Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Halusinasi
1. Definisi
Halusinasi merupakan hilangnya kemampuan dalam membedakan
rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar)
sehingga tanpa adanya suatu objek atau rangsangan yang nyata, paien
mampu memberikan suatu persepsi atau pendapat tentang lingkungan
(Sutinah, 2017).
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan sensori persepsi yang
dialami oleh pasien gangguan jiwa. Pasien merasakan sensasi berupa
suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penghiduan tanpa stimulus
yang nyata (Keliat, 2011).
Halusinasi merupakan persepsi yang salah tentang suatu objek,
gambaran dan pikiran yang sering terjadi tanpa adanya pengaruh
rangsangan dari luar yang terjadi pada semua sistem pengindraan dan
hanya dirasakan oleh klien tetapi tidak dapat di buktikan dengan nyata
dengan kata lain objek tersebut tidak ada secara nyata (Erlinafsiah, 2010).
Jenis-Jenis Halusinasi
Menurut (Sutinah, 2017), halusinasi terdiri dari enam jenis yaitu :
a. Pendengaran
Ditandai dengan mendengar suara, terutama suara-suara orang,
biasanya klien mendengar suara-suara orang yang sedang
membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan
untuk melakukan sesuatu.
b. Penglihatan
Ditandai dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran
cahaya, gambar geometric, gambar kartun dan panorama yang luas
kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan.
c. Penciuman
Ditandai dengan adanya bau busuk, amis, dan bau yang menjijikan
seperti : darah, urine, atau feces. Kadang-kadang terhirup bau harum.
Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia.
d. Perabaan
Ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang
terlihat. Contoh : merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda
mati atau orang lain.
e. Pengecapan
Ditandai dengan meraskan sesuatu busuk. Amis dan menjijikkam.
f. Sinestetik
Ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir
melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine.
2. Proses Terjadinya Masalah
a. Etiologi
1) Faktor Predisposisi
Menurut Yosep (2009) faktor predisposisi yang
menyebabkan halusinasi adalah :
a) Faktor Perkembangan
Tugas perkembangan klien terganggu misalnya rendahnya
kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak
mampu mandiri sejak kecil , mudah frustasi, hilang percaya
diri dan lebih rentan terhadap stress.
b) Faktor Sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungan nya sejak
bayi akan merasa disingkirkan,kesepian,dan tidak percaya
pada lingkungannya.
c) Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa.
Adanya stress yang berlebihan dialami seseorag maka di
dalam tubuh akan di hasilkan suatu zat yang dapat bersifat
halusinogenik neurokimia. Akibat stress berkepanjangan
menyebabkan teraktivasinya neurotransmitter otak.
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan
dengan resfon neurobiologis yang maladaptif baru mulai di
pahami. Ini ditunjukan oleh penelitian – penelitian yang
berikut:
a) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukan
keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan
skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan
limbik berhubungan dengan prilaku psikotik.
b) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin
neurotransmitter yang berlebihan dan masalah pada
sistem reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya
skizofrenia.
c) Pembesaran ventrikel dan penurunan masa kortikal
menunjukan terjadinya atropi yang signifikan pada otak
manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia
kronis ditemukan pelebaran lateral ventrikel , atropi
korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum) .
temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh
otopsi ( post-mortem).
d) Faktor Psikologis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab
mudah terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif . hal
ini berpengaruh pada ketidakmampuan klien dalam
mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya .
Klien lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dari alam
nyata menuju alam hayal.
e) Faktor Genetik Dan Pola Asuh
Penelitian menunjukan bahwa anak sehat yang di asuh
oleh orang tua yang skizofrenia cenderung mengalami
skizofrenia. Hasil studi menunjukan bahwa faktor
keluarga menunjukan hubungan yang sangat
berpengaruh pada penyakit ini.
2) Faktor Presipitasi
Menurut Stuart ( 2007) faktor presipitasi terjadinya gangguan
halusinasi adalah:
a) Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak , yang
mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme
pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan
untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh
otak untuk di interpretasikan.
b) Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stresss yang berinteraksi terhadaap
stressor lingkungan untuk mennetukan terjadinya gangguan
prilaku.
c) Sumber Koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam
menanggapi stressor.
b. Rentang Respon
Rentang Respon Neurobiologis menurut Stuart dan Laria 2001

