Anda di halaman 1dari 8

PENGENDALIAN DOKUMEN DAN

REKAMAN
No. :
Dokumen
No. Revisi :
SOP
Tanggal :
Terbit
Halaman :
Tanda tangan kepala Puskesmas dr. Penie
Puskesmas Ariestia W A
Rancamanyar 19820319201001
2018

Pengendalian dokumen dan rekaman adalah suatu proses


mengendalikan dokumen dan rekaman yang ada di
1. Pengertian
Puskesmas dengan memberikan nomor sesuai dengan
pedoman yang digunakan.
Sebagai acuan dalam proses pengendalian dokumen dan
rekaman Puskesmas untuk memastikan bahwa setiap
2. Tujuan
dokumen yang beredar adalah sah dan terbaru serta
terdistribusi sesuai pemegang dokumen.
3. Kebijakan

4. Referensi Permenkes Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas


1. Petugas memberikan nomor pada semua dokumen dan
rekaman sesuai pedoman pengendalian dokumen dan
rekaman.
2. Penanggung jawab Program/Unit Pelayanan dapat
mengusulkan perubahan atau penambahan dokumen
kepada Tim Mutu dengan mengisi form usulan
penambahan/perubahan dokumen.
3. Tim Mutu menganalisis usulan penambahan/perubahan
dokumen.
5. Langkah- 4. Tim Mutu memberikan persetujuan.
langkah 5. Penanggung jawab Program/Unit Pelayanan membuat
draft dokumen dan menyerahkan kepada Tim Mutu.
6. Tim Mutu membuat dokumen yang baru dan merubah
nomor revisi.
7. Tim Mutu menyerahkan dokumen yang baru untuk
disetujui dan disahkan Kepala Puskesmas.
8. Tim Mutu mendistribusikan semua dokumen kepada
pemegang dokumen.
9. Tim Mutu menarik dokumen yang sudah tidak berlaku
untuk dimusnahkan
1. Kepala Puskesmas
6. Unit Terkait
2. Kepala Sub. Bagian Tata Usaha
3.Tim Mutu
4.Penanggung jawab UKM
5.Penanggung jawab UKP
6.Penanggung jawab Program/Unit Pelayanan
7. Rekaman Tanggal Mulai
No Yang diubah Isi Perubahan
diberlakukan
Historis
Perubahan
PENATALAKSANAAN ASFIKSIA BAYI
BARU LAHIR

