Anda di halaman 1dari 24

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perawatan paliatif merupakan perawatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup klien
baik anak-anak maupun dewasa dan keluarga dalam menghadapi penyakit yang mengancam nyawa,
dengan cara meringankan penderita dari rasa sakit melalui identifikasi dini, pengkajian yang sempurna, dan
penatalaksanaan nyeri serta masalah lainnya baik fisik, psikologis, sosial atau spiritual (World Health
Organization (WHO, 2016).
Kebutuhan akan keperawatan menjelang ajal di rumah sakit meningkat seiring dengan peningkatan
kejadian penyakit kronis (Todaro-Franceschi & Spellmann, 2012). Menurut Higgs (2010) perawatan
menjelang ajal merupakan istilah yang digunakan dalam penyebutan perawatan pasien dan keluarga dari
aspek klinis sampai sistem dukungan saat pasien menghadapi kematian. Penyakit kronis berkembang dari
penyakit tidak menular yang dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Menurut WHO (2016) penyakit-penyakit yang termasuk dalam perawatan paliatif seperti penyakit
kardiovaskuler dengan prevalensi 38.5%, kanker 34%, penyakit pernapasan kronis 10.3%, HIV/AIDS
5.7%, diabetes 4.6% dan memerlukan perawatan paliatif sekitas 40-60%.Pada tahun 2011 terdapat 29 juta
orang meninggal di karenakan penyakit yang membutuhkan perawatan paliatif. Kebanyakan orang yang
membutuhkan perawatan paliatif berada pada kelompok dewasa 60% dengan usia lebih dari 60 tahun,
dewasa (usia 15-59 tahun) 25%, pada usia 0-14 tahun yaitu 6% (Baxter, et al., 2014).
Begitu juga di Indonesia, penyakit kronis menjadi penyebab kematian terbanyak. Berdasarkan data
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2016), proporsi angka kematian akibat penyakit tidak menular
meningkat dari 41,7% pada tahun 1995 menjadi 49,9% pada tahun 2001 dan 59,5% pada tahun 2007.
2

Penyebab kematian tertinggi dari seluruh penyebab kematian adalah stroke (15,4%), disusul hipertensi,
diabetes, kanker, dan PPOK.
Keperawatan paliatif akan menunjukkan bahwa pasien menjelang ajal meiliki kebutuhan yang
beragam dalam perawatannya, tidak hanya masalah fisik tetapi juga psikologis, spiritual dan dukungan
sosial (Smith, 2003). Kebutuhan tersebut tentunya berpengaruh terhadap peningkatan sikap perawat
dalam merawat pasien dengan menjelang ajal. Keberhasilan perawatan pasien menjelang ajal dipengaruhi
oleh sikap perawat dalam proses perawatannya (Gallagher et al, 2015).
Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki banyak waktu bersama pasien
sehingga memahami setiap kebutuhan dari pasien (Smeltzer & Bare, 2010). Terdapat beberapa pasien
yang membutuhakn tenaga perawat, seperti pasien dengan total care. Hasil studi menyebutkan bahwa
sikap perawat yang negatif, seperti perasaan tidak peduli, takut, dan cemas dalam setiap pemberian
asuhan keperawatan dapat menurunkan kualitas pelayanan menjelang ajal pada pasien (Grubb & Arthur,
2016).
Sikap dalam perawatan pasien adalah hal utama yang dimiliki oleh perawat dalam upaya
peningkatan status derajat kesehatan pasien menjelang ajal. Pembentukan sikap perawat saat menjadi
mahasiswa (tahap akademik) akan berbeda dengan perawat yang sering berinteraksi dengan hal-hal yang
muncul dari proses kematian (Villar, 2013).
Sikap dalam perawatan menjelang ajal dapat menjadikan tolak ukur efektifnya proses
pembelajaran/pelatihan. indikator yang dimaksud adalah mencakup kognitif, afektif dan psikomotor. hasil
penelitian Grubb & Arthur (2016) menyebutkan bahwa sikap yang positif dalam perawatan menjelang
ajal, dapat menjadi tolak ukur keberhasilan mahasiswa keperawatan membentuk suatu hubungan
terapeutik dengan pasien menjelang ajal.
Penelitian tentang sikap dalam perawatan menjelang ajal telah banyak dilakukan di Dunia. Namun
beluma ada literature review yang mengkompilasi penelitian-penelitian tersebut dan dituliskan dalam
artikel ilmiah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi
kualiatas perawatan paliatif pada pasien terminal di RSU Haji Surabaya.
1.2 Rumusan Masalah
Apakah faktor yang berhubungan dengan kualitas perawatan paliatif pada pasien terminal di Rumah
Sakit Haji Surabaya ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menganalisis faktor yang berhubungan dengan kualitas perawatan paliatif pada pasien terminal di
Rumah Sakit Haji Surabaya
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Menganalisis hubungan sikap perawat dengan kualitas perawatan paliatif pada pasien terminal di
RSU Haji Surabaya
2. Menganalisis hubungan pengalaman perawat dengan kualitas perawatan paliatif pada pasien terminal
di RSU Haji Surabaya.
3. Menganalisis hubungan pengetahuan perawat dengan kualitas perawatan paliatif pada pasien terminal
di RSU Haji Surabaya.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi tentang faktor –faktor yang mempengaruhi
kualitas perawatan paliatif pada pasien terminal di RSU Haji Surabaya sehingga dapat digunakan sebagai
3

