Anda di halaman 1dari 10

CATATAN KECIL PERUBAHAN UUJN NO.

2 TH 2014

Pada tanggal 17 Desember 2013 Rapat paripurna DPR telah menyetujui


RUU Tentang Perubahan UU No. 30 tahun 2004 tengtang Jabatan
Notaris. Rancangan UU ini merupakan hak inisiatif DPR. Berkaitan
dengan hal tersebut maka dengan ini saya hendak memberikan
beberapa catatan berkaitan dengan RUU ini setelah diundangkan
menjadi UU no 2 tahun 2014 Tentang Perubahan UUJN No 30 tahun
2004 (selanjutnya dalam artikel ini disebut UU Perubahan) tersebut
sebagai berikut:

Pembahasan Perubahan UUJN mengenai perlekatan sidik jari dalam


Pasal 16 ayat (1) huruf C yang menyebutkan :
“melekatkan surat dan dokumen serta sidik jari penghadap pada minuta
akta”

Pasal 16 ayat (1) huruf C ini berkaitan pula dengan, Pasal 1 poin 8 dan
Pasal 44 ayat (1) dan (2). Pasal 1 poin 8 menyebutkan bahwa :
“Minuta akta adalah asli akta yang mencantumkan tanda tangan para
pengahadap, saksi, dan notaris yang disimpan sebagai bagian dari
Protokol Notaris”

Sedangkan Pasal 44 ayat (1) dan (2) menyebutkan bahwa :


Ayat (1) : “ segera setelah akta dibacakan, akta tersebut ditandatangani
oleh setiap penghadap , saksi, dan notaris, kecuali apabia ada
penghadap yang tidak dapat membubuhkan tanda tangan dengan
menyebutkan alasannya”
Ayat (2) : “alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan
secara tegas pada akhir akta”

Dalam UUJN sebelumnya pengertian Minuta Akta adalah Asli Akta


Notaris. Dengan UUJN Perubahan ini pengertian minuta akta sudah
diperjelas lagi dengan adanya penambahan pencatuman tanda tangan
para penghadap, saksi dan notaris yang disimpan sebagai bagian dari
Protokol Notaris. Kaitannya dengan Pasal 16 ayat (1) huruf C adalah
dalam pasal tersebut mengatur tentang kewajiban notaris yakni dengan
kewajiban melekatkan surat dan dokumen serta sidik jari pengahadap
pada minuta akta.

Melekatkan surat dan dokumen dalam minuta akta dalah merupakan


hal yang sudah lazim dan seharusnya terjadi dalam pembuatan akta
karena surat dan sokumen ini merupakan dokumen pendukung dari
suatu akta yang didalamnya terdapat perbuatan hukum para pihak.

Sedangkan melekatkan sidik jari adalah hal yang baru, walaupun


mungkin terdapat juga notaris yang dalam pembuatan aktanya, selain
meminta tanda tangan dari para penghadap juga meminta sidik jari.

Melekatkan sidik jari ini tidak dalam minuta akta tapi dibuat secara
terpisah layaknya surat dan dokumen. Karena juga dalam pengertian
minuta akta tidak disebutkan adanya sidik jari dalam minuta akta. Yang

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah, SH, MH. 1


menjadi pertanyaan adalah jika terdapat keadaan sebagaimana yang
disebutkan dalam Pasal 44 ayat (1). Apakah dalam minuta akta tetap
tidak ada sidik jari ?

Hal ini menurut pendapat penulis sebagai kerancuan dalam UU ini.


Walaupun ada pula yang berpendapat bahwa tidak ada sidik jari dalam
sebuah minuta akta. Namun, ketentuan Pasal 44 ayat (1) dan ayat (2)
pada dasarnya bisa dikatakan sebagai bentuk pengecualian dari minuta
akta sebagaimana yang dijelaskan dalam Pasal 1 poin 8. Rasanya aneh
ketika melihat dalam suatu minuta akta hanya ditandatangani seorang
pengahadap, jika penghadap yang lain tidak bisa bertanda tangan, maka
sidik jarinya bukan di minuta akta tapi dilembaran terpisah yang akan
dilekatkan bersama surat dan dokumen pada minuta akta.

