Anda di halaman 1dari 23

A. Pengertian Aqidah:

Materi Akidah

Oleh: Imron Baehaqi

Secara bahasa (etomologi) Kata "‘Aqidah" diambil dari kata dasar "al-‘aqdu" yaitu ar- rabth (ikatan), al-Ibraamal-ihkam (pengesahan), (penguatan), at-tawatstsuq (menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah (pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk(pengokohan) dan al-itsbaatu (penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin (keyakinan) dan al-jazmu (penetapan).

"Al-‘Aqdu" (ikatan) lawan kata dari al-hallu (penguraian, pelepasan). Dan kata tersebut diambil dari kata kerja: " ‘Aqadahu" "Ya'qiduhu" (mengikatnya), " ‘Aqdan" (ikatan sumpah), dan " ‘Uqdatun Nikah" (ikatan menikah). Allah Ta'ala berfirman, "Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja

" (Al-Maa-idah : 89).

Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Bentuk jamak dari aqidah adalah aqa-id. (Lihat kamus bahasa: Lisaanul ‘Arab, al-Qaamuusul Muhiith dan al-Mu'jamul Wasiith: (bab: ‘Aqada).

Secara Istilah (Terminologi)

Definisi secara istilah. Imam Hasan al-Banna, akidah adalah perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.

Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang menyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya; yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut.

Menurut Abu Bakr Jabir al-Jazairy, akidah ialah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan dalam hati, diyakini kesahihan dan keberadaannya dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.

Aqidah Islamiyyah:

Maknanya adalah keimanan yang pasti teguh dengan Rububiyyah Allah Ta'ala, Uluhiyyah-Nya, para Rasul-Nya, hari Kiamat, takdir baik maupun buruk, semua yang terdapat dalam masalah yang ghaib, pokok-pokok agama dan apa yang sudah disepakati oleh Salafush Shalih dengan ketundukkan yang bulat kepada Allah Ta'ala baik dalam perintah-Nya, hukum-Nya maupun ketaatan kepada-Nya serta meneladani Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam.

Jika disebutkan secara mutlak, maka yang dimaksud adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, karena itulah pemahaman Islam yang telah diridhai oleh Allah sebagai agama bagi hamba-Nya. Aqidah Islamiyyh adalah aqidah tiga generasi pertama yang dimuliakan yaitu generasi sahabat, Tabi'in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Istilah-Istilah Akidah:

Istilah aqidah mempunyai nama atau istilah lain, di antaranya: ushuluddin, fiqih akbar, ilmu kalam, at-Tauhid, dan al-Iman.

1. Ushuluddin: Pokok-pokok agama. Aqidah, iman dan tauhid disebut juga Ushuluddin, Karena ajaran aqidah merupakan pokok-pokok ajaran agama islam.

2. Fiqih Akbar, artinya fiqih besar. Istilah ini muncul berdasarkan pemahaman bahwa tafaqquhfid-din yang diperintahkan Allah SWT. Dalam surat At-Taubah ayat 122, bukan hanya masalah fiqih, dan lebih utama masalah aqidah. Untuk membedakan fiqih dalam masalah hukum ditambah dalam kata akbar, sehingga menjadi fiqih akbar.

3. Ilmu Kalam. Kalam artinya berbicara atau pembicaraan. Dinamai dengan Ilmu Kalam karena adanya dialog dan perdebatan yang terjadi antara para pemikir masalah aqidah tentang beberapa hal. Misalnya tentang Al-Quran apakah khaliq atau makhluk, hadits atau qadim. Tentang takdir, apakah manusia punya hak untuk ikhtiar atau tidak.

4. At-Tauhid. Secara bahas, tauhid artinya mengesakan, menunggalkan. Yaitu menjadikan Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Esa yang wajib diyakini dan disembah. Tidak ada Tuhan selain Allah SWT.

5. Iman. Iman artinya pembenaran dan pengakuan. Yaitu pembenaran dan pengakuan terhadap Allah SWT, wujudNya, sifat-sifat-Nya, dan ta’abbud (ibadah ) hanya kepada-Nya.

B. Tauhid dan Syirik

Makna Tauhid

Tauhid secara bahasa merupakan mashdar (kata benda dari kata kerja, ed) dari kata wahhada. Jika dikatakan wahhada syai’a artinya menjadikan sesuatu itu satu. Sedangkan menurut syariat berarti mengesakan Allah dalam sesuatu yang merupakan kekhususan bagi-Nya berupa rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat ( Al-Qaulul Mufiiid Syarh Kitabi At-Tauhid I/7).

Kata tauhid sendiri merupakan kata yang terdapat dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Engkau akan mendatangi kaum ahli kitab, maka jadikanlah materi dakwah yang kamu sampaikan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah”. Demikan juga dalam perkataan sahabat Nabi, “Rasulullah bertahlil dengan tauhid”. Dalam ucapan beliau labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, ucapan talbiyah yang diucapkan ketika memulai ibadah haji. Dengan demikian kata tauhid adalah kata syar’i dan terdapat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Syarh Al-‘Aqidah Ath- Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh 63).

Pembagian Tauhid dalam Al Qur’an

Pembagian yang populer di kalangan ulama adalah pembagian tauhid menjadi tiga yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Pembagian ini terkumpul dalam firman Allah dalam Al Qur’an:

َ

ا ّ

ِ

َ

َ

ُ

ا م س ه ل م ل ع ت ل ه ه ت دا ب َ ع ل ر ب ط صا و ه ُ د ب عا ف ا م ه ن ي ب ا م و ض ر لْا و تا وا م سلا ب ر

ُ

َ

ُ

َ

أ

َ

أ

َ

َ

أ

ِ

َ

أ

أ

أ

َ

ُ

َ

أ

َ

َأ

أ

َ

َ

َ

َ

َ

َ

َّ

ُّ

ِ ِ

ِ ِ

ِ

ِ

“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam: 65).

Perhatikan ayat di atas:

(1). Dalam firman-Nya (ضِ

merupakan penetapan tauhid rububiyah.

َ أ

ر لْا و تِ ا وا مسَّ لا

أ

َ

َ

َ

ب ُّ ر) (Rabb (yang menguasai) langit dan bumi)

َ

َ

(2). Dalam firman-Nya (هِ ِتدَ اَبعِ لِ ر طصأ

أ ِ ب

َ

ا و َ ُهدأُبعأ ا ف) (maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah

dalam beribadah kepada-Nya) merupakan penetapan tauhid uluhiyah.

(3). Dan dalam firman-Nya (اّيمِ سَ

sama dengan Dia?) merupakan penetapan tauhid asma’ wa shifat.

ُه ل م لعأ َت لأ هَ ) (Apakah kamu mengetahui ada seorang yang

َ

ُ

َ

Jadi, penjelasan ringkas tentang tiga jenis tauhid tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tauhid rububiyah. Maknanya adalah mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kepemilikan, dan pengurusan. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah:

ني م لا ع لا ب ر هللا ك را َ ت ر م لْ ا ْ و ق ل خ لا ه ل لا أ َ

َ

ِ

َ

َ

ْ

ُّ

َ

ُ

َ

َ

َ

ب

َ

ُ أ

َ

ُ

ْ

َ

ْ

ُ

َ

َ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah” (Al- A’raf: 54).

2. Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Disebut tauhid uluhiyah karena penisbatanya kepada Allah dan disebut tauhid ibadah karena penisbatannya kepada makhluk (hamba). Adapun maksudnya ialah pengesaan Allah dalam ibadah, yakni bahwasanya hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi. Allah Ta’ala berfirman:

ُ

ل طا َ لا ه نو د ن م نو ع د َ م ن و ق ح لا و ه هللا ن ب ك ل ذ

ْ

ب

ُ

َ

ُ

أ

يا

َ

َّ

َ

أ

ُّ

َ

ْ

َ

ُ

َ

أ

َ

َ

َ

َّ

ِ

َ

ِ

ِ

ِ

ِ

ِ

”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah batil” (Luqman: 30).

3. Tauhid asma’ wa shifat. Maksudnya adalah pengesaan Allah SWT dengan nama- nama dan sifat-sifat yang menjadi milik-Nya. Tauhid ini mencakup dua hal yaitu penetapan dan penafian. Artinya kita harus menetapkan seluruh nama dan sifat bagi Allah sebgaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Dalam menetapkan sifat bagi Allah tidak boleh melakukan ta’thil, tahrif, tamtsil, maupun takyif. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

َ

ري ص بلا عي م سلا و ه و ٌ ي ش ه ث ك س ل

ِ

َّ

َ

ُ

َ

َ

َ

ُ

ِ

َ

ُ

ء

أ

ل م

ِ ِ

ِ

أ

َ

أ

ي

”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura: 11) (Lihat Al-Qaulul Mufiiid I/7-

10).

