Anda di halaman 1dari 7

Idea Nursing Journal Vol. VIII No.

2 2017
ISSN : 2087-2879, e-ISSN : 2580 - 2445
PENGARUH PSIKOEDUKASI TERHADAP KOPING ORANG TUA DALAM
MERAWAT ANAK DENGAN THALASEMIA DI KOTA BANDA

The Effect of Psychoeducation Parental Coping in Take Care of Children with Thalasemia
in Banda Aceh

Nurhasanah
Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala
E-mail: nurhasanah_@unsyiah.ac.id

ABSTRAK
Thalasemia merupakan kelainan darah bawaan yang ditandai dengan defisiensi pada kecepatan produksi rantai
globin yang spesifik dalam Hb yang dialami oleh penderita seumur hidup sehingga berdampak pada psikososial
keluarga. Prevalensi thalasemia terus mengalami peningkatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh psikoedukasi terhadap koping orang tua dalam merawat anak dengan thalasemia. Penelitian ini adalah
studi kuantitatif dengan desain Pre-Experimental Design berupa Pretest-Posttest Design. Metode Sampel yang
digunakan Total Sampling yaitu berjumlah 20 orang tua yang mempunyai anak thalasemia di Kota Banda Aceh.
Hasil menunjukkan terdapat pengaruh psikoedukasi terhadap peningkatan koping orang tua (p = 0.001).
Disarankan perlu dilakukan penelitian untuk melihat efektifitas psikoedukasi terhadap penyakit kronis yang lain.

Kata kunci: Thalasemia, koping, psikoedukasi.

ABSTRACT
Thalassemia is inherited blood disorders characterized by the deficiency at speed production of specific globin
chain in Hb experienced by the patient for life and have psychosocial impact on the family. The prevalence of
thalassemia is increasing continually. The purpose of this research was to find out the effects of
psychoeducation parental coping in take care of children with thalassemia. This research used quantitative
study with pre-experimental design in form of pretest-posttest design. Method of sample used was total sampling
towards 20 parents who have children with thalassemia in Banda Aceh. The result showed that there was a
significant effects of psychoeducation against the parental coping improvement (p=0.001). It is strongly advised
to do more research to see the effectiveness of psychoeducation against chronic disease.

Keywords: Thalasemia, coping, psychoeducation

PENDAHULUAN namun sampai bulan maret 2009 kasus


Thalasemia merupakan satu penyakit thalasemia mengalami peningkatan sebesar
kronis yang disebabkan oleh kelainan dari gen 8.3% (Wahyuni, 2010). Berdasarkan
autosom resesif pada gen kromosom ke 16 pengambilan data awal di BLUD RSU Dr.
pada alfa thalasemia dan kromosom ke 11 Zainoel Abidin Provinsi Aceh diperoleh
pada beta thalasemia berdasarkan hukum jumlah penderita thalasemia meningkat dari
mendel dari orang tua kepada anaknya tahun 2012. Pada tahun 2012 tercatat 158
(Muncie & Campbell, 2009). Penyakit namun terjadi peningkatan pada tahun 2013
keturunan ini disebabkan oleh sebanyak 200 penderita thalasemia yang
ketidakmampuan dari sumsum tulang melakukan perawatan di rumah sakit, dan
membentuk protein yang dibutuhkan tubuh diperkirakan banyak kasus yang tidak
untuk memproduksi hemoglobin (Potts & terdeteksi, sehingga penyakit ini telah
Mandleco, 2007). menjadi penyakit yang membutuhkan
Berdasarkan penyebarannya thalasemia penatalaksanaan medis yang serius.
banyak dialami oleh anak-anak mulai dari Penatalaksanaan medik pada penderita
benua Mediterania, Afrika dan Asia thalasemia akan diberikan seumur hidup,
Tenggara. Prevalensi thalasemia yang terbesar penyakit thalasemia sampai sekarang belum
di dunia adalah negara Maladewa dengan dapat disembuhkan secara total. Pengobatan
frekuensi pembawa gen thalasemia sekitar yang dapat dilakukan oleh pasien dengan
18% (WHO, 2011). Di Indonesia prevalensi melakukan transfusi darah seumur hidupnya,
carrier thalasemia mencapai sekitar 3-8%, akibat dari tranfusi yang berulang dapat

