Anda di halaman 1dari 6

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN SPRAIN

A. Definisi
Sprain atau keseleo merupakan keadaan ruptura total atau parsial pada ligamen
penyangga yang mengelilingi sebuah sendi. Biasanya kondisi ini terjadi sesudah
gerakan memuntuir yang tajam (Kowalak, 2011).
Sprain adalah cedera pada sendi, dengan terjadinya robekan pada ligamentum,
hal ini terjadi karena stress berlebihan yang mendadak atau penggunaan berlebihan
yang berulang-ulang dari sendi. (Giam & Teh, 1993).
B. Etiologi
Beberapa faktor sebagai penyebab sprain :
a. Umur
Faktor umur sangat menentukan karena mempengaruhi kekuatan serta kekenyalan
jaringan. Misalnya pada umur tiga puluh sampai empat puluh tahun kekuatan otot
akan relative menurun. Elastisitas tendon dan ligamen menurun pada usia tiga
puluh tahun.
b. Terjatuh atau kecelakan
Sprain dapat terjadi apabila terjadi kecelakan atau terjatuh sehingga jaringan
ligamen mengalami sprain.
c. Pukulan
Sprain dapat terjadi apabila mendapat pukulan pada bagian sendi dan
menyebabkan sprain.
d. Tidak melakukan pemanasan
Pada atlet olahraga sering terjadi sprain karena kurangnya pemanasan. Dengan
melakukan pemanasan otot-otot akan menjadi lebih lentur.
Menurut Kowalak, etiologi kseleo meliputi :
a. Pemuntiran mendadak dengan tenaga yang lebih kuat daripada kekuatan ligamen
dengan menimbulkan gerakan sendi diluar kisaran gerak (RPS) normal
b. Fraktur atau dislokasi yang terjadi secara bersamaan
Faktor Risiko
a. Riwayat keseleo sebelumnya (faktor risiko yang paling sering)
b. Gangguan pada jaringan ikat
c. Kaki Cavovarus
C. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang mungkin timbul karena keseleo meliputi :
a. Nyeri lokal (Khususnya pada saat menggerakkan sendi)
b. Pembengkakan dan rasa hangat akibat inflamasi
c. Gangguan mobilitas akibat rasa nyeri (yang baru terjadi beberapa jam setelah
cedera)
d. Perubahan warna kulit akibat ekstravasasi darah kedalam jaringan sekitarnya
D. Klasifikasi
Sprain Tingkat I
a. Merupakan robekan dari beberapa ligament akan tetapi tidak menghilangkan
dan menurunkan fungsi sendi tersebut.
b. Pasien bisa merawat sendiri selama proses rehabilitasi, atau setelah
mendapatkan diagnosa dari dokter.
c. Masa penyembuhan antara 2-6 minggu.
d. Terjadi rasa sakit, pembengkakan kecil, sedikit perdarahan tetapi tidak terjadi
leksitas abnormal.
Sprain Tingkat II
a. Dimana terjadi kerusakan ligamen yang cukup lebih besar tetapi tidak sampai
terjadi putus total.
b. Terjadi rupture pada ligament sehingga menimbulkan penurunan fungsi sendi.
c. Untuk pemulihannya membutuhkan bantuan fisioterapi dengan rentang waktu
2-6 minggu.
d. Rasa sakit/nyeri,bengkak terjadi perdarahan yang lebih banyak.
Sprain Tingkat III
a. Terjadi rupture komplit dari ligamen sehingga terjadi pemisahan komplit
ligamen dari tulang.
b. Untuk bisa pulih kembali maka diperlukan tindakan operasi dan fisioterapi dan
rata-rata memakan waktu 8-10 minggu.
c. Pada tingkatan ini ligamen pada lutut mengalami putus secara total dan lutut
tidak dapat digerakkan.
