Anda di halaman 1dari 3

Revolusi Hijau Dalam Organisasi

Dalam perkembangan zaman yang makin kompleks dan teknologi mendorong manusia untuk
berfikir maju. Hal ini juga secara tidak langsung memberi dampak pada kemajuan ilmu
pengatahuan. Dari beragam keilmuan dan latar belakang manusia yang berbeda-beda mendorong
mereka untuk bisa menciptakan peradaban.

Salah satu cara yang bisa menopang dalam mengaktualisasikan diri dan keilmuan yang dimiliki
ialah organisasi. Eksistensi suatu organisasi tak perlu diragukan lagi. Dari fakta-fakta sejarah
menunjukan bahwa organisasi atau kelompok memiliki peran sentral dalam perubahan.

Animo masyarakat untuk ikut serta dalam suatu perubahan sangat tinggi. Sehingga tidak
mengherakan jika banyak organisasi, lembaga, kelompok dan sebagainya banyak terbentuk.
Tidak hanya kaum cendekiawan dan intelektual yang ikut berperan tetapi juga masyarakat yang
buta aksara.

Di Indonesia sendiri, organisasi tidak hanya berkembang dikota-kota besar tapi juga dipelosok-
pelosok desa. Pada 2018, Kementrian Hukum dan HAM melalui Staf Ahli bidang Penguatan
Reformasi Birokrasi mencatat ada 390.293 organisasi. Organisasi tersebut diakui keberadaannya
oleh Negara secara hokum.

Namun masih banyak organisasi yang tidak tercatat di Kemenkumham ataupun di lembaga
daerah (Dinas Kesatuan Bangsa dan Politik) diseluruh Indonesia.

Dari banyaknya organisasi atau lembaga lain yang ada, sangat sedikit juga dari mereka yang
terut serta dalam mengatasi persoalan lingkungan. Bahkan juga ada yang tidak memiliki divisi
atau program kerja yang bersifat ekologi. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang peran sebagai
sumber kerusakan dan kotoran lingkungan.

Lain halnya dengan Rumah Baca Komunitas (RBK) yang berkecimpuk pada dunia literasi.
Namun seiring dengan maraknya kerusakan lingkungan maka mereka membentuk program
ekoliterasi.

Ekoliterasi awalnya digerakan pada anggota RBK terlebih dahulu dan pada skala kecil. Dimulai
dari aktifitas para anggota seperti bersih-bersih kamar, buku, dapur dan lingkungan RBK.

Tidak hanya sampai disitu, mereka juga dilarang untuk mengeksploitasi anggota lain. Artinya
bahwa mereka bertanggung jawab pada diri mereka sendiri. Seperti piring atau gelas yang telah
mereka pakai maka mereka berkewajiban untuk membersihkannya sendiri.

Disamping itu, hal-hal yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan tidak diwajibkan sebagai
tanggungjawab kaum wanita. Artinya bahwa semua anggota memiliki dan tanggungjawab
terhadap lingkungan yang harus dijaga.
Umumnya pada seutu lembaga yang namanya urusan kebersihan merupakan tugas pokok dan
kewajiban wanita. Jika menelaah lebih jauh ini merupakan salah satu bentuk eksploitasi dan
pemerasan tenaga pada wanita.

Disisi lain, RBK juga menerapkan sikap dan tindakan cinta akan lingkungan dengan membentuk
kebun literasi. Program kebun literasi ini mewajibkan setiap anggotanya untuk melakukan
pembibitan, menanam dan merawat tanaman.

Perawatan akan kebun ini juga intens dilakukan setiap hari oleh anggotanya tanpa diperintah dan
membentuk jadwal. Sebab system akan kesadaran terhadap lingkungan telah terbentuk dalam diri
mereka.

Keberadaan kebun ini telah memberi dampak positif bagi anggota sebab mereka bisa memanen
sendiri hasilnya. Mereka juga tidak mengatungkan diri pada pasar untuk kebutuhan buah dan
sayur.

Cara ini juga mereka terapkan pada anak-anak yang berada dilingkungan daerah Sleman
(Yogyakarta) umumnya dan RBK khususnya. Mereka mengajarkan pada anak-anak untuk cinta
akan lingkungan. Seperti mengajak mereka untuk menanam tanaman yang RBK sendiri
menyediakan bibit.

Ada cara dan ide tersendiri yang RBK terapkan pada anak-anak tersebut. Anak-anak tersebut
menulis nama mereka pada selembar kertas atau pada polibek yang telah mereka tanam. Ini
dilakukan untuk mendorong mereka dan memiliki rasa tanggungjawab untuk merawat tanaman
tersebut.

Tujuan lain dari program ini ialah agar anak-anak tersebut juga bisa mengaplikasikannya
dilingkungan dan rumah mereka.

RBK juga mempunyai program yang melarang anggotanya untuk tidak berbelanja dipasar
modern seperti Indomaret dan sebagainya. Sebab pasalnya pasar modern banyak berkontribusi
terhadap sampah plastic. Hal ini dilakukan untuk mengurangi penggunaan plastic.

Dari sejumlah pemberitaan yang ada, jumlah sampah plastic meningkat dari waktu ke waktu.
Terlebih lagi Indonesia merupakan Negara terbesar kedua penyumbang sampah plastic,
(Kompas, 19 Agustus 2018).

Tujuan lainnya juga ialah agar bisa menumbuhkan ekonomi pedagang kecil yang keberadaannya
makin tergerus.

Langkah-langkah seperti ini sepatutnya bisa dicontoh dan diterapkan oleh organisasi dan
masyarakat luas. Tanpa mengesampingkan program organisasi kita juga punya kewajiban moril
untuk ikut andil menjaga alam.
Pemberdayaan anak kecil juga penting agar mereka terbiasa dengan cinta akan lingkungan dan
alam. Jika perasaan tersebut telah ternanam dalam benak dan hati mereka akan akan sangat
mudah untuk melestarikan alam.