Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

Genetik Transfer dan Kaitannya dengan


Virulensi

Oleh :
Wasista Hanung Pujangga

Pembimbing :

Dr. Andi Yasmon, S.Pi., M.Biomed

DEPARTEMEN MIKROBIOLOGI KLINIK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
JAKARTA
2019
Pendahuluan

Transfer gen adalah penyisipan materi genetik eksternal yang berupa fragmen DNA, baik
DNA kromosom maupun DNA plasmid ke dalam sel. Transfer bakteri mula‐mula
diperkenalkan oleh Frederick Griffith pada tahun 1982. Bakteri dapat melepaskan fragmen
DNA‐nya ke dalam suatu medium yang kemudian akan masuk ke dalam sel bakteri yang lain
dalam kultur tersebut.

Di alam, fragmen DNA tersebut biasanya dilepaskan oleh sel bakteri yang mati atau
mengalami autolisis. Namun, terdapat sel lain yang ternyata memang melepaskan fragmen
DNA pada saat pertumbuhan karena adanya gen transfer tersebut.

Seluruh proses transfer materi genetic antara organisme satu dengan organisme lainnya dpat
memberikan dampak yang menguntungkan untuk organisme tersebut, karena dapat tetap
mempertahankan kemampuan untuk menyebarkan materi genetic yang dibawanya, tetapi
dalam dunia medis, hal ini sangat merugikan karena materi genetic yang tersebar pada
organisme lain yang sebelumnya menjadi flora normal akan menjadi organisme pathogen dan
dapat menyebabkan infeksi baru sampai menyebabkan resistensi antibiotic akibat gen
transfer tersebut. Hal ini sangat ditentukan oleh rekombinasi genetik

Pembahasan

Pengertian Rekombinasi dan Hubungannya Dengan virulensi


Rekombinasi diartikan sebgai peristiwa pembentukan suatu asosiasin baru dan
molekul-molekul DNA atau kromosom, asosiasi baru itu dapat juga terbentuk dari bagian-
bagian molekul DNA kromosom. sumber lain menyatakan bahwa rekombinasi adalah proses
yang berakibat terbentuknya kombinasi-kombinasi gen yang baru pada kromosom. antara
rekombinasi dan mutasi tidak hubungannya, namun kedunya dapat memiliki hubungan jika
sama-sama menimbulkan perubahan materi genetik dana dapat menimblkan perubahan
yang fenotip. Secara fisik rekombinasi menyebabkan penataan kembali struktur materi
genetik. Dimana akhir dari proses rekombinasi genetic ini dapat menentukan tinggi
rendahnya suatu virulensi penyakit

Peran Rekombinasi terhadap Proses Evolusi


Pindah silang bersama kombinasi gen secara bebas merupakan mekanisme-
mekanisme yang menghasilkan kombinasi-kombinasi gen baru. rekombinasi merupakan
suatu mekanisme sumber variasi genetik. Peran rekombinasi sebagai suatu mekanisme
sumber variasai genetik adalah bahwa evolusi mekanisme-mekanisme yang mendorong
pertukaran genetik antar individu benar-benar nyata dalam biologi seluruh organnisme mulai
dari prokariot hingga eukariot tinggi.
Rekombinasi juga memungkinkan sel untuk memperbaiki urutan nukelotida yang hilang
disaat molekul DNA mengalami kerusakan akibat mutasi ataupun terpajan senyawa kimia,
dengan cara mengganti bagian yang rusak dengan sepenggal DNA yang berasal dari
kromosom homolognya.

Transfer gen dibagi menjadi 2

• Transfer gen Horisontal yaitu Transfer materi genetic antar organisme, dari gen yang
tidak berhubungan. Yang meliputi transformasi,konjugasi dan transduksi.

• Transfer gen Vertikal yaitu Transfer materi genetic antar organisme (induk) dan gen
yang sama. Transformasi vertical melalui mekanisme alami reproduksi.

Transformasi
Merupakan pemindahan DNA bebas sel dari satu sel ke sel lain. Syarat : Strain kompeten,
mampu menangkap DNA dari sel donor. Sifat genetik yang ditranformasikan antara lain,
resistensi terhadap antibiotik, kebutuhan terhadap nutrien spesifik, pembentukan kapsula
atau lipopolisakarida.
Tahapan transformasi :
• Tahap 1: DNA untai ganda berikatan pada reseptor (DNA translokase) yang terdapat
dipermukaan sel.
• Tahap 2: konversi molekul DNA donor untai ganda menjadi molekul untai tunggal
melalui degradasi nukleotida terhadap salah satu unting.
• Tahap 3: integrasi melalui rec A dependent process
• Tahap 4: segregasi dan ekspresi fenotipik gen donor yang telah terintegrasi.
Tranformasi bisa terjadi secara alami ataupun buatan , secara buatan dilakukan dengan
mendinginkan sel bakteri pada larutan kation divalen seperti Ca+2, untuk membuat dinding
sel menjadi permeable. Bisa juga dilakukan dengan teknik heat shock atau elektroporasi.

