Anda di halaman 1dari 266

1

Lakon – lakon Panji


(Kumpulan Tujuh Naskah Drama)

JOMBANG
2018
2

Lakon – lakon Panji


(Kumpulan Tujuh Naskah Drama)

Penyunting : Fatin Najkhi, Tafrihin A, Dewi Ariyanti, Pramedya Octaviani


Layout : Fatin Najkhi
Penulis : Dewi Ariyanti, Pramedya Octaviani, Nur Intan Palupi, Abdul Manaf, Amalia
Eva Kusuma, Syifa Lailatul M, Ratna Agustin
Facebook : Study Teater Bahtra
Intagram : Study Teater Bahtra 2015
Whatsapp : 089604262502 / 082337769998

266 halaman
3

UCAPAN TERIMA KASIH

Syukur paling dalam kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Terima kasih untuk para narasumber kami: Pak Supriyo, Bu Setyo, Pak Imam Ghozali, Cak
Nas (Budayawan Jombang), Pak Heru (pelestari dan pegiat seni Wayang Topeng
Jatiduwur), Pak Dian Sukarno (Budayawan Jombang), Pak Henry Nurcahyo (Pegiat Seni
Dan Sastra Panji), Mas Fandy Ahmad (Pelatih Teater), Bu Inge Yesmilanda (Pegiat Seni
Tradisi) dan semua pihak yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung
dalam penyusunan Lakon-lakon Panji (Kumpulan Tujuh Naskah Drama) dan terima kasih
kepada dosen pengampu mata kuliah penyutradaraan Pak Nanda Sukmana.
4

DAFTAR ISI

Ucapan Terima Kasih ......................................................................................................

Daftar Isi .............................................................................................................................

Patah Kuda Narawangsa................................................................................................

Wiruncana Murca ............................................................................................................

Wasengsari ........................................................................................................................

Ande-Ande Lumut ...........................................................................................................

Totok Kerot........................................................................................................................

Panji Semirang ..................................................................................................................

Kethek Ogleng ..................................................................................................................

Biodata Penulis .................................................................................................................


5

PATAH KUDA NARAWANGSA

BABAK PERTAMA

Tari Klana
Pathet wolu (gending ayak slendro pathet wolu)

Janturan Dalang

Senja baru saja linap dalam peraduannya, perlahan satu demi satu lembar daun jatuh
dihempas angin. Riuh tak bersuara, meranggas, jatuh, dan bersimpuh diatas tanah.
Mengering, terpendam dan tumbuhlah menjadi sebuah cerita.

Hooo... Rep..Sirep datang kang parmanen walang kang ngalasek...

Alkisah, diceritakan sebuah cerita dari Kerajaan Simbarmanyura yang tersohor dijagat
tanah Kadiri, Kerajaan yang damai, tata tentrem, gemah ripah, loh jinawi, karta, lan tata
rahaja. Rajanya bernama Prabu Gumbalaraja, mempunyai seorang Patih yang taat dan
setia, ialah Patih Gumbalageni.

Kerajaan yang adiluhung itu ternyata tak seluhung hati Rajanya. Sang Prabu Gumbalaraja
seringkali Resah merenungi hasrat dalam hatinya yang kian hari kian bergejolak. Lantaran
keinginannya untuk mempersunting Dewi Sekartaji, seorang putri elok dari kerajaan
Jenggala Manik, yang tak lain adalah istri dari musuhnya, Panji Inukertapati.

Prahara tanpa jeda pun terjadi, buta hati, buta mata, buta segalanya...

Inilah kisahnya...

BABAK KEDUA

Pemain

(Prabu Gumbalaraja, Patih Gumbalageni, Prajurit, Perdana Mentri, Biyung bilung)

(Pada suatu sore hari di padepokan kerajaan, prabu gumbalaraja nampak resah, ia pun
memanggil para patih dan para pejabat kerajaan untuk diajak berunding.)

Prabu Gumbalaraja
6

Ya Bahtara Yudha..Ya Bahtara Kala yang menjadi sesembahanku, resah batin ini kian
menderu, fikiranku kian keruh. Hari ini aku kumpulkan para patih di kerajaan
Simbarmanyura ini untuk mendengarkan gemuruh hatiku.

Patih... mendekatlah ada hal penting yang ingin aku bicarakan bersama kalian.

Patih Gumbalageni

Sendiko dawuh, Paduka. Maksud apa sebenarnya yang akan paduka utarakan Paduka
mengumpulkan kami semua kemari?

Prabu Gumbalaraja

Sesuatu telah mengangu fikiranku Patih. Sebelum aku sampaikan kepada kalian, maka
aku ingin mendengar kabar rakyatku terlebih dulu. Bagaimana keadaan rakyat rakyatku
diluar sana? Hampir tujuh hari aku tak mendengar kabar itu darimu, Patih.

Patih Gumbalageni

Sebelumnya abdi haturkan hormat dan sembah bakti, Paduka.

Prabu Gumbalaraja

Baiklah aku terima sembah baktimu, Patih. Sekarang katakanlah!

Patih Gumbalageni

Terima kasih Paduka, kelapanganmu menerima sembah baktiku akan merasuk dalam
sulur sulur nadiku dan menjadi jimat dalam jiwaku. Rakyat dalam keadaan aman, semua
kebutuhan mereka juga terpenuhi dengan baik, tanpa kurang sedikitpun. Bukankah
begitu Prajurit?

Prajurit

Benar yang dikatakan Patih Gumbalageni, Paduka. Lantas apa yang hendak paduka
bicarakan kepada kami semua?

Prabu Gumbalaraja

Patih, yang menjadi beban fikiranku saat ini adalah tentang keresahan hati yang tengah
aku rasakan. Taukah kamu Patih, fikiranku tak bisa berahli dari bayang seseorang.

Perdana Mentri
7

Bayang bayang seseorang? Siapa itu paduka?

Prabu Gumbalaraja

Jangan memotong pembicaraanku paman! Itu hanya membuatku geram, tunggu aku
menyelesaikan ceritaku.

Perdana Mentri

Mohon maaf, Paduka. Lalu siapa orang itu, Paduka?

Prabu Gumbalaraja

Wong ayu kang dadi pepujanku, ia adalah putri dari kerajaan Jenggala Manik. Parasnya
elok telah mengalihkan duniaku,Paman. ia adalah Dewi Sekartaji, tambatan hatiku
sekarang ini yang aku impi-impikan menjadi permaisuriku. Tapi ia telah menjadi istri
musuhku paman, Panji Inukertapati.

Perdana Mentri

Bagaimana mungkin! Bagaimana bisa? Dewi Sekartaji itu sudah memiliki suami, Paduka.
Dan paduka tidak bisa merebutnya begitu saja.

Prabu Gumbalaraja

Apa yang tidak bisa aku miliki paman? Sekartaji harus menjadi istriku. Harus..

Patih...Pergilah ke Kerajaan Jenggala Manik. Jemput Sekartaji dengan cara baik-baik,


sampaikan pesanku kepada mereka bahwa aku hendak mempersunting Dewi Sekartaji
sebagai permainsuriku. Jika dengan cara baik baik tidak bisa, paksa Sekartaji kemari.
Mengerti patih!

Patih Gumbalageni

Bukan bermaksud mengurui paduka, sejatinya itu bukan bukan hal yang baik. Aku kurang
setuju akan hal itu. tapi sebagai patih, aku sudah semestinya menuruti apa yang menjadi
kehendak raja.

Prabu Gumbalaraja

Hahaha...sudah sepantasnya kau harus patuh denganku patih, jika tidak! akan aku potong
pesangonmu dan bisa saja aku pecat kau menjadi patihku..hahaha...

Bagaimana pendapatmu paman? Apa aku pantas bersanding dengan Dewi Sekartaji?
8

Perdana Mentri

Ohh...ya cuocok, Prabu gumbalaraja yang gagah perkasa dan kaya raya sudah pantas
bersanding dengan Dewi Sekartaji yang cantik jelita.

Prabu Gumbalaraja

Hahaha...bagus Paman, aku senang mendengarnya. Nanti akan aku tambah pesangonmu
setelah aku bisa mendapatkan Dewi Sekartaji. Hahaha....

Tapi tunggu sebentar, aku tidak mendengar biyung bilung berbicara! Mana biyung
bilungku yang gayanya nyentrik, dengan emas ngerempyong dan akik telulikornya itu?

Biyung Bilung

Hahaha...Aku disisni paduka. Ada apa gerangan, kulihat paduka tampak resah?

Prabu Gumbalaraja

Hahaha...aku butuh pendapatmu biyung, aku ingin mempersunting Dewi Sekartaji,


bagaimana menurutmu biyung?

Biyung Bilung

Hemm..(Membuang muka) masih pantaskah aku berpendapat? Masih berartikah aku


berbicara disisni Paduka? Bukankah setiap pendapatku selalu menjadi angin.

Prabu Gumbalaraja

Hahaha... kau masih dengan tabiatmu biyung. Biyung adalah tetua dikerajaan ini, rasanya
aku durhaka jika tidak meminta pendapat darimu biyung. Perkara didengar atau tidak,
itukan! Urusanku, aku raja disini.

Biyung Bilung

Banjar kepongahan rupanya masih bersahabat deganmu Paduka, aku sangat tidak setuju
kau menikah dengan Dewi Sekartaji. Sekartaji itu sudah bersuami. Kehormatan sebagai
Raja akan kau taruh dimana? Kok bisa-bisanya mau merebut istri orang, itu sama saja
melawan takdir Gusti panggeran. Dewi Sekartaji dan Panji Inukertapati jiwanya itu sudah
tergaris sejak lahir...

Prabu Gumbalaraja
9

Cukup biyung. Kukira berabad abad satu atap bersama biyung, biyung akan
memahamiku. Tapi biyung tidak lebih dari orang lain yang baru mengenalku.
Patih..segera siapkan pasukamu untuk menjemput Dewi Sekartaji,

Biyung bilung

Itu terserah padamu paduka. Aku hanya memberi peringatan, dan jangan kau menyesal
lantaran tidak mendengarkan ucapanku. (keluar)

Patih Gumbalageni

Baik paduka.. Jika itu yang menjadi kehendakmu, aku mohon restu padamu.

Prabu Gumbalaraja

Ya... Pergilah dan berhati hatilah... Siapkan bekal yang cukup karena perjalananmu
menuju kerajaan jenggala manik cukup panjang.

Patih gumbalageni

Baik Paduka… Prajurit ayo!

Para Prajurit

Siap Patih..

Ayo..ayo..

Semua topeng keluar....

Gendhing Ayak Pathet Wolu.

BABAK KETIGA

(Dewi Sekartaji, Dayang)

(Pagi buta semilir angin menyeruakan wangi khas bunga melati, menerobos celah celah
jendela kamar pengantin Dewi Sekartaji dan Panji Inukertapati.)

Dewi Sekartaji

(Terbangun dari tidurnya) Kakanda…! Kakanda…! (Binggung mencari Inukertapati yang


tidak ada di sampingnya). Tidak biasanya kakanda keluar kamar tanpa
membangunkanku.
10

Krek! (Jendela terbuka terhempas angin, ditemukannya seekor merpatih hitam membawa
gulungan pelepah kulit jati diambang pintunya.)

Apa ini? Untuk siapa?

“Dewi, kulayangkan sepucuk surat ini, untuk memberitahukan kepadamU bahwa jiwa
Panji Inukertapih tengah terancam.pergilah ke Alas Kidul untuk menemuinya”

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Aku harus menyusul Kakanda. Kakang Mbok!
Kakang Mbok!

Dayang

Enggih, Non Sekar, ada apa? Lha non sekar kenapa kebinggungan? Ada yang hilang,
Non?

Dewi Sekartaji

Kakang mbok, Tau Mas Panji ke mana?

Dayang

Oh ladalah, non. Den panji sedang keluar tadi.

Dewi Sekartaji

Keluar kemana mbok?

Dayang

Ngalor non, tapi ndak tau mau kemana?

Dewi Sekartaji

Dewi mau menyusulnya mbok.

Dayang

Lho non kemana? kata Den panji, non sekar dirumah saja.

Dewi Sekartaji

Tidak mbok, Dewi mau menyusul Mas panji, mbok jaga rumah.
(keluar)
11

Dayang

Loalah non.. Non sekar. Ehladalah ..yo weslah maklum nganten anyar ora keno ditinggal
sediluk. Tapi Den panji maeng ngalor opo ngidul yo? Wes mbohlah tambah tuo kok
tambah pikun ngene aku.

Pemain

Panji Inukertapati, Dayang, Totok Kerot

MENTARI MENYISINGKAN SINARNYA. DI KERAJAAN NAMPAK SEPI, TOTOK KEROT


MASUK MENYAMAR SEBAGAI DEWI SEKARTAJI*.

Dayang

Eh ladalah.. Den panji sudah kembali, sugeng injing, Den.

Panji Inukertapati

Sugeng injing, mbok. Sekar mana mbok?

Dayang

Eh ladalah..nuhun sewu, Den. Bukannya non sekar kemarin sore menyusul Den panji.

Panji Inukertapati

Menyusulku, mbok?

Dewi Sekartaji

Kakang mas..

Dayang

Eh ladalah..Non sekar? Perasaan kemarin pamit keluar menyusul den panji, kok ya jebas
jebus sudah didalam rumah lagi? (mengguma).

Nuhun ,Si mboh pamit ke belakang Den.(keluar)

Panji Inukertapatih

Silakan mbok.
12

Dewi Sekartaji

Rindu bercampur debu setiap petang selalu menderu kakang mas, tidakkah kakang mas
merasakannya?

Panji Inukertapati

Maafkan aku Nimas, pergi yang tak sempat pamit kepadamu.

Dewi Sekartaji

Ah sudahlah kakang mas, bola pelangi sudah di depan mataku, tak ada lagi yang aku
kuatirkan lagi. Berjanjilah untuk tidak meninggalkaku tanpa pamit kakangmas.
Panji inukertapih
Sampai nafas langit menjadi abu abu sekalipun, jiwaku tetap untukmu, Nimas.

Pemain

Dewi Sekartaji, Petapa.

SETAPAK DEMI SETAPAK JALAN DEWI SEKATAJI TELUSURI, MENCARI PANJI


INUKERTAPATI YANG TAK KUNJUNG IA DAPATI, HINGGA SAMPAI DI HUTAN YANG TAK
IA KENALI DAERAHNYA. SEDANG MALAM MENJELANG...

Dewi Sekartaji

Ya sang hyang.. kemana lagi aku harus mencari kakanda Inukertapati. Merpati itu... hey
merapati turunlah? Hey...

Petapa

Sedang apa kau wong ayu? Mengapa kau di hutan ini sendirian.
Dewi Sekartaji
Mohon maaf Yayi.. aku tidak bermaksud mengusik ketentramanmu, Aku Dewi Sekartaji,
aku kemari sedang mencari suamiku Panji Inukertapati, sepucuk surat telah aku terima
dari merpati hitam itu, ia menyampaikan bahwa suamiku sedang dalam bahaya. Apa yayi
tau dimana suamiku?
Petapa
Hohoho..hahaha... ini toh Dewi Sekartaji putri kerajaan jenggalamanik itu.
Dewi Sekartaji
Benar yayi.
Petapa
13

Wong ayu, suami memang dalam bahaya, tapi tidak dalam hutan ini.

Dewi Sekartaji

Maksud yayi tidak disini, lalu dimana kakanda Inukertapatiku yayi?


Petapa
Suamimu Inukertapati ia tidak keman mana, ia sekarang berada di kerajaan dan dalam
rayuan totok kerot.
Dewi Sekartaji
Aku semakin binggung, siapa itu totok kerot, yayi? Kenapa ia merayu suamiku? Aku tidak
akan tinggal diam ,jika dia berani beraninya mencelakai kakandaku.
Petapa
Rupanya tak hanya paras wajahmu yang cantik, tapi hatimu sungguh mulia, Dewi. Itulah
yang menyebabkan banyak mata jahat yang iri dan ingin meleburkan hidupmu. Surat
dan merpati itu hanyalah akal busuk totok kerot untuk menyingkirkanmu dari kerajaan,
totok kerot telah buta hati mencintai suamimu. Ia akan melakukan apapun untuk bisa
menikah dengan Inukertapati.
Dewi Sekartaji
Sungguh kejam yayi.. aku akan balik ke kerajaan untuk menyadarkan Inukertapati.
Petapa
Tunggu Dewi, saat ini bukan waktu yang tepat untuk dirimu kembali kekerajaan. Totok
kerot ia begitu licik, jika kau tau ia sekarang sedang menjelma sebagai dirimu.
Dewi Sekartaji
Lalu apa yang harus aku lakukan yayi?
Petapa
Menetaplah di hutan ini beberapa saat Dewi, redamkan hatimu dan menyatulah bersama
alam Mintalah petujuk kepada sang Hyang.
Dewi Sekartaji
Baiklah yayi , aku akan bertapa di hutan ini untuk meminta petunjuk
Petapa
Semoga Sang hyang merestuimu.

BABAK KEEMPAT

Pemain

Patih Gumbalageni, Gandamastaka, Celeng Srenggi, Madya Barat.


14

PAGI HARI DI HUTAN TERJADI PERTARUNGAN ANTARA PATIH GUMBALAGENI


MELAWAN GANDAMASTAKAN, SUASANA TEGANG.

Patih gumbalageni

Siapa kalian? Berani-beraninya menghadang perjalananku.

Gandamastaka

Hahaha.. seharusnya aku yang bertanya kepadamu, kau ini siapa? Hendak kemana? Apa
kau raja ? Raja dari mana heh?
Patih gumbalageni
Aku adalah Patih gumbalageni dari kerajaan Simbarmanyura, aku hendak menuju
Jenggalamanik. Siapakah dirimu?
Gandamastaka
Aku Gandamastaka, Aku dan pasukanku berasal kerajaan sewu, dan dia adalah Celeng
srenggi yang menjadi kiwaku. Hahaha...
Patih gumbalageni
Kurang ajar kita dikepung. Mundur ...
Madya barat
Hahaha... tenanglah patih aku akan mundur, tak usah kau bersungut sunggut seperti itu,
jelek jelek begini, aku ini raja.
Patih gumbalageni
Keparat... siapakah kau?
Madya barat
Aku madya barat , raja yang kaya raya, kaya harta, kaya tahta, kaya dunia, kaya istri, kaya
seantero jagat raya, dan juga kaya hutang. Hahaha...
Patih gumbalageni
Rupanya kau sombong sekali, lalu apa yang menjadi tujuanmu saat ini hah, katakan?
Gandamastataka
Aku akan menuju jenggala manik , tujuanku hanya satu yaitu membawa dewi Sekartaji
pergi dari jenggala manik, dan menjadikan dia istriku.
Patih gumbalageni
Hoo..Kau juga akan ke jenggala manik? tidak bisa. Itu adalah tujuanku. Ku peringatkan
kepada kalian, kemballilah! Karena aku yang akan menyusul Dewi Sekartaji dan
membawanya pergi dari Jenggalamanik. Jika kalian bersih kukuh, kalian tidak akan
merasakan lezatnya ketan ireng lagi.
15

Gandamastaka
hohoho..hahaha... tidak bisa, kau yang pergi, kalau kau tidak pergi bersiap siaplah
bersalaman dengan ruhmu. Hahah...

Patih gumbalageni
kesombonganmu tidak akan mampu mematahkan besi tulangku, tunjukan kesaktianmu
disini, kau akan menjadi mayat ditanganku.

Perkelahian dimenangkan oleh Patih Gumbalageni dan pasukannya.

Pemain

Patih Gumbalageni, Patah Kuda Narawangsa

ANGIN BERISIK DAN DAUN DAUN BERJATUHAN PATIH GUMBALAGENI MELANJUTKAN


PERJALANANNYA MENUJU JENGGALAMANIK, UNTUK KEDUA KALINYA DITENGAH
HUTAN IA DAN PASUKANNYA DIHADANG SESEORANG.

Patih gumbalageni

hey, siapa kau? Mengapa kau menghalangi perjalananku.

Patah Kuda Narawangsa

Aku patah kuda narawangsa, siapa kau dan akan kemana kau pergi?
Patih gumbalageni
Aku patih gumbalaraja, aku akan pergi menuju kerajaan Jenggalamanik menjemput Dewi
Sekartaji untuk menjadi permaisuri Prabu gumbalaraja.
Patah Kuda Narawangsa
Patih apa kamu tidak mendengar, bahwa Dewi Sekartaji itu istrinya Panji Inukertapati.
Patih gumbalageni

Tentang itu aku sudah mengerti. Patah.

Patah kuda narawangsa


Lalu mengapa kau tetap menjalankan perintah rajamu itu?, apa kamu tidak mengerti itu
sama saja merusak pagar ayu, merusak keluarga orang. Kalau kamu masih bisa saya
ingatkan kembalilah!
Patih gumbalageni
Tidak perjalananku sudah sampai jauh, kau tidak bisa menyuruhku kembali.
16

Patah kuda narawangsa


Kembalilah Patih, jika kau tidak mendengarkan perintahku. Aku akan menyikirkanmu
dengan paksa
Patih gumbalageni
Berani sekali kau menantang perkara, kau mau mencari masalah denganku, dasar
keparat!

Perang antara patih gumbolorojo dan kuda narawangsa dimenangkan oleh Patah kuda
narawangsa. Patah kuda rawanangsa adalah wujud asli dari Dewi Sekartaji, ia melakukan
penyamaran sebagai Patah kuda narawangsa karena ingin membuka kedok totok kerot
yang menyamar Dewi Sekartaji, Kemudian Patah kuda narawangsa melanjutkan
perjalanannya menuju Jenggala manik.

BABAK KELIMA

Pemain

Panji Inukertapati, Patih Sundulmego, Gunungsari, Totok Kerot(Dewi Sekartaji*), Patah


Kuda Narawangsa

DI KERAJAAN JENGGALAMANIK SUASANA MURAM.

Panji Inukertapati
Jagad pangestungkara ya jagad pramudita, semoga kerajaan Jenggalamanik ini selalu
keadaan makmur dan damai. Kang.. kakang Patih sundulmego?.

Patih sundulmego
Dalem Gusti panji, sebelumnya saya sampaikan baktiku, Ada apa gerangan
memanggilku?
Panji Inukertapati
Panggilkan yayi gunungsari, Patih.

Gunungsari

Saya haturkan bakti hamba. Ada apa kakang jimat memanggil saya datang kemari?
Panji Inukertapati
Yayi saya terima bakti yayi, restuku senantiasa untuk yayi.
Gunungsari
Semoga restu panggeran senatiasa menjadi kekuatan untuk saya.
Panji Inukertapati
17

Ada apa dengan istriku, Dewi Sekartaji kulihat tidak seperti biasa, entah rasa apa yang
tengah bergejolak dalam hatiku, aku merasa ia sedikit berbeda.
Dewi Sekartaji
Duh kakang mas ada apa denganmu, sudah lama aku mendampingimu sebagai istri yang
patuh dan setia di kerajaan Jenggalamanik ini, bertahun tahun kerajaan kita juga aman
dan damai, apa yang sedang kakang fikirkan. Buanglah fikiran fikiran negatif dalam diri
kakang tidak baik kang.
Panji Inukertapati
Ya ya ya nimas wong ayu yang menjadi pujaan hatiku, tidak ada yang aku cintai selain
dirimu, yo mung siji kamu adindaku.. Dewi Sekartaji.
Dewi Sekartaji
Ah kakang bisa saja, terima kasih banyak kang, adik jadi terharu.
Panji Inukertapati
Nimas, aku ingin berbagi rasa dengan Patih sudulmego, agar hatiku sedikit lega, ya
kakang patih sundul mego?
Patih sudulmego
Sebenarnya apa yang menjadi firasatmu, Paduka?
Panji Inukertapati
Entahlah Patih hatiku rasanya resah, fikiranku kalut tak karuan merasakan kerajaan
Jenggalamanik ini, aku merasakan kerajaan ini seperti diselimtui mendung, gelap tidak
seperti biasanya, burung gagak juga tiba-tiba bersuara. Sebenarnya ada apa ini Patih?

Ditengah perasaan panji yang tak karuan , entah apa yang dirasa. Datanglah patah Kuda
Narawangsa yang mengaku sebagai pengamen dalang.

Patah kuda narawangsa


Permisi.. permisi...bisakah saya bertemu dengan Panji Inukerapatih
Panji inuketapatih
Naiklah tuan, siapa engaku? Mengapa engkau mencariku.?
Patah kuda narawangsa
Mohon maaf raja, sembah baktiku pada raja. Namaku adalah Patah kudanrawangsa.
Saya adalah seorang pengamen yang bisa mendalang, Saya telah berkelana mengikuti
angin. Dan saya tersesat hingga kemari.
Panji inukertpatih
Ya jagad dewa bahtara, jadi kau itu Patah kuda narawangsa.
Patah Kuda Narawangsa

Benar sekali raja, saya Patah kuda narawangsa.


18

Panji Inukertapati
Lalu apa yang menjadi tujuanmu datang kemari?
Patah Kuda Narawangsa
Mohon maaf sebelumnya raja, kedatanganku kemari tidaklah meminta apa-apa, kalau
diperbolehkan saya ingin mendalang di kerajaan ini, saya lihat sepertinya raja juga butuh
hiburan.
Panji Inukertapati
Kau benar sekali patah, ada yang telah mengusik rasaku, tapi entah apa?
Patah Kuda Narawangsa
Kalau begitu, izinkan saya mengamen di kerajaan ini untuk menghibur raja.

Panji Kuda Narawangsa

Baiklah silahkan, ngamen apa yang akan kamu bawakan?

Patah Kuda Narawangsa

Saya akan mendalang.


Panji Inukertapati
Jika memang seperti itu patah, cepat lakukan. Aku ingin melihatmu mendalang.

Istana ya istana kerajaan, patah Kuda Narawangsa mulai mendalang, ia pun memulai
ritual awal pertunjukan dengan memohon restu kepada jagad bahtra , agar di beri
kelancaran dalam mendalangkan sebuah cerita di kerajaan jenggala manik. Mulailah
patah kuda narawangsa, membuka cerita dengan lakon rama wijaya dan dewi sintha.
Patah kuda narawangsa bercerita tentang rama yang buta, yang tak lagi peka, yang tak
lagi bisa merasakan bahwa sintha yang hidup denganya bukanlah sintha yang
sesungguhnya, seperti halnya panji Inukertapati yang telah buta hatinya sehingga tidak
bisa mengenali Sekartaji yang asli,

Mendengar cerita yang dibawakan patah kuda narawangsa. Panji Inukertapati merasa
tersindir, telinga memerah, hatinya murka. Patah kudanarawangasa lebih terang terangan
menyindir panji Inukertapati .

Patah Kuda Narawangsa

Hemmm... kakang mas..kakang prabu, apakah hari ini kau tak bisa merasakan siapa mbak
ayu sinta itu? Siapa sejatinya mbak ayu sinta itu? Sinta sebelumnya adalah titisan
widawati, tetapi kali ini sintha bukanlah sintha, sintha yang menjadi kekuatan negeri ini,
19

kini negeri pun bisa merasakan jiwanya bukan jiwanya sintha, berhati-hatilahberhatilah
kakang mas, karena sintha bukanlah sintha, ia akan membuat kisruh tatanan kerajaan.”

Mendengar Patah Kuda Narawangsa, panji Inukertapati tidak banyak bicara ia langsung
mengangkat bahunya patah, di tebasnya Patah kuda narawngsa.

Pemain

Panji Inukertapati, Patih Sundulmego, Gunungsari, Totok Kerot(Dewi Sekartaji*), Patah


Kuda Narawangsa

Perang Panji dengan Patah Kuda Narawangsa

Patah Sundulmego
Lha ..dalah... mungkin ada benarnya apa yang dikatakan dalang itu, den... raden..
Gunungsari
Iya paman... lalu bagaimana ini?
Patih sundulmego
Yayi bisa melihat tidak, siapa sejatinya dewi Sekartaji itu? Sekartaji yang tengah
dibicarakan yayi dalang tadi? Dewi Sekartaji hayo mengakulah siapa dirimu sebenarnya?
Dewi Sekartaji
Aku ini atasanmu? Aku ini sesembahanmu? Mbok ya..yang sopan?
Patih sundulmego
Bukan, kamu bukanlah sesembahanku, kamu penyusup yang telah menyamar sebagai
dewi Sekartaji.
Dewi Sekartaji
Ya ampun, jagat dewa bathara..”
Patah Kuda Narawangsa
Hayo.. mengakulah, kalau kamu itu memang...(suara melemah)
Panji Inukertapati
Tunggu sebentar patah kuda narawangsa, kau itu satriya kenapa cara laku perangmu
seperti orang perempuan.
Panji Inukertapati
we ladalah aku ini lelaki kang sejati , aku patah kuda narawangsa tidak akan mundur
hanya karena pedangmu.
Patih Kuda Narawangsa
Jika kamu memang patah kuda narawangsa, kamu tetap jika pantas melawan kakang .

Patah kuda narawangsa berubah menjadi dewi Sekartaji.


20

Dewi Sekartaji
Mohon maaf kakang, Dewi seperti ini karena dewi ingin mengusir ratu itu dari
Jenggalamanik.”
Panji Inukertapati
Jika memang seperti itu wong ayu, kakang terima kasih banyak, maafkan kakang yang
tidak bisa membedakan kalian.

WIRUNCANA MURCA

Tari Klana gending Kalongan slendro pathet sepuluh


Pathet Wolu
(Gending Ayak slendro pathet wolu)

Janturan Dalang
Dikisahkan sebuah cerita panji berjudul Wiruncana Murca yang berasal dari kehidupan
Kerajaan Rancang Kencono. Rakyatnya terkena wabah pagebluk, sebuah penyakit
menular aneh pada kulit. Gatal, merah, dan bernanah. Begitu mengerikan dan hampir
tidak pernah ditemukan sebelumnya. Prabu Klana Jaka telah mendatangkan tabib dari
berbagai kerajaan yang ada disekitar Rancang Kencono. Namun, belum ada yang bisa
menemukan penawar untuk wabah pagebluk ini. Keresahan merundung seluruh Kerajaan
Rancang Kencono. Prabu Klana Jaka mendengar ada sayembara di tahan Jawa, maka
diutuslah Patih Sundhul Mega dan Tumenggung Pancatnyawa untuk mengikuti
sayembara tersebut. Prajurit terbaik istana disiapkan untuk turut mendampingi Patih
Sundhul Mega dan Tumenggung Pancatnyawa dalam perjalanan mengikuti sayembara.
Berangkatlah mereka menuju tanah Jawa untuk mengikuti sayembara sesuai titah sang
prabu. Bermodal rasa yakin mereka bisa mempersembahkan kemenangan untuk prabu.

Di lain sisi, Raden Panji Wiruncana Murca juga mendengar ada sayembara di tanah Jawa.
Timbullah keinginannya untuk ingin mengikuti sayembara tersebut. Tidak lupa,
Wiruncana meminta saran terlebih dahulu kepada dua sahabatnya, Bancak dan Dhoyok.
Kedua sahabatnya sangat mendukung dan selalu bersedia mengikuti kemanapun
radennya melangkah.

Di tepi hutan, Wiruncana, Bancak dan Dhoyok dihadang oleh rombongan dari Kerajaan
Rancang Kencono. Patih Sundhul Mega bertanya kepada Wiruncana, "Hendak kemana
kisanak pergi?" Wiruncana menjawab "Mau mengikuti sayembara". Patih Sundhul Mega
dan Tumenggung Pancatnyawa menyarankan agar Wiruncana tidak melanjutkan
perjalanannya. Bukan tanpa alasan, mereka dari kaum rakyat tidak mungkin mampu
21

menandingi dan beradu dengan keluarga kerajaan dalam sayembara. Wiruncana sangat
tersinggung dengan yang disampaikan rombongan Kerajaan Rancang Kencono.
Emosinya tak terbendung lagi, hingga menyerang rombongan Rancang Kencono. Prajurit
pilihan yang sudah disiapkan tidak tinggal diam dan menyerang kembali Wiruncana,
Bancak, dan Dhoyok. Sabar kalau dirinya kalah jumlah, Wiruncana memberi isyarat
kepada kedua sahabatnya untuk kabur.

Kegelisahan terus membayangi Wiruncana. Ia telah bertekad untuk mengikuti


sayembara, namun perkataan patih itu ada benarnya. Langkah kaki Wiruncana, Bancak
dan Dhoyok sampai pada gubuk reyot di tengah hutan. Wiruncana berniat untuk
menanyakan nasib dan keberuntungan dirinya jikalau mengikuti sayembara. "Ikutlah! Aku
yakin kau pasti bisa memenangkan sayembara itu, Raden." Bermodal restu pandito, serta
dukungan yang selalu diberikan Bancak dan Dhoyok, keyakinan Wiruncana untuk
mengikuti sayembara semakin membara. Ia dan dua sahabatnya bergegas untuk
melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Ngurawan.

Kegundahan terus menyelimuti hati Dewi Kumudaningrat. Ia gelisah lantaran sudah


beberapa purnama terjadi, namun belum ada seorangpun yang menghadap kepada
kakaknya, Raden Carang Aspo, untuk mengikuti sayembara. Ia menjadi ragu akan
tantangan yang diberikan kakaknya tersebut, sepertinya terlalu sulit sehingga tidak ada
yang berminat mengikuti sayembara.

Diselimuti rasa kasih sayang, Raden Carang Aspo menenangkan hati adik perempuannya
yang cantik jelita itu, "Bersabarlah sebentar lagi, Adikku."

Rombongan Patih Sundhul Mega dan Tumenggung Pancatnyawa telah tiba di Kerajaan
Ngurawan. Mereka disambut baik oleh bupati kerjaan yang bernama Raden Carang Aspo.
Patih Sundhul Mega segera mengutarakan maksud kedatangannya yang diutus oleh
Prabu Klana Jaka untuk mengikuti sayembara.

Tidak lama kemudian, datanglah seorang pemuda lusuh yang ingin mengikuti sayembara
pula. Tampak dari kejauhan, Dewi Kumudaningrat tengah memperhatikan percakapan
kakaknya bersama Patih Sundhul Mega, Tumenggung Pancatnyawa, dan seorang
pemuda yang mencuri perhatiannya. Entah mengapa, dalam hati Dewi Kumudaningrat
seolah mendoakan semoga pemuda itu yang bisa memenangkan sayembara.

Raden Carang Aspo mengajak Patih Sundhul Mega bersama Tumenggung Pancatnyawa
dan Wiruncana untuk menuju alun-alun kota. Di situ Raden Carang Aspo menjelaskan
tantangan yang akan diberikan kepada peserta sayembara. Peserta harus memanah
22

dengan tepat mengenai cinde. “Barangsiapa yang bisa mengenai cinde itu, maka dia
akan kunikahkan dengan adikku tersayang yang bernama Dewi Kumudaningrat.”

Patih Sundhul Mega gagal.

Tumenggung Pancatnyawa gagal.

Tibalah giliran Wiruncana. Ia berhasil memanah tepat mengenai cinde tersebut.

Semua orang di sana mengetahui bahwa pemenang sayembara itu adalah Wiruncana
Murca yang selama ini dicari-cari. Raden Wiruncana Murca, Raden Carang Aspo, dan
Dewi Kumudaningrat akhirnya pulang ke Kerajaan Rancang Kencono untuk mengatasi
wabah pagebluk yang ada di kerajaan.

BABAK PERTAMA

(Wiruncana Murca, Dhoyok, dan Bancak mencari keberadaan Dewi Kumudaningrat)

Hidup di alam dan berguru padanya.

Berguru pada air dan memaknai jalan hidup.

Berguru pada api dan memaknai sebab akibat.

Berguru pada udara dan memaknai kedamaian.

Aku adalah Raden Panji yang senang mengembara dan mencari makna kehidupan
dengan menyamar sebagai Wiruncana Murca.

Dalang

Pagi hari bertemu matahari. Malam hari bertemu bulan. Hutan disibak, gunung didaki.
Gerangan adinda belum terlihat wujud dan keberadannya. Sayatan di tapak kaki dan
telapak tangan menjadi bukti. Nafas memburu tiada henti. Tekad bulat untuk bisa
menemukan sang Dewi. Suatu jalan oleh Tuhan Yang Maha Esa pasti akan diberi.

Bancak

Sudah beberapa kali matahari menampakkan sinar kemudian menghilang. Belum juga
kita menemukan tanda-tanda keberadaan Dewi.

Dhoyok
23

Iya, tapi jangan berkata seperti itu.

Wiruncana

Aku yakin bisa menemukan keberadaan Dewi. Naluri dan cinta kasihku yang akan
menuntun dan mempertemukan kami. Di mana pun tempatnya, kapan pun waktunya,
bagaimana pun keadaannya, aku akan menemukannya.

Dhoyok

Aku akan selalu mendukungmu, Raden.

Bancak

Aku juga, Raden.

Dhoyok

Kami akan selalu setia dan ada di sisi Raden.

Bancak

Iya, Raden.

Wiruncana

Terimakasih kalian sudah setia bersamaku.

Bancak dan Dhoyok

Sama-sama, Raden.

(Tibalah mereka di pemukiman Kerajaan Ngurawan. Rasa lelah tak terelakkan lagi.)

Dhoyok

Sudah semalam kita berjalan melewati hutan, dan kini agaknya, aduuh….

Bancak

Agaknya perut buncitmu perlu energi baru.

Wiruncana

Ah, iya, benar sekali!


24

Bancak

Bilang saja kalau kau ini lapar, dan tak tahan dengan bau makanan di seberang sana.

Dhoyok

Kau juga pasti sama, kan?

Bancak

Tentu saja iya. Hahaha

Wiruncana

Aku juga sama. Hahaha. Sebaiknya kita melahap sesuatu dikedai seberang yang Bancang
bilang. Nampaknya makanan itu enak. Aku jadi tergoda.

Bancak dan Dhoyok

Ayo!

Dalang

Mereka menikmati makanan yang disajikan oleh kedai sederhana yang ada di tengah-
tengah pemukiman kerajaan. Bersama dengan rakyat Ngurawan, mereka melebur dan
terlihat sama seperti rakyat biasa. Rakyat itu membicarakan tentang sayembara yang
diadakan oleh Carang Aspo. Seolah tak mau tertiggal informasi, Wiruncana, Bancak, dan
Dhoyok mendengarkan percakapan mereka.

Rakyat 1

Aku dengar Gusti Carang Aspo mengadakan sayembara untuk mencarikan jodoh
adiknya.

Rakyat 2

Iya benar. Kenapa? Kamu berminat mengikuti sayembara itu?

Rakyat 1

Persyaratan yang diajukan terlalu berat, ilmuku tak mampu menaklukkan tantangan yang
diberikan.

Rakyat 2
25

Benar sekali. Sepertinya mustahil ada yang bisa menaklukkan tantangan Gusti Carang
Aspo.

(Wiruncana yang mendengar percakapan itu langsung bersemangat dan membusungkan


dada. Melirik ke arah Bancak dan Dhoyok, seolah memberi kode untuk mengikuti
sayembara.)

Wiruncana

Kalian juga mendengar yang dikatakan mereka?

Bancak

Iya, Raden. Aku sudah paham dengan maksudmu.

Dhoyok

Seperti kata kami biasanya. Kami akan selalu setia medukung setiap keputusan raden.

Wiruncana

Aku semakin bersemangat. Kita harus bergegas dan aku tidak sabar mengikuti
sayembara itu.

BABAK KEDUA

(Halaman istana Rancang Kencana. Patih Sundul Mega dan Tumenggung Pancatnyawa
sedang olah kanuragan berama bala prajurit)

Dalang

Dengan gesit para prajurit berlatih di halaman istana. Terik matahari yang menyengat
kulit menambah gairah semangat berlatih tombak dan pedang. Begitu luasnya halaman
istana membuat ratusan prajurut terbaik istana bisa bebas bergerak dengan gesit.
Apalagi dengan turut sertanya Patih Sundul Mega dan Tumenggung Pancatnyawa dalam
latihan tersebut, membuat prajurit menjadi lebih bergairah.

(Diatas balkon istana, Prabu Klana Jaka tengah asik menyaksikan olah kanuragan yang
dilakukan prajurit berserta petinggi kerajaan)

Pelayan
26

Mohon ampun, Gusti Prabu yang terhormat. Ini, saya membawakan buah-buahan segar
dan minuman jahe hangat sesuai permintaan Gusti Prabu.

Prabu Klana Jaka

Baik, letakkan di atas meja. Sekarang aku punya perintah untukmu.

Pelayan

Mohon ampun. Perintah apa, Gusti Prabu?

Prabu Klana Jaka

Segera temui Patih Sundhul Mega dan Tumenggung Pancatnyawa untuk menghadap
kepadaku!

Pelayan

Sendika dawuh, Gusti Prabu.

Pelayan istana tersebut langsung menemui Patih Sundhul Mega dan Tumenggung
Pancatnyawa untuk menyampaikan pesan yang diberikan prabu Klana Jaka.

Patih Sundhul Mega

Sembah sujud saya haturkan kepada Gusti Prabu yang terhormat.

Tumenggung Pancatnyawa

Sembah sujud saya haturkan kepada Gusti Prabu yang terhormat.

Patih Sundhul Mega

Ada apa gerangan Gusti Prabu memanggil kami untuk menghadap kemari?

Prabu Klana Jaka

Nampaknya kalian telah berhasil melatih prajurit-prajutit istana. Aku dapat melihatnya
melalui semangat prajurit dalam berlatih pagi ini.

Patih Sundhul Mega

Ah, tidak juga, Gusti Prabu. Itu karena kemampuan prajurit dan keinginan yang kuat
mereka untuk membela kerajaan.

Tumenggung Pancatnyawa
27

Benar yang dikatakan Kakang Patih, Gusti Prabu.

Prabu Klana Jaka

Tapi kegigihan kalian juga patut untuk kupuji.

Patih Sundhul Mega dan Tumenggung Pancatnyawa

Terima kasih, Gusti Prabu.

Prabu Klana Jaka

Aku mempunyai tugas untuk kalian berdua.

Patih Sundhul Mega

Mohon ampun, kiranya tugas apa yang harus kami lakukan, Gusti Prabu?

Prabu Klana Jaka

Kakang Patih dan Tumenggung, aku memerintahkan kalian untuk segera mencari Panji
dan membawanya pulang. Kalian kupersilakan mengikuti sayembara di Kerajaan Jawa.

Patih Sundul Mega dan Tumenggung Pancatnyawa

Sendika dawuh, Gusti Prabu.

Prabu Klana Jaka

Aku mempersilakan kalian untuk mengajak prajurit terbaik kerajaan dalam mendampingi
perjalanan kalian.

Patih Sundhul Mega

Sendika dawuh, Gusti Prabu.

BABAK KETIGA

(Bubaran bala prajurit di tepi hutan)

Wiruncana

Semakin kita cepat semakin baik karena bisa segera sampai di Kerajaan Ngerawan. Aku
harus mengikuti sayembara itu.
28

Dhoyok

Tunggu, Den. Saya seperti mendengar suara ramai dari hutan. Sepertinya itu…

Bancak

Suara kucing mencakar anjing, atau suara kera diburu harimau, atau suara kijang
membantai sapi?.

Dhoyok

Atau suara ular melilit kuda?

Wiruncana

Jangan bicara yang tidak-tidak dalam situasi begini!

Dhoyok

Ah iya, bukan begitu maksud saya, Raden.

Bancak

Tapi kamu memang bicara yang tidak-tidak.

Dhoyok

Kamu lebih banyak bicara yang tidak-tidaknya.

Wiruncana

Sudahlah. Sebaiknya kita bergegas dan tidak usah menghiraukan suara aneh itu.

Patih Sundul Mega

Ada apa ini ramai sekali? (Menatap kearah Wiruncana dan seolah penuh tanya)

Patih Sundul Mega dan Tumenggung Pancatnyawa serta bala prajurit menghadang
langkah Wiruncana bersama Bancak dan Dhoyok

Wiruncana

Sembah sujud ingkang tulus saya haturkan, Raden.

Bancak dan Dhoyok

Kawula inggih ngaturaken sembah sujud, Raden.


29

Patih Sundul Mega

Sembah kalian aku terima anak muda. Siapakah gerangan kisanak ini?

