Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Dengan hormat

Puji dan syukur kami panjatkan tuhan yang maha esa,karena berkat rahmat
dann karnianya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tujuan untuk
memenuhi tugas di berikan oleh dosen sistem tambang terbuka

Saya berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya.semoga dengan


makalah ini pengetahuan tentang sistem tambang terbuka dapat
bertambah.apabila ada kata kata yang salah dalam makalah ini saya mohon
maaf sebesar besarnya kepada tuhan saya mohon ampun dan mengucapkan
terima kasih

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………. I

DAFTAR ISI………………………………………………………………………...……………….II

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang …………………………………………………………………………………..1

1.2 Maksud ………………………………………………………………………………………….1

BAB 2 PEMBAHASASAN

2.1 Placer/Alluvial Mining………………………….……………………………………………….2


a.Tambang Semprot (Hydraulicking)

b.Penambangan dengan Kapal Keruk (Dredging/MGM)

c.Manual Mining Method


d.sluice box

2.2 Open pit……………………………….………………………..………………………………8

a. Sistem Jenjang Tunggal (Single Bench)


b. Sistem Jenjang Bertingkat (Multiple Bench)
c. Strip Mining
d. Quarry Mining

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………………..15

3.2 Saran……………………………………...…………………………………………………….15

DAFTAR PUSTAKA……………………………...……………………………………………….16

BAB I

2
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penambangan dengan metoda tambang terbuka adalah suatu kegiatan penggalian bahan galian seperti
batubara, ore (bijih), batu dan sebagainya di mana para pekerja berhubungan langsung dengan udara
luar.dan iklim. Tambang terbuka (open pit mining) juga disebut dengan open cut mining; adalah metoda
penambangan yang dipakai untuk menggali mineral deposit yang ada pada suatu batuan yang berada atau
dekat dengan permukaan.

Metoda ini cocok dipakai untuk ore bodies yang berbentuk horizontal yang memungkinkan produksi
tinggi dengan ongkos rendah. Walaupun “stripping” dan “quarrying” termasuk ke dalam open pit mining,
namun strip mining biasanya dipakai untuk penambangan batubara dan quarry mining yang berhubungan
dengan produksi non-metallic minerals seperti dimension stone, rock aggregates, dll.
Apabila diyakini keberadaan endapan mineral dekat dengan permukaan, hingga dapat dipastikan
pemilihan metoda penambangannya adalah tambang terbuka (open pit); hanya perlu dipertanyakan
tentang “economic cut off limitnya”, hingga dimungkinkan adanya perubahan metoda penambangan ke
arah underground (tambang bawah tanah) bila penyebaran endapan mineral dapat menjamin.
Kebanyakan tambang batubara di Indonesia menggunakan metoda tambang terbuka, oleh karena sebagian
besar cadangan batubara terdapat pada dataran rendah atau pada daerah pegunungan dengan topografi
yang landai dengan kemiringan lapisan batubara yang kecil (<30°). Untuk cebakan yang berada di bawah
permukaan tetapi relatif masih dangkal, maka metoda penambangan

1.2 maksud
Untuk digunakan sebagai dasar untuk penentuan pemilihan apakah suatu cadangan (lapisan
batubara) akan ditambang dengan metoda tambang terbuka atau tambang dalam yaitu dengan
membandingkan besarnya nilai tanah penutup (waste) yang harus digali dengan volume atau tonase
batubara yang dapat ditambang. Perbandingan ini dikenal dengan istilah “stripping ratio”. Apabila nilai
perbandingan ini (stripping ratio) masih dalam batas-batas keuntungan, maka metoda tambang terbuka
dianggap masih ekonomis. Sebaliknya apabila nilainya di luar batas keuntungan, maka metoda
penambangan tambang dalam yang dipilih.

3
BAB II

PEMBAHASAN

Klasifikasi tambang terbuka menurut K. A. Sweet dapat dibedakan menjadi:

1. Placer/Alluvial Mining

Dapat dikatakan sebagai “placer mining” ataupun di Australia disebut “beach-mine” yaitu cara
penambangan untuk endapan placer atau alluvial. Alluvial Mine adalah tambang terbuka yang diterapkan
untuk menambang endapan-endapan alluvial, misalnya tambang bijih timah, pasir besi, emas dll.
Berdasarkan cara penggaliannya, maka alluvial mine dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu:

a. Tambang Semprot (Hydraulicking)

4
Sesuai dengan namanya, penggalian endapan alluvial pada tambang semprot dilakukan dengan
menggunakan semprotan air yang bertekanan tinggi yang berasal dari penyemprotan yang disebut
monitor atau water jet atau giant. Tekanan aliran air yang dihasilkan oleh monitor dapat diatur sesuai
dengan keadaan material yang akan digali atau disemprot yang biasanya bisa mencapai tekanan sampai
10 atm.