Sebagian ulama membagi tauhid menjadi dua saja yaitu tauhid dalam ma’rifat wal itsbat (pengenalan dan penetapan) dan tauhid fii thalab wal qasd (tauhid dalam tujuan ibadah). Jika dengan pembagian seperti ini maka tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa shifat termasuk golongan yang pertama sedangkan tauhid uluhiyah adalah golongan yang kedua (Lihat Fathul Majid 18).

Dosa Syirik

A. Definisi Syirik

Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah SWT dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah serta Asma dan Sifat-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Syirik ada dua macam; pertama syirik dalam Rububiyyah, yaitu menjadikan sekutu selain Allah yang mengatur alam semesta, sebagaimana firman-Nya:

ف

ِ

ي

َ

َّ

لَ و تا وا م سلا ي ف ة ذ لا ث

َ

ِ

َ

َ

َّ

ِ

ر

ٍ

َ

َ

ري

َّ

َ

ق م نو ك ل م ي لَ ۖ ه للا نو د ن م م ت م ع ز ني ذ لا او ع دا ل

ِ

َ

ِ

أ

ُ

َ

أ

ُ

ِ

َ

ِ

أ

ِ

أ

أ

َ

َ

َ

ِ

ُ

ه

َ

ل ا و ض لْا

ِ

َأ

َ

م

َ

أ

ر

ِ

َ أ

ُ

َ

ُ

ُ

َّ

ُ

أ

ُ

ق

ظ ن م م

ه

ِ

أ

ِ

أ

ه م ه ل ا و ك ش ن م ا م هي ف م

ن

ِ

َ

َ

م

ٍ

أ

ر

ِ

أ

ِ

َ

ِ

ِ

أ

“Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai ilah) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’” [Saba’: 22]

Kedua, syirik dalam Uluhiyyah, yaitu beribadah (berdo’a) kepada selain Allah, baik dalam bentuk do’a ibadah maupun do’a masalah.”

Umumnya yang dilakukan manusia adalah menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah adalah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah di samping berdo’a kepada Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdo’a, dan sebagainya kepada selain-Nya.

B. Ancaman Bagi Orang Yang Berbuat Syirik

1. Allah SWT tidak akan mengampuni orang yang berbuat syirik kepada-Nya, jika ia mati dalam kemusyrikannya dan tidak bertaubat kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

َ َ

د ق

ِ

ف ه للا ب ك ر ش ي ن م و ۚ ءا ُ ش ي َ ن م ل ك ل َٰ ذ نو د ا م ر ف غ ي و ه ب ك ر ش ي ن أ ر ف غ ي لَ ه للا ن إ

ِ

ِ

َّ

أ

ِ

أ

ُ

أ

َ

َ

َ

أ

ُ

َ

ِ

َ

ِ

َ

َ

َ

ُ

ِ

أ َ َ

َ

َ

أ

ُ

أ

َ

ُ

ِ

أ َ

َ

أ

َ

َّ

َّ

أ

ِ

ِ

ِ

ا مّ ظ ع ا م إ ى ت

ِ

َ

ث

َٰ

َ

ر فا

َ

ِ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah (berbuat syirik), maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An-Nisaa’: 48]

2.

Diharamkannya Surga bagi orang musyrik. Allah SWT berfirman:

را ص أ ن م ن ي م لا ظل ل ا م و ۖ را نلا

ِ ِ

أ

َ

َ

ن

أ

َّ

َ

َ

َ

ُ

َّ

ِ

ِ

ها ُ و أ م و ة ن ج لا ه ّ ل ع ه للا م ر ح د ق ف ه للا ب ك ر ش ي ن م ه ن إ

ِ

َ

ْ

َ

َّ

َ

ْ

َ

ِ

أ

َ

ُ

َّ

َ

َّ

َ

أ

َ

َ

ِ

َّ

َ

َ

أ

ِ

أ

ُ

أ

َ

ُ

َّ

ِ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan Surga kepadanya, dan tempatnya adalah Neraka, tidaklah ada bagi orang- orang zha-lim itu seorang penolong pun.” [Al-Maa-idah: 72]

3. Syirik menghapuskan pahala seluruh amal kebaikan. Allah SWT berfirman:

َ

ُ

ل

نا ُ

َ

نو م َ

ع

كا م م ن

َ

أ

ه ع ط ح ل او ر

َ

ب

ِ

َ

َ

َ

أ

ك ش و و

َ

أ ي َ او

ُ

أ َ

َ

ُ

أ

َ

أ

ل

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’aam: 88]

Firman Allah SWT:

َ

ُ

ن م ن نو ك َ و ك م ع ن ط ح ل ت ر

َ

ِ

ت

َ

َ

ل َ

َ

َ

َ

ب

َ

َ

َّ

َ

ُ

َ

ل

ُ

َّ

أ ّ َ

ك َ ش أ ن ل ك ب

أ

أ

َ

ئ

ِ

َ

أ

َ

ْ

َ

ل ق ن م ني ذ لا ى و ك ل

ِ

أ

ِ

َّ

َ

َ

ل

إ

ِ

َ

َ

ّ إ ي حو أ د

أ

ِ

َ

ِ

أ

َ

ر

َ

ق و

َ َ

َ ل

ِ

ْ

ني ِ سا خ لا

ِ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-nabi) sebelummu:

‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” [Az-Zumar: 65]

Dua ayat ini menjelaskan barangsiapa yang mati dalam keadaan musyrik, maka seluruh amal kebaikan yang pernah dilaku-kannya akan dihapus oleh Allah, seperti shalat, puasa, shadaqah, silaturahim, menolong fakir miskin, dan lainnya.

4. Orang musyrik itu halal darah dan hartanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

د ص ر م ل ك م ه ل او د ع قا و م هو ر ص حا و م هو ذ خ و م هو م ت د ج و ث ّ ح ني ك ر ش م لا او ل ت قا ف

ٍ

َ

أ َ

َّ

أ

ُ

ُ

َ

أ

ُ

ُ

أ

َ

أ

َ

أ

ُ

َ

َ

أ

َ

َ

ِ ِ

ُ

ُ

َ

ُ

أ

ُ

ُ

ُ

ُ

ُ

ُ أ

ُ

أ

ْ

ُ

ُ

أ

َ

dan

tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian…” [At- Taubah: 5]

“…Maka

bunuhlah

orang-orang

musyrik di

mana saja

kamu jumpai

mereka,

C. Macam-macam Syirik. Syirik ada dua jenis: Syirik Besar dan Syirik Kecil.

1. Syirik Besar

Syirik besar adalah memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah atau mendekatkan diri kepadanya dengan penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah, baik untuk kuburan, jin atau syaithan, dan lainnya. Atau seseorang takut kepada orang mati (mayit) yang (dia menurut perkiraannya) akan membahayakan dirinya, atau mengharapkan sesuatu kepada selain Allah, yang tidak kuasa memberikan manfaat maupun mudharat, atau seseorang yang meminta sesuatu kepada selain Allah, di mana tidak ada manusia pun yang mampu memberikannya selain Allah, seperti memenuhi hajat, menghilangkan kesulitan dan selain itu dari berbagai macam

bentuk ibadah yang tidak boleh dilakukan melainkan ditujukan kepada Allah saja.[9] Allah Ta’ala berfirman:

أ

د م ح لا ن أ م ها و ع د ر خآ و ۚ م لَ س ا هي ف م ت َّ ح و م للا ك َ ح س ا هي ف م ها و ع د

ُ

أ

َ

ْ

ِ

َ

أ

ُ

َ

أ

َ

َّ

ُ

َّ

ه

ُ

ِ

َ

ٌ

َ

َ

َ

ُ

ُ

َ

ت

َ

َ

نا

َ

أ

ب

ُ

َ

َ

أ

ُ

ِّ

َ

أ

َ

َّ

ه ي

ِ

ِ

ِ

ْ

ني م لا ع لا ب ر ه ل

َ

ِ

َ

َ

ِ

ل

ِ

“Do’a mereka di dalamnya adalah, ‘Subhanakallahumma,’ dan salam penghormatan mereka adalah: ‘Salaamun.’ Dan penutup do’a mereka adalah: ‘Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamin.’” [Yunus: 10]

Syirik besar dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam Neraka, jika ia meninggal dunia dalam keadaan syirik dan belum bertaubat daripadanya.