Wiruncana

Mohon ampun raden. Perkenankan saya memperkenalkan diri. Saya Wiruncana dan ini
adalah kedua sahabat saya.

Bancak

Mohon ampun, Raden. Saya Bancak.

Dhoyok

Mohon ampun, Raden. Kalau saya adalah Dhoyok.

Patih Sundul Mega

Aku adalah Patih Sundul Mega dan itu adalah Tumenggung Pancatnyawa. Kami dari
kerajaan Kadiri. Kalau kisanak ini dari mana?

Wiruncana

Kami berasal dari desa seberang, Raden.

Tumenggung Pancatnyawa

Kalau boleh tahu, kalian hendak ke mana?

Wiruncana

Mohon ampun, Raden. Saya hendak pergi ke Kerajaan Ngurawan untuk mengikuti
sayembara.

Tumenggung Pancatnyawa

Atas dasar apa kisanak berani mengikuti sayembara itu?

Wiruncana

Atas dasar tekad yang sudah bulat, serta niat dan keyakinan pada kemampuan yang saya
miliki, Raden.
30

Tumenggung Pancatnyawa

Keyakinan yang seperti apa yang membuatmu berani seperti ini?

Wiruncana

Keyakinan pada diri saya sendiri dan berkat Yang Maha Kuasa supaya saya bisa
memenangkan sayembara itu.

Patih Sundul Mega

Lancang sekali kisanak! Sebaiknya kisanak kembali sekarang, daripada pulang dengan
kekecewaan.

Wiruncana

Sekali lagi, mohon ampun, Gusti. Saya akan tetap melanjutkan perjalanan untuk ke
Ngerawan, bagaimanapun rintangannya.

Patih Sundul Mega

Kurang ajar! Beraninya kau, anak muda!

Patih Sundul Mega merasa terhina. Begitu juga Wiruncana, berusaha mempertahankan
tekad yang sudah bulat. Alhasil, adu kekuatan pun tidak bisa terelakkan.

Beberapa penduduk yang kebetulan hendak pergi ke hutan menyaksikan pertarungan


tersebut, namun mereka lebih memilih diam dan hanya menyaksikan, karena mereka
tahu, lawan yang dihadapi Wiruncana tidaklah seimbang.

Jumlah dua kubu yang tidak berimbang membuat Wiruncana memilih untuk melarikan
diri.

Patih Sundhul Mega

Melawanku saja kau tak mampu. Jangan nekat ikut sayembara itu, anak muda! Hahaha

Wiruncana, Bancak dan Dhoyok berlari secepat mungkin tanpa menggubris celotehan
Patih Sundhul Mega.

BABAK KEEMPAT

Wiruncana
31

Apa aku harus menuruti perkataan dari para kesatria itu, Paman?

Dhoyok

Jangan bilang kalau Radeeen…

Wiruncana

Iya paman, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?

Bancak

Sebaiknya kita istirahat terlebih dahulu, Raden. Tenangkan pikiran Raden. Raden yang
aku kenal adalah yang bertekat kuat dan memiliki kepercayaan diri yang hebat. Saat ini
Raden hanya perlu menenangkan diri saja.

Dhoyok

Benar yang dikatakan Bancak, Raden. Bagaimana kalau kita duduk di bawah pohon itu
saja?

Bancak

Ayo kita kesana!

Wiruncana

Sepertinya aku harus pergi ke suatu tempat untuk menemui seseorang.

Dhoyok

Jangan terburu-buru, Raden. Sebaiknya kita istirahat saja dulu.

Wiruncana

Ayo kita pergi!

Dhoyok

Ta… tapi raden….

BABAK KELIMA
32

Dalang

Angin sepoi mengiringi langkah kaki.

Rimbun dedaunan terasa sesak.

Gubuk kayu tua lusuh nampak kokoh.

Pandhita berjenggot putih panjang, mengerti akan kemungkinan-kemungkinan masa


depan.

Dhoyok

Sepertinya kita semakin menjauh dari Kerajaan Ngurawan, Raden.

Bancak

Untuk apa kita kembali masuk ke dalam hutan, Raden?

Wiruncana

Untuk menemui seorang pertapa.

Dhoyok

Tapi kenapaa…

Bancak

Kau ini banyak bertanya! Padahal maksud raden juga sudah jelas. Susah diajak cerdas.

Dhoyok

Loh loh loh, sebenarnya aku ini paham maksud raden. Aku hanya memastikan supaya
semuanya jelas. Oooh… dasar sok pintar!

Wiruncana

Heh sudah-sudah! Kenapa kalian malah bertengkar? Sebentar lagi kita akan sampai, jadi
kalian akan segera mengerti maksudku. Ayo kita bergegas!

Sang surya mulai menyembunyikan cahya gemilaunya yang akan digantikan oleh
gemerlap bintang dan sinar rembulan.
33

Dhoyok

Hari sudah mulai gelap, Raden. Bagaimana kalau malam ini kita istirahat di pondok itu?.

Bancak

Tumben idemu bagus. Hahaha.

Wiruncana

Benar sekali. Kita sudah sampai.

Dhoyok

Iya, kan? Apa aku bilang. Hahaha.

Wiruncana, Bancak dan Dhoyok semakin mendekati gubuk di tengah hutan itu. Maksud
Bancak dan Dhoyok ingin beristirahat untuk malam ini.

Wiruncana

Salam sembah kawula haturkan ingkang tulus ikhlas.

Bancak & Dhoyok

Kawula inggih sakmenika, Pandhita.

Pandhita

Salam kalian aku terima.

Wiruncana

Saya Wiruncana, berasal dari desa sebelah.

Pandhita

Aku sudah menduganya.

Bancak & Dhoyok

Saya teman mesra Wiruncana, dan saya teman curhatnya.

Pandhita

Masuklah!
34

Wiruncana

Iya, terima kasih, Pandhita.

Pandhita

Aku tahu kau siapa anak muda. Kau jangan ragu mengikuti sayembara itu. Yakinkan
dirimu.

Wiruncana

Bagaimana Pandhita bisa tahu? Tapi apakah saya bisa mengalahkan Patih Sundul Mega
dan Tumenggung Pancatnyawa ?

Pandhita

Tentu saja, kau bisa anak muda. Pergi dan ikutilah sayembara itu. Doaku selalu
bersamamu, Nak. Untuk kalian berdua juga.

Bancak & Dhoyok

Iya, Pandhita. Saya haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Wiruncana

Hatur nuwun kawula haturaken, Pandhita.

Bancak dan Dhoyok

Hatur sembah nuwun, Pandhita.

Pandhita

Pergilah jika matahari sudah terbit esok hari. Istirahatlah di gubukku yang reyot ini untuk
malam ini. Aku akan merasa terhomat jika Raden berkenan menginap untuk malam ini.

Wiruncana

Ah, tentu saja aku sangat berkenan, Pandhita.

BABAK KEENAM

Dalang
35

Lima purnama telah berlalu. Tak seorang kesatriapun mengikuti sayembara. Gundah
gulana siang dan malam hingga perasaan tak terkira. Asa pun hampir putus.

Dewi Kumudaningrat

Bagaimana ini, Kakang. Kenapa belum ada seorangpun datang kemari?

Carang Aspo

Sabarlah, Adikku. Yang Maha Kuasa telah menggariskan suatu takdir untukmu.

Dewi Kumudaningrat

Mungkin persyaratan yang kau ajukan terlalu berat.

Carang Aspo

Hanya kesatria hebat yang bisa menaklukkannya. Kau hanya perlu bersabar.

Dewi Kumudaningrat

Tapi, Kakang…

Dalang

Tibalah rombongan Patih Sundhul Mega dan Tumenggung Pancatnyawa lengkap beserta
prajurit dengan bersenjata di Kerajaan Ngurawan.

Tumenggung Pancatnyawa

Perkenalkan, saya Tumenggung Pancatnyawa, kami rombongan dari Kerajaan Kadiri.

Patih Sundhul Mega

Perkenalkan, saya Patih Sundhul Mega.

Carang Aspo

Saya Carang Aspo, Bupati dari Kabupaten Ngurawan. Kalau boleh saya tahu, apa maksud
kedatangan kisanak kemari?

Patih Sundhul Mega


36

Kami diutus oleh Prabu Sinuwun untuk mengikuti sayembara yang Raden gelar.

Carang Aspo

Oh, begitu rupanya. Untuk itu juga kalian membawa serta prajurit lengkap dengan
persenjataan?

Patih Sundhul Mega

Kiranya begitu, Raden.

Carang Aspo

Perlu kalian ketahui, sayembara yang aku adakan ini adalah bukan adu kuat antar prajurit
kerajaan. Melainkan ini adalah sayembara pertaruhan ilmu yang kau miliki.

Patih Sundhul Mega

Oh, begitu rupanya. Baiklah, dengan senang hati aku akan menerima semua tantangan
yang akan Raden Carang Aspo berikan.

Carang Aspo

Baguslah, kalau begitu.

Patih Sundhul Mega

Tapi sebelum itu, aku meminta satu hal.

Carang Aspo

Apa itu?

Patih Sundhul Mega

Jika aku gagal menaklukkan tantangan itu, ijinkan Tumenggung Pancatnyawa untuk
mencoba menaklukkan tantangan itu, Raden. Bagaimana?

Carang Aspo

Baiklah, aku menyetujuinya. Silakan coba menaklukkan tantangan yang aku berikan.

Tengah asyik Raden Carang Aspo dan Patih Sundhul Mega berbincang, datanglah tiga
orang yang mendekatinya. Orang tersebut adalah Wiruncana, Bancak, dan Dhoyok.

Wiruncana Murca
37

Saya menghaturkan sujud sembah ingkang dhateng, Gusti. Perkenalkan, kawula


Wiruncana, dari desa seberang.

Bancak dan Dhoyok

Terimalah sujud sembah kawula, Gusti. Kami Bancak dan Dhoyok.

Carang Aspo

Salam kalian aku terima. Untuk apa kalian datang menemuiku?

Wiruncana

Saya hendak mengikuti sayembara yang Gusti adakan di Kerajaan Ngurawan ini.

Carang Aspo

Lancang sekali kau ingin mengikuti sayembara ini wahai pemuda! Apa bekalmu untuk
berani datang kemari?

Wiruncana Murca

Bekal saya tekad yang kuat beserta niat suci. Jika Tuhan merestui, maka saya yakin bisa
memenangkan sayembara ini.

Patih Sundul Mega

Kau mau cari mati, Nak?! Aku sudah mengingatkanmu sebelumnya bukan? Jangan
pernah ikut sayembara ini!

Carang Aspo

Patih Sundhul Mega mengenal pemuda ini?

Patih Sundhul Mega

Tentu saja aku mengenalnya, Raden. Tempo hari aku bertemu dengannya, aku sudah
mengingatkan untuk tidak mengikuti sayembara ini. Bahkan dia kalah dan melarikan diri
ketika beradu denganku. Untuk itu, alangkah baiknya jika Raden tidak membiarkan
pemuda ii ikut sayembara.

Carang Aspo
38

Apakah itu benar kisanak?

Wiruncana

Iya, Gusti. Itu benar.

Carang Aspo

Baiklah, aku tetap akan mengijinkanmu mengikuti sayembara ini. Tapi dengan satu
syarat, jika kau kalah maka aku akan memotong kedua kaki dan tanganmu dihadapan
rakyat Ngurawan.

Wiruncana Murca

Baik, Gusti.

Carang Aspo

Kalau begitu, mari kita ke alun-alun. Di sana aku akan memberitahu kalian tantangan
yang harus kalian lakukan.

Nampak dari atas balkon istana, Dewi Kumudaningrat tengan menyaksikan percakapan
kakaknya dengan beberapa kesatria dari Kerajaan seberang dan seorang pemuda
tampan yang tak lain itu adalah Wiruncana.

(Dengan tidak sengaja Wiruncana mengangkat kepalanya dan sekilas melihat sosok Dewi
Kumudaningrat. Mata keduanya saling beradu pandang).

Dewi langsung terpana dengan pemuda berpenampilan lusuh dan sederhana itu. Hatinya
penuh harap besar terhadap sosok pemuda itu.

Dewi Kumudaningrat

Wahai Dewa-dewi Bathara. Entah siapa gerangan pemuda itu. Hanya dengan
memandangnya seketika jiwaku terpaut olehnya.

Mataku terlampau sayang untuk berkedip.

Tanganku gemetar ingin menggandengnya.

Siapapun pemuda itu, dia telah berhasih membuatku merasakan naluri tak biasa.

Dayang 1
39

Mohon ampun, Gusti Putri. Saya perhatikan sejak kehadiran pemuda itu, Gusti Putri
terlihat bahagia.

Dewi Kumudaningrat

Ah, apakah terlihat begitu jelas?

Dayang 1

Tentus saja, Gusti Putri. Pasti Putri tidak sadar kalau sedari tadi senyum-senyum sendiri.
Benar tidak?

Dayang 2

Hehehe… iya, Gusti Putri. Menurut saya juga begitu.

Dewi Kumudaningrat

Semoga pemuda itu yang bisa memanah Cinde Puspita tepat sasaran.

Dayang 2

Dan pemuda itu adalah jawaban dari penantian Gusti Putri Dewi Kumudaningrat selama
ini.

BABAK KETUJUH

Dalang

Rakyat Ngrawan antusias menyaksikan dari tepi alun-alun. Begitu juga dengan Bancak
dan Dhoyok yang selalu mendukung Wiruncana, serta para prajurit dari Kerajaan Kadiri.

Patih Sundul Mega, Tumenggung Pancatnyawa, dan Wiruncana Murca bersiap menuju
tengah alun-alun.

Carang Aspo

Peraturan untuk sayembara adalah kalian harus bisa memanah Cinde Puspita yang ada di
atas menara. Kesempatan yang kuberikan hanyalah tiga kali. Barang siapa yang paling
banyak tepat sasaran itulah pemenangnya.

Tumenggung Pancatnyawa

Lalu, hadiah apa yang bisa Raden berikan jika salah satu dari kami berhasil memanah
tepat sasaran?
40

Carang Aspo

Adikku tersayang. Dewi Kumudaningrat. Untuk itu sayembara ini bukanlah sayembara
biasa. Aku yakin, hanya orang terhebat sajalah yang bisa berhasil menaklukkannya.
Sekarang, ayo kita mulai.

Tumenggung Pancatnyawa gagal.

Patih Sundul Mega gagal.

Wiruncana sangat konsentrasi dan memfokuskan pandangannya ke atas menara. Ia


membayangkan dibelakang itu ada sosok Dewi Kumudaningrat yang beberapa saat tadi
ia temui meski hanya sekilas dan dari kejauhan. Namun Wiruncana masih ingat betul
bagaimana lekuk tubuh Dewi Kumudaningrat, dan akhirnya memanah tepat di dada Dewi
Kumudaningrat yang dibayangkannya itu.

Dalang

Ketika anak panah diarahkan ke dada Dewi Kumudaningrat dan dilesatkan, anak panah
langsung berubah haluan menuju puncak menara yang menjadi tantangan dari Raden
Carang Aspo.

Ketika itu pula, Wiruncana dapat berubah dan bisa bersanding dengan Dewi
Kumudaningrat.

Sujud sembah dihaturkan oleh Raden Carang Aspo.


41

WASENGSARI

Tari Klana gending Kalongan slendro pathet sepuluh


Pathet Wolu
(Gending Ayak slendro pathet wolu)

Janturan Dalang
Dikisahkan, dua insan yang ditakdirkan untuk bersatu, Sekartaji sebagai ratu Kerajaan
Daha dengan Inu Kertapati calon pewaris tahta Kerajaan Gegelang. Mereka akan
dipertemukan dalam suatu malam yang menentramkan bagi keduanya. Keluarga
pasangan kerajaan telah memusyawarahkan hari pernikahan Sekartaji dengan Inu
Kertapati. Raja Magadha diselimuti rasa cemburu karena mendengar berita bahwa
Sekartaji dan Inu Kertapati akan menikah. Mendengar hal tersebut, Raja Magadha
menjadi murka hingga berencana akan memberi pembalasan kepada Inu Kertapati.

BABAK PERTAMA

Raja Magadha

Aku mendengar rumor bahwa Galuh akan menikah dengan Inu, dan pernikahan mereka
akan segera dilaksanakan. Sial! Mantri! Cepat kemari!

Mantri 1
42

SInuwun, Raja. Ada apa gerangan Raja memanggil saya?

Raja Magadha

Aku mempunyai satu misi untukmu. Kau ingat dengan Inu? Dia segera menikahi Galuh.
Kau tahu? Pernikahan itu tidak akan terjadi sampai kapan pun! Dua Kerajaan itu tidak
akan pernah bisa menyatu!

Mantri 1

SInuwun, jadi saya dipanggil ke sini hanya untuk datang ke acara pernikahan Inu dan
Galuh. Begitukah, Raja?

Raja Magadha

Hemmm….

Engkau jenius sekali. Mudah mencerna pembicaraanku.

Mantri 1

Waduhh….

Ya begini, Raja. Saya memang tergolong jenius.

Raja Magadha

Benar-benar susah. Engkau kebanyakan makan ketela! Jadi gendutnya di perut saja, ndak
di otak!

Mantri 1

Loh iya, Raja.

Saya suka ketela, pisang, apalagi petai. Nah, berhubung ini acara pernikahan, pasti
banyak makanan. Saya akan makan sepuasnya.

Raja Magadha

Tepat sekali! Kau akan menikmati berbagai macam makanan di sana. Tapi, tentu kau
harus menjalankan satu misi dariku, paham? Oh ya, ini ada serbuk. Sebelum kau pergi,
cepat mInum air di botol ini. Tapi, ingat! Kau hanya perlu makan satu atau dua makanan
saja, karena jika kau mengambil semua makanan, maka ramuan suci yang kau tenggak ini
akan berkurang pengaruhnya. Jadi, kau jangan ceroboh dan tergoda!
43

Mantri 1

Loh, berarti saya harus menahan lapar dan haus seperti rakyat-rakyat yang mengalami
paceklik?

Raja Magadha

Iya, kau telah kuangkat sebagai Mantri. Jadi, sudah sewajarnya kau harus merasakan apa
yang dirasakan oleh rakyatmu semasa paceklik.

Mantri 1

Oooh… tentu saja, Raja. Meskipun di sana saya akan menemui berbagai macam makanan,
tapi saya akan cukup dengan hanya makan sebiji anggur saja, Raja. Saya berjanji.

Raja Magadha

Bagus! Ini hanya penambah stamina saja. Cepat mInum, dan sisakan untuk temanmu
yang akan menemanimu menculik Inu!

Mantri 1

Tapi, Raja. Hanya saja saya kurang memahami perintah Raja.

Raja Magadha

Kau cukup pergi kesana! Culik Inu, dan bawa dia pergi jauh dari kerjaan itu. Terserah mau
kau apakan dia. Mengerti?

Mantri 1

(manggut-manggut)

Siap laksanakan!

Hemmm… Baginda, sebelum terencana, seharusnya ada jaminan buat sangu pergi ke
kerajaannya Raden Inu. Hehehehe….

Raja Magadha

Oh, itu masalah gampang, akan ada banyak imbalan yang akan kau dapat jika kau
berhasil membawa Inu pergi dan membuat pernikahan mereka batal.

Mantri 1
44

Baik, Raja.

Siap laksanakan!

(Berbalik arah menuju pintu)

Mantri 1

(Berbalik arah mengahadap raja)

Raja, mohon maaf sebelumnya. Perjalanan menuju Gegelang cukup jauh, dan kuda saya
akan mendapat beberapa perawatan. Kalau saya bereaksi tanpa kuda, rencana Raja tidak
akan tertangani secara cepat. Bagaimana kalau ditunda saja? Pernikahannya masih lama
toh? Kita santai dulu saja, sambil makan-makan.

Raja Magadha

Eh eh eh! Enak tenan! Makan-makan itu memang enak, tapi rencana harus tetap
terlaksana! Mau jadi generasi mantri macam apa engkau ini? Belum apa-apa kok sudah
santai-santai. Cepat pergi!

Mantri 1

He he he, Raja. Jangan marah toh. He he he..., saya kira makan juga perlu, Raja. Supaya
kita, para pasukan raja ini tidak krempeng begini. Nanti kalau perang bisa tunjukin otot,
begitu, Raja. Pasti semua dayang-dayang akan terpesona sama otot saya. He he he.

Raja Magadha

Engkau ini sebenarnya memahami perintah atau tidak, sudah sana, cepat berangkat dan
jangan ceroboh!

Mantri 1

Siap jaraja! Eh, siap laksanakan, Raja!

Mantri 1

(Berbalik arah mengahadap raja)

Tapi, Raja. Tadi Raja hanya menuyuruh saya untuk membawa Raden Inu ke kerajaan ini,
benar begitu raja? Hanya Raden Inu?
45

Raja Magadha

Iya, kau cukup bawa dia kemari. Sudah itu saja. Apa yang kau pikirkan?! Cepat bergerak!

Mantri 1

Baik, Raja!

Raja Magadha

Segera kau bawa Inu pergi, dan aku akan segera menikahi Raden Galuh. Ha ha ha!

Dalang

Marang ati kudu iso laku-laku, iso laku-laku ya kudu iso ati-ati

BABAK KEDUA

Tibalah mereka pada kerajaan yang dituju, di sana nampak megah dan mewah. Mereka
pandangi keadaan sekitar. Penjagaan istana kerajaan Gegelang tidak terlalu ketat.

Mantri 1

Aku akan mengendalikan bagian utara dan timur dan kau mengendalikan bagian selatan
dan barat. Kamar Raden Inu tepat ditengah-tengah.

Mantri 2

Baik, kita bertemu di kamar Inu?

Mantri 1

Pasti, mari kita mulai bergerak!

Mantri 2

Baik, kita bergerak!

(Berjalan mengendap-endap)

Mantri 1

(Menoleh kebelakang)

Mengapa kau masih di situ? Ayo segera bergerak!

Mantri 2
46

(Melangkahkan satu kaki kedepan).

Mantri 1

(Menoleh ke belakang) Mengapa kau masih di situ! Engkau belum juga paham apa
perintahku?

Mantri 2

Perutku sering kram. Aku tidak bisa menahannya!

Mantri 1

Wah, kau ini! Merebut sebagian rencana ku. Sepertinya ini lebih enak dari pada yang
biasa disajikan oleh dayang-dayang di kerajaan.

Mantri 2

Kau ingin coba? Jarang-jarang kita menemukan makanan begini di kerajaan.

Mantri 1

Sruppp... langsung merasukk… Mataku langsung menyala-nyala suegarr! Rasanya pun


beda sekali! Aku mau coba lagi. Sruppp gerr.... Rasannya merasuk ke tulang-tulang. Jadi
berasa kuat tulangku. Wah, enak ini... Hemm rasanya. kok aneh? Ini wujudnya enak, tapi
kok gini rasanya ya?

Mantri 2

He he he... Itu tadi kena tetes air liur ku. Aku tidak tahan sama makanan sebanyak itu.

Mantri 1

Hwek! Jijik aku. Bekas air ludahmu toh! Mbok ya bilang dari tadi. Eh, tapi makanan tadi
sudah banyak masuk ke mulutku, semoga masih cemerlang mantranya.

Mantri 2

Lhawong aku mau bilang tapi keburu kau santap duluan. Ya sudah.

Mantri 1

Aduh duh, sudah terlanjur! Sekarang sudah tidak nafsu lagi, gara-gara kena air ludahmu
itu! (meninggalkan mantri 2)
47

Mantri 2

Wah, iya. Ini yang tak tunggu-tunggu. Ha ha ha…. Nanti aku bawakan saja satu kantong
buat engkau dan dua kantong makanaan buat aku nanti.

Dalang

Mereka berhasil membawa Raden Inu keluar dari kerajaan dengan tidak terkendala suatu
apapun. Mereka bergerak lengang dan santai. Sampailah mereka pada sebuah sungai
yang jauh dari suara gemuruh kedamaian orang-orang desa yang terdengar lirih
gemericik air yang jernih, membuat setiap orang akan betah berlama-lama di tempat
tersebut.

Mantri 2

Kita ini mau bawa dia ke mana? Ke raja Magadha?

Mantri 1

Tidak juga, raja hanya mengintrusikan kepadaku untuk membawa pergi Inu.

Mantri 1

Kita sudah berada jauh dari kerajaan, aku rasa kita perlu untuk memberikan tindakan
kepada Inu. Bagaimana menurutmu?

Sihir yang ditelan oleh mantri tadi hanya dapat membawa Raden Inu sampai di tepi
sungai. Selanjutnya terjadi perlawanan antara Inu dengan mantri suruhan Magadha.

BABAK KETIGA

Dalang

Kabut pagi itu cukup tebal, bagi yang memaksa untuk melewati pasti akan basah.
Namun untuk para rombonganyang membawa Raden Galuh waktu itu tetap menerjang.
Rombongan bergegas menuju ke tempat pengabetan untuk mandi dan beristirahat di
tempat yang dekat dengan sungai. Para rombongan Sanggit yang lain mulai untuk
mebersihkan diri. Namun hanya Sanggit dan Bayan yang memilih tempat yang sedikit
jauh dari rombongan yang lain.

Bayan
48

Aku merasakan suasana kerajaan yang damai, kala mendengar sebentar lagi Raden Galuh
akan memiliki seorang suami. Hemmm…, kira-kira bagaimana raja kita selanjutnya ya?Ah,
pasti dia lebih rupawan dibandingakan dengan para pengawal. Wajahnya pasti mulus,
tubuh tegap dan ideal. Sorot matanya tajam yang menambah gagah. Oh raja....

Sanggit

Sudah pasti jauh lebih tampan dari pengawal-pengawal itu. Tapi aku ya agak sulit
menggambarkan pangeran rupawan yang seperti apa yang engkau maksud. Dipikiranku
hanya pengawal-pengawal bau itu.

Bayan

Ah, engkau dari dulu hanya bergaul dengan bau kuda para pengawal. Makanya engkau
tidak bisa membayangkan bagaimana kerupawanan seorang raja. Makanya engkau itu
jangan suka bergaul sama minyak, liat itu wajahmu kenak efeknya. Sekali-kali engkau ikut
aku ngantar makanan ke ruang tamu. Di sana engkau akan menemukan kerupawanan
yang hakiki. Mereka itu tampan-tampan. Andai saja aku menjadi Raden Galuh. Pasti akan
kujadikan suami semua yang pernah bertamu ke kerajaan. Gusti... aku meminta kirimkan
aku seseorang yang rupawan seperti para raja yang akan menjadi suamiku nanti, Gusti.
Aku memaksa.

Sanggit

Engkau ini kebanyakan menghayal! Masak ya Gusti mau mengabulkan permintaanmu


yang centil itu? Mana bisa orang seperti kita jadi seperti Raden Galuh yang kecantikannya
tiada tanding? Lah engkau yang kerjanya hanya jadi jongos saja kok ingin bermimpi jadi
Raden Ayu seperti Raden Galuh, mana bisa? Lhawong engkau kenalnya hanya kain lap,
kopi, teh, gelas dan teman-temannya. Engkau harus ingat, kita tidak bisa semolek Raden
Galuh. Engkau ini harusnya nerima ing pandum. Tidak harus kaya, cantik, pinter, dan
banyak yang naksir. Memang, kita bisa bahagia dengan semua itu. Hanya saja kita perlu
menikmati apa saja yang ada yang kita peroleh, lah wong kita bisa makan dan mInum
sehari-hari saja sudah bersyukur dan bahagia. Dan kalau cantik seperti Raden Galuh, aku
tidak cukup tertarik. Aku mau jadi diriku sendiri saja. Karena kalau dipikir, semua
perempuan ingin seperti Raden Galuh pasti dunia ini tidak ada yang jelek. Semua sama
cantik.

Bayan

Iya, memang kecantikan tiada tanding ya Raden Galuh.


49

Hemmm… siapa itu? Rupawan benar kulitnya, berkilau. Waah.. itu pasti jodohku. Terima
kasih, Gusti. Doaku terkabulkan.

Sanggit

Engkau ini kenapa? Dari tadi engkau hanya berkhayal, belum juga bersihin badan. Engkau
ini kesurupan ya?

Bayan

Kau lihat di sana. Dia sedang berendam dengan air sungai. Dia nampak rupawan dari
sini.

Sanggit

Apa yang engkau maksud?

Bayan

Aku akan menghampiri dia. Dia sedang kesepian.

Sanggit

Dasar gila. Mana bisa Gusti mengabulkan doamu dengan mendatangkan seorang
rupawan secara tiba-tiba? Engkau banyak menghayal!

Bayan

Dia tidak bernafas. Kulitnya, kulitnya keriput, nadi… nadii... Aaa!!! Ma… mayat...!!! Duh
Gusti, kenapa kau datangkan mayat rupawan kepadaku? Bukan ini yang aku maksud,
Gusti!

Sanggit

Engkau memang banyak berhayal sudah tadi engkau menemui seorang yang rupawan
sekarang mayat maumu itu apa toh. Jangan banyak bercanda, ini area sakral!

Bayan

Sanggit... Cepat bantu aku untuk menepikan pangeranku.

Sanggit
50

Gusti! Itu benar benar orang? Sebentar, aku akan kesitu. Jangan ditepikan, badan dia
lebih besar dari badanmu.

Bayan

Ayo cepat, dia sudah tidak bernyawa. Sanggit, kenapa jodohku ini tidak bernyawa?

Sanggit

Sudah kubilang kau jangan sembarang berdoa di sini!

Bayan

Sanggit, aku mau berjodoh dengannya. Sanggit, bagaimana ini? Aku tidak akan bisa
menikah dengannya kalau dia seperti ini. Dia jodohku, Sanggit. Dia datang saat aku
benar-benar menginginkan jodoh, Sanggit. Hu hu hu... kenapa?!

Sanggit

Sebentar, aku akan panggilkan Raden Galuh. Kau jaga orang ini, jangan apa-apakan dia.
Kau diam di sini saja.

Bayan

Sanggit, aku mau ikut! Aku takut kalau dia memang bukan jodohku, aku takut ia
memakanku, Sanggit.

Sanggit

Kau diam dulu di sini. Tidak lama, dia tidak akan memakan engkau, kecuali kalau engkau
menggoda dia, dia akan bangun dan menggodamu. He he he….

Bayan

Ah! Sanggit. Beri tahu Raden Galuh, aku takut bersama-sama dengannya.

Sanggit

Hati-hati, dia akan memakanmu kalau dia bergerak! Ha ha ha….

Bayan

Cepat, Sanggit!

Inukertapati
51

Uhukk! Uhukk! Ternyata aku sudah sampai.

Bayan

Sa... Sanggittttttt!!! Dia bangun! Aku takut dimakan oleh dia, Sanngggggggittt!
Tolonglah!

Sanggit

Berisik! Aku di sini. Dia tadi terbangun den Galuh, sebelum Raden kemari, dia terbatuk.

Raden Galuh memeriksa denyut nadi dan pernafasan.

Inukertapati

Saya datang dari Gegelan. (suaranya parau)

Sejak saat itu Raden Inu berubah nama menjadi Undakan Wasengsari oleh Raden Galuh.

BABAK KEEMPAT

Jurudeh mulai mencari jejak Inu dan sampai di kerajaan Daha.

Pengawal

SInuwun, Raja. Ada beberapa jurudeh yang sedang bertamu, menanyakan Raden Inu.

Raja Daha

Raden Inu?

Pengawal

Iya benar sekali, Baginda Raja. Raden Inu.

Permaisuri

Raden Inu? Kita tidak tau Raden Inu. Kemarin hanya pemuda kusut, berlumpur, dan
memiliki bau menyengat yang datang bersama Galuh.

Raja Daha
52

Ya sudah, ijinkan mereka untuk masuk dan tetap pantau gerak-gerik mereka dalam
istana. Tetap ingatkan kepada semua prajurit untuk tetap berkonsentrasi dan tidak
terbawa dengan bujukan yang menyesatkan menggoyahkan konsentrasi mereka.

Pengawal

Baik, Tuan Raja.

Jurudeh

Raden Inu! (mengejar)

Raden, aku mohon berhentilah berjalan.

Wasengsari

(memalingkan wajah)

Jurudeh

Kami datang kemari bukan untuk memata-matai kerajan ini, kami ingin gusti kami
kembali.

Wasengsari

Gusti engkau sudah berada di depanmu, berhenti menunduk. Sekedar untuk


membuatmu percaya bahwa aku adalah Inu. Aku hanyut di aliran sungai selama sepuluh
hari, dan sampai di sini berkat Raden Galuh yang secara tidak sengaja menemukanku di
tepi sungai dengan dengan Pengabetan. Aku sudah berganti nama menjadi Wasengsari.
Aku tidak mempunyai identitas yang dapat ditunjukkan secara nyata bahwa aku ialah
Raden Inu. Namun aku memiliki raut wajah yang dapat dipertimbangkan bahwa aku
adalah Inu. Namun jangan membuka identitasku di sini. Aku ingin bersama dengan Galuh
yang rupanya seperti rembulan.

Jurudeh

Kami cukup senang sekali melihat Raden Inu kembali. Tidak sia-sia kita sudah sampai
Daha dan berhasil menemukan Raden Inu. Sekarang, apa yang bisa saya bantu untuk
Raden?

Wasengsari

Kerajaan ini dalam tawanan. Kau bisa membantuku untuk mengatur misi kemenangan.
53

Dalang

Raja menghadiahkan sebagian dari barang-barang rampasan milik raja-raja yang telah
ditewaskan kepada Wasengsari dan mengangkatnya menjadi kepala (bekel) para wong
anarawita, sekelompok kadehan yang mengikuti sang puteri.

BABAK KELIMA

Angin mulai masuk lirih ke cela-cela jendela, membawakan bunyi suara gamelan yang
ditabuh terdengar hingga keluar. Bunyi tersebut melembutkan batin seseorang yang
mendengarnya. Keluarga kerajaan sudah tidak pernah bosan untuk mendengarnya.
Wasengsari dan kedua temannya menghampiri sumber bunyi tersebut.

Wasengsari

Bunyi gamlean yang mencerminkan sentuhan lembut perangai pemainnya,setiap


nadanya mengundang setiap orang yang mendengarnya untuk lebih dekat dengan
sumber bunyi gamelan.

Raden Galuh

Oh engkau, ternyata engkau, bagaimana engkau sampai masuk ke dalam ruang ini?

Wasengsari

Notasimu yang mengantarku sampai di sini. Sehingga aku tertatrik untuk menikmatinya
lebih dekat dan ingin mengetahui siapa pemainnya.

Raden Galuh

Engkau terlalu berlebihan.

Wasengsari

Aku mengungkapkan bedasarkan fakta yang ada. Aku tidak berlebihan.

Raden Galuh

Sudah cukup engkau jangan merayu seperti itu. Langsung saja mau apa kemari?

Wasengsari

Aku hanya ingin tau bagaimana caramu memainkan gamelan.

Raden Galuh
54

Bukannya engkau bisa memainkannya?

Wasengsari

Aku belum semahir engkau, Raden Ayu.

Raden Galuh

Bagaimana bisa? Engkau dari kerajaan Gegelan tidak mampu memainkan gamelan.
Engkau pasti berbohong. Kalau datang hanya untuk merayu, jangan kemari.

Wasengsari

Aku kemari hanya ingin berguru kepadamu.

Raden Galuh

Baiklah, sebelum kau mulai untuk memainkannya, kau terlebih dahulu menghafal notasi
yang terdapat dalam gamelan, sama halnya dengan notasi pada umunya ada notasi siji,
loro, telu, papat, limo, enem, pitu. Semakin besar angka notasi yang engkau pukul, maka
semakin nyaring bunyi yang dihasilkan.

Wasengsari mulai berpura-pura tidak mengetahui notasi yang dimaksudkan oleh Raden
Galuh, sebenarnya ia telah memelajarinya ketika ia masih berada di kerajaan Gegelan.

Dalang

Berawal dari gamelan, hasrat cinta mereka mulai menemukan titik terang di antara
keduanya, terutama pada diri Wasengsari. Terang nurani yang dipanjatkan Wasengsari,
menimbulkan gradasi di ufuk barat, di sana mulai tampak sedikit kelam, hewan-hewan
peliharaan penduduk mulai memasuki kandang. Sedang, para pengawal mulai
mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa oleh raja untuk mengunjungi
Gegelang bersama permaisuri. Perjalanan mereka akan dimulai malam ini.

Permaisuri

Pastikan semua barang-barang saya sudah berada di kendaraan semua. cCek kembali,
jangan sampai ada barang-barang raja ataupun barang-barang saya yang tertinggal,
ingat! Cek kembali! Beritahu saya kalau kau sudah selesai mengeceknya, kita akan
berangkat malam ini.

Pengawal
55

Baik, Tuan Putri. Saya akan segera memberi tahu Tuan Putri ketika saya telah usai
mengecek semua barang bawaan Tuan Putri dan raja. Siap laksanakan, Tuan Putri!

Permaisuri

Kerja bagus. (meninggalkan pengawal)

Dalang

Malam itu rembulan sedang cantik-cantiknya. Penjagaan di kerajaan tidak begitu terlihat
lebih ketat dari biasanya. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Wasengsari untuk memasuki
kediaman Raden Galuh, sedang para rekannya (Kadehan) ikut membuntuti kemana
Wasengsari pergi. Kadehan telah berhasil menggoda para dayang-dayang yang berada
di luar kamar Raden Galuh menambah leluasa Wasengsari untuk menemui Raden Galuh.

Wasengsari

Boleh aku masuk?

Raden Galuh

Iya silahkan masuk, aku kira kau tak akan kemari.

Wasengsari

Sudah dipastikan bahwa aku akan menemuimu. Kau masih meragukan kata-kataku?

Raden Galuh

Aku hanya meragukan sebuah pernyataanmu waktu itu, aku fikir hanya candaan

Wasengsari

Tidak apalah kau fikir bahwa aku bercanda, namun rasaku padamu bukan hanya sekedar
candaan atau mainan.

Raden Galuh

Mengapa kau begitu serius menanggapinya? Aku hanya bercanda haha..

Wasengsari

Aku merasakan sebagian diriku ada padamu. Tidak heran jika kalau aku jauh darimu,
rasanya seperti ada yang tertinggal.
56

Raden Galuh

Aku tidak butuh bualan murahan.

Wasengsari

Aku hanya berpesan padamu bahwa semua yang aku ungkapkan bedasarkan apa yang
aku rasakan saat ini aku bukan hanya pengagummu, bukan hanya pengagum caramu
bermain gamelan, bukan pula pemuja kecantikanmu. Aku benar-benar akan datang
padamu pada saatnya. Kau tak perlu khawatir jika nanti aku tak selalu disisimu. Kau tetap
ada disetia aku melangkah, disetiap hembusan udara dan tak lupa aku mengingatmu
sebelum aku terbangun dan tertidur kembali.

Raden Galuh

Sebentar-sebentar.. kata-katamu tadi seperti ingin meninggalkan kerajaan ini, benar


begitu?

Wasengsari

Tidak aku tidak akan pergi untuk saat ini, buktinya aku masih disini menatapmu

Raden Galuh

Engkau bisa saja merayuku, namun aku tak butuh hanya rayuan. Kalau engkau mau pergi
sekarang tidak apa, akan aku buka pintu itu.

Wasengsari

Baik jika itu keinginanmu

Raden Galuh

Iya silahkan

Wasengsari

Baik dengan senang hati (beranjak meninggalkan Raden Galuh).

Raden Galuh

Wasseng... Engkau benar-benar ingin pergi? engkau benar-benar seius? Kalau engkau
pergi aku akan ikut pergi.

Wasengsari
57

Aku hanya megamini perkataanmu

Raden Galuh

Bukan maksudku untuk mengusirmu, kenapa engkau serius menanggapinya?

Wasengsari

Jadi kau hanya mengujiku (Mendekati Raden Galuh)

Raden Galuh

Maaf bukan bermaksud untuk mengujimu. Aku... mulai merasakan kehadiranmu begitu
nyaman.

Wasengsari

Hemm.. benarkah?

Raden Galuh

Aku mulai nyaman ketika engkau bersamaku

Wasengsari

(Menatap Raden Galuh) engkau tidak sedang berpura-pura bukan?

Raden Galuh

Kali ini aku lebih mantap dari biasanya. (membalas tatapan Wasengsari).

Sakjroning dada...

Meleburr dadi siji...

disekseni kerlipan wulan ...lan gumintang e lintangg...

BABAK KEENAM

Permaisuri

Galuh telah berani memadu kasih dengan pemuda yang bernama Waseng, itu! Pemuda
yang baru dikenal sudah lancang untukmmembawa beberapa teman-temannya! Pasti ini
ada kaitannya dengan peperangan dn strategi yang disusun
58

Raja Daha

Wahai istriku, tidak seharusnya kau berkata seperti itu, sebelum kau bertanya langsug
kepada Galuh.

Permaisuri

Tidak semua sudah jelas...bahwa pemuda misteriusitu penyebabnya, dan pasti


kedepannya akan ada kerajaan yang akan menyerang lagi, semua itu karena pemuda
busuk! Seperti Waseng. Dia adalah antek-antek dari kerajaan lain yang ditugaskan untuk
memata-matai kerjaan kita. Caranya dia membocorkan semua strategi pada kerajaan
yang akan mencoba memerangi kerajan kita. Bisa saja kemeangan in i hanya akal-
akalannya dia saja, supaya nanti jika terjdi peperangan kembali. Dan ia akan pergi dan
kembali ke kerajaannya untuk menghacurkan kerajaan ini.

Raja Daha

Engkau jangan asal omong, dia pemuda baik, engkau berbicara tanpa didasari bukti dan
fakta yang kuat.

Permaisuri

Terserah... terserah percaya atau tidak namun, hal tersebut akan terjadi, liat saja nanti!

Bulan kedua Wasengsari memohon ijin kepada sang raja untuk menemui keluarganya
yang berada di Kahuripan. Sedangkan raja mengijinkan Wasengsari untuk pulang
menengok kedua orang tuanya.

Raden Galuh

Aku membenci setiap pertemuan jikalu akhirnya semacam ini.

Wasengsari

Aku tidak akan lama, hanya beberapa bulan saja dan aku pasti akan memberi kabar
untukmu.

Raden Galuh

Sudah kubilang ini saat-saat terberat dalam hidupku.

Wasengsari
59

Hanya beberapa bulan saja, tidak akan lama. Aku perlu memberi kabar kepada mereka,
menerangkan bahwa aku masih hidup dan sejahtera seperti ini berkat di tolong oleh
seorang putri yang berada dihadapanku saat ini.

Raden Galuh

Aku ingin ikut denganmu.. percayalah aku aku tidak akan menyusahkanmu, aku sudah
mandiri. Dan bisa saja aku memebnatumu dalam berperang.

Wasengsari

Engkau hanya perlu menunggu saja... tunggu saja kabar baik dariku.. jangan pernah
kemana-mana aku akan kembali pada waktu yang tepat. Aku akan terus mengirim surat
padamu mengenai aktivitas yang aku lakukan disana. Jangan khawatirkan aku. Aku selalu
mengingat nama mu disetiap hembusan nafasku.ikhlaskan aku, hanya sebentar. Hanya
sebentar....

Raden Galuh

Waktu akan menajdi cukup panjang ketika kau tak mapu mengartikan sebuah aktivitas
tanpa makna. Aku tidak mau setiap hari terbelenggu oleh beberapa pertanyaan
mengenai kedaanmu, aktivitasmu dan lain sebagaianya tentang dirimu.

Wasengsari

Aku memahami bahwa engkau tidak akan menerima keputusanku untuk pergi sekarang.
Tapi kali ini aku memaksamu untuk mengerti aku, bahwa disana aku juga memunyai
sebuah keluarga yang masih perlu kabarku dan keadaanku saat ini, aku hanya
memberikan kabar bahagia untuk mereka, dan akan kembali kemari dengan kabar
bahagia dari kepulanganku, kumohon kau bisa bersabar sedikit saja. Ini ada sebuah
lembaran yang didalamnya telah aku rangkai beberapa notasi. Dan aku ingin kau
mencoba untuk memainkannya nanti jka kau benar-benar merindukan akan kehadiranku.
Mungkin notasi yang aku buat tak menghasilkan nada yang cukup enak didengar,
minimal inilah hasil belajarku selama berguru kepadamu.

