Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA

MEDIS FRAKTUR

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Fraktur adalah diskontinuitas dari jaringan tulang yang biasanya
disebabkan adanya kekerasan yang timbul secara mendadak. ( Paula
krisanty dkk, 2009).
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu
sendiri dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentkan apakah fraktur
yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. ( Price A & L, Wilson,2006)
Fraktur didefinisikan sebagai gangguan pada kontinuitas tulang ,
tulang rawan (sendi) dan lempeng emfisis. ( Chris Tanto dkk, 2014).
2. Insiden Prevalensi
Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat tahun 2007 terdapat lebih
dari delapan juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan
sekitar 2 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden
kecelakaan yang memiliki angka kejadian yang cukup tinggi yakni insiden
fraktur ekstremitas bawah yakni sekitar 46,2% dari insiden kecelakaan
yang terjadi. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) oleh
Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes RI tahun 2007 di Indonesia
terjadi kasus fraktur yang disebabkan oleh cedera antara lain karena jatuh,
kecelakaan lalu lintas dan trauma benda tajam/tumpul. Dari 45.987
peristiwa terjatuh yang mengalami fraktur sebanyak 1.775 orang (3,8%),
dari 20.829 kasus kecelakaan lalu lintas, yang mengalami fraktur sebanyak
1.770 orang (8,5%), dari 14.127 trauma benda tajam/ tumpul, yang
mengalami fraktur sebanyak 236 orang (1,7%).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun
2007 didapatkan sekitar 2.700 orang mengalami insiden fraktur, 56%
penderita mengalami kecacatan fisik, 24% mengalami kematian, 15%
mengalami kesembuhan dan 5% mengalami gangguan psikologis atau
depresi terhadap adanya kejadian fraktur. Menurut data dari Sistem
Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2010, kasus patah tulang mengalami
peningkatan setiap tahun sejak 2007. Pada 2007 ada 22.815 insiden patah
tulang, pada 2008 menjadi 36.947, 2009 jadi 42.280 dan pada 2010 ada
43.003 kasus. Dari data tersebut didapatkan rata-rata angka insiden patah
tulang paha atas tercatat sekitar 200/100.000 pada perempuan dan laki-laki
di atas usia 40 tahun. Sedangkan menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO)
50% patah tulang paha atas akan menimbulkan kecacatan seumur hidup,
dan 30% bisa menyebabkan kematian (Noviardi, 2012).
3. Klasifikasi
Berikut ini terdapat beberapa klasifikasi fraktur antara lain :
1) Menurut Depkes RI (2014), berdasarkan luas dan garis fraktur
meliputi :
a. Fraktur komplit
Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas
sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya
menyebrang dari satu sisi ke sisi lain mengenai seluruh korteks.
b. Fraktur inkomplit
Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah
tidak menyebrang, sehingga tidak mengenai korteks ( masih ada
korteks yang utuh)
2) Menurut Black dan Matassarin (2013) yaitu fraktur berdasarkan
hubungan dengan dunia luar, meliputi :
a. Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih
utuh, tulang tidak menonjol melalui kulit.
b. Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karena
adanya hubungan dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka
potensial terjadi infeksi.
Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 Grade yaitu :
1) Grade I : Robekan kulit dengan kerusakan kulit otot
2) Grade II :Seperti grade I dengan memar kulit dan otot
3) Grade III : Luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh
darah, syaraf otot dan kulit.
Gambar: fraktur tertutup & fraktur terbuka
4. Patofisiologi
Tulang memiliki kekuatan untuk melindungi organ terpenting dalam
tubuh. Namun apabila terjadi tekanan dari luar yang datang lebih besar
dari kemampuan tulang untuk menyerapnya, maka akan terjadi trauma.
Trauma ini akan mengakibatkan terjadinya diskontinuitas dari tulang dan
kemudian akan menjadi fraktur.
a. Trauma langsung/ direct trauma
Yaitu apabila fraktur terjadi di tempat dimana bagian tersebut mendapat
ruda paksa (misalnya benturan, pukulan yang mengakibatkan patah
tulang).
b. Trauma yang tak langsung/ indirect trauma
Misalnya penderita jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi dapat
terjadi fraktur pada pegelangan tangan.
c. Trauma ringan pun dapat menyebabkan terjadinya fraktur bila tulang itu
sendiri rapuh/ ada resiko terjadinya penyakit yang mendasari dan hal ini
disebut dengan fraktur patologis.
d. Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.Kekuatan dapat
berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi
dari ketiganya, dan penarikan. ( Musliha, 2010).
Fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Tertutup
bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.
Sedangkan fraktur terbuka bila terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar oleh karena perlukaan di kulit. Sewaktu tulang patah
perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah ke dalam jaringan
lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami
kerusakan. Reaksi perdarahan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel-
sel darah putih dan sel anast berakumulasi menyebabkan peningkatan
aliran darah ketempat tersebut aktivitas osteoblast terangsang dan
terbentuk tulang baru umatur yang disebut callus. Bekuan fibrin
direabsorbsi dan sel- sel tulang baru mengalami remodeling untuk
membentuk tulang sejati. Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan
serabut syaraf yang berkaitan dengan pembengkakan yang tidak di tangani
dapat menurunkan asupan darah ke ekstrimitas dan mengakibatkan
kerusakan syaraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan akan
mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dan
berakibat anoreksia mengakibatkan rusaknya serabut syaraf maupun
jaringan otot. Komplikasi ini di namakan sindrom compartment (Brunner
dan Suddarth, 2002).
Lewis (2006) menyampaikan manifestasi klinik fraktur yaitun nyeri,
nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan
adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan
sekitarnya, Bengkak/Edema, edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan
serosa yang terlokalisir pada daerah fraktur dan extravasi daerah di
jaringan sekitarnya, memar/ Ekimosis merupakan perubahan warna kulit
sebagai akibat dari ektravasi daerah di jaringan sekitarnya, spasme otot
merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi disekirat fraktur,
penurunan sensasi terjadi karena kerusakan syaraf, tertekannya syaraf
karena edema, gangguan fungsi terjadi karena ketidakstabilan tulang yang
fraktur, nyeri atau spasme otot, mobilitas abnormal adalah pergerakan
yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi normalnya tidak terjadi
pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang panjang, krepitasi merupakan
rasa gemertak yang terjadi jika bagian-bagian tulang digerakkan,
deformitas merupakan abnormlnya posisi dari tulang sebagai hasil dari
kecelakan atau trauma dan pergerakan otot yang mendorong fragmen
tulang ke posisi abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk
normalnya.
Komplikasi yang terjadi pada fraktur yaitu :
1) Komplikasi awal
a. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi,
CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin
pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting,
perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
b. Kompartement Syndrom
Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruang
tertutup di otot, yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan
sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat dan
berikutnya menyebabkan kerusakan pada otot. Gejala -gejalanya
mencakup rasa sakit karena ketidakseimbangan pada luka, rasa sakit
yang berhubungan dengan tekanan yang berlebihan pada kompartemen,
rasa sakit dengan perenggangan pasif pada otot yang terlibat, dan
paresthesia. Komplikasi ini terjadi lebih sering pada fraktur tulang
kering (tibia) dan tulang hasta (radius atau ulna).
c. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke
dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga
karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
d. Osteomyelitis
Adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum dan
korteks tulang dapat berupa exogenous (infeksi masuk dari luar tubuh)
atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam tubuh). Patogen
dapat masuk melalui luka fraktur terbuka, luka tembus, atau selama
operasi. Luka tembak, fraktur tulang panjang, fraktur terbuka yang
terlihat tulangnya, luka amputasi karena trauma dan fraktur – fraktur
dengan sindrom kompartemen atau luka vaskular memiliki risiko
osteomyelitis yang lebih besar.
2) Komplikasi Dalam Waktu Lama
a. Delayed Union (Penyatuan tertunda)
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karena penurunan suplai darah ke tulang.
b. Non union (Tak menyatu)
Penyatuan tulang tidak terjadi, cacat diisi oleh jaringan fibrosa.
Kadang kadang dapat terbentuk sendi palsu pada tempat ini. Faktor-
faktor yang dapat menyebabkan non union adalah tidak adanya
imobilisasi, interposisi jaringan lunak,pemisahan lebar dari fragmen
contohnya patella dan fraktur yang bersifat patologis.
c. Malunion
Kelainan penyatuan tulang karena penyerasian yang buruk
menimbulkan deformitas, angulasi atau pergeseran.( Musliha, 2010).

