Anda di halaman 1dari 8

Profil Kemiskinan di Provinsi Lampung Maret 2019

No. 59/07/19/Th. XI, 15 Juli 2019

Profil Kemiskinan Provinsi


Lampung Maret 2019
• Pada bulan Maret 2019, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan
Persentase pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Lampung
mencapai 1,06 juta orang (12,62 persen), berkurang sebesar 27,9 ribu orang
Penduduk dibandingkan dengan kondisi September 2018 yang sebesar 1,09 juta orang
Miskin (13,01 persen).

Maret 2019 • Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2018
sebesar 9,06 persen turun menjadi 8,92 persen pada Maret 2019. Sementara
turun menjadi persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2018
sebesar 14,73 persen turun menjadi 14,27 persen pada Maret 2019.
12,62 persen • Selama periode September 2018 - Maret 2019, jumlah penduduk miskin di
daerah perkotaan naik sebanyak 1,66 ribu orang (dari 230,20 ribu orang pada
September 2018 menjadi 231,86 ribu orang pada Maret 2019), sementara
di daerah perdesaan turun sebanyak 29,6 ribu orang (dari 861,40 ribu orang
pada September 2018 menjadi 831,80 ribu orang pada Maret 2019).
• Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar
dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang,
pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan
terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2019 tercatat sebesar 74,97 persen.
Kondisi ini sedikit meningkat dibandingkan dengan kondisi September 2018
yaitu sebesar 74,88 persen.
• Jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis
Kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan adalah beras, rokok kretek
filter, telur ayam ras, tempe, mie instan, dan gula pasir. Sedangkan komoditi
non makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis kemiskinan di
perkotaan maupun perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan,
dan perlengkapan mandi.

Profil Kemiskinan Provinsi Lampung Maret 2019 1


1. Perkembangan Tingkat Kemiskinan Maret 2014-Maret 2019
Secara umum, pada periode Maret 2014–Maret 2019 tingkat kemiskinan di Provinsi Lampung
mengalami penurunan baik dari sisi jumlah maupun persentase, perkecualian pada Maret 2015, Maret
2016, dan Maret 2018. Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode tersebut dipicu
oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok yang salah satunya disebabkan oleh kenaikan harga bahan
bakar minyak. Perkembangan tingkat kemiskinan Maret 2014 sampai dengan Maret 2019 disajikan pada
Gambar 1.
Gambar 1
Tren Persentase Penduduk Miskin Provinsi Lampung, Maret 2014-Maret 2019

16.00
14.28 14.21 14.35 14.29
13.53 13.86 13.69
14.00 13.04 13.14 13.01
12.62

12.00 11.25 10.96 11.22 11.13 10.86 10.70 10.64


10.12 9.82 9.66 9.41
10.00

8.00

6.00

4.00

2.00

0.00
Mar 2014 Sep 2014 Mar 2015 Sep 2015 Mar 2016 Sep 2016 Mar 2017 Sep 2017 Mar 2018 Sep 2018 Mar 2019

Lampung Nasional

Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)

2. Perkembangan Tingkat Kemiskinan Maret 2018-Maret 2019


Jumlah penduduk miskin di Lampung pada Maret 2019 mencapai 1,06 juta orang. Terjadi
penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 27,9 ribu orang dibandingkan September 2018. Sementara
jika dibandingkan dengan Maret tahun sebelumnya jumlah penduduk miskin juga menurun sebanyak
33,4 ribu orang. Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode September 2018 - Maret 2019, jumlah
penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebesar 1,66 ribu orang sedangkan di daerah perdesaan turun
sebesar 29,6 ribu orang. Persentase kemiskinan di perkotaan turun dari 9,06 persen menjadi 8,92 persen.
Sementara itu, di perdesaan turun dari 14,73 persen menjadi 14,27 persen.
Tabel 1
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah, Maret 2018 - Maret 2019
Daerah/Tahun Jumlah Penduduk Miskin (ribu orang) Persentase Penduduk Miskin
(1) (2) (3)
Perkotaan
Maret 2018 228,82 9,27
September 2018 230,20 9,06
Maret 2019 231,86 8,92
Perdesaan
Maret 2018 868,22 14,76
September 2018 861,40 14,73
Maret 2019 831,80 14,27
Total
Maret 2018 1 097,05 13,14
September 2018 1 091,60 13,01
Maret 2019 1 063,66 12,62
Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2018, September 2018, dan Maret 2019

2 Profil Kemiskinan Provinsi Lampung Maret 2019


3. Perubahan Garis Kemiskinan Maret 2018 - Maret 2019
Garis Kemiskinan dipergunakan sebagai suatu batas untuk mengelompokkan penduduk menjadi
miskin atau tidak miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per
kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Tabel 2 menyajikan perkembangan garis kemiskinan pada
Maret 2018 sampai dengan Maret 2019.