Keterangan Gambar
1. Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima norma norma
sosial budaya yang berlaku . Dengan kata lain individu tersebut
dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat
memecahkan masalah tersebut.
a) Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada
kenyataan.
b) Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan
c) Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang
timbul dari pengalaman ahli.
d) Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang masih
dalam batas kewajaran.
2. Respon Psikososial meliputi:
a) Proses pikir terganggu adalah proses fikir yang
menimbulkan gangguan.
b) Ilusi adalah miss interpretasi atau penilaian yang salah
tentang penerapan yang benar benar terjadi (objek nyata)
karena rangsangan panca indra.
c) Emosi berlebihan atau berkurang.
d) Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang
melebih batas kewajaran.
e) Menarik diri adalah percobaan untuk menghindari interaksi
dengan orang lain
3. Respon maladaptive
Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan
masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan
ligkungan , adapn respon maladaptif meliputi :
a) Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh
dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan
bertentangan dengan kenyataan sosial
b) Halusinasi merupakan persepsisensori yang salah atau
persepsi eksternal yang tidak realita atau tidak ada
c) Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang
timbul dari hati
d) Perilaku yang tidak terorganisir merupakan sesuatu yang
tidak teratur.
e) Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh
individu dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain
dans ebagai suatu kecelakaan yang negatif mengancam
c. Tanda dan Gejala Halusinasi
Menurut Lilik Ma’rifatul Azizah (2016), tanda dan gejala halusinasi
penting perlu diketahui oleh perawat agar dapat menetapkan masalah
halusinasi, antara lain :
1) Berbicara, tertawa dan tersenyum sendiri
2) Bersikap seperti mendengarkan sesuatu
3) Berhenti berbicara sesaat ditengah-tengah kalimat untuk
mendengarkan sesuatu
4) Disorientasi
5) Tidak mampu atau kurang konsentrasi
6) Cepat berubah pikiran
7) Alur pikir kacau
8) Respon yang tidak sesuai
9) Menarik diri
10) Suka marah dengan tiba-tiba dan menyerang orang lain tanpa
sebab
11) Sering melamun
d. Penanganan Halusinasi
Penanganan halusinasi sama dengan penanganan skizofrenia. Di
rumah sakit, penanganan halusinasi dapat berupa intervensi biologis,
intervensi psikologis, maupun intervensi sosiokultural. Pada gejala-
gejala yang timbul akibat halusinasi dapat diberikan obat-obatan
psikotik berupa neuroleptic sebagai bentuk intervensi biologis
(Pardede, Keliat, & Yulia, 2015)
B. AsuhanKeperawatan
1. Pengkajian
Pada tahap ini ada beberapa faktor yang perlu di eksplorasi baik pada
klien sendiri maupun keluarga berkenaan dengan kasus halusinasi yang
meliputi :
a. Faktor Predisposisi
1) Faktor Genetis
Telah diketahui bahwa secara genetis skizofrenia diturunkan
melalui kromosom-kromosom tertentu . namun demikian
kromosom yang keberapa yang menjadi faktor penentu
gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian.
Diduga kromosom skizofrenia ada kromosom gangguan dengan
kontribusi genetis tambahan nomor 4,8,15, dan 22.
2) Faktor Biologis
Adanya gangguan pada otak menyebabkan timbulnya respon
neurobiological maladaptive. Peran pre frontal dan limbik
cortices dalam regulasi stress berhubungan dengan aktivitas
