Anda di halaman 1dari 33

Case Base Discussion (CBD)

Family Planning

Disusun oleh :

Cut Nonda Maracilu


PPDS Tahap T1B

Penguji: DR. dr. Cut Meurah Yenni, Sp.OG

Departemen Obstetri dan Ginekologi


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
RSU Zainoel Abidin
Banda Aceh
Mei 2018
Nama : Ny.Luci
Umur : 41 tahun
No. CM : 1-16-64-89
Tanggal Masuk : 26 Maret 2018
Pukul : 03.00 WIB
Diagnosis : P5A0 Nifas hari pertama post partus spontan

Keluhan Utama: Rencana tubektomy

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien telah melahirkan seorang bayi laki-laki pada tanggal 26 Maret
2018 pukul 10.00 wib dengan berat badan lahir 2800 gram. Saat ini pasien direncanakan untuk
tindakan tubektomy.

RPK : Asma (-), Hipertensi (-), Penyakit jantung (-), DM (-), Alergi (-)

RPD :Asma (-), Hipertensi (-), Penyakit jantung (-), DM (-), Alergi (-)

Riwayat Menstruasi : menarche 13 tahun, regular, 6hari, 3-4 x ganti pembalut, nyeri pada saat haid
tidak ada

RiwayatMenikah : 1 x, 17 tahun

RiwayatPersalinan:

1. Laki-laki, 2700 gram, persalinan pervaginam di bidan, 25 tahun

2. Perempuan, 2600 gram, persalinan pervaginam di bidan,17 tahun

3. Laki-laki, 2600 gram, persalinan pervaginam di bidan, 13 tahun

4. Laki-laki, 2700 gram, persalinan pervaginam di bidan, 5 tahun

5. Laki-laki, 2800 gram, persalinan pervaginam di RSUDZA, 1 hari

R. KB :tidak ada
Riwayat Sosial : istri : IRT, suami : swasta

Pemeriksaan fisik

KU: baik, Kes: CM, BB sebelum hamil: 55 kg, BB saat ini: 66 kg, TB: 160cm, BMI: 21,5 kg/m2

TD 110/70mmHg, HR 88 x/menit. RR20 x/menit, T36,5⁰ C

Status Generalis :

Mata : tidak ada konjungtiva anemis, tidak ada sklera ikterik

Jantung : BJ I-II regular, murmur tidak ada, gallop ritme tidak ada

Paru : Vesikuler kanan = kiri, wheezing tidak ada, ronkhi tidak ada

Abdomen : soepel, peristaltik positif

Extremitas : akral hangat, edema tidak ada

Status Obstetri:

ASI ada kanan dan kiri, TFU 2 jari di bawah pusat, kontraksi baik, BAK spontan, BAB dalam batas
normal, Lokhea Rubra.

A: P4A1 Nifas hari pertama post partus normal

Laboratorium :

Hemaglobin : 12,1gram/dl( 12-14 gram/dl )

Hematokrit : 35% ( 40-55 % )

Eritrosit :4,0(4,2-5,4 103/mm3)

Leukosit :9,23/ul( 4100-10500 /ul )

Trombosit : 238/ul (150000-450000 /ul )

Diftel : 0/1/0/87/8/4 (0-2/0-4/2-6/50-70/20-40/2-8 %)


CT/BT/HbsAg :7/2/negatif (1-7/5-15 menit)

GDS/Ur/Cr : 95/9/0,40 (<200 mg/dL/13-43 mg/dL/0,51-0,95 mg/dL)

Na/K/Cl : 128/3,7/112 (132-146 /3,7-5,4/98-106 mmol/L)

P:

Rencana diagnostik

Observasi KU, TTV, Kontraksi, Perdarahan

Rencana tatalaksana

• Rencana Tubektomi

Rencana edukasi

• Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang kondisi pasien dan keadaan saat ini

• Motivasi ASI dan Motivasi KB yang sesuai

Prosedur Mini Laparatomi Pascapersalinan Tubektomi

1. Pasien terlentang dalam spinal anestesi


2. Asepsis dan antisepsis lapangan operasi
3. Insisi melintang 2-3 cm pada kulit dan jaringan subkutan di bawah pusat
4. Insisi lapis demi lapis sampai hampir menembus peritoneum kemudian peritoneum dijepit
dengan 2 klem, identifikasi dan digunting selebar jari sehingga bisa dimasuki jari telunjuk dan
sebuah tampon tang
5. Masukkan refraktor ke dalam rongga abdomen, tarik refraktor ke arah tuba yang akan dicapai
6. Jepit tuba dengan pinset dan tarik pelan keluar melalui insisi sampai terlihat fimbria
7. Bila tuba tertutup omentum dan usus, sisihkan dengan memakai kasa bulat yang dijepit klem
arteri dan posisi Tredelenberg
8. Jepit tuba pada 1/3 proksimal, angkat sampai tuba melengkung, tentukan daerah mesosalping
tanpa pembuluh darah
9. Tusukkan jarum bulat dengan benang catgut nomor 0 pada jarak 2 cm dari puncak
lengkungan dan ikat salah satu pangkal lengkungan tuba.
10. Ikat kedua pangkal lengkungan tuba secara bersama-sama dengan menggunakan benang yang
sama
11. Potong tuba tepat diatas ikatan benang
12. Periksa perdarahan pada tunggul tuba dan periksa lumen tuba untuk meyakinkan tuba telah
terpotong
13. Potong benang catgut 1 cm dari tuba dan masukkan kembali tuba ke dalam rongga perut.
14. Lakukan tindakan yang sama pada tuba sisi yang lain
15. Periksa rongga abdomen (kemiungkinan perdarahan atau laserasi usus)
16. Jahit fascia dengan jahitan simpul atau angka 8 memakai benang chromic catgut nomor 1
17. Jahit subkutis dengan jahitan simpul memakai benang plain catgut nomor 0
18. Jahit kulit dengan simpul memakai benang sutera nomor 0
19. Bersihkan luka insisi dan dinding perut sekitarnya dengan alkohol atau betadin, tutup luka
dengan opsite.
20. Prosedur selesai

BAB I
PENDAHULUAN
Sebagaimana diketahui keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat yang dapat
mencerminkan kualitas dari suatu negara. Keluarga yang sejahtera, sehat, harmonis,
berkualitas, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan idaman dari setiap
keluarga, oleh karena itu program-program Keluarga Berencana telah dirubah visinya dari
mewujudkan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) menjadi “Keluarga
Berkualitas Tahun 2015”(1,2)
Keluarga berencana merupakan salah satu upaya pelayanan kesehatan preventif yang
paling dasar dan utama. Pencegahan kematian dan kesakitan ibu merupakan alasan utama
diperlukannya pelayanan keluarga berencana.Perwujudan nyata dalam partisipasi program
Keluarga Berencana adalah dengan menggunakan kontrasepsi. Kontrasepsi adalah usaha
usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga
permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi
fertilitas.(2)
Dilain pihak terdapat kendala berupa banyaknya jenis kontrasepsi yang beredar
dipasaran dan masyarakat hanya mampu menyebut jenis alat atau obat kontrasepsi tersebut
sedangkan informasi-infomasi mengenai keuntungan, kekurangan, kontraindikasi maupun
efek samping dari kontrasepsi tersebut tidak mereka dapatkan, belum lagi adanya pandangan-
pandangan atau norma budaya lingkungan dan orang tua yang dapat membuat pengguna
(akseptor) menjadi ragu-ragu dalam menggunakan kontrasepsi tersebut.Untuk itu diperlukan
suatu layanan konseling agar dapat menjelaskan secara benar setiap kontrasepsi dengan jelas
mengenai keuntungan, kerugian, efek samping maupun kontraindikasinya. (3)
Penggunaan alat dan obat kontrasepsi memang tidak dapat lepas dari efek samping dan
risiko yang kadang-kadang dapat merugikan kesehatan, namun demikian yang harus
dipikirkan adalah benefit/ keuntungan dari penggunaan alat/ obat kontrasepsi tersebut yang
lebih besar dibanding tidak menggunakan kontrasepsi.(3)
Kontrasepsi ideal itu harus memenuhi syarat syarat sebagai berikut: 1) dapat dipercaya;
2) tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan; 3) daya kerjanya dapat diatur
menurut kebutuhan; 4) tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus; 5) tidak
memerlukan motivasi terus menerus; 6) mudah pelaksanaannya; 7) murah harganya sehingga
dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat; 8) dapat diterima penggunaannya oleh
pasangan yang bersangkutan.(4)
Kontrasepsi efektif terpilih ialah alat kontrasepsi dengan keberhasilan 95% (kegagalan
kecil) apabila dipakai dengan baik dan teratur, yang termasuk dalam golongan ini adalah
AKDR, susuk KB (implant) dan MOW. Metode kontrasepsi efektif terpilih merupakan
pengunaan alat atau cara mencegah kehamilan untuk jangka panjang, atau terutama
dianjurkan bagi pasangan yang tidak menginginkan anak lagi. (5)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kontrasepsi
2.1.1 Definisi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau melawan, sedangkan
konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang matang dan sel sperma (sel pria)
yang mengakibatkan kehamilan. Dengan kata lain kontrasepsi adalah menghindari/mencegah
terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel
sperma tersebut. (1)
Sampai sekarang cara kontrasepsi yang ideal belum ada. Kontrasepsi ideal itu harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1) dapat dipercaya, 2) tidak menimbulkan efek yang
mengganggu kesehatan, 3) daya kerjanya diatur menurut kebutuhan, 4) tidak menimbulkan
gangguan sewaktu melakukan koitus, 5) tidak memerlukan motivasi terus-menerus, 6) mudah
pelaksanaannya, 7)murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat, 8) dapat diterima penggunaannya oleh pasangan yang bersangkutan. (6)

