Anda di halaman 1dari 1

Nama : Laksana Angga Widoto

Kelas :A
Mata Diklat : Pengantar Umum Metrologi Legal

RESUME PENGANTAR UMUM METROLOGI LEGAL

Praktek metrologi sebenarnya sudah sejak lama dilakukan oleh manusia, yaitu berkaitan
dengan aktivitas perdagangan. Pada saat itu, lazimnya, bagian tubuh seperti tangan dan kaki
mempunyai peran penting dalam menentukan ukuran. Hal ini menimbulkan standar ukuran dan
standar satuan yang tidak seragam di berbagai wilayah di dunia. Namun, sejak Revolusi Perancis,
muncul gagasan untuk menyeragamkan penggunaan standar ukuran dan standar satuan, serta
menjadi cikal bakal munculnya Sistem Metrik atau yang dikenal dengan Satuan Sistem Internasional
(SI).
Dibandingkan dengan metrologi ilmiah dan metrologi teknis, metrologi legal memiliki
kekhasan tersendiri, yaitu diatur melalui peraturan perundang-undangan. Payung hukum kegiatan
metrologi legal di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi
Legal, biasanya disingkat UUML. Secara garis besar, UUML mengatur tentang satuan-satuan
pengukuran, peneraan UTTP (Alat-alat Ukur, Takar, Timbang, dan Perlengkapannya), BDKT
(Barang Dalam Keadaan Terbungkus), serta jenis-jenis tindak pidana dan tindak pelanggaran
berikut sanksinya. Melalui penegakan UUML diharapkan dapat melindungi kepentingan umum
denga meminimalkan kemungkinan penyalahgunaan UTTP maupun BDKT yang beredar di
masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, UUML diturunkan kedalam beberapa peraturan pelaksana (baik
dalam bentuk Peraturan Pemerintah maupun Peraturan Menteri), yaitu.
a. Implementasi UUML terkait satuan ukuran dijabarkan lebih rinci dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 10 Tahun 1987 tentang Satuan Turunan, Satuan Tambahan, dan Satuan Lain yang
Berlaku.
b. Implementasi UUML terkait standar ukuran dijabarkan lebih rinci dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 2 Tahun 1989 tentang Standar Nasional untuk Satuan Ukuran.
c. Implementasi UUML terkait peneraan UTTP dijabarkan lebih rinci kedalam beberapa peraturan,
yaitu:
1) Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1985 tentang Wajib dan Pembebasan untuk Ditera
dan/atau Ditera Ulang serta Syarat-syarat bagi Alat-alat Ukur, Takar, Timbang, dan
Perlengkapannya.
2) Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 67 Tahun 2018 tentang Alat-alat Ukur, Takar,
Timbang, dan Perlengkapannya yang Wajib Ditera dan Ditera Ulang
3) Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 68 Tahun 2018 tentang Tera dan Tera Ulang Alat-alat
Ukur, Takar, Timbang, dan Perlengkapannya.
4) Syarat Teknis UTTP yang diatur melalui Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen
dan Tata Niaga.
d. Implementasi UUML terkait tanda tera dijabarkan lebih rinci dalam Peraturan Menteri
Perdagangan Nomor 125 Tahun 2018 tentang Tanda Tera.
Selain UUML, terdapat satu lagi peraturan perundangan yang mengatur penyelenggaraan
kegiatan metrologi legal, yaitu UU No, 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. UU tersebut
menyatakan bahwa pelaksanaan metrologi legal berupa tera, tera ulang, dan pengawasan menjadi
tanggung jawab setiap kabupaten/kota di Indonesia. Dalam rangka percepatan pembentukan Unit
Metrologi Legal (UML), Menteri Perdagangan menerbitkan Permendag Nomor 115 Tahun 2018
tentang Unit Metrologi Legal sebagai pengganti Permendag Nomor 78/M-DAG/PER/11/2016
(penyederhanaan persyaratan pembentukan UML). Dengan adanya otonomisasi penyelenggaraan
metrologi legal ke kabupaten/kota diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan pemerintah pusat
dalam rangka optimalisasi upaya perlindungan konsumen, khususnya dalam hal kebenaran
pengukuran. Namun, penyelenggaraan metrologi legal secara desentralistik ke tingkat
kabupaten/kota bisa menjadi hambatan dalam upaya perlindungan konsumen apabila pembentukan
dan kesiapan UML di setiap kabupaten/kota belum merata. Beberapa faktor yang menghambat
diantaranya keterbatasan infrastruktur, serta sumber daya (baik sumber daya manusia maupun
anggaran).