56
Idea Nursing Journal Vol. VIII No. 2 2017

terjadi penumpukan zat besi dalam tubuh, Salah satu upaya yang dapat dilakukan
untuk mengeluarkan zat besi maka diperlukan untuk mengurangi masalah psikososial yang
juga pemberian Kelasi besi (Weather & dialami oleh keluarga dalam merawat anak
Clegg, 2001). Pada jenis thalasemia mayor dengan thalasemia adalah psikoedukasi
akan ketergantungan pada transfusi darah terhadap keluarga. Psikoedukasi adalah suatu
seumur hidup, dapat menyebabkan elemen program perawatan dengan
pembengkakan limpa dan komplikasi pada memberikan informasi yang edukatif melalui
hati, ginjal dan jantung (Potts & Mandleco, komunikasi yang therapeutik (Stuart &
2007). Laraia, 2005). Psikoedukasi keluarga
Kompleksitas permasalahan pada merupakan salah satu bentuk intervensi yang
penatalaksaan medik yang dilakukan seumur dapat dilakukan perawat untuk memberikan
hidup berdampak pada penderita thalasemia informasi pada keluarga untuk meningkatkan
itu sendiri. Dampak yang ditimbulkan oleh ketrampilan keluarga dalam merawat anggota
penyakit thalasemia pada anak tercermin pada keluarga yang mengalami masalah
perkembangan psikososial, keterlibatannya psikososial, sehingga diharapkan keluarga
dengan teman sebaya atau isolasi sosial, akan mempunyai koping yang adaptif
rendah diri, bahkan dapat mempengaruhi terhadap kecemasan yang dialami oleh
prestasi belajar. Penderita thalasemia tidak keluarga (Varcarolis, 2006).
hanya menimbulkan masalah psikologis, Psikoedukasi keluarga merupakan salah
tetapi juga dapat menimbulkan masalah fisik, satu intervensi yang dapat dilakukan untuk
antara lain pusing, badan lemas, muka pucat, memberikan informasi yang edukatif terhadap
sukar tidur, tidak ada nafsu makan, keluarga terkait masalah yang dihadapi
keterbatasan aktifitas dan juga terjadi keluarga dalam merawat anggota keluarga
pembesaran limpa dan hati yang berdampak dengan anak thalasemia mayor, manajemen
perut membesar (Wong et al, 2009). perawatan penyakit thalasemia, koping yang
Dampak pada pasien thalasemia tidak positif dan sumber komunitas dalam
hanya saja bagi pasien itu sendiri, bahkan perawatan pasien dengan thalasemia (Stuart,
dapat berdampak pada keluarganya, dimana 2009). Hasil wawancara dengan Kepala
keluarga juga mengalami dampak psikososial, Ruang Thalasemia di BLUD Rumah Sakit
emosial, beban waktu dan tenaga untuk Umum Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh
merawat anak untuk menjalani program diperoleh informasi bahwa perawat dan
pengobatan seumur hidupnya (Wong et al, tenaga kesehatan tidak pernah memberikan
2009b). Keluarga harus menyediakan waktu psikoedukasi kepada keluarga, namun apabila
lebih banyak untuk menemani anak menjalani keluarga menanyakan informasi mengenai
pengobatan dan begitu finansial untuk biaya thalasemia, maka perawat baru
pengobatan anak. Sehingga keluarga juga menjelaskannya.
sangat cemas terhadap anaknya sehingga
keluarga sangat overprotektif pada anak METODE
(Wong et al, 2009). Desain penelitian
Kecemasan merupakan emosi yang Penelitian ini menggunakan jenis
dirasakan yang tidak menyenangkan sehingga penelitian kuantitatif dengan desain Pre-
dapat menimbulkan gejala kekhawatiran dan exsperiment Design dengan rancangan
rasa takut yang dialami keluarga (Hawari, penelitian yang digunakan Pretest-Posttest
2009). Upaya yang dapat dilakukan keluarga design yang merupakan penelitian dengan
untuk mengurangi kecemasan atau stressor cara memberikan pretest (pengamatan awal)
tergantung bagaimana koping yang digunakan terlebih dahulu sebelum diberikan intervensi,
oleh keluarga tersebut. Koping merupakan setelah itu diberikan intervensi, kemudian
berbagai macam strategi yang digunakan oleh dilakukan posttest (pengamatan akhir).
keluarga untuk mengatasi masalah sehari-hari. dimana tujuan dari penelitian ini adalah untuk
Strategi koping keluarga berfungsi sebagai mengetahui pengaruh psikoedukasi terhadap
proses atau adaptasi yang vital, melalui proses koping orang tua dalam merawat anak dengan
dan mekanisme, sehingga keluarga dapat thalasemia.
menjalankan fungsi keluarga dengan baik
(Stuart, 2009).

