Anda di halaman 1dari 6

Penyakit hipertensi berhubungan dengan gaya hidup sehat : pengetahuan dan

pencegahan
Melya Intan
Abstrak
Kata kunci
Hipertensi, gaya hidup, pencegahan, pengetahuan.
1. Background
Berbagai penyakit akan muncul akibat gaya hidup yang tidak sehat. Banyaknya
penderita penyakit tidak menular (degeneratif) seperti tekanan darah tinggi yang disebabkan
karena gaya hidup tidak sehat. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang tinggi garam, stress,
merokok, jarang berolahraga, dan minum-minuman alkohol menjadi pemicu timbulnya
penyakit hipertensi. Masyarakat sering tidak menyadari bahwa mengonsumsi makanan
secara kontinyu dan berlebihan yang mengandung kolesterol, junk food, penggunaan bahan
penyedap, dan makanan yang diawetkan dapat memicu peningkatan tekanan darah (Alvino,
dkk,. 2015).
Para pakar kesehatan berpendapat bahwa terciptanya pola hidup yang sehat akan
bergantung dari gaya atau pola hidup yang dijalani oleh seseorang. Gaya hidup individu,
yang dicirikan dengan pola perilaku individu, akan memberi dampak pada kesehatan
individu dan selanjutnya pada kesehatan orang lain. Pola hidup dan pola makan modern yang
sekarang ini dianut orang ternyata sangat berpotensi rawan mengganggu kesehatan dan
menimbulkan penyakit. Dengan melaksanakan pola hidup yang sehat dapat menurunkan
tekanan darah, mencegah, atau menunda terjadinya hipertensi (Alvino, dkk,. 2015).
Menurut laporan Kemenkes (2013), bahwa hipertensi merupakan penyebab
kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, dimana proporsi kematiannya
mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) Balitbangkes tahun 2013 menunjukkan prevalensi
hipertensi secara nasional mencapai 25,8%. Penderita hipertensi di Indonesia
diperkirakan sebesar 15 juta tetapi hanya 4% yang hipertensi terkendali. Hipertensi
terkendali adalah mereka yang menderita hipertensi dan mereka tahu sedang berobat
untuk itu. Sebaliknya sebesar 50% penderita tidak menyadari diri sebagai penderita
hipertensi, sehingga mereka cenderung untuk menderita hipertensi yang lebih berat.
Ini disebabkan karena kesadaran dan pengetahuan individu dalam mengontrol
tekanan darahnya sangat kurang serta pola hidup yang buruk.
Menurut Menteri Kesehatan upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah hipertensi
dan komplikasinya antara lain : mempertahankan berat badan dalam kondisi normal,
mengatur pola makan, dengan mengonsumsi makan rendah garam dan rendah lemak serta
memperbanyak konsumsi sayur dan buah, melakukan olahraga dengan teratur, mengatasi
strses dan emosi, menghentikan kebiasaan merokok, menghindari minuman beralkohol,
memeriksa tekanan darah secara berkala (Kemenkes RI, 2009).
2. Hipertensi
Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah peningkatan tekanan darah didalam
arteri. Arteri adalah pembuluh darah yang mengangkut darah dari jantung dan
dialirkan ke seluruh jaringan dan organ tubuh. Seseorang dikatakan terkena
hipertensi mempunyai tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah
diastoltik ≥90 mmHg. Seseorang dikatakan terkena hipertensi tidak hanya dengan 1
kali pengukuran, tetapi 2 kali atau lebih pada waktu yang berbeda. Waktu yang
paling baik saat melakukan tekanan darah adalah saat istirahat dan dalam keadaan
duduk atau berbaring (Anam, 2016).
2. 1 Klasifikasi hipertensi
Klasifikasi hipertensi menurut Join National Committee 8 (JNC 8), klasifikasi
tekanan darah terbagi menjadi normal, prehipertensi, hipertensi tahap 1 dan
hipertensi tahap 2 (tabel 1).
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 8

Klasifikasi Tekanan Darah Tekanan Darah


Sistole Diastole

Normal < 120 Dan < 80

Prehipertensi 120 – 139 Atau 80 – 89

Hipertensi tahap 1 140 – 159 Atau 90 – 99

Hipertensi tahap 2 ≥ 160 Atau ≥ 100

Sumber : National Heart, Lung and Blood Institute (NHLBI), 2013.