Syirik besar ada banyak jumlahnya, saja, yaitu:

sedangkan di sini akan disebutkan empat macamnya

1. Syirik do’a, yaitu di samping ia berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia juga

berdo’a kepada selain-Nya. Allah SWT berfirman:

ُ

َ

َ َ

ْ ُ ْ

نو ر

ك ش ُ م ه ا َ إ ر ب لا ى ل إ م ها ج ن ا م ل ف ني دلا ه ل ني ص ل خ م ه للا ا و ع د ك ل ف لا ي ف او ب ك َ

ِ

أ

ي

أ

ذ ِ

ِّ َ

َ

ِ

أ

َّ

َ

َّ

َ

َ

َ

ِ

ِ

ُ

َ

ُ

َ

َ

ِ

ِ

ُ

ر ا

ِ

ُ

ْ

ُ

ِّ

ُ

أ

َّ

َ

ذ ِ

إ

َ

ف

“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba- tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” [Al-‘Ankabuut: 65]

2. Syirik niat, keinginan dan tujuan, yaitu ia menujukan suatu bentuk ibadah untuk selain

Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ك ئ َٰ لو ُ نو س خ ي لَ ا هي ف م ه و ا هي ف م لا ع أ م ي إ ف و ن ا ت ز

َّ

ِ

َ

أ

َ

ُ

ُ

َ

أ ُ

ب

َ

أ

ُ

َ

أ

ُ

َ

ه

َ

م

أ

َ

أ

ِ

أ

ِ

ِّ

َ

ه ل

َ

ُ

أ ُّ

ُ

دلا ةا ّ ح لا دي ر ي نا ك ن م

َ

َ

َ

ْ

َ

ِ

ُ

نا

َ

َ

ِ

َ

ِ

ه ني و ا ن

َ

َ

َ

َ

ّ

َ

ِ

ُ

َ

َ

أ

َ

نو م ي او كا م ل طا و ا هي ف او ن

َ

ل

َ

أ َ

ع

َ

ٌ

ِ

َ َ

ب

َ

ِ

ع ص ا م ط ح و ۖ را نلا لَ إ ة خ لْا ي ف م ل س ل ني ذ لا َّ

ُ

َ

َ

َ

َ

ب

ِ

َ

َ

ُ

َّ

ِ

َ

ر

ِ

ِ

أ

ِ

أ

ُ

َ

ه

َ

أ

َ

ي

َ

ِ

Artinya: Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Huud: 15-16]

3. Syirik ketaatan, yaitu mentaati selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah SWT berfirman:

او د ع ل

ِ

ُ

ب ُ أ

َ

ّ

َّ

لَ ِ

ُ

إ او م أ ا و م ر

ُ

ر

ِ

َ

م

َ

َ َ أ َ

ي

م ن با حي س م و ه للا نو د ن م ا با َ أ م نا َ ه و م ه را ب َ ح أ او ذ خ تا

َ

أ

َ

ِ

َ

لا

َ

ِ

ِ

ُ

أ

ِ

أ

ب ر

أ

ُ

َ

ه

ُ

َ

نو ر

ك ش ي ُ ا م ع ه نا ح س ۚ و ه

َّ

َ

َ

َ

أ

ب

ُ

َ

أ

ُ

ُ

ِ

أ

ُ َ

أ

ُ

َ

أ

َ

ب ر

َّ

لَ ِ

إ ه َٰ إ لَ ۖا د حا و ا ه َٰ إ

ِ

َ

َ

ل

َ

َ

َ

ل

ِ

ِ

ْ

َّ

َ

َ

ُ

َّ

Artinya: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan rabb) al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Allah Yang Maha Esa; tidak ada ilah

(yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” [At-Taubah: 31]

4. Syirik mahabbah (kecintaan), yaitu menyamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan

selain-Nya dalam hal kecintaan. Allah SWT berfirman:

د ش أ او مآ ني ذ و ۖ

َّ

َ

ه

ل

ُّ

َ

َ

للا َّ

ُ

َّ

ن

َ

أ

َ

ِ

لا َّ

َ

ه للا ب ِّ ح ك م أ نو ُّ ح ي ا دا د أ ه للا نو د ن م ذ خ ي ن م َ سا نلا

َّ

ِ

ِ

ِ

ل

َّ

ُ

َ

َ أ

ن

ن ر

َ

و ي

َ

أ

َ

أ

ِ

َّ

َ

ُ

َ

َّ

ن

َ

أ

ُ

َ

ه

ُ

أ

و

أ

ني ذ لا ى ي و و ۗ ه ل ا ح

ُ

ِ

ِ

َّ

َّ َ

ت

أ

َ

َ

ر

َّ

ِ

ب

َ

ِ

ْ

َ

َ

ن م

ِ

ِ

ًّ

ب

ُ

ه ل

ِ

ة

َ و َّ

ُ ْ

لا

ق

ِ

َ

َ

َ

ِ

با ذ ع لا

َ

َ

ذ إ او م ظ

ُ

ل

َ

ل

ِ

َ

ن و ا عّ م ج

َ

ِ

َ

َ

ْ

با ذ ع لا دي د ش

َ

ِ

ُ

َ

ِ

Artinya: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang- orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Dan seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal).” [Al-Baqarah: 165]

2. Syirik Kecil. Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan wasilah (jalan, perantara) kepada syirik besar. Syirik kecil ada dua macam: Syirik zhahir (nyata), yaitu syirik kecil dalam bentuk ucapan dan perbuatan.

Dalam bentuk ucapan misalnya, bersumpah dengan selain Nama Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

ك ش و ر ك د ف هللا ر ي غ ب ف ل ح ن م

َ

َ

ر

أ

َ

َ

ف

َ

ق

ِ

أ

َ

َ

َ

أ

َ

أ

َ

أ

َ

أ

َ

أ

َ

َ

ِ ِ

“Barangsiapa bersumpah dengan selain Nama Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik.” [12]

Syirik dan kufur yang dimaksud di sini adalah syirik dan kufur kecil.

Qutailah binti Shaifi al-Juhaniyah Radhiyallahu anhuma menuturkan bahwa ada seorang Yahudi yang datang kepada Nabi SAW, dan berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian melakukan perbuatan syirik. Engkau mengucapkan: ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu,’ dan mengucapkan: ‘Demi Ka’bah.’” Maka Nabi SAW memerintahkan para Sahabat apabila hendak bersumpah agar mengucapkan:

ْ

َ

ت

أ

ئ

ش م ث هللا َ

ِ

َّ

ُ

ُ

شا م :ا و و ي

ءا

َ

أ

أ

َ

ُ

ل

َ َ

ب

ق َ ن و ، ة َ ع ك لا ب و

ُ

أ

َ

أ

َ

أ

َ

ِّ

ر

ِ

“Demi Allah, Pemilik Ka’bah,” dan mengucapkan: “Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu.’”

Adapun contoh syirik dalam perbuatan, seperti memakai gelang, benang, dan sejenisnya sebagai pengusir atau penangkal marabahaya. Seperti menggantungkan jimat (tamimah) karena takut dari ‘ain (mata jahat) atau lainnya. Jika seseorang meyakini bahwa kalung, benang atau jimat itu sebagai penyerta untuk menolak marabahaya dan menghilangkannya, maka perbuatan ini adalah syirik ashghar, karena Allah tidak menjadikan sebab-sebab (hilangnya marabahaya) dengan hal-hal tersebut. Adapun jika ia

berkeyakinan bahwa dengan memakai gelang, kalung atau yang lainnya dapat menolak atau mengusir marabahaya, maka per-buatan ini adalah syirik akbar (syirik besar), karena ia menggantungkan diri kepada selain Allah.

Syirik khafi (tersembunyi), yaitu syirik dalam hal keinginan dan niat, seperti riya’ (ingin dipuji orang) dan sum’ah (ingin didengar orang), dan lainnya. Seperti melakukan suatu amal tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi ia ingin mendapatkan pujian manusia, misalnya dengan memperindah shalatnya (karena dilihat orang) atau bershadaqah agar dipuji dan memperindah suaranya dalam membaca (Al-Qur-an) agar didengar orang lain, sehingga mereka menyanjung atau memujinya.

