Anda di halaman 1dari 5

PENERAPAN PENDEKATAN KOGNITIF SOSIAL DALAM KEBUDAYAAN SUKU BAJO

Tasdih Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah

ABSTRAK

Suku Bajo merupakan suku yang hidup bebas mengembara di lautan luas sehingga sering dikenal sebagai pengembara laut. Suku Bajo diidentifikasikan dengan berbagai julukan di antaranya sebagai manusia perahu. Suku Bajo banyak ditemukan di perairan selat Makassar, Teluk Bone, daerah Nusa Tenggara timur, Kepulauan Banggai, Teluk Tomini, dan peraian Laut Sulawesi. Suku Bajo memiliki budaya Bapongka yang merupakan sejumlah aturan-aturan atau pantangan yang harus ditaati oleh setiap nelayan, baik pada saat melaut atau pada tidak. Aturan atau pantangan yang dimaksud antara lain, tidak boleh membuang arang bekas memasak, abu dapur, ampas kopi, dan air cucian beras ke laut. Apabila aturan atau pantangan ini dilanggar maka hasil yang diperoleh akan berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Teori sosial kognitif adalah salah satu teori belajar yang menjelaskan pola-pola perilaku. Teori yang dikembangkan oleh Albert Bandura sejak tahun 1960an ini menitikberatkan pada bagaimana dan mengapa orang cenderung untuk meniru atau meneladani apa yang mereka lihat melalui media atau orang lain. Teori sosial kognitif merupakan pengembangan dari teori belajar sosial yang menyediakan kerangka kerja untuk memahami, memprediksi, dan merubah perilaku manusia.

Kata kunci: teori kognitif sosial, kebudayaan suku bajo

ABSTRACT

Bajo tribe is a free living tribe wandering in the vast ocean so often known as sea nomads. The Bajo tribe was identified with various nicknames among them as boat man. Bajo tribe is found in the waters of Makassar Strait, Bone Bay, East Nusa Tenggara area, Banggai Islands, Tomini Bay, and Sulawesi Sea ships. The Bajo tribe has a Bapongka culture which is a set of rules or taboos that every fisherman must adhere to, whether at sea or at no. Rules or restrictions in question, among others, should not remove the charcoal used cooking, ash kitchen, coffee grounds, and water washing rice into the sea. If these rules or taboos are violated then the results obtained will be reduced or even nonexistent. Cognitive social theory is one of the theories of learning that explains patterns of behavior. The theory developed by Albert Bandura since the 1960s focuses on how and why people tend to imitate or imitate what they see through the media or others. Cognitive social theory is the development of social learning theory that provides a framework for understanding, predicting, and changing human behavior.

