Anda di halaman 1dari 8

PERILAKU MENEPATI JANJI

TUGAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Oleh

1. Riqy Kurniawan
2. Moh. Rizki Fauzi
3. M. Anfal Efendi

KELAS IX
SMP TARUNA ISLAM AL - KAUTSAR
2019
A. Makna Berperilaku Menepati Janji
Janji menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah perkataan yang
menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat. Pengertian lain
menyebutkan, bahwa yang disebut dengan janji adalah pengakuan yang mengikat
diri sendiri terhadap suatu ketentuan yang harus ditepati atau dipenuhi. Al Quran,
menggunakan tiga istilah yang maknanya berjanji, yaitu :
1. wa ’ada, contohnya : Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang
beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala
yang besar.
2. ahada, contohnya : Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang
dipikulnya) dan janjinya (Q.S.Al: Mu’minun ).
3. Aqada, contohnya : Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.
Aqad (perjanjian) di sini mencakup janji prasetia hamba kepada Allah dan
perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya. Janji dalam
arti ’aqad/’aqada menurut Abdullah bin Ubaidah ada 5 macam, yaitu terdiri
dari:
 ‘aqad iman / kepercayaan yang biasa disebut ‘aqidah.
 ‘aqad nikah
 ‘aqad jual beli
 ‘aqad dalam arti perjanjian umuni
 ‘aqad sumpah.
Menepati janji berarti berusaha untuk memenuhi semua yang telah dijanjikan
kepada orang lain di masa yang akan datang. Orang yang menepati janji orang
yang dapat memenuhi semua yang dijanjikannya. Lawan dari menepati janji
adalah ingkar janji. Menepati janji merupakan salah satu sifat terpuji yang
menunjukkan keluhuran budi manusia dan sekaligus menjadi hiasan yang dapat
mengantarkannya mencapai kesuksesan dari upaya yang dilakukan. Menepati
janji juga dapat menarik simpati dan penghormatan orang lain. Rasulullah Saw.
tidak pernah mengingkari janji dalam hidupnya, sebaliknya beliau selalu menepati
janji-janji yang pernah dilontarkan. Kita pun sebagai umat Nabi sudah selayaknya
meneladani beliau dalam hal menepati janji ini sehingga kita selalu dipercaya oleh
orang-orang yang berhubungan dengan kita.Dalam beberapa ayat al-Quran, Allah
menegaskan kewajiban orang yang beriman untuk menepati janji. Dalam QS. al-
Maidah (5): 1 Allah Swt. berfirman:

ۚ ‫ص ْي ِد َوأَنت ُ ْم ُح ُرم‬ ْ َّ‫َيا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا أَ ْوفُوا ِب ْالعُقُو ِد ۚ أ ُ ِحل‬
َّ ‫ت لَ ُكم َب ِهي َمةُ ْاْل َ ْن َع ِام ِإ ََّّل َما يُتْلَ ٰى َعلَ ْي ُك ْم َغي َْر ُم ِح ِ ِّلي ال‬
[٥:١] ُ ‫َّللاَ َيحْ ُك ُم َما ي ُِريد‬
َّ ‫ِإ َّن‬
Artinya :“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. dihalalkan
bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian
itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji.
Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-
Nya.” (QS. Al-Maidah: 1)

Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk ditunaikan. Betapa banyak
orangtua yang mudah mengobral janji kepada anaknya tapi tak pernah
menunaikannya. Betapa banyak orang yang dengan entengnya berjanji untuk
bertemu namun tak pernah menepatinya. Dan betapa banyak pula orang yang
berhutang namun menyelisihi janjinya. Bahkan meminta udzur pun tidak.
Padahal, Rasulullah telah banyak memberikan teladan dalam hal ini termasuk
larangan keras menciderai janji dengan orang-orang kafir. Manusia dalam hidup
ini pasti ada keterikatan dan pergaulan dengan orang lain. Maka setiap kali
seorang itu mulia dalam hubungannya dengan manusia dan terpercaya dalam
pergaulannya bersama mereka, maka akan menjadi tinggi kedudukannya dan akan
meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Sementara seseorang tidak akan bisa
meraih predikat orang yang baik dan mulia pergaulannya, kecuali jika ia
menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak yang terpuji. Dan di antara akhlak terpuji
yang terdepan adalah menepati janji.

B. MACAM-MACAM JANJI
Sayyid Ridha dalam tafsir Al Manar, membagi janji itu ke dalam tiga
bagian, yaitu : janji kepada Allah, janji kepada diri sendiri, dan janji kepada
sesama manusia.
1. Janji Kepada Allah S.W.T
Ketika kita menjalankan shalat, pada doa iftitah kita mengucapkan: Sesungguhnya
shalatku. ibadahku, hidup dan matiku, hanyalah untuk/milik Allah Tuhan Semesta
Alam “, hal itu merupakan janji manusia terhadap Allah yang harus ditepati. yakni
dengan jalan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. yang
menurut syari’ah dinamakan taat, karena manusia ataupun jin diciptakan manusia
memang untuk beribadah kepada-Nya.