dopamine . saraf pada fre frontal penting untuk memori ,
penurunan neuro pada area ini dapat menyebabkan kehilangan
asosiasi.
3) Faktor Presipitasi Psikologis
Keluarga,pengasuh,lingkungan. Pola asuh anak adekuat.
Pertengkaran orang tua,penganiayaan, tindak kekerasan.
4) Sosial Budaya
Kemiskinan , konflik sosial budaya, peperangan dan kerusuhan.
b. Faktor Presipitasi
1) Biologi
Berlebihnya proses informasi pada sistem syaraf yang menerima
dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
Mekanisme penghantaran listrik di syaraf terganggu
(mekanisme gatthing abnormal).
2) Stress lingkungan
3) Gejala gejala pemicu seperti kondisi kesehatan,
lingkungan,sikap,dan perilaku
a) Kesehatan meliputi nutrisi yang kurang, kurang tidur,
kelelahan,infeksi,obat-obat sistem syaraf pusat, kurangnya
latihan dan hambatan untuk menjangkau pelayanan
kesehatan.
b) Lingkungan meliputi lingkungan yang memusuhi ,kritis
rumah tangga,kehilangan kebiasaan hidup, perubahan
kebiasaan hidup, pola aktifitas sehari-hari, kesukaran dalam
berhubungan dengan orang lain, isolasi sosial,kurangnya
dukungan sosial, tekanan kerja (kurang keterampilan dalam
bekerja) stigmasisasi,kemiskinan,kurangnya alat
transportasi ,dan ketidak mampuan mendapat pekerjaan.
c) Sikap atau prilaku seperti harga diri rendah ,putus asa,
merasa gagal , kehilangan kendali diri, (demoralisasi)
,merasa punya kekuatan,tidak dapat memenuhi kebutuhan
spiritualatau merasa malang,bertindak seperti orang lain
dari segi usia atau budaya , rendahnya kemampuan
sosialisasi, perilaku agresif, perilaku kekerasan.
c. Pemeriksaan Fisik
Memeriksa tanda-tanda vital, tinggi badan, berat badan , dan
tanyakan apakah ada keluhan fisik yang dirasakan klien.
d. Psikososial
1) Genogram
Perbuatan genogram minimal 3 generasi yang menggambarkan
hubungan klien dengan keluarga, masalah yang terkait dengan
komunikasi, pengambilan keputusan, pola asuh , pertumbuhan
individu dan keluarga.
2) Konsep Diri
a) Gambaran Diri
Tanyakan persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian tubuh
yang disukai, reaksi klien terhadap bagian tubuh yang disukai
dan bagian tubuh yang tidak disukai.
b) Identitas Diri
Klien dengan halusinasi tidak puas akan dirinya sendiri
merasa bahwa klien tidak berguna.
c) Fungsi Peran
Tugas atau peran klien dalam keluarga/ pekerjaan /kelompok
masyarakat , kemampuan klien dalam melaksanakan fungsi
atau perannya , dan bagaimana perasaan klien akibat
perubahan tersebut. Pada klien halusinasi bisa berubah atau
berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit , trauma akan
masa lalu, menarik diri dari orang lain, perilaku agresif.
d) Ideal Diri
Harapan klien terhadap keadaan tubuh yang ideal ,posisi
tugas, peran dalam keluarga, pekerjaan atau sekolah, harapan
klien terhadap lingkungan , harapan klien tehadap
penyakitnya, pada kkien yang emngalami halusinasi
cenderung tidak perduli dengan diri sendiri maupun
sekitarnya.
e) Harga Diri
Klien yang mengalami halusinasi cenderung menerima diri
tanpa syarat meskipun telah melakukan kesalahan, kekalahan
dan kegagalan ia tetap merasa dirinya sangat berharga.
3) Hubungan Sosial
Tanyakan siapa orang trdekat di kehidupan klien tempat
mengadu,berbicara,minta bantuan, atau dukungan. Serta
tanyakan organisasi yang diikuti dalam kelompok /masyarakat.
Klien dengan halusinasi cenderung tidak mempunyai orang
terdekat dan jarang mengikuti kegiatan di masyarakat. lebih
senang menyendiri dan asyik denga nisi halusinasinya.

