Anda di halaman 1dari 25

PENGARUH PEMBERIAN CACING TANAH TERHADAP

PERTUMBUHAN TANAMAN KACANG HIJAU

DISUSUN OLEH :

PENDIDIKAN BIOLOGI A/ KELOMPOK 5

1. NUR AZMA SEPTI A (16304241005)

2. PUTI ALIFIA ARTALANI (16304241006)

3. PUJI LESTARI (16304241007)

4. I. RYAN WINADHA (16304341044)

5. KHARISMA DIAH T.K (16304241045)

6. ARIF RAHMAN (16304244001)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2016
A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pertumbuhan meruapkan proses yang akan dialami oleh setiap hidup.


Pertumbuhan merupakan pertambahan volume suatu organisme dan bersifat
irreversible (tidak dapat kembali seperti semula). Pertumbuhan tanaman
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu eksternal dan internal. Faktor internal terdiri
dari gen dan hormon. Sedangkan faktor ekseternal terdiri dari suhu, kelembaban,
air, cahaya, dan nutirsi. Selain yang disebutkan, salah satu faktor eksternal lain
yang mempengaruhi pertumbuhan adalah cacing. Cacing juga masuk kedalam
faktor eksternal dalam pertumbuhan yaitu faktor nutrisi, yang dihasilkan cacing
melalui kotoranya. Cacing tanah mempunyai perilaku yang pergerakanya
menyuburkan tanah dengan membuat rongga rongga di tanah sehingga tanaman
dapat menyerap oksigen lebih banyak dari rongga rongga tersebut. Cacing dalam
kotoranya juga memiliki kandungan yang baik untuk penyuburan tanah. Selama
ini masyarakat beranggapan bahwa cacing merupakan penyubur tanah, sehingga
baik untuk pertumbuhan tanaman. Sudah banyak masyarakat membudidayakan
cacing namun hanya sebagai pakan hewan dan umpan ikan saja. Baru sedikit
orang menggunakan cacing untuk menyuburkan tanaman mereka. Para
masyarakat hanya menunggu cacing itu datang dengan sendirinya dan tidak
dengan sengaja untuk memberikan cacing untuk tanamanya. Dengan dasar
tersebut, peneliti hendak mengamati seberapa efektif pengaruh cacing terhadap
suatu pertumbuhan serta membuktikan bahwa anggapan masyarakat selama ini
benar atau tidak. Pembuktian ini bermaksud untuk mencari keefektifan cacing
tanah dan dapat memanfaatkanya lebih baik. Peneliti hendak membuat alternatif
baru untuk penyuburan tanaman tidak menggunakan pupuk namun bisa di ganti
dengan memberdayakan cacing pada pertumbuhan tanaman mereka.

2. Tujuan
Mengetahui efektifitas pemberian cacing tanah terhadap pertumbuhan tanaman
kacang hijau.
B. DASAR TEORI

1. Pertumbuhan
Pertumbuhan merupakan pertambahan jumlah dan pembesaran sel pada suatu
organisme yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali). Pertumbuhan dapat
disertai dengan terjadinya perubahan bentuk yang dapat diukur dan dinyatakan
secara kuantitatif.
Pertumbuhan pada tanaman diawali dengan proses perkecambahan biji.
Perkecambahan dapat terjadi apabila kandunagn air dalam biji semakin tinggi
kerena masuknya air melalui imbibisi dan mengaktifkan horman giberelin yang
merangsang terjadinya perkecambahan.
Pada waktu perkecambahan, kecambah yang bergantung pada makanan dalam
biji berkembang menjadi kecambah yang dapat berfotosintesis dan membuat
makananya sendiri. Mula-mula air masuk kedalam biji dengan imbibisi. Akar akan
segera dibentuk untuk menyerap tambahan air dan melekatkan tumbuhan pada
tanah berdasarkan tempat biji dalam proses perkecambahan (Estiti D. Hidajat.
1994: 205).
Perkecambahan dibagi menjadi dua tipe, yaitu perkecambahan epigeal dan
perkecambahan hipogeal. Perkecambahan epigeal (gea menunjukkan tanah, epi
berarti di atas). Pada proses ini, keping biji terangkat ke atas permukaan tanah
karena pemanjangan hipokotil. Kulit biji mejadi sedikit kehijauan jadi
berfotosintsis namun segera jatuh. Contoh : Kacang hijau (Phaseolus radiatus).
Perkecambahan hipogeal (gea menunjukkan tanah, hipo berarti di bawah). Pada
proses ini, bakal batang muncul di permukaan tanah namun keping biji tetap
berada di dalam tanah. Contoh : Jagung (Zae mays) (Estiti D. Hidajat 1994: 205).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu :
a. Faktor eksternal
1) Nutrisi; Tumbuhan memerlukan unsur mineral dengan jumlah tertentu.
Unsur yang diperlukan dalam jumlah banyak disebut unsur makro,
sedangkan unsur yang diperlukan dalam jumlah sedikit disebut unsur
mikro.
2) Cahaya; Cahaya mutlak diperlukan oleh semua tumbuhan hijau untuk
melakukan fotosintesis, tetapi pengaruhnya terhadap pertumbuhan
perkecambahan tumbuhan adalah menghambat, karena cahaya dapat
menyebabkan terurainya auxin sehingga dapat menghambat
pertumbuhan. Hal ini dapat dibuktikan apabila kita meletakkan dua
kecambah, yang satu di tempat gelap dan yang lain di tempat terang.
Dalam jangka waktu yang sama, kecambah di tempat gelap tumbuh
lebih cepat tetapi tidak normal. Pertumbuhan yang amat cepat di dalam
gelap ini disebut etiolasi.