2.1.2 Akseptabilitas
Akseptabilitas suatu cara kontrasepsi ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain: 1)
dapat dipercaya, 2) tidak ada efek samping atau hanya ada efek samping ringan, 3) tidak
mempengaruhi koitus, 4) mudah penggunaannya, 5) harga obat/alat kontrasepsi terjangkau.
Akseptabilitas ini terbukti apabila pasangan tetap mempergunakan cara kontrasepsi yang
bersangkutan, dan baru berhenti jika pasangan ingin mendapat anak lagi, atau jika kehamilan
tidak akan terjadi lagi karena umur wanita sudah lanjut atau oleh karena ia telah menjalani
kontrasepsi permanen. (1)

2.1.3 Metode Kontrasepsi


Metode-metode kontrasepsi dengan efektivitas bervariasi yang saat ini digunakan
adalah:(1,7,8)

A. Kontrasepsi Tanpa Menggunakan Alat/Obat


1. Senggama terputus (coitus interuptus)
Cara ini mungkin merupakan cara kontrasepsi yang tertua yang dikenal oleh manusia,
dan mungkin masih merupakan cara yang banyak dilakukan sampai sekarang. Senggama
terputus ialah penarikan penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi. Hal ini berdasarkan
kenyataan, bahwa akan terjadinya ejakulasi disadari sebelumnya oleh sebagian besar pria,
dan setelah itu masih ada waktu kira-kira 1 detik sebelum ejakulasi terjadi. Waktu yang
singkat ini dapat digunakan untuk menarik keluar penis dari vagina. Keuntungannya, cara ini
tidak membutuhkan biaya, alat-alat maupun persiapan, akan tetapi kekurangannya bahwa
untuk mensukseskan cara ini dibutuhkan pengendalian diri yang besar dari pihak pria dan
bisa mengurangi kenikmatan/kepuasan dalam berhubungan seksual. Selanjutnya penggunaan
cara ini dapat menimbulkan neurasteni. (8)
Efektivitas bergantung pada kesediaan pasangan untuk melakukan senggama terputus
setiap melaksanakannya (angka kegagalan 4-18 kehamilan per 100 perempuan per tahun).
Dan efektivitasnya akan jauh menurun jika sperma dalam 24 jam sejak ejakulasi masih
melekat pada penis. Kegagalan dengan cara ini dapat disebabkan oleh:1)Adanya pengeluaran
air mani sebelum ejakulasi (praejeculatory fluid) yang dapat mengandung sperma, apalagi
pada koitus yang berulang (repeated coitus); 2)Terlambatnya pengeluaran penis dari vagina;
3)Pengeluaran semen dekat pada vulva dapat menyebabkan kehamilan. (1)

2 . Pembilasan pascasenggama (postcoital douche)


Pembilasan vagina dengan air biasa dengan atau tanpa tambahan larutan obat (cuka
atau obat lain) segera koitus merupakan cara yang telah lama sekali dilakukan untuk tujuan
kontrasepsi. Maksudnya ialah untuk mengeluarkan sperma secara mekanik dari vagina.
Penambahan cuka ialah untuk memperoleh efek spermasida serta menjaga asiditas vagina.
Cara ini mengurangi kemampuan terjadinya konsepsi hanya dalam batas-batas tertentu karena
sebelum pembilasan dapat dilakukan, spermatozoa dalam jumlah besar telah memasuki
serviks uteri. (8)

3. Perpanjangan masa menyusui anak (prolonged lactation)


Sepanjang sejarah para wanita mengetahui bahwa kemungkinan untuk menjadi hamil
lebih kecil apabila mereka menyusui anaknya segera setelah melahirkan. Menyusui secara
eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang cukup efektif, selama ibu
belum mendapat haid, dan waktunya kurang dari 6 bulan pascapersalinan. Efektivitasnya
dapat mencapai 98 %1. Hal ini dapat efektif bila ibu menyusui lebih dari 8 kali sehari dan
bayi mendapat cukup asupan per laktasi; ibu belum mendapat haid, dan atau dalam 6 bulan
pasca persalinan. (3)
Laktasi dikaitkan dengan adanya prolaktinemia dan prolaktin menekan adanya ovulasi.
Tetapi ovulasi pada suatu saat akan terjadi dan dapat mendahului haid pertama sehingga
apabila hanya mengandalkan pemberian ASI saja dapat memberikan resiko kehamilan untuk
itu dapat dipertimbangan pemakaian kontrasepsi lain. (4)

Persalinan 3 minggu 6 minggu 6 bulan


Metode Amenorea √ √ √
Laktasi (MAL)
AKDR √ √ √
Sterilisasi √ √
Kondom/spermasida √ √ √ √
Kontrasepsi √ √
Progestin
KB Alamiah √ √
Kontrasepsi √
kombinasi
Tabel2.1. Waktu yang dianjurkan untuk memulai kontrasepsi pada wanita menyusui (1)

4. Pantang berkala (rhythm method)


Cara ini awalnya diperkenalkan oleh Kyusaku Ogino dari Jepang dan Hermann Knaus
dari Jerman, pada saat yang sama, kira-kira tahun 1931. Oleh karena itu, cara ini sering juga
disebut cara Ogino-Knaus. Mereka bertitik tolak dari hasil penyelidikan bahwa seorang
wanita hanya dapat hamil selama beberapa hari saja dalamtiap daur haidnya. Masa subur
yang disebut ”Fase Ovulasi” dimulai 48 jam sebelum ovulasi dan berakhir 24 jam setelah
ovulasi. Sebelum dan sesudah masa itu, wanita tersebut berada dalam masa tidak subur. (5)
Kesulitan cara ini ialah bahwa waktu yang tepat dari ovulasi sulit untuk ditentukan.
Ovulasi umumnya terjadi 14 ± 2 hari sebelum hari pertama haid yang akan datang. Pada
wanita dengan haid yang tidak teratur, akan tetapi variasi yang tidak jauh berbeda, dapat
diterapkan masa subur dengan perhitungan :
“Daur haid terpendek dikurangi 18 hari dan daur haid terpanjang dikurangi 11 hari”.Masa
aman ialah sebelum daur haid terpendek yang telah dikurangi. (1)
B. Kontrasepsi Secara Mekanis
1. Kondom pada Pria
Penggunaan kondom mempunyai tujuan perlindungan terhadap penyakit kelamin yang
telah dikenal sejak zaman Mesir kuno. Kini paling umum dipakai ialah kondom dari
karet.Kondom ini tebalnya kira-kira 0,05 mm. Kini telah tersedia berbagai ukuran dengan
bermacam-macam warna. Pada waktu sekarang kondom telah dipergunakan secara luas di
seluruh dunia dalam program keluarga berencana. (3)
Prinsip kerja kondomialah sebagai barrier dari penis sewaktu melakukan koitus, dan
mencegah tumpahnya sperma dalam vagina. Bentuk kondom adalah silindris dengan pinggir
yang tebal pada ujung yang terbuka, sedang ujung yang buntu berfungsi sebagai penampung
sperma. Diameternya biasanya kira-kira 31-36,5 mm dan panjang lebih kurang 19 mm.
Kondom dilapisi dengan pelicin yang mempunyai sifat spermatisid. (5)
Keuntungan kondom ialahselain untuk tujuan kontrasepsi juga dapat memberi
perlindungan terhadap penyakit kelamin. Kekurangannya ialah ada kalanya pasangan yang
mempergunakannya merasakan selaput karet tersebut sebagai penghalang dalam kenikmatan
sewaktu melakukan koitus. Penyebab kegagalanmemakai kondom ialah bocor atau koyaknya
alat itu atau tumpahnya sperma yang disebabkan oleh tidak dikeluarkannya penis segera
setelah terjadi ejakulasi. Efek samping kondom tidak ada, kecuali jika ada alergi terhadap
bahan karet.Efektivitas kondom ini tergantung dari kualitas kondom dan dari ketelitian dalam
penggunaannya. (3)