Kewajiban melekatkan sidik jari dalam minuta akta sebagai bukti


pendukung dari kehadiran seorang penghadap. Maka dapat dikatakan
bahwa melekatkan sidik jari berdasarkan Pasal 16 ayat (1) huruf C
tersebut sama dengan bukti kehadiran seorang pengahadap, atau daftar
hadir. Berbeda konteksnya dengan Pasal 44 ayat (1) dan ayat (2), disini
menurut pemahaman saya ada pengecualian dalam minuta akta yang
jika penghadapnya tidak bertanda tangan maka boleh memakai sidik
jari, karena konteks sidik jari atau tandan tangan dalam minuta akta
adalah sebagai bentuk persetujuan terhadap apa yang diuraikan dalam
akta. Hal ini tentunya berbeda dengan melekatkan sidik jari bersama
surat dan dokumen berdasarkan Pasal 16 ayat (1) huruf C, sidik jari
dalam konteks pasal ini dapat dipahami sebagai bentuk bukti
kehadiran. Jadi disini dapat dilihat ada perbedaan mengenai sidik jari
dalam Pasal 16 ayat (1) huruf C adalah merupakan bentuk bukti dari
kehadiran seorang pengahdap, sedangkan dalam Pasal 44 ayat (1) dan
(2) adalah merupakan bentuk bukti persetujuan.

Pada dasarnya kegiatan sosialisasi perubahan UUJN ini juga


dimanfaatkan oleh PP INI sebagai bentuk penyatuan pandangan dalam
berpraktek, walaupun saya diatas sudah memberikan pandangan awam
saya terhadap materi atau isi dari pasal dalam Perubahan UUJN, PP INI
sudah memiliki kesepakatan sebelum usaha PP-INI untuk
memperjuangkan pelaksanaan dari Pasal 16 ayat (1) huruf c diperoleh
dengan jelas dan tegas, kesimpulan Rapat PP INI pada tanggal 15
Januari 2014 adalah sebagai berikut :
- Pengertian surat dan dokumen adalah surat dan dokumen yang
berhubungan dengan identitas diri Penghadap;
- Untuk Minuta akta : tidak ada pencantuman sidik jari di dalam
minuta, baik untuk akhir akta maupun perubahan akta;
- Sedangkan untuk Pasal 16 ayat (1) huruf c, diartikan : bagi mereka
yang tidak dapat membubuhkan tanda tangan pada minuta, harus /
wajib melekatkan sidik jari pada kertas tersendiri yang dilekatkan pada
minuta akta.
- Untuk mereka yang menandatangani minuta akta, melekatkan sidik
jari dipergunakan untuk kepentingan kehati-hatian, guna memenuhi
ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf c tersebut.
- Yang dimaksud dengan sidik jari adalah cap ibu jari tangan kanan.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah, SH, MH. 2


1. Kewajiban Notaris Untuk melekatkan sidik jari penghadap pada
Minuta Akta

Selain mengenai sidik jari, ada juga yang menarik dalam Perubahan
UUJN ini, yaitu adanya pengaturan mengenai Kewajiban seorang
Calon Notaris, hal ini diatur dalam Pasal 16 A, yang menyebutkan
bahwa :
Ayat (1) : Calon Notaris yang sedang melakukan magang wajib
melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16
ayat (1) Huruf a.
Ayat 2 : selain kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1), calon
notaris juga wajib merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang
dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan
akta.

Kewajiban yang dibebankan kepada Calon Notaris dalam Pasal 16 A


ayat (1) tersebut jika dilihat sebenarnya cukup baik, namun
kewajiban yang tanpa sanksi adalah hal yang tak perlu diwajibkan.
Dan kalaupun juga akan dikenakan sanksi hal ini terlalu jauh dalam
mengatur Calon Notaris karena kedudukannya masih belum
berstatus Notaris terkecuali dalam hal proses Calon Notaris untuk
menjadi Notaris.