Tekanan sistole adalah tekanan maksimum dari darah yang mengalir ke arteri yang
terjadi ketika ventrikel jantung berkontraksi, besarnya sekitar 100-140 mmHg.
Tekanan diastole merupakan tekanan darah pada dinding arteri disaat jantung
relaksasi, besarnya sekitar 60-90 mmHg (Tarwoto & Wartonah, 2015). Klasifikasi
tekanan darah mencakup 4 kategori :

a. Normal
Tekanan darah sistole kurang dari 120 mmHg dan tekanan darah diastole kurang
dari 80 mmHg. Dianggap normal jika tidak ada faktor risiko penyakit
kardiovaskuler dan atau tanda-tanda awal yang menunjukkan penyakit
kardiovaskuler.
b. Prehipertensi
Tekanan darah sistole 120-139 mmHg atau tekanan darah diastole 80-89 mmHg.
Dianggap prehipertensi jika ditambah dengan tanda-tanda adanya gangguan
pada jantung dan arteri kecil. Pada kondisi ini, terdapat beberapa faktor resiko
penyakit kardiovaskuler dan sudah muncul tanda-tanda awal pada penyakit,
tetapi belum terjadi kerusakan organ.
c. Hipertensi tahap 1
Tekanan darah sistole sudah mencapai 140-159 mmHg atau tekanan darah
diastole mencapai 90-99 mmHg. Pada klasifikasi ini kemungkinan muncultanda-
tanda kerusakan pada organ.
d. Hipertensi tahap 2

Merupakan tahap paling tinggi klasifikasi hipertensi. Tekanan darah sistole


sudah lebih dari 160 mmHg atau tekanan darah diastole mencapai sudah lebih
dari 100 mmHg. Pada tahap ini kerusakan organ tubuh sudah tampak, dan
kemungkinan sudah terjadi penyakit kardiovaskuler yang dapat memperburuk
kondisi tubuh.
2. 2 Penyebab Hipertensi

a. Hipertensi dengan penyebab yang tidak diketahui


Jenis hipertensi dengan penyebab yang tidak diketahui ini disebut dengan
hipertensi primer. Lebih dari 90% penderita hipertensi merupakan hipertensi
primer. Hipertensi jenis ini dimungkinkan akibat peran dari genetik seseorang.
Sehingga upaya tatalaksana pada pasien dengan hipertensi primer lebih kearah
pengontrolan gaya hidup sehari-hari maupun penggunaan obat-obatan.
b. Hipertensi dengan penyebab yang diketahui
Jenis hipertensi dengan penyebab yang diketahui ini disebut dengan hipertensi
sekunder. Prevalensi hipertensi sekunder ini kurang dari 10%. Penyebab umum
dari hipertensi sekunder adalah karena adanya penyakit lain yang mendasarinya
ataupun akibat dari penggunaan obat-obatan tertentu. Sehingga tatalaksana pada
pasien dengan hipertensi sekunder ini diarahkan pada memperbaiki kondisi
penyakit lain yang mendasarinya serta menghindari penggunaan obt-obatan
yang dapat meningkatkan tekanan darah (Fikriana, 2018).
2. 3 Tanda dan Gejala Hipertensi

Pada sebagian besar penderita hipertensi tidak menimbulkan gejala, meskipun


secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan
dengan tekanan darah tinggi. Gejala-gejala hipertensi, antara lain sakit pada bagian
belakang kepala, leher terasa kaku, kelelahan, mual, sesak napas, gelisah, muntah,
mudah tersinggung, sukar tidur, pandangan jadi kabur karena adanya kerusakan
pada (otak, mata, jantung, dan ginjal) (Anam, 2016).
3. Gaya Hidup
Notoatmodjo (2010) perilaku sehat adalah perilaku- perilaku yang berkaitan
dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan
kesehatannya. Gaya hidup sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik maupun psikis
seseorang. Perubahan gaya hidup dan rendahnya perilaku hidup sehat seperti
minimnya olah raga, merokok, dan mengonsumsi minuman kafein merupakan salah
satu dari penyebab hipertensi.
1. Merokok
Merokok dapat menimbulkan beban kerja jantung dan menaikkan tekanan darah.
Kandungan dari rokok yaitu nikotin bersifat toksik terhadap jaringan saraf yang
menyebabkan peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik, denyut
jantung bertambah, kontraksi otot jantung seperti dipaksa, aliran darah pada
koroner meningkat dan vasokontriksi pada pembuluh darah perifer.
2. Aktivitas fisik
Aktifitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah. Pada orang yang
tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung mempunyai denyut jantung yang
lebih tinggi. Hal tersebut mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras lagi pada
kontraksi. Aktifitas fisik membantu seseorang mengontrol berat badan. aktifitas
fisik yang dilakukan rutin selama 30-45 menit setiap hari akan membantu
mengontrol tekanan darah. Contoh aktifitas fisik (olahraga) yang dapat dilakukan
untuk menurunkan tekanan darah tinggi adalah jalan pagi, jalan kaki, senam,
bersepeda dan berenang. Kegiatan aktivitas ini disarankan agar dilakukan ≥30
menit per hari dan lebih dari ≥3 hari per minggu (Kemenkes RI, 2013).
3. Kebiasaan Minum Kopi
Konsumsi kafein yang berlebihan dalam jangka yang panjang dan jumlah yang
banyak diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit hipertensi atau penyakit
kardiovaskuler (Pusparani, 2016). Contoh makanan atau minuman yang
mengandung kafein yaitu kopi, teh, soft drink, dan cokelat (Rustiana, 2014).
4. Makanan
Makanan merupakan faktor penting yang menentukan tekanan darah.
Mengkonsumsi buah dan sayuran segar dan menerapkan pola makan yang rendah
lemak jenuh, kolesterol, dan total lemak, serta kaya akan buah, sayur, serta produk
susu rendah lemak terbukti secara klinis dapat menurunkan tekanan darah.
Adapun cara penanganan untuk menurunkan hipertensi adalah dengan beraktifitas
secara fisik dan olahraga cukup dan secara teratur. Kegiatan ini secara terbukti dapat
membantu menurunkan hipertensi, oleh karena itu penderita hipertensi dianjurkan
untuk berolahraga cukup dan secara teratur (Wolf, 2008).