2. Wanita
a. Pessarium
Bermacam-macam pessarium telah dibuat untuk tujuan kontrasepsi. Secara umum
pessarium dapat dibagi atas dua golongan, yaitu diafragma vaginal dan cervical cap. (1)
- Diafragma Vaginal
Pada tahun 1881 Mensinga dan Flensburg (Belanda) telah menciptakan untuk pertama
kalinya diafragmavaginal guna mencegah kehamilan.Dewasa ini diafragma vaginal terdiri
atas kantong karet yang berbentuk mangkuk dengan per elastis pada pinggirnya. Per ini ada
yang terbuat dari logam tipis yang tidak dapat berkarat, ada pula yang dari kawat halus yang
tergulung sebagai spiral dan mempunyai sifat seperti per. (1)
Diafragma dimasukkanke dalam vagina sebelum koitus untuk menjaga jangan sampai
sperma masuk ke dalam uterus. Untuk memperkuat khasiat diafragma, obat spermatisida
dimasukkan ke dalam mangkuk dan dioleskan pada pinggirnya. Diafragma vaginal sering
dianjurkan pemakaiannya dalam hal-hal seperti:1)keadaan dimana tidak tersedia cara yang
lebih baik; 2)jika frekuensi koitus tidak seberapa tinggi, sehingga tidak dibutuhkan
perlindungan yang terus-menerus; 3)jika pemakaian pil, AKDR, atau cara lain harus
dihentikan untuk sementara waktu oleh karena sesuatu sebab. (3)
Diafragma paling cocok untuk dipakai pada wanita dengan dasar panggul yang tidak
longgar dan dengan tonus dinding vagina yang baik.Pada keadaan-keadaan tertentu
pemakaian diafragma tidak dapat dibenarkan, misalnya pada: 1)sistokel yang berat;
2)prolapsus uteri; 3)fistula vagina; 4)hiperantefleksio atau hiperretrofleksio uterus. (1)
Umumnya diafragma vaginal tidak menimbulkan banyak efek samping. Efek samping
mungkin disebabkan oleh reaksi alergi terhadap obat-obat spermatisida yang dipergunakan,
atau oleh karena terjadi perkembangbiakan bakteri yang berlebihan dalam vagina jika
diafragma dibiarkan terlalu lama terpasang di situ. (5)
Kekurangan diafragma vaginal ialah: 1)diperlukan motivasi yang cukup kuat;
2)umumnya hanya cocok untuk wanita yang terpelajar dan tidak untuk dipergunakan secara
massal; 3)pemakaian yang tidak teratur dapat menimbulkan kegagalan; 4)tingkat kegagalan
lebih tinggi daripada pil atau AKDR. Keuntungan cara ini ialah : 1) hampir tidak ada efek
samping; 2)dengan motivasi yang baik dan pemakaian yang betul, hasilnya cukup
memuaskan; 3)dapat dipakai sebagai pengganti pil atau AKDR pada wanita-wanita yang
tidak boleh mempergunakan pil atau AKDR oleh karena suatu sebab. (9)

- Cervical Cap
Cervical cap dibuat dari karet atau plastik, dan mempunyai bentuk mangkuk yang
dalam dengan pinggirnya terbuat dari karet yang tebal. Ukurannya ialah dari diameter 22 mm
sampai 33 mm, lebih kecil daripada diafragma vaginal. Cap ini dipasang pada porsio servisis
uteri seperti memasang topi. Dewasa ini alat ini jarang dipakai untuk kontrasepsi. (1)

C. Kontrasepsi dengan Obat Spermatisida


Obat spermatisida yang dipakai untuk kontrasepsi terdiri atas 2 komponen, yaitu zat
kimiawi yang mampu mematikan spermatosoon, dan vehikulum yang nonaktif dan yang
dipergunakan untuk membuat tablet atau cream/jelly. Makin erat hubungan antara zat kimia
dan sperma, makin tinggi efektivitas obat. Oleh sebab itu, obat yang paling baik ialah yang
dapat membuat busa setelah dimasukkanke dalam vagina, sehingga kelak busanya dapat
mengelilingi serviks uteri dan menutup ostium uteri eksternum. Cara kontrasepsi dengan obat
spermatisida umumnya digunakan bersama-sama dengan cara lain (diafragma vaginal), atau
apabila ada kontraindikasi terhadap cara lain. Efek samping jarang terjadi dan umumnya
berupa reaksi alergi. (4)
Kini di pasaran terdapat banyak obat-obat spermatisida, antara lain dalam bentuk: (1,9)
- Suppositorium:Lorofin suppositoria, Rendel pessaries. Suppositorium dimasukkan sejauh
mungkin ke dalam vagina sebelum koitus. Obat ini baru mulai aktif setelah 5 menit. Lama
kerjanya kurang lebih 20 menit sampai 1 jam.
- Jel atau krim. 1) Perseptin vaginal jelly, Orthogynol vaginal jelly, 2) Delfen vaginal
cream. .Gellebih encer dibandingkan krim. Obat ini disemprotkan ke dalam vagina dengan
menggunakan suatu alat. Lama kerjanya kurang lebih 20 menit sampai 1 jam.
1. Tablet busa: Sampoon, Volpar, Syn-A-Gen. Sebelum digunakan, tablet terlebih
dahulu dicelupkan ke dalam air, kemudian dimasukkan ke dalam vagina sejauh
mungkin. Lama kerjanya 30-60 menit.
2. C-film, yang merupakan benda yang tipis, dapat dilipat, dan larut dalam air. Dalam
vagina obat ini merupakan gel dengan tingkat dispersi yang tinggi dan menyebar pada
porsio uteri dan vagina. Obat mulai efektif setelah 30 menit.
Efektivitas KB spermatisid ini kurang (3 – 21 kehamilan per 100 perempuan per tahun
pertama). (5)

D. Kontrasepsi Hormonal
Saat diperkenalkan pada tahun 1960, kontrasepsi hormonal menjadi sebuah perubahan
drastis dari metode-metode tradisional sebelumnya. Kontrasepsi ini tersedia dalam berbagai
bentuk, oral, injeksi, dan implan. Kontrasepsi oral adalah kombinasi estrogen dan progestin
atau hanya progestin – mini pil. Kontrasepsi injeksi atau implan hanya mengandung progestin
atau kombinasi estrogen dan progestin. Pada tahun 1995, 10,4 juta wanita di AS
menggunakan kontrasepsi oral untuk mengendalikan kesuburannya. (6)

1. Kontrasepsi estrogen plus progestin (kombinasi)


Kontrasepsi kombinasi estrogen-progesteron dapat diberikan per oral, suntikan IM, atau
dalam bentuk koyo. Kontrasepsi oral paling sering digunakan dan sering terdiri dari
kombinasi suatu zat estrogen dan bahan prosgestasional yang diminum tiap hari selama 3
minggu dan berhenti selama 1minggu, agar terjadi perdarahan lucut (with drawal bleeding)
dari uterus. (10)
Efektivitasnya tinggi (hampir menyerupai efektivitas tubektomi), bila digunakan setiap
hari (1 kehamilan per 1000 perempuan dalam tahun pertama penggunaan). Efek kontraseptif
obat-obat yang mengandung steroid bersifat multipel, tetapi efek yang terpenting
adalahmencegah terjadinya ovulasi dengan menekan gonadotropin releasing factors dari
hipotalamus. Yang mana hal ini dapat menghambat sekresi follicle stimulating hormone dan
lutenizing hormone dari hipofisis. (4)
Estrogen saja dalam dosis yang memadai akan menghambat ovulasi dengan menekan
gonadotropin. Estrogen ini juga mungkin akan menghambat implantasi dengan mengubah
pematangan endometrium. Estrogen mempercepat transportasi ovum, sedangkan progestin
menyebabkan perlambatan. Karena itu, peran keduanya dalam mengubah motilitas tuba dan
uterus masih belum jelas. (3,10)
Progestin menyebabkan terbentuknya mukus serviks yang kental, sedikit, selular, dan
menghambat jalannya sperma. Kapasitas sperma juga mungkin terhambat. Seperti estrogen,
progestin menyebabkan endometrium menjadi kurang memungkinkan untuk implantasi
blastokista. Akhirnya progestin juga dapat menghambat ovulasi dengan menekan
gonadotropin. (10)
Efek gabungan dari estrogen dan progestin dalam kaitannya dengan kontrasepsi adalah
supresi ovulasi yang sangat efektif, blokade penetrasi sperma oleh mukus serviks, dan
penghambatan implantasi di endometrium apabila dua mekanisme pertama gagal.
Kontrasepsi oral kombinasi estrogen plus progestin, apabila diminum setiap hari selama 3
dari 4 minggu, menghasilkan proteksi terhadap kehamilan yang hampir absolut. (1)
Kontrasepsi oral dapat mengganggu kerja beberapa obat (tabel 2-1 dan 1-2).
Sebaliknya, sebagian obat yang dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi oral kombinasi
antara lain: barbiturat, karbamazepin, felbamat, griseofulvin, ketokonazol/itrakonazol,
fenitoin, primidon, rifampisin, topiramat, sehingga untuk itu dapat dipakai kontrasepsi
tambahan atau dosisnya lebih ditingkatkan. (3)
Obat yang berinteraksi Efek merugikan
Asetaminofen dan aspirin Mungkin mengurangi efek analgetik
Obat penenang golongan benzodiazepin Mungkin menurunkan atau meningkatkan
efektivitas obat penenang dan fungsi
psikomotor
Metildopa Menurunkan efek hipotensif
Antikoagulan oral Menurunkan efek antikoagulan
Hipoglikemik oral Mungkin mengurangi efek hipoglikemik
Tabel 2.2. Obat yang efektivitasnya menurun oleh kontrasepsi oral kombinasi (1)
Obat yang berinteraksi Efek yang merugikan
Alkohol Efek mungkin meningkat
Aminofilin Efek meningkat
Antidepresan Efek mungkin meningkat
Benzodiazepin Efektifitas zat penenang dan fungsi
psikomotor mungkin meningkat atau
menurun
Beta bloker Efek penghambat mungkin meningkat
Kafein Efek meningkat
Kortikosteroid Toksisitas mungkin meningkat
Teofilin Efek meningkat
Tabel 2.3 Obat yang efektivitasnya ditingkatkan oleh kontrasepsi oral (1)

