Anda di halaman 1dari 8

Assessing and Responding To Fraud Risk

Chapter 10
Pengauditan 1

Kelas N1

Anggota Kelompok :

Urun Pramesti I C 041611333162


Hidayati Nur Rochmah 041611333171
Muthya Rahmah 041611333216
Nola Gama Mareta 041611333266
M. Dwiki Tegar P 041611333281

Program Studi Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Airlangga
2018
1. Types of Fraud
Fraud secara konsep hukum adalah tipuan disengaja dengan maksud
menghilangkan kekayaan atau hak orang atau pihak lain. Dalam konteks audit laporan
keuangan, fraud didefinisikan sebagai salah saji laporan keuangan yang disengaja.
Dua jenis fraud :
a. Fraudulent Financial Reporting
Salah saji atau penghilangan atas jumlah atau pengungkapan dengan
maksud mengelabui/membohongi pengguna laporan keuangan. Kasus umum
biasanya meliputi usaha dalam melebih-lebihkan pendapatan (dengan
melebih-lebihkan asset dan pendapatan, atau penghilangan kewajiban dan
beban) dan juga dengan sengaja understate atas pendapatan. Understate
pendapatan dapat dilakukan untuk mengurangi Pajak Penghasilan, dapat juga
untuk menjaga fluktuasi pendapatan di masa datang. Earnings Management
meliputi tindakan sengaja oleh management untuk memperoleh tujuan atas
pendapatan. Income Smoothing adalah bentuk earning management dengan
pendapatan dan beban dialihkan periodenya untuk mengurangi fluktuasi laba.

b. Missaproriation of Asset
Adalah fraud meliputi pencurian atas asset suatu entitas. Dlam banyak
kasus, jumlahnya tidak material terhadap laporan keuangan. Pencurian asset
menjadi perhatian khusus management karena pencurian kecil dapat dengan
mudah naik dalam jumlah, dan sering menuntun untuk rusaknya reputasi
sekali ditemukan atau diungkap. Missaproriation of Asset umumnya
digunakan merujuk pada pencurian yang dilakukan oleh pegawai, dan bagian
internal lainnya dalam organisasi.

2. Condition for Fraud


Fraud Triangle adalah Tiga kondisi penyebab timbulnya fraud, yaitu :
a. Incentives/Pressures : Managemen/pegawai memiliki intensif atau
tekanan untuk melakukan fraud
b. Opportunities : Kondisi yang menyediakan kesempatan bagi
managemen dan pegawai untuk melakukan fraud
c. Attitudes/Rationalization : Sebuah sikap, karakter, atau seperangkat nilai
etika yang memperbolehkan managemen/pegawai melakukan tindakan tidak
jujur, atau mereka berada dalam lingkungan yang memaksakan cukup tekanan
yang menyebabkan rasional untuk melakukan tindakan tidak jujur

Fraudulent Financial Reporting dan Missaproriation of Asset sama dalam


kondisi, tapi berbeda dalam hal faktor risiko

1. Faktor-faktor risiko untuk Fraudulent Financial Reporting


a. Incentives/Pressures
Dorongan umum bagi perusahaan untuk memanipulasi laporan
keuangan adalah penurunan pada prospek keuangan. Contohnya
penurunan laba mengancam kemampuan keuangan perusahaan,
perusahaan mungkin memanipulasi laba untuk memenuhi analisis
perkiraan penjualan, mencapai bonus atas target laba, atau menaikkan
harga saham.
b. Opportunities
Meskipun risiko bahwa laporan keuangan perusahaan manapun
menjadi sasaran manipulasi, namun perusahaan dalam industri yang
memiliki signifikan judgement dan estimasi lebih beresiko
c. Attitudes/Rationalization
Sikap Top management terhadap pelaporan keuangan adalah faktor
risiko yang kritikal dalam menilai kemungkinan adanya Fraudulent
Financial Reporting