kerangka dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan acuan pengembangan penelitian dalam praktik
keperawatan khususnya pengembangan ilmu keperawatan gerontik yang berhubungan dengan perawatan
paliatif.
1.4.2 Praktis
Penelitian ini memiliki manfaat praktis antara lain:
1. Bagi Perawat
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan
memperhatikan faktor-faktor yang akan mempengaruhi kualitas perawatan paliatif.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Mendapatkan pengalaman langsung dalam penelitian dan memperbanyak pengetahuan sebagai
peran mahasiswa perawat dan memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan mutu pelayanan
keperawatan nantinya.
3. Bagi Klien
Klien akan merasa senang dan aman selama dilakukannya perawatan paliatif sehingga akan
mempercepat proses kesembuhan penyakitnya.
4. Bagi RSU Haji Surabaya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada perawat akan sikap, perilaku dan
pengetahuan yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan intervensi dalam ,melakukan
perawatan paliatif kepada klien.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini peneliti akan menjelaskan teori yang berkaitan dengan penelitian yaitu : Determinan
Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Perawatan Paliatif pada Pasien Terminal di Rumah Sakit Umum Haji
Surabaya.
2.1 Pengetahuan, Pengalaman, dan Sikap
2.1.1 Pengetahuan
Pengetahuan merupakan informasi yang ditemui dan diperoleh oleh manusia melalui
pengamatan akal untuk mengenali suatu benda atau kejadian yang belum pernah dilihat atau dirasakan
sebelumnya. Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai acuhan untuk mengetahui tingkat kecerdasan
seseorang. Menurut Bloom dalam bukunya Notoatmodjo (2010; 50) menjelaskan bahwa pengetahuan
merupakan hasil dari indera manusia atau hasil tahu seseorang terhadap indera yang dimiliki,
sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988: 884) menjelaskan bahwa pengetahuan
adalah segala sesuatu yang diketahui, segela sesuatu yang berkenaan dengan hal (mata pelajaran).
Intensitas pengetahuan antar tiap orang berbeda-beda. Menurut Daryanto (2010: 103)
menjelaskan bahwa aspek-aspek pengetahuan dalam taksonomi Bloom adalah sebagai berikut :
1. Pengetahuan (knowledge). Tahu hanya diartikan sebagai ingatan atau mengulang. Seseorang
dituntut untuk mengetahui atau mengenal fakta tanpa dapat menggunakannya.
2. Pemahaman (comprehension). Memahami suatu objek bukan sekedar tahu, tidak sekedar dapat
menyebutkan, tetapi harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang
diketahui.
3. Penerapan (application). Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek tersebut
menggunakan dan mengaplikasikan prinsip yang diketahui pada situasi yang lain.

5
6

4. Analisis (analysis). Analisis adalah kemampuan seseorang untuk


menjabarkan dan memisahkan, kemudian mencrai hubungan antara
komponen-komponen yang terdapat dalam suatu objek.
5. Sintesis (synthesis). Sintesis menunjukkan suatu kemampuan
seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam suatu hubungan
yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki.
6. Penilaian (evaluation). Evaluasi berkaitan dengan kemampuan
seseorang untuk melakukan penilaian terhadap suatu objek tertentu
didasarkan pada suatu kriteria atau norma-norma yang berlaku
dimasyarakat.
2.1.2 Pengalaman
Pengalaman adalah keseluruhan pelajaran yang dipetik oleh seseorang
dari banyaknya peristiwa yang dialami atau dilakukannya dalam perjalanan
hidupnya (Siagian, 2002). Sedangkan menurut Daehler & Bukatko (1985)
dalam Syah (2003) pengalaman dapat diartikan juga sebagai memori
episodic, yaitu memori menerima dan menyimpan peristiwa yang terjadi
atau dialami individu pada waktu dan tempat tertentu, yang berfungsi
sebagai referensi otobiografi (Syah, 2003).
Pengalaman merupakan hal yang tidak lepas dari kehidupan manusia
sehari-harinya. Pengalaman merupakan hal yang sangat berharga bagi setiap
manusia, pengalaman juga dapat dibagikan kepada orang lain untuk
digunakan sebagai pedoman dan pembelajaran orang lain. Pengalaman
diperoleh seseorang secara langsung maupun tidak langsung. Siagian (2002)
mengemukakan bahwa pengalaman langsung yaitu apabila seseorang telah
pernah mengalami langsung peristiwa-peristiwa itu sendiri dalam hidupnya,
pengalaman langsung seorang perawat merawat lansia di panti werdha
dengan kondisi yang berbeda-beda akan memunculkan pengalaman-
pengalaman unik bagi setiap perawat. Sedangkan dengan pengalaman tidak
langsung adalah peristiwa yang diamati dan diikuti oleh seseorang.
2.1.3 Sikap
Menurut Oxford Advanced Learner Dictionary mencantumkan bahwa
sikap (attitude) berasal dari bahasa Italia attitudine yaitu “Manner ofplacing
or holding the body, dan way of feeling, thinking or behaving”. Campbel
(1950) dalam buku Notoatmodjo (2003) mengemukakan bahwa sikap
adalah “A syndrome of response consistency with regard to social objects”.
Artinya sikap adalah sekumpulan respon yang konsisten terhadap obyek
sosial. Dalam buku Notoadmodjo (2003) mengemukakan bahwa sikap
(attitude) adalah merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari
seseorang terhadap stimulus atau obyek.
Menurut John H. Harvey dalam Abu Ahmadi (2009) mendefinisikan
“Sikap adalah kesiapan merespon secara konsisten dalam bentuk positif atau
negatif terhadap objek atau situasi”. Sedangkan Berkowitz dalam Syaifudin
Azwar (2012) menyatakan bahwa “sikap seseorang terhadap suatu objek
adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan
tidak mendukung atau memihak (unfavorable) pada objek tersebut”. Dari
kedua penjelasan tersebut, kita dapat melihat bahwa sikap merupakan
perasaan untuk merespon suatu objek atausituasi baik positif maupun
negatif dengan cara mendukung atau memihak pada suatu kondisi tertentu.
7

Menurut Azwar (2012) faktor-faktor yang mempengaruhi sikap antara


lain:
1. Pengalaman pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi
haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih
mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam
situasi yang melibatkan faktor emosional.
2. Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang
konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting.
Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk
berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang
dianggap penting tersebut.
3. Pengaruh kebudayaan
Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap
kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap
anggota masyarakatnya, karna kebudayaanlah yang memberi corak
pengalaman individu-individu masyarakat asuhannya.
4. Media massa
Dalam pemberitahuan surat kabar maupun radio atau media komunikasi
lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara oibejktif
cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya berpengaruh
terhadap sikap konsumennya.
5. Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama
sangat menentukan sistem kepercayaan tidaklah mengherankan jika
pada gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.
6. Faktor emosional
2.2 Perawatan Paliatif
2.2.1 Definisi
“Palliative” merupakan kata uangkapan yang berasal dari bahasa latin
yaitu “pallium” yang artinya adalah menutupi atau menyembunyikan.
Perawatan paliatif ditujukan untuk menutupi atau menyembunyikan keluhan
klien dan memberikan kenyamanan ketika tujuan penatalaksanaan tidak
mungkin disembuhkan (Muckaden, 2011)
Perawatan paliatif merupakan sistem perawatan terpadu yang bertujuan
meningkatkan kualitas hidup, dengan cara meringankan nyeri dan
penderitaan klien, memberikan dukungan spiritual dan psikososial mulai
saat diagnosiss ditegakkan sampai akhir hayat dan dukungan terhadap
keluarga yang kehilangan atau berduka (Nendra et al., 2011), serta bertujuan
memperbaiki kualitas hidup klien daan keluarga yang menghadapi masalah
yang berhubungan dengan penyakit yang mengancam nyawa (Kemenkes RI,
2007).
2.2.2 Prinip Dasar Peraawatan Paliatif
Prinsip dasar perawatan paliatif sangat penting dalam memberikan
perawatan paliatif. Adapun prinsip dasar perawatan paliatif menurut
commitee on Bioethic and Commitee on Hospital Care (2000) dalam
Ningsih (2011) :
8