Suatu amal apabila tercampur dengan riya’, maka amal tersebut tertolak, karena itu Allah memperintahkan kita untuk berlaku ikhlas. Allah SWT berfirman:

ه ب ر ءا ق ل و ج ر ي نا ك ن م ف ۖ د حا و ه ٌ َٰ ل إ م ك ه َٰ ل إ ا م ن أ ي ل إ ى حو ي م ك ل ث م ر ش ب ا ن َ أ ا م ن إ ل ق

ِ

ْ ف َ

أ

َ

َ

ٌ

ِ

ُ

َ

َّ

َ

أ

ُ

ُ أ

ِ

َ

ِّ َ

َ

َ

ِ

ُ

َ

َ

َ

ِ

أ

َ

ُ

َ

ِ

َّ

َ

ِ

ُ

َ

َّ

ِ

أ

ُ

أ

َ

َ

َٰ

َ

ٌ

َ

َ

ا

ا

د ح أ ه ر ة دا َ ع ب ك ر ش ي لَ و ا ح لا ص لَ م ع ل م ع ّ ل

َ

ِّ َ

ِ

ب

ِ

َ

ب

ِ

أ

أ

ُ

َ

َ

ِ

َ

َ

َ

أ

َ

أ َ

ِ

ِ

Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia sepertimu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Allah Yang Esa.’’ Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb- nya.” [Al-Kahfi: 110]

Implementasi Tauhid dan Tantangannya

Di era modern ini umat Islam, khususnya di Indonesia dihadapkan kepada permasalahan

yang kompleks, di antaranya upaya-upaya yang mengarah kepada kerusakan dan pendangkalan nilai-nilai akidah Islam. Dalam menerapkan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan pribadi Muslim ditemukan pelbagai tantangan dan godaan. Misalnya, KKN, emansipasi, globalisasi, upaya-upaya pendangkalan akidah, pengaruh budaya barat, paham pluralisme, sekularisme dan liberalisme.

Di samping itu, kita juga dihadapkan kepada tantangan seperti munculnya aliran-aliran

baru dalam agama Islam. Al-Qiyadah Al-Islamiyah misalnya, aliran yang paling getol sedang dibicarakan. Setelah sebelumnya Al-Qur’an Suci, Ahmadiyah dan Kerajaan Tuhan

(Lia Eden), Aliran Hidup Di balik Hidup dan lainnya ditetapkan sebagai aliran-aliran sesat di Indonesia. Demikian pula dengan Al-Qiyadah Al-Islamiyah pimpinan Ahmad Mushoddeq tampaknya akan bernasib sama. Mushoddeq mengaku dirinya sebagai Nabi terakhir setelah Nabi Muhammad, serta dalam ajarannya membolehkan tidak sholat, zakat, haji dan sebagainya dalam rukun Islam. Yang lebih menarik bila kita cermati dalam kasus

ini adalah banyak dari penganut ajaran atau aliran baru tersebut yakni kaum muda.

Langkah-langkah Memperkuat Akidah. Bertauhid:

Atau Upaya Membentuk Pribadi yang

1. Mentadaburi Al-Qur’an, Hadits, dan Ijtihad, dengan mentadaburi al-qur’an kita semakin faham tentang makna tauhid kepada Alloh.

2.

Memaknai kehidupan yang ada disekitar kita.

3. Mempelajari ilmu syari’at sekaligus mengamlkannya sesuai dengan Alqur’an dan

Sunnah

4. Bertauladan,

spiritual mereka.

bercermin

kepada

orang-orang

soleh

serta

menimba

pengalaman

5. Melakukan mujahadah untuk mendirikan dominasi iradah kebaikan terhadap iradah

keburukan atau menjauhi karakter buruk mejadi akhlak mulia, dan menumbuhkan rasa pengawasan (muraqabah) Allah dalam diri kita, ntuk meningkat tauhid imani ini kepada tauhid yaqini.

6. Berdzikir kepada Allah SWT senantiasa, sehingga istiqamah dalam taqwa Allah dan

mendapat musyahadah kepada-NYA, demi mencapai tauhid yang murni.

Ciri-ciri pribadi yang bertauhid:

1. Berpegang teguh kepada tali agama Allah, yaitu menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber pedoman hidup, baik akidah, ibadah dan mua’amalahnya. Melaksanakan setiap perintah-Nya dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.

2. Ikhlas, yaitu melakukan sesuatu hanya bertujuan untuk mencari keridhaan Allah semata, tidak bertujuan selain hanya kepada Allah SWT.

3. Tidak iri dan dengki, maksudnya orang yang bertauhid tidak akan mendengki terhadap orang lain yang memperoleh nikmat dari Allah, karena dia mengetahui Allah Maha Bijaksana dan Adil dalam membagikan rezki, Allah Maha Menentukan setiap takdir dan kejadian, sehingga tidak perlu merasa iri atau dengki kepada orang yang telah ditakdirkan memperoleh nikmat-Nya.

4. Tidak banyak mengeluh, orang yang bertauhid tidak akan suka mengeluh, karena mengetahui setiap peristiwa dan episode hidup adalah atas izin Allah Swt. Jika dia mendapat masalah, dia akan segera mengoreksi diri dan mengevaluasi tauhidnya, apakah selama ini ada yang kurang tepat, sehingga tanpa disadari telah bermaksiat terhadap Allah. Setelah itu dia memperbaiki

5. Aktif dalam memakmurkan bumi. Karena fungsi diciptakannya manusia di muka bumi ini adalah menjadi “khalifatul ardi,” yakni pemimpin yang memamurkan bumi. Komitmennya, sungguh-sungguh dalam pergerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar. Sungguh-sungguh mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang adil, aman, damai dan ramah terhadap lingkungan.

Nama dan Sifat Allah

Asmaa’ adalah bentuk jamak dari kata ‘ism’ yang berarti nama dari dzat yang memiliki nama dan sifat.

Nama-nama Allah adalah nama-nama yang paling mulia, yang Allah menamai Diri- Nya dengan nama-nama tersebut atau nama yang ditetapkan oleh Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jumlah nama-nama Allah tidak dapat diketahui batasannya. Sementara anggapan sebagian orang, nama-nama ada 99 nama, padahal masih ada nama-nama lain yang tidak disebutkan selain 99 nama tersebut. Seperti al-Hannan, al-Mannan, al- Mughitsh, dll.

As-Shifaat, jamak dari kata shifah, yang berarti sifat. Allah SWT memiliki nama dan sifat-sifat yang menunjukkan ke-Mahasempurnaan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an atau pun hadits Nabi SAW.

Metode iman kepada nama dan sifat Allah ini ada dua, yaitu itsbat dan nafyu. Istbath artinya, mengimani bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat yang menunjukkan ke-mahasempurnaan-Nya, misalnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat dll.

Sedangkan Nafyu maksudnya menafikan atau menolak segala nama dan sifat yang menunjukkan ketidaksempurnaanNya, misalnya menafikan adanya makhluk yang menyerupai Allah SWT, menafikan keyakinan adanya anak dan orangtua dari Allah SWT.

Nama dan Sifat Allah Tidak Terbatas:

Rasulullah SAW bersabda:

ِ

َ

ت

ْ

ْ

ب

ي ِ

ل

َ

ْ

ك

َ

َ

ي َّ ف ٌ د ع ، ك

ُ

ه

،

ق ع َ ْ

ْ

َ

ْ

َ

َ

َ

ُ

م

ح ي َّ ف ضا م ، ك د َ ب ْ

ت

ْ

ِ

ُ

ْ

َ

َ

َ

ْ

َ

َ

ِ

َ

ي

ِ

َ

ي ْ َ ِ

ي

ِ

ِ

ِ

ر نآ ْ ق

َ

ر

ُ ْ

ب

ِ

ي

َ

ِ

َ

َ

َ

ْ

َ

َ

َ ْ

ن

ِ

ِ

ِ

ِ

ْ

ي

َ ْ

َ

ْ

ِ

م

َ

ُ

ت َ صا ن ، ك م أ ن باِ، ك د ع ن باِ، ك د ْ ع ي إ م لل ا َ

ٍ

ت ز أ و أ ، ك س ف ن ه ب ت ي م س ، ك ل و ه م سا ل ك ب ك ل أ س أ ، ك ؤا ض ق

َ

َ

ْ

ق خ ن م ا د ح أ

َ

َّ

ْ

ل

ت َ

ِ

َ

ِ

ْ

ِ

َ

ِ

ِ

َ

َ

ُ

َ

ِ

ٍ

َ ْ

ْ

ر

ْ

ْ

ُ

ِّ

ُ

ِ

َ

ء

ِ

َ

ُ

ْ

َ

ب ْ َ

ُ

ْ

ِّ

ن ِ

َّ

ُ

َّ

َ

َ

َ

ب َ

َ

ُ

ْ

َ

ْ

َ

ُ

ه

َ

َ

ْ

َ

ْ

ً

َ

ِ

ي ر ِ د ص ر َ و ْ و

ْ

ْ

ُ

ن

َ

َ

ُ

ْ

م ع و أ ، ك با َ ك ي ف ه ل ن

َّ

ل

ْ َ

ل

لا ل ع ج ت ن أ ، ك د ع ب غ لا م ع ي ف ه ب ت ث ت

ْ

َ

أ َ سا و أ ، ك ل

ِ

ح َ لا ج َ و َ ،

. ي ه با ه ذ و ،

ْ

ِّ

َ

َ

َ

ن

ي ِ

ز

ْ

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubunku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, ketentuan-Mu kepadaku pasti adil. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu. Mohon jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka, dan penghilang kesedihanku. “ (HR. Ahmad, 1:391 dan 1:452, dari ‘Abdullah)

Dari hadits tersebut di atas menunjukkan, bahwa nama sifat Allah tidak terbatas jumlah, karena hanya Allah yang mengetahuinya dalam ilmu gaib di sisi-Nya. Adapun hadits Nabi SAW yang menyebutkan 99 nama Allah yang dikenal dengan asmaul khusna tidaklah berarti pembatasan. Hadits tersebut berbunyi sebagai berikut:

َ

ة َّ جلا ل خ د ا ها ص ح أ ن م ، ا د حا و َّ إ ة َ م ، ا م سا ن ع س و ة ع س ت ه لل

أ

َ

أ

َ

َ

لا ِ

ئا ِ

َ

أ

ي ِ

أ

ت

ِ

َ

ا

َ

أ

ِ

ِ

ن

َ

َ

َ

ا

َ

َ

َ

أ

ِ

َّ

إ

ن ِ

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama–seratus kurang satuyang apabila seseorang menghitungnya niscaya dia masuk Surga.” (HR. Bukhari, no. 7392 dan Muslim, no. 2677)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini bukanlah dalil pembatasan jumlah Nama Allah Ta’ala sebagaimana disepakati oleh para ulama. Hadits ini tidak menunjukkan bahwa Allah tidak memiliki nama selain nama yang jumlahnya sembilan puluh sembilan. Sesungguhnya maksud dari hadits adalah barangsiapa menjaga,menghafal dan menghitung sembilan puluh sembilan nama tadi, niscaya dia akan masuk surga.

Kata “menghitung, ” dan “menghafal,” dalam hadits tentang nama dan sifat Allah ini tidak diartikan secara sempit dengan sekdear menghafal dan menyebutnya dengan lisan, tapi lebih dari itu adalah mengandung makna memahmi, mengimani dan mengamalkannya dalam kehidupan. Misalnya, Allah Maha Mengetahui, maksudnya adalah seseorang sadar bahwa segala ilmu yang diperolehnya belum ada artinya jika dibandingkan dengan ilmu Allah SWT.

Keutamaan Asmaul Khusna

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk berdoa dengan menyebut asmaul husna. Apabila diperintahkan menyebutkannya saat berdoa menunjukkan asmaul khusna tersebut memiliki keutamaan. Maka itu di antara keutamaannya adalah syarat dikabulkannya doa.

ُ

َأ

ا

َ

ْ

ع دا ف ى س ح لا ُ م س لْا ه لل

ُ

أ

َ

ه ب هو

َ

ن

أ

ُ

ءا

َ

أ

ِ

َّ

َ

و

ِ

Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu…” (QS. Al-A’raf: 180)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan dalam Tafsir Al Munir, seorang hamba mesti berdoa kepada Allah dengan nama-namaNya dan tidak boleh menyeru Allah kecuali dengan nama-namaNya yang baik.

ف

َ

ل

ي

ِ

ُ

م َّ

ا

ْ

ه ل

ِ

ه

َ

ي ع

َ َ

ِ

َ

َّ

َّ

َ

ذ ا ي َ ،

َ

َ

م س و ه ل

ِ

ْ

َ

َ

َ َ

َ

ي ع ه للا ى ص ه للا لو س ر ع م ا س لا ج ت ك : لا ق ، ه ع ه للا ي ض ر س ن

ُ

َّ

َّ

ل

ُ

َ

ِ

َّ

ُ

ُ

ْ

ُ

ُ

َّ

َ

أ ن ْ ع َ

َ

َ

َ

َ

َ

ً

ِ

َ

َ

ْ

َ

َ

ن

َ

ك

َّ

َ

َ

َ

ُ

ْ َ

ن

َ

َ

ِ

ٌ

ل

َّ

َ

أ

َ َ

ر

ُ

ِ

ٍ

ف ا ع َ د َ م َّ ث ، د

ق

َ

ه

َ

َ

َ

َ

ِ

َّ

للا

ه

ِ

َ

لو س ر

ُ

ُ

َّ

َ

َ

ت

َ

ُ

ش و س ج د ج س و ع ر ا م ل ف ي ل ص ي

َّ

َ َ

ج و ، ة ق ح لا

إ

ِ

لَ ج لا

َ

ف ؟ ا ع د ا م ب نو ر د أ : م س و

ِّ

َ

َ

م ئا ِ ق

ٌ

ْ

ِ

َ َ

ل

َ

َ

ِّ

ل س أ ي ن

ْ

ُ

َ

ْ

ْ

د

ق

للا " : لا

َ

َ

ض

ر

ِ

َّ

َ

ل

ِ

ي

َ

َْ

لْا و تا وا م سلا َّ عي د ب َ ا َ نا َّ م لا ،

َ

ُ

ل

َ

ْ

ْ

ُ

ه للا ى ص

َ

َ

ِ

ي

ن

َ

ت أ لَ إ ه إ لَ د م ح لا ك ل ن ب ك أ

َ

ن

َ

َ

ل

َ

َ

ْ

َ

َ

َ

َ

ِ

ِ

ِ

ْ

َ

َ

لا

َ ف َ ،

ق

َ

ك أ

َ

ُ

ْ

ُ

ل س أ ي إ ،

َ

ِّ

ن ِ

َّ

مو ُّ ق ا ي َ

ُ

ُ

َ

ي

م ع أ ه لو س و ه للا : او لا ق

ُ

َ

ل

ْ

ُ

ُ

َ َ

ر

ُ

َ َ

ي ُّ ح ا ي َ ،

َ

َ

َ

َ

ِ

ما ك لْا و

ِ

َ

ر

ِ

َ

ْ

ْ

َ

ُ

ْ

َ

َ

ت

ل

ِ

َ

َ

َّ

ل

َ

َ

ل ه د َ ب ي س

ِ

ِ

ن ي ذ َّ و : لا ق ،

ْ َ

ف

ِ

لا

َ

َ

" ى

َ

ط ع أ ه ب

ِ

َ

ْ

ِ

َ

ئ س ا ذ و ، با ج أ ه ب ي ع د ا ذ إ ي ذ لا َّ مي ظ ع لا ه م سا ب ه للا ا ع

َ

ل ِ

ُ

َ

إ

ِ

َ

َ

َ

ِ

ِ

َ

ِ

ُ

َ

ِ

ِ

ِ

ِ

َ

ْ

ِ

ِ

ْ

ِ

َ

َّ

َ

َ

د

Contoh Asmaul Khusna:

Ar Rahman (نمحرلا) Yang Maha Pengasih

Ar Rahiim (ميحرلا) Yang Maha Penyayang

Al Malik (كلملا) Yang Maha Merajai/Memerintah

Al Quddus (سودقلا) Yang Maha Suci

As Salaam (ملاسلا) Yang Maha Memberi Kesejahteraan

Al Mu`min (نمؤملا) Yang Maha Memberi Keamanan

Al Muhaimin (نميهملا) Yang Maha Pemelihara

Al `Aziiz (زيزعلا) Yang Maha Perkasa

Al Jabbar (رابجلا) Yang Memiliki Mutlak Kegagahan

Al Mutakabbir (ربكتملا) Yang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran

Al Khaliq (قلاخلا) Yang Maha Pencipta

Al

Baari`

(ئرابلا)

Menyeimbangkan)

Yang

Maha

Melepaskan

(Membuat,

Sifat Wajib dan Sifat Mustahil Bagi Allah

Allah SWT memiliki 20 sifat-sifat wajib, yaitu :

Membentuk,

1. Sifat Wajib Wujud (ﺩْﻮُﺟُو), sifat mustahil Adam (مدﻋ)

Allah SWT memiliki sifat wujud yang berari ada. Maksudnya adalah bahwa Allah SWT ada dengan zat-Nya sendiri, dan Allah ada bukan karena ada yang mengadakan atau yang menciptakan. Kita bisa melihat bukti-bukti nyata bahwa Allah itu ada dengan memperhatikan langit dan bumi yang kita pijak, dimana alam semesta beserta isinya itu ada karena ada yang menciptakan, dan itu adalah Allah SWT.