No. Dokumen : 069


No. Revisi :
SOP
Tanggal terbit :
Halaman : 5 Halaman

dr. Penie
Puskesmas
Ariesta W.A
Rancamanyar
19820319
201001 2 018
1. Pengertian Suatu intervensi tindakan yang dilakukan untuk membantu bayi
baru lahir yang tidak bernafas spontan dan teratur
2. Tujuan Suatu intervensi tindakan yang dilakukan untuk membantu bayi
baru lahir yang tidak bernafas spontan dan teratur
3. Kebijakan
4. Referensi 1. Direktorat Kesga, Dirjen Kesmas, Kemenkes RI, 2018, Modul
Pelatihan Bagi Pelatih ( TOT) Penanganan Kegawatdaruratan
Maternal dan Neonatal Bagi Dokter Umum, Bidan dan
Perawat, Kemenkes RI, Jakarta.
2. Kementrian Kesehatan RI, WHO (2013), Buku Saku
Pelayanan Kesehatan Ibu Di Fasilitas Kesehatan Dasar dan
Rujukan Untuk Tenaga Kesehatan, Kementrian Kesehatan
RI,Jakarta.
5. Langkah – A. Persiapan Resusitasi
Langkah 1. Informed Consent dan komunikasi
2. Menyusun tim
3. Pengenalan faktor risiko ibu dan bayi baru lahir
4. Menyiapkan alat dan memastikan berfungsi
5. Mengetahui indikasi melakukan resusitasi (langkah awal).
B. Resusitasi Pada Bayi Baru Lahir
6. Penilaian awal ( bernafas, menangis, tonus otot) jika salah
satu jawaban tidak maka bayi perlu tindakan resusitasi
7. Melakukan langkah awal
a. Memastikan bayi tetap hangat (meletakkan bayi baru
lahir di bawah penghangat dengan pemancar panas) dan
melakukan pemasangan plastik dan topi bayi sebagai
metode kehangatan.
b.Atur posisi dan bersihkan jalan lahir
c. Membersihkan jalan napas
d. Mengeringkan, mengganti kain basah
e. Melakukan stimulasi
f. Reposisi kepala 9memposisikan kembali)
8. Melakukan evaluasi (usaha nafas, laju denyut jantung dan
tonus otot)
9. Membuat keputusan untuk langkah selanjutnya
10. Mengetahui indikasi melakuakn Ventilasi Tekanan Positif
a. Jika bayi baru lahir tidak bernafas/ megap megap atau
laju denyut jantung < 100x/menit maka lakukan VTP dan
Pasang sensor pulseoxymetri di tangan kanan (saturasi
oksigen).
b. Jika bayi baru lahir bernafas spontan dan denyut jantung
> 100 x/menit tetapi ada distress respirasi (takipnea,
tarikan dinding dada, merintih) maka lakukan pemasangan
CPAP dan pasang pulse oxymeter ditangan kanan.
11. Melakukan ventilisasi Tekanan Positif dengan Balon
sungkup + katup PEEP
12. Menentukan ukuuran sungkup yang sesuai
13. Memastikan jalan nafas terbuka
14. Melekatkan sungkup yang benar
15. Melakukan VTP
16. Melakukan koreksi jika dada tidak mengembang
17. Melakukan VTP dengan frekuensi 20 – 30 x per 30 detik
18. Melakukan evaluasi setelah VTP selama 30 detik
19. Setelah VTP 30 detik, evaluasi usaha napas, denyut
jantung dan saturasi oksigen.
20. Membuat keputusan untuk melakukan langkah berikutnya.
a. Bila nafas spontan denyut jantung > 100 x/menit dan
tidak ada tanda – tanda doistres respirasi, lakukan
perawatan pasca resusitasi
b. Bila nafas spontan dan denyut jantung > 100 x/menit
dan ada tanda- tanda distress respirasi, berikan CPAP
c. Bila belum ada nafas spontan, denyut jantung < 60 x/
menit lanjutkan VTP
d. Bila bayi belum bernafas dan denyut jantung < 60 kali /
menit lakukan VTP dan kompresi dada
e. Jika sudah kompeten lanjutkan ke VTP berkelanjutan
dengan t- piece resuscitator, jika tidak kompeten dalam
melakukan kompresi dada maupun VTP dengan t- piece
lakukan rujukan dengan tetap melakukan VTP sampai
ketempat rujukan.
21. Melakukan persiapan alat untuk melakukan VTP
lanjutan dengan t- piece dengan mengatur
tekanan positif akhir respirasi ( end-expiratory
pressure / PEEP yang akan diberikan 5-8 cm
H2O) umumnya dimulai dengan 7, hingga
manometer menunjukkan PEEP yang diinginkan.
22. Melakukan sungkup dengan ukuran yang sesuai pada
wajah bayi.
23. Melakukan pengamatan saturasi oksigen pada pulse
oxymetri
24. Melakukan evaluasi saturasi oksigen
a. Jika setelah pemberian PEEP, saturasi oksigen masih
belum naik, maka pemberian FiO2 dinaikan bertahap.
b. Pada bayi cukup bulan pemberian oksigen dimulai dari
konsentrasi 21% dan pada bayi kurang bulan pemberian
oksigen dimulai dari konsentrasi 30%, kemudian bisa
dinaikkan bertahap sesuai dengan tabel yang telah
ditentukan.
c. Pikirkan pemasangan LMA bila VTP dengan t- piece
resuscitator tidak efektif
25. Petugas mampu mengetahui indikasi dilakukannya
pemasangan Laryngeal Mask Airway (LMA)
26. Melakukan persiapan alat
27. Kempiskan cuff dan jaga agar tidak terlipat