Konjugasi Plasmid
Konjugasi adalah Perpindahan DNA dari satu sel (sel donor) kedalam sel bakteri lainnya (sel
resipien) melalui kontak fisik (menggunakan sex pilus) antara kedua sel dengan bantuan
plasmid (DNA ekstrakromosomal).
Plasmid terbagi menjadi :
• Plasmid F (fertilitas) ---- gen tra (konjugasi)
• Plasmid R (resisten) ---- antibiotik.
• Plasmid dengan penyandi toksin dan bakteriosin
• Plasmid degradatif ---- metabolisme mol. organik
• Plasmid virulensi ---- patogenitas sel inang
Berikut adalah protein yang berperan dalam konjugasi plasmid:
 Relaxosome : memotong plasmid F pada titk awal transfer (origin of Transfer / oriT)
dan mengurai untai ganda DNA.
 Coupling factor : reseptor pengenal T-DNA (plasmid F yang sudah terpotong) supaya
dapat memasuki eksporter
 Eksporter : Kompleks protein khusus untuk memompa T-DNA menuju sel resipien
 Jembatan konjugasi : saluran khusus untuk transfer plasmid
 Relaxase : enzim yang masih menempel pada T-DNA, setelah sampai pada sitoplasma
sel resipien, segera menggabungkan ujung-ujung T-DNA serta memulai replikasi ss
plasmid F menjadi ds plasmid
Konjugasi kromosom (HFR)
Konjugasi kromoseom adlaah, proses konjugasi yang melibatkan kromosom sel donor,
dimana plasmid terintegrasi dalam kromosom (HFR). Waktu untuk mentransfer lebih lama,
sekitar 2 jam hingga seluruh kromosom HFR berhasil ditransfer ke sel resipien. Kromosom
HFR ditransfer secara linear. Susunan gen yang ditransfer mulai dari titik OriT bisa diketahui
dengan teknik Interrupted mating . dimana proses konjugasi ini diganggu dengan berbagai
variasi selang waktu.

Transduksi Umum
Transduksi adalah mekanisme pertukaran DNA antara bakteri menggunakan virus bakteri
(bakteriofag) sebagai perantara. rekombinasi dimediasi oleh DNAase-resistant filterable
agent (virus) yaitu P22 bakteriofag. Tahapan dalam transduksi umum:
1. Strain dengan sifat yang ingin ditansferkan , di induksi oleh bakteriofage , didaului
proses penempelan, kemudian injeksi materi genetik virus, kemudian replikasi materi
genetik virus, pembentukan virus baru, lisis sel. Sebagian sifat bakteri donor terbawa
mater genetik dari virus
2. Lisat dari bakteriophage kemudian diberikan pada kultur resipien
3. Terjadi siklus virus, sehingga materi genetik sel donor bisa bercampur dengan sel
resipien

Transduksi khusus
Hanya bakteriofag tertentu: lamdha- Bakteriophage. Genom bakteriofag berinteraksi dengan
genom bakteri (prophage). Mirip daur lisogenik, hanya gen yang dekat prophage yang
ditransfer ke bakteri lain .
Mekanisme transduksi khusus :
1. Bakteriofage menempel pada sel donor, menginjeksikan materi genetik
2. Materi genetik bakteriofage berinteraksi dengan genom bakteri
3. Genom virus ikut bereplikasi dengan genom bakteri
4. Enzim dan komponen virus disintesis dalam sel inang
5. Lisis sel bakteri diikuti terbentuknya sel baru
6. Bakteriofage berinteraksi dengan sel resipien , dan genom hasil rekombinasi diinjeksi
ke genom sel resipien.
Transduksi Umum Transduksi Khusus

Menghasilkan fragmen DNA hospes


dengan panjang & jumlah yang Berinteraksi dengan genom bakteri
bervariasi

Transfer gen tertentu (hanya yang di dekat


Transfer gen acak
prophage)

Genom virus langsung mengambil


Membentuk prophage
alih peran genom bakteri

Bakteriofag yang dihasilkan ada yang


Semua bakteriofag yang dihasilkan mengandung
mengandung genom bakteri dan ada
genom hasil rekombinasi genom virus dan bakteri
yang tidak

Prophage mengganda seiring pembelahan sel


Tidak mengganda
bakteri

Transformasi

Transduksi Konjugasi
Komponen Transfer genetic

Plasmid

Plasmid adalah DNA ekstrakromosomal yang dapat bereplikasi secara autonom dan bisa
ditemukan pada sel hidup. Di dalam satu sel, dapat ditemukan lebih dari satu plasmid dengan
ukuran yang sangat bervariasi namun semua plasmid tidak mengkodekan fungsi yang penting
untuk pertumbuhan sel tersebut. Umumnya, plasmid menyandi gen-gen yang diperlukan agar
dapat bertahan pada keadaan yang kurang menguntungkan sehingga bila lingkungan kembali
normal, DNA plasmid dapat dibuang.