E. Patofisiologi
Sprain biasanya terjadi sesudah gerakan memuntir yang tajam. Keseleo atau
sprain jika difiksasi dapat sembuh dalam dua hingga tiga minggu tanpa tindakan
bedah korektif. Sesudah itu secara berangsur-angsur pasien dapat kembali melakukan
aktivitas normal. Keseleo atau sprain pada pergelangan kaki merupakan cedera sendi
yang paling sering dijumpai dan kemudian diikuti oleh keseleo pada pergelangan
tangan, siku, serta lutut.
Jika sebuah ligamen mengalami ruptur maka eksudasi inflamatori akan terjadi
dalam hematoma diantara kedua ujung potongan ligamen yang putus itu. Jaringan
granulasi tumbuh kedalam dari jaringan lunak dan kartilago sekitarnya. Pembentukan
kolagen dimulai empat hingga lima hari sesudah cedera dan pada akhirnya akan
mengatur serabut-serabut tersebut sejajar dengan garis tekanan/stres. Dengan bantuan
jaringan fibrosa yang vaskular, akhirnya jaringan yang baru tersebut menyatu dengan
jaringan disekitarnya. Ketika reorganisasi ini berlanjut, ligamen yang baru akan
terpisah dari jaringan sekitarnya dan akhirnya menjadi cukup kuat untuk menahan
tegangan otot normal.
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Foto rontgen untuk menyingkirkan kemungkinan fraktur
2. Stress radiography untuk memfisualisasi cedera ketika bagian tersebut
digerakkan
3. Artrografi
4. Artroskopy
G. Penatalaksanaan
Komplikasi yang mungkin muncul pada kondisi seseorang yang terkena sprain
meliputi :
a. Disklokasi berulang akibat ligamen yang ruptur tersebut tidak sembuh dengan
sempurna sehingga diperlukan pembedahan untuk memperbaikinya
b. Gangguan fungsi ligamen (jika terjadi tarikan otot yang kuat sebelum sembuh dan
tarikan tersebut menyebabkan regangan pada ligamen yang ruptur, maka ligamen
ini dapat sembuh dengan bentuk memanjang, yang disertai pembentukan jaringan
parut secara berlebihan).
Penatalaksanaan Sprain
RICE (Rice, Ice, Compression, Elevation)
Prinsip utama penatalaksanaan sprain adalah mengurangi pembengkakan dan nyeri
yang terjadi. Langkah yang paling tepat sebagai penatalaksanaan tahap awal (24-48
jam) adalah prinsip RICE (rest, ice, compression, elevation), yaitu :
1. Rest (istirahat)
Kurangi aktifitas sehari-hari sebisa mungkin. Jangan menaruh beban pada tempat
yang cedera selama 48 jam. Dapat digunakan alat bantu seperti crutch
(penopang/penyangga tubuh yang terbuat dari kayu atau besi) untuk mengurangi
beban pada tempat yang cedera.
2. Ice (es)
Letakkan es yang sudah dihancurkan kedalam kantung plastik atau semacamnya.
Kemudian letakkan pada tempat yang cedera selama maksimal 2 menit guna
menghindari cedera karena dingin.
3. Compression (penekanan)
Untuk mengurangi terjadinya pembengkakan lebih lanjut, dapat dilakukan
penekanan pada daerah yang cedera. Penekanan dapat dilakukan dengan perban
elastik. Balutan dilakukan dengan arah dari daerah yang paling jauh dari jantung ke
arah jantung.
4. Elevation (peninggian)
Jika memungkinkan, pertahankan agar daerah yang cedera berada lebih tinggi
daripada jantung. Sebagai contoh jika daerah pergelangan keki yang terkena, dapat
diletakkan bantal atau guling dibawahnya supaya pergelangan kaki lebih tinggi
daripada jantung. Tujuan daripada tindakan ini adalah agar pembengkakan yang
terjadi dapat dikurangi.
