Anda di halaman 1dari 7

RANGKUMAN BUKU NONFIKSI

IDENTITAS BUKU

JUDUL BUKU : BUNG HATTA MASA KECIL 1902-1918

PENULIS : BAHRUDIN SUPARDI

ILUSTRATOR : SUTARJO

PERWAJAHAN : TOTO RIANTO

PENERBIT : PT REMAJA ROSDAKARYA

TEBAL : 56 HALAMAN

RANGKUMAN

1.SUKA DUKA SILIH BERGANTI

Bukittinggi adalah sebuah kota kecil yang terletak di tengah – tengah dataran tinggi
Agam Sumatera Barat. Di Aur Tanjung Kang, di pinggir kota jalan raya yang menuju Paya
Kumbuh, ke jurusan timur. Terdapat sebuah rumah besar bertingkat dua milik Pak Ilyas gelar
Baginda Marah. Orang tua itu biasa dipanggil Pak Gaek oleh cucunya. Pak Gaek memiliki
usaha pengangkutan pos antara Bukittinggi – Lubuk Sikaping yang bersambung sampai
Sibolga

Saat itu Agustus tahun 1902. Seluruh penghuni rumah besar itu sedang berbahagia,
karena sedang menanti penghuni baru rumah tersebut. Anak perempuan Pak Gaek yang
bernama Siti Saleha sedang hamil besar, suaminya senang bukan main.

Hari yang dinantikan pun tiba. Pada tanggal 12 Agustus 1902. Lahirlah seorang anak
laki-laki yang diberi nama Muhammad Athar. Saat ia mulai belajar berbicara ia tidak bisa
menyebut namanya dengan benar. Ketika ia menyebut nama Athar, yang tedengar adalah
Hatta. Maka nama itu pun terus melekat pada dirinya. Muhammad Hatta.

Hatta sangat disayangi oleh semua keluarganya. Terutama Ayah dan Ibunya. Dalam
limpahan kasih sayang itu Hatta kecil terus tumbuh. Di tengah-tengah kebahagiaan itu.
Datang sebuah musibah yaitu Ayah Hatta meninggal. Ayah Hatta meninggal ketika ia berusia
8 bulan. Semua oarang bersedih. Dalam usianya yang muda mereka sudah menjadi anak
yatim.

2. AYAH TIRI YANG BAIK HATI

Pak Gaek memiliki seorang rekan usaha, Pak Gaek sangat menyukai pengusaha
muda tersebut. Ia kagum pada keuletan dan ketekunannya. Mereka saling mengagumi satu
sama lain.
Karena sering berkunjung kerumah Pak Gaek. Ia sering brjumpa dengan Siti Saleha
yang baru saja di tinggal oleh suaminya. Diam-diam ia mengagumi Siti Saleha. Haji Ning
menceritakan perasaannya kepada Pak Gaek. Kemudian ia berkata kepada Pak Gaek bahwa
ia ingin menikahi anak perempuannya tersebut. Kemudian Pak Gaek menceritakan hal
tersebut kepada Siti Saleha. Siti Saleha tidak banyak berkata. Tetapi pada dirinya ia setuju
karena ia juga sudah mengenal Haji Ning.

Tak lama kemudian mereka pun menikah. Haji Ning sangat menyayangi kedua anak
Siti Saleha. Ia tidah menganggap mereka sebagai anak tiri.

Beberapa tahun berlalu, mereka telah dikarunai 4 orang anak. Tetapi Haji Ning tetap
menyayangi Hatta seperti anak kandungnya. Hatta sebagai anak laki-laki satu satunya ia
diperlakukan istimewa. Hal itu tidak membuat Hatta tinggi hati, dan saudar saudara
perempuannya pun juga tidak iri kepadanya.

3. KEJAMNYA BANGSA PENJAJAH

Pada pertengahan tahun 1908, pecahlah Perang Kemang yang mengejutkan orang
Bukittinggi. Perang Kemang tersebut terjadi karena rakyat Kemang memberontak terhadap
kekuasaan Belanda. Hampir semua orang di Bukittinggi membicarakan Perang Kemang.
Hatta yang berusia 6 tahun pada waktu itu mendengar kabar tentang itu, ia juga sering
mendengar orang-orang berbisik tentang Belanda. Muncul beberapa pertanyaan pada diri
Htta. Pertanyaan-pertanyaan itu pun ia tanyakan pada kakeknya. Pak Gaek tersenyum
mendengar pertanyaan itu, ia juga merasa bangga karena paertanyaan-pertanyaan itu
mmperlihatkan kecerdasan cucu kesayangannya itu. Maka Pak Gaek dengan senang hati Pak
Gaek bercerita sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan Hatta.