BABAK KETUJUH

Kerajaan Kahuripan menganggap pulangnya Wira Namtani (Raden Inu) merupakan suatu
kejutan besar.
60

Wira Namtani

Apa? Kerajaan Daha dalam Bahaya?

Pengawal

Sedari kemarin, kerajaan Daha mengalami serbuan sebagi wujud balas dendam raja
Wirabumi.

Wira Namtani

Raden Galuh.. dalam bahaya, siapkan beberapa bekal dan kendaraan. Malam nanti kita
harus sampai di Daha. Segera siapkan.

Pengawal

Baik raja, laksanakan.

Raden Galuh memulai perjalanan dengan rasa dongkol dalam hati, ia mengajak
Bramita untuk menemaninya sepanjnag perjalanan menyusuri hutan. Hal ini ia lakukan
untuk memulai pencarian Wasengsari. Ia Mencari Wasengsari karena dia dipercaya yang
dapat membantu kerajaan, disaat peperangan.

Permaisuri

Sudah kubilang mereka akan kembali menyerang, dengan siasat yang dirancang oleh
Wasengsari tersebut, dialah mereka kan menyerang kerajaan dengan bebas.... karena
Waseng! Telah, mengatur strategi untuk memenangkan perang, dan kerajaan ini....
kerajaan ini kan jatuh berantakan! Dan... kau... kau yang harus bertanggungjawab atas
semua ini... kau yang akan aku jadikan jaminan jika kau tak berhasil membawa Waseng
kemari!

Raden Galuh

Aku akan berrtanggunjwab untuk mencari Wasengsari. Sekarang. (menuju pintu)

Permaisuri

Bagus cepat pergi! Jangan kembali jika kau belum menemukan Wseng Sari! Jangan
pernah kembali ke kerajaan.

Kerajaan dalam bahaya. Ini akibat penabuh Gamelan yang berani menantang kerajaan
Gegelan
61

Raden Galuh

Bagaimana kalau kita istirahat terlebih dahulu?

Bramita

Sebenarnya kita akan melangkah kemana? Galuh kita sudah meninggalkan kerajaan
berkilo-kilo meter...

Raden Galuh

Menurutmu langkah yang aku tempuh saat ini tepat atau tidak?

Bramita

Langkah mecari Waseng ?

Raden Galuh

Iya maksudku langkah meninggalkan kerajaan, diasaat disana dalam pemantauan


diserang, kita seolah lenyap tak bersisa, tanpa kabar dan tanda-tanda kepergian. Aku
putri raja yang tidak setia kepada ayhanya

Bramita

Ibu muda mu yang meminta kau untuk mencari Waseng. Walau bagaimanapun ia tetap
ibumu.. mekipun kalian tidak terdapat hubungan sedarah. Tapi kau tetap anak ibumu,
beliau adalah sosok yang seharusnya kau hormati. Mereka adalah sosok yang
seharusnya kau muliakan. Mereka tetap orang tuamu. Jadi sejauh manapun kau akan
pergi.. tapi tetaplah ingat kerajaanmu tetap menjadi tempat kembalimu. Dan kau harus
kembali ke pangkuan ibumu..

Raden Galuh

Lalu bagaimana menurutmu?

Bramita

Tidak ada yang salah dalam perjuangan. Tidak ada pula itung-itungan dalam
perjuangan. Aku menghargai niat sucimu untuk mencari Wasengsari.

Raden Galuh
62

Sebenarnya aku tidak tega, ketika meninggalkan kerajaan, kerajaan sedang tidak
kondusif saat ini, tapi aku cukup gemas dengan kejelasan Wasengsari.

Bramita

Sebenarnya kau sudah muali menyukai Waseng ya?

Raden Galuh

Apaan sih enggakk.. dia hanya baik.. aku harus membalas kebaikannya. Tapi dia rupawan.
Bagaima mungkin rasaku bermain dengan kemunafikan. Aku sulit untuk mengucapkan
kata Tidak ketika berhadapan dengannya. Rasanya sejulur nadiku akan kembali bersinergi
ketika bertemu dengannya.

Bramita

Pada intinya engkau sudah takluk dipangakuannya.

Raden Galuh

Aku rasa memang begitu. Bekal kita hanya tinggal satu , tapi tujuan kita hanya satu
mencari Wasengsari sampai ketemu.

Bramita

Aku ikut Bersemangat. Mari kita lanjutkan jalan diujung sana sudah menanti.

Disepanjang meneruskan sisa perjalanan Bramita mengalami sedikit kendala di


badannya, suhu badan Bramita tidak stabil dan memaksa Raden Galuh untuk tidak
melanjutkan perjalanan.

Pagi itu semilir angin menggoyangkan rambut Raden Galuh. Sedari tadi ia berusaha
untuk mendirikan sebuah tenda kecil sebagai tempat istirahat sementara mereka.
Sedangkan Bramita hanya terbujur. Disampingnya.

Bramita

Galuh... aku berniat untuk membantumu bukan menyusahkamnu. Jangan


mengkhawatirkan aku.. pergilah dan cari Wseng Sari, sebelum kerjaan katuh ditangan
musuh.

Raden Galuh
63

Tidak apa ini sudah menjadi risiko yang aku fiirkan jika aku mengajakmu. Sementara aku
hanya bisa memberikan obat yang berasal dari tanaman disekitar sini. Aku akan mencari
bantuan, didekat sini. Pasti ada penduduk desa yang datang kemari dan menemukan
kita, serta dapat membantu kita.

BABAK KEDELAPAN

Gunung Argamanik menularkan kebahagian aura yang terpancar akibat kedatanag


puteri yang kecantikannya tak tertandingi. Amahi Lara yang saat ini menjadi anak
seorang pertapa. Hanya beberapa bulan saja kecantikan Amahi Lara sudah termashur di
keraton lain. Sedangkan Wira Namntani (Raden Inu) telah sampai di kerajaan Daha, ia
sangat terpukul karena Raden Galuh meninggalkan kerajaan.

Raja Gegelang

Dayang.. tolong panggilkan Amahi Lara untuk menemani saya disini.

Dayang

Baik raja.

Dayang

Tuan putri diutus raja untuk menemui di kamarnya

Amahi lara

Saya menemui raja di kamar? Saya sendiri?

Dayang

Benar, tuan putri raja mengutus saya untuk menjemput tuan putri.

Amahi Lara

I..ya terima kasih, kalau begitu mari kita segera kesana.

Perasaan berkecamuk mengungkapkan kekhwatiran dan ketenangan yang dibuat-buat.


Amahi Lara tidak tau mengapa ia dipilih untuk menemui raja.

Dayang
64

Tuan raja.. putri Amahi Lara sudah berada di depan pintu, apakah saya sudah
memperbolehkan untuk ia masuk kemari?

Raja Gegelang

Silahkan bawa dia kemari.

Amahi Lara

Sembah SInuwun raja... ada apa gerangan saya dipanggil kemari

Raja Gegelang

Tidak ada maksud apapun tuang putri. Jangan takut aku tidak akan menyakitimu. Aku
hanya menghadiahkanmu sebuah pengakuan. Agar istriku tidak berprasangka negatif
kepadaku, ketika kau kuajak kemari.

Suara deritan pintu kamar mendakan seseorang sedang membuka pintu itu dari luar.
Perasaan berkecamuk dalam hati Amahi Lara tak munjung usai dikepalanya terdapat
kecamuk yang sulit dikendalikan.

Permaisuri Gegelang

Jadi seperti ini perilakumu! Membawa orang baru kemari

Raja Gegelang

Waktu yang tepat sekali. Kau berada disini. Duduk sebelah sini disampingku.

Permaisuri Gegelang

Jadi ini rencanamu untuk memamerkan bahwa kau sudah memepunyai Premeswari
Anom, begitu?

Raja Gegelang

Tenanglah, duduk disebelahku terlebih dahulu. Nanti akan aku jelaskan siapa dia.

Permaisuri Gegelang

Aku tidak mau. Aku sudah membaca semua rencanamu

Raja Gegelang
65

Ingatlah wahai istriku. Aku tidak berniat untuk mengankat Amahi Lara sebagi Prameswari
Anon.. aku hanya ingin mengakui bahwa Amahi Lara mulai detik ini menjadi anggota
kelaurga baru kita. Ia aku angkat sebagai saudara dari putri kita. Aku tidak berniat apapun
untuk memamnggilmu kemari Amahi, aku hanya memninta persetujuan, apakah kau
berkenan untuk menjadi suadara dari putri kami

Amahi Lara

Sa..ya.. bersedia menjadi saudara putri anda raja.

Raja Gegelang

Syukurlah, mulai saat ini kau boleh memakai fasilitas kerajaan dan mendapatkan fasilitas
yang sama dengan putriku. Dan untuk kau permaisuriku, aku tau kau hatimu
memancarkan senyum kelegaan, seperti yang sudah aku bicarakan padamu aku tidak
akan mengangkat Amahi Lara sebagai Prameswari Anom.Sudahlah kemari temani aku.
Aku sudah lama tidak melihat senyum sederhaamu. O.. iya Amahi kau boleh
meninggalkankan ruangan ini. Beritahu Dayang jika kau butuh apa-apa.

Amahi Lara

Terimakasih raja. Saya cukup senang dapat diterima dengan baik di kerajaan i ni namun
saya tidak bermaksud untuk mewarisi tahta kerajaan ini, saya hanya meragukan apakah
memang benar, putri anda berkenan bersaudara dengan saya?

Raja Gegelang

Sebelum langkah persetujuan ini aku ambil aku telah mendiskusikan hal ini dengan puttri
ku dan ia. Sangat antusias ketika aku menwarkan kau yang akan menjadi saudaranya.

Amahi Lara

Aku sangat senang sekali tuan raja. Terima kasih sudah mengangkatku sebagai bagian
dari kerajaan Gegelang ini.

Raja Gegelang

Tidak perlu seperti itu. Sekarang beranjaklah dan temui saudara barumu, ia akan sangat
senang jika mempunyai suadara baru. Dan satu lagi kau boleh memanggilku dengan
sebutan Ayah.
66

Amahi Lara

Terima kasih Ayah. Aku akan sgera menemuninya, sekali lagi terima kasih ayah.

Bertolak dari kerajaan Kahuripan pangeran Wira Namntani memutuskan untuk pergi ke
Daha dan berniat untuk melamar Raden Galuh.

Wira Namtani

Sial! Aku sudah berkeliling kerajaan dua kali. Dan aku tak menemukan seberkas wangimu.
Aku tidak tau kenapa rasa ini begitu menyiksa. Kau mengambil seluruhnya. Kau
kemanakan rasaku? Galuh....

Sejak saat itu pencarian putri Daha dilakukan oleh panji pamasah, pencarian dilakukan
seperti ekspedisi militer, ia mendatangi beberapa kerajaan dan ia tetap akan meolak jika
raja menawarkan kepadanya untuk menikahi putrinya. Ia hanya menginginkan Raden
Galuh.

BABAK KESEMBILAN

Kerajaan Gegelan dalam intaian dan serbuan oleh para raja pajang dan paguhan.
Sekali lagi pamasah memutuskan membantu pamannya dan kali ini ia tidak terlambat
untuk turut serta dalam peperangan. Setibanya di medan pertempuran, pasukan-
pasukan Gegelang yang semula dikalahkan, kini menjadi pemenang, dan kedua raja di
pihak musuh ditewaskan.

Peperangan semakin keras dan tajam keadaan di dalam kerajaan sungguh


menakutkan Amahi Lara mencoba untuk menenangkan saudaranya ia memnungkapkan
sugesti kata-kata agar saudara sepupunya tetap tenang, dan mempercayakan ayahnya,
bahwa ayahnya akan berhasil memenangkan peperangan, namun dalam dirinya ia
mengharapkan Wasengsari yang dapat menolongnya saat ini. Mengingat Wseng Sari
pernah mengalahkan musuh yang menyerang Kerajaan Daha pada waktu itu.

Amahi Lara

Putri kau harus tenang, percayakan semua pada ayahmu. Ia akan mengembalikan
keadaan kerajaan seperti semula.

Putri Gegelang

Dia hanya diberi nyawa satu kali. Aku tidak cukup tenang, seandainya aku diberi
kesempatan untuk membantu ayah. Pasti tidak akan terjadi kekhawatiran seperti ini.
67

Amahi Lara

Percayakan smua akan baik-baik saja dan ayah kita akan selamat. Dan kembali bercada
dengan kita.

Putri Gegelang

Aku berharap ada seseorang ksatriya yang akan menolong ayah, ketika ayah sudah
melemah dan tak mampu untuk melawan musuh. Siapapun itu aku akan menjadikannya
ia seorang suami. Kali ini aku berjanji, aku akan menjadikan ia seorang suami dan aku siap
untuk menjadi istri baginya.

Angin mulai meniup jahat dedaunan mengakibatkan sebagian pohon yang tak kuat
menahan tiupananya jatuh terselungkup. Sedang sorot lampu langit menyambar
nyambar diiringi dengan dentuman yang cukup keras dan menggelennggan. Seiring
dengan tusukan panah tajam yang mulai menghampiri raja Gegelang.

Raja Gegelang

Tolong..... (jlub suara panah menusuk)

Pamasah

Raja... bangun... raja sudah aman.

Raja Gegelang

Aku sekarang dimana?

Pamasah

Raja sekarang sudah berada di tempat yang aman, raja hanya pingsan saja. Raja tidak
terluka anak panah tadi jatuh dan menusuk tanah. Raja hanya pingsan saja.

Raja Gegelang

Benarkah, seluruh badanku tak apa... aku merasakan nyeri dipelipis.. dan bukannya aku
takut anak panah itu menghampiri, hanya saja rasa perih yang berada dipelipis ini yang
membawaku tak sadarkan diri. Terima kasih anak muda... kau sudah membawaku kemari.

Pamasah

Kerajaan dalam keadaan aman tuan raja. Para musuh tidak akan menyerang lagi, karena
kemenagan berada pada kerajaan Gegelang. Raja tak perlu risau.
68

Raja Gegelang

Terima kasih anak muda... mungkin jika aku tertusuk anak panah tersebut aku tidak akan
merasakan udara sebebas ini. Istri dan kedua anakku pasti tidak akan tenang. Terima
kasih anak muda. Besok kau datang kemari. Akan aku adakan jamuan makan malam
untuk kerajaan sebagai ucapan syukur atas kemenangan kerajaan gegelang. Bagaimana
kau bersedia?

Pamasah

Saya sangat bersedia Baik besok saya akan datang ke kerajaan.

Langit yang awalnya terang kini mulai petang bergulirnya suara riuh rendah dari meja
makan kerajaan. menandakan makan malam pertama pamasah di Gegelang.

Raja Gegelang

Bagaimana tanggapanmu tuan muda mengenai masakan kerajaan disini?

Pamasah

Dari tampilannya saja sudah menggugah selera yang melihatnya dan tak sabar ingin
menyantap semua makanan disini raja.

Raja Gegelang

Jadi tujuanku untuk mengajakmu makan malam yakni ingin memperkenalkan keluarga
kecil kerajaan kepadamu. Langsung saja, aku memilimki dua anak perempuan yang
masih lajang keduanya. Yah.. perkenalkan yang berada di sampingku ini ialah putri kami,
dan..... ee Amahi kemana?

Putri Gegelang

Dia sudah makan ayah, aku memaksa ia untuk tetap makan tapi ia tidak mau. Ia lebih
memilih untuk bermain gamelan. Setiap hari ia memainkannya.

Raja Gegelang

Oh ya selain putriku yang cantik ini, ada satu lagi putrri yang mahir dalam memainkan
gamelan, namanya Amahi Lara. Dia cukup mahir dalam memainkannya gamelan yang ia
tabuh selalu menentramkan fikiran orang yang mendengarnya. Amahi Lara menabuh
gamelan dengan ramuan-ramuan yang mujarab yang pata menyembuhkan oran-orang
yang menderita sakit dengan beberapa keluhan penyakit apapun dapat disembuhkan
69

dengan hanya mendengar gamelan yang ia tabuh. Sedikkit bercerita mengenai Amahi
Lara. Sebenarnya apa tujaunmu untuk mengunjungi kerajaan ini?

Pamasah

Em... tidak lain dengan visi yang dapat menguggah hati saya. Raja, saya mencari
seseorang yang sudah menautkan hati saya, dia menghilang ketika saya ingin
melamarnya.

Raja Gegelang

oo.. ternyata kau sudah mempunyai calon, sepertinya . maaf putri mungkin Pamasah ini
tidak bermaksud untuk menyakitimu...

Putri Gegelang

Ayah... aku hanya memerhatikan ia bercerita, tidak ada tujuan lain... ayah ini selalu
menggoda saja.

Pamasah

Hehehehe...

Raja Gegelang

Kelihatannya kau lebih dari memerhatikan, perhatianmu cukup detail ketika ia berbicara.
Ayah jadi curiga. Hahahah

Putri Gegelang

Ayah bisa saja.

Permaisuri Gegelang

Suamiku memang suka bercanda tapi percayalah dia baik, dan belum pernah meyakiti
kedua anaknya.

Raja Gegelang

Kau tau sendiri istriku selalu merayu dan melemahkanku. Dan kau akan merasakn apa
yang aku rasakan ketika kau sudah beristri. Hahahah..

Pamasah
70

Saya cukup senang telah diundang kemari dan dapat berbagi cerita dengan Raja dan
permaisuri, saya merasa sangat terhormat sekali.Terima kasih raja dan permaisuri. Saya
tidak tahu harus membalas dengan apa, yang saya punya hanya terima kasih.

Raja Gegelang

Saya mengundangmu sebagai ucapan terima kasih saya. Karena kau telah menolong saya
dari peperangan kemarin. Mungkin ucapan terima kasihku tak cukup sampai disini.
Hem... begini, putriku ini yang sudah saya sebutkan, yah kau bisa menilai sendiri dari
gerak-geriknya sedari tadi ia sepertinya curi-curi pandnag padamu. Ya.. sebagai ucapan
terima kasih ku yang kedua ini, ya.. kau bisa menyimpulkan sendiri. Aku bermaksud baik
untuk menjadikanmu menanntu, bagaimana?

Putri Gegelang

Ayah.. cukup ayah jangan menggoda ku seperti itu, maafakn aku tuan muda, mungkin itu
hanya sebuah candaan ayah, jangan tersinggung. Hehe..

Pamasah

Hehehe sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang sepenuhnya kepada raja dan
permaisuri atas jamuannya malam ini, perihal tawaran yang raja sebutkan tadi, saya
belum bisa menjawabnya saat ini karena saya masih mencari-cari seseorang yang dalam
pencaraian saya saat ini. Mohon maaf sekali raja.. saya akan berusaha untuk dalam
pencarian terlebih dahulu.

Raja Gegelang

Baik aku cukup mengerti posisimu tuan muda, semua keputusan berhak kau ambil. Ini
hanya sekedar tawaran saja. Jika kau berminat. Hehehe

Putri Gegelang

Ayah sudah aku bilang ayah jangan bercanda..

Raja Gegelang

Baik kau boleh fikirkan penawaranku yang tadi.

Pamasah segera beranjak dari meja makan dan ia segera pamit. Ia berhenti sejenak ketika
ia mendengar tabuh gamelan yang lamat-lamat ia mulai merasakan setiap notasi yang
71

diciptakan dari gamelan terasa jiwanya mulai melebur dan ketenangan merasuk dalam
jiwanya.

Pamasah

Raden Galuh?kau berada disini? Aku merasakan kehadiranmu... dan.. notasi itu... notasi
yang aku berikan padamu... yah... tidak salah....benar ini... notasi yang aku berikan. Aku
masih ingat itu.. ya masihh..

Pamasah segera mengahmpiri ruangan yang menyeruakkan bebunyian yang dapat


menentramkan jiwanya. Ia segera mengahampiri dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Ruangan yang didesain redup agar suasana sendu dan sakral terasa jika berada
didalamnya.

Pamasah

Ternyata kau berada disini? Aku mencari mu

Amahi Lara

(membalikkan badan) Ada apa? Kau siapa?

Pamasah

Hehhe.. sepertinya kau benar-benar lupa denganku... coba perhatikan aku lebih dalam..
kau ingat notasi yang engkau mainkan?

Amahi Lara

Iya aku ingat notasi ini pemberian seseorang. Sebentar.. sebentar kau... Wa..seng.. sari?

Pamasah

Ingatanmu cukup kuat. Namun namaku bukan Wasengsari melainkan Wira Namtani. Dan
berasal dari kerajaan Kahuripan. Raden Galuh.. tidak sia-sia aku kesana kemari singgah
dari kerajaan sana kemari. Dan aku menemukanmu tepat pada waktunya.

Amahi Lara

Aku juga mencarimu kesana kemari, aku mepertanyakan janji-janjimu. Tapi aku tak
kunjung menemui titik terang tentangmu. Jadi aku memutuskan untuk meluapkan
kegelisahan dalam bermain gamelan ini, aku berharap orang-orang yang dapat
mendengarnya memperoleh kesejahteraan.
72

Sejak saat itu Raden Galuh dari kerajaan Daha dan Raden Inu (Wira Namtani) bersatu dan
hidup rukun. Mereka segera merencanakan tanggal pernikahan mereka. Mereka kembali
ke kerajaan masing-masing untuk memberitahukan kabar gembira ini.

ANDE-ANDE LUMUT

Tari Klana gending Kalongan slendro pathet sepuluh


Pathet Wolu
(Gending Ayak slendro pathet wolu)

(Gending Jula-Juli slendro Wolu)


73

Janturan Dalang
Awal sebuah kisah pencarian cinta oleh Dewi Sekartaji, sebuah sayembara, pertandingan
perang melawan Dewi Sekartaji. Perang tanding mendapatkan cinta Dewi Sekartaji bagi
yang sanggup mengalahkan sang Dewi. Banyak lelaki dari berbagai kerajaan datang
untuk mengikuti sayembara perebutan hati Dewi Sekartaji, namun tak ada yang sanggup
mengalahkan dan merebut hati sang Dewi. Datang seorang pangeran tampan, pangeran
kerajaan Janggala, pangeran Panji Asmarabangun mengajukan jiwa dan raga mengikuti
sayembara perang tanding menaklukkan hati Dewi Sekartaji, memperoleh cinta dari sang
Dewi. Kedatangan pangeran Janggala menggelorakan hati Sekartaji. Tatapan mata tak
teralihkan hanya tertuju pada Panji Asmarabangun. Perang tanding antara Dewi Sekartaji
dan Panji Asmarabangun dimulai. Panji berhasil mengalahkan sang Dewi, dan sesuai
perjanjian siapa yang dapat mengalahkan Dewi, maka akan menjadi suaminya. Panji pun
berhak atas cinta sang Dewi. Kekalahan Dewi Sekartaji mengantarkannya pada Panji,
kekalahan yang ia sengaja karena cinta pada lawan tandingnya, sebuah cinta untuk
memiliki Panji Asmarabangun.

Suatu hari saat Dewi Sekartaji tengah duduk di sebuah taman menunggu kedatangan
Panji Asmarabangun, datang seorang lelaki, namun ia bukanlah Panji Asmarabangun,
melainkan Prabu Klono Sewandono, seseorang yang juga pernah mencintai Sekartaji,
namun ditolak. Dewi Sekartaji digoda dan dirayu oleh Prabu Klono Sewandono, namun
sang Dewi mengabaikan rayuan itu. Tak lama kemudian, datanglah Panji Asmarabangun
yang mendapati Dewi Sekartaji tengah berduaan dengan Prabu Klono Sewandono.
Kecemburuan menyeruak dalam diri Panji serta mempertanyakan kesetiaan dan cinta
sang Dewi. Dewi Sekartaji mencoba menjelaskan apa yang tengah terjadi antara dirinya
dan Prabu Klono Sewandono, akan tetapi kecemburuan telah membutakan hati Panji.
Murka Panji tak terbendung lagi. Lantas diusirlah Dewi Sekartaji dari kerajaan. Dewi
Sekartaji berlari sambil menangis pergi meninggalkan kerajaan, jauh pergi meninggalkan
kerjaan. Sang Baginda Raja Prabu Lembu Amilihur mempertanyakan kepergian dari Dewi
Sekartaji. Panji Asmarabangun menjelaskan bahwa Dewi Sekartaji telah menduakan
cintanya. Namun Raja tak begitu saja percaya. Dipanggillah dayang yang setiap saat
berada didekat sang Dewi Sekartaji hingga diketahui kebenarannya, dan pencarian Dewi
Sekartaji oleh Panji Asmarabangun dengan menyamar menjadi Ande-ande Lumut
dimulai.

BABAK PERTAMA
Dalang
74

Awal kisah tentang seorang puteri, puteri dari kerajaan Panjalu, Dewi Sekartaji yang
sedang mengadakan sayembara, perang tanding pencarian cinta sejati, perang tanding
untuk memperoleh dirinya. Sebuah sayembara untuk memperoleh Dewi Sekartaji bagi
pria yang mampu mengalahkan Dewi Sekartaji dan merebut hati sang Dewi. Banyak pria
yang telah datang dan berperang tanding dengan sang puteri Panjalu, namun tidak
satupun yang mampu mengalahkan dan merebut hati Dewi Sekartaji, kecuali Panji
Asmarabangun.

Dewi Sekartaji

Sampai kapankah aku harus menunggu dan menemukan pria yang sanggup
mengalahkanku dalam perang tanding hingga membuatku jatuh hati kepadanya,
Dayang?

Dayang 1

Bersabarlah, Dewi. Sabar. Kelak, Dewi pasti akan menemukan pria yang tampan dan kuat,
yang akan mampu mengalahkan Dewi dalam perang tanding hingga membuat Dewi
jatuh hati kepadanya. Bersabarlah.

Dewi Sekartaji

Tapi, sampai berapa lama lagi aku harus menunggu?

Dayang 1

Dewi hanya perlu bersabar. Menunggu waktu yang akan mempertemukan Dewi dengan
pria yang tepat untuk Dewi.

(Datang Dayang 2 yang mengabarkan pada Dewi Sekartaji bahwa ada seorang pria yang
berniat mengikuti sayembara dan perang tanding untuk menaklukkan hati Dewi
Sekartaji.)

Dayang 2

Dewi... Dewi... Dewi Sekartaji!

Dewi Sekartaji

Ada apa? Kenapa kau teriak-teriak seperti itu?

Dayang 2
75

Maaf, Dewi. Di sana ada seorang pria yang berniat mengukuti sayembara, Dewi!

Dewi Sekartaji

Siapa pria itu?

Dayang 2

Maaf, Dewi. Saya tidak mengenal pria tersebut.

Dewi Sekartaji

Baiklah, suruh dia menemuiku.

Dayang 2:

Iya, Dewi. Saya akan mengantarkan pria tersebut menemui Dewi.

(Dayang 2 menjemput Prabu Klono Sewandono, pria yang hendak mengikuti sayembara.
Dayang 2 menagantarkan Prabu Klono Sewandono menemui Dewi Sekartaji.)

Dewi Sekartaji

Siapakah namamu?

Prabu Klono Sewandono

Hahaha….

Akulah Prabu Klono Sewandono, penguasa Sungai Brantas.

Dewi Sekartaji

Lantas, apa tujuanmu datang ke istanaku?

Prabu Klono Sewandono

Tujuanku kemari hanya satu. Aku akan menjadi suamimu! Hahaha….

Dewi Sekartaji

Kalau kau ingin menjadi suamiku, kau harus bisa mengalahkanku dalam perang tanding
melawanku. Sanggupkah kau mengalahkanku, Prabu Klono Sewandono?

Prabu Klono Sewandono


76

Tidak mungkin aku akan kalah melawanmu. Bersiaplah untuk menjadi milikku, Dewi
Sekartaji.

Dewi Sekartaji

Mari kita buktikan dalam perang tanding.

Prabu Klono Sewandono :

Baiklah, Dewi Sekartaji. Aku terima tantanganmu.

(Terjadi perang tanding antara Dewi Sekartaji dan Prabu Klono Sewandono. Pertarungan
yang sangat sengit demi sebuah kemenangan. Prabu Klono Sewandono tak mau kalah
karena ia sangat ingin memiliki Dewi Sekartaji. Demikian pula dengan Dewi Sekartaji, ia
sama sekali tidak ada ketertarikan dengan Prabu Klono Sewandono, maka ia harus bisa
mengalahkannya. Dewi Sekartaji kemudian mengeluarkan senjata carang kuning.
Akhirnya Prabu Klono Sewandono berhasil dikalahkan oleh Dewi Sekartaji.)

Dewi Sekartaji

Maaf, Prabu Klono Sewandono. Aku tidak bisa menerimamu.

Prabu Klono Sewandono

Tapi, aku sangat menginginkan dirimu, Dewi Sekartaji.

Dewi Sekartaji

Pergilah, aku tidak bisa menerimamu.

(Prabu Klono Sewandono pergi meninggalkan Dewi Sekartaji dengan kekecewaan dan
kemarahan karena gagal memiliki Dewi Sekartaji. Kemudian datang rombongan dari
kerajaan Janggala mengantarkan Pangeran Panji Asmarabangun untuk mengikuti
sayembara perang tanding.)

Panji Asmarabangun

Salam, Dewi Sekartaji puteri Kerajaan Panjalu.

Dewi Sekartaji

Salam, siapakah dirimu?


77

Panji Asmarabangun

Aku adalah Panji Asmarabangun, pangeran sekaligus penerus kerajaan Janggala.

Dewi Sekartaji

Apa niat hati engkau datang kemari?

Panji Asmarabangun

Aku datang kemari untuk mengikuti sayembara agar bisa meminang dirimu, Dewi
Sekartaji.

Dewi Sekartaji

Baik, pangeran Panji Asmarabangun. Sebelum meminang diriku, kau harus bisa
mengalahkanku dalam perang tanding. Jika dalam perang tading ini kau kalah, maka kau
tak bisa meminangku.

Panji Asmarabangun

Aku terima syarat darimu, apabila aku berhasil mengalahkanmu, maka terimalah
pinanganku.

Dewi Sekartaji

Baik, Pangeran.

(Terjadi perang tanding antara Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun. Sejak tatapan
pertama, Dewi Sekartaji telah jatuh hati pada pangeran Jenggala, tidak ada perlawanan
dari Dewi Sekartaji dalam perang tanding. Panji Asmarabangun akhirnya berhasil
mengalahkan Dewi Sekartaji tanpa ada perlawanan yang berat)

Panji Asmarabangun

Akulah takdirmu, Dewi Sekartaji.

Dewi Sekartaji

Apa yang akan kau berikan padaku, Pangeran Janggala.

Panji Asmarabangun :

Akan kusembahkan seluruh jiwa dan raga untuk dirimu. Terimalah pinangan dariku, Dewi.
Akan kuserahkan seluruh cinta padamu. Bagaimana, Dewi ?
78

Dewi Sekartaji

Tak akan aku menghianati ucapanku. Siapa yang sanggup mengalahkanku. Ia berhak
akan diriku. Namun, berjanjilah, kau tak akan mengkhianatiku.

BABAK KEDUA

Dalang

Suatu hari yang cerah. Terik sang surya menerangi Janggala. Burung-burung saling
terbang dan berhinggapan di reranting pohon. Kicauan burung bagai lantunan lagu yang
merdu. Angin berembus menerpa dedauan dalam rerimbungan pohon. Bunga
bermekaran menebarkan keharuman dirinya. Dewi Sekartaji duduk menunggu
kedatangan Pangeran Panji Asmarabangun. Senyum terlukis di wajah Dewi Sekartaji saat
menunggu sang belahan jiwa. Namun bukan pangeran Panji Asmarabangun yang datang
menemuinya, melainkan Prabu Klono Sewandono, pria yang pernah mencoba merayu
Dewi Sekartaji.

Dewi Sekartaji

Apakah kau mendengar kicauan burung itu?

Dayang 1

Iya, Dewi. Saya dengar.

Dewi Sekartaji

Suara burung itu terdengar sangat merdu.

Dayang 1

Iya, Dewi. Suaranya dapat menenangkan hati orang yang mendengarnya.

Dewi Sekartaji

Oh iya, apa kau melihat pangeran Panji? Di mana dia?

Dayang 1

Maaf, Dewi. Hamba tidak melihat pangeran Panji Asmarabangun.

Dewi Sekartaji

Ke mana dia? Dia bilang mau menjemputku di taman ini.


79

Dayang 1

Mungkin pangeran Panji masih ada urusan kerajaan, Dewi.

Dewi Sekartaji

Iya, mungkin.

(Datang Prabu Klono Sewandono mendekati Dewi Sekartaji hendak mencoba merayu
Dewi Sekartaji)

Prabu Klono Sewandono

Salam ku ucapkan padamu, Dewi Sekartaji.

Dewi Sekartaji

Ada apa? Apa urusanmu di sini?

Prabu Klono Sewandono

Tidak ada apa-apa, Dewi. Aku hanya ingin menemui dirimu. Aku sangat rindu dan ingin
bertemu denganmu.

Dewi Sekartaji

Pergilah kau Prabu Klono Sewandono! Aku tidak mengharapkan kau ada di sini!

Prabu Klono Sewandono

Apakah salah jika aku ingin menemui dirimu, Dewi?

Dewi Sekartaji

Tapi aku tidak ingin bertemu dengan dirimu! Pergilah!

Prabu Klono Sewandono

Kenapa, Dewi? Aku ingin melihat wajah indah dan cantikmu.

(Prabu Klono Sewandono berusaha memeluk Dewi Sekartaji. Kemudian datang Pangeran
Panji Asmarabangun menemui Dewi Sekartaji, dan betapa terkejutnya Pangeran Panji
Asmarabangun melihat Prabu Klono Sewandono bersama Dewi Sekartaji. Ketika
mengetahui Panji Asmarabangun datang, Prabu Klono Sewandono pergi meninggalkan
Dewi Sekartaji)
80

Panji Asmarabangun

Apa yang telah terjadi, Dewi Sekartaji? Apa yang telah kau lakukan ?

Dewi Sekartaji

Tidak, Pangeran. Apa yang telah kau lihat, tidak seperti yang apa terjadi sebenarnya!

Panji Asmarabangun

Pantaskah seorang puteri kerajaan berduan dan bermesraan dengan pria lain?!

Dewi Sekartaji

Itu tidak benar pangeran! Tidak benar! Prabu Klono Sewandono yang datang mencoba
merayu diriku.

Panji Asmarabangun

Tapi aku melihat dengan mataku sendiri bahwa kalian sedang berpelukan.

Dewi Sekartaji :

Itu tidak benar pangeran, sama sekali tidak benar!

Panji Asmarabangun

Sungguh keterlaluan yang telah kau lakukan. Kau menduakan cinta tulusku!

Dewi Sekartaji

Tidak, Pangeran. Itu semua tidaklah benar, tolong percayalah!

Panji Asmarabangun

Pergilah, pergilah dari kerajaanku! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi.

Dewi Sekartaji

Pangeran….

Panji Asmarabangun

Pergilah kau, Dewi Sekartaji!

BABAK KETIGA
81

Dalang

Kepergian Dewi Sekartaji terdengar oleh Raja Prabu Lembu Amiluhur, ayahanda Panji
Asmarabangun. Mendengar bahwa Dewi Sekartaji diusir oleh Panji Asmarabangun, Raja
Prabu Lembu Amiluhur marah besar. Raja Janggala tersebut mempertanyakan cinta Panji
Asmarabangun kepada Dewi Sekartaji. Raja Prabu Lembu Amiluhur mencoba mengusut
dan mencari kebenaran dengan memanggil dayang yang senantiasa menemani Dewi
Sekartaji. Setelah diusut, Dewi Sekartaji sama sekali tidak bersalah, ia tidak pernah
menduakan cinta sang Panji. Betapa menyesal Panji Asmarabangun mendengar hal
tersebut.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Pengawal, pengawal.. !

Pengawal Kerajaan

Mohon ampun Baginda Raja, apa yang bisa kami bantu.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Di mana pangeran Panji Asmarabangun?

Pengawal Kerajaan

Pangeran Panji Asmarabangun sedang di padepokan, Baginda.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Cepat panggil dia kemari!

Pengawal Kerajan :

Baik, akan kami laksanakan, Baginda!

(Pengawal kerajan pergi untuk menjemput Panji Asmarabangun, setelah itu datanglah
Panji Asmarabangun menghadap ke Raja Prabu Lembu Amilihur, ayahandanya.)

Panji Asmarabangun

Ada apa Ayahanda mencariku?

Raja Prabu Lembu Amiluhur


82

Apa yang telah kau lakukan pada Dewi Sekartaji? Mengapa kau mengusir dia dari
kerajaan?

Panji Asmarabangun

Apa yang telah dilakukan oleh Dewi Sekartaji sangatlah tidak terpuji, Ayahanda.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Memang apa yang telah diperbuat oleh Dewi Sekartaji, sehingga kau tega mengusirnya?

Panji Asmarabangun

Dewi Sekartaji telah bermesraan dengan pria lain, Ayahanda. Dia telah menduakan cinta
yang telah kuberikan padanya.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Aku sama sekali tidak percaya Dewi Sekartaji melakukan hal itu. Dia adalah perempuan
baik-baik!

Panji Asmarabangun

Aku sendiri yang telah melihat Dewi Sekartaji berpelukan dengan pria lain, bermesraan
dibelakangku.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Segampang itukah kau menuduh Dewi Sekartaji seperti itu?

Panji Asmarabangun :

Sudahlah ayahanda, aku sudah sangat kecewa padanya.

Raja Prabu Lembu Amiluhur :

Apa kau sudah mencoba mencari tahu dan megusut apa yang sebenarnya terjadi?
Jangan hanya karena kemarahan dan kecemburuanmu, hatimu menjadi buta!

Pengawal, sekarang panggil dayang-dayang yang selalu menemani Dewi Sekartaji!

Pengawal Kerajaan

Baik, Baginda. Akan kami laksanakan!


83

(Pengawal kerajaan pergi untuk mencari dayang-dayang yang selalu menemani dan
berada disisi Dewi Sekartaji. Kemudian datang dayang 1 yang selalu menemani Dewi
Sekartaji, dia menjelaskan suatu kebenaran yang telah terjadi, menjelaskan apa yang
sebenarnya telah terjadi di taman antara Dewi Sekartaji dan Prabu Klono Sewondono.)

Raja Prabu Lembu Amiluhur :

Apakah kau mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada Dewi Sekartaji? Apakah
dia benar telah menduakan Pangeran Panji Asmarabangun? Jelaskan apa yang
sebenarnya terjadi!

Dayang 1

Mohon ampun, Baginda Raja. Dewi Sekartaji merupakan perempuan yang sangat baik.
Dewi Sekartaji sama sekali tidak melakukan itu. Dewi Sekartaji tidak pernah menduakan
pangeran Panji Asmarabangun. Dewi Sekartaji sangat mencintai Pangeran Panji. Prabu
Klono Sewandono lah yang telah merayu dan mencoba untuk memeluk Dewi Sekartaji,
dan Dewi Sekartaji telah mencoba untuk menolak dan mengusir Prabu Klono
Sewandono.

Panji Asmarabangun

Apakah semua itu benar, apa benar yang telah kau ucapkan tadi?

Dayang 1

Benar, Pangeran. Saya sama sekali tidak berbohong.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Kesalahan besar telah kau lakukan, Panji. Kau telah menuduh Dewi Sekartaji, dan
mengusir dia dari istana. Sekarang cari Dewi Sekartaji dan bawa ia kembali ke istana!
Jangan harap kau boleh kembali sebelum engkau menemukan Dewi Sekartaji!

(Raja Prabu Lembu Amiluhur pergi meninggalkan Panji Asmarabangun, dan betapa
menyesalnya Panji Asmarabangun, ia tertunduk dalam penyeselan dan kesedihan yang
mendalam karena telah mengusir dan tidak mempercayai pasangannya.)

Panji Asmarabangun
84

Pengawal! Kita akan pergi mencari dan menemukan Dewi Sekartaji sampai ke pelosok-
pelosok kerajaan. Kita tidak akan kembali sampai kita menemukan Dewi Sekartaji dan
membawanya pulang ke istana!

Pengawal Kerajaan

Baik, Pangeran! Kemanapun pangeran pergi, kami akan senantiasa selalu menemani dan
melindungi Pangeran Panji.

Panji Asmarabangun

Untuk menemukan Dewi Sekartaji, kita harus menyamar menjadi rakyat biasa dan
menyatu dengan mereka.

Pengawal

Baik, Pangeran.

Panji Asmarabangun

Dan untuk itu, akan kuubah namaku menjadi Andi-ande Lumut.

BABAK KEEMPAT

Dalang

Dewi Sekartaji pergi jauh meninggalkan istana, kekecewaan dan perasaan sedih
menuntunnya pergi jauh meninggalkan Janggala. Namun rasa cinta pada Panji
Asmarabangun tak sedikit pun berkurang dari jiwanya. Langkah tak tentu arah
membawanya sampai pada suatu desa yang bernama desa Dadapan. Dewi Sekartaji
kemudian bertemu dengan wanita tua yang dipanggil mbok rondo dan diangkat sebagai
anak oleh mbok rondo.

Mbok Rondo

Lihat, semuanya kotor. Sampah-sampah belum dibersihkan.

Abang, Ijo, Ungu! Lihat, halaman rumah kotor semua!

Kalian semua ngapain saja? Tidak pernah mau bersih-bersih rumah, nyuci baju, masak.
Kerjanya Cuma tidur saja. Bantu-bantu ibu bersih-bersih rumah kan bisa!
85

Klenting Abang

Tidak tahu, Ijo, Ungu ini.

Klenting Ijo

Kau juga!

Klenting Ungu

Iya, kau juga!

Dewi Sekartaji

Ada di mana aku ini?

Duh Gusti, sang pemilik jiwa. Kemanakah harus kubawa langkah kaki ini? Ke mana harus
kubawa raga ini? Kenapa semua ini terjadi? Kau renggut kebahagian dan cintaku.

(Saat berjalan, Dewi Sekartaji tidak sengaja menabrak mbok rondo yang sedang
membersihkan halaman rumah)

Mbok Rondo

Aduh! Kau ini!

Punya mata atau tidak buat melihat! Lihat! Aku jadi terjatuh ke tanah.

Klenting Abang

Iya, kau ini punya pantat apa tidak untuk melihat?!

Klenting Ungu

Pantat?

Klenting Ijo

Mata, Abang! Mata!

Klenting Abang

Oh iya, kau ini punya mata apa tidak untuk melihat!

Dewi Sekartaji

Maaf, maaf. Saya tidak sengaja. Saya bantu untuk berdiri.


86

Mbok Rondo

Memangnya hendak pergi kemana kau?

Dewi Sekartaji

Saya tidak tahu mau kemana. Saya tidak ada tujuan. Tidak tahu harus ke mana.

Mbok Rondo

Kalau seperti itu apakah kau mau ikut denganku dan tinggal dir umahku?

Dewi Sekartaji

Ikut Embok?

Mbok Rondo

Iya, ikut aku, tinggal denganku di sini.

Dewi Sekartaji

Iya Mbok, saya mau.

Mbok Rondo

Ngomong-ngomong, siapa namamu?

Dewi Sekartaji

Namaku?!

Mbok Rondo

Baiklah, akan aku panggil kau dengan nama Klenting Kuning, ya Klenting Kuning?

Dewi Sekartaji

Baik, Mbok Rondo.

Klenting Ijo

Apa, dia akan tinggal dengan kita di sini?

Klenting Ungu

Kenapa ibu suruh dia tinggal dengan kita?


87

Klenting Abang

Wah, rumah kita jadi tambah ramai.

Mbok Rondo

Diamlah kalian! Dia bisa kita suruh-suruh untuk mengerjakan pekerjaan rumah, jika dia
tinggal disini.

(Klenting Abang, Klenting Ijo, Klenting Kuning, dan mbok rondo kemudian tersenyum,
mereka mempunyai rencana untuk menjadikan Dewi Sekartaji sebagai budak untuk
membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga di rumah mbok rondo)

Mbok Rondo

Oh iya, perkenalkanlah, ini ketiga anakku. Mereka sekarang akan menjadi saudaramu. Ini
Klenting Abang, ini Klenting Ijo, dan ini Klenting Ungu.