Penanganan sprain menurut klasifikasi
a. Sprain tingkat satu (first degree)
Tidak perlu pertolongan/ pengobatan, cedera pada tingkat ini cukup diberikan
istirahat saja karena akan sembuh dengan sendirinya.
b. Sprain tingkat dua (Second degree).
- Pemberian pertolongan dengan metode RICE
- Tindakan imobilisasi (suatu tindakan yang diberikan agar bagian yang cedera
tidak dapat digerakan) dengan cara balut tekan, spalk maupun gibs. Biasanya
istirahat selama 3-6 minggu.
c. Sprain tingkat tiga (Third degree).
- Pemberian pertolongan dengan metode RICE
- Dikirim kerumah sakit untuk dijahit/ disambung kembali
H. Pengkajian
1. Identitas pasien.
2. Keluhan Utama : nyeri, kelemahan, mati rasa, edema, perdarahan, perubahan
mobilitas / ketidakmampuan untuk menggunakan sendi, otot dan tendon.
3. Riwayat Kesehatan.
a. Riwayat Penyakit Sekarang.
 Kapan keluhan dirasakan, apakah sesudah beraktivitas kerja atau setelah
berolah raga.
 Daerah mana yang mengalami trauma.
 Bagaimana karakteristik nyeri yang dirasakan.
b. Riwayat Penyakit Dahulu.
Apakah klien sebelumnya pernah mengalami sakit seperti ini atau mengalami
trauma pada sistem muskuloskeletal lainnya.
c. Riwayat Penyakit Keluarga.
Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.
4. Pemeriksaan Fisik.
 Inspeksi : kelemahan, edema, perdarahan, perubahan warna kulit,
ketidakmampuan menggunakan sendi
 Palpasi : Mati rasa
 Perkusi.
5. Pemeriksaan Penunjang.
Pada sprain untuk diagnosis perlu dilaksanakan rontgen untuk membedakan
dengan patah tulang.
I. Diagnosa
1. Nyeri berhubungan dengan pelepasan mediator kimia bradikinin
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan pembengkakan
J. Rencana dan Intervensi Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan pelepasan mediator kimia bradikinin
Tujuan : Dalam waktu 3 x 24 jam setelah dilakukan tindakan keperawatan
diharapkan nyeri berkurang
KH :
1. Skala nyeri berkurang secara subjektif
2. Pasien dapat beristirahat
3. Ekspresi meringis (-)
4. TTV dalam batas normal (TD : 120-140/60-80 mmHg, N : 60-100, RR : 16-24
x/menit, T : 36,5-37,5°C)
INTERVENSI
1. Berikan lingkungan tenang dan nyaman
R/ Membantu pasien untuk dapat beristirahat
2. Ajarkan teknik ditraksi dan relaksasi
R/ Mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pasien
3. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi
R/ Mengurangi rasa sakit yang dirasakan pasien
4. Kaji skala nyeri
R/ Mengetahui skala nyeri pasien
5. Pantau TTV pasien
R/ Untuk mengetahui status kesehatan pasien
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan pembengkakan
Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam setelah diberikan tindakan keperawatan klien
dapat melakukan aktivitas
KH:
a. Menunjukan peningkatan aktivitas
b. Pasien tampak tenang
c. TTV dalam rentang normal (TD : 120-140/60-80 mmHg, N : 60-100 x/menit,
RR : 16-24 x/menit, T : 36,5 – 37,5°C)
INTERVENSI
1. Ciptakan lingkungan yang tenang
R/ menurunkan stimulasi yang kemungkinan besar dapat menimbulkan agitasi,
hiperaktif, dan imsomnia
2. Berikan tindakan yang membuat pasien merasa nyaman seperti massage
R/ meningkatkan relaksasi
3. Sarankan pasien untuk mengurangi aktivitas
R/ membantu melawan pengaruh dari peningkatan metabolisme
4. Pantau tanda vital dan catat nadi baik istirahat maupun saat aktivitas.
R/ nadi secara luas meningkat dan bahkan istirahat , takikardia mungkin ditemukan