Anda di halaman 1dari 7

LB12

DESAIN DAN SIMULASI MAXIMUM POWER POINT TRACKING (MPPT) SEL SURYA
MENGGUNAKAN FUZZY LOGIC CONTROL UNTUK KONTROL BOOST KONVERTER
Surojo1, Mochamad.Ashari 2 dan Mauridhi Hery Purnomo 3
1
Teknik Elektro, ITS, Surabaya, Indonesia
srj_its@yahoo.co.id
2
Teknik Elektro,ITS, Surabaya, Indonesia
ashari@ee.its.ac.id
3
Teknik Elektro,ITS, Surabaya, Indonesia
hery@ee.its.ac.id

Abstrak
  
         
                 



                 !  
 "# $ 
   
 " 
      %  &   '        
% 
 !    !#  %
 '  
 

  
 
      
"       

          
(  !# )                  '   
 "

    &   


    &'           #

Kata kunci: maximum power point tracking (MPPT), PV, boost converter, fuzzy logic controller dan duty cycle.

PENDAHULUAN
Solar sel merupakan sumber energi terbarukan yang menawarkan banyak keuntungan seperti tanpa
memerlukan bahan bakar minyak, tidak menghasilkan polusi, biaya perawatan rendah dan tidak
menghasilkan noise[1]. Penerapan solar sel pada sistem yang berdiri sendiri adalah seperti pada pompa air,
penerangan jalan, kendaraan listrik, militer dan ruang angkasa. Dan pada penerapan jaringan listrik seperti
sistem hybrid[6] dan power plants.
Permasalahan utama pada penggunaan solar sel adalah pembangkitan tenaga listrik yang rendah,
terutama pada kondisi radiasi matahari yang rendah. Radiasi matahari yang diterima oleh panel solar sel
tergantung cuaca dan posisi matahari terhadap panel solar sel. Jumlah daya yang dihasilkan oleh solar sel
tidak konstan dan efisien yang rendah.
Selain itu, karakteristik V-I sel surya adalah nonlinier dan berubah terhadap radiasi dan suhu permukaan
solar sel [3]-[8]. Secara umum, terdapat titik yang unik pada kurva V-I atau kurva V-P, yang dinamakan
Maximum Power Point (MPP) [3-8]. Dimana pada titik tersebut, solar sel bekerja pada efisiensi maksimum
dan menghasilkan daya keluaran paling besar. Letak dari MPP tidak diketahui, tapi dapat dicari, dengan
menggunakan perhitungan atau algoritma penjejak. Oleh karena itu algoritma Maximum Power Point
Tracker (MPPT) dibutuhkan untuk menjaga titik kerja solar sel agar tetap pada titik MPP.
Terdapat beberapa algoritma MPPT yang telah ditemukan dan ditulis pada jurnal ilmiah internasional
seperti Perturb and Observe[5],[6], Incremental Conductance, Dynamic Approach, Temperature Methods,
Artificial Neural Network method, Fuzzy Logic method dll. Semua algoritma tersebut berbeda-beda dalam
beberapa aspek termasuk kesederhanaan, kecepatan, implementasi hardware, sensor yang dibutuhkan, biaya,
efektifitas, dan parameter yang dibutuhkan.

SISTEM SOLAR SEL


Model matematik dikembangkan untuk menirukan solar sel. Gambar 1 menunjukkan rangkaian
persamaan solar sel, dimana I dan V adalah arus dan tegangan solar sel, kemudian, IL adalah cell’s
photocurrent. Rp dan Rs adalah tahanan shunt dan tahanan seri dari solar sel[3].

7th BASIC SCIENCE NATIONAL SEMINAR PROCEEDING II-63


MALANG 20 FEBRAUARI 2010
RS I


 


IL V
RSH

Gambar 1. Rangkaian persamaan sel surya.


Persamaan dari rangkaian diatas adalah :

ª § (V + IR s ) · º (V + IR S )
I = I L − I 0 « exp. ¨¨ ¸¸ - 1» -
¬ © nkT / q ¹ ¼ R SH
(1)
Dimana :
IO=arus saturasi reverse (Ampere)
n=faktor ideal dioda (bernilai 1 untuk dioda ideal)
q=pengisian electron (1.602·10-19 C)
k=konstanta Boltzman (1.3806.10-23 J.K-1)
T=temperatur solar sel (o K)

Persamaan (1) digunakan dalam simulasi menggunakan komputer untuk mendapatkan karakteristik
keluaran solar sel, seperti pada gambar 2 dan 3. Kurva ini menunjukkan sangat jelas bahwa karakteristik
keluaran solar sel adalah non-linier [4] dan sangat dipengaruhi oleh radiasi sinar matahari dan temperatur.
Tiap titik mewakili MPP dari masing-masing kurva[3]-[6].

