengobati luka Singayudha hingga ia siuman
kembali. Luka yang telah mulai menghitam dikoreknya dengan pisau tajam, dan saluran darahnya diurut
hingga darah hitam yang mengandung racun keluar mengucur dari lukanya. Tiupan shakti kearah mulut
Singayudha dihembuskan pelan2 sementara Sujud menaburkan bedak obat pemunah racun yang selalu
dibekal oleh Wirahadinata.
Panas suhu badan Singayudha berangsur angsur turun dan menjadi wajar Singayudha segera
bangkit duduk bersila untuk mengatur dan mengerahkan hawa murninya sendiri dengan mengatur
pernafasannya.
— Terima kasih, Gusti! Budi luhur Gustiku Wirahadinata tak akan saya lupakan! Semoga Dewata
Yang Maha Agung membebaskan budi Gustiku ! — Singayudha berkata penuh hormat, setelah merasa
ringan sakitnya.
— Ach,.. tak perlu Kyai Singayudha menyanjung demikian berlebih2an. Bahwa luka Kyai
Singayuda tak begitu berat, sayapun turut pula bersyukur pada Dewata Yang Maha Agung. Dengan
demikian Kyai dapat membimbing perguruan Baskara Mijil. —
Tujuh orang segera berkenalan dan bercakap dengan akrabnya sambil duduk diatas rumput.
Gara2 adi Sujud inilah, semua tamtarna Kerajaan menjadi kalang kabut dan disebar kesegala
penjuru — Jaka Wulung berkata ketawa riang dengan menepuk2 bahu Sujud.
Memang sejak Sujud meninggalkan Gedung Senapaten. sebagian tamtama Kerajaan oleh
Senapati Indra Sambada diperintahkan untuk mencarinya. Bukan hanya tamtama pasukan saja, akan
tetapi tamtama nara sandi Kerajaan turut pula dikerahkan. Setelah satu setengah tahun lamanya para
taintama tak berhasiI menemukan Sujud, Senapati Indra Sambada sendiri berkenan membawa pasukan
pergi ke Indramayu untuk yang keempat kalinya. Akan tetapi setibanya di Indramayu, ternyata Bupati
Wirahadinata sedang berkunjung ke Banjararja untuk memenuhi undangan Panewu Arjasuralaga. Maka
oleh Senapati Indra Sambada, Jaka Wulung dan Jaka Rimang diperintahkan untuk menjemputnya,
karena ada hal2 yang sangat penting untuk di bicarakan. Sedangkan Indra Sambada sendiri menunggu di
Kebanjaran Agung Indramayu. Tak diduganya bahwa Kebanjaran Banjararja dikacaukan oleh para
perampok dibawah pimpinan sakti Tadah Waja, hingga Jaka Wulung dan Jaka Rimang terpaksa turun
tangan membantu Panewu Arjasuralaga menumpas para perampok. Hanya sayang bahwa Tadah Waja
dapat meloloskan diri dari pengepungan. Namun rasa kecewa dan lelahnya Jaka Wulung dan Jaka
Rimang lenyap ditutup oleh rasa girang yang tak terhingga karena justru dalam kancah pertempuran
mereka berhasil menemukan kembali Sujud yang telah lama dicari2nya.
Tidak henti2nya kedua Lurah tamtama ganti berganti menanyakan pada Sujud akan
pengalamannya dalam pengembaraan. Demikian pula ayah angkatnya Bupati Wirahadinata.
Waktu itu fajar telah menyingsing. Dari arah sebelah timur sinar merah keemasan menerangi
seluruh mayapada. Sang surya mulai bertachta menggantikan dewi malam.
Seratus tamtama Kerajaan atas perintah Jaka Wulung ditinggalkan di Banjararja untuk
membantu Penewu Arjasuralaga, sedangkan Jaka WuIung Jaka Rimang, Wirahadinata dan Sujud beserta
seluruh pasukan berkuda lainnya, meninggalkan Banjararja menuju ke Indramayu. Dengan rasa sedih
dan sangat kecewa karena tak dapat menemukan Martinem dan Martiman, Sujud terpaksa mengikuti
rombongan berkuda menuju kerumah ayah angkatnya di Indramayu.
Ternyata pada malam terjadinya keributan dan kebakaran di Banjararja, semua orang dialun
alun segera turut pula mengungsi, takut akan menjalarnya api.
Warung2 ditutup dan ditinggalkan. Martiman dan Martinem berteriak-teriak ditengah keributan
orang yang akan mengungsi, memanggil2 Sujud, akan tetapi.. sia-sia belaka.

Mereka berdua bergandengan berjalan mengikuti arus orang2 mengungsi tanpa tujuan.
Panewu Arjasuralaga akan berusaha mencari kedua anak itu, dan menyanggupkan untuk
mengantarkan ke Indramayu apabila kelak telah dapat diketemukannya.

*
**
B A G I A N III
BUPATI WIRAHADINATA dengan Sujud, diapit oleh kedua Lurah Tamtama Kerajaan Jaka Wulung dan
Jaka Rimang, dengan diiringkan oleh pasukan berkuda telah memasuki alun2 Kebanjaran Agung
Indramayu. Akan tetapi sewaktu mereka akan tiba dipintu gerbang halaman Kebanjaran Agung, tiba2
Wirahadinata menarik tali lis kudanya dengan tangan kirinya erat2, sedangkan tangan kanannya
dilambaikan keatas sebagai isyarat agar semua para pengiring serentak menghentikan langkah kudanya
masing2. Karena tarikan tali lis yang tiba2 itu, maka kuda yang dinaiki oleh Wirahadinata terperanjat
sesaat hingga meringkik sambil berdiri diatas kedua kakinya belakang.
Kiranya pada saat itu, Wirahadinata sendiripun terkejut penuh rasa cemas demi meliha tiga
orang pengawal pintu gerbang bergelimpangan ditanah. Dan menjadi lebih heran lagi, demi melihat lagi
seorang anak gadis tanggung sedang berlompatan sambil menggerak-gerakkan angkinnya berwarna
merah jingga kearah lima orang pengawal lainnya yang sedang mengurung dara tanggung itu dengan
bersenjatakan pedang, dihalaman depan balai pengawalan. Gerakan anak dara itu sangat lincah, hingga
sebentar bentar lenyap dari pandangan, terselubung oleh gulungan sinar merah yang menyiIaukan
mata.
Matahari berada diketinggian tepat diatas kepala, menunjukkan bahwa waktu itu telah siang
tengah hari. Namun, sinar teriknya yang cerah seakan-akan sedikitpun tidak mempengaruhi gerakan
dara tanggung itu. Lima orang pengawal yang mengurungnya sibuk pula berlompatan menghindari
gulungan sinar merah yang menyerangnya, karena takut menjadi mangsa libatan angkin merah yang
ganas itu, sebagaimana telah alami oleh kawan-kawannya. Angkin sutra merah ditangan anak dara
bergerak menyambar nyambar laksana bernyawa, dan peedang ditangan pada pengawal tak mampu
memapaki sambaran sinar merah yang kelihatan lemah itu. Tiba2 seorang diantara lima orang pengawal-
pengawal itu berseru melengking sambil melompat tinggi, menghindari sambaran angkin kearah
betisnya. Ia menjatuhkan diri dengan menukik sambil menyerang dengan gerakan tusukan pedang
kearah dada dara tanggung itu. Ia sengaja melancarkan serangan yang amat dahsyat dan ganas karena
sangat marah demi melihat akan kebandelan anak dara yang tak mau menyerah. Namun anak dara itu
seakan-akan tak menghiraukan datangnya serangan maut yang dahsyat kearah dadanya, hingga empat
orang pengawal Iainnya terkesiap dan berlompatan satu langkah surut kebelakang karena tak sampai
hati melihat akan kejadian yang amat ngeri itu.
Semula mereka memang hanya bermaksud membelenggu dara yang dianggapnya sangat nakal,
dan sedikitpun tak ada niat untuk melukai ataupun untuk membunuhnya. Bahwa mereka berlima
menggunakan senjata pedangnya masing masing hanya karena angkin merah dara tanggung itu sangat
membahayakan. Lagi pula pedang ditangan mereka masing2 itu mula mula hanya untuk menakut2i saja,
tidak mengira bahwa anak dara itu sama sekali tidak takut akan gertakan mereka.
Tiga orang kawannya terpelanting ditanah dengan pedang terpental lepas melambung jauh kena
libatan angkin merah.
Tak heranlah bahwa seorang diantaranya kini menjadi gelap mata, dengan melancarkan
serangan mautnya. Namun kecemasan empat pengawal itu segera lenyap dan berganti keheranan
hingga mereka terperanjat sesaat samhil berdiri dengan ternganga demi meliitat seorang kawannya
yang menyerang tadi, jatuh terbanting dan berjumpalitan sambil menjerit-jerit kesakitan. Dengan
tangkasnya anak dara itu menggeser kaki kirinya merendahkan badannya, untuk mengelakkan diri dari
ujung pedang yang meluncur sewaktu hanya tinggal sejengkal dari dadanya. Ia menyusup dibawah
ketiak penyerang sambil membalikkan badannya dengan tangan kirinya menangkap lengan yang
menggenggam pedang dan kemudian dikilirkan sedikit kekiri diatas pundaknya untuk kemudian
ditariknya dengan suatu gerakan yang mentakjubkan. Pengawal yang tinggi besar itu tak ayal lagi,
terbanting dengan badannya melambung melompati pundak dara tanggung itu. Sebelum ia terbanting
diatas lanah, angkin merah telah mengejar serta melibat pedang untuk kemudian merenggut lepas dari
genggamannya. Pedang tersentak dan melambung tinggi untuk kemudian jatuh ditanah sejauh sepuluh
langkah dari pemiliknya.
Itulah gerakan membanting dengan meminjam tenaga lawan, atau dalam bentuk jurus
„mendayung mengikuti arus". Empat orang pengawal lainnya segera menerjang maju, menyerang anak
dara itu yang sedang mengejar dan melibatkan angkinnya kearah pengawal yang jatuh berjumpalitan
itu, dengan gerakan serangan serentak dengan pedang masing2.
Serangan empat orang pengawal itu merupakan gerakan serentak yang berlainan bentuknya. Seorang
membacok kearah kepalanya, seorang lagi menyerang dengan sebuah tusukan kearah dada, Sedangkan
dua orang lainnya mengarah lambung dan kakinya dengan tebangan yang berangkai.
Namun menghadapi serangan pedang serentak dari empat pengawal itu, si dara tanggung masih
juga sempat mencebirkan bibirnya sambil berseru mengejek. — Lihat, kalau kalian akan menirukan
kawanmu berjumpalitan! —
Berseru demikian, angkin merah ditangannya menyambar kearah pedang yang mendatang
kearah kepalanya, sambil meloncat tinggi berpusingan dan seakan akan hilang dari pandangan empat
orang pengeroyoknya. Tanpa diketahui, sebilah pedang yang mengarah kepalanya dapat dilibat serta
disentak-lepas dari genggaman pemiliknya.
Kiranya apa yang dikatakan dara tanggung itu merupakan kenyataan. Dua orang pengawal
segera jatuh berjumpalitan menghindari serangan sambaran angkin merah yang sedang mengganas itu,
sedangkan dua orang pengawal lainnya meloncat satu langkah surut kebelakang dengan masing2
dipipinya tampak warna merah bekas tamparan dara tanggung itu.
— Tahan sernua senjata! — Bentak Bupati Wirahadinata sambil berlari mendekat, dengan Sujud
mengikuti dibelakangnya. Demi mendengar suara itu, para pengawal semua melompat menjauhi tempat
pertempuran dan dengan tergopoh - gopoh menyambut kedatangan Wirahadinata, sedangkan gadis
tanggung berdiri tenang ditempatnya sambil bertolak pinggang dan bersenyum mengejek.

Dengan pandangan matanya yang bening kearah Wirahadinata. Suatu sikap kenakalan anak gadis
tanggung yang tak mengenal rasa takut.
Dara itu berusia kurang lebih 14 tahun. Wajahnya cantik jelita, dengan sepasang anting2nya
bermata mutiara dikedua daun telinganya. Rambutnya yang hitam panjang digelung dengan memakai
tusuk konde tiga batang yang kesemuanya bertachtakan mutiara pula.
Bibirnya merah mungil dan sepasang matanya yang redup memancarkan sinar bening.
Tubuhnya ramping berisi. Warna kulitnya kuning bersih. Lesung pipit dipipinya yang kemerah2an itu
selalu menghias senyumannya. Ia mengenakan baju berlengan panjang dari sutra berwarna merah
jambu, dan berkain sarung berwarna hitam dengan sulaman benang emas bergambar kembang2.
Melihat sikap kenakalan anak dara tanggung itu Wirahadinata turut bersenyum geli. Ia mengira,
bahwa mengamuknya dara tanggung itu, tentunya karena diganggu oleh para pengawalnya. Maka tanpa
memberi kesempatan pada para pengawal yang berlari menyambut kedatangannya, ia membentak-
bentak dengan marahnya. — Orang2 tak tahu aturan. Begitukah kelakuanmu, jika aku tidak ada
ditempat? Ataukah kalian memang sengaja minta kuhajar, agar tahu kesopanan ?
— Ampunilah kami, Gusti! Bukan kami yang tak mengenal aturan akan tetapi anak gadis itu
memang sengaja datang untuk membikin keributan disini! — Jawab salah seorang pengawal sambil
menyembah. Sebelum Wirahadinata berkata lagi, tiba2 anak dara tanggung itu menyahut dengan
suaranya yang nyaring, memotong percakapan mereka.
— Bohong! Siapa sudi ribut2 dengan tikus2 pengecut ! Aku datang untuk minta diantar ketemu
dengan Bupati Wirahadinata si kepala rampok, akan tetapi mereka malah mengusirku pergi. Masih
untung aku tidak bermaksud membunuh mereka! —
Mendengar ucapan yang sangat kasar itu, Wirahadinata terperanjat sesaat. Siapakah gerangan
anak dara yang berani memakinya dengan kasar itu. Apakah keperluannya hingga ia ingin ketemu
dengan dirinya? pikir Wirahadinata.
— Akulah Bupati Wirahadinata! Dan siapakah engkau? Ada keperluan apa engkau ingin ketemu
dengan diriku?
— Hii . . hihi ….. hiiii ….. kiranya orang yang sudah tua dan menjadi kakek2 inikah ….. dulu yang
menjadi kepala rampok. Tak usah kupancung kepalanya, sebentar lagi kau juga akan masuk kubur! —
Tanpa menghiraukan pertanyaan Wirahadinata, dara itu memakinya sambil ketawa nyaring, hingga
deretan gigi-giginya yang putih kecil bersih laksana mutiara itu nampak jelas.
— Hai! Anak gadis liar! Akan kuhajar mulutmu yang lancang itu! Tiba-tiba Sujud berseru
memotong, sambil meloncat maju, dengan kepalan tangan dan meninju kearah muka gadis yang sedang
berdiri bertulak pinggang. Tanpa bergerak dari tempatnya anak dara itu menundukkan kepalanya,
sambil mengulurkan tangan kirinya untuk menangkap pergelangan tangan Sujud.
Akan tetapi dengan tangkasnya Sujud menarik kembali serangan tinjunya untuk diubah menjadi
pukulan siku kanan sebagai gerak tipuan, sedangkan jari jarinya tangan kiri tegang mengembang
meluncur kearah muka lawannya. Karena dara itu cepat menundukkan kepalanya, maka serangan jari-
jari tangan kiri Sujud hanya mengenai gulungan saja, hingga terlepas dan terurai kebawah sampai diatas
betisnya.
Si dara menjerit sambil melompat satu langkah kesamping kiri, — aaaiii …..!...... curang kau! —
Melihat kejadian yang lucu tanpa disengaja Sujud menjadi tertawa pula. — Siapa yang curang?
— Serunya sambil ketawa geli. Cepat si dara tanggung membetulkan gelungannya yang lepas sejadi
jadinya saja, sementara Sujud masih berdiri sambil ketawa geli. Kedua pipinya dara itu menjadi merah
seketika, karena mengira dipermainkan lawannya. Tanpa menunggu siapnya lawan ia mulai menyerang
dengan angkin sutranya. Angkin merah ditangan, kini bergerak menyambar nyambar kearah tubuh dan
kaki Sujud, sambil berlompatan membuat kacaunya pandangan, sedangkan tangan kirinya bergerak
cepat dalam gaya tamparan yang susul menyusul kearah muka Sujud.
Akan tetapi Sujud adalah murid Kyai Dadung Ngawuk yang telah mewarisi jurus-jurus
wurushaktinya. Dengan terhuyung-huyung seakan-akan hampir jatuh tertelungkup, untuk kemudian
meloncat kesamping dan berjumpalitan, ataupun berjongkok, ia selalu terhindar dari serangan-serangan
si dara
Si dara menjerit sambil melompat satu langkah kesamping i — aaaaaum
……. I! ……… curang kau!!!

tanggung, Ia masih saja mengelak menghindari serangan yang dahsyat dengan langkah-langkah
wurushaktinya, dengan tanpa membalas menyerang. Kini sengaja Wirahadinata membiarkan anaknya
bertempur melawan gadis nakal itu, untuk melihat lebih jelas akan ilmu aneh yang dimiliki oleh Sujud,
serta sekaligus ingin mengetahui kepandaian anak dara itu yang lancang mulut. la mengikuti jalannya
pertempuran dengan tak berkedip. Dan ternyata kedua - duanya saling memiliki gerakan - gerakan yang
sangat aneh dan sukar untuk diduga sebelumnya. Semula Jaka Wulung dan Jaka Rimang serta para
pengawal yang menonton, saling pandang memandang dengan diliputi rasa cemas, demi melihat
gerakan Sujud yang lambat dan menyerupai orang yang mabok. Akan tetapi karena selalu nyaris
terhindar dari semua serangan, memka segera menyadari bahwa gerakan Sujud adalah gerakan dari
ilmu shakti yang mentakjubkan.
Hanya saja, mereka belum melihat kehebatan gerakan serangannya. Karena sejak tadi, baru
sekali Sujud menyerang dengan hasil dapat melepaskan gelungannya.
Sedangkan gerakan serangannya tadi, mereka tak melihat dengan jelas. Diam-diam
Wirahadinata memuji pula akan ketangkasan dan ilmu yang dimiliki oleh dara tanggung itu.
Dan dibalik gerakan mereka masing-masing yang mentakjubkan itu, ada sesuatu yang lebih
menarik perhatiannya pula. Semakin ia memperhatikan, semakin nampak jelas persamaan raut muka
dan sinar pandangan antara dara nakal dan Sujud anak angkatnya.
Hanya warna kulitnyalah yang berbeda agak menyolok.
Karena serangan yang bertubi-tubi tak pernah mengenai sasarannya, dara tanggung menjadi
gemas dan membanting bantingkan kakinya sambil berseru. — Pengecut curang! Jangan hanya
berlompat lompatan menghindar saja, pakailah senjatamu dan seranglah aku. — bentaknya.
— Untuk rnelawanmu, tak perlu aku menggunakan senjata! —
Ayooh, teruskan permainan angkinmu itu. Jika sampai menyentuh bajuku, aku menyerah kalah! — Sujud
menjawab sambil mengejek. Kini anak dara itu menjadi lebih marah hingga mukanya menjadi merah
padam sampai didaun telinganya.

Dengan sengitnya ia mulai lagi menyerang Sujud. Angkin sutra merahnya menyambar - nyambar laksana
gulungan sinar merah menyelubungi tubuh Sujud, namun kembali si-dara tanggung itu menunjukkan
muka asam, karena serangannya tak pernah berhasil.
— Cobalah sekali saja, angkinku kau biarkan melilit kakimu, jika kau ingin merasakan
berjumpalitan diudara.— Seru dara tanggung dengan membelalakkan matanya, sambil berdiri
menghentikan serangannya.
Kedua anak muda yang berlainan jenisnya itu, kini saling berpandangan. Sinar mata mereka
bertemu …… Denyutan jantung masing masing berdebar lebih keras, dan hati masing2 diliputi oleh suatu
perasaan yang sangat aneh ... Sepatah katapun tidak dapat keluar dari mulut mereka …… Namun itu
semua segera berlalu dalam waktu yang sangat singkat.
Kekerasan hati dan rasa tak mau mengalah cepat menguasai perasaan sidara tanggung.
Dengan semangat yang menyala-nyala penuh dengan dendam dan jengkel ia mengulang
serangannya dengan angkin merahnya. Tangan kanannya bergerak dan angkin merahnya mengikuti
bergerak menggeliat-geliat laksana ular ganas mencari mangsa. Dengan muka cemberut sambil meludah
ditanah, ia melompat mengejar Sujud yang sedang berdiri dengan masih tersenyum. Angkin merahnya
menyambar-nyambar lebih ganas lagi.
Akan tetapi seperti tergerak oleh sesuatu daya gaib tiba2 ujud menggagalkan maksudnya untuk
menghindari serangan. Rasanya tak sampai hati ia membuat kecewa yang kedua kalinya pada dara
tanggung lawannya itu. Ia tetap berdiri dengan masih bersenyum, tanpa bergeser setapakpun, sengaja ia
membiarkan angkin merah menyambar kearah kakinya dan melibatnya. Sambil bersenyum puas karena
serangannya berhasil si dara tanggung menggerakkan angkin dengan tangan kanannya dalam gaya
hentakan yang mentakjubkan ..Tak ayal lagi . tubuh Sujud terhentak melambung tinggi dan
berjumpalitan diudara …
Jaka Wulung, Jaka Rimang dan semua yang menyaksikan, hampir serentak berseru cemas, demi
melihat Sujud terkena libatan angkin merah dan melambung tinggi diudara.
Suatu kecerobohan hingga terlambat menghindari serangan angkin merah si dara tanggung-pikirnya.
Akan tetapi kecemasan pada diri masing2 penonton segera lenyap seketika dan berganti menjadi
dibuat ternganga penuh keheranan setelah melihat dengan mata kepala sendiri. .Sujud jatuh berjongkok
seperti kera didepan lawannya dengan ketawa terkekeh-kekeh. Selamanya baru sekali ini mereka
menyaksikan ketangkasan dua anak remaja yang demikian mengagumkan, demikian juga Wirahadinata.
Si dara tanggung yang tadinya mengira akan dapat membanting lawannya ternyata kini merasa
tertipu dan dipermainkan. Wajahnya cepat berubah menjadi asam kembali, dengan bibirnya bergerak
gemetar.
Sinar pandangan yang bening cemerlang kini berubah menjadi suram dan matanya berlinang-
linang mengembeng mata. Ia lebih mendekati menangis dari pada ketawa.
Ujung angkin sutra merah yang ternyata telah koyak, dipegangnya erat2 dengan tangan kirinya,
sambil meremas remas dengan jari2nya yang runcing2 itu.
— Awas kau! Jika eyangku dan kumbang datang, tentu kubalas setimpal! — katanya dengan
suara tertahan.
Tiba2 bayangan berkelebat mendatang dengan diiringi suara auman panjang yang menegakkan
bulu roma, dan sebelum semua orang dapat bergerak...petapa shakti yang berjubah kuning
Cahayabuana, yang namanya selalu menjadi buah tutur orang telah berdiri disamping gadis tanggung
dengan diikuti oleh seekor harimau kumbang.
— Eyang! — hanya kata2 itulah yang dapat keluar dari mulut dari dara itu.
Memang benar Ajengan Cahayabuana adanya …… Petapa shakti yang bersemayam di Gunung
Tangkuban Perahu—
Datang dan perginya laksana bayangan menghilang. Demikian besar pengaruh wibawanya,
hingga semua orang menjadi terpukau, tak dapat membuka mulut. Ia mencium kening cucunya Indah
Kumala Wardhani sidara tanggung sambil memegang tangannya dan membimbingnya mendekati Sujud
yang tengah berdiri ternganga didepannya.
— Benarkah kau putra angkat Gusti Wirahadinata cucuku sayang? —
Cahayabuana bertanya dengan lemah lembut, memecah kesunyian sambil memegang bahu
Sujud, yang olehnya dijawab dengan menganggukkan kepalanya.
— Nakmas Gusti Wirahadinata! Maafkan akan kedatanganku yang tiba tiba ini, yang tentunya
nakmas Gustiku telah mengetahui akan maksud kedatanganku, bukan?! — la bertanya dengan
merendah tertuju kepada Wirahadinata yang sedang berjalan mendekati. Sambil membungkukkan
badannya Wirahadinata menjawab pelan! — Datangnya Bapak Ajengan Cahayabuana membawa obor
penerang bagi kami.-
— Ach,.. jangan nakmas Gustiku terlalu merendah diri. Orang tua seperti saya ini tak pantas
diperlakukan demikian, — berkata demikian, lalu ia berpaling kepada Sujud.
—Cobalah …. cucuku sayang! Aku ingin melihat lenganmu yang kiri! Dapatkah kau membuka baju
lenganmu itu sebentar?! ….
Dengan dibantu oleh ayah angkatnya Wirahadinata. Sujud membuka baju atasnya, dan apa yang
dicarinya bertahun-tahun oleh Ajengan Cahayabuana kini nampak jelas dilengan kiri Sujud, ialah.. suatu
ciri asli berupa tai lalat warna hitam kemerah2an berbentuk bundar sebesar lbu jari kaki. Lenyaplah
segala keragu2an seketika yang selama ini dikandungnya. Sujud dirangkulnya erat2 hingga kepalanya
tersandar pada dadanya Ajengan Cahayabuana. Keningnya diciumi berulang kali, untuk melampiaskan
rasa rindunya. Cahayabuana yang terkenal sebagai petapa shakti itu, kini dapat pula menangis terisak-
isak. Air matanya mengalir deras membasahi kedua pipinya yang telah nampak berkeriput. Namun ia
bukan menagis karena sedih, tetapi menangis karena girang yang tidak terhingga bercampur dengan
rasa haru.
— Akhirnya . Dewata Yang Maha Agung melimpahkan kemurahannya... — ia berkata dengan
terputus-putus pada diri sendiri.
— Yoga! . Yoga Kumala!... Kau adalah cucuku...darah dagingku sendiri ….. ! —
Getaran suara shakti itu menembus menusuk jantung Sujud, hingga ia tersentak sadar seketika
dari lamunannya.
— Eyang! — hanya kata itulah yang dapat melontar dari mulutnya. Ingin ia rasanya berkata Iebih
banyak lagi, namun tenggorokannya terasa seperti tersumbat.
— Yaaaa...kau adalah Yoga Kumala cucuku! Dan Indah Kumala Wardhani yang berdiri disamping
itu adalah adik kandungmu —
Sesaat kemudian kedua remaja saling berpandang2an tanpa berkata ...Namun rasa kasih sayang
dan dendam rindu memenuhi lubuk hati masing2. Pancaran pandangan masing2 merupakan daya tarik
laksana gunung besi semberani...
Dua remaja saling merangkul dengan eratnya, dengan rnasing-masing menangis terisak-isak
........
— Akang Yoga! —
— Adikku Kumala Wardhani! —
Hanya suara itulah yang terdengar ….. dan semua yang menyaksikan ikut pula terharu. Tiba-tiba
semua orang dikejutkan oleh suara dari seorang yang berdiri dibelakang Ajengan Cahayabuana. — Yoga
Kumala adikku! Aku turut bersyukur kepada Dewata Yang Maha Agung serta mengucapkan selamat akan
hari kebahagiaannu itu!— Ternyata dengan tanpa diketahui, Senapati Muda Indra Sambada telah pula
dibelakang Cahayabuana.
— Terimalah sembahku sebagai sambutan atas kedatangngan Bapak Ajengan Cahayabuana —
— Demikian pula saya yang rendah menghaturkan sembah kepada nakmas Gusti Senapati
junjunganku. — Jawab Ajengan Cahayabuana.
Tak lama kemudian mereka semua telah berpindah tempat digedung Kebanjaran Agung
Indramayu, sebagai tamu resmi dari Bupati Wirahadinata. Hari kebahagiaan Sujud Yoga Kumala
dirayakan dengan pesta pora. Mulai sejak hari itu, nama Sujud di gantinya dengan resmi, sebagaimana
nama aslinya, "YOGA KUMALA" putra priyagung Kerajaan Pajajaran cucu dari petapa shakti Tangkuban
Perahu Ajengan Cahayabuana ……
Sementara para tamtama pengiring dan punggawa narapraja Kebanjaran Agung Indramayu
menikmati hidangan pesta untuk merayakan hari kebahagiaan bertemunya kembali gugusan
Tangkubanperahu, tiga orang shakti dengan dikelilingi oleh Jaka Wulung Jaka Rimang, Yoga Kumala, dan
Indah Kumala Wardhani asyik bercakap-cakap dengan sangat akrabnya diruang pendapa Gedung
Kebanjaran Agung Indramayu.
Dengan dibantu oleh para inang, Gusti Ayu Nyi Wirahadinata berkenan pula melayani sendiri
hidangan makanan yang disuguhkan pada tamu tamu akrabnya itu. Percakapan berlangsung dengan
ramah tamah dan akrab dalam suasana kekeluargaan. Mereka saling menceritakan kisah jalan hidupnya
yang telah dilaluinya.
Indah Kumala Wardhani yang semula mengira, bahwa Wirahadinata adalah orang yang menculik
kakak kandungnya dan membunuh ibunya, segera mohon maaf atas kelakuannya yang lancang setelah
mengetahui duduk perkaranya yang sebenarnya. Menurut keterangan Eyangnya Cahayabuana
pembunuh mendiang Ibunya adalah ternyata Durgawangsa dan Durga Saputra, yang kedua-duanya
telah mati terbunuh.
Durgawangsa mati pada kira-kira tiga tahun yang lalu oleh sabetan pedang Tamtama
Tumenggung Cakrawirya ( Baca Seri " Pendekar Majapahit" ). Sedangkan Durga Saputra setelah roboh
ditangan Yoga Kumala, mati terkena bacokan pedang Bupati Wirahadi-nata. Dan semua itu adalah
berkat jerih payah jasa Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Indra Sambada.
— Namun manusia adalah hanya merupakan pelaku2 biasa …… sedangkan Pencipta kisah dan
Dalangnya adalah Dewata Yang Maha Agung. — demikianlah Ajengan Cahayabuana memberi
wejangannya.
— Watak dan kelakuan kita semua tentunya menjadi dasar uatuk disesuaikan dengan peranan
yang diberikan oleh Nya ….. Dewata Yang Maha Agung adalah Maha Penyajang, Maha Kuasa dan Maha
Adil ….. Sinar pancaran KebesaranNya akan selalu menerangi buana kecil kita masing masing, apabila
kita selalu ingat dan bersujiud kepadaNya ….
Kita semua adalah ummat CiptaanNya .. yang wajib mengabdi dan berbakti padaNya — Petapa shakti
Cahayabuana menutup kata wejangannya.
Tiga hari kemudian Ajengan Cahayabuana dengan harimau kumbang piaraannya yang setia,
meninggalkan Kebanjaran Agung Indramayu untuk kembali ketempat pertapaannya dilereng Gunung
Tangkubanperahu.
Atas permintaan Senapati Indra Sambada sendiri, demi untuk memenuhi janjinya, Yoga Kumala
dan Indah Kumala Wardhani akan diantarkan ketempat pertapaan dilereng Gunung Tangkubanperahu
pada hari sepekan kemudian.
— Cucuku Yoga! Ketahuilah, bahwa Gusti Wirahadinata dan Gusti Ayu Nyi Wirahadinata adalah
sebagai gantinya ayah bundamu sendiri yang telah mendahului pulang kepangkuan Dewata Yang Maha
Agung ….. dan ini semua adalah atas kehendakNya. Demikian pula kau cucuku manis Indah Kumala
Wardhani! — Taatilah semua petunjuk dan nasehat orang tua angkatmu itu! — Pesan Cahayabuana
sewaktu akan meninggalkan Kebanjaran Agung Indramayu pada kedua cucunya.
— Kepada Gusti Senapati Indra Sambada yang telah sudi mengangkat dan menerima kalian
sebagai adik angkatnya, harus pula kalian patuhi akan semua perintah dan wejangannya. —

.*.

— Semoga aji „Panggendaman Rajawana" yang kuwejangkan ini dapat berguna untuk nakmas
Gustiku Junjunganku Senapati Indra sebagai penambah ilmu. —
— Aji shakti yang baru saja saya terima dari Bapak Ajengan Cahayabuana sangat besar artinya
bagi pengabdianku, demi kejajaan Kerajaan. Tak dapat saya mengutarakan betapa terima kasihku akan
kemurahan hati Bapak Ajengan Cahayabuana yang dilunturkan padaku. —
Dalam sebuah gua tempat pertapaan dilereng Gulung Targkuban Perahu terdengar dua orang
yang sedang asyik berbicara. Mereka berdua duduk bersila berhadap-hadapan diatas batu putih yang
bersih mengkilap, disudut sebuah ruangan yang agak luas. Disudut sebelah mereka terdapat meja batu
alam dengan sebuah kitab kuno diatasnya dan sebuah pelita minyak yang tak menyala. Akan tetapi
walaupun tanpa penerangan nyala api, ternyata dalam ruangan itu cukup terang karena mendapat
pancaran cahaja dari dinding-dinding batu putih alam yang mengkilap mengelilinginya. Atap batu air
alam yang runcing2 menjorok bergantungan dan tak teratur itu, menambah terangnya ruangan.
Senapati Muda Manggala Pengawal Raja Indra Sambada sedang menerima wejangan dari
Petapa shakti Ajengan Cahayabuana, dengan penuh perhatian.
— Janganlah nakmas Gustiku menyanjung diriku secara berkelebihan. Ilmu yang kuwejangkan
hendaknya diterima sebagai tanda bukti pengabdianku ! — Cahayabuana menyahut merendah.
Setelah sejenak ia melanjutkan kata katanya. — Kesudian nakmas Gusti Junjunganku untuk
menerima pengabdian dua cucuku kelak, membuat aku lebih tenang untuk sewaktu-waktu memenuhi
panggilan Dewata Hyang Maha Agung. Harapanku, semoga kedua cucuku dalam bimbingan Gusti
Junjunganku dapat menyambung nyala pelita yang telah padam. —
— Doa restu Bapak Ajengan Cahayabuana semoga selalu menyertaiku agar harapan Bapak
menjadi kenyata an. Dan hendaknya Bapak Ajengan Cahayabuana kelak dapat menyaksikan serta turut
pula mengenyam kebahagiaan hasil jerih payah cucu2 keturunan Bapak. — Kata2 ini diucapkan oleh
Indra Sambada untuk mengelakkan secara langsung akan ucapan Cahayabuana yang menyatakan
seakan-akan dalam waktu dekat akan segera meninggalkan dunia fana. Akan tetapi tak diduganya
bahwa Ajengan Cahayabuana bahkan menambah penjelasannya tentang alam keabadian yang memang
menjadi tujuan utama daripada pengabdian sepanjang masa hidupnya.
— Ketahuilah, nakmas Gusti Junjunganku! Dunia dengan seluruh isinya ini tidak ada yang kekal.
Semua akan mengalami gerang, untuk kemudian menjadi musna, kembali kepada Pencipta Nya.
Demikian pula kita semua sebagai ummat manusia. Akan tetapi kemusnaan itulah justru merupakan
permulaan dari kehidupan abadi. Siapapun yang selalu ingat akan amal kebajikan dalam sepanjang masa
hidupnya didunia serta menunjukkan dharma bhaktinya dan selalu bersujud pada Dewata Hyang Maha
Agung, merekalah yang kelak berhak akan mengenyam kebahagian abadi. Seorang pujangga kuno dari
Pajajaran pernah menulis syair yang memuat suatu petunjuk tentang tempat kebahagiaan abadi sebagai
berikut;

Bukan dilembah dalam yang sunyi,


Bukan dipuncak gunung yang tinggi,
Bukan dimahligai batu pualam,
Dan Bukan ditempat indah semayam,

Jangan dicari digelap malam,


Diangkasa yang berawan,
Jangan pula cari dilautan,
Ditengah gelombang nan bergulungan,
Lama dinanti tak kunjung tiba
Kan dikejar aral merintang,
Bagai bayang tak terpegang,
Och, Dewata Hyang Maha Kuasa,
Hanya disisi Mu bahagia abadi adanya,
Bimbinglah hamba menuju kesana. …..

Dengan demikian jelaslah bahwa kebahagiaan yang abadi tidak berada didunia yang ramai ini.
Dan hanya dengan bimbingan Dewata Hyang Maha Agung kita dapat, menemukannya. — Cahayabuana
melanjutkan wejangannya.
Senapati Indra Sambada dengan chidmad mendengarkan wejangan2 Cahayabuana. Ia dapat
meraba, bahwa ilmu petapa shakti darah Pajajaran ini adalah tinggi sekali hingga mendekati sempurna.
Kiranya sukar untuk dicarikan bandingannya. Kini ia diam sejenak dengan tertunduk. Tak dapat ia
mengejar lebih jauh akan wejang n wejangannya.
Sesaat kemudian Ajengan Cahayahuana melanjutkan bicaranya. — Nakmas Gusti Junjunganku
Senapati Indra! Aku percaya bahwa Gustiku dapat menangkap semua isi maksud wejanganku ini. Dan
hanya inilah yang dapat kupersembahkan. —
— Duhai, Bapak Ajengan Cahayabuana. Semoga aku kelak pada saatnya dapat mengikuti jejak
Bapak Ajengan Cahayabuana, walaupun hanya dengan bekalku yang sangat dangkal ini. —
— Dewata Hyang Maha Agung akan selalu menyertaimu — Ajengan Cahayabuana menjawab
pelan sambil tersenyum puas.
Baru saja dua orang shakti itu selesai berwawancara, tiba-tiba Indah Kumala Wardhani berlari-
lari mendatangi — Eyang — Aku terpaksa mengganggu Eyang! — Ia berkata tersengal-sengal.
— Yaaa ….. ada apa cucuku manis?! —
— Akang Yoga digigit dan dibelit ular besar dan panjang sekali. Lekaslah Eyang, tolong akang
Yoga Kumala, serunya.
Tanpa menjawab seruan cucunya Indah Kumala Wardhani, Ajengan Cahayabuana cepat
melangkah meninggalkan ruang semadhinya dengan diikuti oleh Indra Sambada menuju ketempat
dimana Yoga Kumala berada.
Kala itu waktu menjelang siang tengah hari. Namun demikian pancaran cahaya matahari masih
saja nampak suram tidak bersinar.

*
**

B A G I A N IV.
SEJAK HARI PAGI tadi sang surya masih tEtap bersembunyi dibalik awan tebal yang menyElimuti
angkasa. Kemegahan puncak gunung Tangkuban perahu mEnjadi pudar pula, tertutup oleh awan hitam,
laksana raksasa yang sedang berduka menanggung derita, karena tak mampu melemparkan beban berat
berupa mendung hitam yang melekat di atas kepalanya. Akan tetapi hujanpun tak turun pula. Angin
menghembus dengan sangat pelan dan lemah.
Pohon2 besar berdiri tegak tidak bergerak. Hanya daun2 kecil nampak sekali-kali bergoyang
bergerak lirih. Alam sekitarnya sunyi sepi dalam suasana penuh ketenangan. Kicau burung2 pun tidak
terdengar ramai seperti biasanya. Seakan-akan alam sekitarnya lereng puncak gunung Tangkuban
Perahu pada hari itu turut pula mendengarkan wejangan2 petapa shakti Ajengan Cahayabuana.
Telah tiga malam, Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Indra Sambada yang
bergelar Pendekar Majapahit, menginap di pertapaan dimana Cahayabuana bersemayam. Ia datang
untuk menepati janjinya mengantarkan Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani ketempat Eyangnya.
Para tamtama pengiring yang dipimpin oleh Lurah tamtama Jaka Wulung dan Jaka Rimang diperintahkan
untuk menunggu disebuah desa yang berada agak jauh di bawah tempat pertapaan. Kesempatan baik
dalam pertemuan itu, oleh Indra Sambada dipergunakan juga untuk menambah ilmu kesaktiannya. Sejak
pertemuannya yang pertama kali di Linggarjati pada kira2 dua tahun yang lalu, Indra Sambada telah
tergerak hatinya untuk ingin berguru pada Ajengan Cahayabuana (Baca Indra Sambada — Pendekar
Majapahit —)
Pada waktu itu ia tidak menduga sama sekali, bahwa bubungan akan terjalin demikian eratnya,
karena ternyata Sujud adik angkatnya adalah cucu Ajengan Cahayabuana yang bwrnama Yoga Kumala.
Bahwa dalam pertemuan yang sekarang ini, selama tiga hari tiga malam telah mendapat wejangan ilmu
yang demikian besar artinya, ia sangat bersyukur kepada Dewata Hyang Maha Agung.
Walaupun wawancara mereka sudah selesai, akan tetapi suara Indah Kumala Warthani yang
sangat tiba2 itu membuat mereka terperanjat sesaat dengan diliputi rasa cemas mereka berdua segera
pergi dengan cepatnya menjenguk Yoga Kumala. Ternyata apa yang mereka kuatirkan tidak beralasan
sama sekali.
Dengan berjongkok sambil ketawa terkekeh-kekeh, Yoga Kumala memegang kepala ular dengan
tangan kanannya, sedang tangan kirinya dengan jari2nya yang dikembangkan, setiap kali menotok ber-
ulang2 kebadan ular yang tengah berkelejotan meronta-ronta ingin lepas dari genggaman tangan
kanannya. Ekornya yang sangat panjang menggeliat-geliat dengan sangat lemahnya tak mampu
membelit tubuh Yoga Kumala kembali. Dengan perlahan lepaslah semua belitan dan kini ular itu jatuh
ditanah kelejotan dengan kepalanya masih digenggam oleh Yoga Kumala.
Ular itu besarnya kurang lebih hampir sebetis dan panjangnya lebih dari tiga depa, akan tetapi
kepalanya hanya segenggaman .
Ular itu sebangsa ular dumung jantan yang ganas dan berbisa. Warnanya berkembang2 hitam
campur kuning merah jambu. Ular semacam itu memang jarang adanya. Ia.sangat berbahaya apabila
sedang lapar. Apapun yang dijumpainya langsung diserangnya dengan desisan yang berbisa, untuk
kemudian digigitnya dan dibelit untuk membuat mangsanya tidak berdaya sama sekali. Dengan
kepalanya yang nampak kecil itu ia dapat menelan bulat2 seekor ayam alas ataupun kelinci besar atau
sebangsanya. Dengan mengeluarkan desisannya yang berbisa pula, Yoga Kumala langsung diserangnya,
dimana ia sedang asyik ber-main2 dengan Indah Kumala Wardhani adiknya. Dari arah atas sebuah pohon
yang rindang ular itu meluncur dengan pesatnya dan langsung menyerang dan menggigit leher Yoga
Kumala sambil ekornya membelit-belit tubuh Yoga Kumala. Demi melihat kejadian yang mengerikan itu,
Indah Kumata Wardhani cepat2 berlari meminta pertolongan Eyangnya.
Akan tetapi Yoga Kumala adalah murid Kyai Dadung Ngawuk yang pernah diberi makan buah
pemunah racun sliakti "tulak tuju" atau yang dinamakan pula "Daru seketi”. Ia jatuh bergulingan ditanah
sesaat, karena terperanjat bercampur rasa pedih akan serangan gigitan dilehernya yang secara tiba2 itu.
Racun yang merangsang masuk melalui luka gigitan dilehernya, segera punah kembali oleh tulak tuju.
Sedangkan baginya sewaktu masih mengikuti Kyai Dadung Ngawuk daging ular adalah
merupakan santapan yang lezat. Terdorong oleh rasa keinginan untuk menikmati kembali daging ular,
yang olehnya telah lama dilupakan, kini cepat ia bangkit kembali serta melawannya penuh semangat.
Ular yang sangat ganas itu kiranya tidak berdaya melawan totokan jari2 Yoga Kumala. Tulang ular yang
ber-ruas2 menjadi terpisah2 sambungannya karena totokan shaktinya Yoga Kumala.
— Ha … haaa...haaaaa ..! Belum kenalkah kau bahwa aku adalah Dadung Ngawuk kecil?! Sudah
lama aku tidak merasakan lezatnya daging ular sebangsamu...haaa...haaa!! Ia bicara sambil ketawa
terkekeh-kekeh menyeramkan.
— Ayooooh ….. bergeraklah sepuas hatimu …. sebelum kau kukupas dan kupotong-potong
dagingmu! — Serunya sambil ketawa ter-kekeh2 dengan masih berjongkok memegang erat2 dalam
tangan kanannya kepala ular itu yang semakin lemah gerakannya. Ia girang bukan main, seperti lagaknya
anak kecil yang mendapat makanan kesukaannya sehingga tidak mengetahui bahwa Eyangnya Ajengan
Cahayabuana dan lndra Sambada kakak angkatnya telah berdiri dengan ternganga dibelakangnya.
— Yoga! — Cahayabuana berseru pula: — Ular itu sangat berbahaya maka cepat2lah kau bunuh!
Walaupun suara itu sangat pelan didengarnya, akan tetapi membuat ia terperanjat juga. Cepat ia
memalingkan kepalanya kearah Eyangnya, dengan masih menggenggam erat2 kepala ular ditangan
kanannya.
— Semua ular tak ada yang berbahaya, Eyang! Dan memang ular ini akan segera aku bunuh,
untuk dimasak dagingnya! Jika Eyang belum pernah mencoba, tentu tak akan percaya, bahwa daging
ular itu sangat lezat rasanya! Yoga Kumala menjawab dengan sungguh2.
Demi mendengar jawaban cucunya kini Cahayabuana menatapnya dengan penuh rasa heran.
Indra Sambada turut pula tercengang demi mendengar jawaban dari adik angkatnya itu.
— Bukan demikian maksud Ejangmu, Yoga! — Indra memotong pembicaraan untuk
menjelaskan, sambil ikut ber-jongkok mendekat: — Yang berbahaja adalah racunnya! — Jika ular itu
sampai menggigitmu sukar untuk mencarikan obat pemunah racunnya! —
— Ach Kangmas Indra juga tidak percaya akan kata2 ku. —Tadi ular ini telah menggigit leherku,
tetapi tidak apa2?!
— Lihat …. ini .. bekas gigitannya! — Yoga Kumala menunjukkan luka bekas gigitan ular
dilehernya dengan telunjuk tangan kirinya.
— Hah?! Betulkah kau telah digigitnya?! — Cahayabuana dan Indra Sambada bertanya serentak
sambil saling pandang dengan penuh tanda tanya dan perasaan was2.
— Betul Eyang! Tadi akang Yoga jatuh bergulingan waktu digigitnya dan dibelit2 badannya oleh
ular itu!— Indah Kumala Wardhani menyahut bahna tak sabar. Akan tetapi karena ia merasa jijik, maka
tak berani ia mendekati kakaknya yang masih juga memegangi ular itu. la berdiri dibelakang Eyangnya
sambil berpegangan jubahnya karena takut kalau2 ular itu terlepas dan menggeliat kearahnya.
Tiba2 ular itu berkelejot sekali, dan sesaat kemudian terkulai tak bergerak lagi. Kiranya ibu jari
tangan kanan Yoga Kumala menekan lebih keras lagi ke kepala ular yang digenggamnya sehingga hancur
dan mati seketika. Ular itu kini baru dilepaskan dari genggamannya serta jatuh terkulai ditanah tak
bergerak.
Bahwa hanya dengan tekanan ibu jari tangan kanan, kepala ular itu dapat dihancurkan.
Cahayabuana dan Indra Sambada tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya.

— Yoga Kumala! Coba perlihatkan jari2mu itu kepadaku! —


Cahayabuana berkata sambil ikut serta berjongkok dihadapan cucunya dan memegang tangan
kanan Yoga Kumala.
Sebagai seorang petapa shakti, cepat ia dapat mengetahui bahwa jari2nya tangan Yoga Kumala
rnemang memiliki daya kekuatan yang luar biasa. Hal itu tidak menjadikan heran, karena dengan cara
latihan2 yang tekun kekuatan demikian memang dapat dicapai.
Akan tetapi yang lebih mengherankan, ialah Yoga Kumala dapat memunahkan racun ular yang
sangat berbahaya. Terang bahwa dilehernya masih nampak jelas adanya bekas gigitan ular, akan tetapi
sedikitpun tak menampakkan bahwa ia menderita karena keracunan.
— Apakah Gustiku pernah juga memberikan ilmu pemunah racun ular yang sangat
mentakjubkan itu?! — Cahayabuana bertanya kepada Indra Sambada.
— Tidak! Saya sendiripun tidak memiliki ilmu kesaktian yang demikian — jawab Indra dengan
wajah masih diliputi rasa heran akan kejadian keajaiban kesaktian Yoga Kumala.
— Cucuku Yoga! Dimanakah kau mendapat ilmu yang aneh serta mentakjubkan itu?! —
Mendapat pertanyaan dari Eyangnya itu, Yoga Kumala menjadi diam dan menundukkan kepala,
yang kini mukanya bersemu dadu sampai diujung telinganya. Sinar pandangannya yang tadi berseri2
penuh kegirangan kini lenyap seketika dan berobah menjadi sedih penuh rasa penyesalan. Ia teringat
akan pesan kakek Dadung Ngawuk gurunya agar namanya tak usah disebut-sebut. Untuk membohong
pada Eyangnya dan kakak angkatnya ia takut dan perasaannya tak mengijinkan. Sedang untuk menjawab
dengan sebenarnya ia merasa salah karena tak mematuhi akan pesan gurunya.
Demi melihat cucunya tertunduk dan tak mau menjawab sepatah kata Cahayabuana segera
dapat menerka pula, bahwa pertanyaannyalah yang menjadikan sebab kesedihan cucunya. Dengan
penuh kasih sayang, Cahayabuana memegang dagunya Yoga Kumala dengan tangan kanan untuk
didongakkan sedikit keatas, sedang tangan kirinya diletakkan diatas pundak Yoga Kumala cucunya,
sambil berkata lembut: — Cucuku sayang Yoga Kumala! Tak usah kau bersedih hati, jika memang kau
tidak dapat menjawab pertanyaanku memang banyak orang2 shakti yang tak mau di kenal namanya. Hal
demikian adalah wajar. Aku sebagai Eyangmu merasa turut bahagia, bahwa cucuku memiliki ilmu yang
tidak dapat dipandang rendah itu. Dan sebagai Eyangmu akupun ingin pula akan menyampaikan rasa
terima kasihku yang tak terhingga pada gurumu yang telah sudi memberikan ilmu kesaktian padamu! —
Berkata demikian Cahayabuana sambil menatap pandang kearah wajah cucunya dengan diiringi senyurn
yang mengandung kasih sayang. Merahlah wajah cucunya, air mata berlinang linang mengalir pelan
membasahi pipi Yoga Kumala.
— Marilah cucuku! Kita pulang dan bercakap - cakap diruang tempat semadhiku. Nanti akan
kuceritakan tentang orang2 shakti yang memiliki sifat2 keanehan pada diri mereka masing2. Biarlah Mang
Jajang memasak ular yang kau tangkap itu. Akupun ingin turut mencicipi daging ular yang menurut
katamu sangat lezat! — katanya menghibur.
Dengan membawa bangkai ular, Yoga Kumala mengikuti Eyangnya dan kakaknya angkat kembali
memasuki goa, sedangkan Indah Kumala Wardhani telah mendahului berlari larian untuk memanggil
Mang Jajang yang sedang berada didapur.
Setelah Yoga Kumala mencuci tangan dan mukanya, serta menyerahkan bangkai ular itu pada
Mang Jajang dengan pesan untuk memasaknya, Kumala Wardhani baru mau mendekati kakaknya
dengan lagak yang sangat manja dengan memegang lengan kakaknya sambil menyanjung mengagumi.
Kini empat orang duduk bercakap-cakap diruang semadhi sambil menikmati hidangan makanan
kecil yang telah disediakan oleh Mang Jajang dengan minuman teh harum yang masih hangat. Diluarpun
mulai turun hujan rintik-rintik.
— Yoga Kumala! — Suara Cahayabuana terdengar membuka percakapan. — Jika aku tak salah
dengar tadi kau mengaku sebagai Dadung Ngawuk kecil. Adakah si-kakek gundul gila Dadung Ngawuk
yang shakti itu pernah menjadi gurumu? —
Pertanyaan Ejangnya yang tidak diduganya itu membuat Yoga Kumala tercengang heran.
Kenalkah Eiangnya dengan kakek Dadung Ngawuk gurunya? Jika seandainya tidak pernah mengenal dari
mana Eyangnya dapat memberikan gelar pada gurunya " sikakek gila „ yang shakti. Suatu teka-teki yang
ia sendiri tidak dapat menebaknya. Akan tetapi otaknya yang cerdas cepat bekerja. Ia ingin bertanya
lebih dulu sebelum memberikan jawaban pada Eyangnya.
— Apakah Eyang pernah kenal dengan orang yang bernama kakek Dadung Ngawuk? Ingin saya
mengetahui lebih banyak tentang kisah kakek Dadung Ngawuk itu, Eyang?. Yoga Kumala pura2 bertanya.
Secepat otak Yoga bekerja, secepat itu pula Cahayabuana sudah dapat meraba, bahwa cucunya
adalah benar-benar murid dari kakek Dadung Ngawuk. Dari perobahan air muka dan pertanyaan
cucunya, ia dapat menarik kesimpulan dengan pasti, bahwa kakek Dadung Ngawuk adalah guru cucunya.
Dan tingkah lakunya Yoga Kumala sewaktu membunuh ular itu, menambah keyakinan. Untuk tidak
mengecewakan cucunya ia kini mulai bercerita.
— Pada kira-kira sepuluh tahun yang lalu, aku pernah kenal dengan sikakek gundul aneh yang
shakti itu. Waktu itu, ia memang sengaja datang kemari untuk ingin bertemu dengan diriku. — Sampai
disini Cahayabuana berhenti sesaat, seakan-akan ada sesuatu yang sedang di - ingat2nya.
Dengan duduk bersila serta membuka telinganya lebar2, Yoga Kumala mendengarkan Eyangnya
yang sedang bercerita dengan penuh perhatian, Senapati Indra Sambada dan lndah Kumala Wardhani,
walaupun tidak mengenal nama Dadung Ngawuk, ingin pula mengetahui kisahnya tentang orang shakti
yang aneh itu. Bagi Indra Sambada cerita2 semacam itu sangat digemari, karena dengan demikian ia
akan lebih banyak mengetahui tentang orang2 shakti yang kemungkinan besar akan banyak manfaatnya
dalam arti menunaikan tugasnya.

Sejenak kemudian, Cahayabuana mulai lagi dengan ceritanya. —


Yaaa .. kira-kira dua puluhan tahun yang telah lalu . pada jaman itu, aku mengenal lima orang
shakti yang masing-masing memiliki sifat2nya sendiri2. Watak dan tingkah lakunya sangat berlainan satu
sama lain. Lima orang itu tergolong orang-orang shakti yang terkemuka didaerah masing - masing,
Hanya ada juga persamaan mereka berlima orang shakti itu. yalah ……umur mereka hampir sebaya ….
Orang pertama bernama Sidik Pamungkas dan terkenal dengan gelarnya Yamadipati. Namanya
harum, karena orang itu memiliki sifat-sifat ksatria. Ia senang menolong sesama yang lemah, dan
pengaruhnyapun didaerah Mataram sangat luas. Semula ia terkenal sebagai pendekar pedang yang
sangat ulung dan sukar untuk mencarikan tandingannya, akan tetapi kemudian ia menjadi lebih terkenal
dengan senjata tongkat penjalinnya.
Hanya sayang ia memiliki watak yang sangat kejam tidak mengenal ampun. Setiap orang yang
dianggap sebagai musuhnya tentu binasa ditangannya, maka oleh orang-orang digelari dengan nama
Yamadipati yang artinya pencabut nyawa. Cara hidupnyapun mencontoh seorang bangsawan.
Segala2nya teratur rapih dan serba ada. Namun belakangan ini nama Sidik Pamungkas tak terdengar lagi
hingga sekarang ini. Ada sebagian yang mengatakan bahwa ia kini telah menjadi Wiku atau pendeta dan
bersemayam dilereng Gunung Sumbing. Benar tidaknya aku sendiri belum mengetahui dengan pasti.
Dan orang itu yang juga mempunyai aji shakti " Panggendaman Rajawana", Orang kedua adalah Jaka
Pandan yang kemudian bergelar Kyai Pandan Gede. Ia adalah saudara muda seperguruan, dengan sidik
Pamutigkas. Akan tetapi merupakan saudara seperguruan sifatnya sangat berlainan. Jaka Pandan atau
Kyai Pandan Gede orangnya sangat sederhana, bahwa dapat dikatakan hidup dalam kemelaratan,
dimana ia berada disitulah tempat tinggalnya.
Ia tak pernah mempunyai tempat tinggal yang tetap. Sedangkan ia adalah orang yang senang
mengembara. Lawan ataupun kawan sukar untuk dapat menemuinya. Orangnya senang berkelakar dan
selalu bermurah hati. Tapi jelas bahwa orang seperti dia memiliki jiwa besar, sepi ing pamrih. Harta ben-
da baginya sama sekali tak ada artinya. Sayang ia tak mempunyai keturunan. Menurut cerita orang, dulu
ia pernah mencintai seorang gadis anak bangsawan. Akan tetapi karena orang tua gadis idamannya
memperbolehkan untuk diperisterikan oleh Jaka Pandan, maka Jaka Pandan bersumpah tak akan
mempunyai istri untuk selama-lamanya.
Ia mengikuti gerak hatinya sendiri dalam hidupnya, artinya tak mau mendengarkan kata2 orang lain.
Karena munculnyapun selalu tiba - tiba karena menuruti kehendak sendiri maka ia mendapat gelar
"Siluman shakti" Pengaruhnyapun amat luas didaerah seberang timur sepanjang Bengawan.
Orang yang ketiga adalah yang tadi namanya telah kusebut jalah Dadung Ngawuk. Orang itu
menurut ceritanya berasal dari daerah Demak. Sejak kecil ia terlunta2, karena ia adalah anak yatim piatu.
Akan tetapi setelah dewasa ia amat shakti. Ia pernah mengembara sampai didaerah Kerajaan
Pajajaran sini. Dengan kesaktiannya ia malang melintang, sukar untuk mencarikan lawannya.
Pengaruhnyapun sangat amat luas hingga sampai di perbatasan Banyumas. Akan tetapi sifat2nya hampir
menyerupai orang yang tak waras otaknya. Hal ini mungkin disebabkan karena penderitaannya waktu
kecilnya atau karena ilmu yang dianutnya. Aku sendiri kurang mengetahui dengan pasti.
Hanya sayang, orang itu hanya mengenal di inya sendiri tanpa mengerti kegunaan akan
kesaktiannya. Demikian ia dimabokkan oleh kesaktiannya sendiri, hingga tak pernah berhenti mengejar
kemajuan ilmunya saja. Waktu itu semua orang yang pernah dikenalnya diajak bertempur, hanya untuk
meyakinkan kesaktiannya sendiri. la tak pernah memperdulikan orang lain, asalkan tak menyinggung
pribadinya ataupun menyinggung ilmunya.
Pendek kata sifat2nya tepat jika dinamakan setengah gila. Ia tak pernah mau campur tangan
dengan urusan2 kenegaraan ataupun membina ketenteraman seperti orang-orang shakti lainnya.
Diwaktu kosong, ia banyak menyendiri ditempat - tempat sepi untuk melatih kasaktiannya, yang
selalu dirahasiakan. Orang yang demikian sungguh sukar untuk diselami arah tujuan dan kehendaknya.
Ia dapat menghancurkan batu hanya dengan remasan jari-jarinya. Yang mengherankan iapun memiliki
ilmu usadha yang tinggi sekali. Akan tetapi tak pernah dipergunakan untuk menolong sesama, jika tidak
ada urusan dengan pribadinya. Darimana ilmu itu didapatnya aku sendiri pun tak mengetahui. Karena ia
dulu pernah malang melintang disini, maka akupun mengenalnya. Ciri ciri aslinya pada orang itu
kepalanya gundul sejak kecil. Apakah ia kini masih hidup ataupun mati aku tak mengetahuinya. —
Sampai disini Cahayabuana berhenti sejenak sambil menghela nafas panjang serta menatap
pandang kearah Yoga Kumala yang duduk dihadapannya, seakan-akan ia ingin menyelami pendapat
cucunya. Sewaktu Indra Sambada sedang duduk terpaku mendengarkan cerita Cahayabuana sambil
mengagumi akan pengalaman dan pengetahuannya yang sangat luas itu, tiba tiba Yoga Kumala
memotong bicara memecah kesunyian. — Ketiga orang shakti yang Eyang ceritakan itu kini masih hidup
semua, Eyang?. Dan ketiga-tiganya sayapun telah pernah mengenal bersama-sama kangmas Indra
Sambada. Bukankah demikian kangmas?! —
— Ya . . . . memang demikian, akan tetapi orang shakti yang ketiga tadi aku terus terang belum
pernah mengenalnya. Bahkan mendengar namanya saja baru sekarang ini. — Indra Sambada menyahut,
— Jika kau telah mengenal orang yang ketiga tadi, berarti kau lebih banyak mengetahui tentang orang
orang shakti dari pada aku Yoga!? —
Indra Sambada sengaja menyanjung adik angkatnya, agar ia mengetahui dengan pasti, apakah
kesaktiannya yang dimiliki oleh Yoga Kumala itu memang berasal dari Dadung Ngawuk.
Tanpa ditanya lebih lanjut, Yoga Kumala menceritakan tentang pertemuannya dengan kakek
Dadung Ngawuk, hingga ia mendapat ilmu "Wuru shakti" dari padanya. Hanya mengenai buah „daru
seketi„ ataupun yang disebut ,,tulak tuju" ia sengaja merahasiakan. —
— Pantasan akang Yoga sekarang seringkali bertingkah aneh seperti orang gila, jika sedang
berlatih dengan aku, Eyang? Kiranya akang Yoga adalah murid dari kakek Dadung Ngawuk sigila yang
shakti itu. — Indah Kumala Wardhani turut memotong percakapan sambil mencebirkan bibirnya
menggoda Yoga Kumala.
— Indah, kau jangan mencemohkan kakakmu! Bahwa Dadung Ngawuk mau memberikan
ilmunya pada kakakmu adalah suatu kurnia yang luar biasa anehnya. Ilmunyapun sangat tinggi. Kau
harus turut bangga karenanya — Cahayabuana cepat menegur cucunya yang selalu gemar menggoda
orang lain,