Klenting Kuning

Iya. Salam saudara-saudaraku.

Semoga, kita bisa menjadi saudara yang baik.

Mbok Rondo

Sekarang Kuning, tolong bantu aku lanjutkan menyapu ya? Aku mau masuk dulu.

Klenting Kuning

Iya mbok.

(Mbok rondo dan ketiga anaknya kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan
Klenting Kuning menyapu sendirian. Setelah selesai menyapu, ketiga anak mbok rondo,
Klenting Abang, Ijo, Ungu menyuruh-nyuruh Klenting Kuning untuk membantu dan
menyelesaikan pekerjaaan rumah mereka. Kemudian datang pengawal Ande-ande
Lumut yang menyebarkan pemberitahuan bahwa Ande-ande Lumut sedang
mengadakan lamaran terbuka)

Klenting Ungu

Kuning, Kuning, tolong bantu aku menyuci pakaianku.

Klenting Ijo
88

Kuning, aku lapar, bisa kau beli makanan di pasar?

Klenting Abang

Kuning, di mana kau? Tolong bantu aku menyisir rambut, Kuning.

Klenting Kuning

Iya, sebentar.

Pengawal Ande-ande Lumut

Pengumuman! Pengumuman! Bagi perempuan yang ingin mempunyai suami yang


tampan dan kaya, telah dibuka lamaran terbuka bagi seluruh perempuan. Pemuda itu
adalah Ande-ande Lumut, pemuda tampan dan kaya. Silakan datang ke Petilasan Ande-
ande Lumut, di seberang Sungai Brantas.

Mbok Rondo

Ada apa? Ada apa?

Klenting Ijo

Itu ibu, ada seorang pemuda kaya membuka lamaran terbuka di seberang Sungai Brantas
sana.

Klenting Ungu

Iya ibu, iya. Kalau tidak salah tadi namanya Ande-ande Lumut.

Mbok Rondo

Apa? Pemuda kaya ?

Klenting Abang

Iya ibu, dia pemuda kaya.

Wah, aku harus ikut, siapa tahu dia memilih aku, dan aku akan menjadi istri dari pemuda
kaya.

Klenting Ijo

Tidak mungkin, pasti dia memilih aku.

Klenting Ungu
89

Pasti dia lebih memilih aku, karena aku yang paling cantik di antara kalian.

Klenting Abang

Aku pasti yang akan dipilih.

Mbok Rondo

Kalian bertiga harus ikut, pasti salah satu diantara kalian akan terpilih. Sekarang kalian
siap-siap dan merias wajah kalian supaya lebih cantik dan bisa mengalahkan perempuan-
perempuan yang lainnya. Ayo, cepat-cepat! Sekarang kalian harus bersiap-siap untuk ikut
melamar si pemuda tersebut.

Klenting Ijo

Iya, Ibu.

Klenting Kuning

Siapa Ande-ande Lumut? Aku ingin tahu siapa pemuda itu, si Ande-ande Lumut. Namun,
kalau aku ingin mengetahui siapa dia maka aku harus ikut kesana, ke tempat si Ande-
ande Lumut. Tapi apakah aku harus ikut? Iya, aku harus kesana. Aku ingin tahu siapa dia.

Mbok, maaf, apakah aku bisa ikut bersama Klenting Abang, Ijo, Ungu ke tempat si Ande-
ande Lumut ?

Mbok Rondo

Apa? Ikut? Terus siapa yang akan membantu aku di rumah?

Klenting Kuning

Saya mohon, saya janji akan menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah sebelum saya
berangkat.

Mbok Rondo

Baiklah, kau boleh ikut, tapi dengan satu syarat.

(Mbok rondo mengambil pakaian lusuh, dan kotoran ayam)

Mbok Rondo

Kau boleh ikut, tapi kau harus memakai pakaian ini dan melumuri tubuhmu dengan
kotoran ini, karena aku ingin anak-anakku yang akan menang.
90

Klenting Kuning

Baik, Mbok. Aku akan memakai pakaian ini, dan melumuri tubuhku dengan kotoran ini.
Aku ingin ke sana hanya ingin mengetahui siapa si Ande-ande Lumut itu.

Mbok Rondo

Pokoknya yang jelas kau harus memakai pakaian ini, dan kotoran ini.

Klenting Kuning

Iya, Mbok.

BABAK KELIMA

(Para Klenting berangat ke petilasan Ande-ande Lumut, namun di tengah perjalanan


ketika hendak menyeberangi Sungai Brantas, datang Yuyukangkang yang merupakan
jelmaan dari Prabu Klono Sewandono yang hendak menghalangi perjalanan mereka.)

Klenting Ijo

Kenapa dia harus ikut dengan kita?

Klenting Ungu

Membuat malu kita saja. Sudah lusuh! Bau!

Klenting Abang

Iya, aku tidak tahan baunya. Busuk.

Klenting Kuning

Abang, Ijo, Ungu, tunggu! Jangan tinggalkan aku.

Klenting Ijo

Jangan dekat-dekat dengan kami. Kami tidak ingin tubuh kami bau seperti kau.

Klenting Ungu

Iya, kami juga malu karena harus pergi bersamamu.

Klenting Abang

Iya.
91

Klenting Kuning

Iya, tapi tolong, jangan tinggalkan aku.

Klenting Ijo

Ayo, cepat-cepat!

(Kemudian datang Yuyukangkang yang menghalangi perjalanan para Klenting.)

Yuyukangkang

Hahaha... Mau kemana kalian perempuan-perempuan cantik?

Klenting Ungu

Siapa kau?

Yuyukangkang

Aku adalah Yuyukangkang, penguasa Sungai Brantas.

Klenting Ijo

Biarkan kami lewat, kami ingin menyeberangi Sungai Brantas untuk menemui Ande-ande
Lumut. Awas, biarkan kami lewat!

Yuyukangkang

Jika kalian mau menyeberangi sungai ini, ada satu syarat yang harus kalian lakukan
untukku.

Klenting Ijo

Apa syarat itu?

Yuyukangkang

Kalian harus menciumku terlebih dahulu, kemudian aku akan membiarkan kalian lewat
untuk menyeberangi sungai ini.

Klenting Abang

Ijo, bagaimana?

Klenting Ijo
92

Kita harus melakukan itu, supaya kita bisa lewat dan menyeberangi sungai itu.

Klenting Ungu

Baiklah, tapi….

Klenting Ijo

Baik, Yuyukangkang. Kami akan melakukan itu, tapi kau harus berjanji, akan membiarkan
kami lewat.

Klenting Kuning

Jangan, kalian jangan lakukan itu.

Klenting Ungu

Terserah, bila kau tidak mau melakukan itu maka tetaplah di sini.

Yuyukangkang

Ayo ciumlah aku sekarang. Hahaha..

(Klenting, Abang, Ijo, Ungu, satu per satu maju untuk mencium Yuyukangkang agar bisa
lewat dan menyeberangi Sungai Brantas, dan hanya tersisa Klenting Kuning yang enggan
untuk mencium Yuyukangkang.)

Yuyukangkang

Hai kau perempuan bau, pergilah! Jangan sekali-kali kau mendekatiku. Pergilah.

Klenting Kuning

Aku akan pergi, tapi biarkan aku lewat dan menyeberangi Sungai Brantas.

Yuyukangkang

Tidak, tidak akan kubiarkan kau melewati sungai ini.

Klenting Kuning

Bagaimanapun juga aku akan tetep melewati sungai ini, meskipun harus melawanmu!

Yuyukangkang

Berani kau menantangku?!


93

Klenting Kuning

Kenapa aku tidak berani denganmu?

Yuyukangkang

Awas kau perempuan busuk!

(Pertempuran antara Yuyukangkang dan Klenting Kuning berlangsung begitu hebat,


kemudian Klenting Kuning mengeluarkan senjata carang kuning, dan pada akhirnya
pertempuran dimenangkan oleh Klenting Kuning)

Yuyukangkang

Senjata itu? Kau adalah Dewi Sekartaji?

Klenting Kuning

Sungai ini bukan milikmu! Jangan sekali-kali kau menghalangi atau menggangu orang
yang hendak melintasi sungai ini. Sekarang pergilah! Pergi!

BABAK KEENAM

Dalang

Setelah menyeberangi Sungai Brantas, Klenting Abang, Ijo, Ungu akhirnya sampai di
petilasan Ande-ande Lumut. Mereka kemudian mencoba untuk melamar di Ande-ande
Lumut, namun hanya penolakan yang mereka terima.

Klenting Abang

Lihat! Itu petilasan Ande-ande Lumut, banyak yang ikut melamar, tapi pasti aku yang
akan dipilih oleh Ande-ande Lumut.

Klenting Ungu

Jelas dia akan memilih aku, aku yang akan menjadi istri Ande-ande Lumut.

Klenting Ijo

Ayo, kita segera ke sana!

Klenting Ungu

Kakang Ande-ande Lumut, kami datang kemari untuk melamarmu.


94

Klenting Ijo

Kakang, aku pasti akan menjadi isteri yang baik untukmu kakang Ande-ande Lumut.
Pilihlah aku, Kakang.

Klenting Abang

Pilih aku, Kakang. Aku ingin menjadi isterimu, pilihlah aku.

Ande-ande Lumut

Pulanglah, aku tidak bisa menerima kalian.

Klenting Ijo

Tapi kenapa, Kakang?

Klenting Ungu

Aku sudah datang dari jauh untuk melamarmu.

Klenting Abang

Kakang, aku ingin menjadi isterimu.

Ande-ande Lumut

Pulanglah, kalian bukanlah yang kucari.

Klenting Ijo

Tapi, Kakang?

Klenting Ungu

Percuma kita datang jauh-jauh, hanya untuk menerima penolakan darimu.

(Klenting Kuning datang setelah berhasil memenagkan pertempuran dengan


Yuyukangkang)

Klenting Abang

Kuning ?

Ijo, Ungu, lihat itu si Kuning.

Klenting Ungu
95

Sudah kembalilah Kuning, jelas si Ande-ande Lumut tidak akan memilihmu, bahkan untuk
menatapmu.

Ande-ande Lumut

Dewi Sekartaji! Dewi!

Klenting Kuning

Kangmas Panji, kau kah itu?

Ande-ande Lumut

Iya, Dewi. Ini aku Panji Asmarabangun.

Klenting Kuning

Kenapa kau di sini?

Ande-ande Lumut :

Pulanglah Dewi, kembali bersamaku. Aku minta maaf, aku telah mengetahui yang
sebenarnya terjadi, maafkan aku. Aku sangat mencitaimu, pulanglah kembali bersamaku.

ANDE-ANDE LUMUT

Tari Klana gending Kalongan slendro pathet sepuluh


Pathet Wolu
(Gending Ayak slendro pathet wolu)

(Gending Jula-Juli slendro Wolu)


Janturan Dalang
Awal sebuah kisah pencarian cinta oleh Dewi Sekartaji, sebuah sayembara, pertandingan
perang melawan Dewi Sekartaji. Perang tanding mendapatkan cinta Dewi Sekartaji bagi
96

yang sanggup mengalahkan sang Dewi. Banyak lelaki dari berbagai kerajaan datang
untuk mengikuti sayembara perebutan hati Dewi Sekartaji, namun tak ada yang sanggup
mengalahkan dan merebut hati sang Dewi. Datang seorang pangeran tampan, pangeran
kerajaan Janggala, pangeran Panji Asmarabangun mengajukan jiwa dan raga mengikuti
sayembara perang tanding menaklukkan hati Dewi Sekartaji, memperoleh cinta dari sang
Dewi. Kedatangan pangeran Janggala menggelorakan hati Sekartaji. Tatapan mata tak
teralihkan hanya tertuju pada Panji Asmarabangun. Perang tanding antara Dewi Sekartaji
dan Panji Asmarabangun dimulai. Panji berhasil mengalahkan sang Dewi, dan sesuai
perjanjian siapa yang dapat mengalahkan Dewi, maka akan menjadi suaminya. Panji pun
berhak atas cinta sang Dewi. Kekalahan Dewi Sekartaji mengantarkannya pada Panji,
kekalahan yang ia sengaja karena cinta pada lawan tandingnya, sebuah cinta untuk
memiliki Panji Asmarabangun.

Suatu hari saat Dewi Sekartaji tengah duduk di sebuah taman menunggu kedatangan
Panji Asmarabangun, datang seorang lelaki, namun ia bukanlah Panji Asmarabangun,
melainkan Prabu Klono Sewandono, seseorang yang juga pernah mencintai Sekartaji,
namun ditolak. Dewi Sekartaji digoda dan dirayu oleh Prabu Klono Sewandono, namun
sang Dewi mengabaikan rayuan itu. Tak lama kemudian, datanglah Panji Asmarabangun
yang mendapati Dewi Sekartaji tengah berduaan dengan Prabu Klono Sewandono.
Kecemburuan menyeruak dalam diri Panji serta mempertanyakan kesetiaan dan cinta
sang Dewi. Dewi Sekartaji mencoba menjelaskan apa yang tengah terjadi antara dirinya
dan Prabu Klono Sewandono, akan tetapi kecemburuan telah membutakan hati Panji.
Murka Panji tak terbendung lagi. Lantas diusirlah Dewi Sekartaji dari kerajaan. Dewi
Sekartaji berlari sambil menangis pergi meninggalkan kerajaan, jauh pergi meninggalkan
kerjaan. Sang Baginda Raja Prabu Lembu Amilihur mempertanyakan kepergian dari Dewi
Sekartaji. Panji Asmarabangun menjelaskan bahwa Dewi Sekartaji telah menduakan
cintanya. Namun Raja tak begitu saja percaya. Dipanggillah dayang yang setiap saat
berada didekat sang Dewi Sekartaji hingga diketahui kebenarannya, dan pencarian Dewi
Sekartaji oleh Panji Asmarabangun dengan menyamar menjadi Ande-ande Lumut
dimulai.

BABAK PERTAMA
Dalang

Awal kisah tentang seorang puteri, puteri dari kerajaan Panjalu, Dewi Sekartaji yang
sedang mengadakan sayembara, perang tanding pencarian cinta sejati, perang tanding
untuk memperoleh dirinya. Sebuah sayembara untuk memperoleh Dewi Sekartaji bagi
97

pria yang mampu mengalahkan Dewi Sekartaji dan merebut hati sang Dewi. Banyak pria
yang telah datang dan berperang tanding dengan sang puteri Panjalu, namun tidak
satupun yang mampu mengalahkan dan merebut hati Dewi Sekartaji, kecuali Panji
Asmarabangun.

Dewi Sekartaji

Sampai kapankah aku harus menunggu dan menemukan pria yang sanggup
mengalahkanku dalam perang tanding hingga membuatku jatuh hati kepadanya,
Dayang?

Dayang 1

Bersabarlah, Dewi. Sabar. Kelak, Dewi pasti akan menemukan pria yang tampan dan kuat,
yang akan mampu mengalahkan Dewi dalam perang tanding hingga membuat Dewi
jatuh hati kepadanya. Bersabarlah.

Dewi Sekartaji

Tapi, sampai berapa lama lagi aku harus menunggu?

Dayang 1

Dewi hanya perlu bersabar. Menunggu waktu yang akan mempertemukan Dewi dengan
pria yang tepat untuk Dewi.

(Datang Dayang 2 yang mengabarkan pada Dewi Sekartaji bahwa ada seorang pria yang
berniat mengikuti sayembara dan perang tanding untuk menaklukkan hati Dewi
Sekartaji.)

Dayang 2

Dewi... Dewi... Dewi Sekartaji!

Dewi Sekartaji

Ada apa? Kenapa kau teriak-teriak seperti itu?

Dayang 2

Maaf, Dewi. Di sana ada seorang pria yang berniat mengukuti sayembara, Dewi!

Dewi Sekartaji
98

Siapa pria itu?

Dayang 2

Maaf, Dewi. Saya tidak mengenal pria tersebut.

Dewi Sekartaji

Baiklah, suruh dia menemuiku.

Dayang 2:

Iya, Dewi. Saya akan mengantarkan pria tersebut menemui Dewi.

(Dayang 2 menjemput Prabu Klono Sewandono, pria yang hendak mengikuti sayembara.
Dayang 2 menagantarkan Prabu Klono Sewandono menemui Dewi Sekartaji.)

Dewi Sekartaji

Siapakah namamu?

Prabu Klono Sewandono

Hahaha….

Akulah Prabu Klono Sewandono, penguasa Sungai Brantas.

Dewi Sekartaji

Lantas, apa tujuanmu datang ke istanaku?

Prabu Klono Sewandono

Tujuanku kemari hanya satu. Aku akan menjadi suamimu! Hahaha….

Dewi Sekartaji

Kalau kau ingin menjadi suamiku, kau harus bisa mengalahkanku dalam perang tanding
melawanku. Sanggupkah kau mengalahkanku, Prabu Klono Sewandono?

Prabu Klono Sewandono

Tidak mungkin aku akan kalah melawanmu. Bersiaplah untuk menjadi milikku, Dewi
Sekartaji.

Dewi Sekartaji
99

Mari kita buktikan dalam perang tanding.

Prabu Klono Sewandono :

Baiklah, Dewi Sekartaji. Aku terima tantanganmu.

(Terjadi perang tanding antara Dewi Sekartaji dan Prabu Klono Sewandono. Pertarungan
yang sangat sengit demi sebuah kemenangan. Prabu Klono Sewandono tak mau kalah
karena ia sangat ingin memiliki Dewi Sekartaji. Demikian pula dengan Dewi Sekartaji, ia
sama sekali tidak ada ketertarikan dengan Prabu Klono Sewandono, maka ia harus bisa
mengalahkannya. Dewi Sekartaji kemudian mengeluarkan senjata carang kuning.
Akhirnya Prabu Klono Sewandono berhasil dikalahkan oleh Dewi Sekartaji.)

Dewi Sekartaji

Maaf, Prabu Klono Sewandono. Aku tidak bisa menerimamu.

Prabu Klono Sewandono

Tapi, aku sangat menginginkan dirimu, Dewi Sekartaji.

Dewi Sekartaji

Pergilah, aku tidak bisa menerimamu.

(Prabu Klono Sewandono pergi meninggalkan Dewi Sekartaji dengan kekecewaan dan
kemarahan karena gagal memiliki Dewi Sekartaji. Kemudian datang rombongan dari
kerajaan Janggala mengantarkan Pangeran Panji Asmarabangun untuk mengikuti
sayembara perang tanding.)

Panji Asmarabangun

Salam, Dewi Sekartaji puteri Kerajaan Panjalu.

Dewi Sekartaji

Salam, siapakah dirimu?

Panji Asmarabangun

Aku adalah Panji Asmarabangun, pangeran sekaligus penerus kerajaan Janggala.

Dewi Sekartaji
100

Apa niat hati engkau datang kemari?

Panji Asmarabangun

Aku datang kemari untuk mengikuti sayembara agar bisa meminang dirimu, Dewi
Sekartaji.

Dewi Sekartaji

Baik, pangeran Panji Asmarabangun. Sebelum meminang diriku, kau harus bisa
mengalahkanku dalam perang tanding. Jika dalam perang tading ini kau kalah, maka kau
tak bisa meminangku.

Panji Asmarabangun

Aku terima syarat darimu, apabila aku berhasil mengalahkanmu, maka terimalah
pinanganku.

Dewi Sekartaji

Baik, Pangeran.

(Terjadi perang tanding antara Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun. Sejak tatapan
pertama, Dewi Sekartaji telah jatuh hati pada pangeran Jenggala, tidak ada perlawanan
dari Dewi Sekartaji dalam perang tanding. Panji Asmarabangun akhirnya berhasil
mengalahkan Dewi Sekartaji tanpa ada perlawanan yang berat)

Panji Asmarabangun

Akulah takdirmu, Dewi Sekartaji.

Dewi Sekartaji

Apa yang akan kau berikan padaku, Pangeran Janggala.

Panji Asmarabangun :

Akan kusembahkan seluruh jiwa dan raga untuk dirimu. Terimalah pinangan dariku, Dewi.
Akan kuserahkan seluruh cinta padamu. Bagaimana, Dewi ?

Dewi Sekartaji

Tak akan aku menghianati ucapanku. Siapa yang sanggup mengalahkanku. Ia berhak
akan diriku. Namun, berjanjilah, kau tak akan mengkhianatiku.
101

BABAK KEDUA

Dalang

Suatu hari yang cerah. Terik sang surya menerangi Janggala. Burung-burung saling
terbang dan berhinggapan di reranting pohon. Kicauan burung bagai lantunan lagu yang
merdu. Angin berembus menerpa dedauan dalam rerimbungan pohon. Bunga
bermekaran menebarkan keharuman dirinya. Dewi Sekartaji duduk menunggu
kedatangan Pangeran Panji Asmarabangun. Senyum terlukis di wajah Dewi Sekartaji saat
menunggu sang belahan jiwa. Namun bukan pangeran Panji Asmarabangun yang datang
menemuinya, melainkan Prabu Klono Sewandono, pria yang pernah mencoba merayu
Dewi Sekartaji.

Dewi Sekartaji

Apakah kau mendengar kicauan burung itu?

Dayang 1

Iya, Dewi. Saya dengar.

Dewi Sekartaji

Suara burung itu terdengar sangat merdu.

Dayang 1

Iya, Dewi. Suaranya dapat menenangkan hati orang yang mendengarnya.

Dewi Sekartaji

Oh iya, apa kau melihat pangeran Panji? Di mana dia?

Dayang 1

Maaf, Dewi. Hamba tidak melihat pangeran Panji Asmarabangun.

Dewi Sekartaji

Ke mana dia? Dia bilang mau menjemputku di taman ini.

Dayang 1

Mungkin pangeran Panji masih ada urusan kerajaan, Dewi.


102

Dewi Sekartaji

Iya, mungkin.

(Datang Prabu Klono Sewandono mendekati Dewi Sekartaji hendak mencoba merayu
Dewi Sekartaji)

Prabu Klono Sewandono

Salam ku ucapkan padamu, Dewi Sekartaji.

Dewi Sekartaji

Ada apa? Apa urusanmu di sini?

Prabu Klono Sewandono

Tidak ada apa-apa, Dewi. Aku hanya ingin menemui dirimu. Aku sangat rindu dan ingin
bertemu denganmu.

Dewi Sekartaji

Pergilah kau Prabu Klono Sewandono! Aku tidak mengharapkan kau ada di sini!

Prabu Klono Sewandono

Apakah salah jika aku ingin menemui dirimu, Dewi?

Dewi Sekartaji

Tapi aku tidak ingin bertemu dengan dirimu! Pergilah!

Prabu Klono Sewandono

Kenapa, Dewi? Aku ingin melihat wajah indah dan cantikmu.

(Prabu Klono Sewandono berusaha memeluk Dewi Sekartaji. Kemudian datang Pangeran
Panji Asmarabangun menemui Dewi Sekartaji, dan betapa terkejutnya Pangeran Panji
Asmarabangun melihat Prabu Klono Sewandono bersama Dewi Sekartaji. Ketika
mengetahui Panji Asmarabangun datang, Prabu Klono Sewandono pergi meninggalkan
Dewi Sekartaji)

Panji Asmarabangun

Apa yang telah terjadi, Dewi Sekartaji? Apa yang telah kau lakukan ?
103

Dewi Sekartaji

Tidak, Pangeran. Apa yang telah kau lihat, tidak seperti yang apa terjadi sebenarnya!

Panji Asmarabangun

Pantaskah seorang puteri kerajaan berduan dan bermesraan dengan pria lain?!

Dewi Sekartaji

Itu tidak benar pangeran! Tidak benar! Prabu Klono Sewandono yang datang mencoba
merayu diriku.

Panji Asmarabangun

Tapi aku melihat dengan mataku sendiri bahwa kalian sedang berpelukan.

Dewi Sekartaji :

Itu tidak benar pangeran, sama sekali tidak benar!

Panji Asmarabangun

Sungguh keterlaluan yang telah kau lakukan. Kau menduakan cinta tulusku!

Dewi Sekartaji

Tidak, Pangeran. Itu semua tidaklah benar, tolong percayalah!

Panji Asmarabangun

Pergilah, pergilah dari kerajaanku! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi.

Dewi Sekartaji

Pangeran….

Panji Asmarabangun

Pergilah kau, Dewi Sekartaji!

BABAK KETIGA

Dalang

Kepergian Dewi Sekartaji terdengar oleh Raja Prabu Lembu Amiluhur, ayahanda Panji
Asmarabangun. Mendengar bahwa Dewi Sekartaji diusir oleh Panji Asmarabangun, Raja
104

Prabu Lembu Amiluhur marah besar. Raja Janggala tersebut mempertanyakan cinta Panji
Asmarabangun kepada Dewi Sekartaji. Raja Prabu Lembu Amiluhur mencoba mengusut
dan mencari kebenaran dengan memanggil dayang yang senantiasa menemani Dewi
Sekartaji. Setelah diusut, Dewi Sekartaji sama sekali tidak bersalah, ia tidak pernah
menduakan cinta sang Panji. Betapa menyesal Panji Asmarabangun mendengar hal
tersebut.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Pengawal, pengawal.. !

Pengawal Kerajaan

Mohon ampun Baginda Raja, apa yang bisa kami bantu.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Di mana pangeran Panji Asmarabangun?

Pengawal Kerajaan

Pangeran Panji Asmarabangun sedang di padepokan, Baginda.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Cepat panggil dia kemari!

Pengawal Kerajan :

Baik, akan kami laksanakan, Baginda!

(Pengawal kerajan pergi untuk menjemput Panji Asmarabangun, setelah itu datanglah
Panji Asmarabangun menghadap ke Raja Prabu Lembu Amilihur, ayahandanya.)

Panji Asmarabangun

Ada apa Ayahanda mencariku?

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Apa yang telah kau lakukan pada Dewi Sekartaji? Mengapa kau mengusir dia dari
kerajaan?

Panji Asmarabangun
105

Apa yang telah dilakukan oleh Dewi Sekartaji sangatlah tidak terpuji, Ayahanda.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Memang apa yang telah diperbuat oleh Dewi Sekartaji, sehingga kau tega mengusirnya?

Panji Asmarabangun

Dewi Sekartaji telah bermesraan dengan pria lain, Ayahanda. Dia telah menduakan cinta
yang telah kuberikan padanya.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Aku sama sekali tidak percaya Dewi Sekartaji melakukan hal itu. Dia adalah perempuan
baik-baik!

Panji Asmarabangun

Aku sendiri yang telah melihat Dewi Sekartaji berpelukan dengan pria lain, bermesraan
dibelakangku.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Segampang itukah kau menuduh Dewi Sekartaji seperti itu?

Panji Asmarabangun :

Sudahlah ayahanda, aku sudah sangat kecewa padanya.

Raja Prabu Lembu Amiluhur :

Apa kau sudah mencoba mencari tahu dan megusut apa yang sebenarnya terjadi?
Jangan hanya karena kemarahan dan kecemburuanmu, hatimu menjadi buta!

Pengawal, sekarang panggil dayang-dayang yang selalu menemani Dewi Sekartaji!

Pengawal Kerajaan

Baik, Baginda. Akan kami laksanakan!

(Pengawal kerajaan pergi untuk mencari dayang-dayang yang selalu menemani dan
berada disisi Dewi Sekartaji. Kemudian datang dayang 1 yang selalu menemani Dewi
Sekartaji, dia menjelaskan suatu kebenaran yang telah terjadi, menjelaskan apa yang
sebenarnya telah terjadi di taman antara Dewi Sekartaji dan Prabu Klono Sewondono.)
106

Raja Prabu Lembu Amiluhur :

Apakah kau mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada Dewi Sekartaji? Apakah
dia benar telah menduakan Pangeran Panji Asmarabangun? Jelaskan apa yang
sebenarnya terjadi!

Dayang 1

Mohon ampun, Baginda Raja. Dewi Sekartaji merupakan perempuan yang sangat baik.
Dewi Sekartaji sama sekali tidak melakukan itu. Dewi Sekartaji tidak pernah menduakan
pangeran Panji Asmarabangun. Dewi Sekartaji sangat mencintai Pangeran Panji. Prabu
Klono Sewandono lah yang telah merayu dan mencoba untuk memeluk Dewi Sekartaji,
dan Dewi Sekartaji telah mencoba untuk menolak dan mengusir Prabu Klono
Sewandono.

Panji Asmarabangun

Apakah semua itu benar, apa benar yang telah kau ucapkan tadi?

Dayang 1

Benar, Pangeran. Saya sama sekali tidak berbohong.

Raja Prabu Lembu Amiluhur

Kesalahan besar telah kau lakukan, Panji. Kau telah menuduh Dewi Sekartaji, dan
mengusir dia dari istana. Sekarang cari Dewi Sekartaji dan bawa ia kembali ke istana!
Jangan harap kau boleh kembali sebelum engkau menemukan Dewi Sekartaji!

(Raja Prabu Lembu Amiluhur pergi meninggalkan Panji Asmarabangun, dan betapa
menyesalnya Panji Asmarabangun, ia tertunduk dalam penyeselan dan kesedihan yang
mendalam karena telah mengusir dan tidak mempercayai pasangannya.)

Panji Asmarabangun :

Pengawal! Kita akan pergi mencari dan menemukan Dewi Sekartaji sampai ke pelosok-
pelosok kerajaan. Kita tidak akan kembali sampai kita menemukan Dewi Sekartaji dan
membawanya pulang ke istana!

Pengawal Kerajaan

Baik, Pangeran! Kemanapun pangeran pergi, kami akan senantiasa selalu menemani dan
melindungi Pangeran Panji.
107

Panji Asmarabangun

Untuk menemukan Dewi Sekartaji, kita harus menyamar menjadi rakyat biasa dan
menyatu dengan mereka.

Pengawal

Baik, Pangeran.

Panji Asmarabangun

Dan untuk itu, akan kuubah namaku menjadi Andi-ande Lumut.

BABAK KEEMPAT

Dalang

Dewi Sekartaji pergi jauh meninggalkan istana, kekecewaan dan perasaan sedih
menuntunnya pergi jauh meninggalkan Janggala. Namun rasa cinta pada Panji
Asmarabangun tak sedikit pun berkurang dari jiwanya. Langkah tak tentu arah
membawanya sampai pada suatu desa yang bernama desa Dadapan. Dewi Sekartaji
kemudian bertemu dengan wanita tua yang dipanggil mbok rondo dan diangkat sebagai
anak oleh mbok rondo.

Mbok Rondo

Lihat, semuanya kotor. Sampah-sampah belum dibersihkan.

Abang, Ijo, Ungu! Lihat, halaman rumah kotor semua!

Kalian semua ngapain saja? Tidak pernah mau bersih-bersih rumah, nyuci baju, masak.
Kerjanya Cuma tidur saja. Bantu-bantu ibu bersih-bersih rumah kan bisa!

Klenting Abang

Tidak tahu, Ijo, Ungu ini.

Klenting Ijo

Kau juga!

Klenting Ungu

Iya, kau juga!

Dewi Sekartaji
108

Ada di mana aku ini?

Duh Gusti, sang pemilik jiwa. Kemanakah harus kubawa langkah kaki ini? Ke mana harus
kubawa raga ini? Kenapa semua ini terjadi? Kau renggut kebahagian dan cintaku.

(Saat berjalan, Dewi Sekartaji tidak sengaja menabrak mbok rondo yang sedang
membersihkan halaman rumah)

Mbok Rondo

Aduh! Kau ini!

Punya mata atau tidak buat melihat! Lihat! Aku jadi terjatuh ke tanah.

Klenting Abang

Iya, kau ini punya pantat apa tidak untuk melihat?!

Klenting Ungu

Pantat?

Klenting Ijo

Mata, Abang! Mata!

Klenting Abang

Oh iya, kau ini punya mata apa tidak untuk melihat!

Dewi Sekartaji

Maaf, maaf. Saya tidak sengaja. Saya bantu untuk berdiri.

Mbok Rondo

Memangnya hendak pergi kemana kau?

Dewi Sekartaji

Saya tidak tahu mau kemana. Saya tidak ada tujuan. Tidak tahu harus ke mana.

Mbok Rondo

Kalau seperti itu apakah kau mau ikut denganku dan tinggal dir umahku?

Dewi Sekartaji
109

Ikut Embok?

Mbok Rondo

Iya, ikut aku, tinggal denganku di sini.

Dewi Sekartaji

Iya Mbok, saya mau.

Mbok Rondo

Ngomong-ngomong, siapa namamu?

Dewi Sekartaji

Namaku?!

Mbok Rondo

Baiklah, akan aku panggil kau dengan nama Klenting Kuning, ya Klenting Kuning?

Dewi Sekartaji

Baik, Mbok Rondo.

Klenting Ijo

Apa, dia akan tinggal dengan kita di sini?

Klenting Ungu

Kenapa ibu suruh dia tinggal dengan kita?

Klenting Abang

Wah, rumah kita jadi tambah ramai.

Mbok Rondo

Diamlah kalian! Dia bisa kita suruh-suruh untuk mengerjakan pekerjaan rumah, jika dia
tinggal disini.

(Klenting Abang, Klenting Ijo, Klenting Kuning, dan mbok rondo kemudian tersenyum,
mereka mempunyai rencana untuk menjadikan Dewi Sekartaji sebagai budak untuk
membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga di rumah mbok rondo)
110

Mbok Rondo

Oh iya, perkenalkanlah, ini ketiga anakku. Mereka sekarang akan menjadi saudaramu. Ini
Klenting Abang, ini Klenting Ijo, dan ini Klenting Ungu.

Klenting Kuning

Iya. Salam saudara-saudaraku.

Semoga, kita bisa menjadi saudara yang baik.

Mbok Rondo

Sekarang Kuning, tolong bantu aku lanjutkan menyapu ya? Aku mau masuk dulu.

Klenting Kuning

Iya mbok.

(Mbok rondo dan ketiga anaknya kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan
Klenting Kuning menyapu sendirian. Setelah selesai menyapu, ketiga anak mbok rondo,
Klenting Abang, Ijo, Ungu menyuruh-nyuruh Klenting Kuning untuk membantu dan
menyelesaikan pekerjaaan rumah mereka. Kemudian datang pengawal Ande-ande
Lumut yang menyebarkan pemberitahuan bahwa Ande-ande Lumut sedang
mengadakan lamaran terbuka)

Klenting Ungu

Kuning, Kuning, tolong bantu aku menyuci pakaianku.

Klenting Ijo

Kuning, aku lapar, bisa kau beli makanan di pasar?

Klenting Abang

Kuning, di mana kau? Tolong bantu aku menyisir rambut, Kuning.

Klenting Kuning

Iya, sebentar.

Pengawal Ande-ande Lumut


111

Pengumuman! Pengumuman! Bagi perempuan yang ingin mempunyai suami yang


tampan dan kaya, telah dibuka lamaran terbuka bagi seluruh perempuan. Pemuda itu
adalah Ande-ande Lumut, pemuda tampan dan kaya. Silakan datang ke Petilasan Ande-
ande Lumut, di seberang Sungai Brantas.

Mbok Rondo

Ada apa? Ada apa?

Klenting Ijo

Itu ibu, ada seorang pemuda kaya membuka lamaran terbuka di seberang Sungai Brantas
sana.

Klenting Ungu

Iya ibu, iya. Kalau tidak salah tadi namanya Ande-ande Lumut.

Mbok Rondo

Apa? Pemuda kaya ?

Klenting Abang

Iya ibu, dia pemuda kaya.

Wah, aku harus ikut, siapa tahu dia memilih aku, dan aku akan menjadi istri dari pemuda
kaya.

Klenting Ijo

Tidak mungkin, pasti dia memilih aku.

Klenting Ungu

Pasti dia lebih memilih aku, karena aku yang paling cantik di antara kalian.

Klenting Abang

Aku pasti yang akan dipilih.

Mbok Rondo

Kalian bertiga harus ikut, pasti salah satu diantara kalian akan terpilih. Sekarang kalian
siap-siap dan merias wajah kalian supaya lebih cantik dan bisa mengalahkan perempuan-
112

perempuan yang lainnya. Ayo, cepat-cepat! Sekarang kalian harus bersiap-siap untuk ikut
melamar si pemuda tersebut.

Klenting Ijo

Iya, Ibu.

Klenting Kuning

Siapa Ande-ande Lumut? Aku ingin tahu siapa pemuda itu, si Ande-ande Lumut. Namun,
kalau aku ingin mengetahui siapa dia maka aku harus ikut kesana, ke tempat si Ande-
ande Lumut. Tapi apakah aku harus ikut? Iya, aku harus kesana. Aku ingin tahu siapa dia.

Mbok, maaf, apakah aku bisa ikut bersama Klenting Abang, Ijo, Ungu ke tempat si Ande-
ande Lumut ?

Mbok Rondo

Apa? Ikut? Terus siapa yang akan membantu aku di rumah?

Klenting Kuning

Saya mohon, saya janji akan menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah sebelum saya
berangkat.

Mbok Rondo

Baiklah, kau boleh ikut, tapi dengan satu syarat.

(Mbok rondo mengambil pakaian lusuh, dan kotoran ayam)

Mbok Rondo

Kau boleh ikut, tapi kau harus memakai pakaian ini dan melumuri tubuhmu dengan
kotoran ini, karena aku ingin anak-anakku yang akan menang.

Klenting Kuning

Baik, Mbok. Aku akan memakai pakaian ini, dan melumuri tubuhku dengan kotoran ini.
Aku ingin ke sana hanya ingin mengetahui siapa si Ande-ande Lumut itu.

Mbok Rondo

Pokoknya yang jelas kau harus memakai pakaian ini, dan kotoran ini.
113

Klenting Kuning

Iya, Mbok.

BABAK KELIMA

(Para Klenting berangat ke petilasan Ande-ande Lumut, namun di tengah perjalanan


ketika hendak menyeberangi Sungai Brantas, datang Yuyukangkang yang merupakan
jelmaan dari Prabu Klono Sewandono yang hendak menghalangi perjalanan mereka.)

Klenting Ijo

Kenapa dia harus ikut dengan kita?

Klenting Ungu

Membuat malu kita saja. Sudah lusuh! Bau!

Klenting Abang

Iya, aku tidak tahan baunya. Busuk.

Klenting Kuning

Abang, Ijo, Ungu, tunggu! Jangan tinggalkan aku.

Klenting Ijo

Jangan dekat-dekat dengan kami. Kami tidak ingin tubuh kami bau seperti kau.

Klenting Ungu

Iya, kami juga malu karena harus pergi bersamamu.

Klenting Abang

Iya.

Klenting Kuning

Iya, tapi tolong, jangan tinggalkan aku.

Klenting Ijo

Ayo, cepat-cepat!

(Kemudian datang Yuyukangkang yang menghalangi perjalanan para Klenting.)


114

Yuyukangkang

Hahaha... Mau kemana kalian perempuan-perempuan cantik?

Klenting Ungu

Siapa kau?

Yuyukangkang

Aku adalah Yuyukangkang, penguasa Sungai Brantas.

Klenting Ijo

Biarkan kami lewat, kami ingin menyeberangi Sungai Brantas untuk menemui Ande-ande
Lumut. Awas, biarkan kami lewat!

Yuyukangkang

Jika kalian mau menyeberangi sungai ini, ada satu syarat yang harus kalian lakukan
untukku.

Klenting Ijo

Apa syarat itu?

Yuyukangkang

Kalian harus menciumku terlebih dahulu, kemudian aku akan membiarkan kalian lewat
untuk menyeberangi sungai ini.

Klenting Abang

Ijo, bagaimana?

Klenting Ijo

Kita harus melakukan itu, supaya kita bisa lewat dan menyeberangi sungai itu.

Klenting Ungu

Baiklah, tapi….

Klenting Ijo
115

Baik, Yuyukangkang. Kami akan melakukan itu, tapi kau harus berjanji, akan membiarkan
kami lewat.

Klenting Kuning

Jangan, kalian jangan lakukan itu.

Klenting Ungu

Terserah, bila kau tidak mau melakukan itu maka tetaplah di sini.

Yuyukangkang

Ayo ciumlah aku sekarang. Hahaha..

(Klenting, Abang, Ijo, Ungu, satu per satu maju untuk mencium Yuyukangkang agar bisa
lewat dan menyeberangi Sungai Brantas, dan hanya tersisa Klenting Kuning yang enggan
untuk mencium Yuyukangkang.)

Yuyukangkang

Hai kau perempuan bau, pergilah! Jangan sekali-kali kau mendekatiku. Pergilah.

Klenting Kuning

Aku akan pergi, tapi biarkan aku lewat dan menyeberangi Sungai Brantas.

Yuyukangkang

Tidak, tidak akan kubiarkan kau melewati sungai ini.

Klenting Kuning

Bagaimanapun juga aku akan tetep melewati sungai ini, meskipun harus melawanmu!

Yuyukangkang

Berani kau menantangku?!

Klenting Kuning

Kenapa aku tidak berani denganmu?

Yuyukangkang

Awas kau perempuan busuk!


116

(Pertempuran antara Yuyukangkang dan Klenting Kuning berlangsung begitu hebat,


kemudian Klenting Kuning mengeluarkan senjata carang kuning, dan pada akhirnya
pertempuran dimenangkan oleh Klenting Kuning)

Yuyukangkang

Senjata itu? Kau adalah Dewi Sekartaji?

Klenting Kuning

Sungai ini bukan milikmu! Jangan sekali-kali kau menghalangi atau menggangu orang
yang hendak melintasi sungai ini. Sekarang pergilah! Pergi!

BABAK KEENAM

Dalang

Setelah menyeberangi Sungai Brantas, Klenting Abang, Ijo, Ungu akhirnya sampai di
petilasan Ande-ande Lumut. Mereka kemudian mencoba untuk melamar di Ande-ande
Lumut, namun hanya penolakan yang mereka terima.

Klenting Abang

Lihat! Itu petilasan Ande-ande Lumut, banyak yang ikut melamar, tapi pasti aku yang
akan dipilih oleh Ande-ande Lumut.

Klenting Ungu

Jelas dia akan memilih aku, aku yang akan menjadi istri Ande-ande Lumut.

Klenting Ijo

Ayo, kita segera ke sana!

Klenting Ungu

Kakang Ande-ande Lumut, kami datang kemari untuk melamarmu.

Klenting Ijo

Kakang, aku pasti akan menjadi isteri yang baik untukmu kakang Ande-ande Lumut.
Pilihlah aku, Kakang.

Klenting Abang
117

Pilih aku, Kakang. Aku ingin menjadi isterimu, pilihlah aku.

Ande-ande Lumut

Pulanglah, aku tidak bisa menerima kalian.

Klenting Ijo

Tapi kenapa, Kakang?

Klenting Ungu

Aku sudah datang dari jauh untuk melamarmu.

Klenting Abang

Kakang, aku ingin menjadi isterimu.

Ande-ande Lumut

Pulanglah, kalian bukanlah yang kucari.

Klenting Ijo

Tapi, Kakang?

Klenting Ungu

Percuma kita datang jauh-jauh, hanya untuk menerima penolakan darimu.

(Klenting Kuning datang setelah berhasil memenagkan pertempuran dengan


Yuyukangkang)

Klenting Abang

Kuning ?

Ijo, Ungu, lihat itu si Kuning.

Klenting Ungu

Sudah kembalilah Kuning, jelas si Ande-ande Lumut tidak akan memilihmu, bahkan untuk
menatapmu.

Ande-ande Lumut

Dewi Sekartaji! Dewi!


118

Klenting Kuning

Kangmas Panji, kau kah itu?

Ande-ande Lumut

Iya, Dewi. Ini aku Panji Asmarabangun.

Klenting Kuning

Kenapa kau di sini?