Syarat utama pemakaian cara penambangan dengan tambang semprot adalah harus tersedia banyak air,
baik untuk penggaliannya maupun untuk pengolahannya. Untuk memperbesar produksi biasanya:
 Digunakan lebih dari satu monitor, baik bekerja sendiri-sendiri atau bersama di satu permuka
kerja.
 Monitor dibantu dengan alat mekanis seperti back hoe atau buldoser.
 Untuk mengangkut material hasil galian atau semprotan ke instalasi pengolahan digunakan air
yang digerakkan dengan pompa. Jadi jika digunakan cara penambangan tambang semprot harus
tersedia cukup air, baik untuk sperasi penambangan maupun untuk proses pengolahannya
(konsentrasi).

b. Penambangan dengan Kapal Keruk (Dredging/MGM)

5
Penambangan dengan kapal keruk (MGM = Mesin Gali Mangkok) ini digunakan bila endapan yang akan
digali terletak di bawah permukaan air, misalnya di lepas pantai, sungai danau atau dia suatu lembah
dimana tersedia banyak air.

Sistem penggalian dengan kapal keruk dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

 Sistem tangga (benches), yaitu cara pengerukan dengan membuat atau membentuk tangga atau
jenjang (benches).
 Sistem tekan, yaitu cara pengerukan dengan menekan tangga (ladder) sampai pada kedalaman
yang dikehendaki, kemudian maju secara bertahap tanpa membentuk tangga.
 Sistem kombinasi, yaitu merupakan gabungan dari cara atau sistem tangga dengan sistem tekan.
Biasanya sistem tangga dipakai untuk menggalikan tanah penutup, sedangkan sistem tekan untuk
menggali endapan bijihnya (kaksa).

Berdasarkan dari tempat kerjanya, maka penambangan kapal keruk dapat dibedakan menjadi kapal keruk
darat dan kapal keruk laut.
Alat-alat yang dipakai pada penambangan kapal keruk berdasarkan alat galinya dibedakan menjadi tiga,
yaitu :

 Multi bucket dredge, kapal keruk yang alat galinya berupa rangkaian mangkok (bucket).

 Cutter suction dredge, alat galinya berupa pisau pemotong yang menyerupai mahkota.

6
 Bucket wheel dredge, alat galinya dilengkapi dengan timba yang berputar (bucket wheel).

c.Manual Mining Method

Manual method atau penambangan secara sederhana adalah penambangan yang menggunakan tanaga
manusia atau hampir tidak menggunakan tenaga masin atau alat mekanis.

7
Cara ini biasanya dilakukan oleh rakyat setempat atau oleh kontraktor-kontraktor kecil. Biasanya
endapan yang ditambang bentuknya :

a. Ukuran atau jumlah cadangannya kecil


b. Letaknya tersebar dan terpencil
c. Endapannya cukup kaya

Alat penambangan yang biasanya dipakai adalah :


a. Pan / bate l dulang

b. Racker (cradle)

c. Long Tom

8
d. Sluice box

2. Open Pit

9
Kebanyakan tambang batubara di Indonesia menggunakan metoda tambang Pertambangan Open Pit.
Open pit mining juga disebut dengan open cut mining, adalah metoda penambangan yang dipakai untuk
menggali mineral deposit yang ada pada suatu batuan yang berada atau dekat dengan permukaan. Metoda
ini cocok dipakai untuk ore bodies yang berbentuk horizontal yang memungkinkan produksi tinggi
dengan ongkos rendah.

