Anda di halaman 1dari 65

1

BAB 1

LATAR BELAKANG

1.1 Latar Belakang

Hipertensi merupakan penyakit yang tidak menular, sampai saat ini masih

menjadi masalah kesehatan secara global. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana

tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg pada dua

kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan istirahat. Hipertensi

sendiri sering tidak menimbulkan gejala sehingga disebut sebagai silent killer,

sementara tekanan darah dalam jangka waktu lama yang terus menerus panjang dapat

menimbulkan komplikasi.Maka dari itu, hipertensi perlu dideteksi sejak dini yaitu

dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala (kontrol tekanan darah)

(Depkes RI, 2012). Perubahan fisiologi akan terjadi pada lansia, salah satunya adalah

perubahan sistem kardiovaskular. Seiring dengan pertambahan usia akan terjadi

penurunan elastisitas pada dinding aorta. Pada lansia umumnya juga akan terjadi

penurunan ukuran dari organ- organ tubuh tetapi tidak pada jantung. Jantung pada

lansia umumnya akan membesar. Hal ini nantinya akan berhubungan kelainan pada

sistem kardiovaskular akan menyebabkan gangguan pada tekanan darah seperti

hipertensi (Fatmah, 2010)

Data World Health Organization (WHO) tahun 2011 menunjukkan bahwa satu

milyar orang di dunia mengalami Hipertensi, 2/3 diantaranya berada di negara

berkembang yang berpenghasilan rendah sampai dengan sedang. Prevalensi pada

1
2

Hipertensi akan terus meningkat tajam dan diprediksi pada tahun 2025 sebanyak 29%

orang dewasa di seluruh dunia kemungkinan terkena Hipertensi (Depkes, 2017).

Berdasarkan prevalensi hipertensi lansia di Indonesia sebesar 45,9% untuk umur 55-

64 tahun, 57,6% umur 65-74 tahun dan 63,8% umur >75 tahun. Prevalensi hipertensi

di Indonesia berdasarkan pengukuran tekanan darah pada umur ≥18 tahun adalah

sebesar 25,8%. Prevalensi tertinggi di Bangka Belitung (30,9%), diikuti Kalimantan

Selatan (30,8%), Kalimantan Timur (29,6%) dan Jawa Timur berada di posisi ke 10

sebesar 26,2% (Riskesdas,2013). Prevalensi jumlah hipertensi tahun 2011 di

Surabaya sebanyak 45.202 orang. Menurut Dinkes Surabaya pada tahun 2014,

hipertensi berada pada urutan ke-7 penyakit terbanyak Kota Surabaya (Dinkes

Surabaya, 2014). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan februari

Di wilayah kerja puskesmas kenjeran Surabaya, selama tahun 2019 penyakit

hipertensi pada lansia menempati urutan kedua setelah myalgia. Data jumlah lansia

yang berkunjung di puskesmas kenjeran yang menderita hipertensi pada bulan juni

2019 sebesar 102.

Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit- penyakit kardiovaskular

yang merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Data penelitian

Departemen Kesehatan RI pada tahun 2010 menunjukkan hipertensi dan penyakit

kardiovaskular masih cukup tinggi dan bahkan cenderung meningkat seiring dengan

gaya hidup yang jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat, mahalnya biaya

pengobatan hipertensi, disertai kurangnya sarana dan prasarana penanggulangan

hipertensi. Seorang penderita hipertensi akan mungkin mengalami stress disebabkan


3

penyakit hipertensi yang cenderung memerlukan pengobatan yang relative lama,

terdapat risiko komplikasi dan dapat memperpendek usia. Hipertensi pada lanjut

usia mempunyai beberapa kekhususan, pada umumnya yang disertai dengan

faktor- faktor risiko yang lebih berat, yang sering disertai dengan penyakit lain

yang dapat mempengaruhi. Pada penanganan hipertensi seperti dosis obat,

pemilihan obat, efek samping atau komplikasi yang dikarenakan pengobatan

yang lebih sering terjadi, terdapat komplikasi organ target, kepatuhan dalam

berobat yang kurang, sering tidak mencapai target dalam pengobatan dan lain-

lain. Semua ini dapat menjadikan hipertensi pada lanjut usia tergolong dalam

risiko kardiovaskular yang tinggi atau sangat tinggi. Oleh karena itu

penanganan terhadap hipertensi pada usia lanjut sangat membutuhkan perhatian

yang jauh lebih besar. (Setiati, 2014). Hipertensi jika tidak mendapat penanganan

yang baik menyebabkan komplikasi seperti Stroke, Penyakit Jantung Koroner,

Diabetes, Gagal Ginjal dan Kebutaan.Stroke (51%) dan Penyakit Jantung Koroner

(45%) merupakan penyebab kematian tertinggi. (Kemenkes RI, 2017).

Berdasarkan hasil penelitian Anggara Febby Haendra Dwi, Prayitno Nanang

(2013) yang berjudul “faktor- faktor yang berhubungan dengan tekanan darah di

puskesmas telaga murni cikarang barat tahun 2012” bahwa ada hubungan yang

bermakna antara kebiasaan merokok dengan tekanan darah, menurut literature,

nikotin dan karbondioksida yang terkandung dalam rokok akan merusak lapisan

endotel pembuluh darah arteri, elastisitas pembuluh darah berkurang

sehinggamenyebabkan tekanan darah meningkat (Depkes, 2007).


4

Hipertensi sering diketahui saat pemeriksaan atau terjadinya gejala penyakit lain

seperti sakit kepala. Banyak cara untuk mencegah terjadinya hipertensi Munurut

Bambang (2004 dalam Manuntung 2018) meliputi berhenti merokok secara total dan

tidak mengkonsumsi alcohol, melakukan antisipasi fisik secara teratur atau

berolahraga secara teratur dapat megurangi ketegangan pikiran (stres) membantu

menurunkan berat badan, dapat membakar lemak yang berlebihan, diet rendah

garam atau makanan, kegemukan (kelebihan berat badan harus segera dikurangi),

latihan olahraga seperti senam aerobic, jalan cepat, dan bersepeda paling sedikit 7

kali dalam seminggu, memperbanyak minum air putih, minum 8- 10 gelas/ hari,

memeriksa tekanan darah secara berkala terutama bagi seseorang yang memiliki

riwayat penderita hipertensi, menjalani gaya hidup yang wajar mempelajari cara

yang tepat untuk mengendalikan stres. Maka dari itu penting bagi kita untuk

mengetahui penyebab terjadinya hipertensi guna untuk meminimalisir dampak yang

terjadi dan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Lansia yang mengonsumsi

alcohol berisiko 2,8 kali lebih tinggi untuk menderita hipertensi dibandingkan

dengan lansia yang tidak mengonsumsi alcohol, lansia yang mengonsumsi alcohol

setiap hari lebih banyak pada kelompok hipertensi dibandingkan pada kelompok

tidak hipertensi. Lansia yang mengonsumsi alcohol setiap hari mempunyai risiko

8,84 kali lebih tinggi untuk menderita hipertensi disbanding lansia yang tidak

mengonsumsi alkohol. Demikian juga untuk lansia yang mengonsumsi alcohol 1-4

kali per minggu, lansia yang mulai menggunakan alcohol secara berlebihan sejak

masa dewasa muda menunjukkan ketergantungan alcohol. Pengguna alcohol secara

kronis meningkatkan tekanan darah dan pengaruhnya lebih banyak pada tekanan
5

sistolik. Demikian juga dengan lansia yang mengonsumsi alcohol kurang dari 10

tahun dapat berisiko mengalami hipertensi (Malonda, 2012). Berdasarkan hasil

penelitian Malonda Nancy Swanida Henriette, et al (2012) yang berjudul “ pola

makan dan konsumsi alcohol sebagai faktor risiko hipertensi pada lansia”

menunjukkan bahwa konsumsi alcohol berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi

pada lansia di kota Tomohon.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai faktor apa saja yang mempengaruhi keajadian Hipertensi di

WilayahKerja Puskesmas Kenjeran

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah Hipertensi pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Kenjeran

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang

menyebabkan kejadian Hipertensi pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Kenjeran

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi faktor obesitas pada Lansia yang menderita hipertensi di

Wilayah Kerja Puskesmas Kenjeran


6

2. Mengidentifikasi faktor kebiasaan merokok pada Lansia yang menderita

Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kenjeran

3. Mengidentifikasi faktor konsumsi alkohol secara berlebihanpada Lansia

yang menderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kenjeran

4. Mengidentifikasi faktor stres pada Lansia yang menderita Hipertensi di

Wilayah Kerja Puskesmas Kenjeran

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teorotis

Bagi institusi pelayanan kesehatan

Manfaat penelitian ini bagi institusi pelayanan kesehatan, khususnya

keperawatan gerontik/ lansia, penelitian ini diharapkan dapat memberikan

penjelasan dan menambah pengetahuan tentang faktor-faktor apa saja yang

mempengaruhi kejadian Hipertensi pada Lansi di Wilayah Kerja Puskesmas

Kenjeran

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Manfaat bagi petugas kesehatan

Memberikan informasi langsung mengenai faktor penyebab dari hipertensi,

sehingga dapat direncanakan program kesehatan, misalnya upaya pencegahan

timbulnya keparahan pada hipertensi dengan cara berhenti merokok secara

total, tidak mengkonsumsi alkohol, melakukan antisipasi secara teratur

berolahraga secara teratur dapat mengurangi ketegangan pikiran (stres). Diet

rendah garam atau makanan, kegemukan (kelebihan berat badan harus segera

dikurangi). Latihan olahraga seperti senam aerobic, jalan cepat, dan bersepeda.
7

Memperbanyak minum air putih, minum 8- 10 gelas/hari. Memeriksa tekanan

darah secara berkala terutama bagi seseorang yang memiliki riwayat penderita

hipertensi.

2. Manfaat bagi masyarakat

Dalam hasil ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi masyarakat

dalam mengenalkejadian hipertensi dan faktor apa sajakan yang menyebabkan

kejadian hipertensi, sehingga dapat mengambil keputusan dalam upaya

mencegah terjadinya penyakit hipertensi yang berkelanjutan, serta dapat

menggunakan fasilitas pelayanan yang ada agar tetap mengontrol kesehatannya.

3. Manfaat bagi peneliti selanjutnya

Sebagai bahan kajian pustaka bagi peneliti lain, terutama yang karena

pertimbangan tertentu ingin melakukan peneliti lanjutan atau melakukan

penelitian yang sejenisnya.


8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Lanjut Usia

2.1.1 Definisi Lansia

Lanjut usia merupakan bagian dari proses tumbuh kembang manusia. Manusia

berkembang dari bayi, kemudian anak- anak, dewasa dan akhirnya hingga menjadi

tua. Hal ini normal, dengan adanya perubahan fisik dan tingkah laku yang terjadi

pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis

tertentu. Lansia merupakan suatu proses alami yang ditentukan oleh Tuhan yang

Maha Esa. Semua orang pasti akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua

adalah dimana masa hidup manusia yang terakhir. Dimana seseorang akan mengalami

kemunduran fisik, sosial dan mental secara bertahap (Azizah, 2011).