4) Spiritual
Nilai dan keyakinan , kegiatan ibadah/menjalankan keyakinan,
kepuasan dalam menjalankan keyakinan, apakah isi
halusinasinya mempengaruhi keyakinan klien dengan Tuhannya.
e. Status Mental
1) Penampilan
Melihat penampilan klien dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Pada klien dengan halusinasi mengalami deficit perawatan diri
(penampilan tidak rapi ,penggunaan pakaian tidak sesuai ,cara
berpakaian tidak seperti biasanya, rambut seperti tidak pernah
disisir ,gigi kuning, , kuku panjang dan hitam , raut wajah
Nampak takut , kebingungan , dan cemas.
2) Pembicaraan
Klien dengan halusinasi cenderung suka berbicara sendiri , ketika
diajak bicara tidak focus, terkadang yang dibicarakan tidak masuk
akal.
3) Aktivitas Motoric
Klien dengan halusinasi tampak gelisah, kelesuan, ketegangan,
tremor, klien terlihat sering menutup telinga , menunjuk-nunjuk
kearah tertentu . menggaruk garuk permukaan kulit, sering
meludah, menutup hidung.
4) Afek emosi
Pada klien halusinasi tingkat emosi lebih tinggi ,prilaku agresif,
ketakutan yang berlebih,eforia.
5) Interaksi selama wawancara
Klien dengan halusinasi cenderung tidak kooperatif dan kontak
mata kurang.
6) Persefsi sensori
a) Jenis-jenis halusinasi
- Halusinasi visual
- Halusinasi suara
- Halusinasi pengecap
- Halusinasi kinestetik
- Halusinasi visceral
- Halusinasi perintah
b) Waktu
Perawat juga perlu mengkaji waktu munculnya halusinasi yang
dialami pasien .kapan halusinasi terjadi? apakah pagi,
sore,siang,malam? jika muncul pukul berapa?
c) Frekuensi
Frekuensi terjadinya apakah terus menerus atau hanya sesekali,
kadang, jarang, atau sudah tidak muncul lagi, dengan
mengetahi frekuensi halusinasi dapat dilakukan tindakan untuk
mencegah terjadinya halusinasi.
d) Situasi Yang Menyebabkan Munculnya Halusinasi
Situasi terjadinya apakah ketika sendiri atau setelah terjadi
kejadian tersebut, hal ini dilakukan untuk menentukan
intervensi khusus pada waktu terjadi halusinasi, menghindari
situasi yang menyebabkan munculnya halusinasi.
e) Respon Terhadap Halusinasi
Untuk mengetahui apa yang dilakukan pasien ketika halusinasi
itu muncul perawat dapat menanyakan kepada pasen hal yang
di rasakan saat halusinasi itu timbul , bisa juga dilihat dengan
mengobservasi pasien saat halusinasi itu timbul.
7) Proses Berfikir
a) Bentuk Fikir
Mengalami dereistik yaitu bentuk pemikiran yang tidak sesuai
dengan kenyataan yanga da atau tidak mengikuti logika secara
umum.
b) Isi Fikir
Selalu merasa curiga terhadap sesuatu hal dan depersonalisasi
yaitu perasaan aneh/ asing terhadap diri sendiri,orang lain dan
sekitarnya berisikan keyakinan berdasarkan penilaian non
realistis
8) Tingkat Kesadaran
Pada klien halusinasi sering kali merasa bingung , apatis (acuh tak
acuh).
9) Memori
a) Daya ingat jangka panjang mengingat kejadian masa lalu lebih
dari 1 bulan
b) Daya ingat jangka menengah dapat mengingat kejadian yang
terjadi 1 minggu terakhir