1. Menghormati serta menghargai klien dan keluarganya


2. Kesempatan atau hak mendapatkan kepuasan dan paliatif yang pantas
3. Mendukung pemberi perawatan (caregiver)
4. Pengembangan profesi dan dukungan sosial untuk perawatan paliatif
(Ningsih, 2011).
2.2.3 Tujuan
Tujuan akhir perawatan paliatif yaitu mencegah dan mengurangi
penderitaan serta memberikan bantuan untuk memperoleh kualitas
kehidupan terbaik bagi klien dan keluarga tanpa memperhatikan stadium
penyakit atau kebutuhan terapi lainnya, dengan demikian perawatan paliatif
dapat diberikan secara bersamaan dengan perawatan yang memperpanjang
atau mempertahankan kehidupan atau sebagai fokus keperawatan
(Campbell, 2013).
Penilaian klien pada klien yang immobilitas akan terfokus untuk
menentukan kebutuhan baik fisik, sosial ataupun spiritual dan
merencanakan kebutuhan klien dengan keluarga untuk mengatasi masalah
yang teridentifikasi. Tujuan dari perawatan paliatif adalah untuk
meningkatkan kualitas hidup klien, yang secara rinci tujuan utamanya
adalah (Nendra et al., 2011) :
1. Meningkatkan kapasitas keluarga untuk memberikan perawatan paliatif
2. Mendukung peningkatan akses ke perawatan paliatif dalam perawatan,
dukungan, dan layanan pengobatan yang ada
3. Menganjurkan untuk perawatan paliatif yang berkelanjutan dan holistik
4. Meningkatkan akses terhadap obat-obatan dan komoditas penting dalam
perawatan paliatif
5. Meningkatkan kualitas pelayanan perawatan paliatif
Sedangkan menurut Hudson & Bruce Aspek (2003) spiritual
merupakan tujuan dari pelayanan perawatan paliatif yang bertujuan
membuat klien menjadi lebih tenang, berpikir positif senantiasa
mengkreasikan hidup sejahtera. Beberapa tahun terakhir, telah terjadi
peningkatan dramatis dalam agama dan keyakinan spiritual sebagai sumber
kekuatan dan dukungan dalam penyakit fisik yang serius professional
kesehatan memberikan perawatan medis dalam memenuhi kebutuhan
spiritual dan keagamaan (Woodruff, 2004).
Spiritual menjadi hal yang penting bagi sebagian orang bahkan lebih
dari interaksi sosial. Pada bagian ini perawat dan ahli spiritual yang
mempunyai minat dalam keperawatan, dua profesi yang berbeda yang saling
berkolaborasi sehingga menghailkan sifat perawatan yang berfokus pada
akhir kehidupan seseorang (Hudson & Bruce, 2003).
Suatu pengkajian spiritual dimaksudkan untuk menilai apa yang
menjadi kebutuhan klien, dan kesadaran terhadap spiritual sering meningkat
pada saat klien belajar mengenai penyakit terminal. Salah satu alat untuk
mengkaji spiritual yaitu memakai singkatan FICA, Faith (keyakinan),
Important (makna atau pengaruh), Community (komunikasi), Address
(aplikasi) (Puchalski, 1999 dalam Campbell, 2013). Selain spiritual ada juga
aspek hubungan dengan lingkungan yang ada di sekitar mencakup :
1. Hubungan dengan klien dan perawat
9

Saat ini di rumah sakit, klien sering menemui kesulitas untuk memiliki
perawat primer karena jadwal yang berubah-ubah. Klien dengan penyakit
terminal menghargai hubungan dengan klinisi, namun berbeda dengan
beberapa perawat yang justru menghindari klien dengan penyakit terminal
karena takut untuk mengatakan atau melakukan hal yang salah (Xampbell,
2009).
2. Hubungan sosial
Bagi klien yang mendekati akhir kehidupan, hubungan menjadi salah
satu hal yang lebih penting. Bagi beberapa orang, ada suatu kebutuhan
untuk menyambung kembali hubungan yang renggang, meminta atau
memberi maaf, atau memulihkan hubungan (Campbell, 2013).
3. Peran keluarga
Ketika klien sudah mendekati kematian, salah satu atau lebih anggota
keluarga dapat berada di sisi klien terus menurus, hal ini terkadang disebut
dengan “berjaga-jaga dengan kematian.” (Campbell, 2013)

2.2.4 Elemen dalam Perawatan Paliatif


Elemen dalam perawatan paliatif menurut National Consensus Project
dalam Campbell (2013), meliputi :
1. Populasi pasien. Dimana dalam populasi pasien ini mencangkup pasien
dengan semua usia, penyakit kronis atau penyakit yang mengancam
kehidupan.
2. Perawatan yang berfokus pada pasien dan keluarga. Dimana pasien dan
keluarga merupakan bagian dari perawatan paliatif itu sendiri.
3. Waktu perawatan paliatif. Waktu dalam pemberian perawatan paliatif
berlangsung mulai sejak terdiagnosanya penyakit dan berlanjut hingga
sembuh atau meninggal sampai periode duka cita.
4. Perawatan komprehensif. Dimana perawatan ini bersifat multidimensi
yang bertujuan untuk menanggulangi gejala penderitaan yang termasuk
dalam aspek fisik, psikologis, sosial maupun keagamaan.
5. Tim interdisiplin. Tim ini termasuk profesional dari kedokteran,
perawat, farmasi, pekerja sosial, sukarelawan, koordinator pengurusan
jenazah, pemuka agama, psikolog, asisten perawat, ahli diet,
sukarelawan terlatih.
6. Perhatian terhadap berkurangnya penderitaan : Tujuan perawatan
paliatif adalah mencegah dan mengurangi gejala penderitaan yang
disebabkan oleh penyakit maupun pengobatan.
7. Kemampuan berkomunikasi : Komunikasi efektif diperlukan dalam
memberikan informasi, mendengarkan aktif, menentukan tujuan,
membantu membuat keputusan medis dan komunikasi efektif terhadap
individu yang membantu pasien dan keluarga.
8. Kemampuan merawat pasien yang meninggal dan berduka
9. Perawatan yang berkesinambungan. Dimana seluru sistem pelayanan
kesehatan yang ada dapat menjamin koordinasi, komunikasi, serta
kelanjutan perawatan paliatif untuk mencegah krisis dan rujukan yang
tidak diperukan.
10

