Anda di halaman 1dari 3

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala meridhai untuk kalian tiga hal dan

َ ‫علَ ْينَا أ َ ْف‬


َ ‫س ِّل َوأ َ ْنزَ َل‬ َ ‫س َل ِّإلَ ْينَا أ َ ْف‬َ ‫ب ْالعَالَ ِّميْنَ أ َ ْر‬
ِّ ‫ْال َح ْمدُ َر‬ membenci dari kalian dari tiga hal: Allah Subhanahu wata’ala meridhai kalian agar
‫ض َل‬ ُ ‫الر‬
ُّ ‫ض َل‬ beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun; berpegang
kuat dengan agama Allah Subhanahu wata’ala semuanya (bersatu) dan tidak
‫على‬ َ ِّ‫اإل ْجتِّ َماع‬ِّ ‫اس َوأ َ َم َرنَا ِّب‬ ِّ َّ‫ت ِّللن‬ ْ ‫ب و َجعَلَنَا لَنَا َخي َْر أ ُ َّم ٍة أ ُ ْخ ِّر َج‬ِّ ُ ‫ال ُكت‬ berceraiberai; serta agar menasihati orang yang Allah telah jadikan sebagai penguasa
bagi kalian. (Dan Allah) membenci kalian dari mengatakan (setiap apa yang)
dikatakan (kepada kalian), banyak bertanya, dan membuang-buang harta.” (HR.
‫ أ َ ْح َمدُهُ تَعَالَى‬،‫ق َواتِّبَاعِّ ال َه َوى‬ ِّ ‫اإل ْفتِّ َرا‬
ِّ ‫ع ْن‬ َ ‫ال َحق َوال ُهدَى َونَ َهانَا‬ Ahmad dan Muslim)

ُ‫ َوأ َ ْش َهدُ أَن الَ ِّإلَهَ ِّإالَّ ُه َو لَه‬،‫صى‬ َ ‫علَى نِّعَ ِّم ِّه الَّتِّي الَ ت ُ ْح‬
َ ُ‫َوأ َ ْش ُك ُره‬
Hadirin rahimakumullah,
Di dalam hadits yang mulia ini, Nabi Muhammad memberitakan bahwa Allah
Subhanahu wata’ala meridhai kita untuk memiliki tiga sifat yang dengannya
‫علَى‬َ ُ‫ ت َ َر َك أ ُ َّمتَه‬،ُ‫س ْولُه‬
ُ ‫ع ْبدُهُ َو َر‬ َّ ُ‫ْاْل َ ْس َما ُء ال ُح ْسنَى َوأ َ ْش َهد‬
َ ‫أن ُم َح َّمدًا‬ seseorang akan berbahagia di dunia dan akhirat. Sifat-sifat tersebut adalah:
Yang pertama adalah agar kita memperbaiki akidah dengan memurnikan ibadah
hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala dan berlepas diri dari berbagai jenis
،ُ‫علَ ْي ِّه َوالَ ش ََّر ِّإالَّ َحذَّ َرهَا ِّم ْنه‬ َ ‫اء الَ َخي َْر ِّإالَّ دَلَّ َها‬
ِّ ‫ض‬ َ ‫ْال َم َح َّج ِّة ْالبَ ْي‬ kesyirikan. Ini adalah perkara pertama yang harus diperhatikan. Sebab, akidah
merupakan pondasi yang dibangun di atasnya amalan seseorang. Apabila baik

َ ‫ص َحا ِّب ِّه الَّ ِّذيْنَ آ َمنُ ْوا ِّب ِّه َو‬
ْ َ ‫علَى آ ِّل ِّه َوأ‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِّه َو‬
akidahnya, akan bernilai sebagai ibadah dan akan bermanfaat amal salehnya. Adapun
ُ‫عزَ ُر ْوه‬ َ jika rusak akidahnya, amalannya tidak bermanfaat dan tidak bernilai di sisi Allah
Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, seluruh Rosul diperintah untuk mengajak pada
‫ أ َ َّما‬،‫ت َ ْس ِّل ْي ًما َكثِّي ًْرا‬ َ ‫ِّي أ ُ ْن ِّز َل َمعَهُ َو‬
‫سلَّ َم‬ ْ ‫ص ُر ْوهُ َواتَّبَعُ ْوا النُّ ْو َر الَّذ‬
َ َ‫َون‬
perbaikan akidah sebelum hal yang lainnya. Setiap rasul mengatakan,