Selain itu, kita juga bisa melihat tanda-tanda kebesaran Allah dengan melihat diri kita sendiri, dimana jiwa, raga serta segala perlengkapan yang kita butuhkan untuk hidup pasti ada yang menciptakannya, Dialah Allah SWT. Karena Allah memiliki sifat wajib ada, maka sifat mustahil bagi-Nya adalah Adam (tidak ada)

Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah itu ada adalah :

ْ

2. Sifat Wajib Qidam (ُ مَدـقِ لَا), sifat mustahil Hudus (ﺙْوُدُح)

ُ

Sifat wajib bagi Allah yang kedua adalah Qidam yang artinya zat yang terdahulu, sedangkan untuk sifat mustahilnya adalah hudus yang artinya baru. Sebagai pencipta, Allah tentu saja ada terlebih dahulu daripada apa yang Ia ciptakan, seperti alam semesta beserta isinya. Dan tidak ada permulaan bagi Allah, karena Dia adalah Sang Maha pencipta.

Dalil Naqlinya adalah Al-Qur’an Surat Al- Hadiid ayat 3

Artinya

ُ

ك

مّ ع ء ي ش ل ب و ه و ن طا َ لا

ٌ

ل َ

ِ

َ

ِ

َ

ُ

َ

ب

ْ و ر ها ظلا و ر خلْا و ل ولْا و ه

َ

ُ

ِ

َ

ُ

ِ

َ

ُ

َّ

َ

ُ

ٍ

أ

ِّ

ُ

َّ

ِ

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin 1453; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

3. Sifat Wajib Baqa (ِﺀاَقَﺑ), sifat mustahil Fana (ِﺀاَﻨَﻓ)

Allah memiliki sifat baqa’ yang berarti kekal, sedangkan sifat mustahil bagi-Nya adalah fana yang artinya binasa atau akan berakhir. Maksudnya adalah bahwa kekekalan yang dimiliki oleh Allah SWT sebagai pencipta langit dan bumi tidak akan pernah berakhir atau berkesudahan.

Lain halnya dengan makhluk yang Ia ciptakan seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda ruang angkasa yang suatu saat akan mengalami kebinasaan atau kehancuran. Oleh karena itulah sangatlah tidak patut bagi kita untuk berbangga diri atas segala kelebihan atau kehebatan yang kita miliki, sementara itu hanyalah bersifat sementara.

Dalil Naqli :

4. Sifat Wajib Mukhalafatuhu lilhawadits (ِﺙِﺩاَﻮَﺤْلِلُ ُﻪُتَﻔَلاَخُم), sifat Mustahil Mumatsalatuhu lilhawadits (ِﺙِﺩاَﻮَﺤْلِلُُﻪُتَلَﺛاَمُم)

Mukhalafatuhu lilhawadits merupakan sifat wajib bagi Allah ini memiliki arti bahwa Allah berbeda dengan ciptaan-Nya, sedangkan sifat mustahilnya adalah Mumatsalatuhu lilhawadits yang berarti serupa dengan ciptaan-Nya.

Sifat wajib Allah ini sudah jelas menunjukkan bahwa Allah sebagai Yang Maha Pencipta memiliki perbedaan dengan apa-apa yang Dia ciptakan, dimana kedudukan yang dimiliki oleh makhluk ciptaan Allah sangatlah tidak sepadan dengan kebesaran, keagungan, serta ketinggian dari sifat-sifat yang dimiliki Allah SWT, sehingga tidak ada satu makhlukpun yang mampu menyerupai-Nya.

Dalil Naqli :

5. Sifat Wajib Qiyamuhu Binafsihi (ِﻪِسْﻔَﻨِﺑُُﻪُماَيِﻗ) sifat mustahil Ihtiyaju lighairihi

Sifat wajib bagi Allah SWT yang selanjutnya adalah Qiyamuhu Binafsihi yang artinya adalah berdiri sendiri. Artinya Allah itu ada dengan sendirinya tanpa ada yang mengadakan atau menciptakan. Selain itu, dalam menciptakan makhluk-makhluk-Nya, Allah tidak membutuhkan bantuan dari makhluk apapun.

Berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya yang satu sama lainnya saling membutuhkan. Misalnya saja manusia tidak dapat hidup sendiri, mereka tentu membutuhkan bantuan dari manusia lainnya.

Dalil Naqli :

6. Sifat Wajib Wahdaniyat (ِﺔَيِﻧاَدْحَو) sifat mustahil Ta’addud (ﺩُّدَعَﺗ)

Wahdaniyat merupakan sifat wajib bagi Allah yang artinya Esa atau tunggal. Maksudnya adalah bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa, baik itu dalam hal sifat, dzat, maupun perbuatannya. Dan jika Allah itu ada yang menyamai atau lebih dari satu, maka alam semesta ini akan hancur, karena tentu saja akan terjadi berbagai perbedaan diantara keduan- Nya.

Ke-esaan Allah telah dinyatakan dalam kalimat syahadat (ﻪللاُ لااُ ﻪلاُ لاُ نأُ دهشأ) yang artinya “Tiada Tuhan selain Allah). Kebalikan dari sifat Allah ini adalah Ta’addud yang artinya lebih dari satu (berbilang)

Dalil Naqli :

7. Sifat Wajib Qudrat (ِﺓَرْدُﻗ) sifat mustahil Ajzun (زْﺟَﻋ)

Qudrat merupakan sifat wajib bagi Allah yang memiliki arti berkuasa, maksudnya adalah bahwa Allah SWT memiliki kekuasaan yang mutlak atas segala sesuatu tanpa ada batasan, jadi apabila Allah SWT telah berkehendak, maka tidak ada satupun yang dapat menghalangi- Nya.

Hal ini berbeda dengan manusia yang memiliki kelemahan dan kekuasaan yang terbatas. Adapun kebalikan dari sifat wajib Allah Qudrat adalah Ajzun yang artinya lemah.

8. Sifat wajib Iradat (ِﺓَداَرِﺇ) sifat mustahil Karahah (أهَهاَرَﻛ)

Allah SWT memiliki sifat Iradat yang artinya berkehendak, sedangkan kebalikannya yang merupakan sifat mustahil bagi allah adalah Karahah yang berarti terpaksa (tidak berkemauan). Maksudnya adalah bahwa penciptaan Alam semesta ini merupakan kehendak dari Allah tanpa adanya paksaan maupun campur tangan dari pihak lain. Selain itu, setiap kehendak dari Allah SWT pasti akan terjadi, dan setiap hal yang tidak menjadi kehendak Allah pasti tidak akan pernah terjadi.

Allah SWT mustahil bersifat Karahah (terpaksa), karena Allah adalah Maha Sempurna, dan jika Allah memiliki sifat karahah maka kemungkinan besar alam semesta ini tidak akan pernah ada, karena karahah adalah sifat kekurangan.

9. Sifat Wajib Ilmun (مألِع) sifat mustahil Jahlun (لأﻬَﺟ)

Ilmun merupakan sifat wajib bagi allah yang artinya adalah mengetahui, dan Allah mustahil memiliki sifat Jahlun yang artinya bodoh. Kamna dari sifat Allah Ilmun adalah bahwasannya pengetahuan yang dimiliki oleh-Nya adalah tidak terbatas dan tidak pula dibatasi.

Selain itu, Allah Maha mengetahui apa-apa yang ada di alam semesta ini, baik yang terlihat oleh mata maupun yang ghaib. Inilah tanda bahwa Allah SWT memiliki kesempurnaan dalam hal kepandaian dan pengetahuan.