10. Akses yang tepat. Dalam pemberian perawatan paliatif dimana timharus
bekerja pada akses yang tepat bagi seluruh cakupanusia, populasi,
kategori diagnosis, komunitas, tanpa memandang ras, etnik, jenis
kelamin, serta kemampuan instrumental pasien.
11. Hambatan pengaturan. Perawatan paliatif seharusnya mencakup
pembuat kebijakan, pelaksanaan undang-undang, dan pengaturan yang
dapat mewujudkan lingkungan klinis yang optimal.
12. Peningkatan kualitas. Dimana dalam peningkatan kualitas
membutuhkan evaluasi teratur dan sistemik dalam kebutuhan pasien.
2.2.5 Masalah Keperawatan Pada Pasien Paliatif
Permasalahan perawatan paliatif yang sering digambarkan pasien yaitu
kejadian-kejadian yang dapat mengancam diri sendiri eimana masalah yang
seringkali di keluhkan pasien yaitu mengenai masalah seperti nyeri, masalah
fisik, psikologi sosial, kultural serta spiritual (IAHPC, 2016).Permasalahan
yang muncul pada pasien yang menerima perawatan paliatif dilihat dari
persepktif keperawatan meliputi masalah psikologi, masalah hubungan
sosial, konsep diri, masalah dukungan keluarga serta masalah pada aspek
spiritual atau keagamaan (Campbell, 2013).
1. Masalah Fisik
Masalah fisik yang seringkali muncul yang merupakan keluhan dari
pasien paliatif yaitu nyeri (Anonim, 2017).Nyeri merupakan
pengalaman emosional dan sensori yang tidak menyenangkan yang
muncul akibat rusaknya jaringan aktual yang terjadi secara tiba-tiba dari
intensitas ringan hingga berat yang dapat diantisipasi dan diprediksi.
Masalah nyeri dapat ditegakkan apabiladata subjektif dan objektif dari
pasien memenuhi minimal tiga kriteria (NANDA, 2015).
2. Masalah Psikologi
Masalah psikologi yang paling sering dialami pasien paliatif adalah
kecemasan. Hal yang menyebabkan terjadinya kecemasan ialah
diagnosa penyakit yang membuat pasien takut sehingga menyebabkan
kecemasan bagi pasien maupun keluarga (Misgiyanto & Susilawati,
2014).
Durand dan Barlow (2006) mengatakan kecemasan adalah keadaan
suasana hati yang ditandai oleh afek negatif dan gejala-gejala
ketegangan jasmaniah dimana seseorang mengantisipasi kemungkinan
datangnya bahaya atau kemalangan di masa yang akan datang dengan
perasaan khawatir.Menurut Carpenito (2000) kecemasan merupakan
keadaan individu atau kelompok saat mengalami perasaan yang sulit
(ketakutan) dan aktivasi sistem saraf otonom dalam berespon terhadap
ketidakjelasan atau ancaman tidak spesifik.
NANDA (2015) menyatakan bahwa kecemasan adalah perasaan tidak
nyaman atau kekhawatiran yang diseratai oleh respon otonom, perasaan
takut yang disebabkan olehantisipasi terhadap bahaya. Hal ini
merupakan tanda waspada yang member tanda individu akan adanya
bahaya dan mampukah individu tersebut mengatasinya.
3. Masalah Sosial
Masalah pada aspek sosial dapat terjadi karena adanya ketidak
normalan kondisi hubungan social pasien dengan orang yang ada
11

disekitar pasien baik itu keluarga maupun rekan kerja (Misgiyanto &
Susilawati, 2014). Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang
dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang
negatif dan mengancam ( Twondsend, 1998 ). Atau suatu keadaan
dimana seseorang individu mengalami penurunan bahkan sama sekali
tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, pasien
mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu
membina hubungan yang berarti dan tidak mampu membina hubungan
yang berarti dengan orang lain (Kelliat, 2006 ).
4. Masalah Spiritual
Menurut Carpenito (2006) salah satu masalah yang sering muncul pada
pasien paliatif adalah distress spiritual. Distres spiritual dapat terjadi
karena diagnose penyakit kronis, nyeri, gejala fisik, isolasi dalam
menjalani pengobatan serta ketidakmampuan pasien dalam melakukan
ritual keagamaan yang mana biasanya dapat dilakukan secara mandiri.
Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan
mengintegrasikan arti dan tujuan hidup seseorang dengan diri, orang
lain, seni, musik, literature, alam dan kekuatan yang lebih besar dari
dirinya (Hamid, 2008).Definisi lain mengatakan bahwa distres spiritual
adalah gangguan dalam prinsip hidup yang meliputi seluruh kehidupan
seseorang dan diintegrasikan biologis dan psikososial (Keliat dkk,
2011).
2.2.6 Tim dan Tempat Perawatan Paliatif
Perawatan paliatif pendekatannya melibatkan berbagai disiplin ilmu
yang meliputi pekerja sosial, ahli agam, perawat, dokter (dokter ahli atau
dokter umum) dalam merawat klien dengan membantu keluarga yang
berfokus pada perawatan yang komplek meliputi masalah fisik, emosional,
sosial dan spiritual (Hockenberry & Wilson, 2005). Seluruh anggota tim
perawatan paliatif harus memenuhi kriteria dan kesdaran akan tugas dan
tanggungjawabnya (Crag, 2007).
Anggota tim lain adalah psikologis dan fissioterapi. Masing-masing
profesi terlibat sesuai dengan masalah yang dihadapi klien, dan penyusunan
tim perawatan paliatif disesuaikan dengan kebutuhan klien dan tempat
perawatannya. Anggota tim perawatan paliatif dapat memberikan kontribusi
sesuai dengan keahliannya (Djauzi., et al, 2003).
Menurut Muckaden (2011) dalam perawatan paliatif harus dimulai saat
didiagnosa dan diberikan selama mengalami sakit dan dukungan untuk
berduka. Klien bisa memilih dimana akan dirawat diantaranya adalah :
1. Rumah Sakit
Tim perawatan paliatif merupakan kolaborasi antara interdisiplin (antar
keilmuan) dan biasanya mencakup dokter dan atau peraat senior
bersama dengan satu atau lebih pekerja sosial dan pemuka agama.
Sebagai tambahan, tim tersebut dibantu teman sejawat dari ahli gizi dan
rehabilitasi, seperti fisioterapis atau petugas terapi okupasi dan terapi
pernapasan. Konsultasi awal biasanya dilakukan oleh seorang dokter
atau perawat yang berhubungan dengan kebutuhan klien dan
keluarganya serta membuat rekomendasi ke dokter utama. Terkadang,
12

konsultan perawat paliatif dilibatkan untuk membantu komunikasi


antara keluarga dalam mencapai tujuan pengobatan.