2. Faktor-faktor risiko untuk Missaproriation of Asset


a. Incentives/Pressures
Pegawai dengan kewajiban keuangan yang lebih, penyalahgunaan
narkoba atau masalah perjudian, mungkin mencuri untuk memenuhi
kebutuhan personal mereka. Ketidakpuasan pegawai memungkinkan
pencurian untuk merasakan hak atau bentuk dari perlawanan pegawai
b. Opportunities
Kesempatan menjadi lebih besar di perusahaan dengan akses kas dan
persediaan atau penilaian asset, terutama aset kecil atau mudah
dipindahkan.
c. Attitudes/Rationalization
sikap managemen terhadap kontrol dan membimbing etika mungkin
memperbolehkan pegawai dan managemen untuk mencuri aset
3. Assesing The Risk of Fraud
4. Corporate Governance Oversight to Reduce Fraud Risks
Pedoman yang dikembangkan oleh AICPA untuk mencegah, menghalangi,
dan mendeteksi kecurangan. Terdapat tiga poin pokok, sebagai berikut
● Budaya jujur dan etika yang tinggi
Budaya jujur dan etika yang tinggi merupakan sesuatu hal yang
penting dalam perusahaan karena hal tersebut dapat mempengaruhi atas
prilaku karyawan untu kearah baik atau buruk. Untuk mengimplementasikan
tujuan tersebut, dapat dilakukan dengan melaksanakan dan menciptakan hal-
hal sebagai berikut:
- Lingkungan Kerja yang positif
- Memperkejakan dan Mempromosikan pegawai yang tepat
- Melaksanakan pelatihan terhdap laryawan
- Melakukan kebiasaan konfirmasi, Karyawan diwajibkan melakukan
konfirmasi secara periodik atas tanggung jawab yang telah dilakukan
- Membangun budaya disiplin
● Tanggung jawab manajemen untuk mengevalusasi risiko kecurangan
Kecurangan terjadi oleh adanya kesempatan untuk melakukan dan
potensi dapat disembunyikan. Manajemen bertanggung jawab untuk
mengidentifikasi dan mengukur risiko kecurangan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
- Mengidentifikasi dan Mengukuru risiko kecurangan
- Memantau program dan pengendalian pencegahan kecurangan
- Mengurangi risiko kecurangan
● Pengawasan oleh komite audit
Komite audit memiliki tanggung jawab utama mengawasi pelaporan
keuangan serta proses pengendalian internal organisasi. Pengawasan yang
dilakukan harus mencakup:
- Pealaporan langsung temuan-temuan penting oleh internal audit
kepada komite audit
- Laporan periodik oleh pejabat etika tentang whistleblowing
- laporan lain tentang tidak adanya perilaku etis atau kecurangan yang
dicurigai
5. Responding to The Risk of Fraud
Memberikan respon terhadap risiko kecurangan yang teridentifikasi oleh
auditor, meliputi hal-hal sebagai berikut:
● Mengubah pelaksanaan audit secara keseluruhan
Dalam tahap ini auditor harus memasukan unsur ketidakterdugaan
dalam rencana audit, karena sering kali pelaku kecurangan mengetahui
prosedur audit yang akan dilaksanakan. Sebagai contoh, auditor dapat
mendatangi lokasi persediaan atau menguji akun-akun yang belum diuji dalam
periode sebelumnya. Auditor juga harus memperhitungkan pengujian yang
berhubungan dengan penyalahgunaan aset, meskipun jumlahnya tidak
material.
● Merancang dan melaksanakan prosedur audit untuk menangani risiko
kecurangan
Jika terdapat kekhawatiran tentang pengakuan pendapatan akibat
cutoff atau channel stufing, auditor dapat melakukan langkah mereview jurnal
penjualan, dan mereview syarat-syarat penjualan. Dan juga auditor harus
memperhitungkan prinsip akuntansi yang digunakan, karena berimplikasi
untuk mengetahui konsistensi yang melibatkan pengukuran yang subjektif atau
transaksi yang kompleks.
● Merancang dan melaksanakan prosedur untuk menangani pengabaian
pengendalian oleh manajemen
Karena manajemen memiliki posisi tertinggi dan memiki kemampuan
untuk dapat melakukan kecurangan dengan mengabaikan pengendalian yang
sebenarnya berjalan efektif, dalam setiap audit auditor harus melaksanakan
prosedur untuk menangani risiko pengabaian oleh manajemen, terdapat tiga
prosedur yang harus dilaksanakan:
- Memeriksa ayat jurnal dan penyesuaina lainya untuk mencari bukti
salah saji yang mungkin akibat kecurangan
- Mereview estimasi akuntansi untuk mengetahui adanya bias pelaporan
- Mengevaluasi dasar pemikiran bisnis untuk setiap transaksi.
6. Spesific Fraud Risk Areas
Akun-akun tertentu sangat rentan terhadap manipulasi atau pencurian.
Pengetahuan tentang tanda-tanda peringatan serta teknik pendeteksian kecurangan
lainnya akan meningkatkan kemungkinan auditor mengidentifikasi salah saji akibat
kecurangan.
❖ Risiko Kecurangan dalam Pendapatan dan Piutang Usaha
Akun pendapatan dan piutang usaha yang terkait serta kas sangat rentan
terhadap manipulasi dan pencurian. Karena, penjualan seringkali dilakukan secara
tunai atau cepat dikonversi menjadi kas, kas juga sangat rentan terhadap
pencurian. Sebagai konsekuensi seringnya kecurangan dalam pelaporan keuangan
yang melibatkan pengakuan pendapatan, AICPA dan SEC mengeluarkan
pedoman yang berhubungan dengan pengakuan pendapatan.
Alasan yang terpenting mengapa pendapatan sangat rentan terhadap
manipulasi adalah karena pendapatan hampir selalu merupakan akun terbesar
dalam laporan laba-rugi, sehingga satu salah saji yang hanya merupakan
persentase yang kecil dari pendapatan masih bisa berdampak besar terhadap laba.
Alasan lainnya mengapa pendapatan rentan terhadap manipulasi adalah sulitnya
menentukan waktu yang tepat untuk mengakui pendapatan dalam banyak situasi.
➔ Pendapatan Fiktif
Kecurangan pendapatan yang mencolok melibatkan penciptaan pendapatan-
pendapatan fiktif. Perilaku kecurangan biasanya bersusah payah
mendukung pendapatan fiktif.
➔ Pengakuan Pendapatan Prematur
Pengakuan pendapatan prematur adalah pengakuan pendapatan sebelum
persyaratan standar akuntansi untuk mencatat pendapatan dipenuhi
(mempercepat waktu pengakuan pendapatan).