Cara penggalian yang digunakan pada metode penambangan open pit adalah:

a. Sistem Jenjang Tunggal (Single Bench)


Sistem jenjang tunggal biasanya dipakai untuk menambang bahan galian yang relatif dangkal dan
memungkinkan untuk beroperasi dengan jenjang tunggal.
Tinggi jenjang maksimum yang stabil, kemiringannya tergantung pada jenis batuan yang ditambang.
Ketinggian jenjang yang aman ditetapkan dengan mempertimbangkan keselamatan pekerja dan peralatan.
Ketinggian jenjang berhubungan erat dengan kesetabilan permukaan yang aman adalah apabila
alat-alat yang beroperasi dan pekerja dalam kondisi tidak aman, dimana tempat yang menjadi landasan
terdapat kemungkinan akan runtuh/longsor.
Besarnya hasil produksi yang dihasilkan dengan jenjang tunggal sangat terbatas dan ditentukan
oleh kapasitas alat. Selain itu juga ditentukan oleh luas permukaan kerja (front).

b. Sistem Jenjang Bertingkat (Multiple Bench)


Penambangan dengan jenjang bertingkat umumnya digunakan untuk menambang bahan galian
yang kompak (massive) dan endapan tebal yang sanggup ditambang jika menggunakan cara
penambangan dengan jenjang tunggal. Jenis batuannya harus kuat dan keras agar dapat mendukung beban
yang ada di atasnya.
Kemiringan lereng dapat dibuat lebih vertikal jika daya dukung batuan besar. Pit slope bervariasi
antara 20º-70º, dari horizontal. Hal ini dimaksud agar mendapatkan perolehan bahan galian yang lebih
banyak lagi.
Kestabilan jenjang perlu dijaga terutama untuk mempertinggi faktor keamanan. Untuk
menghindari kecelakaan, beberapa cara dapat dilakukan yaitu dengan pembersihan bongkah-bongkah
batu yang menempel pada dinding jenjang, mengetahui daerah kritis, pengeringan, dan memonitor
pergerakan dan pergeseran.

10
Pada pemilihan sistem penambangan secara tambang terbuka ada beberapa faktor yang
berpengaruh terhadap pemilihan sistem penambangan, yaitu :

 Jumlah Tanah Penutup


Tanah penutup atau overburden yaitu tanah yang berada di atas lapisan bijih. Sebelum
pengambilan batubara, terlebih dahulu tanah penutupnya harus dikupas. Jumlah dari tanah penutup harus
diketahui dengan jelas untuk menentukan nilai “Stripping Ratio”.

 Jumlah Cadangan
Dari data hasil pemboran dan eksplorasi, dapat diketahui jumlah cadangan batubara yang dapat
ditambang(mineable). Dari cadangan batubara hasil perhitungan tersebut terdapat standar pengurangan
yang digunakan oleh perusahaan sehinggga diperoleh mining recovery. Standar pengurangan tersebut
dapat berupa; faktor geologi, mining loss dan dilution.

 Batas Penambangan (Pit Limit) dan Stripping ratio


Batas penambangan ditentukan dengan cara menentukan daerah yang layak untuk diproduksi.
Cara penentuannya adalah menghitung stripping ratio (SR). SR adalah perbandingan antara volume tanah
penutup yang dipindahkan per satuan tonase batubara (satuan m 3/ton). Jika SR-nya lebih besar dari SR
yang ditentukan perusahaan, maka daerah tersebut tidak layak untuk diproduksi.

c. Strip Mining

11
Strip Mine adalah cara penambangan terbuka yang dialakukan untuk endapan-endapan yang letaknya
mendatar atau sedikit miring. Yang harus diperhitungkan dalam penambangan cara ini adalah nisbah
penguapan (stripping ratio) dari endapan yang akan ditambang, yaitu perbandingan banyaknya volume
tanah penutup (m3 atau BCM) yang harus dikupas untuk mendapatkan 1 ton endapan. Cara ini sering
diterapkan pada penambangan batubara, atau endapan garam-garam.

Strip mining adalah bentuk tambang terbuka. Bijih dekat dengan permukaan tanah memiliki satu atau
lebih lapijsan batuan dan tanah di atasnya bijih. Agar bisa ditambang, lapisan ini harus dilepas. Langkah-
langkah dalam Strip mining adalah :

1. Pohon-pohon dan semak-semak yang dibersihkan oleh buldoser.


2. Limbah ini, bersama dengan tanah atau pasir di bawahnya, dibawa ke daerah terdekat dan
dibuang.

3. Banyak lubang kecil dibor melalui batuan yang berada di atas batubara atau mineral.

4. Bahan peledak yang dimasukkan ke dalam lubang dan diledakan. kemudian batuan penutup
dibawa ke daerah pembuangan.

5. Ketika batubara atau mineral ditemukan, mungkin akan rusak oleh peledakan.. Ukuran dari
potongan penting karena para penambang biasanya tidak mau kecil dalam potongan.