— Eyang, cobalah teruskan dahulu cerita orang2 shakti tadi, saya ingin mengetahuinya tentang
kelima orang shakti yang telah dikenal oleh Eyang itu! — tanpa menghiraukan ejekan adiknya Yoga
Kumala mendesak Eyangnya untuk melanjutkan ceritanya.
— Baiklah akan aku teruskan dongenganku tentang lima orang shakti yang memiliki sifat2 aneh
yang telah kukenal — Cahayabuana mulai lagi dengan ceritanya.
— Orang yang keempat adalah orang yang tinggal menetap di gua Rongkob didaerah pantai
selatan. Tidak sembarang orang dapat memasuki guanya, karena gua itu tertutup oleh air laut yang
terkenal angker. Pantai laut selatan sangat berlainan dengan pantai Iaut tengah. Tebing2nya sangat terjal
dan gelombangnyapun sangat besar bergulung- gulung tak ada hentinya. Konon ceritanya orang2
penduduk sekitar pantai, jauh sebelah selatan dari gua Rongkob yang angker itu, ditengah2 lautan..
adalah sebenarnya istana besar dari Nyi Loro Kidul. Ia adalah raja putri lautan. Yang akan saya ceritakan
ini bukan raja putri itu, tetapi orang shakti aneh penghuni gua Rongkob ….Ia terkenal dengan nama
Mbah Duwung. —
Belum juga Cahayabuana selesai dengan ceritanya, tiba2 Indah Kumala Wardhani yang sedari
tadi diam mendengarkan memotong bicara.
— Eyang, bagaimana Mbah Duwung itu dapat masuk keguanya, jika mulut gua itu tertutup oleh
air laut? Apakah istana dalam lautan itu benar2 ada. Eyang? —
— Heh.. heh.. hehh . Betul juga pertanyaan itu. Hampri2 aku lupa menjelaskan tentang keadaan
gua itu. Begini, cucuku manis! Gua itu sebenarnya tak telendam air laut seIuruhnya. Yang tertutup air
hanyalah mulut gua itu saja, sedangkan liangnya menanjak keatas hingga dengan demikian didalam gua
itu kering sama sekali.
Masuk dan keluarnya Mbah Duwung tentu saja menunggu jika air laut sedang surut, jadi tak
sembarangan waktu. Saya sendiri sewaktu belum menyatakan dengan mata kepala sendiri juga tak akan
percaya adanya gua yang aneh itu...Sedangkan benar dan tidaknya mengenai adanya istana didasar
lautan selatan, aku sendiri tidak mengetahui dengan pasti. Karena itu sepanjang masa hanya merupakan
dongengan belaka. dan tak pernah ada orang yang berani menyatakan dengan mata kepala sendiri!
Bahwa Ajengan Cahayabuana berkata tak percaya sebelum menyatakan sendiri, jelas
mengandung arti bahwa ia pernah menjelajah dan memasuki gua rongkob itu - pikir Indra Sambada.
Cahayabuana berhenti berbicara sesaat untuk membasahi tenggorokkannya dengan teh hangat
yang berada dihadapannya, sambil mempersilahkan pada tamunya Indra Sambada.
— Marilah, nakmas Gustiku Senapati! Kita nikmati dahulu hidangan hangat yang disuguhkan
oleh Mang Jajang! —
Mereka berempat segera mulai merahapi makanan yang dihidangkan oleh Mang Jajang dengan
nikmatnya.
— Nah, akan aku lanjutkan...Mbah Duwung orangnya gagah perkasa. Ia memiliki watak yang
angkuh sekali dan senang menolong sesama demi memamerkan akan kesaktiannya.
Jadi jelas, bahwa pertolongannya itu bukan murni karena perasaan kemanusiaannya, akan tetapi
karena senang dipuji orang sebagai seorang shakti yang tanpa tanding. Memang ia memiliki ilmu golok
panjang yang sangat mentakjubkan. Jurus-jurus gerakannya menyerupai ilmu pedang tamtama
Kerajaan. Karena ia selalu memakai perisai baja dilengan kirinya, maka iapun digelari dengan si tangan
besi. — Ia adalah pemuja Nyi Loro Kidul Raja putri lautan itu. Sayang, bahwa orang shakti yang demikian
tinggi kurang mengenal akan kebesaran Dewata Hyang. Maha Agung Penciptanya.
Ia mempunyai seorang murid yang dididiknya sejak kecil bernama Talang Pati. Sifat dan
wataknyapun tidak menyimpang dari gurunya.
Anehnya Mbah Duwung adaah pembenci kaum wanita.
Sedangkan orang shakti yang kelima yang aku kenal ialah seorang wanita tua yang amat jahat,
penganut ilmu hitam
Ia mempunyai dua orang murid laki-laki yang umurnya... tak banyak selisihnya dengan dia
sendiri...
—Yaaa...kedua muridnya itu juga merupakan suaminya. Dengan ilmu kesaktiannya yang
beraliran hitam itu, ia dapat menyulap tongkat ataupun ranting pohon menjadi ular... dan lebih dari
pada itu ..ia dapat membuat orang menjadi buta seketika hanya dengan seruan kata2nya saja.
Kuku-kuku jari2nya dan jari-hari kakinya semua mengandung racun yang sangat berbahaya bagi
lawannya.
Kejahatan dan kekejamannya sangat mempengaruhi setiap otang, hingga orang2 memberikan
gelar padanya sebagai — jin beracun wanita — dan namanya terkenal dengan Nyai Pudak Muncar,
sungguhpun raut mukanya seram dan menakutkan.
Orang2 yang takut padanya memanggil dengan sebutan Raden Ayu Pudak Muncar. Akan tetapi
orang itu pada waktu lima belas tahun yang lalu telah mati terbunuh oleh seorang priyagung dari
Pajajaran yang namanya tak perlu di sebutkan …..
Dengan meninggalnya Pudak Muncar, dua orang muridnya menggantikan kedudukkannya yang
terkutuk itu. Mereka dengan bekal warisan kesaktiannya, kedua duanya menjadi kepala rampok yang
memiliki pengaruh luas didaerahnya masing-masing. Sifat2 kejam dengan tanpa batas2 perikemanusiaan
masih merajai dirinya. Kuku kuku jari-jarinya merupakan senjatanya yang paling ampuh, karena
mengandung racun yang amat berbahaya bagi lawannya. Sedikit saja ter-gores oleh kuku2 mereka dapat
mengakibatkan kematian bagi lawan.
Murid yang tertua bernama Tambakraga dan menetap disebuah gua ditengah hutan Wonogiri,
jauh diseberang timur sana, sedangkan seorang murid lainnya bernama Tadah Waja yang tinggal
dilereng gunung Slamet. Kedua-duanya memiliki kesaktian dan kekebalan terhadap segala racun.
Sedangkan laskar dan murid2nya sangat banyak serta tersebar luas …. Yaaaahh ..... !
Sebenarnya masih banyak lagi orang2 shakti lainnya . . akan tetapi mereka pada umumnya
tenang2 saja ditempatnya masing2 sehingga tidak menjadikan buah tutur orang banyak. Kebanyakan dari
orang2 yang memiliki kesaktian itu, pada umumnya turut pula membantu menjaga ketenteraman daerah
masing2 dengan mendirikan perguruan ilmu kanuragan ataupun membantu para priyagung Kerajaan
dalam menunaikan tugasnya, Dan ini semua belum terhitung orang-orang shakti yang memangku
jabatan tinggi sebagai priyagung tamtama Kerajaan yang tidak dapat dikatakan sedikit jumlahnya.
Hal ini tentunya nakmas Gustiku Senapati lebih mengetahui dari pada aku yang hanya selalu
tinggal digunung yang terpencil ini.
Adapun kelima orang shakti yang telah kuceritakan itu tadi adalah orang2 shakti yang memiliki
sifat2 aneh serta gemar mengembara.
Dan kelima orang itu walaupun tidak bersamaan waktunya secara kebetulan pernah berkunjung
kemari. Maka jika cucuku Yoga Kumala ataupun Gustiku Senapati kelak dalam perjalanan berjumpa
dengan salah seorang dari mereka, aku mengharap kesudiannya untuk menyampaikan salamku. —
Cahayabuana tiba2 memutus ceritanya. Suasana menjadi hening sejenak kembali setelah Cahayabuana
berhenti dengan kisah yang diceritakan …..
Masing2 turut pula terdiam, karena terbawa oleh lamunannya sendiri2, akan tetapi suasana
demikian itu hanya berlalu dalam sekilas pandang saja, karena Yoga Kumala kiranya masih juga merasa
kurang puas akan kisah yang telah diuraikan oleh Eyangnya. Terutama mengenai kisah yang diceritakan
menyangkut akan gurunya Dadung Ngawuk. Segera ia menggeser duduknya mendesak lebih maju untuk
menanyakan apa yang terkandung dalam hatinya. — Maafkan, Eyang! Tadi yang mula2 menceritakan
tentang kedatangan kakek Dadung Ngawuk ditempat ini pada kira2 sepuluh tahun yang telah lalu. Tetapi
belum juga cerita itu dilanjutkan …..
Eyang hanya terus menceritakan tentang sifat2 dari pada kelima orang shakti itu saja …. Jika
sekiranya Eyang tidak berkeberatan, cucunda ingin sekali mengetahui tentang maksud kedatangan
kakek Dadung Ngawuk kemari secara keseluruhan, Eyang.
Mendapat desakan dari cucunya, Cahayabuana segera menatap pandang sesaat, serta kemudian
meng-angguk2kan kepalanya dengan sambil bersenyum, dijawabnya dengan pelan: — Heh…. Heh…. heh
….—
Cucuku Yoga Kumala! ….. Aku gembira dengan pertanyaanmu itu …..Sudah sepantasnya apabila
kau ingin mengetahui ….. Baiklah …. akan kusambung lagi ceritaku yang sudah sejenak kuhentikan ini
…—
Ia kembali diam lagi sesaat, dengan mengerutkan keningnya sehingga tiga deretan garis2 kerut
keningnya nampak jelas, se-akan2 ada yang sedang diingat2nya kembali. Kemudian mulailah ia bicara
kembali memecah kesunyian, sementara Yoga Kumala, Indra Sambada dan Indah Kumala Wardhani
telah memasang telinganya dengan sepenuh perhatiannya.
— Pada waktu itu, adikmu Indah Kumala Wardhani masih kecil baru …. berusia kira2 empat
tahunan. Selagi aku menidurkan adikmu ditempat ini. Berkata demikian Cahayabuana menunjuk kelantai
yang kini sedang diduduki oleh Indra Sambada.
Si Kumbang yang biasanya mendekam dengan tenang dimulut gua, tiba tiba mengaum panjang,
dan melesat di kegelapan ….
Waktu itu memang sudah mulai gelap malam ….
Baru saja adikmu kutidurkan diatas lantai, tiba2 Mang Jajang datang dengan tergopoh-gopoh
serta mengigil ketakutan sambil berkata peian dan terputus-putus: — Juragan sepuh …. Diluar ….ada ….
orang diserang ….. oleh Kumbang! —
Sesungguhnya akuptin telah mendengar sendiri, maka dengan berhati-hati aku manjenguk
keluar, sedangkan Mang Jajang kuperintahkan untuk menunggu adikmu Indah ….
Betapa terperanjatku setelah aku mehhat diluar dalam kegelapan malam dengan jelas, bahwa si
kumbang telah bergelimpangan sambil me-ngaum2 pendek, seakan - akan merupakan jeritan meminta
pertolonganku karena tidak mampu untuk berdiri diatas keempat kakinya lagi ….. Selagi aku mengamat-
amati sekali lagi dari jarak yang lebih dekat agar lebih jelas, tiba2 sesosok tubuh seperti bayangan hitam
telah berdiri dimukaku dengan mengeluarkan suara tawanya yang terkekeh-kekeh menyeramkan … .
dan segera berseru lantang.
— Hai, petapa tua yang durhaka! Jangan sembunyi terus dalam gua, dan berpura-pura suci!
Biarpun kau ada didalam kawah gunung ini, niscaya aku akan dapat menemukan juga. Akuilah, sebelum
kau mampus ditanganku, bahwa tanganmu telah berleprotan darah yang harus pula kau pertanggung
jawabkan dengan jiwamu! Heh . ..heh!
Demi mendengar kata2 ancamannya itu, aku menjadi bingung lagi.
Menurut ingatanku orang gundul yang berdiri dihadapanku dengan tiba tiba itu, belum pernah
aku mengenalnya, apalagi berurusan.
Kini tanpa bertanya terlebih dahulu, ia telah melontarkan makian dan ancaman yang sedemikian
kejamnya ….. hingga hampir saja aku tak dapat mengendalikan nafsu kemurkaanku …. Tetapi untunglah
bahwa Dewata Hyang Maha Agung selalu melimpahkan kemurahanNya padaku, hingga cepat aku dapat
menguasai lagi ketenangan dalam diriku …..Cahayabuana berhenti bianra sambil memejamkan matanya
sesaat serta menarik nafas panjang dan dalam, kemudian menyambung ceritanya. — Maka pesanku,
dalam keadaan bagaimana jugapun cucuku harus dapat tetap bersikap tenang. Karena ketenangan
merupakan pangkal kejernihan berfikir …. Dengan kesopanan yang lajak sebagaimana seorang yang
melayani tamu, aku bertanya padanya dengan tanpa menghiraukan akan kemarahannya yang sedang
meluap luap itu.
— Kita belum pernah saling mengenal, jika kedatangan saudara memang ada urusan dengan
diriku, sudilah singgah sebentar digua pondokku ini, agar dapat dibicarakan dengan terang tentang
segala urusan saudara.—
— Maafkan aku Cahayabuana jika ada kekhilafan sampai-sampai tidak mengenal saudara. —
Akan tetapi tamu yang sangat asing bagiku ternyata tidak mau mendengarkan kata2ku, bahkan
sebaliknya. Ia mencaci maki diriku dengan kata2 yang lebih keji dan tak bisa diterima oleh telinga.
Puncak kemarahannya akhirnya menantang diriku untuk bertempur.
Dalam pengakuannya ia mengaku bernama Ki Dadung Ngawuk . . Nama Dadung Ngawuk memang telah
lama aku mendengarnya sebagai seorang shakti yang cukup menggetarkan daerah Pajajaran sini, akan
tetapi baru saat itulah aku mengenal orangnya. Maka begitu aku tahu bahwa yang berdiri di depanku itu
Dadung Ngawuk adanya, segera aku berlaku merendah demi untuk mencegah terjadinya perkelahian
yang tanpa alasan.
Tetapi ia tetap saja pada pendiriannya dan berkepala batu tidak mau menyambut ajakanku dengan tata
susila, dan suara tawanya terdengar terkekeh-kekeh bergelak-gelak menyeramkan. Pada saat itu aku
mengira bahwa Dadung Ngawuk menderita penyakit ingatan. Maka aku pikir tak ada gunanya untuk
melayani lebih lanjut. Tanpa menghiraukan akan kata caciannya yang menjadi jadi itu aku melangkah
maju hendak menolong si kumbang terlebih dahulu.
Siapa tahu tiba2 ia bergerak menghadang langkahku dengan serangan totokan jari jari mautnya yang
terkenal sangat berbahaya itu. Dengan demikian aku terpaksa harus menghindari demi untuk mencari
selamat. Akan tetapi ia tidak berhenti sampai disitu saja. Dengan gerakan2 yang amat tangkas serta
berbahaya ia merangsang terus dengan jurus2nya yang sangat dahsyat.
Cambuk ular ditangan kanan menyambar-nyambar dan menggeliat liat menyerang seluruh
bagian tubuhku, dan masih diiringi dengan sambaran jari-jari tangan kirinya yang mengembang sebagai
baja merupakan totokan dan remasan shakti. Kedua kakinya pun turut pula bergerak dengan cepat
merupakan serangan rangkaian yang sangat berbahaya bagi diriku. Menghadapi serangan yang dahsyat
dan bertubi-tubi, aku menjadi sangat repot dibuatnya. Dengan demikian aku terpaksa harus menghadapi
dengan segala kemampuan yang ada pada diriku.
Pertempuran tak dapat dihindarkan lagi. Dari pertempuran yang berlangsung itu, aku dapat
mengetahui bahwa ilmu kanuragan yang dimilikinya cukup tinggi. Serangan totokan dan remasan jari
tangan kirinya mendatangkan angin sambaran yang dahsyat hingga aku terkesiap sesaat sewaktu

76
Cambuk ular ditangan kanan menyambar-nyambar dan menggehat-liar
menyerang seluruh bagian tubuh dan masih diiringi dengan sambaran-
sambaran jari tangan.

merasakan angin sambarannya. Dengan tidak merasa sungkan lagi, aku mulai dengan membalas
serangan yang ditancarkan,
Akan tetapi kembali aku menjadi tercengang sendiri, karena ternyata seranganku selalu
menemui tempat kosong, gerakan2nya yang sangat aneh seperti lauaknya seorang mabok, ia selalu
dapat terhindar dari serangan2ku. Ternyata Dadung Ngawuk yang otaknya tidak waras itu...benar2
mumpuni dalam segala bidang ilmu kanuragan. —
Cahayabuana menghentikan lagi ceritanya, sambil menelan ludah dan batuk2 kecil. Kemudian
meraih mangkok yang masih berisi teh dan meneguknya untuk membasahi kerongkongannya yang
dirasakan kering itu.
— Lalu bagaimana akhir dari pertempuran itu, Eyang?— Indah Kumala Wardhani mendesak tak
sabar
. — Indah! Biarlah Eyang bercerita dahulu, dan jangan kau potong2 dengan pertanyaanmu itu! —
Yoga Kumala menegur adiknya dengan diiringi pandang mencegah keceriwisannya. Ditegur secara
demikian oleh kakaknya, indah Kumala Wardhani menjadi cemberut asam mukanya seketika. Dengan
nada ejekan ia menyambut teguran kakaknya.
— Ach...coba saja gurumu yang gila itu sekarang suruh kemari yang tidak mengenal sopan
itu...tentu kuhajar dengan tamparanku! —
Karena Yoga Kumala telah mengenal watak adiknya yang selalu tidak mau kalah itu, ia menjadi
geli sendiri sehingga tak dapat menahan ketawanya: — Haa haaa -.. haaaah. Aku menegurmu agar tidak
mengganggu Eyang yang sedang bercerita, manis! Kenapa kau malah menjadi marah kepadaku yang
tanpa alasan? Haaa ….. haaaa ….. ! —
Mendengar percakapan kedua anak yang masih remaja itu, Cahayabuana serta Indra Sambada
turut pula tersenyum geli.
— Sudahlah, cucuku manis …..jangan bertengkar terus ….nanti ditertawakan oleh kakakmu
Gustiku Indra…. .
Dengarlah …. Eyang akan melanjutkan cerita yang belum habis ini, — Cahayabuana berkata
menyapih sambil tersenyum, dan sejenak kemudian melanjutkan lagi ceritanya:
— Pertempuran itu setelah berlangsung agak lama, aku ba ru ingat bahwa gerakan langkahnya
yang aneh seperti orang setengah gila itu ternyata langkah2 yang dinamakan —Wuru shakti —
sebagaimana aku pernah pula membaca dalam kitab kuno yang berasal dari Hindu dan telah diturunkan
oleh seorang prijagung tamtama shakti pada zaman Keraton Mantaram sewaktu Sanjaya Raka I
bertahta. Priyagung tam shakti yang membuat turunan kitab berisikan ilmu — Wuru shakti — itu
bernama SAKYA ABINRA. Kitab kuno itu kemudian menjadi rebutan para orang2 shakti dizaman ini, dan
akhirnya kitab itu menjadi berantakan, terlepas dari ikat penjilidannya. Diantara orang2 shakti yang
memperebutkan kitab itu tidak ada yang dapat menguasai seluruhnya.
Ada yang hanya berhasil mendapatkan lembaran bagian pertamanya dan ada pula yang berhasil
mendapatkan lembaran2 bagian tengah. Sedangkan saya sendiri pernah membaca pula tapi pada bagian
terachir saja.
`Namun hingga sekarang ini lembaran2 lapisan dari kitab kuno itu tetap menjadikan incaran para
orang2 shakti, hingga mendatangkan banyak bencana. Entah karena apa, pada waktu yang akhir2 ini
tidak nampak iagi kegiatan2 para orang2 shakti untuk menguasai kitab kuno itu lagi.
Mudah2an saja …. perebutan kitab kuno itu berakhir sampai disini …. — Cahayabuana berhenti
sejenak untuk menghela nafas dalam ….
— Bapak Ajengan Cahayabuana! Maafkan saya memotong bertanya.
Apakah lembaran2 terachir dari kitab kuno itu masih ada pada Bapak Ajengan Cahayabuana?! —
Senapati Indra bertanya dengan memperlihatkan kesungguhan hatin. Kiranya ia sangat tertarik sekali
akan isi tulsian tulisan dari pada kitab kuno buah karya SAKYA ABINDRA itu.
— Sabarkanlah, nakmas Gusti Junjunganku! Nanti juga akan kuterangkan dimana lembaran2
bagian dari kitab kuno itu! Jawab Fjahayabuana dengan tenang, kemudian melanjutkan ceritanya lagi.
— Dengan mengingat-ingat apa yang telah pernah aku baca dalam lembaran2 kitab kuno yang
telah lama kulupakan, akhirnya aku dapat menundukkan Dadung Ngawuk. Ternyata orang shakti yang
kuanggap setengah gila itu memiliki pula sifat2 ksatryanya yang tulus. Belum juga ia terluka berat karena
seranganku, telah keburu menyerah kalah. Hal ini tentu saja membuat aku tercengang dengan penuh
rasa heran. Tanpa kuminta ia telah berjanji sendiri akan mematuhi semua petunjuk2ku ….. Waktu itu
telah fajar pagi … Jadi pertempuran itu berlangsung agak lama juga …. Setelah pertempuran itu selesai
cepat2 aku dengan diikuti oleh Dadung Ngawuk menghampiri si kumbang yang masih saja
bergelimpangan ditanah samhil me-ngerang2 kesakitan.
Ternyata kedua tulang kakinya depan hancur terkena remasan jari2 tangannya. Dengan dibantu
oleh Dadung gawuk si kumbang akhirnya aku gotong masuk kedalam gua diruang dapur. —
Selanjutnya oleh Cahavabuana diceritakan pula tentang kesaktian dalam ilmu usadha yang
dimiliki oleh Dadung Ngawuk. Kedua kaki si kumbang yang tulang2nya telah patah hancur oleh remasan
dapat dipulihkan kembali oleh Ki Dadung Ngawuk hanya dalam tempo sepekan. — Suatu ilmu usadha —
sangkal putung— yang sangat tinggi dan mentakjubkan — Cahayabuana memuji ketinggian ilmu
usadhanya.
Akhirnya ia menceritakan tentang nasib malang yang dialaminya. Menurut cerita yang
diutarakan padaku, bahwa istrinya dibunuh oleh orang yang ia sendiri tidak mengetahui siapa
pembunuhnya, karena pada saat itu ia baru pergi meninggalkan Demak, untuk mengembara tanpa
tujuan.
Menurut dugaannya pembunuh itu tentu orang shakti yang menginginkan lembaran2 bagian
kitab kuno yang ada padanya. Enam tahun lamanya ia menjelajah dengan dendam kesumat yang
tersimpan dalam rongga dadanya, mencari tahu siapa pembunuh isterinya, yang tak pernah dapat
ditemukan.

Jilid 3

BAGIAN I
ANEHNYA DALAM WAKTU yang hampir bersamaan itu, ibunya Mbah Duwung, seorang nenek
yang telah lanjut usianya yang tinggal disebuah desa didaerah pantai selatan dekat dengan gua Rongkob
itu, juga terbunuh secara kejam, dengan ticlak diketahui siapa pembunuhnya. Si Duwungpun pernah
juga berkunjung kemari sebelum Dadung Ngawuk datang, untuk minta pendapatku. Dengan merendah,
aku hanya dapat memberikan jawaban bahwa aku tidak mengetahui sama sekali tentang hal itu.
Kiranya datangnya kemari bukan semata-mata hanya untuk minta pendapatku saya, akan tetapi
sebenernya iapun menaruh curiga terhadap diriku. Setelah yakin bahwa aku bukan pembunuh orang
tuanya, ia berlalu meainggalkan tem-pat pertapaan ini. Hal itu juga saya ceritakan pada Dadung Ngawuk.
Tidak kuduga sama sekali, bahwa ceritaku tentang kedatangan si Duwung itu dianggapnya sebagai
petunjuk jalan untuk dapat menemukan pembunuh isterinya. Dengan penuh penyesalan, Dadung
Ngawuk kunasehati agar ia berlaku hati hati dengan pertimbangan2 yang wajar, untuk jangan sampai
salah terka. Karena mungkin ada orang ketiga yang memang sengaja hendak memancing untuk
mengadu dombakan antara Dadung Ngawuk dengan Mbah Duwung, demi keuntungannya. Sejak itu, aku
tidak pernah jumpa lagi dengan mereka. Dalam perpisahan dulu, masih juga Dadung Ngawuk sempat
mengatakan penyesalannya dan berjanji tak akan mengganggu keturunanku. Siapa tahu sekarang
cucuku Yoga Kumala, malah menjadi muridnya ,,,,,. Cahayabuana mengakhiri ceritanya.
Ia menatap pandang kearah Indra Sambada sambil ber kata pelan — Ooo …. yaaaa tentang
pertanyaan nak-mas Gustiku tadi belum kujawab ….. Maafkan nakmas Gustiku. Bukan aku lupa, tetapi
memang sengaja aku hendak menutup ceritaku tentang Dadung Ngawuk lebih dahulu, agar cucuku Yoga
Kumala puas ….. Nah, ….. sekarang akan kujawab sedapat dapatku tentang pertanyaan Gustiku itu. —
Cahayabuana menggeser duduknya sambil membetulkan letak kaki bersilanya, — Lembaran kitab bagian
akhir itu, ….. masih ada ….. dan kini kusimpan campur dengan benda2 kuno lainnya dalam gudangku …..
Jika Gustiku menginginkan, baiklah besok saya kubongkar gudang itu.....
Besok setelah dipelajari bersama, nanti akan kujelaskan bagian2 yang sekira penting bagi nakmas
Gustiku ... dan aku rasa, untuk cucuku Yogapun ada pula bagian2 yang penting yang harus dipelajari. ---
— Saya mengucapkan banyak terima kasih akan kemurahan hati Bapak Ajengan Cahayabuana
yang selalu dilunturkan padaku, — jawab Indra Sambacia dengan perasaan puas, walaupun ia harus
menunggu dan bersabar sampai esok hari lagi.
Hanya yang sangat mengherankan bagi ketiga2nya ialah gudang tempat penyimpanan barang2
kuno yang di sebut2 tadi oleh Cahayabuana. Jelas bahwa selain dari pada ruangan2 kosong seperti dapur,
ruangan semadhi dimana mereka sekarang sedang berada, dan ruangan dekat mulut gua yang hanya
sempit dan gelap itu, tak ada lagi ruangan lain. Tetapi mengapa Cahayabuana menyebutkan gudang
tempat penyimpanan. Dimana lagi ada ruangan untuk gudang pikir mereka.
Namun untuk bertanya lebih lanjut mengenai hal itu yang dianggap kurang penting, mereka tak
berani mengemukakannya. Maka ketiga tiganyapun hanya diam dengan masih meraba raba akan
tebakan dari teka-tekinya itu.
Sementara itu Mang Jajang telah siap dengan masakan hidangannya untuk makan siang.
Juga daging utar yang tadi diterima dari Yoga Kumala telah selesai juga dimasaknya.
Si Kumbang kiranya telah bangun dan mengaum ngaum panjang minta diisi perutnya. Dan Mang
Jajangpun telah mengerti akan kewajibannya mengurus binatang piaraan yang setia itu.
Hujan diluar turun semakin deras. Suara guntur gemuruh mengumandang susul-menyusul, dan
sebentar-bentar diselingi suara samberan halifintar yang mengampar diudara.
Hawapun menjadi lebih dingin dan sejuk karenanya.

*
**
Pada esok harinya yang cerah, Cahayabuana dengan diikuti oleh Indra Sambada, Yoga Kumala
dan Indah Kumala Wardhani menunjukkan letak gudang tempat penyimpanan barang2 kuno, yang
berada disebelah dalam mulut gua tembusan yang mengarah ketimut. Dinding gua didekat mulut yang
kelihatan rata dan licin tertutup batu alam itu ternyata dapat dibuka dengan mengungkap sebuah batu
besar yang berukuran kira2 selangkah persegi. Dengan dibukanya batu yang merupakan penutup lobang
itu, Cahayabuana merangkak memasuki lorong gelap itu, dengan diikuti oleh Indra Sambada, Yoga
Kumala dan Indah Kumala Wardhani. Kira2 selang 50 tindak lorong itu menanjak terjal, untuk kemudian
tiba disebuah ruangan yang luasnya kurang lebih 20 langkah persegi. Seperti halnya dengan ruangan
tempat semadhi Cahayabuana, ruangan itupun berdinding dan berlantai batu alam putih yang
mengeluarkan cahaya, hingga ruangan itu menjadi terang remang2. Kini Cahayabuana menyalakan pelita
yang telah tersedia diatas meja batu alam yang berada didalam ruangan itu. Ruangan menjadi terang
benderang karena dinding sekitarnya memantulkan kembali cahaya penerang nyala api pelita itu.
Namun dalam ruangan itu kelihatan tak nampak sebuah benda ataupun selembar kitab, kecuali meja
batu alam dan pelita yang telah dinyalakan itu. Akan tetapi selama mengikuti langkah Cahayabuana,
mereka bertiga sepatah katapun tidak berani mendahului bertanya. Mereka hanya diam sambil
rnengamat amati dinding2 batu alam yang mengelilingi ruangan itu.
— Nah … inilah gudang tempat penyimpan barang2 kuno. yang telah kuceritakan kemaren —
2
tiba Cahayabuana bicara memecah kesunyian: — Bagus, bukan?! tanyanya kemudian, yang oleh
mereka hanya dijawab dengan anggukan kepala serentak. Sambil turut mengangguk2kan kepala
Cahayabuana melanjutkan bicaranya.
— Gudang inilah . kurencanakan pula untuk kelak pada saatnya yang dikehendaki oleh Dewata
Hyang Maha Agung tiba, sebagai tempat penyimpanan tubuh kerangkaku. Karena nakmas Gustiku Indra
telah sudi menganggap sebagai keluarga sendiri, maka tak ada jeleknya mengetahui seluk beluk gua ini
dan maksud rencanaku yang mendatang. —
Demi menclengar penjelasan dari Ajengan Cahayabuana, bahwa ruangan itu hendak akan
dipergunakan tempat peristirahatan yang terakhir, bulu kuduk mereka serasa berdiri, dan perasaan
sedih menyusul bergolak meliputi lubuk hati karena bertiga. Seakan-akan mereka berdiri diambang
pintu ruang kedukaan. Semua terdiam dengan menelan rasa duka yang tak terhingga. Tak mampu
mereka menanyakan lebih lanjut. Suasanapun menjadi lebih sunyi. Namun seakan-akan Cahayabuana
dapat membaca isi hati mereka, dan dengan tersenyum ia berkata: — Apa yang kalian susahkan.?!. Tadi
yang aku katakan adalah wajar belaka. Cobalah pikirkan dengan tenang. bukankah semua orang akan
mati? Demikian aku yang sudah tua begini.
Hanya kapan kita semua tidak mengetahui dengan pasti, karena …. semua itu telah ada yang
mengaturNya. Kita serahkan penuh pada Dewata Hyang Maha Agung yang menguasai kehidupan kita
semua. Maka janganlah bersedih hati, hanya karena mendengar uraianku tadi.
Aku hanya sekedar mengemukakan rencanaku, dan semoga Dewata Hyang Maha Agung
mengabulkan permohonanku itu. Aku kira persiapan untuk menyambut akan datangnya Panggilan
Dewata Hyang Maha Agung seperti aku ini adalah wajar …. Nah, ….. mari sekarang kutunjukkan barang2
kuno yang kusimpan itu, — berkata demikian, Cahayabuana melangkah menuju kesebuah sudut
belakang dalam ruangan itu.
Sedangkan mereka bertiga dengan masih terdiam mengikuti dibelakangnya. Setelah sampai
disudut ruangan. Cahayabuana mengamat-amati dengan saksama sesaat pada dinding2 batu putih alam
itu, dan kemudian ….. ia berdiri mendekat dinding, serta menaruh telapak tangan kanannya dan
mendorongnya dengaa pelan pada dinding yang berada dihadapannya itu . ….Tiba2 dinding yang
didorongnya itu mulai bergerak dan membungkah retak selebar selangkah persegi, dan kini batu itu
bergeser perlahan menyerupai daun pintu yang sedang membuka kedalam. Dengan hati2 Cahayabuana
mengambil dua buah peti dari dalam almari batu alam itu, kemudian diangsurkan pada Yoga Kumala
cucunya, sambil berkata — Coba kau terimalah ini peti dengan hati2. Kiraku barang2 lainnya lagi yang
masih tersimpan itu tidak demikian penting bagi kalian.—
Peti itu terbuat dari jati yang berukir halus. Sebuah peti berbentuk segi panjang yang lebarnya
hanya sejengkal, sedangkan panjangnya kira2 hampir setengah depa. Sebuah peti lagi berbentuk bujur
sangkar yang sisinya selebar dua jengkal. Dengan menekan kembali dengan ujung telapak tangan pada
ujung daun pintu batu itu, almari batu alam tertutup kembali rapat. Semua tertegun heran demi melihat
tempat penyimpanan Ajengan Cahayabuana itu.
Dengan membawa dua peti kaju, mereka kini kembali keruangan samadhi.
Nafsu masing2 untuk ingin mengetahui isi dari peti yang dibawanya, kiranya telah melonjak-
lonjak, namun terpaksa mereka bersabar menunggu, tidak berani mendahului membuka tanpa seijin
Ajengan Cahayabuana. Sambil duduk bersila Cahayabuana menarik sebuah peti panjang dihadapannya,
serta mengamat-amati sambil me-raba2 dengan jari2 tangannya. Seakan-akan mengagumi keindahan
ukiran yang terpahat diatas tutupnya yang menonjol. Sedangkan mereka bertiga dengan berdebar -
debar mengikuti gerakan2 jari Cahayabuana dengan pandangan mata yang tak berkedip. Tiba2 jari
telundiuk Cahayahuana menekan pada benda logam yang kecil menonjol, dan peti panjang menjadi
terbuka dengan sendirinya. Bau harum semerbak memenuhi ruangan ….. Kini mereka bertiga
menggeser duduk bersila untuk lebih mendekat lagi, agar dapat melihat isinya dengan jelas. Perlahan-
lahan Cahayabuana mengeluarkan sebilah pedang yang masih rapat terselubung dalam sarungnya.
Tangkai pedang itu berlapis mas murni dan bertatahkan permata berlian dan batu merah.
Bentuk dari pada tangkai pedang itu menyerupai seorang yang sedang berdiri dengan kedua
belah tangannya bersilang didada.
Sedangkan sarung pedangnya berlapiskan perak yang terukir halus berlukiskan kembang2 yang
sangat indah. Sambil tersenyum dikulum Cahayabuana berkata pelan: — Cucuku Yoga Kumala ! Kini
telah tiba saatnya …. pedang pusaka ini menjadi milikmu …. Telah lama pedang ini kusimpan, menanti
kedatanganmu maka terimalah pedang pusaka ini sebagai bekalmu dalarn mengabdi pada Ibu Pertiwi
,…. Aku percaya bahwa dalam bimbingan Gustiku Indra Sambada, kau tentu akan mendapat kesempatan
untuk menunjukkan dharma baktimu..... maka patuhilah semua perintah dan petunjuk2nya dengan
ketulusan hatimu …. Harapanku, semoga kau kelak dapat menjunjung martabat nama para leluhurmu,
— Berkata demikian Cahayabuana menghunus pedang pusaka itu dengan perlahan dari sarungnya.
Pedang pusaka yang amat tajam itu mengeluarkan sinar cahaja putih semburat biru kemilauan. Semua
menjadi terpesona demi melihat pedang pusaka yang demikian indahnya, menyerupai pusaka Kerajaan.
Dengan air mata yang berlinang-linang meleleh membasahi kedua pipinya, Yoga Kumala
menyambut pemberian pedang pusaka dari Eyangnya dengan kedua belah tangannya. Sambil menangis
terisak-isak ia berkata terputus-putus: — Eyang, …. maafkan cucunda ….. yang amat bodoh ini …..
Bagaimana saya dapat memenuhi ….. harapan Eyang ….. karena pedang pusaka pemberian Eyang …..
ditangan cucunda hanya akan menjadi …. benda mati …. walaupun demikian . . . ampuhnya pedang
pusaka itu … Tidak!! Tidak Eyang! …. Saya tak berhak memilikinya …
— Dengan tangan yang gemetar Yoga Kumala menyerahkan kembali pedang pusaka itu, dengan
masih menangis terisak-isak.
Indah Kumala Wardhani yang biasanya senang menggoda kakaknya, kini duduk terpaku dengan
muka tertunduk penuh dengan rasa haru.
Sedangkan Indra Sambada duduk diam penuh rasa iba, melihat adik angkatnya yang sedang
menggigil dan sambil menangis terisak-isak itu. Ingin ia berkata sesuatu untuk raenghibur Yoga Kumala,
namun perasaan budi luhurnya mencegah ia tak berbuat demikian. Bukankah Ajengan Cahayabuana
sebagai Eyangnya lebih berhak menghibur Yoga Kumala??. Ketenangannya kini kembali menguasai
dirinya. Selagi Indra Sambada masih duduk terdiam, tiba2 Cahayabuana berkata lirih: —Yoga Kumala
cucuku. — Jangan kau bersedih hati dan cepat berputus asa . . Tenangkanlah perasaanmu, dan
dengarkan petunjuk2ku ini .... Aku tahu maksudmu yang terkandung dalam lubuk hatimu …..yang jujur
itu, yaaahh …. bahkan aku lega mendengar pengakuanmu yang secara jujur itu …. maka letakkanlah
pedang pusaka itu dipangkuanmu dahulu.–
Tanpa membantah Eyangnya Yoga Kumala mengikuti semua perintah Cahayabuana. Perlahan-
lahan isak tangisnya mereda untuk kemudian tidak kedengaran lagi. Ia duduk tertunduk sambil
mengusapi air matanya yang membasahi dengan ujung bajunya.
— Cucuku Yoga Kumala! — Cahayabuana melanjutkan bicaranya, dengan menatap pedang
kearah Yoga Kumala. Suaranya terdengar lemah lembut penuh rasa sayang. — Ketahuilah, bahwa kau
adalah cucuku priya yang tunggal. Dengan bakatmu, serta dasar2 ilmu krida yudha yang pernah kau
pelajari dari kangmas angkatmu Gustiku Senapati Indra Sambada, dan ilmu kanuragan aneh yang telah
kau miliki sebagai pemberian dari gurumu Dadung Ngawuk, aku yakin benar bahwa dalam waktu yang
sangat singkat kau akan dapat memahami ilmu pedangku ini yang akan kuwariskan padamu
…..Walaupun ilmu pedangku ini jauh belum sempurna, akan tetapi cukup untuk di-gunakan sebagai
bekal daiam pengabdianmu kelak. Aku percaya, bahwa Gustiku Indrapun tentunya bersedia pula untuk
memberikan petunjuk2 yang berguna, agar kau dapat menggunakan pedang pusakamu dengan tidak
mengecewakan.
Karena kata2 Cahayabuana itu secara tidak langsung memuji ketinggian ilmu Indra Sambada,
maka cepat2 Indra Sambada mengelak serta merendahkan diri secara tidak Iangsung pula, katanya : —
Adikku, Yoga Kumala ! !. Kiranua tidak alasan kau untuk berkecil hati. Percayalah, bahwa dalam asuhan
Eyangmu sendiri, kelak ilmu krida Yudhamu akan jauh melampaui kepandaianku. Berbahagialah kau
adikku Yoga …. yang masih mempunyai Eyang sebagai junjunganmu ….. yang ilmunya baik jasmani
ataupun rohani telah mumpuni tidak ada taranya. Akupun turut merasa bahagia, setelah Eyangmu sudi
mengangkatku sebagai anggauta keluargamu dan juga sebagai muridnya …. Maka pesanku, tekunlah
berlatih dibawah asuhan Eyangmu ! !. Dan sambil berpaling kepada Ajengan Cahayabuana ia berkata
dengan penuh hormat : — Maafkan Bapak Ajengan Cahayabuana ! !. Atas kelancanganku ini, sekedar
petunjuk untuk adikku Yoga Kumala, agar ia tidak kehilangan semangatnya ! ! —
— Heh, ... . heehh …. heeehhh . … Benar2 seorang priyagung yang berbudi luhur yang tak pernah
mau menerima kata pujian, tetapi selalu merendah diri. Semoga kedua cucuku dapat mencontoh
tauladan yang luhur itu !! — Cahayabuana mejawab pelan sambil ketawa.
Suasana yang diliputi rasa keharuan tadi menjadi lenyap, bagaikan kabut tipis tersapu oleh
angin.
— Nah, …. jangan kau iri kepada akangmu, cucuku manis ! ! Untukmupun ada pula sebuah
benda pusaka yang tak kalah indahnya dengan pedang milik akangmu itu. Kukira, benda ini memang
pantas untuk menjadi milikmu. Indah Kumala Wardhani ! !. Cahayabuana berhenti sejenak dan
mengeluarkan sebuah peti kecil yang panjangnya sekira satu setengah jengkal. Dari dalam peti kecil itu,
ia mengambil sebuah keris pusaka berukuran kecil dan pendek, kira2 sepanjang sejengkal yang memang
khusus merupakan senjata untuk kaum wanita. Keris itu lazim disebut dengan istilah „ patrem ", Konon
ceritanya keris wanita ataupun patrem itu dimiliki oleh tiap-tiap putri raja.
Disamping dipergunakan sebagai senjata untuk menghadapi lawan, patrem itu juga
dipergunakan sebagai senjata untuk bunuh diri dalam membela kehormatannya, apabila tidak ada
kemungkinan lain untuk mempertahankannya.
Hadiah yang diberikan oleh Ajengan Cahayabuana kepada Indah Kumala Wardhani yang berupa
patrem itu tak kalah indahnya dengan pedang panjang yang dihadiahkan kepada Yoga Kumala.
Tangkainya terbuat dari gading yang dipahat halus berbentuk kepala garuda dengan sepasang
batu mirah sebagai mata kepala garuda itu.
Werangkanya dilapis emas murni seluruhnya serta dihiasi pula dengan permata berlian dan mirah. Keris
Patrem itu setelah dihunus dari werangkanya, mengeluarkan bau harmm semerbak.
Warnanya kehitam-hitaman dengan pamornya berwarna putih bersinar.
Bentuknya lurus meruncing dengan kedua sisinya bermata tajam.
Berbeda dengan kakaknya Yoga Kumala yang menangis terisak isak sewaktu menerima
pemberian Eyangnya, kini Indah Kumala Wardhani menyambut pemberian patrem pusaka itu dengan
tersenyum girang bercampur bangga, sambil mengucapkan rasa terima kasihnya yang tak terhingga.
Keris pusaka ditimang-timang ditelapak tangannya, untuk diamat amati sambil tersenyum
girang2 puas. Tak puas2nya ia mengagumi benda pusaka yang kini telah menjadi miliknya.
Tanpa malu malu lagi Indah Kumala Wardhani memamerkan milik pusakanya pada Indra
Sambada, yang olehnya disambut dengan senyum gembira pula.
Demi melihat cucunya yang lucu itu, Ajengan Cahayabuana turut pula bersenyum bangga.
— Simpanlah baik2 dahulu, manis!! Lain hari akan kujelaskan penggunaannya secara lebih
mendalam. — Cahayabuana berkata kepada Indah Kumala Wardhani.
Peti panjang yang telah kosong itu, disisihkan kesudut oleh Cahayabuana dan selanjutnya ia
berganti meraih peti persegi lainnya untuk diletakkan dekat dihadapannya.
Ia menyerahkan gulungan kulit domba yang halus yang diambilnya dari peti persegi itu, kepada
Indra Sambada sambil berkata dengan nada yang tenang.
— Nakmas Gustiku Senapati Indra Sambada! Gulungan kulit domba itu aku persembahkan
kepada Gustiku Mungkin sangat berguna juga untuk Gustiku Indra!
— Cepat Indra Sambada menyambut pemberian kulit dom ba itu dengan kedua belah
tangannya, untuk kemudian di gelar serta dilihatnya dengan seksama. Wajah Indra Sambada menjadi
berseri-seri serta kagum, setelah melihat dengan jelas lukisan peta bumi yang menggambarkan seluruh
Nusantara lengkap dengan gunung dan sungai2 serta batas2 daerah Kerajaan2. Ia belum pernah melihat
peta bumi yang demikian lengkapnya, serta luasnya sebagaimana yang berada ditangannya sekarang.
— Pemberian Bapak Ajengan Cahayabuana ini sangat berharga bagiku dalam mengemban tugas
sebagai tamtama Kerajaan. Saya kira di Kerajaanpun tidak ada peta bumi yang demikian lengkap dan
jelas serta demikian indah buatannya. Sungguh merupakan hadiah bagiku yang tak ternilai. Jika kapak
Ajengan Cahayabuana tidak keberatan, peta bumi ini akan saya persembahkan kepada Gustiku Sri
Baginda Maharaja, — Indra Sambada menyambut dengan kata2nya penuh hormat serta mengemukakan
kehendaknya.
— Barang yang tak berguna untukku itu telah kupersembahkan pada Gustiku Indra. Untuk
dibuat apapun selanjutnya terserah kepada Gusti Junjunganku sendiri. Kiranya aku telah tidak berhak
lagi untuk menyampuri akan kebijaksanaan Gustiku Indra, — jawab Cahayabuana sambil tersenyum lirih.
Setelah Indra Sambada puas mengagumi peta bumi dari kulit domba yang diterimanya, kini
Cahayabuana memperlihatkan lagi tumpukan lembaran kulit domba yang berisikan tulisan2 kuno. itulah
sisa lembaran2 kitab kuno buah karya Sakya Abindra pada abad ke VII yang telah diceritakan kemarin.
Kesemuanya terdiri dari empat belas lembar bagian terakhir dari kitab kuno itu, yang mana dua lembar
diantaranya telah sobek terpotong pada ujungnya. Akan tetapi guratan huruf2 kuno yang terdapat pada
lembaran2 kulit domba itu masih nampak jelas dan mudah dibaca. Sewaktu Indra Sambada masih
meneliti akan urutan halaman itu, tiba2 Cahayabuana berkata memecah kesunyian: — Nakmas Gusti
Junjunganku Indra! Sebaiknya kitab kuno itu kita bawa keluar saya, agar dapat kita pelajari bersama
ditempat yang lebih terang. Maaf kan, nakmas Gustiku. Ditempat yang remang2 demikian ini, mataku
yang telah di makan oleh umur tidak dapat diajak bekerja, — Cahayabuana segera bangkit sambil
tersenyum dan kemudian Indra Sambada, Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani mengikuti pula
sambil tersenyum geli demi mendengar pengakuan Cahayabuana bahwa matanya teIah dimakan oleh
umur. Bukankah Cahayabuana selalu gemar berjalan dalam malam hari? — pikir mereka.
Dengan pedang pusaka yang disandang dipinggang kirinya. Yoga Kumala menjadi lebih kelihatan
perkasa.
Setelah mereka tiba dilapangan terbuka didepan mulut gua, segera mereka duduk ditempat
yang teduh dibawah sebuah pohon asem yang rindang. Sambil tersenyum2 ringan serta memegang
lembaran2 kitab kuno dengan tangan kanannya, Cahayabuana mulai bicara lagi tertuju pada Indra
Nakmas Gustiku Indra !
— Nakmas Gustiku Indra! Dalam Iembaran pertama, kedua, dan ketiga, yang mana ketiga
lembar sisa kitab itu masing - masing ditandai dengan angka 34, 35, dan 36, jelas menunjukkan bahwa
potongan lembaran itu adalah lembaran / halaman yang ke 34, 35 dan 36 dari kitab " Wuru - Shakti '
yang menjadi rebutan para orang2 shakti. Dan ketiga lembar itulah yang memuat tulisan2 mengenai
kunci dari pada jurus jurus gerakan " wuru shakti ". Karena lembaran2 yang memuat bagian jurus2
langkah wuru shakti tidak ada dalam sisa kitab yang kumiliki ini, maka ….. untuk memahaminya lebih
lanjut secara jelas, hendaknya Gustiku Indra membuktikan dahulu akan kehebatan dari pada gerakan
langkah2 wuru shakti yang telah dimiliki oleh cucuku Yoga Kumala.
— Nach,. . , . sekarang sebaiknya cucuku Yoga supaya mempertunjukkan ilmu "wuru shakti"
yang telah kau miliki dan kau pelajari dari gurumu Dadung Ngawuk, agar kita semua mendapat
gambaran yang lebih jelas tentang kehebatan dari pada ilmumu itu. Mlaka hendaknya cucuku Yoga tidak
usah bersikap malu2. — Berkata demikian Cahayabuana menatap pandang pada Yoga Kumala, sebagai
isyarat agar cucunya Yoga Kumala mau ruempertunjukkan sebentar ilmunya.
Dengan sikap yang canggung dan ragu2 karena agak malu, Yoga Kumala bangkit berdiri sambil
melepaskan pedang pusakanya, dan melangkah maju ketengah-tengah lapangan. Dengan gerakan yang
kurang bersemangat, ia mulai sendiri dengan langkah2 jurus wuru shakti yang diikuti dengan penuh
perhatian oleh Cahayabuana dan Indra Sambada serta Indah Kumala Wardhana.
Demi melihat gerakan Yoga Kumala yang canggung penuh keraguan itu, Indra Sambada bangkit
berdiri dan mendekat sambil berseru: — Yoga Kumala!! Marilah .... saya temani agar gerakanmu lebih
gesit! — Kata2 itu diiringi suara senyum ketawa, yang menghilangkan rasa keragu2annya. — Adikku Yoga,
cobalah kau elakkan seranganku ini! — Indra Sambada melanjutkan bicaranya - Jika dalam waktu
sepengunyah sirih pergelangan tanganmu yang kanan tak dapat kutangkap ... aku kakakmu Indra
menyerah kalah serta mengakui akan kehebatan ilmu wuru shakti yang menjadi kebanggaanmu itu!—
Kata2 sanjungan itu memang sengaja diucapkan olah Indra Sambada agar Yoga Kumala dapat
mempertunjukkan ilmunya dengan sepenuh hatinya. Dengan demikian, gerakan2 langkah aneh dari
jurus2 ilmu kanuragan wuru shakti itu dapat dibuktikan sendiri kehebatannya serta untuk memudahkan
dalam mempelajari kunci2nya ilmu ancli itu yang termuat dalam lembaran2 kitab kuno, yang kini sedang
dipelajari dengan Cahayabuana.
Setelah mendengar seruan kakaknya Indra Sambada, Yoga Kumal cepat berdiri siap siaga untuk
menantikan datangnya serangan dari Indra Sambada dengan penuh semangat dan tanpa ragu2 lagi . . . .
Ia berdiri merendah setengah berjongkok dengan kedua kakinya dipentang lebar. Tangan kirinya ditekuk
keatas setinggi baunya dengan jari2 yang tegang mengembang dan menghadap kedepan. Tangan kanan
bergerak dalam gaya menjangkau, lurus setinggi jajar dengan dadanya sendiri. Telapak tangannya
mengembang dengan jari2 yang ditegangkan pula. Matanya mernandang tajam kedepan dengan mulut
yang tersenyum menyeringai.
Inilah gerak langkah wuru shakti dalam bentuk jurus yang dikenal dengan nama „menyarnbut
serangan maut dari empat penjuru". Jurus Wurushakti yang demikian ini, khusus diciptakan untuk
menghadapi serangan2 dahsyat yang belum diketahui bentuk gerakan serangan lawannya serta yang
tidak diketahui pula dari arah mana serangan itu mendatang.
Walaupun gerakan itu tak sedap dipandang karena memang tak memiliki gaya keindahan, akan
tetapi cukup membingungkan bagi lawan yang akan menyerang. Dari gerakan itupun dapat dilihat,
bahwa tiap2 gerakan sambutan serangan dari lawan, tentu akan mengandung unsur2 serangan balasan
yang cukup berbahaya.
Jurus menyambut serangan maut dari empat penjuru itu diciptakan sedemikian rupa, sehingga
dengan secara cepat bagaikan kilat dapat menukar arah dengan hanya menggeser salah satu kakinya
saja tanpa merobah bentuk gerakannya.
— Awas serangan!! — seru Indra Sambada sambil melompat langsung menerjang dari samping
kanan dengan pukulan telapak tangan kearah pelipis Yoga Kumala, sedangkan telapak tangan kirinya
menyambar secepaa kilat kearah pergelangan tangan kanannya Yoga Kumala untuk ditangkapnya.
Suatu gerakan serangan yang dahsyat dan sukar untuk dapat diduga sebelumnya. Akan tetapi
sebagai murid Dadung Ngawuk yang pernah pula memakan buah „ daru saketi ", Yoga Kumala dengan
perasaan nalurinya, tiba-tiba mengubah jangkauan tangan kanannya menjadi sebuah serangan tebangan
kearah lengan kiri Indra Sambada sambil terhuyung-huyung melangkah kedepan dengan jari2nya tangan
kiri yang mengembang tegang menyambut pukulan tangan kanan Indra yang menyambar kearah
pelipisnya.
Sesaat Indra Sambada terperanjat dan cepat menarik kembali serangan tangan kirinya sambil
melompat kesamping kanan, sedangkan tangan kanannya dirubah menadi kepalan untuk memapaki
datangnya sambaran tangan kiri Yoga Kumala. Dua lengan berbenturan keras, dan masing2 berseru
tertahan karena merasakan dahsj\yatnya tenaga beaturan yang mengakibatkan rasa ngilu ditulang
lengannya.
— Benar2 suatu ilmu tata kelahi yang aneh— pikir Indra Sambada. Pada umumnya, orang
menyambut serangan yang pertama kali dengan suatu gerakan mengelak …… akan tetapi kini apa yang
disaksikan olehnya adalah sebaliknya.
Serangan yang pertama kali disambut dengan sebuah gerakan serangan pula yang tidak kalah
dahsyatnya, tanpa menghiraukan akan kekuatan lawan tarlebih dahulu. Lebih mengherankan lagi ialah
bahwa Yoga Kumala tidak mau menghindar kesamping, justru malah menerjang dan menerobos
kedepan dengan langkah-langkah yang aneh serta membingungkan, hingga ia menjadi berada
dibelakangnya. Karena kuatir akan datangnya rangkaian serangan aneh dari adiknya, Indra Sambada
cepat membalikkan badannya serta melontarkan serangan tendangan yang berangkai.
Sambil berseru nyaring: — Awas serangan kedua!—
Akan tetapi malah ia sendiri yang dibuat menjadi sibuk, karena tanpa diketahui, Yoga Kumala
telah menjatuhkan diri dan berjumpalitan kearahnya secara menelusup dibawah kakinya sambil
menyerang dengan totokan jari2nya kearah paha kakinya. Menghadapi serangan yang sukar untuk di
duga itu, Indra Sambada terpaksa meloncat tinggi dan berpusingan agar dapat jatuh berdiri dengan
menghadap pada lawannya kembali. Kini tanpa memberikan peringatan Indra Sambada. cepat
menyerang lagi dengan sebuali tinjunya yang disusul dengan tendangan berangkai, sambil menyambar
per-gelangan tangan kanan lawan dengan tangan kirinya. Akan tetapi ternyata semua serangan2nya tak
pernah menyentuh sasaran dan selalu jatuh pada tempat kosong. Gerakan adiknya yang mirip seorang
setengah mabok dan kelihatan lambat itu, ternyata merupakan pengelakan dan sekaligus merangkap
unsur serangan balasan yang dahsyat dan berbahaya. Pertarungan yang hanya merupakan latihan dan
pertunjukan. kini menjadi seru dan berlangsung dengan gerakan yang lebih cepat dan lebih dahsyat ,
sehingga mengeluarkan angin sambaran yang menderu-deru.
Masing2 saling memperlihatkan ketangkasannya, serta ketinggihan ilmunya dalam tata kelahi
bertangan kosong dengan gaya gerakan satu sama lain yang jauh berlainan.
Pun seruan2 melengking sebagai peringatan dari Indra Sambada selalu disambut oleh Yoga
Kumala dengan suara terkekeh-kekeh yang menyeramkan.
Pertarungan yang seru itu telah berlangsung agak lama, tanpa ada yang roboh terluka.
Tiba2 Cahayabuana berseru dengan suaranya yang penuh wibawa, menghentikan pertarungan
yang masih berlangsung dengan sengitnya. Keduanya yang sedang bertempur, serentak menghentikan
gerakannya, sambil tersenyum dan kemudian berjabatan tangan.
— Aku mengaku kalali, Yoga ! ! Sungguh bangga mempunyai adik seperti kau ini ! ! Indra
Sambada mulai bicara pada adik angkatnya Yoga Kumala.
— Ach, ….. kangmas Indra sengaja mengalah ! ! — Yoga menjawab sambil ketawa.
— Bukannya aku mengalah, akan tetapi aku memang tidak mampu menangkap pergelangan
tanganmu. Hampir2 aku lupa bahwa waktu sepengunyah sirih telah lama lewat. Dan ternyata, belum
juga aku berhasil menangkap pergelangan tanganmu, walaupun seluruh kepandaianku telah kuperas
……. Ilmumu yang aneh sungguh mengagumkan !!!
— Dengan bergandengan tangan, mereka berdua berjalan kembali untuk menghadap Ajengan
Cahayabuana yang masih saja duduk bersila dengan Indah Kumala Wardhani disampingnya.
— Nach, bagaimana sekarang pendapat nakmas Gustiku tentang ilmu wuru shakti yang baru saja
dipertunjukkan oleh cucuku Yoga Kumala itu ?. — Cahayabuana mulai berkata, setelah mereka berdua
duduk bersila dihadapannya,
— Ilmu yang sangat aneh dan mengagumkan, Bapak Ajengan ! Jika aku tidak membuktikan
sendiri tentunya tidak akan percaya akan kehebatan ilmu „Wuru shakti" itu. Tak mengira bahwa adikku
Yoga Kumala telah dapat menguasai ilmunya yang aneh itu dengan sempurna. — Indra Sambada
mejawab dengan sungguh2 dalam mengutarakan pendapatnya.
— Heh …. hehh …. heeeehh I I ….. Cucuku Yoga!! Terimalah dengan rasa bangga, bahwa
kangmasmu Indra Sambada hari ini berkenan memuji ilmu kepandaianmu - —
Demi mendengar kata2 pujian yang tertuju pada dirinya, Yoga Kumala menundukkan kepalanya
sambil tersenyum tersipu sipu.
— Idiiiihh …. Akang Yoga pura2 malu !!. — Indah Kumala Wardhani menyahut memotong
pembicaraan, sambil tersenyum menggoda kakaknya.
— Kau selalu ceriwis !!.— Tegur kakaknya. Dan mukanya semakin menjadi lebih merah sampai
diujung telinganya. Ia tak dapat berkutik menghadapi ejekan adiknya yang usilan itu.
Ajengan Cahayabuana dan Indra Sambada tersenyum geli menyaksikan sifat2 kelucuan dari
kedua remaja itu. Dengan suara yang lemah lembut penuh rasa kasih sayang, Cahayabuana kemudian
menyapih kedua cucunya, agar mereka tidak saling bertengkar.
Kini mereka berempat segera asyik mempelajari tulisan2 yang tertera dalam lembaran2 kitab
kuno. Dengan tenang dan penuh kesabaran Cahavabuana selalu membwrikan jawaban penjelasannya
atas pertanyaan2 yang diajukan berganti ganti dari kedua cucunya itu.
Sementara itu Indra Sambada mencurahkan perhatiannya sendiri pada uraian kalimat2 yang
termaktub dalam kitab kuno itu, dengan daya ingatan dan pikiran yang tajam.
Dengan cepat ia telah dapat menangkap semua intisari dari pada kunci „ wuru shakti " yang
termuat dalam tiga lembar pertama dari kitab kuno itu, yang oleh penciptanya kunci .,, wuru shakti " itu,
dinamakan „ penutup langkah wuru shakti ". Dalam lembaran kedua dan ketiga dengan jelas diuraikan,
bahwa untuk menutup langkah2 wuru shakti, serangan harus dilancarkan dengan pertama tama
mengikuti gerakannya, kemudian rangkaian serangannya justru harus tertuju pada tempat kosong
kearah yang berlawanan dengan kedudukan lawan. Lagi pula rangkaian serangan yang dilancarkan pada
tempat kosong itu harus dilancarkan dengan tenaga sepenuhnya, dan bukan sebagai gerak tipu atau
serangan pancingan. .
Karena apabila serangan susulan itu dilancarkan tanpa menggunakan sepenuh tenaga, maka
akan berbahaya bagi sipenyerang sendiri. Hal ini disebabkan karena tiap2 gerakan jurus wuru shakti
selalu mengandung unsur2 gerakan serangan balasan. Akan tetapi dalam akhir uraian itu dijelaskan
bahwa penutup langkah wuru shakti khusus diciptakan hanya untuk menghadapi — ilmu wuru shakti
yang bertangan kosong —
Sedangkan ilmu pedang wuru shakti memiliki sifat2 gerakan tersendiri.
Dengan demikian, maka jelaslah bahwa dalam kitab kuno itu tentu ada pula lembaran2 lain yang
memuat bagian dari pada pelajaran2 ilmu pedang wuru shakti. Sayang, bahwa kitab itu tak dapat
dikuasai seluruhnya — pikir Indra Sibambada.
Sewaktu Indra Sambada masih memperhatikan lembaran2 berikutnya tiba2 Cahayabuana
berkata memecah kesu-nyian: — Nakmas Gustiku Indra. —
Lembaran2 yang penting lainnya adalah tuju lembar yang terakhir ini.
— Berkata demikian ia mengangsurkan tuju lembar bagian terakhir dari pada sisa kitab kuno
yang berada di hadapannya, sambil melanjutkan katanya: — Dalam tuju lembar bagian akhir ini,
memuat pelajaran ilmu pedang wuru shakti, sebagaimana diuraikan dalam lembar ketiga tadi. Akan
tetapi setelah saya teliti, ternyata ilmu pedang wuru-shakti yang termaktub dalam lembaran2 yang
dimiliki ini, hanya merupakan bagian terakhir saja, tanpa ada penjelasan mengenai pelajaran
permulaannya serta bagian2 tengahnya. Maka dengan demikian, tak mungkin kita untuk meyakinkan
akan kehebatan ilmu pedang wuru shakti itu. Lagi pula bagi yang memiliki lembaran2 lainnya tidak akan
dapat menguasai ilmu pedang aneh itu secara sempurna pula. —
Cobalah kita teliti bersama mengenai intisari dari peIajaran2 babak terakhir ini, mungkin dengan
ketajaman Gustiku Indra Sambada dapat kita mencari segi2 manfaatnya bagi Yoga Kumala cucuku,
ataupun untuk Gustiku Indra sendiri. —
Setelah lembaran2 sisa kitab kuno bagian akhir itu diteliti dengan seksama, disamping pelajaran
babak akhir dari pada ilmu pedang wuru shakti juga memuat tentang ketentuan dari bentuk pedang
yang dipergunakan khusus dalam ilmu pedang wuru-shakti itu.
Panjang pedang clalam ilmu pedang wuru-shakti seluruhnya termasuk gagangnya harus sehasta
dari pemegangnya, ialah dari pangkal lengan hingga ujung jari. Sedangkan gagangnya harus berukuran
satu setengah tebah. Selain dari pada keterangan tentang ketentuan ukuran panjangnya di jelaskan juga
mengenai ukuran beratnya yang tidak boleh lebih dari 40 potong uang tembaga.
Ternyata setelah dibandingkan dengan ketentuan2 ukuran yang termuat dalam kitab kuno itu,
pedang pusaka yang dimiliki Yoga Kumala masih terdapat selisih dua jari lebih panjang dari pada ukuran
hasta Yoga Kumala sendiri. Hanya ukuran gagang dan beratnya tepat memenuhi dari syarat2 yang
dimaksud.
Dengan mengikuti petunjuk2 bagian terakhir dari pada ilmu pedang wuru shakti. Cahayabuana
sebenarnya telah lama menjiptakan sendiri suatu ilmu pedang yang terdiri dari gabungan intisari pedang
tamtama Kerajaan Majapahit, ilmu pedang wuru-shakti bagian akhir dan ilmu pedang yang telah
dianutnya sebagai warisan leluliurnya sendiri. Dahulu sewaktu masih muda dengan ilmu pedang
warisannya saja ia telah diangkat sebagai guru krida-yudha dalam ilmu pedang untuk memberikan
pelajaran pada para tamtama Kerajaan Pajajaran dan selanjutnya ilmu pedangnya itu menjadi dasar
pegangan dari seluruh tamtama. Olehnya ilmu pedang ciptaannya yang baru itu dinamakan ilmu pedang
Cahaya Tangkubanperahu. —
Mulai hari berikutnya, Yoga Kumala dibawah asuhan Cahayabuana dengan penuh semangat
tekun berlatih meyakini ilmu pedang ciptaan Eyangnya sendiri, tanpa membuang gerak dasar " wuru -
shakti "nya.
Hanya gerakan2 yang tidak memungkinkan untuk menyertai gerakan pedangnya, diganti dengan
langkah2 yang sesuai menurut petunjuk2 Eyangnya petapa shakti Ajengan Cahayabuana.
Senapati Manggala Tamtama Pengawal Raja Indra Sambada berkenan pula menyaksikan
berlatihnya adik angkatnya Yoga Kumala selama sepuluh hari, dan setelah itu ia berpamit untuk pulang
kembali ke Kota Raja beserta para pengiringnya.
Menurut pendapat Cahayabuana, Yoga Kumala masih harus berlatih dua tahun lamanya
ditempat pertapaan Eyangnia, sedangkan Indah Kumala Wardhani masih harus menekuni untuk
menyakinkan ilmu angkin dan keris patremnya setahun lamanya.
Setelah nanti setahun dalam asuhan Eyangnya sendiri, Indah Kumala Wardhani masih harus
tinggal di Indramayu setahun untuk mempelajari tata kehidupan Kerajaan serta seni budaya lainnya.
Dengan demikian, maka mereka berdua dapat diharapkan untuk menghadap Senapati Indra
Sambada pada waktu dua tahun lagi mendatang, Dan ternyata Indra Sambadapun sependapat dengan
Cahayabuana. Ia kini lebih percaya lagi, bahwa kelak kedua adik angkatnya tentu akan menjadi pengabdi
Negara yang tidak mengecewakan.

