Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak merupakan generasi penerus suatu bangsa, bila anak-anak

sehat maka bangsapun akan kuat dan sejahtera. Generasi penerus yang

berkualitas merupakan harapan setiap orangtua, oleh karena itu kita semua

berharap agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara sehat fisik,

mental, dan sosial Setiap orangtua menginginkan anak lahir dengan

sempurna karena anak merupakan lambang pengikat cinta kasih bagi kedua

orangtuanya (Mustikawati, dkk, 2015).

Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang

perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa

pertumbuhan dan perkembangan dimulai dari bayi (0-1 tahun), usia

bermain/ toddler (1-3 tahun), pra sekolah (2,5-5 tahun), usia sekolah (5-11

tahun) hingga remaja (11-18 tahun) (Hidayat, 2009).

Tingkat tercapainya potensi biologik seseorang merupakan hasil

interaksi antara faktor genetik dan lingkungan bio-fisikopsikososial

(biologis, fisik, dan psikososial). Proses yang unik dan hasil akhir yang

berbeda-beda memberikan ciri tersendiri pada setiap anak. Pada anak

terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang

cepat dan lambat (Sofwan, 2010).

Proses pertumbuhan dan perkembangan menyebabkan anak akan

mengalami berbagai perubahan pada setiap waktunya, baik yang

berhubungan dengan fisik, organ, maupun psikologis dan sosial. Faktor

lain seperti kecemasan, lingkungan, termasuk pakaian juga dapat

meningkatkan suhu tubuh anak sampai terjadi demam. Biasanya demam

1
2

disebabkan oleh panas yang berlebihan pada lingkungan tetapi demam

juga dapat menjadi tanda-tanda klinis karena infeksi bakteri (Engel, 2008).

Demam adalah tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi atau

bakteri yang membuatnya sakit. Pengukuran suhu tubuh diberbagai

tubuh memiliki batasan nilai atau derajat demam yaitu axilla/ketiak

>37,2oC, suhu oral/mulut >37,8oC, suhu rektal/anus >38oC, suhu dahi dan

suhu di membran telinga diatas 38oC. Sedangkan demam tinggi bila suhu

tubuh >39,5oC dan hiperpireksia bila suhu >41,1oC (Nurdiansyah,

2011).

Menurut Riyandita, bahwa 95% ibu khawatir bila anaknya demam.

Alasan ibu karena demam pada anak dapat menyebabkan kejang (69%),

kerusakan otak (16%), koma (14%), gejala dari penyakit yang berat (11%),

bahkan demam bisa menyebabkan kematian. Kekhawatiran ibu tersebut

terkadang sangat berlebihan dan juga tidak realistik, seperti selalu

memanggil petugas kesehatan walaupun demamnya tidak tinggi (Riyandita,

2012).

Kasus penyakit yang gejala utamanya demam diantaranya DBD

(Demam Berdarah Dengue) di Indonesia pada Tahun 2010 sebanyak

5.556 kasus. Jumlah tersebut mengalami kenaikan yang cukup

signifikan dari Tahun 2009 yang mencapai 3.883 kasus atau naik 43%.

Penderita diare yang ditandai dengan demam juga banyak ditemukan.

Kasus demam disertai diare sebagian besar berobat jalan ke Puskesmas

yaitu sebanyak 34.593 orang. Penderita pneumonia umur 1-4 tahun

sebanyak 3.132 balita, penderita pneumonia berat umur < 1 tahun

sebanyak 17 balita dan jumlah pneumonia berat umur 1-4 tahun sebanyak
3

11 balita dimana penderita pneumonia ini juga disertai dengan demam

(Riyandita, 2012).