Sedangkan dalam ayat (2) Pasal 16 A tersebut, terdapat frasa yang


membingungkan, frasa “calon notaris juga wajib merahasiakan
segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan
yang diperoleh guna pembuatan akta”. Hal ini tentunya bertentangan
dengan ketentuan UU karena Calon Notaris tidak mempunyai
kewenangan dalam membuat akta, terkecuali Calon Notaris tersebut
berkedudukan sebagai Notaris Pengganti.

Jaminan perlindungan dan jaminan tercapainya kepastian hukum


terhadap pelaksanaan tugas notaris sebagai pejabat umum yang
menjalankan profesi dalam memberikan jasa hukum kepada
masyarakat, perlu mendapatkan perlindungan dan jaminan demi
tercapainya kepastian hukum. Dengan perubahan UUJN ini
dimaksudkan untuk lebih menegaskan dan memantapkan tugas,
fungsi, dan kewenangan Notaris sebagai pejabat yang menjalankan
pelayanan publik, sekaligus sinkronisasi dengan undang-undang
lain.

Pasal 16 ayat (1) huruf c menentukan “Dalam menjalankan


jabatannya, Notaris wajib: ...c. melekatkan surat dan dokumen serta
sidik jari penghadap pada Minuta Akta;”

Ketentuan ini serta menimbulkan pertanyaan bagi kita Notaris,


apakah maksud dari ketentuan ini. Apakah dengan adanya
ketentuan tersebut berarti bahwa dalam setiap pembuatan akta
dalam bentuk minuta akta maka Notaris wajib meminta sidik jari

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah, SH, MH. 3


dari semua penghadap dan sidik jari tersebut dilekatkan pada
minuta akta atau bagaimana.Adanya pertanayan tersebut karena
penjelasan UU Perubahan tersebut tidak memberikan penjelasan
terhadap hal tersebut.

Ada yang berpendapat demikian yaitu setiapa pembuatan akta dalam


bentuk minuta maka Notaris wajib meminta sidik jari para
penghadap dan melekatkannya pada minuta akta dan ada pula yang
berpendapat tidak demikian, Notaris tidak wajib meminta kepada
penghadap untuk meberikan sidik jarinya dan kemudian dilekatkan
pada minuta akta. Pendapat yang kedua ini didasaekan pada
ketentuan pasal 44 UUJN yang tidak mewajibkan bagi notaris untuk
meminta membubuhkan sidik jarinya disampinbg kewajibna untuk
membubuhkan tandatangannya.

Saya lebih setuju dengan pendapat yang kedua ini, disamping


memng pasal 44 UUJN tidak mewajibkan hal; tersebut, juga
berdasarkan bunyi pasal 16 ayat 1 huruf c UUJN tersebut. Pasal 16
ayat 1 UUJN menempatkan kewajiban untuk melekatkan sidik jari
pada minuta akta satu nafas dengan kewajiban untuk melekatkan
surat dan dokuemn. Kewajiban untuk melekatkan surat dan
dokumen pada minuta akta wajib dilakukan apabila memng ada
surat atau dokumen yang dijadikan dasar untuk pembjuatan akta.
Sehubungan dengan hal tersebjut maka menurut saya demikian juga
yang berlaku bagi “sidik jari”. Kewajiban untuk melekatkan sidik jari
pada minuta akta wajib dilakukan oleh Notaris apabila di dalam
pembuatan suatu akta ada digunakan sidik jari. Misalnya dalam hal
penghadap tidak dapat menandatangani akta maka disamping
surrogat tandatangan apabila Notaris menggunakan sidik jari sebagai
pelngkap untuk menggantikan tandatangan penghadap maka sidik
jari tersebut wajib dilekatkan pada minuta akta, apakah dengan
membubuhi ibu jari kiri penghadap pada minuta akta atau
menempelkan sdidik jari penghadap pada lembar tersendiri dan
kemudian dilekatkan pada minuta akta.

2. Kewajiban Notaris untuk membackan Akta dihadapan penghadap


dengan dihadiri 4 (empat) orang saksi khusus untuk pembuatan
akta wasiat dibawa tangan.