c) Daya ingat jangka panjang dapat mengingat kejadian yang
terjadi saat ini
10) Tingkat Konsentrasi Berhitung
Pada klien dengan halusinasi tidak dapat berkonsentrasi dan dapat
menjelaskan kembali pembicaraan yang baru saja dibicarakan
dirinya/orang lain.
11) Kemampuan Penilaian Mengambil Keputusan
a) Gangguan ringan : dapat mengambil keputusan secara
sederhana baik dibantu orang lain/tidak.
b) Gangguan bermakna : tidak dapat mengambil keputusan
secara sederhana baik dibantu orang lain/tidak.
12) Daya Tilik Diri
Pada klien halusinasi cenderung mengigkari penyakit yang
diderita klien tidak menyadari gejala penyakit gejala penyakit
(perubahan fisik dan emosi ) pada dirinya dan merasa tidak perlu
minta pertolongan / klien menyangkal keadaan penyakitnya ,
klien tidak mau bercerita tentang penyakitnya.
f. Kebutuhan Perencanaan Pulang
1) Kemampuan Klien Memenuhi Kebutuhan
Tanyakan apakah klien mampu atau tidak mampu memenuhi
kebutuhannya sendiri.
2) Kegiatan Hidup Sehari-Hari
a) Perawatan diri
Pada klien halusinasi tidak mampu melakukan kegiatan hidup
sehari-hari seperti mandi, ganti pakaian secara mandiri perlu
bantuan minimal.
b) Tidur
Klien halusinasi cenderung tidak dapat tidur berkualitas
karena kegelisahan ,kecemasan,akan hal yang tidak realita
3) Kemampuan Klien Lain-Lain
Klien tidak dapat mengantisipasi kebutuhan hidupnya ,dan
membuat keputusan.
4) Klien Memiliki Sistem Pendukung
Klien halusinasi tidak memiliki dukungan dari keluarga mapun
orang sekitarnya karena kurangnya penegtahuan keluarga bisa
menjadi penyebab. klien dengan halusinasi tidak mudah percaya
terhadap orang lain selalu merasa curiga.
5) Klien Menikmati Saat Bekerja/Kegiatan Produktif/Hobi
Klien halusinasi merasa menikmati pekerjaan ,kegiatan yang
produktifkarena ketika klien melakukan kegiatan berkurangnya
pandangan kosong.
g. Mekanisme Koping
Biasanya pada klien halusinasi cenderung berprilaku maladaptif ,
seperti mencederai diri sendiri dan orang lain disekitarnya. Malas
beraktifitas, perubahan suatu persepsi dengan berusaha mengalihkan
tanggung jawab kepada orang lain ,mempercayai orang lain, dan
asyik dengan stimulus internal .
h. Masalah Psikososial Dan Lingkungan
Biasanya pada klien halusinasi mempunyai masalah dimasa lalu dan
mengakibatkan dia menarik diri dari masyarakat dan orang terdekat.
i. Aspek Pengetahuan
Pada klien halusinasi kurang mengetahui tentang penyakit jiwa
karena tidak merasa hal yang dilakukanya dalam tekanan.
j. Daya Tilik Diri
Mengingkari penyakit yang diderita : klien tidak menyadari gejala
penyakit (perubahan fisik dan emosi) pada dirinya dan merasa tidak
perlu minta pertolongan / klien menyangkal keadaan penyakitnya.
k. Aspek Medis
Memberikan penjelasan tentang diagnostic medis dan terapi medis .
pada klien halusinasi terapi medis seperti Haloperidol
(HLP),Clapromazine (CPZ), Trihexypenidil (THP).
Berdasakan pengkajian di atas, maka dapat disusun pohon
masalahnya sebagai berikut :
Perilaku kekerasan
Effect