Gambar 2. Karakteristik P-V untuk level radiasi

Gambar 3. Karakteristik I-V pada temperatur

II-64 7th BASIC SCIENCE NATIONAL SEMINAR PROCEEDING


MALANG 20 FEBRAUARI 2010
MPPT Berdasar Fuzzy Logic Control
Sistem fuzzy ditemukan pertama kali oleh Prof. Lotfi Zadeh pada pertengahan tahun 1960 di Universitas
California[7]. Sistem Inferensi Fuzzy adalah sistem kerja komputer yang didasarkan pada konsep teori fuzzy,
aturan fuzzy if-then, dan logika fuzzy. Struktur dasar dari sistem Inferensi Fuzzy terdiri dari :
1. Basis aturan yang berisi aturan if-then.
2. Basis data yang mendefinisikan fungsi keanggotaan dari himpunan fuzzy.
3. Unit pengambilan keputusan yang menyatakan operasi inferensi aturan-aturan.
4. Fuzzifikasi yang mentransformasi masukan himpunan klasik (crisp) ke derajat tertentu yang sesuai
dengan aturan besaran fungsi keanggotaan
5. Defuzzifikasi yang mentransformasi hasil fuzzy ke bentuk keluaran yang crisp.

Blok diagram Sistem Inferensi Fuzzy terlihat pada Gambar 4. [9].

Gambar 4. Sistem inferensi fuzzy

Gambar 5. Blok diagram sistem

Melihat gambar 5. Sebagai variabel masukan dari FLC adalah tegangan dan arus solar sel, sedangkan
variabel keluaran duty cycle. Untuk masing –masing variabel input memiliki tujuh fuzzy set yang
ditunjukkan pada Tabel 1. Dengan nilai negatip besar(BN), negatip medium(MN), negatip kecil(SN), nol (Z),
positip besar (BP), Positip medium (MP) dan positip kecil (SP) [10]-[11].

Tabel 1. Aturan fuzzy


¨VPV/¨IPVBN MN SN Z SP MP BP
BNBP BP MP Z MN BN BN
MNBP MP SP Z SN MN BN
SNMP SP SP Z SN SN MN
ZBN MN SN Z SP MP BP
SPMN SN SN Z SP SP MP
MPBN MN SN Z SP MP BP
BPBN BN MN Z MP BP BP

Boost Converter
Pada MPPT ini digunakan boost converter [7] berfungsi untuk mengatur tegangan solar sel ke tegangan
beban, sedemikian sehingga daya output solar sel selalu berada di titik daya maksimum. Rangkaian utama
dari boost converter[9] adalah seperti pada Gambar 5 dibawah ini.

7th BASIC SCIENCE NATIONAL SEMINAR PROCEEDING II-65


MALANG 20 FEBRAUARI 2010
Gambar 5. Boost Converter[2],[7] dan[8]

Boost converter terdiri dari induktor, dioda,kapasitor dan komponen pensaklar. Boost converter bekerja
berdasarkan sinyal pensaklaran, ton dan toff. Perbandingan waktu hidup (ton) terhadap jumlah waktu keduanya
disebut juga dengan duty cycle [2]. Saat saklar hidup (on), energi disimpan pada induktor menjadi medan
magnet, saat saklar mati (off), energy yang tersimpan pada induktor diubah lagi menjadi listrik dan didorong
oleh tegangan input menjadi tegangan output sehingga nilainya menjadi lebih besar. Tegangan ouput boost
converter dapat di kontrol dengan mengatur besar duty cycle atau sinyal pensaklaran. Nilai D yaitu 0 < D <1.
Untuk menentukan tegangan keluaran dari boost converter dengan menggunakan persamaan berikut:
§ t ·
V out V in ¨ 1 + on ¸       (2)
¨ t off ¸
© ¹
V in
V out         (3)
1− D

HASIL SIMULASI DAN ANALISA


Gambar 6 menunjukkan blok diagram sistem solar sel. Sistem ini terdiri dari solar sel dengan
menggunakan MPPT, beban resistive dan boost converter. Modul solar sel mempunyai tegangan nominal
17.24 V dan daya keluaran maksimum 50.17 W. Namun, parameter modul solar sel ini akan diuji ulang
dengan menggunakan rangkaian MPPT dan tanpa MPPT.

Gambar 6. Blok diagram sistem solar sel dengan menggunakan MPPT[4]-[6].