*
**

B A G I A N II
HARI CERAH. Sang surya menyoroti maya pada dengan sinarnya yang terang benderang. Ia telah
berada diketinggian sebelah timur segalah tingginya. Langit biru membentang luas dan awan hitam
sedikitpun tidak nampak menodainya. Pepohonan kelihatan hijau segar, karena baru saja bertukar daun.
Ranting2 kering yang patahpun telah nampak tumbuh kembali. Lereng2 gunung Tangkubanperahu
seakan-akan baru saya terhias kembali. Burung2 berkicau riang, menambah meriahnya suasana alam.
Dan dilereng Gunung Tangkubanperahu itulah nampak jelas adanya seorang pemuda yang baru
saja menginjak alam kedewasaannya, sedang berlompatan dengan gerakan2nya yang aneh sambil
memegang pedang pusaka terhunus ditangan kanannya. Badannya yang kokoh kuat telah basah
bermandikan air peluh hingga kelihatan berkilat-kilat terkena pancaran sinar matahari. Sebentar-
sebentar ia mengusap keringat yang selalu membasahi keningnya dengan lengan tangan kirinya, seakan-
akan air peluh itu mengganggu gerakannya karena mengalir terus didahinya.
Akan tetapi maksud untuk menghentikan gerakannya, sedikitpun belum nampak ada, padanya.
Ia terus masih berlatih tanpa menghiraukan suasana sekitarnya. Ia berloncatan bagaikan burung
bersayap. Sedangkan pedang pusaka ditangan kanannya bergetar menari2 bagaikan bayangan kupu2,
hingga kadang2 hanya menampakkan sinarnya yang putih berkilau semburat biru, bergulung-gulung
menyelubungi seluruh tubuhnya. Perobahan gerakannya sedemikian cepatnya, hingga tidak mungkin
dapat diikuti dengan penglihatan mata biasa. Rangkaian gerakan tusukanaya yang bertubi-tubi
merupakan pukulan bayangan pucuk pedang. Namun dibalik ketangkasan yang mentakjubkan itu
kadang2 diselingi suatu gerakan yang sangat aneh dan tidak demikian sedap dipandang. Sambil berdiri
setengah berjongkok dengan kedua belah kakinya terpentang lebar, dengan pedang pusaka menyilang
didepan dadanya, ia ketawa terkekeh-kekeh menyeramkan. Sebentar kemudian meloncat tinggi sambil
berjumpalitan diudara untuk kemudian meluncur kebawah dengan serangan tusukan pedang
pusakanya, sedangkan tangan kirinya mengembang dengan jari2nya yang tegang bergerak laksana
cengkeraman cakar harimau.
Itulah ilmu pedang ciptaan Cahayabuana yang bersumber pada gabungan intisari dari ilmu2
pedang shakti yang dinamakan ilmu pedang „Cahaya Tangkubanperahu".
Telah lebih dari setahun lamanya, Yoga Kumala mempelajari ilmu pedang ciptaan Eyangnya,
langsung dibawah asuhan Cahayabuana sendiri.
Sedang ia meloncat tinggi sambil berpusingan diudara dengan mengayunkan pedang pusakanya
dalam gerakan babatan berangkai, tiba2 terdengar suara seruan yang amat tajam dari kejauhan — Awas
!!!. — Dan bersamaan dengan terdengarnya suara seruan itu, sebuah batu sebesar tinju meluncur
kearah-nya laksana kilat.
Dan …… CRAATTT ! ….. batu yang menyerangnya terbelah menjadi dua potong, serta potongan
batu masing2 terpental jauh kesamping. Namun belum juga potongan2 batu itu jatuh ditanah, telah pula
disusui dengan meluncurnya tiga buah batu yang semakin kecil secara beruntun dalam saat yang hampir
bersamaan, dan diiringi pula dengan suara seruan seperti serangan yang pertama — Awas !!!. —
Ketiga batu itupun menjadi berkeping keping dan susul menyusul terpental jauh kesamping
kanan kirinya Yoga Kumala.
— Heh …..hehhhh ….. hhheeehhh !!!!. Bagus ….. bagus ......... !!!!. Cahayabuana berseru puas
sambil ketawa lebar dan berjalan menghampiri cucunya Yoga Kumaia yang sedang giat berlatih.
Demi melihat kedatangan Eyangnya itu, Yoga Kumala segera menghentikan gerakannya, sambil
mengusapi peluhnya yang membasahi mukanya dengan tarrgan kirinya.
— Cukup ….. cukup untuk hari ini, cucuku Yoga ! ! ! Hanya masih ada sedikit yang harus selalu
menjadi perhatian mu. Hendaknya dalam gerakan sabetan, bacokan ataupun tebangan, mata tajam
senjatamu harus menyerong sedikit. Dengan demikian pedang ditanganmu akan menjadi lebih tajam
dengan sendirinya, serta benda2 yang kau papaki dengan senjatamu akan terpental kejurusan yang
serong pula sehingga tidak membahayakan dirimu. Selain itu semua gerakanmu cukup bagus ! !.
Selanjutnya kau tinggal melatih tentang kecepatan memindahkan pemusatan tenaga dalam dan
kecepatan membagi bagi tenaga yang terhimpun itu, dengan tanpa menghentikan gerakanmu. Karena
tanpa memiliki kemahiran dalam hal ini, seranganmu yang kelihatan dahsyat itu tidak akan berarti,
apabila kau menghadapi lawan yang-tangguh.—
— Eyang ! Apaxah kiranya cucunda kelak akan cukup berharga untuk memiliki pedang pusaka
ini, Eyang ??. Yoga Kumala berkata lemah sambil tertunduk lesu.
Mendengar pertanyaan cucunya itu, Cahayabuana cepat mendekat dan memegang bahu Yoga
Kumala sambil menjawab dengan tersenyum girang — Hehh …. heehhhh !! Tentu ….. tentu ! ! ! Cucuku
Yoga ! !. Jangankan kelak …... sekarangpun sesungguhnya kau telah dapat mengimbangi tokoh2 pedang
yang telah kawakan. Tidak perlu kau kuatir akan ilmu kepandaianmu. Maka hendaknya jangan kau
bersikap ragu2 dan hilangkan sifat2 tak percaya pada diri sendiri. Contohlah sikap budi luhur kakak
angkatmu Gustiku Senapati Indra …… Ingatlah, bahwa kau alalah satu2nya priya keturunanku ! !. Dan kini
kiranya kau telah cukup dewasa untuk mewarisi semua ilmuku …..!!. — Cucunda akan selalu patuh
Luengikuti petunjuk2 Eyang ! !.
Sebagaimana biasanya, tiap2 hari setelah berlatih, Yoga Kumala bersujud didepan batu nisan
tempat makam ibunya. Yaahhh ,,,,ibu kandungnya sendiri .,,,, Ibu yang telah ditunjuk oleh Dewata Hyang
Maha Agung sebagai perantara dari kehadlirannya didunia ramai ini ….. Seorang ibu …..yang ia harus dan
wajib menjunjung namanya setinggi tingginya ….. walaupun ia sendiri telah tidak ingat lagi, bagaimana
bentuk dan roman wajah ibunya itu.
Namun ia harus masih berterima kasih kepada Dewata Yang Maha Agung bahwa kini ia telah
dapat menemukan kembali jejak asal usulnya, yang ternyata adalah seorang darah keturunan dari
Ksatrya pahlawan Pajajaran, dan cucu dari seorang petapa shakti Pajajaran yang namanya telah
menggemparkan para tokoh2 berilmu tinggi Pajajaran.
Baru saja Yoga Kumala bangkit berdiri selesai dari sujudnya, tiba2 suara auman sikumbang
terdengar jelas, disusul dengan berkelebatnya sikumbang datang kearahnya. Langsung si kumbang
mendekam dihadapannya dan kemudian mengangsurkan kaki depannya yang kiri, yang ternyata ada,
noda darah dibahagian pahanya. Dengan serta merta Yoga Kumala menyambut angsuran kaki
sikumbang sambil membongkok dan memeriksanya dengan saksama. Alangkah terkejutnya setelah
menyaksikan, bahwa paha kiri kaki depan sikumbang ternyata luka bekas tergores senjata tajam.
Maksud hendak memanggil Eyangnya segera dibatalkan, setelah mengetahui bahwa kiranya Eyang
mendahului masuk kegoa sewaktu ia bersujud didepan nisan makam ibunya. Dengan rasa iba ia
membelai kepala sikumbang dengan tangan kanannya sambil menatap dengan pandangannya yang
tajam kearah mata sikumbang. Seakan-akan sikumbangpun hendak mengatakan sesuatu. la mengerang-
erang dengan ekornya bergerak-gerak. Ternyata luka goresan itu tak demikian membahayakan. Akan
tetapi …. siapakah gerangan orangnya yang berani melukai sikumbang? ….Dimanakah ia mendapat luka
itu?
Belum juga pertanyaannya terjawab, tiba2 tiga orang berjubah abu2 mendatang bagaikan
berkelebatnya bayangan. Melihat cara mendatangnyapun telah dapat diduga, bahwa tiga orang itu
tentu orang yang memiliki kepandain tinggi. Harimau kumbang yang sedang duduk jinak dihadapan Yoga
Kumala, mengaum pendek serta hendak melompat menerjang kepada tiga orang itu yang berjubah abu2
yang tengah mendatang, tetapi cepat Yoga Kumala menepuk punggungnya serta membentak keras.
— Kumbang! Diam! Karena bentakan itu sikumbangpun menurut jinak kepada perintah
majikannya.
— Anak Kaulah kiranya yang memiliki harimau kumbang yang galak itu? Salah seorang diantara
ketiga pendatang itu bertanya dengan suara pelan.
— Maafkan atas kelancangan saudaraku ini, sehingga harimau piaraanmu menjadi terluka
sedikit, anak muda! — Ucapan kata2nya sangat sopan dan sedikitpun tidak mengandung nada
permusuhan, akan tetapi suara yang lembut itu cukup berwibawa.
— Karena saya belum mengenalnya, siapakah nama bapak2 yang datang ini? — Yoga Kumala
bangkit berdiri menyambut kedatangan tiga orang berjubah abu2 itu, sambil membungkukkan
badannya, sebagai tanda menghormat kepada orang yang usianya lebih tua, seraya bertanya.
— Haaa …. Hhhaataa …. haaaaaaa! Memang wajar bila kau tidak mengenal kami bertiga, karena
baru kali ini pula kau berjumpa denganku …. Ketahuilah, bahwa kami saudara bertiga ini yang terkenal
dengan nama — Parang Jingga — dari gunung Guntur. Kedatanganku bertiga kemari perlu menemui
petapa shakti Ajengan Cahayabuana …. Dan siapakah kau ini sebenarnya anak muda?
Ketiga orang berjubah abu2 itu memang benar tiga saudara pendekar shakti dari gunung Guntur
adanya, yang terkenal dengan gelarnya — Parang Jingga. — Jubahnya berwarna abu2 berkilat terbuat
dari kain sutra dengan masing2 bertandakan lukisan sebatang golok berwarna merah yang tersulam
didada bajunya.
Ketiga2nya hampir merupakan sekembaran. Mukanya bersih berseri dengan pandang matanya
yang tajam. Rambutnya diikat diatas kepala dengan pita sutra kuning dan merupakan gelung kecil.
Masing2 berbadan tinggi tegap. Hanya pada keningnya yang tertua terdapat tanda goresan bekas luka,
dan rambutnyapun telah kelihatan berwarna dua. Ia bersenjatakan tongkat besi sepanjang setengah
depa dan sebatang golok panjang yang tergantung dipinggang sebelah kanan.
Yang nomor dua tingginya terpaut sedikit dibandingkan dengan yang tertua. Rambutnya hitam
pekat serta diikat keatas menyerupai yang tertua. Ia bersenjatakan sepasang go-

29

Ketiga orang berjubah abu2 itu memang benar tiga saudara penclekar shakti
dari gunung Guntur adanya, yang terkenal dengan gelarnya "Parang Jingga"

lok pendek yang terselip dipinggang kanan kirinya. Sedangkan yang termuda bertubuh agak kurus dan
setinggi yang tertua. Berbeda dengan kedua saudaranya, rambutnya terurai lepas dan sepasang golok
pendek terselip dipinggang kanan kirinya.
— Saya adalah cucunya Eyang Cahayabuana, dan nama saya Yoga Kumala !!! — Jawab Yoga
Kumala singkat, sambil menatap pandang penuh curiga.
— Tak salah lagi dugaanku, — Kaukah cucunya petapa shakti Ajengan Cahayabuana !!! — Parang
jingga tertua berkata lagi. Sementara itu kedua saudara Parang Jingga lainnya berdiri diam tak berkata
sepatahpun. Namun pandangannya liar menyapu sekitarnya, dan sebentar2 saling menatap pandang.
Dimana Eyangmu sekarang ? Aku bertiga ingin menemuinya !!! — Mendengar pertanyaan itu,
Yoga Kumala semakin merasa curiga. Haruskah ia menunjukkan pada Eyangnya yang mungkin sedang
bersamadi ? Ataukah ia sendiri harus mewakilinya ?
Kini ia sedang menimbang nimbang ….. dan untuk segera mengambil keputusan rasa hatinya
penuh ragu ….. Sedang ia menimbang2 tindakan apa yang harus diambilnya, tiba-tiba Parang Jingga
tertua mengulangi pertanyaan dengan nada yang agak keras.
— Hai Yoga Kumala !!! Jawablah pertanyaanku !!! Dimana Eyangmu sekarang ??? —
Jarak antara Gunung Guntur dan Gunung Tangkubanperahu bukanlah dekat. Tidak akan aku
bertiga jauh - jauh datang kemari, jika tak ada perlunya. Ataukah aku harus mencarinya sendiri dalam
gua itu. ? —
Agak gugup juga Yoga Kumala menghadapi pertanyaan ulangan yang mendesak ini. Akan tetapi
dengan cepat ia dapat menguasai ketenangannya kembali.
— Maafkan Tuan2. Jika sekiranya sangat penting kedatangan Tuan tuan, silahkan untuk
mengatakan tentang keperluan apa, nanti akan saya sampaikan kepada Eyang !—
— Haaa …. Haaa …..! Anak muda yang tak mengerti adat! — gumamnya, sambil ketawa terbahak
bahak serta melanjutkan kata2nya. — Hai Yoga Kumala! Apakah memang demikian ajaran Eyangmu?
Dengarkan!. Aku bertiga bergelar "Parang Jingga" dan datang kemari untuk menemui Eyangmu! Cukup
apabila kau sampaikan pada Eyangmu bahwa ada tamu penting dari Gunung Guntur yang datang
kemari!, Lekas sampaikan….. atau aku akan mencarinya sendiri, tanpa kau antarkan.
Berkata demikian, Parang Jingga tertua melangkah maju dengan tangan kirinya mendorong Yoga
Kumala kesamping sedangkan kedua saudaranya sambil serentak mengumpat.
— Anak liar tak mengenal aturan! —
Kiranya dorongan tangan kiri Parang Jingga tertua itu bukan hanya gerakan sambil lalu saja, akan
tetapi ternyata di sertai daya pemusatan tenaga shaktinya, sehingga belum juga tangannya menyentuh
badan Yoga Kumala, telah dapat pula dirasakan angin dorongannya yang dahsyat . Akan tetapi ….. Yoga
Kumala yang telah memiliki tenaga shakti pemunah daya shakti dan setahun lamanya digembleng
Eyangnya sendiri, sengaja tidak menghindari serangan gelap itu. Ia sengaja memapaki dengan
terhuyung2 kedepan menerjang lawan, sambil jari2nya tegang mengembang untuk mengarah ketiak
lawan.
Sebagai seorang yang terkenal dengan nama gelarnya Parang Jingga tertua serta telah banyak
pengalamannya dalam pelbagai macam pertempuran, ia terperanjat sesaat. Sambil meloncat kesamping
untuk mengelak dari serangan totokan yang tiba2 itu. Menyaksikan sikap Yoga Kumala itu yang
dianggapnya sangat kurang ajar, kedua saudara Parang Jingga serentak menyerang menyerang Yoga
Kumala dengan maksud untuk meringkusnya.
Seorang menubruk dengan kedua tangannya kearah kedua kaki Yoga Kumala, sedangkan
seorang lagi melancarkan sebuah tendangan mengarah lambung dari samping kanan dalam jarak yang
amat dekat. Serangan serentak dari kedua Parang Jingga itu walaupun berlainan bentuknya, namun jelas
merupakan serangan yang mengandung satu titik tujuan. Karena menangkis ataupun mengelakkan
tendangan dari samping kanan, berarti menyerah pada serangan tubrukan kedua belah tangan yang
mengarah pada kakinya dari seorang lawan lainnya atau ia harus menerima serangan tendangan yang
dahsyat dari lawan satunya.
Akan tetapi Yoga Kumala yang telah menguasai ilmu "wuru shakti" tak berpendapat demikian. la
menjatuhkan diri dengan berjongkok hampir tertelungkup dan berjumpalitan menerobos dibawah kaki
lawan yang sedang melancarkan tendangannyja, sambil menyerang dengan totokan jari2nya yang tepat
mengenai pangkal paha lawan bagian bawah dengan seruan tawa yang menyramkan.
Tak ayal lagi seorang termuda Parang Jingga yang melancarkan serangan tendangan segera jatuh
terlentang dan berjumpalitan kesamping, untuk menghindar dari serangan rangkaian Yoga Kumala,
sedangkan seorang lagi melompat surut kesamping dua langkah dengan berseru nyaring, menghindari
serangan terkaman sikumbang yang tak diduga2 itu. Ternyata sikumbang tak tinggal diam, melihat
majikannya diserang oleh kedua lawannya yang telah melukainya.
Cepat Yoga Kumala bangkit berjongkok lagi, sambil berseru mencegah gerakan sikumbang yang
sedang akan mengulang gerakan terkamannya.
Kumbang!, Lekas pergi! Jangan turut campur, — bentaknya. Dan mengerti seperti akan seruan
majikannya, sikumbang melompat menjauhi lawan2nya dan kemudian menyelinap dibalik makam.
Sementara itu, Parang Jingga tertua telah menerjang Yoga Kumala dengan tongkat besinya.
Sedangkan kedua saudara Parang Jingga lainnya telah pula mengurung dengan senjata masing2 dikedua
belah tangannya.
— Kurung rapat dan tangkap dia! — Perintah Parang-Jingga tertua pada kedua adiknya, sambil
memutarkan tongkat besinya dan berseru lantang pada Yoga Kumala: — Jika kau tak mau menyerah dan
mengantar kami bertiga pada Eyangmu. jangan menyesal jika kau terluka ataupun binasa ditanganku!—
Sesungguhnya ancaman ini semula hanya dimaksudkan menggertak untuk menakut-nakuti saja,
agar Yoga Kumala tidak membandel melawan mereka. Akan tetapi, siapa tahubahwa ancaman demikian,
malahan membangkitkan semangatnya untuk menguji ilmu pedang yang telah dipelajarinya.
Ia masih berdiri setengah berjongkok dengan kedua kakinya terpentang lebar. Telapak tangan
kirinya mengembang dengan jari2nya yang ditegangkan diangkat setinggi pundaknya, sedangkan tangan
kanannya telah menggenggam pedang pusaka yang terhunus, melintang didepan dadanya. Ia menyahut
dengan kata2 yang diiringi dengan tawanya yang terkekeh-kekeh menyeramkan. — Haaa.... haahaaaaa !
Silahkan Tuan Parang Jingga. — Aku ingin membuktikan sendiri akan kehebatan ilmu shakti dari Parang
Jingga bersaudaral. Haaa . . haaaa … ! —
Melihat Yoga Kumala bersiaga dengan kuda2nya yang aneh yang disertai suara tawa yang
menyeramkan itu, Parang Jingga tertua membatalkan serangannya serta memberi isyarat pada kedua
saudaranya untuk melayani Yoga Kumala, sementara itu ia sendiri mundur selangkah sambil berseru —
Hebat . ! ! Hebat ….! Pantas sebagai keturunan petapa shakti!. Yoga Kumala. Layanilah kedua saudaraku
ini dengan ilmu pedangmu yang aneh! Akan kulihat sampai berapa jurus kau mampu melawan kedua
saudara mudaku ini! Haaa …. haaaa . —
Kata2 pujian yang ditutup dengan memandang rendah ilmu pedangnya itu cukup membakar
semangatja. Ia tidak mau dihina secara demikian. Ia selalu ingat akan ajaran Eyangnya, yang pantang
bertindak sebagai pengecut.
— Jangan kalian sombong, menghina orang lain! — serunya.
— Majulah bertiga, aku tak akan mundur selanggkah menghadapi serangan kalian ..... —
Belum juga ia selesai mengucapkan kata2nya, seorang termuda Parang Jingga telah membuka
serangannya dengan sebuah bacokan kampak kearah dadanya, sambil berseru: — Awas serangan !—
Kaki kiri Yoga Kumala bergerak maju selangkah, dengan badan lebih merendah lagi ,,,, Pedang
pusaka berkelebat bagaikan kilat menangkis serangan kampak, mengarah pergelangan lawan sedangkan
tangan kirinya yang mengembang tegang menyambar kearah punggung lawan, dengan diiringi seruan
tak kalah lantangnya: — Awas balasan!—
Menghadapi serangan balasan dari Yoga Kumala yang tak diduga-duga itu Parang Jingga
termuda cepat meloncat kesamping kiri dan membatalkan rangkaian serangannya. ia menjadi terkesiap
sesaat. Belum pernah serangan yang demikian dahsyatnya dihindari oleh lawan secara melancarkan
serangan balasan. Melihat adiknya sibuk mrnghindari serangan balasan dari Yoga Kumala, Parang Jingga
penengah segera langsung menerjang dengan tusukan dan babatan sepasang golok pendeknya.
Sementara itu Parang Jingga termuda telah membalikkan badannya dan kembali menyerang lagi
dengan senjata kampak dan golok panjangnya. Namun serangan2 yang dahsyat itu, oleh Yoga Kumala
dapat selalu dihindari secara aneh dan mengagumkan, hingga serangan2 kedua saudara Parang Jingga
selalu menemui tempat kosong. Pertempuran kini menjadi seru dengan gerakan2 serangan senjata2
tajam masing2 yang amat cepat serta sukar dilihat dan diduga akan perobahan2 gerakannya.
Gulungan sinar putih bersemu kebiruan diselingi dengan berkelebatnya sinar putih kemilau yang
menyambarkan bagaikan kilat susul menyusul menyelubungi tubuh ketiga orang yang sedang bertempur
dengan sengitnya.
Ternyata dalam menghadapi dua orang lawan yang tangguh itu, Yoga Kumala dapat mengimbangi
ketangkasannya, tanpa terdesak kedudukannya. Parang Jingga tertua yang menyaksikan pertempuran
dari dekat tersenyum kagum : — Bagus! Bagus! — serunya sambil mengikuti jalannya pertempuran yang
sedang berlangsung dengan sengitnya.
Akan tetapi pertempuran yang semula berjalan dengan seru dan seimbang itu, tak lama
kemudian berobah dengan tiba2. Dua saudara Parang Jingga kini menjadi sibuk berlompatan
menghindari serangan2 yang aneh dan berbahaya, serta sukar di-duga2 akan bentuk perobahan dan
arahnya. Kiranya mereka keduanya telah merasa terdesak dan tak sampai memberikan balasan
serangan pada Yoga Kumala lawannya. Serangan kedua saudara Parang Jingga yang tadinya merupakan
serangkaian serangan yang serasa serta dahsyat , menjadi buyar dan kalang kabut, hampir2 senjata
mereka berdua salimg berbenturan sendiri.
Sedang mereka sibuk berlompatan menghindari serangan pedang pusaka yang berkelebatan susul
menyusul kearah tubuh mereka, tiba2 Yoga Kumala melompat tinggi sambil berjumpalitan diudara
dengan berseru keras : " Lepas senjata!!!". Tidak ayal lagi, kedua golok pendek ditangan kanan kiri lepas
dari genggaman dan terpental, sejauh lima langkah dari pemegangnya. Dengan seruan tertahan,
penengah Parang Jingga melompat surut kebelakang dua langkah sambil gemetaran. Tangan kanannya
terasa seperti lumpuh, sedangkan ibujari tangan kirinya terbabat oleh sabetan pedang pusaka Yoga
Kumala.
Setelah melihat kedua saudaranya terdesak hebat dan bahkan seorang diantaranya mendapat cedera
pada kedua belah tangannya, ia melompat menerjang kearah Yoga Kumala dengau suatu serangan
pukulan tongkat besinya, langsung mengarah bahu kanan Yoga Kumala. Namun kembali lagi Yoga
Kumaia dapat terhindar secara mentakjubkan sambil melancarkan serangan balasan yang tak kalah
berbahayanya. Pukulan tongkat besi yang jatuh ditempat kosong itu, oleh Parang Jingga tertua
dilanjutkan menjadi sabetan kearah kaki Yoga Kumala yang sedang mengelak kesamping dengan disertai
suatu loncatan rendah untuk menghindarkan sabetan pedang Yoga Kumala.
Akan tetapi … ia segera melompat dua langkah kesamping kiri, setelah mendapatkan kenyataan
bahwa serangan tongkat besinya yang berangkai menjadi gagal semua dan Yoga Kumala tanpa
diketahuinya telah berada dibelakangnya sambil melancarkan serangan2 yang sangat berbahaya.
Sementara itu Parang Jingga penengah telah terbebas dari kelumpuhan tangan kanannya,
sedangkan ibu jari tangan kirinya cepat dibalut dengan sobekan lengan jubahnya, untuk kemudian
melompat mendekat Parang Jingga tertua dan mengambil golok panjang yang terselip dipinggang
kakaknya.
Kini mereka bertiga dengan senjata masing2 ditangan serentak maju dengan serangan2 yang
amat rapih dan teratur silih berganti susul menyusul dan kadang2 serangan serentak yang amat dahsyat .
Tongkat besi menyambar kearah kedua kaki Yoga Kumala, sedangkan ujung golok panjang dari
penengah Parang Jingga meluncur kearah dadanya, dan Parang Jingga termuda pada saat yang
bersamaan mengayunkan kampaknya kearah kepala Yoga Kumala dengan memegang golok pendek
terhunus ditangan kirinya siap untuk merangkaikan serangannya. Tiba2 sewaktu tiga senjata hampir
mengenai sasarannya, Yoga Kumala terhuyung2 kebelakang selangkah untuk kemudian meloncat tinggi
sambil berseru melengking menyeramkan.
Ia berpusingan diudara meluncur kembali dengan melancarkan serangan dalam gerak sabetan
pedang yang sangat membingungkan bagi ketiga saudara Parang Jingga yang belum siaga itu. Ketiga2nya
masing2 berlompatan surut kebelakang selangkah untuk menghindari serangan pedang maut yang tak
dikenal oleh mereka. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa serangan yang demikian rapat dan
dahsyat dapat dihindari secara aneh dan mentakjubkan.
Akan tetapi Parang Jingga termuda dengan tangkasnya telah melemparkan golok pendeknya
kearah Yoga Kumala sewaktu ia meloncat menghindar dari serangan pedang. Golok pendek meluncur
bagaikan kilat mengarah perut Yoga Kumala yang waktu itu belum berpijak ditanah. Dan ….trrraanngg
Golok pendek tertebas menjadi dua potong serta terpental jauh, masing2 mengarah tubuh kedua
lawannya yang sedang berlompatan menghindar dari serangan pedang sehingga mereka terpaksa
menangkis dengan gerakan membentuk perisai dengan senjatanya masing.
Tiba2 seorang tertua Parang Jingga melompat surut kebelakang dua langkah sambil berseru
keras — Cukup. Cukup !. Tahan senjata! Serentak semua mengikuti gerakan Parang Jingga tertua dan
berdiri tegak tak bergerak sambil memegang senjata masing2.
Bersamaan dengan itu, Ajengan Cahayabuana berdiri dibelakang Yoga Kumala, sambil tertawa
nyaring.
— Haa ….. haa...! Bagus! …. Bagus! Yoga sambutlah kedatangan para tamu Parang Jingga itu
sebagai mana layaknya. Anggaplah ketiga tamu shakti itu seperti keluarga kita sendiri ….
Mendengar kata2 Eyangnya yang tiba2 itu, ia menjadi terkejut dan heran bukan kepalang.
Namun sebagai seorang cucu yang selalu taat akan perintah Eyangnya, Yoga Kumala cepat
menyarungkan pedang pusakanya kembali serta membungkukkan badannya kearah ketiga saudara
Parang Jingga sambil berkata minta maaf
— Tidak mengapa ! I. Dan tidak ada yang harus kami maafkan Yoga Kumala ! !, Saya bangga
menyaksikan kepandaianmu itu ! ! Berkata demikian Parang Jingga sambil membalas hormat.
— Bapak Ajengan Cahayabuana ! ! —. Ia bwrkata melanjutkan bicara tertuju pada Cahayabuana,
sambil menganggukkan kepalanya : — Maaf kan kami bertiga, yang telah lancang berani menguji cucu
Bapak Ajengan Cahayabuana sebelum mendapatkan idzin terlebih dahulu. Dan ternyata berhasil dengan
sangat memuaskan. Kelancangan kami bertiga sekedar memenuhi permintaan Gusti Senapati Indra
Sambada pada setengah tahun yang lalu. —
— Ach …. tidak ada pula yang harus saya maafkan, bahkan saya mengucap banyak terima kasih
atas jerih pajah anak2 Parang Jingga yang telah sudi menguiurkan tangan membantu aku yang telah tua
ini ! !. Dan akupun telah mengerti akan keperluan kedatangan anak2 kemari, maka sengaja tadi aku tak
menyambutnya lebih dahulu. Mari2 …. silahkan singgah digua pondokku sebentar anak2….. — Yoga !!
Kau juga harus mengucap terima kasih pada tamu2 kita yang bermurah hati itu. —
Belum juga Yoga Kumala sempat mengucapkan terima kasihnya, Parang Jingga telah berkata
lagi.
— Maaf kan, Bapak Ajengan Cahayabuana ! !. Bukannya kami menolak untuk singgah di
pertapaan, akan tetapi terpaksa kami harus meninggalkan Tangkubanperahu sekarang juga, untuk
segera menghadap Gusti Senapati Indra Sambada di Kota Raja agar tak terlambat menyampaikan
laporan hasil titahnya !!. —
Baik ….. baik ! !. Aku tak mungkin dapat mencegah kalian ! !. Pesanku, sampaikan saya salam
sujudku kehadapan Gusti Indra ! !.—
Sambil menepuk nepuk Yoga Kumala ketiga saudara Parang Jingga berpesan agar
kedatangannya di Kota Raja krlak jangan sampai terlambat.
Setelah berpamitan, mereka bertiga segera berlalu dengan pesatnya sambil meninggalkan suara
seruan pesan — Yoga!!
Sampai ketemu lagi di Kota Raja !!!. — Suara itu memantul menggema kembali …. untuk kemudian
hilang lenyap sama sekali.

*
**

Pada waktu malam harinya, setelah Yoga Kumala selesai berlatih iltnu pemusatan tenaga dalam,
Cahayabuana memberikan petunjuk2 padanya dengan suara yang tenang sambil duduk bersila.
— Dahulu sewaktu kangmasmu Gusti Indra Sambada meninggalkan pondok kita ini, ia
meninggalkan pesan padaku, supaya kau berhasil mewarisi kapandaianku dalam-waktu tidak lebih dari
dua tahun. Walaupun dalam waktu yang singkat itu tentu masih ada, kekurangan2 yang belum kau
kuasai seluruhnya, akan tetapi Gustiku Indra menaruh kepercayaan, bahwa dengan mewarisi dua pertiga
bagian dari kepandaianku saya dengan ditambah ilmumu sendiri telah cukup untuk bekal dalam
mengabdi di Kerajaan. Demikianlah pesan beliau. Hal ini dianggap karena menjelang dua tahun
mendatang beliau berkenan mengadakan pemilihan calon2 perwira tamtama baru yang khusus akan
ditugaskan ke Kerajaan Tanah Melayu sebagai tamtama bantuan dari Gustiku Sri Baginda Maharaja
Hajam Wuruk kepada Sri Baginda Maharaja Adityawarman. Menurut keterangan Gustiku Senapati Indra
bantuan dari Majapahit adalah memenuhi permohonan Kerajaan Tanah Tanah Melayu yang bermaksud
untuk mengendihkan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang kini telah suram. Maka berulang-ulang Gustiku
Indra berpesan agar kedatanganmu kelak di Kota Raja jangan hendaknya terlambat.
Maka cucuku Yoga! Jangan hendaknya kau membuang-buang kesempatan yang demikian
baiknya itu …. Tekunlah berlatih!
Demi untuk tercapainya tujuanmu. Pergunakanlah waktu fang singkat dan yang hanya tinggal setahun
lagi ini se-baik2nya ,serta semanfaat mungkin! —
— Akan tetapi, Eyang! Cucunda masih ragu …. akan kemungkinan dapatnya menguasai semua
pelajaran dari eyang dalam waktu yang sesingkat itu. Dan karenanya ….. saya takut ….. apabila nanti
…..terpaksa mengalami kegagalan. Bukankah Eyang sendiri sering mengatakan, bahwa kegagalan dalam
tahap permulaan sama halnya dengan kegagalan keseluruhan? Maka untuk tampil dalam gelanggang
pemilihan calon perwira tamtama yang akan diselenggarakan di Kota Raja pacla setahun mendatang ini,
cucunda merasa tidak mampu? …. !—
Yoga Kumala mengutarakan isi hatinya dengan se-jujur2nya, dengan kata2 yang terputus-putus serta
dengan muka yang tertunduk. Sekilaspun ia tak berani menatap pandang pada Eyangnya.
— Yoga cucuku sayang! — Cahayabuana mejawab dengan kata2 lemah lembut: — Jangan kau
mudah berputus asa! Melihat bekal yang telah kau miliki sekarang saya, aku sebagai Eyangmu telah
merasa tidak kecewa dan percaya bahwa dalam waktu setahun mendatang, jika kau selalu tekun
berlatih tentu akan dapat menguasai seluruhnya pelajaran2 yang kuberikan padamu. Hanya untuk
sempurnanya, kau masih harus mencari pengalaman. Dan memang pengalaman itulah yang pada
hakekatnya akan merupakan guru yang tertinggi …. Percayalah pada dirimu sendiri!
Yaahhh ….ketahuilah bahwa kepercayaan pada diri sendiri juga merupakan bekal utama untuk
mencapai sesuatu. — Cahayabuana menghela nafas sejenak dan kemudian melanjutkan lagi bicaranya:
— Merendah hati adalah budi luhur akan tetapi …. berkecil hati bukan merupakan sifat2 ksatrya.
Buanglah jauh2 sifat2 yang demikian itu. Ketahuilah, bahwa secorang ksatrya harus selalu
menunjukkan kesanggupannya, dengan semboyan2nya — pantang menyerah. — Demi untuk
menjunjung tinggi martabatnya, demi nama bangsa dan tanah airnya, seorang ksatya akan rela hancur
lebur menjadi debu dari pada lari meninggalkan gelanggang sebagai pengkhianat. —
Setelah mendengar petunjuk dari Eyangnya itu, rasa hatinya seperti tergugah. Api juangnya
menjadi menyala kembali.
Kata2 Eyangnya seakan - akan merupakan sambaran petir disiang bolong Tidak ....... tidak! Tak
mau ia menjadi pengkhianat. Iapun rela lebur menjadi debu dari pada hidup sebagai pengkhianat.
Bukankah mendiang ayahnya juga gugur sebagai pahlawan?
Mulai sejak itu, ia berlatih lebih giat dan tekun lagi serta keinginan untuk ke!ak dapat terpilih
menjadi perwira tamtama menjadi meluap luap …..
Hari demi hari, dan bulan demi bulan telah dilaluinya dengan acara2 yang sama serta
menjemukan. Esok pagi-pagi berlatih kanuragan dan malam harinya menerima petunjuk2 ataupun
mengungkap kitab kuno.
Akan tetapi walaupun demikian, Yoga Kumala tetap mentaati perintah Eyangnya, dan berlatih
penuh ketekunan.
Teman untuk ber-cakap2 satu2nya dalam waktu beristirahat adalah Mang Jajang pengasuhnya yang
setia. Dari Mang Jajang itulah Yoga Kumala dapat mengetahui banyak tentang kisah kehidupan ayah
bundanya yang telah pulang kealam baka. Sifat2 kesatriaan mendiang ayahnya selalu didongengkan oleh
Mang Jajang dengan semangat yang menyala2, seakan akan ingin ia melukiskan kembali dengan kata
bahasanya agar Yoga Kumala dapat pula turut menggambarkannya dengan angan2 yang jelas.
— Wajah mendiang juragan pamegeut mirip sekali dengan Aden Yoga Kumala sekarang — Dan
apabila ceritanya sampai disini, air mata Mang Jajang deras mengalir membasahi pipinya yang telah
berkeriput iiu. Tak terasa, Yoga Kumalapun ikut pula bersedih hati. Air matanya ber-linang2 meleleh
dikedua pipinya.
Kadang2 sebagai pelipur dukanya, ia mengikuti Eyangnya Cahayabuana dimalam hari menjelajali
desa2 di-lereng2 pegunungan untuk menolong rakyat tani yang miskin atau mengobati orang2 desa yang
jauh terpencil yang sedang menderita sakit. Tak jarang pula Yoga Kumala turut serta memberantas
penjahat2 yang mengganggu ketentraman di-desa2 yang jauh terpencil dari penjagaan petugas
narapraja.
Sang waktu berjalan terus, tanpa mengenal langkah surut .... bagaikan anak panah yang telah
terlepas dari busurnya. Dan kini telah lewat satu setengah tahun lamanya ia tinggal dipertapaan
Eyangnya dilereng puncak Gunung Tangkubanperahu. Selama itu pula ia digembleng oleh Eyangnya baik
jasmani maupun rohani.
Ternyata Yoga Kumala sebagai ksatrya keturunan darah pahlawan Pajajaran dengan bakat2nya,
telah dapat mencapai kemajuan yang pesat, sesuai dengan kehendak Eyangnya, petapa shakti Ajengan
Cahayabuana.
Sejak adiknya Indah Kumala Wardhani meninggalkannya, rasa2nya ia tak betah untuk tinggal
lebih lama lagi ditempat yang sunyi itu.
Ingin ia sekali waktu minta ijin kepada Eyangnya untuk menjenguk adiknya sebentar di
lndramayu, akan tetapi tak berani ia mengutarakan keinginannya kepada Eyangnya.
Keinginannya tetap hanya menjadi keinginan belaka ...
Ia tahu, bahwa permintaannya tak mungkin dikabulkan, selama ia dianggap oleh Eyangnya belum lulus
dari penempaan dalam ilmu krida kanuragan dan ilmu krida yudha. Terdorong oleh rasa ingin cepat
turun gunung, maka semua pelajaran-peiajaran yang diterimanya disambutnya dengan penuh perhatian
serta ketekunan. Ia berlatih dengan tanpa mengenal lelah .... Kiranya semua ini tak Iepas pula dari
perhatian petapa shakti Cahayabuana, Eyangnya. Akan tetapi sebagai pengasuh yang telah mendekati
titik kesempurnaan, Cahayabuana seakan-akan tidak memperdulikan akan isi hati cucunya.
Dalam hati ia selalu bersjukur pada Dewata Hyang Maha Agung, bahwa ia telah dikaruniai cucu
seorang putra yang ternyata perkasa dan berwatak ksatrya. Ia bersyukur pula, bahwa kini cucunya Yoga
Kumala telah dapat mewarisi ilmunya krida kanuragan yang dapat dibanggakan. Kini ia telah bermasud
hendak melepas cucunya dari tempat petapaan, karena dianggapnya telah cukup memiliki bekal untuk
mengabdi di Kerajaan Majapahit.
Dikala itu, malam bulan purnama. Langit biru membentang luas dan bintang2 gemerlapan
menaburi ruang angkasa. Cahaya sang bulan memancarkan sinar keemasannya dan alam semesta
menjadi terang remang-remang karenanya. Namun suasana sekitar lereng puncak Gunung
Tangkubanperahu itu tetap sunyi .. . . sepi . . . . seperti biasanya pada tiap2 malam hari. Hanya suara
jengkerik ilalanglah yang selalu terdengar nyarin g, merupakan irama malam yang tetap. Kadang2
diselingi pula dengan suara auman binatang2 buas ataupun suara anggukkan burung hantu. Akan tetapi
suara selingan itu segera lenyap tertelan oleh kesunyian malam yang kelam.
Waktupun telah lewat tengah malam, akan tetapi Cahayabuana dengan Yoga Kumala masih juga
asyik bercakap-cakap pelan sambil duduk bersila didepan batu nisan tempat makam mendiang Nyi Ayu
Darma Kusumah, sedangkan si kumbang dengan setianya mendekam tertunduk disebelah Cahayabuana.
Hawa pegunungan yang dingin itu kiranya tidak mengganggu ketenangan mereka, bahkan dihirupnya
dalam2 untuk menambah segarnya badan. Jika pada waktu malam biasanya mereka duduk diruang
semadhi dalam gua, sambil mengungkap kitab kuno, maka malam ini adalah berlainan dengan malam
biasanya. Mulai sejak sang bulan tadi bertahta disinggasananya, mereka berdua duduk diatas rumput
tanpa alas Iain sambil asyik bercakap2 pelan. Kiranya Cahayabuana ingin sekali lagi mengulang kata-kata
petuahnya pada cucunya Yoga Kumala. Seaakan-akan ingin ia menyematkan semua petuahnya kelubuk
hati cucunya pada malam itu.
— Pesanku, ….. Yoga .... jagalah adikmu Indah Kumala Wardhani dan dirimu sendiri baik2…..
Walaupun kelak pada suatu saat kau berdua terpaksa harus berpisah dan berjauhan namun aku
mmgharap …… ikatan rasa sebagai saudara sekandung hendaknya jangan sampai putus …..
Ingatlah bahwa hanya kau berdua yang menjadi penyambung obor para leluhurrnu, dan
hendaknya dapat merupakan obor penerang pula bagi mereka yang sedang terperosok dalam kegelapan
Suara itu terputus sejenak, dan suasana menjadi sunyi sepi kembali …… Dengan muka tertunduk, tiba2
Yoga Kumala menyahut pelan memecah kesunyian.
— Eyang! Cucunda ingin berbakti pada ayah bunda dan Eyang serta pada para leluhur.
Hendaknya batu nisan makam Ibunda ini menjadi saksi akan kata2 cucunda. Hasrat cucunda tidak ada
lain kecuali mengabdi pada kebaikan.
— Aku percaya akan ucapan kata2mu, Yoga! Semoga Dewata Hyang Maha Agung mengabulkan
cita2mu yang mulai itu …..Sekali lagi pesanku, …. bersikaplah selalu rendah hati!. Sesuaikan dirimu,
dimanapun kau berada. Dalam kitab kuno Niti Sastra yang telah kau pelajari terdapat sebait wejangan
ilmu shakti dari seorang pendeta Budha Sakyakirti kepada salah seorang muridnya tertulis dalam
halaman 678 yang berbunyi demikian :

Menjelma asap sewaktu campur awan . .


Menjadi setetes air dikala hujan ……
Dapat menghilang digelapan . . . .
Dan menjadi debu dikancah laga . .
Kejarlah aji shakti demikian ….
Sebagai bekal untuk mencapai tujuan …..

Arti maksud daripada wejangan itu, ialah tak lain dari pada suatu petuah, agar muridnya selalu
dapat menyesuaikan diri dimanapun ia berada. Maka buanglah jauh2 sifat tinggi hati ataupun congkak.
Janganlah sekali2 menghina ataupun memandang rendah pada orang lain. Orang2 shakti yang
berada diatas tingkatanmu masih banyak sekali. Kesaktian tanpa landasan kebenaran, pasti akan
mengalami kehancuran. Ingatlah, bahwa tujuanmu yang utama adalah „mengabdi" …. dalam arti kata
yang luas! Yaaahh . . . . mengabdi pada Kerajaan Agung Majapahit ..... mengabdi pada bangsa dan tanah
air…… mengabdi pada kebenaran dan keadilan….. mengabdi pada Dewata Hyang Maha Agung.
Ilmu, pangkat dan kekuasaan hanyalah alat belaka untuk mewujudkan suatu pengabdian . .
Kelak kau akan tahu sendiri, dimana letaknya puncak kesaktian yang sesungguhnya , …. Carilah
.... dan kau tentu akan menemukan ….. Nah …. cucuku Yoga ! Kiranya ilmu yang kau warisi dariku telah
cukup, untuk sekedar penambah bekal, dalam mencapai titik tujuan.
Siang malam aku akan selalu berdoa dalam semadhiku, agar Dewata Hyang Maha Agung selalu
melindungi dirimu ……
Disamping ilmu yang telah kau miliki, setia dan tekun merupakan dua pokok bekal utama pula.
Dalam kata setia terkandung arti: taat, patuh, serta bertanggung jawab akan semua kewajiban,
sedangkan tekun ialah rajin tak mengenal lelah ataupun jemu. Sebagai contoh …..
Walaupun hanya selangkah demi selangkah, akan tetapi dengan setia dan ketekunan, kau dapat
mendaki puncak gunung setinggi Mahameru. Sebaliknya, walaupun kau ber-sayap akan tetapi tak
memiliki ketetapan hati tidak mung-kin dapat terbang mencapai titik tujuan. Camkanah … baik2,
pesanku yang sederhana ini. Karena orang yang masih semuda kau itu, akan banyak menjumpai godaau.
Jangan hendaknya kau mengalami kegagalan ditengah jalan, hanya karena tergelincir oleh rintangan
yang tak berarti. — Sampai disini Cahayabuana berhenti bicara, dan suasanapun menjadi hening kembali
….. Kedua2nya menghela nafas panjang, seakan akan sedang mengenangkan sesuatu. Si. Kumbangpun
mendekam tak bergerak. Hanya matanya yang berkedip2 berkilat terang seperti nyala pelita. Seakan
akan iapun turut pula mendengarkan wejangan majikannya.
Sambil batuk2 kecil, Cahayabuana melanjutkan lagi bicaranya dalam nada penuh ketenangan.
— Cucuku, Yoga Kumala !! Yaaahh ….. walaupun telah berulang kali aku katakan padamu, akan
tetapi kiranya tak ada jeleknya apabila dimalam perpisahan ini aku peringatkan sekali lagi ….. Kenanglah
sepanjang masa hidupmu akan jasa2 semua orang yang telah meltrnpahkan budi kasihnya kepadamu,
seperti Gusti Wirahadinata sekeluarga. Gusti Junjunganku Senapati Indra Sambada, Ki Dadung Ngawuk
dan lain2nya. Hutang harta mudah dibayar dengan benda pula. Akan tetapi berhutang budi harus dibalas
dengan bhakti. Dan bukan dinamakan bhakti apabila tidak rela berkorban untuknya, sewaktu diperlukan
!! - Semua petuah Eyang akan saya rekam untuk saya jadikan haluan hidup cucunda, Eyang !!!.—
Baru saja Yoga Kumala selesai mengucapkan kata akhir kalimatnya, tiba2 terdengar suara tawa
yang bergelak gelak yang semakin jelas. — Haaaa haaaaaa . . haaaa ...!!.-- Si kumbang cepat bangkit
berdiri dengan sepasang dann telinganya bergerak gerak, mencari arah datangnya suara. Ia mengerang
tertahan, sambil memperlihatkan taring2nya iang runcing berkilat. Namun cepat tangan kanan
Cahayabuana menepuk pelan pada punggung sikumbang, sebagai isyarat agar ia duduk mendekam
kembali dengan tenang.
Yoga Kumala menjadi terperanjat seketika, dan hampir2 ia bangkit hendak menyambut suara
tawa yang bergelak gelak nyaring itu, Akan tetapi secepat itu pula ia dapat menguasai ketenangannya
kembali, demi disadarinya, bahwa ia sedang menghadap Eyangnya. Ia tertunduk dengan muka yang
merah padam, diliputi oleh rasa gelisah.
Sebelum gema suara tawa itu hilang tertelan oleh kesepian malam, tiba2 Cahayabuana telah
membalasnya dengan suara yang menggema pula. — Haaaiii ..... Ki Dadung Ngawuk !!!. Kedatanganmu
tepat pada waktunya !!!, -
Walaupun kata2 itu diucapkan dengan pelan sambil duduk bersila akan tetapi suaranya
menggema mengalun jauh dan memantul kembali dalam nada yang lebih jelas terdengar. Gelombang
getaran gema suaranya memenuhi alam sekitarnya, hingga suara cangkerik ilalang dan lain2nya terdesak
lenyap. ltulah seruan petapa shakti Cahayabuana yang diiringi dengan aji shaktinya „Panggendaman
Rajawana".
— Haaa …..haaaahhhaaaaa ! Kedatanganku tak bermaksud mengganggu pertemuan kakek dan
cucu! Tapi sekedar menjenguk muridku sianak gila yang baik. —
Suara itu kini semakin terdengar jelas dan seakan-akan diucapkan oleh orang yang telah berada
dihadapannya. Akan tetapi ternyata bayangannyapun belum nampak. Jelas bahwa kakek Dadung
Ngawuk menggunakan pula tenaga dalamnya untuk mengantar suaranya dari kejauhan.
— Silahkan! Silahkan!! Kedatanganmu kusambut dengan hati terbuka! — Jawab Ajengan
Cahayabuana.
Bajangan berkelebat mendatang, dan bersamaan dengan lenyapnya gema suara Cahayabuana,
seorang kakek2 gundul setengah telanyang dengan hanya memakai cawat dari kulit ular sanca serta
menggenggam cambuk terbuat dari kulit ular sanca pula ditangan kanannya, telah berdiri dihadapan
Cahayabuana sambil tertawa tarkeceh-kekeh.
— Heehhh …. Heeehhh ,.. heehhh ! Tidak kuduga bahwa petapa tua masih hidup dan tetap segar
seperti dahulu waktu lewat sepuluh tahun yang lalu! —
Tanpa menunggu perintah Eyangnya, Yoga Kumala segera bangkit dan sujud pada gurunya yang
baru saja tiba. — Kakek Dadung Ngawuk!!! Ampunilah aku muridmu yang tak berbakti ini. Sekali-kali aku
tak bermaksud mangabaikan pesan guru, akan tetapi kesempatan untuk mnemenuhi janjiku memang
belum tiba ….Sekali lagi... ampunilah kesalahanku ini …..kakek Dadung Ngawuk guruku!—
Sesungguhnya memang Yoga Kutnala selalu ingat akan pesan gurunya kakek Dadung Ngawuk,
sewaktu ia dahulu meninggalkan hutan Blora. Dan oleh karena itulah ia cepat2 mengutarakan isi hatinya,
karena kuatir mendapat teguran dari gurunya, sebelum ia mendapat kesempatan untuk memenuhi
pesan gurunya. Telah lama terkandung dalam hatinya, akan tetapi apa daya kesempatan itu belum juga
kunjung datang.
— Heeehh ….. heeeehhh !!. Anak gila yang baik! Tak ada yang harus kumaafkan ….Akupun telah
tahu semua ,…. Dan bahkan tak pantas apabila kau memiliki cengeng. Bukankah kau adalah cucu petapa
tua shakti??? Haaa ….. haaa …. Sudahlah! Sudahlah! Datangku kemari hanya ingin membuktikan akan
kebenaran kataku dahulu, dan pula kau harus mengakui kalah bertaruh denganku! — Berkata demikian,
K.kek Dadung Ngawuk segera turut serta duduk sila diatas rumput sambil memegangi bahu Yoga Kumala
dan menepuk-nepuknya.
Sementara itu, Yoga Kumala diam ternganga, penuh pertanyaan. Darimana gurunya tahu akan
kejadian2 yang telah dialaminya? Cara bagaimana gurunya tahu bahwa ia kini berada ditempat
pertapaan Eyangnya? Sedang ia meraba2 mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, Cahayabuana
telah memulai membuka percakapan.
— Kiranya sahabatku Kaki Dadung Ngawuk masih juga tetap segar bugar, dan watak2 aslinya
tidak juga berubah! — Katanya sambil tersenyum.
— Dan bahagialah anda berkunjung dipondokku yang terpencil ini! —
— Haaa haaa haaa . ! Petapa tua yang selalu pantas menjadi tauladan …. Jauh berlainan dengan
diriku yang gila ini . yaaah . memang aku benar2 gila…. Terima kasih….. terima kasih . . . . atas teguranmu
itu, orang tua! haaa ….haaa …..haaa ….!—
Dengan muka tertunduk diam dan hati yang girang, Yoga Kumala mengikuti percakapan dua
orang shakti yang tengah berlangsung itu. Ke-dua2nya adalah gurunya sejati...
Ia girang bercampur rasa kagum dan bangga. Girang karena akhirnya dua orang shakti itu
bertemu dalam suasana akrab, dan bangga karena kedua-duanya memiliki ilmu yang tinggi serta saling
mengagumi.
— Sayang kau petapa tua …... terlalu kikir akan Ilmumu….. Mudah2an saja menghadapi cucunya
sendiri kau menjadi pemurah ! —
Mendengar kata2 cemoohan dari Ki Dadung Ngawuk itu, Cahayabuana sedikitpun tidak menjadi
marah, akan tetapi bahkan turut tertawa terbahak2 pula. Ia tahu akan sifat sifat Dadung Ngawuk yang
sinting dan angin2an itu, dan iapun tahu bahwa kata2nya itu semua sama sekali ticlak mengandung
maksud jahat. Tanpa mengindahkan ucapan cemoohannya Cahayabuana berkata sambil tersenyum
lebar.
— Heeehh ….. Heeehhh …. akulah yang seharusnya berterima kasih padamu, Ki Dadung
Ngawuk! Tanpa bimbinganmu cucuku Yoga Kumala tidak akan sepandai sekarang! Orang tua seperti aku
ini tentunya tidak mungkin dapat membalas atas budi kebaikanmu yang tak ternilai itu.— Maka
terserahlah …. dan semoga Dewata Hyang Maha Agung dapat membalasnya! —
— Orang tua baik!. Ternyata kau bukan hanya pandai dalam ihnu kanuragan, tetapi juga pandai
bersilat lidah dan menyanjung orang. Haaa ….haaaa ….haaa …. Hampir2 aku jatuh terlentang karena
terlalu tinggi kau sanjung-sanjung! —
Haaa . , haaa haaa , Bukankah dahulu dengan ilmu kebanggaanku aktu pernah bertekuk lutut padamu?
Haaa …. haaa , …..haaa!. Sampai2 aku berani lancang tangan mengangkat cucumu sebagai muridku,
adalah karena semula aku tak tahu bahwa anak gila itu sesungguhnya cucumu adanya. Akan tetapi kini,
ternyata aku menang taruhan dengan cucumu. itu. Haaa …. , . haaahaaa ……bukankah benar akan
dugaanku dahulu bahwa nama Sujud adalah nama palsu! Haaa …. Bawa…. Bawa…. haaa ....! Nach,
sekarang akan aku jitak kepalamu Yoga! — Dan benar2 apa yang dikatakan, ia telah menjitak kepala Yoga
Kumala dengan tiba2, sehingga menjadi terperanjat sesaat.
— Nach! — katanya kemudian,— Lunas sekarang! Kekalahan taruhanmu telah kau bayar dan
akupun tidak penasaran lagi. Haaa haaa .. . . haaa —
Akhirnya ketiga-tiganya menjadi ketawa atas kejadian itu. Kini suasana nampak lebih gembira
dan lebih akrab lagi. Kiranya sifat2 sintingnya Dadung Ngawuk menambah meriahnya suasana pada
malam yang sunyi itu.
Percakapan itu berlangsung terus dengan sebentar-bentar diselingi dengan suara tawa yang
terbahak2. Tanpa diperintah Eyangnya, Yoga Kumala telah pergi kedapur dan membantu Mang Jajang
yang sudah sibuk menyiapkan teh hangat dan makanan kecil sederhana untuk menjamu gurunya Ki
Dadung Ngawuk.
Ternyata suara tawa yang ber-gelak2 tadi cukup membuat terkejutnya Mang Jajang yang sedang
tidur nyenyak, sehingga ia tersentak bangun karenanya. Dengan panjang lebar penuh kelucuan Dadung
Ngawuk menceritakan, bahwa sewaktu ia mencari muridnya di Indramayu menemui Wirahadinata,
mendapatkan petunjuk2 yang sangat jelas. Dengan demikian maka ia kemudian langsung menuju ke
lereng Tangkubanperahu.
Juga sewaktu ia berada di Indramayu iapun telah pula berkenalan dengan adik muridnya Indah
Kumala Wardhani yang nakal itu. Iapun membawa juga pesan dari Bupati Wirahadinata untuk
disampaikan pada Cahayabuana. Isi pesannya ialah, agar Yoga Kumala dalam waktu dekat ini dapat
berkunjung ke Indramayu, untuk kemudian akan diantarkan sendiri oleh Wirahadinata ke Kota Raja
bersama-sama dengan adiknya Indah Kumala Wardhani.
Cahayabuana setelah menerima pesan yang dibawa oleh K i Dadung Ngawuk dari Bupati
Wirahadinata, segera memberikan penjelasan kepada Ki Dadung Ngawuk bahwia Yoga Kumala memang
pada besok paginya akan turun gunung menuju ke Kota Raja dengan singgah sebentar untuk sementara
hari di Indramayu, tempat kediaman orang tua angkatnya.
— Untung bagiku, bahwa kedatanganmu tidak terlambat — kata Cahayabuana.
— Haaa . . .. . haaa . . . , . haaa .... Akulah yang beruntung! — Sahut Ki Dadung Ngawuk, -- Tidak
kecewa aku dari jauh2 datang kemari ! —

Sambil menikmati hidangan2 yang masih hangat kedua orang shakti melanjutkan
percakapannya. Sementara itu Yoga Kumalapun telah turut serta duduk bersila mendengarkan
percakapan mereka.
— Yoga gila, muridku! — katanya Dadung Ngawuk kemudian, sambil menatap pandang
padanya. — Jika kelak kau telah diangkat menjadi priyagung di Kerajaan, jangan hendaknya kau lupa
padaku. Berusahalah untuk menjenguk diriku, waktu satu setengah tahun mendatang. Untukmu
kuberikan kitab kuno usadha sastra yang mungkin berguna bagimu.
Ambilah sendiri kitab kuno itu. Kitab itu kutanam didekat pohon semboja merah didekat
sendang ditengah hutan. Tak usah kuatir, kitab itu kusimpan rapih dalam peti yang tak mungkin rusak.
Ingatlah? satu setengah tahun lagi . . . menjelang bulan purnama pada malam pertama! —
Budi kasih kakek Guru kepadaku terlampau banyak … — Jawab Yoga Kumala sambil bersujud: —
Dengan cara bagaimanakah aku dapat membalasmu, Kakek Dadung Ngawuk?!
Haaaa … haaaa . haaaa . benar2 kau serupa dengan kakekmu sipetapa tua ... Ketahuilah, bahwa
aku sama sekali tidak mengharapkan balasan darimu . . . .
Cukup jika kau kelak dapat menjadi kebanggaan orang hanyak, seperti kakekmu itu, Akupun akan turut
merasa hangga pula. Nach! Kiraku ajaran2 dari kakekrnu petapa tua cukup padat dengan hal-hal yang
baik, dan tidak perlu aku menambah lagi. Ketahuilah, bahwa dihadapan kakekmu itu, aku pernah
menyerah kalah dan bertekuk lutut maka akupun percaya penuh padanya! —
Berkata demikian Dadung Ngawuk lalu bangkit berdiri sambil berpamit untuk kembali ke hutan
Blora tempat tinggalnya. Ajakan Ajengan Cahayabuana agar ia mau singgah lebih lama lagi dipertapaan,
sama sekali tak dihiraukannya. Ia telah melesat hilang ditelan kegelapan malam yang pekat sambil
meninggalkan suara tawanya yang menggema dipantulkan oleh lereng gunung Tangkubanperahu : —
Ilaaaaa ... haaaaaa . . . haaa.aaa . —
Lain waktu kita sambung lagi! —
Cahayabuana hanya menggeleng - gelengkan kepalanya, sambil berkata pada diri sendiri: —
Orang aneh …. orang aneh, tetapi berwatak ksatrya …. —
Waktu itu telah larut malam. Bintang2pun mulai nampak pudar cahayanya. Daun2 telah basah
berlapiskan embun pagi.
Pada hari itu, pagi2 buta ayam ... Yoga Kumala dengan diantar oleh Eyangnya, Mang Jajang dan si
kumbang sampai dikaki Gunung Tangkubanperahu meninggalkan tempat pertapaan Eyangnya Ajengan
Cahayabuana serta tempat makam lbunya untuk menuju ke lndramayu, seorang diri. Sambil berkali-kali
menoleh kebelakang dengan melambai lambaikan tangannya, Yoga Kumala berjalan semakin jauh untuk
kemudian hilang dikelokan jalan padesan ….