28. Mengolesi bagian belakang dan samping LMA dengan air
liur bayi
29. Peganglah LMA seperti memegang pensil dengan bagian
sungkup menghadap ke depan
30. Masukan LMA menyusuri bagian tengah langit – langit
mulut.
31. Dorong sungkup dengan jari telunjuk menyusuri langit-
angit mulut kearah faring sampai terasa ada tahanan.
32. Pegang pipa LMA agar tidak berubah posisi dengan
tangan kiri, jari telunjuk kanan ditarik dari mulut bayi
33. Kembangkan cuff dengan memasukkan 4ml udara dengan
spuit, pada waktu tersebut tampak LMA sedikit terdorong
keluar.
34. Hubungkan dengan alat resusitasi ventilasi.
35. Peserta mengetahui indikasi dilakukannya kompresi dada
36. Kompresi dada dilakukan terkoordinasi dengan VTP satu
orang melakukan kompresi dada dan satu orang
melakukan VTP
37. Posisi penolong dalam melkaukan kompresi dada
menghadap kepala dengan kedua tangannya dalam posisi
yang benar
38. Tempat melakukan kompresi dada di sepertiga distal
sternum tepat di kausal linea internamilaria dengan
kedalaman penekanan sepertiga diameter anteroposterior
rongga dada.
39. Bisa menggunakan dua tekhnik yaitu tekhnik ibu jari
dengan menggunakan ujung jbu jari, jari jari yang lain
melingkari dada, dan tekhnik dua jari dengan
menggunakan ujung dua jari (jari tengah dan telunjuk )
sedangkan tangan yang satunya menopang di punggung
bayi.
40. Rasio kompresi dada 3:1 dengan total 90 kali kompresi
dan 30 nafas setiap menitnya
41. Konsentrasi oksigen dinaikan 100 %, perhatikan efektifitas
ventilasi
42. Melakukan kompresi dada dan VTP selama 1 menit dan
menjaga konsistensi
43. Melakukan evaluasi (laju denyut jantung , usaha napas )
setiap 60 detik
44. Petugas mampu memutuskan dan melakukan :
a. Menghentikan VTP – kompresi dada Jika laju denyut
jantung > 100x/menit bayi bernafas spontan.
b. Menghentikan kompresi dada dan melanjutkan VTP jika
laju denyut jantung > 60 x/menit dan bayi belum bernafas
spontan
c. Opsi hanya perlu diketahui ; memberikan larutan
adrenalin 1:10.000 dengan dosis 0,1 0,3mL/KgBB melalui
vena umbilikal, emlanjuktan kompresi dada dan VTP jika
laju denyut jantung < 60 x/menit dan bayi belum bernafas
spontan:
1) Melakukan pemasangan kateter vena umbilikal
2) Mengidentifikasi kebutuhan pemberian volume
3) Melakukan stabilisasi pada bayi baru lahir pasca
resusitasi
4) Melakukan transportasi pada bayi baru lahir pasca
resusitasi
45. Mengetahui indikasi dilakukannya kateterisasi umbilical
46. Petugas melakukan kateterisasi umbilical
a. Persiapan alat
b. Cuci tangan dengan antiseptic
c. Memakai sarung tangan steril
d. Isi lebih dahulu kateter ukuran 3.5F atau 5 F yang telah
disambung dengan semprit dan stopcock dengan garam
fisiologis.
e. Pasang sebuah keran 3 arah (3 way stopper) steril dan
semprit kateter 5FG dan isi dengan saline normal, lalu
tutup keran.
f. Bersihkan umbilicus dan kulit sekelilingnya dengan
larutan antiseptic, lalu ikat longgar dengan benang
mengelilingi dasar umbilicus.
g. Potong umbilicus 1-2 cm dari batas kulit dan Wharton
jelly dengan pisau steril. Tentukan vena umbilicus (
pembuluh darah yang menganga lebar) dan arteri
umbilicus ( dua pembuluh darah berdinding tebal)
h. Pegang umbilicus ( yang dekat dengan pembuluh vena
dengan forsep steril)
i. Tekanan ringan bila ada perdarahan, bersihkan dan
asepsis kembali.
j. Pegang bagian dekat ujung kateter dengan forceps steril
dan masukkan kateter ke dalam vena ( kateter harus dapat
menembus dengan mudah tanpa ada tahanan) sedalam 4-
6 cm . Alur vena akan menuju kearah jantung. Tarik darah
sehingga mengalir dengan mudah ketika membuka
threeway stopcock kearah semprit dan menghisap secara
perlahan.
k. Periksa kateter tidak menekuk dan darah tidak mengalir
balik dengan mudah, bila ada sumbatan tarik pelan- pelan
umbilicus, tarik kebelakang sebagian kateter dan masukan
kembali.
l. Kaji jangan sampai ada udara di selang infuse dan tutup
ujung set, masukkan obat- obatan atau cairan fisiologis
sesuai indikasi.
m. Bila sudah didapatkan perbaikan denyut jantung,
kateter segera dilepas.
n. Asepsis kembali area pemasangan kateter umbilical.
47. Mengidentifikasi kebutuhan pemberian volume
48. Melakukan stabilisasi pada bayi baru kahir pasca resusitasi
49. Melakukan transportasi pada bayi baru lahir pasca
resusitasi

6. Unit Terkait
7. Rekaman No Yang dirubah Isi Tanggal mulai
Historis Perubahan diberlakukan
Perubahan