Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN GADAR III PRINSIP UMUM KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI

GADAR III PRINSIP UMUM KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI DISUSUN OLEH : I KOMANG AGUS WIRANATA (P07120216013)

DISUSUN OLEH :

I

KOMANG AGUS WIRANATA

(P07120216013)

NI LUH ADE SERIASIH

(P07120216015)

NI MADE RASITA PUSPITASWARI

(P07120216016)

NI LUH PUTU ARY APRILIYANTI

(P07120216017)

NI MADE TARIANI

(P07120216018)

PUTU INDAH PERMATA SARI

(P07120216019)

NI PUTU NOVIA HARDIYANTI

(P07120216020)

NI WAYAN MUJANI

(P07120216021)

NI PUTU NUR ADIANA DEWI

(P07120216022)

NI NYOMAN MURTI APSARI DEWI

(P07120216023)

I

GUSTI AYU INTAN ADRIANA SARI

(P07120216024)

A.A. ISTRI MARANSIKA NIKE PUTRI

(P07120216025)

PUTU AYU MAHAPATNI M.K.P

(P07120216026)

SEMESTER VII/ KELAS 4.A

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR JURUSAN KEPERAWATAN

2019

KATA PENGANTAR

Om Swastiastu, Atas Asung Kertha Waranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah yang berjudul ” ASUHAN KEPERAWATAN GADAR III PRINSIP UMUM KEGAWATDARURATAN PSIKIATRIdengan baik. Dalam penyusunan makalah ini, penulis sebagai penyusun mencoba untuk membuat makalah sebaik dan selengkap mungkin dengan berbagai macam kajian agar para pembaca dapat mengambil banyak manfaat dan wawasan konsep dasar mengenai sterilisasi dan desinfektan. Penulis mohon maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan dalam pembuatan makalah ini. Selain itu, jika ada kesalahan dalam kata-kata dan penulisan mohon dimaafkan. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dalam penyajian bahasa serta pembahasan yang disajikan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Di dunia ini tidak ada yang sempurna seperti kata pepatah tiada gading yang tak retak untuk itu penulis berharap permakluman pembaca bila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Denpasar,

Penulis

Agustus 2019

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Rumusan Masalah

2

1.3 Tujuan Penulisan

2

1.4 Manfaat Penulisan

2

BAB II PEMBAHASAN

3

2.1. Pengertian Kedaruratan Psikiatri

3

2.2. Prinsip Umum Kegawatdaruratan Psikiatri

4

2.3. Triase Pada Kegawatdaruratan Psikiatri

6

2.4. Alur Penerimaan Pasien Di UPIP

9

BAB III PENUTUP

12

3.1. Simpulan

12

3.2. Saran

12

DAFTAR PUSTAKA

13

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Psikiatri dipenuhi oleh fenomenologi dan penelitian fenomena mental. Dokter psikiatri harus belajar untuk menguasai observasi yang teliti dan penjelasan yang mengungkapkan keterampilan termasuk belajar bahasa baru. Bagian bahasa didalam psikiatri termasuk pengenalan dan definisi tanda dan gejala perilaku dan emosional. Kondisi pada keadaan kegawat daruratan psikiatrik meliputi percobaan bunuh diri, ketergantungan obat, intoksikasi alkohol, depresi akut, adanya delusi, kekerasan, serangan panik, dan perubahan tingkah laku yang cepat dan signifikan, serta beberapa kondisi medis lainnya yang mematikan dan muncul dengan gejala psikiatriks umum. Kegawatdaruratan psikiatrik ada untuk mengidentifikasi dan menangani kondisi ini. Kemampuan dokter untuk mengidentifikasi dan menangani kondisi ini sangatlah penting. Kegawat daruratan Psikiatrik merupakan aplikasi klinis dari psikiatrik pada kondisi darurat. Kondisi ini menuntut intervensi psikiatriks seperti percobaan bunuh diri, penyalahgunaan obat, depresi, penyakit kejiwaan, kekerasan atau perubahan lainnya pada perilaku. Pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik dilakukan oleh para profesional di bidang kedokteran, ilmu perawatan, psikologi dan pekerja sosial. Permintaan untuk layanan kegawatdaruratan psikiatrik dengan cepat meningkat di seluruh dunia sejak tahun 1960-an, terutama di perkotaan. Penatalaksanaan pada pasien kegawat daruratan psikiatrik sangat kompleks. Para profesional yang bekerja pada pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik umumnya beresiko tinggi mendapatkan kekerasan akibat keadaan mental pasien mereka. Pasien biasanya datang atas kemauan pribadi mereka, dianjurkan oleh petugas kesehatan lainnya, atau tanpa disengaja. Penatalaksanaan pasien yang menuntut intervensi psikiatrik pada umumnya meliputi stabilisasi krisis dari masalah hidup pasien yang bisa meliputi gejala atau kekacauan mental baik sifatnya kronis ataupun akut.