Tabel 2. Data spesifikasi teknik modul PV


Spesifikasi modul PV
Daya maksimum (Pmax)50.15 Watt
Arus hubung singkat (Isc)3,25 Amp.
Tegangan rangkaian terbuka (Voc)21,75 Volt
Arus pada daya maksimum (Ipmax)2,91 Amp.
Tegangan normal (Vn)17.24 Volt

II-66 7th BASIC SCIENCE NATIONAL SEMINAR PROCEEDING


MALANG 20 FEBRAUARI 2010
0 .0 0 2 1 7 5 2 1 .7 5

Ip v1 Vpv

1 /9 9 9 9

Rl o a d 1

V p v1
P V m o d u l e (I)
Ipv Vpv

1000 Ins olation Ppv 0 .0 4 7 3

In so l a ti o n PV1 Ppv

Gambar 7. Diagram blok pengunjian modul PV[4]

Untuk melakukan pengujian modul solar sel maka dilakukan seting nilai parameter yang ditunjukkan
pada tabel 1 terhadap modul simulasi. Pengujian yang dilakukan yaitu pengujian Arus hubung singkat
dengan memberikan nilai beban sangat besar (R>>>>) sedangkan pengujian rangkaian terbuka dengan
menberikan nilai beban (R) sangat kecil (R<<<<) ditunjukan pada Gambar 7. Pengujian dilakukan untuk
mengecek kebenaran nilai blok modul simulink dan panel solar sel.
Simulasi telah dikembangkan menggunakan metode yang dijelaskan dan diuji dibawah sinar matahari.
Sel surya mampu menghasilkan daya keluaran maksimum sebesar 50,17 W, 21,75 V tegangan rangkaian
terbuka dan 3,35 A arus hubung singkat. Pengujian MPPT dilakukan untuk mendapatkan 2 karakteristik
penting dari sel surya. Yaitu kurva arus terhadap tegangan solar sel (I-V) dan kurva daya terhadap tegangan
solar sel (P-V). Dan MPPT diuji dengan mengubah frekuensi pensaklaran boost converter untuk mengetahui
efisiensinya terhadap perubahan nilai frekuensi pensaklarannya. Hasil pengujian untuk kurva I-V
ditunjukkan pada Gambar 8. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa pada saat arus keluaran sel surya
besar hingga 3,25 A, tegangannya bernilai kecil. Sedangkan pada saat arus keluarannya kecil, tegangan
keluaran sel surya bernilai besar.
4
S1=1KW/m2
S1 S2=0,8KW/m2
3.5
S3=0,6KW/m2
3 S2

2.5
S3
A ru s [A ]

1.5

0.5

0
0 5 10 15 20 25
Tegangan [V]

Gambar 8. Karakteristik I-V modul solar sel


60

50 1000 W/m2

40
P V P ow er [W ]

800 W/m2
30
600 W/m2
20

10

0
0 5 10 15 20 25
PV Voltage [V]
Gambar 9. Karakteristik P-V solar sel
Pada hasil pengujian yang kedua, yaitu karakteristik daya keluaran sel surya terhadap tegangan
keluarannya. Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 9. Pada Gambar tersebut menunjukkan kurva seperti
sebuah bukit. Tentunya terdapat sebuat titik puncak pada kurva tersebut yang menandakan titik daya

7th BASIC SCIENCE NATIONAL SEMINAR PROCEEDING II-67


MALANG 20 FEBRAUARI 2010
maksimum dari solar sel. Besar nilai titik daya maksimum tersebut adalah 50.15 W. Jadi, solar sel mampu
menghasilkan daya keluaran maksimum 50.15 W pada kondisi radiasi matahari paling besar. Titik tersebut
berada pada tegangan 17,15 V hingga 17.24 V.
Pengujian sistem PV di lakukan pada kondisi solar sel dengan irradisi 1 kW/m2 , 0,8 kW/m2 ,0,6
kW/m dan temperature panel 25oC dan diberikan beban resistansi dengan nilai 1-30 ohm. Hasil pengujian
2

dan pengukuran pada sistem solar sel yang tidak menggunakan MPPT ditunjukkan pada gambar 10. Kurva
daya output solar sel yang dihasilkan pada setiap kondisi tidak konstan. Setiap kurva memiliki nilai titik daya
maksimum dan setelah melewati titik maksimum daya keluaran akan mengalami penurunan.
Pada gambar 11. Menunjukkan bahwa daya keluaran solar sel dengan menggunakan MPPT yaitu
konstan pada titik daya keluaran maksimum walaupun diberikan beban yang bervariasi pada setiap kondisi
irradiasi. Dengan demikan efisiensi solar sel lebih baik dari pada tanpa menggunakan MPPT.
Daya Ouput PV Tanpa MPPT
60
1 kW/m2
50 0,8 kW/m2
0,6 kW/m2
40
Day a (W att)