Ande-ande Lumut

Pulanglah Dewi, kembali bersamaku. Aku minta maaf, aku telah mengetahui yang
sebenarnya terjadi, maafkan aku. Aku sangat mencitaimu, pulanglah kembali bersamaku.
119

TOTOK KEROT

Tari Klana gending Kalongan slendro pathet sepuluh

Pathet Wolu

(Gending Ayak slendro pathet wolu)

Adegan I ADEGAN KERAJAAN


(Keluarnya Tandakan Dan Pasewakan)

(Gending Jula-Juli slendro wolu)

Janturan dhalang

Di kerajaan Kadiri hiduplah seorang raja dan permaisuri yang memiliki anak bernama
Galuh Candra Kirana. Kerajaan tersebut sangat tersohor karena keasrian dan kejayaannya.
Wilayahnya terbentang hijau dan rakyat-rakyatnya hidup dengan makmur. Dalam
keluarga kerajaan pun hidup harmonis dan bahagia. Tak ada badai yang berani
menyentuh kebagiaan raja, permaisuri, dan anaknya. Raja yang sangat bijaksana dan
disegani oleh rakyatnya menikah dengan seorang permaisuri yang lembut hatinya.
Akhirnya sang hyang widhi memberikan mereka keturunan yaitu Galuh Candra Kirana.
Seorang gadis yang hatinya tulus, sikapnya halus, dan bisa memanah mata siapa saja
yang memandangnya.

Gadis berparas ayu yang menjadikan beribu-ribu cinta pada siapa saja yang ingin
memilikinya. Begitu pula dengan pangeran tampan Panji Asmoro Bangun. Panji Asmoro
Bangun yaitu putra dari kerajaan yang sangat tersohor pula di Kediri. Gadis berparas
cantik memadu cinta dengan pangeran berparas tampan. Yaa dewa, satukan, satukan.

Ada-ada

Raja ya raja, bahagia berbahagialah dengan sentosa


Memuji dewa menuji dewi, di istana yang asri

Pagi hari. Raja dan permaisuri sedang berbincang-bincang di teras istana.


120

Raja
Sungguh hidup ini begitu indah, bagaimana tidak, kita hidup dikerajaan yang makmur
rakyatnya juga makmur

Permaisuri
Benar sekali baginda. Sang hyang widhi semoga senantiasa memberkati kerajaan kita ini.
Kita dijauhkan dari malapeta dan wabah penyakit yang berbahaya
Raja
Semoga saja begitu. Aku hanya ingin melihat kerjaaan ini damai, tenang, dan rakyat-
rakyatku bisa menikmati hidup yang benar-benar hidup. Aku ingin melihat rakyatku
berkecukupan, sehat, dan bahagia seperti sekarang ini. Lihatlah, mereka bersendau gurau
sambil memanen padinya. Lihatlah…..

Permaisuri
Iya raja, rasanya bahagia melihat senyum mereka..

Raja
Dimanakah putriku Galuh Candra Kirana ?

Permaisuri
Itu galuh, dia seperti biasanya asyik bermain dengan anjing kesayangannya. Sayang..
kemarilah !

Galuh Candra Kirana


Iya ibu, ada apakah ibu memanggilku ?

Permaisuri
Ibu hanya ingin kamu tahu tentang kehidupan kita ini nak. Janganlah selalu asyik dengan
mainanmu saja. Tetapi sesekali lihatlah dunia luar. Lihatlah para petani dengan kebunnya.
Ataupun lihatlah burung-burung itu pulang ke sarangnya. Lihatlah nak.

Galuh Candra Kirana


Baik ibu, aku akan melaksanakan apa yang ibu katakan (ia mengangguk sambil
menunduk)
121

Permaisuri
Maknanya, kau harus melihat lingkungan disekitarmu. Jangan sibuk dengan hidupmu
sendiri nak. Lihatlah dan bantulah mereka yang kesusahan misalnya atau pun yang lain.

Galuh Candra Kirana


Baik ibu, aku akan mengingat selalu petuah dari ibu..

(Kemudian mereka masuk kedalam istana yang megah itu)

Suatu ketika, datanglah badai yang begitu dahsyat menghantam kerajaan itu. Datanglah
segala petaka yang membalikkan kehidupan kerajaan. Segala aura gelap dan niat yang
sangat jahat sudah berdiri di keliling kerajaan itu. Datanglah ia seorang siluman yang
menjelma seorang permaisuri. Siluman itu bernama Totok Kerot. Dengan segala tipu
daya dan permainan busuknya yang lihai, baginda raja pun terpesona melihat kecantikan
dari Totok Kerot.

Ada-ada
Badai timur, badai barat, mengayun mengalun
Diombang diambing,
Pelan tapi menyayat
Sukar, jadi mengakar

Totok Kerot
Wahai raja… kemarilah.. kemarilah..

Raja
Siapa kau wahai wanita ?

Totok Kerot
Kemarilah.. aku adalah permaisuri dari kerajaan sebrang. Bolehkah aku menginap di
istana ini ?
(dengan menggunakan kekuatan sihirnya, raja mulai terperangkap dalam jebakannya)

Raja
Boleh, tentu saja boleh, silahkan ikut denganku (raja mengantar Totok Kerot ke
kamarnya)
122

Raja
Kau bisa tidur disini, kalau kau lapar kau bisa meminta ke dayang yang ada disini

Totok Kerot
Terimakasih raja, terimakasih

Totok kerot datang keistana itu dengan seorang anak bernama Galuh Ajeng. Galuh
Ajeng adalah anak kandungnya. Sudah beberapa hari mereka tinggal di istana tersebut.
Begitu hebatnya Totok Kerot, dalam waktu sesingkat itu, ia berhasil mengambil hati sang
baginda raja. Raja menyukainya dan berniat untuk menikahinya. Dalam sebuah kerajaan
sudah biasa seorang raja memiliki istri lebih dari satu. Jadi untuk pernikahan baginda raja
dengan Totok Kerot, permaisuri tidak dapat menghalangnya. Ia hanya bisa pasrah
menerima segala yang diputuskan oleh baginda raja. Akhirnya saat yang ditunggu itu
telah tiba. Baginda raja menikah dengan Totok Kerot dihadapan permaisuri dan Galuh
Candra Kirana.

Raja
Selamat datang di istana ini istriku..

Totok Kerot
Iya suamiku, bolehkah aku bertanya kepadamu ?

Raja
Tentu boleh, kau ingin menanyakan apa ?

Totok Kerot
Apakah permaisuri dan anakmu Candra menerima keberadaanku disini ?

Raja
Tentu saja, mereka akan menerimamu selayaknya saudara dan ibu. Permaisuri dan Galuh
Candra Kirana adalah dua orang yang hatinya sangat tulus, mereka juga orang yang baik

Mendengar pernyataan raja tersebut, Totok Kerot semakin naik pitam. Ia semakin
meranggas ketika mendengar raja memuji-muji permaisuri dan Galuh Candra Kirana. Ia
semakin membenci permaisuri dan anaknya tersebut. Ia tidak sadar bahwa ia adalah
123

seorang ibu dari Galuh Ajeng. Tapi sisi keibuannya telah sirna hanya karena gelap mata
saja.

Beberapa hari kemudian, datanglah berita baik. Raja ingin menjodohkan Galuh Candra
Kirana dengan Panji Asmoro bangun. Ia adalah anak seorang raja dari Jenggala.

Ada-ada

Cinta bukan rupa saja


Mencintai yang benar-benar mencintai
Dua insan menanggalkan segala unsur
Merekat melebur

Raja
Wahai permaisuriku, aku berniat untuk menjodohkan putri kita Galuh Candra Kirana
dengan Panji Asmoro Bangun, yang tak lain adalah putra dari raja Jenggala. Bagaimana
menurutmu ?

Permaisuri
Aku setuju banginda, dengan ini kerajaan kita akan semakin erat dengan kerajaan
jenggala. Apa yang baginda inginkan, aku setuju jika untuk kebaikan bersama-sama

Raja
Baiklah, akan aku kirimkan undangan ke kerajaan jenggala. Pengawal….pengawal….
kemarilah !

Pengawal
Iya Raja, ada apakah raja memanggil saya ?

Raja
Kirimkanlah undangan ini ke kerajaan jenggala !

Pengawal
Baik raja, akan saya laksanakan.
124

Pengawal sampai ke kerajaan jenggala untuk mengantar undangan. Undangan tersebut


telah ampai ke tangan raja Jenggala. Ia menyetujui rencana dari ayah Galuh Candra
Kirana. Datanglah ia ke kerajaan itu.

Raja Panjalu
Selamat datang di panjalu saudaraku. Aku senang kau datang memenuhi undanganku.

Raja Jenggala
Terimakasih saudaraku, aku senang bisa datang ke kerajaanmu. Aku ingin memastikan
apakah rencanamu itu sama seperti yang kau undangkan kepadaku ?

Raja Panjalu
Benar. Aku ingin menjodohkan putriku Galuh Candra Kirana dengan putramu Panji
Asmoro Bangun. Apa kau setuju ?

Raja Jenggala
Aku setuju. Dengan ini hubungan kerajaan kita akan tetap terjalin. Bahkan akan menjadi
semakin erat karena pernikahan putraku dengan putrimu. Akan aku sampaikan kepada
putraku Panji Asmoro Bangun.

Raja Panjalu
Baguslah. Semoga Galuh Candra Kirana dan Panji Asmoro Bangun dapat membina
keluarga dengan baik. Dan dapat membina hubungan kerajaan panjalu dan kerajaan
jenggala menjadi semakin baik.

Mendengar pembicaraan suami dan raja Jenggala tersebut, Totok Kerot menjadi gelap
mata. Ia tak ingin jika yang dijodohkan dengan Panji Asmoro Bangun adalah Galuh
Candra Kirana. Totok Kerot ingin anaknya Galuh Ajeng yang dinikahkan dengan Panji
Asmoro Bangun. Ia mempunyai rencana jahat untuk menyingkirkan permaisuri dan Galuh
Candra Kirana.

Totok Kerot
Dayang…
Dayang…..
Kemarilah, cepatlah kemari dayang……..
125

Dayang
Ada apakah engkau memanggilku ratu ?

Totok Kerot
Mengapa kau lelet sekali. aku sudah memanggilmu dari tadi. Dasar pelayan lelet. Ini
bawakan tapai ini ke permaisuri. Cepat !!!

Dayang
Baiklah, akan saya antarkan ini ke permaisuri. (Dayang tersebut mengantar tapai yang
sudah diberi racun oleh Totok Kerot)

Totok Kerot
Hahahaha….. mampuslah kau permaisuri, tunggu saja, aku akan menggantikanmu
menjadi seorang permaisuri seutuhnya di kerajaan ini, hahahahaa……

Dayang mengantarkan tapai itu ke permaisuri. Permaisuri sangat gembira menerima


pemberian dari Totok Kerot tersebut. Ini kali pertama Totok Kerot memberi makanan
untuknya.

Dayang
Permaisuri, ini ada tapai dari Totok Kerot (sambil memberikan nampan yang berisi tapai
ke permaisuri)

Permaisuri
Oh, terimakasih dayang,

Dayang berlalu dari hadapan permaisuri. Permaisuri meletakkan tapai itu dan
melanjutkan kegiatannya kembali. Setelah sore hari, ketika ia sedang bersantai, ia ingat
dengan tapai yang diberi oleh Totok Kerot.

Permaisuri
Dayang.. tolong kemarilah…

Dayang
Ada apa permaisuri ?
126

Permaisuri
Tolong ambilkan tapai pemeberian Totok Kerot. Aku lupa memakannya !
Dayang
Baiklah ratu, akan saya ambilkan

Dayang membawa nampan tapai tersebut dan memberikan tapai itu kepada permaisuri.
Dengan lahap permaisuri menyantap tapai itu. Setelah beberapa detik kemudian,
tubuhnya kejang-kejang, matanya terbelalak, dan mulutnya berbusa.. Galuh Candra
Kirana dan dayang-dayang sangat panik melihat kejadian tersebut. Galuh Candra Kirana
menjerit sejadi-jadinya melihat ibunya meninggal dengan cara yang tak wajar. Datanglah
baginda raja dengan tergopoh-gopoh melihat istrinya tersebut. Kerajaan Panjalu masih
berkabung setelah meninggalnya permaisuri. Galuh Candra Kirana pun masih terlihat
bersedih.

Ada-ada

Duka cita menyapa


Lara tanpa menyalahkan dewa
Menangisi meratapi ibu sejati

Raja Panjalu
Jangan bersedih putriku. Dewa sangat menyayangi ibumu. Ibumu pun sangat
menyayangi dewa. Ia tak lupa setiap harinya memuja sang dewa, ya dewa yang maha
dewa. Bukankah di alam raya ini tak ada yang abadi ? apa kau pernah melihat dunia tanpa
siang ? apa kau pernah melihat dunia tanpa malam ? semua nihil putriku, alam raya selalu
berpasangan. Ada siang dan juga malam. Begitu pula dengan hidup. Ada kehidupan
maka ada kematian. Relakanlah ibumu….

Galuh Candra Kirana


Iyaa ayah. Aku merelakan ibu hidup dialam baka bersama restu dewa. Tapi mengapa
dewa mengambilnya sekarang, oh ibuuuuuu…….

Raja Panjalu
Dewa tak pernah salah putriku, restu dewa senantiasa bersama kita, sabarlah, sabarlah,
127

Galuh Candra Kirana


Baik ayah. Ijinkan aku untuk menenangkan diri ayah (Candra pergi kamarnya)

Setelah beberapa jam, akhirnya Galuh Candra Kirana keluar kamar dan kemudian
berjalan-jalan mengelilingi istana. Para dayang-dayang yang menjumpai Candra dengan
wajah sedih akhirnya mendatangi Candra dan mengajaknya bermain di taman kerajaan.

Dayang 1
Putri, apakah putri masih bersedih ?

Dayang 2
Iyaa, putri tampak tidak bersemangat dan terlihat pucat.

Dayang 3
Putri, disana ada kupu-kupu cantik. Di taman depan. Kupu-kupu itu selalu hinggap
diantara bunga yang lagi merekah-rekah itu. Warnanya sungguh indah. Apa putri mau
melihatnya bersama kami ?

Galuh Candra Kirana


Benarkah dayang. Aku sangat menyukai kupu-kupu. Baiklah, ajak aku kesana dayang.

Mereka bersama-sama menuju taman depan istana.

Dayang 3
Itu dia kupu- kupunya putri

Galuh Candra Kirana :


Waaahh… indah sekali. bunga itu juga indah. Ternyata aku sudah lama tak kemari.
Ternyata semua tumbuhan disini telah berbunga. Lihatlah kupu-kupu itu dayang….. indah
sekali..

Dayang 1
Iyaa putri, kami bahagia melihat putri bisa tersenyum kembali.

Galuh Candra kirana


128

Terimakasih dayang, kalian sudah membuatku bahagia hari ini. Aku sudah lega dengan
melihat kupu-kupu dan bunga di taman ini. Terimakasih dayang.

Dayang 2
Sama-sama putri. Kami bahagia… mari bernyanyi dan menari bersama kami putri…

Taman yang indah. Berwarna-warni. Banyaklah kupu hinggap kemari.


Taman yang indah. Berwarna-warna. Banyaklah kupu hinggap kemari.
Bunga melati, tumbuh berseri. Membuat hati riang kembali. (mereka bernyanyi sambil
menari )

(Lagu hiburan )

Ujaran/kandha dhalang:

Pagi hari dengan sinar surya memancar dicelah-celah candela. Diantara duka yang belum
sirna, datanglah luka hati dan kenyataan hidup yang harus ditelan. Totok Kerot semakin
kejam dengan perlakuan kepada Galuh Candra Kirana :

Totok Kerot
Candra… Candraa…..

Galuh Candra Kirana


Iyaa ibu, ada apa ibu memanggilku ?

Totok Kerot
Apa kau sudah tuli ? apa kau tak dengar aku memangilmu dari tadi ?

Candra Kirana
Aku tadi masih membersihkan dapur ibu. Bukankah ibu tadi menyuruhku membersihkan
dapur ?

Galuh Ajeng
Halaah alasan, dasar lelet. Kau membersihkan dapur saja lama.

Totok Kerot
129

Dasar, sama saja kau dengan ibumu, ratu lelet. Sanaaa… kau bersihkan kamar ibu, setelah
itu kamar Galuh Ajeng. Aku sengaja melarang semua dayang yang ada disini untuk
membantumu. Sanaaa pergi… cepaaat pergi…..

Candra Kirana
Iya . Baik ibu (Candra bergegas pergi )

Galuh Candra Kirana membersihkan kamar ibu tirinya itu. Karena kamar ibunya tersebut
sangat besar, ia merasa sangat kelelahan. Banyak hal yang ia temukan dalam kamar ibu
tirinya tersebut. Setelah selesai membersihkan kamar tersebut, ia bergegas menuju
kamar Galuh Ajeng. Kelelahannya semakin menjadi-jadi setelah membersihkan kamar
Galuh Ajeng.

I. Pathet Sanga

Slendro Pathet Sanga

1. ADEGAN GARA-GARA

Baginda raja mengampiri kedua anaknya yaitu Galuh Candra Kirana dan Galuh Ajeng
dengan membawa bungkusan kado. Kado yang satu dibungkusi dengan emas
sedangkan yang satunya lagi dibungkus dengan kain lusuh.

Raja
Kemarilah putri-putriku, ayah punya hadiah untuk kalian berdua. Cepatlah kemari nak !
apa kalian tidak mau ?

Galuh Ajeng
Sangaaaaaat mau ayah,……..

Raja
Apa engkau tidak mau Candra ?

Galuh Candra Kirana


Mau ayah, aku akan menerima hadiah itu
130

Raja
Baiklah, silahkan Galuh Ajeng untuk mengambil terlebih dahulu…

Galuh Ajeng
Wow…. Iya ayah, nah aku memilih yang ini (ia memilih hadiah yang dibungkus dengan
emas. Sudah pasti, keserakahan telah diturunkan dari ibunya)

Raja
Ini untukmu Galuh

Galuh Candra Kirana


Terimakasih ayah (ia mengambil hadiah yang dibungkus dengan kain lusuh)

Kemudia kedua gadis tersebut membuka hadiah itu. Dengan sangat gembira, Galuh
Candra Kirana terpukau melihat boneka yang ada di dalam bingkisan tersebut. Ia
mendapat boneka kencana yang berkilauan. Ditimang-timang boneka itu dan selalu ia
bawa kemana saja ia pergi. Mengetahui bahwa boneka kakaknya lebih bagus dari
bonekanya, Galuh Ajeng memaksa Galuh Candra Kirana untuk menukarkan bonekanya.
Galuh Ajeng mendapatkan boneka yang terbuat dari kayu. Galuh Candra Kirana tetap
saja tidak mau. Galuh Ajeng kemudian memberitahukan hal ini kepada ibunya yaitu
Totok Kerot.

Galuh Ajeng
Ibuu.. ternyata boneka Candra lebih bagus dari boneka ku ibu, pokoknya aku mau
bonekanya Candra, aku mau bonekanya Candra.., titiik…

Totok Kerot
Tenang sayang, ibu akan merebut boneka itu dari Candra. Ibu tidak mau melihat anak ibu
yang cantik ini kalah dari Candra yang sok itu. Tenanglah nak !

Galuh Ajeng
Iya ibu, pokoknya aku nggak mau kalah dari Candra.

Totok Kerot
Ibu akan datang menemui raja. Tunggulah disini nak.
131

Datanglah Totok Kerot menemui suaminya. Ia menebar hasutan kepada suaminya itu
yang tak lain adalah ayah kandung Galuh Candra Kirana. Dengan keterampilannya
bersilat lidah, maka sang raja pun dibutakan hatinya.

Totok Kerot
Wahai baginda raja, anak-anak kita sedang bertengkar. Galuh Candra Kirana tidak mau
menukarkan bonekanya untuk Galuh Ajeng. Bukankah kakak seharusnya mengalah untuk
adiknya ? tolong baginda, seharusnya kau beri tahu Galuh Candra Kirana untuk
menukarkan bonekanya. Bukankah ini masalah sepele. Aku takut Galuh Candra Kirana
akan selalu membuat Galuh Ajeng menderita.

Raja
Iya benar, ratu. Akan aku bujuk Galuh Candra Kirana untuk memberikan bonekanya
kepada Galu Ajeng. Candra…. Kemarilah nak !

Datanglah Galuh Candra Kirana menemui ayahnya.

Galuh Candra Kirana


Iya ayah, ada apakah ayah memanggilku ?

Raja
Sekarang juga tukarkan bonekamu dengan boneka Galuh Ajeng. Apa kamu tidak kasihan
kepada adikmu ?

Galuh Candra Kirana


Tidak mau ayah. Ini boneka ku. Mengapa aku harus menukar boneka ini dengan boneka
Galuh Ajeng. Ini milikku ayah.

Raja
Bukankah itu hanya boneka ? Kasihanilah adikmu nak. Berikan boneka itu pada adikmu !

Galuh Candra Kirana


Apa ayah tidak kasihan kepadaku. Asal ayah tau, selama ini ibu sudah menyiksaku. Aku
diperlakukan dengan cara yang kasar. Bahkan aku diperlakukan lebih rendah dari
pembantu.
132

Raja
Lancang sekali bicaramu Candra. Kau berani berkata seperti itu dihadapan ayah dan juga
ibumu. Ibumu ini sangat menyayangimu. Kau tega berkata seperti itu Candra …. .
keluarlah dari sini, keluarlah dari kerajaan ini sekarang juga !!! (ayahnya menjadi gelap
mata dan gelap hati)

2. ADEGAN DI HUTAN

Akhirnya Galuh Candra Kirana pergi dari istana. Ia berjalan terus berjalan tanpa tujuan.
Sepi dan kesepian. Ia membantu binatang kecil yang meminta bantuannya. Ia berjalan
terus berjalan. Hingga ia tersesat disebuah hutan. Di dalam hutan tersebut, Galuh candra
Kirana membuat tempat persinggahan. Ia juga menyamar menjadi seorang lelaki dengan
nama Panji Semirang Asmarantaka. Ia menodong para pejalan kaki yang membawa harta
mereka. Panji Semirang Asmarantaka memberikan dua pilihan bagi pejalan kaki, menetap
dengan hartanya atau mati dengan sia-sia.

Datanglah mereka pejalan kaki yang membawa harta mereka. Panji semirang
memberhentikan perjalanan mereka. Panji semirang menahan mereka dan hartanya.
Semakin hari semakin banyak orang yang melewati jalan itu, maka semakin banyak pula
orang-orang yang akhirnya memilih menetap dikerajaan milik Panji Semirang itu.
Semakin banyaklah rakyat di kerajaan itu. Dan akhirnya, kerajaan Jenggala pun mulai
mendengar adanya kerajaan baru tersebut.

Utusan raja Jenggala membawa barang-barang dan uang emas kawin untuk meminang
Galuh Candra Kirana, mereka dihadang dan dirampok oleh pasukan Panji Semirang.

Pasukan
Berhenti, kalian tidak boleh meneruskan perjalanan kalian. Serahkan semua barang-
barangmu, kalau tidak.. kau akan mati !!

Utusan raja
Siapa kalian… aku tidak mau,

(akhirnya mereka perang, dan perang dimenangkan oleh tentara Panji Semirang)

Pasukan
133

Hahaha… barang-barang ini akan aku kembalikan asal Panji Asmoro Bangun datang
menghadap Panji Semirang ! cepat sampaikanlah ke Panji Asmoro Bangun!!

(utusan raja pun kembali ke kerajaan jenggala menyampaikan peristiwa yang telah
dialaminya)

3. ADEGAN DI KERAJAAN JENGGALA

Utusan raja
Mohon ampun raja, rombongan kami diserang ditengah hutan. Barang-barang dan emas
kawin yang sudah kami bawa tersebut di rampas oleh orang-orang itu. Selalin, itu mereka
memberikan syarat kalau barang-barang itu ingin diambil kembali. Mereka meminta tuan
Panji Asmoro Bangun untuk menghadap Panji Semirang. Dengan begitu maka barang-
barang tersebut akan dikembalikan.

Raja Jenggala
Sialan… siapa yang berani-berani menyerang dan merapampas utusanku. Anakku…
kemarilah !

Panji Asmoro Bangun


Ada apa ayah? Sepertinya ayah sedang marah, apa yang terjadi ayah ?

Raja Jenggala
Besok datanglah menemui Panji Semirang. Utusan kita telah dirampok dan semua
barang-barang kita untuk mas kawin pernikahanmu disita. Hanya dengan satu jalan, kau
harus menemui Panji Semirang dan mengambil barang-barang itu kembali.

Panji Asmoro Bangun


Baiklah ayah, akan aku ambil barang-barang itu.

4. ADEGAN DI KERAJAAN PANJI SEMIRANG


Keesokan harinya diadakanlah jamuan di kerajaan Panji Semirang menyambut
kedatangan Panji Asmoro Bangun. Betapa heran dan takjub Panji Asmoro Bangun
memandang Panji Semirang, seorang raja yang menarik, simpatik, cantik, dan suaranya
lembut merdu.
134

Panji Semirang
Selamat datang tuan Panji Asmoro Bangun. Ternyata kau benar-benar datang demi
barang-barang ini (sambil menunjuk barang rampasan)

Panji Asmoro Bangun


Mengapa kau merampas barang-barang itu dari utusanku ? apa keinginanmu ?

Panji Semirang
Aku hanya ingin kau tahu tuan, bahwa disini ada kerajaan baru yang tentu tak jauh dari
kerajaanmu. Aku hanya ingin memperkanlkan kerajaanku ini. Dengan begini, aku punya
alasan untuk mendatangkanmu kemari.

Panji Asmoro Bangun


Oh jadi begitu maksudmu ? baiklah, selamat atas kerajaanmu ini. Salam kenal. Akan aku
sampaikan kepada ayahku bahwa disini ada kerajaan baru yang tak jauh dari kerajaan
kami. Terimakasih kau mengundangku meski dengan cara seperti ini.

Panji Semirang
Baiklah, kalau boleh aku tahu, mengapa kau rela kemari hanya untuk barang-barang ini ?
Panji Asmoro Bangun
Barang-barang itu adalah mas kawin yang akan aku berikan kepada gadis yang sangat
aku cintai yaitu Galuh Candra Kirana. Aku sangat mencintainya. Dia gadis yang sangat
cantik dan berhati mulai. Aku sudah mengenalnya sejak kecil. Akan aku berikan barang-
barang itu untuk meminangnya.

(Panji Semirang jelas terharu mendengarnya, karena Galuh Candra Kirana sesungguhnya
adalah dirinya)

Ujaran/kandha dhalang :
Keesokan harinya, Panji Asmoro Bangun beserta rombongan meneruskan perjalanan ke
Panjalu menyerahkan mas kawin kepada raja Panjalu. Betapa sedih hati Panji Semirang
memikirkan kekasihnya akan melangsungkan pernikahan dengan Galuh Ajeng di Panjalu.
Karena itu ia memutuskan hendak pergi ke kerajaan Panjalu beserta para pengikutnya.
Dengan pasukan yang banyak, Panji Semirang Asmarantaka menyerang kerajaan Panjalu.
Setelah sampai dikerajaan Panjalu, ia membongkar keburukan ibu dan kakak tirinya.
Terbukalah topeng dusta antara Totok Kerot dan Galuh Ajeng.
135

(Gendhing Ayak Slendro Sanga)

5. ADEGAN DI KERAJAAN PANJALU

PERANG PANJI SEMIRANG ASMARANTAKA VS PANJI ASMORO BANGUN

Panji Semirang Asmarantaka


Berhentilah semua. Kalian telah dibohongi oleh kedua pendusta ini. Dia (sambil
menunjuk Totok Kerot) tega menyakiti bahkan mengusir anak tirinya sendiri yaitu Galuh
Candra Kirana. Dia juga yang telah meracuni ibu permaisuri. Dan dia (sambil menunjuk
Galuh Ajeng) sama seperti ibunya. Serakah dan hatinya penuh kedengkian. Ibu dan anak
ini sama-sama pendusta.

Panji Asmoro Bangun


Siapa kau ? mengapa kau tahu tentang semuanya?

Panji Semirang Asmarantaka


Aku adalah seseorang yang mencintaimu dengan tulus. Akulah yang tak pernah dusta
kepadamu sedikitpun. Aku sangant mencintaimu Panji.

Panji Asmoro Bangun


Kau ini sudah gila. Mengapa kau mencintai seorang laki-laki padahal kau juga laki-laki ?
apa aku sudah gila mau mencintaimu

Raja
Siapa kau ? lancang sekali kau datang kemari dan memberhentikan acara di istana ini ?
sungguh demi dewa siwa ya siwa, akan ku hancurkan siapa saja yang berniat buruk di
istana ini ! kau pergi atau akan mati sia-sia disini ?

Panji Asmoro Bangun


Kita serang saja dia! dia terlalu banyak menghalangi acara pernikahanku. Asal baginda
tahu, dia yang telah merampas barang-barangku yang akan aku berikan kepada Candra.
Dia adalah raja dikerajaan sebrang, kerajaan baru yang dipimpin oleh raja semacam ini
(sambil menunjuk kea rah Panji Semirang Asmarantaka)
136

PENGUNGKAPAN SEGALA KEBENARAN (PANJI SEMIRANG ASMARANTAKA BERUBAH


MENJADI GALUH CANDRA KIRANA)(TOTOK KEROT DIUSIR DARI ISTANA)

Panji Semirang Asmarantaka


Tunggu….Aku adalah Galuh Candra Kirana. Seorang gadis yang sangat kau cintai. Aku
adalah korban kebusukkan dari ibu tiriku (sambil menunjuk Totok Kerot). Aku hidup di
hutan dengan kesendirian dan kesepian. Hingga berkat dewa aku bisa sampai diistana ini,
istanaku.
Totok Kerot
Kau ini siapa ? kau terlalu banyak omong kosong!

Panji Semirang Asmarantaka


Baiklah, kau masih tidak mengakuinya ? akan aku bongkar segala keburukan yang kau
sembunyikan. Wajah indah, tapi hanya topeng belaka. Kau masih ingat peristiwa saat kau
meyuruhku membersihkan kamarmu ? kau memperlakukan aku lebih rendah dari
seorang pembantu. Yah.. diantara perlakuan itu, aku menemukan kebaikan dewa. Dewa
menunjukkan aslimu yang lebih kejam dari seekor binatang. Kau ternyata yang telah
meracuni ibuku. Kau memasukkan racun kedalam tapai yang kemudian dimakan oleh
ibuku. Aku menemukan sebotol racun yang kau simpan dan kau bungkus dengan kain
lalu kau kubur dalam tanah dekat kamarmu itu. Kau menutupinya dengan tanaman-
tanaman didekat kamarmu. Kau masih mau menjawab ?

Totok Kerot
Dasar pembohong, kau siapa, lagi-lagi dia hanya berkata bohong. Usir saja dia dari sini
raja.. usir sajaaa…

Raja
Tunggu sebentar, apa kau mempunayi bukti atas perkataanmu itu ?

Panji Semirang Asmarantaka


Baiklah, mari semua ikut aku. Akan aku tunjukkan dimana tempatnya.

Panji Semirang Asmarantaka dan semua yang ada di istana tersebut menuju kamar
Totok Kerot. Dan disana semua kebusukan terbongkar. Ternyata yang dikatakan Panji
Semirang Asmarantaka memang benar adanya. Totok kerot hanya diam sambil
137

menunduk, ia sudah terkepung oleh kebenaran yang memang benar. Dewa pun murka
padanya.

Totok Kerot
Itu bukan racun, itu hanya obat penenang saja. Itu obatku. Aku sengaja menguburnya
disitu.

Panji Semirang Asmarantaka


Kau masih tak mau mengakuinya. Baiklah. Dayang.. kemarilah..

Dayang
Iya tuan,

Panji Semirang Asmarantaka


Bawakan aku senampan tapai, cepatlah bawa kemari

Dayang
Baik tuan ,

Datanglah dayang dengan membawa senampan tapai .

Panji Semirang Asmarantaka


Baiklah, ini sudah ada senampan tapai. Tapai ini akan aku campurkan dengan cairan yang
ada dibotol itu. Setelah itu, aku ingin dia (sambil menunjuk Totok Kerot) memakan tapai
ini. Sungguh ini tidak berbahaya, katamu ini hanya obat penenang bukan?

Totok kerot diam, gemetar, sambil ketakutan. Rupanya ia tak mau menyentuh apalagi
memekan tapai itu.

Totok Kerot
Iya. Aku melakukan itu semua semata-mata hanya untuk kebaikan putriku Galuh Ajeng.
Aku tak ingin Galuh Candra Kirana yang menikah dengan Panji Asmoro Bangun. Aku
sengaja merencakan segalanya . aku yang meracuni ibumu.

Raja
138

Keparat ! ternyata ada bisa dalam istana itu. Semua hanya tipuan belaka. Aku sudah gelap
mata terhadap kejahatanmu. Aku menelantarkan anakku bahkan kematian istriku adalah
salahku. Salahku menikahimu !! pergi sekarang juga dari istana ini ! pergi ! pergi !

Totok Kerot dan Galuh Ajeng pergi meninggalkan istana dengan tersedu-sedu. Malu
bercampur dengan murka. Ada sorot dendam disana.

Sulukan Sendhon Ngungrum

Liyu-liyu… Kepodhong muni talu,


Saya rina saya wengi katresananku,
Saya ndadra..
Manuta duh wong ayu,
Mring pun kakang, ya wong kuning
(bahasa jawi kawi)

Panji Asmoro Bangun


Yaa widhi, ampunilah aku Candra. Aku benar-benar tidak mengenalimu. Aku sangat
mencintaimu Candra. Maukah kau menikah denganku ?

Galuh Candra Kirana


Aku tidak akan memaafkanmu. Katamu kau tidak suka dengan laki-laki ? (Candra
menggoda Panji Asmoro Bangun)

Panji Asmoro Bangun


Kali ini aku mencintai siluman laki-laki (mereka berdua tertawa sangat bahagia)

Galuh Candra Kirana dan Panji Asmoro Bangun akhirnya bersatu. Cinta sejati akhirnya
bertemu setelah banyak badai yang menghantamnya. Sedangkan yang jahat akhirnya
akan berakhir dengan kepedihan. Totok Kerot dan Galuh Ajeng diusir dari kerajaan oleh
baginda raja.

Yaa dewa, yaa dewa, atas restu dewa.


Yaa siwa, yaa siwa,
Yaa dewi kali, hancurkan dan jemputlah kematian segala keburukan,.
139

Gending/lagu penutup adalah gending Kalongan Pathet Sepuluh

PANJI SEMIRANG

Tari Klana gending Kalongan slendro pathet sepuluh


Pathet Wolu
(Gending Ayak slendro pathet wolu)
140

(Gending Jula-Juli slendro Wolu)

BABAK PERTAMA

Janturan Dalang

Di kerajaan Jenggala, putra mahkota ialah Raden Inu Kertapati memutuskan untuk pergi
menemui pujaan hati di Kediri. Ia berangkat bersama orang kepercayaannya serta para
prajurit yang setia menemaninya. Berbekal tak terjumlah, mereka berangkat menuju
Kediri. Namun, ditengah perjalanan mereka dihadang oleh sekelompok prajurit. Dengan
sigap, Raden Inu Kertapati mengangkat tangan kirinya seraya memberikan aba-aba agar
para prajuritnya bersiap untuk berperang. Akan tetapi, dugaan mereka salah. Mereka
malah dipertemukan dengan Panji Semirang, pemimpin daerah tersebut. Sejak pertama
kali bertemu dengan Panji Semirang, Raden Inu Kertapati tidak merasa asing dengannya.
Ia merasa Panji Semirang ialah orang yang telah lama dikenalnya. Raden
menyembunyikan dugaannya tersebut hingga akhirnya ia mengetahui bahwa kekasihnya
menghilang dari kerajaan. Hilangnya Candra Kirana membuat hatinya pilu hingga ia
tersadar bahwa dugaannya benar, Panji Semirang ialah Candra Kirana.

DI ISTANA, KERAJAAN JENGGALA. SUASANA TENTRAM SEAKAN IKUT MENDENGARKAN


PEMBICARAAN RAJA DAN PUTRA MAHKOTANYA.

Raden Inu Kertapati

Selamat malam ayahanda.

Raja Jenggala

Selamat malam anakku. Apa yang hendak kau sampaikan sehingga malam-malam begini
kau menemuiku?

Raden Inu Kertapati

Hamba mohon ampun ayahanda, jika kedatangan hamba mengganggu waktu


istirahatmu.

Raja Jenggala
141

Hehee… anakku, sudah pasti kedatanganmu tak menggangguku. Katakan! Apa yang
ingin kau sampaikan.

Raden Inu Kertapati

Ayahanda. Rasanya sudah lama hamba tak menemui pujaan hati hamba, Candra Kirana.
Jika ayahanda mengizinkan, esok hamba ingin pergi ke kerajaan Daha. Namun, jika
ayahanda tak berkenan, maka hamba tidak akan berangkat jika tak berbekal izin dari
ayahanda.

Raja Jenggala

Anakku, jangankan untuk pergi ke kerajaan Daha. Jika memang kau menginginkan untuk
membelah lautan sekalipun, aku pasti memberimu izin. Asal kau menjaga dirimu dengan
baik. Pergilah anakku. Persiapkan apa saja yang kau butuhkan selama perjalananmu.
Semoga Sang Hyang Widhi selalu menyertai disetiap langkah kakimu.

Raden Inu Kertapati

Terima kasih ayahanda. Baiklah, hamba akan mempersiapkan segala keperluan yang
hamda butuhkan. Hamba mohon undur diri.

Raja Jenggala

Pergilah nak!

SUASANA SEMAKIN TENANG KARENA HARI YANG SEMAKIN LARUT MALAM.

Raden Inu Kertapati

Pengawaaaaaaaall!!!

Pengawal 1 dan 2

Mohon ampun Raden. Apakah Raden memanggil hamba? Apa yang bisa hamba bantu
Raden?

Raden Inu Kertapati


142

Pengawalku, besok sebelum matahari menampakkan diri. Aku akan pergi menemui
pujaan hatiku di Kediri. Aku ingin, segera kau persiapkan segala keperluan yang akan kita
butuhkan selama perjalanan. Aku mempercayaimu. Aku yakin kau mampu
mempersiapkan semuanya.

Pengawal 1

Walah den raden, itu mah hal kecil. Ya kan? (sambil menyenggol pengawal 2)

Pengawal 2

Hehee iya. Tenang saja den, itu hal kecil. Nanti akan hamba persiapkan untuk raden.

Raden Inu Kertapati

Baiklah, siapkan semua yang diperlukan dalam perjalanan. Aku ingin tak ada satupun
yang data menghalangi perjalananku agar aku segera menemukan pelukis senyumku
yang telah lama tak kutemui.

Pengawal 1 dan 2

Baik raden.

DI HUTAN. RADEN INU KERTAPATI BESERTA ROMBONGANNYA BERBONDONG-


BONDONG

Pengawal 1

Mohon maaf raden? Ini berapa lama lagi? Kaki hamba rasanya sudah mau patah.

Pengawal 2
143

Heee, kamu kok berlebihan sekali sih. Ini belum setengah perjalanan.

Pengawal 1

Haaaaa? Benarkah den?

Pengawal 2

Yaiyalah, yaiya dong. Hahaaa!!

Pengawal 1

Heeeeh aku nggak tanya ke kamu. Aku tanya ke Raden.

Pengawal 2

Heheee (nyengir) mohon ampun den.

Raden Inu Kertapati

Hehee. Memang benar, ini belum setengah dari perjalanan. Jika memang kau lelah, maka
bersitirahatlah sebentar. Kita lanjutkan perjalanan setelah kakimu tak terasa pegal.

Pengawal 1

Hehe mohon ampun raden, hamba hanya bercanda saja hehe lebih baik kita lanjutkan
perjalanan ini.

Pengawal 2

Eeee la kamu ini bagaimana, kok malah bercanda dengan raden.


144

Pengawal 1

Hehe mohon ampun raden, mohon ampun. Kamu ini apaan sih (memukul pengawal 2)

Pengawal 2

Kamu ini yang apa-apaan.

TAK TERASA, PERJALANAN MEREKA SAMPAI PADA KERAJAAN KAHURIPAN DAN KEDIRI.
SUASANA MENCEKAM KARENA ROMBONGAN MEREKA DIHADANG OLEH
SEKELOMPOK ORANG TAK DIKENAL.

Prajurit Asmarantika

Berhenti!

Raden Inu Kertapati

Siapa kau? Beraninya kau menghentikan perjalananku? (Raden Inu Kertapati berhenti,
seraya mengangkat tangan kiri sebagai tanda agar prajuritnya turut berhenti. Tombak
maupun pedang diacungkan pertanda pertempuran akan dimulai. Namun suasana
mereda)

Prajurit Asmarantika

Ampun Raden, kami hanya menyampaikan utusan agar Raden berkenan menemui
pimpinan kami, Panji Semirang.

Raden Inu Kertapati

Apa yang diinginkan pimpinanmu itu dariku?


145

Prajurit Asmarantika

Mohon maaf Raden, kami tidak mengetahui akan hal itu. Kami hanya menyampaikan
utusan.

Raden Inu Kertapati

Baiklah, pertemukan aku dengan pimpinanmu itu.

Pengawal 1

Loh den, mengapa raden mau bertemu dengan pimpinan mereka? Kita belum mengenal
siapa mereka. Kalau misalnya mereka jahat, kita harus bagaimana?

Pengawal 2

Heee kamu ini lo, mana mungkin mereka jahat, dilihat dari cara mereka ngomong saja
sudah kelihatan kalau mereka orang baik. Nah siapa tau juga nanti kita diberi makanan.
Kan enak. Heheee

Pengawal 1

Halaaahh, kamu ini apaa? Makanan terus. Lihat tuh perutmu sudah offside. Sudah
melebihi batas garis. Jangan cuma makan mulu yang ada diotakmu ini. Lagian sekarang
ini, kita tidak bisa menilai orang hanya dari fisik saja. Apalagi dari omongan. Halaaaaah
jelas gak bisa. Sekarang lo banyak yang ngomong panjang lebar, ngomong banyak janji
manis tapi ya kenyataannya gak bisa dipegang. Jangan suka menilai orang dari luarnya
saja, hati orang siapa yang tau?

Pengawal 2

Kamu kok bener juga ya kadang-kadang kalau ngomong.


146

Pengawal 1

Ya memang benar, hahaa. Eh sudah-sudah, ituloh raden kebingungan kok kamu malah
ngajakin bercanda. Mohon ampun den, bagaimana den jadinya?

Raden Inu Kertapati

Aku hanya ingin mengetahui sebenarnya apa yang mereka inginkan dariku. Kita ikuti saja
mereka. Tetapi kita harus tetap waspada.

Pengawal 2

Betul den, kita ya harus waspada.

Pengawal 1

Betul den itu betul.

DISEBUAH TEMPAT DI KERAJAAN ASMARANTIKA

Panji Semirang

Salam hormat saya Raden. Terimakasih sudah berkenan hadir dan menyempatkan diri
untuk memenuhi panggilanku.

Raden Inu Kertapati

Siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku?

Panji Semirang
147

Wahai ksatria dari kerajaan Jenggala. Sudikah kiranya kau berkenalan denganku.
Perkenalkan namaku Panji Semirang. Penguasa di daerah ini.

Raden Inu Kertapati

Lantas apa yang kau inginkan dariku?

Panji Semirang

Raden Inu Kertapati, putra mahkota dari kerajaan Jenggala. Kami tidak ingin membuat
pertumpahan darah denganmu. Kami hanya ingin menyambut pasukanmu dengan
memberikan jamuan.

Pengawal 2

Naaaah, benar kan kataku, jamuan?

Pengawal 1

Huuuss mulutmu itu loh.

Raden Inu Kertapati

Oh Panji Semirang. Rupanya, kau ini yang bernama Panji Semirang. Aku banyak
mendengar cerita tentangmu dan prajuritmu. Katakan saja sejujurnya, apa yang kau
inginkan?

Panji Semirang

Tak terbesit sedikitpun niat keji untukmu. Aku hanya ingin menyambutmu saja. Tidak
lebih.
148

Raden Inu Kertapati

Baiklah, kalau memang itu keinginanmu. Aku dan anak buahku melakukan perjalanan
panjang. Jika memang kau benar-benar ingin menjamu kami. Berikan jamuan yang
terbaik darimu.

Panji Semirang

Hehee tidak masalah untukku raden. Silahkan menikmati seluruh jamuan yang telah
kupersiapkan untukmu dan anak buahmu.

SUASANA MERIAH. MAKANAN MELIMPAH RUAH. DI SUDUT RUANGAN, RADEN DAN


PENGAWALNYA TENGAH BERBINCANG

Pengawal 1

Kenapa raden terlihat bimbang?