2. Hospice
Hospice merupakan tempat dimana klien dengan penyakit stadium
termina; yang tidak dapat dirawat di rumah namun tidak melakukan
tindakan yang harus dilakukan di rumah sakit. Pelayanan yang
diberikan tidak seperti di rumah sakit, tetapi dapat memberikan
pelayanan untuk mengendalikan gejala-gejala yang ada dengan keadaan
seperti di rumah klien sendiri (Kemenkes RI, 2007).
3. Rumah
Pada perawatan di rumah, maka peran keluarga lebih menonjol karena
sebagian perawatan dilakkan oleh keluarga, dan keluarga atau orang tua
sebagai care giver diberikan latihan pendidikan keperawatan dasar.
Perawatan di rumah hanya mungkin dilakukan bila klien tidak
memerlukan alat khusus atau keterampilan perawatan yang mungkin
dilakukan oleh keluarga (Muckaden, 2011).
2.2.7 Lingkup Kegiatan Perawatan paliatif
Jenis kegiatan perawatan paliatif meliputi penatalaksanaan nyeri,
penatalaksanaan keluhan fisik lain, asuhan keperawatan, dukungan
psikologis, dukungan sosial, dukungan kultural dan spiritual, dukungan
persiapan dan selama dukacita. Perawatan paliatif dilakukan melalui rawat
inap, rawat jalan, dan kunjungan atau rawat rumah (Kemenkes RI, 2007).
2.3 Keaslian Penelitian
Determinan Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Perawatan Paliatif
Pada Pasien Terminal di RSU Haji Surabaya.
Tabel 2.1 Keaslian Penelitian Determinan Faktor Yang Mempengaruhi
Kualitas Perawatan Paliatif Pada Pasien Terminal di RSU Haji Surabaya.

No Judul Artikel; Metode (Desain, Hasil dan Kesimpulan


Penulis; Tahun Sample, Variabel,
Instrumen)
13

1 Kesehatan Spiritual D : Kualitatif Kesimpulan dari penelitian :


dan Kesiapan Lansia S : Sampel adalah 6 Kesehatan spiritual dan kesiapan
dalam Menghadapi lansia; 3 lansia sediri lansia dalam menghadapi
Kematian. dan 3 lansia dengan kematian dipengaruhi oleh
(Naftali, Ranimpi, & keluarga makna hidup, konsep agama dan
Anwar, 2017) V : Spiritual; Hidup ketuhanan, interaksi sosial,
lansia; Interaksi sosial, konsep sehat sakit, kesejahteraan
Kesiapan menghadapi dan spiritualitas, serta kesiapan
kematian menghadapi kematian.
I : Peneliti Berdasarkan hasil penelitian,
A : reduksi data, lansia yang tinggal di rumah dan
penyajian data, dan lansia yang tinggal di panti
penarikan kesimpulan memiliki perbedaan dalam
interaksi sosial, konsep agama
dan ketuhanan. Sedangkan dalam
menghadapi kematian, baik di
panti maupun di rumah, kesiapan
lansia dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu pengertian
mengenai kematian, pengalaman
kehilangan, tempat yang
diinginkan ketika menghadapi
kematian, orang yang akan
mendampingi ketika
kematian dan tempat yang dituju
setelah kematian.
14

2 Faktor yang paling D : Study Hasil penelitian :


berpengaruh fenomenologi 1. Faktor yang mempengaruhi
terhadap komitmen S : Sampel adalah 3 minat bekerja di bidang
kerja perawat panti perawat pelayanan sosial, memiliki sikap
wreda di Surakarta ( V : Komitmen Kerja positif terhadap pekerjaan,
Dewi Puspitasari dan I : Peneliti pendapat bahwa nilai ibadah
Setia Asyanti 2011) A : reduksi data, lebih penting dibandingkan
penyajian data, dan pendapatan finansial yang
penarikan kesimpulan diterimanya, dan adanya
dukungan sosial dari keluarga.
2. Faktor yang mempengaruhi
komitmen kerja perawat : minat
terhadap pekerjaan di bidang
pelayanan sosial khususnya
dalam merawat lansia.
3 Palliative Cares to D : Penelitian Kesimpulan :
Older Person under Deskriptif, Cross- Makna perawatan paliatif itu
the Nurse's Optics sectional dan identik dengan kenyamanan
(Lima et al., 2017) Kualitatif dan kualitas hidup. Penting untuk
S : 19 Perawat menekankan perawatan yang
V : Perawatan Paliatif, berpusat pada pasien dan untuk
lansia melakukan penelitian lebih lanjut
I : Peneliti pada subjek.
A : Teknik ang
digunakan Discourse
of the Collective
Subject.
4 Palliative Care to D : Kualitatif Kesimpulan :
the Elderly Patient V : Paliatif; Lansia; 1. Pemahaman perawat
with Cancer: Speech Kanker; Perawat perawatan paliatif untuk pasien
of Nurses S : 13 Perawat usia lanjut dengan kanker,
(Carvalho & Souza, I : Peneliti berfokus pada mempromosikan
2017) A : Pra-analisis, kenyamanan dan penghilang rasa
eksplorasi material sakit
dan pengolahan hasil, 2. Studi ini menunjukkan
inferensi dan pentingnya filosofi perawatan ini
interpretasi. bagi pasien kanker usia lanjut,
karena perawat sebagai peran
penting untuk memanusiakan
perawatan, menjamin martabat
dan meningkatkan kualitas hidup
untuk orang tua dengan kanker
tanpa kemungkinan
penyembuhan, menambahkan
dukungan keluarga untuk
bantuan semacam itu.
15