Lanjut usia ialah sekelompok manusia yang berusia 60 tahun keatas, pada

lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk

memperbaiki diri dan mengganti serta mempertahankan fungsi- fungsi normalnya

secara perlahan- lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan

memperbaiki kerusakan yang terjadi. Maka dari itu tubuh akan semakin menumpuk

banyaknya distorsi metabolic dan structural disebut dengan penyakit degenerative

yang dapat menyebabkan lansia akan mengakhiri hidup dengan episode terminal

(Sunaryo, 2016).

8
9

Proses penuaan merupakan proses yang berhubungan dengan umur seseorang.

Manusia mengalami perubahan sesuai dengan bertambahnya umur tersebut.Semakin

bertambah umur semakin berkurang fungsi- fungsi organ tubuh. Hal ini dapat kita

lihat dari perbandingan struktur dan fungsi organ antara manusia yang berumur 70

tahun dengan mereka yang berumur 30 tahun, yaitu berat otak pada lansia 56%, aliran

darah ke otak 80%, cardiac output 70%, jumlah glomerulus 56%, glomerular

filtration rate 69%, vital capacity 56%, asupan O2 selama olahraga 40% , jumlah dari

axon pada saraf spinal 63%, kecepatan pengantar inpuls saraf 90%, dan berat badan

88%. Banyak faktor yang mempengaruhi proses penuaan tersebut, sehingga

muncullah teroi- teori yang menjelaskan mengenai faktor penyebab proses penuaan

ini. Adapun faktor yang mempengaruhi proses penuaan tersebut dapat dibagi atas dua

bagian. Pertama, faktor genetic, melibatkan perbaikan DNA, respon terhadap stres

dan pertahanan terhadap antioksidan.Kedua, faktor lingkungan, yang meliputi

pemasukan kalori, berbagai macam penyakit, stres dari luar, misalnya radiasi atau

bahan- bahan kimia. Kedua faktor tersebut akan mempengaruhi aktivitas metabolism

sel yang akan menyebabkan terjadinya stres oksidasi sehinggaa terjadi kerusakan

pada sel yang menyebabkan terjadinya proses penuaan. (Sunaryo, 2016)

Menurut pendapat Efendi(2009) dalam Sunaryo, (2016), batasan- batasan umur

yang mencakup batasan umur lansia adalah:

1. menurut Undang- Undang Nomor 13 tahun 1998 dalam Bab 1 pasal 1 ayat 2

yang berbunyi “lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun

keatas.”
10

2. Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi menjadi

empat kriteria berikut: usia pertengahan (middle age) ialah 45- 59 tahun,

lanjut usia (elderly) ialah 60- 74 tahun,lanjut usia tua (old) ialah 75- 95 tahun,

usia sangat tua (very old) ialah di atas 90 tahun.

3. Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolo UI) terdapat empat fase, yaitu: pertama

(fase inventus) ialah 25- 40 tahun, kedua (fase virilites) ialah 40- 55 tahun,

ketiga (fase presenium) ialah 55- 56 tahun, keempat (fase senium) ialah 65

hingga tutup usia.

4. Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro masa lanjut usia (geriatric age): >

65 tahun atau 70 tahun. Masa lanjut usia (gertiatric age) itu sendiri dibagi

menjadi tiga batasan umur, yaitu young old (70- 75 tahun,), old (75- 80

tahun), dan very old (> 80 tahun) (Efendi, 2009 dalam Sunaryo 2016).

2.1.2 Masalah pada proses penuaan

Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistem organ tubuh, di

antaranya sistem pernapasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem

pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genetalia urinaria, endokrin, dan

integumen yang dijelaskan berikut (Siti Bandiyah, 2009 dalam Muhith, 2016):

1. Sistem pernapasan pada lansia

a. Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara

inspirasi berkurang, sehingga pernapasan cepat dan dangkal.

b. Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga

potensial terjadi penumpukan sekret.


11

c. Penurunan aktivitas paru (mengembang dan mengempisnya) sehingga jumlah

udarapernapasan yang masuk ke paru mengalami penurunan.

d. Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang menyebabkan terganggunya

proses difusi.

e. Penurunan oksigen (O2), arteri menjadi 75 mmHg mengganggu proses

oksigenasi dan hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua ke jaringan.

f. CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga

menurun dan lama-kelamaan menjadi racun pada tubuh

g. Kemampuan batuk berkurang sehingga pengeluaran sekret dan corpus alium

dari saluran napas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.

2. Sistem persarafan

a. Cepat menurunkan hubungan persarafan

b. Lambat dalam merespons dan waktu untuk berpikir

c. Mengecilnya saraf panca indra

d. Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya saraf

penciuman dan perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya

ketahanan tubuh terhadap dingin

3. Penglihatan

a. Kornes lebih berbentuk sferis (bola)

b. Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respons terhadap sinar

c. Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa)

d. Meningkatnya pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih

lambat, susah melihat dalam cahaya gelap


12

e. Hilangnya daya akomodasi

f. Menurunnya lapang pandang dan berkurangnya luas pandang

g. Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau pada skala

4. Pendengaran

a. Presbiaskusis (gangguan pada pendengaran)

b. Hilangnya kemampuan daya pendengaran pada telinga dalam, terutama

terhadap bunyi suara, 50% terjadi pada usia diatas 65 tahun

c. Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otoklerosis

d. Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya

kreatin

5. Pengecap dan penghidung

a. Menurunnya kemampuan pengecap

b. Menurunnya kemampuan penghidung sehingga mengakibatkan selera makan

berkurang

6. Peraba

a. Kemunduran dalam merasakan sakit

b. Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin

7. Perubahan kardiovaskuler

1. Katup jantung menebal dan menjadi kaku

2. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% per tahun sesudah berumur

20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenta

3. Kehilangan elastisitas pembuluh darah

4. Kurangnya efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi


13

5. Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah

perifer

8. Sistem genetalia urinaria

a. Ginjal : mengecil dan nefron menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal menurun

sampai 50%, penyaringan di glomerulus menurun sampai 50%, fungsi tubulus

berkurang akibatnya berkurangnya kemampuan mengonnsentrasi urine.

b. Kandung kemih : otot-otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200

ml dan menyebabkan frekuensi BAK meningkat, vesika urinaria susah

dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urine

c. Pembesaran prostat ± 75% dimulai oleh pria usia >65 tahun

d. Atrofi vulva

e. Vagina : selaput menjadi kering, elastisitas jaringan menurun, sekresi berkurang

f. Daya seksual : frekuensi seksual intercouse cenderung menurun tapi kapasitas

untuk melakukan dan menikmati berjalan terus

9. Sistem endokrin / metabolik pada lansia

a. Produksi hampir semua hormon menurun

b. Pituitary : pertumbuhan hormon ada tetapi lebihh rendah dan hanya ada

pembulih darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH, dan LH

c. Menurunnya aktivitas tiroid

d. Menurunnya produksi aldosteron

e. Menurunnya sekresi hormon : progesteron, esterogen, testoteron

10. Perubahan sistem pencernaan

a. Kehilangan gigi
14

b. Indra pengecap menurun, adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir,

hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap di lidah terutama rasa manis, asin,

asam dan pahit.

c. Esofagus melebar

d. Lambung : sensitivitas lapar menurun, asam lambung menurun

e. Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi

f. Fungsi absorbsi melemah

g. Liver mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan dan berkurangnya

aliran darah

11. Sistem muskuloskeletal

a. Tulang rapuh

b. Resiko terjadi fraktur

c. Kyphosis

d. Persendian besar dan menjadi kaku

e. Pinggang, lutut dan jari pergelangan tangan terbatas

f. Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek.

12. Perubahan sistem kulit dan jaringan ikat

a. Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak

b. Kulit kering dan kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya

jaringan adipose

c. Kelenjar keringat mulai tidak bekerja dengan baik

d. Kulit pucat dan bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya

sel-sel yang memproduksi pigmen


15

e. Kuku pada tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh

f. Pertumbuhan rambut berhenti, menipis dan warna kelabu

g. Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang

banyak, rendahnya aktivitas otot

13. Perubahan sistem reproduksi dan seksual

a. Perubahan sistem reproduksi

b. Selaput lendir vagina menurun atau kering

c. Menciutnya ovarium dan uterus

d. Atrofi payudara

e. Testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara

berangsur-angsur.

f. Dorongan seks menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan

baik.

2.2. Konsep Hipertensi

2.2.1 Definisi Hipertensi

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan

tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan

(morbiditas) dan angka kematian/ mortalitas.Tekanan darah 140/90mmHg didasarkan

pada dua fase dalam setiap denyut jantung yaitu fase sistolik 140 menunjukkan fase

darah yang sedang di pompa oleh jantung dan fase diastolic 90 menunjukkan fase

darah yang kemabli ke jantung (Endang, 2014).


16

Tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam

arteri.Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana

tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko

terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung, dan keruskana ginjal.

Pada hipertensi sistolik terisolasi mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan

diastolic kurang sering ditemukan pada usia lanjut. Selain dengan bertambhanya usia,

hamper setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah. Tekanan sistolik terus

meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolic terus menignkat sampai usia

55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis

(Endang, 2014). Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik lebih

dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHg (Depkes RI, 2013).

2.2.2 Klasifikasi Hipertensi

MenurutSmeltzer,(2001 dalamManuntung, (2018), hipertensi pada usia lanjut

diklasifikasikan sebagi berikut:

1. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan atau

tekanan diastolic sama atau lebih besar dari 90 mmHg.

2. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg

dan tekanan diastolic lebih rendah dari 90 mmHg.


17

Klasifikasi Hipertensi menurut WHO

Kategori Sistol (mmHg) Diastole (mmHg)


Optimal < 120 < 80
Normal < 130 < 85
Tingkat 1 (hipertensi ringan) 140-159 90- 99
Sub grup: perbatasan 140-149 90- 94
Tingkat 2 (hipertensi sedang) 160-179 100- 109
Tingkat 3 (hipertensi berat) ≥ 180 ≥ 110
Hipertensi sistol terisolasi ≥ 140 < 90
Sub grup: perbatasan 140- 149 < 90

2.2.3 Etiologi Hipertensi

Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang beragam.

Pada kebanyakan pasien etiologi patofisiologi-nya tidak diketahui (essensial atau

hipertensi primer). Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat di

control. Kelompok lain dari populasi dengan persentase rendah mempunyai penyebab

yang khusus, dikenal sebagai hipertensi sekunder. Banyak penyebab hipertensi

sekunder, endrogen maupun eksogen. Bila penyebab hipertensi sekunder dapat

diidentifikasi, hipertensi pada pasien- pasien ini dapat disembuhkan secara potensial.

(Depkes, 2006).