5. WOC

Trauma langsung

Trauma tidak langsung

Patologis

FRAKTUR

Fraktur terbuka Fraktur tertutup

Terputusnya Perubahan jaringan

kontinuitas jaringan sekitar


Port Entry
Spasme otot
Kuman
Robeknya jaringan Pergeseran
lunak Pragmen Tulang
Peningkatan tekanan
Ketidakefektifan perfusi
Putusnya vena Pelepasan Histamin Hambatan
Kehilangan kapiler Gangguan fungsi
jaringan
Protein perifer
plasma hilang
/arteri
Perdarahan Penekanan
Edemapembuluh darah Mobilitas
DeformitasFisikNyeri Akut
ekstremitas
volume cairan
Rangsangan
Resiko
nyeri ke syaraf
Infeksi spinal

Menuju ke
korteks serebri

Adanya
Syok Hipovolemik sensasi nyeri

Nyeri akut

Sumber : (Smeltzer & Bare, 2013)

6. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi,
deformitas, pemendekan ekstremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan
perubahan warna.
a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk
bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang.
b. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya
tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan
atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba)
ekstremitas yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan
ekstremitas normal. Ekstremitas tak dapat berfungsi dengan baik karena
fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat
melengketnya otot.
c. Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang
sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah
tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai
2,5 sampai 5 cm (1 sampai 2 inci).
d. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan lainnya. (Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan
lunak yang lebih berat.)
e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai
akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa
terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.
Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur.
Kebanyakan justru tidak ada pada fraktur linear atau fisur atau fraktur
impaksi (permukaan patahan saling terdesak satu sama lain). Diagnosis
fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik, dan pemeriksaan sinar-x klien.
Biasanya klien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut
(Brunner & Suddarth, 2012).
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan rongent: Menentukan lokasi atau luasnya fraktur atau
trauma
b. Scan tulang, tomogram, scan CT/MRI: Memperlihatkan fraktur: juga
dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
c. Hitung Darah Lengkap:Ht mungkin meningkat (Hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada
trauma multipel). Peningkatan jumlah SDP adalah respon stress normal
setelah trauma.
d. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
e. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens
ginjal.
8. Penatalaksanaan
Terdapat beberapa tujuan penatalaksanaan fraktur menurut Henderson
(2007), yaitu mengembalikan atau memperbaiki bagian-bagian yang patah
ke dalam bentuk semula (anatomis), imobilisasi untuk mempertahankan
bentuk dan memperbaiki fungsi bagian tulang yang rusak. Jenis-jenis
fraktur reduction yaitu :
a. Manipulasi atau close red
Adalah tindakan non bedah untuk mengembalikan posisi, panjang dan
bentuk. Close reduksi dilakukan dengan local anesthesiaataupun umum.
b. Open reduksi
Adalah perbaikan bentuk tulang dengan tindakan pembedahan sering
dilakukan dengan internal fiksasi menggunakan kawat, screlus, pins,
plate, intermedullary rods atau nail. Kelemahan tindakan ini adalah
kemungkinan infeksi dan komplikasi berhubungan dengan anesthesia.
Jika dilakukan open reduksi internal fixsasi pada tulang (termasuk
sendi) maka akan ada indikasi untuk melakukan ROM.

c. Traksi
Alat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang
fraktur untuk meluruskan bentuk tulang. Ada 3 macam yaitu :
1) Skin traksi
Skin traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan
menempelkan plester langsung pada kulit untuk mempertahankan
bentuk, membantu menimbulkan spasme otot pada bagian yang
cidera dan biasannya digunakan untuk jangka pendek (48-72 jam ).
2) Skeletal traksi
Adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera
dan sendi panjang untuk mempertahankan traksi, memutuskan pins
(kawat) ke dalam tulang.
3) Maintenance traksi
Merupakan lanjutan dapat diberikan secara langsung pada tulang
dengan kawat atau pins.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA
FRAKTUR

