Anda di halaman 1dari 15

TUGAS KELOMPOK : Asuhan Kebidanan Komunitas

OLEH : Mezlhy Siltha S,S.ST.,M.Kes

PRINSIP PENGELOLAN PROGRAM KB/KIA DI WILAYAH KERJA

Oleh :
Kelompok 3
Tingkat IIIB

 Andriyaniyulia Safitri
 Anisa Widya Ningrum
 Astuti Wulandari
 Sinta Rahmawati

YAYASAN PENDIDIKAN AKADEMI KEBIDANAN


KONAWE 2018/2019
KATA PENGANTAR

. Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena telah
memberikan rahmat, taufik dan hidayah-NYA kepada kami sehingga dapat
menyelesaikan makalah dengan judul “Prinsip Pengelolan Program KB/KIA Di
Wilayah Kerja” Sebagai Tugas Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Komunitas
Dalam penyelesaian makalah ini, kami telah banyak mendapatkan dukungan
dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini kami ingin
menyampaikan terima kasih kepada Orang tua yang telah memberikan dorongan
dan motivasi terhadap penulis selama pembuatan makalah ini dan Ibu Mezlhy
Siltha S,S.ST.,M.Kes selaku dosen yang telah memberikan
bimbingan,arahan,serta saran dalam pembuatan makalah ini.
Penulis masih menerima dengan tangan terbuka terhadap kritik dan saran
dari pihak yang peduli terhadap makalah ini agar menjadi bahan perbaikan
dikemudian hari. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua. Amin
Unaaha , 07 februari 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................i


DAFTAR ISI .......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................1
C. Tujuan Pembahasa ..................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Prinsip Pengelolan Program KB/KIA Di Wilayah Kerja .......................3
B. Peningkatan Pelayanan Kerja Di KIA.....................................................6
C. Pelaksanan PWS KIA Di Tingkat Puskesmas ........................................8

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan............................................................. ................................10
B. Saran ........................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................11
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS
KIA) adalah alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA
disuatu wilayah kerja secara terus menerus, agar dapat dilakukan tindak
lanjut yang cepat dan tepat. Program KIA yang dimaksud meliputi
pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi
kebidanan, keluarga berencana, bayi baru lahir, bayi baru lahir dengan
komplikasi, bayi, dan balita.
Dengan manajemen PWS KIA diharapkan cakupan pelayanan
dapat menjangkau seluruh sasaran di suatu wilayah kerja sehingga kasus
dengan risiko/komplikasi kebidanan dapat ditemukan sedini mungkin
untuk dapat memperoleh penanganan yang memadai.
Penyajian PWS KIA juga dapat dipakai sebagai alat motivasi,
informasi dan komunikasi kepada sektor terkait, khususnya aparat
setempat yang berperan dalam pendataan dan penggerakan sasaran
maupun membantu dalam memecahkan masalah non teknis misalnya:
bumil KEK, rujukan kasus dengan risiko. Pelaksanaan PWS KIA baru
berarti bila dilengkapi dengan tindak lanjut berupa perbaikan dalam
pelaksanaan pelayanan KIA. PWS KIA dikembangkan untuk intensifikasi
manajemen program. Walaupun demikian, hasil rekapitulasinya di tingkat
puskesmas dan kabupaten dapat dipakai untuk menentukan puskesmas dan
desa/kelurahan yang rawan. Demikian pula rekapitulasi PWS KIA di
tingkat propinsi dapat dipakai untuk menentukan kabupaten yang rawan.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja Prinsip Pengelolan Program KB/KIA Di Wilayah Kerja ?
2. Apa saja Peningkatan Pelayanan Kerja Di KIA ?
3. Bagaimana Pelaksanan PWS KIA Di Tingkat Puskesmas ?
C. TUJUAN
1. Umum
Meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan KIA di wilayah
kerja puskesmas, melalui pemantauan cakupan pelayanan KIA di tiap
desa secara terus menerus.
2. Khusus
a. Memantau cakupan pelayanan KIA yang dipilih sebagai indikator
secara teratur (bulanan) dan terus menerus.
b. Menilai kesenjangan antara target dengan pencapaian.
c. Menentukan urutan daerah prioritas yang akan ditangani secara
intensif.
d. Merencanakan tindak lanjut dengan menggunakan sumber daya
yang tersedia.
e. Membangkitkan peran pamong dalam menggerakkan sasaran dan
mobilisasi sumber daya.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PRINSIP PENGELOLAAN PROGRAM KIA-KB DI WILAYAH