30

20

10

0
5 10 15 20 25 30
Resistansi (Ohm)
Gambar 10. Karakterietik P-R sistem tanpa MPPT

Daya Output PV Menggunakan MPPT


60

50

40
Daya (Watt)

30

20
1 kW/m2
10 0,8 kW/m2
0,6 kW/m2
0
5 10 15 20 25 30
Resistansi (Ohm)
Gambar 11. Karakteristik P-R sistem menggunakan MPPT
Setelah mengetahui titik daya maksimum dari solar sel tersebut, MPPT diuji untuk mengetahui efisiensi daya
dari MPPT tersebut dengan membandingkan daya keluaran dari boost converte dan daya keluaran dari modul
PV. Dan didapatkan hasil seperti pada Gambar 12. di bawah ini
Pout PV menggunakan MPPT
1

0.99
Efficiency

0.98

0.97

0.96

0.95
0 0.002 0.004 0.006 0.008 0.01 0.012
Time
Gambar 12. Kurva efisiensi MPPT terhadap frekuensi pensaklaran
Nilai efisiensi ini merupakan nilai efisiensi MPPT dan sudah memperhitungkan konsumsi daya MPPT
sendiri dengan rugi-rugi daya sekitar 1%..
Kesimpulan

II-68 7th BASIC SCIENCE NATIONAL SEMINAR PROCEEDING


MALANG 20 FEBRAUARI 2010
Dengan mengacu pada hasil pengujian, disimpulkan bahwa MPPT dengan FLC dapat bekerja lebih baik
dan dapat menghasilkan daya keluaran maksimum dibandingan dengan tanpa menggunakan MPPT. Boost
converter dapat digunakan dan mudah dikontrol dengan hasil yang memuaskan. Efisiensi alat yang mampu
dicapai adalah 99,4%.

UCAPAN TERIMAKASIH
Saya mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Prof. Dr. Ir.
Mochamad Ashari , M. Eng dan Prof. Dr. Ir. Mauridhi hery purnomo , M. Eng selaku dosen pembimbing dan
dosen pengajar matakuliah Rekayasa Energi Terbarukan sehingga penelitian ini bisa diselesaikan dengan
baik dan teman-teman seperjuangan di laboratorium konversi energi atas kesediaannya berdiskusi dan sering
informasi.

DAFTAR PUSTAKA
[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Solar_cell diakses pada tanggal 7 juni 2009
[2] Rashid, Muhammad H. 2001. “Power Electronics Handbook”. New York. Academic Press.
[3] Faranda, Roberto. Leva, Sonia. 2008. Energy comparison of MPPT techniques for PV Systems”. Italia.
[4] Y.Yusof ,S.H. Sayuti, M.A.Latif and M. Zamri, 2004,“Modelling and Simulation of Maximum Power
Point Tracker for Photovoltaic System”, Power energy Conference, PEC, pp. 88-93.
[5] http://ecen2060
[6] K.H.Husein, I.Muta, T.Hoshino and M.Osakada, 1995, “Maximum Photovoltaic Power Tracking: an
algorithm for rapidly changing atmospheric conditions”,IEEE Proceeding of Generation, Transmision,
Distribution, pp.59-64.
[7] A. Reatti, MK. Kazimierczuk, 2003, “Small Signal Model of PWM Converter for Discontinuous
Conduction Mode and its Application for Boost Converter”, IEEE Transaction on circuit and systems,
pp. 65-73.
[8] Salima. Kebaili ,Achour. Betka,” Efficiency Model Of DC/DC PWM Converter Photovoltaic
Applications” GCREEDER 2009, Amman-Jordan, March 31st – April 2nd 2009
[9] Mauridhy Hery P, Agus Kurniawan., 2006, Supervised Neural Network dan Aplikasinya, Graha
Ilmu,Surabaya, Indonesia
[10] Nikraz M., H. Dehbonei, C.V. Nayar, 2003," A DSP- Controlled PV System with MPPT", Australian
Power Engineering Conference, Christchurch, pp.1-6
[11] Ammasai Gounden N., Sabhita Ann Petter, Himaja Nallandula, S. Krithiga, 2009, "Fuzzy Logic
Controller with MPPT using Line Commutated Inverter for three-phase grid-connected photovoltaic
systems", Elsevier , Renewable Energy, Vol. 34, pp. 909–915
[12] Jain Sachin, Vivek Agarwal, "New Current Control based MPPT Technique for Single Stage Grid
Connected PV

7th BASIC SCIENCE NATIONAL SEMINAR PROCEEDING II-69


MALANG 20 FEBRAUARI 2010