:ُ‫بَ ْعد‬ َ ‫َّللاَ َما لَ ُكم ِّم ْن ِّإ َٰلَ ٍه‬


ُ‫غي ُْره‬ َّ ‫فَقَا َل يَا قَ ْو ِّم ا ْعبُدُوا‬
“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Rabb bagimu selain- Nya.”
Jama’ah jum’ah rahimakumullah, (al-A’raf: 59)
Al-Imam Muslim dan Al-Imam Ahmad rahimahumallah meriwayatkan dengan
lafadz yang semakna dari jalan sahabat Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Perkara kedua yang Allah Subhanahu wata’ala ridha terhadap hamba-Nya adalah
wasallam bahwa beliau bersabda, agar kaum muslimin bersatu di atas agama-Nya dan meninggalkan perpecahan. Oleh
karena itu, wajib bagi kita untuk mengikuti jalan yang satu, yaitu jalan
ُ‫ضى لَ ُك ْم أ َ ْن ت َ ْعبُدُوه‬
َ ‫ فَيَ ْر‬،‫ضى لَ ُك ْم ثَالَثًا َويَ ْك َرهُ لَ ُك ْم ثَالَثًا‬ َ ‫ِّإ َّن هللاَ يَ ْر‬ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Kita tidak boleh
berpecah belah dalam akidah dan ibadah serta dalam hal yang berkaitan dengan
hukum-hukum agama. Meskipun tidak dimungkiri bahwa berbeda dan berselisih
‫ص ُموا ِّب َح ْب ِّل هللاِّ َج ِّميعًا َوالَ تَفَ َّرقُوا َوأ َ ْن‬
ِّ َ ‫ش ْيئًا َوأ َ ْن ت َ ْعت‬
َ ‫َوالَ ت ُ ْش ِّر ُكوا ِّب ِّه‬ adalah sifat dan tabiat manusia, namun hal tersebut tidak berarti diperbolehkan untuk
berpecah belah. Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan solusi ketika terjadi

ُّ ‫َاص ُحوا َم ْن َوالَّهُ هللاُ أ َ ْم َر ُك ْم؛ َويَ ْك َرهُ لَ ُك ْم قِّي َل َوقَا َل َو َكثْ َرة َ ال‬ ِّ ‫تُن‬
perselisihan supaya tidak menimbulkan perpecahan, sebagaimana tersebut dalam
‫س َؤا ِّل‬ firman-Nya,

‫عةَ ْال َما ِّل‬


َ ‫ضا‬
َ ‫َو ِّإ‬
sebagian kaum muslimin yang berpecah-belah dalam kelompok-kelompok tertentu
َ‫سو ِّل ِّإن ُكنت ُ ْم تُؤْ ِّمنُون‬
ُ ‫الر‬
َّ ‫َّللاِّ َو‬َّ ‫ش ْيءٍ فَ ُردُّوهُ ِّإلَى‬ َ ‫فَإِّن تَنَازَ ْعت ُ ْم فِّي‬ yang masing-masing bangga dengan kelompoknya serta fanatik buta membela
kelompoknya tanpa melihat benar atau salah, bahkan lebih ironis lagi sampai saling
menghina dan mencela, semua ini terjadi akibat kurangnya wawasan keilmuan tapi
ً ‫س ُن تَأ ْ ِّو‬
‫يال‬ َ ‫اَّللِّ َو ْاليَ ْو ِّم ْاْل ِّخ ِّر ۚ َٰذَ ِّل َك َخي ٌْر َوأ َ ْح‬
َّ ‫ِّب‬ sikap emosionalnya berlebihan.
“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia
kepada Allah (al- Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Adapun perkara ketiga yang Allah Subhanahu wata’ala ridha untuk kita
lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59), Maka dari itu, jangan sampai kaum muslimin
menjalankannya adalah menegakkan nasihat terhadap penguasa dengan menaatinya,
memiliki akidah dan ibadah yang berbeda-beda. Begitu pula tidak boleh masing-
mendoakan kebaikan untuknya ataupun membantunya untuk kebaikannya dan
masing menetapkan hukum, ini halal dan ini haram dari dirinya sendiri tanpa
kebaikan masyarakatnya. Penguasa yang dimaksud adalah penguasa muslim yang
berdasarkan dalil dan bimbingan alim-ulama yang roosikhuun fil ilmi
sah yang memimpin suatu negeri dan memiliki wilayah serta kekuatan, baik dia
menjadi penguasa dengan cara dipilih maupun cara yang lainnya. Allah Subhanahu
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah,
wata’ala ridha kepada kaum muslimin untuk menaati pemerintah dalam perkara
Berpecah belah adalah sifat orang-orang Yahudi dan Nasrani yang kita dilarang
yang ma’ruf serta untuk tidak melanggar aturan yang telah ditetapkannya selama
untuk mengikuti jalan mereka sebagaimana tersebut dalam firman Allah Subhanahu
tidak bertentangan dengan syariat Allah Subhanahu wata’ala. Begitu pula orang-
wata’ala,
orang yang mengemban amanat atau tugas dari penguasa, seperti para pegawai