Secara umum, kontrasepsi oral yang jika dipantau pemberiannya dengan benar terbukti
relatif aman bagi sebagian besar wanita. Kemungkinan efek samping dari pil KB yang selama
ini terlalu banyak dan terlalu lama mendapat perhatian efek merugikan pada para pemakai
mungkin hanya terjadi akibat rasa cemas karena publisitas yang terus menerus.Sayangnya,
dokter serta masyarakat awam sering kebingungan karena laporan yang banyak dan sering
bertentangan tersebut. (5)
Pil kombinasi estrogen plus progestin adalah bentuk kontrasepsi reversibel paling
efektif yang tersedia. Dilaporkan angka kegagalan 0,32 per 100 wanita-tahun atau kurang.
Efek menguntungkan lainnya yang dilaporkan adalah:(1)kepadatan tulang meningkat;
(2)pengeluaran darah menstruasi dan anemia berkurang, angka kehamilan ektopik lebih
rendah sampai 90%; (3)dismenorea yang berkaitan dengan endometriosis berkurang; (3)kista
ovarium fungsional sampai 80% dan salpingitis berkurang; (4)keluhan premenstruasi
berkurang; (5)angka kanker endometrium dan ovarium berkurang sampai 40%; (6)berbagai
penyakit payudara jinak berkurang sampai 40%; (7)perbaikan hirsutisme; (8)perbaikan akne;
(9)pencegahan aterogenesis; insiden dan keparahan penyakit radang panggul berkurang; dan
perbaikan rematoid artritis. (1)
Efek Metabolik
- Lipoprotein dan lemak
Kontrasepsi oral kombinasi meningkatkan kadar trigliserida dan kolesterol total. Estrogen
menurunkan konsentrasi kolesterol LDL dan meningkatkan HDL, sedangkan sebagian
progestin menyebabkan hal yang sebaliknya. Hal ini penting untuk mengetahui pada proses
pembentukan penyakit pembuluh arteri. (11)
- Metabolisme karbohidrat
Kontrasepsi oral dapat menurunkan toleransi glukosa pada sejumlah pemakai dengan
persentase yang signifikan. Hal ini tampaknya terjadi sebagai akibat langsung dosis estrogen
yang digunakan. Progestin biasanya meningkatkan sekresi insulin dan menciptakan
resistensi insulin. Karena efek ini, steroid kontrasepsi dapat mengintensifkan diabetes yang
sudah ada atau mungkin ternyata cukup diabetogenik sehingga mampu memicu munculnya
diabetes secara klinis pada wanita yang rentan. Tapi efek ini seperti pada kehamilan, efek
diabetogeniknya sering reversibel apabila kontrasepsi oralnya dihentikan.(11)
- Metabolisme protein
Estrogen akan meningkatkan pembentukan berbagai globulin oleh hati. Meningkatnya
pembentukan angiotensinogen tampaknya berkaitan dengan dosis, dan konversinya oleh
renin menjadi angiotensin I dicurigai menimbulkan hipertensi. Fibrinogen dan mungkin
faktor II, VII, IX, X, XII, XIII, akan meningkat sejalan dengan dosis estrogen, dan insiden
kedua bentuk trombosis ini berkaitan dengan dosis estrogen. (3)

Penyakit Hati
Kolestasis dan ikterus kolestatik merupakan penyulit yang jarang terjadi pada pemakai
kontrasepsi oral; gejala dan tanda akan hilang apabila obat dihentikan. Tampaknya
kontrasepsi oral mempercepat terjadinya penyakit kandung empedu pada wanita yang rentan,
tapi secara keseluruhan tidak terjadi peningkatan resiko jangka panjang. Dan tidak ada alasan
untuk menghentikan kontrasepsi oral pada wanita yang telah pulih dari hepatitis virus. (12)

Neoplasia
Kemungkinan kontrasepsi hormonal sebagai penyebab kanker tampaknya kecil.
Sebenarnya, pada penelitian-penelitian justru diperlihatkan adanya efek protektif terhadap
kanker ovarium dan endometrium. (5)
- Hiperplasia dan kanker hati
Pemakaian kontrasepsi estrogen plus progestin dilaporkan secara tidak langsung dikaitkan
dengan kejadian hiperplasia nodularis fokal hepatika dan pembentukan tumor yang jinak,
tetapi tidak selalu. Keterkaitan ini dijumpai pada wanita yang menggunakan formulasi
berisi estrogen dosis tinggi (biasanya mestranol) untuk jangka panjang. Pemakaian
kontrasepsi oral kombinasi dosis rendah yang lebih baru tampaknya dapat mengurangi
insiden terjadinya kelainan yang tidak lazim ini. (3)
- Serviks
Terdapat korelasi antara resiko kanker serviks prainvasif dengan pemakaian kontrasepsi
oral, dan resiko kanker invasif meningkat setelah pemakaian 5 tahun. Tapi masih belum
jelas apakah keterkaitan ini memiliki hubungan sebab akibat.(1)

- Kanker payudara
Masih belum jelas apakah kontrasepsi oral berperan dalam ternbentuknya kanker
payudara. Pada suatu penelitian, tidak terbukti adanya peningkatan resiko kanker payudara
diantara pemakai kontrasepsi oral (Cancer and Steroid Hormone Study,1986). Gabrick
dkk.(2000) melaporkan peningkatan resiko pada wanita dengan riwayat keluaga yang
kuat, tetapi resiko ini berkaitan dengan preparat-preparat yang lama yang dosis
estrogennya tinggi. (12)

Gizi
Penyimpangan kadar beberapa zat gizi, yang serupa dengan yang dijumpai pada
kehamilan normal, dilaporkan terjadi pada wanita yang menggunakan kontrasepsi
oral.Perubahan-perubahan biokimiawi yang menunjukkan defisiensi vitamin B6 (piridoksin)
yang mana hal ini juga terjadi saat kehamilan normal. Hal ini terjadi karena estrogen memicu
enzim-enzim dihati sehingga menyebabkan meningkatnya metabolisme triptofan yang
menggambarkan terjadinya defisiensi piridoksin. (6)

Efek Kardiovaskular
Terdapat sejumlah resiko kardiovaskular yang jarang tetapi bermakna pad pemakaian
kontrasepsi hormonal. (4)
- Tromboembolisme
Mishell (2000) menganalisis bahwa resiko tromboembolisme vena diperkirakan
meningkat 3-4 kali lipat pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral. Sekitar 1 per
10000 wanita-tahun, sehingga insiden pada pemakai kontrasepsi oral yang sebesar 1,0
sampai 3,0 per 10000 wanita- tahun adalah kecil.Faktor-faktor klinis yang meningkatkan
resiko trombosis dan emboli vena adalah hipertensi, kegemukan, diabetes, merokok, dan
gaya hidup yang tidak banyak aktivitas fisik. (5)