B. PENGKAJIAN
1. Primary Survey
a. Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret
akibat kelemahan reflek batuk.
b. Breathing
Kelemahan menelan / batuk / melindungi jalan napas, timbulnya
pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /
aspirasi.
c. Circulation
TD dapat normal atau meningkat, hipotensi terjadi pada tahap lanjut,
takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan
membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut.
d. Disabilities
Pada primary survey, disabiliti dikaji dengan menggunakan skala AVPU
yaitu :
A :Alerrt, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnnya mematuhi
perintah yang diberikan.V :Vocalises, mungkin tidak sesuai atau
mengeluarkan suara yang tidak jelas.P : responds to pain only ( harus
dinilai semua keempat jika ektremitas awal yang digunakan untuk
merespon).U : unerponsive to paint, jika pasien tidak merespon baik
stimulus nyeri maupun stimulus verbal.
e. Expose, Examine dan Evaluate
Menanggalkan pakaian pasien dan memeriksa cedera pada pasien. Jika
pasien diduga memiliki cedera leher atau tulang belakang, imobilisasi in-
line penting untuk dilakukan. Lakukan log roll ketika melakukan
pemeriksaan pada punggung pasien. Yang perlu diperhatikan dalam
melakukan pemeriksaan pada pasien fraktur adalah mengekspos pasien
hanya selama pemeriksaan eksternal. Setelah pemeriksaan telah selesai
dilakukan, tutup pasien dengan selimut hangat dan jaga privasi pasien,
kecuali jika diperlukan pemeriksaan ulang ( Musliha, 2010).
2. Secondary survey
a. Identitas Klien
Meliputi : Nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang
dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, no. register, tgl MRS,
diagnosa medis.
b. Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri
tersebut bisa akut atau krinik tergantung dari lamanya serangan. Untuk
memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri :
1) Provoking incident : apakah ada peristiwa yang menjadi faktor
presipitasi nyeri.
2) Quality of pain : seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau
digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, terdenyut atau menusuk.
3) Region : ridiation, relief, apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit
menjalar atau menyebar dan dimana rasa sakit terjadi.
4) Severity (scale of pain) : seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan
klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa
jauh rasa sakit mempunyai fungsinya.
5) Time : berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk
pada malam hari atau siang hari.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur
yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien.
Ini bisa berupa kronologi terjadinya penaykit tersebut sehingga nantinya
bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang
terkena. Selain itu dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakan
bisa diketahui luka kecelaan yang lain.
1) S : Sign and Symtom
Tanda dan gejalaterjadinya tension pneumotoraks, yaitu ada jejas pada
thorak, nyeri pada tempat trauma, bertambah saat inspirasi,
pembengkakan lokal dan krepitasi pada saat palpasi, pasien menahan
dadanya dan bernafas pendek, dispnea, hemoptisis, batuk dan
emfisema subkutan penurunan tekanan darah.
2) A : Allergies
Riwayat alergi yang diderita klien atau keluarga klien. Baik alergi
obat-obatan ataupun kebutuhan akan makan atau minum.
3) M : Medication
( Anticoagulants, insulin and cardiovascular medication especially)
Pengobatan yang diberikan kepada klien sebaiknya yang sesuai
dengan keadaan klien dan tidak menimbulkan alergi. Pemberian obat
diberikan sesuai dengan riwayat pengobatan klien.
4) P : Previous medical/ surgical history
Riwayat pembedahan atau masuk rumah sakit sebelumnya
5) L : least meal ( Time)
Waktu klien terakhir makan atau minum
6) E : Event
Hal-hal yang bersangkutan dengan sebab cedera, kejadian yang
menyebabkan adanya keluhan utama
d. Riwayat Penaykit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan
memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung.
Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit yang
menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung.
Selain itu penyakit DM dengan luka dikaki sangat beresiko terjadinya
osteomylitis akut maupun kronik dan juga menghambat proses
penyembuhan tulang.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penaykit tulang merupakan
salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur seperti DM.Osteoporosis
yang sering terjadi pada beberapa keturunan dan kanker tulang yang
cenderung diturunkan secara genetik.
f. Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya
dengan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau
pengaruh sehari-hari baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
3. Pemeriksaan Fisik
C. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
b. Syok Hipovolemik berhubungan dengan perdarahan
c. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan
kerusakan transfer oksigen melalui membrane kapiler.
d. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan dengan cedera jaringan
sekitar fraktur dan kerusakan rangka neuromuskuler.
e. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat
D. Intervensi Keperawatan
DX 1 : Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.