*
* *
B A G I A N : III.
SEJAK PAGI-PAGI buta di Kota Senopaten Maja Agung nampak adanya kesibukan yang lain dari
pada hari biasanya.
Para Tamtama dengan pakaian seragam kebesaran yang serba indah, kelihatan hilir mudik
mondar mandir.
Ada yang berkelompok kelompok seakan akan merupakan barisan2 kecil dan ada pula yang
berjalan secara bebas sendiri2. Juga para tamtama yang berkuda tak mau ketinggalan dalam kesibukan
itu.
Derap langkah kaki kuda terdengar tak ada putusnya, di jalan2 besar yang silang menyilang
melintasi kota itu. Namun mereka kesemuanya mengenakan pakaian seragam kebesaran serta indah
dengan warna dan tanda lambangnya masing2 menurut keseragaman kesatuannya.
Ada yang mengenakan pakaian seragam berwarna merah, dan ada pula yang berwarna hijau
dengan berseretkan putih ataupun kuning. Seutas pita dari kain sutra selebar tiga jari melingkari kepala
masing2 dengan warna putih ataupun kuning menurut golongan tingkatannya. Para tamtama bawahan
mengenakan pita berwarna putih, sedangkan para perwira mengenakan pita sutra berwarna kuning
keemasan.
Tanpa terkecuali, semuanya menyandang pedang dipinggang kirinya. Bahkan diantaranya
disamping bersenjatakan pedang, masih juga mengenakan keris pusaka dipinggang kanan ataupun
terselip menonjol kedepan dengan wrangka daun tangkai ukiran yang indah.
Maja Agung memang merupakan kota tamtama Kerajaan, yang terkenal dengan kebersihannya
dan candi2nya yang megah. Alun2nya pun sangat luas. Dari kejauhan nampak sebuah patung lambang
kebesaran „ALAP-ALAP ING AYUDHA", berujudkan burung garuda yang sedang mementangkan sayapnya
diatas pura pintu gerbang Istana Senapaten tempat kediaman Manggala Yudha Kerajaan Agung
Majapahit Gusti Senapati Adityawardhana. Patung dan pura pintu gerbang itu terbuat dari batu alam
yang terpahat halus, sedangkan pintu gerbang itu terbuat keseluruhannya dari besi yang kokoh kuat,
Sungguh indah dan megah dipandang.
Dipura pintu gerbang Istana Senapaten itu, nampak adanya barisan tamtama pengawal kehormatan
yang berdiri tegak berjajar rapat dengan masing2 memegang pedang terhunus.
Kereta2 kebesaran para Manggala kelihatan berderet deret dialun alun sebelah timur dengan
penjagaan tamtama yang kuat. Sedangkan disebelah selatan dekat pintu gerbang yang menuju lstana
Senapaten, berdiri sebuah bangunan mimbar yang cukup besar serta kokoh, beratapkan tenda hijau
beseretkan kuning tanpa hiasan2 1ain.
Lebih dari seratus orang tamtama mengelilingi bangunan mimbar yang berdiri dengan megah
dan terbuat dari papan setinggi kira2 segalah panjang. Para tamtama berdiri tegak diatas tanah dengan
bersenjatakan pedang terhunus.
Kiranya pintu2 gerbang ditiga penjuru yang menuju ke alun2 Senapaten itu, dijaga kuat pula oleh
para tamtama pengawal dan tertutup lalu lintas umum.
Bukan hanya jalan yang menuju ke alun2 saja yang tertutup untuk lalu lintas umum, tetapi pintu2
gerbang di perbatasan kotapun sejak tiga hari yang lalu terjaga kuat oleh pasukan tamtama dan tertutup
pula bagi lalu lintas umum.
Terkecuali bagi mereka yang dianggap penting.
Hari itu Senapati Manggala Yudha Gusti Adityawardhana berkenan mengadakan pemilihan
untuk calon perwira tamtama baru yang akan di angkat sebagai pimpinan pasukan Kerajaan yang khusus
untuk dikirim ke Negara Kerajaan Tanah Melayu sebagai pasukan bantuan. guna memenuhi permintaan
Sri Baginda Maharaja Adityawarman yang waktu itu bertahta dikerajaan Tanah Melayu.
Pimpinan penyelenggara pemilihan calon perwira tamtama oleh beliau diserahkan kepada
Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Gusti lndra Sambada yang terkenal dengan gelarnya
— Pendekar Majapahit. (Baca Seri Pendekar Majapahit),
Waktu itu masih esok pagi2. Sang surya kelihatan berada disebelah timur dan belum ada
setengah galah panjang tingginya. Namun sinarnya yang memancar memadangi bumi raya dengan
cahayanya yang terang benderang. Langit biru membentang bersih. Awan tipis yang seputih kapas
berpencaran menghias angkasa dengan masing2 bentuknya yang berubah- rubah.
Tiba2 terdengar suara tiupan seruling mengalun diiringi dengan suara genderang yang bertalu-
talu, dan sebentar kemudian nampak barisan tamtama dari ampat penjuru memasuki alun2.
Dengan amat tertibnya dan rapih barisan2 itu menghentikan gerak langkahnya dan para
tamtama berdiri tegak berjajar rapat dalam ampat lapisan mengelilingi alun2. Sementara suara seruling
dan genderang masih terdengar mengalun dan bertatu talu dengan iramanya yang garang dan perkasa.
Suara aba2 terdengar lantang .... dan semua tam-tama tak terkecuali, memalingkan kepalanya kearah
pintu gerbang besar depan Istana Senapaten, sambil memberikan hormat dengan khikmadnya.
Barisan pengawal kehormatan yang sejak tadi telah berdiri berjajar didepan pintu gerbang,
masing2 mengangkat pedang tamtamanya tinggi2 ... hingga bertemu ujung dengan pedang2 tamtama
dari barisan yang berada dihadapannya, bagaikan jembatan kurung berpelengkung pedang.
Dan sesaat kemudian, nampak Sang Senapati Manggala Yudha Gusti Adityawardhana berjalan
berjajar dengan Gusti Senapati Harya Banendra Penasehat Agung Maharaja (Rakriyan Katrini) melalui
tengah2 barisan pengawal kehormatan menuju kemirnbar.
Menyusul berjalan dibelakangnya jalah empat priyagung Senapati Muda, masing2 Manggala
Tamtama .Pengawal Raja Gusti lndra Sambada, Manggala Tamtama Gusti Suwendar, Manggala
Tamtama Samudra Gusti Bhatatarajasa dan terakhir manggala Narapraja Gusti Pangeran Pekik.
Tak larna kemudian menyusul dibelakangnya 118 para peserta calon perwira tamtama yang
telah lulus dalam ujian babak pertama.
Mereka para peserta semuanya rnengenakan pakaian seragam warna hitam dengan berseretan
putih dengan memakai tandanya huruf angka tersulam didada masing2 berwarna putih pula. Semua
lebih dari tigaratus orang yang mengikuti dalarn pemilihan calon perwira tamtama itu. Akan tetapi
dalam ujian babak pertama ternyata hanya tinggal kurang dari jumlah separohnya.
Syarat utama untuk dapat mengikuti pemilihan calon perwira tamtama itu, selain dari pada
mahir dalam krida kanuragan harus pula mahir dalarn ilmu krida yudha serta sastra. Dan kecuali kedua
syarat pokok, usia para peserta calon perwira tamtama ditentukan pula tak boleh lebih dari pada 40
tahun.
Dalam hari pertama dan kedua yang telah berselang, ternyata hanya tinggal 148 orang yang
telah dinyatakan lulus dalam menempuh ujian ilmu sastra dan ilmu yudha.
Dan kini mereka masih harus menempuh pula ujian babak kedua yaitu mengenai krida
kanuragan tamtama, yang terbagi dalam tiga acara.
Pertama-tama berkuda melewati rintangan, dan kedua berkuda sambil melontarkan tombak.
Sedangkan acara yang terakhir ialah, panahan.
Dan setelah nanti babak kedua ini selesai, mereka masih harus menempuh ujian babak ketiga
ataupun babak terakhir. Dalam babak ketiga itu terbagi pula dalam dua mata acara.
Pertama tama lomba pengerahan pemusatan tenaga atau disebut juga lornba kesaktian.
Sedangkan acara terakhir ialah disebut babak penyisihan untuk menentukan seorang perwira
tamtama pertama dengan secara aduan tata kelahi bertangan kosong dan bersenjata tajam.
Sebagian besar dari para peserta pemilihan calon perwira tamtama itu, adalah para anggauta
tarntama Kerajaan yang telah terpilih oleh pimpinan mereka masing2, sedangkan sebagian lainnya terdiri
dari orang2 rakyat biasa ataupun para murid-murid orang2 shakti yang merasa dirinya telah mampu
untuk dipilih menjadi calon perwira. Oleh karena diantaranya terdapat para murid2 orang2 shakti itu,
maka demi menjaga ketertiban dan keamanan, kota Senapaten Maja Agung sejak tiga hari yang lalu
dijaga kuat oleh pasukan Kerajaan.
Setelah para Senapati dan segenap priyagung Kerajaan duduk diatas mimbar yang beralaskan
permadani, dan para peserta calon perwira tamtama berdiri tegak berjajar dalam bentuk barisan
dibawah mimbar, tiba2 gong dipukul tiga kali oleh seorang tamtama, suatu tanda bahwa lomba krida
kanuragan tamtama akan dimulai.
Suara gong mengalun mengaung berkumandang memenuhi alun2 dan suasana menjadi hening
sunyi seketika.
Sesaat kemudian Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Gusti Indra Sambada yang
bergelar Pendekar ivlajapahit, menyembah kehadapan Senapati Manggala Yudha dan Senapati
Penasehat Agung Raja Gusti Harya Banendra untuk memohon izin melaksanakan tugas sebagai pimpinan
penyelenggara pemilihan perwira2 tamtama.
Setelah memberikan sembah, ia segera turun dari mimbar dan langsung memeriksa barisan
para peserta calon perwira tamtama, yang oleh mereka disambut dengan sikap peng hormatan secara
tamtama dengan khidmad. la berkenan memberikan petunjuk secara singkat tentang acara lomba krida
kanuragan tamtama babak kedua yang harus mereka tempuh. Kepada mereka, ia berkenan pula
memberikan restunya agar semua dapat luluus dengan baik.
Sementara itu para tamtama yang bertugas memasang rintangan rintangan, segera sibuk sesuai
dengan petunjuk2 yang telah ditentukan sebelumnya. Gawang2 rintangan ber-macam2 ukuran dipasang
malang melintang serta julur menjulur di alun2 yang luas itu.
Kesemuanya ada lima macam rintangan. Ada yang rendah akan tetapi panjang membujur sekira
empat sampai delapan langkah dan ada pula yang tinggi hampir setinggi manusia berdiri. Tiap2 gawang
rintangan dijaga oleh empat orang tamtama yang bertugas mengawasi jalannya lomba acara pertama
serta mencatat hasilnya.
Senapati Muda Indra Sambada sendiri berkenan pula mengawasi jalannya lomba krida
kanuragan tamtama itu dari jarak dekat dengan didampingi oleh Tumenggung Cakrawirya.
Kini para peserta calon perwira telah berada di-alun2 sebelah timur dengan rnenunggang kuda
masing2 yang sejak tadi telah disiapkan oleh para tamtama.
Mereka berjajar semuanya rapih diatas pelana kuda masing masing yang tinggi2. Ringkikan kuda2
itu mulai terdengar riuh nyaring.
— Aku kuatir, jangan2 kau nanti terpelanting dan mati terkapar ditanah, Yoga! — Kata seorang
peserta yang bertubuh tinggi besar disebelah Yoga Kumala dengan nada suara mengejek. Orang itu
kelihatan tegap dan perkasa. Otot2nya melingkar lingkar dikedua belah tangannya dan lehernya. Ia
berusia kira2 25 tahun. Sepasang alisnya yang tebal dan bertemu pangkal. Matanya juling. Hidungnya
besar dan ber-kumis lebat.
Ia adalah seorang tamtama Kerajaan yang disegani oleh seluruh kawan setingkatnya. Namanya cukup
dikenal sebagai tamtama yang memiliki kesaktian. Ia telah lama menjadi tamtama Kerajaan, akan tetapi
tak pernah dinaikkan pangkatnya.
Hal ini bukan dikarenakan kurang tangkas ataupun kurang shakti. Bukan! Sama sekali bukan
karena itu.
Kesaktiannya jelas melampaui diatas tingkatan teman2nya. Bahkan melebihi daripada salah
seorang diantira para pemimpinnya. Akan tetapi karena kelakuannya yang selalu menyalahi tertib
tamtama, dan berwatak congkak dan tindakan semena-mena terhadap rakyat jelata itu, maka ia tak
pernah mendapat kesempatan untuk naik tingkat. Namanya "Kobar". Kali ini Kobar tak mau menyia -
nyiakan kesempatan yang baik itu. Ia percaja penuh, bahwa kesaktiannya tak mungkin ada yang dapat
menandinginya diantara perwira tamtama itu.
Dengan diiringi senyuman sambil berpaling padanya, Yoga Kumala mejawab tenang. — Kakang
Kobar!. Sebaiknya kau kuatirkan dirimu sendiri, dan tak usah menghawatirkan orang lain! —
Sebagai seorang yang mudah naik darah, demi mendengar jawaban Yoga Kumala demikian itu,
Kobar menyahut dengan suara lantang.
— Hai Yoga !!! Tutup mulutmu! Anak masih ingusan, berani berlagak didepanku?
—Aku tak bermaksud berlagak! Bukankah jawabanku itu wajar? Buat apa kau, susah2
memikirkan orang lain seperti aku ini?
Aku kuatir, jangan-jangan kau nanti terpelanting dan mati terkapar
ditanah, Yoga ! –

— Ha! Masih juga kau berani mejawab! Ingat! Dalam lomba kanuragan seperti sekarang ini, kau
tak dapat bersandar pada Senapati kakak angkatmu! Tahu!? llan apa yang kau andalkan, jika beliau tak
menolongmu? Dari pada kau mati terpelanting, sebaiknya mengundurkan diri saja!—
— Kakang Kobar! Jangan kau menyebut-nyebut kakak angkatku! Dan sekali lagi, hendaknya kau
jangan memusingkan urusanku!—
— Apa katamu? Haa …. haaa …. ….. haaa ! Persetan dengan kakak ataupun bapak monyongmu!
Jika telah selesai nanti, tentu akan kuhajar mulutmu yang lancang itu! Tahu !—
— Haiii! Kobar! Tiba2 Braja Semandang yang berada dibelakang kedua orang barseru menegur:
— Jangan kau bikin ribut disini! Suaramu mengganggu pemusatan perhatian kita!—
— Yaa, Kakang Kobar memang selalu bikin ribut dimana-mana.— Sontani turut menyahut dari
arah sebelah Kobar sambil menunjuk kearah tamtama yang berdiri didepan barisan: — Itu, dengarkan!
Lombanya telah dimulai!—
Peserta yang bernama Sontani itu masih muda remaja, sebaya dengan Yoga Kumala. Kira2
berumur 20 tahun. Ia bertubuh sedang dan tegap dengan wajahnya yang tampan bersih serta periang. Ia
adalah pemuda kelahiran dari tanah Melayu dan masih merupakan anggauta keluarga dari Gusti
Adityawardhana Manggala Yudha.
Mendengar teguran dari kedua peserta lainnya ini, Kobar menjadi bertambah marah. Mukanya
merah padam sampai diujung telinganya, dan sepasang matanya kelihatan menyala-nyala, sambil
berseru lantang: —Tunggu nanti! Kalian bertiga boleh mengeroyokku seorang diri!—
Belum juga ada yang mejawab akan seruan Kobar, tiba2 terdengar suara aba2 dari seorang Lurah
penatus tamtama.
— Peserta satu sampai dengan sepuluh, siap kedepan!—
Bersamaan dengan lenyapnya suara aba2 itu, sepuluh orang peserta berkuda serentak maju
kedepan, berjajar rapih pada batas tali yang terpancang. Mereka adalah para peserta telah mendapat
perintah sesuai dengan aba2 tadi, untuk mempersiapkan diri menempuh ujian krida kanuragan
tamtama--,
Lurah penatus tamtama yang memberikan aba2 tadi, kini mengangkat cambuk panjangnya
tinggi2. Sesaat kemudian suaara cambuk terdengar mengampar diudara, tiga kali taarr .. . taarr ... taarr .
.. Bersamaan dengan suara cambuk itu tali batas yang terpancang telah ditarik lenyap oleh dua tamtama
yang bertugas.
Sepuluh, orang peserta memacu kudanya masing2, dan sorak sorai para tamtama yang
menonton mengelilingi alun2pun mulai menggema dengan riuhnya.
Dengan tangkasnya sepuluh orang calon perwira itu menggerakkan tali les kudanya masing2
serta memacunya dengan tumitnya, untuk dapat melalui rintangan2 yang berserakan dihadapannya.
Namun kesepuluh peserta calon perwira yang berkuda itu, ternyata semuanya gagal sewaktu
melompati dua rintangan2 yang terakhir.
Ada yang jatuh bergulingan, sewaktu kudanya jatuh terpelosok karena tak dapat melompati
tingginya rintangan yang terakhir ataupun pada rintangan yang panjang membujur.
Ada pula yang gagal sebelum melompati, karena kuda mereka tak mau mengikuti perintah
sipenunggangnya. Sorak sorai bercampur cacian para tamtama yang menonton terdengar semakin
gemuruh, demi melihat kegagalan para peserta calon perwira tamtama itu.
Sepuluh orang demi sepuluh orang mendapat giliran untuk menunjukkan ketangkasannya dalam
berkuda melalui rintangan2, dan ternyata lebih dari dua pertiga bagian dari calon2 yang mengikuti
mengalami kegagalan, tak lulus dalam ujian babak kedua acara permulaan ini. Dari 148 orang, kini hanya
tinggal 42 orang yang telah dinyatakan lulus dalam ujian ketangkasan berkuda. Bagi mereka yang
dinyatakan lulus dapat mengikuti lomba krida kanuragan tamtama selanjutnya, sedangkan mereka yang
telah gagal hanya menjadi penonton biasa.
Kini acara kedua dimulai. Sambil berkuda mereka harus dapat melontarkan tombaknya masing2
pada sasaran yang telah ditentukan. Tombak itu harus dilontarkan dari jarak kira2 duapuluh langkah dan
mengarah sekaligus pada dua sasaran. Sasaran yang pertama ialah, menerobos didalam sebuah gelang
yang tergantung dan selanjutnya harus tepat mengenai sebuah pohon pinang yang berdiri tertanam
dalam jarak lima langkah antara gelang2 itu.
Juga sewaktu melontarkan tumbaknya, mereka masing2 harus memacukan kudanya.
Dalam tomba acara kedua ini, dua puluh empat orang telah tersisihkan. Dan kini hanya tinggal
delapan belas orang yang terpilih untuk dapat ikut serta dalam lomba2 berikutnya.
Setelah acara terakhir dalam lomba panahan, ternyata hanya tinggal delapan orang yang
dianggap lulus dalam ujian babak kedua termasuk Kobar, Yoga Kumala, Braja Semandang, Sontani,
Berhala, Nyoman Ragil, Jala Mantra dan Jaka Gumarang.
Tepuk tangan dan sorak sorai gemuruh memekakkan telinga setelah ujian babak kedua untuk
para pesetta calon perwira itu selesai.
Seruling dan genderang tamtama terdengar bertalu talu menyambut delapan orang peserta
yang kini telah dinyatakan lulus dalam ujian babak kedua itu.
Sang Senapati Muda Manggala Mataram Pengawal Raja Indra Sambada berkenan menjabat
tangan mereka sebagai sambutan kehormatan.
— Yaaa ….. betapa tidak. — Mereka kedelapan orang itu kini telah dinyatakan sebagai tamtama
pilihan. Walaupun dalam habak terakhir nanti diantaranya ada yang tersisihkan, akan tetapi bagi mereka
yang tersisihkan Itu berhak pula mendapatkan hadiah pangkat sebagai Lurah anom penatus tamtama.
Tibalah kini saatnya di mulai lomba krida kanuragan babak ketiga ataupun babak terakhir dalam
acara pertama, ialah lomba kesaktian, atau disebut lomba kanuragan pengerahan pemusatan indrya.
Sebuah bola perunggu yang beratnya lebih dari 100 kati diletakkan. didepan barisan para peserta.
Suara panggilan terdengar nyaring, dan Braja Semandang tampil kedepan. Ia berjongkok sejenak
sambil raba raba dengan kedua belah telapak tangannya pada bola perunggu yang berada
dihadapannya. Kemudian berdiri tegak kentbali. Matanya dipejamkan, kedua belah tangannya bersilang
didadanya ……. Dan sesaat kemudian ……. kedua kakinya dipentang lebar, lututnya ditekuk hingga
setengah berjongkok. Kedua telapak tangannya erat2 ditempelkan pada bola perunggu yang amat berat
itu. Dan bersamaan dengan seruan nyaring yang keluar dari mulutnya, bola perunggu telah diangkatnya
tinggi diatas kepalanya, untuk kemudian dilemparkan kedepan sejauh lima belas langkah.
Tepuk tangan dan sorak sorai gemuruh gegap gempita, menyambut pameran kesaktian yang
mentakjubkan itu. Kini Jaka Gumarang mendapat giliran. Seperti halnya dengan Braja Semandang, iapun
bersamadhi sambil berdiri terlebih dahulu. Akan tetapi, ternyata ia hanya berhasil mengangkat bola
perunggu itu setinggi dadanya sendiri. Lemparannyapun hanya sejauh kurang dari dua belas langkah.
Dengan muka yang merah padam karena malu tak dapat mengimbangai kesaktian Braja Semandang, ia
kembali ketempatma semula.
Demikian pula Nyoman Ragil dan Berhala, sewaktu mendapatkan gilirannya untuk melemparkan
bola perunggu itu, kedua2nya juga tak berhasil mengangkat lebih tinggi dari dada mereka. Terdengar lagi
panggilan nyaring, dan Kobar kini tampil keclepan sambil bersenyum simpul. Tangannya dilambai
lambaikan kearah kawan2nya yang menonton, dan sorak sorai gemuruh menyambut lambaian
tangannya. Seakan akan tanpa bersemadhi terlebih dahulu sebagaimana lain peserta, ia telah bergerak
dengan tangkasnya mengangkat bola perunggu itu dengan kedua belah tangannya tinggi2 diatas kepala
sambil masih bersenyum. Kaki kirinya diangkat sedikit dan diatas kaki kanan itu ia berdiri sambil
memutar tubuhnya untuk kemudian melemparkan bola perunggu yang berada diatas kepalanya jauh2
kedepan sambil melangkahkan kembali kakinya yang kiri yang tadi terangkat.
Bersama dengan jatuhnya bola perunggu yang sebesar dua kepala kerbau itu, tepuk tangan dan
sorak sorai terdengar gemuruh menggelegar kembali.
Semua kagum demi melihat kesaktian Kobar yang luar biasa itu.
Ternyata bola perunggu yang beratnya lebih dari 200 kati dapat terlempar jauh sejauh tujuh
belas langkah dengan disertai gaya yang indah pula. Para Senapati dan segenap priyagung yang
menyaksikan turut serta menggelengkan kepalanya, suatu tanda bahwa merekapun kagum akan
kesaktian Kobar.
Sambil tersenyum -senyum lebar dan membusungkan dadanya Kobar kembali ketempatnya
semula, dengan masih diiringi oleh suara tepuk tangan dari kawan2nya yang tak putus2.
Tibalah kini pada giliran Yoga Kumala. Lengan muka tertunduk ia melangkah tampil kedepan. Ia
berdiri lemah tanpa gaya sedikitpun. Mukanya masih juga tertunduk seakan akan mengamat-amati
benda bola perunggu yang kini berada dihadapannya. Semua orang menahan nafas dengan penuh rasa
sangsi …. akan tetapi …. tiba2 .. tanpa diketahui cara pengerahan tenaga dalamnya, bola perunggu yang
amat berat itu kini telah terangkat tinggi diatas kepala Yoga Kumala. Tangan kirinya dilepaskan dan
terpentang sejajar pundak, sedangkan bola perunggu yang sebesar kepala kerbau itu hanya tersanggah
pada telapak kanannya saja. Kemudian …. dengan tangan kanan itu ia melemparkan bola perunggu yang
amat berat jauh2 kedepan, dan jatuh tepat diatas tanda hasil lemparan Kobar.
Sorak sorai kembali gemuruh mengumandang dan memekakkan telinga.
Tak terduga sama sekali, bahwa Yoga Kumala dengan gerakannya yang amat lemah itu, ternyata
dapat menyamai hasil lemparan Kobar.
Para Senapati yang telah tinggi ilmunya segera dapat mengetahui bahwa sesungguhnya
kesaktian Yoga Kumala berada setingkat diatas kesaktian Kobar. Namun bagi mereka yang hanya
menyaksikan dengan kewajaran, menganggap bahwa kesaktian kedua peserta itu seimbang.
Yang mendapat giliran selanjutnya ialah, Jala Mantra, akan tetapi iapun gagal swperti halnya
dengan Jaka Gumarang dan dua orang peserta lainnya. Kini giliran terakhir ataupun kunci acara lomba
kanuragan kesaktian jatuh pada Sontani.
Tanpa menghiraukan sekitarnya ia langsung tampil kedepan duduk bersila menghadapi bola
perunggu yang besar dan berat itu.
Kedua belah tangannya diletakkan diatas kepalanya, sedangkan matanya dipejamkan. Sesaat
kemudian ia bangkit dan berdiri tegak dengan pandangan mata lurus kedepan. Kini badannya
membungkuk dan dengan kedua tangannya ia mengangkat bola perunggu itu tinggi2 diatas kepalanya
sambil diiringi dengan suara bentakan — haaiiitt! — Bola perunggu dilemparkan dengan kedua
tangannya dan . . . blug …
Ternyata bola perunggu yang amat berat itu terlempar kedepan sejauh enam belas langkah
lebih ….. dan hampir segaris dengan lemparan Yoga Kumala dan Kobar.
Sorak sorai gemuruh mengumandang diangkasa dan disusul kemudian dengan mengaungnya
bunyi gong dipukul tiga kali Suatu tanda bahwa lomba kanuragan tamtama untuk hari ini ditutup.
Seruling dan genderang berbunyi bertalu-talu. Para Senapati dan segenap priyagung Kerajaan
turun mimbar, menuju ke Istana Senapaten Alap2 ing Ayudha. Delapan peserta berbaris dibelakangnya
dan menyuul kemudian para peserta yang gagal. Iring2an itu ditutup dengan barisan tamtama pengawal
kehormatan yang berpakaian seragam kebesaran, sedangkan para tamtarna lainnya bubar menuju
keasrama masing2.
Waktu itu sang surya telah berada diketinggian condong kesebel barat. Dan waktu telah lewat
siang tengah hari.
Atas keputusan Sang Senapati Manggala Yudha Gusti Adityawardhana acara terakhir babak
penyisihan merebutkan pangkat perwira tamtama pertama yang akan dilangsungkan pada esok harinya.
Dengan demikian, maka acara lomba pertandingan tata kelahi bertangan kosong yang akan
diselenggarakan pada esok harinya hanya tinggal sebuah pertandingan saja, ialah Yoga Kumala melawan
Kobar. Dan apabila nanti dalam pertandingan itu dinyatakan tetap seimbang, maka pertandingan akan
dilanjutkan dengan pameran ketangkasan bersenjatakan pedang.
Pemenang dalam pertandingan ini akan diangkat sebagai Bupati tamtama dengan sebutan
Tumenggung, sedangkan yang kalah diangkat sebagai Adipati Anom tamtama dengan sebutan
Tumenggung pula.
Braja Semandang dan Sontani telah dapat ditentukan untuk diangkat sebagai Panewu tamtama,
sedangkan empat orang lainnya berhak pula mendapat pangkat Lurah penatus tamtama.
Kini mereka diberikan waktu untuk istirahat beracara bebas. Akan tetapi dengan ketentuan
sebelum tengah halam mereka diharuskan sudah kembali ke Ksatryan di Istana Senapaten, dimana
mereka disediakan tempat untuk mengaso sampai selesai pelantikan.
— Yoga!! — Kobar berseru memanggil Yoga Kumala sambil mengenakan pakaian gantinya.
— Apa kehendakinu, kang Kobar!! — Jawab Yoga Kumala sambil melangkah mendekatinya.
— Jangan kau besar kepala dan merasa dapat mengimbangi kesaktianku! Jika tadi aku
kehendaki lemparanku tentu dapat dua kali lebih jauh! — Seru Kobar sambil memalingkan kepala kearah
Yoga Kumala dengan pandangan bermusuhan.
— Tetapi mengapa tadi kau tak berbuat demikian? — sahut Yoga Kumala dengan tenang sambil
bersenyum.
— Aku sengaja, biar besok aku dapat bertanding dengan kamu. Tahu! Atau ….. kau
menghendaki pertandingan kita langsungkan sekarang saja??—
— Apa maksudmu? — Yoga bertanya dengan tenang, akan tetapi nampak jelas mukanya kian
menjadi merah.
Tolol!! Akan kuhajar hingga kau merengek-rengek dan berlutut dihadapanku sekarang! Nah,
bukalah mulutmu sekali lagi jika kau ingin merasakan tinjuku!!—
Berkata demiklan ia telah selesai mengenakan pakaiannya, sambil membalikkan badannya
menghadapi Yoga Kumala dengan tatapan pandang yang liar dan menyala.
Mendapat tantangan yang tajam dari Kobar itu, kiranya Yoga Kumala yang masih berdarah
muda, habis batas kesabarannya. Ia mundur selangkah dan ketawa terkekeh-kekeh menyeramkan
sambil berkata.
— Heehheeehhhh ….. heeehhhh! Kobar!! Jangan berlagak menang sendiri …..hehhh ….
Heeehhh …. Heeh .... Aku bukan benda mati!!!—
Mendengar suara tawanya yang menyeramkan dan seruannya yang lantang itu, semua
teman2nya para peserta calon perwira yang berada dalam satu ruangan menjadi terkesiap. Belum
pernah mereka menyaksikan Yoga Kumala bertingkah laku demikian. Sesaat mereka semua terdiam
karena terkena perbawa suara tawanya …..
Akan tetapi karena kemarahan Kobarpun telah sampai pada puncaknya, maka tanpa menjawab
seruan Yoga Kumala, ia tiba2 menyerang langsung dengan tinjunya kearah pelipis kiri Yoga Kumala.
Namun Yoga Kumalapun kiranya telah menduga akan datangnya serangan yang tiba2 itu. Dengan hanya
merendahkan badannya dan rnenundukkan kepalanya, ia telah bebas dari serangan tinju Kobar yang
dahsyat itu. Akan tetapi serangan bukaan dari Kobar tidak hanya berhenti sekian saja. Tinjunya yang
jatuh ketempat kosong itu cepat dirangkaikan dengan susulan tendangan kaki kanan, hingga Yoga
Kumala sesaat menjadi sibuk karenanya. Kiranya ilmu Wuru Shakti dan ilmu Cahaya Tangkubanperahu
telah menjadi satu dengan jiwa Yoga Kumala. Serangan tendangan yang dahsyat bagaikan geledek
kearah lambungnya, bukan dielakkan secara surut kebelakang, akan tetapi malah langsung dipapakinya
dengan telapak tangan kanannya dengan badan yang membungkuk rendah. sedangkan tangan kirinya
dengan jari2nya yang mengembang tegang menjangkau kearah punggung lawan. Benturan tendangan
kaki dengan tebakan telapak tangan tak dapat dihindarkan, dan …. plak ….
Cepat Kobar menjatuhkan diri kesamping kiri sambil berjumpalitan menghindari serangan
totokan jari2 tangan kiri Yoga Kumala. Sementara Yoga ter-huyung2 kedepan satu langkah sambil
mengeluarkan suara tawanya yang terkekeh-ke-keh menyeramkan. Ternyata keduanya memiliki ilmu
kanuragan yang amat tangguh sehingga sukar diduga siapa yang akan lebih unggul. Sesaat Kobar
terperanjat penuh keheran. Ia tidak menduga, bahwa serangan tendangannya dapat digagalkan secara
yang demikian mentakjubkan.
Sebelum mereka siaga untuk saling menyerang kembali, tiba2 Jala Mantra melompat dan berdiri
tegak di-tengah2 antara Kobar dan Yoga Kumala, sambil berseru memisah : — Jangan kalian berkelahi
sekarang disini!! Bersabarlah sampai besok pagi !!!
Akan tetapi, baru saja ia habis mengucapkan perkataannya yang terakhir, tiba2 …. tinju Kobar
telah tepat bersarang dipelipisnya.
Jala mantra terpental dan jatuh terlentang, tak sadarkan diri. Sontani, Braja Semandang,
Nyoman Ragil dan Jaka Gumarang merangsang maju, menghadang Kobar yang sedang kalap dengan
maksud menyapih, sementara Berhala dan Yoga Kumala menolong Jala Mantra yang jatuh terkapar
ditarah pingsan.
Suasana dalam ruangan itu kini menjadi gaduh.
Siapa bikin ribut2? — suara bentakan yang berwibawa tiba2 menggema dalam ruangan itu. Dan
mereka semua berpaling kearah pintu, dimana Tumenggung Cakrawirya telah berdiri dengan menyapu
pandang kearah mereka semua. Hening seketika Semua diam tertunduk, tak berani berkutik. Mereka
tahu, bahwa Tumengeung Cakrawirya adalah wakil Manggala Tamtama Pengawal Raja dan kali ini
merangkap jabatan sebagai pembantu penyelenggara lomba kanuragan.
— Braja Semandang! Ada apa ribut2? — Tanya beliau pada Braja Semandang yang kebetulan
berdiri paling dekat.
Sambil menyembah, Braja Semandang mejawab cepat — Ma,fkan Gusti, kami sedang berlatih!

Ia sengaja sedikit membohong, agar tidak menjadi panjang urusannya, dan kiranya Tumenggung
Cakrawiryapun menjadi puas dengan jawaban itu.
— Yoga Komala! Adikmu Indah Kumala Wardhani ingin bertemu! Kini menunggu disrambi
belakang Senapaten.
— Baik Gu,ti! Hamba akan segera menmui! — Jawab Yoga Kumala singkat sambil menyembah
dan mengikuti berjalan dibelakang Tumenggung Cakrawirya. Jala Mantra krni telah sadar kembali dan
semuanya menjadi terdiam, takut untuk membikin ribut kembali. Mereka kini hanya saling berbisik
mempercakapkan dipanggilnya Yoga Kumala.
— Akang Yoga! — Seru adiknya Indah Kumala Wardhani sambil berlari lari kecil menyambut
datangnya kakaknya, sementara Tumenggung Cakrawirya menghilang dibalik pintu ruang dalam Istana
Senapaten.
— Indah, adikku manis! Ada keperluan apa kau memanggilku? — Tanya Yoga Kumala sambil
membimbing adiknya.
— Pesan kangmas Indra Sambada, akang Yoga nanti malam supaya pergi ke Istananya di Kota
Raja bersama2 aku dan tiga temanku lainnya! —
— Haa?. Dengan temanmu? Siapa yang kau maksudkan?
— Sudahlah! Akang Yoga tentu akan senang sekali pergi bersama sama dengan teman2ku.
Marilah aku kenalkan akang lebih dahuiu dengan mereka! — Indah Kumala Wardhani tersenyum
menggoda sambil meraih tangannya.
Menghadapi kenakalan adiknya, Yoga Kumala tak dapat berkutik lagi, Ia hanya menurut saja dan
rnengikuti langkah adiknya menuju ke ruang tamu serambi belakang Istana Senapaten.
Betapa terperanjatnya, setelah Yoga Kumata melihat tiga dara yang sedang duduk tertunduk
diruang tamu serambi belakang itu. Darahnya tersirap hingga mukanya menjadi merah dadu. Ia malu
tersipu sipu, sambil berusaha melepaskan dari genggaman tangan adiknya, akan tetapi Indah Kumala
Wardhani malahan kuat2 menariknya masuk keruang tamu tadi, sambil berseru pada salah seorang dara
remaja yang sedang duduk itu.
— Yayuk Ratnasari! Ini abangku Yoga Kumala! Tampan bukan? — ….. — Akang Yoga, silahkan
berkenalan dulu! –
Ternyata kenakalan adiknya malah menjadi jadi, akhirnya iapun tidak berdaya sama sekali
menghadapi adiknya.
Sambil tersenyum malu, Yoga Kumala membungkukkan badannya kearah tiga dara remaja yang
menyambutnya dengan bangkit berdiri sejenak sambitl membalas bersenyum.
Mereka berlima kini duduk diruang tamu itu sambil ber-cakap2 kaku. Se akan2 Yoga Kumala
selatu merasa kehabisan ucapan kata2nya. Dan percakapanpun menjadi tidak lancar. Satu sama lain
saling menunggu sambil tertunduk. Hanya Indah Kumala Wardhanilah yang dapat bebas berbicara. Ia
selalu dapat mengisi percakapan2 yang terputus dengan kelucuannya. Akan tetapi tak lepas pula dengan
kenakalannya yang selalu senang menggoda orang lain, terutama kakaknya sendiri.
Dara yang dipanggil dengan narna Retnasari adalah dara remaja yang usianya sepantaran
dengan Indah Kumala Wardhani kira2 17 tahunan. Kulitnya kuning langsat, bentuk tubuhnya langsing,
padat berisi, dengan pinggangnya yang kecil ramping. Tangannya bagaikan busur dipentang dengan jari2
nya yang kecil halus meruncing. Rambutnya hitam pekat dan tebaI, digelung dengan sebuah tusuk konde
yang bertatahkan berlian. Sepasang alisnya tipis melengkung bagaikan bulan sabit, sedangkan biji
matanya nampak redup dengan sinar pan-dangnya yang bening. Tutur bahasanya sangat halus serta
ucapannya selalu diiringi dengan senyuman lirih. Ia adalah adik kandung dari Sontani dan tergolong
keluarga Gusti Senapati Adityawardhana Manggala Yudha Kerajaan Agung Majapahit.
Dara yang duduk disebelah Ratnasari bernama Ktut Chandra, berasal dari Pulau Dewata (Bali). Ia
adalah cucu putri dari gurunya Senapati Muda Manggala Tamtama Indra Sambada yang bersemayam di
Kota Raja Badung. Usianya kira2 sepantaran dengan Indah Kumala Wardhani lebih muda sedikit.
Rambutnya yang hitam pekat ditekuk bagaikan gelung yang terurai lepas. Warna kulitnya kuning agak
kemerah merahan. Alisnya yang hitam tipis dengan sepasang matanya yang lebar dan bening. Kerlingan
matanya tajam, dan menggairahkan. Senyum dan tawanya selalu menghias bibirnya yang tipis mungil.
Sebuah tai lalat sebesar kedelai yang nampak diatas bibirnya sebelah kiri menambah manis dan
pantasnya. Dari tingkah lakunya nampak jelas, bahwa ia adalah seorang dara remaja yang memiliki sifat2
periang.
Ia mengenakan pakaian kain panjang warna biru dengan sulaman benang emas berlukiskan
kembang2 mawar. Dadanya yang padat tertutup oleh sehelai kain biru pula dengan sulaman benang
emas serba merah, sedangkan lengannya dibiarkan telanjang tidak berbaju. Disamping memakai subang
bermata berlian disepasang daun telinganya, masih juga ia mengenakan sekuntum bunga kenanga yang
diselipkan diatas telinga sebelah kanan, menambah resapnya pandangan yang melihatnya.
Sesaat Yoga Kumala berdebar jantungnya, sewaktu ia bertemu pandang dengan Ktut Chandra.
Mulutnya serasa terkunci. Tidak tahu ia harus berbuat bagaimana. Dalam hati ia sangat mengagurni
akan kecantikan gadis Bali itu. Dan bukan itu saya. Kini hatinya serasa terpikat oleh sikap Ktut Chandra
yang se!alu bersenyum itu. Kiranya demikian pula dengan perasaan Ktut Chandra.
Tanpa disadari, denyut jantungnya menjadi makin bertambah keras. Walaupun tak sepatah
katapun yang da-

Sesaat Yoga Kurnala berdebar jantungnya, sewaktu bertemu Pandang dengan


Ktut Chandra.

pat keluar dari mulut mereka berdua, namun sinar pandangan matanya seakan-akan telah membuka isi
hati mereka masing2 yang menuju kesatu titik pengertian.
Seorang dara lainnya lagi yang duduk disebelah Indah Kumala Wardhani, kiranya adalah
pendiam dan pemalu. a berusia kurang lebih 20 tahunan dan sewaktu berkenalan dengan Yoga Kumala,
ia mengaku bernama Sampur Sekar. Ia hanya tertunduk selalu, dan hanya mengucapkan kala bicaranya
apabila terpaksa menanggapi pertanyaan2 teman2nya. Wajahnya ayu, dengan sinar pandangnya yang
tenang bersih. Warna kulitnyapun kuning langsat pula.
Ia mengenakan perhiasan serba indah dan amat mewah. Tutur bahasanyapun sangat
halus, dengan senyuman yang sangat lirih.
Namun pancaran wajahnya nampak jelas, bahwa ia adalah gadis remaja keturunan bangsawan
asli. Dan memang demikian. Ia adalah putra putri dari Pangeran Pekik Manggala Narapraja.
Pada sore harinya mereka berlima dengan Kereta kebesaran Senapati Muda indra Sambada,
pergi menuju ke Kota Raja, memenuhi panggilan kakak angkat Yoga Kumala. Tak henti2nya Indah Kumala
Wardhani didalam perjalanan selalu menggoda kakaknya Yoga Kumala dan Ratnasari, hingga kerapkali
Ratnasari tersipu sipu malu sambil mencubit paha Indah Kumala Wardhani yang ceriwis itu.

*
**
B A G I A N IV.
Walaupun percakapan antara Yoga Kumala dengan Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani
nampak agak lancar dibanding dengan lainnya, akan tetapi setiap waktu Yoga Kumala bertemu pandang
dengan Ktut Chandra jantungnya selalu masih saja dirasakan berdetak keras, dan kedua2nya segera
saling menunduk dengan wajah yang makin memerah. Ia sendiri tidak mengerti apa sebabnya.
Ingin Yoga Kumala berkata banyak pada dara Pulau Dewata ini, namun selalu terhalang oleh
perasaan yang aneh, hingga mulutnya seakan akan terkunci rapat apabila mulai menatap pandangnya.
Kiranya demikian pula perasaan Ktut Chandra terhadapnya. Suatu kebetulan pula duduk mereka dalam
kereta itu ber-hadap2an.
Perjalanan ke Kota Raja, dirasakan oleh Yoga Kumala amat singkat sekali. Seakan akan ia ingin
sepanjang waktu untuk duduk terus dalam kereta dengannya. Namun hal itu tentunya tidak akan
mungkin. Tidak terasa, kini ternyata kereta telah memasuki halaman Senapaten kediaman Manggala
Muda tamtama Pengawal Raja Indra Sambada, kakak angkatnya.
Kiranya Indra Sambadapun telah menunggu2 kedatangan mereka berlima diruang tamu dalam
Istananya.
— Yoga Kumala !!. — Kata Indra Sambada, setelah mereka berlima duduk menghadapnya — Aku
memanggilmu kemari, memang ada sesuatu yang akan aku bicarakan padamu dan pada kalian semua.
Tentunya kalian berlima telah saling mengenal bukan? Indra Samhada berhenti bicara sejenak, seakan
akan menunggu jawaban dari salah seorang diantara mereka, akan tetapi ternyata semuanya hanya
menundukkan kepalanya dengan masing2 bersenyum malu. Hanya Indah Kumala Wardhanilah yang
berani menyahut pertanyaan Indra Sambada dengan kenakalannya yang tidak terduga duga — Kangmas
Indra! ! Akang Yoga hanya mau kenal dengan Yayuk Ratnasari saja, sedangkan lain2nya didiamkan, tidak
diajak bicara !!. —
Menanggapi kenakalan Indah Kumala Wardhani itu, Indra Sambada hanya tersenyum sambil
mengangguk2kan kepalanya. Ia melihat betapa Yoga Kumala dan Ratnasari kini mukanya jadi memerah
dadu, demi mendengar jawaban dari Indah Kumala Wardhani yang senang menggodanya itu!!
— Adikku Indah I! Jangan kau iri melihat kakakmu Yoga kini berlaku demikian. Indra Sambada
menyahut sambil tertawa lebar. Mendapat sambutan dari Indra Sambada yang demikian itu, sifat
kenakalannya Indah Kumala Wardhani bertambah melonjak. Ia turut serta ketawa riang sambil bicara
dengan mencebirkan bibirnya — Saya sama sekali tidak mengiri, Kangmas !!— Bahkan nanti agar Akang
Yoga Kumala dan Yayuk Ratnasati diperkenankan pulang ke Maja Agung berduaan saja. Biarlah kami
bertiga tinggal di Senapaten Kota Raja sini !!
Yoga Kumala dan Ratnasari menjadi semakin malu tersipu-sipu.
Mereka dalam menanggapi adiknya tak dapat berkutik. Ktut Chandra pun turut bersenyum Iirih
sambil tertunduk, Akan tetapi tiba2 perasaan iri dan cemburunya cepat menguasai dirinya. Entah karena
apa! Tanpa terasa kini ia menjadi tertunduk diam menahan rasa mendongkol hatinya. Sedang Sampur
Sekar hanya tersenyum simpul sambil mengawasi wajah kedua remaja yang sedang menjadi buah
permainan.
Walaupun Indra Sambada telah mengenal lama akan sifat2 kenakalan Indah Kumala Wardhani,
akan tetapi kali ini ia sendiri agak terpengaruh pula akan kata2nya.
Ia mengira bahwa Yoga Kumala kini memang agak jatuh cinta (hati) kepada Ratnasari. Apabila benar
demikian halnya, maka iapun akan turut bergembira. Bukankah hubungan dengan Senapati Manggala
Yudha Gusti Aditya. wardhana akan lebih erat terjalin, jika kelak adik angkatnya Yoga Kumala dan
Ratnasari menjadi sepasang suami istri?
— Sudahlah! Dan kini kalian semua hendaknya mendengarkan pesanku baik2! — Tiba2 Indra
Sambada beralih bicara pada pangkal kepentingannya. — Menurut saran dari Gustimu Tumenggung
Cakrawirya, mulai hari ini Yoga Kumala telah diangkat sebagai pelindung daripada kalian berempat.
Maka hubungan sehari2nya hendaknya Iebih di pererat, agar kelak dalam menunaikan tugas masing2
jangan simpang siur. Tentu saja tugas ini bagimu merupakan sampiran dalam jabatanmu sendiri, yang
esok setelah selesai pertandingan akan ditentukan lebih lanjut, — Ia berhenti bicara sesaat sambil
menatap pandang Pada Yoga Kumala. Kemudian melanjutkan bicaranya tertuju pada Yoga Kumala adik
angkatnya: — Yoga Kumala!.
Hanya kau sendiri yang tahu bahwa keempat dara termasuk adikmu kandung sendiri itu, kini telah
diangkat sebagai anggauta Narasandi di Kerajaan oleh Gustimu Tumenggung Cakrawirya.
Sedangkan keamanan dan keselamatannya dalam mengemban tugas kelak berada ditanganmu,
disamping beban tugasmu sendiri! —
Suasana kini menjadi hening, Masing2 saling pandang dan kembali tertunduk diam. Dalam hati,
Yoga Kumala tak mengira sama sekali, bahwa dipercaya mendapat tugas yang mulia itu walaupun
baginya merupakan tambahan beban yang tak dapat dikatakan ringan.
Memang ia telah mengetahui pula, bahwa adik kandungnya dan dara2 temannya telah tiga bulan
lamanya mendapat latihan khusus dari Tumenggung Cakrawirya yang merangkap jabatan sebagai
Manggala Tamtama Narsandi. Akan tetapi tidak menduga, bahwa ia sendiri kini telah dimasukkan dalam
angkatan yang maha penting itu. Kiranya Tumenggung Cakrawirya sangat memperhatikan akan
kelakuannya sehari2, hingga ia berkenan menaruh kepercayaan pada dirinya.
Dengan panjang lebar dijelaskan oleh Senapati Indra Sambada, bahwa kelak pada saatnya,
keempat dara remaja itupun akan dikirim pula ke Negeri Kerajaan Agung Tanah Malayu dengan tugas2
tertentu, yang amat erat hubungannya dengan tugas yang akan dibebankan pada Yoga Kumala.—
Setelah diberikan penjelasan seperlunya dan disertai pesan agar Yoga Kumala dapat
merahasiakan hal ini, mereka berlima diperkenankan kembali ke Senapaten Maja Agung.
— Berusahalah agar besok pagi kau dapat memenangkan pertandingan penyisihan terakhir itu!
— Pesan Indra Sambada sewaktu ia mengantar sampai diambang pintu gerbang.
— Doa restu Kangmas Indra semoga selalu menyertaiku.- jawab Yoga Kumala. Keretapun
berjalan dengan lajunya menuju ke Senapaten Maja Agung menyelinap dikegelapan malam yang pekat.
*
* *

Para Senapati dan segenap priyagung serta orang2 shakti sebagai tamu undangan yang duduk
ber-deret2 dikursi itu diam terpekur ditempat masing2 dengan hati berdebar debar penuh kecemasan
mengikuti jalannya pertandingan babak penyisihan yang tengah berlangsung. Demikian pula para
iamtama yang mengitari gelanggang pertandingan bagaikan pagar tembok ktiat yang tak akan
terobohkan oleh amukan banteng.
Semuanya diam. Tidak ada yang berani mengganggu mereka, yang kini sedang bertanding
dengan sengitnya. Hanya kadang kadang saja terdengar satu pujian pendek yang tertahan berulang kali
dari para priyagung, — Bagus! Bagus! — sambil menggeleng gelengkan kepala, ataupun suara kata
seruan dari pada tamtama yang menyaksikan pertandingan itu.
— kenak! —
Namun sesaat kemudian suasana sunyi hening kembali, dengan pusat perhatian tertuju kearah
yang sedang bertanding dengan sengit.
Pertandingan tata kelahi bertangan kosong antara Yoga Kumala dan Kobar untuk
memperebutkan pemenang pertama itu diselenggarakan dihalaman Senapaten Alap2 Ing Ayudha
dengan disaksikan oleh para orang2 shakti dan segenap priyagung Kerajaan. agar dapat memberikan
nilai yang sewajarnya. Ternyata kedua calon perwira tamtama yang sedang bertanding itu memiliki
kesaktian dan ketangkasan yang seimbang.
Haaaiiittt! Kena! — Seru Kobar sambil melancarkan tendangan yang dahsyat kearah lambung
Yoga Kumala. Dan bersamaan dengan meluncurnya tumit kaki kanan Kobar yang hampir mengenai
lambung kiri Yoga Kumala, tiba2 ia sendiri menjatuhkan diri sambil bergulingan ditanah, untuk
menghindarkan diri dari serangan balasan pukulan telapak tangan Yoga Kumala yang tidak kalah
berbahayanya.
Kiranya sewaktu tendangan yang menggeledek dari Kobar hampir menyentuh tubuhnya, Yoga
Kumala terhulung-hujung kesamping kiri untuk kemudian jatuh berjongkok sambil menyerang Kobar
dengan pukulan telapak tangan kiri mengarah puggung lawan, sedangkan tangan kanannya
menghadang sebagai perisai untuk menghadapi kemungkinan serangan rangkaian dari Kobar.
Semua yang menyaksikan adegan yang mendebarkan jantung itu, sesaat menghela nafas lega,
setelah nyata kedua2nya bebas dari serangan masing2 yang berbahaya.
Akan tetapi belum juga tenang sejenak, kini para penonton kembali menahan nafas lagi, demi
melihat Yoga Kumala melompat tinggi dengan jatuh menukik kebawah sambil mementang tegang
jari2nya tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mengepal sebagai tinju mengarah pelipis kiri Kobar
yang baru saja bangkit berdiri. Cepat dan tangkas, Kobar merendahkan dirinya dan kembali jatuh
bergulingan kesamping kiri, sambil memapaki tinju lawan dengan kaki kirinya.
Akan tetapi masih juga bahu kanannya tersentuh sedikit oleh jari2 tangan kirinya Yoga Kumala.
Cepat ia bangkit dan melompat surut kebelakang dua langkah sambil mendekap bahu kanannya.
Sesaat ia menyeringai menahan rasa nyeri kesemutan seluruh tangan kanannya, namun secepat itu pula
ia mengerahkan pemusatan tenaga dalamnya untuk membebaskan rasa nyeri yang merangsang di-
tangan kanannya.
Semeatara Yoga Kumala telah berdiri diatas kedua kakinya yang terpentang lebar dengan kedua
lututnya ditekuk hingga setengah jongkok sambil ketawa terkekeh kekeh menyeramkan.
Tangan kirinya diangkat tinggi, setinggi pundaknia dengan telapak tangannya kedepan dengan
jari2nya terbuka lebar dan menegang, sedangkan tangan kanannya menjangkau lurus setinggi jajar
dengan dadanya, dengan jari2nya yang mengembang tegang pula.
Matanya memandang tajam2 kedepan. Inilah gerak langkah Wurushakti yang telah dikenal oleh
Senapati Muda Indra Sambada, dalam bentuk jurus „ menyambut serangan maut dari empat penjuru ".
Memang setiap gerakan Yoga Kumala yang memerlukan pengerahan pemusatan tenaga dalam
selalu diiringi dengan tawanya yang terkekeh kekeh menyeramkan.
Inilah ciri2 asli dari gerak Wurushakti. Akan tetapi lawan yang dihadapi adalah Kobar yang
terkenal tangguh dan shakti. Dengan penuh kewaspadaan dan setapak demi setapak ia maju kedepan
mendekati Yoga Kumala sambil siap siaga untuk memulai dengan serangannya ……..
Tiba2 ia membuka serangannya dengan sebuah pukulan telapak tangan dalam gerak tebangan
mengarah leher sambil berseru nyaring hingga memekakkan telinga. Dan sewaktu Yoga Kumala
terhuyung-huyung kedepan sambil memberikan serangan balasan. Kobar telah melesat tinggi diatas
kepala Yoga Kumala sambil berpusingan untuk kemudian jatuh dibelakang, Yoga Kumala dengan
melancarkan serangan pukulan yang dirangkaikan dengan tendangan beruntun silih berganti. la mengira
bahwa serangan bukaannya sebagai gerak tipuan akan berhasil memuaskan, namun Yoga Kumala
kiranya telah menduga dan tak kalah tangkasnya dalam gerakan mendahului menyerang lawan.
Walaupun gerakannya sepintas lalu kelihatan lambat, akan tetapi kehebatan gerakannya selalu
mengandung unsur2 serangan balasan yang amat berbahaya. Dengan menundukkan kepala dan
merendahkan badannya sambil menggeser kaki kirinya surut kesamping, ia terhindar dari serangan
pukulan Kobar yang amat dahsyat . Sambil terhuyung - huyung kedepan ia memapaki rangkaian
serangan lawan dengan pukulan telapak tangan kanannya, hingga Kobar terkesiap sesaat dan segera
menggagalkan rangkaian serangannya sambil meloncat kesamping dua langkah.
Pertarungan berlangsung makin seru, dan selalu masing2 melancarkan serangan2 yang
berbahaya.
Semua penonton berdebar-debar, menahan nafas. Sukar kiranya untuk menebak siapa yang akan
memenangkan pertandingan yang tengah berlangsung dengan tegang dan sengit itu. Masing2
memperlihatkan ketangkasannya dan kesaktiannya dalam bentuk gerakan yang berlainan.
Tiba2 dalam saat yang bersamaan terdengar suara tinggi melengking dan tawa terkekeh-kekeh
menyeramkan. Tanpa diketahui dengan jelas, kedua-duanya jatuh bergulingan ditanah dalam arah yang
berlawanan dengan masing2 menjauhkan diri. Kiranya Kobar memang sengaja memapaki pukulan Yoga
Kumala dengan lengannya untuk mengukur kekuatan lawan. Namun kedua2nya saling mengerahkan
pemusatan tenaga hingga benturan kedua tangan tadi mengakibatkan masing2 merasa pedih yang tidak
terhingga. Secepat kilat kedua2nya bangkit berdiri kembali dan langsung saling menerjang dengan
serangan2 kilat yang berbahaya. Kiranya masing2 ingin cepat2 menyelesaikan pertandingan ini dengan
kemenangan difihaknya. Demikian hebatnya kesaktian masing2, hingga angin sambaran pukulan
menggetarkan laju para tamtama yang menonton, dan debupun mengepul tebal bagaikan kabut.
Sewaktu semua penonton sedang terpaku menahan nafas dengan jantung masing2 berdebar-
clebar, tiba2 Sang Senapati Indra Sambada melompat ketengah2 gelanggang dan langsung berdiri
ditengah2 antara Yoga Kumala dan Kobar, sambil berseru: — Berhenti! —
Bersamaan dengan terdengarnya suara seruan yang menggema penuh wibawa itu, Kobar dan
Yoga Kumala telah berdiri tegak membatalkan gerakan masing2. Kedua2nya kemudian diperintahkan
untuk saling berjabatan tangan, dan oleh Sang Senapati Muda diberitahukan bahwa pertandingan
bertangan Kosong yang telah berlangsung itu dinyatakan seimbang, tidak ada yang kalah dan menang.
Penghentian yang tiba2 itu adalah atas perintah Gusti Adityawardhana, karena apabila
pertandingan itu diteruskan, beliau mengkhawatirkan adanya korban dari salah seorang diantaranya.
Dan jika terjadi demikian halnya, tentulah amat disesalkan, mengingat dua orang muda shakti itu kelak
dapat diharapkan menggantikan para Manggala Tamtama yang tentunya akan surut karena usia.
Namun bagi kedua pemuda yang sedang bertanding, keputusan itu dirasakan sangat
mengecewakan. Mereka saling merasa dapat menyelesaikan dan memenangkaan pertandingan, apabila
dibiarkan berlangsung terus.
Lebih-lebih bagi Kobar. Ia menganggap keputusan itu tidak adil, dan berat sabelah. Mungkin
karena Gusti Senapati Indra Sambada kuatir kalau adiknya kalah pikirnya.
Akan tetapi karena takut, kedua duanya diam tertunduk dan mentaati perintah sang Senapati.
Lain halnya dengan para priyagung dan segenap orang2 shakti tamu undangan. mereka memuji akan
keluhuran budi Sang Senapati Manggala Yudha, dalam mengambil langkah kebijaksanaannya.
Untuk menentukan siapa pemenangnya, maka pertandingan dilanjutkan dengan
mernpertunjukkan katangkasan ilmu pedang. Semula pertandingan itu akan dilanjutkan dengan masing2
bersenjatakan pedang, akan tetapi oleh Gusti Senapati Manggaia Yudha Adityawardhana dicegah dan
dirobah dengan masing memamerkan ketangkasannya dalam memainkan ilmu pedang, dan bukan
pertandingan tata kelahi bersenjatakan pedang. Keputusan inipun mendapat dukungan penuh dari
segenap para priyagung dan para orang2 shakti undangan. Pertandingan dimulai, dan menurut hasil
undian ternyata Kobar harus tampil di-tengah2 gelanggang terlebih dahulu.
Setelah menyembah pada para Manggala dan segenap priyagung Kwrajaan, dengan tangkasnya
ia melompat ketengah-tengah gelanggang sambil menghunus pedang pusakanya. Gerakannya tangkas
dengan gaya yang sangat indah pula. Semua yang menyaksikan bertepuk tangan mengagumi gerakan
lom-patan pembukaan ilmu pedang dari Kobar itu.
Pedang pusakanya amat tajam dan mengandung daya perbawa. Dengan gerakannya yang
tangkas dan kuat, serta penuh gaya2 indah ia mulai memainkan pedangnya dengan menari-nari bagaikan
kupu2 hingga sesaat kemudian hanya nampak sinar hitam berkilauan yang ber-gulung2 menyelubungi
seluruh tubuhnya.
Para Manggala dan segenap priyagung serta orang2 shakti yang menyaksikan berseru kagum dan
sambil menggeleng2kan kepalanya. Benar2 Kobar memiliki ilmu permainan pedang yang cukup tinggi dan
kiranya sukar untuk mencari imbanganya. Demikian pula para tamtama teman2nya yang menyaksikan di
lingkaran sekelilingnya.
Sedang ia tengah memamerkan ilmu permainan pedangnya yang indah dan perkasa dengan jurus2
simpanannya, tiba2 terdengar seruan berasal dari samping kiri — Awas, serangan!–
Dan bersamaan dengan seruan tadi, dua benda putih bulat sebesar ibu jari kaki meluncur
beruntun bagaikan kilat kearah kepala dan dada Kobar. Cepat pedang pusakanya berkelebat dan dua
buah benda putih yang meluncur secara beruntun, semuanya masing2 terbelah menjadi dua potong dan
jatuh bertebar kesamping kanan dan kirinya. Ternyata dua buah benda putih itu adalah dua jeruk nipis
yang disaput tebal dengan kapur.
Akan tetapi belum juga potongan2 jeruk nipis itu jatuh ditanah seruan serupa telah menggema
lagi dari arah dihadapannya. — Awas! — Serangan! — Dan dua buah benda putih secara beruntun
menyambar kearah kepala dan kakinya. Gerakan sabetan pedang yang baru saja membelah dua benda-
benda yang menyerangnya, kini dirangkaikan menjadi gerakan bacokan dan tebangan mengarah dua
benda putih yang meluncur menyerang dirinya.
Sambil meloncat tinggi ia berseru nyaring — Haaaiitt! — Dan sebuah jeruk nipis yang disaput
tebal dengan kapur yang mengarah pada kakinya terbelah menjadi dua. serta jatuh sejauh lima langkah
kesamping kanan dan kirinya,
Akan tetapi ….. ia menjadi terperanjat setelah melihat sendiri adanya noda putih sebesar ibu
jari yang melekat pada celana dipahanya.
Keringat dingin mengunjur dari dahinya hingga membasahi kedua pelipis dan sepasang pipinya.
Namun ia tetap masih memainkan ilmu pedang pusakanya dengan penuh semangat serta lebih
waspada, Kembali seruan nyaring terdengar
— Awas, serangan! —
Sebuah benda serupa meluncur dengan pesatnya dan disusul kemudian dengan benda yang
serupa lagi masing2 mengarah pada dirinya dari arah muka dan belakang dalam saat yang hampir
bersamaan, dimana kaki Kobar baru saja berpijak ditanah.
Akan tetapi Kobar adalah seorang tamtama yang mendapatkan julukan pendekar pedang dari
2
teman nya.
Dengan tangkasnya ia kembali menggenjotkan kaki kanannya melenting tinggi keudara sambil
berpusingan. Pedang pusakanya berkelebat menyapu dengan gaya sabetan serangan kebawah
mengikuti berputarnya badan, bagaikan baling2.
Sebuah jeruk nipis tak ayal lagi terbelah menjadi dua potong dan terpental jauh. Akan tetapi ......
ternyata yang sebuah tepat mengenai lambungnya sebelah kanan dibawah ketiaknya.
Dengan menggerutu sambil membanting kakinya ia menyesali akan perbuatannya yang kurang
tangkas gerakkannya.
Tepuk tangan dan sorak sorai dari orang2 yang menyaksikan terdengar gemuruh, setelah
pameran permainan pedang Kobar selesai. Semuanya kagum akan ketangkasannya dan kesaktian yang
dimiliki oleh Kobar, walaupun dua diantara enam buah jeruk nipis yang dilempar itu ternyata tidak dapat
dihindari lagi dan mengenai tubuhnya dengan meninggalkan dua noda putih masing2 sebesar ibu jari
dicelana dan bajunya yang serba hitam pekat itu.
Kini Yoga Kumala tampil kedepan. Gilirannya untuk menunjukkan ketangkasan pedang yang
dimilikinya. la berjongkok dihadapan para Manggala dan segenap priyagung untuk memberikan sembah.
Dan sesaat kemudian ….. tanpa membalikkan lagi badannya, ia telah melesat tinggi surut kebelakang
sambil menghunus pedang pusakanya, untuk kemudian jatuh berdiri ditengah2 gelanggang dengan
kakinya yang terpentang lebar setengah jongkok. Semua menjadi kagum terpaku, demi melihat cara
Yoga Kumala meloncat membalik kebelakang sejauh itu, walaupun tidak nampak keindahan gaya
gerakannya.
Pedang pusaka warisan dari Eyangnya Cahayabuana yang bersinar putih kebiru2an, menyilang
didepan dadanya, sedangkan tangan kirinya mengembang dengan jari2nya yang di tegangkan diangkat
setinggi pundaknya.

Jilid 4
BAGIAN I
ITULAH JURUS pembukaan "Cahaya Tangkuban perahu" ciptaan dari Eyangnya yang dipadukan
dengan langkah-langkah "Wuru Shakti".
Kini tumit kaki kanan ditegakkan kembali dengan kaki kiri sedikit terangkat. Pedang pusakanya
ditangan kanannya, bergelak cepat dalam gaya tusukkan dan dirangkaikan dengan sabetan dan
tebangan sambil berlompatan bagaikan burung rajawali yang mengejar mangsanya.
Sesaat kemudian pedang pusaka ditangannya berputaran semakin cepat hingga cahaya sinarnya
yang putih berkilauan semu biru menjadi lingkaran2 bagaikan payung baja, menutup seluruh tubuhnya.
Itu adalah jurus ilmu pedang Cahaya Tangkubanperahu yang dijuluki dengan "perisai baja menutup
serangan lawan". Angin sambaran dari pedang pusakanya ber-desing2 hingga menggetarkan pakaian
para tamtama dan penonton lain disekelilingnya.
Sungguh2 suatu pameran ilmu pedang yang mengagumkan. Kagum karena setiap gerakannya
mengandung unsur2 serangan balasan yang sangat berbahaya. Lagi pula gayanya walaupun tidak sedap
dipandang akan tetapi nampak jelas kokoh kuat dan perkasa.
Sedang ia merobah jurus perisai bajanya menjadi gerakan jurus tusukan maut, ialah meloncat
tinggi dan jatuh menukik kebawah sambil menjerang dengan pedangnya dalam gaya tusukan tiba2. —
Awas serangan! — Dan bersamaan dengan suara seruan itu, dua buah benda putih secara beruntun
meluncur kearahnya bagaikan lepasnya anak panah dari samping kanan.
Sesaat para hadlirin seakan-akan berhenti detak jantungnya, demi melihat meluncurnya dua
buah benda putih yang mengarah pada Yoga Kumala dimana Yoga Kumala tengah terapung diudara
dengan kepala dibawah.
Akan tetapi …….. tiba2 …… ujung pedang pusakanya ditotolkan ketanah, dengan ayunan
tubuhnya melambung keatas kembali, sambil menyabetkan pedang pusakanya kearah dua jeruk nipis
yang secara beruntun meluncur di-bawahnya. Tak ayal lagi dua jeruk nipis berwarna putih itu masing2
menjadi dua potong dan jatuh bertebar disamping kanan dan kirinya, sementara ia telah kembali berdiri
ditanah dengan pedang pusakanya menjilang didadanya.
Dan berturut2 empat buah jeruk nipis yang disaput dengpn kapur tebal lainnya, dapat
ditebasnya menjadi potongan-potongan belahan, tanpa ada yang menyentuh bajunya.
Semua yang menyaksikan bertepuk tangan sambil berseru riuh, mengagumi permainan pedang
Yoga Kumala. Akan tetapi belum juga tepuk sorak sorai itu berhenti, tiba2 dua bilah pisau kecil yang
lazim disebut taji, berkelebat pesat bagaikan kilat menyambar kearah dada dan kepalanya. Dari
luncurnya dua buah taji yang berkilauan kearahnya, dapat diduga bahwa selain pisau2 itu amat tajam
juga pelemparnya., tentu orang shakti pula.
Namun Yoga Kumala adalah cucu petapa shakti Ajengan Cahayabuana dari lereng Gunung
Tangkubanperahu yang namanya telah berkumandang harum disegenap penjuru.
Dengan tangkasnya ia menggeser kaki kirinya kesamping dan meloncat surut kebelakang
selangkah. Pedang pusakanya ditangan kanannya berkelebat, memapaki da-tangaya dua buah pisau
kecil dengan punggung pedang pusakannya …. dan sesaat kemudian, sedang semua penonton diam
terpaku penuh rasa kecemasan, dua buah taji yang amat tajam itu ternyata telah tertancap menjadi satu
disebuah batang pohon sawo setinggi kira2 dua orang berdiri, yang berada dibelakang para tamtama
yang sedang menonton, dalam jarak kira2 50 langkah.
Kini tepuk tangan dan sorak sorai makin bergemuruh memekakkan telinga para penonton yang
sudah tidak menghiraukan lagi akan suasana, hanya untuk melampiaskan rasa kagum dan girangnya
maka mereka bersorak sorai yang tak terkendalikan. Semua kagum setelah menyaksikan pameran ilmu
pedang yang sangat mentakjubkan. Ternyata pelempar tadi adalah Gusti Senopati Muda Manggala
Pengawal Raja Indra Sambada yang berkenan sendiri untuk menguji kesaktian adik angkatnya Yoga
Kumala.
Pertandingan penyisihan segera ditutup oleh Gusti Senopati Muda Indra Sambada. Dan atas
keputusan Gusti Senopati Manggala Yudha Adityawardhana, Yoga Kumala dinyatakan sebagai pemenang
pertama sedangkan Kobar menduduki tempat kedua, dan Sontani dianggap orang shakti yang ketiga.
Malam harinya Sang Senopati Manggala Yudha berkenan mengadakan pesta sederhana guna
menjamu para perwira2 tamtama baru, yang juga dihadliri oleh segenap para priyagung Kerajaan serta
para undangan orang2 shakti lainnya, dengan dimeriahkan juga oleh pertunjukan tari2an.
Pada malam itu Yoga Kumala telah mengenakan pakaian tamtama kebesarannya sebagai Bupati
Tamtama. Pakaian seragam kain sutra dengan dasar warna hijau berseretkan kuning. Seutas tali pita
kuning keemasan melingkar dikepalanya, dengan ramhutnya yang hitam pekat berombak terurai lepas
diatas pundaknya.
Pada masing-masing kedua ujung leher bajunya yang berdiri tegak berseretkan kuning emas itu,
nampak jelas sulaman gambar sepasang kembang tanjung dari benang emas pula sebagai tanda pangkat
kebesarannya, seorang Bupati Tamtama Kerajaan.
Disebelahnya, duduk seorang perwira tamtama yang berusia kira-kira 25 tahun dengan
mengenakan pakaian seragam kebesarannya yang serupa pula dengan Yoga Kumala. Hanya tanda
gambar sulaman kembang unjungnya sedikit berbeda. Jika dikedua leher baju Yoga Kumala nampak jelas
adanya sepasang kembang tanjung yang kuning keemasan, maka pada leher baju perwira tamtama yang
duduk disebelahnya hanya terdapat sekuntum bunga tanjung saja.
Ia adalah Bupati Anom tamtama Kerajaan yang bernama Kobar. Dibelakang kedua perwira
tamtama baru yang gagah-gagah dan tampan itu duduk berderet-deret para perwira-perwira taMtama
bawahan yang baru dalam pakaian kebesarannya yang berseretkan putih perak, dengan tanda pangkat
berbentuk kembang tanjung pula tersulam dari benang perak dari yang gemerlapan menurut pangkat
mereka masing-masing.
Disebelah ujang kiri Mantri Panewu tamtama Sontani, kemudian Mantri Panewu Anom
ntamtama Braja Sumedang. Dan berturut-turut duduk disisinya Lurah penatus tamtama Nyoman Ragil,
Lurah penatus tamtama Berhala, Lurah penatus tamtama Jaka Gumarang dan terachir adalah Lurah
penatus tamtama Jala Mantra.
Wajah mereka kelihatan berseri - seri penuh rasa bangga, akan anugerah pangkat mereka
masing masing, yang kini telah disandangnya. Hanya Kobar yang cahaya wajahnya nampak muram,
mencerminkan perasaan tidak puas akan anugerah pangkat yang diterimanya.
Ya….. tidak puas karena ia tidak dapat berhasil menduduki tempat pertama, dan tidak puas akan
keputusan perubahan pada acara babak penyisihan yang tiba-tiba itu hingga ia harus mengalami
kegagalan. Menurut perkiraannya sendiri, ia tentu akan dapat berhasil menyisihkan Yoga Kumala
asalkan saja, acara babak penyisihan terakhir dilangsungkan secara pertandingan tata kelahi bersenjata.
— Bukankah ia memiliki tubuh yang lebih kuat dan tinggi besar apa bila dibandng Yoga Kumala?
Dan bukankah ia sebagai tamtama telah memiliki pengalaman yang lebih luas lagi? Suatu waktu tentu
akan kubuktikan, bahwa Yoga Kumala berada dibawah tingkatanku — pikirnya.
Suasana meriah pada pesta matam itu tidak membuat ia gembira. Senyum dan tawanya yang
dibuat - buatnya dan dipaksakan serasa hampa. Ingin ia cepat-cepat mendapat kesempatan untuk
menguji sendiri akan kesaktian Yoga Kumala yang kini berpangkat setingkat lebih tinggi dari padanya.
Duduk berderet2 dikursi2 terdepan adalah para Manggala dan segenap priyagung Kerajaan dan
para undangan kehormatan orang2 sakti yang kenamaan. Sedangkan dibelakang kanan kirinya duduk
para perwira tamtama lainnya. Diseberang tempat pertunjukkan, dengan menghadapkan pada para
priyagung, duduk penuh sesak berderet2 para putri2, isteri para Manggala dan segenap priyagung
Kerajaan, serta isteri2 para perwira tamtama dalam dan tamu2 putri undangan lainnya- Tertimpa oleh
pancaran cahaya lampu yang terang benderang, hiasan para putri yang bertakhtakan mata berlian serta
batu2 kumala lainnya, menjadi gemerlapan, laksana kilaunya bintang2 yang bertaburan diangkasa.
Sambil menikmati jamuan makanan yang dihidangkan bagaikan mengalir tak ada putusnya, kini
mereka semua tengah menyaksikan pula pertunjukan tari serimpi yang diiringi dengan suara bertalunya
gamelan.
Para perwira tamtama yang masih bujangan tidak berkedip melihat parasnya para penari
serimpi itu. Mereka tersenyum-senyum sendiri sambil sebentar bentar membuang pandang penuh
birahi kearah para penari srimpi yang cantik2 itu, dengan harapan sekali kali dapat berpadu pandang.
Dan kiranya bukan hanya yang masih bujangan saja, bahkan yang telah beikeluargapun tak mau kalah
lagaknya. Masing2 berebut dengan tingkah Iakunya sendiri2 ingin menjadi sasaran pandangan dari para
penari. Sedangkan diantara para priyagungpun ada pula yang menelan bulat2 dengan tatapan
pandangannya pada salah seorang putri penari yang cantik jelita tanpa menghiraukan lirikan istrinya
yang agak jauh ber-hadap2an.
Ternyata satu diantara para penari srimpi itu adalah Gusti Ayu Sampur Sekar sendiri, putra putri
dari Senopati Muda Manggala Narapraja Gusti Pangeran Pekik, masih gadis remaja. Maka tidak heranlah
apabila banyak yang mengagumi keelokan parasnya.
Dan Penewu Anom tamtama Braja Semandang termasuk pula sehagai satu diantara para pemujanya..—
Cara bagaimana aku dapat mempersuntingnya? — katanya dalam hati.
Diatas lantai beralaskan permadani, lima srimpi ayu mempersembahkan tariannya yang lemah
gemulai mempersonakan seiring dengan irama suara gamelan.
Tari serimpi berakhir, dan disusul kemudian dengan pertunjukan tari topeng yang tidak kalah
bagusnya. Penari topeng itu tidak lain adalah Indah Kumala Wardhani adanya.
Semua kagum akan keindahan wajahnya dan kelincahan gerakannya.
Jika tadi Kobar hanya muram dengan penuh rasa kecewa, tiba2 kini hatinya menjadi tergerak
pula demi melihat keindahan tari topeng yang mengesankan itu. Hatinya berdebar dan nafsu birahinya
melonjak setelah melihat keayuan wajah Indah Kumala Wardhani, sewaktu topeng dibukanya. Matanya
memandang liar tak berkedip.
— SIAPAKAH GERANGAN GADIS AYU YANG MEMIKAT HATIKU ITU? — tanyanya dalam hati. - ----
- Ach besok pagi tentu kucari dan akan aku pinang sebagai istriku. Tak mungkin ia akan menolak seorang
perwira tamtama segagah aku ini — pikirnya menghibur diri sendiri.
Dan kiranya Sontanipun diam2 menjadi terpikat pula oleh penari topeng yang cantik itu. Betapa
bahagianya, apabila kelak ia dapat memperistrikannya -- pikirnya.
Sedikitpun ia tidak mengira bahwa penari topeng itu sebenarnya adalah adik kandung dari Yoga
Kumala.
Pesta keramaian di Istana Senopaten itu beriangsung hingga larut malam dengan pertunjukan
2
tari an yang amat mempersonakan para hadlirin semua.
Pesta ditutup, dan masing2 pulang dengan membawa kesan serta khayalan sendiri-sendiri.-