5 Intensive care D : Penelitian 1. Penelitian ini menyoroti hal-


nurses’ experiences Kualitatif hal penting yang dapat diberikan
of end-of-life care S : 24 Perawat saat perawatan akhir hidup.
(Kisorio & Langley, V : Pengalaman, end 2. Perawat harus terus
2016) of life care, memberikan intervensi untuk
I : Peneliti meningkatkan kenyamanan
A : Analisis data pasien sampai kematian. Berkisar
menggunakan pemenuhan kebutuhan fisik,
pendekatan jangka sosial, emosional, dan spiritual
panjang dengan teori pasien.
Kruger & Casey
6 End-of-life care D : Penelitian Hasil :
communications and Kualitatif dan Di antara para pasien, pendapat
shared decision- eksplorasi desain itu beragam; beberapa pasien
making in S : Wawancara ingin meninggalkan keputusan
Norwegian nursing individu dengan 35 lebih atau kurang sepenuhnya
homes - experiences orang dan tujuh FGD kepada staf panti jompo.
and perspectives of dengan 33 kerabat Percakapan tentang masalah
patients and pasien perawatan akhir-hidup secara
relatives. V : End of life care; emosional menantang, dan
(Gjerberg, Komunikasi; sangat sedikit pasien yang
Lillemoen, Forde, & Pengambilan membahas pertanyaan-
Pedersen, 2015) Keputusan pertanyaan ini dengan keluarga
I : Peneliti mereka.
A : Analisis data Percakapan tentang masalah
menggunakan perawatan akhir hidup secara
Bricolage emosional bagi pasien, keluarga
dan staf, dan beberapa kerabat
telah mendiskusikan pertanyaan-
pertanyaan ini dengan pasien.
BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual


Faktor Predisposisi
a. Pendidikan
a. Pengetahuan
b. Media massa
b. Sikap
c. Sosial budaya &
c. Kepercayaan
ekonomi
d. Nilai
d. Lingkungan
e. Umur
e. Pengalaman
f. Pendidikan
f. Usia

a. Faktor internal
(mengonal sesuatu
Faktor Pemungkin
untuk menentukan
Perilaku
mana yang akan a. Ketersediaan Perawat dalam
diterima dan ditolak) fasilitas Peraawatan
b. Faktor eksternal kesehatan Paliatif pada
(stimulus dari luar b. Pelayanan Pasien
yang bersifat langsung kesehatan Terminal
dan tidak langsung c. Dukungan sosial
untuk membentu dan
mengubah sikap)

a. Faktor predisposisi
Pengetahuan, sikap, Faktor penguat
tindakan
b. Faktor pendukung a. Sikap
Sumber daya dan b. Praktik
fasilitas (tindakan)
c. Faktor pendorong perawat Keterangan :
Dukungan sosial, c. Peraturan
tenaga kesehatan undang-undang Diukur

Tidak Diukur

20
21

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Determinan Faktor yang Mempengaruhi


Kualiatas Perawatan Paliatif pada Pasien Terminal di RSU Haji Surabaya.
Kerangka model diatas menjelaskan dan memprediksi faktor apa saja yang
mempengaruhi kualitas perawatan paliatif pada pasien terminal di RSU Haji
Surabaya. Perawat memiliki peran penting dalam melakukan asuhan keperawatan
paliatif pada pasien dengan kondisi terminal. Pengetahuan perawat akan
perawatan menjadihal yang penting untuk melakukan asuhan keperawatan
khususnya pada pasien dengan kondisi terminal, perawat harus memiliki
pengetahuan yang luas bukan hanya sekedar pengetahuan kebutuhan fisik saja,
tetapi lebih menekankan kepada pengetahuan bagaimana menghadapi pasien
dengan kondisi terminal. Selain itu perawat juga harus memiliki sikap yang bagus
saat merat pasien terminal, pengalaman perawat juga patut untuk diperhitungkan.
3.2 Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah suatu pernyataan asumsi tentang hubungan antara dua atau
lebih variabel yang diharapkan bisa menjawab suatu pertaanyaan dalam
penelitian. Setiap hipotesis terdiri atas suatu unit atau bagian dari permasalahan
(Nursalam, 2016). Hipotesis dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Ada hubungan antara sikap perawat dengan kualitas perawatan paliatif pada
pasien terminal di RSU Haji Surabaya.
2. Ada hubungan antara pengalaman perawat dengan kualitas perawatan paliatif
pada pasien terminal di RSU Haji Surabaya.
3. Ada hubungan anatara pengetahuan perawat dengan kualitas perawatan
paliatif pada pasien terminal di RSU Haji Surabaya.
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian cross sectional
merupakan jenis penelitian yang menekankan waktu pengukuran/observasi data
variabel independen dan dependen hanya satu kali pada suatu saat. Variabel
dinilai secara simultan pada satu saat, jadi tidak ada tindak lanjut. Studi ini akan
menghadirkan prevalensi atau efek suatu fenomena dihubungkan dengan
penyebab (Nursalam, 2016).
Dalam penelitian ini, efek suatu fenomena (variabel dependen )
dihubungkan dengan penyebab (variabel independen). Sehingga peneliti
menganalisis faktor yang berhubungan dengan kualitas perawatan paliatif pada
pasien terminal.
4.2 Populasi, Sampel dan Sampling
4.2.1 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian merupakan sekelompok orang, kejadian, atau
benda yang dijadikan objek penelitian (Suryani & Hendryadi, 2016). Populasi
adalah semua subjek penelitian yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan
(Nursalam, 2016). Menurut Nursalam (2016) populasi dibagi menjadi dua yaitu,
populasi terjangkau dan populasi target.
1. Populasi target
Populasi target adalah populasi yang memenuhi kriteria sampling dan
menjadi sasaran akhir penelitian (Nursalam, 2016). Dalam penelitian ini adalah
perawat yang merawat klien dengan kondisi terminal di RSU Haji Surabaya
2. Populasi terjangkau (Accessible Population)
Populasi terjangkau adalah populasi yang memenuhi kriteria penelitian dan
biasanya dapat dijangkau oleh peneliti dari kelompoknya (Nursalam, 2016).
Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah perawat yang bekerja di ruang ICU,
NICU, dan Haemodialisa RSU Haji Surabaya pada bulan April-Mei 2019

22
sebanyak 120 perawat (38 perawat di ruang NICU, 41 perawat di ruang ICU dan 41 perawat di ruang
haemodialisa).
4.2.2 Sampel Penelitian
Menurut Nursalam ( 2016) sampel adalah bagian dari populasi terjangkau yang dapat digunakan
sebagai subyek penelitian melalui sampling. Kriteria sampel dapat dibedakan menjadi dua bagian sebagai
berikut:
1. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah karateristik atau persyarata umum yang diharapkan peneliti untuk bisa
memenuhi subjek penelitiannya (Sani, 2016). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
1) Perawat yang merawat pasien terminal yang bersedia menjadi subjek penelitian.
2) Perawat yang sedang merawat atau telah merawat pasien terminal dalam 3 bulan terakhir.
3) Perawat perawat yang bekerja di ruang ICU, NICU, dan Haemodialisa.
4) Perawat yang mampu berkomunikasi dengan baik dapat menggunakan bahasa yang bisa dimengerti.
2. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah suatu karateristik dari populasi yang dapat menyebabkan subjek yang
memenuhi kriteria inklusi namun tidak dapat disertakan menjadi subjek penelitian (Sani, 2016). Kriteria
eksklusi dalam penelitian ini adalah :
1) Perawat yang tidak merawat pasien terminal
2) Perawat yang tidak bekerja di ruang ICU, NICU dan Haemodialisa
4.2.3 Sampling Penelitian
Teknik sampling merupakan cara yang digunakan untuk pengambilan sampel agar memperoleh sampel
yang benar dan sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian (Nursalam 2015). Pada penelitian ini, peneliti
menggunakan total sampling yaitu dengan teknik menggunakan semua sampel sebagai objek penelitian
sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang akan diteliti (Sugiyono 2011).