57
Idea Nursing Journal Nurhasanah

Populasi dan sampel


Populasi penelitian ini adalah seluruh No Variabel f %
keluarga yang mempunyai anak dengan 1. Usia
penyakit thalasemia mayor yang berdomisili a. Dewasa awal 10 50
di Kota Banda Aceh. Data awal yang b. Dewasa
8 40
pertengahan
diperoleh dari di BLUD RSU Dr. Zainoel
c. Dewasa Akhir 2 20
Abidin terdapat 25 keluarga yang mempunyai
2 Tingkat Pendidikan
anak dengan thalasemia. a. SD 1 5
Sampel adalah sebagian dari jumlah b. SMP 3 15
dan karakteristik populasi yang diteliti c. SMA 8 40
(Sastoasmoro & Ismail, 2011). Sampel yang d. Perguruan Tinggi 8 40
digunakan dalam penelitian ini adalah total 3. Jenis Pekerjaan
sampling dimana yang yang menjadi sampel a. Pegawai Negeri
adalah keluarga yang merawat anak 3 15
(PNS)
thalasemia, dari 25 keluarga yang b. Pengawai swasta 3 15
direncanakan sebagai responden tidak c. Wiraswasta 6 30
terpenuhi karena dalam penelitian 4 keluarga d. Ibu rumah tangga
7 35
tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian (IRT)
karena berbagai alasan yaitu 3 keluarga e. Petani 1 5
menolak berpartisipasi, 1 keluarga Penghasilan keluarga
4.
mengatakan anak yang menderita thalasemia perbulan
a. Diatas UMR
sudah meninggal, dan 1 keluarga lagi tidak 10 50
(>1.800.000)
dapat dihubungi karena sudah pindah kekota
b. Dibawah UMR
lain. 10 50
(<1.800.000)
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Kota Banda Berdasarkan tabel 1 diperoleh hasil
Aceh pada keluarga yang mempunyai anak bahwa dari 20 responden mayoritas responden
dengan thalasemia. Penelitian dilaksanakan berada pada usia dewasa awal dengan
pada bulan Januari sampai dengan Juni tahun frekuensi (50%) yaitu usia yang berkisar
2015. antara 18 sampai 40 tahun, tingkat pendidikan
berada pada kategori tinggi yaitu pada level
HASIL PENELITIAN SMA dan penguruan tinggi masing-masing
Analisa Univariat 40%, jenis pekerjaan responden yang
Karakteristik Responden terbanyak sebesar 35% yang notabenenya
Hasil analisis statistik karakteristik adalah ibu rumah tangga dan penghasilan
responden menggambarkan distribusi keluarga perbulan diatas UMR (50%) berkisar
responden berdasarkan usia, pendidikan, antara 1.800.000 sampai dengan 3.500.000
pekerjaan, dan penghasilan. rupiah.

Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Analisa Bivariat


Kategori Usia, Pendidikan, Pekerjaan, Hasil penelitian tentang pengaruh
Penghasilan Keluarga (N=20). psikoedukasi terhadap koping orang tua
dalam merawat anak dengan thalasemia di
Kota Banda Aceh tersaji pada tabel 2 berikut:

Tabel 2. Perbedaan Rata-rata Koping Orang Tua Sebelum dan Sesudah Dilakukan Intervensi
Psikoedukasi (n=20)

Variabel Mean Median SD d P value


Koping
1. Pre-Intervensi 103.85 104.00 7.862
10.50 0.001
2. Post-Intervensi 115.25 114.00 7.283

58
Idea Nursing Journal Vol. VIII No. 2 2017

Berdasarkan tabel 2 diatas diperoleh masalah, menentukan pilihan, mengevaluasi


untuk pengaruh psikoedukasi koping orang pilihan dan memilih yang terbaik, bertindak,
tua dalam merawat anak dengan thalasemia p dan melihat apakah ia bekerja, menghasilkan
value 0.001, hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan memecahkan
korelasi antara koping orang tua sebelum dan masalah dan hasil penanggulangan lebih baik.
sesudah dilakukan intervensi. Tanpa koping yang efektif, fungsi
Psikoedukasi adalah signifikan maka keluarga tidak dapat dicapai secara adekuat.
dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak, artinya Studi kualitatif pada 25 keluarga yang
pemberian psikoedukasi sangat mempunyai anak dengan thalasemia,
mempengaruhi kecemasan dan koping orang menunjukkan bahwa semua orang tua
tua dalam merawat anak dengan thalasemia di mengalami kecemasan dalam merawat anak
Kota Banda Aceh. dengan thalasemia, namu mereka menerima
keadaan tersebut dan mereka harus mengatasi
PEMBAHASAN masalah tersebut demi anak-anak mereka, dan
Koping orang tua dalam merawat anak dukungan prefesional yang tepat dapat
dengan thalasemia sebelum dan sesudah membantu mengurangi stress dan
dilakukan intervensi psikoedukasi memfasilitasi koping dengan menawarkan
Hasil penelitian diperoleh rata-rata informasi dan dukungan emosional (Ahmad
koping orang tua sebelum diberikan intervensi & Atkin, 1999).
psikoedukasi adalah 103.85 dan rata-rata
sesudah diberikan intervensi psikoedukasi Pengaruh psikoedukasi terhadap koping
adalah 115.25, dan sebagian dari responden orang tua dalam merawat anak dengan
menyangkal anaknya menderita thalasemia,
thalasemia
koping yang digunakan responden dengan
meningkatkan keyakinan bahwa semua yang Hasil uji statistik menunjukan terdapat
dialami merupakan cobaan dari yang Maha perbedaan yang sangat signifikan intervensi
Kuasa psikoedukasi terhadap penurunan rata-rata
Penelitian ini sesuai dengan penelitian peningkatan rata-rata koping orang tua dalam
Dopp (2008) dan Wrdaningsih (2007) yang merawat anak dengan thalasemia. Semua
memperlihatkan adanya pengaruh responden dalam penelitian ini mengalami
psikoedukasi keluarga secara bermakna dalam kecemasan sebelum diberikan intervensi
menurunkan beban keluarga dalam merawat psikoedukasi (sesuai dengan kriteria inklusi)
klien gangguan jiwa. Studi lain yang dengan skor yang bervariasi, dimana tanda
dilakukan Nurbani (2009) studi kuantitatif dan gejala kecemasan yang dirasakan oleh
terhadap 50 responden menunjukkan rata-rata responden sebagian besar mengalami
mekanisme koping berhubungan dengan gejala psikologis seperti ketakutan, firasat
pengetahuan, ketrampilan sosial atau buruk, tenang dan juga gejala somatik seperti
komunikasi. kelelahan dan sakit kepala, namun ada
Penelitian lain yang mendukung adalah beberapa responden yang menyangkal
penelitian yang dilakukan Magliano et al anaknya menderita thalasemia, meskipun
(2006) tentang efektifitas psikoedukasi kecemasan yang didapatkan bervariasi, rata-
keluarga terhadap kepribadian dan fungsi rata strategi koping responden masih cukup
sosial penderita schizophrenia dan kaitanya baik dengan rata-rata koping sebelum
dengan kepribadian dan koping keluarga. diberikan intervensi psikoedukasi 103.85 dan
Koping merupakan cara atau usaha sesudah dilakukan
individu dalam menghadapi suatu kondisi Intervensi psikoedukasi keluarga
yang mengancam dan perasaan yang tidak ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan
menyenangkan, serta bagaimana individu dan pemahaman keluarga tentang penyakit
tersebut menyelesaikan masalah yang yang diderita oleh anaknya, sehingga keluarga
dihadapinya (Stuart, 2009). dapat mengekspresikan beban yang dirasakan
Keterampilan kemampuan secara psikologis dan sosial dalam merawat
memecahkan masalah merupakan intervensi anak dengan thalasemia. Hal ini sesuai
yang telah dikembangkan. Secara khusus, dengan penelitian sebelumnya (Kaslow et al,
membantu orang tua untuk belajar langkah 2000) bahwa intervensi psikoedukasi
pemecahan masalah yaitu, mengidentifikasi meningkatkan pengetahuan anak dan orang

