Anda di halaman 1dari 3

PPOK (Penyakit Paru Obstruktif

Kronis )

No. Dokumen : SOP/ /BAB


IX/UKP/2018

SOP No. Revisi : 00

Tanggal Terbit :

Halaman : 1 dari 3

UPTD
ANANG SETIANA,SKM.,MKM
PUSKESMAS
NIP.196912151989121001
KADIPATEN

1. Pengertian PPOK adalah penyakit paru kronik yang dapat dicegah dan diobati,
dikarakteristikkan dengan hambatan aliran udara yang persisten,
progresif dan berhubungan dengan peningkatan respons inflamasi
kronis di paru terhadap partikel dan gas berbahaya,

2. Tujuan Sebagai acuan untuk menegakkan diagnosa, menentukan


penatalaksanaan, mencegah komplikasi dan menentukan kriteria
rujukan sesuai SOP,

3. Kebijakan SK Kepala UPTD Puskesmas Kadipaten Nomor:445.4/


03/Admen/2018 Tentang peningkatan mutu dan kinerja
puskesmas, sasaran kinerja ukm,dan peningkatan mutu dan
keselamatan pasien UPTD puskesmas kadipaten

4. Referensi Panduan praktik klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan


kesehatan Primer,Edisi I, hal 269 – 272

5. Prosedur 1. Petugas Menanyakan keluhan pada pasien, apakah mengalami


sesak napas, disertai mengi, batuk kering atau dengan dahak
yang produktif dan rasa berat di dada
2. Petugas menanyakan factor keturunan, apakah pasien merokok
atau terpapar asap rokok, debu kerja,
3. Petugas menanyakan apakah pernah mengalami masalah
pernafasan sebelumnya
4. Petugas melakukan pemeriksaan fisik dengan mengamati
adakah 8 tanda sebagai berikut :
a. Sianosis sentral pada membran mukosa
b. Tanda Hiperinflasi paru seperti ; iga tampak horizontal,
bareel chest, (Diameter antero – posterior dan transversal
sebanding ) dan abdomen yang menonjol keluar
c. Hemidiafragma mendatar
d. Laju respirasi istrirahat meningkat lebih dari 20 kali/ menit
dan pola napas lebih dangkal
e. Purs–lips breathing (mulut setengah katup mencucu), laju
ekspirasi lebih lambat memungkinkan pengosongan paru
yang lebih efisien,
f. Penggunaan otot bantu napas adalah indikasi gangguan
pernapasan
g. Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena
jugularis di leher
h. Edema tungkai,
5. Petugas melakukan palpasi dan perkusi, akan sulit menemukan
irama jantung di apeks karena hiperinflasi paru, sehingga
menyebabkan hati letak rendah dan mudah di palpasi,
6, Petugas melakukan auskultasi untuk menilai adakah
penurunan suara napas (walau tidak spesifik untuk ppok),
mengi, ronkhi basah kasar saat inspirasi, dan bunyi jantung
terdengar lebih keras di area xiphoideus,

7, Petugas menuliskan resep obat yang bertujuan mengurangi laju


beratnya penyakit dan mempertahankan keadaan stabil seperti
:

a. Bronkodilator oral,kombinasi golongan β2 agonis


(salbutamol) dengan golongan xantin (aminopilin dan
teofilin),
b. Ekspektoran dengan obat batuk hitam (OBH)
c. Mukolitik (ambroxol) jika sputum mukoid
d. Memberikan Oksigen
Jika terjadi eksaserbasi akut (PPOK berat) tidak tertangani
petugas merujuk ke Rs

6. Diagram Alir Petugas


Petugas memanggil Petugas memeriksa
pasien, dan mencatat melakukan tanda-tanda
identitas dibuku anamnesa vital Sign
registrasi pasien

Petugas
memeriksa
fisik pasien
Petugas
melakukan Petugas melakukan
auskultasi palpasi dan perkusi
Petugas
Jika terjadi eksaserbasi memberikan
Petugas
akut (PPOK berat) tidak edukasi kepada
menuliskan
tertangani petugas pasien
resep obat
merujuk ke Rs

Petugas menulis hasil


pemeriksaan, diagnose
dan terapi direkam medic
pasien

7. Hal-hal yang 1. Identifikasi pasien


perlu 2. Anamnesa pasien
diperhatikan 3. Diagnosa pasien

8. Unit terkait 1. Klinik Umum


2. UGD
3. Farmasi

9. Dokumen 1. Buku register


Terkait 2. Blangko resep
3. Blangko laboratorium
4. Blangko rujukan

10. Rekaman
Histori
Tgl, mulai
Perubahan No Yang diubah Isi Perubahan
diberlakukan