- Stroke dan Trombosis arteri


Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemakaian kontrasepsi oral tersebut pada
wanita yang sehat yang tidak merokok tidak menyebabkan peningkatan resiko stroke
trombotik atau hemorhagik. Yang utama, wanita dengan hipertensi, yang merokok, atau
memiliki nyeri kepala migren mengalami peningkatan resiko stroke hemorhagik atau
trombotik. (3)
- Hipertensi
Ini timbul sebagai respons terhadap estrogen, terbukti meningkat kadar angiotensinogen
(substrat renin) plasma sampai mendekati kadar pada kehamilan normal. Tekanan darah
akan normal kembali saat kontrasepsi dihentikan. Terjadinya hipertensi pada kehamilan
bukan merupakan halangan bagi pemakaian kontrasepsi oral setelahnya. (4)
- Infark miokardium
Infark miokardium terjadi pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral dan juga
merokok, karena merokok merupakan faktor resiko independen. Ad 2 patokan penting
dalam kaitannya dengan merokok dan kontrasepsi oral adalah lebih dari 15 batang rokok
per hari bagi orang berusia lebih dari 35 tahun yang sedang atau pernah merokok. (5)
- Nyeri kepala migren
Frekuensi dan intensitas serangan nyeri kepala migren mungkin berkurang atau
meningkat. Tapi lebih baik menghindari pemakaian kontrasepsi ini pada wanita yang
memiliki migren, karena mungkin saja akan bertambah parah atau merupakan ancaman
stroke atau stroke ringan. (1)

Efek pada Reproduksi


- Amenorea pasca pil
Setelah kontrasepsi kombinasi dihentikan 3 bulan biasanya ovualasi akan segera pulih dan
kembali seperti semula. (4)
- Laktasi
Pemakaian hormon kontrasepsi oral pada ibu menyusui akan mengurangi jumlah ASI.
Hanya sedikit hormon yang diekskresikan ke dalam ASI. Karena hampir tidak
memberikan efek pada laktasi dan merupakan kontrasepsi yang baik. (4)
2. Kontrasepsi Progestesional
a. Progestin oral
Disebut juga mini pil, merupkan pil yang hanya mengandung progestin 350 μg atau
kurang yang diminum setiap hari. Pil ini tidak terlalu populer oleh karena insiden perdarahan
ireguler dan angka kehamilannya jauh lebih tinggi. Pilihan yang baik bagi ibu yang
menyusui, mulai diminum pada minggu ke 6 setelah melahirkan1,5. Pil ini mengganggu
kesuburan tapi tidak selalu menghambat penetrasi ovulasi. Kemungkinan sebabnya adalah
terbentuknya mukus serviks yang menghambat penetrasi sperma dan perubahan pematangan
endometrium sehingga dapat menolak implantasi blastokista. (3)
Resiko peningkatan penyakit kardiovaskular dan keganasan belum terbukti, lebih kecil
kemungkinannya menyebabkan peninggian tekanan darah atau nyeri kepala, tidak berefek
pada metabolisme karbohidrat dan diperkirakan lebih jarang menyebabkan depresi,
dismenorea, dan gejala premenstruasi. (3)
Resiko peningkatan penyakit kardiovaskular dan keganasan belum terbukti, lebih kecil
kemungkinannya menyebabkan peninggian tekanan darah atau nyeri kepala, tidak berefek
pada metabolisme karbohidrat dan diperkirakan lebih jarang menyebabkan depresi,
dismenorea, dan gejala premenstruasi.Terutama pada wanita berumur, dengan perdarahan
uterus yang tidak jelas, riwayat kehamilan ektopik atau kista ovarium fungsional. (6)

b. Progestin suntik
Keunggulan suntikan progestin adalah efektivitas kontrasepsi yang setara dengan atau
lebih baik daripada kontrasepsi oral kombinasi, efek bertahan lama dengan hanya 4 – 6 kali
penyuntikan setahun, dan gangguan laktasi yang minimal.Depo medroksiprogesteron asetat
(Depo provera) dan Noretindron etantat (Norgest) telah banyak dipakai secara luas diseluruh
dunia, mekanisme kerja kedua obat tampaknya multipel, termasuk inhibisi ovulasi,
peningkatan kekentalan mukus serviks, dan pembentukan endometrium yang kurang ramah
bagi implantasi ovum. (6)
Kelebihan dan kekurangannya serupa dengan progestin oral. Kekurangannya
mencakup amenorea berkepanjangan, perdarahan uterus selama dan setelah pemakaian, dan
anovulasi yang lama setalah penghentian kontrasepsi. Pemulihan kesuburan akan lambat
namun tidak terhambat, pada pemakaian jangka panjang trigliserida dan kolesterol HDL
menurun tetapi kolesterol LDL tidak meningkat, hanya terjadi sedikit modifikasi
metabolisme glukosa, insiden anemia defisiensi besi menurun. Disamping itu terjadi juga
peningkatan berat badan yang nyata.Pada pemakaian Depo medroksiprogesteron jangka
panjang terdapat kemungkinan penurunan kepadatan mineral tulang, namun akan pulih
setelah terapi dihentikan. (6)
Depo medroksiprogesteron disuntikan dalam-dalam di kuadran luar atas bokong tanpa
dipijat untuk memastikan agar obat dilepaskan secara perlahan-lahan. Dosis lazim adalah 150
mg setiap 90 hari3.Noetindron etantat disuntikan dengan cara yang sama dalam dosis 200mg,
tetapi penyuntikan obat ini harus diulang setiap 60 hari. (7)

c. Implan progestin (sistem norplant)


Implan adalah kontrasepsi yang mengandung levonogestrelyang dibungkus dalam
kapsul silastic-silicone (polydimethylsiloxane) dan dipasang dibawah kulit lengan atas
wanita, oleh karena itu disebut juga alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK). (7)
Menurut jenisnya, Norplant terdiri dari enam batang dengan lama kerjanya lima tahun,
Implanon terdiri dari satu batang dengan lama kerjanya tiga tahun, Jadena dan Indoplant
terdiri dari dua batang dengan lama kerja tiga tahun. Setiap kapsul susuk KB mengandung 36
mgr Levonorgestrel yang akan dikeluarkan setiap harinya sebanyak 30 mcg. Levonorgestrel
adalah suatu progestin yang dipakai juga dalam pil KB seperti minipil atau pil kombinasi,
ataupun pada AKDR yang bioaktif. (6)
Konsep mekanisme kerjanya sebagaiprogesteronyaitu: 1)mengentalkan lendir serviks
uteri sehingga menyulitkan penetrasi sperma; 2)menimbulkan perubahan perubahan pada
endometrium sehingga tdak cocok untuk implantasi zigot; 3)pada sebagian kasus dapat pula
menghalangi terjadinya ovulasi dengan menghalangi pengeluaran Luteinizing Hormone (LH).
(4)

Keuntungan implan adalah daya guna tinggi, perlindungan jangka panjang (sampai lima
tahun), tidak mengganggu ASI, tidak mengganggu kegiatan senggama, penyulit medis tidak
terlalu tinggi, mengurangi jumlah darah haid, mengurangi/memperbaiki anemia, kontrol
medis ringan, serta biaya ringan. Sedangkan kerugiannya adalah menimbulkan gangguan
menstruasi dan terjadi perdarahan yang tidak teratur, ketegangan payudara,
peningkatan/penurunan berat badan, membutuhkan tindak pembedahan minor untuk insersi
dan pencabutan, membutuhkan tenaga kesehatan untuk pemasangan dan pencabutan. (7)
Indikasi implan adalah wanita yang ingin memakai kontrasepsi untuk jangka waktu
yang lama, tetapi tidak bersedia menjalani kontap atau menggunakan AKDR dan wanita yang
tidak boleh menggunakan pil KB yang mengandung estrogen. Sedangkan kontraindikasinya
antara lain: 1)kehamilan atau disangka hamil; 2)penderita penyakit hati; 3)kanker payudara;
4)kelainan jiwa; 5) varikosis, 6) riwayat kehamilan ektopik; 7) diabetes melitus; 8)kelainan
kardiovaskuler. (6)
Waktu pemasangan yang paling baik untuk pemasangan norplant adalah sewaktu haid
berlangsung atau masa praovulasi dari siklus haid, sehingga adanya kehamilan dapat
disingkirkan. Keenam kapsul yang masing masing mengandung 36 mg. Levonorgestrel
ditanamkan pada lengan kiri atas (atau pada lengan kanan atas akseptor yang kidal) lebih
kurang 6 – 10 cm dari lipatan siku. (5)
Prosedur pemasangan implan adalah sebagai berikut: (1)
1. Terhadap calon akseptor dilakukan konseling dan KIE yang selengkap mungkin
mengenai norplant sehingga calon akseptor betul-betul mengerti.
2. Persiapan alat yang dibutuhkan: sabun antiseptik, kasa steril, cairan antiseptik, kain
steril yang mempunyai lubang, obat anestesi lokal, semprit dan jarum suntik, trokar no
10, sepasang sarung tangan steril, satu set kapsul norplant (6 buah), scalpel yang tajam.
3. Teknik pemasangan
- Calon akseptor dibaringkan terlentang di tempat tidur dan lengan kiri diletakan di
meja kecil di samping tempat tidur
- Daerah tempat pemasangan dicuci dengan antiseptik
- Daerah tempat pemasangan norplant ditutup dengan kain steril berlubang
- Dilakukan injeksi anestesia kira kira 6 – 10 cm di atas lipatan siku
- Setelah itu dibuat insisi lebih kurang sepangan 0.5 cm dengan skalpel yang tajam
- Trokar dimasukan melalui lubang insisi sehingga sampai pada jaringan di bawah kulit
- Kemudian kapsul dimasukan ke dalam trokar dan didorong dengan plunger sampai
kapsul di bawah kulit
- Demikian dilakukan berturut turut, sampai ke enam dengan susunan seperti kipas
- Setelah semua kapsul berada di bawah kulit, trokar ditarik pelan pelan
- Kontrol luka apakah ada perdarahan
- Tutuplah luka dengan kasa steril

