Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Krisis moral (nilai) yang melanda bangsa indonesia saat ini khususnya generasi
muda membuat kehawatiran tersendiri bagi oragn tua dan masyarakat. Arus aliran pola
kehidupan budaya barat yang sulit dibendung melalui media massa dan elektronik.
Menjadi pemicu munculnya perilaku negatif anak muda. Pola pergaulan bebas, miras
dan narkoba menjadi tren pergaulan anak muda sekarang. Fakta di atas emmbuktikan
bahwa peran dan partisipasi generasi muda dalam membangun sangatlah rendah.
Selama ini masyarakat awam beranggapan bahwa pendidikan moral (Nilai) bagi
gegenrasi muda sudah cukup didapan dari sekolah formal, padahal kenyataannya
pendidikna moral (nilai) yang mereka peroleh disekolah sangatlah minim. Hal ini
dikarenakan materi di sekolah formal lebih banyak memberikan pengetahuan yang
bersifat umum daripada pengetahuan yang bersifat formal.
Sejalan dengna berlakunya UU No. 323 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah,
telah terjadi perubahan yang semula berasas, sentralissasi menjadi desentralisasi.
Dengan adanya perubahan yang dimaksud mestinya akan membawa dampak yang lebih
besar bagi kita karena termasuk tingkat keikutsertaan para meuda di dalam segala aspek
kehidupan yang dijalaninya.
Oleh karena itu agar para generasi muda tidak terlanjur terjerumus dalam perilaku
negatif, diperlukan suatu wadah ketrerampilan dalam masyarakat untuk menampung
segala macam pemikiran para generasi muda sehingga dapat berkembang dengna
perilaku yang positif. Selain itu perlu adanya suatu wadah keterampilan untuk
menngkatkan sumber daya manusi adan peran para generasi muda dalam
bidangketerampilan agar memiliki potensi untuk masa yang akan datang, khususnya
para pemuda RT.07 RW.02 desa makartitama.
Direktorat pemuda menyimpulkan life skill dalam 3 (Tiga ) kelompok yaitu :
kecakapan personal artinya pemuda harus mampu berfikir rasionalyang kecakapan
personal artinya pemuda harus mampu menggali dan menemukan informasi,
mengambil keputusan dan mampu memecahkan masalah secara kreatif. Kecakapan
social artinya pemuda harus mampu berkomunikasi, menjalin kerjasama dan menjaga
keharmonisan terhadap relasi/hubungan yang dimiliki.
Kecakapan fungctional artinya pemuda harus mampu menumbuhkembangkan
sifat-sifat kejujuran dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki semangat untuk bekerja
keras . untuk membantu para pemuda agar terus meningkatkan segala potensi dan
ekmampuan yang dimilikinya, maka diperlukan konsep yang tepat dalam lembaga
kepemudaan agar termotivasi untuk maju.
Apabila lembaga kepemudaan tersebut dapat dikelola dan dikembangkan secara
aktif dan kreatif, tentunya dapat menghasilkan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi
kemandirian menuju sumber daya manusia yang potensial bagi kemajuan dirinya
sehingga pada akhirnya untuk kemajuan daerahnya.
Program-program yang dapat diciptakan guna meningkatkan partisipasi pemuda,
dapat berupa keterampilan, kewirausahaan. Kepelaporan dan kepemimpinan. Melalui
program-program yang dimaksud akhirnya penulis menyadari tidak mampu secara
menyeluruh dapat mengembangkan program-program yang ada,
Seiring dengan zaman yang semakin pesat, maka kebutuhan tenaga-tenaga ahli di
bidang keterampilan aneka ragam kegiatan pembuatan bros dari pembuatan tradsional
sampai modern, maka diperlukan tenaga-tenaga yang terampil dan cekatan serta ulet
sehingga pemuda mempunyai keterampilan yang baik dan terprogram.
Oleh karena itu agar para generasi muda tidak terlanjur terjerumus dalam perilaku
negatir, diperlukan suatu wadah keterampilan dalam masyarakat untuk menampung
segalam macam pemikiran para generasi muda sehingga dapat berkembang dengan
perilaku yang positif. Selain itu perlu adanya suatu wadah keterampilan untuk sumber
daya manusia dan peran para generasi muda dalam bidang keterampilan. Agar memiliki
potensi untuk masa yang akan datang, kehusunya para generasi muda RT.07 RW.02
Desa Makartitama, maka penulis tertarik mengadakan pelatihan dengan judul
“Pembuatan Bros”.
1.2. Tujuan Kegiatan
1.2.1. Tujuan umum :
1. Meningkatkan sumber daya manusia yang mempunyai life skill.
2. Melatih pemuda agar menggali potensi dirinya sesuai dengan minat dan bakat yang
dimilikinya.
3. Membangkitkan sikap pertisipasi dalam pembangunan dilingkungannya.
4. Memotivasi agar suka bekerja keras dalam menghadapi tantangan zaman yang
penuh degengan persaingan globalisasi.
1.2.2. Tujuan khusus :
1. Memiliki keterampilan khusus di bidang pengolahan aneka pembuatan bros.
2. Mempersiapkan diri memperoleh pengetahuan yang luas tentang pemasaran bros.
1.3. Manfaat dan Hasil Kegiatan
1. Dari 7 (Tujuh) orang yang mengikuti program pelatihan dalam bidang pembuatan
bros hasilnya cukup memuaskan, dua orang perlu penyempurnaan dengna latihan
yang lebig optimal.
2. Hasil pelaksanaan kegiatan secara umum sudah berhasil dengna baik, diliat dari
kualitas yang didemonstrasikan.