Mereka biasanya ingin menjadi bagian-bagian yang dapat dipindahkan dengan mesin besar.
Pertambangan ini dilakukan di satu strip. Ketika penambangan bijih dilakukan dalam satu strip, para
penambang mulai membuat strip lain di sebelahnya. Limbah, kotoran, dan batu yang mereka ambil dari
bagian atas strip berikutnya diletakkan di atas yang terakhir. Hal ini diulang sampai strip terakhir
dilakukan dan limbah dari strip pertama adalah dibawa kembali untuk mengisinya.

d.Quarry Mining

12
Quarry adalah system tambang terbuka yang diterapkan untuk menambang endapan-endapan bahan
galian industri atau mineral industri, antara lain: penambangan batu gamping, marmer, granit, andesit dan
sebagainya. Quarry dapat menghasilkan material atau hasil tambang dalam bentuk loose/broken materials
ataupun dalam bentuk dimensional stones. Berdasarkan letak endapan yang digali atau arah penambangan
atau penggalian, secara garis besar quarry dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu:
1. Side hill type
2. Pit type

1. Side Hill Type Quarry


Side Hill Type Quarry adalah system penambangan yang diterapkan untuk menambang batuan
atau endapan mineral industri yang letalnya di lereng bukit atau endapannya berbentuk bukit.

Berdasarkan jalan masuk (access road) ke front penambangan, side hill type dapat dibedakan
menjadi 2 (dua) yaitu:

a. Jalan masuk berbentuk spiral

Cara ini diterapkan apabila seluruh lereng/bukit akan digali atau ditambang.Penggalian dilakukan
mulai dari bagian atas ke arah bawah.

13
b. Jalan masuk langsung

Cara ini digunakan apabila hanya sebagian lereng saja yang akan digali. Front kerjanya dibuat
memanjang sepanjang lereng yang akan digali dan jalan masuk dari salah satu sisinya atau dari depan.

Jalan masuk langsung

2. Pit Type
Pit type adalah sistem penambangan yang diretapkan untuk menambang batuan atau endapan
mineral industri yang terletak pada suatu daerah yang relatif mendatar. Permuka kerja (front) di gali kea
rah bawah sehingga membentuk cekungan (pit). Berdasarkan jalan masuk ke permuka kerja, pit type
memiliki tiga kemungkinan untuk membuatnya, yaitu:

a. Jalan Masuk Spiral

Apabila bentuk endapan yang akan ditambang kurang lebih bulat atau lonjong, maka jalan masuk
dan front penambangannya dibuat berbentuk spiral.

b. Jalan Masuk Langsung

14
Apabila bentuk endapan yang akan ditambang kurang lebih memanjang atau persegi, maka jalan
masuk ke front penambangan dibuat berbentuk langsung dari salah satu sisi.

Jalan Masuk Spiral

Jalan Masuk Langsung

c. Jalan Masuk Zig-zag

15
Sama halnya dengan jalan masuk langsung apabila bentuk endapan yang akan ditambang kurang
lebih memanjang atau persegi, maka jalan masuk ke front penambangan dibuat berbentuk zig-zag dari
salah satu sisi.

BAB III

BAB 3

16
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1.Tambang terbuka (open pit mining) juga disebut dengan open cast mining;
adalah metoda penambangan yang dipakai untuk menggali mineral deposit yang ada pada suatu batuan
yang berada atau dekat dengan permukaan.

2. Alat berat digunakan berdasarkan medan dan jarak tempuh serta fungsi dari masing-masing alat

3. proses pembentukan open pit hingga reklamasi hanya mengubah bentang alam dan memiliki nilai
Yang posistif

3.2 Saran

Dengan mengucap syukur alhamdulillah pada Allah SWT saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik dan tentunya masih jauh dari harapan, oleh karena itu saya masih perlu kritik dan saran yang
membangun serta bimbingan, terutama dari Dosen. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan
bagi saya selaku penulis makalah ini

17
DAFTAR PUSTAKA

http://tambangunsri.blogspot.com/2011/08/tambang-terbuka-surface-mining.html

http://gandaa.blogspot.com/2013/04/reklamasi-lahan-tambang.html diakses pada tanggal 8 september

http://duniatambang2012.blogspot.com/2012/04/prinsip-reklamasi.htmldiakses pada tanggal 8 september

https://www.scribd.com/doc/309723642/makalah-tambang-terbuka

18