1.2

Rumusan Masalah

a. Apakah pengertian kedaruratan pskiatri?

b. Bagaimana prinsip umum kegawatdaruratan psikiatri?

c. Bagaimana triase pada kasus kegawatdaruratan psikiatri?

d. Bagaimana alur penerimaan pasien di UPIP?

1.3 Tujuan Penulisan

a. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui pengertian kedaruratan psikiatri.

b. Mahasiswa mampu memahami prinsip umum kegawatdaruratan Psikiatri.

c. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui triase pada kasus kegawatdaruratan psikiatri.

d. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui alur penerimaan pasien di UPIP

1.4 Manfaat Penulisan

Berdasarkan tujuan diatas, maka penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat, sebagai berikut :

a. Manfaat Umum Dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan tentang materi serta bahan pembelajaran dalam perkuliahan.

b. Manfaat Khusus 1) Bagi pembaca Makalah ini diharapkan dapat mempermudah pembaca dalam memahami materi yang di sajikan. Selain itu pembaca makalah ini diharapkan mampu menerima semua materi yang disampaikan. 2) Bagi penulis Dapat memperluas kaidah-kaidah pengetahuan serta sumber ajar yang berguna dalam proses pembelajaran khususnya pada materi Asuhan Keperawatan Kegawatdaruratan pada pskiatri.

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kedaruratan Psikiatri

Kedaruratan psikiatri merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kedokteran Kedaruratan, yang dibuat untuk menghadapi kasus kedaruratan yang memerlukan intervensi psikiatrik. Tempat pelayanan kedaruratan psikiatri antara lain di rumah sakit umum, rumah sakit jiwa,

klinik dan sentra primer. Kedaruratan psikiatri adalah suatu kondisi gangguan akut pada pikiran, perasaan, perilaku, atau hubungan sosial yang membutuhkan suatu intervensi segera (Allen, Forster, Zealberg, dan Currier, 2002). Sementara itu, menurut Kaplan dan Sadock (1998), kedaruratan psikiatri adalah gangguan alam pikiran, perasaan, atau perilaku yang membutuhkan intervensi terapeutik segera, sehingga prinsip dari kedaruratan psikiatri adalah perlu penanganan segera. Oleh karena itu, kedaruratan psikiatri di Indonesia sering disebut dengan Unit Perawatan Intensif Psikiatri (UPIP) atau Psychiatric Intensive Care Unit (PICU). Adapun kriteria kedaruratan memiliki kriteria adalah sebagai berikut.

a Ancaman segera terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda, atau lingkungan.

b Telah menyebabkan kehilangan kehidupan, gangguan kesehatan, serta harta benda dan lingkungan.

c Memiliki kecenderungan peningkatan bahaya yang tinggi dan segera terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda, atau lingkungan.

Kasus kedaruratan psikiatrik meliputi gangguan pikiran, perasaan

dan perilaku yang memerlukan intervensi terapeutik segera, antara lain:

(Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto, 2010)

a Kondisi gaduh gelisah

b Tindak kekerasan (violence)

c Tentamen Suicidum/percobaan bunuh diri

d Gejala ekstra piramidal akibat penggunaan obat

e Delirium

2.2. Prinsip Umum Kegawatdaruratan Psikiatri

Kriteria dari kedaruratan psikiatri adalah :

a Ancaman segera terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda, atau lingkungan

b Telah menyebabkan kehilangan kehidupan, gangguan kesehatan, serta harta benda dan lingkungan

c Memiliki kecenderungan adanya peningkatan bahaya yang tinggi dan segera terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda atau lingkungan Prinsip penanganan dari kedaruratan psikiatri dibagi kedalam:

a Fase intesif I (24 jam pertama) Fase intensif I adalah fase 24 jam pertama pasien dirawat dengan observasi, diagnosa, tritmen dan evaluasi yang ketat. Berdasarkan hasil evaluasi pasien maka pasien memiliki tiga kemungkinan yaitu dipulangkan,dilanjutkan ke fase intensif II, atau dirujuk ke rumah sakit jiwa.