KERJA

Pengelolaan program KIA bertujuan memantapkan dan meningkatkan


jangkauan serta mutu pelayanan KIA secara efektif dan efisien. Pemantapan
pelayanan KIA dewasa ini diutamakan pada kegiatan pokok sebagai berikut:
a. Peningkatan pelayanan antenatal bagi seluruh ibu hamil di semua
pelayanan kesehatan dengan mutu sesuai standar serta menjangkau
seluruh sasaran.
b. Peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
diarahkan ke fasilitas kesehatan.
c. Peningkatan pelayanan kesehatan bayi baru lahir, bayi dan anak
balita di semua pelayanan kesehatan yang bermutu dan sesuai
standar serta menjangkau seluruh sasaran.
d. Peningkatan deteksi dini risiko/komplikasi kebidanan dan bayi
baru lahir oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat.
e. Peningkatan penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir
secara adekuat dan pengamatan secara terus-menerus oleh tenaga
kesehatan.
f. Peningkatan pelayanan ibu nifas, bayi baru lahir, bayi dan anak
balita sesuai standar dan menjangkau seluruh sasaran.
g. Peningkatan pelayanan KB berkualitas.
h. Peningkatan deteksi dini tanda bahaya dan penanganannya sesuai
standar pada bayi baru lahir, bayi dan anak balita.
i. Peningkatan penanganan bayi baru lahir dengan komplikasi sesuai
standar
B. PENINGKATAN PELAYANAN KERJA DI KIA
a. Peningkatan Pelayanan Antenatal Menjangkau Seluruh Sasaran
Pelayanan antenatal yang berkualitas adalah yang
sesuai dengan standar pelayanan antenatal seperti yang ditetapkan dalam
buku Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Pelayanan antenatal sesuai
standar meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan),
pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus, serta intervensi umum dan
khusus (sesuai risiko yang ditemukan dalam pemeriksaan). Dalam
penerapannya terdiri atas:
a) Timbang berat badan dan ukur Tinggi badan
b) Ukur Tekanan darah
c) Ukur lingkar lengan atas
d) Ukur Tinggi fundus uteri
e) Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin
f) Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi
Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan
g) Pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama
kehamilan
h) Test laboratorium (rutin dan khusus)
i) Tata laksana kasus
j) Temu wicara (konseling).

Pemeriksaan laboratorium rutin mencakup


pemeriksaan hemoglobin, protein urine, gula darah, dan hepatitis B.
Pemeriksaan khusus dilakukan didaerah prevalensi tinggi dan atau
kelompok perilaku ber-risiko; dilakukan terhadap HIV, sifilis, malaria,
tuberkulosis, kecacingan dan thalasemia. Dengan demikian maka secara
operasional, pelayanan antenatal disebut layak apabila dilakukan oleh
tenaga kesehatan serta memenuhi standar ”10T” tersebut.
Ditetapkan pula bahwa frekuensi pelayanan
antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan, dengan distribusi
pemberian pelayanan yang dianjurkan sebagai berikut :

a) Minimal 1 kali pada triwulan pertama.


b) Minimal 1 kali pada triwulan kedua.
c) Minimal 2 kali pada triwulan ketiga.

Standar waktu pelayanan antenatal tersebut


dianjurkan untuk menjamin perlindungan kepada ibu hamil, berupa
deteksi dini risiko, pencegahan dan penanganan komplikasi.

b. Peningkatan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan


diarahkan Ke Fasilitas Kesehatan
Pada prinsipnya, penolong persalinan harus memperhatikan hal-
hal sebagai berikut :
a. Pencegahan infeksi
b. Metode pertolongan persalinan yang sesuai standar.
c. Merujuk kasus yang memerlukan tingkat pelayanan yang
lebih tinggi.
d. Melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
e. Memberikan pada bayi baru lahir : Vit K 1, salep mata dan
imunisasi Hepatitis B0 (Hep B0).