59
Idea Nursing Journal Nurhasanah

tua. Juga hasil penelitian lain Nurbani (2009), kondisi sosialnya dengan segala permasalahan
menunjukkan bahwa intervensi psikoedukasi yang dihadapinya.
keluarga dapat menurunkan kecemasan dan Psikoedukasi merupakan suatu
beban keluarga dalam merawat anggota tindakan yang diberikan kepada individu atau
keluarga dengan penyakit stroke orang tua untuk memperkuat strategi koping
Hasil penelitian lain menunjukkan atau suatu cara khusus dalam mengatasi
bahwa psikoedukasi terdapat pengaruh pada permasalahan psikologis yang dialami oleh
kecemasan dan koping sesuai dengan seseorang (Mottaghipour & Bickerton, 2005).
penelitian Ahmad dan Atkin (1996) yang Intervensi psikoedukasi dalam penelitian ini
menyatakan bahwa semua orang tua diberikan kepada respon melalui kegiatan
mengalami kecemasan dalam merawat anak pendidikan kesehatan tentang penyakit
dengan penyakit thalasemia, namun mereka thalasemia, manajemen cemas dan latihan
menerima keadaan tersebut dan mereka harus koping. Manajemen cemas yang diberikan
mengatasi permasalahan tersebut demi anak- kepada responden berupa pemberian latihan
anak mereka. Juga hasil studi fenomenologis nafas dalam mengatasi kecemasan yang
Nahalla dan Fitzgerald (2003) yang dialami oleh responden sebagi dampak dalam
mengambarkan masalah yang terkait dalam merawat anak dengan thalasemia, sedangkan
merawat anak dengan thalasemia, yaitu orang untuk latihan koping adalah dengan cara
tua mengalami kekhawatiran sehingga memberikan kesempatan kepada setiap
dibutuhkan peningkatan kesadaran perawat responden untuk mengeksplorasi perasaan
dalam memenuhi kebutuhan psikologis orang cemas serta kesempatan untuk saling tukar
tua. pikiran dan pengalaman dengan responden
Dua riset metaanalisis yang dilakukan yang lain. Intervensi psikoedukasi dalam
oleh Cuijpers (1999) dan Pitschel-Walz et al penelitian ini menggunakan metode ceramah,
(2001) membuktikan bahwa intervensi diskusi. Hal ini sejalan dengan penelitian
terhadap keluarga secara signifikan dapat Ahmad dan Atkin (1996) bahwa dukungan
menurunkan tingkat beban keluarga. Secara professional yang tepat dapat membantu
spesifik, intervensi dapat mengurangi mengurangi stress dan memfasilitasi koping
pengalaman distress psikologis keluarga, dengan memberikan informasi dan dukungan
memperbaiki fungsi keluarga dan hubungan emosional. Penelitian lain yang dilakukan
antara pasien dengan keluarga. Liberman dan Supratiknya, (2011),
Setiap orang tua memiliki cara dan psikoedukasi keluarga dapat dianggap sebagai
pengembangan tugas keluarga yang berbeda, rehabilitasi karena program tersebut
hal ini tergantung terhadap budaya yang memberikan sesuatu untuk keluarga.
dikembangkan oleh suatu keluarga tersebut. Pemberian informasi dirasakan oleh
Terdapat lima bentuk tugas kesehatan peneliti lebih efektif dengan metode ceramah
keluarga diantaranya mengenal gangguan dan diskusi secara langsung dengan individu,
perekembangan kesehatan keluarga, karena hampir sebagian besar responden
mengambil keputusan, melakukan perawatan, dalam penelitian ini sudah pernah mendapat
memodifikasi lingkungan untuk kesehatan informasi tentang penyakit thalasemia baik
keluarga, dan menggunakan fasilitas dari dokter maupun pada acara-acara ilmiah
pelayanan kesehatan. Masa krisis merupakan atau seminar, namun sebagian besar dari
masa yang harus dilewati oleh orang tua responden mengakui bahwa pemahaman
ketika mereka dihadapkan oleh kejadian yang tentang penyakit thalasemia masih sangat
akan menimbulkan konflik, stress, dan kurang, hal ini kemungkinan disebabkan oleh
tekanan dalam sebuah keluarga. Marwiati karena penjelasan yang terlalu umum dan
(2005), menyatakan bahwa setiap keluarga dengan bahasa yang agak sulit dipahami oleh
yang memiliki anak dengan penyakit kronik, responden. Lukens dan Mac Farlane dalam
akan selalu mengalami permasalahan baik Cartwrigt (2007) mengutip beberapa hasil
dalam hal finansial, sibling, perhatian orang penelitian yang menunjukkan bahwa
tua, dan konflik antara pasangan. Adanya intervensi psikoedukasi dapat menurunkan
tekanan dan beban psikologis yang gejala masalah kesehatan mental, khususnya
ditanggung oleh orang tua akibat merawat dapat menurunkan kecemasan dan depresi.
anak dengan penyakit kronis membuat Penelitian lain yang berhubungan, yaitu
mereka harus mampu mempertahankan Hasanat dan Ningrum (2010) mengenai