Pasal 16 ayat (1) huruf m menentukan: “Dalam menjalankan


jabatannya, Notaris wajib: m. membacakan Akta di hadapan
penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi,
atau 4 (empat) orang saksi khusus untuk pembuatan Akta wasiat di
bawah tangan...”

Pasal ini juga serta menimbulkan pertanyaan, apakah disamping


berwenang, Notaris juga berwenag untuk membuat akta dibawah
tangan, bukankah setiap akta yang dibuat oleh atau dihadapan
notaris merupakan akta otentik.Akta yang mana yang dibuat oleh
atau dihadapan notaris tapi kedudukannya hanya sebagi akta
dibawah tangan selain akt-akatb yng tidak memenuhi sayarat
otentisitas atau akta-akta yang pembuatannya melaqnggar ketentuan

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah, SH, MH. 4


pasal tertentu dalam UUJN sehingga hanya mempunyai kekuatan
pembuktian sebagi akta yang dibuat di bawah tangan.

Jika melihat redaksi pasal 16 ayat (1) huruf m tersebut dimana


kehadiran 4 (empat) orang saksi dikaitkan dengan akta wasiat,
menurut saya sebenarnya maksud dari pembuatan UU bgukanlan
pembuatan akta wasiat dibawah tangan akan tetapi pembjatan akta
penyimpanan surat wasiar rahasia (acte van supersciptie)
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 940 KUHPerdata.Pasal 940
KUHPerdata menentukan bahwa dalam pembuatan surat wasiat
tertutup atau rahasia, surat wasiat tersebut diserahkan kepada
notaris dan kemudian Notaris membuat akta penyimpanan surat
wasiat tersebut dengan dihadiri oleh 4 (empat) orang saksi. Inilah
yang mungkin dimaksud oleh pembuat UU. Menurut saya terdapat
kekeliruan redaksi di dalam pasal 16 ayat 1 huruf m tersebut, yang
seharusnya bisa diperbaiki sebelum UU tersebut
disahkan.Kekeliruhan tersebut hisa terjadi karena mereke terburu-
buru di dalam merumuskan pasal tersebut atau kurang paham
terhadap masalah pembuatan surat wasiat.

3. Tempat kedudukan Notaris sebagai PPAT wajib mengikuti tempat


kedudukan Notaris
Pasal 19 ayat (2) di dalam RUU menentukan “Tempat kedudukan
Notaris sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah wajib mengikuti tempat
kedudukan Notaris.”

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah, SH, MH. 5


Ada beberapa cataan yang hendak saya kemukakan berkaitan
dengan ketentuan ini:

1) Pasal ini berlebihan karena sebenarnya di dalam pasal 17 ayat


(1) huruf g telah mengatur larangan bagi Notaris untuk
merangkap jabatan sebagai PPAT di luar tempat kedudukan
Notaris;
2) Ketentuan ini tidak tepat karena mengatur perihal jabatan lain
di luar notaris.Pasal ini mewajibkan PPAT untuk mempunyai
berkantor di kantor Notaris.
3) Redaksi pasal ini juga kurang tepat dengan menyatakan “...
Notaris sebagai Pejabat Pembuat Akta tanah..”. Jabatan Notaris
dan Pejabat Pembuat Akta tanah adalah dua jabatan yang
terpisah sekalipun dapat dijabat oleh orang yang sama sekaligus
(rangkap jabatan).

4. Notaris dapat menjalankan jabatnnya dalam bentuk persekutuan


Pasal 20 di dalam RUU menentukan:
(1) Notaris dapat menjalankan jabatannya dalam bentuk persekutuan
perdata dengan tetap memperhatikan kemandirian dan
ketidakberpihakan dalam menjalankan jabatannya.
(2) Bentuk persekutuan perdata sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur oleh para Notaris berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.”

Berdasarkan ketentuan Pasal 20 tersebut maka dengan demikian


untuk Nlotaris yang henadk membentuk suatu persekutuan dapat
langsung mengadakan hal tersebut tanpa perlu lagi menunggu
persyaratan yang ditetapkan di dalam peraturan menteri. Notaris
dapat membentuk persekutuan perdata di dalam menjalankan
prakteknya dengan memperhatikan ketentuan mengenai
pembentukan persekutuan perdata yang diatur di dalam
KUHPerdata dan sekaligus memperhatikan rambu-rambu yang ada
di dalam UUJN.