*
* *
B A G I A N II
DITEMPAT KEDIAMAN yang baru dan serba lengkap dengan perabotan yang mewah2 itu, Yoga
Kumala sedang duduk termenung seorang diri sambil bertopang dagu, menghadapi hidangan makan
pagi yang masih mengepul hangat. Memang gedung kesatrian yang serba lengkap itu dibangun khusus
untuk para perwira tamtama yang masih bujangan.
Angan-angannya jauh merana ……., dan hidangan makan yang baru saja disajikan oleh para
inang itu belum juga disentuhnya!
Wajah putri remaja dari pulau Dewata selalu membayang kembali dalam angan angannya.
Gedung ksatrian dimana ia kini tinggal itu, merupakan bangunan gedung besar yang panjang membujur
serta berpetak petak dalam corak dan bentuk yang sama. Tiap tiap petak memiliki ruangan-ruangan
tamu, kamar tidur, dapur, kamar mandi, taman dan ruang, berlatih tersendiri.
Pagi itu, udara cerah, dan langit biru nampak membentang bersih memantulkan cahaya
matahari yang terang benderang. Burung-burung piaraan berkicau disangkar masing-masing dengan
riangnya. Namun riangnya pagi yang cemerlang itu, serasa hampa belaka bagi Yoga Kumala. Entah
karena semalam matanya tak terpincingkan, ataupun karena terbangun oleh suatu impian yang
mengecewakan mska kini ia melamun sambil selalu menguap, hingga suara ketukan pintu yang berulang
kali tidak didengarnya.
Tiba-tiba suara ketukan pintu depan, terdengar lebih keras lagi, dan pelan-pelan daun pintupun
bergerit terbuka. tersentak dan sadar dari lamunannya, setelah adiknya Indah Kumala Wardhani
nampak berdiri ditengah-tengah pintu depan yang terbuka sambil berteriak. — Akang Yoga. Aku yang
datang!
— Ach aku kira siapa! — jawabnya lemah.
Akan tetapi tanpa menghiraukan sekitarnya Indah Kuma-la Wardhani langsung mendekati dan
duduk disamping Yoga Kumala, sambil berkata — Habis, kau kira siapa?, bukankah aku ini adikmu Indah?
— tanyanya menggoda sambil bersenyum girang.
— Sudahlah!. Mari kita makan saja bersama! — Yoga Kumala memotong. Ia tahu, bahwa
kedatangannya Indah Ku mala Wardhani tak lain hanya alasan menggodanya dan mengacaukan suasana
ketenangannya.
— Apakah akang mengira. bahwa kedatanganku kemari ini hanya Intuk mencari makanan saja?
— sahutnya cepat dengan wajah yang berobah asam.
— Aku tidak beranggapan demikian, adikku Indah yang maniiiis ….. Temanilah aku makan,
supaya akangmu ini dapat makan lebih banyak, dan menjadi sehat, Neng ! —
Jawaban Yoga Kumala yang lemah lembut meraju itu. kiranya bukan karena perasaan kasih
sayang, akan tetapi lebih dekat demi melampiaskan kedongkolan hatinya.
Mendengar Rajuan Kakaknya yang menjemukan itu, Indah Kumala Wardhani semakin cemberut
dan menyahut sambil membuang muka serta mencebirkan bibirnya. — Kau kira, aku ini siapa? Pakai
manis …. manis …. segala! Aku bukan Yayuk Ratnasari! —
— Indah! Jangan lancang, kau! — Dengan wajah yang memerah Yoga Kumala menyahut tak
sabar. Ia tahu, bahwa Ratnasari adalah adik kandung Panewu Tamtama Sontani, yang kebetulan kini
Panewu tamtama Sontani tinggal dalam gedung petak yang berada disebelahnya. Betapa malunya,
apabila hal ini terdengar oleh Sontani, sedangkan ia sendiri sebenarnya memang tak menaruh hati pada
Ratnasari. Akan tetapi baru saja ia menutup mulutnya, tiba2 suara ketukan pintu terdengar nyaring dan
bersamaan dengan ketukan pintu itu, Ratnasari bersama Sontani telah berdiri diambang sambil
membungkukan badannya, seraya berkata. — Maafkan, Gusti Yoga! Kami berdua mengganggu
percakapan Gustiku!—
Dengan perasaan malu tersipu-sipu, Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani tersentak
bangkit, menyambut kedatangan kedua tamunya.
— Ach, . . . . Sontani dan adi Ratnasari! Silahkan, silahkan masuk saja . . . . Kamipun sedang
kesepian, tanpa ada, sesuatu yang menentu! — Yoga Kumala berkata sambil tersenyum
menyembunjyikan perasaan malunya. Namun wajahnya masih nampak jelas memerah. Kini mereka
berempat telah duduk sambil asjik ber-cakap2 dengan diselingi gelak tawa riang diruang tamu yang luas
dan mewah itu.
Ternyata Sontani memiliki pula sifat2 keramahan dan pandai bergaul seperti Ratnasari adiknya.
Dengan demikian maka percakapan menjadi lancar dan sebentar saja hubungan masing2. menjadi saling
lebih akrab. Penghormatan dalam percakapan yang ber-lebih2an dari Sontani, sebagaimana layaknya
seorang bawahan yang menghadap pada atasannya, selalu dielakkan oleh Yoga Kumala dan
kecanggunganpun menjadi lenyap dalam percakapan bebas itu.
Dari pertemuan yang pertama antara Indah Kumala Wardhani dan Sontani, telah dapat
diketahui oleh Yoga Kumala, bahwa cinta kasih diantara kedua remaja itu mulai terjalin.
Dalam hati iapun turut gembira, dan semoga saja kelak menjadi pasangan yang bahagia.
Demikian pikir Yoga Kumala. Namun dibalik kegembiraannya itu, kadang2 angan-angannya merana jauh
kembali pada bayang2 putri Pulau Dewata Ktut Chandra yang selalu melintas dalam kalbunya. Cubitan
Indah Kumala Wardhani pada pahanya membuat ia tersentak sadar lagi, dan percakapan berlangsung
dalam suasana riang kembali.
—Sontani! Jika kau tidak berkeberatan, kuharap kau dapat menemani aku dalam perjalanan
kehutan Blora pada esok lusa. Tentu saja aku akan berpamitan dahulu pada Gusti Senopati. Tentunya
kau bersedia bukan? — Tanya Yoga Kumula sewaktu Sontani dan Ramasari berpamit hendak pulang.
— Dengan senang hati, Gusti!. Akan tetapi sudilah Gustiku Yoga Kumala memberitahukan hal ini
pada Gusti Kobar, demi untuk mencegah salah faham!!
— Ach, . . . tak usah kuatir!!. Itu adalah tanggurganku!!—
— Jika aku dan Yayuk Ratnasari diperkenankan ikut serta perjalanan jauh tentu akan
menyenangkan, akang Yoga!!—
lndah Kumala Wardhani memotong pembicaraan mereka.
— Yaa . . . tapi . . . apakah akan diijinkan oleh Kangmas Indra? —
— Itu urusanku! Aku sendiri nanti yang akan menghadap padanya. Tentu kangmas Indra akan
mengijinkan! Pokoknya, asalkan akang Yoga memperbolehkan kami berdua ikut serta...Bagaimana? —
— Sabarlah dulu! Akan kupikir sejenak bagaimana sebaiknya, manis! — jawab Yoga Kumala
lemah lembut.
— Apalagi yang harus dipikirkan akang? Kan tinggal jawab pendek saja...boleh atau tidak!
Bukankah demikian Yayuk Ratnasari?! —
— Ach, ..aku terserah saja. Turut pergi ..ya senang. Tidakpun...tidak mengapa! — Ratnasari turut
menyahut lemah sambil bersenyum.
— Baik? …. baik. Tetapi nanti malam, aku sendiri yang akan menghadap pada Kangmas Indra,
untuk memintakan ijin kalian! —
Dengan diantarkan oleh Yoga Kumala dan Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari siang
itu kembali kegedung Senopaten kediaman Gusti Adityawardhana, dimana mereka tinggal bersama-
sama teman sebajanya yang menjadi tamtama narasandi Kerajaan.
Sayang bahwa siang itu Ktut Chandra tidak nampak keluar dari kamar. Harapan Yoga Kumala
untuk dapat melihat wajahnya pada hari itu terpaksa tertunda, dan hatinyapun penuh rasa kecewa.
Akan tetapi perasaan demikian, disembunyikannya rapat2.
Tentu akan lebih kacau dan heboh, apabila adikku mengetahui rahasia ini — pikir Yoga Kumala.
Dua pasang remaja berkuda, masing - masing saling memacu kudanya melalui jalan jalan
pedesan pedesan yang berliku liku dengan pesatnya. Seakan akan mereka saling berebut untuk berada
didepan sendiri. Dan suatu gelak tawa yang nyaring menyertai derap langkah kuda mereka yang tengah
berlari dengan kencangnya. Tak lama kemudian larinya kuda diperlambat, dan kini kuda mereka berjalan
berendeng, dua-dua.
Sepasang didepan dan tak jauh antaranya sepasang lagi mengikuti dibelakangnya.
— Lihatlah akang Yoga! Betapa indahnya pemandangan alam didepan kita itu. Sawah-sawah
membentang luas dengan tanaman padinya yang menguning . . . . dan aneh benar . . . . . semuanya kini
menjadi semu merah lembayung, bagaikan disepuh emas!
— Yah . . memang demikian pemandangan alam diwaktu menjelang senja — jawab Yoga
Kumala singkat, sambil memandang tajam kedepan tanpa berpaling pada Indah Kumala Wardhani yang
tengah berkuda disampingnya.
Sepasang alisnya dikerinyitkan hingga dua deretan kerut dikeningnya nampak jelas. Mulutnya
kembali terkatub, dan rambutnya yang kusut terkena hembusan angin dibiarkan terurai.
Seakan-akan ada sesuatu yang sedang menjadi perhatiannya. Dikala itu, hari telah menjelang
senja. MIatahari telah berada dibarat, pada garis cakrawala, dengan bentuknya yang bulat ke-merah2-
an. Sinar cahayanya yang merah lembajung memancar menyelimuti angkasa dan memantul kembali
kebumi, hingga pemandangan alam diseluruh menjadi semu merah keemasan.
Atas saran Senopati Muda Indra Sambada, mereka berempat hanya mengenakan pakaian
ringkas sederhana, tanpa sesuatu tanda kebesaran pangkat masing2. — Biarlah mendapat tambahan
pengalaman — pesan Indra Sambada, sewaktu mereka meninggalkan Istana Senopaten. — Dan cepatlah
kembali, setelah urusanmu selesai — demikian kata2 pesannya.
Akan tetapi walaupun mereka hanya berpakaian sederhana, dari pedang pusaka yang
tersandang dipinggang Yoga Kumala dan pedang tamtama yang tergantung di pinggang Sontani, mudah
dapat diterka bahwa dua pasang remaja yang sedang menempuh perjalanan dengan berkuda itu, tentu
bukan rakyat biasa. Demikian pula kuda ke-empat2-nya dengan pelananya, jelas menunjukkan bahwa
bukanlah kuda piaraan rakyat jelata . Sontani dan Ratnasari adiknya, yang sejak tadi selalu bergurau
sambil brrkuda, kini kedua2nya tanpa disadari menjadi terdiam dengan sendirinya. Mereka berkuda
berjajar mengikuti dibelakang Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani.
— Sontanil. Sebeclum gelap malam kita harus sudah sampai didesa Kasiman!, — teriak Yoga
Kumala tiba2, sambil memalingkan kepalanya kebelakang.
Dan derap langkah kuda2 itupun terdengar lebih cepat lagi.
Mereka serentak memacu kudanya masing2.
Sawah sawah dan tegalan telah dilaluinya, dan kini mereka hampir memasuki desa Kasiman.
Akan tetapi sebelum mereka tiba dipersimpangan jalan desa yang berada ditengah lapang dan tandus
itu, tiba2 Yoga Kumala mengekang tali lis kudanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya di-
angkat tinggi2, sebagai isyarat pada Sontani dan Ratnasari agar merekapun memberhentikan langkah
kudanya masing2.
— Sontani! Empat orang yang berdiri ditengah jalan dekat ujung desa didepan kita itu, kiraku
sengaja menghadang kita.
Maka kuharap kalian waspada! — Kata Yoga Kumala, setelah kuda Soniani mengejar mendekat
— Tetapi apa kehendak mereka Gusti??! —
— Aku sendiripun kurang mengerti. Sebaiknya nanti setelah dekat ditempat mereka, kita semua
turun dan kau berjalan mendahului, untuk bertanya pada mereka. Dan jangan memanggil dengan
sebutan Gusti lagi dalam perjalanan. Biarpun, mungkin aku lebih muda, akan tetapi sebaiknya kau
memanggilku dengan sebutan kamas saja —
— Baik, kangmas !! Jawab Sontani singkat.
— Dan kau Indah!! Lindungi yayukmu Ratnasari jika aku nanti terpaksa turut turun tangan ! —
— Selama angkin merah dan keris pusakaku berada ditanganku, akang Yoga tak usah kuatir.
Sebaiknya akang Yoga saja yang melindungi yayuk Ratnasari sambil menonton cara bagaimana aku akan
menghajar mereka! — Sambut Indah Kumala Wardhani dengan ketusnya.
Sementara Ratnasari merapatkan kudanya dengan Indah Kumala Wardhani, sambil memandang
kedepan.
la masih saja tak turut bicara.
— Sudahlah disini bukan lagi tempatnya untuk berkelakar. Turutlah apa kataku! — Jawab Yiga
Kumala singkat dengan wajah yang bersungut sungut.
Makin dekat makin nampak jelas, bahwa keempat orang yang sengaja di tengah2 jalan itu, dua
diantaranya bersenjatakan pedang dan yang dua lainnya bersenjatakan tombak pendek. Keempat orang
itu kesemuanya mengenakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala warna hitam pula menutupi
rambutnya.
Seorang diantaranya memakai topeng yang nampak mengerikan, sedangkan seorang lagi dari
batas bawah matanya, mukanya tertutup kain hitam pula. Pedang terhunus telah berada ditangan kanan
masing2, dari kedua orang yang menyembunyikan wajahnya itu.
Selang kira2 lima puluh langkah dengan keempat orang yang menghadang itu, Yoga Kumala,
Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari serentak turun dari kudanya masing2 dan
menambatkannya disebuah pohon dipinggir jabn, sementara Sontani jalan mendahului untuk
menghampiri keempat orang itu dengan penuh kewaspadaan yang tinggi.
— Hai saudara !!. Apa kehendak kalian, berdiri menutup jalan? Tegur Sontani dengan
lantangnya dari jarak kira2 sepuluh langkah. Haaaa . . . haahaaaa . . . . haaaa !! Melintasi dimana kami
berdiri ini, harus meninggalkan kuda dan bebannya ! !. Sahut seorang yang bertopeng dengan diiringi
ketawa yang ber gelak2.
Apa ??? !!. Siapakah kalian . . . . perampok pengecut yang tak mau memperlihatkan mukamu
itu ?? !'
Berkata demikian Sontani berjalan mendekat, sambil memegang tangkai pedangnya, siap
menghadapi segala ke mungkinan.
— Rampok atau bukan, terserah kepadamu. Tetapi perintah saya haruslah ditaati oleh siapapun
yang melalui jalan ini !! — Bangsat, lihat pedang !!. Bentak Sontani sambil langsung menerjang maju
dengan pedang tamtamanya

Kiranya ia tak dapat menahan lagi akan kemarahannya yang meluap2 itu. Akan tetapi orang yang
bertopeng tinggi besar itu dengan tangkasnya melompat surut kebelakang satu langkah menghindari
serangan bacokan Sontani sambil mengeluarkan dan memperdengarkan tawanya. Tiga orang temannya
serentak maju dan dengan senjata mereka masing2 memapaki berkelebatnya pedang Sontani, serta
melancarkan serangan balasan yang ber-tubi2. Dengan tangkas Sontani berlompatan kesamping serta
menggerakkan pedang tamtamanya, memapaki tiga orang lawannya. Melihat Sontani sibuk menghadapi
serangan2 yang ber-tubi2 itu, Yoga Kumala dengan pedang pusaka ditangan kanan, melesat memasuki
kancah pertempuran dengan jurus2-nya Cahaya Tangkubanperahu yang cepat dapat mendesak tiga
orang lawan Sontani.
Sementara orang tinggi besar bertopeng telah menyambut pula serangan2 yang dilancarkan oleh
Yoga Kumala. Sesungguhnya Yoga Kumala tidak usah kuatir akan dirinya Sontani yang bertempur
melawan tiga orang itu, akan tetapi demi melihat gerakan lompatan dan suara tawanya orang yang
bertopeng yang tinggi besar itu, iapun agak cemas juga. Ia tahu, bahwa orang bertopeng itu tentu
memiliki kesaktian yang tak dapat dipandang ringan. Maka sengaja ia melibatkan diri dalam
pertempuran agar cepat dapat mengakhiri.
Segala dugaannya itu ternyata memang benar adanya. Kini pertempuran berlangsung seru
dalam dua kalangan, Yoga Kumala melawan orang yang tinggi besar bertopeng dan bersenjatakan
pedang, sedangkan Sontani melawan seorang bersenjatakan pedang dan dua orang Iainnya masing2
bersenjatakan tombak pendek.
Ternyata orang tinggi besar itu memiliki ilmu pedang yang mentakjubkan serta sangat
berbahaya. Pedang pusakanya yang bersinar semburat biru hitam berkelebatan mengarah pada bagian
tubuh Yoga Kumala yang berbahaya serta amat tangkas dan lincah gerakkannya. Dengan langkah
wurushaktinya Yoga Kumala menghindari serangan lawan yang bertubi2 dengan ter-huyung2 kebelakang
ataupun kedepan untuk kemudian melompat tinggi kesamping kanan dan kiri sambil melancarkan
serangan balasan dengan totokan jari2 tangannya yang telah mengembang tegang, sedangkan pedang
pusakanya ditangan kanannya bergerak cepat menangkis senjata lawan ataupun mengikuti gerakan
berkelebatnya pedang lawannya itu. Sepintas lalu pertempuran dua orang shakti itu kelihatan seimbang.
karena masing2 memiliki kepandaian yang mentakjubkan.
Sontani yang menghadapi tiga orang lawannyapun ternyata tidak terdesak. Pedang tamtamanya
ditangan bergerak cepat bagaikan kupu2 yang tengah menari2, hingga menyilaukan pandangan
lawannya.
Ketiga orang pengeroyoknya tak mampu mencrobos ciptaan perisai pedang tamtamanya.
Namun belum juga Sontani dapat merobohkan salah seorang lawannya.
Sedangkan Sontani meloncat kesamping kanan menghindari serangan serentak dari tiga orang
lawan pengeroyoknya, tiba2 sinar merah berkelebat bagaikan kilat. Dan salah seorang pengeroyoknya
terpelanting ditanah, sambil berseru mengaduh dengan tombak terlepas dari genggamannya dan
kemudian bergulingan menjauhi tempat pertempuran.
Tanpa menghiraukan pesan kakaknya, Indah Kumala Wardhani telah melompat maju menerjang
seorang lawan yang telah mengeroyok Sontani, dengan sabetan kain angkinnya. Ia tak sampai hati
melihat Sontani seorang diri dikeroyok oleh tiga orang - lawannya.
Rasa kasih sayang kepada Sontani, memaksa ia mengabaikan pesan kakaknya. Hanya
Ratnasarilah yang masih taat mematuhi pesan Yoga Kumala, karena takut akan kemarahan kakaknya. Ia
hanya berdiri terpaku sambil mengikuti pertempuran yang tengah berlangsung sengit dengan pandang
matanya. Sesungguhnya walaupun tak setingkat dengan Indah Kumala Wardhani, ia sebagai tamtama
merasakan pula sedikit kepandaian berkat ajaran d Gusti Cakrawirja. Akan tetapi perasaan tak ingin
mengecewakan Yoga Kumala dapat mengendalikan dirinya. Sesaat Sontani terperanjat melihat
terpelantingnya salah seorang lawannya itu, akan tetapi setelah mengetahui bahwa kini Indah Kumala
Wardhani yang membantunya, ia tersenyum sambil mengutarakan terima kasihnya. Sedikitpun tak
menduga, bahwa Indah Kumala Wardhani yang selalu menjadi, idaman hatinya itu ternyata memiliki
kepandaian bertempur yang demikian hebat dan aneh. Ia kini lebih bersemangat lagi dan bertempur
secara berdampingan melawan dua orang yang makin lama makin nampak berada diatas angin. Kedua
orang lawannya kian sibuk mengelakkan serangan dan terdesak mundur.
Pedang Sontani berkelebatan dalam gerak sabetan dan tebangan serta bacokan mengarah
lawan. Sedang angkin menyambar2 dengan dahsatnya mendampingi berkelebatnya pedang, bagaikan
sepasang naga yang berebut mengejar mangsanya, seorang bersenjatakan tombak pendek yang tak
dapat sempat menghindar dari rangkaian serangan, terlibat samberan kain merah dan jatuh terjungkal,
serta terbebas lehernya, hingga berlumuran darah dan mati seketika. Sedangkan seorang lagi yang
berkedok kain dan bersenjatakan pedang meloncat surut kebelakang tiga langkah untuk kemudian lari
meninggalkan gelanggang disusul oleh seorang lagi yang tadi bergulingan ditanah.
Bersamaan dengan kaburnya dua orang lawan, suara terkekeh-kekeh menyeramkan dari Yoga
Kumala terdengar nyaring, dan orang tinggi besar yang bertopeng Jawannya, melompat tinggi serta
melesat jauh melarikan diri dengan terluka dibahu kirinya.
Sontani dan Indah Kumala Wardhani yang hendak serentak mengejar lawan, segera dicegahnya
oleh Yoga KumaIa.
— Tak guna kita mengejarnya. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan! — Serunya. Sebenarnya
apabila dikehendaki, Yogapun dapat mengejar lawannya akan tetapi karena pertimbangan lain ia segera
membatalkan niatnya.
Waktu itu hati telah mulai gelap remang2 dan mereka berempat kini berkuda berdampingan
menuju desa Kasiman yang tak berapa jauh lagi letaknya. Esok harinya setelah semalam istirahat
dikediaman Lurah desa Kasiman, mereka melanjutkan perjalanannya menuju ke hutan Blora.
Dalam perjalanannya berknda itu, mereka tidak lagi banyak bercakap2. Yoga Kumala tampaknya
tak demikian gembira seperti biasanya.
Perasaannya selalu diliputi ketegangan. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hatinya.
Siapakah orang shakti yang

21
Bersamaan dengan kaburnya dua orang lawan, suara ter- kekeh2 menyeramkan
dari Yoga Kumala terdengar nyaring, dan orang tinggi besar yang bertopeng
lawannya, melompat tinggi serta melesat jauh melarikan diri dengan terluka
dibahu kirinya.

bertopeng dan menghadangnya kemarin sore ?. Dan apakah kehendaknya mereka sebenarnya?
Menurut perhitungannya, lawannya kemarin hanya terluka ringan saja, akan tetapi mengapa ia
lalu cepat2 meninggalkan gelanggang?
Sedangkan jika pertempuran dilanjutkan terus, belum tenlu ia dapat merobohkan orang tinggi
besar itu.
Pun terlukanya orang yang bertopeng itu bukan semata mata karena kalah tangkas. Hal itu
menurut dugaannya, karena lawannya terpaksa mengarahkan perhatiannya pada temannya yang
terdesak dan pada salah seorang temannya yang roboh.. Jadi jelas bukan dikarenakan kedangkalan
ilmunya sendiri. Demikianlah pertanyaan2 yang selalu menyelimuti dirinya Yoga Kumala. Namun
pertanyaan2 itu, tak dapat ia menjawabnya. Dan kiranya Sontanipun sedang berfi-kir demikian.
— Kakek guruuuu! — Seru Yoga Kumala memanggil, setelah mereka memasuki hutan dan
menambatkan kuda2 mereka dipepohonan dipinggir hutan itu. Namun...tetap saja sunyi...tak ada
jawaban.
Waktu itu hari masih siang dan belum lewat tengah hari Karena dalam hutan itu pohon2 liar
bertumbuh lebat dan rindang, maka merekapun tak merasakan panas teriknya matahari. Ratnasari dan
Indah Kumala Wardhani berlari2 kecil, menikmati sejuknya udara sambil sibuk mencari bunga2 liar yang
banyak menarik perhatiannya, hingga berulang kali Yoga Kumala dan Sontani harus memanggil2nya
kembali.
Mereka kuatir, jika kedua adiknya kehilangan jejak dalam hutan belantara Blora itu.
— Kakek Guruuuuu! — Kembali suara Yoga Kumala menggema ditengah hutan...akan tetapi .
masih saja sunyi seperti tadi, tanpa ada jawaban. Hanya suara burung2 berterbangan meninggalkan
pepohonan dimana mereka sedang hinggap dengan riangnya itulah yang terdengar. Mungkin burung2
itu terperanjat oleh suara teriakan Yoga Kumala yang amat nyaring. Berulang kali pula Yoga Kumala
memanggil-manggil kakek Dadung Ngawuk gurunya, akan tetap saja tak ada jawaban. — Aneh —
pikirnya. Kemana kakek guruku pergi?
Bukankah nanti malam itu adalah bulan purnama yang pertama kali.
Sebagaimana pesannya waktu satu setengah tahun berselang ?. Sambil mengingat2 pesan
gurunya sewaktu ia masih dengan Eyangnya Cahayabuana dipertapaan Tangkubanperahu pada waktu
satu setengah yang lalu, ia berjalan pelan2 kearah gubug kakek Dadung Ngawuk yang berada ditepi
sendang, dengan diikuti oleh Sontani, Indah Kumala Wardhani dan R,Itnasari. Tiba2 saja Yoga Kumala
terhenti sejenak sambil mengamat2-i sebyah batang pohon yang telah tumbang dan lapuk. Tangannya
bergerak dan meraba2 dengan kedua belah tangannya pada batang pohon yang lapuk dan melintang itu,
sambil berjongkok. Mukanya menunduk . . . . . dan per-lahan2 air matanya meleleh membasahi kedua
pipinya. Ia jatuh berlutut sambil merangkul batang pohon itu, dengan menangis terisak2. Sontani, Indah
Kumala Wardhani dan Ratnasari berdiri terpaku dibelakang Yoga Kumala dengan diam membisu dan
saling berpandangan. Sedikitpun mereka tak mengerti, mengapa tiba2 Yoga Kumala menangis ter-isak2
dengan tingkah laku yang aneh ? Mungkinkah, gurunya telah mati dan terkubur dibawah batang pohon
yang lapuk itu ? Tetapi mengapa tak ada gundukkan tanah ataupun tanda lain sebagaimana lazimnya
sebuah kuburan ? Dan bilamana benar gurunya terkubur disitu, cara bagaimana Yoga Kumala dapat
mengetahui? Atau Yoga Kumala kini dengan tiba2 mendapat serangan sakit jiwa ? Untuk mendekat atau
menghibur dan menanyakan langsung pada Yoga Kumala, mereka tidak berani. Jangankan Sontani
ataupun Ratnasari sedangkan Indah Kumala Wardhani adik kandungnya sendiri kini diam membisu tak
bergerak.
Tiba2 sebuah pohon jambu hutan yang berada dibelakang mereka bergetaran, hingga semuanya
terperanjat sesaat dan serentak berpaling kearah dahan pohon jambu yang bergetar iru. Cepat Indah
Kumala Wardhani melolos kain angkin meralinya, akan tetapi . . . . Yoga Kumala telah mendahuluinya,
melompat didepan mereka dan langsung memanjat dengan tangkas kedahan pohon jambu itu bagaikan
kera. Ia berlompatan dari dahan kedahan yang lair, mendekati seekor kera besar yang sedang duduk
diatas sebatang dahan yang agak tinggi, sambil berseru girang : — Jamang !! Jamang !!. Aku yang datang
! — Dan seperti mengerti akan kata2 bahasanya, kera besar itu, kini melonjak2 girang, hingga dahan
dimana ia berpijak bergetar lebih keras lagi.
Setelah dekat, kera itu dirangkulnya dan dibelainya serta kemudian dipondong turun, Sontani,
Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani, kini menjadi semakin heran melihat tingkah laku Yoga Kumala.
Semula mereka bertiga ragu2 diliputi rasa cemas, akan tetapi setelah menyaksikan sendiri
betapa jinaknya kera besar itu dalam pondongannya, rasa cemasnya segera lenyap.
— Jamang !!. Mari kukenalkan dengan adik2-ku semua!! - Seru Yoga Kumala sambil memondong
kera itu dan menghampiri Sontani, Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani.
— Indah!!. Sontani ?! Ratnasari !!. Serunya kemudian sambil mengangsurkan si Jamang yang
berada dipondongannya.
— Ini Jamang temanku berlatih dahulu!!.
Dengan serentak mereka bertiga mendekat dan membelai punggung si Jamang yang diam jinak
itu, akan tetapi masih juga mereka bertiga tak mengerti maksud pembicaraan Yoga Kumala. Dan kera,
itupun hanya diam memandang dengan matanya yang kecil cekung pada tiga orang yang belum
dikenalnya.
— Teman berlatihmu !?. Tanya Indah Kumala Wardhani tak sabar.
— Ya, memang ia adalah teman berlatihku, sewaktu aku tinggal di hutan ini.— Jawab Yoga
Kumala.
— Aiiiii !!. Aneh benar !!, potong Indah Kumala sambil ketawa geli.
— Kangmas Yoga, apakah kera itu piaraan mendiang gurumu ?. Sontani mulai turut bicara.
— Benar dugaanmu, Sontani !!. Tetapi guruku belum wafat. Hanya saja sedang pergi keluar
hutan!!. Jawab Yoga menjelaskan.
— Maafkan kangmas, akan kekeliruanku. Tetapi mengapa tadi kangmas berlutut dipohon yang
lapuk itu dan menangis terisak2 ? Apakah kangmas tak berkeberatan memberikan penjelasan pada kami
??
— Och, itukah yang kalian maksudkan. Baiklah akan aku jelaskan tetapi jangan bertanya lagi
lebih jauh. Yoga. Kumala berkata sambil menghela nafas paujang. la diam sesaat dan melanjutkan
bicaranya. — Pohon yang telah tumbang dan kini lapuk itu, adalah pohon kemboja merah yang dahulu
telah berjasa besar padaku . . . . Yaaaahhh bahkan lebih dari itu. Dapat dikatakan . . . . pohon itulah . .
. . . guruku yang per-tama2 disamping kakek guru Dadung Ngawuk yang kini tengah kita cari . . . . . . —
Sampai Yoga Kumala berhenti bicara. Seakan-akan ada yang sedang dikenangnya kembali, Dan
kemudian ia menjingkat bicaranya sendiri sambil menggersah : — Ach, . . . . sudahlah . . . . tak ada lagi
yang harus kuceritakan mengenai pohon itu.
Dan semua yang mendengarnya, walaupun merasa tak puas, akan tetapi membungkam tak
bertanya lebih lanjut.
Si Jamang yang tadi hanya diam ber-kedip2 turut mendengarkan, tiba2 ia meronta dan turun dari
pundak Yoga Kumala serta mendahului berjalan sambil sebentar2 berpaling kearah Yoga, Kumala dan
menyeringai memperlihatkan deretan gigi2nya yang serempak putih keciI2 itu. Kiranya Yoga Kumala
telah mengerti akan maksud ajakannya. Ia mengikuti si Jamang berserta Sontani, Indah Kumala
Wardhani dan Ratnasari. Selang kira2 lima belas langkah si Jamang berhenti dan diam berjongkok sambil
menggaruk2 ketanah ditepi sendang dengan mengeluarkan suara cecowetan. Ce-pat Yoga Kumala
menghampirinya, dan tahulah ia sekarang, bahwa ditempat itu kitab usadha sastra yang dahulu pernah
dipesan oleh Dadung Ngawuk agar ia mengambilnya, disimpannya. Dengan pedang pusakanya tanah itu
digali dan apa yang dikatakan gurunya pada satu setengah tahun berselang, ternyata benar adanya.
Dengan hati2 ia mengeluarkan sebuah peti kayu jati sebesar dua jengkal pesegi dari lobang yang
digalinya itu. Peti yang masih terkunci rapat itu setelah di bersihkan, segefa diberikan pada Sontani agar
dibawanya baik2.
— Peti itu, apa isinya, Akang Yoga? Dan mengapa tak dibuka saja dahulu? Apakah saya tak boleh
melihatnya? — lndah Kumala Wardhani mendesak.
— Ach . . . . isinya hanya kitab. Nanti saja setelah kita bertemu dengan kakek guruku, kitab itu
kita lihat bersama nanti. —
Jawabnya singkat sambil bersenyum.
— Tetapi kitab apakah itu?, — desak Indah Ku-mala lagi.
— Sabarlah dulu, manis Aku sendiripun belum tahu isinya. Bagaimana aku harus menjelaskan!
— la menjawab dengan kata2 lemah lembut, agar adiknya menjadi lega hatinya. Dan kiranya rayuannya
kali ini berhasil menyabarkan adiknya.
Kini si Jamang berjalan mendahului lagi dengan tingkah laku seperti tadi, dan Yoga Kumala,
Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari mengikuti dibelakangnya. Namun berbeda dengan tadi,
si Jamang kali ini berjalan lebih cepat sambil berlompatan menuju kearah utara menuju gunung Butak
yang kian lama makin menanjak terjal lewat lereng2nya.
Dan jalan yang ditempuhnya itu masih saja merupakan hutan pegunungan yang tak nampak
adanya perdesan.
— Jamang. Kemana kita akan pergi ? — Seru Yoga Kumala sambil berjalan mengikuti kera itu. Si
Jamang berhenti sejenak dan berpaling serta memandang Yoga sebentar, kemudian berlari2 lagi.
Seakan-akan ia bilang — Ikutilah aku! —
Dan mereka semua berjalan terus, tanpa berhenti. Hutan itu kian lama makin menipis, karena
tanah pegunungan yang semakin meninggi itu ternyata makin tandus. Hanya ilalang dan lantara saja
yang menggerombol lebat berserakkan, dengan beberapa pepohonan besar dan rindang yang tumbuh
liar dan jarang2 antaranya, seperti pohon munggur, asam ataupun jati. Batu2 besarpun berserakan
dimana-mana. Gunung Butak itu sebenarnya tak seberapa tingginya, dan hanya merupakan gundukkan
yang besar belaka, tak berkawah. Bagian atasnya amat tandus dan gundul tak ada pepohonan. Hanya
dilereng bawah saja, terutama dilembah sekitar tebing2 kali Kening itu tanahnya subur. Kali Kening itu
memang bersumber dari gunung Butak dan mengalir keselatan untuk kemudian bertemu dan menjadi
satu dengan kali Bengawan.
Akan tetapi karena tak ada manusia yang menghuni di gunung Butak itu, maka tanah2 yang
subur itu hanya merupakan hutan dengan pepohonan dan tanam2an liar. Setelah mereka berjalan
mengitari lereng lereng pegunungan itu, kini mereka tiba disuatu dataran terbuka yang hanya ditumbuhi
oleh rumput dan ilalang saja. Sedang mercka berjaIan menyusupi ilalang yang lebat itu, tiba2 terdengar
suara parau yang menggema — Anak gilaaaa! Suara itu demikian jelas dan kerasnya sehingga seakan2
diucapkan oleh orang yang berada didekat mereka. Akan tetapi setelah mereka mengawasi kesekeliling
dataran itu, ternyata tak nampak adanya seorang manusia lainnya.
Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, Yoga Kumala menjawab seruan kakek gurunya Dadung
Ngawuk — Saya datang.. kakek guruuuuuu! — Suara itupun kemudian memantul kembali dan
menggema bagaikan gelombang. Dan sesaat kemudian terdengarlah suara tawa yang terkekeh2
mengumandang jauh Si Jamang berlari berlompatan semakin cepat tanpa berpaling lagi, diikuti Yoga
Kumala, Sontani Indah Kumala Wardharti dan Ratnasari. Demikianlah cepatnya si Jamang berlari2,
hingga Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani terpaksa pontang panting dan terengah2.
Tanah datar yang merunakan lapangan itu telah dilaluinya dan kini mereka memasuki hutan
dipinggir kali Kening yang tak demikian lebatnya. Tiba2... tanpa menghiraukan Sontani, Indah Kumala
dan Ratnasari yang berlari2 di belakangnya,... Yoga Kumala melompat dan menjatuhkan diri berlutut
didepan kakek gurunya Dadung Ngawuk yang sedang duduk diatas tanah bersandar pada batang pohon
dengan berlumuran darah. Ternyata sebuah kaki kiri dari kakek Dadung Ngawuk telah buntung sampai
batas pahanya. Namun ia masih juga dapat duduk dengan tenangnya.
— Kenapa, kakimu itu kakek guru ? Dan siapa orangnya yang berani berbuat demikian kejam
terhadapmu . . . . . Maafkan terlambatkah kedatanganku . . . . . ini ? — Kata Yoga Kumala terputus2
sambil menangis terisak2
Anak gila !!!. Haaaa .. . . . haaa . . . .. haaaa !. Tak usah bersedih dan jangan menangis seperti
anak perempuan !! Datangmu terlalu pagi dan bukan terlambat . . . . anakgila !!
Jawabnya sambil masih ketawa terkekeh2 serta menepuk2 bahu Yoga Kumala. Sedikitpun, seakan2
Dadung Ngawuk tidak merasakan sakit, pada hal melihat darah yang berhamburan di tanah serta
dibadannya itu jelas bahwa ia belum lama kehilangan kaki sebelah kirinya. Bahkan paha kirinya itu masih
mengeluarkan darah segar walaupun tak deras. Sementara itu Sontani, Ratnasari dan Indah Kumala
Wardhani bersujud pada kakek Dadung Ngawuk dengan perasaan terharu dan kemudian duduk bersila
dibelakang Yoga Kumala. Sedangkan si Jamang, kera yang setia itu duduk menempel pada punggungnya
Dadung Ngawuk. Mereka tak sampai hati melihat luka yang diderita oleh gurunya Yoga Ku-mala.
— Tenangkan dulu, anak gila !!!. Dan katakan dulu, siapa kedua anak yang belum aku kenal itu !!
Kini Yoga Kumala telah tenang kembali. Ia duduk bersila dekat didepan kakek Gurunya sambil
menempelkan telapak tangannya yang kanan pada paha gurunya yang buntung dan berlumuran darah
itu.
Dengan jari2nya ia menotok berulang2 pada pembuluh2 darah dipaha yang buntung itu, agar
darah tak mengalir keluar.
– Kedua orang yang kakek guru maksudkan itu adalah sahabatku Panewu tamtama Sontani dan
adiknya Ratnasari, sedangkan yang satunya itu adalah adikku Indah. Jawab Yoga Kumala dengan
tertunduk, dan kemudian mengulang pertanyaannya lagi.
— Tetapi . . . . . tetapi . . . . . kakimu sebelah ini . . . . . kenapa .. . . . . kakek guru ? ?.
Seperti tak mendengar pertanyaan Yoga Kumala, Kakek Dadung Ngawuk ketawa terkekeh2 lagi
hingga badannya bergoyang2, sambil bicara : . . . . . Anak gila yang baik !! Adikmu yang nakal itu, aku
kenal. Heeehh . . . . Sama2 gila, seperti kau, tapi lebih pintar !! . . . . Sayang . . . . ia perempuan !!
Katanya sambil memandang pada Indah Kumala Wardhani dengan matanya yang sayu dan cekung itu.
— Kakek aneh !!. Aku tidak gila dan Akang Yogapun tidak gila!! Sahut Indah Kumala dengan
bersenyum geli. Namun jelas bahwa dalam hatinya ia menaruh kasihan pada kakek Dadung Ngawuk
yang kini terluka parah itu.
— Haaaa . . . . haaaaa . . . . haaaaaal. Pintar! Pintar! Tetapi benar2 gila . . . . . yaaa . . . . semua
gila . . " Sahabat2mu itu juga gila!! . . . . sayapun gila!!—
Suaranya terdengar semakin lemah dan sesaat kemudian ia memejamkan matanya dengan
kepalanya yang gundul bersandar pada pohon dibaelakangnya. Yoga Kumala yang sudah tahu akan
tabiat kakek gurunya yang sinting itu, segera mengetahui, bahwa Dadung Ngawuk sedang bersamadhi
untuk memulihkan kembali tenaganya.
Sontani dan Ratnasari yang sedari tadi diam tak berkata sepatah katapun, dalam hati sangat
kagum akan kesaktian dan ketabahan Kakek Dadung Ngawuk. - Terluka demikian hebatnya, masih juga
ia dapat ketawa dan bersendau-gurau pikirannya. Seorang biasa tentunya akan jatuh pingsan atau mati
kehabisan darah. Suasana kini menjadi sunyi. Semua terdiam dengan lamunannya masing2. Si
Jamangpun seakan2 turut bersedih.
Sebentar kemudian Dadung Ngawuk telah duduk tegak kembali, sambil batuk2 kecil serta
membuka matanya, dengan diiringi suara tawanya yang terkekeh2 lembut.
— Nah, . . . . adikmu dan sahabat2-mu yang gila dan baik hati itu supaya menggeser maju
sedikit, agar aku dapat melihat mukanya yang bagus dan ayu itu lebih jelas. Tetapi hendaknya jangan
sampai kena bekas darahku yang berceceran itu ...... Mari, mari !!, Dekat disampingku dan coba berikan
peti kitab itu !!—. Katanya kemudian dengan nada yang lemah lembut.
— Apakah tidak sebaiknya aku mencari air untuk mencuci darah yang berlumuran ditangan dan
badanmu itu, kakek? — Indah Kumala memotong bicara.
— Biarlah aku yang mengambil air dikali seberang itu!!. Sahut Sontani sambil bangkit berdiri,
setelah ia menyerahkan peti kitab yang tadi dibawanya.
Akan tetapi cepat kakek Dadung Ngawuk menggeleng2- kan kepalanya sambil berkata: — Jangan
!!. Jangan !! Tak usah sekarang!!. Itu gampang dikerjakan nanti. Sebelum hari gelap malam isi kitab ini
akan aku jelaskan tentang bagian2 yang penting !!.
Dengan mudahnya peti itu dibuka oleh kakek Dadung Ngawuk, sedang Sontani duduk bersila
kembali. Peti itu berisikan kitab yang terdiri dari lembaran kulit domba kuno. Lembaran2 yang telah
lepas dari jilidnya itu ternyata masih tersusun menurut urutannya halamannya dan masih pula lengkap,
merupakan sebuah kital, yang tebal. Seperti telah lupa pada luka yang sedang dideritanya, kakek
Dadung Ngawuk mulai membalik2kan lembaran2 kitab kuno itu, dan kemudian mengambil tiga lembar
yang berada di-tengah2.
Kini Dadung Ngawuk tak lagi seperti orang sinting. Wajah dan tingkah lakunya menjadi wajar
dan bersungguh2. Sinar matanya berkilat bening dan berpengaruh. Suaranya tenang mengandung
wibawa.
— Yoga muridku! Cepatlah pelajari cara usadha yang termuat dalam tiga lembar ini. Aku percaya
dengan bekal yang ada padamu serta kecerdasan otakmu, pasti kau dapat memahami dan menghafal
dalam waktu yang singkat. Ini penting sekali, karena ada hubungannya dengan kakiku yang buntung ini!!
Berkata demikian Dadung Ngawuk sambil memberikan tiga lembar bagian kitab kuno, kitab Usadha
Sastra yang dipegangnya, yang mana segera disambutnya oleh Yoga Kumala.
Dari lembar pertama hingga lembar ketiga dibacanya oleh Yoga Kumala dengan saksama.
Ternyata lembaran kulit domba kuno itu memuat pelajaran2 cara mengobati seorang yang terluka berat
didalam rongga dadanya serta patah tulang iganya dan pecah pembuluh darahnya yang mengalir
kebagian tangannya. Juga dalam lembaran2 itu termuatpula ramuan2 obat yang harus diminumkan pada
sipenderita, setelah mendapat pertolongan dengan menggunakan pengerahan tenaga dalam dan pijatan
ataupun totokan dengan jari2. Setelah dipahami benar2 hingga ia sendiri percaya dapat melakukan
dengan sempurna, maka ia lalu menghafal nama2 rempah2 yang perlu digunakan untuk membuat
ramuan obat itu, hingga dapat menghafal diluar kepala.
Sedang Sontani, Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani hanya turut membaca sepintas lalu,
tetapi tak mengerti isi maksud keseluruhannya.
— Tetapi . . . . kakek guru!!, Untuk apakah sesungguhnya, hingga aku diharuskan mempelajari
sekarang ? Apakah kakek guru juga terluka berat dalam rongga dadamu?. Tanya Yoga Kumala setelah
selesai membaca dan memahaminya.
— Bukan. bukan aku yang sakit dada . . . . tetapi musuhku dan juga sahabatku. Nah . . . .
bukankah itu ada hubungannya dengan kakiku yang kini telah buntung ? Jawab Dadung Ngawuk sambil
memandang tajam pada muridnya. Yoga Kumala semakin heran mendengar jawaban kakek gurunya itu.
Ia belum mengerti apa yang dikehendaki gurunya yang aneh itu.
Demi melihat muridnya hanya ter-longong2 tak berkata sepatah katapun, Dadung Ngawuk lalu
menceritakan riwayat buntungnya kakinya yang sebelah. Ia menceritakan bahwa semalam ia habis
bertempur dengan Mbah Duwung dan berakhir dengan masing2 menderita luka berat. Ia sendiri
tertebas kakinya sebelah kiri hingga buntung, sedangkan Mbah Duwung terluka berat dalam rongga
dadanya, terkena totokkan maut jari2 tangan kiri. Dadung Ngawuk. Menurut katanya Mbah Duwung tak
mungkin dapat hidup lebih dari tiga hari, jika tak cepat mendapat pertolongan dengan pengobatan
secara yang termuat dalam kitab itu. Akan tetapi walaupun dapat tertolong jiwanya, sipenderita itu akan
mengalami cacad seumur hidupnya, karena tangan kirinya menjadi lumpuh dan punggungnya bongkok
tak bertenaga lagi.
Ia mengakui pula akan kehebatan ilmu golok panjang dari Mbah Duwung yang mendapat
julukan bertangan besi itu akan tetapi ia masih bangga, bahwa ilmu wurushaktinya tidak kalah
dengannya.
Walaupun ia kini kehilangan sebelah kakinya, akan tetapi sedikitpun ia tak menyesal, karena
telah dapat membuktikan bahwa ilmunya wurushakti dapat mengalahkan Mbah Duwung yang terkenal
dengan julukkan sitangan besi yang shakti itu.
Oleh Dadung Ngawuk juga diceritakan, bahwa semula pertempuran itu adalah segitiga dan
menurut undian ia terlebih dahulu bertempur melawan Tadah Waja. Akan tetapi karena Tadah Waja
berlaku curang, ialah membawa anak buahnya ikut serta bartempur, maka Mbah Duwung lalu
membantunya, hingga akhirnya Tadah Waja menemui ajalnya. Mayatnya Tadah Waja diangkut oleh
anak buahnya pergi turun gunung, sedangkan Mbah Duwung dipondong oleh muridnya yang bernama
Talang Pati, pergi kearah barat. Dan katanya kemudian: — Tentang luka dipahaku ini, aku sendiri dapat
mengobatinya, setelah aku tiba kembali dipondokku. Maka dukunglah aku sekarang, untuk berjalan
sampai dipondokku, Yogal.
— Walaupun Yoga Kumala belum demikian jelas tentang maksud dan tujuan dari keharusan
mempelajari pengobatan yang serba kilat tadi, akan tetapi tanpa menunggu di ulang lagi perintah kakek
gurunya, ia segera bangkit dan momondongnya kakek gurunya, sambil berkata pelan: - Kakek tak usah
susah2 jalan dengan didukung, lebih baik jika kupondong saja! — Berkata demikian, ia sambil berjalan
menuju kehutan Blora kembali, yang tak berapa jauh letaknya. Sontani dengan membawa peti kitab
yang dimasukkan lagi dalam peti, mengikuti dibelakangnya berserta Indah Kumala Wardhani dan
Ratnasari. Sedangkan si Jamang telah mendahului, seakan-akan sebagai petunjuk jalan.
— Turunkanlah aku diluar gubug sini saja! — Kata kakek Dadung Ngawuk setelah sampai
didepan pondoknya ditengah hutan Blora dekat sendang.
— Nach, disini aku tak usah kuatir akan terlantar, karena pasukankupun masih lengkap! —
Katanya kemudian setelah turun dari pondongan Yoga Kumala.
— Pasukan yang mana yang dimaksudkan kakek gundul itu? — pikir Sontani, Indah Kumala
Wardhani dan Ratnasari. Mereka tak melihat adanya seorang manusia dihutan ini.
— Tetapi sewaktu aku tadi siang dihutan ini selain si Jamang, aku tak melihat mereka, kakek
guru!. Dimanakah kiranya mereka bersembunyi?. — Tanya Indah Kumala Wardhani.
— Haaaa...haaaa...haaaa...!. Tentu saja kau tak bertemu dengan mereka. Tanpa kupanggil, tak
mungkin mereka berani keluar dari persembunyiannya. Haaaaa... haaaa... haaaaa!.
Sontani, Indah Kumala Wardlraai dan Ratnasari kini menjadi lebih heran lagi. Mengapa tadi Yoga
Kumala tak mengatakan bahwa kakek gundul itu mempunyai laskar yang tersebar dihutan itu? Jika tadi
dikatakan demikian, tentunya mereka akan berusaha mencarinya untuk mudah mendapatkan
keterangan kemana kakek gundul itu pergi. Dan tentulah akan lebih jelas, dari pada bertanya pada si
Jamang. Sedang mereka duduk diam sambil bertanya2 dalam angan2, tiba2 kakek gundul itu bertepuk2
dengan tangannya lima kali berturut2, sambil ketawa terkekeh nyaring, dan sesaat kemudian,
bermunculanlah dari segenap penjuru kera2 piaraan Dadung Ngawuk sejenis si Jamang dengan masing2
membawa ranting2 kering dan buah2an. Melihat banyaknya kera yang berlompatan datang dari arah
sekitarnya sambil cecowetan itu, Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani menggigil ngeri juga. Dan
Sontani hanya terlongong2 penuh rasa heran. la tahu kini, bahwa yang dimaksudkan dengan pasukan
adalah kera2 yang kini datang bermunculan itu. Tapi bagaimana mereka dapat setaat itu, tak ubahnya
seperti manusia saja — pikir Sontani. Rasa takut kedua gadis itu hilang, setelah menyaksikan sendiri,
bahwa satupun tak ada yang berani mengganggunya. Dengan rapihnya mereka menumpuk ranting2
kering itu untuk kemudian dibuatnya perapian oleh Yoga Kumala, sedang buah2an yang mereka bawa
dinikmatilah semua bersama.

Atas petunjuk kakek Dadung Ngawuk, Yoga Kumala mengambil rempah2 ramuan obat yang tersimpan
dipondok, untuk kemudian dibobokkan pada luka dipaha Dadung Ngawuk. Setelah mana luka dan
seluruh badan Dadung Ngawuk dibasuh dengan air sendang oleh Yoga Kumala.

— Berangkatlah nialam ini juga dengan kudamu itu, menyusul Mbah Duwung, dan kerjakan
baik semua petunjuk2ku itu. Adi2mu biarlah menunggu disini, sampai kau kembali. — Katanya Badung
2

Ngawuk kemudian: — Dan ramuan obat2an yang telah kupisahkan itu, hendaknya di masukkan dalam
kantong kulitmu. Katakan padanya bahwa aku masih sehat segar, tak kurang sesuatu, serta aku tetap
menganggapnya sebagai sahabat karibku!. —
Sebenarnya Yoga Kumala tak sampai hati meninggalkan kakek gurunya walaupun hanya
sebentar, akan tetapi karena patuh dan percaya pada Sontani serta pada kedua gadis itu, bahwa mereka
tentu akan merawatnya dengan baik. maka malam itu juga Yoga Kumala dengan berkuda mencari
perginya Mbah Duwung dengan muridnya Talang Pati.
Hati2 diperjalanan! Kakek gurunya berpesan, sewaktu Yoga Kunuila meninggalkan hutan Blora.
Ratnasarilah yang sedih diantara mereka, setelah Yoga Kumala tak nampak lagi. Ingin ia ikut serta selalu
disisinya Yoga Kumala, namun sebagai wanita ia malu untuk mengutarakan isi hatinya Garis baru orang
seperti Mbah Duwung tak mungkin mau mengganggu rakyat padesan.
Jika ia menghendaki istirahat, tentunya akan merasa lebih aman di tengah2 hutan - pikir Yoga
Kumal, Memang pendapatnya ini sangat beralasan. Setelah pada fajar pagi ia sampai dihutan dekat
dukuh Wirosari sebelah barat hutan Blora, ternyata ia dapat menemukannya. Waktu itu, Mbah Duwung
sedang rebah dengan beralaskan daun2 kering sambil batuk2 kecil dengan memuntahkan gumpalan
darah segar dan mengigau tak menentu, sedangkan Talang Pati muridnya yang setia menunggunya
deagan mengurut-urut dadanya.
Sebentar2 Talang Pati memberikan minum pada gurunya dengan mangkok yang ia dapat minta
tadi siang pada orang2 desa didekat hutan itu.
Perapian di sebelahnyapun masih menyala. Setelah turun dari kudanya, dengan amat perlahan2
Yoga Kumala mendekati mereka. Ia tak ingin mengejutkan mbah Duwung yang luka parah serta
muridnya yang kelihatan sangat letih. Sebagai seorang shakti yang terlatih, walaupun Mbah Duwung
dalam keadaan yang setengah sadar setengah tidak, dapat cepat mengetahui adanya langkah orang
yang kian mendekat.
— Talang Pati!. Ada . . . orang !.— bisiknya lemah.
Dan kiranya Talang Pati telah mengetahui pula kedatangan Yoga Kumala.
— Siapa kau?. Desisnya Talang Pati dengan menghunus golok panjangnya sambil berdiri.
– Aku Yoga Kumala hendak menolong gurumu!, – jawab Yoga Kumala tenang sambil
memperlihatkan dirinya dari balik pohon, serta mendekatinya.
— Yoga Kumala!. — Talang Pati mengulang pelan, mengawasi dari kepala hingga telapak
kakinya. Jika tak salah, ia pernah melihat orang yang kini mengaku Yoga Kumala itu. Tetapi dimana...ia
tak ingat lagi. Ach, . . . . mungkin berkehendak jahat - pikirnya. Talang Pati menjadi penuh ragu. Suara
dalam hatinya bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Melihat ketenangan dan kejernihan wayah
anak muda ini, tak muugkin ia berniat jahat. Seandainya berniat jahat, tentunya telah sejak tadi ia
menghunus pedangnya yang tersandang. Akan tetapi mengapa ia malahan kian mendekat sambil
tersenyum bersahabat. Jika bermaksud menolong, mustahil orang semuda ini mengerti tentang
pengobatan luka dalam. Atau mungkin . . . . guruku telah mengenalnya. Sedang Talang Pati mengawasi
sambil mempertimbangkan pendapatnya, tiba2 terdengar suara keluhan lemah namun jelas: --
Yoga...Yoga aku tahu...murid petapa Cahayabuana...apa perlumu? -
Bukan, bukan, Mbah guru!. Aku ingat sekarang! Kaulah Sujud murid Dadung gawuk musuhku! —
Desisnya Talang Pati sambil langsung menyerang dengan sabetan golok panjangnya.
Menghadapi serangan dahsyat yang tiba2 itu, Yoga Kumala terperanjat sesaat. Ia tak menduga
sama sekali, bahwa Talang Pati akan menyerangnya. Cepat Yoga Kumala melompat surut kebelakang
selangkah menghindari serangan golok panjang, dibalik pohon yang ada
dibelakangnya...krrraaaakkkkk!!.
Dan pohon yang menghadang sabetan golok Talang Pati terbabat tumbang.
— Benar apa katamu, Kakang Talang Pati! Tetapi sabarlah dulu . . . . akan ku jelaskan . . . .
— Tak ada tetapi! — potong Talang Pati sambil menerjang lagi dengan bacokan mengarah
kepala Yoga Kumala.
Dengan tangkasnya Yoga Kumala barlompatan kesamping kanan dan kiri menghindari serangan
Iawan yang bertubi-tubi dan amat bahaya itu.
Sedikitpun tak ada dalam benak hatinya Yoga Kumala untuk menanggapi kekalapan Talang Pati.
Ia hanya berlompatan menghindar, tanpa memberi serangan balasan. Akan tetapi Talang Pati telah
sampai pada puncak kemarahan. Ia tak mau dihina secara demikian.