Edukasi pada akseptor agar luka jangan basah selama lebih kurang 3 hari dan datang
kembali jika terjadi keluhakeluhan yang mengganggu.(1)

E. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)


Memasukkan benda-benda atau alat ke dalam uterus untuk tujuan mencegah kehamilan,
yang telah dikenal sejak zaman dahulu kala. Awalnya penggembala-penggembala unta
bangsa Arab dan Turki berabad lamanya melakukan cara ini dengan memasukkan batu kecil
yang bulat dan licin kedalam alat genital unta mereka, dengan tujuan untuk mencegah
terjadinya kehamilan dalam perjalanan jauh. Sejak itu banyak tulisan-tulisan ilmiah yang
meneliti tentang efektivitasnya pada manusia, yang mana pada awalnya banyak mendapat
pertentangan oleh karena dianggap sebagai sumber infeksi pada panggul (salfingitis,
endometritis, parametritis, dan lain-lain). Tapi sejak mulai diketemukannya antibiotik yang
dapat mengurangi resiko infeksi, maka penerimaan AKDR semakin meningkat. (6,13)
Mekanisme kerja dari AKDR sampai saat ini belum diketahui dengan pasti, tetapi
pendapat yang terbanyak mengatakan bahwa dengan adanya AKDR dalam kavum uteri
menimbulkan reaksi peradangan endometrium yang disertai dengan sebukan leukosit yang
dapat menghancurkan blastokista dan sperma. Pada pemeriksaan cairan uterus pada pemakai
AKDR sering kali dijumpai sel-sel makrofag (fagosit) yang mengandung spermatozoa.
Disamping itu ditemukan juga sering timbulnya kontraksi uterus pada pemakai AKDR, yang
dapat menghalangi nidasi. Diduga ini disebabkan karena meningkatnya prostaglandin dalam
uterus pada wanita tersebut. (1)
Pada AKDR bioaktif selain kerjanya menimbulkan peradangan, juga oleh karena ion
logam atau bahan lain yang melarut dari AKDR mempunyai pengaruh terhadap sperma.
Menurut penyelidikan, ion logam yang paling efektif ialah ion logam tembaga (Cu). Pengaruh
AKDR bioaktif dengan berkurangnya konsentrasi logam makin lama makin berkurang.
Efektifitasnya tinggi dapat mencapai 0.6 – 0.8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun
pertama (1 kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan). (7,13)
Sampai sekarang telah banyak ditemukan jenis-jenis AKDR, tapi yang paling banyak
digunakan dalam program KB di Indonesia ialah AKDR jenis copper T dan spiral (Lippes
loop). Bentuk yang beredar dipasaran adalah spiral (Lippes loop), huruf T (Tcu380A,
Tcu200C, dan NovaT), tulang ikan (MLCu350 dan 375), dan batang (Gynefix). Unsur
tambahan adalah tembaga (cuprum), atau hormon (Levonorgestrel). (6)
AKDR mempunyai keunggulan terhadap cara kontrasepsi yang lain karena:
1) Umumnya hanya memerlukan satu kali pemasangan dan dengan demikian satu kali
motivasi, 2) Tidak menimbulkan efek sistemik, 3)Alat itu ekonomis dan cocok untuk
penggunaan secara massal, 4) Efektivitas cukup tinggi 5) Reversibel, 6) Tidak ada pengaruh
terhadap ASI. (7)
AKDR memiliki komplikasi berupa: (7)
- Infeksi
AKDR itu sendiri, atau benangnya yang berada dalam vagina, umumnya tidak
menyebabkan terjadinya infeksi jika alat-alat yang digunakan disucihamakan. Jika terjadi
infeksi, hal ini mungkin disebabkan oleh sudah adanya infeksi yang subakut atau menahun
pada traktus genitalis sebelum pemasangan AKDR.

- Perforasi
Umumnya perforasi terjadi sewaktu pemasangan AKDR walaupun bisa terjadi pula
kemudian. Jika perforasi terjadi dengan AKDR yang tertutup, harus segera dikeluarkan
segera karena ditakutkan akan terjadinya ileus, begitu pula dengan yang mengandung
logam. Pengeluaran dapat dilakukan dengan laparotomi jika dengan laparoskopi gagal,
atau setelah terjadi ileus. Jika AKDR yang menyebabkan perforasi itu jenis terbuka dan
linear, dan tidak mengandung logam AKDR tidak perlu dikeluarkan dengan segera.
- Kehamilan
Jika terjadi kehamilan dengan AKDR in situ, tidak akan timbul cacat pada bayi oleh
karena AKDR terletak antara selaput ketuban dan dinding rahim. Angka keguguran
dengan AKDR in situ tinggi. Jadi jika ditemukan kehamilan dengan AKDR in situ sedang
benangnya masih kelihatan, sebaiknya dikeluarkan oleh karena kemungkinan terjadinya
abortus setelah dikeluarkan lebih rendah dari pada dibiarkan terus. Tetapi jka benangnya
tidak kelihatan, sebaiknya dibiarkan saja berada dalam uterus.

Kontraindikasi pemasangan AKDR dibagi atas 2 golongan, yaitu kontraindikasi yang


relatif dan kontraindikasi mutlak.Yang termasuk kontraindikasi relatif ialah: 1) Mioma uteri
dengan adanya perubahan bentuk rongga uterus, 2) Insufisiensi serviks uteri, 3) Uterus
dengan parut pada dindingnya, seperti pada bekas SC, enukleasi mioma, dsb, 4) Kelainan
jinak serviks uteri, seperti erosio porsiones uteri. Yang termasuk kontraindikasi mutlak ialah :
1) Kehamilan, 2) Adanya infeksi yang aktif pada traktus genitalis (Penyakit Menular Seksual,
3) Adanya tumor ganas pada traktus genitalis, 4) Adanya metrorhagia yang belum
disembuhkan, 5) Pasangan yang tidak lestari/harmonis. (13)
AKDR dapat dipasang dalam keadaan berikut: (6)
- Sewaktu haid sedang berlangsung
Pemasangan dapat dilakukan pada hari pertama atau pada hari terakhir haid.
Keuntungannya : pemasangan lebih mudah karena serviks saat itu sedang terbuka dan
lembek, rasa nyeri tidak seberapa keras, perdarahan yang timbul akibat pemasangan
tidak seberapa dirasakan, kemungkinan pemasangan pada uterus yang sedang hamil tidak
ada.
- Sewaktu postpartum
Pemasangan AKDR setelah melahirkan dapat dilakukan:
1. Secara dini(immediate insertion); dipasang pada wanita yang melahirkansebelum
dipulangkan dari rumah sakit.
2. Secara langsung (direct insertion); dipasang dalam masa tiga bulan setelah partus atau
abortus.
3. Secara tidak langsung (indirect insertion); dipasang sesudah masa tiga bulan setelah
partus atau abortus; atau pada saat tidak ada hubungan sama sekali dengan partus atau
abortus.