Raden Inu Kertapati

Bagaimana aku tidak bimbang, ia orang asing yang belum kukenal sebelumnya. Banyak
cerita buruk tentangnya. Dalam benakku tertanam bahwa dirinya orang yang tak
beretika. Namun hari ini ia merubah segalanya. Sikap manisnya bertolak belakang
dengan cerita yang kuterima selama ini.

Pengawal 1

Mohon maaf raden, hamba sudah tau kalau raden pasti berat untuk memilih tawaran ini.

Pengawal 2

Sudah pasti berat ya den.


149

Pengawal 1

Kamu ini jangan bercanda terus.

Pengawal 2

Eeeee la kamu ini loh, aku ini serius.

Pengawal 1

Serius kok kayak gitu. Sudah jangan ngeciwis terus.

Raden Inu Kertapati

Bagaimana jika tawaran ini datang padamu?

Pengawal 2

Hambapun kalau berada di posisi raden akan menerima tawaran ini namun harus tetap
waspada.

Raden Inu Kertapati

Mengapa kau bersedia untuk menerima tawarannya?

Pengawal 2

Begini den, karena hamba hanya ingin membuktikan tentang semua cerita Panji
Semirang yang terkenal tak beretika itu.

Pengawal 1
150

Lah tumben kamu bisa ngomong serius.

Pengawal 2

Eeee yaiyalah yaiyadong. Hahaaa

Raden Inu Kertapati

Baiklah, aku ingin membuktikan bagaimana sebenarnya Panji Semirang itu.

SETELAH JAMUAN SELESAI, RADEN DAN KEDUA PENGAWALNYA BERBINCANG DENGAN


PANJI SEMIRANG

Raden Inu Kertapati

Sebenarnya, apa yang kau inginkan dariku?

Panji Semirang

Wahai putra mahkota dari Jenggala. Aku tak menginginkan apapun darimu.

Raden Inu Kertapati

Lantas mengapa kau melakukan semua ini?

Panji Semirang

Aku hanya ingin bersahabat denganmu.

Raden Inu Kertapati


151

Hanya itu saja yang kau inginkan?

Panji Semirang

Iya, hanya itu saja. Ini kerajaanku, Asmarantika. Aku yakin kau banyak mendengar hal
buruk tentangku, tentang kerajaan ini, dan tentang para prajuritku. Dengan cara seperti
ini, aku ingin membuktikan bahwa aku dan segerombolanku bukanlah seorang
perampok. Aku hanya menumpas orang-orang yang tak mengenal kemanusiaan.

Raden Inu Kertapati

Aku mempercayainya. Dan aku yakin prajuritku juga akan mempercayaimu. Bukankah
begitu?

Pengawal 1 dan 2

Iyaaa, betul den raden.

Semua Prajurit

Iyaa betul raden.

Raden Inu Kertapati

Terimakasih untuk semua yang kau berikan. Namun aku dan pasukanku ingin
melanjutkan perjalanan kami.

Panji Semirang

Baiklah raden, terimakasih sudah berkenan menerima tawaranku.

BABAK KEDUA
152

DI PERJALANAN MENUJU KEDIRI. KEGUNDAHAN MENYELIMUTI HATI RADEN INU


KERTAPATI

Raden Inu Kertapati

Sepertinya aku tidak asing dengan Panji Semirang?

Pengawal 1

Mohon maaf raden, bagaimana maksud raden?

Raden Inu Kertapati

Perangainya seperti sudah kukenal sebelumnya.

Pengawal 2

Mana mungkin den. Kan kita baru bertemu dengan Panji Semirang.

Pengawal 1

Nah iyaaa den, bagaimana mungkin.

Raden Inu Kertapati

Mungkin hanya perasaanku saja. Baiklah mari kita lanjutkan. Sebentar lagi kita akan
sampai di Kediri.

HUTAN TERUS DISUSURINYA. TETAPI HATINYA GELISAH KARENA ADA SESUATU YANG
MENYELIMUTI HATINYA TIBA DI KEDIRI. SUASANA RAMAI, DISAMBUT DENGAN PENUH
SUKA CITA.
153

Raden Inu Kertapati

Ada apa ini?

Pengawal 1

Mohon maaf raden, hambapun tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi disini.

Raden Inu Kertapati

Akupun tak mengetahuinya mengapa penyambutan ini meriah sekali.

Pengawal 1

Hamba heran. Apakah ini sebuah keberuntungan atau malah sebaliknya?

Raden Inu Kertapati

Semoga saja keberuntungan yang selalu menyertai kemanapun kita melangkahkan kaki.

RAJA KERAJAAN DAHA, DEWI LIKU, DAN GALUH AJENG MENYAMBUT MEREKA DENGAN
SENYUM MEREKAH.

Raja Daha

Selamat datang wahai ksatria. Lama kau tak berkunjung ke kerajaan ini.

Raden Inu Kertapati

Salam hormatku untukmu paduka raja. Memang sudah lama aku tak menginjakkan kaki
disini.
154

Raja Daha

Bagaimana kabar kerajaanmu?

Raden Inu Kertapati

Kerajaan tetap pada posisi yang aman. Bagaimana denganmu raja?

Raja Daha

Syukur mendengar kabar baik darimu, semoga Sang Hyang Widhi selalu menyertai
langkahmu. Keadaanku seperti yang kau lihat sekarang ini.

Raden Inu Kertapati

Hehee syukurlah raja.

Raja Daha

Hehee, baiklah. Sebagai tanda penyambutanmu, kupersilahkan kau dan pasukanmu


untuk menikmati jamuan yang telah tersedia. Setelah itu kupersilahkan juga agar kau dan
pasukanmu untuk beristirahat karena aku yakin perjalananmu yang panjang menguras
semua tenagamu.

Raden Inu Kertapati

Terimakasih paduka raja, hamba tak tau harus dengan cara apa hamba membalas
kebaikanmu .

Raja Daha
155

Tak perlu kau pikirkan kau harus membalas dengan cara yang seperti apa, cukup nikmati
saja semua yang telah kusiapkan untukmu.

Pengawal 2

Yeeee makanan, makanan yeeee

Pengawal 1

Huusss, kamu ini lo jangan malu-maluin Raden dong.

Pengawal 2

Hehee, ya maafkan saya. Sering over bahagia kalau melihat makanan. Apalagi makanan
yang enak-enak.

Pengawal 1

Mohon ampun paduka raja, ini memang matanya membiru kalau melihat makanan.

Raja Daha

Hehe tidak apa, silahkan-silahkan.

DI SALAH SATU RUANGAN YANG ADA DI KERAJAAN. SUASANA RIANG GEMBIRA.


SEDANG BERLANGSUNG ACARA JAMUAN DARI KERAJAAN DAHA

Raden Inu Kertapati

Pengawal, apakah kau melihat Candra Kirana?


156

Pengawal 1

Mohon maaf raden aku tak melihatnya sejak kita sampai disini.

Raden Inu Kertapati

Akupun tak melihat senyum yang kucari. Aku tak menemukan setengah hatiku yang telah
lama kunanti.

Pengawal 1

Sebaiknya raden tanyakan langsung pada paduka raja.

Raden Inu Kertapati

Ya paduka raja, sebenarnya kedatanganku kesini untuk bertemu dengan Candra Kirana.
Namun aku tak melihatnya sama sekali. Kemanakah gerangan dirinya?

Raja Daha

Can..Can..Ndra Kirana.. Ia belum bisa menemuimu!

Raden Inu Kertapati

Mengapa ia tak bisa menemuiku? Katakan saja, aku ingin mengetahuinya.

Dewi Liku

Wahai paduka raja, sebaiknya katakan saja yang sejujurnya pada Raden Inu Kertapati.
Sudah saatnya ia harus mengetahui semua yang terjadi. Terus terang saja! Tanpa ada
yang ditutup-tutupi!
157

Raden Inu Kertapati

Apa yang sebenarnya terjadi pada pujaan hatiku? Kemanakah ia sekarang?

Galuh Ajeng

Raden Inu Kertapati, aku akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Raden Inu Kertapati

Aku sangat berterimakasih kalau Galuh Ajeng ingin mengatakan yang sejujurnya. Cepat
katakana saja! Apa yang sebenarnya terjadi!

Galuh Ajeng

Sejak beberapa bulan yang lalu Candra Kirana meninggalkan kerajaan tanpa pamit.

Raden Inu Kertapati

Apaaaa? Meninggalkan kerajaan? Mana mungkin adindaku pergi begitu saja tanpa
alasan.

Galuh Ajeng

Candra Kirana pergi tanpa pamit. Dia tak mengatakan apapun mengapa dia pergi
meninggalkan kerajaan ini. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya dia bukan calon
pendamping hidup yang baik untukmu.

Raden Inu Kertapati

Galuh Ajeng! Kau tak sepantasnya mengatakan hal ini. Candra Kirana adalah tunanganku.
Dia calon istriku! Dan bagaimanapun juga, kau adalah saudaranya. Seharusnya kau
menjaga perkataanmu! Dia pasti mempunyai alasan mengapa dia pergi tanpa pamit.
158

Galuh Ajeng

Kalaupun ada alasannya mengapa tidak dia katakan?

Raja Daha

Percaya atau tidak percaya, itulah kenyatannya. Candra Kirana pergi tanpa pamit dan tak
beralasan. Aku sebagai ayahnya juga merasa heran. Aku bingung memikirkan bagaimana
dengan pesta pernikahan kalian jika ia tak kunjung datang.

Raden Inu Kertapati

Jadi paduka sudah menyebarkan tentang pernikahan itu?

Raja Daha

Kabar bahwa kau dan Candra Kirana akan menikah sudah tersebar luas. Kalau Candra
Kirana tak kembali, lantas bagaimana dengan nasibku dan kerajaan ini. Rasa malu pasti
tak terbendung lagi.

Raden Inu Kertapati

Lalu apa yang akan paduka lakukan jika Candra Kirana tak kembali?

Raja Daha

Aku sudah mempunyai rencana tapi tak bisa kusampaikan sekarang.

RAJA MENINGGALKAN TEMPAT PENJAMUAN. SUASANA SEMAKIN MENCEKAM. DEWI


LIKU DAN GALUH AJENG MENGHAMPIRI RADEN INU KERTAPATI.
159

Dewi Liku

(nada sinis sambil melirik Galuh Ajeng) Raden, sepertinya raden sudah lelah, sebaiknya
raden istirahat saja. Jangan memikirkan Candra Kirana, Karena pasti ada pengganti yang
lebih baik darinya.

Raden Inu Kertapati

Baiklah Gusti Dewi Liku, hamba mohon untuk undur diri.

NAMPAK RADEN DAN KEDUA PENGAWALNYA SEDANG BERBINCANG

Raden Inu Kertapati

Pengawalku, aku merasa sepertinya ada yang aneh dengan semua ini?

Pengawal 1

Apa yang aneh raden? Apa yang raden maksud adalah mengenai kepergian Candra
Kirana?

Raden Inu Kertapati

Betul

Pengawal 2

Eeee ladalaaaah den, lha anehnya dimana raden?

Raden Inu Kertapati


160

Coba kalian pikir. Seorang Candra Kirana pergi tanpa pamit. Aku telah mengenal lama
bagaimana perangainya. Tidak mungkin dia meninggalkan kerajaan begitu saja tanpa
alasan yag jelas. Pasti ada sesuatu dibalik semua ini. Aku yakin. Ada yang sengaja
membuat Candra Kirana terusir dari kerajaan. Kita harus mencari penyebabnya. Mencari
kebenaran atas semua yang terjadi. Kenyataan ini sungguh menyayat hati. Bak tersiram
air garam pada luka yang tergores karang. Berita ini seketika membuat tubuhku
melemah, patah semangat, luluh, dan hancur.

Pengawal 1

Raden, hamba mohon ampun. Apapun yang terjadi adalah kehendak Sang Hyang Widhi.
Kita harus tabah menghadapi semua ini. Hamba yakin kalau memang ia jodoh raden
maka ia akan kembali suatu saat nanti.

Pengawal 2

Betul itu den betul

Raden Inu Kertapati

Aku tahu akan hal itu, namun aku tak bisa menerima kenyataan pahit tentang
tunanganku begitu saja. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada
Candra Kirana.

Pengawal 1

Wahai raden. Karena hamba adalah utusan raden, hamba akan selalu melaksanakan
perintah raden, apapun itu. Hamba akan setuju dengan keputusan yang telah raden
tetapkan.

Raden Inu Kertapati

Baiklah, kita harus mencari tau kebenaran yang terjadi.


161

Pengawal 1 dan 2

Inggih raden.

MALAM BERGANTI PAGI. RADEN DAN PENGAWALNYA MASIH BERADA DALAM RUANG
UNTUK TAMU YANG TELAH DISEDIAKAN OLEH KERAJAAN

Raden Inu Kertapati

Pengawalku, nanti setelah kita keluar dari pintu gerbang istana, kita berpisah di jalan.

Pengawal 1

Kemana Raden Inu akan mencari Candra Kirana?

Raden Inu Kertapati

Aku tak tau harus kemana kakiku melangkah. Aku hanya menuruti kata hatiku.
Kemanapun ia menginginkan, maka arah itulah yang akan kutuju.

Pengawal 1

Mohon maaf raden, apakah itu tidak terlalu membahayakan?

Pengawal 2

yaiyalah yaiyadong Raden, itu sangat membahayakan.

Raden Inu Kertapati


162

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan selain menuruti kemauan hatiku. Tapi kalian
jangan khawatir. Aku bisa melindungi diriku sendiri dari bahaya yang sewaktu-waktu ku
temui di tengah perjalananku nanti.

Pengawal 1

Tapi raden, hamba tak sampai hati jika harus berpisah dengan raden.

Pengawal 2

Hamba juga raden. Huuuuuuu hamba jadi sedih den, hamba terharuuuu.

Pengawal 1

Kamu ini loo ah, jangan bercanda terus. Ini serius.

Pengawal 2

Hemm iya iya iya

PERBICANGAN TERHENTI. NAMPAK DARI BALIK PINTU, DUA DAYANG MEMBAWA


BEBERAPA MAKANAN

Dayang 1

Permisi raden. Hamba hanya ingin memberikan jamuan ini.

Pengawal 2

Eeeeee ladalaaaaahh, cantik sekali.


163

Pengawal 1

Heeee, kamu ini lo kok kurang ajar sekali. Ini dayang. Dayang kerajaan. Jangan diganggu.
Tapi memang benar, cantik sekali.

Pengawal 2

ya benar kan kataku. Memang cantik sekali seperti rembulan dan bintang-bintang yang
bersinar.

Pengawal 1

Halah kamu ini ngomong apa?

Pengawal 2

Ngomong itu.

Pengawal 1

Sudah-sudah. Kamu kok semakin nglindur saja.

Raden Inu Kertapati

Hehee, maafkan pengawalku dayang. Mereka memang sering aneh. (senyum raden
merekah)

Daayang 2

Tidak apa raden. Hehee. Baiklah silahkan menikmati raden. Hamba mohon undur diri.

DAYANG KELUAR, PEMBICARAAN DILANJUTKAN


164

Raden Inu Kertapati

Sebaiknya kita jangan meninggalkan kerajaan Daha terlebih dahulu.

Pengawal 1

Mohon maaf raden, mengapa raden bisa secepat ini berubah pikiran? Baru saja raden
mengatakan bahwa raden ingin segera menemukan Candra Kirana. Namun, mengapa
sekarang raden berubah pikiran secepat ini?

Raden Inu Kertapati

Ini bukan masalah perubahan pikiran, pengawalku. Aku hanya memikirkan keselamatan
kita. Terutama keselamatanku. Aku memutuskan untuk tidak mencari Candra Kirana
dalam waktu dekat ini.

Pengawal 2

Lantas apa yang akan kita lakukan, raden?

Raden Inu Kertapati

Kita tinggal disini saja untuk beberapa waktu. Sembari mencari jawaban atas kepergian
pujaan hatiku.

Pengawal 1

Berapa lama kita harus tinggal disini raden?

Raden Inu Kertapati

Aku belum bisa menentukan seberapa lama kita harus menetap disini.
165

Pengawal 1

Lalu apa yang kita lakukan disini raden?

Raden Inu Kertapati

Kita bisa melakukan apa saja yang berguna bagi kita. Kita bisa berlatih perang dengan
para prajurit dari kerajaan Daha.

Pengawal 1

Bagaimana kalau hamba dan para prajurit lainnya kembali ke kerajaan Jenggala raden?

Raden Inu Kertapati

Jangan, aku takkan memberimu izin untuk kembali ke Jenggala tanpa aku. Kau harus ikut
denganku kemanapun aku pergi. Aku akan menyuruh salah satu prajurit untuk
menyampaikan pada ayahanda, bahwa kita memutuskan untuk menetap disini beberapa
waktu. Dan aku yakin ayahanda akan menyetujuinya.

Pengawal 1

Baiklah raden, hamba akan setia menemani raden kemanapun raden pergi. Ya kan?

Pengawal 2

Iya raden. Sudah pasti kami akan menemani raden.

Raden Inu Kertapati

Baiklah, segera katakana pada prajurit yang lain bahwa kita akan menetap disini.
166

Pengawal 1 dan 2

Enggih raden.

DI SINGGASANA RAJA DAHA. SUASANA HENING. NAMPAK RADEN INU KERTAPATI DAN
RAJA DAHA SEDANG BERBINCANG MASALAH YANG SERIUS DITEMANI DENGAN GUSTI
DEWI LIKU

Raja Daha

Nakmas Raden Inu Kertapati, ada yang harus aku bicarakan padamu.

Raden Inu Kertapati

Wahai paduka raja, apakah gerangan yang ingin paduka sampaikan pada hamba?

Raja Daha

Aku telah menganggapmu sebagai anakku sendiri. Perangaimu yang membuatku


memutuskan untuk menjodohkanmu dengan putriku, Candra Kirana. Namun, kenyataan
pahit menimpamu. Sebenarnya bukan hanya kau. Akupun merasakan kepahitan itu. Aku
sebagai orang tua Candra Kirana merasa sedih sekali atas kepergiannya.

Raden Inu Kertapati

Lalu, apa yang mesti hamba lakukan, paduka raja? Apa yang hamba lakukan agar paduka
raja tidak malu atau merasa dipermalukan kalau Candra Kirana tidak pulang kemari?

Raja Daha

Sebenarnya, aku tidak sampai hati mengatakan ini padamu. Namun, nakmas Raden harus
bisa menerima keadaan ini. Aku pun merasa takut kalau Raden tidak sejalan denganku.
Tidak sepaham dengan keputusan yang telah aku tetapkan.
167

Raden Inu Kertapati

Apa yang telah paduka putuskan? Sebaiknya paduka katakan saja pada hamba. Hamba
ini calon putra paduka. Paduka katakan saja yang sejujurnya.

Raja Daha

Berat untuk kukatakan padamu Nakmas.

Raden Inu Kertapati

Wahai Paduka raja. Hamba akan senang hati menerima keputusan paduka raja jika
memang keputusan itu yang terbaik dan selaras dengan keinginan hamba.

Raja Daha

Baiklah akan kukatakan padamu. Nakmas, apa yang kukatakan ini demi kebaikan kita
semua. Terutama demi kebaikan dirimu sendiri.

Raden Inu Kertapati

Sebaiknya Gusti Ayu Dewi Liku mengatakan secara terang-terangan pada hamba agar
semuanya jelas.

Dewi Liku

Baiklah, akan kukatakan sejujurnya pada Raden.

Raden Inu Kertapati

Silahkan katakan saja pada hamba.


168

Dewi Liku

Begini Raden, paduka raja denganku telah memutuskan bahwa Raden harus menikah
dengan Galuh Ajeng untuk menutupi rasa malu keluarga.

Raden Inu Kertapati

Menikah dengan Galuh Ajeng? Tetapi hamba tak mencintainya. Tak terbesit sedikitpun
rasa cintaku pada Galuh Ajeng. Hanya Candra Kirana yang kucintai. Hanya dia seorang.

Dewi Liku

Raden tau bukan? Ia telah meninggalkan kerajaan. Tanpa pamit. Kurasa itu sudah
menjadi bukti bahwa ia tak lagi mencintaimu.

Raden Inu Kertapati

Tidak Gusti Ayu Dewi Liku! Hamba yakin ada sesuatu yang terjadi sehingga Candra Kirana
meninggalkan kerajaan.

Dewi Liku

Raden Inu Kertapati, berita tentang pernikahanmu dengan Candra Kirana sudah meluas
ke seluruh penjuru negeri ini. Lantas, jika Candra Kirana tak kembali, kau akan tahu sendiri
betapa malunya kami menanggung beban ini. Kami hanya ingin kau bersedia menikah
dengan Galuh Ajeng. Aku yakin ia lebih baik dari Candra Kirana.

Raden Inu Kertapati

Mohon ampun paduka Raja dan Gusti Ayu Dewi Liku, hamba tak bisa memutuskan
dengan cepat mengenai hal ini. Beri hamba waktu untuk menentukan jawaban.
169

Raja Daha

Nakmas Inu Kertapati, baiklah. Memang ini keputusan berat untukmu. Aku mengerti akan
hal ini. Kuberi kesempatan untukmu memikirkan jawaban yang tepat. Kuharap kau
menerima tawaran ini Nakmas.

Raden Inu Kertapati

Hamba akan memikirkannya terlebih dahulu paduka raja. Hamba mohon undur diri.

Raja Daha

Baik, pergilah.

TERLIHAT DEWI LIKU DAN GALUH AJENG MENYIAPKAN MINUMAN UNTUK RADEN INU
KERTAPATI

Dewi Liku

Anakku Galuh Ajeng, aku mempunyai rencana agar Raden Inu bersedia menikah
denganmu.

Galuh Ajeng

Ibunda, apa rencana ibunda?

Dewi Liku

Berikan minuman ini pada Raden Inu. Dalam minuman ini telah kutaburi serbuk agar
hatinya luluh dan ingatannya hanya pada dirimu. Serbuk ini dapat membuatnya tergila-
gila padamu. Sayangnya, ia tak akan bertahan lama. Namun kau tau perlu cemas
memikirkannya. Yang penting sekarang berikan ini padanya.
170

Galuh Ajeng

Benarkah Ibunda? Lantas bagaimana jika suatu saat ia tersadar bahwa ia tak mencintaiku?

Dewi Liku

Hahaaa, jangan khawatir anakku. Semua akan baik-baik saja. Percayalah, apapun
kulakukan untukmu anakku.

Galuh Ajeng

Terima kasih ibunda. Baiklah, segera kuantarkan minuman ini pada Raden Inu. (sambil
memeluk Dewi Liku)

BABAK KETIGA

DI RUANG KHUSUS TAMU KERAJAAN. GALUH AJENG MUNCUL DARI BALIK PINTU

Galuh Ajeng

Permisi Raden Inu. Maafkan hamba mengganggu waktu istirahatmu. hamba hanya ingin
memberimu minuman ini.

Raden Inu Kertapati

Terima kasih Galuh Ajeng.

Galuh Ajeng

Sama-sama den. Baiklah hamba mohon untuk undur diri.


171

Raden Inu Kertapati

Pergilah Diajeng.

RADEN MEMINUM MINUMAN YANG BERACUN ITU, DAN TIBA-TIBA IA TAK SADARKAN
DIRI.

SEDANG ASYIK BERBINCANG RADEN INU DAN PENGAWALNYA DI SUDUT RUANG.

Raden Inu Kertapati

Pengawalku, aku memutuskan untuk menikah dengan Galuh Ajeng.

Pengawal 1

Menikah dengan Galuh Ajeng?

Pengawal 2

apakah hamba tidak salah dengar?

Raden Inu Kertapati

Kalian tak salah dengar. Memang benar, keputusanku sudah bulat. Aku memutuskan
untuk menikah dengan Galuh Ajeng.

Pengawal 1

Mohon ampun den, lantas bagaimana dengan pertunangan Raden dengan Candra
Kirana?

Raden Inu Kertapati


172

Candra Kirana tak jua datang. Aku tak sanggup bila harus menunggunya. Dengan dia
meninggalkan kerajaan ini, membuatku yakin bahwa dia memang tak mencintaiku.

Pengawal 2

kalau hamba boleh mengatakan sejujurnya. Sebenarnya ada yang janggal dari kepergian
Candra Kirana.

Raden Inu Kertapati

Sudahlah, keputusanku sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat. Kupastikan akau akan
menikah dengan Galuh Ajeng.

Pengawal 1

Baiklah den, kalau memang itu keputusan raden. Kami pasti menyetujuinya.

Raden Inu Kertapati

Baiklah, aku akan menghadap pada paduka raja.

Pengawal 1 dan 2

Inggih raden.

DI SINGGASANA RAJA. SUASANA HENING

Raden Inu Kertapati

Mohon ampun paduka raja.


173

Raja Daha

Nakmas Inu Kertapati, apa yang hendak kau sampaikan hingga kau datang kemari?

Raden Inu Kertapati

Ampun beribu ampun paduka raja. Hamba hanya ingin menyampaikan bahwa hamba
telah menemukan jawaban atas tawaran paduka.

Raja Daha

Benarkah Nakmas? Lantas apa jawabanmu?

Raden Inu Kertapati

Hamba bersedia menikah dengan Galuh Ajeng. Kalau memang itu jalan yang terbaik,
hamba siap melaksanakannya.

Raja Daha

Jadi nakmas bersedia menikah dengan Galuh Ajeng?

Raden Inu Kertapati

Bersedia, paduka.

Dewi Liku

Benarkah Raden?

Raden Inu Kertapati

Inggih Gusti Ayu Dewi Liku.


174

Raja Daha

Hehee. Aku yakin pasti kau menerima tawaran ini. Baiklah Nakmas, akan segera
kupersiapkan pesta yang meriah untuk pernikahanmu.

Raden Inu Kertapati

Terima kasih paduka raja.

DI KAMAR GALUH AJENG, DEWI LIKU DAN GALUH AJENG SEDANG BERBINCANG

Dewi Liku

Anakku sayang, ibunda punya kabar baik untukmu. Aku yakin kau pasti merasa gembira
sekali.

Galuh Ajeng

Kabar gembira? Apa itu ibunda? Aku tak sabar untuk mengetahuinya.

Dewi Liku

Sebentar lagi kau akan jadi permaisuri dari putra mahkota kerajaan Jenggala. Raden Inu
Kertapati bersedia menikah denganmu. Hahahaa

Galuh Ajeng

Sungguh ibunda? Aku bak mendapatkan seluruh mutiara yang diidamkan semua orang.
Akulah orang paling beruntung didunia ini. Ibunda, aku senang sekali.
175

Dewi Liku

Memang kau orang yang paling beruntung didunia ini sayang. Kau telah berhasil
menggantikan posisi Candra Kirana. Aku ikut berbahagia dengan hal ini.

Galuh Ajeng

Rasanya seperti mimpi, hahaaa. Secepatnya aku akan menjadi permaisuri putra mahkota.

Dewi Liku

Hahaaaa kau sangat beruntung.

BERBAGAI PERSIAPAN PESTA PERNIKAHAN HAMPIR RAMPUNG. SUATU MALAM


MENJELANG PESTA PENIKAHAN, GALUH AJENG SEDANG BERHIAS MEMPERCANTIK
DIRINYA UNTUK MENYAMBUT PESTA PERNIKAHAN.

Dewi Liku

Wahai bidadariku, rupanya kau sedang berhias disini. Mengapa tak kau temani Raden Inu
duduk di taman kerajaan?

Galuh Ajeng

Ibunda, tadi aku sudah menemuinya, tapi dia mengatakan bahwa dia ingin sendiri. Maka
aku disini saja. Bagaimana ibunda, apakah semua telah ibunda persiapkan dengan baik?

Dewi Liku

Sudah kupastikan anakku. Pasti semuanya baik-baik saja.

Galuh Ajeng
176

Ibunda, tapi aku takut kalau suatu saat Raden menyesal menikah denganku.

Dewi Liku

Untuk sementara waktu, pengaruh guna-gunaku masih kuat. Perasaan menyesal itu pasti
datang, tapi kau jangan risau anakku. Semua pasti baik-baik saja.

Galuh Ajeng

Baiklah ibunda, aku percaya semua akan baik-baik saja.

BABAK KEEMPAT

BEBERAPA ORANG BERLARIAN KESANA KEMARI. TERIAKAN KETAKUTAN DAN


KEPANIKAN SEMAKIN JELAS TERDENGAR. LAUTAN BARA MENYAPA HALAMAN
KERAJAAN. KOBARAN API SEMAKIN MEMBESAR. MELULUH LANTAHKAN PERSIAPAN
PESTA YANG AKAN DIGELAR.

Galuh Ajeng

Ibunda, apa yang terjadi diluar sana?

Dewi Liku

Aku juga tak tahu pasti apa yang terjadi disana.

Galuh Ajeng

Sepertinya kobaran api membakar seluruh persiapan pesta.

Dewi Liku
177

Mengapa ini semua terjadi?

Galuh Ajeng

Aku juga tak tahu ibunda, hancur sudah pestaku.

SELURUH ANGGOTA KERAJAAN BERKUMPUL MENYAKSIKAN SEMUA PERSIAPAN YANG


LUDES DIMAKAN SI JAGO MERAH. TAK ADA YANG MEREKA LAKUKAN, HANYA
TERTEGUN MELIHAT API YANG SEMAKIN MEMBESAR. RAJA DAHA HANYA BISA
MENELAN LUDAH. MENERIMA KENYATAAN PAHIT UNTUK YANG KESEKIAN KALINYA.
TAK HANYA DIA, RADEN INU KERTAPATI JUGA MERASAKAN HAL YANG SAMA.

Raden Inu Kertapati

Pengawal, apa yang sedang terjadi?

Pengawal 2

Eeeee ladalaaaah den, persiapan untuk pesta telah lenyap dimakan api.

Raden Inu Kertapati

Siapa yang berani menyulut api disini?

Pengawal 1

Hambapun tak mengetahuinya Raden.

Raden Inu Kertapati

Mungkinkah orang yang kulihat tadi adalah dalang dari semua ini.
178

Pengawal 2

siapa den?

Raden Inu Kertapati

Aku tak nampak jelas dengan wajah orang itu. Tapi sepertinya dia adalah………… sudahlah,
mari ikut denganku.

RADEN DAN PENGAWALNYA MENINGGALKAN PANGGUNG. SUASANA MENCEKAM.


LAMPU MEREDUP

Pengawal 1

Raden, kita sekarang kemana? Semua jalan telah kita lewati, namun tak kunjung
menemukann siapa dalang dalam masalah ini.

Raden Inu Kertapati

Kita harus mencari Panji Semirang!

Pengawal 1

Panji Semirang? Mengapa kita mencari Panji Semirang den?

Pengawal 2

Iya den, mengapa kok Panji Semirang?

Raden Inu Kertapati


179

Aku yakin Panji Semirang yang melakukannya. Tadi sekilas aku melihat tubuh Panji
Semirang.

Pengawal 1

Apakah raden yakin?

Raden Inu Kertapati

Aku yakin sekali.

Pengawal

Lantas kita harus mencari kemana lagi Raden?

Raden Inu Kertapati

Asmarantika.

MALAM SEMAKIN LARUT, PENCARIAN TERHENTI. MEREKA MEMILIH MELANJUTKAN


PENCARIAN ESOK HARI.

Pengawal 1

Raden, kalau memang benar bahwa yang membakar adalah Panji Semirang. Hamba jadi
curiga.

Raden Inu Kertapati

Apa yang kau curigai?

Pengawal 1

Jangan-jangan Panji Semirang adalah pimpinan gerombolan penjahat yang ingin


menaklukkan kerajaan Daha.

Raden Inu Kertapati


180

Kerajaan Daha? Kau tak boleh mengatakan seperti itu. Belum tentu ia melakukan
kejahatan seperti yang kita duga. Tadi sekilas aku melihat Panji Semirang dan aku seperti
tak asing lagi dengan dirinya. Semua yang ada pada dirinya sepertinya telah lama aku
kenal.

Pengawal 2

Eeeee ladalaaah kok bisa to den?

Pengawal 1

Hih kamu ini kok ladalah ladalah terus (sambil memukul pengawal 2) memangnya siapa
den?

Raden Inu Kertapati

Candra Kirana.

Pengawal

Maksud Raden, Panji Semirang adalah saudaranya Galuh Candra Kirana?

Raden Inu Kertapati

Aku tidak berfikir begitu karena Candra Kirana tidak memiliki saudara kecuali Galuh
Ajeng.

Pengawal 1

Kalau begitu, apa yang Raden pikirkan?

Raden Inu Kertapati

Aku berfikir bahwa Panji Semirang adalah Candra Kirana.

Pengawal 1

Apaaa? Raden menduga kalau Panji Semirang adalah Candra Kirana?

Raden Inu Kertapati

Iya, aku melihat gerak geriknya yang sama seperti Candra Kirana.

Pengawal 1
181

Lantas, mengapa Raden meninggalkan Daha, padahal Raden telah bersedia menikahi
Galuh Ajeng?

Raden Inu Kertapati

Aku tak tahu apa yang merasukiku sehingga aku memutuskan untuk menikah dengan
Galuh Ajeng. Aku seperti kehilangan diriku sendiri. Namun sekarang, aku telah kembali.
Bayangan Candra Kirana juga kembali menghantuiku dan menuntunku untuk mengejar
Panji Semirang.

Pengawal 1

Apakah kemarin raden tidak merasa bahwa Raden telah diguna-guna oleh Dewi Liku agar
mau menikah dengan Galuh Ajeng?

Pengawal 2

masak iya begitu?

Raden Inu Kertapati

Tak terbesit sedikitpun dalam benakku bahwa Dewi Liku tega melakukan hal licik seperti
itu.

Pengawal 1

Dewi Liku melakukan hal senista itu agar Raden bersedia menikah dengan putrinya.
Hamba tahu bahwa Dewi Liku dan Galuh Ajeng yang meracuni minuman raden sehingga
raden tak sadarkan diri dan akhirnya raden tak mampu berfikir lagi. Raden hanya
mendengarkan Dewi Liku karena memang diotak raden telah terdoktrin ucapannya.
Sebenarnya hamba telah mengetahui semuanya, namun nyali hamba tak terlalu besar.
Apalah daya, hamba hanya rakyat kecil yang mana mungkin mampu menasehati
pemimpin seperti raden. Sehingga hamba hanya mampu menyimpan kebenaran
sendirian. Sekarang ini, keputusan Raden untuk meninggalkan kerajaan Daha sangat
tepat.

Raden Inu Kertapati

Mengapa kau tak menegurku? Mengapa pula kau bungkam seribu bahasa? Namun
sekarang sudah tak berarti lagi bagiku. Sudah kutinggalkan segenap harapan yang
182

pernah kutaruh pada Galuh Ajeng. Kini aku hanya menginginkan Candra Kirana seorang.
Aku menyadari bahwa hati yang tak berhati tak akan mampu menaklukkan pujaan hati.

Pengawal 1

Ampun beribu ampun Raden, hamba meminta maaf atas kesalahan hamba.

Raden Inu Kertapati

Baiklah pengawal, hal itu sudah menjadi masalalu bersama hari-hari yang telah berlalu.
Sekarang, kita istirahat disini. Besok kita lanjutkan perjalanan kita untuk mencari Panji
Semirang.

PANGGUNG GELAP. MENDADAK TERANG. BERGANTI SUASANA MENJADI PAGI.


BERSAMA KICAUAN BURUNG YANG SETIA MENEMANI. DI KERAJAAN ASMARANTIKA.
SUASANA TEGANG.

Raden Inu Kertapati

Pengawal, ini sebuah hal yang aneh. Disini tidak ada seorangpun.

Pengawal 1

Raden, ini semakin menguatkan dugaan Raden kemarin?

Raden Inu Kertapati

Dugaan apa pengawal?

Pengawal 1

Dugaan bahwa Panji Semirang adalah Candra Kirana. Pasti di kerajaan Daha telah terjadi
sesuatu yang menjadikan Candra Kirana pergi. Sekarang, Candra Kirana masih menjadi
tunangan Raden, sehingga dia tidak rela kalau raden akan menikah dengan Galuh Ajeng.
183

Nah, satu-satunya cara yang bisa menggagalkannya hanyalah dengan membakar pesta
itu.

Pengawal 2

Betol itu den betol.

Pengawal 1

Huuuusss kamu ini betal betol saja.

Pengawal 2

Heheee ampun ampuuuun.

Raden Inu Kertapati

Bagaimana kau bisa seyakin itu pengawal?

Pengawal 1

Hamba semakin yakin setelah melihat bahwa kerajaan ini tak berpenghuni. Panji
Semirang melakukan hal ini agar penyamarannya tak diketahui oleh siapapun.

Raden Inu Kertapati

Bagus sekali hipotesismu itu pengawal. Akupun semakin yakin bahwa Panji Semirang
adalah Candra Kirana yang kucari. Kau memang bisa kuandalkan.

Pengawal 2

Hehee yaiyalah yaiyadong. Sudah pasti bisa diandalkan. Ya kan?


184

Pengawal 1

Halah kau ini apa?

Pengawal 2

Aaaaah jangan begitulah.

Pengawal 1

Hahaa iya iya, sudah pasti bisa diandalkan dong den. Hehee terima kasih Raden. Mari kita
cari mereka dengan mengikuti tanda-tanda yang tergambar.

TIBA DI SUATU TEMPAT DITENGAH HUTAN

Pengawal 1

Den, lantas kita harus kemana?

Pengawal 2

Kita sudah lama lo den berkeliling tapi tak tau arah dan tujuan. Bagaimana kalau kita
balik ke kerajaan Jenggala saja.

Pengawal 1

Huuuussss kamu nggak sopan sekali kalau bicara dengan raden.

Pengawal 2

Ampun raden ampun.

Raden Inu Kertapati


185

Tidak masalah untukku wahai pengawal setiaku. Terima kasih atas semua bantuan kalian
selama ini. Tapi aku belum bisa kembali ke kerajaan jika aku belum menemukan pujaan
hatiku. Jika kalian ingin kembali, kembalilah. Tapi aku masih tetap melanjutkan
perjalananku.

Pengawal 1

Raden, den. Maaf den. Bukan maksud hamba seperti itu. Kamu sih.

Pengawal 2

Eeeee kok aku. Iyaa raden hamba mohon ampun raden, ampun.

Raden Inu Kertapati

Hehee tidak apa pengawal. Aku tidak memaksa kalian untuk ikut denganku. Begitu pula
dengan prajurit yang lain. Kalau kalian ingin kembali, kembalilah ke Jenggala. Biar aku
sendiri yang melanjutkan ekspedisiku.

Prajurit 1

Kami akan setia dan ikut kemanapun raden pergi.

Pengawal 1

Kami juga raden.

Pengawal 2

Kami juga den. Hidup raden Inu.

Semua

Hidup!
186

Pengawal 1

Semangat Raden Inu.

Semua

Semangat.

Raden Inu Kertapati

Terimakasih para pengawal setiaku. Baiklah mari kita lanjutkan perjalanan ini bersama-
sama.

Semua

Inggih Raden.

Raden Inu Kertapati

Sebentar lagi, diseberang sana adalah kerajaan Gegalang. Bagaimana kalau kita pergi
kesana untuk menemui pamanku, Prabu Ranujaya. Siapa tau ia mengetahui dimana
perginya Panji Semirang dan rombongannya itu.

Pengawal 1

Baiklah den, kalau memang itu yang raden inginkan, kami akan mengikuti kemanapun
raden pergi.

SAMPAI DI KERAJAAN GEGALANG

Raja Gegalang

Raden Inu Kertapati, tumben engkau datang kemari? Apakah ada utusan dari
ayahandamu?

Raden Inu Kertapati


187

Mohon ampun paman. Tak ada satupun utusan dari ayahanda untukmu. Sebenarnya
kedatangan hamba kemari ingin mencari Panji Semirang. Tahukah paman mengenai
Panji Semirang itu?

Raja Gegalang

Panji Semirang? Nama itu bukan nama yang asing lagi buatku. Untuk apa kau mencari
Panji Semirang?

Raden Inu Kertapati

Sebenarnya hamba ingin mencari Candra Kirana, Candra Kirana telah lama meninggakan
kerajaan Daha.

Raja Gegalang

Lantas? Mengapa engkau mencari Panji Semirang, sedangkan yang hilang adalah
tunanganmu?

Raden Inu Kertapati

Itulah paman, aku seperti melihat Candra Kirana dalam tubuh Panji Semirang. Aku yakin
bahwa Panji Semirang adalah tunanganku yang sedang menyamar.

Raja Gegalang

Seyakin itukah kau?

Raden Inu Kertapati

Aku sendiri tidak sepenuhnya yakin paman. Maka dari itu, aku giat untuk mencari Panji
Semirang guna membuktikan apakah ia memang tunangan yang kucari atau bukan.

Raja Gegalang

Nakmas Inu Kertapati, aku banyak mendengar cerita tentang Panji Semirang. Namun aku
tak tau pasti dimana dia dan pasukannya menetap.

PERBINCANGAN TERHENTI TATKALA ADA SEORANG PRAJURIT KERAJAAN DATANG


DENGAN NAFAS TERSENGAL-SENGAL

Prajurit Gegalang
188

Mohon ampun paduka raja, hamba hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini sedang
terjadi kekacauan kembali di depan gerbang kerajaan yang dipimpin oleh Lasan dan
Sategal.

Raja Gegalang

Apa yang diinginkannya lagi dariku? (marah besar)

Raden Inu Kertapati

Mohon ampun paman. Siapakah Lasan dan Sategal itu?

Raja Gegalang

Mereka adalah perampok jahanam yang selalu membuat kerusuhan di kerajaan ini.
Belum ada yang mampu mematahkan tulang-tulangnya dan mengkoyak-koyak
pertahanan yang ia buat.

Raden Inu Kertapati

Biar aku saja yang menghabisinya, paman.

Raja Gegalang

Baik, kalau memang kau bersedia, silahkan lakukan sekarang juga!

RADEN INU KERTAPATI DAN PARA PASUKANNYA MENGGALANG KEKUATANNYA


UNTUK MELAWAN ROMBONGAN LASAN DAN SATEGAL.

Raden Inu Kertapati

apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau selalu membuat kekacauan disini.

Lasan

siapa kau? Aku tak ada urusan denganmu.

Raden Inu Kertapati

jika kau membuat kerusuhan disini, sudah pasti itu menjadi urusanku

Sategal
189

haha anak muda. Kau bisa apa? Aku tak ada urusan denganmu. Pergilah atau kau
menemui ajalmu disini!

Raden Inu Kertapati

hahaa rupanya kau menantangku. Prajurit bersiaplah! Serbuuuuuuuuuuuuuuuu!

Prajurit

Serbuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!

Perang di Gegalang terjadi. Hingga akhirnya pedang menebas Lasan dan Sategal dan
sorak kemenangan terdengar dan Gegalang tak ada yang mengusik kembali.

Pengawal

Hidup Raden Inu Kertapati

Prajurit

Hidup Raden.

Prajurit

Hidup!

Raja Gegalang

Nakmas Raden, terimakasih karena kau telah membantuku untuk menumpas perampok
jahanam itu. Semoga kerajaan kita aman dan nyaman.

Raden Inu Kertapati

Ya paman, aku juga berharap seperti itu. Tidak usah berterimakasih padaku paman. Jika
tak ada bantuan yang lain, mungkin aku juga tak bisa melakukan ini sendirian.

Raja Gegalang

Tetap saja aku harus berterima kasih padamu, karena pedangmu yang dapat menghabisi
mereka.

Raden Inu Kertapati

Hehe aku melakukan ini demi kebaikan banyak orang paman.


190

Raja Gegalang

Hehe aku tau memang kau bisa diandalkan, sebagai tanda kemenangan kita. Aku akan
mengadakan pesta megah tujuh hari tujuh malam.

Raden Inu Kertapati

Baiklah paman hehe aku setuju denganmu.

PESTA HAMPIR RAMPUNG. MALAM HARI DI HARI KETUJUH. SUASANA MERIAH.