— Cabut pedangmu! — serunya sambil terus menyerang, dengan jurus-jurusnya yang dahsyat.
Kiranya banyaknya pepohonan dalam hutan itu menolong pula pada Yoga Kumala. Ia
berlompatan menghindari serangan dengan cara menyelinap di balik pepohonan yang berada di
sekitarnya. Dan lebih dari empat pohon telah terbabat tumbang oleh amukan golok panjang Talang Pati,
Namun Yoga Kumala tetap tenang tak bermaksud membalas serangan.
— Kakang Talang Pati! Kedatanganku untuk menolong gurumu! Dan ketahuilah . . . . apabila
terlambat. gurumu tak mungkin dapat tertolong lagi, — Sahutnya sambil melompat surut kesamping
kanan.
Akan tetapi kata-kata itu seakan-akan tak didengarnya, dan Talang Pati masih saja terus
mendesaknya dengan serangan-serangan yang bertubi tubi.
Semakin lama serangan itu tak semakin mereda, bahkan sebaliknya. Ia menyerang dengan golok
panjangnya sambil melontarkan tendangan-tendangan kilat yang dahsyat.
Dalam hati, Yoga Kumala kagum pula akan kehebatan ilmu golok panjangnya Talang Pati. Dan
dibalik rasa kagum itu, iapun heran bahwa dasar-dasar gerakan jurusnya hampir menyamai ilmu
pedangnya sendiri. Hanya saja terdapat perbedaan perbedaan dalam rangkaiannya, serta pada gerakan
tangan kirinya.
Jika ia sendiri selalu menggunakan tangan kirinya sebagai serangan totokan dengan jari-jarinya
yang telah dikembangkan, maka Talang Pati menggunakan telapak tangan kirinya sebagai pukulan,
apabila serangan golok panjangnya tak mengenai sasaran.
Dan menurut pendapat Yoga Kumala golok panjang ditangan Talang Pati itu agaknya terlalu
berat, hingga pada perobahan perobahan gerakan nampak agak lambat pula. Selain itu, pun ternyata
golok panjang itu kurang panjang beberapa jari.
Seandainya saja golok panjang itu sedikit ringan dan panjang ukurannya pun cukup, mungkin
serangan-seranganya sukar untuk dielakkan dengan hanya mengandalkan pada kelincahan saja.
Namun ia sendiri memuji akan kehebatan gerakan-gerakan serangannya. Jelas, bahwa Talang
Pati memiliki ilmu golok panjang yang mendekati sempurna. Dengan demikian dapat pula diperkirakan
akan kehebatan ilmu yang dimiliki gurunya mBah Duwung. Dan suatu kenyataan, Dadung Ngawuk yang
demikian shaktinya dapat tertebas sebelah kakinya.
— Sujud! Apakah pedang yang kau sandang itu hanya hiasan belaka?! Jangan salahkan aku,
apabila lehermu tertebas oleh golok panjang ini, — serunya sambil melompat mengejar dan langsung
menyerangnya.
— Hentikan dulu. apabila Kakang Talang Pati sungguh mencintai gurumu! — Seru Yoga yang
makin lama makin berkurang pula kesabarannya.
— Bohong, . . . . pengecut! Kau Jika kau bermaksud baik, buat apa memakai nama palsu dengan
Yoga Kumala. Sedangkan aku tak lupa, . . . . namamu adalah Sujud ! Dan Kaulah pewaris tunggal ilmu
wurushakti Dadung Ngawuk yang melukai guruku! — Sahut Talang Pati sambil masih menyerang dengan
golok panjangnya.
Setelah tak ada jalan lain lagi untuk secara damai menginsyafkanuja, dan setelah pula
memperhatikan segi - segi kelemahan ilmu golok panjangnya Talang Pati. Yoga Kumala merobah
pendiriannya.
Ia akan membuktikan lebih dulu, bahwa jika dikehendaki dapat pula ia mengimbangi kesaktian Talang
Pati yang tangguh itu.
Akan tetapi masih juga ia tak bermaksud untuk melukainya. Bagaikan kilat ia mencabut pedang
pusakanya, melompat mengelakkan serangan tebasan kearah kakinya.
— Bagus! Jika kau menghendaki perlawanan dengan pedangku! — Seru Yoga Kumala, sambil
memapaki serangan lawan dengan pedang pusakanya.
Dua senjata beradu keras dan Talang Pati melompat surut kebelakang selangkah. Sesaat ia
terperanjat, demi dirasakan tlapak tangannya menjadi pedih, dan hampir saja golok panjangnya
terpental lepas. Demikian pula Yoga Kumala. la terkesiap. setelah tahu ketangguhan lawan. Dengan
tangkas dan cepat, Yoga Kumala merangkaikan serangannya. Pertempuran menjadi seru, dan masing-
masing memperlihatkan keshaktiannya yang amat tangguh.
Desiran angin dari sabetan, babatan dan bacokan kedua senjata menggetarkan ranting-ranting
pepohonan disekitarnya hingga daun-daun jatuh berterbangan. Dua sinar putih ber-gulung gulung
menyelubungi tubuh kedua orang shakti yang sedang bertempur itu.
Jika semula Yoga Kumala hanya mengelak sambil ber-lompatan menghindar, kini tiba-tiba
berobah menjadi sebaliknya. Dengan memeras segenap tenaga dan ketangkasannya Talang Pati
terpaksa harus menghadapi ketangguhan lawan, dan dirasakan semakin lama kian terdesak
kedudukannya.
Setapak demi setapak dan selangkah demi selangkah, Talang Pati terpaksa harus bergerak surut
kebelakang, menghindari serangan lawan yang berbahaya dan bertubi-tubi bagaikan gelombang yang
bergulung gulung menggempur karang tak ada hentinya.
Belum pernah Talang Pati menghadapi lawan yang demikian tangguhnya. Dalam hati ia kagum
dengan penuh rasa heran. Mengapa tiba2 gerakan golok panjangnya yang biasanya ganas kini se-akan2
menjadi lumpuh. Kemanapun golok panjangnya berkelebat, pedang lawan selalu dapat mendahuluinya
dan kemudian menutup jalan rangkaian serangannya. Melihat tingkah laku dan gerakan serangan
totokkan jari2 tangan kiri lawan, jelas bahwa lawannya adalah murid Dadung Ngawuk musuh gurunya.
Akan tetapi belum pernah ia mendengar bahwa Dadung Ngawuk memiliki ilmu pedang yang demikian
shaktinya. Sepanjang pengetahuan yang didapat dari cerita gurunya, orang yang memiliki ilmu pedang
shaku hanya ada dua orang. Seorang bernama Kyai Sidik Pamungkas yang kini telah bergelar Wiku Sepuh
di Gunung Sumbing dan yang tak mau lagi menggunakan senjata pedangnya, sedang seorang lainnya lagi
ialah perampok shakti yang bergelar si Ular Merah. Akan tetapi si Ular Merah ini pada kira kira lima belas
tahun yang telah lampau, telah lumpuh terkena pukulan aji shakti dari petapa tua Pajajaran yang
bersemajam di Gunung Tangkubanperahu. Dan selanjutnya cerita tentang si Ular Merah yang memiliki
ilmu pedang shakti itu tak terdengar lagi. Pun siapa adanya petapa tua yang amat shakti itu, ia sendiri
tak pernah mendapatkan keterangan lebih jauh dari gurunya.
Akan tetapi, mengapa ia kini menghadapi kenyataan yang menyimpang dari petunjuk2 gurunya?
Dan yang lebih mengherankan lagi, seakan-akan lawannya yang kini sedang dihadapi itu telah mahir pula
akan ilmu golok panjangnya sendiri. Tiap2 perubahan gerakan serangannya selalu dapat didahuluinya
dengan serangan pedang lawan yang amat mentakjubkan.
Haruskah ia menyerah pada lawannya, sebelum ia terluka?
— Tidak!! Tidak mungkin!! — seru hatinya.
Baginya lebih baik mati tertebas pedang lawan, daripada hidup sebagai pengecut dan
pengkhianat. Demi melindungi gurunya ia harus melawan terus hingga hembusan nafas yang terakhir.
Tekadnya telah bulat.
Pandang matanya berkilat tajam. Mulutnya terkatub rapat, dan giginya bergeretak. Tubuhnya
serasa gemetar, sedangkan telapak tangan larinya mengepal meremas2. Golok panjang ditangan
kanannya tiba2 berputaran cepat, hingga perisai baja putih yang bersinar berkemilauan. la telah
bertekad hendak mengadu jiwa dengan lawannya yang amat tangguh itu. Seruan tinggi melengking
terdengar, dan ……. Brrreeettt!!!!
Ternyata sewaktu ia hendak meloncat tinggi dengan maksud malancarkan serangan dengan
jurusnya yang terampuh, ialah "elang menyambar mangsa" digabung dengan „menerjang baja
membara", — suatu perubahan gerakan yang tiba tiba didahului dengan loncatan tinggi serta
menyerang lanasung dari atas, dalam bentuk gerakan tusukan dan sabetan golok panjang yang berantai.
tanpa menghiraukan kemungkinan serangan balasan dari lawan, — celana dari paha sampai dilututnya
terobak oleh ujung pedang pusaka Yoga Kumala hingga gerakan loncatannya menjadi gagal.
Kedua jurus berangkai itu adalah jurus simpanan, yang banya dilakukan sewaktu terdesak dan
menghadapi jalan buntu. Apa daya!! Agaknya lawannya pun telah mengetahui terlebih dahulu akan
maksud gerakannya. Jurus simpanannya terachir telah gagal sama sekali, karena didahului oleh Iawan
dengan cara menyerang sambil menutup langkahnya.
Bulu kuduknya berdiri dan peluh dingin mengucur dari keningnya. Ia melompat surut
kebelakang lima langkah, hingga hampir saja menginjak Mbah Duwung gurunya sendiri yang masih
berbaring ditanah.
— Hentikan .... pertempuran!! Walaupun suara itu diucapkan amat lemah oleh Mbah Duwung,
akan tetapi oleh Talang Pati dan Yoga Kumala dapat didengar jelas, serta dirasakan pula betapa
besarnya perbawa yang disalurkan lewat suara yang lemah itu. Kiranya Mbah Duwung yang telah terluka
berat didalam dadanya, masih juga dapat mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengiringi suara
seruannya pada kedua orang yang sedang bertempur.
Cepat Yoga Kumala menghentikan gerakannya sambil menyarungkan kembali pedang
pusakanya, yang kemudian diikuti oleh Talang Pati. Tanpa rasa curiga ke-dua2nya segera berjongkok
mendekati Mbah Duwung yang tengah berbaring lemah itu.
— Talang Pati! Kau tak perlu malu . . . . kalah . . . . dengan cucunya . . . Petapa shakti
Cahayabuana itu! — Kata Mbah Duwung lemah dan terputus putus. Ia diam sejenak sambil menelan
ludah, dan menekan pada dadanya sendiri dengan telapak tangannya, serta kemudian melanjutkan lagi
kata2nya dengan nada iang semakin lemah.
— Memang . . . . ia . . . . . sebelum menemukan asal usulnya, . . . . . namanya Sujud . . . . dan
murid dari . . . . Dadung Ngawuk . . . . Tetapi . . . . kini nama aslinya . . . ialah Yoga Kumala. Ia . . . . . baik .
. . . dan pantas kau contoh . . . . pun . . . . Dadung Ngawuk juga orang . . . baik . . . . —
— Tetapi . . . . hendaknya Mbah Duwung jangan banyak bergerak. Luka didalam dadamu amat
parah. — Potong Yoga Kumala, sambil meraba dada Mbah Duwung dengan telapak tangannya.
Sementara itu Talang Pati hanya tertunduk dengan hati yang sedih demi melihat gurunya
berbaring sambil merintih2.
— Kedatanganku kemari, memang sengaya menyusulmu memenuhi perintah guruku Dadung
Ngawuk, untuk mengobati lukamu sedapat2nya, — kata Yoga Kumala kemudian, sambil mengeluarkan
ramuan obat2an dari dalam kantong kulitnya.
— Ach . sayang . . . . kau . . . . terlambat . . . . Rasanya . . . . tak per . . . . lu . . . . lagi . . . . — Suara
Mbah Duwung amat lemah, dan berkata demikian itu ia sambil memegang tangan Yoga Kumala dan
menyisihkannya, sebagai isyarat menolak untuk diberi pengobatan.
Sejenak kemudian ia melanjutkan bicaranya dengan nada yang terputus2 serta gerak nafas yang
tak teratur.
— Ta . . . lang . . . Pati. Kau . . harus . . . mem . . . balas . . . budi . . . pada Dadung Ngawuk . .
untukku . . . ! Rawat . . . lah . . . dia sepanjang . . . masa . . . Kasihan . . . ia . . kehilangan . . . sebelah
kakinya . . Ketahui . . . lah Talang . . Pati!! Antara aku . . . dan . . . Dadung Ngawuk . . tak ada . . .
permusuhan . . . Semula . . . karena salah . . . paham . . . dan . . . kemudian . . . . karena ingin . . . menguji .
. . ilmu masing2 . . . Ter . . nya . . . ta . . . aku . . . yang . . . ka . . . lah. Maka . . belajar . . . lah . . . dari . . . dia
. . . agar . . . tak . . . mengece . . . wakanmu sen. . . diri!
Yoga . . . tentu . . . . mau menolong . . . . mu agar kau . . . . diterima . …men . . . jadi . . . . muridnya . . .
.Dadung Ngawuk . . dan . . . kelak apabila ada . . kesempatan . baik bergurulah . . pada . Yoga . . . ini.
Nach . . pesanku bersa . . . . habatlah . . . kalian . . berdua …—.
Ia berhenti sesaat dengan nafas yang terengah2, dan melanjutkan bicara dengan mengerahkan
sisa tenaganya: -Yoga!!, . . . . Terima . . . .lah . . muridku . . . Talang . . . Pati . . dan bimbing . . . . lah ia. Isi .
. . . .sabukku . . . ini . . untuk . . . . mu . . . sebagai . . . tanda . . . terima . . . kasih . . , ku . . — Sampai disini
suara Mbah Duwung berhenti lagi .. Ia memejamkan maranya sambil berusaha menarik nafas dalam2.
Kedua tangannya disilangkan diatas dadanya, dan sesaat kemudian . . . ia telah tak bernafas lagi.
— Mbah . . . guruuuuuuu!!!— Jerit Talang Pati sambil menelungkup diatas tubuh Mbah Duwung
yang telah mulai dingin dan makin membeku itu. la menangis tersedu sedan dengan air mata yang deras
bercucuran. Namun jerit dan tangisnya telah tak terdengar lagi oleh Gurunya. Tak mengira . . . . bahwa
riwayat gurunya yang ia sangat cintai hanya berhenti sampai disini . . . . Gurunya yang ia cintai dengan
sepenuh hatinya, yang ia bangga2-kan dan yang ia selalu hidup bersandarkan padanya . . . . kini telah
meninggalkan untuk selama2 nya.
— Sudahlah, Kakang Talang Pati!!. Hendaknya kita mulai merawat se-baik2nya jenazah gurumu
itu. Akupun turut berduka, tetapi ingatlah bahwa semua kejadian adalah atas kehendak Dewata Hyang
maha Agung. Lahir dan matinya semua ummat adalah dalam kekuasaanNya.
Sesungguhnya akupun sangat menyesal karena tak dapat menolong gurumu, akan tetapi . . . apa
daya. Dewata Hyang Maha Agung menghendaki demikian. Maka, kakang Talang Pati hendaknya jangan
terlalu menyesali pulangnya Mbah Duwung kealam abadi. ?— Yoga Kumala berusaha menghibur Talang
Pati.
Dalam hati ia memuji akan keluhuran budi Talang Pati yang sangat setia pada gurunya itu.
Dengan per-lahan2 Talang Pati bangkit berdiri, mengikuti petunjuk Yoga Kumala.
Setelah jenazah mBah Duwung di kubur sebagaimana layaknya dihutan dekat Wirosari itu, dan
ikat pinggang dari kulit yang tebal serta lebarnya lebih setebah itu diserahkan pada Yoga Kumala oleh
Talang Pati sesuai pesan gurunya, mereka berdua segera kembali ke hutan Blora untuk menghadap
Kakek Dadung Ngamuk.
Sejak saat itulah, Talang Pati tinggal di hutan Blora, menjadi murid Dadung Ngawuk. Sedangkan
Yoga Kumala, Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari kembali menuju ke Kota Raja untuk
menjalankan tugasnya sebagai tamtama Kerajaan Agung Majapahit.
— Semoga Dewata Yang Maha Agung, kelak mempertemukan kita kembali, - seru Talang Pati
pada Yoga Kumala, sewaktu mereka berpisah.

*
**
B A G I A N III.
— Aku tak sudi melihatmu lagi !!! Pergi !!! ...... Pergi!!! atau terpaksa ku lempar kau keluar di
jalan !—.
— Kobar !!! Sejak kecil kau kutimang - timang . . . . . kubesarkan dan kuasuh hingga memiliki
kepandaian. Tetapi . . . . setelah kini menjadi orang berpangkat, kau tak mau lagi mengakui orang tuamu
sendiri yang cacad ini . . . . Sungguh anak terkutuk . . . kau . . . Kobar!!—
— Tutup mulutmu, jika tak ingin ku tampar! Tahu! Aku tak sudi lagi mendengarkan ocehanmu!
Lekas! Pergi !—
Suara bentakan Kobar yang amat keras itu memecah kesunyian tengab malam, hingga
membangunkan mereka yang sedang tidur njenyak di rumah masing-masing yang terletak di sebelah
kanan kirinya. Akan tetapi mereka segera membatalkan maksud untuk ingin menyaksikan dari dekat,
setelah mengetahui bahwa suara keributan itu datangnya dari tempat kediaman Bupati Anom Tamtama
Kobar.
Mereka tak mau menjadi sasaran kemarahan Kobar yang sedang meluap-luap, dan terkenal
sebagi seorang yang selalu bertindak kejam terhadap bawahannya.
Waktu itu Yoga Kumala sedang asyik berlatih mempelajari jurus-jurus gerakan dasar dari ilmu
pedang, menurut petunjuk dari kitab kuno peninggalan Mbah Duwung yang hanya terdiri dari sembilan
lembar itu. Dan ternyata dengan bekal kecerdasannya, ia segera dapat mengetahui segi-segi kehebatan
ilmu pedang yang kini tengah dipelajari, setelah mana digabungkan dengan ilmu pedangnya sendiri,
ciptaan Eyangnya Cahaya Buana. Dengan demikian iapun dapat cepat menarik kesimpulan, bahwa kitab
peninggalan Nlbah Duwung itu, sebenarnya adalah sisa bahagian yang pertama dari kitab kuno yang
berisikan ilmu pedang wurushakti, peninggalan seorang priyagung tamtama shakti yang bernama Sakya
Abindra.
Sebagaimana dahulu telah diceritakan oleh Eyangnya, kitab kuno itu menjadi rebutan orang-
orang shakti dan akhirnya berantakan terlepas dari penjilidan dan menjadi terpisah-pisah. Dan dari
Eyangnya ia sendiripun kini telah memiliki lembaran-lembaran sisa bagian yang akhir dari kitab kuno itu.
Sabuk kulit peninggalan mendiang mBah Duwung, ternyata bukan hanya berisikan lembaran
lembaran sisa kitab kuno saja. tetapi terdapat pula sebuah benda berupa cincin bermata batu yang
besarnya seibu jari kaki. Batu itu berwarna merah dan memancarkan sinar berkilauan yang warna-warni.
Dalam gelap malam, pancaran sinar batu itu seakan-akan menyerupai nyala api. Dan oleh orang yang
ahli, dinamakannya batu "merah sapta warna".
Oleh karena Yoga Kumala tak mengetahui kegunaan tatu itu, serta dirasanya terlalu besar untuk
dipakainya, maka olehnya disimpan kembali, — Biarlah kelak benda peninggalan mBah Duwung ini
kuserahkan kembali pada Kakang Talang Pati saja. Mungkin baginya lebih berguna, — pikirnya.
Suara bentakan Kobar yang nyaring membuat ia terperanjat sesaat, hingga ia terpaksa
menghentikan latihannya, sambil mendengarkan suara percakapan dua orang yang sedang bertengkar
dengan pendengarannya yang tajam dan terlatih.
— Kau kejam anakku! Kau anak terkutuk !!! —
— Cukup! Aku bukan anakmu lagi — Dan enyahlah segera dari sini! — Bentak Kobar dengan
wayah yang semakin memerah dan pandang mata yang berkilat tajam.
Namun orang tua yang duduk dilantai depan pintu rumah kobar itu, masih juga membandel tak
bergeser dari tempatnya. Ia menggumam mengumpat-umpat sambil me-nuding2 dengan jari
telunjuknya. —
Melihat mukanya yang telah berkeriput dengan rambutnya yang kusut dan telah memutih,
orang itu usianya telah mendekati tujuhpuluhan. Dan derita yang selalu ditanggungnya, membuat ia
menjadi lebih tua. Ia duduk bukan karena takut berdiri, melainkan memang tak mampu untuk berdiri.
Kedua kakinya lumpuh sejak kira2 pada 15 tahun yang lampau. Ia tak dapat berjalan sebagaimana
layaknya, melainkan mengesot yang mendekati merangkak.
Pakaiannya telah kumal dan compang-camping.
Ia adalah ayahnya Kobar yang sejati, terkenal dengan gelarnya si Ular Merah. Ia dahuiu adalah
kepala rampok yang amat shakti di daerah Pejajaran. Tindakannya kejam tak mengenal
perikemanusiaan.
Tak sedikit rakyat yang tak berdosa menjadi korban kebuasannya.
Dan hingga pada suatu ketika, sewaktu si Ular Merah sedang mengganas dengan anak buahnya,
Petapa Shakti Ajengan Cahaya Buana yang selalu diikuti oleh harimau kumbang piaraannya itu dapat
menggagalkan tindak kejahatannya. Dalam pertempuran dengan Cabaya Buana itu, si Ular Merah roboh
menderita kelumpuhan pada kedua kakinya terkena pukulan aji shakti petapa Gunung Tangkuban
Perahu.
Dan semenjak itu, namanya yang amat ditakuti oleh rakyat tak terdengar lagi.
Dengan harapan untuk kelak dapat membalas dendam pada keturunan si Petapa Shakti, ia
melatih anaknya lelaki tunggal yang pada waktu itu baru berusia kira-kira sepuluh tahun dengan
segenap kemampuannya.
Disamping dapat membalas dendam, iapun berharap agar anaknya yang mewarisi
keshaktiannya itu kelak dapat menjadi seorang tamtama yang berpangkat. Dengan demikian ia berharap
dapat menyandarkan hidupnya dihari tua pada anaknya yang tunggal itu. Dan ternyata anaknya lelaki
yang tunggal dapat pula mewarisi ilmu pedang serta keshaktiannya dengan tak mengecewakan. Dan
anaknya yang tunggal itu adalah Kobar yang kini telah menjabat sebagai priyagung tamtama berpangkat
Bupati Anom. —
Berbulan-bulan lamanya si Ular Merah merangkak-rangkak dari kota ke kota lain untuk mencari
anaknya si Kobar, yang akhirnya dapat juga ditemukan di kota Senopaten Mojoagung.
la tak menduga sama sekali, bahwa Kobar akan mengingkari sebagai anaknya dan mengusirnya
seperti seekor anjing kudisan. —
—Kobar! Kobar! Jika kau tak sudi lagi mengakui aku sebagai ayahmu, baiklah . . . . aku akan
pergi. Tetapi ingat!
Kutukanku akan menyertaimu selalu!
— Bedebah tua tak tahu adat!...Pergi! —
Membentak demikian Kobar sambil melangkah maju dan menendang ayahnya sendiri, hingga
orang tua lumpuh itu terpental keluar dan jatuh terpelanting di halaman.
Dengan merangkak - rangkak dan merintih - rintih, Ular Merah meninggalkan rumah Kobar di
kegelapan malam.
Mendengar rintihan orang tua, Sontani yang sejak tadi mengikuti keributan dari kejauhan segera
keluar untuk memberikan pertolongan pada Ular Merah.
Akan tetapi tiba-tiba Kobar telah menghadang didapannya sambil berseru lantang.
— Sontani! Jangan kau turut campur tangan urusanku. Pergi! Dan biarkan orang lumpuh gila itu
berlalu! Atau . . . kau juga ingin merasakan tendanganku?! —
— Maafkan, Gusti! Saya sama sekali tak bermaksud campur tangan dengan urusan Gusti Kobar.
Akan tetapi karena tak sampai hati melihat orang yang telah lanjut usianya itu merangkak-rangkak di
gelap malam. Maksud saya hanya ingin menolong memapahnya sampai di jalan besar ! — Jawab Sontani
tenang.
— Itupun tak perlu! Aku sengaja menendangnya karena orang tua gila itu mengacau dirumahku.
Dan siapapun yang hendak membela orang gila semacam dia, harus berani pula berurusan denganku! . .
. .Tahu! — Bentak Kobar dengan lantang.
Belum juga Sontani dapat menjawab kembali, tiba-tiba Ular Merah berseru memotong: —
Bohong! Bukan aku yang gila! Dialah yang gila! Dialah anakku Kobar yang terkutuk! —
Demi mendengar seruan orang tuanya itu, Kobar bagai-an dikupas kulit mukanya.
Kemarahannya meluap-luap tak terkendalikan lagi.
Ia melompat hendak menerjang ayahnya dengan pukulan maut, tetapi . . . . tiba-tiba Yoga
Kumala telah berdiri menghadang dihadapannya.
— Kakang Kobar! Apa maksudmu memukul orang tuamu sendiri yang tak berdaya itu! —
Serunya tajam dan berwibawa.
Ia melompat hendak menerjang ayahnya dengan pukulan maut, tetapi …. tiba 2 Yoga
Kumala telah berdiri menghadang dihadapannya. --- Kakang Kobar!! Apa maksudmu
memukul orang tuamu sendiri yang tak berdaya itu!!

— Adi Tumenggung jangan campur tangan dalam urusanku! Ia bukan orang tuaku dan
omongannya adalah ocehan orang gila! Sahutnya.
— Jika ia bukan orang tuamu, apakah salahnya campur tangan dalam urusan ini?! —
Mendapat tegoran dari Yoga Kumala yang tepat dan beralasan itu, sesaat Kobar kehilangan akal
untuk menjawabnya. Dengan suara yang agak lunak, ia berusaha untuk menutupi kebohongannya.
— Bukan demikian maksudku, Adi Tumenggung Yoga! Karena orang gila yang lumpuh itu tadi
datang-datang mengacau dirumahku, dan mengaku sebagai ayahku, maka kuusirnya ia keluar rumah.
Bukankah ini semata-mata menjadi urusanku sendiri? Dan karena aku dapat pula menyelesaikan sendiri,
kiranya tak perlu lain orang turut campur dalam urusan kecil yang tengah kuhadapi ini. —
— Baiklah, apabila anggapan Kakang Kobar demikian! sahut Yoga Kumala sambil membalikkan
badannya dengan maksud hendak berlalu dari tempat itu.
Tiba-tiba dari balik rumah yang terujung dalam kegelapan, terdengar suara si Ular Merah berseru pada
mereka.
— Sudahlah, jangan kalian bertengkar tentang diriku! Aku telah dapat menolong diriku sendiri.
Dan biarlah anakku Kobar yang terkutuk itu, kelak mati tersambar petir. — umpatnya sambil merangkak
semakin jauh.
Tanpa menghiraukan lagi akan suara ayahnya, Kobar cepat masuk kembali kedalam rumahnya,
dan Yoga Kumala serta Sontani masing - masing melangkah kembali pula ke tempat kediamannya sendiri
dengan angan-angan diliputi teka-teki.
Benarkah orang lumpuh tadi ayahnya Kobar? pikir mereka berdua. Jika seandainya benar,
mengapa demikian kejamnya ia berlaku terhadap ayahnya sendiri? Dan andaikan bukan, mengapa orang
tua yang lumpuh itu berani mengatakan bahwa ia adalah anaknya.
Dan mengapa orang tua itu berani pula mengumpat-umpatnya sedemikian keji. Dan siapakah
orang tua lumpuh itu? Ah, . . . . kelak tentu terjawab sendiri pertanyaan ini. pikir mereka berdua.

*
**
Tiga bulan telah lewat sejak peristiwa Kobar dan ayahnya itu terjadi. Dan kini sebagian besar
para tamtama sedang sibuk mengadakan persiapan untuk berlayar menuju „Pulau Kedukan Bukit"
mengemban titah Manggala Yudha Gusti Senopati Adityawardhana. Yoga Kumala, Kobar, Sontani, Braja
Semandang, Nyoman Ragil, Berhala, Jala Mantra dan Jaka Gumarang nampak pula dalam kesibukan
untuk menyiapkan sesuatu yang dianggap perlu dalam mengemban tugas yang dipandangnya sangat
mulia itu.
Menurut ketentuan Gusti Senopati Manggala Yudha, dua ribu tamtama terpilih dibawah
pimpinan Bupati Tamtama Yoga Kumala dan Kobar akan segera diperintahkan untuk berangkat melalui
darat sampai di bandar Pantai Selatan (Pelabuhan Ratu) daerah Pajajaran.
Disana mereka diharuskan menunggu kembalinya rombongan tamtama Narasandi yang
dipimpin oleh Gusti Tumenggung Cakrawirya, dari kerajaan Sriwijaya.
Pada dua bulan sebelumnya, Gusti Tumenggung Cakrawirya telah pergi berlajar pula menuju ke
Bandar Muara Musi, sebagai utusan Sri Baginda Maharaja Rajasanegara untuk mengantar sumbangan
barang barang berharga serta rombongan para penari dan para pemukul gamelan guna memeriahkan
perayaan bertepatan dengan hari ulang tahun Sri Baginda Raja Kerajaan Sriwijaya.
Dipilihnya Tumenggung Cakrawirya sebagai utusan Kerajaan bukan hanya semata2 untuk
mengantar barang barang sumbangan saja, akan tetapi ia sebagai Manggala Tamtama Narasandi,
bertujuan pula untuk menyelidiki tentang kekuatan pasukan kerajaan Sriwijaya, serta mencari tahu segi-
segi kelemahannya. Pun para penari-penarinya yang bukan lain ialah Indah Kumala Wardhani, Ratnasari,
Sampursekar dan Ktut Chandra, adalah anggauta tamtama Narasandi Kerajaan yang terpilih, dan
terlatih.
Demikian pula para pemukul gamelan, mereka semuanya terdiri dari para tamtama Narasandi
Kerajaan yang terpilih. Disamping mencari tahu tentang kekuatan pasukan Kerajaan Sriwiyaja, pun
ketangguhan dan kesaktian para Manggala tamtamanya menjadi titik perhatian pula. Dan demikian pula
tentang letak tempat serta banyaknya persediaan perbekalan tamtama dan persenjataannya, tak lepas
dari pengintaian para telik sandi Majapahit.
Berkat pengalaman dan keshaktian Tumenggung Cakrawirya, semua tugas dapat diselesaikan
dalam waktu yang singkat serta berhasil memuaskan, tanpa mendapat kecurigaan dari para Priyagung
Kerajaan Sriwijaya.
Pada waktu itu antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sriwijaya dari Pulau Kedukan Bukit itu
memang tak bermusuhan.
Hubungan antara kedua Kerajaan masih berlangsung baik dengan saling menganggap sebagai
Negara mitreka Satata atau disebutnya Negara Sahabat.
Adapun Kerajaan Negeri Tanah Melayulah yang bermaksud untuk mengendihkan Kerajaan
Sriwijaya, dengan maksud mempersatukan kembali rumpun suku Melayu, serta membebaskan
rakyatnya dari penderitaan, akibat tindak sewenang-wenang para Priyagung Kerajaan Sriwijaya.
Untuk mencapai tujuan itu, Sri Baginda Maharaja Adityawarman berkenan minta bantuan
pasukan pada Kerajaan Agung Majapahit.
Berulangkali utusan Kerajaan Negeri Tanah Melayu menghadap pada Sri Baginda Maharaja
Hayam Wuruk Rajasanegara, untuk menyampaikan permohonan bantuan pasukan, demi terwujudnya
keutuhan rumpun suku Melayu.
Hingga pada achirnya, ialah kira-kira tiga tahun yang sewaktu diadakan pasewakan paripurna, Sri
Baginda Maharaja Majapahit berkenan memutuskau untuk menyanggupi mengirimkan bantuan pasukan
ke Negeri Tanah Melayu dengan syarat, Ialah, kelak apabila dua negara kerajaan di Pulau Kedukan Bukit
(Sumatra) itu dapat disatukan dan menjadi satu Negara Kerajaan Besar Negeri Tanah Melayu, maka
hendaknya tetap berada dibawah naungan bendera agung „Gula Kelapa„
Dengan demikian, maka diharapkan terwujudnya Negara Kesatuan se Nuswantara dibawah satu
lambang kebesaran Sang Dwi Warna, sesuai isi Sumpah Shakti "Tan Amukti Palapa" dari mendiang Maha
Patih Mangkubumi Gajah Mada yang telah mangkat sebagai Pahlawan Nuswantara.
Menurut catatan sejarah, konon Kerajaan Sriwijaya pada masa-masa yang lampau pernah pula
mengalami jaman keemasan dan menjadi kebesaran serta kebanggaan bagi bangsa se Nuswantara.
Kota Rajanya berada di tepi muara Sungai Musi dekat Palembang kini. la berdiri sejak abad ke 7.
Kerajaan Sriwijaya ini dikenal oleh para pedagang-pedagang bangsa Arab dengan nama "Sri Busa,
sedangkan para musafir Cina menyebutnya "Chele Poche"
Kekuasaannya meluas kearah barat laut sampai Selat Malaka, dan kearah tenggara sampai di
Selat Sunda. Guru guru yang termasyhur dari India seperti Dharmapala, Sikyakirti dan Iain-lain
didatangkan untuk mengajar di Sriwijaya. Dan seribu pendeta Budha menjadikannya pusat yang penting
bagi Budha aliran Hinayana. Kemudian mulai abad ke 8 Budha aliran Mahayana dari Sriwijaya lebih
berpengaruh dari pada aliran Hinayana dan meluas ke Asia Tenggara.
Pada tahun 775 Sriwijaya pernah pula berkuasa di Ligor, dan pada abad ke 9 dikuasainya Selat
Malaka. Lalu-lintas di lautan, antara lain pelaYaran ke India dikuasainya, pun beberapa bandar di Malaka
didudukinya.
Bhikshu bikshu Cina yang kenamaan seperti I Tsing dan Wu Ling pernah, pula berkunjung di
Sriwijaya untuk belajar tata bahasa Sansekerta dan naskah-naskah suci, selama kira-kira ampat tahun,
sebelum mereka berangkat melawat ke lndia.
Faktor-faktor yang menjebabkan pesatnya berkEmbang Kerajaan Sriwijaya diantaranya ialah:
— Raja dan segenap Priyagung mentaati ajaran-ajaran Agama yang dipeluknya. dengan
demikian merEka memiliki budi luhur serta selalu menjadi tauladan bagi rakYatnya, hingga Kerajaan
Sriwijaya menjadi pusat Agama Buddha aliran Mahayana.
— Para Priyagung Kerajaan gemar mempertinggi ilmunya dalam segala bidang. lni dibuktikan
dengan didirikannya`tempat-tempat perguruan tinggi dan mendatangkan mahaguru-mahaguru dari
Negeri lain.
— Letaknya amat strategis, ialah diantara dua Negara yang telah maju, yaitu India dan Tiongkok.
— Mempunyai bandar yang langsung menuju ke Kota Raja yang disebutnya Bandar Muara Musi.
— Pertahanan dengan pasukan tamtamanya yang amat kuat, terutama tamtama angkatan
samodranya. Dan terciptanya pertahanan yang kuat ini, berkat dukungan dan bantuan segenap lapisan
rakyat.
— Perdagangan dengan Negara-Negara lain mendapat perhatian penuh dari Kerajaan, dan
keamanan di lautan terjamin.

Tamtama dan Narapraja Kerajaan Negeri Tanah Me-layu benar- benar merupakan pelindung rakyat.
Para penyeleweng dan pemeras rakyat, dibrantasnya secara tegas dengan hukuman siksaan-
siksaan badan yang amat berat, tanpa pilih bulu. Kesejahteraan rakyatnya mendapat perhatian penuh
dalam tempat yang utama, hingga mereka pada umumnya dapat hidup tenteram serta dapat menikmati
penghidupan layak, dengan terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Demikianlah uraian dan catatan sejarah dari kedua Kerajaan dari Pulau Kedukan Bukit itu.
Tiga bulan lamanya pasukan Tamtama kerajaan Agung Majapahit dibawah pimpinan Yoga
Kumala dan Kobar berkemah di pantai Selatan Pajajaran, setelah mana Tumenggung Cakrawirya datang
berserta rombongan para tamtama Narasandi Kerajaan
– Aku percaya, bahwa kehendak Gustiku Baginda Maharaja Adhityawarman untuk Menaklukan
Kerajaan Sriwijaya tentu akan berhasil — Kata Cakrawirya sewaktu membentangkan keadaan Kerajaan
Sriwijaya pada Yoga Kumala dan Kobar beserta para perwira2 tamtama lainnya.
— Tentu saja, apabila didalam tubuh kita sendiri tak ada keretakan-keretakan, yang
menyebabkan lemahnya pasukan, — kata ia selanjutnya.
Dengan panjang lebar Cakrawirya memberikan penjelasan penjelasan tentang kedudukan
pertahanan Kerajaan Sriwijaya serta tak lupa pula memberikan petunjuk-petunjuk yang penting berguna
sebagai bekal dalam mengemban tugas selanjutnya.
Sebagai Manggala Tamtama Narasandi yang telah berpengalaman luas, ia menekankan, bahwa
kemenangan di medan yudha hanya tercapai, apabila dalam tubuh pasukan tak ada keretakan. Musuh
akan berusaha selalu untuk dapat berselimut dalam tubuh pasukan kita, dengan melalui celah-celah
keretakan keretakan yang ada, walaupun keretakan itu nampaknya amat kecil.
Dan disamping keutuhan yang harus terbina baik, pun ketabahan dan tingkah laku para
tamtama perseorangan merupakan hal yang menentukan pula.
— ini sangat penting untuk kau sadari sedalam-dalamnya, Kobar ! — kata Cakrawirya denan
tandas pada Kobar. Sinar pandang matanya menatap Kobar dengan amat tajam, sewaktu Cakrawirya
mengucapkan kata peringatan ini.
Dengan muka tertunduk, Kobar mendengarkan tanpa menjawab sepatah katapun. Mukanya
merah padam sampai diujung telinganya.
la merasa terhina akan peringatan demikian, namun karena takut ia tak berani menentangnya.
Kiranya tingkah laku dan sifat-sifat Kobar yang kurang baik itu, telah lama pula mendapat
sorotan dari Tumenggung Cakrawirya.
Menurut keterangan selanjutnya dari Cakrawirja, ia sendiri beserta rombongan tamtama
narasandi akan berkenan pula mengantarkan bantuan pasukan itu ke Kerajaan Negeri Tanah Melayu,
mewakili Gusti Senopati Manggala Yudha untuk menyerahkannya, Sedangkan para anggauta tamtama
Narasandi selanjutnya akan ditugaskan membantu terbinanya keamanan setelah nanti Kota Raja lawan
dapat diduduki.
Semua menyambut dengan gembira demi mendengar bahwa Cakrawirya beserta rombongan
para tamtama narasandi akan menyertai pula hingga sampai di Kerajaan Negeri Tanah Melayu.
Ratnasati, Indah Kumala Wardhani, Ktut Chandra dan Sampur Sekar merasa berbahagia demi
mendapat tugas yang amat mulia itu. Pun kesempatan untuk selalu berdekatan dengan kekasih masing
masing tentu akan menggembirakan.
Dan kiranya kesempatan baik inipun tak disia - siakan oleh Braja Semandang yang telah lama
menanggung derita terkena panah asmara Sampur Sekar.
Dengan sembunyi-sembunyi mereka berdua saling mengutarakan isi hati masing-masing dengan
hiasan kata-kata yang sangat lirih.
Lain halnya dengan Yoga Kumala. Dibalik kegembiraan, nampak adanya rasa murung karena
maksud untuk mengutarakan isi hatinya pada Ktut Chandra selalu tak sampai, terhalang dengan
kehadirannya Ratnasari yang selalu mendekatinya serta menunjukkan rasa kasih dengan kemurnian
hatinya. —
Dan untuk tidak mengecewakan, Yoga Kumala terpaksa menanggapi dua remaja putri itu
dengan senyum dan tawa yang terbagi. Pun demi tugas yang menjadi bebannya sebagai pembimbing
dan pelindung para putri tamtama narasandi, membuat ia selalu berlaku bijaksana. —
Sedangkan hubungan antara Indah Kumala Wardhani adiknya clan Sontani kini bertambah lebih
akrab dan mesra. Sepanjang hari mereka berdua bersendau gurau dan ber-cakap-cakap dengan
riangnya.
Dan ini semua menamhah meluapnya rasa benci yang telah lama terkandung dalam lubuk hati
Kobar.
Telah berulang kali Kobar bemaksud hendak melampiaskan nafsu kebencian pada Sontani, akan
tetapi selalu gagal karena terhalang dengan adanya Yoga Kumala. Sedangkan bagaimanapun Yoga
Kumala adalah menjadi atasannya langsung.
— Seandainya Yoga Kumala musuhku ini binasa, tentulah aku yang akan berkuasa — pikirnya,
Dan dendam kesumat Kobar yang telah lama dikandung selalu bangkit menguasai dirinya. —
— Bukankah amat mudah bagaikan membalikan telapak tangan saja, untuk menyingkirkan
Sontani dan memperistri Indah Kumala Wardhani, apabila kelak ia yang berkuasa? —

Suara bisikan iblis ditelinganya.


Satu-satunya perwira tamtama bawahannya yang ia menaruh penuh kepercayaan untuk
membantu niat jahatnya Kobar adalah Berhala.
Tetapi disesalkan, karena keshaktian Berhala terbatas dan berada dibawah tingkatan Sontani. Ia
masih ingat akan kegagalan pada setengah tahun berselang, sewaktu ia mencegat perjalanan Yoga clan
Sontani di dekat desa Kasiman. Ia sengaja memakai kedok pada waktu itu, agar wayahnya tak dikenal.
Tetapi sayang, bahwa sebelum berhasil, Berhala dan seorang temannya lari meninggalkan gelanggang,
karena jeri melihat seorang temannya lain mati terpancung kepalanya oleh sabetan pedang Sontani.
Lima hari kemudian armada iring iringan perahu layar dengan duaja - duaja kebesaran serta
bendera keagungan "Gula Kelapa" yang berkibar megah di masing2 puncak tiang bendera, bergerak
mengarungi Samodra Raya Nuswantara ke arah Barat laut dengan tujuan Bandar Teluk Bayur Kerajaan
Negeri Tanah Melayu.
Cuaca cerah, dan angin meniup dengan kencang. Layar-layar mengembang penuh, dan
mempercepat lajunya perahu-perahu Iayar itu yang sedang mengarungi samodra.
Gelombang - gelombang ringan bergulung gulung menggempur dinding-dinding perahu layar
dengan tanpa mengenal jemu, dan terasalah goncangan goncangan dalam perahu dengan tiada
hentinya. —
Lima hari lima malam lamanya Armada iring iringan perahu layar yang mengangkut pasukan
tamtama Kerajaan Agung Majapahit itu mengarungi samodra, dan ternyata di lautan, putra putra
Nuswantata menunjukkan kemahirannya yang dapat dibanggakan.
Kini Armada telah sampai di Teluk Bayur Dengan rapinya iring-iringan perahu perahu layar itu
memasuki Bandar, serta kemudian melepas jangkar untuk berlabuh.
Pasukan yang dipimpin oleh Yoga Kumala dan Kobar semuanya mendarat mengiringkan
Tumenggung Cakrawirya beserta para tamtama narasandi yang akan bertindak sebagai utusan Sri
Baginda Maharaja Rajasanegara, mewakili Gusti Senopati Manggala Yudha Adhityawardhana.
Kedatangannya disambut dengan upacara kebesaran yang amat meriah oleh para priyagung
berserta seluruh tamtama Kerajaan Negeri Tanah Melayu atas titah Sri Baginda Maharaja
Adhityawarman sendiri.
Pada esok harinya Sri Baginda Maharaja berkenan mengadakan pasewakan paripurna secara
tertutup yang dihadliri oleh segenap para Manggala serta para pimpinan pasukan bantuan dari
Majapahit, guna merundingkan sia-sat penyerangan untuk menggempur Kerajaan Sriwijaya.
Dalam pasewakan paripurna yang berlangsung tiga hari berturut-turut dan dipimpin sendiri Sri
Baginda Maharaja Adityawarman itu, Tumenggung Cakrawirya memberikan laporan tentang keadaan
Kerajaan Sriwijaya pada dewasa ini, serta saran-saran sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan
siasat perang, agar tidak mengalami kegagalan.
Dengan panjang lebar dipaparkan, bahwa kekuatan pasukan iawan tak dapat di anggap kecil.
Segi-segi kelemahan lawan yang titik beratnya terletak pada kerusakan akhlak perseorangan para
priyagung serta sebagian besar para tamtama dan naraprajanya, tak ketinggalan diutarakan pula dalam
sidang paripurna itu.
Sedangkan keadaan alam sekitar Kota Raja Sriwiiaya yang dilintasi oleh banyak sungai-sungai itu,
menjadi perhatian pula demi menentukan siasat selanjutnya.
Peta bumi daerah Kerajaan Sliwijaya dibeberkan, dan segenap para manggala mempelajarinya
dengan saksama.
Pendapat masing - masing dikumpulkan serta disaring, dan akhirnya Sri Baginda Maharaja
berkenan sendiri memberikan ketentuan siasatnya.
Jambi Kota Raja yang lama dipilihnya sebagai tempat pemusatan induk pasukan. Kemudian
sebagian akan dikirim langsung dengan perahu-perahu layar untuk menduduki sepanjang Sungai Mesuji
dengan melewati Selat Pulau Kota Kapur. Dari sanalah serangan permulaan akan dimulai dan bergerak
kearah selatan mengikuti mengalirnya Sungai Komering untuk selanjutnya menduduki Kayu Agung.
Serangan permulaan itu dimaksudkan sebagai pancingan untuk mengalihkan sebagian kekuatan
pertahanan lawan yang berada disepanjang Sungai Musi.
Sebagian kekuatan pasukan lagi akan bergerak menuju hulu Sungai Banyuasin dan dari sanalah
mereka mendesak ke arah tenggara untuk langsung menyerang pertahanan lawan yang terkuat
disepanjang Sungai Musi, dengan dibantu oleh sebagian pasukan lagi yang akan bergerak dari muara
Sungai Banyuasin.
Dengan demikian Kota Raja Sriwijaya diharapkan terkepung tertebih dahulu, sesaat sebelum
surat penantang perang disampaikan.
Setelah garis besar siasat penjerangan itu ditentukan serta di fahami dengan saksama oleh para
Manggala dan priyagung yang hadfir, maka Pasewakan paripurna segera dibubarkan.
Kini semua sibuk untuk mempersiapkan diri dalam tugas masing-masing, siaga menghadapi
perang besar.
Gusti Tumenggung Cakrawirya kemudian dengan diantar oleh para priyagung sampai di Bandar
Teluk Bayur, berlajar meninggalkan Pulau Kedukan Bukit menuju ke Kerajaan Agung Majapahit.
Sedangkan para tamtama narasandi ditinggalkannya untuk bergabung menjadi satu dengan pasukan
bantuan yang dipimpin oleh Yoga Kumala.
— Perang — . . . demi terbebasnya penderitaan rakyat. . . . . — perang — . . demi terwujudnya
keutuhan bangsa, dan sekali lagi — perang — demi kejayaan lambang shakti Bendera Kesatuan se
Nuswantara nan Agung Sang "Gula Kelapa"
Demikianlah sembojan Kerajaan Negeri Tanah Melayu yang disematkan di dada pada tiap-tiap
tamtama Kerajaan yang akan melakukan perang besar-besaran.
— Dalam ,.perang suci„ ini, segenap tamtama yang mengemban titah Maharaja junjungannya,
harus memiliki keyakinan penuh, bahwa Dewa Kemenangan tentu akan berada difihaknya. Mati
dimedan Yudha adalah „Pahlawan Bangsa„ yang akan dikenang sepanjang masa, serta menjadi
kebanggaan para keluarga yang ditinggalkannya. Demikianlah pengertian seorang tamtama.
Sebelum berangkat ke medan YuDha mereka bermandi jamas dengan air bunga rampai suci.
Kuil-kuil dan candi-candi serta tempat-tempat suci lainnya telah penuh dengan kembang setaman dan
sesajian beraneka macam dan warna.
Semua Pendeta memanjatkan do`a dan mantra-mantra, demi tercapainya kemenangan.
Akan tetapi „perang„ bagi rakyat kecil, adalah malapetaka .,Perang., adalah sesuatu yang dibenci
dan tak diinginkan oreh rakyat. Menang ataupun kalah, rakyat akan tetap menderita karenanya. Dikala
itu, waktu telah lewat tengah malam. Namun belum juga terdengar suara ayam berkokok yang pertama.
Langit biru membentang bersih, dan berkeredipnya bintang-bintang diangkasa laksana cahaya
taburan batu permata.
Alun-alun Kota Raja Negeri Tanah Melayu kelihatan terang benderang geperti diwaktu siang
teagah hari, karena pancaran sinar nyalanya lampu-lampu obor yang tak terhitung jumlahnya.
Suara ringkikan kuda yang beribu-ribu dan suara bercakap-cakapnya para tamtama yang tak
terhitung jumlahnya, walaupun lirih berkumandang mendengung bagaikan lebah dalam sarang,
memecah kesunjian tengah malam itu.
Seakan-akan pada malam itu seluruh Kota Raja dalam keadaan bangun. Barisan-barisan
tamtama Kerajaan memenuhi alun-alun yang amat luas itu, bahkan hingga meluap keluar batas tembok,
dijalan - jalan raya. Semua dalam keadaan siap siaga untuk berangkat ke medan Yudha.
Panji - panji kebesaran serta lambang - lambang barisan kesatuan dan Bendera Shakti Dwiwarna
berkibar-kibar megah dalam barisan yang terdepan.
Setelah upacara pemeriksaan barisan selesai, dan segenap pasukan selesai pula memanjatkan doa pada
Dewata Yang Maba Agung untuk mohon perlindunganNya, dibawah pimpinan para Pendeta Istana, kini
pasukan besar Kerajaan Negeri Tanah Melayu mulai bergerak meninggalkan Kota Raja, ke arah Tenggara
dengan tujuan Kota Raja yang lama ialah Jambi.-
Sang Senopati Manggala Yudha Bintang Minang, berkenan sendiri memimpin pasukan besar
yang akan berangkat ke medan Yudha itu.
Suara mengaungnya gong dipukul tiga kali dan disusul dengan tiupan seruling serta bertalunya
genderang yang memekakkan telinga, mengiringi bergeraknya pasukan besar meninggalkan Kota Raja.
Suara gemerincingnya senjata-senjata yang bergesekan, ringkikan kuda yang sahut menyahut,
serta derap langkah kaki kuda yang gemuruh tak ada putusnya, membangunkan desa-desa yang sedang
tenggelam nyenyak dalam kesunyian malam. Namun para penduduk desa-desa yang dilaluinya itu, tak
seorang berani menampakkan dirinya. Mereka hanya mengintip dari celah-celah dinding bambu
anyaman, sambil memondong dan mendekap anak-anak kecil mereka dengan penuh rasa takut. karena
tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan diantaranya banyak pula yang tcrgopoh-gopoh
berkemas-mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu dapat segera lari mengungsi ke lain desa, apabila
terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Bahkan ada pula yang menjumbat mulut anak-anaknya sendiri,
mencegah keluarnya suara tangis, sambil duduk gemetar, tak tahu apa yang harus diperbuat
selanjutnya.
Hal itu sebenarnya tak mengherankan, karena mereka samasekali tak mengetahui sebelumnya,
bahwa hari itu Kerajaannya akan memulai dengan perang besar, mengendihkan Kerajaan Sriwijaya.
Pasukan besar yang berkekuatan tak kurang dari lima belas ribu tamtama bersenjata itu,
bergerak melalui sebelah barat kaki gunung Sulasih, dan kini tiba di hulu Sungai Batanghari.
Setelah berjalan 7 hari lamanya dengan mengikuti mengalirnya Sungai Batanghari, pasukan tiba
di desa Muara Tebo yang terletak antara persimpangan Sungai Batanghari dan muara Sungai Tebo yang
mengalir menjadi satu dengan Sungai besar Batanghari itu.
Sehari semalam pasukan beristirahat di dataran muara Sungai Tebo guna memulihkan tenaga.
Dan setelah itu, pasukan bergerak lagi mengikuti mengalirnya Sungai Batanghari selama dua hari dua
malam hingga tiba di muara Sungai Trembesi, anak cabang dari Sungai Batanghari pula. Setelah pasukan
melepaskan lelah dengan berkemah semalam Iamanya, kini bergerak lagi langsung menuju kota Jambi
yang tak jauh lagi letaknya.
Pasukan berkuda mendahului memasuki Jambi untuk mempersiapkan segala sesuatu yang
bertalian dengan penampungan induk pasukan besar Kerajaan Negeri Tanah Melayu itu.
Mendadak sontak kota Jambi menjadi ramai kembali, penuh dengan para tamtama. Pertahanan
- pertahanan batas kota dibangun dengan amat kokohnya.- Pada esok harinya para Manggala dan
segenap perwira-peraira tamtama merundingkan siasat penyerangan selanjutnya, sesuai garis-garis
besar yang telah ditentukan.
Dua pertiga bagian dari induk pasukan dengan kekuatan sebanyak kira-kira 10.000 orang
tamtama kemudian dipecah-pecah menjadi ampat bagian.
Sebagian pasukan dibawah Senopati Manggala tamtama Samodra Damar Kerinci yang
berkekuatan 3000 tamtama mendahului berlayar menyusuri pantai kearah tenggara dengan melalui
Selat Pulau Kota Kapur (Bangka) untuk kemudian menuju Sungai Mesuji.
Menyusul kemudian Kobar dengan didampingi oleh Berhala dan Gumarang memimpin pasukan
berkekuatan 3000 tamtama dengan tujuan Muara Sungai Banjuasin, untuk kemudian menyerang
pertahanan dekat Kota Raja yang berada di muara Sungai Musi. Dan bersamaan dwngan itu, 1000 orang
tamtama mengawal Sang Senopati Muda dari Kerajaan Negeri Tanah Melayu yang bertindak sebagai
utusan Sri Baginda Maharaja Adhityawarman langsung menuju ke Kota Raja Sriwiyaja, dengan melalui
Bandar Muara Musi, untuk menyampaikan surat penantang perang.
Yoga Kumala dengan didampingi oleh Sontani dan Braja Semandang dIserahi tugas memimpin
pasukan berkekuatan 3000 orang tamtama berkuda, dengan tujuan ke dataran hulu Sungai Banjuasin,
untuk kemudian langsung menggempur pertahanan lawan yang terkuat di sepanjang Sungai Musi.
Sedangkan induk pasukan yang tinggal berkekuatan kira-kira 5000 orang tamtama, dimaksudkan
sebagai cadangan dan akan bergerak mengikuti pasukan Yoga Kumala dalam jarak yang agak jauh untuk
dapat mengambil alih serta menguasai medan yudha. apabila pasukan Yoga Kumala mengalami
kegagalan. Dengan demikian maka tugas Induk pasukan adalah sebagai godham terakhir.
Jala Mantra memimpin pasukan penghubung, sedangkan para tamtama narasandhi ditugaskan
untuk mengikuti induk pasukan, sebagai penunjuk jalan setelah nanti dapat memasuki Kota Raja lawan,
ataupun melaksanakan tugas - tugas khuus apabila dipandang perlu.
Sementara Jambi ditinggalkan, pasukan baru yang diberangkatkan dari Kota Raja diperkirakan
telah tiba dan menggantikan kedudukannya, dengan tugas-tugas menyusun pertahanan demi mencegah
kemungkinan gagalnya serangan serta menanggulangi serangan - serangan balasan lawan, Tiap - tiap
pasukan yang kini mulai bergerak disertai pula dengan para penunjuk jalan yang telah mengenal dengan
baik akan keadaan alam sekitarnya yang akan dilalui.—
— Berapa hari lagi kita sampai di tempat tujuan, Gusti Yoga? — tiba-tiba Sontani bertanya,
memecah kesunyian sambil masih berkuda disamping Yoga Kumala.
— Yaaa . . . . . Aku sendiri belum tahu dengan pasti! — jawab Yoga Kumala singkat dengan
mengerutkan keningnya, serta mengusap keringat yang membasahi muka dengan lengan bajunya.
— Sebaiknya kita berhenti sebentar ditengah hutan ini, dan panggilah segera si Dirham
penunjuk jalan kita yang berada di depan itu! — Perintah Yoga Kumala pada Sontani selanjutnya.
Dengan tangkas Sontani memacu kudanya untuk menyampaikan perintah Yoga Kumala pada
perwira-perwira tamtama pimpinan kelompok-kelompok, agar mereka menghentikan pasukannya
masing-masing, sedangkan Braja Semandang tanpa diperintah lagi telah memacu kudanya untuk
menyusul Dirham si penunjuk jalan yang kemudian segera kembali menghadap Yoga Kumala
bersamanya.
— Dirham! berapa lama lagi kita akan sampai di hulu Sungai Banyuasin? — Yoga bertanya.
— Jika tak ada rimangan, perjalanan itu dapat ditempuh dalam waktu dua hari, Gusti
Tumenggung! Akan tetapi . . . . . .—
— Akan tetapi . . . . . apa lagi?! — Desak Yoga Kumala.
Berkata demikian Yoga Kumala turun dari pelana kudanya dan dikuti oleh Dirham, Sontani dan
Braja Semandang untuk kemudian duduk ditanah dibawah sebuah pohon rindang ditengah hutan,
setelah mana mereka menambatkan kudanya masing-masing.
Sambil duduk menghadap Yoga Kumala, Dirham melanjutkan bicaranya.
— Maksud saya . . . . . setelah nanti Tuanku Gusti Tumenggung beserta pasukan menyeberangi
Sungai Tungkal, saya hendak mendahului berkuda sampai di daerah keluang. Dan apabila keadaan
disana aman, saya akan segera kembali untuk melapor pada Gusti.
— Daerah keluang?! Daerah siapa dan dimana itu?! —
Daerah keluang adalah daerah perbatasan antara Negeri kita dan Kerajaan musuh. Sedang
dinamakan keluang, adalah karena daerah itu merupakan daerah yang tak bertuan. Pun keadaan alam di
daerah Itu tak ubahnya seperti disini. Hutan belukar! Gusti! —

— Berapa jauh Sungai Tungkal dari sini? —


— Jika sekarang pasukan mulai bergerak, sebelum petang hari, tentu telah dapat melintasi
Sungai Tungkal Gusti!
— Baik! Sontani! Braja Semandang! Perintahkan seluruh pasukan bergerak lagi ke arah utara
lurus, Sekarang! Dan setelah petang nanti melintasi Sungai Tungkal, masing - masing kelompok supaya
mencari tempat untuk berkemah dalam bentuk pasukan „Naga Tapa"
— O. . . . . . ya . . . . . ! Jangan lupa akan perubahan sandiwara untuk petang nanti serta
penjagaan keamanan! —
Semua segera siap diatas punggung kuda masing - masing, dan pasukan bergerak maju lagi
melalui hutan belukar dan rawa- rawa.
Sebelum senja pasukan telah menyeberangi Sungai Tungkal, dan mereka berhenti berkemah,
sementara Dirham dan Sontani dengan membawa pasukan pengawal bergerak terus menyusupi hutan
belukar ke daerah keluang untuk melihat keamanan di sekitar daerah itu.
Dengan didampingi oleh Braja Semandang dan diiringkan pasukan pengawal, Yoga Kumala
memeriksa segenap pasukan berserta perbekalannya.
Perwira-perwira tamtama dan segenap pimpinan kelompok kelompok pasukan dikumpulkan,
untuk menerima petunjuk-petunjuk tentang gerakan pasukan selanjutnya. Pun pada mereka
diperintahkan, agar kewaspadaan lebih ditingkatkan, karena pasukan kini berada tak jauh dari daerah
perbatasan musuh.
Terkecuali para tamtama yang berjaga, pengawal pengintai dan tamtama peronda keliling,
semua pasukan pada malam itu diperkenankan istirahat dalam kubu masing-masing.
Suasana amat sepi, dan gelap malaan yang pekat itu menambah tegangnya perasaan para
tamtama yang sedang bertugas jaga.
Tiba-tiba terdengar suara anjing hutan melolong panjang serta menyeramkan dari tempat
pengawal pengintai yang berada tinggi diatas pohon tengah hutan. dan sesaat kemudian dari kejauhan
terdengar suara burung hantu menggema dimalam menjelang fajar yang sunyi itu, disusul dengan suara
derap langkah kuda yang kian mendekat.
Mereka yang datang itu adalah Sontani dengan Dirham berserta pengawalnya. Setelah melewati
tempat pengawal pengintai; mereka berjalan langsung menuju ke kemah besar di mana Yoga Kumala
berada.
— Gusti Yoga! Sekitar daerah keluang aman! Akan tetapi setelah melewati daerah keluang
terdapat dataran terbuka yang amat luas dengan batas Sungai Batangharileka di sebelah barat, dan di
sebelah tenggara utara terbatas pada hutan dimana hulu sungai Banjuasin bersumber. Kami telah
berusaha mendekat dengan menjusuri tebing-tebing bungai Batangharileka. Dan dari sanalah kami
dapat melihat adanya pengawal pengintai di hutan itu. Sontani memberikan laporannya.
— Baiklah! Jika demikian, esok malam saya akan memerintahkan sebagaian pasukan panah
untuk memasuki hutan itu. Dan jika kupandang perlu, saya sendirilah yang akan memimpinnya.
Sekarang kau dan Dirham serta para pengawalmu sebaiknya istirahat dulu! — Perintah Yoga Kumala.

*
**
B A G I A N IV
MALAM ITU amat gelap. Awan hitam tebal menggantung di angkasa, dan hujan rintik -
rintikpun mulai turun, Suara guntur gemuruh susul menyusul dalam malam yang pekat itu, diseling
dengan suara mengamparnya petir yang berkilatan menyambar nyambar diudara. —
Barisan tamtama pemanah yang berkuda sebanyak kira2 100 orang dibawah pimpinan Yoga
Kumala sendiri itu masih saja bergerak maju dengan pesatnya, menyusuri tebing-tebing sungai
Batangharileka yang amat licin dan berliku-liku kearah muara.
Mereka basah kuyup dan sesekali ada yang jatuh terperosok karena bertekok-lekoknya serta
licinnya jalan yang di laluinya. Namun pasukan berjalan terus tanpa mengindahkan gangguan hujan
maupun gelapnya sang malam.
— Malam ini kita harus dapat menguasai hutan yang berada dihulu sungai Banyuasin itu, — kata
Yoga Kumala pada Sontani, sambil memacu kudanya.
— Tugas ini sesungguhnya Gustiku dapat menyerahkan sepenuhnya pada diri saya, — jawab
sontani yang berkuda disampingnya.
— Pendapatmu memang benar. Tetapi aku bermaksud ingin mengetahui sendiri keadaan
dihutan itu. Karena jika mungkin, sebelum fajar pasukan seluruhnya akan kupindahkan kesitu. —
—O , begitukah maksud Gusti Yoga! Jika demikian, sayapun hanya mentaati perintah Gustiku! —
Pembicaraan masing-masing terlalu singkat, hingga sukar untuk diikuit oleh yang mendengar
akan percakapannya.

Kedua duanya menunjukkan wajah yang bersungut-sungut. Langkah kudanya berderap tetap, clan
mereka berduapun selalu berjajar berdampingan, disusul oleh para tamtama yang berkuda urut-urutan
memanjang dibelakangnya.
Dataran terbuka yang luas itu, kini teIah dilaluinya hampir separo.
Tiba-tiba jauh diketinggian sebelah utara tenggara terlihat melintasnya panah api susul
menyusul lungga tiga kali. Dan bagaikan terhalang rintangan tinggi yang menghadang didepannya, Yoga
Kumala mengekang tali lis kudanya dengan santakan karena terperanjat, hingga sikuda berhenti seketika
dengan berdiri sesaat diatas kedua kakinya belakang sambil mengeluarkan suara ringkikan.
— Ah! Terlambat! — Geramnya.
— Apa yang dimaksudkan dengan terlambat, Gusti? — Sontani turut pula menghentikan langkah
kudanya secara tiba-tiba, sambil bertanya dengan penuh kecemasan.
Sesungguhnya ia pun melihat pula adanya panah api yang berturut-turut melintasi di ketinggian
jauh di sebelah teng gara itu, akan tetapi sedikitpun ia tak tahu akan arti maksudnya.
Dan kini tanpa mendapat penjelasan dari Yoga Kumala, tiba-tiba ia mendengar desisan gumam
Yoga Kumala yang jelas menunjukkan rasa penjesalan
— Gerangan apakah yang menjadikan murkanya Gustiku ini — pikirnya.
— Sontani! — Esok fajar perang terbuka sudah dimulai! Cepatlah kau kembali, dan perintahkan
seluruh pasukan bergerak maju.
Sebelum fajar kita harus dapat mengepung kota Raja Iawan dari sebelah barat! Ketahuilah,
bahwa panah api yang baru saja terlintas itu adalah isyarat, bahwa perang telah diumumkan. Dan
pasukan-pasukan penyerang kita yang lain, tentu telah mengepungnya dari sebelah timur dan selatan.
Kini tinggal kita sendirilah yang terlambat — Aku beserta pasukan panah yang ada ini akan menduduki
hutan yang berada di depan kita itu, sambil menanti kedatanganmu berserta seluruh pasukan?! —
Perintah Yoga Kumala dengan tegas.
Tiba2 jauh diketinggian sebelah utara tenggara terlihat melintasnya panah api susul menyusul
hingga tiga kali. Dan bagaikan terhalang rintangan tinggi yang menghadang didepannya, Yoga
Kumala mengekang tali lis kudanya dengan sentakan karena terperanjat….

Seakan-akan tak ada waktu lagi untuk menjelaskan lebih lanjut.