➔ Manipulasi Penyesuaian Pendapatan
Penyesuaian yang paling umum dilakukan terhadap pendapatan
menyangkut retur penjualan dan pengurangan harga. Suatu perusahaan
mungkin menyembunyikan retur penjualan dari auditor untuk
melebihsajikan penjualan dan laba bersih. Perusahaan juga mungkin
merendahsajikan beban piutang tak tertagih
➔ Tanda-tanda Peringatan Kecurangan Pendapatan
Ada banyak tanda peringatan atau gejala yang mengindikasikan kecurangan
pendapatan. Dua diantara yang paling bermanfaat adalah prosedur analitis
dan perbedaan dokumenter.
➔ Prosedur Analitis
Prosedur analitis sering kali mengisyaratkan adanya kecurangan
pendapatan, terutama persentase marjin kotor dan perputaran piutang usaha.
Dalam beberapa kecurangan, manajemen menciptakan pendapatan fiktif
agar hasil prosedur analitis, seperti marjin kotor, sama dengan tahun
sebelumnya. Dalam kecurangan seperti ini, prosedur analitis biasanya tidak
membantu untuk mengisyaratkan adanya kecurangan.
➔ Perbedaan Dokumenter
Transaksi fiktif jarang memiliki bukti dokumenter pada tingkat yang sama
seperti dalam transaksi yang sah. Auditor harus mewaspadai ciri-ciri dan
perubahan yang tidak biasa dalam dokumen, dan mereka harus
menggunakan dokumen yang asli, bukan salinan.
➔ Penyalahgunaan yang Melibatkan Pendapatan
Kecurangan semacam ini bisa berdampak buruk terhadap organisasi karena
aktiva langsung hilang. Penyalahgunaan kas yang tipikal menyangkut tidak
dicatatnya penjualan yang kemudian diikuti oleh penyesuaian terhadap
piutang usaha pelanggan untuk menyembunyikan pencurian itu.
➔ Kelalaian Mencatat Penjualan
Salah satu kecurangan yang paling sukar dideteksi adalah apabila penjualan
tidak dicatat dan kas dari penjualan itu dicuri. Kecurangan seperti ini, lebih
mudah dideteksi jika barang dikirim secara kredit kepada pelanggan
➔ Pencurian Penerimaan Kas Setelah Penjualan Dicatat
Jauh lebih sulit menyembunyikan pencurian penerimaan kas setelah
penjualan dicatat. Jika pembayaran dari seorang pelanggan dicuri,
penagihan berkala atas rekening yang belum dibayar akan dengan cepat
membongkar kecurangan itu.
➔ Tanda-tanda Peringatan atas Penyalahgunaan Pendapatan dan Penerimaan
Kas
Pencurian penjualan dan penerimaan kas terkait yang nilainya relatif kecil
dapat dicegah dan dideteksi dengan baik oleh pengendalian internal yang
dirancang untuk meminimalkan kesempatan melakukan kecurangan.
❖ Risiko Kecurangan Persediaan
Persediaan kerap kali merupakan akun terbesar dalam neraca banyak
perusahaan, dan auditor sering merasa sulit memverifikasi eksistensi dan
penilaian persediaan. Akibatnya, persediaan rentan terhadap manipulasi oleh
manajer yang ingin mencapai tujuan pelaporan keuangan tertentu
➔ Risiko Pelaporan Keuangan yang Curang untuk Persediaan
Banyak perusahaan besar memiliki persediaan yang sangat beragam dan
berjumlah besar di banyak lokasi, sehingga relatif mudah bagi perusahaan
untuk menambahkan persediaan fiktif pada catatan akuntansi
➔ Tanda-tanda Peringatan Kecurangan Persediaan
Serupa dengan penipuan yang melibatkan piutang usaha, banyak tanda
peringatan atau gejala yang berpotensi menunjukkan kecurangan
persediaan. Prosedur analitis sangat efektif untuk mendeteksi kecurangan
persediaan
➔ Prosedur Analitis
Prosedur analitis, terutama persentase marjin kotor dan perputaran
persediaan, sering kali membantu membongkar kecurangan persediaan.
Persediaan fiktif akan mengurangsajikan HPP dan melebihsajikan
persentase marjin kotor. Persediaan fiktif juga memperkecil perputaran
persediaan
❖ Risiko Kecurangan dalam Pembelian dan Utang Usaha
Kasus pelaporan keuangan yang curang yang melibatkan utang usaha relatif
umum ditemui meskipun lebih jarang bisa dibandingkan dengan kecurangan yang
melibatkan persediaan atau piutang usaha. Kurang saji yang disengaja atas utang
usaha biasanya menghasilkan kurang saji pembelian dan HPP serta lebih saji laba
bersih
➔ Risiko Pelaporan Keuangan yang Curang untuk Utang Usaha
Perusahaan mungkin melakukan upaya yang disengaja untuk
mengurangsajikan utang usaha dan melebihsajikan laba. Hal ini dapat
dicapai dengan tidak mencatat utang usaha sampai periode berikutnya, atau
dengan mencatat penurunan fiktif utang usaha
➔ Penyalahgunaan dalam Siklus Akuisisi dan Pembayaran
Kecurangan yang paling umum dalam siklus akuisisi adalah si pelaku
melakukan pembayaran kepada vendor fiktif dan menyimpan uang itu
dalam rekening fiktif. Kecurangan ini dapat dicegah dengan menetapkan
bahwa pembayaran hanya akan dilakukan kepada vendor yang sudah
disetujui dan dengan meneliti secara cermat dokumentasi yang mendukung
akuisisi itu oleh personil yang berwenang sebelum pembayaran dilakukan.
❖ Bidang-Bidang Risiko Kecurangan Lainnya
Meskipun beberapa akun lebih rentan dibandingkan yang lain, hampir
semua akun dapat dimanipulasi.
➔ Aset Tetap
Aset tetap sering kali didasarkan pada penilaian yang ditetapkan secara
subjektif. Akibatnya, aset tetap dapat menjadi sasaran manipulasi, terutama
bagi perusahaan yang tidak memiliki piutang atau persediaan yang material.
Mengingat nilai dan daya jualnya, aset tetap juga menjadi sasaran
pencurian. Hal ini terutama berlaku bagi aset tetap yang mudah dibawa
seperti laptop.
➔ Beban Penggajian
Penggajian jarang menjadi bidang risiko yang signifikan bagi pelaporan
keuangan yang curang. Akan tetapi, perusahaan mungkin saja
melebihsajikan persediaan dan laba bersih dengan mencatat biaya tenaga
kerja berlebih dalam persediaan. Pegawai perusahaan kadang-kadang
dimanfaatkan untuk membuat aset tetap. Biaya tenaga kerja berlebih dapat
juga dikapitalisasi sebagai aset tetap dalam situasi ini. Tunjangan yang
material, seperti tunjangan pensiun, juga mungkin di manipulasi.