3) Suhu; Secara umum, suhu akan berpengaruh terhadap kerja enzim. Bila
suhu terlalu tinggi, enzim akan rusak, dan bila suhu terlalu rendah
enzim menjadi tidak aktif.
4) Kelembaban atau kadar air; Sampai pada batas-batas tertentu, makin
tinggi kadar air, pertumbuhan akan makin cepat. Karena lebih banyak
kadar air yang diserap dan lebih sedikit yang diuapkan, akan
menyebabkan pembentangan sel-sel, dengan demikian sel-sel lebih
cepat mencapai ukuran maksimalnya.

b. Faktor internal

Selain faktor genetik, yang termasuk faktor-faktor dalam


adalah hormon-hormon yang terlibat dalam pertumbuhan tanaman.
Hormon merupakan substansi yang dihasilkan oleh tumbuhan, biasanya
dalam jumlah yang sangat sedikit yang berfungsi secara fisiologis
mengendalikan arah dan kecepatan tumbuh bagian-bagian dari tumbuhan.
Yaitu hormon auksin, giberelin, sitokinin, asam abisat,gas etilen,kalin, san
asam traumalin.

2. Kacang Hijau
Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas
di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini
memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan
pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan
ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah
(Sumbeang, Arianon. 2014)
Tanaman kacang hijau berbatang tegak dengan ketinggian sangat bervariasi,
antara 30-60 cm, tergantung varietasnya. Cabangnya menyamping pada bagian
utama, berbentuk bulat dan berbulu. Warna batang dan cabangnya ada yang hijau
dan ada yang ungu. Menurut Purwono (2012 : 12), Kacang Hijau diklasifikasikan
sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledone
Ordo : Rosales
Family : Leguminosae (Fabaceae)
Genus : Vigna
Spesies : Vigna radiate atau Phaseolus radiates
Secara morfologi tanaman kacang hijau memiliki batang pendek dan daun
cukup banyak dan buah lebat dibagian kuncupnya. Menurut Sumbeang (2014),
bagian dari tanaman kacang hijau antara lain akar, batang, daun, bunga, buah dan
biji.
a. Akar : Tanaman kayang hijau berakar tunggang. Sistem pengakarannya
dibagi menjadi dua, yaitu mesophytes dan xerophytes. Mesophytes
mempunyai banyak cabang akar pada permukaan tanah dan tipe
tertumbuhannya mentebar. Sementara xerophytes memiliki akar cabang
lebih sedikit dan memanjang ke akar bawah.
b. Batang : Batang kacang hijau berbentuk bulat dan berbuku-buku. Ukuran
batangnya kecil, berbulu, berwarna hijau kecokelatan atau kemerahan.
Setiap buku batang menghasilkan satu tangkai daun, kecuali pada daun
prtama berupa sepasang daun yang berhadapan dan masing-masing daun
berupa daun tunggal. Batang kacang hijau tumbuh tegak dengan ketinggian
mencapai 1 meter dengan cabang yang menyebar ke semua arah.
c. Daun : Kacang hijau memiliki daun trifoliate (terdiri dari tiga helaian) dan
letaknya berseling, tangkai daunya cukup panjang, lebih panjang dari
daunnyawarna daun hijau muda sampai hijau tua.
d. Bunga : Kacang hijau memiliki bunga warna kuning yang mulai muncul
28-33 hari, tersusun dalam tandan, keluar pada cabang serta batang dan
dapat melakukan penyerbukan sendiri.
e. Buah : Buah kacang hijau (polong) berbentuk selindris dengan panjang
antara 6-15 cm dan biasanya berbuluh pendek. Sewaktu muda polong
berwarna hijau setelah tua barwarna hitam atau coklat. Setiap polong berisi
10-15 biji.
f. Biji : Biji kacang hijau lebih kecil dibanding kacang- kacangan lain. Warna
bijinya kebanyakan hijau kusam atau hijau mengkilap, beberapa ada yang
berwarna kuning, coklat dan hitam.
3. Cacing Tanah
Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang
belakang (invertebrata) yang digolongkan dalam filum Annelida dan klas
Clitellata, Ordo Oligochaeta. Pengolongan ini didasarkan pada bentuk morfologi,
karena tubuhnya tersusun atas segmen-segmen yang berbentuk cincin (chaeta),
yaitu struktur berbentuk rambut yang berguna untuk memegang substrat dan
bergerak. Tubuh dibedakan atas bagian anterior dan posterior. Pada bagian
anteriornya terdapat mulut dan beberapa segmen yang agak menebal membentuk
klitelium (Edward & Lofty, 1977).
John (2007), menyatakan bahwa Famili yang sering ditemukan dari ordo
Oligochaeta adalah :
a. Famili Moniligastridae, contoh genus : Moniligaster.
b. Famili Megascolidae, contoh genus : Pharetma, Peryonix, Megascolex.
c. Famili Acanthodrilidae, contoh genus : Driplocardia.
d. Famili Eudrilidae, contoh genus : Eudrilus.
e. Famili Glossoscolecidae, contoh genus : Pontoscholex corenthurus.
f. Famili Spargonophilidae, contoh genus : Spargonophilus.
g. Famili Tubificidae, contoh genus : Tubifex.
h. Famili Lumbricidiae, contoh genus : Lumbricus, Eisnella, Binatos,
Dendrobaena, Octalasion, Eisena, Allobophora.