c. Peningkatan Pelayanan Kesehatan BBL Dan Bayi Menjangkau


Seluruh Sasaran
a. Pelayanan Kesehatan Bayi
Kunjungan bayi bertujuan untuk meningkatkan akses bayi terhadap
pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin bila terdapat
kelainan pada bayi sehingga cepat mendapat pertolongan, pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit melalui pemantauan pertumbuhan,
imunisasi, serta peningkatan kualitas hidup bayi dengan stimulasi
tumbuh kembang. Dengan demikian hak anak mendapatkan pelayanan
kesehatan terpenuhi.
Pelayanan kesehatan tersebut meliputi:
a. Pemberian imunisasi dasar (BCG, Polio 1-4, DPT-HB 1-3,
Campak)
b. Stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang bayi (SDIDTK)
c. Pemberian vitamin A 100.000 IU (6 - 11 bulan)
d. Konseling ASI eksklusif dan pemberian makanan pendamping ASI
e. Konseling pencegahan hipotermi dan perawatan kesehatan bayi di
rumah menggunakan Buku KIA
f. Penanganan dan rujukan kasus
b. Pelayanan neonatus dengan komplikasi
Diperkirakan sekitar 15% dari bayi lahir hidup akan mengalami
komplikasi neonatal. Hari Pertama kelahiran bayi sangat penting, oleh
karena banyak perubahan yang terjadi pada bayi dalam menyesuaikan
diri dari kehidupan di dalam rahim kepada kehidupan di luar rahim.
Bayi baru lahir yang mengalami gejala sakit dapat cepat memburuk,
sehingga bila tidak ditangani dengan adekuat dapat terjadi kematian.
Kematian bayi sebagian besar terjadi pada hari pertama, minggu
pertama kemudian bulan pertama kehidupannya.
Pelayanan Neonatus dengan komplikasi adalah penanganan
neonatus dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan
kesakitan dan kematian oleh dokter/bidan/perawat terlatih di polindes,
puskesmas, puskesmas PONED, rumah bersalin dan rumah sakit
pemerintah/swasta.Komplikasi pada neonatus antara lain: Asfiksia,
Kejang, Ikterus, Hipotermia, Asfiksia, Tetanus Neonatorum, Sepsis,
Trauma lahir, BBLR (bayi berat lahir rendah).
Kebijakan Departemen Kesehatan dalam peningkatan akses dan
kualitas penanganan komplikasi neonatus tersebut antara lain
penyediaan puskesmas mampu PONED dengan target setiap
kabupaten/kota harus mempunyai minimal 4 (empat) puskesmas
mampu PONED. Puskesmas PONED adalah Puskesmas Rawat Inap
yang memiliki kemampuan serta fasilitas PONED siap 24 jam untuk
memberikan pelayanan terhadap ibu hamil, bersalin dan nifas dan
kegawatdaruratan bayi baru lahir dengan komplikasi baik yang datang
sendiri atau atas rujukan kader/ masyarakat, bidan di desa, Puskesmas
dan melakukan rujukan ke RS/ RS PONEK pada kasus yang tidak
mampu ditangani.
Untuk mendukung puskesmas mampu PONED ini, diharapkan
RSU kabupaten / kota mampu melaksanakan pelayanan obstetri dan
neonatal emergensi komprehensif (PONEK) yang siap selama 24 jam.
Dalam PONEK, RSU harus mampu melakukan pelayanan operasi
seksio sesaria, perawatan neonatus level II dan transfusi darah.Dengan
adanya puskesmas mampu PONED dan RS mampu PONEK maka
kasus – kasus komplikasi kebidanan dapat ditangani secara optimal
sehingga dapat mengurangi kematian ibu dan bayi baru lahir

