Anda di halaman 1dari 2

Nama : Irene Maharani

NIM : 01218037
Prodi : Manajemen
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis

1. Apa artinya mengikut Yesus dalam zaman ini ?


( Jelaskan tantangan-tantangan zaman ini dan apa tantangan dalam Mengikut Yesus ).
Jawaban :

Matius 16:24. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau
mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya 1 dan mengikut Aku. Kemudian
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Jika ada yang mau mengikuti Aku, ia harus
menyangkal dirinya sendiri, memikul salibnya, dan mengikut Aku.
Dari Matius 16 ini, maka kita dapat melihat bahwa Yesus mengatakan perkataan tersebut
setelah Dia menegur Petrus. Kalau sebelumnya Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Sang
Mesias, Anak Allah yang hidup ( Mat 16:16-19), namun di ayat selanjutnya, rasul Petrus justru
mencoba menghalangi Yesus untuk menerima rencana Allah, yaitu untuk menerima siksaan,
dibunuh dan kemudian bangkit pada hari ke-tiga ( Ayub 21-22). Di ayat 23 dikatakan bahwa
Yesus menegur rasul Petrus dengan keras, karena Petrus menempatkan pemikiran sendiri di atas
apa yang dipikirkan oleh Allah.
Mengikut Yesus adalah suatu keputusan penting yang berat. Pengikutan kita kepada Tuhan
Yesus, memiliki konsekuensi penyangkalan diri dan memikul salib. Menyangkal diri dalam
terjemahan Alkitab BIS dikatakan melupakan kepentingan sendiri, atau tidak memperhatikan
kepentingan sendiri. Kemudian Yesus berkata kepada pengikut-pengikut-Nya, "Orang yang mau
mengikuti Aku, harus melupakan kepentingannya sendiri, memikul salibnya, dan terus mengikuti
Aku. ( Matius 16:24 BIS).
Syarat seorang pengikut Yesus harus menyangkal diri. Menyangkal diri adalah
mengesampingkan ego, keinginan pribadi, kenikmatan pribadi. Memikul Salib adalah bersedia
melakukan / menanggung sesuatu demi iman kita pada Tuhan. Menyangkal diri dan memikut
Salib dalam mengikut Yesus adalah komitmen dalam mengiring Yesus.
Yesus berkehendak mempertegas komitmen pribadi kita sebagai oranng percaya, kasih kita
kepada Yesus seharusnya jauh melampaui kasih kita kepada sesama termasuk keluarga kita. Jadi
berani menjadi murid berarti berani menanggung resiko dari keputusan tersebut. Bila kita
melepaskan sesegala keinginan hati kita demi Kristus, maka kita akan menerima segala sesuatu
yang indah yang berkenan kepada Bapa. Tantangan untuk menjadi murid Yesus harus bisa
menahan diri dari keinginan duniawi kita dan mengikuti teladan ajaran kehendak Tuhan.
Memikul salib artinya rela menderita karena iman kepada Yesus, memberitakan injil atau rela
dianiaya karena kebenaran Firman Allah.
Secara garis besar ada 3 tantangan dalam mengikut Yesus :
1. Tantangan secara eksternal
Pada zaman sekarang muncul standar pribadi, seperti LGBT, homoseksual dan poligami.
Standar pribadi tersebut telah menjadi agama baru menggantikan kekristenan. Hal ini
bertentangan dengan rancangan Tuhan dalam penciptaan Manusia (Kejadian 2:18).
Isu-isu radikalisme agama, seperti propaganda, terorisme dan berbagai gerakan yang
dilakukan oleh sekelompok orang yang tega bertindak ekstrim. Saat ini, orang Kristen mudah
terjebak pada kesesatan informasi, provokasi, dan berita palsu yang menjadi viral di media
sosial. Sehingga mereka dapat menjadi sasaran utama rekrutmen kelompok radikal yang
mengembangkan jaringan. Kehampaan hidup seringkali terjadi, meski diisi dengan berbagai
kecanggihan peradaban dunia. Contohnya adalah banyak gereja mencerminkan dunia dengan
secara pragmatis menghalalkan segala cara.
Sehingga mereka dapat menjadi sasaran utama rekrutmen kelompok radikal yang
mengembangkan jaringan, sebagai berikut:
1. Maraknya berbagai ajaran sesat dan bidat yang memiliki aliran-aliran sesat, seperti
Gnostik, Mormonisme, Christian Science, Saksi Yehova dan sebagainya. Hal ini
bertentangan dengan peringatan Yesus terhadap murid-muridNya (Matius 24:3-14; 1
Timotius 1:3; Roma 16:17).
2. Penganiayaan terhadap orang-orang Kristen dianggap sebagai antisosial dan penyebab
kerusuhan. Seperti yang dikisahkan tentang penganaiyaan terhadap Stefanus (martir
Kristen) dan sejumlah jemaat Yerusalem (Kisah Para Rasul 7:54-8:3).
3. Manusia yang semakin pandai dan hidup merasa seakan-akan tidak lagi membutuhkan
Tuhan. Hal ini bertentangan dengan kehendak Allah (Roma 12:16 “tetapi arahkanlah
dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!”).
2. Tantangan secara internal.
Perpecahan gereja karena masalah uang, beda penafsiran, perbedaan kepentingan kelompok
dan sebagainya (1 Korintus 3: 3). Perpecahan harus terjadi untuk melihat siapakah yang tahan
uji. Tetapi, jangan sampai kitalah yang menjadi sumber perpecahan itu. Kita harus ingat
sebenarnya Yesus tidak menghendaki perpecahan (Matius 12:25).
3. Tantangan Individualisme
Manusia sibuk dengan dunianya masing-masing. Contohnya adalah generasi millennial
sering bergantung pada alat gadget tercanggih. Sehingga gadget sudah menjadi alats ‘berhala’
model baru. Terlihat dari setiap jemaat jarang membawa printed bible sebab Alkitabnya sudah
menjadi digital bible di HP atau Ipad. Bahkan lebih menyedihkan selama kebaktian berlangsung,
mereka tetap bermain media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan sebagainya. Inilah
permulaan hedonisme dan materialisme yang sering dilakukan oleh orang Kristen. (Yakobus 4:1
– 5:6; 1 Yohanes 2 : 15-17).

2. Apakah kekristenan bisa menjawab persoalan-persoalan dunia ini?


Jawaban:

Iya, kekristenan bisa menjawab persoalan yang ada di dunia sekarang ini. Karena
kekristenan adalah kebenaran bukan karena sekedar orang percaya atau tidak tentang Kebenaran
hal tersebut. Di dalam kekristenan juga diajarkan tentang Alkitab yang merupakan standart
tertinggi, jika terdapat disharmoni ( tidak sesuai, ketidakselarasan, kejanggalan ). Dan orang
Kristeen percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang berotoritas dan bersifat mutlak.