Gangguan sensori persepsi halusinasi


Core Problem

Isolasi Sosial
Causa

Gambar 2.1
Pohon Masalah

Sumber, (Damaiyanti, 2012 )

2. Diagnosa Keperawatan
a. Perilaku kekerasan
b. Gangguan persepsi sensori halusinasi
c. Isolasi sosial
3. Perencanaan Keperawatan

Tabel 2.1 Rencana Asuhan Keperawatan


Perecanaan
Diagnosa Keperawatan Rasionalisasi
No Tujuan Kriteria Hasil Intervensi
1 2 3 4 5 6
1 Gangguan 1. Membina Setelah 2x SP1 1. Dengan membina
hubungan pertemuan klien hubungan saling
Persepsi Sensori
saling percaya dapat menyebutkan 1. Terbina hubungan percaya diharapkan
isi waktu frekuensi, saling percaya
Halusinasi 2. Pasien klien dapat
mengenali situsi pencetus 2. Bantu pasien mengungkapkan
halusinasi yang perasaan dan mengenal halusinasi masalahnya
dialami mampu a. Isi 2. Dengan pasien
3. Pasien dapat memperagakan cara b. Waktu terjadinya mengenali halusinasi
mengontrol mengontrol c. Frekuwensi diharapkan klien
halusinasi d. Situasi pencetus menyadari bahwa yang
halusinasi
4. Pasien e. Perasaan saat terjadi didengar adalah
mengikuti halusinasi bohong/tidak ada dan
program 3. Latihan mengontrol mengarahkan klien ke
pengobatan halusinasi dengan cara arah yang lebih nyata
secara optimal menghardik, tahapan 3. Dengan melatih klien
tindakannya meliputi : mengontrol halusinasi
a. Menjelaskan dengan cara menghardik
cara menghardik dapat memutus
halusinasi halusinasinya
b. Memperagak
Dengan memasukkan
an cara menghardik kegiatan klien diharapkan
dapat mengurangi frekuensi
1 2 3 4 5 6
c. Memanta datangnya halusinasi dan
u penerapan cara melatih pasien agar terbisa
d. Masukan dengan menghardik
dalam jadwal halusinasi.
kegiatan klien
Setelah 1x SP2 1. Dengan mengevaluasi
pertemuan klien kegiatan di SP1 dapat
mampu 1. Evaluasi kegiatan mengetahui apakah
menyebutkan yang lalu (SP1) klien sudah mampu
kegiatan yang 2. Melatihan berbicara mengontrol
sudah dilakukan atau bercakap dengan halusinasinya dengan
dan mampu orang lain saat cara menghardik
menjadwal halusinasi muncul
kegiatan sehari-
hari dan mampu 3. Masukkan dalam 2. Dengan melatih klien
memperagakan jadwal kegiatan mengontrol
pasien halusinasinya dengan
cara menghardik atau
berbicara bercakap-
cakap dengan orang lain
pada saat muncul,
perhatian klien dapat
teralihkan dan
halusinasinya akan
hilang
1 2 3 4 5 6
Setelah 1x SP 3 1. Dengan mengevaluasi
pertemuan klien kegiatan yang lain akan
mampu 1. Evaluasi kegiatan (SP1 mengetahui keberhasilan
menyebutkan dan SP2) klien dan
kegiatan yang 2. Melatih kegiatan agar mengingatkannya sendiri
sudah dilakukan halusinasinya tidak
dan menjadwal 2. Dengan melatih kegiatan
muncul terhadapnya diharapkan dapat
kegiatan sehari –
hari a. Menjelaskan, membantu pasien
pentingnya aktivitas mengendalikan halusinasi
yang teratur untuk
mengatasi
halusinasinya
b. Mendiskusikan
aktivitas yang biasa
dilakukan oleh pasien
c. Meneruskan jadwal
kegiatan sehari -hari
sesuai dengan
aktivitas (pagi, siang,
sore, malam).
d. Memantau
pelaksanaan jadwal
kegiatan
1 2 3 4 5 6
Setelah 1x SP 4 1. Dengan mengevaluasi
pertemuan pasien kegiatan yang lalu akan
mampu 1. Evaluasi (SP 1, 2 dan mengetahui keberhasilan
menyebutkan 3) klien dan
kegiatan yang 2. Tanyakan program mengingatkannya
sudah dilakukan pengobatan kembali
dan mampu
menyebutkan a. Jelaskan 2. Dengan menanyakan
manfaat dan dari pentingnya program pengobatan
program pengobatan obat klien bisa melatih untuk
pada gangguan menggunakan obat
jiwa teratur