Menurut Endang, (2014 dikutip dari Smeltzer 2014), berdasarkan etiologinya

dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu:

1. Hipertensi primer atau essensial

Penyebab pasti dari hipertensi essensial sampai saat ini masih belum dapat di

ketahui, kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi essensial


18

sedangkan 10% tergolong hipertensi sekunder. Onset hipertensi primer terjadi pada

usia 30-50 tahun. Pada hipertensi primer tidak ditemukan penyakit lainnya. Genetic

dan ras merupakan bagian yang menjadi penyebab timbulnya hipertensi primer,

termasuk faktor lain yang diantaranya adalah faktor stress, intake alcohol moderat,

merokok, lingkungan, demografi dan gaya hidup. Diagnosis hipertensi dibuat setelah

minimal 2 kali pengukuran teknanan darah tetap menunjukkan peningkatan.

Pengulangan pengukuran tekanan darah dilakukan setelah 2 menit.

Sedangkan berdasarkan Kowalak (2014) faktor risiko untuk hipertensi primer

meliputi:

a. Riwayat keluarga

Berdasarkan hasil penelitian Widyartha IM. Jaya, Eka Putra I W. G.

Artawan, Ani Luh Seri (2016). Penelitian ini sesuai dengan penelitian

sebelumnya yang menunjukkan bahwa riwayat keluarga merupakan faktor risiko

terhadap kejadian hipertensi. Literatur menyebutkan bahwa faktor genetika

diyakini memiliki kaitan dengan kejadian hipertensi, dimana bila kedua orang

tua baik ayah maupun ibu menderita hipertensi maka peluang penyakit itu

diturunkan kepada keturunannya sebesar 50%, sedangkan bila hanya salah satu

saja orang tuanya yang menderita hipertensi, maka peluang keturunannya

terkena hipertensi adalah sebesar 30%.


19

b. Usia yang bertambah lanjut

Berdasarkan hasil penelitian Artiyaningrum Budi, Mahalul Azam (2016) yang

berjudul “faktor- faktor yang berhubungan dengan kejadiana hipertensi tidak

terkendali pada penderita yang melakukan pemeriksaan rutin” menunjukkan bahwa

ada hubungan yang signifikan antara umur dengan kejadian hipertensi, penderita

yang memiliki umur >40 tahun memiliki risiko 2,956 kali mengalami tekanan darah

tidak terkendali dibandingkan dengan penderita yang memiliki umur 18- 40 tahun.

Pada umur >40 tahun elastisitas arteri mulai berkurang, sehingga menjadi lebih

mudah arterosklerosis dan rentan terkena hipertensi. Sedangkan pada umur 18- 40

tahun, semangat, kegiatan dan aktivitas fisik tinggi, sehingga kondisi kesehatan

masih baik (Sutanto, 2010).

c. Sleep apnea

Seseorang yang menderita sleep apnea obstruktif ringan sampai sedang dengan

gejala seperti, mendengkur dan kantuk di siang hari yang berlebihan berisiko tinggi

terkena hipertensi. Studi tersebut menunjukkan, sleep apnea ringan pada orang

dewasa muda sangat terkait dengan risiko pengembangan hipertensi sebanyak 4 kali.

Demikian pula, dibandingkan dengan seseorang tanpa sleep apnea. Dengan adanya

hubungan yang lebih kuat antara sleep apnea dengan kelainan metabolic pada

kelompok usia ini, penekanan pada pemantauan indeks gejala metabolic dan

intervensi gaya hidup tahunan (Saputra Ade Helmi, 2017).


20

d. Obesitas

Berdasarkan hasil penelitian Korneliani Kiki, Media Dida (2012) yang

berjudul “obesitas dan stres dengan kejadian hipertensi” menunjukkan bahwa ada

hubungan antara obesitas dengan kejadian hipertensi, ketika berat badan bertambah

yang diperoleh kebanyakan adalah jaringan berlemak, jaringan ini mengandalkan

oksigen dan nutrisi di dalam darah yang melintasi arteri semakin bertambah tekanan

yang diterima oleh dinding arteri tersebut. Hampir semua orang yang kelebihan berat

badan sebanyak 20% pada akhirnya akan menderita tekanan darah tinggi.

Penyelidikan epidemiologi membuktikan bahwa obesitas merupakan ciri khas pada

populasi pasien hipertensi.

a) Pengertian indeks masa tubuh (IMT)

IMT (Indeks Massa Tubuh) merupakan rumus matematis yang dinyatakan

sebagai berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (dalam

meter). Penggunaan rumus ini hanya dapat diterapkanpada seseorang yang berusia

antara 16 hingga 70 tahun, berstruktur tulang belakang normal, bukan atlet atau

binaragawan, dan bukan ibu hamil atau menyusui (Arisman, 2011).

b) Cara Perhitungan IMT

Cara Perhitungan IMT Berdasarkan metode pengukuran IMT menurut WHO

2011, untuk menentukan indeks massa tubuh sampel maka dilakukan dengan

cara: sampel diukur terlebih dahulu berat badannya dengan timbangan kemudian

diukur tinggi badannya dan dimasukkan ke dalam rumus di bawah ini:

BB (kg)
IMT= TB (m)𝑥 𝑇𝐵 (𝑚)=
21

e. Kebiasaan merokok

Berdasarkan hasil penelitian Anggara Febby Haendra Dwi, Prayitno Nanang

(2013) yang berjudul “faktor- faktor yang berhubungan dengan tekanan darah di

puskesmas telaga murni cikarang barat tahun 2012” bahwa ada hubungan yang

bermakna antara kebiasaan merokok dengan tekanan darah, menurut literature,

nikotin dan karbondioksida yang terkandung dalam rokok akan merusak lapisan

endotel pembuluh darah arteri, elastisitas pembuluh darah berkurang

sehinggamenyebabkan tekanan darah meningkat (Depkes, 2007).

Suprihatin (2016) Merokok sangat besar peranannya meningkatkan tekanan

darah, hal ini disebabkan oleh nikotin yang terdapat didalam rokok yang memicu

hormon adrenalin yang menyebabkan tekanan darah meningkat. Nikotin diserap oleh

pembuluh-pembuluh darah didalam paru dan diedarkan ke seluruh aliran darah

lainnya sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan kerja

jantung semakin meningkat untuk memompa darah ke seluruh tubuh melalui

pembuluh darah yang sempit. Mekanisme ini menjelaskan mengapa responden yang

merokok setiap hari memiliki risiko untuk menderita hipertensi. Lansia yang tidak

merokok bisa terkena hipertensi karena menurut berbagai penelitian membuktikan

perokok pasif mempunyai resiko yang lebih besar untuk terkena berbagai penyakit

seperti, jantung koroner, stroke, emphysema, kanker paru, dan penyakit kronis itu

semua penyebab kematian.


22

f. Asupan natrium dalam jumlah besar

Berdasarkan hasil penelitian Fitri Yulia, Rusmikawati, Zulfah Siti, Nurbaiti

(2018) yang berjudul “Asupan natrium dan kalium sebagai faktor penyebab hipertensi

pada usia (Sodium and potassium intake as a factor causing hypertension in the

elderly)” Hasil penelitian terkait hubungan asupan natrium dengan hipertensi pada

usia lanjut, secara hasil uji statistik dengan menggunakan chi square test didapatkan

hasil bahwa ada hubungan yang bermakna antara asupan natrium dengan kejadian

hipertensi. Natrium berhubungan dengan kejadian tekanan darah tinggi karena

konsumsi garam dalam jumlah yang tinggi dapat mengecilkan diameter arteri,

sehingga jantung harus memompa lebih keras untuk mendorong volume darah yang

meningkat melalui ruang yang semakin sempit dan akan menyebabkan tekanan darah

meningkat. Penelitian yang dilakukan oleh Xu ji dkk di cina dengan memperoleh

hasil bahwa asupan natrium yang tinggi dapat menyebabkan hipertensi, begitupun

penelitian yang dilakukan Atun dkk tahun 2014 juga mendapatkan hasil bahwa

asupan natrium berhubungan dengan kejadian hipertensi dimana asupan natrium yang

tinggi dapat meningkatkan resiko tekanan darah tinggi. Sistem kerja renin angiotensin

dan aldosteron sangat berperan dalam timbulnya hipertensi. Renin berperan pada

konversi angiotensin I menjadi angiotensin II yang mempunyai efek vasokonstriksi.

Angiotensin II menyebabkan sekresi aldosteron yang berakibat pada retensi natrium.


23

g. Konsumsi alcohol secara berlebihan

Lansia yang mengonsumsi alcohol berisiko 2,8 kali lebih tinggi untuk

menderita hipertensi dibandingkan dengan lansia yang tidak mengonsumsi alkohol,

lansia yang mengonsumsi alkohol setiap hari lebih banyak pada kelompok hipertensi

dibandingkan pada kelompok tidak hipertensi. Lansia yang mengonsumsi alkohol

setiap hari mempunyai risiko 8,84 kali lebih tinggi untuk menderita hipertensi

disbanding lansia yang tidak mengonsumsi alkohol. Demikian juga untuk lansia

yang mengonsumsi alcohol 1-4 kali per minggu, lansia yang mulai menggunakan

alkohol secara berlebihan sejak masa dewasa muda menunjukkan ketergantungan

alkohol. Pengguna alkohol secara kronis meningkatkan tekanan darah dan

pengaruhnya lebih banyak pada tekanan sistolik. Demikian juga dengan lansia yang

mengonsumsi alkohol kurang dari 10 tahun dapat berisiko mengalami hipertensi

(Malonda, 2012). Berdasarkan hasil penelitian Malonda Nancy Swanida Henriette,

et al (2012) yang berjudul “ pola makan dan konsumsi alkohol sebagai faktor risiko

hipertensi pada lansia” menunjukkan bahwa konsumsi alkohol berpengaruh terhadap

terjadinya hipertensi pada lansia di kota Tomohon.