2. Janji Kepada Diri Sendiri


Misalnya seorang mahasiswa mengatakan, “Jika saya lulus ujianku, aku akan
menyembelih kambing untuk dibagikan kepada orang lain”. Seorang yang sakit
yang serius, kala itu dia mengucapkan “Jika aku sembuh dari penyakitku, aku
akan berpuasa tiga hari”. Kedua hal itu merupakan janji manusia terhadap diri
sendiri yang harus ditunaikan, yang dalam bahasa agama disebut dengan nadzar.
Ini harus dilaksanakan karena Allah telah berfirman: “…Dan hendaklah
menyempurnakan (memenuhi) nazar mereka…“ (Q.S.Al Hajj 29). Tentu saja
nadzar yang harus dipenuhi adalah nadzar yang yang tidak menyimpang dari
syari’at agama Islam. Tapi misalnya ada orang yang mengatakan,’’Kalau saya
lulus ujian, aku akan potong tangan ibuku.” itu haram dilaksanakan, karena
manusia oleh Allah tidak diperkenankan untuk menyiksa diri sendiri ataupun
orang lain.

3. Janji Kepada Sesama


Janji kepada sesama banyak ragamnya. Ada yang beijanji dengan seseorang untuk
hidup semati, ada yang janji mau membayar hutang setelah rumahnya laku terjual,
ada yang janji memberangkatkan haji kepada orang tuanya nanti setelah
proyeknya seselai.dll seperti yang sudah kami sebut. Janji ini berlaku dalam
berbagai segi kehidupan, sejak dilingkungan keluarga, kehidupan dalam
masyarakat hingga urusan kenegaraan. Yang jelas, selagi orang bergaul dan saling
membutuhkan dan sementara apa yang dibutuhkan belum terwujud, maka janjilah
yang dianggap sebagai solusi sementaranya.
C. HUKUM MEMENUHI JANJI
Pada dasamya segala janji yang baik yakni janji yang tidak bertentangan
dengan ajaran agama, wajib ditunaikan, wajib dipenuhi. Namun boleh jadi hukum
janji itu bisa berubah. Ini menurut M.Yunan Nasution dalam khutbahnya, menjadi
sunnah memenuhinya. Artinya boleh ditinggalkan. Misalnya orang yang berjanji
untuk meninggalkan sesuatu yang tidak diperintahkan agama. Misalnya, sejak hari
ini saya tidak akan makan sambal. Sunnah tidak memenuhinya. Contohnya seperti
orang yang berjanji dan bersumpah akan melakukan suatu perbuatan, misalnya
jika saya lulus SLTA saya mau kursus menjahit. Ternyata dia berubah pikiran
untuk melanjutkan kuliah dan ternyata diridhai orang tua. Maka kursus
menjahitnya pun dibatalkan, karena melanjutkan kuliah. Konsekuensinya dia
harus membayar kafarat sumpahnya itu. yaitu puasa kafarat 3 hari berturut- turut.
Wajib tidak memenuhi janjinya. Yakni janji untuk berbuat jahat.