b Fase intensif II (24-72 jam pertama) Fase intensif II perawatan pasien dengan observasi kurang ketat sampai dengan 72 jam. Berdasarkan hasil evaluasi maka pasien pada fase ini memiliki empat kemungkinan yaitu dipulangkan, dipindahkan ke ruang fase intensif III, atau kembali ke ruang fase intensif I.

c Fase intensif III (72 jam 10 hari) Fase intensif III pasien di kondisikan sudah mulai stabil, sehingga observasi menjadi lebih berkurang dan tindakan-tindakan keperawatan lebih diarahkan kepada tindakan rehabilitasi. Fase ini berlangsung sampai dengan maksimal 10 hari. Merujuk kepada hasil evaluasi maka pasien pada fase ini dapat dipulangkan, dirujuk ke rumah sakit jiwa atau unit psikiatri di rumah sakit umum, ataupun kembali ke ruang fase intensif I atau II.

Intervensi yang diberikan kepada pasien berfokus kepada responnya, untuk menilai respon pasien dilihat dengan skor Respon Umum Fungsi Adaptif (RUFA). Pasien yang baru masuk di UPIP atau PICU dikaji keluhan utamanya menggunakan skor RUFA (1 30) dan tanda-tanda vitalnya. adapun kategori pasien menurut skor RUFA adalah :

1. Skor 1-10 masuk ruang intensif I

2. Skor 11-20 masuk ruang intensif II

3. Skor 21-30 masuk ruang intensi III

a. Tindakan Fase Intensif I (24 jam pertama) 1) Prinsip tindakan

a) Penyelamatan hidup

b) Mencegah cedera pada pasien, orang lain, dan lingkungan

2) Indikasi Pasien dengan skor 1-10 skala RUFA

b. Tindakan Fase Intensif II (24-72 jam pertama) 1) Prinsip Tindakan a) Observasi lanjutan dari fase krisis intensif I

b) Mempertahankan pencegahan cedera pada pasien, orang lain, dan lingkungan 2) Indikasi Pasien dengan skor 11-20 skala RUFA

c. Tindakan Fase Intensif III (72 jam-10 hari) 1) Prinsip Tindakan

a) Observasi lanjutan dari fase akut intensif II

b) Memfasilitasi perawatan mandiri pasien

2) Indikasi Pasien dengan skor 21-31 skala RUFA

2.3. Triase Pada Kegawatdaruratan Psikiatri Tahapan triase dilakukan rapid assessment/screening assessment yang dilakukan berdasarkan protap. Pengkajian ini harus meliputi nama pasien, tanggal lahir, nomor tanda pengenal (KTP/ SIM/paspor), alamat, nomor telepon, serta nama dan nomor telepon orang terdekat pasien yang dapat dihubungi. Selain itu, juga disertakan tanda vital dan keluhan utama dengan skor RUFA untuk menentukan perlu tidaknya dirawat di unit UPIP dan bila dirawat untuk menentukan level/fase intensif pasien. Sementara pihak medis melakukan pengkajian dengan menggunakan skala GAF

a Fase Intensif I (24 Jam Pertama)

1)

Prinsip tindakan

a) Penyelamatan hidup (life saving).

b) Mencegah cedera pada pasien, orang lain, dan lingkungan.

2)

Indikasi

Pasien dengan skor 110 skala RUFA. 3) Pengkajian

Hal-hal yang harus dikaji adalah sebagai berikut.

a) Riwayat perawatan yang lalu.

b) Psikiater/perawat jiwa yang baru-baru ini menangani pasien (bila memungkinkan).

c) Diagnosis gangguan jiwa di waktu yang lalu yang mirip dengan tanda dan gejala yang dialami pasien saat ini.

d) Stresor sosial, lingkungan, dan kultural yang menimbulkan masalah pasien saat ini.

e) Kemampuan dan keinginan pasien untuk bekerja sama dalam proses perawatan.

f) Riwayat pengobatan dan respons terhadap terapi, yang mencakup jenis obat yang didapat, dosis, respons terhadap obat, efek samping dan kepatuhan minum obat, serta daftar obat terakhir yang diresepkan dan nama dokter yang meresepkan.

g) Pemeriksaan kognitif untuk mendeteksi kerusakan kognitif atau neuropsikiatrik.

h) Tes kehamilan untuk semua pasien perempuan usia subur.