4. Pengetahuan
....

Menurut Purwanti, dkk. (2013) tentang gambaran tingkat pengetahuan tentang


hipertensi dengan hasil bahwa

“sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kurang yaitu


sebanyak 64,2%, sedangkan yang memiliki pengetahuan baik sebanyak
35,8%. Kurangnya pengetahuan responden dikarenakan kurangnya sumber
informasi terkait dengan hipertensi. Pengetahuan memberi informasi
kepada seseorang yang mempelajarinya sehingga jika diterapkan dalam
kehidupannya akan bisa mendatangkan perubahan perilaku atau tingkah
laku, dalam hal ini berupa perilaku pola hidup sehat pada orang dengan
riwayat hipertensi. Pengetahuan mempunyai pengaruh yang besar terhadap
perilaku pola hidup sehat dalam pencegahan penyakit, sehingga
pengetahuan pada masyarakat tentang hipertensi perlu ditingkatkan dengan
baik agar masyarakat dapat menentukan pola hidup sehat yang dapat
mencegah atau mengurangi komplikasi dari hipertensi.”

5. Pencegahan

Upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah hipertensi yaitu dengan cara
memeriksa tekanan darah secara teratur, menjaga berat badan ideal, mengurangi
konsumsi garam, jangan merokok, berolahraga secara teratur, mengurangi stress, dan
menghindari makanan berlemak.
Pencegahan Primer yaitu :
1. Tidur yang cukup, antara 6-8 jam per hari.
2. Kurangi makanan berkolesterol tinggi
Kelebihan asupan lemak mengakibatkan kadar lemak dalam tubuh meningkat,
terutama kolesterol yang menyebabkan kenaikan berat badan sehingga volume
darah mengalami peningkatan tekanan yang lebih besar.
3. Perbanyak aktifitas fisik.
Pada orang yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung mempunyai
denyut jantung yang lebih tinggi. Untuk menjaga tekanan darah tetap normal,
sebaiknya lakukan olahraga selama 2 jam hingga 30 menit per minggu. Tak perlu
olahraga yang terlalu sulit, cukup jalan santai, jogging, atau bersepeda saja sudah
dapat mencegah hipertensi.
4. Kurangi konsumsi alcohol.
Terlalu banyak dan sering minum alkohol dapat membuat tekanan darah
melonjak. Tak hanya itu, kebanyakan minuman beralkohol memiliki kandungan
kalori yang tinggi dan bisa menyebabkan berat badan juga naik.
5. Jaga berat badan ideal.
Orang yang memiliki berat badan berlebih, entah itu overweight atau obesitas
mempunyai 2 sampai 6 kali peluang lebih besar mengalami hipertensi. Oleh
karena itu, usahakan untuk menjaga berat badan tetap ideal, karena tak hanya
bisa mencegah hipertensi tapi dengan begitu bisa menurunkan berbagai risiko
penyakit lainnya. Mengurangi sekitar 4-5 kg berat badan yang berlebih, sudah
dapat menurunkan risiko tekanan darah tinggi.
6. suplai kalsium, meskipun hanya menurunkan sedikit tekanan darah tapi kalsium
juga cukup membantu.
Pencegahan Sekunder yaitu :
1. pola makanam yang sehat;
2. mengurangi garam dan natrium di diet anda;
3. fisik aktif;
4. mengurangi Akohol intake;
5. berhenti merokok.
Pencegahan Tersier yaitu pengontrolan darah secara rutin; olahraga dengan teratur
dan disesuaikan dengan kondisi tubuh. Sumber?
6. Kesimpulan