Keywords: social cognitive theory, tribal culture of bajo

1. PENDAHULUAN Di Indonesia, terdapat beberapa suku bangsa yang masih menerapkan pola budaya maritim dalam setiap sendi kehidupannya. Salah satu suku bangsa yang sangat terkenal sebagai pendukung kebudayaan maritim yaitu Suku Bajo (Bajau). Suku Bajo merupakan suku yang hidup bebas mengembara di lautan luas sehingga sering dikenal sebagai pengembara laut (sea nomads). Pada beberapa literatur bahkan Suku Bajo diidentifikasikan dengan berbagai julukan di antaranya sebagai manusia perahu. Suku Bajo banyak ditemukan di perairan selat Makassar, Teluk Bone, daerah Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Banggai, Teluk Tomini, Maluku Utara dan peraian Laut Sulawesi. Suku Bajo memiliki budaya Bapongka yang merupakan sejumlah aturan-aturan atau pantangan yang harus ditaati oleh setiap nelayan, baik pada saat melaut atau pada saat tidak melaut. Aturan atau pantangan yang dimaksud antara lain, tidak boleh membuang arang bekas memasak, abu dapur, ampas kopi, dan air cucian beras ke laut. Apabila aturan atau pantangan ini dilanggar maka hasil yang diperoleh akan berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Teori kognitif sosial merupakan salah satu dari berbagai macam pendekatan yang digunakan untuk membantu kita memperoleh pemahaman mengenai perilaku manusia dengan tujuan untuk meningkatan taraf kualitas hidup demi tercapainya kepuasan. Pengetahuan mengenai perilaku individu-individu beserta faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tersebut hendaknya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan terapan atau praktik seperti psikoterapi dan program program bimbingan, latihan dan belajar yang efektif, juga melalui perubahan lingkungan psikologis sedemikian rupa agar individu-individu itu mampu mengembangkan segenap potensi yang dimiliki secara optimal. 2. DISKUSI A. Pendekatan Kognitif Sosial Teori sosial kognitif adalah salah satu teori belajar yang menjelaskan pola-pola perilaku. Teori yang dikembangkan oleh Albert Bandura sejak tahun 1960an ini menitikberatkan pada bagaimana dan mengapa orang cenderung untuk meniru atau meneladani apa yang mereka lihat melalui media atau orang lain. Teori sosial kognitif merupakan pengembangan dari teori belajar sosial yang menyediakan kerangka kerja untuk memahami, memprediksi, dan merubah perilaku manusia. Teori sosial kognitif menekankan pada kapasitas kita untuk belajar tanpa melalui pengalaman langsung. Teori sosial kognitif yang disebut juga dengan teori belajar observasional bergantung pada sejumlah hal termasuk kemampuan subyek untuk memahami dan mengingat apa yang ia lihat, melakukan identifikasi dengan cara memediasi karakter, dan keadaan atau situasi yang mempengaruhi peniruan perilaku. Sebagai salah satu teori belajar, teori sosial kognitif kerapkali digunakan untuk mempelajari media dan komunikasi massa, komunikasi kesehatan, dan komunikasi antar pribadi atau komunikasi interpersonal. Tujuan teori sosial kognitif adalah untuk menjelaskan bagaimana orang mengatur perilakunya melalui kontrol dan peneguhan atau penguatan untuk mencapai perilaku yang diarahkan pada tujuan yang dapat dipertahankan sepanjang waktu.

B. Kebudayaan Suku Bajo Suku Bajo, memiliki keyakinan penuh atas sebuah ungkapan, bahwa Tuhan telah memberikan bumi dengan segala isinya untuk manusia. Keyakinan tersebut tertuang dalam satu Falsafah hidup masyarakat Bajo yaitu, ‘Papu Manak Ita Lino Bake isi isina, kitanaja manusia mamikira bhatingga kolekna mangelolana‘, artinya Tuhan telah memberikan dunia ini dengan segala isinya, kita sebagai manusia yang memikirkan bagaimana cara memperoleh dan mempergunakannya. Sehingga laut dan hasilnya merupakan tempat meniti kehidupan dan mempertahankan diri sambil terus mewariskan budaya leluhur suku Bajo, dalam suku Bajo, laki-laki atau pria biasa dipanggil dengan sebutan Lilla dan perempuan dengan sebutan Dinda. Suku Bajo hidup dari melaut, tidak mengherankan masy arakat Suku Bajo identik dengan kemiskinan dan ketertinggalan. Pendidikan belum dipandang sebagai prioritas utama. Hal ini disebabkan oleh karena tradisi sebagai nelayan turun-temurun sangat kuat. Dalam suku ini, nelayan adalah pekerjaan satu-satunya. Itu membuat mereka cenderung tidak ingin keluar dari komunitas yang sudah terbangun sejak lama. Anak-anak Suku Bajo memang tidak didorong untuk bersekolah oleh orang tuanya, sehingga mereka sangat tertinggal. Dalam kehidupan suku Bajo ada beberapa hal yang merupakan pantangan-pantangan dalam kehidupan, terutama apabila sedang melaut yang mereka sebut Bapongka. Pantangan-pantangan tersebut bagi orang Bajo diyakini dapat mempengaruhi hasil tangkapan. Bapongka atau biasa juga disebut Babangi adalah kegiatan melaut selama beberapa minggu bahkan bulanan dengan menggunakan perahu besar berukuran kurang lebih 4 x 2 m yang disebut Leppa atau juga yang menyebutnya Sopek, karena mengikutsertakan keluarga (istri dan anak-anak) bahkan ada yang hingga melahirkan anak di atas perahu. Dalam kegiatan Bapongka ada hal-hal yang tidak dapat dilakukan antara lain tidak boleh membuang: (1) air cucian beras, (2) arang kayu bekas memasak, (3) ampas kopi, (4) air cabe, (5) air jahe, (6) kulit jeruk dan (7) abu dapur. Pada saat mencuci beras air cuciannya ditampung di dalam perahu. Air cucian beras tersebut akan dibuang setelah mendekati daratan. Demikian juga dengan arang kayu bekas memasak, abu dapur, kulit jeruk, air cabe dan air jahe. Suku Bajo tidak mudah percaya dengan pendatang baru, meskipun Suku bajo beragama Islam namun mereka masih hidup dalam dimensi leluhur. Budaya mantera-mantera, sesajen serta kepercayaan roh jahat masih mendominasi kehidupan mereka. Peran dukun masih dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit serta untuk menolak bala atau memberikan ilmu-ilmu. Orang Bajo sangat mempercayai mahkluk halus yang berada di lingkungan sekitarnya serta percaya pantangan dan larangan meminta kepada tetangga seperti minyak tanah, garam, air atau apapun setelah magrib. 3. IMPLIKASI Teori sosial kognitif menekankan bahwa proses pembelajaran melalui pengamatan bukanlah proses yang sederhana. Menurut Bandura, manusia adalah agen atau manajer bagi perilaku mereka sendiri. Berdasarkan gagasan inilah, Bandura kemudian mengidentifikasi beberapa konsep kritis pembelajaran. Berikut adalah beberapa konsep dalam teori sosial kognitif :