Berdasarkan hasil penelitian Korneliani Kiki, Meida Dida (2012) yang

berjudul “obesitas dan stres dengan kejadian hipertensi” menunjukkan ada hubungan

yang bermakna antara stres dengan kejadian hipertensi, stres pada pekerjaan

cenderung menyebabkan hipertensi berat. Sumber stres dalam pekerjaan meliputi

beban kerja, fasilitas kerja yang tidak memadai, peran dalam pekerjaan yang tidak

jelas, tanggung jawab yang tidak jelas, masalah dalam hubungan dengan orang lain,
24

tuntutan kerja, dan tuntutan keluarga. Sofia dan digi (2010) bahwa alkohol juga

memiliki efek yang hampir sama dengan karbon monoksida, yaitu dapat

meningkatkan keasaman darah. Darah menjadi lebih kental dan jantung dipaksa untuk

memompa darah lebih kuat agar darah yang sampai kejaringan jumlahnya

mencukupi. Ini berarti juga meningkatkan tekanan darah. Adapun teori yang

mendukung pernyataan tersebut antara lain, pernyataan Hull (1996) yaitu orang –

orang yang minum alkohol terlalu sering atau yang terlalu banyak memiliki tekanan

darah yang lebih tinggi dari pada individu yang tidak minum atau minum sedikit.

h. Gaya hidup banyak duduk

i. Stres

Berdasarkan hasil penelitian Artiyaningrum Budi, Mahalul Azam (2016) yang

berjudul “faktor- faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi tidak

terkendali pada penderita yang melakukan pemeriksaan rutin” menunjukkan bahwa

ada hubungan yang signifikan antara stres dengan kejadian hipertensi tidak

terkendali, stres diduga melalui aktivitas syaraf simpatis (syaraf yang bekerja saat

beraktivitas). Peningkatan aktivitas syaraf simpatis mengakibatkan tekanan darah

secara intermitten (tidak menentu). Gangguan kepribadian yang bersifat sementara

dapat terjadi pada orang yang menghadapi keadaan yang menimbulkan stres. Apabila

stres berlangsung lama dapat mengakibatkan tekanan darah yang menetap (Sutanto,

2010).

Salah satu pengukuran stres pada penelitian ini menggunakan Perceived

Stress Scale (PSS-10) yang disusun oleh Sheldon Cohen (1994). Kuesioner ini terdiri
25

dari 10 pertanyaan untuk melihat tingkat stres (Olpin dan Hesson, 2009). Kuisioner

PSS akan mengindikasikan seberapa sering perasaan dengan membulatkan jawaban

atas pertanyaan. 1) Tidak pernah diberi skor 0, 2) Hampir tidak pernah diberi skor 1,

3) Kadang-kadang diberi skor 2, 4) Cukup sering diberi skor 3, 5) Sangat sering

diberi skor 4 kemudian penilaian tersebut diakumulasikan sesuai dengan tingkatan

stres sebagi berikut: 1) Stres ringan (total skor 1-14), 2) Stres sedang (total skor 15-

26), 3) Stres berat (total skor >26).

j. Renin berlebihan

k. Defisiensi mineral (kalsium, kalium, dan magnesium)

l. Diabetes mellitus

Berdasarkan hasil penelitian Yohanes Silih (2012) yang berjudul

“hubungan antara diabetes melitus dengan kejadian hipertensi di kecamatan

pontianak selatan” Menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara

DM dan kejadian hipertensi. Banyak penelitian menemukan hubungan antara

peningkatan hipertensi pada pasien dengan penyakit diabetes melitus. Orang yang

menderita DM terutama tipe 2 memiliki resiko 2 sampai 4 kali lebih rentan

mengalami kematian karena kelainan kardiovaskular daripada orang yang tidak

menderita DM dan hipertensi terjadi 2 kali lebih rentan pada pasien dengan DM

dibandingkan non DM pada kelompok usia yang sama. Selain itu, Gurushankar

et. al, menyebutkan pasien diabetes yang disertai dengan hipertensi lebih

meningkatkan resiko penyakit jantung koroner, stroke, nefropati dan retinopati.12

Bahkan, diabetes yang disertai hipertensi meningkatkan 75% morbiditas dan


26

mortalitas pada orang yang telah memiliki faktor resiko sebelumnya. Hasil

penelitian di Jordania tahun 2008 menemukan bahwa terjadinya hipertensi

berkaitan erat dengan pertambahan usia dan lamanya menderita DM.

2. Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui, antara

lain, kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid) penyakit

kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme). Golongan terbesar dari penderita hipertensi

adalah hipertensi esensial, maka penyelidikan dan pengibatan lebih banyak

ditunjukkan ke penderita hipertensi esensial.

Sedangkan berdasarkan Kowalak (2014) faktor risiko untuk hipertensi sekunder

meliputi:

1. Koarktasio aorta

2. Stenosis arteri renalis dan penyakit perenkim ginjal

3. Tumor otak, kuadriplegia, dan cedera kepala

4. Feokromositoma, sindrom cushing, hiperaldosteronisme dan disfungsi tiroid,

hipofisis atau paratiroid

5. Pemakaian preparat kontrasepsi oral, kokain, epoetin alfa, obat- obat stimulant

saraf simpatik, inhibitor monoamine oksidase yang digunakan bersama tiramin,

terapi sulih estrogen dan obat- obat antiinflamasi nonsteroid

6. Hipertensi yang ditimbulkan oleh kehamilan

7. Konsumsi alcohol berlebihan


27

2.2.4 Patofisiologi Hipertensi

Tekanan darah arteri merupakan produk total resistensi perifer dan curah

jantung. Curah jantung meningkat karena keadaan yang meningkatkan frekuensi

jantung, volume sekuncup atau keduanya resistensi perifer meningkat karenafaktor-

faktor yang meningkatkan viskositas darah atau yang menurunkan ukuran lumen

pembuluh darah, khususnya pembuluh arteriol (Kowalak, 2014).

Beberapa teori membantu menjelaskan terjadinya hipertensi tersebut meliputi:

1. Perubahan pada bantalan dinding pembuluh darah arteriolar yang menyebabkan

peningkatan resistensi perifer

2. Peningkatan tonus pada saraf sistem simpatik yang abnormal dan berasal dari

dalam pusat sistem vasomotor; peningkatan tonus inin menyebabkan peningkatan

resistensi vaskuler perifer

3. Penambahan volume darah yang terjadi karena disfungsi renal atau abnormal

4. Peningkatan penebalan dinding arteriol akibat faktor genetic yang menyebabkan

peningkatan resistensi vaskuler perifer

Pelepasan renin yang abnormal sehingga terbentuk angiotensin II yang menimbulkan

konstriksi arteriol dan meningkatkan volume darah. Hipertensi yang berlangsung

lama akan meingkatkan beban kerja karena terjadi peningkatan resitensi terhadap

ejeksi ventrikel kiri. Untuk meningkatkan kontraksinya, ventrikel kiri mengalami

hipertrofi sehingga kebutuhan jantung akan oksigen dan beban jantung meningkat.

Dilatasi dan kegegalan jantung dapat terjadi keadaan hipertrofi tidak lagi mampu

mempertahankan curah jantung yang memadai. Karena hipertensi memicu proses

arteroklerosis arteri koronaria, maka jantung dapat mengalami gangguan lebih lanjut
28

akibat penurunan akibat alirah darah kedalam miokardium sehingga timbul angina

pectoris atau infark miokard. Hipertensi juga menyebabkan kerusakan pembuluh

darah yang semakin mempercepat proses arteroklerosis serta kerusakan organ, seperti

cedera retina, gagal ginjal, stroke dan aneurisma serta diseksi aorta (Kowalak, 2014).

Patofisiologi hipertensi sekunder berhubungan dengan penyakit yang

mendasari, sebagai contoh:

1. Penyebab sekunder yang paling sering adalah penyakit ginjal kronis. Serangan

pada ginjal akibat glomerulonephritis atau stenosis arteri renalis akan

mengganggu ekskresi natrium sistem renin angiotensin- aldosterone atau

perfusi renal sehingga tekanan darah meningkat.

2. Pada sindrom Cushing, peningkatan kadar kortisol akan menaikkan tekanan

darah melalui peningkatan retensi natrium renal, kadar angiotensin II, dan

responvaskuler terhadap noreprinefrin.

3. Pada aldosteronisme primer, penambahan volume ontravaskuler, perubahana

konsentrasi natrium dalam dinding pembuluh darah, atau kadar aldosterone

yang terlampau tinggi menyebabkan vasokontriksi dan peningkatan resistensi

4. Feokromositoma merupakan tumor sel kromafin medulla adrenal yang

menyekresi epinefrin dan norepinefrin. Epinefrin meningkatkan kontraktilitas

dan frekuensi jantung sementara norepinefrin meningkatkan resistensi

vaskuler perifer

(Kowalak 2014).
29

2.2.5 Manifestasi Klinis Hipertensi

Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala,

meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya

berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang

dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan

kelelahan, yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada

seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau menahun

dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:

1. Sakit kepala

2. Kelelahan

3. Mual

4. Muntah

5. Sesak napas

6. Gelisah

Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak,

mata, jantung dan ginjal.Kadang penderita hipertensi berat mengalamai penurunan

kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut

ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera. Manifestasi klinis

hipertensi secara umum dibedakan menjadi dua yaitu:


30

1. Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan

tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini

berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak

terukur.

2. Gejala yang lazim

Sering dikatakan gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri

kepala dan kelelahan. Dalam kenyataan ini merupakan gejala terlazim yang mengenai

kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.

Manifestasi klinis hipertensi pada lansia secara umum adalah: sakit kepala,

perdarahan hidung, vertigo, mual muntah, perubahan penglihatan, kesemutan pada

kaki dan tangan, sesak napas, kejang atau koma, nyeri dada.

(Smeltzer, 2001 dalam Manuntung 2018).

Penyakit tekanan darah tinggi merupakan kelainan “sepanjang umur”, tetapi

penderitanya dapat hidup secara normal seperti layaknya orang sehat asalkan mampu

mengendalikan tekanan darahnya dengan baik. Di lain pihak, orang yang masih muda

dan sehat harus selalu memantau tekanan darahnya, minimal setahun sekali. Apalagi

bagi mereka yang mempunyai faktor- faktor pencetus hipertensi seperti kelebihan

berat badan, penderita kencing manis, penderita penyakit jantung, riwayat keluarga

ada yang menderita tekanan darah tinggi, ibu hamil minum pil kontrasepsi, perokok

dan orang yang pernah dinyatakan tekanan darahnya sedikit tinggi. Gal ini dilakukan
31

karena bila hipertensi diketahui lebih dini, pengendaliannya dapat segera dilakukan

(Manuntung 2018).

2.2.6 Komplikasi Hipertensi

Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan darah tinggi di otak, atau akibat

embolus yang terlepas dari pembuluh darah non otak yang terpajan tekanan darah

tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri- arteri yang

memperdarahi otak mengalami hipertropi dan menebal, sehingga alirah darah ke

daerah-daerah yang diperdarahi berkurang. Arteri-artei otak yang mengalami

arterosklerosis dapat menjadi lemah, sehingga meningkatkan kemungkinan

terbentuknya aneurisma. Gejala terkena stroke adalah sakit kepala secara tiba- tiba,

seperti orang bingung, limbung atau bertingkah laku seperti orang mabuk, salah satu

bagian tubuh terasa lemah atau sulit digerakkan (misalnya wajah, mulut, atau lengan

terasa kaku, tidak dapat berbicara secara jelas) serta tidak sadarkan diri secara

mendadak (Endang, 2014).

Infark miokard dapat terjadi apabila teori koroner yang arterosklerosis tidak

dapat mennyerupai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk trombus

yang menghambat aliran darah melalui pembuluh darah tersebut. Hipertensi kronik

dan hipertensi ventrikel, maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat

terpenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian

juga hipertropi ventrikel dapat menimbulkan perubahan- perubahan waktu hantaran

listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi distritmia, hipoksia jantung, dan

peningkatan resiko pembentukan bekuan (Corwin, 2000).