NOC NIC Rasional


 Vital Sign
 Pain Level
 Pain Control 1. Pengkajian nyeri
1. Lakukan pengkajian
yang
Setelah dilakukan
komprehensif nyeri komprehensif
tindakan keperawatan dapat membantu
termasuk lokasi,
untuk
selama … x 24 jam
karakteristik, onset/ menentukan
diharapkan nyeri intervensi yang
durasi, frekwensi,
tepat untuk
klien berkurang,
kualitas, intensitas penanganan nyeri
dengan kriteria hasil : klien.
atau derajat nyeri,
2. Agar kita
1. Mampu
dan faktor yang mengetahui
mengontrol nyeri reaksi klien
(tahu penyebab menimbulkan. ketika nyeri
2. Observasi reaksi non dirasakan.
nyeri, mampu
3. Dengan strategi
verbal terdapat nyeri.
menggunakan komunikasi
3. Gunakan strategi
terapeutik
tehnik
komunikasi diharapkan akan
nonfarmakologi dapat menggali
terapeutik.
informasi
untuk mengurangi 4. Ajarkan prinsip dari
terhadap
nyeri, mencari manajemen nyeri pengalaman
nyeri dan cara
bantuan). (relaksasi napas
klien merespon
2. Melaporkan
dalam). terjadinya nyeri.
bahwa nyeri 5. Kolaborasi/delegatif 4. Relaksasi
merupakan salah
berkurang dengan dalam pemberian
metode
menggunakan terapi analgetik. manajemen nyeri
yang dapat
manajemen nyeri.
meningkatkan
3. Mampu mengenali
respons
nyeri (skala, pengeluaran
endorphin untuk
intensitas,
memutus
frekuensi dan reseptor nyeri.
5. Untuk
tanda nyeri).
mempercepat
4. Menyatakan rasa
hilangnya rasa
nyaman setelah nyeri pasien.
nyeri berkurang.
5. Tanda vital dalam
rentang normal.

DX 2 : Syok Hipovolemik berhubungan dengan perdarahan

NOC NIC RASIONAL


 Shock prevention. 1. Monitor tanda awal 1. Untuk mengetahui
Tujuan :
syok. tanda awal syok.
Setelah dilakukan
2. Tempatkan pasien 2. Untuk memberi
tindakan
dalam posisi supine rasa nyaman.
keperawatan 3. Agar keluarga dapat
dan kaki elevasi.
selama...x 24 jam, 3. Ajarkan keluarga mengetahui dan
diharapkan tidak pasien entang tanda bertindak cepat
terjadi perdarahan dan gejala syok serta dalam penangan
dengan Kriteria langkah untuk syok.
4. Untuk mencegah
Hasil: mengatasi syok.
1. Nadi dalam batas 4. Kolaborasi dengan kekurangan darah.
normal. dokter dalam
2. Irama jantung
pemberian obat
dalam batas yang
penambah darah.
diharapkan.
3. Ph darah serum
dalam batas
normal.

DX 3 : Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kerusakan transfer


oksigen melalui membrane kapiler.