Akan tetapi sebagai seorang perwira tamtama yang cerdas, Sontani cepat dapat menangkap isi
perintah keseluruhannya. Pun ia segera dapat menarik kesimpulan, bahwa panah api yang baru saja
dilihatnya tentulah suatu isyarat dari Bupati anom Kobar.
Dengan tangkasnya ia memutarkan kudanya, serta memacunya, setelah mengucapkan singkat:
— perintah Gustiku saya junjung tinggi?! —
Sementara itu Yoga Kumala baserta pasukan tamtama yang berkuda berjalan terus, menyusuri
tebing tebing sungai Batanghariteka yang berkelok-kelok dan licin itu dalam kegelapan malam, dengan
didampingi oleh Dirham si penunjuk jalan.
Sepatahpun Yoga Kumala tak berkata, selama ia menempuh perjalanan.
Mulutnya terkatub rapat, dan sebentar-sebentar sambil memacu kudanya ia mengusap air hujan
yang membasahi muka dengan lengan bajunya.
— Mengapa isyarat panah api itu munculnya dengan tiba-tiba saja, dan tak menurut ketentuan
yang telah digariskan oleh rencana semula?
Bukankah isyarat panah api itu seharusnya lusa malam baru akan muncul? Ataukah ada sesuatu
kejadian yang tak terduga-duga, hingga terpaksa perang besar harus dimulai esok fajar? —
Menurut perhitungan Yoga Kumala, ia beserta pasukannya telah akan tiba di hulu Sungai
Banyuasin dua hari lebih cepat dari pada rencana.
Akan tetapi kini bahkan hampir hampir saja ia beserta pasukan menjadi terlambat
Atau, mungkinkah Kobar mendahului membuka serangan dari muara sungai Banyuasin sebelah
timur Kota Raja sesaat setelah surat penantang perang sampai ditangan musuh? Akan tetapi apabila
demikian, bagaimana nasib Sang Senopati muda yang bertugas mengantarkan surat penantang perang
itu? Tentulah mereka semua menjadi tawanan musuh.
Ah, . . .. . itu kiranya tak mungkin. — Atau . . . . bocorkah rahasia siasat kita? — Sampai disini
pikiran Yoga Kumula menjadi kalut. Jantungnya berdebar debar penuh rasa kecemasan.
Ah, . . . . tak mungkinl — Ia mengbibur diri sendiri.
Namun masih saja rasa cemasnya berkecamuk didalam benak hatinya. Mungkin terjadi
sebaliknya. Musuh yang memulai melanggar tata susila Yudha, dan menawannya Gusti Senopati muda
berserta seluruh pengawal yang mengantarkan surat penantang perang itu, hingga Kobar terpaksa
membuka serangan lebih cepat daripada rencana yang telah ditentukan pikirnya.
— Untung saja, pasukanku telah berada tak jauh lagi dari tempat tujuan.—
Dan sebagai orang shakti janng terlatih ia dapat dengan cepat menenangkan kembali perasaan2-
nya yang diliputi kekalutan itu.
Hujan turun semakin deras dan gunturpun masih saja menggelegar susul menyusul dengan
diselingi berkilatnya petir yang membelah kegelapan malam di angkasa.
— Dirham! Perintahkan pada tamtama barisan panah itu untuk mulai menyebar ! Sepertiga
bagian di sayap kiri, dan yang lainnya menduduki sayap kanan, membentang hingga ujung hutan sebelah
utara? — Perintah Yoga Kumala memecah kesunyian dengan tiba-tiba, sambil memperlambat langkah
kudanya.
Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, Dirham segera mengambil cerobong, yalah
potongan bambu yang berisikan kunang-kunang sebangsa binatang2 kecil sejenis serangga yang
memancarkan cahaya berkedip-kedip diwaktu malam, dari dalam kantong bajunya.
Cerobong potongan bambu itu diacung acungkan menghadap kebelakang, yang segera dapat
dilihat terang oleh para tamtama berkuda yang mengikuti dibelakangnya.
Sesaat cerobong bambu kunang2 itu digoyang-goyangkan, sebagai isjarat aba aba akan gerakan
pasukan selanjutnya, sesuai dengan perintah Yoga Kumala. Dan kemuclian dimasukkan cerobong itu
dalam kantong bajunya kembali.
Tak lama kemudian, dua pertiga bagian dari barisan panah yang berada di belakang itu segera
memacu kudanya masing-masing untuk mendahului jalan di depan, sedangkan sepertiga bagian yang
lain merapat dibelakang Yoga Kumala.
Kini dengan tangkasnya para tamtama barisan panah itu menjelinap ke dalam hutan yang gelap
pekat.
Mereka menyusupi hutan dalam bentuk garis memanjang hingga sampai pada ujung sebelah
utara dengan penuh kewaspadaan. Gerakan mereka amat gesit, bagaikan kucing yang sedang mencari
mangsa.
Selain dari pada suara terinjaknya ranting ranting patah yang segera hilang tertelan oleh suara
lebatnya hujan, tak terdengar lagi.
Tak lama kemudian terdengar suara jeritan tertahan susul - menyusul dan disusul oleh suara
jatuhnya dua sosok tubuh manusia dari atas pohon yang terbanting ditanah dengan masing-masing
tertancap sebatang anak panah dipunggung dan kepalanya. Dan setelah itu, suasana menjadi sunyi
hening kembali.
Ternyata dalam gelap malam yang pekat itu, para tamtama barisan panah dapat pula
menunjukkan kemahirannya.
Cepat Yoga Kumala melompat turun dari kudanya dan melangkah menuju ke tempat suara
jatuhnya seorang pengintai musuh yang berada tak jauh didepannya dengan diikuti oleh Dirham.
Akan tetapi, sewaktu Yoga Kumala melompat turun dari kudanya dan kemudian menghampiri
sambil berjongkok meraba-raba pada tubuh orang yang telah menjadi mayat itu, tiba-tiba seorang
pengintai musuh berkelebat melayang turun dari dahan pohon yang berada diatasnya, dan langsung
menyerangnya dengan tusukan pedang.
Namun kiranya Yoga Kumala telah siap siaga pula untuk menghadapi setiap serangan yang tiba
tiba.
Pendengarannya yang amat tajam serta perangsang perasaan nalurinya, membuat ia tangkas
bergerak. la berguling ditanah, sambil langsung menyerang dengan totokan jari-jarinya tangan kiri yang
telah mengembang tegang kearah punggung lawan yang baru saja berpijak ditanah.
Tak ayal lagi, dalam satu gebrakan orang itu menjerit dan jatuh tersungkur ditanah serta
menjadi lumpuh seketika.
Ternyata jalinan syaraf penggerak kedua kakinya telah tepat terkena serangan totokan jari-jari
Yoga Kumala. Dengan satu loncatan Yoga Kumala telah menangkapnya serta menyumbat mulut orang
itu dengan dekapan telapak tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya melintir lengan musuh sebelah
kanan dengan cengkeraman yang amat kuat, sambil berseru mengancam : — Jangan bergerak dan
jangan bersuara !!! — Suaranya yang pendek tertahan serta parau itu jelas mengandung perbawa daya
shakti, hingga orang yang diancamnya menggigil tak berdaya.
— Dirham ! Ikat orang ini erat-erat diatas punggung kudamu dan sumbatlah mulutnya ! Perintah
Yoga Kumala kemudian pada Dirham yang berada di belakangnya.
Dengan mudahnya pengintai lawan itu diringkus serta diseretnya oleh Dirham dengan dibantu
oleh dua orang tamtama, untuk kemudian di ikat erat-erat diatas punggung kuda dengan mulutnya
tersumbat.
Pasukan panah masih terus bergerak maju dengan serempak, menyusupi hutan ke arah timur,
sementara Yoga Kumala dan Dirham serta dua orang tamtama menunggu tawanannya ditengah-tengah
hutan.
Tak berapa lama kemudian seorang pemimpin barisan panah yang berpangkat penatus tamtama
datang menghadap pada Yoga Kumala, serta memberi tahukan bahwa didalam hutan sampai pada
sumber hulu sungai Banyuasin itu tak nampak adanya pertahanan maupun penjagaan2 musub.
— Tak mungkin! Untuk apa musuh menempatkan pengintai disini, jika dalam hutan ini tak ada
pertahanan ataupun kubu-kubu musuh – , bantah Yoga Kumala dengan suara yang menggeram serta
wajahnya bersungut sungut.
— Tetapi kami telah memeriksanya dengan teliti, Gusti ! Yang ada hanya bekas-bekas api
unggun yang telah basah dingin karena tersiram air hujan ! Dan itupun mungkin telah sejak sore tadi
ditinggalkan! —
— Dan disekitar bekas api unggun itu, apakah tak ada tanda - tanda lain yang mencurigakan ? ? !
! — Desak Yoga
— Kami rasa, tidak ada, Gusti! Keadaan sekitarnya sunyi sepi !—.
— Aneh ! Sungguh aneh ! Coba kau korek dari mulut seorang tawanan itu! Mungkin dapat
menemukan keterangan2 yang penting !!
— Baik, Gusti!– Jawab penatus tamtama barisan panah itu dengan singkat, serta segera
menjalankan tugasnya.
Hujan telah mulai berhenti, dan awan tebal hitam yang menjelimuti langitpun telah lenyap
terhembus angin.
Kini bintang-bintang telah mulai menampakkan cahayanya, walaupun masih bersinar pudar.
Malampun telah hampir larut mendekati merekahnya fajar.
Ternyata setelah dengan siksaan berbagai macam, dari orang tawanan itu hanya mendapatkan
keterangan, bahwa pertahanan perbatasan sejak hari sore telah ditinggalkan. Sedangkan tiga orang
pengintai itu mendapatkan tugas untuk mengamat-amati di sekitar hutan, dan pada fajar nanti mereka
ketiga tigana diharuskan kembali pada induk pasukannya yang berada di seberang sungai Banyuasin,
dekat batas hota Raja untuk melaporkannya.
Tiba tiba saja suara gemuruhnya derap langkah kuda terdengar semakin jelas, dan regemangnya
pasukan yang terdiri dari beribu-ribu tamtama berkuda dari kejauhan disebelah utara, nampak makin
terang. Seakan-akan sepanjang sungai Batangharileka yang menghadapkan dataran terbuka itu penuh
dengan tamtama berkuda.
Akan tetapi, . . . bersamaan dengan datangnya pasukan Yoga Kumala yang dipimpin oleh Braja
Semandang dan Sontani itu, terdengar pula suara gemuruh yang lebih dahsyat dari barat yang tak putus-
putus. Ternyata pasukan musuh yang jauh lebih besar telah bergerak maju, menutup sepanjang tebing
sungai Tungkal, menghadapkan kearah pasukan Yoga Kumala yang baru saja tiba, dari jarak yang masih
cukup jauh.
Sesaat Yoga Kumala terperanjat, melihat besarnya pasukan musuh yang kini harus dihadapinya
itu. Peluh dingin keluar dari jidatnya, demi menyaksikan bergeraknya pasukan lawan yang tak diduga
duga itu. Ternyata bukannya ia mengepung lawan, akan tetapi kini lawanlah yang mengepung
pasukannya, Jelas bahwa lawan mengambil kedudukan dan bergerak dalam bentuk barisan "Dhiradha
meta" atau disebutnya pula "gajah bangun".
Demikian pula perasaan yang menguasai Sontani dan Braja Semandang serta para perwira-
perwira tamtama lainnya. Mereka hanya dapat saling berpandangan dengan mulut masing masing yang
terkunci. perasaannya diliputi oleh ketegangan yang tak terhingga. Mereka diam bagaikan patung,
menunggu datangnya suara perintah dari pimpinannya yang tertinggi ialah Yoga Kumala.
Kebimbangan segenap para perwira tamtama itu, segera dapat diketahui oleh Yoga Kumala yang
tengah mengadakan pemeriksaan barisan secara sepintas lalu dengan pandang matanya yang tajam.
Dan sebagai seorang Bupati tamtama yang memilik i kesaktian serta terlatih, Yoga Kumala
segera dapat menguasai kembali ketenangan pada diri pribadinya.
Dengan suara yang lantang dan bersikap perkasa diatas punggung kudanya, ia membangkitkan
semangat joang para tamtama pasukannya yang kini nampak dalam kebimbangan itu.
— Hai Saudara - suidara segenap tamtama Kerajaan Negeri Tanah Melayu yang kita agungkan!
Ketahuilah, bahwa peperangan besar sesaat lagi akan segera dimulai. Percayalah, bahwa kemenangan
pasti akan barada difihak kita. Tak usah kalian bimbang, karena melihat besarnya barisan lawan !
Kemenangan tidak ditentukan oleh besarnya pasukan serta ampuhnya persenjataan, akan tetapi
ditentukan oleh ketabahan, keberanian, ketangkasan dan ketinggian budi pada pribadi saudara masing-
masing yang tergabung dalam pasukan dibawah pimpinan saya. Saya percaya sepenuhnya, bahwa apa
yang telah saja kemukakan itu, kini telah dimiliki oleh saudara-saudara sekalian.
Seorang tamtama yang mengemban tugas suci, tak akan kenal menyerah, serta pantang
meninggalkan gelanggang medan - laga tanpa perintah!
Nah! Junjunglah tinggi-tinggi titah Gusti Seri Baginda Maharaja yang kita mulyakan itu! Dewata
Yang Maha Agung akan menyertai kita semua! — . . . .
Suaranya menggema penuh daya perbawa, dan jelas dapat ditangkap oleh segenap para
tamtamanya.
Dan demi mendengar ketegasan pemimpinnya itu, semangat tempur pasukan kini menjadi
menyala kembali. —
Perintahnya kemudian: Sontani! Tempatkan barisan panah pada ujung kedua sajap barisan kita,
dan pusatkan inti pasukan penyerang ditengah tengah, untuk memudahkan membuka serangan dalam
bentuk "gelatik neba" ! Selanjutnya kau dan Braja Semandang jangan berpisah denganku! —
Seribu tamtama barisan panah segera terpecah menjadi dua, dan masing masing bergerak
menuju ke tempat yang telah ditentukan.
Suara bergeraknya pasukan dalam mengatur kedudukan barisan, gemuruh bagaikan banjir
melanda.
Tak lama kemudian seluruh pasukan telah siap siaga di tempat kedudukan masing-masing,
sesuai dengan kehendak Yoga Kumala. Sedangkan ia sendiri berada ditengah-tengah barisan terdepan
dengan diapit-apit oleh Sontani dan Braja Semandang menghadap kearah barisan lawan yang berada
jauh di sebelah timur.
Matanya memandang tajam kearah barisan lawan yang nampak remang.remang membentang
luas dihadapannya yang kini tengah bergerak maju dengan suaranya yang gemuruh mengumandang.
Pikirannya merana jauh, meraba-raba jawaban atas teka teki yang kini sedang dihadapi, —
Mengapa tiba-tiba pasukannya terperosok dalam perangkap musuh? — Sudah musnakah seluruh
pasukan Kobar yang akan menyerang dari sebelah timur, hingga ia kini harus menghadapi pasukan besar
lawan ini? —
Ataukah sengaja pasukan Kobar bersembunyi sebagai siasat, untuk kemudian dapat
menyerangnya dari belakang? — Akan tetapi, jika demikian mengapa tak ada seorang penghubung yang
datang untuk memberitahukan perobahan-perobahan siasat itu? —

Fajar telah merekah. Jauh disebelah timur, sang Surya menampakkan separoh tubuhnya, dengan
memancarkan cahayanya yang semburat jingga ke emasan. Dan perlahan-lahan alampun menjadi
terang benderang. —
Kini dua pasukan besar yang sedang bermusuhan itu bergerak maju dalam susunan bentuk
barisannya masing-masing.
Barisan tamtama Kerajaan Negeri Tanah Melayu di bawah pimpinan Yoga kumala yang beribu -
ribu jumlahnya itu bergerak maju perlahan lahan, laksana samodra meluap.
Suara ringkikan kuda yang sahut menyahut dan suara gemerincingnya senjata-senjata
bercampur gaduh menjadi satu.
Seruling genderang bertalu-talu di iring dengan derap langkah barisan tamtama yang berkuda.
Panji-panji dan duaja - duaja kebesaran pasukan Kerajaan, berkibar dengan megahnya,
sedangkan senjata-senjata tajam, seperti tombak, lembing dan klewang yang telah terhunus nampak
seperti alang-alang yang tumbuh di padang subur.
Demikian pula pasukan lawan dari Kerajaan Negeri Sriwijaya, yang mengalir tak ada putusnya,
bagaikan arus banjirnya sungai Musi.
Suara gajah dan ringkikan kuda serta bergeraknya tamtama yang puluhan ribu jumlahnya,
gemuruh bercampur aduk menjadi satu.
Berkilatnya beribu - ribu senjata tajam yang telah terhunus tertimpa oleh pancaran sinar
matahari, berkilau-kilau menyilaukan pandangan.
Tiba-tiba pedang pusaka ditangan kanan Yoga Kumala berkelebat diacungkan kedepan, dan
beribu ribu tamtama , berkuda berebut ducung menyerbu Iawan, bagaikan burung gelatik meneba
dipadang padi yang sedang menguning.
Bersamaan dengan gerakan serbuan para tamtama penyerang itu, barisan panah melepaskan
anak panah dari busurnya laksana hujan.
Dan kini bagaikan benturan guntur, setelah dua pasukan itu bertemu.
Masing-masing gigih bertahan dan berusaha untuk membunuh lawan sebanyak-banyaknya.
Beradunya senjata-senjata laksana suara petir yang mengampar, dan pula di seling dengan suara jeritan
ngeri susul-menyusul serta ringkikan kuda ataupun suara jatuhnya korban.
Dimana-mana darah berkececeran, mengalir membanjir membasahi bumi.
Debu mengepul tebal bagaikan kabur, hingga membuat gelapnya pandangan. —
Dimedan laga yang dahsyat itu Yoga Kumala mengamuk punggung laksana banteng terluka.
Tiap kali pedang pusakanya berkelebat, tamtama musuh yang berada didekatnya tentu roboh
terguling ditanah dengan mandi darah. Dan demkian pula Sontani, Braja Semandang serta para perwira
tamtama Kerajaan Negeri Tanah Melayu. Mereka mengikuti jejak pemimpinnya Yoga Kumala, dengan
semboyan „tak mengenal surut setapakpun".
Beribu ribu tamtama dari kedua belah fihak yang setia pada sumpah tamtamanya telah jatuh
berguguran sebagai bunga bangsa. Merekalah pahlawan-pahlawan Negerinya.
Difihak lawan ternyata lebih banyak lagi jatuhnya korban dalam perang besar ini. Akan tetapi
karena mengandalkan besarnya pasukan yang terdiri dari puluhan ribu tamtama itu, maka pasukan
Kerajaan Negeri Sriwijaya menggunakan siasat perangnya dengan apa yang disebut ''Candra Birawa".
Roboh satu tumbuh sepuluh, roboh sepuluh, tumbuh seratus, roboh seratus tumbuh seribu dan
seterusnya.
Mengalirnya barisan tamtama lawan ke medan laga bagaikan air bah. Betapapun tabah dan
beraninya para tamtama pasukan Yoga Kumala, niscaya akan ngeri juga, demi melihat membanjirnya
lawan yang tak kunjung putus itu.
— Tumenggung Shakti Yoga Kumala! Pengorbanan pasukanmu akan sia-sia belaka! Lebih baik
kau menyerah sebelum terlambat! Ketahuilah, bahwa kita telah mengurung dari segenap penjuru
dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari pada pasukanmu! Tiba-tiba seorang Senopati pasukan
Kerajaan Sriwijaya berseru lantang pada Yoga Kumala yang sedang bertempur mati-matian ditengah
kancah pertempuran melawan ratusan tamtama musuh yang mengurungnya.
Namun masih juga Yoga Kumala sempat menengok ke arah datangnya suara. Ternyata suara itu
datangnya dari seorang perwira yang sedang duduk di punggung gayah dengan dikitari oleh barisan
tamtama berkuda yang amat kuat dan berlapis-lapis. Melihat pakaian kebesaran yang dikenakan serta
payung kuning yang berada diatas kepalanya itu, jelas menunjukkan, bahwa perwira tamtama musuh
yang berseru padanya adalah seorang Senopati yang memimpin pasukan lawan.
Ia memegang pedang terhunus ditangan kanannya, sedangkan ditangan kirinya nampak sebuah
perisai baja yang berbentuk bulat selebar daun lum bu hutan.
Tubuhnya jangkung agak kurus, dengan kumisnya yang tebal melintang tanpa jenggot. Sepasang
alisnya tebal dengan kilatan pandang mata yang amat tajam. Keningnya berkerut dan mengenakan ikat
kepala kain sutera kuning keemasan. Warna kulitnya hitam.
Suaranya parau, tetapi keras mengumandang serta mengandung daya perbawa. Ia adalah
Senopati Manggala Yudha Kerajaan Negeri Sriwijaya yang bergelar Gusti Senopati Sanggahan Alam, yang
terkenal shakti serta cakap dalam memimpin barisan di medan yudha.
Mendengar namanya dipanggil oleh seorang priyagung lawan yang ia sendiri belum
mengenalnya, Yoga Kumala terperanjat sesaat.
— Siapakah gerangan priyagung yang memimpin pasnkan musuh itu? Dan dari manakah ia
mengetahui namaku dengan jelas? — Demikian shakti dan waskitakah ia, hingga mengetahui namaku
tanpa bertanya terlebih dahulu? — Ah, . . . tak mungkin ! — bantahnya sendiri dalam hati.
— Atau seorang tamtama nara sandi lawan yang amat pandai telah merembes dalam pasukanku
ini?
Akan tetapi pertanyaan - pertanyaan dalam benak hatinya yang tak dapat dijawabnya sendiri
itu, tak sempat ia membiarkan merana lebih jauh. Ia sadar, bahwa dirinya sedang berada di medan
yudha yang amat dahsyat, serta memerlukan pemusatan perhatian sepenuhnya. Sambil membabat
dengan pedang pusakanya kearah dua orang lawan yang menjerang dari samping, serta merangkaikan
gerakan serangannya dengan jurus "menutup serangan lawan" ialah memutarkan pedang pusakanya,
Yoga Kumala menjawab seruan lawan priyagung tadi dengan tak kalah lantang. — haaiii! Priyagung
tamtama yang sombong! Tumpaslah aku berserta pasukanku, jika kau mampu dan memiliki keshaktian.
Ketahuilah, bahwa aku Yoga Kumala tak pernah mengenal kata menyerah! Sebaiknya kaulah yang
menyerah sebelum mengenal tajamnya pedang pusakaku!—
— Ha haa ha . . . . hu ha haaaa ha ……! Sungguh kau seorang Bupati tamtama Majapahit yang
memiliki keberanian dan shakti. Sayang, kau berkepala batu, hingga tak mau melihat kenyataan yang
kini sedang kau hadapi! Terimalah ini . . . . .!.—
Dan bersamaan dengan suara bentakan yang terakhir itu, sebatang tombak pendek meluncur
bagaikan kilat kearah dada Yoga Kumala. Akan tetapi Yoga Kumala yang telah mendapat tempaan ilmu
pedang shakti dari eyangnya Ajengan Cahaya Buana, serta bergelar „jago pedang darah Pajajaran" itu,
dengan tangkasnya memapaki meluncurnya tombak lawan dengan pedang pusakanya.
Sambil merendahkan badannya serta memacu kudanya, pedang pusaka ditangan kanannya
berkelebat . . . . dan tombak lawan telah patah menjadi dua potong.
Kiranya bukan hanya berhenti sekian saja. Pedang pusakanya berkelebat untuk kedua kalinya, . .
. . . dan kini potongan tombak pendek lawan yang bermata tajam terpental kembali kearah tubuh
pemiliknya, bagaikan meluncurnya anak panah.

Senopati Sanggahan Alam yang sedang ketawa terbahak-bahak, terpaksa menutup mulutnya
seketika, serta menggerakkan perisai bajanya yang berada ditangan kiri, untuk memapaki meluncurnya
potongan tombaknya sendiri, yang mengarah tubuhnya dengan tanpa diduga-duga itu. Potongan
tombak terpental dan jatuh ditanah, namun ia sendiri bergeser setapak surut kebelakang, karena
terkena dorongan tenaga benturan dari potongan tombak yang jatuh tertangkis oleh perisai bajanya itu.
Sanggahan Alam terkesiap sesaat, demi merasakan serangan balasan Yoga Kumala yang
mentakjubkan itu. Dalam hati ia memuji akan keshaktian lawannya. Kiranya belum pernah ia
menghadapi lawan setangguh Yoga Kumala.
Andaikan saja ia tak berperisai baja, tentu dadanya telah tembus oleh tombaknya sendiri. Akan
tetapi sebagai seorang Senopati Manggala Yudha yang shakti dan berpengalaman luas. Sanggahan Alam
segera dapat menguasai ketenangannya kembali.
— Ha ha ha ha . . . . . ha haa hahaaa haha! Bagus, bagus! — serunya sambil memegang kembali
pedang pusakanya yang tadi disarungkannya „Temyata gelarmu "jago pedang" tak mengecewakan !
Akan tetapi, . . . . dapatkah kau menghadapi pasukanku yang beribu ribu itu hanya dengan
mengandalkan keshaktianmu? Pikirlah masak-masak! Sayang keshaktian dan usiamu yang masih muda
itu, apabila terlambat tak mau menyerah! —
Tak perlu kau menasehati lawan! Aku rela mati di medan laga daripada berlaku sebagai
pengecut! — Balas Yoga Kumala dengan suara teriakan nyaring yang memekakkan telinga, sambil
bertempur. Ia ingin menerjang Senopati Sanggalian Alam yang congkak itu, akan tetapi beratus-ratus
tamtama lawan selalu merintangi dibadapannya.
Namun setiap lawan yang berada didekatnya, tentu roboh mandi darah untuk kemudian jatuh
bergelimpangan di tanah tak bernyawa. Sontani, Braja Semandang, Dirham dan segenap para perwira
tamtamanya tak mau ketinggalan pula. Mereka mengamuk punggung bagaikan banteng terluka. Dengan
semangat tempurnya yang bernyala nyala mereka merobohkan beratus-ratus tamtama lawan yang
mengurungnya. Hampir sehari penuh mereka bertempur mati - matian dengan tanpa mengenal lelah.
Matahari telah berada diketinggian condong ke sebelah barat, menandakan bahwa waktu telah
jauh lewat siang te-ngah hari dan hampir senja. Namun pertempuran masih saja berkobar dengan
dahsyatnya.
— Sontani ! Seru Yoga Kumala sambil memutarkan pedang pusakanya serta berpaling kearah
Sontani yang berada dibelakangnya.

Jilid 5

BAGIAN I
— Kita harus dapat bertahan sampai petang nanti, dan ……….. — Belum juga ia dapat
mengakhiri bicaranya, tiba-tiba pasukan musuh yang mengurung dari sebelah utara menjadi berantakan
bercerai berai. Suara ringkikan kuda dan jeritan-jeritan ngeri susul-menyusul bercampur - aduk dengan
suara beradunya senjata serta derap langkah kuda yang tengah menyerbu dan tak ada hentinya.
Debu disebelah utara mengepul lebih dahsyat hingga gelapnya pandangan. Ratusan tamtama
lawan jatuh bergelimpangan ditanah dengan mandi darah. Dan kini suasana menjadi semakin gaduh.
Ternyata induk pasukan dari Kerajaan Negeri Tanah Melayu yang dipimpin oleh Senapati
Manggala Yudha yang bergelar Bintang Minang, telah tiba pada saat pasukan Yoga Kumala hampir putus
asa. Dibawah pimpinan Bintang Minang, pasukan itu langsung menyerang musuh dari lambung kanan,
hingga lawan kocar-kacir dibuatnya.
Dari balik semak-semak belukar di dataran tebing sungai Tungkal, pasukan Bintang Minang
langsung menyerbu lawan secara bergelombang yang tak ada putusnya, dengan diiringi sorak sorai yang
gemuruh memekakkan telinga. Sesungguhnya jumlah kekuatan pasukan penyerang seluruhnya dari
Kerajaan Negeri Tanah Melayu itu, walaupun berserta induk pasukan masih juga tak seimbang jika di-
bandingkan kekuatan lawan.
Akan tetapi karena penyerbuan yang dilancarkan oleh Bintang Minang itu secara tiba-tiba dan
tak diduganya sama sekali oleh fihak lawan, maka tak heranlah apabila lawan menjadi berantakan dan
terpaksa menderita banyak korban. Lagi pula siasat menyerang dengan secara bergelombang itu,
membuat musuh sukar untuk mengetahui dengan pasti akan kekuatan penyerang yang sebenarnya.
Banyak diantara para perwira tamtama lawan mengira, bahwa kini merekalah yang terkurung
oleh pasukan penyerang yang amat kuat.
Dan hampir sepertiga bagian dari kekuatan lawan berebut ducung lari meninggalkan medan
pertempuran menuju kearah timur.
Sebaliknya pasukan Yoga Kumala yang tadinya hampir putus asa, kini semangat tempurnya
menjadi menyala-nyala kembali. Daya kekuatan para tamtama yang hampir lenyap, menjadi pulih
seketika, bagaikan rumput tersiram oleh embun pagi.
Dengan bersorak sorai gegap gempita, mereka bertempur dengan semangat yang menyala-
nyala. Dan harapan kemenangan difihaknya telah membayang kembali.
Musuh yang tak sempat menghindarkan diri dari amukan para tamtama, tak ayal lagi roboh
terguling dengan tak bernyawa. Dan korban peperangan yang dahsyat itu, kini bertambah lebih banyak
lagi.
Kini pasukan dari Kerajaan Negeri Tanah Melayu berganti menguasai medan pertempuran.
— Tumenggung Yoga !! Mundurlah beserta pasukanmu yang telah lebih itu, dan biarlah aku
yang mengganti kedudukanmu ! — Seru Bintang Minang pada Yoga Kumala.
— Gustiku Bintang tak usah kuatir akan diri saya— jawabnya singkat. — Kedatangan Gustiku
telah memulihkan tenaga kekuatan kami semua katanya sambil masih terus bertempur.
Akan tetapi kejadian yang nampaknya menguntungkan itu, kiranya tak berlangsung lama
sebagaimana dikehendaki oleh pasukan penyerang. Karena tiba2 saja, suara Senapati Sanggahan Alam
menggema lantang bagaikan guntur disiang hari — Haiiii ! Seluruh tamtamaku dari kerajaan Sriwijaya !!
Atas nama Sri Baginda Maharaja kuperintahkan, tumpaslah musuh kita !!! Kekuatan kita masih jauh
lebih besar dari pada kekuatan mereka ! Ikutilah aku !—

Berseru demikian Sanggahan Alam meloncat turun dari punggung gajahnya dan langsung jatuh
terduduk diatas pelana kuda tunggangannya yang telah berada di-tengah-tengah para pengawalnya.
Perisai baja ditangan kirinya dilempar jauh-diauh, dan dengan pedang pusakanya yang telah terhunus
ditangan kanan ia mulai mengamuk ditengah-tengah kancah pertempuran. Kudanya yang tinggi besar
berulaskan hitam kemerah-merahan itu seakan2 telah sehati dengan tuannya.
Ternyata Sanggahan Alam sebagai seorang Senapati Manggala Yudha memiliki kesaktian yang
amat tangguh. Gerakan nya sangat tangkas, dan pedang pusakanya berkelebatan bagaikan kupu2 yang
tengah menari.
Pusakanya yang telah bercerai-berai, kini merapat bersatu kembali dan bertempur dengan
gigihnya, mengikuti jejak pimpinannya. Kiranya Sanggahan Alam yang telah berpengalaman luas itu tak
mudah menyerah dengan hanya diperdayai oleh siasat yang demikian.
— Ha ha hahaaa …… ha ha ha ….. haaaaa ……! Tumenggung Yoga Kumala ! ! Aku Sanggahan
Alam tak mungkin dapat kau tipu secara permainan anak2 ! — Serunya lantang sambil memacu kudanya
ke arah Yoga Kumala.
Suara tawanya yang terbahak bahak terdengar menyeramkan. Jelas bahwa pemusatan tenaga
dalamnya mengiringi gelak tawanya yang menggema itu.
Akan tempi sewaktu Yoga Kumala siaga hendak menyambut datangnya Sanggahan Alam, tiba2
Bintang Minang telah melintang dihadapannya, sambil berseru. Mundur !II Dan serahkan priyagung
musuh padaku !—
Sesaat kemudian dua orang Senapati Manggala Yudha itu telah bertempur dengan sengitnya.
Dikala itu, matahari telah mulai memasuki garis cakrawala disebelah barat, dan kini tinggal
nampak separo saja. Pancaran sinarnya yang merah lembajung menghiasi seluruh alam. Dan perlahan-
lahan haripun menjadi gelap remang2.
Tiba2 kuda tunggangan Bintang Minang melompat tinggi melampaui ber-puluh2 tamtama yang
mengurungnya dan lari kencang meninggalkan gelanggang pertempuran dengan diikuti oleh Yoga
Kumala, Sontani, Braja Semandang berserta seluruh pasukannya yang masih ada, menuju ke Barat.

Dan hanya suara Bintang Minanglah yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan : — Sanggahan
Alam! Lain waktu dihari yang cerah kita tentu dapat bertemu kembali '!!—.
Kini pertempuran yang belum berakhir, berhenti dengan sendirinya.
Kedua pasukan yang bermusuhan, masing-masing mening-galkan gelanggang memenuhi
perintah pimpinannya.
Bintang Minang dan Yoga Kumala, berserta seluruh pasukan menuju ke arah barat, sedangkan
Sanggahan Alam mundur ke arah Timur dengan diikuti oleh segenap pasukannya.
Dilembah hutan utara sungai Batangharileka dan Sungai Lawas itulah pasukan Kerajaan Negeri
Tanah Melayu Pagar Ruyung kemudian membangun kubu-kubu darurat untuk beristirahat serta hendak
mengatur siasat selanjutnya.
— Bagaimana pendapatmu tentang kelanjutan peperangan ini, Tumenggung Yoga Kumala ?
Bintang Minang membuka percakapan sambil meneguk minumannya setelah ia berada dalam kemah.
— Gustiku Bintang Minang tentunya lebih mengetahui tentang hal ini, dan saya akan tetap
patuh menjunjung titah-titah Gustiku ? — jawab Yoga Kumala singkat.
— Kegagalan ….!!! Kegagalan yang membawa banyak korban ! — Geramnya Bintang Minang
pada diri sendiri. —
— Aneh ...... !! Mengapa kita harus mengalami kegagalan yang sedemikian rupa …… !!!
Wajahnya muram dan keningnya berkerut. Ia memandang tajam-tajam lurus kedepan sambil
meremas-remas batu yang berada dalam genggaman tangan kirinya hingga hancur mendebu. Mulutnya
terkatub rapat kembali dengan giginya berkerot gemertakan. Seakan-akan ia lupa bahwa dihadapannya
terdapat banyak perwira tamtama yang sedang duduk menghadap.
Namun satupun diantara para perwira tamtama itu tak ada yang berani mengucapkan sepatah
kata. Semuanya duduk dengan kepala tertunduk.
Yoga Kumala dan Sontani pun menjadi terdiam pula. Mereka tahu, bahwa Bintang Minang
panglimanya sedang murka.
Marah karena mengalami kegagalan dalam melakukan serangannya. Kemarahan yang
tercampur dengan rasa penyesalan serta kesedihan yang tak terhingga. Marah, karena siasat yang telah
diperhitungkan berbulan-bulan dengan cermat, tiba-tiba hancur berantakan dalam waktu satu hari saja.
Dan sedih, karena banyaknya tamtama yang setia terpaksa gugur dimedan laga, dan belum lagi
terhitung banyaknya tamtama yang luka2.
Suatu kegagalan yang tak diduga-duga sama sekali.
Dan yang paling mengesalkan ialah, tak diketahuinya sebab-musabab dari kegagalan siasatnya
itu.
Seandainya saja bukan Yoga Kumala yang memimpin pasukan penyerang pertama, mungkin
akan mengalami kehancuran seluruhnya, pikirnya. Dan diam-diam ia memuji pula dalam hati akan
keshaktian serta sifat-sifat ksatriaan Yoga Kumala.
Semula Bintang Minang mengharap akan mengetahui sebab musabab kegagalan serangannya
dari Yoga Kumala, akan tetapi ternyata Yoga Kumala sendiri tak mengetahui sama sekali akan latar
belakang dari kegagalan serangannya itu.
Tetapi ini semua telah terjadi. Dan ia sebagai manusia biasa tak kuasa akan merobah sesuatu
yang telah terjadi,
Sampai disini pikirannya yang keruh perlahan-lahan menjadi tenang kembali.
Ia masih harus berterima kasih pada Dewata Yang Maha Agung, bahwa hari tadi tak mengalami
kehancuran seluruhnya.

*
* *

B A G I A N II
SUASANA yang sunyi diliputi rasa tegang itu berlangsung agak lama. Minuman panas yang
berada dihadapan para Perwira tamtama hingga dingin tak ada yang berani menyentuhnya . . . . . .
Waktu telah tengah malam, namun tak seorangpun berani bergeser dari tempat duduknya
masing-masing.
Semuanya masih diam tertunduk bagaikan patung. Semua segera merasa lapang, setelah
Bintang Minang tiba-tiba bangkit berdiri dan melangkah keluar dari perkemahannya, sambil berkata.

— Sudah !! Silahkan semua mengaso !! Esok pagi-pagi kita bicarakan lagi ! — dan kemudian : —
Tumenggung Yoga Kumala dan Sontani ! Ikutilah aku. Ada sesuatu yang hendak kubicarakan dengan
kalian berdua !—
Tanpa menjawab sepatah kata, Yoga Kumala dan Sontani segera bangkit berdiri serta mengikuti
langkah Bintang Minang.

Dengan langkah yang berat serta perlahan-perlahan Bintang Minang dengan diikuti oleh Yoga
Kumala dan Sontani, mendaki tanggul tebing kali Sungai Batangharileka yang tak jauh letaknya dari
tempat perkemahan mereka.
Setelah dirasakan aman tempat sekitarnya, mereka bertiga segera duduk diatas sebuah batu
besar yang rata permukaannya.

Terasalah hawa udara diluar dalam gelap malam yang remang remang itu, amat sejuk dan
menyegarkan badan. Langit biru membentang bersih dan bintang-bintang diangkasa memancarkan
cahaya yang gemerlapan.

Dengan suara perlahan dan tenang, Bintang Minang mulai membuka percakapan.
— Apakah Tumenggung Yoga Kumala atau Panewu Sontani dapat memperkirakan akan sebab
musabab dari kegagalan serangan kita ? Dan bagaimanakah nasib pasukan Kobar serta pasukan Damar
Kerinci yang bersama-sama menyerang dari Timur dan Selatan, menurut dugaan kalian?— tanyanya.
Mendengar pertanyaan Bintang Minang, Sontani diam tertunduk Sesaat ia memandang pada
wajah Yoga Kumala, dan setelah itu ia menundukkan kembali mukanya. la sendiri tak tahu, bagaimana ia
harus menjawabnya.
Dan kiranya Yoga Kumala cepat menangkap akan isi hati Sontani. Bahwa untuk menjawab
pertanyaan Bintang Minang diserahkan padanya.
— Pertanyaan Gustiku sesungguhnya saya sendiri tak dapat menjawab. Akan tetapi keanehan
yang telah saya alami tadi, sewaktu Gustiku belum tiba dimedan pertempuran, mungkin erat sekali
hubungannya dengan pertanyaan Gustiku. — Jawab Yoga Kumala sambil menatap wajah Bintang
Minang sejenak.

— Coba jelaskan ! Apa yang kau maksudkan dengan pengalaman yang aneh itu?— Desak
Bintang Minang.
— Bukankah itu suatu keanehan, apabila Sanggahan Alam telah mengenal nama saya dengan
jelas, sebelum saya memperkenalkan? Sedangkan Gustiku Bintang Minang mengetahui sendiri, bahwa
saya baru pertama kali ini menginjakkan kaki di bumi Kerajaan Sriwijaya.—
— Benarkah, apa yang kau katakan itu ? — Bintang Minang memotong, seakan - akan ia belum
percaya pada kata2 Yoga Kumala.
— Benar, Gusti. Dan karena itulah saya sangat merasa heran. . . . . . . Menurut dugaan saya,
tentulah ada orang kita yang membocorkan. Hanya saja, siapa orangnya, saya sendiri belum dapat
menebak.
Dan kini ketiga-tiganya menjadi terdiam sejenak. Mereka saling pandang dengan diliputi sebuah
teka-teki dalam hati masing masing.
— Jika demikian, tentulah ada pengkhianat yang berselimut dalam pasukan kita sendiri!— Tiba-
tiba Bintang Minang memecah kesunyian, sambil mengepal2 tinjunya.
— Mudah-mudahan saja pasukan Damar Kerinci tak mengalami kehancuran karena
pengkhianatan ini!— desisnya.
— Yaaaaa . . . . . sayapun berharap demikian. Gusti!— Sahut Yoga Kumala.
— Dugaanmu tepat. Dan sama dengan apa yang yang ku perkirakan. Sesungguhnya sejak aku
melihat melintasnya panah api pada hari kemaren malam, akupun telah curiga. Perobahan waktu yang
tiba-tiba, tentunya tak mungkin terjadi apabila tak ada sesuatu kejadian diluar perhitungan kita
Dan pada malam itu akupun telah mengirim beberapa tamtama narasandi sebagai penghubung
yang dipimpin oleh Lurah tamtama Jala Mantra untuk menemui Tumenggung Anom Kobar, guna
menanyakan hal itu. Akan tetapi hingga sekarang mereka yang kuutus itupun belum juga kembali. Maka
kini menjadi sulitlah bagiku untuk menentukan sikap selanjutnya. —
Percakapan menjadi terhenti kembali, dan suasananya sunyi senyap tertelan oleh sepinya
malam.
— Sssssssstt . . . . . ada suara derap langkah kuda yang menuju kemari dari arah Timur, jauh
diseberang sungai. Gusti ! —

Yoga Kumala tiba-tiba berkata perlahan setengah berbisik sambil menempelkan jari telunjuknya
pada bibir mulutnya, sebagai isyarat agar semua berlaku waspada.
Dan kini pandang mata ke-tiga2nya mengarah ke Timur, menyusupi jauh di gelap malam yang
sepi itu.

— Ach . . . . . aku tak mendengar apa-apa selain suara mengalirnya air sungai ini. Dan tak
melihat sama sekali adanya kuda mendatang dari kejauhan pikir Sontani. mungkin Gusti Yoga terlalu
letih dan ingatannya masih terpengaruh oleh pertempuran yang belum lama berselang.-
— Sungguh tajam pendengaranmu. Tumenggung Yoga! Tetapi jika tak salah hanya seekor
kudalah yang tengah mendatang ini ! — Bintang Minang menyahut. Mendengar percakapan dua orang
ini Sontani menjadi semakin heran

Telinganya dipasang lebar-lebar dan sepasang matanya memandang tajam tajam jauh kearah
timur, namun belum juga ia dapat menangkap suara yang dimaksud. Pun tak melihat adanya benda yang
bergerak mencurigakan di kejauhan.

— Ijinkanlah saya sendiri yang menyambutnya dari seberang sungai dibalik semak-semak itu,
Gusti !— Yoga Kumala berkata kemudian, dan berkelebat bagaikan bayangan meninggalkan Bintang
Minang dan Sontani.

Bersamaan dengan menghilangnya Yoga Kumala di gelap malam, kini nampak remang2 di
kejauhan sebuah titik hitam yang bergerak mendekat. Dan semakin lama, makin jelaslah bahwa yang
tengah meluncur mendatang itu adalah seekor kuda berserta penunggangnya yang duduk tertelungkup
diatas pelana.
Bintang Minang dan Sontani segera sembunyi dibalik batu besar itu, sambil mengawasi dengan
hati berdebar2.
Sementara itu, Yoga Kumala telah berada diseberang sungai, siap untuk menyambut datangnya
orang yang tidak dikenal itu.
Larinya kuda amat kencang, dan jarak antara Yoga Kumala dengannya semakin dekat. Kini
tinggal kira2 seratus langkah lagi, tetapi kuda itu masih saja berlari dengan amat kencangnya kearah
dimana Yoga Kumala sembunyi.
Jarak kini tinggal lima puluh langkah . . . . . . tigapuluh langkah . . . . . . dua puluh langkah . . . . .
dan kini hanya tinggal sepuluh langkah lagi . . . . .
Bintang Minang dan Sontani yang mengikuti dari kejauhan menjadi cemas. Detak jantungnya
semakin berdebar-debar diliputi oleh rasa was-was. Mengapa Yoga Kumala masih saja sembunyi dan tak
mau mendahului menyerang dengan lemparan pisau ataupun sabetan pedangnya ?I— pikir mereka.
Tiba-tiba . . . . . . . bbbrrruuuuukkk !! . . . .
Sebelum Bintang Minang dan Sontani mengetahui dengan jelas, kuda telah roboh terguling
ditanah dengan suara ringkikan yang tertahan pendek. Sedangkan penunggangnya jatuh terpental dan
telah berada dalam pelukan tangan Yoga Kumala.
Ternyata sewaktu kuda hanya tinggal lima langkah lagi jaraknya, Yoga Kumala melompat keluar
dari tempat persembunyiannya. Ia langsung menerjang kuda yang sedang lari dengan kencang
kearahnya.
Jari-jari tangan kirinya mengembang tegang, dan menyerang dengan totokan kearah urat nadi
paha kaki kanan depan si kuda, sedangkan telapak tangan kanannya digunakan untuk memukul rahang
kuda dengan gerakan pukulan dari bawah serong ke atas.
Tak ayal lagi, kuda jatuh terperosok untuk kemudian berguling ditanah dengan kepala yang
terkilir.
Dan secepat itu pula, ia menubruk si penunggang kuda yang jatuh terpental kira2 tiga langkah darinya.
Akan tetapi, betapa terkejutnya setelah mengetahui bahwa orang itu tak bergerak dan ternyata
ada sebatang anak panah yang tertancap dipunggungnya.
Sebagai seorang yang pernah mempelajari ilmu usadha, Yoga Kumala segera tahu, bahwa orang
itu tentu telah lama tak sadarkan diri karena luka yang dideritanya sangat parah dan membahayakan
jiwanya.
Sipenunggang kuda yang masih tak sadarkan diri itu segera diangkat dan didukung diatas pundak kirinya,
untuk kemudian dibawa kembali menyeberangi sungai yang tak seberapa lebar itu. Dengan sekali
tendang, kuda yang berguling ditanah tadi telah habis riwayatnya, sewaktu Yoga Kumala hendak kembali
menyeberangi sungai.
Sontani segera keluar dari tempat persembunyian atas perintah Bintang Minang, untuk
menyambut kedatangan Yoga Kumala yang kelihatan mendukung seorang diatas pundaknya.
— Musuhkah orang itu, Gusti Yoga? — tanya Sontani dengan tergopoh-gopoh.
— Menilik pakaiannya, ku rasa bukan! — jawab Yoga Kumala sambil berjalan mendekat. — Mari
kita periksa di-tempat yang terang! Ia luka parah terkena anak panah beracun dan tak sadarkan diri, —
Sambungnya.
— Kita periksa didalam kemahku saja! — perintah Bintang Minang kemudian, serta berjalan
mendahului.
Dengan pelahan-lahan orang itu diletakkan ditempat pembaringan dengan badan tengkurep,
karena anak panah yang tertancap dipunggungnya belum dicabut oleh Yoga Kumala.
Sesaat ketiga-tiganya terperanjat, dan bahkan Sontani hampir-hampir menjerit setelah
mengetahui, bahwa orang yang terluka parah itu adalah lurah tamtama Jaka Gumarang adanya.
Setelah air panas dan ramuan obat-obatan disiapkan, Yoga. Kumala segera mencabut anak
panah yang menancap dipunggung Gumarang itu, dan suara rintihan pendek terdengar keluar dari
mulutnya.
Lukanya amat dalam dan disekitarnya telah menghitam, karena mata tajamnya anak panah itu
ternyata beracun sebagaimana diduga oleh Yoga.
Setelah diurut nadi jalan darahnya dan kemudian dihisap dengan mulut oleh Yoga Kumala darah
hitam mulai mengucur keluar dari tempat luka dipunggung Jaka Gumarang. Obat luka yang telah
tersedia segera ditaburkan, dan kemudian ia dibaringkan terlentang.
Akan tetapi Jaka Gumarang masih juga belum sadarkan diri. Raut mukanya pucat pasi dengan
sepasang telapuk matanya yang setengah tertutup.
Mulutnya terkatub rapat dan ludahnya telah keluar membusa bercampur darah.
Nafasnya tersengal-sengal tak teratur serta terdengar amat lemah sekali. Telapak kakinya telah
pula mulai dingin membeku, sedangkan kedua belah tangannya terkulai lemah.
Melihat keadaan Jaka Gumarang demikian itu, Yoga Kumala menghela nafas panjang sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
— Apakah ia masih dapat ditolong? Bintang Minang bertanya tak sabar, sambil berjongkok
disampingnya.
— Saya akan berusaha sebanyak mungkin, Gusti. Akan tetapi sayaa kira pertolongan ini telah
terlambat. Racun anak panah merangsang memasuki semua jalan darah dalam tubuhnya. Yaaaaaahhh . .
. . . . samoga Dewata Yang Maha Agung memberi ampunan serta kekuatan padanya. — Yoga Kumala
menjawab perlahan, sambil membuka kancing baju serta ikat pinggang Jaka Gumarang. Sejenak Yoga
Kumala duduk bersila dengan menyilangkan kedua tangan diatas dadanya untuk bersemadi guna
mengumpulkan dan memusatkan seluruh tenaga dalamnya.
Setelah itu ia membungkuk lebih dekat lagi. Mulutnya ditempelkan pada mulut Jaka Gumarang,
serta meniupnya dengan amat perlahan ,mengikuti jalan pernafasannya sendiri. Tenaga dalam yang
telah dikerahkan dan terpusat itu, kini disalurkan melalui bembusan tiupannya kedalam tubuh
Gumarang lewat mulutnya.
Ia melakukan demikian itu berulang kali, hingga ia sendiri merasa kehabisan tenaga serta
seluruh badannya menjadi basah bermandikan peluh dingin. Kini wajah Jaka Gumarang

Akan tetapi, betapa terkejutnya setelah mengetahui bahwa orang itu tak
bergerak dan ternyata ada sebuah anak panah yang tertancap
dipunggungnya.

berangsur-angsur menjadi merah, namun masih juga ia belum sadar kembali. Terdengar suara nafasnya
tersengal-sengal, tetapi tak selemah tadi, dan mulutnyapun kini mulai membuka sedikit.
Masakan obat ramuan yang telah tersedia dipinggan, sedikit demi sedikit dituang kedalam
mulutnya oleh Yoga Kumala.
Tiba-tiba Jaka Gumarang mulai membuka matanya dengan pelahan-lahan sambil mengeluarkan
suara keluhan yang tertahan dan hampir-hampir tak terdengar karena sangat lemahnya. Setelah itu ia
menutupkan matanya kembali. Cepat Yoga Kumala membungkuk lagi, serta membisikkan sesuatu
kedalam telinganya Gumarang.
Kini Jaka Gumarang membuka lagi matanya, dari bibirnya bergerak-gerak. Kemudian ia mulai
bicara dengan suara yang terdengar amat lirih dan terputus-putus.
— Gus . . . . ti . . . Yoga Ku . . mala . . . .! Kobar . . . . peng .. . . khi . . . . a . . . . nat pasukan . . ..
sen . . .. diri . ... ditum . . . . pasnya . seca . . . . ra . . . ke . . .. jam .. . . dan .. . . banyak . . . yang . . .. di . . . .
tawan . . . .—
Hanya kata2 itulah yang dapat keluar dari mulutnya. Setelah itu matanya tertutup lagi dan mulutnya
menjadi terkatub kembali.
— Gumarang!!! . . . . Gumarang! Bisik Yoga Kumala, namun Gumarang telah tak dapat
mendengar bisikannya. Matanya tertutup untuk selama-lamanya. Sukmanya telah meninggalkan raga
dan menghadap pada Dewata Yang Maha Kuasa . . . Penciptanya . . .
Detak nadinya telah lenyap dan badannyapun telah mulai membeku.
Semua yang menyaksikan diam terpaku. Suasana sunyi seketika. Mereka kini mengheningkan
cipta, mohon pada Dewata Agung, agar arwah Jaka Gumarang yang gugur sebagai pahlawan mendapat
kebahagiaan abadi disisinya.
Para tamtama yang sedang mendapat giliran berjaga diperintahkan oleh Bintang Minang untuk
merawat dan memakamkan jenazah Jaka Gumarang sebaik2-nya.
— Sayang, bahwa. Lurah tamtama Jaka Gumarang telah tak dapat tertolong lagi. Ia seorang
tamtama yang setia dan pantas mendapat anugerah bintang! — kata Bintang Minang setelah
pemakaman selesai
— Sayapun sangat berduka dengan gugurnya seorang sahabat yang serta serta berbudi luhur
seperti Gumarang itu Gusti!! — sahut Yoga Kumala dengan matanya yang berkaca. Sontani tertunduk
tak berkata, namun air matanya ber-linang2 meleleh membasahi kedua pipinya. — Kebaikan budi Jaka
Gumarang dan tingkah lakunya yang senantiasa bersahabat dengan siapapun, membayang kembali
didepan matanya . . .
– Yaaaahh . . . . . Jangan hendaknya kita menyesali berlarut larut atas segala apa yang telah
terjadi . . . .
Ingatlah bahwa semua adalah atas Kehendak Dewata Yang Maha Agung. Kita semua manusia
berada dalam Kekuasaan-Nya.
Dan kita harus berterima kasih pula padanya, bahwa gugurnya pahlawan Lurah tamtama
penatus Jaka Gumarang berada di tempat perkemahan kita yang berarti menyelamatkan seluruh sisa
pasukan yang masih ada. —
Demikianlah petuah Bintang Minang . . . . . Semuanya masih diam tak ada yang menjawab,
walaupun mereka membenarkan serta menjunjung tiuggi petuahnya itu dalam hati masing-masing.
Kiranya kedukaan yang baru saja berlalu masih dalam lubuk hati mereka.
— Mari kita segera bicarakan bersama, untuk memecahkan persoalan yang sangat rumit ini, —
perintah Bintang Minang.
Kemudian pada Yoga Kumala, Sontani dan para perwira-perwira tamtama lainnya yang
memegang tapuk - pimpinan dalam pasukan.
Pertemuan para priyagung tamtama Kerajaan Negeri Tanah Melayu yang dipimpin oleh Bintang
Malang dalam perkemahan itu berlangsung amat singkat.
Setelah menerimaa saran-saran serta pendapat-pendapat dari para perwira tamtama yang hadir
sebagai bahan pertimbangannya.
Kini Bintang Minang berkenan memutuskan untuk mengubah perang gelar yang tengah berlangsung
menjadi sandi Yudha.
Seluruh sisa pasukan dipecah pecahnya dalam beratus-ratus kelompok kecil, dan diperintahkan
untuk menyebar keseluruh wilayah Kerajaan Musuh.
Disamping bantu membantu satu sama lain kelompok yang berdekatan dalam melakukan
serangan-serangan secara tiba-tiba, mereka diharuskan pula untuk merebut hati rakyat jelata yang
berada dilingkungannya. Karena menurut pendapat Bintang Minang peperangan hanya dapat
dimenangkan apabila mendapat dukungan dan bantuan dari rakyat sepenuhnya.
Dan menurut perhitungan, hal itu kiranya mudah dilaksanakan, mengingat pada saat itu banyak
rakyat yang mempunyai perasaan benci pada sebagian besar para priyagung Nara praja yang selalu
bertindak semena-mena untuk kepentingan diri pribadinya.
Dalam pasewakan darurat yang amat singkat itu, Bintang Minang berkenan pula menyerahkan
wewenangnya sebagai Manggala Yudha kepada Yoga Kumala untuk sementara waktu.
Serah terima wewenang itu dilakukan, karena Bintang Minang bermaksud kembali ke Kota Raja
lama untuk menyusun kembali kekuatan baru, serta memperkokoh pertahanan perbatasan Kerajaan.
Setelah nanti, kekuatan pasukan baru tersusun, dan keadaan wilayah kerajaan lawan menjadi
makin lemah karena berkobarnya Sandi Yudha, maka Bintang Minang akan menyerang kembali langsung
diarahkan ke Kota Raja lawan dengan siasat "gadha'', ialah penyerangan yang bersitat menentukan.
— Pun untuk mendapat kepastian tentang berita pengkhianatan yang dilakukan oleh
Tumenggung Anom Tamtama Kobar. Serta pidana yang harus dijatuhkan padanya, kupercayakan penuh
padamu, Tumenggung Yoga!—
Pesan Bintang Minang pada Yoga Kumala, dan katanya kemudian : — Junjunglah titahku atas nama Seri
Baginda Maharaja dengan baik-baik, dan semoga Dewa Kemenangan selalu menyertai kita semua.—
Berkata demikian Bintang Minang menyerahkan cincin tanda kebesarannya sebagai manggala Judha dan
berkenan pula mengenakan di jari manis kanan Yoga Kumala.
— Doa restu Gustiku Bintang Minang selalu saya harapkan agar dapat mengemban titah Gustiku
dengan hasil yang gemilang ! — Jawab Yoga Kumala singkat sambil memberikan sembah.
Ingin ia berkata lebih panjang, namun hatinya penuh rasa keraguan, hingga ia membatalkan
maksudnya.- Benarkah Bintang mencurahkan kepercayaan penuh padanya? Ataukah hanya suatu siasat
belaka yang maksudnya menguji kesetiaannya? Kini ia merasa dirinya dalam kedudukan yang serba
salah.
Berita bahwa kegagalan penyerangan besar adalah akibat dari pada pengkhianatan Bupati Anom
Kobar, untuknya cukup pedih bagaikan kena tamparan langsung dimukanya. . . Ia tak tahu lagi kemana ia
harus menyembunjikan mukanya, karena merasa sangat malu.
Bagaimanapun juga, Kobar adalah teman sepasukan dari tamtama Kerajaan Majapahit.- Dan
lebih dari pada itu. Kobar adalah wakilnya langsung dalam memimpin pasukan sebagai pasukan bantuan
dari Kerajaan Majapabit. Andaikan benar-benar Kobar mengkhianati peperangan besar ini, bukankah
Bintang Minang seharusnya mencurigai padanya? Akan tetapi mengapa kini bahkan menyerahkan
wewenangnya sebagai Manggala Yudha padanya walaupun hanya sementara .
Atau mungkin penyerahan tadi hanya untuk mencoba dirinya. Tetapi menurut anggapannya
tidak mungkin Bintang Minang hanya mencobanya, sebab sedikitpun tidak kelihatan pada wajahnya
yang sungguh sungguh dan sedikitpun tidak ada tanda-tanda mencurigainya.
Tetapi Yoga Kumala dalam hati berjanji tidak akan menyia-nyiakan tugas yang begitu agung.
Sejak lama Yoga Kumala tak senang melihat tingkah laku Kobar yang congkak dan selalu haus
akan kekuasaan akan tetapi untuk berbuat demikian jauh sebagai pengkhianat, ia tak menduga
sebelumnya sama sekali.
Bahkan belum pula ia percaya sepenuhnya pada berita yang dibawa oleh Gumarang. Akan tetapi
apa daya untuk bertanya lebih lanjut pada sipembawa berita Jaka Gumirang, tak mungkin. Dan sampai
dimanakah pengkhianatan Kohar, iapun belum dapat mengira-irakan.
Namun sebagai perwira tamtama, baginya tak ada lain pilihan kecuali melaksanakan sebaik
baiknya semua perintah atasannya.
Dan atas pertimbangan yang terakhir inilah, Yoga Kumala tak dapat berbicara lebih banyak. Ia
hanya ingin menunjukkan kesetiaannya dengan membuktikan melaksanakan tugas sebaik baiknya.
Dan sebelum ia dapat membuktikannya, tak berani ia bertanya lebih banyak pada Bintang Minang.-
Jangankan bertanya, sedangkan menatap pandang pada Bintang Minangpun ia tak mampu.
Ia duduk dengan muka tertunduk kembali, dan menunggu kata2 terakhir dari Bintang Minang.
Tiba-tiba saja dirasakan jatuhnya tepukan telapak tangan yang pelan pada bahu kirinya. Suatu
tepukan yang penuh berarti.
— Tumenggung Yoga ! — kata Bintang Minang sambil meletakkan telapak tangan kanannya
diatas bahu Yoga. : — Jangan kau ragu-ragu hanya kaulah yang kupandang cakap untuk menggantikan
sementara kedudukanku selaku Manggala Yudha! Laksanakanlah perintahku demi kejayaan Kerajaan
Negeri Tanah Melaju dan kejayaan Kerajaan Agung Majapahit. —
Perlahan-lahan Bintang Minang bangkit berdiri dan diikuti oleh Yoga Kumala.
Kedua orang sakti beepandangan sejenak serta saling memegang lengan kanan erat-erat sebagai tanda
keakraban hubungan.
Dan sejenak kemudian persewakan darurat segera bubar.

*
* *
B A G I A N III
SEMUA pasukan turut serta bubar dan masing - masing berpisah jalan menjadi kelompok2 kecil
mengikuti perintah Tumenggung Yoga Kumala.
Dengan didampingi oleh Sontani, Braja Semandang serta Dirham si penunjuk jalan dan dikawal
oleh sepuluh tamtama berkuda Yoga Kumala bergerak kearah selatan mengikuti mengalirnya Sungai
Lawas.
Ia bermaksud untuk menghubungi pasukan yang berada disebelah Selatan dibawah pimpinan
Senapati Damar Kerinci dengan melintasi hutan belukar.
Hari itu masih pagi-pagi buta tatkala Yoga Kumala dengan rombongannya menempuh
perjalanan di hutan belukar mengikuti tebing tebing sungai Lawas yang berliku - liku dan curam serta
licin.
Kabut tipis yang semua mengaburkan pemandangan pelan-pelan membumbung ke angkasa, dan
mataharipun terbit dengan riahnya di ufuk timur memandikan daerah hutan belantara. Dan sungai itu
dalam cahaya yang redup, sehingga air sungai layaknya serasa berkilau2an bagaikan kaca cermin.
Kiri kanan sungai tumbuh pohon-pohon raksasa liar yang berumur puluhan tahun mewujudkan
hutan belantara yang tak pernah dijamah oleh angan manusia.
Air embun masih membasahi daun2 sehingga nampak berkilat2 karena tertimpa cahaya
matahari.
Lumut hijau bertumbuh subur di-batang2 pohon raksasa yang telah tumbang dan jatuh melintasi tebing2
sungai, dan ditanah-tanah basah serta batu-batu alam bagaikan permadani yang tebal.

Berhari-hari mereka menyusupi hutan belukar dan walaupun tak pernah menghadapi rintangan-
rintangan yang berbahaya, namun perjalanan itu cukup membuat mereka sangat letih. Kadang-kadang
mereka harus berjalan mengitari rawa2 ataupun berlompatan diatas batang-batang pohon yang
tumbang melintang. Tidak jarang pula mereka harus berjalan satu demi seorang dengan saling
berpegangan karena gelap dan licinnya jalan yang dilaluinya.
Kini mereka telah tiba di Sungai Musi, dan disitulah Sungai Lawas memutahkan airnya, untuk
kemudian bergabung mengalir menjadi Musi besar. Karena Sungai Lawas adalah hanya merupakan salah
satu diantara anak cabang Sungai Musi.
Dengan Sampan rakit dari bambu, rombongan Yoga Kumala kemudian menyeberangi Sungai Musi yang
lebar itu.
Walaupun permukaan airnya nampak tenang, tetapi dibawah permukaan yang tenang itu, sebenarnya
airnya deras mengalir. Apapun yang tercebur akan segera lenyap dan hanyut terbawa derasnya arus.
Dan karena amat lebar dan derasnya arus lebih cepat kiranya bila dinamakan "Bengawan".
Pada tiap2 hari diwaktu pagi hingga gelap malam, banyaklah sampan2 nelayan hilir mudik di
Sungai Musi itu. Selain para nelayan yang mencari ikanpun banyak pula perahu-perahu pedagang yang
hilir mudik untuk menuju ke Kota Raja atau-pun sbaliknya. Pendek kata Sungai Musi selain pemberi
nafkah abadi bagi para pencari ikanpun merupakan jalan raya yang menghubungkan antara desa-desa
dan kota-kota sekitarnya.
Bahkan lebih dari pada itu semua Sungai Musi adalah lambang pula bagi kejayaan Kerajaan
Sriwijaja. Muara Sungai Musi adalah pintu gerbang Kota Raja Kerajaan Sriwijaj, dan merupakan banjir
besar yang selalu dikunjungi oleh perahu-perahu layar dari pedagang-pedagang besar negeri-negeri
asing serta utusan2 raja2 negeri asing sekitarnya.
Akan tetapi waktu rombongan Yoga Kumala menieberangi Sungai Musi, ternyata suasananya
lain dari pada hari2 biasa. Tak sebuah perahu nelayan tampak dipermukaan air. Sekelilingnya ternyata
sunyi sepi.
Walaupun ditempat dimana ia menyeberang itu sangat jauh dari Muara Bandar Musi, namun keadaan
biasanya tak demikian.
Hari itu matahari telah condong kebarat mendekati senja. Sebentar lagi akan bertukar dengan
sang malam.
Perlahan-lahan mereka mendarat diseberang sambil mengawasi kanan kiri, lalu berjalan
mendaki tanggul tebing sungai itu yang tak seberapa tingginya. Semua kelihatan letih jalannyapun
sempoyongan hanya Yoga Kumala dan Sontanilah yang masih tampak tegap dan bersemangat. Akan
tetapi jika melihat wajahnya, kedua perwira ini diliputi oleh rasa muram serta selalu tegang. Mereka
saling membungkam dan jarang sekali bercakap-cakap.
Tiba-tiba saja Dirham mulai bicara memecah kesunyian sambil berjalan disamping Yoga Komala.
— Gusti Yoga! Keadaan disini biasanya tak sesepi ini !—
— Ya! . . . . . Aku sendiri agak curiga pula demi melihat suasana yang sepi ini. Tetapi . . . .
gerangan yang terjadi?— Jawab Yoga sambil mengawasi kanan kiri.
— Untuk dapat melihat lebih jelas sekitarnya, sebaiknya kita mendaki tanggul sebelah barat
sana yang agak tinggi, Gusti! Kata Dirham sambil menunjuk kearah yang dimaksud .
— Ayoooh! — potong Yoga Kumala singkat sambil mempercepat langkahnya. Dan semuanya
segera turut berlari-larian mengikuti dibelakang Yoga Kumala.
Semakin ke barat tanggul sungai itu memang semakin menanjak, dan dataran sekitarnya pun
mulai berbukit - bukit dengan pepohonan-pepohonan yang rindang dan lebat merupakan hutan.
Jauh disebelah barat selatan nampak remang-remang biru semburat merah. Gunung Kaba yang tegak
berdiri bagaikan raksasa Kumba Karna yang sedang menelan Surya. Dan dari lereng-lereng Gunung Kaba
sebelah barat utara itulah Sungai Musi bersumber.
— Lihatlah Gusti! Kampung jauh disana itu nampak adanya kebakaran! Sontani tiba-tiba berkata
sambil terengah-engah dan sambil menunjuk dengan tangannya kearah timur pada sebuah desa
dilembah bawah yang nampak jelas adanya api menyala-nyala di ketinggian. Dan semua cepat berpaling
mengarahkan pandangan masing-masing pada sebuah desa yang ditunjuk Sontani dengan penuh
perhatian.
— Benar apa katamu Son:ani! mari kita segera menuruni tanggul ini dan langsung menuju
kedesa bawah sana. Mungkin mereka memerlukan bantuan kita. — Sahut Yoga setelah mengawasi
sejenak dengan tajam.
— Biarlah saya dengan Braja Semandang yang mendahului ke sana, Gusti. Dan sebaiknya
Gustiku Yoga berserta pengawal dan Dirham menunggu saja dari kejauhan.
— Bukankah baiknya demikian. Lurah Braja Semandang? — Sahut Sontani sambil berpaling
kearah Braja Semandang yang tengah berdiri memandang kearah desa itu dengan menghela nafas
panjang.
Dalam hatinya ia merasa amat kasihan pada penduduk desa yang kini tengah menderita akibat
kebakaran itu.
— Ya . . . . . ijinkan saya mengawal Panewu Sontani, Gusti!— potong Braja Semandang.
— Baik, bawalah prajurit-prajurit pengawal ini dan aku dengan Dirham akan mengikuti
dibelakang! — Jawab Yoga dengan singkat serta mengerutkan keningnya.
Entah karena apa, tetapi ia merasa was-was. Perasaan nalurinya bekerja cepat dan dalam
semadhi yang singkat sambil berjalan menuruni tanggni itu, perasaan cemas menyelubungi dirinya.
Seakan-akan ia tahu bahwa bahaya menghadang didepannya.
Demi perasaan cemas yang terkandung itu, ia berseru sambil berlari mengikuti Sontani : —
Sontaniiii . .. . jangan kau meninggalkan kewaspadaan ! —
Kini hari telah mulai gelap. Dan mereka hanya kelihatan seperti bayangan-bayangan saja yang
sedang melayang cepat menuruni tebing yang berliku liku itu.
Semakin dekat dengan desa yang terbakar itu, semakin terdengar jelas suara jeritan orang-orang
perempuan dan tangis anak-anak kecil bercampur dengan seruan minta tolong yang menyayat hati.
Suara titir kentongan sahut menyahut tak ada henti-hentinya dan disambut pula oleh penduduk desa-
desa yang berada disekitarnya.
Seorang diantaranya bersenjatakan tombak bercabang. Bentuk tubuhnya kurus tinggi
dengan rowan muka yang bengis menyeramkan. Dua orang lainnya masih muda kira 2
sebaya dengan Sontani, dengan bersenjatakan klewang …..