60
Idea Nursing Journal Vol. VIII No. 2 2017

program psikoedukasi terhadap kualitas hidup Departemen Kesehatan RI. (2007). Riset
pasien diabetes, pada sampel yang berjumlah Kesehatan Dasar (Riskesdas). Jakarta:
20 pasien, program psikoedukasi diberikan Badan Penelitian dan Pengembangan.
sebanyak 4 sesi, meliputi materi edukasi,
latihan kesadaran pikiran dan perasaan terkait Dopp, P. (2008). Single & multi family
dengan kondisi kesehatan pasien, network: An integrative response to
pemberdayaan pasien melalui diskusi serious mental illness.
kelompok. Hasil penelitiannya menujukkan www.proquest.com.pqdauto. Diperoleh
psikoedukasi membantu pengelolaan pasien tanggal 5 Februari 2014.
diabetes menjadi lebih baik.
Friedman, Marylin M., Bowden, V. R., &
KESIMPULAN Jones, E.G. (2010). Buku ajar
Hasil penelitian ini membuktikan keperawatan keluarga riset, teori &
bahwa pemberian psikoedukasi sangat praktik. Alih bahasa, Achir Yani S.
berpengaruh terhadap peningkatan koping Hamid, dkk; Editor Edisi Bahasa
orang tua dalam merawat anak dengan Indonesia, Estu Tiar. Ed. 5. Jakarta:
thalasemia (P value =0.001). Terkait dengan EGC
kesimpulan hasil penelitian bahwa pemberian
psikoedukasi dapat meningkatkan koping, Hawari, D. (2009). Psikometri alat ukur
terdapat beberapa hal yang dapat disarankan (skala) kesehatan jiwa. Jakarta : FKUI
untuk pengembangan dari hasil penelitian ini
terhadap upaya peningkatan pelayanan mutu Hasanat, N.U. & Ningrum, R.P (2010).
keperawatan serta meminimalkan dampak Program psikoedukasi bagi pasien
psikologis akibat penyakit thalasemia baik Diabetes. Yogyakarta.
bagi penderita maupun keluarganya
Hasil penelitian ini dapat dilanjutkan Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2009).
sebagai bentuk intervensi di rumah sakit yang Essential of paediatric nursing.
dapat dijadikan sebagai pedoman dalam St.Louis: Mosby
penatalaksanaan gangguan psikologis pada
orang tua yang mempunyai anak dengan Kaslow, et al. (2000). The efficacy of a pilot
thalasemia. Psikoedukasi yang diberikan family psychoeducational intervenstion
melalui modul yang telah dirancang member for pediatric sickle cell disease. Journal
dampak terhadap peningkatan koping yang of Psychosocial Nursing, 36 (4), 29-32.
adaptif pada keluarga yang merawat anak
thalasemia, bagi peneliti lain dapat Lazarus R.S, Folkman S. (1984). Stress,
mengaplikasikan psikoedukasi dan modul appraisal, and coping. New York:
dengan memodifikasi untuk diterapkan pada Springer Publishing Company
penyakit kronis lainnya.
Marwiati. (2005). Hubungan tingkat
DAFTAR PUSTAKA kecemasan dengan strategi koping pada
Atkin, K. & Ahmad, W.I. (1999). Family keluarga dengan anggota keluarga yang
caregiving and chronic illness: How dirawat dengan penyakit jantung.
parents cope with a child with a sickle Jurnal Kesehatan Surya Medika:
cell disorder or thalasemia. Center for Yogyakarta.
Rearch in primary care. Nuffield
Institute for Health. University of Magliano, L. et al. (2006). Special section: A
Leeds. UK. memorial tribute: patient fungctioning
and family burden in a controlled, real-
Carwright, M.E. (2007). Psychoeducation world trial of family pschoeducation
among caregivers of children receiving for schizophrenia. Psychiatric Services.
mental health services. Dissertation. Arlington. www.proquest.com.pqdauto.
Ohio ; Graduate School of The Ohio Diperoleh 2 Februari 2014.
State University
Mottaghipour, Y. & Bickerton. (2005). The
pyramid of family care: A framework