Paoletti (1999), menayatakan bahwa cacing tanah secara umum dapat


dikelompokkan berdasarkan tempat hidupnya, kotorannya, penampakan warna,
dan makanan kasukaannya sebagai berikut :

a. Epigaesis; cacing yang aktif di permukaan, waenanya gelap, penyamaran


efektif, tidak membuat lubang, oktoran tidak nampak jelas, pemakan
serasah di permukaan tanah dan tidak mencerna tanah. Contohnya :
Lumbricus rubrllus Lumbricus castaneus.
b. Anazesis; berukuran besar, membuat lubang terbuka permanen ke
permukaan tanah, pemakan serasah di permukaan tanah dan membawanya
ke dalam tanah, mencerna sebagian tanah, warna sedang bagian punggung,
penyamaran rendah, kotoran di permukaan tanah atau terselip di antara
tanah. Contohnya : Eophila tellinii, Lumbricus terrestris, Allolobophora
longa.
c. Endogaesis; hidup di dalam tanah dekat permukaan tanah, sering dalam
dan meluas, kotoran di dalam lubang, tidak berwarna, tanpa penyamaran,
pemakan tanah dan bahan organik, serta akar-akar mati. Contohnya :
Allolobophora chlorotica, Allolobophora caliginosa, dan Allolobophora
rosea.
d. Coprophagic; hidup pada pupuk kandang, seperti : Eisenia foetida,
Dendrobaena veneta, dan Metaphire schmardae.
e. Arboricolous; hidup di dalam suspensi tanah pada hutan tropik basah,
seperti : Androrrhinus spp.

Berdasarkan jenis makanannya cacing tanah dibagi menjadi tiga, yaitu:

a. Llitter feeder (pemakan bahan organik sampah, kompos, pupuk hijau)


b. Limifagus (pemakan tanah subur/mud atau tanah basah)
c. Geofagus (pemakan tanah)

Kelompok geofagus akan memakan masa tanah dan litter feeder/limifagus


biasanya dengan mendesak masa tanah. Hal ini berhubungan dengan kegiatan
membuat lubang yang berbeda pada tiap jenis cacing tanah. Ada yang dilakukan
dengan mendesak masa tanah dan ada juga yang dilakukan dengan memakan
masa tanah (Minnich 1977).

Aktivitas hidup cacing tanah dalam suatu ekosistem tanah dapat dipengaruhi
oleh berbagai faktor, seperti: iklim (curah hujan, intensitas cahaya dan lain
sebagainya), sifat fisik dan kimia tanah (temperatur, kelembaban, kadar air tanah,
pH dan kadar organik tanah), nutrien (unsur hara) dan biota (vegetasi dasar dan
fauna tanah lainnya) serta pemanfaatan dan pengelolaan tanah (Buckman &
Brady, 1982). Selanjutnya Wallwork (1970) menjelaskan bahwa keberadaan dan
kepadatan fauna tanah, khusunya cacing tanah sangat ditentukan oleh faktor
abiotik dan biotik. Disamping itu faktor lingkungan lain dan sumber bahan
makanan, cara pengolahan tanah, seperti di daerah perkebunan dan pertanian turut
mempengaruhi keberadaan dan distribusi cacing tanah.

Menurut Jayanthi (2013), faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan cacing


tanah sebagai berikut:

a. Kelembaban tanah
Kelembaban sangat berpengaruh terhadap aktivitas pergerakan cacing
tanah karena sebagian tubuhnya terdiri atas air berkisar 75-90 % dari berat
tubuhnya.
b. Suhu (temperatur) tanah
Suhu tanah pada umumnya dapat mempengaruhi pertumbuhan,
reproduksi dan metabolisme. Tiap spesies cacing tanah memiliki kisaran
suhu optimum tertentu, contohnya L. rubellus kisaran suhu optimumnya 15
0 0
– 18 C, L. terrestris ± 10 C, sedangkan kondisi yang sesuai untuk
aktivitas cacing tanah di permukaan tanah pada waktu malam hari ketika
0
suhu tidak melebihi 10,5 C (Wallwork, 1970).
c. PH tanah
Kemasaman tanah sangat mempengaruhi populasi dan aktivitas cacing
tanah sehingga menjadi faktor pembatas penyebaran dan spesiesnya.
Umumnya cacing tanah tumbuh baik pada pH sekitar 4,5- 6,6, tetapi
dengan bahan organik tanah yang tinggi mampu berkembang pada pH 3
(Fender dan Fender, 1990).
d. Kadar organik
Bahan organik tanah sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan
populasi cacing tanah karena bahan organik yang terdapat di tanah sangat
diperlukan untuk melanjutkan kehidupannya. Bahan organik juga
mempengaruhi sifat fisik-kimia tanah dan bahan organik itu merupakan
sumber pakan untuk menghasilkan energi dan senyawa pembentukan tubuh
cacing tanah (Anwar, 2007) .
e. Vegetasi
Suin (1982) menyatakan bahwa pada tanah dengan vegetasi dasarnya
rapat, cacing tanah akan banyak ditemukan, karena fisik tanah lebih baik
dan sumber makanan yang banyak ditemukan berupa serasah.
Cacing tanah Lumbricus rubellus diklasifikasikan oleh Hegner dan
Engemann (1968) sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Annelida
Class : Clitellata
Order : Haplotaxida
Family : Lumbricidae
Genus : Lumbricus
Species : Lumbricus rubellus
Sugiri (1984), menyatakan bahwa Cacing tanah Lumbricus rubellus mempunyai
bentuk tubuh yang gilig dengan panjang tubuh 8-14 cm. Tubuh bagian ventral lebih
pipih dan pucat dari bagian dorsal. Warna tubuh cacing ini adalah merah sampai coklat dengan
bagian dorsal yang lebih merah tua. Cacing Lumbricus rubellus mempunyai tubuh
bersegmen dimana pada seluruh tubuhnya terdapat 85-140 segmen. Setiap segmen
kecuali segmen pertama dan terakhir terdapat 4 pasang seta menjulur ke arah
lateral dan ventral.
Cacing tanah Lumbricus rubellus termasuk kedalam jenis composter apabila
dilihat berdasarkan perilaku hidup sic acing tanah yang hidup berkelompok. Jenis
cacing ini mudah ditemui pada tumpukan sampah organik di permukaan tanah
dengan memakan fungi, bakteri, serta algae. Bahan organik tadi kemudian dicerna
lalu dikeluarkan dalam bentuk kotoran (kascing) yang sangat berguna bagi
tanaman karena mengandung banyak unsur hara (kompos/humus). Di dalam
tanah, cacing tanah Lumbricus rubellus menurunkan PH tanah dengan cara
memakan tanah yang mampunyai PH rendah kemudian mengeluarkan kotoran
dengan PH normal yang dapat menggemburkan tanah (Jayanthi, Sri. 2013).
Cacing tanah Lumbricus rubellus merupakan binatang hermafrodit atau
biseksual karena memiliki dua alat kelamin, namun pembuahan tetap terjadi dari
perkawinan dua cacing yang menghasilkan satu kokon dan di dalam kokon
tersebut terdapat beberapa butir telur. Kokon akan menetas sekitar 14-21 hari
setelah di keluarkan dari tubuh cacing tanah (Jayanthi, Sri. 2013).
Siklus hidup cacing tanah dimulai dari kokon, cacing muda (juvenile) ,cacing
produktif, dan cacing tua. Lama siklus hidup ini tergantung padakesesuaian kondisi
lingkungan, cadangan makanan, dan jenis cacing tanah. Dari berbagai penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya, diperoleh lama siklus hidup cacing tanah Lumbricus rubellus
mulai kokon hingga mati adalah 1-5 tahun (Palungkun, 2008: 11).

C. METODE KEGIATAN

1. Alat Dan Bahan

a. Alat

 Pot Plastik (9 buah)


 Sekop (1 buah)
 Penggaris (1 buah)
 Alat penyiram (1 buah)
 Sarung tangan plastik (1 buah)
 Mangkuk (1 buah)
 Sepidol Putih (1 buah)

b. Bahan

 Biji Kacang Hijau (1 genggam)


 Cacing Tanah (21 ekor)
 Air (secukupnya)
 Tanah (secukupnya)
2. Langkah Kerja

merendam biji kacang hijau di dalam mangkuk kurang lebih selama 1 malam

menyeleksi biji yang sudah ada bakal tumbuhnya untuk ditanam

mengambil tanah di sekitar tempat percobaan dengan daerah dan struktur tanah yang sama

menandai pot dengan huruf A, B, C, A1, B1, C1, A2, B2, dan C2 dengan spidol putih

meletakkan masing masing 2 cacing di permukaan tanah dalam pot B, B 1, B2 dan tunggu hingga
cacing masuk kedalam pot

meletakkan masing masing 5 cacing di permukaan tanah dalam pot C, C1, C2 dan tunggu hingga
cacing masuk kedalam pot

menanam biji kacang hijau yang sudah di seleksi sebanyak 15 - 20 biji

menyiramnya secara rutin di pagi hari selama 3 hari

setelah 3 hari, menyeleksi tanaman kacang hijau yang tidak tumbuh maupun tidak sama tinggi
dan memilih sebanyak 5 tanaman

