Anda di halaman 1dari 2

Karya : Tsabita Al Asshifa Hadi Kusuma | IX - 2

Saat ini, aku sedang belajar Fisika di kelas. Kebetulan, Bu Ramidas—guru fisikaku—sedang ada perlu ke kantor guru.
Saat tidak ada guru, kebiasaan siswa di kelasku mulai kambuh. Mereka meribut sejadi-jadinya. Hal itu sukses
membuat emosiku tersulut karena menggangguku mengerjakan soal fisika yang disuruh oleh Bu Ramidas ini. Ketua
kelas dan wakil ketua pun bahkan tidak bisa mengatur siswa di kelasku untuk tenang. Mereka malah ikut meribut
dengan asyik membicarakan permainan sepak bola tadi malam yang—menurutku—sama sekali tak menarik.
“Huh! Ketua kelas macam apa, tuh? Bukannya ngatur kelas, malah asyik ngobrol!!!” gerutuku.
Dengan bosan, kutatap seisi kelas yang sedang asyik mengobrol itu. Ada yang sedang mengobrol sambil ketawa-
ketiwi, ada pula anak laki-laki yang sedang asyik main perang sandal jepit, tanpa memedulikan temannya yang akan
jadi korban bila sandal tersebut meleset ke arah yang salah. Aku sudah sering melihat mereka ditegur oleh guru agar
tidak memainkan sandal itu di dalam kelas. Tapi, mereka benar-benar bandel. Teguran guru itu seperti masuk kiri
keluar kanan.
Bosan, aku pun lanjut mengerjakan latihan yang diberi oleh Bu Ramidas dengan serius. Namun, kegiatanku
terhenti begitu Afifah menanyaiku sebuah soal.
“Aku nggak ngerti, Fah. Bukannya kamu lebih jago dalam soal ini?” tanyaku, tanpa menoleh ke arah Afifah.
“Uh, sejak kapan aku jago pelajaran Fisika???” Afifah malah balik nanya, seolah tak sadar bahwa dia adalah juara
kelas.
Aku makin kesal dibuatnya. “Gak tau, ah! Yang penting, aku nggak ngerti sama soal ini, titik! Mendingan kamu
tanya aja ke Livia, sana!” jawabku, mengusir. Kulihat Afifah beralih ke meja Livia, dan sepertinya sudah tampak
sibuk dengan soal tersebut. Dan, aku pun kembali serius menjawab soal di hadapanku ini.
Tetapi, kegiatanku terhenti lagi begitu seseorang memanggilku lagi dari belakang. Aku jadi tambah kesal, dan
tidak memedulikan panggilan itu.
“Tam! Tami!!! Denger nggak, sih?!” panggilan plus omelan itu malah tambah keras. Dengan kesal, aku segera
menoleh ke belakang.
“Apa, sih!?” sahutku, nyaris berteriak. Kudapati wajah Ocha yang kebingungan melihatku berteriak seperti orang
jualan di pasar.
Ternyata Ocha menanyakan hal yang sama dengan Afifah. Maka, aku pun juga menjawab hal yang sama dengan
apa yang kukatakan pada Afifah tadi, dan Ocha pun melakukan apa yang dilakukan Afifah tadi.
Setelah selesai mengerjakan latihan tersebut, aku segera memasukkan buku-buku itu ke dalam laci meja.
Tiba-tiba, Afifah datang dan mengajakku ngobrol. Sialnya, dia malah membahas tentang idola kesayangannya.
Dan ... dia merendahkan idolaku?! Grrr!
“Yuki Kato itu lebih cantik dan berbakat daripada ...” DRRRTTTT!
Tiba-tiba lantai kelasku bergetar. Afifah menghentikan ucapannya dan berteriak, “GEMPAAA!!!”
Mendengar teriakan Afifah, seluruh siswi di kelasku langsung berhamburan keluar kelas. Ketika aku hendak berlari
keluar, kulihat siswa laki-laki di kelasku tidak ikut berlari keluar. Kusadari, ternyata mereka-lah yang menimbulkan
suara gemuruh seperti gempa itu. Sebab, kulihat kaki mereka yang dihentak-hentakkan ke lantai, sehingga
menimbulkan suara gemuruh seperti gempa. Apalagi, akibat hentakan tersebut, lantai kelasku—yang berada di
lantai dua—menjadi bergetar hebat.
Aku tidak jadi turun ke bawah. Aku berdiri di balkon, sambil menatap teman-temanku yang berlari ke bawah dan
mengucapkan dzikir berkali-kali. Dan ternyata, siswa yang kelasnya bertetangga dengan kelasku ikut berlari ke
bawah dan melakukan hal yang sama; berdzikir.
“Oi! Kalian ngapain di bawah, hah? Hahaha!” teriakku, sambil tertawa keras menyaksikan kebodohan mereka.
Sesaat setelah itu, terdengar pengumuman dari kantor guru bahwa itu bukan gempa. Mendengar hal itu, seluruh
siswa yang berlari ke bawah tadi, langsung kembali ke kelas dengan serentetan sumpah serapah. Aku pun tak kuasa
menahan tawa, dan kembali masuk ke dalam kelas.
***
Beberapa hari setelah itu, siswa laki-laki di kelasku kembali membuat ulah. Mereka kembali menghentak-
hentakkan kakinya ke lantai. Tetapi, hal itu tidak terlalu berpengaruh lagi pada siswi di kelasku.
Konsentrasiku buyar begitu mendengar hentakan itu. Sebab, yang aku kerjakan saat ini adalah soal Matematika
yang memusingkan! Tentang fungsi x lah, fungsi y lah, fungsi f lah, hah! Padahal, tadi jawabannya sudah hampir
ditemukan, dan gara-gara mereka otakku kembali mumet! Arrgghh!
“HEI!! KALIAN BISA DIAM NGGAK, SIH?! ” teriakku, membahana. Wei! Tak kusangka aku punya keberanian
seperti itu. Sebab, selama ini aku dikenal sebagai siswi pendiam di kelasku. Begitu mendengar teriakanku, seluruh
siswa laki-laki di kelasku langsung tertawa terbahak-bahak, seolah-olah mengira bahwa aku takut akan hentakan
kaki mereka. Sialan.
CRAP!!! Hyaaa, gimana inii? Mereka malah semakin menjadi-jadi! Kukutuk kaliaannnn!!!
Ternyata doaku terkabul. Sesaat setelah itu, seorang guru masuk ke kelasku dan menceramahi mereka. “Ngapain
kalian ini?!! Apa kalian tau, bahwa itu artinya kalian meminta didatangkan gempa pada Tuhan! Dan ..., bla ... bla ...
bla ...”
Aku hanya tersenyum penuh kemenangan mendengarnya. Ceramahan guru itu mewakili dumelanku pada mereka.
Oh, Thanks, God!!!