NOC NIC RASIONAL


 Circulation status 1. Monitor tanda vital, 1. Ketidakadekuatan
Tujuan:
perhatihkan tanda- volume sirkulasi
Setelah dilakukan
tanda pucat/sianosis akan
tindakan keperawatan
umum, kulit dingin, mempengharuhi
selama …x 24 jam
perubahan mental. sistem perfusi
diharapkan perfusi
2. Berikan kompres es
jaringan.
jaringan perifer
sekitar fraktur sesuai 2. Menurunkan
kembali efektif,
indikasi. edema/pembentu
dengan 3. Dorong pasien untuk
kan hematoma,
Kriteria Hasil :
secara rutin latihan
1. Tekanan systole yang dapat
jari/sendi distal
dan diastole mengganggu
cedera, ambulasi
dalam rentang sirkulasi.
sesegera mungkin. 3. Meningkatkan
yang diharapkan.
4. Kolaborasi dengan
2. Tidak ada sirkulasi dan
dokter dalam
ortostatik menurunkan
pemberian O2
jaringan. penggumpalan
3. Tidak ada tanda-
tanda peningkatan darah khususnya
tekanan pada ekstremitas
intrakranial( tidak bawah.
4. Untuk
lebih dari 15
menpercepat
mmHg)
poses
penyembuhan.

DX 4 : Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan dengan cedera jaringan sekitar


fraktur dan kerusakan rangka neuromuskuler.

NIC NOC RASIONAL


 Join Movement : 1. Kaji derajat imobilitas 1. Mengetahui persepsi
Active yang dihasilkan oleh diri pasien mengenai
Tujuan: Setelah
cedera/pengobatan dan keterbatasan fisik
dilakukan tindakan
perhatikan persepsi aktual, mendapatkan
keperawatan selama...x
pasien terhadap informasi dan
24 jam diharapkan
imobilisasi. menentukan
hambatan mobilitas fisik 2. Berikan/bantu dalm
informasi dalam
berkurang dengan mobilisasi dengan
meningkatkan
Kriteria Hasil : kursi roda, kruk dan
kemajuan kesehatan
1. Klien akan
tongkat sesegera
pasien.
meningkat/
mungkin. 2. Mobilisasi dini
mempertahankan 3. Instruksikan dan bantu
menurunkan
mobilitas pada pasien dalam rentang
komplikasi tirah
tingkat gerak aktif/pasif pada
baring(contoh
kenyamanan ekstremitas yang sakit
flebitis) dan
yang lebih tinggi. dan yang tidak sakit.
meningkatkan
2. Klien 4. Kolaborasi dengan ahli
penyembuhan dan
mempertahankan terapi fisik/okupasi
normalisasi fungsi
posisi dan atau rehabilitasi
organ.
/fungsional. spesialis.
3. Meningkatakan
3. Menunjukkan
teknik yang aliran darah ke otot,
mampu mempertahankan
melakukan gerak sendi.
4. Berguna dalam
aktifitas
membuat aktivitas
individual/program
latihan.

Dx 5 Resiko Infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer yang tidak


adekuat

NOC nnNIC Rasional


Immune Status  Infection
Knowledge : Infection Protection (proteksi
control terhadap infeksi)
 Risk control 1. Monitor tanda dan 1. Untuk mengetahui
Setelah diberikan gejala infeksi adanya infeksi
asuhan keperawatan sistemik dan local
2. Monitor hitung
selama………. 2. Untuk mengetahui
granulosit, WBC
Diharapkan resiko adanya infeksi
infeksi terkontrol bakteri maupun
3. Batasi pengunjung
dengan kriteria hasil: virus
1. Klien bebas dari 4. Ajarkan pasien dan 3. Pencegah penularan
tanda dan gejala keluarga tanda dan infeksi
infeksi gejala infeksi 4. Agar keluarga
2. Menunjukkan 5. Ajarkan cara
mengetahui tanda
kemampuan untuk menghindari infeksi
dan gejala infeksi
mencegah timbulnya
5. Agar keluarga dan
infeksi 6. Kolaborasi
pasien terhindar
3. Jumlah leukosit
pemberian
dari penularan
dalam batas normal
antibiotik
infeksi
6. Untuk mengobati
infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Huda, N. Dan Hardhi K. 2013. Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis. Yogyakarta: MediAction
Tanto, Chris dkk. 2014. Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV Jilid II. Jakarta:
Media Aesculapius
Musliha.2010. Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta: Nuha Medika
Krisanty, Paula dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta: Trans
Info Media
Wilkinson, Judith M & Ahren Nancy R. 2015. Buku Saku Diagnois Keperwatan
Diagnosis Nanda, Intervensi Nic, Kriteria Hasil Noc, edisi 9.Jakarta:EGC