32

Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan darah

tinggi pada kapiler- kapiler ginjal glomerulus. Dengan rusaknya glomerulus, darah

akan mengalir ke unit- unit fungsional ginjal, nefron akan terganggu dan dapat

berlanjut menjadi hipoksia dan kematian. Dengan rusaknya membrane glomerulus,

protein akan keluar menjadi urin sehingga tekanan osmotic koloid plasma berkurang,

menyebabkan edema yang serin dijumpai pada hipertensi kronik (Endang, 2014).

Ketidakmampuan jantung dalam memompanya darah yang kembalinya

kejantung dengan cepat mengakibatkan cairan terkumpul diparu, kaki dan jaringan

lain sering disebut edema. Cairan di dalam paru-paru sering menyebabkan sesak

nafas, timbulnya cairan ditungkai menyebabkan kaki bengkak atau sering dikatakan

edema. Ensefalopi dapat etrjadi terutama pada hipertensi maligna (hipertensi yang

cepat). Tekanan yang tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan

kapiler dan mendorong cairan ked slam ruang intertisium di seluruh susunan saraf

saraf. Neuron- neuron di sekitarnya kolap dan terjadi koma (Endang, 2014).

2.2.7 Pencegahan hipertensi

Menurut Bambang, (2004 dalam Manuntung 2018) pencegahan hipertensi

meliputi:

1. Berhenti merokok secara total dan tidak mengkonsumsi alcohol.

2. Melakukan antisipasi fisik secara teratur atau berolahraga secara teratur

dapat mengurangi ketegangan pikiran (stres) membantu menurunkan berat

badan, dapat membakanr lemak yang berlebihan.

3. Diet rendah garam atau makanan, kegemukan (kelebihan berat badan

harus segera dikurangi).


33

4. Latihan olahraga seperti senam aerobic, jalan cepat, dan bersepeda paling

sedikit 7 kali dalam seminggu.

5. Memperbanyak minum air putih, minum 8- 10 gelas/hari.

6. Memeriksa tekanan darah secara berkala terutama bagi seseorang yang

memiliki riwayat penderita hipertensi.

7. Menjalani gaya hidup yang wajar memperlajari cara yang tepat untuk

mengendalikan stres.

2.2.8 Hipertensi pada Lansia

Bertambahnya umur dapat menyebabkan tekanan darah meningkat. Hal tersebut

akan menjadi masalah pada lansia hal ini karena menjadi faktor utama terjadinya

stoke dan payah jantung koroner, pada lansia yang berumur lebih dari 60 tahun, dapat

meninggal karena penyakit jantung dan serebrovaskuler. Morbilitas penderita

kardiovaskuler menurun dengan pengibatan hipertensi, lansia dikatakan hipertensi

apabila tekanan sistolik sama atau lebih tinggi dari 140 mmHg, dan tekanan diastolic

sama atau lebih tinggi dari 90 mmHg (Sunaryo, 2015). Faktor usia sangat

berpengaruh terhadap hipertensi karena dengan bertambahnya umur maka semakin

tinggi mendapat resiko hipertensi. Insiden hipertensi makin menignkat dengan

meningkatnya usia. Ini sering disebabkan oleh perubahan alamiah di dalam tubuh

yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormone. Jenis kelamin juga

sangat erat kaitannya terhadap terjadinya hipertensi dimana pada masa muda dan

paruh baya lebih tinggi penyakit hipertensi pa alai-laki dan pada wanita lebih tinggi

setelah umur 55 tahun, ketika seorang wanita mengalami menopause (Endang, 2014).
34

Menurut Junaidi (2010), mengatakan bahwa seiring pertambahan usia, tekanan

darah sistolik biasanya menurun, tetapi tekanan darah diastolic umumnya meningkat.

Jika tekanan darah sistolik pada orang tua mencapai lebih dari 140 mmHg dan

diastolic 90 mmHg maka diperlukan perhatian serius untuk menanganinya karena

kondisi ini dapat meningkatkan resiko terserang penyakit kardiovaskular dimasa

mendatang. Tekanan sistolik pada orang tua dijadikan acuan untuk menentukan

waktu pemberian obat hipertensi. Dalam beberapa kasus, tekanan sistolik dapat

meningkat, tetapi diatolik tidak. Pemantauan tekanan darah pada orang tua (yang

berusia diatas 65 tahun) sebaiknya berat badan dijaga agar tidak terlalu gemuk dan

tetap aktif melakukan latihan fisik seperti berjalan kaki.


35

2.2.9 Kerangka Konseptual

LANSIA

Proses penuaan

Biologis Spiritual
Psikososial

Perubahan fisiologis pada lansia: 1. Katup jantung menebal dan menjadi kaku
1. Sistem pernafasan 2. Kemampuan jantung memompa darah
2. Sistem persarafan menurun 1% per tahun sesudah berumur 20
tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya
3. Penglihatan kontraksi dan volumsenta
4. Pengecap dan penghidung 3. Kehilangan elastisitas pembuluh darah
5. Peraba 4. Kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer
6. Kardiovaskular unruk oksigenasi
7. Sistem genetalia urinaria 5. Tekanan darah meningkat akibat
meningkatnya resistensi pembuluh darah
8. Sistem endokrin/ perifer
metabolic
9. Sistem pencernaan
10. Sistem musculoskeletal Hipertensi primer:
11. Sistem kulit dan jaringan 1. Obesitas
ikat 2. Kebiasaan merokok
12. Sistem reproduksi dan 3. Konsummsi alkohol secara berlebihan
seksual 4. Stres
5. Riwayat keluarga
6. Usia yang bertambah lanjut
7. Sleep apnea
8. Asupan natrium dalam jumlah besar
9. Gaya hidup banyak duduk

Dampak hipertensi:

1. Stroke
2. Retinopati hipertensif
3. Pecahnya pembuluh darah arteri
Keterangan : 4. gangguan pada ginjal
5. serangan jantung
: Diteliti : Tidak diteliti

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Faktor Penyebab Hipertensi Pada Lansia


36

Lanjut usia ialah sekelompok manusia yang berusia 60 tahun keatas, pada

lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk

memperbaiki diri dan mengganti serta mempertahankan fungsi- fungsi normalnya

secara perlahan- lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan

memperbaiki kerusakan yang terjadi (Sunaryo, 2016).

Proses penuaan merupakan proses yang berhubungan dengan umur seseorang.

Terdiri dari biologis, psikologis, spiritual dan akan terjadi salah satunya yaitu

perubahan pada sistem kardiovaskular diantaranya Katup jantung menebal dan

menjadi kaku, Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% per tahun sesudah

berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumsenta,

Kehilangan elastisitas pembuluh darah, Kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer

unruk oksigenasi, dan Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi

pembuluh darah perifer (Siti Bandiyah, 2009 dalam Muhith, 2016).

Lansia yang mengalami proses penuaan baik secara biologis, psikologis,

spiritual. Secara biologis mengalami perubahan fisiologis pada lansia.Di dalam

sistem kardiovaskular adanya Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% per

tahun sesudah berumur 20 tahun.Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan

volumsentaKehilangan elastisitas pembuluh darah.Sehingga menimbulkan hipertensi

primer yang di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu obesitas, kebiasaan merokok,

konsumsi alcohol, stres.


37

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan

atau pemecahan suatu masalah dengan menggunakan metode ilmiah. Dalam bab ini

diuraikan tentang: (1) desain penelitian, (2) kerangka kerja (3), pupulasi sampel dan

sampling, (4) variable penelitian, (5) definisi operasional, (6) pengumpulan dan

analisa data, (7) etika penelitian.

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian adalah suatu strategi penelitian dalam mengidentifikasi

permasalahan sebelum perencanaan akhir pngumpulan. Dalam penelitian ini

menggunakan desain penelitian cross sectional dengan pendekatan “deskriptif”.

Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan (memaparkan) peristiwa-

peristiwa penting yang terjadi pada masa kini, deskripsi peristiwa dilakukan secara

sistematik dan lebih menekankan pada data faktual daripada penyimpulan (Nursalam,

2016).

3.2 Kerangka Kerja

Kerangka kerja merupakan bagan kerja terdapat kegiatan penelitian yang akan

dilakukan meliputi subjek penelitian, variable yang akan diteliti dan variable yang

mempengaruhi dalam penelitian (Hidayat, 2010). Kerangka kerja dalam penelitian ini

dapat digambarakan secara skematis sebagai berikut:

37
38

Populasi
Populasi dalam penelitiah ini adalah semua lansia yang menderita Hipertensi di
Wilayah Kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya pada tahun 2019 pada bulan Juni
dengan jumlah N= 102 Lansia

Sampel
Simple random Sample
sampling n = 81

Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah Deskriptif
Observasional

Variable Independent
Faktor, obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi
alkohol, stres

Pengumpulan Data
Menggunakan kuesioner, wawancara
dan pengukuran IMT

Pengolahan Data
Pengolahan data dengan editing, coding, scoring,
tabulating

Analisa Data
Distribusi frekuensi

Hasil Dan Pembahasan

Kesimpulan

Gambar 3.1 kerangka Kerja Penelitian Identifikasi Faktor Penyebab Hipertensi Pada

Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya


39

3.3 Populasi, Sampel Dan Sampling

3.3.1 Populasi

Populasi adalah kumpulan atau target obyek/ unit analisis kemana generelisasi

dirumuskan dan dari mana sampel diambil populasi bisa FINIT (terbatas) atau

INFINIT (tidak terbatas) (Setiawan, 2015). Populasi penelitian ini adalah lansia yang

menderita hipertensi sejumlah 102 lansia.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai

subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2016). Adapun sampel yang

digunakan sebanyak 81 orang

Adapun sampel yang diambil pada penelitian ini adalah lansia yang mengalami

hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya yang memenuhi kriteria

inklusi dan eksklusi.

𝑁
n=
1 + N (d)²

102
𝑛=
1 + 102 (0,05)²

n = = 81 responden

keterangan:

n = Besar sampel
40

N = Besar populasi

d = Tingkat signifikan (p)

1. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi

target yang terjangkau dan akan diteliti (Nursalam, 2016)

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:

a. Lansia yang berkunjung ke puskesmas kenjeran Surabaya

b. Lansia yang bersedia menjadi responden

c. Lansia yang berusia 60 tahun- 80 tahun yang mengalami hipertensi di

wilayah kerja puskesmas kenjeran Surabaya

2. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi adalah menghilangkan/ mengeluarkan subjek yang memenuhi

kriteria inklusi dari studi (Nursalam, 2016)

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:

a. Lansia yang mengalami hipertensi yang menolak menjadi responden

b. Lansia yang mengalami komplikasi hipertensi atau penyakit penyerta

c. Lansia yang tidak kooperatif


41

3.3.3 Tehnik Sampling

Tekhnik sampling merupakan suatu proses dalam menyeleksi sampel yang

digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, sehingga jumlah sampel akan

mewakili dari keeseluruhan populasi yang ada, secara umum ada dua jenis

pengambilan sampel yakni yaitu probability sampling dan nonprobability dan

sampling (Sugiono, 2014). Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi

untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2016). pada penelitian ini sampel diambil

dengan cara Simpel random sampling. Simpel random sampling, setiap elemen

diseleksi secara acak. Jika sample frame kecil, nama bisa ditulis pada secarik kertas,

diletakkan didalam kotak, diaduk dan diambil secara acak setelah semuanya

terkumpul (Nursalam, 2016).