Agen manusia Agen manusia adalah konsep dimana para pelajar atau peserta didik membuat sebuah keputusan yang disengaja untuk berinvenstasi dalam belajar dan memberlakukan perubahan perilaku. Fitur inti dari agen adalah kekuatan untuk memulai tindakan untuk tujuan tertentu. Teori sosial kognitif mengidentifikasi tiga mode agen manusia yaitu pribadi atau personal, proksi, dan kolektif. Pengaturan diri Pengaturan diri mengacu pada pemikiran, perasaan, dan tindakan yang dihasilkan sendiri, yang direncanakan, dan disesuaikan secara berulang dengan pencapaian tujuan probadi. Menurut Bandura, pengaturan diri beroperasi melalui seperangkat subfungsi psikologis yaitu subfungsi pemantauan diri, subfungsi penghakiman, dan pengaruh reaktif diri sendiri. Keyakinan akan kemampuan diri Kemampuan diri memainkan peran sentral dalam proses pengaturan diri. Ini menyangkut kepercayan individu terhadap kemampuan mereka untuk berhasil mengendalikan tindakan atau kejadian dalam kehidupan mereka. Keyakinan ini didasarkan pada perasaan individu bahwa mereka memiliki kemampuan kognitif, motivasi, dan sumber daya yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Ada empat sumber informasi utama yang membuat kemampuan diri peserta didik yaitu pengalaman penguasaan enaktif, pengalaman gantian, persuasi sosial, keadaan fisiologis dan pernyataan psikologis.

4. KESIMPULAN Bapongka adalah kegiatan melaut selama bermingu bahkan berbulan dengan menggunakan perahu besar yang disebut leppa. Leppa ini dapat memuat satu keluarga dan kebutuhan hidup selama melaut. Tujuan melakukan Bapongka adalah untuk mencari nafkah di laut dengan mengikutsertakan anak dan isteri. Hasil dari Bapongka dianggap sebagai tabungan karena hasil yang diperoleh jauh lebih banyak dari hari-hari biasa. Umumnya Bapongka dilaksanakan pada saat menjelang bulan suci Ramadhan atau menjelang hari raya Idul Adha. Adanya masyarakat pendatang sebagai pedagang, penarik becak dan ojek motor menyebabkan sebagian masyarakat lokal Bajo turut menjadi pedagang, penarik becak dan ojek motor. Dengan demikian kegiatan melaut tidak lagi menjadi prioritas utama mata pencaharian masyarakat lokal.

REFERENSI

Amus, Sunarto. 2003. Orang Bajo: Problem Alamiah, Kultural, Ataukah Struktural, Palu:

Gagasan, Majalah Ilmiah Universitas Tadulako. Boeree, C.G. 2008. Personality Theories – Melacak Kepribadian Anda bersama Psikolog Dunia. Yogyakarta: Prismasophie.

Feist Jess, Feist Gregory J. 2008. Theories of Personality – Edisi keenam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. https://pakarkomunikasi.com/teori-sosial-kognitif diakses pada 27/6/2018

Kepribadian.

Olson.

Matthew

H.

&

Hergenhahn,

B.R.

2013.

Pengantar

Teori-teori

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.