61
Idea Nursing Journal Nurhasanah

for family involvement with adult Supratiknya, A. (2011). Merancang program


mental health services. Toronto: dan modul psikoedukasi. Edisi Revisi.
Prentice Hall Health. Yogyakarta: Universitas Sanata
Dharma.
Muncie, H. J. & Campbell, J. S. (2009).
Alpha and beta thalassemia. Diakses Vacarolis, E. M. et al. (2006). Foundation of
dari http://webscohost.com/ pada psychiatric mental health nursing a
tanggal 23 Oktober 2013. clinical approach. Edisi 5. Saunders
Elseiver. St. Louis. Missouri.
Nahalla, C. K., Fitzgerald, M., (2003). The
impact of regular hospitalization of Wahyuni, M. (2010). Perbandingan kualitas
children living with thalasemia on their hidup anak penderita thalasemia
parents in Sri Lanka: a dengan saudara penderita thalasemia
Phenomenological study. Int J Nurs yang normal (abstrak). Universitas
pract. Sumatera.

Nurbani. (2009). Pengaruh psikoedukasi Weather, D. J. & Clegg, J. B. 2001. The


keluarga terhadap masalah psikososial thalasemia Syndromes. 4th edition.
ansietas dan beban keluarga dalam Blackwell Scientific Public. Oxford.
merawat pasien stroke di RSUPN.
Cipto Mangunkusumo. Jakarta. Wong, D. L., Hockenberry, M. Wilson, D.,
Winkelstein, M. L., & Schwartz, P.
Pots, N. L & Mondleco, B. L. (2007). (2009a). Buku ajar keperawatan
Pediatric nursing; Caring for children pediatric edisi 6 volume 2. Jakarta:
and their families (2nd ed). New York: EGC
Thomson Corporation.
Wong, D. L., Hockenberry, M. Wilson, D.,
Sastroasmoro, S. & Ismael, S. (2011). Dasar- Winkelstein, M. L., & Schwartz, P.
dasar metodelogi penelitian klinis. (2009b). Buku ajar keperawatan
Edisi 4. Jakarta: CV. Sagung Seto. pediatric edisi 6 volume 1. (Andry
Hartono, Sari Kurnianingsih, &
Stuart, G.W. (2009). Principles and practice Setiawan, Penerjemah). Jakarta: EGC.
of psychiatric nursing. 9th edition.
Mosby, Inc., an affiliate of Elsevier,
Inc.

Stuart, G. W. & Laraia, M. T. (2005). The


principle and practice of psychiatric
nursing. Edisi 8. Elsevier Mosby. St.
Louis Missouri.

62