menyiram dan mengamati secara rutin di pagi hari sampai pertumbuhan hari ke 7

setelah 7 hari, mengukur tinggi tanaman dan mencatat hasil pengamatan

menumpahkan isi pot dan mengambil tanaman dengan perlahan menggunakan sarung tangan
serta mengecek status cacing

mengukur panjang akar, panjang daun, dan lebar daun


D. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pengamatan

Tabel hasil pegamatan

Tabel 1.1 Pengamatan Terhadap Pot A

Panjang Panjang Lebar


Tanaman Tinggi Tanaman
Akar Daun Daun
Ke (cm)
(cm) (cm) (cm)
1 21 18 4 2
2 19 5 4,5 2
3 21 9 4 2
4 22 5,5 4,5 2
5 18,5 5 3 1,5
Jumlah 101,5 42,5 20 9,5
Rata Rata 20,3 8,5 4 1,9

Tabel 1.2 Pengamatan Terhadap Pot B

Panjang Panjang Lebar


Tanaman Tinggi Tanaman
Akar Daun Daun
Ke (cm)
(cm) (cm) (cm)
1 21 6 4 2
2 19 6,5 3,5 1,5
3 18,5 7,5 4 2
4 19 7 3,5 2
5 18,5 7,5 3,5 1,5
Jumlah 96 34,5 18,5 9
Rata Rata 19,2 6,9 3,7 1,8

Tabel 1.3 Pengamatan Terhadap Pot C

Panjang Panjang Lebar


Tanaman Tinggi Tanaman
Akar Daun Daun
Ke (cm)
(cm) (cm) (cm)
1 16,5 6,5 4 1,5
2 18 8,5 4 1,5
3 16,5 7,5 3,5 1,5
4 16 9 2,5 1,5
5 16,5 7 4 2
Jumlah 83,5 38,5 18 8
Rata Rata 16,7 7,7 3,6 1,6
Tabel 1.4 Pengamatan Terhadap Pot A1

Panjang Panjang Lebar


Tanaman Tinggi Tanaman
Akar Daun Daun
Ke (cm)
(cm) (cm) (cm)
1 18 5,5 4,5 1,5
2 18 9,5 4,5 2
3 18 6,5 3,5 1,5
4 17,5 12 3 1,5
5 17,5 4 4 1,5
Jumlah 89 37,5 19,5 8
Rata Rata 17,8 7,5 3,9 1,6

Tabel 1.5 Pengamatan Terhadap Pot B1

Panjang Panjang Lebar


Tanaman Tinggi Tanaman
Akar Daun Daun
Ke (cm)
(cm) (cm) (cm)
1 14,5 13 4 2
2 13 11 3,5 1,5
3 16 7 3,5 1,5
4 15,5 5,5 2,5 1
5 14,5 10 3 1
Jumlah 73,5 46,5 16,5 7
Rata Rata 14,7 9,3 3,3 1,4

Tabel 1.6 Pengamatan Terhadap Pot C1

Panjang Panjang Lebar


Tanaman Tinggi Tanaman
Akar Daun Daun
Ke (cm)
(cm) (cm) (cm)
1 14 6 3 1,5
2 15 8 4 2
3 15 8,5 3,5 1
4 14,5 11 3,5 2
5 16 9,5 3,5 2
Jumlah 74,5 43 17,5 8,5
Rata Rata 14,9 8,6 3,5 1,7
Tabel 1.7 Pengamatan Terhadap Pot A2

Panjang Panjang Lebar


Tanaman Tinggi Tanaman
Akar Daun Daun
Ke (cm)
(cm) (cm) (cm)
1 15 6 4,5 1,5
2 16 3 3 1,5
3 14,5 6 3 1,5
4 12 4 4 2
5 13,5 4 3,5 1,5
Jumlah 71 23 18 8
Rata Rata 14,2 4,6 3,6 1,6

Tabel 1.8 Pengamatan Terhadap Pot B2

Panjang Panjang Lebar


Tinggi Tanaman
Tanaman Ke Akar Daun Daun
(cm)
(cm) (cm) (cm)
1 13 7 3,5 1,5
2 13,5 8 3,5 1,5
3 13,5 7,5 4 1,5
4 13,5 5,5 4,5 1,5
5 12,5 9 3,5 2
Jumlah 66 37 19 8
Rata Rata 13,2 7,4 3,8 1,6

Tabel 1.9 Pengamatan Terhadap Pot C2

Panjang Panjang Lebar


Tanaman Tinggi Tanaman
Akar Daun Daun
Ke (cm)
(cm) (cm) (cm)
1 14,5 9,5 4,5 2
2 15,5 12 4,5 2
3 15 7,5 4 1,5
4 14 4 3,5 1,5
5 13,5 7,5 3 1,5
Jumlah 72,5 40,5 19,5 8,5
Rata Rata 14,5 8,1 3,9 1,7
Tabel 2.1 Rata Rata Dari Pot A, B dan C

Rata Rata A’ (cm) B’ (cm) C’ (cm)


Tinggi Tanaman 17,4333 15,7 15,3667
Panjang Akar 6,86667 7,86667 8,13333
Panjang Daun 3,83333 3,6 3,66667
Lebar Daun 1,7 1,6 1,66667