b. Jelaskan akibat 3. Agar klien mengetahua


berhenti minum cara menggunakan obat
obat dengan benar

c. Jelaskan cara 4. Supaya minum obat tepat


mendapatkan obat waktu

3. Jelaskan pengobatan
5B
4. Latih pasien minum
obat
5. Masuk dalam jadwal
1 2 3 4 5 6
Keluarga : dapat Setelah 1x SP 1 1. Dengan
merawat klien pertemuan klien mengidentifikasi
dirumahnya mampu 1. Identifikasi masalah masalah keluarga dapat
menjadi sistem menjelaskan keluarga dalam diharapkan mampu
pendukung yang tentang halusinasi merawat pasien mengatasi masalah klien
efektif untuk 2. Jelaskan tentang 2. Keluarga merupakan
pasien halusinasi bagian terpenting dalam
proses penyembuhan
a. Pengertian 3. Keluarga bisa
halusinasi mengartikan cara
merawat klien dalam
b. Jenis halusinasi
proses penyembuhan
yang dialami
4. Keluarga bisa
pasien
mengantisipasi
c. Tanda dan gejala pasiennya dalam
halusinasi mengenal perawatan

d. Cara merawat
pasien halusinasi
cara
berkomunikasi,
pemberian obat
dan pemberian
aktivitas pada
klien
e.Sumber kesehatan
1 2 3 4 5 6
yang bisa dijangkau
3. Bermain peran cara
merawat
4. Rencana tindak lanjut
keluarga jadwal
keluarga untuk merawat
klien
Setelah 1x SP 2 1. Dengan mengevaluasi
pertemuan kemampuan keluarga
keluarga mampu 1.Evaluasi kemampuan dan kemampuan dari
menyebutkan SP1 merawat pasien
kegiatan yang 2. Latih keluarga
sudah dilakuan 2. Diharapkan keluarga bisa
merawat klien terbuka dalam merawat
dan mampu
memperagakan 3. Jadwal keluarga klien
cara merawat serta untuk merawat 3. Diharapkan keluarga
membuat RTL pasien mempunyai jadwal yang
teratur dalam merawat
klien
Setelah 1x SP3 1. Dengan mengevaluasi
pertemuan keluarga (SP1. 2)
keluarga mampu 1. Evaluasi perawat bisa mengetahui
menyebutkan kemampuan kemampuan keluarga
kegiatan yang keluarga (SP1,2) dalam merawat pasien
sudah dilakukan 2. Evaluasi
dan melaksanakan kemampuan klien 3.
RTL Keluarga