Pengawal Gegalang

Wahai semua hadirin. Malam ini merupakan malam puncak pesta di kerajaan Gegalang
ini. Sebagai malam penutup pesta, ada sebuah persembahan pantun. Seorang pujangga
dari Asmarantika. Mari kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah……

Panji Semirang :

Jenggala bersuka cita

Sang raja telah temukan tambatan hatinya

Ialah Galuh Ajeng Candra Kirana

Yang tak tertandingi kecantikannya

Jenggala saudara Gegalang

Raja Jenggala raja bijaksana

Pujaan hati raja menghilang

Ialah diajeng Candra Kirana

Raja Kediri tak berpendirian

Kasih sayangnya tak lagi sama

Candra Kirana hilang ingatan


191

Selir rajalah yang menyihirnya

Kediri tentram tanpa kacau

Kediri damai tanpa perang

Candra Kirana pergi merantau

Berganti Panji Semirang

Pergi raja kearah harapan indah

Ingin raja bertemu pujaan hati

Bekal raja tak terjumlah

Namun ternyata tak sesuai ekspektasi

Pion Asmarantika mengahadang

Raja bersiap untuk perang

Suasana tak lagi menegang

Diutusnya raja menghadap Panji Semirang

Jamuan melimpah ruah

Dinikmatinya dengan senang hati

Perasaan raja tak terarah

Seperti menemukan kembali pengisi hati

Sampai raja di Kediri

Menghadap raja juga selir


192

Tak ditemukannya pengisi hati

Hati raja yang terpengaruh sihir

Sihir membatukan hati

Hingga tak mampu berkutik lagi

Namun raja tersadar kembali

Diputuskannya pergi tinggalkan Kediri

Teringat raja pada Gegalang

Pergi raja untuk mencari jawaban

Jawaban tak kunjung datang

Hanya perang yang harus dilawan

Gegalang bersorak menang

Berkat bantuan Inu Kertapati

Candra Kirana kembali datang

Panji Semirang pergi

SEMUA TERTEGUN MENYAKSIKAN PANJI SEMIRANG MEMBACAKAN PANTUN

Pengawal 2

Mohon maaf den, kok ceritanya sama ya seperti perjalanan kita.

Pengawal 1

Leeeee iya, sama den. Nah benar kalau memang Panji Semirang ini Galuh Candra Kirana.

Raden Inu Kertapati


193

(menuju ke tempat Candra Kirana membacakan pantun) Diajeng Candra Kirana, aku tau
itu adalah kau Diajeng. Telah lama kumencari senyuman itu.

Candra Kirana

Kakanda Inu Kertapati, rupanya kau telah mengetahui siapa diriku. Memang akulah yang
kakanda cari selama ini.

Raden Inu Kertapati

Diajeng, mengapa kau melakukan ini semua?

Candra Kirana

Kakanda, aku disihir Gusti Ayu Dewi Liku sehingga ingatanku menghilang. Aku terusir dari
kerajaan.

Raden Inu Kertapati

Benarkah diajeng? Tak kusangka, betapa kejamnya ibu tirimu itu. Tapi, apapun itu
Diajeng, yang terpenting sekarang ini cinta kita telah dipertemukan kembali oleh Sang
Hyang Widhi. Kakanda tak menginginkan perpisahan ini terjadi lagi.

Candra Kirana

Akupun tak menginginkannya kakanda.

Berpegangan tangan, sorak-sorak dari seluruh yang mengikuti pesta semakin


memeriahkan suasana.
194

PANJI SEMIRANG

Tari Klana gending Kalongan slendro pathet sepuluh


Pathet Wolu
(Gending Ayak slendro pathet wolu)

(Gending Jula-Juli slendro Wolu)

BABAK PERTAMA

Janturan Dalang

Di kerajaan Jenggala, putra mahkota ialah Raden Inu Kertapati memutuskan untuk pergi
menemui pujaan hati di Kediri. Ia berangkat bersama orang kepercayaannya serta para
prajurit yang setia menemaninya. Berbekal tak terjumlah, mereka berangkat menuju
Kediri. Namun, ditengah perjalanan mereka dihadang oleh sekelompok prajurit. Dengan
sigap, Raden Inu Kertapati mengangkat tangan kirinya seraya memberikan aba-aba agar
para prajuritnya bersiap untuk berperang. Akan tetapi, dugaan mereka salah. Mereka
malah dipertemukan dengan Panji Semirang, pemimpin daerah tersebut. Sejak pertama
kali bertemu dengan Panji Semirang, Raden Inu Kertapati tidak merasa asing dengannya.
Ia merasa Panji Semirang ialah orang yang telah lama dikenalnya. Raden
menyembunyikan dugaannya tersebut hingga akhirnya ia mengetahui bahwa kekasihnya
menghilang dari kerajaan. Hilangnya Candra Kirana membuat hatinya pilu hingga ia
tersadar bahwa dugaannya benar, Panji Semirang ialah Candra Kirana.

DI ISTANA, KERAJAAN JENGGALA. SUASANA TENTRAM SEAKAN IKUT MENDENGARKAN


PEMBICARAAN RAJA DAN PUTRA MAHKOTANYA.

Raden Inu Kertapati

Selamat malam ayahanda.

Raja Jenggala
195

Selamat malam anakku. Apa yang hendak kau sampaikan sehingga malam-malam begini
kau menemuiku?

Raden Inu Kertapati

Hamba mohon ampun ayahanda, jika kedatangan hamba mengganggu waktu


istirahatmu.

Raja Jenggala

Hehee… anakku, sudah pasti kedatanganmu tak menggangguku. Katakan! Apa yang
ingin kau sampaikan.

Raden Inu Kertapati

Ayahanda. Rasanya sudah lama hamba tak menemui pujaan hati hamba, Candra Kirana.
Jika ayahanda mengizinkan, esok hamba ingin pergi ke kerajaan Daha. Namun, jika
ayahanda tak berkenan, maka hamba tidak akan berangkat jika tak berbekal izin dari
ayahanda.

Raja Jenggala

Anakku, jangankan untuk pergi ke kerajaan Daha. Jika memang kau menginginkan untuk
membelah lautan sekalipun, aku pasti memberimu izin. Asal kau menjaga dirimu dengan
baik. Pergilah anakku. Persiapkan apa saja yang kau butuhkan selama perjalananmu.
Semoga Sang Hyang Widhi selalu menyertai disetiap langkah kakimu.

Raden Inu Kertapati

Terima kasih ayahanda. Baiklah, hamba akan mempersiapkan segala keperluan yang
hamda butuhkan. Hamba mohon undur diri.

Raja Jenggala

Pergilah nak!

SUASANA SEMAKIN TENANG KARENA HARI YANG SEMAKIN LARUT MALAM.

Raden Inu Kertapati

Pengawaaaaaaaall!!!
196

Pengawal 1 dan 2

Mohon ampun Raden. Apakah Raden memanggil hamba? Apa yang bisa hamba bantu
Raden?

Raden Inu Kertapati

Pengawalku, besok sebelum matahari menampakkan diri. Aku akan pergi menemui
pujaan hatiku di Kediri. Aku ingin, segera kau persiapkan segala keperluan yang akan kita
butuhkan selama perjalanan. Aku mempercayaimu. Aku yakin kau mampu
mempersiapkan semuanya.

Pengawal 1

Walah den raden, itu mah hal kecil. Ya kan? (sambil menyenggol pengawal 2)

Pengawal 2

Hehee iya. Tenang saja den, itu hal kecil. Nanti akan hamba persiapkan untuk raden.

Raden Inu Kertapati

Baiklah, siapkan semua yang diperlukan dalam perjalanan. Aku ingin tak ada satupun
yang data menghalangi perjalananku agar aku segera menemukan pelukis senyumku
yang telah lama tak kutemui.

Pengawal 1 dan 2

Baik raden.
197

DI HUTAN. RADEN INU KERTAPATI BESERTA ROMBONGANNYA BERBONDONG-


BONDONG

Pengawal 1

Mohon maaf raden? Ini berapa lama lagi? Kaki hamba rasanya sudah mau patah.

Pengawal 2

Heee, kamu kok berlebihan sekali sih. Ini belum setengah perjalanan.

Pengawal 1

Haaaaa? Benarkah den?

Pengawal 2

Yaiyalah, yaiya dong. Hahaaa!!

Pengawal 1

Heeeeh aku nggak tanya ke kamu. Aku tanya ke Raden.

Pengawal 2

Heheee (nyengir) mohon ampun den.

Raden Inu Kertapati

Hehee. Memang benar, ini belum setengah dari perjalanan. Jika memang kau lelah, maka
bersitirahatlah sebentar. Kita lanjutkan perjalanan setelah kakimu tak terasa pegal.
198

Pengawal 1

Hehe mohon ampun raden, hamba hanya bercanda saja hehe lebih baik kita lanjutkan
perjalanan ini.

Pengawal 2

Eeee la kamu ini bagaimana, kok malah bercanda dengan raden.

Pengawal 1

Hehe mohon ampun raden, mohon ampun. Kamu ini apaan sih (memukul pengawal 2)

Pengawal 2

Kamu ini yang apa-apaan.

TAK TERASA, PERJALANAN MEREKA SAMPAI PADA KERAJAAN KAHURIPAN DAN KEDIRI.
SUASANA MENCEKAM KARENA ROMBONGAN MEREKA DIHADANG OLEH
SEKELOMPOK ORANG TAK DIKENAL.

Prajurit Asmarantika

Berhenti!

Raden Inu Kertapati

Siapa kau? Beraninya kau menghentikan perjalananku? (Raden Inu Kertapati berhenti,
seraya mengangkat tangan kiri sebagai tanda agar prajuritnya turut berhenti. Tombak
maupun pedang diacungkan pertanda pertempuran akan dimulai. Namun suasana
mereda)
199

Prajurit Asmarantika

Ampun Raden, kami hanya menyampaikan utusan agar Raden berkenan menemui
pimpinan kami, Panji Semirang.

Raden Inu Kertapati

Apa yang diinginkan pimpinanmu itu dariku?

Prajurit Asmarantika

Mohon maaf Raden, kami tidak mengetahui akan hal itu. Kami hanya menyampaikan
utusan.

Raden Inu Kertapati

Baiklah, pertemukan aku dengan pimpinanmu itu.

Pengawal 1

Loh den, mengapa raden mau bertemu dengan pimpinan mereka? Kita belum mengenal
siapa mereka. Kalau misalnya mereka jahat, kita harus bagaimana?

Pengawal 2

Heee kamu ini lo, mana mungkin mereka jahat, dilihat dari cara mereka ngomong saja
sudah kelihatan kalau mereka orang baik. Nah siapa tau juga nanti kita diberi makanan.
Kan enak. Heheee

Pengawal 1

Halaaahh, kamu ini apaa? Makanan terus. Lihat tuh perutmu sudah offside. Sudah
melebihi batas garis. Jangan cuma makan mulu yang ada diotakmu ini. Lagian sekarang
200

ini, kita tidak bisa menilai orang hanya dari fisik saja. Apalagi dari omongan. Halaaaaah
jelas gak bisa. Sekarang lo banyak yang ngomong panjang lebar, ngomong banyak janji
manis tapi ya kenyataannya gak bisa dipegang. Jangan suka menilai orang dari luarnya
saja, hati orang siapa yang tau?

Pengawal 2

Kamu kok bener juga ya kadang-kadang kalau ngomong.

Pengawal 1

Ya memang benar, hahaa. Eh sudah-sudah, ituloh raden kebingungan kok kamu malah
ngajakin bercanda. Mohon ampun den, bagaimana den jadinya?

Raden Inu Kertapati

Aku hanya ingin mengetahui sebenarnya apa yang mereka inginkan dariku. Kita ikuti saja
mereka. Tetapi kita harus tetap waspada.

Pengawal 2

Betul den, kita ya harus waspada.

Pengawal 1

Betul den itu betul.

DISEBUAH TEMPAT DI KERAJAAN ASMARANTIKA

Panji Semirang
201

Salam hormat saya Raden. Terimakasih sudah berkenan hadir dan menyempatkan diri
untuk memenuhi panggilanku.

Raden Inu Kertapati

Siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku?

Panji Semirang

Wahai ksatria dari kerajaan Jenggala. Sudikah kiranya kau berkenalan denganku.
Perkenalkan namaku Panji Semirang. Penguasa di daerah ini.

Raden Inu Kertapati

Lantas apa yang kau inginkan dariku?

Panji Semirang

Raden Inu Kertapati, putra mahkota dari kerajaan Jenggala. Kami tidak ingin membuat
pertumpahan darah denganmu. Kami hanya ingin menyambut pasukanmu dengan
memberikan jamuan.

Pengawal 2

Naaaah, benar kan kataku, jamuan?

Pengawal 1

Huuuss mulutmu itu loh.

Raden Inu Kertapati


202

Oh Panji Semirang. Rupanya, kau ini yang bernama Panji Semirang. Aku banyak
mendengar cerita tentangmu dan prajuritmu. Katakan saja sejujurnya, apa yang kau
inginkan?

Panji Semirang

Tak terbesit sedikitpun niat keji untukmu. Aku hanya ingin menyambutmu saja. Tidak
lebih.

Raden Inu Kertapati

Baiklah, kalau memang itu keinginanmu. Aku dan anak buahku melakukan perjalanan
panjang. Jika memang kau benar-benar ingin menjamu kami. Berikan jamuan yang
terbaik darimu.

Panji Semirang

Hehee tidak masalah untukku raden. Silahkan menikmati seluruh jamuan yang telah
kupersiapkan untukmu dan anak buahmu.

SUASANA MERIAH. MAKANAN MELIMPAH RUAH. DI SUDUT RUANGAN, RADEN DAN


PENGAWALNYA TENGAH BERBINCANG

Pengawal 1

Kenapa raden terlihat bimbang?

Raden Inu Kertapati

Bagaimana aku tidak bimbang, ia orang asing yang belum kukenal sebelumnya. Banyak
cerita buruk tentangnya. Dalam benakku tertanam bahwa dirinya orang yang tak
203

beretika. Namun hari ini ia merubah segalanya. Sikap manisnya bertolak belakang
dengan cerita yang kuterima selama ini.

Pengawal 1

Mohon maaf raden, hamba sudah tau kalau raden pasti berat untuk memilih tawaran ini.

Pengawal 2

Sudah pasti berat ya den.

Pengawal 1

Kamu ini jangan bercanda terus.

Pengawal 2

Eeeee la kamu ini loh, aku ini serius.

Pengawal 1

Serius kok kayak gitu. Sudah jangan ngeciwis terus.

Raden Inu Kertapati

Bagaimana jika tawaran ini datang padamu?

Pengawal 2

Hambapun kalau berada di posisi raden akan menerima tawaran ini namun harus tetap
waspada.
204

Raden Inu Kertapati

Mengapa kau bersedia untuk menerima tawarannya?

Pengawal 2

Begini den, karena hamba hanya ingin membuktikan tentang semua cerita Panji
Semirang yang terkenal tak beretika itu.

Pengawal 1

Lah tumben kamu bisa ngomong serius.

Pengawal 2

Eeee yaiyalah yaiyadong. Hahaaa

Raden Inu Kertapati

Baiklah, aku ingin membuktikan bagaimana sebenarnya Panji Semirang itu.

SETELAH JAMUAN SELESAI, RADEN DAN KEDUA PENGAWALNYA BERBINCANG DENGAN


PANJI SEMIRANG

Raden Inu Kertapati

Sebenarnya, apa yang kau inginkan dariku?

Panji Semirang

Wahai putra mahkota dari Jenggala. Aku tak menginginkan apapun darimu.
205

Raden Inu Kertapati

Lantas mengapa kau melakukan semua ini?

Panji Semirang

Aku hanya ingin bersahabat denganmu.

Raden Inu Kertapati

Hanya itu saja yang kau inginkan?

Panji Semirang

Iya, hanya itu saja. Ini kerajaanku, Asmarantika. Aku yakin kau banyak mendengar hal
buruk tentangku, tentang kerajaan ini, dan tentang para prajuritku. Dengan cara seperti
ini, aku ingin membuktikan bahwa aku dan segerombolanku bukanlah seorang
perampok. Aku hanya menumpas orang-orang yang tak mengenal kemanusiaan.

Raden Inu Kertapati

Aku mempercayainya. Dan aku yakin prajuritku juga akan mempercayaimu. Bukankah
begitu?

Pengawal 1 dan 2

Iyaaa, betul den raden.

Semua Prajurit

Iyaa betul raden.


206

Raden Inu Kertapati

Terimakasih untuk semua yang kau berikan. Namun aku dan pasukanku ingin
melanjutkan perjalanan kami.

Panji Semirang

Baiklah raden, terimakasih sudah berkenan menerima tawaranku.

BABAK KEDUA

DI PERJALANAN MENUJU KEDIRI. KEGUNDAHAN MENYELIMUTI HATI RADEN INU


KERTAPATI

Raden Inu Kertapati

Sepertinya aku tidak asing dengan Panji Semirang?

Pengawal 1

Mohon maaf raden, bagaimana maksud raden?

Raden Inu Kertapati

Perangainya seperti sudah kukenal sebelumnya.

Pengawal 2

Mana mungkin den. Kan kita baru bertemu dengan Panji Semirang.

Pengawal 1

Nah iyaaa den, bagaimana mungkin.


207

Raden Inu Kertapati

Mungkin hanya perasaanku saja. Baiklah mari kita lanjutkan. Sebentar lagi kita akan
sampai di Kediri.

HUTAN TERUS DISUSURINYA. TETAPI HATINYA GELISAH KARENA ADA SESUATU YANG
MENYELIMUTI HATINYA TIBA DI KEDIRI. SUASANA RAMAI, DISAMBUT DENGAN PENUH
SUKA CITA.

Raden Inu Kertapati

Ada apa ini?

Pengawal 1

Mohon maaf raden, hambapun tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi disini.

Raden Inu Kertapati

Akupun tak mengetahuinya mengapa penyambutan ini meriah sekali.

Pengawal 1

Hamba heran. Apakah ini sebuah keberuntungan atau malah sebaliknya?

Raden Inu Kertapati

Semoga saja keberuntungan yang selalu menyertai kemanapun kita melangkahkan kaki.
208

RAJA KERAJAAN DAHA, DEWI LIKU, DAN GALUH AJENG MENYAMBUT MEREKA DENGAN
SENYUM MEREKAH.

Raja Daha

Selamat datang wahai ksatria. Lama kau tak berkunjung ke kerajaan ini.

Raden Inu Kertapati

Salam hormatku untukmu paduka raja. Memang sudah lama aku tak menginjakkan kaki
disini.

Raja Daha

Bagaimana kabar kerajaanmu?

Raden Inu Kertapati

Kerajaan tetap pada posisi yang aman. Bagaimana denganmu raja?

Raja Daha

Syukur mendengar kabar baik darimu, semoga Sang Hyang Widhi selalu menyertai
langkahmu. Keadaanku seperti yang kau lihat sekarang ini.

Raden Inu Kertapati

Hehee syukurlah raja.

Raja Daha
209

Hehee, baiklah. Sebagai tanda penyambutanmu, kupersilahkan kau dan pasukanmu


untuk menikmati jamuan yang telah tersedia. Setelah itu kupersilahkan juga agar kau dan
pasukanmu untuk beristirahat karena aku yakin perjalananmu yang panjang menguras
semua tenagamu.

Raden Inu Kertapati

Terimakasih paduka raja, hamba tak tau harus dengan cara apa hamba membalas
kebaikanmu .

Raja Daha

Tak perlu kau pikirkan kau harus membalas dengan cara yang seperti apa, cukup nikmati
saja semua yang telah kusiapkan untukmu.

Pengawal 2

Yeeee makanan, makanan yeeee

Pengawal 1

Huusss, kamu ini lo jangan malu-maluin Raden dong.

Pengawal 2

Hehee, ya maafkan saya. Sering over bahagia kalau melihat makanan. Apalagi makanan
yang enak-enak.

Pengawal 1

Mohon ampun paduka raja, ini memang matanya membiru kalau melihat makanan.
210

Raja Daha

Hehe tidak apa, silahkan-silahkan.

DI SALAH SATU RUANGAN YANG ADA DI KERAJAAN. SUASANA RIANG GEMBIRA.


SEDANG BERLANGSUNG ACARA JAMUAN DARI KERAJAAN DAHA

Raden Inu Kertapati

Pengawal, apakah kau melihat Candra Kirana?

Pengawal 1

Mohon maaf raden aku tak melihatnya sejak kita sampai disini.

Raden Inu Kertapati

Akupun tak melihat senyum yang kucari. Aku tak menemukan setengah hatiku yang telah
lama kunanti.

Pengawal 1

Sebaiknya raden tanyakan langsung pada paduka raja.

Raden Inu Kertapati

Ya paduka raja, sebenarnya kedatanganku kesini untuk bertemu dengan Candra Kirana.
Namun aku tak melihatnya sama sekali. Kemanakah gerangan dirinya?

Raja Daha

Can..Can..Ndra Kirana.. Ia belum bisa menemuimu!


211

Raden Inu Kertapati

Mengapa ia tak bisa menemuiku? Katakan saja, aku ingin mengetahuinya.

Dewi Liku

Wahai paduka raja, sebaiknya katakan saja yang sejujurnya pada Raden Inu Kertapati.
Sudah saatnya ia harus mengetahui semua yang terjadi. Terus terang saja! Tanpa ada
yang ditutup-tutupi!

Raden Inu Kertapati

Apa yang sebenarnya terjadi pada pujaan hatiku? Kemanakah ia sekarang?

Galuh Ajeng

Raden Inu Kertapati, aku akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Raden Inu Kertapati

Aku sangat berterimakasih kalau Galuh Ajeng ingin mengatakan yang sejujurnya. Cepat
katakana saja! Apa yang sebenarnya terjadi!

Galuh Ajeng

Sejak beberapa bulan yang lalu Candra Kirana meninggalkan kerajaan tanpa pamit.

Raden Inu Kertapati

Apaaaa? Meninggalkan kerajaan? Mana mungkin adindaku pergi begitu saja tanpa
alasan.
212

Galuh Ajeng

Candra Kirana pergi tanpa pamit. Dia tak mengatakan apapun mengapa dia pergi
meninggalkan kerajaan ini. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya dia bukan calon
pendamping hidup yang baik untukmu.

Raden Inu Kertapati

Galuh Ajeng! Kau tak sepantasnya mengatakan hal ini. Candra Kirana adalah tunanganku.
Dia calon istriku! Dan bagaimanapun juga, kau adalah saudaranya. Seharusnya kau
menjaga perkataanmu! Dia pasti mempunyai alasan mengapa dia pergi tanpa pamit.

Galuh Ajeng

Kalaupun ada alasannya mengapa tidak dia katakan?

Raja Daha

Percaya atau tidak percaya, itulah kenyatannya. Candra Kirana pergi tanpa pamit dan tak
beralasan. Aku sebagai ayahnya juga merasa heran. Aku bingung memikirkan bagaimana
dengan pesta pernikahan kalian jika ia tak kunjung datang.

Raden Inu Kertapati

Jadi paduka sudah menyebarkan tentang pernikahan itu?

Raja Daha

Kabar bahwa kau dan Candra Kirana akan menikah sudah tersebar luas. Kalau Candra
Kirana tak kembali, lantas bagaimana dengan nasibku dan kerajaan ini. Rasa malu pasti
tak terbendung lagi.
213

Raden Inu Kertapati

Lalu apa yang akan paduka lakukan jika Candra Kirana tak kembali?

Raja Daha

Aku sudah mempunyai rencana tapi tak bisa kusampaikan sekarang.

RAJA MENINGGALKAN TEMPAT PENJAMUAN. SUASANA SEMAKIN MENCEKAM. DEWI


LIKU DAN GALUH AJENG MENGHAMPIRI RADEN INU KERTAPATI.

Dewi Liku

(nada sinis sambil melirik Galuh Ajeng) Raden, sepertinya raden sudah lelah, sebaiknya
raden istirahat saja. Jangan memikirkan Candra Kirana, Karena pasti ada pengganti yang
lebih baik darinya.

Raden Inu Kertapati

Baiklah Gusti Dewi Liku, hamba mohon untuk undur diri.

NAMPAK RADEN DAN KEDUA PENGAWALNYA SEDANG BERBINCANG

Raden Inu Kertapati

Pengawalku, aku merasa sepertinya ada yang aneh dengan semua ini?

Pengawal 1

Apa yang aneh raden? Apa yang raden maksud adalah mengenai kepergian Candra
Kirana?
214

Raden Inu Kertapati

Betul

Pengawal 2

Eeee ladalaaaah den, lha anehnya dimana raden?

Raden Inu Kertapati

Coba kalian pikir. Seorang Candra Kirana pergi tanpa pamit. Aku telah mengenal lama
bagaimana perangainya. Tidak mungkin dia meninggalkan kerajaan begitu saja tanpa
alasan yag jelas. Pasti ada sesuatu dibalik semua ini. Aku yakin. Ada yang sengaja
membuat Candra Kirana terusir dari kerajaan. Kita harus mencari penyebabnya. Mencari
kebenaran atas semua yang terjadi. Kenyataan ini sungguh menyayat hati. Bak tersiram
air garam pada luka yang tergores karang. Berita ini seketika membuat tubuhku
melemah, patah semangat, luluh, dan hancur.

Pengawal 1

Raden, hamba mohon ampun. Apapun yang terjadi adalah kehendak Sang Hyang Widhi.
Kita harus tabah menghadapi semua ini. Hamba yakin kalau memang ia jodoh raden
maka ia akan kembali suatu saat nanti.

Pengawal 2

Betul itu den betul

Raden Inu Kertapati


215

Aku tahu akan hal itu, namun aku tak bisa menerima kenyataan pahit tentang
tunanganku begitu saja. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada
Candra Kirana.

Pengawal 1

Wahai raden. Karena hamba adalah utusan raden, hamba akan selalu melaksanakan
perintah raden, apapun itu. Hamba akan setuju dengan keputusan yang telah raden
tetapkan.

Raden Inu Kertapati

Baiklah, kita harus mencari tau kebenaran yang terjadi.

Pengawal 1 dan 2

Inggih raden.

MALAM BERGANTI PAGI. RADEN DAN PENGAWALNYA MASIH BERADA DALAM RUANG
UNTUK TAMU YANG TELAH DISEDIAKAN OLEH KERAJAAN

Raden Inu Kertapati

Pengawalku, nanti setelah kita keluar dari pintu gerbang istana, kita berpisah di jalan.

Pengawal 1

Kemana Raden Inu akan mencari Candra Kirana?

Raden Inu Kertapati


216

Aku tak tau harus kemana kakiku melangkah. Aku hanya menuruti kata hatiku.
Kemanapun ia menginginkan, maka arah itulah yang akan kutuju.

Pengawal 1

Mohon maaf raden, apakah itu tidak terlalu membahayakan?

Pengawal 2

yaiyalah yaiyadong Raden, itu sangat membahayakan.

Raden Inu Kertapati

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan selain menuruti kemauan hatiku. Tapi kalian
jangan khawatir. Aku bisa melindungi diriku sendiri dari bahaya yang sewaktu-waktu ku
temui di tengah perjalananku nanti.

Pengawal 1

Tapi raden, hamba tak sampai hati jika harus berpisah dengan raden.

Pengawal 2

Hamba juga raden. Huuuuuuu hamba jadi sedih den, hamba terharuuuu.

Pengawal 1

Kamu ini loo ah, jangan bercanda terus. Ini serius.

Pengawal 2

Hemm iya iya iya


217

PERBICANGAN TERHENTI. NAMPAK DARI BALIK PINTU, DUA DAYANG MEMBAWA


BEBERAPA MAKANAN

Dayang 1

Permisi raden. Hamba hanya ingin memberikan jamuan ini.

Pengawal 2

Eeeeee ladalaaaaahh, cantik sekali.

Pengawal 1

Heeee, kamu ini lo kok kurang ajar sekali. Ini dayang. Dayang kerajaan. Jangan diganggu.
Tapi memang benar, cantik sekali.

Pengawal 2

ya benar kan kataku. Memang cantik sekali seperti rembulan dan bintang-bintang yang
bersinar.

Pengawal 1

Halah kamu ini ngomong apa?

Pengawal 2

Ngomong itu.

Pengawal 1
218

Sudah-sudah. Kamu kok semakin nglindur saja.

Raden Inu Kertapati

Hehee, maafkan pengawalku dayang. Mereka memang sering aneh. (senyum raden
merekah)

Daayang 2

Tidak apa raden. Hehee. Baiklah silahkan menikmati raden. Hamba mohon undur diri.

DAYANG KELUAR, PEMBICARAAN DILANJUTKAN

Raden Inu Kertapati

Sebaiknya kita jangan meninggalkan kerajaan Daha terlebih dahulu.

Pengawal 1

Mohon maaf raden, mengapa raden bisa secepat ini berubah pikiran? Baru saja raden
mengatakan bahwa raden ingin segera menemukan Candra Kirana. Namun, mengapa
sekarang raden berubah pikiran secepat ini?

Raden Inu Kertapati

Ini bukan masalah perubahan pikiran, pengawalku. Aku hanya memikirkan keselamatan
kita. Terutama keselamatanku. Aku memutuskan untuk tidak mencari Candra Kirana
dalam waktu dekat ini.

Pengawal 2

Lantas apa yang akan kita lakukan, raden?


219

Raden Inu Kertapati

Kita tinggal disini saja untuk beberapa waktu. Sembari mencari jawaban atas kepergian
pujaan hatiku.

Pengawal 1

Berapa lama kita harus tinggal disini raden?

Raden Inu Kertapati

Aku belum bisa menentukan seberapa lama kita harus menetap disini.

Pengawal 1

Lalu apa yang kita lakukan disini raden?

Raden Inu Kertapati

Kita bisa melakukan apa saja yang berguna bagi kita. Kita bisa berlatih perang dengan
para prajurit dari kerajaan Daha.

Pengawal 1

Bagaimana kalau hamba dan para prajurit lainnya kembali ke kerajaan Jenggala raden?

Raden Inu Kertapati

Jangan, aku takkan memberimu izin untuk kembali ke Jenggala tanpa aku. Kau harus ikut
denganku kemanapun aku pergi. Aku akan menyuruh salah satu prajurit untuk
menyampaikan pada ayahanda, bahwa kita memutuskan untuk menetap disini beberapa
waktu. Dan aku yakin ayahanda akan menyetujuinya.
220

Pengawal 1

Baiklah raden, hamba akan setia menemani raden kemanapun raden pergi. Ya kan?

Pengawal 2

Iya raden. Sudah pasti kami akan menemani raden.

Raden Inu Kertapati

Baiklah, segera katakana pada prajurit yang lain bahwa kita akan menetap disini.

Pengawal 1 dan 2

Enggih raden.

DI SINGGASANA RAJA DAHA. SUASANA HENING. NAMPAK RADEN INU KERTAPATI DAN
RAJA DAHA SEDANG BERBINCANG MASALAH YANG SERIUS DITEMANI DENGAN GUSTI
DEWI LIKU

Raja Daha

Nakmas Raden Inu Kertapati, ada yang harus aku bicarakan padamu.

Raden Inu Kertapati

Wahai paduka raja, apakah gerangan yang ingin paduka sampaikan pada hamba?

Raja Daha

Aku telah menganggapmu sebagai anakku sendiri. Perangaimu yang membuatku


memutuskan untuk menjodohkanmu dengan putriku, Candra Kirana. Namun, kenyataan
221

pahit menimpamu. Sebenarnya bukan hanya kau. Akupun merasakan kepahitan itu. Aku
sebagai orang tua Candra Kirana merasa sedih sekali atas kepergiannya.

Raden Inu Kertapati

Lalu, apa yang mesti hamba lakukan, paduka raja? Apa yang hamba lakukan agar paduka
raja tidak malu atau merasa dipermalukan kalau Candra Kirana tidak pulang kemari?

Raja Daha

Sebenarnya, aku tidak sampai hati mengatakan ini padamu. Namun, nakmas Raden harus
bisa menerima keadaan ini. Aku pun merasa takut kalau Raden tidak sejalan denganku.
Tidak sepaham dengan keputusan yang telah aku tetapkan.

Raden Inu Kertapati

Apa yang telah paduka putuskan? Sebaiknya paduka katakan saja pada hamba. Hamba
ini calon putra paduka. Paduka katakan saja yang sejujurnya.

Raja Daha

Berat untuk kukatakan padamu Nakmas.

Raden Inu Kertapati

Wahai Paduka raja. Hamba akan senang hati menerima keputusan paduka raja jika
memang keputusan itu yang terbaik dan selaras dengan keinginan hamba.

Raja Daha

Baiklah akan kukatakan padamu. Nakmas, apa yang kukatakan ini demi kebaikan kita
semua. Terutama demi kebaikan dirimu sendiri.
222

Raden Inu Kertapati

Sebaiknya Gusti Ayu Dewi Liku mengatakan secara terang-terangan pada hamba agar
semuanya jelas.

Dewi Liku

Baiklah, akan kukatakan sejujurnya pada Raden.

Raden Inu Kertapati

Silahkan katakan saja pada hamba.

Dewi Liku

Begini Raden, paduka raja denganku telah memutuskan bahwa Raden harus menikah
dengan Galuh Ajeng untuk menutupi rasa malu keluarga.

Raden Inu Kertapati

Menikah dengan Galuh Ajeng? Tetapi hamba tak mencintainya. Tak terbesit sedikitpun
rasa cintaku pada Galuh Ajeng. Hanya Candra Kirana yang kucintai. Hanya dia seorang.

Dewi Liku

Raden tau bukan? Ia telah meninggalkan kerajaan. Tanpa pamit. Kurasa itu sudah
menjadi bukti bahwa ia tak lagi mencintaimu.

Raden Inu Kertapati

Tidak Gusti Ayu Dewi Liku! Hamba yakin ada sesuatu yang terjadi sehingga Candra Kirana
meninggalkan kerajaan.
223

Dewi Liku

Raden Inu Kertapati, berita tentang pernikahanmu dengan Candra Kirana sudah meluas
ke seluruh penjuru negeri ini. Lantas, jika Candra Kirana tak kembali, kau akan tahu sendiri
betapa malunya kami menanggung beban ini. Kami hanya ingin kau bersedia menikah
dengan Galuh Ajeng. Aku yakin ia lebih baik dari Candra Kirana.

Raden Inu Kertapati

Mohon ampun paduka Raja dan Gusti Ayu Dewi Liku, hamba tak bisa memutuskan
dengan cepat mengenai hal ini. Beri hamba waktu untuk menentukan jawaban.

Raja Daha

Nakmas Inu Kertapati, baiklah. Memang ini keputusan berat untukmu. Aku mengerti akan
hal ini. Kuberi kesempatan untukmu memikirkan jawaban yang tepat. Kuharap kau
menerima tawaran ini Nakmas.

Raden Inu Kertapati

Hamba akan memikirkannya terlebih dahulu paduka raja. Hamba mohon undur diri.

Raja Daha

Baik, pergilah.

TERLIHAT DEWI LIKU DAN GALUH AJENG MENYIAPKAN MINUMAN UNTUK RADEN INU
KERTAPATI

Dewi Liku
224

Anakku Galuh Ajeng, aku mempunyai rencana agar Raden Inu bersedia menikah
denganmu.

Galuh Ajeng

Ibunda, apa rencana ibunda?

Dewi Liku

Berikan minuman ini pada Raden Inu. Dalam minuman ini telah kutaburi serbuk agar
hatinya luluh dan ingatannya hanya pada dirimu. Serbuk ini dapat membuatnya tergila-
gila padamu. Sayangnya, ia tak akan bertahan lama. Namun kau tau perlu cemas
memikirkannya. Yang penting sekarang berikan ini padanya.

Galuh Ajeng

Benarkah Ibunda? Lantas bagaimana jika suatu saat ia tersadar bahwa ia tak mencintaiku?

Dewi Liku

Hahaaa, jangan khawatir anakku. Semua akan baik-baik saja. Percayalah, apapun
kulakukan untukmu anakku.

Galuh Ajeng

Terima kasih ibunda. Baiklah, segera kuantarkan minuman ini pada Raden Inu. (sambil
memeluk Dewi Liku)

BABAK KETIGA

DI RUANG KHUSUS TAMU KERAJAAN. GALUH AJENG MUNCUL DARI BALIK PINTU
225

Galuh Ajeng

Permisi Raden Inu. Maafkan hamba mengganggu waktu istirahatmu. hamba hanya ingin
memberimu minuman ini.

Raden Inu Kertapati

Terima kasih Galuh Ajeng.

Galuh Ajeng

Sama-sama den. Baiklah hamba mohon untuk undur diri.

Raden Inu Kertapati

Pergilah Diajeng.

RADEN MEMINUM MINUMAN YANG BERACUN ITU, DAN TIBA-TIBA IA TAK SADARKAN
DIRI.

SEDANG ASYIK BERBINCANG RADEN INU DAN PENGAWALNYA DI SUDUT RUANG.

Raden Inu Kertapati

Pengawalku, aku memutuskan untuk menikah dengan Galuh Ajeng.

Pengawal 1

Menikah dengan Galuh Ajeng?

Pengawal 2

apakah hamba tidak salah dengar?


226

Raden Inu Kertapati

Kalian tak salah dengar. Memang benar, keputusanku sudah bulat. Aku memutuskan
untuk menikah dengan Galuh Ajeng.

Pengawal 1

Mohon ampun den, lantas bagaimana dengan pertunangan Raden dengan Candra
Kirana?

Raden Inu Kertapati

Candra Kirana tak jua datang. Aku tak sanggup bila harus menunggunya. Dengan dia
meninggalkan kerajaan ini, membuatku yakin bahwa dia memang tak mencintaiku.

Pengawal 2

kalau hamba boleh mengatakan sejujurnya. Sebenarnya ada yang janggal dari kepergian
Candra Kirana.

Raden Inu Kertapati

Sudahlah, keputusanku sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat. Kupastikan akau akan
menikah dengan Galuh Ajeng.

Pengawal 1

Baiklah den, kalau memang itu keputusan raden. Kami pasti menyetujuinya.

Raden Inu Kertapati

Baiklah, aku akan menghadap pada paduka raja.


227

Pengawal 1 dan 2

Inggih raden.

DI SINGGASANA RAJA. SUASANA HENING

Raden Inu Kertapati

Mohon ampun paduka raja.

Raja Daha

Nakmas Inu Kertapati, apa yang hendak kau sampaikan hingga kau datang kemari?

Raden Inu Kertapati

Ampun beribu ampun paduka raja. Hamba hanya ingin menyampaikan bahwa hamba
telah menemukan jawaban atas tawaran paduka.

Raja Daha

Benarkah Nakmas? Lantas apa jawabanmu?

Raden Inu Kertapati

Hamba bersedia menikah dengan Galuh Ajeng. Kalau memang itu jalan yang terbaik,
hamba siap melaksanakannya.

Raja Daha

Jadi nakmas bersedia menikah dengan Galuh Ajeng?


228

Raden Inu Kertapati

Bersedia, paduka.

Dewi Liku

Benarkah Raden?

Raden Inu Kertapati

Inggih Gusti Ayu Dewi Liku.

Raja Daha

Hehee. Aku yakin pasti kau menerima tawaran ini. Baiklah Nakmas, akan segera
kupersiapkan pesta yang meriah untuk pernikahanmu.

Raden Inu Kertapati

Terima kasih paduka raja.

DI KAMAR GALUH AJENG, DEWI LIKU DAN GALUH AJENG SEDANG BERBINCANG

Dewi Liku

Anakku sayang, ibunda punya kabar baik untukmu. Aku yakin kau pasti merasa gembira
sekali.

Galuh Ajeng

Kabar gembira? Apa itu ibunda? Aku tak sabar untuk mengetahuinya.
229

Dewi Liku

Sebentar lagi kau akan jadi permaisuri dari putra mahkota kerajaan Jenggala. Raden Inu
Kertapati bersedia menikah denganmu. Hahahaa

Galuh Ajeng

Sungguh ibunda? Aku bak mendapatkan seluruh mutiara yang diidamkan semua orang.
Akulah orang paling beruntung didunia ini. Ibunda, aku senang sekali.

Dewi Liku

Memang kau orang yang paling beruntung didunia ini sayang. Kau telah berhasil
menggantikan posisi Candra Kirana. Aku ikut berbahagia dengan hal ini.

Galuh Ajeng

Rasanya seperti mimpi, hahaaa. Secepatnya aku akan menjadi permaisuri putra mahkota.

Dewi Liku

Hahaaaa kau sangat beruntung.

BERBAGAI PERSIAPAN PESTA PERNIKAHAN HAMPIR RAMPUNG. SUATU MALAM


MENJELANG PESTA PENIKAHAN, GALUH AJENG SEDANG BERHIAS MEMPERCANTIK
DIRINYA UNTUK MENYAMBUT PESTA PERNIKAHAN.

Dewi Liku

Wahai bidadariku, rupanya kau sedang berhias disini. Mengapa tak kau temani Raden Inu
duduk di taman kerajaan?
230

Galuh Ajeng

Ibunda, tadi aku sudah menemuinya, tapi dia mengatakan bahwa dia ingin sendiri. Maka
aku disini saja. Bagaimana ibunda, apakah semua telah ibunda persiapkan dengan baik?

Dewi Liku

Sudah kupastikan anakku. Pasti semuanya baik-baik saja.

Galuh Ajeng

Ibunda, tapi aku takut kalau suatu saat Raden menyesal menikah denganku.

Dewi Liku

Untuk sementara waktu, pengaruh guna-gunaku masih kuat. Perasaan menyesal itu pasti
datang, tapi kau jangan risau anakku. Semua pasti baik-baik saja.

Galuh Ajeng

Baiklah ibunda, aku percaya semua akan baik-baik saja.

BABAK KEEMPAT

BEBERAPA ORANG BERLARIAN KESANA KEMARI. TERIAKAN KETAKUTAN DAN


KEPANIKAN SEMAKIN JELAS TERDENGAR. LAUTAN BARA MENYAPA HALAMAN
KERAJAAN. KOBARAN API SEMAKIN MEMBESAR. MELULUH LANTAHKAN PERSIAPAN
PESTA YANG AKAN DIGELAR.

Galuh Ajeng

Ibunda, apa yang terjadi diluar sana?


231

Dewi Liku

Aku juga tak tahu pasti apa yang terjadi disana.

Galuh Ajeng

Sepertinya kobaran api membakar seluruh persiapan pesta.

Dewi Liku

Mengapa ini semua terjadi?

Galuh Ajeng

Aku juga tak tahu ibunda, hancur sudah pestaku.

SELURUH ANGGOTA KERAJAAN BERKUMPUL MENYAKSIKAN SEMUA PERSIAPAN YANG


LUDES DIMAKAN SI JAGO MERAH. TAK ADA YANG MEREKA LAKUKAN, HANYA
TERTEGUN MELIHAT API YANG SEMAKIN MEMBESAR. RAJA DAHA HANYA BISA
MENELAN LUDAH. MENERIMA KENYATAAN PAHIT UNTUK YANG KESEKIAN KALINYA.
TAK HANYA DIA, RADEN INU KERTAPATI JUGA MERASAKAN HAL YANG SAMA.

Raden Inu Kertapati

Pengawal, apa yang sedang terjadi?

Pengawal 2

Eeeee ladalaaaah den, persiapan untuk pesta telah lenyap dimakan api.
232

Raden Inu Kertapati

Siapa yang berani menyulut api disini?

Pengawal 1

Hambapun tak mengetahuinya Raden.

Raden Inu Kertapati

Mungkinkah orang yang kulihat tadi adalah dalang dari semua ini.

Pengawal 2

siapa den?

Raden Inu Kertapati

Aku tak nampak jelas dengan wajah orang itu. Tapi sepertinya dia adalah………… sudahlah,
mari ikut denganku.

RADEN DAN PENGAWALNYA MENINGGALKAN PANGGUNG. SUASANA MENCEKAM.


LAMPU MEREDUP

Pengawal 1

Raden, kita sekarang kemana? Semua jalan telah kita lewati, namun tak kunjung
menemukann siapa dalang dalam masalah ini.

Raden Inu Kertapati

Kita harus mencari Panji Semirang!


233

Pengawal 1

Panji Semirang? Mengapa kita mencari Panji Semirang den?

Pengawal 2

Iya den, mengapa kok Panji Semirang?

Raden Inu Kertapati

Aku yakin Panji Semirang yang melakukannya. Tadi sekilas aku melihat tubuh Panji
Semirang.