4)

Pengkajian lengkap harus dilakukan dalam 3 jam pertama. Selain itu, pasien harus sudah diperiksa dalam 8 jam pertama. Pasien yang berada dalam kondisi yang sangat membutuhkan penanganan harus segera dikaji dan bertemu dengan psikiater/petugas kesehatan jiwa dalam 15 menit pertama. Intervensi

Intervensi untuk fase ini adalah observasi ketat, yakni sebagai berikut.

a) Bantuan pemenuhan kebutuhan dasar (makan, minum, perawatan diri).

b) Manajemen pengamanan pasien yang efektif (jika dibutuhkan).

c) Terapi modalitas yang dapat diberikan pada fase ini adalah terapi musik.

5)

Evaluasi

a) Evaluasi dilakukan setiap sif untuk menentukan apakah kondisi pasien memungkinkan untuk dipindahkan ke ruang intensif II.

b) Bila kondisi pasien di atas 10 skala RUFA maka pasien dapat dipindahkan ke intensif II

b Fase Intensif II (2472 Jam Pertama)

1)

Prinsip tindakan

a) Observasi lanjutan dari fase krisis (intensif I).

b) Mempertahankan pencegahan cedera pada pasien, orang lain, dan lingkungan.

2)

Indikasi

3)

Pasien dengan skor 1120 skala RUFA Intervensi

4)

Intervensi untuk fase ini adalah observasi frekuensi dan intensitas yang lebih rendah dari fase intensif I. Terapi modalitas yang dapat diberikan pada fase ini adalah terapi musik dan terapi olahraga. Evaluasi

a) Evaluasi dilakukan setiap sif untuk menentukan apakah kondisi pasien memungkinkan untuk dipindahkan ke ruang intensif III.

b) Bila kondisi pasien di atas skor 20 skala RUFA, maka pasien dapat dipindahkan ke intensif III. Bila di bawah skor 11 skala RUFA, maka pasien dikembalikan ke fase intensif I.

c Fase Intensif III (72 Jam10 Hari)

1)

Prinsip tindakan

a) Observasi lanjutan dari fase akut (intensif II).

b) Memfasilitasi perawatan mandiri pasien.

2)

Indikasi

a) Observasi dilakukan secara minimal.

3)

Pasien dengan skor 2130 skala RUFA. Intervensi

Intervensi untuk fase ini adalah sebagai berikut.

b) Pasien lebih banyak melakukan aktivitas secara mandiri.

c) Terapi modalitas yang dapat diberikan pada fase ini adalah terapi musik, terapi olahraga, dan terapi keterampilan hidup (life skill therapy).

4)

Evaluasi

a) Evaluasi dilakukan setiap sif untuk menentukan apakah kondisi pasien memungkinkan untuk dipulangkan.

b) Bila kondisi pasien diatas skor 30 skala RUFA, maka pasien dapat dipulangkan dengan mengontak perawat CMHN terlebih dahulu. Bila di bawah skor 20 skala RUFA, maka pasien dikembalikan ke fase intensif II, serta jika di bawah skor 11 skala RUFA, maka pasien dikembalikan ke fase intensif I.

2.4. Alur Penerimaan Pasien Di UPIP Berdasarkan prinsip segera, penanganan kedaruratan dibagi dalam fase intensif I (24 jam pertama), fase intensif II (2472 jam pertama), dan fase intensif III (72 jam10 hari). Fase intensif I adalah fase 24 jam pertama pasien dirawat dengan observasi, diagnosis, perawatan, dan evaluasi yang ketat. Berdasarkan hasil evaluasi pasien, maka pasien memiliki tiga kemungkinan yaitu dipulangkan, dilanjutkan ke fase intensif II, atau dirujuk ke rumah sakit jiwa. Fase intensif II fase perawatan pasien dengan observasi kurang ketat sampai dengan 72 jam. Berdasarkan hasil evaluasi, maka pasien pada fase ini memiliki empat kemungkinan yaitu dipulangkan, dipindahkan ke ruang fase intensif III, atau kembali ke ruang fase intensif I. Pada fase intensif III, pasien dikondisikan sudah mulai stabil, sehingga observasi menjadi lebih berkurang dan tindakan-tindakan keperawatan lebih diarahkan kepada tindakan rehabilitasi. Fase ini berlangsung sampai dengan maksimal 10 hari. Merujuk kepada hasil evaluasi maka pasien pada fase ini dapat dipulangkan, dirujuk ke rumah sakit jiwa atau unit psikiatri di rumah sakit umum, ataupun kembali ke ruang fase intensif I atau II. Adapun skala yang digunakan untuk mengukur tingkat kedaruratan pasien adalah skala General Adaptive Function (GAF) dengan rentang skor 130 skala GAF. Kondisi pasien dikaji setiap sif dengan menggunakan skor GAF. Kategori Skala General Adaptive Function (GAF)