Semakin lama waktu berlalu pengaruh pemberontakan terasa di Kota Bukittinggi.


Hatta sering memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di sana. Di tmpat itu ditempatkan
selusin serdadu mersuse bersenjatakan senapan dan bayonet terhunus. Setiap orang yang
msuk dan keluar Kota Bukittinggi diperiksa, di todong, dan digeledah. Ia selalu menanyakan
hal itu kepada kakeknya. Pak Gaek pun menjawabnya.

4. BATAL KE MEKAH

Di depan rumah Hatta, terletak kmpung “Kampung Tengah Sawah”. Di kampung itu
terdapat rumah dan surau Syekh Muhammad Djamil Djambek seorang ulama besar yang
terkenal sampai luar daerah. Dialah yang membimbing langkah pertama, di surau itu Hatta
belajar membaca Al-Qur’an sampai tamat. Sudah ada kesepakatan diantara para orang tua
mengenai pendidikan untuk Hatta, Hatta akan disekolahkan dulu di sekolah rakyat selama
lima tahun. Tamat atau tidak, bila Pak Gaek pergi ke Mekah untuk naik haji, Hatta akan ikut.
Di Mekah Hatta akan dimasukkan ke sekolah agama. Selesai dari sana, pelajarannya akan
dilanjutkan ke Kairo.

Tetapi rencana itu gagal karena Ibu tidak mengizinkan Hatta untuk pergi ke Mekah
dengan alasan Hatta mash terlalu kecil. Karena gagal ke Mekah. Akhirnya Hatta dimasukkan
ke Sekolah Rakyat yang menjadi latihan bagi murid-murid Sekolah Raja. Tetapi ia belum di
terima karena umurnya masih 6 tahun.

Bukan hanya Hatta yang kecewa Pak Gaek demikian. Maka Hatta pun di masukkan
ke sekolah Preman Tuan Ladeboer biasanya yang bersekolah di sana adalah anak-anak yang
tamat sekolah rakyat selama 5 tahun. Karena Pak Gaek punya hubungan dengan para
penguasa Belanda, Hatta pun diterima di sekolah itu. Hatta harus memulai dari bawah sekali.
Ia harus belajar membaca dan menulis. Hatta diajari oleh seorang anak perempuan Tuan
Ledeboer yang telah tmat sekolah Belanda selama tujuh tahun. Semangat belajar Hatta yang
sangat tinggi. Ia segera dapat membaca dan menulis agar bisa mengejar pelajaran yang lain.

Kini hari-hari dalam hidup Hatta dilalui dengan belajar dan belajar. Pag-pagi ia
bersekolah. Malam hari, sesudah maghrib, Hatta pergi mengaji di surau Inyik Djambek. Di
surau itu anak-anak diajari mengaji dengan berlagu, disinilah terlihat kelemahan Hatta.

5. MASUK SEKOLAH RAKYAT

Kebanyakan kawan-kawan mengaji Hatta tidak bersekolah. Hatta pernah bertanya


kepada teman-temannya alasan mereka tidak sekolah. Kawan-kawannya pun menjawab
dengan jawaban yang hampir sama. Pada suatu hari Pak Gaek menerima pesan dari
temannya. Pesan itu berisi bahwa ada banyak tempat yang tersedia di kelas 1. Hatta pun
segera masuk kelas 1 sekolah rakyat. Karena sudah pandai membaca dan menulis .ia boleh
naik ke kelas 2. Hatta masuk sekolah ke rakyat bersama kakak perempuannya ,rafi’ah.

Sekolah belanda ia teruskan pada petang hari. Hatta diajari oleh guru sekolah belanda
bernama tuan jansen.

Dikelas hatta terbelakang dalam pelajaran berhitung,tetapi ia mempunyai kendak yang


senang hati mengajarinya berhitug.hatta pun mampu berhitung dan mengejar
ketertinggalannya di sekolah.setelah lebaran bulan puasa .hatta dan rafi’ah sama-sama naik
kelas. Hatta sempat tercengang melihat teman-teman sekelasnya ada yang telah berasia 16
tahun.selain rafi’ah dan hatta ,hanya ada 5 orang saja yang berumur dibawah 10 tahun.ini
menunjukan betapa rendahannya penghargaan pada sekolah pemerintah pada waktu itu.