D. HIKMAH MENEPATI JANJI


Ketika semua orang dengan status apapun, profesi dan pekerjaannya
senantiasa menepati janji yang telah diikrarkannya, maka kehidupan ini akan
damai dan indah. Saling percaya, menghormati, dan mengasihi akan merebak di
semua sisi kehidupan manusia. Semoga Allah SWT memberi kemampuan kepada
kita untuk menjadi orang-orang yang senantiasa menepati janji sebagai wujud
ketaatan kepada Allah SWT. Serta dapat memuliakan dan membina jalinan antar
sesama. Beberapa hikmah menepati janji yaitu:
1. Tergolong dalam manusia berakal
Allah SWT. berfirman: “Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa
yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang
yang buta? Hanya orang berakal yang dapat mengambil pelajaran, yaitu
orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian.” (QS. Ar-
Ra’d ayat 19-20)
Maksud dari ayat tersebut adalah orang yang menepati janji merupakan orang
yang berakal dan dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah Allah
turunkan kepada umatnya.
2. Termasuk golongan Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah SAW. bersabda :“Orang yang merendahkan orang-orang Mukmin
dan yang berjanji namun tidak menepati janjinya, mereka bukanlah
golonganku dan aku bukanlah dari golongan mereka.” (HR. Muslim)
Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa orang yang suka merendahkan orang
lain dan mengingkari janji, bukan termasuk golongan Rasulullah SAW.
3. Mendapat kepercayaan
Orang yang senantiasa menepati janjinya maka ucapannya dapat dipercaya,
sehingga orang tidak akan meragukan ucapan-ucapannya dan memberikan
kepercayaan padanya. Misalnya teladan Rasulullah SAW: semasa hidupnya
beliau merupakan orang yang selalu amanah, maka dari itu Khadijah binti
Khuwailid tidak ragu untuk mempercayakan barang dagangannya kepada
Rasulullah SAW. untuk dijual.
4. Menjadikan Allah dan Rasul sebagai teladan
Sama halnya seperti Rasulullah yang selalu amanah, hal tersebut juga pasti
ada dalam sifat Allah SWT.
Dalam (QS. Ar-Rum ayat 6), Allah SWT. berfirman:“Sebagai janji yang
sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”
Allah selalu menepati janji yang dia berikan kepada umatnya yang bertakwa
dan taat kepada-Nya.
5. Menempati Surga Firdaus
Allah SWT. berfirman dalam (QS. Al-Mu’minun ayat 8-11): “Dan (sungguh
beruntung) orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya, serta
orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang yang akan
mewarisi, (yakni) yang akan mewarisii surga Firdaus. Mereka kekal
didalamnya.”
Dalam pengertian ayat diatas mengatakan, bahwa orang yang selalu menepati
janji dan menjaga shalatnya merupakan orang yang akan mewarisi surga
Firdaus, dan mereka kekal didalamnya.
6. Bukan golongan orang munafik
Orang yang suka ingkar janji dalam Islam termasuk kedalam golongan orang
yang munafik, seperti yang dikatakan dalam hadits berikut : “Tanda-tanda
orang munafik itu ada tiga : apabila berkata ia berdusta, apabila berjanji ia
ingkar, dan apabila dipercaya (di beri amanah) ia berkhianat.” (HR.
Bukhari dan Muslim.
7. Termasuk golongan orang bertakwa
Allah SWT berfirman : “Sebenarnya barang siapa menepati janji dan
bertakwa, maka sungguh, Allah mencintai orang-orang yang
bertakwa.” (QS. Ali Imran ayat 76)
Menepati janji merupakan salah satu sifat orang yang bertakwa. Dan
sesungguhnya Allah SWT. menyukai orang-orang yang bertakwa.
8. Tidak dimintai pertanggungjawaban baik di akhirat maupun di dunia
Allah SWT. berfirman dalam (QS. Al-Isra’) : “Dan janganlah kamu
mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik
(bermanfaat) sampai dia dewasa, dan penuhilah janji, karena janji itu pasti
dimintai pertanggungjawabannya.”
Dalam ayat tersebut ada kalimat yang mengatakan ‘dan penuhilah janji,
karena janji itu dimintai pertanggungjawaban’, maksudnya adalah setiap
janji yang dibuat lalu diingkari, kelak diakhirat janji tersebut akan
dipertanyakan oleh malaikat dan kita akan dimintai pertanggung jawaban atas
janji-janji yang tidak ditepati.

E. BAHAYA INGKAR JANJI


Ingkar janji alias berbuat kebohongan. Hampir setiap orang yang pernah
berhubungan dengan orang lain kami kira sudah pernah merasakan, betapa
pahitnya dibohongi orang lain dengan ingkar janji. Memang ingkar janji itu penuh
dengan madharat, banyak sisi negatif yang akan timbul akibat ingkar janji ini. Di
antaranya adalah;
1. Dengan mengingkari janji, orang itu termasuk orang yang munafik. Sebab,
perilaku orang yang munafik salah satunya adalah ingkar janji.
2. Dengan mengingkari janji maka semakin dijauhkan dari surga Firdaus.
Sebab, surga Firdaus hanya diperuntukkan bagi orang yang memiliki sifat-
sifat baik.
3. Dengan mengingkari janji, tidak akan dipercaya orang lain. Bahkan orang-
orang terdekat pun juga tidak akan percaya.
4. Dengan mengingkari janji, kita tidak memiliki wibawa, sering dilecehkan,
dan selalu mendapatkan prasangka buruk dari orang lain.
5. Dengan mengingkari janji, berarti telah melakukan dosa besar.
6. Dengan mengingkari janji, jalinan antar individu akan terputus bahkan bisa
saling bermusuhan. Jika orang yang diingkari itu tidak rela, maka akan
bereaksi dan timbul kemarahan. Jika marah tak terkendali, bisa menimbulkan
pertengkaran, perkelahian, bahkan bisa menyebabkan pembunuhan.
7. Jika pemimpin ingkar janji terhadap rakyatnya, maka bukan mustahil akan
terjadi pemberontakan dan prahara di negerinya. Jika periodenya habis,
jangan harap bisa terpilih lagi sebagai pemiumpin. Jika yang ingkar janji
suatu perusahaan terhadap karyawannya. sering menimbulkan demo yang
bisa membangkrutkan perusahaan itu sendiri.
Allah SWT akan mengutuk keras dan melaknat serta menimpakan bencana
terhadap orang yang ingkar janji, baik itu berjanji kepada Allah maupun berjanji
terhadap saesama manusia. Ingkar janji adalah merupakan indikasi orang
munafiq, karena ciri-ciri orang Munafiq adalah suka berdusta, suka ingkar janji
dan suka mengkhianati teman.