Tabel 3.1 Gambaran Tanah Setelah Percobaan

Tanah A B C
Kelembaban Kering Lembab Lembab
Tekstur Tanah Keras Lunak Lunak
Jumlah Kototran Sedikit di Banyak, Bawah
Tidak Ada
Cacing Bawah dan Atas
Tanah Ketika
Tetap Sedikit Turun Turun
Disisram
Grafik Perbandingan

Grafik 1.1 Perbandingan Tinggi Tanaman

18
17.5
17
16.5
16
15.5
15
14.5
14
A' B' C'

Grafik 1.2 Perbandingan Panjang Akar

8.4
8.2
8
7.8
7.6
7.4
7.2
7
6.8
6.6
6.4
6.2
A' B' C'
Grafik 1.3 Perbandingan Panjang Daun

3.9
3.85
3.8
3.75
3.7
3.65
3.6
3.55
3.5
3.45
A' B' C'

Grafik 1.4 Perbandingan Lebar Daun

1.72
1.7
1.68
1.66
1.64
1.62
1.6
1.58
1.56
1.54
A' B' C'

2. Pembahasan

Percobaan grup project pertama dari grup kami dilaksanakan di Jogonalan


Kidul, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul pada hari Jumat tanggal 7-14 Oktober 2016.
Tujuan dari percobaan kali ini adalah mengetahui efektifitas pemberian cacing tanah
terhadap pertumbuhan tanaman kacang hijau.

Langkah pertama yang kami lakukan dalam percobaan ini adalah meletakkan
cacing pada permukaan tanah dan membiarkanya masuk. Lalu kami menanam
kacang hijau di dalam pot yang sudah di namai A,B,C,A1,B1,C1,A2,B2,C2 sebanyak
15-20 biji. Kami menyiram setiap pagi sekitar jam 6 sampai 7 dengan takaran
penyiraman yang sama setiap harinya. Setelah 3 hari, kami menyeleksi biji kacang
hijau dengan cara melihat rata rata tinggi tanaman kacang hijau dan mencabut yang
tidak sama tinggi. Setelah itu kami menunggu tanaman tumbuh selama 7 hari. Pada
akhir pengamatan, kami mencabut semua tanaman dan mengukur tinggi tanaman,
panjang akar, panjang dan lebar daun. Hal ini berbeda dari rencana awal yaitu
dengan penyemaian karena jika menggunakan metode penyemaian kami tidak dapat
mencabut tanaman dengan sempurna dan menanamnya kembali.

Setelah mengukur tinggi tanaman, panjang akar, panjang dan lebar daun kami
mencatatnya dan memperoleh hasil pengamatan yang berupa tabel. Pada tabel
pengamatan di pot A kami mengukur tinggi tanaman dengan rata rata 20,3 cm.
Panjang akar pada tanaman di pot a mempunyai rata rata 8,5 cm. Sedangkan rata rata
panjang daun tanaman di pot A adalah 4 cm dan rata rata lebarnya sebesar 1,9 cm.
Hasil pengamatan tersebut juga kami ambil gambarnya dan dapat dilihat pada
lampiran gb1.1. Saat pot A di keluarkan isinya, kami melihat tekstur tanah yang
padat dan mencetak bentuk potnya. Hal ini membuktikan bahwa tanpa ada peran
cacing, tanah tidak berongga.

Pada tabel pengamatan di pot B kami mengungukur tinggi tanaman dengan


rata rata 19,2 cm. panjang akar pada tanaman di pot B lebih pendek di banding pot A
yaitu dengan rata rata 6,9 cm. Sedangkan rata rata panjang daun tanaman di pot B
adalah 3,7 cm dan lebarnya 1,8 cm. Hasil pengamatan tesebut juga kami ambil
gambarnya dan dapat dilihat pada lampiran gb.1.2. saat kami menyiram pot B,
terdapat butiran butiran tanah yang terdapat di permukaan atas dan bawah pot yang
merupakan kascing (kotoran cacing). Saat pot B dikeluarkan isinya, kami melihat
tekstur tanah yang hancur. Hal ini membuktikan bahwa cacing membuat rongga pada
tanah. Kondisi cacing pada hari terakhir terlihat masih hidup dan lebih besar dari
sebelumnya.

Pada tabel pengamatan di pot C kami mengukur tinggi tanaman dengan rata
rata 16,7 cm. Panjang akar pada tanaman di pot C lebih panjang dibanding B yaitu
dengan rata rata 7,7 cm. Sedangkan rata rata panjang daun tanaman tersebut
sepanjang 3,6 cm dan rata rata lebar daun 1,6 cm. Hasil pengamatan tesebut juga
kami ambil gambarnya dan dapat dilihat pada lampiran gb1.3. saat kami akan
menyiram pot C kami melihat ada butiran butiran tanah yang sama seperti yang ada
di pot B namun lebih banyak dan terlihat di setiap sudut. Tanah yang ada pada pot C
juga lebih hancur dan tidak terlihat lagi tanah tanah yang mengeras seperti yang ada
di pot A. Kondisi cacing pada hari terakhir terlihat masih hidup dan lebih besar dari
sebelumnya.