Tabel 2
Garis Kemiskinan dan Perubahannya Menurut Daerah,
Maret 2018 - Maret 2019
Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bulan)
Daerah/Tahun
Makanan Bukan Makanan Total
(1) (2) (3) (4)
Perkotaan
Maret 2018 321 620 122 626 444 246
September 2018 327 530 125 523 453 053
Maret 2019 335 947 127 707 463 654
Perubahan Mar’18 - Mar’19(%) 4,45 4,14 4,37
Perubahan Sep’18 - Mar’19(%) 2,57 1,74 2,34

Perdesaan
Maret 2018 293 926 92 038 385 965
September 2018 299 041 93 160 392 201
Maret 2019 304 512 94 425 398 937
Perubahan Mar’18 - Mar’19(%) 3,60 2,59 3,36
Perubahan Sep’18 - Mar’19(%) 1,83 1,36 1,72

Total
Maret 2018 301 234 101 073 402 307
September 2018 306 926 102 955 409 881
Maret 2019 313 620 104 689 418 309
Perubahan Mar’18 - Mar’19(%) 4,11 3,58 3,98
Perubahan Sep’18 - Mar’19(%) 2,18 1,68 2,06

Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2018, September 2018, dan Maret 2019

Selama periode September 2018 - Maret 2019, Garis Kemiskinan naik sebesar 2,06 persen, yaitu
dari Rp 409.881,- per kapita per bulan pada September 2018 menjadi Rp 418.309,- per kapita per bulan
pada Maret 2019. Sementara pada periode Maret 2018 - Maret 2019, Garis Kemiskinan naik sebesar 3,98
persen, yaitu dari Rp 402.307,- per kapita per bulan pada Maret 2018 menjadi Rp 418.309,- per kapita per
bulan pada Maret 2019.
Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan
Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), terlihat pada Tabel 3 bahwa peranan
komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Besarnya
sumbangan GKM terhadap GK pada Maret 2019 sebesar 74,97 persen.

Profil Kemiskinan Provinsi Lampung Maret 2019 3


Tabel 3
Daftar Komoditi yang Memberi Sumbangan Besar terhadap
Garis Kemiskinan beserta Kontribusinya (%), Maret 2019

Jenis komoditi Perkotaan Jenis komoditi Perdesaan


(1) (2) (3) (4)
Makanan: 72,46 Makanan: 76,33
Beras 19,97 Beras 25,74
Rokok kretek filter 15,07 Rokok kretek filter 9,42
Telur ayam ras 4,54 Telur ayam ras 4,46
Tempe 2,50 Gula pasir 3,09
Gula pasir 2,21 Roti 2,59
Mie instan 2,11 Tempe 2,47
Roti 2,00 Bawang merah 2,23
Kopi bubuk & kopi instan (sachet) 1,78 Kopi bubuk & kopi instan (sachet) 2,14
Bawang merah 1,75 Cabe rawit 2,03
Tahu 1,58 Mie instan 1,99
Bukan Makanan: 27,54 Bukan Makanan: 23,67
Perumahan 7,80 Perumahan 6,31
Listrik 3,76 Bensin 4,38
Bensin 3,66 Listrik 2,64
Pendidikan 2,56 Pendidikan 1,33
Perlengkapan mandi 1,20 Perlengkapan mandi 1,02
Kesehatan 0,93 Pakaian jadi perempuan dewasa 0,83

Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2019

Pada Maret 2019, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK baik di
perkotaan maupun di perdesaan pada umumnya hampir sama. Beras memberi sumbangan sebesar 19,97
persen di perkotaan dan 25,74 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar
kedua terhadap GK (15,07 persen di perkotaan dan 9,42 persen di perdesaan). Komoditi lainnya adalah
telur ayam ras (4,54 persen di perkotaan dan 4,46 persen di perdesaan), tempe (2,50 persen di perkotaan
dan 2,47 persen di perdesaan), gula pasir (2,21 persen di perkotaan dan 3,09 persen di perdesaan),
mie instan (2,11 persen di perkotaan dan 1,99 di perdesaan), roti (2,00 persen di perkotaan dan 2,59 di
perdesaan), dan seterusnya. Komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada
GK perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.
Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.

4. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan


Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin.
Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Indeks
kedalaman kemiskinan adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin
terhadap garis kemiskinan. Sedangkan indeks keparahan kemiskinan memberikan gambaran mengenai
penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin.
Pada periode September 2018 - Maret 2019, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks
Keparahan Kemiskinan (P2) mengalami penurunan. Indeks Kedalaman Kemiskinan pada September 2018
adalah 2,06 dan pada Maret 2019 mengalami penurunan menjadi 1,93. Demikian juga dengan Indeks
Keparahan Kemiskinan, pada periode yang sama mengalami penurunan dari 0,48 menjadi 0,44 (Tabel
5). Sementara untuk periode Maret 2018 - Maret 2019, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks
Keparahan Kemiskinan (P2) cenderung mengalami penurunan.

4 Profil Kemiskinan Provinsi Lampung Maret 2019


Tabel 4
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)
Provinsi Lampung, menurut Daerah, Maret 2018 - Maret 2019
Tahun Perkotaan Perdesaan Total
(1) (2) (3) (4)
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1)
Maret 2018 1,48 2,28 2,04
September 2018 1,39 2,36 2,06
Maret 2019 1,47 2,14 1,93
Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)
Maret 2018 0,33 0,54 0,48
September 2018 0,31 0,56 0,48
Maret 2019 0,35 0,48 0,44

Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2018, September 2018, dan Maret 2019

Apabila dibandingkan antara daerah perkotaan dan perdesaan, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan
(P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di daerah perdesaan lebih tinggi daripada di daerah perkotaan.
Pada Maret 2019, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk daerah perkotaan sebesar 1,47 sedangkan
di daerah perdesaan jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 2,14. Sementara itu nilai Indeks Keparahan
Kemiskinan (P2) untuk perkotaan adalah 0,35 sedangkan di perdesaan mencapai sebesar 0,48.

5. Perkembangan Gini Ratio


Salah satu ukuran ketimpangan yang sering digunakan adalah Gini Ratio. Nilai Gini Ratio berkisar
antara 0 - 1. Semakin tinggi nilai Gini Ratio menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi. Pada rentang
2016 - 2019 Gini Ratio Lampung tercatat sebesar 0,364 pada Maret 2016 dan mengalami fluktuasi hingga
mencapai angka 0,329 pada Maret 2019.
Berdasarkan daerah tempat tinggal, Gini Ratio di wilayah perkotaan pada Maret 2019 tercatat 0,346.
Angka ini meningkat sebesar 0,008 poin dibandingkan Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,338.
Untuk daerah pedesaan Gini Ratio Maret 2019 tercatat sebesar 0,299. Angka ini naik sebesar 0,005 poin
dibanding Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,294.
Gambar 2
Perkembangan Gini Ratio, 2016 - 2019

Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2016 - Maret 2019

Profil Kemiskinan Provinsi Lampung Maret 2019 5


6. Perkembangan Distribusi Pengeluaran September 2018 - Maret 2019
Selain Gini Ratio ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan adalah persentase pengeluaran
pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran ketimpangan Bank
Dunia. Berdasarkan ukuran ini tingkat ketimpangan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu tingkat ketimpangan
tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah angkanya dibawah 12
persen, ketimpangan sedang jika angkanya berkisar antara 12 - 17 persen, serta ketimpangan rendah jika
angkanya berada diatas 17 persen. Pada Maret 2019, persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen
terbawah adalah sebesar 20,33 persen yang berarti Lampung berada pada kategori ketimpangan rendah.
Persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah pada bulan Maret 2019 ini meningkat jika
dibandingkan dengan kondisi September 2018 yang sebesar 20,14 persen.
Sejalan dengan informasi yang diperoleh dari Gini Ratio, ukuran ketimpangan Bank Dunia pun
mencatat hal yang sama yaitu ketimpangan di perkotaan lebih buruk dibandingkan dengan ketimpangan
di perdesaan. Persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah di daerah perkotaan
pada Maret 2019 adalah sebesar 19,45 atau tergolong ketimpangan rendah. Sementara itu, persentase
pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah di daerah perdesaan pada Maret 2019 adalah
sebesar 21,75 persen yang berarti berada pada kategori ketimpangan rendah.