1.4. Hasil Hegiatan Yang Ingin Dicapai


1. Kegiatan ini dapat melatih pengetahuan dan keterampilan dalam hal pembuatan
bros.
2. Kegiatan ini dapat menambah pendapatan pemuda.
3. Kegiatan ini dapat menciptakan lapangan kerja bagi pemuda-pemuda Desa
Makartitama Kecamatan Peninjauan.
BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN

2.1. Nama Kegiatan


“Pelatihan pembuatan Bros” bagi pemuda / pemudi Desa Makartitama Kecamatan
Penuinjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu.
2.2. Saran-saran
Pemuda-pemudi Desa Makartitama Kecamatan Peninjauan Kabupaten Ogan
Komering Ulu yang telah di rekrut dengan formulir data pribadi sebanyak 7 orang.
2.3. Nara Sumber
Nama Sumber : Zumratus Shalikhah ( Pemudi Desa Makartitama)
Nara Sumber : Siti Rahmi (Warga Desa makartitama)
2.4. Tempat dan Waktu
Tempat : kediaman Bapak Tamrin Desa Makartitama,Kecamatan Peninjauan Kabupaten
Ogan Komering Ulu.
Hari : Senin dan Selasa
Jam : 14:30-16-30
JADWAL KEGIATAN

Pertemuan AlatPeraga/Nara
No Kegiatan Metode Waktu
Hari/Tanggal sumber
1 Perekrutan Ceramah dan Buku pembuatan Bros
Senin,17-10-2016 1 jam
pemuda tanya jawab
2 Sosialisasi Materi dan Buku petubjuk,Alat Tulis
Selasa,18-10-2016 2 jam
tanya jawab
3 Penjelasan alat Ceramah dan Internet dan alat tulis
Senin,24-10-2016 2 jam
dan bahan tanya jawab
4 Menyiapkan Demontrasi Lemfox,gandum,pewarna
Selasa,25-10-2016 2 jam
alat dan bahan Pengamatan makanan dan peniti bros
5 Memprakekkan Pengamatan Lem fox,gandum
Senin,31-10-2016 membuat bros 1jam pewarna makanan dan
peniti bros
6 Praktek sendiri- pengamatan Lem fox,gandum
Selasa,01-11-2016 sendiri 2 jam pewarna makanan dan
peniti bros
7
2.5. Materi pelatihan /Kegiatan
1. Bahan dan Alat
 Bahan : Bahan yang digunakan untuk membuat bros adalah : lem FOX,
Gandum, Pewarna. Makanan,dll
 Alat : Cetakan Kue Kering, Plastik, Botol Limun
2. Materi pelatihan kegiatan
Pembuatan bros di awali dengan :
Memasukkan gandum ke dalam nampan lalu beri sedikit garam dan berikan lem
FOX secukupnya tutupi lem degnan tapung begitu terus hingga lem dan tepung tidak
lengket di tangan kemudian beri warna sesuai dengan selera, lalu pipihkna dengan
botol limun hingga kurang lebih tebal 1cm lalu cetak degnan cetakan kue, biarkan
mengering kemudian pasang peniti bros dan berilah hiasan se cantik mungkin.
2.6. Strategi dna Deskripsi jalannya Kegiatan
Pembelajaran di laksanakan dengan cara tatap muka secara langung, narasumber
memberikan materi yang mudah untuk dipahami, dengan mengguankan metode ceramah,
tanyajawab materi, pengamatan dan demonstrasi.
Pertemuan pertama yang dilakukan penulis adalh perekrutan peserta yang akan
mengikuti pelatihan pembuatan bros dengan mengisi identitas diri yang telah diberikan,
sosialisasi bagaimana menfaat pembuatan bros, pertemuan selanjutnya penjelasan bahan-
bahan dan alat-alat apa saja yang dibutuhkan kemudian bersama-sama menyiapkan bahan
dan alat-alat yang dibutuhkan untuk membuat bros, kemudian pertemuan selanjutnya
mempraktekkan bersama-sama bagaimana cara membuat bros dari tepung dan pertemua
terakhir barulah dilakukan praktek sendiri-sendiri dan di awasi oleh narasumber.
BAB III
TEMUAN DAN HASIL ANALISA
3.1.TEMUAN HASIL PROSES
Selama proses pembelajaran/pembinaan