ۚ ُ‫اختَلَفُوا ِّمن بَ ْع ِّد َما َجا َءهُ ُم ْالبَ ِّينَات‬


ْ ‫َو َال ت َ ُكونُوا َكالَّذِّينَ تَفَ َّرقُوا َو‬
pemerintahan atau yang semisalnya, wajib bagi mereka untuk menjalankan tugas
tersebut dengan sebaik-baiknya. Tidakboleh baginya untuk memanfaatkan tugas
yang diembannya sebagai kesempatan untuk mengeruk keuntungan pribadi atau

ٌ َ ‫عذ‬ َ ‫َوأُو َٰلَ ِّئ َك لَ ُه ْم‬


orang-orang dekatnya sehingga berlaku tidak adil dan merugikan masyarakat secara
‫ع ِّظي ٌم‬َ ‫اب‬ umum.
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih
sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang Hadirin rahimakumullah,
yang mendapat siksa yang berat.” (Ali-Imran: 105) Perlu diingat pula bahwa adanya seorang pemimpin muslim bagi suatu masyarakat
adalah karunia Allah Subhanahu wata’ala yang sangat besar. Tidak bisa
Dari ayat tersebut kita juga memahami bahwa perpecahan bukanlah rahmat. Justru dibayangkan apa yang akan terjadi apabila suatu negara tidak ada pemimpinnya.
perpecahan adalah azab dan akan membuat kaum muslimin saling bermusuhan. Tentu kekacauan, rasa tidak aman, dan ketakutan akan menyelimuti negeri tersebut.
Perpecahan akan mencegah kaum muslimin untuk saling menolong dalam kebaikan. Namun, tentu saja seorang pemimpin tidak akan menjadi sebab kebaikan ketika
Oleh karena itu, yang semestinya dilakukan oleh kaum muslimin agar menjadi umat masyarakat tidak mau menaatinya dan menghormatinya. Maka dari itu, sungguh hal
yang satu, yaitu dengan kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan mengikuti ini merupakan prinsip-prinsip yang sangat penting untuk dipahami dan diamalkan.
jalan Rasulullah dan para shohabatnya, dengan bimbingan para Ulama melalui ijma’
dan qiyasnya, baik dalam akidah, ibadah, muamalah. Kita tidak menafikan Khutbah Kedua
perselisihan terjadi sejak jaman shohabat dan ulama salafusholih kendati demikian

َ ‫ َو‬،ُ‫ َوأَبَانَ آيَاتِّ ِّه ِّليَ ْع ِّرفُ ْوه‬،ُ‫ْالخ َْلقَ ِّليَ ْعبُد ُْوه‬
‫س َّه َل لَ ُه ْم‬ ْ ‫ْال َح ْمدُ الَّذ‬
َ‫ِّي َخلَق‬
mereka tetap menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan dan saling menghargai satu
dengan yang lainnya. Perlu diingat, agama kita adalah agama yang menjaga
persatuan dan kebersamaan dalam banyak permasalahan, seperti dalam
bermasyarakat dan bernegara, maupun dalam menjalankan ibadah shalat, haji,
berhari raya, dan yang semisalnya. Karena itu, sungguh memprihatinkan keadaan
َ‫ َوأ َ ْش َهدُ أ َ ْن الَ ِّإلَهَ ِّإالَّ هللاُ َو ْحدَهُ ال‬.ُ‫صلُ ْوه‬ ِّ َ‫ِّإلَ ْي ِّه ِّلي‬ ُ ‫ط ِّريْقَ اْ ُلو‬
‫ص ْو ِّل‬ َ
‫ش ْيءٍ قَ ِّدي ٌْر‪َ ،‬وأ َ ْش َهدُ أ َ َّن‬‫علَى ُك ِّل َ‬ ‫ش َِّري َْك لَهُ‪ ،‬لَهُ ْال ُم ْلكُ َولَهُ ْال َح ْمدُ َو ُه َو َ‬
‫سلَهُ هللاُ ِّباْل ُهدَى َو ِّدي ِّْن‬ ‫س ْولُهُ‪ ،‬أ َ ْر َ‬ ‫نَ ِّبيَّنَا َو ِّإ َما َمنَا َوقُ ْد َوتَنَا ُم َح َّمدًا َ‬
‫ع ْبدُهُ َو َر ُ‬
‫علَى آ ِّل ِّه َوأ َ ْ‬
‫ص َحابِّ ِّه‬ ‫علَ ْي ِّه َو َ‬ ‫صلَّى هللاُ َ‬ ‫ق ِّليَ ُك ْونَ ِّل ْلعَالَ ِّميْنَ نَ ِّذي ًْرا‪َ ،‬‬ ‫اْل َح ِّ‬
‫سلَّ َم ت َ ْس ِّل ْي ًما َكثِّي ًْرا‪ .‬أ َ َّما بَ ْعدُ‪:‬‬
‫ان َو َ‬
‫س ٍ‬‫َوالتَّا ِّب ِّعيْنَ لَ ُه ْم ِّبإِّ ْح َ‬