10. Sifat wajib Hayat (ﺓاَيَﺣ) sifat mustahil Maut (ﺕﻮم)

Selain sifat-sifat di atas, Allah juga memiliki sifat wajib Hayat yang artinya hidup, dan Allah mustahil memiliki sifat maut yang berarti mati atau binasa. Allah adalah Maha sempurna, dimana Ia mampu hidup dengan dzat-Nya sendiri, dan tidak ada satupun yang menghidupkan-Nya.

Hal ini berbanding terbalik dengan makhluk ciptaan-Nya, di mana mereka ada yang menghidupkan, dan suatu saat mereka akan dimatikan, yaitu Allah SWT. Makhluk ciptaan Allah memerlukan makan, minum, tidur, dan berbagai macam hal lainnya. Akan tetapi Allah tidak membutuhkan semua itu.

11. Sifat wajib sama’ (أﻊَمَس) sifat mustahil Shummum (

م أ مصُ ُّ

لا

)

Allah memiliki sifat wajib Sama’ yang artinya mendengar, dan Ia mustahil memiliki sifat Shummum yang berarti tuli atau tidak mendengar. Allah mampu mendengarkan setiap suara yang ada di alam semesta ini dan tidak ada satu suarapun yang mampu terlepas dari pendengaran Allah, meskipun suara itu hanya berupa bisikan.

12. Sifat wajib Basar (رَﺼَﺑ) sifat mustahil Umyun

Sifat wajib bagi allah yang selanjutnya adalah Basar yang berarti melihat, dimana allah SWT mampu melihat segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, baik kecil maupun besar, baik tampak maupun tidak tampak. Dan penglihatan Allah tidaklah terbatas maupun dapat dibatasi oleh sesuatu pun. Dan sebagai sifat mustahil bagi Allah adalah umyun yang artinya buta.

13. Sifat wajib Kalam (مُلاﻛ) sifat mustahil Bukmun

Sifat wajib bagi Allah yang lainnya adalah Kalam yang berarti berbicara atau berfirman. Allah memiliki sifat kalam yang begitu sempurna, sehingga Allah mampu berbicara tanpa harus menggunakan bantuan dalam bentuk apapun. Sifat kalam Allah SWT terbukti dengan firman-firman-Nya dalam kitab-kitab yang telah diturunkan-Nya kepada para utusan-Nya.

Adapun sifat mustahil bagi Allah sebagai kebalikan dari sifat wajib kalam adalah bukmun yang berarti bisu. Jika saja allah bisu, tidak akan mungkin para utusan beliau mampu mengerti, memahami, serta mengamalkan apa yang Ia perintahkan dan menjauhi segala larangan-Nya.

14. Sifat wajib Qadiron (اًرِﺩاَﻗ) sifat mustahil Ajizan (ًزِﺟاَﻋ)

Allah SWT itu tidaklah lemah, dimana Ia adalah penguasa atas seluruh makhluk dan ciptaan- Nya secara mutlak. Inilah yang dimaksud dengn sifat wajib bagi Allah Qadiron yang artinya berkuasa. Dan Allah tidaklah memiliki sifat mustahil Ajizun yang artinya bahwa Allah itu lemah.

15.

Sifat Wajib Muriidan (ادأﻳِرُﻣ) sifat mustahil mukrahan (اه ركأ ﻣ)

َ

ُ

Allah SWT merupakan Dzat yang Maha berkehendak atas segala sesuatu, dan apabila Allah telah berkehendak, maka yang dikehendaki-Nya tersebut pastilah akan terlaksana. Inilah yang dimaksudkan dengan sifat wajib bagi Allah Muriidan yang memiliki arti berkehendak. Adapun sifat mustahil-Nya adalah mukrahan yang berarti terpaksa atau tidak dapat menentukan.

16. Sifat Wajib Aliman (امِلاَع) sifat mustahil Jahilan (ﻼِهاَﺟ)

Allah merupakan Dzat yang maha mengetahui segala hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, termasuk isi hati maupun pikiran dari ciptaan-Nya. Inilah mengapa Allah disebut memiliki sifat wajib Aliman yang artinya mengetahui, dan Dia mustahil bersifat Jahilan yang artinya bodoh.

17. Sifat wajib Hayyan (اًّيَح) Sifat mustahil mayitan ( اﺗيم)

Allah SWT itu adalah Dzat yang hidup, Ia tidak pernah mati, tidak pernah tidur, lengah maupun segala hal yang menjadi kebiasaan ciptaan-Nya. Inilah yang dimaksudkan dengan sifat wajib bagi Allah Hayyan yang artinya adalah hidup. Dan Dia mustahil memiliki sifat mayitan yang artinya dalam keadaan mati.

18. Sifat wajib Sami’an (اًعْيِمَﺳ) sifat mustahil Ashamma (مَﺻَﺃ)

Pada hakikatnya, sifat wajib bagi Allah sami’an yang artinya mendengar memaknai bahwa Allah SWT merupakan Dzay yang memiliki pendengaran yang sempurna, tidak ada batasan dan tiada hal yang dapat membatasinya. Oleh karena itulah mengapa Allah SWT mustahil memiliki sifat Ashamma yang artinya tuli.

19. Sifat Wajib Bashiiran (ارأيِﺼَﺑ) sifat mustahil a’maa (ﻰَمأعَﺃ)

Allah SWT merupakan Dzat yang mampu melihat segala hal yang ada di alam semesta ini tanpa adanya batasan. Ini merupakan sifat wajib bagi Allah yaitu Bashiiran yang berarti melihat. Sehingga sangatlah mustahil jika Allah memiliki sifat a’maa yang artinya buta.

20. Sifat Wajib Mutakalliman (اًمِّلَكَتُم) sifat Mustahil abkam (ْمَكْﺑَأ)

Arti sifat wajib bagi Allah mutakalliman adalah berbicara, dimana Allah SWT mampu berbicara atau berfirman di dalam kitab-kitab yang Dia turunkan bagi para utusan-Nya. Dan sangatlah mustahil bagi Allah untuk bersifat abkam yang artinya bisu.

Beriman kepada Malaikat

Makna Malaikat

Secara Etimologis, kata malaaikah (dalam bahasaIndonesia malaikat) adalah bentuk jamak dari malak, berasal dari mashdar al-alukah artinya ar-risalah (misi atau pesan). Yang membawa misi atau pesan disebut ar-rasul (utusan).

Secara Terminologi, Malaikat adalah makhluk ghaib yang diciptakan oleh Allah dari cahaya dengan wujud, sifat-sifat, nama dan tugas tertentu.

Rasulullah SAW menegaskan, bahwa penciptaan malaikat berasal dari cahaya. Beliau Saw bersabda:

ُهاور( مكل فصو امم مدا قلخو ران نم

Wujud dan Sifat Malaikat:

جرام نم ناجلا قلخو رون نم ةكئلملا تقلخ

)ملسم

Sebagai makhluk ghaib wujud/rupa malaikat tidak Dapat dilihat, didengar, diraba, dan dicium oleh manusia. Atau tidak dapat dijangkau dengan pancaindera. Kecuali jika malaikat menampilkan Diri dalam bentuk dan rupa tertentu seperti rupa Manusia.

Malaikat adalah hamba Allah yang dimuliakan

Bertasbih (QS. al-Mukmin:7)

(QS. Al-Anbiya (21):26)

Malaikat selalu meperhambakan diri kepada Allah dan patuh akan segala perintahNya, tidak pernah berbuat maksiat dan durhaka. (QS. Al-Anbiya: 27); (QS. At-Tahrim [66]:6.

Malaikat tidak dilengkapi dengan hawa nafsu seperti manusia, tida berjenis laki-laki dan perempuan, serta tidak berkeluarga. Hidup di alam yang berbeda dengan kehidupan alam semesta yang kita saksikan ini. Contoh bahwa malaikat tidak memiliki hawa nafsu seperti manusia adalah firman Allah SWT sebagai berikut:

Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Salaman" (Selamat). Ibrahim menjawab: "Salamun" (Selamatlah), maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Lut.“ (QS. Hud [11]:69-70)

Nama dan Tugas Malaikat:

1. Malaikat Jibril alaihi salam. Bertugas menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul. (QS. al-Baqarah [2]:97)

2. Malaikat Mikail. Bertugas mengatur urusan yang berhubungan alam, seperti melepaskan angin, menurunkan hujan, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dll. (QS. al- Baqarah [2}:98)

3. Malaikat Israfil, bertugas meniup terompet di hari kiamat dan hari kebangkitan. (QS. al-An’am [6}73)

4. Malaikat Maut. Bertugas mencabut nyawa manusia dan makhluk lainnya. (QS. as- Sajdah [32]:11)

5. Malaikat Rqaqib dan Atid. Bertugas mencatat amal perbuatan manusia. (QS. Qaf

[50]:17-18)

6.