5. Redaksi pasal 35 ayat 1 UUJN


Pasal 35 ayat 1 dalam RUU berbunyi:” Apabila Notaris meninggal dunia,
suami/istri atau keluarga sedarah dalam garis lurus keturunan
semenda sampai derajat kedua wajib memberitahukan kepada Majelis
Pengawas Daerah.”

Jika kita perhatikan bunyi redaksi pasal 35 ayat 1 UUJN tersebut


seolah-olah ada kata atau kalimat yang hilang. Kenapa demikian coba
kita lihat penggalan kalimat ini : “Apabila Notaris meninggal dunia,
suami/istri atau keluarga sedarah dalam garis lurus keturunan
semenda sampai derajat kedua...”. Siapa yang dimaksud dengan
“keluarga sedarah dalam garis lurus keturunan semenda sampai derajat
kedua tersebut.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah, SH, MH. 6


Sebelumnya di dalam UUJN Pasal 35 ayat 1 berbunyi: “Apabila Notaris
meninggal dunia, suami/istri atau keluarga sedarah dalam garis
lurus keturunan semenda dua wajib memberitahukan kepada Majelis
Pengawas Daerah.” Rupanya sebelumnya sudah disadari adanay kesalah
redaksi di dalam pasal 35 ayat (1) UUJN tersebut, hal mana pernah saya
sampaikan kepada salah seorang yang terlibat di dalam penyususnan
UUJN pada saat pertama kali UUJN disahkan.

Namun ternyat perbaikan yang ada di dalam RUU juga tetap tidak
membuat redaksi pasal tersebut dapat dipahami.

Berkaitan dengan redajsi tersebut menurut say seharusnya redaksi


pasal tersebut berbunyi : Apabila Notaris meninggal dunia, suami/istri
atau keluarga sedarah atau keluarga semenda Notaris sampai
derajat kedua wajib memberitahukan kepada Majelis Pengawas
Daerah.”

6. Bahasa yang digunakan dalam pembuatan akta


Pasal 43 di dalam UU Perubahan menentukan:

(1) Akta wajib dibuat dalam bahasa Indonesia.


(2) Dalam hal penghadap tidak mengerti bahasa yang digunakan
dalam Akta, Notaris wajib menerjemahkan atau menjelaskan isi
Akta itu dalam bahasa yang dimengerti oleh penghadap.
(3) Jika para pihak menghendaki, Akta dapat dibuat dalam bahasa
asing.
(4) Dalam hal Akta dibuat sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
Notaris wajib menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.
(5) Apabila Notaris tidak dapat menerjemahkan atau
menjelaskannya, Akta tersebut diterjemahkan atau dijelaskan
oleh seorang penterjemah resmi.
(6) Dalam hal terdapat perbedaan penafsiran terhadap isi Akta
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka yang digunakan
adalah Akta yang dibuat dalam bahasa Indonesia.

Terhadap Pasal 43 ini saya mempunyai catatan sebagai berikut:

1) Pasal ini tidak menentukan secara tegas bahwa akta wajib dibuat di
dalam bahasa yang dimengerti oleh notaris. Hal tersebut berbeda dengan
apa yang ditentukan di dalam Pasal 43 ayat (4) yang menentukan:” Akta
dapat dibuat dalam bahsa lain yang dipahami oleh notaris dan
saksi ...”.Demikian juga di dalam Pasal 27 ayat (1) PJN yang
menentukan “ Akta dapat di buat dalam bahasa yang dikehandaki oleh
para pihak, asal saja dimngerti oleh notaris”.