Tidak jauh berbeda dengan pot A, pada tabel pengamatan di pot A1 kami
mengukur tinggi tanaman dengan rata rata 17,8 cm. Pajang akar pada tanaman di pot
A1 mempunyai rata rata 7,5 cm. Sedangkan rata rata panjang daun tanaman di pot A1
adalah 3,9 cm dan rata rata lebarnya sebesar 1,6 cm. Hasil pengamatan tersebut juga
kami ambil gambarnya dan dapat dilihat pada lampiran gb 2.1. Saat pot A1 di
keluarkan isinya, kami melihat tekstur tanah yang sama padatnya dan mencetak
bentuk potnya. Hal ini juga membuktikan bahwa tanpa ada peran cacing, tanah tidak
berongga.

Pada tabel pengamatan di pot B1 kami mengungukur tinggi tanaman dengan


rata rata 14,7 cm. panjang akar pada tanaman di pot B1 mempunyai rata rata 6,9 cm.
Sedangkan rata rata panjang daun tanaman di pot B1 adalah 3,7 cm dan lebarnya 1,8
cm. Hasil pengamatan tesebut juga kami ambil gambarnya dan dapat dilihat pada
lampiran gb. 2.2. saat kami menyiram pot B1, terdapat butiran butiran tanah yang
sama dengan pot B yang terdapat di permukaan atas dan bawah pot yang merupakan
kascing (kotoran cacing). Saat pot B1 dikeluarkan isinya, kami melihat tekstur tanah
yang hancur. Hal ini membuktikan bahwa cacing membuat rongga pada tanah.
Kondisi cacing pada hari terakhir terlihat masih hidup namun lebih lemas daripada
kondisi awalnya. Pada pot B1 ini terdapat banyak semut yang masuk ke tanah. Semut
semut itu mungkin ingin memakan bangkai cacing jika si cacing telah mati.

Pada tabel pengamatan di pot C1 kami mengukur tinggi tanaman dengan rata
rata 14,9 cm. Panjang akar pada tanaman di pot C1 lebih panjang dibanding B1 yaitu
dengan rata rata 8,6 cm. Sedangkan rata rata panjang daun tanaman tersebut
sepanjang 3,5 cm dan rata rata lebar daun 1,7 cm. Hasil pengamatan tesebut juga
kami ambil gambarnya dan dapat dilihat pada lampiran gb. 2.3. saat kami akan
menyiram pot C1 kami juga melihat ada butiran butiran tanah yang sama seperti yang
ada di pot B1 namun lebih banyak dan terlihat di setiap sudut. Tanah yang ada pada
pot C1 juga lebih hancur. Kondisi cacing pada hari terakhir terlihat masih hidup dan
lebih besar dari sebelumnya.

Pada tabel pengamatan di pot A2 kami mengukur tinggi tanaman dengan rata
rata 14,2 cm. Pajang akar pada tanaman di pot A2 mempunyai rata rata 4,6 cm.
Sedangkan rata rata panjang daun tanaman di pot A2 adalah 3,6 cm dan rata rata
lebarnya sebesar 1,6 cm. Hasil pengamatan tersebut juga kami ambil gambarnya dan
dapat dilihat pada lampiran gb.3.1 Saat pot A2 di keluarkan isinya, kami melihat
tekstur tanah yang sama padatnya dengan A1 dan A. Tanah tersebut juga mencetak
bentuk potnya. Hal ini juga membuktikan bahwa tanpa ada peran cacing, tanah tidak
berongga dan membuat tekstur tanah yang padat.

Pada tabel pengamatan di pot B2 kami mengungukur tinggi tanaman dengan


rata rata 13,2 cm. panjang akar pada tanaman di pot B2 mempunyai rata rata 7,4 cm.
Sedangkan rata rata panjang daun tanaman di pot B2 adalah 3,8 cm dan lebarnya 1,6
cm. Hasil pengamatan tesebut juga kami ambil gambarnya dan dapat dilihat pada
lampiran gb3.2. saat kami akan menyiram pot B2, terdapat butiran butiran tanah yang
sama dengan pot B1 yang terdapat di permukaan atas dan bawah pot yang merupakan
kascing. Saat pot B2 dikeluarkan isinya, kami melihat tekstur tanah yang hancur. Hal
ini membuktikan bahwa cacing membuat rongga pada tanah. Kondisi cacing pada
hari terakhir terlihat masih hidup namun lebih lemas daripada kondisi awalnya. Pada
pot B2 ini terdapat banyak semut yang masuk ke tanah namun tidak sebanyak di pot
B1. Kemungkinan semut semut itu juga ingin memakan bangkai cacing jika si cacing
telah mati.