Gambar 3
Persentase Pengeluaran Kelompok Penduduk 40 Persen Terbawah, Maret 2018-Maret 2019
23

22 21.66 21.75
20.97
21
20.14 20.33
20 19.47 19.45 19.64

19 18.42

18

17

16
Perkotaan Perdesaan Lampung

Mar 2018 Sep 2018 Mar 2019

Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2018 - Maret 2019

7. Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Tingkat Kemiskinan dan Perkembangan


Gini Ratio
Beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan dan perkembangan Gini
Ratio selama periode September 2018 - Maret 2019 antara lain adalah:
1. Selama periode September 2018-Maret 2019, inflasi umum relatif rendah yaitu sebesar 0,87
persen.
2. Pada periode September 2018 - Maret 2019, laju pertumbuhan beberapa harga komoditi
pangan cukup terkendali. Harga komoditi beras mengalami penurunan sebesar 3,71 persen
dari Rp11 025,- (September 2018) menjadi Rp10 615,- (Maret 2019). Sejalan dengan itu, harga
telur ayam ras juga mengalami penurunan meskipun tidak terlalu besar yaitu 0,81 persen dari
Rp22 138,- (September 2018) menjadi Rp21 960,- per kilogram (Maret 2019). Akan tetapi, harga
eceran gula pasir dan bawang merah justru mengalami kenaikan. Rata-rata harga gula pasir
mengalami kenaikan sebesar 2,99 persen, yaitu dari Rp12 172,- per kilogram pada September
2018 menjadi Rp12 536,- per kilogram pada Maret 2019. Harga bawang merah mengalami
kenaikan sebesar 6,47 persen (dari Rp25 025,- per kilogram pada September 2018 menjadi
Rp26 645,- per kilogram pada Maret 2019. Terkendalinya harga komoditi pokok selain menekan
laju kenaikan GK juga membantu daya beli masyarakat

6 Profil Kemiskinan Provinsi Lampung Maret 2019


3. Secara umum perkembangan perekonomian Lampung cukup baik, pada triwulan I 2019 ekonomi tumbuh
sebesar 5,18 persen, dimana yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi
berasal dari kategori pertanian sebesar 0,34 persen, kategori industri pengolahan sebesar 1,32 persen,
dan kategori perdagangan sebesar 0,98 persen.
4. Berdasarkan hasil Susenas Maret 2019 terlihat bahwa ada kenaikan rata-rata pengeluaran perkapita
per bulan pada penduduk level bawah. Pengeluaran penduduk pada desil 1 hingga desil 4 (40 persen
terbawah) mengalami peningkatan sebesar 2-3 persen bila dibanding September 2018.

8. Penjelasan Teknis dan Sumber Data


1. Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar
(basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari
sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi
pengeluaran. Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk
miskin terhadap total penduduk.
2. Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen,
yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM). Penghitungan
Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan, Penduduk miskin
adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.
3. Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang
disetarakan dengan 2100 kkalori per kapita per hari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili
oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-
kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll).
4. Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang,
pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar nonmakanan diwakili oleh 51 jenis
komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di perdesaan.
5. Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan Maret 2019 adalah data
Susenas bulan Maret 2019.

Profil Kemiskinan Provinsi Lampung Maret 2019 7


Diterbitkan oleh:

Badan Pusat Statistik Konten Berita Resmi Statistik dilindungi oleh


Provinsi Lampung
Jl. Basuki Rahmat No.54 Undang-Undang, hak cipta melekat pada
Bandar Lampung - 35215 Badan Pusat Statistik. Dilarang mengumumkan,
mendistribusikan, mengomunikasikan, dan/atau
Mas’ud Rifai, S.ST menggandakan sebagian atau seluruh isi tulisan ini
Kepala Bidang Statistik Sosial untuk tujuan komersial tanpa izin tertulis dari Badan
Telepon: (0721) 482909, Pswt 133
Email: bps1800@bps.go.id Pusat Statistik.

8 Profil Kemiskinan Provinsi Lampung Maret 2019