Sudah seharusnya suatu akta yang dibuat oleh atau dihadapan notaris
wajib dibuat didalam bahasa yang dimengerti oleh notaris. Bagaimana
Notaris dapat mengetahui keinginanpara pihak, bagaimana notaris
mengetahui bahwa akta yang dibautnya telah sesuai dengan apa yang
diinginkan oleh para pihak jika notaris tidak mengerti bahsa yang
digunakan di dalam pembuatan akta tersebut.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah, SH, MH. 7


2) Berdasarkan bunyi pasal 43 ayat (6) UU Perubahan tersirat bahwa jika
Notaris dibuat dalam bahasa lain selain bahsa Indonesia maka akta
notaris tersebut dibuat dalam 2 (dua) bahasa (bilingual). Akan tetapi
jika kita perhatikan bunyi pasal 43 ayat (6) yang menunjuk kepada pasal
43 ayat (2) maka kita lihat bahwa di dalam pasal 43 ayat (2) tidak
terdapat ketentuan untuk membuat akta di dalam 2 (dua) bahasa. Pasal
43 ayat (2) menentukan:” Dalam hal penghadap tidak mengerti bahasa
yang digunakan dalam Akta, Notaris wajib menerjemahkan atau
menjelaskan isi Akta itu dalam bahasa yang dimengerti oleh
penghadap.”Jadi pasal 43 ayat (2) hanya mewajibkan kepada notaris
untuk menerjemahkan atau menjelaskan isi akta ybs kepada penghadap
dalam bahasa yang dimengerti oleh penghadap. Tidak terdapat
ketentuan adanya kewajiban untuk pembuatan akta dalam 2 (dua)
bahasa.

7. Pembetulan kesalahan pada akta


Pasal 51 di dalam UU Perubahan menentukan:
(1) Notaris berwenang untuk membetulkan kesalahan tulis dan/atau
kesalahan ketik yang terdapat pada Minuta Akta yang telah
ditandatangani.
(2) Pembetulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di
hadapan penghadap, saksi, dan Notaris yang dituangkan dalam
berita acara dan memberikan catatan tentang hal tersebut pada
Minuta Akta asli dengan menyebutkan tanggal dan nomor Akta berita
acara pembetulan.
(3) Salinan Akta berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib
disampaikan kepada para pihak.
(4) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(2) mengakibatkan suatu Akta hanya mempunyai kekuatan
pembuktian sebagai akta di bawah tangan dan dapat menjadi alasan
bagi pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian
biaya, ganti rugi, dan bunga kepada Notaris.

Kewenangan untuk melakukan pembetulan pada suatu akta akibat


adanya kesalahan tulis dan/atau kesalahan ketik yang terdapat pada
minuta akta dapat dilakukan oleh notaris dengam membuat berita acar
pembetulam. Namun terdapat perbedaan ketentuan yang diatur didalam
UUJN dengan yang ada di dalam UU Perubahan.
Di dalam UUJN pembetulan tersebut dapat dilakukan oleh Notaris tanpa
perlu adanya kehadiran dari para penghadap. Namun di dalam UU
Perubahan kewenangan untuk melakukan pembetulan tersebut hanya
dapat dilakukan oleh notaris apabila pembetulan itu dilakukan dengan
kehadiran penghadap.

Terhadap ketentuan ini saya mempunyai catatan sebagai berikut:

1) Pasal 51 ayat 2 UU Perubahan menentukan :” Pembetulan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di hadapan penghadap,
saksi, dan Notaris yang dituangkan dalam berita acara dan memberikan
catatan tentang hal tersebut pada Minuta Akta asli dengan
menyebutkan tanggal dan nomor Akta berita acara pembetulan.” Adanya

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah, SH, MH. 8


ketentuan yang menyatakan bahwa “Pembetulan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan di hadapan penghadap, saksi, dan Notaris yang
dituangkan dalam berita acara ...” seolah-olah menunjukkan bahwa
pembetulan itu bukan dilakukan oleh Notaris akan tetapi dilakukan oleh
pihak lain dihadapan penghadap, saksi dan Notaris.
2) Pasal 51 tidak menyebutkan siap yang wajib menandatangani akta
berita acara tersebut, apakah akta tersebut ditandatangabni oelh
notarius dan saksi-saksi saja atau ditandatangani penghadap, saksi dan
notaris.
3) Dengan adanya kewajiban hadirnya penghadap di dalam pelaksanaan
pembetulan tersebut maka sebenarnya ketentuan ini sudah kehilangan
maknanya, jadi sebenarnyab tidak perlu dimuat di dalam UUJN karena
jika pembetulan tersebut harus dihadiri oleh penghadap maka
pembetulan atau perbaikan tersebut tidak dilakukan oleh Notaris atapi
dilakukan oleh penghadap dengan membuat akta perbaikan.