3.4 Variabel Penelitian

3.4.1 Variabel Independen

Variable yang mempengaruhi atau nilainya menentukan variable lain. Suatu

kegiatan stimulus yang dimanipulasi oleh peneliti menciptakan suatu dampak pada

variable dependen (Nursalam, 2016).Variable independent dalam penelitian ini

adalah faktor yang menyebabkan kejadian kejadian hipertensi antara lain, obesitas,

kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan stres.


42

3.4.2 variabel Dependen

Variable dependen adalah variable yang ditentukan oleh variable lain, variable

respon akan muncul sebagai akibat variable bebas atau independen (Nursalam,

2008).Variable dependen dalam penelitian ini adalah lansia yang mengalami

hipertensi.

3.5 Definis Operasional

Menjelaskan semua variabel dan istilah yang akan digunakan dalam penelitian

secara operasional (Nursalam, 2016).

Definisi
Variabel Indikator Instrumen Skala Kategori
Operasional
Faktor Keadaan tubuh 1. Berat Badan 1. Meteran Ordinal 1. Kurang berat
yang ditandai (BB) 2. Timbangan badan (<20-
obesitas
dengan berat 2. Tinggi badan 3. Lembar 24kg/m²)
badan yang (TB) observasi 2. Normal (20-24
berlebihan, diukur kg/m²)
dengan 3. Obesitas (> 25,0
menggunakan kg/m²)
rumus IMT
(Sustrani, 2004)
Faktor Konsumsi rokok 1. >20 Kuisioner Nomin 1= Merokok
yang dihisap oleh batang/ al 2= Tidak merokok
kebiasaan
responden hari
merokok 2. > 10 Kemudian
batang/ dikategorikan
hari menjadi
3. < 10
batang/ 1= Perokok berat
hari jika >20 batang/ hari
(Bustan, 2000) 2= Perokok sedang
jika 10- 20 batang/
hari
3= Perokok ringan
jika <10 batang/ hari
(Bustan, 2000)
43

Faktor Konsumsi alkohol 1. Berisiko Kuisioner Nomin 1= Mengkonsumsi


yang dikonsumsi (mengkons al 2= Tidak
konsumsi
oleh responden umsi mengkonsumsi
alkohol alcohol >6
gelas/
minggu)
2. Tidak
berisiko
(jika
mengkonsu
msi alcohol
<6 gelas/
minggu)
(Sustrani, 2004)

Faktor stres Tekanan 1: perasaan tidak Kuisioner Ordinal


psikologis yang terprediksi Perceived 0 : Tidak ada atau
dialami oleh 2: perasaan tidak Stress Scale
tidak pernah
responden terkontrol (PSS- 10)
3: perasaan 1 : Hampir tidak
tertekan Sheldon Cohen
pernah
(1994).
2 : Kadang-kadang
3 : Cukup sering
4 : Sangat sering

Kemudian di
kategorikan menjadi

1: skor 1-14 = stres


ringan
2: skor 15-26 = stres
sedang
3: skor >26 = stres
berat

Sheldon Cohen
(1994).
44

3.5 Pengumpulan data dan analisa data

3.5.1 Pengumpulan data

1. Instrumen penelitian

Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh

penelitian dalam kegiatanya dalam mengumpulkan data agar kegiatan tersebut

menjadi sistematis dan lebih mudah (Nursalam, 2016). Instrumen yang dipakai dalam

penelitian ini adalah kuesioner yang diberikan pada lansia yang menderita hipertensi

di Wilayah Puskesmas Kenjeran Surabaya.Penelitian ini menggunakan beberapa

instumen antara lain :

a. kuisioner digunakan untuk mengukur faktor obesitas, faktor kebiasaan

merokok dan faktor konsumsi alkohol

b. perceived Stress Scale (PSS- 10) digunakan untuk mengukur faktor stress

c. Salah satu pengukuran stres pada penelitian ini menggunakan Perceived

Stress Scale (PSS-10) yang disusun oleh Sheldon Cohen (1994). Kuesioner ini

terdiri dari 10 pertanyaan untuk melihat tingkat stres (Olpin dan Hesson,

2009). Kuisioner PSS akan mengindikasikan seberapa sering perasaan

dengan membulatkan jawaban atas pertanyaan. 1) Tidak pernah diberi skor 0,

2) Hampir tidak pernah diberi skor 1, 3) Kadang-kadang diberi skor 2, 4)

Cukup sering skor 3, 5) Sangat sering diberi skor 4 kemudian penialaian

tersebut diakumulasikan sesuai dengan tingkatan stres sebagi berikut: 1) Stres

ringan (total skor 1-14) 2) Stres sedang (total skor 15-26)

3) Stres berat (total skor >26).


45

1. Waktu dan lokasi penelitian

2. Tempat

Penelitian ini Dilaksanakan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya

3. Waktu

Waktu dimulai penelitian ini pada bulan juni 2019

2. Prosedur pengumpulan data

Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses

pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian

(Nursalam, 2016).

1. Tahap persiapan

Pada langkah ini peneliti melakukan prosedur perijinan untuk melakukan

penelitian di wilayah kerja puskesmas kenjeran Surabaya. Yang pertama

peneliti meminta surat perizinan untuk penelitian dari Universitas

Muhammadiyah Surabaya, selanjutnya mengajukan surat izin kepada kepala

Bankesbangpol Surabaya dan Surat rekomendasi dari DINKES Surabaya

untuk pengambilan data awal di wilayah puskesmas kenjeran Surabaya.

Setelah itu peneliti berkordinasi dengan pihak-pihak yang berada di tempat

pengambilan data seperti perawat dan petugas yang menangani lansia.

3.5.2 Uji validitas dan Reabilitas

Uji validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur atau sebuah

instrument yang akan dilakukan penelitian untuk menjadi alat ukur yang bisa diterima
46

atau standart maka alat ukur tersebut memalui uji validitas dan reabilitas

(Hidayat,2010)

Setelah menguji validitas maka perlu juga menguji reabilitas data, apakah alat

ukur dapat digunakan atau tidak (Hidayat,2010)

Dalam penelitian ini digunakan kuisioner Kuesioner Perceived Stress Scale

(PSS-10) telah dinyatakan validdan reliabel dengan koefisien Chronbach Alpha

sebesar 0,85. PenelitianAndreou, et al (2011) dalam penelitiannya menguji kembali

instrumentPSS-10 ini dengan hasil koefisien Chronbach Alpha sebesar 0,82 (Nuraini,

2016).Untuk uji validitas dilakukan terhadap 20 responden secara acak.yang

dilakukan di kampong botton kelurahan magelang kecamatan magelang tengah tahun

2009. Taraf signifikan 5%, nilai r tabeladalah 0,444. Nilai korelasi pertanyaan dalam

kuesioner memenuhi taraf signifikan yaitu di atas 0,444 akan dinyatakan valid.

3.5.3 Analisa data

Analisa data merupakan cara mengelola data agar dapat disimpulkan atau

diinterpretasikan menjadi informasi (Hidayat, 2010). Dalam proses pengolahan data

terdapat langkah-langkah sebagai berikut :

1. Pengolahan Data

a. Editing

Editing merupakan upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang

diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data
47

atau setelah data terkumpul (Hidayat,2010). Setelah kuesioner ditanyakan dan sudah

diisi, kemudian dilakuakn pemeriksaan kembali.Pemeriksaan kuesioner meliputi

kelengkapan dan kesesuaian jawaban, langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi

kesalahan-kesalahan dari data yang sudah dikumpulkan, juga memeriksa kembali

jangan sampai terjadi kekosongan dari data yang ditentukan.

b. Coding

Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data

yang terdiri dari beberapa kategori.Pemberian kode ini sangat penting bila

pengolahan dan analisa data menggunakan computer.Biasasanya dalam pemberian

kode dibuat juga daftar kode dan artinya dalam satu buku (codebook) untuk

memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari satu variabel (Hidayat,

2010).Maka setiap jawaban yang telah ada di lembar kuesioner diberikan kode

berdasarkan karakter masing – masing yaitu:

a. Faktor merokok

1= Merokok

2= Tidak merokok

b. Faktor konsumsi alcohol

1= Mengkonsumsi

2= Tidak mengkonsumsi
48

c. Skoring

Dasar pemberian nilai sesuai dengan skor yang telah ditentukan berdasarkan

lembar kuesioner dan observasi yang telah disusun.Maka setiap jawaban yang telah

ada di lembar kuesioner diberikan skor berdasarkan karakter masing – masing yaitu:

a. Faktor obesitas :

1. Obesitas tingkat 1(IMT 30-34,9)

2. Obesitas tingkat 2 (IMT 35-39)

3. Obesitas tingkat 3 (IMT >40

b. Faktor stres

1. 1-14= stres ringan

2. 15-26= stres sedang

3. >26 stres berat

c. Tabulating

Dalam tabulating ini dilakukan penyusunan dan penghiungan data dari hasil

coding untuk kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan dilakukan

evaluasi.(Nursalam, 2003).Data yang diperoleh mulai dari studi pendahuluan sampai

akhir disusun menggunakan tabel.

d. Analisa data

Analisa data dalam penelitian ini dibantu menggunakan perangkat

lunak.Analisa yang digunakan adalah analisa deskriptif.Analisa deskriptif adalah

suatu prosedur pengolahan data dengan menggambarkan dan meringkas data secara
49

ilmiah dalam bentuk tabel atau grafik. Data-data yang disajikan meliputi frekuensi,

proporsi, dan rasio, ukuran-ukuran kecenderungan pusat (rata-rata hitung, median,

modus), maupun ukuran-ukuran variasi (simpangan baku, variansi, rentang dan

kuartil) (Nursalam, 2016).

3.6 Etik penelitian

1. Lembar persetujuan (Informed Concent)

Informed Consent adalah lembar persetujuan yang di ajukan kepada

responden, sebagai ungkapan peneliti menghormati harkat dan martabat serata

menghargai hak-haknya sebagai subjek penelitian (Notoatmodjo, 2012). Informed

Consent diberikan sebelum penelitian dilakukan kepada subyek yang diteliti,

kemudian subyek diberitahu tentang maksud dan tujuan penelitian, jika subyek

bersedia diteliti maka harus menandatangani informed Consent tersebut jika menolak

peneliti tidak boleh memaksa dan harus menghormati hak-haknya.