Akan tetapi belum juga api kebakaran didesa yang didatangi itu padam, menyusul kini desa
disebelah timurnya kebakar. Asap hitam mengepul bergulung2 menjulang tinggi dan api men-jilat2 di
tengah2 kepulan asap.
Larinya Sontani bersama kawan-kawannya bagaikan lepasnya anak panah. Tiba-tiba saja lima
orang bajak laut menghadang dengan kelewang terhunus dihadapannya, hingga ia terpaksa
menghentikan langkalmja.
— Aaiiii! Apa yang terjadi didesa ini ? — Tanya Sontani dan Braja Semandang hampir
bersamaan. Akan tetapi lima orang bersenjata itu tanpa menjawab pertanyaan, lalu langsung
menyerang dengan senjata masing masing. Kiranya pertempuran tak dapat lagi dihindarkan dan sekejap
kemudian terjadilah pertempuran sengit.
Dengan bantuan prajurit pengawalnya Sontani mengamuk, hingga sebentar saja lima orang itu
terdesak mundur dan lari terbirit-birit.
Belum juga lima orang itu lenyap dari pandangan, kini menyusul datang tiga orang berkuda dan
menyerangnya dengan serentak serta tiba2.
Seorang diantaranya bersenjatakan tombak bercabang. Bentuk tubuhnya kurus tinggi dengan
roman mukanya yang bengis menyeramkan. Dua orang lainnya masih muda kira-kira sebaya dengan
Sontani, dengan bersenjatakan klewang. Sambil menyerang dengan jurus-jurusnya maut yang
berbahaya orang yang pertama tadi berseru lantang sambil ketawa mengejek.
— Haiii! Bedebah anak muda! Siapakah kau, berani turut campur urusanku?!—
— Perampok hina ! Menyerahlah kalian ! Aku Panewu Tamtama Sontani dari Pagaruyung datang
kemari untuk membasmi kalian!—
— Ha Haa Haa haa ! ! Jangan berlagak kesatria disini. Menyerahlah untuk kubelenggu tangan
kalian! Rupa2nya kalian adalah musuh Kerajaan. — serunya dengan bengis sambil terus menyerang
dengan senjata tombaknya. Serangan amat ganas dengan jurus2 yang berbahaya serta sukar diketahui
akan perobahan2nya. Ternyata gerakan gerakannya sangat tangkas dan cepat. Dan diantara lawan ke
tiga2nya itu, ialah yang paling tangguh.
Para pengawal yang kurang cepat menghindari serangannya sebentar saja terkulai roboh
ditanah.
Melihat banyak pengawalnya yang telah menjadi korban keganasan musuhnya itu, Sontani dan
Braja Semandang mengamuk punggung bagaikan banteng terluka, akan tetapi ternyata lawannya amat
tangguh.
Segenap tenaganya telah diperas, namun orang yang kurus tinggi bersenjatakan tombak
bercabang itu belum juga dapat dirobohkan.
Sekali lagi Sontani melompat tinggi samhil memekik dengan nada yang tinggi melengking hingga
memekakkan telinga. Pedang tamtama ditangan kanannya meluncur cepat dalam gaya tusukan langsung
menyerang Iawan. Akan tetapi sekali lagi lawannya menunjukkan kemahiran yang sangat menakjubkan.
Ia memacu kudanya untuk menghindari serangan2 sambil meloncat tinggi lepas dari pelana.
Tombak cabangnya berputar sesaat untuk kemudiam diubah menjadi serangan yang dahsyat kearah
lambung Sontani, selagi ia diudara menghadapi balasan serangan yang tak diduga itu. Sontani sesaat
terperanjat dan peluh dingin keluar dari jidatnya.
Andaikan ia bukan Sontani panewu Tamtama yang shakti tentulah terobek lambungnya.
Untunglah bahwa ia masih sempat berjungkir balik diudara sehingga terhindar dari serangan
maut lawannya.
Pedang tamtamanya cepat berputar selagi ia berjungkir balik dan membentuk sebuah lingkaran
bagaikan perisai baja. Dua senjata beradu dan masing-masing terkesiap jatuh bergulingan surut
kebelakang beberapa langkah, sedang kuda tunggangan lawannya lari jauh sambil meringkik,
meninggalkan tuannya.
Sementara Braja Semandang sedang sibuk menghadapi dua orang lawan yang tangguh pula.
namun dalam pertempuran melawan dua orang itu ia tak merasa terdesak. bahkan kini Braja
Semandang telah berhasil merobohkan dua ekor kuda lawan, hingga mereka terpaksa bertempur terus
diatas tanah.
Tiba tiba terdengar derap langkah kuda di-celah2 suara jeritan perempuan-perempuan dan anak-
anak disekitar tempat kebakaran. Semakin lama semakin jelas, dan nampaknya bukan hanya seorang
penunggang kuda tetapi kiranya lebih dari lima belas orang.
Sambil bertempur menghadapi dua orang lawannya, Braja Semandang berpaling sesaat untuk
mengetahui para pendatang yang berkuda itu.
Ia melihat jelas adanya dua orang berkuda dengan mengenakan pakaian kebesaran sebagai
priyagung tamtama musuh Dan alangkah terperanjatnya, setelah mengetahui dengan jelas, bahwa
kedua orang itu tak lain dari pada Kobar dan Berhala. Belum juga Braja Semandang sempat menyambut
kedatangan Kobar dan Berhala, dalam saat ia sedang berpaling, tiba-tiba punggungnya, dirasakan panas
bagaikan tersengat dan pandangan matanya menjadi kian kabur remang. Ia jatuh terkulai ditanah dan
tak sadarkan diri sebilah pisau belati bersarang tepat dipunggungnya. Itulah lemparan pisau dari
Tumenggung Anom tamtama Kobar yang terkenal shakti.
— Jangan dibunuh! Seru Kobar sambil turun dari kudanya. Suaranya lantang dan berwibawa.
— Ikat! Dan bawalah itu kembali ke pesanggrahan di Muara.— Tiga orang pengawalnya segera
turun dari peIana kuda dan kemudian membelenggu kedua belah tangan Braja Semandang yang jatuh
terkulai tak sadarkan diri, serta mengangkatnya keatas pelana kuda . . . . sepuluh orang berkata
diperintahnya oleh Kobar untuk mengawal Braja Semandang yang masih terkulai diatas pelana kuda
dengan tangan terbelenggu itu. Dan sekejap kemudian Braja Semandang teclah dibawanya kabur dalam
gelap malam yang kelam itu kearah Timur.
Bersamaan dengan robohnya Braja Semandang, Sontani yang sedang bertempur dengan
sengitnya tiba2 tubulmja tersentak oleh seutas tali yang melingkar erat dibadannya, hingga ia jatuh
bergulingan ditanah. Semakin ia berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan itu, ternyata semakin erat
tali itu menjeratnya. Hampir2 ia lupa, bahwa tangan kanannya masih menggenggam pedang
tamtamanya, cepat tangan kanannya bergerak dan sekali tebas putuslah tali yang menjerat badannya
itu. Ia bergulingan ditanah beberapa langkah kesamping menghindari datangnya serangan yang tiba-tiba
dari lawan yang masih dihadapi serta serangan gelap dari belakang.
Kini Sontani berdiri tegak dengan kuda kudanya yang kokoh kuat, siap menunggu datangnya
serangan dari semua lawan. Alangkah terkejutnya setelah mengetahui dengan jelas bahwa dua orang
pendatang baru yang kini berada dihadapannya adalah Kobar dan Berhala. Mimpikah ia? Hampir-hampir
ia tak percaya pada penglihatan sendiri.
la terkejut dan sangsi bukan karena takut. Bukan! sekali-kali bukan. Seratus Kobar, Sontani tak
akan gentar menghadapi. Kalah atau menang, baginya bukan soal.
Sekalipun Dewa Maut akan merenggut jiwanya, ia tak nanti akan lari terbirit-birit. Ia benci pada
sifat-sifat pengecut dan pengkhianatan. Tak salah lagi bahwa yang tengah kuhadapi ini adalah
pengkhianatan2 Kobar dan Berhala,— pikirnya.
Darah mudanya tersirap hingga wajahnya menjadi merah matanya seakan-akan menyala,
memandang tajam kearah Kobar dan Berhala.
— Pengkhianat2!!! desisnya. Ingin ia melontarkan kata2 lebih banyak lagi, namun bibirnya hanya
bergerak2 menelan kemarahan yang meluap2.
— Haiiii!! Budak Sontani!! Lebih baik kau menyerah dan menjadi budakku daripada menjadi
budak Perwira-perwira tamtama Kerajaan. — Haa ilaaa Ha Haaaa..... Sahut Kobar sambil ketawa ter-
bahak2.

— Bukankah kawan - kawan pasukanmu hancur berantakan dan bercerai berai, dan kini, kau
tersesat sampai di sini? Dimana Yoga Kumala yang kau andalkan itu? Suruhlah lekas keluar dari tempat
persembunyiannya. Ataukah sengaja ia tak mau keluar dari tempat persembunyiannya, dan kaulah yang
akan dijadikan korban demi untuk keselamatan jiwanya Haa . . . Ha . . . . Haaaa… Haa ..Haaa!!!!!!

— Pengkhianat berlancang mulut. Kembalikan Braja Semandang dan bersiaplah untuk


kubelenggu kedua belah tanganmu dan kuhadapkan pada Gustiku Yoga Kumala. — Berseru demikian
Sontani sambil menyerang langsung dengan tamtamanya kearah Kobar. Kiranya ia telah tak dapat
menahan kemurkaannya, lebih lama lagi.
Sebagai tamtama yang berpengalaman luas dan memiliki kesaktian, Kobar telah dapat menduga
akan datangnya serangan yang, tiba-tiba itu...Ia bergeser selangkah kesamping kanan sambil menghunus
pedang pusakanya dengan tangan kanannya.
Gerakannya amat cepat dan tangkas, sehingga sukar diikuti dengan pandangan mata. Dua
senjata beradu dengan dahsyatnya hingga mengeluarkan percikan api berpijaran.
Kedua-duanya melompat surut kebelakang satu langkah dan masing-masing merasakan pedih
ditelapak tangannya.
Peluh dingin keluar dari dahi Sontani setelah ia mengetahui bahwa pedang tamtama yang masih
erat digenggam ditangan kanannya ternyata terbabat patah diujungnya.
— Ha Ha Ha Haaa Haaa!! Sontani budak kecil! masihkah kau hendak melawan dengan
pedangmu yang tumpul itu?! Ayoooh! panggilah segera Yoga Kumala majikanmu. Agar kalian dapat
kuikat jadi satu dengan Braja Semandang —
Bedebah pengkhianat. Tak usah kau menyebut-nyebut Gustiku Yoga Kumala! Sambutlah ujung
pedangku yang tumpul ini!! —
Bersamaan dengan kata seruannya yang terachir, Sontani melompat sambil menyerang kembali
dengan tebangan dan tusukan yang berangkai. Serangannya sangat berbahaya dan dahsyat . Dan kali ini
ia memang sengaja hendak mengadu jiwa dengan Kobar. Kebenciannya telah memuncak, rasa2nya ia
muak melihat wajah lawannya. Dendam kesumat yang lama dikandungnya, kiranya ia ingin
menumpahkan seluruhnya. Akan tiba-tiba Kobar meloncat jauh kebelakang menghindari serangan
sambil ketawa terbahak dan berseru.
— Kelingi! Berhala! tangkaplah budak kecil itu hidup-hidup dan bawalah segera bersama2
dengan Braja Semandang tawanan kita tadi! —

B A G I A N IV
TERNYATA orang kurus tinggi yang tadi bertempur dengan Sontani itu bernama Kelingi.
Demi mendengar perintah Kobar, Berhala dan Kelingi berserta dua orang lainnya segera melompat
mengurung Sontani. Sementara itu Kobar hanya berdiri mengawasi dari dekat. Satu penghinaan yang
cukup dapat membuat telinga Sontani merah. Ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk
dapat menerobos pengepungan ampat orang lawannya yang tangguh itu. Pedang yang telah tumpul
ditangannya berkelebatan bagaikan sinar putih yang bergulung-gulung menghubungi dirinya, dengan
diselingi rangkaian tendangan kearah ampat penjuru.
Akan tetapi, belum juga ia dapat menerobos pengepungannya yang semakin merapat itu.
Tombak bercabang dari Kelingi dan pedang Berhala selalu dapat memusnahkan serangan - serangannya
yang dahsyat .
Sebagai seorang tamtama yang memiliki banyak pengalaman serta selalu mendapat bimbingan
dari Yoga Kumala yang terkenal sebagai Pendekar Pedang Shakti, ia masih dapat melayani ampat orang
lawannya dengan baik dan seimbang. Sambil bertempur, masih juga ia dapat menggunakan kecerdasan
otaknya. Ia tahu bahwa untuk merobohkan keempat lawannya secara bersamaan, tentulah tak mungkin.
Maka satu-satunya jalan ialah merobohkan seorang demi seorang dan harus dimulai dengan
lawan yang terlemah lebih dahulu. Tetapi inipun tak semudah untuk dilaksanakan, sebagaimana ia
kehendaki. Pedang tamtama yang tumpul ujungnya berputar cepat hingga membentuk perisai baja yang
kokoh menyelubungi dirinya, dan tiba - tiba ia berseru melengking Tinggi sambil melompat dengan gaya
tusukan kearah ulu hati Berhala. Akan tetapi sebelum pedangnya menyentuh tubuh Berhala, tiba tiba
ditariknya kembali dengan rangkaian tebangan, mengarah leher salah seorang lawan yang berada
dibelakangnya. Perobahan gerakan ini arnat cepat sekali tak diduga2.. ltulah jurusan2 tipuan menerjang
badan.
Jeritan ngeri terdengar dari seorang lawan yang berada dibelakangnya roboh ditanah dengan
mandi darah. Akan tetapi bersamaan dengan robohnya seorang lawan Sontani sendiri dengan tiba2
merasa tangan kanannya tak dapat digerakkan, dan sesaat kemudian pedang tamtama yang
digenggamnya jatuh gemerincingan ditanah. Sebuah pisau belati tertancap sedalam empat jari dilengan
kanannya.
Tombak bercabang berkelebat bagaikan kilat dan menyusul bersarang dipaha Sontani, selagi ia
terhuyung2 surut kebelakang. Sesaat kemudian Santanipun roboh terkulai ditanah tak sadarkan diri.
— Cepat ikat dia, dan bawalah pergi segera ! ! Aku akan menyusul dibelakang pasukan! —
Kelingi dengan seorang pengawalnya segera membawa Sontani lari berkuda kearah Timur. Sedangkan
Berhala tertinggal mendampingi Kobar yang masih tenang berdiri disamping kuda tunggangannya. Ia
menunggu datangnya para pengawal lainnya yang diperintahkan untuk membakar dan merampok para
petani didesa yang berada tak jauh dari tempat itu.
Api yang membakar rumah2 petani didesa2 sekitarnya telah makin padam, namun para
pengawal pasukan rampok yang terdiri tidak kurang dari 10 orang itu belum juga datang berkumpul
dihadapan Kobar. Ia memekik tiga kali dengan suara yang tinggi melengking sebagai isyarat panggilan.
Suaranya menggema mengalun jauh, untuk kemudian hilang lenyap kembali tertelan gelap malam yang
pekat. Tetapi . . . . . tak terdengar suara jawaban. Tiba-tiba saja muncul dua orang dengan masing2
menggenggam pedang terhunus dihadapan Yoga Kumala dengan Dirham.
Sesaat Kobar dan berhala terperanjat dan surut kebelakang beberapa langkah, sambil menghunus
pedang mereka masing2. Tetapi cepat pula mereka dapat menenangkan perasaan kembali. Belum
lenyap pertanyaan dalam benak hatinya akan perginya para pengawal yang sedang ditunggunya, kini
dengan tiba2 muncul Yoga Kumala musuh besarnya.
Sedang Kobar akan membuka mulutnya untuk berbicara, tiba2 terdengar suara tawa nyaring
yang menyeramk.an, hingga bulu kuduknya berdiri. ltulah suara tawa Yoga Kumala yang sedang
mematek ajinya "Wuru Shakti„ ilmu warisan dari kakek Dadung Ngawuk.
Suara tawanya menggema jauh dan terpantul kembali untuk pelahan2 lenyap dari pendengaran.
Lenyapnya suara tawa yang menyeramkan disusul dengan bentakan yang sangat berwibawa. —
Bedebah pengkhianat Kobar ! ! Lihatlah cincin kebesaran yang kupakai dijari manis ini, dan lekaslah ber-
lutut untuk kutebas lehermu ! ! Ketahuilah bahwa perampok2 anak buahmu tertinggal telah kutumpas
semuanya —
Demi mendengar kata2 yang terachir dari Yoga Kumala itu, hati Kobar merasa tergoncang
bercampur cemas. Namun sebagai seorang perwira yang memiliki kesaktian, ia segera dapat
menyembunyikan rasa cemasnya dan kembali tenang.
— Yoga Kumala ! Cincin kebesaran yang kau pakai itu, untuku tak ada artinya, jika kau dapat
menumpas anak buahku yang banyak tertinggal beberapa gelintir itupun, aku tak heran. Bukankah
seluruh pasukan dari Pagar Ruyung kini telah tumpas dan bercerai berai, hingga kau harus
mengorbankan dirimu sendiri hanya demi untuk nama baikmu, yang ternyata kosong itu? Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya aku tidak bermaksud berfihak pada kerajaan Sriwijiya, tetapipun tak sudi menjadi
budak Kerajaan2 Pagar Ruyung.
Lihatlah . . . . bahwa kelak jika dua kerajaan itu mengalami kehancuran akulah, yang akan bertahta.
Niaka marilah kita bekerja sama kembali untuk tercapainya cita-citaku. Akan kuangkat kau kelak sebagai
mahapatihku.
Bukankah kita sama-sama telah mengalami kepahitan itu sebagai budak-budak Kerajaan Kerajan
Renungkanlah sesaat akan nasehatku ini, sebelum kau terlambat ! Dan memang telah lama aku
mengharap akan berjumpa denganmul
Dan sekarang inilah keputusanmu terachir kunantil—
Bahwasannya Kobar bermaksud mengkhianati kedua Kerajaan itu, memang benar adanya. Telah
lama ia menanti nantiku saat yang baik, untuk merebut kekuasaan dan mengangkat dirinya sebagai raja.
Dan setelah mengetahui kelemahan-kelemahan dari kedua Kerajaan yang sedang bermusuhan itu, ia
menduga akan tercapai maksudnya.
Ia pertama-tama berlaku mengkhianati Kerajaan Pagar Ruyung dan berfihak pada Sriwijaja.
Semua siasat perang Kerajaan Tanah Melaju Pavar Ruyung dibentengkan pada Sanggahan Alam
Manggala Yudha Sriwijaja, hingga pasukan Pagar Ruyung mengalami kehancuran. Beribu-ribu ditawan
dan beribu-ribu pula dapat dimusnahkan.
Urusan-urusan penghubung tamtama dan narasandi dari Pagar Ruyung dapat pula dijebak dan
ditawan. Dan dernikian pula nasib para tamatama narasandi putri. lndah Kumala Wardhani, Ratnasari,
Ktut Chandra dan Sampur Sekar ditawan pula oleh Kobar sendiri dan ditempatkan dalam sebuah perahu
Bajak Laut yang berlabuh di Muara Musi.
Ia bermaksud akan memperistrikan Indah Kuraala Wardhani sedangkan Ratnasari akan
dihadiahkan pada Berhala yang telah banyak berjasa padanya,
Memang sejak lama ia tergila-gila pada Indah Kumala Wardhani, dan kini telah berada
ditangannya. Kiranya mudah untuk melaksanakan cita-citanya, semudah bagaikan membalikkan telapak
tangannya sendiri, pikirnya dan hanya tinggal menunggu saat yang baik saja.
Setelah itu Kobar menghimpun pasukanp-pasukan yang terdiri dari para perampok dan bajak
laut untuk merampas harta benda rakyat dan sekaligus bermaksud mengeruhkan suasana daerah
Kerajaan Sriwijaya sendiri.
Sebagian besar dari rencananya telah berhasil. Dan taraf terachir dari pada rencananya ialah
membunuh Sanggahan Alam dari belakang, baru kemudian mencari jejak Yaga Kumala musuh besarnya
yang olehnya dianggap pula sebagai penghalang,
Dengan Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari dalam cengkeramannya tentu mudah untuk
menjebaknya. Tak diduga-duganya bahwa kini ia berhadapan sendiri dengan Yoga Kumala, sebelum ia
mencarinya.
Tetapi ia tak perlu gemetar menghadapinya karena Sontani dan Braja Semandang tangan kanan
Yoga Kumala telah dapat diringkus. Dan inilah yang menyalakan semangatnya kembali, lenyap semua
rasa cemasnya.
Ia sengaja berpura-pura menarik Yoga Kumala difihaknya dengan janji-janji yang muluk-muluk
agar Yoga Kumala menjadi lunak dan mudah untuk dimusnahkan, kelak, dengan tanpa mengeluarkan
tenaga. Tetani ternyata jauh meleset dugaannya suara tawa terkekeh-kekeh menyeramkan kembali
menggema — Haai! Bangsat pengecut Angkara Murka! Aku Yoaa Kumala tak mungkin sudi berkawan
dengan pengkhianat seperti kau. Kali ini, jangan mengharap ampunan dariku. Mohonlah ampun pada
Dewata Yang Maha Agung sebelum kepalamu terpisah dari badan! —
Kedua kakinya terpentang lebar dengan lututnya ditekuk hingga badannya merendah.
Pedang pusaka ditangan kanannya melintang didadanya yang bidang dengan mata tajamnya kedepan.
Jari-jari tangan tangan kirinya mengembang tegang dan matanya memandang tajam kearah lawannya si
Kobar. — Itulah gerakan Wuru-shakti dalam bentuk jurusnya "Terkaman harimau kumbang".

Secepat kilat Yoga Kumala melompat dengan serangan langsung pada Kobar dengan diiringi tawanya
yang terkekeh-kekeh menyeramkan. Sesaat Kobar terkesiap menyambut serangan yang sukar diduga-
duga itu. Ia melompat tinggi surut kesamping kanan sarnbil memapaki serangan pedang Yoga Kumala
dengan pusakanya. Ujung pedang pusaka masing-masing beradu dengan mengeluarkan api dan kedua-
duanya terperanjat mundur kebe/akang selangkah, demi mengetahui kedahsyatan tenaga lawannya.
Dalam hati Yoga Kumala memuji pula akan ketangguhan lawaw, yang dapat lolos dari serangannya.

Sebaliknya Kobar juga terperanjat demi merasakan pedih telapak tangannya yang menggenggam
pedang pusakanya. Andaikan ia tak mengerahkan kesaktiannya tentulah pedang pusaka akan terlepas
dari genggamannya. Demikian dahsyatnya serangan Yoga Kamala. — Pikir Kobar.
Tanpa diperintah Dirham segera menerjang Berhala dan pertempuran sengit dalam dua
kalangan segera berlangsung. Semula perhatian Yoga Kumala terpecah menjadi dua. Ia bertempur
melawan Kobar yang ternyata tangguh sambil mengawasi Dirham yang sedang bertempur melawan
Berhala. Ia sedikit cemas menyaksikan gerakan-gerakan Dirham yang agak lambat itu, sedangkan
ketangguhan tenaga si Berhala ia telah mengetahuinya.
Tetapi ternyata kelambatan gerakan Dirham memiliki unsur2 serangan yang cukup bahaya bagai
lawannya. Sehingga pertempuran sesaat kemudian menjadi seimhang.
Menyaksikan demikian, Yoga Kumala telah lenyap rasa cemasnya dan kini ia mulai memusatkan
seluruh perhatian pada gerakan lawan yang tengah dihadapanya.
Sebentar-sebentar Yoga Kumala terhuyung2 dengan langkah-langkah wurushaktinya kedepan
dan kesamping untuk menghindari serangan2 maut dari Kobar, dengan balasan2 serangan yang cukup
berbahaya pula.
Dua pedang pusaka berkelebatan hingga menyilaukan pandangan, bagaikan kupu2 yang berkejaran.
Pohon-pohon disekitarnya banyak yang tumbang terkena tebasan dua pedang pusaka itu.
Sedang pohon-pohon yang masih berdiri, daun2 dan ranting2nya telah rontok terkena angin sambaran
kedua orang shakti yang sedang bertempur dengan serunya masing2 ingin merenggut jiwa lawan dalam
waktu yang singkat. Namun belum juga ada yang roboh.
Jurus-jurus Cahaya Tangkuban Perahu ciptaan Ejangnya Cahaya Buana Pendeta Pajajaran yang Shakti
kini mulai dilancarkan oleh Yoga Kumala. Demikian pula Kobar telah menggunakan ilmu pedang warisan
ayahnya si Ular Merah. Gerakan-gerakan tusukan sabetan dan tebangan silih berganti dengan cepatnya,
dan hanya sinar hitam semburat biru yang bergulung saja yang nampak dapat dilihat dengan mata, akan
tetapi sesaat kemudian Kobar terperanjat sesaat setelah mengetahui, bahwa pedang pusaka Yoga
Kumala selalu dapat mendahului akan gerakan-gerakan ujung pedangnya yang bagaikan kilat itu.
Kini kedua ujung pedang pusaka melekat bagaikan terkena daya tarik besi sembrani dan masing-
masing mengerahkan tenaga dalamnya untuk melepaskan senjatanya agar kemudian dapat mendahului
menyerangnya lawan. D-ngan kuda-kudanya yang kokoh menunjam ditanah Kobar menyerahkan
seluruh tenaga kesaktiannya, untuk dapat terlepas ujung pedang pusakanya dari pedang lawan.
Sekuijur badannya telah mandi air peluh. Mulutnya terkatub rapat dan giginya gemertak. Kerut
didahinia yang penuh air peluh nampak Iebih jelas. Namun masih saja ujung pedang pusakanya tetap
melekat pada pedang pusaka Yoga Kumala yang berdiri merendah dengan kedua kakinya terbentang
lebar dengan kedua lututnya yang sedikit ditekuk itu.

Tiba-tiba badan Yoga Kumala bergetar dan bergerak lebih merendah lagi. Tangan kirinya
diangkat kemuka dengan jari-jarinya mengembang tegang. Dan . . , . kembali suara tawa terkekeh-kekeh
yang menggema menyeramkan keluar dari mulutnya yang menyeringai. Itulah pengerahan tenaga Shakti
ajaran Ki Dadung Ngawuk yang telah dipadu dengan ajaran Ajengan Cahaya Euana. Bersamaan dengan
lenyapnya suara ketawanya yang menyeramkan, ia melesat tinggi sambil berseru lantang — Lepas
pedang —
Pedang pusaka ditangan kanan Yoga Kumala yang ujungnya menempel pada ujung pedang
lawan ditekan kesamping dengan pengerahan tenaga dalam yang dahsyat hingga dengan sendirinya
bergeser kearah jari-jari tangan lawan yang menggenggam pedang. Suatu gerak „Sontekan„ dengan
pedang pusakanya memaksa Kobar melepaskan pedangnya. Cepat bagaikan kilat pusaka itu disusul
dengan Sabetan kearah senjata lawan yang sedang terlepas itu dan tanpa diketahui pedang pusaka
Kobar telah terpental membumbung tinggi jauh kebelakang sekira sepuluh langkah. Bersamaan dengan
terpentalnya pedang pusaka Kobar, Yoga Kumala telah menyerangnya dari atas dengan ujung pedang
pusakanya kebawah mengarah dada Kobar yang sedang mendongak mengikuti terpentalnya senjatanya.
Semua gerakan itu demikian cepatnya, hingga sukar untuk diikuti dengan pandangan mata.
Itulah serangan maut berangkai dalam bentuk jurus jurus „Petikan bunga berduri„ dan dirangkaikan
dengan „Tusukan sambar nyawa...
Menghadapi serangan demikian itu Kobar seakan-akan merasakan bahwa „dewa maut„ telah
berada di-umbun2 kepalanya. Semangatnya terbang mengikuti terpentalnya pedang pusakanya. Ia tak
menduga sama sekali, bahwa lawan yang dihadapinya memiliki kesaktian yang amat tinggi dan hampir
mendekati sempurna. Sejak lama ia ingin mengukur kesaktian Yoga Kumala, dan dahulu ia mengira
bahwa ilmu Yoga Kumala tentu berada dibawah kesaktiannya.
Tapi kini ia telah menghadapi suatu kenyataan. Dan jelas dalam mengadu tenaga shakti ia
merasa setingkat berada dibawah Yoga Kumala.
Namun ia tentu tak mungkin mau mengakui dengan terang-terangan. Desakan angkara murka dan sifat
kejahatan yang menyelubungi dirinya membuat ia bertambah dendam pada Yoga Kumala.
Sewaktu ujung pedang Yoga Kumala hampir menyentuh dadanya. Kobar menjatuhkan diri
sambil menendang dengan kakinya kiri kearah pergelangan tangan Yoga Kumala dan dirangkaikan
dengan jungkir balik surut ke belakang hingga sepuluh langkah lebih . . . . Demikian jauhnya ia
bergulingan menghindari, takut kalau-kalau serangan lanjutan segera menyusul.
Akan tetapi watak ksatria Yoga Kumala sebagai pendekar darah Pajajaran, mencegahnya untuk
membunuh lawan yang sedang tak bersenjata. Yoga Kumala hanya berdiri dengan kakinya yang
terpentang lebar sambil mengawasi Kobar yang sedang bergulingan menjauhkan diri padanya dengan
ketawa menyeringai.
— Hai Kobar! Pungutlah senjatamu kembali dan tunjukkan kejantananmu dalam menghadapi
maut sebagai hukuman pengkhianatanmu ini— Kesempatan itu tak dibuang dengan sia-sia oleh Kobar.
Cepat-cepat ia melompat dan memungut pedang pusakanya yang menggeletak diatas tanah tak
seberapa jauh darinya. Akan tetapi bukan untuk melangkah maju menyerang lawan . . . . Ia secepat kilat
melompat kepelana kuda tunggangannya yang berada disampingnya dan memacunya kabur
meninggalkan gelanggang sambil berseru.
— Yoga Kumala! Kita lanjutkan pertempuran ini, setelah selesai pesta upacara pernikahan
dengan adikmu Indah Kumala, seratus hari lagi menjelang bulan purnama .... Dan penuhilah undanganku
ini untuk datang, di Muara Musi guna menyaksikan pesta perkawinanku! —
Bersamaan dengan melesatnya Kobar. Berhalapun segera turut meninggalkan gelanggang
dengan menaiki kudanya dan hilang dikegelapan malam, dengan terluka dilengan kirinya, Yoga Kumala
yang hendak melompat mengejar, tetapi Dirham segera mencegahnya.
— Gusti Yoga! Biarlah jahanam-jahanam itu kali ini lolos dari maut. Tugas Gustiku amat berat
dan memerlukan pemikiran yang sempurna. Kita harus dapat membebaskan Gusti Sontani, Braja
Semandang dan putri putri tamtama narasandi termasuk adik kandung Gustiku Yoga serta tawanan-
tawanan keseluruhannya. Baru kemudian kira harus dapat menumpas gerombolan - gerombolan
jahanam itu, untuk dapat memenangkan peperangan. —
— Ya . . , pendapatmu benar. Trima kasihlah atas nasehatmu itu, — jawab Yoga pendek.

*
**
B A G I A N V.
DENGAN langkah yang gontai Yoga KumaTa dengan diikuti oleh Dirham berjalan menyusuri
tebing sungai Musi kemuara dalam gelap malam.
Beberapa macam perasaan menyekap dirinya. Ia sedih karena tak mengetahui bagaimana kini
nasib Indah Kumala Wardhani adiknya. Dan menyesal mengapa ia membiarkan adiknya terlibat dalam
peperangan ini . . . sifat-sifat kenakalan dan kelucuannya membayang kembali dihadapannya. Yaaaa . . . .
dan bagaimanakah nasib Ktut Ghandra putri pulau Dewata yang menjadi idam-idamannya itu . . . .
Sampai disini hatinya menjadi tersayat sayat sedih diliputi kecemasan. Ia menyesal mengapa tak dapat
langsung melindunginya. Wajahnya ayu yang selalu dihiasi dengan senyuman dan kerlingan matanya
yang memikat hati itu kini membayangkan kembali dalam angan2nya.
Ia terkenang pula akan kelincahan Ratnasari yang selalu dekat padanya.
Jasa-jasa Sontani dan Braja Semandang yang selalu mendampingi dalam suka dan derita, tak mudah pula
untuk dihilangkan dari ingatannya.
Tapi apa mau dikata. Nasib umat manusia telah ditentukan oleh Penciptanya.
Dikala itu, waktu telah larut malam mendekati terang tanah. Bintang bintang bertaburan
diangkasa dengan sinar pancaran yang berkelipan.
Semakin lama sinar pancaran gemerlapan bintang-bintang itu menjadi semakin pudar, dan
lambat laun hilang lenyap tersapu oleh cahaya merah keemasan, menyambut merekahnya sang
matahari dari ufuk Timur . . . Fajar. Kabut tipis perlahan-lahan membumbung ke-angkasa dan
mataharipun terbit dengan riahnya.
Berhari-hari Yoga Kumala dengan diikuti Dirharn berjalan terus menuju kearah Timur mengikuti
arus air sungai Musi, dengan angan-angan yang sedih kusut dan jauh merana. Kadang-kadang mereka
beristirahat di tengah-tengah hutan ataupun diperdesan di rumah-rumah para petani yang dijumpainya
dalam perjalanan, ada kalanya jalan yang ditempuhnya terputus karena menjumpai daerah rawa-rawa
yang sukar untuk dilaluinya, sehingga mereka harus menempuh perjalanan memutar arah.

Dalam perjalanan itu mereka tak banyak bercakap-cakap hanya Dirhamlah yang selalu berusaha
menghibur Yoga Kumala dengan nasehat-nasehat demi berhasil dalam mengemban tugas yang mulia
itu. Dan kiranya Yoga Kumala menjadi sadar kembali. Dalam hati ia bersumpah, tak akan kembali
sebelum dapat memenangkan peperangan dan membebaskan seluruh tawanan serta menumpas
gerombolan pengkhianat Kobar. Iapun rela untuk mengorbankan jiwa, demi menjunjung tinggi tugasnya
itu.

Sebulan telah berlalu, dan kini mereka berdua telah tiba diperbatasan Kotaraja Sriwijaya dekat
bandar Muara Musi. Mereka singgah disebuah desa pinggir kota raja itu dan atas petunjuk Dirham,
mereka berdua berganti pakaian sebagai petani-petani biasa. Dengan demikian mereka tak kuatir akan
di curigai oleh para tamtama kerajaan musuh.
Sambil menunggu saat para utusan dari pasukan yang terpecah pecah sebagaimana dahulu kala
telah ditentukan, Yoga Kumala dan Dirham menjelajahi Kota Raja dengan menyamar sebagai rakyat
biasa, ataupun sebagai pedagang keliling.
Tiba-tiba diwaktu larut malam, sedang mereka berdua merebahkan badan untuk mengaso
disebuah rumah penginapan, pintunya diketuk pelan-pelan oleh orang. Cepat Yoga Kumala dan Dirham
menyandang pedangnya dan membuka pintu, sambil bersiap siap untuk menghadapi segala
kemungkinan. Orang itu segera memasuki kamar dan dengan tangkasnya ia menutup rapat pintunya
kembali, dengan tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ia mengenakan pakaian serba hitam dengan
kepalanya tertutup topi anyaman dari alang-alang liar, melihat gerakan tamu yang tak, diundang itu,
ujung pedang pusaka Yoga Kumala berkelebat dan telah menempel di punggung orang yang sedang
menutup pintu.
— Jangan bergerak!!! Perintah Yoga Kumala singkat dengan nada yang tertahan. Namun aneh.
Orang itu sedikitpun tak memperlihatkan kecemasannya, bahkan seakan-akan tak menghiraukan sama
sekali ancaman Yoga Kumala.
Dengan tenangnya ia memalingkan kepalanya kearah Yoga Kumala, sambil membuka topinya
yang lebar dan hampir menutupi matanya itu.
Sesaat Yoga Kumala terperanjat demi melihat wajah tamunya itu. Pedang pusaka disarungkan
kembali dan ia menubruk orang yang berbaju serba hitam serta memeluknya erat-erat.
— Kakang Talang Pati! Tak kusangka bahwa aku dapat berjumpa denganmu disini . . . . !!
— Adi Yoga! Hampir satu tahun aku menjelajah mengembara untuk mencarimu dan akhirnya
dewata mempertemukan kita kembali. Suatu pertemuan yang sangat mengharukan.
Mereka saling berpelukan dengan eratnya. Sedangkan Dirham hanya berdiri dengan mulut
ternganga.
Perlahan lahan mereka masing - masing melepaskan pelukannya dan kini kedua saudara angkat
duduk berdekatan ditempat pembaringan Yoga Kumala.
— Oh Ya, hampir-hampir aku lupa memperkenalkan denganmu Dirham! Ini adalah kakak
angkatku kakang Talang Pati! kata Yoga pada Dirham yang masih saja berdiri ternganga.
Cepat Dirham mendekat dan membungkukkan badannya sambil berkata pelan — Selamat
datang Gustiku Talang Pati.
— Saya adalah pengawal pribadi Gustiku Yoga Kumala!—
Sambil memegang pundak Dirham dan mempersilahkan untuk duduk didekatnya, Talang Pati
menyahut jangan menyebutku dengan Gusti, karena aku bukan priyagung seperti adikku Yoga Kumala!
Panggillah aku dengan Kakang Talang Pati saja.

Sejenak Dirham memandang pada Yoga Kumala dan kemudian menundukkan kepalanya. Ia
merasa janggal dan canggung untuk menyebutnya Talang Pati dengan kakang. Bukankah ia berhak pula
akan sebutan Gusti, karena adi angkatnya seorang priyagung yang mempunyai kekuasaan penuh sebagai
penjabat Senapati Manggala Yudha Kerajaan Negeri Tanah Melayu Pagar Ruyung yang besar itu.
Kiranya Yoga Kumala cepat dapat mengungkap isi hati Dirham. Dan sambil bersenyum ia berkata
padanya — Penuhilah kehendak kakang Talang Pati itu, Dirham. Ia memang aneh dan selalu bersikap
merendahkan diri. Maka panggillah ia dengan sebutan "Kakang" saja agar hubunganmu dengannya tak
canggung lagi.—
— Baik Gusti! ... Dan maafkan kakang Talang Pati. Demi memenuhi kehendakmu dan perintah
Gustiku, perkenankanlah saya memanggilmu "Kakang" sahut Dirham sambil berpaling pada Talang
Pati.—
— Bagus! Bagus! Aku lebih senang akan perlakuan yang dernikian, Dirham! — Jawab Talang Pati
dengan senyumnya lebar. Kini ketiganya menjadi lebih akrab lagi dan percakapan berlangsung dengan
asyiknya hingga pagi hari walau percakapan itu, Talang Pati menceritakan, bahwa kedatangannya adalah
memenuhi perintah gurunya Kakek Dadung Ngawuk. Ia diharuskan mencari Yoga Kumala hingga ketemu
dan selanjutnya mendampingi dalam suka deritanya.
Dalam perdialanan Talang Pati telah pernah bertemu dengan Martiman dan Martinem dan kedua anak
itu kini dititipkan pada Bupati Indramayu Wirahadinata ayah angkat Yoga Kumala. Dengan singkat
diceriterakan bahwa pertemuan dengan Martiman dan Wirtinem waktu itu dalam keadaan yang sangat
menyedihkan. Kedua anak itu berada dalam cengkeraman seorang penjahat lumpuh yang shakti
bergelar „si Ular Merah" Mereka dipaksa bekerja sebagai pengemis secara bergantian demi kebutuhan
hidupnya si Ular Merah. Ia menjumpai Martinem sewaktu anak itu sedang mengemis dengan pakaian
yang kumal dan compang camping. Anak itu sendiri kurus kering.

Dengan menangis terisak-isak Martinem menceriterakan bahwa kantong kulit yang berisikan harta milik
Yoga Kumala dahulu dirampasnya dan kakaknya Martiman diikatnya dan diancam akan dibunuh jika ia
tak mau mengemis untuk kepentingan sipenjahat itu. Dan jika kakaknya Martiman yang dilepas untuk
mengemis maka ia Martinemlah yang diikat sebagai jaminan, agar Martiman tak dapat melarikan diri.
Penderitaan itu baru berakhir setelah Talang Pati dalam pertempuran yang sengit dapat membunuh si
penjahat Ular Merah.
Dan dari mulut si Ular Merah sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir Talang Pati mengetahui,
bahwa Kobar adalah keturunan tunggal dari sipenjahat shakti. Kepada Yoga Kumala dinasehatkan agar
selalu waspada dalam menghadapi Bupati Anom Tamtama Kobar.
Yoga Kumala mendengarkan ceritera Talang Pati dengan perasaan2 yang sangat iba.
Dalam kesempatan itu Yoga Kumala tak lupa pula menyerahkan sebuah cincin batu akik „panca warna
warisan mendiang gurunya mbah Duwung.
Akan tetapi cincin batu itu diserahkan kembali pada Yoga Kumala dan dijelaskan akan
khasiatnya.
Dalam menjelajahi hutan belantara, cincin batu " Panca warna" itu apabila dipakai dapat
mengusir binatang binatang buas, karena binatang-binatang itu takut pada pancaran sinarnya.

*
* *

B A G I A N VI
HARI ITU telah lewat siang tengah bari. Matahari telah condong ke barat dengan memancarkan
sinar teriknya, ditengah-tengah lembah hutan yang lebat agaknya Sungai Ogan dan Sungai Komering
nampak adanya gerombolan manusia yang 3edanq duduk bercakap-cakap dengan asyiknya.
Pohon-pohon yang tumbuh liar dan lebat itu kiranya dapat dijadikan tempat persembunyian
yang aman.
Diantara pohon-pohon yang rindang dan tumbuh liar terdapat sebuah pohon raksasa yang telah
berabad-abad usianya. Daun-daunnya menyerupai pohon beringin demikian pula batang dan ranting
rantingnya. Tapi akar-akarnya yang panjang bagaikan tali tambang tumbuh lebat dibatang dan cabang-
cabangnya yang besar, bergantungan dimana-mana tak teratur. Akar pokoknya yang dibawah amat
besar dan kokoh, menonjol keluar dan menjulur kesemua penjuru.
Besar pohonnya kira-kira lebih dari pelukan lima orang bergandeng- Demikian besarnya dan
rindangnya pohon itu hingga dapat melindungi seratus oranq lebih dari panas terik matahari dan hujan
Sesungguhnya lembah hutan belantara itu tak seberapa jauh letaknya dari kota RaJja Sriwiijaya.
Ia berada disebelah selatan dan dapat ditempuh dengan jalan kaki sehari penuh hingga sampai
di Kotaraja. Akan tetapi karena lembah hutan itu amat lebatnya dan ba yak rawa rawa serta binatang-
binatang buas, maa tak seorangpun sudi memasuki hutan belukar itu.
Dan baru pertama kali inilah tempat yang tak pernah dikunjungi oleh manusia, menjadi tempat
pertemuan para Tamtama dan Priyaguna Kerajaan Negeri Tanah Melayu Pagar Ruyung yang dipimpin
oleh Yoga Kumala. Mungkin bagi mereka dipandangnya sebagai suatu tempat yang paling aman untuk
merundingkan sesuatu rahasia yang amat penting berkenaan dengan siasat rencana perangnya.
Ternyata memang benar demikian.
Kini tempat itu telah menjadi kota dan dinamakan kota Kayu Agung sebagai kenang kenangan
pada pohon raksasa yang pernah berdiri megah dan bersejarah dimasa-masa yang telah silam.
Yoga Kumala dengan didampingi oleh Talang Pati dan Dirham duduk bersandar pada pohon
raksasa.
Sedangkan Damar Kerinci duduk dekat dihadapannya. Dibelakang tamtama Damar Kerinci dan
sekitarnya nampak para tamtama utusan-utusan dari pasukan2 jang kini telah mengepung Kota Raja
Sriwijaja dari segenap penjuru dalam Susunan perang "Sandhi Yudha"
Dalam pasewakan paripurna ditengah hutan belantara ini telah ditentukan waktu dan harinya
untuk mengadakan serangan serentak yang langsung ditujukan pada Kota Raja jantung kekuasaan
Kerajaan Sriwijaya. Dan isyarat-isyarat sebagai printah pucuk pimpinan dari Mangsala Yudha Yoga
Kumala telah pula ditetapkan.
Senapati Damar Kerinci berkenan untuk sementara waktu memimpin pasukan penyerbuan,
sedangkan Yoga Kumala akan membebaskan seluruh tawanan dan menumpas gerombolan bajak laut
yang dipimpin Kobar.
Pasewakan yang dihadiri para utusan utusan pasukan yang terdiri dari 100 orang priyagung
tamtama kerajaan mulai berkobar dimana-mana induk pasukan tak mengherankan karena kebanyakan
praja Kerajaan yang memegang kekuasaan pada umumnya bertindak semena-mena terhadap rakyatnya.

Para bajak laut, perampok-perampok dan orang2 jahat dibina oleh para priyagung yang mempunyai
wewenang, untuk dijadikan perisai dan alat untuk memeras rakyat.
Ajaran-ajaran agama telah dikesampingkan, dan hanya nafsu angkara murkalah yang selalu
diketengahkan. Mereka telah tak mengenal lagi pada Tuhan Penciptanya. Demikian jauhnya mereka
tersesat.

Pendeta-pendeta yang mengajar kebajikan serta membela rakyat tertindas, diusirnya dan bahkan
banyak diantaranya yang dibunuh dengan secara kejam.
Kuil-kuil dan candi-candi tempat sembahyang tidak lagi mendapat perawatan sebagaimana
mestinya.
Rakyat miskin dan hidup dalam ketakutan. Kepercayaan pada kerajaan telah lenyap. Dengan demikian
keagungan Kerajaan Sriwijaya menjadi pudar.
Kedatangan pasukan - pasukan Kerajaan Negeri Tanah Melayu Pagar Rujung disambut oleh
rakyat bagaikan mendapat pelita dalam kegelapan.
Kaum pria yang masih memiliki keberanian segera menggabungkan diri dengan kerelaan untuk
turut serta dalam menumpas penguasa-penguasa yang menyeleweng dan tersesat jauh. Sedangkan
kaum wanita membantu dibelakang barisan dengan mengumpulkan perbekalan perbekalan pangan dan
sebagainya.
Dan mereka yang takut akan peperangan telah mulai mengungsi berbondong - bondong
menjauhi Kota Raja. Kiranya bukan hanya rakyat jelata saja yang mengungsi tetapi sebagian besar dari
para priyagung yang mencintai harta bendanya telah pula sibuk mengungsi dengan membawa hasil
perasaan rakyat yang berlimpah-limpah itu.
Mereka ingin hidup terus untuk dapat menikmati harta kekajaannya yang diperolehnya dengan
tak wajar.
yaaaa, merEka telah lupa bahwa mati dan hidup manusia berada dalam Kekuasaan Tuhan.—
Desa demi desa dan kota demi kota direbut dan beralih dalam tangan kekuasaan Kerajaan Negeri Tanah
Melayu Pagar Rujung.
Dengan menYusuri Sungai Komering sEbagai nelayan, akhirnya Yoga Kumala dengan didampingi
oleh Talang Pati dan Dirham dapat pula memasuki Bandar Muara Musi.
Sementara itu pasukan-pasukan kecil telah beradu pula Tanjung Kalimantan dan sebagian lagi
telah tiba disebelah selatan Muara Sungai Musi ialah didekat Muara Sungai Sabal.
Siang telah berlalu dan hari mulai gelap Dewi malam mulai nampak diketinggian dengan
pancaran sinarnya, menerangi remang remang mayapada, bagaikan Ratu Ayu yang sedang duduk di
Singgasana. Langit biru membentang cerah dan bintang-bintang gemerlapan diangkasa, laksana batu
permata yang bertaburan.

Muara Sungai Musi yang amat lebar mengalir dengan tenang. Namun jelas nampak adanya
suatu kesibukan yang lain dari biasanya diatas permukaan air yang setenang itu.
Berpuluh puluh perahu layar besar berlabuh di Bandar Muara sungai Musi. Bendera lambang
kebesaran Kerajaan Sriwijaja dan panji-panji berkibar-kibar diatas perahu yang berlabuh.
Satu diantaranya terdapat sebuah perahu layar yang cukup besar, dan berlabuh ditengah.tengah
dengan dihiasi lampu lampu dan pintu kain sutra yang beraneka warna.
Dari gladag sampai dimenara nampak terang benderang karena banyaknya Iampu yang
bergantian.
Para priyagung dan tamtama Kerajaan berpakaian kebesaran kelihatan hilir mudik di gladak
perahu itu dalam suasana kesibukan.

Kemudian terdengar sayup-sayup bunyi gamelan yang bertalu-talu dari atas geladak perahu layar itu.
Seorang priyagung dalam pakaian kebesarannya sebagai Senapati Manggala muda tamtama
Kerajaan Sriwidiaja tiba tiba muncul diatas geladak. Ia berdiri sempoyongan sambil ketawa riang
terbahak bahak dalam keadaan setengah mabok karena kebanyakan minuman keras.
Ia adalah pengkhianat Kobar yang sedang pesta pora hendak melangsungkan perkawinannya
dengan Indah Kumala Wardhani diatas geladak perahu layar itu. Sepuluh pengawal pribadinya dalam
pakaian tamtama Kerajaan mengikuti di belakangnya.
Menyusul kini para priyagung yang kebanyakan terdiri para pemimpin bajak laut, hingga hampir
memenuhi ruang diatas geladak.
— Hai, Berhala dan Kelingi!! Bawalah segera sesaat untuk upacara perkawinanku itu kemari.
Haa, ha, haaa ha !! Suara perintah Kobar terdengar lantang diiringi tawanya yang terbahak-bahak.
Dua orang yang diperintah itu segera turun kebawah dan tak lama kemudian kembali diatas
geladak dengan membawa 3 orang tawanan yang masing-masing diikat kedua tangannya kebelakang
erat-erat. Yalah 2 orang pria dan seorang wanita. Ternyata dua orang pria itu adalah Sontani dan Braja
Semandang, sedangkan wanita yang rambutnya terurai dan duduk tertunduk adalah Ktut Chandra.
Ketiga-tiganya berpakaian serba hitam dan duduk berpegang pada dinding perahu.
Sesaat suasana menjadi sunyi, karena perhatian para hadiriin kini terpusat pada ketiga tawanan
yang duduk tertunduk tak bergerak itu.
Beberapa hadirin ada yang berbisik-bisik sambil sebentar-sebentar berpaling kearah Ktut
Chandra. Ada yang merasa kasihan demi menyaksikan putri pulau Dewata itu. Tetapi banyak pula yang
hanya merasakan sayang, karena tertarik akan cantiknya, dan bukan karena perasaan perikemanusiaan.
Tak seorang berani membuka mulut menyatakan perasaannya. Semua hadirin membisu. Mereka
tahu bahwa Kobar memegang kekuasaan yang tinggi dan apapun yang dikehendaki tak akan ada yang
dapat merintanginya.
Suasana sepi itu hanya berlangsung sejenak. Karena tiba2 Kobar berbicara lantang memecah
kesunyian. — Hadirin dan segenap priyagung tamtama Kerajaan yang berada dibawah perintahku! Kini
upacara perkawinanku akan segera dimulai. Sebagai upacara pembukaan aku akan sesaji pada dewa-
dewa yang bersemayam di Sungai Musi lambang kebesaran kita ini dan Dewa2 di lautan.
Sesajiku berupa darah manusia yang segar. Darah kedua pria yang akan kupenggal lehernya
nanti adalah untuk Dewa Sungai Musi, sedangkan darah gadis remaja adalah sesajiku untuk Dewa2 di
Lautan.

Kali ini aku akan sesaji besar dan lain dari pada biasanya demi untuk syahnya perkawinanku dan
demi untuk kemenangankul Aku berjanji pula pada segenap priyagung tamtama yang berada dibawah
perintahku, bahwa kelak akan kuberi hadiah-hadiah dan pangkat yang setimpal dengan jasa-jasa
saudara-saudara.
Ketahuilah bahwa cita-citaku tentu akan tercapai. Tak lama lagi aku tentu akan duduk
disinggasana Kerajaan Sriwijaya, karena saudara-saudara telah mengetahui sendiri, bahwa si Baginda
kini telah lolos meninggalkan Kerajaan. Kiraku dengan kekuatan yang ada sekarang, aku sangat mudah
untuk menumpas Sanggahan Alam beserta pasukannya.
Ini semua akan segera ku lakukan, setelah pesta perkawinanku selesai! Nah!...saudara-saudara
hadirin semua! Jika ada sesuatu usul ataupun pertanyaan-pertanyaan hendaklah segera diajukan
sebelum aku memulai dengan sesaji! —
Suaranya parau tetapi berkumandang penuh wibawa. Kata demi kata dapat jelas ditangkap oleh
para priyagung yang hadir.

Kiranya Kobar telah memusatkan tenaga shaktinya untuk memumalkan rasa maboknya. Seakan-akan ia
percaya penuh pada kemampuannya sendiri. Suatu khayalan yang bayang bayang, bahwa ia sebentar
lagi akan menjadi raja telah nampak didepannya.
Maksud siasat pengkhianatan yang kedua kalinya ini tentu akan berhasil pula pikirnya.
Ia menyapu dengan pandangan mata yang tajam kearah semua
Dan segenap priyagung yang kebanyakan terdiri dari para pimpinan bajak laut dan perampok -
perampok itu menanggapi maksud pengkhianatan Kobar dengan sangat gembira. Telah lama mereka
menunggu-nunggu ketegasan Kobar. Mereka saling berebut menunjukkan kesetiaannya, demi
kepentingan masing-masing.
Dan nafsu angkara murkanya melonjak-lonjak. Mereka ingin cepat-cepat dapat menikmati
kekuasaan yang lebih dari pada sekarang dengan harta kekayaan yang berlimpah limpah, sekalipun
harus menginjak2 kerangka2 rakyatnya sendiri.
Kini mereka berunding untuk mengajukan usul masing-masing. Suaranya beriring memenuhi
geladak perahu layar yang besar itu bagaikan lembah dalam sarang.
Kelingipun nampak mondar-mandir dan turut serta berunding dengan para priyagung yang
berkelompok2.
Sejenak kemudian, tiba2 Kelingi menghadap Kobar dan bicara dengan semangat yang me-nyala2.
— Gustiku Kobar! saya mewakili! segenap para priyagung untuk menyampaikan sesuatu usul.—
— Bagus ! Bagus! Bicaralah segera!— Sahut Kobar sambil tertawa lebar.
— Gustiku Kobar tentunya telah mengetahui tentang kesetiaan2 kita semua. Dan kemampuan2
serta jasa-jasa kita semua selama mengabdi pada Gustiku Kobar tentunya telah diketahui pula. Dan
kiranya gustiku tentu takkan ragu2 lagi pada kita.
Untuk apakah Gustiku Kobar menunda2 pemberian pangkat pada kita? Bukankah Gusriku Kobar
sekarang telah pula menentukan dan mengangkatnya sebagai calon dengan disaksikan oleh kita semua
yang hadir?
Dengan demikian kita akan lebih bersemangat dalam mengemban tugas masing2.
Sesaat Kelingi berhenti bicara, sambil berpaling kearah hadirin, seakan2 menunggu suara
dukungan dari teman2nya. Namun kesemuanya diam dan hanya saling ber-bisik2 lirih, menunggu
jawaban keputusan Kobar.
Tiba2 Kobar ketawa ter-bahak2 sambil berbicara lantang: — Ha . . . Ha Haaa . . . .usul yang bagus ! Aku
telah dapat menangkap isi hati kalian, Baiklah ! Hari ini juga aku akan membentuk Kerajaan bayangan,
dan aku sendirilah Maharajanya. Susunan tatapraja.
Kerajaan bayangan ini akan kutentukan sekarang juga, agar kalian tiada ragu2 lagi, dan kelak
setelah menjadi suatu kenyataan, kalian tinggal menduduki pangkat dan jabatan sesuai dengan
ketentuan2 yang telah saya tempatkan sekarang!.
Tepuk tangan terdengar riuh gegap gempita menyambut ketegasan Kobar. Dan memang itulah
yang telah lama dinanti2 oleh mereka.
Semua puas dengan diliputi oleh rasa gembira
— Diam! Dan dengarlah keputusan saya baik2!!—
Mendengar seruan Kobar yang berwibawa itu, suasana kini menjadi sepi. Tak seorangpun berani
membuka mulutnya.
Dengan hati yang berdebar2 mereka menanti keputusan tentang pemberian pangkat bayangan
pada masing2.
Dalam hati Sontani, Brojo Semandang dan Ktut Chandra yang duduk dilantai geladak, ketawa
geli pula demi mendengar percakapan mereka itu.
Akan tetapi ketiga2nya tetap saja duduk tertunduk dengan tenang mereka tak berdaya, karena
kedua belah tangan masing2 dibelenggu kebelakang erat2.
— Sampai saat akan menghadapi hukuman maut, mereka tak menunjukan rasa takutnya.
Mereka telah menyerah pada Dewata Yang Maha Agung, Maha Kuasa serta Maha sayang dan asih.
Rasa cemasnya telah hilang lenyap dan sedikitpun mereka tak mengeluh.
Mereka telah percaya penuh, bahwa apapun yang akan terjadi adalah kehendak Dewata Yang Maha
Agung.
— Berhala ! Bawalah calon permaisuriku keatas geladak, agar ia turut serta menyaksikan segala
keputusanku ini . . . .. Perintah Kobar kemudian.

Sejenak kemudian semua priyagung yang berada digeladak perahu itu bergeser, untuk memberi jalan
pada seorang wanita yang berkerudung putih dan dikawal oleh Berhala.

Semua hadirin segera membungkukkan badannya sebagai penghormatan atas hadirnya calon permaisuri
itu.
Namun puteri berkerudung putih itu sedikitpun tak menghiraukan akan penghormatan yang diberikan.
Ia tetap berjalan tenang dengan langkahnya yang kecil2 matanya memandang tajam kedepan dengan
pancaran sinarnya yang penuh wibawa. la adalah Indah Kumala Wardhani semua yang hadir diam
terpaku tak bergerak.
Dengan tangan yang masih terbelenggu serta duduk bersila Sontani berpaling sesaat kearah
Indah Kumala Wardhani dan kemudian tertunduk kembali. la tahu bahwa saat ini sang maut telah
berada diubun2nya; DETAK jantung yang berdebar2 ditekannya sendiri untuk kembali tenang; Tak sudi ia
mengeluh. Dan tak sudi pula ia merengek-rengek meminta belas kasihan Kobar agar jiwanya dilindungi.

Dan demikian pula kiranya perasaan Braja Semandang dan Khut Chandra.
Mati ditangan musuh, sebagai tamtama adalah merupakan hal yang wajar.
Akan tetapi . . . . demi menyaksikan hadirnya Indah Kumala Wardhani yang sebentar lagi akan
menyerah menjadi istrinya Kobar, mereka tak rela Rasa hatinya akan membrontak, akan tetapi apa
daya! Mereka telah dibelenggu erat2 hingga tak mungkin dapat melepaskannya.
Benarkah Indah Kumala Wardhani akan menyerah sedemikian saja ? Jika tidak, mengapa lndah
Kumala Wardhani sudi datang memenuhi panggilan Kobar? Bukankah ia dapat berbuat sesuatu untuk
menentangnya ? Melawan ataupun bunuh diri? Akan tetapi kesempatan untuk melayangkan angan-
angan itu tiba-tiba berhenti seketika.
Indah Kumala Wardhani yang kini berada kira kira tiga langkah lagi dari Kobar, tiba-tiba berdiri
tegak serta membuka dengan renggutan pada krudungnya sendiri.
— Bangsat pengkhianat Kobar! trimalah hadiahku ini! — serunya.
Bersamaan dengan lenyapnya seruan Indah Kumala Wardhani, sebuah tusuk konde melesat
bagaikan kilat mengarah dada Kobar.
Serangan lemparan tusuk konde yang tidak diduga sebelumnya membuat Kobar terkesiap.
sesaat. Ia melompat tinggi kesamping untuk menghindari senjata rahasia yang aneh itu, sambil berseru
mengejek dan menghunus pedangnya.
— Ha haaa haaa ha! tak kusangka bahwa calon istriku dapat pula bermain main dengan tusuk
kondenya!!!
Namun walaupun ia terhindar dari bahaya maut itu akan tetapi bulu tengkuknya berdiri juga.
Karena ternyata lengan kirinya masih dapat tergores dengan mengeluarkan darah segar.
Kiranya serangan yang dilancarkan oleh Indah Kumala Wardhani tidak berhenti hanya sekian
saja, sebagai cucu dari Ajengan Cahaya Buana yang sejak kecil mendapat warisan ilmu kanuragan dan
membenci sifat-sifat kejahatan, ia menjadi lebih marah setelah mengetahui serangannya yang pertama
gagal.
la maju selangkah sambil melepaskan angkin sutra dari pinggangnya, dan bersamaan dengan
berkelebatnya angkin sutra merah ditangan kanannya itu, dua buah tusuk kondenya dilemparkan
beruntun mengarah kepala dan dadanya Kobar.
— Sambutlah senjataku pamungkas ini serunya!
Saat itu Kobar belum berdiri tegak, dan kiranya tak mungkin untuk melompat menghindar.
Pedang pusaka ditangan kanan Kobar berputar cepat sambil merendah, menghindari
melesatnya tusuk konde emas yang mengarah kekepalanya bagaikan sambaran kilat :Criiiing! Sebuah
tusuk konde terkena sambaran pedang pusaka Kobar hingga terpental dan jatuh tertancap diatas
geladak tepat dihadapan Sontani yang sedang duduk tak berkutik.
Akan tetapi, tiba-tiba hadirin yang diam terpaku melihat ketangkasan Kobar itu, kini menjadi
gaduh.
Karena bersamaan dengan terpentalnya sebuah tusuk konde, Kobar tiba2 beseru tertahan sambil
terhuyung huyung kebelakang tiga langkah dengan mendekap pada mata sebelah kirinya. Aduh —!

Kiranya ia kurang waspada dan sebuah tusuk konde lagi mengarah dadanya kini tepat mengenai
mata sebelah kiri, secara kebetulan karena pada saat itu ia merendah.
Lebih sejari tusuk konde itu menghujani dimata kirinya dan darah mengalir deras.
— Jahanam iblis betina!— Saksikan dulu sesajiku.— Seru Kobar sambil membalikkan badannya
serta mengayunkan pedang pusakanya dalam gaya „tebangan maut„ mengarah leher Sontani yang
sedang duduk dengan terbelenggu.
— Aaaiiiii ! — Suatu jeritan panjang melontar dari mulut Indah Kumala Wardhani dan
bersamaan dengan jeritannya, ia langsung menubruk Sontani yang sedang duduk diambang maut.
Kiranya sebagai seorang putri, ia tak tega mehhat kekejaman Kobar yang akan merenggut jiwa
Sontani.
Dan lebih dari itu, iapun ingin mengadu jiwa demi melindungi Sontani kekasihnya.
Tiba tiba perahu layar itu bergoncang-goncang keras . . . . Pedang pusaka Kobar yang hampir
mengenai sasaran terbentur pada sebuah pedang pusaka lain yang berkelebat tepat menghadang
arahnya.
Yoga Kumala dengan pakaian hitam yang basah kuyub telah berada dihadapan Kobar dengan
pedang pusaka terhunus.
Beratus-ratus tamtama kerajaan Pagar Ruyung dengan pakaiannya yang basah kuyub mengikuti
jejak Yoga Kumala dan langsung menyerang para priyagung yang berada digeladak itu.
Rencana pesta upacara perkawinan kini menjadi pertempuran yang besar.
Suatu serangan yang tiba2 dan tak terduga sama sekali, Jeritan ngeri terdengar susul-menyusul
diselingi oleh gemerincing beradunya senjata. Pertempuran berlangsung sengit, dan telah banyak pula
kepala manusia terpisah dart badan serta jatuh tercebur di Sungai Musi.

— Aaaaiiiiii ! — Suatu jeritan panjang, melontar dari mulut Indah Kumala Wardhani dan
bersamaan dengan jeritannya. ia langsung menubruk. Sontani yang sedang duduk
diambang maut.

— Haaai Kobar!! Hukumaa maut untukmu sebagai pengkhianat, kini telah tiba pada saatnya? maka
segeralah mohon ampun pada Dewata, sebelum kau menghadapNya!! — Seru Yoga sambil menyerang.
— Haa Haaa! Jahanam budak penjilat! Yoga Kumala. Kedatanganmu adalah mengantar jiwa.
Maka menyerahlah sebelum terlambat !—
Membalas demikian Kobar sambil melompat kesamping menghindari serangan Yoga Kumala
yang bertubi-tubi dan membalasnya pula dengan jurus-jurus pedang warisan ayahnya si Ular Merah
yang terkenal ampuh itu.
Walaupun matanya yang kiri telah terluka dan menjadi buta. namun Kobar yang shakti itu masih
juga dapat mengimbangi ketangkasan Yoga Kumala.
Dua pedang pusaka berkelebat menyambar-nyambar pada masing-masing lawan, dan sebentar-
sebentar terlihat muncratnya percikan api karena beradunya kedua pedang pusaka.
Sementara itu Sontani. Braja Semandang dan Ktut Chandra telah terbebas belenggunya berkat
bantuan Talang Pati, kini mereka telah mengamuk dalam kancah pertempuran.
Dengan pedang rampasan Sontani menyerang Berhala. Sedangkan Braja Semandang menghadapi Kelingi
yang sedang mengamuk punggung bagaikan Banteng terluka.
Empat priyagung tamtama pasukan Kobar mengurung Talang Pati dengan senjatanya masing2.
Namun Talang Pati yang bersenjatakan cambuk ular dan golok panjang, murid setia Mbah Duwung dan
murid terakhir dari kakek Dadung Ngawuk yang shakti itu dengan mudah ia dapat merobohkan keempat
lawannya. Belum sampai sepuluh jurus keempat lawannya telah roboh menjadi darah dan jatuh terjebur
terbenam arus Sungai Musi.
Cepat Talang Pati melompat kesamping dan hendak membantu Yoga Kumala. Akan tetapi
kiranya ini tak dikehendaki oleh Yoga.
— Kakang Talang Pati! biarlah pengkhianat Kobar ini mati ditanganku! Dan Bantulah teman-
teman yang lain! Elak Yoga Kumala.

Dikala itu, waktu tengah malam. Langit biru membentang cerah, dan bulan nampak bulat
diketinggian dengan memancarkan cahayanya yang terang remang2.
Bintang bintang berta buran diangkasa.
Awan putih bagaikan kapas tipis bergantungan terpencar2 merupakan hiasan yang indah.
Air sungai Musi yang keruh mengalir bercampur lumpur kini menjadi kemerah merahan karena
bercampur darah. Mayat-mayat yang terapung terbawa arus segera lenyap menjadi santapan ikan-ikan
buas. Suatu sesaji besar bagai keagungan Sungai Musi.
Pertempuran masih berlangsung terus dengan sengitnya tiba-tiba beratus-ratus panah berapi
berlintasan diudara dan perahu-perahu layar yang berlabuh disekitarnya menjadi lautan api. Kiranya
pasukan Kerajaan Kerajaan Negeri Tanah Melayu Pagar Ruyung atas perintah Damar Kerinci telah datang
membantu pasukan Yoga Kumala.
Disela-sela asap hitam yang bergulung gulung membumbung keangkasa dan api yang menjilat-jilat itu,
pertempuran sengit tengah berlangsung pula.
Beberapa perahu-perahu layar tenggelam didasar Muara Sungai Musi dengan diiringi suara
jeritan-jeritan ngeri.
Pun bersamaan waktunya, nampak disebelah barat diatas Kota Raja Kerajaan Sriwijaja asap
hitam bergulung gulung membumbung tinggi dan api menyala menjilat jilat diangkasa. Langit yang
tadinya cerah cemerlang, kini menjadi gelap tertutup awan hitam semburat merah.
Pertempuran besar di Kota Raja, kiranya tekah mengakhiri sejarah keagungan Sriwijaya.
Demi melihat lautan api disekitarnya. Kobar segera menggagalkan serangannnya. Ia melompat tinggi
tinggi dan Iangsung menceburkan diri di Sungai Musi yang deras mengalir.
Pertempuran terhenti dengan sendirinya.
Musuh yang masih hidup segera membuang senjatanya masing-masing tanda menyerah.
Berhala dan Kelingi mati dengan kepala terbabat pisah dari badan oleh amukan Sontani dan Braja
Semandang.
Suara genderang bertalu dengan diiringi derap langkah kaki kuda yang beribu-ribu terdengar
didaratan tebing Muara Sungai Musi Pasukan Keradiaan Negeri Tanah Melayu Pagar Ruyung dibawah
pimpinan Bintang Minang telah tiba untuk menyambut Yoga Kumala beserta pasukannya.
Dalam sambutan besar itu, Manggala Yudha Bintang Minang berkenan pula memberikan
anugerah gelar "Pahlawan Pengemban Sumpah Palapa terachir" pada Yoga Kumala.
Fajar telah merekah diufuk timur, dan cahayanya yang cerah semburat kuning keemasan
memancar menerangi buana.
Bendera-bendera Sang Saka "Dwiwarna" berkibar kibar dengan megahnya disepanjang jalan
seluruh Kota Raja, memenuhi Sumpah " Tan Amukti Palapa ", ialah Sumpah Shakti mendiang Maha Patih
Gajah Mada. (Akhir abadXIV).
Tak lama kemudian Kota Raja mengadakan pesta besar untuk merayakan hari perkawinan
ampat pasang temanten agung.

YOGA KUMALA dengan KTUT CHANDRA


S o n t a n i mendapatkan dengan Indah Kumala Wardani
Braja Semandang dengan Sampur Sekar
Sedangkan Ratnasari hidup berbahagia dengan suaminya Talang Pati.

TAMAT