Tetapi surau-surau disetiap kampung selalu penuh sesak dengan anak-anak yang
belajar mengaji. Pada masa itu hampir tak ada orang minangkabau ang buta huruf arab.

Berbeda dengan penduduk kota gadang yang letaknya disebrang ngarai bukit tinggi. Yang
warganya sudah lain sangat ingin anakya bersekolah di sekolah belanda .hatta sering merasa
dapat sampai disekolah ketika datang rasa malas .hatta selalu mengingat perjuangan teman-
temannya yang berasal dari kota gadang.
6. PINDAH KE PADANG

Tiga bulan sebelum liburan panjang, murid- murid kelas 4 yang akan menempuh ujian
ke HBS (Hogere Burgerliyke School, kira-kira sama dengan Sekolah Menengah Atas yang
didirikan untuk anak-anak Belanda dan yang sederajat dengan mereka) boleh mengambil
pelajaran privat bahasa prancis diberikan pelajaran itu oleh seorang paru sekolah Belanda
pada sore hari, tiga kali semingu.

Pak gaeh sudah memperoleh persetujuan dari tuan chevalier seorang komnispos,
bahasa ia akan mengerjaka bahasa inggris lebih penting dan diperlukan dari pada bahasa
perancis Hatta pun tidak jadi mengikuti pelajaran bahasa Perancis.

Malang bagi Hatta. Setelah tiga bulan mengikuti pelajaran Bahsa Inggris, Tuan
Chevarier dipindahkan ke Betawi. Baginya, itu bearti naik pangkat. Tetapi bagi Hatta itu
berarti kehilangan guru yang tak ada gantinya dibukittingi. Kepindahan Hatta kepadang
membawa perubahan besar dalam pendidikan agamanya. Dibukit tinggi, setelah tamat
mengaji Al-Qur’an Hatta sudah mulai menempuh pelajaran agama kjurusan fikih dan tafsir
sebelumnya Hatta juga telah belajar Nahwu untuk menguasai bahasa Arab. Pelajaran itu
dipimpin langsung oleh Syekh Djambek. Empat bulan lamanya Hatta belajar dalam
kelompok yang terdiri dari 100 orang murid. Hatta mengaji lima kali seminggi, sejam sehari
pelajaran bahasa arab itu dsela dengan pengan pengetahuan tentang rukun Islam yang
mengajarkan petunjuk untuk beribadah.

Semua pelajaran itu terputus waktu Hatta pindah kepadang . Bahasa Arab yang
melekat seperti pernis tipis diotak seorang anak berumur 11 tahun, hilang dengan mudah
setelah beberapa waktu.

Selama Empat tahun pertama di Padang tidak ada pendidikan agama yang
teratur bagi Hatta ia hanya mengulang membaca Al-qur’an pada seorang guru disore hari dari
jam tiga sampa setengah lima. Sandainya ia masih di Bukittinggi, setelah tamat kelas 7
barang kali Hatta tidak meneruskan pelajaran kesekolah mnengah. Pelajaran agama yang
diperolrhnya dari Syekh Djambeh akan menentukan jurusan selanjutnya ke Mekkah atau
mesir.

Hatta merasa sedikit lega setelah pindah kepadang, dikota itu ia hanya
bersekolah pada pagi hari. Pada enam bulan pertama Hatta mengikuti pelaharan membaca Al-
qur’an, sejak duduk di kelas 5 banyak sekali ekerjaan rumahnya pada malam hari dibawah
cahaya redup lampu minyak tanah.