2. Tanpa nama (Anonimity)

Dan perlakuan yang diberikan nama subyek pada lembar yang diisi, lembar

kuisioner tersebut hanya diberi kode terntentu.

3. Kerahasiaan (Confidentiallity)

Informasi yang diperoleh dari subyek dijamin kerahasiaanya oleh peneliti hanya

ditampilkan dalam forum akademik


50

4. Beneficence Dan Non Malefence (manfaat dan tidak merugikan)

Penelitian ini harus diberikan manfaat kepada responden dan juga tidak akan

membahayakan responden. Bahaya yang di dapat berarti dengan sengaja

membahayakan, bahaya yang tidak sengaja maupun resiko dari bahaya yang

ditimbulkan.

5. Justice

Pada saat dilakukan penelitian, tanpa membeda-bedakan responden dan

perlakuan yang diberikan. Saat penelitian responden diperlakukan sama, dengan

menemui responden dan ketika menyebar kuisioner.


51

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan membahas mengenai hasil penelitian meliputi gambaran

umum lokasi penelitian, data demografi responden (Jenis kelamin, usia, pendidikan)

serta uraian pembahasan hasil penelitian faktor penyebab yang berhubungan dengan

hipertensi pada lansia di poli umum Puskesmas Kenjeran Surabaya.

Hasil akan dibahas mengenai hasil peneliti meliputi gambaran umum lokasi,

data demografi responden serta pembahasan factor penyebab yang berhubungan

dengan hipertensi pada lansia di poli umum Puskesmas Kenjeran Surabaya.

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Lokasi Penelitian

Puskesmas Kenjeran Surabaya berlokasi di Tambak Deres No 2 Kecamatan

Bulak. Berdiri pada tahun 2003 dengan tipe Puskesmas non rawat inap. Puskesmas

kenjeran terdiri beberapa kelompok kerja terdiri dari promosi kesehatan, upaya

kesehatan lingkungan, upaya KIA dan KB, upaya pelayanan gizi, upaya pencegahan

dan pengendalian penyakit.

Sarana prasarana terdiri dari puskesmas pembantu (pustu) 2 pos, puskesmas

keliling (pusling) 3 pos, pos pelayanan terpadu (posyandu) balita 30 pos, pos

pelayanan terpadu (posyandu) lansia 16 pos, pos kesehatan desa (poskesdes) 4 pos,

pos pembinaan terpadu (posbindu) ptm 15 pos, pos pelayanan terpadu remaja 2 pos.

51
52

4.2 Data Umum

1. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Lansia

Hipertensi Di Wlayah Kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya Pada Bulan Juli

tanggal 9 sampai dengan tanggal 17 juli 2019

Jenis Kelamin Frekuensi (f) Presentase (%)


Laki-laki 46 56.8
Perempuan 35 43.2
Jumlah 81 100.0
Sumber: Hasil Penelitian 2019

Berdasarkan tabel 4.1 hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 81

responden mayoritas yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 46 responden

(56,8%) dan mayoritas berjenis kelamin perempuan sebanyak 35 reponden

(43,2%).

2. Distribusi Responden Berdasarkan Usia

Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Lansia Hipertensi Di

Wilayah Kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya Pada Bulan Juli tanggal 9

sampai dengan tanggal 17 Juli 2019.

Usia Frekuensi (f) Presentase (%)


60-64 tahun 21 25.9
65-68 15 18.5
69-72 23 28.4
73-76 13 16.0
77-80 9 11.1
Jumlah 81 100.0
Sumber: Hasil Penelitian 2019
53

Berdasarkan tabel 4.2 hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 81 responden

lansia berumur 60-64 tahun sebanyak 21 responden (25,9%), lansia berumur 65-68

tahun sebanyak 15 reponden (18,5%), lansia yang berumur 69-72 tahun sebanyak 23

responden (28,4%), lansia yang berumur 73-76 tahun sebayank 13 responden

(16,0%), dan lansia yang berusia 77-80 tahun sebanyak 9 responden (11,1%).

3. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Lansia

Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya Pada Bulan Juli

tanggal 9 sampai dengan tanggal 17 Juli 2019.

Pendidikan Terakhir Frekuensi (f) Presentase (%)


Tidak Sekolah 14 17.3
SD 32 39.5
SMP 14 17.3
SMA 6 7.4
Perguruan Tinggi 15 18.5
Jumlah 81 100.0
Sumber: Hasil Penelitian 2019

Berdasarkan tabel 4.3 hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 81 responden

mayoritas memiliki riwayat pendidikan tidak sekolah sebanyak 14 responden

(17,3%), SD sebanyak 32 reponden (32,5%), SMP sebanyak 14 responden (17,3%),

SMA sebanyak 6 responden (7,4%), dan perguruan tinggi sebanyak 15 responden

(18,5%).

4.3 Data Khusus

Data khusus pada penelitian ini menggunakan variable independen (obesitas,

kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan stres).


54

4.3.1 Identifikasi Faktor Obesitas pada lansia yang menderita hipertensi di

wilayah kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi berdasarkan faktor obesitas pada lansia

Hipertensi Di wilayah kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya Bulan Juli

tanggal 9 sampai dengan tanggal 17 juli 2019

Obesitas Frekuensi (f) Presentase (%)


Kurang berat badan 17 21.0
Normal 38 46.9
Obesitas 26 32.1
Jumlah 81 100.0
Sumber: Hasil Penelitian 2019

Berdasarkan tabel 4.4 hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 81 responden

mayoritas kurang berat badan sebanyak 17 responden (21,0%) normal sebanyak

35 reponden (46,9%), obesitas sebanyak 26 responden (32,1%)

4.3.2 Identifikasi faktor Merokok Pada Lansia yang menderita Hipertensi di

wilayah kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi berdasarkan faktor Merokok pada lansia

Hipertensi Di wilayah kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya Bulan Juli

tanggal 9 sampai dengan tanggal 17 juli 2019

Merokok Frekuensi (f) Presentase (%)


Merokok Ya 44 54,3
Tidak 37 45,7
Jumlah 81 100,0
Sumber: Hasil Penelitian 2019
55

Berdasarkan tabel 4.5 hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 81 responden

mayoritas merokok sebanyak 44 responden (54,3%) dan tidak merokok

sebanyak 37 reponden (45,7%).

4.3.3 Identifikasi faktor Konsumsi Alkohol Pada Lansia yang menderita

hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya

Tabel 4.6 Distribusi frekuensi berdasarkan faktor Konsumsi alcohol pada lansia

Hipertensi Di Poli Umum Puskesmas Kenjeran Surabaya Bulan Juli tanggal 9

sampai dengan tanggal 17 juli 2019

Konsumsi Alkohol Frekuensi (f) Presentase (%)


Ya 18 22.2
Tidak 63 77.8
Jumlah 81 100.0
Sumber: Hasil Penelitian 2019

Berdasarkan tabel 4.6 hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 81 responden

mayoritas konsumsi alkohol sebanyak 18 responden (22,2%) dan tidak

mengkonsumsi alkohol sebanyak 63 reponden (77,8%).

4.3.4 Identifikasi faktor Stres Pada Lansia yang menderita Hipertensi di

wilayah Kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya

Tabel 4.7 Distribusi frekuensi berdasarkan faktor Stres pada lansia

Hipertensi Di wilayah kerja Puskesmas Kenjeran Surabaya Bulan Juli

tanggal 9 sampai dengan tanggal 17 juli 2019

Stres Frekuensi (f) Presentase (%)


Stres ringan 16 19.8
Stres sedang 63 77.8
Stres berat 2 2.5
Jumlah 81 100.0
56

Berdasarkan tabel 4.7 hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 81 responden

mayoritas stres ringan sebanyak 16 responden (19,8%) stres sedang sebanyak

63 reponden (77,8%), dan stres berat sebanyak 2 responden (2,5%).

4.4 Pembahasan

4.4.1 Identifikasi faktor Obesitas sebagai faktor penyebab Hipertensi pada

lansia

Berdasarkan Tabel 4.8 diatas didapatkan bahwa dari 81 responden mayoritas

kurang berat badan sebanyak 17 responden (21,0%), normal sebanyak 38 responden

(46,9%), diikuti dengan obesitas sebanyak 26 responden (32,1%).

Dalam penelitian Sulastri (2012) menyatakan bahwa obesitas merupakan salah

satu dari faktor resiko hipertensi. Seseorang yang memiliki berat badan berlebih atau

obesitas akan membutuhkan lebih bayak darah untuk menyuplai oksigen dan

makanan ke jaringan tubuhnya, sehingga volume darah yang beredar melalui

pembuluh darah meningkat, curah jantung ikut meningkat dan akhirnya tekanan darah

ikut meningkat. Selain itu kelebihan berat badan juga meningkatkan kadar insulin

dalam darah. Peningkatan insulin menyebabkan retensi natrium pada ginjal sehingga

tekanan darah ikut naik. Selain itu teori lain yang disampaikan oleh Depkes R1

(2006) menyatakan bahwa peningkatan kadar kortisol dan peningkatan volume sel

darah merah serta kekentalan darah berperan dalam menaikan tekanan darah.

Pada penelitian ini di poli umum Puskesmas Kenjeran Surabaya didapatkan

data bahwa pada lansia dalam kategori normal lebih banyak. Sebagian responden
57

mengatakan sering mengkonsumsi makanan dan minuman tinggi kalori, selain itu

jarang melakukan aktifitas fisik seperti olahraga, efek samping dari obat-obatan, dan

ada juga dari faktor keturunan. Dan berdasarkan hasil wawancara, responden

mengatakan bahwa responden yang hipertensi tetapi mengalami berat badan normal

dikarenakan banyak pikiran yang dipikikan atau mengalami stres dalam kehidupan

sehari- harinya dan gaya hidup seperti kurang tidur dan pola makan tidak teratur.

4.4.2 Identifikasi faktor Merokok sebagai faktor penyebab Hipertensi pada

lansia

Berdasarkan Tabel 4.9 diatas didapatkan bahwa dari 81 responden mayoritas

merokok sebanyak 44 responden (54,3%) dan tidak merokok sebanyak 37 responden

(45,7%).