4.3 Identifikasi Variabel dan definisi Operasional Penelitian


4.3.1 Variabel Independen
Variabel independen adalah variabel yang nilainya dapat mempengaruhi variabel lain. Stimulus yang
dimanipulasi oleh peneliti memberikan dampak pada variabel dependen. (Nursalam, 2016). Variabel
independen pada penelitian ini adalah pengetahuan, sikap, dan pengalaman.
4.3.2 Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi nilainya oleh variabel lain. Variabel ini akan
muncul sebagai akibat dari manipulasi variabel lain (Nursalam, 2016). Variabel dependen pada penelitian ini
adalah kualitas perawatan paliatif.
4.3.3 Definisi Operasional Penelitian
Definisi operasional dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah.
Tabel 4.1 Definisi operasional

Variabel DefinisiOper Parameter Skala AlatUku Skor


asional r
VariabelI Pemahamanp Kriteria : Ordinal Palliative Skala ordinal
ndepend erawatdalam Menunjukkan Care Baik (>75) = 3
en: merawatlansi pemahaman akan Quiz for Cukup (51-75) =
Pengetah a di hal yang harus Nurses 2
uan akhirhidup dilakukan selama (PCQN) Kurang ( < 50) =
Perawat yang berisi 20 merawat pasien 1
pertanyaanter
diridariempat
item
tentangfilosof
idanprinsip
perawatanpali
32
33

atif, 13 item
padapenangan
annyeridangej
alalainnya,
dantiga item
pada
Aspekpsikoso
sialperawatan
EOL.
Variabeli Kesiapanpera Kriteria : Ordinal Frommel Skala nominal
ndepend watdalammer Tingkah laku t Attitude Sikap + = 1
en : awatlansia di perawat terhadap Toward Sikap - = 0
Sikap akhirhidup pasien terminal Care
Perwat yang berisi 30 of the
pertanyaan. Dying
Item Scale
inimenilaiper (FATCO
asaan, D)
pikiran, sikap,
dantingkatken
yamanan
tentangperaw
atan orang
sekarat.

4.4 Alat dan Bahan Penelitian


Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah informed consent, lembar kuesioner, alat
tulis dan responden.
4.5 Instrumen Penelitian
Jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ilmu keperawatan dikategorikan menjadi 5 jenis,
yaitu ; biofisiologis, observasi, wawancara, kuesioner, dan skala (Nursalam, 2016). Pada penelitian ini,
peneliti menggunakan instrumen berupa kuesioner. Pengukuran dengan kuesioner ini peneliti
mengumpulkan data secara formal kepada subjek untuk menjawab pertanyaan secara tertulis. Kuesioner
yang digunakan, yaitu kuesioner yang mengacu pada variabel inedependen dan variabel dependen.
Instrumen penelitian meliputi :
1. Pengetahuan Perawat
Pengetahuan diukur dengan menggunakan 20 item Palliative Care Quiz for Nurses (PCQN). Alat ini
mencakup tiga kategori konten utama: empat item tentang filosofi dan prinsip perawatan paliatif, 13 item
pada penanganan nyeri dan gejala lainnya, dan tiga item padaAspek psikososial perawatan EOL. Setiap item
bisa dijawab: Benar, Salah, atau Tidak Tahu. Pengetahuan tentang perawatan paliatif dan perawatan dasar
penting diperlukan untuk memberikan perawatan berkualitas pada pasien yang sekarat di semua setting.
Reliabilitas PCQN: Instrumen tersebut telah menunjukkan konsistensi internal (IC) sebesar 0,78
berdasarkan formula Kuder-Richardson 20 (KR-20), (Ross et al. 1996). Instrumen ini juga telah digunakan
secara luas untuk menilai pengetahuan paliatif sebagai ukuran hasil untuk mengevaluasi efektivitas
pendidikan EOL.
2. Sikap Perawat
Sikap terhadap perawatan orang yang sekarat diukur dengan menggunakan Sikap Frommelt Menuju
Perawatan Skala Sekarat (FATCOD), yang dirancang untuk menilai perawat.Kuesioner 30 item ini menilai
perasaan, pikiran, sikap, dan tingkat kenyamanan tentang perawatan orang yang sekarat. Semua pertanyaan
dijawab menggunakan penilaian skala Likert dengan "1-sangat tidak setuju" dengan "5-sangat setuju". Lima
belas item pernyataan positif. Lima belas item lainnya pertanyaan negatif dengan skor terbalik.
Kemungkinan skor bisa berkisar dari 30 sampai 150 dengan nilai yang lebih tinggi mencerminkan sikap
positif terhadap perawatan orang yang sekarat. Dua puluh item pada skala menilai sikap terhadap pasien dan
sepuluh item menilai sikap pada anggota keluarga. Sembilan pertanyaan mencerminkan sikap menghindari,
yang sangat memprihatinkan untuk pasien, keluarga, dan pendidik. Skala tersebut menilai beragam emosi
dan perilaku tanggapan terhadap perawatan pasien sekarat.
Reliabilitas dan validitas FATCOD telah menunjukkan reliabilitas yang baik dan validitas antara siswa
dan perawat dalam berbagai setting. reliabilitas FATCOD telah menunjukkan koefisien korelasi Pearson
sebesar 0,93 di antara siswa keperawatanFATCOD juga telah menunjukkan validitas dengan kesepakatan
antar-penilai 1.0 (Frommelt 2003)
4.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian akan dilaksanakan di RSU Haji Ssurabaya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
April-Mei 2018.
4.7 Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan data
1. Permohonan ethical clearance approvalkomite etik Fak. Keperawatan UNAIR.
2. Permohonan izin kepada RSU Haji Surabaya.
3. Kepada subyek penelitian diberikan penjelasan lengkap mengenai tujuan dan prosedur penelitian, serta
diminta kesediaannya untuk ikut dalam penelitian dengan menandatangani informed consent.
4. Subyek penelitian mengisi kuesioner demografi, pengetahuan dan sikap.
5. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan metode statistik yang sesuai.
4.8 Pengolahan Data
Menurut Arikunto (2009), secara garis besar analaisis data meliputi langkah persiapan dan tabulasi
data. Proses yang dilakukan setelah pengumpulan data adalah pengolahan dan analisis data dengan tahapan
sebagai berikut editing, coding, entry, dan tabulating.
1. Editing, yaitu pemeriksaan kelengkapan isi kuesioner atau dengan kata lain memastikan semua
pertanyaan telah dijawab oleh responden. Editing dilakukan di lapangan sebelum proses pemasukan
data agar data yang salah atau meragukan masih dapat ditelususri kepada responden/informan yang
bersangkutan. Kegiatan ini merupakan proses pertama.
2. Coding, dilakukan untuk memberikan kode terhadap jawaban yang ada pada kuesioner. Hal ini
bertujuan untuk mempermudah dalam melakukan analisa data dan dapat mempercepat proses
pemasukan data.
3. Entry, merupakan proses memasukkan data yaitu berupa jawaban dari masing-masing responden
dalam bentuk kode ke dalam program atau software komputer (Notoatmodjo, 2010). Setelah dilakukan
editing, data tersebut dimasukkan ke dalam program yang digunakan untuk mengolah data
menggunakan komputer dan perangkat lunak yang sesuai, data yang sudah dimasukkan kemudian di
cek kebenarannya.
4. Tabulating, merupakan penyusunan data atau pengelompokkan data dengan tujuan supaya mudah
dalam dilakukan penjumlahan, disusun dan ditata agar dapat disajikan dan dilakukan analisis.
Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan software SPSS for windows versi 2.1