Dipadang, Hatta tinggal dengan pak Gach. Ada hal yang tidak menyenangkan
bagi Hatta dipPadang pak Gak menikah lagi. Padahal usianya sudah lebih dari 50 tahun.
Tetapi karena Pak Gach muda sangat baik dan sayang pada Hatta, anak itu pun menerima saja
keadaan itu. Hatta akan berusaha menyesuaikan diri dengan hal itu.
7. Pertama Mengenal Perkumpulan

Dua tahun Lamanya Hatta tinggal dnegan pak Gach kemudin ia pindah kerumah Haji
Ning, Ayah tirinya, perimbangannya, kaena rumah Haji Ning lebih dekat ke sekolah Haji ning
juga hidup dengan istrinya yang ke da, enam orang saudara tiri Hatta tinggal pada haji Ning.
Semuanya suda dewasa kecuali dua orang yang hampir seumur dengan hatta walaupun tidak
memilikihubungan darah dengan Hatta mereka menerima Hatta seperti saudara kandung

Biasanya para lelaki berkumpul pada saat waktu makan. Mereka membiaran
soal perang dunia yang saatitu sedang berkecambu. Perang sangat berpengaruh pada keadaan
harga. Haji Ning sudah mmperhitungkan kerugian yang akan dideritanya.

Dalam percakapan itu biasanya Hatta hanya menjadi pendengar saja. Tidak
semua isi percakapan itu ia pahami. Tetapi sebagai anak ang cerdas, hatta ingin tahu tentang
banyak hal. Olh karena itu ia selalu menyimak perakapan ayah tiri dan suadara-saudaranya
dengan sungguh-sungguh. Saat itu Hatta mulai mengenal masalah masalah ekonomi serta hal-
hal yang ada sangkut pautnya dengan harga pada saat itu kata “Ekonomi” belum dikenal.

Orang orang Dewasa dirumah itu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dulu
waktu itu ia diBukit Tinggi pelajarannya diperhatikan oleh paman saleh.Dan waktu itu Hatta
Bermain,belajar apa yang boleh dan tidak boleh diperhatikan oleh Mah Huck.

Kini Hatta bebas mengatur waktunya sendiri setelah Hatta duduk MULLOC
MEER VITGREBEID LAGER ONDEWIS,Kira-kira sama dengan SLTP sekarang,yang lebih
banyak mengarjakan bahasa asing. Hatta boleh pergi menonton film dibioskp asal meminta
izin terlebih dahulu.

Keinginan Hatta untuk Bermain bola bisa diwujudkan dipadang.Sebelum masuk


MULO.Hatta sudah bermain sepak bola bersama teman-temannya ditanah lapang dengan
bola yang agak lebih keil ukurannaya.

Setiap jam Lima sore.Hatta sudah berada dilapangan.begitu juga teman-


temananya.Melaui sepak bola. Hatta pertama kali menenal perkumpulan..Dalam
perkumpulan sepak bola itu Hatta mula-mula menjadi anggota biasa lambat laun teman-
temannay mendorongnya agar duduk sebagai pengurus.

Karena Hatta Bersmangat sekali memajukan perkumpulannya,iapun ditunjuk


menjadi Bendahara,selanjutnya malah merangkap sebagai penulispenentuan jabatan itu
dilakuakan dalam rapat anggota lewat prkumpulan sepak bola itu Hatata belajar
berorganisassi.

Sekalipun banyak memberikan perhatian terhadap perkumulannya,sklah hatta tidak


terlantar,dengan sendirinya Hatta bisa mengatur waktu antara bermain dan mengejakan tugas
sekolah tanpa disadarinya dalam diri Hatta tertanam disiplin yang buat hal itu bisa jadi
disebabkan karena kebiasaannya shalat lima waktu tepat pada waktunya
GAGAL KE BETAWI

Menjelang pertengahan Tahun 1916 Hatta lulus dalam ujian masuk HBS.Sekolah
menengah Belanda 5 Tahun.Hatta pun bersiap siap untuk melanjtkan sekolah ke Jakarta yang
saat tu dikenal dengan nama Betawi.

Tetapi Rasa sayang ibunya membuat Hatta batal pergi ke kota besar itu. Ibu Hatta
keberatan melanjutkan sekolah di Betawi. Dengan alasan Hatta masih terlalu muda untuk
kesana Hatta lalu memohon kepada ibunya teteapi tetap saja ibu Hatta tidak mengizinkan
Hatta untuk pergi, karena ibu Hatta banyak mendengarkan cerita yang tidak baik tentang
anak-anak yang dikirim ke betawi dalam usia yang masih muda.

Hattapun kembali menyakinkan ibunya jika ia tidak seperti mereka. Ibu Hatta tetap
tak mengizinkan, ia menyarankan agar Hatta melanjutkan sekolahnya di Muco dulu Baru
sesudah itu diteruskan ke HBS di Betawi

Hatta benar-benar patah hati Akhirnya ia memuutuskan untuk berhenti sekolah


saja, mungkin bekerja lebh baik untuknya saatini. Maka ia pun mengirimkan surat
permintaan bekerja di kantor pos. Yang membuat Hatta tertarik bekerja dikantor pos adalah
gaji di kantor Pos itu sangatlah tinggi yaitu 50 golden. Gaji itu lebih tinggi dari pada gaji
seorang guru tamatan sekolah raja.

