Anda di halaman 1dari 2

Konflik dan Pergolakan yang berkaitan dengan ideologi ;

Pemberontakan DI/TII
Nama Pemberontak : Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)
Latar Belakang : Latar belakang terjadinya Pemberontakan Darul Islam/Tentara
Islam Indonesia (DI/TII) adalah keinginan mendirikan negara
Islam dan menolak perjanjian Renville. Gerakan NII ini
bertujuan untuk menjadikan Republik Indonesia sebagai sebuah
Negara yang menerapkan dasar Agama Islam sebagai dasar
Negara. Dalam proklamasinya tertulis bahwa “Hukum yang
berlaku di Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam” atau
lebih jelasnya lagi, di dalam undang-undang tertulis bahwa
“Negara Berdasarkan Islam” dan “Hukum tertinggi adalah Al
Qur’an dan Hadist”. Proklamasi Negara Islam Indonesia (NII)
menyatakan dengan tegas bahwa kewajiban Negara untuk
membuat undang-undang berdasarkan syari’at Islam, dan
menolak keras terhadap ideologi selain Al Qur’an dan Hadist,
atau yang sering mereka sebut dengan hukum kafir. Dalam
perkembangannya, Negara Islam Indonesia menyebar sampai ke
beberapa wilayah yang berada di Negara Indonesia terutama
Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Aceh, dan
Sulawesi Selatan.
Tokoh :  Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo (Jawa Barat)
 Amir Fatah (Jawa Tengah)
 Daud Beureueh (Aceh)
 Ibnu Hajar (Kalimantan Selatan)
 Kahar Muzakar (Sulawesi Selatan)

Jalannya : 1. Penumpasan DI/TII Jabar. Pada awal pemerintah RI


berupaya menyelesaikan pemberontakan dengan cara
damai dengan membentuk komite yang dipimpin oleh
Moh. Natsir, namun gagal. Maka ditempuh operasi
militer yang dinamakan Operasi Bharatayudha.
Kartosuwiryo akhirnya tertangkap di Gunung Salak
Majalaya pada tanggal 4 Juni 1962 melalui operasi
Bharatayudha dengan taktik Pagar Betis yang dilakukan
oleh TNI dengan rakyat. Kartosuwiryo kemudian
dijatuhi hukuman mati.
2. Penumpasan DI/TII Jateng. Penyelesaian pemberontakan
DI/TII di Jawa Tengah dilakukan dengan membentuk
pasukan khusus yang diberi nama Banteng Raiders.
Operasi penumpasannya diberi nama Operasi Gerakan
Benteng Negara di bawah pimpinan Letkol Sarbini,
kemudian dipimpin oleh Letkol M. Bachrun dan
selanjutnya dipimpin oleh Letkol Ahmad Yani.
3. Penumpasan DI/TII Sulsel. Untuk mengataasi
pemberontakan Kahar Muzakar, pemerintah
melancarkan operasi militer dengan mengirimkan
pasukan dari Devisi Siliwangi. Pemberontakan Kahar
Muzakar cukup sulit untuk ditumpas, mengingat
pasukan Kahar Muzakar sangat mengenal medan
pertempuran. Akhirnya pada bulan februari 1965 Kahar
Muzakar tewas dalam sebuah pertempuran.
Pembrontakan benar-benar dapat ditumpas pada Juli
1965.
4. Penumpusan DI/TII Aceh. Pemerintah pusat berusaha
untuk mengatasi pemberontakan Daud Beureuh dengan
memberikan status daerah istimewa bagi Aceh dengan
hak-hak otonomi yang luas. Atas inisiatif Kolonel yasin,
diadakan Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang
berlangsung pada tanggal 17-21 Desember 1962.
Akhirnya pemberontakan DI/TII di Aceh dapat
diselesaikan dengan damai.
5. Penumpasan DI/TII Kalsel. Penyelesaian pemberontakan
Ibnu Hajar dilakukan dengan jalan damai dan operasi
militer. Pada tahun 1963, pasukan Ibnu Hajar dapat
ditumpas dan Ibnu hajar dijatuhi hukuman mati.

Akhir : Melancarkan operasi militer yang menghancurkan


pemberontakan DI/TII di jawa Tengah terutama di Pekalongaan
dan Banyumas.

Untuk memenuhi tugas Sejarah Indonesia Guru pengajar:


Dewicca Fatma Nadilla,M.Pd

Kelompok 2
Disusun oleh:
1. Ahmad Rijani
2. Aras Majid
3. Haliza Nazmi
4. Muhammad Akmal Alfarizi
5. Yeni Rusella

Dinas Pendidikan & Kebudayaan


SMA Negeri 2 Tanjung