Pengawal 1

Apakah raden yakin?

Raden Inu Kertapati

Aku yakin sekali.

Pengawal

Lantas kita harus mencari kemana lagi Raden?

Raden Inu Kertapati

Asmarantika.

MALAM SEMAKIN LARUT, PENCARIAN TERHENTI. MEREKA MEMILIH MELANJUTKAN


PENCARIAN ESOK HARI.

Pengawal 1
234

Raden, kalau memang benar bahwa yang membakar adalah Panji Semirang. Hamba jadi
curiga.

Raden Inu Kertapati

Apa yang kau curigai?

Pengawal 1

Jangan-jangan Panji Semirang adalah pimpinan gerombolan penjahat yang ingin


menaklukkan kerajaan Daha.

Raden Inu Kertapati

Kerajaan Daha? Kau tak boleh mengatakan seperti itu. Belum tentu ia melakukan
kejahatan seperti yang kita duga. Tadi sekilas aku melihat Panji Semirang dan aku seperti
tak asing lagi dengan dirinya. Semua yang ada pada dirinya sepertinya telah lama aku
kenal.

Pengawal 2

Eeeee ladalaaah kok bisa to den?

Pengawal 1

Hih kamu ini kok ladalah ladalah terus (sambil memukul pengawal 2) memangnya siapa
den?

Raden Inu Kertapati

Candra Kirana.

Pengawal

Maksud Raden, Panji Semirang adalah saudaranya Galuh Candra Kirana?

Raden Inu Kertapati

Aku tidak berfikir begitu karena Candra Kirana tidak memiliki saudara kecuali Galuh
Ajeng.

Pengawal 1
235

Kalau begitu, apa yang Raden pikirkan?

Raden Inu Kertapati

Aku berfikir bahwa Panji Semirang adalah Candra Kirana.

Pengawal 1

Apaaa? Raden menduga kalau Panji Semirang adalah Candra Kirana?

Raden Inu Kertapati

Iya, aku melihat gerak geriknya yang sama seperti Candra Kirana.

Pengawal 1

Lantas, mengapa Raden meninggalkan Daha, padahal Raden telah bersedia menikahi
Galuh Ajeng?

Raden Inu Kertapati

Aku tak tahu apa yang merasukiku sehingga aku memutuskan untuk menikah dengan
Galuh Ajeng. Aku seperti kehilangan diriku sendiri. Namun sekarang, aku telah kembali.
Bayangan Candra Kirana juga kembali menghantuiku dan menuntunku untuk mengejar
Panji Semirang.

Pengawal 1

Apakah kemarin raden tidak merasa bahwa Raden telah diguna-guna oleh Dewi Liku agar
mau menikah dengan Galuh Ajeng?

Pengawal 2

masak iya begitu?

Raden Inu Kertapati

Tak terbesit sedikitpun dalam benakku bahwa Dewi Liku tega melakukan hal licik seperti
itu.

Pengawal 1
236

Dewi Liku melakukan hal senista itu agar Raden bersedia menikah dengan putrinya.
Hamba tahu bahwa Dewi Liku dan Galuh Ajeng yang meracuni minuman raden sehingga
raden tak sadarkan diri dan akhirnya raden tak mampu berfikir lagi. Raden hanya
mendengarkan Dewi Liku karena memang diotak raden telah terdoktrin ucapannya.
Sebenarnya hamba telah mengetahui semuanya, namun nyali hamba tak terlalu besar.
Apalah daya, hamba hanya rakyat kecil yang mana mungkin mampu menasehati
pemimpin seperti raden. Sehingga hamba hanya mampu menyimpan kebenaran
sendirian. Sekarang ini, keputusan Raden untuk meninggalkan kerajaan Daha sangat
tepat.

Raden Inu Kertapati

Mengapa kau tak menegurku? Mengapa pula kau bungkam seribu bahasa? Namun
sekarang sudah tak berarti lagi bagiku. Sudah kutinggalkan segenap harapan yang
pernah kutaruh pada Galuh Ajeng. Kini aku hanya menginginkan Candra Kirana seorang.
Aku menyadari bahwa hati yang tak berhati tak akan mampu menaklukkan pujaan hati.

Pengawal 1

Ampun beribu ampun Raden, hamba meminta maaf atas kesalahan hamba.

Raden Inu Kertapati

Baiklah pengawal, hal itu sudah menjadi masalalu bersama hari-hari yang telah berlalu.
Sekarang, kita istirahat disini. Besok kita lanjutkan perjalanan kita untuk mencari Panji
Semirang.

PANGGUNG GELAP. MENDADAK TERANG. BERGANTI SUASANA MENJADI PAGI.


BERSAMA KICAUAN BURUNG YANG SETIA MENEMANI. DI KERAJAAN ASMARANTIKA.
SUASANA TEGANG.

Raden Inu Kertapati

Pengawal, ini sebuah hal yang aneh. Disini tidak ada seorangpun.

Pengawal 1
237

Raden, ini semakin menguatkan dugaan Raden kemarin?

Raden Inu Kertapati

Dugaan apa pengawal?

Pengawal 1

Dugaan bahwa Panji Semirang adalah Candra Kirana. Pasti di kerajaan Daha telah terjadi
sesuatu yang menjadikan Candra Kirana pergi. Sekarang, Candra Kirana masih menjadi
tunangan Raden, sehingga dia tidak rela kalau raden akan menikah dengan Galuh Ajeng.
Nah, satu-satunya cara yang bisa menggagalkannya hanyalah dengan membakar pesta
itu.

Pengawal 2

Betol itu den betol.

Pengawal 1

Huuuusss kamu ini betal betol saja.

Pengawal 2

Heheee ampun ampuuuun.

Raden Inu Kertapati

Bagaimana kau bisa seyakin itu pengawal?

Pengawal 1

Hamba semakin yakin setelah melihat bahwa kerajaan ini tak berpenghuni. Panji
Semirang melakukan hal ini agar penyamarannya tak diketahui oleh siapapun.
238

Raden Inu Kertapati

Bagus sekali hipotesismu itu pengawal. Akupun semakin yakin bahwa Panji Semirang
adalah Candra Kirana yang kucari. Kau memang bisa kuandalkan.

Pengawal 2

Hehee yaiyalah yaiyadong. Sudah pasti bisa diandalkan. Ya kan?

Pengawal 1

Halah kau ini apa?

Pengawal 2

Aaaaah jangan begitulah.

Pengawal 1

Hahaa iya iya, sudah pasti bisa diandalkan dong den. Hehee terima kasih Raden. Mari kita
cari mereka dengan mengikuti tanda-tanda yang tergambar.

TIBA DI SUATU TEMPAT DITENGAH HUTAN

Pengawal 1

Den, lantas kita harus kemana?

Pengawal 2

Kita sudah lama lo den berkeliling tapi tak tau arah dan tujuan. Bagaimana kalau kita
balik ke kerajaan Jenggala saja.
239

Pengawal 1

Huuuussss kamu nggak sopan sekali kalau bicara dengan raden.

Pengawal 2

Ampun raden ampun.

Raden Inu Kertapati

Tidak masalah untukku wahai pengawal setiaku. Terima kasih atas semua bantuan kalian
selama ini. Tapi aku belum bisa kembali ke kerajaan jika aku belum menemukan pujaan
hatiku. Jika kalian ingin kembali, kembalilah. Tapi aku masih tetap melanjutkan
perjalananku.

Pengawal 1

Raden, den. Maaf den. Bukan maksud hamba seperti itu. Kamu sih.

Pengawal 2

Eeeee kok aku. Iyaa raden hamba mohon ampun raden, ampun.

Raden Inu Kertapati

Hehee tidak apa pengawal. Aku tidak memaksa kalian untuk ikut denganku. Begitu pula
dengan prajurit yang lain. Kalau kalian ingin kembali, kembalilah ke Jenggala. Biar aku
sendiri yang melanjutkan ekspedisiku.

Prajurit 1

Kami akan setia dan ikut kemanapun raden pergi.


240

Pengawal 1

Kami juga raden.

Pengawal 2

Kami juga den. Hidup raden Inu.

Semua

Hidup!

Pengawal 1

Semangat Raden Inu.

Semua

Semangat.

Raden Inu Kertapati

Terimakasih para pengawal setiaku. Baiklah mari kita lanjutkan perjalanan ini bersama-
sama.

Semua

Inggih Raden.

Raden Inu Kertapati

Sebentar lagi, diseberang sana adalah kerajaan Gegalang. Bagaimana kalau kita pergi
kesana untuk menemui pamanku, Prabu Ranujaya. Siapa tau ia mengetahui dimana
perginya Panji Semirang dan rombongannya itu.

Pengawal 1

Baiklah den, kalau memang itu yang raden inginkan, kami akan mengikuti kemanapun
raden pergi.
241

SAMPAI DI KERAJAAN GEGALANG

Raja Gegalang

Raden Inu Kertapati, tumben engkau datang kemari? Apakah ada utusan dari
ayahandamu?

Raden Inu Kertapati

Mohon ampun paman. Tak ada satupun utusan dari ayahanda untukmu. Sebenarnya
kedatangan hamba kemari ingin mencari Panji Semirang. Tahukah paman mengenai
Panji Semirang itu?

Raja Gegalang

Panji Semirang? Nama itu bukan nama yang asing lagi buatku. Untuk apa kau mencari
Panji Semirang?

Raden Inu Kertapati

Sebenarnya hamba ingin mencari Candra Kirana, Candra Kirana telah lama meninggakan
kerajaan Daha.

Raja Gegalang

Lantas? Mengapa engkau mencari Panji Semirang, sedangkan yang hilang adalah
tunanganmu?

Raden Inu Kertapati

Itulah paman, aku seperti melihat Candra Kirana dalam tubuh Panji Semirang. Aku yakin
bahwa Panji Semirang adalah tunanganku yang sedang menyamar.

Raja Gegalang

Seyakin itukah kau?

Raden Inu Kertapati

Aku sendiri tidak sepenuhnya yakin paman. Maka dari itu, aku giat untuk mencari Panji
Semirang guna membuktikan apakah ia memang tunangan yang kucari atau bukan.

Raja Gegalang
242

Nakmas Inu Kertapati, aku banyak mendengar cerita tentang Panji Semirang. Namun aku
tak tau pasti dimana dia dan pasukannya menetap.

PERBINCANGAN TERHENTI TATKALA ADA SEORANG PRAJURIT KERAJAAN DATANG


DENGAN NAFAS TERSENGAL-SENGAL

Prajurit Gegalang

Mohon ampun paduka raja, hamba hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini sedang
terjadi kekacauan kembali di depan gerbang kerajaan yang dipimpin oleh Lasan dan
Sategal.

Raja Gegalang

Apa yang diinginkannya lagi dariku? (marah besar)

Raden Inu Kertapati

Mohon ampun paman. Siapakah Lasan dan Sategal itu?

Raja Gegalang

Mereka adalah perampok jahanam yang selalu membuat kerusuhan di kerajaan ini.
Belum ada yang mampu mematahkan tulang-tulangnya dan mengkoyak-koyak
pertahanan yang ia buat.

Raden Inu Kertapati

Biar aku saja yang menghabisinya, paman.

Raja Gegalang

Baik, kalau memang kau bersedia, silahkan lakukan sekarang juga!

RADEN INU KERTAPATI DAN PARA PASUKANNYA MENGGALANG KEKUATANNYA


UNTUK MELAWAN ROMBONGAN LASAN DAN SATEGAL.

Raden Inu Kertapati

apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau selalu membuat kekacauan disini.
243

Lasan

siapa kau? Aku tak ada urusan denganmu.

Raden Inu Kertapati

jika kau membuat kerusuhan disini, sudah pasti itu menjadi urusanku

Sategal

haha anak muda. Kau bisa apa? Aku tak ada urusan denganmu. Pergilah atau kau
menemui ajalmu disini!

Raden Inu Kertapati

hahaa rupanya kau menantangku. Prajurit bersiaplah! Serbuuuuuuuuuuuuuuuu!

Prajurit

Serbuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!

Perang di Gegalang terjadi. Hingga akhirnya pedang menebas Lasan dan Sategal dan
sorak kemenangan terdengar dan Gegalang tak ada yang mengusik kembali.

Pengawal

Hidup Raden Inu Kertapati

Prajurit

Hidup Raden.

Prajurit

Hidup!

Raja Gegalang

Nakmas Raden, terimakasih karena kau telah membantuku untuk menumpas perampok
jahanam itu. Semoga kerajaan kita aman dan nyaman.

Raden Inu Kertapati

Ya paman, aku juga berharap seperti itu. Tidak usah berterimakasih padaku paman. Jika
tak ada bantuan yang lain, mungkin aku juga tak bisa melakukan ini sendirian.
244

Raja Gegalang

Tetap saja aku harus berterima kasih padamu, karena pedangmu yang dapat menghabisi
mereka.

Raden Inu Kertapati

Hehe aku melakukan ini demi kebaikan banyak orang paman.

Raja Gegalang

Hehe aku tau memang kau bisa diandalkan, sebagai tanda kemenangan kita. Aku akan
mengadakan pesta megah tujuh hari tujuh malam.

Raden Inu Kertapati

Baiklah paman hehe aku setuju denganmu.

PESTA HAMPIR RAMPUNG. MALAM HARI DI HARI KETUJUH. SUASANA MERIAH.

Pengawal Gegalang

Wahai semua hadirin. Malam ini merupakan malam puncak pesta di kerajaan Gegalang
ini. Sebagai malam penutup pesta, ada sebuah persembahan pantun. Seorang pujangga
dari Asmarantika. Mari kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah……

Panji Semirang :

Jenggala bersuka cita

Sang raja telah temukan tambatan hatinya

Ialah Galuh Ajeng Candra Kirana

Yang tak tertandingi kecantikannya

Jenggala saudara Gegalang

Raja Jenggala raja bijaksana


245

Pujaan hati raja menghilang

Ialah diajeng Candra Kirana

Raja Kediri tak berpendirian

Kasih sayangnya tak lagi sama

Candra Kirana hilang ingatan

Selir rajalah yang menyihirnya

Kediri tentram tanpa kacau

Kediri damai tanpa perang

Candra Kirana pergi merantau

Berganti Panji Semirang

Pergi raja kearah harapan indah

Ingin raja bertemu pujaan hati

Bekal raja tak terjumlah

Namun ternyata tak sesuai ekspektasi

Pion Asmarantika mengahadang

Raja bersiap untuk perang

Suasana tak lagi menegang

Diutusnya raja menghadap Panji Semirang

Jamuan melimpah ruah


246

Dinikmatinya dengan senang hati

Perasaan raja tak terarah

Seperti menemukan kembali pengisi hati

Sampai raja di Kediri

Menghadap raja juga selir

Tak ditemukannya pengisi hati

Hati raja yang terpengaruh sihir

Sihir membatukan hati

Hingga tak mampu berkutik lagi

Namun raja tersadar kembali

Diputuskannya pergi tinggalkan Kediri

Teringat raja pada Gegalang

Pergi raja untuk mencari jawaban

Jawaban tak kunjung datang

Hanya perang yang harus dilawan

Gegalang bersorak menang

Berkat bantuan Inu Kertapati

Candra Kirana kembali datang

Panji Semirang pergi


247

SEMUA TERTEGUN MENYAKSIKAN PANJI SEMIRANG MEMBACAKAN PANTUN

Pengawal 2

Mohon maaf den, kok ceritanya sama ya seperti perjalanan kita.

Pengawal 1

Leeeee iya, sama den. Nah benar kalau memang Panji Semirang ini Galuh Candra Kirana.

Raden Inu Kertapati

(menuju ke tempat Candra Kirana membacakan pantun) Diajeng Candra Kirana, aku tau
itu adalah kau Diajeng. Telah lama kumencari senyuman itu.

Candra Kirana

Kakanda Inu Kertapati, rupanya kau telah mengetahui siapa diriku. Memang akulah yang
kakanda cari selama ini.

Raden Inu Kertapati

Diajeng, mengapa kau melakukan ini semua?

Candra Kirana

Kakanda, aku disihir Gusti Ayu Dewi Liku sehingga ingatanku menghilang. Aku terusir dari
kerajaan.

Raden Inu Kertapati

Benarkah diajeng? Tak kusangka, betapa kejamnya ibu tirimu itu. Tapi, apapun itu
Diajeng, yang terpenting sekarang ini cinta kita telah dipertemukan kembali oleh Sang
Hyang Widhi. Kakanda tak menginginkan perpisahan ini terjadi lagi.

Candra Kirana

Akupun tak menginginkannya kakanda.

Berpegangan tangan, sorak-sorak dari seluruh yang mengikuti pesta semakin


memeriahkan suasana.
248

KETHEK OGLENG

Tari Klana gending Kalongan slendro pathet sepuluh


Pathet Wolu
(Gending Ayak slendro pathet wolu)

Janturan Dalang
Dikisahkan sebuah cerita panji berjudul Kethek Ogleng. Dimana rakyatnya terkena wabah
pagebluk, sebuah penyakit menular aneh pada kulit. Gatal, merah, dan bernanah. Begitu
mengerikan dan hampir tidak pernah ditemukan sebelumnya. Pada gabah itu tersebar
kabar bahwa yang menyebarkan Wabah itu adalah Dewi Sekartaji, Putri dari Raja
Kameswara Raja Kadiri. Baginda Raja Kadiri yang memiliki Permaisuri bermana Mahadewi
dan memiliki seorang anak yang bernama Dewi Sekartaji, ia juga memiliki selir yang
bernama Dewi Ratu Liku dan memiliki seorang anak yang bernama Galuh Ajeng. Tuduhan
wabah pagebluk itu atas usut dari Dewi Ratu Liku dan anaknya. Kemudian Dewi Sekartaji
pun keluar dari istana bersama dua dayangnya. Kekasihnya Inu Kertapati pun pertapa
kepada Maha Gurunya di sebuah hutan. Kemudian oleh Maha Guru di utus merubah
menjadi seorang kera atau kethek, kemudian berubhanya. Suatu ketika kethek dan Dewi
Sekartaji yang telah menyamar pun bertemu, keduanya saling sapa seolah telah lama
mengenal, karena melihat kethek dan sekawanannya maka terbesitlah ide untuk
membuat sebuah pertunjukan dengan melibatkan para kethek agar bisa masuk istana.

Saat kerajaan sedang merayakan sebuah acara, datanglah sekawanan kethek dan Dewi
Sekartaji yang telah menyamar. Tampilan pertunjukan kehtek tersebut. Setelah selesai
pertunjukan dibuatlah aba-aba oleh dewi sekartaji, kawanan kethek segera memberontak
dan mengobrak abrik isi istana, kemudian terkuatklah bahwa dalang di balik pagebluk ini
yaitu Dewi Ratu Liku dan anaknya Galuh Ajeng mereka melakukan itu agar mendapatkan
tahta kerajaan menjadi milik mereka berdua. Dan berubahlah Kethek itu menjadi Inu
Kertapati, merka pun menikah dan memimpin Kerajaan Kadiri menggantikan Raja
Kameswara.

BABAK PERTAMA

Hidup di alam dan berguru padanya.


249

Berguru pada air dan memaknai jalan hidup.

Berguru pada api dan memaknai sebab akibat.

Berguru pada udara dan memaknai kedamaian.

Aku adalah Raden Panji yang senang mengembara dan mencari makna kehidupan
dengan menyamar sebagai Kethek.

DALANG

Alkisah di sebuah kerajaan Kadiri yang makmur, gemah rimpah loh jinawi, masyarakatnya
yang menghormati adanya perbedaan, hidup berdampingan dan harmonis. Namun
suatu ketika suatu yang buruk terjadi.

PRAJURIT

Lapor paduka, nampaknya jumlah rakyat kita semakin hari semakin menurun, hari ini saja
sudah terdapat satu yang meninggal dunia.

RAJA KAMESWARA

Aku tahu, memang sudah mengkawatirkan, aku takut wabah pagebluk ini akan semakin
merajalela.

PATIH

Ampun paduka apakah tidak ada cara lain yang bisa menyembuhkan wabah ini.

RAJA KAMESWARA

Sudah semua cara kutempuh, jika tidak ada cara lain, Prajurit, cepat panggilkan Dewi
Sekartaji.

PRAJURIT

Baik Baginda.

DEWI SEKARTAJI

Wahai ayahandaku, ada apa kiranya enkau memanggilku ke sini?

Raja Kameswara
250

Begini anakku, kau sendiri sudah tahu keadaan rakyat Kadiri, sudah saatnya aku turun
tahta, sekarang sudah saatnya Dewi Sekartaji anakku ini untuk segera menikah dan
mengemban tanggung jawab istana

Dewi Sekartaji

Tapi ayah, apakah ini tidak terlalu cepat, aku butuh waktu ayah

Raja Kameswara

Tidak ada yang terlalu cepat atau lambat anakku, semua ini yang akan membuatmu siap

BABAK KEDUA

WABAH PAGEBLUK

ORANG 1

Pagebluk ini semakin merajalela, bagaimana ini ?

ORANG 2

Benar sekali, kemarin hampir semua orang terkena penyakit aneh ini.

ORANG 3

Kemarin saja, sudah seorang dari kita yang meninggal, jangan-jangan besok kita yang
meninggal.

ORANG 4

Tidak aku tidak mau mati, aku tidak mau

ORANG 5

Terus salah siapa semua ini, kita harus bagaimana lagi. Tak berapa lama kita bahagia
karena panen melimpah, namun hari ini

ORANG 6

Loh lihat ini, bukankah ini selendang Tuan Puteri Sekartaji

ORANG 1

Eh benar sekali katamu


251

ORANG 4

Jangan-jangan semua ini akibat ulah dari Dewi Sekartaji

ORANG 3

Memang kenapa Dewi Sekartaji melakukan semua ini

GALUH AJENG

Wah ada kekacauan apa di sini ?

ORANG 6

Ampun tuan puteri Ajeng, pagebluk datang lagi tuan puteri

DEWI RATU LIKU

Lantas bagaimana dengan keadaan kalian ?

ORANG 8

Ampun tuan puteri hampir semua rakyat terkena penyakit yang parah tuan puteri, sampai
ada beberapa orang yang meninggal dunia.

DEWI RATU LIKU

Pasti semua ini ada sebab musabahnya, aku tau siapa yang melakukan semua ini

ORANG 2

Ampun tuan puteri memangnya siap yang tega melakukan semua ini

DEWI RATU LIKU

Seperti yang kalian ketahui, selendang yang kalian temukan ini bukti bahwa yang
melakukan ini semua adalah Dewi Sekartaji

ORANG 5

Kalaupun itu benar, lantas kenapa Dewi Sekataji melakukan ini ?

DEWI RATU LIKU

Kalian tahu bahwa Baginda Raja Kameswara akan turun tahta karena Inu Kertapati yang
lebih memilih anakku Galuh Ajeng daripada Dewi Sekartaji.
252

ORANG 3

Tidak kusangka Dewi Sekartaji sebusuk itu

ORANG 1

Kalau benar mari kita tuntut Dewi Sekartaji

ORANG 8

Iya benar, ayo kita tuntut Dewi Sekartaji

SEMUA

Iya ayoo

BABAK KETIGA

KELUARNYA DEWI SEKARTAJI DARI ISTANA

RAKYAT

Ayoo tuntut Dewi Sekartaji

(Suara gemuruh rakyat dari luar istana)

PENGAWAL

Ada apa ini, kenapa ribut sekali

ORANG 5

Kami mau menuntut Dewi Sekartaji, karena ialah yang menyebabkan rakyat menderita

PENGAWAL

Jaga mulut kalian, kalian tidak boleh asal menuduh tuan puteri sembarangan

ORANG 4

Mohon maaf bukannya kami asal menuduh, tetapi kami membawa bukti yang jelas, ini
selendang Tuan Puteri Sekartaji

BAGINDA RAJA DHAHA

Ayah tidak menyangka bahwa kau bertindak seperti ini anakku


253

DEWI CANDRAKIRANA

Apa yang sedang ayah bicarakan ?

BAGINDA RAJA DHAHA

Ayah tidak salah lagi, karena kau dan selendangmu ini, yang membuat seluruh negeri dan
rakyat menjadi mengalami penyakit gatal yang ganas. Para rakyat sendiri yang datang
kemari dan mengadu. Bukannkah selendang itu milikmu ?

DEWI CANDRAKIRANA

Selendang, iya itu selendangku ayah, tapi, tapi aku...

BAGINDA RAJA DHAHA

Sudah cukup, ayah sangat malu dan kecewa kepadamu. Susah payah ayah
membesarkanmu. Jadi ini balasan yang kau berikan kepada ayah

DEWI CANDRAKIRANA

Tapi ayah, aku mohon...

BAGINDA RAJA DHAHA

Cukup. Ayah tidak mau melihatmu lagi. Pergi kau dari istana. Pergi sejauh mungkin dan
jangan kembali.

BABAK KEEMPAT

BERUBAHNYA PANJI MENJADI KERA

Di pinggir jalan. Sepi. Hanya hamparan ladang.

DEWI CANDRAKIRANA

Ayo cepat larinya, nanti sebelum di ketangkap prajurit istana dan warga desa. Jangan
sampai kita tertangkap

DAYANG 1

Tapi kita sudah berlari sangat jauh dari istana Tuan Putri. Pasti mereka sudah tidak bisa
menemukan kita.
254

DAYANG 2

Jangan yakin begitu, siapa tau masih ada warga yang kebetulan lewat sini

DAYANG 1

Kau ini, apa kau tidak kasihan Tuan Putri, ia sudah berlari sejauh ini.Ia butuh istirahat

DEWI CANDRAKIRANA

Sudah, aku sudah tidak apa-apa. Kita sudah diusir ayah dari istana. Aku tidak melakukan
apa-apa. Akupun tidak tahu dengan selendang itu. Kalian percaya padaku kan ?

DAYANG 2

Percaya kok dengan Tuan Putri, kan itu namanya Syirik Tuan. Percaya hanya kepada
Tuhan

DAYANG 1

Hus kau ini, memang siapa yang bicara juga kepadamu

DAYANG 1

Iya kami percaya Tuan Putri, sebenarnya... (membisiki telinga)

DEWI CANDRAKIRANA

Apa itu benar? Jadi ini semua ulah meraka. Aku harus membongkarnya dan
mengatakannya kepada Raja. Tapi sebelum itu ayo ikut aku dulu, aku punya rencana.

DAYANG 2

Rencana apa Tuan Putri.

DEWI CANDRAKIRANA

Ayoo ikut saja.

BABAK KELIMA

Di jalan. Panji Inu Kertapati bersama pengawalnya hendak menuju Kerajaan Dhaha.
Bermaksud untuk menemui Dewi Candrakirana.

PANJI INU KERTAPATI


255

Pengawal, lihat ada beberapa warga sedang berkerumun, ada apakah gerangan ?

PENGAWAL 1

Wah iya, jangan-jangan sedang ada pembagian kouta gratis.

PENGAWAL 2

Kouta gratis gundulmu itu. Bagi-bagi itu biasanya sembako.

PENGAWAL 1

Lho..belum tau ya kamu. Sekarang itu jamannya smarfon, gaddet, semua itu pada pake
yang namanya laptop. Ga jaman yang namanya sembako itu, sekarang itu jamannya
kouta.

PENGAWAL 2

Alah terserah kamu lah. Yang pentingkan bagi-bagi.

PANJI INU KERTAPATI

Sudah sudah kalian, sekarang kita lihat aja ke sana langsung

Pak ada acara apa ramai begini ?

RAKYAT ( PAK PETANI)

Begini, karena Putri Raja Dhaha telah menebarkan wabah pagebluk di perumahan warga
jadi siapa saja yang terkena ataupun dilewati oleh selendang itu, orang tersebut pasti
akan gatal-gata dan akhirnya mati. Akhirnya Raja Dhaha mengusir dan Putri nya
melarikan diri entah kemana !

PANJI INU KERTAPATI

Apa ? Putri Raja Dhaha siapa yang kau maksud ?

RAKYAT ( PAK PETANI)

Putri Raja Dhaha, Dewi Sekartaji.

PANJI INU KERTAPATI

Apa ? Dewiku. Aku, aku harus mencarinya sekarang juga.

PENGAWAL 1
256

Tapi.. Tuan Tuan mencari kemana lagi, sedangkan dunia ini luas Tuan.

PANJI INU KERTAPATI

Tidak, aku tidak mau tahu. Aku tetap akan mencarinya. Bahkan ke seluruh dunia pun akan
ku cari.

PENGAWAL 2

Kita kan tidak tahu dunia Tuan, seberapa besar, kerajaan kita saja sudah besar. Aku baru
mengelilinginya satu putaran saja kemarin sudah sangat capek, bagaimana bisa kau cari
di deluruh dunia ini.

PENGAWAL 1

Kalau dipikir betul juga katamu itu.

PENGAWAL 2

Hee aku itu omonganku itu mesti bener lho. Ga ada yang salah.

PANJI INU KERTAPATI

Kalau begitu, aku akan meminta petunjuk kepada guruku. Ilmunya sangat pas jikalau aku
meminta pertolongan kepada Beliau.

BABAK KEENAM

DI SEBUAH PONDOK DI TENGAH HUTAN HENING.

PANJI INU KERTAPATI

Matur sembah, Guru

GURU (PERTAPA)

Baiklah, siapa kau ? Dan ada tujuanmu datang kemari menemuiku ?

PANJI INU KERTAPATI

Saya adalah Panji Inu Kertapati, Putra dari Kerjaan Jenggolo. Saya dulu pernah belajar
kepada Mahaguru. Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk meminta petunjuk
kepada Panjenengan Guru.

GURU (PERTAPA)
257

Apa yang bisa aku bantu untukmu, wahai anak muda ?

PANJI INU KERTAPATI

Bahwasanya pujaan hati hamba, yakni Dewi Candrakirana Putri dari Raja Kerajaan Dhaha
telah melarikan diri. Saya bermaksud untuk mencarinya. Saya sudah tidak tahu mau
mencari dan meminta bantuan kepada siapa lagi. Mohon tolong bantu hamba.

GURU (PERTAPA)

Baiklah kalau begitu, tapi dengan satu syarat. Kau harus mematuri segala yang
kuperintahkan kepadamu.

PANJI INU KERTAPATI

Baik, apapun yang kau perintahkan, akan hamba patuhi Guru

GURU (PERTAPA)

Pertama, kau carilah menuju Arah Barat karena tujuanmu ada di sana. Dan yang kedua
kau harus merubah dirimu menjadi seekor Kera, sebagai penjelmaan atas dirimu.

Akhirnya Panji Inu Kertapati atas bantuan ilmu dari Guru (Pertapa) tersebut merubah
wujud Panji Inu Kertapati menjadi seekor kera (Kethek).

BABAK KETUJUH

DI SISI LAIN, DEWI CANDRAKIRANA BERSAMA DUA DAYANG SETIANYA TELAH SAMPAI
DI TENGAH SEBUAH HUTAN.

DAYANG 1

Kita sudah berlari sejauh ini, bisakah kita berhenti sejenak.

DAYANG 2

Kau ini malas sekali, baru lari begitu aja udah capek. Kayak aku dong sehat.

DAYANG 1

Badan kurus begitu kau bilang sehat.

DAYANG 2

Daripada kau, gendut ga kuat lari


258

DAYANG 1

Gendut bagaimana, lawong seksi berisi begini !

DEWI CANDRAKIRANA

Kita tidak bisa terus lari begini. Kita perlu sesuatu untuk menyamar. Aku akan melepaskan
segala perhiasanku, dan aku akan merubah penampilanku. Aku akan menyembunyikan
identitas asliku, untuk penyamaran. Kalian juga.

Berubahlah Dewi Candrakirana mulai dari penampilan, segala pernak-pernik kerajaan


telah ditinggalkannya. Ia menyembukan identitas dan jati diri aslinya. Dan menjadi sosok
lain. Begitu juga dengan dua dayang setianya.

BABAK KEDELAPAN

DI TENGAH HUTAN, BEBERAPA BINATANG TENGAH BERCENGKRAMA SATU DENGAN


LAINNYA.

DEWI CANDRAKIRANA

Kau tau hewan di sini sangat menakjubkan, ramah, seperti nya aku ingin menjadi bagian
dari mereka.

DAYANG 1

Iya, hutan ini sangat bersahabat. Lihat, itu kera itu sangat besar Tuan Putri

DEWI CANDRAKIRANA

Sekarang aku bukanlah Dewi Candrakirana dan untuk menyembunyikan identitas asliku,
panggil saja aku dengan Endang Roro Tempe.

DAYANG 2

Kau ini bagaimana, sudah tau penampilannya sudah ganti, tetap saja kau memanggilnya
dengan Tuan.

DAYANG 1

Iya iya!

ENDANG RORO TEMPE


259

Kera itu tampaknya baik, aku akan mencoba mendekatinya. Hai namaku Endang Roro
Tempe.

Endang Roro Tempe yang sebenarnya penyamaran dari Dewi Sekartaji itu, bertemu
dengan Kethek yang sebenarnya jelmaan dari Panji Inu Kertapati. Setiap hari Endang
Roro Tempe bermain dengannya, entah mengapa mereka terlihat sangat akrab. Hingga
permainan mereka secara tidak sengaja menjadi sebuah pertunjukan.

DAYANG 1

Ya, begitu hebat kamu

ENDANG RORO TEMPE

Yee kau semakin hebat saja (tepuk tangan sambil mengusap rambut kera)

DAYANG 2

Kalian lihat ini aku punya kabar gembira.

DAYANG 1

Kau ini mengejutkanku saja

DAYANG 2

Biarin aja, yee

ENDANG RORO TEMPE

Owh iya ada kabar apa ? sepertinya hal yang penting

DAYANG 2

Kita diminta untuk mengisi acara di kampung sebelah

DAYANG 1

Kau serius,

DAYANG 2

Makanya dong dengerin dulu, kita diminta untuk menampilkan pertunjukan tarian
bersama kera. Mungkin karena permainan kita dipandang bagus oleh warga.

ENDANG RORO TEMPE


260

Kalau begitu mari kita latihan sekali lagi.

Endang Roro Tempe bersama dayangnya serta kera berlatih. Keesokan harinya mereka
menampilkan pertunjukan di kampung sebelah. Penampilan mereka memukau banyak
orang. Baru karena hanya mereka satu-satunya yang menampilkan pertunjukan dengan
binatang yaitu kera.

ENDANG RORO TEMPE

Kurasa penampilan kita cukup bagus hari ini. Aku senang ini juga berkatmu kera.

Kera tersenyum mengganguk, lopat ke sana ke mari menandakan setuju. Puas.

BABAK KESEMBILAN

TERBONGKARNYA DALANG MENYEBAR PAGEBLUK

Kethek Ogleng termasyurnya nama mereka diundang di beberapa kampung sebelah.


Sampai suatu hari mereka diundang untuk ke istana kerajaan Dhaha karena di sana
sedang berlangsung pesta kerajaan. Kelompok tersebut pentas dengan menghibur dan
atraktif.

Karena merasa pertunjukan kera itu mengejek dirinya. Tingkah kawangan kera itu yang
seolah mmengungkap kronologis menyebarnya pagebluk di antara rakyat-rakyat
kerajaan Dhaha. Dewi Ajeng pun geram.

GALUH AJENG

Kau beraninya mengejekku. Aku tidak terima.

Galuh Ajeng melemparkan sesuatu di tengah pertunjukkan, yang mengakibatkan


kawanan kera itu marah dan berontak. Ia berlari memenuhi ruangan, benda-benda
kerajaan jatuh berserakan. Pecah tak karuan arah. Ruangan dipenuhi teriakan, semua lari
berantakan. Kawanan kera itu menyerubungi dan menyerang orang-orang yang berada
dalam kerajaan.

GALUH AJENG

Siapapun tolong hentikan kera ini, kerajaanku rusak semua. Semua ini gara-gara kera itu.

DEWI RATU LIKU


261

Pengawal tangkap kera-kera itu, hentikan semua ini.

GALUH AJENG

Semua ini gara kamu, kau yang bertanggung jawab atas kemua kera ini, hentikan mereka
semua. Kau pawangnya.

ENDANG RORO TEMPE

Tidak, semua ini salah, kau tau siapa yang bertanggung jawab atas wabah penyakit
pagebluk di wilayah rakyat dan kerajaan Dhaha ini.

GALUH AJENG

Apa maksudmu ?

Dewi candrakirana yang sebelumnya menyamar menjadi Endang Roro Tempe melepas
dan menunjukkan identitas aslinya.

DEWI CANDRAKIRANA

Aku sebenaranya adalah Dewi Candrakirana. Wabah pagebluk ini akibat dari perbuatan
dari Galuh Ajeng dan Ibunya. Mereka telah meracuni kalian semua.

GALUH AJENG

Kau jangan memfitnah Dewi Candrakirana. Tau apa kau ?

DEWI CANDRAKIRANA

Aku berkata yang sesungguhnya, kau yang telah meracuni dan menyebabkan seisi rakyat
semua gatal-gatal sampai meninggal dunia.

BAGINDA RAJA DHAHA

Benarkah yang kau katakan itu ?

GALUH AJENG

Tidak, kau tidak bisa menuduhku tanpa bukti. Tidak hanya membela dirinya saja
Ayahanda, jangan dengaran dia. Dia hanya mementingkan dirinya saja. Bahkan dia tidak
punya bukti untuk semua ini.

DAYANG 2
262

Kami melihat secara langsung kau pergi ke tempat dan menuangkan sesuatu kepada
selendang itu kemudian melemparkan ke tengah-tengah rakyat supaya rakyat terkena
wabah penyakit gatal-gatal itu dan memfitnah Dewi Candrakirana.

GALUH AJENG

Siapa memangnya kau beraninya bicara begitu kepadaku

DAYANG 1

Kami adalah pengikut Dewi Sekartaji, dan kami dengan tidak sengaja melihat perbuatan
kejimu itu.

Para warga mulai berbisik, dan mengungkapkan pendapatnya. Gerak-gerik mereka


mengisyarakatkan setuju dengan pengakuan Dewi Candrakirana.

GALUH AJENG

Tidak, ini semua salah, kau tidak bisa menuduhku. Kau lah yang bersalah Dewi Sekartaji,
tidak bisa menuduhku seperti itu. Barang bukti sudah mengarah kepadamu. Itu
selendangmu. Kaulah yang bersalah. Bisa saja kau meminta pelayanmu itu untuk bersaksi
demikian Dewi Candrakirana.

BAGINDA RAJA DHAHA

Kurasa semua ini sudah jelas, rakyatku kalian sudah menyaksikan secara langsung. Bahwa
yang bertanggung jawab atas wabah pagebluk ini adalah Dewi Candrakirana.

DEWI CANDRAKIRANA

Tapi ayah...

BAGINDA RAJA DHAHA

Anakku, semua sudah jelas, bukti sudah menunjukkan bahwa itu selendangmu. Dan
kaulah pelakunya.

GALUH AJENG

Pengawal cepat bawa Putri Dewi ini keluar istana, dan dayang-dayangngnya ini yang
sudah menyebbkan wabah pagebluk ini.

PENGAWAL
263

Siap laksankan.

DEWI CANDRAKIRANA

Ayah, kenapa kau tidak percaya padaku ayah, aku mohon percayalah. Aku berkata jujur.

BAGINDA RAJA DHAHA

Aku tidak bisa, kau adalah pelakunya. Pergilah kau dari sini secepatnya ! Aku tidak mau
lagi menganggapmu anak. Aku telah kecewa, pergi kau dari sini.

GALUH AJENG

Kau dengar itu, pergi dari istanaku. Dan jangan pernah kembali. Ayah bolehkah aku
meminta untuk pelaku ini dihukum seberat-beratnya. Aku tidak bisa tinggal diam saat
rakyatku didhianati.

DEWI CANDRAKIRANA

Kau lah penghianat itu, Galuh Ajeng.

Pengawal itu memegangi lengan Dewi Candrakirana beserta dua dayang setianya.
Beberapa kawanan kera itu masih berlompatan ke sana ke mari. Seekor kera melompat
menghampiri Dewi Candrakirana, menarik bajunya.

DEWI CANDRAKIRANA

Ada apa, kita disuruh mengikutinya.

Karena penasaran Dewi Candrakirana dan semua yang hadir mengikuti kera itu. Ia
menuntun ke sebuah ruangan di dalamnya terdapat botol dan selendang. Botol itu pun
disodorkan kepada Dewi Candrakirana. Dengan tak sengaja botol itu mengenai tangan
dan tangannya pun terasa gatal, sedangkan Dewi mengambil selendang yang mana itu
adalah selendang itu miliknya.

DEWI CANDRAKIRANA

Ayah, lihat ini mrupakan bukti, sebuah boto dan selelndang ini berada di kamar Galuh
Ajeng.

BAGINDA RAJA DHAHA

Galuh Ajeng apa itu benar ?


264

GALUH AJENG

Ampun..ampun Ayah..aku tidak bermasud begitu, maafkan aku. Aku hanya tidak setuju
kalah Dewi Candrakirana menikah dengan Panji Inu Kertapati, karena aku mencintainya,
ayah.

PANJI INU KERTAPATI

Tapi aku tidak mencintaimu.

Kera itu pun merubah wujudnya yang asli yaitu Panji Inu Kertapati.

DEWI CANDRAKIRANA

Kau, jadi selama ini kamu adalah..

PANJI INU KERTAPATI

Aku adalah Panji Inu Kertapati, selama ini aku mencarimu Dewi Candrakirana. Maukah
kau menikah denganku?

Akhirnya Dewi Candrakirana dan Panji Inu Kertapati bersatu kembali setelah lama
berpisah.
265

BIODATA PENULIS & EDITOR

Dewi Ariyanti

Akrab disapa Dev, mempunyai nama pena Dev Keshav. Lahir di kota jombang, 18 januari
1997. Pecinta seni dan sastra, mempunyai hobby unik yaitu mengobservasi, memaknai
dan menulis tentang kehidupan dalam twitter. Seseuatu yang sepele tapi menarik untuk
menumbuhkan rasa syukur. Untuk mengenal lebih dekat bisa follow instagram
@dev_keshav18 atau Facebook @arthiefulziva@yahoo.co.id (DEV).

Pramedya Octaviani

Gadis biasa, menyukai gemericik air, lahir pada 30 September. Tetap ingin terus belajar
dalam kepenulisan terutama dalam penulisan naskah drama. Untuk mengenal lebih
dekat bisa follow instagram @pramedya_octa atau Facebook octavianipram(Pramedya).

Abdul Manaf

Pemuda biasa kelahiran Jombang 5 Februari 1996, salah satu hal yang coba dia tekuni
adalah penulisan. Iya, dia masih belajar.

Amalia Eva Kusuma

Dilahirkan di Nganjuk Jawa Timur pada 14 November 1996, sekarang menjadi aktif
mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, dia sangat gemar menulis dan berusaha
menjadi penulis yang baik. sekarang tinggal di Sumbersono, Lengkong, Nganjuk.

Ratna Agustin

Kelahiran Nganjuk 4 agustus 1997 lulusan sekolah SMA di Nganjuk sekarang ia


menempuh kuliah jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Syifa lailatul Maghfiroh

Syifa LaMa biasa dipanggil Syif adalah wanita kelahiran 29 Juni 1997, gadis yang hobby
membca ini mulai menekuni dunia kepenulisan sejak semester awal sejak duduk di
bangku kuliah.

Fatin Najkhi Himmati


266

Pemilik nama pena Himmanajkhi. Lahir di Jombang, 11 Mei 1997. Alumni SMA Darul
Ulum 1 Unggulan BPPT Peterongan yang sedang aktif kuliah di Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia.

Endik Tri

Pria yang begemar bersajak ini lahir di Jombang 28 November 1995 dia berusaha
mengembangkan kegemarannya itu dengan menekuni kepenulisan.

Tafrihin A.

Aku bukan orang berdasi yang gila materi kelahiran Jombang 5 Maret 1997, hobinya
neribun, langsung aja ta follow instagram @mastaf87.

Nur Intan Palupi

Dilahirkan pada dua puluh satu tahun yang lalu di Jombang Jawa Timur, penggemar
senja dan penikmat kopi hitam. Hanya gadis sederhana dengan tampang eksotis dan
selalu menebar keceriaan.