Menurut teori yang Suprihatin (2016) menyatakan bahwa merokok sangat besar

peranannya dalam meningkatkan tekanan darah, hal ini disebabkan oleh nikotin yang

terdapat didalam rokok yang memicu hormon adrenalin yang menyebabkan tekanan

darah meningkat. Nikotin diserap oleh pembuluh-pembuluh darah didalam paru dan

diedarkan ke seluruh aliran darah lainnya sehingga terjadi penyempitan pembuluh

darah. Hal ini menyebabkan kerja jantung semakin meningkat untuk memompa darah

ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah yang sempit. Mekanisme ini menjelaskan

mengapa responden yang merokok setiap hari memiliki risiko untuk menderita

hipertensi.
58

Pada penelitian ini didapatkan bahwa responden lansia banyak yang merokok,

kira-kira kurang dari 10 batang perhari, hal ini yang dapat memicu terjadinya

hipertensi karena merokok. Rokok memiliki kandungan zat nikotin adaptif karbon

monoksida yang berhubungan langsung dengan sel endotel dalam darah (jaringan

tubuh) sedangkan secara fisologis jaringan sel endotel darah yang kaya akan oksigen

sangat bertolak belakang dengan zat adaptif karbon monoksida akibat dari rokok

tersebut sehingga akan terjadi gangguan homeostatis sel darah dalam tubuh maka

dari itu kebiasan rokok dapat mempengaruhi hipertensi pada responden lansia

(Depkes 2007). Dan responden yang tidak merokok tetapi terkena hipertensi

sebanyak 37 responden, disebabkan karena anggota keluarga yang merokok dan asap

rokok yang di hirup oleh responden secara terus-menerus dapat berdampak buruk,

baik sementara maupun dalam jangka panjang, karena dalam asap rokok terkandung

beberapa jenis bahan kimia yang membahayakan bagi tubuh. Udara yang terpapar

kandungan asap rokok cenderung menjadi lebih lengket dan memicu penyumbatan

pada pembuluh darah dan dapat memicu terjadinya tekanan darah tinggi.

4.4.3 Identifikasi faktor Konsumsi Alkohol sebagai faktor penyebab Hipertensi

pada lansia

Berdasarkan tabel 4.10 diatas didapatkan bahwa dari 81 responden mayoritas

konsumsi alkohol sebanyak 18 responden (22,2%), tidak mengkonsumsi alkohol

sebanyak 63 responden (77,8%).


59

Lansia yang mengonsumsi alkohol setiap hari mempunyai risiko lebih tinggi

untuk menderita hipertensi dibanding lansia yang tidak mengonsumsi alkohol.

Pengguna alkohol secara kronis meningkatkan tekanan darah dan pengaruhnya lebih

banyak pada tekanan sistolik. Demikian juga dengan lansia yang mengonsumsi

alkohol kurang dari 10 tahun dapat berisiko mengalami hipertensi (Malonda, 2012).

Selain itu pernyataan Hull (1996) yaitu orang – orang yang minum alkohol terlalu

sering atau yang terlalu banyak memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dari pada

individu yang tidak minum atau minum sedikit. Teori lain menjelaskan bahwa

alkohol merupakan hasil fermentasi karbohidrat oleh mikroorganisme dalam keadaan

anaerobic.

Pada penelitian ini didapatkan data bahwa responden yang mengkonsumsi

alkohol sedikit, rata- rata responden mengkonsumsi alkohol kurang dari 6 gelas per

hari. Pengguna alkohol secara kronis dapat meningkatkan tekanan darah. Dan

berdasarkan hasil wawancara bahwa responden yang hipertensi tetapi tidak

mengkonsumsi alkohol mengatakan bahwa rata- rata sering menerapkan pola makan

yang tidak sehat seperti banyak garam (ikan asin), tidak mengkonsumsi alkohol juga

memiliki faktor- faktor pencetus hipertensi mulai dari kebiasaan merokok, stres yang

berkepanjangan yang menjadi beban tersendiri sehingga mengakibatkan tekanan

darah meningkat.
60

4.4.4 Identifikasi faktor Stres sebagai faktor penyebab Hipertensi pada lansia

Berdasarkan tabel 4.11 diatas didapatkan bahwa dari 81 responden mayoritas

tergolong dalam stres ringan sebanyak 16 responden (19,8%), stres sedang sebanyak

63 responden (77,8%), stres berat sebanyak 2 responden (2,5%).

Stres sangat erat hubungannya dengan hipertensi. Stres merupakan masalah yang

memicu terjadinya hipertensi di mana hubungan antara stres dengan hipertensi diduga

melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikkan tekanan darah

secara intermiten (tidak menentu). Stres yang berkepanjangan dapat mengakibatkan

tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka

kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal

ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stres yang dialami kelompok masyarakat

yang tinggal di kota (Suhadak, 2010 dalam Kiki Mellisa, 2013)

Pada penelitian ini didapatkan data bahwa pada responden sebagian yang

mengalami stres sedang. Responden mengalami stres dikarenakan terganggu oleh

kesehatan fisik yang dialami oleh diri sendiri ataupun salah satu dari anggota

keluarga tersebut, dan pekerjaan yang tidak menentu serta keuangan sangat terbatas.

Hal ini menyebabkan dampak negative bagi kesehatan serta meningkatkan efek

negative terhadap psikologis, jika stres berkepanjangan dan dapat mengakibatkan

tekanan darah meningkat.


61

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisa pembahasan yang telah dilakukan, maka

didapatkan kesimpulan sebagai berikut :

1. Faktor besitas pada lansia dengan hipertensi mayoritas obesitas sebanyak 26

responden dengan presentase (32,1%)

2. Faktor merokok pada lansia dengan hipertensi mayoritas 37 responden dengan

presentase (54,3%)

3. Faktor konsumsi alkohol pada lansia dengan hipertensi mayoritas 18 responden

dengan presentase (22,2%)

4. Faktor stres pada lansia dengan hipertensi mayoritas 63 responden dengan

presentase (77,8%)

5.2 Saran

1. Bagi Respoden

Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk

meningkatkan pengetahuan akan pentingnya mengetahui faktor penyebab

hipertensi sehingga mampu menjaga pola hidup yang kebih baik dan sehat

2. Bagi profesi kesehatan

Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan program kesehatan, misalnya

dengan upaya pencegahana menurunkan faktor penyebab hipertensi dengan

61
62

menjalani gaya hidup yang wajar dan melakukan antisipasi fisik secara

teratur.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan dapat melakukan peneltian yang lebih baik dan hasil dari

penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi dan data dasar untuk

melakukan peneltian selanjutnya terkait adakah analisis faktor- faktor yang

mempengaruhi hipertensi pada lansia.


63

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, A.D. Warem, A. Situmorang, G. Asputra, H. Siahan, S.S. (2009). Faktor


Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Pasien Yang
Berobat Di Poliklinik Dewasa Puskesmas Bangkingan.

Anggun Suprihatin (2016). Hubungan Antara Kebiasaan Merokok, Aktivitas Fisik,


Riwayat Keluarga Dengan Kejadian Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas
Nguter

Azizah. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu

Anggara, Feby Haendra Dwi Dan Nanang Prayetno. (2013) Faktor- Faktor Yang
Berhubungan Dengan Tekanan Darah Di Puskesmas Telaga Murni, Cikarang
Barat Tahun (2012). Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5 (1; Januari 2013)

Budi Artiyaningrum, Dan Mahalul Azam (2016) Faktor- Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Hipertensi Tidak Terkendali Pada Penderita Yang
Melakukan Pemeriksaan Rutin. Public Health Perspective 1 (1)

Dewi, Sofia & Digi Familia. (2010). Hidup Bahagia Dengan Hipertensi. Yogyakarta:
Familia

Delmi Sulastri, Elmatris, Rahmi Ramadhani (2012). Hubungan Obesitas Dengan


Kejadian Hipertensi Pada Masyarakat Etnik Minangkabau Di Kota Padang.
Artikel Penelitian

Dr. Lany Gunawan. (2001). Hipertensi, Penyakit Tekanan Darah Tinggi. Yogyakarta:
Kesehatan Masyarakat

Darmansyah, Safriadi Dan Hamsudin. (2017) Faktor- Faktor Hipertensi Pada


Masyarakat Di Dusun Kamarangan Desa Keang Kecamatan Kaluku
Kabupatan Mamuju Tahun 2017. Jurnal Of Health Education And Literatacy 1
(1) E- Issn : 2621- 9301

Dalimartha, Setiawan. (2008). Care Your Self Hipertensi: Jakarta: PT Pustaka

Diah Ayu Nuraini, (2016). Efek Intervensi Musik Untuk Menurunkan Stress Pasien
Pra Operasi; Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, Maret
2016
64

Depkes RI, 2006, Pharmaceutical Care untuk Hipertensi, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.

Ehsan, A.A., 2011. Cigarette Smoking and Hypertension Any Casual Relationship.
Iraq Academic Scientific Journals. 24: 1-6

Fatmah, (2010). Gizi Usia Lanjut, Jakarta: Erlangga

Hidayat, A Aziz Alimul (2010). Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif.


Surabaya: Health Books Publishing

Kowalak Jennifer. P Dkk. (2014). Buku Ajar Patofisiologi.: Jakarta

Kemenkes RI. 2012. Profil Data Kesehatan Indonesia Tahun 2011. Jakarta :
Kemenkes RI.

Kemenkes. (2017). Sebagian Besar Penderita Hipertensi Tidak Menyadari Di Peroleh


Dari Http://Www.Depkes.Go.Id/Article/Print/17051800002/Sebagian-Besar
Penderita Hipertensi-Tidak-Menyadarinya.Html Diakses Rabu 17 Mei (2017)

Manuntung Alfeus. (2018): Terapi Perilaku Kognitif Pada Pasien Hipertensi Kota

Nursalam (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Nugroho. W. I (2008). Keperawatan Gerontik. Jakarta: Egc

Nancy Swanida Henriette Malonda, Lucia Kris Dinarti, Retno Pangastuti (2012).
Pola Makan Dan Konsumsi Alcohol Sebagai Faktor Risiko Hipertensi Pada
Lansia; Jurnal Gizi Klinik Indonesia. Vol 8, No 4, April (2012): 202- 212

Notoatmodjo, S. 2012. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Nursalam, (2016). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis.


Jakarta: Salemba Medika

Nugroho, W. I. (2008). Keperawatan Gerontik & Geriatrik Edisi 3. Jakarta : Egc

Sunaryo. Rahayu Wijiyanti, Maisje Marlin Kuhu, Taat Sumedi, Esti Dwi Widayanti,
Ulfah Agus Sukrillah, Sugeng Riyadi & Ani Kuswanti (2016). Asuhan
Keperawatan Gerontik, Yogyakarta
65

Setiati, Siti, Idrus Alwi, Aru W. Sudaya, Marcellus Simadibrata, K Bambang


Setiyahidi & Ari Fahrial Syam. (2014). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid
Tiga Edisi Enam. Jakarta : Internal Publishing

Sulistiyowati. 2010 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi


Di Kampung Botton Kelurahan Magelang Kecamatan Magelang Tengah Kota
Magelang Tahun 2009; Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu
Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang. Jurusan Ilmu Kesehatan
Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang.
(Skripsi)

Triyanto, Endang. (2014). Pelayanan Keperawatan Bagi Penderita Hipertensi Secara


Terpadu. Yogyakarta: Graha Ilmu

WHO,2011. Hypertension Fact Sheet. Department of Sustainable Development and


Healthy Environments 2011. http://www.searo.who.int/linkfiles/
non_communicable_diseases_hype rtension fs.pdf