Nilai

Keterangan

Skor 11-20

Terdapat bahaya melukai diri sendiri atau orang lain (misalnya usaha bunuh diri tanpa harapan yang jelas akan kematian, sering melakukan kekerasan, kegembiraan manik) ATAU kadangkadang gagal untuk mempertahankan perawatan diri yang minimal (misalnya mengusap feses) ATAU gangguan yang jelas dalam komunikasi (sebagian besar inkoheren atau membisu).

Skor 1-10

Bahaya melukai diri sendiri atau orang lain persisten dan parah (misalnya kekerasan rekuren) ATAU ketidakmampuan persisten untuk mempertahankan kebersihan pribadi yang minimal ATAU tindakan bunuh diri yang serius tanpa harapan akan kematian yang jelas

Keperawatan memberikan intervensi kepada pasien berfokus pada respons, sehingga kategori pasien dibuat dengan skor Respons Umum

Fungsi Adaptif (RUFA) atau General Adaptive Function Response (GAFR) yang merupakan modifikasi dari skor GAF. Secara umum, pasien yang dirawat di UPIP adalah pasien dengan kriteria berikut.

a) Risiko bunuh diri yang berhubungan dengan kejadian akut.

b) Penyalahgunaan napza atau kedaruratan yang terjadi akibat napza.

c) Kondisi lain yang akan mengalami peningkatan yang bermakna dalam waktu singkat.

Sementara itu, berdasarkan masalah keperawatan maka pasien yang

perlu dirawat di unit perawatan intensif psikiatri adalah pasien dengan masalah keperawatan sebagai berikut.

a) Perilaku kekerasan.

b) Perilaku bunuh diri.

c) Perubahan sensori persepsi: halusinasi (fase IV).

d) Perubahan proses pikir: waham curiga.

e) Masalah-masalah keperawatan yang berkaitan dengan kondisi pasien putus zat dan overdosis, seperti perubahan kenyamanan berupa nyeri, gangguan pola tidur, gangguan pemenuhan nutrisi, gangguan eliminasi bowel, dan defisit perawatan diri.

11
11

3.1. Simpulan

BAB III

PENUTUP

Kedaruratan psikiatri merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kedokteran Kedaruratan, yang dibuat untuk menghadapi kasus kedaruratan yang memerlukan intervensi psikiatrik. Kriteria dari kedaruratan psikiatri adalah ancaman segera terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda, atau lingkungan, telah menyebabkan kehilangan kehidupan, gangguan kesehatan, serta harta benda dan lingkungan, memiliki kecenderungan adanya peningkatan bahaya yang tinggi dan segera terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda atau lingkungan. Prinsip penanganan dari kedaruratan psikiatri dibagi kedalam Fase intesif I (24 jam pertama), Fase intensif II (24-72 jam pertama), Fase intensif III (72 jam 10 hari). Tahapan triase dilakukan rapid assessment/screening assessment yang dilakukan berdasarkan protap. Pengkajian ini harus meliputi nama pasien, tanggal lahir, nomor tanda pengenal (KTP/ SIM/paspor), alamat, nomor telepon, serta nama dan nomor telepon orang terdekat pasien yang dapat dihubungi. Selain itu, juga disertakan tanda vital dan keluhan utama dengan skor RUFA. Adapun skala yang digunakan untuk mengukur tingkat kedaruratan pasien adalah skala General Adaptive Function (GAF) dengan rentang skor 130 skala GAF

3.2. Saran

Dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Kami menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Kritik dan saran sangat kami harapkan guna penulisan mekalah yang lebih baik lagi kedepannya. Semoga makalah ini dapat membantu mahasiswa khususnya dalam bidang keperawatan sebagai suatu bahan acuan dalam belajar guna menambah wawasan serta informasi dalam bidang Keperawatan Kegawatdaruratan Psikiatri.

DAFTAR PUSTAKA

Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto ed. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. Maramis, W.F. dan Maramis, A.A. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press.

Sadock, B.J., Sadock, V.A., et al. 2007. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York: Lippincott Williams & Wilkins. Tomb, D.A. 2004. Buku Saku Psikiatri. Edisi 6. Jakarta: EGC.

Yusuf, Ah., PK, Rizky Fitryasari., Nihayati, Hanik Endang. (2015). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika