Anda di halaman 1dari 22

FENOMENA DISFEMISME KEBAHASAAN DALAM KOLOM

KOMENTAR AKUN INSTAGRAM @LAMBE_TURAH SEBAGAI BAHAN

AJAR BAHASA INDONESIA SISWA SMP

@LAMBE_TURAH SEBAGAI BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA SISWA SMP Disusun sebagai salah satu menyelesaikan Program Studi

Disusun sebagai salah satu menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan

Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Oleh:

DODIK MURDIYANTO LAKSMANA PUTRA

A310140125

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMMADIYAH SURAKARTA

2018

i

FENOMENA DISFEMISME KEBAHASAAN DALAM KOLOM KOMENTAR AKUN INSTAGRAM @LAMBE_TURAH SEBAGAI BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA SISWA SMP

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena disfemisme pada akun @lambe_turah di media sosial instagram dan memanfaatkan disfemisme pada akun instagram @lambe_turah sebagai bahan ajar di SMP. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan tuturan dalam penelitian ini menggunakan teknik simak bebas libat cakap, teknik catat, dan teknik rekam.Teknik analisis tuturan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metode padan referensial.Sumber tuturan penelitian ini diambil dari fenomena komentar dari akun instagram @lambe_turah yang mengandung disfemisme. Penelitian ini menemukan 58 tuturan ungkapan disfemisme yang dianalisis dan diidentifikasi unsur nilai rasa dan konteks yang menyertainya. Nilai rasa dalam ujaran disfemisme diklasifikasikan menjadi 4 jenis, yaitu mencaci sejumlah 25 tuturan, menyindir sejumlah 14 tuturan, mengritik sejumlah 9 tuturan, dan membela diri sejumlah 10 tuturan. Selanjutnya, konteks yang ditemukan diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu konteks fisik sejumlah 10 tuturan dan konteks sosial sejumlah 48 tuturan.Analisis tuturan Penelitian diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan ajar di SMP kelas VIII kurikulum 2013 KD. 4.1 Menyimpulkan isi berita (membanggakan dan memotivasi) yang dibaca dan didengar. Kata kunci: disfemisme, @lambe_turah, bahan ajar.

Abstract

This study aims to describe the phenomenon of dysphism on account @lambe_turah in social media instagram and exploit dysfemism on account instagram @lambe_turah as teaching materials in junior high. The type of this research is descriptive qualitative. Tuturan collection techniques in this study using the technique of free libat ably proficient, record techniques, and recording techniques. Technique of tuturan analysis done in this research use referential reference method. The source of this research tuturan is taken from the phenomenon of comments from account instagram @lambe_turah containing dysphemism. The study found 58 tuturan on the expression of dysfismism that was analyzed and identified the elements of the sense and context that accompanied it. The value of taste in the utterance of dysmism is classified into 4 types, which denounce some 25 tuturan, insinuating a number of 14 tuturan, criticizing a number of 9 tuturan, and defending a total of 10 tuturan. Furthermore, the contexts that are found are classified into 2 types, namely the physical context of 10 tuturan and the social context of 48 tuturan. Tuturan analysis research is expected to be used as teaching materials in SMP class VIII curriculum 2013 basic competencies 4.1 summarize the content of news (boast and motivate) that is read and heard. Keywords:dysphism, @lambe_turah, teaching materials.

1

1. PENDAHULUAN Pemikiran manusia yang selalu berkembang dan berinovasi, membuat temuan baru terus bermunculan seiring waktu yang berjalan. Salah satu bidang yang kemajuannya begitu pesat adalah teknologi komunikasi. Bidang ini mampu menimbulkan berbagai macam kegiatan kebahasaan melalui media sosial yang telah tersedia. Ragam Media sosial seperti facebook, twitter, bbm, line, whatsapp, dan instagram adalah segelintir dari beberapa macam media sosial yang merupakan inovasi dari bidang teknologi komunikasi yang bermanfaat sebagai sarana untuk menyampaikan informasi, pesan, ekspresi, dan berita. Media sosial hadir untuk memudahkan penggunanya dalam melakukan komunikasi tanpa batas ruang dan waktu. Media social have become the scaffolding upon which civil society can build, and new information technologies give activist things that they did not have before: information network not easily controlled by the state and coordination tools that are already embedded in trusted networks of family and friends (Haider dalam Wahyuni, 2015: 72). Media sosial hadir membawa bentuk baru dalam kegiatan berkomunikasi. Komunikasi bersama teman, keluarga, atau masyarakat umum dapat langsung dinikmati melalui fitur yang telah tersedia. Kegiatan- kegiatan di media sosial tersebut berpotensi melahirkan interaksi komunikatif menggunakan bahasa-bahasa yang bebas diungkapkan oleh pemakainya. Bahasa- bahasa tersebut digunakan sebagai luapan isi hati untuk bebas berekspresi. Salah satu media sosial yang populer di era sekarang ini adalah instagram. Melalui upgrade yang signifikan pada aplikasi tersebut, membuat instagram lebih praktis dan kompleks dalam penggunaannya. Galeri pribadi yang berisi foto dan video serta caption sebagai pemberi keterangan, membuat eksistensi dan kegunaan dalam aplikasi ini semakin menarik. Ayu, dkk. (2016) memberikan definisi instagram sebagai aplikasi yang dapat diakses di instagram.com, atau dapat diunduh di googleplay atau playstore untuk pengguna smartphone. Video atau foto yang sudah terunggah beserta caption sebagai keterangan dengan isi kalimat yang disusun sesuka hati oleh penggunanya membuat instagram memunculkan keanekaragaman bahasa.

2

Ragam bahasa seperti selfie, jilboobs, trending hastag, dan hot news merupakan fenomena kebahasaan yang sering dijumpai penggunanya saat explore pada aplikasi tersebut. Kegiatan media sosial yang mampu diakses oleh segala manusia di belahan dunia dan berskala luas sering kali membuat hal-hal kecil menjadi besar begitupun sebaliknya. Kegiatan seperti itu biasa disebut dengan istilah booming. Beberapa akun yang dianggap booming ini jika tidak diawasi akan menyebabkan pengaruh negatif bagi pengikut akun tersebut, khususnya anak-anak atau remaja. Kemunculan kata-kata kasar, penghinaan, dan kemarahan yang diluapkan melalui bahasa oleh penggunanya akan menyebabkan dampak buruk bermunculan. Salah satunya adalah anak kecil sudah berbicara kalimat kotor atau kasar. Penelitian ini mengkaji akun instagram @lambe_turah. Setiap kiriman atau unggahannya menyajikan informasi mengenai dunia selebriti tanah air. Akun ini booming karena menyajikan berita-berita terbaru dan menggunakan caption sebagai keterangan foto ataupun video dengan kalimat-kalimat lucu yang membuat akun lain yang mengikutinya berkomentar tentang informasi yang telah terunggah oleh @lambe_turah. Beberapa kata dalam caption akun tersebut seperti; nyemil batako yang memiliki arti gemas, unch-unch sebagai pengganti kata manja, kewong yang berarti kawin, valakor sebagai istilah yang berarti perebut suami orang, dan masih banyak lagi. Fenomena tersebut membuat pengikut akun ini selalu memberikan komentar-komentar mengenai unggahan yang booming. Komentar-komentar dari akun yang mengikuti @lambe_turah mewakili literasi kebahasaan yang mampu menghasilkan bahasa dengan nilai rasa sebagai bentuk ekspresi. Penelitian ini menekankan tentang bahasa kasar (disfemisme). Chaer (2007: 154) mengemukakan bahwa disfemisme mengakibatkan perasaan terhadap pembaca atau pendengar merasa tidak nyaman, tertekan, sakit hati, atau tersinggung karena disfemisme adalah upaya penggunaan bahasa yang mengarah pada makna kasar untuk menggantikan kata-kata dan ungkapan yang terasa halus. Aspek-aspek inilah yang berusaha diperhatikan sebagai bahan ajar untuk siswa Sekolah Menengah Pertama. Diharapkan dengan penelitian ini manfaat untuk

3

generasi remaja dapat secara bijaksana menanggapi media sosial dan tidak meniru ungkapan kasar pada fenomena kebahasaan dalam komentar akun tersebut. Melalui penelitian ini akan dideskripsikan tuturan tentang disfemisme yang ditemukan dalam kolom komentar akun instagram @lambe_turah. Fenomena kebahasaan yang booming mendasari peneliti untuk melakukan penelitian agar dapat mengetahui seluk beluk bahasa kasar (disfemisme) yang terjadi dan mendeskripsikan hal tersebut melalui penelitian ini untuk membawa dampak positif bagi bahasa Indonesia dan kecintaan melestarikan bahasa tanah air kita. Selain itu, dampak buruk juga dapat diminimalisasi melalui hasil analisis dari reaksi yang berlebihan dan menyebabkan disfemisme bermunculan sebagai optimalisasi bahan ajar yang menghasilkan terwujudnya penelitian yang berjudul:

“Fenomena Disfemisme Kebahasaan dalam Kolom Komentar Akun Instagram @Lambe_turah sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia Siswa SMP”.

2. METODE Jenis penelitian yaitu deskriptif kualitatif. Mahsun (2012: 92) mengungkapkan bahwa penelitian kualitatif merupakan proses menganalisis tuturan-tuturan berupa kata-kata, bukan berupa angka-angka. Tuturan yang sudah diperoleh dianalisis kemudian disimpulkan. Tuturan dalam penelitian ini berupa kata-kata atau kalimat yang mengandung difemisme kebahasaan. Sumber tuturan dalam penelitian ini diambil dari komentar instagram akun @lambe_turah. Teknik pengumpulan tuturan dalam penelitian ini menggunakan teknik simak bebas libat cakap, teknik catat, dan teknik rekam. Teknik analisis tuturan dalam penelitian ini menggunakan metode padan. Keabsahan tuturan dalam penelitian ini menggunakan trianggulasi teori.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Penelitian Hasil penelitian ini berupa tuturan disfemisme sebagai bahasa kasar atau ujaran kebencian yang ditemukan dalam kolom komentar akun intagram @lambe_turah. Tuturan disfemisme yang ditemukan dalam penelitian ini merupakan kegiatan posting yang dilakukan akun instagram @lambe_turah pada tanggal 8 Januari 2018, 9 Januari 2018, 13 Januari 2018, dan 16 Januari

4

tersebut ditemukan nilai rasa disfemisme dan konteks yang menyertainya. Tuturan yang diperoleh berupa ungkapan disfemisme dalam kolom komentar yang menanggapi posting akun instagram @lambe_turah.

3.2 Nilai Rasa

Nilai rasa yang ditemukan dan dianalisis di kolom komentar akun instagram @lambe_turah diklasifikasi menjadi 4 jenis yaitu, mencaci, menyindir, mengungkapkan kritikan, dan membela diri. 3.2.1 Mencaci Ungkapan bahasa kasar (disfemisme) yang berfungsi mencaci ditemukan sejumlah 2 tuturan. Berikut penjabaran masing-masing tuturannya. (1) @ilhambet25Muka kentang sabian wkkwkwk (8 Januari

2018)

(2) @randyhrh Mampus lo cabe (9 Januari 2018) Mencaci berarti kegiatan mengeluarkan perkataan yang tidak sopan. Kegiatan mencaci (disfemisme) di media sosial jika tidak diawasi dan ditanggapi secara bijaksana akan menyebabkan perilaku berbahasa yang salah. Ujaran disfemisme yang bersifat cacian ditunjukkan melalui tuturan (1) dan (2). Kegiatan mencaci yang dilakukan oleh akun @ilhamabet25 dan @randyhrh memiliki kemiripan. Dua akun tersebut menggunakan perumpamaan tumbuhan untuk mencaci sebuah unggahan yang telah dilakukan oleh akun @lambe_turah. Pengidentifikasian tuturan (1) menunjukkan disfemia berkategori frasa benda (nomina). Tuturan (1) menunjukkan akun @ilhamabet25menggunakan istilah “Muka kentang sabian”yang berarti mukanya biasa, ekspresi yang dimunculkan sangat basi. Makna basi ditunjukkan melalui plesetan “sabian”yang diperkuat dengan kentang. Sehingga, mempunyai arti utama mukanya seperti kentang basi atau busuk.

5

Tuturan (2) melalui komentar yang diungkapkan akun @randyhrh juga mengandung disfemisme. Ungkapan tersebut lebih mudah dipahami karena bahasa yang ditemukan sering dipakai dalam lingkungan masyarakat umum. Pengidentifikasian tuturan (2) menunjukkan disfemia berkategori frasa benda (nomina). Akun @randyhrh mengungkapkan ujaran Mampus lo cabeyang berarti menyumpahkan seseorang untuk cepat meninggal dunia. Penyumpahan tersebut ditujukan kepada seseorang yang dianggap “cabe” remaja yang berkelakuan tidak pada umumnya atau tidak pantas biasanya konotasinya adalah perempuan misalnya, boncengan bertiga menggunakan kendaraan bermotor dan biasanya bersolek layaknya wanita dewasa. 3.2.2 Menyindir Ungkapan yang terdapat di akun instagram @lambe_turah ditemukan pula bahasa kasar (disfemisme) yang bersifat menyindir. Kegiatan menyindir muncul akibat interaksi dari pengguna akun instagram lain yang mengikuti @lambe_turah. Sindiran yang mengandung disfemisme menjadi penyebab karena perbedaan pendapat antara pengguna akun instagram. Berikut analisis dari masing-masing komentar. (3) @dhu_yuaand emang si lonte itu lah @jennifercoppenreal20 , siapalagi. Gemes gw ama bocah ini, gausah jadi artis kl personal lu ga mau jadi konsumsi publik, jadi lonte aja sana blay !! (16 Januari 2018) (4) @gnasstvk Belom numbuh jembut aje udah belagak wkwkw. Lonte teriak lonte (16 Januari 2018) Komentar yang diutarakan @dhu_yuaand dengan sengaja mengarah kepada @jennifercoppenreal20dan menggunakan ungkapan sindiran Gemes gw ama bocah ini, gausah jadi artis kl personal lu ga mau jadi konsumsi publik, jadi lonte aja sana blay !!“. Arti dari ungkapan tersebut @dhu_yuaand menganggap

6

3.2.3

@jennifercoppenreal20 terlalu kekanak-kanakan karena menganggap dirinya yang paling benar dan kehidupannya tidak boleh untuk dikonsumsi oleh publik. Pengidentifikasian tuturan (3) menunjukkan disfemia berkategori kata sifat (adjektiva). Kekecewaan yang diungkapkan melalui sindiran dari @dhu_yuaand kepada @jennifercoppenreal20 hingga menghimbau untuk meninggalkan pekeraannya sebagai artis dan menggantinya menjadi wanita malam atau pemuas kebutuhan laki-laki jadi lonte aja sana blay !!”. Ungkapan yang menunjukkan atau menyindir seseorang dengan istilah “lonte” wanita malam selanjutnya ditunjukkan melalui tuturan (4). Tuturan tersebut merupakan hasil komentar dari akun @gnasstvkyang menyindir mitra tutur dalam unggahan yang sudah dilakukan oleh akun @lambe_turah. Komentar tersebut berisi Belom numbuh jembut aje udah belagak wkwkw. Lonte teriak lonte” yang berarti mitra tutur sebagai sasaran dari penutur merupakan anak kecil atau belum remaja, ditandai dengan kalimat “Belom numbuh jembut aje udah belagak wkwkw” berkategori frasa sifat (adjektiva) yang berarti belum tumbuhnya bulu-bulu halus di sekitar alat kelamin manusia. Komentar tersebut dipertegas melalui ungkapan “Lonte teriak lonte” berkategori frasa kerja (verba) yang berarti wanita malam yang mengumpat wanita malam lainnya atau sesama wanita malam yang saling mengumpat dan tidak ada bedanya satu dengan yang lain. Pengidentifikasian tuturan (4) menunjukkan perpaduan disfemia berkategori frasa sifat (adjektiva) dan frasa kerja (verba). Mengritik Selain ditemukan bahasa kasar (disfemisme) berupa sindiran, berarti secara tidak langsung penggunaan kalimat umpatan yang disampaikan bertujuan untuk memenuhi maksud tertentu. Kalimat-

7

kalimat umpatan yang ditemukan dalam kolom komentar akun instagram @lambe_turah juga terdapat bentuk kritik sebagai variasi lain bahasa kasar atau disfemisme.Berikut analisis tuturan dari masing-masing komentar. (5) @robertojanuartheopilus Lahh tolol apa gmn? Yg hrs d incer pengedarny. Klo gk ad pengedar. Pemakai gk bakal ada. Lu yg pemakai kok tolol? Udh tau benda haram bukanny ngebantuin nangkep pengedar tp lu ikutan makek. Trs jd pengedar jga. Trs lu mau salahin yg ngedar? Lah lu yg tolol. Mau pengedar atau pemakai yaa ttep salah. Udh tau barang haram. Ngapain lu pkek? (13 Januari 2018) (6) @mr_provoss inul bacotmu gak ngaca apa.ngmng hdp sdrhn rumah di pondok indah. klo sederhana itu rumahmu di pinggir sungai. udahlah nul gk usah bnyk bacot .songong luh (13 Januari 2018)

` Tuturan (5) tersebut merupakan hasil komentar dari akun @robertojanuartheopilus. Akun @robertojanuartheopilus mengungkapkan kritikan untuk sebuah unggahan yang dilakukan oleh akun @lambe_turah melalui komentar Lahh tolol apa gmn? Yg hrs d incer pengedarny. Klo gk ad pengedar. Pemakai gk bakal ada. Lu yg pemakai kok tolol? Udh tau benda haram bukanny ngebantuin nangkep pengedar tp lu ikutan makek. Trs jd pengedar jga. Trs lu mau salahin yg ngedar? Lah lu yg tolol. Mau pengedar atau pemakai yaa ttep salah. Udh tau barang haram. Ngapain lu pkek?”. Komentar tersebut berarti mengarah ke seseorang pemakai narkoba yang ditegaskan melalui kalimat “Udh tau benda haram bukanny ngebantuin nangkep pengedar tp lu ikutan makek. Trs jd pengedar jga”. Akun @robertojanuartheopilusmengritik mitra tutur sasarannya menggunakan kata yang mengandung unsur disfemisme “tolol” yang berarti manusia yang sangat bodoh.

8

Pengidentifikasian tuturan (5) menunjukkan disfemia berkategori kata sifat (adjektiva). Ungkapan “tolol” tersebut diutarakan karena @robertojanuartheopilus merasa kecewa dan menimbulkan pertanyaan yang sekaligus mengritik mitra tutur sasarannya dengan kalimat Udh tau benda haram bukanny ngebantuin nangkep pengedar tp lu ikutan makek. Trs jd pengedar jga. Trs lu mau salahin yg ngedar? Lah lu yg tolol. Mau pengedar atau pemakai yaa ttep salah. Udh tau barang haram. Ngapain lu pkek?”. Artinya, @robertojanuartheopilus kecewa dengan pemakai narkoba yang seharusnya berhenti memakai barang tersebut, tetapi malah membantu menjadi pengedar narkoba juga. Selanjutnya, pada tuturan (6) akun @mr_provossmengungkapkan kritikannya kepada mitra tutur sasarannya yang bernama inul. Akun @mr_provossmengritik seseorang yang bernama inuldengan kata bacotyang berarti terlalu banyak bicara. Pengidentifikasian tuturan (6) menunjukkan disfemia berkategori kata kerja (verba). Komentar tersebut saecara penuh diungkapkan inul bacotmu gak ngaca apa.ngmng hdp sdrhn rumah di pondok indah. klo sederhana itu rumahmu di pinggir sungai. udahlah nul gk usah bnyk bacot .songong luh”.Arti dari ungkapan tersebut secara penuh dapat bermakna mengritik inulyang terlalu banyak berbicara, namun tidak melihat ke kehidupan sekitarnya. Sehingga, kegiatan yang dilakukan inulmerupakan hal yang bersifat sombong “songong luh”.

3.2.4 Membela Diri Ungkapan disfemisme selanjutnya yang ditemukan bersifat membela diri. Tuturan-tuturan tersebut, akan dijelaskan melalui analisis yang dideskripsikan sebagai berikut.

9

3.2.5

saya dr pd loh kebanyakan makan kotoran babi wajar otaknya engk beres (16 Januari 2018) (8) @j_rickonda @ayu.ningsihhh ya mendingan saya lah itu mulutmu kebanyakan nyiyir ngemutin janggut unta arab (16 Januari 2018) Komentar yang diutarakan @ayu.ningsihhh dan @j_rickonda merupakan sebuah perwujudan pembelaan terhadap diri masing- masing. Seperti pada tuturan (7), @ayu.ningsihhh melakukan pembelaan dengan ungkapan mendingan saya dr pd loh”. Pembelaan tersebut terdapat unsur disfemisme yang diungkapkan melalui kalimat “kebanyakan makan kotoran babi wajar otaknya engk beres”. Pengidentifikasian tuturan (7) menunjukkan disfemia berkategori frasa kerja (verba). Artinya, @ayu.ningsihhh menganggap @j_rickonda mempunyai pemikiran yang berbeda dan cenderung lebih bodoh dibandingkan manusia sewajarnya, karena tidak ada manusia berakal sehat dengan sengaja makan kotoran babi”. Reaksi selanjutnya @j_rickonda pada tuturan (8) tidak terima dengan pernyataan @ayu.ningsihhh dan mengungkapkan pembelaan dengan kalimat “ya mendingan saya lah”. Selanjutnya, pembelaan tersebut dipertegas melalui ungkapan “mulutmu kebanyakan nyiyir ngemutin janggut unta arab” yang berarti @ayu.ningsihhh juga sama bodohnya dan tidak memiliki pemikiran

mendingan

ckckckckck

manusia selayaknya manusia sewajarnya, karena tidak ada manusia normal yang dengan sengaja “ngemutin janggut unta arab”. Pengidentifikasian tuturan (8) menunjukkan disfemia berkategori frasa kerja (verba). Konteks Konteks yang ditemukan dan dianalisis di kolom komentar akun instagram @lambe_turah diklasifikasi menjadi konteks fisik dan

10

konteks sosial. Ungkapan disfemisme mempunyai latar belakang yang dapat mempengaruhi perasaan tidak suka maupun sesuatu yang dianggap tidak santun dan tidak pantas dilakukan oleh seseorang. Tuturan-tuturan tersebut, akan dijelaskan melalui analisis yang dideskripsikan sebagai berikut. 1) Konteks Fisik Ungkapan bahasa kasar (disfemisme) yang berkaitan dengan konteks fisik ditemukan sejumlah 2 tuturan. Berikut penjabaran masing-masing tuturannya. (1) @ilhambet25 Muka kentang sabian wkkwkwk (2) @randyhrh Mampus lo cabe Konteks fisik yang ditemukan dalam ujaran disfemisme mayoritas menunjukkan bentuk fisik manusia yang disamakan dengan fisik hewan serta makhluk yang dianggap mempunyai bentuk menyeramkan atau menjijikkan. Tuturan yang mempunyai kemiripan yaitu menyamakan wujud manusia dengan tumbuhan diperlihatkan pada tuturan (1) dan (2). Komentar pada tuturan (1) melalui akun @ilhambet25 menyamakan muka manusia dengan tumbuhan berjenis sayuran kentang. Tuturan (2) melalui akun @randyhrh menyamakan bentuk fisik manusia dengan cabai. 2) Konteks Sosial Ungkapan bahasa kasar (disfemisme) yang ditemukan juga berkaitan dengan lingkungan sosialnya. Keterkaitan antara komentar yang ditemukan dalam kolom komentar akun @lambe_turah dengan konteks sosialnya tersebut ditemukan sejumlah 48 tuturan. Berikut penjabaran masing-masing tuturannya. (9) @hk_shoppky Bacot bae bacot bae (10) @satria_x_ary Lihat para pendukung nya Fahri sama fadli yg suka nyinyirr , blass ndak enak di pandang , trnyata ndak cm clana nya yg cingkrang, otak nya jg

11

Perasaan kecewa, perasaan tidak suka, jengkel, dan tidak terima atas tuturan merupakan penyebab konteks tersebut bermunculan. Penggunaan disfemisme yang menjadi latar belakang ketidak santunan berbahasa muncul, menyebabkan konteks sosial dan situasi tuturan tertentu ikut mengikutinya. Situasi tuturan seperti kebiasaan menggunakan kata kasar atau disfemisme akan mengakibatkan pola berbahasa menjadi berubah dan menimbulkan tekanan batin. Seperti pada konteks sosial yang mempunyai kemiripan yaitu menganggap sosial disekitarnya terlalu banyak berbicara dan terlalu ikut campur urusan seseorang. Akun @hk_shoppky melalui tuturan (9) menunjukkan kekecewaannya melalui komentar Bacot bae bacot baeyang menunjukkan konteks sosialnya terlalu banyak bicara. Selanjutnya komentar akun @satria_x_ary juga mempunyai maksud sama karena menganggap konteks sosialnya terlalu suka nyinyirrbanyak bicara. Hingga pada tuturan yang tersaji melalui komentar akun @satria_x_ary dalam tuturan (10) tersebut menegaskan dan mengumpat orang yang banyak bicara dengan ungkapan trnyata ndak cm clana nya yg cingkrang, otak nya jg”. 3.1.3 Penginovasian Disfemisme pada Akun instagram @lambe_turah sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia Widodo dan Jasmadi dalam Lestari (2013:1) memaparkan bahwa bahan ajar merupakan seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi dan subkompetensi dengan segala kompleksitasnya. Penginovasian disfemisme yang sudah teridentifikasi nilai rasa dan konteksnya pada akun instagram @lambe_turah dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar muatan mata pelajaran Bahasa

12

Indonesia kurikulum 2013 kelas VIII dengan KI dan KD sebagai berikut. (1) KI. 4. Mengolah, menyaji dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurangi, merangkai, memodifikasi dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori) (2) KD. 4.11 Menangkap makna teks cerita moral/fabel, ulasan, diskusi, cerita biografi, baik lisan maupun tulisan (Permendikbud No. 68 Tahun 2013 halaman 41). Penginovasian bentuk disfemisme pada komentar akun instagram @lambe_turah dijadikan sebagai contoh bagi siswa dalam menggunakan bahasa yang santun ketika menyajikan teks diskusi. Contoh penggalan teks diskusi sebagai berikut.

Betul sekali, musik dangdut sekarang hanya sebagai media perilaku kejahatan. Baik di desa maupun di kota, penyanyi dangdut selalu memamerkan goyangannya bukan suara dan irama musiknya sebagai hiburan untuk masyarakat penikmat musik yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia ini.

Selain dijadikan sebagai bahan ajar, disfemisme dalam komentar media sosial instagram @lambe_turah juga dapat dijadikan sebagai contoh alat untuk santun bermedia sehingga tercipta komunikasi yang harmonis. Contoh rancangan materi ajar sebagai berikut. Teks diskusi merupakan teks yang memberikan dua pendapat berbeda mengenai suatu hal (pro dan kontra) yang mengakibatkan kedua belah pihak menjadi saling membicarakan masalah yang menjadi persoalan (diskusi). Salah satu manfaat dari berdiskusi yaitu bisa memperluas pengetahuan dan memperbanyak pengalaman. Sehingga, untuk mengajarkan materi ini tahapan-tahapannya sebagai berikut:

1. Sampaikan tujuan pembelajaran teks diskusi pada siswa.

13

2. Tampilkan teks diskusi dengan fenomena disfemisme yang ditemukan dalam akun instagram @lambe_turah dengan menggunakan layar LCD.

3. Selanjutnya, mintalah siswa untuk mengamati dan membaca fenomena disfemisme yang ditemukan dalam akun instagram @lambe_turah tersebut dengan durasi 7 sampai 10 menit.

4. Selanjutnya, bentuklah beberapa kelompok, tiap kelompok beranggotakan 3 sampai 4 orang.

5. Mintalah masing-masing kelompok untuk mendiskusikan dan menganalisis fenomena disfemisme yang ditemukan dalam akun instagram @lambe_turah tersebut.

6. Setelah itu, mintalah masing-masing kelompok untuk mengubahnya ke dalam bentuk eufemisme agar ungkap disfemisme tersebut bisa diubah menjadi lebih sopan.

7. Setelah itu, mintalah masing-masing kelompok untuk menyampaikan hasil analisisnya di depan kelas.

8. Guru mengamati dan memberikan penilaian atas presentasi siswa.

9. Guru menunjukkan bahwa teks diskusi memiliki struktur dan

kaidahnya. 10.Guru dan siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari. 11.Terakhir, siswa diberikan tugas untuk mencari fenomena disfemisme di sosial media lain, dan mengubahnya ke bentuk eufemisme.

3.3 Pembahasan Penelitian sejenis selanjutnya dilakukan oleh Gomez (2012) dengan judul “The Expressive of Euphemism and Dysphemism.” Penelitiannya menghasilkan bahwa eufemisme dan disfemisme adalah dua proses kognitif konseptualisasi dengan efek pengimbang (memiliki basis dan sumber daya yang sama tetapi tujuan keduanya berbeda). Ada beberapa mekanisme dengan basis ekspresif, sesuai dengan tingkat linguistik yang berbeda, memanfaatkan fenomena ini untuk modulasi, mengganti, mengubah atau memodifikasi konsep tertentu. Perbedaannya terletak pada sumber tuturan

14

dan hasil penelitiannya. Gomez memperoleh tuturan dari fenomena penggunaan eufemisme dan disfemisme dari karakterisasi pengganti leksikal dalam tradisi Romawi, kemudian menghasilkan tingkat nilai-nilai konotatif yang diungkapkan secara simtomatik oleh penggunaan eufemisme dan disfemisme. Persamaan kedua penelitian ini adalah sama-sama meneliti penggunaan disfemisme dalam fenomena berbahasa. Penelitian berjudul “Penggunaan Eufemisme dan Disfemisme pada Tajuk Rencana serta Implikasinya terhadap Pembelajaran” yang diteliti oleh Febrianjaya, et al. (2013). Hasil penelitian menemukan ujaran eufemisme berjumlah 18 tuturan dan gaya disfemisme berjumlah 77 tuturan. Berdasarkan tuturan yang telah ditemukan, eufemisme dan disfemisme dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk gramatikal, referen, subjek yang dituju, tujuan, dan isi. Penelitian tersebut berimplikasi pada pembelajaran bahasa Indonesia di SMA. Terutama pada pembelajaran berbicara, yaitu menyampaikan kritik dan persetujuan dukungan. Perbedaan kedua penelitian ini terletak pada sumber tuturannya. Febrianjaya, et al. memperoleh tuturan dari tajuk rencana Radar Lampung dan Lampung Post, sedangkan penelitian ini memperoleh tuturannya dari kolom komentar akun instagram @lambe_turah. Persamaan kedua penelitian ini terletak pada objek kajiannya, yaitu sama-sama meneliti fenomena disfemisme sebagai bahasa kasar. Penelitian sejenis dengan judul “Disfemia pada Stiker Helm dan Kendaraan Bermotor Remaja” yang dikaji oleh Riyanto (2013). Penelitiannya menghasilkan makna dan identifikasi dari disfemia yang ditemukan dari 13 tuturan. Penelitian Riyanto memperoleh tuturan dari stiker pada helm dan kendaraan bermotor, sedangkan penelitian ini memperoleh tuturan dari dari kolom komentar akun instagram @lambe_turah. Persamaan kedua penelitian ini adalah sama-sama meniliti tentang disfemisme dan menghasilkan tuturan berupa identifikasi makna tuturan.

15

Penelitian yang berjudul “Disfemisme pada Wacana Lingkungan:

Sebuah Kajian Ekolinguistik Kritis dalam Media Massa di Indonesia” dilakukan oleh Laili (2013). Penelitiannya menghasilkan bentuk-bentuk referensi, tipe-tipe dan fungsi-fungsi satuan ekspresi disfemisme pada wacana lingkungan dalam media massa di Indonesia. Disfemisme, sebagaimana eufemisme, juga merupakan bentuk praktik wacana yang membentuk realitas ciptaan jurnalis. Realitas tersebut dapat mempengaruhi kognisi pembacanya. Mengingat pembaca wacana tersebut beragam, baik dari segi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan sebagainya, para jurnalis diharapkan agar objektif dan konstruktif dalam penciptaan realitas tersebut agar pembaca dapat terpengaruh ke arah yang konstruktif pula, yakni pelestarian lingkungan hidup dan keluasan pengetahuan mengenai lingkungan hidup. Perbedaan penelitian Laili dengan penelitian ini terletak pada hasil dan pembahasannya. Penelitian Laili menghasilkan satuan ekspresi disfemisme berupa kata turunan dibagi menjadi tiga, yakni kata turunan berkategori nomina, verba dan ajektiva. Persamaan kedua penelitian ini terletak pada objek kajiannya yaitu sama-sama mengkaji disfemisme (bahasa kasar). Penelitian yang berjudul “Pemakaian Disfemisme dalam Berita Utama Surat Kabar Joglo Semar” oleh Khasan, et al. (2014). Penelitian ini menghasilkan bentuk-bentuk disfemisme yang terdapat dalam berita utama surat kabar Joglo Semar terdiri atas disfemisme bentuk kata dan disfemisme bentuk frasa. Alasan penggunaan bentuk disfemisme di dalam berita utama surat kabar Joglo Semar, yaitu menarik perhatian para pembaca, menegaskan pembicaraan atau menguatkan makna, variasi kata, provokasi, dan penghemat ruang. Dampak penggunaan bentuk disfemisme di dalam masyarakat, yaitu membentuk pola berbahasa masyarakat menjadi kasar, mudah terpancing emosi, psikologis menjadi terganggu, dan mengaburkan pemahaman. Kedua penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan. Perbedaannya terletak pada sumber tuturannya. Khasan, et al. memperoleh tuturan dari surat kabar Joglo Semar, sedangkan penelitian ini memperoleh

16

4

tuturannya dari kolom komentar akun instagram @lambe_turah. Persamaan kedua penelitian ini terletak pada objek kajiannya, yaitu sama-sama meneliti fenomena disfemisme sebagai bahasa kasar. Penelitian sejenis berikutnya pernah dilakukan oleh Malo dan Fakhir (2014) dengan judul “The Use Of Euphemism and Dysphemism in Bahdeni Dialect.” Penelitiannya menjelaskan fenomena dalam penggunaan kata-kata ekspresi eufemisme dan disfemisme dalam kehidupan sehari-hari melalui komunikasi yang terjadi, khusunya di komunitas pidato Duhok dalam Bahdeni Dialek. Klasifikasi situasi dalam penggunaan eufemisme dan disfemisme pada Bahdeni Dialek bergantung pada jenis hubungan antara penutur dan mitra tutur, usia, jenis kelamin, pekerjaan, latar belakang pendidikan dan posisi sosial. Kedua penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan. Perbedaannya terletak pada sumber tuturannya. Malo dan Fakhir memperoleh tuturan dari aktivitas bahasa di komunitas pidato Duhok dalam Bahdeni Dialek. Persamaan kedua penelitian ini adalah sama-sama meniliti tentang disfemisme dan menghasilkan tuturan berupa identifikasi makna tuturan. PENUTUP Berdasarkan hasil pembahasan menunjukkan bahwa pertama, terdapat disfemisme yang mengandung nilai rasa dalam kolom komentar akun instagram @lambe_turah yaitu mencaci, menyindir, mengritik dan membela diri. Fungsi disfemisme yang muncul yaitu sebagai alat menghaluskan ucapan, berdiplomasi, menghindari tabu, ekspresi sopan santun, menghindari rasa malu dan menghindari rasa takut. Kedua, penelitian disfemisme yang ditemukan dalam kolom komentar akun instagram @lambe_turah mengandung konteks sosial dan konteks fisik sebagai aspek penjelas yang menyertai suatu ungkapan. Konteks fisik analisisnya dari 10 tuturan disfemisme yang ditemukan mengacu pada konteks fisik yang menyamakan wujud manusia seperti tumbuhan, hewan, mahluk lain, dan alat kelamin manusia. Konteks sosial dari 48 tuturan yang dianalisis, ditemukan disfemisme yang mengacu pada konteks sosial yang menyamakan manusia

17

dengan tabiat buruknya melalui bentuk komentar yang mengandung

disfemisme seperti, wanita penghibur (pelacur dan pelakor), tingkah laku

seperti binatang dengan sebutan (anjing, babi, dan kuda), menganggap orang

lain lebih bodoh (idiot, nyocot, dan omong doang), dan menyamakan manusia

dengan mahluk lain (iblis dan setan). Ketiga, disfemisme dalam akun

instagram @lambe_turah dapat diimplikasikan dalam pembelajaran sebagai

bahan ajar Bahasa Indonesia pada Kurikulum 2013 kelas VIII dalam KI. 4

dan KD. 4.11 mengenai teks diskusi.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2007. Sintaksis Bahasa Indonesia Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Putra.

Febrianjaya., Abdan Syakur., et al. 2013 “Penggunaan Eufemisme dan Disfemisme pada Tajuk Rencana serta Implikasinya terhadap Pembelajaran.” Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) 1(6):1-8.

Gomez,

Miguel

Casas.

2012.

“The

Expressive

Creativity

of

Euphemism

and

Dysphemism Lexis.” E-Journal in English Lexicology 7(3):43-63.

Khasan, Auriga Maulana., Sumarwati., et al. 2014. “Pemakaian Disfemisme dalam Berita Utama Surat Kabar Joglo Semar.” Basastra Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia dan Pengajarannya 2(3):1-12.

Laili, Elisa Nurul. 2013. “Disfemisme pada Wacana Lingkungan: Sebuah Kajian Ekolinguistik Kritis dalam Media Massa di Indonesia.” Tesis, Linguistik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Mahsun. 2012. Metode Penelitian Bahasa Cetakan Keenam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Malo, Sanan Shoro. dan Fakhir Omar Mohammed. 2014. “The Use Of Euphemism and Dysphemism in Bahdeni Dialect.” Journal of University Duhok 17(1):1-14.

Riyanto, Sugeng. 2013. “Disfemia pada Stiker Helm dan Kendaraan Bermotor Remaja.” Makalah disajikan di Prosiding Seminar Nasional “Ketidaksantunan Berbahasa dan Dampaknya dalam Pembentukan Karakter”, pada tahun 2013, Surakarta.

18