Ibu terkejut ketika mengetahui Hatta akan bekerja, ibu Hatta pun melarang dengan
lembut. Hatta sedih mendengarnya. Ia tahu ibu melarang karena ia sayang tetapi, iajuga ingin
melakukan sesuatu sesuai keinginan hatinya. Paman Hattapun ikut pula membujuk . padahal
itu adalah impian dan kebanggan Hatta. Tetapi apalah arti semua itu bila ia harus menyakiti
orang yang sangat disayanginya. Sesuai keinginan ibunya, Hatta masuk Mulo di Padang

Di Mulo Hatta bertemu dengan teman-teman satu sekolahnya di Bukittinggi.


Mereka saling bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing. Hatta banyak bertanya
tentang kota kelahirannya pada mereka.

Di Mulo ada pemisahan kelas Hatta sering merenungkan sistem pendidikan itu masa
sekolah yang begitu panjang, membuat anak Indonesia tidak mampu bertahan. Hatta juga
sedih mlihat temannya berguguran dalam dunia pendidian kegagalan teman-temannya itu
memicu semangat Hatta untuk terus bersekolah sampai ke jenjang yang palin tiggi. Ia ingin
menjadi putra indonesia yang berpikir maju.

ENGKU MARAH SUTAN

Orang-orang tua dipadnag ingin sekolah di Mlo diajarkan agama dluar mata
pelajaran yang ada. Hal itu diperjuangkan oleh sebuah organisasi bernama “ Serikat Usaha”.
Sekretarisnya yang bernama Engku Maras Sultan tidak jemunya mendatangi pembesar
pembesar daerah, supaya kehendak itu dikabulkan.
Sejak “Serikat Usaha” memperjuangkan pelajaran agama disekolah, Hatta
sudah mulai berhubungan dengan perkumpulan itu, Hatta sangat dekat dengan sekretaris
membuat Hatta terkagum kagum. Kalau tidak karena jasanya, serikat usaha tak akan menjadi
pusat pertemuan orang orang terkemuka dikota Padang.

Haata sering memperhatikan kegiatan engku marah sutan sehari-har bila ada
kesempatan hatta berbincang-bincang dengan engku marah sutan dari obrolan itulah hatta
tahu apa yang dicita –citakannya .

Engku marah sutan menjelaskan keinginannya untuk memajukan pendidikan anak


indonesia hatta menyerap kata kata itu sampai kedalam hatinya .ia maki kagum pada engku
marah sutan .pikirannya sangat maju .padahal pendidikannya hanya sampai kelas 5 sekolah
rakyat pada masa kecil engku marah sutan .HIS belum ada.

Hal lain yang dikagumi Hatta dari Engha Marah Sutra adalah
kepeduliannya.Disekolahnya dulu ia tak pernah berbahasa Belanda.Tetapi ketika masuk
Serikat Usaha Bahasa Belandanya sudah sangat lancar.

Hatta mengungkapkan keherannanya dengan bertanya Bagaimana cara ia bisa


berbahasa belanda selancar itu.Padahal Engku Marah Sutan dulu tidak pernah belajar bahasa
Belanda.Engku Marah Sutan pun menjawab pertanyaan Hatta dan menjelaskannya dengan
lengkap.

Dengan jawaban Engku Marah Sutan tersebut.Hatta mak kagum dengan Engku Marah
Sutan.

Komentar :

Buku “Bung Hatta Masa Kecil 1902-1918 ini sangat bagus untuk anak-anak,karena
anak-anak dapat mengenal bagaimana Bung Hatta salah seorang proklamator saat masih
kecil. Buku ini juga dilengkapi dengan sampul yang berwarna cerah.Gambar yang ada dibuku
ini juga menarik minat anak anak untukmembaca,karena gambarnya yang cerah. Buku ini
juga dilengkapi dengan sambutan keluarga Bung Hatta dan juga Glosarika.Tapi sayangnya
kata-kata yang berbelit-belit membuatnya sedikit sulituntuk dirangkum atau diringkas.