8. Majelis Kehormatan Notaris

Di dalam UU Perubahan terdapat satu lembaga baru yaitu Majelis


Kehornatan Notaris. Namun sangat disayangkan di dalam pasal 1 UUJN
di dalam UU Perubahan tidak disebutkan apoa yang dimaksud dengan
Majerlis Kehornatan tersebut, seperti pasal 1 menjelaskan lembaga-
lembaga lainnya antara lain majelis pengawas. Mungkin hal ini
merupakan kealfaan dari para perumus UU Perubahan, sehingga seolah-
olah lembaga baru ini hanya merupakan suatu tempelan belaka.

Adanya Majelis Kehormatan Notaris daqpat dilihat di dalam ketentuan


Pasal 66 ayat 1 UUJN dalam UU Perubahan yang menentukan:
“Untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau
hakim dengan persetujuan majelis kehormatan Notaris berwenang:...”

Dan selanjutnya diatur di dalam pasal 66 A yang berbunyi:

(1) Dalam melaksanakan pembinaan, Menteri membentuk majelis


kehormatan Notaris.
(2) Majelis kehormatan Notaris berjumlah 7 (tujuh) orang, terdiri atas
unsur:
a. Notaris sebanyak 3 (tiga) orang;
b. Pemerintah sebanyak 2 (dua) orang; dan
c. ahli atau akademisi sebanyak 2 (dua) orang.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas dan fungsi, syarat dan tata
cara pengangkatan dan pemberhentian, struktur organisasi, tata
kerja, dan anggaran majelis kehormatan Notaris diatur dengan
Peraturan Menteri.”

Pasal-pasal tersebut tidak mengatur kewenangan apa yang dimiliki oleh


MKN. Karena kewenangan MKN tidak diatur di dalam UU maka menurut
saya sangat sulit bagi MKN ungtuk menjalankan tugasnya kelak yang
diatur berdasarkan Peraturan Menteri.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah, SH, MH. 9


9. Pengaturan sanski atas pelanggaran ketentuan di dalam UUJN

Pengaturan sanksi terhadap pelanggaran yang ada di dalam UUJN


sudah cukup lengkap akan tetapi penempatan ketentuan-ketentuan
mengenai sanksi tersebut kurang dilihat dari sistimatika pembautan UU.

Ada sanksi yang diatur di dalam ayat-ayat pasal-pasal UUJN yang


bersangkutan seperti ayat (2) Pasal 7, ayat (11) pasal 16, ayat (2) pasal
17 dan ada sanksi yang diatur dalam pasal tersendiri dengan menunjuk
pasal yang dilanggar, seperti sansk terhadap pelanggaran pasal 58 dan
59 UUJN yang diatur di dalam pasal 65 A.

Menurut penulis alangkah lebih baik jika sanksi tersebut diatur didalam
pasal tersendiri dengan menyebutkan pasal-pasal yang dilanggar,
dengan mengelompokkannya sesuai jenis sanksinya.

Misalnya pelanggaran yang mengakibatkan akta notaris hanya


mempunyai kekuatan pembuktian sepeti akta yang dibuat dibawah
tangan dikelompokkan dalam pasal tersendiri dengan menyebutkan
pasal-pasal yang bersangkutan, demikian juga pelanggaran yang
mengakibatkan dikenakannya sanksi administratif berupa peringatan
tertulsi sanpai dengan pemberhentian dengan tidak hormat
dikelompokkan dalam pasal tersendiri dengan menyebutkan pasal-pasal
yang bersangkutan.

Demikian sedikit catatan pinggir dari penulis, semoga dapat menjadi


masukan bagi kita semua.

Semoga bermanfaat

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah, SH, MH. 10