Bila pemasangan AKDR tidak dilakukan dalam waktu seminggu setelah bersalin,
sebaiknya AKDR ditangguhkan sampai 6-8 minggu postpartum oleh karena jika pemasangan
AKDR dilakukan antara minggu kedua dan minggu keenam setelah partus, bahaya perforasi
atau ekspulsi lebih besar. (1)
- Sewaktu postabortum
Sebaiknya AKDR dipasang segera setelah abortus oleh karena dari segi fisiologi dan
psikologi waktu itu adalah paling ideal. Tetapi, septic abortion merupakan
kontraindikasi. (6)
- Beberapa hari setelah haid terakhir
Dalam hal ini wanita yang bersangkutan dilarang untuk bersenggama sebelum AKDR
dipasang. Sebelum dipasang, sebaiknya diperlihatkan ke akseptor bentuk AKDR yang
dipasang dan bagaimana letaknya setelah terpasang. Dan dijelaskan pula kemugkinan
efek samping yang dapat terjadi seperti perdarahan, rasa sakit, AKDR yang keluar
sendiri. (6)

Pada umumnya teknik pemasangan adalah sama pada setiap jenis AKDR, tapi disini
diterangkan mengenai cara pemasangan jenis lippes loop karena yang paling banyak
digunakan di Indonesia.
Tekniknya berupa (gambar 1.1): (1)
- Setelah kandung kencing dikosongkan, akseptor dibaringkan diatas meja ginekologi
dalam posisi litotomi.
- Bersihkan daerah vulva dan vagina secara a dan antisepsis dengan betadine
- Lakukan pemeriksaan bimanual untuk mengetahui letak, bentuk, dan besar uterus
- Spekulum dimasukkan ke dalam vagina, dan serviks uteri dibersihkan dengan larutan
antiseptik. Lalu dengan tenakulum dijepit bibir depan porsio uteri, dan dimasukkan
sonde ke dalam uterus untuk menentukan arah dan panjangnya kanalis servikalis serta
kavum uteri.
- AKDR dimasukkan ke dalam uterus dengan teknik tanpa sentuh, lalu dorong ke
dalam kavum uteri hingga mencapai uterus.
- Tahan pendorong (plunger) dan tarik selubung (inserter) ke bawah sehingga AKDR
bebas.
- Setelah selubung keluar dari uterus, pendorong juga dikeluarkan, dan tenakulum juga
dilepaskan, benang AKDR digunting sehingga 2½ - 3 cm keluar dari ostium uteri, dan
akhirnya spekulum diangkat.

Pemeriksaan setelah pemasangan AKDR dilakukan 1 minggu sesudahnya; pemeriksaan


kedua 3 bulan kemudian, dan selanjutnya tiap 6 bulan.
Cooper T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi dapat dilepaskan lebih
awal apabila diinginkan. (6)
Mengeluarkan AKDR biasanya dilakukan dengan cara menarik benang AKDR yang
keluar dari ostium uteri eksternum dengan dua jari, dengan pinset, atau dengan cunam.
Kadang-kadang benang tidak tampak dari ostium uteri eksternum. Tidak terlihatnya benang
oleh karena: Akseptor menjadi hamil, Perforasi usus, Ekspulsi yang tidak disadari oleh
akseptor, Perubahan letak AKDR sehingga benang tertarik ke dalam rongga uterus, seperti
adanya mioma uterus. (7)

F. Metode Kontrasepsi Mantap (Tubektomi dan Vasektomi)


Tubektomi ialah tindakan yang dilakukan pada kedua tuba falopii wanita sedangkan
vasektomi ialah pada kedua vas deferens pria, sehingga mengakibatkan yang bersangkutan
tidak dapat hamil atau tidak menyebabkan kehamilan lagi.1 Metoda dengan cara operasi
tersebut diatas telah dikenal sejak zaman dahulu. Hippocrates menyebut bahwa tindakan itu
dilakukan terhadap orang dengan penyakit jiwa. Dahulu vasektomi dilakukan sebagai
hukuman misalnya pada mereka yang melakukan perkosaan. Sekarang tindakan tubektomi
dan vasektomi dilakukan secara sukarela dalam rangka keluarga berencana. (1)
Tubektomi adalah suatu tindakan oklusi/ pengambilan sebagian saluran telur wanita
untuk mencegah proses fertilisasi.3 Tindakan tersebut dapat dilakukan setelah persalinan atau
pada masa interval. Setelah dilakukan tubektomi, fertilitas dari pasangan tersebut akan
terhenti secara permanen. Waktu yang terbaik untuk melakukan tubektomi pascapersalinan
ialah tidak lebih dari 48 jam sesudah melahirkan karena posisi tuba mudah dicapai dari
subumbilikus dan rendahnya resiko infeksi. Bila masa 48 jam pascapersalinan telah
terlampaui maka pilihan untuk tetap memilih tubektomi, dilakukan 6-8 minggu persalinan
atau pada masa interval. Keuntungan tubektomi ialah: 1)motivasi hanya satu kali saja, tidak
diperlukan motivasi yang berulang-ulang; 2)efektivitas hampir 100%; 3)tidak mempengaruhi
libido seksualis; 4)kegagalan dari pihak pasien tidak ada. Sedangkan kerugiannya ialah
bahwa tindakan ini dapat dianggap tidak reversibel, walaupun ada kemungkinan untuk
membuka tuba kembali pada mereka yang masih menginginkan anak lagi dengan operasi
Rekanalisasi. (6)
Indikasi dilakukannya tubektomi adalah penghentian fertilitas atas indikasi medik dan
sebagai kontrasepsi permanen. (5)
Syarat-syarat tubektomi : (7)
- Syarat sukarela
- Syarat bahagia
- Syarat medik

Tindakan yang dilakukan sebagai tindakan pendahuluan untuk mencapai tuba falopii
terdiri atas: pembedahan transabdominal seperti laparotomi, mini laparotomi (gambar
2.1),laparoskopi, pembedahan transvaginal seperti kolpotomi posterior, kuldoskopi, dan
pembedahan transservikal (transuterin) seperti penutupan lumen tuba histeroskopik. (6)
Untuk menutup lumen dalam tuba, dapat dilakukan pemotongan tuba dengan berbagai
macam tindakan operatif, seperti cara Pomeroy, cara Irving, cara Uchida, cara Kroener, cara
Aldridge. Pada cara Madlener tuba tidak dipotong. Disamping cara-cara tersebut, penutupan
tuba dapat pula dilakukan dengan jalan kauterisasi tuba, penutupan tuba dengan clips, Falope
ring, Yoon ring, dan lain-lain. (7)
Cara penutupan tuba:
a. Cara Madlener
Bagian tengah tuba diangkat dengan cunam pean, sehingga terbentuk suatu lipatan
terbuka. Kemudian, dasar dari lipatan tersebut dijepit dengan cunam kuat-kuat dan
selanjutnya dasar itu diikat dengan benang yang tidak diserap. Tidak dilakukan
pemotongan tuba.Sekarang cara madlener tidak dilakukan lagi oleh karena angka
kegagalannya relatif tinggi yaitu 1% sampai 3%. (6)
Gambar 2.1 cara Madlener

b. Cara Pomeroy
Cara ini paling banyak dilakukan. Dilakukan dengan mengangkat bagian
tengah dari tuba sehingga membentuk suatu lipatan terbuka, kemudian dasarnya diikat
dengan benang yang dapat diserap, tuba diatas dasar itu dipotong. Setelah benang pengikat
diserap, maka ujung- ujung tuba akhirnya terpisah satu dengan yang lain.Angka kegagalan
berkisar antara 0 – 0.4%. (1)

Gambar 2.2 cara Pomeroy

c. Cara Irving
Pada cara ini tuba dipotong antara dua ikatan benang yang dapat diserap, ujung proksimal
dari tuba ditanamkan kedalam miometrium, sedangkan ujung distal ditanamkan ke dalam
ligamentum latum. (7)
Gambar 2.3cara Irving

d. Cara Aldridge
Peritoneum dari ligamentum latum dibuka dan kemudian tuba bagian distal bersama-sama
dengan fimbria ditanam ke dalam ligamentum latum. (6)

Gambar 2.4 Cara Aldridge


e. Cara Uchida
Tuba ditarik ke luar abdomen melalui suatu insisi kecil (mini laparotomi) di atas simfisis
pubis. Kemudian di daerah ampula tuba dilakukan suntikan dengan larutan Adrenalin
dalam air garam dibawah serosa tuba. Akibatnya, mesosalping di daerah tersebut
menggembung.lalu dibuat sayatan kecil di daerah yang kembung tersebut. Serosa
dibebaskan dari tuba sepanjang kira-kira 4-5 cm; tuba dicari dan setelah ditemukan dijepit,
diikat, lalu digunting. Ujung tuba yang proksimal akan tertanam dengan sendirinya
dibawah serosa, sedangkan ujung tuba yang distal dibiarkan berada diluar serosa. Luka
sayatan dijahit dengan kantong tembakau. Angka kegagalan cara ini adalah 0. (1)
Gambar 2.5 cara Uchida

f. Cara Kroener
Bagian fimbria dari tuba dikeluarkan dari lubang operasi. Suatu ikatan dengan benang
sutera dibuat melalui bagian mesosalping dibawah fimbria. Jahitan ini diikat 2 kali, satu
mengelilingi tuba dan yang lain mengelilingi tuba sebelah proksimal dari jahitan
sebelumnya. Seluruh fimbria dipotong.Teknik ini banyak digunakan. Keuntungan cara ini
antara lain sangat kecil kemungkinan kesalahan mengikat ligamentum rotundum. Angka
kegagalan 0,19%. (1)