d. Pelayanan KB Berkualitas
Pelayanan KB berkualitas adalah pelayanan KB yang sesuai
dengan standar dengan menghormati hak individu sehingga diharapkan
mampu meningkatkan derajat kesehatan dan menurunkan tingkat fertilitas
(kesuburan). Pelayanan KB bertujuan untuk menunda, menjarangkan
dan/atau menghentikan kehamilan, dengan menggunakan metode
kontrasepsi. Metode kontrasepsi meliputi:
a. KB alamiah (sistem kalender, metode amenore laktasi).
b. Metode KB hormonal (pil, suntik, susuk).
c. Metode KB non-hormonal (kondom, AKDR/IUD, vasektomi dan
tubektomi).
Sampai saat ini di Indonesia cakupan peserta KB aktif (Contraceptive
Prevalence Rate/CPR) mencapai 60,3% (SDKI 2002) dan angka ini
merupakan pencapaian tertinggi diantara negara-negara ASEAN. Namun
demikian metode yang dipakai lebih banyak menggunakan metode jangka
pendek seperti pil dan suntik. Menurut data SDKI 2002 akseptor KB yang
menggunakan suntik sebesar 21,1%, pil 15,4 %, AKDR 8,1%, susuk 6%,
tubektomi 3%, vasektomi 0,4% dan kondom 0,7%. Hal ini terkait dengan
tingginya angka putus pemakain (DO) pada metode jangka pendek
sehingga perlu pemantauan yang terus-menerus. Disamping itu pengelola
program KB perlu memfokuskan sasaran pada kategori PUS dengan “4
terlalu” (terlalu muda, tua, sering dan banyak).
Untuk mempertahankan dan meningkatkan cakupan peserta KB perlu
diupayakan pengelolaan program yang berhubungan dengan peningkatan
aspek kualitas, teknis dan aspek manajerial pelayanan KB. Dari aspek
kualitas perlu diterapkan pelayanan yang sesuai standard an variasi pilihan
metode KB, sedangkan dari segi teknis perlu dilakukan pelatihan klinis
dan non-klinis secara berkesinambungan. Selanjutnya aspek manajerial,
pengelola program KB perlu melakukan revitalisasi dalam segi analisis
situasi program KB dan sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan KB.
Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan
pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas
minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu
a) Kunjungan nifas pertama pada masa 6 jam setelah persalinan
sampai dengan 7 hari.
b) Kunjungan nifas ke dua dalam waktu 2 minggu setelah persalinan.
c) Kunjungan nifas ke tiga dalam waktu 6 minggu setelah persalinan.
Pelayanan yang diberikan adalah :
a) Pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu.
b) Pemeriksaan tinggi fundus uteri (involusi uterus).
c) Pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya.
d) Pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan.
e) Pemberian kapsul Vitamin A 200.000 IU sebanyak dua kali (2 x 24
jam).
f) Pelayanan KB pasca persalinan
C. Pelaksanan PWS KIA Di Tingkat Puskesmas
Langkah- langkah atau urutan yang dilaksanakan meliputi :
a. Pertemuan reorientasi
Pertemuan ini merupakan pertemuan dengan tujuan :
 Menyamakan persepsi mengenai PWS KIA
 Sosialisasi kebijaksanaan Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan
PWS KIA
 Merencanakan Fasilitasi ke Desa
 Menyusun mekanisme pemantauan kegiatan, dll
 Pihak yang terlibat meliputi :
 Bidan di Desa
 Bidan Koordinator
 Pengelola Program KIA
 Kepala Puskesmas
 Petugas Gizi
 P2PL
 Data Operator
 Farmasi
b. Pertemuan Sosialisasi
Fokus pertemuan ini adalah untuk lintas sektor tingkat
kecamatan dan desa, dengantujuan untuk sosialisasi tentang PWS
KIA,menyepakati peran lintas sektor dalam PWS KIA dan menyusun
mekanisme pemantauan kegiatan.Pihak yang terlibat meliputi :
 Puskesmas
 Camat
 Kepala Desa
 Dewan Kelurahan
 PKK
 Polsek
c. Memfasilitasi Bidan di Desa :
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bantuan teknis
berupakunjungan ke lapangan atau pertemuan di Desa. Petugas
Puskesmasmemfasilitasi Bidan di Desa dan lintas sector terkait.Materi
fasilitasi :

 Pedoman PWS KIA


 Pedoman Pelayanan Kebidanan Dasar
 Kebijaksanaan Program KIA
 Perencanaan pelaksanaan dan pemantauan kegiatan

d. Implementasi PWS KIA Puskesmas.


Puskesmas melaksanakan kegiatan PWS KIA melalui
pengumpulan,pengolahan, analisis, penelusuran dan pemanfaatan data
PWS KIAsesuai dengan yang diterangkan pada pembahasan
sebelumnya.Termasuk dalam implementasi PWS KIA di Puskesmas
adalahpemanfaatan PWS KIA dalam Lokakarya Mini, Pertemuan
BulananKecamatan dan Musrenbangcam.
e. Tindak lanjut :
Kegiatan ini bertujuan untuk menindak lanjuti hasil hasil
pembahasan implementasi PWS KIA di tingkat puskesmas .
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA)
adalah alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA
disuatu wilayah kerja secara terus menerus, agar dapat dilakukan tindak
lanjut yang cepat dan tepat. Program KIA yang dimaksud meliputi
pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi
kebidanan, keluarga berencana, bayi baru lahir, bayi baru lahir dengan
komplikasi.

B. SARAN
Dengan berakhirnya pembuatan makalah ini maka berakhir pula
makalah tentang prinsip pengelolaan KIA-KB. Diharapkan dengan
berakhirnya modul ini Kita akan dapat menguasai kompetensi yang
diharapkan pada awal kegiatan belajar Askeb Komunikasi. Mohon maaf
atas kekurangan dalam pembbuatan makalah ini dan semoga bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA

Bidan Menyongsong Masa Depan, PP IBI. Jakarta.


Behrman. Kliegman. Arvin. (2000). Ilmu Kesehatan Anak (Nelson Textbook of
Pediatrics). EGC. Jakarta.
Depkes. (2007). Kurikulum dan Modul Pelatihan Bidan Poskesdes dan
Pengembangan Desa Siaga. Depkes. Jakarta.
Depkes RI. (2007) Rumah Tangga Sehat Dengan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat. Pusat Promosi Kesehatan.
Depkes RI, (2006) Modul Manajemen Terpadu Balita Sakit, Direktorat Bina
Kesehatan Anak, Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat, Jakarta..