Malaikat Munkar dan Nakir. Menanyakan mayat di alam kubur tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa Nabinya. (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Malaikat Ridwan. Bertugas menjaga surga dan memimpin para malaikat pelayan surga. (QS. az-Zumar [39]:73)

8. Malaikat Malik. Bertugas menjaga Neraka dan memimpin para Malaikat menyiksa penghuni neraka. (QS. az-Zukhruf [43]:77)

9. Malaikat Pemikul ‘Arasy. (Qs. al-Mukminun [40]:7)

10. Malaikat yang bertugas menggerakan hati manusia untuk melakukan kebaikan dan kebenaran. (HR. Ibn Hatim dan Tirmidzi)

11. Malaikat yang bertugas mendo’akan orang-orang Mukmin supaya diberikan ampunan. (QS. al-Mukmin [40]:7-9)

Jin, Iblis dan Syaitan

Pengertian:

Al-Jin: secara bahasa, kata al-Jin berasal dari kata janna, artinya bersembunyi. Dinamakan al-Jin karena tersembunyi dari pandangan manusia. Kata lain dari kata Janna adalah junnah, maknanya perisai, karena menyembunyikan kepala prajurit yang memakainya. Sedangkan jannah artinya surga atau taman, dinamai demikian karena tamannya tersembunyi oleh pohon-pohon yang rindang; janin artinya jabang bayi, dinamakan janin sebab keadaannya yang masih tersembunyi di dalam perut ibu. (Sumber: al-Jazairy, hal.

17)

Iblis berasal dari kata ablasa, yang berarti putus asa. Dinamakan Iblis karena dia putus asa dari rahmat atau kasih sayang Allah. (Sayyid Sabiq, 1986, hal. 219). Kata Syaithan berasal dari kata syathana, artinya Menjauh. Disebut Syaitan karenanya jauh dari Kebenaran.

Secara terminolgis, Jin adalah sebangsa makhluk ghaib (makhluk rohani) yang diciptakan Allah SWT dari api. Sebagaimanafirman Allah SWT.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah Liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan kami telah menciptakan jin sebelum Adam dari api yang sangat Panas. (QS. al-Hijr: 26:27)

Sifat Jin:

Bangsa Jin juga mukallaf (diperintahkan mengerjakan syariat agama) seperti halnya manusia. Adapun Rasul yang mereka ikuti adalah Rasul yang berasal dari manusia. (QS. al-An’am [6]: 130). Bangsa jin itu ada yang patuh dan durhaka kepada Allah SWT. (QS. al-Jin [72]:11)

“Sesungguhnya di antara kami (bangsa jin) ada yang sholeh dan ada pula yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.”

Ketika bangsa Jin dan para Malaikat diperitahkan bersujud kepada Adam, maka salah satu dari mereka menentang. Yang menentang itulah yang dikenal dengan Iblis.

Iblis itu adalah nenek moyang segenap Syaitan yang selalu durhaka kepada Allah SWT dan bertekad untuk menggoda umat manusia agar mengikuti langkah mereka dalam bermaksiat dan durhaka kepada Allah.

Singkatnya, Jin adalah makhluk ghaib yang diciptakan Allah SWT dari api, mukallaf seperti manusia, di antara mereka ada yang patuh dan ada yang durhaka. Jin yang durhaka pertama kali adalah Iblis, anak cucunya disebut Syaithan.

Kejahatan Syaithan:

Untuk menjadikan manusia lupa dengan Allah SWT, Syaitan menempuh dua cara, pertama menyesatkan (Tadhlil), kedua menakut-nakuti (Takhwif). Langkah-langkah Syaithan untuk menyesatkan adalah:

1.

Melalui bisikan (waswasah); QS. an-Annas:1-6

2.

Sifat lupa (nisyan); QS. al-An’am: 68)

3.

Angan-angan (tamanni); QS. an-Nisa : 119

4.

Memandang baik perbuatan maksiat (Tazyin)

QS. al-Hjr:76

5.

Janji Palsu (wa’dun); QS. Ibrahim: 22

6.

Tipu-daya (kaidun); QS. an-Nisa: 76

7.

Hambatan (Shaddun); QS. az-Zukhruf: 62

8.

Permusuhan (al-Adawah); QS. al-Maidah: 91

Tugas dan Cara Syaitan Menyesatkan Manusia:

Syaitan atau disebut jg dengan Iblis memiliki misi untuk menyesatkan umat manusia dari jalan yg diridhoi Allah. Atau dari jalan yg lurus. Syaitan menghendaki umat Bani Adam ini menjadi kawannya di dalam neraka. Secara eksplisit, Al-Quran menjelaskan cara-cara syaitan atau iblis dalam menyesatkan manusia, yaitu:

1.

Menanamkan Permusuhan dan Kebencian di antara di antara umat manusia, terutama orang-orang Mukmin. (QS. Al-Maidah [5]: 91)

ْ

َ

أ

ُ

ك َّ ص و ر س م و ر م خ لا ي ف َ ض غ َ لا

ِ

ن ع م د

ُ

َ َ

ي

ِ

ِ

ي

أ َ

لا

َ

أ

َ

ْ

ِ

ءا

َ

أ

ْ

َ

ب و

[ُ19ُ:ُﺓدئاملا[ُ

ْ

َ

ة وا د ع لا م ن ي

َ

َ

َ

ُ

ك َ

أ َ

َ

ِ

ُ

َ

ب ع قو ي ن أ نا ط شلا دي ي ا م إ

ِ

ُ

َ

ُ

أ

ّ

َّ

ُ

ُ

ر

ِ

َّ

َ

ن

} نو تن م م تن أ ل ف ۖ ة لَ صلا ن ع و ه للا ر ك

َ

ُ َ

ه

ُّ

ُ

أ

َ

َ

ه

ِ

َ

َّ

ِ

َ

َ

ِ

ِ

ذ

ِ

َ

َّ

ْ

Artinya: Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

2. Menjanjikan kefakiran dan menghasut manusia berbuat keburukan. (QS. Al-Baqarah

[2]:268)

ۗ

ا

َ

أ

َّ

ُ

ُ

ِ

َ

ُ

َّ

ْ

لَ ض ف و َ ُ

أ

أ

ِّ

ه ن م ة ا ر ف غ م م ك د ع ي ه للا و ۖ ءا ش ح ف لا ب م ك ر م أ ي َ و ر ق ف لا م ك د ع ي نا ط ّ شلا

َ

مّ ع ع سا و ه للا و

ِ

َ

أ

َ ْ

ِ

ُ

ُ ُ

َ

أ

َ ْ

ُ

ٌ

ُ

ُ

ل

ِ

َ

ُ

َ

َ

َ

ِ

َ

ِ

ٌ

َ

َ

أ

ُ

َّ

َّ

ِ

]862 : ةرقبلا[

Artinya: Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada- Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.(QS. Al- Baqarah [2]:268)

3. Memberi janji dan angan-angan kosong kepada manusia, sebagai bentuk tipu daya. (QS. An-Nisa [4]:120)

]081

: ءاسنلا[ }ا

َّ

رو غ لَ

ُ

ُ

ر

إ نا ط ّ شلا م ه د ع ي ا م و ۖ م هي ن م ي و م ه د ع

ِ

ُ

َ

أ

َّ

ُ

ُ

ُ

ِ

َ

َ

َ

أ

ِ

ِّ

َ ُ َ

أ

ُ

ُ

ِ

َ

ي{

Artinya: Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.

4. Menyesatkan umat manusia dari petunjuk Allah dan RasulNya (QS. Shad [38]:82-83)

]28-28

ْ

َّ

أ

ُ َ

: ص[ } ني ص خ م لا م ن

ِ

َ

َ

ل

أ

ُ

ُ

ُ

أ

ه

م ك دا َ ع لَ إ ني ع م ج أ م ن َ و غ لْ ك ز

ِ

َ

َ

ب