plasmid mereplikasi diri, mengandung gen, potongan-potongan DNA sekitar 1–5% ukuran
kromosom bakteri, DNA ekstrakromosomal yang dapat bereplikasi secara autonom dan bisa
ditemukan pada sel hidup terutama pada bakteri tetapi juga pada beberapa mikroorganisme
eukariotik. Umumnya, plasmid menyandi gen-gen yang diperlukan agar dapat bertahan pada
keadaan yang kurang menguntungkan sehingga bila lingkungan kembali normal, DNA plasmid
dapat dibuang. Kode plasmid lain untuk protein yang meningkatkan patogenisitas bakteri.

Strain E. coli yang menyebabkan diare pada bayi dan diare pada pelancong membawa plasmid
yang memberi kode untuk produksi toksin dan untuk keterikatan bakteri pada sel-sel usus.
Tanpa plasmid ini, E. coli adalah penghuni usus besar yang tidak berbahaya; dengan mereka,
itu adalah patogen. Toksin lain yang disandikan dengan plasmid termasuk toksin eksfoliatif
Staphylococcus aureus, Clostridium tetani neurotoxin, dan racun Bacillus anthracis. Masih
ada plasmid lain yang mengandung gen untuk sintesis bakteriosin, protein beracun yang
membunuh bakteri lain. Plasmid ini telah ditemukan di banyak genera bakteri, dan mereka
adalah penanda yang berguna untuk identifikasi bakteri tertentu di laboratorium klinis.

Tranposon
Transposon merupakan segmen DNA yang dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang
lain dalam genom sebuah sel. Dua ujung Tn5 transposon dibawa melalui dimerisasi dari
sepasang subunit enzim transposase (membentuk lekukan). Transposon DNA berpindah ke
DNA target  menyisip. Terjadi Integrasi pada DNA target. Transposisi bisa dilakukan dengan
dua cara, yaitu dengan melalui RNA inermediet atau tidak.

Mekanisme melalui RNA intermediet (retrotransposition)


1. RNA copy dari transposon disintesis melalui proses transkripsi secara normal.
2. RNA hasil transkripsi kemudian dicopy ke DNA. Perubahan dari RNA ke DNA ini
berlawanan dengan transkripsi normal, sehingga memerlukan enzim khusus yaitu
enzim reverse transkriptase.
3. DNA copy dari transposon bergabung kembali ke dalam genom pada kromosom yang
sama dimana unit original berada, namun dapat juga bergabung dengan kromosom
yang berbeda.
Mekanisme tapa melalui RNA
1. Replicative transposition, Melalui interaksi langsung antara donor transposons dan sisi
target.
2. Conservative transposition, Melalui penghilangan elemen transposons diikuti dengan
penggabungan kembali pada sisi yang baru.

Tipe DNA transposon :


1. Insertion sequences, DNA transposons yang terdiri dari satu atau dua gen spesifik
penyandi enzim transposase yang mengkatalisis transposisi
2. Composite transposons , DNA transposons yang biasanya mengandung gen penyandi
resistensi antibiotik. DNA transposons ini menggunakan mekanisme tranposisi
conservative.
3. Tn3-type transposons , DNA transposons yang memilki gen transposase sendiri dan
biasanya menggunakan transposisi replikatif
4. Transposable transposons , Bakteriofag yang memiliki aktifitas transposisi replikatif
sebagai bagian dari siklus infeksinya.

Aplikasi transposon :
 Alat dalam teknologi biologi molekular  identifikasi mutan alel
 Dapat membedakan antara gen yang harus ada dalam sel dalam kaitannya dengan
fungsinya (cell-autonomous) dan gen yang menghasilkan pengaruh yang dapat
diamati dalam sel dari pada sekedar ekspresi gen.
 Transposon juga digunakan sebagai alat untuk mutagenesisi pada kebanyakan
percobaan penelusuran organisme.

Kesimpulan Kaitan Transfer Gen Dengan Virulensi

Transfer gen yang diperantarai plasmid pada transfer horizontal dapat mempengaruhi
rendah atau tingginya tingkat virulensi. Selama konjugasi, bakteri yang memiliki plasmid
mentransfer mengekspresikan gen transfer untuk membangun, tabung panjang dan tipis
yang disebut pilus. Pilus itu berlubang dan menempel pada sel tetangga, menghubungkan
sitoplasma dari dua sel bersama-sama. Gen yang telah ditransfer memiliki berbagai sifat
seperti gen yang telah bermutasi, gen resistensi dan gen yang dapat mengkode toxin.

Akibatnya suatu populasi bakteri dengan cepat menjadi resisten & mengeluarkan toxin.
Penularan dapat terjadi di antara bakteri dari satu species, berbeda species maupun berbeda
genus.