1 2 3 4 5 6
Pollow Up dan Follow Up - Rujukan 2. Diharapkan klien selalu
tujuan bisa mandiri
3. Diharapkan keluarga
mempunyai jadwal
dalam merawat klien
4. Implementasi
Implementasi disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan.
Pada situasi nyata sering pelaksanaan jauh berbeda dengan rencana, hal
ini terjadi karena perawat belum terbiasa menggunakan rencana tertulis
dalam melaksanakan tindakan keperawatan. Sebelum melaksanakan
tindakan keperawatan yang sudah direncanakan, perawat perlu
mevalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan
dibutuhkan klien sesuai dengan kondisi klien.
Implementasi (Strategi pelaksanaan =SP) meliputi implementasi
pada pasien dan keluarga.
1. SP Pasien
SP 1
- Membina hubungan saling percaya.
- Membantu pasien mengenal halusinasi
- Menjelaskan cara-cara mengontrol halusinasi
- Mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara pertama
menghardik halusinasi
SP 2
- Mengucapkan salam dan menanyakan perasaan klien
- Memvalidasi kontrak dengan klien
- Mengevaluasi kegiatan yang kemarin
- Mendiskusikan kembali dengan klien Cara mengontrol halusinasinya
dengan cara menghardik
SP 3
- Evaluasi kegiatan (SP1 dan SP2)
- Melatih kegiatan agar halusinasinya tidak muncul terhadapnya
- Menjelaskan, pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi
halusinasinya
- Mendiskusikank aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien
- Meneruskan jadwal kegiatan sehari-hari sesuai dengan aktivitas
(pagi, siang, sore, malam).
- Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan
SP 4
- Evaluasi (SP 1, 2 dan 3)
- Tanyakan program pengobatan
- Jelaskan pentingnya pengobatan obat pada gangguan jiwa
- Jelaskan akibat berhenti minum obat
- Jelaskan cara mendapatkan obat
- Jelaskan pengobatan 5B
- Latih pasien minum obat
- Masuk dalam jadwal
2. SP Keluarga
SP 1
- Identifikasi masalah keluarga dalam merawat pasien
- Jelaskan tentang halusinasi
- Pengertian halusinasi
- Jenis halusinasi yang dialami pasien
- Tanda dan gejala halusinasi
- Cara merawat pasien halusinasi cara berkomunikasi, pemberian obat
dan pemberian aktivitas pada klien
- Sumber kesehatan yang bisa dijangkau
- Bermain peran cara merawat
- Rencana tindak lanjut keluarga jadwal keluarga untuk merawat klien
SP 2
- Evaluasi kemampuan SP1
- Latih keluarga merawat klien
- Jadwal keluarga untuk merawat pasien
SP 4
- Evaluasi kemampuan keluarga (SP1,2)
- Evaluasi kemampuan klien
- RTL Keluarga
- Follow Up
- Rujukan
(Ermawati Dalami, S.Kp, 2009)

5. Evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari
tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada
respon klien terhadap tindakan yang telah dilaksanakan, evaluasi dapat
dibagi dua jenis yaitu evaluasi proses atau formatif dilakukan selesai
melaksanakan tindakan, evaluasi somatif atau hasil dilakukan dengan
membandingkan respon klien pada tujuan umum dan tujuan khusus yang
telah ditentukan.
Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP
sebagai pola pikir.
S : Respon subjektif klien terhadap tindakan
keperawatan yang telah dilaksanakan
O : Respon objektif klien terhadap tindakan
keperawatan yang telah dilaksanakan.
A : Analisa ulang terhadap data subjektif untuk
menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul
masalah baru atau ada data kontradiksi dengan masalah
yang ada.
P : Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil
analisa pada respon klien. (Ermawati Dalami, S.Kp, 2009).
1. Evaluasi pasien
a. Setelah 2x pertemuan klien dapat menyebutkan isi waktu
frekuensi, situsi pencetus perasaan dan mampu memperagakan
cara mengontrol halusinasi.
b. Setelah 1x pertemuan klien mampu menyebutkan kegiatan yang
sudah dilakukan dan mampu menjadwal kegiatan sehari-hari dan
mampu memperagakan.
c. Setelah 1x pertemuan klien mampu menyebutkan kegiatan yang
sudah dilakukan dan menjadwal kegiatan sehari-hari.
d. Setelah 1x pertemuan pasien mampu menyebutkan kegiatan yang
sudah dilakukan dan mampu menyebutkan manfaat dan dari
program.
2. Evaluasi keluarga
a. Setelah 1x pertemuan klien mampu menjelaskan tentang
halusinasi.
b. Setelah 1x pertemuan keluarga mampu menyebutkan kegiatan
yang sudah dilakuan dan mampu memperagakan cara merawat
serta membuat RTL.
c. Setelah 1x pertemuan keluarga mampu menyebutkan kegiatan
yang sudah dilakukan dan melaksanakan Pollow Up dan tujuan.