Pada tabel pengamatan di pot C2 kami mengukur tinggi tanaman dengan rata
rata 14,5 cm. Panjang akar pada tanaman di pot C2 lebih panjang dibanding B2 yaitu
dengan rata rata 8,1 cm. Sedangkan rata rata panjang daun tanaman tersebut
sepanjang 3,9 cm dan rata rata lebar daun 1,7 cm. Hasil pengamatan tesebut juga
kami ambil gambarnya dan dapat dilihat pada lampiran gb. 3.3. saat kami akan
menyiram pot C2 kami juga melihat ada butiran butiran tanah yang sama seperti yang
ada di pot B2 namun lebih banyak dan terlihat di setiap sudut. Saat pot di angkat
banyak sekali tumpukan tanah yang berbentu bulat-bulat Tanah yang ada pada pot C2
juga lebih hancur. Kondisi cacing pada hari terakhir terlihat masih hidup dan lebih
besar dari sebelumnya.
Tabel rata rata di dapat dari menghitung rata rata dari rata rata tabel A, A1, A2
yang kemudian di beri tanda A’ kemudian rata rata B, B1, B2 yang kemudian diberi
tanda B’ kemudian rata rata C, C1, C2 yang kemudian diberi tanda C’. Tinggi
tanaman pada A’ mempunyai rata rata 17,43 cm dan lebih tinggi dari rata rata B’
yaitu 15,7 cm dan rata rata B lebih tinggi dari rata rata C’ yaitu 15,36. Berbanding
terbalik dengan panjang akar, pada A’ mempunyai rata rata 6,8 cm lebih pendek dari
B’ yaitu 7,8 cm dan masih lebih pendek dari C’ yaitu 8,1 cm. Menurut kami hal ini
bisa terjadi karena ketika ada cacing terutama di pot C, akar dapat menembus tanah
dengan mudah dan menjalar kemana mana karena rongga tanah yang mudah di
tembus oleh akar tanaman kacang hijau, namun karena terlalu berkonsentrasi
terhadap pemanjangan akar, tinggi tanaman pun tidak terlalu tinggi karena fokus
nutrisi kearah akar. Sedangkan pada pot A yang tidak ada cacingnya, akar tidak dapat
menembus tanah dengan mudah, dan fokus nutrisi ke arah batang tanaman yang
membuatnya jauh lebih tinggi. Untuk panjang daun rata rata pada A’ adalah 3,8 cm,
rata rata pada B’ adalah 3,6 cm dan rata rata pada C’ adalah 3,7. Lebar daun
sebanding dengan panjang daunya dengan rata rata lebar daun A’ adalah 1,7 cm, rata
rata pada B’ adalah 1,6 dan rata rata pada C’ adalah 1,7 cm. Daun B lebih kecil dari
daun C dan A karena kami menemukan galat yaitu adanya semut dalam percobaan
kami. Semut semut itu mengerubungi pot B1 dan B2 dan menghambat pertumbuhan
dari daun.
Dilihat dari pertumbuhan kualitatifnya, tanaman kacang hijau yang kami
tanam mempunyai daun yang hijau semua dan batang yang kuat sampai hari terakhir
pengamatan.
E. PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :
a. Rata rata tinggi tanaman kacang hijau tertinggi terdapat pada pot A’ (pot A,
A1, A2)
b. Rata rata panjang akar tanaman kacang hijau terpanjang terdapat pada pot
C’ (pot C, C1, C2)
c. Rata rata panjang dan lebar daun tanaman kacang hijau mempunya data
maximum yang sama yaitu pada pot A’ (pot A, A1, A2)
d. Cacing kurang efektif jika digunakan sebagai pendukung pertumbuhan
tanaman kacang hijau apabila media yang digunakan untuk menanam
sempit.
e. Percobaan yang dilakukan mengalami kegagalan karena adanya galat dan
tidak sesuai hipotesis maupun teori.

2. Diskusi / Saran
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A., Reece, J.B., & Mitchell, L.G. (2003). Biologi. Jilid 2 Edisi Kelima. Alih
Bahasa: Wasmen. Jakarta: Erlangga.

Estiti B. Hidajat. (1994). Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Departeman Pendidikan dan


Kebudayaan.

http://biologimediacentre.com/pertumbuhan-dan-perkembangan-1-pertumbuhan-dan-
perkembangan-pada-tumbuhan/ pada 20 Oktober 2016.

Jayanthi, Sri. (2013). “Komposisi Komunitas Cacing Tanah Pada Lahan Pertanian Organik
Dan Anorganik”. Tesis. Universitas Sumatera Utara.

Palungkun, Rony. (2008). Sukses Beternak Cacing Tanah Lumbricus rubellus. Jakarta:
Penebar Swadaya.

Purwono, MS & Hartono, Rudi. (2012). Kacang hijau. Jakarta : Penebar Swadaya.

Sumbeang, Arianon. (2014). “Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Hijau
(Vigna radiata L) terhadap Pemberian Abu Ketel”. Tesis. Universitas Negeri Gorontalo.
LAMPIRAN

Gb. 1.1 Tanaman di pot A Gb. 1.2 Tanaman di pot B Gb. 1.3 Tanaman di pot C

Gb. 2.1 Tanaman di pot A1 Gb. 2.2 Tanaman di pot B1 Gb. 2.3 Tanaman di pot C1

Gb. 3.1 Tanaman di pot A2 Gb. 3.2 Tanaman di pot B2 Gb. 3.3 Tanaman di Pot C