7. Responsibilities When Fraud is Suspected

● Merespon Salah Saji yang Mungkin Ditimbulkan oleh Kecurangan


Selama berlangsungnya audit, auditor terus mengevalusi apakah bukti yang
dikumpulkan serta observasi lain yang dilakukan mengindentifikasi adanya salah saji yang
material akibat kecurangan.
- Penggunaan Pengajuan Pertanyaan : wawancara dapat memungkinkan auditor
menjernihkan masalah yang tidak teramat dan mengamati respon lisan serta non lisan
responden.
Katagori pengajuan pertanyaan :
a. Pengajuan pertanyaan informasional untuk memperoleh informasi
atau proses di masa lalu atau yang sedang berjalan saat ini, auditor
sering kali menggunakan pengajuan pertanyaan informasional ketika
mengumpulkan bukti tindak lanjut mengenai program dan
pengendalian atau bukti lain menyagkut slah saji atau kecurigaan
kecurangan yang terungkap selama audit.
b. Pengajuan pertanyaan penilaian untuk menguatkan atau menyangkal
informasi sebelumnya.
c. Pengajuan pertanyaan interogatif sering digunakan untuk
memastikan apakah setiap individu berbohong atau dengan sengaja
tidak mengungkapkan pengetahuan penting tentang fakta, peristiwa
atau situasi penting.

- Mengevaluasi Respons atas Pengajuan Pertanyaan


- Teknik menyimak
- Mengamati petunjuk perilaku

● Tanggung Jawab lain Apabila Dicurigai Ada Kecurangan

- Analisis perangkat lunak audit


- Pengujian substantif yng diperluas
- Implikasi audit lainnya