Gambar 2.6 cara Kroener

b. Vasektomi
Pada tahun-tahun terakhir ini vasektomi makin banyak dilakukan dibeberapa negara
seperti India, Pakistan, Korea, dan AS untuk menekan laju pertambahan penduduk. Di
Indonesia, vasektomi tidak termasuk dalam program keluarga berencana nasional. Masih
banyak pria di Indonesia menganggap vasektomi tersebut identik dengan dikebiri dan dapat
menimbulkan impotensi. ”Vasektomi, selain aman dari kegagalan dengan tingkat
keberhasilan 79 %, menurut Kasmiyati, juga mampumenaikkan libido seks”. Ini berarti,
vasektomi sama sekali tak menimbulkan impotensi. (4,14)
Indikasi vasektomi ialah bahwa pasangan suami isteri tidak menghendaki kehamilan
lagi dan pihak suami bersedia bahwa tindakan kontrasepsi dilakukan pada dirinya. Vasektomi
sebenarnya tidak memiliki kontraindikasi, kecuali bila ada kelainan lokal yang dapat
mengganggu sembuhnya luka operasi, jadi sebaiknya harus disembuhkan dahulu.Keuntungan
vasektomi adalah: 1)tidak menimbulkan`kelainan fisik maupun mental; 2)tidak mengganggu
libido seksualitas; 3)operasinya hanya berlangsung sebentar sekitar 10 - 15 menit. (5)
Adapun teknik vasektomi adalah sebagai berikut: (7,14)
- Mula-mula kulit skrotum di daerah operasi dilakukan a dan antiseptik, kemudian
dilakukan anestesi lokal dengan xilokain. Anestesi dilakukan di kulit skrotum dan
jaringan sekitarnya di bagian atas, dan pada jaringan disekitar vas deferens.
- Vas dicari dan setelah ditentukan lokasinya, dipegang sedekat mungkin dibawah
kulit skrotum.
- Dilakukan sayatan pada kulit skrotum sepanjang 0,5-1 cm di dekat vas deferens.
Setelah terlihat, dijepit dan dikeluarkan dari sayatan (harus yakin itu benar vas
deferens), vas dipotong sepanjang 1-2 cm dan kedua ujungnya diikat
- Setelah kulit dijahit, tindakan diulang pada bagian sebelahnya.

Sehabis operasi, peserta vasektomi baru boleh melakukan hubungan intim dengan
pasangannya setelah enamhari, tetapi diharuskan menggunakan kondom selama 12 kali
hubungan demi pengamanan. Komplikasi vasektomi dapat berupa infeksi pada sayatan, rasa
nyeri, terjadinya hematom oleh karena perdarahan kapiler, epididimitis, terbentuknya
granuloma.Kegagalan dapat terjadi akibat terjadinya rekanalisasi spontan, gagal mengenal
dan memotong vas deferens, tidak diketahi adanya anomali vas deferens, koitus dilakukan
sebelum kantong seminalnya kosong. (6)

2.2 Pola Penggunaan Kontrasepsi Rasional


Untuk dapat memberikan obat/alat kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhan calon
peserta dapat dipergunakan pedoman pola penggunaan kontrasepsi rasional sebagai berikut:
(15)

2.2.1 Berdasarkan umur calon peserta dan tujuan penggunaan


A. Masa Menunda Kehamilan
Sebaiknya istri menunda kehamilan pertama sampai berumur 20 tahun. Ciri-ciri
kontrasepsi yang sesuai adalah sebagai berikut: (15)
1. Kembalinya kesuburan yang tinggi. Artinya kembalinya kesuburan dapat dijamin
100%. Ini penting karena akseptor belum mempunyai anak.
2. Efektifitas yang tinggi. Hal ini penting karena kegagalan akan menyebabkan tujuan
KB tidak tercapai.

B. Masa Mengatur Kesuburan


Umur melahirkan terbaik bagi istri adalah umur 20-30 tahun. Ciri-ciri kontrasepsi yang
sesuai: (6)
1. Kembalinya kesuburan (reversibilitas) cukup
2. Efektifitas cukup tinggi
3. Dapat dipakai 3-4 tahun, sesuai dengan jarak kelahiran yang aman untukkesehatan ibu
dan anak.
4. Tidak menghambat produksi Air Susu Ibu (ASI). Ini penting karena ASI adalah
makanan terbaik bagi bayi sampai umur 2 tahun. Penggunaan ASI mempengaruhi
angka kematian dan kesakitan bayi/anak.

C. Masa Mengakhiri Kesuburan


Pada umunya setelah keluarga mempunyai anak dua dan umur istri telah melebihi 30
tahun, sebaiknya tidak hamil lagi. Ciri-ciri kontrasepsi yang sesuai: (6)
1. Efektifitas sangat tinggi. Kegagalan menyebabkan terjadi kehamilan dengan resiko
tinggi bagi anak. Selain itu akseptor sudah tidak ingin mempunyai anak lagi.
2. Dapatdipakai untuk jangka panjang.
3. Tidak menambah kelainan/penyakit yang sudah ada. Pada masa umur tua kelainan
seperti penyakit jantung, darah tinggi, dan metabolik meningkat. Oleh karena itu
sebaiknya tidak memberikan obat/kontrasepsi yang menambah kelainan penyakit
tersebut.
Masa Menunda Masa Mengatur Kesuburan Masa Mengakhiri Kesuburan
Kehamilan (kesuburan) (Menjarangkan Kelahiran) (Tidak Hamil Lagi)
a. Pil a. AKDR a. Kontap
b. AKDR b. Suntik b. AKDR
c. Cara Sederhana : c. Mini Pil c. Norplant
Kondom, Sepermisid
Tabel 2.4 Pola Penggunaan Kontrasepsi Rasional (5)
Keterangan:
a. Pola ini untuk istri dari Pasangan Usia Subur (PUS).
b. Prioritas metode adalah dari atas ke bawah.

2.2.2 Berdasarkan paritas dan umur calon peserta.


Pemilihan kontrasepsi berdasarkan status paritas dan usia calon pesertadijelaskan
dalam tabel sebagai berikut:
Umur 20 tahun 20-24 tahun 25-29 tahun 30 tahun 35 tahun
Jumlah-
Anak
0 a). Pil a). Pil Tanpa Tanpa Resiko
b). AKDR b). AKDR kontrasepsi kontrasepsi tinggi
c).Cara c).Cara
sederhana sederhana
1 a). AKDR a). AKDR a). AKDR a). AKDR Resiko
b). Pil b). Pil b).Suntikan b).Suntikan Tinggi
c). Suntikan c). Suntikan c). Implant c). Implant
2 a). AKDR a). AKDR a). Kontap a). Kontap a). Kontap
b). Suntikan b). Suntikan b). Implant b). Implant b). AKDR
c). Implant c). Implant c). AKDR c). AKDR c). Implant
3 a). Kontap a). Kontap a). Kontap a). Kontap a). Kontap
b). Implant b). Implant b). AKDR b). AKDR b). AKDR
c). AKDR c). AKDR c). Implant c). Implant c). Implant

Tabel 2.5 Pemilihan kontrasepsi berdasarkan status paritas dan usia calon peserta (13)
.
DAFTAR PUSTAKA

1. Saifuddin AB. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Pertama Cetakan Keempat
ed. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2003.

2. Sulistyawati A. Pelayanan Keluarga Berencana Jakarta: Salemba Medika; 2011.

3. Wiknjosastro H. Ilmu Kandungan. Kedua Cetakan Ketiga ed. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2002.

4. Cunningham FG, Gant NF. William Obstetri. 212th ed. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2006.

5. Saifuddin AB. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Pertama Cetakan Kedua ed.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2001.

6. Hartanto H. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi Jakarta: CV Mulia; 2003.

7. Suwiyoga K. Buku Ajar Keluarga Berencana Denpasar: Universitas Udayana; 2001.

8. Wulansari P. Ragam Metode Kontrasepsi Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.

9. Siswosudarmo HR, Anwar HM, Emilia O. Teknologi Kontrasepsi Yogyakarta: Gadjah


Mada Universitu Press; 2007.

10. Bazard A. Kontrasepsi Hormonal Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo;
2002.

11. Sanger OG, Loho MF, Wirasti CR. Pengaruh Depo Medroxy Progesterone Asetat
Terhadap Profil Lipid. Maj Obstet Ginekol Indones. 2008; 32(3).

12. Mochtar R. Sinopsis Obstetri Jilid 2 Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2000.

13. Technical Report Series Intra Uterine Device, Physiologcal and Clinical Aspect. In
WHO; 2000.

14. Pinem S. Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi Jakarta: Trans Info Media; 2009.

15. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi: Kebijakan Program dan Kegiatan Tahun
2005-2009. In Badan Koordinasi Keluarga Berencana; 2005a; Jakarta. p. 63-68.