Berdasarkan data World Health Organization (WHO, 2013), kasus

DBD (Demam Berdarah Dengue) dialami di dunia kurang lebih 13 juta

orang pada tahun 2008, dengan angka prevalensi sebesar 2,7%. Sementara

pada tahun 2009 terdapat kurang lebih 18 juta orang dengan angka

prevalensi sebesar 4,2%. Tahun 2010 meningkat menjadi 21 juta orang

dengan angka prevalensi 3,5%. Pada tahun 2009 meningkat menjadi 18 juta

orang dari tahun 2008 sejumlah 13 juta orang dengan presentasi dari 2,75%

tahun 2008 menjadi 4,2% tahun 2009. Secara presentasi dari tahun 2009 ke

tahun 2010 menurun dari 4.2% menjadi 3.5%, namun secara jumlah jiwa

meningkat yaitu dari 18 juta orang menjadi 21 juta orang. Dengan melihat

data tesebut yang terus meningkat, tentunya kasus ini menjadi penting untuk

diperhatikan dan tangani bersama.

Berdasarkan Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia tahun

2016 kasus DBD (Demam Berdarah Dengue) di Indoensia tahun 2015

angka presentasi sebesar 50,75% dan Data Informasi Profil Kesehatan

Indonesia tahun 2017 terkiat dengan kasus BDB (Demam Berdarah Dengue)

di Indonesia tahun 2016 angka persentasi sebesar 78,85%, (Kemenkes RI,

2017). Dapat di katakan bahawa prefalensi hasil kasus DBD (Demam

Berdarah Dengue) tiap tahunnya terjadi peningkatan di wilayah Indonesia.

Di Sulawesi Selatan, menurut Data Informasi Profil Kesehatan

Indonesia tahun 2016 terkait dengan kasus DBD (Demam Berdarah

Dengue) di Indonesia tahun 2015 46,64% dan untuk Data Informasi Profil

Kesehatan tahun 2017 terkit dengan kasus DBD (Demam Berdarah Dengue)

di Indoensia tahun 2016 89,28% (Kemenkes RI, 2017).


4

Kasus peyakit demam pada penyakit pneumonia, diare, ISPA

juga mengalami peningkatan di wilayah Puskesmas Kedungmundu

Semarang pada tahun 2011. Kasus demam pada penyakit pneumonia di

puskesmas Kedungmundu ini mencapai 205 balita, kasus demam diare

mencapai 326 balita dan kasus ISPA mencapai 4495 kasus pada balita

(Puskesmas Kedungmundu tahun 2011).

Demam dapat membahayakan apabila timbul demam tinggi.

Kejang dapat terjadi sebagai akibat dari demam tinggi yang tidak

ditangani secara dini sehingga menimbulkan hipoksia jaringan otak dan

pada akhirnya terjadi kerusakan otak. Suhu badan yang tinggi

menyebabkan otak menjadi sensitif dan mudah mengalami kematian sel.

Suhu tubuh tinggi berbahaya karena mengakibatkan perdarahan lokal dan

degenerasi parenkimatosa di seluruh tubuh, gangguan ini akan

menyebabkan terganggunya fungsi sel (Tamsuri, 2006).

Suhu tubuh yang optimum sangat penting untuk kehidupan sel

agar dapat berfungsi secara efektif. Perubahan suhu tubuh yang ekstrem

dapat membahayakan bagi tubuh. Oleh karena itu, perawat harus berusaha

untuk dapat memelihara suhu tubuh klien agar tetap normal. Ada

beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk memelihara suhu tubuh

di antaranya adalah melalui terapi farmakologi dan non farmakologi.

Terapi farmakologi berupa obat-obatan medis atau antipiretik, dan terapi

non farmakologi salah satunya yaitu melalui kompres. Beberapa

tindakan kompres yang dapat dilakukan untuk menurunkan suhu tubuh

anatara lain kompres hangat basah, kompres hangat kering menggunakan

buli-buli hangat, kompres dingin basah dengan larutan obat antiseptik,


5

kompres dingin basah dengan air biasa, kompres dingin kering dengan

kirbat es (eskap) (Asmadi, 2008).

Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan

menggunakan cairan atau alat yang dapat menimbulkan hangat atau

dingin pada bagian tubuh yang memerlukan. Jenis kompres ada dua,

yaitu kompres hangat dan kompres dingin. Tujuan kompres hangat yaitu

memperlancar sirkulasi darah, mengurangi rasa sakit, memberi rasa

hangat, nyaman, dan tenang pada klien, memperlancar pengeluaran

eksudat, merangsang peristaltik usus. Selain tujuan kompres ada juga

lokasi kompres, diantaranya yaitu di ketiak (axilla), di lipatan paha

(femoral), di dahi (frontal) (Asmadi, 2008).

Pemberian kompres hangat pada axilla sebagai daerah dengan letak

pembuluh darah besar merupakan upaya memberikan rangsangan pada

area preoptik hipotalamus agar menurunkan suhu tubuh. Terjadinya

pengeluaran panas tubuh yang lebih banyak melalui dua mekanisme

yaitu dilatasi pembuluh darah perifer dan berkeringat (Potter & Perry,

2005).

Pemberian kompres hangat di femoral sebagai daerah dengan

letak pembuluh darah besar yang merupakan pusat pengendali suhu

inti, berada di area praoptik hipotalamus. Ketika reseptor yang sensitif

suhu hangat di hipotalamus terstimulasi, sistem efektor tersebut akan

mengirimkan sinyal yang akan memicu produksi keringat dan

vasodilatasi (Kozier, Berman, & Snyder, 2011).

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang berangsur-

angsur dalam kehidupan manusia. Allah telah menciptakan manusia dari

berbagai tahap pertumbuhan dan perkembangan. Dengan kata lain,


6

kehidupan manusia memiliki pola dalam tahapan-tahapan tertentu yang

termasuk tahapan dari pembuahan sampai kematian. Sebagaimana firman

Allah swt.. dalam QS.Al-Furqon/25: 2


ً ‫ش ْيءٍ فَقَد ََّرهُ ت َ ْقد‬
‫ِيرا‬ َ ‫َو َخلَقَ ُك َّل‬

Terjemahnya:

“dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran

ukurannya dengan tepat (QS. Surah Al-Furqon : 2).

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa tahapan-tahapan

tersebut sangat tertata dengan rapi dan sangat beraturan, Allah swt. telah

menetapkan perkembangan dan pertumbuhan yang dialami manusia berbeda

antara manusia yang satu dan manusia yang lain, ada yang mengalami

pertumbuhan dengan cepat dan ada pula yang melalui masa

pertumbuhannya dengan lamban karena adanya suatu penyebab.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana efektivitas lokasi pemberian kompres hangat terhadap

penurunan demam pada anak?

C. Tujuan Penelitian

Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis

efektifitas lokasi pemberian kompres hangat terhadap penurunan demam

pada anak.

D. Manfaat Penulisan

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat dijadikan acuan penelitian keperawatan

selanjutnya. Sebagai dasar untuk melakukan penelitian yang lebih rinci

mengenai intervensi keperawatan pada anak. Hasil penelitian ini

diharapkan dapat dijadikan rujukan tambahan untuk melakukan


7

pengabdian ke masyarakat, khususnya pengembangan keterampilan

keperawatan anak.

2. Manfaat Praktisi

a. Bagi anak

Penelitian ini diharapkan, dengan dilakukannya terapi pijat anak

dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan dengan baik

serta meningkatkan kualitas hidup anak.

b. Bagi orangtua

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada

orangtua tentang pentingnya melakukan terapi pijat pada anak

sebelum sakit serta mampu dilakukan sendiri dirumah sesuai

dengan apa yang telah di ajarkan pada perawat anak di rumah sakit.

c. Bagi perawat anak

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan baru

tentang terapi pijat dan mampu menerapkan baik di rumah sakit

maupun di masyarakat.

d. Bagi peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peneliti

tentang efektifitas pemberian terapi pijat dan sebagai tambahan

referensi untuk penelitian selanjutnya.