4.9 Analisa Data


Analisis data merupakan suatu proses analisis yang digunakan secara sistematis terhadap data yang
telah dikumpulkan. Peneliti mengolah data yang terkumpul dan melakukan penilaian pada kuesioner dengan
memberikan nilai pada masing-masing pertanyaan. Dalam penelitian kali ini, peneliti akan meneliti analisis
faktor yang mempengaruhi kualitas perawatan paliatif pada pasien terminal di RSU Haji Surabaya. Setelah
dikelompokkan data akan ditabulasi untuk dianalisismenggunakan uji statistika dengan tingkat signifikasi
α<0,05.
Uji korelasional spearman rank (rho) merupakan salah satu jenis uji yang digunakan untuk mengukur
tingkat keeratan hubungan antara dua variabel yang berskala ordinal (Hidayat 2009). Proses analisa data
dalam penelitian ini menggunakan Uji Korelasi Spearman untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan
antar variabel dengan tingkat signifikasi p<0,05, hal ini menunjukkan bahwa bila uji statistik menunjukkan
34
35

nilai p<0,05 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara variabel dependen dengan
independen. Dalam analisis data peneliti menggunakan SPPS atau analisa komputer.
Tabel 4.2 Kekuatan korelasi (r) (Nursalam, 2016)

Besar Nilai r Interpretasi


0,00 – 0,19 Sangat lemah
0,20 – 0,39 Lemah
0,40 – 0,59 Sedang
0,60 – 0,79 Kuat
0,80 – 1,00 Sangat Kuat

4.10 Kerangka Operasional Penelitian


Populasi
Seluruh perawat di ruang ICU, NICU dan Heamodialisa RSU Haji
Surabaya yang bersedia menjadi subjek penelitian

Sampel
Total sampling
Variabel Independen Variabel Dependen
Pengetahuan, Sikap, Kualitas Perawatan Paliatif
Pengalaman

Mengolah data

Analisa data dengan uji statistic correlation spearman’s rho

Penyajian Hasil Penelitian


Gambar 4.1 Kerangka Operasional Analisis Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Perawatan Paliatif Pada
Pasien Terminal di RSU Haji Surabaya

4.11 Etika Penelitian


Berikut adalah prinsip etik terhadap manusia sebagai subjek penelitian (KEPPKN, 2017):
1. Penelitian tidak boleh menimbulkan bahaya bagi subjek, bahkan subjek tidak boleh merasakan stress.
2. Penyamaran atau penipuan harus ditinggalkan dalam proses penelitian, tidak dibenarkan seorang
peneliti berbohong kepada subjek penelitiannya
3. Keikutsertaan dalam penelitian harus dilakukan secara sukarela, maka dari itu subjek harus
memberikan informed consent mereka untuk bisa ikut serta dalam penelitian.
4. Peneliti harus sangat berhati-hati ketika berurusan dengan subjek yang rentan (orang yang sakit
mental, tahanan penjara, atau anak di bawah umur), mereka harus meyakinkan subjek tersebut untuk
membuat mendapatkan informed consent yang baik. Peneliti harus memberitahukan identitasnya
mereka pada subjek secara penuh.
5. Anonymity atau kerahasiaan subjek harus dijaga kecuali secara sukarela dan menghendaki untuk
identitasnya diketahui oleh umum. Secara aktif berupaya menutupi segala unsur yang mengindikasikan
identitas subjek pada catatan penelitian.
6. Manfaat dari penelitian harus lebih besar dari risiko yang dihadapi. Perlu juga diperhatikan beberapa
hal yang lebih spesifik sebagai berikut: kajian dari protocol yang komprehensif (termasuk kajian
ilmiah, financial, konflik kepentingan, dan etik).
1) Interaksi yang etis antara peneliti dan subjeknya.
2) Pengawasan keamanan (dan risiko yang pantas) secara lanjut sepanjang proses penelitian.
3) Peningkatan kualitas dari aktivitas kegiatan penelitian.
Disamping itu, beberapa prinsip yang juga harus diperhatikan adalah:
1) Keterbukaan: seluruh data yang terkait harus dipublikasikan.
2) Akses dan koreksi individu: subjek penelitian sebisa mungkin mengakses data yang terkumpul
tentang mereka yang berkaitan dengan kesehatan.
3) Pengumpulan data yang relevan dan dibatasi: data pribadi harus dikumpulkan hanya untuk tujuan
yang spesifik dan sah.
4) Ada pembatasan: informasi hanya boleh digunakan untuk tujuan spesifik pada saat pengumpulan.
5) Pembatasan pembukaan rahasia dan keamanan: data pribadi tidak dapat dipublikasikan kepada
umum tanpa persetujuan dari subjek pemilik data.

36